Persaudaraan Muslimah Indonesia, mempelajari Islam Secara Menyeluruh.

Sabtu, 21 Maret 2020

SUAMI KU 16 - 20

#SUAMI_KU
Part 16 by Sahi Kirana
=======

Jam kantor sudah berakhir, Mbak Ratna memberitahu ku bahwa dia akan segera pulang. Aku pun segera membereskan pekerjaan ku dan siap-siap untuk pulang.
Di depan lift ku lihat sudah ada beberapa karyawan yang sudah menunggu. Pada saat aku sudah didepan lift, ku lihat pintu lift terbuka, dan aku segera masuk, baru saja pintu lift mau tertutup, ku lihat Siska masuk.

Dia memandang ku dari atas sampai bawah, seperti biasa bahasa sindiranpun keluar dari bibirnya.
Aku yang mendengarnya pun hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala ku. Melihat sikap ku yang nggak memperdulikannya, dia semakin gencar mengeluarkan kata-kata sampahnya. Sampai akhirnya pintu lift terbuka.

" Suami lu dah nunggu tuh" Sapa Ika pada saat aku lewat didepannya.
" Dari mana lu tau suami gue"
" Cuma suami lu yang jemput lu, pakai motor dan selalu menutup mukanya dengan masker kain kebesarannya."
Aku cuma tersenyum mendengar ucapannya.
Karena Ika juga mau pulang, ku gandeng tangannya untuk jalan bersama.
" Suami lu dari dekat ganteng juga kalau dilihat-lihat, keren banget gaya ya, nggak kek preman pasar. " Ucap Ika pada saat kami sudah ada didepan pintu loby dan melihat Mas Jaya sudah menunggu disana.
" Haruslah, secara gue kan kece" Ucap ku sambil mencubit pipinya.
" Gue pulang duluan ya, hati-hati lu" Dan aku melambaikan tangan ku kepada Ika.

*****
Seminggu sudah kejadian dimana Ika mengupload foto ku dengan Mas Jaya, aku mengira berita itu sudah berlalu, rupanya semakin panas.

Pada saat aku masuk toilet, ku dengar dua orang yang sedang mencuci tangan membicarakan aku.
Melihat ku keluar dari salah satu toilet kecil mereka langsung diam.

" Zahra, kamu memang nggak tau malu ya, dulu Pak Fajar yang kamu kejar, sekarang incaran Siska yang kamu embat, dasar perempuan jalang lu." Ucap salah seorang dari mereka.
Aku yang nggak mau memperdulikan kata-katanya, segera mencuci tanganku.
Karena ucapan nya nggak aku tanggapi, dia menghadang jalan ku.

" Lu kira lu bisa seenaknya pergi gitu aja."
Tadinya aku malas menanggapi ocehan recehan seprti ini, tapi kalau dibiarin makin nggak tau diri.
" Sekalipun aku memang wanita jalang, aku nggak pernah merugikan hidup kalian, karena bukan pasangan kalian yang kurebut."
" Sampaikan pesan ku sama Nyonya muda mu yang bernama Siska itu, untuk laki-laki incarannya itu, aku pastikan jangankan senyumnya, bayangannya pun dia nggak bisa dapatkan. Jadi tolong sadarkan dia dari mimpi nya yang menyakitkan itu."
Aku pun segera berlalu dari mereka.
Setelah aku masuk keruangan ku, Mbak ratna memanggilku.
" Zahra, aku butuh sekretaris satu lagi untuk membantu kamu, Heru bilang kamu lagi hamil, dia nggak mau kamu terlalu letih."
" Saat ini aku masih bisa menangani pekerjaan ku Mbak, tapi kalau untuk pergi jauh menghadiri meeting dengan klien sampai keluar kota, aku memang cepat merasa letih. Tapi maaf bukan aku mau mengeluh."
" Dari awal aku nggak salah menilai mu Zahra, semangat yang ada sama Maya itu ada pada dirimu. Dulu Maya itu sempat menjadi sekretaris Almarhum papa ku, sebelum perusahaan ini berpindah tangan ke Heru. Karena penghianatan orang-orang terdekat ku, perusahaan ini hampir bangkrut.
Sebenarnya Heru ingin menarik mu ke perusahaannya yang lain, tapi aku menolak karena aku membutuhkan mu."

Ini kesempatan ku bertanya sama Mbak Ratna siapa sebenarnya suami ku.
" Mbak, bukan aku lancang, tapi aku benar-benar nggak tau Mas Jaya itu siapa, sampai hari ini pun sebenarnya aku masih tanda tanya siapa Mas Jaya. "
" Apa yang mau kamu ketahui dari suami mu?"
Pertanyaan Mbak Ratna seperti angin segar buat ku.
" Aku mau tau siapa dia, keluarganya, dan kehidupan masa lalunya."
Ku lihat Mbak Ratna menarik nafas berat
" Kamu ini ya, benar-benar membuat ku gusar aja. Tapi kalau kamu ingin tau, saya cuma bisa cerita yang saya tau saja."
Sekali lagi dia mengambil nafas yang berat.
" Heru itu seorang pengusaha muda yang sukses, tapi dia nggak pernah mau mengekspos dirinya. Setelah dia gagal mencapai apa yang dicita-citakannya, dia sempat merasa hidupnya hancur. Sempat pulang ke kampung halaman nya tapi semua keluarga menolaknya, lalu kembali ke kota ini dan masuk dalam dunia yang salah, ambisinya untuk menjadi orang sukses menjadikan dia laki-laki yang berhati dingin dan menghalalkan segala cara. Dia sempat tinggal di luar negri beberapa tahun, dan sekembalinya dia kemari dunia bisnis sempat geger Karena perusahaan HS Corp. Perusahaan baru tapi selalu memenangkan tender dan banyak mengalahkan perusahaan-perusahaan Raksasa lainnya. Namun sampai saat ini tidak ada satu perusahaan pun yang tau siapa dibalik kesuksesan HS group, siapa pemilik HS group. Perusahaan kita pun masih dibawah naungan HS group Zahra. Dan kau pasti tau HS itu singkatan dari nama suami mu.

" Mbak nggak salah bicara?"
" Itu sedikit biografi dari ku tentang suami mu. Selebihnya aku nggak tau apa-apa."
" Eh, iya Mbak, mengenai sekretaris baru, itu wewenang Mbak, saya hanya karyawan disini."
" Karena kamu akan satu ruangan sama dia, makanya saya beri tahu kamu. Tapi Heru sudah memberi tahukan saya siapa yang akan menemani mu, dan semua data nya sudah dia dapatkan. Mulai besok dia akan bekerja bersama mu, bimbing dia sesuai yang kamu tau."
" Iya Mbak, kalau sudah tidak ada yang mau dibicarakan lagi, saya pamit keruangan."
Mbak Ratna hanya menganggukkan kepala nya.
Sampai diruangan ku, aku nggak tau harus bagaimana, sempat gugup. Aku nggak pernah berfikir sampai sejauh itu tentang suami ku. Selama ini yang aku takutkan aku menikah dengan seorang gembong narkoba, tapi dugaan ku salah. Salah besar.

Aku nggak menyadari udah berapa lama aku terdiam memikirkan Mas Jaya, sampai aku tau pipi ku dikecup lembut oleh seseorang.
" Kamu melamun kenapa sayang?"
" Eh, anu eh nggak papa Mas. Aku lagi mikirin kamu."
" Bohong kamu." Lalu dia duduk di sofa tunggal diruangan ku.
" Beneran aku lagi mikirin kamu, mana berani aku mikirin orang lain, nanti kamu merajuk seperti tempo hari."
Lalu kujatuhkan diriku dipangkuannya, ku kecup kening nya.
" Mas, kamu benar mencintai ku?"
" Iya sayang, nggak ada wanita lain dalam hidup ku, selain kamu." Lalu dikecup nya bibir ku.
Ku rangkul kepalanya dan meletakkan di dada ku, dan ku kecup kepala.
" kamu kenapa?" Tanya nya..
" Aku kangen sama kamu" Ku bisikkan kalimat itu ditelinganya dan mengecupnya.
" Kamu nakal, menggoda ku begitu."
" Tanpa ku godapun kamu sudah sering tergoda Tuan Heru Sanjaya." Lagi-lagi ku ucapkan itu pelan ditelinga nya.
" Sayang udah. Aku bisa nggak tahan."
Aku pun tertawa, lalu ku kecup pipinya. " Aku kerja dulu sayang, nanti Boss ku marah.
Sebelum aku turun dari pangkuannya, ku ciumin seluruh wajahnya.
"I love you honey" ku kecup bibirnya, dan aku pun kembali ke kursi ku.
Ku lihat Mas Jaya berjalan menghampiri ku, dan berdiri dibelakang ku.
" Kamu lagi ngerjain apa?"
" Laporan hasil meeting kemarin."
Lalu dia menyuruh ku berdiri, menduduki kursi ku, dan menyuruh ku kembali duduk di pangkuannya.
" Sayang, buka jilbab nya ya"
"Lakukan apapun yang kamu mau, tapi biarkan aku mengerjakan laporan ini sampai selesai ya?"
Diapun hanya mengangukkan kepalanya.
Kalau sudah begini pasti sulit untuk dikendali kan, oh Tuhan... Mbak Ratna pasti melihat semua ulah nya pada ku.
Ruangan ku dengan Mbak Ratna hanya terhalang dinding kaca, dari ruangan ku untuk melihat keruangan Mbak Ratna memang tidak bisa, tapi dari ruangannya melihat keruangan ku pasti sangat jelas.
Di saat Mas Jaya asik menciumin rambut ku, tiba-tiba Siska masuk tanpa mengetuk pintu. Dan Mas Jaya pun menghentikan aksinya.
Siska menatap ku dengan tatapan yang mengerikan.
" Ini Laporan untuk Bu Ratna. Ini kantor Zahra bukan tempat mesum"
Mendengar ucapannya Mas Jaya langsung membentaknya. "Beraninya kau bicara, Keluar!!!"
Aku yang baru kali ini mendengar dia berkata sekeras itu, langsung memeluk nya.
" Udah sayang, udah, jangan emosi begini, kendalikan dirimu."
Ku Raih kepalanya, sorot matanya yang masih menyalakan kemarahan ku pandangi.
Lalu ku cium bibirnya, untuk meredakan emosinya. Begitu ku rasa dia sudah tenang, ku lepas ciuman ku.
" Sayang jangan emosi lagi, kau membuat ku takut."
" Tapi dia sudah kurang ajar."
" Udah ya." Ku ciumin lagi wajah nya.
" Udah sayang, aku udah tenang. Aku haus. "
Pada saat aku memalingkan diriku mau mengambil air minum diatas meja ku, ku lihat Siska masih berdiri ditempatnya.
Aku nggak mau perdulikan dia, segera ku minumkan air digelas yang ku pegang, setelah Mas Jaya menghabiskan minum nya, ku peluk dia lagi, selayaknya seorang ibu yang sedang menenangkan anaknya yang habis bermimpi buruk, berkali-kali ku ciumin kepalanya.
"Kamu masih mau berapa lama lagi ada diruangan ku Siska, apa kamu menunggu ku untuk menyeret mu keluar."
Ku ucapkan itu tanpa melihatnya dan masih memeluk Mas Jaya. Aku nggak mau emosi Mas Jaya naik lagi karena melihat Siska, aku dah cukup sulit mengendalikan emosinya.
Setelah Siska keluar dari ruangan ku, berbagai cara ku coba untuk membujuk suami ku ini.
Aku yang masih duduk dipagkuannya segera membuka dasinya, ku buka dua kancing atas kemeja nya.
" Kamu sexy banget sih Mas."
" Jangan menggoda ku Zahra."
"Aku nggak bohong, kamu sexy Mas." Ku kecup lembut bibirnya.
Lalu aku berdiri dari pangkuannya, dan dia juga ku minta untuk berdiri, setalah itu ku keluarkan sebagian baju nya.
" Perfec" ku kedipkan mata ku.
Ku tarik kedua kerah bajunya" Kau terlihat ganas seperti ini mas, dan aku menginginkan mu." Ku bisikkan kalimat itu pelan ditelinganya. Lalu ku kecup pipinya, turun kelehernya, dan kecupan ku berarkhir di dada bidangnya.
Lalu ku lepas pegangan ku dari kerah bajunya, dan mengambil jilbab ku.
" Aku pakai jilbab ku dulu sayang, setelah itu aku minta izin sama Mbak Ratna untuk makan siang."
"Oh Tuhan, kalau aku melakukan kenakalan hari ini pada suami ku jadikanlah kenalan ku ini suatu pahala, bukan suatu dosa." Ucap ku dalam hati.
Setelah aku merasa rapi, ku langkah kan kaki ku ke ruangan Mbak Ratna.
" Jangan kau bilang kau mau minta izin untuk makan siang Nona Zahra, karena ini masih jam 10 lebih" Ucapnya tanpa melihat ku setelah aku mendekatinya.
Aku yang mendengar ucapannya, nggak bisa lagi ngomong apa-apa. Ku lihat dia menegakkan kepalanya lalu menatap ku.
"Pergilah, kendalikan kuda liar mu itu, jangan sampai membuat kacau kantor ku." Ku lihat senyumnya mengembang.

"Makasih Mbak." Ucap ku sambil menahan malu.
Saat tangan ku hendak menarik pintu kaca di depan ku, dia memanggil ku.
" Zahra. Kau terlihat sexy saat menggodanya."
Aku benar-benar malu mendengar ucapannya.
Ku lihat dia sudah ada di depan pintu ruanganku, dan memegang tas tangan ku. Akhirnya aku pun pergi meninggalkan pekerjaan ku.
Setelah keluar dari lift, dan melihat ku, Ika mendekati ku dan memeluk ku kegirangan.
"Zahraaaaaaa gue seneng banget, nenek grandong marah-marah di group. Puas banget gue, puas banget."
Mas Jaya yang ada di samping ku, mendehem untuk menghentikan nya.
" Maaf Pak, Maaf saya nggak ngelihat Bapak."Ucapnya sambil menundukkan kepalanya.
" Udah sayang, kamu ih" ku sikut perut Mas Jaya karena ku lihat Mas Jaya yang membesarkan matanya.
" Pak aku pinjam sephia mu sebentar." Ucap Ika, yang buat aku dan Mas Jaya sempat kaget.
Lalu dia menunjukkan status Siska yang menyumpah serapahi aku.
" Gila lu, gue disumpah serapahin lu malah girang, temen macam apa lu."
" Maaf cantik, maaf."
" Udah ah, gue mau keluar dulu."pada saat aku mau pergi, dia masih menahan ku.
" Mau kemana lu, belum jam istirahat ini."
" Mau kencan. Udah ah."
" Ini masih siang oneng." sambil dia megang erat tangan ku.
"Gue udah nggak tahan, apaan sih lu megang-megang."
" Laki lu mau lu khianatin,parah lu."
Aku yang udah memeluk tangan Mas Jaya sempat kaget dengan ucapannya.
" Laki gue lagi ngurus parkiran, gue mau kencan sama kekasih halal gue"
Sambil aku berlalu meninggalkan nya.
" Kamu khianati aku sayang?" Tanya Mas Jaya sewaktu sudah di dalam mobil.
" Mana mungkin aku khianati kamu, sementara 24 jam aku dimana kamu tau."
Ku lihat raut wajahnya mulai berubah.
" Sayang, aku nggak mungkin khianati kamu." Sambil ku sandarkan kepala ku dilengan nya yang kokoh. Tapi tetap aja raut muka bete nya masih dipasang.
"Apalagi cara yang harus ku buat, ya Allah, bantu aku." ucap ku dalam hati.
Perlahan ku letakkan dagu ku di bahu nya, ku pandangi wajahnya.
" Kamu selalu membuat ku harus memikirkan mu Mas, bagaimana aku bisa punya waktu untuk yang lain. Jangan siksa aku dengan rasa cemburu mu." Ucap ku pelan ditelinga nya.

Perlahan tapi pasti ku tenggelamkan wajahku dileher kokohnya. Tanpa ku sadari butiran kristal disudut mata ku jatuh begitu saja.
" Sayang jangan nangis, aku nggak bisa lihat kamu menangis, terlalu sakit hati ku melihat mu menangis" Dirangkul dan dikecupnya kening ku.
" Aku bahagia Mas, bahagia Allah memberikan ku pria seperti mu, yang bisa memberikan ku rasa cinta seperti ini."
Tanpa ku sadari dia meminggirkan mobilnya ditepi jalan. Berpaling menghadap ku memegang ke dua pipi ku.
" Kau bahagia bersama ku?"
Aku membalasnya dengan anggukan.
"Katakan sekali lagi kau bahagia bersama ku, yakin kan aku, kalau kau bahagia bersama ku."
" Aku bahagia bersama mu Mas, sangat bahagia."
Perlahan dipeluknya tubuh ku dikecup nya kening ku, diciumnya lembut bibir ku.
" Masss." Ucap ku pelan
" Apa sayang?"
" Jangan ambil kehormatan ku di tepi jalan seperti ini."
Diputarnya bola matanya untuk melihat sekeliling, lalu dilepaskannya pelukannya pada ku.
" Kau selalu punya cara untuk menolak ku" Ucap nya dengan senyum yang mengembang. Lalu menyalakan kembali mobilnya.
" Masss..."
"Hemmm" Jawabnya sambil terus fokus menyetir.
"Masssss..."
Pada saat dia menoleh langsung ku cium bibirnya.
" Stop sayang, kau selalu menggoda ku, pakai sabuk mu, dan biarkan aku fokus."
Aku menuruti yang perintahnya.
"Jangan cemberut begitu. Sini aku bisikin sesuatu."
"Sayang, kau udah menyakiti ku, jadi jangan sakiti aku lagi, biarkan aku fokus biar kita cepat sampai, obati rasa sakit ku."
"Kita mau kerumah sakit Mas, apa mu yang sakit?" Tanya ku dengan serius.
" Kau menyakiti perut ku." Dan menatap ku dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.

*******

Setelah aku pulang makan siang, krasak krusuk di kantor ku semakin menjadi, apalagi Mas Jaya masuk bersama ku. mana setiap berjalan dengannya dia selalu merangkul pinggang ku.
Di depan receptionis dia langsung berhenti.
"Mulai besok kau tidak disini lagi."
Aku dan Ika yang mendengar ucapan nya cukup kaget.
"Kenapa Pak, saya ada salah apa?"
"Kesalahan mu, kau terlalu baik dengan istri ku, dan aku cukup tau loyalitas kerja mu."
Ku lihat Ika menitik kan air mata. Dan Mas Jaya menarik ku meninggalkan dia.
" Katakan pada nya aku tidak memecatnya, hanya memindahkan ruang kerja keruangan mu. Aku ketemu Ratna dulu, kita berpisah disini sayang."

Pada saat dia mengecup bibir ku banyak karyawan yang memperhatikan.
" Apa yang kalian lihat, kalian digaji bukan untuk melihat ku!" bentak nya.
Lalu dia masuk ke lift khusus. Aku kembali ke meja Ika.
" Apa yang kau tangisi?"
" Aku minta maaf Zahra kalau aku ada salah. Aku nggak menyangka kelancangan ku membawa masalah."
" Mulai besok kau pindah keruangan ku, kita jadi partner, hapus air mata mu dan tersenyumlah."
Dan aku pergi meninggalkannya disuasana hati nya masih bingung. Disaat aku masuk ke dalam lift, aku nggak menyadari Siska juga di dalam.

" Udah puas lu tidur sama Tamu Bu Ratna? Jilbab lu cuma nutupi kedok lu. "
Aku nggak perduli dengan apa yang dia sampaikan, sepatah katapun aku nggak mau mendengar ucapannya.
" Gua akan bilang sama Tamu Bu Ratna kalau lu nggak lebih dari pelacur!"
ting.
Akhirnya pintu lift pun terbuka.
Aku keluar sesudah siska keluar. Lalu ku panggil dia.
" Siska, aku tidak keberatan kau mengatakan aku apapun. Berhati-hatilah dengan tamu Bu Ratna. Kalau kau masih betah kerja disini."
Lalu aku masuk keruangan ku.
Sampai diruangan ku, ku dengar perut ku berbunyi. Aku ingat aku belum makan.
Ku lihat Mbak Ratna dan Mas Jaya masuk ke ruangan ku.
" Mari masuk Pak, Buk.. mau minum apa? Suatu ke hormatan bagi saya kedatangan kalian." Canda ku pada mereka, sambil menyalami mereka berdua.
" Wah, kau tau saja Nona manis, kalau saya mau minum teh." Balas Mbak Ratna .
Dan kami pun tertawa bersama.

" Sayang, Ratna akan menikah. Acara pernikahannya satu minggu lagi." Terdengar suara Mas Jaya membuka percakapan.
Pandangan ku langsung ku alihkan ke Mbak Ratna, dan dia pun mengangguk.
Terdengar pintu ruangan ku diketuk, pada saat ku persilahkan masuk, ku lihat Pak Fajar melangkah masuk dan langsung duduk disebelah Mbak Ratna.

Hari ini aku benar-benar mendapat kabar bahagia, dimana orang-orang yang tulus dan sabar akan mendapatkan buah baik dari kesabarannya.

bersambung


#SUAMI_KU
Part. 17
========
Setelah acara minum teh tadi, Aku kembali mengerjakan pekerjaan ku, sementara Mas Jaya ada di ruangan Mbak Ratna.
Karena ulah nya hari ini pekerjaan ku jadi banyak terbengkalai.

Lagi-lagi perut ku berbunyi. Ku lirik jam ditangan ku, sudah jam 3 sore, aku benar-benar lupa untuk makan. Akhirnya aku putuskan untuk pesan makanan. 15 menit kemudian makanan ku pun tiba.
Syukur nya aku sudah menyelesai kan makan ku pada saat Siska masuk dan lagi-lagi tanpa permisi.
" Laper juga lu, nggak sempat makan lu tadi." Ucapnya dengan pandangan merendahkan.
" kalau sudah tidak ada urusan, silahkan keluar."
Bukan keluar dia malah duduk di kursi yang ada di depan ku. Kembali ku kerjakan pekerjaan ku yang tertunda.
Aku nggak hiraukan dia ngomong apapun, ku anggap tidak ada orang didepan ku.
Karena perlakuan ku yang tidak menghiraukannya akhir nya dia menjadi emosi. Dia berdiri dah hampir menampar ku. Sebelum tangannya menyentuh pipi ku, aku sudah menepisnya terlebih dahulu.
" Aku sudah tau kau akan melakukan ini. Aku sekedar mengingatkan saja, kulit ku terlalu mahal untuk bersentuhan dengan barang bekas seperti anda. Jangan hanya karena kamu keponakan dari Pak Wiratman wakil CEO di kantor ini kau bisa seenak hati memperlakukan orang lain.
Sebelum kau mengatakan aku wanita jalang, seharusnya kau bercermin sudah berapa banyak pria yang tidur dengan mu, dan sebelum aku lebih mempermalukan mu, kau lihat pintu itu? kuharap kau masih tau jalan keluar."

" Aku akan buat perhitungan dengan mu Zahra, apapun yang aku inginkan harus aku dapatkan."
"Milik orang lain bisa kau klaim itu punya mu, tapi bukan milik ku. Bukan milik ZAHRA ANGGRAINI kau ingat nama ku baik-baik!"
Ucap ku dengan penekanan.
" Kau memang wanita brengsek Zahra!!" Geramnya sambil menunjuk wajah ku.
Ku lipat tangan ku kedada ku, dan berjalan mendekatinya.
" Aku sudah bilang, apapun yang kau katakan tentang diri ku aku tidak akan terpengaruh. Sampah selautan pun kau keluarkan dari mulut mu aku nggak akan terpengaruh. Jadi percuma kau mengganggu ku, karena aku terlalu sibuk menikmati kebahagiaan hidup ku, dan nggak akan pernah tertarik dengan kehidupan mu."
Sedikit ku sunggingkan senyum kepadanya.
Karena dia masih berdiri diruangan ku, akhirnya aku berjalan ke depan pintu dan aku pun membukakan pintu untuk nya. Akhirnya dia pergi dengan perasaan kekesalan.
" Huffft!! Dasar ulat pengganggu, nggak bisa kah kalian hari ini membuat hidup ku lebih baiiiikkk!!!!! aaaggghhh!!!!" Sangkin kesalnya aku ngedumel sendiri.
" Sabar ya nakkkkk maaf kalau mama, udah marah." sambil ku elus perut ku.
Lalu pekerjaan ku pun ku lanjutkan kembali.

******
( Didalam Ruangan Mbak Ratna)
" Aku tau Istri mu adalah wanita yang bisa menjaga martabatnya sebagai seorang wanita, dia wanita yang cerdas, dan tau memposisikan dirinya seperti apa. Kau bertemu dia dimana??" Ucap Ratna.
" Ketidak sengajaan. Ia berbeda dari wanita kebanyakan.
"Oke. Seusai rencana kita, besok akan kita umum kan pergantian Jabatan di perusahaan ini. Kau janji akan membereskan pengkhianat disini, jangan buat aku harus jatuh dua kali Heru."
" Aku nggak akan mengecewakan mu."
===========
(Flash Back ke Ruangan Zahra.)
" Sayang kita pulang yuk, udah jam 4 sore. " Ucap Mas Jaya.
"Euuuggghhh!! Bisa nggak sih dua Makhluk ini nggak mengganggu ku sebentar saja Tuhannn. Kalau bukan wanita itu yang datang, pasti suami ku yang paling tampan yang penuh cinta ini yang datang." Rutuk ku dalam Hati.
Ku lebarkan senyum ku padanya " Aku masih banyak pekerjaan sayang, lagi pula aku baru bisa pulang satu jam lagi."
Dia pun berjalan kearah ku, merendahkan dirinya bertumpu dengan ke dua lututnya. Di elusnya perut ku.
" Sayang anak papa hari ini sehat-sehat aja kan Nakkk."
Akupun membiarkan aja apa yang dia lakukan. "Selagi dia nggak menjahili ku biarlah, yang penting pekerjaan ku selesai." Ucap ku dalam hati
Tangannya yang tadi mengelus perut ku, sudah mulai berpindah tempat.
" Masss..."
"Heemmmm" Ku rasakan wajahnya di usapkan ke punggung ku.
" Sebentar lagi kita pulang ya. Biar aku kerjakan ini sebentar aja."
" Aku nggak mengganggu mu, terus lah kerjakan pekerjaan mu. "
" Manja banget sih hari ini." Ucap ku masih tersenyum meski hati ku sedang menahan sedikit emosi ku.
" Wangi banget sih kamu hari ini. "
Akhirnya emosi ku sudah nggak bisa ku bendung lagi.
Kursi yang ku duduki ku putar menghadap nya.
"Masih kurang yang ku berikan tadi siang?" Dengan senyum mengembang menahan kekesalan.
" Sayang, pertanyaan mu kenapa horor begitu?, kenapa aku jadi takut."
Sedikit didorongnya kursi yang ku duduki untuk menjauhi nya.

" Hari ini kau menggairah kan sekali sayang." Ku raih kedua kerah baju nya masih dengan senyum yang sama.
Di turunkannya tangan ku yang memegang kerah bajunya lalu berdiri memegang tengkuknya, dan menjauhi ku.
" Sayang, ruangan ini kenapa menunjukkan aura kegelapan."
Di jatuh kan nya dirinya di sofa dengan ekspresi wajah menahan ketakukan sambil menatapku.
Aku yang udah geram terus berjalan mendekatinya.
" Sayang, jangan dekati aku, kau sangat menyeramkan ku lihat."
"Kauuuu!!!! dari tadi udah ku katakan biarkan aku kerja dulu." Ucap ku dengan geram dan menarik kuat-kuat kerah bajunya.
Lalu dia memeluk ku dan tertawa.
"Kenapa kau lakukan ini pada ku Mas, berhentilah menjahili ku" Ucap ku sambil menangis.
" Menangislah jika bisa melegakan mu" Semakin erat dia mendekap ku dalam pelukannya dan mencium kening ku.

========
Pagi-pagi sekali Mbak Ratna meminta ku untuk memberi tahukan kepada seluruh staff kalau hari ini ada Meeting. Serta meminta jadwal meeting dengan klien untuk di undur. Dan aku pun melakukan apa yang diminta Boss cantik ku itu.
Dikarenakan pekerjaan ku kemarin terbengkalai hari ini aku ke kantor jauh lebih cepat.
Ku lihat beberapa karyawan sudah ada yang datang, dan seperti biasa wajah-wajah yang tidak bersahabat pun akan mengantarkan langkah ku menuju ruangan ku.
" Pagi Zahra cantik sekali kau hari ini." Sapa Ika
" Wah, pagi juga, pagi sekali kau datang cantik." Balas ku sambil tersenyum dan memeluknya.
" Bu Ratna meminta ku untuk datang cepat dan meminta ku membantu mu, satu lagi pesan beliau Map Kuning yang beliau pernah titipkan pada mu, hari ini beliau minta untuk di serahkan kepada CEO yang baru, jika beliau tidak sempat memberikannya sendiri."
" Apa? CEO yang baru?" Tanya ku heran.
" Hari ini beliau akan mengumumkan pengganti beliau keseluruh karyawan tepatnya Jam.9 setelah meeting nanti."
Selesai meeting, di lantai dasar Mbak Ratna meminta semua staff untuk berkumpul, disitu beliau juga mengucapkan kata perpisahan beliau juga mengatakan sudah saatnya perusahaan ini di pimpin oleh saudaranya.

Banyak yang heran kenapa keputusan ini secara tiba-tiba tidak ada pemberitahuan sama sekali, tapi beliau mengatakan ini sudah dibicarakan lama pada saudaranya, dan hari ini saudaranya setuju perusahaan ini dipimpinnya.
Sementara itu di depan loby sudah berhenti sebuah sedan hitam, seorang laki-laki berkemeja putih dengan dasi berwarna merah dan stelan Jas berwarna Navy dan berkaca mata hitam keluar dari mobil mewah tersebut, derap langkah suara sepatunya membuat mata berpaling kearahnya. Dengan senyum yang ramah Mbak Ratna menyambutnya, dan berdiri ditengah-tengah.
Dia memperkenalkan bahwa pria itu adalah saudaranya, dan dialah yang akan menggantikan Mbak Ratna.
Pria yang dua hari kemarin masih menjadi tamunya. Pria yang dua hari kemarin menggegerkan seisi kantor.
Dan pria yang dua hari kemarin melakukan pelecehan kepada ku. Tapi anehnya aku pun menikmatinya.😊😊
Setelah acara penyambutan itu selesai semua kembali beraktifitas. Dan aku pun kembali menuju ruangan ku.

" Zahra, gue nggak nyangka kalau pria simpanan loe saudara Bu Ratna"
Aku yang lagi minum jadi tersedak karena mendengar ucapannya.
" Lu tadi bilang apa? pria simpanan?"
" Lu kan bini orang, sementara lu mau aja jalan dan kencan ama dia."
" Karena dia laki gue makanya gue terima tantangan loe, kalau nggak ogah gue."
Kali ini Ika yang menjadi kaget dengan ucapan ku.
" Zahra, lu kalo bo'ong nggak kira-kira amat sih."
" Udah ah, gue mau kerja. Susah untuk dijelaskan nggak tau harus mulai dari mana. Tapi preman pasar dan CEO baru mu itu orang yang sama."
Tiba-tiba pintu ruangan ku terbuka. CEO baru itu masuk kedalam ruangan ku.
" Kalian digaji disini bukan untuk bergosip."
Aku dan Ika segera berdiri seketika.
" Ada yang bisa kami bantu Pak?" Ucap ku sambil menunduk kan kepala.
"Map yang didititipkan Bu Ratna tolong antarkan keruangan saya." Lalu dia keluar.
Belum lagi aku dan Ika duduk lagi-lagi pintu ruangan ku terbuka lagi.
" Maaf Pak, saya akan... " Belum selesai aku meneruskan perkataan ku dia sudah memotongnya.
"Saya kesini untuk bertemu dengan istri saya." Lalu dia mengecup kening ku, dan keluar lagi.
Ika yang melihat itu terdiam, dan menunjukkan wajah kebingungan.
"Zahra jadi dia benar suami mu?"
"Hu'um"
"Iya, kau benar, sulit dijelaskan."
Dan aku pun keluar untuk mengantarkan apa yang diminta oleh Mas Jaya.

----

#SUAMI_KU
Part.18
=========
"Permisi pak, boleh saya masuk?"
"Ya masuk lah."
Aku masuk ke ruangan Mas Jaya dan mendekat ke mejanya. Ku lihat dia sedang fokus ke arah laptop nya.
" ini Pak map yang dititip kan Bu Ratna kepada saya."
" Oke. Letak kan saja di meja."
" Baiklah Pak."
Setelah meletakkan map diatas mejanya aku pun permisi untuk kembali ke tempat ku.
Baru saja aku mau membuka pintu dia bersuara.
" Hei Nona, siapa yang menyuruh mu pergi?"
Ku balikkan badan ku menghadapnya, ku lihat dia menggerak kan jari telunjukkan memanggil ku.
" Baguslah kalau dia bertingkah seperti Boss disini, setidak nya dia tidak akan lagi menyusahkan ku." Gumam ku.
Dia berdiri dari kursinya, melipatkan tangan didanya, duduk di ujung meja.
Aku yang berdiri didepannya hanya menundukkan pandangan ku, tidak menatapnya sama sekali.
" Siapa nama Mu?" Tanya pada ku

Aku yang ditanya seperti itu sedikit kaget, apakah dia ingin mengerjai ku lagi tanya ku dalam hati.
" Zahra Pak, maaf kalau saya belum memperkenalkan diri saya kepada Bapak."
" Bagus, kalau kamu tau itu."
" Zahra, tolong bantu saya sedikit perbaiki laporan ini " Lalu dia mengambil laptop nya. Dia beranjak dari duduk nya, dan meletakkan laptopnya diatas meja.
" Baiklah Pak." Lalu aku tarik kursi didepan mejanya untuk mengerjakan yang dia perintahkan. Setelah selesai dia melihat hasilnya.
Tiba-tiba saja dia memeluk ku dan berkata "Sayang jangan bersikap formal begini" sambil mencium pipi ku.
" Pak, Tolong jaga sikap anda. Ini Kantor."
Aku segera berdiri dan menatap nya.
Ku lihat dia kaget dan menahan emosinya.
Ku tundukkan sedikit kepala ku " Pak, maaf kalau saya ketus kepada Bapak, bukan maksud saya untuk kurang ajar.
Tadi nya saya berharap Bapak orang yang baik, yang benar-benar bisa menjaga martabat perempuan, tapi nyatanya penilaian saya terhadap Bapak salah."
"Maksud mu, kau.." Belum dia selesai berbicara aku langsung memotong ucapannya.
" Dengan digantinya Bu Ratna, saya tadinya merasa cemas memang, tapi setelah melihat Bapak, melihat kewibawaan Bapak, saya yakin bahwa Bapak berbeda dengan Boss-Boss lainnya.
Kemarin, dua hari berturut-turut saya sudah menjadi korban pelecehan di kantor ini." Masih kutundukkan sedikit kepala ku, tapi mata ku mencuri kesempatan melihat ekspresinya.
" Siapa yang melecehkan mu?!"
Terdengar suaranya yang mulai meninggi.

" Tenang Pak, tenang lah. Pelankan sedikit suara mu, jangan buat aku menjadi malu. Aku akan cerita, tapi tenanglah. Dua hari kemarin Bu' Ratna kedatangan tamu, hari pertama menjelang makan siang beliau meminta saya menemani tamunya diruangan ini, dan Bu Ratna pun pergi makan siang, di tinggalkan saya berdua dengan tamu nya disini. Tiba-tiba saja, tamunya langsung mencium dan memeluk saya, dan dia hampir melakukannya disini." Ku tunjukkan kursi dimana waktu itu dia sedang mencium ku.
" Kau!" Ucapnya sambil membesarkan bola matanya.
"Apa boleh saya melanjutkan cerita saya Pak."
Dia pun cuma mengangguk. Dan dia memilih untuk duduk kembali di kursinya.
"Dia membuka jilbab saya, dan menciumin saya, perlakuannya yang lembut, membuat saya hampir terlena, akhirnya saya hentikan dia dengan alasan ini di kantor makanya dia memakluminya, tapi setelah itu dia ajak saya makan di luar. Bapak kan laki-laki, pasti Bapak faham akhir ucapan saya ini kan. "
"Hemmmm" Gumamnya.
Ku lihat dia mulai tersenyum.
" Saya fikir kejadian itu hanya berakhir sampai disitu, tapi besoknya dia datang kembali, dan lebih parahnya lagi dia masuk keruangan saya, dia benar-benar mengganggu saya dalam bekerja, sehingga rekan saya mengatakan bahwa ini kantor bukan tempat mesum, mendengar perkataan rekan saya itu dia jadi ngamuk, sial nya Pak, Bu Ratna mengizinkan saya keluar bersamanya untuk menenangkannya, yang lebih menyakitkan lagi, dia hampir menodai saya dipinggir jalan. Setelah dia mendapatkan apa yang dia mau, saya dibawa kembali ke kantor, tapi Pak.. " Ku hentikan kalimat ku.
" Tapi kenapa?"
" Ya.. setelah dia mendapatkan apa yang dia mau, saya dibawa kembali, jangan kan saya di kasih uang untuk service saya ke dia, makan pun saya nggak dikasih Pak. Saya benar-benar sedih Pak." Sedikit ku pasang wajah yang memperlihatk kan kesedihan.

" Kenapa kau tidak menolaknya, dan kenapa kau tidak minta makan padanya?"
" Pak, saya ini hanya karyawan biasa, tadikan saya sudah bilang Boss saya pun mendukungnya. Saya takut di pecat Pak, kalau saya dipecat, saya mau makan apa, sementara suami saya cuma buruh kasar di pasar. Bagaimana saya mau minta makan padanya, sedangkan dia saja hampir melakukan aksinya di pinggir jalan. Mungkin memang tamu Boss saya itu sudah tidak punya uang lagi, setelah dia membayar sewa hotel." Lagi-lagi ku tundukkan kepala ku, sambil melirik ekspresinya.
Dia yang sedang mengelus dagunya, langsung membulatkan matanya begitu mendengar kalimat terakhir ku.
Lalu dia berjalan pelan ke arah ku. Setelah dekat dia bertanya " Kau menikmati berkencan dengan nya?" Tanya nya pelan sambil mendekatkan wajahnya ke wajah ku.
" Pertanyaan macam apa yang Bapak ajukan, apakah Bapak juga akan melecehkan saya?
Mungkin memang sudah nasib saya bekerja disini akan menjadi korban pelecehan. Ya Allah ampunilah dosa ku. Suami ku maaf kan aku karena sudah mengkhianati mu." Ucap ku lirih.
Ku lihat dia menutup mulut nya untuk menahan tawa.

" Pak, saya izin keruangan saya, terlalu lama saya disini saya takut akan ada berita buruk, saya nggak mau dikatakan saya menggoda Bapak."
Ku satukan jemari seperti orang yang sedang memohon.
" Pak tolong jangan ada lagi pelecehan terhadap saya, saya hanya ingin bekerja, bukan ingin menggoda."
"Pergi la, pergi."
" Terima kasih Pak, aku nggak salah menilai mu. Aku janji akan bekerja lebih baik lagi buat mu. Kau memang Boss the best Pak." Lalu aku berjalan dan membelakanginya.

Ku dengar dia tertawa dengan keras nya, dan aku cuma tersenyum.
"Zahra!" Di panggil nya aku yang hampir menghilang di balik pintu.
" Ya Pak, kau memanggil ku?"
"Perkenalan pertama mu kepada ku, sungguh luar biasa."
" Terima kasih Pak." Jawab ku sambil tersenyum.
Masih ku dengar suara tertawanya disaat aku menutup kembali pintu kaca ruangannya.
Begitu aku masuk keruangan ku, Ika menyapa ku.
" Kau lama sekali disana?" Tanya Ika pada ku.
" Kau nggak tau aku hampir mati di dalam sana?"
Ku tarik nafas ku dalam-dalam dan melepaskannya dengan perasaan yang melegakan dan tersenyum sendiri dengan apa yang ku lakukan padanya.

*****
" Zahra, temani saya makan siang." Terdengar suara Mas Jaya di ambang pintu ruangan ku.
Ku lirik jam ditangan ku jam 11.50.
" Maaf Pak saya nggak bisa, jam 12 saya akan makan siang dengan suami saya. Maaf ya Pak." Lalu aku pun tersenyum
" Baiklah." Lalu dia pergi dengan menutup pintu kembali.
"Zahra, lu aneh, dia kan... " Ucap Ika terputus dengan wajah kebingungannya.
Aku hanya mampu tersenyum melihat nya.
Ku lanjutkan kembali kerja ku. Sebenarnya aku ingin tertawa saat itu tapi aku berusaha untuk menahannya.
Setelah Mas Jaya keluar dari ruangan ku tadi, Delivery ku pun datang. Selesai membayarnya, dan masih berdiri di depan pintu, ku lihat Mas Jaya keluar dari ruangannya.
" Kok kamu disini?" Tanya nya, dan mengecup kening ku.
Sepertinya dia udah punya agenda khusus untuk setiap bertemu aku pasti terlebih dahulu mengecup kening ku, rasanya bahagia pake banget punya suami seperti itu.
Sengaja nunggu suami datang, biar aku nggak di goda sama Boss baru ku."
Dan dia pun tertawa mendengarnya, lalu masuk kedalam ruangan ku.
" Kita shalat dulu yuk Mas, baru kita makan." Ajak ku sama Mas Jaya.
Dia hanya menganggukkan kepala. Lalu di bukanya Jas dan dasinya, menaikkan sedikit lengan bajunya. Ku bantu dia membuka satu kancing baju nya. Setelah itu ku kecup keningnya.
Ku lirik Ika yang mencuri pandang kepada ku.
Sepanjang jalan menuju Mushallah kantor dia menggenggam tanganku, tatapan mata tajam dan yang tidak suka masih saja menatap ku. Tapi tetap aku nggak memperdulikannya.
Ini siang pertama di tempat kerja ku shalat ku di Imami suami ku.
Selesai shalat dan mencium tangannya tanpa ku sadari air mata ku pun jatuh.
" Sayang kamu kenapa?" Lalu merangkul dan mencium kening ku.
" Aku nggak apa-apa, saat ini aku merasa aku lebih kuat aja. Makasih sudah menjadi suami yang baik selama ini dengan ku." Ucap ku padanya sambil menciumin tangan nya.
Di ruang Mushallah itu aku nggak menyadari kalau ada beberapa karyawan yang lagi shalat.
" Maaf Pak, apa Bu Zahra ini istri Bapak?" Salah seorang karyawan bertanya.
" Iya." Jawab Mas Jaya singkat.
Lalu dia mengajak ku kembali keluar.
" Sayang, kanapa sih pakai acara nangis segala, di kira orang kamu aku apa-apain." Protesnya pada ku saat kami berjalan kembali keruangan ku.
" Aku terharu aja, ini pertama kali kamu imami aku shalat disini, udah bertahun aku disini, baru kali ini aku merasa bahagia shalat disini."
Begitu aku sampai aku diruangan ku Ika teriak.
" Zahraaaaaaa..... hari ini ada kabar baik buat lu, duduk, duduk" ditariknya tangan ku dari Mas Jaya, ku lihat Mas Jaya mengerutkan keningnya dan membesarkan matanya. Lalu Ika pun menunjukkan HP nya.
" Gua yakin nenek grandong makin panas, nih foto lu, main lu cantik sister, sesuai dengan wajah lo." Lalu diciumin nya wajah ku.
Mas Jaya yang masih berdiri didepan pintu berdehem keras. Begitu Ika melihat nya, dia langsung mendorong ku, dengan sedikit berteriak karena kaget.
"Maaf Zahra, Maaf Pak."
" Nanti kita bicara, aku makan dulu." Lalu aku melangkah mendekati Mas Jaya dan masuk keruangannya.
"Rasanya menyesal aku buat kalian satu ruangan." Ucap Mas Jaya
" Alasannya?"
"Kalian nanti lebih banyak ngobrolnya dari pada kerjanya."
Aku yang mendengarnya pun jadi tertawa.
Setelah itu aku makan dengannya, kali ini aku suapi dia dengan tangan ku.
Selesai makan dan membersihkan tangan ku, ku rapikan lagi bajunya dan membantunya memasang kembali dasi nya.
" Sayang, udah hampir jam 1, kamu harus kembali bekerja."
" Aku masih kangen."
" Nanti kalau kamu udah pulang kerja baru boleh kangen-kangenan."
Di tariknya aku dalam pelukannya.
"Sebentar lagi sayang, lima menit lagi."
Ku lingkarkan tangan ku dilehernya, ku pandingi wajahnya.
" Kau buat aku semakin jatuh cinta pada mu Mas." Ku kecup keningnya.
" Udah ya sayang, aku kerja dulu. Sayang, Boss ku yang baru itu sangat galak, aku takut dia marah."
"Oh ya?"
" "Hu'um".
Lalu dipeluknya aku erat-erat, di kecupnya kening ku, lalu di kecupnya bibir ku.
" Makasih atas cinta yang diberi buat ku." Ucapnya dan dipeluknya aku kembali dengan erat.
Dia mengantar ku sampai di depan pintu ruangannya, sebelum berpisah ku rapikan sedikit dasinya. Lalu mengecup keningnya.
" Sayang, hati-hati kerjanya, ku dengar salah satu sekretaris mu sangat cantik, tolong jangan tergoda padanya ya. Jangan khianati aku."
Ku lihat dia tertawa, dan aku pun menghilang dari pandangannya masuk keruangan ku.
" Nggak nyangka gue, lu lebih rajin dari gue." Ucap ku pada Ika setalah aku duduk di kursi ku.
" Gue cuma nggak mau, istri Boss gue yang galak itu ngadu Zahra."
" Sialan lu."
Kami pun tertawa berdua.
" Za, tadi Siska kesini, dia bilang dia nggak akan nyerah incer laki lu." Ucap Ika disela-sela kesibukan kami bekerja.
" Biarkan saja dia, setidaknya dia udah tau siapa laki gue. Gue cuma mikir, gimana caranya laki gue senang, dan apa yang harus gue lakukan untuk bisa tetap manjain dia. Karena gue tau masih banyak Siska-Siska lain yang ada diluaran sana yang akan mencoba merayu laki gue."
" Gue seneng punya temen kek lu Za, gue banyak belajar dari lu. Semoga lu selalu bahagia dengan Laki lu yang galak itu."

------

#Suami_ku
Part. 19
==========
Sesampai di rumah dan selesai membersihkan diri ku, ku lihat Mas Jaya siap-siap mau ke mesjid.
" Kamu pulang habis isya sayang?"
"iya, sayang aku kok pengen makan rujak ya."
" Hah! ini dah hampir malam loh, kamu nggak salah?"
" Enggak, iya rasanya pengen banget, sama minum air kelapa juga. Nanti sama si bibi tolong minta buatin rujak ya."
Setelah mengecup kening ku, dia pun pergi.
Selesai makan malam, dia meminta Bi Ijah untuk membuatkan rujak, aku sangka keinginannya tadi main-main tapi nyatanya tidak dan rujak itu dia habis kan sendiri.
" Ibu yang hamil Bapak yang ngidam sepertinya." Ucap Bi Ijah sambil tersenyum.
" Iya seperti nya Bi." Jawab ku.
" Selama saya ikut Bapak baru kali ini saya lihat bapak sesenang ini Buk, sejak tinggal disini, saya baru lihat senyum Bapak, kalau dulu jangankan senyum suaranya aja jarang terdengar.
" Oh ya? "
Dia hanya menganggukan kepalanya saja, lalu pergi.

*****
Selesai makan aku memilih untuk duduk di balkon kamar ku, sambil duduk bersandar dipelukan suamiku, menatap indahnya lampu jalanan yang menerangi perumahan tempat tinggalku, dari atas sini aku bisa melihat jalanan yang masih padat di lalui kendaraan yang masih sibuk beraktifitas, entah kapan Jalanan itu akan sepi.
" Hemmm.... aku masih belum bisa percaya dengan kenyataan hidup yang kualami Mas, rasanya aku sedang bermimpi. Dulu aku selalu mencari tau tentang kamu, setelah aku lelah, hal-hal yang diluar dugaan ku yang mucul. Melihat kenyataan yang seperti ini aku takut kalau kau akan meninggalkan ku." Ucapku memecahkan keheningan

" Lebih dari dua tahun kita menikah, tapi kemesraan itu baru terasa, kehangatan cinta itu baru kita rasa, aku tidak bisa menjanjikan apapun pada mu, tapi aku akan membuktikan betapa aku membutuhkan mu, aku mencintai mu, dan akan melindungi mu dengan cara ku."
Dipeluknya tubuk ku sambil mencium rambutku.
Ku miringkan tubuhku untuk menatap wajahnya, tanpa melepaskan pelukannya.
" Aku sebenarnya senang kau ada didekat ku Mas, tapi aku juga kesal kalau kau selalu mengerjaiku dan mengganggu pekerjaan ku."
Sambil ku pukul pelan dadanya.

" Aku begitu karena kau sangat menggemaskan, apalagi tadi pagi saat kau curhat tentang pelecehan yang terjadi pada mu, kau tau aku tertawa sampai sakit perut." Ucap nya sambil tertawa.
" Kau selalu saja mencari kesempatan, suamiku yang ku kenal dulu tidak suka berbuat mesum, tapi dia jarang sekali dirumah. Saat dia menyusul ku ke kampung aku sempat kaget sekaligus senang. Disitu aku berusaha membuka diri untuk nya."
Ucap ku sambil mengingat kembali seperti apa Mas Jaya dulu kepada ku.
" Aku tidak berani berbuat apa-apa saat itu Zahra, aku takut menyakiti mu, saat kau pergi itu aku panik, Aku melihat mu pergi dengan mobil, ku ikuti kemana perginya. Saat aku melihat mu menaiki bus, aku merasa takut kehilangan mu.
Di saat kau menyerahkan dirimu seutuhnya, aku berjanji dalam diri ku, aku akan membahagiakan mu, bagaimanapun caranya."
" Tapi kenapa kau pulangkan aku?"
"Karena ibu mu yang meminta, mertua ku itu, sebenarnya tidak rela anaknya keluar dari rumah itu, dia mau meskipun anaknya sudah menikah tetap tinggal bersamanya, dia takut melepas anak bungsunya.
Alasannya saja dia tidak suka pada ku karena pekerjaan ku. Dan aku pun sempat marah karena dia menghina ibu ku. Tapi aku sudah memaafkan nya."
" Manis sekali bahasa mu Tuan Heru Sanjaya disaat kau membela mertua mu. Wah aku tidak menyangka kau bisa semanis itu."
Lalu ku ciumi seluruh wajahnya.
Dipegangnya kedua pipiku, didekatkannya wajahnya kewajahku, dipandangnya mataku.
" Berjanjilah untuk slalu bersama ku,hangatnya cintamu membuatku nggak bisa jauh dari mu, sedetikpun sulit rasanya aku bernafas tanpa mu."
Diletakkannya kembali kepalaku didadanya, semakin erat pelukannya kepada ku,berkali-kali dikecupnya kening ku. Aku semakin terlena dalam pelukannya.

******
Nggak terasa ini bulan ke-3 Mas Jaya bekerja menjadi atasan ku, dan ini masuk bulan ke4 kehamilanku, banyak perubahan yang terjadi diperusahaan ini, selama dia bekerja disini sudah 3 orang yang dipecat dari perusahaan ini. Pemecatan secara tidak langsung, karena mereka dibuat seolah-olah mengundurkan diri. Dan selama 3bulan itu apabila tidak ada Mas Jaya, maka aku lah yang akan menemui klien nya, seharusnya itu tugas Pak Wiratman, tapi herannya keberadaan beliau tidak berfungsi sejak masuknya Mas Jaya. Seperti siang itu, Aku harus menemui klien dari Singapura, mengajukan kerjasama yang menurutku ini proyek yang sangat besar, aku tidak tau apakah persentase yang ku ajukan saat itu di terima atau tidak, karena dia harus mempelajari dulu semuanya, dan berjanji akan memberi kabar dua hari kemudian.

Pagi ini aku bekerja seperti biasa, sudah 10 hari lamanya Mas Jaya pergi keluar kota, tapi selama disana sekalipun dia tidak memberi kabar. Begitulah dia, HP nya juga sudah pasti jarang aktif.
" Za, tadi si Boss cariin lu" Ucap Ika disaat aku baru masuk kedalam ruangan ku.
" Emang dia udah pulang?" Tanya ku pada Ika.
" Idih lu bininya masa nggak tau sih?" tanyanya heran.
Tiba-tiba pintu ruangan di buka, ku lihat Mas Jaya masuk dan mendekati ku.
" Maaf ya Ika, kalau saya meluk istri saya depan kamu, saya kangen udah 10 hari nggak ketemu." Ucapnya pada Ika, lau dia memeluk ku, dan mencium kening ku.

" Tumben kamu sopan, biasanya main sosor aja." ujar ku padanya.
Dia hanya tersenyum dan mencubit pipi ku.
" Selama saya tidak ada, bagaimana perkembangan disini?" Tanya nya sambil merangkul lenganku.
" Selama ini baik Pak, hanya saja Pak Wiratman agak sedikit kesal sama kita, kenapa Bapak menyerahkan pertemuan pengajuan kerjasama dari pengusaha singapura itu pada Zahra, tadi pagi dia juga sempat marah karena ini udah hari ke-3 dari pertemuan itu, tapi hasilnya tidak ada, padahal janjinya cuma 2 hari beliau akan memberi kabar." Jawab Ika.
" Oh mengenai itu, sudahlah tidak apa-apa masih banyak proyek lain."
Ku lihat senyum tipisnya, tapi sorot matanya seperti memperihatkan rasa kekecewaan.
Lalu dia pamit untuk keruangannya. Di depan pintu dia menghentikan langkahnya.
" Ika, saya harap tahun ini kamu melanjutkan S2 mu."
" Tapi Pak.. " Jawabnya terputus.
" Oh iya, untuk kalian berdua hemmm hanya sekedar memberi tahu saja, saya sudah menandatangani kerjasama dengan Mr. Edwin. dan kalian pantas mendapat bonus." Lalu dia melangkah meninggalkan ruangan ku.
Aku dan Ika bersorak girang. Ika langsung memeluk ku.
" Kau berhasil Zahra, kau berhasil." Sembari dia menciumi ku.
" Hey baby, pesan tante jaga mami mu baik-baik, buat mami mu selalu bahagia, karena dia teman terbaik tante." Ucapnya sambil mencolek perut ku.
Ku dengar HP ku berdering, ku lihat Mas Jaya yang memanggil.
[ Ya Mas, ada apa?]
[ Katakan padanya, bahwa perusahaan yang membiayai kuliahnya, dengan satu catatan jangan jadi pengkhianat di kantor ini.]
Lalu telpon pun di tutup.
Ku katakan kabar itu pada Ika, seketika air mata nya jatuh. lagi-lagi dia memeluk ku.
Setelah suasana haru biru itu berlalu aku dan Ika kembali kerja. Tapi entah kenapa perasaanku sedikit gelisah, aku nggak tau kenapa.

" Gue ke pentri dulu dulu ya." Ucapku pada Ika.
Disaat aku hendak membuka pintu, ku lihat di dalam ada Mas Jaya dan Siska, aku cukup sangat kaget. Ku lihat Mas Jaya sedang membuat teh, dan Siska berusaha mendekatinya.
" Kau yang kemarin yang menegur Zahra diruangannya kan?" Tanya Mas Jaya pada nya.
" Iya Pak" Jawabnya sambil memegang tangan Mas Jaya.
Ku lihat Mas Jaya memperhatikannya dari atas sampai bawah, dengan pandangan menggoda.
Berani nya dia memandang Siska seperti itu, dasar laki-laki.
" Kau cantik juga, apa yang kau inginkan dari ku?" Ucap Mas Jaya dan tersenyum kepada Siska.
Bukan menjawab pertanyaannya dia malah mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Mas Jaya.
Darahku benar-benar mendidih melihat kelakuan mereka, tapi bukan melabraknya aku masih tetap berdiri dan memperhatikan keduanya.
"Aku tau kau menginginkan ku."
Dipeluknya pinggang Siska, dan ditenggelamkannya wajahnya dileher jenjang Siska, ku lihat Siska seperti menikmatinya.
Aku akan menunggu sampai sejauh mana mereka berbuat, meskipun saat itu aku marah, kecewa, sakit hati, tapi aku nggak boleh gegabah.
Setelah dia bermain dileher Siska dipeganggnya dagu siska, didekatkannya wajahnya kewajah Siska, cukup lama dia memperhatikan wajah itu.
" Sayangnya aku tidak tertarik dengan barang bekas dari Wiratman nona."
Seketika pelukannya dilepaskannya dan menjauhi Siska.
" Aku tau kau bukan keponakan wiratman, kau adalah simpanannya, dan aku pun tau kalau kau tidak pernah puas dengan sibodoh itu."
Ku lihat Siska mulai kesal.
" Dalam 1x24 jam aku tunggu surat pengunduran dirimu, kalau tidak kau akan menerima surat pemecatan dari ku. Kalau kau mengundurkan diri aku akan memberimu pesangon, tapi kalau aku memecat mu, jangan pernah berharap sepeserpun."
Lalu Mas Heru mencium kedua tangannya.
"Bau sibodoh itupun masih menempel ditubuhmu." Ucap Mas Jaya sambil mencuci tangan dan mukanya.
Aku segera berjalan bahkan sedikit berlari kecil meninggalkan pentri sebelum mereka mengetahui ku.
"Lu kenapa Za?" Tanya Ika begitu melihat aku masuk ruangan dengan tergesa-gesa.
Setelah aku duduk, ku coba mengatur nafas ku. Ku rasakan tangan ku masih gemetar habis melihat kejadian itu.
" Pusing gue Ka."
" Lu sakit Za?" Tanya Ika dan mendekati ku.
Ku tumpahkan tangis ku dalam pelukan Ika, tapi maaf aku nggak bisa menceritakan apapun padamu, ini masalah ku.
Dan untuk mu Heru Sanjaya, aku akan buat perhitungan sama mu. kau lihat saja nanti.

-----

#SUAMI_KU
PART 20
========
Tepat Jam 12 siang, aku melihat Mas Jaya masuk keruanganku untuk mengajakku makan siang. Namun aku menolaknya untuk makan di luar, aku pengen makan di kantin aja, tapi sebelumnya aku mau makan ice cream dahulu, karena takut mencair. Aku menyuruhnya duduk didepanku, dengan alasan aku ingin mandangi wajahnya dan diapun memilih duduk didepanku.
" 10 hari nggak ngelihat kamu, kamu makin tampan aja Mas." Sesekali ice cream yang kumakan juga kusuapin kemulutnya.
" Kamu makan ice cream nya gitu amat sih, buat ngilu aja." Ucapnya
" Sayang, aku mau bilang sesuatu, tapi sebelumnya aku minta maaf ya, kemarin aku ke dokter, dokter bilang untuk beberapa hari kedepan kalau bisa kita nggak itu dulu."
" Kok gitu sih." Dengan nada protes.
" Ini demi kebaikan aku Mas." Kusunggingkan senyum .
" Kamu kalau senyum gitu, manis banget." Kulihat dia mengusap wajahnya dengan kasar.
" Sayang, sinilah aku mau bilang sesuatu."
Kumajukan wajahku, lalu aku tarik dasinya dan aku mainkan diujung jariku.
" Kamu kangen aku nggak?" tanya kuselembut mungkin.
" Kangen lah, kangen banget malah." Jawabnya.
" Hemmm.... kamu tau nggak sayang, kalau Bossku itu tadi hampir berbuat mesum di pantry" Kukembang kan senyumku dan memainkan alisku.

" Mampus gue" Di tarik wajahnya menjauh dariku dan juga menyunggingkan senyum.
" Ak.. akk... kkamm kkammu salah lihat kali." Jawab Mas Jaya dengan sangat gugup.
" Kok kamu yang panik, aku cerita tentang Bossku loh." Masih dengan menyunggingkan senyum..
" Sayang aku lapar." Ucapnya mengalihkan pembicaraan.
" Kamu lucu banget sih Mas, wajahmu udah seperti maling ketangkap basah aja. Gemesin banget sih." Lalu kucubit kuat pipinya.
Aku pun berdiri dari kursi dan mengajak dia untuk makan.
" Kamu kenapa sih dari tadi gugup gitu? katanya kangen sama aku."
Tanyaku dengan sedikit cemberut.
" Kamu udah horor." Ucapnya sangat pelan tanpa memandang wajah ku.
Sampai di kantin aku memesan makanan, dan nggak lama makanan pun datang.
" Kamu harus makan yang banyak sayang, kamu butuh energi yang banyak hari ini." Lagi-lagi aku menyunggingkan senyum kepadanya.
" Senyum manis mu, seperti senyum malaikat pencabut nyawa Zahra." Dia berujar dengan pelan.
" Emang!maniskan!" Sambil menekan ujung sendok kepiring.

Selesai makan aku mengajak keruangannya, dia sempat menolaknya dan memilih duduk diruangan ku, tapi aku selalu menarik dia untuk masuk keruangannya.
" Sayang aku bisa jelasin, kamu duduk dulu ya, jangan marah-marah, ingat kata dokter, bukannya kamu habis kedokter kemarin." Ucapnya begitu panik saat aku dan dia masuk ke dalam ruangan.
" Aku sudah memecatnya, aku hanya nggak ingin dia ada disini." Ujarnya lagi setelah mendudukkanku di sofa dan dia berlutut didepanku, dengan menggenggam tangan ku.
" Kamu kenapa Mas? padahal aku tadi cuma bilang kalau Boss ku cuma hampir berbuat mesum." Ucapku tersenyum dan menyilangkan kaki ku diatas kaki yang lain.
" Cih, elegan sekali gayanya setelah dia membuat darahku hilang begini." Gumam Mas Jaya dan menundukkan kepalanya.
" Sayang kamu tau nggak, dulu ada yang bilang sama aku, bahwa sedetikpun dia nggak bisa bernafas tanpa aku, tapi anehnya 10 hari dia pergi tanpa kabar, aku lihat dia sehat-sehat aja. Cekcekcekkk pembohong banget kan? Aku jadi sulit untuk percaya kepada pria itu."
Sengaja ku lirik jam ditangan ku, sudah pukul 13.10.
" Sayang, aku kembali keruanganku dulu, aku kerja dulu ya." Ku raih kepalanya lalu ku kecup keningnya.
" Kamu kerja baik-baik." Lalu ku kencangkan ikatan dasinya.
" Kamu nggak ingin mengecup bibir ku?" Tanya nya dengan nafas yang tidak setegang tadi.
" Aku malah sangat berharap saat ini menjahit bibir mu Tuan Heru Sanjaya!" Ku bisikkan kalimat itu dengan nada penekanan. Lalu aku berdiri dari duduk ku, dan meninggalkannya.
Sesampai aku diruangan aku, aku tertawa terbahak mengingat tingkah panik Mas Jaya.
Aku akan membalas mu dengan cara yang sangat manusiawi Tuan Heru Sanjaya, dan pembalasan ku belum berakhir.
Disaat sedang membereskan meja untuk persiapan pulang, ku lihat Siska masuk keruangan ku, dia menyerahkan selembar surat yang mana dia meminta untuk ku menyerahkan kepada Mas Jaya.
" Sampai kapan pun aku tidak akan memaafkan mu Zahra."
Aku hanya menjawab perkataan Siska dengan senyuman. Lalu dia pergi meninggalkan ku.
"Nenek grandong kenapa lagi Za?" Tanya Ika.

" Dia mengundurkan diri." Jawab ku singkat.
" Apa? Lu serius?" Ku perlihatkan surat pengunduran diri dari Siska.
Ku lihat Ika begitu bahagia.
" Mimpi apa gue kemarin ya, dari pagi hanya kabar bahagia aja yang gue dapet."
" Seneng lu bahagia diatas penderitaan orang lain?" Tanya ku pada Ika.
(Pertanyaan mu pada teman mu itu pantasnya untuk dirimu Zahra, bukannya kau juga udah menyiksa suamimu hari ini.)
" Hemmmm... sebenernya enggak sih, tapi kalau diatas penderitaan Siska gue bahagianya pakai banget." Ucap Ika sambil tertawa lepas.
Ku antarkan surat pengunduran diri Siska ke ruangan Mas Jaya.
"Permisi Pak, boleh saya masuk?"
" Ya, masuk lah."
"Saya mau mengantarkan ini dari Ibu Siska." Lalu ku serahkan surat itu diatas mejanya, dan dia segera membaca surat itu.
" Sayang, kau lihat kan besok dia sudah tidak ada lagi disini."
" Tuan Heru, kau bilang kau memecatnya, tapi nyatanya dia mengundurkan diri. Jangan biasakan berbohong Pak." Ucap ku dan pergi meninggalkan nya.
Sore itu sehabis pulang kerja aku meminta Mas Jaya untuk singgah ke panti, ku lihat betapa bahagianya Mas Jaya bermain dengan anak-anak disana, Rindu sudah besar, dia tumbuh dengan sangat baik. Selesai shalat Magrib, aku dan Mas Jaya permisi pulang. Sebelum aku menyiksanya lebih lanjut, aku kasih dia angin kebahagiaan dulu.
(Maafin author kalo buat Zahra jadi sadis ya. hahhaaa.. )

*****
Sesampai dirumah dan membersihkan diri aku meminta Mas Jaya membantu ku untuk memakaikan lotion.
" Masss.. aku bisa minta tolong nggak?"
Aku memanggilnya yang sedang asik mainin HP diatas tempat tidur.
"Minta tolong apa sayang?"
" Tolong pakaikan lotion ku dong, dipungung ya."
" Biasanya kamu pakai sendiri."
" Aku mau kali ini kamu yang pakaikan."
Aku yang masih pakai handuk, sedikit mengendurkan handuk ku, agar dia bisa leluasa mengusapkan lotion dipunggung ku.
Disaat kurasakan tangannya udah mengusap dengan lebih lembut, ku memintanya untuk berhenti.
" Udah sayang, aku mau pakai baju, aku bisa masuk angin."
Ku dengar dia mengambil nafas panjang, dan membuangnya dengan kasar.
Sengaja ku pakai gaun malam ku yang sedikit pendek, lalu mengoleskan lagi lotion di kaki ku.
"Katanya nggak mau masuk angin, tapi kenapa pakai baju seperti itu." Protesnya.
"Kamu cerewet amat, sih.. Sayang, kalau Istri Boss ku tau kelakuan suaminya tadi siang, istrinya bakal marah nggak ya?" Tanya ku tanpa memandang suamiku tercinta itu.
" Bodo' ah Zahra, bodo'. Mendingan kamu tidur, besok kita kerja." Lalu dia menarik selimut dan membelakangi ku, serta dia menutup telinganya dengan bantal.
Dan malam ini aku bisa tidur dengan rasa bahagia dengan membuatnya sedikit tersiksa.

bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar