Part 6. author : Sashi Kirana
=================
Sehabis bertemu dengan Bu Lurah tempo hari aku menunggu waktu yang tepat untuk bicara dengan Mas Jaya.
Selama aku dan dia tinggal di Desa ini, aku merasa Mas Jaya lebih sibuk, terkadang selepas Isya pun dia tidak langsung pulang ke rumah, biasanya selepas shalat Isya dia akan pulang kerumah, jika pun ada urusan lain dia akan janjikan esok hari, sekarang dia tidak akan pulang sebelum jam sepuluh malam,bahkan bisa lebih, alasannya dia habis keliling kampung dengan pak Lurah.
Seperti malam ini, waktu sudah menunjukkan jam 23.10, tapi dia belum juga pulang, sementara gemuruh di luar sudah memberikan tanda bahwa hujan akan turun. Ku dengar langkah kaki memasuki halaman rumah.
" Kenapa belum tidur?, udah hampir jam dua belas. " Ucapnya sambil tersenyum, ketika baru pulang, dan melihat ku masih ada di ruang tengah sambil membaca buku.
" Aku belum ngantuk. Belakangan ini kamu suka pulang sampai larut malam Mas." sambil mengikutinya menuju kamar.
Tiba-tiba dia berhenti, sehingga aku menabrak tubuhnya. " Kamu mengkhawatirkan ku kah?" tanya nya dengan senyum sedikit menggoda.
" Nggak!"
Di luar aku mendengar suara hujan mulai turun. Syukurlah dia sampai sebelum hujan, batin ku. Dia merebahkan tubuhnya.Tak lupa dia memintaku untuk mematikan lampu.
" Zahra, kapan kita pulang?" tanya nya pada saat aku merebahkan tubuhku disisinya.
" Bukannya kamu betah disini? buktinya kamu sekarang lebih banyak waktu diluaran"ucapku sambil menyusun guling sebagai pembatas.
" Zahra, kapankah guling-guling ini berhenti menjadi pembatas diantara kita?" sembari dia memiringkan tubuhnya, menggenggam erat jemariku.
" Entahlah."
" Dengan beginipun aku sudah cukup bahagia, aku percaya bahwa cinta itu datang secara perlahan dan dengan kedekatan yang lama." sambil dia mengecup kening ku.
" Sejak aku disini, aku nggak punya waktu untuk mu ya... "
"kamu tidak punya waktu, apa tidak mau masa lalu mu aku ketahui? " tanya ku.
" Kenapa kamu nggak melanjutkan kuliahmu yang pernah terputus dulu Mas? " Ini waktu yang tepat untuk aku bicara pada nya.
" Aku hanya anak daerah yang berusaha meneruskan pendidikan di Ibu kota Zahra, disaat ke dua orang tua ku tidak mampu membiayai pendidikan ku, apakah aku harus memaksakan kehendakku? "
" Benar itu alasannya??. Kata bu Lurah, kamu menolak menikahi anak orang kaya raya."
" Kalau saja kamu mau menikah dengan nya pasti kuliah mu tidak akan terbengkalai."
" Jika aku menerima tawaran itu, aku tidak mungkin menikah denganmu, dan tentu bukan jari mu yang aku pegang saat ini." Ujarnya dengan tersenyum.
" Apa yang ingin kamu tau dari masa lalu ku?? " tanyanya.
Aku yang mendengar pertanyaannya menjadi bersemangat, aku bangkit dari posisi tidur, lalu duduk bersandar, udara yang dingin dan suara hujan yang semakin deras di luar sana tak kuhiraukan lagi.
" Apa saja, yang penting tentang kamu, aku lebih baik mendengar langsung dari kamu dari pada orang lain."
Melihatku bangkit dan duduk, dia pun mengikuti ku. Dia letakkan bantal dibelakang punggungnya untuk bersandar.
" Nggak ada yang istimewa dari hidup ku, aku hanya anak seorang nelayan yang punya cita-cita besar. Aku punya impian untuk menjadi orang sukses untuk membuat bangga ayah dan ibuku.
Tapi kehidupan di kota besar membuatku harus mengubur semua cita-citaku. "
Dia menarik nafas panjang dan menghempaskannya.
tiba-tiba dia membuka baju nya.
" Kenapa kamu buka baju begitu. Apa nggak dingin?
Dia mengernyitkan dahinya " Keingin tahuan mu membuat ku merasa gerah."
" Bukan hanya di DO dari kampus, bahkan saat itu aku harus hidup dibalik jeruji selama satu tahun tanpa kesalahan yang aku lakukan."
"Setelah bebas, aku pulang ke kampung halaman, aku melihat kehidupan yang berbeda, ayah ku meninggal karena depresi, kakak ku dipulangkan ke rumah orang tuaku oleh pihak suaminya karena keluarga mereka tidak mau menerima lagi, dikarenakan kakak ku memiliki adik seorang pembunuh, dan itu juga alasan kampus mengeluarkan ku." Dia diam sejenak, menundukkan kepalanya lalu menarik nafas panjang dan membuangnya secara perlahan.
..............
" Aku, Andi dan Burhan yang sekarang menjadi lurah di desa ini, kami dulu teman satu kampus, sama-sama kuliah di fakultas Pertanian, kami punya cita-cita yang sama ingin menjadi Insinyur. Andi terpesona dengan Ratna, gayung bersambut, Ratna pun menyukainya. Aku dan Burhan tidak pernah mau tau urusan percintaan mereka.
Sore itu, aku dan Burhan sedang ada di kebun yang berada di belakang kampus, kami mendengar ada orang minta tolong, pada saat kami sampai di sumber suara, aku dan Burhan melihat Andi sudah berdarah dengan pisau ada dirongga dadanya."
" Aku yang masih polos kala itu, dengan kepanikan yang ada mencabut pisau yang menancap ditubuh Andi, sampai orang-orang datang, mereka menuduhku membunuh Andi. Burhan yang berusaha membela ku tak lepas jadi bulan-bulanan juga."
"berkali-kali pengacara dari keluarga Ratna datang menawarkan diri untuk membebaskan ku, dan aku masih bisa tetap kuliah dengan catatan aku harus menikahi Ratna, tapi aku selalu menolak. Sampai akhirnya sidang pengadilan memvonisku lima tahun penjara. "
" Berkat Burhan juga, hukuman yang ku jalani hanya satu tahun, karena pembunuh sebenarnya sudah ditemukan"
" Siapa yang membunuhnya?" tanya ku
" Orang lain yang menyukai Ratna."
"Karena aku nggak tahan dengan ejekan orang-orang di kampung terhadap keluargaku kala itu, aku kembali ke Ibu Kota, aku tahu, tidak akan pernah ada perusahaan yang akan menerima ku bekerja di tempat mereka, maka tujuan ku untuk mencari uang adalah pasar, disitu aku mulai menata kembali hidupku yang sudah hancur dan bergaul dengan para preman. Sampai suatu hari temanku yang pernah satu sel dengan ku keluar, dari dia orang tau bahwa aku seorang mantan napi atas kasus pembunuhan. Saat itu orang-orang takut padaku. Dan saat itu aku dipercaya untuk menjadi keamanan pasar. "
" Aku merasa, ini adalah takdir hidup yang harus ku lalui. Ini salah satu jalan Allah untuk ku. Aku pasrah dengan kehidupanku. Sampai suatu saat aku mencintai seorang gadis, dia anak salah seorang juragan besar,tapi api cinta itu harus kubur dalam-dalam, karena aku bukanlah pria yang layak untuknya kala itu. Sampai akhirnya aku megikhlaskannya menikah dengan orang lain."
" Kalau kejadian itu sudah bertahun-tahun berlalu. Lalu Rindu anak siapa?"
Dia hanya diam dan menatapku tak berkedip. Ditatap seperti itu buat ku menjadi resah. Aku tundukkan pandanganku.
" Tidurlah Mas." Segera aku rebahkan diriku untuk mengalihkan keadaan yang tidak aku inginkan saat itu.
" Zahra... " panggilnya seraya membalikkan tubuhku.
" Apakah pernikahan ini membuat mu merasa tidak nyaman? " ucapnya sangat lembut dan pelan.
Aku yang ditanya seperti itu benar-benar bingung harus menjawab apa.
Aku menyadari aku mulai mencintainya. Namun aku juga harus realistis bahwa aku nggak ingin dibutakan oleh cinta, sehingga aku nggak mau tau siapa dia dan bagaimana dia.
Justru karna rasa cinta ini aku ingin memiliki dia seutuhnya.
" Jika pernikahan ini membuatmu tidak nyaman, aku ihklas melepaskan mu, kapanpun kamu minta, aku akan mengurus semuanya."
Aku duduk kembali, kupandangi dia dalam-dalam, ku dekatkan wajahku kewajahnya sampai hidungku beradu dengan hidungnya.
" Kamu mau tau jawaban ku Tuan Heru Sanjaya? "
" Iya." Jawabnya pelan.
" Ya... Aku tidak nyaman dengan pernikahan ini."
aku lihat dia menarik nafas panjang dan menghempaskannya.
" Aku sudah duga itu." ucapnya pelan.
pada saat dia ingin memalingkan wajahnya, Aku memegang kedua pipinya, aku pandangi wajahnya lalu ku tatap matanya.
"Dengarkan aku! Kamu tetap harus bertanggung jawab dengan apapun yang kamu buat padaku tuan Heru Sanjaya yang terhormat! Pernikahan ini tidak membuat ku nyaman, dan aku menuntut tanggung jawab dari mu. Agar kamu tahu, kamu sudah membuat ku hampir gila karena sudah bisa mencintai mu dengan cara yang bodoh seperti ini." Seketika ku tampar pipinya dengan keras. Lalu aku berpaling dan merebahkan diriku lagi.
" Kau bilang apa? " Ucapkan lagi? "
" Nggak ada siaran ulang. Tidurlah." seraya aku menarik selimut.
"Apa aku nggak salah dengar, kau benar sudah mencintaiku ? "
Aku berbalik menghadapnya, aku bangun membetulkan posisi bantalnya, menariknya untuk berbaring. " Tidurlah, udah hampir pagi, tidak kasihankah kau pada istrimu yang cantik ini, kecantikan ku bisa luntur karena kau akan mengurangi waktu istirahatku." lalu ku kecup bibirnya.
Pada saat dia ingin memelukku, aku membesarkan mataku. " Jangan sentuh aku, karena malam ini aku yang punya hak penuh, biarkan aku tidur dengan nyaman sambil memelukmu."
Segera aku membenamkan kepalaku didadanya...
" Aku nggak menyangka kamu bisa senakal ini."
" Kamu yang buat aku harus nakal seperti ini."
"Maafkan aku Zahra, maafkan aku yang sudah banyak mengecewakanmu." ucapnya sambil membelai rambut ku.
" Jangan bicara lagi, tidurlah. Aku udah cukup lelah dengan keadaan seprti ini".
Aku nggak menghiraukan suara hujan yg semakin deras. Ini pertama kalinya aku tidur tanpa ada penghalang apapun. Aku rasakan detak jantungnya, Aku ngak tahu seperti apa kehidupanku kelak.Tapi untuk saat ini aku ingin merasakan kenyamanan cinta yang membuatku harus meneteskan air mata.
*******
Dua minggu sudah aku berada di desa ini. Aku sudah memutuskan seperti apapun masalah yang ku hadapi inilah kehidupan ku. Kehidupan baru bersama suamiku, nasehat yang selalu diberikan oleh Aki dan Nini ku harus ku laksanakan, sebesar apapun masalahku pergi dari rumah suami tanpa izinnya itu bukanlah hal yang baik.
Aku habis selesai mandi sore, ku dengar suara motor Mas Jaya memasuki pekarangan rumah, ciri khas suara motor RX KING, yang kadang membuat sakit telinga.
" Zahra, besok pagi habis shalat subuh aku harus pulang duluan ke Jakarta, ada hal yang harus aku kerjakan, aku pergi dengan pak Lurah." Ucapnya setelah masuk kedalam rumah.
"Kalau boleh aku tahu, kamu dan pak Lurah punya bisnis apa sih???"
" Kami hanya ingin masyarakat disini lebih maju lagi. Besok aku akan mengenalkan pak Lurah dengan seorang yang mau mengambil hasil panen disini, perusahaan mereka bersedia membeli dengan harga tinggi, karna perusahaan itu suplayer bahan makanan untuk beberapa restoran ternama. Terutama resto vegetarian."
Dia menghampiriku yang sedang duduk di depan meja rias tua kepunyaan Nini. Dia membungkukkan badannya sejajar dengan wajahku sambil memandang kekaca.
" Cermin ini tidak menipu, bahwa istriku seorang wanita yang cantik"
ucapnya sambil dia mencium pipiku.
" Kamu terlihat lebih cantik pada saat kamu bangun tidur, dan tanpa make up seperti ini"
" Jangan bilang itu gaya bahasa halus karena kamu ngak sanggup beli peralatan make up ku yaaa."
" Hahahaaa... pabrik nya pun untuk mu besok ku beli." lalu pergi keluar kamar, sambil menbawa handuk.
Pada saat Mas Jaya selesai berpakaian aku menghapirinya seraya berkata " Mas, kalau kamu besok jadi pulang, jangan lupa lihat Rindu, seperti apa kondisinya."
" Dia baik-baik saja, dia hanya demam biasa, nggak usah terlalu mengkhawatirkannya."
" Aku akan berusaha menerima Rindu."
" Sudah nggak usah membahas hal yang nggak penting." sambil menarik ku dalam pelukannya, mengecup kening ku.
" Zahra.. kamu tau nggak, aku lebih senang melihat mu kalau lagi emosi dari pada melo begini."
" Jadi kamu mau bilang kalau kamu lebih senang lihat aku marah-marah!"
" hahaaaa tuh kan lebih menawan."
" Basi!" Aku lepaskan diriku dari pelukannya.
Sore itu kami berempat Bisa ngumpul dan bercanda bersama. Mas Jaya sangat menyayangi Aki dan Niniku, Kulihat dia nggak sungkan untuk memijit ke dua kaki orang tua itu bergantian.
Pagi itu setelah shalat subuh, dia pamit kepada kakek dan nenek ku, untuk kembali setelah urusannya selesai dia akan menjemputku.
******
Akhirnya aku pulang kerumah ini, rumah yang membawa banyak warna dalam hidup ku, Rumah dimana aku merasakan apa arti sebuah cinta...
Aku hempaskan tubuhku ke sofa ruang tengah, dimana aku biasa menyalakan film kegemaranku.
" Kamu senang kembali kesini?"
" Hu'um"
" Zahra, namanya kehidupan banyak lika likunya, kita nggak tahu badai apa yang akan menghampiri rumah tangga kita nanti, tapi aku minta satu hal, jangan pernah tinggalkan aku" ucapnya sambil merebahkan kepalanya dipangkuanku"
Ku belai rambutnya, tak lama ku lihat dia tertidur. Ku pandangi wajahnya, belum genap setahun aku menikah denganmu, tapi kau hampir membuat aku seperti orang gila. Aku nggak tau harus membencimu atau mencintaimu, tapi kedua rasa itu memang beda tipis.
Aku benar-benar mengucap banyak syukur kepada ALLAH, satu tabir telah terbuka.
-----
=================
Sehabis bertemu dengan Bu Lurah tempo hari aku menunggu waktu yang tepat untuk bicara dengan Mas Jaya.
Selama aku dan dia tinggal di Desa ini, aku merasa Mas Jaya lebih sibuk, terkadang selepas Isya pun dia tidak langsung pulang ke rumah, biasanya selepas shalat Isya dia akan pulang kerumah, jika pun ada urusan lain dia akan janjikan esok hari, sekarang dia tidak akan pulang sebelum jam sepuluh malam,bahkan bisa lebih, alasannya dia habis keliling kampung dengan pak Lurah.
Seperti malam ini, waktu sudah menunjukkan jam 23.10, tapi dia belum juga pulang, sementara gemuruh di luar sudah memberikan tanda bahwa hujan akan turun. Ku dengar langkah kaki memasuki halaman rumah.
" Kenapa belum tidur?, udah hampir jam dua belas. " Ucapnya sambil tersenyum, ketika baru pulang, dan melihat ku masih ada di ruang tengah sambil membaca buku.
" Aku belum ngantuk. Belakangan ini kamu suka pulang sampai larut malam Mas." sambil mengikutinya menuju kamar.
Tiba-tiba dia berhenti, sehingga aku menabrak tubuhnya. " Kamu mengkhawatirkan ku kah?" tanya nya dengan senyum sedikit menggoda.
" Nggak!"
Di luar aku mendengar suara hujan mulai turun. Syukurlah dia sampai sebelum hujan, batin ku. Dia merebahkan tubuhnya.Tak lupa dia memintaku untuk mematikan lampu.
" Zahra, kapan kita pulang?" tanya nya pada saat aku merebahkan tubuhku disisinya.
" Bukannya kamu betah disini? buktinya kamu sekarang lebih banyak waktu diluaran"ucapku sambil menyusun guling sebagai pembatas.
" Zahra, kapankah guling-guling ini berhenti menjadi pembatas diantara kita?" sembari dia memiringkan tubuhnya, menggenggam erat jemariku.
" Entahlah."
" Dengan beginipun aku sudah cukup bahagia, aku percaya bahwa cinta itu datang secara perlahan dan dengan kedekatan yang lama." sambil dia mengecup kening ku.
" Sejak aku disini, aku nggak punya waktu untuk mu ya... "
"kamu tidak punya waktu, apa tidak mau masa lalu mu aku ketahui? " tanya ku.
" Kenapa kamu nggak melanjutkan kuliahmu yang pernah terputus dulu Mas? " Ini waktu yang tepat untuk aku bicara pada nya.
" Aku hanya anak daerah yang berusaha meneruskan pendidikan di Ibu kota Zahra, disaat ke dua orang tua ku tidak mampu membiayai pendidikan ku, apakah aku harus memaksakan kehendakku? "
" Benar itu alasannya??. Kata bu Lurah, kamu menolak menikahi anak orang kaya raya."
" Kalau saja kamu mau menikah dengan nya pasti kuliah mu tidak akan terbengkalai."
" Jika aku menerima tawaran itu, aku tidak mungkin menikah denganmu, dan tentu bukan jari mu yang aku pegang saat ini." Ujarnya dengan tersenyum.
" Apa yang ingin kamu tau dari masa lalu ku?? " tanyanya.
Aku yang mendengar pertanyaannya menjadi bersemangat, aku bangkit dari posisi tidur, lalu duduk bersandar, udara yang dingin dan suara hujan yang semakin deras di luar sana tak kuhiraukan lagi.
" Apa saja, yang penting tentang kamu, aku lebih baik mendengar langsung dari kamu dari pada orang lain."
Melihatku bangkit dan duduk, dia pun mengikuti ku. Dia letakkan bantal dibelakang punggungnya untuk bersandar.
" Nggak ada yang istimewa dari hidup ku, aku hanya anak seorang nelayan yang punya cita-cita besar. Aku punya impian untuk menjadi orang sukses untuk membuat bangga ayah dan ibuku.
Tapi kehidupan di kota besar membuatku harus mengubur semua cita-citaku. "
Dia menarik nafas panjang dan menghempaskannya.
tiba-tiba dia membuka baju nya.
" Kenapa kamu buka baju begitu. Apa nggak dingin?
Dia mengernyitkan dahinya " Keingin tahuan mu membuat ku merasa gerah."
" Bukan hanya di DO dari kampus, bahkan saat itu aku harus hidup dibalik jeruji selama satu tahun tanpa kesalahan yang aku lakukan."
"Setelah bebas, aku pulang ke kampung halaman, aku melihat kehidupan yang berbeda, ayah ku meninggal karena depresi, kakak ku dipulangkan ke rumah orang tuaku oleh pihak suaminya karena keluarga mereka tidak mau menerima lagi, dikarenakan kakak ku memiliki adik seorang pembunuh, dan itu juga alasan kampus mengeluarkan ku." Dia diam sejenak, menundukkan kepalanya lalu menarik nafas panjang dan membuangnya secara perlahan.
..............
" Aku, Andi dan Burhan yang sekarang menjadi lurah di desa ini, kami dulu teman satu kampus, sama-sama kuliah di fakultas Pertanian, kami punya cita-cita yang sama ingin menjadi Insinyur. Andi terpesona dengan Ratna, gayung bersambut, Ratna pun menyukainya. Aku dan Burhan tidak pernah mau tau urusan percintaan mereka.
Sore itu, aku dan Burhan sedang ada di kebun yang berada di belakang kampus, kami mendengar ada orang minta tolong, pada saat kami sampai di sumber suara, aku dan Burhan melihat Andi sudah berdarah dengan pisau ada dirongga dadanya."
" Aku yang masih polos kala itu, dengan kepanikan yang ada mencabut pisau yang menancap ditubuh Andi, sampai orang-orang datang, mereka menuduhku membunuh Andi. Burhan yang berusaha membela ku tak lepas jadi bulan-bulanan juga."
"berkali-kali pengacara dari keluarga Ratna datang menawarkan diri untuk membebaskan ku, dan aku masih bisa tetap kuliah dengan catatan aku harus menikahi Ratna, tapi aku selalu menolak. Sampai akhirnya sidang pengadilan memvonisku lima tahun penjara. "
" Berkat Burhan juga, hukuman yang ku jalani hanya satu tahun, karena pembunuh sebenarnya sudah ditemukan"
" Siapa yang membunuhnya?" tanya ku
" Orang lain yang menyukai Ratna."
"Karena aku nggak tahan dengan ejekan orang-orang di kampung terhadap keluargaku kala itu, aku kembali ke Ibu Kota, aku tahu, tidak akan pernah ada perusahaan yang akan menerima ku bekerja di tempat mereka, maka tujuan ku untuk mencari uang adalah pasar, disitu aku mulai menata kembali hidupku yang sudah hancur dan bergaul dengan para preman. Sampai suatu hari temanku yang pernah satu sel dengan ku keluar, dari dia orang tau bahwa aku seorang mantan napi atas kasus pembunuhan. Saat itu orang-orang takut padaku. Dan saat itu aku dipercaya untuk menjadi keamanan pasar. "
" Aku merasa, ini adalah takdir hidup yang harus ku lalui. Ini salah satu jalan Allah untuk ku. Aku pasrah dengan kehidupanku. Sampai suatu saat aku mencintai seorang gadis, dia anak salah seorang juragan besar,tapi api cinta itu harus kubur dalam-dalam, karena aku bukanlah pria yang layak untuknya kala itu. Sampai akhirnya aku megikhlaskannya menikah dengan orang lain."
" Kalau kejadian itu sudah bertahun-tahun berlalu. Lalu Rindu anak siapa?"
Dia hanya diam dan menatapku tak berkedip. Ditatap seperti itu buat ku menjadi resah. Aku tundukkan pandanganku.
" Tidurlah Mas." Segera aku rebahkan diriku untuk mengalihkan keadaan yang tidak aku inginkan saat itu.
" Zahra... " panggilnya seraya membalikkan tubuhku.
" Apakah pernikahan ini membuat mu merasa tidak nyaman? " ucapnya sangat lembut dan pelan.
Aku yang ditanya seperti itu benar-benar bingung harus menjawab apa.
Aku menyadari aku mulai mencintainya. Namun aku juga harus realistis bahwa aku nggak ingin dibutakan oleh cinta, sehingga aku nggak mau tau siapa dia dan bagaimana dia.
Justru karna rasa cinta ini aku ingin memiliki dia seutuhnya.
" Jika pernikahan ini membuatmu tidak nyaman, aku ihklas melepaskan mu, kapanpun kamu minta, aku akan mengurus semuanya."
Aku duduk kembali, kupandangi dia dalam-dalam, ku dekatkan wajahku kewajahnya sampai hidungku beradu dengan hidungnya.
" Kamu mau tau jawaban ku Tuan Heru Sanjaya? "
" Iya." Jawabnya pelan.
" Ya... Aku tidak nyaman dengan pernikahan ini."
aku lihat dia menarik nafas panjang dan menghempaskannya.
" Aku sudah duga itu." ucapnya pelan.
pada saat dia ingin memalingkan wajahnya, Aku memegang kedua pipinya, aku pandangi wajahnya lalu ku tatap matanya.
"Dengarkan aku! Kamu tetap harus bertanggung jawab dengan apapun yang kamu buat padaku tuan Heru Sanjaya yang terhormat! Pernikahan ini tidak membuat ku nyaman, dan aku menuntut tanggung jawab dari mu. Agar kamu tahu, kamu sudah membuat ku hampir gila karena sudah bisa mencintai mu dengan cara yang bodoh seperti ini." Seketika ku tampar pipinya dengan keras. Lalu aku berpaling dan merebahkan diriku lagi.
" Kau bilang apa? " Ucapkan lagi? "
" Nggak ada siaran ulang. Tidurlah." seraya aku menarik selimut.
"Apa aku nggak salah dengar, kau benar sudah mencintaiku ? "
Aku berbalik menghadapnya, aku bangun membetulkan posisi bantalnya, menariknya untuk berbaring. " Tidurlah, udah hampir pagi, tidak kasihankah kau pada istrimu yang cantik ini, kecantikan ku bisa luntur karena kau akan mengurangi waktu istirahatku." lalu ku kecup bibirnya.
Pada saat dia ingin memelukku, aku membesarkan mataku. " Jangan sentuh aku, karena malam ini aku yang punya hak penuh, biarkan aku tidur dengan nyaman sambil memelukmu."
Segera aku membenamkan kepalaku didadanya...
" Aku nggak menyangka kamu bisa senakal ini."
" Kamu yang buat aku harus nakal seperti ini."
"Maafkan aku Zahra, maafkan aku yang sudah banyak mengecewakanmu." ucapnya sambil membelai rambut ku.
" Jangan bicara lagi, tidurlah. Aku udah cukup lelah dengan keadaan seprti ini".
Aku nggak menghiraukan suara hujan yg semakin deras. Ini pertama kalinya aku tidur tanpa ada penghalang apapun. Aku rasakan detak jantungnya, Aku ngak tahu seperti apa kehidupanku kelak.Tapi untuk saat ini aku ingin merasakan kenyamanan cinta yang membuatku harus meneteskan air mata.
*******
Dua minggu sudah aku berada di desa ini. Aku sudah memutuskan seperti apapun masalah yang ku hadapi inilah kehidupan ku. Kehidupan baru bersama suamiku, nasehat yang selalu diberikan oleh Aki dan Nini ku harus ku laksanakan, sebesar apapun masalahku pergi dari rumah suami tanpa izinnya itu bukanlah hal yang baik.
Aku habis selesai mandi sore, ku dengar suara motor Mas Jaya memasuki pekarangan rumah, ciri khas suara motor RX KING, yang kadang membuat sakit telinga.
" Zahra, besok pagi habis shalat subuh aku harus pulang duluan ke Jakarta, ada hal yang harus aku kerjakan, aku pergi dengan pak Lurah." Ucapnya setelah masuk kedalam rumah.
"Kalau boleh aku tahu, kamu dan pak Lurah punya bisnis apa sih???"
" Kami hanya ingin masyarakat disini lebih maju lagi. Besok aku akan mengenalkan pak Lurah dengan seorang yang mau mengambil hasil panen disini, perusahaan mereka bersedia membeli dengan harga tinggi, karna perusahaan itu suplayer bahan makanan untuk beberapa restoran ternama. Terutama resto vegetarian."
Dia menghampiriku yang sedang duduk di depan meja rias tua kepunyaan Nini. Dia membungkukkan badannya sejajar dengan wajahku sambil memandang kekaca.
" Cermin ini tidak menipu, bahwa istriku seorang wanita yang cantik"
ucapnya sambil dia mencium pipiku.
" Kamu terlihat lebih cantik pada saat kamu bangun tidur, dan tanpa make up seperti ini"
" Jangan bilang itu gaya bahasa halus karena kamu ngak sanggup beli peralatan make up ku yaaa."
" Hahahaaa... pabrik nya pun untuk mu besok ku beli." lalu pergi keluar kamar, sambil menbawa handuk.
Pada saat Mas Jaya selesai berpakaian aku menghapirinya seraya berkata " Mas, kalau kamu besok jadi pulang, jangan lupa lihat Rindu, seperti apa kondisinya."
" Dia baik-baik saja, dia hanya demam biasa, nggak usah terlalu mengkhawatirkannya."
" Aku akan berusaha menerima Rindu."
" Sudah nggak usah membahas hal yang nggak penting." sambil menarik ku dalam pelukannya, mengecup kening ku.
" Zahra.. kamu tau nggak, aku lebih senang melihat mu kalau lagi emosi dari pada melo begini."
" Jadi kamu mau bilang kalau kamu lebih senang lihat aku marah-marah!"
" hahaaaa tuh kan lebih menawan."
" Basi!" Aku lepaskan diriku dari pelukannya.
Sore itu kami berempat Bisa ngumpul dan bercanda bersama. Mas Jaya sangat menyayangi Aki dan Niniku, Kulihat dia nggak sungkan untuk memijit ke dua kaki orang tua itu bergantian.
Pagi itu setelah shalat subuh, dia pamit kepada kakek dan nenek ku, untuk kembali setelah urusannya selesai dia akan menjemputku.
******
Akhirnya aku pulang kerumah ini, rumah yang membawa banyak warna dalam hidup ku, Rumah dimana aku merasakan apa arti sebuah cinta...
Aku hempaskan tubuhku ke sofa ruang tengah, dimana aku biasa menyalakan film kegemaranku.
" Kamu senang kembali kesini?"
" Hu'um"
" Zahra, namanya kehidupan banyak lika likunya, kita nggak tahu badai apa yang akan menghampiri rumah tangga kita nanti, tapi aku minta satu hal, jangan pernah tinggalkan aku" ucapnya sambil merebahkan kepalanya dipangkuanku"
Ku belai rambutnya, tak lama ku lihat dia tertidur. Ku pandangi wajahnya, belum genap setahun aku menikah denganmu, tapi kau hampir membuat aku seperti orang gila. Aku nggak tau harus membencimu atau mencintaimu, tapi kedua rasa itu memang beda tipis.
Aku benar-benar mengucap banyak syukur kepada ALLAH, satu tabir telah terbuka.
-----
#SUAMI_KU
-------
PART 7
********
Siang itu Tante Maya main ke rumahku.
" Kamu kenapa nggak kabari Tante kalau mau pulang ke rumah Nini. Tante kan bisa titip sesuatu buat mereka." celoteh Tante cantik ku...
" Aki banyak cerita tentang Jaya, terutama sama Ibu mu, yang masih nggak suka dengan menantunya itu."
Ibu ku memang belum bisa menerima secara ikhlas kalau aku menikah muda, dia ingin aku kuliah, bekerja. Terutama dia nggak terima kenapa harus Mas Jaya yang melamar ku, dimatanya Mas Jaya tetaplah seorang preman, yang nggak punya masa depan.
Kedatangan Tante Maya hari ini, selain silaturahmi, dia juga ingin mengajak ku untuk bertemu dengan teman nya. Setelah minta izin dengan Mas Jaya aku dan tante Maya pun pergi.
Tidak perlu waktu lama untuk menunggu sang rekan, seorang wanita muda, cantik, energic, dan menurut ku cukup mempesona, dan sangat anggun. Aku jadi iri akan kecantikannya.
" Ini siapa May? " tanya wanita yang dihadapan kami sambil tersenyum ramah.
" Oh, iya nih kenalin, keponakan ku yang paling cantik." sambil dia menyikut sedikit bahu ku.
" Ratna." dia mengulurkan tangannya, dan aku pun menyambut uluran tangannya sambil menyebutkan nama ku.
Entah dari mana alur nya, akhirnya pembahasan sampai kepada kehidupan masing-masing. Sampai akhirnya Mbak Ratna menawarkan ku pekerjaan sebagai sekretaris di perusahaannya. Tapi ku tolak dengan mengatakan bahwa aku sudah menikah, dan segala sesuatu harus dirembukkan dahulu dengan suami.
*********
Sehabis makan malam, aku dan Mas Jaya sedang nonton film action
tiba-tiba HP ku berdering, aku lihat panggilan dari " Tante Cantiq Q".
" Assalamualaikum, Za, Ratna serius nawarin kamu pekerjaan, kesempatan cuma sekali Za, nih langsung aja ngomong sama orang nya " ucapnya.
Lalu telpon disambungkan
" Gimana Za?, udah dibicarakan? tanya mbak Ratna tanpa basa basi.
" Saat ini saya sangat butuh Zahra, kalau kamu oke, besok kamu boleh langsung kerja, nggak usah bawa CV atau lamaran apapun. " ucapnya lagi.
" Oke mbak, saya bicarakan dulu, nanti saya kabari. " ucapku sambil menutup telpon.
" Mas, aku boleh bekerja?"
" boleh." Jawabnya singkat.
" Kamu mau tidak, aku akan mendukung apapun yg kamu lakukan jika itu baik. Lagi pula kamu di rumah sendirian. Kalau kamu ada kegiatan mungkin akan lebih baik. " ucapnya lagi.
" kamu izin kan?"
" aku izin kan, dan alasan aku izinkan karena Boss nya juga seorang wanita. " Ucapnya dengan senyum mengembang.
Aku telpon kembali mbak Ratna untuk memberi tahu keputusan ku. Sebelum tidur, Mas Jaya banyak memberikan masukan dan nasehat padaku.
Ini hari pertama aku bekerja, dan ini merupakan pekerjaan pertama dalam hidup ku. Selesai aku mandi dan shalat subuh, aku lihat Mas Jaya pulang.
" Kamu nggak ke pasar Mas?"
" Ini hari pertama istri ku bekerja, jadi aku akan mengantarnya. "
Setelah semua beres, dia memesan taxi. Selama dalam perjalanan, tidak ada terucap apapun, dia menggenggam jariku, sambil menutup mata. Aku nggak tahu apakah dia sedang memikirkan sesuatu atau tertidur, tapi genggaman jarinya sangat membuat ku nyaman.
" Terima kasih Mas, udah mengantar ku." Ucapku tak lupa aku mencium tangannya, setelah kami sampai di pelataran kantor.
" Kerja yang baik yaa. Aku balik dulu. " lalu dia mengusap kepala ku.
Ku lihat dia melangkah meninggalkan ku, baru saja aku berbalik, aku mendengar Mas Jaya memanggilku.
"Zahra, ada yang terlupa. " sambil dia mengeluarkan sesuatu dalam balik jaket yang dia kenakan. Sekuntum mawar merah.
" Letakkan bunga ini di vas meja kerja mu. Sekali lagi selamat bekerja, do'a ku kamu bisa menjadi wanita yang sukses. "
Lalu dia memegang kepalaku dan mengecup kening ku, agak lama.
Hampir saja air mata ku jatuh, karena sangkin terharunya.
Begitu Mas Jaya pergi, aku melihat sebuah sedan hitam berhenti dihadapnku, ku lihat Mbak Ratna melambaikan tangan kepadaku.
" laki-laki yang mengecup kening mu itu suami mu?" tanya nya begitu turun dari mobil.
" iya mbak."
" Wah baik sekali dia, seprtinya orangnya cukup romantis juga ya.." sambil dia menggandeng tanggan ku untuk masuk keruangannya.
Aku melihat beberapa orang memberi salam padanya.
********
Nggak terasa hampir setahun aku bekerja di perusahaan ini, dan usia pernikahanku juga sudah mau memasuki tahun kedua. Konflik kecil pasti ada, tapi Mas Jaya benar-benar sosok pria yang sangat pengertian buat ku.
Saat inipun aku sudah menempati rumah baru yang pernah dibeli Mas Jaya, dan aku nggak pernah menyangka rumah itu dia buat atas namaku, sedikit lebih luas dari rumah yang lama, ada halaman kecil dibelakangnya, disana Mas Jaya menyalurkan bakatnya, memelihara ikan dan berkebun, rumah ku tampak asri, semua karena tangan nya yang trampil.
.
Sore itu,ku lihat Tante Maya duduk di lobi kantor ku, kedatangannya sengaja menjemputku.
" Kita pulang kerumah mu hari ini Za, Ibu mu buat ulah. Jaya nggak ada menghubungimu?"
" Nggak ada Tante, memang kenapa?" tanya ku sedikit heran, sambil mengecek hp ku.
" Tadi pagi Ibu mu ke pasar, dia ngamuk sama Jaya, dia meminta agar Jaya menceraikan mu. Dia bilang Jaya nggak pantas buat mu."
Aku hanya bisa diam dan menarik nafas. Sampai di rumah tanpa ucap salam, Tente Maya langsung masuk kedalam rumah dan memanggil Ibu ku.
" Mbak... kamu itu kenapa sih?? pernah ngak orang tua kita mengajarkan untuk bersikap seprti itu. Syukur Jaya itu mau sama anak mu, laki-laki berpendidikan diluar sana bakal malu punya mertua seperti kamu! " hardik tante maya pada ibuku.
Aku melihat Bapak keluar dari kamar karena mendengar suara Tante Maya yang meninggi.
" Udah May, kasihan Mbak mu. Mas juga udah marahi dia, buat malu saja." sambut Bapak menimpali ucapan Tante Maya.
Aku yang melihat Ibu ku diperlakukan seperti itu, nggak tega juga. Aku duduk memeluk dan mencium nya.
" Sudah-sudah. Udah berlalu juga, nggak usah diributin lagi Tante."
"Bu, kalau Ibu marah, nggak perlu sampai harus seperti itu. Maafkan atas segala kesalahan suamiku dan kekurangannya. Selama ini dia memperlakukan ku dengan sangat baik.
Dan agar Ibu tahu, gaji ku selama bekerja tidak pernah dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup kami. Dan rumah yang kami tempati sekarang itu murni hasil keringat Mas Jaya, dia juga membeli rumah itu jauh sebelum aku bekerja. Rumah itu hadiah ulang tahun pernikahan ku. Ibu salah kalau menilai semua itu hasil kerja keras ku. Ibu merasa setelah aku bekerja, aku bisa beli rumah kan?. Gaji ku sengaja ditabung, untuk Bapak dan Ibu umroh, dan itu juga atas saran Mas Jaya. "
Ibu ku langsung memandang ku. Tente Maya dan bapak juga diam.
"Kamu serius Za ?" tanya Tante Maya.
aku hanya mengangguk.
" Dengar ya semua, Mas jaya memang preman, dia hidup dan bergaul di pasar, tapi dia org yg baik. Ibu nggak boleh menilai orang dari luar saja. "
" Percayalah, dia menjaga dan melindungiku dengan baik. Nggak ada perpisahan, belum tentu laki-laki yang Ibu harapkan akan memperlakukan ku bak Ratu. " ucapku sambil mencium kembali pipi Ibuku.
" Sekali lagi Mbak macem-macem, ku laporin Bapak sama Ibu " ancam Tante Maya pada Ibu ku.
Ibu ku hanya diam, tidak ada pembelaan darinya sama sekali.
" Zahra pulang dulu, jangan difikirkan lagi. Bapak juga jangan marah lagi sama Ibu. "
" Za.. ibu minta maaf, maafkan Ibu udah salah ya. " ucapnya sambil menangis.
Aku berusaha menenangkan hati Ibu ku. Setelah itu aku pamit pulang.
Sampai aku di rumah, aku segera mengganti pakaian ku, lantas menyiapkan makan malam, setelah itu baru membersihkan diriku. Sepulang mas Jaya nanti aku akan minta maaf atas perlakuan Ibu padanya.
Waktu sudah menunjukkan pukun 23.00 tapi Mas Jaya belum pulang juga. Aku coba telpon ke HP nya juga nggak aktif.
Bahkan udah dua hari lama nya Mas Jaya pergi tanpa ada kabar apapun. Hari ini aku sengaja minta izin tidak masuk kerja, aku memutuskan akan cari dia ke pasar.
Aku datangi warung yang pernah ku singgahi dulu.
" Eh, ada Neng geulis yang dulu, mau cari Jaya ya?" ucapnya ramah. Ternyata masih ingat dia sama ku.
" Bapak ingat saja sama saya, jadi malu saya Bapak tahu maksud saya kemari. "
" Udah dua hari Jaya nggak ke pasar. Bentar Bapak panggil anak-anak, biar neng di antar tempat Mak Enok aja. " Sambil dia menuju keluar.
Nggak lama dia datang bersama seorang anak laki-laki sekitar berumur sepuluh tahunan.
" Antarin Kakak ini ke rumah Mak Enok, mau ketemu sama Bang Jaya." ucap sang Bapak kepada nya.
" Ayo Kak."
Segera aku pamit sama si Bapak.
" Kakak pacar bang Jaya yaaa...? " tanya nya setelah kami berjalan meninggalkan pasar.
Aku hanya senyum saja mendengar pertanyaannya.
" Kamu nggak sekolah?" Tanya ku balik padanya.
" Sekolah Kak, masuk siang. Aku disuruh beli susu buat anak-anak di panti. "
"Susu nya mana?"
" Nanti diantar, kan belinya banyak. Nanti Bang Jaya yang bayar. "
Sepanjang perjalanan dia banyak menceritakan tentang Mas Jaya, ada rasa kagum dari nya tentang sosok pria yang sudah menemani hidup ku selama ini.
" Ini Kak rumah nya, ayo masuk saja, silahkan duduk. Saya panggil Mak dulu. "
Aku melihat wanita paruh baya keluar dari dalam rumah. Dia tersenyum ramah padaku.
" Katanya Neng cari Mak?, ada perlu apa Neng? " dia mengulurkan kedua tangannya, dan aku menyambut dengan menyalaminya.
" Maaf Mak, kalau kedatangan saya mengganggu dan buat Mak nggak nyaman, saya ingin bertanya tentang Mas Jaya. "
" Neng temannya Jaya?"
Aku balas pertanyaannya dengan senyuman.
" Jaya sekarang lagi keluar kota, katanya tiga atau empat harian. Mak juga nggak tahu perginya kemana, dia nggak pernah bilang kalau mau keluar kota. "
" Maaf, Mak apakah Mak nya Mas jaya?"
" Bukan Neng, tapi Jaya udah seperti anak buat Mak, dia yang udah ngerawat Nak, dan anak-anak yang ada di panti depan."
Ku lihat anak yang mengantarku tadi keluar sambil membawa dua gelas teh, dan mempersilahkan aku untuk minum.
" Mak, ntong main ke panti ya, mau main sama Rindu. " lalu dia mencium tangan Mak dan pergi.
Aku cukup kaget waktu dia menyebut nama Rindu.
" Rindu siapa Mak? cucu Mak?
" Rindu salah satu anak panti, dia ditemuin Jaya di pasar waktu masih bayi merah. Sepertinya dia sengaja dibuang. " Jawab Mak Enok.
" Neng kemari benar cuma mau tanya tentang Jaya saja, atau ada yang lain." tanya Mak Enok sambil tersenyum.
" Mak senang, kalau Jaya ada yang cariin, apalagi seorang perempuan, Mak ingin dia nikah Neng. Biar ada yang ngerawat dia, do'a dan harapan Mak dia mendapatkan jodoh yang baik.
" Mas Jaya belum menikah Mak?" tanya ku seolah tidak tau apa-apa.
" Yang Mak tau belum, tapi Mak kurang tahu kehidupan pribadi Jaya, dia sangat tertutup tentang itu, dan selama Mak tinggal sama dia baru kali ini ada perempuan cari dia. "
"Mak kelihatan sayang sama dia?"
Ku lihat Mak Enok menarik nafas, dia juga menundukkan kepalanya seperti mencoba untuk mengingat sesuatu.
" Mak orang nggak punya neng, anak-anak Mak menelantarkan Mak. Hari-hari Mak cuma dagang kue di pasar. Dulu sebelum pulang, anak mak udah datang minta uang dagangan. Tapi sejak dipukul Jaya sampai sekarang nggak pernah datang lagi. Cuma Jaya yang perduli sama Mak, dia bawa Mak tinggal sama dia, Mak nggak boleh pulang kerumah lagi. Selama Mak tinggal dengannya baru Mak merasa seperti punya anak. Dia paling khawatir kalau Nak sakit.
Udah hampir dua tahun ini dan sejak anak-anak menemani Mak disini, dia udah nggak pernah tidur disini lagi. Tapi setiap siang dia pasti datang dan makan disini, dan kasih uang jajan adik-adiknya yang bakal pergi sekolah. Gimana Mak gak sayang."
aku mendekati Mak Enok yang terlihat meneteskan air mata, dan memeluknya.
" Mak, jangan menangis, maaf kalau saya buat Mak sedih. "
" Nggak Neng, Mak kasihan sama Jaya, Mak cuma keingetan kejadian di pasar kemarin, ada Ibu yang marah-marah sama dia, minta Jaya ninggalin anak nya. tapi Jaya diam saja, nggak melawan sedikitpun. bahkan itu ibu bukan hanya marah, sampai ngelempar Jaya sama sendalnya."
aku menarik nafas panjang, ini pasti Ibu ku.
" Tadinya Mak ingin marah, tapi Jaya langsung ajak Mak pulang. Di rumah Mak nasehati dia, cuma ya begitu dia, kalau Mak ngomong cuma senyum doang, udah gitu dia bakal bilang, Mak kalau marah kelihatan cakepnya Mak, kan Mak nggak jadi marahnya. "
Banyak hal yang diceritakan Mak Enok sama ku tentang Mas Jaya, dan akhirnya aku tau tentang Rindu.
Sore itu aku pulang kerumah dengan hati yang lega, setidaknya aku sudah mengetahui kegiatan sehari-hari suamiku, dan orang-orang yang ada dilingkungannya.
Sampai aku dirumah, aku melihat sebuat mobil starlet terparkir di halaman rumah. Segera aku bergegas masuk kedalam rumah.
Aku lihat Mas Jaya ada di halaman belakang, duduk dipinggir kolam, sambil memberi makan ikan hiasnya.
Melihat ku datang, dia langsung berdiri dan mengajakku duduk dipinggir kolam.
" Ada hal yang ingin aku bicarakan Zahra." dia memandangku dengan tajam.
" Apakah pernikahan ini pantas dan layak untuk kita pertahankan? yang jelas aku nggak ingin mengecewakan hati seorang ibu, Zahra." ucapnya tegas.
" Maksud Mas?"
" Kamu pasti sudah tahu bahwa Ibu mu datang menemui ku."
" Oh.. iya aku tau. Trus kamu akan menuruti kemauan Ibu ku?" tanya ku pelan.
" Kamu layak bahagia Zahra, dan kebahagiaan mu mungkin bukan bersamaku. " lalu dia bangun dari duduknya dan meninggalkan ku.
"Tunggu Mas, kamu mau kemana?" Aku melangkah mendekatinya.
" Aku mau ke pasar, ada yang harus ku temui. "
" Kamu mau kita berpisah sesuai dengan yang di inginkan Ibu ku?"
ku pandang dia dengan tajam.
" Aku nggak ingin kita berdebat. Aku pergi dulu."
" Sekali kamu melangkah dari pintu itu, seumur hidupku, aku nggak akan pernah memaafkan mu.
Dan jangan pernah berharap kamu bisa melihat anak yang bakal aku lahirkan nanti. " segera ku tinggalkan dia dan membanting pintu kamar.
Dia menyusul ku ke kamar " Kamu bilang apa? apa kamu hamil?"
" nggak, yang bilang aku hamil siapa?!"
" Barusan kamu bilang sebelum masuk kamar tadi. "
" Oh.. itu cuma ucapan ku untuk menghentikan langkah mu saja. "
" Nggak lucu Zahra!" sedikit meninggikan nada suaranya pada ku.
Aku mendekati nya dan menarik keras kerah jaketnya " Yang nggak lucu itu kamu, kamu itu terlalu bodoh kalau menuruti kata-kata ibu ku yang jelas udah salah." Lalu ku tolak dengan keras sampai dia terduduk di pinggir ranjang.
Aku pun duduk disampingnya, ku sandarkan kepalaku dibahu nya. " Aku wanita kedua yang nggak pantas untuk diperjuangkan bagi mu kan Mas. Kalau kamu mau pergi, pergilah, dua hari ini kamu udah mengajarkanku untuk hidup tanpa kamu. " Lalu aku berdiri dan meninggalkannya sendiri.
Aku yang saat itu tengah duduk di ruang makan melihat Mas Jaya keluar dari kamar. " Ayo Zahra, bersiap-siaplah. Hari ini aku akan mengantar mu kepada orang tua mu, ini keputusanku."
Aku benar-benar nggak percaya Mas Jaya melakukan itu. Aku pun mengikuti langkahnya. Dia lalu membuka pintu mobil, dan menyuruhku duduk dibelakang.
Sesampai di rumah orang tua ku dia bicara dengan Ibu dan Bapak ku.
" Tanpa mengurangi rasa hormat saya, saya antar Zahra kemari, bukan berarti saya menceraikannya. Seperti yang Ibu bilang, saya bukan laki-laki yang pantas untuk anak Ibu, tapi bagaimanapun saat ini saya adalah suaminya."
" Saya akan jemput Zahra kembali, jika Ibu benar-benar sudah memberikan restu itu. Saya mungkin akan memaafkan Ibu, jika Ibu menghina saya, tapi tidak untuk Ibu saya. "
Lalu dia menoleh ke arah ku " Baik-baik disini. Ini kunci mobil, aku beli mobil itu karena aku nggak bisa mengantar mu lagi. Aku nggak mau kamu kepanasan dan kehujanan. Aku akan tetap bertanggung jawab memberi nafkah mu." Dihadapan Ibu dan Bapak ku dia mengecup keningku. Lalu pergi.
Malam itu aku mendengar bapak memarahi Ibu habis-habisan. Aku hanya bisa diam, mendengarkan pertengkaran mereka. Terlalu kah Ibu ku mencaci makinya, sampai dia semarah ini. Apakah umur perjalanan rumah tangga ku hanya sampai disini. Ku buka galeri di HP ku, ku perhatikan satu persatu foto yang ada, akhirnya air mata ku jatuh juga.
-------
-------
PART 7
********
Siang itu Tante Maya main ke rumahku.
" Kamu kenapa nggak kabari Tante kalau mau pulang ke rumah Nini. Tante kan bisa titip sesuatu buat mereka." celoteh Tante cantik ku...
" Aki banyak cerita tentang Jaya, terutama sama Ibu mu, yang masih nggak suka dengan menantunya itu."
Ibu ku memang belum bisa menerima secara ikhlas kalau aku menikah muda, dia ingin aku kuliah, bekerja. Terutama dia nggak terima kenapa harus Mas Jaya yang melamar ku, dimatanya Mas Jaya tetaplah seorang preman, yang nggak punya masa depan.
Kedatangan Tante Maya hari ini, selain silaturahmi, dia juga ingin mengajak ku untuk bertemu dengan teman nya. Setelah minta izin dengan Mas Jaya aku dan tante Maya pun pergi.
Tidak perlu waktu lama untuk menunggu sang rekan, seorang wanita muda, cantik, energic, dan menurut ku cukup mempesona, dan sangat anggun. Aku jadi iri akan kecantikannya.
" Ini siapa May? " tanya wanita yang dihadapan kami sambil tersenyum ramah.
" Oh, iya nih kenalin, keponakan ku yang paling cantik." sambil dia menyikut sedikit bahu ku.
" Ratna." dia mengulurkan tangannya, dan aku pun menyambut uluran tangannya sambil menyebutkan nama ku.
Entah dari mana alur nya, akhirnya pembahasan sampai kepada kehidupan masing-masing. Sampai akhirnya Mbak Ratna menawarkan ku pekerjaan sebagai sekretaris di perusahaannya. Tapi ku tolak dengan mengatakan bahwa aku sudah menikah, dan segala sesuatu harus dirembukkan dahulu dengan suami.
*********
Sehabis makan malam, aku dan Mas Jaya sedang nonton film action
tiba-tiba HP ku berdering, aku lihat panggilan dari " Tante Cantiq Q".
" Assalamualaikum, Za, Ratna serius nawarin kamu pekerjaan, kesempatan cuma sekali Za, nih langsung aja ngomong sama orang nya " ucapnya.
Lalu telpon disambungkan
" Gimana Za?, udah dibicarakan? tanya mbak Ratna tanpa basa basi.
" Saat ini saya sangat butuh Zahra, kalau kamu oke, besok kamu boleh langsung kerja, nggak usah bawa CV atau lamaran apapun. " ucapnya lagi.
" Oke mbak, saya bicarakan dulu, nanti saya kabari. " ucapku sambil menutup telpon.
" Mas, aku boleh bekerja?"
" boleh." Jawabnya singkat.
" Kamu mau tidak, aku akan mendukung apapun yg kamu lakukan jika itu baik. Lagi pula kamu di rumah sendirian. Kalau kamu ada kegiatan mungkin akan lebih baik. " ucapnya lagi.
" kamu izin kan?"
" aku izin kan, dan alasan aku izinkan karena Boss nya juga seorang wanita. " Ucapnya dengan senyum mengembang.
Aku telpon kembali mbak Ratna untuk memberi tahu keputusan ku. Sebelum tidur, Mas Jaya banyak memberikan masukan dan nasehat padaku.
Ini hari pertama aku bekerja, dan ini merupakan pekerjaan pertama dalam hidup ku. Selesai aku mandi dan shalat subuh, aku lihat Mas Jaya pulang.
" Kamu nggak ke pasar Mas?"
" Ini hari pertama istri ku bekerja, jadi aku akan mengantarnya. "
Setelah semua beres, dia memesan taxi. Selama dalam perjalanan, tidak ada terucap apapun, dia menggenggam jariku, sambil menutup mata. Aku nggak tahu apakah dia sedang memikirkan sesuatu atau tertidur, tapi genggaman jarinya sangat membuat ku nyaman.
" Terima kasih Mas, udah mengantar ku." Ucapku tak lupa aku mencium tangannya, setelah kami sampai di pelataran kantor.
" Kerja yang baik yaa. Aku balik dulu. " lalu dia mengusap kepala ku.
Ku lihat dia melangkah meninggalkan ku, baru saja aku berbalik, aku mendengar Mas Jaya memanggilku.
"Zahra, ada yang terlupa. " sambil dia mengeluarkan sesuatu dalam balik jaket yang dia kenakan. Sekuntum mawar merah.
" Letakkan bunga ini di vas meja kerja mu. Sekali lagi selamat bekerja, do'a ku kamu bisa menjadi wanita yang sukses. "
Lalu dia memegang kepalaku dan mengecup kening ku, agak lama.
Hampir saja air mata ku jatuh, karena sangkin terharunya.
Begitu Mas Jaya pergi, aku melihat sebuah sedan hitam berhenti dihadapnku, ku lihat Mbak Ratna melambaikan tangan kepadaku.
" laki-laki yang mengecup kening mu itu suami mu?" tanya nya begitu turun dari mobil.
" iya mbak."
" Wah baik sekali dia, seprtinya orangnya cukup romantis juga ya.." sambil dia menggandeng tanggan ku untuk masuk keruangannya.
Aku melihat beberapa orang memberi salam padanya.
********
Nggak terasa hampir setahun aku bekerja di perusahaan ini, dan usia pernikahanku juga sudah mau memasuki tahun kedua. Konflik kecil pasti ada, tapi Mas Jaya benar-benar sosok pria yang sangat pengertian buat ku.
Saat inipun aku sudah menempati rumah baru yang pernah dibeli Mas Jaya, dan aku nggak pernah menyangka rumah itu dia buat atas namaku, sedikit lebih luas dari rumah yang lama, ada halaman kecil dibelakangnya, disana Mas Jaya menyalurkan bakatnya, memelihara ikan dan berkebun, rumah ku tampak asri, semua karena tangan nya yang trampil.
.
Sore itu,ku lihat Tante Maya duduk di lobi kantor ku, kedatangannya sengaja menjemputku.
" Kita pulang kerumah mu hari ini Za, Ibu mu buat ulah. Jaya nggak ada menghubungimu?"
" Nggak ada Tante, memang kenapa?" tanya ku sedikit heran, sambil mengecek hp ku.
" Tadi pagi Ibu mu ke pasar, dia ngamuk sama Jaya, dia meminta agar Jaya menceraikan mu. Dia bilang Jaya nggak pantas buat mu."
Aku hanya bisa diam dan menarik nafas. Sampai di rumah tanpa ucap salam, Tente Maya langsung masuk kedalam rumah dan memanggil Ibu ku.
" Mbak... kamu itu kenapa sih?? pernah ngak orang tua kita mengajarkan untuk bersikap seprti itu. Syukur Jaya itu mau sama anak mu, laki-laki berpendidikan diluar sana bakal malu punya mertua seperti kamu! " hardik tante maya pada ibuku.
Aku melihat Bapak keluar dari kamar karena mendengar suara Tante Maya yang meninggi.
" Udah May, kasihan Mbak mu. Mas juga udah marahi dia, buat malu saja." sambut Bapak menimpali ucapan Tante Maya.
Aku yang melihat Ibu ku diperlakukan seperti itu, nggak tega juga. Aku duduk memeluk dan mencium nya.
" Sudah-sudah. Udah berlalu juga, nggak usah diributin lagi Tante."
"Bu, kalau Ibu marah, nggak perlu sampai harus seperti itu. Maafkan atas segala kesalahan suamiku dan kekurangannya. Selama ini dia memperlakukan ku dengan sangat baik.
Dan agar Ibu tahu, gaji ku selama bekerja tidak pernah dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup kami. Dan rumah yang kami tempati sekarang itu murni hasil keringat Mas Jaya, dia juga membeli rumah itu jauh sebelum aku bekerja. Rumah itu hadiah ulang tahun pernikahan ku. Ibu salah kalau menilai semua itu hasil kerja keras ku. Ibu merasa setelah aku bekerja, aku bisa beli rumah kan?. Gaji ku sengaja ditabung, untuk Bapak dan Ibu umroh, dan itu juga atas saran Mas Jaya. "
Ibu ku langsung memandang ku. Tente Maya dan bapak juga diam.
"Kamu serius Za ?" tanya Tante Maya.
aku hanya mengangguk.
" Dengar ya semua, Mas jaya memang preman, dia hidup dan bergaul di pasar, tapi dia org yg baik. Ibu nggak boleh menilai orang dari luar saja. "
" Percayalah, dia menjaga dan melindungiku dengan baik. Nggak ada perpisahan, belum tentu laki-laki yang Ibu harapkan akan memperlakukan ku bak Ratu. " ucapku sambil mencium kembali pipi Ibuku.
" Sekali lagi Mbak macem-macem, ku laporin Bapak sama Ibu " ancam Tante Maya pada Ibu ku.
Ibu ku hanya diam, tidak ada pembelaan darinya sama sekali.
" Zahra pulang dulu, jangan difikirkan lagi. Bapak juga jangan marah lagi sama Ibu. "
" Za.. ibu minta maaf, maafkan Ibu udah salah ya. " ucapnya sambil menangis.
Aku berusaha menenangkan hati Ibu ku. Setelah itu aku pamit pulang.
Sampai aku di rumah, aku segera mengganti pakaian ku, lantas menyiapkan makan malam, setelah itu baru membersihkan diriku. Sepulang mas Jaya nanti aku akan minta maaf atas perlakuan Ibu padanya.
Waktu sudah menunjukkan pukun 23.00 tapi Mas Jaya belum pulang juga. Aku coba telpon ke HP nya juga nggak aktif.
Bahkan udah dua hari lama nya Mas Jaya pergi tanpa ada kabar apapun. Hari ini aku sengaja minta izin tidak masuk kerja, aku memutuskan akan cari dia ke pasar.
Aku datangi warung yang pernah ku singgahi dulu.
" Eh, ada Neng geulis yang dulu, mau cari Jaya ya?" ucapnya ramah. Ternyata masih ingat dia sama ku.
" Bapak ingat saja sama saya, jadi malu saya Bapak tahu maksud saya kemari. "
" Udah dua hari Jaya nggak ke pasar. Bentar Bapak panggil anak-anak, biar neng di antar tempat Mak Enok aja. " Sambil dia menuju keluar.
Nggak lama dia datang bersama seorang anak laki-laki sekitar berumur sepuluh tahunan.
" Antarin Kakak ini ke rumah Mak Enok, mau ketemu sama Bang Jaya." ucap sang Bapak kepada nya.
" Ayo Kak."
Segera aku pamit sama si Bapak.
" Kakak pacar bang Jaya yaaa...? " tanya nya setelah kami berjalan meninggalkan pasar.
Aku hanya senyum saja mendengar pertanyaannya.
" Kamu nggak sekolah?" Tanya ku balik padanya.
" Sekolah Kak, masuk siang. Aku disuruh beli susu buat anak-anak di panti. "
"Susu nya mana?"
" Nanti diantar, kan belinya banyak. Nanti Bang Jaya yang bayar. "
Sepanjang perjalanan dia banyak menceritakan tentang Mas Jaya, ada rasa kagum dari nya tentang sosok pria yang sudah menemani hidup ku selama ini.
" Ini Kak rumah nya, ayo masuk saja, silahkan duduk. Saya panggil Mak dulu. "
Aku melihat wanita paruh baya keluar dari dalam rumah. Dia tersenyum ramah padaku.
" Katanya Neng cari Mak?, ada perlu apa Neng? " dia mengulurkan kedua tangannya, dan aku menyambut dengan menyalaminya.
" Maaf Mak, kalau kedatangan saya mengganggu dan buat Mak nggak nyaman, saya ingin bertanya tentang Mas Jaya. "
" Neng temannya Jaya?"
Aku balas pertanyaannya dengan senyuman.
" Jaya sekarang lagi keluar kota, katanya tiga atau empat harian. Mak juga nggak tahu perginya kemana, dia nggak pernah bilang kalau mau keluar kota. "
" Maaf, Mak apakah Mak nya Mas jaya?"
" Bukan Neng, tapi Jaya udah seperti anak buat Mak, dia yang udah ngerawat Nak, dan anak-anak yang ada di panti depan."
Ku lihat anak yang mengantarku tadi keluar sambil membawa dua gelas teh, dan mempersilahkan aku untuk minum.
" Mak, ntong main ke panti ya, mau main sama Rindu. " lalu dia mencium tangan Mak dan pergi.
Aku cukup kaget waktu dia menyebut nama Rindu.
" Rindu siapa Mak? cucu Mak?
" Rindu salah satu anak panti, dia ditemuin Jaya di pasar waktu masih bayi merah. Sepertinya dia sengaja dibuang. " Jawab Mak Enok.
" Neng kemari benar cuma mau tanya tentang Jaya saja, atau ada yang lain." tanya Mak Enok sambil tersenyum.
" Mak senang, kalau Jaya ada yang cariin, apalagi seorang perempuan, Mak ingin dia nikah Neng. Biar ada yang ngerawat dia, do'a dan harapan Mak dia mendapatkan jodoh yang baik.
" Mas Jaya belum menikah Mak?" tanya ku seolah tidak tau apa-apa.
" Yang Mak tau belum, tapi Mak kurang tahu kehidupan pribadi Jaya, dia sangat tertutup tentang itu, dan selama Mak tinggal sama dia baru kali ini ada perempuan cari dia. "
"Mak kelihatan sayang sama dia?"
Ku lihat Mak Enok menarik nafas, dia juga menundukkan kepalanya seperti mencoba untuk mengingat sesuatu.
" Mak orang nggak punya neng, anak-anak Mak menelantarkan Mak. Hari-hari Mak cuma dagang kue di pasar. Dulu sebelum pulang, anak mak udah datang minta uang dagangan. Tapi sejak dipukul Jaya sampai sekarang nggak pernah datang lagi. Cuma Jaya yang perduli sama Mak, dia bawa Mak tinggal sama dia, Mak nggak boleh pulang kerumah lagi. Selama Mak tinggal dengannya baru Mak merasa seperti punya anak. Dia paling khawatir kalau Nak sakit.
Udah hampir dua tahun ini dan sejak anak-anak menemani Mak disini, dia udah nggak pernah tidur disini lagi. Tapi setiap siang dia pasti datang dan makan disini, dan kasih uang jajan adik-adiknya yang bakal pergi sekolah. Gimana Mak gak sayang."
aku mendekati Mak Enok yang terlihat meneteskan air mata, dan memeluknya.
" Mak, jangan menangis, maaf kalau saya buat Mak sedih. "
" Nggak Neng, Mak kasihan sama Jaya, Mak cuma keingetan kejadian di pasar kemarin, ada Ibu yang marah-marah sama dia, minta Jaya ninggalin anak nya. tapi Jaya diam saja, nggak melawan sedikitpun. bahkan itu ibu bukan hanya marah, sampai ngelempar Jaya sama sendalnya."
aku menarik nafas panjang, ini pasti Ibu ku.
" Tadinya Mak ingin marah, tapi Jaya langsung ajak Mak pulang. Di rumah Mak nasehati dia, cuma ya begitu dia, kalau Mak ngomong cuma senyum doang, udah gitu dia bakal bilang, Mak kalau marah kelihatan cakepnya Mak, kan Mak nggak jadi marahnya. "
Banyak hal yang diceritakan Mak Enok sama ku tentang Mas Jaya, dan akhirnya aku tau tentang Rindu.
Sore itu aku pulang kerumah dengan hati yang lega, setidaknya aku sudah mengetahui kegiatan sehari-hari suamiku, dan orang-orang yang ada dilingkungannya.
Sampai aku dirumah, aku melihat sebuat mobil starlet terparkir di halaman rumah. Segera aku bergegas masuk kedalam rumah.
Aku lihat Mas Jaya ada di halaman belakang, duduk dipinggir kolam, sambil memberi makan ikan hiasnya.
Melihat ku datang, dia langsung berdiri dan mengajakku duduk dipinggir kolam.
" Ada hal yang ingin aku bicarakan Zahra." dia memandangku dengan tajam.
" Apakah pernikahan ini pantas dan layak untuk kita pertahankan? yang jelas aku nggak ingin mengecewakan hati seorang ibu, Zahra." ucapnya tegas.
" Maksud Mas?"
" Kamu pasti sudah tahu bahwa Ibu mu datang menemui ku."
" Oh.. iya aku tau. Trus kamu akan menuruti kemauan Ibu ku?" tanya ku pelan.
" Kamu layak bahagia Zahra, dan kebahagiaan mu mungkin bukan bersamaku. " lalu dia bangun dari duduknya dan meninggalkan ku.
"Tunggu Mas, kamu mau kemana?" Aku melangkah mendekatinya.
" Aku mau ke pasar, ada yang harus ku temui. "
" Kamu mau kita berpisah sesuai dengan yang di inginkan Ibu ku?"
ku pandang dia dengan tajam.
" Aku nggak ingin kita berdebat. Aku pergi dulu."
" Sekali kamu melangkah dari pintu itu, seumur hidupku, aku nggak akan pernah memaafkan mu.
Dan jangan pernah berharap kamu bisa melihat anak yang bakal aku lahirkan nanti. " segera ku tinggalkan dia dan membanting pintu kamar.
Dia menyusul ku ke kamar " Kamu bilang apa? apa kamu hamil?"
" nggak, yang bilang aku hamil siapa?!"
" Barusan kamu bilang sebelum masuk kamar tadi. "
" Oh.. itu cuma ucapan ku untuk menghentikan langkah mu saja. "
" Nggak lucu Zahra!" sedikit meninggikan nada suaranya pada ku.
Aku mendekati nya dan menarik keras kerah jaketnya " Yang nggak lucu itu kamu, kamu itu terlalu bodoh kalau menuruti kata-kata ibu ku yang jelas udah salah." Lalu ku tolak dengan keras sampai dia terduduk di pinggir ranjang.
Aku pun duduk disampingnya, ku sandarkan kepalaku dibahu nya. " Aku wanita kedua yang nggak pantas untuk diperjuangkan bagi mu kan Mas. Kalau kamu mau pergi, pergilah, dua hari ini kamu udah mengajarkanku untuk hidup tanpa kamu. " Lalu aku berdiri dan meninggalkannya sendiri.
Aku yang saat itu tengah duduk di ruang makan melihat Mas Jaya keluar dari kamar. " Ayo Zahra, bersiap-siaplah. Hari ini aku akan mengantar mu kepada orang tua mu, ini keputusanku."
Aku benar-benar nggak percaya Mas Jaya melakukan itu. Aku pun mengikuti langkahnya. Dia lalu membuka pintu mobil, dan menyuruhku duduk dibelakang.
Sesampai di rumah orang tua ku dia bicara dengan Ibu dan Bapak ku.
" Tanpa mengurangi rasa hormat saya, saya antar Zahra kemari, bukan berarti saya menceraikannya. Seperti yang Ibu bilang, saya bukan laki-laki yang pantas untuk anak Ibu, tapi bagaimanapun saat ini saya adalah suaminya."
" Saya akan jemput Zahra kembali, jika Ibu benar-benar sudah memberikan restu itu. Saya mungkin akan memaafkan Ibu, jika Ibu menghina saya, tapi tidak untuk Ibu saya. "
Lalu dia menoleh ke arah ku " Baik-baik disini. Ini kunci mobil, aku beli mobil itu karena aku nggak bisa mengantar mu lagi. Aku nggak mau kamu kepanasan dan kehujanan. Aku akan tetap bertanggung jawab memberi nafkah mu." Dihadapan Ibu dan Bapak ku dia mengecup keningku. Lalu pergi.
Malam itu aku mendengar bapak memarahi Ibu habis-habisan. Aku hanya bisa diam, mendengarkan pertengkaran mereka. Terlalu kah Ibu ku mencaci makinya, sampai dia semarah ini. Apakah umur perjalanan rumah tangga ku hanya sampai disini. Ku buka galeri di HP ku, ku perhatikan satu persatu foto yang ada, akhirnya air mata ku jatuh juga.
-------
#SUAMI_KU
Part 8
=======
Dua minggu sudah aku tinggal dengan orang tua ku, sekalipun Mas Jaya nggak pernah menghubungi ku. Setiap aku hubungi HP nya juga nggak aktif, beberapa kali aku coba cari dia di pasar tapi hasilnya tetap nihil.
Pagi ini, aku sengaja untuk pergi lebih awal, sehabis shalat subuh, aku langsung merapikan diriku, ku lirik jam di dinding, masih menunjukkan pukul 05.00. Segera ku panasi mobil ku, 15 menit kemudian aku laju kendaraan ku. Aku nggak menghiraukan panggilan Ibu ku. Sengaja ku parkir mobil ku di sebrang jalan, siapa tahu saja aku bisa bertemu Mas Jaya.
Setidaknya aku bisa melihat orang yang ku kasihi meskipun itu dari kejauhan.
Aku melihat lelaki tinggi, berkulit sawo matang itu sedang merapikan beberapa motor. Dia terlihat lebih kurus. Seorang laki-laki menghampirinya, menyerahkan segelas kopi. Aku tau dia nggak bisa minum kopi. Segara ku ambil Hp untuk menelpon nya.
"Assalamu'alaikum ada apa Za?" ucapnya ketika mengangkat telpon dari ku.
"Wa'alaikum salam, jangan diminum kopi nya ya." Ku coba untuk mengingatkannya.
" Iya, kamu lagi dekat sini ya, kamu semangat kerjanya. Jangan terlambat makan ya. " telpon langsung ditutupnya setelah dia mengucap salam.
Sepertinya keberadaan ku diketahuinya. Ku lihat dia berjalan ke arah ku. Setelah dia mendekat ku buka kaca mobil, dia meminta ku untuk pindah ke belakang, lantas dia duduk dibelakang kemudi.
" Kamu mau berangkat kerja?" tanya nya, sambil memandangku dari kaca spion.
" Ibu Zahra, mau diantar ke kantor langsung atau ada tujuan lain?" tanya nya kembali dengan menyunggingkan senyum yang lebar.
Aku hanya diam tanpa menjawabnya sama sekali. Ku pandangi terus dia. Bisa-bisa nya dia masih bersikap santai seperti ini ucap batin ku.
" Oke lah kalau tidak ada jawaban... " lalu dia menyalakan mobil, dan mengemudikannya. Aku nggak tahu dia membawa ku kemana, sepanjang perjalanan tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir masing-masing. Karena nggak tau arah tujuan, dan juga masih terlalu pagi untuk aku pergi ke kantor, dia menepikan mobil lalu berhenti di dekat sebuah taman dimana banyak pedagang yang menjajakan makanan, lalu dia turun menghampiri pedagang nasi.
" Aku lapar Za, aku sarapan dulu. " ucanya datar, sambil membawa sebungkus nasi uduk dan sebotol air mineral.
Aku yang duduk di jok belakang masih tetap diam, dan memperhatikan dia makan. Setelah dua sendok dia memasukkan nasi itu kemulut nya, dia langsung berusaha menyuapkan sendokan berikutnya kemulut ku.
" Makanlah" Ucapnya.
" Aku udah sarapan di rumah." Jawab ku, sambil menolak suapan dari nya.
" Kamu kelihatannya gemukan tanpa aku. "Ucapnya setelah menghabiskan makanannya.
" Gemuk dong, kan aku dikasih makan enak, makan hati!!. "
" Hahhaaa bisa juga kamu melucu begitu. "
" Nggak lucu tau." Langsung ku cubit perutnya. Ku lihat dia meringis menahan rasa sakit.
******
" Kenapa aku harus duduk dibelakang? " tanya ku setelah mobil berjalan.
" Kalau kamu duduk di belakang, setidaknya kelihatan kalau aku ini cuma supir, dan kamu seorang nona muda, dengan begitu bensin mobil ini tanggung jawab mu, tapi kalau kamu duduk di depan, dan berada disebelah ku status kamu istri ku, dan minyak mobil ini jadi tanggung jawabku. " jawabnya dengan santai.
" Kalau begitu, selama aku duduk di belakang aku bebas memerintah supir ku kemana aja kan?"
" Iya dong pastinya. "
Aku keluarkan HP ku, ku telpon Mbak Ratna aku ingin minta izin untuk tidak masuk kerja hari ini.
Syukurnya Mbak Ratna memberi ku izin dan waktu libur ku ditambah satu hari. Sementara sabtu dan minggu aku libur, aku punya waktu libur empat hari lamanya.
" Oke, sesuai kesepakatan, karena aku yang pegang kendali aku minta kita ke puncak. " ucapku tegas.
" Kamu bukannya harus kerja?"
" Sebagai supir harus nurut dan jangan banyak protes! "
Ku lihat dia menarik nafas.
Aku lantas tersenyum tanda puas, dan aku memejamkan mata ku, aku mau gunakan waktu ku selama perjalanan untuk istirahat.
" Pulas benar tidurnya, apa kamu nggak tidur malam tadi ?"
" Bukan hanya malam tadi, tapi malam-malam sebelumnya juga aku nggak bisa tidur. "
" kita udah sampai?" tanya ku.
" Udah, trus mau kemana? "
" Ya setidaknya aku perlu oksigen yang banyak untuk memfresskan otak ku lagi. "
lalu aku keluar dari mobil, menarik nafas dalam-dalam, mencoba menikmati udara yang segar. Setelah itu aku mendekati Mas Jaya yang masih duduk di dalam mobil.
" Sekarang kita cari vila, aku mau bicara banyak hal. "
Lalu aku pindah memilih duduk didepan.
" kenapa di depan? "
" sekarang aku istrimu, aku mau bicara sebagai seorang istri. "
" Kalo sudah begini, susah untuk ditolak. Oke lah. "
Setelah sampai di vila, aku membuka jilbab ku, setidaknya kulit kepala dan rambut ku juga harus merasakan nikmatnya udara segar ini. Ku buka jendela, ku nikmati tiupan angin membuat ku sedikit lebih rilex.
" Apa yang mau dibicarakan? " tanya Mas Jaya, sambil duduk di kursi kayu yang ada diruangan ini.
" Dua hari suami ku pergi tanpa kabar, setelah dia kembali, dia antar aku kerumah orang tua ku. Aku bingung, dua hari dia menghilang itu, apakah otak nya dipinjamkan ke Petrik (tokoh cartoon teman Spongsbob) sehingga dia nggak ingat sama sekali dengan istrinya. " Ucap ku sambil melipat tangan didada, dan bersandar di sisi jendela.
Ku lihat dia tersenyum.. " Iya biar Petrik nggak blo-on banget. " Ujarnya lalu mendekatiku.
" Tapi kamu yang jadi blo-on. Udah tau orang tua salah masih aja di turuti."
" Pernikahan apa yang seperti ini, kalau memang nggak sanggup dengan ujiannya kenapa harus menikahi?!" ujar ku lagi.
Tiba-tiba dia menarik ku dalam pelukannya, sedikit menyipitkan mata nya, dia menatap ku dengan tajam, tanpa berkedip.
" Hemmm... biar Ibu mertua ku dan anak nya yang manja ini tahu bahwa orang yang selalu sabar itu pun punya rasa amarah. " Lalu dia mengecup bibir ku.
Aku melepaskan pelukannya. " Dulu aja bilang, jangan tinggalin aku Zahra, sekarang aku malah dipulangkan, laki-laki macam apa seperti itu. Namanya orang berumah tangga pasti banyak cobaannya. Baru di coba sedikit, udah begini. " Ucapku sedikit menyindir nya.
Mendengar ku berucap seperti itu dia malah tertawa.
" Kamu kalau begitu tambah cantik Zahra. "
" Nggak kamu perjelaspun aku memang sudah cantik. Dan tujuan ku mengajak mu kemari bukan untuk membahas itu. "
" Zahra, agar kamu tahu ya, waktu ku itu mahal, kalau kamu menculik ku seperti ini, berapa jam waktu ku terbuang, dan perjamnya aku bisa menghasilkan uang lima ratus ribu. " Ujarnya sambil berjalan dan duduk di sisi ranjang, dengan gaya yang dibuat seangkuh mungkin.
" Hemmmm gitu ya... Oke, aku bayar waktu mu." Aku berjalan mendekati nya dan duduk dipangkuannya, ku letakkan tangan ku dilehernya." Aku nggak akan membayarnya dengan uang, tapi aku akan membayar nya, dengan cinta. " lalu ku kecup pipi nya.
" Nggak usah nakal. Nggak usah sok bermanja-manja."
" Hemmmm, aku jadi terfikir sesuatu. Kamu bisa belikan aku rumah, mobil, dan semua kebutuhan hidup ku terpenuhi dengan baik. Sementara kamu hanya bekerja di pasar, seperti yang ku lihat tadi pagi contoh nya, dan baru saja kamu bilang, waktu kamu perjam nya bisa menghasilkan uang lima ratus ribu. Jangan-jangan kamu.... " Aku pandangi Mas Jaya dengan sedikit rasa curiga, lalu menjauh darinya.
" Jangan berfikir yang aneh-aneh Zahra. "
" Coba kamu berdiri sini. "
Diapun menuruti perintahku.
Ku buka jaket yang biasa dia pakai. Ku perhatikan dia dari atas sampai bawah.
" Tinggi bolehlah, wajah... hemmm lumayan manis, dengan wajah pribumi asli Indonesia, kulit sedikit gelap, tapi bersih juga, perut six pack , parfum cukup berkelas. " Lalu aku menjauhi nya sambil tetap memperhatikannya.
" Wah benar-benar mencurigakan. Jangan-jangan kerja di pasar itu hanya formalitas saja, untuk mengelabui pekerjaan sebenarnya."
Ku dekati dia kembali, ku perhatikan lagi dari bawah sampai atas dengan seksama. Ekspresi wajahnya masih menunjukkan rasa heran.
" Apa ada yang salah ?!"
Aku lantas memukul jidad ku. " Matilah aku jika itu benar. YA ALLAH.. ampunilah dosa ku, terutama dosa suami ku. " seraya aku berdo'a mengadahkan tangan ku.
" Kamu kenapa Zahra? "
" Aku terfikir jangan-jangan kamu itu seperti anak muda yang senang pergi dengan tante-tante dan....... dalam tanda kutip gitu. "
" Zahraaaaaa!!!!!" Dia berusaha menarik ku, tapi aku buru-buru menghindarinya, sambil meledek dan mentertawakannya.
" Akui sajalah... " sambil terus berusaha menghindar.
Dia terus saja mengejar ku.
" Oke, oke... aku nyerah Mas.. " sambil mengatur nafas dan duduk dilantai dengan bersandar di sisi ranjang.
" Jangan macam-macam kamu ya! " sambil memukul pelan jidad ku, lalu duduk disebelah ku.
Ku sandarkan kepala ku di bahunya.
" Kenapa kamu terlalu baik pada ku, memberikan begitu banyak perhatian pada ku, sehingga untuk sehari nggak ada kabar mu aku benar-benar sangat kehilangan.
kenapa cinta yang seperti ini yang kamu berikan pada ku, kau buat aku merasa kenyamanan disaat aku berada di dekatmu." Ucap ku lirih. Ku gigit bibir ku, untuk menahan rasa sesak didada, agar air mata ku tidak jatuh.
Nggak ada jawaban apapun, dan aku juga diam. Digenggamnya jariku, dikecupnya kepala ku yang masih bersandar dibahunya. Aku nggak mampu lagi menahan air mata ku.
" Jangan menangis Zahra, untuk saat ini mungkin ini yang terbaik buat kita.. "
"Mungkin bagi mu iya, tapi tidak bagi ku." Perlahan ku rebahkan kepala ku untuk berpindah kepangkuannya.
Cukup lama aku dan dia diam dalam suasana seperti ini, sampai aku tertidur dipangkuannya.
Rasanya nggak ingin waktu berlalu, empat hari ini aku benar-benar merasakan kenyamanan, merasakan indah nya cinta...
.
.
.
Aku sampai di rumah jam1.00 dini hari. Begitu aku sampai Ibu dan Bapak masih diruang tengah, ku lihat juga Tante Maya ada di situ.
" Kamu dari mana aja Zahra?!" tanya mereka bersamaan.
" Dihubungi HP nya nggak aktif." cerca Tante Maya.
" Kami semua khawatir!"
Aku baru ingat, setelah aku telpon Mbak Ratna, aku langsung menonaktifkan HP ku.
" Sekarang aku sudah pulang, nggak kurang satu apapun. Berhubung sudah malam, dan besok kita semua harus kerja, marilah kita istirahat." Ucap ku seraya aku masuk ke dalam kamar, tak lupa ku mencium tangan Bapak dan Ibuku.
" Za, kamu kemana empat hari ini?" tanya Tante Maya setelah aku merebahkan diriku.
" Hemmmmm.... udah ah Tante, ayo tidur. " sambil ku peluk guling dan menarik selimut ku dan memberikan senyum ku yang paling manis untuk nya.
Jam empat subuh, Mbak Ratna menelpon ku dan meminta ku untuk datang ke kantor lebih awal, karena ada hal penting yang ingin dibicarakan.
Tepat jam 6.30 aku sudah sampai di kantor, aku langsung menuju meja ku. Baru saja meletakkan tas, ku lihat Mbak Ratna keluar dari ruangnnya.
" Kamu udah datang Za, ayo masuk. " Aku pun ikut masuk kedalam ruangannya.
Setelah duduk di kursi dihadapannya dia mulai bicara.
" Zahra, sepertinya aku menemukan kecurangan di perusahaan ini, aku minta tolong sama kamu, apapun berkas yang akan sampai ke meja ku, tolong teliti terlebih dahulu, termasuk dari bagian keuangan. "
hampir satu jam aku berdiskusi empat mata dengan nya. ada beberapa berkas selama aku nggak masuk yang belum diperiksa. dia meminta ku untuk memeriksa semua berkas itu. Selama kurang lebih dua jam aku memeriksa berkas diruangannya aku melihat dia sedang berbicara dengan seseorang via telpon, pembicaraannya membahas tentang perusahaan tapi aku nggak tau dengan siapa.
Pekerjaan ku hari ini terlalu banyak, sampai-sampai untuk makan pun aku lupa, kalau bukan karena suara gemuruh yang keluar dari perut ku, mungkin aku masih asik berkutat dengan perkerjaan ku.
Aku putuskan untuk mencari makan siang di kantin kantor saja. Ah... selama aku bekerja di kantor ini bisa dihitung dengan jari aku makan di kantin ini. Bukan aku sombong, tapi memang kesempatan itu yang tidak ada, karena Mas Jaya sudah menunggu ku untuk makan siang di luar.
setelah memesan makanan aku sengaja memilih duduk dipojok, karena hanya ada meja kecil dan dua kursi yang saling berhadapan.
lagi asik menikmati makan ku, tiba-tiba aja seorang pria datang menghampiri dan memilih duduk di depan ku.
" Boleh duduk disini Zahra? " Tanya nya dengan ramah.
Belum aku menjawab dia sudah duduk dihadapan ku. Ku perhatikan sekeliling, hampir semua mata memandang ke arah ku.
Aku hanya membalas nya dengan senyum yang dipaksakan.
Di perhatikan oleh orang asing seperti itu membuat ku nggak merasa nyaman, ku akhiri makan ku. Baru saja aku mau berdiri, tiba-tiba dia megang tangan ku " Jangan pergi dulu Zahra, aku mau bicara. Udah lama aku menunggu kesempatan ini. " ucap nya seketika.
" Jangan kurang ajar ya!" ucap ku ketus sambil melihat tajam ketangannya yang sedang memegang tangan ku. Setelah itu ku tinggalkan dia.
Ku lihat dia mengikuti ku, sampai ke meja ku.
" Mau apa?" tanya ku ketus.
" Aku minta maaf Zahra, maaf kalau aku sudah lamcang tadi."
" Sudah ku maaf kan, dan pergilah."
Lalu dia melangkah pergi. Hemmmm ... belum selesai satu masalah ku, udah datang aja masalah baru rutuk batin ku.
-----
Part 8
=======
Dua minggu sudah aku tinggal dengan orang tua ku, sekalipun Mas Jaya nggak pernah menghubungi ku. Setiap aku hubungi HP nya juga nggak aktif, beberapa kali aku coba cari dia di pasar tapi hasilnya tetap nihil.
Pagi ini, aku sengaja untuk pergi lebih awal, sehabis shalat subuh, aku langsung merapikan diriku, ku lirik jam di dinding, masih menunjukkan pukul 05.00. Segera ku panasi mobil ku, 15 menit kemudian aku laju kendaraan ku. Aku nggak menghiraukan panggilan Ibu ku. Sengaja ku parkir mobil ku di sebrang jalan, siapa tahu saja aku bisa bertemu Mas Jaya.
Setidaknya aku bisa melihat orang yang ku kasihi meskipun itu dari kejauhan.
Aku melihat lelaki tinggi, berkulit sawo matang itu sedang merapikan beberapa motor. Dia terlihat lebih kurus. Seorang laki-laki menghampirinya, menyerahkan segelas kopi. Aku tau dia nggak bisa minum kopi. Segara ku ambil Hp untuk menelpon nya.
"Assalamu'alaikum ada apa Za?" ucapnya ketika mengangkat telpon dari ku.
"Wa'alaikum salam, jangan diminum kopi nya ya." Ku coba untuk mengingatkannya.
" Iya, kamu lagi dekat sini ya, kamu semangat kerjanya. Jangan terlambat makan ya. " telpon langsung ditutupnya setelah dia mengucap salam.
Sepertinya keberadaan ku diketahuinya. Ku lihat dia berjalan ke arah ku. Setelah dia mendekat ku buka kaca mobil, dia meminta ku untuk pindah ke belakang, lantas dia duduk dibelakang kemudi.
" Kamu mau berangkat kerja?" tanya nya, sambil memandangku dari kaca spion.
" Ibu Zahra, mau diantar ke kantor langsung atau ada tujuan lain?" tanya nya kembali dengan menyunggingkan senyum yang lebar.
Aku hanya diam tanpa menjawabnya sama sekali. Ku pandangi terus dia. Bisa-bisa nya dia masih bersikap santai seperti ini ucap batin ku.
" Oke lah kalau tidak ada jawaban... " lalu dia menyalakan mobil, dan mengemudikannya. Aku nggak tahu dia membawa ku kemana, sepanjang perjalanan tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir masing-masing. Karena nggak tau arah tujuan, dan juga masih terlalu pagi untuk aku pergi ke kantor, dia menepikan mobil lalu berhenti di dekat sebuah taman dimana banyak pedagang yang menjajakan makanan, lalu dia turun menghampiri pedagang nasi.
" Aku lapar Za, aku sarapan dulu. " ucanya datar, sambil membawa sebungkus nasi uduk dan sebotol air mineral.
Aku yang duduk di jok belakang masih tetap diam, dan memperhatikan dia makan. Setelah dua sendok dia memasukkan nasi itu kemulut nya, dia langsung berusaha menyuapkan sendokan berikutnya kemulut ku.
" Makanlah" Ucapnya.
" Aku udah sarapan di rumah." Jawab ku, sambil menolak suapan dari nya.
" Kamu kelihatannya gemukan tanpa aku. "Ucapnya setelah menghabiskan makanannya.
" Gemuk dong, kan aku dikasih makan enak, makan hati!!. "
" Hahhaaa bisa juga kamu melucu begitu. "
" Nggak lucu tau." Langsung ku cubit perutnya. Ku lihat dia meringis menahan rasa sakit.
******
" Kenapa aku harus duduk dibelakang? " tanya ku setelah mobil berjalan.
" Kalau kamu duduk di belakang, setidaknya kelihatan kalau aku ini cuma supir, dan kamu seorang nona muda, dengan begitu bensin mobil ini tanggung jawab mu, tapi kalau kamu duduk di depan, dan berada disebelah ku status kamu istri ku, dan minyak mobil ini jadi tanggung jawabku. " jawabnya dengan santai.
" Kalau begitu, selama aku duduk di belakang aku bebas memerintah supir ku kemana aja kan?"
" Iya dong pastinya. "
Aku keluarkan HP ku, ku telpon Mbak Ratna aku ingin minta izin untuk tidak masuk kerja hari ini.
Syukurnya Mbak Ratna memberi ku izin dan waktu libur ku ditambah satu hari. Sementara sabtu dan minggu aku libur, aku punya waktu libur empat hari lamanya.
" Oke, sesuai kesepakatan, karena aku yang pegang kendali aku minta kita ke puncak. " ucapku tegas.
" Kamu bukannya harus kerja?"
" Sebagai supir harus nurut dan jangan banyak protes! "
Ku lihat dia menarik nafas.
Aku lantas tersenyum tanda puas, dan aku memejamkan mata ku, aku mau gunakan waktu ku selama perjalanan untuk istirahat.
" Pulas benar tidurnya, apa kamu nggak tidur malam tadi ?"
" Bukan hanya malam tadi, tapi malam-malam sebelumnya juga aku nggak bisa tidur. "
" kita udah sampai?" tanya ku.
" Udah, trus mau kemana? "
" Ya setidaknya aku perlu oksigen yang banyak untuk memfresskan otak ku lagi. "
lalu aku keluar dari mobil, menarik nafas dalam-dalam, mencoba menikmati udara yang segar. Setelah itu aku mendekati Mas Jaya yang masih duduk di dalam mobil.
" Sekarang kita cari vila, aku mau bicara banyak hal. "
Lalu aku pindah memilih duduk didepan.
" kenapa di depan? "
" sekarang aku istrimu, aku mau bicara sebagai seorang istri. "
" Kalo sudah begini, susah untuk ditolak. Oke lah. "
Setelah sampai di vila, aku membuka jilbab ku, setidaknya kulit kepala dan rambut ku juga harus merasakan nikmatnya udara segar ini. Ku buka jendela, ku nikmati tiupan angin membuat ku sedikit lebih rilex.
" Apa yang mau dibicarakan? " tanya Mas Jaya, sambil duduk di kursi kayu yang ada diruangan ini.
" Dua hari suami ku pergi tanpa kabar, setelah dia kembali, dia antar aku kerumah orang tua ku. Aku bingung, dua hari dia menghilang itu, apakah otak nya dipinjamkan ke Petrik (tokoh cartoon teman Spongsbob) sehingga dia nggak ingat sama sekali dengan istrinya. " Ucap ku sambil melipat tangan didada, dan bersandar di sisi jendela.
Ku lihat dia tersenyum.. " Iya biar Petrik nggak blo-on banget. " Ujarnya lalu mendekatiku.
" Tapi kamu yang jadi blo-on. Udah tau orang tua salah masih aja di turuti."
" Pernikahan apa yang seperti ini, kalau memang nggak sanggup dengan ujiannya kenapa harus menikahi?!" ujar ku lagi.
Tiba-tiba dia menarik ku dalam pelukannya, sedikit menyipitkan mata nya, dia menatap ku dengan tajam, tanpa berkedip.
" Hemmm... biar Ibu mertua ku dan anak nya yang manja ini tahu bahwa orang yang selalu sabar itu pun punya rasa amarah. " Lalu dia mengecup bibir ku.
Aku melepaskan pelukannya. " Dulu aja bilang, jangan tinggalin aku Zahra, sekarang aku malah dipulangkan, laki-laki macam apa seperti itu. Namanya orang berumah tangga pasti banyak cobaannya. Baru di coba sedikit, udah begini. " Ucapku sedikit menyindir nya.
Mendengar ku berucap seperti itu dia malah tertawa.
" Kamu kalau begitu tambah cantik Zahra. "
" Nggak kamu perjelaspun aku memang sudah cantik. Dan tujuan ku mengajak mu kemari bukan untuk membahas itu. "
" Zahra, agar kamu tahu ya, waktu ku itu mahal, kalau kamu menculik ku seperti ini, berapa jam waktu ku terbuang, dan perjamnya aku bisa menghasilkan uang lima ratus ribu. " Ujarnya sambil berjalan dan duduk di sisi ranjang, dengan gaya yang dibuat seangkuh mungkin.
" Hemmmm gitu ya... Oke, aku bayar waktu mu." Aku berjalan mendekati nya dan duduk dipangkuannya, ku letakkan tangan ku dilehernya." Aku nggak akan membayarnya dengan uang, tapi aku akan membayar nya, dengan cinta. " lalu ku kecup pipi nya.
" Nggak usah nakal. Nggak usah sok bermanja-manja."
" Hemmmm, aku jadi terfikir sesuatu. Kamu bisa belikan aku rumah, mobil, dan semua kebutuhan hidup ku terpenuhi dengan baik. Sementara kamu hanya bekerja di pasar, seperti yang ku lihat tadi pagi contoh nya, dan baru saja kamu bilang, waktu kamu perjam nya bisa menghasilkan uang lima ratus ribu. Jangan-jangan kamu.... " Aku pandangi Mas Jaya dengan sedikit rasa curiga, lalu menjauh darinya.
" Jangan berfikir yang aneh-aneh Zahra. "
" Coba kamu berdiri sini. "
Diapun menuruti perintahku.
Ku buka jaket yang biasa dia pakai. Ku perhatikan dia dari atas sampai bawah.
" Tinggi bolehlah, wajah... hemmm lumayan manis, dengan wajah pribumi asli Indonesia, kulit sedikit gelap, tapi bersih juga, perut six pack , parfum cukup berkelas. " Lalu aku menjauhi nya sambil tetap memperhatikannya.
" Wah benar-benar mencurigakan. Jangan-jangan kerja di pasar itu hanya formalitas saja, untuk mengelabui pekerjaan sebenarnya."
Ku dekati dia kembali, ku perhatikan lagi dari bawah sampai atas dengan seksama. Ekspresi wajahnya masih menunjukkan rasa heran.
" Apa ada yang salah ?!"
Aku lantas memukul jidad ku. " Matilah aku jika itu benar. YA ALLAH.. ampunilah dosa ku, terutama dosa suami ku. " seraya aku berdo'a mengadahkan tangan ku.
" Kamu kenapa Zahra? "
" Aku terfikir jangan-jangan kamu itu seperti anak muda yang senang pergi dengan tante-tante dan....... dalam tanda kutip gitu. "
" Zahraaaaaa!!!!!" Dia berusaha menarik ku, tapi aku buru-buru menghindarinya, sambil meledek dan mentertawakannya.
" Akui sajalah... " sambil terus berusaha menghindar.
Dia terus saja mengejar ku.
" Oke, oke... aku nyerah Mas.. " sambil mengatur nafas dan duduk dilantai dengan bersandar di sisi ranjang.
" Jangan macam-macam kamu ya! " sambil memukul pelan jidad ku, lalu duduk disebelah ku.
Ku sandarkan kepala ku di bahunya.
" Kenapa kamu terlalu baik pada ku, memberikan begitu banyak perhatian pada ku, sehingga untuk sehari nggak ada kabar mu aku benar-benar sangat kehilangan.
kenapa cinta yang seperti ini yang kamu berikan pada ku, kau buat aku merasa kenyamanan disaat aku berada di dekatmu." Ucap ku lirih. Ku gigit bibir ku, untuk menahan rasa sesak didada, agar air mata ku tidak jatuh.
Nggak ada jawaban apapun, dan aku juga diam. Digenggamnya jariku, dikecupnya kepala ku yang masih bersandar dibahunya. Aku nggak mampu lagi menahan air mata ku.
" Jangan menangis Zahra, untuk saat ini mungkin ini yang terbaik buat kita.. "
"Mungkin bagi mu iya, tapi tidak bagi ku." Perlahan ku rebahkan kepala ku untuk berpindah kepangkuannya.
Cukup lama aku dan dia diam dalam suasana seperti ini, sampai aku tertidur dipangkuannya.
Rasanya nggak ingin waktu berlalu, empat hari ini aku benar-benar merasakan kenyamanan, merasakan indah nya cinta...
.
.
.
Aku sampai di rumah jam1.00 dini hari. Begitu aku sampai Ibu dan Bapak masih diruang tengah, ku lihat juga Tante Maya ada di situ.
" Kamu dari mana aja Zahra?!" tanya mereka bersamaan.
" Dihubungi HP nya nggak aktif." cerca Tante Maya.
" Kami semua khawatir!"
Aku baru ingat, setelah aku telpon Mbak Ratna, aku langsung menonaktifkan HP ku.
" Sekarang aku sudah pulang, nggak kurang satu apapun. Berhubung sudah malam, dan besok kita semua harus kerja, marilah kita istirahat." Ucap ku seraya aku masuk ke dalam kamar, tak lupa ku mencium tangan Bapak dan Ibuku.
" Za, kamu kemana empat hari ini?" tanya Tante Maya setelah aku merebahkan diriku.
" Hemmmmm.... udah ah Tante, ayo tidur. " sambil ku peluk guling dan menarik selimut ku dan memberikan senyum ku yang paling manis untuk nya.
Jam empat subuh, Mbak Ratna menelpon ku dan meminta ku untuk datang ke kantor lebih awal, karena ada hal penting yang ingin dibicarakan.
Tepat jam 6.30 aku sudah sampai di kantor, aku langsung menuju meja ku. Baru saja meletakkan tas, ku lihat Mbak Ratna keluar dari ruangnnya.
" Kamu udah datang Za, ayo masuk. " Aku pun ikut masuk kedalam ruangannya.
Setelah duduk di kursi dihadapannya dia mulai bicara.
" Zahra, sepertinya aku menemukan kecurangan di perusahaan ini, aku minta tolong sama kamu, apapun berkas yang akan sampai ke meja ku, tolong teliti terlebih dahulu, termasuk dari bagian keuangan. "
hampir satu jam aku berdiskusi empat mata dengan nya. ada beberapa berkas selama aku nggak masuk yang belum diperiksa. dia meminta ku untuk memeriksa semua berkas itu. Selama kurang lebih dua jam aku memeriksa berkas diruangannya aku melihat dia sedang berbicara dengan seseorang via telpon, pembicaraannya membahas tentang perusahaan tapi aku nggak tau dengan siapa.
Pekerjaan ku hari ini terlalu banyak, sampai-sampai untuk makan pun aku lupa, kalau bukan karena suara gemuruh yang keluar dari perut ku, mungkin aku masih asik berkutat dengan perkerjaan ku.
Aku putuskan untuk mencari makan siang di kantin kantor saja. Ah... selama aku bekerja di kantor ini bisa dihitung dengan jari aku makan di kantin ini. Bukan aku sombong, tapi memang kesempatan itu yang tidak ada, karena Mas Jaya sudah menunggu ku untuk makan siang di luar.
setelah memesan makanan aku sengaja memilih duduk dipojok, karena hanya ada meja kecil dan dua kursi yang saling berhadapan.
lagi asik menikmati makan ku, tiba-tiba aja seorang pria datang menghampiri dan memilih duduk di depan ku.
" Boleh duduk disini Zahra? " Tanya nya dengan ramah.
Belum aku menjawab dia sudah duduk dihadapan ku. Ku perhatikan sekeliling, hampir semua mata memandang ke arah ku.
Aku hanya membalas nya dengan senyum yang dipaksakan.
Di perhatikan oleh orang asing seperti itu membuat ku nggak merasa nyaman, ku akhiri makan ku. Baru saja aku mau berdiri, tiba-tiba dia megang tangan ku " Jangan pergi dulu Zahra, aku mau bicara. Udah lama aku menunggu kesempatan ini. " ucap nya seketika.
" Jangan kurang ajar ya!" ucap ku ketus sambil melihat tajam ketangannya yang sedang memegang tangan ku. Setelah itu ku tinggalkan dia.
Ku lihat dia mengikuti ku, sampai ke meja ku.
" Mau apa?" tanya ku ketus.
" Aku minta maaf Zahra, maaf kalau aku sudah lamcang tadi."
" Sudah ku maaf kan, dan pergilah."
Lalu dia melangkah pergi. Hemmmm ... belum selesai satu masalah ku, udah datang aja masalah baru rutuk batin ku.
-----
#SUAMI_KU
PART_9.
========
"Tidak terniatkah sedikitpun dalam dirimu untuk menjemput ku Mas?" Tanya ku pada Mas Jaya saat dia menelpon ku.
" Jaga diri baik-baik, untuk beberapa hari kedepan aku tidak bisa menemui mu Zahra." Lalu dia memutuskan sambungan telpon, setelah mengucapkan salam.
Selalu saja mengalihkan pembicaraan. Udah cukup batas waktu ku disini. Dijemput atau tidak aku harus kembali. ku kemasi pakaian ku dalam koper, toh itu rumah ku. Rumah yang dia buat atas nama ku, dan aku berhak untuk kesana.
Pada saat aku keluar dari kamar ku lihat kedua orang tua ku sedang duduk diruang tengah, aku dekati mereka, serta kusampaikan bahwa aku ingin pulang hari ini.
" Kenapa kamu pulang sendiri, suruh Jaya jemput kamu kesini! Dia yang mengantar mu, maka dia juga yang harus menjemput mu!" Ucap Ibu ku dengan nada suara yang agak tinggi.
Ku sabarkan diriku untuk tidak tersulut emosi. " Mas Jaya tidak akan menjemput Zahra, kalau Ibu belum memberikan restu. Ibu masih ingat kan kata-kata nya." Jawab ku selembut mungkin.
" Sampai kapanpun Ibu tidak pernah memberi restu!"
" Ada dan tidak ada restu Ibu mu, Bapak sudah menikahkan mu Zahra, maka kewajiban mu mengabdi pada suami mu. Pulang lah." Ucap Bapak dengan senyum yang menyejukkan hati ku.
Ku peluk Bapak ku. Ku ucapkan terima kasih padanya. " Bapak bangga sama kamu, masih bisa menuruti kemauan suami mu. Nggak baik lama-lama pisah dari suami. "
Akhirnya akupun pulang dengan perasaan yg lebih baik. Aku udah nggak sabar ingin menata lagi rumah ku, merawat bunga mawar kesukaan ku, dan yang terpenting menyiapkan makanan untuk suami ku.
****
Sesampai aku di rumah, ku lihat ada motor suami ku, dan satu motor matic. Begitu aku turun dari kendaraan ku, seorang wanita muda keluar dari dalam rumah, ditemani oleh seorang wanita setengah baya.
Wanita muda tersebut tersenyum ramah kepada ku, sambil sedikit menundukkan kepala nya, lalu pergi dengan motornya.
" Maaf Non ini siapa? Mau ketemu sama Bapak?" Tanya wanita setengah baya tadi.
Aku nggak menjawab apapun, langsung aku masuk kedalam rumah. Nggak ku hiraukan wanita yang menegur ku.
Ku lihat Mas Jaya sedang duduk di tepi kolam ikan sambil memberi makan ikan nya.
" Oh... Pantas aku kamu pulangkan ke rumah orang tua ku, tanpa sepengetahuan ku kamu bebas membiarkan perempuan lain masuk kerumah ini!" Ucap ku dengan sedikit rasa emosi begitu aku mendekatinya.
Mendengar ku berucap seprti itu dia hanya tersenyum. " Nggak usah emosi. Tanya dulu sebelum gegabah menyimpulkan sesuatu. Baru juga sampai bukan salam, tapi marah."
Pada saat dia hendak menyentuh tangan ku, ku tepis tangannya.
" Maaf Pak, Nona ini main masuk saja." Ucap wanita setengah baya tadi dari belakang ku.
" Nggak apa-apa bi, ini istri saya. Zahra, kenalkan ini bi Ijah pengurus rumah kita. " Ucap Mas Jaya sambil memperkenalkan wanita itu.
Ku lihat dia tersenyum kepada ku, ku coba untuk mengendalikan emosi ku, dan ku balas senyumnya. Lalu dia pamit meninggalkan aku dan Mas Jaya.
" Aku perlu bicara banyak sama kamu Mas." Ku balikkan badan hendak meninggalkan nya. Baru aku melangkah Mas Jaya mencegahku.
" Kamu mau kemana?" Tanya Mas Jaya.
" Mau ke luar mengambil koper ku!" Ku jawab dengan sedikit ketus dan tetap berjalan keluar.
Tiba-tiba saja dia menarik lengan dan mengangkat ku, dan menjatuhkan ku dipundaknya. Aku sempat menjerit karena kaget. Dibawanya aku kembali ke arah taman belakang, dinaiki nya anak tangga, dipojok ruangan tempat ku biasa mencuci pakaian. Baru aku tahu bahwa rumah ini ada perubahan.
" Ini ruangan pribadi kita sekarang." Ucapnya begitu dia menurunkan ku.
Ku perhatikan sekeliling ruangan baru ini, pada saat aku meninggalkan rumah hampir tiga bulan yang lalu lantai atas ini belum ada. Di sudut ruangan aku melihat ada sebuah meja kerja.
Ku pandangi Mas Jaya yang langsung duduk disisi tempat tidur.
" Ini aku buat untuk mu, untuk menunjang aktifitas kerjamu, dan mengenai wanita tadi, dia disuruh Boss nya kemari untuk mengambil uang, karena aku ada urusan kerjaan dengan Bossnya.
Jadi kamu salah faham kalau menuduh aku selingkuh."
" Aku sebenarnya nggak butuh kemewahan yang kamu berikan, aku butuh kejujuran semua ini kamu dapatkan dari mana?
Jangan ajarkan aku dalam kemewahan, jika kelak kamu sudah tidak mampu memenuhi kebiasaan hidup ku yang biasa kamu lakukan, dia akan menjadi tuntutan, dan pada akhirnya akan menjadi bumerang buat kamu sendiri."
" Aku berkali-kali ingin pulang, berkali-kali meminta mu menjemput ku, tapi seribu satu alasan kamu ucapkan biar aku tidak kembali kemari. Kalau aku yang pergi meninggalkan rumah tanpa izin dari mu, kamu boleh melarang ku untuk kembali, karena itu salah ku, tapi ini kamu yang mengantar ku. "
Dia hanya diam tidak menjawab apapun yang ku katakan, malah memejamkan matanya, dan memeluk bantal.
" Kamu sebenarnya dengar apa tidak yang ku katakan Mas?" Tanya ku sambil menggoyangkan kaki nya.
" Aku dengar Zahra, jika masih ada lagi yang mau kamu sampaikan, sampaikanlah." ucapnya masih dengan memejamkan mata.
" Ntahlah aku nggak tau mau bicara apalagi. Aku takut seperti seorang istri yang diberikan fasilitas dan dimanjakan tapi pada akhirnya dikhianati, seperti dijadikan boneka penghias rumah."
Bukan menjawab ku dia malah tertawa. Lalu perlahan dia bangkit dan mendekati ku.
"Zahra, aku tahu kamu pasti kembali tanpa harus ku jemput, ibarat ombak dia pasti akan kembali ke pantai. Aku tahu bahwa kamu benar-benar mencintai ku. Aku melakukan semua ini, karena aku benar-benar menyayangi mu dan aku ingin tahu seberapa besar cinta istri ku."
Dia berusaha meraih tanganku, tapi aku menepis nya.
" Kamu adalah istri ku, kewajiban ku membahagiakan mu. Agar kamu tahu Zahra, kemanapun aku pergi, hanya nama mu yang ada dalam langkah ku, aku memang bukan seorang raja, tapi kau adalah ratu dalam hidup ku. " Lalu dia pergi meninggalkan ku.
" Selalu saja begitu! " Ucap ku dengan emosi sambil melempar vas bunga keluar. Kali ini aku benar-benar nggak mampu lagi menahan rasa emosi ku.
Setelah aku merasa sedikit tenang, aku keluar dari kamar ku. Ku lihat Mas Jaya sedang tidur di kursi panjang di dekat taman. Sedikitpun aku tak menghiraukannya, untuk menghampirinya pun aku enggan.
Ku hampiri Bi Ijah yang sedang merapikan Kotak P3K. Melihat ku dia hanya tersenyum.
" Untuk apa kotak itu bi, siapa yang luka?"
" Habis ngobati luka Bapak, tadi pelipisnya berdarah. "
aku yang mendengarnya sedikit kaget. Jangan-jangan vas bunga yang ku lempar tadi mengenai kepala nya. Tapi aku harus berusaha bersikap tenang.
" Bibi sudah berapa lama di rumah ini? Saya mau Bibi jawab saya yang jujur ya." Sambil ku pegang tangannya dan mengajaknya duduk di ruang tengah.
" Saya baru satu bulan ini tinggal di rumah ini Bu, tapi kalau sama Bapak saya kerja udah lima tahun." Jawabnya dengan menunduk.
Ku kernyitkan dahi ku. " Lima tahun?"
" Iya bu, Saya diajak tinggal disini karena rumah itu sudah laku dijual, dan Bapak mengajak saya kemari."
" Yang tadi anak bibi? "
" Bukan Bu, itu sekretaris Bapak. "
Aku semakin bertanda tanya. Namun aku tak ingin banyak bertanya, aku ngak mau dia menjadi tidak nyaman dirumah ini. Lalu aku suruh dia istirahat, karena nggak ada yang harus dikerjakan lagi.
Ku dekati Mas Jaya yang masih tertidur, Ku pandangi wajah nya. Ada penyesalan dalam hati ku, aku nggak menyangka vas bunga yang ku lemparkan ternyata melukainya.
Namun dibalik itu ada rasa kecewa yang teramat sangat dalam hati ku. Untuk hal yang menurut ku sepele saja dia bisa menutupi dan berbohong, apalagi untuk hal besar.
" Besok aku mau ke luar kota seperti yang ku katakan ditelpon tadi siang Zahra." Ucap Mas Jaya sambil mengemasi pakaian nya kedalam tas.
" Kamu mau kemana dan dengan siapapun aku udah nggak mau tau lagi. Bagi ku pernikahan ini hanya sebuah simbol saja, cinta didalamnya itu tidak ada. Jadi jika dikatakan kamu mencintai ku, atau sebaliknya aku hanya menganggap itu hanya sebuah cinta palsu, seperti bunga-bunga palsu untuk menghiasi sudut ruangan rumah biar terkesan berwarna dan indah saja."
Di hentikannya aktifitasnya, dipandangnya aku dengan tatapan yang tidak seperti biasanya, seperti ada hal yang dia tidak suka dari ucapan ku.
" Aku nggak ingin kita bertengkar. Kalau bukan karena ketertarikan dan karena rasa cinta, aku tidak akan menikahi mu!"
" Seperti kamu bisa menyembunyikan siapa dirimu, seperti itu juga kamu bisa membohongi ku dengan mengakatan cinta pada ku.
Mulai saat ini, aku sudah tidak mempercayai mu lagi."
Ku rebahkan tubuhku, ku tarik selimut ku. Lebih baik aku tidur karena besok pagi aku harus kerja, dan pergi lebih awal itu jauh lebih baik buat ku.
Mas Jaya segera menghampiri ku, berdiri disisi tempat ku berbaring,diusapnya rambut ku, dikecupnya kening ku, lalu dia merendahkan posisi dirinya, menatap ku sambil tersenyum.
"Apakah kepulangan mu, hanya untuk memarahi ku?, aku bukan tidak ingin menjemput mu, tapi saat ini aku lagi sibuk, pekerjaan ku lagi banyak, setidaknya dengan kamu disana aku lebih tenang ada bapak yang menjaga mu."
" Kamu terlalu pandai memainkan perasaan ku. Membuat ku bisa selalu simpati kepada mu." Ku balikkan tubuh ku, aku masih emosi kepadanya dan aku nggak ingin melihatnya.
Setelah mematikan lampu, Mas Jaya langsung merebahkan tubuh nya disamping ku, dikecupnya keningku, diusapnya lembut pipi ku.
" Aku tau, kebahagiaan itu bukan diukur dari materi, tapi aku nggak ingin kamu hidup susah dengan ku, setidaknya jika kelak kita punya keturunan aku juga nggak ingin anak-anak ku dihina seperti ku." lalu dikecup nya kembali kening ku, setelah itu dia membelakingi ku.
Ku tatap pungungnya, tanpa terasa air mata ku keluar. Aku tau ibu ku selalu menghina nya, berapa kali dia kerumah ibu ku selalu mengeluarkan kata-kata yang tidak enak untuk didengar, dan bisa membuat hati menjadi panas, ibu ku memang nggak pernah bersikap ramah pada nya. Kalau bukan karena nasehatnya mungkin aku sudah bertengkar dengan ibu ku.
******
Pagi ini, ku biarkan Bi Ijah yang mengurus keperluan Mas Jaya. Selesai sholat subuh aku mempersiapkan diriku untuk berangkat kerja. Ku lihat Mas Jaya juga sedang merapikan dirinya.
"kita berangkat sama ya Za, aku antar kamu sampai ke kantor mu. "
Aku nggak hiraukan kata-katanya. Ku ambil kunci mobil, ku dekati dia dan ku letakkan kunci mobil itu ditangannya.
" Aku kembalikan mobil itu, aku bisa pergi sendiri dengan taksi. Mulai hari ini kita hidup masing-masing. Aku sudah tidak perduli lagi.
Kewajiban ku tidak akan ku abaikan, namun untuk cinta aku akan berusaha membuang nya, anggap saja kita hanya partner." Lalu ku tinggalkan dia.
Sesampai di tempat kerja, ku lihat Mbak Ratna sedang duduk di loby. Belum aku menyapanya, dia sudah bangkit dari duduk nya, dan langsung menarik tangan ku. Begitu baru keluar dari pintu, seseorang sedang terburu-buru menabrak bahu ku.
" Maaf Zahra, saya sedang buru-buru.. " sambil berlalu dia mengucapkan kata maaf itu. Aku nggak sempat memperhatikan orangnya, karena Mbak Ratna terus menarik ku menuju kendaraannya.
"Za, temani saya cari kado pernikahan yang special buat sahabat sahabat saya. "
Aku yang masih merasakan sakit dibagian bahu ku hanya mengangguk saja. Tak ada sepatah katapun keluar dari bibir ku.
" Kamu kenapa diam saja Za?"
"Enggak mbak, bahu ku agak sedikit sakit aja. "
"Oh iya Za, besok kita ada meeting ke Bali. Kita berangkat jam 10. " Ucap Mbak Ratna sambil tersenyum manis pada ku.
" Kelihatannya Mbak seneng banget. "
" Aku lagi bahagia Za, orang yang terbaik dalam hidup ku sudah menemukan pilihan dalam hidupnya, setidak nya aku nggak harus membagi waktu lagi memperhatikannya, karena dia udah punya istri yang merawatnya."
Panjang lebar dia mencerikan orang spesial dalam hidup nya ini. Seorang pria yang dingin terhadap wanita, tapi sangat perhatian. Orang yang sederhana, dan sangat tampan. Itu menurut nya, dan yang pasti dia adalah Boss besar di perusahaan ku bekerja, ucapnya.
Akhirnya sampai juga di tempat dia ingin membeli kado buat istri dari temannya itu.
Saat lagi asik memilih dan bertukar pendapat mana yang terbaik, diantara pilihan yang ada, HP ku berbunyi, suara seorang laki-laki yang aku tidak mengenalnya.
" Maaf Zahra, aku tadi tidak sengaja menabrak mu, tapi hari ini aku melihat mu sangat cantik dengan kemeja merah itu. "
" Terimakasih " ucap ku dan telpon itu langsung ku tutup.
Setelah semua selesai aku dan Mbak Ratna kembali ke kantor. Ku lihat diatas meja ku tergeletak sekuntum bunga mawar merah dan sebatang coklat, dan ada sebuah kertas yang bertuliskan suatu puisi.
" Cinta ini hadir tanpa bisa dibendung,
Jika ini adalah suatu kesalahan maafkan aku Zahra,
Aku tidak ingin jatuh cinta pada mu,
tapi rasa ini tidak bisa ku hindari.
Keangkuhan sikap mu, membuat aku kagum padamu,
kau ibarat mawar ini, jika tidak hati-hati dipetik, maka durinya akan melukai, tapi jika tergesa-gesapun dipetik, maka kelompok kuntumnya akan berguguran.
Terimakasih sudah memberikan warna cinta dalam hidupku."
Pikiran ku langsung tertuju pada sosok pria tinggi, bertubuh atletis warna kulit sawo mateng, yang memiliki sorot mata yang tajam, dengan rahang pipi yang terlihat kokoh, siapa lagi yang seperti ini kalau bukan Mas Jaya. Karena dia yang rajin mengirimi ku bunga. Tapi kali ini aku tidak akan menelponnya, untuk mengucapkan terimakasih. Aku masih sedikit marah padanya.
Tapi hati kupun bahagia, karena pria itu sangat berbeda dari laki-laki lainya, dibalik sikap dinginnya dia punya sisi romantis yang kadang ngak bisa di duga. 😊😊
-------
PART_9.
========
"Tidak terniatkah sedikitpun dalam dirimu untuk menjemput ku Mas?" Tanya ku pada Mas Jaya saat dia menelpon ku.
" Jaga diri baik-baik, untuk beberapa hari kedepan aku tidak bisa menemui mu Zahra." Lalu dia memutuskan sambungan telpon, setelah mengucapkan salam.
Selalu saja mengalihkan pembicaraan. Udah cukup batas waktu ku disini. Dijemput atau tidak aku harus kembali. ku kemasi pakaian ku dalam koper, toh itu rumah ku. Rumah yang dia buat atas nama ku, dan aku berhak untuk kesana.
Pada saat aku keluar dari kamar ku lihat kedua orang tua ku sedang duduk diruang tengah, aku dekati mereka, serta kusampaikan bahwa aku ingin pulang hari ini.
" Kenapa kamu pulang sendiri, suruh Jaya jemput kamu kesini! Dia yang mengantar mu, maka dia juga yang harus menjemput mu!" Ucap Ibu ku dengan nada suara yang agak tinggi.
Ku sabarkan diriku untuk tidak tersulut emosi. " Mas Jaya tidak akan menjemput Zahra, kalau Ibu belum memberikan restu. Ibu masih ingat kan kata-kata nya." Jawab ku selembut mungkin.
" Sampai kapanpun Ibu tidak pernah memberi restu!"
" Ada dan tidak ada restu Ibu mu, Bapak sudah menikahkan mu Zahra, maka kewajiban mu mengabdi pada suami mu. Pulang lah." Ucap Bapak dengan senyum yang menyejukkan hati ku.
Ku peluk Bapak ku. Ku ucapkan terima kasih padanya. " Bapak bangga sama kamu, masih bisa menuruti kemauan suami mu. Nggak baik lama-lama pisah dari suami. "
Akhirnya akupun pulang dengan perasaan yg lebih baik. Aku udah nggak sabar ingin menata lagi rumah ku, merawat bunga mawar kesukaan ku, dan yang terpenting menyiapkan makanan untuk suami ku.
****
Sesampai aku di rumah, ku lihat ada motor suami ku, dan satu motor matic. Begitu aku turun dari kendaraan ku, seorang wanita muda keluar dari dalam rumah, ditemani oleh seorang wanita setengah baya.
Wanita muda tersebut tersenyum ramah kepada ku, sambil sedikit menundukkan kepala nya, lalu pergi dengan motornya.
" Maaf Non ini siapa? Mau ketemu sama Bapak?" Tanya wanita setengah baya tadi.
Aku nggak menjawab apapun, langsung aku masuk kedalam rumah. Nggak ku hiraukan wanita yang menegur ku.
Ku lihat Mas Jaya sedang duduk di tepi kolam ikan sambil memberi makan ikan nya.
" Oh... Pantas aku kamu pulangkan ke rumah orang tua ku, tanpa sepengetahuan ku kamu bebas membiarkan perempuan lain masuk kerumah ini!" Ucap ku dengan sedikit rasa emosi begitu aku mendekatinya.
Mendengar ku berucap seprti itu dia hanya tersenyum. " Nggak usah emosi. Tanya dulu sebelum gegabah menyimpulkan sesuatu. Baru juga sampai bukan salam, tapi marah."
Pada saat dia hendak menyentuh tangan ku, ku tepis tangannya.
" Maaf Pak, Nona ini main masuk saja." Ucap wanita setengah baya tadi dari belakang ku.
" Nggak apa-apa bi, ini istri saya. Zahra, kenalkan ini bi Ijah pengurus rumah kita. " Ucap Mas Jaya sambil memperkenalkan wanita itu.
Ku lihat dia tersenyum kepada ku, ku coba untuk mengendalikan emosi ku, dan ku balas senyumnya. Lalu dia pamit meninggalkan aku dan Mas Jaya.
" Aku perlu bicara banyak sama kamu Mas." Ku balikkan badan hendak meninggalkan nya. Baru aku melangkah Mas Jaya mencegahku.
" Kamu mau kemana?" Tanya Mas Jaya.
" Mau ke luar mengambil koper ku!" Ku jawab dengan sedikit ketus dan tetap berjalan keluar.
Tiba-tiba saja dia menarik lengan dan mengangkat ku, dan menjatuhkan ku dipundaknya. Aku sempat menjerit karena kaget. Dibawanya aku kembali ke arah taman belakang, dinaiki nya anak tangga, dipojok ruangan tempat ku biasa mencuci pakaian. Baru aku tahu bahwa rumah ini ada perubahan.
" Ini ruangan pribadi kita sekarang." Ucapnya begitu dia menurunkan ku.
Ku perhatikan sekeliling ruangan baru ini, pada saat aku meninggalkan rumah hampir tiga bulan yang lalu lantai atas ini belum ada. Di sudut ruangan aku melihat ada sebuah meja kerja.
Ku pandangi Mas Jaya yang langsung duduk disisi tempat tidur.
" Ini aku buat untuk mu, untuk menunjang aktifitas kerjamu, dan mengenai wanita tadi, dia disuruh Boss nya kemari untuk mengambil uang, karena aku ada urusan kerjaan dengan Bossnya.
Jadi kamu salah faham kalau menuduh aku selingkuh."
" Aku sebenarnya nggak butuh kemewahan yang kamu berikan, aku butuh kejujuran semua ini kamu dapatkan dari mana?
Jangan ajarkan aku dalam kemewahan, jika kelak kamu sudah tidak mampu memenuhi kebiasaan hidup ku yang biasa kamu lakukan, dia akan menjadi tuntutan, dan pada akhirnya akan menjadi bumerang buat kamu sendiri."
" Aku berkali-kali ingin pulang, berkali-kali meminta mu menjemput ku, tapi seribu satu alasan kamu ucapkan biar aku tidak kembali kemari. Kalau aku yang pergi meninggalkan rumah tanpa izin dari mu, kamu boleh melarang ku untuk kembali, karena itu salah ku, tapi ini kamu yang mengantar ku. "
Dia hanya diam tidak menjawab apapun yang ku katakan, malah memejamkan matanya, dan memeluk bantal.
" Kamu sebenarnya dengar apa tidak yang ku katakan Mas?" Tanya ku sambil menggoyangkan kaki nya.
" Aku dengar Zahra, jika masih ada lagi yang mau kamu sampaikan, sampaikanlah." ucapnya masih dengan memejamkan mata.
" Ntahlah aku nggak tau mau bicara apalagi. Aku takut seperti seorang istri yang diberikan fasilitas dan dimanjakan tapi pada akhirnya dikhianati, seperti dijadikan boneka penghias rumah."
Bukan menjawab ku dia malah tertawa. Lalu perlahan dia bangkit dan mendekati ku.
"Zahra, aku tahu kamu pasti kembali tanpa harus ku jemput, ibarat ombak dia pasti akan kembali ke pantai. Aku tahu bahwa kamu benar-benar mencintai ku. Aku melakukan semua ini, karena aku benar-benar menyayangi mu dan aku ingin tahu seberapa besar cinta istri ku."
Dia berusaha meraih tanganku, tapi aku menepis nya.
" Kamu adalah istri ku, kewajiban ku membahagiakan mu. Agar kamu tahu Zahra, kemanapun aku pergi, hanya nama mu yang ada dalam langkah ku, aku memang bukan seorang raja, tapi kau adalah ratu dalam hidup ku. " Lalu dia pergi meninggalkan ku.
" Selalu saja begitu! " Ucap ku dengan emosi sambil melempar vas bunga keluar. Kali ini aku benar-benar nggak mampu lagi menahan rasa emosi ku.
Setelah aku merasa sedikit tenang, aku keluar dari kamar ku. Ku lihat Mas Jaya sedang tidur di kursi panjang di dekat taman. Sedikitpun aku tak menghiraukannya, untuk menghampirinya pun aku enggan.
Ku hampiri Bi Ijah yang sedang merapikan Kotak P3K. Melihat ku dia hanya tersenyum.
" Untuk apa kotak itu bi, siapa yang luka?"
" Habis ngobati luka Bapak, tadi pelipisnya berdarah. "
aku yang mendengarnya sedikit kaget. Jangan-jangan vas bunga yang ku lempar tadi mengenai kepala nya. Tapi aku harus berusaha bersikap tenang.
" Bibi sudah berapa lama di rumah ini? Saya mau Bibi jawab saya yang jujur ya." Sambil ku pegang tangannya dan mengajaknya duduk di ruang tengah.
" Saya baru satu bulan ini tinggal di rumah ini Bu, tapi kalau sama Bapak saya kerja udah lima tahun." Jawabnya dengan menunduk.
Ku kernyitkan dahi ku. " Lima tahun?"
" Iya bu, Saya diajak tinggal disini karena rumah itu sudah laku dijual, dan Bapak mengajak saya kemari."
" Yang tadi anak bibi? "
" Bukan Bu, itu sekretaris Bapak. "
Aku semakin bertanda tanya. Namun aku tak ingin banyak bertanya, aku ngak mau dia menjadi tidak nyaman dirumah ini. Lalu aku suruh dia istirahat, karena nggak ada yang harus dikerjakan lagi.
Ku dekati Mas Jaya yang masih tertidur, Ku pandangi wajah nya. Ada penyesalan dalam hati ku, aku nggak menyangka vas bunga yang ku lemparkan ternyata melukainya.
Namun dibalik itu ada rasa kecewa yang teramat sangat dalam hati ku. Untuk hal yang menurut ku sepele saja dia bisa menutupi dan berbohong, apalagi untuk hal besar.
" Besok aku mau ke luar kota seperti yang ku katakan ditelpon tadi siang Zahra." Ucap Mas Jaya sambil mengemasi pakaian nya kedalam tas.
" Kamu mau kemana dan dengan siapapun aku udah nggak mau tau lagi. Bagi ku pernikahan ini hanya sebuah simbol saja, cinta didalamnya itu tidak ada. Jadi jika dikatakan kamu mencintai ku, atau sebaliknya aku hanya menganggap itu hanya sebuah cinta palsu, seperti bunga-bunga palsu untuk menghiasi sudut ruangan rumah biar terkesan berwarna dan indah saja."
Di hentikannya aktifitasnya, dipandangnya aku dengan tatapan yang tidak seperti biasanya, seperti ada hal yang dia tidak suka dari ucapan ku.
" Aku nggak ingin kita bertengkar. Kalau bukan karena ketertarikan dan karena rasa cinta, aku tidak akan menikahi mu!"
" Seperti kamu bisa menyembunyikan siapa dirimu, seperti itu juga kamu bisa membohongi ku dengan mengakatan cinta pada ku.
Mulai saat ini, aku sudah tidak mempercayai mu lagi."
Ku rebahkan tubuhku, ku tarik selimut ku. Lebih baik aku tidur karena besok pagi aku harus kerja, dan pergi lebih awal itu jauh lebih baik buat ku.
Mas Jaya segera menghampiri ku, berdiri disisi tempat ku berbaring,diusapnya rambut ku, dikecupnya kening ku, lalu dia merendahkan posisi dirinya, menatap ku sambil tersenyum.
"Apakah kepulangan mu, hanya untuk memarahi ku?, aku bukan tidak ingin menjemput mu, tapi saat ini aku lagi sibuk, pekerjaan ku lagi banyak, setidaknya dengan kamu disana aku lebih tenang ada bapak yang menjaga mu."
" Kamu terlalu pandai memainkan perasaan ku. Membuat ku bisa selalu simpati kepada mu." Ku balikkan tubuh ku, aku masih emosi kepadanya dan aku nggak ingin melihatnya.
Setelah mematikan lampu, Mas Jaya langsung merebahkan tubuh nya disamping ku, dikecupnya keningku, diusapnya lembut pipi ku.
" Aku tau, kebahagiaan itu bukan diukur dari materi, tapi aku nggak ingin kamu hidup susah dengan ku, setidaknya jika kelak kita punya keturunan aku juga nggak ingin anak-anak ku dihina seperti ku." lalu dikecup nya kembali kening ku, setelah itu dia membelakingi ku.
Ku tatap pungungnya, tanpa terasa air mata ku keluar. Aku tau ibu ku selalu menghina nya, berapa kali dia kerumah ibu ku selalu mengeluarkan kata-kata yang tidak enak untuk didengar, dan bisa membuat hati menjadi panas, ibu ku memang nggak pernah bersikap ramah pada nya. Kalau bukan karena nasehatnya mungkin aku sudah bertengkar dengan ibu ku.
******
Pagi ini, ku biarkan Bi Ijah yang mengurus keperluan Mas Jaya. Selesai sholat subuh aku mempersiapkan diriku untuk berangkat kerja. Ku lihat Mas Jaya juga sedang merapikan dirinya.
"kita berangkat sama ya Za, aku antar kamu sampai ke kantor mu. "
Aku nggak hiraukan kata-katanya. Ku ambil kunci mobil, ku dekati dia dan ku letakkan kunci mobil itu ditangannya.
" Aku kembalikan mobil itu, aku bisa pergi sendiri dengan taksi. Mulai hari ini kita hidup masing-masing. Aku sudah tidak perduli lagi.
Kewajiban ku tidak akan ku abaikan, namun untuk cinta aku akan berusaha membuang nya, anggap saja kita hanya partner." Lalu ku tinggalkan dia.
Sesampai di tempat kerja, ku lihat Mbak Ratna sedang duduk di loby. Belum aku menyapanya, dia sudah bangkit dari duduk nya, dan langsung menarik tangan ku. Begitu baru keluar dari pintu, seseorang sedang terburu-buru menabrak bahu ku.
" Maaf Zahra, saya sedang buru-buru.. " sambil berlalu dia mengucapkan kata maaf itu. Aku nggak sempat memperhatikan orangnya, karena Mbak Ratna terus menarik ku menuju kendaraannya.
"Za, temani saya cari kado pernikahan yang special buat sahabat sahabat saya. "
Aku yang masih merasakan sakit dibagian bahu ku hanya mengangguk saja. Tak ada sepatah katapun keluar dari bibir ku.
" Kamu kenapa diam saja Za?"
"Enggak mbak, bahu ku agak sedikit sakit aja. "
"Oh iya Za, besok kita ada meeting ke Bali. Kita berangkat jam 10. " Ucap Mbak Ratna sambil tersenyum manis pada ku.
" Kelihatannya Mbak seneng banget. "
" Aku lagi bahagia Za, orang yang terbaik dalam hidup ku sudah menemukan pilihan dalam hidupnya, setidak nya aku nggak harus membagi waktu lagi memperhatikannya, karena dia udah punya istri yang merawatnya."
Panjang lebar dia mencerikan orang spesial dalam hidup nya ini. Seorang pria yang dingin terhadap wanita, tapi sangat perhatian. Orang yang sederhana, dan sangat tampan. Itu menurut nya, dan yang pasti dia adalah Boss besar di perusahaan ku bekerja, ucapnya.
Akhirnya sampai juga di tempat dia ingin membeli kado buat istri dari temannya itu.
Saat lagi asik memilih dan bertukar pendapat mana yang terbaik, diantara pilihan yang ada, HP ku berbunyi, suara seorang laki-laki yang aku tidak mengenalnya.
" Maaf Zahra, aku tadi tidak sengaja menabrak mu, tapi hari ini aku melihat mu sangat cantik dengan kemeja merah itu. "
" Terimakasih " ucap ku dan telpon itu langsung ku tutup.
Setelah semua selesai aku dan Mbak Ratna kembali ke kantor. Ku lihat diatas meja ku tergeletak sekuntum bunga mawar merah dan sebatang coklat, dan ada sebuah kertas yang bertuliskan suatu puisi.
" Cinta ini hadir tanpa bisa dibendung,
Jika ini adalah suatu kesalahan maafkan aku Zahra,
Aku tidak ingin jatuh cinta pada mu,
tapi rasa ini tidak bisa ku hindari.
Keangkuhan sikap mu, membuat aku kagum padamu,
kau ibarat mawar ini, jika tidak hati-hati dipetik, maka durinya akan melukai, tapi jika tergesa-gesapun dipetik, maka kelompok kuntumnya akan berguguran.
Terimakasih sudah memberikan warna cinta dalam hidupku."
Pikiran ku langsung tertuju pada sosok pria tinggi, bertubuh atletis warna kulit sawo mateng, yang memiliki sorot mata yang tajam, dengan rahang pipi yang terlihat kokoh, siapa lagi yang seperti ini kalau bukan Mas Jaya. Karena dia yang rajin mengirimi ku bunga. Tapi kali ini aku tidak akan menelponnya, untuk mengucapkan terimakasih. Aku masih sedikit marah padanya.
Tapi hati kupun bahagia, karena pria itu sangat berbeda dari laki-laki lainya, dibalik sikap dinginnya dia punya sisi romantis yang kadang ngak bisa di duga. 😊😊
-------
#SUAMI_KU
PART 10
=======
Akhirnya sampai Juga di Bali, setelah check-in aku menuju kamar ku.
Jam 3 Sore ini raker nya akan dimulai, kulihat jam ditangan ku masih menunjukkan pukul 12. 45 masih ada waktu untuk ku beristirahat.
Setelah selesai dengan kewajiban ku sebagai seorang hamba, ku rebahkan tubuh ku di kasur yang empuk dan nyaman dkamar ini. Terlintas dibenak ku, wajah Mas Jaya, hari ini dia sama sekali tak menghubungi ku. Kemana dia pergipun aku tak tau, Biasanya dia selalu kasih kabar dimana dia berada, dan selalu mengingatkan ku untuk makan, tapi siang ini sama sekali tidak ada kabar berita.
Aku tau Mas Jaya adalah lelaki yang baik, sangat penyayang, humoris, tapi masih tertutup untuk mengungkapkan siapa dirinya.
Padahal aku ini Istrinya, bukan orang lain. Apakah harus tetap ada rahasia antara suami istri.
Lamunan ku buyar, pada saat ku dengar ada pesan masuk di hp ku.
Pesan dari seorang pria yang sebenar nya juga adalah lelaki yang baik.
Terkadang sikap ku terhadap Fajar ku akui terlalu sombong, bahkan terkesan angkuh, kalau bukan urusan pekerjaan aku tidak ingin bertemu dengannya. Semua ini untuk menjaga jarak dan sikap agar aku tak membiarkan ada ruang untuk aku dan dia bisa bercerita hal lain diluar dari pekerjaan.
SMS dari Fajar sama sekali tak ku hiraukan. Aku nggak mungkin memberi harapan apapun sama dia. Aku adalah wanita yang sudah bersuami, dan aku nggak menyesal dengan pernikahan ku. Suami ku adalah pria yang baik, sangat baik.
Suasana nyaman kamar hotel ini membuat ku nggak mampu menahan kantuk ku. Secara perlahan akhirnya aku tertidur juga.
Samar-samar aku mendengar HP ku berdering. Aku yang masih diselimuti rasa kantuk perlahan mencari sumber suara. Setelah ku dapati HP ku, ku coba sedikit membuka mata dengan sedikit melirik angka digital yang ada dilayar HP ku, pukul 14.50. Mati aku! segera aku bangkit untuk berbenah, untuk mandi rasanya aku nggak punya waktu lagi, cukup mencuci muka saja, syukurnya berkas untuk meeting sudah ku persiapkan, berkali-kali ku dengar Hp ku berbunyi, tapi nggak ku hiraukan. Setelah aku keluar dari kamar, segera ku percepat langkah ku menuju ruang pertemuan yg sudah ditentukan, jam 15.10 menit, itu yang ditunjukkan jam ditangan ku.
Sebelum masuk, aku menghentikan langkah ku didepan pintu, ada sedikit rasa keraguan untuk masuk, malu, itu bisa jadi tapi yang paling aku khawatirkan adalah tanggapan pemilik perusahaan ini
terhadap ku, aku bisa dicap sebagai karyawan yang tidak disiplin.
Ku Tarik nafas dalam-dalam, ku coba untuk bersikap tenang, ku pejamkan mata ku, berdo'a dalam hati, sampai ku dengar seseorang berkata disamping ku " Masuk saja Nona Zahra, rapat baru akan dimulai".
Pada saat aku membuka mata, jantung ku rasa berhenti berdetak.
Aku yang masih berdiri mematung ditarik oleh Mbak Ratna untuk masuk dan duduk di sebelah nya.
Setelah semua peserta rapat berkumpul, tak lama Mbak Ratna selaku CEO perusahaan memberikan kata sambutan, dan meeting ini juga ingin memperkenalkan OWNER perusahaan ini kepada seluruh staff yg hadir saat itu.
Otak ku tak mampu berfikir, pria muda selaku pemilik perusahaan ini bukan orang asing dia pria yang sangat ku kenal. Pria yang suka mencabik-cabik hati dan perasaan ku, setelah aku dibuai dalam kelembutan sikapnya. Yaaa... dia Heru Sanjaya, lelaki yang sedang duduk di kursi terhormat itu adalah suami ku. Pemilik perusahaan tempat ku bekerja adalah head office nya, dan salah seorang petani muda yang sukses, yang mana kebun pertaniannya adalah penyuplai buah dan sayur untuk restoran dan supermarket besar, yang hampir merata diseluruh pulau Jawa.
" Meskipun dia sukses tapi dia lebih memilih hidup sederhana,berbaur dengan orang-orang diluaran secara bebas, suka berbaur dengan orang-orang yang berdagang di pasar tradisional karena dia merasa dari sanalah dia bisa mencapai kesuksesan seperti ini. Dia sangat cinta kepada dunia pertanian salah satu ambisi dan cita-citanya dia ingin petani-petani di negri ini menjadi petani-petani sukses agar dapat hidup lebih layak seperti petani-petani di luar negri." Itulah kata-kata Mbak Ratna yang pernah ku dengar pada saat dia menceritakan sosok orang yang di anggapnya sebagai Kakak dan penolong dalam hidup nya.
Selama Rapat ini berjalan aku masih belum bisa fokus, badan ku saja yang ada diruangan ini, tapi fikiran ku terbang entah kemana.
Sampai akhirnya aku sadar dari lamunan ku ketika Fajar yang duduk disebelah kiri ku menegur ku, dengan memukul pelan punggung lengan ku. Dia laki-laki yang ku temui dikantin dan yang menabrak ku. Fajar Irawan yang menjabat sebagai Manager logistik.
Dua jam sudah rapat ini berjalan, aku tidak tau apa yang dibahas. Sampai akhirnya break pun tiba, ku bereskan berkas yang ada didepan ku.
Disaat aku ingin berdiri, tubuh ku sempat hilang keseimbangan, Fajar yang ada disebelah kiri ku langsung berusaha membantu ku, tanpa sadar pun aku refleks memegang tangannya agar tidak jatuh, dan pada saat itu juga terdengar suara meja yang dipukul.
Orang-orang yang masih berada diruangan itu seketika langsung diam, dan menatap kearah suara yang timbul. Gebrakan suara itu terdengar dari arah Mas Jaya.
Aku yang sempat melihat sorot mata nya yang tajam memandang ke arah ku.
Aku benar-benar jadi salah tingkah dipandang dengan pandangan seperti itu.
Perlahan Mas Jaya berdiri dan berjalan ke arah ku, dia berdiri tepat di depan ku, ku pandang semua orang yang ada diruangan itu, semua mata tertuju pada ku.
" Maaf kalau saya membuat Bapak tidak nyaman." ku tundukkan kepala ku sambil meminta maaf kepadanya.
" Ikut aku." Lalu dia menarik pergelangan tangan ku dengan keras, dan berjalan keluar.
Ku ikuti langkah nya, sampai dia memasuki lift tidak ada satu huruf pun yang keluar dari bibir nya, aku juga tidak ingin bersuara.
Aku yang berada dibelakangnya, hanya memandangi punggung pria yang mengenakan stelan jas berwarna coklat tua dengan kemeja putih dan berdasi coklat dengan motif garis-garis itu. Tangannya yang tadi memegang lengan ku, berpindah menggenggam jari-jari ku.
" Kenapa anda membawa saya kemari pak?" Tanyaku setelah kami memasuki salah satu kamar yang ada di hotel ini.
" Aku membawa Istri ku, apa salahnya." Ucap Mas Jaya sambil duduk di kursi yang disediakan dikamar itu.
" Istri?! Istri siapa?! Anda nggak salah ucap Pak? suami saya itu cuma kuli di pasar, dan suami saya orang yang mampu mengendalikan diri, tidak kasar seperti yang anda lakukan tadi. Selama saya menikah dengan nya tidak pernah dia memegang pergelangan tangan saya sekencang tadi, dan itu berbanding terbalik dengan anda Pak."
" Itu semua karena aku cemburu Zahra. Kamu kira aku bisa terima istri ku dirangkul orang seperti tadi. "
" Sebelum kamu keluar kota, lupa pagi itu aku bilang apa? kita hanya partner. "
" Maaf saya nggak bisa berlama-lama diruangan ini bersama Bapak, saya khawatir orang-orang akan curiga kalau kita berduaan dan berlama-lama disini."
Mas Jaya berdiri dari kursinya, membuka Jas dan mengendurkan ikatan dasi dilehernya. Mengambil ponselnya, dan menelpon seseorang.
" Meetingnya dilanjut jam 8.00 . Saya ada urusan dengan sekretaris Bu Ratna. Katakan itu pada Bu Ratna." Lalu dia mematikan HP nya.
" Saya sudah buat orang-orang akan semakin curiga, dan membuat pria yang menyentuh tangan istri ku pun harus tau dengan siapa dia berhadapan." Ucap nya dengan raut muka yang serius. Aku nggak pernah melihat sorot matanya yang tajam seperti ini. Raut diwajahnya seperti orang yang sedang menahan amarah.
Saat ini bukan waktu yang tepat untuk aku bedebat dengannya. Lama aku diam sambil berdiri melihatnya. Ku pandangi dia dari atas sampai bawah.
"Aku nggak ingin kita berdebat. " Ucap ku sambil berbalik arah menuju pintu.
" Selangkah kamu keluar dari pintu itu!" ku dengar nada ucapannya yang sedikit menghardik ku. Lalu dia diam.
" Apa?!"
" Kamu mau bilang apa?, ayo teruskan" . Aku yang saat itu sedang memegang handle pintu berhenti dan berbalik arah menatapnya.
Mas jaya berjalan kearah ku, lagi-lagi dipandangnya aku dengan sorot mata yang tajam, aku melihat dia mengepalkan tangannya, dan langsung memukul pintu.
Kali ini aku benar-benar melihat dia sebegitu emosinya.
Rasa takut diperlakukan kasar langsung menyusup kedalam dada ku. Aku yang bersandar dipintu, dengan posisi tersudut sudah nggak bisa berbuat apalagi. Hanya air mata yang saat itu langsung keluar dari sudut mata ku.
Aku masih diam mematung, langsung dipeluk nya. " Maafkan aku Zahra, aku hanya cemburu. "
Ku coba melepaskan pelukan dari nya, tapi dia semakin erat merangkul ku.
" Heru Sanjaya yang ku kenal adalah orang yang lembut, yang sabar, yang mampu mengendalikan diri dari rasa emosi. Tapi kali ini aku nggak mengenal mu, benar-benar nggak mengenal mu. " ujarku lirih dalam pelukannya.
" Aku cemburu Zahra, mendidih rasanya darah ku melihat istri ku rangkul orang didepan mata ku, meski aku tau itu bukan hal yang disengaja. "
Di saat dia mengendurkan pelukannya, aku melepaskan diri ku perlahan dari dekapannya.
Dipegang nya kedua pipiku, lalu perlahan di usapnya air mata ku.
Aku melihat raut muka penyesalan dalam dirinya.
" Bukan cara seperti ini aku ingin mengenal mu. Aku memang ingin tau siapa kamu, mencari tau kegiatanmu diluaran, hanya ingin memastikan bahwa aku bukan merebut seorang suami dari istri nya, dan aku juga nggak ingin merebut seorang ayah dari anaknya. Hal yang paling aku takutkan bahwa aku menikah dengan seorang gembong narkoba."
" Kalo bukan karena ada rasa cinta, aku tidak akan pernah merasa cemburu disaat ku lihat seorang wanita cantik keluar dari rumah ku, disaat kamu memulangkan ku pada orang tua ku."
Ku tarik nafas dalam-dalam, lalu aku hembuskan dengan perlahan.
" Aku kembali juga ingin memberi tau, bahwa kamu akan jadi seorang ayah. "
Lalu buka pintu, dan keluar dari kamar itu. Ku lihat Mbak Ratna sudah ada didepan pintu.
Ku dengar Mas Jaya memanggil ku. Tapi aku nggak menghiraukannya. Segera aku masuk kedalam lift yang sudah terbuka, dan langsung menuju kamar ku.
Aku memutuskan untuk resgin dari perusahaan ini. Aku nggak ingin ada beredar gosip aku masuk kesini karena rekomendasi dari orang nomor satu diperusahaan ini.
Setidak nya aku sudah tau siapa suami ku.
Tepat jam 8.00 aku kembali keruang rapat, ku lihat semua peserta rapat sudah duduk di kursi masing-masing, Fajar yang posisinya duduk disebalah kiri ku, melihat kedatangan ku langsung tersenyum, aku balas senyum nya dengan rasa terpaksa.
" Kamu nggak apa-apa Zahra? Apakah beliau sudah berbuat kasar pada mu Zahra? " Tanya Fajar sedikit khawatir.
" Saya nggak apa-apa. Terima kasih. "
Terdengar suara orang mendehem dari belakang ku. Ku lihat Mas Jaya dan Mbak Ratna. Melihat kedatangan mereka, Fajar segera merapikan duduk nya.
Kali ini aku mengikuti rapat ini dengan baik sampai selesai tepat jam 00.00 waktu setempat.
Begitu rapat ditutup, aku segera membereskan semua berkas ku, langsung meninggalkan ruangan itu, setelah sebelumnya aku pamit dengan Mbak Ratna, dan tak lupa aku juga menonaktifkan HP ku karena aku nggak ingin diganggu oleh siapapun malam ini.
bersambung
PART 10
=======
Akhirnya sampai Juga di Bali, setelah check-in aku menuju kamar ku.
Jam 3 Sore ini raker nya akan dimulai, kulihat jam ditangan ku masih menunjukkan pukul 12. 45 masih ada waktu untuk ku beristirahat.
Setelah selesai dengan kewajiban ku sebagai seorang hamba, ku rebahkan tubuh ku di kasur yang empuk dan nyaman dkamar ini. Terlintas dibenak ku, wajah Mas Jaya, hari ini dia sama sekali tak menghubungi ku. Kemana dia pergipun aku tak tau, Biasanya dia selalu kasih kabar dimana dia berada, dan selalu mengingatkan ku untuk makan, tapi siang ini sama sekali tidak ada kabar berita.
Aku tau Mas Jaya adalah lelaki yang baik, sangat penyayang, humoris, tapi masih tertutup untuk mengungkapkan siapa dirinya.
Padahal aku ini Istrinya, bukan orang lain. Apakah harus tetap ada rahasia antara suami istri.
Lamunan ku buyar, pada saat ku dengar ada pesan masuk di hp ku.
Pesan dari seorang pria yang sebenar nya juga adalah lelaki yang baik.
Terkadang sikap ku terhadap Fajar ku akui terlalu sombong, bahkan terkesan angkuh, kalau bukan urusan pekerjaan aku tidak ingin bertemu dengannya. Semua ini untuk menjaga jarak dan sikap agar aku tak membiarkan ada ruang untuk aku dan dia bisa bercerita hal lain diluar dari pekerjaan.
SMS dari Fajar sama sekali tak ku hiraukan. Aku nggak mungkin memberi harapan apapun sama dia. Aku adalah wanita yang sudah bersuami, dan aku nggak menyesal dengan pernikahan ku. Suami ku adalah pria yang baik, sangat baik.
Suasana nyaman kamar hotel ini membuat ku nggak mampu menahan kantuk ku. Secara perlahan akhirnya aku tertidur juga.
Samar-samar aku mendengar HP ku berdering. Aku yang masih diselimuti rasa kantuk perlahan mencari sumber suara. Setelah ku dapati HP ku, ku coba sedikit membuka mata dengan sedikit melirik angka digital yang ada dilayar HP ku, pukul 14.50. Mati aku! segera aku bangkit untuk berbenah, untuk mandi rasanya aku nggak punya waktu lagi, cukup mencuci muka saja, syukurnya berkas untuk meeting sudah ku persiapkan, berkali-kali ku dengar Hp ku berbunyi, tapi nggak ku hiraukan. Setelah aku keluar dari kamar, segera ku percepat langkah ku menuju ruang pertemuan yg sudah ditentukan, jam 15.10 menit, itu yang ditunjukkan jam ditangan ku.
Sebelum masuk, aku menghentikan langkah ku didepan pintu, ada sedikit rasa keraguan untuk masuk, malu, itu bisa jadi tapi yang paling aku khawatirkan adalah tanggapan pemilik perusahaan ini
terhadap ku, aku bisa dicap sebagai karyawan yang tidak disiplin.
Ku Tarik nafas dalam-dalam, ku coba untuk bersikap tenang, ku pejamkan mata ku, berdo'a dalam hati, sampai ku dengar seseorang berkata disamping ku " Masuk saja Nona Zahra, rapat baru akan dimulai".
Pada saat aku membuka mata, jantung ku rasa berhenti berdetak.
Aku yang masih berdiri mematung ditarik oleh Mbak Ratna untuk masuk dan duduk di sebelah nya.
Setelah semua peserta rapat berkumpul, tak lama Mbak Ratna selaku CEO perusahaan memberikan kata sambutan, dan meeting ini juga ingin memperkenalkan OWNER perusahaan ini kepada seluruh staff yg hadir saat itu.
Otak ku tak mampu berfikir, pria muda selaku pemilik perusahaan ini bukan orang asing dia pria yang sangat ku kenal. Pria yang suka mencabik-cabik hati dan perasaan ku, setelah aku dibuai dalam kelembutan sikapnya. Yaaa... dia Heru Sanjaya, lelaki yang sedang duduk di kursi terhormat itu adalah suami ku. Pemilik perusahaan tempat ku bekerja adalah head office nya, dan salah seorang petani muda yang sukses, yang mana kebun pertaniannya adalah penyuplai buah dan sayur untuk restoran dan supermarket besar, yang hampir merata diseluruh pulau Jawa.
" Meskipun dia sukses tapi dia lebih memilih hidup sederhana,berbaur dengan orang-orang diluaran secara bebas, suka berbaur dengan orang-orang yang berdagang di pasar tradisional karena dia merasa dari sanalah dia bisa mencapai kesuksesan seperti ini. Dia sangat cinta kepada dunia pertanian salah satu ambisi dan cita-citanya dia ingin petani-petani di negri ini menjadi petani-petani sukses agar dapat hidup lebih layak seperti petani-petani di luar negri." Itulah kata-kata Mbak Ratna yang pernah ku dengar pada saat dia menceritakan sosok orang yang di anggapnya sebagai Kakak dan penolong dalam hidup nya.
Selama Rapat ini berjalan aku masih belum bisa fokus, badan ku saja yang ada diruangan ini, tapi fikiran ku terbang entah kemana.
Sampai akhirnya aku sadar dari lamunan ku ketika Fajar yang duduk disebelah kiri ku menegur ku, dengan memukul pelan punggung lengan ku. Dia laki-laki yang ku temui dikantin dan yang menabrak ku. Fajar Irawan yang menjabat sebagai Manager logistik.
Dua jam sudah rapat ini berjalan, aku tidak tau apa yang dibahas. Sampai akhirnya break pun tiba, ku bereskan berkas yang ada didepan ku.
Disaat aku ingin berdiri, tubuh ku sempat hilang keseimbangan, Fajar yang ada disebelah kiri ku langsung berusaha membantu ku, tanpa sadar pun aku refleks memegang tangannya agar tidak jatuh, dan pada saat itu juga terdengar suara meja yang dipukul.
Orang-orang yang masih berada diruangan itu seketika langsung diam, dan menatap kearah suara yang timbul. Gebrakan suara itu terdengar dari arah Mas Jaya.
Aku yang sempat melihat sorot mata nya yang tajam memandang ke arah ku.
Aku benar-benar jadi salah tingkah dipandang dengan pandangan seperti itu.
Perlahan Mas Jaya berdiri dan berjalan ke arah ku, dia berdiri tepat di depan ku, ku pandang semua orang yang ada diruangan itu, semua mata tertuju pada ku.
" Maaf kalau saya membuat Bapak tidak nyaman." ku tundukkan kepala ku sambil meminta maaf kepadanya.
" Ikut aku." Lalu dia menarik pergelangan tangan ku dengan keras, dan berjalan keluar.
Ku ikuti langkah nya, sampai dia memasuki lift tidak ada satu huruf pun yang keluar dari bibir nya, aku juga tidak ingin bersuara.
Aku yang berada dibelakangnya, hanya memandangi punggung pria yang mengenakan stelan jas berwarna coklat tua dengan kemeja putih dan berdasi coklat dengan motif garis-garis itu. Tangannya yang tadi memegang lengan ku, berpindah menggenggam jari-jari ku.
" Kenapa anda membawa saya kemari pak?" Tanyaku setelah kami memasuki salah satu kamar yang ada di hotel ini.
" Aku membawa Istri ku, apa salahnya." Ucap Mas Jaya sambil duduk di kursi yang disediakan dikamar itu.
" Istri?! Istri siapa?! Anda nggak salah ucap Pak? suami saya itu cuma kuli di pasar, dan suami saya orang yang mampu mengendalikan diri, tidak kasar seperti yang anda lakukan tadi. Selama saya menikah dengan nya tidak pernah dia memegang pergelangan tangan saya sekencang tadi, dan itu berbanding terbalik dengan anda Pak."
" Itu semua karena aku cemburu Zahra. Kamu kira aku bisa terima istri ku dirangkul orang seperti tadi. "
" Sebelum kamu keluar kota, lupa pagi itu aku bilang apa? kita hanya partner. "
" Maaf saya nggak bisa berlama-lama diruangan ini bersama Bapak, saya khawatir orang-orang akan curiga kalau kita berduaan dan berlama-lama disini."
Mas Jaya berdiri dari kursinya, membuka Jas dan mengendurkan ikatan dasi dilehernya. Mengambil ponselnya, dan menelpon seseorang.
" Meetingnya dilanjut jam 8.00 . Saya ada urusan dengan sekretaris Bu Ratna. Katakan itu pada Bu Ratna." Lalu dia mematikan HP nya.
" Saya sudah buat orang-orang akan semakin curiga, dan membuat pria yang menyentuh tangan istri ku pun harus tau dengan siapa dia berhadapan." Ucap nya dengan raut muka yang serius. Aku nggak pernah melihat sorot matanya yang tajam seperti ini. Raut diwajahnya seperti orang yang sedang menahan amarah.
Saat ini bukan waktu yang tepat untuk aku bedebat dengannya. Lama aku diam sambil berdiri melihatnya. Ku pandangi dia dari atas sampai bawah.
"Aku nggak ingin kita berdebat. " Ucap ku sambil berbalik arah menuju pintu.
" Selangkah kamu keluar dari pintu itu!" ku dengar nada ucapannya yang sedikit menghardik ku. Lalu dia diam.
" Apa?!"
" Kamu mau bilang apa?, ayo teruskan" . Aku yang saat itu sedang memegang handle pintu berhenti dan berbalik arah menatapnya.
Mas jaya berjalan kearah ku, lagi-lagi dipandangnya aku dengan sorot mata yang tajam, aku melihat dia mengepalkan tangannya, dan langsung memukul pintu.
Kali ini aku benar-benar melihat dia sebegitu emosinya.
Rasa takut diperlakukan kasar langsung menyusup kedalam dada ku. Aku yang bersandar dipintu, dengan posisi tersudut sudah nggak bisa berbuat apalagi. Hanya air mata yang saat itu langsung keluar dari sudut mata ku.
Aku masih diam mematung, langsung dipeluk nya. " Maafkan aku Zahra, aku hanya cemburu. "
Ku coba melepaskan pelukan dari nya, tapi dia semakin erat merangkul ku.
" Heru Sanjaya yang ku kenal adalah orang yang lembut, yang sabar, yang mampu mengendalikan diri dari rasa emosi. Tapi kali ini aku nggak mengenal mu, benar-benar nggak mengenal mu. " ujarku lirih dalam pelukannya.
" Aku cemburu Zahra, mendidih rasanya darah ku melihat istri ku rangkul orang didepan mata ku, meski aku tau itu bukan hal yang disengaja. "
Di saat dia mengendurkan pelukannya, aku melepaskan diri ku perlahan dari dekapannya.
Dipegang nya kedua pipiku, lalu perlahan di usapnya air mata ku.
Aku melihat raut muka penyesalan dalam dirinya.
" Bukan cara seperti ini aku ingin mengenal mu. Aku memang ingin tau siapa kamu, mencari tau kegiatanmu diluaran, hanya ingin memastikan bahwa aku bukan merebut seorang suami dari istri nya, dan aku juga nggak ingin merebut seorang ayah dari anaknya. Hal yang paling aku takutkan bahwa aku menikah dengan seorang gembong narkoba."
" Kalo bukan karena ada rasa cinta, aku tidak akan pernah merasa cemburu disaat ku lihat seorang wanita cantik keluar dari rumah ku, disaat kamu memulangkan ku pada orang tua ku."
Ku tarik nafas dalam-dalam, lalu aku hembuskan dengan perlahan.
" Aku kembali juga ingin memberi tau, bahwa kamu akan jadi seorang ayah. "
Lalu buka pintu, dan keluar dari kamar itu. Ku lihat Mbak Ratna sudah ada didepan pintu.
Ku dengar Mas Jaya memanggil ku. Tapi aku nggak menghiraukannya. Segera aku masuk kedalam lift yang sudah terbuka, dan langsung menuju kamar ku.
Aku memutuskan untuk resgin dari perusahaan ini. Aku nggak ingin ada beredar gosip aku masuk kesini karena rekomendasi dari orang nomor satu diperusahaan ini.
Setidak nya aku sudah tau siapa suami ku.
Tepat jam 8.00 aku kembali keruang rapat, ku lihat semua peserta rapat sudah duduk di kursi masing-masing, Fajar yang posisinya duduk disebalah kiri ku, melihat kedatangan ku langsung tersenyum, aku balas senyum nya dengan rasa terpaksa.
" Kamu nggak apa-apa Zahra? Apakah beliau sudah berbuat kasar pada mu Zahra? " Tanya Fajar sedikit khawatir.
" Saya nggak apa-apa. Terima kasih. "
Terdengar suara orang mendehem dari belakang ku. Ku lihat Mas Jaya dan Mbak Ratna. Melihat kedatangan mereka, Fajar segera merapikan duduk nya.
Kali ini aku mengikuti rapat ini dengan baik sampai selesai tepat jam 00.00 waktu setempat.
Begitu rapat ditutup, aku segera membereskan semua berkas ku, langsung meninggalkan ruangan itu, setelah sebelumnya aku pamit dengan Mbak Ratna, dan tak lupa aku juga menonaktifkan HP ku karena aku nggak ingin diganggu oleh siapapun malam ini.
bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar