#SUAMI_KU
PART 36 author : Sashi Kirana
======
Kuletakkan kembali HPnya diatas nakas. Kupandangi Mas Jaya yang sedang tidur. Aku ingat perkataan Wulan seperti apa abangnya.
Aku harus siap dengan semua ini, karena sebelumnya Wulan sudah memberitahuku.
Itu hanya masa lalu Zahra dan masa depannya ada bersamamu.
Lama aku bermain dengan perasaanku sendiri. Aku tersadar dari lamunanku karena mendengar suara Mas Jaya yang sedikit meringis menahan rasa sakit.
" Kenapa kau duduk disitu, duduklah disebelahku" Ajak Mas Jaya sambil memegang tanganku.
" Aku ngeri lihat kakimu, udah bengkak begitu, sakit banget pastikan." Aku berdiri lalu mencium keningnya.
"Sayang.. terimakasih ya." Dipegangnya daguku, diarahkannya bibirnya mengecup lembut bibirku.
"Sayang, bolehkah aku bicara sesuatu?" Tanyaku pada Mas Jaya, dan duduk di sisi ranjang bersebelahan dengannya.
Dia hanya menganggukan kepala. Sebelum aku memulai pembicaraanku, kupandangi wajahnya, kutelusuri setiap inci wajah itu dengan jari telunjukku, perlahan jariku berpindah keleher dan menuju dadanya. Kubuka beberapa kancing kemeja yang dia pakai, kubuat jariku bermain didada bidangnya.
" Zahraaaa" Dipanggilnya namaku dengan suaraku dengan lembut dan sedikit mengeram. Kuletakkan wajahku dipipinya.
"Huummmm" Lalu mengecup pipinya.
"Sayang... Apakah benar kau mencintaiku?" Tanyaku sedikit berbisik ditelinganya.
"Ya, sangat mencintaimu" Ucapnya dengan suara sedikit berbisik. Mendapat jawaban darinya kukecup lagi bibirnya, jariku masih kubiarkan menelusuri dadanya.
"Sayang... hal apa yang nggak kau suka dariku?"
" Nggak ada sayang, semua darimu aku suka."
"Hehum" Dia hanya menganggukkan pelan kepalanya.
" Sayang.. Sebelum denganku, apakah kau pernah dengan yang lain?" tanyaku masih berbisik ditelinganya.
"Pernah, tapi hanya dengan satu wanita, aku berniat menikahinya, tapi Mama menolaknya. Mama bilang aku boleh menikah dengan siapapun yang aku mau, tapi tidak untuk jadi menantunya." Ucapnya dengan sangat pelan.
"sayang... Apakah aku mengenalnya?" Kutenggelamkan wajahku dilehernya, sambil tetap memberinya kecupan.
"Ya, sebelum kita kesini, kau bertemu dengannya, Ratna sengaja membawanya ke rumah untuk dia berhenti mengharapkanku."
Mas Jaya sepertinya benar-benar terbuai dengan apa yang kulakukan.
"Zahraaaa... Kau tau, kalau kau sudah membangunkannya" Suaranya sudah benar-benar berada dikerongkongan..
"Aku tau, tapi aku masih ingin berlama-lama seperti ini. Sayang... setelah denganku apa kau akan melakukan dengan wanita lain?"
" Aku sudah nggak bisa memikirkan orang lain, kau selalu punya cara tersendiri untuk menyenangkanku, kau selalu membuatku nggak bisa menjauh darimu Zahraaa."
"Terimakasih Masss.. terima kasih atas kejujuranmu. Sayangggg.. Boleh aku minta sesuatu denganmu?"
"Iya"
"Aku sangat menikmati tinggal disini, apalagi pada saat melihatmu bekerja di kebun, dengan kemeja panjang yang digulung sedikit dan membiarkan dua atau tiga buah kancing kemejamu terbuka, melihat dadamu yang ditutupi singlet, dengan topi lebarmu, kau benar-benar terlihat sexy dan menggairahkan. Apalagi pada saat keringatmu mengalir dikulitmu yang eksotis. Kau mau kita tinggal disini, membiarkanku selalu dekat denganmu."
Dibalasnya dengan anggukan, kembali kuciumin wajahnya.
"Oke sayang, udah siang, aku laper." Kuhentikan semua aksiku padanya, dan turun dari tempat tidur.
"Zahraaaaa!!!! Kauuu!!!" Dia berteriak karena aku menghentikan secara mendadak perbuatanku.
" Pikirkan kakimu sayang, kau masih sakit. Aku janji setelah kau sembuh, aku tuntaskan hutang hari ini."
Kulangkahkan kakiku menuju dapur. Kau kira aku nggak tergoda dengan ulahku sendiri Mas. Benar katamu, kita harus hidup dimasa depan Mas, bukan dimasa lalu, aku akan memaafkanmu, lagi pula kejadian itu jauh belum kita menikah.
*******
Setelah makan malam, kulihat Wulan sedikit gelisah.
"Ada apa kamu mondar mandir seperti setrikaan?" Kutanya Wulan yang sedikit gugup.
" Kak, bisa bantu Ulan bicara sama Abang?" Digenggamnya kedua tanganku.
" Boy mau kesini, Ulan udah lama pacaran dengannya secara sembunyi-sembunyi. Dia nggak bisa nunggu lama lagi, dia mau ketemu Abang."
Nggak lama terdengar pintu depan diketuk.
"Kamu temui dia, Kakak panggil Abangmu." Akupun melangkah ke dalam kamar, Mas Jaya masih sedikit kesal denganku.
" Sayang, udah marahnya. Nanti aku kasih yang kamu mau." Kukecup keningnya.
"Ayo keluar sebentar, ada yang mau ketemu sama kamu."
Kubantu dia berdiri, dan mengikuti langkahnya yang masih tertatih menahan rasa sakit. Dilihatnya Wulan yang sedang duduk dengan seorang pemuda.
Melihat Mas Jaya datang merekapun berdiri. Wulan memperkenalkan pacarnya dengan Mas Jaya. Mulai Mas Jaya melakukan introgasi kepada keduanya. Wajah dinginnya mulai menghiasi raut mukanya, tatapannya kepada Boy membuat pria itu hanya menundukkan kepala, begitu juga Wulan.
" Besok jam lima sore, Kau bawa kedua orangtuamu kemari, sebelum aku menyerahkan Adikku, aku harus tau bebet, bobot dan bibit keluargamu. Satu hal yang harus kau tau, seujung rambutnya jatuh karena aksi kekerasan darimu, kupastikan satu ruas jarimu akan hilang."
Lalu dia memandangku, dengan tatapan yang sama dinginnya. dan pergi meninggalkan kami bertiga dengan rasa hati yang mulai nggak karuan.
"Mas, kamu nggak seharusnya bicara seperti itu dengan Boy." Ucapku membuka pembicaraan di dapur, karena setelah menemui Wulan tadi, dia langsung ke arah dapur.
" Dia Adikku Zahra, nggak kau lihat pacarnya tadi, laki-laki seperti apa itu, memandangku saja dia tidak bisa, bagaimana dia bisa melindungi Adikku." Ucapnya sambil memakan buah yang sedang dipotongi oleh Mama.
" Kau boleh tanya sama Bapak bagaimana aku memintamu menjadi istriku, kedua orang tuamu saja tidak bisa bicara sampai aku pulang."
Mama hanya tersenyum melihat ucapannya.
" Kalau anakku perempuan, dan pria seperti Boy yang melamarnya aku tendang dia. Bila perlu aku patahkan kakinya." Ucapnya lagi dengan santai.
" Sekalian saja kau larang dia menikah. Biar dia hidup terus dibawah ketiakmu!" Balasku dengan sedikit ketus.
"Ya, kalau itu maumu kenapa tidak." Lalu dia tersenyum kearah Mamanya.
" Oke, hari ini aku ingin tidur dengan Wulan. Aku ingin nonton drakor dengannya sebelum dia menikah. Kau nggak tau betapa ganteng-gantengnya mereka Mas."
" Kenapa kalian para wanita senang sekali dengan pria-pria cantik itu.!"
"Karena mereka punya daya tarik tersendiri kegantengan yang hakiki" Tiba-tiba Wulam datang menimpali ucapan Abangnya dan melingkarkan tangannya dileherku.
"Kakak senang nonton drakor juga? Tapi aku nggak pernah lihat Kakak nonton."
" Abangmu akan marah kalau Kakak mengagumi lelaki lain."
"Betah sekali hidup dengan pria arogan dan posesif seperti itu?"
"Kalau kalian menggosipin orang lain tunggulah orangnya tidak ada, kalau sekarang aku mendengarnya." Melemparkan potongan kecil buah kearah Wulan, namun karena Wulan mengelak, lemparannya tepat mengenai wajahku.
" Kau maen fisik Mas!" Hardikku padanya.
"Sayang, aku nggak sengaja, Maaf." Dipandanginya Mama dan Wulan secara bergantian.
Mama dan Wulan pergi meninggalkan dapur sambil tersenyum dan serempak mengatakan " Mama_Wulan nggak liat, dan nggak ikut campur"
"Beruntung kau lagi sakit kalau nggak, habis kau!" Kutinggalkan dia sendiri.
PART 36 author : Sashi Kirana
======
Kuletakkan kembali HPnya diatas nakas. Kupandangi Mas Jaya yang sedang tidur. Aku ingat perkataan Wulan seperti apa abangnya.
Aku harus siap dengan semua ini, karena sebelumnya Wulan sudah memberitahuku.
Itu hanya masa lalu Zahra dan masa depannya ada bersamamu.
Lama aku bermain dengan perasaanku sendiri. Aku tersadar dari lamunanku karena mendengar suara Mas Jaya yang sedikit meringis menahan rasa sakit.
" Kenapa kau duduk disitu, duduklah disebelahku" Ajak Mas Jaya sambil memegang tanganku.
" Aku ngeri lihat kakimu, udah bengkak begitu, sakit banget pastikan." Aku berdiri lalu mencium keningnya.
"Sayang.. terimakasih ya." Dipegangnya daguku, diarahkannya bibirnya mengecup lembut bibirku.
"Sayang, bolehkah aku bicara sesuatu?" Tanyaku pada Mas Jaya, dan duduk di sisi ranjang bersebelahan dengannya.
Dia hanya menganggukan kepala. Sebelum aku memulai pembicaraanku, kupandangi wajahnya, kutelusuri setiap inci wajah itu dengan jari telunjukku, perlahan jariku berpindah keleher dan menuju dadanya. Kubuka beberapa kancing kemeja yang dia pakai, kubuat jariku bermain didada bidangnya.
" Zahraaaa" Dipanggilnya namaku dengan suaraku dengan lembut dan sedikit mengeram. Kuletakkan wajahku dipipinya.
"Huummmm" Lalu mengecup pipinya.
"Sayang... Apakah benar kau mencintaiku?" Tanyaku sedikit berbisik ditelinganya.
"Ya, sangat mencintaimu" Ucapnya dengan suara sedikit berbisik. Mendapat jawaban darinya kukecup lagi bibirnya, jariku masih kubiarkan menelusuri dadanya.
"Sayang... hal apa yang nggak kau suka dariku?"
" Nggak ada sayang, semua darimu aku suka."
"Hehum" Dia hanya menganggukkan pelan kepalanya.
" Sayang.. Sebelum denganku, apakah kau pernah dengan yang lain?" tanyaku masih berbisik ditelinganya.
"Pernah, tapi hanya dengan satu wanita, aku berniat menikahinya, tapi Mama menolaknya. Mama bilang aku boleh menikah dengan siapapun yang aku mau, tapi tidak untuk jadi menantunya." Ucapnya dengan sangat pelan.
"sayang... Apakah aku mengenalnya?" Kutenggelamkan wajahku dilehernya, sambil tetap memberinya kecupan.
"Ya, sebelum kita kesini, kau bertemu dengannya, Ratna sengaja membawanya ke rumah untuk dia berhenti mengharapkanku."
Mas Jaya sepertinya benar-benar terbuai dengan apa yang kulakukan.
"Zahraaaa... Kau tau, kalau kau sudah membangunkannya" Suaranya sudah benar-benar berada dikerongkongan..
"Aku tau, tapi aku masih ingin berlama-lama seperti ini. Sayang... setelah denganku apa kau akan melakukan dengan wanita lain?"
" Aku sudah nggak bisa memikirkan orang lain, kau selalu punya cara tersendiri untuk menyenangkanku, kau selalu membuatku nggak bisa menjauh darimu Zahraaa."
"Terimakasih Masss.. terima kasih atas kejujuranmu. Sayangggg.. Boleh aku minta sesuatu denganmu?"
"Iya"
"Aku sangat menikmati tinggal disini, apalagi pada saat melihatmu bekerja di kebun, dengan kemeja panjang yang digulung sedikit dan membiarkan dua atau tiga buah kancing kemejamu terbuka, melihat dadamu yang ditutupi singlet, dengan topi lebarmu, kau benar-benar terlihat sexy dan menggairahkan. Apalagi pada saat keringatmu mengalir dikulitmu yang eksotis. Kau mau kita tinggal disini, membiarkanku selalu dekat denganmu."
Dibalasnya dengan anggukan, kembali kuciumin wajahnya.
"Oke sayang, udah siang, aku laper." Kuhentikan semua aksiku padanya, dan turun dari tempat tidur.
"Zahraaaaa!!!! Kauuu!!!" Dia berteriak karena aku menghentikan secara mendadak perbuatanku.
" Pikirkan kakimu sayang, kau masih sakit. Aku janji setelah kau sembuh, aku tuntaskan hutang hari ini."
Kulangkahkan kakiku menuju dapur. Kau kira aku nggak tergoda dengan ulahku sendiri Mas. Benar katamu, kita harus hidup dimasa depan Mas, bukan dimasa lalu, aku akan memaafkanmu, lagi pula kejadian itu jauh belum kita menikah.
*******
Setelah makan malam, kulihat Wulan sedikit gelisah.
"Ada apa kamu mondar mandir seperti setrikaan?" Kutanya Wulan yang sedikit gugup.
" Kak, bisa bantu Ulan bicara sama Abang?" Digenggamnya kedua tanganku.
" Boy mau kesini, Ulan udah lama pacaran dengannya secara sembunyi-sembunyi. Dia nggak bisa nunggu lama lagi, dia mau ketemu Abang."
Nggak lama terdengar pintu depan diketuk.
"Kamu temui dia, Kakak panggil Abangmu." Akupun melangkah ke dalam kamar, Mas Jaya masih sedikit kesal denganku.
" Sayang, udah marahnya. Nanti aku kasih yang kamu mau." Kukecup keningnya.
"Ayo keluar sebentar, ada yang mau ketemu sama kamu."
Kubantu dia berdiri, dan mengikuti langkahnya yang masih tertatih menahan rasa sakit. Dilihatnya Wulan yang sedang duduk dengan seorang pemuda.
Melihat Mas Jaya datang merekapun berdiri. Wulan memperkenalkan pacarnya dengan Mas Jaya. Mulai Mas Jaya melakukan introgasi kepada keduanya. Wajah dinginnya mulai menghiasi raut mukanya, tatapannya kepada Boy membuat pria itu hanya menundukkan kepala, begitu juga Wulan.
" Besok jam lima sore, Kau bawa kedua orangtuamu kemari, sebelum aku menyerahkan Adikku, aku harus tau bebet, bobot dan bibit keluargamu. Satu hal yang harus kau tau, seujung rambutnya jatuh karena aksi kekerasan darimu, kupastikan satu ruas jarimu akan hilang."
Lalu dia memandangku, dengan tatapan yang sama dinginnya. dan pergi meninggalkan kami bertiga dengan rasa hati yang mulai nggak karuan.
"Mas, kamu nggak seharusnya bicara seperti itu dengan Boy." Ucapku membuka pembicaraan di dapur, karena setelah menemui Wulan tadi, dia langsung ke arah dapur.
" Dia Adikku Zahra, nggak kau lihat pacarnya tadi, laki-laki seperti apa itu, memandangku saja dia tidak bisa, bagaimana dia bisa melindungi Adikku." Ucapnya sambil memakan buah yang sedang dipotongi oleh Mama.
" Kau boleh tanya sama Bapak bagaimana aku memintamu menjadi istriku, kedua orang tuamu saja tidak bisa bicara sampai aku pulang."
Mama hanya tersenyum melihat ucapannya.
" Kalau anakku perempuan, dan pria seperti Boy yang melamarnya aku tendang dia. Bila perlu aku patahkan kakinya." Ucapnya lagi dengan santai.
" Sekalian saja kau larang dia menikah. Biar dia hidup terus dibawah ketiakmu!" Balasku dengan sedikit ketus.
"Ya, kalau itu maumu kenapa tidak." Lalu dia tersenyum kearah Mamanya.
" Oke, hari ini aku ingin tidur dengan Wulan. Aku ingin nonton drakor dengannya sebelum dia menikah. Kau nggak tau betapa ganteng-gantengnya mereka Mas."
" Kenapa kalian para wanita senang sekali dengan pria-pria cantik itu.!"
"Karena mereka punya daya tarik tersendiri kegantengan yang hakiki" Tiba-tiba Wulam datang menimpali ucapan Abangnya dan melingkarkan tangannya dileherku.
"Kakak senang nonton drakor juga? Tapi aku nggak pernah lihat Kakak nonton."
" Abangmu akan marah kalau Kakak mengagumi lelaki lain."
"Betah sekali hidup dengan pria arogan dan posesif seperti itu?"
"Kalau kalian menggosipin orang lain tunggulah orangnya tidak ada, kalau sekarang aku mendengarnya." Melemparkan potongan kecil buah kearah Wulan, namun karena Wulan mengelak, lemparannya tepat mengenai wajahku.
" Kau maen fisik Mas!" Hardikku padanya.
"Sayang, aku nggak sengaja, Maaf." Dipandanginya Mama dan Wulan secara bergantian.
Mama dan Wulan pergi meninggalkan dapur sambil tersenyum dan serempak mengatakan " Mama_Wulan nggak liat, dan nggak ikut campur"
"Beruntung kau lagi sakit kalau nggak, habis kau!" Kutinggalkan dia sendiri.
-----
#SUAMI_KU
PART 37
=======
Selesai Makan siang, Mas Jaya duduk diruang TV bersama Wulan, dibelainya dengan lembut rambut adiknya. Dirangkul dan diletakannya kepala sang adik untuk bersandar dibahu kekar itu.
Kamu adalah salah satu anak yang beruntung punya Papa seperti itu Nak, Mama yakin dia akan melindungi dan menjagamu dengan baik. Kita beruntung memiliki laki-laki pelindung seperti Papa. Ucap batinku sambil mengelus lembut perutku.
Aku yang menyaksikan Kakak beradik itu saling menyayangi hanya bisa tersenyum. Kupandangi wajah Mama mertuaku, dia masih terlihat masih sangat cantik, beruntung sekali Almarhum Papa mertuaku mendapatkannya. Wanita yang pernah menjadi bunga kampus dimasanya. Meskipun usianya sudah lebih setengah abad kulit wajahnya masih terlihat kencang.
"Kenapa kamu mandangi Mama seperti itu Zahra?" Pertanyaannya menyadarkanku.
"Mama masih sangat cantik, apakah Mama nggak punya keinginan menikah lagi?" Dengan spontan aku menanyakan hal itu.
"Kamu bilang apa? Mama nggak salah dengar?" Dibesarkannya mata indahnya itu.
" Hehehe maaf Ma, habis Mama masih cakep, ini bibir nggak ada remnya. Maaf ya Ma." Sambil kupukul pelan bibirku.
"Nanti setelah kamu melahirkan, Mama kasih resep tradisional keluarga Mama. Biar Suamimu makin cinta."
"Wah, Mama sama anak sama aja, sedangkan dalam keadaan sakit dan perut seperti ini saja dia masih doyan, sempat setelah lahiran Mama buat seperti itu, aku bisa nggak pernah lihat matahari terbit dan terbenam dibuatnya." Ucapku sambil bercanda.
" Biar, biar cucu Mama Banyak, rumah Mama ramai, Nggak seperti sekarang rumah Mama sepi, sakin sepinya cacing lewatpun kedengaran." Aku sedikit tercengang mendengar ucapannya. Ternyata Beliau orang yang pintar bercanda juga.
Selama aku disini, belum pernah aku mendengar dia tertawa lepas, dia selalu menampilkan kewibawaan seorang wanita, jika ada sesuatu hal yang sedikit lucu menurutnya dia hanya menyunggingkan senyum. Jika dia mendapatkan pekerja yang salahpun beliau tidak pernah memarahi didepan umum. Hampir semua pekerja menghormatinya.
"Zahra, apa permintaan Mama kemarin sudah dibicarakan dengan Heru?"
"Udah Ma, Zahra udah putuskan kita tinggal disini, rumah Zahra yang di Jakarta mungkin akan Zahra jual. Itu udah Zahra putuskan."
"Makasih ya Nak."
"Zahra yang harusnya berterima kasih sama Mama, diizinkan merawat dan menjaga Mama diusia yang senja ini."
Sore ini keluarga Boy akan datang, Mama sudah mempersiapkan cemilan yang akan disuguhkan pada tamunya.
" Mama nggak deg-degan Wulan akan dilamar?"
Beliau menatapku dengan senyum yang dipaksakan.
"Enggak, Mama lebih khawatir dengan keputusan yang akan diambil Heru."
" Apa Mas Jaya akan menolaknya?"
Mama hanya mengangkat kedua bahunya.
*******
Tepat jam 5 sore, kedua orang tua boy datang. Mas Jaya sebelumnya meminta aku, Wulan dan Mama berpakaian apa adanya.
Terlihat kedua orang tua Boy seperti orang berada. Sedikitpun kulihat nggak ada raut senyum diwajah Mas Jaya, dia hanya memperhatikan Boy, sesekali menanggapi ucapan-ucapan Papanya Boy dengan jawaban tidak tau, mungkin juga.
Mama yang melihat itu mengambil inisiatif untuk banyak bertanya dengan dengan Mama Boy.
" Boy, apakah kamu nggak mengatakan kepada orangtuamu apa maksud kedatangan mereka kesini?" Tanya Mas Jaya dengan tatapan yang tajam.
" Belum Kak, Boy cuma bilang diundang minum teh sama keluarga Wulan, untuk saling kenal." Ucap boy sambil menundukkan kepalanya.
Mas Jaya langsung mengalihkan pandangannya kepada adiknya.
Mas Jaya mengambil Nafas dalam dan membuangnya dengan kasar.
" Sebelumnya saya minta Maaf jika kelak ucapan saya mengecewakan kamu Boy, saya menolak lamaran kamu. Alasannya satu, kita nggak sebanding Boy. Wulan tidak sebanding denganmu, Papamu seorang pengusaha, pemilik saham sebesar 70% di perusahaan XX, dan 30% perusahaan Papamu adalah milik HS group. Bukan begitu Bapak?"
Dipandangnya wajah orang tua Boy dengan seksama.
"Alasan kedua, saya tidak akan memberikan Adik saya kepada seorang pembohong dan pengangguran seperti kamu. Selama ini kamu kerap meminta bantuan kepada Wulan dengan alasan usaha bengkel kamu. Bengkel itu adalah bengkel suatu perusahaan besar di Jakarta, dan teman kamu yang menjadi Manager di bengkel itu. Berkat bantuan dia kamu memanfaatkan Adik saya dengan mengatakan itu bengkel kamu. Dan sekali lagi saya katakan itu adalah milik HS Group."
Aku benar-benar tercengang mendengar ucapan suamiku itu. Sekilas dia memandangku dengan ekor matanya.
"Alasan ketiga berkaitan dengan alasan yang pertama, rumah dan perkebunan yang kami kelola bukan milik saya, karena saya hanya pekerja, begitu juga Wulan, dia bekerja sebagai pengawas lapangan di kebun ini. Ibu saya hanya tukang masak di kebun ini, dan saya hanya diberikan kepercayaan menjalankan usaha ini. Jika pemiliknya menyuruh kami pergi maka kamipun akan pergi."
"Sekali lagi saya menolak lamaran ini, meskipun saya tahu kalian sudah pacaran selama empat tahun, enam bulan, dan sepuluh hari."
Selesai mengucapkan itu Mas Jaya pamit ke Kamar untuk istirahat karena alasan dia butuh istirahat.
Orang tua Boy langsung pergi tanpa mengucapkan apapun, diikuti oleh anaknya. Tinggal kami bertiga di ruang tamu saling pandang.
" Bagaimana Abang tau aku pacaran sama Boy selama itu?" Ucap Wulan dengan suara yang pelan, tapi aku masih cukup jelas mendengarnya.
" Kau kecewa dengan Abangmu?" Kupandang wajah manis yang ada dihadapanku.
Dia hanya menggeleng. "Aku tau keputusannya seperti itu, karena dia sayang denganku."
Mama memeluk kami berdua. Aku pamit ke dalam kamar untuk menemui Mas Jaya.
"Kalau kau datang untuk mempertanyakan kejadian barusan, aku nggak punya waktu menjawabnya Zahra." Ucap Mas Jaya dingin begitu melihatku masuk.
" Sayanggg sebegitu buruknyakah aku sampai kau berkata begitu?" Dengan menundukan wajah dan sedikit memajukan bibirku.
"Duduklah sini, tapi jangan menggodaku lagi." Dipukulnya sisi tempat tidur disebelahnya. Aku tersenyum mendengar perkataannya. Akupun duduk disebelahnya, meletakkan kepalaku dibahunya.
"Mas, sebelumnya aku minta maaf atas kelancanganku, kemarin siang Aku membuka HP mu, aku sempat melihat fotomu dengan Mbak Tia."
Dijatuhkannya kepalanya diatas kepalaku yang bersandar dibahunya.
"Aku yang minta maaf, karena membiarkanmu melihat itu. Dulu aku suka minum-minum Zahra, banyak yang kupacari, tapi dengan Tia aku ingin serius, sampai aku melakukan hal itu. Pada saat dia tau Mama tidak setuju, dia pergi meninggalkanku, dan menggugurkan kandungannya.
Sementara aku menginginkan anak itu Zahra. Setelah sekian lama, dia mengajak kembali, mengirim semua kenangan yang ada antara aku dan dia. Pada saat aku mengatakan aku sudah menikah dia nggak percaya. Makanya Ratna datang ke rumah biar Tia lihat sendiri."
"Aku percaya denganmu Mas. Mass.. Mama meminta kita tinggal disini, rumah yang di Jakarta jual aja, kasihan Bi Ijah sendirian, kalau rumah itu dijual, bawalah dia kesini."
Dimiringkannya kepalanya dan mengecup kepalaku.
"Rumah itu milikmu, aku akan menyuruh Mas Wisnu menempati rumah itu, kasihan dia kalau ngontrak terus."
Tanpa terasa air mataku jatuh mendengar ucapannya.
"Sampai sejauh ini kau memikirkan keluargaku Mas. Bapak berkali-kali mau membantunya untuk beli rumah, tapi dia selalu menolak. Dia ingin beli rumah dari hasil keringatnya sendiri. Aku jadi rindu dengan keluargaku."
"Zahra, dia satu-satunya saudaramu, kehidupannya berbanding terbalik dengan kehidupanmu, nggak ada salahnya kita berbagi dengannya, setidaknya kita menyenangkan Kiara, bagaimanapun dia keponakanmu, itu juga artinya Kiara anakmu, anak kita juga."
"Bapak pasti bangga punya menantu sepertimu."
"Dan aku bangga punya Bapak Mertua seperti dia, yang memiliki permata sepertimu."
"Yang pasti aku dan bayi kita bangga punya suami dan Papa sepertimu." Kukecup pipinya.
"Cepatlah sembuh, aku nggak tahan nggak menjahilimu." Lalu kucium bibirnya.
"Jangan goda aku lagi, kau menyiksaku tau."
********
Seminggu sudah kejadian Mas Jaya menolak lamaran Boy, Wulan terlihat biasa saja, dia lebih menikmati pekerjaannya tanpa ada beban lagi.
Mas Jaya sudah agak baikan, meskipun dia masih harus menggunakan alat bantu untuk berjalan, setidaknya luka jahitan dikakinya sudah membaik. Kandunganku juga sudah memasuki usia tujuh bulan.
Sore itu aku duduk di bangku taman di halaman rumah, Aku dan Mas Jaya melihat Wulan pulang diantar seorang pria yang cukup manis, menurut pandanganku.
" Dia cocok untuk Wulan?" Tanya Mas Jaya.
" Nggak tau nanti Mas tolak lagi." Jawabku.
" Dia yatim piatu, salah satu mandor kita, dia sudah lama suka dengan Wulan, dan Mama menyukainya, karena dia anak yang baik. Aku ingin menjodohkannya dengan Wulan. Kalau mereka menikah, rumah ini aku serahkan dengan Wulan, Mama sama kita tinggal di rumah yang di kebun."
"Aku nggak penting kita tinggal dimana, yang penting aku tinggal denganmu, dan tidur dengan mencium aroma tubuhmu. Aku nggak bisa lepas dari bau kelekmu"
" Jadi selama ini kau mencium dadaku, dan berlama-lama disana karena aroma itu? Ih kau jorok sekali" Ucapnya begidik geli.
" Wangi Mas... " Kudekatkan hidungku kearah pangkal lengannya.
"Geli Zahra." Dia berusaha menolakku menjauhinya, tapi aku selalu menarik bajunya. Aku tau itu adalah salah satu sisi paling sensitif dari dirinya.
-------
PART 37
=======
Selesai Makan siang, Mas Jaya duduk diruang TV bersama Wulan, dibelainya dengan lembut rambut adiknya. Dirangkul dan diletakannya kepala sang adik untuk bersandar dibahu kekar itu.
Kamu adalah salah satu anak yang beruntung punya Papa seperti itu Nak, Mama yakin dia akan melindungi dan menjagamu dengan baik. Kita beruntung memiliki laki-laki pelindung seperti Papa. Ucap batinku sambil mengelus lembut perutku.
Aku yang menyaksikan Kakak beradik itu saling menyayangi hanya bisa tersenyum. Kupandangi wajah Mama mertuaku, dia masih terlihat masih sangat cantik, beruntung sekali Almarhum Papa mertuaku mendapatkannya. Wanita yang pernah menjadi bunga kampus dimasanya. Meskipun usianya sudah lebih setengah abad kulit wajahnya masih terlihat kencang.
"Kenapa kamu mandangi Mama seperti itu Zahra?" Pertanyaannya menyadarkanku.
"Mama masih sangat cantik, apakah Mama nggak punya keinginan menikah lagi?" Dengan spontan aku menanyakan hal itu.
"Kamu bilang apa? Mama nggak salah dengar?" Dibesarkannya mata indahnya itu.
" Hehehe maaf Ma, habis Mama masih cakep, ini bibir nggak ada remnya. Maaf ya Ma." Sambil kupukul pelan bibirku.
"Nanti setelah kamu melahirkan, Mama kasih resep tradisional keluarga Mama. Biar Suamimu makin cinta."
"Wah, Mama sama anak sama aja, sedangkan dalam keadaan sakit dan perut seperti ini saja dia masih doyan, sempat setelah lahiran Mama buat seperti itu, aku bisa nggak pernah lihat matahari terbit dan terbenam dibuatnya." Ucapku sambil bercanda.
" Biar, biar cucu Mama Banyak, rumah Mama ramai, Nggak seperti sekarang rumah Mama sepi, sakin sepinya cacing lewatpun kedengaran." Aku sedikit tercengang mendengar ucapannya. Ternyata Beliau orang yang pintar bercanda juga.
Selama aku disini, belum pernah aku mendengar dia tertawa lepas, dia selalu menampilkan kewibawaan seorang wanita, jika ada sesuatu hal yang sedikit lucu menurutnya dia hanya menyunggingkan senyum. Jika dia mendapatkan pekerja yang salahpun beliau tidak pernah memarahi didepan umum. Hampir semua pekerja menghormatinya.
"Zahra, apa permintaan Mama kemarin sudah dibicarakan dengan Heru?"
"Udah Ma, Zahra udah putuskan kita tinggal disini, rumah Zahra yang di Jakarta mungkin akan Zahra jual. Itu udah Zahra putuskan."
"Makasih ya Nak."
"Zahra yang harusnya berterima kasih sama Mama, diizinkan merawat dan menjaga Mama diusia yang senja ini."
Sore ini keluarga Boy akan datang, Mama sudah mempersiapkan cemilan yang akan disuguhkan pada tamunya.
" Mama nggak deg-degan Wulan akan dilamar?"
Beliau menatapku dengan senyum yang dipaksakan.
"Enggak, Mama lebih khawatir dengan keputusan yang akan diambil Heru."
" Apa Mas Jaya akan menolaknya?"
Mama hanya mengangkat kedua bahunya.
*******
Tepat jam 5 sore, kedua orang tua boy datang. Mas Jaya sebelumnya meminta aku, Wulan dan Mama berpakaian apa adanya.
Terlihat kedua orang tua Boy seperti orang berada. Sedikitpun kulihat nggak ada raut senyum diwajah Mas Jaya, dia hanya memperhatikan Boy, sesekali menanggapi ucapan-ucapan Papanya Boy dengan jawaban tidak tau, mungkin juga.
Mama yang melihat itu mengambil inisiatif untuk banyak bertanya dengan dengan Mama Boy.
" Boy, apakah kamu nggak mengatakan kepada orangtuamu apa maksud kedatangan mereka kesini?" Tanya Mas Jaya dengan tatapan yang tajam.
" Belum Kak, Boy cuma bilang diundang minum teh sama keluarga Wulan, untuk saling kenal." Ucap boy sambil menundukkan kepalanya.
Mas Jaya langsung mengalihkan pandangannya kepada adiknya.
Mas Jaya mengambil Nafas dalam dan membuangnya dengan kasar.
" Sebelumnya saya minta Maaf jika kelak ucapan saya mengecewakan kamu Boy, saya menolak lamaran kamu. Alasannya satu, kita nggak sebanding Boy. Wulan tidak sebanding denganmu, Papamu seorang pengusaha, pemilik saham sebesar 70% di perusahaan XX, dan 30% perusahaan Papamu adalah milik HS group. Bukan begitu Bapak?"
Dipandangnya wajah orang tua Boy dengan seksama.
"Alasan kedua, saya tidak akan memberikan Adik saya kepada seorang pembohong dan pengangguran seperti kamu. Selama ini kamu kerap meminta bantuan kepada Wulan dengan alasan usaha bengkel kamu. Bengkel itu adalah bengkel suatu perusahaan besar di Jakarta, dan teman kamu yang menjadi Manager di bengkel itu. Berkat bantuan dia kamu memanfaatkan Adik saya dengan mengatakan itu bengkel kamu. Dan sekali lagi saya katakan itu adalah milik HS Group."
Aku benar-benar tercengang mendengar ucapan suamiku itu. Sekilas dia memandangku dengan ekor matanya.
"Alasan ketiga berkaitan dengan alasan yang pertama, rumah dan perkebunan yang kami kelola bukan milik saya, karena saya hanya pekerja, begitu juga Wulan, dia bekerja sebagai pengawas lapangan di kebun ini. Ibu saya hanya tukang masak di kebun ini, dan saya hanya diberikan kepercayaan menjalankan usaha ini. Jika pemiliknya menyuruh kami pergi maka kamipun akan pergi."
"Sekali lagi saya menolak lamaran ini, meskipun saya tahu kalian sudah pacaran selama empat tahun, enam bulan, dan sepuluh hari."
Selesai mengucapkan itu Mas Jaya pamit ke Kamar untuk istirahat karena alasan dia butuh istirahat.
Orang tua Boy langsung pergi tanpa mengucapkan apapun, diikuti oleh anaknya. Tinggal kami bertiga di ruang tamu saling pandang.
" Bagaimana Abang tau aku pacaran sama Boy selama itu?" Ucap Wulan dengan suara yang pelan, tapi aku masih cukup jelas mendengarnya.
" Kau kecewa dengan Abangmu?" Kupandang wajah manis yang ada dihadapanku.
Dia hanya menggeleng. "Aku tau keputusannya seperti itu, karena dia sayang denganku."
Mama memeluk kami berdua. Aku pamit ke dalam kamar untuk menemui Mas Jaya.
"Kalau kau datang untuk mempertanyakan kejadian barusan, aku nggak punya waktu menjawabnya Zahra." Ucap Mas Jaya dingin begitu melihatku masuk.
" Sayanggg sebegitu buruknyakah aku sampai kau berkata begitu?" Dengan menundukan wajah dan sedikit memajukan bibirku.
"Duduklah sini, tapi jangan menggodaku lagi." Dipukulnya sisi tempat tidur disebelahnya. Aku tersenyum mendengar perkataannya. Akupun duduk disebelahnya, meletakkan kepalaku dibahunya.
"Mas, sebelumnya aku minta maaf atas kelancanganku, kemarin siang Aku membuka HP mu, aku sempat melihat fotomu dengan Mbak Tia."
Dijatuhkannya kepalanya diatas kepalaku yang bersandar dibahunya.
"Aku yang minta maaf, karena membiarkanmu melihat itu. Dulu aku suka minum-minum Zahra, banyak yang kupacari, tapi dengan Tia aku ingin serius, sampai aku melakukan hal itu. Pada saat dia tau Mama tidak setuju, dia pergi meninggalkanku, dan menggugurkan kandungannya.
Sementara aku menginginkan anak itu Zahra. Setelah sekian lama, dia mengajak kembali, mengirim semua kenangan yang ada antara aku dan dia. Pada saat aku mengatakan aku sudah menikah dia nggak percaya. Makanya Ratna datang ke rumah biar Tia lihat sendiri."
"Aku percaya denganmu Mas. Mass.. Mama meminta kita tinggal disini, rumah yang di Jakarta jual aja, kasihan Bi Ijah sendirian, kalau rumah itu dijual, bawalah dia kesini."
Dimiringkannya kepalanya dan mengecup kepalaku.
"Rumah itu milikmu, aku akan menyuruh Mas Wisnu menempati rumah itu, kasihan dia kalau ngontrak terus."
Tanpa terasa air mataku jatuh mendengar ucapannya.
"Sampai sejauh ini kau memikirkan keluargaku Mas. Bapak berkali-kali mau membantunya untuk beli rumah, tapi dia selalu menolak. Dia ingin beli rumah dari hasil keringatnya sendiri. Aku jadi rindu dengan keluargaku."
"Zahra, dia satu-satunya saudaramu, kehidupannya berbanding terbalik dengan kehidupanmu, nggak ada salahnya kita berbagi dengannya, setidaknya kita menyenangkan Kiara, bagaimanapun dia keponakanmu, itu juga artinya Kiara anakmu, anak kita juga."
"Bapak pasti bangga punya menantu sepertimu."
"Dan aku bangga punya Bapak Mertua seperti dia, yang memiliki permata sepertimu."
"Yang pasti aku dan bayi kita bangga punya suami dan Papa sepertimu." Kukecup pipinya.
"Cepatlah sembuh, aku nggak tahan nggak menjahilimu." Lalu kucium bibirnya.
"Jangan goda aku lagi, kau menyiksaku tau."
********
Seminggu sudah kejadian Mas Jaya menolak lamaran Boy, Wulan terlihat biasa saja, dia lebih menikmati pekerjaannya tanpa ada beban lagi.
Mas Jaya sudah agak baikan, meskipun dia masih harus menggunakan alat bantu untuk berjalan, setidaknya luka jahitan dikakinya sudah membaik. Kandunganku juga sudah memasuki usia tujuh bulan.
Sore itu aku duduk di bangku taman di halaman rumah, Aku dan Mas Jaya melihat Wulan pulang diantar seorang pria yang cukup manis, menurut pandanganku.
" Dia cocok untuk Wulan?" Tanya Mas Jaya.
" Nggak tau nanti Mas tolak lagi." Jawabku.
" Dia yatim piatu, salah satu mandor kita, dia sudah lama suka dengan Wulan, dan Mama menyukainya, karena dia anak yang baik. Aku ingin menjodohkannya dengan Wulan. Kalau mereka menikah, rumah ini aku serahkan dengan Wulan, Mama sama kita tinggal di rumah yang di kebun."
"Aku nggak penting kita tinggal dimana, yang penting aku tinggal denganmu, dan tidur dengan mencium aroma tubuhmu. Aku nggak bisa lepas dari bau kelekmu"
" Jadi selama ini kau mencium dadaku, dan berlama-lama disana karena aroma itu? Ih kau jorok sekali" Ucapnya begidik geli.
" Wangi Mas... " Kudekatkan hidungku kearah pangkal lengannya.
"Geli Zahra." Dia berusaha menolakku menjauhinya, tapi aku selalu menarik bajunya. Aku tau itu adalah salah satu sisi paling sensitif dari dirinya.
-------
#SUAMI_KU
PART 38
========
Sepertinya Mas Jaya memang niat sekali ingin menjodohkan Wulan dengan Doni. Hampir setiap hari dia mengajak Doni makan malam di rumah, dengan alasan membicarakan tentang pekerjaan. Mas Jaya memang belum datang ke perkebunan sejak dia mengalami insiden waktu itu, karena sampai saat inipun kakinya masih terasa sakit kalau dibawa berjalan.
Melihat kehamilanku yang sudah lumayan besar dia juga terkadang merasa khawatir.
Mama yang tau rasanya seperti apa wanita hamil, sering menghiburku, terkadang sering mengusap pelan pinggangku.
Pagi setelah semuanya sarapan, nggak lama mereka akan pergi melakukan aktifitas masing-masing, tinggal aku dan Mas Jaya. Setelah menutup pintu, aku memilih duduk di ruang TV. Mas Jaya masih sibuk dengan kertas kerjanya. yang nggak jauh dari ruang TV, karena di rumah ini nggak ada ruang kerja.
Melihatku yang sebentar berdiri, sebentar berjalan, sebentar duduk, ternyata mengganggu konsentrasi Mas Jaya dalam bekerja. Pada saat aku mulai duduk kembali di kursi Mas Jaya menghampiriku.
" Apanya yang sakit?" Tanya Mas jaya dengan raut wajah khawatir.
Aku hanya menggeleng. Diraihnya kepalaku setelah itu dikecupnya puncak kepalaku.
"Aku nggak tega lihat kamu seperti ini, lama banget sih kamu lahirannya."
"Ngak apa-apa Mas, nggak usah khawatir gitu, nanti udah waktunya juga bakal lahiran."
"Kalau bisa, biar sakitnya pindah keaku aja."
"Kamu nggak bakal sanggup, biar aku aja ya. Lagipula kamu baru sakit gitu aja, mandinya sampe sekarang masih aku yang mandiin, apalagi km ngerasain nggak enaknya Ibu hamil."
"Emang rasanya gimana sih?" Lalu dia pindah duduk di lantai, sambil memegang lututku.
"Kamu benar mau tau?"
"Hu'um"
"Mulai dari tiga bulan pertama, rasa badan sakit semua, rasa sakitnya seperti daging yang lepas dari tulang" Sedikit kutambahi untuk melihat reaksinya.
"Makanya mau makan aja rasanya nggak bisa, karena badan pada ngilu semua, trus juga perut rasanya mual aja."
"Sesakit itu?" Tanyanya sedikit merasakan ketakutan.
"Huumm.. Apalagi nanti pas lahiran, rasanya tulang belulang ini sakitnya seperti tulang yang dipatahkan sebanyak 20 kali."
"Jangan nakutin Zahra."
"Kalau kamu nggak percaya tanya Mamalah, makanya jangan jadi anak durhaka, apakata Mama turutilah, liat aku seperti ini aja kamu nggak tegakan. Begitu jugalah waktu Mama hamil kamu Mas."
Kubelai rambutnya.
" Apakah jalan hidupku yang seperti ini karena aku durhaka dengan Mama ya.. Dulu Mama melarangku pergi, tapi aku berkeras pergi, mungkin hatinya terluka karena kepergianku." Ditundukkannya wajahnya, seperti menyesali perbuatannya.
Kuminta Mas Jaya untuk duduk disebelahku.
" Kalau kamu nggak pergi kamu nggak berhasil seperti ini, dan satu yang perlu kamu tau, kamu nggak akan nakal, dan yang pasti nggak akan ketemu aku" Kukecup pipinya.
" Kau bisa aja menghiburku. Ntah dimana aku cari istri seperti kamu lagi."
" Kalau ada yang lebih baik dari aku, aku izinkan kamu nikah lagi, tapi harus lebih dari aku. Kalau dibawah aku kwalitasnya, jangan, buat sakit kepala aja."
Mendengar ucapanku dia jadi tertawa.
"Kau sangat pandai mengaduk-aduk hati dan perasaanku Zahra, udah kau lambungkan aku setinggi-tingginya, trus kau hempaskan aku sekuat-kuatnya."
Kubalas ucapannya dengan senyuman tipis. Melihat Mas Jaya tertawa rasanya bahagia rasanya hatiku.
"Mas, dari pada kamu nggak ada kerjaan, ambil wudhu gih, trus ngaji, biar dia terbiasa dengar suara ngaji papanya."
Diapun pergi mengambil wudhu, setelah itu duduk kembali disampingku mulai melantunkan Ayat-ayat Suci Alqur'an.
Kupejamkan mataku mendengar lantunan ayat yang dibacanya.
********
Selesai Shalat Subuh, Mas Jaya mengajakku untuk jalan pagi, Wulanpun minta ikut. Meskipun usianya lebih tua beberapa tahun dariku tapi sifat manjanya juga lebih dariku. Namun aku suka dengan kemanjaannya. Aku benar-benar menjadi seorang Kakak.
" Kau sudah pantas menikah Wulan, usiamu sudah 25tahun, rubahlah sifat manjamu." Ucap Mas Jaya memperingati adiknya.
" Bang, kalau bukan Abang menolak Boy, aku mungkin sudah menikah."
" Masih saja kau harapkan laki-laki seperti itu. Kalau aku carikan laki-laki buatmu apa kamu mau?"
" Nggak, aku mau yang sama-sama saling mencintai. Menikah karena cinta."
Aku yang mendengar ucapan Wulan hanya bisa tersenyum.
"Seperti Kakak sama Abangkan menikah karena saling mencintai, makanya kalian selalu romantis."
Aku dan Mas Jaya saling pandang.
"Ceritakan padaku dimana kalian kenalan?" Tanya Wulan.
" Kamu memang mau tau?" Tanyaku antusias.
Dia menganggukkan kepalanya dengan mantap.
" Kakak kenalan sama Abangmu diacara ijab kabul." Ucapku sambil tersenyum.
"Dan kami pacaran setelah kami menikah." Mas Jaya menimpali ucapanku.
Wulan yang selalu berjalan di depan kami menghentikan langkahnya.
"Kalau gitu, nikahkan aku Bang, aku percaya sama pilihanmu."
"Kau benaran mau?, Nggak nolak dengan pilihanku? Sekalipun dia udah tua dan jelek?"
"Aku percaya kau nggak akan menjerumuskanku kepada orang seperti Datuk Maringgih Bang."
Rasany udah terlalu jauh kami berjalan, aku juga udah mulai merasa capek. Kuminta mereka untuk pulang.
Disepanjang jalan kembali ke rumah, aku hanya diam menyaksikan Kakak dan Adik itu saling bercanda. Sebenarnya Aku ingin melahirkan di Jakarta, tinggal di rumah Ibuku, tapi keinginan itu harus kupupus. Disaat mereka bercanda seperti itu, aku jadi rindu sama Mas Wisnu. Sejak dia menikah, aku seperti kehilangan dirinya.
Cuma Bapak dan Tante Mayalah yang ada untukku, Ibu sendiri lebih dominan memberikan kasih sayangnya kepada Kakakku itu.
Aku memilih menikah, karena aku capek mendengar Bapak selalu dimarahi Ibu. Ibu yang selalu punya ego yang kuat, yang paling sakit apabila ada tetangga yang hidup lebih darinya.
Sesampai di rumah, Aku dapati Mama yang lagi menyulam dari benang rajutan.
" Mama buat apa?"
"Mama mau buat sweater buat cucu Mama, nanti kita beli perlengkapan bayi, hari ini Mama nggak ke kebun."
"Nurut ajalah, dari pada dibilang menantu durhaka. Ya Mas?" Ucapku terseyum sambil melihat Mas Jaya.
Mas Jaya yang berdiri disampingku langsung mengusap kepalaku.
Akupun permisi meninggalkan Mama dan Mas Jaya, masuk ke kamar, untuk mandi karena aku udah mulai gerah.
Di kamar mandi aku tumpahkan semua air mataku. Kasih sayang seorang Ibu benar-benar kudapatkan dikeluarga ini. Keluarga yang sempat berantakan, tapi banyak cinta.
"Kamu menangis kenapa Zahra?" Suara Mas Jaya mengagetkanku.
"Aku bahagia aja lihat kamu bisa baikan lagi dengan Mama Mas." Kupeluk Mas Jaya yang berdiri dihadapanku, kuluapkan tangisku didadanya.
"Sampai aku melahirkan jangan buat aku sedih lagi ya. Aku sayang sama kamu Mas. Makasih atas semua yang udah kamu beri untukku. Aku janji akan berusaha jadi istri yang menurut denganmu. Aku minta maaf kalau selama ini aku banyak salah sama kamu Mas"
" Kau jorok sekali, mengelapkan ingusmu dibajuku."
Kupukul dadanya. Dan dia tertawa dengan perlakuanku. Berkali-kali dia mencium kepalaku.
" Jangan nangis lagi, aku nggak bisa lihat kamu nangis, terlalu sakit rasanya."
"Aku cuma terharu dan merasa bahagia lihat kamu udah baikan sama Mama. Kamu keluar gih, aku mau mandi."
"Mandi sama kita."
Kudorong tubuhnya biar dia keluar dari kamar mandi.
"Aku bisa lama mandi sama kamu."
" Aku janji nggak macem-macem, cuma mandi doang." Ditahannya tubuhnya biar nggak kelur dari kamar mandi.
" Nggak percaya. Makhluk kecil itu nggak bisa dipercaya. Dia nggak bisa mengkondisikan keadaan. Udah keluar deh."
"Katanya tadi akan nurut sama suami, eh giliran minta mandi berdua nolak."
" Ya udah, tapi kalau dia macam-macam aku pukul dia pakai gayung."
"Nggak jadi deh, kamu mandi sendiri aja, kamu horor." Lalu dia keluar dari kamar Mandi.
Aku cuma tersenyum melihat tingkahnya. Aku bahagia punya suami seperti kamu Mas.
Selesai mandi aku duduk di ruang TV. Rasanya kakiku pegal banget habis jalan tadi.
Mama yang melihatku duduk sambil sedikit memijit betisku, memilih ikut duduk disampingku.
"Kamu kecapean Nak?"
Pertanyaan Mama hanya kujawab dengan anggukan. Disuruhnya Wulan mengambil minyak kelapa di kamarnya.
Pada saat Mama ingin memijit kakiku, berkali-kali kutolak.
Mas Jaya datang mendekatiku. "Tolong katakan sama Mama suruh berhenti." Pintaku sama Mas Jaya. Tapi tetap aja dia nggak mau menghentikannya.
Dengan alasan aku mengantuk, akhirnya Mama menghentikan apa yang dibuatnya padaku. Semakin lama aku merasa semakin nggak enak tinggal di rumah ini. Perlakuan Mama padaku, sangat berlebihan menurutku. Aku takut aku jadi lupa diri diperlakukan terus seperti itu.
-----
PART 38
========
Sepertinya Mas Jaya memang niat sekali ingin menjodohkan Wulan dengan Doni. Hampir setiap hari dia mengajak Doni makan malam di rumah, dengan alasan membicarakan tentang pekerjaan. Mas Jaya memang belum datang ke perkebunan sejak dia mengalami insiden waktu itu, karena sampai saat inipun kakinya masih terasa sakit kalau dibawa berjalan.
Melihat kehamilanku yang sudah lumayan besar dia juga terkadang merasa khawatir.
Mama yang tau rasanya seperti apa wanita hamil, sering menghiburku, terkadang sering mengusap pelan pinggangku.
Pagi setelah semuanya sarapan, nggak lama mereka akan pergi melakukan aktifitas masing-masing, tinggal aku dan Mas Jaya. Setelah menutup pintu, aku memilih duduk di ruang TV. Mas Jaya masih sibuk dengan kertas kerjanya. yang nggak jauh dari ruang TV, karena di rumah ini nggak ada ruang kerja.
Melihatku yang sebentar berdiri, sebentar berjalan, sebentar duduk, ternyata mengganggu konsentrasi Mas Jaya dalam bekerja. Pada saat aku mulai duduk kembali di kursi Mas Jaya menghampiriku.
" Apanya yang sakit?" Tanya Mas jaya dengan raut wajah khawatir.
Aku hanya menggeleng. Diraihnya kepalaku setelah itu dikecupnya puncak kepalaku.
"Aku nggak tega lihat kamu seperti ini, lama banget sih kamu lahirannya."
"Ngak apa-apa Mas, nggak usah khawatir gitu, nanti udah waktunya juga bakal lahiran."
"Kalau bisa, biar sakitnya pindah keaku aja."
"Kamu nggak bakal sanggup, biar aku aja ya. Lagipula kamu baru sakit gitu aja, mandinya sampe sekarang masih aku yang mandiin, apalagi km ngerasain nggak enaknya Ibu hamil."
"Emang rasanya gimana sih?" Lalu dia pindah duduk di lantai, sambil memegang lututku.
"Kamu benar mau tau?"
"Hu'um"
"Mulai dari tiga bulan pertama, rasa badan sakit semua, rasa sakitnya seperti daging yang lepas dari tulang" Sedikit kutambahi untuk melihat reaksinya.
"Makanya mau makan aja rasanya nggak bisa, karena badan pada ngilu semua, trus juga perut rasanya mual aja."
"Sesakit itu?" Tanyanya sedikit merasakan ketakutan.
"Huumm.. Apalagi nanti pas lahiran, rasanya tulang belulang ini sakitnya seperti tulang yang dipatahkan sebanyak 20 kali."
"Jangan nakutin Zahra."
"Kalau kamu nggak percaya tanya Mamalah, makanya jangan jadi anak durhaka, apakata Mama turutilah, liat aku seperti ini aja kamu nggak tegakan. Begitu jugalah waktu Mama hamil kamu Mas."
Kubelai rambutnya.
" Apakah jalan hidupku yang seperti ini karena aku durhaka dengan Mama ya.. Dulu Mama melarangku pergi, tapi aku berkeras pergi, mungkin hatinya terluka karena kepergianku." Ditundukkannya wajahnya, seperti menyesali perbuatannya.
Kuminta Mas Jaya untuk duduk disebelahku.
" Kalau kamu nggak pergi kamu nggak berhasil seperti ini, dan satu yang perlu kamu tau, kamu nggak akan nakal, dan yang pasti nggak akan ketemu aku" Kukecup pipinya.
" Kau bisa aja menghiburku. Ntah dimana aku cari istri seperti kamu lagi."
" Kalau ada yang lebih baik dari aku, aku izinkan kamu nikah lagi, tapi harus lebih dari aku. Kalau dibawah aku kwalitasnya, jangan, buat sakit kepala aja."
Mendengar ucapanku dia jadi tertawa.
"Kau sangat pandai mengaduk-aduk hati dan perasaanku Zahra, udah kau lambungkan aku setinggi-tingginya, trus kau hempaskan aku sekuat-kuatnya."
Kubalas ucapannya dengan senyuman tipis. Melihat Mas Jaya tertawa rasanya bahagia rasanya hatiku.
"Mas, dari pada kamu nggak ada kerjaan, ambil wudhu gih, trus ngaji, biar dia terbiasa dengar suara ngaji papanya."
Diapun pergi mengambil wudhu, setelah itu duduk kembali disampingku mulai melantunkan Ayat-ayat Suci Alqur'an.
Kupejamkan mataku mendengar lantunan ayat yang dibacanya.
********
Selesai Shalat Subuh, Mas Jaya mengajakku untuk jalan pagi, Wulanpun minta ikut. Meskipun usianya lebih tua beberapa tahun dariku tapi sifat manjanya juga lebih dariku. Namun aku suka dengan kemanjaannya. Aku benar-benar menjadi seorang Kakak.
" Kau sudah pantas menikah Wulan, usiamu sudah 25tahun, rubahlah sifat manjamu." Ucap Mas Jaya memperingati adiknya.
" Bang, kalau bukan Abang menolak Boy, aku mungkin sudah menikah."
" Masih saja kau harapkan laki-laki seperti itu. Kalau aku carikan laki-laki buatmu apa kamu mau?"
" Nggak, aku mau yang sama-sama saling mencintai. Menikah karena cinta."
Aku yang mendengar ucapan Wulan hanya bisa tersenyum.
"Seperti Kakak sama Abangkan menikah karena saling mencintai, makanya kalian selalu romantis."
Aku dan Mas Jaya saling pandang.
"Ceritakan padaku dimana kalian kenalan?" Tanya Wulan.
" Kamu memang mau tau?" Tanyaku antusias.
Dia menganggukkan kepalanya dengan mantap.
" Kakak kenalan sama Abangmu diacara ijab kabul." Ucapku sambil tersenyum.
"Dan kami pacaran setelah kami menikah." Mas Jaya menimpali ucapanku.
Wulan yang selalu berjalan di depan kami menghentikan langkahnya.
"Kalau gitu, nikahkan aku Bang, aku percaya sama pilihanmu."
"Kau benaran mau?, Nggak nolak dengan pilihanku? Sekalipun dia udah tua dan jelek?"
"Aku percaya kau nggak akan menjerumuskanku kepada orang seperti Datuk Maringgih Bang."
Rasany udah terlalu jauh kami berjalan, aku juga udah mulai merasa capek. Kuminta mereka untuk pulang.
Disepanjang jalan kembali ke rumah, aku hanya diam menyaksikan Kakak dan Adik itu saling bercanda. Sebenarnya Aku ingin melahirkan di Jakarta, tinggal di rumah Ibuku, tapi keinginan itu harus kupupus. Disaat mereka bercanda seperti itu, aku jadi rindu sama Mas Wisnu. Sejak dia menikah, aku seperti kehilangan dirinya.
Cuma Bapak dan Tante Mayalah yang ada untukku, Ibu sendiri lebih dominan memberikan kasih sayangnya kepada Kakakku itu.
Aku memilih menikah, karena aku capek mendengar Bapak selalu dimarahi Ibu. Ibu yang selalu punya ego yang kuat, yang paling sakit apabila ada tetangga yang hidup lebih darinya.
Sesampai di rumah, Aku dapati Mama yang lagi menyulam dari benang rajutan.
" Mama buat apa?"
"Mama mau buat sweater buat cucu Mama, nanti kita beli perlengkapan bayi, hari ini Mama nggak ke kebun."
"Nurut ajalah, dari pada dibilang menantu durhaka. Ya Mas?" Ucapku terseyum sambil melihat Mas Jaya.
Mas Jaya yang berdiri disampingku langsung mengusap kepalaku.
Akupun permisi meninggalkan Mama dan Mas Jaya, masuk ke kamar, untuk mandi karena aku udah mulai gerah.
Di kamar mandi aku tumpahkan semua air mataku. Kasih sayang seorang Ibu benar-benar kudapatkan dikeluarga ini. Keluarga yang sempat berantakan, tapi banyak cinta.
"Kamu menangis kenapa Zahra?" Suara Mas Jaya mengagetkanku.
"Aku bahagia aja lihat kamu bisa baikan lagi dengan Mama Mas." Kupeluk Mas Jaya yang berdiri dihadapanku, kuluapkan tangisku didadanya.
"Sampai aku melahirkan jangan buat aku sedih lagi ya. Aku sayang sama kamu Mas. Makasih atas semua yang udah kamu beri untukku. Aku janji akan berusaha jadi istri yang menurut denganmu. Aku minta maaf kalau selama ini aku banyak salah sama kamu Mas"
" Kau jorok sekali, mengelapkan ingusmu dibajuku."
Kupukul dadanya. Dan dia tertawa dengan perlakuanku. Berkali-kali dia mencium kepalaku.
" Jangan nangis lagi, aku nggak bisa lihat kamu nangis, terlalu sakit rasanya."
"Aku cuma terharu dan merasa bahagia lihat kamu udah baikan sama Mama. Kamu keluar gih, aku mau mandi."
"Mandi sama kita."
Kudorong tubuhnya biar dia keluar dari kamar mandi.
"Aku bisa lama mandi sama kamu."
" Aku janji nggak macem-macem, cuma mandi doang." Ditahannya tubuhnya biar nggak kelur dari kamar mandi.
" Nggak percaya. Makhluk kecil itu nggak bisa dipercaya. Dia nggak bisa mengkondisikan keadaan. Udah keluar deh."
"Katanya tadi akan nurut sama suami, eh giliran minta mandi berdua nolak."
" Ya udah, tapi kalau dia macam-macam aku pukul dia pakai gayung."
"Nggak jadi deh, kamu mandi sendiri aja, kamu horor." Lalu dia keluar dari kamar Mandi.
Aku cuma tersenyum melihat tingkahnya. Aku bahagia punya suami seperti kamu Mas.
Selesai mandi aku duduk di ruang TV. Rasanya kakiku pegal banget habis jalan tadi.
Mama yang melihatku duduk sambil sedikit memijit betisku, memilih ikut duduk disampingku.
"Kamu kecapean Nak?"
Pertanyaan Mama hanya kujawab dengan anggukan. Disuruhnya Wulan mengambil minyak kelapa di kamarnya.
Pada saat Mama ingin memijit kakiku, berkali-kali kutolak.
Mas Jaya datang mendekatiku. "Tolong katakan sama Mama suruh berhenti." Pintaku sama Mas Jaya. Tapi tetap aja dia nggak mau menghentikannya.
Dengan alasan aku mengantuk, akhirnya Mama menghentikan apa yang dibuatnya padaku. Semakin lama aku merasa semakin nggak enak tinggal di rumah ini. Perlakuan Mama padaku, sangat berlebihan menurutku. Aku takut aku jadi lupa diri diperlakukan terus seperti itu.
-----
#SUAMI_KU
Part 39
========
Ini malam yang kesekian kalinya Doni makan malam di rumah, Mama juga terlihat sangat sayang dengannya, malam ini semua keluarga ngumpul, Kak Ayu suami dan anak sambungnya.
Siang hari sebelum Mama dan Ulan serta Bi Yanti pergi beli keperluan bayi, Mas Jaya udah bicara dengan Wulan, bahwa dia akan menjodohkan Wulan dengan Doni. Dan malam ini setelah makan malam Mas Jaya akan membicarakan ini pada Doni. Namun apapun keputusannya nanti Wulan harus berlapang dada menerimanya.
" Kamu benar siap? Nggak mudah menjalaninya Dek. Bukan Kakak menghalangi niatan baik ini, namun yakinkan dulu hatimu, setidaknya Istiqoroh dulu. Kakak aja minta waktu satu tahun saat itu." Sedikit masukan kuberikan pada Wulan.
"Mas, tiap-tiap orang punya jalan hidup yang berbeda, kamu sama Doni beda, begitu juga Wulan denganku." Kualihkan penbicaraanku pada Mas Jaya.
Mas Jaya tersenyum mendengar perkataanku.
" Iya sayang aku ngerti, cium aku dulu" Ucapnya setelah itu, dihadapan Ulan dan Mama.
" Nggak tau malu kamu!" Lalu ku tinggal pergi.
Setelah makan Malam Mas Jaya duduk bersama Doni dan Suami Kak Ayu. Di bersandar disandaran kursi menyilangkan kakinya, dan kedua tangannya diletakkan diatas lengan kursi yang didudukinya. Eksekusi dimulai. Dalam hatiku, melihat dia duduk seperti itu.
" Don, usia kamu udah berapa?"
Doni yang mendapat pertanyaan itu, langsung duduk menghadap Mas Jaya.
" 27 tahun Pak."
" Usia seperti mu sudah layak menikah, kalau kamu punya calon atau ada yang kamu suka, katakan saja kita lamar dia. Anggap saja kita keluargamu."
Doni menatap Mas Jaya dengan seksama.
"Ada Pak, saya ada menyukai seorang wanita, tapi belum menjadi calon."
" Siapa?"
" Maaf Pak kalau saya lancang, saya suka dengan Mbak Ulan."
Semua yang ada diatas rumah itu saling pandang. Aku lekat-lekat memandang suamiku itu, tidak ada sedikit senyumpun dalam dari bibirnya, bukannya dia terniat menjodohkan Wulan dengan Doni.
" Kamu sadar dengan ucapan kamu?" Tanya Mas Jaya datar.
" Sadar Pak, Bapak bertanya saya jawab dengan jujur. Sebelumnya saja juga sudah minta maaf atas kelancangan saya. Jika keluarga ini nggak menerima, setidaknya saya nggak tersiksa dengan perasaan saya, nggak sakit hati dan kecewa kalau Mbak Ulan menikah."
"Siapapun laki-laki yang akan menikahi adik saya, saya tidak akan membiarkan Adik saya keluar dari rumah ini. Dan kamu bukan tipe orang yang mau bergantung kepada orang lain. "
" Dan kamu juga punya apa. Simpan rasa kamu berikan saja kepada yang lebih pantas." Mas Jaya lalu mengambil gelas yang berisi teh manis, dan meneguk isinya.
" Saya memang nggak punya apa-apa Pak, namun saya bekerja untuk punya, setidaknya saya bangga saya bisa menyelesaikan pendidikan saya sampai sarjana dari hasil keringat saya sendiri, dari hasil kerja saya tanpa harus jadi penjilat Pak."
Doni sedikit terpancing rasa emosinya mendengar ucapan Mas Jaya yang sedikit merendahkannya.
Mas Jaya mengambil nafas dan membuangnya dengan kasar.
"Oke, Wanita yang kamu suka adalah Wulan. Saya sebagai Abang dan merangkap sebagai walinya mengatakan jangan pernah berpikiran untuk tidak meraih impianmu." Mas Jaya langsung berdiri dan mengajakku ke kamar.
Aku yang mendengar kalimat terakhir Mas Jaya, tersenyum dan mencium pipi Ulan.
Lalu bangun dari dudukku, menuju kamar. Dia yang masuk terlebih dahulu, menungguku dibalik pintu.
" Kau membuat orang menjadi tegang, Mas." Kusandarkan tubuhku dibadannya, dan dia merangkul dan mengecup keningku.
" Biarkan mereka mencerna kata-kataku. Ternyata kau lebih pintar dari mereka."
"Jangan pernah bermimpi untuk tidak meraih impianmu, artinya kau menyuruhnya bermimpi dan mengejar impiannya kan. Otakku masih bisa berfungsi dengan baik Tuan Heru Sanjaya." Kubenamkan wajahku diantara dada dan pangkal lengannya, aku tau dia sudah merasa sedikit geli.
Mas Jaya mengajakku untuk istrirahat, meski Wulan sibuk mengetuk pintu kamarku.
******
Pagi harinya Mas Jaya sengaja melarangku untuk keluar setelah Shalat Subuh. Dia mau tau sepenasaran apa mereka dengan ucapannya kemarin. lagi-lagi Wulan mengetuk pintu kamarku.
"Mas, kasihan Wulan." Mas jaya, masih saja mengajak calon Baby nya bicara, sesekali da mengecup perutku.
"Kau terlihat sexy seperti ini sayang." Ucapnya dengan wajah yang berada sejajar dengan perutku.
"Sayang, aku mau setelah kamu lahiran, kamu kuliah. Bantu aku mengelola perkebunan ini, aku ingin mempercayakan perkebunan sayur dan buah ini padamu. Wulan suami Kak ayu, akan aku jadikan mitra disini. mas Jaya duduk disisi tempat tidur setelah mengecup perutku.
" Kalau begitu disini kita harus profesional dong."
Dia mengangkat kedua bahunya.
"Oke, dengan kata lain Pak Heru menawarkan saya kerjasama. Maka kita bicara bisnis, jika sudah begitu maka kita akan bicara angka dong.
Sekarang kita meeting kecil aja disini. Anda menawarkan saya untuk kuliah. Saya janji tidak akan mengecewakan Bapak dengan nilai yang ada, dan dengan hasil yang saya capai Bapak harus membayar saya. Nanti saya akan buat proposal kerjasama kita untuk Bapak pelajari. Jika nilai saya sekian, dan sekian ada nilai nominal yang harus Bapak bayar.
Mungkin harga yang saya tawarkan akan terlihat sangat fantastis, dan itu saya rasa harga yang cocok, kerena mengingat dan menimbang, waktu saya akan terbuang sekian detik, sekian menit, sekian jam untuk merawat anak dan suami saya.
Kalau kata para pembisnis itu Time Is Money" Ucapku sambil berdiri seolah-oleh lagi mempresintasikan suatu penawaran kerjasama.
"Oke deal, kerja sama ini saya terima, jika hasil yang kamu berikan tidak bisa memuaskan saya, maka anda harus membayar ganti rugi kepada saya. Saya tau suami anda hanya seorang tukang parkir Nona Zahra, dia tidak akan ada uang lebih untuk membayar ganti rugi hasil perbuatan anda, maka anda harus membayar dengan.... "
Dia memutuskan kalimatnya, tapi pandangan matanya memandangku dari atas sampai bawah dengan pandangan melecehkan. Lalu dia pergi meninggalkanku.
Disaat dia mau membuka pintu, dia sempat berhenti dan menolehkan kepalanya memandangku.
" Kau mesum Tuan Heru Sanjaya."
" Dan aku yakin seribu persen, bahkan dengan nilai tak terhingga kau suka dengan kemesumanku sayang, muach"
Dikedipkannya satu matanya dan menghilang dibalik pintu.
"Kau memang pria yang unik Mas." Ucapku pada diri sendiri dan tersenyum.
Aku segera keluar dari kamar untuk bergabung dengan yang lain. Disana kulihat Wulan yang sedang berdiri dibelakang abangnya dengan melingkarkan tangannya diatas bahu Mas Jaya.
"Sayang duduklah sini." Dipukulnya pelan kursi yang kosong disampingnya.
Seminggu lagi kita akan nikahkan Wulan, Nanti malam Doni akan datang membawa lamaran untuk Wulan. Kupeluk erat Adik iparku itu. Menjelang siang, Kak Ayu dan Wulan pergi keladang. Tinggal aku Mama dan Mas Jaya.
Mas Jaya pindah disisi lain Mamanya. Akupun bergeser mendekatinya, sesuai dengan permintaanya.
"Zahra, Mama ucapkan terima kasih banyak, udah bawa Anak Mama kembali, apapun yang Mama buat sama kamu, nggak bisa terbalas dengan apa yang udah kamu korbankan dalam hidupmu.
Mama pernah bilang bahwa anak Mama bukan laki-laki yang baik, tapi Mama sebagai Ibunya lebih tau tabiat dia."
Kulihat butiran kristal disudut matanya.
" Makasih banyak memberikanku kasih sayang yang nggak pernah kudapat selama ini dari ibuku. Terimakasih banyak menerimaku didalam keluarga ini." Ucapku dengan air mata yang mengalir.
"Masa lalu Heru tidak baik, tapi kamu mampu menerima dan masih menyayanginya, masih mau merawatnya. Mama udah tua, suatu saat Mama pasti akan menyusul Papa.
Dia anak Mama lelaki satu-satunya, Mama akui Mama nggak adil memberikan kasih sayang, sampai Kakaknya merasa Mama lebih perhatikan Heru dan Wulan." Berkali-kali Mama menciumi wajahku.
Pada saat Mama memelukku, Mas Jaya yang ada dibelakang Mama memandangiku, dengan tersenyum. Dihapusnya airmata dipipiku.
Setelah Mama melepaskan pelukannya, Mas Jaya memintaku duduk dipangkuannya.
"Kau terlihat jelek kalau nangis Zahra, jadi aku mohon jangan menangis, kalau kau menangis anakku nanti lahir jadi orang yang cengeng."
"Aku nangis karena aku bahagia sayang, bukan karena aku sedih."
Kukecup lama keningnya.
"Mas, kalau aku melahirkan, kalau bisa sebelum aku melahirkan, bolehkah aku minta Ibuku tinggal disini, dan bolehkah aku tidur dengannya beberapa hari.
Aku ingin berterima kasih pada Ibuku, kalau dia nggak memperlakukanku seperti yang dia lakukan saat sekarang ini, aku nggak akan menjadi Zahra yang kamu kenal.
Mungkin dimata orang lain dia salah, dan Ibu yang kejam buatku, saat sekarang aku mengambil hikmah dari buah yang ditanamnya. Dia menginginkan aku menjadi kwalitas yang baik.
Sama halnya denganmu, kamu ingin selalu menjadi terbaik, tapi metode alam yang menjadi gurumu, tidak baik mengajar kehidupan padamu. Tapi kita bisa sama-sama mengambil hikmah yang terjadi. Dan Allah bilang dalam firman-Nya hanya orang yang menggunakan akalnya yang akan bisa mengambil hikmah itu."
"Dari mana kau bisa memahami semua ini?"
" Aku belajar, Aku membaca, dari banyaknya aku membaca, aku tau semua ini. Apapun aku baca, majalah, koran, apapun itu medianya. Aku belajar membaca gerak tubuh dari wanita-wanita yang bekerja sebagai PSK, dan aku praktekan padamu. Kau halal buatku, kenapa aku harus malu melakukannya padamu, dan aku harus total dalam pekerjaanku melayanimu, kalau tidak, kau akan diambil yang kwalitasnya bisa lebih baik, atau bahkan lebih jelek dari aku.
"Kalau udah seprofesional ini aku bekerja dan kau masih memilih kwalitas lebih buruk dariku, berarti matamu yang melek, tapi akalmu yang nggak berjalan. Karena hanya manusia bodoh yang suka cari penyakit."
"Aku bangga punya istri sepertimu Zahra." Dikecupnya sekilas bibirku.
"Aku nggak bangga punya suami sepertimu." Seketika Mas Jaya langsung membesarkan matanya.
" Biasa aja matanya nggak usah melotot gitu." Ucapku sambil menepuk pelan pipinya.
Aku saaaaaaaaaaannnnngggggggaaaattt dan saaaanggattt bangga punya suami sepertimu." Kuletakkan wajahku tepat diwajahnya, lalu kukecup bibirnya.
"Dan sekarang aku lapar Mas..." Dengan posisi yang masih sama.
"Dia cemburu kau bermanja denganku, makanya dia mengganggumu" Diusapnya lembut perutku.
"Iya, papanya nggak boleh lama-lama memangku mamanya." Aku beranjak dari pangkuan Mas Jaya.
Segala perbuatan buruk itu memang nggak harus dibalas buruk, semua tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Hal baik akan menjadi buruk, jika kita memandang itu dari sudut yang buruk, dan baik jika memandang dari sudut yang baik. Hanya fitnah yang nggak bisa dilihat dari sisi kebaikan. Makanya fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.
========
#SUAMI_KU
Part 40
=======
Hari ini adalah hari pernikahan Wulan, tak ada rasa yang bisa mewakili rasa kebahagian dikeluarga Sanjaya. Mama sangat begitu bahagia akhirnya anak-anaknya menemukan pasangan hidup yang bisa merawat dan menjaga anak-anaknya.
Resepsi pernikahan Wulan hanya diadakan di rumah. Hanya orang-orang terdekat saja yang diundang.
Semua dilakukan karena memang keinginan Doni. Dia ingin semua biaya dia yang menanggung, dan itu sesuai dengan kemampuannya. kita menghargai keputusannya.
Bapak dan Ibuku juga salah satu tamu undangan yang datang. Aku sempat meminta dan memohon sama Ibu untuk Menginap dan tinggal sampai aku melahirkan, tapi Ibu menolakku.
Aku sempat melihat Ibu minta maaf sama Mas Jaya, beliau juga sempat menangis. Terlebih pada saat saat Ibu tau kalau Mas Jaya membelikan Mas Wisnu sebuah rumah.
Mas Jaya pernah menawarkan untuk Mas Wisnu berhenti bekerja di pabrik dan bekerja diperusahaan, tapi aku tolak. Dia harus bisa berdiri diatas kakinya sendiri, karena dia laki-laki. Itu alasan yang kuberikan padanya.
Rencana rumahku yang akan diberikan pada Mas Wisnu batal, entah kenapa hatiku lebih memilih Tante Maya menempatinya.
Kamar yang pernah kutempati tetap dijadikan kamar tamu, khusus untukku.
Melihat Mama memperlakukanku sangat baik, seringnya dia mencium kepalaku kalau aku merasakan mulai tidak nyaman dengan kehamilanku, membuat Bapak senang, tapi itu membuat Ibu menjadi tidak nyaman.
Ibu merasa dia sudah gagal menjadi Ibu buatku. Kerana alasan malu
dia tidak mau menginap di tempatku.
Dengan Ibu aku hanya berpesan, mulai hari ini dan kedepannya rawatlah Bapak secara baik, setidaknya perhatikan makannya.
Sebelum Bapak pulang, aku sempat duduk dengan Bapak sedikit menjauh dari acaranya Wulan.
"Kamu sudah menemukan tempat yang tepat Nduk, Bapak senang kamu hidup dengan orang-orang yang menyayangimu."
Ucap Bapak dikala aku duduk disebelahnya, dan menyandarkan kepalaku dibahunya.
"Waktu ulang tahun kamu kemarin Bapak nggak kasih kamu kado ya, kamu mau minta apa dari Bapak?"
"Nggak ada, cuma minta Bapak sehat aja. Pak, minta tolong, boneka-boneka yang di rumah, tolong cucikan ke loundry, terus bungkus yang rapi. Itu nanti untuk cucu Bapak."
"Memangnya kamu sudah tau, jenis kelamin anakmu?" Tanya Bapak.
"Udah, kata dokter, perempuan. Aku merahasiakannya dari semua orang, kecuali Bapak. Aku mau Bapak orang pertama yang tau."
Selama aku duduk dengan Bapak, dia banyak menceritakan masa kecilku. Kata Bapak, aku memang nggak pernah berkata kasar pada Ibu, tapi aku sering menjahilin ibu. Aku ingat waktu Ibu buat cake untuk ulang tahun Mas Wisnu, padahal satu hari sebelumnya aku minta uang untuk benerin ban sepedaku, sementara waktu itu Bapak ada tugas ke daerah.
Ibu malah menyuruh aku pergi sekolah jalan kaki saja, dan untuk perayaan ulangtahun Mas Wisnu uang jajankupun udah jadi korban. Kue yang sempat Ibu buat, aku potongin kecil-kecil, dan kubungkus dalam cup, lalu aku jual dengan teman-temanku dipengajian.
Uangnya aku pakai buat benerin sepedaku nanti. Waktu aku potongin kue itu, Ibu lagi ke pasar.
Sehabis aku pulang ngaji, aku lihat Ibu di rumah lagi marah-marah.
Sampai seminggu kesalnya Ibu nggak hilang. pada saat Bapak pulang, aku meminta Bapak mengantarkanku untuk memperbaiki sepeda.
Uang dari hasil jualan kue kala itu, tidak langsung serta merta kupakai untuk memperbaiki sepeda, takut Ibuku curiga. Dengan Bapak, aku menceritakan kejadian Ibu marah-marah karena kehilangan kue anak kesayangannya.
Aku sangka waktu itu Bapak akan memarahiku, karena dia sempat membesarkan matanya pada saat aku mengatakan hal itu. Tapi dengan langsung melihat senyumnya aku jadi lebih lega. Jika kuingat waktu itu aku jadi senyum sendiri.
"Kamu nggak ingat denganku sama sekali. Mentang-mentang ada Bapak." Ucap Mas Jaya pada saat udah di dalam kamar.
" Mass...Aku udah lama nggak ketemu Bapak, sejak aku hamil ini dan mau mendekati lahiran aku jadi ingat sama orangtuaku. Aku merasa bersalah karena selama mereka membesarknku, apa-apa yang kuberikan pada mereka belum ada artinya." Jawabku untuk menenangkan hati Mas Jaya.
Malam ini aku dan Mas Jaya bercerita banyak hal. Dia bercerita tentang Mak Enok yang selalu mempertanyakanku, sampai akhirnya Mas Jaya mengatakan bahwa aku adalah istrinya. Mak Enok merasa aku mempermainkannya, beliau tidak marah cuma gemes aja dengan ulahku.
"Mas, aku boleh tanya sesuatu, tapi jangan marah ya"
"Tanyalah.."
"Kamu punya banyak usaha, aku tau perusahaanmu perusahaan yang tidak diragukan, tapi kenapa kamu nggak fokus mengelolanya."
Dia merangkulku, dan mengecup keningku.
" Aku tidak pernah tertarik dengan dunia usaha seperti itu, aku lebih tertarik dengan dunia pertanian. Usahaku dikelola oleh orang-orang yang kupercaya. Aku ingin lebih fokus didunia pertanian, karena ini pekerjaan yang kucintai."
Aku hanya tersenyum dengan jawabannya. Sesaat aku dan Mas Jaya terdiam, sampai akhirnya kami saling pandang karena mendengar suara yang membuat aku dan Mas Jaya tersenyum.
"Ganas amat suara sampe kemari. Buat pengen aja." Ucap Mas Jaya, dengan wajah yang sangat menggemaskan.
"Kamu juga begitu, sampai Mama menegurku" sambil mencubit perutnya.
"Mas dulu waktu kita baru nikah, Mama pernah menelponku, beberapa kali, dan disitu aku merasa kamu sama Mama baik-baik aja. Tapi kenapa begitu aku disini, keadaannya berbeda."
Dia menarik nafas berat, "Aku bohong Zahra, itu Ibu panti, makanya waktu dia tau kamu datang pertama kali tanpa aku, dia nggak kaget."
"Sudah kuduga." Jawabku singkat. Aku langsung membalikkan badanku membelakanginya.
Berkali-kali dia minta maaf, tapi aku tetap diam, bukan apa-apa karena aku udah ngantuk aja, setidaknya dengan dia terus ngoceh bisa membuatku tidur... heheheee....
********
Pagi harinya Mama berangkat ke kebun tanpa Wulan, karena sampai jam 9 pagi mereka belum juga keluar dari kamar.
Tinggallah aku berdua dengan Mas Jaya yang ada di dapur.
"Lama banget sih bangunnya, niat kerja nggak sih." Ucap Mas Jaya sedikit memajukan bibirnya.
"Biarkan mereka, kamu dulu nggak ada yang ganggukan. Empat hari lagi, nggak ada yang ganggu kamu." Kukecup sekilas bibirnya.
"Kamu lucu banget kalau seperti itu." Aku meniru perbuatannya ikut memajukan bibirku.
Daripada dia selalu memikirkan pasangan baru itu, aku sengaja mengalihkan perhatiannya, kuajak dia untuk membuat kue.
Kebetulan aku melihat ada singkong yang belum diolah, ingin kujadikan bolu singkong. Sesekali aku dan dia bercanda.
Melihat perutku yang semakin membesar dia nggak mau meminta haknya, alasannya karena dia takut aku merasakan sakit.
Atas permintaannya juga, sebisa mungkin aku mengalihkan keinginannya, makanya aku nggak ingin menjahilinya lagi. Melihat keadaanku dia sering nggak tega. Pernah beberapa kali aku menjahilinya, dia hanya menggeleng pelan, setelah itu memeluk dan mengecup rambutku.
Sejak Wulan menikah rumah semakin rame, Mas Jaya juga ada teman ngobrol, teman dia nonton bola sampai larut malam. Sampai aku mau melahirkan rasa sakit dikakinya masih sering dia rasakan, untuk berjalanpun dia masih sedikit pincang, meskipun sudah tidak pakai alat bantu lagi.
Pagi itu selesai sarapan dia merasakan sakit perut, sampai wajahnyapun sedikit pucat. Bulan ini sudah masuk bulan kelahiranku. Berkali-kali aku mengalami kontraksi semu.
Melihat dia sakit, nggak ada orang yang kerja hari ini, mereka juga khawatir kalau aku melahirkan nggak ada satupun yang tau, mengingat Mas Jaya belum bisa mengendarai mobil.
"Zahra, perutku sakit banget, pengen buang air, tapi nggak bisa.." Erangnya di tempat tidur.
Aku benar-benar panik melihat kondisinya, bukan hanya dia perutku pun rasa mules dan pinggang dan punggungkupun rasanya udah nggak karuan. Aku minta tolong Doni untuk mengantarnya ke rumah sakit.
Sesekali aku menggigit bibirku karena menahankan rasa sakit yang kualami.
Mama yang melihatku sepertinya tau bahwa aku akan melahirkan.
Mama meminta Wulan membereskan pakaianku, dan membawa perlengkapan bayi yang udah jauh hari disiapkan. Bi Ijah yang saat itu sudah ikut lagi denganku, disuruh menemaniku masuk ke dalam mobil. Sementara Doni sudah menunggu dimobil.
Sampai di rumah sakit, aku menyuruh dokter memeriksa Mas Jaya, karena dia yang benar-benar merasakan sakit. Melihat dia selalu mengerang kesakitan aku nggak menghiraukan rasa sakitku lagi.
Mama yang selalu memperhatikanku memanggil dokter, karena air ketubanku sudah keluar. Aku dan Mas Jaya diletakkan dalam satu ruangan, dokter bilang aku memang sudah waktunya melahirkan, bahkan aku sudah mengalami bukaan lima saat itu.
Mama bingung mau menemani siapa. Disatu sisi Mas Jaya merasakan sakit yang luar biasa, disisi lain aku yang akan melahirkan.
Pilihan Mama jatuh padaku. Semakin aku disuruh mengejan, semakin kuat suara Mas Jaya mengerang. Kulihat Mama sempat menyunggingkan senyum tipis.
Sampai akhirnya terdengar suara bayi memecahkan ruangan persaliananku, dan suara Mas Jaya juga berkurang. Dokter segera membuka tirai pembatas antara aku dan Mas Jaya.
Disitu terlihat mas Jaya yang sedang nungging menahankan rasa sakit. Aku sempat tersenyum melihat tingkahnya. Perlahan dia meluruskan kakinya dan mengatur nafas.
Mama mendekatinya, menanyakan apakah perutnya masih sakit, dia hanya menggeleng.
" Anak kamu Doni aja yang Azanin ya, kamukan sakit." Ucap Mama sambil membelai rambutnya.
Mendengar ucapan Mama, dengan cepat dia duduk di tempat tidur.
"Emang udah lahiran?! kok aku nggak tau!" Ucapnya dengan cepat, dan melihatku yang masih ditangani dokter.
" Dokter jangan dijahit semua ya, sisakan sedikit buat saya." Dengan polosnya dia bicara seperti itu, membuat orang yang ada di dalam ruangan jadi tersenyum.
Suster yang sudah membersihkan bayiku, langgsung menyerahkan sama Mas Jaya untuk diAzanin. Dan diapun segera mengAzankan.
"Kamu buat Papa hampir mati Queen" Ucapnya pelan dan menyium anaknya.
Dia mendekatiku dan mencium keningku. "Makasih sayang, udah menjadikanku seorang laki-laki."
"Kamu udah nggak sakit perut lagi Mas?"
Dia menggeleng pelan.
"Makasih ya Mas mau berbagi sakit denganku. Kamu termakan ucapan kamu sendiri, kamu yang minta gantiin sakitku waktu itukan." Ucapku mengingatkan akan ucapannya waktu itu.
"Aku kasih dia nama Queensha Sanjaya yah!"
Aku hanya mengangguk.
🌹🌹🌹🌹
#SUAMIKU(2)
==========
Saat ini Queensha sudah berusia 3tahun. Aku dan Mas Jaya sepakat untuk mengambil Rindu dan membawa dia bersama kami, agar Queen mempunyai teman.
Berhubung hari ini hari libur, aku memutuskan untuk bermalas-malasan.
"Sayang, kamu nggak mau bangun?" Tanya Mas Jaya.
" Biarlah hari ini aku menikmati hariku sebentar saja Maaass.." Jawabku sambil memeluk bantal guling dengan erat.
"Heran, makin lama jadi makin pemalas aja" Gerutu Mas Jaya.
"Kamu makin tua makin cerewet aja" Jawabku masih dengan memejamkan mata, sengaja kata "Tua" lebih kutekankan.
Kurasakan ada hembusan nafas menerpa wajahku.
"Kamu semakin hari semakin kelihatan lebih tampan aja Mas" Ucapku Pada Mas Jaya, dan menarik kerah bajunya untuk bisa lebih dekat denganku.
"Bangun sayang, sarapanlah, selagi anak-anak di rumah Mama" Dikecupnya lembut bibirku.
"Justru selagi Queen di rumah Mama, aku ingin meluk kamu. Kalau ada putrimu itu, jangankan memeluk, dekat denganmupun aku nggak bisa" Kusingkirkan guling yang ada didepanku, dan menarik Mas Jaya untuk berbaring bersamaku.
Kuletakkan wajahku dileher Mas Jaya.
"Kamu semakin hari semakin manja saja" Dikecupnya puncak kepalaku.
"Nggak terasa udah enam tahun kita menikah. Banyak suka duka yang kita lewati, kita nggak tau gelombang apalagi yang akan menghadang biduk rumah tangga kita." Ucapku pelan, masih dengan wajah menempel dilehernya.
Entah siapa yang memulai, satu persatu yang menjadi penutup tubuh antara aku dan Mas Jaya berpindah tempat. Ditengah perjalanan mendaki puncak....... Aku dan Mas Jaya dikagetkan dengan suara melengkin bocah 3tiga tahun yang menjadi rivalku di rumah ini.
"Mama...."
"Queensha!" Ucapku bersamaan dengan Mas Jaya.
"Kamu nggak kunci pintu?" Ucapku pelan pada Mas Jaya, yang sudah menenggelamkan wajahnya dibantal disebelah wajahku.
"Aku mana tau, bakal begini" Jawabnya tak kalah pelan.
"Papa, awas" Ditolaknya tubuh Mas Jaya yang masih berada diatasku, dan dibawah selimut itu.
"Sayang, Mama minta tolong tutup pintunya dulu" Syukurnya Queen mau menurut akan pada ucapanku.
"Turun dulu!" Segera kutolak tubuh Mas Jaya, dan mengambil kemeja Mas Jaya yang ada diatas tempat tidur, dan segera memakainya.
"Kamu bukannya di tempat nenek Queen!" Ucap Mas Jaya pada Queen yang sudah kunaikkan ke tempat tidur dan memeluknya.
Kudengarkan putri kecilku itu sedang bercerita. Sementara Mas Jaya masih sedikit uring-uringan dibelakangku.
"Ini gimana Zahra!" Erangnya dipunggungku.
"Salah kamu, kenapa nggak kunci pintu, lagian sama-sama tanggung ini" Ucapku sedikit menahan tawa.
"Mama ketawa kenapa?" Tanya Queensha disaat aku mentertawakan Papanya.
"Anak Mama cakep banget pagi ini, pinter lagi."
Terdengar pintu kamarku diketuk, terdengar suara Mama Mertuaku memanggil. Mas Jaya yang masih sedikit kesal segera turun dari tempat tidur, tak lupa dia memakai celana pendeknya.
Sementara Queen langsung memeluk tubuhku erat, dan menenggelamkan wajahnya didadaku, begitu mendengar suara Neneknya.
"Queensha disini?" Tanya Mama begitu Mas Jaya membuka pintu.
"Itu sama Mamanya, kenapa Ma?" Tanya Mas Jaya balik.
Setelah mempersilahkan Mama masuk, dan duduk disisi tempat tidur, Mama menceritakan kalau Queen kabur pulang karena habis menggigit temannya, sampai berdarah.
Aku dan Mas Jaya sontak kaget dengan apa yang dibilang Mama. Kucoba menjauhkan tubuh Queen dari dekapanku, namun dia semakin kuat memelukku.
"Mama nggak marah Nak.." Kukecup kepalanya.
"Kamu garang amat sih Queen. kalau gemes pasti main gigit" Ucap Mas Jaya sambil menepuk pantatnya. Seketika tangisnya langsung pecah.
"Kamu mandi gih Mas, dari pada marahin dia"
"Kalian Ibu, anak sama saja. Buat sakit kepala." Gerutu Mas Jaya.
Pada saat Mas Jaya mandi, aku berusaha mendiamkan putriku itu. Queen nggak akan melukai oranglain kalau dia nggak disakiti terlebih dahulu.
Selesai Mas Jaya Mandi, aku segera turun dari tempat tidur, dan menuju kamar mandi.
"Aku mau bicara sama kamu Mas, tunggu aku selesai mandi."
Selesai mandi dan memakai pakaian aku membawa Mas Jaya ke balkon, karena Queen sedang tertidur sehabis nangis.
"Kamu boleh marah sama aku, tapi jangan sama anak" Ucapku begitu sudah ada di balkon.
"Queen sama kamu sama garangnya"
" Ulang kamu bilang apa?"
"Kamu sama Queen sama cakepnya." Lalu pergi keluar.
Pada saat Rindu pulang, aku coba bertanya padanya kenapa Queen sampai menggigit temannya. Benar saja, karena Mbaknya diganggu orang lain. Mendengar penjelasan Rindu Mas Jaya terdiam.
======
Part 39
========
Ini malam yang kesekian kalinya Doni makan malam di rumah, Mama juga terlihat sangat sayang dengannya, malam ini semua keluarga ngumpul, Kak Ayu suami dan anak sambungnya.
Siang hari sebelum Mama dan Ulan serta Bi Yanti pergi beli keperluan bayi, Mas Jaya udah bicara dengan Wulan, bahwa dia akan menjodohkan Wulan dengan Doni. Dan malam ini setelah makan malam Mas Jaya akan membicarakan ini pada Doni. Namun apapun keputusannya nanti Wulan harus berlapang dada menerimanya.
" Kamu benar siap? Nggak mudah menjalaninya Dek. Bukan Kakak menghalangi niatan baik ini, namun yakinkan dulu hatimu, setidaknya Istiqoroh dulu. Kakak aja minta waktu satu tahun saat itu." Sedikit masukan kuberikan pada Wulan.
"Mas, tiap-tiap orang punya jalan hidup yang berbeda, kamu sama Doni beda, begitu juga Wulan denganku." Kualihkan penbicaraanku pada Mas Jaya.
Mas Jaya tersenyum mendengar perkataanku.
" Iya sayang aku ngerti, cium aku dulu" Ucapnya setelah itu, dihadapan Ulan dan Mama.
" Nggak tau malu kamu!" Lalu ku tinggal pergi.
Setelah makan Malam Mas Jaya duduk bersama Doni dan Suami Kak Ayu. Di bersandar disandaran kursi menyilangkan kakinya, dan kedua tangannya diletakkan diatas lengan kursi yang didudukinya. Eksekusi dimulai. Dalam hatiku, melihat dia duduk seperti itu.
" Don, usia kamu udah berapa?"
Doni yang mendapat pertanyaan itu, langsung duduk menghadap Mas Jaya.
" 27 tahun Pak."
" Usia seperti mu sudah layak menikah, kalau kamu punya calon atau ada yang kamu suka, katakan saja kita lamar dia. Anggap saja kita keluargamu."
Doni menatap Mas Jaya dengan seksama.
"Ada Pak, saya ada menyukai seorang wanita, tapi belum menjadi calon."
" Siapa?"
" Maaf Pak kalau saya lancang, saya suka dengan Mbak Ulan."
Semua yang ada diatas rumah itu saling pandang. Aku lekat-lekat memandang suamiku itu, tidak ada sedikit senyumpun dalam dari bibirnya, bukannya dia terniat menjodohkan Wulan dengan Doni.
" Kamu sadar dengan ucapan kamu?" Tanya Mas Jaya datar.
" Sadar Pak, Bapak bertanya saya jawab dengan jujur. Sebelumnya saja juga sudah minta maaf atas kelancangan saya. Jika keluarga ini nggak menerima, setidaknya saya nggak tersiksa dengan perasaan saya, nggak sakit hati dan kecewa kalau Mbak Ulan menikah."
"Siapapun laki-laki yang akan menikahi adik saya, saya tidak akan membiarkan Adik saya keluar dari rumah ini. Dan kamu bukan tipe orang yang mau bergantung kepada orang lain. "
" Dan kamu juga punya apa. Simpan rasa kamu berikan saja kepada yang lebih pantas." Mas Jaya lalu mengambil gelas yang berisi teh manis, dan meneguk isinya.
" Saya memang nggak punya apa-apa Pak, namun saya bekerja untuk punya, setidaknya saya bangga saya bisa menyelesaikan pendidikan saya sampai sarjana dari hasil keringat saya sendiri, dari hasil kerja saya tanpa harus jadi penjilat Pak."
Doni sedikit terpancing rasa emosinya mendengar ucapan Mas Jaya yang sedikit merendahkannya.
Mas Jaya mengambil nafas dan membuangnya dengan kasar.
"Oke, Wanita yang kamu suka adalah Wulan. Saya sebagai Abang dan merangkap sebagai walinya mengatakan jangan pernah berpikiran untuk tidak meraih impianmu." Mas Jaya langsung berdiri dan mengajakku ke kamar.
Aku yang mendengar kalimat terakhir Mas Jaya, tersenyum dan mencium pipi Ulan.
Lalu bangun dari dudukku, menuju kamar. Dia yang masuk terlebih dahulu, menungguku dibalik pintu.
" Kau membuat orang menjadi tegang, Mas." Kusandarkan tubuhku dibadannya, dan dia merangkul dan mengecup keningku.
" Biarkan mereka mencerna kata-kataku. Ternyata kau lebih pintar dari mereka."
"Jangan pernah bermimpi untuk tidak meraih impianmu, artinya kau menyuruhnya bermimpi dan mengejar impiannya kan. Otakku masih bisa berfungsi dengan baik Tuan Heru Sanjaya." Kubenamkan wajahku diantara dada dan pangkal lengannya, aku tau dia sudah merasa sedikit geli.
Mas Jaya mengajakku untuk istrirahat, meski Wulan sibuk mengetuk pintu kamarku.
******
Pagi harinya Mas Jaya sengaja melarangku untuk keluar setelah Shalat Subuh. Dia mau tau sepenasaran apa mereka dengan ucapannya kemarin. lagi-lagi Wulan mengetuk pintu kamarku.
"Mas, kasihan Wulan." Mas jaya, masih saja mengajak calon Baby nya bicara, sesekali da mengecup perutku.
"Kau terlihat sexy seperti ini sayang." Ucapnya dengan wajah yang berada sejajar dengan perutku.
"Sayang, aku mau setelah kamu lahiran, kamu kuliah. Bantu aku mengelola perkebunan ini, aku ingin mempercayakan perkebunan sayur dan buah ini padamu. Wulan suami Kak ayu, akan aku jadikan mitra disini. mas Jaya duduk disisi tempat tidur setelah mengecup perutku.
" Kalau begitu disini kita harus profesional dong."
Dia mengangkat kedua bahunya.
"Oke, dengan kata lain Pak Heru menawarkan saya kerjasama. Maka kita bicara bisnis, jika sudah begitu maka kita akan bicara angka dong.
Sekarang kita meeting kecil aja disini. Anda menawarkan saya untuk kuliah. Saya janji tidak akan mengecewakan Bapak dengan nilai yang ada, dan dengan hasil yang saya capai Bapak harus membayar saya. Nanti saya akan buat proposal kerjasama kita untuk Bapak pelajari. Jika nilai saya sekian, dan sekian ada nilai nominal yang harus Bapak bayar.
Mungkin harga yang saya tawarkan akan terlihat sangat fantastis, dan itu saya rasa harga yang cocok, kerena mengingat dan menimbang, waktu saya akan terbuang sekian detik, sekian menit, sekian jam untuk merawat anak dan suami saya.
Kalau kata para pembisnis itu Time Is Money" Ucapku sambil berdiri seolah-oleh lagi mempresintasikan suatu penawaran kerjasama.
"Oke deal, kerja sama ini saya terima, jika hasil yang kamu berikan tidak bisa memuaskan saya, maka anda harus membayar ganti rugi kepada saya. Saya tau suami anda hanya seorang tukang parkir Nona Zahra, dia tidak akan ada uang lebih untuk membayar ganti rugi hasil perbuatan anda, maka anda harus membayar dengan.... "
Dia memutuskan kalimatnya, tapi pandangan matanya memandangku dari atas sampai bawah dengan pandangan melecehkan. Lalu dia pergi meninggalkanku.
Disaat dia mau membuka pintu, dia sempat berhenti dan menolehkan kepalanya memandangku.
" Kau mesum Tuan Heru Sanjaya."
" Dan aku yakin seribu persen, bahkan dengan nilai tak terhingga kau suka dengan kemesumanku sayang, muach"
Dikedipkannya satu matanya dan menghilang dibalik pintu.
"Kau memang pria yang unik Mas." Ucapku pada diri sendiri dan tersenyum.
Aku segera keluar dari kamar untuk bergabung dengan yang lain. Disana kulihat Wulan yang sedang berdiri dibelakang abangnya dengan melingkarkan tangannya diatas bahu Mas Jaya.
"Sayang duduklah sini." Dipukulnya pelan kursi yang kosong disampingnya.
Seminggu lagi kita akan nikahkan Wulan, Nanti malam Doni akan datang membawa lamaran untuk Wulan. Kupeluk erat Adik iparku itu. Menjelang siang, Kak Ayu dan Wulan pergi keladang. Tinggal aku Mama dan Mas Jaya.
Mas Jaya pindah disisi lain Mamanya. Akupun bergeser mendekatinya, sesuai dengan permintaanya.
"Zahra, Mama ucapkan terima kasih banyak, udah bawa Anak Mama kembali, apapun yang Mama buat sama kamu, nggak bisa terbalas dengan apa yang udah kamu korbankan dalam hidupmu.
Mama pernah bilang bahwa anak Mama bukan laki-laki yang baik, tapi Mama sebagai Ibunya lebih tau tabiat dia."
Kulihat butiran kristal disudut matanya.
" Makasih banyak memberikanku kasih sayang yang nggak pernah kudapat selama ini dari ibuku. Terimakasih banyak menerimaku didalam keluarga ini." Ucapku dengan air mata yang mengalir.
"Masa lalu Heru tidak baik, tapi kamu mampu menerima dan masih menyayanginya, masih mau merawatnya. Mama udah tua, suatu saat Mama pasti akan menyusul Papa.
Dia anak Mama lelaki satu-satunya, Mama akui Mama nggak adil memberikan kasih sayang, sampai Kakaknya merasa Mama lebih perhatikan Heru dan Wulan." Berkali-kali Mama menciumi wajahku.
Pada saat Mama memelukku, Mas Jaya yang ada dibelakang Mama memandangiku, dengan tersenyum. Dihapusnya airmata dipipiku.
Setelah Mama melepaskan pelukannya, Mas Jaya memintaku duduk dipangkuannya.
"Kau terlihat jelek kalau nangis Zahra, jadi aku mohon jangan menangis, kalau kau menangis anakku nanti lahir jadi orang yang cengeng."
"Aku nangis karena aku bahagia sayang, bukan karena aku sedih."
Kukecup lama keningnya.
"Mas, kalau aku melahirkan, kalau bisa sebelum aku melahirkan, bolehkah aku minta Ibuku tinggal disini, dan bolehkah aku tidur dengannya beberapa hari.
Aku ingin berterima kasih pada Ibuku, kalau dia nggak memperlakukanku seperti yang dia lakukan saat sekarang ini, aku nggak akan menjadi Zahra yang kamu kenal.
Mungkin dimata orang lain dia salah, dan Ibu yang kejam buatku, saat sekarang aku mengambil hikmah dari buah yang ditanamnya. Dia menginginkan aku menjadi kwalitas yang baik.
Sama halnya denganmu, kamu ingin selalu menjadi terbaik, tapi metode alam yang menjadi gurumu, tidak baik mengajar kehidupan padamu. Tapi kita bisa sama-sama mengambil hikmah yang terjadi. Dan Allah bilang dalam firman-Nya hanya orang yang menggunakan akalnya yang akan bisa mengambil hikmah itu."
"Dari mana kau bisa memahami semua ini?"
" Aku belajar, Aku membaca, dari banyaknya aku membaca, aku tau semua ini. Apapun aku baca, majalah, koran, apapun itu medianya. Aku belajar membaca gerak tubuh dari wanita-wanita yang bekerja sebagai PSK, dan aku praktekan padamu. Kau halal buatku, kenapa aku harus malu melakukannya padamu, dan aku harus total dalam pekerjaanku melayanimu, kalau tidak, kau akan diambil yang kwalitasnya bisa lebih baik, atau bahkan lebih jelek dari aku.
"Kalau udah seprofesional ini aku bekerja dan kau masih memilih kwalitas lebih buruk dariku, berarti matamu yang melek, tapi akalmu yang nggak berjalan. Karena hanya manusia bodoh yang suka cari penyakit."
"Aku bangga punya istri sepertimu Zahra." Dikecupnya sekilas bibirku.
"Aku nggak bangga punya suami sepertimu." Seketika Mas Jaya langsung membesarkan matanya.
" Biasa aja matanya nggak usah melotot gitu." Ucapku sambil menepuk pelan pipinya.
Aku saaaaaaaaaaannnnngggggggaaaattt dan saaaanggattt bangga punya suami sepertimu." Kuletakkan wajahku tepat diwajahnya, lalu kukecup bibirnya.
"Dan sekarang aku lapar Mas..." Dengan posisi yang masih sama.
"Dia cemburu kau bermanja denganku, makanya dia mengganggumu" Diusapnya lembut perutku.
"Iya, papanya nggak boleh lama-lama memangku mamanya." Aku beranjak dari pangkuan Mas Jaya.
Segala perbuatan buruk itu memang nggak harus dibalas buruk, semua tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Hal baik akan menjadi buruk, jika kita memandang itu dari sudut yang buruk, dan baik jika memandang dari sudut yang baik. Hanya fitnah yang nggak bisa dilihat dari sisi kebaikan. Makanya fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.
========
#SUAMI_KU
Part 40
=======
Hari ini adalah hari pernikahan Wulan, tak ada rasa yang bisa mewakili rasa kebahagian dikeluarga Sanjaya. Mama sangat begitu bahagia akhirnya anak-anaknya menemukan pasangan hidup yang bisa merawat dan menjaga anak-anaknya.
Resepsi pernikahan Wulan hanya diadakan di rumah. Hanya orang-orang terdekat saja yang diundang.
Semua dilakukan karena memang keinginan Doni. Dia ingin semua biaya dia yang menanggung, dan itu sesuai dengan kemampuannya. kita menghargai keputusannya.
Bapak dan Ibuku juga salah satu tamu undangan yang datang. Aku sempat meminta dan memohon sama Ibu untuk Menginap dan tinggal sampai aku melahirkan, tapi Ibu menolakku.
Aku sempat melihat Ibu minta maaf sama Mas Jaya, beliau juga sempat menangis. Terlebih pada saat saat Ibu tau kalau Mas Jaya membelikan Mas Wisnu sebuah rumah.
Mas Jaya pernah menawarkan untuk Mas Wisnu berhenti bekerja di pabrik dan bekerja diperusahaan, tapi aku tolak. Dia harus bisa berdiri diatas kakinya sendiri, karena dia laki-laki. Itu alasan yang kuberikan padanya.
Rencana rumahku yang akan diberikan pada Mas Wisnu batal, entah kenapa hatiku lebih memilih Tante Maya menempatinya.
Kamar yang pernah kutempati tetap dijadikan kamar tamu, khusus untukku.
Melihat Mama memperlakukanku sangat baik, seringnya dia mencium kepalaku kalau aku merasakan mulai tidak nyaman dengan kehamilanku, membuat Bapak senang, tapi itu membuat Ibu menjadi tidak nyaman.
Ibu merasa dia sudah gagal menjadi Ibu buatku. Kerana alasan malu
dia tidak mau menginap di tempatku.
Dengan Ibu aku hanya berpesan, mulai hari ini dan kedepannya rawatlah Bapak secara baik, setidaknya perhatikan makannya.
Sebelum Bapak pulang, aku sempat duduk dengan Bapak sedikit menjauh dari acaranya Wulan.
"Kamu sudah menemukan tempat yang tepat Nduk, Bapak senang kamu hidup dengan orang-orang yang menyayangimu."
Ucap Bapak dikala aku duduk disebelahnya, dan menyandarkan kepalaku dibahunya.
"Waktu ulang tahun kamu kemarin Bapak nggak kasih kamu kado ya, kamu mau minta apa dari Bapak?"
"Nggak ada, cuma minta Bapak sehat aja. Pak, minta tolong, boneka-boneka yang di rumah, tolong cucikan ke loundry, terus bungkus yang rapi. Itu nanti untuk cucu Bapak."
"Memangnya kamu sudah tau, jenis kelamin anakmu?" Tanya Bapak.
"Udah, kata dokter, perempuan. Aku merahasiakannya dari semua orang, kecuali Bapak. Aku mau Bapak orang pertama yang tau."
Selama aku duduk dengan Bapak, dia banyak menceritakan masa kecilku. Kata Bapak, aku memang nggak pernah berkata kasar pada Ibu, tapi aku sering menjahilin ibu. Aku ingat waktu Ibu buat cake untuk ulang tahun Mas Wisnu, padahal satu hari sebelumnya aku minta uang untuk benerin ban sepedaku, sementara waktu itu Bapak ada tugas ke daerah.
Ibu malah menyuruh aku pergi sekolah jalan kaki saja, dan untuk perayaan ulangtahun Mas Wisnu uang jajankupun udah jadi korban. Kue yang sempat Ibu buat, aku potongin kecil-kecil, dan kubungkus dalam cup, lalu aku jual dengan teman-temanku dipengajian.
Uangnya aku pakai buat benerin sepedaku nanti. Waktu aku potongin kue itu, Ibu lagi ke pasar.
Sehabis aku pulang ngaji, aku lihat Ibu di rumah lagi marah-marah.
Sampai seminggu kesalnya Ibu nggak hilang. pada saat Bapak pulang, aku meminta Bapak mengantarkanku untuk memperbaiki sepeda.
Uang dari hasil jualan kue kala itu, tidak langsung serta merta kupakai untuk memperbaiki sepeda, takut Ibuku curiga. Dengan Bapak, aku menceritakan kejadian Ibu marah-marah karena kehilangan kue anak kesayangannya.
Aku sangka waktu itu Bapak akan memarahiku, karena dia sempat membesarkan matanya pada saat aku mengatakan hal itu. Tapi dengan langsung melihat senyumnya aku jadi lebih lega. Jika kuingat waktu itu aku jadi senyum sendiri.
"Kamu nggak ingat denganku sama sekali. Mentang-mentang ada Bapak." Ucap Mas Jaya pada saat udah di dalam kamar.
" Mass...Aku udah lama nggak ketemu Bapak, sejak aku hamil ini dan mau mendekati lahiran aku jadi ingat sama orangtuaku. Aku merasa bersalah karena selama mereka membesarknku, apa-apa yang kuberikan pada mereka belum ada artinya." Jawabku untuk menenangkan hati Mas Jaya.
Malam ini aku dan Mas Jaya bercerita banyak hal. Dia bercerita tentang Mak Enok yang selalu mempertanyakanku, sampai akhirnya Mas Jaya mengatakan bahwa aku adalah istrinya. Mak Enok merasa aku mempermainkannya, beliau tidak marah cuma gemes aja dengan ulahku.
"Mas, aku boleh tanya sesuatu, tapi jangan marah ya"
"Tanyalah.."
"Kamu punya banyak usaha, aku tau perusahaanmu perusahaan yang tidak diragukan, tapi kenapa kamu nggak fokus mengelolanya."
Dia merangkulku, dan mengecup keningku.
" Aku tidak pernah tertarik dengan dunia usaha seperti itu, aku lebih tertarik dengan dunia pertanian. Usahaku dikelola oleh orang-orang yang kupercaya. Aku ingin lebih fokus didunia pertanian, karena ini pekerjaan yang kucintai."
Aku hanya tersenyum dengan jawabannya. Sesaat aku dan Mas Jaya terdiam, sampai akhirnya kami saling pandang karena mendengar suara yang membuat aku dan Mas Jaya tersenyum.
"Ganas amat suara sampe kemari. Buat pengen aja." Ucap Mas Jaya, dengan wajah yang sangat menggemaskan.
"Kamu juga begitu, sampai Mama menegurku" sambil mencubit perutnya.
"Mas dulu waktu kita baru nikah, Mama pernah menelponku, beberapa kali, dan disitu aku merasa kamu sama Mama baik-baik aja. Tapi kenapa begitu aku disini, keadaannya berbeda."
Dia menarik nafas berat, "Aku bohong Zahra, itu Ibu panti, makanya waktu dia tau kamu datang pertama kali tanpa aku, dia nggak kaget."
"Sudah kuduga." Jawabku singkat. Aku langsung membalikkan badanku membelakanginya.
Berkali-kali dia minta maaf, tapi aku tetap diam, bukan apa-apa karena aku udah ngantuk aja, setidaknya dengan dia terus ngoceh bisa membuatku tidur... heheheee....
********
Pagi harinya Mama berangkat ke kebun tanpa Wulan, karena sampai jam 9 pagi mereka belum juga keluar dari kamar.
Tinggallah aku berdua dengan Mas Jaya yang ada di dapur.
"Lama banget sih bangunnya, niat kerja nggak sih." Ucap Mas Jaya sedikit memajukan bibirnya.
"Biarkan mereka, kamu dulu nggak ada yang ganggukan. Empat hari lagi, nggak ada yang ganggu kamu." Kukecup sekilas bibirnya.
"Kamu lucu banget kalau seperti itu." Aku meniru perbuatannya ikut memajukan bibirku.
Daripada dia selalu memikirkan pasangan baru itu, aku sengaja mengalihkan perhatiannya, kuajak dia untuk membuat kue.
Kebetulan aku melihat ada singkong yang belum diolah, ingin kujadikan bolu singkong. Sesekali aku dan dia bercanda.
Melihat perutku yang semakin membesar dia nggak mau meminta haknya, alasannya karena dia takut aku merasakan sakit.
Atas permintaannya juga, sebisa mungkin aku mengalihkan keinginannya, makanya aku nggak ingin menjahilinya lagi. Melihat keadaanku dia sering nggak tega. Pernah beberapa kali aku menjahilinya, dia hanya menggeleng pelan, setelah itu memeluk dan mengecup rambutku.
Sejak Wulan menikah rumah semakin rame, Mas Jaya juga ada teman ngobrol, teman dia nonton bola sampai larut malam. Sampai aku mau melahirkan rasa sakit dikakinya masih sering dia rasakan, untuk berjalanpun dia masih sedikit pincang, meskipun sudah tidak pakai alat bantu lagi.
Pagi itu selesai sarapan dia merasakan sakit perut, sampai wajahnyapun sedikit pucat. Bulan ini sudah masuk bulan kelahiranku. Berkali-kali aku mengalami kontraksi semu.
Melihat dia sakit, nggak ada orang yang kerja hari ini, mereka juga khawatir kalau aku melahirkan nggak ada satupun yang tau, mengingat Mas Jaya belum bisa mengendarai mobil.
"Zahra, perutku sakit banget, pengen buang air, tapi nggak bisa.." Erangnya di tempat tidur.
Aku benar-benar panik melihat kondisinya, bukan hanya dia perutku pun rasa mules dan pinggang dan punggungkupun rasanya udah nggak karuan. Aku minta tolong Doni untuk mengantarnya ke rumah sakit.
Sesekali aku menggigit bibirku karena menahankan rasa sakit yang kualami.
Mama yang melihatku sepertinya tau bahwa aku akan melahirkan.
Mama meminta Wulan membereskan pakaianku, dan membawa perlengkapan bayi yang udah jauh hari disiapkan. Bi Ijah yang saat itu sudah ikut lagi denganku, disuruh menemaniku masuk ke dalam mobil. Sementara Doni sudah menunggu dimobil.
Sampai di rumah sakit, aku menyuruh dokter memeriksa Mas Jaya, karena dia yang benar-benar merasakan sakit. Melihat dia selalu mengerang kesakitan aku nggak menghiraukan rasa sakitku lagi.
Mama yang selalu memperhatikanku memanggil dokter, karena air ketubanku sudah keluar. Aku dan Mas Jaya diletakkan dalam satu ruangan, dokter bilang aku memang sudah waktunya melahirkan, bahkan aku sudah mengalami bukaan lima saat itu.
Mama bingung mau menemani siapa. Disatu sisi Mas Jaya merasakan sakit yang luar biasa, disisi lain aku yang akan melahirkan.
Pilihan Mama jatuh padaku. Semakin aku disuruh mengejan, semakin kuat suara Mas Jaya mengerang. Kulihat Mama sempat menyunggingkan senyum tipis.
Sampai akhirnya terdengar suara bayi memecahkan ruangan persaliananku, dan suara Mas Jaya juga berkurang. Dokter segera membuka tirai pembatas antara aku dan Mas Jaya.
Disitu terlihat mas Jaya yang sedang nungging menahankan rasa sakit. Aku sempat tersenyum melihat tingkahnya. Perlahan dia meluruskan kakinya dan mengatur nafas.
Mama mendekatinya, menanyakan apakah perutnya masih sakit, dia hanya menggeleng.
" Anak kamu Doni aja yang Azanin ya, kamukan sakit." Ucap Mama sambil membelai rambutnya.
Mendengar ucapan Mama, dengan cepat dia duduk di tempat tidur.
"Emang udah lahiran?! kok aku nggak tau!" Ucapnya dengan cepat, dan melihatku yang masih ditangani dokter.
" Dokter jangan dijahit semua ya, sisakan sedikit buat saya." Dengan polosnya dia bicara seperti itu, membuat orang yang ada di dalam ruangan jadi tersenyum.
Suster yang sudah membersihkan bayiku, langgsung menyerahkan sama Mas Jaya untuk diAzanin. Dan diapun segera mengAzankan.
"Kamu buat Papa hampir mati Queen" Ucapnya pelan dan menyium anaknya.
Dia mendekatiku dan mencium keningku. "Makasih sayang, udah menjadikanku seorang laki-laki."
"Kamu udah nggak sakit perut lagi Mas?"
Dia menggeleng pelan.
"Makasih ya Mas mau berbagi sakit denganku. Kamu termakan ucapan kamu sendiri, kamu yang minta gantiin sakitku waktu itukan." Ucapku mengingatkan akan ucapannya waktu itu.
"Aku kasih dia nama Queensha Sanjaya yah!"
Aku hanya mengangguk.
🌹🌹🌹🌹
#SUAMI_KU
END⚠
======
"Besok kamu udah boleh pulang, sayang" Ucap Mas Jaya, pada saat aku menyusui Queen.
" Iya" Jawabku pelan dan tersenyum padanya.
" Aku kapok punya anak lagi Zahra, aku nggak mau lagi sakit seperti kemarin." Sambil menghembuskan nafas dengan kasar.
" Aku kira kamu mau bilang, aku nggak mau buat anak lagi Zahra, takut buat kamu hamil." Aku tersenyum menggodanya.
" Kalau itu masih doyan, sayang." Ucapnya sedikit berbisik, dan mengedipkan matanya.
"Mas, udah dua hari aku melahirkan tapi kenapa keluargaku nggak ada yang datang ya." Sambil mengusap lembut kepala anakku.
"Sore ini sepulang kerja, Bapak akan kesini. Besokkan weekend"
"Kalau dilihat-lihat dia mirip siapa ya?" Tanya Mas Jaya bercanda.
"Mirip sama tetangga sebelah rumah kita di Jakarta" Jawabku sekenanya.
Dia langsung tertawa, karena dia tau sebelah rumahku adalah seorang wanita single.
"Gini banget rasanya jadi orangtua, bahagia banget" Dikecupnya pipi dan bibirku.
"Kamu jadi anak yang soleha ya Queen jangan sekali-kali melawan sama Papa, mau lepas rasa jantung Papa nahan sakitnya." Dicoleknya hidung putrinya itu.
Pada saat aku sedang bercanda dengan Mas Jaya Mama dan Wulan masuk. Wulan habis ngeledekin Abangnya. Keributan yang dibuat dua saudara itu membuat anakku terkejut, sehingga dia menangis.
"Kalian udah tua, masih seperti anak-anak" Ucap Mama sembari mencubit kedua anaknya, dan mengambil Queen dalam gendonganku, untuk mendiamkannya.
"Kamu lihatkan sayang, baru buat cucunya nangis aja aku dah dicubit sama Mama. Ingat yang aku bilang waktu Mama nyuruh kita makan." Ucap Mas Jaya seperti berbisik, tapi masih didengar oleh Mama.
Aku hanya tersenyum, karena Mama membesarkan Matanya pada Mas Jaya.
Mas Jaya duduk disampingku, diraihnya kepalaku ke dalam dadanya.
"Apa yang kamu rasakan sekarang?" Dia bertanya dengan suara yang lembut.
"Aku lapar Mas." Jawabku pelan.
"Idih! Kamu, udah seromantis ini perlakuanku, jawabnya cuma lapar." Cubitnya pelan pipiku.
Wulan yang mendengar jawabanku langsung tertawa.
Dilepaskan rangkulannya. Dia turun dari tempat tidur, dipandanginya wajahku dengan jarak yang begitu dekat. Kuikuti gerak matanya yang sedang memandangi wajahku.
"Kamu tambah cantik sayang" Ucapnya dengan senyum yang mengembang.
"Seandainya rayuan itu bisa membuat kenyang, rayulah aku terus."
Diusapnya rambutku, diambilnya makanan yang dibawa Mama. Di dalam ruanganku masih ada Mama dan Wulan, ada rasa malu dalam diriku, pada saat Mas Jaya merayuku dihadapan mereka.
******
Siang hari setelah memeriksa kondisiku, dokter mengizinkanku untuk pulang. Tak Lupa Mas Jaya mengucapkan terimakasih pada dokter Desi. Begitu sampai didepan pintu Dokter Desi memanggil Mas Jaya.
"Pak, jaga Istrinya baik-baik ya, saya senang lihat Bapak sangat baik memperlakukan Istri. Saya udah kasih bonus buat Bapak."
"Bonus apa Dok?" Tanya Mas Jaya dengan rasa penasaran.
Diarahkan tangannya ketelinga Mas Jaya, seolah berbisik namun kata-katanya bisa kudengar " Saya udah sisakan sedikit buat Bapak."
Mas Jaya yang mendengarnya langsung tersenyum.
Yang menjemputku hanya Bi Ijah dan Doni. Kata Mas Jaya, Mama dan Wulan lagi sibuk di rumah.
Sebenarnya ada rasa kecewaku, karena selama aku di Rumah Sakit tidak ada satupun keluargaku yang datang. Jangankan datang menelponku saja tidak.
Dalam perjalanan pulang, aku nggak mengeluarkan suara sama sekali. Kupandangi wajah bayiku.
"Kamu dan Papa adalah harta yang paling berharga dalam hidup Mama, Mama akan selalu memberikan yang terbaik buat kamu dan masa depanmu. Mama akan berikan kamu cinta, seperti yang Nenek berikan pada Anak-anaknya." Ucap batinku.
Begitu mobil masuk ke halaman rumah, kulihat ada beberapa mobil yang terparkir disana.
" Mas itu mobil Tante Maya?" Tanyaku sama Mas Jaya, begitu aku keluar dari mobil.
" Masuk aja, nggak usah banyak tanya." Ucapnya dengan raut wajah datar.
Satu persatu anak tangga kunaiki secara perlahan, karena Mas Jaya mengajakku masuk lewat pintu depan. Sebenarnya aku paling malas melewati pintu depan, karena mengingat rumah ini berbentuk rumah panggung. Aku lebih senang lewat dapur karena posisinya lebih rendah, anak tangganya hanya ada tiga, itupun menghubungkan dapur dan ruang utama.
Begitu aku sampai di depan pintu, aku disambut banyak orang, semua keluargaku ada, bahkan Om Danu dan istrinyapun ada, Ika juga ada.
Tante Maya mengambil Queensha dari gendonganku, Mbak Ratna, Ika, Kakak Iparku, Tante Winda semua memelukku. Ibu lagi duduk dengan Mama. hanya melihat dari jauh.
"Kamu jahat banget sih Mas, nggak kasih tau aku." Ucapku pada Mas Jaya dengan wajah cemberut.
"Mulai deh manjanya." Celetuk Tante Maya.
"Lagian kita yang mau Zahra, karena kalau di Rumah Sakit nggak boleh semua masuk sekaligus gini." Ucap Mbak Ratna.
Selama empat hari mereka ada di tempaku, rumah benar-benar jadi sangat ramai, Kiara keponakanku setiap malam tidur di kamarku, karena mau tidur dengan Dedek Queen katanya. Baru aku tau nikmatnya menjadi Ibu, disaat jam tidur malam jadi berkurang karena diganggu dengan tangisan sang bayi. Setidaknya itu jadi Alarm buat Mas Jaya untuk bisa meningkatkan Ibadah malamnya.
Nggak terasa tiga bulan sudah, dua minggu sekali diakhir pekan, menjadi jadwal khusus untuk keluargaku berkumpul disini.
Hadirnya Putriku ditengah-tengah keluarga ini bisa mempererat talisilaturahmi.
Yang membuatku bangga dengan Mas jaya, setiap sore menjelang Magrib, dia mulai ngaji didekat putrinya, disaat dia bangun tengah malampun dia akan melantunkan Ayat-Ayat suci Alqur'an. Subuh dan sehabis Zuhurpun dia nggak lupa membiasakan diri melakukan hal itu.
Selama tiga bulan ini entah udah berapa kali dia mengkhatamkan ngajinya. Bahkan aku merasa dia udah mulai hafal beberapa Juzz.
"Sayang, aku iri banget sama Queen, sepertinya kamu lebih sayang dia sekarang dari pada aku." Ucapku pada Mas Jaya, pada saat dia sudah selesai ngaji, dipagi buta ini.
" Kamu kenapa ngomong gitu, aku juga sayang kamulah." Sambil merebahkan tubuhnya disamping anaknya, dan mencium kening putrinya.
"Aku udah nggak pernah tidur dipelukan kamu lagi. Bahkan kamu lebih banyak ciumin dia dari pada aku."
Dia langsung pindah, dan memelukku dari belakang. "Kamu sama anak sendiri aja pakai cemburu segala." Dicubitnya pipi.
" Aku sekarang udah gemuk, tiap hari makan banyak, wajarlah udah nggak diperhatiin." Ucapku pelan.
Dia langsung memelukku erat. "Malam ini Mama pinjam Papa ya sayang, kamu tidur yang nyenyak." Ku usap lembut pipi saingan kecilku itu.
Sehabis shalat subuh, Mas Jaya akan melakukan aktifitasnya seperti biasa dengan anaknya. Sementara aku yang sudah merasakan lapar segera membuat sarapan untuk diriku sendiri.
"kamu jam segini udah makan aja sayang" Ujar Mas Jaya yang sudah ada di dapur dan menggendong Queen.
"Aku lapar Mas, lagipulakan aku menyusui."
Selesai makan, aku meminta Queen untukku gendong, tapi Mas Jaya menolaknya.
Aku jadi emosi dengan perlakuannya.
"Kamu urus aja dia! Aku nggak akan megang dia lagi!" Kutinggalkan dia dengan perasaan kesal.
Belum sampai aku masuk ke dalam kamar, dia sudah menarik lenganku.
"Kamu masa dengan anak sendiri seperti itu, dari tadi malam kamu aneh tau."
"Aku yang lahirin dia, aku Ibunya, aku yang nyusui dia, tapi kamu memonopoli dia!" Belum sempat dia ngomong lagi, aku menarik lengannya, dan langsung kugigit dengan kuat, sebagai pelepasan kekesalanku.
Nggak kuhiraukan dia yang merintih kesakitan.
Aku langsung ke belakang mengambil Queen yang sedang digendong Mama.
" Sayang.... " Panggil Mas Jaya dengan suara yang pelan.
"Sejak aku lahirin Queen aku bukan sayangmu lagi, dan berhentilah memanggilku dengan sebutan itu!"
Aku langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu. Aku nggak perduli dia mengetuk pintu berkali-kali.
Aku bermain dengan Queen, kuajak dia bicara.
Selesai aku memandikan dan menyusui Queen, kubawa dia keluar dari kamar.
Mama, dan Mas Jaya sedang duduk di ruang TV. Pada saat melihatku Mama memintaku duduk didekatnya. Banyak wejangan yang Mama berikan, akhirnya aku meminta maaf duluan atas kesalahanku yang sudah menggigitnya.
********
Bulan berlalu dan tahunpun berganti, sampai akhirnya Mas Jaya memintaku melanjutkan pendidikanku. Usia Queen sudah masuk dua tahun. Akupun sudah nggak memberikan asi lagi padanya.
Tumbuh kembangnyapun sangat baik, diusia 9 bulan dia sudah bisa berjalan, dan usia dua tahun inipun artikulasi dalam pengucapan katapun sudah baik, meski masih ada bahasa bayi yang dia ucapkan. Dan itu membuat kita harus berfikir keras apa makna dari ucapannya tersebut.
Kehadiran Putri kecilku itu membuat aku benar-benar bersaing dengannya untuk merebut kembali cinta suamiku, dan hasilnya, aku yang kalah telak.
Setelah menemani Queen tidur, dan Mas Jaya juga tertidur disampingnya. Aku duduk di balkon kamarku. Dulu di Jakarta kalau duduk dibalkon kamar seperti ini, aku akan melihat banyak lampu penerang, kendaraan yang masih berlalu lalang dengan lampunya yang menyala. Tapi disini berbanding terbalik, gelap, benar-benar sangat gelap, karena hamparan kebun teh yang ada di bawah sana tak kelihatan karena nggak memiliki penerangan sama sekali.
"Kamu kenapa duduk disini sendirian? gelap-gelapan, dingin lagi."
Suara Mas Jaya membuyarkan lamunanku.
"Aku sudah biasa seperti ini, sudah hampir dua tahun. Sejak ada Queen ditengah kita, aku udah nggak menemukan kehangatan apapun lagi. Kamu tidurlah." Aku melangkah meninggalkan Mas Jaya yang terdiam setelah mendengar ucapanku.
Aku segera ke dapur untuk memasak mie, aku lupa bahwa dari pagi aku belum makan. Disaat Mas Jaya nggak ada dan sibuk, itulah waktu dan kesempatan buatku untuk bisa bermain dengan Queen, makanya aku nggak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
"Kamu mau mie Mas? Aku lapar banget, dari pagi aku belum makan." Ucapku sama Mas Jaya, yang datang mendekati dan duduk dikursi yang ada dihadapanku.
"Zahra, maafkan aku."
Aku langsung memotong ucapan Mas Jaya.
"Jangan rusak mood makanku, biarkan aku menikmati makanan ini" Kukembangkan senyum padanya, dan melahap mie yang sudah selesai kumasak.
"Zahra, maafkan aku, maafkan aku yang sudah mengabaikanmu. Aku mungkin masih terbawa suasana bahagia menjadi seorang ayah." Ucap Mas Jaya sambil memelukku dari belakang, disaat aku mencuci piring kotor bekas makanku.
Kubalikkan tubuhku menghadapnya. Kuperhatikan dengan seksama wajah yang ada dihadapanku.
Perlahan kuletakkan keningku diatas dadanya, aku tumpahkan tangis disana.
"Kalau dulu aku pernah mengembalikan seorang anak pada ibunya, tolong sekarang kembalikan putriku, tolong kembalikan cinta suamiku padaku lagi." Ucapku pelan disela tangisku.
"Aku benar-benar nggak bisa hidup tanpa mereka Tuan Heru Sanjaya. Ambillah semua harta suamiku jika perlu ambillah nyawaku, tapi kembalikan putri dan cinta suamiku, Tuaaaannn."
Aku luruh dihadapannya, kupeluk kakinya. "Kalau aku boleh bersujud kepadamu, aku akan bersujud dan memohon untuk mengembalikan mereka padaku. jika bukan mendengarkan nasehat Ibu mertuaku dulu, saat ini aku mungkin sudah melawan padamu."
Suasana di dapur itu hening, aku masih menangis dan memeluk kakinya. Kalau bukan karena mendengar suara tangis Queen aku mungkin masih tetap merangkul kaki suamiku itu.
Pada saat aku masuk ke dalam kamar kulihat dia menangis memanggil Mama.
"Anak Mama nangis kenapa?" Kucium dan kupeluk dia, untuk menidurkannya kembali.
Saat seperti inilah yang Mama rindukan Nakk, disaat kamu tidur dalam pelukan Mama. Berkali-kali kucium kepalanya, kusenandungkan salawat untuk menidurkannya, dan sekaligus untuk menenangkan hatiku.
Sejak kejadian malam itu Mas Jaya mulai menyibukkan dirinya, pagi selesai shalat subuh dia langsung ke pasar, kalau aku ada jam kuliah, maka kami gantian menjaga Queen. Mas Jaya mulai sering main di pasar di Kota yang kami tempati saat ini, perlahan hubunganku mulai hangat lagi, tapi masih ada kekakuan dalam kehangatan itu. Kalau kemarin-kemarin dia yang selalu menyuapi anaknya makan, sekarang nggak pernah lagi.
Hari ini aku nggak ada jadwal kuliah, disaat aku menyuapin Queen makan siang, kulihat Mas Jaya baru pulang. Dia duduk disamping putrinya yang sedang kusuapi makan.
"Kamu dah makan sayang?" Tanyanya padaku. Aku hanya menggeleng. Dia langsung meminta Bi Ijah mengambil piring, menyendok sendiri nasi ke dalam piringnya.
Disodorkannya makanan yang ada dalam tanyannya kearah mulutku.
"Aku dah lama nggak nyuapin kamu makan, makanlah sama denganku."
Selama Queen ada, baru ini kurasakan dia mulai menyuapiku lagi, ada rasa canggung dan sedikit kekakuan.
********
Disaat aku sudah menidurkan Queen, Mas Jaya mengajakku duduk di balkon kamar.
"Aku sudah merenungi semuanya, aku sudah mengintrospeksi diriku. Sejak kita ada anak, akupun merasakan Zahraku yang dulu pergi. Aku rindu kenakalan-kenakalan istriku. Aku akan kembalikan suamimu, tapi kembalilah seperti istriku yang dulu.
Kehangatannyalah yang bisa mencaikan kebekuan hatiku Zahra, Aku salah, aku akui kesalahanku, tapi kembalikan jiwa istriku yang hilang karena ulahku. Katakan padaku, bagaimana cara membawa jiwanya pulang lagi." Digenggamnya tanganku, sambil berdiri diatas kedua lututnya.
"Pindahkan kamarnya, jangan buat dia tidur dengan kita lagi, aku nggak mau dia dewasa sebelum waktunya. Karena suamiku itu nggak bisa mengendalikan diri, kalau sudah dimanjakan." Ucapku padanya.
Kupengang kedua pipinya, lalu kusentuh wajah itu dengan ujung-ujung jariku.
Perlahan kudaratkan kecupan dikeningnya. Setelah itu, kusatukan wajahku dengan wajahnya, kupandang mata itu dengan jarak yang sangat dekat.
Aku mencoba mencari dan menyusuri kehangatan didalam mata itu. Lama kutatap tanpa berkedip. Akhirnya aku menemukan yang kucari dalam tatapan itu. Pandangan mata yang hangat, yang penuh cinta itu rasanya sudah kembali.
"Aku sudah menemukan kembali istriku Zahra, terimakasih mengembalikan nya" Mata yang kupandangi itu mulai berkaca-kaca.
"Jangan tinggalkan aku lagi Masss, aku benar-benar sangat rapuh tanpamu" Kurangkul kepalanya dalam pelukanku. " Aku rindu sama kamu."
"Jangan nangis Zahraaaa" Bisiknya pelan.
"Disaat aku menangis, apakah kamu udah mulai merasakan sakit lagi?!"
"Iya, bahkan sekarang lebih sakit dari pada sebelumnya."
Kujauhkan kepalanya dari dekapanku, kupandangi dan kucium wajahnya.
"Sekarang, biarkan dia tidur dengan ditemani Bi Ijah yah, tapi sebelum dia terlelap tetap kita menemaninya." Dianggukkan pelan kepalanya, menjawab perkataanku.
********
" Kamu benar, sejak dia pindah, aku benar-benar menemukanmu." Dikecupnya keningku.
"Diamlah, biarkan aku menikmati kehangatan tidur didadamu." Sesaat kurasakan detak jantungnya.
"Sayang, aku boleh jujur padamu? Tapi janji jangan marah ya." Ucapanku memecahkan kesunyian sesaatku.
"Boleh." Jawbnya singkat.
" Aku barusan berfikir, Antara suamiku, Heru Sanjaya yang biasa dipanggil Jaya itu, dan mantan Boss ku, Sepertinya aku lebih menyukai karakter Bossku."
"Alasannya?"
"Aku nggak bisa menyebutkan alasannya, tapi aku benar-benar merasakannya."
"Kau ingin berselingkuh dengannya? Berani-beraninya kau mengagumi laki-laki lain setelah kau bercinta denganku."
Aku segera bangun dan duduk melihat wajahnya.
"Kau marah Mas? Kau bisa marah? kalau kau marah seperti ini kau mirip sama Tuan Heru itu." Kubesarkan mataku dan tersenyum padanya.
"Kadang-kadang kalau mengikuti candaanmu, aku gila Zahra." Dipukulnya pelan keningku.
"Tapi kau membuatku lebih hidup dengan kegilaanmu." Ditariknya tubuhku dalam pelukannya.
"Tidurlah besok aku ada jam pagi, semoga aku berangkat Queen belum bangun, jd aku nggak melihatmu memanjakannya."
"Kau wanita aneh dengan anak sendiripun kau cemburu."
"Aku merasakan yang kau rasa dulu, kau cemburu sama Om Danu"
Aku tertawa bersamanya, kembali kami mengingat moment-moment yang buat kami harus saling bertengkar.
==============
Jam enam pagi, Mas Jaya mengantarku pergi kuliah, Queen belum bangun pada saat aku berangkat, Aku menitipkannya pada Mama dan Bi Ijah.
"Sayang, aku udah lama nggak pernah naik motor sama kamu, rasanya nyaman banget bisa meluk kamu."
"Sayang, kalau rayuanmu bisa membuat aku kenyang, rayulah aku terus."
"Hahhahahaa, Kau nggak kreatif banget sih jadi orang, itukan kata-kataku." Sambil kucubit perutnya.
Sepanjang perjalanan ke kampus, aku bercanda dengannya. Sampai dikampus, aku mengajaknya untuk makan mie ayam.
Selama aku kuliah, udah satu semester nggak ada yang tau tentang kehidupanku, melihatku hari itu diantar Mas Jaya, temanku pada heran.
Yuni teman sekelasku yang saat itu sama makan mie ayam, melihatku aneh karena aku makan semangkuk berdua dengan Mas Jaya.
Selesai makan, Mas Jaya pamit pulang, dan mencium keningku.
"Za, tunggu." Panggil Yuni.
"Udah mau terlambat, ayo buruan masuk. Kalau mau wawancara atau mengintrogasiku nanti aja." Kutarik tangannya menuju ruang kelas.
Selesai Jam kuliah aku menelpon Mas Jaya untuk menjemputku waktu itu sudah jam tiga sore.
Yuni yang sudah ada disampingku, berusaha bertanya ada hubungan apa dengan Mas Jaya.
"Kamu nggak salah kenal sama preman pasar gitu Za, masih sehatkan lo."
"Dia suamiku, ayah dari anakku." Ucapku sambil tersenyum..
"Jangan bercanda, kau nggak tau kalo Pak Roni suka sama mu." Ucap Yuni.
"Bilang dengan Dosen gantengmu itu, aku sudah bersuami, dan aku nggak mau cari masalah."
Yakinkan Aku Za, Itu bener suami mu?! Laki-laki nyeleneh, urakan dan kadang nggak tau malu itu?! Yang suka nongkrong di pasar dan bergaul dengan para preman gitu?!" Cerca sahabatku.
Aku hanya tersenyum, dan mengangguk untuk menjawab semua perkataannya.
"Kok bisa sih Za, mau sama laki-laki begitu, macam nggak ada laki-laki lain aja. Dia dapat kamu ketiban bulan, lah kamunya?! Mungkin lagi mabok loe ya, nerima lamaran dia.."
Lagi -lagi, aku hanya tersenyum mendengar ocehannya.
"Patah hati sebelum waktunya donk mereka."
"Udah ya, tu suamiku udah jemput sama anakku." Aku tepuk pundak Yuni, dan pamit pergi meninggalkannya.
Kulihat Mas Jaya dan Queen datang menjemputku. Aku segera masuk ke dalam mobil, dan memangku Queen.
" Anak Mama cakep banget, udah Mandi?" Tanyaku pada putriku itu dan tak lupa aku menciumi pipi gembilnya itu.
"Udah"
"Oh ya, Sapa yang mandikan?
"Papa"
"Tadi pagi mandi sama Papa juga?"
"Iya. Semua-semua sama Papa.
"Oh ya."Kupeluk erat dia. Sekilas kulirik suamiku yang lagi mengemudi itu, kulihat dia sedang tersenyum.
"Kalo gitu Mama boleh kasih hadia sama Papa?"
Kulihat dia sedang berfikir, untuk memberikan jawaban.
"Boleh"
"Tapiiiiii, anak Mama yang cantik ini harus tutup mata ya. Mama, malu sayang kalau dilihat kamu."
Kuminta Mas Jaya untuk berhenti sebentar. Kuminta juga dia untuk mencium pipi anaknya. Setelah itu kututup matanya.
Kuarahkan pandangan pada suamiku itu. Wajahnya yang masih dekat kupandangi.
Kuusap lembut pipinya, kuberikan kecupan dikeningnya. Lalu kucium bibirnya dengan lama.
"Makasih, sayang" Ucapku pelan.
Dia membalas dengan memejamkan matanya, dan mengangguk pelan.
"Makasih juga sudah mau berjuang dan memberiku putri yang cantik ini." Dikecupnya keningku.
"Mama! Ini Papa Queen." Suara cempreng Queensha membuat Mas Jaya melepaskan kecupannya.
"Kamu iri banget sih Queen, kalau Papa dekat sama Mama, seharusnya kamu ada dipihak Mama, bukan Papa."
Mas Jaya langsung tertawa, disambut juga dengan tawa Queensha yang sudah toss dengan Papanya.
Aku menitipkan Queen sama Neneknya. Wulan segera membawanya ke dalam rumah. Sebelum dia tau aku menculik Papanya.
Aku dan Mas Jaya langsung menuju rumahku.
Sesampai di rumah Mas Jaya menyuruh Bi Ijah untuk lihat Queensha di rumah Mama.
Aku langsung duduk dipangkuan Mas Jaya yang sudah terlebih dahulu duduk ditepi ranjang. Kulingkarkan kedua tanganku dilehernya.
"Kalau Putrimu itu nggak dititp disana, aku nggak punya waktu untukmu. Seperti inikah sakitnya waktu kamu mencemburuiku Mas?" Tanyaku pada Mas Jaya.
"Makanya aku suka marah nggak jelas." Jawabnya sambil mencium pipiku.
"Tapi, aku ini Mamanya, kenapa harus saingan sama dia sih."
"Kalau sainganmu wanita lain, kamu akan berbicara dengan angkuh dan penuh percaya diri, tapi dengan putrimu, kau kan nggak bisa seangkuh itu."
"Ini mungkin balasan ALLAH atas dosaku sama kamu, karena aku sering menjahilimu kali ya." Kusentuh hidungnya dengan ujung hidungku.
"Kau ingat waktu aku masih sakit? Kau mengerjaikukan"
"Hahhaaa kau ingat saja Mas. Aku bayar hutangku sekarang, setelah itu kita mandi dan menjemput Putrimu itu."
Trimakasih telah memberikan warna dalam hidupku Mas, trimakasih mengajarkanku apa makna dari seorang istri. Kita memang nggak tau siapa jodoh kita, menurut kita baik buat kita belum tentu baik menurut Allah, atau baik menurut Allah belum tentu buat kita. Yang penting ikhlas menerima segala yang sudah Allah tetapkan. Menikah dengan mu adalah jalan hidupku, menerima titahmu adalah bentuk baktiku, menghadapi sikap egoismu adalah metode belajar sabarku, dan aku harus menjalani ini dengan rasa ikhlasku. Bagaimana mungkin orang akan memberikan kita cinta kalau kita sendiri nggak pernah memberikan cinta.
=======================
END⚠
======
"Besok kamu udah boleh pulang, sayang" Ucap Mas Jaya, pada saat aku menyusui Queen.
" Iya" Jawabku pelan dan tersenyum padanya.
" Aku kapok punya anak lagi Zahra, aku nggak mau lagi sakit seperti kemarin." Sambil menghembuskan nafas dengan kasar.
" Aku kira kamu mau bilang, aku nggak mau buat anak lagi Zahra, takut buat kamu hamil." Aku tersenyum menggodanya.
" Kalau itu masih doyan, sayang." Ucapnya sedikit berbisik, dan mengedipkan matanya.
"Mas, udah dua hari aku melahirkan tapi kenapa keluargaku nggak ada yang datang ya." Sambil mengusap lembut kepala anakku.
"Sore ini sepulang kerja, Bapak akan kesini. Besokkan weekend"
"Kalau dilihat-lihat dia mirip siapa ya?" Tanya Mas Jaya bercanda.
"Mirip sama tetangga sebelah rumah kita di Jakarta" Jawabku sekenanya.
Dia langsung tertawa, karena dia tau sebelah rumahku adalah seorang wanita single.
"Gini banget rasanya jadi orangtua, bahagia banget" Dikecupnya pipi dan bibirku.
"Kamu jadi anak yang soleha ya Queen jangan sekali-kali melawan sama Papa, mau lepas rasa jantung Papa nahan sakitnya." Dicoleknya hidung putrinya itu.
Pada saat aku sedang bercanda dengan Mas Jaya Mama dan Wulan masuk. Wulan habis ngeledekin Abangnya. Keributan yang dibuat dua saudara itu membuat anakku terkejut, sehingga dia menangis.
"Kalian udah tua, masih seperti anak-anak" Ucap Mama sembari mencubit kedua anaknya, dan mengambil Queen dalam gendonganku, untuk mendiamkannya.
"Kamu lihatkan sayang, baru buat cucunya nangis aja aku dah dicubit sama Mama. Ingat yang aku bilang waktu Mama nyuruh kita makan." Ucap Mas Jaya seperti berbisik, tapi masih didengar oleh Mama.
Aku hanya tersenyum, karena Mama membesarkan Matanya pada Mas Jaya.
Mas Jaya duduk disampingku, diraihnya kepalaku ke dalam dadanya.
"Apa yang kamu rasakan sekarang?" Dia bertanya dengan suara yang lembut.
"Aku lapar Mas." Jawabku pelan.
"Idih! Kamu, udah seromantis ini perlakuanku, jawabnya cuma lapar." Cubitnya pelan pipiku.
Wulan yang mendengar jawabanku langsung tertawa.
Dilepaskan rangkulannya. Dia turun dari tempat tidur, dipandanginya wajahku dengan jarak yang begitu dekat. Kuikuti gerak matanya yang sedang memandangi wajahku.
"Kamu tambah cantik sayang" Ucapnya dengan senyum yang mengembang.
"Seandainya rayuan itu bisa membuat kenyang, rayulah aku terus."
Diusapnya rambutku, diambilnya makanan yang dibawa Mama. Di dalam ruanganku masih ada Mama dan Wulan, ada rasa malu dalam diriku, pada saat Mas Jaya merayuku dihadapan mereka.
******
Siang hari setelah memeriksa kondisiku, dokter mengizinkanku untuk pulang. Tak Lupa Mas Jaya mengucapkan terimakasih pada dokter Desi. Begitu sampai didepan pintu Dokter Desi memanggil Mas Jaya.
"Pak, jaga Istrinya baik-baik ya, saya senang lihat Bapak sangat baik memperlakukan Istri. Saya udah kasih bonus buat Bapak."
"Bonus apa Dok?" Tanya Mas Jaya dengan rasa penasaran.
Diarahkan tangannya ketelinga Mas Jaya, seolah berbisik namun kata-katanya bisa kudengar " Saya udah sisakan sedikit buat Bapak."
Mas Jaya yang mendengarnya langsung tersenyum.
Yang menjemputku hanya Bi Ijah dan Doni. Kata Mas Jaya, Mama dan Wulan lagi sibuk di rumah.
Sebenarnya ada rasa kecewaku, karena selama aku di Rumah Sakit tidak ada satupun keluargaku yang datang. Jangankan datang menelponku saja tidak.
Dalam perjalanan pulang, aku nggak mengeluarkan suara sama sekali. Kupandangi wajah bayiku.
"Kamu dan Papa adalah harta yang paling berharga dalam hidup Mama, Mama akan selalu memberikan yang terbaik buat kamu dan masa depanmu. Mama akan berikan kamu cinta, seperti yang Nenek berikan pada Anak-anaknya." Ucap batinku.
Begitu mobil masuk ke halaman rumah, kulihat ada beberapa mobil yang terparkir disana.
" Mas itu mobil Tante Maya?" Tanyaku sama Mas Jaya, begitu aku keluar dari mobil.
" Masuk aja, nggak usah banyak tanya." Ucapnya dengan raut wajah datar.
Satu persatu anak tangga kunaiki secara perlahan, karena Mas Jaya mengajakku masuk lewat pintu depan. Sebenarnya aku paling malas melewati pintu depan, karena mengingat rumah ini berbentuk rumah panggung. Aku lebih senang lewat dapur karena posisinya lebih rendah, anak tangganya hanya ada tiga, itupun menghubungkan dapur dan ruang utama.
Begitu aku sampai di depan pintu, aku disambut banyak orang, semua keluargaku ada, bahkan Om Danu dan istrinyapun ada, Ika juga ada.
Tante Maya mengambil Queensha dari gendonganku, Mbak Ratna, Ika, Kakak Iparku, Tante Winda semua memelukku. Ibu lagi duduk dengan Mama. hanya melihat dari jauh.
"Kamu jahat banget sih Mas, nggak kasih tau aku." Ucapku pada Mas Jaya dengan wajah cemberut.
"Mulai deh manjanya." Celetuk Tante Maya.
"Lagian kita yang mau Zahra, karena kalau di Rumah Sakit nggak boleh semua masuk sekaligus gini." Ucap Mbak Ratna.
Selama empat hari mereka ada di tempaku, rumah benar-benar jadi sangat ramai, Kiara keponakanku setiap malam tidur di kamarku, karena mau tidur dengan Dedek Queen katanya. Baru aku tau nikmatnya menjadi Ibu, disaat jam tidur malam jadi berkurang karena diganggu dengan tangisan sang bayi. Setidaknya itu jadi Alarm buat Mas Jaya untuk bisa meningkatkan Ibadah malamnya.
Nggak terasa tiga bulan sudah, dua minggu sekali diakhir pekan, menjadi jadwal khusus untuk keluargaku berkumpul disini.
Hadirnya Putriku ditengah-tengah keluarga ini bisa mempererat talisilaturahmi.
Yang membuatku bangga dengan Mas jaya, setiap sore menjelang Magrib, dia mulai ngaji didekat putrinya, disaat dia bangun tengah malampun dia akan melantunkan Ayat-Ayat suci Alqur'an. Subuh dan sehabis Zuhurpun dia nggak lupa membiasakan diri melakukan hal itu.
Selama tiga bulan ini entah udah berapa kali dia mengkhatamkan ngajinya. Bahkan aku merasa dia udah mulai hafal beberapa Juzz.
"Sayang, aku iri banget sama Queen, sepertinya kamu lebih sayang dia sekarang dari pada aku." Ucapku pada Mas Jaya, pada saat dia sudah selesai ngaji, dipagi buta ini.
" Kamu kenapa ngomong gitu, aku juga sayang kamulah." Sambil merebahkan tubuhnya disamping anaknya, dan mencium kening putrinya.
"Aku udah nggak pernah tidur dipelukan kamu lagi. Bahkan kamu lebih banyak ciumin dia dari pada aku."
Dia langsung pindah, dan memelukku dari belakang. "Kamu sama anak sendiri aja pakai cemburu segala." Dicubitnya pipi.
" Aku sekarang udah gemuk, tiap hari makan banyak, wajarlah udah nggak diperhatiin." Ucapku pelan.
Dia langsung memelukku erat. "Malam ini Mama pinjam Papa ya sayang, kamu tidur yang nyenyak." Ku usap lembut pipi saingan kecilku itu.
Sehabis shalat subuh, Mas Jaya akan melakukan aktifitasnya seperti biasa dengan anaknya. Sementara aku yang sudah merasakan lapar segera membuat sarapan untuk diriku sendiri.
"kamu jam segini udah makan aja sayang" Ujar Mas Jaya yang sudah ada di dapur dan menggendong Queen.
"Aku lapar Mas, lagipulakan aku menyusui."
Selesai makan, aku meminta Queen untukku gendong, tapi Mas Jaya menolaknya.
Aku jadi emosi dengan perlakuannya.
"Kamu urus aja dia! Aku nggak akan megang dia lagi!" Kutinggalkan dia dengan perasaan kesal.
Belum sampai aku masuk ke dalam kamar, dia sudah menarik lenganku.
"Kamu masa dengan anak sendiri seperti itu, dari tadi malam kamu aneh tau."
"Aku yang lahirin dia, aku Ibunya, aku yang nyusui dia, tapi kamu memonopoli dia!" Belum sempat dia ngomong lagi, aku menarik lengannya, dan langsung kugigit dengan kuat, sebagai pelepasan kekesalanku.
Nggak kuhiraukan dia yang merintih kesakitan.
Aku langsung ke belakang mengambil Queen yang sedang digendong Mama.
" Sayang.... " Panggil Mas Jaya dengan suara yang pelan.
"Sejak aku lahirin Queen aku bukan sayangmu lagi, dan berhentilah memanggilku dengan sebutan itu!"
Aku langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu. Aku nggak perduli dia mengetuk pintu berkali-kali.
Aku bermain dengan Queen, kuajak dia bicara.
Selesai aku memandikan dan menyusui Queen, kubawa dia keluar dari kamar.
Mama, dan Mas Jaya sedang duduk di ruang TV. Pada saat melihatku Mama memintaku duduk didekatnya. Banyak wejangan yang Mama berikan, akhirnya aku meminta maaf duluan atas kesalahanku yang sudah menggigitnya.
********
Bulan berlalu dan tahunpun berganti, sampai akhirnya Mas Jaya memintaku melanjutkan pendidikanku. Usia Queen sudah masuk dua tahun. Akupun sudah nggak memberikan asi lagi padanya.
Tumbuh kembangnyapun sangat baik, diusia 9 bulan dia sudah bisa berjalan, dan usia dua tahun inipun artikulasi dalam pengucapan katapun sudah baik, meski masih ada bahasa bayi yang dia ucapkan. Dan itu membuat kita harus berfikir keras apa makna dari ucapannya tersebut.
Kehadiran Putri kecilku itu membuat aku benar-benar bersaing dengannya untuk merebut kembali cinta suamiku, dan hasilnya, aku yang kalah telak.
Setelah menemani Queen tidur, dan Mas Jaya juga tertidur disampingnya. Aku duduk di balkon kamarku. Dulu di Jakarta kalau duduk dibalkon kamar seperti ini, aku akan melihat banyak lampu penerang, kendaraan yang masih berlalu lalang dengan lampunya yang menyala. Tapi disini berbanding terbalik, gelap, benar-benar sangat gelap, karena hamparan kebun teh yang ada di bawah sana tak kelihatan karena nggak memiliki penerangan sama sekali.
"Kamu kenapa duduk disini sendirian? gelap-gelapan, dingin lagi."
Suara Mas Jaya membuyarkan lamunanku.
"Aku sudah biasa seperti ini, sudah hampir dua tahun. Sejak ada Queen ditengah kita, aku udah nggak menemukan kehangatan apapun lagi. Kamu tidurlah." Aku melangkah meninggalkan Mas Jaya yang terdiam setelah mendengar ucapanku.
Aku segera ke dapur untuk memasak mie, aku lupa bahwa dari pagi aku belum makan. Disaat Mas Jaya nggak ada dan sibuk, itulah waktu dan kesempatan buatku untuk bisa bermain dengan Queen, makanya aku nggak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
"Kamu mau mie Mas? Aku lapar banget, dari pagi aku belum makan." Ucapku sama Mas Jaya, yang datang mendekati dan duduk dikursi yang ada dihadapanku.
"Zahra, maafkan aku."
Aku langsung memotong ucapan Mas Jaya.
"Jangan rusak mood makanku, biarkan aku menikmati makanan ini" Kukembangkan senyum padanya, dan melahap mie yang sudah selesai kumasak.
"Zahra, maafkan aku, maafkan aku yang sudah mengabaikanmu. Aku mungkin masih terbawa suasana bahagia menjadi seorang ayah." Ucap Mas Jaya sambil memelukku dari belakang, disaat aku mencuci piring kotor bekas makanku.
Kubalikkan tubuhku menghadapnya. Kuperhatikan dengan seksama wajah yang ada dihadapanku.
Perlahan kuletakkan keningku diatas dadanya, aku tumpahkan tangis disana.
"Kalau dulu aku pernah mengembalikan seorang anak pada ibunya, tolong sekarang kembalikan putriku, tolong kembalikan cinta suamiku padaku lagi." Ucapku pelan disela tangisku.
"Aku benar-benar nggak bisa hidup tanpa mereka Tuan Heru Sanjaya. Ambillah semua harta suamiku jika perlu ambillah nyawaku, tapi kembalikan putri dan cinta suamiku, Tuaaaannn."
Aku luruh dihadapannya, kupeluk kakinya. "Kalau aku boleh bersujud kepadamu, aku akan bersujud dan memohon untuk mengembalikan mereka padaku. jika bukan mendengarkan nasehat Ibu mertuaku dulu, saat ini aku mungkin sudah melawan padamu."
Suasana di dapur itu hening, aku masih menangis dan memeluk kakinya. Kalau bukan karena mendengar suara tangis Queen aku mungkin masih tetap merangkul kaki suamiku itu.
Pada saat aku masuk ke dalam kamar kulihat dia menangis memanggil Mama.
"Anak Mama nangis kenapa?" Kucium dan kupeluk dia, untuk menidurkannya kembali.
Saat seperti inilah yang Mama rindukan Nakk, disaat kamu tidur dalam pelukan Mama. Berkali-kali kucium kepalanya, kusenandungkan salawat untuk menidurkannya, dan sekaligus untuk menenangkan hatiku.
Sejak kejadian malam itu Mas Jaya mulai menyibukkan dirinya, pagi selesai shalat subuh dia langsung ke pasar, kalau aku ada jam kuliah, maka kami gantian menjaga Queen. Mas Jaya mulai sering main di pasar di Kota yang kami tempati saat ini, perlahan hubunganku mulai hangat lagi, tapi masih ada kekakuan dalam kehangatan itu. Kalau kemarin-kemarin dia yang selalu menyuapi anaknya makan, sekarang nggak pernah lagi.
Hari ini aku nggak ada jadwal kuliah, disaat aku menyuapin Queen makan siang, kulihat Mas Jaya baru pulang. Dia duduk disamping putrinya yang sedang kusuapi makan.
"Kamu dah makan sayang?" Tanyanya padaku. Aku hanya menggeleng. Dia langsung meminta Bi Ijah mengambil piring, menyendok sendiri nasi ke dalam piringnya.
Disodorkannya makanan yang ada dalam tanyannya kearah mulutku.
"Aku dah lama nggak nyuapin kamu makan, makanlah sama denganku."
Selama Queen ada, baru ini kurasakan dia mulai menyuapiku lagi, ada rasa canggung dan sedikit kekakuan.
********
Disaat aku sudah menidurkan Queen, Mas Jaya mengajakku duduk di balkon kamar.
"Aku sudah merenungi semuanya, aku sudah mengintrospeksi diriku. Sejak kita ada anak, akupun merasakan Zahraku yang dulu pergi. Aku rindu kenakalan-kenakalan istriku. Aku akan kembalikan suamimu, tapi kembalilah seperti istriku yang dulu.
Kehangatannyalah yang bisa mencaikan kebekuan hatiku Zahra, Aku salah, aku akui kesalahanku, tapi kembalikan jiwa istriku yang hilang karena ulahku. Katakan padaku, bagaimana cara membawa jiwanya pulang lagi." Digenggamnya tanganku, sambil berdiri diatas kedua lututnya.
"Pindahkan kamarnya, jangan buat dia tidur dengan kita lagi, aku nggak mau dia dewasa sebelum waktunya. Karena suamiku itu nggak bisa mengendalikan diri, kalau sudah dimanjakan." Ucapku padanya.
Kupengang kedua pipinya, lalu kusentuh wajah itu dengan ujung-ujung jariku.
Perlahan kudaratkan kecupan dikeningnya. Setelah itu, kusatukan wajahku dengan wajahnya, kupandang mata itu dengan jarak yang sangat dekat.
Aku mencoba mencari dan menyusuri kehangatan didalam mata itu. Lama kutatap tanpa berkedip. Akhirnya aku menemukan yang kucari dalam tatapan itu. Pandangan mata yang hangat, yang penuh cinta itu rasanya sudah kembali.
"Aku sudah menemukan kembali istriku Zahra, terimakasih mengembalikan nya" Mata yang kupandangi itu mulai berkaca-kaca.
"Jangan tinggalkan aku lagi Masss, aku benar-benar sangat rapuh tanpamu" Kurangkul kepalanya dalam pelukanku. " Aku rindu sama kamu."
"Jangan nangis Zahraaaa" Bisiknya pelan.
"Disaat aku menangis, apakah kamu udah mulai merasakan sakit lagi?!"
"Iya, bahkan sekarang lebih sakit dari pada sebelumnya."
Kujauhkan kepalanya dari dekapanku, kupandangi dan kucium wajahnya.
"Sekarang, biarkan dia tidur dengan ditemani Bi Ijah yah, tapi sebelum dia terlelap tetap kita menemaninya." Dianggukkan pelan kepalanya, menjawab perkataanku.
********
" Kamu benar, sejak dia pindah, aku benar-benar menemukanmu." Dikecupnya keningku.
"Diamlah, biarkan aku menikmati kehangatan tidur didadamu." Sesaat kurasakan detak jantungnya.
"Sayang, aku boleh jujur padamu? Tapi janji jangan marah ya." Ucapanku memecahkan kesunyian sesaatku.
"Boleh." Jawbnya singkat.
" Aku barusan berfikir, Antara suamiku, Heru Sanjaya yang biasa dipanggil Jaya itu, dan mantan Boss ku, Sepertinya aku lebih menyukai karakter Bossku."
"Alasannya?"
"Aku nggak bisa menyebutkan alasannya, tapi aku benar-benar merasakannya."
"Kau ingin berselingkuh dengannya? Berani-beraninya kau mengagumi laki-laki lain setelah kau bercinta denganku."
Aku segera bangun dan duduk melihat wajahnya.
"Kau marah Mas? Kau bisa marah? kalau kau marah seperti ini kau mirip sama Tuan Heru itu." Kubesarkan mataku dan tersenyum padanya.
"Kadang-kadang kalau mengikuti candaanmu, aku gila Zahra." Dipukulnya pelan keningku.
"Tapi kau membuatku lebih hidup dengan kegilaanmu." Ditariknya tubuhku dalam pelukannya.
"Tidurlah besok aku ada jam pagi, semoga aku berangkat Queen belum bangun, jd aku nggak melihatmu memanjakannya."
"Kau wanita aneh dengan anak sendiripun kau cemburu."
"Aku merasakan yang kau rasa dulu, kau cemburu sama Om Danu"
Aku tertawa bersamanya, kembali kami mengingat moment-moment yang buat kami harus saling bertengkar.
==============
Jam enam pagi, Mas Jaya mengantarku pergi kuliah, Queen belum bangun pada saat aku berangkat, Aku menitipkannya pada Mama dan Bi Ijah.
"Sayang, aku udah lama nggak pernah naik motor sama kamu, rasanya nyaman banget bisa meluk kamu."
"Sayang, kalau rayuanmu bisa membuat aku kenyang, rayulah aku terus."
"Hahhahahaa, Kau nggak kreatif banget sih jadi orang, itukan kata-kataku." Sambil kucubit perutnya.
Sepanjang perjalanan ke kampus, aku bercanda dengannya. Sampai dikampus, aku mengajaknya untuk makan mie ayam.
Selama aku kuliah, udah satu semester nggak ada yang tau tentang kehidupanku, melihatku hari itu diantar Mas Jaya, temanku pada heran.
Yuni teman sekelasku yang saat itu sama makan mie ayam, melihatku aneh karena aku makan semangkuk berdua dengan Mas Jaya.
Selesai makan, Mas Jaya pamit pulang, dan mencium keningku.
"Za, tunggu." Panggil Yuni.
"Udah mau terlambat, ayo buruan masuk. Kalau mau wawancara atau mengintrogasiku nanti aja." Kutarik tangannya menuju ruang kelas.
Selesai Jam kuliah aku menelpon Mas Jaya untuk menjemputku waktu itu sudah jam tiga sore.
Yuni yang sudah ada disampingku, berusaha bertanya ada hubungan apa dengan Mas Jaya.
"Kamu nggak salah kenal sama preman pasar gitu Za, masih sehatkan lo."
"Dia suamiku, ayah dari anakku." Ucapku sambil tersenyum..
"Jangan bercanda, kau nggak tau kalo Pak Roni suka sama mu." Ucap Yuni.
"Bilang dengan Dosen gantengmu itu, aku sudah bersuami, dan aku nggak mau cari masalah."
Yakinkan Aku Za, Itu bener suami mu?! Laki-laki nyeleneh, urakan dan kadang nggak tau malu itu?! Yang suka nongkrong di pasar dan bergaul dengan para preman gitu?!" Cerca sahabatku.
Aku hanya tersenyum, dan mengangguk untuk menjawab semua perkataannya.
"Kok bisa sih Za, mau sama laki-laki begitu, macam nggak ada laki-laki lain aja. Dia dapat kamu ketiban bulan, lah kamunya?! Mungkin lagi mabok loe ya, nerima lamaran dia.."
Lagi -lagi, aku hanya tersenyum mendengar ocehannya.
"Patah hati sebelum waktunya donk mereka."
"Udah ya, tu suamiku udah jemput sama anakku." Aku tepuk pundak Yuni, dan pamit pergi meninggalkannya.
Kulihat Mas Jaya dan Queen datang menjemputku. Aku segera masuk ke dalam mobil, dan memangku Queen.
" Anak Mama cakep banget, udah Mandi?" Tanyaku pada putriku itu dan tak lupa aku menciumi pipi gembilnya itu.
"Udah"
"Oh ya, Sapa yang mandikan?
"Papa"
"Tadi pagi mandi sama Papa juga?"
"Iya. Semua-semua sama Papa.
"Oh ya."Kupeluk erat dia. Sekilas kulirik suamiku yang lagi mengemudi itu, kulihat dia sedang tersenyum.
"Kalo gitu Mama boleh kasih hadia sama Papa?"
Kulihat dia sedang berfikir, untuk memberikan jawaban.
"Boleh"
"Tapiiiiii, anak Mama yang cantik ini harus tutup mata ya. Mama, malu sayang kalau dilihat kamu."
Kuminta Mas Jaya untuk berhenti sebentar. Kuminta juga dia untuk mencium pipi anaknya. Setelah itu kututup matanya.
Kuarahkan pandangan pada suamiku itu. Wajahnya yang masih dekat kupandangi.
Kuusap lembut pipinya, kuberikan kecupan dikeningnya. Lalu kucium bibirnya dengan lama.
"Makasih, sayang" Ucapku pelan.
Dia membalas dengan memejamkan matanya, dan mengangguk pelan.
"Makasih juga sudah mau berjuang dan memberiku putri yang cantik ini." Dikecupnya keningku.
"Mama! Ini Papa Queen." Suara cempreng Queensha membuat Mas Jaya melepaskan kecupannya.
"Kamu iri banget sih Queen, kalau Papa dekat sama Mama, seharusnya kamu ada dipihak Mama, bukan Papa."
Mas Jaya langsung tertawa, disambut juga dengan tawa Queensha yang sudah toss dengan Papanya.
Aku menitipkan Queen sama Neneknya. Wulan segera membawanya ke dalam rumah. Sebelum dia tau aku menculik Papanya.
Aku dan Mas Jaya langsung menuju rumahku.
Sesampai di rumah Mas Jaya menyuruh Bi Ijah untuk lihat Queensha di rumah Mama.
Aku langsung duduk dipangkuan Mas Jaya yang sudah terlebih dahulu duduk ditepi ranjang. Kulingkarkan kedua tanganku dilehernya.
"Kalau Putrimu itu nggak dititp disana, aku nggak punya waktu untukmu. Seperti inikah sakitnya waktu kamu mencemburuiku Mas?" Tanyaku pada Mas Jaya.
"Makanya aku suka marah nggak jelas." Jawabnya sambil mencium pipiku.
"Tapi, aku ini Mamanya, kenapa harus saingan sama dia sih."
"Kalau sainganmu wanita lain, kamu akan berbicara dengan angkuh dan penuh percaya diri, tapi dengan putrimu, kau kan nggak bisa seangkuh itu."
"Ini mungkin balasan ALLAH atas dosaku sama kamu, karena aku sering menjahilimu kali ya." Kusentuh hidungnya dengan ujung hidungku.
"Kau ingat waktu aku masih sakit? Kau mengerjaikukan"
"Hahhaaa kau ingat saja Mas. Aku bayar hutangku sekarang, setelah itu kita mandi dan menjemput Putrimu itu."
Trimakasih telah memberikan warna dalam hidupku Mas, trimakasih mengajarkanku apa makna dari seorang istri. Kita memang nggak tau siapa jodoh kita, menurut kita baik buat kita belum tentu baik menurut Allah, atau baik menurut Allah belum tentu buat kita. Yang penting ikhlas menerima segala yang sudah Allah tetapkan. Menikah dengan mu adalah jalan hidupku, menerima titahmu adalah bentuk baktiku, menghadapi sikap egoismu adalah metode belajar sabarku, dan aku harus menjalani ini dengan rasa ikhlasku. Bagaimana mungkin orang akan memberikan kita cinta kalau kita sendiri nggak pernah memberikan cinta.
=======================
==========
Saat ini Queensha sudah berusia 3tahun. Aku dan Mas Jaya sepakat untuk mengambil Rindu dan membawa dia bersama kami, agar Queen mempunyai teman.
Berhubung hari ini hari libur, aku memutuskan untuk bermalas-malasan.
"Sayang, kamu nggak mau bangun?" Tanya Mas Jaya.
" Biarlah hari ini aku menikmati hariku sebentar saja Maaass.." Jawabku sambil memeluk bantal guling dengan erat.
"Heran, makin lama jadi makin pemalas aja" Gerutu Mas Jaya.
"Kamu makin tua makin cerewet aja" Jawabku masih dengan memejamkan mata, sengaja kata "Tua" lebih kutekankan.
Kurasakan ada hembusan nafas menerpa wajahku.
"Kamu semakin hari semakin kelihatan lebih tampan aja Mas" Ucapku Pada Mas Jaya, dan menarik kerah bajunya untuk bisa lebih dekat denganku.
"Bangun sayang, sarapanlah, selagi anak-anak di rumah Mama" Dikecupnya lembut bibirku.
"Justru selagi Queen di rumah Mama, aku ingin meluk kamu. Kalau ada putrimu itu, jangankan memeluk, dekat denganmupun aku nggak bisa" Kusingkirkan guling yang ada didepanku, dan menarik Mas Jaya untuk berbaring bersamaku.
Kuletakkan wajahku dileher Mas Jaya.
"Kamu semakin hari semakin manja saja" Dikecupnya puncak kepalaku.
"Nggak terasa udah enam tahun kita menikah. Banyak suka duka yang kita lewati, kita nggak tau gelombang apalagi yang akan menghadang biduk rumah tangga kita." Ucapku pelan, masih dengan wajah menempel dilehernya.
Entah siapa yang memulai, satu persatu yang menjadi penutup tubuh antara aku dan Mas Jaya berpindah tempat. Ditengah perjalanan mendaki puncak....... Aku dan Mas Jaya dikagetkan dengan suara melengkin bocah 3tiga tahun yang menjadi rivalku di rumah ini.
"Mama...."
"Queensha!" Ucapku bersamaan dengan Mas Jaya.
"Kamu nggak kunci pintu?" Ucapku pelan pada Mas Jaya, yang sudah menenggelamkan wajahnya dibantal disebelah wajahku.
"Aku mana tau, bakal begini" Jawabnya tak kalah pelan.
"Papa, awas" Ditolaknya tubuh Mas Jaya yang masih berada diatasku, dan dibawah selimut itu.
"Sayang, Mama minta tolong tutup pintunya dulu" Syukurnya Queen mau menurut akan pada ucapanku.
"Turun dulu!" Segera kutolak tubuh Mas Jaya, dan mengambil kemeja Mas Jaya yang ada diatas tempat tidur, dan segera memakainya.
"Kamu bukannya di tempat nenek Queen!" Ucap Mas Jaya pada Queen yang sudah kunaikkan ke tempat tidur dan memeluknya.
Kudengarkan putri kecilku itu sedang bercerita. Sementara Mas Jaya masih sedikit uring-uringan dibelakangku.
"Ini gimana Zahra!" Erangnya dipunggungku.
"Salah kamu, kenapa nggak kunci pintu, lagian sama-sama tanggung ini" Ucapku sedikit menahan tawa.
"Mama ketawa kenapa?" Tanya Queensha disaat aku mentertawakan Papanya.
"Anak Mama cakep banget pagi ini, pinter lagi."
Terdengar pintu kamarku diketuk, terdengar suara Mama Mertuaku memanggil. Mas Jaya yang masih sedikit kesal segera turun dari tempat tidur, tak lupa dia memakai celana pendeknya.
Sementara Queen langsung memeluk tubuhku erat, dan menenggelamkan wajahnya didadaku, begitu mendengar suara Neneknya.
"Queensha disini?" Tanya Mama begitu Mas Jaya membuka pintu.
"Itu sama Mamanya, kenapa Ma?" Tanya Mas Jaya balik.
Setelah mempersilahkan Mama masuk, dan duduk disisi tempat tidur, Mama menceritakan kalau Queen kabur pulang karena habis menggigit temannya, sampai berdarah.
Aku dan Mas Jaya sontak kaget dengan apa yang dibilang Mama. Kucoba menjauhkan tubuh Queen dari dekapanku, namun dia semakin kuat memelukku.
"Mama nggak marah Nak.." Kukecup kepalanya.
"Kamu garang amat sih Queen. kalau gemes pasti main gigit" Ucap Mas Jaya sambil menepuk pantatnya. Seketika tangisnya langsung pecah.
"Kamu mandi gih Mas, dari pada marahin dia"
"Kalian Ibu, anak sama saja. Buat sakit kepala." Gerutu Mas Jaya.
Pada saat Mas Jaya mandi, aku berusaha mendiamkan putriku itu. Queen nggak akan melukai oranglain kalau dia nggak disakiti terlebih dahulu.
Selesai Mas Jaya Mandi, aku segera turun dari tempat tidur, dan menuju kamar mandi.
"Aku mau bicara sama kamu Mas, tunggu aku selesai mandi."
Selesai mandi dan memakai pakaian aku membawa Mas Jaya ke balkon, karena Queen sedang tertidur sehabis nangis.
"Kamu boleh marah sama aku, tapi jangan sama anak" Ucapku begitu sudah ada di balkon.
"Queen sama kamu sama garangnya"
" Ulang kamu bilang apa?"
"Kamu sama Queen sama cakepnya." Lalu pergi keluar.
Pada saat Rindu pulang, aku coba bertanya padanya kenapa Queen sampai menggigit temannya. Benar saja, karena Mbaknya diganggu orang lain. Mendengar penjelasan Rindu Mas Jaya terdiam.
======
Tidak ada komentar:
Posting Komentar