#AKU BENCI ISTRIKU
(Part 1 )
By: KB, Kadariah Burhan
Setiap hari rasanya kaki ini berat melangkah untuk pulang, tidak
terbayangkan bahwa istri yang kunikahi karena cinta itu menjadi sangat
memuakkan bagiku. Pernikahan kami yang baru lima tahun terasa sangat
lama, beruntung kami sudah dikaruniai satu buah hati yang cantik, hanya
Naya saja yang membuatku masih mau pulang kerumah.
Suara istriku
sangat mengganggu pendengaranku, omelannya mulai dari masalah kaos
singlet yang kuletakkan di kamar mandi, handuk basah di sofa atau gelas
kopi yang lupa kukembalikan ke bak cuci. Semua perbuatanku nampak selalu
salah di matanya.
"Mas, besok Mama datang, kamu harus pulang lebih
awal ya," Airin memberitahuku dengan suara nyaringnya dari dapur, dia
masih menyiapkan makan malam.
Aku diam tak bergeming, tambah satu
deritaku, Mama mertua yang tidak kalah cempreng suaranya, aku bakalan
tersiksa bagai di neraka.
"Ngapain Mama ke sini," ucapku datar, sambil menyuap makananku.
"Lho, aneh banget pertanyaanmu Mas, Mama mengunjungi kita apa perlu
alasan?" Airin menatapku tajam. Rasanya sop ayam yang sedang kutelan
akan melompat lagi keluar dari tenggorokan.
"Ingat Mas, pulang cepat, awas kalau telat!" ucapnya tegas.
Rasanya tidak percaya aku dulu pernah tergila-gila dengan wanita ini.
Dulu dia cantik, anggun, ramah, penurut, tapi kenapa bisa berubah sangat
menyebalkan. Tidak tersisa sedikitpun sifat manisnya dulu. Setelah
setahun menikah mulai terlihat keburukannya, bawel, pemarah, sok ngatur,
selalu mau menang sendiri. Bahkan saat terima gaji dari kantor dia akan
mengomel panjang lebar, penghasilanku katanya tidak cukup, dan setiap
bulan selalu memaksa aku untuk mencari pekerjaan baru, semua
penghasilanku diambilnya tanpa sisa, bahkan untuk membeli bensin mobilku
saja aku harus kerja tambahan sebagai sopir taxol. Rasanya aku sangat
lelah lahir dan bathin.
Bukan hanya itu, dia juga sangat malas
melayaniku diatas tempat tidur. Katanya lelah, padahal kerjanya cuma
mengurus rumah, itupun separuh dari pekerjaannya sudah kubantu. Cuci
piring, menjemur cucian pakaian, terkadang memasak juga, tapi masih saja
aku lelaki tak bernilai di matanya. Seandainya bisa waktu diputar
kembali aku tidak akan menikahinya.
Akhirnya Mama mertuaku datang juga, aku mencoba menutupi rasa tidak sukaku, aku malas bertengkar di depan mertua.
"Zal, kamu ngga pengen nyari pembantu, kasian istrimu sendirian ngurus
rumah, ngurus anak, kamu cuma bisa bantu sekali-sekali, jangan egois
jadi suami," tegur Mama sambil menyuapi Naya.
"Aku belum ada dananya Ma, nanti kalau sudah dapat kerjaan baru yang gajinya cukup buat gaji pembantu," sahutku sekenanya.
"Ingat Zal, kamu meminta dia ke kami buat jadi istrimu, bukan
pembantumu, dia sejak kecil ngga pernah susah, selalu dilayani pembantu,
kamu harus bisa membahagiakan dia, ingat itu!" Mama meninggalkanku
sendirian dengan hati terluka. Seperti inikah semua suami yang
penghasilannya pas-pasan, selalu direndahkan.
Malam ini setelah makan bareng mertua dan istri aku pamit keluar mau narik taxol, tapi masih sempat mertuaku menghinaku.
"Ya Tuhan Zal, jangan sampai kamu ketemu teman arisan sosialita Mama,
mau ditaruh dimana muka ini, kamu ngga bisa dibanggakan seperti menantu
Mama yang lain." gerutu mertuaku, rasanya telingaku sudah kebal
mendengar hinaannya.
Apa sebaiknya kuceraikan saja Arini, aku sudah tidak tahan lagi.
Bersambung
#AKU BENCI ISTRIKU
(Part 2)
By: KB
Malam sudah larut, ketika Riyadi, Toyib dan Bahrul mengajakku ngopi
bareng di warung kopi Bu Leha, tempat tongkrongan kami pejuang receh.
"Gimana Zal kabar istrimu, masih galak?" Toyib membuka percakapan sambil mengisap rokoknya dalam-dalam.
"Masih, malah sekarang ada mertuaku di rumah, jadi malas pulang
rasanya." sahutku lesu. Ku tatap gelas kopi yang baru ku minum sedikit.
"Selingkuh saja bro, dijamin bini lo bakalan kapok, selama ini dia
ngerendahin lo karena dia pikir lo ngga bisa dapetin lebih dari dia,
makanya jadi seenaknya begitu." Ryadi ikut nimbrung.
"Ngga ah, satu saja aku stres, apalagi dua," aku makin merasa galau.
"Cerai aja Zal, wanita banyak yang shalihah, nanti aku cariin, biar
hidupmu bisa tenang dan damai." Bahrul ikut menimpali. Aku cuma diam,
hanya hatiku terasa benar-benar hampa.
"Zal, kamu jangan kelamaan
lemot, coba sekali-kali kamu tegas, biar ada harganya, aku aja ngga
kerja doble kaya kamu istriku tetap baik sama aku." seloroh Bahrul lagi.
"Sulit buat aku tegas, mertuaku bakalan bawa istriku pergi dengan anakku juga, aku ngga siap berjauhan dari putriku,"
Kekuatanku memang pada putriku, dia yang membuatku tetap bertahan.
Bayangkan, pernah saat sarapan pagi, membahas masalah sepele, tiang
jemuran yang roboh, aku bilang biar nanti aku cari tukang buat benerin,
tapi Airin marah besar, dia bilang aku tidak becus ngapa-ngapain, masa
buat benerin tiang jemuran musti cari tukang, padahal dia tahu persis,
bukan aku tidak mampu dan tidak mau, tapi waktuku tidak ada, harus
berangkat kerja jam 8 pagi, telat kena sanksi. Lamunanku buyar ketika Bu
Leha muncul membawa sepiring kue, perut laparku berteriak, tapi
kutahan, aku harus makan di rumah kalau tidak bisa diomeli sampai
tertidur.
Kubuka pintu rumah perlahan agar tidak mengganggu yang sudah lelap tertidur.
Tiba-tiba lampu ruang tengah menyala, aku kaget tak terkira, Airin menatapku kalap.
"Aku sudah bilang Mas, jangan pulang terlalu malam saat ada Mama,
seberapa banyak sih hasil taxolmu, paling cuma cukup buat bensin sama
jajanmu!" bentaknya sambil menutup pintu dengan kasar. Padahal tadinya
aku mau kasih hasil taxol malam ini, karena lumayan banyak, kalau sudah
direndahin duluan mendingan kutabung saja buat keperluan putriku.
"Maaf Rin, aku mau makan dulu, masak apa?" aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ngga masak, tadi kami pesan online, aku ngga mau Mama ngomel melihatku
kerepotan masak. Bukannya Mas baru dari luar, koq ngga sekalian makan
sih!"
"Tapi biasanya kamu marah bila aku makan di luar," sahutku getir.
Terasa perutku berdendang, konser musik rock sepertinya.
"Itukan biasanya Mas, kalo ada Mama beda lah, kayak ngga hapal sifat
Mama aja." Arini berlalu meninggalkanku. Aku terpaku bisu, ku langkahkan
kaki menuju dapur, ku buka rice cooker, ada sedikit nasi, ku rebus mie
plus sebiji telur, cukuplah mengganjal perut laparku.
Malam ini
disela lelahku, aku merebus air buat mandi, setelah wangi kudekati
istriku Airin, rasanya hasratku harus tersalur malam ini, kepala pusing
dan pikiran tegang, kumulai serangan manis di pipinya, dia membalikkan
badan membelakangiku, kupeluk dan kuciumi tengkuknya, dia diam tak
bergerak, aku berpikir istriku mau dan aku bisa lega malam ini, tapi apa
mau dikata, keberuntungan belum memihakku.
"Ngantuk Mas, lagian
siapa suruh pulang malam." Airin menutupi tubuhnya dengan selimut, aku
kalap, kupaksa dia membalik, kutindih sekuat tenaga. Tapi dia malah
mendorongku.
"Apaan sih Mas, mau memperkosaku ya!" bentaknya sengit.
"Aku pengen banget Rin, ngga kuat rasanya nahan lama-lama, kamu kenapa sih, kalo ada masalah ngomong, apa aku menyakitimu?"
Dia tidak bersuara, tapi selimutnya membuka, dia tersenyum sinis.
"Aku ngga pengen aja, apa Mas mau memaksa, ngantuk!" rutuknya kesal.
"Kita harus bicara Airin, ini tidak bisa terus begini," bujukku.
Tapi dia kembali memunggungiku, jalan satu-satunya menghilangkan
pusingku adalah pergi kekamar mandi, mencari sendiri pengobat pusing.
Di kantor presentasiku di ruang meeting tidak terlalu memuaskan, aku
tidak yakin proposal yang aku buat akan dipakai perusahaan untuk maju di
lelang tender. Pikiranku mulai tidak tenang, aku harus mendapat promosi
tahun ini agar penghasilanku bisa naik. Aku ingin menggaji pembantu,
aku tahu aku tidak bisa memuaskan istriku secara materi, tapi bukankah
saat aku melamarnya dia tahu persis apa pekerjaanku, tahu bahwa aku
hanya ganteng dan macho, tapi dompetku tidak tebal layaknya teman
lelakinya dulu. Tapi dia berkeras mengajakku menikah karena sangat
mencintaiku, orang tuanya saja dilawannya kala itu.
"Lesu banget Mas, ada apa?" Siska menepuk pundakku pelan. Kualihkan pandanganku dari layar komputerku.
"Aku takut gagal presentasiku barusan, padahal untuk promosi jabatan
prestasi ku harus tidak biasa-biasa saja." sahutku pelan sambil
menggosok mataku yang terasa sangat lelah.
"Tapi tatapan matamu
bukan seperti orang yang mengkhawatirkan pekerjaan lho Mas Faizal, ada
apa? cerita biar bebanmu berkurang," sahut Siska, teman sekerjaku ini
memang cantik, lembut dan perhatian, tapi istriku dulu juga begitu. Aku
bukan tidak tahu Siska suka mencuri pandang menatapku, tapi sungguh aku
tidak mau bermain api disaat rumah tanggaku saja belum mampu ku
kendalikan.
"Makan bareng Mas, biar kuajak juga Hendro biar kita
bertiga, nanti sakit kalo telat makan." bujuk Siska, mendengar Hendro
teman se team kami ikut, aku mengangguk.
Bersambung
#AKU BENCI ISTRIKU
(Part 3)
By:KB
Hari ini terasa sangat panjang, pekerjaan di kantor menyita energiku,
aku akan masuk ke mobil ketika sebuah suara mengejutkanku.
"Mas, mau
aku setirkan mobilnya? kayanya capek banget, ntar aku pulang dengan
ojol aja." Siska menawarkan bantuan untuk mengantarku.
"Ngga Sis, kuat koq aku," tolakku.
"Tapi kamu kayaknya ngga sehat lo mas," bantahnya, Siska hendak mengambil kunci mobilku, tapi aku menghindar.
"Ngga, aku sehat koq, makasih ya, aku duluan Sis," pamitku sembari
masuk ke mobil dan ku anggukkan kepalaku padanya sebelum berlalu.
Aku bukannya tidak mengerti sikap dan perhatian Siska padaku. Gadis itu
sangat menyukaiku, dan aku bukan lelaki bodoh untuk tidak menyadarinya.
Di dasar hatiku yang kesepian merasa sangat terhibur, tapi aku sadar,
bukan penyelesaian yang akan kuperoleh kalau lari kepelukan wanita lain
hanya karena istriku tidak melayaniku dengan baik.
Sesampai di rumah aku berharap Mama mertuaku sudah pulang, tapi ternyata beliau masih di sini.
Kudekati Naya yang sedang bermain sendirian di ruang tengah, tanganku
hendak terulur menggendong Naya, ketika gelegar suara Mamer
mengejutkanku.
"Mandi dulu Zal baru menyentuh anakmu, siapa yang
tahu bakteri apa yang kamu bawa dari luar sana!" tegurnya dengan suara
meninggi. Aku mengurungkan niat menyentuh Naya. Segera aku berlalu ke
kamar, ku letakkan tas kerjaku dan segera melepas dasi yang terasa
mencekikku seharian ini.
"Jangan langsung tidur Mas, mandi dulu sana." tegur Airin saat melihatku berbaring di ranjang.
"Ngga enak badan aku Rin, tolong rebusin air ya, sekalian tolong siapin
makan." pintaku lemah, seluruh persendian terasa mau lepas.
"Rebus
sendiri Mas, aku sedang repot masak, nanti kalo sudah mandi buruan ke
meja makan, biar makan bareng sama Mama, besok Mama dijemput Mas Sandy
pulang." sahut Airin datar sembari berlalu meninggalkanku. Sejenak ku
terlelap hingga Airin membangunkanku. "Jorok amat sih Mas tidur ngga
mandi dulu, cepetan Mas, Mama sudah nungguin tuh.
Pelan ku bangkit dari tempat tidur, kulangkahkan kaki kekamar mandi, walaupun menggigil aku terpaksa mandi dengan air dingin.
Di meja makan Mamer sudah menunggu dengan ekspresi tidak enak untuk dilihat.
Suapan demi suapan terasa pahit, sangat tidak nyaman di lidah dan
tenggorokanku, padahal biasanya makanan yang dibuat Airin selalu enak.
"Zal, besok Mama pulang, dijemput Sandy, suami kakaknya Airin itu
kompetan sekali di pekerjaannya. Mama mau kamu juga mulai berubah, cari
pekerjaan yang layak, kasihan Airin harus hidup dengan kondisi pas-pasan
seperti ini, harus mengurusmu dengan Naya dan mengurus rumah kalian
ini, Mama mau kamu menjadi suami yang berguna buat Airin," ucap Mamer
santai sambil menyuap sisa makanan di piringnya.
Aku hanya mengangguk lemah, badan dan pikiranku sedang tidak sejalan.
"Mama beri kamu waktu setahun agar bisa berubah, kalau tidak, Mama akan
membawa istri dan anakmu pulang!" tegasnya, aku tertegun, bagai
mendengar petir di siang bolong, lidahku kelu. Aku tersandar di kursi,
segalanya terasa menyakitkan.
Mamer berdiri dari duduknya, sementara Airin hanya menatapku datar dan dingin.
Selera makanku semakin hilang, kuteguk sisa minuman di gelasku,
beranjak pergi menuju kamarku, tidak kuperdulikan panggilan Airin. Aku
merasa benar-benar muak.
Airin melempar bantal ke wajahku,
tatapan mata penuh cinta yang dulu selalu menghias mata indahnya kini
sirna, aku diam tak bergeming
"Mama pulang kamu ngga mau keluar mengantarnya, menantu macam apa kamu mas!" teriaknya berang.
Aku sudah tidak bisa menahan emosiku lagi.
"Mertua yang seperti apa yang pantas dihormati Rin, apa kamu tidak bisa
membuka matamu sedikit saja, melihat bagaimana perlakuan Mama padaku,
apa kamu suka melihat suamimu direndahkan! bukan cuma sekali tapi
sepanjang lima tahun pernikahan ini!" teriakku tidak kalah tinggi.
"Apa kamu menyangkal Mas, apa yang dikatakan Mama itu benar, kita
menikah sudah lima tahun dan kamu sedikit pun tidak berubah, tidak ada
kemajuan sama sekali secara ekonomi, aku juga bosan Mas, setiap hari
bagai pembantu di rumah ini, dari pagi ketemu pagi pekerjaan tidak
pernah selesai, kamu pulang dan pergi bekerja siang dan malam hidup kita
tetap seperti ini!" pekiknya, aku tertegun.
"Kamu lelah Mas? aku
juga, belum tekanan dari Mama dam Papaku agar kamu pindah bekerja, apa
kamu pikir aku tidak muak dengan semua ini!" suara Airin semakin
berapi-api.
"Aku tidak pernah menuntutmu jadi istri sempurna Rin,
aku tidak akan menggerutu seandainya kamu tidak sempat membersihkan
rumah, aku tidak protes kalau tidak ada makanan di meja, aku juga tidak
akan marah harus membantumu, kenapa semuanya seakan rumit di matamu!"
ucapku pelan.
"Kamu bosan Rin? kamu lelah? aku juga bosan dan lelah!
perlakuanmu padaku tidak seperti seorang istri ke suaminya, kamu
arogan, bahkan untuk urusan di tempat tidur aku harus mengemis padamu,
apa guna aku punya istri kalau setiap malam aku onani! apa fungsimu
sebagai istri kamu jalankan dengan baik!" Airin menatapku tajam,
dilemparnya guling, bantal ke wajahku.
"Pikiranmu mesum Mas, cuma itu saja yang ada di otakmu?"
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku pertanda aku menahan emosi luar biasa.
"Apakah mesum bagimu ketika seorang suami meminta haknya?" kuremas
bantal yang di lemparkan Airin. "Hak aku Rin untuk meniduri kamu, istri
tempat suaminya menyalurkan sahwat. Apakah ada yang salah dengan
permintaanku?" aku menarik tangan Airin tapi ditepiskannya.
"Dalam
rumah tangga bukan cuma urusan begituan mas, apa kamu pernah berpikir se
gila apa aku saat kamu tinggal di rumah, aku frustasi, dari waktu
kewaktu yang kulalui denganmu terasa flat, hampa, tidak berwarna, kamu
tidak menyenangkan seperti dulu, pergi pagi pulang sore berangkat lagi
malam hingga tengah malam ...."
"Kamu yang minta aku bekerja keras
agar status sosial kita tidak hina di mata keluargamu, cuma itu yang
bisa kulakukan sebagai seorang suami!"
"Banyak yang bisa kamu
lakukan mas! kamu sarjana, cerdas di bidangmu, tapi kamu merasa nyaman
dengan kondisi pekerjaanmu sekarang, kamu stag di tempat dan aku merasa
gairahku sudah mati melihat kemandulan pikiranmu!"
Airin
melangkah meninggalkanku, tapi kutarik tangannya dengan kasar, kulumat
bibirnya dengan penuh nafsu, kudorong ke tempat tidur, kutarik
pakaiannya, aku kalap, emosi yang kupendam, gairah yang tidak dapat
kusalurkan padanya hampir setengah tahun ini membuat hatiku seperti
beku. Aku hampir memperkosa istriku sendiri, tapi kemudian akal sehatku
kembali, dia wanita yang melahirkan anakku, wanita yang dulu pernah
mencintaiku. Kulepaskan pelukanku padanya, Airin melengos, didorongnya
aku hingga terguling di tempat tidur.
"Kalau sampai kamu
memperkosaku, kita cerai!" ucapnya bergetar, di tutupnya tubuh cantik
mulusnya yang hampir setengah telanjang karena ulahku. Ada sedikit
penyesalan terlintas dibenakku, tidak pantas rasanya aku melakukan
kekerasan pada Airin, tiba-tiba aku merasa benar-benar menjadi lelaki
hina.
Aku memeluk putriku yang semakin menggemaskan, dia cantik
dan sehat. Setelah bermain dengan Naya aku segera berlalu, hari ini
minggu, tapi aku memilih menarik taxol dari pada di rumah melihat Airin
yang wajahnya dilipat sepuluh.
Semalaman aku memikirkan ucapan
Airin, aku akan memenuhi tuntutannya, setidaknya memberinya ART, aku
tahu dia lelah,ingin kulihat apakah setelah memiliki ART dia akan
berubah, kalau aku terus menunggu mampu melakukannya, mungkin saat itu
rumah tanggaku akan benar-benar hancur dan karam. Tidak mengapa aku
lebih keras lagi berusaha, srmoga dengan keputusan ini Airin akan lebih
santai.
"Besok aku carikan ART buat membantumu, hanya itu yang
saat ini bisa kulakukan." ucapku singkat, sambil mengambil kunci mobil,
kuseruput kopi yang kuseduh tadi pagi. Airin tidak menoleh sedikitpun.
Sebelum dia mengomeliku karena gelas kopi, segera kuberbalik mengambil
gelas kopiku dan mencucinya, tak lupa kubersihkan bekas kuletakkan gelas
di atas meja yang berbentuk bulatan yang kalau tidak di bersihkan
bakalan panjang urusannya.
Aku menjemput penumpangku di sebuah
kawasan elite, sebuah komplek perumahan yang fasilitasnya lengkap,
seorang perempuan cantik membuka pagar rumahnya. Aku tertegun.
"Siska? kenapa kamu memesan taxol? mana mobilmu?" tanyaku sedikit merasa tak nyaman.
"Di bengkel Mas, antar aku ya, ngga apa-apa 'kan Mas?" Siska menatap
wajahku dengan tatapan lembut, aku mengalihkan tatapanku pada setirku.
"Oke, siapapun pelangganku, aku ngga boleh menolakkan?" ucapku datar.
Siska tersenyum sangat manis, dan menyebutkan tempat tujuannya.
Di dalam hati aku berdo'a semoga dikuatkan dari Siska yang terus saja mencari cara mendekatiku.
Aku faham betul, apa yang diinginkan gadis di sampingku ini. Bagiku,
selama masih terikat pernikahan dengan Airin tak akan pernah aku
selingkuh.
Bersambung
#AKU BENCI ISTRIKU
(Part 4)
By:KB
Hari minggu yang terasa berbeda, karena harus mengantar dan menjemput
Siska, untungnya orderan taxol ku ramai, sehingga tidak terlalu lama
menghabiskan waktu hanya menunggunya.
"Ada apa sih Mas dengan
dirimu, koq rasanya akhir-akhir ini aku merasa kamu bukan seperti
dirimu, kemejamu kadang agak kusut, dasi yang ngga matching dengan
kemeja, rambut yang ngga kamu potong walau sudah melewati kerahmu."
Siska menatapku dalam, dengan ekor mataku bisa melihat betapa lembut
tatapannya, aku tetap berkonsentrasi dengan jalanan.
"Ngga ada apa-apa Sis, biasa aja, aku memang terkadang menikmati kekusutan dan berantakanku." sahutku sekenanya.
"Istrimu ngga perhatian kayaknya sama kamu Mas," selidik Siska lebih berani. Sejenak aku tertegun.
"Ngga juga Sis, dia itu repot, ngurus rumah, ngurus anak, belum
ngurusin suami, kamu belum nikah soalnya jadi belum tau gimana kerepotan
seorang istri," ucapku tenang, meskipun rasanya ada rasa sedikit
terhibur diperhatikan.
"Beruntung banget istrimu Mas, lelaki lain
pasti akan mengatakan 101 dosa istri kalau ditanya perempuan lain,"
seloroh Siska sembari tertawa renyah. Aku hanya tersenyum, meskipun aku
bukan lelaki sholeh, tapi aku tahu persis cara menjaga kehormatan
istriku, aibnya juga adalah aibku. Ketika seorang istri tidak mampu taat
padaku sebagai imamnya, bukankah berarti ada yang salah dengan diriku.
Aku hanya berusaha untuk mencari apa yang harus kuperbaiki, agar kapal
yang ku nakhodai ini tidak karam hanya karena gelombang.Terkadang aku
muak dan benci dengan sikap Airin, tapi rumah tangga tidak hanya
dibangun dalam semalam, butuh waktu dan mungkin pengorbanan untuk
membuat tumbuh dan berdiri kokoh. Walaupun aku tidak percaya diri untuk
bisa tetap mencintai istriku.
"Makasih ya Mas, udah mengantar dan
menjemputku, bila suatu saat Mas merasa beban terasa menyiksa di hati,
ingat Mas, Siska siap jadi pendengar yang baik." ucapnya lembut sembari
membuka pintu mobilku, aku hanya membalas ucapannya dengan senyuman.
Segera kupacu mobilku kembali kerumah.
Pagi ini sesuai janjiku
pada Airin, ART yang ku dapat dari Bahrul mulai bekerja, Airin terlihat
sedikit santai, wajah nya tidak lagi jutek padaku karena insiden
kemarin, aku menjadi sedikit tenang.
Saat akan berangkat ke kantor
ku tarik tangannya dan kupeluk erat, bau rambutnya yang wangi dan aroma
tubuhnya membuatku bergairah kusibak rambutnya yang tergerai, menciumi
leher dan bibirnya, mencoba membuka hasratnya padaku, namun Airin
melepaskan ciumanku. "Berangkat Mas, nanti telat, oh ya ntar malam ada
yang ingin kubicarakan dengan Mas, jangan terlalu malam pulangnya."
Setelah makan malam, Airin membuka percakapan.
"Aku mau bekerja Mas, sayang gelar sarjanaku terasa sia-sia tidak
dipakai. Ada temanku yang merekomendasikanku di perusahaan tempatnya
bekerja." ucapan Airin seketika membuatku tersentak
"Anak kita masih kecil Rin, apa kamu tega meninggalkannya?" sahutku pelan.
"Tega ngga tega Mas, aku ingin menjadi diriku sendiri, memiliki penghasilan sendiri, aku membantumu Mas,"
"Ngga perlu, aku saja yang bekerja, bukankah kita ngga pernah
kekurangan Rin, meskipun sederhana kita ngga ngutang sana-sini, dan
...."
"Ini yang aku ngga suka dari kamu Mas, kamu cepat merasa puas,
makanya kamu ngga berhasil, karirmu mandeg begitu saja. Kamu izinkan
atau tidak aku tetap akan bekerja!"
"Aku tetap ngga mengizinkan!" tegasku.
"Kalau begitu belikan aku mobil Mas, berikan aku tiket jalan-jalan
keluar negeri, kamu mampu?" Airin menatapku sangat tajam. Aku tak
berkutik, rasanya runtuh sudah mahkotaku sebagai suami. Aku tidak mampu
memegang kendali istriku sendiri.
"Ridho Allah terletak pada ridho suamimu Rin," aku mencoba mengingatkan.
"Suami yang seperti apa Mas?" Petanyaan sederhananya mampu membuatku
terdiam. Airin meninggalkan meja makan. Meninggalkanku yang terdiam
membisu. Aku tidak punya power sedikitpun terhadap istriku. Kususul dia
kekamar, dan kembali mencoba menunjukkan aku masih suaminya.
"Baiklah Rin, bekerjalah, tapi ada syaratnya,"
"Aku ngga butuh syarat darimu Mas!" sahutnya arogan.
"Kalau kamu tidak menuruti syaratku, malam ini juga aku akan jatuhkan
talak pada kamu!" sejenak hening di dalam kamar kami, Airin terdiam
melihat kesungguhan ancamanku.
"Apa syaratnya?"
"Layani dengan
baik aku ditempat tidur ini, mulai malam ini, dan aku tidak bersedia
menerima penolakanmu, kecuali haid, sakit atau lelah bekerja, aku
melakukan ini agar kamu terhindar dari dosa mendzolimi suamimu sendiri,"
Airin terdiam dan menatapku dengan tatapan yang tidak bisa ku terjemahkan.
Malam ini aku berhasil mendapatkan istriku setelah 6.bulan. Tapi itulah
satu-satunya malam yang diberikannya, karena selanjutnya dia punya
berjuta alasan menolakku, dan aku menyerah terhadapnya, aku memutuskan
untuk tak lagi mengemis cinta darinya.
Pagi sekali ketika kuterbangun membaca note diatas bantal Airin.
"Aku mulai bekerja hari ini, Naya kutitipkan di tempat penitipan anak
di depan kantorku, nanti setelah waktuku longgar, kita cari baby sitter
buat Naya."
Aku langsung berdiri, luar biasa kelemahanku sebagai
suami, dia tidak membutuhkan persetujuanku atas apapun yang
diputuskannya. Gontai aku berjalan ke dapur, hanya ada bibi ART ku.
Enam bulan setelah Airin bekerja, dan Naya telah memiliki baby sitter di rumah
Pulang kerja aku melihat mobil berwarna biru terparkir didepan rumahku. Aku bergegas masuk.
"Mobil siapa?" tanyaku dingin.
"Mobilku, bonus dari kantor, karena prestasiku, aku juga berhak
menempati rumah dinas, bulan depan kita pindah, komplek perumahan elite,
dekat kemana-mana." Airin kembali mengambil keputusan sendiri, aku
hanya diam, malas bertengkar.
Saat Airin menyebutkan komplek
tempat kami akan pindah, aku terpana tak percaya, itu komplek perumahan
Siska. Astaga ... Kebetulan macam apa ini, pikiranku mulai kacau, rasa
tidak nyaman di hatiku.
Dan benar, rumah Airin dan Siska hanya berjarak 500M.
Karir Airin melesat jauh meninggalkanku, gajinya jauh lebih besar
dariku. Aku menjadi semakin tidak berdaya dihadapannya. Tapi hikmah
dibalik itu
Mamer tidak jadi menceraikan kami, karena Airin tidak
lagi diribetkan urusan rumah, dia melesat jadi wanita karir yang hebat.
Terkadang aku terpesona dengan tampilan smartnya sebagai wanita karir,
namun semua itu membuatnya semakin mustahil untuk kugapai.
Aku
berhenti menarik taxol, malam yang kosong tanpa Airin yang sibuk aku
habiskan dengan Naya, putri kesayanganku. Bermain dengannya membuatku
bahagia.
Tapi hubunganku dengan Airin semakin renggang dan memburuk,
Airin lebih sibuk ber ha h hi hi dengan teman-temannya melalui gawainya
dari pada denganku.
Terkadang aku berpikir untuk apa sesungguhnya aku bertahan?
Mamaku menelpon mengabariku bahwa beliau akan menginap beberapa hari dirumahku.
Aku akan menjemput beliau ke bandara ketika mobilku tidak bisa hidup.
Siska menawarkan bantuan untuk menjemput Mama. Aku tertegun, kenapa
bukan Airin yang melakukannya. Tadi pagi aku sudah memintanya menjemput
Mama, karena aku ada meeting penting, Tapi Airin menolak mentah-mentah.
Dan Siskalah yang menjemput Mama, perlahan kebaikan Siska merasuk kedalam hatiku.
Bersambung
#AKU BENCI ISTRIKU
(Part 5)
BY: KB
Tatapan Mama sangat tidak mengenakkan buatku.
"Siapa yang menjemput Mama Zal, knp bukan kamu, apa istrimu tahu?" selidiknya.
"Teman satu kantor, satu team, ngga Airin ngga tahu," sahutku.
Mama menggelengkan kepalanya, wanita yang melahirkanku ini nampak
sangat tidak setuju tindakanku menyuruh wanita lain menjemputnya.
"Mana Airin, kenapa Naya bermain dengan baby sister," Mama memeluk cucunya dengan kerinduan yang dalam, matanya berkaca-kaca.
"Airin bekerja Ma, rumah yang kami tempati ini fasilitas dari
kantornya." Mama tertegun menatapku. "Ada apa Zal, kemana rumah yang
kamu beli dengan susah payah, yang kamu bilang buat ibu dari
anak-anakmu?" mama menatapku dalam. Aku tersenyum.
"Ada Ma, masih kurawat dengan baik," sahutku sembari beranjak mengambil gawaiku.
"Ingat Zal, jangan macam-macam, jangan main mata dengan wanita lain,
istrimu itu cantik, pinter sempurna sebagai wanita, apalagi yang kamu
cari?"
Aku tersenyum hambar mendengar ucapan Mama.
Berkali-kali kutelpon tidak jua tersambung, nampaknya Airin sibuk. Tapi tiba-tiba gawaiku berbunyi, Airin menelpon balik.
"Ada apa Mas? aku baru selesai meeting dengan client, kalo ngga penting
jangan nelpon, kan bisa ketemu di rumah." Airin terdengar ketus.
"Mama datang Rin, beliau nanyain kamu terus,"
"Oh udah nyampe di rumah, bilang aja bentar lagi pulang," dan sebelum
ditutup ku dengar suara seorang pria yang mengajak istriku untuk cepat.
Aku cuma berpikir mungkin temannya.
Tengah malam Airin baru
sampai di rumah, dia tidak menanyakan Naya apalagi Mamernya. Dia
langsung ke kamar. Aku yang duduk di pojok sofa tidak diperdulikannya.
Sekilas kulihat wajah cantiknya nampak lelah. Kuikuti dia kekamar.
"Kamu sudah makan?" tanyaku.
Airin mengangguk, dia melepaskan pakaiannya satu persatu hingga
telanjang bulat di depanku, melilitkan handuk di badannya, dan berlalu
menuju kamar mandi. Aku terpana dan speakless, ada apa dengan wanita
ini.
Airin bangun lebih pagi dan sudah siap dengan stelan baju
kerjanya, rapi, wangi dan elegan. Aku duduk di tempat tidur dan
menatapnya yang duduk di depan cermin meja rias, aku sangat terpesona,
dia sangat cantik, dadaku bergetar, antara takut kehilangan dan benci
melihatnya semakin melesat tinggi tak tergapai. Aku bangun dan beranjak
menuju kamar mandi. Dan segudang omelan mulai di lancarkannya.
"Jangan pencet odolmu dari tengah mas, jangan taruh handuk di kamar
mandi, jaga kebersihan!" ucapnya tegas. Dia berdiri dan meninggalkan
kamar.
Mama dan Airin terlibat pembicaraan serius di meja makan, kutahan langkahku dan diam-diam mendengarkan yang mereka bicarakan.
"Rin, apa kamu ngga merasa kerepotan, kerja sambil mengurus rumah tangga,"
mama memegang tangan istriku, sambil matanya menatap mata Airin lekat.
"Ngga Ma, justru Airin merasa hidup lebih berharga saat Airin mengejar
karir di luar rumah, di rumah ada ART yang bisa hendle semua urusan
rumah tangga, ada baby sister yang mengurus Naya."
"Siapa yang
mengurus suamimu sayang? apakah Faizal tidak kesepian kalau kamu selalu
pulang malam?" mama tetap menggenggam tangan menantunya. Airin membuang
muka, menghindari tatapan Mama.
"Wanita bekerja di Indonesia
bahkan di dunia ini banyak Ma, bukan cuma Airin, dan suami mereka juga
tidak protes, setelah Airin kerja, Mas Faizal bisa lebih santai, tidak
perlu narik taxol lagi, ekonomi kami membaik," ucapnya pelan.
"Ada
yang tidak bisa kamu ganti dengan uang anakku, yaitu waktu, waktumu
dengan anak dan suamimu, cinta dan kesetiaannya, itu tidak bisa
dibandingkan dengan uang berapa pun yang kamu hasilkan," sahut mama
datar. Airin berdiri dan menarik tangannya perlahan sambil mengambil
makanan di dapur dan kembali sambil berujar, "Maaf Ma, mungkin Airin
mengecewakan Mama, tapi ini hidup yang udah Airin dan mas Faizal jalani,
dan kami baik-baik saja." ucap Airin sambil tersenyum, Mama mengangguk,
"syukurlah kalau kalian baik-baik saja," sahut Mama lembut. Aku segera
mendekati mereka dan duduk di samping Airin, Airin menyendokkan nasi
goreng ke piringku, aku tertegun, mimpi apa aku semalam? sudah lama
sejak terakhir dia melayaniku.
Aku dan Airin pamit pada Mama
untuk bekerja, Airin melepaskan Naya dari pelukannya. Kami menuju mobil
masing-masing, sebelum Airin membuka pintu mobilnya kudekati dia dan
kupeluk dari belakang.
"Apaan sih Mas, sudah mau telat nih," Airin
melepaskan pelukanku. Aku sandarkan dia pada pintu mobil, kucium dengan
lembut, bibirnya membuka seakan menerima ciumanku. Kucium lebih intens,
tapi dia mendorongku perlahan, wajahnya menunduk.
"Aku harus
berangkat Mas," Airin kembali berusaha membuka pintu mobilnya, tapi satu
tanganku menahan pintu mobil dan satu tangan lagi mendorongnya hingga
kembali tersandar dan kembali kuciumi dengan penuh kerinduan yang
bercampur dengan nafsu dan rasa benci karena penolakannya.
Airin
hanya diam tidak bereaksi apapun, kulepaskan ciumanku, kepalaku
terkulai dipundak wanitaku, aku berbisik di telinganya, "Aku benci kamu
Rin, sampai kapan kamu mempermainkanku? sampai kapan kamu menyiksa
suamimu ini," aku melepaskan Airin, kulihat wajahnya nampak sedih,
kubukakan pintu mobilnya. "Hati-hati di jalan," ucapku sambil menutupkan
pintu mobilnya, perlahan dia meninggalkanku yang terpaku dan masih
merasa dibakar gairah pada istriku.
Airin menelponku untuk makan siang di sebuah restoran mahal, bertiga dengan Mama.
"Aku sudah jemput Mama Mas, kamu OTW saja langsung ke restoran." Begitu bunyi WA nya. Aku bergegas meninggalkan kantor.
"Kemana Mas," tanya Siska.
"Maksi dengan Mamaku dan Airin, tinggal dulu ya Sis," pamitku sopan
pada Siska, dia mengangguk, tapi tiba-tiba ditariknya tanganku ke pojok
ruangan. Tanpa aba-aba dia mencium bibirku, tidak memberi kesempatan tuk
menolak. Ciuman Siska semakin panas, alarm di kepalaku tiba-tiba
berbunyi. Kudorong Siska perlahan, dia terisak pelan. "Aku mencintai
kamu Mas, sangat. Maafkan kelancanganku,"Siska menyatakan perasaannya.
"Jangan begini Sis, ini kantor, kita bekerja di sini, dan lagi kamu
'kan tau persis aku sudah beristri, dan aku mencintai keluargaku, tolong
jangan seperti ini." Aku beranjak meninggalkan Siska yang masih
menangis. Dadaku terasa sesak, aku tau bagaimana rasanya ditolak.
Kukebut mobilku menuju restoran, di perjalanan kuhapus bibirku yang di
penuhi lipstik Siska.
Sampai di restoran Mama dan Airin sudah
menunggu. Saat menunggu pesanan Airin dan Mama ketoilet, tiba-tiba gawai
Airin berbunyi, ku baca notifnya, "Janji esok jangan lupa Rin, mumpung
esok kita libur," dan pengirimnya, Rado. Hatiku berdesir. Tiba-tiba aku
teringat saat Siska menciumku, apakah Airin juga selingkuh. Aku buang
jauh pikiran itu, istriku tidak seperti Siska.
Pesanan kami datang bersamaan dengan Airin dan Mama yang kembali ke meja. Pikiranku kalut dan bingung, tapi tidak kutunjukkan.
Bersambung
Seru nehh ceritanya..., Tp kok berdambung.....ðŸ˜
BalasHapus