Persaudaraan Muslimah Indonesia, mempelajari Islam Secara Menyeluruh.

Sabtu, 21 Maret 2020

#SUAMI_KU 1 - 5

#SUAMIKU
by Sashi Kirana

"Za,itu bener suami mu?!laki-laki nyeleneh, urakan dan kadang ngak tau malu itu?! yang suka nongkrong dipasar dan bergaul dengan para preman gitu?!" cerca sahabat ku...
aku hanya tersenyum, dan mengangguk untuk membalas pertanyaannya...
"Kok bisa sih Za,mau sama laki-laki begitu, macam ngak ada laki-laki lain aja. Dia dapat kamu, ketiban bulan, lah kamunya?! mungkin lagi mabok loe ya, nerima lamaran dia.."
Aku hanya tersenyum mendengar ocehannya.


Tanpa terasa sudah 5tahun aku menemaninya dalam biduk rumah tangga ini. Awalnya aku juga tidak mengenal pribadinya seperti apa, yang ku tau dia teman bapakku setiap pergi subuh berjama'ah dan teman pulang papaku sehabis Isya.
Dia tetangga didepan rumah ku. Dia kerja dimana tidak ada yang tau, setiap pagi dia pergi shalat subuh sambil membawa tas ranselnya, dan habis shalat dia akan langsung berangkat kerja, dan pulang langsung berjama'ah untuk shalt Isya, sebelum pulang kerumahnya.
yang diketahui bapak ku seperti itu.
Dia melamarku setelah aku menyelesaikan Pendidikan Menengah Atas.
Malam itu, sehabis Isya, seperti biasa keluarga kami akan bercengkrama diruang tengah sambil menonton Televisi, tetiba kami mendengar suara bel rumah berbunyi, ibu ku yg membukakan pintu.
"Nak Jaya,ada perlu sama bapak ya? tunggu ya,ibu panggilkan" sambil menyuruhnya masuk kedalam ruang tamu.
" Sebelum saya mengutarakan niatan saya, saya minta maaf untuk kelancangan saya, saya datang kesini tidak lama pak, dan ibu tidak usah repot-repot buatkan saya minum, saya minta ibu duduk saja sama bapak" ucapnya pada saat ibu ku ingin membuatkan air minum untuk nya.
"Jangan terlalu formal Jay(sapaan bapak ku, bisa jadi juga sapaan orang-orang dikompleks ini padanya), jadi penasaran bapak"

" Bismillah, baiklah pak, saya sudah berapa bulan ini tinggal disini, tepatnya bertetangga depan rumah dengan bapak, beberapa kali saya melihat putri bapak, dan tujuan saya datang ingin mengkhitbahnya menjadi istri saya, saya tidak mau bapak menjawabnya saat ini, silahkan bapak dan ibu berembuk dulu dan bertanya dulu dengan Zahra nya. Sekali lagi, saya minta maaf, maaf jika saya lancang. Tujuan saya sudah selesai dan saya pamit pulang"
Ayah dan ibuku hanya bisa diam, sampai dia hilang dari rumah kami.
"Apa dia sudah gila pak, dia masih baru jadi tetangga kita,pekerjaannya juga kita tidak tau,dan anak kita baru selesai sekolahnya baru 1bulan ini pak! Aku mau Zahra kuliah, aku ngak mau Zahra menikah sekarang, dasar bocah edan!
"Sapa yang mau nikah bu?"

"Masuk ke kamarmu, besok kita kerumah nenek Za, kamu tinggal disana dan jangan balik kesini kalau ngak disuruh balik" sedikit emosi ibu ku mengatakan itu.
namun bapak mencegahku,meminta ku duduk kembali.
" Za... tadi ada yang melamar mu,meminta mu sama bapak dan ibu untuk menjadikan mu istrinya,dan dia kasih waktu tapi tidak tau berapa lama,dia juga meminta jawaban dari mu"
Aku yang mendengarnya cukup kaget.
"Siapa pak orang nya?"
"Mas Jaya yang didepan rumah kita"
"kalau bapak ketemu sama dia,bilang dengan nya 1tahun lagi disaat usia za genap 20tahun pak,tapi selama itu tidak ada komunikasi antara Za dengan nya,tidak ada jalan berdua,jika dia bisa za siap menikah dengan nya,Za ngak mau pacaran pak" itu jawabanku.
Bapak ku tersenyum,dan memelukku...

*****
Dua bulan setelah kejadian itu,dia tidak lagi tinggal didepan rumah kami,karena yang menempati rumahnya sudah berbeda orang.. sepasang suami istri,yang mana suaminya supir pribadi dari seorang PNS yg baru saja dipindahkan dikota ini,6bln yg lalu.itu yang ku dengar dari ibuku.
" Syukurlah pak... anak ku tidak jadi dengan si Jay... baru saja ibu lihat dia dipasar,rupanya dia kerja dipasar ikan pak,ibu ngak sengaja beli ikan di tempat dia,dia kirim salam sama bapak"
Hanya itu yang ku tau dari ibu ku,tentang pekerjaannya.
Satu tahun lebih kejadian itu sudah berlalu,membuat keluargaku dan aku pun melupakan kejadian itu,sampai suatu malam tiba-tiba tetangga depan rumah ku datang bersama laki-laki yang tidak cukup asing buat kami.Ya.. dia datang bersama laki-laki yang dulu pernah meminta ku kepada orang tuaku,kedatangannya meminta jawaban dari ku,apakah aku bersedia menerimanya atau tidak.
Sampai akhirnya aku menerima lamarannya,aku menerima,karena dia menyanggupi permintaanku.
Aku tidak tau siapa dia,keluarganya... tapi yang aku tau dia laki-laki yang rajin berjama'ah dimesjid
Dan setelah menjadi istrinya,barulah aku tau siapa dia dan pekerjaannya.
jika ku ingat kejadian itu aku seperti bertaruh nyawa menikah dengannya.
******


-----


#SUAMI_KU.
Part 2.
##############
Pernikahanku menjadi buah bibir orang lain, bagaimana tidak, berjalan dengannya saja aku tidak pernah, atau hanya sekedar duduk berdua di teras rumahpun tidak pernah sama sekali, tiba-tiba saja ada undangan dan kabar bahwa aku akan menikah dengan pria yang usianya jauh diatas ku, bahkan banyak yang bilang dia lebih pantas dengan adik ibu ku.
Mengingat dan menimbang, saat itu tante ku belum menikah diusia yang sudah kepala 3.
"Kamu ngak mau merubah keputusan Za? Seharusnya kamu cari tau dulu siapa calon suamimu, laki-laki baikkah, jujur saja Za, aku menyesal menikah diusia muda, indahnya cuma sebulan Za, selebihnya seperti neraka, belum lagi suami yang membela mertua dan saudaranya" Dita menasehati ku, pada saat dia datang kerumahku.
panjang lebar sahabat ku itu bercerita tentang kehidupan rumah tangganya...
Tiga hari sebelum pernikahanku berlansung, calon ibu mertua ku datang berkunjung kerumah, beliau tidak banyak bicara, namun kata-kata yang masih ku ingat " calon suamimu itu bukan pria yang baik, saya ibunya saya lebih tau tabiat dan prilakunya" beliau mengatakan itu sambil menggenggam tangan ku hangat, dan tersenyum manis.
sehabis kunjungan dari ibu mertua (ops! masih calon waktu itu) 😊😊 aku ngak bisa tidur, teringat kembali pada Dita, dan teringat pada ucapan beliau, serta nyinyiran para netizen yang kepo tentang pernikahan ku.
" Apa aku harus membatalkan pernikahanku?" bathin ku bergemuruh, otak ku buntu. Aku ngak bisa berfikir lagi.

Aku berusia 20 tahun sementara mas Jaya pria berumur 31 tahun. Apa istimewa dari pria itu, sampai aku ngak bisa menolaknya saat itu. Hanya karna dia rajin sholat berjama'ah lalu aku menganggap dia pria yang baik. Zahra.... dimana fikiranmu, ayolah lihat masa depanmu masih panjang, jangan sampai pernikahanmu seperti Dita.
Aku ambil ponsel ku "aku harus menghubungi nya, memintanya untuk membatalkan pernikahan ini".
[ Assalamu'alaikum... Maaf beribu maaf jika saya menghubungi mas lewat pesan singkat ini. Mas... Tanpa mengurangi rasa hormat saya padamu, saya minta mas batalkan pernikahan ini. Saya bukan wanita yang pantas buat mas, saya juga masih terlalu kekanakan, seharusnya mas menjatuhkan pilihan pada tante saya, bukan kepada saya, atau kepada orang lain yang lebih pantas.
Sekali lagi maaf mas... ]
Sampai jam 5 subuh, pesanku tidak dibalas. Aku semakin kacau, pikiran seperti benang kusut, kepala ku mulai terasa berat. sehabis sholat subuh, aku tertidur karen tidak sanggup lagi menahan sakit dikepala.
Jam 12 siang aku membaca pesan masuk di ponselku ku
[ Saya tidak akan membatalkan pernikahan ini, jadi maaf, keinginan kamu saya tolak, nona Zahra Anggraini ] tak lupa dia menyelipkan emot senyum.
"Sial, belum jadi suami saja dia sudah menunjukkan sikap angkuhnya seperti ini, aku benar-benar salah menilai pria ini"
"bego', bego'" sembari aku mengetok jidad ku.
******
Sampai hari H pernikahanku. Malam ini aku resmi menjadi istri dari Heru Sanjaya, pria angkuh itu. "Aku harus bisa terima semua dengan keadaan ini, aku pasrah ya Robb"... Tanpa terasa air mataku jatuh.
" Sabar dek, jangan menangis gitu dong, tante yakin dia pria yang baik, selama ini pergaulan dia dengan warga disini juga baik, dan yang tante dengar di pasar pun dia baik, malah kalau dia yang dagang, ikannya cepat habis loh" hibur tante ku....
" Dia memang pedagang ikan?!"
Tante ku mengangguk membenarkan pertanyaanku.
" Bukan hanya itu, terkadang dia pun jadi juru parkir, yang pastinya dia kerja dipasar, tapi tante heran dia bisa kasih kamu mahar yang cukup besar"
" jangan-jangan dia rampok yang profesional, atau bandar narkoba?!" jawabku asal...
"Ngawur bicaramu"
Tante ku melotot dan mencubitku, sambil melihat sekeliling, untuk memastikan ucapanku didengar orang atau tidak.
****
" Tidak ada malam pertama, jadi ngak usah takut kalau malam ini aku tidur seranjang denganmu, tidurlah dan nikmati tidur malam mu, kamu terlihat lebih kurus dari pertama aku melihat mu"
Sembari dia menyusun guling untuk menjadi pembatas aku dan dia.
" Apa tujuanmu menikahiku? Apa aku punya salah?" jujur aku sedikit takut, tapi aku coba menepis rasa takutku.

Dia yang tadi ingin merebahkan tubuhnya, mengurungkan niatnya, lalu duduk dan menatap ku tanpa berkedip, perlahan dia medekati wajahku, sampai semburan nafasnya terasa hangat diwajahku.
" Ngak usah mendekat, wajah mu ngak nyeremin" refleks aku menampar wajahnya.
Dia tersenyum lalu menjauhkan duduknya dengan ku.
"Aku menikahi mu, karena aku suka dengan mu, kesalahanmu, kenapa setiap melihatmu, ada getar yang aneh dalam dadaku. Dan aku ngak mau buang kesempatan membiarkan mu didapatkan orang lain, usia ku sudah pantas menikah, dan usia mu pun sudah layak menikah, jadi tidak ada unsur fedofilia diantara pernikahan kita, karena aku menikahi wanita berusia 20tahun.
Dan berhubung sudah larut malam, tidurlah jangan banyak tanya, dan menurutlah sebagai seorang istri selagi aku tidak menyuruhmu kepada hal kemaksiatan".
Dia pun merebahkan tubuhnya, tinggal aku yang masih diselimuti rasa yang aku sendiri tidak tau, menyesal? bisa jadi. Kecewa? sudah pasti ada saat itu...
Namun untuk bahagia... Wallahu'alam.
*****
Seminggu sudah aku menikah dengannya, kekakuan itu masih terasa, tiba saat dia membawa ku tinggal serumah berdua dengannya, ya... hanya berdua.. karena, tiga hari setelah pernikahanku, Ibu mertuaku dan kedua saudara perempuan suami ku harus pulang ke Sumatera untuk melanjutkan rutinitas mereka.
" kita tinggal disini sekarang, dengan 1 kamar. Tidak usah takut untuk tidak makan, untuk memberi mu makan sampai kamu muntahpun aku bisa, rumah ini memang kecil tidak sebesar rumah orang tuamu, meskipun begitu, aku janji rumah ini ngak akan menjadi neraka buatmu." sambil dia membawa koper ke dalam kamar.
pada saat dia ingin membuka koper ku, aku mencegahnya.
"Biarkan aku sendiri yang buka, aku masih bisa menyusun sendiri dilemari"
" Baiklah boss... lakukan yang kamu mau" sambil dia melangkah keluar dari kamar. Sampai didepan pintu kamar, dia berdiri lalu berpaling memandangku yang sibuk mengelurkan pakaian dari koper yang ku bawa.
" Za..... " ucapnya terputus.
" hemmm , ada yang mau disampaikan?"
" Aku..... "
" Kalau ada hal penting sampaikanlah, aku mendengarkan " sedikit ketus aku menjawabnya.
" Ngak penting sih... udah lanjutlah... aku cuma mau bilang, kamu cantik hari ini" ucapnya datar tanpa ekspresi, dan berlalu meninggalkanku.
******

Aroma masakan tercium sampai kedalam kamar.
" Pandai juga dia masak, wanginya sampai kecium begini" gumamku.
Dengan sedikit penasaran, aku melangkah kedapur untuk mengambil minum, yang sebenarnya aku ngak haus, hanya ingin memastikan benarkah dia yang masak.
" kamu mau makan? dari pagi kamu belum makan loh"
aku menjawab hanya dengan gelengan kepala.
" Tapi bagus juga kalau kamu ngak makan, kita bisa hemat beras, dan aku cukup sedia promagh saja"
Aku ingin tertawa, tapi aku menahannya.
"Garing!!" aku berlalu meninggalkannya sambil tersenyum
Hari-hari ku lalui dengan baik, meskipun kekakuan diantara kami masih ada namun dia memperlakukan ku dengan baik, Cerita Dita tentang suaminya, aku rasa berbeda dengan pria yang sekarang menyandang status suami buat ku. Selama 6 bulan ini tidak pernah sekalipun dia membentakku, jika dia tidak suka dengan hal yang kulakukan, dia akan mendiamkan ku beberapa hari, dan dengan waktu yang tepat dia akan membicarakan ketidak sukaannya padaku. Selama menjadi istrinya tidak pernah dia memprotes apapun yang ku lakukan apalagi seputar makanan yang ku masak, dia selalu menghabiskan makanan dalam piringnya, terkadang dia menghabiskan sendiri, dan aku hanya kebagian makanan dari luar.

seperti malam ini, kebiasaan yang terjadi, dia akan tiba dirumah pada saat aku sedang sholat Isya'.
Begitu aku selesai, aku menuju dapur dan memastikan apakah mas Jaya sudah pulang.
Aku sedang melihatnya memakan semua yang aku masak.
" Za, kamu pesan makanan dari luar aja, aku lapar banget, lagi pula ini makanan enak, sangat enak, jarang-jarang aku ketemu makanan seenak ini" ujarnya tanpa rasa bedosa sedikitpun...
Ingin marah rasanya, tapi mau bilang apa, toh juga sudah habis..
setelah makan, dia masuk kamar, dan aku menikmati malam ku sambil menonton siaran TV kegemaranku.
Begitulah tidak ada komunikasi yang berarti. Terkadang dia bersikap dingin.
Meskipun begitu, setiap malam minggu, dia selalu mengajakku keluar walau hanya sebatas duduk ditaman.
" Pacaran setelah menikah itu kata orang soleh itu lebih indah ya.... Aku bukan orang baik Za, namun aku akan berusaha memperbaiki semua sifat buruk ku.
Aku memilihmu, karena selama aku tinggal didepan rumah mu, sekalipun aku tidak pernah melihatmu di apelin laki-laki. Padahal usia sepertimu lagi senang-senangnya pacaran, dan aku memilihmu karena aku tahu kamu wanita yang baik dan pintar, yang membuatku mengagumimu, selain kamu wanita yang modis, tp jilbab mu ngak pernah lepas kalau kamu keluar rumah. Aku bisa rasakan kalau kamu wanita yang punya prinsip.. "
Ucapnya, sambil dia menggenggam jemariku, dan mengecupnya.
Aku sedikit kaget dengan perlakuannya.

" Jangan luluh Za, bisa jadi dia bicara begini karena kamu belum dia dapatkan seutuhnya, sekali lagi jangan luluh Za" Aku tidak tau apakah ini bisikan syaiton yang ingin menjerumuskan ku menjadi istri durhaka, ataukah bisikan malaikat yang ingin mengajakku kepada kewaspadaan, tapi aku hampir terbang mendengar ucapannya.
"Ayo kita pulang, udah larut malam dan aku juga sudah mengantuk" pintaku padanya.
" Baru saja kita sampai, baru juga duduk, pesan minumpun belum"
"Tapi aku sudah ngantuk mas"
Aku memutuskan pulang kerena aku ngak mau hanyut dalam rayuannya.
Akhirnya dia memutuskan untuk pulang. Sepanjang perjalanan pulang dia menggenggam jariku, tanpa ada keluar sepatah katapun dari bibir kami berberdua.
Sesampai dirumah, aku langsung duduk diruang tengah sambil menyalakan televisi. Setidaknya siaran televisi saat itu bisa meredakan sedikit gemuruh yang ada dalam dadaku.
Minggu pagi, sehabis nginem dirumah aku memanjakan diri, duduk santai didepan televisi, tanpa sadar aku tertidur.
Aku terjaga kerena ada yang mengelus lembut pipiku...
" Ngak usah kaget gitu, ini aku, badan mu hangat?"
" Ngak, sedikit pusing saja" jawabku singkat.
" Enam bulan kita sudah menikah, namun jarak itu masih kurasakan. Sekiranya pernikahan ini tidak berkenan buat mu, aku memilih mengikuti kemauanmu. Kamu ingin kita berpisah? " Tanya nya dengan mimik muka yang serius.
"Kamu ngak usah jawab sekarang. Besok aku mau pergi selama seminggu, kamu mau dirumah atau kamu menginap dirumah orang tua mu?"
Belum aku menjawabnya, dia sudah pergi meninggalkan ku.
" Kalau hanya pergi seminggu aku dirumah saja mas" aku mengawali pembicaraan malam itu di meja makan.
" kamu yakin sendiri? "
"Aku ngak apa-apa, aku hanya pusing saja. Selama enam bulan pernikahan kita aku ngak tau siapa kamu, yang aku tahu kamu hanya perantauan dari Sumatera kesini, meskipun aku sering berkomunikasi dengan keluargamu via telpon, aku tetap ngak mengenalmu. Jika kamu memang hanya pedagang ikan, aku tidak masalah, tapi dimana 5 hari waktu mu selain dipasar.
karena selain sabtu dan minggu kamu ngk ada dipasar, . dan uang bulanan yang kamu berikan nominalnya sangat besar hanya sebagai seorang pekerja. Sementara kebutuhan rumah kamu yang tanggung, kontrakan kita kamu yang bayar, dan kemarin orang pihak developer datang kesini, meminta kelengkapan berkas karena kamu mau ngambil rumah. Kamu itu kerjanya apa sih? jangan sampai dugaanku benar, kamu itu Rampok atau pencuri profesional, atau jangan- jangan kamu bandar narkoba?!"
Aku bangkit dari duduk ku dan meninggalkannya, aku mendengar dia tertawa.
Masa bodo' dia mau bilang apa, yang penting aku puas mengeluarkan isi hatiku, dan aku ngak mau sakit untuk memikirkan hal konyol seperti ini, toh juga dia ngak mau tau dengan ucapanku.
=========

#SUAMI_KU
Part.3
===
Selama kepergian nya aku menikmati hidupku tanpa pria menyebalkan itu di rumah ini.
Pagi itu sehabis aku bersih-bersih, aku menonton TV, tanpa sadar aku tertidur di sofa didepan televisi, aku terbangun karena mencium aroma masakan.
Astaqfirullahal'azim! apakah aku lupa mematikan kompor..... Aku langsung bangun dan bergegas menuju dapur, aku agak kaget melihat mas Jaya udah di dapur dan memanaskan sup yang ku masak.
"katanya seminggu mas diluar kota, ini baru juga tiga hari... jangan bilang kamu kangen sama aku ya... " ucapku dengan percaya diri...
Bukan menjawab kalimat ku, dia mengalihkan kehal lain.
" udah bangun kamu. Sepertinya masakan mu enak... " ucapnya sambil menyendok kan nasi kepiringnya.
" makanlah... maaf cuma masak sedikit, aku ngak tau kalo mas pulang hari ini"
dia ngak membalas ucapanku, dia mkn dengan lahap. Aku kembali keruang tengah untuk menonton Tv.
" pada saat mas pergi, dua kali pihak developer kemari, untuk meminta berkas yang kurang, mas simpan dimana buku nikah kita?, dan mereka juga minta NPWP mas."
ujarku setelah dia duduk disebelah ku...
" Aku masih meletakkannya di kantor, dilaci meja kerja ku
"
" Kantor?!, kantor apa?!" tanyaku sambil mengernyitkan dahi dan mulai serius menatapnya.
" aku capek Za, aku mau istirahat " dia meninggalkan ku begitu saja.
" Mas, kamu itu terkadang ngeselin ya, jawab dulu pertanyaanku... kantor siapa?" aku pun menyusulnya.
Aku lihat dia merebahkan tubuhnya, tanpa rasa bersalah sedikitpun...
" Mas, sebagai seorang istri wajar aku tau kamu kerja apa?!"
dia langsung duduk, dan menarik ku duduk dipangkuannya, serta memelukku erat, sehingga aku tidak bisa berkutik dibuatnya.
" aku tau kamu itu seorang istri, semua orang juga tahu kamu seorang istri dari ku. " dia menatapku dengan tajam.
aku yang dipandang seperti itu, jadi salah tingkah sendiri.
"lepaskan aku!" sedikit memberontak meminta dia melepaskanku.
pelukannya sama ku semakin kuat.
"Tiga hari aku ngak melihat wajah cantikmu, aku merasakn rindu.
bisakah kita memulai hidup kita ke arah yang lebih baik, jangan lagi membuat jurang diantara kita, aku memberikanmu nafkah yang halal "ucapnya lembut, deru nafasnya berhembus hangat ditelingaku.
Segera kutarik kepalaku menjauh darinya.

"Za... Kalau kamu mengaku sebagai seorang istri, bisakah aku mendapatkan cintamu?! lagi-lagi dia memandangku dengan tatapan yang tajam.
Ditatap seperti itu, membuat aku jadi sedikit salah tingkah.
" Apa sih susahnya ngasih tau kamu itu kerja dimana?! bisa jadi kamu di pasar itu hanya sebuah alibi"
Lagi-lagi bukan menjawabku malah dia tertawa dan mengalihkan pembicaraan...
"Kamu senangkan duduk di pangkuan ku" sambil dia melepaskan pelukannya.
Seketika aku bangkit dari pangkuannya
" Kau ya!!!! " sambil aku menunjukkan jari ku tepat di depan hidungnya.
" Bodo' ah!!!! " ujarku kesal, sambil meninggalkannya yang masih duduk dipinggir ranjang, dan tak lupa dia mentertawakan diriku.

**********
Tante Maya adalah satu-satunya tempat curhatku... meskipun dia belum berkeluarga, tapi dia cukup dewasa untuk menyelesaikan suatu persoalan, bisa jadi karena tuntutan pekerjaan yang harus membuatnya berfikir bijaksana.
Hari itu aku bermain kekantornya, aku diantar mas Jaya..
walaupun aku belum bisa membuka hati, tapi untuk keluar dari rumah tanpa izinya aku juga ngak berani.
" Dia suamimu, jangan pernah melawan dengannya, dia yang gantikan bapak nduk, apapun katanya turuti selagi itu baik" Itu pesan bapak pada saat aku akan dibawa mas Jaya keluar dari rumah orang tuaku.
"Tante... udah menanyakan sama tetangga depan rumah ibu, apa pekerjaan jelasnya mas Jaya?"
" Udah Za, jawabnya tetap sama, mas jaya adalah teman suaminya waktu mereka sama-sama kerja di pasar "
" kalau memang iya kerja di pasar, kenapa aku ngak pernah melihatnya pada saat aku belanja ke pasar "
" dari yang tante dengar, kalau hari biasa selain sabtu minggu, Jaya datang sehabis Ashar "
" aku harus memastikannya sendiri Tante, lagi pula kalau memang dia dagang ikan, seharusnya dari pagi. Laki-laki itu, udah terkadang ngeselin, sok misterius lagi."
Tante ku hanya tersenyum...

********
Sehabis sholat Ashar aku bergegas ke pasar tempat mas Jaya biasa bekerja.
Setelah aku membayar supir taksi online, perlahan aku memasuki area pasar, dari kejauhan aku melihat mas Jaya sedang mengangkati beberapa keranjang yang berisi sayuran dari sebuah pick up.
aku masuk kedalam salah satu warung yang menjual minuman.
Setelah menyeruput es teh yang ku pesan, aku memberanikan diri bertanya tentang mas Jaya dengan pemilik warung, kali-kali dia mengenalnya.
" Bapak, maaf kalau saya mengganggu.. bapak kenal dengan Jaya yang bekerja di pasar ikan? "
" yang itu neng " seraya jarinya menunjuk ke arah mas Jaya.
" Ya kenal lah neng, dia kan hari-hari disini, tapi neng sebenarnya dia bukan dagang ikan, dia hanya bantu-bantu saja, karena pemilik kios ikan itu sabtu dan minggu pulang ke kampung ketempat istrinya"
" lalu selain itu dia kerja apa ya pak? " tanyaku.
" Kurang tau neng, tapi setelah ashar dia pasti sudah disini"
" Jadi buruh angkut gitu pak?? " kembali aku bertanya.
" Dia hanya membantu saja neng, sebelum anak-anak yang biasa ngamen datang mengantikannya "
" Neng ada perlu sama Jaya, biar bapak panggilkan" Ucapnya ramah.
"Ngak usah pak" aku buru-buru mencegah sibapak yang ingin beranjak dari tempat dia duduk.
Aku segera pamit. Bergegas pulang, meninggalkan area pasar...
Melihatnya bekerja seperti itu ada rasa kasihan dan iba dalam hatiku, sejauh ini dia berusaha untuk membahagiakan ku, bekerja keras untuk memenuhi tanggung jawab sebagai seorang suami.
Istri macam apa aku, yang selalu mencurigai suami sendiri.
tapi perkataannya tempo hari membuatku harus tetap menyelidiki siapa dia.

*******
" Hum.... sebentar lagi mas Jaya akan pulang... " saat ku dengar kumandang Adzan untuk menunaikan Sholat Isya di mesjid yang tidak jauh dari rumahku.
Sebelum aku menunaikan kewajibanku sebagai seorang hamba, terlebih dahulu aku mempersiapkan makanan diatas meja, biar kalau mas Jaya pulang dia bisa langsung makan. Setelah itu aku masuk ke kamar ku, untuk melaksanakan sholat Isya'.
setelah sholat, aku keluar kamar memastikan apakah mas Jaya sudah pulang. Aku lihat mas Jaya sedang melahap makan malamnya...
Penampilannya sedikit berbeda dari yang kulihat di pasar tadi, rambutnya lebih rapi, jenggot yang menghias dagunya lebih pendek, rona diwajahnya lebih berseri, mungkin karena habis kena air wudhu. Meskipun dia menghabiskan waktu seharian diluaran aroma tubuhnya ngak seperti orang yang terkena sengatan matahari.

Melihat ku melangkah kearah dapur dia mengajakku untuk makan bersama.
Aku duduk dihadapnya, lihat dia makan selahap itu aku jadi merasa kenyang sendiri. Ku pandangi dia secara seksama. Pria berkulit sawo matang ini jika diperhatikan cukup manis juga. Ada kharisma tersendiri yang terpancar dari dirinya.. wajahnya yang teduh, aku yakin dan percaya banyak wanita yang diluar sana pasti menyukainya.
"kamu ngak makan?? ngak usah memperhatikanku seperti itu, aku tau aku memang tampan" ucapnya, membuat aku tersadar.
"Bentar lagi, aku belum lapar" sambil aku meneguk air dalam gelas yang kupegang.
" aku tau kamu mulai mengagumiku nona manis" senyumnya mengembang
" Bodo' " bergegas aku meninggalkannya.
Dia menghampiriku dan duduk disebelahku sambil mengambil remote dan mengganti channel tv yg ku tonton.
" kamu makanlah, lauk nya masih ada" ujarnya membuka percakapan.
" Tumben kamu ngak menghabiskan makan malam kali ini mas? " senyum ku mengembang dengan maksud mengejeknya.
" Aku kasihan sama kamu, karena jarang makan kamu jadi kurus begini" balasnya dengan meniru perlakuanku.
" Za... hari ini masakan kamu garamnya aku rasa pas"
" Maksudnya? "
"iya, Aku rasakan garam dimasakan kamu kali ini cukup pas dilidah ku" sambil tersenyum lebar dia menatapku...
" selama ini masakan ku cukup asin dilidah mu?"sambil membenarkan duduk ku, aku sedikit salah tingkah karena ucapannya, aku jadi teringat dengan masakan ku yang selalu dia habiskan tanpa tersisa sedikitpun.
" Hem... aku ngak bilang masakan kamu asin... cuma kalau boleh jujur, garamnya hanya terasa saja " lagi-lagi dia mengembangkan senyumnya.
"ohhh... " jwabku singkat, sambil meninggalkannya menuju kamar.
Didalam kamar aku ngak bisa lagi membendung tawaku.
Terkadang dia itu ngeselin, tapi juga lucu...

********
Seperti biasa, setiap bulan aku selalu pergi ke toserba untuk membeli keperluan bulanan... Untuk kembali kerumah aku sedikit malas, aku lihat jam di Hp ku masih menunjukkan pukul 13.50, masih punya banyak waktu untuk ku menunggu mas Jaya pulang. Aku putuskan untuk mampir ke Mall sambil sedikit melihat-lihat kosmetik sapa tau saja ada yang membuatku tertarik...
Lagi asik berkeliling, mata ku tanpa sengaja melihat seseorang duduk diantara beberapa orang pria yang sedang menikmati makan siang di resto ternama dikota ini. Sedikit penasaran aku mendekati restoran tersebut untuk memastikan apakah itu benar suamiku...
Aku masih ingat pakaian yang tadi pagi dia kenakan, kaos putih polos, celana jeans yang sobek dibagian lututnya dan spatu berwarna coklat yang biasa dia kenakan... serta jaket kebesarannya.
Disini aku melihat dia dengan penampilan yg berbeda, kemeja hitam polos, dengan dasi yang melingkar dilehernya.
"Pemandangan macam apa ini" Gumamku.
Aku masih tetap memperhatikannya, sampai akhirnya dia dan dua orang teman nya meninggalkan tempat itu.
Aku masih mematung di tempat ku berdiri, sampai dia hilang dipandangan mataku, masuk kedalam lift.
aku bergegas pulang... sampai di rumah aku mengambil kartu nama dari salah seorang developer yang pernah datang kerumah.
tanpa perlu pikir panjang aku pencet nomor yg ada dikartu nama itu... tidak perlu waktu lama untuk dia mengangkat telphon dari ku.

" Iya ibu Zahra ada yang bisa saya bantu? " ucapnya dari sebrang...
" Bapak udah bertemu dengan suami saya?? apakah berkasnya sudah lengkap?" pura-pura aku bertanya untuk menghindari kecurigaan nya pada ku.
" oh sudah bu, kami sudah bertemu bapak di kantornya, terimakasih atas kepercayaannya untuk membeli rumah ditempat kami"
"Oh iya Mas... hemm saya boleh minta alamat kantor bapak? "
" masa alamat kantor suami sendiri ibu ngak tau"
" kantor yang sekarang saya lupa mas, saya hanya ingat alamat yang lama"
" oke nanti saya chat alamatnya"
tak lupa aku mengucapkan terimakasih kepadanya, seraya menutup telpon ku.
Akhirnya aku dapat juga alamat kerja mu mas...
Senyum ku menunjukkan rasa puas!!

-------

#SUAMI_KU
part 4.
=========
Siang ini aku memutuskan untuk mendatangi alamat kantor Mas Jaya.
Baru saja aku hendak keluar dari depan gerbang komplek, aku melihat Mas Jaya berjalan seraya menggendong seorang anak kecil. Mau tidak mau aku menyuruh supir taxi untuk putar balik. "Sebelum dia sampai aku hrus sampai terlebih dahulu. Aku tidak mau dia tahu kalau aku ingin pergi tanpa izin darinya" gumam batinku.
Baru saja memasukkan anak kunci, aku dikagetkan dengan sapaan dibelakangku.
" Kamu mau kemana Za? " tanya nya sambil tersenyum...
Aku yang sedikit kaget, berusaha menenangkan diri " Mau ketemu teman Mas" ujarku sambil masuk kedalam rumah.
" Anak siapa mas??? " tanyaku pada saat dia mendudukkan gadis kecil yang manis itu di sofa ruang tengah.
" Duduk disini ya sayangggg " ucapnya lembut...
alih-alih menjawab ku... seperti biasa dia akan bertanya kehal lain.
" kamu masak apa siang ini Za???"
" Aku ngak masak Mas, kamukan ngak pernah makan siang di rumah"
" aku yang masak hari ini yaaa..., aku minta tolong kamu temani saja Rindu "
aku segera mengganti pakaianku dan menemani anak manis itu bermain...
Aku yg tidak punya rasa curiga apapun dan tetap bersikap biasa saja.
Mungkin kerana lelah bermain, gadis manis yang berusia dua tahun itu akhirnya tidur juga.
" Kamu membawa anak orang ke rumah kita, apa ibunya tidak mencari Mas ?? tanyaku padanya,
" Aku sudah minta izin untuk bawa dia main kerumah kita "
" Kamu bawa Rindu kemari bukan sebagai bentuk protes kamu terhadap ku kan? " tanyaku penuh selidik.

Dia memiringkan posisi duduknya menghadapku, dia menatapku dengan seksama. " Za... aku akan tetap menunggu kesiapanmu untuk menjadi seorang istri seutuhnya. "
Aku yang mendengar ucapannya hanya membalas dengan senyuman. Aku tidak tau harus berkata apa. Aku mengakui, jauh didasar relung hatiku, aku mulai mengaguminya. Aku tidak tau apakah rasa yang ku rasakan adalah sebuah rasa cinta. Tapi, waktu dia pergi untuk beberapa hari yang lalu, aku merasa sangat mengkhawatirkannya, dan ada rasa kehilangan sekaligus rindu padanya.
" Rindu, anak yang cantik. Sepertinya kamu cukup sayang dengannya, sesekali bawalah aku main kerumah orang tuanya, untuk silaturahmi. " Ujarku...
" Kamu menyukainya ? "
ku balas pertanyaannya dengan anggukan kepala.
" Meskipun aku mengatakan bahwa dia anak ku? "
" apa maksud dari perkataan mu? " aku cukup kaget mendengar ucapannya.
" Ya... kalau aku mengatakan bahwa rindu adalah anak ku, apakah kamu akan tetap menyayanginya ?"
" Maksud mu, dia anak mu?" sambil aku menunjuk Rindu yang sedang terbaring lelap.
Tidak ada kata yg keluar dari bibirnya, dia hanya menatapku.
Seketika ada rasa sesak dalam dadaku. Di saat aku mulai merasakan debaran-debaran yang aneh terhadapnya, di saat aku ingin membuka hati kepadanya, disaat aku mengagumi dirinya... di saat itu juga dia hempaskan semua rasa yang kumiliki padanya.
Aku segera meninggalkannya, dan masuk ke dalam kamar.
Aku ngak mampu membendung air mata ku... kenapa harus ada rasa sakit ini yang aku rasakan disaat aku mulai mencintainya....

******
Aku merasakan seperti ada yang menggoyangkan tubuhku... Kepalaku terasa berat, mata ku terasa panas dan sedikit perih untuk ku buka, aku nggak tahu berapa lama aku menangisi diriku sendiri, sampai akhirnya aku tertidur.
Samar-samar aku mendengar seolah-olah suara Mas Jaya memanggilku.
" Bangun Za. Zahra bangunlah"
Aku kaget karena aku merasakan seseorang sedang mengecup keningku. Sontak aku terbangun dan langsung duduk. Aku melihat Mas Jaya duduk dihadapanku.
" Lama sekali kamu tidur, bangunlah... ayo kita makan. Lihatlah mata mu seperti itu, apa yang kamu tangisi ??"
Aku memandang nanar laki-laki yang duduk didepanku. Sedikitpun tidak ada rasa bersalahnya, dia merasa seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Ya ALLAH.. Makhluk apa yang kau jadikan sebagai suamiku. Ucap batin ku.
Pada saat dia ingin memegang jemariku, aku menepisnya. " Jangan pernah sentuh aku, Tuan Heru Sanjaya!!! Dan tolong tinggalkan aku sendiri!!!

" Za, kamu kenapa??. Jika aku punya salah kita bisa bicarakan semua dengan kepala dingin. Setiap persoalan pasti ada solusi dan jalan keluarnya" ucapnya dengan tenang.
Entah kenapa saat ini aku benar-benar menjadi muak melihatnya...
" Kamu masih bisa bicara setenang ini, seolah tidak terjadi apa-apa?!.
Anda memang manusia yang sangat luar biasa Bapak Heru Sanjaya, yang terhormat!! " ucapku sambil bertepuk tangan...
Sambil mengambil nafas panjang, dan menghempaskannya dengan kasar " Oke. Baiklah... mungkin saat ini kamu butuh ketenangan". Ujarnya sambil tersenyum kepada ku.
Sebelum dia hilang di depan pintu, dia berbalik menatapku dalam dengan pandangan yang aku sendiri nggak bisa mengartikan pandangannya, karena yang ada saat ini aku merasakan sosok didepanku bukanlah seorang manusia.
" Jika kamu butuh sesuatu, aku ada diluar " sekita dia langsung berpaling...
Aku putar kembali memory ku... Aku teringat akan ucapan Dita.. Sahabat ku... Dia pernah mengingatkan ku untuk mengakhiri hubungan ini... Ketidak bahagiaan yang Dita alami dalam biduk rumah tangganya hanya karena tidak sukaan keluarga dari pihak suaminya terhadapnya, dia merasa diintimidasi, sementara suaminya lebih berpihak pada keluarganya. Tapi aku?! Aku punya mertua yang begitu menyayangiku, keluarga yang hangat,meskipun aku berpisah jarak, tak jarang ibu mertua ku menelpon ku hanya untuk bertanya kabar, mengirimi ku pakain, atau pun makanan yang dia masak untuk ku dan Mas Jaya.
Aku percaya, bahwa laki-laki yang saat ini hidup bersama ku adalah sosok yang yang baik dan bertanggung jawab.
Tapi hari ini, setelah dia membawa sosok malaikat kecil itu ke rumah ini, semua penilaianku terhadapnya berubah.
============
( Untuk part selanjutnya mungkin agak sedikit lama, karena harus fokus terhadap anak dulu yang mau ulangan 🙏🙏🙏) ...
Kritik dan saran masih tetap dibutuhkan...

------

#SUAMI_KU
Part 5
========
"Zahraaa, buka pintunya"
Aku yang dipanggil hanya diam saja. Aku tetap sibuk menyusun pakaian ku ke dalam koper kecil.
Untuk pulang ke rumah orang tuaku saat ini rasanya tidak mungkin. Tapi, untuk tinggal satu atap dengan Mas Jaya rasanya hatiku sudah enggan.
Mas Jaya terus saja memanggil ku.
"Kamu sudah dua minggu ini mendiamkan ku.. ayolah Zahra, bukalah pintunya "
Dengan berat hati aku membuka pintu kamar.
" Apa maksudnya pakaian dalam koper ini? " tanya nya heran.
Aku tetap diam pada saat dia bertanya seperti itu, dan tetap sibuk dengan aktifitasku.
Aku sadar perbuatanku saat ini bukan hal yang baik. Namun apalah daya ku sebagai seorang manusia, aku menyadari ini kelemahan ku, usia ku yang masih cukup muda tidak mampu membendung sikap egois dalam diriku.
" Kemana kamu pergi aku akan ikut. Sebagai suami aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi sendirian. "
Aku yang mendengar ucapannya, langsung menoleh kepadanya.
" Kalau kamu memang anggap aku seorang istri, ngak seharusnya kamu merahasiakan banyak hal padaku. "
" Agar kamu tahu, aku mau menerimamu sebagai seorang suami, karena aku mengagumi kepribadianmu. Ya... selama aku hidup dengan mu, aku merasakan kelembutan sikap mu, kedewasaanmu, aku merasakan bahwa kamu berbeda dengan laki-laki kebanyakan yang diluaran sana, tapi terlalu banyak hal yang kamu sembunyikan padaku. Dan hal yang paling membuat aku terguncang pada saat kamu membawa Rindu kemari !!" ucapku dengan rasa emosi dan terus saja memasukkan pakaianku
" Dan aku tetap tidak akan membiarkan mu pergi dalam keadaan seperti ini, apalagi seorang diri".
" Saat ini aku tau kamu sedang emosi, aku tahu kamu tidak ingin diganggu oleh siapapun, justru karena keadaanmu yang seperti ini, aku tidak akan pernah jauh dari mu"
Aku tetap ngak menghiraukan ucapannya.
" Zahra... " panggilnya seraya menepuk pundak ku.
" Bisa tidak sih kamu itu ngak menggangguku!" hardikku padanya.
bukan kemarahan yang aku dapatkan, justru dia tersenyum pada saat aku membesarkan mataku padanya, dan menghardiknya seperti itu.
" Kamu tambah cantik kalo seperti itu " ucapnya sambil tersenyum, lalu mengusap kepalaku, dan pergi meninggalkanku.
Selesai shalat subuh, aku memutuskan pergi dari rumah. Lagi pula Mas Jaya pagi ini pastinya sudah ada di pasar.Taxi yang akan mengantar ku ke terminal telah menungguku di depan rumah.
"Selamat tinggal Mas. Aku rasa kamu akan lebih bahagia tanpa aku"
Ngak perlu waktu lama untuk ku menunggu bis yg akan membawa ku ke suatu desa di bawah kaki gunung Cermai.
Aku sudah bisa membayangkan desa kecil dengan hamparan sawah, udara yang dingin dan segar, setidak nya berada di rumah nenek dan kakek ku, aku akan merasa lebih tenang...
Aku mendengar suara kondektur memanggil para penumpang.
Sambil menunggu bus untuk jalan, dengan seksama aku mendengar syair lagu yang dinyalakan sang supir. Perlahan bis yang ku naikipun berjalan... Aku menghempaskan nafas untuk melegakan sedikit pernafasanku meskipun tidak terasa sesak. Sepanjang perjalanan entah kenapa pikiranku selalu menuju kepada suamiku. Kenapa sosoknya tidak bisa hilang dari bayanganku, mengingat kejadian di saat dia mengatakan bahwa rindu adalah anaknya, cukup membuatku terasa sakit.
"Kamu harus kuat Zahra, kamu ngak boleh nangis, nggak ada yang perlu ditangisi lagi. Masih ada hari esok yang lebih baik" hibur hatiku...
Semilir angin, dan Alunan suara musik membuat aku nggak mampu untuk menahan rasa ngantuk.
Aku terbangun karena bus berhenti, untuk menaikkan penumpang lain, aku melihat disebelahku sudah duduk seorang ibu yang lagi tertidur dengan memangku anaknya.Aku melirik jam ditanganku.. hummm cukup lama juga aku tidur... ngak terasa sebentar lg aku akan sampai.
*******
Begitu aku turun dari bis, aku merasakan udara yg berbeda... Udara yg lebih segar, pepohonan yang berbaris dan luanya hamparan sawah yang membentang, membuatku merasa seolah-olah sedang berada di syurga dunia.
aku segera menuju pangkalan ojeg yang ada, baru saja aku melangkahkan kaki beberapa langkah, aku dikejutkan dengan bunyi klakson motor yg ada dibelakang ku. Saat aku menoleh aku melihat wajah yang tidak asing bagiku....
"Kau?!" ujarku.

" Ayo naik sayang... Aku sudah bilang.. kalau aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi seorang diri. " sambil meraih koper kecil yng kubawa.
" Bagaimana kamu bisa tau aku akan kemari? " ucapku setelah aku naik dimotor mas Jaya.
Seperti biasa... ucapan dan pertanyaanku tdk dijawab, dan permbicaraannya akan beralih kehal lain.
" Kamu pintar cari tempat untuk kita bermadu kasih, sayang. Suasana desa yang indah.. udara yang tidak ditemukan di kota besar. Kita akan lama disinikan, sayang??? " ujarnya dengan senyum yang mengembang.
" Ngak usah mengkhayal kamu! ucapku kesal
aku mendengar dia cuma tertawa.
Selama aku duduk dibelakangnya aku tidak mengeluarkan sepatah katapun...
Aku hanya mendengarkan senandung lagu yang dia nyanyikan sepanjang jalan, dan beberapa kali juga aku melihatnya bersin.
Suaranya pun mulai berubah seperti orang yang sedang kena influenza.
Begitu sampai di depan rumah, aku langsung turun dari motor dan masuk kedalan rumah mencari aki dan nini ( itu panggilan ku kepada orang tua dari ibu ku), tapi aku tidak mendapati mereka di dalam rumah. Mungkin mereka sedang di sawah pikirku.. aku lihat mas Jaya meletakkan koper ku di depan pintu, setelah itu dia duduk dianak tangga, dan aku mulai melihat dia kedinginan, sambil mengusapkan kedua telapak tangannya.
"minumlah, selagi masih panas" aku sodorkan teh jahe padanya.
Segera dia meminumnya, dan tak lupa dia mengucapkan terima kasih.
" Nggak adakah orang di rumah?" tanya nya.
" mungkin mereka sedang di sawah" Jawab ku sambil aku masuk ke dalam rumah. Aku menoleh kebelakang, aku sangka dia akan menyusul ku, tapi sedikit pun dia tidak beranjak dari tempat duduknya.
Segera aku membersihkn kamar, naluri ku sebagai seorang manusia juga masih ada, aku nggak tega melihat dia kedinginan seperti itu. Setelah aku selesai membersihkan tempat tidur, aku segara menghampiri Mas Jaya untuk menyuruhnya masuk dan istirahat.
" Mas, kenapa masih duduk disitu, masuklah " Aku raih tangannya, jari-jarinya terasa dingin, wajahnya sedikit memerah, aku bawa dia masuk ke dalam rumah dan segera menuju kamar tamu yang ada di rumah ini, dan menyuruhnya istirahat.
" Aku tau Mas capek, istirahatlah "

Dia segera merebahkan tubuhnya. Lalu aku berbelik meninggalkannya. Baru saja sampai diambang pintu dia memanggilku dengan suara yang lemah
" Zahra.."
Aku yang dipanggil segera menoleh " hmmm... ada apa Mas? "
" aku lapar Za, dari pagi tadi aku belum makan "
" istirahatlah, aku buatkan makanan sebentar, nanti kalau sudah selesai aku bangunin Mas" aku mencoba untuk tersenyum.
Meskipun rasa sakit hati ini masih ada, tapi, melihat kondisinya seprti ini, akupun merasa iba.
aku hanya memasak dengan bahan yg ada, syukurnya ada beberapa sayuran yg bisa kubuat sop, untuk menghangatkn tubuh, ada tempe yang bisa ku goreng, dan beberapa buah cabai yang akan ku jadikan sambal. setelah semua selesai aku menuju kamar, aku lihat Mas Jaya sudah tertidur. sebelum membangunknnya, aku coba memegang keningnya. feeling ku benar, dia demam.
" Mas... " panggilku dengan sedikit menggoyangkan tubuhnya.
Setelah dia membuka mata nya ku ajak dia untuk makan.
" Maaf, aku tertidur, udah selelai masak nya? "
" Aku cuma buat sayur sup, dan tempe goreng saja" jawabku.
" Apapun yang istri ku masak itu pasti enak " segera dia bangun dan meraih tanganku.
aku langsung mencegahnya untuk bangun " Mas disini saja, biar aku bawa makanannya kemari, kamu sepertinya lagi kurang sehat"
" Aku nggak kenapa-kenapa, Zahra"
Aku menarik nafas dan membuangnya perlahan...
"Aku minta maaf karena pergi dari rumah tanpa seizin dari mu. Aku hanya ingin menenangkan fikiranku."

Dia hanya diam, dan tetap memegang jariku, sambil menuju keluar dari kamar.
" Kamu ambilkan saja nasinya, aku mau lihat ke belakang dulu" sambil dia berjalan ke belakang.
" Kita makan di luar saja, sepertinya di luar lebih enak swasananya, sambil melihat hamparan sawah. Bantu aku bawa semua nya yaa.. " Ucapnya mengahampiri ku, sambil dia mengangkat bakul nasi,dan tempat sayur.
" Diluar dingin Mas, nanti kamu tambah sakit."
" Ayolah disini lebih nikmat pastinya, dan sudah ku bilang, aku cuma lapar saja" ucapnya setelah dia berada diluar.
Aku segera mengikutinya, aku lihat dia sudah duduk bersila di atas dipan yang ada dibelakang rumah... " Sini duduklah.. temani aku makan disini " segera dia menyendokkan nasi kepiringnya.
" Kamu lapar apa doyan mas?? " aku lihat dia makan sangat lahapnya, sampai nambah.
" Hari ini masakan mu terasa nikmat, ditambah dengan pemandangan indah dan ditemani bidadari, makanya aku semangat "
" Apa karena garamnya berlebihan sampai kamu makan seperti ini? " sindirku...
" Oh bukan Za... hari ini nggak berlebih garamnya, kamu kenapa nggak makan? Kamu juga belum makan kan? ni makanlah, aku suapin" ujuarnya berusaha menyuapiku..
" makanlah, habiskan.. lihat kamu makan saja aku sudah senang " Ucapku, sambil mendorong tangannya berusaha berusaha untuk menolak.
" Ayolah sekali saja, meskipun ini nanti terjadi hanya sekali seumur hidup ku, setidaknya aku pernah menyupi mu" Dengan senyum yang sedikit mengembang dia berkata seperti itu.
Aku nggak bisa menolak permintaannya.. begitu makanan itu masuk kedalam mulut ku, aku merasakan rasa masakanku yang ngak bisa aku bayangkan.
" Bagaimana rasanya?" sambil dia tersenyum dan menaikkan alisnya.
" Anyep" ujarku...
Aku dan dia akhirnya tertawa bersama...
Selesai makan aku dan Mas Jaya shalat Zduhur bersama. Setelah itu aku menyuruhnya istirahat.

**********
Baru saja dua hari aku di desa ini, Mas Jaya sudah mempunyai banyak teman. Bahkan Aki ku pun sangat senang kepadanya. Mudah sekali dia mengakrabkan diri dengan orang lain.
" Suami mu orang yang pandai bergaul Zahra, Aki senang dengannya, bahkan pak Lurah adalah temannya waktu di Kota. Mereka sekarang sedang berusaha untuk membuat program dimana hasil panen masyarakat disini bisa dijual dengan harga yang layak. " Ucap Aki Rahman sore itu disaat kami duduk sore menikmati teh hangat dan pisang rebus.
" Ah yang benar ki? " tanya ku tak percaya...
" Suamimu orang yang baik, kata pak Lurah waktu itu sama Aki, bahkan pak lurah juga bilang ,kalau cucu Aki adalah wanita yang beruntung bisa memenangkan hati Jaya"
Aku yang mendengar Aki yang bicara seperti itu hanya mampu membalasnya dengan senyuman.
Sore itu aku dinasehati tentang kehidupan berumah tangga, susah senangnya, dan ujian-ujiannya.
Aku yang mendengarnya hanya bisa diam.

*******
Aku mendengar suara ponsel Mas Jaya berdering, sementara dia sedang ada di mushollah untuk shalat Isya. Awalnya aku tidak menghiraukan tapi karena panggilannya selalu berulang, akhirnya telponnya aku angkat juga. Belum aku mengucapkan salam, aku mendengar suara seorang perempuan, dia mengatakan kalau Rindu sedang sakit, dan meminta Mas Jaya untuk datang dan menemaninya, setelah itu telpon dari sebrang ditutup tanpa aku bicara apapun.
Baru saja aku berusaha untuk menata hati, tiba-tiba hancur kembali.
Tapi inilah mungkin salah satu ujian dalam biduk rumah tangga ku.

" Tadi henphon Mas berbunyi, karena tidak cuma sekali panggilannya jadi aku angkat" ucapku setelah Mas Jaya pulang dari mushollah...
" Oh, tidak apa-apa" sambil dia merebahkan tubuhnya disebelahku.
" Kamu ngak mau tau dari siapa? "
" Memangnya dari siapa?? " tanya nya balik.
" Dia bilang Rindu sakit, aku belum sempat bicara padanya, tapi sepertinya dia ibunya, karena aku dengar dia begitu panik"
" Akan ada orang yang mengurusnya, toh kalau Rindu sakit akan dibawa ke dokter yang biasa menanganinya" ucapnya sambil tersenyum.

Dalam keadaan situasi seperti ini pun tetap saja dia menanggapi dengan tenang, bahkan disaat anak nya masuk rumah sakit pun dia masih bisa tenang. Orang tua macam apa dia. Pikirku.
Aku yang duduk disampingnya dan melihat ketenangan sikapnya hanya bisa menggelengkan kepala.
" Tapi Rindu kan anak mu, dia pasti sangat membutuhkan mu"
" Dan kamu kapan siap menjadi istriku sepenuhnya, dan siap jadi ibu dari anak-anakku?" balasnya
" Tidurlah Mas, sudah malam" segara aku merebahkan tubuhku, dan membelakanginya. Aku lihat Mas Jaya bangkit dari tempan tidur dan mematikan lampu.

Pikiranku melayang pada Rindu, bocah manis dan mungil itu saat ini sedang sakit, dia tidak punya salah apa-apa terhadapku, aku tidak berhak marah padanya. Seperti apa kondisiya sekarang, aku cuma bisa mendo'akan semoga dia baik-baik saja.
Aku berbalik arah menghadap Mas Jaya, aku lihat dia meletakkan kedua tangannya dibwah kepalanya, aku tau dia belum tidur, aku merasa dia sedang memikirkan sesuatu. Aku pandangi wajahnya dengan seksama, aku kaget ketika kulihat ada bulir air mata disudut matanya. Perlahan dia memiringkan tubuhnya menghadapku, dan aku coba menutup mataku.

Aku rasakan ibu jari tangannya mengusap lembut pipiku, aku tau saat itu dia pasti sedang memandangiku. Tak lama dari itu aku merasakan dia pun mengecup keningku.
" Aku tidak takut kau mengetahui tentang aku, tapi hal yang aku takutkan kau pergi meninggalkan ku. Aku sayang kamu. Sangat sayang padamu, Zahra. " Ucapnya pelan, seraya mengecup kening ku kembali.
Perlahan kurasakan jarinya menggenggam tanganku, lalu membawanya kepipinya.
Hatiku benar-benar terenyuh dibuatnya.
Pagi ini, Nini mengajakku kepasar untuk membeli perlengkapan dapur yang kurang. Pasar disini adanya cuma seminggu sekali, mulai dari pedagang makanan, pakaian, dan keperluan alat-alat rumah tangga.

Aku berniat untuk membelikan dua buah switer untuk Mas Jaya, lagi asiknya aku memilih, seorang ibu muda dengan penampilan yang sangat cantik menyapaku dengan ramah.
" Maaf, anda benar Ibu Zahra, istrinya Jaya, Cucu Ki Rahman???"
" Iya, maaf ibu siapa??? " tanyaku heran.
" Saya istri Pak Lurah, saya nggak nyangka ternyata istrinya Jaya masih muda, cantik lagi."
" Saya dan pak Lurah teman Mas Jaya waktu kita sama-sama kuliah di Jakarta. Sayangnya Jaya berhenti ditengah jalan. Dia di DO dari kampus tanpa alasan yang jelas. Dari desas desus yang beredar dia di Keluarkan karena tidak mau menikah dengan putri salah satu pejabat Negri ini yang berkuasa pada saat itu. Sejak itu kami tidak pernah bertemu lagi. " ujar nya seraya mengingat masa lalu.

Aku ingin bertanya banyak hal pada beliau, tapi aku mengurungkan niatku karena melihat Nini datang menghampiriku. Sedikit basa basi dengan Bu Lurah, akhirnya kamipun pamit pulang.
*B E R S A M B U N G YAAAA... 😊😊😊*
==================
Menikah dengan laki-laki tanpa melalui proses pengenalan lebih dalam memang banyak misterinya. Tapi disitulah letak keindahan seninya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar