#Revisi_Hati
Part 1 by Iim Bundanya Farras
"Argh!!!"
Aku berteriak saat kakiku terantuk sesuatu. Hampir aku terjerembab
jatuh seandainya tidak ada tangan yang meraih kedua lenganku dari
belakang.
"Hati-hati kalau jalan."
Suara berat itu langsung membuatku menoleh. Bersamaan dengan lepasnya tangan yang memegangi lenganku.
Mas Adam ternyata. Pria yang menjadi salah satu dokter di rumah sakit
ini. Aku langsung mengangguk hormat padanya. Agak sedikit segan.
Pembawaannya yang kalem dan sedikit bicara membuatku agak kaku bila
berhadapan dengannya. Sosok ini memang disegani dan dihormati di
kalangan karyawan rumah sakit.
"Kalau sampai jatuh, bahaya untuk kandunganmu."
Nasihat itu kembali kuiyakan. Dalam hati, aku juga mengucap syukur.
Sedikit menyesali sikap cerobohku yang bisa membahayakan kandunganku
seandainya tadi aku benar-benar terjatuh.
Mas Adam kemudian
melewatiku setelah memberikan nasihat itu. Aku hanya memandangi
punggungnya dari belakang. Aku menghembuskan napas lega dan melanjutkan
langkahku menuju bagian personalia.
***
[Benar ini nomor mbak Gisha?]
Sebuah pesan masuk di sela waktu kerjaku. Nomor baru tidak kukenal.
Tapi dia tahu namaku. Ingin kuabaikan saja, tapi takut kalau ini adalah
hal yang penting. Jadi kuputuskan untuk membalasnya.
[Betul. Ini dengan siapa?]
[Saya, Irham, kenalan suami anda. Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan tentang suami anda. Bisa kita bertemu?]
Aku sungguh terkejut membaca isi pesan itu. Juga penasaran. Walaupun
agak ragu harus bertemu dengan orang asing. Namun aku mencoba meyakinkan
diriku sendiri.
[Boleh. Saya saat ini masih bekerja. Mungkin
bisa bertemu nanti jam 5 sore. Di rumah makan Sedap Nusantara di jalan
Bungur Raya.]
Aku sengaja memilih rumah makan yang lokasinya dekat dengan rumah sakit ini.
[Oke. Terima kasih.]
Aku kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Namun
pikiranku tidak bisa tenang. Entah kenapa aku punya firasat buruk
tentang janji pertemuan yang baru saja kubuat.
***
Aku
segera mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Berharap menemukan
seseorang yang terlihat sedang menunggu. Ada, seorang pria dengan kemeja
berwarna putih. Lengan kemejanya digulung hingga siku. Dan memang benar
kalau pria itulah yang bernama Irham, terbukti dia langsung berdiri
dari duduknya saat melihatku masuk.
Aku menghampirinya dengan perasaan ragu. Juga sedikit cemas.
"Mbak Gisha?"
Aku mengangguk. Bisa kulihat pandangan pria itu jatuh pada perutku.
Membuatku sedikit risih sehingga memilih untuk langsung duduk di kursi
yang berseberangan dengannya.
"Mau pesan apa, Mbak?"
"Oh, nggak usah. Makasih."
Aku menolak tapi rupanya pria itu tidak menggubris. Dia memesankan segelas jus jeruk untukku.
"Ada apa ya, Mas? Apa yang mau disampaikan pada saya?"
Aku langsung bertanya setelah pelayan mengantarkan minuman untukku.
Pria itu diam sesaat. Aku melihat ada keraguan di matanya. Seperti ada
sesuatu yang mengganjal di benaknya.
"Mbak hamil?"
Bukannya menjawab pertanyaan dariku dia malah memberikan pertanyaan
yang membuat dahiku berkerut. Mungkin melihat tatapan curiga yang
kulayangkan, hingga pria itu kemudian menggaruk kepalanya dengan salah
tingkah.
"Maaf, Mbak. Bukan maksud saya untuk kurang ajar. Sebenarnya saya mau memberitahukan sesuatu pada anda."
"Ada apa, ya, Mas? Langsung sampaikan saja. Tidak perlu berputar-putar." Aku berusaha menggunakan nada tegas dalam suaraku.
Pria itu mengangguk mengerti. Terlihat berat, akhirnya dia mulai bicara.
"Saya mau memberi tahu anda kalau suami anda memiliki affair dengan adik saya."
"Hah? Maksudnya?" Aku tentu saja kaget. Dan juga bingung.
"Suami anda menjalin hubungan dengan adik saya. Sebenarnya saat saya
tahu kalau adik saya berhubungan dengan seorang pria, saya selidiki pria
itu. Dan saya akhirnya tahu kalau pria itu ternyata sudah beristri. Dan
dia adalah suami anda."
Aku memegang kepalaku yang tiba-tiba
berdenyut. Sungguh, dalam keadaan lelah seperti sekarang, aku sama
sekali tak siap menerima kabar tak terduga ini.
"Memangnya anda tahu siapa suami saya?" Aku mencoba peruntungan. Bisa saja pria ini salah orang.
Pria bernama Irham itu mengangguk yakin. "Salman Affandi. Guru di SMA Negeri 4."
Betul. Apa yang dikatakan Irham betul. Mas Salman adalah suamiku. Tapi
aku masih tidak percaya kalau suamiku bermain dengan wanita lain di
belakangku. Kuatur napasku yang mulai terasa berat dan sesak. Mencoba
berpikir jernih.
"Ada bukti?"
Irham menyerahkan beberapa
lembar kertas padaku. Aku menerimanya dengan tangan bergetar. Lembaran
itu ternyata hasil cetak gambar yang diambil dari layar tangkap ponsel.
Berisi transkip percakapan dengan kontak bernama 'Pak Salman'. Juga ada
foto-foto mesra mas Salman dengan seorang gadis muda.
"Saya mengambil screenshot percakapan mereka dari ponsel adik saya. Juga foto-foto mereka." Irham menjelaskan padaku.
Aku menatapnya dengan mata yang berembun. Namun sekuat tenaga, aku menahan air mataku. Tak ingin menangis di depan orang asing.
"Maaf, Mbak. Saya tidak tahu kalau anda sedang hamil. Tapi saya tetap harus menyampaikan hal ini pada anda."
Setelah menenangkan diri, aku baru mulai buka suara. " Jadi apa maksud anda memberitahukan hal ini pada saya?"
"Tolong minta suami anda menjauhi adik saya. Saya tidak mau adik saya
menjalin hubungan dengan pria yang sudah beristri. Saya sendiri juga
akan menasehati adik saya."
Aku mengangguk masih dengan fokus
yang terbelah. Sungguh aku masih tidak percaya dengan fakta ini. Aku
kenal mas Salman bukan hanya setahun dua tahun saja. Lebih dari delapan
tahun.
Mas Salman memang orang yang ramah. Aku juga tahu kalau
dia merupakan guru favorit bagi murid-muridnya. Pribadi yang
menyenangkan untuk teman-temannya. Dan bagiku, dia adalah sosok suami
idaman.
"Mas tahu mereka kenal di mana?" Aku menanyakan dengan hati berdebar.
Selama ini, tak pernah ada yang aneh dan mencurigakan dari sikap mas
Salman. Dia tak pernah pulang telat, kecuali ada kegiatan
ekstrakurikuler yang dibinanya. Gawainya juga selalu terbuka dan tak ada
yang disembunyikan. Aku melihat tak pernah ada chat dari perempuan
lain, kecuali muridnya.
"Ehm ... adik saya dulu murid Salman. Dia lulus tahun ajaran kemarin."
Aku kaget bukan kepalang. Sungguh benar-benar tak dipercaya. Suamiku
menjalin affair dengan mantan muridnya sendiri. Dengan gadis yang
usianya mungkin masih belasan tahun.
Entah karena melihatku yang
kelihatan syok berat, atau karena wajahku yang pucat. Irham kelihatan
bersimpati padaku. Bahkan menawarkan untuk mengantarku pulang. Jelas,
aku tolak. Aku butuh waktu sendiri untuk mencerna semua ini.
***
Awalnya aku tidak ingin pulang ke rumah. Terlintas niat untuk pergi ke
rumah orangtuaku saja. Tapi aku sadar kalau melarikan diri tidak akan
menyelesaikan masalah. Seorang dewasa harus berani maju untuk menghadapi
masalah yang datang.
Mobil mas Salman sudah terparkir di
carport, tanda si empunya ada di rumah. Selama ini, memang mas Salman
selalu pulang tepat waktu. Membuatku merasa tidak perlu mencurigainya.
Tapi ternyata semua hanya kedok belaka.
Tahun ajaran ini baru
mulai beberapa bulan. Berarti beberapa bulan lalu, mas Salman masih bisa
bertemu dengan gadis itu hampir setiap hari. Yang membuatku muak adalah
pikiran-pikiran buruk yang mulai membentuk slide di kepalaku. Tentang
apa saja yang pernah mereka berdua lakukan.
Dan bodohnya aku yang
selama ini percaya begitu saja pada mas Salman. Kukira dia tak pernah
berubah. Dulu, dia begitu terlihat mencintaiku. Penantian bertahun-tahun
dia lakoni sampai akhirnya aku menerima cintanya. Tapi sekarang? Apakah
karena aku sudah berhasil dia miliki jadi membuatnya bosan? Selayaknya
mainan, bukankah sesuatu lebih menarik bila memberikan tantangan.
Gila! Rasanya aku ingin memaki mas Salman sekarang juga. Kalau perlu,
ingin kutampar wajahnya. Yang jelas aku butuh pelampiasan atas emosi
yang kini menguasaiku.
Namun kembali kusadar kalau aku tak butuh
semua itu. Aku akan membuat semuanya menjadi mudah. Pernikahan ini tidak
akan bisa lagi berjalan kalau salah satu dari kami ada yang berlaku
curang. Cukup jawaban pasti dari mas Salman. Iya atau tidak. Apapun
alasannya, bila memang benar dia bermain di belakangku, maka ini adalah
akhir dari hubungan kami.
Tapi kemantapan hatiku kembali menemui
pergolakan. Tepat saat kurasakan gerakan di dalam perutku. Oh, Nak,
Bunda hampir melupakan keberadaanmu. Kebingungan melanda pikiranku.
Bagaimana nasib anakku nanti bila orangtuanya harus berpisah bahkan
sejak dia belum menyapa dunia?
Aku masuk ke rumah tanpa salam.
Kudapati mas Salman sedang duduk di sofa di depan televisi. Sibuk dengan
gawainya. Mendengar langkah kakiku, dia langsung mendongak.
"Sayang, udah pulang? Kok nggak ucap salam?"
Aku abaikan teguran itu. Langsung berlalu masuk ke dalam kamar. Mataku
rasanya memanas saat memasuki ruangan yang penuh kenangan pribadi kami
ini. Dadaku rasanya mau meledak. Amarahku membakar hingga sekedar
bernapas pun sulit aku lakukan.
Mas Salman menyusulku masuk ke
dalam kamar. Pasti dia tahu ada yang tak beres denganku. Aku sendiri tak
bisa membayangkan bagaimana raut wajahku sekarang.
"Hei, kamu kenapa? Sakit? Atau kecapekan?"
Tangannya menjangkau dahiku. Mencoba meraba panasnya. Namun keliru, yang panas membara adalah hatiku sekarang.
Aku mengelak dengan halus. Masih dengan mulut bungkam. Bahkan sekedar
membalas tatapan matanya pun, aku enggan. Aku terlalu muak dengan semua
ini. Tak bisa kubedakan mana perlakuannya yang tulus, atau manakah yang
palsu.
"Oke. Kamu mandi dulu. Setelah itu kita makan malam bareng. Aku tadi beli ayam bakar madu kesukaanmu."
Mas Salman mengalah dan keluar dari kamar. Dia memang selalu begitu.
Begitu tenang menghadapiku. Tidak pernah memperlihatkan emosi yang
meledak-ledak. Tenang seperti air danau. Namun ternyata menyimpan
rahasia yang mampu menikamku.
Aku dan mas Salman makan dalam
kebisuan. Perhatiannya memang sengaja aku abaikan. Aku memaksakan
menelan nasi yang rasanya seperti pasir ini. Bahkan ayam bakar
kesukaanku inipun hanya makin membuat perutku bergejolak.
Setelah
selesai makan, mas Salman mencuci peralatan makan kami tadi. Harusnya
itu menjadi tugasku tapi mas Salman memaksa. Aku yang malas berdebat
memilih menyingkir ke ruang tengah.
"Sayang? Kamu kenapa? Cerita sama aku kalau kamu ada masalah."
Tiba-tiba mas Salman sudah duduk di sebelahku. Aku agak terkejut. Hampir menjatuhkan ponselnya yang berada di tanganku.
Ya, aku baru saja menyiksa hatiku sendiri dengan mengeledah ponsel mas
Salman. Awalnya tak ada yang aneh. Hingga akhirnya aku menemukan nama
adik Irham di list percakapan. Andara Maulidina.
Aku benar-benar
mau muntah. Membaca kalimat-kalimat gombalan di dalam percakapan itu.
Sungguh, kalau aku tidak mengetahui hal ini dari Irham lebih dulu, aku
juga pasti tak akan curiga. Apalagi di belakang nama kontak itu
ditambahi keterangan kelas. Aku memang selalu mengabaikan pesan-pesan
yang dikirim murid mas Salman. Karena kukira pasti itu cuma pesan wajar,
selayaknya antara guru dan murid.
"Mas, siapa itu Dara?"
Wajah itu langsung memucat. Tidak siap dengan pertanyaan yang aku
lontarkan. Reaksi yang sudah cukup menjawab kebenaran yang kucari.
To be continued ....
***
#Revisi_Hati
Part 2
"Mas, siapa itu Dara?"
Wajah itu langsung memucat. Tidak siap dengan pertanyaan yang aku
lontarkan. Reaksi yang sudah cukup menjawab kebenaran yang kucari.
Mata mas Salman kemudian jatuh ke ponselnya yang ada di tanganku. Ada
rasa takut yang terlintas dari bola matanya. Kaget karena rahasiamu
akhirnya terbongkar, Mas?
"Sha, ini nggak seperti yang kamu duga." Mas Salman memulainya dengan omong kosong.
Aku langsung mendengus tidak percaya. Kuusap perutku untuk meredakan
gejolak amarahku. Sedikit sedih karena anakku harus ikut mendengar semua
ini.
"Mas, kamu sudah tahu dari awal kan apa syarat mutlak yang
harus kamu penuhi kalau ingin menjadi pasanganku? Bahkan hal itu sudah
aku tekankan berkali-kali sejak kita masih pacaran. Apa kamu lupa?"
Mas Salman membisu. Dia tak mungkin lupa. Dulu dia meyakinkan aku kalau
akan sanggup untuk setia. Kesetiaan memang menjadi issue bagiku. Bukan,
aku tidak pernah punya trauma. Tapi aku saklek pada prinsip satu hati
cukup satu cinta.
"Tadi, kakak dari pacarmu itu menemuiku. Dia meminta kamu untuk menjauhi adiknya."
Wajah mas Salman yang terkejut tidak bisa disembunyikan lagi. Aku tersenyum sinis.
"Kalau memang kamu serius dengan mantan anak didikmu itu, kamu bisa ceraikan aku."
Sungguh, kalimat itu bagaikan pisau bermata dua. Melukai hati suami
yang aku cintai, namun juga menyayat jiwaku sendiri. Air mataku menjadi
saksi betapa besar kekecewaan dan kemarahan yang membelenggu pikiran dan
hatiku.
Mas Salman menggeleng dengan keras kepala. Tubuhnya beringsut mendekatiku. Menggenggam tanganku yang berada di pangkuan.
"Gisha, bagaimana aku bisa berpisah denganmu sementara hanya kamu yang
aku cintai? Sungguh, Sha. Dari dulu, cuma kamu wanita yang bisa
membuatku jatuh bangun untuk dapat memilikimu. Dan aku nggak mungkin
melepas apa yang sudah aku dapatkan dengan susah payah."
Aku
menatap matanya yang memerah. Bisa kulihat kemelut di pikirannya. Tapi
bukankah ini akibat dari perbuatannya sendiri. Harusnya dia tahu resiko
yang akan dihadapi sebelum melakukan sesuatu.
"Tapi hatimu sudah
berpaling, Mas. Kamu sudah menempatkan orang lain di antara kita. Tanpa
kamu sadari, hatimu sudah terbagi. Aku akan membuatnya lebih mudah
untukmu. Kamu tak perlu memilih, biarkan aku yang mundur."
Mas Salman kembali menggeleng. Kali ini genggaman tangannya makin erat. Penyesalan itu makin tampak di matanya.
"Nggak, Sha. Hatiku nggak pernah terbagi. Cuma ada kamu. Dara ... tak
lebih hanya selingan. Aku akui kalau aku memang brengsek. Tapi bagiku,
dia bukanlah siapa-siapa. Levelnya jauh di bawahmu. Aku hanya iseng
dengannya."
Kali ini, aku tertawa sinis. Hampir tak mengenali
suamiku sendiri. Begitu mudah dia menjatuhkan harga diri seorang gadis
yang baru beberapa jam lalu dia kirimi pesan mesra penuh perhatian.
"Iseng? Begitu remehnya kesetiaan bagimu, hingga bisa dikalahkan oleh rasa iseng semata?"
"Sha, tolong beri aku kesempatan. Sebentar lagi kita akan jadi
orangtua. Jangan sia-siakan kesempatan kita untuk bahagia karena masalah
ini. Aku pastikan kalau kesalahan ini adalah terakhir kalinya. Aku akan
kembali jadi suami yang setia sama kamu. Kita besarkan anak kita
berdua. Mau ya, Sayang?"
"Menurutmu, aku ini cuma robot yang
tidak punya perasaan? Bagaimana aku bisa dengan mudah melupakan sesuatu
yang bagiku sangat fatal?"
"Sha, kumohon. Demi anak kita, maafin aku. Aku janji akan menebus kesalahanku ini seumur hidupku."
Bukankah janji itu terdengar manis? Tapi aku masih tak bisa percaya.
Sulit mengembalikan apa yang sudah terlanjur rusak. Dalam hal ini adalah
kepercayaanku pada mas Salman.
"Aku butuh waktu untuk memikirkan
semua ini. Dan ada baiknya kamu juga pikirkan baik-baik, Mas. Apakah
kamu memang sanggup melepaskan pacarmu yang belia itu demi keutuhan
rumah tangga kita?"
"Tentu, Sha. Bagiku, kamu tetap yang utama dan satu-satunya. Soal Dara, aku benar-benar hanya khilaf."
Aku masih tak percaya dengan penjelasan dari mas Salman. Tapi aku juga
malas untuk berdebat kembali. Kulangkahkan kakiku untuk berlalu
meninggalkannya. Masuk ke kamar dan mengunci pintu. Harusnya dia paham
kalau aku tidak mau tidur satu kamar dengannya malam ini.
***
Pagi ini aku sengaja ingin berangkat lebih pagi dari sebelumnya. Salah
satu usaha untuk menghindari mas Salman. Sungguh, amarahku masih berada
di level yang cukup tinggi. Kata memaafkan masih jauh dari bibirku.
"Aku antar, Sha."
Mas Salman langsung sigap mengambil kunci mobil saat melihatku keluar
kamar, siap untuk berangkat kerja. Biasanya dia sudah berangkat pada
pukul enam pagi. Namun hari ini lain dari biasanya. Dia masih di rumah
padahal jarum pendek jam sudah berada di angka tujuh.
"Nggak perlu. Aku mau naik taksi aja."
Bukannya bersikap kekanak-kanakan, tapi aku memang butuh ruang untuk sendiri. Jauh dari mas Salman.
Kuabaikan pandangan putus asa yang dilayangkan mata mas Salman. Egoku mengatakan kalau dia pantas mendapatkan itu.
Sebuah mobil berwarna silver berhenti di depan pagar. Memberikan tanda
lewat bunyi klakson. Aku keluar dari rumah dengan mas Salman mengekor di
belakang.
"Hati-hati, ya? Kabari aku kalau sudah sampai rumah sakit."
Mas Salman berpesan saat aku akan masuk ke dalam mobil. Dia bahkan
sengaja mendahuluiku untuk membukakan pintu. Aku menjawabnya dengan
gumanan. Itupun sebenarnya hanya untuk menjaga harga dirinya di depan
supir taksi.
Aku menghela napas panjang. Lelah bersikap seperti
ini dari kemarin. Perlahan air mataku menetes. Perihnya hatiku atas
penghianatan mas Salman benar-benar menyiksaku.
Kuusap pipiku untuk menghalau banjir ini. Namun percuma. Satu tetes aku hapus, akan langsung disusul tetesan lainnya.
Tanganku membuka tas. Bermaksud mencari tisu untuk membersihkan wajah.
Saat itulah tiba-tiba kudengar benturan keras. Tubuhku menghantam sisi
pintu sebelah kiri. Kemudian semuanya berlalu cepat dan tak sempat
kucerna dengan akalku. Bunyi benturan bersama klakson bercampur dengan
teriakan orang. Dan tiba-tiba semua hilang. Gelap.
***
Tahu rasanya bangun tidur setelah mimpi buruk? Ah, benar. Lega pastinya.
Ternyata semua kejadian yang tak bersahabat itu hanyalah bunga tidur.
Tapi tahu apa rasanya saat kau terjaga dan mendapati kenyataan mengerikan tersaji di hadapanmu?
Saat kubuka mata, yang kurasakan adalah tenggorokanku yang sakit
sekali. Bahkan untuk mengeluarkan suara pun aku tak sanggup. Belum lagi
dengan seluruh tubuh yang tak karuan rasanya. Perut terasa nyeri. Kepala
rasanya berdenyut sakit. Kaki dan tangan yang kaku.
Tapi saat
kesadaranku benar-benar pulih, semua itu lepas dari perhatianku. Mataku
membelalak ngeri saat tanganku meraba perut. Tidak datar, tapi jelas tak
sebesar saat aku belum mendapatkan seluruh kesakitan ini.
"Anakku di mana, Bu?"
Aku bertanya pada Ibu yang berdiri siaga di sampingku. Dokter baru saja
berlalu setelah memastikan kondisi vitalku baik-baik saja.
Ibu
membuang pandangan. Tapi sempat kulihat air itu mengalir di pipinya. Aku
beralih pada mas Salman yang berada di samping Ibu.
"Anak kita di mana, Mas?"
Mas Salman setali tiga uang dengan Ibu. Hanya diam membisu. Wajahnya
mendung sekali. Kemudian tangannya meraba kakiku yang terbaring di
hadapannya. Mengusap lembut dengan kepala menunduk.
"Maafkan aku, Sha. Aku nggak bisa jaga anak kita." Pelan tapi pilunya menusuk gendang telingaku.
Aku menggeleng dengan keras. Tak puas dengan jawaban itu. Ganti kukejar Ayah yang duduk di sofa. Kelihatan tiada daya.
"Yah? Di mana anak Gisha, Yah?" Aku bertanya dengan nada gemetar.
Pria yang paling kupercaya di dunia itu pun berbuat serupa Ibu. Bungkam
tanpa kata. Matanya terlihat lelah. Bukan sekedar lelah raga, tapi juga
jiwa.
Namun dengan tertatih, Ayah berdiri dan menghampiriku.
Tangannya yang hangat mengusap pelan puncak kepalaku. Beliau
menghembuskan napas panjang sebelum mengumumkan kehancuran duniaku.
"Sabar, ya, Sayang? Allah lebih sayang dengan anakmu. Insya Allah, sekarang dia sudah menjadi penghuni surga."
***
Selama berhari-hari terbaring di rumah sakit, aku merasa
terombang-ambing dalam dunia yang terasa kejam. Puluhan nasihat yang
mengajakku untuk berdamai dengan keadaan, aku abaikan. Suara-suara
penghiburan yang terdengar, sengaja aku tulikan.
Menangis,
menangis, dan menangis. Lelah hingga aku jatuh tertidur. Lalu terjaga
kembali hanya untuk menangis lagi. Membuat sejuta kalimat pengandaian.
Sesuatu yang tiada berguna, dan membuat kecewaku makin menggila.
"Sha? Makan dulu, Sayang?"
Satu sendok berisi bubur dari rumah sakit, mas Salman sodorkan ke depan
mulutku. Namun aku bergeming. Sesaat kemudian aku justru memalingkan
muka. Bisa kudengar helaan napas mas Salman.
Ibu kemudian
beranjak mendekat. Mengambil alih nampan berisi makanan. Mas Salman
beranjak untuk menyingkir. Membiarkan Ibu yang mengurusku.
Ya,
aku memang mendiamkan mas Salman sejak aku tahu kalau anakku tidak
selamat. Kekecewaan ditambah kehilangan membuatku makin marah padanya.
Bahkan kesabarannya tidak melunakkan hatiku.
Andai tak ada wanita
lain di kehidupan kami, pasti kini aku sandarkan kepalaku di bahunya.
Mencari perlindungan di pelukannya. Dan berbagi duka dengannya.
"Aku mau pulang ke rumah Ayah dan Ibu," ucapku saat perawat memberitahukan kalau aku sudah boleh keluar dari rumah sakit.
Mas Salman menatapku dengan pasrah. Ayah dan Ibu saling berpandangan.
Mereka memang belum tahu masalah di antara aku dan mas Salman. Aku masih
enggan untuk bercerita. Butuh waktu, karena membuka luka tidak pernah
mudah.
"Ya udah kalau begitu. Biar Ibu juga bisa jagain kamu nanti. Nggak apa-apa kan, Sal?" Ayah bertanya pada mas Salman.
Mas Salman tidak ada pilihan lain selain mengiyakan. Toh harusnya dia sadar diri. Aku tak akan kembali lagi padanya.
***
Ibu menuntunku masuk ke kamar yang dulu kutempati saat masih lajang.
Tidak ada yang berubah. Keadaannya bersih dan rapi karena Ibu memang
rutin selalu membersihkannya. Kamar ini masih sering kupakai saat harus
menginap di sini.
Setelah memastikan semua sudah tersedia dan aku nyaman, Ibu pamit keluar kamar. Menyiapkan makan malam.
Dalam sepi seperti ini, memoriku dipaksa kembali mengingat apa yang
telah terjadi. Tentang semuanya. Luka atas penghianatan mas Salman. Luka
atas kehilangan buah hati. Menumpuk semua hingga rasanya hampir tidak
bisa kuatasi.
Suara derit pintu membuat kepalaku menoleh. Mas
Salman masuk dengan membawa tas berisi baju. Tadi dia pulang dulu ke
rumah untuk membawakan barang-barangku dari sana.
"Tidur aja, Sha. Kamu harus banyak istirahat." Mas Salman berbicara sambil mulai menata pakaianku ke dalam lemari.
"Mas ...."
Dia menoleh dengan raut agak terkejut. Jelas, karena ini kali pertama aku mau berbicara padanya. Atas kemauanku sendiri.
"Ada apa?"
Mas Salman bergegas mendekat ke arahku. Duduk di tepi ranjang dekat dengan kakiku.
Aku menunduk. Mengatur napas dan menenangkan diri. Tapi aku harus menghadapi semua ini.
"Apa kamu punya ... foto anak kita? Aku ingin melihatnya."
Mas Salman memandangku dengan sendu. Matanya memerah. Aku tahu ini juga berat untuknya.
Tangannya meraih ponsel yang disimpan di saku kemejanya. Mencari apa
yang kuminta, kemudian mengulurkan ponsel itu ke arahku. Tangannya
bergetar.
Aku meraihnya dengan hati berdebar. Saat ini akhirnya
tiba. Aku bisa melihat wajah buah hati yang telah bersamaku selama lebih
dari tujuh bulan. Hal yang selama ini aku nantikan, namun dengan
keadaan yang berbeda. Hanya lewat gambar dua dimensi aku bisa
menatapnya.
Air mataku mengalir saat wajah itu terlihat. Kecil
sekali. Putih dan bersih. Bercahaya layaknya calon penghuni surga.
Anehnya, makin lama aku memandangnya, hatiku makin jatuh cinta padanya.
Kubekap mulutku untuk menahan isak tangis yang keluar. Ternyata sesakit
ini. Kehilangan seseorang yang lama dinanti bahkan sebelum aku sempat
mendekapnya satu detikpun.
Isakanku makin tak terkendali.
Bergabung dengan tangis mas Salman. Dan aku tak menolak saat kedua
tangannya mendekap tubuhku dengan erat. Menyatukan tangis kami berdua.
Menyuarakan kehancuran hati kami kehilangan sang buah cinta.
"Haidar. Aku menamainya Haidar," bisik mas Salman dengan suara bergetar.
To be continued ....
#Revisi_Hati
Part 3
Setelah peristiwa mas Salman yang memelukku di kamar, aku mulai agak
melunak. Tidak terlalu menghindar namun masih menjaga jarak.
Jujur saja, aku juga masih bimbang. Bingung dengan apa yang akan kupilih
untuk masa depan hubungan kami. Tekadku untuk berpisah mulai goyah,
namun masih ragu untuk memberinya kesempatan. Masih ada rasa takut dan
kecewa yang bercokol di hatiku.
Sudah hampir dua minggu, aku
tinggal di rumah orangtuaku. Mas Salman mengalah dengan bolak-balik
antara rumah kami, sekolah, dan rumah orangtuaku.
Kadang dia
menginap, kadang tidak. Jarak rumah ini ke sekolah mas Salman memang
lumayan jauh. Agak repot kalau berangkat dari sini, jam lima pagi kadang
harus sudah jalan kalau tidak mau terlambat.
Ibu dan Ayah
sebenarnya tak tinggal diam. Berkali-kali menasehati agar aku mau pulang
ke rumah sendiri. Alasannya tentu karena kasihan dengan mas Salman.
Mereka memang belum tahu alasan ketegangan hubungan kami. Mungkin
mengira ini hanya karena kepergian Haidar. Padahal bukan sama sekali.
Aku tahu betapa Ayah dan Ibu sangat menyayangi mas Salman. Bahkan
menganggapnya seperti anak sendiri, layaknya Gavin, adikku. Jadi tak
bisa kubayangkan bagaimana kekecewaan mereka nanti kalau tahu fakta
sebenarnya. Sang menantu kesayangan ternyata seorang penghianat.
Namun ternyata aku tak perlu mengatakan apa yang sudah dilakukan mas Salman di belakangku. Fakta itu terkuak dengan sendirinya.
Malam itu, aku agak gelisah. Mas Salman belum datang padahal tadi pagi
bilang kalau akan menginap di sini. Tapi sampai Maghrib, tak kunjung
kelihatan batang hidungnya.
Hingga saat pukul delapan malam, aku sudah akan bersiap tidur, Mas Salman datang bersama dengan kedua orangtuanya.
Wajah Papa tampak tegang dan penuh amarah. Mama lain lagi. Beliau
langsung memelukku dengan tangis terurai. Dan aku hampir menjerit kaget
saat melihat wajah mas Salman. Wajahnya ... penuh luka. Seperti orang
yang baru saja dipukuli. Atau memang ada yang memukuli mas Salman?
"Gisha, kamu tahu siapa itu Dara?"
Pertanyaan Papa membuatku langsung terperangah. Jadi ini tentang gadis itu? Ada apa lagi?
Saat aku mengangguk, Papa tampak kian frustasi. Mama makin tersedu dalam tunduknya.
"Mas Lukman, saya pasrah kalau anakku yang tak tahu diri ini mau kamu hajar. Sungguh, aku rela dan ikhlas."
Ayah dan Ibu masih terlihat bingung. Sama sepertiku. Apalagi mereka memang belum tahu siapa Dara itu.
"Ada apa ini sebenarnya?" tanya Ayah penasaran.
Papa berpaling ke arah mas Salman. Terlihat masih murka. "Kamu bilang sendiri sama mertuamu!"
Mas Salman masih menunduk. "Maafkan saya, Yah. Saya berbuat sesuatu yang tidak akan pernah termaafkan."
Deg! Aku seakan bisa menebak arah pembicaraan ini. Sesuatu yang buruk pasti sudah menanti.
"Ada apa, Sal?" Ayah kini bertanya pada mas Salman.
Mas Salman tak kunjung menjawab. Papa juga tak mau ikut membantu.
Hening beberapa saat yang tercipta kemudian pecah oleh pernyataan mas
Salman yang menikam hatiku berkali-kali.
"Saya sudah khilaf menghamili seorang gadis."
Aku bisa mendengar Ibu yang terkesiap kaget. Kemudian kutundukkan
pandanganku. Enggan melihat reaksi kedua orangtuaku. Sedih melihat
kekecewaan yang pasti mereka alami karena ulah suamiku.
"Hajar
saja dia, Mas Lukman! Aku sungguh ikhlas. Aku malu punya anak laki-laki
sebrengsek dia. Malu!" Papa nampak tak terkendali. Mama kian bersedu
sedan.
Tapi Ayah masih tampak kaget hingga tak kunjung merespon. Kemudian mata beliau menemukanku. Memandangku dengan luka yang sama.
"Saya pasrahkan masalah ini pada Gisha. Keputusan ada di tangannya."
Mama tiba-tiba berdiri. Duduk bersimpuh dekat kakiku dan menangis
keras. Aku terkejut dengan reaksi beliau. Kubantu Mama untuk beranjak
agar duduk di sampingku. Tangan beliau memegang tanganku erat.
"Mama mohon, Sha. Beri Salman kesempatan. Mama nggak mau kehilangan kamu," pinta Mama dengan terisak.
Aku hapus air mataku yang ikut turun. Kubalas genggaman tangan beliau. Mencoba terlihat tegas pada saat ini.
"Mama nggak akan kehilangan aku. Tapi aku nggak bisa kalau harus terus bersama mas Salman, Ma. Aku mau kami berpisah."
Bismillah. Semoga ini keputusan yang terbaik bagi kami semua.
***
Setelah langitku runtuh karena kepergian Haidar, luka karena perbuatan
mas Salman tak terasa begitu sakitnya. Ibarat kata, aku sudah terjatuh
dengan tubuh penuh luka, jadi kalaupun harus ditambah tertimpa tangga,
sakitnya hanya bertambah sedikit.
Lain halnya dengan orangtuaku.
Aku lihat Ayah semakin murung. Ibu kadang menangis sendirian di dapur.
Justru, ini yang lebih menyakitkan bagiku.
Akibatnya aku makin jarang keluar kamar. Jadwal makanku makin tidak teratur. Melamun menjadi hobiku yang baru.
Malam itu aku masih duduk si kursi yang kutaruh di dekat jendela.
Mataku menatap langit. Melihat kerlip bintang di antara langit yang
gelap.
Suara pintu yang terbuka dengan jeplakan keras membuatku
menoleh kaget. Mas Ghadi masuk dengan wajah kaku. Kakakku yang kini
tinggal di kota yang berbeda itu datang pagi tadi. Bersama keluarga
kecilnya, istri dan seorang putranya yang berumur lima tahun.
"Turun ke bawah, Sha. Kita makan malam bareng," ajak Mas Ghadi sambil berjalan menghampiriku.
Aku menggeleng dengan enggan. Bukan bermaksud kurang ajar pada mas Ghadi, tapi aku sungguh tak berselera untuk makan.
Tapi tak kuduga, mas Ghadi menarik tanganku. Menyentaknya dengan keras
hingga aku berdiri. Genggaman tangannya di lenganku terasa lumayan
sakit. Mas Ghadi terus menarikku hingga keluar kamar. Tak peduli dengan
langkahku yang terseok-seok mengikutinya.
Mas Ghadi terus
menggandengku dengan paksa hingga masuk ke ruang makan. Semua orang
menoleh pada kami. Ayah duduk di kursi yang paling ujung, di kepala
meja. Ibu berada di sebelah kanan Ayah, sejajar dengan Gavin. Kursi
sebelah kiri Ayah yang berhadapan dengan kursi Ibu tidak ada yang
menempati. Kak Mutia, istri mas Ghadi duduk berhadapan dengan Gavin.
Kursi di kepala meja ujung yang lainnya, yang berhadapan dengan kursi
Ayah, juga belum terisi.
Mas Ghadi mendudukan aku di kursi di
sebelah kak Mutia, berdekatan dengan Ayah. Tampak ada emosi yang coba
ditekan olehnya. Tangannya membalik piring di hadapanku. Mengisinya
dengan lauk serta nasi.
"Makan!" perintahnya tegas.
Aku menjawabnya dengan gelengan.
Bantingan sendok di piring membuat kami semua kaget.
"Mau sampai kapan kamu seperti ini terus, Sha?!" Mas Ghadi berteriak padaku.
Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Kakak sulungku ini sebelumnya
tidak pernah sekalipun membentakku. Dia selalu menjadi pembelaku. Bahkan
Gavin sering iri padaku karena menjadi adik kesayangan mas Ghadi.
Sungguh, aku sakit ketika mendengar bentakannya itu.
"Kenapa? Mau
nangis? Ayo nangis sepuasnya! Keluarkan semuanya, Sha! Jangan ada yang
kamu pendam atau tutup-tutupi lagi." Mas Gadhi masih menggunakan nada
yang tinggi walaupun kini tak lagi berteriak.
Bulir demi bulir
air mata jatuh di pipiku. Semakin lama semakin deras. Isakan keluar
bersama dengan sesak di dadaku yang kian berkurang. Membuatku mulai bisa
merasa lega atas semua ganjalan yang tadi membelenggu. Aku tutupi
wajahku dengan kedua tangan saat wajahku mulai basah karena air mata.
Hening. Tak ada yang bersuara. Mas Ghadi nampaknya juga sudah mulai
tenang. Perlahan, aku merasakan tanganku ditarik. Membuat wajahku yang
berurai air mata menjadi terpampang nyata.
Senyuman hangat mas Ghadi menyambutku. Tangannya yang besar mengusap pipiku yang basah dengan lembut dan hati-hati.
"Sha, kamu boleh menangis kalau memang hatimu sedih, marah, ataupun
kecewa. Boleh, Sha. Itu manusiawi. Tapi setelah lelah menangis, kamu
juga harus mulai bangkit. Menata hidupmu sendiri. Orang lain memang bisa
membuat kita terluka, tapi kita juga bisa ciptakan kebahagiaan kita
sendiri."
"Jangan buat Mas sedih lagi, ya? Adik kesayangan Mas
yang paling cantik, harus tetap bisa bangkit dari keterpurukan. Ingatlah
kalau ada Mas yang selalu akan lindungi kamu. Mas yang akan selalu
dampingi kamu. Juga Mas yang tak akan lelah menjadi sandaranmu."
"Kalaupun bukan untuk Mas. Coba lihatlah orangtua kita. Ayah yang sedari
kecil memperjuangkan kehidupan yang layak untukmu. Ayah yang tak pernah
memperlihatkan kelelahannya dalam menafkahi keluarga. Ayah yang
menangis kala melepasmu untuk berkeluarga."
"Juga Ibu, Sha. Ibu
yang mengandungmu selama sembilan bulan, menyusuimu selama dua tahun.
Rela berkorban untuk setiap senyum dan tawamu. Yang berdoa selalu untuk
kebahagiaanmu. Demi mereka, Sha, tolong ... tolong buatlah dirimu
bahagia. Ayo, kita bangun bersama dari titik nadir ini. Bisa, kan,
Cantik?"
Aku mengangguk dengan keras. Lenganku langsung memeluk
pria yang berbagi darah denganku ini. Kutumpahkan tangis yang kuharap
menjadi tangisan kesedihan terakhir di hidupku.
To be continued ....
***
#Revisi_Hati
Part 4
"Mbak, aku harus tampil paling cantik nomor dua setelah Anisa, si pengantin wanita, ya?"
Permintaan Maya itu membuatku memutar bola mata. Anak itu memang suka
blak-blakan. Dari cermin di hadapanku bisa kulihat si Mbak yang bertugas
meriasnya tersenyum sembari mengangkat jempolnya.
"Mbak, alis saya jangan dicukur. Cukup rapikan pakai pensil alis aja."
Aku memberi instruksi saat melihat penata rias yang mengerjakan wajahku
bersiap merapikan alisku dengan tweezer di tangannya. Untung, penata
rias ini tidak rewel dan menuruti keinginanku.
"Iya, Mbak. Dia
nggak usah dibikin cantik-cantik amat." Maya menimpali dengan senyum
jahil. "Soalnya dia itu janda, biar nggak cantik juga, udah mengeluarkan
aura pesona tersendiri."
Aku langsung melotot galak padanya.
Tanganku hampir meraih botol hair spray. Namun bukannya takut, Maya
malah tertawa terbahak-bahak. Udah gila kayaknya!
"Ciee ... panas ye?" Maya terus meledekku.
Awalnya aku memang cemberut, tapi lama-lama akhirnya jadi ikut tertawa.
Membuat dua penata rias di belakang kami geleng-geleng kepala. Mungkin
kasihan pada Anisa karena telah memilih dua orang wanita gila jadi
pendamping pengantin.
Benar, aku sama sekali tidak tersinggung
dengan ledekan Maya tadi. Dia juga tidak bermaksud untuk menyindirku.
Itu murni lelucon di antara kami.
Ternyata waktu selama dua tahun
sudah mampu mengeringkan luka di hatiku. Hari di mana aku bisa membahas
masa laluku dengan senyuman tanpa beban akhirnya tiba. Semuanya tidak
lain berkat dukungan dari orang-orang sekitarku. Ayah dan Ibu.
Saudara-saudaraku. Juga sahabat-sahabatku.
"Eh, yang jadi pendamping pengantin pria siapa, sih?"
"Katanya sih temannya Farhan. Tapi aku nggak kenal. Bukan teman di
klinik." Aku menjawab pertanyaan Maya sambil mengecek ponselku.
Hari ini adalah hari pernikahan salah satu sahabatku, Anisa. Dia menikah
dengan pria yang sudah menjadi kekasihnya sejak jaman masih SMA.
Namanya Farhan. Dan Farhan ini adalah seorang fisioterapis di klinik
tempatku bekerja sekarang.
Aku memang memutuskan resign dari
rumah sakit sejak aku berpisah dengan mas Salman. Bukan karena ada
masalah tertentu. Rasanya aku hanya butuh suatu momentum atas lahirnya
diriku yang baru. Dan kuawali langkah pertama dengan mengganti suasana
kerja.
"Moga aja ganteng ya, Sha? Bisa tuh dijadiin gebetan." Maya nyengir saat mengatakannya.
Aku geleng-geleng kepala. Maya sebenarnya tidak kekurangan pria dalam
hidupnya. Pria yang mau jadi pacarnya itu kalau disuruh antri,
panjangnya pasti sudah mengalahkan antrian pembuat SKCK saat akan ada
tes CPNS.
Tapi Maya orangnya selektif. Entahlah, aku tak mau
menghakimi. Tapi sepertinya dia masih belum menemukan seseorang yang
bisa membuatnya tertarik.
"Bukannya kapan itu kamu dikenalin sama anaknya teman Tante kamu? Emang nggak jadi?"
Maya malah mencibir. Terlihat kesal. Mungkin pertemuannya tak sebagus ekspektasinya.
"Duh, cowoknya parah banget, Sha. Aku sampai curiga, dia itu dulu skripsinya pakai jasa joki."
"Ih, ngawur. Kalau sampai salah jatuhnya jadi fitnah tauk!"
Maya malah menghela napas. Terlihat benar-benar frustasi. "Kamu juga
akan bilang seperti aku kalau ketemu orangnya langsung. Beh ... gayanya
aja songong banget. Sok pinter gitu. Tapi masa sih, dia selama ini
mengira kalau ibukota Arab Saudi itu di Mekah, gara-gara Ka'bah itu
adanya di Mekah. Kan parah banget! Aku sih nebak kalau seandainya dia
itu bukan orang Indonesia, pasti dia mikirnya ibukota Indonesia itu
Bali."
Aku terkikik geli mendengar cerita Maya. Namun sedikit
kutahan, sih. Soalnya aku nggak mau kena semprot sama Mbak perias kalau
kebanyakan gerak.
"Masa, sih? Parah banget, dong?"
"Iya,
emang. Belum lagi pas dia sok bahas pentingnya hutan mangrove. Kamu tahu
nggak dia bilang apa soal fungsinya hutan mangrove itu? Masa dia bilang
buat mencegah aborsi. Jauh banget, kan? Dari abrasi ke aborsi. Sumpah,
aku langsung ilfeel duluan."
Kali ini aku tidak sungkan untuk
tertawa terpingkal-pingkal. Bahkan sampai pipiku rasanya sakit sekali.
Perutku juga. Bahkan Mbak perias juga ikut-ikutan tertawa. Sedangkan
Maya malah manyun. Terlihat benar-benar keki dengan pria yang
dijumpainya kemarin itu.
"Terus kamu nggak koreksi kesalahan dia itu?" Aku bertanya setelah tawaku benar-benar reda.
"Nggak perlu. Orang sudah kena virus seperti dia itu susah buat disembuhin."
"Virus?"
Maya mengangguk mantap. "Iya, virus vikinisasi."
***
Acara ijab kabul pernikahan Anisa dan Farhan berjalan khidmat dan lancar. Tidak ada drama yang terjadi.
Jujur saja, melihat acara sakral ini membuatku teringat pada hal-hal
yang sangat ingin kulupakan. Masih ada rasa tak percaya kalau ikatan
pernikahan yang kujalani dulu hanya bertahan kurang dari satu tahun.
Air mataku hari ini bermakna dua hal. Pertama, ikut merasa bahagia kala
sahabatku akhirnya menemukan pelabuhan setelah berlayar sendirian
selama hampir 28 tahun. Kedua, karena mengingat detail pernikahanku
dulu. Menyedihkan, bukan?
Untung saja, aku ditemani Maya dari
tadi. Setidaknya banyolan dia bisa sedikit menghiburku. Sejak masih SMP,
dia memang sahabat yang selalu bisa diandalkan.
"Makan yuk, Sha?" ajak Maya padaku.
Aku langsung mengangguk. Perutku juga sudah lapar. Sekarang sudah pukul
dua siang, sementara terakhir aku makan adalah pukul delapan pagi.
Sebelum acara ijab kabul dimulai.
"Tapi aku ke toilet dulu," pamit Maya dan langsung ngacir.
Aku geleng-geleng kepala melihat caranya berlari yang persis seperti
calon pengantin kabur. Kain batik bawahannya, dia angkat lumayan tinggi
untuk memudahkannya berlari.
"Gisha?"
Sapaan itu membuat
aku menoleh. Sesosok gadis yang wajahnya cukup familiar terlihat
berbinar menatapku. Aku mencoba mengingat siapa gadis ini. Rasanya aku
agak lupa-lupa ingat.
"Pasti lupa? Udah lama banget kita nggak ketemu."
Aku meringis, merasa kurang enak padanya. "Maaf, siapa, ya?"
Dia malah tertawa kecil. Tidak kelihatan tersinggung sama sekali.
"Aku Salwa. Teman sekelas kamu di bimbel Ganesha. Dulu waktu kita masih SMA."
Aku menepuk keningku kemudian ikut tertawa. Aku sudah ingat sekarang.
Salwa, anak manja yang pernah menangis karena tidak ada yang
menjemputnya saat pulang bimbel. Akhirnya kuantar dia pulang karena aku
memang sudah membawa motor saat SMA.
Tapi tawaku langsung berhenti saat melihat tatapan mata seseorang yang berada di samping Salwa.
"Mas Adam?"
"Hai, Gisha? Apa kabar?" Mas Adam menyapaku sambil tersenyum tipis. Khas dia banget.
"Alhamdulillah baik. Ini kalian ...."
Mereka suami istri? Atau masih pacaran? Karena setahuku dulu, mas Adam ini masih single.
Salwa bergelayut manja di lengan mas Adam. Senantiasa tersenyum manis.
"Mas Adam ini kakakku, Sha. Kamu lupa sama dia, ya?"
Hah? Kok aku baru tahu?
Melihatku yang melongo, Salwa justru tertawa. Sepertinya geli melihat reaksiku.
"Kamu lupa, ya? Dulu mas Adam memang jarang sih jemput aku. Tapi aku
ingat kalian pernah ketemu beberapa kali. Lagian mas Adam aja masih
ingat, lho. Dia pernah cerita kalau kamu kerja di rumah sakit yang sama
dengan mas Adam."
Salwa menjelaskan panjang lebar. Ya, aku memang
nggak tahu. Pertemuan itu hanya beberapa kali ditambah sudah lama
berlalu. Apalagi orang yang menjemput Salwa dulu itu sering
berganti-ganti. Dan kami tidak seakrab itu untuk saling mengenal anggota
keluarga masing-masing.
"Duh, aku senang banget ketemu kamu di sini, Sha. Udah berapa tahun, ya? Sekitar sepuluh tahun mungkin."
Salwa terlihat begitu antusias. Dia kemudian memandang ke arah mas Adam.
"Gisha ini dulu idolaku lho, Mas. Udah cantik, pintar, cool lagi."
Mau tak mau aku tersipu mendengarnya pujian Salwa yang agak berlebihan
itu. Apalagi di depan mas Adam. Prestasiku jauh banget kalau
dibandingkan sama dia. Pasti dia menganggap omongan Salwa hanya sebuah
lelucon saja.
"Di bimbel aja banyak yang naksir dia."
Perasaanku jadi agak nggak enak, ya?
"Sampai ada tutor yang naksir Gisha, Mas. Duh, siapa ya namanya? Aku
kok lupa. Pokoknya dia itu tutor paling muda dan ganteng banget. Dulu
masih kuliah kalau nggak salah. Suka modus tipis gitu ke Gisha tapi
Gisha bisa cool banget. Nggak kelihatan tertarik sama sekali sama dia."
Ya, ampun, Salwa! Nggak perlu nostalgia bagian itu juga kali.
Aku melirik mas Adam. Wajahnya masih datar. Tidak terbaca. Emang setelan muka dia sehari-hari dari dulu begitu, sih.
"Siapa, sih, Sha? Kamu ingat nggak namanya?"
Ingat, tapi aku malas mau bilang. Please ... semoga Salwa nggak sebut namanya.
"Ah, iya, aku ingat sekarang. Salman. Namanya kak Salman."
Terlambat sudah! Nama itu disebut juga.
Kamu nggak tahu aja, Sal. Kalau Gisha yang cool, idola kamu itu,
akhirnya luluh sama Salman waktu kuliah tahun kedua. Malah mereka sampai
menikah. Walaupun akhirnya bercerai.
Tapi semua kisah itu tidak
kuucapkan. Tentu saja aku masih punya malu. Dan melihat reaksi mas Adam
yang tenang, sepertinya dia juga nggak tahu kalau orang yang dibicarakan
Salwa itu adalah mantan suamiku.
"Ah, kamu ini berlebihan. Aku nggak sehebat itu juga kali, Sal." Aku mengelak sambil melambaikan tangan.
Salwa mengamati pakaian yang kukenakan. "Kamu masih keluarga mempelainya?"
"Nggak. Aku temannya Anisa. Kalau kamu sendiri?"
"Farhan itu teman kuliahku."
"Jadi, kamu fisioterapis juga?"
Salwa mengangguk semangat. Ni anak kayaknya baterainya full terus.
"Kerja di mana sekarang, Sha?" tanya mas Adam padaku.
"Di klinik yayasan pendidikan anak disabilitas, Mas."
Mas Adam mengangguk. Sebagai orang bidang kesehatan, pastilah dia paham
dengan yayasan yang kumaksud. Dia kemudian menoleh pada adiknya.
"Sekarang kita kasih selamat sama pengantinnya. Abis itu pulang, Mas capek banget."
Salwa mengerucutkan bibirnya namun tetap menuruti perintah kakaknya.
"Duluan ya, Sha. Kapan-kapan kita janjian, ya? Biar bisa ngobrol lebih
banyak lagi?" pamit Salwa setelah meminta nomor kontakku yang bisa dia
hubungi.
"Siapa itu tadi?"
Maya tiba-tiba saja sudah
berdiri di sampingku. Persis ninja aja, nggak denger langkahnya tapi
tiba-tiba muncul dari belakang. Kayak tukang parkir pinggir jalan.
"Teman bimbel dulu di Ganesha."
Maya meraih ponsel dari tas yang dia bawa. Tampak sebuah panggilan. Namun tak dijawabnya.
"Dari siapa?" tanyaku iseng.
"Kenalan, temannya sepupuku."
"Kok nggak diangkat?"
Maya memutar bola matanya. Tampak setengah kesal. "Ni laki-laki parah
juga. Pas ketemuan ngajakin bahas soal global warming, tapi sepanjang
ngobrol, mulutnya berasap terus udah kayak cerobong kereta. Sumpah,
bikin aku gedeg sampai pengen nendang dia ke bikini bottom, biar
diajakin mancing ubur-ubur sama Spongebob di sana!"
To be continued ....
#Revisi_Hati
Part 5
"Sha, ada temanmu tuh," ucap Ibu dari luar pintu kamarku yang terbuka.
Aku mengernyit heran. Tidak ada kabar dari Anisa ataupun Maya kalau mereka mau datang ke rumah.
"Siapa, Bu? Maya? Anisa?"
"Bukan. Ibu baru pertama kali ketemu. Cantik. Pakai jilbab."
Siapa, ya?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku hingga aku melihat orang itu. Duduk manis di sofa ruang tamu.
Dia langsung beranjak berdiri saat melihatku. Senyum lebar tersungging di bibir indahnya.
"Gisha, aku nggak ganggu, kan?" Salwa menyapaku dengan riang.
Aku membalas dengan senyuman tidak kalah lebar menanggapi keramahannya.
"Nggak. Cuma agak kaget. Ngomong-ngomong tahu rumahku dari mana?"
"Aku tanya sama mas Adam. Sebenarnya tadi mau minta sekalian dianterin, tapi dia dapat panggilan mendadak."
Lho? Memang mas Adam tahu rumahku? Seingatku, dia tak pernah datang ke rumah ini.
"Sha, aku mau minta maaf," ucap Salwa dengan raut menyesal yang kentara.
"Buat apa?"
"Untuk omonganku yang kemarin. Sumpah, aku nggak tahu soal kamu dan ... kak Salman. Maaf, ya?"
Salwa mengatakan itu semua sembari menangkupkan tangan di depan dada. Gestur minta maaf.
Aku mencoba mengurai senyum di antara keterkejutan akan topik yang diangkat oleh Salwa. "Nggak apa-apa. Udah lama kok."
"Beneran, kan? Duh, aku ngerasa bodoh banget pas sampai rumah terus ditegur sama mas Adam."
Aku kembali tersenyum menenangkan. Dia kelihatan benar-benar menyesal.
Membuatku tak tega. Lagipula, dia kan memang tidak sengaja.
Tangan Salwa memilin rok yang dipakainya dengan mata yang memandangku
ragu. "Aku juga mau bilang ikut berduka untuk kehilanganmu."
Ucapan Salwa disuarakan dengan nada pelan. Namun efeknya langsung
membekukan senyum di bibirku. Entahlah, sekian lama tapi untuk luka satu
itu, aku masih bisa merasakan pedihnya.
"Sha, maaf, ya? Aku buat kamu jadi sedih lagi, ya?"
Suara penyesalan Salwa menyentakku. Mengembalikan kesadaranku kembali ke alam nyata.
"Nggak apa-apa, Sha. Sekarang udah jauh lebih baik." Aku berusaha mantap saat mengatakannya.
Salwa tersenyum simpul. Aku lihat ada simpati yang tersirat dari matanya.
"Kamu memang Gisha yang kukenal dulu. Strong woman," puji Salwa.
Aku tertawa kecil mendengarnya. Salwa ini aneh sekali. Sepertinya dia
terlalu tinggi dalam menilaiku. Padahal aku punya banyak sekali
kelemahan yang tidak diketahui olehnya.
"Sudah siap memulai hidup yang baru, Sha?"
"Tentu. Ini sudah kulakukan."
"Kalau memulai hubungan baru?"
Aku menatap Salwa yang balik menatapku. Dia terlihat serius dengan pertanyaannya. Membuatku tertawa kecil.
"Nggak semudah itu, Sal."
"Lho, kenapa? Kata mas Adam, kamu dan suami kamu udah pisah sekitar dua tahunan."
Aku menatap ke jendela yang terbuka. Memperhatikan tirai yang bergerak
akibat desauan angin. Pikiranku kembali berkelana ke belakang.
Tidak mudah, proses yang kulalui dalam mengembalikan semangat hidupku
yang merosot sampai titik nadir. Butuh proses yang panjang dan sangat
melelahkan.
Dan hidupku sekarang yang kelihatannya baik-baik
saja, nyatanya tak sesempurna yang tampak di luarnya. Pedih luka itu
masih kuingat. Juga segala air mata yang tumpah, masih terekam dalam
benak. Dan saat kini aku sudah mampu berdiri, bukan berarti aku sudah
sanggup berlari. Kakiku masih goyah. Ada banyak yang harus dibenahi.
"Ya, mungkin belum sekarang, Sal. Aku masih butuh waktu untuk
memperbaiki hatiku. Rasanya setelah semua yang terjadi kemarin, masih
banyak yang harus dibenahi. Pondasi yang kubangun belum kokoh dan
mantap."
Salwa menatapku serius. "Memang betul, Sha. Tapi kamu
tahu nggak kalau kita gagal, bukan berarti ada yang salah dalam diri
kita. Bisa jadi yang salah adalah pilihan hidup kita."
Aku mengangguk setuju. "Iya. Dan aku salah memilih pasangan."
Senyum Salwa kembali mengembang. "Seperti saat kita sedang mengerjakan
tugas akhir kuliah, Sha. Kita memilih suatu buku sebagai sumber untuk
penelitian. Tapi ternyata sumber yang kita pilih itu keliru. Akhirnya
tugas kita dibantai habis-habisan. Terkadang hal itu menyebabkan kita
jadi putus asa. Padahal sebenarnya simpel aja. Kita tinggal memilih
sumber penelitian yang baru. Tentunya yang lebih terpercaya dan sesuai
dengan judul yang kita pilih. Dan kita akan lihat hasilnya, pasti lebih
memuaskan. Kalaupun ada koreksi, mungkin hanya hal-hal kecil saja."
"Hidup juga seperti itu, Sha. Kalau kita salah memilih pasangan,
kemudian dibantai dengan kenyataan pahit, ya berarti kita harus memilih
pasangan yang lebih tepat buat kita. Yang satu misi dan visi dengan
kita. Yang terpercaya dan jujur, tentunya. Tinggal kita revisi hati
bersama pasangan baru. Insya Allah, hidup kita pasti bahagia."
Aku langsung tertawa mendengar penjelasan Salwa itu. Bukan meremehkan,
tapi aku justru kagum pada penjelasannya. Dia seperti seorang
profesional yang sudah mengarungi asam garam kehidupan saja.
"Pemikiran kamu hebat, Sal. Beneran kamu ini seorang fisioterapis?
Kayaknya lebih cocok jadi psikolog, deh," komentarku pada Salwa.
Senyum Salwa terkembang sempurna. "Mamaku yang psikolog, Sha. Ya, inilah
hasilnya kalau dari kecil dicekokin buku psikologi. Tapi aku punya
beberapa buku yang bagus. Kayaknya cocok buat kamu baca. Mau aku
pinjemin?"
"Tentu aja, kalau kamu nggak keberatan."
Salwa
langsung menggeleng, tampak antusias. Dia berjanji akan segera
membawakan buku-buku itu untukku. Juga berjanji kalau aku tak akan
menyesal membacanya.
Tidak lama kemudian, Salwa pamit. Katanya dia harus ke rumah salah seorang tantenya yang mengeluh sakit pinggang.
"Bagi mereka, fisioterapis itu beda tipis sama tukang pijit, Sha."
Salwa mengeluarkan candaannya saat berjalan keluar dari rumah.
Namun saat akan menuruni undakan dari teras menuju halaman, Salwa
berpaling padaku. "Sha, kamu tahu nggak kalau di dunia ini tidak ada
yang namanya kebetulan? Termasuk pertemuan kita yang kemarin. Aku yakin
akan ada takdir besar yang mengikutinya. Dan yang jelas, aku seneeeeeng
banget ketemu kamu lagi."
***
Suara tangisan itu membuat
aku berlari tergopoh-gopoh dari dapur menuju kamar. Sesampainya di depan
pintu yang kubiarkan terbuka setengah, bisa kulihat sosok itu sudah
bangun. Tangannya mengusap matanya. Mulutnya mengeluarkan tangisan
sambil memanggilku.
"Iya, Sayang? Sudah bangun, ya?"
Aku
merengkuhnya dalam gendongan. Membawa tubuh kecilnya keluar kamar.
Telunjuk tangannya menunjuk ke arah bola yang berada di sudut ruangan.
Tubuhnya menggeliat ingin lepas dari gendonganku.
Kuturuti
keinginannya itu. Menurunkannya dengan hati-hati. Saat kedua kakinya
menapak lantai, segera dibawa berlari menuju mainannya. Melemparkan bola
itu hingga melambung tinggi. Hampir mencapai langit-langit ruang tengah
ini. Dan tangan itu berusaha meraih kembali bola itu bergerak turun.
Keriangannya terpancar dari tawanya yang renyah. Senyuman yang lebar
menyenandungkan kegembiraan.
Aku mengawasi sambil ikut tersenyum
dan tertawa. Terbawa arus kegembiraan yang tercipta. Membawaku masuk
dalam simpul bernama bahagia.
Kemudian tiba-tiba terdengar suara
petir. Sepertinya akan turun hujan. Bergegas aku menutup pintu. Juga
jendela yang tadi pagi kubuka. Kilat dan angin di luar masih sempat
kulihat dari kaca jendela sebelum kututup rapat tirainya.
Aku kembali dan tak menemukan siapapun. Panik. Berlari kuhampiri kamarku. Kosong. Kamar mandi, nihil.
Aku mulai panik. Napasku mulai memburu. Kalut dan khawatir merajai hatiku.
Terlintas suatu bayangan di kepala. Aku kembali menghampiri jendela.
Terlihat sosok kecil itu berjalan dalam hujan yang mulai turun. Tak
menengok ke belakang sama sekali. Terus berjalan menjauh.
Aku
teriakkan namanya dengan panik. Namun dia tetap menjauh. Aku mencoba
membuka pintu. Namun tak bisa. Kepanikanku benar-benar mencapai level
tertinggi.
Terus kupanggil namanya, namun hasilnya tetap sama. Dia terus pergi. Meninggalkan aku. Tak peduli dengan permohonanku.
Kemudian sesak itu mencekik leherku. Napasku tercekat, berhenti.
Kupukul dadaku namun tetap sama. Rasanya seperti mau mati. Aku menggapai
sesuatu yang aku tahu tak mungkin ada. Mencoba memanggil siapapun tapi
tak ada suara yang keluar. Dadaku makin sakit. Napasku makin habis.
Gelap mulai menghampiri ....
Aku terlonjak bangun. Napasku
memburu. Kuraba leherku. Tidak ada apapun. Aku bisa bernapas normal.
Tidak ada juga sesak di dada. Namun bisa kurasa wajahku yang basah. Oleh
peluh dan juga air mata.
"Haidar ... kenapa kamu pergi sendiri?" bisikku pelan pada udara pagi yang kosong.
Aku langsung mandi dan menunaikan dua rekaat. Mencoba menenangkan
hatiku yang kembali disambangi rindu lewat mimpi-mimpi. Mendoakan anak
yang tak pernah bisa kulihat dan kupeluk lagi.
Setelah cukup menata hati, aku bergegas keluar kamar. Matahari nampak masih belum terbangun sepenuhnya di hari Minggu ini.
"Mau kemana, Mbak?"
Gavin bertanya padaku saat aku mengeluarkan motor dari garasi.
Sepertinya dia baru akan berangkat olahraga lari berkeliling di sekitar
daerah sini.
"Pergi sebentar aja. Bilang sama Ayah dan Ibu, sebelum jam sembilan nanti aku udah pulang."
Kulihat ada suatu pemahaman di benak Gavin. Matanya memandangku dengan pandangan yang sulit kuartikan. Kasihan? Entahlah.
"Mau aku anterin?"
Aku tersenyum dan mencoba terlihat baik-baik saja. "Nggak perlu."
***
Aku tak tahu apa yang benar-benar dirasakan oleh hatiku saat tiba di
tempat ini. Kesedihanku kembali membumbung tinggi saat melihat pusara
kecil itu. Tempat di mana putra kecilku istirahat dalam tidur panjang.
Mimpi-mimpi seperti semalam bukan hanya sekali dua kali menyambangi
tidurku. Sering sekali. Dan aku akan bergegas kemari bila sudah melihat
Haidar dalam mimpi. Aku anggap itu sebagai isyarat kalau dia ingin
dikunjungi oleh ibunya.
Namun aku harus bertahan keras untuk
tidak meratap. Pun dengan air mata. Aku batasi jumlahnya yang bisa turun
di pipiku. Sesedikit yang kubisa, tentu saja. Karena kalau untuk
membuat mataku tetap kering, rasanya itu mustahil.
Sungguh,
kehilangan predikat sebagai seorang istri dan harus menyandang gelar
janda, bukanlah sesuatu yang berat bagiku. Namun kehilangan predikat
sebagai ibu, itu benar-benar memperangkap diriku dalam kesedihan yang
mendalam. Akhirnya hanya mimpi itu yang hadir dalam bentuk puncak rasa
frustasiku.
Selama satu jam ke depan, aku habiskan dengan
bermonolog dalam hati. Kubisikkan kata rinduku yang tak punya pelabuhan.
Kuteriakkan harapan agar kelak dapat menemuinya dalam keadaan yang
terbaik. Persis seperti yang aku lakukan selama dua tahun belakangan
ini.
"Haidar ... mama pulang dulu, ya?"
Kuusap sekali lagi
batu nisan berwarna hitam itu. Sebelum kemudian aku bangkit dan
berdiri. Berjalan pulang kembali pada kenyataan.
Berjalan menjauh
dari makam yang baru saja kutaburi bunga segar. Wangi sekali. Dan di
antara bunga segar itu, ada beberapa bunga yang mulai layu. Mungkin baru
beberapa hari yang lalu ditaburkan. Sama sepertiku, aku tahu dia juga
sering datang. Apakah kehilangan itu bukan milikku saja?
***
Sebuah mobil asing terparkir di dekat pintu pagar rumah saat aku
pulang. Mungkin teman Gavin. Yang jelas aku tak mengenal siapa pemilik
mobil itu.
Namun ternyata tamu itu untukku. Dia duduk di kursi depan teras. Ada Gavin yang menemaninya.
"Mas Adam?" Aku menyapa dengan nada kaget.
Dia tersenyum tipis. Gavin kemudian berlalu undur diri dengan alasan mau mandi.
"Ada apa ya, Mas?" Aku bertanya setelah duduk di kursi yang baru saja ditinggalkan oleh Gavin.
Jujur saja, aku tak punya clue apapun atas tujuan mas Adam datang ke
rumah. Kami tak pernah dekat sebelumnya. Hanya sebatas saling sapa saja.
Mas Adam mengangkat sebuah paper bag dan menyerahkannya padaku. Aku mengintip isinya. Beberapa buah buku.
"Titipan dari Salwa. Udah beberapa hari yang lalu sebenarnya dia yang
minta tolong untuk memberikan itu untukmu. Tapi aku belum sempat."
Aku mengangguk mengerti. Ternyata Salwa serius dengan tawarannya untuk meminjamkan buku padaku.
"Mas baru pulang dari rumah sakit?" Aku bertanya karena kemeja yang
dipakai mas Adam tampak kusut. Wajahnya juga agak kuyu. Seperti orang
yang kurang tidur.
"Iya, semalam ada operasi Cito. Baru selesai dini hari tadi. Ya sudah, aku tidur sekalian di rumah sakit dulu sebelum pulang."
Oh, pantas saja.
Tangan mas Adam kembali menyerahkan sebuah bungkusan padaku. Plastik putih berisi beberapa kotak styrofoam.
"Aku sekalian bawain bubur ayam di depan rumah sakit. Tempat biasanya
kamu sarapan dulu. Aku nggak tahu ada berapa orang di rumah ini. Jadi
cuma aku beliin lima bungkus. Kalau kurang, aku minta maaf."
Aku
tentu saja kaget. Sebuah pertanyaan tercipta di otakku. Dari mana mas
Adam tahu kalau aku sering sarapan bubur di depan rumah sakit? Tapi aku
tetap harus menghargai niat baiknya ini.
"Terima kasih, Mas. Udah
repot bawain sarapan segala. Tenang aja, orang di rumah ini cuma empat
orang, kok." Aku menjawab sambil tersenyum.
Mas Adam ikut tersenyum. "Mungkin pas kalau ditambah aku. Jadi ada lima orang."
Eh? Maksudnya???
To be continued ....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar