Persaudaraan Muslimah Indonesia, mempelajari Islam Secara Menyeluruh.

Kamis, 05 Maret 2020

Revisi Hati 1 - 5

#Revisi_Hati
Part 1 by Iim Bundanya Farras

"Argh!!!"
Aku berteriak saat kakiku terantuk sesuatu. Hampir aku terjerembab jatuh seandainya tidak ada tangan yang meraih kedua lenganku dari belakang.
"Hati-hati kalau jalan."
Suara berat itu langsung membuatku menoleh. Bersamaan dengan lepasnya tangan yang memegangi lenganku.

Mas Adam ternyata. Pria yang menjadi salah satu dokter di rumah sakit ini. Aku langsung mengangguk hormat padanya. Agak sedikit segan. Pembawaannya yang kalem dan sedikit bicara membuatku agak kaku bila berhadapan dengannya. Sosok ini memang disegani dan dihormati di kalangan karyawan rumah sakit.
"Kalau sampai jatuh, bahaya untuk kandunganmu."
Nasihat itu kembali kuiyakan. Dalam hati, aku juga mengucap syukur. Sedikit menyesali sikap cerobohku yang bisa membahayakan kandunganku seandainya tadi aku benar-benar terjatuh.
Mas Adam kemudian melewatiku setelah memberikan nasihat itu. Aku hanya memandangi punggungnya dari belakang. Aku menghembuskan napas lega dan melanjutkan langkahku menuju bagian personalia.

***
[Benar ini nomor mbak Gisha?]
Sebuah pesan masuk di sela waktu kerjaku. Nomor baru tidak kukenal. Tapi dia tahu namaku. Ingin kuabaikan saja, tapi takut kalau ini adalah hal yang penting. Jadi kuputuskan untuk membalasnya.
[Betul. Ini dengan siapa?]
[Saya, Irham, kenalan suami anda. Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan tentang suami anda. Bisa kita bertemu?]
Aku sungguh terkejut membaca isi pesan itu. Juga penasaran. Walaupun agak ragu harus bertemu dengan orang asing. Namun aku mencoba meyakinkan diriku sendiri.
[Boleh. Saya saat ini masih bekerja. Mungkin bisa bertemu nanti jam 5 sore. Di rumah makan Sedap Nusantara di jalan Bungur Raya.]
Aku sengaja memilih rumah makan yang lokasinya dekat dengan rumah sakit ini.
[Oke. Terima kasih.]
Aku kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Namun pikiranku tidak bisa tenang. Entah kenapa aku punya firasat buruk tentang janji pertemuan yang baru saja kubuat.

***
Aku segera mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Berharap menemukan seseorang yang terlihat sedang menunggu. Ada, seorang pria dengan kemeja berwarna putih. Lengan kemejanya digulung hingga siku. Dan memang benar kalau pria itulah yang bernama Irham, terbukti dia langsung berdiri dari duduknya saat melihatku masuk.

Aku menghampirinya dengan perasaan ragu. Juga sedikit cemas.
"Mbak Gisha?"
Aku mengangguk. Bisa kulihat pandangan pria itu jatuh pada perutku. Membuatku sedikit risih sehingga memilih untuk langsung duduk di kursi yang berseberangan dengannya.
"Mau pesan apa, Mbak?"
"Oh, nggak usah. Makasih."
Aku menolak tapi rupanya pria itu tidak menggubris. Dia memesankan segelas jus jeruk untukku.
"Ada apa ya, Mas? Apa yang mau disampaikan pada saya?"
Aku langsung bertanya setelah pelayan mengantarkan minuman untukku. Pria itu diam sesaat. Aku melihat ada keraguan di matanya. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di benaknya.
"Mbak hamil?"
Bukannya menjawab pertanyaan dariku dia malah memberikan pertanyaan yang membuat dahiku berkerut. Mungkin melihat tatapan curiga yang kulayangkan, hingga pria itu kemudian menggaruk kepalanya dengan salah tingkah.
"Maaf, Mbak. Bukan maksud saya untuk kurang ajar. Sebenarnya saya mau memberitahukan sesuatu pada anda."
"Ada apa, ya, Mas? Langsung sampaikan saja. Tidak perlu berputar-putar." Aku berusaha menggunakan nada tegas dalam suaraku.
Pria itu mengangguk mengerti. Terlihat berat, akhirnya dia mulai bicara.
"Saya mau memberi tahu anda kalau suami anda memiliki affair dengan adik saya."
"Hah? Maksudnya?" Aku tentu saja kaget. Dan juga bingung.

"Suami anda menjalin hubungan dengan adik saya. Sebenarnya saat saya tahu kalau adik saya berhubungan dengan seorang pria, saya selidiki pria itu. Dan saya akhirnya tahu kalau pria itu ternyata sudah beristri. Dan dia adalah suami anda."

Aku memegang kepalaku yang tiba-tiba berdenyut. Sungguh, dalam keadaan lelah seperti sekarang, aku sama sekali tak siap menerima kabar tak terduga ini.
"Memangnya anda tahu siapa suami saya?" Aku mencoba peruntungan. Bisa saja pria ini salah orang.
Pria bernama Irham itu mengangguk yakin. "Salman Affandi. Guru di SMA Negeri 4."
Betul. Apa yang dikatakan Irham betul. Mas Salman adalah suamiku. Tapi aku masih tidak percaya kalau suamiku bermain dengan wanita lain di belakangku. Kuatur napasku yang mulai terasa berat dan sesak. Mencoba berpikir jernih.
"Ada bukti?"

Irham menyerahkan beberapa lembar kertas padaku. Aku menerimanya dengan tangan bergetar. Lembaran itu ternyata hasil cetak gambar yang diambil dari layar tangkap ponsel. Berisi transkip percakapan dengan kontak bernama 'Pak Salman'. Juga ada foto-foto mesra mas Salman dengan seorang gadis muda.
"Saya mengambil screenshot percakapan mereka dari ponsel adik saya. Juga foto-foto mereka." Irham menjelaskan padaku.
Aku menatapnya dengan mata yang berembun. Namun sekuat tenaga, aku menahan air mataku. Tak ingin menangis di depan orang asing.
"Maaf, Mbak. Saya tidak tahu kalau anda sedang hamil. Tapi saya tetap harus menyampaikan hal ini pada anda."
Setelah menenangkan diri, aku baru mulai buka suara. " Jadi apa maksud anda memberitahukan hal ini pada saya?"
"Tolong minta suami anda menjauhi adik saya. Saya tidak mau adik saya menjalin hubungan dengan pria yang sudah beristri. Saya sendiri juga akan menasehati adik saya."

Aku mengangguk masih dengan fokus yang terbelah. Sungguh aku masih tidak percaya dengan fakta ini. Aku kenal mas Salman bukan hanya setahun dua tahun saja. Lebih dari delapan tahun.
Mas Salman memang orang yang ramah. Aku juga tahu kalau dia merupakan guru favorit bagi murid-muridnya. Pribadi yang menyenangkan untuk teman-temannya. Dan bagiku, dia adalah sosok suami idaman.
"Mas tahu mereka kenal di mana?" Aku menanyakan dengan hati berdebar.
Selama ini, tak pernah ada yang aneh dan mencurigakan dari sikap mas Salman. Dia tak pernah pulang telat, kecuali ada kegiatan ekstrakurikuler yang dibinanya. Gawainya juga selalu terbuka dan tak ada yang disembunyikan. Aku melihat tak pernah ada chat dari perempuan lain, kecuali muridnya.
"Ehm ... adik saya dulu murid Salman. Dia lulus tahun ajaran kemarin."
Aku kaget bukan kepalang. Sungguh benar-benar tak dipercaya. Suamiku menjalin affair dengan mantan muridnya sendiri. Dengan gadis yang usianya mungkin masih belasan tahun.
Entah karena melihatku yang kelihatan syok berat, atau karena wajahku yang pucat. Irham kelihatan bersimpati padaku. Bahkan menawarkan untuk mengantarku pulang. Jelas, aku tolak. Aku butuh waktu sendiri untuk mencerna semua ini.

***
Awalnya aku tidak ingin pulang ke rumah. Terlintas niat untuk pergi ke rumah orangtuaku saja. Tapi aku sadar kalau melarikan diri tidak akan menyelesaikan masalah. Seorang dewasa harus berani maju untuk menghadapi masalah yang datang.
Mobil mas Salman sudah terparkir di carport, tanda si empunya ada di rumah. Selama ini, memang mas Salman selalu pulang tepat waktu. Membuatku merasa tidak perlu mencurigainya. Tapi ternyata semua hanya kedok belaka.

Tahun ajaran ini baru mulai beberapa bulan. Berarti beberapa bulan lalu, mas Salman masih bisa bertemu dengan gadis itu hampir setiap hari. Yang membuatku muak adalah pikiran-pikiran buruk yang mulai membentuk slide di kepalaku. Tentang apa saja yang pernah mereka berdua lakukan.
Dan bodohnya aku yang selama ini percaya begitu saja pada mas Salman. Kukira dia tak pernah berubah. Dulu, dia begitu terlihat mencintaiku. Penantian bertahun-tahun dia lakoni sampai akhirnya aku menerima cintanya. Tapi sekarang? Apakah karena aku sudah berhasil dia miliki jadi membuatnya bosan? Selayaknya mainan, bukankah sesuatu lebih menarik bila memberikan tantangan.

Gila! Rasanya aku ingin memaki mas Salman sekarang juga. Kalau perlu, ingin kutampar wajahnya. Yang jelas aku butuh pelampiasan atas emosi yang kini menguasaiku.
Namun kembali kusadar kalau aku tak butuh semua itu. Aku akan membuat semuanya menjadi mudah. Pernikahan ini tidak akan bisa lagi berjalan kalau salah satu dari kami ada yang berlaku curang. Cukup jawaban pasti dari mas Salman. Iya atau tidak. Apapun alasannya, bila memang benar dia bermain di belakangku, maka ini adalah akhir dari hubungan kami.
Tapi kemantapan hatiku kembali menemui pergolakan. Tepat saat kurasakan gerakan di dalam perutku. Oh, Nak, Bunda hampir melupakan keberadaanmu. Kebingungan melanda pikiranku. Bagaimana nasib anakku nanti bila orangtuanya harus berpisah bahkan sejak dia belum menyapa dunia?

Aku masuk ke rumah tanpa salam. Kudapati mas Salman sedang duduk di sofa di depan televisi. Sibuk dengan gawainya. Mendengar langkah kakiku, dia langsung mendongak.
"Sayang, udah pulang? Kok nggak ucap salam?"
Aku abaikan teguran itu. Langsung berlalu masuk ke dalam kamar. Mataku rasanya memanas saat memasuki ruangan yang penuh kenangan pribadi kami ini. Dadaku rasanya mau meledak. Amarahku membakar hingga sekedar bernapas pun sulit aku lakukan.
Mas Salman menyusulku masuk ke dalam kamar. Pasti dia tahu ada yang tak beres denganku. Aku sendiri tak bisa membayangkan bagaimana raut wajahku sekarang.
"Hei, kamu kenapa? Sakit? Atau kecapekan?"

Tangannya menjangkau dahiku. Mencoba meraba panasnya. Namun keliru, yang panas membara adalah hatiku sekarang.
Aku mengelak dengan halus. Masih dengan mulut bungkam. Bahkan sekedar membalas tatapan matanya pun, aku enggan. Aku terlalu muak dengan semua ini. Tak bisa kubedakan mana perlakuannya yang tulus, atau manakah yang palsu.
"Oke. Kamu mandi dulu. Setelah itu kita makan malam bareng. Aku tadi beli ayam bakar madu kesukaanmu."

Mas Salman mengalah dan keluar dari kamar. Dia memang selalu begitu. Begitu tenang menghadapiku. Tidak pernah memperlihatkan emosi yang meledak-ledak. Tenang seperti air danau. Namun ternyata menyimpan rahasia yang mampu menikamku.
Aku dan mas Salman makan dalam kebisuan. Perhatiannya memang sengaja aku abaikan. Aku memaksakan menelan nasi yang rasanya seperti pasir ini. Bahkan ayam bakar kesukaanku inipun hanya makin membuat perutku bergejolak.

Setelah selesai makan, mas Salman mencuci peralatan makan kami tadi. Harusnya itu menjadi tugasku tapi mas Salman memaksa. Aku yang malas berdebat memilih menyingkir ke ruang tengah.
"Sayang? Kamu kenapa? Cerita sama aku kalau kamu ada masalah."
Tiba-tiba mas Salman sudah duduk di sebelahku. Aku agak terkejut. Hampir menjatuhkan ponselnya yang berada di tanganku.

Ya, aku baru saja menyiksa hatiku sendiri dengan mengeledah ponsel mas Salman. Awalnya tak ada yang aneh. Hingga akhirnya aku menemukan nama adik Irham di list percakapan. Andara Maulidina.
Aku benar-benar mau muntah. Membaca kalimat-kalimat gombalan di dalam percakapan itu. Sungguh, kalau aku tidak mengetahui hal ini dari Irham lebih dulu, aku juga pasti tak akan curiga. Apalagi di belakang nama kontak itu ditambahi keterangan kelas. Aku memang selalu mengabaikan pesan-pesan yang dikirim murid mas Salman. Karena kukira pasti itu cuma pesan wajar, selayaknya antara guru dan murid.
"Mas, siapa itu Dara?"
Wajah itu langsung memucat. Tidak siap dengan pertanyaan yang aku lontarkan. Reaksi yang sudah cukup menjawab kebenaran yang kucari.
To be continued ....
***


#Revisi_Hati
Part 2

"Mas, siapa itu Dara?"
Wajah itu langsung memucat. Tidak siap dengan pertanyaan yang aku lontarkan. Reaksi yang sudah cukup menjawab kebenaran yang kucari.
Mata mas Salman kemudian jatuh ke ponselnya yang ada di tanganku. Ada rasa takut yang terlintas dari bola matanya. Kaget karena rahasiamu akhirnya terbongkar, Mas?
"Sha, ini nggak seperti yang kamu duga." Mas Salman memulainya dengan omong kosong.
Aku langsung mendengus tidak percaya. Kuusap perutku untuk meredakan gejolak amarahku. Sedikit sedih karena anakku harus ikut mendengar semua ini.

"Mas, kamu sudah tahu dari awal kan apa syarat mutlak yang harus kamu penuhi kalau ingin menjadi pasanganku? Bahkan hal itu sudah aku tekankan berkali-kali sejak kita masih pacaran. Apa kamu lupa?"
Mas Salman membisu. Dia tak mungkin lupa. Dulu dia meyakinkan aku kalau akan sanggup untuk setia. Kesetiaan memang menjadi issue bagiku. Bukan, aku tidak pernah punya trauma. Tapi aku saklek pada prinsip satu hati cukup satu cinta.
"Tadi, kakak dari pacarmu itu menemuiku. Dia meminta kamu untuk menjauhi adiknya."
Wajah mas Salman yang terkejut tidak bisa disembunyikan lagi. Aku tersenyum sinis.
"Kalau memang kamu serius dengan mantan anak didikmu itu, kamu bisa ceraikan aku."

Sungguh, kalimat itu bagaikan pisau bermata dua. Melukai hati suami yang aku cintai, namun juga menyayat jiwaku sendiri. Air mataku menjadi saksi betapa besar kekecewaan dan kemarahan yang membelenggu pikiran dan hatiku.
Mas Salman menggeleng dengan keras kepala. Tubuhnya beringsut mendekatiku. Menggenggam tanganku yang berada di pangkuan.

"Gisha, bagaimana aku bisa berpisah denganmu sementara hanya kamu yang aku cintai? Sungguh, Sha. Dari dulu, cuma kamu wanita yang bisa membuatku jatuh bangun untuk dapat memilikimu. Dan aku nggak mungkin melepas apa yang sudah aku dapatkan dengan susah payah."

Aku menatap matanya yang memerah. Bisa kulihat kemelut di pikirannya. Tapi bukankah ini akibat dari perbuatannya sendiri. Harusnya dia tahu resiko yang akan dihadapi sebelum melakukan sesuatu.
"Tapi hatimu sudah berpaling, Mas. Kamu sudah menempatkan orang lain di antara kita. Tanpa kamu sadari, hatimu sudah terbagi. Aku akan membuatnya lebih mudah untukmu. Kamu tak perlu memilih, biarkan aku yang mundur."
Mas Salman kembali menggeleng. Kali ini genggaman tangannya makin erat. Penyesalan itu makin tampak di matanya.

"Nggak, Sha. Hatiku nggak pernah terbagi. Cuma ada kamu. Dara ... tak lebih hanya selingan. Aku akui kalau aku memang brengsek. Tapi bagiku, dia bukanlah siapa-siapa. Levelnya jauh di bawahmu. Aku hanya iseng dengannya."

Kali ini, aku tertawa sinis. Hampir tak mengenali suamiku sendiri. Begitu mudah dia menjatuhkan harga diri seorang gadis yang baru beberapa jam lalu dia kirimi pesan mesra penuh perhatian.
"Iseng? Begitu remehnya kesetiaan bagimu, hingga bisa dikalahkan oleh rasa iseng semata?"
"Sha, tolong beri aku kesempatan. Sebentar lagi kita akan jadi orangtua. Jangan sia-siakan kesempatan kita untuk bahagia karena masalah ini. Aku pastikan kalau kesalahan ini adalah terakhir kalinya. Aku akan kembali jadi suami yang setia sama kamu. Kita besarkan anak kita berdua. Mau ya, Sayang?"
"Menurutmu, aku ini cuma robot yang tidak punya perasaan? Bagaimana aku bisa dengan mudah melupakan sesuatu yang bagiku sangat fatal?"
"Sha, kumohon. Demi anak kita, maafin aku. Aku janji akan menebus kesalahanku ini seumur hidupku."
Bukankah janji itu terdengar manis? Tapi aku masih tak bisa percaya. Sulit mengembalikan apa yang sudah terlanjur rusak. Dalam hal ini adalah kepercayaanku pada mas Salman.
"Aku butuh waktu untuk memikirkan semua ini. Dan ada baiknya kamu juga pikirkan baik-baik, Mas. Apakah kamu memang sanggup melepaskan pacarmu yang belia itu demi keutuhan rumah tangga kita?"
"Tentu, Sha. Bagiku, kamu tetap yang utama dan satu-satunya. Soal Dara, aku benar-benar hanya khilaf."
Aku masih tak percaya dengan penjelasan dari mas Salman. Tapi aku juga malas untuk berdebat kembali. Kulangkahkan kakiku untuk berlalu meninggalkannya. Masuk ke kamar dan mengunci pintu. Harusnya dia paham kalau aku tidak mau tidur satu kamar dengannya malam ini.

***
Pagi ini aku sengaja ingin berangkat lebih pagi dari sebelumnya. Salah satu usaha untuk menghindari mas Salman. Sungguh, amarahku masih berada di level yang cukup tinggi. Kata memaafkan masih jauh dari bibirku.
"Aku antar, Sha."
Mas Salman langsung sigap mengambil kunci mobil saat melihatku keluar kamar, siap untuk berangkat kerja. Biasanya dia sudah berangkat pada pukul enam pagi. Namun hari ini lain dari biasanya. Dia masih di rumah padahal jarum pendek jam sudah berada di angka tujuh.
"Nggak perlu. Aku mau naik taksi aja."
Bukannya bersikap kekanak-kanakan, tapi aku memang butuh ruang untuk sendiri. Jauh dari mas Salman.
Kuabaikan pandangan putus asa yang dilayangkan mata mas Salman. Egoku mengatakan kalau dia pantas mendapatkan itu.
Sebuah mobil berwarna silver berhenti di depan pagar. Memberikan tanda lewat bunyi klakson. Aku keluar dari rumah dengan mas Salman mengekor di belakang.
"Hati-hati, ya? Kabari aku kalau sudah sampai rumah sakit."
Mas Salman berpesan saat aku akan masuk ke dalam mobil. Dia bahkan sengaja mendahuluiku untuk membukakan pintu. Aku menjawabnya dengan gumanan. Itupun sebenarnya hanya untuk menjaga harga dirinya di depan supir taksi.

Aku menghela napas panjang. Lelah bersikap seperti ini dari kemarin. Perlahan air mataku menetes. Perihnya hatiku atas penghianatan mas Salman benar-benar menyiksaku.
Kuusap pipiku untuk menghalau banjir ini. Namun percuma. Satu tetes aku hapus, akan langsung disusul tetesan lainnya.
Tanganku membuka tas. Bermaksud mencari tisu untuk membersihkan wajah. Saat itulah tiba-tiba kudengar benturan keras. Tubuhku menghantam sisi pintu sebelah kiri. Kemudian semuanya berlalu cepat dan tak sempat kucerna dengan akalku. Bunyi benturan bersama klakson bercampur dengan teriakan orang. Dan tiba-tiba semua hilang. Gelap.

***
Tahu rasanya bangun tidur setelah mimpi buruk? Ah, benar. Lega pastinya. Ternyata semua kejadian yang tak bersahabat itu hanyalah bunga tidur.
Tapi tahu apa rasanya saat kau terjaga dan mendapati kenyataan mengerikan tersaji di hadapanmu?
Saat kubuka mata, yang kurasakan adalah tenggorokanku yang sakit sekali. Bahkan untuk mengeluarkan suara pun aku tak sanggup. Belum lagi dengan seluruh tubuh yang tak karuan rasanya. Perut terasa nyeri. Kepala rasanya berdenyut sakit. Kaki dan tangan yang kaku.
Tapi saat kesadaranku benar-benar pulih, semua itu lepas dari perhatianku. Mataku membelalak ngeri saat tanganku meraba perut. Tidak datar, tapi jelas tak sebesar saat aku belum mendapatkan seluruh kesakitan ini.
"Anakku di mana, Bu?"
Aku bertanya pada Ibu yang berdiri siaga di sampingku. Dokter baru saja berlalu setelah memastikan kondisi vitalku baik-baik saja.
Ibu membuang pandangan. Tapi sempat kulihat air itu mengalir di pipinya. Aku beralih pada mas Salman yang berada di samping Ibu.
"Anak kita di mana, Mas?"
Mas Salman setali tiga uang dengan Ibu. Hanya diam membisu. Wajahnya mendung sekali. Kemudian tangannya meraba kakiku yang terbaring di hadapannya. Mengusap lembut dengan kepala menunduk.
"Maafkan aku, Sha. Aku nggak bisa jaga anak kita." Pelan tapi pilunya menusuk gendang telingaku.
Aku menggeleng dengan keras. Tak puas dengan jawaban itu. Ganti kukejar Ayah yang duduk di sofa. Kelihatan tiada daya.
"Yah? Di mana anak Gisha, Yah?" Aku bertanya dengan nada gemetar.
Pria yang paling kupercaya di dunia itu pun berbuat serupa Ibu. Bungkam tanpa kata. Matanya terlihat lelah. Bukan sekedar lelah raga, tapi juga jiwa.
Namun dengan tertatih, Ayah berdiri dan menghampiriku. Tangannya yang hangat mengusap pelan puncak kepalaku. Beliau menghembuskan napas panjang sebelum mengumumkan kehancuran duniaku.
"Sabar, ya, Sayang? Allah lebih sayang dengan anakmu. Insya Allah, sekarang dia sudah menjadi penghuni surga."

***
Selama berhari-hari terbaring di rumah sakit, aku merasa terombang-ambing dalam dunia yang terasa kejam. Puluhan nasihat yang mengajakku untuk berdamai dengan keadaan, aku abaikan. Suara-suara penghiburan yang terdengar, sengaja aku tulikan.
Menangis, menangis, dan menangis. Lelah hingga aku jatuh tertidur. Lalu terjaga kembali hanya untuk menangis lagi. Membuat sejuta kalimat pengandaian. Sesuatu yang tiada berguna, dan membuat kecewaku makin menggila.
"Sha? Makan dulu, Sayang?"
Satu sendok berisi bubur dari rumah sakit, mas Salman sodorkan ke depan mulutku. Namun aku bergeming. Sesaat kemudian aku justru memalingkan muka. Bisa kudengar helaan napas mas Salman.
Ibu kemudian beranjak mendekat. Mengambil alih nampan berisi makanan. Mas Salman beranjak untuk menyingkir. Membiarkan Ibu yang mengurusku.
Ya, aku memang mendiamkan mas Salman sejak aku tahu kalau anakku tidak selamat. Kekecewaan ditambah kehilangan membuatku makin marah padanya. Bahkan kesabarannya tidak melunakkan hatiku.

Andai tak ada wanita lain di kehidupan kami, pasti kini aku sandarkan kepalaku di bahunya. Mencari perlindungan di pelukannya. Dan berbagi duka dengannya.
"Aku mau pulang ke rumah Ayah dan Ibu," ucapku saat perawat memberitahukan kalau aku sudah boleh keluar dari rumah sakit.
Mas Salman menatapku dengan pasrah. Ayah dan Ibu saling berpandangan. Mereka memang belum tahu masalah di antara aku dan mas Salman. Aku masih enggan untuk bercerita. Butuh waktu, karena membuka luka tidak pernah mudah.
"Ya udah kalau begitu. Biar Ibu juga bisa jagain kamu nanti. Nggak apa-apa kan, Sal?" Ayah bertanya pada mas Salman.
Mas Salman tidak ada pilihan lain selain mengiyakan. Toh harusnya dia sadar diri. Aku tak akan kembali lagi padanya.

***
Ibu menuntunku masuk ke kamar yang dulu kutempati saat masih lajang. Tidak ada yang berubah. Keadaannya bersih dan rapi karena Ibu memang rutin selalu membersihkannya. Kamar ini masih sering kupakai saat harus menginap di sini.
Setelah memastikan semua sudah tersedia dan aku nyaman, Ibu pamit keluar kamar. Menyiapkan makan malam.
Dalam sepi seperti ini, memoriku dipaksa kembali mengingat apa yang telah terjadi. Tentang semuanya. Luka atas penghianatan mas Salman. Luka atas kehilangan buah hati. Menumpuk semua hingga rasanya hampir tidak bisa kuatasi.
Suara derit pintu membuat kepalaku menoleh. Mas Salman masuk dengan membawa tas berisi baju. Tadi dia pulang dulu ke rumah untuk membawakan barang-barangku dari sana.

"Tidur aja, Sha. Kamu harus banyak istirahat." Mas Salman berbicara sambil mulai menata pakaianku ke dalam lemari.
"Mas ...."
Dia menoleh dengan raut agak terkejut. Jelas, karena ini kali pertama aku mau berbicara padanya. Atas kemauanku sendiri.
"Ada apa?"
Mas Salman bergegas mendekat ke arahku. Duduk di tepi ranjang dekat dengan kakiku.
Aku menunduk. Mengatur napas dan menenangkan diri. Tapi aku harus menghadapi semua ini.
"Apa kamu punya ... foto anak kita? Aku ingin melihatnya."
Mas Salman memandangku dengan sendu. Matanya memerah. Aku tahu ini juga berat untuknya.
Tangannya meraih ponsel yang disimpan di saku kemejanya. Mencari apa yang kuminta, kemudian mengulurkan ponsel itu ke arahku. Tangannya bergetar.

Aku meraihnya dengan hati berdebar. Saat ini akhirnya tiba. Aku bisa melihat wajah buah hati yang telah bersamaku selama lebih dari tujuh bulan. Hal yang selama ini aku nantikan, namun dengan keadaan yang berbeda. Hanya lewat gambar dua dimensi aku bisa menatapnya.
Air mataku mengalir saat wajah itu terlihat. Kecil sekali. Putih dan bersih. Bercahaya layaknya calon penghuni surga. Anehnya, makin lama aku memandangnya, hatiku makin jatuh cinta padanya.
Kubekap mulutku untuk menahan isak tangis yang keluar. Ternyata sesakit ini. Kehilangan seseorang yang lama dinanti bahkan sebelum aku sempat mendekapnya satu detikpun.
Isakanku makin tak terkendali. Bergabung dengan tangis mas Salman. Dan aku tak menolak saat kedua tangannya mendekap tubuhku dengan erat. Menyatukan tangis kami berdua. Menyuarakan kehancuran hati kami kehilangan sang buah cinta.
"Haidar. Aku menamainya Haidar," bisik mas Salman dengan suara bergetar.

To be continued ....


#Revisi_Hati
Part 3

Setelah peristiwa mas Salman yang memelukku di kamar, aku mulai agak melunak. Tidak terlalu menghindar namun masih menjaga jarak.
Jujur saja, aku juga masih bimbang. Bingung dengan apa yang akan kupilih untuk masa depan hubungan kami. Tekadku untuk berpisah mulai goyah, namun masih ragu untuk memberinya kesempatan. Masih ada rasa takut dan kecewa yang bercokol di hatiku.
Sudah hampir dua minggu, aku tinggal di rumah orangtuaku. Mas Salman mengalah dengan bolak-balik antara rumah kami, sekolah, dan rumah orangtuaku.
Kadang dia menginap, kadang tidak. Jarak rumah ini ke sekolah mas Salman memang lumayan jauh. Agak repot kalau berangkat dari sini, jam lima pagi kadang harus sudah jalan kalau tidak mau terlambat.
Ibu dan Ayah sebenarnya tak tinggal diam. Berkali-kali menasehati agar aku mau pulang ke rumah sendiri. Alasannya tentu karena kasihan dengan mas Salman. Mereka memang belum tahu alasan ketegangan hubungan kami. Mungkin mengira ini hanya karena kepergian Haidar. Padahal bukan sama sekali.
Aku tahu betapa Ayah dan Ibu sangat menyayangi mas Salman. Bahkan menganggapnya seperti anak sendiri, layaknya Gavin, adikku. Jadi tak bisa kubayangkan bagaimana kekecewaan mereka nanti kalau tahu fakta sebenarnya. Sang menantu kesayangan ternyata seorang penghianat.
Namun ternyata aku tak perlu mengatakan apa yang sudah dilakukan mas Salman di belakangku. Fakta itu terkuak dengan sendirinya.
Malam itu, aku agak gelisah. Mas Salman belum datang padahal tadi pagi bilang kalau akan menginap di sini. Tapi sampai Maghrib, tak kunjung kelihatan batang hidungnya.
Hingga saat pukul delapan malam, aku sudah akan bersiap tidur, Mas Salman datang bersama dengan kedua orangtuanya.

Wajah Papa tampak tegang dan penuh amarah. Mama lain lagi. Beliau langsung memelukku dengan tangis terurai. Dan aku hampir menjerit kaget saat melihat wajah mas Salman. Wajahnya ... penuh luka. Seperti orang yang baru saja dipukuli. Atau memang ada yang memukuli mas Salman?
"Gisha, kamu tahu siapa itu Dara?"
Pertanyaan Papa membuatku langsung terperangah. Jadi ini tentang gadis itu? Ada apa lagi?
Saat aku mengangguk, Papa tampak kian frustasi. Mama makin tersedu dalam tunduknya.
"Mas Lukman, saya pasrah kalau anakku yang tak tahu diri ini mau kamu hajar. Sungguh, aku rela dan ikhlas."
Ayah dan Ibu masih terlihat bingung. Sama sepertiku. Apalagi mereka memang belum tahu siapa Dara itu.
"Ada apa ini sebenarnya?" tanya Ayah penasaran.
Papa berpaling ke arah mas Salman. Terlihat masih murka. "Kamu bilang sendiri sama mertuamu!"
Mas Salman masih menunduk. "Maafkan saya, Yah. Saya berbuat sesuatu yang tidak akan pernah termaafkan."

Deg! Aku seakan bisa menebak arah pembicaraan ini. Sesuatu yang buruk pasti sudah menanti.
"Ada apa, Sal?" Ayah kini bertanya pada mas Salman.
Mas Salman tak kunjung menjawab. Papa juga tak mau ikut membantu. Hening beberapa saat yang tercipta kemudian pecah oleh pernyataan mas Salman yang menikam hatiku berkali-kali.
"Saya sudah khilaf menghamili seorang gadis."
Aku bisa mendengar Ibu yang terkesiap kaget. Kemudian kutundukkan pandanganku. Enggan melihat reaksi kedua orangtuaku. Sedih melihat kekecewaan yang pasti mereka alami karena ulah suamiku.
"Hajar saja dia, Mas Lukman! Aku sungguh ikhlas. Aku malu punya anak laki-laki sebrengsek dia. Malu!" Papa nampak tak terkendali. Mama kian bersedu sedan.
Tapi Ayah masih tampak kaget hingga tak kunjung merespon. Kemudian mata beliau menemukanku. Memandangku dengan luka yang sama.
"Saya pasrahkan masalah ini pada Gisha. Keputusan ada di tangannya."
Mama tiba-tiba berdiri. Duduk bersimpuh dekat kakiku dan menangis keras. Aku terkejut dengan reaksi beliau. Kubantu Mama untuk beranjak agar duduk di sampingku. Tangan beliau memegang tanganku erat.
"Mama mohon, Sha. Beri Salman kesempatan. Mama nggak mau kehilangan kamu," pinta Mama dengan terisak.
Aku hapus air mataku yang ikut turun. Kubalas genggaman tangan beliau. Mencoba terlihat tegas pada saat ini.
"Mama nggak akan kehilangan aku. Tapi aku nggak bisa kalau harus terus bersama mas Salman, Ma. Aku mau kami berpisah."
Bismillah. Semoga ini keputusan yang terbaik bagi kami semua.

***
Setelah langitku runtuh karena kepergian Haidar, luka karena perbuatan mas Salman tak terasa begitu sakitnya. Ibarat kata, aku sudah terjatuh dengan tubuh penuh luka, jadi kalaupun harus ditambah tertimpa tangga, sakitnya hanya bertambah sedikit.
Lain halnya dengan orangtuaku. Aku lihat Ayah semakin murung. Ibu kadang menangis sendirian di dapur. Justru, ini yang lebih menyakitkan bagiku.
Akibatnya aku makin jarang keluar kamar. Jadwal makanku makin tidak teratur. Melamun menjadi hobiku yang baru.

Malam itu aku masih duduk si kursi yang kutaruh di dekat jendela. Mataku menatap langit. Melihat kerlip bintang di antara langit yang gelap.
Suara pintu yang terbuka dengan jeplakan keras membuatku menoleh kaget. Mas Ghadi masuk dengan wajah kaku. Kakakku yang kini tinggal di kota yang berbeda itu datang pagi tadi. Bersama keluarga kecilnya, istri dan seorang putranya yang berumur lima tahun.
"Turun ke bawah, Sha. Kita makan malam bareng," ajak Mas Ghadi sambil berjalan menghampiriku.
Aku menggeleng dengan enggan. Bukan bermaksud kurang ajar pada mas Ghadi, tapi aku sungguh tak berselera untuk makan.

Tapi tak kuduga, mas Ghadi menarik tanganku. Menyentaknya dengan keras hingga aku berdiri. Genggaman tangannya di lenganku terasa lumayan sakit. Mas Ghadi terus menarikku hingga keluar kamar. Tak peduli dengan langkahku yang terseok-seok mengikutinya.

Mas Ghadi terus menggandengku dengan paksa hingga masuk ke ruang makan. Semua orang menoleh pada kami. Ayah duduk di kursi yang paling ujung, di kepala meja. Ibu berada di sebelah kanan Ayah, sejajar dengan Gavin. Kursi sebelah kiri Ayah yang berhadapan dengan kursi Ibu tidak ada yang menempati. Kak Mutia, istri mas Ghadi duduk berhadapan dengan Gavin. Kursi di kepala meja ujung yang lainnya, yang berhadapan dengan kursi Ayah, juga belum terisi.

Mas Ghadi mendudukan aku di kursi di sebelah kak Mutia, berdekatan dengan Ayah. Tampak ada emosi yang coba ditekan olehnya. Tangannya membalik piring di hadapanku. Mengisinya dengan lauk serta nasi.
"Makan!" perintahnya tegas.
Aku menjawabnya dengan gelengan.
Bantingan sendok di piring membuat kami semua kaget.
"Mau sampai kapan kamu seperti ini terus, Sha?!" Mas Ghadi berteriak padaku.

Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Kakak sulungku ini sebelumnya tidak pernah sekalipun membentakku. Dia selalu menjadi pembelaku. Bahkan Gavin sering iri padaku karena menjadi adik kesayangan mas Ghadi. Sungguh, aku sakit ketika mendengar bentakannya itu.
"Kenapa? Mau nangis? Ayo nangis sepuasnya! Keluarkan semuanya, Sha! Jangan ada yang kamu pendam atau tutup-tutupi lagi." Mas Gadhi masih menggunakan nada yang tinggi walaupun kini tak lagi berteriak.
Bulir demi bulir air mata jatuh di pipiku. Semakin lama semakin deras. Isakan keluar bersama dengan sesak di dadaku yang kian berkurang. Membuatku mulai bisa merasa lega atas semua ganjalan yang tadi membelenggu. Aku tutupi wajahku dengan kedua tangan saat wajahku mulai basah karena air mata.
Hening. Tak ada yang bersuara. Mas Ghadi nampaknya juga sudah mulai tenang. Perlahan, aku merasakan tanganku ditarik. Membuat wajahku yang berurai air mata menjadi terpampang nyata.
Senyuman hangat mas Ghadi menyambutku. Tangannya yang besar mengusap pipiku yang basah dengan lembut dan hati-hati.

"Sha, kamu boleh menangis kalau memang hatimu sedih, marah, ataupun kecewa. Boleh, Sha. Itu manusiawi. Tapi setelah lelah menangis, kamu juga harus mulai bangkit. Menata hidupmu sendiri. Orang lain memang bisa membuat kita terluka, tapi kita juga bisa ciptakan kebahagiaan kita sendiri."
"Jangan buat Mas sedih lagi, ya? Adik kesayangan Mas yang paling cantik, harus tetap bisa bangkit dari keterpurukan. Ingatlah kalau ada Mas yang selalu akan lindungi kamu. Mas yang akan selalu dampingi kamu. Juga Mas yang tak akan lelah menjadi sandaranmu."
"Kalaupun bukan untuk Mas. Coba lihatlah orangtua kita. Ayah yang sedari kecil memperjuangkan kehidupan yang layak untukmu. Ayah yang tak pernah memperlihatkan kelelahannya dalam menafkahi keluarga. Ayah yang menangis kala melepasmu untuk berkeluarga."

"Juga Ibu, Sha. Ibu yang mengandungmu selama sembilan bulan, menyusuimu selama dua tahun. Rela berkorban untuk setiap senyum dan tawamu. Yang berdoa selalu untuk kebahagiaanmu. Demi mereka, Sha, tolong ... tolong buatlah dirimu bahagia. Ayo, kita bangun bersama dari titik nadir ini. Bisa, kan, Cantik?"
Aku mengangguk dengan keras. Lenganku langsung memeluk pria yang berbagi darah denganku ini. Kutumpahkan tangis yang kuharap menjadi tangisan kesedihan terakhir di hidupku.
To be continued ....
***

#Revisi_Hati
Part 4

"Mbak, aku harus tampil paling cantik nomor dua setelah Anisa, si pengantin wanita, ya?"
Permintaan Maya itu membuatku memutar bola mata. Anak itu memang suka blak-blakan. Dari cermin di hadapanku bisa kulihat si Mbak yang bertugas meriasnya tersenyum sembari mengangkat jempolnya.
"Mbak, alis saya jangan dicukur. Cukup rapikan pakai pensil alis aja."
Aku memberi instruksi saat melihat penata rias yang mengerjakan wajahku bersiap merapikan alisku dengan tweezer di tangannya. Untung, penata rias ini tidak rewel dan menuruti keinginanku.
"Iya, Mbak. Dia nggak usah dibikin cantik-cantik amat." Maya menimpali dengan senyum jahil. "Soalnya dia itu janda, biar nggak cantik juga, udah mengeluarkan aura pesona tersendiri."
Aku langsung melotot galak padanya. Tanganku hampir meraih botol hair spray. Namun bukannya takut, Maya malah tertawa terbahak-bahak. Udah gila kayaknya!
"Ciee ... panas ye?" Maya terus meledekku.

Awalnya aku memang cemberut, tapi lama-lama akhirnya jadi ikut tertawa. Membuat dua penata rias di belakang kami geleng-geleng kepala. Mungkin kasihan pada Anisa karena telah memilih dua orang wanita gila jadi pendamping pengantin.
Benar, aku sama sekali tidak tersinggung dengan ledekan Maya tadi. Dia juga tidak bermaksud untuk menyindirku. Itu murni lelucon di antara kami.
Ternyata waktu selama dua tahun sudah mampu mengeringkan luka di hatiku. Hari di mana aku bisa membahas masa laluku dengan senyuman tanpa beban akhirnya tiba. Semuanya tidak lain berkat dukungan dari orang-orang sekitarku. Ayah dan Ibu. Saudara-saudaraku. Juga sahabat-sahabatku.
"Eh, yang jadi pendamping pengantin pria siapa, sih?"
"Katanya sih temannya Farhan. Tapi aku nggak kenal. Bukan teman di klinik." Aku menjawab pertanyaan Maya sambil mengecek ponselku.

Hari ini adalah hari pernikahan salah satu sahabatku, Anisa. Dia menikah dengan pria yang sudah menjadi kekasihnya sejak jaman masih SMA. Namanya Farhan. Dan Farhan ini adalah seorang fisioterapis di klinik tempatku bekerja sekarang.
Aku memang memutuskan resign dari rumah sakit sejak aku berpisah dengan mas Salman. Bukan karena ada masalah tertentu. Rasanya aku hanya butuh suatu momentum atas lahirnya diriku yang baru. Dan kuawali langkah pertama dengan mengganti suasana kerja.

"Moga aja ganteng ya, Sha? Bisa tuh dijadiin gebetan." Maya nyengir saat mengatakannya.
Aku geleng-geleng kepala. Maya sebenarnya tidak kekurangan pria dalam hidupnya. Pria yang mau jadi pacarnya itu kalau disuruh antri, panjangnya pasti sudah mengalahkan antrian pembuat SKCK saat akan ada tes CPNS.

Tapi Maya orangnya selektif. Entahlah, aku tak mau menghakimi. Tapi sepertinya dia masih belum menemukan seseorang yang bisa membuatnya tertarik.
"Bukannya kapan itu kamu dikenalin sama anaknya teman Tante kamu? Emang nggak jadi?"
Maya malah mencibir. Terlihat kesal. Mungkin pertemuannya tak sebagus ekspektasinya.
"Duh, cowoknya parah banget, Sha. Aku sampai curiga, dia itu dulu skripsinya pakai jasa joki."
"Ih, ngawur. Kalau sampai salah jatuhnya jadi fitnah tauk!"
Maya malah menghela napas. Terlihat benar-benar frustasi. "Kamu juga akan bilang seperti aku kalau ketemu orangnya langsung. Beh ... gayanya aja songong banget. Sok pinter gitu. Tapi masa sih, dia selama ini mengira kalau ibukota Arab Saudi itu di Mekah, gara-gara Ka'bah itu adanya di Mekah. Kan parah banget! Aku sih nebak kalau seandainya dia itu bukan orang Indonesia, pasti dia mikirnya ibukota Indonesia itu Bali."
Aku terkikik geli mendengar cerita Maya. Namun sedikit kutahan, sih. Soalnya aku nggak mau kena semprot sama Mbak perias kalau kebanyakan gerak.
"Masa, sih? Parah banget, dong?"

"Iya, emang. Belum lagi pas dia sok bahas pentingnya hutan mangrove. Kamu tahu nggak dia bilang apa soal fungsinya hutan mangrove itu? Masa dia bilang buat mencegah aborsi. Jauh banget, kan? Dari abrasi ke aborsi. Sumpah, aku langsung ilfeel duluan."
Kali ini aku tidak sungkan untuk tertawa terpingkal-pingkal. Bahkan sampai pipiku rasanya sakit sekali. Perutku juga. Bahkan Mbak perias juga ikut-ikutan tertawa. Sedangkan Maya malah manyun. Terlihat benar-benar keki dengan pria yang dijumpainya kemarin itu.
"Terus kamu nggak koreksi kesalahan dia itu?" Aku bertanya setelah tawaku benar-benar reda.
"Nggak perlu. Orang sudah kena virus seperti dia itu susah buat disembuhin."
"Virus?"
Maya mengangguk mantap. "Iya, virus vikinisasi."

***
Acara ijab kabul pernikahan Anisa dan Farhan berjalan khidmat dan lancar. Tidak ada drama yang terjadi.
Jujur saja, melihat acara sakral ini membuatku teringat pada hal-hal yang sangat ingin kulupakan. Masih ada rasa tak percaya kalau ikatan pernikahan yang kujalani dulu hanya bertahan kurang dari satu tahun.
Air mataku hari ini bermakna dua hal. Pertama, ikut merasa bahagia kala sahabatku akhirnya menemukan pelabuhan setelah berlayar sendirian selama hampir 28 tahun. Kedua, karena mengingat detail pernikahanku dulu. Menyedihkan, bukan?

Untung saja, aku ditemani Maya dari tadi. Setidaknya banyolan dia bisa sedikit menghiburku. Sejak masih SMP, dia memang sahabat yang selalu bisa diandalkan.
"Makan yuk, Sha?" ajak Maya padaku.
Aku langsung mengangguk. Perutku juga sudah lapar. Sekarang sudah pukul dua siang, sementara terakhir aku makan adalah pukul delapan pagi. Sebelum acara ijab kabul dimulai.
"Tapi aku ke toilet dulu," pamit Maya dan langsung ngacir.
Aku geleng-geleng kepala melihat caranya berlari yang persis seperti calon pengantin kabur. Kain batik bawahannya, dia angkat lumayan tinggi untuk memudahkannya berlari.
"Gisha?"
Sapaan itu membuat aku menoleh. Sesosok gadis yang wajahnya cukup familiar terlihat berbinar menatapku. Aku mencoba mengingat siapa gadis ini. Rasanya aku agak lupa-lupa ingat.
"Pasti lupa? Udah lama banget kita nggak ketemu."
Aku meringis, merasa kurang enak padanya. "Maaf, siapa, ya?"
Dia malah tertawa kecil. Tidak kelihatan tersinggung sama sekali.

"Aku Salwa. Teman sekelas kamu di bimbel Ganesha. Dulu waktu kita masih SMA."
Aku menepuk keningku kemudian ikut tertawa. Aku sudah ingat sekarang. Salwa, anak manja yang pernah menangis karena tidak ada yang menjemputnya saat pulang bimbel. Akhirnya kuantar dia pulang karena aku memang sudah membawa motor saat SMA.
Tapi tawaku langsung berhenti saat melihat tatapan mata seseorang yang berada di samping Salwa.
"Mas Adam?"
"Hai, Gisha? Apa kabar?" Mas Adam menyapaku sambil tersenyum tipis. Khas dia banget.
"Alhamdulillah baik. Ini kalian ...."
Mereka suami istri? Atau masih pacaran? Karena setahuku dulu, mas Adam ini masih single.
Salwa bergelayut manja di lengan mas Adam. Senantiasa tersenyum manis.
"Mas Adam ini kakakku, Sha. Kamu lupa sama dia, ya?"
Hah? Kok aku baru tahu?
Melihatku yang melongo, Salwa justru tertawa. Sepertinya geli melihat reaksiku.
"Kamu lupa, ya? Dulu mas Adam memang jarang sih jemput aku. Tapi aku ingat kalian pernah ketemu beberapa kali. Lagian mas Adam aja masih ingat, lho. Dia pernah cerita kalau kamu kerja di rumah sakit yang sama dengan mas Adam."

Salwa menjelaskan panjang lebar. Ya, aku memang nggak tahu. Pertemuan itu hanya beberapa kali ditambah sudah lama berlalu. Apalagi orang yang menjemput Salwa dulu itu sering berganti-ganti. Dan kami tidak seakrab itu untuk saling mengenal anggota keluarga masing-masing.
"Duh, aku senang banget ketemu kamu di sini, Sha. Udah berapa tahun, ya? Sekitar sepuluh tahun mungkin."
Salwa terlihat begitu antusias. Dia kemudian memandang ke arah mas Adam.
"Gisha ini dulu idolaku lho, Mas. Udah cantik, pintar, cool lagi."
Mau tak mau aku tersipu mendengarnya pujian Salwa yang agak berlebihan itu. Apalagi di depan mas Adam. Prestasiku jauh banget kalau dibandingkan sama dia. Pasti dia menganggap omongan Salwa hanya sebuah lelucon saja.
"Di bimbel aja banyak yang naksir dia."
Perasaanku jadi agak nggak enak, ya?
"Sampai ada tutor yang naksir Gisha, Mas. Duh, siapa ya namanya? Aku kok lupa. Pokoknya dia itu tutor paling muda dan ganteng banget. Dulu masih kuliah kalau nggak salah. Suka modus tipis gitu ke Gisha tapi Gisha bisa cool banget. Nggak kelihatan tertarik sama sekali sama dia."
Ya, ampun, Salwa! Nggak perlu nostalgia bagian itu juga kali.
Aku melirik mas Adam. Wajahnya masih datar. Tidak terbaca. Emang setelan muka dia sehari-hari dari dulu begitu, sih.
"Siapa, sih, Sha? Kamu ingat nggak namanya?"
Ingat, tapi aku malas mau bilang. Please ... semoga Salwa nggak sebut namanya.
"Ah, iya, aku ingat sekarang. Salman. Namanya kak Salman."
Terlambat sudah! Nama itu disebut juga.
Kamu nggak tahu aja, Sal. Kalau Gisha yang cool, idola kamu itu, akhirnya luluh sama Salman waktu kuliah tahun kedua. Malah mereka sampai menikah. Walaupun akhirnya bercerai.

Tapi semua kisah itu tidak kuucapkan. Tentu saja aku masih punya malu. Dan melihat reaksi mas Adam yang tenang, sepertinya dia juga nggak tahu kalau orang yang dibicarakan Salwa itu adalah mantan suamiku.
"Ah, kamu ini berlebihan. Aku nggak sehebat itu juga kali, Sal." Aku mengelak sambil melambaikan tangan.
Salwa mengamati pakaian yang kukenakan. "Kamu masih keluarga mempelainya?"
"Nggak. Aku temannya Anisa. Kalau kamu sendiri?"
"Farhan itu teman kuliahku."
"Jadi, kamu fisioterapis juga?"
Salwa mengangguk semangat. Ni anak kayaknya baterainya full terus.
"Kerja di mana sekarang, Sha?" tanya mas Adam padaku.
"Di klinik yayasan pendidikan anak disabilitas, Mas."
Mas Adam mengangguk. Sebagai orang bidang kesehatan, pastilah dia paham dengan yayasan yang kumaksud. Dia kemudian menoleh pada adiknya.

"Sekarang kita kasih selamat sama pengantinnya. Abis itu pulang, Mas capek banget."
Salwa mengerucutkan bibirnya namun tetap menuruti perintah kakaknya.
"Duluan ya, Sha. Kapan-kapan kita janjian, ya? Biar bisa ngobrol lebih banyak lagi?" pamit Salwa setelah meminta nomor kontakku yang bisa dia hubungi.
"Siapa itu tadi?"
Maya tiba-tiba saja sudah berdiri di sampingku. Persis ninja aja, nggak denger langkahnya tapi tiba-tiba muncul dari belakang. Kayak tukang parkir pinggir jalan.
"Teman bimbel dulu di Ganesha."
Maya meraih ponsel dari tas yang dia bawa. Tampak sebuah panggilan. Namun tak dijawabnya.
"Dari siapa?" tanyaku iseng.
"Kenalan, temannya sepupuku."
"Kok nggak diangkat?"
Maya memutar bola matanya. Tampak setengah kesal. "Ni laki-laki parah juga. Pas ketemuan ngajakin bahas soal global warming, tapi sepanjang ngobrol, mulutnya berasap terus udah kayak cerobong kereta. Sumpah, bikin aku gedeg sampai pengen nendang dia ke bikini bottom, biar diajakin mancing ubur-ubur sama Spongebob di sana!"

To be continued ....


#Revisi_Hati
Part 5
"Sha, ada temanmu tuh," ucap Ibu dari luar pintu kamarku yang terbuka.
Aku mengernyit heran. Tidak ada kabar dari Anisa ataupun Maya kalau mereka mau datang ke rumah.
"Siapa, Bu? Maya? Anisa?"
"Bukan. Ibu baru pertama kali ketemu. Cantik. Pakai jilbab."
Siapa, ya?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku hingga aku melihat orang itu. Duduk manis di sofa ruang tamu.
Dia langsung beranjak berdiri saat melihatku. Senyum lebar tersungging di bibir indahnya.
"Gisha, aku nggak ganggu, kan?" Salwa menyapaku dengan riang.
Aku membalas dengan senyuman tidak kalah lebar menanggapi keramahannya.
"Nggak. Cuma agak kaget. Ngomong-ngomong tahu rumahku dari mana?"
"Aku tanya sama mas Adam. Sebenarnya tadi mau minta sekalian dianterin, tapi dia dapat panggilan mendadak."

Lho? Memang mas Adam tahu rumahku? Seingatku, dia tak pernah datang ke rumah ini.
"Sha, aku mau minta maaf," ucap Salwa dengan raut menyesal yang kentara.
"Buat apa?"
"Untuk omonganku yang kemarin. Sumpah, aku nggak tahu soal kamu dan ... kak Salman. Maaf, ya?"
Salwa mengatakan itu semua sembari menangkupkan tangan di depan dada. Gestur minta maaf.
Aku mencoba mengurai senyum di antara keterkejutan akan topik yang diangkat oleh Salwa. "Nggak apa-apa. Udah lama kok."
"Beneran, kan? Duh, aku ngerasa bodoh banget pas sampai rumah terus ditegur sama mas Adam."
Aku kembali tersenyum menenangkan. Dia kelihatan benar-benar menyesal. Membuatku tak tega. Lagipula, dia kan memang tidak sengaja.
Tangan Salwa memilin rok yang dipakainya dengan mata yang memandangku ragu. "Aku juga mau bilang ikut berduka untuk kehilanganmu."
Ucapan Salwa disuarakan dengan nada pelan. Namun efeknya langsung membekukan senyum di bibirku. Entahlah, sekian lama tapi untuk luka satu itu, aku masih bisa merasakan pedihnya.
"Sha, maaf, ya? Aku buat kamu jadi sedih lagi, ya?"
Suara penyesalan Salwa menyentakku. Mengembalikan kesadaranku kembali ke alam nyata.
"Nggak apa-apa, Sha. Sekarang udah jauh lebih baik." Aku berusaha mantap saat mengatakannya.
Salwa tersenyum simpul. Aku lihat ada simpati yang tersirat dari matanya.
"Kamu memang Gisha yang kukenal dulu. Strong woman," puji Salwa.

Aku tertawa kecil mendengarnya. Salwa ini aneh sekali. Sepertinya dia terlalu tinggi dalam menilaiku. Padahal aku punya banyak sekali kelemahan yang tidak diketahui olehnya.
"Sudah siap memulai hidup yang baru, Sha?"
"Tentu. Ini sudah kulakukan."
"Kalau memulai hubungan baru?"
Aku menatap Salwa yang balik menatapku. Dia terlihat serius dengan pertanyaannya. Membuatku tertawa kecil.
"Nggak semudah itu, Sal."
"Lho, kenapa? Kata mas Adam, kamu dan suami kamu udah pisah sekitar dua tahunan."
Aku menatap ke jendela yang terbuka. Memperhatikan tirai yang bergerak akibat desauan angin. Pikiranku kembali berkelana ke belakang.

Tidak mudah, proses yang kulalui dalam mengembalikan semangat hidupku yang merosot sampai titik nadir. Butuh proses yang panjang dan sangat melelahkan.
Dan hidupku sekarang yang kelihatannya baik-baik saja, nyatanya tak sesempurna yang tampak di luarnya. Pedih luka itu masih kuingat. Juga segala air mata yang tumpah, masih terekam dalam benak. Dan saat kini aku sudah mampu berdiri, bukan berarti aku sudah sanggup berlari. Kakiku masih goyah. Ada banyak yang harus dibenahi.
"Ya, mungkin belum sekarang, Sal. Aku masih butuh waktu untuk memperbaiki hatiku. Rasanya setelah semua yang terjadi kemarin, masih banyak yang harus dibenahi. Pondasi yang kubangun belum kokoh dan mantap."
Salwa menatapku serius. "Memang betul, Sha. Tapi kamu tahu nggak kalau kita gagal, bukan berarti ada yang salah dalam diri kita. Bisa jadi yang salah adalah pilihan hidup kita."
Aku mengangguk setuju. "Iya. Dan aku salah memilih pasangan."

Senyum Salwa kembali mengembang. "Seperti saat kita sedang mengerjakan tugas akhir kuliah, Sha. Kita memilih suatu buku sebagai sumber untuk penelitian. Tapi ternyata sumber yang kita pilih itu keliru. Akhirnya tugas kita dibantai habis-habisan. Terkadang hal itu menyebabkan kita jadi putus asa. Padahal sebenarnya simpel aja. Kita tinggal memilih sumber penelitian yang baru. Tentunya yang lebih terpercaya dan sesuai dengan judul yang kita pilih. Dan kita akan lihat hasilnya, pasti lebih memuaskan. Kalaupun ada koreksi, mungkin hanya hal-hal kecil saja."
"Hidup juga seperti itu, Sha. Kalau kita salah memilih pasangan, kemudian dibantai dengan kenyataan pahit, ya berarti kita harus memilih pasangan yang lebih tepat buat kita. Yang satu misi dan visi dengan kita. Yang terpercaya dan jujur, tentunya. Tinggal kita revisi hati bersama pasangan baru. Insya Allah, hidup kita pasti bahagia."

Aku langsung tertawa mendengar penjelasan Salwa itu. Bukan meremehkan, tapi aku justru kagum pada penjelasannya. Dia seperti seorang profesional yang sudah mengarungi asam garam kehidupan saja.
"Pemikiran kamu hebat, Sal. Beneran kamu ini seorang fisioterapis? Kayaknya lebih cocok jadi psikolog, deh," komentarku pada Salwa.
Senyum Salwa terkembang sempurna. "Mamaku yang psikolog, Sha. Ya, inilah hasilnya kalau dari kecil dicekokin buku psikologi. Tapi aku punya beberapa buku yang bagus. Kayaknya cocok buat kamu baca. Mau aku pinjemin?"
"Tentu aja, kalau kamu nggak keberatan."
Salwa langsung menggeleng, tampak antusias. Dia berjanji akan segera membawakan buku-buku itu untukku. Juga berjanji kalau aku tak akan menyesal membacanya.
Tidak lama kemudian, Salwa pamit. Katanya dia harus ke rumah salah seorang tantenya yang mengeluh sakit pinggang.
"Bagi mereka, fisioterapis itu beda tipis sama tukang pijit, Sha." Salwa mengeluarkan candaannya saat berjalan keluar dari rumah.
Namun saat akan menuruni undakan dari teras menuju halaman, Salwa berpaling padaku. "Sha, kamu tahu nggak kalau di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan? Termasuk pertemuan kita yang kemarin. Aku yakin akan ada takdir besar yang mengikutinya. Dan yang jelas, aku seneeeeeng banget ketemu kamu lagi."

***
Suara tangisan itu membuat aku berlari tergopoh-gopoh dari dapur menuju kamar. Sesampainya di depan pintu yang kubiarkan terbuka setengah, bisa kulihat sosok itu sudah bangun. Tangannya mengusap matanya. Mulutnya mengeluarkan tangisan sambil memanggilku.
"Iya, Sayang? Sudah bangun, ya?"
Aku merengkuhnya dalam gendongan. Membawa tubuh kecilnya keluar kamar. Telunjuk tangannya menunjuk ke arah bola yang berada di sudut ruangan. Tubuhnya menggeliat ingin lepas dari gendonganku.
Kuturuti keinginannya itu. Menurunkannya dengan hati-hati. Saat kedua kakinya menapak lantai, segera dibawa berlari menuju mainannya. Melemparkan bola itu hingga melambung tinggi. Hampir mencapai langit-langit ruang tengah ini. Dan tangan itu berusaha meraih kembali bola itu bergerak turun. Keriangannya terpancar dari tawanya yang renyah. Senyuman yang lebar menyenandungkan kegembiraan.
Aku mengawasi sambil ikut tersenyum dan tertawa. Terbawa arus kegembiraan yang tercipta. Membawaku masuk dalam simpul bernama bahagia.

Kemudian tiba-tiba terdengar suara petir. Sepertinya akan turun hujan. Bergegas aku menutup pintu. Juga jendela yang tadi pagi kubuka. Kilat dan angin di luar masih sempat kulihat dari kaca jendela sebelum kututup rapat tirainya.
Aku kembali dan tak menemukan siapapun. Panik. Berlari kuhampiri kamarku. Kosong. Kamar mandi, nihil.
Aku mulai panik. Napasku mulai memburu. Kalut dan khawatir merajai hatiku.
Terlintas suatu bayangan di kepala. Aku kembali menghampiri jendela. Terlihat sosok kecil itu berjalan dalam hujan yang mulai turun. Tak menengok ke belakang sama sekali. Terus berjalan menjauh.
Aku teriakkan namanya dengan panik. Namun dia tetap menjauh. Aku mencoba membuka pintu. Namun tak bisa. Kepanikanku benar-benar mencapai level tertinggi.
Terus kupanggil namanya, namun hasilnya tetap sama. Dia terus pergi. Meninggalkan aku. Tak peduli dengan permohonanku.
Kemudian sesak itu mencekik leherku. Napasku tercekat, berhenti. Kupukul dadaku namun tetap sama. Rasanya seperti mau mati. Aku menggapai sesuatu yang aku tahu tak mungkin ada. Mencoba memanggil siapapun tapi tak ada suara yang keluar. Dadaku makin sakit. Napasku makin habis. Gelap mulai menghampiri ....

Aku terlonjak bangun. Napasku memburu. Kuraba leherku. Tidak ada apapun. Aku bisa bernapas normal. Tidak ada juga sesak di dada. Namun bisa kurasa wajahku yang basah. Oleh peluh dan juga air mata.
"Haidar ... kenapa kamu pergi sendiri?" bisikku pelan pada udara pagi yang kosong.
Aku langsung mandi dan menunaikan dua rekaat. Mencoba menenangkan hatiku yang kembali disambangi rindu lewat mimpi-mimpi. Mendoakan anak yang tak pernah bisa kulihat dan kupeluk lagi.
Setelah cukup menata hati, aku bergegas keluar kamar. Matahari nampak masih belum terbangun sepenuhnya di hari Minggu ini.
"Mau kemana, Mbak?"

Gavin bertanya padaku saat aku mengeluarkan motor dari garasi. Sepertinya dia baru akan berangkat olahraga lari berkeliling di sekitar daerah sini.
"Pergi sebentar aja. Bilang sama Ayah dan Ibu, sebelum jam sembilan nanti aku udah pulang."
Kulihat ada suatu pemahaman di benak Gavin. Matanya memandangku dengan pandangan yang sulit kuartikan. Kasihan? Entahlah.
"Mau aku anterin?"
Aku tersenyum dan mencoba terlihat baik-baik saja. "Nggak perlu."

***
Aku tak tahu apa yang benar-benar dirasakan oleh hatiku saat tiba di tempat ini. Kesedihanku kembali membumbung tinggi saat melihat pusara kecil itu. Tempat di mana putra kecilku istirahat dalam tidur panjang.
Mimpi-mimpi seperti semalam bukan hanya sekali dua kali menyambangi tidurku. Sering sekali. Dan aku akan bergegas kemari bila sudah melihat Haidar dalam mimpi. Aku anggap itu sebagai isyarat kalau dia ingin dikunjungi oleh ibunya.
Namun aku harus bertahan keras untuk tidak meratap. Pun dengan air mata. Aku batasi jumlahnya yang bisa turun di pipiku. Sesedikit yang kubisa, tentu saja. Karena kalau untuk membuat mataku tetap kering, rasanya itu mustahil.
Sungguh, kehilangan predikat sebagai seorang istri dan harus menyandang gelar janda, bukanlah sesuatu yang berat bagiku. Namun kehilangan predikat sebagai ibu, itu benar-benar memperangkap diriku dalam kesedihan yang mendalam. Akhirnya hanya mimpi itu yang hadir dalam bentuk puncak rasa frustasiku.

Selama satu jam ke depan, aku habiskan dengan bermonolog dalam hati. Kubisikkan kata rinduku yang tak punya pelabuhan. Kuteriakkan harapan agar kelak dapat menemuinya dalam keadaan yang terbaik. Persis seperti yang aku lakukan selama dua tahun belakangan ini.
"Haidar ... mama pulang dulu, ya?"
Kuusap sekali lagi batu nisan berwarna hitam itu. Sebelum kemudian aku bangkit dan berdiri. Berjalan pulang kembali pada kenyataan.
Berjalan menjauh dari makam yang baru saja kutaburi bunga segar. Wangi sekali. Dan di antara bunga segar itu, ada beberapa bunga yang mulai layu. Mungkin baru beberapa hari yang lalu ditaburkan. Sama sepertiku, aku tahu dia juga sering datang. Apakah kehilangan itu bukan milikku saja?

***
Sebuah mobil asing terparkir di dekat pintu pagar rumah saat aku pulang. Mungkin teman Gavin. Yang jelas aku tak mengenal siapa pemilik mobil itu.
Namun ternyata tamu itu untukku. Dia duduk di kursi depan teras. Ada Gavin yang menemaninya.
"Mas Adam?" Aku menyapa dengan nada kaget.
Dia tersenyum tipis. Gavin kemudian berlalu undur diri dengan alasan mau mandi.
"Ada apa ya, Mas?" Aku bertanya setelah duduk di kursi yang baru saja ditinggalkan oleh Gavin.
Jujur saja, aku tak punya clue apapun atas tujuan mas Adam datang ke rumah. Kami tak pernah dekat sebelumnya. Hanya sebatas saling sapa saja.
Mas Adam mengangkat sebuah paper bag dan menyerahkannya padaku. Aku mengintip isinya. Beberapa buah buku.
"Titipan dari Salwa. Udah beberapa hari yang lalu sebenarnya dia yang minta tolong untuk memberikan itu untukmu. Tapi aku belum sempat."
Aku mengangguk mengerti. Ternyata Salwa serius dengan tawarannya untuk meminjamkan buku padaku.

"Mas baru pulang dari rumah sakit?" Aku bertanya karena kemeja yang dipakai mas Adam tampak kusut. Wajahnya juga agak kuyu. Seperti orang yang kurang tidur.
"Iya, semalam ada operasi Cito. Baru selesai dini hari tadi. Ya sudah, aku tidur sekalian di rumah sakit dulu sebelum pulang."
Oh, pantas saja.
Tangan mas Adam kembali menyerahkan sebuah bungkusan padaku. Plastik putih berisi beberapa kotak styrofoam.
"Aku sekalian bawain bubur ayam di depan rumah sakit. Tempat biasanya kamu sarapan dulu. Aku nggak tahu ada berapa orang di rumah ini. Jadi cuma aku beliin lima bungkus. Kalau kurang, aku minta maaf."
Aku tentu saja kaget. Sebuah pertanyaan tercipta di otakku. Dari mana mas Adam tahu kalau aku sering sarapan bubur di depan rumah sakit? Tapi aku tetap harus menghargai niat baiknya ini.
"Terima kasih, Mas. Udah repot bawain sarapan segala. Tenang aja, orang di rumah ini cuma empat orang, kok." Aku menjawab sambil tersenyum.
Mas Adam ikut tersenyum. "Mungkin pas kalau ditambah aku. Jadi ada lima orang."
Eh? Maksudnya???

To be continued ....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar