Persaudaraan Muslimah Indonesia, mempelajari Islam Secara Menyeluruh.

Rabu, 15 Januari 2020

#AKU BENCI ISTRIKU 6 - 10

#AKU BENCI ISTRIKU
(Part 6)
By:KB

Airin menepuk tanganku, lamunanku jadi buyar.
"Mas, kamu mikirin apa sih, seperti ngga fokus gitu," tegurnya. Aku menggeleng dan hanya melanjutkan makanku.
"Faizal, Mama tadi bilang besok sudah mau pulang, Mama cuma mau nengok kalian saja, Papa ngga bisa ditinggal Mama lama-lama, sampai setua itu ya masih angot, manja sama Mama," tutur Mama sambil tersenyum.

"Iya Mah, besok Faizal yang antar Mama, kami libur besok," sahutku sambil melirik Airin.
Airin mengangguk, sambil memandangi gawainya. "Airin sama Naya ikut nganter juga, Ma."
" Ngga usah Rin, kamu istirahat saja, biar Faizal saja." Sahut Mama.
"Ngga sibukkan besok sayang? sekalian kita jalan-jalan," aku sengaja mengambil kesempatan, aku tau Airin jaim didepan Mama, dan benar saja, dia mengangguk. Hatiku bersorak, berarti janji dengan temannya batal.
Saat bersiap mengantar Mama, tiba-tiba tetangga 500m ku, berkunjung.
"Mama sudah mau pulang?" tegurnya, sambil mencium pipi Mama. Aku terkesiap, wajahku serasa tidak di aliri darah lagi.
Airin tertegun menatap Siska, "Siapa ya, Mama kenal?" tanya Airin. Mama mengangguk, tapi terlihat sangat canggung.
"Kenalin Mbak, saya Siska, tetangga Mbak, rumah saya ngga jauh koq dari sini, saya juga teman sekantor Mas Faizal," sahut Siska ramah. Airin menyambut tangan Siska sambil tersenyum.
"Oh, Mas Faizal ngga pernah cerita kalau punya teman sekantor yang tinggal dekat sini," sahut Airin datar, sambil menatapku penuh selidik.

"Ya udah kita berangkat sekarang, nanti Mama telat." Aku mengalihkan pembicaraan. Airin memberikan kunci mobilnya padaku.
"Pakai mobilku aja Mas, lebih enak,"
"Kenapa dengan mobilku Rin,"
Suasana jadi kembali canggung, aku segera mengambil kunci mobil Airin agar tidak ada perdebatan di depan Mama, apalagi di depan Siska.
Airin mengambil Naya dari pelukan baby sitternya, kami pamit pada Siska, dia tersenyum dan kembali memeluk mama sebelum kami masuk mobil,

Aku jadi salah tingkah melihatnya. Semoga Airin tidak menaruh curiga. Batinku bergemuruh. Walaupun aku tidak berselingkuh dengan Siska, tapi jujur aku takut istriku salah faham.
Di perjalanan kembali dari mengantar Mama, Airin nampak menatap kosong, seperti ada yang dipikirkannya. Sementara Naya terlelap dalam pelukannya.
"Kamu selingkuh Mas?" tanya Airin tanpa basa basi. Aku menoleh sekilas, kemudian menggelengkan kepala.
"Ngga, kenapa kamu berpikiran seperti itu.". jawabku yakin, karena memang aku tidak selingkuh.
"Kenapa Siska memanggil Mama dengan sebutan Mama, apa hubungannya dengan kamu sehingga punya hak memanggil Mama?"

"Aku ngga ngerti Rin, kenapa dia begitu,"
"Kamu ngga jujur Mas, jawab aku dengan jujur," Airin menatapku tajam.
"Jangan bertengkar di mobil Rin, tunggu sampai rumah, bahaya, kita bisa kecelakaan, lagipula kamu sedang menggendong Naya. Airin memalingkan wajahnya dariku.
"Kalau kamu selingkuh, kita cerai Mas!"
Kalimat pendek Airin serasa menohok jantungku.
"Bagaimana kalau kamu yang selingkuh?" jawabku singkat.
Airin menatapku dengan sorot mata yang dalam dan penuh mistery.
Airin masih diam sampai di rumah, Naya masih terlelap dalam pelukannya. Kupanggil babysitter untuk meletakkan Naya di tempat tidur. Lama Airin terdiam di hadapanku, kuraih tangannya tapi ditepiskan.

"Aku mau pergi Mas," pamitnya sambil berdiri hendak meninggalkanku.
"Tunggu Airin, duduk dulu, banyak yang harus kita bicarakan."
Airin tetap berlalu, dia mengganti pakaiannya dengan pakaian casual dan segera menuju mobilnya, aku mengikuti, kuraih tangannya, tapi kembali ditepisnya.
"Rin, kamu kenapa sih? aneh tau ngga sih!" bentakku.
Airin menoleh dan, "ingat Mas, aku ngga mau menjadi istri seorang laki-laki yang mencintai wanita lain!" Airin menatapku tajam sambil tangannya mengepal kuat, dan bibirnya bergetar hebat. Ada bulir air mata yang terjebak di kelopak matanya.
"Kamu takut aku selingkuh, tapi kamu mengabaikanku sepanjang waktu,"
"Jadi bener kamu selingkuh? bener Mas ? jawab!" pekiknya. Aku mengusap wajahku sambil menengadahkan kepalaku, kuhela nafas dalam.
"Aku benar-benar ngga ngerti dengan sikap kamu Rin, aku tidak selingkuh, oh atau kamu cari alasan untuk meminta cerai dariku, iya Rin? kamu mengabaikanku, tidak memberikan hakku sebagai suami, aku bukan malaikat, aku cuma laki-laki biasa, aku juga takut akan selingkuh akibat ...."
Airin mendorongku hingga terjajar kebelakang.

"Aku muak dengan ucapanmu, selalu di pikiranmu hanya itu, hanya tentang tempat tidur dan pikiran mesummu. Kalau kamu berselingkuh hanya karena itu, kamu laki-laki egois Mas!" Airin meninggalkanku, dia memacu mobilnya berlalu, aku tertegun melihat reaksi Airin.
Di kantor, Siska semakin berani
mendekatiku. Rasanya benar-benar risih, aku merasa segalanya jadi sangat rumit, istriku yang dingin dan tidak mencintaiku lagi, menjadikanku berada dalam dilema, walaupun aku sangat membenci sikap arogan dan angkuhnya, tapi aku tidak berpikir untuk menghianatinya.
"Mas, makan siang bareng ya," Siska menatapku dengan mata sayunya.
Aku menggeleng pelan, "Aku minta maaf Siska, tidak bisa, aku ngga ingin istriku salah faham." tolakku.

"Rumah tanggamu sedang bermasalah Mas, aku lihat dan mendengar pertengkaranmu di halaman rumahmu,"
Aku kaget mendengar ucapan Siska.
"Aku di depan rumahmu kemarin, sebenarnya aku mau lewat saja, tapi ...."
Aku melangkah meninggalkan Siska, rasanya aku semakin takut pada obsesi wanita ini padaku. Seharusnya dia sadar, aku lelaki beristri. Kenapa dia terus berupaya mengalihkan perhatianku padanya.
"Aku ngga akan menyerah untuk memilikimu Mas, ingat sayang, apa yang tidak kamu dapat dari Airin, aku bisa berikan,"
Aku menatap Siska tajam. "Jangan berpikiran aku mudah buatmu Siska." aku tersenyum dingin padanya, melangkah meninggalkan ruanganku menuju ruang meeting, konsentrasi rasanya hampir buyar oleh rayuan Siska.
"Zal, aku perhatikan Siska mepet kamu terus ya, kalo aku jadi kamu, ku poligami dia jadi bini simpanan, gila lu bro, bohay, cantik ampuuun, koq lu gak mau sih?" Reno berbisik di telingaku. Aku tertawa mendengarnya.

"Yang di rumah lebih bohay bro, limited edition," sahutku, kami tertawa pelan. Komisaris plus Presdir masuk ruang meeting, kami segera diam dan kembali konsentrasi dengan materi rapat hari ini.
Gawaiku berbunyi, ternyata Mama, "Zal, Kemarin Mama merasa sangat tidak nyaman dengan sikap Siska, temanmu, bahaya rumah tanggamu, Mama mengingatkanmu, seberat apa pun kamu memikul beban hidup, jangan pernah berpikir selingkuh, istrimu kurang apa, dia sangat baik, seandainya ada kekurangan di dirinya, kamu harus sabar, pasangan itu bukan terdiri dari dua orang yang sempurna, justru sebaliknya, disebut pasangan karena saling melengkapi dalam kekurangan, sehingga menjadi kesempurnaan. Ingat Nak, ketika kamu merasa lelah, mundur selangkah, lalu kembali lagi saat kamu siap berjuang." Nasihat mama menguatkanku.
Semakin hari sikap Siska semakin berani menggodaku dan semakin hari sikap Airin semakin dingin. Dua kondisi yang menciptakan setres di kepalaku.Airin semakin lupa tanggung jawabnya, Dia juga lebih sering melihat gawainya, dan selalu nampak bahagia, terkadang di tengah malam dia mengobrol dengan seseorang dan tampak lebih fresh sehabis bertelponan. Sungguh misterius, aku benar-benar tersiksa Hidupku jadi semakin melelahkan, kalau aku ingin menyelamatkan rumah tanggaku, satu persatu benang kusut ini harus ku urai perlahan. harus ada keputusan besar yang kuambil.
Aku memutuskan resign dari kantor, setelah seorang teman memberikan informasi pekerjaan yang lebih baik. Walaupun untuk itu aku akan menganggur selama sebulan, karena rekruitmen itu berlangsung sebulan lagi, aku akan mengikuti prosudur yang berlaku, walau sebenarnya bisa melalui koneksi. Tidak mudah untuk mengambil keputusan besar ini. Airin terpaku mendengar aku sudah tidak bekerja.

"Kamu beneran resign Mas? sudah ada gambaran mau ngapain?"
"Mengurus rumah tangga," sahutku sekenanya.
"Jangan gila kamu Mas,"
"Ya, aku sudah gila, gila karena istri seperti kamu," sahutku sambil berlalu meninggalkannya. Sementars menunggu sebulan, aku akan menarik taxol lagi. Setidaknya aku akan aman dari kelakuan Siska yang kalau aku bertahan di kantor itu, bukan tidak mungkin terhanyut mengikuti permainannya.
"Jangan lama-lama menganggur Mas, aku ngga mau Mamaku sampai tahu, aku juga malu sama teman -temanku,"
Aku cuma tersenyum masam, tunggu saja Rin, aku akan membuatmu terkejut, batinku.
Bersambung


#AKU BENCI ISTRIKU
(Part 7)
By:KB

Seminggu sudah mengisi hari dengan kegiatan rutin, menarik Taxol, bermain dengan Naya, memperdalam lima bahasa yang sudah dikuasai selama ini, sebisa mungkin untuk tidak memperdulikan Airin yang mencurahkan seluruh energy bagi pekerjaannya, untuk sementara aku menghindari berdebat masalah apa pun dengannya.
Malam ini tarikanku sangat full sehingga pulang agak larut, aku tahu Airin belum tidur, karena besok hari libur. Lampu di ruang tengah masih menyala, aku melintasi ruang tengah dan mengabaikan Airin yang sedang duduk menonton TV.
Baru memegang gagang pintu kamar tamu yang sudah seminggu kutempati, terdengar suara Airin menyapaku.
"Kenapa tidur di kamar itu Mas? kamu mau pisah ranjang?"

"Apakah penting buat kamu dimana aku tidur? sama saja 'kan? tidur di sini atau aku tidur di samping kamu tidak ada bedanya. Aku lelaki normal Rin, melihat piyamamu tersingkap saat tidur, hati dan tubuhku tersiksa. Jangan kamu bilang aku mesum, karena aku suami kamu, bukan patung yang tidak punya hati dan hasrat." sahutku datar dan dingin.
Airin mematung, tidak terdengar bantahannya. Aku bergegas masuk ke kamarku, setelah mandi dan makan sendirian aku terlelap dalam kelelahan hati dan fisik yang tak terbayangkan.
Kuletakkan gawaiku di atas meja makan.
Airin datang dan duduk di sana, diam tak bersuara, hanya sesekali tangannya mengangkat gelas tehnya. Terlihat matanya sembab. Ku seduh kopi dan membuat beberapa cemilan, sekilas terdengar gawai berbunyi. Notif dari Wa ku. Airin mengambil gawaiku yang tidak pernah ku beri sandi pengaman.

"Apa ini Mas, kamu dan Siska ..." terdengar suara Airin bergetar. Aku mendekat sambil membawa sepiring kue dan segelas kopi, tidak nampak sedikitpun aku terganggu dengan pertanyaan Airin. Kulirik sekilas ada sebulir air mata jatuh di pipinya.
"Kalian benar-benar berselingkuh Mas,"
ucapnya pelan, matanya nanar menatapku.
"Apapun yang kamu baca di WA itu tidak akan mengubah apa pun, tidak membuktikan apa pun, Siska memang terobsesi padaku, tapi sejauh ini aku mampu menjaga kehormatan sebagai suamimu." sahutku dingin, sambil menyeruput kopi hitam di gelas.
"Kulakukan bukan karena takut padamu, tidak! tapi karena prinsif hidupku saja, aku dibesarkan orang tua yang hidup penuh cinta, selalu mengajarkan tentang kesetiaan, kasih sayang tanpa pamrih, kami bukan orang kaya seperti keluargamu Rin, tapi hidupku bahagia. Hartamu, karirmu, kehebatanmu, tidak cukup berarti bagiku, yang berarti itu dirimu dan anak kita, rumah tangga kita,"
Airin terdiam sambil menyapu air matanya, sesungguhnya aku ingin meraihnya dalam pelukanku, saat dia menangis bagiku adalah saat aku merasa gagal menjadi suaminya. Airin berdiri dan meninggalkanku menuju kamar. Kubaca WA yang dikirimkan Siska.

"Aku rindu mencium bibirmu Mas, kenapa kamu tega resign dari kantor, tolong temui aku mas,"
Kuhela nafas dalam-dalam, tak perlu memberi penjelasan apapun pada Airin, biarlah begini saja. Mungkin dengan begini kami bisa menata hati kembali. Hatiku yang remuk dan hati Airin yang dingin dan beku, mungkin akan mencair atau justru remuk bersama-sama. Aku tidak ambil pusing, yang kupikirkan sekarang bagaimana merubah hidup ini menjadi lebih baik, kalau bagi Airin dan keluarganya materi adalah segalanya, akan kucoba merubah kesederhanaan yang sangat kusukai ini menjadi yang diinginkannya.
Kukemas pakaian dalam koper walau masih jam 5 pagi. penerbanganku akan sangat panjang, 14 jam Jakarta-Amsterdam, tanpa transit di Abu Dhabi.
Semoga langkah ini tidak salah.

Kubangunkan Airin yang sedang tertidur, jam 5 pagi, meskipun aku berangkat jam 9 pagi, Airin menatapku yang duduk dibibir ranjang.
"Kenapa Mas, kamu ngapain sudah rapi jam segini."
Kutarik tangannya untuk bangun. Pelan kupeluk erat istriku.
"Mas Pamit Rin, mungkin kita ngga bertemu dalam waktu yang cukup lama,"
"Mau kemana, kenapa mendadak!"
"Perusahaan baru tempatku bekerja menugaskan ke Belanda, ke cabang di sana buat belajar, mungkin sekitar 6 bulan."
"Kenapa baru bilang Mas? kenapa ngga dari kemarin?" Airin mengambil ikat rambut dan mengikat rambutnya, dia berdiri di hadapan ku.
"Aku ngga tau maunya kamu tu apa Mas? tiba-tiba begini? aku ...."
"Ngga ada apa-apa Rin, aku hanya mewujudkan keinginanmu, keinginan semua orang, yaitu sukses, biar kamu dan keluargamu ngga risih lagi melihat aku narik taxol."

"Tapi ngga gini caranya Mas, ada banyak hal yang belum kita bicarakan, banyak hal yang ...."
"Mas sudah berikan waktu panjang buat kamu Rin, satu bulan, tapi kamu malah pulang malam dan hang out dengan temanmu."
"Tapi ...." Airin duduk dibibir ranjang sambil menutup wajahnya, bahunya terguncang. Aku terpaku, ada apa dengan istriku ini, semenjak mencurigaiku selingkuh dia terlihat lebih rapuh, keangkuhannya runtuh. Bahkan di beberapa kesempatan terlihat dia menangis. Kudekati dan ku coba merengkuh kepalanya, tapi dia menghindar dan beranjak pergi.
Aku hanya menghela nafas, betapa sulitnya memahami wanita, bahkan wanita yang telah lima tahun bersamaku.
"Rin, Mas tau kamu sibuk, tapi ingat, jangan lepaskan pengawasanmu pada Naya. Satu hal lagi, jangan khianati pernikahan kita, Mas ngga pernah menghianati kamu, sesulit apa pun bagi Mas menghadapimu." Ku kecup keningnya sebelum masuk ke mobil yang akan mengantarku ke Bandara. Airin hanya diam menatap kepergianku.

Airin melambaikan tangan, kulihat air mata mengalir di pipinya, tapi dia berpaling agar tidak terlihat olehku.
Segera ku stop mobil, dan aku turun kembali, kupeluk dia dari belakang, Airin berbalik dan menciumku sambil menangis. Sejenak aku terpaku dengan ciuman lembutnya, setelah semua yang terjadi, seandainya bisa aku akan menunda keberangkatanku, tapi apalah daya, waktu sudah tidak berpihak pada moment manis ini.
"Semoga kepergianku akan membuat kita saling introspeksi diri Rin." Airin hanya diam dan memelukku. Sungguh aku tak tau apa yang dirasakannya.

Ternyata yang dikirim ke cabang perusahaan di Belanda ada 3 orang, aku, Rendra dan Sofie. Kami menjadi akrab selama di sana, sikap Sofie yang manja padaku dan Rendra membuat kami seperti tokoh kelompok Unyil, Ucrit dan Tuplis,atau bagai Teletubies , Lala, Po, dan Dipsi. Ketika terbebas dari tugas kami bertiga akan selalu jalan ke tempat-tempat wisata. Sofie sangat cantik, supel, bahkan bisa dikategorikan manja tapi sangat smart. Senyum manisnya persis senyum Song Hye Kyo artis cantik asal negeri Ginseng Korea Selatan. Tubuh tinggi semampai, kulit putih, dia benar-benar mempesona tiap lelaki yang melihatnya. Dia suka sekali bergelendot manja entah di lengan entah di bahu kami membuat kami terbiasa dengannya. Rendra single dan Sofie pun begitu, jadi aku yakin mereka akan saling jatuh cinta, tapi dugaanku salah, Sofie menolak ketika Rendra menembaknya. Dan persahabatan kami bertiga kembali seperti biasa. Sampai enam bulan berlalu tidak terasa.
Aku mengabari Airin kepulanganku, walaupun aku tidak berharap dia akan menjemputku, karena aku tau dia sibuk.

Sofie menggenggam tanganku erat, sementara Rendra memegangi troli koper kami, Sofie melambaikan tangan pada teman yang menjemputnya, kemudian mengambil kopernya dari Rendra dan menatap wajahku lekat kemudian repleks mencium pipiku dan berlalu. Aku terpana bukan karena ciuman mendadak dari Sofie, tapi karena tepat di depanku Airin berdiri menatapku.
Rendra menepuk pundakku, "Zal, sampai jumpa di kantor besok." Rendra berlalu dan aku tetap terpaku di tempatku berdiri.

Airin diam sepanjang perjalanan pulang, aku berkonsentrasi pada jalanan. Hening tanpa suara. Sesampainya di rumah, Airin pamit untuk langsung pergi ke kantornya. Tidak ada respon apapun terhadap apa yang dilihatnya di bandara.
"Rin tunggu," aku menarik lengannya dan mencoba mencium pipinya, wanita cantik yang sangat ku rindukan itu hanya diam.
"Aku ada meeting penting Mas, sampai ketemu besok," ucapnya dingin, tidak terlihat sedikitpun riak kerinduan di mata indahnya.
"Kenapa besok?" tanyaku kaget.

"Sehabis Meeting aku ke Bandung meninjau cabang di sana."
"Dengan siapa,"
"Dengan rekan-rekanku,"
"Siapa?"
"Mas Rado dan Isma, kenapa Mas bertanya se detail itu."
Aku hanya menggeleng pelan.
"Hati-hati di jalan sayang." ucapku pelan. Aku teringat chat dan beberapa telpon dari Rado, tapi hatiku mencoba berdamai dengan pikiran yang kusut oleh cemburu.

Aku mulai bekerja di perusahaan jasa tekhnology informasi, sebuah perusahaan besar yang memiliki cabang bukan hanya di Belanda tapi juga di Australia, Singapura dan Malaysia.
Seharusnya hari ini adalah hari dimana kebahagiaanku dengan Airin, bukan saja karena keberhasilanku bekerja di perusahaan besar yang sesuai dengan keahlianku, tapi juga karena hari ini adalah hari ulang tahunku. Tapi dimana istriku itu sekarang, dia memperpanjang satu hari lagi di Bandung. Sudah saatnya aku akan memberi ketegasan padanya. Sejak hari ini aku berjanji akan membuat Airin patuh padaku, bagaimanapun caranya.

Sofie datang keruanganku bersama Rendra " Ayo Pak Bos, kita rayakan kepulangan kita ke Indonesia." Aku tertawa riang mendengar mereka memanggilku Pak Bos. "Oke, kebetulan hari ini aku ulang tahun, aku yang teraktir," sahutku antusias.
Untuk sementara aku melupakan Airin dan larut dalam keriangan dua sahabat baruku. Sofie beranjak meninggalkan kami untuk ke toilet, ketika Rendra mendekatiku.
"Zal, kamu ngerasa ngga sih, Sofie itu suka sama kamu," bisik Rendra di telingaku, aku terkejut.
"Ah kamu bercanda bro, ya ngga mungkinlah, aku sudah beristri dan beranak, kamu aja ditolak, bagaimana bisa dia suka padaku,"

"Itu realitanya, kamu ngga nyadar ya dengan pesona Papa muda yang sexy, itulah yang dia tangkap dari dirimu," Aku tertawa ngakak dan Rendra memukul bahuku.
"Apaan sih yang kalian obrolin, seru banget kayaknya," Sofie datang dan kami pun kembali tertawa sambil mengalihkan pembicaraan ke topik yang lain.
Sepanjang perjalanan pulang, aku merenung, kenapa dua wanita cantik, Siska dan Sofie bisa menyukaiku, tapi mengapa istriku tidak?

Apakah karena mereka belum merasakan hidup sebagai Airin yang menjadi istriku.
Mereka belum tahu kekuranganku. Karena dulu Airin juga sangat mencintaiku, dia rela menentang orang tuanya demi menikahiku. Seketika pikiranku terbersit tentang Airin. Aku harus segera mencari tahu apa hubungan antara istriku dengan lelaki yang di panggilnya Mas Rado. Aku juga harus tahu penyebab semua sikap dingin Airin.
Aku memacu mobilku dengan kecepatan sedang, dan hampir sampai di depan rumahku, tapi ku urungkan untuk berbelok masuk, Aku tertegun melihat seorang lelaki mengantarkan Airin pulang dengan mobilnya, menyerahkan kunci kontak kepada Airin dan pulang dengan taxol. Lelaki itu terlihat gentleman, wajahnya tampan, perawakan yang tegap dan gagah, nampak seusiaku. Aku masih berdiam diri di seberang jalan, duduk termenung di dalam mobilku.
Bersambung


#AKU BENCI ISTRIKU
(Part 8)
By:KB

Aku masih merenung di dalam mobil, berat hati untuk masuk kedalam rumah, rasa takut menghadapi kenyataan seandainya Airin benar-benar berpaling dariku. Seandainya hatinya bukan lagi milikku. Mungkin beginilah yang dirasakan Airin melihat Sofie di Bandara kemarin.
Baby sitter dan ART sudah masuk kamar mereka, aku masuk ke ruang tengah dan Airin duduk di sofa. Dia menatapku lekat, bibirku terkatup menahan rasa yang membuncah di dada, antara rindu, benci dan takut kehilangan.
"Mas sudah makan?" tanya Airin pelan.
"Sudah ...."
"Dengan Sofie?"
"Ya, dengan satu teman lagi."
Airin menatapku lekat, ada yang berbeda dengan tatapannya, aku tak lagi mendengar dia marah tidak jelas, atau membalas ucapanku dengan arogan. Airin seperti tenggelam dalam dunia yang tidak bisa kuselami.

"Mandilah Mas, nanti ada yang ingin kubicarakan, penting," ucapnya masih dengan intonasi pelan.
Sekilas ku mencium aroma shamponya, aroma sabun mandinya, pikiranku melayang tidak jelas. Tanpa kusadari kaki ini melangkah mendekatinya, kutarik dia agar berdiri. Kupeluk erat sambil mrnghirup aromanya. Kucium dia dengan penuh kerinduan yang dalam.
"Rin, izinkan Mas malam ini melepas rindu padamu kekasih halalku. Izinkan Mas untuk ...."
Airin membalas ciumanku, membalas pelukanku erat, dia membiarkanku menjelajahi dirinya dengan hasrat yang sudah tidak mampu ku bendung lagi.
"Mandi dulu Mas." Airin mengingatkanku, aku melepaskannya dan tersenyum bahagia. Namun tidak demikian dengan Airin, kulihat matanya yang indah nampak kosong, namun terabaikan oleh rasa bahagia. " Ya sayang, Mas mandi dulu, kamu jangan berubah pikiran ya," rajukku manja sambil mencium pipinya.

Malam itu rasanya aku ingin waktu berhenti sejenak, dapat kulihat lagi wajahnya yang cantik di sisiku. Memeluknya bagai merengkuh semua mimpi dalam hidupku. Kemarahan selama ini pupus oleh percintaan kami dalam bahtera indah ini.
Sejenak terlupa bahwa Airin meminta untuk bicara hal penting, tapi dia sudah tertidur lelap dalam pelukanku, matanya terkatup, kucium puncak kepalanya dan kutertidur sambil memeluk Airin.
Pagi ini kuterbangun tanpa Airin, apakah dia sudah berangkat kerja?
Kulihat secarik kertas di atas meja riasnya.

"Aku pergi duluan Mas, besok kita bicara yang tertunda tadi malam, hari ini aku pergi ke Surabaya penerbangan pertama,"
Aku terdiam mematung seakan lantai tempatku berpijak menenggelamkanku. Apa yang sebenarnya terjadi, baru bangun dari tidur yang dihias mimpi indah bersama wanita yang ku dekap tadi malam, pagi ini dia meninggalkan suaminya dalam kebingungan.
Aku menyesal tidak memberinya kesempatan berbicara hal yang katanya penting, aku terlanjur terhanyut dalam kobaran hasratku padanya.

Serangkaian pertemuan dan rapat yang melelahkan telah terlewati, ini hari kedua Airin pergi, kuraih gawai yang sedari tadi terabaikan oleh kesibukan.
"Airin tidak bisa pulang hari ini, ada beberapa hal penting yang harus kami selesaikan dulu di Surabaya, ini Rado rekan kerjanya."
Aku terpana membaca chat dari nomer yang tidak kukenal.
Rado, apa hak dia mewakili istriku mengabari ketidak pulangannya? Dadaku dibakar amarah luar biasa. Kucoba menghubungi nomer Airin, tapi tidak aktif, berkali-kali mencoba tetap belum aktif, hati terasa mau meledak.
Kutelpon nomer itu dengan rasa yang masih terbakar api cemburu.
Terdengar suara di seberang sana.
"Halo, kenapa nomer Airin tidak bisa dihubungi, kenapa kamu yang mengabarkan padaku, mana istriku."
"Dia sibuk, jangan diganggu, nanti kamu bertanya saat dia sudah di rumah!" Sambungan ditutup, dan ketika aku mencoba meghubungi gawainya telah mati.
"Kenapa?, ada apa," tanya Sofie khawatir.
Aku menggeleng dan berjalan melewati Sofie yang nampak bingung.
"Mbak Airin menelponku kemarin." Langkahku terhenti. Kuberbalik mendekati Sofie.
"Dia bilang aku pilihan yang tepat untuk menikah denganmu, dia mau aku dan ...."
Aku berlari meninggalkan Sofie, perasaanku bagai diblender, campur aduk antara sakit dan ketakutan luar biasa. Sofie menarikku dan menenangkan dengan menepuk pundakku perlahan. "Sabar Mas, maaf aku ngga memanggilmu Pak, karena ini bukan urusan pekerjaan." ucap Sofie pelan. Sambil
dituntunnya perlahan untuk duduk di sofa ruangannya.

"Apa yang sebenarnya terjadi? dari mana dia mendapatkan nomer telponmu, apa maksud semua ini." Aku menengadahkan kepalaku keatas sambil terpejam. Lelah rasanya hati menelusuri pekatnya masalah ini.
"Aku juga ngga tau Mas darimana dia mendapatkannya, kami sempat bicara lama."
"Lalu apa jawabanmu dengan permintaanya."
"Aku menolak, karena kita ngga ada hubungan apa-apa, tapi Mbak Airinnya menangis.
Airin, apa yang sesungguhnya kamu simpan rapat dibelakangku. Apa yang ingin kamu bicarakan padaku tadi malam. Seketika jiwa ini terasa kosong, getir dan sempurnalah sudah kesakitan ini.
Aku bagaikan orang gila, bolak balik ke kantor Airin tapi yang dijawab sekretarisnya tetap sama, Airin belum kembali.

Dan ini hari ke empat aku kembali bertanya dengan sambungan telepon ke kantornya. Di jawab bahwa Airin dan Rado akan mendarat siang ini. Kupacu mobil dengan kecepatan tinggi, tak sempat memperhatikan jalan, yang kuinginkan hanya secepatnya menemui kekasihku, istriku, dan meminta penjelasan atas apa yang terjadi, kenapa dia ingin aku menikah lagi.
Tiba-tiba sebuah mobil minibus menyalipku, aku oleng membanting setir kekanan, tapi dari belakang sebuah sedan melaju kencang. Pelan tapi pasti aku kehilangan kesadaranku, wajah Airin dan Naya terlintas di benakku. Sebelum semuanya gelap tak bertepi.
Bersambung


#AKU BENCI ISTRIKU
(Part 9)
By:KB

POV Airin
**********
Pernikahan ini sudah salah sejak awalnya, aku tidak berterus terang padamu Mas, tentang diriku, tentang banyak hal.
Sesungguhnya aku sangat mencintaimu, sangat menyayangimu, tapi ketidak jujuran dan rahasia besar mengganggu perasaanku.
Aku tahu betapa besar kamu mencintaiku, Kamu selalu memaafkan meskipun sudah tersakiti oleh sikapku.
Aku ingin berterus terang dan menceritakan beban yang menyiksa ini, tapi keegoisan untuk mempertahankanmu membuatku selalu urung mengatakannya padamu.

Masihkah kamu mencintaiku Mas setelah nanti kebenaran terungkap.
Sayang, aku juga sakit saat ini, mencintaimu tapi harus melepaskanmu.
Seandainya aku harus melepasmu pergi maka bukan dengan wanita yang salah.
Aku menunggumu sadar dari komamu, untuk melepaskanmu dari kepahitan hidup bersamaku.
Mungkin kamu heran, kenapa selama ini aku arogan dan sombong, aku hanya berusaha membuatmu pergi dengan suka rela dariku, tanpa aku harus membuka rahasiaku. Tapi melihat dirimu tersiksa bahkan hampir kehilangan nyawamu aku harus rela membuka kisah pahitku padamu. Dan setelah itu mungkin kata maaf sudah tidak berarti lagi.

********************************************

Tak ada suara di sekitarku, hening dan tak ada siapapun. Aku membuka mata perlahan, mencoba mencari Airin di sekitar ruangan, tapi yang kudapati hanya sepi dan hening. Aku sendirian saat membuka mata.
Pintu kamar terbuka, ada Mama berdiri di sana, beliau mendapati aku tersadar, segera memanggil dokter. Setelah dokter memeriksaku, mama tampak sangat bahagia.
Dipeluknya dengan penuh syukur, ada Papa juga, tapi dimana Airin?
"Dimana istriku Ma?"
Itulah kata pertama yang kuucapkan saat tersadar.

"Sebentar lagi datang nak, sabar ya, dia lagi di jalan." Papa menyahut dari belakang mama, aku mengangguk lemah.
Akhirnya aku bisa melihat Airin, dia memelukku, mencium keningku. Sejenak kulihat sorot matanya menyimpan rasa sakit yang aku tidak bisa menterjemahkannya.
"Rin, kamu jangan tinggalkan Mas ya, jangan," gumamku pelan sambil menggenggam tangan lembutnya.
Airin mengangguk sambil kembali mencium keningku.
"Iya sayang, aku janji." Sahutnya pelan.
"Cepat sembuh Mas,"

Aku mengangguk dan kembali meremas jemarinya.
Sebulan sudah aku keluar dari RS, pekerjaan kembali menyita waktuku, begitupun Airin kembali mencurahkan seluruh energynya pada pekerjaan. Suasana rumah tanggaku semakin terasa nyaman, aku tidak mengungkit masalah Rado atau pun masalah Airin yang meminta Sofie menjadi istriku.
Semua berjalan normal, sampai ku baca notif dari Rado di WA Airin.
"Kapan kamu akan berterus terang dengan suamimu, semakin cepat semakin baik, bagus untuk dia segera tahu."

Darahku berdesir, jantungku seakan hendak melompat. Apa yang disimpan Airin yang aku tidak tahu.
Ku telpon Rado, dan dia mengangkat pada nada panggil pertama. Begitu cepat responnya pada panggilan telepon Airin.
"Halo Rin, bagaimana kondisimu, kalau kamu drop lagi, segera hubungi psikiatermu,"
Aku tertegun, kumatikan sambungan telepon dengan Rado, aku tersandar di sofa, mencoba mencerna kata-katanya.
Airin muncul dari kamar dan menanyakan gawainya. Aku menatapnya tajam
"Rin, apa yang Mas ngga tahu tapi laki-laki lain tahu."
"Apa maksudmu Mas," Airin menatap tanganku yang menggenggam gawainya.
"Kenapa kamu ke Psikiater Rin, apa yang terjadi."
Airin menatap mataku dengan tatapan sendu, dia duduk perlahan di sofa, aku mengikutinya.
Butiran air mata mulai merembes di pipinya. Bahunya terguncang hebat.
"Aku minta maaf Mas, bila pengakuanku hari ini akan membuatmu tersakiti."
Kudekap istriku dengan lembut, kusapu air matanya. Setiap melihat air matanya jatuh, aku sangat sedih.

"Lupakan sayang, kalau itu menyakitkan untuk dikatakan. Mas akan menunggu kamu siap," ucapku lirih. Airin menggeleng. Diangkatnya wajahnya untuk menatap mataku. Hatiku luruh melihat mata indah itu berlinang air mata.
"Aku diperkosa Mas, seminggu sebelum kita menikah." Tangis Airin meledak, tanganku terkulai. Aku bukan tidak tahu istriku tidak perawan saat malam pertama, tapi buatku saat itu tidak penting, aku tahu dia wanita baik, tidak mungkin dia kehilangan keperawanannya karena sex bebas, aku yakin bahwa mungkin saja karena olah raga atau selaput dara tipis itu pecah akibat hal lain. Tapi tidak terpikir bahwa itu akibat perkosaan.
"Maafkan aku Mas," tangis Airin membahana, menyadarkanku dari keterpanaan.
"Kenapa kamu minta maaf Rin, penjahat itu yang harus minta maaf padamu," kupeluk erat Airin dalam dadaku. Ya Tuhan betapa butanya aku sebagai laki-laki, buta pada penderitaan istriku, buta pada trauma yang dialaminya. Aku hanya fokus pada penderitaanku sendiri, harga diriku, tanpa bisa melihat dari sisi Airin.

"Aku drop setiap kali melayanimu di tempat tidur. Aku ke Psikiater untuk mengatasinya." isak Airin pedih. Aku merasa menjadi suami yang amat sangat egois, bagaimana mungkin bisa terlewat untuk melihat lukanya yang sedemikian jelasnya. Egoku sebagai lelaki yang telah menutup mataku.
"Kenapa Rado tahu? lalu siapa yang memperkosamu?" Kutatap kedalam mata Airin.
"Anak dari Dosen pembimbingku Mas, saat kejadian Mas Rado yang menolongku. Kami datang kerumah itu untuk mengkonsultasikan skripsiku, tapi Pak Dosen sedang keluar dan menyuruhku menunggunya, saat Mas Rado pulang mengambil laptop, disitulah kejadian laknat itu, aku tidak sadarkan diri karena dibekap dari belakang dengan sapu tangan," Airin kembali menangis.
"Ceraikan saja aku Mas, noda ini tidak mampu ku tanggung."

"Rin, kalau ini berat buatmu, kenapa kamu menanggungnya sendiri, izinkan Mas ikut berbagi bebanmu, ingat sayang, aku mencintaimu, aku suamimu, tidak ada alasan bagiku meninggalkanmu."
"Naya bukan anakmu Mas, apa kamu sanggup hidup bersamaku dengan anak yang bukan darah dagingmu? aku tidak sanggup memberi beban lebih berat lagi di hidupmu."
Seakan suara petir sahut menyahut di telinga. Aku terpaku bisu. Bagaimana mungkin anak yang selama ini sangat kucintai tiba-tiba menjadi anak orang lain.
Aku bisa memahami Airin yang depresi dan trauma pasca perkosaan itu, tapi aku tidak terima Naya direnggut dari hidupku.

"Rin kamu bicara dengan fakta atau tidak!" Aku mengguncang bahu Airin, tangisnya semakin kencang. Kembali kupeluk erat istriku. Ya Tuhan, ampuni aku yang lalai melindungi istriku, hingga selama lima tahun terakhir aku menciptakan kepedihan dalam traumanya. Betapa berat dia melalui semua ini, menyimpan deritanya sendirian. Tapi aku tetap tidak rela bila Naya disebut bukan anakku.
Dalam sehari duniaku runtuh.

Aku bertekad tidak akan melepaskan Airin dan Naya, siapapun ayah biologisnya, kenyataannya dia adalah anakku, tidak ada satu hal pun yang bisa merubah itu.
Kugendong Airin kedalam kamar, kubaringkan dia ditempat tidur, kuselimuti tubuh istriku. Air mataku mulai deras mengalir. Betapa menyakitkan nya ini buatmu Airin. Kamu menyimpan segalanya dalam traumamu.
Bersambung


#AKU BENCI ISTRIKU
(Part 10)
By:KB

Cerita ini dibuat mewakili sedikit dari lelaki yang setia pada satu wanita. Tidak banyak lelaki dengan tipikal seperti ini, tapi ada. Dan semoga belum akan punah dari muka bumi ini. Do'a saya buat reader semua semoga pasangan anda adalah seseorang yang tulus mencintai tanpa pamrih dan setia dalam segala kondisi.
********************************************
Aku bisa mengerti kenapa Airin tidak mampu mengungkapkan kenyataan ini selama bertahun-tahun dan memilih hidup dalam trauma mendalam. Menjadi
Korban perkosaan bukanlah hal mudah untuk dihadapi. Biasanya korban akan merasa dirinya kotor, tidak berharga dan berkepanjangan menyalahkan diri sendiri.
Airin merahasiakan kenyataan pahit ini bukan hanya terhadapku tapi juga terhadap kedua orang tuanya.

Setelah menemui Psikiaternya aku semakin mengerti.
Depresinya semakin akut karena menghadapi tekanan kedua orang tuanya tentang aku dan pekerjaanku. Menghadapi kewajibannya melayani suaminya di tempat tidur adalah siksaan mental baginya. Bekerja dan menjadi sibuk karena pekerjaan adalah jalan yang di pilih Airin untuk mengalihkannya dari rasa insecure. Kehormatan di pekerjaan, menjadikan dia lebih bisa berdamai dengan dirinya.
Aku termenung membayangkan hubungan selama 5 tahun yang begitu hambar. Hubungan yang tidak sehat terbentuk dalam kurun waktu itu.
Namun aku bersyukur setidaknya aku tidak pernah berpikir menduakan dia dengan siapapun, aku tidak mampu membayangkan luka seperti apa yang akan diterima Airin andai aku menghianatinya di saat seharusnya aku membantu dia percaya bahwa cinta akan menyembuhkan lukanya secara perlahan.

Aku menemui Rado di cafe dekat kantornya, Airin tidak mengetahui pertemuan ini. Lelaki berperawakan ala pencinta gym ini nampak sangat gentleman. Usianya tampak tidak jauh berbeda dariku, dia ternyata kakak tingkat Airin di fakultasnya. Aku mengulurkan tangan pada Rado dan disambutnya dengan hangat.
"Silahkan duduk Do," ucapku ramah. Rado mengangguk sambil tersenyum padaku.
"Apa yang ingin kamu bicarakan Zal,"
"Aku ingin tahu, apa yang terjadi pada Airin saat kalian di Surabaya." kutatap dalam - dalam mata lelaki di hadapanku. Rado mengangguk dan menarik napas dalam.
"Airin pingsan beberapa kali sehabis meeting dengan client. Aku tidak tahu apa penyebabnya. Dia beberapa kali berbicara dengan Psikiaternya melalui sambungan telepon. Dia tampak lemah dan sedikit depresi. Jadi aku terpaksa menunda kepulangan kami."

Rado menyeruput kopinya sambil mengeluarkan rokok dan menawarkan padaku, tapi kutolak karena aku tidak lagi merokok sejak menikah dengan Airin, dia sangat tidak menyukai bau asap rokok.
"Rado, kamu satu-satunya yang tahu kejadian yang menimpa Airin 5tahun lalu kan? Kemana lelaki baji**** itu sekarang?" tanyaku menahan geram yang ku simpan rapat di dalam hati.
"Dikirim orang tuanya ke Amerika, sampai sekarang belum kembali." sahut Rado.
"Siapa orang tuanya, aku ingin menemuinya." Rado mengangguk dan mengambil gawainya kemudian mengirimkan nama dan alamat orang tua Handy.

"Dari mana kalian tahu pelakunya Handy? bukankah Airin pingsan dan ...."
"Tidak ada orang lain selain dia, orang tuanya juga yakin anaknya pelakunya," aku tertegun menatap wajah Rado, entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang tidak kusuka dari lelaki ini.
Hati nuraniku sangat kuat mencurigai Rado adalah orang yang menyakiti Airin, tapi kecurigaan tidak akan menjadi bukti kalau hanya sekedar berhenti dirasa curiga belaka. Aku harus menyelidiki ini. Rasanya sangat mengerikan membiarkan istriku menjadi rekan kerja dengan lelaki yang mungkin telah diam-diam menyakitinya. Kecurigaanku bukan di dasari rasa cemburu buta, tapi aku hanya mencoba menjaga istriku dari kemungkinan terburuk.

Aku pulang kerumah dan mendapati Naya bermain dengan Airin.
"Kamu pulang cepat sayang?" tanyaku sambil mengecup kening Airin.
"Iya Mas, tidak begitu banyak yang ku kerjakan hari ini," sahutnya. Kuraih Naya yang sudah semakin pintar berceloteh tentang apa pun. Melihat perkembangan anakku yang semakin hari semakin mirip Airin adalah kebahagiaanku.
"Mas, aku ingin bicara, bisa?"
Aku mengangguk dan melepaskan pelukanku pada putriku.
Kami meninggalkan Naya dengan baby sitternya.
"Ada apa sayang," tanyaku pelan sambil menyibakkan rambut yang menutup keningnya.
"Kenapa kamu ngga mau menceraikan aku Mas, aku kotor dan Naya bukan anakmu," Airin menunduk.

'Kotor dari mana? itu hanya ada di pikiranmu, Naya bukan anak yang lahir dari perselingkuhanmu dengan lelaki lain. Naya lahir karena taqdirnya demikian, berhentilah menyalahkan diri sendiri Rin, dimana salahnya kalau Naya bukan darah dagingku, di dunia ini jutaan laki-laki menikahi wanita yang sudah memiliki anak, apa bedanya sekarang denganku, aku beruntung karena mengenal Naya bahkan sejak dalam kandunganmu." Airin menahan tangisnya, tatapan lembut itu, tatapan yang dulu pernah kulihat kini telah kembali menghiasi matanya.
"Tapi aku tidak tahu kapan aku bisa melaksanakan tanggung jawabku sebagai istri tanpa bayang-bayang trauma itu Mas, Sofie mungkin ...."
"Stop Rin, jangan pernah berpikir untuk melarikan diri dari pernikahan kita," ku raih wajah istriku. Kutatap matanya dalam-dalam.

"Kamu mencintai Mas?" tanyaku serius.
"Ya Mas, aku sangat mencintaimu." Sahutnya dengan suara bergetar, dihapusnya air mata dengan punggung tangannya.
"Itu sudah cukup sayang. Mas akan menunggumu," Kupeluk Airin dengan lembut. Cukup memeluknya saja, karena aku tidak akan mengulangi menyakiti istriku.
Ketika tadi siang Rado mengatakan padaku Airin pingsan di Surabaya, aku segera menghubungi psikiaternya dan bertanya penyebabnya, dia bilang Airin tiba-tiba mengalami down. Dan aku teringat malam itu aku melepas rinduku pada istriku berkali-kali. Rasanya sangat menyesal.
Gawaiku berbunyi, dan di sana tertulis Papa mertua. Aku menatap Airin, dia mengangkat bahunya."Angkat saja Mas, siapa tahu penting." aku segera mengangkat gawaiku.
"Ya Pa, ada apa ?"
"Besok kamu dan Airin ke rumah. Kosongkan jadwal kalian," tegasnya, kemudian terputus.

BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar