PART 11 by Sashi Kirana
=======
Ini hari kedua aku di Bali dan ini juga hari terakhir raker, segala Puji dan syukur ku ucapkan kepada Illahi, Allah memberikan ku kebaikan yang tiada tara, pagi ini aku merasakan suasana hati yang baik.
Ku aktifkan kembali HP ku, MasyaAllah terlalu banyak notifikasi yang masuk, tapi satupun nggak ada yg ingin aku buka. sampai ku dengar nada notifikasi yg berbeda, aku tau itu pasti dari Mas Jaya, tapi tetap aku nggak ingin membukanya.
Setelah semua aku rasa beres, aku keluar dari kamar ku. Aku turun ke loby hanya sekedar ingin memesan coklat panas, dan roti bakar. Sengaja aku memilih duduk sendiri. Aku ingin menikmati hari ku saat ini. Jarak tiga meja dari tempat ku duduk ku melihat Mas Jaya dan beberapa staff yang ada sedang duduk bersama.
Dari ke jauhan Mbak Ratna melambaikan tangan kepada ku, dan menghampiri ku.
" Pagi Zahra, waw.. cantik sekali kamu pagi ini aku harap mood mu juga lagi baik ya. Oh iya, aku ingin memberi sesuatu "
Kulihat dia mengeluarkan sebuah kotak kecil daru dalam tas nya.
" Zahra, ini hadiah ku buat kamu, hadiah pernikahan kamu."
Dia menyerahkan kotak itu langsung ketangan ku.
" Maksud nya apa Mbak? "
" Aku nggak tau kalau kamu istrinya Heru, Heru sengaja mengajak meeting di sini, karena dia baru saja memulai mengembangkan usahanya disini. Melihat mu keluar dari kamar nya kemarin aku sempat memarahinya, aku bilang bahwa kamu adalah wanita bersuami, jangan pernah sekali-kali melecehkan bawahanku. Jawaban Heru membuat aku hampir shock."
" Aku bahagia dia menemukan wanita seperti kamu Zahra, rawat dan jagalah dia, dia orang yang baik. kurangnya dia hanya sulit terbuka saja. Meskipun aku mengenalnya sejak lama, tapi aku nggak pernah tau apa kemauan nya, karena untuk pribadinya dia benar-benar sangat tertutup, satu-satunya wanita tempatnya bercerita adalah ibu nya."
Sambil Mbak Ratna mengelus pundak ku, sebagai tanda menguatkan diri ku.
Aku hanya tersenyum saja dengan perlakuannya. Memoriku teringat akan cerita Mas Jaya malam itu tentang temannya. Inikah wanita yang pernah diceritakan nya. Lamunan ku buyar karena
Seorang pelayan menghampiri kami, mengantarkan pesanan makanan yang ku pesan tadi.
Namun karena aku berdua dengan Mbak Ratna, aku urungkan niat ku untuk sarapan sendiri, pelayan itu ku suruh mengantarkan ke meja dimana Mas Jaya duduk, dan aku memesan lagi, begitu juga dengan Mbak Ratna.
Sambil menunggu pesanan kami tiba, aku dan Mbak Ratna bercerita sambil sedikit bercanda. Sampai akhirnya dia bercerita tentang dirinya, dan tentang paksaan untuk Mas jaya menikahi nya.
Namun karena Mbak Ratna, saat itu menganggap bahwa mas Jaya pembunuh Andi dia sangat membencinya, dia menolak permintaan orang tuanya, terlebih Mas Jaya pun tidak mau. Namun rasa benci itu menghilang setelah tau bahwa bukan dia pelakunya pembunuh Andi.
Dia juga menceritakan kenapa perusahaan ini bisa berpindah tangan ke Mas Jaya. Tanpa bantuan Mas Jaya dia pasti sudah jadi gembel saat ini.
" Selamat pagi Bu Ratna, selamat pagi Zahra, anda terlihat cantik sekali pagi ini dengan kemeja kuning itu, wajah kamu terlihat cerah dan mempesona."
Ucap Fajar yang menghampiri meja dimana aku dan Mbak Ratna duduk, dan dia juga memilih bergabung bersama kami.
Aku hanya membalas ucapannya dengan senyum yang dipaksakan.
Ku lihat Mas Jaya menoleh ke arah kami. Posisi duduk nya pun digeser biar lebih leluasa memandang ke meja kami.
Jam 8.00 pagi ini Raker dimulai, terlebih dahulu aku meninggalkan Mbak Ratna dan Fajar setelah aku menyelesaikan makan ku, begitu aku berdiri, ku lihat Mas Jaya juga berdiri, pada saat aku berjalan, terasa ada jari-jari yang memegang jari ku, aku benar-benar kaget dibuat nya. Mas jaya sudah ada disamping ku. Sambil menyungging kan senyum.
" Maaf sayang kalau aku mengagetkan mu. Terima kasih atas roti bakar dan coklat panas nya. Kamu mau kemana?
"Mau ke ruang meeting aja. "
" Zahra... maafkan atas kelakuan buruk ku kemarin. "
Aku hanya diam saja. Sampai aku dan Mas Jaya masuk kedalam ruangan pertemuan. Belum ada yang datang, karena waktu masih menunjukkan jam 7 lebih 15 menit.
" Kita sudah sampai, duduklah Pak Heru dikursi anda, biarkan saya duduk sendiri." Tanpa memandangnya aku langsung duduk dikursi ku, dan mengeluarkan beberapa lembaran kertas.
Dia yang masih dibelakang ku meletakkan tangannya di pundak ku.
" Kamu masih marah dengan ku Zahra?" sambil dia mengecup kepala ku.
" Duduklah nggak enak jika nanti ada yang lihat kita seperti ini. "
" Kamu istri ku, aku berhak atas dirimu. "
" Hemmm... saat ini aku adalah bawahan mu, dan tidak ada karyawan yang tau aku adalah istrimu.
Kamu memang sering mengantar ku ke kantor, tapi kamu selalu memakai helm kan."
Aku bediri dari tempat duduk ku, kini aku berhadapan dengan Mas Jaya. Ku rapihkan dasi nya, setelah itu ku kecup kening nya.
" Jaga wibawa mu sebagai seorang pemimpin. Jangan tunjukkan kelemahan mu dihadapan anak buahmu hanya karena seorang wanita. " tak lupa ku beri kecupan ke bibirnya.
" Duduk lah di kursi anda Pak. Selamat bekerja. " Sekali lagi ku kecup keningnya. Ku berikan senyum yang paling baik untuk nya, meskipun aku masih menaruh rasa amarah, tetap aku tidak ingin menjatuhkan reputasi nya. Setelah itu aku kembali duduk ditempat ku semula.
Saat Mas Jaya duduk dikursinya beberapa orang mulai masuk kedalam ruangan. Sedikit lega hati ku. Setidaknya dia tidak akan banyak bicara lagi.
****
Tepat jam 11. 25 menit, rapat ini akhirnya selesai juga.
Pada saat semua sudah meninggalkan ruangan, tinggal mbak Ratna dan Mas jaya yang ada, ini waktu yg tepat buat ku untuk memberikan surat pengunduran diri ku.
Ku sodorkn surat itu tak lupa sedikit berbasa basi.
Tak ada kata yang keluar dari mulut Mbak Ratna, dia menyerahkan surat pengunduran diriku pada Mas Jaya. Lama surat itu di tangannya, lama dia menatapku dan juga Mbak Ratna secara bergantian.
"Saya masih membutuhkan anda diperusahaan ini nona Zahra. Saya percayakan perusahaan ini ditangan kalian berdua, saat ini kalian adalah orang kepercayaan saya dan jangan kecewakan saya. " Lalu dia merobek surat pengunduran diriku, dan berjalan meninggalkan ruangan.
Didepan pintu langkahnya terhenti.
" Aku tidak pernah akan fokus mengurus perusahaan ini Zahra, sebagai seorang Istri bantulah aku mengelolanya. tapi untuk menempatkan mu diposisi yg tertinggi saat ini itu tidak mungkin. maka kamu belajarlah dengan baik."
Dia berbalik melangkah kearah ku. Di kecupnya keningku " Jaga calon bayi ku, aku mengharapkannya Zahra." lalu dia pergi meninggalkan ku dan Mbak Ratna.
*******
Karena acara raker nya sudah selesai dan saat ini adalah jam bebas, beberapa staff yg mengikuti raker itu memilih untuk pesiar.
Senja itu aku ingin menikmati waktu yang tersisa di kota ini, Seperti nya pantai yang tak jauh dari hotel tempat ku menginap adalah pilihan ku yang tepat untuk menghilangkan rasa penat ku.
Ku langkahkan kaki ku menyusuri tepian pantai seorang diri, suara deburan ombak tak ubahnya seperti nyanyian alam yang syahdu, yang membuat ku terlena dalam iringan musik yang syahdu.
Sunset di sore ini membuatku sangat mengagumi lukisan sang Ilahi yang tiada tandingannya.
Aku hentikan langkah ku, dan memilih duduk dipasir putih ditepi pantai sembari menikmati karya agung sang ilahi. Aku benar-benar terlena sejenak aku mampu melupakan masalah yang hadir dalam hidup ku. Aku ingin menyatukan diriku dengan Alam ini, dan itu benar-benar membuat ku terasa Rilex..
" Dari tadi aku memperhatikan mu disini Zahra, Allah Maha sempurna, suasana sore ini benar-benar indah, seindah diri mu." ucap seorang pria yang tidak pernah ku harapkan kehadirannya.
" Anda terlalu berlebihan pak Fajar. Maaf saya tidak bisa berduaan seperti ini dengan anda. "
Aku berusaha berdiri, tapi tangan laki-laki ini segara memegang pergelangan tangan ku dengan keras.
" Zahra, apakah tidak ada kesempatan untuk ku mendekati mu. Sejak pertama melihat mu, aku mengagumi mu Zahra. Dan aku Sangat bahagia pada saat bunga yang ku kirim saat itu membuat mu tersenyum. "
Aku benar-benar kaget dengan apa yang di ucapkan nya, ku pikir bunga itu dari Mas Jaya.
Aku harus tenang, ini yang tepat aku bicara dengan nya, aku harus membuat dia membuang rasa nya terhadapku. Ku tarik nafas dalam-dalam dan membuang nya secara perlahan.
" Pak Fazar saya sangat berterima kasih atas rasa yang kamu punya terhadap saya. Tapi berilah rasa itu kepada wanita lain. Cukup lah kita hanya sebagai rekan kerja saja. Saya wanita yang sudah bersuami. Maaf kalau saya mengecewakan anda. saya harap kamu bisa lebih berbesar hati.
Mengenai rasa yang anda miliki kesaya, cukuplah hanya kita dan Allah yang tau, saya sangat menghormati anda sebagai seorang laki-laki, maka dari itu saya tidak akan menjatuhkan harga diri anda. Sekali lagi maafkan saya."
Aku berpaling dari nya, melangkah menjauhinya, dari kejauhan aku melihat seorang pria yang sangat ku cintai sedang berjalan kearah ku. Aku melihat raut wajahnya seperti menahan rasa kemarah.
" Aku dari tadi mencari mu ternyata kamu lagi asik berduaan dengan laki-laki lain disini. Kamu nuduh aku berselingkuh ternyata kamu sendiri yang berselingkuh dibelakang ku!." Tiba-tiba dia menghardik ku, dan pergi meninggalkan ku.
Aku yang dihardiknya, cuma bisa diam, ku tatap punggungnya yang semakin jauh meninggalkan ku.
" Sudahlah Zahra, diamkan saja dia. Rasa cemburunya membuatnya kehilangan logika dan akal sehatnya."ucap batin ku untuk menghibur diri.
Aku susuri kembali pasir putih itu, untuk kembali ke penginapan. Beberapa kali bule-bule yang ku temui menggoda ku walau hanya sekedar mengucapkan Assalamu'alaikum, dan ku balas dengan senyuman.
Pada saat aku hendak menutup pintu kamar, sebuah tangan menghalangi ku, aku sempat kaget dan sedikit menjerit, dengan sedikit memakai tenaga dia mendorong pintu. dan berhasil masuk kekamar ku.
" ini aku Zahra, suami mu."
" Kau gila buat aku ketakutan begini. "
Ku biarkan dia masuk dan menutup pintu, aku segera membuka jilbab yang ku kenakan, setelah itu membersihkn muka ku dari sisa make-up yang ku pakai.
Aku tau Mas Jaya memperhatikan ku, dan aku juga nggak ingin bicara apapun saat ini dengan nya.
Selesai aku membersihkan muka ku, aku beranjak dari tempat duduk ku.
" Mau kemana?" Tanya Mas Jaya dengan nada suara datar. Ku arahkan pandangan ku kepadanya.
" Aku mau mandi. Kamu mau ikut? " jawab ku sekenanya, lalu mengambil handuk ku, dan masuk ke kamar mandi.
Di bawah guyuran air yang keluar dari shower aku lepaskan tangis ku, terlalu sakit pada saat dia menuduh ku mengkhianatinya. Aku melihat pribadinya yang benar-benar berbeda, biasanya dia begitu bersikap tenang, tidak gegabah menyimpulkan sesuatu.
"Aku sangat mencintai mu Mas." ucap ku lirih.
tiba-tiba Ku rasakan sepasang tangan memegang pundak ku, dan mengecup nya. Aku yang sempat terhayut dengan perasaan yang kacau tersadar dan sempat menjerit.
" Ini aku zahra, jangan takut seperti ini". kurasakan tangan yg berada dipundak ku berpindah memegang pingga ku dan akhirnya memelukku. Ku rasakan hembusan nafas yang hangat ditelingaku.
" bukan hanya kamu yang punya cinta, aku juga. Aku takut kehilanganmu, rasa cemburu ku membunuh semua pikiran logis ku." ucapnya pelan ditelinga ku, lalu mengecup lembut.
Dibalikkan nya tubuhku, dibawah guyuran air dikecupnya lembut kening ku, lalu perlahan kecupan itu berpindah di ke mataku, serta beralih kebibir ku.
Ku rasakan bibir itu mengulum lembut bibir ku. Aku nggak tau harus berbuat apa saat itu, rasanya nya aku hampir kehabisan nafas dibuatnya.
"Istri ku cantik sekali. Kamu tau Zahra, air yang turun ini nggak bisa mendinginkan suhu tubuh ku yang sedang terbakar saat ini." lagi-lagi dia mengecup bibir ku.
"Kamu banyak bicara. Kamu mau mandi dengan pakaian lengkap begini!" ku tarik kemeja yang dikenakannya, dan menenggelamkan wajahku didalam dada bidang nya.
"Aku suka kalau kamu bersikap malu-malu seperti ini, tapi kadang-kadang istri ku sering nggak tau malu kalau sudah berdua dengan ku." ucapnya sambil memeluk ku dengan erat dan meciumi setiap inci wajah ku.
-----
------
------
-----
=======
Ini hari kedua aku di Bali dan ini juga hari terakhir raker, segala Puji dan syukur ku ucapkan kepada Illahi, Allah memberikan ku kebaikan yang tiada tara, pagi ini aku merasakan suasana hati yang baik.
Ku aktifkan kembali HP ku, MasyaAllah terlalu banyak notifikasi yang masuk, tapi satupun nggak ada yg ingin aku buka. sampai ku dengar nada notifikasi yg berbeda, aku tau itu pasti dari Mas Jaya, tapi tetap aku nggak ingin membukanya.
Setelah semua aku rasa beres, aku keluar dari kamar ku. Aku turun ke loby hanya sekedar ingin memesan coklat panas, dan roti bakar. Sengaja aku memilih duduk sendiri. Aku ingin menikmati hari ku saat ini. Jarak tiga meja dari tempat ku duduk ku melihat Mas Jaya dan beberapa staff yang ada sedang duduk bersama.
Dari ke jauhan Mbak Ratna melambaikan tangan kepada ku, dan menghampiri ku.
" Pagi Zahra, waw.. cantik sekali kamu pagi ini aku harap mood mu juga lagi baik ya. Oh iya, aku ingin memberi sesuatu "
Kulihat dia mengeluarkan sebuah kotak kecil daru dalam tas nya.
" Zahra, ini hadiah ku buat kamu, hadiah pernikahan kamu."
Dia menyerahkan kotak itu langsung ketangan ku.
" Maksud nya apa Mbak? "
" Aku nggak tau kalau kamu istrinya Heru, Heru sengaja mengajak meeting di sini, karena dia baru saja memulai mengembangkan usahanya disini. Melihat mu keluar dari kamar nya kemarin aku sempat memarahinya, aku bilang bahwa kamu adalah wanita bersuami, jangan pernah sekali-kali melecehkan bawahanku. Jawaban Heru membuat aku hampir shock."
" Aku bahagia dia menemukan wanita seperti kamu Zahra, rawat dan jagalah dia, dia orang yang baik. kurangnya dia hanya sulit terbuka saja. Meskipun aku mengenalnya sejak lama, tapi aku nggak pernah tau apa kemauan nya, karena untuk pribadinya dia benar-benar sangat tertutup, satu-satunya wanita tempatnya bercerita adalah ibu nya."
Sambil Mbak Ratna mengelus pundak ku, sebagai tanda menguatkan diri ku.
Aku hanya tersenyum saja dengan perlakuannya. Memoriku teringat akan cerita Mas Jaya malam itu tentang temannya. Inikah wanita yang pernah diceritakan nya. Lamunan ku buyar karena
Seorang pelayan menghampiri kami, mengantarkan pesanan makanan yang ku pesan tadi.
Namun karena aku berdua dengan Mbak Ratna, aku urungkan niat ku untuk sarapan sendiri, pelayan itu ku suruh mengantarkan ke meja dimana Mas Jaya duduk, dan aku memesan lagi, begitu juga dengan Mbak Ratna.
Sambil menunggu pesanan kami tiba, aku dan Mbak Ratna bercerita sambil sedikit bercanda. Sampai akhirnya dia bercerita tentang dirinya, dan tentang paksaan untuk Mas jaya menikahi nya.
Namun karena Mbak Ratna, saat itu menganggap bahwa mas Jaya pembunuh Andi dia sangat membencinya, dia menolak permintaan orang tuanya, terlebih Mas Jaya pun tidak mau. Namun rasa benci itu menghilang setelah tau bahwa bukan dia pelakunya pembunuh Andi.
Dia juga menceritakan kenapa perusahaan ini bisa berpindah tangan ke Mas Jaya. Tanpa bantuan Mas Jaya dia pasti sudah jadi gembel saat ini.
" Selamat pagi Bu Ratna, selamat pagi Zahra, anda terlihat cantik sekali pagi ini dengan kemeja kuning itu, wajah kamu terlihat cerah dan mempesona."
Ucap Fajar yang menghampiri meja dimana aku dan Mbak Ratna duduk, dan dia juga memilih bergabung bersama kami.
Aku hanya membalas ucapannya dengan senyum yang dipaksakan.
Ku lihat Mas Jaya menoleh ke arah kami. Posisi duduk nya pun digeser biar lebih leluasa memandang ke meja kami.
Jam 8.00 pagi ini Raker dimulai, terlebih dahulu aku meninggalkan Mbak Ratna dan Fajar setelah aku menyelesaikan makan ku, begitu aku berdiri, ku lihat Mas Jaya juga berdiri, pada saat aku berjalan, terasa ada jari-jari yang memegang jari ku, aku benar-benar kaget dibuat nya. Mas jaya sudah ada disamping ku. Sambil menyungging kan senyum.
" Maaf sayang kalau aku mengagetkan mu. Terima kasih atas roti bakar dan coklat panas nya. Kamu mau kemana?
"Mau ke ruang meeting aja. "
" Zahra... maafkan atas kelakuan buruk ku kemarin. "
Aku hanya diam saja. Sampai aku dan Mas Jaya masuk kedalam ruangan pertemuan. Belum ada yang datang, karena waktu masih menunjukkan jam 7 lebih 15 menit.
" Kita sudah sampai, duduklah Pak Heru dikursi anda, biarkan saya duduk sendiri." Tanpa memandangnya aku langsung duduk dikursi ku, dan mengeluarkan beberapa lembaran kertas.
Dia yang masih dibelakang ku meletakkan tangannya di pundak ku.
" Kamu masih marah dengan ku Zahra?" sambil dia mengecup kepala ku.
" Duduklah nggak enak jika nanti ada yang lihat kita seperti ini. "
" Kamu istri ku, aku berhak atas dirimu. "
" Hemmm... saat ini aku adalah bawahan mu, dan tidak ada karyawan yang tau aku adalah istrimu.
Kamu memang sering mengantar ku ke kantor, tapi kamu selalu memakai helm kan."
Aku bediri dari tempat duduk ku, kini aku berhadapan dengan Mas Jaya. Ku rapihkan dasi nya, setelah itu ku kecup kening nya.
" Jaga wibawa mu sebagai seorang pemimpin. Jangan tunjukkan kelemahan mu dihadapan anak buahmu hanya karena seorang wanita. " tak lupa ku beri kecupan ke bibirnya.
" Duduk lah di kursi anda Pak. Selamat bekerja. " Sekali lagi ku kecup keningnya. Ku berikan senyum yang paling baik untuk nya, meskipun aku masih menaruh rasa amarah, tetap aku tidak ingin menjatuhkan reputasi nya. Setelah itu aku kembali duduk ditempat ku semula.
Saat Mas Jaya duduk dikursinya beberapa orang mulai masuk kedalam ruangan. Sedikit lega hati ku. Setidaknya dia tidak akan banyak bicara lagi.
****
Tepat jam 11. 25 menit, rapat ini akhirnya selesai juga.
Pada saat semua sudah meninggalkan ruangan, tinggal mbak Ratna dan Mas jaya yang ada, ini waktu yg tepat buat ku untuk memberikan surat pengunduran diri ku.
Ku sodorkn surat itu tak lupa sedikit berbasa basi.
Tak ada kata yang keluar dari mulut Mbak Ratna, dia menyerahkan surat pengunduran diriku pada Mas Jaya. Lama surat itu di tangannya, lama dia menatapku dan juga Mbak Ratna secara bergantian.
"Saya masih membutuhkan anda diperusahaan ini nona Zahra. Saya percayakan perusahaan ini ditangan kalian berdua, saat ini kalian adalah orang kepercayaan saya dan jangan kecewakan saya. " Lalu dia merobek surat pengunduran diriku, dan berjalan meninggalkan ruangan.
Didepan pintu langkahnya terhenti.
" Aku tidak pernah akan fokus mengurus perusahaan ini Zahra, sebagai seorang Istri bantulah aku mengelolanya. tapi untuk menempatkan mu diposisi yg tertinggi saat ini itu tidak mungkin. maka kamu belajarlah dengan baik."
Dia berbalik melangkah kearah ku. Di kecupnya keningku " Jaga calon bayi ku, aku mengharapkannya Zahra." lalu dia pergi meninggalkan ku dan Mbak Ratna.
*******
Karena acara raker nya sudah selesai dan saat ini adalah jam bebas, beberapa staff yg mengikuti raker itu memilih untuk pesiar.
Senja itu aku ingin menikmati waktu yang tersisa di kota ini, Seperti nya pantai yang tak jauh dari hotel tempat ku menginap adalah pilihan ku yang tepat untuk menghilangkan rasa penat ku.
Ku langkahkan kaki ku menyusuri tepian pantai seorang diri, suara deburan ombak tak ubahnya seperti nyanyian alam yang syahdu, yang membuat ku terlena dalam iringan musik yang syahdu.
Sunset di sore ini membuatku sangat mengagumi lukisan sang Ilahi yang tiada tandingannya.
Aku hentikan langkah ku, dan memilih duduk dipasir putih ditepi pantai sembari menikmati karya agung sang ilahi. Aku benar-benar terlena sejenak aku mampu melupakan masalah yang hadir dalam hidup ku. Aku ingin menyatukan diriku dengan Alam ini, dan itu benar-benar membuat ku terasa Rilex..
" Dari tadi aku memperhatikan mu disini Zahra, Allah Maha sempurna, suasana sore ini benar-benar indah, seindah diri mu." ucap seorang pria yang tidak pernah ku harapkan kehadirannya.
" Anda terlalu berlebihan pak Fajar. Maaf saya tidak bisa berduaan seperti ini dengan anda. "
Aku berusaha berdiri, tapi tangan laki-laki ini segara memegang pergelangan tangan ku dengan keras.
" Zahra, apakah tidak ada kesempatan untuk ku mendekati mu. Sejak pertama melihat mu, aku mengagumi mu Zahra. Dan aku Sangat bahagia pada saat bunga yang ku kirim saat itu membuat mu tersenyum. "
Aku benar-benar kaget dengan apa yang di ucapkan nya, ku pikir bunga itu dari Mas Jaya.
Aku harus tenang, ini yang tepat aku bicara dengan nya, aku harus membuat dia membuang rasa nya terhadapku. Ku tarik nafas dalam-dalam dan membuang nya secara perlahan.
" Pak Fazar saya sangat berterima kasih atas rasa yang kamu punya terhadap saya. Tapi berilah rasa itu kepada wanita lain. Cukup lah kita hanya sebagai rekan kerja saja. Saya wanita yang sudah bersuami. Maaf kalau saya mengecewakan anda. saya harap kamu bisa lebih berbesar hati.
Mengenai rasa yang anda miliki kesaya, cukuplah hanya kita dan Allah yang tau, saya sangat menghormati anda sebagai seorang laki-laki, maka dari itu saya tidak akan menjatuhkan harga diri anda. Sekali lagi maafkan saya."
Aku berpaling dari nya, melangkah menjauhinya, dari kejauhan aku melihat seorang pria yang sangat ku cintai sedang berjalan kearah ku. Aku melihat raut wajahnya seperti menahan rasa kemarah.
" Aku dari tadi mencari mu ternyata kamu lagi asik berduaan dengan laki-laki lain disini. Kamu nuduh aku berselingkuh ternyata kamu sendiri yang berselingkuh dibelakang ku!." Tiba-tiba dia menghardik ku, dan pergi meninggalkan ku.
Aku yang dihardiknya, cuma bisa diam, ku tatap punggungnya yang semakin jauh meninggalkan ku.
" Sudahlah Zahra, diamkan saja dia. Rasa cemburunya membuatnya kehilangan logika dan akal sehatnya."ucap batin ku untuk menghibur diri.
Aku susuri kembali pasir putih itu, untuk kembali ke penginapan. Beberapa kali bule-bule yang ku temui menggoda ku walau hanya sekedar mengucapkan Assalamu'alaikum, dan ku balas dengan senyuman.
Pada saat aku hendak menutup pintu kamar, sebuah tangan menghalangi ku, aku sempat kaget dan sedikit menjerit, dengan sedikit memakai tenaga dia mendorong pintu. dan berhasil masuk kekamar ku.
" ini aku Zahra, suami mu."
" Kau gila buat aku ketakutan begini. "
Ku biarkan dia masuk dan menutup pintu, aku segera membuka jilbab yang ku kenakan, setelah itu membersihkn muka ku dari sisa make-up yang ku pakai.
Aku tau Mas Jaya memperhatikan ku, dan aku juga nggak ingin bicara apapun saat ini dengan nya.
Selesai aku membersihkan muka ku, aku beranjak dari tempat duduk ku.
" Mau kemana?" Tanya Mas Jaya dengan nada suara datar. Ku arahkan pandangan ku kepadanya.
" Aku mau mandi. Kamu mau ikut? " jawab ku sekenanya, lalu mengambil handuk ku, dan masuk ke kamar mandi.
Di bawah guyuran air yang keluar dari shower aku lepaskan tangis ku, terlalu sakit pada saat dia menuduh ku mengkhianatinya. Aku melihat pribadinya yang benar-benar berbeda, biasanya dia begitu bersikap tenang, tidak gegabah menyimpulkan sesuatu.
"Aku sangat mencintai mu Mas." ucap ku lirih.
tiba-tiba Ku rasakan sepasang tangan memegang pundak ku, dan mengecup nya. Aku yang sempat terhayut dengan perasaan yang kacau tersadar dan sempat menjerit.
" Ini aku zahra, jangan takut seperti ini". kurasakan tangan yg berada dipundak ku berpindah memegang pingga ku dan akhirnya memelukku. Ku rasakan hembusan nafas yang hangat ditelingaku.
" bukan hanya kamu yang punya cinta, aku juga. Aku takut kehilanganmu, rasa cemburu ku membunuh semua pikiran logis ku." ucapnya pelan ditelinga ku, lalu mengecup lembut.
Dibalikkan nya tubuhku, dibawah guyuran air dikecupnya lembut kening ku, lalu perlahan kecupan itu berpindah di ke mataku, serta beralih kebibir ku.
Ku rasakan bibir itu mengulum lembut bibir ku. Aku nggak tau harus berbuat apa saat itu, rasanya nya aku hampir kehabisan nafas dibuatnya.
"Istri ku cantik sekali. Kamu tau Zahra, air yang turun ini nggak bisa mendinginkan suhu tubuh ku yang sedang terbakar saat ini." lagi-lagi dia mengecup bibir ku.
"Kamu banyak bicara. Kamu mau mandi dengan pakaian lengkap begini!" ku tarik kemeja yang dikenakannya, dan menenggelamkan wajahku didalam dada bidang nya.
"Aku suka kalau kamu bersikap malu-malu seperti ini, tapi kadang-kadang istri ku sering nggak tau malu kalau sudah berdua dengan ku." ucapnya sambil memeluk ku dengan erat dan meciumi setiap inci wajah ku.
-----
#SUAMI_KU
Part. 12
======
Aku segera menyelesaikan mandi ku, ku biarkan Mas Jaya di kamar mandi, aku belum shalat magrib, sementara waktu magrib hanya sebentar.
" Mas, kamu udah mandinya, ayo kita shalat. "
" Kamu duluan sayang. Maaf aku nggak bisa imamin shalat kamu"
Nggak ingin menunda waktu shalat yang hanya sebentar aku pakai mukena ku untuk melakukan shalat magrib. Selesai aku shalat aku nggak melihat Mas Jaya diruangan kamar ku.
" Mas kamu masih dikamar mandi?" sedikit aku mengeraskan suara ku.
" Iya sayang, kamu kemari sebentar dan jangan lupa bawa handuk nya. "
Bergegas aku ke kamar mandi. Ku lihat dia masih berdiri dikamar mandi.
"Mana handuk nya?" tanya nya begitu aku datang menghampirinya.
segera ku sodorkan handuk yang ku bawa.
" Sayang aku kembali ke kamar ku dulu, aku nggak mungkin shalat pakai handuk aja kan, selesai shalat aku kembali kesini."
" kamu keluar cuma pakai handuk gini? "
" Apa kamu mau aku ke kamar ku tanpa handuk?" sambil dia mengedipkan matanya.
" Genit kamu."
" Udah-udah kamu keluar sana nanti kamu shalat nya tinggal."
Ku dorong tubuh nya keluar dari kamar ku.
"Tok Tok tok". Terdengar pintu kamar ku diketuk. Begitu aku membuka pintu kulihat Mas Jaya yang berdiri didepan pintu.
" Sayang, kunci kamar ku ada di atas meja. tolong ambilkan."
Dia berusaha masuk, tapi tubuhnya ku tahan.
" Kamu diluar aja, biar aku ambilkan nanti kamu nggak jadi shalatnya." Lalu kututup pintu kembali.
Aku membuka pintu dan menyerahkan kunci kamar nya. dan pintu ku tutup kembali.
" Tok tok tok!!!"
" Kamu mau apalagi mas, udah shalat sana yg lain tinggalkan dulu." ucapku pada mas Jaya begitu aku tau bahwa dia yang mengetuk pintu kembali.
" Sayang aku nggak mau masuk, di sebelah sana ada wanita yang sedang memperhatikan ku, lihat lah. "
Aku condongkan badan ku untuk melihat situasi di lorong sekitar kamar ku.
" Ngak ada siapa-siapa. Bohong aja kamu. udah sana."
Sebelum aku menutup pintu, dia memanggil ku lagi..
" Sayang."
Begitu aku menoleh kearahnya, dia menarik wajahku dan mengulum bibir ku. sampai aku benar-benar susah bernafas dibuat nya.
" Makasih sayang. " Lalu dia pergi meninggalkan ku dengan wajah penuh kemenangan.
Aku cuma bisa tersenyum melihat tingkahnya, dan segera menutup kembali pintu. Ku langkah kan kaki ku ke arah tempat tidur, tapi belum sempat aku sampai ku dengar HP ku yang diatas meja berbunyi, ku lihat panggilan dari Tante Maya.
Aku nggak tau berapa lama aku ngobrol dengan nya lewat telpon, sampai aku dengar seseorang mengetuk pintu kamar ku, karena Tante Maya nggak ingin mengganggu ku, akhirnya obrolan lewat telpon itu pun ku akhiri.
" Lama banget sih buka pintu nya. Aku dah dari tadi ngetukin pintu kamu." Ucap Mas Jaya begitu aku membuka pintu, sambil melangkah masuk.
Ku lihat ekspesi wajah nya yang menunjukkan ketidak senangan.
" Kamu kenapa jadi emosian gini sih." dengan nada yang agak sedikit kesal aku membalas ucapannya, sambil berjalan ke arah tempat tidur.
" Sayang, yang seharus nya marah itu aku, bukan kamu. Aku udah dari tadi ngetukin pintu kamu. "
" Udahlah, aku mau tidur. aku malas berdebat." Ku rebahkan tubuh ku, dan menarik selimut.
" Aku baru menyadari kalau istri ku selain hobi ngomel, dia juga tukang tidur, dan jago makan."
dia juga ikut merebahkan tubuh nya dikasur, dan memiringkan posisi tidur nya menghadap ku.
Ku pandangi wajah nya, tanpa berkedip. Dia yang merasa aku perhatikannya salah tingkah sendiri.
" Kamu lihat apa?"
Aku yang ditanya hanya diam saja tanpa menjawab.
Lalu dia merubah posisinya untuk duduk dan memandangi sendiri tubuhnya dengan rasa heran.
Aku masih memandanginya dengan pandangan yang sama, tanpa sekalipun mengedipkan mataku.
" Zahra kamu kenapa? ada yang salah dengan ku?"
Dipukul nya pipi ku berkali-kali, tapi aku tetap tidak bergeming.
"Zahra, kamu jangan main-main begini, aku bener-bener takut lihat kamu seperti ini. "
Aku yang udah nggak tahan lihat tingkah nya yang mulai sedikit panik, jadi tertawa.
" kamu semakin tampan aja aku lihat Mas. Ayo kita Isya. setelah itu kita makan, aku lapar. "
Aku segera bangkit dari tempat tidur,dan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. sebelum dia berbuat yang aneh-aneh. Karena dia melihat ku sudah mengambil wudhu diapun mengikuti ku.
Selesai shalat Isya, aku mengganti pakaian ku, karena dia memilih mengajak ku makan di luar.
Kurang lebih 20 menit dia menunggu ku untuk siap-siap. Pada saat aku ingin membuka pintu, dia menahan tangan ku. Ditariknya pinggang ku mendekat ketubuhnya. satu tangannya memegang dagu ku.
" Aku sangat mencintai mu Zahra, sangat mencintai mu."
Pada saat dia hendak mendekatkan bibirnya ke bibirku, aku segera memalingkan wajahku, sehingga bibirnya mencium pipiku.
" Aku udah lapar Mas, yang ada aku nggak jadi makan nanti. kamu nggak lapar kah?"
Aku berusaha melepaskan diri dari pelukannya, tapi yang ada dia semakin erat mendekap tubuhku.
" Aku nggak lapar, aku temani kamu mkn aja. Makan malam ku menu spesial dari kamu" sambil dia menaikkan kedua alis nya.
" Nggak usah menggoda ku begitu. Sejak kapan kamu menyediakan ruang mesum dalam otak mu."
Dia cuma tertawa mendengar ucapan ku. Dan memintaku membuka pintu.
Begitu kami keluar dari pintu lif, ku lihat ada beberapa karyawan yang sedang duduk di loby. Melihat aku dan Mas jaya, Pak Adi selaku bagian pemasaran mendekati kami, dan mengajak duduk bergabung bersama mereka.
Tapi tatapan matanya kepada ku, menunjukkan pandangan yang aneh. Sehingga aku sedikit risih dibuatnya.
" Maaf pak, saya ingin makan berdua dengan istri saya. " Dengan ramahnya Mas Jaya menolak ke inginannya.
Baru satu langkah kami berjalan, Mas Jaya berhenti, dan memanggil Pak Adi. Yang dipanggil mendekat.
" Saya lupa mau bilang, sekali lagi kamu memandang istri saja dengan pandangan seperti tadi, selesai kamu." ucapnya pelan sambil menepuk bahu Pak Adi. Lalu dia menarik tangan ku, dan meninggalkan Pak Adi yang masih berdiri.
"Kamu mau makan apa?" tanya nya setelah kami keluar dari halaman hotel.
" Apa ajalah, yang penting enak. "
Mas jaya langsung menghentikan langkah nya..
" Kamu yakin mau makan apa ajalah, yang penting enak?"
" Iya. udah ayo jalan"
" Zahra, saat ini cuma ada satu tempat yang menyediakan menu itu. kamu yakin?!"
" Mas aku udah laper, kalo memang ada ayo. "
" sini. aku tunjukkan tempat nya."
Dia langsung berdiri dibelakang ku,mendekatkan wajahnya kewajahku.
" Kamu lihat hotel itu? " Sambil dia menunjuk arah Hotel tempat kami menginap.
" Sayang, tempatnya ada disana, tapi bahan pokoknya harus kita yang menyediakan, dan koki nya juga kita. sudah ngerti maksudku. " lalu dia mencium pipi ku, dan meletakkan dagunya diatas bahu ku.
Aku yang baru faham apa maksudnya. Menoleh kearah wajahnya yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahku. Ku lihat dia tersenyum.
"Dasar otak mesum kamu!"
seketika dia langsung tertawa, dan menarik wajahnya dari bahuku, pada saat aku ingin menarik hidungnya.
Aku memutuskan makan ditempat yang nggak jauh dari tempat kami menginap.
Sebenarnya Mas Jaya masih ingin mengajak ku jalan-jalan menikmati suasana malam di kota Denpasar ini, tapi aku menolaknya, dengan alasan besok harus kembali ke Jakarta, aku juga harus merapikan barang ku.
Pada Saat aku makan, Mas Jaya meminta izin sebentar untuk membeli sesuatu. Aku mengizinkan, karena dia berkeras bilang masih kenyang pada saat aku menyuruhnya memesan makanan
Selesai aku makan dia belum juga kembali, sedikit gusar hati ku menunggu dia karena terlalu lama.
" Kamu sama sapa Zahra? Heru mana? " Tanya seorang wanita yang suaranya sangat familiar buat ku.
Ku arahkan pandangan ku kesumber suara. Ku lihat Mbak Ratna bersama Pak Fajar.
Aku mempersilahkan mereka duduk dibangku yang ada didepan ku.
" Wah Pak Fajar, tadi pagi habis ngegoda saya, malamnya udah jalan sama Bu' Ratna. " Sedikit aku berbasa basi dan menyunggingkan senyum baru kali ini aku merasakan aku memberikan senyum yang ramah kepadanya.
" Kebetulan saja, tadi saya makan disini, lalu Bu Ratna juga, kita putuskan gabung satu meja saja."
hampir 10 menit Mbak Ratna dan Pak Fajar menemani ku, akhirnya Mas Jaya datang dengan membawa sebuah bungkusan.
"Maaf aku lama sayang." Lalu dia memesan makanan karena dia merasa lapar. Mbak Ratna dan Pak Fajar pun akhirnya pamit setelah kita ngobrol dan sedikit bercanda.
" Kamu nggak ada niat mau menikahkan Mbak Ratna?"
" Ada sayang, tapi belum ada pria yang aku rasa pantas untuk nya. Saat ini dia tanggung jawab ku, karena dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi. "
Lalu dia meminta ku untuk tidak membahas apapun lagi.
Selesai dia makan, dan duduk sebentar Mas Jaya mengajak ku pulang.
Dia menghentikan langkah pada saat melihat pertunjukan musisi jalanan,
Salah seorang dari mereka menyapa Mas Jaya dan mendekati nya, sepertinya mereka sudah saling kenal. Sampai akhirnya Mas Jaya minta izin meninggalkan ku menghampiri musisi jalanan yang sedang memperlihatkan aksinya.
Ku lihat Mas Jaya bergabung dengan mereka, mengambil gitar dan memainkan nya.
" Selamat malam, malam ini saya ingin menyumbangkan lagu, untuk wanita yang paling istimewa dalam hidup saya."
Dengan Mahirnya dia memetik gitar dan menyanyikan dua lagu, yang dipopulerkan oleh Anji Bidadari tak bersayap, dan Lagu Tulang Rusuk dari Semmy simorangkir.
Aku yang berdiri diantara orang-orang yang menyaksikan perbuatan suami ku itu sedikit terpesona dengan apa yang dilakukannya tiba-tiba bahu ku disenggol seseorang, Mbak Ratna yang udah ada disamping ku.
"Ngak nyangka aku Heru bisa seromantis itu. Aku kira dia kulkas. "
aku cuma bisa tersenyum mendengar ucapannya.
Setelah dia selesai menyanyikan lagu itu, dia mendekati ku dan Mbak Ratna. Lalu mengajak ku kembali ke Hotel. Mbak Ratna yang masih ingin menikmati suasana malam ini akhirnya kami tinggalkan.
" Nggak nyangka aku kamu bisa juga main gitar dan punya suara yang lumayan bagus."
" kamu lupa kalau suamimu ini juga salah satu seniman jalanan selain jadi juru parkir dan kuli angkut di pasar. "
Sepanjang jalan menuju penginapan dia melingkarkan tangannya dipinggang ku. Tidak ada satu katapun yang keluar dari bibir kami dan hanya tenggelam dengan pikirin masing-masing. Selama aku menikah dengannya belum pernah sekalipun dia melakukan hal seperti ini. Aku benar-benar menemukan hal yang berbeda dari suamiku.
Sesampai di kamar ku, aku langsung merebah kan tubuh ku.
" Sayang beresin semua barang kamu, kamu pindah ke kamar aku ya... aku tunggu 10 menit dari sekarang. "
aku yang udah dalam posisi paling nyaman menurut ku segera bangun dan memberesin barang-barang ku, karena aku sudah mulai mendengar dia berceloteh. Setelah selesai, aku dan Mas Jaya keluar dari kamar ku, menuju kamar Mas Jaya.
Sesampainya di kamar nya, aku meletakkan tas ku di meja yang ada diruangan ini.
" aku mau mandi dulu mas, badan ku rasanya lengket banget."
Mas Jaya hanya mengangguk kan kepala nya untuk menjawab ku.
Selesai aku mandi, dan keluar dari kamar mandi, Mas Jaya menghampiriku.
" Sayang... kamu pakai ini yaa.. " lalu dia mencium pipi ku, dan pergi menuju kamar mandi.
Ku lihat bungkusan yang dikasih nya.. Begitu aku buka, Mata ku sempat kaget dibuat nya.
" Mas.. kamu yakin ngasih aku ini?"
" Iya sayang, yakin banget malah."
Aku menikah dengan nya bukan baru, udah dua tahun lebih, mau masuk tahun ke 3, setiap dia membelikan ku sesuatu belum pernah hal yang aneh, termasuk gaun tidur. Tapi kali ini dia membelikan ku lingerie berwarna hitam.
Aku yang masih diam terpaku dengan apa yang diberinya, nggak menyadari kalau dia sudah keluar dari kamar mandi.
"Kamu nggak suka kalau aku menginginkan istri ku pakai itu?"
Ucapnya dibelakang ku sambil melingkarkan tangannya keperut ku, danmencium leher belakang ku.
" Kamu benar nyuruh aku pakai ini?"
" Hu'um.. Sayang aku nggak ingin ada jarak lagi antara kita. pakailah, kalau kamu merasa malu aku janji nggak akan lihat kamu makai itu. "
Dilepas pelukan nya, lalu berbalik dan berdiri membelakangi ku sambil mengusapkan rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil.
Sebenarnya bukan aku nggak senang, sebelum aku menikah dengan nya, aku lebih senang tidur dengan menggunakan gaun tidur yang tipis, tapi setelah aku menikah aku lebih memilih menggunakan daster pendek. Karena mengingat pernikahan ku tidak mengenal pribadi masing-masing.
Setelah memakai gaun tidur ku, ku palingkan wajahku ke Mas Jaya. Aku segera menaiki tempat tidur secara perlahan, ku biarkan dia dengan posisinya. Ku tarik selimut ku, dan pura-pura tidur.
" Sayang, lama banget sih"
Berkali-kali dia memanggilku, tapi aku sengaja tidak menjawabnya.
" Dasar kamu ya, pantas tidak ada jawaban."
Ku rasakan Mas Jaya naik ketempat tidur. Beberapa kali dia menyentuh pipiku, memastikan aku benar tidur apa tidak.
Mendapati ku seperti ini, diapun langsung merapatkan tubuhnya dan memelukku.
" Tega kamu ninggalin aku tidur duluan" ucapnya pelan ditelinga ku. Ku rasakan beberapa kali dia mengecup lembut punggungku, dan bagian leher belakang ku. Sampai akhirnya dia menggigit kuat bahu ku.
Aku yang nggak menyangka dia berlaku seperti itu, langsung menjerit karena merasakan sakit. Segera aku bangun dan berusaha untuk memukulnya, berkali-kali dia menghindari ku sambil tertawa.
Sampai akhirnya dia memegang kedua tangan ku dan menarikku dalam pelukannya. Tangannya mengelus lembut kepala ku yang berada didadanya.
" Maafkan aku kalau selama kita berumah tangga, banyak kesalahan yang aku perbuat. Aku hanya ingin memastikan hati ku, apakah keinganku memiliki mu benar karena cinta, atau karena sebatas mengagumi saja. Meninggalkan mu dirumah orang tua mu, membuatku menyadari aku benar-benar mencintaimu.
Jangan pernah tinggalkan aku Zahra, apapun yang terjadi dalam prahara rumah tangga kita, jangan pernah pergi tinggalkan aku. "
Aku lepaskan pelukannya, ku kecup keningnya, ku dekatkan wajahku diwajahnya sehingga hidungku bersentuhan dengan hidungnya.
" Terima kasih atas semua perhatian dan cinta yang selama ini diberikan kepada ku. Aku nggak kan pernah lagi mendapatkan pria sepertimu. Terkadang aku berfikir bahwa indahnya cinta itu bisa dirasakan kalau ada rasa sakit dan air mata. "
Kurasakan lembut bibirnya mengecup bibirku.
Aku nggak tau apalagi ujian yang akan ALLAH berikan kepada ku. Yang aku tau aku benar-benar merasakam kenyamanan bersama suamiku. Malam ini aku merasakan bahwa karang yang ada dihati benar-benar hancur dihantam kuatnya arus gelombang.
Aku sadari selama ini masih ada kekakuan didalam hubungan ini, meskipun berusaha menutupi tapi jarak itu masih terasa, meskipun selama ini satu sama lain berusaha menepisnya, tapi dinding itu masih ada, dan malam ini semua nya ku rasakan hancur tak bersisa.
Part. 12
======
Aku segera menyelesaikan mandi ku, ku biarkan Mas Jaya di kamar mandi, aku belum shalat magrib, sementara waktu magrib hanya sebentar.
" Mas, kamu udah mandinya, ayo kita shalat. "
" Kamu duluan sayang. Maaf aku nggak bisa imamin shalat kamu"
Nggak ingin menunda waktu shalat yang hanya sebentar aku pakai mukena ku untuk melakukan shalat magrib. Selesai aku shalat aku nggak melihat Mas Jaya diruangan kamar ku.
" Mas kamu masih dikamar mandi?" sedikit aku mengeraskan suara ku.
" Iya sayang, kamu kemari sebentar dan jangan lupa bawa handuk nya. "
Bergegas aku ke kamar mandi. Ku lihat dia masih berdiri dikamar mandi.
"Mana handuk nya?" tanya nya begitu aku datang menghampirinya.
segera ku sodorkan handuk yang ku bawa.
" Sayang aku kembali ke kamar ku dulu, aku nggak mungkin shalat pakai handuk aja kan, selesai shalat aku kembali kesini."
" kamu keluar cuma pakai handuk gini? "
" Apa kamu mau aku ke kamar ku tanpa handuk?" sambil dia mengedipkan matanya.
" Genit kamu."
" Udah-udah kamu keluar sana nanti kamu shalat nya tinggal."
Ku dorong tubuh nya keluar dari kamar ku.
"Tok Tok tok". Terdengar pintu kamar ku diketuk. Begitu aku membuka pintu kulihat Mas Jaya yang berdiri didepan pintu.
" Sayang, kunci kamar ku ada di atas meja. tolong ambilkan."
Dia berusaha masuk, tapi tubuhnya ku tahan.
" Kamu diluar aja, biar aku ambilkan nanti kamu nggak jadi shalatnya." Lalu kututup pintu kembali.
Aku membuka pintu dan menyerahkan kunci kamar nya. dan pintu ku tutup kembali.
" Tok tok tok!!!"
" Kamu mau apalagi mas, udah shalat sana yg lain tinggalkan dulu." ucapku pada mas Jaya begitu aku tau bahwa dia yang mengetuk pintu kembali.
" Sayang aku nggak mau masuk, di sebelah sana ada wanita yang sedang memperhatikan ku, lihat lah. "
Aku condongkan badan ku untuk melihat situasi di lorong sekitar kamar ku.
" Ngak ada siapa-siapa. Bohong aja kamu. udah sana."
Sebelum aku menutup pintu, dia memanggil ku lagi..
" Sayang."
Begitu aku menoleh kearahnya, dia menarik wajahku dan mengulum bibir ku. sampai aku benar-benar susah bernafas dibuat nya.
" Makasih sayang. " Lalu dia pergi meninggalkan ku dengan wajah penuh kemenangan.
Aku cuma bisa tersenyum melihat tingkahnya, dan segera menutup kembali pintu. Ku langkah kan kaki ku ke arah tempat tidur, tapi belum sempat aku sampai ku dengar HP ku yang diatas meja berbunyi, ku lihat panggilan dari Tante Maya.
Aku nggak tau berapa lama aku ngobrol dengan nya lewat telpon, sampai aku dengar seseorang mengetuk pintu kamar ku, karena Tante Maya nggak ingin mengganggu ku, akhirnya obrolan lewat telpon itu pun ku akhiri.
" Lama banget sih buka pintu nya. Aku dah dari tadi ngetukin pintu kamu." Ucap Mas Jaya begitu aku membuka pintu, sambil melangkah masuk.
Ku lihat ekspesi wajah nya yang menunjukkan ketidak senangan.
" Kamu kenapa jadi emosian gini sih." dengan nada yang agak sedikit kesal aku membalas ucapannya, sambil berjalan ke arah tempat tidur.
" Sayang, yang seharus nya marah itu aku, bukan kamu. Aku udah dari tadi ngetukin pintu kamu. "
" Udahlah, aku mau tidur. aku malas berdebat." Ku rebahkan tubuh ku, dan menarik selimut.
" Aku baru menyadari kalau istri ku selain hobi ngomel, dia juga tukang tidur, dan jago makan."
dia juga ikut merebahkan tubuh nya dikasur, dan memiringkan posisi tidur nya menghadap ku.
Ku pandangi wajah nya, tanpa berkedip. Dia yang merasa aku perhatikannya salah tingkah sendiri.
" Kamu lihat apa?"
Aku yang ditanya hanya diam saja tanpa menjawab.
Lalu dia merubah posisinya untuk duduk dan memandangi sendiri tubuhnya dengan rasa heran.
Aku masih memandanginya dengan pandangan yang sama, tanpa sekalipun mengedipkan mataku.
" Zahra kamu kenapa? ada yang salah dengan ku?"
Dipukul nya pipi ku berkali-kali, tapi aku tetap tidak bergeming.
"Zahra, kamu jangan main-main begini, aku bener-bener takut lihat kamu seperti ini. "
Aku yang udah nggak tahan lihat tingkah nya yang mulai sedikit panik, jadi tertawa.
" kamu semakin tampan aja aku lihat Mas. Ayo kita Isya. setelah itu kita makan, aku lapar. "
Aku segera bangkit dari tempat tidur,dan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. sebelum dia berbuat yang aneh-aneh. Karena dia melihat ku sudah mengambil wudhu diapun mengikuti ku.
Selesai shalat Isya, aku mengganti pakaian ku, karena dia memilih mengajak ku makan di luar.
Kurang lebih 20 menit dia menunggu ku untuk siap-siap. Pada saat aku ingin membuka pintu, dia menahan tangan ku. Ditariknya pinggang ku mendekat ketubuhnya. satu tangannya memegang dagu ku.
" Aku sangat mencintai mu Zahra, sangat mencintai mu."
Pada saat dia hendak mendekatkan bibirnya ke bibirku, aku segera memalingkan wajahku, sehingga bibirnya mencium pipiku.
" Aku udah lapar Mas, yang ada aku nggak jadi makan nanti. kamu nggak lapar kah?"
Aku berusaha melepaskan diri dari pelukannya, tapi yang ada dia semakin erat mendekap tubuhku.
" Aku nggak lapar, aku temani kamu mkn aja. Makan malam ku menu spesial dari kamu" sambil dia menaikkan kedua alis nya.
" Nggak usah menggoda ku begitu. Sejak kapan kamu menyediakan ruang mesum dalam otak mu."
Dia cuma tertawa mendengar ucapan ku. Dan memintaku membuka pintu.
Begitu kami keluar dari pintu lif, ku lihat ada beberapa karyawan yang sedang duduk di loby. Melihat aku dan Mas jaya, Pak Adi selaku bagian pemasaran mendekati kami, dan mengajak duduk bergabung bersama mereka.
Tapi tatapan matanya kepada ku, menunjukkan pandangan yang aneh. Sehingga aku sedikit risih dibuatnya.
" Maaf pak, saya ingin makan berdua dengan istri saya. " Dengan ramahnya Mas Jaya menolak ke inginannya.
Baru satu langkah kami berjalan, Mas Jaya berhenti, dan memanggil Pak Adi. Yang dipanggil mendekat.
" Saya lupa mau bilang, sekali lagi kamu memandang istri saja dengan pandangan seperti tadi, selesai kamu." ucapnya pelan sambil menepuk bahu Pak Adi. Lalu dia menarik tangan ku, dan meninggalkan Pak Adi yang masih berdiri.
"Kamu mau makan apa?" tanya nya setelah kami keluar dari halaman hotel.
" Apa ajalah, yang penting enak. "
Mas jaya langsung menghentikan langkah nya..
" Kamu yakin mau makan apa ajalah, yang penting enak?"
" Iya. udah ayo jalan"
" Zahra, saat ini cuma ada satu tempat yang menyediakan menu itu. kamu yakin?!"
" Mas aku udah laper, kalo memang ada ayo. "
" sini. aku tunjukkan tempat nya."
Dia langsung berdiri dibelakang ku,mendekatkan wajahnya kewajahku.
" Kamu lihat hotel itu? " Sambil dia menunjuk arah Hotel tempat kami menginap.
" Sayang, tempatnya ada disana, tapi bahan pokoknya harus kita yang menyediakan, dan koki nya juga kita. sudah ngerti maksudku. " lalu dia mencium pipi ku, dan meletakkan dagunya diatas bahu ku.
Aku yang baru faham apa maksudnya. Menoleh kearah wajahnya yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahku. Ku lihat dia tersenyum.
"Dasar otak mesum kamu!"
seketika dia langsung tertawa, dan menarik wajahnya dari bahuku, pada saat aku ingin menarik hidungnya.
Aku memutuskan makan ditempat yang nggak jauh dari tempat kami menginap.
Sebenarnya Mas Jaya masih ingin mengajak ku jalan-jalan menikmati suasana malam di kota Denpasar ini, tapi aku menolaknya, dengan alasan besok harus kembali ke Jakarta, aku juga harus merapikan barang ku.
Pada Saat aku makan, Mas Jaya meminta izin sebentar untuk membeli sesuatu. Aku mengizinkan, karena dia berkeras bilang masih kenyang pada saat aku menyuruhnya memesan makanan
Selesai aku makan dia belum juga kembali, sedikit gusar hati ku menunggu dia karena terlalu lama.
" Kamu sama sapa Zahra? Heru mana? " Tanya seorang wanita yang suaranya sangat familiar buat ku.
Ku arahkan pandangan ku kesumber suara. Ku lihat Mbak Ratna bersama Pak Fajar.
Aku mempersilahkan mereka duduk dibangku yang ada didepan ku.
" Wah Pak Fajar, tadi pagi habis ngegoda saya, malamnya udah jalan sama Bu' Ratna. " Sedikit aku berbasa basi dan menyunggingkan senyum baru kali ini aku merasakan aku memberikan senyum yang ramah kepadanya.
" Kebetulan saja, tadi saya makan disini, lalu Bu Ratna juga, kita putuskan gabung satu meja saja."
hampir 10 menit Mbak Ratna dan Pak Fajar menemani ku, akhirnya Mas Jaya datang dengan membawa sebuah bungkusan.
"Maaf aku lama sayang." Lalu dia memesan makanan karena dia merasa lapar. Mbak Ratna dan Pak Fajar pun akhirnya pamit setelah kita ngobrol dan sedikit bercanda.
" Kamu nggak ada niat mau menikahkan Mbak Ratna?"
" Ada sayang, tapi belum ada pria yang aku rasa pantas untuk nya. Saat ini dia tanggung jawab ku, karena dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi. "
Lalu dia meminta ku untuk tidak membahas apapun lagi.
Selesai dia makan, dan duduk sebentar Mas Jaya mengajak ku pulang.
Dia menghentikan langkah pada saat melihat pertunjukan musisi jalanan,
Salah seorang dari mereka menyapa Mas Jaya dan mendekati nya, sepertinya mereka sudah saling kenal. Sampai akhirnya Mas Jaya minta izin meninggalkan ku menghampiri musisi jalanan yang sedang memperlihatkan aksinya.
Ku lihat Mas Jaya bergabung dengan mereka, mengambil gitar dan memainkan nya.
" Selamat malam, malam ini saya ingin menyumbangkan lagu, untuk wanita yang paling istimewa dalam hidup saya."
Dengan Mahirnya dia memetik gitar dan menyanyikan dua lagu, yang dipopulerkan oleh Anji Bidadari tak bersayap, dan Lagu Tulang Rusuk dari Semmy simorangkir.
Aku yang berdiri diantara orang-orang yang menyaksikan perbuatan suami ku itu sedikit terpesona dengan apa yang dilakukannya tiba-tiba bahu ku disenggol seseorang, Mbak Ratna yang udah ada disamping ku.
"Ngak nyangka aku Heru bisa seromantis itu. Aku kira dia kulkas. "
aku cuma bisa tersenyum mendengar ucapannya.
Setelah dia selesai menyanyikan lagu itu, dia mendekati ku dan Mbak Ratna. Lalu mengajak ku kembali ke Hotel. Mbak Ratna yang masih ingin menikmati suasana malam ini akhirnya kami tinggalkan.
" Nggak nyangka aku kamu bisa juga main gitar dan punya suara yang lumayan bagus."
" kamu lupa kalau suamimu ini juga salah satu seniman jalanan selain jadi juru parkir dan kuli angkut di pasar. "
Sepanjang jalan menuju penginapan dia melingkarkan tangannya dipinggang ku. Tidak ada satu katapun yang keluar dari bibir kami dan hanya tenggelam dengan pikirin masing-masing. Selama aku menikah dengannya belum pernah sekalipun dia melakukan hal seperti ini. Aku benar-benar menemukan hal yang berbeda dari suamiku.
Sesampai di kamar ku, aku langsung merebah kan tubuh ku.
" Sayang beresin semua barang kamu, kamu pindah ke kamar aku ya... aku tunggu 10 menit dari sekarang. "
aku yang udah dalam posisi paling nyaman menurut ku segera bangun dan memberesin barang-barang ku, karena aku sudah mulai mendengar dia berceloteh. Setelah selesai, aku dan Mas Jaya keluar dari kamar ku, menuju kamar Mas Jaya.
Sesampainya di kamar nya, aku meletakkan tas ku di meja yang ada diruangan ini.
" aku mau mandi dulu mas, badan ku rasanya lengket banget."
Mas Jaya hanya mengangguk kan kepala nya untuk menjawab ku.
Selesai aku mandi, dan keluar dari kamar mandi, Mas Jaya menghampiriku.
" Sayang... kamu pakai ini yaa.. " lalu dia mencium pipi ku, dan pergi menuju kamar mandi.
Ku lihat bungkusan yang dikasih nya.. Begitu aku buka, Mata ku sempat kaget dibuat nya.
" Mas.. kamu yakin ngasih aku ini?"
" Iya sayang, yakin banget malah."
Aku menikah dengan nya bukan baru, udah dua tahun lebih, mau masuk tahun ke 3, setiap dia membelikan ku sesuatu belum pernah hal yang aneh, termasuk gaun tidur. Tapi kali ini dia membelikan ku lingerie berwarna hitam.
Aku yang masih diam terpaku dengan apa yang diberinya, nggak menyadari kalau dia sudah keluar dari kamar mandi.
"Kamu nggak suka kalau aku menginginkan istri ku pakai itu?"
Ucapnya dibelakang ku sambil melingkarkan tangannya keperut ku, danmencium leher belakang ku.
" Kamu benar nyuruh aku pakai ini?"
" Hu'um.. Sayang aku nggak ingin ada jarak lagi antara kita. pakailah, kalau kamu merasa malu aku janji nggak akan lihat kamu makai itu. "
Dilepas pelukan nya, lalu berbalik dan berdiri membelakangi ku sambil mengusapkan rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil.
Sebenarnya bukan aku nggak senang, sebelum aku menikah dengan nya, aku lebih senang tidur dengan menggunakan gaun tidur yang tipis, tapi setelah aku menikah aku lebih memilih menggunakan daster pendek. Karena mengingat pernikahan ku tidak mengenal pribadi masing-masing.
Setelah memakai gaun tidur ku, ku palingkan wajahku ke Mas Jaya. Aku segera menaiki tempat tidur secara perlahan, ku biarkan dia dengan posisinya. Ku tarik selimut ku, dan pura-pura tidur.
" Sayang, lama banget sih"
Berkali-kali dia memanggilku, tapi aku sengaja tidak menjawabnya.
" Dasar kamu ya, pantas tidak ada jawaban."
Ku rasakan Mas Jaya naik ketempat tidur. Beberapa kali dia menyentuh pipiku, memastikan aku benar tidur apa tidak.
Mendapati ku seperti ini, diapun langsung merapatkan tubuhnya dan memelukku.
" Tega kamu ninggalin aku tidur duluan" ucapnya pelan ditelinga ku. Ku rasakan beberapa kali dia mengecup lembut punggungku, dan bagian leher belakang ku. Sampai akhirnya dia menggigit kuat bahu ku.
Aku yang nggak menyangka dia berlaku seperti itu, langsung menjerit karena merasakan sakit. Segera aku bangun dan berusaha untuk memukulnya, berkali-kali dia menghindari ku sambil tertawa.
Sampai akhirnya dia memegang kedua tangan ku dan menarikku dalam pelukannya. Tangannya mengelus lembut kepala ku yang berada didadanya.
" Maafkan aku kalau selama kita berumah tangga, banyak kesalahan yang aku perbuat. Aku hanya ingin memastikan hati ku, apakah keinganku memiliki mu benar karena cinta, atau karena sebatas mengagumi saja. Meninggalkan mu dirumah orang tua mu, membuatku menyadari aku benar-benar mencintaimu.
Jangan pernah tinggalkan aku Zahra, apapun yang terjadi dalam prahara rumah tangga kita, jangan pernah pergi tinggalkan aku. "
Aku lepaskan pelukannya, ku kecup keningnya, ku dekatkan wajahku diwajahnya sehingga hidungku bersentuhan dengan hidungnya.
" Terima kasih atas semua perhatian dan cinta yang selama ini diberikan kepada ku. Aku nggak kan pernah lagi mendapatkan pria sepertimu. Terkadang aku berfikir bahwa indahnya cinta itu bisa dirasakan kalau ada rasa sakit dan air mata. "
Kurasakan lembut bibirnya mengecup bibirku.
Aku nggak tau apalagi ujian yang akan ALLAH berikan kepada ku. Yang aku tau aku benar-benar merasakam kenyamanan bersama suamiku. Malam ini aku merasakan bahwa karang yang ada dihati benar-benar hancur dihantam kuatnya arus gelombang.
Aku sadari selama ini masih ada kekakuan didalam hubungan ini, meskipun berusaha menutupi tapi jarak itu masih terasa, meskipun selama ini satu sama lain berusaha menepisnya, tapi dinding itu masih ada, dan malam ini semua nya ku rasakan hancur tak bersisa.
------
#Suami_Ku
Part. 13
======
Alarm di Hp ku berdering, berarti sudah pukul 4 subuh. Ku rasakan tangan Mas Jaya masih memeluk ku. Ku putar tubuh ku mengahadap nya.
Tenang sekali tidur nya, kalau saja hari ini nggak harus balik ke Jakarta aku mungkin masih betah berada dalam pelukannya.
Perlahan aku bangun dan turun dari tempat tidur secara perlahan, sebelum ke kamar mandi terlebih dahulu ku rapikan selimut yang dipakai nya. Setelah mengecup keningnya dan ingin melangkahkan kaki tiba-tiba kurasakan tangan nya memegang erat tangan ku, dan menarik ku kedalam pelukannya.
" Mau kemana?"
" Kamu udah bangun Mas. Aku mau ke kamar mandi, udah subuh."
" Mulai hari ini, kamu harus memberiku Morning Kiss sebelum kamu turun dari tempat tidur. " Sambil dia memajukan bibirnya.
" Apa-apain sih kamu, nggak usah manja, biasanya juga nggak ada acara begitu"
" Kalau kamu nggak mau, aku nggak akan lepaskan kamu, biar aja sampai besok kamu aku peluk begini. " Lagi-lagi dia memajukan bibir nya.
" Pagi suami ku tercinta.. muaach " Lalu ku kecup bibirnya.
" Nggak ikhlas kamu cium aku. Seperti ini sayang. "
Tiba-tiba dia menekan leher belakangku dan mencium bibirku sangat lama.
" Udah aku beri contoh kan, sekarang kerjakan" Ucap nya setelah dia melepaskan ciumannya.
Aku yang merasa malu dengan perlakuannya berusaha melepas diriku dari pelukannya.
" Udah ah, aku mau mandi Mas."
Bukan melepasku dia malah lebih kuat memelukku.
" Aku nggak bakal lepasin kamu sebelum kamu mencium ku. "
" Jangan maksa gini donk, aku jadi takut kamu seperti ini. "
Mendengar ucapan ku dia malah tertawa.
" Oke kamu tutup mata ya. Setidaknya aku masih punya rasa malu Mas. " Ucapku sambil menundukkan wajahku ke dalam dadanya.
"Kita udah dua tahun lebih menikah masa masih malu aja."
ku minta dia untuk memperbaiki posisinya dan memejamkan mata, karena aku beralasan untuk merapikan dulu rambut ku.
" Kamu masih mau menipu aku lagi, udah lama aku tutup mata."
" Iya Mas, aku masih disini, bawel amat sih. "
Aku mengambil posisi duduk disisi tempat tidur dan perlahan mendekatkan wajah ku ke wajahnya, ku pandangi wajah nya dengan seksama, ku kecup keningnya, turun dikedua kelopak matanya, lalu di kedua pipinya. Ku usap lembut bibirnya, lalu kulakunan sesuai apa yang di inginkannya, pada saat dia ingin membalas ciuman ku, sengaja ku gigit bibir bawahnya, refleks dia melepas ciuman ku dan mendorong tubuh ku, aku pun mengambil kesempatan untuk lari ke kamar mandi, dan tak lupa aku mengunci pintu kamar mandi, karena aku tau dia mengejar ku.
" Kamu ya, aku nggak memberi contoh untuk menggigitnya."
Ku dengar dia tertawa di balik pintu kamar mandi.
" Maaf ya Mas, habis kamu gemesin. Aku mandi duluan ya. "
Dingin nya air yang mengguyur tubuh ku, sungguh sangat menyegarkan. Selesai mandi sekalian aku mengambil air wudhu untuk melaksakan shalat subuh.
Begitu aku membuka pintu kamar mandi, ku lihat dia bersandar didinding sambil melipat kedua tangannya didada. Pada saat dia ingin menyentuhku, ku jauhkan diri ku menghindarinya.
" Aku udah wudhu' Mas, kamu mandi ya, setelah itu kita shalat bersama. " Ucap ku sambil memberikan senyum yang paling manis untuk nya.
" Imut banget sich senyum nya, buat aku tergoda aja."
Aku yang sudah lengkap dengan mukena yang sudah ku pakai menunggunya untuk segera shalat bersama. Selama aku menunggu nya berpakaian Tak lupa aku mendoakannya agar Allah memberikan kesehatan dan umur yang panjang pada nya.
Selesai shalat, dan mencium tangan nya, dia meraih tubuh ku dalam pelukannya.
Di kecupnya kepala ku yang masih memakai mukena. Di rebahkannya Tubuhnya dilantai yang beralaskan sajadah. Aku pun ikut menjatuhkan diriku, dan meletakkan kepalaku didadanya.
" Terima kasih sudah mau manjadi pendamping hidupku Zahra, tetaplah di samping ku sampai akhir hayat ku."
Aku merasa benar-benar nyaman berada dalam pelukannya. Merasakan detak jantungnya.
" Apa yang membuat mu tertarik pada ku Mas? padahal kita nggak pernah saling kenal sebelumnya. " Tanya ku padanya.
" Pertama kali melihat mu aku sudah jatuh hati pada mu. Waktu itu aku melihat mu sungguh anggun sekali."
"Oh ya, kamu pasti salah lihat kali Mas.
Kapan kamu melihat ku, bukannya selama menjadi tetangga ku, kamu selalu pergi subuh dan pulang malam? Bahkan aku sendiri nggak tau kamu loh Mas, kalau bukan orang tua ku yang kasih informasi tentang kamu aku nggak tau kamu sama sekali. Aku butuh penjelasan itu sekarang?"
" Waktu itu aku nggak tau kalau kamu masih sekolah, tapi syukurnya kamu udah selesai melakukan tugas akhir. Karena dipandangan mata ku seperti nya kamu sudah dewasa.
Aku sering melihat mu kalau sore hari dengan sepeda mu datang kerumah Mbah Tarmi untuk mengantar makanan, dan itu sering kau lakukan sampai dia meninggal. Aku cukup kagum dengan kepribadian mu. Makanya aku mencari tau tentang mu. Tapi info yang ku dapat cuma dari Almarhumah Mbah Tarmi saja, dia bilang kamu gadis yang baik, yang selalu membantunya, bahkan pernah dia cerita kalau kamu nggak sungkan untuk membersihkan kotorannya pada saat dia sakit. Mengenai aku pindah di depan rumah mu, itu hanya kebetulan saja ada yang menawarkan rumah dengan harga yang murah, aku nggak tau sama sekali kamu tinggal disitu. Tapi aku rasa itu jalan ALLAH untuk kendekatkan mu pada ku. Pada saat aku pindah di depan Rumah mu, aku sempat kaget juga karena gadis yang ku cari itu ternyata baru menyelesaikan sekolahnya dan menjadi tetangga didepan rumah ku. Jadi intinya aku menyukai mu pada pandangan pertama, bukan karena fisik mu, tapi karena sikap mu. Tapi nggk ku pungkiri, fisik mu juga cantik, bahkan semakin hari semakin cantik."
Aku lepaskan pelukan ku, dan ku rubah posisi ku untuk duduk, supaya aku bisa melihat waja nya.
" Kamu bukan pecinta anak dibawah umur kan mas?" ku coba menggodanya dengan ekspresi sedikit kaget, dan menutup mulut ku dengan satu tangan.
" Kamu kira aku pedofilia?" sambil dia membelalakkan matanya memandang ku.
" Nggak usah ngegas. Sensi amat sih sekarang.
Kalau kau sudah tau aku baru tamat sekolah kenapa kau nekad melamarku? "
" Karena aku nggak mau membuang kesempatan untuk mendapatakan mu.
Kau masih belia, ibarat bunga kau baru mekar, meleng sedikit saja kau pasti sudah ditangan orang lain. Karena pak Haji yang sering menjadi Imam shalat subuh dimesjid kita waktu itu, menginginkan mu menjadi menantunya. Dia hanya menunggu anak nya yang lulusan pesantren dan sedang mengabdi di ponpes pulang. Itu yang sempat ku dengar dari pembicaraan beliau waktu bicara sama Bapak mu pada saat beliau menanyakan kabar mu. Maka dari itu aku duluan melamar mu. "
" kalau aku tau Pak Haji Ibrahim akan menjodohkan ku dengan anak nya yang lulusan pesantren itu aku nggak terima lamaran mu. Karena yang aku tau anak nya yang pesantren cuma satu, dan dia bernama Yusuf. Dia cukup tampan Mas, kulitnya putih, tinggi, bibirnya merah, alisnya tebal, hidungnya mancung, dan aku sempat mengaguminya. "
Sengaja ku pasang wajah seolah-olah aku sedang membayang seorang pria tampan didepan ku. Sambil ingin tau reaksinya dengan sikap ku.
" Heh Bodoh!! Tau kah kau, kau sedang memuji laki-laki lain didepan suami mu. Kau kira kau itu secantik Zulaikha.!!"
Dikeraskan nya intonasi suaranya. Dan dia segera berdiri dan menjauhi ku.
Dia mengambil kopernya dan mengemasin barang-barang nya.
" Kamu marah mas?"
Tidak ada jawaban yang ku dapat dari nya.
"Mas.. "
Ku pegang tangannya yang sibuk membereskan pakaiannya dalam koper.
" Maafkan aku Mas. Aku nggak bermaksud buat mu marah, aku hanya mencoba menggoda mu saja. Aku nggak nyangka Mas bakal semarah ini, sekali lagi maafkan aku Mas."
" Udah selesai acting mu?" Tanya nya dengan ekspresi wajah yang sedang menahan marah.
" Kalau udah selesai acting mu, kemasin barang-barangmu, dan ganti baju mu, setelah itu kau turun bersama ku untuk sarapan, karena kita harus check out. "
Aku yang mendapat perkataan seperti ini dari nya, segera membereskan perlengkapan ku, dan mengganti pakaian ku. Aku nggak ingin menambah marahnya lagi. Tapi aku benar-benar nggak menyangka dia akan semarah ini.
Dia yang udah selesai berkemas, dan menggati pakaiannya, langgung duduk disofa menunggu ku.
" Kita kembali ke Jakarta pagi ini. Lupakan kalau kau mau membeli oleh-oleh buat keluargamu!".
" Mas, bisakah aku mengundur penerbangan ku, aku tidak pulang sama yang lain, kalau kau tidak bilang seperti itu, aku mungkin nggak ingat sama sekali membelikan keluarga ku oleh-oleh. "
"jangan mentang-mentang kau sudah punya penghasilan sendiri bisa seenak mu menghambur-hamburkan uang seperti itu, cepatlah dan jangan berlama-lama lagi."
"Aku rasa kali ini dia benar-benar marah, aduh kenapa aku seceroboh itu, niatnya aku hanya ingin bercanda Mas, nggak ada niat lain.nggak sanggup menaikkan kepalaku untuk menatapnya. Kali ini aku yang salah, jadi aku nggak harus membantahnya." ucap batin ku.
" Dasar wanita bodoh, dia kira siapa dirinya!"
Meskipun dia mengucapkan kalimat itu dengan pelan, tapi telinga ku cukup jelas mendengarnya dan itu membuat darahku sedikit mendidih.
"Hei tuan Heru Sanjaya! Aku memang wanita bodoh, tapi kau buka lebar-lebar telinga dan matamu ya, wanita yang kau bodohi-bodohi ini adalah istri mu.
Cuma laki-laki bodoh yang akan menikahi wanita bodoh, dan kau jauh lebih bodoh dari aku kalau begitu! Kau camkan kata-kata ku ini!!"
habis menghardiknya, perut ku menjadi mual. Segera aku lari ke kamar mandi, dan muntah. Udah hampir dua minggu aku pasti mengalami hal seperti ini setiap pagi.
Mendapati ku dengan keadaan yang seperti itu, dia pun menyusulku ke kamar mandi.
" Sayang kamu nggak apa-apa? kamu sakit? kita kedokter ya." Wajahnya yang tadi begitu menyeramkan secara spontan berubah karena mengkhawatirkan ku.
" Nggak usah khawatirkan aku, udah biasa aku seperti ini" Ucapku sambil melangkahkan kaki keluar dari kamar mandi, dan menjatuhkan diriku diatas sofa, sambil mengatur nafasku.
" Sayang maafkan aku sudah marah tadi. Aku cuma cemburu kau memuji orang lain didepan ku. Kita ke dokternya"
" Aku cuma butuh minum Mas, dan tolong jangan buat aku stress lagi."
" Iya sayang aku minta maaf, sebentar aku ambil kan minumnya"
Ku lihat dia melangkah mengambil sebuah gelas, dan menuangkan air mineral digelas tersebut.
" Ini sayang, minumlah."
Diletakkan nya gelas yang berisi air ditangan ku, dan berlutut dihadapanku.
Segera ku habiskan air didalam gelas yang diberikannya kepada ku.
" Kamu nggak apa-apa? apanya yang sakit?"
Ku pandangi wajahnya dengan masih suasana hati yang kesal.
" Aku begini karena ulah mu lah, karena kelancangan mu, kalau tangan mu itu bisa kau cegah untuk nggak mengganggu ku setiap aku tidur, aku nggak bakal begini!"
"Maksud nya?"
" Begitu saja kau nggak mengertikan. Aku memang bodoh karena mau dinikahi laki-laki bodoh."
Lalu ku tarik rambutnya, melampiaskan rasa kesal ku. Aku nggak perduli dia meringis menahankan sakit.
" Sayang kamu kenapa jadi galak gini sich, sakit tau.! luka di pelipis ku belum juga hilang, sekarang kamu jambakin aku begini. " Ucapnya sambil memegang kepalanya menahan rasa sakit.
Ku dengar pintu kamar diketuk, aku yang masih belum bisa menstabilkan emosiku, enggan membuka pintu, ku lihat Mas Jaya berjalan membuka pintu.
" Lu kenapa? rambut acak-acakan gini, Zahra tidur disini?"
Ku dengar suara Mbak Ratna memasuki kamar. Begitu melihat ku yang duduk di tepi tempat tidur Mbak Ratna memalingkan wajahnya ke Mas jaya, langsung tertawa.
" Gua ganggu lu Ru? Maaf deh maaf."
" He, curut gua bersyukur malah lu datang, setidak nya selamat nyawa gua."
Tanpa aku sadari air mata ku langsung jatuh. Ada rasa penyesalan ku, mempelakukan Mas Jaya seperti ini. Aku sendiri nggak tau kenapa aku bisa seperti ini.
Melihat ku menangis, Mas Jaya dan Mbak Ratna pun jadi panik.
Mbak Ratna langsung memeluk ku. Mengusap rambut ku.
" Kenapa Ru, lu apain?"
" Nggak apa-apa, nggak usah mau tau urusan orang lain."
" Udah Zahra, jangan nangis lagi, kita balik hari ini kan. Nanti kita ketinggalan pesawat. Ada Mbak disini. "
Setelah puas menangis, dan membuat hati ku lebih tenang, aku, Mbak Ratna dan Mas Jaya pun akhirnya keluar dari kamar untuk sarapan, dan pulang ke Jakarta.
Part. 13
======
Alarm di Hp ku berdering, berarti sudah pukul 4 subuh. Ku rasakan tangan Mas Jaya masih memeluk ku. Ku putar tubuh ku mengahadap nya.
Tenang sekali tidur nya, kalau saja hari ini nggak harus balik ke Jakarta aku mungkin masih betah berada dalam pelukannya.
Perlahan aku bangun dan turun dari tempat tidur secara perlahan, sebelum ke kamar mandi terlebih dahulu ku rapikan selimut yang dipakai nya. Setelah mengecup keningnya dan ingin melangkahkan kaki tiba-tiba kurasakan tangan nya memegang erat tangan ku, dan menarik ku kedalam pelukannya.
" Mau kemana?"
" Kamu udah bangun Mas. Aku mau ke kamar mandi, udah subuh."
" Mulai hari ini, kamu harus memberiku Morning Kiss sebelum kamu turun dari tempat tidur. " Sambil dia memajukan bibirnya.
" Apa-apain sih kamu, nggak usah manja, biasanya juga nggak ada acara begitu"
" Kalau kamu nggak mau, aku nggak akan lepaskan kamu, biar aja sampai besok kamu aku peluk begini. " Lagi-lagi dia memajukan bibir nya.
" Pagi suami ku tercinta.. muaach " Lalu ku kecup bibirnya.
" Nggak ikhlas kamu cium aku. Seperti ini sayang. "
Tiba-tiba dia menekan leher belakangku dan mencium bibirku sangat lama.
" Udah aku beri contoh kan, sekarang kerjakan" Ucap nya setelah dia melepaskan ciumannya.
Aku yang merasa malu dengan perlakuannya berusaha melepas diriku dari pelukannya.
" Udah ah, aku mau mandi Mas."
Bukan melepasku dia malah lebih kuat memelukku.
" Aku nggak bakal lepasin kamu sebelum kamu mencium ku. "
" Jangan maksa gini donk, aku jadi takut kamu seperti ini. "
Mendengar ucapan ku dia malah tertawa.
" Oke kamu tutup mata ya. Setidaknya aku masih punya rasa malu Mas. " Ucapku sambil menundukkan wajahku ke dalam dadanya.
"Kita udah dua tahun lebih menikah masa masih malu aja."
ku minta dia untuk memperbaiki posisinya dan memejamkan mata, karena aku beralasan untuk merapikan dulu rambut ku.
" Kamu masih mau menipu aku lagi, udah lama aku tutup mata."
" Iya Mas, aku masih disini, bawel amat sih. "
Aku mengambil posisi duduk disisi tempat tidur dan perlahan mendekatkan wajah ku ke wajahnya, ku pandangi wajah nya dengan seksama, ku kecup keningnya, turun dikedua kelopak matanya, lalu di kedua pipinya. Ku usap lembut bibirnya, lalu kulakunan sesuai apa yang di inginkannya, pada saat dia ingin membalas ciuman ku, sengaja ku gigit bibir bawahnya, refleks dia melepas ciuman ku dan mendorong tubuh ku, aku pun mengambil kesempatan untuk lari ke kamar mandi, dan tak lupa aku mengunci pintu kamar mandi, karena aku tau dia mengejar ku.
" Kamu ya, aku nggak memberi contoh untuk menggigitnya."
Ku dengar dia tertawa di balik pintu kamar mandi.
" Maaf ya Mas, habis kamu gemesin. Aku mandi duluan ya. "
Dingin nya air yang mengguyur tubuh ku, sungguh sangat menyegarkan. Selesai mandi sekalian aku mengambil air wudhu untuk melaksakan shalat subuh.
Begitu aku membuka pintu kamar mandi, ku lihat dia bersandar didinding sambil melipat kedua tangannya didada. Pada saat dia ingin menyentuhku, ku jauhkan diri ku menghindarinya.
" Aku udah wudhu' Mas, kamu mandi ya, setelah itu kita shalat bersama. " Ucap ku sambil memberikan senyum yang paling manis untuk nya.
" Imut banget sich senyum nya, buat aku tergoda aja."
Aku yang sudah lengkap dengan mukena yang sudah ku pakai menunggunya untuk segera shalat bersama. Selama aku menunggu nya berpakaian Tak lupa aku mendoakannya agar Allah memberikan kesehatan dan umur yang panjang pada nya.
Selesai shalat, dan mencium tangan nya, dia meraih tubuh ku dalam pelukannya.
Di kecupnya kepala ku yang masih memakai mukena. Di rebahkannya Tubuhnya dilantai yang beralaskan sajadah. Aku pun ikut menjatuhkan diriku, dan meletakkan kepalaku didadanya.
" Terima kasih sudah mau manjadi pendamping hidupku Zahra, tetaplah di samping ku sampai akhir hayat ku."
Aku merasa benar-benar nyaman berada dalam pelukannya. Merasakan detak jantungnya.
" Apa yang membuat mu tertarik pada ku Mas? padahal kita nggak pernah saling kenal sebelumnya. " Tanya ku padanya.
" Pertama kali melihat mu aku sudah jatuh hati pada mu. Waktu itu aku melihat mu sungguh anggun sekali."
"Oh ya, kamu pasti salah lihat kali Mas.
Kapan kamu melihat ku, bukannya selama menjadi tetangga ku, kamu selalu pergi subuh dan pulang malam? Bahkan aku sendiri nggak tau kamu loh Mas, kalau bukan orang tua ku yang kasih informasi tentang kamu aku nggak tau kamu sama sekali. Aku butuh penjelasan itu sekarang?"
" Waktu itu aku nggak tau kalau kamu masih sekolah, tapi syukurnya kamu udah selesai melakukan tugas akhir. Karena dipandangan mata ku seperti nya kamu sudah dewasa.
Aku sering melihat mu kalau sore hari dengan sepeda mu datang kerumah Mbah Tarmi untuk mengantar makanan, dan itu sering kau lakukan sampai dia meninggal. Aku cukup kagum dengan kepribadian mu. Makanya aku mencari tau tentang mu. Tapi info yang ku dapat cuma dari Almarhumah Mbah Tarmi saja, dia bilang kamu gadis yang baik, yang selalu membantunya, bahkan pernah dia cerita kalau kamu nggak sungkan untuk membersihkan kotorannya pada saat dia sakit. Mengenai aku pindah di depan rumah mu, itu hanya kebetulan saja ada yang menawarkan rumah dengan harga yang murah, aku nggak tau sama sekali kamu tinggal disitu. Tapi aku rasa itu jalan ALLAH untuk kendekatkan mu pada ku. Pada saat aku pindah di depan Rumah mu, aku sempat kaget juga karena gadis yang ku cari itu ternyata baru menyelesaikan sekolahnya dan menjadi tetangga didepan rumah ku. Jadi intinya aku menyukai mu pada pandangan pertama, bukan karena fisik mu, tapi karena sikap mu. Tapi nggk ku pungkiri, fisik mu juga cantik, bahkan semakin hari semakin cantik."
Aku lepaskan pelukan ku, dan ku rubah posisi ku untuk duduk, supaya aku bisa melihat waja nya.
" Kamu bukan pecinta anak dibawah umur kan mas?" ku coba menggodanya dengan ekspresi sedikit kaget, dan menutup mulut ku dengan satu tangan.
" Kamu kira aku pedofilia?" sambil dia membelalakkan matanya memandang ku.
" Nggak usah ngegas. Sensi amat sih sekarang.
Kalau kau sudah tau aku baru tamat sekolah kenapa kau nekad melamarku? "
" Karena aku nggak mau membuang kesempatan untuk mendapatakan mu.
Kau masih belia, ibarat bunga kau baru mekar, meleng sedikit saja kau pasti sudah ditangan orang lain. Karena pak Haji yang sering menjadi Imam shalat subuh dimesjid kita waktu itu, menginginkan mu menjadi menantunya. Dia hanya menunggu anak nya yang lulusan pesantren dan sedang mengabdi di ponpes pulang. Itu yang sempat ku dengar dari pembicaraan beliau waktu bicara sama Bapak mu pada saat beliau menanyakan kabar mu. Maka dari itu aku duluan melamar mu. "
" kalau aku tau Pak Haji Ibrahim akan menjodohkan ku dengan anak nya yang lulusan pesantren itu aku nggak terima lamaran mu. Karena yang aku tau anak nya yang pesantren cuma satu, dan dia bernama Yusuf. Dia cukup tampan Mas, kulitnya putih, tinggi, bibirnya merah, alisnya tebal, hidungnya mancung, dan aku sempat mengaguminya. "
Sengaja ku pasang wajah seolah-olah aku sedang membayang seorang pria tampan didepan ku. Sambil ingin tau reaksinya dengan sikap ku.
" Heh Bodoh!! Tau kah kau, kau sedang memuji laki-laki lain didepan suami mu. Kau kira kau itu secantik Zulaikha.!!"
Dikeraskan nya intonasi suaranya. Dan dia segera berdiri dan menjauhi ku.
Dia mengambil kopernya dan mengemasin barang-barang nya.
" Kamu marah mas?"
Tidak ada jawaban yang ku dapat dari nya.
"Mas.. "
Ku pegang tangannya yang sibuk membereskan pakaiannya dalam koper.
" Maafkan aku Mas. Aku nggak bermaksud buat mu marah, aku hanya mencoba menggoda mu saja. Aku nggak nyangka Mas bakal semarah ini, sekali lagi maafkan aku Mas."
" Udah selesai acting mu?" Tanya nya dengan ekspresi wajah yang sedang menahan marah.
" Kalau udah selesai acting mu, kemasin barang-barangmu, dan ganti baju mu, setelah itu kau turun bersama ku untuk sarapan, karena kita harus check out. "
Aku yang mendapat perkataan seperti ini dari nya, segera membereskan perlengkapan ku, dan mengganti pakaian ku. Aku nggak ingin menambah marahnya lagi. Tapi aku benar-benar nggak menyangka dia akan semarah ini.
Dia yang udah selesai berkemas, dan menggati pakaiannya, langgung duduk disofa menunggu ku.
" Kita kembali ke Jakarta pagi ini. Lupakan kalau kau mau membeli oleh-oleh buat keluargamu!".
" Mas, bisakah aku mengundur penerbangan ku, aku tidak pulang sama yang lain, kalau kau tidak bilang seperti itu, aku mungkin nggak ingat sama sekali membelikan keluarga ku oleh-oleh. "
"jangan mentang-mentang kau sudah punya penghasilan sendiri bisa seenak mu menghambur-hamburkan uang seperti itu, cepatlah dan jangan berlama-lama lagi."
"Aku rasa kali ini dia benar-benar marah, aduh kenapa aku seceroboh itu, niatnya aku hanya ingin bercanda Mas, nggak ada niat lain.nggak sanggup menaikkan kepalaku untuk menatapnya. Kali ini aku yang salah, jadi aku nggak harus membantahnya." ucap batin ku.
" Dasar wanita bodoh, dia kira siapa dirinya!"
Meskipun dia mengucapkan kalimat itu dengan pelan, tapi telinga ku cukup jelas mendengarnya dan itu membuat darahku sedikit mendidih.
"Hei tuan Heru Sanjaya! Aku memang wanita bodoh, tapi kau buka lebar-lebar telinga dan matamu ya, wanita yang kau bodohi-bodohi ini adalah istri mu.
Cuma laki-laki bodoh yang akan menikahi wanita bodoh, dan kau jauh lebih bodoh dari aku kalau begitu! Kau camkan kata-kata ku ini!!"
habis menghardiknya, perut ku menjadi mual. Segera aku lari ke kamar mandi, dan muntah. Udah hampir dua minggu aku pasti mengalami hal seperti ini setiap pagi.
Mendapati ku dengan keadaan yang seperti itu, dia pun menyusulku ke kamar mandi.
" Sayang kamu nggak apa-apa? kamu sakit? kita kedokter ya." Wajahnya yang tadi begitu menyeramkan secara spontan berubah karena mengkhawatirkan ku.
" Nggak usah khawatirkan aku, udah biasa aku seperti ini" Ucapku sambil melangkahkan kaki keluar dari kamar mandi, dan menjatuhkan diriku diatas sofa, sambil mengatur nafasku.
" Sayang maafkan aku sudah marah tadi. Aku cuma cemburu kau memuji orang lain didepan ku. Kita ke dokternya"
" Aku cuma butuh minum Mas, dan tolong jangan buat aku stress lagi."
" Iya sayang aku minta maaf, sebentar aku ambil kan minumnya"
Ku lihat dia melangkah mengambil sebuah gelas, dan menuangkan air mineral digelas tersebut.
" Ini sayang, minumlah."
Diletakkan nya gelas yang berisi air ditangan ku, dan berlutut dihadapanku.
Segera ku habiskan air didalam gelas yang diberikannya kepada ku.
" Kamu nggak apa-apa? apanya yang sakit?"
Ku pandangi wajahnya dengan masih suasana hati yang kesal.
" Aku begini karena ulah mu lah, karena kelancangan mu, kalau tangan mu itu bisa kau cegah untuk nggak mengganggu ku setiap aku tidur, aku nggak bakal begini!"
"Maksud nya?"
" Begitu saja kau nggak mengertikan. Aku memang bodoh karena mau dinikahi laki-laki bodoh."
Lalu ku tarik rambutnya, melampiaskan rasa kesal ku. Aku nggak perduli dia meringis menahankan sakit.
" Sayang kamu kenapa jadi galak gini sich, sakit tau.! luka di pelipis ku belum juga hilang, sekarang kamu jambakin aku begini. " Ucapnya sambil memegang kepalanya menahan rasa sakit.
Ku dengar pintu kamar diketuk, aku yang masih belum bisa menstabilkan emosiku, enggan membuka pintu, ku lihat Mas Jaya berjalan membuka pintu.
" Lu kenapa? rambut acak-acakan gini, Zahra tidur disini?"
Ku dengar suara Mbak Ratna memasuki kamar. Begitu melihat ku yang duduk di tepi tempat tidur Mbak Ratna memalingkan wajahnya ke Mas jaya, langsung tertawa.
" Gua ganggu lu Ru? Maaf deh maaf."
" He, curut gua bersyukur malah lu datang, setidak nya selamat nyawa gua."
Tanpa aku sadari air mata ku langsung jatuh. Ada rasa penyesalan ku, mempelakukan Mas Jaya seperti ini. Aku sendiri nggak tau kenapa aku bisa seperti ini.
Melihat ku menangis, Mas Jaya dan Mbak Ratna pun jadi panik.
Mbak Ratna langsung memeluk ku. Mengusap rambut ku.
" Kenapa Ru, lu apain?"
" Nggak apa-apa, nggak usah mau tau urusan orang lain."
" Udah Zahra, jangan nangis lagi, kita balik hari ini kan. Nanti kita ketinggalan pesawat. Ada Mbak disini. "
Setelah puas menangis, dan membuat hati ku lebih tenang, aku, Mbak Ratna dan Mas Jaya pun akhirnya keluar dari kamar untuk sarapan, dan pulang ke Jakarta.
------
#Suami_Ku
Part. 14
======
Siang itu sesampai di Jakarta dan kembali ke rumah, entah kenapa aku ingin sekali makan asinan.
Mas Jaya yang baru saja merebahkan dirinya di sofa panjang, diruang tengah ku bangunkan untuk membelikan asinan.
" Zahra, aku lelah kamu lagian ada-ada aja minta asinan segala. Bi Ijah aja suruh."
" Tapi aku mau nya kamu Mas yang beli."
" Kamu nggak usah manja dech, kalau nggak tunggu agak sorean dikit, sekarang masih panas kenapa nggak pas lagi diluar tadi sich. "
" Tapi aku maunya sekarang, dan aku juga maunya kamu yang beli."
Bukan bangun dari tidur nya, dia malah mencari posisi paling enak untuk tidur.
Rasanya asinan buah yang segar udah membuat air liur ku menetes. Tapi karena dia nggak mengacuhkan aku, aku pun meninggalkan nya, dan duduk di ayunan yang ada di taman belakang.
Kenapa akhir-akhir ini Mas Jaya agak berubah dia nggak seperti biasanya, dan aku sendiri entah kenapa juga suka banget nangis dan yang nggak habis pikir, kenapa aku jadi brutal gini, pantang disulut sedikit aku bisa lebih emosi.
Ku lihat Bi Ijah yang sedang menyapu, dan membersihkan ruang belakang rumah.
Apa aku tanya dengan dia saja, apakah orang hamil itu emosinya suka tidak stabil.
" Sayang, kamu mau asinan kan, asinan apa, sayur apa buah?"
Tiba-tiba suara Mas Jaya membuyarkan lamunanku.
" Nggak Mas, aku dah nggak kepingin."
" Sayang, kalau kamu cemberut gitu, kamu terlihat sangat menggoda. "
Lalu dia berdiri dibelakang ku,mengecup kepala ku.
" Aku dah nggak pingin lagi Mas."
" Sekarang maunya apa?"
" Aku mau tidur, duduk disini buat aku ngantuk."
Lalu kutarik tangannya, menuju sofa panjang yang ada dekat kolam ikan.
Suara gemericik air dan harumnya bunga mawar yang lagi mekar, membuatku merasa sangat rilex ditambah lagi merebahkan kepala ku di dadanya, sungguh benar-benar membuat ku sangat nyaman.
" Sayang, kamu yakin mau tidur dengan keadaan seperti ini. Nanti dilihat si Bibi."
" kamu lebih perduli sama aku apa sama Bibi sih. "
Akhirnya dia pun pasrah, ku jadikan sandaran.
Saat aku buka mata, ku lihat aku sudah ada diatas tempat tidur, didalam kamar tamu. Ku lihat jam didinding sebentar lagi magrib, karena aku belum shalat Ashar aku segera bangun.
Selesai aku shalat aku keluar dari kamar. Ku lihat Bibi sedang didapur.
" Bapak mana Bi?"
" Ibu udah bangun, Bapak lagi keluar sebentar, kata Bapak kalau sudah bangun Ibu disuruh siap-siap mau diajak Bapak ke rumah orang tua ibu." Ucap bi Ijah.
Aku segera ke lantai dua menuju kamar ku, untuk membersihkan diri ku. Pada saat aku keluar dari kamar mandi, aku dengar Hp ku berbunyi, segera ku angkat telpon dari Mas Jaya.
" Sayang, kamu siap-siap ya, bentar lagi aku pulang, ini lagi dijalan."
Baru saja aku mau menjawab nya, sambungan Telpon sudah diputusnya.
Sudahlah, pikirku. Segera ku ambil pakaian ku dilemari, dan memakainya. Setelah semua selesai aku segera turun.
" Ibu cantik banget pantas Bapak jatuh cinta."
Aku yang mendengar ucapan Bi Ijah jadi merasa malu sendiri.
" Memangnya selama ini yang dekat sama Bapak nggak cantik gitu Bik?"
" Cantik sih Buk, waktu masih di rumah yang lama, banyak teman wanita Bapak yang datang, tapi nggak ada yang di respon Bapak, sampai Bapak pernah marah dengan satpam kenapa membiarkan mereka masuk kerumah."
Jlebb... Ucapan si bibi yang begitu polos langsung menikam ulu hati ku. Ada Rasa sakit yang benar-benar membuat ku nggak bisa melukiskan rasa sakit itu.
" Oh, ya udah bi, itu Bapak seperti nya udah datang."
Segera aku melangkah ke luar untuk memastikan siapa yang datang.
Ku lihat pria yang menjadi suami ku itu datang menghampiri ku.
" Kamu cakep banget sih, hampir copot jantung ku liat kecantikan mu."
Langsung dikecupnya kening ku, begitu dia sudah ada didekatku.
" Bentar sayang, aku ambil sesuatu dulu. "
Ku lihat dia memasuki kamar tamu, dan nggak lama keluar membawa beberapa paper bag.
" Itu apa Mas?"
" Ini oleh-oleh dari Bali untuk mertua ku, waktu aku ninggalin kamu pas lagi makan itu aku sempatkan membeli oleh-oleh buat mereka. Ayo kita kerumah Bapak."
Aku yang masih diam, langsung di gandengnya menuju mobil, membukakan pintu untuk ku, setelah itu dia pun duduk dibelakang kemudi.
Aku yang masih tergiang dengan ucapan si bibi, masih berusaha mengontrol gejolak emosi ku.
" Kenapa sih diam aja?" tanya nya sambil mengernyitkan dahinya.
" Nggak apa-apa udah fokus aja."
Melihat aku yang datang, Bapak yang sore itu mau berangkat ke Mesjid menghentikan langkahnya. Setelah aku dan Mas Jaya keluar dari mobil, aku segera memeluk nya, dan Mas Jaya juga mencium tangannya.
" Kamu datang sama siapa nak?" Tanya Ibu ku begitu aku memasuki rumah.
Ku lihat di dalam rumah ada, Tante Maya dan Kakak ipar ku, serta keponakan ku yang paling cantik, Kiara.
" Sama Mas Jaya buk, tapi dia sama Bapak lagi ke mesjid."
Mendengar aku datang sama Mas Jaya, raut wajah Ibu langsung berubah, tapi aku nggak mau mikirin itu.
Sesuai permintaan Mas Jaya oleh-oleh yang ku bawa nggak boleh dibilang dari Mas Jaya.
Selesai aku shalat Magrib, dan menunggu Bapak dan Mas Jaya pulang, aku sama Tante Maya sibuk di dapur, untuk nyiapin makan malam.
" Tante, aku punya kabar bahagia buat Tante."
" Apa-apa? Buruan udah nggka sabar. "
" Kiara bakal punya teman. Dia bakal ada adek nya. Tante akan jadi Nenek, tepat nya Nemud, Nenek muda. " Ucap ku dengan senyum yang mengembang.
Sangkin bahagianya aku sama Tante Maya teriak sambil pelukan.
Dan aku pun mendapat ciuman yang banyak dari Tante ku tersayang.
Selama aku dan Mas Jaya ada di rumah orang tua ku, nggak jarang Ibu selalu menyindir Mas Jaya. Membanding-bandingkan menantu laki-lakinya dengan menantu orang lain.
Aku yang nggak terima suami ku di jelek-jelekin akhirnya membalas Ibu ku dengan sikap ku yang sengaja bermanja sama Mas Jaya, dan itu cukup membuat wajah Ibu ku semakin ditekuk.
*******
" Sayang, di rumah orang tua mu makin hari makin angker aja."
Ucap nya keluar dari kamar mandi, setelah kami pulang dari rumah orang tua ku.
Aku yang udah hampir tertidur, jadi membesarkan mata ku karena mendengar ucapannya.
" Masa sih Mas, kamu jangan nakut-nakutin aku, emang kamu bisa lihat makhluk astral gitu ya."
"Tadi aku ngeliatnya serem banget, sama sekali nggak berani mandang aku. Duduk nya juga deket banget lagi sama kita."
Lalu dia menaiki tempat tidur dan memelukku..
" Kamu beneran Mas ngelihatnya? "
" Iya sayang, ngapain juga aku bohong, kalau nggak darurat banget kita nggak usah nginap ya."
" emang yang mas lihat apaan?"
" Nenek-Nenek, cakep sih, cuma sorat matanya kalau giliran memandang ke arah kita apalagi tepatnya ke arah Mas serem banget.Pas kamu sandaran dibadan Mas tadi, udah gitu cium-ciumin pipi mas, wehh.. pandangan matanya.. pokoknya nyeremin banget. "
Aku yang sudah dalam keadaan nyaman meletakkan kepala ku didadanya dan memeluknya coba mengingat-ingat kembali kejadian dirumah ku.
Seketika ku jauhkan badan ku dari pelukannya, ku pandangi wajahnya dengan tatapan yang tajam.
" Kamu kenapa natap nya gitu amat sih, nyeremin tau sayang"
" Jangan bilang kamu ngatain Ibu ku ya!"
"Nggak sayang Aku mana berani ngatain Ibu kamu" Ucap nya sambil memalingkan wajahnya dari pandangan ku.
" Mati gue, hawa horornya udah pindah di kamar ini" ucapnya pelan sambil menarik selimut menutupi mukanya.
" Kamu ngomong apa Mas?"
" Ngak sayang, tidur yuk udah malam besok kita kerja"
Menarik ku dalam pelukannya.
" Kamu manis banget sih sayang, kalau seperti tadi, benar-benar tergoda aku."
" Kamu kira aku tadi nggak denger kamu bilang, mati gue hawa horornya udah pindah dikamar ini. Aku tau kamu ngatain ibu ku nyeremin, emang iya Ibu ku nyeremin kan. Sekali lagi kamu jelekin mertua mu, habis kamu."
Ku cubit perutnya sambil menahan tawa.
******
Pagi itu aku diantar Mas Jaya ke kantor. Dia mengantar ku sampai keruangan ku, sempat terjadi adegan drama sama satpam, karena selain karyawan dilarang masuk, apalagi sampai kelantai Atas, syukurnya waktu itu belum banyak karyawan yang datang, jadi nggak terlalu banyak yang merhatiin.
" Kamu besok nggak usah ngantar aku sampai sini Mas, aku jadi nggak enak."
" Kamu mau ngusir aku dari kantor ku sendiri!"
karena suaranya udah mulai meninggi, aku yang tadinya udah duduk di kursi ku berdiri sambil menatapnya.
Menyadari aku bakal marah, akhir nya dia pergi, sambil minta maaf.
" Pagi-pagi udah buat kesel aja sih itu manusia."
Tiba-tiba seseorang masuk dalam ruanganku, dia Siska sekretaris wakil CEO yang selalu mencari sensasi.
" Makanya kalau udah punya suami, jangan ganjen. Jangan sok tebar pesona.
Nih kasihkan laporan ini sama Bu Ratna."
Lalu dia pergi dengan memandang sinis.
Bukan hanya dia yang tidak suka dengan ku tapi masih banyak karyawan lain, dan hampir rata semua wanita.
Aku nggak tau aku punya salah apa dengan mereka, tapi selalu saja mereka mengusik hidup ku.
Sampai santer gosip bahwa aku adalah wanita simpanan om-om tajir karena aku tinggal dikawasan yang menurutku cukup mewah.
Part. 14
======
Siang itu sesampai di Jakarta dan kembali ke rumah, entah kenapa aku ingin sekali makan asinan.
Mas Jaya yang baru saja merebahkan dirinya di sofa panjang, diruang tengah ku bangunkan untuk membelikan asinan.
" Zahra, aku lelah kamu lagian ada-ada aja minta asinan segala. Bi Ijah aja suruh."
" Tapi aku mau nya kamu Mas yang beli."
" Kamu nggak usah manja dech, kalau nggak tunggu agak sorean dikit, sekarang masih panas kenapa nggak pas lagi diluar tadi sich. "
" Tapi aku maunya sekarang, dan aku juga maunya kamu yang beli."
Bukan bangun dari tidur nya, dia malah mencari posisi paling enak untuk tidur.
Rasanya asinan buah yang segar udah membuat air liur ku menetes. Tapi karena dia nggak mengacuhkan aku, aku pun meninggalkan nya, dan duduk di ayunan yang ada di taman belakang.
Kenapa akhir-akhir ini Mas Jaya agak berubah dia nggak seperti biasanya, dan aku sendiri entah kenapa juga suka banget nangis dan yang nggak habis pikir, kenapa aku jadi brutal gini, pantang disulut sedikit aku bisa lebih emosi.
Ku lihat Bi Ijah yang sedang menyapu, dan membersihkan ruang belakang rumah.
Apa aku tanya dengan dia saja, apakah orang hamil itu emosinya suka tidak stabil.
" Sayang, kamu mau asinan kan, asinan apa, sayur apa buah?"
Tiba-tiba suara Mas Jaya membuyarkan lamunanku.
" Nggak Mas, aku dah nggak kepingin."
" Sayang, kalau kamu cemberut gitu, kamu terlihat sangat menggoda. "
Lalu dia berdiri dibelakang ku,mengecup kepala ku.
" Aku dah nggak pingin lagi Mas."
" Sekarang maunya apa?"
" Aku mau tidur, duduk disini buat aku ngantuk."
Lalu kutarik tangannya, menuju sofa panjang yang ada dekat kolam ikan.
Suara gemericik air dan harumnya bunga mawar yang lagi mekar, membuatku merasa sangat rilex ditambah lagi merebahkan kepala ku di dadanya, sungguh benar-benar membuat ku sangat nyaman.
" Sayang, kamu yakin mau tidur dengan keadaan seperti ini. Nanti dilihat si Bibi."
" kamu lebih perduli sama aku apa sama Bibi sih. "
Akhirnya dia pun pasrah, ku jadikan sandaran.
Saat aku buka mata, ku lihat aku sudah ada diatas tempat tidur, didalam kamar tamu. Ku lihat jam didinding sebentar lagi magrib, karena aku belum shalat Ashar aku segera bangun.
Selesai aku shalat aku keluar dari kamar. Ku lihat Bibi sedang didapur.
" Bapak mana Bi?"
" Ibu udah bangun, Bapak lagi keluar sebentar, kata Bapak kalau sudah bangun Ibu disuruh siap-siap mau diajak Bapak ke rumah orang tua ibu." Ucap bi Ijah.
Aku segera ke lantai dua menuju kamar ku, untuk membersihkan diri ku. Pada saat aku keluar dari kamar mandi, aku dengar Hp ku berbunyi, segera ku angkat telpon dari Mas Jaya.
" Sayang, kamu siap-siap ya, bentar lagi aku pulang, ini lagi dijalan."
Baru saja aku mau menjawab nya, sambungan Telpon sudah diputusnya.
Sudahlah, pikirku. Segera ku ambil pakaian ku dilemari, dan memakainya. Setelah semua selesai aku segera turun.
" Ibu cantik banget pantas Bapak jatuh cinta."
Aku yang mendengar ucapan Bi Ijah jadi merasa malu sendiri.
" Memangnya selama ini yang dekat sama Bapak nggak cantik gitu Bik?"
" Cantik sih Buk, waktu masih di rumah yang lama, banyak teman wanita Bapak yang datang, tapi nggak ada yang di respon Bapak, sampai Bapak pernah marah dengan satpam kenapa membiarkan mereka masuk kerumah."
Jlebb... Ucapan si bibi yang begitu polos langsung menikam ulu hati ku. Ada Rasa sakit yang benar-benar membuat ku nggak bisa melukiskan rasa sakit itu.
" Oh, ya udah bi, itu Bapak seperti nya udah datang."
Segera aku melangkah ke luar untuk memastikan siapa yang datang.
Ku lihat pria yang menjadi suami ku itu datang menghampiri ku.
" Kamu cakep banget sih, hampir copot jantung ku liat kecantikan mu."
Langsung dikecupnya kening ku, begitu dia sudah ada didekatku.
" Bentar sayang, aku ambil sesuatu dulu. "
Ku lihat dia memasuki kamar tamu, dan nggak lama keluar membawa beberapa paper bag.
" Itu apa Mas?"
" Ini oleh-oleh dari Bali untuk mertua ku, waktu aku ninggalin kamu pas lagi makan itu aku sempatkan membeli oleh-oleh buat mereka. Ayo kita kerumah Bapak."
Aku yang masih diam, langsung di gandengnya menuju mobil, membukakan pintu untuk ku, setelah itu dia pun duduk dibelakang kemudi.
Aku yang masih tergiang dengan ucapan si bibi, masih berusaha mengontrol gejolak emosi ku.
" Kenapa sih diam aja?" tanya nya sambil mengernyitkan dahinya.
" Nggak apa-apa udah fokus aja."
Melihat aku yang datang, Bapak yang sore itu mau berangkat ke Mesjid menghentikan langkahnya. Setelah aku dan Mas Jaya keluar dari mobil, aku segera memeluk nya, dan Mas Jaya juga mencium tangannya.
" Kamu datang sama siapa nak?" Tanya Ibu ku begitu aku memasuki rumah.
Ku lihat di dalam rumah ada, Tante Maya dan Kakak ipar ku, serta keponakan ku yang paling cantik, Kiara.
" Sama Mas Jaya buk, tapi dia sama Bapak lagi ke mesjid."
Mendengar aku datang sama Mas Jaya, raut wajah Ibu langsung berubah, tapi aku nggak mau mikirin itu.
Sesuai permintaan Mas Jaya oleh-oleh yang ku bawa nggak boleh dibilang dari Mas Jaya.
Selesai aku shalat Magrib, dan menunggu Bapak dan Mas Jaya pulang, aku sama Tante Maya sibuk di dapur, untuk nyiapin makan malam.
" Tante, aku punya kabar bahagia buat Tante."
" Apa-apa? Buruan udah nggka sabar. "
" Kiara bakal punya teman. Dia bakal ada adek nya. Tante akan jadi Nenek, tepat nya Nemud, Nenek muda. " Ucap ku dengan senyum yang mengembang.
Sangkin bahagianya aku sama Tante Maya teriak sambil pelukan.
Dan aku pun mendapat ciuman yang banyak dari Tante ku tersayang.
Selama aku dan Mas Jaya ada di rumah orang tua ku, nggak jarang Ibu selalu menyindir Mas Jaya. Membanding-bandingkan menantu laki-lakinya dengan menantu orang lain.
Aku yang nggak terima suami ku di jelek-jelekin akhirnya membalas Ibu ku dengan sikap ku yang sengaja bermanja sama Mas Jaya, dan itu cukup membuat wajah Ibu ku semakin ditekuk.
*******
" Sayang, di rumah orang tua mu makin hari makin angker aja."
Ucap nya keluar dari kamar mandi, setelah kami pulang dari rumah orang tua ku.
Aku yang udah hampir tertidur, jadi membesarkan mata ku karena mendengar ucapannya.
" Masa sih Mas, kamu jangan nakut-nakutin aku, emang kamu bisa lihat makhluk astral gitu ya."
"Tadi aku ngeliatnya serem banget, sama sekali nggak berani mandang aku. Duduk nya juga deket banget lagi sama kita."
Lalu dia menaiki tempat tidur dan memelukku..
" Kamu beneran Mas ngelihatnya? "
" Iya sayang, ngapain juga aku bohong, kalau nggak darurat banget kita nggak usah nginap ya."
" emang yang mas lihat apaan?"
" Nenek-Nenek, cakep sih, cuma sorat matanya kalau giliran memandang ke arah kita apalagi tepatnya ke arah Mas serem banget.Pas kamu sandaran dibadan Mas tadi, udah gitu cium-ciumin pipi mas, wehh.. pandangan matanya.. pokoknya nyeremin banget. "
Aku yang sudah dalam keadaan nyaman meletakkan kepala ku didadanya dan memeluknya coba mengingat-ingat kembali kejadian dirumah ku.
Seketika ku jauhkan badan ku dari pelukannya, ku pandangi wajahnya dengan tatapan yang tajam.
" Kamu kenapa natap nya gitu amat sih, nyeremin tau sayang"
" Jangan bilang kamu ngatain Ibu ku ya!"
"Nggak sayang Aku mana berani ngatain Ibu kamu" Ucap nya sambil memalingkan wajahnya dari pandangan ku.
" Mati gue, hawa horornya udah pindah di kamar ini" ucapnya pelan sambil menarik selimut menutupi mukanya.
" Kamu ngomong apa Mas?"
" Ngak sayang, tidur yuk udah malam besok kita kerja"
Menarik ku dalam pelukannya.
" Kamu manis banget sih sayang, kalau seperti tadi, benar-benar tergoda aku."
" Kamu kira aku tadi nggak denger kamu bilang, mati gue hawa horornya udah pindah dikamar ini. Aku tau kamu ngatain ibu ku nyeremin, emang iya Ibu ku nyeremin kan. Sekali lagi kamu jelekin mertua mu, habis kamu."
Ku cubit perutnya sambil menahan tawa.
******
Pagi itu aku diantar Mas Jaya ke kantor. Dia mengantar ku sampai keruangan ku, sempat terjadi adegan drama sama satpam, karena selain karyawan dilarang masuk, apalagi sampai kelantai Atas, syukurnya waktu itu belum banyak karyawan yang datang, jadi nggak terlalu banyak yang merhatiin.
" Kamu besok nggak usah ngantar aku sampai sini Mas, aku jadi nggak enak."
" Kamu mau ngusir aku dari kantor ku sendiri!"
karena suaranya udah mulai meninggi, aku yang tadinya udah duduk di kursi ku berdiri sambil menatapnya.
Menyadari aku bakal marah, akhir nya dia pergi, sambil minta maaf.
" Pagi-pagi udah buat kesel aja sih itu manusia."
Tiba-tiba seseorang masuk dalam ruanganku, dia Siska sekretaris wakil CEO yang selalu mencari sensasi.
" Makanya kalau udah punya suami, jangan ganjen. Jangan sok tebar pesona.
Nih kasihkan laporan ini sama Bu Ratna."
Lalu dia pergi dengan memandang sinis.
Bukan hanya dia yang tidak suka dengan ku tapi masih banyak karyawan lain, dan hampir rata semua wanita.
Aku nggak tau aku punya salah apa dengan mereka, tapi selalu saja mereka mengusik hidup ku.
Sampai santer gosip bahwa aku adalah wanita simpanan om-om tajir karena aku tinggal dikawasan yang menurutku cukup mewah.
-----
#SUAMI_KU
Part. 15
=======
Kalau saja Suami ku nggak mengajarkan ku untuk menjadi wanita yang bermartabat udah aku remas bibir wanita itu.
Nasehat-nasehat yang sering diberikan pada ku masih ku inggat.
Apalagi pada saat aku akan memulai hari pertama ku bekerja.
" Besok kamu udah mulai bekerja, posisimu adalah posisi yang diinginkan banyak orang, tanpa pernah melamar pekerjaan, kamu yang diminta langsung oleh pimpinan perusahaan. Jangan kecewakan dia.
Tidak semua yang baik itu menjadi baik, terkadang yang berpura-pura baik, yang menikam kita. Berhati-hatilah dalam memilih teman.
Tapi nggak perlu juga memikirkan yang buruk, karena mereka yang buruk itu krikil kecil yang menghalangi langkah kita, untuk sukses.
Intinya abaikan yang tidak penting."
Itu kata-kata Mas Jaya malam itu sewaktu kami ingin tidur.
Ku akui berat rasanya menjalani untuk tetap tegar dan tidak goyah, tapi dia selalu menyemangati ku.
Syukurnya aku tidak pernah mengeluh padanya tentang apa-apa yang terjadi di tempat kerja ku, karena dia pun nggak pernah mengeluhkan apa-apa yang dia kerjakan.
Setiap dia pulang ke rumah dia selalu menggoda ku, menjaili ku, setelah itu dia langsung tidur.
Karena dialah aku nggak terlalu mau perduli dengan apa-apa yang orang katakan tentang aku. Aku yang lebih tau tentang hidupku, bukan orang lain.
****
Laporan yang diberikan Siska ku periksa kembali, sebelum sampai di meja Mbak Ratna.
Ku lihat ada beberapa yang salah dari laporannya.
Segera ku susun kembali laporan yang dia kasih, dan aku beranjak dari ruangan ku menuju mejanya.
" Perbaiki laporan kamu, ada beberapa kesalahan."
Ku serahkan map yang tadi diberikan nya pada ku.
" Ini sudah benar Zahra, aku sudah perbaiki ini."
Aku yang sudah diambang pintu langsung menghentikan langkah ku, dan menoleh kepadanya.
" Periksa pakai mata, bukan pakai mulut. Makanya kalau punya otak itu jangan dipakai untuk ngerecokin hidup orang, jadi kerjanya nggak fokus. Oh iya satu lagi, kamu digaji untuk ngerjakan yang diperintah Boss mu, bukan untuk cari tau tentang kehidupan ku yang bahagia." Ujarku sambil tersenyum.
Emosi ku benar-benar sangat sulit ku kontrol, biasanya kalau aku mengembalikan laporan Siska yang ada kesalahan, aku nggak pernah bicara apa-apa padanya, selain kata " Tolong perbaiki lagi." Tapi hari ini, aku terlalu lancang bicara.
Ku lihat Mbak Ratna membuka pintu ruanganku dan duduk di sofa yang tersedia disana.
" Kamu kenapa Zahra? saya tadi ketemu Heru di bawah, katanya nanti siang dia kesini. Kalau kalian punya masalah selesaikan secara baik-baik."
" Iya Mbak, tapi kita nggak punya masalah kok. Akhir-akhir ini dia sering sensitif, seperti wanita datang bulan. Salah ucap dikit, emosi."
" Kalau siang itu aku nggak melihat kamu keluar dari kamarnya, aku nggak tau dia sudah nikah, dan kamu istrinya. Pantas waktu aku mau mempekerjakan kamu di telpon dia sempat tanya, Kamu mau mempekerjakan anak yang baru lulusan SMK untuk jadi sekretarismu? kalau memang iya ajarkan dia hal-hal yang tidak tau. Jangan marahi dia, jangan buat dia down."
Lalu dia beranjak dari kursinya mendekati ku, dan menggenggam tangan ku.
" Sayangi dia Zahra, terlalu banyak luka dalam hidup nya. sembuhkan luka itu. Saya percaya kamu mampu membahagiakannya."
" Dan kamu punya hutang penjelasan pada ku, ilmu apa yang kamu pakai untuk bisa mencairkan gunung es itu. "
Ucapnya sambil tersenyum kepada ku.
****
Baru Jam 11 siang, tapi perut benar-benar merasa lapar, aku berniat keluar untuk cari makanan, ku langkahkan kaki ku keruangan Mbak Ratna sekedar minta izin untuk mencari makanan.
Sesampainya di loby aku melihat Ika sedang tersenyum kegirangan.
Dialah satu-satunya teman ku yang ku rasa paling tulus pertemanannya, disaat orang-orang memandang ku sinis, dia memandang ku dengan sisi yang berbeda. Dulu dia seorang OB, aku juga nggak tau alasan apa akhirnya kantor mengangkatnya jadi Reseptionis di kantor ini. Sudah Rezeky hidupnya kali.
" Hayo, habis dapat lotre lu."
" Sialan lu bikin jantung gua copot aja."
" emang kenapa sih?" tanya ku sedikit heran.
" Za, barusan ada cowok tampan banget Za. Bener-bener nggak bosan mandangnya.
Rahang yang kokoh, alis yang tebal, hidungnya yang mancung, dagu yang berbelah dan tatapannya itu beughhh sungguh mematikan."
" Kesambet nih anak. Udah ah males ngelayani lu."
"Tunggu dulu ngapa, dengerin curhat gue kek kali ini, gue lagi bahagia nich."
"Trus cowok yang lu puji tadi mana? Dari tadi juga gua nggak liat sapa-sapa, selain lu yang histeris nggak jelas."
Seketika raut wajahnya berubah melo.
"Sayangnya dia cari Bu Ratna Za."
Mendengar ucapannya aku pun jadi tertawa.
"Tapi aromanya masih tinggal"
Ku coba mengendus aroma parfum yang dimaksud Ika.
" Kek aroma parfum laki gue"
Seketika Ika pun tertawa dengar aku ngomong begitu.
" Ngarep lu. Laki lu yang preman pasar nggak bakal sanggup beli parfum mahal gini oneng!"
" Lu tau dari mana laki gue preman pasar?"
"Anak-anak udah tau kelles, karena ada yg liat lu lagi cium tangan tukang parkir di pasar. Di group juga fotonya sempat beredar, kalo dilihat dari body nya laki lu gagah sih, tapi wajahnya nggak kelihatan karena pakai topi."
"Sialan lu."
" Eh Za, tapi gue penasaran ama lu, ini gua mau nanya tapi jangan marah ya, bener nggak sih lu simpanan om-om tajir?"
Ucapan Ika hanya ku balas dengan senyuman.
" kalau iya emang kenapa, kalau enggak juga kenapa, nggak ada yang gua rugiin kan? "
"Jadi gosipnya bener Za?".
" Berhubung laki gue yang tukang parkir itu, nggak bisa menuhi secara materi tentu gue butuh donk pria yang bisa memenuhi materi gue. Kalau gue nggak jadi simpenan om-om tajir dari mana gua bisa beli tas, punya mobil, rumah mewah, makan enak. " Sambil ku naik turunkan kedua alis ku untuk menggoda Ika.
" Nggak nyangka gue Za, lu diem-diem. Tapi main lu cantik juga, ajarin gue donk"
" Elah buset. Udah ah omongannya udah ngaco."
" Lu percaya, gue simpanan om-om?"
"Tadinya enggak tapi karena lu bilang gini, hati gue jadi ragu."
Akhirnya aku sama Ika ketawa ngakak.
" Tadinya gue mau cari makanan, tapi habis ngebanyol ama loe, perut gue jadi kenyang, gue balik dulu keruangan. "
Baru dua langkah aku berjalan Ika teriak manggil lagi dan nyuruh aku balik ke tempatnya.
" Kali ini gue tantang lu, selama inikan lu selalu cuek ni sama cowok-cowok yang dekati lu, kali ini dengan pesona mu, bisa nggak dekati tamu Bu Ratna tadi, gua pingin bungkam mulut Bu Siska."
Lalu Ika menunjukkan status di group. Status Siska, yang menampilkan foto Mas Jaya dengan emoji love yang bertuliskan " Di tabrak ampe benjol pun gue rela asal yang nabrak pria macho kek gini."
Panas sih sebenarnya hati liat foto suami ditangan orang, tapi ya sudahlah toh bukan salah Mas Jaya.
"kalo gue bisa, gue dapat apa?"
" Gaji gue sebulan ama loe."
Dengar pengakuan Ika aku jadi tertawa, jelas dia bakal miskin selama sebulan.
" Nggak perlu, gue ngak butuh duit lu, cuma gue minta lu beliin gue asinan, mangga nya yang banyak. Oke cantik, muach"
" Jijik gue liat lu." Dan kami pun berpisah karena aku kembali keruangan ku.
Begitu aku sampai di ruanganku, ku ambil HP, aku buka aplikasi WA untuk chat Ika.
[ gue mau asinannya siang ini udah ada dimeja gue.]
Lalu beberapa foto ku dengan Mas jaya ku kirim dengan Ika.
Nggak berapa lama Chat ku dibalas.
[ Ini serius lu Za sama dia.]
[Iya, gue izinin lu upload di wa lu, sebenarnya gue nggak rela foto cantik gue kemana-mana tapi karena gue selebritis disini, kali ini gue izinin. Jangan lupa asinannya, siang ini.]
Ku lihat Mbak Ratna keluar dari ruangannya, membuka pintu ruanganku dan hanya berdiri diambang pintu.
" Za, saya mau makan siang dulu. Tolong temani tamu saya bentar ya. " Sambil tersenyum dia pun pergi meninggalkan ku.
Begitu aku masuk keruangan Bu Ratna ku lihat Mas Jaya udah berdiri didepan ku. Langsung dia merangkul ku dan mengecup kening ku, dibawa nya aku duduk di sofa dan mendudukkan aku diatas pangkuannya.
" Kamu disini Mas? " Tanya ku sekedar basa-basi dan mengecup keningnya.
" Kangen aku sayang."
" Aku juga, nggak tau rasanya aku pengen deket aja sama kamu." sambil ku ciumin pipinya.
Di bukanya Jilbab ku, lalu dilepasnya sanggul rambut ku, akhirnya rambut panjang ku pun tergerai.
Ku lihat dia memejamkan matanya.
"Wangi banget. kamu terlihat mempesona sayang."
Disandarkannya kepalanya di sandaran sofa menarik tengkuk ku serta menenggelamkan wajahnya dileher ku.
" Biarkan aku sebentar menikmati suasana seperti ini."
Di pegangnya satu tanganku yang merangkul kepala, dan dibawanya kedadanya, ku rasakan debaran jantungnya yang cukup kencang.
" Kencang banget getarannya."
"Heemmm, cuma kau yang membuat jatung ku seperti ini Zahra, Kau benar-benar membuat ku jatuh cinta Zahra, jangan pernah tinggalkan aku Zahra, tetaplah selalu disamping ku."
Kurasakan pelukannya kepada ku semakin erat.
Kurasakan deru nafasnya seperti ombak yang sedang berlari menuju pantai dan aku pun hampir terlena.
" Sayang, ini kantor kendalikan dirimu."
Ku jauhkan tubuhku dari pelukannya. Ku pegang ke dua pipinya, ku lihat ada pancaran kekecewaan dari sorot matanya.
" Kau menolak ku?"
" Aku nggak menolak mu, aku juga menginginkannya tapi lihatlah kita sekarang ada dimana." Ku letakkan wajah ku kewajahnya deru nafasnya masih terasa " Aku juga udah lapar Mas."
Ku lihat senyum mengembang dari bibir nya.
" Ya udah kita makan ya." Ucapnya sambil mengecup bibir ku.
Aku pun turun dari pangkuannya, ku ambilkan dia air minum, setidaknya itu bisa menenangkan dirinya.
Ku pasang kembali jilbab ku, dan aku kembali keruangan ku untuk mengambil tas dan mematikan laptop ku.
Mas Jaya yang masuk keruangan ku langsung memeluk ku, dan mencium kening ku.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, ku lihat Ika datang sambil menenteng sesuatu.
" Biasakan kalau mau masuk ketuk pintu." Terdengar suara Mas Jaya dengan nada yang mengintimidasi.
" Masuk Ka, asinan ku ya. "
Ku lihat Ika hanya mengangguk.
" Bentar sayang." Ku lepaskan pelukan Mas Jaya.
ku dekati Ika yang masih berdiri dengan wajah bengongnya.
" Kalau kau pertaruhkan gaji mu tadi, habis lah kau" Ku bisikkan pelan ketelinganya. Sambil tersenyum. Lalu ku letakkan asinan yang di bawa Ika diatas meja.
" Ayo sayang, aku dah lapar." ku tarik tangan Mas Jaya untuk keluar dari ruangan ku.
Mendengar suara Mas Jaya mendehem, Ika yang masih diam terpaku jadi gelagapan.
"Maaf Pak" Lalu dia menundukkan wajahnya.
Aku hentikan langkah ku di depan Ika " Kalau tangan mu lagi nggak gemetaran, kau boleh ambil foto ku dan upload ke gruop gibah mu itu cantik." Sambil ku cubit pipinya, dan berlalu meninggalkannya.
Karena Ika berjalan dibelakang ku, sengaja ku tunggu dia untuk masuk ke lif bersama ku.
Begitu kita bertiga udah di dalam lif sengaja ku pererat pelukanku ke Mas Jaya. Ku perhatikan wajah teman ku dengan ke kikukan nya.
Sebenarnya aku hampir tertawa, tapi aku nggak tega. Ku lepaskan pelukan ku dari Mas Jaya dan merangkul bahu teman ku itu.
" Udah santai aja nggak usah tegang gitu."
Saat pintu lift terbuka aku pun melangkah keluar terlebih dahulu dengan Mas Jaya.
Didalam mobil akhirnya ku lepaskan tawa ku. Aku yang masih tertawa nggak menyadari kalau Mas Jaya selalu memperhatikan ku.
"Cantik" Itu yang aku dengar keluar dari bibirnya, dan ku lihat beberapa kali dia menggelengkan kepala nya sambil tersenyum sendiri.
Mas Jaya hanya mengantar ku sampai depan loby, setelah aku makan siang karena dia masih ada urusan. Begitu aku memasuki pintu loby ku lihat beberapa pasang mata memandang ku dengan tatapan yang menjijikkan. Sesampai di depan Ika aku berhenti, nggak lupa aku pasang senyum yang paling manis untuk dia.
" Gimana? Udah jadi tranding topik gue?"
" Udah donk. Lu sama Bu Ratna emang selebritis kantor ini, Pesonanya luar biasa." Jawab Ika senang.
" Karena kerja lu bagus, ni gue bawain makanan buat lu. Makasih ya asinannya. "
Aku pun berlalu dan segera menuju ruanganku. Disaat aku keluar dari lift, ku lihat Siska berjalan kearah ku.
" Dasar Jalang!"
Aku yang mendengar dia berujar seperti itu nggak memperdulikan kata-katanya, karena aku bukan seperti yang dia pikirkan.
bersambung
Part. 15
=======
Kalau saja Suami ku nggak mengajarkan ku untuk menjadi wanita yang bermartabat udah aku remas bibir wanita itu.
Nasehat-nasehat yang sering diberikan pada ku masih ku inggat.
Apalagi pada saat aku akan memulai hari pertama ku bekerja.
" Besok kamu udah mulai bekerja, posisimu adalah posisi yang diinginkan banyak orang, tanpa pernah melamar pekerjaan, kamu yang diminta langsung oleh pimpinan perusahaan. Jangan kecewakan dia.
Tidak semua yang baik itu menjadi baik, terkadang yang berpura-pura baik, yang menikam kita. Berhati-hatilah dalam memilih teman.
Tapi nggak perlu juga memikirkan yang buruk, karena mereka yang buruk itu krikil kecil yang menghalangi langkah kita, untuk sukses.
Intinya abaikan yang tidak penting."
Itu kata-kata Mas Jaya malam itu sewaktu kami ingin tidur.
Ku akui berat rasanya menjalani untuk tetap tegar dan tidak goyah, tapi dia selalu menyemangati ku.
Syukurnya aku tidak pernah mengeluh padanya tentang apa-apa yang terjadi di tempat kerja ku, karena dia pun nggak pernah mengeluhkan apa-apa yang dia kerjakan.
Setiap dia pulang ke rumah dia selalu menggoda ku, menjaili ku, setelah itu dia langsung tidur.
Karena dialah aku nggak terlalu mau perduli dengan apa-apa yang orang katakan tentang aku. Aku yang lebih tau tentang hidupku, bukan orang lain.
****
Laporan yang diberikan Siska ku periksa kembali, sebelum sampai di meja Mbak Ratna.
Ku lihat ada beberapa yang salah dari laporannya.
Segera ku susun kembali laporan yang dia kasih, dan aku beranjak dari ruangan ku menuju mejanya.
" Perbaiki laporan kamu, ada beberapa kesalahan."
Ku serahkan map yang tadi diberikan nya pada ku.
" Ini sudah benar Zahra, aku sudah perbaiki ini."
Aku yang sudah diambang pintu langsung menghentikan langkah ku, dan menoleh kepadanya.
" Periksa pakai mata, bukan pakai mulut. Makanya kalau punya otak itu jangan dipakai untuk ngerecokin hidup orang, jadi kerjanya nggak fokus. Oh iya satu lagi, kamu digaji untuk ngerjakan yang diperintah Boss mu, bukan untuk cari tau tentang kehidupan ku yang bahagia." Ujarku sambil tersenyum.
Emosi ku benar-benar sangat sulit ku kontrol, biasanya kalau aku mengembalikan laporan Siska yang ada kesalahan, aku nggak pernah bicara apa-apa padanya, selain kata " Tolong perbaiki lagi." Tapi hari ini, aku terlalu lancang bicara.
Ku lihat Mbak Ratna membuka pintu ruanganku dan duduk di sofa yang tersedia disana.
" Kamu kenapa Zahra? saya tadi ketemu Heru di bawah, katanya nanti siang dia kesini. Kalau kalian punya masalah selesaikan secara baik-baik."
" Iya Mbak, tapi kita nggak punya masalah kok. Akhir-akhir ini dia sering sensitif, seperti wanita datang bulan. Salah ucap dikit, emosi."
" Kalau siang itu aku nggak melihat kamu keluar dari kamarnya, aku nggak tau dia sudah nikah, dan kamu istrinya. Pantas waktu aku mau mempekerjakan kamu di telpon dia sempat tanya, Kamu mau mempekerjakan anak yang baru lulusan SMK untuk jadi sekretarismu? kalau memang iya ajarkan dia hal-hal yang tidak tau. Jangan marahi dia, jangan buat dia down."
Lalu dia beranjak dari kursinya mendekati ku, dan menggenggam tangan ku.
" Sayangi dia Zahra, terlalu banyak luka dalam hidup nya. sembuhkan luka itu. Saya percaya kamu mampu membahagiakannya."
" Dan kamu punya hutang penjelasan pada ku, ilmu apa yang kamu pakai untuk bisa mencairkan gunung es itu. "
Ucapnya sambil tersenyum kepada ku.
****
Baru Jam 11 siang, tapi perut benar-benar merasa lapar, aku berniat keluar untuk cari makanan, ku langkahkan kaki ku keruangan Mbak Ratna sekedar minta izin untuk mencari makanan.
Sesampainya di loby aku melihat Ika sedang tersenyum kegirangan.
Dialah satu-satunya teman ku yang ku rasa paling tulus pertemanannya, disaat orang-orang memandang ku sinis, dia memandang ku dengan sisi yang berbeda. Dulu dia seorang OB, aku juga nggak tau alasan apa akhirnya kantor mengangkatnya jadi Reseptionis di kantor ini. Sudah Rezeky hidupnya kali.
" Hayo, habis dapat lotre lu."
" Sialan lu bikin jantung gua copot aja."
" emang kenapa sih?" tanya ku sedikit heran.
" Za, barusan ada cowok tampan banget Za. Bener-bener nggak bosan mandangnya.
Rahang yang kokoh, alis yang tebal, hidungnya yang mancung, dagu yang berbelah dan tatapannya itu beughhh sungguh mematikan."
" Kesambet nih anak. Udah ah males ngelayani lu."
"Tunggu dulu ngapa, dengerin curhat gue kek kali ini, gue lagi bahagia nich."
"Trus cowok yang lu puji tadi mana? Dari tadi juga gua nggak liat sapa-sapa, selain lu yang histeris nggak jelas."
Seketika raut wajahnya berubah melo.
"Sayangnya dia cari Bu Ratna Za."
Mendengar ucapannya aku pun jadi tertawa.
"Tapi aromanya masih tinggal"
Ku coba mengendus aroma parfum yang dimaksud Ika.
" Kek aroma parfum laki gue"
Seketika Ika pun tertawa dengar aku ngomong begitu.
" Ngarep lu. Laki lu yang preman pasar nggak bakal sanggup beli parfum mahal gini oneng!"
" Lu tau dari mana laki gue preman pasar?"
"Anak-anak udah tau kelles, karena ada yg liat lu lagi cium tangan tukang parkir di pasar. Di group juga fotonya sempat beredar, kalo dilihat dari body nya laki lu gagah sih, tapi wajahnya nggak kelihatan karena pakai topi."
"Sialan lu."
" Eh Za, tapi gue penasaran ama lu, ini gua mau nanya tapi jangan marah ya, bener nggak sih lu simpanan om-om tajir?"
Ucapan Ika hanya ku balas dengan senyuman.
" kalau iya emang kenapa, kalau enggak juga kenapa, nggak ada yang gua rugiin kan? "
"Jadi gosipnya bener Za?".
" Berhubung laki gue yang tukang parkir itu, nggak bisa menuhi secara materi tentu gue butuh donk pria yang bisa memenuhi materi gue. Kalau gue nggak jadi simpenan om-om tajir dari mana gua bisa beli tas, punya mobil, rumah mewah, makan enak. " Sambil ku naik turunkan kedua alis ku untuk menggoda Ika.
" Nggak nyangka gue Za, lu diem-diem. Tapi main lu cantik juga, ajarin gue donk"
" Elah buset. Udah ah omongannya udah ngaco."
" Lu percaya, gue simpanan om-om?"
"Tadinya enggak tapi karena lu bilang gini, hati gue jadi ragu."
Akhirnya aku sama Ika ketawa ngakak.
" Tadinya gue mau cari makanan, tapi habis ngebanyol ama loe, perut gue jadi kenyang, gue balik dulu keruangan. "
Baru dua langkah aku berjalan Ika teriak manggil lagi dan nyuruh aku balik ke tempatnya.
" Kali ini gue tantang lu, selama inikan lu selalu cuek ni sama cowok-cowok yang dekati lu, kali ini dengan pesona mu, bisa nggak dekati tamu Bu Ratna tadi, gua pingin bungkam mulut Bu Siska."
Lalu Ika menunjukkan status di group. Status Siska, yang menampilkan foto Mas Jaya dengan emoji love yang bertuliskan " Di tabrak ampe benjol pun gue rela asal yang nabrak pria macho kek gini."
Panas sih sebenarnya hati liat foto suami ditangan orang, tapi ya sudahlah toh bukan salah Mas Jaya.
"kalo gue bisa, gue dapat apa?"
" Gaji gue sebulan ama loe."
Dengar pengakuan Ika aku jadi tertawa, jelas dia bakal miskin selama sebulan.
" Nggak perlu, gue ngak butuh duit lu, cuma gue minta lu beliin gue asinan, mangga nya yang banyak. Oke cantik, muach"
" Jijik gue liat lu." Dan kami pun berpisah karena aku kembali keruangan ku.
Begitu aku sampai di ruanganku, ku ambil HP, aku buka aplikasi WA untuk chat Ika.
[ gue mau asinannya siang ini udah ada dimeja gue.]
Lalu beberapa foto ku dengan Mas jaya ku kirim dengan Ika.
Nggak berapa lama Chat ku dibalas.
[ Ini serius lu Za sama dia.]
[Iya, gue izinin lu upload di wa lu, sebenarnya gue nggak rela foto cantik gue kemana-mana tapi karena gue selebritis disini, kali ini gue izinin. Jangan lupa asinannya, siang ini.]
Ku lihat Mbak Ratna keluar dari ruangannya, membuka pintu ruanganku dan hanya berdiri diambang pintu.
" Za, saya mau makan siang dulu. Tolong temani tamu saya bentar ya. " Sambil tersenyum dia pun pergi meninggalkan ku.
Begitu aku masuk keruangan Bu Ratna ku lihat Mas Jaya udah berdiri didepan ku. Langsung dia merangkul ku dan mengecup kening ku, dibawa nya aku duduk di sofa dan mendudukkan aku diatas pangkuannya.
" Kamu disini Mas? " Tanya ku sekedar basa-basi dan mengecup keningnya.
" Kangen aku sayang."
" Aku juga, nggak tau rasanya aku pengen deket aja sama kamu." sambil ku ciumin pipinya.
Di bukanya Jilbab ku, lalu dilepasnya sanggul rambut ku, akhirnya rambut panjang ku pun tergerai.
Ku lihat dia memejamkan matanya.
"Wangi banget. kamu terlihat mempesona sayang."
Disandarkannya kepalanya di sandaran sofa menarik tengkuk ku serta menenggelamkan wajahnya dileher ku.
" Biarkan aku sebentar menikmati suasana seperti ini."
Di pegangnya satu tanganku yang merangkul kepala, dan dibawanya kedadanya, ku rasakan debaran jantungnya yang cukup kencang.
" Kencang banget getarannya."
"Heemmm, cuma kau yang membuat jatung ku seperti ini Zahra, Kau benar-benar membuat ku jatuh cinta Zahra, jangan pernah tinggalkan aku Zahra, tetaplah selalu disamping ku."
Kurasakan pelukannya kepada ku semakin erat.
Kurasakan deru nafasnya seperti ombak yang sedang berlari menuju pantai dan aku pun hampir terlena.
" Sayang, ini kantor kendalikan dirimu."
Ku jauhkan tubuhku dari pelukannya. Ku pegang ke dua pipinya, ku lihat ada pancaran kekecewaan dari sorot matanya.
" Kau menolak ku?"
" Aku nggak menolak mu, aku juga menginginkannya tapi lihatlah kita sekarang ada dimana." Ku letakkan wajah ku kewajahnya deru nafasnya masih terasa " Aku juga udah lapar Mas."
Ku lihat senyum mengembang dari bibir nya.
" Ya udah kita makan ya." Ucapnya sambil mengecup bibir ku.
Aku pun turun dari pangkuannya, ku ambilkan dia air minum, setidaknya itu bisa menenangkan dirinya.
Ku pasang kembali jilbab ku, dan aku kembali keruangan ku untuk mengambil tas dan mematikan laptop ku.
Mas Jaya yang masuk keruangan ku langsung memeluk ku, dan mencium kening ku.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, ku lihat Ika datang sambil menenteng sesuatu.
" Biasakan kalau mau masuk ketuk pintu." Terdengar suara Mas Jaya dengan nada yang mengintimidasi.
" Masuk Ka, asinan ku ya. "
Ku lihat Ika hanya mengangguk.
" Bentar sayang." Ku lepaskan pelukan Mas Jaya.
ku dekati Ika yang masih berdiri dengan wajah bengongnya.
" Kalau kau pertaruhkan gaji mu tadi, habis lah kau" Ku bisikkan pelan ketelinganya. Sambil tersenyum. Lalu ku letakkan asinan yang di bawa Ika diatas meja.
" Ayo sayang, aku dah lapar." ku tarik tangan Mas Jaya untuk keluar dari ruangan ku.
Mendengar suara Mas Jaya mendehem, Ika yang masih diam terpaku jadi gelagapan.
"Maaf Pak" Lalu dia menundukkan wajahnya.
Aku hentikan langkah ku di depan Ika " Kalau tangan mu lagi nggak gemetaran, kau boleh ambil foto ku dan upload ke gruop gibah mu itu cantik." Sambil ku cubit pipinya, dan berlalu meninggalkannya.
Karena Ika berjalan dibelakang ku, sengaja ku tunggu dia untuk masuk ke lif bersama ku.
Begitu kita bertiga udah di dalam lif sengaja ku pererat pelukanku ke Mas Jaya. Ku perhatikan wajah teman ku dengan ke kikukan nya.
Sebenarnya aku hampir tertawa, tapi aku nggak tega. Ku lepaskan pelukan ku dari Mas Jaya dan merangkul bahu teman ku itu.
" Udah santai aja nggak usah tegang gitu."
Saat pintu lift terbuka aku pun melangkah keluar terlebih dahulu dengan Mas Jaya.
Didalam mobil akhirnya ku lepaskan tawa ku. Aku yang masih tertawa nggak menyadari kalau Mas Jaya selalu memperhatikan ku.
"Cantik" Itu yang aku dengar keluar dari bibirnya, dan ku lihat beberapa kali dia menggelengkan kepala nya sambil tersenyum sendiri.
Mas Jaya hanya mengantar ku sampai depan loby, setelah aku makan siang karena dia masih ada urusan. Begitu aku memasuki pintu loby ku lihat beberapa pasang mata memandang ku dengan tatapan yang menjijikkan. Sesampai di depan Ika aku berhenti, nggak lupa aku pasang senyum yang paling manis untuk dia.
" Gimana? Udah jadi tranding topik gue?"
" Udah donk. Lu sama Bu Ratna emang selebritis kantor ini, Pesonanya luar biasa." Jawab Ika senang.
" Karena kerja lu bagus, ni gue bawain makanan buat lu. Makasih ya asinannya. "
Aku pun berlalu dan segera menuju ruanganku. Disaat aku keluar dari lift, ku lihat Siska berjalan kearah ku.
" Dasar Jalang!"
Aku yang mendengar dia berujar seperti itu nggak memperdulikan kata-katanya, karena aku bukan seperti yang dia pikirkan.
bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar