#AKU BENCI ISTRIKU
(Part 6)
By:KB
Airin menepuk tanganku, lamunanku jadi buyar.
"Mas, kamu mikirin apa sih, seperti ngga fokus gitu," tegurnya. Aku menggeleng dan hanya melanjutkan makanku.
"Faizal, Mama tadi bilang besok sudah mau pulang, Mama cuma mau nengok
kalian saja, Papa ngga bisa ditinggal Mama lama-lama, sampai setua itu
ya masih angot, manja sama Mama," tutur Mama sambil tersenyum.
"Iya Mah, besok Faizal yang antar Mama, kami libur besok," sahutku sambil melirik Airin.
Airin mengangguk, sambil memandangi gawainya. "Airin sama Naya ikut nganter juga, Ma."
" Ngga usah Rin, kamu istirahat saja, biar Faizal saja." Sahut Mama.
"Ngga sibukkan besok sayang? sekalian kita jalan-jalan," aku sengaja
mengambil kesempatan, aku tau Airin jaim didepan Mama, dan benar saja,
dia mengangguk. Hatiku bersorak, berarti janji dengan temannya batal.
Saat bersiap mengantar Mama, tiba-tiba tetangga 500m ku, berkunjung.
"Mama sudah mau pulang?" tegurnya, sambil mencium pipi Mama. Aku terkesiap, wajahku serasa tidak di aliri darah lagi.
Airin tertegun menatap Siska, "Siapa ya, Mama kenal?" tanya Airin. Mama mengangguk, tapi terlihat sangat canggung.
"Kenalin Mbak, saya Siska, tetangga Mbak, rumah saya ngga jauh koq dari
sini, saya juga teman sekantor Mas Faizal," sahut Siska ramah. Airin
menyambut tangan Siska sambil tersenyum.
"Oh, Mas Faizal ngga pernah
cerita kalau punya teman sekantor yang tinggal dekat sini," sahut Airin
datar, sambil menatapku penuh selidik.
"Ya udah kita berangkat sekarang, nanti Mama telat." Aku mengalihkan pembicaraan. Airin memberikan kunci mobilnya padaku.
"Pakai mobilku aja Mas, lebih enak,"
"Kenapa dengan mobilku Rin,"
Suasana jadi kembali canggung, aku segera mengambil kunci mobil Airin
agar tidak ada perdebatan di depan Mama, apalagi di depan Siska.
Airin mengambil Naya dari pelukan baby sitternya, kami pamit pada Siska,
dia tersenyum dan kembali memeluk mama sebelum kami masuk mobil,
Aku jadi salah tingkah melihatnya. Semoga Airin tidak menaruh curiga.
Batinku bergemuruh. Walaupun aku tidak berselingkuh dengan Siska, tapi
jujur aku takut istriku salah faham.
Di perjalanan kembali dari
mengantar Mama, Airin nampak menatap kosong, seperti ada yang
dipikirkannya. Sementara Naya terlelap dalam pelukannya.
"Kamu selingkuh Mas?" tanya Airin tanpa basa basi. Aku menoleh sekilas, kemudian menggelengkan kepala.
"Ngga, kenapa kamu berpikiran seperti itu.". jawabku yakin, karena memang aku tidak selingkuh.
"Kenapa Siska memanggil Mama dengan sebutan Mama, apa hubungannya dengan kamu sehingga punya hak memanggil Mama?"
"Aku ngga ngerti Rin, kenapa dia begitu,"
"Kamu ngga jujur Mas, jawab aku dengan jujur," Airin menatapku tajam.
"Jangan bertengkar di mobil Rin, tunggu sampai rumah, bahaya, kita bisa
kecelakaan, lagipula kamu sedang menggendong Naya. Airin memalingkan
wajahnya dariku.
"Kalau kamu selingkuh, kita cerai Mas!"
Kalimat pendek Airin serasa menohok jantungku.
"Bagaimana kalau kamu yang selingkuh?" jawabku singkat.
Airin menatapku dengan sorot mata yang dalam dan penuh mistery.
Airin masih diam sampai di rumah, Naya masih terlelap dalam pelukannya.
Kupanggil babysitter untuk meletakkan Naya di tempat tidur. Lama Airin
terdiam di hadapanku, kuraih tangannya tapi ditepiskan.
"Aku mau pergi Mas," pamitnya sambil berdiri hendak meninggalkanku.
"Tunggu Airin, duduk dulu, banyak yang harus kita bicarakan."
Airin tetap berlalu, dia mengganti pakaiannya dengan pakaian casual dan
segera menuju mobilnya, aku mengikuti, kuraih tangannya, tapi kembali
ditepisnya.
"Rin, kamu kenapa sih? aneh tau ngga sih!" bentakku.
Airin menoleh dan, "ingat Mas, aku ngga mau menjadi istri seorang
laki-laki yang mencintai wanita lain!" Airin menatapku tajam sambil
tangannya mengepal kuat, dan bibirnya bergetar hebat. Ada bulir air mata
yang terjebak di kelopak matanya.
"Kamu takut aku selingkuh, tapi kamu mengabaikanku sepanjang waktu,"
"Jadi bener kamu selingkuh? bener Mas ? jawab!" pekiknya. Aku mengusap
wajahku sambil menengadahkan kepalaku, kuhela nafas dalam.
"Aku
benar-benar ngga ngerti dengan sikap kamu Rin, aku tidak selingkuh, oh
atau kamu cari alasan untuk meminta cerai dariku, iya Rin? kamu
mengabaikanku, tidak memberikan hakku sebagai suami, aku bukan malaikat,
aku cuma laki-laki biasa, aku juga takut akan selingkuh akibat ...."
Airin mendorongku hingga terjajar kebelakang.
"Aku muak dengan ucapanmu, selalu di pikiranmu hanya itu, hanya tentang
tempat tidur dan pikiran mesummu. Kalau kamu berselingkuh hanya karena
itu, kamu laki-laki egois Mas!" Airin meninggalkanku, dia memacu
mobilnya berlalu, aku tertegun melihat reaksi Airin.
Di kantor, Siska semakin berani
mendekatiku. Rasanya benar-benar risih, aku merasa segalanya jadi
sangat rumit, istriku yang dingin dan tidak mencintaiku lagi,
menjadikanku berada dalam dilema, walaupun aku sangat membenci sikap
arogan dan angkuhnya, tapi aku tidak berpikir untuk menghianatinya.
"Mas, makan siang bareng ya," Siska menatapku dengan mata sayunya.
Aku menggeleng pelan, "Aku minta maaf Siska, tidak bisa, aku ngga ingin istriku salah faham." tolakku.
"Rumah tanggamu sedang bermasalah Mas, aku lihat dan mendengar pertengkaranmu di halaman rumahmu,"
Aku kaget mendengar ucapan Siska.
"Aku di depan rumahmu kemarin, sebenarnya aku mau lewat saja, tapi ...."
Aku melangkah meninggalkan Siska, rasanya aku semakin takut pada obsesi
wanita ini padaku. Seharusnya dia sadar, aku lelaki beristri. Kenapa
dia terus berupaya mengalihkan perhatianku padanya.
"Aku ngga akan menyerah untuk memilikimu Mas, ingat sayang, apa yang tidak kamu dapat dari Airin, aku bisa berikan,"
Aku menatap Siska tajam. "Jangan berpikiran aku mudah buatmu Siska."
aku tersenyum dingin padanya, melangkah meninggalkan ruanganku menuju
ruang meeting, konsentrasi rasanya hampir buyar oleh rayuan Siska.
"Zal, aku perhatikan Siska mepet kamu terus ya, kalo aku jadi kamu, ku
poligami dia jadi bini simpanan, gila lu bro, bohay, cantik ampuuun, koq
lu gak mau sih?" Reno berbisik di telingaku. Aku tertawa mendengarnya.
"Yang di rumah lebih bohay bro, limited edition," sahutku, kami tertawa
pelan. Komisaris plus Presdir masuk ruang meeting, kami segera diam dan
kembali konsentrasi dengan materi rapat hari ini.
Gawaiku
berbunyi, ternyata Mama, "Zal, Kemarin Mama merasa sangat tidak nyaman
dengan sikap Siska, temanmu, bahaya rumah tanggamu, Mama mengingatkanmu,
seberat apa pun kamu memikul beban hidup, jangan pernah berpikir
selingkuh, istrimu kurang apa, dia sangat baik, seandainya ada
kekurangan di dirinya, kamu harus sabar, pasangan itu bukan terdiri dari
dua orang yang sempurna, justru sebaliknya, disebut pasangan karena
saling melengkapi dalam kekurangan, sehingga menjadi kesempurnaan. Ingat
Nak, ketika kamu merasa lelah, mundur selangkah, lalu kembali lagi saat
kamu siap berjuang." Nasihat mama menguatkanku.
Semakin hari
sikap Siska semakin berani menggodaku dan semakin hari sikap Airin
semakin dingin. Dua kondisi yang menciptakan setres di kepalaku.Airin
semakin lupa tanggung jawabnya, Dia juga lebih sering melihat gawainya,
dan selalu nampak bahagia, terkadang di tengah malam dia mengobrol
dengan seseorang dan tampak lebih fresh sehabis bertelponan. Sungguh
misterius, aku benar-benar tersiksa Hidupku jadi semakin melelahkan,
kalau aku ingin menyelamatkan rumah tanggaku, satu persatu benang kusut
ini harus ku urai perlahan. harus ada keputusan besar yang kuambil.
Aku memutuskan resign dari kantor, setelah seorang teman memberikan
informasi pekerjaan yang lebih baik. Walaupun untuk itu aku akan
menganggur selama sebulan, karena rekruitmen itu berlangsung sebulan
lagi, aku akan mengikuti prosudur yang berlaku, walau sebenarnya bisa
melalui koneksi. Tidak mudah untuk mengambil keputusan besar ini. Airin
terpaku mendengar aku sudah tidak bekerja.
"Kamu beneran resign Mas? sudah ada gambaran mau ngapain?"
"Mengurus rumah tangga," sahutku sekenanya.
"Jangan gila kamu Mas,"
"Ya, aku sudah gila, gila karena istri seperti kamu," sahutku sambil
berlalu meninggalkannya. Sementars menunggu sebulan, aku akan menarik
taxol lagi. Setidaknya aku akan aman dari kelakuan Siska yang kalau aku
bertahan di kantor itu, bukan tidak mungkin terhanyut mengikuti
permainannya.
"Jangan lama-lama menganggur Mas, aku ngga mau Mamaku sampai tahu, aku juga malu sama teman -temanku,"
Aku cuma tersenyum masam, tunggu saja Rin, aku akan membuatmu terkejut, batinku.
Bersambung
#AKU BENCI ISTRIKU
(Part 7)
By:KB
Seminggu sudah mengisi hari dengan kegiatan rutin, menarik Taxol,
bermain dengan Naya, memperdalam lima bahasa yang sudah dikuasai selama
ini, sebisa mungkin untuk tidak memperdulikan Airin yang mencurahkan
seluruh energy bagi pekerjaannya, untuk sementara aku menghindari
berdebat masalah apa pun dengannya.
Malam ini tarikanku sangat
full sehingga pulang agak larut, aku tahu Airin belum tidur, karena
besok hari libur. Lampu di ruang tengah masih menyala, aku melintasi
ruang tengah dan mengabaikan Airin yang sedang duduk menonton TV.
Baru memegang gagang pintu kamar tamu yang sudah seminggu kutempati, terdengar suara Airin menyapaku.
"Kenapa tidur di kamar itu Mas? kamu mau pisah ranjang?"
"Apakah penting buat kamu dimana aku tidur? sama saja 'kan? tidur di
sini atau aku tidur di samping kamu tidak ada bedanya. Aku lelaki normal
Rin, melihat piyamamu tersingkap saat tidur, hati dan tubuhku
tersiksa. Jangan kamu bilang aku mesum, karena aku suami kamu, bukan
patung yang tidak punya hati dan hasrat." sahutku datar dan dingin.
Airin mematung, tidak terdengar bantahannya. Aku bergegas masuk ke
kamarku, setelah mandi dan makan sendirian aku terlelap dalam kelelahan
hati dan fisik yang tak terbayangkan.
Kuletakkan gawaiku di atas meja makan.
Airin datang dan duduk di sana, diam tak bersuara, hanya sesekali
tangannya mengangkat gelas tehnya. Terlihat matanya sembab. Ku seduh
kopi dan membuat beberapa cemilan, sekilas terdengar gawai berbunyi.
Notif dari Wa ku. Airin mengambil gawaiku yang tidak pernah ku beri
sandi pengaman.
"Apa ini Mas, kamu dan Siska ..." terdengar suara
Airin bergetar. Aku mendekat sambil membawa sepiring kue dan segelas
kopi, tidak nampak sedikitpun aku terganggu dengan pertanyaan Airin.
Kulirik sekilas ada sebulir air mata jatuh di pipinya.
"Kalian benar-benar berselingkuh Mas,"
ucapnya pelan, matanya nanar menatapku.
"Apapun yang kamu baca di WA itu tidak akan mengubah apa pun, tidak
membuktikan apa pun, Siska memang terobsesi padaku, tapi sejauh ini aku
mampu menjaga kehormatan sebagai suamimu." sahutku dingin, sambil
menyeruput kopi hitam di gelas.
"Kulakukan bukan karena takut
padamu, tidak! tapi karena prinsif hidupku saja, aku dibesarkan orang
tua yang hidup penuh cinta, selalu mengajarkan tentang kesetiaan, kasih
sayang tanpa pamrih, kami bukan orang kaya seperti keluargamu Rin, tapi
hidupku bahagia. Hartamu, karirmu, kehebatanmu, tidak cukup berarti
bagiku, yang berarti itu dirimu dan anak kita, rumah tangga kita,"
Airin terdiam sambil menyapu air matanya, sesungguhnya aku ingin
meraihnya dalam pelukanku, saat dia menangis bagiku adalah saat aku
merasa gagal menjadi suaminya. Airin berdiri dan meninggalkanku menuju
kamar. Kubaca WA yang dikirimkan Siska.
"Aku rindu mencium bibirmu Mas, kenapa kamu tega resign dari kantor, tolong temui aku mas,"
Kuhela nafas dalam-dalam, tak perlu memberi penjelasan apapun pada
Airin, biarlah begini saja. Mungkin dengan begini kami bisa menata hati
kembali. Hatiku yang remuk dan hati Airin yang dingin dan beku, mungkin
akan mencair atau justru remuk bersama-sama. Aku tidak ambil pusing,
yang kupikirkan sekarang bagaimana merubah hidup ini menjadi lebih baik,
kalau bagi Airin dan keluarganya materi adalah segalanya, akan kucoba
merubah kesederhanaan yang sangat kusukai ini menjadi yang
diinginkannya.
Kukemas pakaian dalam koper walau masih jam 5
pagi. penerbanganku akan sangat panjang, 14 jam Jakarta-Amsterdam,
tanpa transit di Abu Dhabi.
Semoga langkah ini tidak salah.
Kubangunkan Airin yang sedang tertidur, jam 5 pagi, meskipun aku
berangkat jam 9 pagi, Airin menatapku yang duduk dibibir ranjang.
"Kenapa Mas, kamu ngapain sudah rapi jam segini."
Kutarik tangannya untuk bangun. Pelan kupeluk erat istriku.
"Mas Pamit Rin, mungkin kita ngga bertemu dalam waktu yang cukup lama,"
"Mau kemana, kenapa mendadak!"
"Perusahaan baru tempatku bekerja menugaskan ke Belanda, ke cabang di sana buat belajar, mungkin sekitar 6 bulan."
"Kenapa baru bilang Mas? kenapa ngga dari kemarin?" Airin mengambil
ikat rambut dan mengikat rambutnya, dia berdiri di hadapan ku.
"Aku ngga tau maunya kamu tu apa Mas? tiba-tiba begini? aku ...."
"Ngga ada apa-apa Rin, aku hanya mewujudkan keinginanmu, keinginan
semua orang, yaitu sukses, biar kamu dan keluargamu ngga risih lagi
melihat aku narik taxol."
"Tapi ngga gini caranya Mas, ada banyak hal yang belum kita bicarakan, banyak hal yang ...."
"Mas sudah berikan waktu panjang buat kamu Rin, satu bulan, tapi kamu malah pulang malam dan hang out dengan temanmu."
"Tapi ...." Airin duduk dibibir ranjang sambil menutup wajahnya,
bahunya terguncang. Aku terpaku, ada apa dengan istriku ini, semenjak
mencurigaiku selingkuh dia terlihat lebih rapuh, keangkuhannya runtuh.
Bahkan di beberapa kesempatan terlihat dia menangis. Kudekati dan ku
coba merengkuh kepalanya, tapi dia menghindar dan beranjak pergi.
Aku hanya menghela nafas, betapa sulitnya memahami wanita, bahkan wanita yang telah lima tahun bersamaku.
"Rin, Mas tau kamu sibuk, tapi ingat, jangan lepaskan pengawasanmu pada
Naya. Satu hal lagi, jangan khianati pernikahan kita, Mas ngga pernah
menghianati kamu, sesulit apa pun bagi Mas menghadapimu." Ku kecup
keningnya sebelum masuk ke mobil yang akan mengantarku ke Bandara. Airin
hanya diam menatap kepergianku.
Airin melambaikan tangan, kulihat air mata mengalir di pipinya, tapi dia berpaling agar tidak terlihat olehku.
Segera ku stop mobil, dan aku turun kembali, kupeluk dia dari belakang,
Airin berbalik dan menciumku sambil menangis. Sejenak aku terpaku
dengan ciuman lembutnya, setelah semua yang terjadi, seandainya bisa aku
akan menunda keberangkatanku, tapi apalah daya, waktu sudah tidak
berpihak pada moment manis ini.
"Semoga kepergianku akan membuat
kita saling introspeksi diri Rin." Airin hanya diam dan memelukku.
Sungguh aku tak tau apa yang dirasakannya.
Ternyata yang dikirim
ke cabang perusahaan di Belanda ada 3 orang, aku, Rendra dan Sofie.
Kami menjadi akrab selama di sana, sikap Sofie yang manja padaku dan
Rendra membuat kami seperti tokoh kelompok Unyil, Ucrit dan Tuplis,atau
bagai Teletubies , Lala, Po, dan Dipsi. Ketika terbebas dari tugas kami
bertiga akan selalu jalan ke tempat-tempat wisata. Sofie sangat cantik,
supel, bahkan bisa dikategorikan manja tapi sangat smart. Senyum
manisnya persis senyum Song Hye Kyo artis cantik asal negeri Ginseng
Korea Selatan. Tubuh tinggi semampai, kulit putih, dia benar-benar
mempesona tiap lelaki yang melihatnya. Dia suka sekali bergelendot manja
entah di lengan entah di bahu kami membuat kami terbiasa dengannya.
Rendra single dan Sofie pun begitu, jadi aku yakin mereka akan saling
jatuh cinta, tapi dugaanku salah, Sofie menolak ketika Rendra
menembaknya. Dan persahabatan kami bertiga kembali seperti biasa.
Sampai enam bulan berlalu tidak terasa.
Aku mengabari Airin kepulanganku, walaupun aku tidak berharap dia akan menjemputku, karena aku tau dia sibuk.
Sofie menggenggam tanganku erat, sementara Rendra memegangi troli koper
kami, Sofie melambaikan tangan pada teman yang menjemputnya, kemudian
mengambil kopernya dari Rendra dan menatap wajahku lekat kemudian
repleks mencium pipiku dan berlalu. Aku terpana bukan karena ciuman
mendadak dari Sofie, tapi karena tepat di depanku Airin berdiri
menatapku.
Rendra menepuk pundakku, "Zal, sampai jumpa di kantor besok." Rendra berlalu dan aku tetap terpaku di tempatku berdiri.
Airin diam sepanjang perjalanan pulang, aku berkonsentrasi pada
jalanan. Hening tanpa suara. Sesampainya di rumah, Airin pamit untuk
langsung pergi ke kantornya. Tidak ada respon apapun terhadap apa yang
dilihatnya di bandara.
"Rin tunggu," aku menarik lengannya dan mencoba mencium pipinya, wanita cantik yang sangat ku rindukan itu hanya diam.
"Aku ada meeting penting Mas, sampai ketemu besok," ucapnya dingin, tidak terlihat sedikitpun riak kerinduan di mata indahnya.
"Kenapa besok?" tanyaku kaget.
"Sehabis Meeting aku ke Bandung meninjau cabang di sana."
"Dengan siapa,"
"Dengan rekan-rekanku,"
"Siapa?"
"Mas Rado dan Isma, kenapa Mas bertanya se detail itu."
Aku hanya menggeleng pelan.
"Hati-hati di jalan sayang." ucapku pelan. Aku teringat chat dan
beberapa telpon dari Rado, tapi hatiku mencoba berdamai dengan pikiran
yang kusut oleh cemburu.
Aku mulai bekerja di perusahaan jasa
tekhnology informasi, sebuah perusahaan besar yang memiliki cabang bukan
hanya di Belanda tapi juga di Australia, Singapura dan Malaysia.
Seharusnya hari ini adalah hari dimana kebahagiaanku dengan Airin, bukan
saja karena keberhasilanku bekerja di perusahaan besar yang sesuai
dengan keahlianku, tapi juga karena hari ini adalah hari ulang tahunku.
Tapi dimana istriku itu sekarang, dia memperpanjang satu hari lagi di
Bandung. Sudah saatnya aku akan memberi ketegasan padanya. Sejak hari
ini aku berjanji akan membuat Airin patuh padaku, bagaimanapun caranya.
Sofie datang keruanganku bersama Rendra " Ayo Pak Bos, kita rayakan
kepulangan kita ke Indonesia." Aku tertawa riang mendengar mereka
memanggilku Pak Bos. "Oke, kebetulan hari ini aku ulang tahun, aku yang
teraktir," sahutku antusias.
Untuk sementara aku melupakan Airin dan
larut dalam keriangan dua sahabat baruku. Sofie beranjak meninggalkan
kami untuk ke toilet, ketika Rendra mendekatiku.
"Zal, kamu ngerasa ngga sih, Sofie itu suka sama kamu," bisik Rendra di telingaku, aku terkejut.
"Ah kamu bercanda bro, ya ngga mungkinlah, aku sudah beristri dan beranak, kamu aja ditolak, bagaimana bisa dia suka padaku,"
"Itu realitanya, kamu ngga nyadar ya dengan pesona Papa muda yang sexy,
itulah yang dia tangkap dari dirimu," Aku tertawa ngakak dan Rendra
memukul bahuku.
"Apaan sih yang kalian obrolin, seru banget
kayaknya," Sofie datang dan kami pun kembali tertawa sambil mengalihkan
pembicaraan ke topik yang lain.
Sepanjang perjalanan pulang, aku
merenung, kenapa dua wanita cantik, Siska dan Sofie bisa menyukaiku,
tapi mengapa istriku tidak?
Apakah karena mereka belum merasakan hidup sebagai Airin yang menjadi istriku.
Mereka belum tahu kekuranganku. Karena dulu Airin juga sangat
mencintaiku, dia rela menentang orang tuanya demi menikahiku. Seketika
pikiranku terbersit tentang Airin. Aku harus segera mencari tahu apa
hubungan antara istriku dengan lelaki yang di panggilnya Mas Rado. Aku
juga harus tahu penyebab semua sikap dingin Airin.
Aku memacu
mobilku dengan kecepatan sedang, dan hampir sampai di depan rumahku,
tapi ku urungkan untuk berbelok masuk, Aku tertegun melihat seorang
lelaki mengantarkan Airin pulang dengan mobilnya, menyerahkan kunci
kontak kepada Airin dan pulang dengan taxol. Lelaki itu terlihat
gentleman, wajahnya tampan, perawakan yang tegap dan gagah, nampak
seusiaku. Aku masih berdiam diri di seberang jalan, duduk termenung di
dalam mobilku.
Bersambung
#AKU BENCI ISTRIKU
(Part 8)
By:KB
Aku masih merenung di dalam mobil, berat hati untuk masuk kedalam
rumah, rasa takut menghadapi kenyataan seandainya Airin benar-benar
berpaling dariku. Seandainya hatinya bukan lagi milikku. Mungkin
beginilah yang dirasakan Airin melihat Sofie di Bandara kemarin.
Baby sitter dan ART sudah masuk kamar mereka, aku masuk ke ruang tengah
dan Airin duduk di sofa. Dia menatapku lekat, bibirku terkatup menahan
rasa yang membuncah di dada, antara rindu, benci dan takut kehilangan.
"Mas sudah makan?" tanya Airin pelan.
"Sudah ...."
"Dengan Sofie?"
"Ya, dengan satu teman lagi."
Airin menatapku lekat, ada yang berbeda dengan tatapannya, aku tak lagi
mendengar dia marah tidak jelas, atau membalas ucapanku dengan arogan.
Airin seperti tenggelam dalam dunia yang tidak bisa kuselami.
"Mandilah Mas, nanti ada yang ingin kubicarakan, penting," ucapnya masih dengan intonasi pelan.
Sekilas ku mencium aroma shamponya, aroma sabun mandinya, pikiranku
melayang tidak jelas. Tanpa kusadari kaki ini melangkah mendekatinya,
kutarik dia agar berdiri. Kupeluk erat sambil mrnghirup aromanya. Kucium
dia dengan penuh kerinduan yang dalam.
"Rin, izinkan Mas malam ini melepas rindu padamu kekasih halalku. Izinkan Mas untuk ...."
Airin membalas ciumanku, membalas pelukanku erat, dia membiarkanku
menjelajahi dirinya dengan hasrat yang sudah tidak mampu ku bendung
lagi.
"Mandi dulu Mas." Airin mengingatkanku, aku melepaskannya dan
tersenyum bahagia. Namun tidak demikian dengan Airin, kulihat matanya
yang indah nampak kosong, namun terabaikan oleh rasa bahagia. " Ya
sayang, Mas mandi dulu, kamu jangan berubah pikiran ya," rajukku manja
sambil mencium pipinya.
Malam itu rasanya aku ingin waktu
berhenti sejenak, dapat kulihat lagi wajahnya yang cantik di sisiku.
Memeluknya bagai merengkuh semua mimpi dalam hidupku. Kemarahan selama
ini pupus oleh percintaan kami dalam bahtera indah ini.
Sejenak
terlupa bahwa Airin meminta untuk bicara hal penting, tapi dia sudah
tertidur lelap dalam pelukanku, matanya terkatup, kucium puncak
kepalanya dan kutertidur sambil memeluk Airin.
Pagi ini kuterbangun tanpa Airin, apakah dia sudah berangkat kerja?
Kulihat secarik kertas di atas meja riasnya.
"Aku pergi duluan Mas, besok kita bicara yang tertunda tadi malam, hari ini aku pergi ke Surabaya penerbangan pertama,"
Aku terdiam mematung seakan lantai tempatku berpijak menenggelamkanku.
Apa yang sebenarnya terjadi, baru bangun dari tidur yang dihias mimpi
indah bersama wanita yang ku dekap tadi malam, pagi ini dia meninggalkan
suaminya dalam kebingungan.
Aku menyesal tidak memberinya
kesempatan berbicara hal yang katanya penting, aku terlanjur terhanyut
dalam kobaran hasratku padanya.
Serangkaian pertemuan dan rapat
yang melelahkan telah terlewati, ini hari kedua Airin pergi, kuraih
gawai yang sedari tadi terabaikan oleh kesibukan.
"Airin tidak
bisa pulang hari ini, ada beberapa hal penting yang harus kami
selesaikan dulu di Surabaya, ini Rado rekan kerjanya."
Aku terpana membaca chat dari nomer yang tidak kukenal.
Rado, apa hak dia mewakili istriku mengabari ketidak pulangannya?
Dadaku dibakar amarah luar biasa. Kucoba menghubungi nomer Airin, tapi
tidak aktif, berkali-kali mencoba tetap belum aktif, hati terasa mau
meledak.
Kutelpon nomer itu dengan rasa yang masih terbakar api cemburu.
Terdengar suara di seberang sana.
"Halo, kenapa nomer Airin tidak bisa dihubungi, kenapa kamu yang mengabarkan padaku, mana istriku."
"Dia sibuk, jangan diganggu, nanti kamu bertanya saat dia sudah di
rumah!" Sambungan ditutup, dan ketika aku mencoba meghubungi gawainya
telah mati.
"Kenapa?, ada apa," tanya Sofie khawatir.
Aku menggeleng dan berjalan melewati Sofie yang nampak bingung.
"Mbak Airin menelponku kemarin." Langkahku terhenti. Kuberbalik mendekati Sofie.
"Dia bilang aku pilihan yang tepat untuk menikah denganmu, dia mau aku dan ...."
Aku berlari meninggalkan Sofie, perasaanku bagai diblender, campur aduk
antara sakit dan ketakutan luar biasa. Sofie menarikku dan menenangkan
dengan menepuk pundakku perlahan. "Sabar Mas, maaf aku ngga memanggilmu
Pak, karena ini bukan urusan pekerjaan." ucap Sofie pelan. Sambil
dituntunnya perlahan untuk duduk di sofa ruangannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? dari mana dia mendapatkan nomer telponmu,
apa maksud semua ini." Aku menengadahkan kepalaku keatas sambil
terpejam. Lelah rasanya hati menelusuri pekatnya masalah ini.
"Aku juga ngga tau Mas darimana dia mendapatkannya, kami sempat bicara lama."
"Lalu apa jawabanmu dengan permintaanya."
"Aku menolak, karena kita ngga ada hubungan apa-apa, tapi Mbak Airinnya menangis.
Airin, apa yang sesungguhnya kamu simpan rapat dibelakangku. Apa yang
ingin kamu bicarakan padaku tadi malam. Seketika jiwa ini terasa kosong,
getir dan sempurnalah sudah kesakitan ini.
Aku bagaikan orang gila, bolak balik ke kantor Airin tapi yang dijawab sekretarisnya tetap sama, Airin belum kembali.
Dan ini hari ke empat aku kembali bertanya dengan sambungan telepon ke
kantornya. Di jawab bahwa Airin dan Rado akan mendarat siang ini. Kupacu
mobil dengan kecepatan tinggi, tak sempat memperhatikan jalan, yang
kuinginkan hanya secepatnya menemui kekasihku, istriku, dan meminta
penjelasan atas apa yang terjadi, kenapa dia ingin aku menikah lagi.
Tiba-tiba sebuah mobil minibus menyalipku, aku oleng membanting setir
kekanan, tapi dari belakang sebuah sedan melaju kencang. Pelan tapi
pasti aku kehilangan kesadaranku, wajah Airin dan Naya terlintas di
benakku. Sebelum semuanya gelap tak bertepi.
Bersambung
#AKU BENCI ISTRIKU
(Part 9)
By:KB
POV Airin
**********
Pernikahan ini sudah salah sejak awalnya, aku tidak berterus terang padamu Mas, tentang diriku, tentang banyak hal.
Sesungguhnya aku sangat mencintaimu, sangat menyayangimu, tapi ketidak jujuran dan rahasia besar mengganggu perasaanku.
Aku tahu betapa besar kamu mencintaiku, Kamu selalu memaafkan meskipun sudah tersakiti oleh sikapku.
Aku ingin berterus terang dan menceritakan beban yang menyiksa ini,
tapi keegoisan untuk mempertahankanmu membuatku selalu urung
mengatakannya padamu.
Masihkah kamu mencintaiku Mas setelah nanti kebenaran terungkap.
Sayang, aku juga sakit saat ini, mencintaimu tapi harus melepaskanmu.
Seandainya aku harus melepasmu pergi maka bukan dengan wanita yang salah.
Aku menunggumu sadar dari komamu, untuk melepaskanmu dari kepahitan hidup bersamaku.
Mungkin kamu heran, kenapa selama ini aku arogan dan sombong, aku hanya
berusaha membuatmu pergi dengan suka rela dariku, tanpa aku harus
membuka rahasiaku. Tapi melihat dirimu tersiksa bahkan hampir kehilangan
nyawamu aku harus rela membuka kisah pahitku padamu. Dan setelah itu
mungkin kata maaf sudah tidak berarti lagi.
********************************************
Tak ada suara di sekitarku, hening dan tak ada siapapun. Aku membuka
mata perlahan, mencoba mencari Airin di sekitar ruangan, tapi yang
kudapati hanya sepi dan hening. Aku sendirian saat membuka mata.
Pintu kamar terbuka, ada Mama berdiri di sana, beliau mendapati aku
tersadar, segera memanggil dokter. Setelah dokter memeriksaku, mama
tampak sangat bahagia.
Dipeluknya dengan penuh syukur, ada Papa juga, tapi dimana Airin?
"Dimana istriku Ma?"
Itulah kata pertama yang kuucapkan saat tersadar.
"Sebentar lagi datang nak, sabar ya, dia lagi di jalan." Papa menyahut dari belakang mama, aku mengangguk lemah.
Akhirnya aku bisa melihat Airin, dia memelukku, mencium keningku.
Sejenak kulihat sorot matanya menyimpan rasa sakit yang aku tidak bisa
menterjemahkannya.
"Rin, kamu jangan tinggalkan Mas ya, jangan," gumamku pelan sambil menggenggam tangan lembutnya.
Airin mengangguk sambil kembali mencium keningku.
"Iya sayang, aku janji." Sahutnya pelan.
"Cepat sembuh Mas,"
Aku mengangguk dan kembali meremas jemarinya.
Sebulan sudah aku keluar dari RS, pekerjaan kembali menyita waktuku,
begitupun Airin kembali mencurahkan seluruh energynya pada pekerjaan.
Suasana rumah tanggaku semakin terasa nyaman, aku tidak mengungkit
masalah Rado atau pun masalah Airin yang meminta Sofie menjadi istriku.
Semua berjalan normal, sampai ku baca notif dari Rado di WA Airin.
"Kapan kamu akan berterus terang dengan suamimu, semakin cepat semakin baik, bagus untuk dia segera tahu."
Darahku berdesir, jantungku seakan hendak melompat. Apa yang disimpan Airin yang aku tidak tahu.
Ku telpon Rado, dan dia mengangkat pada nada panggil pertama. Begitu cepat responnya pada panggilan telepon Airin.
"Halo Rin, bagaimana kondisimu, kalau kamu drop lagi, segera hubungi psikiatermu,"
Aku tertegun, kumatikan sambungan telepon dengan Rado, aku tersandar di sofa, mencoba mencerna kata-katanya.
Airin muncul dari kamar dan menanyakan gawainya. Aku menatapnya tajam
"Rin, apa yang Mas ngga tahu tapi laki-laki lain tahu."
"Apa maksudmu Mas," Airin menatap tanganku yang menggenggam gawainya.
"Kenapa kamu ke Psikiater Rin, apa yang terjadi."
Airin menatap mataku dengan tatapan sendu, dia duduk perlahan di sofa, aku mengikutinya.
Butiran air mata mulai merembes di pipinya. Bahunya terguncang hebat.
"Aku minta maaf Mas, bila pengakuanku hari ini akan membuatmu tersakiti."
Kudekap istriku dengan lembut, kusapu air matanya. Setiap melihat air matanya jatuh, aku sangat sedih.
"Lupakan sayang, kalau itu menyakitkan untuk dikatakan. Mas akan
menunggu kamu siap," ucapku lirih. Airin menggeleng. Diangkatnya
wajahnya untuk menatap mataku. Hatiku luruh melihat mata indah itu
berlinang air mata.
"Aku diperkosa Mas, seminggu sebelum kita
menikah." Tangis Airin meledak, tanganku terkulai. Aku bukan tidak tahu
istriku tidak perawan saat malam pertama, tapi buatku saat itu tidak
penting, aku tahu dia wanita baik, tidak mungkin dia kehilangan
keperawanannya karena sex bebas, aku yakin bahwa mungkin saja karena
olah raga atau selaput dara tipis itu pecah akibat hal lain. Tapi tidak
terpikir bahwa itu akibat perkosaan.
"Maafkan aku Mas," tangis Airin membahana, menyadarkanku dari keterpanaan.
"Kenapa kamu minta maaf Rin, penjahat itu yang harus minta maaf
padamu," kupeluk erat Airin dalam dadaku. Ya Tuhan betapa butanya aku
sebagai laki-laki, buta pada penderitaan istriku, buta pada trauma yang
dialaminya. Aku hanya fokus pada penderitaanku sendiri, harga diriku,
tanpa bisa melihat dari sisi Airin.
"Aku drop setiap kali melayanimu
di tempat tidur. Aku ke Psikiater untuk mengatasinya." isak Airin
pedih. Aku merasa menjadi suami yang amat sangat egois, bagaimana
mungkin bisa terlewat untuk melihat lukanya yang sedemikian jelasnya.
Egoku sebagai lelaki yang telah menutup mataku.
"Kenapa Rado tahu? lalu siapa yang memperkosamu?" Kutatap kedalam mata Airin.
"Anak dari Dosen pembimbingku Mas, saat kejadian Mas Rado yang
menolongku. Kami datang kerumah itu untuk mengkonsultasikan skripsiku,
tapi Pak Dosen sedang keluar dan menyuruhku menunggunya, saat Mas Rado
pulang mengambil laptop, disitulah kejadian laknat itu, aku tidak
sadarkan diri karena dibekap dari belakang dengan sapu tangan," Airin
kembali menangis.
"Ceraikan saja aku Mas, noda ini tidak mampu ku tanggung."
"Rin, kalau ini berat buatmu, kenapa kamu menanggungnya sendiri,
izinkan Mas ikut berbagi bebanmu, ingat sayang, aku mencintaimu, aku
suamimu, tidak ada alasan bagiku meninggalkanmu."
"Naya bukan anakmu
Mas, apa kamu sanggup hidup bersamaku dengan anak yang bukan darah
dagingmu? aku tidak sanggup memberi beban lebih berat lagi di hidupmu."
Seakan suara petir sahut menyahut di telinga. Aku terpaku bisu.
Bagaimana mungkin anak yang selama ini sangat kucintai tiba-tiba menjadi
anak orang lain.
Aku bisa memahami Airin yang depresi dan trauma pasca perkosaan itu, tapi aku tidak terima Naya direnggut dari hidupku.
"Rin kamu bicara dengan fakta atau tidak!" Aku mengguncang bahu Airin,
tangisnya semakin kencang. Kembali kupeluk erat istriku. Ya Tuhan,
ampuni aku yang lalai melindungi istriku, hingga selama lima tahun
terakhir aku menciptakan kepedihan dalam traumanya. Betapa berat dia
melalui semua ini, menyimpan deritanya sendirian. Tapi aku tetap tidak
rela bila Naya disebut bukan anakku.
Dalam sehari duniaku runtuh.
Aku bertekad tidak akan melepaskan Airin dan Naya, siapapun ayah
biologisnya, kenyataannya dia adalah anakku, tidak ada satu hal pun yang
bisa merubah itu.
Kugendong Airin kedalam kamar, kubaringkan dia
ditempat tidur, kuselimuti tubuh istriku. Air mataku mulai deras
mengalir. Betapa menyakitkan nya ini buatmu Airin. Kamu menyimpan
segalanya dalam traumamu.
Bersambung
#AKU BENCI ISTRIKU
(Part 10)
By:KB
Cerita ini dibuat mewakili sedikit dari lelaki yang setia pada satu
wanita. Tidak banyak lelaki dengan tipikal seperti ini, tapi ada. Dan
semoga belum akan punah dari muka bumi ini. Do'a saya buat reader semua
semoga pasangan anda adalah seseorang yang tulus mencintai tanpa pamrih
dan setia dalam segala kondisi.
********************************************
Aku bisa mengerti kenapa Airin tidak mampu mengungkapkan kenyataan ini
selama bertahun-tahun dan memilih hidup dalam trauma mendalam. Menjadi
Korban perkosaan bukanlah hal mudah untuk dihadapi. Biasanya korban
akan merasa dirinya kotor, tidak berharga dan berkepanjangan menyalahkan
diri sendiri.
Airin merahasiakan kenyataan pahit ini bukan hanya terhadapku tapi juga terhadap kedua orang tuanya.
Setelah menemui Psikiaternya aku semakin mengerti.
Depresinya semakin akut karena menghadapi tekanan kedua orang tuanya
tentang aku dan pekerjaanku. Menghadapi kewajibannya melayani suaminya
di tempat tidur adalah siksaan mental baginya. Bekerja dan menjadi sibuk
karena pekerjaan adalah jalan yang di pilih Airin untuk mengalihkannya
dari rasa insecure. Kehormatan di pekerjaan, menjadikan dia lebih bisa
berdamai dengan dirinya.
Aku termenung membayangkan hubungan
selama 5 tahun yang begitu hambar. Hubungan yang tidak sehat terbentuk
dalam kurun waktu itu.
Namun aku bersyukur setidaknya aku tidak
pernah berpikir menduakan dia dengan siapapun, aku tidak mampu
membayangkan luka seperti apa yang akan diterima Airin andai aku
menghianatinya di saat seharusnya aku membantu dia percaya bahwa cinta
akan menyembuhkan lukanya secara perlahan.
Aku menemui Rado di
cafe dekat kantornya, Airin tidak mengetahui pertemuan ini. Lelaki
berperawakan ala pencinta gym ini nampak sangat gentleman. Usianya
tampak tidak jauh berbeda dariku, dia ternyata kakak tingkat Airin di
fakultasnya. Aku mengulurkan tangan pada Rado dan disambutnya dengan
hangat.
"Silahkan duduk Do," ucapku ramah. Rado mengangguk sambil tersenyum padaku.
"Apa yang ingin kamu bicarakan Zal,"
"Aku ingin tahu, apa yang terjadi pada Airin saat kalian di Surabaya."
kutatap dalam - dalam mata lelaki di hadapanku. Rado mengangguk dan
menarik napas dalam.
"Airin pingsan beberapa kali sehabis meeting
dengan client. Aku tidak tahu apa penyebabnya. Dia beberapa kali
berbicara dengan Psikiaternya melalui sambungan telepon. Dia tampak
lemah dan sedikit depresi. Jadi aku terpaksa menunda kepulangan kami."
Rado menyeruput kopinya sambil mengeluarkan rokok dan menawarkan
padaku, tapi kutolak karena aku tidak lagi merokok sejak menikah dengan
Airin, dia sangat tidak menyukai bau asap rokok.
"Rado, kamu
satu-satunya yang tahu kejadian yang menimpa Airin 5tahun lalu kan?
Kemana lelaki baji**** itu sekarang?" tanyaku menahan geram yang ku
simpan rapat di dalam hati.
"Dikirim orang tuanya ke Amerika, sampai sekarang belum kembali." sahut Rado.
"Siapa orang tuanya, aku ingin menemuinya." Rado mengangguk dan
mengambil gawainya kemudian mengirimkan nama dan alamat orang tua Handy.
"Dari mana kalian tahu pelakunya Handy? bukankah Airin pingsan dan ...."
"Tidak ada orang lain selain dia, orang tuanya juga yakin anaknya
pelakunya," aku tertegun menatap wajah Rado, entah mengapa aku merasa
ada sesuatu yang tidak kusuka dari lelaki ini.
Hati nuraniku
sangat kuat mencurigai Rado adalah orang yang menyakiti Airin, tapi
kecurigaan tidak akan menjadi bukti kalau hanya sekedar berhenti dirasa
curiga belaka. Aku harus menyelidiki ini. Rasanya sangat mengerikan
membiarkan istriku menjadi rekan kerja dengan lelaki yang mungkin telah
diam-diam menyakitinya. Kecurigaanku bukan di dasari rasa cemburu buta,
tapi aku hanya mencoba menjaga istriku dari kemungkinan terburuk.
Aku pulang kerumah dan mendapati Naya bermain dengan Airin.
"Kamu pulang cepat sayang?" tanyaku sambil mengecup kening Airin.
"Iya Mas, tidak begitu banyak yang ku kerjakan hari ini," sahutnya.
Kuraih Naya yang sudah semakin pintar berceloteh tentang apa pun.
Melihat perkembangan anakku yang semakin hari semakin mirip Airin adalah
kebahagiaanku.
"Mas, aku ingin bicara, bisa?"
Aku mengangguk dan melepaskan pelukanku pada putriku.
Kami meninggalkan Naya dengan baby sitternya.
"Ada apa sayang," tanyaku pelan sambil menyibakkan rambut yang menutup keningnya.
"Kenapa kamu ngga mau menceraikan aku Mas, aku kotor dan Naya bukan anakmu," Airin menunduk.
'Kotor dari mana? itu hanya ada di pikiranmu, Naya bukan anak yang
lahir dari perselingkuhanmu dengan lelaki lain. Naya lahir karena
taqdirnya demikian, berhentilah menyalahkan diri sendiri Rin, dimana
salahnya kalau Naya bukan darah dagingku, di dunia ini jutaan laki-laki
menikahi wanita yang sudah memiliki anak, apa bedanya sekarang denganku,
aku beruntung karena mengenal Naya bahkan sejak dalam kandunganmu."
Airin menahan tangisnya, tatapan lembut itu, tatapan yang dulu pernah
kulihat kini telah kembali menghiasi matanya.
"Tapi aku tidak
tahu kapan aku bisa melaksanakan tanggung jawabku sebagai istri tanpa
bayang-bayang trauma itu Mas, Sofie mungkin ...."
"Stop Rin, jangan
pernah berpikir untuk melarikan diri dari pernikahan kita," ku raih
wajah istriku. Kutatap matanya dalam-dalam.
"Kamu mencintai Mas?" tanyaku serius.
"Ya Mas, aku sangat mencintaimu." Sahutnya dengan suara bergetar, dihapusnya air mata dengan punggung tangannya.
"Itu sudah cukup sayang. Mas akan menunggumu," Kupeluk Airin dengan
lembut. Cukup memeluknya saja, karena aku tidak akan mengulangi
menyakiti istriku.
Ketika tadi siang Rado mengatakan padaku Airin
pingsan di Surabaya, aku segera menghubungi psikiaternya dan bertanya
penyebabnya, dia bilang Airin tiba-tiba mengalami down. Dan aku teringat
malam itu aku melepas rinduku pada istriku berkali-kali. Rasanya sangat
menyesal.
Gawaiku berbunyi, dan di sana tertulis Papa mertua. Aku
menatap Airin, dia mengangkat bahunya."Angkat saja Mas, siapa tahu
penting." aku segera mengangkat gawaiku.
"Ya Pa, ada apa ?"
"Besok kamu dan Airin ke rumah. Kosongkan jadwal kalian," tegasnya, kemudian terputus.
BERSAMBUNG
Tidak ada komentar:
Posting Komentar