Persaudaraan Muslimah Indonesia, mempelajari Islam Secara Menyeluruh.

Rabu, 15 Januari 2020

#AKU BENCI ISTRIKU 1 - 5

#AKU BENCI ISTRIKU
(Part 1 )
By: KB, Kadariah Burhan

Setiap hari rasanya kaki ini berat melangkah untuk pulang, tidak terbayangkan bahwa istri yang kunikahi karena cinta itu menjadi sangat memuakkan bagiku. Pernikahan kami yang baru lima tahun terasa sangat lama, beruntung kami sudah dikaruniai satu buah hati yang cantik, hanya Naya saja yang membuatku masih mau pulang kerumah.


Suara istriku sangat mengganggu pendengaranku, omelannya mulai dari masalah kaos singlet yang kuletakkan di kamar mandi, handuk basah di sofa atau gelas kopi yang lupa kukembalikan ke bak cuci. Semua perbuatanku nampak selalu salah di matanya.
"Mas, besok Mama datang, kamu harus pulang lebih awal ya," Airin memberitahuku dengan suara nyaringnya dari dapur, dia masih menyiapkan makan malam.
Aku diam tak bergeming, tambah satu deritaku, Mama mertua yang tidak kalah cempreng suaranya, aku bakalan tersiksa bagai di neraka.

"Ngapain Mama ke sini," ucapku datar, sambil menyuap makananku.
"Lho, aneh banget pertanyaanmu Mas, Mama mengunjungi kita apa perlu alasan?" Airin menatapku tajam. Rasanya sop ayam yang sedang kutelan akan melompat lagi keluar dari tenggorokan.
"Ingat Mas, pulang cepat, awas kalau telat!" ucapnya tegas.

Rasanya tidak percaya aku dulu pernah tergila-gila dengan wanita ini. Dulu dia cantik, anggun, ramah, penurut, tapi kenapa bisa berubah sangat menyebalkan. Tidak tersisa sedikitpun sifat manisnya dulu. Setelah setahun menikah mulai terlihat keburukannya, bawel, pemarah, sok ngatur, selalu mau menang sendiri. Bahkan saat terima gaji dari kantor dia akan mengomel panjang lebar, penghasilanku katanya tidak cukup, dan setiap bulan selalu memaksa aku untuk mencari pekerjaan baru, semua penghasilanku diambilnya tanpa sisa, bahkan untuk membeli bensin mobilku saja aku harus kerja tambahan sebagai sopir taxol. Rasanya aku sangat lelah lahir dan bathin.

Bukan hanya itu, dia juga sangat malas melayaniku diatas tempat tidur. Katanya lelah, padahal kerjanya cuma mengurus rumah, itupun separuh dari pekerjaannya sudah kubantu. Cuci piring, menjemur cucian pakaian, terkadang memasak juga, tapi masih saja aku lelaki tak bernilai di matanya. Seandainya bisa waktu diputar kembali aku tidak akan menikahinya.
Akhirnya Mama mertuaku datang juga, aku mencoba menutupi rasa tidak sukaku, aku malas bertengkar di depan mertua.

"Zal, kamu ngga pengen nyari pembantu, kasian istrimu sendirian ngurus rumah, ngurus anak, kamu cuma bisa bantu sekali-sekali, jangan egois jadi suami," tegur Mama sambil menyuapi Naya.
"Aku belum ada dananya Ma, nanti kalau sudah dapat kerjaan baru yang gajinya cukup buat gaji pembantu," sahutku sekenanya.
"Ingat Zal, kamu meminta dia ke kami buat jadi istrimu, bukan pembantumu, dia sejak kecil ngga pernah susah, selalu dilayani pembantu, kamu harus bisa membahagiakan dia, ingat itu!" Mama meninggalkanku sendirian dengan hati terluka. Seperti inikah semua suami yang penghasilannya pas-pasan, selalu direndahkan.
Malam ini setelah makan bareng mertua dan istri aku pamit keluar mau narik taxol, tapi masih sempat mertuaku menghinaku.

"Ya Tuhan Zal, jangan sampai kamu ketemu teman arisan sosialita Mama, mau ditaruh dimana muka ini, kamu ngga bisa dibanggakan seperti menantu Mama yang lain." gerutu mertuaku, rasanya telingaku sudah kebal mendengar hinaannya.
Apa sebaiknya kuceraikan saja Arini, aku sudah tidak tahan lagi.
Bersambung


#AKU BENCI ISTRIKU
(Part 2)
By: KB

Malam sudah larut, ketika Riyadi, Toyib dan Bahrul mengajakku ngopi bareng di warung kopi Bu Leha, tempat tongkrongan kami pejuang receh.
"Gimana Zal kabar istrimu, masih galak?" Toyib membuka percakapan sambil mengisap rokoknya dalam-dalam.
"Masih, malah sekarang ada mertuaku di rumah, jadi malas pulang rasanya." sahutku lesu. Ku tatap gelas kopi yang baru ku minum sedikit.
"Selingkuh saja bro, dijamin bini lo bakalan kapok, selama ini dia ngerendahin lo karena dia pikir lo ngga bisa dapetin lebih dari dia, makanya jadi seenaknya begitu." Ryadi ikut nimbrung.
"Ngga ah, satu saja aku stres, apalagi dua," aku makin merasa galau.
"Cerai aja Zal, wanita banyak yang shalihah, nanti aku cariin, biar hidupmu bisa tenang dan damai." Bahrul ikut menimpali. Aku cuma diam, hanya hatiku terasa benar-benar hampa.
"Zal, kamu jangan kelamaan lemot, coba sekali-kali kamu tegas, biar ada harganya, aku aja ngga kerja doble kaya kamu istriku tetap baik sama aku." seloroh Bahrul lagi.

"Sulit buat aku tegas, mertuaku bakalan bawa istriku pergi dengan anakku juga, aku ngga siap berjauhan dari putriku,"
Kekuatanku memang pada putriku, dia yang membuatku tetap bertahan.
Bayangkan, pernah saat sarapan pagi, membahas masalah sepele, tiang jemuran yang roboh, aku bilang biar nanti aku cari tukang buat benerin, tapi Airin marah besar, dia bilang aku tidak becus ngapa-ngapain, masa buat benerin tiang jemuran musti cari tukang, padahal dia tahu persis, bukan aku tidak mampu dan tidak mau, tapi waktuku tidak ada, harus berangkat kerja jam 8 pagi, telat kena sanksi. Lamunanku buyar ketika Bu Leha muncul membawa sepiring kue, perut laparku berteriak, tapi kutahan, aku harus makan di rumah kalau tidak bisa diomeli sampai tertidur.
Kubuka pintu rumah perlahan agar tidak mengganggu yang sudah lelap tertidur.
Tiba-tiba lampu ruang tengah menyala, aku kaget tak terkira, Airin menatapku kalap.

"Aku sudah bilang Mas, jangan pulang terlalu malam saat ada Mama, seberapa banyak sih hasil taxolmu, paling cuma cukup buat bensin sama jajanmu!" bentaknya sambil menutup pintu dengan kasar. Padahal tadinya aku mau kasih hasil taxol malam ini, karena lumayan banyak, kalau sudah direndahin duluan mendingan kutabung saja buat keperluan putriku.
"Maaf Rin, aku mau makan dulu, masak apa?" aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ngga masak, tadi kami pesan online, aku ngga mau Mama ngomel melihatku kerepotan masak. Bukannya Mas baru dari luar, koq ngga sekalian makan sih!"
"Tapi biasanya kamu marah bila aku makan di luar," sahutku getir.
Terasa perutku berdendang, konser musik rock sepertinya.

"Itukan biasanya Mas, kalo ada Mama beda lah, kayak ngga hapal sifat Mama aja." Arini berlalu meninggalkanku. Aku terpaku bisu, ku langkahkan kaki menuju dapur, ku buka rice cooker, ada sedikit nasi, ku rebus mie plus sebiji telur, cukuplah mengganjal perut laparku.
Malam ini disela lelahku, aku merebus air buat mandi, setelah wangi kudekati istriku Airin, rasanya hasratku harus tersalur malam ini, kepala pusing dan pikiran tegang, kumulai serangan manis di pipinya, dia membalikkan badan membelakangiku, kupeluk dan kuciumi tengkuknya, dia diam tak bergerak, aku berpikir istriku mau dan aku bisa lega malam ini, tapi apa mau dikata, keberuntungan belum memihakku.

"Ngantuk Mas, lagian siapa suruh pulang malam." Airin menutupi tubuhnya dengan selimut, aku kalap, kupaksa dia membalik, kutindih sekuat tenaga. Tapi dia malah mendorongku.
"Apaan sih Mas, mau memperkosaku ya!" bentaknya sengit.
"Aku pengen banget Rin, ngga kuat rasanya nahan lama-lama, kamu kenapa sih, kalo ada masalah ngomong, apa aku menyakitimu?"
Dia tidak bersuara, tapi selimutnya membuka, dia tersenyum sinis.
"Aku ngga pengen aja, apa Mas mau memaksa, ngantuk!" rutuknya kesal.
"Kita harus bicara Airin, ini tidak bisa terus begini," bujukku.
Tapi dia kembali memunggungiku, jalan satu-satunya menghilangkan pusingku adalah pergi kekamar mandi, mencari sendiri pengobat pusing.

Di kantor presentasiku di ruang meeting tidak terlalu memuaskan, aku tidak yakin proposal yang aku buat akan dipakai perusahaan untuk maju di lelang tender. Pikiranku mulai tidak tenang, aku harus mendapat promosi tahun ini agar penghasilanku bisa naik. Aku ingin menggaji pembantu, aku tahu aku tidak bisa memuaskan istriku secara materi, tapi bukankah saat aku melamarnya dia tahu persis apa pekerjaanku, tahu bahwa aku hanya ganteng dan macho, tapi dompetku tidak tebal layaknya teman lelakinya dulu. Tapi dia berkeras mengajakku menikah karena sangat mencintaiku, orang tuanya saja dilawannya kala itu.

"Lesu banget Mas, ada apa?" Siska menepuk pundakku pelan. Kualihkan pandanganku dari layar komputerku.
"Aku takut gagal presentasiku barusan, padahal untuk promosi jabatan prestasi ku harus tidak biasa-biasa saja." sahutku pelan sambil menggosok mataku yang terasa sangat lelah.
"Tapi tatapan matamu bukan seperti orang yang mengkhawatirkan pekerjaan lho Mas Faizal, ada apa? cerita biar bebanmu berkurang," sahut Siska, teman sekerjaku ini memang cantik, lembut dan perhatian, tapi istriku dulu juga begitu. Aku bukan tidak tahu Siska suka mencuri pandang menatapku, tapi sungguh aku tidak mau bermain api disaat rumah tanggaku saja belum mampu ku kendalikan.
"Makan bareng Mas, biar kuajak juga Hendro biar kita bertiga, nanti sakit kalo telat makan." bujuk Siska, mendengar Hendro teman se team kami ikut, aku mengangguk.
Bersambung



#AKU BENCI ISTRIKU
(Part 3)
By:KB

Hari ini terasa sangat panjang, pekerjaan di kantor menyita energiku, aku akan masuk ke mobil ketika sebuah suara mengejutkanku.
"Mas, mau aku setirkan mobilnya? kayanya capek banget, ntar aku pulang dengan ojol aja." Siska menawarkan bantuan untuk mengantarku.
"Ngga Sis, kuat koq aku," tolakku.
"Tapi kamu kayaknya ngga sehat lo mas," bantahnya, Siska hendak mengambil kunci mobilku, tapi aku menghindar.

"Ngga, aku sehat koq, makasih ya, aku duluan Sis," pamitku sembari masuk ke mobil dan ku anggukkan kepalaku padanya sebelum berlalu.
Aku bukannya tidak mengerti sikap dan perhatian Siska padaku. Gadis itu sangat menyukaiku, dan aku bukan lelaki bodoh untuk tidak menyadarinya. Di dasar hatiku yang kesepian merasa sangat terhibur, tapi aku sadar, bukan penyelesaian yang akan kuperoleh kalau lari kepelukan wanita lain hanya karena istriku tidak melayaniku dengan baik.
Sesampai di rumah aku berharap Mama mertuaku sudah pulang, tapi ternyata beliau masih di sini.
Kudekati Naya yang sedang bermain sendirian di ruang tengah, tanganku hendak terulur menggendong Naya, ketika gelegar suara Mamer mengejutkanku.
"Mandi dulu Zal baru menyentuh anakmu, siapa yang tahu bakteri apa yang kamu bawa dari luar sana!" tegurnya dengan suara meninggi. Aku mengurungkan niat menyentuh Naya. Segera aku berlalu ke kamar, ku letakkan tas kerjaku dan segera melepas dasi yang terasa mencekikku seharian ini.

"Jangan langsung tidur Mas, mandi dulu sana." tegur Airin saat melihatku berbaring di ranjang.
"Ngga enak badan aku Rin, tolong rebusin air ya, sekalian tolong siapin makan." pintaku lemah, seluruh persendian terasa mau lepas.
"Rebus sendiri Mas, aku sedang repot masak, nanti kalo sudah mandi buruan ke meja makan, biar makan bareng sama Mama, besok Mama dijemput Mas Sandy pulang." sahut Airin datar sembari berlalu meninggalkanku. Sejenak ku terlelap hingga Airin membangunkanku. "Jorok amat sih Mas tidur ngga mandi dulu, cepetan Mas, Mama sudah nungguin tuh.
Pelan ku bangkit dari tempat tidur, kulangkahkan kaki kekamar mandi, walaupun menggigil aku terpaksa mandi dengan air dingin.

Di meja makan Mamer sudah menunggu dengan ekspresi tidak enak untuk dilihat.
Suapan demi suapan terasa pahit, sangat tidak nyaman di lidah dan tenggorokanku, padahal biasanya makanan yang dibuat Airin selalu enak.
"Zal, besok Mama pulang, dijemput Sandy, suami kakaknya Airin itu kompetan sekali di pekerjaannya. Mama mau kamu juga mulai berubah, cari pekerjaan yang layak, kasihan Airin harus hidup dengan kondisi pas-pasan seperti ini, harus mengurusmu dengan Naya dan mengurus rumah kalian ini, Mama mau kamu menjadi suami yang berguna buat Airin," ucap Mamer santai sambil menyuap sisa makanan di piringnya.
Aku hanya mengangguk lemah, badan dan pikiranku sedang tidak sejalan.
"Mama beri kamu waktu setahun agar bisa berubah, kalau tidak, Mama akan membawa istri dan anakmu pulang!" tegasnya, aku tertegun, bagai mendengar petir di siang bolong, lidahku kelu. Aku tersandar di kursi, segalanya terasa menyakitkan.

Mamer berdiri dari duduknya, sementara Airin hanya menatapku datar dan dingin.
Selera makanku semakin hilang, kuteguk sisa minuman di gelasku, beranjak pergi menuju kamarku, tidak kuperdulikan panggilan Airin. Aku merasa benar-benar muak.
Airin melempar bantal ke wajahku, tatapan mata penuh cinta yang dulu selalu menghias mata indahnya kini sirna, aku diam tak bergeming
"Mama pulang kamu ngga mau keluar mengantarnya, menantu macam apa kamu mas!" teriaknya berang.
Aku sudah tidak bisa menahan emosiku lagi.

"Mertua yang seperti apa yang pantas dihormati Rin, apa kamu tidak bisa membuka matamu sedikit saja, melihat bagaimana perlakuan Mama padaku, apa kamu suka melihat suamimu direndahkan! bukan cuma sekali tapi sepanjang lima tahun pernikahan ini!" teriakku tidak kalah tinggi.
"Apa kamu menyangkal Mas, apa yang dikatakan Mama itu benar, kita menikah sudah lima tahun dan kamu sedikit pun tidak berubah, tidak ada kemajuan sama sekali secara ekonomi, aku juga bosan Mas, setiap hari bagai pembantu di rumah ini, dari pagi ketemu pagi pekerjaan tidak pernah selesai, kamu pulang dan pergi bekerja siang dan malam hidup kita tetap seperti ini!" pekiknya, aku tertegun.
"Kamu lelah Mas? aku juga, belum tekanan dari Mama dam Papaku agar kamu pindah bekerja, apa kamu pikir aku tidak muak dengan semua ini!" suara Airin semakin berapi-api.

"Aku tidak pernah menuntutmu jadi istri sempurna Rin, aku tidak akan menggerutu seandainya kamu tidak sempat membersihkan rumah, aku tidak protes kalau tidak ada makanan di meja, aku juga tidak akan marah harus membantumu, kenapa semuanya seakan rumit di matamu!" ucapku pelan.
"Kamu bosan Rin? kamu lelah? aku juga bosan dan lelah! perlakuanmu padaku tidak seperti seorang istri ke suaminya, kamu arogan, bahkan untuk urusan di tempat tidur aku harus mengemis padamu, apa guna aku punya istri kalau setiap malam aku onani! apa fungsimu sebagai istri kamu jalankan dengan baik!" Airin menatapku tajam, dilemparnya guling, bantal ke wajahku.
"Pikiranmu mesum Mas, cuma itu saja yang ada di otakmu?"

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku pertanda aku menahan emosi luar biasa.
"Apakah mesum bagimu ketika seorang suami meminta haknya?" kuremas bantal yang di lemparkan Airin. "Hak aku Rin untuk meniduri kamu, istri tempat suaminya menyalurkan sahwat. Apakah ada yang salah dengan permintaanku?" aku menarik tangan Airin tapi ditepiskannya.
"Dalam rumah tangga bukan cuma urusan begituan mas, apa kamu pernah berpikir se gila apa aku saat kamu tinggal di rumah, aku frustasi, dari waktu kewaktu yang kulalui denganmu terasa flat, hampa, tidak berwarna, kamu tidak menyenangkan seperti dulu, pergi pagi pulang sore berangkat lagi malam hingga tengah malam ...."
"Kamu yang minta aku bekerja keras agar status sosial kita tidak hina di mata keluargamu, cuma itu yang bisa kulakukan sebagai seorang suami!"
"Banyak yang bisa kamu lakukan mas! kamu sarjana, cerdas di bidangmu, tapi kamu merasa nyaman dengan kondisi pekerjaanmu sekarang, kamu stag di tempat dan aku merasa gairahku sudah mati melihat kemandulan pikiranmu!"

Airin melangkah meninggalkanku, tapi kutarik tangannya dengan kasar, kulumat bibirnya dengan penuh nafsu, kudorong ke tempat tidur, kutarik pakaiannya, aku kalap, emosi yang kupendam, gairah yang tidak dapat kusalurkan padanya hampir setengah tahun ini membuat hatiku seperti beku. Aku hampir memperkosa istriku sendiri, tapi kemudian akal sehatku kembali, dia wanita yang melahirkan anakku, wanita yang dulu pernah mencintaiku. Kulepaskan pelukanku padanya, Airin melengos, didorongnya aku hingga terguling di tempat tidur.
"Kalau sampai kamu memperkosaku, kita cerai!" ucapnya bergetar, di tutupnya tubuh cantik mulusnya yang hampir setengah telanjang karena ulahku. Ada sedikit penyesalan terlintas dibenakku, tidak pantas rasanya aku melakukan kekerasan pada Airin, tiba-tiba aku merasa benar-benar menjadi lelaki hina.

Aku memeluk putriku yang semakin menggemaskan, dia cantik dan sehat. Setelah bermain dengan Naya aku segera berlalu, hari ini minggu, tapi aku memilih menarik taxol dari pada di rumah melihat Airin yang wajahnya dilipat sepuluh.
Semalaman aku memikirkan ucapan Airin, aku akan memenuhi tuntutannya, setidaknya memberinya ART, aku tahu dia lelah,ingin kulihat apakah setelah memiliki ART dia akan berubah, kalau aku terus menunggu mampu melakukannya, mungkin saat itu rumah tanggaku akan benar-benar hancur dan karam. Tidak mengapa aku lebih keras lagi berusaha, srmoga dengan keputusan ini Airin akan lebih santai.

"Besok aku carikan ART buat membantumu, hanya itu yang saat ini bisa kulakukan." ucapku singkat, sambil mengambil kunci mobil, kuseruput kopi yang kuseduh tadi pagi. Airin tidak menoleh sedikitpun. Sebelum dia mengomeliku karena gelas kopi, segera kuberbalik mengambil gelas kopiku dan mencucinya, tak lupa kubersihkan bekas kuletakkan gelas di atas meja yang berbentuk bulatan yang kalau tidak di bersihkan bakalan panjang urusannya.
Aku menjemput penumpangku di sebuah kawasan elite, sebuah komplek perumahan yang fasilitasnya lengkap, seorang perempuan cantik membuka pagar rumahnya. Aku tertegun.
"Siska? kenapa kamu memesan taxol? mana mobilmu?" tanyaku sedikit merasa tak nyaman.
"Di bengkel Mas, antar aku ya, ngga apa-apa 'kan Mas?" Siska menatap wajahku dengan tatapan lembut, aku mengalihkan tatapanku pada setirku.
"Oke, siapapun pelangganku, aku ngga boleh menolakkan?" ucapku datar.
Siska tersenyum sangat manis, dan menyebutkan tempat tujuannya.
Di dalam hati aku berdo'a semoga dikuatkan dari Siska yang terus saja mencari cara mendekatiku.
Aku faham betul, apa yang diinginkan gadis di sampingku ini. Bagiku, selama masih terikat pernikahan dengan Airin tak akan pernah aku selingkuh.
Bersambung


#AKU BENCI ISTRIKU
(Part 4)
By:KB

Hari minggu yang terasa berbeda, karena harus mengantar dan menjemput Siska, untungnya orderan taxol ku ramai, sehingga tidak terlalu lama menghabiskan waktu hanya menunggunya.
"Ada apa sih Mas dengan dirimu, koq rasanya akhir-akhir ini aku merasa kamu bukan seperti dirimu, kemejamu kadang agak kusut, dasi yang ngga matching dengan kemeja, rambut yang ngga kamu potong walau sudah melewati kerahmu." Siska menatapku dalam, dengan ekor mataku bisa melihat betapa lembut tatapannya, aku tetap berkonsentrasi dengan jalanan.
"Ngga ada apa-apa Sis, biasa aja, aku memang terkadang menikmati kekusutan dan berantakanku." sahutku sekenanya.
"Istrimu ngga perhatian kayaknya sama kamu Mas," selidik Siska lebih berani. Sejenak aku tertegun.
"Ngga juga Sis, dia itu repot, ngurus rumah, ngurus anak, belum ngurusin suami, kamu belum nikah soalnya jadi belum tau gimana kerepotan seorang istri," ucapku tenang, meskipun rasanya ada rasa sedikit terhibur diperhatikan.
"Beruntung banget istrimu Mas, lelaki lain pasti akan mengatakan 101 dosa istri kalau ditanya perempuan lain," seloroh Siska sembari tertawa renyah. Aku hanya tersenyum, meskipun aku bukan lelaki sholeh, tapi aku tahu persis cara menjaga kehormatan istriku, aibnya juga adalah aibku. Ketika seorang istri tidak mampu taat padaku sebagai imamnya, bukankah berarti ada yang salah dengan diriku. Aku hanya berusaha untuk mencari apa yang harus kuperbaiki, agar kapal yang ku nakhodai ini tidak karam hanya karena gelombang.Terkadang aku muak dan benci dengan sikap Airin, tapi rumah tangga tidak hanya dibangun dalam semalam, butuh waktu dan mungkin pengorbanan untuk membuat tumbuh dan berdiri kokoh. Walaupun aku tidak percaya diri untuk bisa tetap mencintai istriku.

"Makasih ya Mas, udah mengantar dan menjemputku, bila suatu saat Mas merasa beban terasa menyiksa di hati, ingat Mas, Siska siap jadi pendengar yang baik." ucapnya lembut sembari membuka pintu mobilku, aku hanya membalas ucapannya dengan senyuman. Segera kupacu mobilku kembali kerumah.
Pagi ini sesuai janjiku pada Airin, ART yang ku dapat dari Bahrul mulai bekerja, Airin terlihat sedikit santai, wajah nya tidak lagi jutek padaku karena insiden kemarin, aku menjadi sedikit tenang.
Saat akan berangkat ke kantor ku tarik tangannya dan kupeluk erat, bau rambutnya yang wangi dan aroma tubuhnya membuatku bergairah kusibak rambutnya yang tergerai, menciumi leher dan bibirnya, mencoba membuka hasratnya padaku, namun Airin melepaskan ciumanku. "Berangkat Mas, nanti telat, oh ya ntar malam ada yang ingin kubicarakan dengan Mas, jangan terlalu malam pulangnya."
Setelah makan malam, Airin membuka percakapan.
"Aku mau bekerja Mas, sayang gelar sarjanaku terasa sia-sia tidak dipakai. Ada temanku yang merekomendasikanku di perusahaan tempatnya bekerja." ucapan Airin seketika membuatku tersentak
"Anak kita masih kecil Rin, apa kamu tega meninggalkannya?" sahutku pelan.
"Tega ngga tega Mas, aku ingin menjadi diriku sendiri, memiliki penghasilan sendiri, aku membantumu Mas,"
"Ngga perlu, aku saja yang bekerja, bukankah kita ngga pernah kekurangan Rin, meskipun sederhana kita ngga ngutang sana-sini, dan ...."
"Ini yang aku ngga suka dari kamu Mas, kamu cepat merasa puas, makanya kamu ngga berhasil, karirmu mandeg begitu saja. Kamu izinkan atau tidak aku tetap akan bekerja!"
"Aku tetap ngga mengizinkan!" tegasku.

"Kalau begitu belikan aku mobil Mas, berikan aku tiket jalan-jalan keluar negeri, kamu mampu?" Airin menatapku sangat tajam. Aku tak berkutik, rasanya runtuh sudah mahkotaku sebagai suami. Aku tidak mampu memegang kendali istriku sendiri.
"Ridho Allah terletak pada ridho suamimu Rin," aku mencoba mengingatkan.
"Suami yang seperti apa Mas?" Petanyaan sederhananya mampu membuatku terdiam. Airin meninggalkan meja makan. Meninggalkanku yang terdiam membisu. Aku tidak punya power sedikitpun terhadap istriku. Kususul dia kekamar, dan kembali mencoba menunjukkan aku masih suaminya.
"Baiklah Rin, bekerjalah, tapi ada syaratnya,"
"Aku ngga butuh syarat darimu Mas!" sahutnya arogan.
"Kalau kamu tidak menuruti syaratku, malam ini juga aku akan jatuhkan talak pada kamu!" sejenak hening di dalam kamar kami, Airin terdiam melihat kesungguhan ancamanku.
"Apa syaratnya?"
"Layani dengan baik aku ditempat tidur ini, mulai malam ini, dan aku tidak bersedia menerima penolakanmu, kecuali haid, sakit atau lelah bekerja, aku melakukan ini agar kamu terhindar dari dosa mendzolimi suamimu sendiri,"
Airin terdiam dan menatapku dengan tatapan yang tidak bisa ku terjemahkan.
Malam ini aku berhasil mendapatkan istriku setelah 6.bulan. Tapi itulah satu-satunya malam yang diberikannya, karena selanjutnya dia punya berjuta alasan menolakku, dan aku menyerah terhadapnya, aku memutuskan untuk tak lagi mengemis cinta darinya.
Pagi sekali ketika kuterbangun membaca note diatas bantal Airin.
"Aku mulai bekerja hari ini, Naya kutitipkan di tempat penitipan anak di depan kantorku, nanti setelah waktuku longgar, kita cari baby sitter buat Naya."
Aku langsung berdiri, luar biasa kelemahanku sebagai suami, dia tidak membutuhkan persetujuanku atas apapun yang diputuskannya. Gontai aku berjalan ke dapur, hanya ada bibi ART ku.
Enam bulan setelah Airin bekerja, dan Naya telah memiliki baby sitter di rumah
Pulang kerja aku melihat mobil berwarna biru terparkir didepan rumahku. Aku bergegas masuk.
"Mobil siapa?" tanyaku dingin.
"Mobilku, bonus dari kantor, karena prestasiku, aku juga berhak menempati rumah dinas, bulan depan kita pindah, komplek perumahan elite, dekat kemana-mana." Airin kembali mengambil keputusan sendiri, aku hanya diam, malas bertengkar.

Saat Airin menyebutkan komplek tempat kami akan pindah, aku terpana tak percaya, itu komplek perumahan Siska. Astaga ... Kebetulan macam apa ini, pikiranku mulai kacau, rasa tidak nyaman di hatiku.
Dan benar, rumah Airin dan Siska hanya berjarak 500M.
Karir Airin melesat jauh meninggalkanku, gajinya jauh lebih besar dariku. Aku menjadi semakin tidak berdaya dihadapannya. Tapi hikmah dibalik itu
Mamer tidak jadi menceraikan kami, karena Airin tidak lagi diribetkan urusan rumah, dia melesat jadi wanita karir yang hebat. Terkadang aku terpesona dengan tampilan smartnya sebagai wanita karir, namun semua itu membuatnya semakin mustahil untuk kugapai.
Aku berhenti menarik taxol, malam yang kosong tanpa Airin yang sibuk aku habiskan dengan Naya, putri kesayanganku. Bermain dengannya membuatku bahagia.
Tapi hubunganku dengan Airin semakin renggang dan memburuk, Airin lebih sibuk ber ha h hi hi dengan teman-temannya melalui gawainya dari pada denganku.
Terkadang aku berpikir untuk apa sesungguhnya aku bertahan?
Mamaku menelpon mengabariku bahwa beliau akan menginap beberapa hari dirumahku.
Aku akan menjemput beliau ke bandara ketika mobilku tidak bisa hidup.
Siska menawarkan bantuan untuk menjemput Mama. Aku tertegun, kenapa bukan Airin yang melakukannya. Tadi pagi aku sudah memintanya menjemput Mama, karena aku ada meeting penting, Tapi Airin menolak mentah-mentah.
Dan Siskalah yang menjemput Mama, perlahan kebaikan Siska merasuk kedalam hatiku.
Bersambung


#AKU BENCI ISTRIKU
(Part 5)
BY: KB

Tatapan Mama sangat tidak mengenakkan buatku.
"Siapa yang menjemput Mama Zal, knp bukan kamu, apa istrimu tahu?" selidiknya.
"Teman satu kantor, satu team, ngga Airin ngga tahu," sahutku.
Mama menggelengkan kepalanya, wanita yang melahirkanku ini nampak sangat tidak setuju tindakanku menyuruh wanita lain menjemputnya.
"Mana Airin, kenapa Naya bermain dengan baby sister," Mama memeluk cucunya dengan kerinduan yang dalam, matanya berkaca-kaca.

"Airin bekerja Ma, rumah yang kami tempati ini fasilitas dari kantornya." Mama tertegun menatapku. "Ada apa Zal, kemana rumah yang kamu beli dengan susah payah, yang kamu bilang buat ibu dari anak-anakmu?" mama menatapku dalam. Aku tersenyum.
"Ada Ma, masih kurawat dengan baik," sahutku sembari beranjak mengambil gawaiku.
"Ingat Zal, jangan macam-macam, jangan main mata dengan wanita lain, istrimu itu cantik, pinter sempurna sebagai wanita, apalagi yang kamu cari?"
Aku tersenyum hambar mendengar ucapan Mama.
Berkali-kali kutelpon tidak jua tersambung, nampaknya Airin sibuk. Tapi tiba-tiba gawaiku berbunyi, Airin menelpon balik.
"Ada apa Mas? aku baru selesai meeting dengan client, kalo ngga penting jangan nelpon, kan bisa ketemu di rumah." Airin terdengar ketus.
"Mama datang Rin, beliau nanyain kamu terus,"

"Oh udah nyampe di rumah, bilang aja bentar lagi pulang," dan sebelum ditutup ku dengar suara seorang pria yang mengajak istriku untuk cepat. Aku cuma berpikir mungkin temannya.
Tengah malam Airin baru sampai di rumah, dia tidak menanyakan Naya apalagi Mamernya. Dia langsung ke kamar. Aku yang duduk di pojok sofa tidak diperdulikannya. Sekilas kulihat wajah cantiknya nampak lelah. Kuikuti dia kekamar.
"Kamu sudah makan?" tanyaku.
Airin mengangguk, dia melepaskan pakaiannya satu persatu hingga telanjang bulat di depanku, melilitkan handuk di badannya, dan berlalu menuju kamar mandi. Aku terpana dan speakless, ada apa dengan wanita ini.
Airin bangun lebih pagi dan sudah siap dengan stelan baju kerjanya, rapi, wangi dan elegan. Aku duduk di tempat tidur dan menatapnya yang duduk di depan cermin meja rias, aku sangat terpesona, dia sangat cantik, dadaku bergetar, antara takut kehilangan dan benci melihatnya semakin melesat tinggi tak tergapai. Aku bangun dan beranjak menuju kamar mandi. Dan segudang omelan mulai di lancarkannya.
"Jangan pencet odolmu dari tengah mas, jangan taruh handuk di kamar mandi, jaga kebersihan!" ucapnya tegas. Dia berdiri dan meninggalkan kamar.

Mama dan Airin terlibat pembicaraan serius di meja makan, kutahan langkahku dan diam-diam mendengarkan yang mereka bicarakan.
"Rin, apa kamu ngga merasa kerepotan, kerja sambil mengurus rumah tangga,"
mama memegang tangan istriku, sambil matanya menatap mata Airin lekat.
"Ngga Ma, justru Airin merasa hidup lebih berharga saat Airin mengejar karir di luar rumah, di rumah ada ART yang bisa hendle semua urusan rumah tangga, ada baby sister yang mengurus Naya."
"Siapa yang mengurus suamimu sayang? apakah Faizal tidak kesepian kalau kamu selalu pulang malam?" mama tetap menggenggam tangan menantunya. Airin membuang muka, menghindari tatapan Mama.

"Wanita bekerja di Indonesia bahkan di dunia ini banyak Ma, bukan cuma Airin, dan suami mereka juga tidak protes, setelah Airin kerja, Mas Faizal bisa lebih santai, tidak perlu narik taxol lagi, ekonomi kami membaik," ucapnya pelan.
"Ada yang tidak bisa kamu ganti dengan uang anakku, yaitu waktu, waktumu dengan anak dan suamimu, cinta dan kesetiaannya, itu tidak bisa dibandingkan dengan uang berapa pun yang kamu hasilkan," sahut mama datar. Airin berdiri dan menarik tangannya perlahan sambil mengambil makanan di dapur dan kembali sambil berujar, "Maaf Ma, mungkin Airin mengecewakan Mama, tapi ini hidup yang udah Airin dan mas Faizal jalani, dan kami baik-baik saja." ucap Airin sambil tersenyum, Mama mengangguk, "syukurlah kalau kalian baik-baik saja," sahut Mama lembut. Aku segera mendekati mereka dan duduk di samping Airin, Airin menyendokkan nasi goreng ke piringku, aku tertegun, mimpi apa aku semalam? sudah lama sejak terakhir dia melayaniku.

Aku dan Airin pamit pada Mama untuk bekerja, Airin melepaskan Naya dari pelukannya. Kami menuju mobil masing-masing, sebelum Airin membuka pintu mobilnya kudekati dia dan kupeluk dari belakang.
"Apaan sih Mas, sudah mau telat nih," Airin melepaskan pelukanku. Aku sandarkan dia pada pintu mobil, kucium dengan lembut, bibirnya membuka seakan menerima ciumanku. Kucium lebih intens, tapi dia mendorongku perlahan, wajahnya menunduk.
"Aku harus berangkat Mas," Airin kembali berusaha membuka pintu mobilnya, tapi satu tanganku menahan pintu mobil dan satu tangan lagi mendorongnya hingga kembali tersandar dan kembali kuciumi dengan penuh kerinduan yang bercampur dengan nafsu dan rasa benci karena penolakannya.
Airin hanya diam tidak bereaksi apapun, kulepaskan ciumanku, kepalaku terkulai dipundak wanitaku, aku berbisik di telinganya, "Aku benci kamu Rin, sampai kapan kamu mempermainkanku? sampai kapan kamu menyiksa suamimu ini," aku melepaskan Airin, kulihat wajahnya nampak sedih, kubukakan pintu mobilnya. "Hati-hati di jalan," ucapku sambil menutupkan pintu mobilnya, perlahan dia meninggalkanku yang terpaku dan masih merasa dibakar gairah pada istriku.
Airin menelponku untuk makan siang di sebuah restoran mahal, bertiga dengan Mama.
"Aku sudah jemput Mama Mas, kamu OTW saja langsung ke restoran." Begitu bunyi WA nya. Aku bergegas meninggalkan kantor.
"Kemana Mas," tanya Siska.

"Maksi dengan Mamaku dan Airin, tinggal dulu ya Sis," pamitku sopan pada Siska, dia mengangguk, tapi tiba-tiba ditariknya tanganku ke pojok ruangan. Tanpa aba-aba dia mencium bibirku, tidak memberi kesempatan tuk menolak. Ciuman Siska semakin panas, alarm di kepalaku tiba-tiba berbunyi. Kudorong Siska perlahan, dia terisak pelan. "Aku mencintai kamu Mas, sangat. Maafkan kelancanganku,"Siska menyatakan perasaannya.

"Jangan begini Sis, ini kantor, kita bekerja di sini, dan lagi kamu 'kan tau persis aku sudah beristri, dan aku mencintai keluargaku, tolong jangan seperti ini." Aku beranjak meninggalkan Siska yang masih menangis. Dadaku terasa sesak, aku tau bagaimana rasanya ditolak. Kukebut mobilku menuju restoran, di perjalanan kuhapus bibirku yang di penuhi lipstik Siska.
Sampai di restoran Mama dan Airin sudah menunggu. Saat menunggu pesanan Airin dan Mama ketoilet, tiba-tiba gawai Airin berbunyi, ku baca notifnya, "Janji esok jangan lupa Rin, mumpung esok kita libur," dan pengirimnya, Rado. Hatiku berdesir. Tiba-tiba aku teringat saat Siska menciumku, apakah Airin juga selingkuh. Aku buang jauh pikiran itu, istriku tidak seperti Siska.
Pesanan kami datang bersamaan dengan Airin dan Mama yang kembali ke meja. Pikiranku kalut dan bingung, tapi tidak kutunjukkan.

Bersambung

1 komentar: