Persaudaraan Muslimah Indonesia, mempelajari Islam Secara Menyeluruh.

Sabtu, 21 Maret 2020

JODOH WASIAT BAPAK 36 - 37 End

#Jodoh_wasiat_bapak
#JWB36 author Shofiyah Shofiyah
Part 36

Semua anak-anak TK Angkasa Jaya mulai berkeluaran dari gerbang sekolah setelah bel tanda pulang sekolah telah di bunyikan. Raddan segera keluar dari mobil saat melihat kedua anaknya sudah terlihat keluar dari gerbang sekolah, dengan senyuman yang lebar ia menyambut kedatangan keduanya.
“Hai, jagoan sama princess Baba! Gimana belajarnya hari ini, seru?”

Aiza dan Azka serentak mengangguk, “seru!” jawab keduanya kemudian.
“Ayo kita pulang, setelah ini Baba kita akan jalan-jalan ke Mall.” Raddan membuka pintu bagian samping kemudi dan bagian belakang.

Keduanya masuk ke dalam mobil, kemudian Raddan menyusul setelah di pastikan kedua anaknya duduk dengan aman. Ia baru menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang di jalanan yang lumayan lengang ini.
Tanpa mereka sadari seorang gadis cilik yang berdiri di balik gerbang menyaksikan semuanya dengan air mata yang mengalir, membasahi pipi chubby-nya. “Hiks.. hiks... Papa, kenapa jemput mereka? Padahalkan, Cantik yang anak Papa...”

***
Hawa senang melihat kedua anaknya bahagia, saat pria yang masih berstatus menjadi suaminya itu mengajak mereka jalan-jalan. Di hadapannya ada sebuah gamis indah dengan berwarna pink dengan motif bunga sakura di bagian pinggang ke bawah, sangat indah. Gamis pilihan suaminya itu.
Ia jadi teringat kejadian tempo hari saat ia menanyakan status hubungan mereka, dan jawaban dari suaminya yang membuatnya sangat bingung.

Flashback ON
“Kata siapa?” ucap Raddan.
Ia langsung bangkit berdiri, “apa maksud Mas?”
Raddan tersenyum manis ke arahnya, membuat keningnya semakin berkerut dalam. Raddan menariknya untuk kembali duduk. Menangkup kedua tangannya Raddan berkata, “surat dari pengadilan yang kamu taruh di amplop yang sama dengan surat perpisahan dari kamu itu tidak pernah aku tanda tangani. Karena sampai kapan pun, aku tak akan mau dan mampu untuk melepaskan kamu, Ara-ku. Wanita terhebat yang selalu setia menemaniku, wanita terkuat yang mampu mengurus kedua anak kita dan satu-satunya wanita yang bisa memiliki hatiku sepenuhnya.
Air mata Hawa berlinang, tangis haru mendengar semua yang di katakan oleh pria cinta pertamanya. Pria baik hati dengan sejuta pesona dan dia juga merupakan ayah dari kedua anak kembarnya.
“Jadi kamu mau kan, kita memulai semuanya dari awal untuk membangun keluarga impian kita bersama kedua anak kembar kita?”

Perkataan Raddan membuat ia kembali sadar, “iya, Ara mau Mas!” ku peluk tubuh pria di hadapaku ini dengan perasaan berbunga-bunga. Semoga impian mereka dapat segera tercapai, dan semoga semua masalah yang belum terselesaikan dapat di selesaikan secepatnya.
Flashback OFF

“Umma, udah belum pakai bajunya?” teriakan Aiza membuat Hawa tersadar dari lamunannya.
Hawa bergegas memakai gamis pilihan dari suaminya itu, setelahnya ia keluar. Di luar ia melihat ketiga orang yang sangat berarti dalam hidupnya tengah berbincang seru dengan tawa bahagia yang mewarnainya.
"Ayo, kita berangkat!" ajak Hawa pada ketiganya, mereka bertiga mengangguk. Kemudian mereka pun berangkat.

Di tengah perjalanan ke Mall, Raddan tak henti-hentinya berceloteh bersama kedua anaknya dan sesekali juga menggoda wanita cantik yang duduk di sebelahnya. “Ara, kamu tau nggak?”
Hawa yang sedang berbincang seru dengan Azka dan Aiza, sontak menoleh saat mendengar pertanyaan dari suaminya itu, “tau apa?” tanya Hawa yang memang kebingungan.
Raddan menoleh ke arah istrinya itu, “kalo kamu itu secantik bidadari surga, dan aku sangat beruntung bisa memiliki kamu."
Blush!

Seketika rona kemerah terbit di kedua pipi Hawa yang menjalar hingga ke telinga, senyum pun ikut tercipta di bibir indahnya. Hatinya juga ikut berbunga-bunga mendengar gombalan receh dari suaminya itu, memang benar jika sedang di mabuk cinta maka seolah dunia terasa milik berdua..
“Umma! Aiza lagi celita, jangan dikacangin dong!” tegur Aiza dari kursi belakang.
“Hah? Nak, kamu ngomong apa?” Hawa yang sedikit mendengar gerutuan dari anak perempaunnya ini menoleh dan langsung mendapati putri kecilnya sedang duduk dengan tangan di silangkan ke dada serta bibir yang mengerucut.
“Aiza lanjut cerita aja, Baba dengerin kok!” timpal Raddan sudah kembali sibuk dengan stir kemudi mobil.
“Jadi tadi...” Aiza kembali asik berceloteh dengan Raddan dan Azka yang menimpali sesekali.
Hawa hanya bisa melongo saat suaminya sudah asik dengan kedua anak mereka, benar-benar hebat setelah membuatnya melting dengan gombalan recehnya, lihatlah sekarang suaminya sudah melupakannya. Padahal ia masih baper paraahh...

***
Raddan melangkahkan kakinya menuju rumah yang di tempati oleh Clara dan putrinya Cantika. Saat berjalan-jalan tadi ia baru teringat belum memberikan oleh-oleh yang di pesan oleh Cantika, mengucapkan salam lalu ia masuk ke dalam. Tak seperti biasanya, jika pulang pasti Cantika akan menyambutnya namun kali ini gadis cilik berlesung pipit itu tidak terlihat sama sekali.
“Cantika, Cantikaa...” panggilannya pada putrinya itu.
“Papa pulang!” teriaknya sekali lagi, dan masih tidak ada sahutan, seketika rasa khawatir merasuki hatinya, takut sesuatu telah terjadi pada putrinya yang satu itu.
Menaiki anak tangga dengan tergesa menuju kamar putrinya itu, tanpa mengetuk pintu ia langsung membuka kamar putrinya itu. Menghembuskan napas lega saat ia melihat putrinya itu tengah duduk di meja belajar, sedang sibuk mengambar sesuatu di buku gambarnya.
“Hai, princess-nya Papa? Lagi gambar apa?” Raddan mendekati putrinya, mengusap kepala putrinya dengan sayang.
“Ngapain Papa kesini? Bukannya Papa udah nggak sayang lagi sama Cantika?”
Kening Raddan mengernyit mendengar ucapan putrinya, “maksud Cantik apa? Papa sayang kok sama Cantik.”

Cantika mengalihkan pandangan ke arah ayahnya, menatapnya dengan mata berlinang,” bohong! Kalo Papa sayang sama Cantik, kenapa tadi Papa jemput anak lain di sekolah, bukannya Cantik!”
Raddan mengernyitkan dahi, lalu ingatanya terputar saat ia menjemput kedua anak kembarnya. Ia lupa jika sekolah si kembar dan Cantik sama, sekarang ia bingung harus bagaimana menjelaskannya pada putrinya yang satu ini. Putrinya tidak akan mudah menerimanya dengan mudah.
“Kata siapa Papa sayang tidak sayang, Cantik? Lihat, Papa aja masih ingat bawain oleh-oleh yang mau.”
Cantika menghapus airmata yang sudah membasahi pipinya dengan cepat, “beneran? Mana Pa?”
Raddan menyerahkan dua buah paper bag berisi oleh-oleh untuk putrinya ini. Cantika mengambilnya lalu di bukanya dengan cepat, saat melihat mainan yang ia inginkan ada di dalamnya.
“Makasih, Papa!” Cantika langsung memeluk tubuh Raddan dengan erat. Raddan tersenyum lega lalu ikut membalas pelukan itu.

***

Hawa melangkah dengan tergesa di lorong sekolah, ia di panggil ke sekolah karena Aiza terlibat pertengkaran dengan teman sekelasnya lagi. Saat ia akan mengetuk pintu ruang kepala sekolah, seseorang yang baru datang membuatnya mematung di tempat, melihat orang yang ada di hadapannya saat ini, Clara.
Clara yang melihat Hawa ada disini, sedikit terkejut namun sebisa mungkin ia menguasai keadaan. Melenggang masuk mendahului Hawa.
Di dalam Aiza dan Cantika tidak masih saja ribut, saling membela diri masing-masing.
“Aiza nggak salah, Bu. Cantika yang ngelusak tas punya Aiza telus bilang kalo Aiza lebut Papanya. Tapi itu nggak benel.” Aiza membelas diri, karena memang ia tidak bersalah kali ini.
Cantika menatap Aiza tajam,”bohong, Bu! Kemarin Cantik lihat dia manja-manja sama Papa Cantik, terus tas punya dia sama kayak punya Cantik, pasti dia minta beliin sama Papa?!”
“Nggak! Aiza nggak lebut Papa Cantik, Aiza punya Papa sendili.”

“Bu, anak saya pasti nggak salah. Yang salah pasti dia!” tunjuk Clara mengarah Pada Aiza.
Bu Rita mendongak menatap ke arah Clara, “oh Ibu sudah datang. Silakan duduk dulu, Bu!”
Clara mengangguk, kemudian mendudukkan diri di samping putrinya. Tak lama kemudian Hawa muncul dari balik pintu dan ikut mendudukkan diri di samping Aiza.
“Ada apa sebenarnya, Bu?” tanya Hawa khawatir saat melihat putrinya sudah berlinang air mata.
“Jadi begini, Bu. Cantika dan Aiza bertengkar, Cantika bilang kalau Aiza sudah merebut Papanya. Lalu Azia tidak terima dengan tuduhan itu sehingga mereka bertengkar.”
“Ternyata benar apa kata pepatah, buah jatuh nggak jauh dari pohonnya. Lihat saja Ibunya pelakor yang sudah merusak rumah tangga saya dan sekarang, anaknya yang merebut kasih sayang dari suami saya. Dasar perempuan murahan, bicth!”
Plak!

Hawa melayangkan tamparan pada Clara, “cukup! kamu boleh hina aku sepuasnya. Tapi aku nggak akan tinggal diam, jika kamu sudah menghina anak-anakku.”
Clara bangkit lalu balas melayangkan tamparan ke pipi Hawa, “lo emang bicth! Karna lo udah rebut Raddan dari gue?! Dasar pelakor!” dengan emosi Clara mendorong Hawa hingga terjatuh ke lantai.
Bu Rita kalang kabut, niatnya ingin menyelesaikan masalah ini malah menimbulkan masalah lain. Dengan tergesa di raihnya gagang telepon yang ada di atas mejanya, lebih baik ia menelepon orang yang dapat menyelesaikan semuanya.
Hawa bangkit kembali, “aku tidak pernah merebut Mas Raddan, tapi kamu. Kamu yang memanfaatkan keadaannya yang sedang lupa ingatan, berpura-pura menjadi kekasihnya dan memintanya untuk menikahi kamu! Padahal kekasihnya itu aku, bukan kamu!”
“Raddan itu suami gue! Lo yang ngerusak rumah tangga kami. Jadi lo pantas dicap sebagai pelakor!” tangan Clara terangkat meraih khimar Hawa lalu di tariknya dengan kuat.
“Lepasin! Aku nggak ngerebut Mas Raddan dari kamu!” Hawa memegangi ujung khimarnya yang hampir lepas akibat tarikan Clara.
“Lo!” Clara menangangkat tangan satunya lagu hendak melayangkan tamparan di pipi Hawa, namun sebuah tangan mencekal pergelangan tangannya terlebih dahulu.
“Berani sekali kamu memukul wanita yang sangat saya cintai. Disini yang bersalah itu kamu! Bukan dia! Karna kamu yang telah menipu saya!” ujar Raddan dengan marah.
“Tapi Mas? Ak-aku..”
“Sudah cukup. Lebih baik kita selesaikan masalah ini dirumah, tidak baik bertengkar di depan anak-anak.”

***
Sekarang mereka bertiga sudah berada di rumah yang di tempati Clara dan Cantika, untuk menyelesaikan masalah yang di sekolah tadi.
“Apa maksud Mas? Mas mau menceraikan aku, demi dia!” telunjuk Clara mengarah pada Hawa, tatapannya menyiratkan kebencian yang dalam.
“Iya, karena saya sudah tidak ingin lagi berurusan dengan wanita seperti kamu!”
“Aku nggak mau! Bagaimana dengan Cantika? Mas jangan egois?!”
“Itu biar menjadi urusanku, yang pasti aku akan tetap menceraikan kamu. Karena saya ingin hidup bahagia bersama wanita yang saya cintai dan anak-anak kita.”
Clara berdecih, “apa kamu bilang? Anak-anak? Apakah kamu yakin jika mereka benar anak kandung kamu?”
Hawa mendongak menatap Clara tajam, “mereka memang benar anak Mas Raddan. Aku tidak mungkin berbohong tentang ini.”
"Baba, Ba!" panggilan dari Azka membuat Raddan yang hendak menyahuti perkataan Clara menjadi urung.
"Ada apa, Bang?" tanya Raddan seraya merendahkan tubuhnya di hadapan putranya itu.
"Baba, ayo cepat kesana! Aiza sama Clara berantem!" ucap Azka, membuat Raddan mengalihkan pandangan ke arah depan. Tepat di tengah jalan sana kedua anak perempuannya tengah bertengkar merebutkan sesuatu. Baru saja ia hendak melangkah kesana, namun sebuah mobil terlebih dahulu melintas dan tabrakan yang tidak disangka pun terjadi.
Brak!
“Aiza!"
“Cantika!”

Pekik Raddan, melihat kedua tubuh anak mereka terkapar dengan darah yang menggenang di sekeliling setelah mereka di tabrak oleh sebuah mobil.
Hawa dan Clara serentak menoleh saat mendengar Raddan berteriak. Air mata langsung meluncur bebas di kedua pipi Hawa saat melihat anak perempuannya sudah tergeletak tidak sadarkan diri dengan bersimbah darah.
"Aiza!"
Clara pun sama terkejutnya dengan Hawa, melihatnya anaknya sudah tergeletak di tengah jalan dengan darah yang menggenang di sekitarnya.
_____
Tbc.



#Jodoh_wasiat_bapak
#JWB37
Part 37

Di sepanjang lorong rumah sakit Hawa tak henti meneteskan air matanya, tangannya ikut mendorong brankar yang di tempat Aiza, putrinya. Hatinya sangat sakit saat melihat tubuh putrinya terkapar tidak berdaya di tengah jalan, dengan darah yang menggenang di sekitarnya. Ia merutuki dirinya sendiri yang lalai dalam menjaga anaknya. Kini ia hanya bisa berdoa semoga putrinya baik-baik saja.
“Maaf, Pak, Bu, kalian hanya boleh mengantarnya sampai disini saja. Biarkan kami yang menanganinta di dalam terlebih dulu.”

Hawa mengangguk, tangannya meraih tangan dokter wanita yang memakai khimar warna hijau, “ tolong selamatkan anak saya, Dok. Tolong selamatkan dia...”
Dokter bernama Ayudhia itu mengangguk, “saya akan berusaha, untuk menyelamatkan kedua anak kalian. Dan kalian juga harus terus berdoa pada Allah, karena saya tidak bisa berbuat apa-apa tanpa kehendak darinya.”
“Baik, Dok. Tolong selamatkan putri-putri saya, Dok.” Raddan mendekap Hawa dalam pelukannya, saat ini hatinya juga sedang kalut memikirkan nasib kedua putrinya. Namun ada Hawa yang juga memerlukan sandaran bahunya, sehingga ia tidak akan meluapkan segala penyelesalannya disini.
“Aiza, Mas... Aiza..,” gumam Hawa sesegukan. Raddan hanya bisa mengusap-usap bahu istrinya itu, tidak ada kata yang mampu ia ucapkan untuk menenangkannya, karena ia juga merasakan hal yang sama.

Tiga puluh menit kemudian tim medis keluar dari dalam ruangan, dokter berhijab tadi mendekati Hawa dan Raddan. “Pak, Bu, kedua anak yang saya tangani saat ini dalam keadaan kritis. Mereka membutuhkan banyak darah, apakah di antara Bapak dan Ibu-ibu ini ada yang memiliki golongan darah O dan B resus negatif? Karena kebetulan stok darah keduanya sedang habis di rumah sakit ini, jika ingin memimta ke PMI akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar.”
“Golongan darah saya B resus negatif, saya akan mendonorkannya untuk salah satu putri saya. Cepat bawa saya, Dok!” Raddan mengajukan dirinya.

Hawa masih menangis, “golongan darah saya AB, ja-jadi saya tidak bisa mendonorkannya.”
Dokter itu tersenyum pada Hawa, “tidak apa-apa Bu. Ibu bantu doa saja. Oh, iya. Ibu yang di ujung sana tidak ingin ikut mendonorkan darah juga?”
Raddan dan Hawa serentak menoleh ke arah Clara yang masih terdiam di ujung lorong dengan wajah yang memucat. Clara tersentak mendengar pertanyaan dokter itu yang ditujukan untuknya.
“S-saya.. ti-tidak..”
“Saya yang akan mendonorkannya!” seru sebuah suara, membuat mereka menoleh le arah sumber suara. Di sana ada seorang wanita gamis orange dengan khimar berwarna putih, tengah melangkah ke arah mereka.
“Citra?” Raddan tertegun, hampir saja ia tidak dapat mengenali wanita yang baru saja datang ini. Karena setahunya, dulu dia belum berhijab.
“Jika Kakak ingin bertanya kenapa aku bisa ada sini, simpan saja untuk nanti yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan kedua anak yang ada di dalam sana.”
Raddan mengangguk, kemudian keduanya di arahkan oleh Dokter Ayudhia untuk memasuki ruangan. Setelah sebelumnya memakai pakaian steril terlebih dahulu.
Hawa menanti dengan cemas, bibirnya tak berhenti berdzikir meminta pertolongan pada Allah SWT. Saat ini pikirannya sedang kacau, sehingga tidak dapat mencerna semua hal yang terasa janggal ini.

***
Bu Winda tergopoh-gopoh menyusuri lorong menuju ruang IGD, ia merasa cemas saat mendengar berita jika cucunya masuk ke rumah sakit akibat tertabrak mobil. Sampai di depan ruang IGD ia langsung menemui menantunya untuk bertanya.
“Clara, apa yang sebenarnya telah terjadi? Kenapa Cantik bisa kecelakaan?” tanya Bu Winda dengan tak sabar.
Clara tak menjawab, dia masih saja bungkam dengan air mata yang mengalit deras dari kedua pelupuk matanya. Tangannya gemetar ketakutan, dia takut... jika Raddan akan...
Ruangan operasi itu terbuka membuat Bu Winda bungkam dan langsung bangkit dari sana, namun Hawa terlebih dahulu menghampiri Raddan. Bu Winda yang melihatnya terkejut setengah mati, tiba-tiba air matanya menggenang saat mengingat perlakuannya pada wanita yang sudah ia anggap seperti anaknya itu tujuh tahun lalu. Rasa terkejutnya semakin bertambah saat mendengar ucapan Hawa.
“Mas.. gimana keadaan anak kita? Dia baik-baikan aja kan?”

Raddan mendekat istrinya itu dalam pelukannya, “Alhamdulillah, darah Mas sama dengan Aiza. Jadi Aiza sudah tidak kekurangan darah lagi, kita tinggal menunggu saja Aiza di pindahkan ke ruang rawat setelah kondisinya benar-benar stabil.”
“Alhamdulillah, syukurlah..” Akhirnya ia dapat kembali menghirup udara dengan normal.
“Hawa, kamu bilang apa? Anak?” tanya Bu Winda dengan rasa shock yang belum hilang.
Hawa menoleh, sedikit terkejut mengetahui jika ibu mertuanya ada disini. “Ibu..?”
“Ekhm! Kebetulan semuanya sudah ada disini, saya akan memberitahukan kepada kalian sebuah rahasia besar yang telah Kakak saya sembunyikan selama ini.”
Semua perhatian kembali tertuju pada Citra, adik kandung dari Clara. “Cantika itu sebenarnya bukam anak kandung Kak Clara, tapi dia anak kandung saya.”

Raddan, Hawa dan Bu Winda kompak membulatkan mata terkejut, “bagaimana mungkin?”
Citra melangkah semakin mendekati ketiganya, “jadi begini kejadiannya...”

Flashback ON
Citra yang sedang dalam keadaan kacau, menghubungi kakak perempuannya untuk meminta bantuan agar ia bisa keluar dari masalah ini. Pacarnya menghilang, dia lepas tanggung jawab setelah menghamilinya. Sekarang hidupnya hancur, semua janji-janji yang terucap dengan manis dari mulut pacarnya itu, ternyata hanya sebuah bualann saja. Habis manis sepah dibuang, itulah yang dapat mengambarkan keadaanya saat ini. Setelah pacarnya mengambil keperawanannya, ia dibuang begitu saja bak sampah.
“Kak, aku harus gimana?”
Clara tersenyum, ini kesempatannya. Karena dokter telah memvonisnya tidak akan bisa memiliki keturunan, cara satu-satunya adalah mengadopsi anak. Dengan memiliki seorang anak pasti ia tidak akan di ceraikan oleh suaminya itu.
“Berikan anak itu pada Kakak, kamu cukup mengandungnya saja. Setelah dia lahir Kakak yang akan mengurusnya dan menjadikannya anak Kakak.”
Mendengar itu mata Citra membulat, “Kakak serius?”
“Iya, dengan syarat kamu tidak akan membocorkan kebenarannya pada siapapun. Jangan pula menemuinya setelah dia lahir, bagaimana setuju?”

Citra yang masih dalam keadaan labil mengangguk menyetujuinya, hingga beberapa tahun kemudian ia mendapat hidayah dan menyesali semua perbuatannya itu. Ia mau anaknya kembali, ia ingin merawat darah dagingnya sendiri.
Flashback OFF

Raddan mengepalkan tangannya, melangkah maju ke arah Clara dan...
Plak...!
Sebuah tamparan mendarat dengan keras pada pipi Clara. “Saat ini juga saya talak tiga kamu! Sekarang kamu bukan lagi istriku!” setelah mengucapkan itu tangannya merogoh saku celana bahannya, mengambil ponselnya.
“Halo, kantor polisi. Saya ingin melaporkan, jika mantan istri saya telah menipu saya dan keluarga saya selama bertahun-tahun. Saya minta cepat tangkap dia.”
“...”
“Sekarang Pak, dirumah sakit Medika."
“...”
“Baik, saya tunggu.”

Clara langsung meluruh ke lantai, memegangi kaki Raddan seraya memohon. “Mas.. jangan seret aku kepenjara.. aku melakukan itu semua hanya agar bisa bersama kamu. Aku cinta sama kamu, kamu nggak boleh giniin aku.”
Raddan menepis tangan Clara di kakinya, “minggir. Sudah cukup dulu saya tertipu sama kamu. Sekarang tidak akan lagi?!”
“Mas.. aku ngaku semua itu salah. Tolong maafkan aku...,” pinta Clara dengan air mata yang sudah membanjiri kedua pipinya, tangannya kembali terangkat meraih tangan Raddan.
“Cukup! Tidak ada lagi kata maaf untuk wanita iblis seperti kamu! Kamu berhak mendapatkan ganjaran yang setimpal atas semua perbuatanmu.”
Clara menggeleng, sekarang bersimpuh di hadapan Hawa, memohon agar ia tidak di masukkan ke dalam penjara. “Hawa, gue mohon sama lo. Gue nggak mau di penjara.”
Hawa melepaskan genggaman tangan Clara dari tangannya, “jika kamu tidak ingin masuk penjara, seharusnya kamu berpikir sebelum melalukan semua ini!”
Polisi datang memberikan hormat pada Raddan, “saya sudah mendapatkan surat perintah untuk menangkap saudari Clara. Saudari Clara ayo ikut kami ke kantor polisi.”
“Mas.. tolong.. cabut laporannya... Mas..” Clara berusaha meraih lengan Raddan namun dua polisi itu dengan cepat menarik Clara menjauh dari sana.

***
Hawa tersenyum bahagia melihat anaknya sudah sadar, Aiza memang anak kuat. Lihat saja sekarang putrinya itu sudah dapat bercanda ria, bahkan saat pertamakali sadar yang di ucapkan Aiza adalah es krim. Ia tidak habis pikir, sebenarnya putrinya ini menuruni siapa karena kelakuannya selalu membuatnya geleng kepala.
Bu Winda mendekati Hawa, “Hawa!” panggilnya pada menantunya itu.
Hawa menoleh ke arah ibu mertuanya itu, “iya, Bun. Ada apa?”

“Maaf, karena Bunda telah berbuat jahat sama kamu. Padahal saat itu kamu...” Bu Winda tak mampu melanjutkan ucapannya, isak tangis karena penyesalannya membuat dadanya sesak.
Hawa merengkuh pundak ibu mertuanya, “sudah Bunda.. Hawa tahu keadaan Bunda saat itu. Jadi Bunda tidak usah merasa bersalah seperti ini. Biarlah semua itu menjadi masalalu yang tidak usah di ungkit-ungkit kembali kedepannya.”
Bu Winda mengangguk, lalu memeluk menantunya itu. Ia berjanji tidak akan lagi membuat keputusan seperti itu lagi. Cukup sekali saja ia berbuat kesalahan seperti ini.
“Umma!” seorang bocah laki-laki membuka pintu, kemudian berlari kencang ke arah Hawa.
“Azka? Azka kesini sama siapa?” bocah itu menunjuk ke arah pintu, terlihat Bi Imah, ART-nya baru masuk ke dalam dengan membawa tas besar.

“Neng, ini baju ganti dan mainan Non Aiza.” Bi Imah menyerahkan tas itu pada Hawa.
“Oh, makasih ya Bi.” Hawa bangkit berdiri, melangkah ke arah laci yang terdapat di bawah meja nakas samping brankar Aiza.
Azka mendekati saudari kembarnya yang masih terbaring di atas brankar rumah sakit. Meskipun kepalanya tengah di perban, adiknya tetap terlihat ceria.
“Eh, Abang! Nih, Abang mau es klim ini?” Aiza menyodorkan es krim itu pada Azka, yang di jawab gelengan oleh saudara kembarnya itu.
“Yaudah, Aiza habisin loh.. nanti kalo udah habis jangan nangis!” peringat Aiza.
“Habisin aja, Abang nggak bakal minta kok.” Tangan Azka terangkat untuk mengusap puncak kepala saudari kembarnya itu. Ia merasa bersalah karena sebagai kakak tidak dapat melindungi adiknya dengan benar. Tekadnya mulai saat ini adalah menjadi kuat seperti ayahnya agar dapat melindungi ibu dan adik perempuannya ini.
Sedangkan Bu Winda kembali shock saat melihat wajah Azka yang seperti pinang di belah dua dengan anaknya, Raddan. Dengan langkah gemetar ia mendekati bocah lelaki itu, mengusap puncak kepalanya. “Hai, sayang. Nama kamu siapa?”
Azka yang mendapatkan usapan lembut di kepalanya menoleh, dengan sedikit bingung Azka menjawab, “Azka, Oma.”

“Hai, Oma kenalin juga nama aku Aiza, kembalannya Bang Azka!” Aiza dengan riang mengulurkan tangannya ke arah Bu Winda.
Bu Winda yang mendapat panggilan, Oma dari kedua cucunya kembali meneteskan air mata penuh kebahagiaan. Bu Winda langsung memeluk keduanya, selama ini ia telah jahat dengan memisahkan Hawa dengan Raddan, yang berimbas pada kedua cucunya ini.
“Maafin Oma...,” ucap Bu Winda setelah pelukan mereka terlepas.
Kedua anak itu hanya menatap Bu Winda dengan polos, “maksud Oma, apa?”
Hawa yang memerhatikan itu hanya bisa tersenyum. Terkadang kedua anaknya bisa sangat dewasa dalam suatu waktu namun mereka akan kembali menjadi anak kecil yang polos waktu selanjutnya.

***
Raddan yang baru kembali dari ruangan Cantika, menenangkan anak itu sebentar. Meskipun bukan anak kandungnya, tapi bagaimana pun juga ia sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Di dalam ruangan terlihat anak, istri serta ibunya tengah tertawa bahagia. Senyumnya mengembang dengan sempurna, hatinya terasa damai. Akhirnya semua impiannya bisa terwujud memiliki keluarga harmonis.
Raddan mendekati istrinya, merangkul bahunya.

Hawa sedikit terlonjak kaget, saat merasakan seseorang memeluk bahunya. Namun tidak lagi, setelah melihat ternyata suaminya yang baru saja merangkulnya.
“Sayang, kamu bahagia nggak nikah sama Mas?” tanya Raddan penasaran dengan isi hati istrinya ini.
Hawa mengambil tangan suaminya, kemudian di tautkannya tangan itu pada tangannya, “Ara bahagia, sangat bahagia. Mas itu orang yang sangat berarti dalam hidup Ara selain anak-anak.”
Raddan mendekatkan bibirnya pada kening istrinya, menciumnya dengan penuh cinta. “Makasih karena telah sabar menunggu Mas dan mau kembali lagi pada Mas. Setelah ini Mas akan berusaha membuat hari-hari kita bahagia bersama kedua anak kita.”
“Iya, Mas. Hawa berharap kita bisa membina keluarga kecil kita dengan penuh kebahagiaan.”
“Oleh karena itu, Mas ingin melakukan ini.” Meraih tangan istrinya, Raddan berlutut lalu meraih sesuatu dari saku celananya. “Maukah kamu menikah lagi denganku? Menjadikanku pelabuhan terahkir cintamu?”

Hawa membulatkan matanya saat melihat kotak perhiasan yang di dalamnya terdapat sebuah cincin dengan permana yang indah, yang disodorkan Raddan padanya. “Tapi kita kan sudah menikah? Ara juga sudah memakai cincin ini!” Hawa mengangkat jari manisnya yang berhias sebuah cincin emas, yang juga di berikan oleh suaminya waktu mereka menikah dulu.
“Lepas cincin itu, lalu ganti dengan yang ini. Karena Mas memberikan cincin itu dulu tanpa perasaan apapun, jadi pakailah cincin ini. Cincin yang Mas berikan dengan segenap perasaan cinta Mas pada kamu. Perasaan yang bahkan lebih besar dari sebelum Mas lupa ingatan.”

“Terima! Terima! Terima!” teriakan dari kedua anaknya serta ibu mertuanya membuatnya mengalihkan pandangan, tak lama kemudian ia kembali menatap suaminya itu lalu mengangguk.
“Iya, Mas. Ara terima.” Dengan segera Raddan melepaskan cincin pernikahan mereka yang dulu dari tangannya serta tangan istrinya, lalu mengantinya dengan cincin yang sudah ia persiapkan jauh-jauh hari itu.
Cup!
Dikecupnya punggung tangan istrinya serta keningnya. Hawa pun membalas mencium punghung tangan suaminya, air mata bahagia menetes membasahi wajahnya.
Raddan yang melihatnya terkejut, “sayang, kenapa kamu menangis?”
Hawa menggeleng, “Ara hanya terlalu bahagia sampai menitikkan air mata kebahagaiaan.”
“Oh.. Mas kira apa.” Raddan mengulurkan tangannya pada Hawa, membiat Hawa bingung namun tetap meraih uluran tangan itu. Raddan melangkah ke arah anak-anaknya, kemudiam di rengkuhnya semua anak-anal beserta ibunya. Sekarang waktunya hari-hari mereka akan di penuhi oleh kebahagiaan, meskipun tak selamanya akan bahagia karena cobaan akan selalu ada tapi mereka akan melewatinya dengan sabar, tawakal pada Allah SWT.

***
Sedangkan disisi lain ada Clara yang sedang meraung-raung dibalik jeruji besi. Berteriak-teriak memanggil Raddan dan terkadang juga tertawa tak jelas seperti orang gila, ekspresinya juga dapat berganti marah dengan cepat.
“Raddan! Tolong keluarin aku dari sini! Aku nggak mau disini!”
“Raddan, kamu nggak boleh giniin aku. Aku ini istri kamu yang paling cantik. Hahaha...” Clara meraih rambutnya yang bergelombang menciumnya lalu memutar-mutarkannya. “Hawa kamu harus mati!”
Buk! Buk! Buk!
Dipukul-pukulkannya tangannya pada jeruji besi, ekspresinya berganti marah.
Polisi yang berjaga disana, menelepon salah satu rumah sakit jiwa. Karena mereka para polisi sudah tidak tahan mendengar raungan Clara yang sepertinya sudah gila.
Kejahatan memang akan menang di awal tapi akan tetap kalah pada akhirnya. Seperti halnya Clara yang sangat licik dalam menggapai kebahagiaanya dan pada akhirnya ia mendapatkan balasan atas semua hal jahat yang pernah ia lakukan.
_____
Semua cerita ini hanyalah fiksi belaka, ambil hikmahnya dan buang hal negatifnya.
Masih akan ada epilog dan ektra part tunggu aja!
Salam dari penulis amatir
Syofiah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar