#SUAMI_KU
PART 31 author Sashi Kirana
=======
Tanpa terasa satu bulan sudah aku tinggal di rumah mertuaku. Meskipun Mama sudah mau bicara dengan Mas Jaya, tetap saja masih ada jarak antara Ibu dan Anak itu.
Aku terbangun dari tidur siangku, karena mendengar suara ribut-ribut seperti suara orang yang lagi berdebat.
" Syukurlah kamu udah bangun, kita pulang sekarang." Ucap Mas Jaya dengan raut muka seperti orang yang menahan amarah.
" Kamu kenapa Mas?" Tanyaku dengan rasa heran.
" Nggak usah banyak tanya, kita pulang sekarang! Kamu pakai daster itu aja, pakai jilbab kamu!"
"Mas.."
"Kamu dengarkan aku Zahra, kita pulang sekarang dan jangan buat aku selalu mengulang-ulang pembicaraan!!!"
Kuikuti langkah kaki Mas Jaya.
" Heru sama Zahra pulang Ma."
Mama yang duduk di dapur hanya menganggukkan kepala, nggak jauh dari Mama duduk kulihat Kak Ayu, Kakaknya Mas Jaya. Waktu aku menikah dia juga datang.
Kususul Mas Jaya yang udah duluan masuk ke mobil, berkali-kali dia mencoba menyalakan mesin mobilnya, tapi nggak mau nyala juga.
" Kamu mau bawa aku pulang dalam keadaan emosi gini! Apa dengan kamu pergi dalam keadaan emosi semua masalahmu selesai!" Ucapku pada Mas Jaya yang dari tadi kudengar hanya mengupat dan mencaci maki seseorang.
" Kamu selesaikan masalahmu secara baik-baik Mas, aku nggak bisa ikut kamu pulang kalau kamu dalam keadaan marah."
Saat aku membuka pintu mobil hendak keluar, Mas Jaya marik lenganku.
"Aku kepanasan disini, aku bisa kekurangan oksigen dimobil ini!! Konyol aja kamu! Keluar kamu,aku mau bicara sama kamu! Itupun kalau kamu memang merasa kamu laki-laki!!" Langsung aku keluar dari dalam mobil, dan membanting pintu.
Begitu dia keluar dari mobil, aku ajak dia duduk di bangku dibawah pohon besar yang ada di halaman rumah.
" Apa masalah kamu Mas?" Kupandang Mas Jaya dengan sedikit menyipitkan mataku
" Nggak usah ikut campur dengan urusanku."
" Oke, mulai hari ini aku nggak ikut campur dengan urusan keluargamu. Anggap aja aku ini wanita simpananmu yang nggak boleh tau apa-apa. Hubungan kita mulai hari ini bukan suami istri.
Alhamdulillah ya Allah sedikit berkurang beban hidupku."
Lalu aku berdiri dan menjauh dari dia. Rasanya pengen aku jambak-jambak rambutnya saat itu juga.
" Ngomong apa sih kamu Zahra."
" Aku hanya berterima kasih aja sama Allah, aku nggak punya hubungan ama pria plin plan kek kamu!"
" Duduklah, nggak usah marah-marah, sejak hamil, kamu bawaannya marah terus. Nggak capek apa, aku aja capek liat kamu marah-marah. Kalau sekarang kamu dimasukkan ke kandang singa yang lapar, singanya yang mati kamu buat." Ucapnya dengan menundukkan kepalanya.
Hampir aku tertawa mendengar ucapannya. Namun aku cukup gengsi melakukan hal itu, masa habis marah-marah aku langsung tertawa, kan nggak lucu.
Kudekati dia, dan duduk disampingnya. Kutarik nafas dalam-dalam.
" Aku nggak bisa cerita Zahra, aku nggak tau harus mulai dari mana, aku bukan perempuan yang dengan gampang menceritakan apa-apa yang terjadi dalam hidupnya. Mengertilah."
Digenggamnya kedua tanganku. "Yang aku tau, aku sayang sama kamu, aku nggak mau kehilangan kamu. Jangan ungkit-ungkit lagi masa lalu, aku ingin bersama kamu hidup dimasa depan bukan dimasa lalu."
Apa yang dikatakannya memang ada benarnya.
" Maafin aku ya Mas. Aku cuma mau kita sama-sama memecahkan problem yang ada, aku takut kehilangan kamu."
"Akupun nggak mau kehilangan kamu. Kalau aku ditanya, aku senang kita tinggal disini, aku senang bisa ngumpul lagi sama Mama, melihat dia begitu menyayangimu aku sangat bahagia" Ucap Mas Jaya.
" Aku juga mau kita tingal disini, tapiiii...." sengaja kugantung kata-kataku.
" Tapi kenapa?"
" Aku malu sama Mama, karena dia pernah menegurku."
Kusandarkan kepalaku dilengannya.
" Mama bilang apa?"
"Mama menyuruhku memberi tahumu, kalau udah tengah malam jangan suka buat keributan."
Mendengar ucapanku dia langsung tertawa.
"Kenapa kamu tertawa? Tanyaku pada Mas Jaya.
" Habis enak Zahra, jadi aku sering kelepasan."
" Kamu memang nggak tau malu Mas." Lalu kutarik tangannya dan kuajak dia untuk masuk ke rumah.
Sampai di dalam rumah, kulihat Mama lagi mencuci piring. Dimeja makan yang ada di dapur itu juga ada Wulan yang sedang makan buah.
" Ada yang tinggal Nak?" Tanya Mama begitu melihatku kembali.
" Ma, Zahra lapar, sebelum pulang maunya Mama suapin dulu."
Diajaknya aku masuk.
" Kamu makan buah nggak nawar-nawarin, takut banget diminta."
Wulan yang mendengar ucapanku cuma tertawa. Aku duduk diantara Wulan dan Mama.
" Kakak pinjam Mamamu bentar, kalau makan nggak disuapi Mama rasa ada yang kurang." Bisikku pada Wulan.
"Wulan minta suapin abang jugalah." Di sodorkannya piring yang berisi buah kehadapan Mas Jaya.
Aku langsung tertawa "Dia nggak bakal nyuapin kamu, lihat aja dia makan sendiri."
Karena kulihat Mas Jaya berkali-kali memasukkan buah kedalam mulutnya, dari pada ke Adiknya.
Aku memperhatikan Kak Ayu yang dari tadi hanya diam, dengan raut wajah tidak senang.
"Mama terlalu memanjakan mereka, dan kamu juga Zahra, kamu cuma menantu jadi jangan sok manja." Ucap Kak Ayu dengan sinis.
Semua mata langsung mengarah kepada Kakak Iparku itu.
"Kakak nggak boleh ngomong seperti itu Kak, dari dulu Kakak selalu saja buat Abang nggak betah tinggal disini."
Kuusap punggung Wulan."Jangan dilawan" Bisikku pada Wulan.
"Aku tau, kalau Abang nggak masuk penjara, Kak Ria nggak akan dibunuh orang, Papa nggak akan bunuh diri karena nggak sanggup menanggung malu, tapi kitakan tau kalau Abang nggak salah, ini semua udah jalan hidup kita, lagian memang mantan suami Kakak aja yang nggak tau diuntung, disaat kita ada musibah dia ceraikan Kakak, tapi begitu sekarang kita dah seperti ini, ngemis-ngemis minta balik lagi sama Kakak. Kalau Kakak mau balik sama dia, Kakak bodoh! Suamimu yang sekarang orang baik, bertanggung jawab, dia nggak mau hidup dibiayai Abang. Itu baru laki-laki. Aku memang yang kecil disini, tapi aku juga punya hak menyampaikan pendapatku." Setelah meluapkan emosinya, Wulan masuk ke dalam.
Kuarahkan pandanganku kearah Mama mertuaku. Dia hanya diam dan menundukkan wajahnya. Sepertinya beban hidup yang dia alami cukup berat. Terkadang sesuatu yang kita lihat diluar sangat indah ternyata banyak juga menyimpan derita.
" Mama istirahatlah." Ucapku dengan beliau.
Kupegang lengan Mas Jaya, dan mengajaknya ke kamar.
"Apa yang kamu rasakam sekarang Mas?"
" Maafkan atas kelakuan Kakakku Zahra."
" Aku tau kamu pria yang baik Mas, semua ini ujian hidup. Benar kata Wulan, ini jalan hidup keluarga kita. Aku faham sekarang kenapa Mama diam denganmu."
" Mama diam denganku karena dia sangat kecewa denganku."
Didudukkanya aku diatas meja rias, diletakkannya kedua tanganku diatas bahunya. Dipegangnya pipiku, perlahan dikecupnya lembut bibirku. Didekatkan wajahnya dengan wajahku.
"Pandanglah mataku dengan jarak sedekat ini, lihatlah apakah aku berbohong apa tidak, kalau kamu tau siapa aku, kamu nggak akan meninggalkankukan Zahraaa." Ucap Mas Jaya dengan suara yang sangat pelan.
"Enggak." Jawabku singkat.
"Beri aku kekuatan sebentar untuk meyakinkan diriku, agar bisa menceritakannya padamu." Sekali lagi dia mengecup bibirku.
"Kau mau tau alasan Mama mendiamkanku?"
Aku hanya menganggukan sedikit kepalaku, karena wajahku masih sangat dekat wajahnya.
"Karena Mama yang melihat dengan mata kepalanya sendiri, aku yang membunuh orang yang memperkosa adikku."
Jantungku hampir lepas mendengar pengakuannya.
"Pandanglah mataku Zahra, setelah tau ini apa yang akan kau lakukan?"
Kudorong tubuhnya menjauh dariku. " Udah Mas, aku nggak mau dengar lagi. Kamu benar, lebih baik aku nggak tau apa-apa."
Dengan keadaan lunglai dijatuhkannya tubuhnya ke lantai. Aku segera turun dari atas meja yang kududuki, Kusatukan lututku dengan lututnya. Kukecup keningnya.
" Jangan menangis Mas, kita sama-sama hadapi semuanya, aku nggak akan meninggalkan kamu dalam keadaan apapun."
Segera kupeluk dia. " Maafkan aku yaa.. tolong maafkan aku."
"Aku menyesal Zahra, aku sangat menyesal melakukan semua itu." Ucapnya dengan lirih.
Kudiamkan dia dalam pelukanku. Maafkan aku Mas, aku nggak tau masa lalumu seperti ini. Aku tau kau pria yang baik, keadaan yang membuatmu menjadi seperti ini....
" Mas.. kita mandi yuk udah sore." Kuraih tangannya, kuletakkan diatas perutku. " Malu sama dia, masa kita mau nangis terus."
" Kau memang istri yang baik Zahra, aku nggak akan menemukan perempuan sepertimu lagi."
" Makanya jangan bentak-bentak aku lagi. Udah nangisnya." Segera aku bangun dan menuju kamar mandi.
"Kamu nggak mau mandi sama aku? Jangan sampai aku tutup pintunya."
"Kamu slalu saja menggodaku." Dilangkahkannya kakinya memasuki kamar mandi.
" Sejak kapan kau mulai menyukai ku Mas?"
" Sejak kau masih sekolah."
" Hahahaa.. ternyata kau seorang pelaku pedofil juga."
" Kau juga."
" Aku nggak pernah mencintai anak kecil."
"Kau lupa kalau kau selalu menggoda Heru Sanjaya junior, sampai kau yang ditegur Mamakan."
"Hahaha.. Sayang itu beda cerita."
=========
(Apakah ini yang dinamakan setelah hujan ada pelangi)😂😂
PART 31 author Sashi Kirana
=======
Tanpa terasa satu bulan sudah aku tinggal di rumah mertuaku. Meskipun Mama sudah mau bicara dengan Mas Jaya, tetap saja masih ada jarak antara Ibu dan Anak itu.
Aku terbangun dari tidur siangku, karena mendengar suara ribut-ribut seperti suara orang yang lagi berdebat.
" Syukurlah kamu udah bangun, kita pulang sekarang." Ucap Mas Jaya dengan raut muka seperti orang yang menahan amarah.
" Kamu kenapa Mas?" Tanyaku dengan rasa heran.
" Nggak usah banyak tanya, kita pulang sekarang! Kamu pakai daster itu aja, pakai jilbab kamu!"
"Mas.."
"Kamu dengarkan aku Zahra, kita pulang sekarang dan jangan buat aku selalu mengulang-ulang pembicaraan!!!"
Kuikuti langkah kaki Mas Jaya.
" Heru sama Zahra pulang Ma."
Mama yang duduk di dapur hanya menganggukkan kepala, nggak jauh dari Mama duduk kulihat Kak Ayu, Kakaknya Mas Jaya. Waktu aku menikah dia juga datang.
Kususul Mas Jaya yang udah duluan masuk ke mobil, berkali-kali dia mencoba menyalakan mesin mobilnya, tapi nggak mau nyala juga.
" Kamu mau bawa aku pulang dalam keadaan emosi gini! Apa dengan kamu pergi dalam keadaan emosi semua masalahmu selesai!" Ucapku pada Mas Jaya yang dari tadi kudengar hanya mengupat dan mencaci maki seseorang.
" Kamu selesaikan masalahmu secara baik-baik Mas, aku nggak bisa ikut kamu pulang kalau kamu dalam keadaan marah."
Saat aku membuka pintu mobil hendak keluar, Mas Jaya marik lenganku.
"Aku kepanasan disini, aku bisa kekurangan oksigen dimobil ini!! Konyol aja kamu! Keluar kamu,aku mau bicara sama kamu! Itupun kalau kamu memang merasa kamu laki-laki!!" Langsung aku keluar dari dalam mobil, dan membanting pintu.
Begitu dia keluar dari mobil, aku ajak dia duduk di bangku dibawah pohon besar yang ada di halaman rumah.
" Apa masalah kamu Mas?" Kupandang Mas Jaya dengan sedikit menyipitkan mataku
" Nggak usah ikut campur dengan urusanku."
" Oke, mulai hari ini aku nggak ikut campur dengan urusan keluargamu. Anggap aja aku ini wanita simpananmu yang nggak boleh tau apa-apa. Hubungan kita mulai hari ini bukan suami istri.
Alhamdulillah ya Allah sedikit berkurang beban hidupku."
Lalu aku berdiri dan menjauh dari dia. Rasanya pengen aku jambak-jambak rambutnya saat itu juga.
" Ngomong apa sih kamu Zahra."
" Aku hanya berterima kasih aja sama Allah, aku nggak punya hubungan ama pria plin plan kek kamu!"
" Duduklah, nggak usah marah-marah, sejak hamil, kamu bawaannya marah terus. Nggak capek apa, aku aja capek liat kamu marah-marah. Kalau sekarang kamu dimasukkan ke kandang singa yang lapar, singanya yang mati kamu buat." Ucapnya dengan menundukkan kepalanya.
Hampir aku tertawa mendengar ucapannya. Namun aku cukup gengsi melakukan hal itu, masa habis marah-marah aku langsung tertawa, kan nggak lucu.
Kudekati dia, dan duduk disampingnya. Kutarik nafas dalam-dalam.
" Aku nggak bisa cerita Zahra, aku nggak tau harus mulai dari mana, aku bukan perempuan yang dengan gampang menceritakan apa-apa yang terjadi dalam hidupnya. Mengertilah."
Digenggamnya kedua tanganku. "Yang aku tau, aku sayang sama kamu, aku nggak mau kehilangan kamu. Jangan ungkit-ungkit lagi masa lalu, aku ingin bersama kamu hidup dimasa depan bukan dimasa lalu."
Apa yang dikatakannya memang ada benarnya.
" Maafin aku ya Mas. Aku cuma mau kita sama-sama memecahkan problem yang ada, aku takut kehilangan kamu."
"Akupun nggak mau kehilangan kamu. Kalau aku ditanya, aku senang kita tinggal disini, aku senang bisa ngumpul lagi sama Mama, melihat dia begitu menyayangimu aku sangat bahagia" Ucap Mas Jaya.
" Aku juga mau kita tingal disini, tapiiii...." sengaja kugantung kata-kataku.
" Tapi kenapa?"
" Aku malu sama Mama, karena dia pernah menegurku."
Kusandarkan kepalaku dilengannya.
" Mama bilang apa?"
"Mama menyuruhku memberi tahumu, kalau udah tengah malam jangan suka buat keributan."
Mendengar ucapanku dia langsung tertawa.
"Kenapa kamu tertawa? Tanyaku pada Mas Jaya.
" Habis enak Zahra, jadi aku sering kelepasan."
" Kamu memang nggak tau malu Mas." Lalu kutarik tangannya dan kuajak dia untuk masuk ke rumah.
Sampai di dalam rumah, kulihat Mama lagi mencuci piring. Dimeja makan yang ada di dapur itu juga ada Wulan yang sedang makan buah.
" Ada yang tinggal Nak?" Tanya Mama begitu melihatku kembali.
" Ma, Zahra lapar, sebelum pulang maunya Mama suapin dulu."
Diajaknya aku masuk.
" Kamu makan buah nggak nawar-nawarin, takut banget diminta."
Wulan yang mendengar ucapanku cuma tertawa. Aku duduk diantara Wulan dan Mama.
" Kakak pinjam Mamamu bentar, kalau makan nggak disuapi Mama rasa ada yang kurang." Bisikku pada Wulan.
"Wulan minta suapin abang jugalah." Di sodorkannya piring yang berisi buah kehadapan Mas Jaya.
Aku langsung tertawa "Dia nggak bakal nyuapin kamu, lihat aja dia makan sendiri."
Karena kulihat Mas Jaya berkali-kali memasukkan buah kedalam mulutnya, dari pada ke Adiknya.
Aku memperhatikan Kak Ayu yang dari tadi hanya diam, dengan raut wajah tidak senang.
"Mama terlalu memanjakan mereka, dan kamu juga Zahra, kamu cuma menantu jadi jangan sok manja." Ucap Kak Ayu dengan sinis.
Semua mata langsung mengarah kepada Kakak Iparku itu.
"Kakak nggak boleh ngomong seperti itu Kak, dari dulu Kakak selalu saja buat Abang nggak betah tinggal disini."
Kuusap punggung Wulan."Jangan dilawan" Bisikku pada Wulan.
"Aku tau, kalau Abang nggak masuk penjara, Kak Ria nggak akan dibunuh orang, Papa nggak akan bunuh diri karena nggak sanggup menanggung malu, tapi kitakan tau kalau Abang nggak salah, ini semua udah jalan hidup kita, lagian memang mantan suami Kakak aja yang nggak tau diuntung, disaat kita ada musibah dia ceraikan Kakak, tapi begitu sekarang kita dah seperti ini, ngemis-ngemis minta balik lagi sama Kakak. Kalau Kakak mau balik sama dia, Kakak bodoh! Suamimu yang sekarang orang baik, bertanggung jawab, dia nggak mau hidup dibiayai Abang. Itu baru laki-laki. Aku memang yang kecil disini, tapi aku juga punya hak menyampaikan pendapatku." Setelah meluapkan emosinya, Wulan masuk ke dalam.
Kuarahkan pandanganku kearah Mama mertuaku. Dia hanya diam dan menundukkan wajahnya. Sepertinya beban hidup yang dia alami cukup berat. Terkadang sesuatu yang kita lihat diluar sangat indah ternyata banyak juga menyimpan derita.
" Mama istirahatlah." Ucapku dengan beliau.
Kupegang lengan Mas Jaya, dan mengajaknya ke kamar.
"Apa yang kamu rasakam sekarang Mas?"
" Maafkan atas kelakuan Kakakku Zahra."
" Aku tau kamu pria yang baik Mas, semua ini ujian hidup. Benar kata Wulan, ini jalan hidup keluarga kita. Aku faham sekarang kenapa Mama diam denganmu."
" Mama diam denganku karena dia sangat kecewa denganku."
Didudukkanya aku diatas meja rias, diletakkannya kedua tanganku diatas bahunya. Dipegangnya pipiku, perlahan dikecupnya lembut bibirku. Didekatkan wajahnya dengan wajahku.
"Pandanglah mataku dengan jarak sedekat ini, lihatlah apakah aku berbohong apa tidak, kalau kamu tau siapa aku, kamu nggak akan meninggalkankukan Zahraaa." Ucap Mas Jaya dengan suara yang sangat pelan.
"Enggak." Jawabku singkat.
"Beri aku kekuatan sebentar untuk meyakinkan diriku, agar bisa menceritakannya padamu." Sekali lagi dia mengecup bibirku.
"Kau mau tau alasan Mama mendiamkanku?"
Aku hanya menganggukan sedikit kepalaku, karena wajahku masih sangat dekat wajahnya.
"Karena Mama yang melihat dengan mata kepalanya sendiri, aku yang membunuh orang yang memperkosa adikku."
Jantungku hampir lepas mendengar pengakuannya.
"Pandanglah mataku Zahra, setelah tau ini apa yang akan kau lakukan?"
Kudorong tubuhnya menjauh dariku. " Udah Mas, aku nggak mau dengar lagi. Kamu benar, lebih baik aku nggak tau apa-apa."
Dengan keadaan lunglai dijatuhkannya tubuhnya ke lantai. Aku segera turun dari atas meja yang kududuki, Kusatukan lututku dengan lututnya. Kukecup keningnya.
" Jangan menangis Mas, kita sama-sama hadapi semuanya, aku nggak akan meninggalkan kamu dalam keadaan apapun."
Segera kupeluk dia. " Maafkan aku yaa.. tolong maafkan aku."
"Aku menyesal Zahra, aku sangat menyesal melakukan semua itu." Ucapnya dengan lirih.
Kudiamkan dia dalam pelukanku. Maafkan aku Mas, aku nggak tau masa lalumu seperti ini. Aku tau kau pria yang baik, keadaan yang membuatmu menjadi seperti ini....
" Mas.. kita mandi yuk udah sore." Kuraih tangannya, kuletakkan diatas perutku. " Malu sama dia, masa kita mau nangis terus."
" Kau memang istri yang baik Zahra, aku nggak akan menemukan perempuan sepertimu lagi."
" Makanya jangan bentak-bentak aku lagi. Udah nangisnya." Segera aku bangun dan menuju kamar mandi.
"Kamu nggak mau mandi sama aku? Jangan sampai aku tutup pintunya."
"Kamu slalu saja menggodaku." Dilangkahkannya kakinya memasuki kamar mandi.
" Sejak kapan kau mulai menyukai ku Mas?"
" Sejak kau masih sekolah."
" Hahahaa.. ternyata kau seorang pelaku pedofil juga."
" Kau juga."
" Aku nggak pernah mencintai anak kecil."
"Kau lupa kalau kau selalu menggoda Heru Sanjaya junior, sampai kau yang ditegur Mamakan."
"Hahaha.. Sayang itu beda cerita."
=========
(Apakah ini yang dinamakan setelah hujan ada pelangi)😂😂
----
#SUAMI_KU
PART 32
=======
Sehabis mandi, aku dan Mas Jaya sama sekali nggak keluar dari kamar, aku habiskan waktu untuk sekedar bercanda dan bermanja. Selesai Shalat Isya dengan alasan lapar aku keluar kamar. Begitu aku melewati ruang keluarga dan ruang makan aku nggak menemukan siapa-siapa, sampai aku ke dapurpun aku nggak menemukan satu manusiapun.
Aku coba mengetuk pintu kamar Wulan dan Mama tapi nggak ada jawaban. Aku kembali lagi ke kamar.
" Di luar nggak ada orang Mas, pada kemana ya." Kudekati Mas Jaya yang lagi rebahan di tempat tidur.
" Kamu mikirin orang, pikirin aku aja." Ditariknya aku yang berdiri ditepi tempat tidur, dan memelukku.
"Kalau nggak memelukku apa kamu nggak bisa hah!" Kugigit pelan ujung hidungnya.
"Kau itu ibarat obat bius, jadi kalau nggak kudapatkan bisa sakau aku" Dibenamkannya wajahnya dileherku.
"Kalau gitu, atar aja aku ke farmasi, sapa tau bagian dari diriku bisa jadi obat penenang."
Mendengar ucapanku, semakin dibenamkannya wajahnya dileherku.
" Mas.. udah, jangan tinggalkan jejak disitu, aku nggak enak sama Mama" Semakin aku menolaknya semakin kuat dia menahanku, sampai aku udah nggak ada tenaga menahannya.
Dijauhkan wajahnya dari leherku. Kulihat dia tersenyum puas.
" Udah ada, sekali-sekali aku yang menggodamu." Lalu dia turun dari tempat tidur.
" Dasar nggak tau malu."
" Iya aku memang nggak tau malu sama kamu." Dilucutinya semua pakaian yang ada dibadannya, sambil meledekku.
Kudengar pintu kamar diketuk..
" Sayang, Mama boleh masuk." Terdengar suara Mama memanggil.
Aku dan Mas Jaya saling pandang. Segera aku merapikan diriku, untuk duduk dipinggir tempat tidur.
"Habis kau sayang." Gantian aku yang tersenyum puas.
" Masuk Ma." Jawabku segera sambil tertawa.
"Jangan dulu Ma!" Teriaknya dengan muka panik, dan berlari menuju pintu.
"Sayang ambilkan bajuku" Sambil menahan pintu yang sudah terbuka sedikit.
Kusingkirkan baju dan celananya lebih jauh.
"Mama jangan masuk dulu ya" Lalu dia mengunci pintu.
Aku berjalan menuju pintu, masih tetap mentertawakannya, dan mencoba membuka membuka pintu yang dikuncinya.
"Tunggu pembalasanku!" Diapun Lari dan menyambar pakaiannya yang tergeletak dilantai.
" Kamu kenapa senyum-senyum, Mama boleh masuk?"
Aku hanya membalasa dengan anggukan.
"Kamu udah makan Nak?" Tanyanya disaat dia udah di dalam.
Aku nggak menjawab pertanyaannya karena melihat Mas Jaya keluar dari kamar mandi dengan raut muka yang masih sedikit tegang.
" Kamu sakit Ru? Wajahmu merah, nafas kamu juga ngos-ngosan gitu?"
" Enggak Ma, Heru sehat."Jawabnya singkat.
Aku yang berdiri dibelakang Mamanya masih berusaha menahan tawa.
"Mama dari mana?" Tanya Mas Jaya untuk mengalihkan pembicaraan.
" Mama sama Ulan dan Bibi tadi habis dari tetangga, ada keperluan."
Nggak lama kudengar Wulan juga mengetuk kamarku, dan minta izin untuk masuk.
" Kenapa pada kesini semua?" Tanya Mas Jaya sambil mengkerutkan keningnya
" Mama sama Ulan mau minta maaf sama Kakak, atas kejadian tadi siang, Mama memang sengaja manggil Kak Ayu datang hari ini, tapi kejadiannya seperti ini. Udah satu bulan kalian disini, Mama berharap kita bisa sehangat dulu lagi, tapi nyatanya nggak." Ucap Ulan.
Mas Jaya langsung memeluk Adiknya, dan Wulanpun melingkarkan tangannya dipinggang Abangnya.
" Ternyata kamu manja juga ya." Ucapku pada Wulan.
" Kakak cemburu, Ulan seperti ini sama Abang." Semakin dieratkan pelukan keAbangnya.
" Enggak, karena Kakak punya Mama yang sayang sama Kakak. Ambillah Abangmu yang nggak tau malu itu." Lalu kupeluk Mertuaku, dan menyembunyikan mukaku dibahu beliau.
Mama kesini mau ngucapin selamat ulang tahun buat kamu, Mama tau menantu Mama lagi ulang tahun."
Aku sama Mas Jaya saling pandang.
" Kamu ulang tahun sayang?"
" Mama tau dari Mana? Tanyaku pada beliau.
" Abang ternyata nggak cinta sama Kakak Ipar, Ulang tahunnya aja nggak tau."
" Bukan nggak cinta, otakku dipinjam Petrix makanya nggak konek."
" Kita makan disini aja ya. Biar Wulan bawakan makanan disini." Ucap Wulan.
Sebelum Wulan keluar, aku mencegahnya.
" Kita makan diluar aja, kita makan sama-sama, Mama udah undang Kakak kesini, nggak mungkin dia kita abaikan." Ucapku.
" Mama nggak mau ribut Kak Zahra."
"Ayo, nanti kalau ribut, dimasukin sambel satu-satu mulutnya." Ucapku sedikit bercanda, dan mengajak semua keluar dari kamar.
" Mama nggak bisa kasih kado apa-apa, kalau nggak Wulan yang kasih tau, Mama nggak tau sama sekali." Ucapnya setelah duduk didekat meja makan.
" Diulang tahun Za kali ini, kadonya sangat spesial. Mama dan Mas adalah kado terindah dari Allah yang pernah Za miliki." Kukecup kening Mama, dan kening Mas Jaya bergantian.
" Ulan nggak?" tanya Ulan.
" Kamu nggak spesial, tapi teristimewa."
Setelah semua berkumpul dimeja makan, aku merasakan acara makan malam kali ini lebih serem dari pada melewati kuburan angker, karena hening yang terdengar hanya dentingan sendok yang sedikit beradu dengan piring. Terlebih wajah Kakak Iparku.
Selesai makan, Mama, Wulan dan Kak Ayu memilih masuk ke dalam kamar masing-masing, Mas Jaya minta izin untuk keluar sebentar. Sementara aku lebih memelih duduk di dapur, menikmati Cake coklat yang dipesan oleh Mertuaku dari tetangganya.
Kulihat Kakak Iparku datang menghampiri, dan memilih duduk didepanku.
" Aku mau bicara Zahra." Ucapnya dengan tatapan mata yang sinis dan sangat dingin.
" Oh, ya silahkan." Sedikit ku sunggingkan senyum padanya.
" Aku nggak butuh senyummu."
Aku hanya mengangkat kedua bahuku, dan tetap memakan cake yang ada didepanku, dan siap mendengar ucapannya.
" Jangan pernah berharap kamu akan masuk dalam keluarga ini Zahra, kau hanya anak kamarin sore yang nggak tau apa-apa tentang suamimu, dan sampai kapanpun aku nggak pernah suka denganmu!". Lalu dia berdiri dari kursinya.
" Kau nggak ingin dengar jawabanku?" Ucapku pada Kakak iparku, tanpa memandangnya.
Kulihat dia dengan ekor mataku, duduk kembali dikursinya.
" Kau mau bilang apa?"
" Makasih karena kau mau mendengarkanku." Kusingkirkan piring kue yang ada dihadapanku, dan kulipat kedua tanganku diatas meja, serta kutatap matanya.
" Secara fisik kau Kakak iparku, dan kewajibanku menghormatimu. Tapi secara pemikiran kau adalah rivalku, disini kau musuhku. Kau melarangku masuk ke dalam keluarga ini, tapi sayangnya aku udah terlanjur masuk. itu poin pertama yang kamu harus tau.
Yang kedua, apapun yang kau bilang tentang suamiku, aku nggak perduli, karena yang kulihat, suamiku sangat menyayangi keluarganya.
yang ketiga, kalau kau nggak suka denganku,itu urusanmu, kau bebas menghinaku tapi sayangnya aku nggak akan pernah menganggapmu ada, dan hal itu kupelajari dari cara Mamamu memperlakukan suamiku. Kuharap cukup jelas apa yang kukatakan, kalau mau pergi silahkan, kalau masih ada yang mau disampaikan silahkan."
Kulanjutkan memakan kue yang kupinggirkan tadi.
" Aku sudah duga kau memang perempuan licik Zahra, kau mau nikah dengan adikku karena hartanyakan?!"
" Sayangnya kueku sudah habis, jadi aku nggak bisa lagi duduk denganmu." Aku berdiri dari kursi yang kududuki, merapikan kembali ditempat semula.
"Sebelum aku masuk, kau coba ingat lagi poin no.3 yang kukatakan tadi, dan untuk yang kau bilang aku mau dengan adikmu karena hartanya, jawabku, aku mengenal dia sebagai laki-laki gembel." Kutinggalkan Kakak iparku yang masih duduk di dapur.
Pada saat aku melewati ruang TV kulihat Wulan memperhatikanku.
" Kak..." Panggilnya
" Kau melihatnya?"
Dia hanya mengangguk.
" Jangan katakan apapun pada Abangmu, karena akan memperkeruh suasana. Maaf kalau Kakak bersikap seperti itu pada Kakakmu."
" Aku suka caramu mengeksekusinya, tenang tapi mematikan."
Kupukul pelan jidadnya.
" Hey bodoh, itu Kakakmu kau dengan dia satu darah, sementara aku orang lain, kalau nggak bisa membelanya sebaiknya diam, bukan mendukungku." Kuperhatikan dia dari atas sampai bawah.
" Calon-calon pengkhianat sepertinya ini."
Mendengarku bicara seperti itu dia langsung membelalakkan matanya.
" Nggak usah melotot seperti itu, jelek tau." Lalu kupeluk dia. " Kakak nggak marah, tadi hanya bercanda, maaf ya." Lalu kucium pipinya.
" Tapi apa yang Kakak katakan benar, Kalau aku nggak bisa membela saudaraku karena kesalahannya seharusnya aku diam, dan aku nggak boleh mencari muka untuk mendapatkan simpati dan empati dari oranglain."
" Cerdas!" lalu kucolek ujung hidungnya.
Aku pamit pada Wulan untuk istrirahat. Selesai aku cuci muka dan sikat gigi, kulihat Mas Jaya yang baru pulang.
" Kamu udah pulang sayang." Ku bantu dia membuka jaketnya dan menggantungnya didalam lemari.
" Aku bersih-bersih dulu ya." Dikecupnya keningku, dan masuk ke kamar mandi.
Kurebahkan diriku dikasur, rasanya banyak banget masalah hari ini. Tapi sudahlah, dipikirkan buat sakit kepala aja. Makasih Ya Allah karena KAU berusaha menempa jiwaku untuk lebih dewasa lagi. Doaku dalam hati.
"Kamu mikirin apa?" Kutarik suamiku itu untuk rebahan,lalu kuletakkan kepalaku didadanya.
" Aku mikirin kamu, rasanya nyaman banget tidur disini."
Kukecup dadanya. "Mas.. terimakasih atas semuanya ya, aku menyayangimu."
"Sayang, letakkan sini kepalamu dibantalku, aku ingin memandang wajahmu, sebelum aku tidur."
Kusejajarkan wajahku dengannya, sampai ujung hidungku beradu dengan hidungnya. Kuusap lembut pipinya.
" Aku mencintaimu Mas" Kukecup bibirnya, dan aku tersenyum.
" Kau senyum kenapa?"
" Aku senyum karena malam ini aku puas membuat iri bidadari disyurga sana."
" Oh ya?!"
"Huhummm, karena kalau kau tidur dalam keadaan marah denganku, mereka akan senang, karena mereka sedang menunggumu, tapi kalau kau tidur dengan rasa senang padaku, mereka akan iri, karena aku bisa menyenangkanmu."
" Bidadari syurgapun ada yang pelakor ya." jawabnya sambil mencolek hidungku.
"Jangan bicara begitu, nanti mereka marah kita gosipin, ayo tidurlah." Kukecup kening, mata dan bibirnya.
" Kau memang nakal Zahra." Lalu dipeluknya aku dengan erat.
PART 32
=======
Sehabis mandi, aku dan Mas Jaya sama sekali nggak keluar dari kamar, aku habiskan waktu untuk sekedar bercanda dan bermanja. Selesai Shalat Isya dengan alasan lapar aku keluar kamar. Begitu aku melewati ruang keluarga dan ruang makan aku nggak menemukan siapa-siapa, sampai aku ke dapurpun aku nggak menemukan satu manusiapun.
Aku coba mengetuk pintu kamar Wulan dan Mama tapi nggak ada jawaban. Aku kembali lagi ke kamar.
" Di luar nggak ada orang Mas, pada kemana ya." Kudekati Mas Jaya yang lagi rebahan di tempat tidur.
" Kamu mikirin orang, pikirin aku aja." Ditariknya aku yang berdiri ditepi tempat tidur, dan memelukku.
"Kalau nggak memelukku apa kamu nggak bisa hah!" Kugigit pelan ujung hidungnya.
"Kau itu ibarat obat bius, jadi kalau nggak kudapatkan bisa sakau aku" Dibenamkannya wajahnya dileherku.
"Kalau gitu, atar aja aku ke farmasi, sapa tau bagian dari diriku bisa jadi obat penenang."
Mendengar ucapanku, semakin dibenamkannya wajahnya dileherku.
" Mas.. udah, jangan tinggalkan jejak disitu, aku nggak enak sama Mama" Semakin aku menolaknya semakin kuat dia menahanku, sampai aku udah nggak ada tenaga menahannya.
Dijauhkan wajahnya dari leherku. Kulihat dia tersenyum puas.
" Udah ada, sekali-sekali aku yang menggodamu." Lalu dia turun dari tempat tidur.
" Dasar nggak tau malu."
" Iya aku memang nggak tau malu sama kamu." Dilucutinya semua pakaian yang ada dibadannya, sambil meledekku.
Kudengar pintu kamar diketuk..
" Sayang, Mama boleh masuk." Terdengar suara Mama memanggil.
Aku dan Mas Jaya saling pandang. Segera aku merapikan diriku, untuk duduk dipinggir tempat tidur.
"Habis kau sayang." Gantian aku yang tersenyum puas.
" Masuk Ma." Jawabku segera sambil tertawa.
"Jangan dulu Ma!" Teriaknya dengan muka panik, dan berlari menuju pintu.
"Sayang ambilkan bajuku" Sambil menahan pintu yang sudah terbuka sedikit.
Kusingkirkan baju dan celananya lebih jauh.
"Mama jangan masuk dulu ya" Lalu dia mengunci pintu.
Aku berjalan menuju pintu, masih tetap mentertawakannya, dan mencoba membuka membuka pintu yang dikuncinya.
"Tunggu pembalasanku!" Diapun Lari dan menyambar pakaiannya yang tergeletak dilantai.
" Kamu kenapa senyum-senyum, Mama boleh masuk?"
Aku hanya membalasa dengan anggukan.
"Kamu udah makan Nak?" Tanyanya disaat dia udah di dalam.
Aku nggak menjawab pertanyaannya karena melihat Mas Jaya keluar dari kamar mandi dengan raut muka yang masih sedikit tegang.
" Kamu sakit Ru? Wajahmu merah, nafas kamu juga ngos-ngosan gitu?"
" Enggak Ma, Heru sehat."Jawabnya singkat.
Aku yang berdiri dibelakang Mamanya masih berusaha menahan tawa.
"Mama dari mana?" Tanya Mas Jaya untuk mengalihkan pembicaraan.
" Mama sama Ulan dan Bibi tadi habis dari tetangga, ada keperluan."
Nggak lama kudengar Wulan juga mengetuk kamarku, dan minta izin untuk masuk.
" Kenapa pada kesini semua?" Tanya Mas Jaya sambil mengkerutkan keningnya
" Mama sama Ulan mau minta maaf sama Kakak, atas kejadian tadi siang, Mama memang sengaja manggil Kak Ayu datang hari ini, tapi kejadiannya seperti ini. Udah satu bulan kalian disini, Mama berharap kita bisa sehangat dulu lagi, tapi nyatanya nggak." Ucap Ulan.
Mas Jaya langsung memeluk Adiknya, dan Wulanpun melingkarkan tangannya dipinggang Abangnya.
" Ternyata kamu manja juga ya." Ucapku pada Wulan.
" Kakak cemburu, Ulan seperti ini sama Abang." Semakin dieratkan pelukan keAbangnya.
" Enggak, karena Kakak punya Mama yang sayang sama Kakak. Ambillah Abangmu yang nggak tau malu itu." Lalu kupeluk Mertuaku, dan menyembunyikan mukaku dibahu beliau.
Mama kesini mau ngucapin selamat ulang tahun buat kamu, Mama tau menantu Mama lagi ulang tahun."
Aku sama Mas Jaya saling pandang.
" Kamu ulang tahun sayang?"
" Mama tau dari Mana? Tanyaku pada beliau.
" Abang ternyata nggak cinta sama Kakak Ipar, Ulang tahunnya aja nggak tau."
" Bukan nggak cinta, otakku dipinjam Petrix makanya nggak konek."
" Kita makan disini aja ya. Biar Wulan bawakan makanan disini." Ucap Wulan.
Sebelum Wulan keluar, aku mencegahnya.
" Kita makan diluar aja, kita makan sama-sama, Mama udah undang Kakak kesini, nggak mungkin dia kita abaikan." Ucapku.
" Mama nggak mau ribut Kak Zahra."
"Ayo, nanti kalau ribut, dimasukin sambel satu-satu mulutnya." Ucapku sedikit bercanda, dan mengajak semua keluar dari kamar.
" Mama nggak bisa kasih kado apa-apa, kalau nggak Wulan yang kasih tau, Mama nggak tau sama sekali." Ucapnya setelah duduk didekat meja makan.
" Diulang tahun Za kali ini, kadonya sangat spesial. Mama dan Mas adalah kado terindah dari Allah yang pernah Za miliki." Kukecup kening Mama, dan kening Mas Jaya bergantian.
" Ulan nggak?" tanya Ulan.
" Kamu nggak spesial, tapi teristimewa."
Setelah semua berkumpul dimeja makan, aku merasakan acara makan malam kali ini lebih serem dari pada melewati kuburan angker, karena hening yang terdengar hanya dentingan sendok yang sedikit beradu dengan piring. Terlebih wajah Kakak Iparku.
Selesai makan, Mama, Wulan dan Kak Ayu memilih masuk ke dalam kamar masing-masing, Mas Jaya minta izin untuk keluar sebentar. Sementara aku lebih memelih duduk di dapur, menikmati Cake coklat yang dipesan oleh Mertuaku dari tetangganya.
Kulihat Kakak Iparku datang menghampiri, dan memilih duduk didepanku.
" Aku mau bicara Zahra." Ucapnya dengan tatapan mata yang sinis dan sangat dingin.
" Oh, ya silahkan." Sedikit ku sunggingkan senyum padanya.
" Aku nggak butuh senyummu."
Aku hanya mengangkat kedua bahuku, dan tetap memakan cake yang ada didepanku, dan siap mendengar ucapannya.
" Jangan pernah berharap kamu akan masuk dalam keluarga ini Zahra, kau hanya anak kamarin sore yang nggak tau apa-apa tentang suamimu, dan sampai kapanpun aku nggak pernah suka denganmu!". Lalu dia berdiri dari kursinya.
" Kau nggak ingin dengar jawabanku?" Ucapku pada Kakak iparku, tanpa memandangnya.
Kulihat dia dengan ekor mataku, duduk kembali dikursinya.
" Kau mau bilang apa?"
" Makasih karena kau mau mendengarkanku." Kusingkirkan piring kue yang ada dihadapanku, dan kulipat kedua tanganku diatas meja, serta kutatap matanya.
" Secara fisik kau Kakak iparku, dan kewajibanku menghormatimu. Tapi secara pemikiran kau adalah rivalku, disini kau musuhku. Kau melarangku masuk ke dalam keluarga ini, tapi sayangnya aku udah terlanjur masuk. itu poin pertama yang kamu harus tau.
Yang kedua, apapun yang kau bilang tentang suamiku, aku nggak perduli, karena yang kulihat, suamiku sangat menyayangi keluarganya.
yang ketiga, kalau kau nggak suka denganku,itu urusanmu, kau bebas menghinaku tapi sayangnya aku nggak akan pernah menganggapmu ada, dan hal itu kupelajari dari cara Mamamu memperlakukan suamiku. Kuharap cukup jelas apa yang kukatakan, kalau mau pergi silahkan, kalau masih ada yang mau disampaikan silahkan."
Kulanjutkan memakan kue yang kupinggirkan tadi.
" Aku sudah duga kau memang perempuan licik Zahra, kau mau nikah dengan adikku karena hartanyakan?!"
" Sayangnya kueku sudah habis, jadi aku nggak bisa lagi duduk denganmu." Aku berdiri dari kursi yang kududuki, merapikan kembali ditempat semula.
"Sebelum aku masuk, kau coba ingat lagi poin no.3 yang kukatakan tadi, dan untuk yang kau bilang aku mau dengan adikmu karena hartanya, jawabku, aku mengenal dia sebagai laki-laki gembel." Kutinggalkan Kakak iparku yang masih duduk di dapur.
Pada saat aku melewati ruang TV kulihat Wulan memperhatikanku.
" Kak..." Panggilnya
" Kau melihatnya?"
Dia hanya mengangguk.
" Jangan katakan apapun pada Abangmu, karena akan memperkeruh suasana. Maaf kalau Kakak bersikap seperti itu pada Kakakmu."
" Aku suka caramu mengeksekusinya, tenang tapi mematikan."
Kupukul pelan jidadnya.
" Hey bodoh, itu Kakakmu kau dengan dia satu darah, sementara aku orang lain, kalau nggak bisa membelanya sebaiknya diam, bukan mendukungku." Kuperhatikan dia dari atas sampai bawah.
" Calon-calon pengkhianat sepertinya ini."
Mendengarku bicara seperti itu dia langsung membelalakkan matanya.
" Nggak usah melotot seperti itu, jelek tau." Lalu kupeluk dia. " Kakak nggak marah, tadi hanya bercanda, maaf ya." Lalu kucium pipinya.
" Tapi apa yang Kakak katakan benar, Kalau aku nggak bisa membela saudaraku karena kesalahannya seharusnya aku diam, dan aku nggak boleh mencari muka untuk mendapatkan simpati dan empati dari oranglain."
" Cerdas!" lalu kucolek ujung hidungnya.
Aku pamit pada Wulan untuk istrirahat. Selesai aku cuci muka dan sikat gigi, kulihat Mas Jaya yang baru pulang.
" Kamu udah pulang sayang." Ku bantu dia membuka jaketnya dan menggantungnya didalam lemari.
" Aku bersih-bersih dulu ya." Dikecupnya keningku, dan masuk ke kamar mandi.
Kurebahkan diriku dikasur, rasanya banyak banget masalah hari ini. Tapi sudahlah, dipikirkan buat sakit kepala aja. Makasih Ya Allah karena KAU berusaha menempa jiwaku untuk lebih dewasa lagi. Doaku dalam hati.
"Kamu mikirin apa?" Kutarik suamiku itu untuk rebahan,lalu kuletakkan kepalaku didadanya.
" Aku mikirin kamu, rasanya nyaman banget tidur disini."
Kukecup dadanya. "Mas.. terimakasih atas semuanya ya, aku menyayangimu."
"Sayang, letakkan sini kepalamu dibantalku, aku ingin memandang wajahmu, sebelum aku tidur."
Kusejajarkan wajahku dengannya, sampai ujung hidungku beradu dengan hidungnya. Kuusap lembut pipinya.
" Aku mencintaimu Mas" Kukecup bibirnya, dan aku tersenyum.
" Kau senyum kenapa?"
" Aku senyum karena malam ini aku puas membuat iri bidadari disyurga sana."
" Oh ya?!"
"Huhummm, karena kalau kau tidur dalam keadaan marah denganku, mereka akan senang, karena mereka sedang menunggumu, tapi kalau kau tidur dengan rasa senang padaku, mereka akan iri, karena aku bisa menyenangkanmu."
" Bidadari syurgapun ada yang pelakor ya." jawabnya sambil mencolek hidungku.
"Jangan bicara begitu, nanti mereka marah kita gosipin, ayo tidurlah." Kukecup kening, mata dan bibirnya.
" Kau memang nakal Zahra." Lalu dipeluknya aku dengan erat.
-----
#SUAMI_KU
PART 33
==========
Keberadaan Kakak iparku, di rumah ini sesungguhnya membuatku merasa nggak nyaman. Rasa gelisah hatiku cukup dirasakan juga oleh Mas Jaya, setiap pagi dia selalu mengajakku ke kebun buah miliknya, sampai kejadian hari yang nggak bisa dilupakan.
" Sayang hari ini kita mau panen buah naga, kamu ikut nggak?" Tanya Mas Jaya.
" Seperti yang ku bilang, kita di rumah aja ya, aku capek Mas"
" Kamu sendirian loh di rumah semuanya ikut ke kebun."
Dengan berat hati aku pergi, mulai dari pagi itu, semua pekerja udah mulai sibuk, selama tinggal disini aku baru tau kalau suamiku memiliki lahan pertanian yang luas. Mulai dari perkebunan sayur dan buah, serta peternakan ikan dan sayuran yang sering diantar ke pasar, tempat dia biasa mangkal sebagian besar berasal dari kebun disini.
Walau dia nggak selesai secara akademis namun dia bisa meraih cita-citanya, meskipun banyak hal yang harus dikorbankan.
" Jujur aja sebenarnya aku minder sama kamu, aku nggak tau kalau kamu sesukses ini, kalau aku tau kamu seperti ini pasti dulu aku tolak." Ucapku pada saat aku duduk, di balkon kamar rumah yang ada dikebun ini.
" Alasannya? Bukannya semua wanita akan mencari laki-laki yang mapan secara finansial?" Dipeluknya aku saat dia bertanya seperti itu.
" Kalau kamu memilih Ibuku yang jadi istrimu mungkin iya, tapi enggak denganku, alasannya susah untuk kujelaskan" Ucapku dengan sedikit cemberut.
" Kau menggemaskan sekali seperti itu." Semakin erat dia memelukku.
"Anginnya kencang sekali, kenapa kita nggak tinggal disini aja, jadi kalau kau berteriak tengah malam nggak akan ada yang mendengarmu."
"Hahhaaa kau mulai mesum Zahra."
" Kau yang mesum, isi kepalamu nggak jauh-jauh dari hal itu. Lihatlah disini tenang, disaat kita duduk disini suara semilir angin begitu terasa." Ku pejamkan mataku menikmati hembusan angin yang bertiup.
" Kamu mau disini atau mau keluar? Aku yakin orang pasti sudah sangat sibuk, kalau kita lagi panen begini, biasanya kita makan besar selama tiga hari, jadi para pekerja itu tidak masak di rumah, kita akan makan disini ramai-ramai apa kau mau lihat? Diluar pasti sudah banyak anak-anak, ayolah." Ucapnya panjang lebar dan mengajakku untuk bergabung dengan para karyawannya.
Disaat aku keluar dari rumah, kulihat sudah banyak anak-anak kecil yang main dihalaman rumah ini, ada juga ibu-ibu yang sibuk memasak, Mama,Wulan,Bi Yanti dan Kak Ayu juga ada disana.
Aku dan Mas Jaya mendekati Mama yang sibuk memeras santan. Pada saat aku mau ikut membantu Mas Jaya menarikku.
" Hey Nona, kau punya pekerjaan lain, sini." Ditariknya tanganku untuk menjauh dari Mamanya, diambilnya pisau dan beberapa buah.
Diajaknya aku menjauh dari orang-orang yang sibuk memasak. Duduk dibawah pohon yang mejanya melingkari batang pohon.
"Kita duduk disini saja. Potongin buahnya aku ingin makan dengan anak ku."
"Mas.. kita pulang yuk, aku rindu rumah kita." Sambil menyuapkan buah yang kupotongi kemulutnya.
" Ada yang membuatmu nggak nyaman disini? Heemm"
Aku hanya menggeleng kepalaku. Kutarik nafas dalam-dalam, dan mengalihkan pandanganku ke tempat yang jauh. Perlahan kulingkarkan tanganku kepinggangnya, dan meletakkan kepalaku didadanya.
" Aku capek Mas, aku ingin istrirahat sebentar dari masalah yang nggak ada habis-habisnya." Dipeluknya aku dengan erat.
" Nggak seharusnya aku membawamu dalam masalahku, terlalu rumit rasanya hidup ini. Itu kenapa aku selalu diam dan menghindari keingin tahuanmu. Aku nggak ingin mengajakmu masuk kedalam arus ini, tapi kau selalu memaksanya." Dia diam sebentar dan menarik nafas.
" Udah berapa banyak aku membawa wanita untuk kukenalkan dengan Mama, tapi satupun nggak ada yang cocok, makanya pada saat aku akan menikahimu, aku baru memberi tahu Mama. Tapi begitu melihatmu dia bilang "Jadikan dia menantuku" itu dihadapan Ulan dan Kak Ayu. Tapi Kak Ayu yang berkeras menolakmu.
"Kenapa Kakakmu begitu membenciku?"
"Karena dia sangat membenciku, dia merasa aku memisahkan dia dari suaminya, karena dia sangat mencintai suaminya. Sementara dia nggak pernah dicintai suaminya. Dari awal pernikahannya dia nggak pernah mendapat perlakuan baik dari suaminya. Almarhum Papa yang membiayai hidupnya, selama pernikahannya. Maka pada saat Papa sudah tiada dia dipulangkan. Saat ini dia menikah dengan lelaki pilihanku, dibawah ancamanku, kalau dia nggak menikah dengan suaminya sekarang, maka aku akan membuat mantan suaminya lumpuh."
" Kau memang kejam Mas, pantas Mbak Ratna mengatakan kau berhati iblis."
" Dan cuma kau yang bisa mengendalikan jiwa iblisku, itu katanyakan."
" Kau nggak seharusnya melakukan itu Mas, berilah Kakakmu pengertian. Jangan mengancamnya seperti itu."
Kurenggangkan pelukanku padanya, kutatap wajahnya.
"Zahra, satu hal yang aku nggak ceritakan pada siapapun, tentang satu peristiwa dan satu kejadian. Tapi sekarang akan kukatakan padamu, Ria diperkosa oleh dua orang, dan salah satunya suami Kakakku. Aku tidak membunuhnya karena dia ayah dari Anak Kakak Ayu. Dan inilah caraku membalasnya." Ucapnya lirih.
Kulihat matanya mulai berkaca-kaca.
"Dari mana kau bisa tau kalau mereka yang berbuat itu pada Ria?"
" Karena aku mendengar sendiri ucapan mereka."
Kukecup bibirnya, untuk menghentikan dia bicara.
" Kenapa kau tiba-tiba menciumku" sedikit kaget dia mendapat perlakuanku.
" Sayang, kau bicara seperti ini buat aku bergetar tau."
" Maksudmu?"
" Aku mungkin sudah gila, tapi kau bicara seperti ini, aku membayangkan super hero difilm action sehabis menumpas lawannya langsung bercinta. Laki banget sepertinya." Ucapku dengan mengedipkan satu mataku padanya.
" Cih! Kau nggak tau malu bicara seperti itu, pandai sekali kau bicara sevulgar ini."
Kucium bibirnya dengan sangat intens. Setelah itu kulepaskan secara perlahan.
"Ayolah kita masuk" Ajaknya padaku, dan aku mengikuti langkahnya.
Aku melakukan ini, hanya nggak ingin kau bicara lagi Mas, aku sakit rasanya melihatmu terluka seperti itu.
******
" Dari mana aja kalian berdua, orang-orang udah pada makan, tinggal kalian yang belum lagi."Ucap Mama sedikit Kesal.
Mas Jaya yang melangkah mendekati Mamanya segera kutarik. Setelah kukasih kode, akhirnya dia mengerti.
" Kenapa masih berdiri disitu juga, duduk sini! Kalian pikirkan cucu Mama." Masih dengan kekesalan dan menata makanan diatas meja.
" Sayang, aku nggak berani makan, masa nyuruh makan tapi sewot gitu, apa waktu kau kecil cara nyuruh makannya seperti itu?" Ucapku pada Mas Jaya, dengan sedikit bergidikkan badanku sambil melirik keMamanya.
" Nggak, tapi kata orang, nenek itu lebih sayang sama cucunya dari pada sama anaknya. Besok kalau anak kita lahir, cubitlah dia didepan neneknya, pasti neneknya akan membalas dengan mencubitmu." Balas Mas Jaya dengan melirik Mamanya.
" Kalian nyindir Mama? Kalian sengaja bicara kuat-kuat begitu?"
" Ayolah Mas kita makan, agak horor disini."
Kuhampiri beliau, dan menciumnya " Mama kalau marah gitu aura kecantikannya keluar Ma."
" Kamu harus banyak makan Zahra." Ucapnya sambil memasukkan makanan kemulutku. Sepanjang dia menyuapiku, tak henti-hentinya dia mengomel.
Selesai makan Aku dan Mama memilih duduk dibawah pohon jambu, Mama bercerita tentang masa kecil Mas Jaya, ternyata dia waktu kecil cukup jahil juga, nggak henti-henti aku tertawa mendengarnya.
Ditengah Mama bercerita, tiba-tiba Mas Jaya berteriak, dan sudah terduduk ditanah dengan kaki yang sudah mengeluarkan darah. Nggak jauh dari dia ada Kak Ayu yang sedang membersihkan rumput dengan sabit yang ada noda darahnya.
Aku dan Mama yang melihat Mas Jaya dalam keadaan seperti itu langsung teriak dan mendekatinya. Beberapa pekerja sudah menangkat Mas Jaya dan mengikat kakinya agar tidak mengeluarkan darah lebih banyak lagi. Tiba-tiba pandanganku mulai gelap, kepalakupun mulai sakit. Aku jatuh pingsan.
========>>>>
PART 33
==========
Keberadaan Kakak iparku, di rumah ini sesungguhnya membuatku merasa nggak nyaman. Rasa gelisah hatiku cukup dirasakan juga oleh Mas Jaya, setiap pagi dia selalu mengajakku ke kebun buah miliknya, sampai kejadian hari yang nggak bisa dilupakan.
" Sayang hari ini kita mau panen buah naga, kamu ikut nggak?" Tanya Mas Jaya.
" Seperti yang ku bilang, kita di rumah aja ya, aku capek Mas"
" Kamu sendirian loh di rumah semuanya ikut ke kebun."
Dengan berat hati aku pergi, mulai dari pagi itu, semua pekerja udah mulai sibuk, selama tinggal disini aku baru tau kalau suamiku memiliki lahan pertanian yang luas. Mulai dari perkebunan sayur dan buah, serta peternakan ikan dan sayuran yang sering diantar ke pasar, tempat dia biasa mangkal sebagian besar berasal dari kebun disini.
Walau dia nggak selesai secara akademis namun dia bisa meraih cita-citanya, meskipun banyak hal yang harus dikorbankan.
" Jujur aja sebenarnya aku minder sama kamu, aku nggak tau kalau kamu sesukses ini, kalau aku tau kamu seperti ini pasti dulu aku tolak." Ucapku pada saat aku duduk, di balkon kamar rumah yang ada dikebun ini.
" Alasannya? Bukannya semua wanita akan mencari laki-laki yang mapan secara finansial?" Dipeluknya aku saat dia bertanya seperti itu.
" Kalau kamu memilih Ibuku yang jadi istrimu mungkin iya, tapi enggak denganku, alasannya susah untuk kujelaskan" Ucapku dengan sedikit cemberut.
" Kau menggemaskan sekali seperti itu." Semakin erat dia memelukku.
"Anginnya kencang sekali, kenapa kita nggak tinggal disini aja, jadi kalau kau berteriak tengah malam nggak akan ada yang mendengarmu."
"Hahhaaa kau mulai mesum Zahra."
" Kau yang mesum, isi kepalamu nggak jauh-jauh dari hal itu. Lihatlah disini tenang, disaat kita duduk disini suara semilir angin begitu terasa." Ku pejamkan mataku menikmati hembusan angin yang bertiup.
" Kamu mau disini atau mau keluar? Aku yakin orang pasti sudah sangat sibuk, kalau kita lagi panen begini, biasanya kita makan besar selama tiga hari, jadi para pekerja itu tidak masak di rumah, kita akan makan disini ramai-ramai apa kau mau lihat? Diluar pasti sudah banyak anak-anak, ayolah." Ucapnya panjang lebar dan mengajakku untuk bergabung dengan para karyawannya.
Disaat aku keluar dari rumah, kulihat sudah banyak anak-anak kecil yang main dihalaman rumah ini, ada juga ibu-ibu yang sibuk memasak, Mama,Wulan,Bi Yanti dan Kak Ayu juga ada disana.
Aku dan Mas Jaya mendekati Mama yang sibuk memeras santan. Pada saat aku mau ikut membantu Mas Jaya menarikku.
" Hey Nona, kau punya pekerjaan lain, sini." Ditariknya tanganku untuk menjauh dari Mamanya, diambilnya pisau dan beberapa buah.
Diajaknya aku menjauh dari orang-orang yang sibuk memasak. Duduk dibawah pohon yang mejanya melingkari batang pohon.
"Kita duduk disini saja. Potongin buahnya aku ingin makan dengan anak ku."
"Mas.. kita pulang yuk, aku rindu rumah kita." Sambil menyuapkan buah yang kupotongi kemulutnya.
" Ada yang membuatmu nggak nyaman disini? Heemm"
Aku hanya menggeleng kepalaku. Kutarik nafas dalam-dalam, dan mengalihkan pandanganku ke tempat yang jauh. Perlahan kulingkarkan tanganku kepinggangnya, dan meletakkan kepalaku didadanya.
" Aku capek Mas, aku ingin istrirahat sebentar dari masalah yang nggak ada habis-habisnya." Dipeluknya aku dengan erat.
" Nggak seharusnya aku membawamu dalam masalahku, terlalu rumit rasanya hidup ini. Itu kenapa aku selalu diam dan menghindari keingin tahuanmu. Aku nggak ingin mengajakmu masuk kedalam arus ini, tapi kau selalu memaksanya." Dia diam sebentar dan menarik nafas.
" Udah berapa banyak aku membawa wanita untuk kukenalkan dengan Mama, tapi satupun nggak ada yang cocok, makanya pada saat aku akan menikahimu, aku baru memberi tahu Mama. Tapi begitu melihatmu dia bilang "Jadikan dia menantuku" itu dihadapan Ulan dan Kak Ayu. Tapi Kak Ayu yang berkeras menolakmu.
"Kenapa Kakakmu begitu membenciku?"
"Karena dia sangat membenciku, dia merasa aku memisahkan dia dari suaminya, karena dia sangat mencintai suaminya. Sementara dia nggak pernah dicintai suaminya. Dari awal pernikahannya dia nggak pernah mendapat perlakuan baik dari suaminya. Almarhum Papa yang membiayai hidupnya, selama pernikahannya. Maka pada saat Papa sudah tiada dia dipulangkan. Saat ini dia menikah dengan lelaki pilihanku, dibawah ancamanku, kalau dia nggak menikah dengan suaminya sekarang, maka aku akan membuat mantan suaminya lumpuh."
" Kau memang kejam Mas, pantas Mbak Ratna mengatakan kau berhati iblis."
" Dan cuma kau yang bisa mengendalikan jiwa iblisku, itu katanyakan."
" Kau nggak seharusnya melakukan itu Mas, berilah Kakakmu pengertian. Jangan mengancamnya seperti itu."
Kurenggangkan pelukanku padanya, kutatap wajahnya.
"Zahra, satu hal yang aku nggak ceritakan pada siapapun, tentang satu peristiwa dan satu kejadian. Tapi sekarang akan kukatakan padamu, Ria diperkosa oleh dua orang, dan salah satunya suami Kakakku. Aku tidak membunuhnya karena dia ayah dari Anak Kakak Ayu. Dan inilah caraku membalasnya." Ucapnya lirih.
Kulihat matanya mulai berkaca-kaca.
"Dari mana kau bisa tau kalau mereka yang berbuat itu pada Ria?"
" Karena aku mendengar sendiri ucapan mereka."
Kukecup bibirnya, untuk menghentikan dia bicara.
" Kenapa kau tiba-tiba menciumku" sedikit kaget dia mendapat perlakuanku.
" Sayang, kau bicara seperti ini buat aku bergetar tau."
" Maksudmu?"
" Aku mungkin sudah gila, tapi kau bicara seperti ini, aku membayangkan super hero difilm action sehabis menumpas lawannya langsung bercinta. Laki banget sepertinya." Ucapku dengan mengedipkan satu mataku padanya.
" Cih! Kau nggak tau malu bicara seperti itu, pandai sekali kau bicara sevulgar ini."
Kucium bibirnya dengan sangat intens. Setelah itu kulepaskan secara perlahan.
"Ayolah kita masuk" Ajaknya padaku, dan aku mengikuti langkahnya.
Aku melakukan ini, hanya nggak ingin kau bicara lagi Mas, aku sakit rasanya melihatmu terluka seperti itu.
******
" Dari mana aja kalian berdua, orang-orang udah pada makan, tinggal kalian yang belum lagi."Ucap Mama sedikit Kesal.
Mas Jaya yang melangkah mendekati Mamanya segera kutarik. Setelah kukasih kode, akhirnya dia mengerti.
" Kenapa masih berdiri disitu juga, duduk sini! Kalian pikirkan cucu Mama." Masih dengan kekesalan dan menata makanan diatas meja.
" Sayang, aku nggak berani makan, masa nyuruh makan tapi sewot gitu, apa waktu kau kecil cara nyuruh makannya seperti itu?" Ucapku pada Mas Jaya, dengan sedikit bergidikkan badanku sambil melirik keMamanya.
" Nggak, tapi kata orang, nenek itu lebih sayang sama cucunya dari pada sama anaknya. Besok kalau anak kita lahir, cubitlah dia didepan neneknya, pasti neneknya akan membalas dengan mencubitmu." Balas Mas Jaya dengan melirik Mamanya.
" Kalian nyindir Mama? Kalian sengaja bicara kuat-kuat begitu?"
" Ayolah Mas kita makan, agak horor disini."
Kuhampiri beliau, dan menciumnya " Mama kalau marah gitu aura kecantikannya keluar Ma."
" Kamu harus banyak makan Zahra." Ucapnya sambil memasukkan makanan kemulutku. Sepanjang dia menyuapiku, tak henti-hentinya dia mengomel.
Selesai makan Aku dan Mama memilih duduk dibawah pohon jambu, Mama bercerita tentang masa kecil Mas Jaya, ternyata dia waktu kecil cukup jahil juga, nggak henti-henti aku tertawa mendengarnya.
Ditengah Mama bercerita, tiba-tiba Mas Jaya berteriak, dan sudah terduduk ditanah dengan kaki yang sudah mengeluarkan darah. Nggak jauh dari dia ada Kak Ayu yang sedang membersihkan rumput dengan sabit yang ada noda darahnya.
Aku dan Mama yang melihat Mas Jaya dalam keadaan seperti itu langsung teriak dan mendekatinya. Beberapa pekerja sudah menangkat Mas Jaya dan mengikat kakinya agar tidak mengeluarkan darah lebih banyak lagi. Tiba-tiba pandanganku mulai gelap, kepalakupun mulai sakit. Aku jatuh pingsan.
========>>>>
#SUAMI_KU
PART 34
=======
====>>>>
Kepalaku masih sangat sakit rasanya, perlahan kucoba untuk membuka mata, coba untuk mengingat apa yang terjadi. Kupejamkan mata untuk mengumpulkan tenaga yang ada. Terakhir aku ingat kaki Mas Jaya terluka.
Begitu membuka mata, Aku merasa sedang ada di kamar sendri.
" Kakak udah sadar, tadi Kakak pingsan." Ucap Wulan.
" Abangmu gimana keadaannya?" Tanyaku pada Wulan.
" Abang baik-baik aja, bisa langsung pulang. Cuma kakinya harus dijahit."
Wulan menjelaskan bagaimana kejadiannya. Namun dia memintaku untuk bertanya langsung sama Mas Jaya seperti apa kejadian yang sebenarnya.
" Kak minta maaf Zahra, Kakak nggak ada niat buat Heru seperti itu." Ucap Kak Ayu yang berdiri didepan pintu kamarku.
Kupandang dia sekilas, lalu kuarahkan pandanganku pada Wulan.
" Kakak mau apa?" Melihatku hendak turun dari tempat tidur.
" Mau ambil HP mau nelpn Mama." jawabku yang sudah duduk ditepi tempat tidur.
Wulan mengeluarkan HPnya, dan melakukan panggilan kepada Mamanya.
" Syukurlah kalau Mama udah dijalan." Jawabku melalui telpon, dan akupun langsung mematikan sambungan telpon tersebut.
"Zahra boleh Kakak masuk?" Kakak Ayu yang masih berdiri didepan pintu, meminta izin untuk masuk ke kamarku.
Aku hanya mengangguk, dan meminta Wulan untuk meninggalkan kuberdua dengan Kak Ayu, dengan tetap membiarkan pintu tetap terbuka.
" Kakak mau bicara apa?" Tanyaku padanya setelah dia duduk dikursi bekas Wulan.
" Kakak minta maaf, nggak sengaja melakukan itu."
Kulihat ada Rasa penyelasan dalam dirinya.
" Kenapa Kakak begitu membencinya, dia sangat menyayangimu, dia ingin Kakak dan Wulan hidup bahagia, dihadapan kalian dia bersikap tegar, dan selalu tegas, kelihatan keras, tapi jauh dibalik itu, dia menangis apabila memikirkan kalian." Ucapku pelan.
Kak Ayu hanya diam.
" Kalau Kakak merasa kehadiranku di rumah ini untuk merebut kasih sayang Mama, Kakak salah. Aku bersifat manja seperti itu karena aku ingin mengembalikan Anak dengan Ibunya. Pertama kali aku datang ke rumah ini, aku melihat Mama nggak bicara sama dia sepatah katapun, disaat aku bertanya padanya dia bilang nggak ada masalah. Tapi aku tau dia ingin menutupi semua masalahnya.
Dia berusaha menyimpan dan menyelesaikan masalahnya sendiri, berusaha membuat kita selalu tersenyum, tanpa kita boleh tau apa derita yang dia alami.
Aku hanya seorang Menantu, seorang Istri bahkan akan menjadi seorang Ibu. Setelah aku menikah syurgaku diatas ridho suamiku, sementara syurga suamiku ada bersama ridho orangtuanya. Tugasku sebagai menantu selalu mengingatkan suamiku untuk berbakti pada Ibunya, bukan menjadi pemisah antara Ibu dan anak. Itu bukan hal yang gampang dilakukan, aku harus berfikir dan mencari cara untuk bisa membuat suamiku dan Ibunya bahagia, tanpa menyinggung perasaan mereka.
Aku mencintai adikmu, karena dia juga sangat mencintaiku. Dia nggak ingin aku menangis, terhitung saat sekarang udah tiga tahun aku menikah, sebulan di rumah ini aku baru tau betapa menderitanya dia, selama ini dia nggak ingin berbagi penderitaannya samaku, karena dia pernah bilang dia menikahiku bukan untuk membuatku merasakan penderitaan, tapi ingin membuatku selalu tersenyum bahagia, karena senyumku obat dari segala masalah hidupnya."
Aku nggak mampu lagi membendung air mataku. Kak Ayu yang ada didepanku pun ikut menitikkan air mata.
" Kalian berdua nggak usah menangisiku, karena aku belum mati" Suara Mas Jaya mengagetkan aku dan Kakaknya.
"Massss!" Dia melangkah dengan menggunakan kruk mendekatiku dan Kak Ayu, lalu duduk disebelahku.
" Kakak nggak salah, aku yang salah kalau aku nggak jalan kearah Kakak, hal ini nggak akan terjadi. Aku minta maaf ya." Ditariknya tangan Kakak Ayu untuk dipeluknya.
"Kau tetap Kakaku yang dulu, yang kusayangi, aku tau kemarahanmu, setelah ini jangan marah lagi. Aku rindu kita bercanda seperti dulu, keluarga kita udah nggak lengkap, kalau sayang sama Papa, dengarkanlah aku, aku akan berjuang untuk mu.
Aku memisahkanmu dengan anakmu, tujuanku biar Ayahnya bertanggung jawab, sampai anakmu udah remaja sekarangpun mantan suamimu nggak berubah. Aku udah persiapkan Nia akan sekolah disini. Sabarlah." Diciumnya puncak kepala Kakaknya.
Setelah minta maaf dengan tulus Kak Ayupun pergi dari kamarku.
Aku melangkah mau mengambil tisu diatas meja rias, tapi langsung ditarik Mas Jaya, dan memdudukkanku dipangkuannya.
" Kau mau kemana?" Tanyanya setelah mencium pipiku.
" Aku mau ambil tisu"
" Kita mandi aja, aku dah gerah banget, udah sore juga. Mulai hari ini kau akan memandikan tiap hari sampai aku sembuh." Ucapnya sambil tersenyum menggodaku.
"Kamu nggak usah mandi, aku lap aja ya, aku takut kamu demam."
"Aku bukan meja Zahra yang cuma dilap aja. Ayolah kita mandi"
Kutuntun dia ke kamar mandi. Segera aku membantu membersihkan dirinya, setelah membantunya melilitkan handuk dipingganya kuminta dia keluar.
"Tunggu aku di luar ya Mas, bajuku udah basah. Nanti aku masuk angin kalau makaikan baju kamu duluan." Ucapku dengan menyunggingkan senyum.
"Zahraaa.." Panggilnya pelan..
"Nggak usah pakai acara drama lagi Tuan Heru Sanjaya, aku dah basah ini, punya suami nggak peka banget sih."
Dia langsung diam, dan sedikit mengunggingkan senyum, namun wajahnya menunjukkan rasa kecewa.
Aku yang melihatnya seperti itu jadi nggak tega.
" Sayang... " Panggilku pada saat dia sudah keluar dari kamar mandi.
"Aku mandi sebentar ya, sebentar aja." Lalu kukecup keningnya, dan mencium bibirnya. Diapun menganggukan kepalanya dan tersenyum.
Bapaknya aja seperti ini, bagaimana nanti anaknya. Bisik hatiku.
Selesai Shalat Isya dan menyuapinya makan serta memberinya minum obat, aku memutuskan untuk nggak keluar lagi dari kamar.
" Bagaimana kejadiannya? apa kata dokter?" Tanyaku sambil merebahkan kepalaku diatas pahanya.
" Aku nggak tau kejadiannya, tapi aku yang mendekatinya, pada saat dia mengayunkan sabitnya, aku lewat. Ya pergelangan kakiku jadi korbannya." Ucapnya dengan membelai rambutku.
"Kata dokter aku nggak apa-apa, cuma perlu istirahat aja. Makasih sayang udah mengkhawatirkanku."
" Zahra, terimakasih menemani hidupku, terimakasih membantuku mengembalikan keutuhan keluargaku lagi. Aku bahagia Mama udah mau bicara denganku lagi.
Aku tau Allah sayang samaku, setelah aku kehilangan DIA memberiku ganti sepertimu."
Aku segera bangun dan mencium pipinya.
"Kau adalah orang yang benar-benar pantas menggantikan tugas Bapak, Mas."Lalu kuperbaiki posisi bantalnya, menyuruhnya berbaring, dan meletakkan kepalaku didadanya.
Sengaja kupejamkan mataku, biar dia segera tidur. Perlahan kudengar suara nafasnya yang mulai teratur.
Kau benar Mas, sejauh apapun terbang bangau pulangnya pasti ke kubangan juga. Kau dibesarkan dengan kasih sayang, rasa itu sudah berakar dan mendarah daging dalam dirimu, disaat kau berontak dan ingin lari dari rasa itu, tetap aja rasa kasih itu membimbingmu untuk kembali.
Kulihat pintu kamarku ada yang buka, Mama berdiri di depan pintu. Pada saat dia melangkahkan kakinya memasuki kamarku, kupejamkan mataku.
Kurasakan Mama mengecup kepalaku, yang menjadikan dada anaknya sebagai bantalku.
"Doa Mama selalu bersama kalian Nak." Ucapnya pelan, dan kembali menciumku. Lalu pergi dan menutup pintu.
Kulayangkan pikiran pada Ibuku, masih kuingat betapa malunya dia waktu mengetahui siapa menantunya. Perlakuan Ibu yang selalu bersikap buruk padanya, tapi Mas Jaya nggak pernah membalasnya.
"Bapak malu sama suamimu, sampaikan maaf Bapak nggak bisa mendidik Ibumu, jadi istri yang baik Zahra dengan begitu kamu membantu mengurangi dosa Bapak." Itulah ucapannya terakhir kali aku bertemu Bapak.
Kulepaskan pelukanku dari Mas Jaya, kupandangi wajahnya. Aku akan menyayangimu lebih dari nyawaku Mas, aku akan berusaha jadi istri yang baik, karena aku sangat menyayangi Bapakku.
*****
PART 34
=======
====>>>>
Kepalaku masih sangat sakit rasanya, perlahan kucoba untuk membuka mata, coba untuk mengingat apa yang terjadi. Kupejamkan mata untuk mengumpulkan tenaga yang ada. Terakhir aku ingat kaki Mas Jaya terluka.
Begitu membuka mata, Aku merasa sedang ada di kamar sendri.
" Kakak udah sadar, tadi Kakak pingsan." Ucap Wulan.
" Abangmu gimana keadaannya?" Tanyaku pada Wulan.
" Abang baik-baik aja, bisa langsung pulang. Cuma kakinya harus dijahit."
Wulan menjelaskan bagaimana kejadiannya. Namun dia memintaku untuk bertanya langsung sama Mas Jaya seperti apa kejadian yang sebenarnya.
" Kak minta maaf Zahra, Kakak nggak ada niat buat Heru seperti itu." Ucap Kak Ayu yang berdiri didepan pintu kamarku.
Kupandang dia sekilas, lalu kuarahkan pandanganku pada Wulan.
" Kakak mau apa?" Melihatku hendak turun dari tempat tidur.
" Mau ambil HP mau nelpn Mama." jawabku yang sudah duduk ditepi tempat tidur.
Wulan mengeluarkan HPnya, dan melakukan panggilan kepada Mamanya.
" Syukurlah kalau Mama udah dijalan." Jawabku melalui telpon, dan akupun langsung mematikan sambungan telpon tersebut.
"Zahra boleh Kakak masuk?" Kakak Ayu yang masih berdiri didepan pintu, meminta izin untuk masuk ke kamarku.
Aku hanya mengangguk, dan meminta Wulan untuk meninggalkan kuberdua dengan Kak Ayu, dengan tetap membiarkan pintu tetap terbuka.
" Kakak mau bicara apa?" Tanyaku padanya setelah dia duduk dikursi bekas Wulan.
" Kakak minta maaf, nggak sengaja melakukan itu."
Kulihat ada Rasa penyelasan dalam dirinya.
" Kenapa Kakak begitu membencinya, dia sangat menyayangimu, dia ingin Kakak dan Wulan hidup bahagia, dihadapan kalian dia bersikap tegar, dan selalu tegas, kelihatan keras, tapi jauh dibalik itu, dia menangis apabila memikirkan kalian." Ucapku pelan.
Kak Ayu hanya diam.
" Kalau Kakak merasa kehadiranku di rumah ini untuk merebut kasih sayang Mama, Kakak salah. Aku bersifat manja seperti itu karena aku ingin mengembalikan Anak dengan Ibunya. Pertama kali aku datang ke rumah ini, aku melihat Mama nggak bicara sama dia sepatah katapun, disaat aku bertanya padanya dia bilang nggak ada masalah. Tapi aku tau dia ingin menutupi semua masalahnya.
Dia berusaha menyimpan dan menyelesaikan masalahnya sendiri, berusaha membuat kita selalu tersenyum, tanpa kita boleh tau apa derita yang dia alami.
Aku hanya seorang Menantu, seorang Istri bahkan akan menjadi seorang Ibu. Setelah aku menikah syurgaku diatas ridho suamiku, sementara syurga suamiku ada bersama ridho orangtuanya. Tugasku sebagai menantu selalu mengingatkan suamiku untuk berbakti pada Ibunya, bukan menjadi pemisah antara Ibu dan anak. Itu bukan hal yang gampang dilakukan, aku harus berfikir dan mencari cara untuk bisa membuat suamiku dan Ibunya bahagia, tanpa menyinggung perasaan mereka.
Aku mencintai adikmu, karena dia juga sangat mencintaiku. Dia nggak ingin aku menangis, terhitung saat sekarang udah tiga tahun aku menikah, sebulan di rumah ini aku baru tau betapa menderitanya dia, selama ini dia nggak ingin berbagi penderitaannya samaku, karena dia pernah bilang dia menikahiku bukan untuk membuatku merasakan penderitaan, tapi ingin membuatku selalu tersenyum bahagia, karena senyumku obat dari segala masalah hidupnya."
Aku nggak mampu lagi membendung air mataku. Kak Ayu yang ada didepanku pun ikut menitikkan air mata.
" Kalian berdua nggak usah menangisiku, karena aku belum mati" Suara Mas Jaya mengagetkan aku dan Kakaknya.
"Massss!" Dia melangkah dengan menggunakan kruk mendekatiku dan Kak Ayu, lalu duduk disebelahku.
" Kakak nggak salah, aku yang salah kalau aku nggak jalan kearah Kakak, hal ini nggak akan terjadi. Aku minta maaf ya." Ditariknya tangan Kakak Ayu untuk dipeluknya.
"Kau tetap Kakaku yang dulu, yang kusayangi, aku tau kemarahanmu, setelah ini jangan marah lagi. Aku rindu kita bercanda seperti dulu, keluarga kita udah nggak lengkap, kalau sayang sama Papa, dengarkanlah aku, aku akan berjuang untuk mu.
Aku memisahkanmu dengan anakmu, tujuanku biar Ayahnya bertanggung jawab, sampai anakmu udah remaja sekarangpun mantan suamimu nggak berubah. Aku udah persiapkan Nia akan sekolah disini. Sabarlah." Diciumnya puncak kepala Kakaknya.
Setelah minta maaf dengan tulus Kak Ayupun pergi dari kamarku.
Aku melangkah mau mengambil tisu diatas meja rias, tapi langsung ditarik Mas Jaya, dan memdudukkanku dipangkuannya.
" Kau mau kemana?" Tanyanya setelah mencium pipiku.
" Aku mau ambil tisu"
" Kita mandi aja, aku dah gerah banget, udah sore juga. Mulai hari ini kau akan memandikan tiap hari sampai aku sembuh." Ucapnya sambil tersenyum menggodaku.
"Kamu nggak usah mandi, aku lap aja ya, aku takut kamu demam."
"Aku bukan meja Zahra yang cuma dilap aja. Ayolah kita mandi"
Kutuntun dia ke kamar mandi. Segera aku membantu membersihkan dirinya, setelah membantunya melilitkan handuk dipingganya kuminta dia keluar.
"Tunggu aku di luar ya Mas, bajuku udah basah. Nanti aku masuk angin kalau makaikan baju kamu duluan." Ucapku dengan menyunggingkan senyum.
"Zahraaa.." Panggilnya pelan..
"Nggak usah pakai acara drama lagi Tuan Heru Sanjaya, aku dah basah ini, punya suami nggak peka banget sih."
Dia langsung diam, dan sedikit mengunggingkan senyum, namun wajahnya menunjukkan rasa kecewa.
Aku yang melihatnya seperti itu jadi nggak tega.
" Sayang... " Panggilku pada saat dia sudah keluar dari kamar mandi.
"Aku mandi sebentar ya, sebentar aja." Lalu kukecup keningnya, dan mencium bibirnya. Diapun menganggukan kepalanya dan tersenyum.
Bapaknya aja seperti ini, bagaimana nanti anaknya. Bisik hatiku.
Selesai Shalat Isya dan menyuapinya makan serta memberinya minum obat, aku memutuskan untuk nggak keluar lagi dari kamar.
" Bagaimana kejadiannya? apa kata dokter?" Tanyaku sambil merebahkan kepalaku diatas pahanya.
" Aku nggak tau kejadiannya, tapi aku yang mendekatinya, pada saat dia mengayunkan sabitnya, aku lewat. Ya pergelangan kakiku jadi korbannya." Ucapnya dengan membelai rambutku.
"Kata dokter aku nggak apa-apa, cuma perlu istirahat aja. Makasih sayang udah mengkhawatirkanku."
" Zahra, terimakasih menemani hidupku, terimakasih membantuku mengembalikan keutuhan keluargaku lagi. Aku bahagia Mama udah mau bicara denganku lagi.
Aku tau Allah sayang samaku, setelah aku kehilangan DIA memberiku ganti sepertimu."
Aku segera bangun dan mencium pipinya.
"Kau adalah orang yang benar-benar pantas menggantikan tugas Bapak, Mas."Lalu kuperbaiki posisi bantalnya, menyuruhnya berbaring, dan meletakkan kepalaku didadanya.
Sengaja kupejamkan mataku, biar dia segera tidur. Perlahan kudengar suara nafasnya yang mulai teratur.
Kau benar Mas, sejauh apapun terbang bangau pulangnya pasti ke kubangan juga. Kau dibesarkan dengan kasih sayang, rasa itu sudah berakar dan mendarah daging dalam dirimu, disaat kau berontak dan ingin lari dari rasa itu, tetap aja rasa kasih itu membimbingmu untuk kembali.
Kulihat pintu kamarku ada yang buka, Mama berdiri di depan pintu. Pada saat dia melangkahkan kakinya memasuki kamarku, kupejamkan mataku.
Kurasakan Mama mengecup kepalaku, yang menjadikan dada anaknya sebagai bantalku.
"Doa Mama selalu bersama kalian Nak." Ucapnya pelan, dan kembali menciumku. Lalu pergi dan menutup pintu.
Kulayangkan pikiran pada Ibuku, masih kuingat betapa malunya dia waktu mengetahui siapa menantunya. Perlakuan Ibu yang selalu bersikap buruk padanya, tapi Mas Jaya nggak pernah membalasnya.
"Bapak malu sama suamimu, sampaikan maaf Bapak nggak bisa mendidik Ibumu, jadi istri yang baik Zahra dengan begitu kamu membantu mengurangi dosa Bapak." Itulah ucapannya terakhir kali aku bertemu Bapak.
Kulepaskan pelukanku dari Mas Jaya, kupandangi wajahnya. Aku akan menyayangimu lebih dari nyawaku Mas, aku akan berusaha jadi istri yang baik, karena aku sangat menyayangi Bapakku.
*****
#SUAMI_KU
PART 35
=======
Jam tiga dini hari, Mas Jaya membangunkanku.
" kenapa sayang?" Tanyaku dengan mata yang masih mengantuk.
" Aku lapar sayang."
Kubuka mataku lebar-lebar, untuk memastikan apa yang dia ucapkan.
"Apa sayang? Kau lapar?" Tanyaku untuk meyakinkan diriku.
" Iya sayang, aku lapar."
Aku segera turun dari tempat tidur menuju dapur.
Mau makan apa jam segini, ucap hatiku.Pada saat aku menuju dapur, kudengar suara orang yang sedang menangis.
Siapa yang menangis dipagi buta begini, sedikit ragu aku mendekati dapur, tapi rasa penasaranku semakin kuat.
Ingatan kumelayang kepada cerita-cerita horor yang pernah kubaca bahwa orang hamil itu sering di ikuti oleh makhluk-makhluk astral.
Semakin aku mendekati dapur maka suara itu semakin jelas. Ini Manusia Zahra, nggak usah parno sendiri. Aku berdialog dengan diriku sendiri.
Duuhhh gimana ini, kalau aku balik ke kamar, dia sedang lapar, aku mau melangkah ke dapur. Ahh.. bodo ah, udah pernah pingsan ini, paling juga pingsan lagi.
Kuberanikan mendekati dapur, di depan pintu dapur aku sedikit mengintip untuk memastikan siapa yang ada disana.
Hhuuuufffttt lega, kuusap dadaku karena melihat Kak Ayu yang sedang menangis.
Sengaja aku kembali beberapa langkah, dan berdehem sebelum mendekati pintu dapur. Pada saat masuk ke dalam dapur aku sengaja tidak menegur dan menyapanya.
" Kau mau apa Zahra?" Tanyanya padaku.
" Mau cari makanan." Sambil membuka kulkas. Kuambil box makanan yang berisi buah-buahan yang udah siap makan.
"Zahra, maukah kau memaafkan ku?" Dia bertanya lagi dan menahan langkahku.
" Hiduplah dengan baik Kak, Insya Allah aku akan memaafkanmu dengan ikhlas, namum kalau sekarang, aku bisa memaafkan tapi rasa kecewaku masih ada."
Kuhusap halus punggung lengannya. Kutinggalkan dia yang masih berdiri dihadapanku. Baru beberapa langkah aku menolehkan pandanganku lagi kearah Kak Ayu.
Dia masih berdiri mematung, dengan menundukkan wajahnya. Kembali aku ke dapur melewatinya untuk mengambil air dikulkas.
Pada saat aku lewat lagi dihadapannya, kuhentikan langkahku, kupeluk dia, yang masih mematung.
" Aku bahagia mengenal keluarga kalian. Kalian adalah keluarga yang sangat saling menyayangi satu sama yang lain."
Setelah melepas pelukanku, lalu aku meninggalkannya tanpa melihatnya lagi.
"Lama sekali, aku dari tadi menunggumu" rengek Mas Jaya.
" Cup cup cuupp.. Bayi gede Mama udah lapar ya sayang, maaf yaaaaa.... " Kutarik kedua pipi Mas Jaya dengan gemas.
" Udah Zahra, jangan ngomong begitu geli aku dengarnya." Ucap Mas Jaya sambil begidik geli.
Kupandangi Mas Jaya yang sedang makan.
" Apa yang sedang kamu fikirkan Zahra?" Sambil memasukkan potongan buah kemulutnya.
" Aku berfikir, bahwa Papanya anakku adalah orang yang pelit."
"Maksudmu?" Tanya nya dengan menyatukan alisnya.
Kusandarkan tubuhku disandaran kursi yang sedangku duduki.
perlahan kuusap perutku.
" Nak, tau nggak Mama dibanguni pagi buta begini karena Papamu lapar, waktu mama keluar tadi mama udah hampir pingsan ketakutan, sekarang menawarkan untuk kitapun tidak. Miris banget nasib Mamamu ini"
Mendengar ucapanku dia tertawa. Dimajukannya badannya mendekatiku.
"Aku akan memberinya kalau kau mau mengambilnya dari mulutku. Karena rasanya akan menjadi sangat manis, tapi kalau aku menyuapimu, lebih baik jangan."
"Kalau aku mengambil dari bibirmu, kau akan minta lebih apalagi ini udah menjelang subuh. Lebih baik tidak, makanlah." Kutolak dia agar menjauhiku.
"Nih makanlah." Diarahkannya buah yang sudah ditusuk garpu kemulutku. Baru aku menggigitnya segera kukeluarkan lagi.
" Rasanya kok gini sih."
Melihat reaksiku memuntahkan yang kumakan dia memtertawaiku.
"Masih mau?" Tanyanya dengan memainkan kedua alisnya.
"Enggak!" Jawabku sedikit merajuk dan naik ke tempat tidur, dan membelakanginya.
"Kau merajuk denganku?"
" Tidurlah Mas, aku masih ngantuk."
Kudengar dia hanya menarik nafas dan membuangnya dengan kasar.
******
Selesai Shalat Subuh aku langsung ke dapur. Mama sudah selesai masak.
"Suamimu udah bangun Nak?" Tanya Mama yang sedang menyiapkan makanan didalam mangkuk.
"Udah."
Mama lalu menyuruh Kak Ayu mengantarkan makanan untuk Mas Jaya.
"Biarkan mereka bicara, Kakakmu benar-benar menyesali perbuatannya."
" Semoga ada kebaikan ya Ma." Kupeluk Beliau dan menciumi pipinya.
Mama membawaku duduk dikursi, lama dia memandangiku.
"Zahra, bolehkah Mama minta satu permintaan?"
" Mama minta apa?"
" Bolehkah Mama meminta Anak laki-laki Mama hidup dengan Mama lagi?"
Aku terdiam mendengar permintaannya. Kupandangi lekat-lekat wanita yang ada didepanku. Melihatku tidak menjawab Mama langsung tersenyum getir.
" Apakah Zahra dan cucu Mama nggak boleh hidup dengan kalian?"
Mama langsung mencubit pipiku. " Dasar anak nakal.
" Zahra akan kembalikan anak Mama tanpa diminta. Zahra juga ingin merasakan kasih sayang Mama." Dipeluknya aku dengan erat.
Wulan datang menghampiri, kuulurkan satu tanganku padanya, lalu memeluknya, secara bergantian kuciumi pipi keduanya.
" Kalau Wulan menikah, titip Mama dan abang ya. Saatnya Wulan menemukan kebahagian dalam hidup Ulan."
Pagi itu aku sarapan bertiga bersama Mama dan Wulan. Aku lama-lama jadi terbiasa makan disuapi. Sehabis makan Wulan pergi ke kebun, dia bekerja di perkebunan Mas Jaya sebagai Pengawas lapangan.
Mama seperti biasa, akan pergi dengan Bi Yanti memasak untuk para pekerja. Menjelang jam istirahat beliau baru pulang.
Setelah bicara secara empat mata dengan mas Jaya, Kak Ayu pamit pulang.
Sekarang tinggallah aku berdua dengan suamiku tercinta. Manusia super yang selalu membuatku kesal dan benci. Hehehe benar-benar cinta. 😊😊
Pada saat aku masuk ke dalam kamar, kulihat Mas Jaya sudah tertidur. Mungkin pengaruh dari obat yang diminumnya.
Karena nggak tau harus melakukan apa, aku berencana main game yang ada di HP Mas Jaya. Dia nggak pernah marah, atau keberetan kalau aku memegang HP nya.
Entah kenapa hatiku tergelitik membuka galery HP nya. Satu persatu foto yang ada aku lihat, termasuk salah satu foto keluarganya waktu masih lengkap.
Ternyata Almarhum Papa mertuaku sangat tampan, seperti keturunan orang-orang Timur Tengah, Mama juga sangat cantik,pantas mereka punya keturunan yang cantik dan tampan, Diantara Wulan dan Kak Ayu ada seorang wanita yang jauh lebih cantik dari mereka berdua, Matanya yang bulat besar sama dengan Papanya, hidungnya yang mancung, kecantikannya benar-benar sempurna. Dia pasti Ria, bisik hatiku.
Kupindahkan padanganku dari foto mereka, kugeser kebeberapa foto lain, kulihat foto kuberdua dengan Mas Jaya. Aku sempat tersenyum kalau mengingat moment-moment foto itu diambil.
Disaat aku ingin berhenti, nggak sengaja jariku membuka foto yang dikirim dari aplikasi WA. Jantungku hampir berhenti berdetak melihat foto yang ada, foto Mas Jaya dengan seorang wanita yang sedang berada di dalam selimut.
Kubuka Aplikasi WA nya untuk mencari tahu keterangan foto tersebut. Kulihat kontak dari pengirim foto tersebut. "TIA"
Sejauh itu kau berbuat dengan dia Mas, ucap hatiku.
Kuletakkan kembali HPnya diatas nakas. Kupandangi Mas Jaya yang sedang tidur. Aku ingat perkataan Wulan seperti apa abangnya.
bersambung
PART 35
=======
Jam tiga dini hari, Mas Jaya membangunkanku.
" kenapa sayang?" Tanyaku dengan mata yang masih mengantuk.
" Aku lapar sayang."
Kubuka mataku lebar-lebar, untuk memastikan apa yang dia ucapkan.
"Apa sayang? Kau lapar?" Tanyaku untuk meyakinkan diriku.
" Iya sayang, aku lapar."
Aku segera turun dari tempat tidur menuju dapur.
Mau makan apa jam segini, ucap hatiku.Pada saat aku menuju dapur, kudengar suara orang yang sedang menangis.
Siapa yang menangis dipagi buta begini, sedikit ragu aku mendekati dapur, tapi rasa penasaranku semakin kuat.
Ingatan kumelayang kepada cerita-cerita horor yang pernah kubaca bahwa orang hamil itu sering di ikuti oleh makhluk-makhluk astral.
Semakin aku mendekati dapur maka suara itu semakin jelas. Ini Manusia Zahra, nggak usah parno sendiri. Aku berdialog dengan diriku sendiri.
Duuhhh gimana ini, kalau aku balik ke kamar, dia sedang lapar, aku mau melangkah ke dapur. Ahh.. bodo ah, udah pernah pingsan ini, paling juga pingsan lagi.
Kuberanikan mendekati dapur, di depan pintu dapur aku sedikit mengintip untuk memastikan siapa yang ada disana.
Hhuuuufffttt lega, kuusap dadaku karena melihat Kak Ayu yang sedang menangis.
Sengaja aku kembali beberapa langkah, dan berdehem sebelum mendekati pintu dapur. Pada saat masuk ke dalam dapur aku sengaja tidak menegur dan menyapanya.
" Kau mau apa Zahra?" Tanyanya padaku.
" Mau cari makanan." Sambil membuka kulkas. Kuambil box makanan yang berisi buah-buahan yang udah siap makan.
"Zahra, maukah kau memaafkan ku?" Dia bertanya lagi dan menahan langkahku.
" Hiduplah dengan baik Kak, Insya Allah aku akan memaafkanmu dengan ikhlas, namum kalau sekarang, aku bisa memaafkan tapi rasa kecewaku masih ada."
Kuhusap halus punggung lengannya. Kutinggalkan dia yang masih berdiri dihadapanku. Baru beberapa langkah aku menolehkan pandanganku lagi kearah Kak Ayu.
Dia masih berdiri mematung, dengan menundukkan wajahnya. Kembali aku ke dapur melewatinya untuk mengambil air dikulkas.
Pada saat aku lewat lagi dihadapannya, kuhentikan langkahku, kupeluk dia, yang masih mematung.
" Aku bahagia mengenal keluarga kalian. Kalian adalah keluarga yang sangat saling menyayangi satu sama yang lain."
Setelah melepas pelukanku, lalu aku meninggalkannya tanpa melihatnya lagi.
"Lama sekali, aku dari tadi menunggumu" rengek Mas Jaya.
" Cup cup cuupp.. Bayi gede Mama udah lapar ya sayang, maaf yaaaaa.... " Kutarik kedua pipi Mas Jaya dengan gemas.
" Udah Zahra, jangan ngomong begitu geli aku dengarnya." Ucap Mas Jaya sambil begidik geli.
Kupandangi Mas Jaya yang sedang makan.
" Apa yang sedang kamu fikirkan Zahra?" Sambil memasukkan potongan buah kemulutnya.
" Aku berfikir, bahwa Papanya anakku adalah orang yang pelit."
"Maksudmu?" Tanya nya dengan menyatukan alisnya.
Kusandarkan tubuhku disandaran kursi yang sedangku duduki.
perlahan kuusap perutku.
" Nak, tau nggak Mama dibanguni pagi buta begini karena Papamu lapar, waktu mama keluar tadi mama udah hampir pingsan ketakutan, sekarang menawarkan untuk kitapun tidak. Miris banget nasib Mamamu ini"
Mendengar ucapanku dia tertawa. Dimajukannya badannya mendekatiku.
"Aku akan memberinya kalau kau mau mengambilnya dari mulutku. Karena rasanya akan menjadi sangat manis, tapi kalau aku menyuapimu, lebih baik jangan."
"Kalau aku mengambil dari bibirmu, kau akan minta lebih apalagi ini udah menjelang subuh. Lebih baik tidak, makanlah." Kutolak dia agar menjauhiku.
"Nih makanlah." Diarahkannya buah yang sudah ditusuk garpu kemulutku. Baru aku menggigitnya segera kukeluarkan lagi.
" Rasanya kok gini sih."
Melihat reaksiku memuntahkan yang kumakan dia memtertawaiku.
"Masih mau?" Tanyanya dengan memainkan kedua alisnya.
"Enggak!" Jawabku sedikit merajuk dan naik ke tempat tidur, dan membelakanginya.
"Kau merajuk denganku?"
" Tidurlah Mas, aku masih ngantuk."
Kudengar dia hanya menarik nafas dan membuangnya dengan kasar.
******
Selesai Shalat Subuh aku langsung ke dapur. Mama sudah selesai masak.
"Suamimu udah bangun Nak?" Tanya Mama yang sedang menyiapkan makanan didalam mangkuk.
"Udah."
Mama lalu menyuruh Kak Ayu mengantarkan makanan untuk Mas Jaya.
"Biarkan mereka bicara, Kakakmu benar-benar menyesali perbuatannya."
" Semoga ada kebaikan ya Ma." Kupeluk Beliau dan menciumi pipinya.
Mama membawaku duduk dikursi, lama dia memandangiku.
"Zahra, bolehkah Mama minta satu permintaan?"
" Mama minta apa?"
" Bolehkah Mama meminta Anak laki-laki Mama hidup dengan Mama lagi?"
Aku terdiam mendengar permintaannya. Kupandangi lekat-lekat wanita yang ada didepanku. Melihatku tidak menjawab Mama langsung tersenyum getir.
" Apakah Zahra dan cucu Mama nggak boleh hidup dengan kalian?"
Mama langsung mencubit pipiku. " Dasar anak nakal.
" Zahra akan kembalikan anak Mama tanpa diminta. Zahra juga ingin merasakan kasih sayang Mama." Dipeluknya aku dengan erat.
Wulan datang menghampiri, kuulurkan satu tanganku padanya, lalu memeluknya, secara bergantian kuciumi pipi keduanya.
" Kalau Wulan menikah, titip Mama dan abang ya. Saatnya Wulan menemukan kebahagian dalam hidup Ulan."
Pagi itu aku sarapan bertiga bersama Mama dan Wulan. Aku lama-lama jadi terbiasa makan disuapi. Sehabis makan Wulan pergi ke kebun, dia bekerja di perkebunan Mas Jaya sebagai Pengawas lapangan.
Mama seperti biasa, akan pergi dengan Bi Yanti memasak untuk para pekerja. Menjelang jam istirahat beliau baru pulang.
Setelah bicara secara empat mata dengan mas Jaya, Kak Ayu pamit pulang.
Sekarang tinggallah aku berdua dengan suamiku tercinta. Manusia super yang selalu membuatku kesal dan benci. Hehehe benar-benar cinta. 😊😊
Pada saat aku masuk ke dalam kamar, kulihat Mas Jaya sudah tertidur. Mungkin pengaruh dari obat yang diminumnya.
Karena nggak tau harus melakukan apa, aku berencana main game yang ada di HP Mas Jaya. Dia nggak pernah marah, atau keberetan kalau aku memegang HP nya.
Entah kenapa hatiku tergelitik membuka galery HP nya. Satu persatu foto yang ada aku lihat, termasuk salah satu foto keluarganya waktu masih lengkap.
Ternyata Almarhum Papa mertuaku sangat tampan, seperti keturunan orang-orang Timur Tengah, Mama juga sangat cantik,pantas mereka punya keturunan yang cantik dan tampan, Diantara Wulan dan Kak Ayu ada seorang wanita yang jauh lebih cantik dari mereka berdua, Matanya yang bulat besar sama dengan Papanya, hidungnya yang mancung, kecantikannya benar-benar sempurna. Dia pasti Ria, bisik hatiku.
Kupindahkan padanganku dari foto mereka, kugeser kebeberapa foto lain, kulihat foto kuberdua dengan Mas Jaya. Aku sempat tersenyum kalau mengingat moment-moment foto itu diambil.
Disaat aku ingin berhenti, nggak sengaja jariku membuka foto yang dikirim dari aplikasi WA. Jantungku hampir berhenti berdetak melihat foto yang ada, foto Mas Jaya dengan seorang wanita yang sedang berada di dalam selimut.
Kubuka Aplikasi WA nya untuk mencari tahu keterangan foto tersebut. Kulihat kontak dari pengirim foto tersebut. "TIA"
Sejauh itu kau berbuat dengan dia Mas, ucap hatiku.
Kuletakkan kembali HPnya diatas nakas. Kupandangi Mas Jaya yang sedang tidur. Aku ingat perkataan Wulan seperti apa abangnya.
bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar