#AKU BENCI ISTRIKU
(Part 11)
By: KB, Kadariah Burhan
Aku dan Airin saling tatap, merasa aneh dengan telepon papa yang
singkat dan tiba-tiba. Ada rasa tidak nyaman menyeruak perasaanku.
"Rin, orang tuamu tau ngga apa yang terjadi padamu?" tanyaku hati-hati.
Airin menggeleng, aku ngga ingin Mama dalam bahaya untuk kedua kalinya karena aku Mas," Airin menatap kosong.
"Maksudmu?"
"Dulu saat aku memaksa untuk menikah denganmu, Mama terkena serangan
jantung, masuk ICU dan kami hampir kehilangan dia. Aku tidak siap
menjadi sebab Mama dalam bahaya lagi." Airin menunduk.
Kuremas
jemarinya, mencoba menguatkan. Sendirian dan menderita tanpa seorangpun
yang tahu, dan dia mati-matian menutupinya dariku, suaminya. Selama ini
aku sudah membencinya, sangat muak dengan kesombongannya, sikap dingin
dan angkuhnya. Ternyata semua itu untuk menutupi hatinya yang hancur.
Pasti tidak mudah bagi Airin. Karena tidak mudah juga bagiku.
Terasa sangat lelah, setelah semua aktifitas yang kulalui seharian ini,
selesai bercengkrama dengan gadis kecil kami aku dan Airin menuju kamar.
Naya tidur di kamarnya ditemani baby sitter, meskipun baru 4 tahun
lebih tapi dia sangat pintar, dan pengertian.
Aku duduk duluan di
tempat tidur dan menepuk bantal di sebelahku sambil mengedipkan mata
pada Airin. Airin mendekat dan merebahkan kepalanya di sampingku. Dia
sangat cantik dengan rambut tergerai di bahunya, kubelai rambutnya, kami
sama-sama tersenyum. Airin menarik selimut untuk kami berdua, kukecup
keningnya, kutatap wajah cantiknya, aku merasa kembali jatuh cinta pada
istriku, Kami terlelap dalam heningnya malam. Malam ini kami tertidur
dan hanya berpegangan tangan.
Airin menjemputku ke kantor, untuk
menuju ke rumah orang tuanya, karena kalau aku yang menjemputnya akan
lebih jauh memutar. Walaupun tinggal lumayan dekat sekitar 150 km dari
kami, tapi kami jarang berkunjung, karena aku selalu menjadi bahan
pembicaraan dari orang tua dan kakak Airin.
Hubungan kurang harmonis itu belum mampu diperbaiki hingga detik ini, kecuali keajaiban terjadi.
Kuparkir mobil Airin, di halaman luas rumah megah orang tua Airin, Kami bergegas masuk.
Hanya Ada Mamer yang menunggu di ruang tengah. Tatapan matanya padaku sangat tidak mengenakkan.
"Papa menunggu kalian di ruang kerjanya." Ucap Mama datar. Aku dan Airin segera menuju ruang kerja Papa.
Baru sampai kedalam ruangan tiba-tiba Papa melayangkan tangannya di
pipiku, tamparannya cukup keras, ketika dia hendak menamparku lagi,
Airin menjerit sejadi-jadinya dan secepatnya memelukku, mencoba
melindungiku dari amarah luar biasa Papa.
"Menantu kurang ajar! kamu bukan saja tidak kompeten di pekerjaan tapi juga tukang selingkuh!" Papa melemparkan beberapa foto.
"Apa Papa ngga bisa bicara baik-baik pada suamiku. Apapun masalahnya
Pa, ini sudah kelewat batas!" Airin berteriak kepada papa.
"Jangan kamu bela suamimu Airin, dia berselingkuh di belakangmu!" jawab papa meninggikan suaranya.
Aku terpaku bisu memandangi foto di tanganku, itu saat Siska menciumku
di kantor, sepertinya diambil dari rekaman CCTV. Tidak ada siapa pun
yang tahu tentang itu kecuali Siska. Dan sepertinya memang Siska
mewujudkan ancamannya.
"Ini tidak seperti yang Papa kira, wanita ini
teman sekerja satu team ku di tempat kerja lama, dia mencoba mengajakku
selingkuh tapi aku menghindar, dan saat itu dia memaksaku ...."
"Memaksa? apa seorang lelaki dewasa dengan perawakan gagah sepertimu
bisa dipaksa wanita? kamu sedang melucu di depanku. Di depan Airin
mungkin kamu bisa berbohong, tapi tidak di depanku!" Teriak Papa murka,
matanya memerah. Airin menatap tajam pada papa dan segenap kekuatan dia
berteriak.
"Papa ngga tau apa yang terjadi di dalam rumah tangga kami, Papa ngga tau bagaimana aku ...." Ku tarik tangan Airin.
Dia gemetar, kupeluk istriku.
"Jangan katakan apa pun, sayang" bisikku pelan.
Mama muncul di belakang kami.
"Bercerai saja kalian, makanya Rin, Papa dan Mama sudah tidak
mengizinkan kamu dengan Faizal, tapi kamu berkeras. Sekarang kamu menuai
sendiri akibatnya." Mama menatap tajam padaku.
Papa meletakkan selembar kertas di hadapanku.
"Tanda tangan, kami mau Airin dan Naya kembali kepada kami. Nikahi saja selingkuhanmu!" Aku menghela napas panjang.
"Kami tidak akan bercerai Pa, siapa pun tidak punya hak ikut campur
dengan urusan rumah tangga kami, kalaupun seandainya suatu saat kami
berpisah itu bukan karena campur tangan kalian!" sahut Airin bergetar.
"Dia berselingkuh Rin, kamu buka mata kamu! Suami kakakmu saja lebih sukses dan mapan tapi tidak berani berselingkuh!"
"Sudah cukup ya Pa, jangan menyakiti Mas Faizal lagi, suamiku jauh
lebih baik dari suami kak Mira, lebih baik dari siapa pun, jangan terus
menekan Airin. Cukup!"
Airin menarik tanganku, meninggalkan ruangan
kerja papa. Kudengar papa berteriak menyuruh Airin kembali, tapi Airin
tetap menarik tanganku keluar.
Di ruang tamu kami berpapasan dengan suami kak Mira, dia berbisik padaku.
"Kamu kurang pintar menyembunyikan, mau ku ajari cara yang paling
aman?" Mas Sandi menyeringai licik. Aku tersenyum ringan sambil
menggeleng.
"Makasih Mas, simpan itu buat dirimu sendiri," jawabku.
Aku dan Airin sama-sama terdiam di dalam mobil, aku konsentrasi pada jalanan. Dan Airin termenung dengan pikirannya sendiri.
Mungkin Papa benar, bagaimanapun wanita memaksa untuk menciumku, tak
akan terjadi kalau aku menolak tegas, aku sadar selama ini marah pada
Airin dan merasa tidak bersalah saat dicium wanita lain. Aku menghela
napas.
"Maafkan Mas sayang, mungkin ...."
"Mas ngga perlu bicara
apa pun, aku belajar percaya pada Mas, aku bisa melihat bagaimana
prilaku Siska, sepertinya dia agresif." Airin tersenyum padaku. Aku pun
tersenyum. Ku pinggirkan mobil dan ku peluk dia dengan sayang.
"Terima kasih sayang, Mas ngga akan menyia-nyiakan kepercayaanmu," ucapku lembut, Airin membalas pelukanku.
"Temui aku Mas," notif dari Siska. Ku hapus dan kublock nomernya.
Wanita ini sepertinya terlampau obsesive. Sebisa mungkin aku harus
menghindarinya. Namun muncul foto kami berciuman dari nomer tidak di
kenal. "Aku merindukan mu Mas," aku sudah tidak tahan lagi, mungkin akan
lebih baik melibatkan Airin dalam masalah ini.
Hari ini aku meluncur menuju rumah mantan dosen Airin . Ku ketuk pintu rumahnya, Pria paruh baya membukakan pintu.
"Siapa ya?" tanya beliau. Aku menjelaskan siapa aku dan siapa istriku
Beliau nampak kaget dan segera mempersilahkan masuk. Tampak di dinding
rumah banyak foto anaknya. Tampaknya Handy anak satu-satunya keluarga
ini.
"Maafkan saya nak Faizal, karena anak kami mungkin sudah
menyulitkan pernikahanmu, saya tau dari Rado, kalau Airin trauma pasca
kejadian itu."
"Kenapa Bapak sangat yakin kalau Handy pelakunya." tanyaku hati-hati.
"Dia sering mabuk, dan saat kejadian dia juga mabuk, ada Airin yang tidak sadarkan diri di sampingnya."
"Kenapa Airin tidak melapor ke polisi? apa ada ancaman dari putra Bapak?" tanyaku.
Pak Dosen menggeleng.
"Airin ingin mengubur masalah ini, dia takut Mamanya koleps, dia juga
takut kehilangan calon suaminya, saat itu seminggu sebelum akad." uraian
Pak Dosen membuatku sangat marah pada pelakunya.
"Handy merokok Pak?" tanyaku.
"Seingatku tidak, dia takut paru-parunya rusak, tapi anehnya dia malah
suka mabuk," aku mengangguk dan pamit meninggalkan pak dosen, beliau
berkali-kali minta maaf.
Seingatku saat aku pacaran dengan Airin
dia tidak melarangku merokok, tapi setelah menikah, dia sangat membenci
bau rokok. Aku berhenti merokok saat itu, demi menjaga perasaan istriku.
Dari sini aku semakin curiga terhadap Rado.
Aku menghubungi teman akrab ku semasa kuliah, dia juga teman SMA Airin.
Dari dia aku tahu Rado kakak kelas mereka, dan sangat menyukai Airin,
tapi Airin selalu menganggapnya hanya sahabat, hanya kakak laki-laki
baginya.
Aku menelpon Airin tapi tidak di angkat, hatiku gelisah, aku takut terjadi apa-apa dengannya.
Kupacu mobilku dengan kecepatan tinggi menuju kantornya, kulihat mobil
Airin terparkir, kuhubungi gawainya kembali, kali ini diangkat.
"Sayang kamu dimana? dengan siapa?"
"Di kantor Mas, dengan semua team marketing, aku barusan meeting dengan
mereka dan dengan perusahaan yang mau pakai jasa kami, ada apa Mas?"
"Rado mana?"
"Ngga tau Mas, dari siang tadi aku ngga lihat dia, kenapa?"
"Ngga apa-apa sayang, mas sekarang di parkiranmu, pulang bareng ya,"
"Mobilku gimana? Oh ngga masalah Mas, nanti kuminta sekretarisku yang antar."
Aku bahagia banget, kesabaranku menghadapi istriku berbuah manis, kami seperti sedang pacaran lagi. Memulai dari awal lagi.
Airin memelukku dari belakang, aku berbalik dan balas memeluknya.
Kami segera masuk kemobil.
"Koq tumben jemput Mas, ada apa?"
"Kangen," ucapku singkat. Aku tidak mau Airin khawatir tentang
kecurigaanku. Biar kusimpan sendiri sampai aku menemukan bukti. Dan
sampai saat itu aku akan terus mengawasi Airin
"Sayang kita pacaran dulu yu," ajakku manja. Airin tertawa renyah, tawa yang sudah lama kurindukan.
"Kemana Mas,"
"Ke tempat kita pertama jadian, mau?"
"Malam begini Mas?" tanyanya sembari tertawa, aku mengangguk.
"Biar terasa moment saat Mas dulu nembak kamu." selorohku.
"Kita belum mandi lo," Airin mengingatkan. Aku cuma tertawa lepas.
"Ngga masalah, kan sama-sama belum mandi, yang menakutkan itu kamu dah
mandi nah Mas belum, pasti bakalan di omelin tujuh tanjakan 7 belokan."
Airin mencubit pinggangku sembari tertawa.
"Maafin aku ya Mas, sungguh aku minta maaf, aku sudah menjadi istri durhaka selama lima tahun ini."
"Udah Mas maafin sayang, sebelum kamu minta maaf." Airin menggenggam
tanganku, dia menatapku lekat. Mobil terus melaju, dan suasana romantis
di dalamnya membuat musnah semua beban dalam pikiranku.
Kemudian aku memberikan gawaiku untuk dilihat Airin.
"Siska terus meneror ya Mas, aku jadi berpikir koq seperti ngga wajar
ya. Apa ada sesuatu Mas dibalik ini." Aku menoleh pada Airin.
"Mas
juga berpikir begitu. Kita harus berhati-hati Rin. Ada banyak hal yang
mencurigakan, dari mana dia tahu rumah orang tuamu." Kami saling
bertukar pandang.
"Ya sudah lah Sayang, kita pikirin nanti saja ya,
kita senang-senang dulu." sahut Airin. Aku memarkirkan mobilku dan
segera keluar, kugandeng tangan istriku, dia bergelendot manja pada
bahuku.
Bersambung
#AKU BENCI ISTRIKU
Part 12
By: KB
POV Rado
***********
Airin adalah sosok wanita yang sangat ideal bagiku, cantik, cerdas, supel, dan hangat
Hanya dengan memandangnya aku sudah merasa bahagia. Andai aku bisa memilikinya mungkin semua kesepian ini akan segera memudar.
Sejak SMA cuma Airin yang ku cintai, aku bukannya tidak berusaha
memilikinya, tapi Airin seperti tak terjangkau. Walaupun kami sudah
akrab sejak masa kecil bahkan kedua orang tua kami akrab dan memang
bersahabat, tapi tidak mengubah hati Airin padaku. Dia selalu menganggap
ku sahabat masa kecilnya. Aku di matanya hanya seorang kakak lelakinya,
karena dia hanya memiliki Mira satu-satunya kakak perempuannya.
Kedua orang tua kami pernah menjodohkan kami, mereka berharap kelak aku
dan Airin yang akan menjalankan perusahaan keluarga, tapi apa daya Airin
telah jatuh cinta pada seorang laki-laki yang tidak sepadan dengannya.
Seorang Mahasiswa sederhana dari Univ. Negeri ternama, penerima bea
siswa prestasi. Mereka bertemu saat ulang tahun kakaknya Airin, Mira.
Lelaki sederhana dengan wajah tampan dan memang sangat menawan bagi
wanita. Dia datang kepesta itu karena diajak kakak tingkatnya Sandi yang
memang calon suami Mira, sepulang dari rapat BEM.
Tidak pernah ku membayangkan akan kehilangan kesempatan menikahi wanita pujaanku. Hanya karena lelaki itu.
"Maaf Pa, Ma, Om, Tante dan Mas Rado, Airin ngga bisa menerima perjodohan ini, Airin sudah mencintai Mas Faizal."
Saat itu Papanya Airin sangat murka, beliau tidak terima putri cantik
kebanggaannya memilih pemuda sederhana dari kalangan biasa. Ayahnya
seorang PNS dan ibunya Guru SMA. Bagi mereka itu sangat menyakitkan.
Airin sangat mencintai Faizal, bahkan dia rela menerima lamaran Faizal
yang baru bekerja sebagai Manager Marketing sebuah perusahaan yang
terbilang baru merintis. Lelaki itu hanya karyawan biasa dengan karir
yang tidak cepat menanjak. Tapi Airin memilih dia, orang yang baru
mengenalnya, sementara aku lelaki yang setara dengannya, direstui
keluarga dan tidak kalah ganteng dengannya, malah diabaikan.
Aku bertekad memiliki Airin, walaupun harus merenggutnya dari lelaki yang dicintainya.
*******************************************
Hari ini jadwal Airin ke psikiaternya, meluangkan waktu diantara
padatnya jadwalku adalah sebuah keharusan. Aku tidak akan melewatkan
kesempatan mengenal mental illness yang diderita istriku. Dengan
memahami mungkin bisa membantu menyembuhkannya.
"Sayang, Mas menuju kantormu, kamu siap-siap ya," aku menelepon Airin di perjalanan.
"Iya Mas, apa kamu ngga sibuk?." Sahut Airin.
"Ngga sayang, tunggu ya"
Di perjalanan gawaiku berbunyi, dari kak Mira, ada apa ini.
"Zal, kaka cuma mau ngasih info sama kamu, Papa sepertinya akan kerumah
kalian nanti malam, diantar Mas Sandi, kaka ngga ingin kamu dan Airin
terkejut dan ngga menyiapkan diri."
"Oh ya, kira-kira ada apa ya Kak?"
"Sepertinya Papa tetap menuduhmu berselingkuh Zal, bahkan yang kaka dengar Mas Sandi di minta mencari Siska." ucap kak Mira.
" Terima kasih kak infonya."
Aku menutup telepon dan sejenak termenung. Apa yang di mau keluarga
istriku ini. Untung hubunganku dengan Airin membaik, seandainya ini
terjadi saat hubungan kami terhalang tembok kebencian, maka sudah bisa
dipastikan bahtera ini akan pecah.
"Siap?" tanyaku pada Airin ketika hendak menstater mobil menuju ke rumah Dr. Santoso. Psikiater yang menangani Airin.
"Siap Mas" dia tersenyum manis, Aku tidak perduli apapun yang akan
keluarga Airin katakan malam ini, yang terpenting sekarang adalah
mencoba menolong Airin untuk terlepas dari beban masa lalunya.
"HSDD ... Hypoactive Sexual Desire Disorder., Untuk Ibu Airin type
sekunder, yang awalnya normal menjadi tidak tertarik pada sex akibat
trauma pelecehan sexual padanya. Memaksakan berhubungan dengannya akan
memperparah kondisi, namun dengan kesabaran Pak Faizal untuk membawa
rasa nyaman dan percaya pada Bu Airin, insyaallah Bu Airin bisa sembuh.
Kalau Pak Faizal melakukan pemaksaan, itu akan berpengaruh pada kondisi
mental Bu Airin, seperti stress dan depresi."
Dr. Santoso menatapku lekat, seolah tatapan itu ingin memberi kekuatan padaku.
Aku membayangkan apa yang sudah kulakukan pada Airin. Pemaksaan
berulang, tak terbayangkan bagaimana menderitanya Airin. Tak terasa air
mataku jatuh. Ku tatap wajah Airin yang sedang terlelap sehabis diberi
hypno terapy.
Setelah konsultasi usai dan kami keluar dari ruangan Dr. Santoso, kupeluk dia erat. Isakku sudah tidak mampu kubendung.
"Maafkan Mas sayang, maafkan kalau selama ini membuatmu semakin parah," ucapku bergetar, serasa teramat sangat sesak dada ini.
Airin membalas pelukanku.
"Ngga apa-apa Mas, dulu Airin yang ngga mampu bercerita," ucap Airin lirih.
Mobilku memasuki pekarangan, ada mobil Mas Sandi terparkir disana. Airin menatapku.
"Mas lupa kasih tau Airin, Kak Mira bilang Papa dan Mas Sandi ke sini."
Wajah Airin diliputi ketegangan. Ku gandeng tangannya untuk saling menguatkan.
Papa menatapku sinis, dan Mas sandi bersandar di sofa.
"Rumah ini bukan rumah kalian kan? hanya rumah fasilitas Perusahaan
dari Airin. Rumah pribadimu hanya setengah dari ini, tapi kamu berani
berselingkuh," sinis papa padaku. Aku hanya diam tak bergeming, sia-sia
mendebat beliau.
"Sandi, tolong ambil surat pernyataan itu."
Airin tertegun ketika disodorkan Papa selembar surat bermeterai.
"Di sini tertulis apabila kamu tetap memilih suami brengsekmu ini, kamu
Papa hapus dari daftar pewaris perusahaan Papa, pilih ingin hidup susah
dengan suamimu atau kembali pada kehidupanmu semula!"
Airin tersenyum pahit, tanpa pikir panjang
diraihnya pulpen tapi kutahan tangannya sambil ku gelengkan kepala. Airin tersenyum.
"Aku lebih rela melepas harta daripada kehilangan kamu Mas, harta bisa
kita cari bersama," ucap Airin sambil tersenyum. Kutatap dengan haru
wajah cantiknya. Di dalam hati aku bersyukur, sekeras apapun proses
pendewasaan dalam rumah tangga kami, pada akhirnya hanya cinta dan
pengertian yang bisa menguatkan.
"Ini pilihanmu Rin, Papa kecewa pada sikap kamu." Papa menatap wajah Airin dengan sorot mata sangat kecewa.
"Maafkan Faizal Pa, suatu saat nanti Faizal akan buktikan apa yang Papa
tuduhkan itu tidak benar." ucapku pelan. Papa melangkah pergi tanpa
menoleh padaku, diiringi Mas Sandi.
"Mas, katanya mau kutemani
kerumah Siska? ayo ," ajak Airin menarikku berdiri dari rasa malas
meninggalkan tempat tidur. Hari libur yang sudah ku nanti bersama
keluarga kecilku.
"Ayo sayang, banguuuun," rajuk Airin sambil kembali menarik tanganku, kutarik dia balik hingga terjatuh dalam pelukanku.
"Nakal banget Mas," jeritnya menahan ketawa.
"Rin, Mas sayang kamu," ucapku sambil sekilas mengecup keningnya.
Airin menatapku sayu, lalu perlahan dia mencium bibirku, hanya sesaat
kami terhanyut tapi Airin menarik diri sambil menarikku ikut berdiri,
rasanya ini pagi di hari libur paling menyenangkan bagiku.
"Selesai
mandi ke meja makan Mas, aku masak nasi goreng seperti Mamamu,
insyaallah rasanya sama." Airin berteriak dibalik pintu kamar mandi.
Aku dan Airin mengintip dari balik pagar rumah Siska, betapa
terkejutnya kami, di sana terparkir mobil Mas Sandi, Airin sontak meraih
gawainya dan mengendap keluar mobil, mengintip di balik pagar, aku
mengekori bagai dua detektive pemula sedang beraksi.
Cekrak cekrek gawai di tangan Airin, tiba-tiba Mas Sandi mencium Siska. Cekrek, kami berhasil mengabadikan moment itu.
"Sayang, tugasmu menggoda Faizal sudah selesai, mas mengucapkan terima
kasih ya, nanti mobilmu Mas ganti dengan yang lebih mahal. awas kalau
kamu jatuh cinta beneran sama dia." Mas Sandi menyentil hidung Siska.
"Aku sempat jatuh cinta beneran Mas, aku bekerja cukup lama dengannya,
dia memang lelaki setia. Ngga kayak kamu, buaya," Siska kembali memeluk
Mas Sandi sebelum dia masuk ke mobilnya, kami tetap bersembunyi.
"Airin, kita pulang sayang," bisikku pelan. Ku genggam tangannya, dia
nampak sangat sedih, menyakitkan melihat kakak iparnya berselingkuh,
padahal Kak Mira sangat mencintainya.
Dengan lunglai Airin berdiri, kupapahkedalam mobil yang ku parkir agak terlindung dari rumah Siska.
Sampai di mobil Airin menangis, sangat kecewa.
"Aku bahagia Mas dia bukan selingkuhan kamu, tapi aku sedih untuk Kak Mira,"
Isakan Airin tenggelam dalam pelukanku, aku teringat insiden saat aku
ditampar papa mertua, aku ingat kata2 yang dibisikkan Mas Sandi
ditelingaku, saat itu.
Untuk sesaat aku dan Airin melupakan
begitu banyak kerumitan hidup. Kami membawa Naya bermain di pusat
perbelanjaan, Airin sibuk mengikuti Naya yang bermain naik motor, baby
sitternya ikut menemani.
"Rin, Mas Rado menelponmu," teriakku dari pinggir arena bermain.
"Angkat saja Mas," jawab Airin.
Baru hendak diangkat, panggilan mati, lalu sebuah notif WA masuk.
"Rin, bisa ketemu sekarang? Mas tunggu di rumah ku, penting Rin."
Dengan cepat ku balas pesan WA itu.
"Oke, Mas, tapi aku sedang bermain dengan Naya, nanti sore ya." aku terus membalas chat dari Mas Rado.
"Nanti bawa saja Naya Rin, jadi ngga perlu pulang dulu, langsung aja
dari tempat bermain," aku menghela napas berat seraya bergumam, yang
hanya diriku yang mendengarnya. Secepatnya kuhapus chat itu.
Sejenak kutatap Airin dan Naya yang sedang asyik bermain, mereka berdua
melambaikan tangan memanggilku, aku melambaikan tangan balik. Ada getar
bahagia menyeruak di hatiku.
Entah siasat apa yang hendak dimainkan
Rado. Akan aku ikuti. Mungkin aku tidak akan bertindak sejauh ini andai
tidak kuat kecurigaanku,
Aku sangat yakin dialah yang sudah menyakiti Airin.
"Sayang, apa kata Mas Rado." tanya Airin sambil menyuap makanannya. Sedang Naya sibuk menyuap makanan di piringku.
"Dia cuma bilang mau bicara masalah pekerjaan, tapi besok senen saja
katanya. Aku mengarang cerita. Airin mengangguk sambil membersihkan
mulut Naya yang belepotan. Kupeluk Naya yang duduk di pangkuanku, sambil
mulutnya tidak berhenti bertanya banyak hal.
Naya tertidur karena kelelahan bermain, ku tidurkan dia di atas tempat tidurnya.
"Rin, Mas Rado kakak kelasmu kan?"
tanyaku hati-hati.
"Bukan hanya itu Mas, dia teman bermainku sedari kecil, cuma dia lebih
banyak diluar negeri saat lulus SMA, Mas Rado seperti kakak buatku,"
Airin menjelaskan sembari membersihkan wajahnya dari make up.
"Sayang, nanti Mas pergi sebentar ya," pamitku.
Airin mengangguk pelan.
"Jangan terlalu malam ya Mas pulangnya, perasaanku sedang rilex, jadi Mas bisa mencoba untuk ...."
"Pasti sayang, sebentar saja." Ku cium pucuk kepalanya dengan sayang.
Aku tidak akan tenang Rin, sebelum menjauhkanmu dari Rado.
Bersambung
#AKU BENCI ISTRIKU
PART 13
By: KB
Aku hanya mengikuti naluri, tanpa sepengetahuan Airin segera mobil ku
pacu ke rumah Rado. Cukup jauh tapi tidak menyurutkan niatku.
Setiba
di halaman rumahnya, aku bergegas turun, dan sebuah tepuk tangan dari
pintu yang terbuka mengejutkanku. Rado memberikan tepuk tangan untukku.
Aku menatapnya tajam.
"Sudah ku duga yang datang adalah kamu zal, sungguh mudah ditebak." Tawa Rado terdengar sumbang.
"Aku tahu kamu cemburu buta!" ejek Rado.
"Apa yang ada di pikiran ku, apa kamu juga bisa menebak?" kutatap dalam-dalam mata penuh misteri itu.
Masuk saja dulu, tidak nyaman berbicara di luar. Rado melangkah masuk.
Ku ikuti langkahnya untuk masuk ke dalam rumah. Rumah yang megah dan bergaya moderen dengan dominan warna putih.
"Apa yang kamu harapkan dengan datang kemari? Apa istrimu tahu kamu
sedang berbohong di belakangnya? apa pondasi rumah tanggamu cukup mampu
menahan goncangan dengan sikapmu yang berusaha masuk di antara aku dan
Airin, kami sahabat dari kecil, Papanya sangat menyukai aku, type
menantu ideal bagi mereka, mertuamu,"
rundung Rado tanpa mengalihkan tatapannya padaku.
"Kamu pemerkosa Airin lima tahun lalu 'kan? bagaimana menurutmu
seandainya Papa tahu perbuatanmu?" Cecar ku langsung dan seketika
kata-kataku mampu merubah air muka Rado.
"Kalau iya kenapa? apa yang
bisa kamu lakukan? bahkan kamu tidak bisa memenjarakan aku, karena
istrimu akan semakin terpukul, bagaimana dengan ibunya? apa kamu siap
menjadi penyebab kematiannya karena serangan jantung? kamu jangan heran
aku tahu semua tentang Airin karena seluruh masa kecil,masa remaja
bahkan masa sulitnya adalah milikku, bahkan anak yang kamu kira anak mu
juga ..."
Aku tidak mampu lagi menahan kemurkaanku, betapa biad**
perbuatan itu, dan dia bisa seringan bulu menanggapinya, tanpa kusadari
sekuat tenaga aku menerjang langsung kearahnya, kuabaikan alarm untuk
bersabar di kepalaku. Aku berhasil mengalahkannya hanya dalam 3 jurus,
Rado terkapar dengan muka memar dan hidung berdarah. Kembali kuangkat
kerah bajunya untuk berdiri, kudorong dia ke dinding dan ketika hendak
mengayunkan kembali pukulan, terdengar teriakan Airin di pintu depan.
"Hentikan Mas!" Airin menarikku menjauhi Rado.
Rado tersenyum licik kearah ku.
"Suamimu pencemburu Rin, aku meneleponmu untuk membicarakan pekerjaan,
dia menghajar ku seperti ini!" Ucapnya penuh kemenangan. Rado berjalan
melewati ku.
"Aku tahu yang membalas chat ku bukan Airin, makanya
sebelum kamu kemari aku sudah mengabarinya untuk datang ke sini, mari
kita lihat siapa yang akan dia percaya." Bisikan Rado di telingaku
menggema, ku tarik kembali kemejanya, tapi Rado menepis tanganku sambil
meninggalkanku.
"Bawa pulang suamimu, dan jangan izinkan dia menemui ku," ucap Rado penuh kemenangan.
Airin menarik tanganku tanpa bicara, wajahnya bersemu merah.
"Maafkan suamiku Mas, aku pamit," ucap Airin dengan wajah penuh sesal, dia menatapku tanpa ekspresi.
"Kenapa kamu yang minta maaf! dia yang harus minta maaf ...."
kata-kataku terputus oleh tertawanya Rado. Dan Airin kembali mengucap
maaf pada Rado dan menarikku pulang. Airin membayar taxol yang menunggu
di depan rumah, sementara aku menunggu di dalam mobil dengan dilema tak
terperi. Ku sandarkan kepalaku pada sandaran kursi mobil, serasa pengap
dan panas walau AC sudah menyala.
Sejenak hening di dalam mobil,
Airin diam tak bergeming, bisa kulihat kemarahan di matanya, namun
sekuat tenaga berusaha di tahannya. Aku ingin memberi tahu kebenaran di
balik penyerangan itu, tapi aku takut akibat fatal pada kesehatan mental
Airin.
Aku tidak siap melihatnya terpukul. Ku raih gawai dan
kusimpan di dalam kantong celana, aku tidak ingin Airin melihat vidio
pengakuan Rado yg berhasil ku rekam.
Sesampainya di rumah Airin
langsung bergegas turun dari mobil, tanpa menoleh sedikit pun. Jurang
seperti tiba-tiba kembali terbantang lebar.
Kuraih tangannya, ku tatap mata Airin lekat-lekat.
"Jangan seperti ini sayang, Mas punya alasan kuat untuk melakukan ini, percaya saja sama suamimu ini,"
Airin menghela napasnya yang terdengar berat.
"Aku ngga percaya kamu bisa bertindak bar-bar Mas, apalagi pada orang
yang selama ini baik padaku, dia seperti saudara kandung bagiku, kenapa
harus cemburu, kalau aku menyukainya, sudah sebelum mengenalmu aku
menikahinya."
Aku menggelengkan kepalaku.
"Kumohon sayang, berikan Mas waktu untuk perlahan -lahan menjelaskan ini, tapi tidak saat ini,"
Airin meninggalkanku untuk masuk kamar.
Aku hendak menyusulnya tapi Naya datang dan memeluk kaki ku.
"Papa gendong." Rengeknya manja. Sekilas tiba-tiba aku melihat Naya
seperti sosok Rado, wajahnya berganti antara Rado lalu Naya. Seketika
aku merasa terintimidasi secara mental.
Aku mencoba mempertahankan
kewarasanku, ku peluk Naya dan ku gendong, Apa yang sedang kupikirkan,
Naya adalah putriku, bukan putri orang lain, sampai kapan pun.
Naya
mulai berceloteh banyak hal, hatiku yang semula panas, jiwaku yang
tadinya membara perlahan mulai tenang, bermain dengan Naya dan menjawab
semua pertanyaannya sejenak melupakan beban pikiranku.
Dalam hati
aku berdo'a, semoga mampu menyayangi Naya seperti sebelum pengakuan Rado
dan tidak menjadi apatis terhadap hubunganku dengan Airin.
Suasana terasa berbeda malam ini, aku mendekati Airin yang memejamkan matanya.
"Rin, kamu masih bangun 'kan?" kusentuh pipinya lembut.
Airin diam tapi bereaksi pada sentuhanku.
"Mas mau kamu berhenti dari pekerjaanmu Rin." ucapku pelan sambil
merebahkan kepalaku di sampingnya. Airin bereaksi langsung berbalik
menghadap wajahku. Tangannya menopang kepalanya.
"Mas, kita sudah membahas ini dulu, dan Mas sudah tau jawabanku. Tapi kenapa sekarang di persoalkan lagi,"
"Ini berbeda alasannya Rin, Mas mau kamu berhenti bertemu dengan Rado"
tegasku sambil kembali duduk. Airin pun ikut beranjak duduk.
Kami saling menatap dengan ekspresi berbeda.
"Jangan terlampau skeptis Mas, kita sudah melalaui tahap ini sebelumnya,"
"Ini berbeda Rin," ucapku
"Katakan apa bedanya! kecemburuanmu tanpa alasan Mas, kamu tahu persis
kondisiku, apa kamu pikir aku bisa selingkuh dengan orang lain?"
"Tidak seperti itu ... Aku hanya ingin kamu tidak berdekatan dengan Rado!"
"Bagaimana kalau aku meminta hal yang sama, kamu keluar dari pekerjaan agar terhindar dari Sofie, Mas mau?"
"Ini berbeda Rin," gumamku pelan.
Ingin rasanya aku mengatakan apa yang sesungguhnya terjadi, tapi aku
tidak kuasa melihat reaksi mental Airin yang sudah pasti akan drop, tapi
kalau aku tidak mengatakan apa pun, sangat di mungkinkan Rado kembali
menyakiti Airin demi obsesi cinta yang tidak kesampaian. Aku bagai
memakan buah simalakama.
Kudekati Airin, dengan lembut kucium bibirnya sekilas .
"Mas mohon sayang, berhentilah demi rumah tangga kita." lirih suaraku. Dan Airin menggeleng pelan.
"Permintaan Mas terlampau berat, tapi aku akan mencoba memikirkannya,
ini tidak semudah yang Mas pikir. Aku janji Mas, akan menghindari Mas
Rado, aku janji tidak akan pergi hanya berdua saja saat keluar kota. Aku
mencintai kamu Mas, berapa kali pun aku diminta memilih, aku tetap akan
memilihmu, selalu seperti itu." Airin menatap mataku, entah mengapa
hatiku berdebar, hanya dengan ditatap selembut itu, hatiku meleleh.
Kupeluk erat istriku. Selalu saat mencium aroma rambutnya, mampu membuat
hasratku menggelepar. Aku berusaha menguasai diri, tapi pikiran dan
tubuhku tidak sejalan. Tanganku menggapai lampu tidur dan temaram
membuat jiwaku semakin larut.
Perlahan tapi pasti aku terhanyut dan
Airin tidak memberikan reaksi penolakan. Seluruh penatku hilang, terasa
sensasi bahagia tak terjangkau nalar. Ku terlelap dalam rengkuhan
cintaku.
Aku terbangun ditengah malam, tanpa Airin di sisiku. Lampu
kamar mandi menyala, dengan malas aku menyalakan lampu terang, dan ku
buka pintu kamar mandi, sejenak aku tertegun, jiwaku seakan melayang
meninggalkan raga, kaki seakan tak lagi mampu menopang tubuhku. Di sana
di bawah shower Airin menggigil sambil menangis. Ku masuk kedalam kamar
mandi dan meneriakkan nama Airin, tapi dia terkulai tak berdaya, hanya
matanya sendu menatapku.
"Aku mencintaimu Mas." ucapnya lirih dan
kemudian dia terkulai pingsan. "Iya sayang, maafkan Mas ya ...." Air
mataku deras mengalir di pipiku. Sakit rasanya melihat Airin kembali
drop bahkan di depan mataku.
Segera ku angkat tubuhnya,
mengeringkannya, dan mengganti pakaiannya, wajah pucatnya membuatku
panik dan segera membawanya ke RS dengan mobilku sendiri.
Duduk
di samping Airin yang tidak sadarkan diri di RS, ku genggam tangannya.
Wajah yang sangat cantik itu terlihat sangat pucat. Betapa dalam luka
psikologis yang ditinggalkan Rado pada. Airin, bahkan untuk bersama
suaminya dia melalui penderitaan sedahsyat ini. Ku ciumi ujung jarinya,
air mataku kembali menetes.
"Maafkan aku istriku, maafkan suamimu ini," bisikku lirih.
Bersambung
#AKU BENCI ISTRIKU
part 14
By: KB
Keluarga Airin datang menjenguk, hanya Kak Mira yang tampak bersahabat
denganku. Sedangkan Papa mertua dan Mama mertua hanya diam tak banyak
bicara.
Aku duduk diam di depan ruang perawatan Airin, ketika Mas Sandi suami Kak Mira mendekatiku.
"Gimana dengan Siska? apa khabar selingkuhanmu, jangan-jangan Airin
begini karena perselingkuhanmu," celetuknya dengan tatapan tampak
merendahkanku. Aku tertawa sumbang sambil berpaling menatap tajam
padanya.
"Mas ngga malu ya melemparkan kotoran pada ku tapi jadi boomerang dan berbalik mengotori mukamu sendiri?"
"Apa maksudmu." sahutnya dengan wajah menegang, sepertinya dia memahami arah ucapanku.
"Siska selingkuhan Mas Sandi, yang Mas perintahkan menggodaku, dan tujuannya sudah jelas!" Mas Sandi tertegun.
"Darimana kamu tahu."
"Tidak penting darimana aku tahu, tapi aku ngga nyangka seorang menantu kebanggaan, menantu yang dipuja ternyata ...."
"Cukup ! aku ngga mau Mira sampai tahu!"
"Tergantung, kalau kalian tidak membersihkan namaku di depan Papa, aku
akan beberkan semuanya, dan ingat! kalian harus pisah, jangan menyakiti
Kak Mira lebih jauh lagi!"
Kak Mira berjalan mendekati kami. Mas Sandi langsung menatapku penuh harap.
"Tolong ya Zal, jangan membicarakan ini, ingat kalau bukan aku yang
dulu membawamu ke pesta ultahnya Mira, kamu tidak akan pernah berkenalan
dengan Airin, ingat itu!" Keangkuhan semu, karena seketika runtuh
ketika kebusukan tercium. Sungguh ironis. Tapi aku tidak akan banyak
berpikir, ada hal yang lebih penting yang harus ku lakukan sekarang.
Aku menitipkan Airin pada Kak Mira, untuk menyerahkan sampel rambut
milik Rado dan Naya, saat memukulinya aku berhasil mengambil sampel
rambutnya, walaupun terasa sangat menyedihkan melakukan ini tapi demi
melindungi Airin terpaksa ku lakukan hal ini.
Tanganku gemetar
saat memegang sampel itu, apakah aku mulai percaya Naya bukan darah
dagingku, Aku berharap Naya tidak ada hubungan dengan Rado, namun aku
juga tidak akan begitu saja meyakini Rado pemerkosa Airin, andai tidak
pernah melihat beberapa kejanggalan, fakta Handy yang tidak sadarkan
diri karena mabuk,
fakta hanya Rado saksi satu-satunya saat itu,
fakta Rado perokok dan Airin trauma dengan bau rokok, sementara Handy
bukan perokok, fakta Rado selalu membawa sapu tangan di sakunya, fakta
dia kembali ke Indonesia dan begitu memperhatikan perawatan mental
Airin, naluri sederhana itu membuat keyakinanku tampak absurd, tapi aku
tidak perduli.
Mengambil keputusan untuk memeriksakan DNA Naya
bukan karena aku tidak mencintai putriku, tapi semua harus jelas bukan
sekedar keterangan dari Airin saja.
Namun demikian ada rasa bersalah
membuncah di hati ini, dan di dalam relung jiwa aku berdo'a apapun
kenyataan yang harus ku hadapi semoga tidak mengubah apapun .
Kuyakinkan hati untuk memeriksakan 3 sampel Rambut, rambutku, rambut
Rado, rambut ayahnya Handy untuk dibandingkan dengan putriku.
"Maafkan Papa sayang, karena tega mencari kebenaran siapa dirimu,
maafkan Papa," gumamku lirih. Hanya Tuhan yang tahu sekuat apa aku
menahan runtuhnya air mataku.
Kembali ke RS aku mendapati Airin
sudah sadar, wajahnya sudah tidak sepucat tadi saat kutinggalkan, dia
tersenyum melihat kehadiranku.
Hati yang semula gelisah tak bertepi seketika luruh oleh lembutnya senyum istriku.
"Mas, maafin aku sudah membuatmu repot dan khawatir," ucapnya pelan
Kucium keningnya dan kutatap matanya lembut.
"Ngga apa-apa sayang, Mas yang minta maaf sudah membuatmu jadi begini,"
bisikku lirih. Airin meraih tanganku dan mencium punggung tanganku.
Matanya berkaca-kaca. Kak Mira menatapku penuh selidik.
"Apa yang
terjadi sebenarnya dengan kalian?" tanyanya penasaran. Aku dan Airin
bertukar pandang dan kemudian menggeleng bersama.
"Kecapean Kak, aku kurang istirahat," sahut Airin. Aku mengangguk mengiyakan.
***************************************
Seminggu berlalu, aku duduk tak bergeming di belakang setir mobil,
kutelungkupkan kepala pada setir mobil, rasanya seperti hendak menunggu
vonis mati dari hakim.
Gawaiku berbunyi, ku urungkan niat membaca
hasil test DNA, panggilan dari Papa mertua, aku tercenung sesaat,
sebelum mengangkatnya.
"Papa mau bicara cuma sama kamu saja, tidak perlu mengajak Airin." suara Pamer terdengar lemah, tidak seperti biasanya.
"Baik Pa, nanti malam Faizal kerumah Papa."
Ku simpan kembali gawaiku. Dan kembali kuraih hasil test, dan gelegar
petir menyambar tepat di jantungku, walaupun aku sudah mempersiapkan
kemungkinan terburuk tapi kenyataan pahit ini tak urung membuatku
menangis.
99,9% DNA Naya dan Rado sama. Sementara aku dan Naya
tidak cocok. Air mata merembes di pipiku, bagaimana andai Airin tahu,
kalau ayah biologis Naya adalah Rado, mampukah dia menerima kenyataan
betapa jahatnya lelaki yang dianggapnya saudara lelaki ini.
"Mas kenapa? kelihatan sangat lelah," Airin menyambutku di depan pintu. Ku peluk dia erat.
"Mas kenapa?" Airin mengulang pertanyaannya dengan nada khawatir.
"Ngga apa-apa sayang, cuma pengen memeluk kamu saja, kamu seperti charger yang mengisi ulang energy."
"Gombal nya suamiku," canda Airin sambil menepuk bahuku.
Selama beberapa menit kami tetap berpelukan, ketika terdengar suara Naya.
"Ih Papa manja sama Mama, Naya juga mau manja." Ucapnya dengan suara khas anak kecil yang masih cadel.
Aku melepaskan pelukanku pada Airin. Dan menggendong Naya. Airin tertawa bahagia. Tidak terlihat dia baru sembuh dari sakit.
"Sayang, Mas dipanggil Papa malam ini, sendirian," ku tatap dalam-dalam bening mata Airin.
"Ada apa lagi ya Mas? kamu ngga boleh diam dan tidak menghindar saat dipukul Papa ya," Airin tampak sangat khawatir.
"Jangan khawatir sayang," ucapku sambil mencium pipi Naya, mata Airin berkaca-kaca.
---------------------------------------------------------------
Aku terpaku melihat mobil Rado ikut terparkir di depan rumah orang tua Airin, seribu tanya menggeliat di dalam kepalaku,
"Duduk Zal, pinta Papa," aku mengangguk dan duduk berseberangan dengan Rado.
"Rado, Om minta kamu keluar dulu, terima kasih atas informasimu." ucap
Papa. Rado menatapku dengan tatapan licik. Aku hanya membalas dengan
senyum tipis. Dia berjalan melewatiku, sambil berbisik.
"Yang cepat dia menang," bisiknya penuh percaya diri.
Sekarang hanya tinggal aku dan Papa yang duduk di Sofa ruang kerja Papa."
"Rado bilang, Airin trauma? diperkosa anak dosennya 5 tahun lalu, dan
dia bolak balik Psikiater, dan selama menikah denganmu, dia berkali-kali
mengalami drop mental karena melayanimu sebagai istri dalam kondisi
mental illness. Dimana keperdulianmu sebagai suami? tega sekali kamu
Faizal, bahkan baru saja Airin kembali trauma oleh kelakuanmu, sekarang
kamu tidak punya alasan untuk tetap mempertahankan pernikahanmu,"
Papa menatapku dengan mata berapi-api.
"Saya baru tahu kalau Airin trauma beberapa bulan ini Pa, sebelumnya
Airin tidak pernah memberi tahu Faizal, dia membatasi hubungan kami
selama bertahun-tahun." Sahutku pelan.
"Dan kamu sebut dirimu suami?"
"Aku minta maaf Pa, sungguh Faizal ngga menyadari bahwa Airin mengalami
trauma, semuanya juga teramat berat buat Faizal selama 5 tahun ini,
tanpa tahu kebenaran apapun,"
"Rado yang bukan suaminya tahu rasa
sakit Airin, tapi kamu ? dimana kamu saat Airin mendatangi Psikiater?
Rado yang menjadi sandaran Airin selama ini, dan Papa akan diam-diam
menuntut anak dosen itu bersama Rado yang menjadi saksi, tapi demi
merahasiakan dari mamanya Airin, papa terpaksa mengurungkan niat itu,
tapi Papa minta ceraikan Airin,"
Aku terpana mendengar ucapan
Papa, Rado layaknya ular berbisa, yang siap mematuk mati aku dan Airin.
Rasanya tidak punya pilihan lain selain membuka kenyataan ini, membuka
mata Papa seperti apa Rado sesungguhnya.
"Papa tidak sedikitpun
bersimpati dengan penderitaan aku dan Airin selama ini, walaupun tidak
dilayani istri dengan baik dan tidak diberitahu masalah trauma itu, saya
tetap menjaga kesetiaan pada istri, sebagai lelaki normal sedikitpun
Faizal tidak berpikir untuk berselingkuh,"
"Setia kamu bilang, lalu
siapa Siska yang kamu ...." tawa Papa sinis. Aku hanya diam sambil
memberikan gawaiku yang berisi vidio Mas Sandi dan Siska, berikut
foto-foto mereka yang di abadikan Airin, Papa terpana dan tersandar di
sofa, menantu kebanggannya, anak orang kaya, cerdas, kompetan, dan
sejuta sanjungan membalutnya, ternyata peselingkuh.
"Bagaimana kamu mendapatkan ini," ucap Papa lemas.
"Aku dan Airin melihat ini Pa, kami berencana tidak membuka ini karena
tidak tega pada Kak Mira, tapi Papa memaksaku melakukan ini." ucapku,
aku sangat sedih melihat reaksi papa. Tapi Papa tidak bisa merenggut
Airin, satu-satunya wanita yang kucintai dengan cara yang tidak adil
buatku.
"Dan ini mungkin akan lebih memukul perasaan Papa, tapi Faizal tidak punya pilihan lain," aku menyerahkn hasil test DNA Naya.
"Apa ini."
"Ini harapan papa bukan, mempunyai keturunan dari Rado, dan harapan Papa terkabul, Naya putrinya Airin dan Rado."
Papa terkejut lebih hebat lagi, wajahnya pucat pasi. Di ambilnya kertas
itu dan tangannya gemetar, matanya melotot dengan wajah berganti-ganti
warna antara pucat dan memerah.
"Maksudmu Rado yang menyakiti Airin!"
"Ya Pa, maaf terpaksa hari ini si lelaki bodoh dan tidak kompetan ini
menelanjangi orang-orang yang Papa cintai, semua ini demi melindungi
rumah tanggaku Pa, aku mencintai anak dan istriku, tidak akan aku
biarkan siapapun merebut mereka dariku."
"Kurang a***, bang***,
manusia ular!" Maki Papa kalap. Pulanglah Faizal, Papa akan memberi
perhitungan pada dua orang jah**** itu." Aku pamit pulang, samar ku
dengar Papa berteriak memanggil Mas Sandi.
Di ruang tamu aku berpapasan dengan Rado.
"Sebentar lagi Papa akan membuatmu menceraikan Airin," ledek Rado dengan wajah tersenyum penuh kemenangan.
"Seyakin itukah kamu Rado, maaf aku tidak bisa menghormatimu dengan
menyebutmu Mas lagi, kamu manusia paling licik yang pernah ku kenal,
tunggu saja di sini giliranmu," ucapku dingin sambil meninggalkan Rado
yang menatapku penuh tanda tanya.
Airin belum tidur saatku pulang, di peluknya erat dengan penuh sayang, aku tersenyum sambil membalas pelukannya.
"Makasih sayang, sudah terlahir kedunia ini, terima kasih sudah menjadi
istriku, lelaki sederhana ini, Mas sangat mencintai kamu," bisikku.
Airin semakin erat memelukku.
"Terima kasih sudah hadir di hidupku Mas, terima kasih telah menjadi
suami yang sabar dan setia. Aku juga sangat mencintaimu." Balas Airin.
Bersambung
#AKU BENCI ISTRIKU
Part 15
By:KB
POV Papa mertua
*******************
Aku merasa sangat malu pada Faizal, menantu yang tidak pernah ku
anggap, selalu ku sepelekan, ternyata adalah lelaki yang sangat baik,
aku sebagai lelaki tidak bisa membayangkan bagaimana dia melalui waktu
selama lima tahun ini dengan ranjang pernikahan yang dingin. Sementara
Sandi yang ku bangga-banggakan tidak lebih dari seorang peselingkuh dan
pecundang.
"Pa, kenapa seluruh sahamku di pindahkan kepada Mira, aku yang bekerja keras dan ...."
"Baca kontrakmu kembali, disitu jelas tertulis bahwa seluruh saham yang
kamu miliki akan dipindah namakan pada istrimu apabila kamu ketahuan
dan terbukti curang baik pada perusahaan apalagi terhadap istrimu,"
Sandi menatapku lunglai, semua keburukannya seperti ditelanjangi satu
per satu. Selain berselingkuh dia juga memiliki beberapa perusahaan
fiktif, untuk menyelewengkan dana perusahaan. Begitulah manusia begitu
kebusukannya tercium, maka satu persatu akan muncul kepermukaan tanpa
digali.
"Aku ngga akan menceraikan Mira Pa,"
"Itu terserah Mira,
dia yang memutuskan, bukan kamu!" sahutku tegas. Sandi tertunduk pilu,
tidak tersisa sedikitpun ke banggaan yang selama ini ku sematkan
padanya.
*******************************************
"Tinggalkan Indonesia, dan jangan coba-coba mendekati Airin lagi, tidak
ku sangka kamu singa berbulu domba!" bentakku pada Rado. Sungguh tidak
terbayangkan di balik semua kebaikannya tersimpan kejahatan yang sangat
menyakitkan.
"Kalau aku tidak bersedia ...."
"Maka penjara
tempat terbaikmu, dan satu lagi seluruh investasi pada perusahaan
keluargamu akan ku tarik hari ini juga, dan siapkan mental ayahmu untuk
kembali terpuruk dalam kebangkrutan,"
"Om, aku mencintai Airin, dan
om juga setuju denganku, bukankah tinggal menceraikan Faizal aku sudah
memiliki putri dengan Airin," sergahnya penuh keyakinan.
Plak plak....tamparan akhirnya tidak mampu ku tahan untuk lelaki baji**** ini.
"Bangs** kamu Rado, kamu pikir putriku lelucon? kamu pikir ...."
"Naya putriku om, aku punya hak untuk ...."
"Hak apa yang dimiliki pemerko** sepertimu?" Aku hanya berusaha menahan
amarahku. Wajahku panas membara. Ku lihat darah merembes di sudut bibir
Rado.
"Jangan coba-coba mengusik Naya, semua yang aku ucapkan bukan sekedar ancaman!"
Rado manatapku dengan wajah memerah, entah apa yang merasuki lelaki ini, sehingga tega melukai Airin sedalam itu.
Dalam sekejap kebanggaanku pada dua lelaki yang selama ini ku anggap
sangat baik, runtuh. Aku sangat malu pada Faizal. Dia memiliki samudera
hati yang luas, tidak terbayangkan bahwa dia dari keluarga sederhana
yang selalu kupandang sebelah mata, ternyata lebih memiliki kehormatan
dan kesetiaan.
Tidak terasa air mataku meleleh menatap foto pernikahan Airin dan Faizal.
********************************************
Sofie dan Rendra memasuki ruang kerjaku.
"Duduk lah kalian, ada yang ingin ku bicarakan. Ren, sebagai seorang
analis system, aku meminta kamu bisa lebih fokus dan bekerja sama yang
baik dengan team programmer, terutama Sofie, kalian kepala bagian dari
dua team ini, kalau kalian tidak bekerja sama dengan baik, apa kamu
pikir Software yang akan kita kembangkan kedepannya akan bisa
diimplementasikan menjadi software yang hebat? buang masalah pribadi di
antara kalian. Di Belanda kemarin kalian sangat kompak, kenapa sekarang
seperti ini,"
Rendra menatap kearah Sofie, dan mengulurkan tangannya.
"Maafkan aku Sof, sungguh aku ...." Sofie menatap Rendra dan tersenyum.
"Aku juga salah, kita impas saja ya," keduanya kembali berbaikan.
Aku menyadari urusan cinta tidak sampai ini, menurut Rendra Sofie
nenyukaiku, Rendra mengucapkan kalimat yang sangat menyinggung Sofie,
dan keduanya terlibat perang dingin. Sangat mengganggu aku sebagai rekan
mereka.
"Bos makan siang bareng bertiga gimana?" tanya Rendra.
"Oke, cari resto yang bagus," sahutku mengiyakan. Sofie segera reservasi.
Gawaiku berbunyi, dari Airin.
"Mas, makan siang dimana, sama siapa?"
"Sama Rendra dan Sofie, sayang dengan siapa?" tanyaku balik.
"Ikutan boleh ngga Mas, gabung sama kalian."
"Boleh banget, ntar ya, jangan ditutup dulu nih."
"Sofie, Rendra, istriku ikutan sama kita,"
Kedua rekanku mengangguk senang, apalagi Rendra yang memang dari dulu
penasaran sama sosok Airin yang tidak bisa membuatku berpaling pada
wanita mana pun.
"Dijemput atau gimana nih?" aku kembali bicara pada Airin.
"Dijemput saja Mas, mobilku dibawa sopir kantor buat di service ke bengkel, besok baru di ambil."
"Its oke, Mas jemput sekarang ya?"
Gawai ku tutup, dan kembali bicara dengan dua rekanku.
"Kalian berangkat langsung ya, aku jemput Airin dulu."
Hanya berbeda beberapa menit mobil kami ketemu di parkiran resto
seafood, Aku memperkenalkan mereka dan hanya sebentar saja Sofie dan
Airin tampak sangat akrab. Rendra menyikutku.
"Cantik banget istrimu Zal, pantesan saja kamu cinta mati."
Aku hanya tertawa renyah. Airin menoleh padaku.
"Kenapa Mas?" tanyanya penasaran.
"Rendra bilang kamu sangat cantik," sahutku sambil tetap tersenyum.
Rendra kembali menyikutku, sementara Airin mengucap terima kasih dengan gaya lucu, dan kami berempat tertawa.
Ketika hendak pulang, sempat ku melihat Airin dan Sofie berbicara
serius, entah apa yang mereka bicarakan. Lama aku dan Rendra menunggu di
parkiran, baru kemudian keduanya datang. Saat berpamitan keduanya
berpelukan, Airin menepuk bahu Sofie. Keduanya berpisah, Airin ke
mobilku sedangkan Sofie menuju mobil Rendra.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanyaku penasaran.
"Bukan apa-apa sayang, cuma obrolan wanita aja," Airin tersenyum padaku.
"Mas, kita ke pantai dulu yu, bolos aja, Mas ada kerjaan mendesak atau apa gitu?" Airin menatapku dengan penuh harap.
"Oke, ngga masalah, ayo kita refresh dulu pikiran kita, pacaran di
pantai seru juga," sahutku sambil membelokkan setir kearah berlawanan.
Airin menyentuh tanganku.
"Makasih sayang."
Aku mengangguk pelan sambil melemparkan senyum terbaik untuk kekasihku.
Rasanya sungguh bahagia bisa menikmati waktu berdua , tanpa rencana, hanya mengikuti keinginan hati saja.
Bertelanjang kaki kami menyusuri pantai, angin meniup rambut Airin,
sangat cantik, ku sentakkan tangannya yang ku genggam, Airin jatuh dalam
dekapanku.
Degup jantung kami mengalahkan deburan ombak yang pecah
menghantam karang, hari mulai agak sore, semburat matahari mulai
tersaput jingga di ufuk barat. Ku tatap bening mata nya, mata penuh
ketulusan itu tampak berkaca.
"Mas, apapun yang ingin aku katakan,
semua karena aku teramat mencintaimu, aku ingin tetap menua bersamamu"
Airin menatap mataku dalam-dalam. Jarak kami sangat dekat.
"Rin,
boleh Mas cium kamu dulu, baru kita bicara," aku menyentuh pipinya
dengan jariku. Airin mengangguk dan memejamkan matanya. Kutangkup
wajahnya dan kunikmati manis bibirnya dengan penuh kerinduan. Angin
pantai menyapu wajah kami lembut. Airin balas menciumku mesra. Tapi
moment indah itu terputus oleh suara gawai Airin yang tidak henti
berbunyi. Airin menatapku minta persetujuan mengangkat gawainya, aku
mengangguk dan dengan enggan melepaskan pelukanku.
"Papa Mas, aku loud speaker ya, biar kita dengar sama-sama," aku mengangguk setuju.
"Airin, kamu hindari Rado, jaga diri kamu dari lelaki busuk itu, apa
suamimu belum cerita, Rado yang memper**** kamu lima tahun lalu,
sekarang dia mengancam akan merebut Naya dari kalian," Airin menatapku
tak percaya, dia berteriak histeris.
Gawainya terlepas, dan sempat ku tangkap,
'Pa, maaf ini Faizal, tutup dulu ya Pa, " tanpa mendengar persetujuan Papa, gawai langsung ku tutup.
Airin menangis sejadi-jadinya. Ku peluk Airin yang terus berteriak, dia
menggelengkan kepalanya berkali-kali. Aku terpana dan berusaha sekuat
tenaga menenangkannya.
"Sayang, tolong kendalikan dirimu, sayang
Mas mohon, Airin," ucapanku berlalu di telan gemuruh gelombang dan angin
pantai. Airin terus histeris, sia-sia seluruh usahaku untuk
menenangkannya. Beberapa saat kemudian Airin kehilangan kesadaran,
tubuhnya lunglai dalam pelukanku.
Aku sangat menyesali tindakan
Papa yang memberi tahu Airin tanpa membicarakan terlebih dahulu, ini
tindakan gegabah buat mental illness yang masih sangat rapuh, tapi semua
sudah terjadi.
Aku segera menelepon Psikiater Airin. Berkonsultasi sebentar dan aku sedikit tenang.
"Kamu harus kendalikan diri mu sendiri, jangan ikut larut dalam emosi
istrimu, tenang dan bawa dia segera ke RS, biar saya yang akan ke sana."
aku bergegas mengangkat Airin, beberapa pengunjung pantai yang melihat
segera membantuku membawa Airin ke mobil.
Bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar