#Bagian1 by Jumi Sho
#Fiksi
"Sekuat apapun kamu berusaha, jika takdir berkata tidak. Impian itu bagai angin lalu, pernah ada kemudian hilang"
Air mataku sudah tak terbendung, make up pun sudah mulai luntur. Sementara isakan dari mulut ini enggan berhenti, seolah menggambarkan betapa perih luka di hati.
Bayangkan saja, saat harusnya setengah jam yang lalu aku resmi menjadi seorang istri, namun hingga kini calon suamiku masih belum menampakkan diri.
Kami menikah bukan karena perjodohan dan dia sendiri yang melamarku untuk menjadi istrinya. Tepat setelah setahun kami berpacaran.
Lamaran romantis dan cinta yang menggebu, membuatku menerimanya tanpa berfikir panjang. Apalagi pria itu berjanji, tidak akan membatasi kegiatanku meski kami sudah menikah nanti. Jadi aku tidak mengerti, kenapa dia pergi dan dengan tega mempermalukanku begini.
Di tengah kegalauan itu, aku nekat mengambil silet dari dalam laci lalu mengarahkannya ke pergelangan tangan.
"Setelah ini aku tidak akan merasakan sakit lagi," lirihku.
"Jangan!" bentak seseorang seraya menghempaskan tanganku kuat, hingga silet itu pun terlempar ke lantai.
Aku berbalik dan menatapnya sendu. Air mata kembali menghiasi wajahku.
"Nuri, malu Om," lirihku pedih.
"Om tahu, maafkan Om karna telah lalai mendidik Romi," ucapnya seraya memelukku.
"Hiks... Hiks... Hiks...," tangisku kembali pecah.
"Sabar, jangan menangis. Om tidak akan membiarkan kamu dan orang tuamu menanggung malu."
"Tapi dimana kita akan menemukan Romi? Anak buah Om saja sampai sekarang belum bisa memberikan informasi?!" tanyaku frustasi.
"Ssst, tenanglah. Om akan pastikan kamu menikah hari ini, apapun yang terjadi," tegasnya lagi.
"Sekarang berhenti menangis, Om akan menemui orang tuamu dulu. Ingat jangan melakukan hal bodoh seperti tadi setelah Om pergi," pesannya.
Aku mengangguk di sela-sela tangisku, mencoba percaya pada ucapannya.
Lima belas menit kemudian, Ibu masuk ke dalam kamarku bersama dengan Mba Lani. Wajahnya sudah tak setegang tadi, saat baru mengetahui kalau Romi menghilang.
"Nur, kamu siap-siap yah. Akad sebentar lagi akan dimulai," ucap Ibu yang membuatku terkejut.
"Romi sudah datang Bu?" tanyaku sumringah.
Ibu hanya tersenyum tipis tanpa menjawab pertanyaanku.
Sementara Mba Lani, mulai membenahi riasanku yang luntur karena air mata.
Setelah selesai, Ibu keluar dari kamar. "Ibu keluar dulu, untuk mengatakan bahwa kamu sudah siap. Setelah ijab qabul, Ibu akan kesini lagi menjemputmu," ucapnya.
"Iya Bu," jawabku.
Aku duduk di tepi ranjang dengan perasaan gugup dan was-was.
Mba Lani menenangkan ku dengan meremas tanganku lembut.
Tak lama kemudian, samar-samar aku mendengar suara seorang pria mengucap ijab qobul. Walau tak terlalu jelas, aku yakin dia menyebut namaku, lalu disusul dengan suara sahutan beberapa orang yang menggumamkan kata sah.
"Alhamdulillah, selamat ya Nur," ucap Mba Lani seraya memelukku.
"Iya Mba, makasih," jawabku senang.
Lega sekali rasanya, karna pernikahan akhirnya terlaksana. Walau aku merasa aneh kenapa Romi tidak memakai mik saat mengucap ijab qabul tadi.
"Sekarang kamu sudah menjadi seorang istri. Hormati dan taati suamimu," pesan Mba Lani, sepupu sekaligus perias pengantinku.
"Iya Mba, Insha Allah Nuri akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Romi," jawabku padanya.
Wajah Mba Lani tiba-tiba menegang, namun belum sempat aku bertanya kenapa, pintu kamar terbuka dan mengalihkan perhatianku.
"Nur, ayo kita keluar! Ijab qobul sudah selesai. Waktunya menemui suami kamu," ajak ibuku.
"Iya Bu," jawabku seraya berdiri.
Aku keluar dari kamar di dampingi Ibu dan Mba Lani. Sepanjang jalan aku terus menunduk, masih merasa malu atas tertundanya pernikahan tadi.
Lalu Ibu dan Mba Lani mendudukkan di sebelah Romi, yang belum ku lihat wajahnya sejak tadi.
"Silahkan, mempelai wanita mencium punggung tangan suaminya," ucap Pak Penghulu.
Aku pun membalikkan tubuhku dan berhadapan dengannya, namun alangkah terkejutnya aku, ketika bukan Romi yang ku lihat melainkan orang lain.
Lidahku kelu untuk berkata-kata dan jantungku berdebar kencang tak beraturan.
"Apa-apaan ini?" pekikku dalam hati.
Sementara pria didepanku, menatapku dengan rasa bersalah yang begitu kentara.
Ingin rasanya aku pergi dan lari dari sini, tapi mendengar perkataan ibu aku urung melakukannya.
"Nur, tolong ikuti prosesinya sampai selesai ya? Nanti setelah para tamu pulang, kami akan menjelaskannya padamu," bisik Ibuku pelan.
Aku hanya bisa mengangguk. Demi Ibu dan Bapak tak apalah bersandiwara sebentar.
Bersambung....
#Suami_Dadakan
#Bagian2
#Fiksi
Aku menatap tajam satu persatu orang yang duduk di hadapanku. Mereka semua adalah dalang dibalik pernikahan tadi. Ibu, Bapak, dan juga Om Hadi.
Saat ini aku tengah menunggu mereka untuk menjelaskan semuanya.
"Maaf ya Nur, Ibu tidak bermaksud membohongi kamu, tapi tadi Ibu dan Bapak benar-benar tidak memiliki pilihan lain, selain menikahkan kamu dengan beliau," ucap Ibu memulai pembicaraan.
"Iya Nur, Bapak juga minta maaf. Bapak tidak sanggup menanggung malu, jika pernikahanmu tadi sampai dibatalkan. Oleh karena itu Bapak menyetujui permintaan beliau yang ingin menikahi kamu," sambung Bapak.
Aku mengalihkan perhatianku pada pria yang dimaksud Bapak.
"Om minta maaf Nur. Anak buah Om tidak bisa menemukan Romi dan hanya ini yang bisa Om lakukan untuk menyelamatkan nama baik keluarga kalian," ungkapnya penuh sesal.
Aku mencoba mengatur emosiku sebelum akhirnya bersuara. "Tapi sebelum mengambil keputusan ini, apa kalian tidak memikirkan, apa yang akan orang-orang katakan nanti, kalau mereka tahu Nuri menikahi calon mertua sendiri!" tanyaku tak habis fikir.
"Tenanglah Nak, setelah ini kamu akan pindah dan tinggal bersama Pak Hadi. Jadi kamu tidak perlu khawatir dengan omongan orang-orang di sekitar sini," jawab Bapak.
"Semuanya tidak sesimpel itu Pak. Nuri punya teman, sahabat dan mereka semua tahunya Nuri akan menikah dengan Romi! Lalu apa yang akan mereka fikirkan nanti ketika mengetahui hal ini?"
"Kita akan menghadapinya bersama. Om janji tidak akan membiarkan kamu dihina. Karena ini semua murni kesalahan anak Om, Romi," sahut Om Hadi yang mendapat anggukan dari Bapak.
"Haaah...," Aku menghela napas panjang. Tidak ada gunanya berdebat lagi, toh semuanya juga sudah terjadi.
Akhirnya setelah pembicaraan malam itu selesai. Aku memutuskan untuk langsung pindah ke rumah Om Hadi. Khawatir jika esok pagi, gosip tentangku sudah dibicarakan sana-sini.
Sepanjang jalan tidak ada yang berbicara diantara kami. Selain tidak ada yang perlu dibicarakan, aku sendiri juga sedang sibuk menyumpahi Romi di dalam hati. Dalam sekejab rasa cinta ini berubah menjadi benci.
Andai aku tahu akhirnya akan begini, tidak akan pernah aku menjatuhkan hati pada Romi. Pria yang ternyata tidak bisa menepati janjinya sendiri.
Setelah menempuh satu jam perjalanan, akhirnya kami pun sampai di kediaman Om Hadi. Rumah bertingkat dua yang sebelumnya pernah beberapa kali aku datangi, saat masih berstatus sebagai calon istrinya Romi.
Begitu turun dari mobil, Om Hadi langsung mengajakku masuk dan mengantarkanku ke kamarnya di lantai dua.
"Tidurlah di sini. Om yang akan tidur di kamar tamu. Kalau kamu butuh sesuatu, kamu bisa minta tolong pada Bik Sum atau Lala," ucapnya.
"Iya Om, makasih," jawabku singkat.
Om Hadi tersenyum tipis lalu melangkahkan kakinya meninggalkanku.
Ceklek.
Aku mengunci pintu setelah Om Hadi pergi.
Nelangsa!
Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan keadaanku saat ini.
Sudah ditinggal calon suami. Sekarang harus menikah dengan pria yang harusnya menjadi mertua sendiri.
***
Tok. Tok. Tok.
"Nur sudah bangun belum?" Terdengar suara Om Hadi memanggilku dari luar kamar.
"Sudah Om, baru saja. Kenapa?" tanyaku setelah membukakannya pintu.
"Om ingin mengajakmu sarapan. Setelah itu ada hal yang ingin Om bicarakan denganmu," jawabnya.
"Iya Om, sepuluh menit lagi Nuri turun."
Begitu Om Hadi pergi, aku melangkahkan kakiku masuk ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri, aku pun turun dan menyusulnya ke ruang makan.
Sesampainya di sana nampak Om Hadi sedang duduk menungguku. Di hadapannya telah terhidang berbagai macam makanan yang menggugah selera. Itu andai aku tidak sedang dalam keadaan terluka.
Aku menarik sebuah kursi dan duduk di sebelah Om Hadi.
"Mari kita makan!" ajaknya.
"Iya," sahutku singkat. Suasana terasa sangat canggung, apalagi hanya ada kami berdua di meja ini.
Setelah sarapan, Om Hadi mengajakku pergi ke ruang kerjanya.
"Apa yang ingin Om bicarakan?" tanyaku saat kami sudah duduk berhadapan di sofa.
"Tentang pernikahan kita," jawabnya.
"Om tahu, kamu sama sekali tak pernah terfikir bahwa Om yang akan menjadi suamimu. Om pun begitu, tak ada niat menikah lagi setelah mamanya Romi meninggal. Namun ternyata keadaan memaksa kita untuk hidup bersama."
"Tapi hari ini keadaannya berbeda, kita tidak lagi dalam keadaan terpaksa. Om ingin memberikan kamu kebebasan untuk memilih. Kamu boleh memutuskan ingin melanjutkan pernikahan ini atau tidak," jelasnya.
"Nuri tidak tahu Om, harus mengambil keputusan apa. Semuanya masih sangat membingungkan untuk Nuri," ungkapku jujur.
"Om, mengerti. Om akan memberikanmu waktu untuk berfikir."
"Baik Om, Nuri akan memikirkannya."
"Oke, Om akan menunggu jawabanmu."
"Kalau begitu Nuri pamit dulu Om, kembali ke kamar."
"Iya, silahkan."
***
Siangnya aku terfikir untuk menemui kedua sahabatku dan meminta pendapat mereka sebelum mengambil keputusan.
Setelah mengirimkan sebuah pesan kepada mereka, aku pun bersiap untuk pergi.
"Neng, eh maksud saya Nyonya Nuri mau kemana?" tanya Bik Sum saat melihatku menuruni tangga sambil menenteng sebuah tas.
"Mau keluar Bik, bertemu teman," jawabku.
"Oh, sudah izin Tuan Hadi belum? Soalnya tadi Tuan pesan kalo Neng eh Nyonya mau pergi, kasih tahu Tuan dulu."
"Bibik aja yang kasih tahu ya, saya buru-buru soalnya. Oh iya panggil saya seperti biasa aja, gak usah nyonya-nyonyaan segala."
"Eh, tapi kan Neng Nuri sekarang sudah menikah dengan Tuan Hadi."
"Ya, terserah Bibik aja deh kalau gitu. Saya pergi dulu," pamitku.
"Baik, Nyonya. Hati-hati di jalan."
"Iya Bik, makasih."
***
Setelah keluar dari Taxi, aku berjalan santai memasuki cafe tempat kami janjian.
"Nuri... di sini!" Aya dan Ria melambaikan tangannya padaku.
Aku tersenyum tipis dan menghampiri mereka. Setelah berpelukan dan bercipika-cipiki, kami semua pun duduk.
"Gimana keadaan kamu sekarang Nur?" tanya Aya sembari menggenggam tanganku.
"Secara fisik sih aku baik, tapi hati dan perasaan aku masih hancur banget rasanya. Aku gak nyangka, pria yang aku kenal 'baik' bisa melakukan ini."
"Kamu yang sabar ya. Aku juga sebenarnya gak nyangka loh, kalau Romi bisa melakukan ini. Padahal dari yang aku lihat selama ini dia tuh sayang banget sama kamu," ucap Ria seraya mengusap punggungku pelan.
"Iya, makasih Ri."
"Oh iya, sebenarnya aku ngajak kalian bertemu, karena aku ingin meminta pendapat kalian. Aku bingung, apakah harus melanjutkan pernikahanku bersama Om Hadi atau tidak," ungkapku.
"Kalau aku boleh memberi saran sih, sebaiknya dilanjutkan saja Nur. Mungkin memang jodohmu itu Om Hadi. Dia orang yang baik dan juga bertanggung jawab," sahut Ria.
"Tapi perbedaan umur kami itu loh Ri, terlalu jauh. Dua puluh satu tahun. Aku gak yakin bisa sepemikiran dengan Om Hadi. Belum lagi anaknya itu si Romi, orang yang paling aku benci!"
"Aku mengerti. Ya kalau kamu tidak mau melanjutkan juga tidak apa-apa Nur. Kamu katakan saja pada Om Hadi dan orang tuamu."
"Kalau menurut kammu bagaimana Ya?" tanyaku beralih pada Aya.
"Kalau aku sih terserah kamu saja Nur, kan kamu yang menjalani. Aku cuma bisa bantu doa. Semoga apapun keputusan yang kamu ambil, itu yang terbaik untuk kamu."
"Aamiin." Aku dan Ria serempak mengaminkan perkataan Aya.
"Baiklah, aku akan memikirkannya lagi nanti malam," ucapku pada mereka.
"Tapi untung saja loh Nur dari awal kamu dan keluargamu menunda resepsi. Coba kalau berbarengan, gak kebayang betapa banyak orang yang tahu," celetuk Ria.
Aku mengangguk, membenarkan perkataannya. Sebenarnya sih waktu itu alasanku menunda resepsi, karena bapak dan ibu ingin aku dan Romi menyelesaikan kuliah kami terlebih dahulu. Namun siapa sangka, ternyata keputusan itu cukup menguntungkan di keadaan seperti ini.
***
Pukul lima sore aku pulang ke rumah Om Hadi, nampak mobil Alpard putihnya sudah terparkir di garasi.
"Sore, Om," sapaku ketika melihatnya duduk di ruang tamu.
"Sore juga, baru pulang?"
"Iya, Om."
"Sini temani Om minum teh," pintanya.
Aku mengangguk lalu duduk di sebelahnya.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanyanya.
"Sudah lebih baik Om. Setelah bertemu dan berbagi cerita bersama Ria dan Aya, perasaan Nuri lebih sudah lebih lega."
"Syukurlah, Om ikut senang mendengarnya. Sekali lagi Om minta maaf atas kelakuan Romi. Jika dia sudah pulang nanti, kamu ingin Om memberikannya hukuman apa padanya?"
"Terserah Om saja, Nuri gak mau tahu apa-apa lagi tentang Romi," ucapku datar.
"Baiklah, jika itu mau mu."
***
"Lanjutkan?"
"Tidak."
"Lanjutkan?"
"Tidak."
"Lanjutkan?"
"Tidak."
Hah! aku masih bingung untuk memutuskan. Sebenarnya kalau masalah wajah, Om Hadi itu cukup awet muda. Masih terlihat tampan lah, meskipun umurnya sudah empat puluh tahun.
Badannya juga bagus. Meskipun gak kotak-kotak, tapi gak buncit kayak bapak-bapak kebanyakan. Hanya saja, masalahnya aku gak cinta sama dia.
"Arrrgh! Pusing aku," ucapku seraya melempar bantal kesana-kemari.
"Aduh!"
Aku menoleh cepat ke arah sumber suara. "Astaga! Om Hadi," pekikku panik. Melihat bantal yang ku lempar tadi mendarat mulus di wajahnya.
"Maaf ya Om, Nuri gak sengaja," ucapku tak enak.
"Iya, gak apa-apa. Kamu kenapa? Sampai lempar-lempar bantal segala."
"Engh, Nuri bingung memikirkan tentang pernikahan kita. Tidak tahu baiknya dilanjut atau tidak," jawabku jujur.
"Kenapa bingung? Jika kamu tidak mau, tidak apa-apa kok. Om tidak akan memaksa. Sudah cukup anak Om yang menyakitimu, setelah ini Om ingin kamu mengambil keputusan yang bisa menyenangkan hatimu."
"Emh, Kalau Om sendiri maunya bagaimana?" tanyaku balik.
"Kalau boleh jujur, Om tentu ingin melanjutkannya. Karena dari awal memutuskan untuk menikahimu, Om tidak berniat main-main. Pernikahan itu sesuatu yang sakral. Meskipun Om mengambil keputusan itu, didasari keadaan yang memaksa tapi Om bersungguh-sungguh menjalaninya," jawabnya.
"Tapi ... kita kan tidak saling cinta Om," cicitku.
"Ya tidak apa-apa. Cinta itu bisa kita usahakan bersama," sahutnya.
Aku terdiam sembari memandangnya. Apa iya kami bisa saling mencintai nantinya?
Bersambung....
#Suami_Dadakan
#Bagian3
#Fiksi
Setelah terdiam dan memikirnya beberapa saat. Akhirnya aku mengambil sebuah keputusan. "Baiklah Om, Nuri mau," ucapku.
"Mau apa?" tanyanya memperjelas.
"Melanjutkan pernikahan kita," sambungku.
"Kamu serius?"
"Iya," jawabku seraya mengangguk-anggukkan kepala.
Yah, walau tidak cinta tapi aku suka dengan sosoknya yang dewasa. Terlebih lagi aku tahu, dia pria yang bertanggung jawab. Tak sepertinya anaknya. Setidaknya ini lebih baik daripada menjadi janda di usia muda.
"Syukurlah, kalau begitu. Om berjanji akan menjadi suami yang baik untukmu," ucapnya serius.
"Iya, Om makasih," jawabku dengan senyum tipis.
***
Bruk!
"Auch!"
Aku terbangun, ketika mendengar seseorang mengaduh. Netraku sontak melebar melihat Om Hadi yang terduduk di lantai.
"Om gak apa-apa?" tanyaku panik.
"Aduh! Pinggang Om sakit nih. Kamu tidurnya heboh banget," dumelnya.
"Maaf ya Om, tadi Nuri mimpi buruk. Jadi gak sengaja menendang Om deh."
Aku tidak berbohong. Aku memang bermimpi buruk, bertemu dengan Romi dan aku menendangnya sekuat tenaga. Eh, tidak tahunya malah bapaknya yang kena.
"Ya udah gak apa-apa. Tolong bantuin Om bangun," pintanya.
Aku mengangguk dan bergegas membantunya untuk naik ke ranjang.
Sebenarnya setelah pembicaraan semalam. Om Hadi meminta agar kami tidur sekamar. Sebagai istri, aku tak bisa menolaknya. Apalagi aku sendiri sudah menyetujui untuk melanjutkan pernikahan ini.
"Emh ... kamu bisa mijit gak?" tanyanya tiba-tiba.
"Eh, bisa sih Om dikit-dikit. Om mau Nuri pijit?"
"Iya, kalau kamu gak keberatan."
"E-enggak kok Om. Sebentar Nuri ambil minyak kayu putih dulu," ujarku.
Setelah membaluri pinggangnya dengan minyak kayu putih, aku pun mulai memijitnya pelan.
Sebenarnya malu juga, ini pertama kalinya aku memijit seorang pria. Karena sebelumnya aku hanya pernah memijit ibuku yang notabenenya adalah seorang wanita.
"Ugh!"
"Kenapa Om sakit ya?" tanyaku ketika mendengar Om Hadi melenguh.
"Eh, enggak. Udah lanjutin aja."
Aku pun mengangguk dan meneruskan memijit pinggangnya.
Setelah selesai, aku turun ke bawah untuk meminta Bik Sum mengantarkan sarapan ke kamar.
"Bik, tolong sarapan saya sama Om Hadi dibawa ke kamar aja ya," ucapku padanya.
"Oh, baik Nyonya. Segera saya suruh anak saya Lala mengantarkan," jawabnya.
"Makasih, Bik."
"Sama-sama."
* * * *
Karna insiden tadi pagi, hari ini Om Hadi tidak pergi ke kantor dan memilih untuk beristirahat di rumah.
Aku yang merasa bersalah, berniat untuk membuatkannya jamu.
"Nyonya sedang apa?" tanya Bik sum yang melihatku sedang memegang kunyit.
"Eh, ini Bik mau bikin jamu."
Entah mengapa setelah mendengar kata jamu, wajah Bik Sum nampak mesem-mesem sendiri.
"Oalah, Nyonya mau jamu apa? Biar saya buatkan," tawarnya antusias.
"Jamu sakit pinggang Bik."
"Oh, sakit pinggang toh. Bibik kira mau bikin jamu kuat."
"Boleh juga Bik, bikinin aja sekalian. Biar Om Hadi gak mudah encok," ucapku tanpa maksud apa-apa.
"Siap, Nyonya," jawabnya sumringah.
* * * *
Syukurlah setelah beristirahat dan meminum jamu buatan Bik Sum, sorenya pinggang Om Hadi sudah terasa baikan.
"Maaf ya Om, gara-gara Nuri pinggang Om jadi sakit."
"Iya gak apa-apa, tapi nanti malam Om tidur dekat dinding saja. Takutnya kamu tendang lagi."
"Hehehe, Om bisa aja."
"Oh iya, minggu ini Om berencana ingin mengadakan acara keluarga, untuk mengenalkan kamu pada keluarga besar Om. Bagaimana pendapatmu?"
"Emh, harus ya Om?"
"Tentu saja. Kalau tidak cepat dijelaskan nantinya bisa ada yang salah paham, melihat kamu tinggal di sini. Memangnya kenapa?"
"Nuri takut, keluarga Om ngomongin Nuri yang enggak-enggak. Beberapa dari mereka kan, tahunya Nuri ini calon istrinya Romi."
"Jangan khawatir. Om yang akan bicara pada mereka dan Om pastikan, mereka tidak akan mengatakan hal buruk tentangmu."
"Kok Om bisa yakin?"
"Lihat saja nanti, kalau kamu tidak percaya."
"Baiklah, Nuri ikut apa kata Om saja."
***
Hari minggu pun tiba. Aku memakai dres panjang berwarna putih untuk acara hari ini, senada dengan warna kemeja yang dipakai Om Hadi.
Setelah menikmati hidangan yang ada, kami semua berkumpul dan mengobrol di ruang keluarga.
"Wah, selamat ya Di. Gak nyangka dapat daun muda," ucap salah seorang keluarga Om Hadi.
"Iya, Alhamdulillah. Terimakasih Mas," jawab Om Hadi santai. Sedangkan aku dari tadi hanya menebar senyum tipis saja.
Sepanjang acara aku tak banyak bicara dan hanya mengikuti kemana Om Hadi pergi. Untungnya benar apa kata Om Hadi, tak ada seorang pun yang bertanya tentangku dan Romi.
Lalu di tengah-tengah acara, kami dikejutkan oleh kedatangan seorang wanita, yang tiba-tiba saja menarik Om Hadi menjauh dariku.
"Mas, aku mau bicara!" ucapnya lantang.
Om Hadi memandang ke arahku seolah meminta persetujuan.
Aku membalasnya dengan senyuman tipis dan anggukan kepala.
"Itu tadi siapa ya Tan?" tanyaku pada Tante Hana, adik kandungnya Om Hadi.
"Itu Helma, adik dari almarhumah istri pertamanya Hadi," jelasnya.
"O-oh." Aku menanggapinya singkat.
Kurang lebih Lima belas menit kemudian Om Hadi kembali ke ruang keluarga, namun tidak bersama dengan wanita tadi.
Jujur, aku penasaran dengan apa yang mereka bicarakan, tapi untuk menanyakannya, saat ini tidak mungkin juga.
Bersambung....
#Suami_Dadakan
#Bagian4
#Fiksi
"Tante tadi siapa Om?" tanyaku berpura-pura tidak tahu. Saat ini hanya ada kami berdua, karena keluarga Om Hadi sudah pulang sejak beberapa menit yang lalu.
"Oh dia Tantenya Romi, dari pihak mamanya," jawab Om Hadi.
"Emh, ada perlu apa sama Om?" tanyaku lagi.
"Kenapa, kamu cemburu ya?"
"Ish, ya enggak lah Om. Nuri kan cuma ingin tahu."
Om Hadi terkekeh mendengar jawabanku.
"Bukan apa-apa kok. Hanya ada sedikit masalah pribadi."
"Oh, gitu." Aku memutuskan untuk tidak bertanya lagi.
"Oh iya, tadi selama Om pergi, keluarga Om tidak ada yang bersikap buruk kan padamu?"
"Enggak ada kok Om, mereka semua baik."
"Syukurlah."
"Memangnya sebelumnya, apa yang Om katakan pada mereka?" tanyaku penasaran.
"Om menceritakan semua yang terjadi, agar mereka mengerti keadaannya dan juga tidak bertanya apa-apa lagi padamu."
Aku menganggukkan kepala, tanda mengerti.
***
Esoknya, pagi-pagi aku sudah bersiap untuk pergi. Aku ada janji dengan Ria dan Aya hari ini.
"Mau kemana Nur?" tanya Om Hadi yang melihatku sudah rapi.
"Nuri mau ke kampus Om. Kan cuti kuliah Nuri sudah habis," jelasku.
"Kamu yakin mau kuliah di kampus yang lama? Apa tidak sebaiknya pindah saja?"
"Enggak usahlah Om. Soalnya Nuri sudah nyaman dengan teman-teman dan lingkungan yang sekarang."
"Oke, kalau begitu ayo kita sarapan dulu! Setelah itu Om antar kamu ke kampus."
"Iya, Om."
***
Om Hadi menghentikan mobilnya di depan gerbang kampusku.
Dari jendela aku melihat Ria dan Aya sudah menungguku di tempat biasa.
"Kalau begitu Nuri pamit ya Om," ucapku sembari melepaskan seatbelt.
"Iya, ini untukmu," jawabnya seraya menyodorkan sebuah kartu Atm.
"Eh, gak usah Om. Nuri punya uang sendiri kok," tolakku halus.
"Itu kamu simpan saja. Mulai sekarang pakai ini untuk membeli semua kebutuhanmu," ucapnya bersikeras menyodorkan kartu itu padaku.
"Baiklah, kalau begitu makasih Om."
"Iya, sama-sama."
Aku mencium punggung tangannya sebelum keluar dari mobil.
***
Setelah mobil Om Hadi berlalu aku bergegas menghampiri Ria dan Aya.
"Hey, aku kangen!" seruku pada mereka.
"Sama, kami juga!" sahut mereka bersamaan sembari memelukku.
"Akhirnya kamu kuliah juga, sepi tahu kalau gak ada kamu!" ucap Aya.
"Iya rasanya gimana gitu, kalau kita cuma berdua aja," timpal Ria.
Aku tersenyum mendengar ucapan mereka. "Ya sudah, sekarang kita ke kantin yuk! Aku sudah kangen banget nih sama baksonya Pakle gendut," ajakku semangat.
"Yuk!" sahut mereka bersamaan.
Sesampainya di kantin, tak sengaja aku mendengar beberapa orang tengah membicarakanku.
"Palingan juga dari awal dia emang ngincar bapaknya," ucap Sisil yang aku yakin bertujuan menyindirku.
"Iya, jangan-jangan dia macarin anaknya cuma sebagai batu lompatan aja, buat dapetin bapaknya," sahut Agni tak kalah pedasnya.
Aku mengepalkan tanganku kuat. Geram dengan ucapan mereka yang sama sekali tak benar dan menyudutkanku.
Dengan pasti kulangkahkan kakiku menghampiri mereka.
"Jangan sembarangan kalau bicara!" ucapku seraya menggebrak meja.
"Apa sih, datang-datang bikin ribut!" ucap Agni sengit.
"Hu'um. Pantas ditinggalin, sikapnya aja kayak gini," sahut Sisil menambahi.
"Heh, kalau gak tahu kejadian yang sebenarnya, mending kalian diam saja! Gak usah banyak omong!" ketusku.
"Kenapa kamu gak terima? Lagipula yang kita omongin memang benar kan? Kamu ditinggalin anaknya, terus nikah sama bapaknya," tantang Sisil sembari mendorong tubuhku.
Aku yang tersulut emosi pun, balas mendorongnya, sebelum akhirnya dilerai oleh Ria dan Aya.
"Udah Nur, gak usah diladenin. Nanti kamu malah dapat masalah lagi," ucap Aya menenangkanku.
"Iya Nur, mending kita pergi aja yuk!" ajak Ria.
***
Ria dan Aya mengajakku menenangkan diri ke taman. Kami duduk di bawah pohon mangga yang rindang.
"Aku kira teman-teman kita belum banyak yang tahu. Ternyata sudah tersebar ya," ucapku sedih.
"Maaf ya Nur. Aku sama Ria sebenarnya sudah berusaha supaya gosip ini gak menyebar, tapi kamu tahu sendiri kan, susah untuk nutup mulut kayak Sisil dan Agni tuh!" sahut Aya.
"Iya gak apa-apa. Aku tahu lambat laun mereka juga pasti akan tahu. Hanya saja, aku gak nyangka akan secepat ini. Kalau begini, apa sebaiknya aku pindah kuliah aja ya?"
"Eh jangan Nur, aku gak mau pisah sama kamu," sergah Aya.
"Iya aku juga," timpal Ria.
"Tapi aku gak betah, kalau keadaannya kayak gini terus."
"Kamu sabar dulu ya. Aku yakin lama-lama mereka juga bakalan lupa kok sama kejadian ini," bujuk Aya, yang hanya ku jawab dengan anggukan lemah.
***
Sepulang kuliah aku langsung masuk ke dalam kamar. Moodku benar-benar berantakan hari ini.
Setelah meletakkan tas, aku merebahkan tubuhku di kasur. Ingatanku tiba-tiba melayang ke beberapa bulan yang lalu, saat hubunganku dan Romi masih baik-baik saja.
Waktu itu kami bahkan sudah merancang rencana bulan madu dan masa depan kami nantinya. Namun kini, itu semua hanya tinggal kenangan dan tidak akan pernah terwujud.
Aku membenamkan wajahku ke bantal, agar isakanku tak terdengar sampai keluar. "Hiks, hiks, hiks."
"Kenapa kamu tega melakukan ini sama aku Rom? Apa salahku sama kamu?" lirihku sembari memukul-mukul bantal.
Tak tahu berapa lama aku menangis, tiba-tiba saja ku rasakan sebuah tangan mengelus rambutku lembut.
Aku berbalik dan melihat Om Hadi yang memandangku dengan tatapan teduh. Seolah mengatakan bahwa dia akan selalu ada untukku.
Aku langsung bangun dan menghambur ke pelukannya.
"Ssst, sudah jangan menangis lagi," ucapnya lembut seraya menepuk-nepuk punggungku pelan.
Aku merasa dejavu dengan keadaan ini. Waktu itu saat Romi meninggalkanku, dia juga memelukku seperti ini.
Beberapa menit setelah tangisku reda. Om Hadi melonggarkan pelukan kami dan merebahkanku kembali ke kasur.
Perlahan tangannya menyingkirkan anak rambut yang menempel di pipiku, lalu menghapus jejak air mataku dengan ibu jarinya.
Rasanya aku belum pernah diperlakukan selembut ini oleh siapa pun. Aku mulai memejamkan mata, saat wajah Om Hadi mulai mendekat dan perlahan hidung kami pun saling bersentuhan.
Namun tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu dan aku reflek mendorong Om Hadi menjauh dariku.
Tak lama kemudian, terdengar suara Bibik yang berseru panik. "Tuan! Tuan!" panggilnya.
Bersambung....
#Suami_Dadakan
#Bagian5
#Fiksi
Aku kembali membuka mataku dan menengok ke arah pintu. Dari suaranya, sepertinya yang ingin disampaikan Bik Sum cukup penting.
"Sebentar ya," ucap Om Hadi seraya beranjak bangun.
"I-iya," jawabku kikuk.
Dari tempat tidur, kulihat Om Hadi membuka pintu.
"Ada apa Bik?" tanya Om Hadi.
"Eh, anu Tuan di luar ada Den Romi!" jawabnya cepat.
"Apa?!" Om Hadi memekik dengan suara keras.
Aku sendiri pun tak kalah terkejutnya, hingga bergegas bangun dan menghampiri mereka.
"Yang benar Bik?" tanyaku masih tak percaya.
"Iya benar, Nyonya," jawab Bibik yakin.
Aku dan Om Hadi kompak saling berpandangan. Lalu sama-sama memasang wajah murka, setelahnya.
"Nur, ganti pakaianmu dulu. Setelah itu baru kita turun," titahnya.
Aku mengangguk dan bergegas kembali ke dalam kamar untuk berganti baju. Tak lupa juga mencuci wajahku yang sembab, karena menangis tadi.
***
Setelah selesai, aku dan Om Hadi pun segera turun ke bawah. Sepanjang menuruni anak tangga jantungku berdebar kencang. Begitu banyak pertanyaan dan cacian yang ingin ku lontarkan. Namun mengingat orang yang sekarang berada di sampingku, sepertinya aku harus lebih menahan diri.
Sesampainya kami di ruang tamu, aku melihat Romi sedang duduk di sofa dengan kepala tertunduk.
"Masih ingat pulang kamu?!" tanya Om Hadi dingin.
Yang ditanya pun sontak menegakkan kepalanya dan terkejut melihat aku yang juga berada di rumah ini.
"S-sayang kamu disini?" tanyanya terbata.
Aku memandangnya sinis. "Setelah meninggalkanku di hari pernikahan. Kamu masih punya muka untuk memanggilku begitu?" tanyaku menohok.
"Maafkan aku," ucapnya terdengar menyesal.
Om Hadi mengajakku untuk duduk dan kembali bertanya pada anaknya.
"Bukan kata maaf yang Papa dan Nuri butuhkan, tapi penjelasan. Kenapa kamu meninggalkannya di hari pernikahan?!" Suara Om Hadi sarat akan kemarahan.
"Romi melakukan sebuah kesalahan Pa dan karena hal itu Romi terpaksa harus meninggalkan Nuri," jawabnya dengan suara bergetar.
"Kesalahan apa?!" tanyaku tak sabar.
"Aku ... menghamili Sindy," jawabnya pelan.
"Apa?!" Aku dan Om Hadi memekik bersamaan.
Sindy itu sahabatnya Romi. Aku cukup dekat dengannya. Kami bahkan pernah liburan bersama.
"Jangan main-main kamu Rom!" bentak Om Hadi.
Romi tampak menggelengkan kepalanya. "Romi serius Pa. Saat ini Sindy tengah mengandung anak Romi dan kami juga sudah menikah siri," jawabnya.
"Brengsek!" makiku seraya melempar tumpukan koran ke wajahnya. Tak peduli apa yang akan difikirkan Om Hadi, karena perbuatan Romi benar-benar membuatku sakit hati.
"Teganya kamu mempermainkanku! Kalau kamu memang mencintai sahabatmu, lalu untuk apa mendekatiku, pacaran denganku dan bahkan berniat untuk menikahiku?!" tanyaku seraya menunjuk mukanya, geram.
"Ini gak seperti yang kamu fikirkan Nur. Aku tidak pernah mencintai Sindy dan aku juga sama sekali tidak ada niat untuk mengkhianatimu!" ucapnya membela diri.
"Tidak ada niat heh? Lalu kenapa dia bisa sampai mengandung anakmu?!" tanyaku sinis.
"Aku tak sengaja. Malam itu aku melakukannya dalam keadaan setengah tak sadar," ungkapnya.
"Jelaskan bagaimana kejadiannya!" ucap Om Hadi serius.
"Itu terjadi dua bulan yang lalu. Saat aku, Nuri dan teman-teman kami liburan bersama ke villa Papa yang ada di tepi pantai. Kami sudah sepakat akan menginap dua hari, tapi tiba-tiba saja aku dan Nuri terlibat pertengkaran. Hingga sorenya Nuri memutuskan untuk pulang, bersama dengan kedua temannya. Aku sudah berusaha membujuknya untuk tetap tinggal, tapi Nuri tetap tidak mau."
"Karena begitu frustasi, malamnya aku mengajak teman-temanku pergi ke bar dan di sana aku terlalu banyak minum alkohol. Sekembalinya ke villa aku lupa, kalau Nuri sudah tidak ada dan mengira Sindy adalah Nuri. Hingga terjadilah hal itu. Saat itu tidak ada siapapun di villa selain kami. Karena teman Romi yang lain masih berada di bar Pa," ungkapnya mengakhiri penjelasan.
Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan. Menyembunyikan tangisku yang kembali pecah. Aku ingat kejadian itu, saat aku dan Romi bertengkar karena masalah sepele. Dia cemburu dan tak suka melihatku terlalu dekat dengan temannya, walau itu sekedar bercanda. Hingga tanpa sadar dia mengatakan hal yang menyakiti hatiku, karena itulah aku pergi sore itu.
Seharusnya saat itu aku sadar, kami memang belum siap untuk berumah tangga. Kami belum cukup dewasa untuk menyikapi masalah. Namun karena ego berbalut cinta, aku tetap kekeh melanjutkan semuanya dan lihatlah kini hasilnya. Berantakan!
"Apapun alasannya, kamu tetap bersalah Rom! Sudah tahu kamu melakukan perbuatan terlarang dengan Sindy, lalu kenapa tidak jujur dan malah tetap melanjutkan pernikahanmu dengan Nuri?!" Om Hadi kembali buka suara dan bertanya pada Romi.
"Romi sangat mencintai Nuri Pa, Romi gak mau kehilangan dia. Lagipula waktu itu Romi sudah meminta maaf pada Sindy dan dia pun menerimanya. Jadi Romi fikir masalahnya sudah selesai," sahutnya.
"Lalu pagi itu, tanpa Romi duga Sindy menelpon dan mengatakan kalau dia sedang hamil. Tak cukup sampai disitu, dia juga mengatakan kalau dia akan menggugurkan kandungannya kalau Romi tidak mau bertanggung jawab. Romi panik Pa, walau bagaimanapun itu anak Romi. Karena itulah Romi terpaksa pergi dan meninggalkan Nuri," lanjutnya membela diri.
"Cukup! Aku tidak mau mendengar apa-apa lagi!" ucapku berderai air mata.
Aku beranjak pergi dan melangkahkan kakiku berniat kembali ke kamar. Namun belum sempat mencapai tangga, Romi sudah lebih dulu menyusul dan menarik tanganku.
"Aku benar-benar minta maaf Sayang," lirihnya.
"Aku tidak butuh kata maafmu!" ucapku seraya menghempaskan tangannya dan berlari menaiki tangga.
Bersambung.....
#Bagian5
#Fiksi
Aku kembali membuka mataku dan menengok ke arah pintu. Dari suaranya, sepertinya yang ingin disampaikan Bik Sum cukup penting.
"Sebentar ya," ucap Om Hadi seraya beranjak bangun.
"I-iya," jawabku kikuk.
Dari tempat tidur, kulihat Om Hadi membuka pintu.
"Ada apa Bik?" tanya Om Hadi.
"Eh, anu Tuan di luar ada Den Romi!" jawabnya cepat.
"Apa?!" Om Hadi memekik dengan suara keras.
Aku sendiri pun tak kalah terkejutnya, hingga bergegas bangun dan menghampiri mereka.
"Yang benar Bik?" tanyaku masih tak percaya.
"Iya benar, Nyonya," jawab Bibik yakin.
Aku dan Om Hadi kompak saling berpandangan. Lalu sama-sama memasang wajah murka, setelahnya.
"Nur, ganti pakaianmu dulu. Setelah itu baru kita turun," titahnya.
Aku mengangguk dan bergegas kembali ke dalam kamar untuk berganti baju. Tak lupa juga mencuci wajahku yang sembab, karena menangis tadi.
***
Setelah selesai, aku dan Om Hadi pun segera turun ke bawah. Sepanjang menuruni anak tangga jantungku berdebar kencang. Begitu banyak pertanyaan dan cacian yang ingin ku lontarkan. Namun mengingat orang yang sekarang berada di sampingku, sepertinya aku harus lebih menahan diri.
Sesampainya kami di ruang tamu, aku melihat Romi sedang duduk di sofa dengan kepala tertunduk.
"Masih ingat pulang kamu?!" tanya Om Hadi dingin.
Yang ditanya pun sontak menegakkan kepalanya dan terkejut melihat aku yang juga berada di rumah ini.
"S-sayang kamu disini?" tanyanya terbata.
Aku memandangnya sinis. "Setelah meninggalkanku di hari pernikahan. Kamu masih punya muka untuk memanggilku begitu?" tanyaku menohok.
"Maafkan aku," ucapnya terdengar menyesal.
Om Hadi mengajakku untuk duduk dan kembali bertanya pada anaknya.
"Bukan kata maaf yang Papa dan Nuri butuhkan, tapi penjelasan. Kenapa kamu meninggalkannya di hari pernikahan?!" Suara Om Hadi sarat akan kemarahan.
"Romi melakukan sebuah kesalahan Pa dan karena hal itu Romi terpaksa harus meninggalkan Nuri," jawabnya dengan suara bergetar.
"Kesalahan apa?!" tanyaku tak sabar.
"Aku ... menghamili Sindy," jawabnya pelan.
"Apa?!" Aku dan Om Hadi memekik bersamaan.
Sindy itu sahabatnya Romi. Aku cukup dekat dengannya. Kami bahkan pernah liburan bersama.
"Jangan main-main kamu Rom!" bentak Om Hadi.
Romi tampak menggelengkan kepalanya. "Romi serius Pa. Saat ini Sindy tengah mengandung anak Romi dan kami juga sudah menikah siri," jawabnya.
"Brengsek!" makiku seraya melempar tumpukan koran ke wajahnya. Tak peduli apa yang akan difikirkan Om Hadi, karena perbuatan Romi benar-benar membuatku sakit hati.
"Teganya kamu mempermainkanku! Kalau kamu memang mencintai sahabatmu, lalu untuk apa mendekatiku, pacaran denganku dan bahkan berniat untuk menikahiku?!" tanyaku seraya menunjuk mukanya, geram.
"Ini gak seperti yang kamu fikirkan Nur. Aku tidak pernah mencintai Sindy dan aku juga sama sekali tidak ada niat untuk mengkhianatimu!" ucapnya membela diri.
"Tidak ada niat heh? Lalu kenapa dia bisa sampai mengandung anakmu?!" tanyaku sinis.
"Aku tak sengaja. Malam itu aku melakukannya dalam keadaan setengah tak sadar," ungkapnya.
"Jelaskan bagaimana kejadiannya!" ucap Om Hadi serius.
"Itu terjadi dua bulan yang lalu. Saat aku, Nuri dan teman-teman kami liburan bersama ke villa Papa yang ada di tepi pantai. Kami sudah sepakat akan menginap dua hari, tapi tiba-tiba saja aku dan Nuri terlibat pertengkaran. Hingga sorenya Nuri memutuskan untuk pulang, bersama dengan kedua temannya. Aku sudah berusaha membujuknya untuk tetap tinggal, tapi Nuri tetap tidak mau."
"Karena begitu frustasi, malamnya aku mengajak teman-temanku pergi ke bar dan di sana aku terlalu banyak minum alkohol. Sekembalinya ke villa aku lupa, kalau Nuri sudah tidak ada dan mengira Sindy adalah Nuri. Hingga terjadilah hal itu. Saat itu tidak ada siapapun di villa selain kami. Karena teman Romi yang lain masih berada di bar Pa," ungkapnya mengakhiri penjelasan.
Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan. Menyembunyikan tangisku yang kembali pecah. Aku ingat kejadian itu, saat aku dan Romi bertengkar karena masalah sepele. Dia cemburu dan tak suka melihatku terlalu dekat dengan temannya, walau itu sekedar bercanda. Hingga tanpa sadar dia mengatakan hal yang menyakiti hatiku, karena itulah aku pergi sore itu.
Seharusnya saat itu aku sadar, kami memang belum siap untuk berumah tangga. Kami belum cukup dewasa untuk menyikapi masalah. Namun karena ego berbalut cinta, aku tetap kekeh melanjutkan semuanya dan lihatlah kini hasilnya. Berantakan!
"Apapun alasannya, kamu tetap bersalah Rom! Sudah tahu kamu melakukan perbuatan terlarang dengan Sindy, lalu kenapa tidak jujur dan malah tetap melanjutkan pernikahanmu dengan Nuri?!" Om Hadi kembali buka suara dan bertanya pada Romi.
"Romi sangat mencintai Nuri Pa, Romi gak mau kehilangan dia. Lagipula waktu itu Romi sudah meminta maaf pada Sindy dan dia pun menerimanya. Jadi Romi fikir masalahnya sudah selesai," sahutnya.
"Lalu pagi itu, tanpa Romi duga Sindy menelpon dan mengatakan kalau dia sedang hamil. Tak cukup sampai disitu, dia juga mengatakan kalau dia akan menggugurkan kandungannya kalau Romi tidak mau bertanggung jawab. Romi panik Pa, walau bagaimanapun itu anak Romi. Karena itulah Romi terpaksa pergi dan meninggalkan Nuri," lanjutnya membela diri.
"Cukup! Aku tidak mau mendengar apa-apa lagi!" ucapku berderai air mata.
Aku beranjak pergi dan melangkahkan kakiku berniat kembali ke kamar. Namun belum sempat mencapai tangga, Romi sudah lebih dulu menyusul dan menarik tanganku.
"Aku benar-benar minta maaf Sayang," lirihnya.
"Aku tidak butuh kata maafmu!" ucapku seraya menghempaskan tangannya dan berlari menaiki tangga.
Bersambung.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar