#SUAMI_KU
Part 26. author Sashi Kirana
========
Sekitar pukul 16.00 aku pamit izin pulang, beberapa kali aku mendapati Mas Jaya yang senyum-senyum sendiri sambil mengemudi. Akhirnya aku beranikan bertanya karena melihat sikapnya.
" Kamu kenapa sih Mas, dari tadi senyum-senyum nggak jelas. Perlu dibawa kePsikiater kamu."
"Nggak pa-pa Zahra, aku sehat. Kamu tambah cantik aja aku lihat."
" Nah ini salah satu bukti kamu nggak sehat. Kamu udah marah dan merajuknya?"
" Aku nggak merajuk, yang bilang aku merajuk siapa?"
" kalau kamu memang udah sehat, aku mau tanya, kamu punya bukti apa nuduh aku mengkhianati kamu?"
Kulihat dia hanya diam, pandangannya fokus kejalan dan beberapa kali dia hanya melirik ku.
"Nggak punya jawaban seperti biasakan?" Kualihkan pandanganku lurus kedepan, percuma aku bertanya pikirku.
"Apakah kau lelah hidup bersamaku?"
Mendapat pertanyaan seperti itu, aku palingkan wajahku menghadapnya, kutatap pria yang sedang mengemudi dengan fokus itu.
" Kenapa melihatku seperti itu?" Kembali dia bertanya, karena tau aku sedang memperhatikannya.
"Pertanyaanmu itu sebenarnya aku yang lebih pantas melontarkannya, apakah kau lelah hidup bersamaku, sehingga kau menuduhku sudah mengkhianatimu." Ucapku dengan tersenyum.
" Aku hanya takut kehilanganmu Zahra."
Kutarik nafas dalam-dalam, dan kubuang dengan sedikit kasar, pandanganku kembali kuarahkan kedepan.
" Sesuatu yang sangat kita cintai dan kita takut untuk kehilangannya, maka bersiaplah untuk kehilangannya, seorang pecinta itu tak ubahnya seperti seorang yang haus, haus akan perhatian, kasih sayang, haus untuk dimanja, yang namanya haus pasti akan mencari sesuatu untuk melepaskan rasa hausnya, jika kita sedang kehausan maka sesuatu yang dibutuhkan adalah air. Apakah kita bisa menggenggam air itu untuk kita miliki? Jawabnya tentu tidakan Mas, kita butuh wadah untuk menampungnya. Begitu juga cinta dan kasih sayang, kita nggak bisa menggenggamnya, semakin kita kuat menggenggamnya maka akan semakin hilang dia dari genggaman kita. Begitu juga seseorang yang kita cintai, semakin kuat kita berusaha menggenggamnya untuk kita miliki maka akan semakin besarlah kesempatan kita untuk kehilangan.
Mass... aku mencintaimu, namun bukan berarti aku nggak memikirkan diriku, aku diberi kesempatan untuk memilikimu, tapi bukan berarti aku akan menggenggammu dengan erat, karena jika aku kehilanganmu maka yang sakit itu aku Mas, bukan kamu, jikapun kamu merasa sakit itu karena efek dari kekangan dan kungkungan yang kubuat, sementara orang lain, mereka hanya bisa melihatku tapi nggak pernah merasakan sakit yang kualami seperti apa.
Jangan rusak dirimu dengan hal yang akan membuatmu sakit Mas. Maaf kalau aku terlalu berlebihan dalam menyampaikan ini."
Sesaat aku dan Mas Jaya hanya diam.
" Mas.. Aku punya satu pertanyaan dan aku nggak minta untuk dijawab, tapi fikirkan dan coba berbuat sesuatu. Menurutmu tujuan dari pernikahan itu apa?"
Tidak adalagi pembicaraan setelah itu, sampai tiba di rumahpun aku dan Mas Jaya masih diam. Sampai selesai makan malampun aku dan dia masih tetap dalam kebisuan. Selesai makan dia memasuki kamar tamu, dan aku memilih untuk ke kamarku. Hampir jam 12 malampun aku belum bisa tidur.
Kulihat Mas Jaya masuk ke kamar, dengan perlahan dia duduk dipinggir tempat tidur.
" Kamu sedang apa Zahra, kenapa belum tidur?" Tanya Mas Jaya karena melihatku masih duduk bersandar diatas tempat tidur.
" Aku baru bangun, sekarang belum bisa tidur lagi. Kamu sendiri?" Mungkin saat ini aku sudah membohonginya, aku hanya nggak ingin dia khawatir.
" Sama." Lalu dia diam sesaat. "Zahra... apakah rumah tangga kita masih bisa diperbaiki? mengingat sikapku yang sudah keterlaluan."
" Semua kembali berpulang padamu Mas.. kalau aku boleh jujur, aku cukup kecewa dengan sikapmu." Ucapku dengan sangat pelan.
" Maafkan aku Zahra, akhir-akhir ini aku memang nggak bisa mengendalikan emosiku. Aku cukup menyesal."
"Kalau maaf yang kamu minta aku sudah memaafkan, tapi nggak semudah itu juga aku bisa kembali menata hatiku. Cermin yang pecah nggak akan bisa lagi untuk disatukan.
Apapun keputusan yang akan kamu ambil aku sudah bilang, aku sudah siap Mas. Sekalipun kita harus berpisah aku siap, dan kembalikan aku baik-baik kepada orangtuaku."
" Zahra, aku nggak akan pernah menceraikanmu, sampai kapanpun nggak akan pernah! Ingat-ingat itu!!!." Ucapnya pelan tapi penuh dengan penekanan. dia menatapku dengan begitu tajam, dan dingin.
Aku hanya membalas ucapan dan tatapan matanya dengan tersenyum tipis.
Aku merebahkan tubuhku, kubiarkan saja Mas Jaya yang masih duduk diam dipinggir tempat tidur.
**********
Heru Sanjaya.
Melihat istrinya sudah terlelap pikirannya menerawang kepada runtutan kejadian sehingga dia bisa sampai seperti ini, dan bertemu dengan wanita yang saat ini menjadi istrinya.
Memasuki salah satu Universitas terbaik di Negri ini adalah cita-cita yang sudah lama dia impikan. Anak kedua dan satu-satunya lelaki diantara tiga saudaranya yang perempuan menjadikan dia sosok laki-laki yang bertanggung jawab, yang sangat menyayangi kakak dan adik-adiknya. Dilahirkan dari keluarga sederhana namun dibesarkan dengan cinta dan kasih sayang yang melimpah, serasa itu adalah harta yang berharga didalam keluarga ini.
" Yakin kamu mau kuliah di Jakarta Nak, disini banyak Universitas yang nggak kalah baiknya, kami masih bisa melihatmu disini" Ucap sang Mama pada saat dia membereskan pakaiannya untuk berangkat ke Jakarta.
" Tekad Heru udah bulat Ma, tolong jangan jadikan air mata Mama sebagai penghambat masa depan Heru. Maaa. " Ucapnya pelan dan Merangkul lengan Mamanya dan mengajak duduk disisi tempat tidur " Heru anak laki-laki, kelak akan menikah, akan menjadi kepala rumah tangga, Heru nggak ingin membuat anak gadis orang yang akan menjadi istri Heru hidup susah Ma. Saatnya Heru mempersiapkan diri berpijak diatas kaki sendiri, di Jakarta Heru tinggal dengan Tante Rosa, lantas apa yang Mama khawatirkan lagi."
" Berat hati Mama Nak.."
"Ini baru anak Papa." Tiba-tiba saja sang Papa masuk ke dalam kamar dimana Heru dan Mamanya berada. "Biarlah dia mengejar cita-citanya Ma, kita sebagai orang tua harus mendukung, bukan menjadi penghalang."
Akhirnya sang Mamapun menyetujui keinginan anaknya. Besok Heru akan pergi, sehabis makan malam banyak nasehat yang dia dengarkan dari kedua orangtuanya.
" Cita-cita Heru harus tercapai Pa, bukan kesuksesan menjadi orang kaya dan banyak harta yang Heru mau, tapi memajukan kampung kita sehingga bisa menjadi daerah pengekspor bahan pertanian dengan kwalitas terbaik yang Heru mau.
papa lihatlah, para tengkulak itu sudah banyak membodohi petani disini, mengambil hasil panen mereka dengan harga murah, Negara kita negara agraria harus pemuda bangsa ini yang memajukan negri ini, saat ini banyak orang muda yang merantau ke kota mengharap kerja disana, mereka nggak pernah tau disaat mereka meninggalkan orang tuanya untuk menggarap sawah dan ladangnya mereka sebenarnya sudah membuang harta yang paling berharga, Papa tau tak, di Eropa sana petanilah orang yang paling kaya Pa, bukan PNS dan Pegawai Swasta."
" Kamu nggak malu, nanti dikampung ini akan dibilang orang, masa Insinyur sekolah jauh-jauh ke Ibukota ujung-ujungnya jadi petani juga, ke sawah dan ladang juga." Ucap sang Papa.
" Kenapa harus malu, Papa sama Mama yang seorang Sarjana aja rela ninggalkan Ibukota Provinsi demi mencerdaskan orang-orang dikampung ini, nggak digaji, makanpun susah, Papa dan Mama nggak malu dan nggak menyesalkan?! Malah kehidupan Papa sama Mama lebih bahagiakan. Kalau kita nggak tinggal disini, nggakkan Heru tiap hari liat pemandangan dimana dua sejoli makan ditengah malam buta, suap-suapan disaat anak-anaknya sedang terlelap dalam mimpi."
Keharmonisan keluarga yang hidup dengan kesederhanaan itu nggak bisa dilupakan oleh laki-laki yang akan menyandang status ayah itu. Kepergiaannya ke Ibukota ternyata bukan untuk menggapai cita-cita mulia yang dia inginkan. Tapi malah menghancurkan kebahagiaan yang dia miliki. Itulah yang selalu menghantui pikirannya selama ini, berapa banyakpun harta yang dia punya saat ini, nggak bisa mengembalikan senyum kebahagiaan wanita yang melahirkannya.
Part 26. author Sashi Kirana
========
Sekitar pukul 16.00 aku pamit izin pulang, beberapa kali aku mendapati Mas Jaya yang senyum-senyum sendiri sambil mengemudi. Akhirnya aku beranikan bertanya karena melihat sikapnya.
" Kamu kenapa sih Mas, dari tadi senyum-senyum nggak jelas. Perlu dibawa kePsikiater kamu."
"Nggak pa-pa Zahra, aku sehat. Kamu tambah cantik aja aku lihat."
" Nah ini salah satu bukti kamu nggak sehat. Kamu udah marah dan merajuknya?"
" Aku nggak merajuk, yang bilang aku merajuk siapa?"
" kalau kamu memang udah sehat, aku mau tanya, kamu punya bukti apa nuduh aku mengkhianati kamu?"
Kulihat dia hanya diam, pandangannya fokus kejalan dan beberapa kali dia hanya melirik ku.
"Nggak punya jawaban seperti biasakan?" Kualihkan pandanganku lurus kedepan, percuma aku bertanya pikirku.
"Apakah kau lelah hidup bersamaku?"
Mendapat pertanyaan seperti itu, aku palingkan wajahku menghadapnya, kutatap pria yang sedang mengemudi dengan fokus itu.
" Kenapa melihatku seperti itu?" Kembali dia bertanya, karena tau aku sedang memperhatikannya.
"Pertanyaanmu itu sebenarnya aku yang lebih pantas melontarkannya, apakah kau lelah hidup bersamaku, sehingga kau menuduhku sudah mengkhianatimu." Ucapku dengan tersenyum.
" Aku hanya takut kehilanganmu Zahra."
Kutarik nafas dalam-dalam, dan kubuang dengan sedikit kasar, pandanganku kembali kuarahkan kedepan.
" Sesuatu yang sangat kita cintai dan kita takut untuk kehilangannya, maka bersiaplah untuk kehilangannya, seorang pecinta itu tak ubahnya seperti seorang yang haus, haus akan perhatian, kasih sayang, haus untuk dimanja, yang namanya haus pasti akan mencari sesuatu untuk melepaskan rasa hausnya, jika kita sedang kehausan maka sesuatu yang dibutuhkan adalah air. Apakah kita bisa menggenggam air itu untuk kita miliki? Jawabnya tentu tidakan Mas, kita butuh wadah untuk menampungnya. Begitu juga cinta dan kasih sayang, kita nggak bisa menggenggamnya, semakin kita kuat menggenggamnya maka akan semakin hilang dia dari genggaman kita. Begitu juga seseorang yang kita cintai, semakin kuat kita berusaha menggenggamnya untuk kita miliki maka akan semakin besarlah kesempatan kita untuk kehilangan.
Mass... aku mencintaimu, namun bukan berarti aku nggak memikirkan diriku, aku diberi kesempatan untuk memilikimu, tapi bukan berarti aku akan menggenggammu dengan erat, karena jika aku kehilanganmu maka yang sakit itu aku Mas, bukan kamu, jikapun kamu merasa sakit itu karena efek dari kekangan dan kungkungan yang kubuat, sementara orang lain, mereka hanya bisa melihatku tapi nggak pernah merasakan sakit yang kualami seperti apa.
Jangan rusak dirimu dengan hal yang akan membuatmu sakit Mas. Maaf kalau aku terlalu berlebihan dalam menyampaikan ini."
Sesaat aku dan Mas Jaya hanya diam.
" Mas.. Aku punya satu pertanyaan dan aku nggak minta untuk dijawab, tapi fikirkan dan coba berbuat sesuatu. Menurutmu tujuan dari pernikahan itu apa?"
Tidak adalagi pembicaraan setelah itu, sampai tiba di rumahpun aku dan Mas Jaya masih diam. Sampai selesai makan malampun aku dan dia masih tetap dalam kebisuan. Selesai makan dia memasuki kamar tamu, dan aku memilih untuk ke kamarku. Hampir jam 12 malampun aku belum bisa tidur.
Kulihat Mas Jaya masuk ke kamar, dengan perlahan dia duduk dipinggir tempat tidur.
" Kamu sedang apa Zahra, kenapa belum tidur?" Tanya Mas Jaya karena melihatku masih duduk bersandar diatas tempat tidur.
" Aku baru bangun, sekarang belum bisa tidur lagi. Kamu sendiri?" Mungkin saat ini aku sudah membohonginya, aku hanya nggak ingin dia khawatir.
" Sama." Lalu dia diam sesaat. "Zahra... apakah rumah tangga kita masih bisa diperbaiki? mengingat sikapku yang sudah keterlaluan."
" Semua kembali berpulang padamu Mas.. kalau aku boleh jujur, aku cukup kecewa dengan sikapmu." Ucapku dengan sangat pelan.
" Maafkan aku Zahra, akhir-akhir ini aku memang nggak bisa mengendalikan emosiku. Aku cukup menyesal."
"Kalau maaf yang kamu minta aku sudah memaafkan, tapi nggak semudah itu juga aku bisa kembali menata hatiku. Cermin yang pecah nggak akan bisa lagi untuk disatukan.
Apapun keputusan yang akan kamu ambil aku sudah bilang, aku sudah siap Mas. Sekalipun kita harus berpisah aku siap, dan kembalikan aku baik-baik kepada orangtuaku."
" Zahra, aku nggak akan pernah menceraikanmu, sampai kapanpun nggak akan pernah! Ingat-ingat itu!!!." Ucapnya pelan tapi penuh dengan penekanan. dia menatapku dengan begitu tajam, dan dingin.
Aku hanya membalas ucapan dan tatapan matanya dengan tersenyum tipis.
Aku merebahkan tubuhku, kubiarkan saja Mas Jaya yang masih duduk diam dipinggir tempat tidur.
**********
Heru Sanjaya.
Melihat istrinya sudah terlelap pikirannya menerawang kepada runtutan kejadian sehingga dia bisa sampai seperti ini, dan bertemu dengan wanita yang saat ini menjadi istrinya.
Memasuki salah satu Universitas terbaik di Negri ini adalah cita-cita yang sudah lama dia impikan. Anak kedua dan satu-satunya lelaki diantara tiga saudaranya yang perempuan menjadikan dia sosok laki-laki yang bertanggung jawab, yang sangat menyayangi kakak dan adik-adiknya. Dilahirkan dari keluarga sederhana namun dibesarkan dengan cinta dan kasih sayang yang melimpah, serasa itu adalah harta yang berharga didalam keluarga ini.
" Yakin kamu mau kuliah di Jakarta Nak, disini banyak Universitas yang nggak kalah baiknya, kami masih bisa melihatmu disini" Ucap sang Mama pada saat dia membereskan pakaiannya untuk berangkat ke Jakarta.
" Tekad Heru udah bulat Ma, tolong jangan jadikan air mata Mama sebagai penghambat masa depan Heru. Maaa. " Ucapnya pelan dan Merangkul lengan Mamanya dan mengajak duduk disisi tempat tidur " Heru anak laki-laki, kelak akan menikah, akan menjadi kepala rumah tangga, Heru nggak ingin membuat anak gadis orang yang akan menjadi istri Heru hidup susah Ma. Saatnya Heru mempersiapkan diri berpijak diatas kaki sendiri, di Jakarta Heru tinggal dengan Tante Rosa, lantas apa yang Mama khawatirkan lagi."
" Berat hati Mama Nak.."
"Ini baru anak Papa." Tiba-tiba saja sang Papa masuk ke dalam kamar dimana Heru dan Mamanya berada. "Biarlah dia mengejar cita-citanya Ma, kita sebagai orang tua harus mendukung, bukan menjadi penghalang."
Akhirnya sang Mamapun menyetujui keinginan anaknya. Besok Heru akan pergi, sehabis makan malam banyak nasehat yang dia dengarkan dari kedua orangtuanya.
" Cita-cita Heru harus tercapai Pa, bukan kesuksesan menjadi orang kaya dan banyak harta yang Heru mau, tapi memajukan kampung kita sehingga bisa menjadi daerah pengekspor bahan pertanian dengan kwalitas terbaik yang Heru mau.
papa lihatlah, para tengkulak itu sudah banyak membodohi petani disini, mengambil hasil panen mereka dengan harga murah, Negara kita negara agraria harus pemuda bangsa ini yang memajukan negri ini, saat ini banyak orang muda yang merantau ke kota mengharap kerja disana, mereka nggak pernah tau disaat mereka meninggalkan orang tuanya untuk menggarap sawah dan ladangnya mereka sebenarnya sudah membuang harta yang paling berharga, Papa tau tak, di Eropa sana petanilah orang yang paling kaya Pa, bukan PNS dan Pegawai Swasta."
" Kamu nggak malu, nanti dikampung ini akan dibilang orang, masa Insinyur sekolah jauh-jauh ke Ibukota ujung-ujungnya jadi petani juga, ke sawah dan ladang juga." Ucap sang Papa.
" Kenapa harus malu, Papa sama Mama yang seorang Sarjana aja rela ninggalkan Ibukota Provinsi demi mencerdaskan orang-orang dikampung ini, nggak digaji, makanpun susah, Papa dan Mama nggak malu dan nggak menyesalkan?! Malah kehidupan Papa sama Mama lebih bahagiakan. Kalau kita nggak tinggal disini, nggakkan Heru tiap hari liat pemandangan dimana dua sejoli makan ditengah malam buta, suap-suapan disaat anak-anaknya sedang terlelap dalam mimpi."
Keharmonisan keluarga yang hidup dengan kesederhanaan itu nggak bisa dilupakan oleh laki-laki yang akan menyandang status ayah itu. Kepergiaannya ke Ibukota ternyata bukan untuk menggapai cita-cita mulia yang dia inginkan. Tapi malah menghancurkan kebahagiaan yang dia miliki. Itulah yang selalu menghantui pikirannya selama ini, berapa banyakpun harta yang dia punya saat ini, nggak bisa mengembalikan senyum kebahagiaan wanita yang melahirkannya.
-----
#SUAMI_KU
Part 27
==========
===>>
Sesat dia tersadar dari lamunannya karena melihat istrinya merubah posisi tidurnya. Dialihkan penglihatannya kearah sang Istri, diperbaikinya selimut yang menutupi tubuh Istrinya.
" Lebih baik aku kehilangan harta dari pada kehilangan kamu Zahra, Aku sudah kehilangan semuanya, dan aku nggak ingin kehilanganmu." Dikecupnya lama kening istrinya.
Direbahkan tubuhnya disebalah istrinya, kembali pikiran menerawang kepada kejadian masa lalunya. Kalau saja dia tidak membawa sabahabatnya ke rumah Tante Rosa, Andi nggak akan pernah bertemu dengan Ratna, nggak akan pernah ada cinta diantara Sahabat dan anak Tantenya. Dan nggak ada hari naas itu. Hari dimana mengantarkan dirinya untuk hidup dibalik jeruji, atas kasus pembunuhan yang nggak pernah dia lakukan.
" Kalau saja pada saat itu aku nggak mencabut pisau yang ada ditubuh Andi, aku nggak akan pernah jadi tersangka, mungkin aku masih bisa melihat rona muka kebahagiaanmu Ma, mungkinpun Papa dan Ria masih ada berasama kita, dan juga Ayu nggak akan pernah diceraikan suaminya. Sampai kapan Mama bisa memaafkanku, sampai kapan Mama tetap diam denganku, Mama nggak taukah bukan hanya Aku, menantumupun sangat merindukanmu, sebentar lagi Mama akan punya cucu." Ucap batinnya.
******
Pada saat aku bangun, kulihat Mas Jaya tidur membelakangiku dengan posisi meringkuk. Aku segera turun dan menuju kamar mandi. Selesai Shalat Subuh aku langsung turun untuk membuat sarapan di dapur.
Udah hampir jam delapan tapi Mas Jaya belum juga turun dari kamar. Akhirnya aku memutuskan untuk membangunkannya dan mengajaknya untuk sarapan.
Sebelum aku menyentuhnya untuk membangunkan, perlahan aku duduk ditepi tempat tidur dan memandangi wajahnya.
" Kalau kamu tidur gini, kelihatan sisi lembut dirimu. " Pada saat aku ingin mencium pipinya, kurasakan hawa panas dari hembusan nafasnya. Begitu kusentuh keningnya, aku juga merasakan suhu tubuhnya yang panas.
" Mas, Kamu demam?" Kucoba membangunkannya dengan sedikit memukul pelan pipinya.
" Enggak, cuma aku agak sedikit sakit kepala aja." Jawabnya masih dengan mata yang tertutup.
" Enggak gimana, itu badan kamu panas gini. Kita kedokter ya.."
" Aku nggak pa-pa Zahra, tapi aku senang kamu khawatir samaku." Lalu dia bangun dari tidurnya, dan duduk sambil bersandar dengan bantal yang disusunnya. " kamu nggak marah lagi sama aku?" Tanya Mas Jaya.
" Aku nggak ada marah sama kamu, kamukan yang marah nggak jelas sama aku." Kuraih dan kugenggam tangannya. " Tapi aku kecewa sama kamu, dan nggak tau rasa kecewaku apakah untuk selamanya atau sementara, tapi yang pasti aku sangat kecewa dan itu cukup buat aku sangat sakit." Kutundukkan wajahku, dan untuk sesaat aku dan Mas Jayapun diam.
" Aku buatkan air jahe dan bubur dulu buat kamu, dan Mas istirahatlah." Aku bangkit dari dudukku, perlahan aku turuni anak tangga. Rasanya aku perlu pindah kamar lagi, tiap hari naik turun tangga ini sudah menguras separuh energiku, ucap batinku.
" Ibu mau masak apa? Biar saya aja yang ngerjain Bu." Ucap Bi Ijah.
" Saya cuma mau masak bubur aja. Bibi tolong kupas jahe aja, trus rebus ya."
Setelah semua selesai, aku panggil Mas Jaya untuk turun.
" Massss kamu dengar aku nggak? Kalau kamu masih kuat kamu turun ya.." Panggilku dengan sedikit berteriak dari bawah tangga.
" Kamu kenapa nggak naik aja! Kepalaku masih pusing." Kulihat dia turun dengan wajah yang memperlihatkan kejengkelan.
Begitu dia berhadapan denganku, kucoba menghentikan langkahnya.
" Kamu kesal sama Aku?" Tanyaku sambil tersenyum.
" Enggak, nggak ada alasan aku kesal sama kamu." Ucapnya dan berjalan meninggalkan aku. Tiba-tiba dia langsung berbalik menghadapku, dan membuatku kaget.
" Zahra, tolong jangan senyum semanis tadi, karena senyumanmu yang seperti itu, senyuman paling licik yang pernah kutemui."
Hahahaa kamu faham aja, tapi sayangnya kamu lagi sakit. Bersyukurlah Allah memberimu nikmat sakit hari Mas, karena memang aku punya rencana untuk mendzolimimu. Ucap batinku.
" Ayo makan, keburu dingin buburnya, punya suami satu sakit aja masih bawel, pantes sehat jago banget fitnah." Kutarik tangannya menuju meja makan.
" Aku fitnah kamu apa?"
" Makan Jangan brisik." Lalu kusuapi dia makan.
Setelah selesai aku mengajaknya duduk di ruang tengah.
" Zahra, Aku sekali lagi minta maaf sama kamu."
" Aku sudah Maafkan. Mas, makasih banyak kamu mau temani aku kepesta pernikahan Om Danu kemarin. Terima kasih juga sudah memberikan warna dalam hidupku. Kapanpun kamu punya keputusan untuk ninggalin aku, aku sudah siap." Ucapku pelan.
" Kamu senang kalau kita pisah?! Kamu mau kita pisah?! jangan-jangan benar kamu punya selingkuhan diluar sana!"
Tiba-tiba Mas Jaya, menghardikku. Seketika juga darahku mendiduh mendengar dia menghardikku.
" Eh, kamu kok tiba-tiba marah gini sih Mas, yang pantas marah itu aku. Dasar kamu itu laki nggak tau diuntung memang!" Kulepar dia dengan bantal kursi.
" Kamu bisa marah juga, bisa hardik suami juga. Aku lebih senang kamu galak gini." Ucap Mas Jaya dengan senyum manis.
" Kau kira senyummu lucu! Kadang-kadang kau memang ngeselin."
" Aku bercanda Zahra, aku kangen sama kamu, dua minggu aku ninggalin rumah, yang ada dirumah ini nuansa sedih aja. Kita baikan ya."
" Kau kira segampang itu kau minta baikan samaku! kau kira bercandamu lucu! Kau itu pria menjijikan yang pernah kutemui!."
Ku tinggalkan Mas Jaya yang masih duduk didepan TV.
" Maafkan Aku Zahra, aku cuma nggak tau mau memulai darimana, setelah aku salah faham kemarin. Jujur Aku sempat cemburu sama.." Dia langsung diam dan nggak melanjutkan ucapannya.
" Sama siapa? Trus aja kamu nuduh aku dengan hal yang nggak pernah aku lakukan. Kamu tunggu aku lahirin anak kamu, apa yang kamu tuduhkan sama aku, bakal aku lakukan. Kamu nuduh aku selingkuh sama Pak Fajar, aku diam, kemarin kamu bilang bahwa anak yang aku kandung bukan anak kamukan, itu sama aja kamu nuduh aku selingkuhkan?!, aku bakal lakukan."
Ditariknya tanganku, sambil berkali-kali memohon maaf.
Melihat tingkahnya sempat buat aku jengah. Langsung saja kutampar wajahnya.
" Kok kamu tampar aku?"
" Aku tampar kamu mewakili anak kamu, punya Papa bego' banget! Kalau mau marah, marah aja sama dia jangan sama aku."
Kutarik tanganku dari pegangannya, lalu aku memilih duduk di ayunan untuk mengatur nafas. Bi Ijah yang sedang membersihkan kolam ikan kulihat senyum-senyum.
" Bibi kenapa senyum-senyum?"
"Maaf Buk, Bibik kaget aja Ibu bisa semarah itu sama Bapak. Biasanya Ibu selalu ngalah sama Bapak."
" Kesel saya Bi, sejak saya hamil ada aja tingkahnya."
" Bawaan bayi mungkin Bu, sejak tau Ibu hamil Bapak memang agak berbeda lebih kekanakan." Setelah mengatakan itu Bi Ijah langsung pamit.
Kalau dipikir-pikir memang iya sih, sejak aku hamil kuakui nafsu makan Mas Jaya lebih besar dari pada biasanya, ada beberapa hal yang dia nggak suka jadi suka, dan yang lebih parah dia emosinya yang berubah-ubah.
-----
Part 27
==========
===>>
Sesat dia tersadar dari lamunannya karena melihat istrinya merubah posisi tidurnya. Dialihkan penglihatannya kearah sang Istri, diperbaikinya selimut yang menutupi tubuh Istrinya.
" Lebih baik aku kehilangan harta dari pada kehilangan kamu Zahra, Aku sudah kehilangan semuanya, dan aku nggak ingin kehilanganmu." Dikecupnya lama kening istrinya.
Direbahkan tubuhnya disebalah istrinya, kembali pikiran menerawang kepada kejadian masa lalunya. Kalau saja dia tidak membawa sabahabatnya ke rumah Tante Rosa, Andi nggak akan pernah bertemu dengan Ratna, nggak akan pernah ada cinta diantara Sahabat dan anak Tantenya. Dan nggak ada hari naas itu. Hari dimana mengantarkan dirinya untuk hidup dibalik jeruji, atas kasus pembunuhan yang nggak pernah dia lakukan.
" Kalau saja pada saat itu aku nggak mencabut pisau yang ada ditubuh Andi, aku nggak akan pernah jadi tersangka, mungkin aku masih bisa melihat rona muka kebahagiaanmu Ma, mungkinpun Papa dan Ria masih ada berasama kita, dan juga Ayu nggak akan pernah diceraikan suaminya. Sampai kapan Mama bisa memaafkanku, sampai kapan Mama tetap diam denganku, Mama nggak taukah bukan hanya Aku, menantumupun sangat merindukanmu, sebentar lagi Mama akan punya cucu." Ucap batinnya.
******
Pada saat aku bangun, kulihat Mas Jaya tidur membelakangiku dengan posisi meringkuk. Aku segera turun dan menuju kamar mandi. Selesai Shalat Subuh aku langsung turun untuk membuat sarapan di dapur.
Udah hampir jam delapan tapi Mas Jaya belum juga turun dari kamar. Akhirnya aku memutuskan untuk membangunkannya dan mengajaknya untuk sarapan.
Sebelum aku menyentuhnya untuk membangunkan, perlahan aku duduk ditepi tempat tidur dan memandangi wajahnya.
" Kalau kamu tidur gini, kelihatan sisi lembut dirimu. " Pada saat aku ingin mencium pipinya, kurasakan hawa panas dari hembusan nafasnya. Begitu kusentuh keningnya, aku juga merasakan suhu tubuhnya yang panas.
" Mas, Kamu demam?" Kucoba membangunkannya dengan sedikit memukul pelan pipinya.
" Enggak, cuma aku agak sedikit sakit kepala aja." Jawabnya masih dengan mata yang tertutup.
" Enggak gimana, itu badan kamu panas gini. Kita kedokter ya.."
" Aku nggak pa-pa Zahra, tapi aku senang kamu khawatir samaku." Lalu dia bangun dari tidurnya, dan duduk sambil bersandar dengan bantal yang disusunnya. " kamu nggak marah lagi sama aku?" Tanya Mas Jaya.
" Aku nggak ada marah sama kamu, kamukan yang marah nggak jelas sama aku." Kuraih dan kugenggam tangannya. " Tapi aku kecewa sama kamu, dan nggak tau rasa kecewaku apakah untuk selamanya atau sementara, tapi yang pasti aku sangat kecewa dan itu cukup buat aku sangat sakit." Kutundukkan wajahku, dan untuk sesaat aku dan Mas Jayapun diam.
" Aku buatkan air jahe dan bubur dulu buat kamu, dan Mas istirahatlah." Aku bangkit dari dudukku, perlahan aku turuni anak tangga. Rasanya aku perlu pindah kamar lagi, tiap hari naik turun tangga ini sudah menguras separuh energiku, ucap batinku.
" Ibu mau masak apa? Biar saya aja yang ngerjain Bu." Ucap Bi Ijah.
" Saya cuma mau masak bubur aja. Bibi tolong kupas jahe aja, trus rebus ya."
Setelah semua selesai, aku panggil Mas Jaya untuk turun.
" Massss kamu dengar aku nggak? Kalau kamu masih kuat kamu turun ya.." Panggilku dengan sedikit berteriak dari bawah tangga.
" Kamu kenapa nggak naik aja! Kepalaku masih pusing." Kulihat dia turun dengan wajah yang memperlihatkan kejengkelan.
Begitu dia berhadapan denganku, kucoba menghentikan langkahnya.
" Kamu kesal sama Aku?" Tanyaku sambil tersenyum.
" Enggak, nggak ada alasan aku kesal sama kamu." Ucapnya dan berjalan meninggalkan aku. Tiba-tiba dia langsung berbalik menghadapku, dan membuatku kaget.
" Zahra, tolong jangan senyum semanis tadi, karena senyumanmu yang seperti itu, senyuman paling licik yang pernah kutemui."
Hahahaa kamu faham aja, tapi sayangnya kamu lagi sakit. Bersyukurlah Allah memberimu nikmat sakit hari Mas, karena memang aku punya rencana untuk mendzolimimu. Ucap batinku.
" Ayo makan, keburu dingin buburnya, punya suami satu sakit aja masih bawel, pantes sehat jago banget fitnah." Kutarik tangannya menuju meja makan.
" Aku fitnah kamu apa?"
" Makan Jangan brisik." Lalu kusuapi dia makan.
Setelah selesai aku mengajaknya duduk di ruang tengah.
" Zahra, Aku sekali lagi minta maaf sama kamu."
" Aku sudah Maafkan. Mas, makasih banyak kamu mau temani aku kepesta pernikahan Om Danu kemarin. Terima kasih juga sudah memberikan warna dalam hidupku. Kapanpun kamu punya keputusan untuk ninggalin aku, aku sudah siap." Ucapku pelan.
" Kamu senang kalau kita pisah?! Kamu mau kita pisah?! jangan-jangan benar kamu punya selingkuhan diluar sana!"
Tiba-tiba Mas Jaya, menghardikku. Seketika juga darahku mendiduh mendengar dia menghardikku.
" Eh, kamu kok tiba-tiba marah gini sih Mas, yang pantas marah itu aku. Dasar kamu itu laki nggak tau diuntung memang!" Kulepar dia dengan bantal kursi.
" Kamu bisa marah juga, bisa hardik suami juga. Aku lebih senang kamu galak gini." Ucap Mas Jaya dengan senyum manis.
" Kau kira senyummu lucu! Kadang-kadang kau memang ngeselin."
" Aku bercanda Zahra, aku kangen sama kamu, dua minggu aku ninggalin rumah, yang ada dirumah ini nuansa sedih aja. Kita baikan ya."
" Kau kira segampang itu kau minta baikan samaku! kau kira bercandamu lucu! Kau itu pria menjijikan yang pernah kutemui!."
Ku tinggalkan Mas Jaya yang masih duduk didepan TV.
" Maafkan Aku Zahra, aku cuma nggak tau mau memulai darimana, setelah aku salah faham kemarin. Jujur Aku sempat cemburu sama.." Dia langsung diam dan nggak melanjutkan ucapannya.
" Sama siapa? Trus aja kamu nuduh aku dengan hal yang nggak pernah aku lakukan. Kamu tunggu aku lahirin anak kamu, apa yang kamu tuduhkan sama aku, bakal aku lakukan. Kamu nuduh aku selingkuh sama Pak Fajar, aku diam, kemarin kamu bilang bahwa anak yang aku kandung bukan anak kamukan, itu sama aja kamu nuduh aku selingkuhkan?!, aku bakal lakukan."
Ditariknya tanganku, sambil berkali-kali memohon maaf.
Melihat tingkahnya sempat buat aku jengah. Langsung saja kutampar wajahnya.
" Kok kamu tampar aku?"
" Aku tampar kamu mewakili anak kamu, punya Papa bego' banget! Kalau mau marah, marah aja sama dia jangan sama aku."
Kutarik tanganku dari pegangannya, lalu aku memilih duduk di ayunan untuk mengatur nafas. Bi Ijah yang sedang membersihkan kolam ikan kulihat senyum-senyum.
" Bibi kenapa senyum-senyum?"
"Maaf Buk, Bibik kaget aja Ibu bisa semarah itu sama Bapak. Biasanya Ibu selalu ngalah sama Bapak."
" Kesel saya Bi, sejak saya hamil ada aja tingkahnya."
" Bawaan bayi mungkin Bu, sejak tau Ibu hamil Bapak memang agak berbeda lebih kekanakan." Setelah mengatakan itu Bi Ijah langsung pamit.
Kalau dipikir-pikir memang iya sih, sejak aku hamil kuakui nafsu makan Mas Jaya lebih besar dari pada biasanya, ada beberapa hal yang dia nggak suka jadi suka, dan yang lebih parah dia emosinya yang berubah-ubah.
-----
#SUAMI_KU
Part.28
======
Kulihat Mas Jaya mendekatiku yang lagi duduk diayunan.
"Zahra, kita keluar kota yuk."
" Kita kemana?"
" Nanti kamu juga tau."
" Kamu kan sakit Mas."
" Aku sehat Zahra. Kalau kamu nggak mau ikut,aku mau keluar kota 3hari." Diapun berlalu dari hadapanku menuju kamar.
Aku melangkahkan kakiku ke ruang tengah. Belum sampai aku menuju ruang tengah kudengar suara bell berbunyi. Begitu aku membuka pintu kulihat Mbak Ratna yang datang, dan ada seorang wanita yang menurut perkiraanku tidak jauh berbeda dengan Mbak Ratna.
Kupersilahkan mereka duduk.
" Mbak mau minum apa?" Tanyaku menawarkan minum sama Mbak Ratna dan temannya.
" Mbak kesini mau ketemu Heru, ini kenalin Adik sepupu Mbak dari pihak Almarhum Papa."
Lalu aku berkenalan dan menyebutkan nama masing-masing.
Pada saat aku mau bangun dari dudukku untuk mengambilkan minum, Mbak Ratna langsung bagkit dari duduknya.
" Udah Mbak ambil sendiri." Lalu dia melangkah kedalam.
"Rumahmu nyaman juga Za, kita duduk di taman ini aja yuk Za." Ajak Mbak Ratna.
Kulihat Mas Jaya turun, dengan menenteng koper kecil. Dilihatnya ada Mbak Ratna, dia langsung menarik Mbak Ratna menjauh dariku. Nggak seberapa lama mereka kembali tempat aku dan Mbak Tia, diapun bersalaman dengan sepupu Mbak Ratna.
" Za, ini karena kita di rumah ya, jadi nggak usah formal-formal. Tia ini mantannya Heru. Makanya begitu ngelihat Tia dia agak canggung." Ucap Mbak Ratna sambil melangkah ke dapur dan membuka kulkas. " Satu hal yang paling penting Ru, di dalam rumah tangga itu butuh kejujuran dan saling keterbukaan, gua udah lakuin itu, dan Fajar terima gua apa adanya tanpa ada kebohongan apapun. Nasib baik lu, dapat istri seperti Zahra. Kalau lu nikah sama Tia, yang ada neraka rumah tangga lu."
Ucapan Mbak Ratna buat aku sedikit kaget.
" Kita jadi pergi sayang. Kamu ganti gih, pakaian kamu yang mau dibawa dah aku letakin dalam koper ini." Ucap Mas Jaya kepadaku, untuk mengalihkan pembicaraan Mbak Ratna.
Sebelum aku melangkahkan kaki, kusempatkan melihat dari ekor mataku antara Mbak Tia dan Mas Jaya yang saling pandang.
" Lo jadi juga pergi kesana?" Tanya Mbak Ratna pada Mas Jaya.
" Iya!"
" Semoga ada kebaikan ya, Gua doain. Salam sama beliau."
Aku pergi menuju kamarku, sementara Mbak Ratna dan Mas Jaya langsung ke ruang tamu, disusul Mbak Tia.
Setelah aku selesai, aku menemui Bi Ijah untuk pamit. Kuhampiri Mas Jaya, Mbak Ratna dan Mbak Tia yang masih duduk di ruang tamu.
Beberapa kali aku bertemu mata dengan Mbak Tia yang memperhatikanku. Pada saat Mbak Ratna dan sepupunya mau pulang Mbak Tia sempat mengucapkan " Istri lo cantik dan baik jangan sia-siakan" lalu di sambut kelekar Mbak Ratna " Cuma Zahra, yang bisa menaklukkan jiwa Iblisnya."
" Kita Jadi berangkat Mas?" Tanyaku pada Mas Jaya, yang masih berdiri di depan pintu.
" Jadi."
Lalu dia memanggil Bi Ijah, menyuruh Bi Ijah untuk menutup pintu.
******
"Kita sebenarnya mau kemana sih Mas?"
Sekilas dia melihatku dan tersenyum, lalu memalingkan wajahnya fokus kearah jalan.
" Kita ke perkebunan teh. Nanti juga kamu bakal tau zahra."
Hampir tiga jam perjalanan aku dan Mas Jaya hanya diam. Seperti ada hal yang dia fikirkan.
Kulihat Mas Jaya memasuki halaman sebuah rumah panggung bergaya moderen yang cukup asri. banyaknya aneka bunga, dan beberapa sayuran yang ditanam secara hydroponik. Sebelum mengajakku keluar dari mobil Mas Jaya memegang tanganku.
Ada sedikit keraguan dalam dirinya.
" Ayolah turun, aku nggak sanggup bicara." Ajak Mas Jaya.
Diletakkannya jari-jarinya disela jariku, kurasakan jarinya sangat dingin.
Diarahkannya langkah kakiku menuju halaman belakang rumah. Ku lihat sosok wanita yang setengah baya, yang sedang menyirami beberapa tanaman.
" Mas, itu.... " Kuarahkan pandanganku ke Mas Jaya. Dia mengangguk dan menjawabku.
" Iya itu Mama. Semoga dia mau bicara denganmu. Temuilah."
Kuhampiri wanita yang sedang menyiram tanaman dengan posisi membelakangiku.
Sedikit ragu aku untuk mendekatinya, tapi kuberanikan juga mengucapkan salam. Mendengar ada yang mengucap salam, wanita itu langsung membalikkan badannya dan diam mengamatiku dari atas sampai bawah.
" Ini Zahra Ma, menantu Mama."
" Allahu Akbar Nak.. pangling Mama.." langsung dia menciumi wajahku. Diajaknya aku masuk ke dalam rumah, disaat aku dan Ibu mertuaku melewati Mas Jaya, beliau sama sekali tidak menegur Mas Jaya, bahkan merasa seolah-olah tidak ada orang lain.
" Mama sendirian aja tinggal disini, bukannya Mama di Sumatera?" Tanyaku begitu masuk ke dalam rumah.
"Mama sama Wulan dan Bi Yanti. Mama udah lama disini, kamu menikahpun Mama udah disini. Apa suamimu bilang Mama di Sumatera?"
Kulirik Mas Jaya yang sedang berdiri di depan pintu. Ada tanda tanya dalam hatiku melihat sikap Mama Mertuaku yang dingin terhadap Anaknya.
" Kamu istrirahat ya Nak, Mama tau kamu pasti capek, kasihan kamu perjalanan jauh dengan kondisi seperti ini. Mama senang kamu mau datang." Diantarnya aku masuk ke dalam kamar.
Setelah beliau keluar kulihat Mas Jaya masuk ke dalam kamar, dan mengunci pintu.
Direbahkannya tubuhnya diatas ranjang.
" Syukurlah Mama mau bicara denganmu."
" Hari ini Aku merasa melalui hal-hal aneh." Kubuka jendela yang ada di kamar itu lebar-lebar agar udaranya berganti.
"Nggak ada yang aneh, kalaupun ada itu kamu yang aneh."
Didekatinya aku yang sedang berdiri di depan jendela. Dipegangnya kedua bahuku.
" Kamu mau apa?"
"Aku cuma ingin menyapa anakku Zahra, diamlah." Direndahkannya tubuhnya mendekati perutku dengan bertumpu diatas lutut.
"Anak Papa pasti senangkan ketemu sama Nenek, tolong bilang sama Nenek dan Mamamu, Papa rindu sama mereka. Yang paling penting dan paling utama, tolong bilang sama Mama, malam ini izinkan Papa menjengukmu." lalu dia mencium perutku, dan berdiri sambil memandangiku. Aku yang dipandangi mengerutkan dahiku.
" Sepertinya aku kehilangam sesuatu" Dikelilinginya tubuhku, dipegangnya daguku dan dimiringkannya wajahku ke kanan dan kekiri.
" Kok nggak ada ya.. " Kulihat dia memegangi tubuhnya, seperti mencari sesuatu. " Mungkin diatas tempat tidur." Ucapnya. Dirabanya setiap sudut tempat tidur, diangkatnya bantal yang ada.
" Kamu cari apa?" Tanyaku dengan heran.
" Duduklah, mungkin memang aku akan kehilangan itu untuk selamanya." Diajaknya aku duduk disisi tempat tidur.
" Kamu itu ngomong yang jelas, jangan bertele-tele. Eh, kamu bener udah sehat Mas?"
" Kamu nggak sadar habis kamu gampar aku tadi, pusingku langsung hilang."
" Mas, tadi aku namparnya cuma sebelah loh, harusnya sebelah lagi biar balance" Ucapku sambil tersenyum.
" Nah!! ketemu yang ku cari, tahan ekspresinya. Jangan ngomong, tahan seperti itu."
Diajaknya aku berdiri didepan cermin. " kamu udah lihat. itu yang kucari dari tadi." Ditunjuknya bibirku.
" Serasa ada kupu-kupu yang terbang dalam perutku, melihat senyummu." Ucapnya pelan persis ditelingaku. Lantas dikecupnya bibirku dengan cepat.
" Manis, sayang." Lalu dia keluar meninggalkanku yang masih diam, berdiri didepan cermin.
Aku cuma bisa geleng kepala melihat tingkahnya.
Tinggal aku sendiri di kamar ini, apa sebenarnya yang terjadi dengan keluarga ini.
Terlalu banyak hal ditutupi sama Mas Jaya, kenapa susah sekali untuk dia bicara.
Sudahlah, semakin aku fikirkan samakin nggak ketemu alurnya, biarkan sajalah toh dengan aku diamkan, perlahan semuanya terbuka.
Kubaringkan tubuhku yang memang rasanya sudah lelah. Perlahan tanpa sadar akupun sudah tertidur.
-----
-----
Part.28
======
Kulihat Mas Jaya mendekatiku yang lagi duduk diayunan.
"Zahra, kita keluar kota yuk."
" Kita kemana?"
" Nanti kamu juga tau."
" Kamu kan sakit Mas."
" Aku sehat Zahra. Kalau kamu nggak mau ikut,aku mau keluar kota 3hari." Diapun berlalu dari hadapanku menuju kamar.
Aku melangkahkan kakiku ke ruang tengah. Belum sampai aku menuju ruang tengah kudengar suara bell berbunyi. Begitu aku membuka pintu kulihat Mbak Ratna yang datang, dan ada seorang wanita yang menurut perkiraanku tidak jauh berbeda dengan Mbak Ratna.
Kupersilahkan mereka duduk.
" Mbak mau minum apa?" Tanyaku menawarkan minum sama Mbak Ratna dan temannya.
" Mbak kesini mau ketemu Heru, ini kenalin Adik sepupu Mbak dari pihak Almarhum Papa."
Lalu aku berkenalan dan menyebutkan nama masing-masing.
Pada saat aku mau bangun dari dudukku untuk mengambilkan minum, Mbak Ratna langsung bagkit dari duduknya.
" Udah Mbak ambil sendiri." Lalu dia melangkah kedalam.
"Rumahmu nyaman juga Za, kita duduk di taman ini aja yuk Za." Ajak Mbak Ratna.
Kulihat Mas Jaya turun, dengan menenteng koper kecil. Dilihatnya ada Mbak Ratna, dia langsung menarik Mbak Ratna menjauh dariku. Nggak seberapa lama mereka kembali tempat aku dan Mbak Tia, diapun bersalaman dengan sepupu Mbak Ratna.
" Za, ini karena kita di rumah ya, jadi nggak usah formal-formal. Tia ini mantannya Heru. Makanya begitu ngelihat Tia dia agak canggung." Ucap Mbak Ratna sambil melangkah ke dapur dan membuka kulkas. " Satu hal yang paling penting Ru, di dalam rumah tangga itu butuh kejujuran dan saling keterbukaan, gua udah lakuin itu, dan Fajar terima gua apa adanya tanpa ada kebohongan apapun. Nasib baik lu, dapat istri seperti Zahra. Kalau lu nikah sama Tia, yang ada neraka rumah tangga lu."
Ucapan Mbak Ratna buat aku sedikit kaget.
" Kita jadi pergi sayang. Kamu ganti gih, pakaian kamu yang mau dibawa dah aku letakin dalam koper ini." Ucap Mas Jaya kepadaku, untuk mengalihkan pembicaraan Mbak Ratna.
Sebelum aku melangkahkan kaki, kusempatkan melihat dari ekor mataku antara Mbak Tia dan Mas Jaya yang saling pandang.
" Lo jadi juga pergi kesana?" Tanya Mbak Ratna pada Mas Jaya.
" Iya!"
" Semoga ada kebaikan ya, Gua doain. Salam sama beliau."
Aku pergi menuju kamarku, sementara Mbak Ratna dan Mas Jaya langsung ke ruang tamu, disusul Mbak Tia.
Setelah aku selesai, aku menemui Bi Ijah untuk pamit. Kuhampiri Mas Jaya, Mbak Ratna dan Mbak Tia yang masih duduk di ruang tamu.
Beberapa kali aku bertemu mata dengan Mbak Tia yang memperhatikanku. Pada saat Mbak Ratna dan sepupunya mau pulang Mbak Tia sempat mengucapkan " Istri lo cantik dan baik jangan sia-siakan" lalu di sambut kelekar Mbak Ratna " Cuma Zahra, yang bisa menaklukkan jiwa Iblisnya."
" Kita Jadi berangkat Mas?" Tanyaku pada Mas Jaya, yang masih berdiri di depan pintu.
" Jadi."
Lalu dia memanggil Bi Ijah, menyuruh Bi Ijah untuk menutup pintu.
******
"Kita sebenarnya mau kemana sih Mas?"
Sekilas dia melihatku dan tersenyum, lalu memalingkan wajahnya fokus kearah jalan.
" Kita ke perkebunan teh. Nanti juga kamu bakal tau zahra."
Hampir tiga jam perjalanan aku dan Mas Jaya hanya diam. Seperti ada hal yang dia fikirkan.
Kulihat Mas Jaya memasuki halaman sebuah rumah panggung bergaya moderen yang cukup asri. banyaknya aneka bunga, dan beberapa sayuran yang ditanam secara hydroponik. Sebelum mengajakku keluar dari mobil Mas Jaya memegang tanganku.
Ada sedikit keraguan dalam dirinya.
" Ayolah turun, aku nggak sanggup bicara." Ajak Mas Jaya.
Diletakkannya jari-jarinya disela jariku, kurasakan jarinya sangat dingin.
Diarahkannya langkah kakiku menuju halaman belakang rumah. Ku lihat sosok wanita yang setengah baya, yang sedang menyirami beberapa tanaman.
" Mas, itu.... " Kuarahkan pandanganku ke Mas Jaya. Dia mengangguk dan menjawabku.
" Iya itu Mama. Semoga dia mau bicara denganmu. Temuilah."
Kuhampiri wanita yang sedang menyiram tanaman dengan posisi membelakangiku.
Sedikit ragu aku untuk mendekatinya, tapi kuberanikan juga mengucapkan salam. Mendengar ada yang mengucap salam, wanita itu langsung membalikkan badannya dan diam mengamatiku dari atas sampai bawah.
" Ini Zahra Ma, menantu Mama."
" Allahu Akbar Nak.. pangling Mama.." langsung dia menciumi wajahku. Diajaknya aku masuk ke dalam rumah, disaat aku dan Ibu mertuaku melewati Mas Jaya, beliau sama sekali tidak menegur Mas Jaya, bahkan merasa seolah-olah tidak ada orang lain.
" Mama sendirian aja tinggal disini, bukannya Mama di Sumatera?" Tanyaku begitu masuk ke dalam rumah.
"Mama sama Wulan dan Bi Yanti. Mama udah lama disini, kamu menikahpun Mama udah disini. Apa suamimu bilang Mama di Sumatera?"
Kulirik Mas Jaya yang sedang berdiri di depan pintu. Ada tanda tanya dalam hatiku melihat sikap Mama Mertuaku yang dingin terhadap Anaknya.
" Kamu istrirahat ya Nak, Mama tau kamu pasti capek, kasihan kamu perjalanan jauh dengan kondisi seperti ini. Mama senang kamu mau datang." Diantarnya aku masuk ke dalam kamar.
Setelah beliau keluar kulihat Mas Jaya masuk ke dalam kamar, dan mengunci pintu.
Direbahkannya tubuhnya diatas ranjang.
" Syukurlah Mama mau bicara denganmu."
" Hari ini Aku merasa melalui hal-hal aneh." Kubuka jendela yang ada di kamar itu lebar-lebar agar udaranya berganti.
"Nggak ada yang aneh, kalaupun ada itu kamu yang aneh."
Didekatinya aku yang sedang berdiri di depan jendela. Dipegangnya kedua bahuku.
" Kamu mau apa?"
"Aku cuma ingin menyapa anakku Zahra, diamlah." Direndahkannya tubuhnya mendekati perutku dengan bertumpu diatas lutut.
"Anak Papa pasti senangkan ketemu sama Nenek, tolong bilang sama Nenek dan Mamamu, Papa rindu sama mereka. Yang paling penting dan paling utama, tolong bilang sama Mama, malam ini izinkan Papa menjengukmu." lalu dia mencium perutku, dan berdiri sambil memandangiku. Aku yang dipandangi mengerutkan dahiku.
" Sepertinya aku kehilangam sesuatu" Dikelilinginya tubuhku, dipegangnya daguku dan dimiringkannya wajahku ke kanan dan kekiri.
" Kok nggak ada ya.. " Kulihat dia memegangi tubuhnya, seperti mencari sesuatu. " Mungkin diatas tempat tidur." Ucapnya. Dirabanya setiap sudut tempat tidur, diangkatnya bantal yang ada.
" Kamu cari apa?" Tanyaku dengan heran.
" Duduklah, mungkin memang aku akan kehilangan itu untuk selamanya." Diajaknya aku duduk disisi tempat tidur.
" Kamu itu ngomong yang jelas, jangan bertele-tele. Eh, kamu bener udah sehat Mas?"
" Kamu nggak sadar habis kamu gampar aku tadi, pusingku langsung hilang."
" Mas, tadi aku namparnya cuma sebelah loh, harusnya sebelah lagi biar balance" Ucapku sambil tersenyum.
" Nah!! ketemu yang ku cari, tahan ekspresinya. Jangan ngomong, tahan seperti itu."
Diajaknya aku berdiri didepan cermin. " kamu udah lihat. itu yang kucari dari tadi." Ditunjuknya bibirku.
" Serasa ada kupu-kupu yang terbang dalam perutku, melihat senyummu." Ucapnya pelan persis ditelingaku. Lantas dikecupnya bibirku dengan cepat.
" Manis, sayang." Lalu dia keluar meninggalkanku yang masih diam, berdiri didepan cermin.
Aku cuma bisa geleng kepala melihat tingkahnya.
Tinggal aku sendiri di kamar ini, apa sebenarnya yang terjadi dengan keluarga ini.
Terlalu banyak hal ditutupi sama Mas Jaya, kenapa susah sekali untuk dia bicara.
Sudahlah, semakin aku fikirkan samakin nggak ketemu alurnya, biarkan sajalah toh dengan aku diamkan, perlahan semuanya terbuka.
Kubaringkan tubuhku yang memang rasanya sudah lelah. Perlahan tanpa sadar akupun sudah tertidur.
-----
#SUAMIKU
PART29
=======
" Sayang, bangun udah sore." Samar-samar kudengar suara Mas Jaya membangunkanku.
" Kamu ganggu aja sih Mas." Tiba-tiba kurasakan ada yang mencium bibirku.
" Kamu apaan sih, aku masih ngantuk Mas."
" Ini udah mau Magrib sayang, kamu belum mandi. Mama juga nunggu kamu."
" Ya udah, aku mandi dulu." Kubongkar isi koperku untuk ngambil handuk dan pakaian.
" Mas, kamu nggak salah bawakan aku pakaian?" Karena hanya ada beberapa daster batik pendek diatas lutut, dan semua tanpa lengan.
" Kan kamu sering pakai itu." Ucapnya seperti orang tanpa beban.
" Kamu ajak aku tinggal di pegunungan, dengan udara dingin begini, trus kamu suruh aku pakai baju seperti ini?" Kubulatkan mataku memandangnya.
Kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Begitu aku mau menutup pintu Mas Jaya memanggilku.
" Sayang, kamu nggak mau ajak aku mandi bareng?"
Kunaikkan alisku, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.
" Aku tambah masuk angin kamu buat nanti. Jadi maaf ya suamiku, muach" Langsung kututup pintu dan tak lupa aku menguncinya.
Selesai mandi aku keluar dari kamar mandi hanya mengenakan kimono handuk. Kulihat Mas Jaya masih duduk diatas sisi tempat tidur.
" Nggak mungkin aku keluar pakai inikan. Kamu pinjam baju Mama atau Wulan deh."
" Cium aku dulu" Ucapnya sambil memajukan bibirnya.
Bukan menciumnya, aku malah duduk dipangkuannya,melingkarkan tanganku dilehernya dan mengecup lembut pipinya.
" Sayanggg... aku tau kamu pasti ingin lebih dari itukan?" Ucapku lembut ditelinga sebelah kirinya serta mengecup telinganya.
" Bolehkan?" Diarahkannya wajahku percis di depan wajahnya.
" Boleh, tapi sekarang carikan aku baju ya." Dianggukkan kepalanya dengan pelan. Lalu kukecup dan kucium kembali bibirnya.
Sebelum aku kehabisan oksigen, kutarik wajahku menjauh dari wajahnya.
" Kenapa?"
" Kamu terlalu menggairahkan sayang, jangan buat aku mandi dua kali sore ini." Sambil kusentuh ujung hidungnya dengan hidungku.
" Yaudah aku tanya Wulan dulu." Dan akupun turun dari pangkuannya.
Terkadang kau memang menyebalkan Tuan Heru Sanjaya. Tapi bodohnya aku bisa menyukaimu. Rutukku dalam hati.
Sambil menunggu Mas Jaya membawakan baju, kugunakan waktu untuk memakai pelembab dan bedak.
" Zahra, kamu dah bangun Nak?" Ku dengar suara Mama Mertuaku sedang memanggil.
" Udah Ma." Sambil membuka pintu. " Ma, Mama ada daster yang bisa Za pakai?" Tanyaku pada saat berhadapan dengan Ibu Mertua.
" Ada bentar ya." Segera beliau meninggalkanku. Nggak seberapa lama, kudengar pintu kamarku kembali diketuk, dan kembali suara Mama mertuaku yang memanggil, dan menyerahkan apa yang kuminta.
Pada saat aku membuka pintu mau keluar kamar, Mas Jaya sudah ada didepan pintu.
" Kamu dah ganti?" Tanya Mas Jaya.
" Udah dong.. kamu telat sayang." Kukembangkan senyum padanya.
" Lagi-lagi senyuman licik itu yang kau tunjukkan!" Ucapnya dengan sedikit kesal.
Kutarik kerah bajunya, dan mendekatkan wajahku ketelinganya.
" Sayang, aku mau yang lebih hot lagi, tapi tunggu beberapa hari ya." Ucapku dengan sedikit manja, lalu mengecup telinganya. Setelah itu kukedipkan mataku dan pergi meninggalkannya, untuk bergabung dengan Adik Ipar dan Mertuaku.
" Kau memang menyebalkan Zahra!" Ucapnya dengan berteriak, dan memukul daun pintu dengan keras.
Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya. Kulihat Mama mertuaku yang sedang menata makanan diatas meja makan.
"Apa kamu habis menggodanya makanya dia berteriak seperti itu?" Tanya Mama Mertuaku yang masih sibuk menata makanan.
" Enggak, akhir-akhir ini anak Mama memang suka marah-marah."
Mataku tertuju pada gorengan bakwan sayur yang ada diatas piring. Pada saat aku ingin mengambilnya, tanganku langsung ditepis sama beliau.
" Kelihatannya enak Ma, satttuuuuu aja boleh ya, Mama mertuaku yang cantiiikkkk " Kupandang Mama mertuaku dengan sedikit memelas.
" Setelah menggodanya, sekarang kamu merayu Mama." Kulihat dia tersenyum. Senyumnya sangat mirip dengan anak laki-lakinya. Kalau kuperhatikan wajah Mas Jaya lebih mirip dengan Mamanya.
" Duduklah, itu jatah suamimu. untuk kamu udah Mama siapin, sayurannya lebih banyak." Ucapnya sambil tersenyum.
Aku segera menarik kursi untuk duduk, dan Mama mertuaku juga duduk disebelahku, dengan telaten dia menyuapiku makan gorengan yang kumau, nggak lama Wulan yang tadi masih asik dengan HPnya datang dan duduk diselah kanan Mama. Aku dan Wulan disuapi secara bergantian. Benar-benar kurasakan kasih sayang seorang Ibu yang luar biasa, kuperhatikan adik iparku bercerita dengan Mamanya seperti seorang teman. Disini ak diperlakukan dengan baik, penuh kasih sayang, tapi kalau Mas Jaya yang ke rumahku. Kuingat terakhir kali dia bilang rumahku mulai horor. " Maaf ya Mas, kalau Ibuku belum bisa menerimamu." Ucapku dalam hati.
Selesai Shalat Magrib, Mas Jaya keluar bersama Bi Yanti, dan Mama masuk ke dalam kamarnya. Tinggal aku dan Wulan yang lagi menonton TV.
" Ayu, kemana?" Tanyaku pada adik iparku itu.
" Apa Kakak nggak tau Kak Ayu sudah nikah lagi, Bang Heru nggak bilang?" Dia bertanya balik.
Aku gelengkan kepalaku. Kulihat Wulan menarik nafas.
" Maafin Abangku kalau dia banyak menyusahkanmu ya Kak."
" Kenapa orang-orang yang berhubungan lama dengannya memanggil dia Heru? Sementara yang Kakak tau namanya Jaya."
" Itupun Kakak nggak tau?"
Lagi-lagi aku menjawab pertanyaannya dengan menggeleng.
" Tapi lebih baiknya Kakak bertanya langsung dengan Abang, karena dia yang lebih berhak menjawab itu."
Diletakkannya kepalanya bersandar dilenganku.
" Aku, Mama, dan Kak Ayu berterima kasih banyak sama Kakak karena sudah merawatnya dengan baik, sejak dia menikah dia sudah nggak pernah minum alkohol lagi, nggak suka main perempuan lagi, dan sedikit demi sedikit Mama sudah mulai peduli sama dia."
" Apa?!" Cukup kaget aku mendengar ucapan Wulan. Tapi segera ku tutupi rasa kagetku.
" Kakak kok kaget, Aku bilang seperti itu."
" Yang buat Kakak kaget, apa iya orang seperti Kakak bisa merubahnya."
" Buktinya sekarang dia udah mulai kembali seperti Abang kami yang dulu lagi, yang sayang dengan semua orang. Sejak Papa meninggal, dan Kak Ria meninggal, Abang mulai berubah. Terakhir dia meninggalkan rumah, dia melawan dengan Mama, dia bilang karena kasih sayang Mama dan rasa belas kasih yang diajarkan Mamalah dia nggak bisa melakukan apapun.
Kepergian Abang yang kedua kali, buat orang satu kampung geger, karena dua hari setelah Abang pergi, orang yang memperkosa Kak Ria sampai meninggal ditemukan mati di hutan, kata orang mati dimakan harimau. Ada yang nuduh Abang yang bunuh, tapi nggak ada bukti karena Abang udah pergi, dan perginya juga naik pesawatkan, di Bandara juga ada terdaftar namanya waktu dia chek-in. Sejak itu Abang nggak pernah pulang. Pada saat abang pulang dia jemput kami dan ngajak tinggal disini. Waktu iu Wulan masih sekolah.
Waktu Abang mau pergi dia pamit sama Ulan dan Kak Ayu, dia juga minta maaf sama Kak Ayu, karena dia, Kak Ayu diceraikan suaminya, sama Ulan juga dia minta maaf, karena dia Ulan kehilangan kasih sayang Papa. Tapi dia janji kalau dia akan bawa kami pergi jauh dari kampung. Abang janji dia akan memberikan kasih sayang yang sama seperti Papa berikan." Kurasakan lenganku basah, aku tau Wulan sedang menangis.
Kuputar kembali memoriku, pada saat aku pertama kali bertemu dengan Mama dia cuma bilang " Calon suamimu bukan orang yang baik, saya Ibunya yang lebih tau tabiat dan prilakunya." Kuusap perutku, Kamu udah dengar semuanya dari Tantemu tentang masalalu Papamu, baik dan buruknya Papa, kamu beruntung. Sementara Mama sampai hari ini masih dibohongi sama Papamu.
Kudengar suara mobil memasuki pekarangan rumah, Wulan segera ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.
" Kamu kenapa sendirian duduk disini sayang?" Tanya Mas Jaya yang baru saja memasuki rumah. Pada saat aku ingin menjawabnya,
KuLihat Mama keluar dari kamar, kalau diperhatikan dengan seksama, sepertinya Mama habis nangis.
" Zahra, temani Mama makan yuk." Ajak Mama, pada saat melewati Mas Jaya dan Mama sempat meliriknya.
" Kamu juga belum makan kan Mas, ayo makan suapin Aku." Kutarik tangan Mas Jaya mengajaknya kemeja makan.
Suasanya dimeja makan ini rasanya sangat dingin sekali, nggak ada kehangatan, semuanya makan dengan raut wajah yang tegang. Beberapa kali kupandangi secara bergantian Ibu dan Anak itu saling mencuri pandang.
Kulihat diatas meja makan, satu menu yang nggak disentuh sama sekali.
" Ini ikan basi ya nggak ada yang makan." kutarik makanan yang ada dalam mangkok.
" Asam Mas, tapi enakloh. Suapin aku." Kurapatkan kursiku untuk lebih mendekat ke Mas Jaya, aku tau Mas Jaya sudah selesai makan, tapi sengaja kutahan biar dia nggak pergi ninggalkan meja makan yang masih ada Mama, dan Adiknya.
" Ini namanya asam keueng, ini masakan Aceh, enak ini sayang." Ucapnya setelah mencicipi sesendok kuah ikan.
"Aku mau, masa kamu nyuapnya untuk kamu aja" Sedikit merajuk aku keMas Jaya.,
"Aku udah lama nggak makan ini sayang hampir 15 tahun." Ucapnya spontan. " Enakkan?" Tanya Mas Jaya, setelah menyuapiku.
" Enak, sepertinya kamu pernah masak ini tapi nggak seenak ini." Kulirik Mama dan Wulan, mereka saling pandang.
" Iyalah inikan masakan Mamaku, apapun yang dimasaknya pasti enaklah." Kubiarkan dia menghabiskan ikan semangkok itu sendirian.
" Kamu rakus amat sih, tadi disitu nggak ada yang mau, udah giliran aku yang ambil, kamu habisin."
" Besok masakin lagi ya Ma." Spontan Mas Jaya menoleh dan bicara pada Mamanya.
Dan spontan juga Mama menjawab " Iya"
Wulan langsung memperhatikanku. Mama menyudahi makannya dan pergi ke dapur.
Duduk sama Bi Yanti, yang sedang makan dimeja dapur.
=====>>>>>
PART29
=======
" Sayang, bangun udah sore." Samar-samar kudengar suara Mas Jaya membangunkanku.
" Kamu ganggu aja sih Mas." Tiba-tiba kurasakan ada yang mencium bibirku.
" Kamu apaan sih, aku masih ngantuk Mas."
" Ini udah mau Magrib sayang, kamu belum mandi. Mama juga nunggu kamu."
" Ya udah, aku mandi dulu." Kubongkar isi koperku untuk ngambil handuk dan pakaian.
" Mas, kamu nggak salah bawakan aku pakaian?" Karena hanya ada beberapa daster batik pendek diatas lutut, dan semua tanpa lengan.
" Kan kamu sering pakai itu." Ucapnya seperti orang tanpa beban.
" Kamu ajak aku tinggal di pegunungan, dengan udara dingin begini, trus kamu suruh aku pakai baju seperti ini?" Kubulatkan mataku memandangnya.
Kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Begitu aku mau menutup pintu Mas Jaya memanggilku.
" Sayang, kamu nggak mau ajak aku mandi bareng?"
Kunaikkan alisku, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.
" Aku tambah masuk angin kamu buat nanti. Jadi maaf ya suamiku, muach" Langsung kututup pintu dan tak lupa aku menguncinya.
Selesai mandi aku keluar dari kamar mandi hanya mengenakan kimono handuk. Kulihat Mas Jaya masih duduk diatas sisi tempat tidur.
" Nggak mungkin aku keluar pakai inikan. Kamu pinjam baju Mama atau Wulan deh."
" Cium aku dulu" Ucapnya sambil memajukan bibirnya.
Bukan menciumnya, aku malah duduk dipangkuannya,melingkarkan tanganku dilehernya dan mengecup lembut pipinya.
" Sayanggg... aku tau kamu pasti ingin lebih dari itukan?" Ucapku lembut ditelinga sebelah kirinya serta mengecup telinganya.
" Bolehkan?" Diarahkannya wajahku percis di depan wajahnya.
" Boleh, tapi sekarang carikan aku baju ya." Dianggukkan kepalanya dengan pelan. Lalu kukecup dan kucium kembali bibirnya.
Sebelum aku kehabisan oksigen, kutarik wajahku menjauh dari wajahnya.
" Kenapa?"
" Kamu terlalu menggairahkan sayang, jangan buat aku mandi dua kali sore ini." Sambil kusentuh ujung hidungnya dengan hidungku.
" Yaudah aku tanya Wulan dulu." Dan akupun turun dari pangkuannya.
Terkadang kau memang menyebalkan Tuan Heru Sanjaya. Tapi bodohnya aku bisa menyukaimu. Rutukku dalam hati.
Sambil menunggu Mas Jaya membawakan baju, kugunakan waktu untuk memakai pelembab dan bedak.
" Zahra, kamu dah bangun Nak?" Ku dengar suara Mama Mertuaku sedang memanggil.
" Udah Ma." Sambil membuka pintu. " Ma, Mama ada daster yang bisa Za pakai?" Tanyaku pada saat berhadapan dengan Ibu Mertua.
" Ada bentar ya." Segera beliau meninggalkanku. Nggak seberapa lama, kudengar pintu kamarku kembali diketuk, dan kembali suara Mama mertuaku yang memanggil, dan menyerahkan apa yang kuminta.
Pada saat aku membuka pintu mau keluar kamar, Mas Jaya sudah ada didepan pintu.
" Kamu dah ganti?" Tanya Mas Jaya.
" Udah dong.. kamu telat sayang." Kukembangkan senyum padanya.
" Lagi-lagi senyuman licik itu yang kau tunjukkan!" Ucapnya dengan sedikit kesal.
Kutarik kerah bajunya, dan mendekatkan wajahku ketelinganya.
" Sayang, aku mau yang lebih hot lagi, tapi tunggu beberapa hari ya." Ucapku dengan sedikit manja, lalu mengecup telinganya. Setelah itu kukedipkan mataku dan pergi meninggalkannya, untuk bergabung dengan Adik Ipar dan Mertuaku.
" Kau memang menyebalkan Zahra!" Ucapnya dengan berteriak, dan memukul daun pintu dengan keras.
Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya. Kulihat Mama mertuaku yang sedang menata makanan diatas meja makan.
"Apa kamu habis menggodanya makanya dia berteriak seperti itu?" Tanya Mama Mertuaku yang masih sibuk menata makanan.
" Enggak, akhir-akhir ini anak Mama memang suka marah-marah."
Mataku tertuju pada gorengan bakwan sayur yang ada diatas piring. Pada saat aku ingin mengambilnya, tanganku langsung ditepis sama beliau.
" Kelihatannya enak Ma, satttuuuuu aja boleh ya, Mama mertuaku yang cantiiikkkk " Kupandang Mama mertuaku dengan sedikit memelas.
" Setelah menggodanya, sekarang kamu merayu Mama." Kulihat dia tersenyum. Senyumnya sangat mirip dengan anak laki-lakinya. Kalau kuperhatikan wajah Mas Jaya lebih mirip dengan Mamanya.
" Duduklah, itu jatah suamimu. untuk kamu udah Mama siapin, sayurannya lebih banyak." Ucapnya sambil tersenyum.
Aku segera menarik kursi untuk duduk, dan Mama mertuaku juga duduk disebelahku, dengan telaten dia menyuapiku makan gorengan yang kumau, nggak lama Wulan yang tadi masih asik dengan HPnya datang dan duduk diselah kanan Mama. Aku dan Wulan disuapi secara bergantian. Benar-benar kurasakan kasih sayang seorang Ibu yang luar biasa, kuperhatikan adik iparku bercerita dengan Mamanya seperti seorang teman. Disini ak diperlakukan dengan baik, penuh kasih sayang, tapi kalau Mas Jaya yang ke rumahku. Kuingat terakhir kali dia bilang rumahku mulai horor. " Maaf ya Mas, kalau Ibuku belum bisa menerimamu." Ucapku dalam hati.
Selesai Shalat Magrib, Mas Jaya keluar bersama Bi Yanti, dan Mama masuk ke dalam kamarnya. Tinggal aku dan Wulan yang lagi menonton TV.
" Ayu, kemana?" Tanyaku pada adik iparku itu.
" Apa Kakak nggak tau Kak Ayu sudah nikah lagi, Bang Heru nggak bilang?" Dia bertanya balik.
Aku gelengkan kepalaku. Kulihat Wulan menarik nafas.
" Maafin Abangku kalau dia banyak menyusahkanmu ya Kak."
" Kenapa orang-orang yang berhubungan lama dengannya memanggil dia Heru? Sementara yang Kakak tau namanya Jaya."
" Itupun Kakak nggak tau?"
Lagi-lagi aku menjawab pertanyaannya dengan menggeleng.
" Tapi lebih baiknya Kakak bertanya langsung dengan Abang, karena dia yang lebih berhak menjawab itu."
Diletakkannya kepalanya bersandar dilenganku.
" Aku, Mama, dan Kak Ayu berterima kasih banyak sama Kakak karena sudah merawatnya dengan baik, sejak dia menikah dia sudah nggak pernah minum alkohol lagi, nggak suka main perempuan lagi, dan sedikit demi sedikit Mama sudah mulai peduli sama dia."
" Apa?!" Cukup kaget aku mendengar ucapan Wulan. Tapi segera ku tutupi rasa kagetku.
" Kakak kok kaget, Aku bilang seperti itu."
" Yang buat Kakak kaget, apa iya orang seperti Kakak bisa merubahnya."
" Buktinya sekarang dia udah mulai kembali seperti Abang kami yang dulu lagi, yang sayang dengan semua orang. Sejak Papa meninggal, dan Kak Ria meninggal, Abang mulai berubah. Terakhir dia meninggalkan rumah, dia melawan dengan Mama, dia bilang karena kasih sayang Mama dan rasa belas kasih yang diajarkan Mamalah dia nggak bisa melakukan apapun.
Kepergian Abang yang kedua kali, buat orang satu kampung geger, karena dua hari setelah Abang pergi, orang yang memperkosa Kak Ria sampai meninggal ditemukan mati di hutan, kata orang mati dimakan harimau. Ada yang nuduh Abang yang bunuh, tapi nggak ada bukti karena Abang udah pergi, dan perginya juga naik pesawatkan, di Bandara juga ada terdaftar namanya waktu dia chek-in. Sejak itu Abang nggak pernah pulang. Pada saat abang pulang dia jemput kami dan ngajak tinggal disini. Waktu iu Wulan masih sekolah.
Waktu Abang mau pergi dia pamit sama Ulan dan Kak Ayu, dia juga minta maaf sama Kak Ayu, karena dia, Kak Ayu diceraikan suaminya, sama Ulan juga dia minta maaf, karena dia Ulan kehilangan kasih sayang Papa. Tapi dia janji kalau dia akan bawa kami pergi jauh dari kampung. Abang janji dia akan memberikan kasih sayang yang sama seperti Papa berikan." Kurasakan lenganku basah, aku tau Wulan sedang menangis.
Kuputar kembali memoriku, pada saat aku pertama kali bertemu dengan Mama dia cuma bilang " Calon suamimu bukan orang yang baik, saya Ibunya yang lebih tau tabiat dan prilakunya." Kuusap perutku, Kamu udah dengar semuanya dari Tantemu tentang masalalu Papamu, baik dan buruknya Papa, kamu beruntung. Sementara Mama sampai hari ini masih dibohongi sama Papamu.
Kudengar suara mobil memasuki pekarangan rumah, Wulan segera ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.
" Kamu kenapa sendirian duduk disini sayang?" Tanya Mas Jaya yang baru saja memasuki rumah. Pada saat aku ingin menjawabnya,
KuLihat Mama keluar dari kamar, kalau diperhatikan dengan seksama, sepertinya Mama habis nangis.
" Zahra, temani Mama makan yuk." Ajak Mama, pada saat melewati Mas Jaya dan Mama sempat meliriknya.
" Kamu juga belum makan kan Mas, ayo makan suapin Aku." Kutarik tangan Mas Jaya mengajaknya kemeja makan.
Suasanya dimeja makan ini rasanya sangat dingin sekali, nggak ada kehangatan, semuanya makan dengan raut wajah yang tegang. Beberapa kali kupandangi secara bergantian Ibu dan Anak itu saling mencuri pandang.
Kulihat diatas meja makan, satu menu yang nggak disentuh sama sekali.
" Ini ikan basi ya nggak ada yang makan." kutarik makanan yang ada dalam mangkok.
" Asam Mas, tapi enakloh. Suapin aku." Kurapatkan kursiku untuk lebih mendekat ke Mas Jaya, aku tau Mas Jaya sudah selesai makan, tapi sengaja kutahan biar dia nggak pergi ninggalkan meja makan yang masih ada Mama, dan Adiknya.
" Ini namanya asam keueng, ini masakan Aceh, enak ini sayang." Ucapnya setelah mencicipi sesendok kuah ikan.
"Aku mau, masa kamu nyuapnya untuk kamu aja" Sedikit merajuk aku keMas Jaya.,
"Aku udah lama nggak makan ini sayang hampir 15 tahun." Ucapnya spontan. " Enakkan?" Tanya Mas Jaya, setelah menyuapiku.
" Enak, sepertinya kamu pernah masak ini tapi nggak seenak ini." Kulirik Mama dan Wulan, mereka saling pandang.
" Iyalah inikan masakan Mamaku, apapun yang dimasaknya pasti enaklah." Kubiarkan dia menghabiskan ikan semangkok itu sendirian.
" Kamu rakus amat sih, tadi disitu nggak ada yang mau, udah giliran aku yang ambil, kamu habisin."
" Besok masakin lagi ya Ma." Spontan Mas Jaya menoleh dan bicara pada Mamanya.
Dan spontan juga Mama menjawab " Iya"
Wulan langsung memperhatikanku. Mama menyudahi makannya dan pergi ke dapur.
Duduk sama Bi Yanti, yang sedang makan dimeja dapur.
=====>>>>>
-----
#SUAMI_KU
Part 30
=======
====>>>
Aku tau bahwa Mama Mertuaku sangat menyayangi putranya, terbukti dengan dia memasak apa yang menjadi kesukaan anaknya. Aku akan belajar seperti kamu Ma, kelak akupun akan menjadi seorang Ibu, membesarkan anak-anak dengan cinta dan kasih sayang. Seperti apapun putramu, kamu tetap menyayanginya meskipun dalam diammu.
" Perutku kenyang banget sayang, aduh..... sakit banget rasanya."
Kulihat Mas Jaya sedikit susah bernafas.
Perlahan dia jalan keruang TV. Aku sempat tertawa lihat dia berjalan sambil memegangi perutnya.
" Kamu ngetawain aku!"
" kamu baru kekenyangan makanan nggak sampe jumlahnya dua kilo udah nggak sanggup jalan, gimana seperti aku."
Disandarkannya badannya didinding, Wulanpun duduk disampingnya.
" Abang mau makan lagi nggak?" Perlahan Wulan menyuapkan puding mangga kemulutnya sendiri.
" Enak loh Bang, ini mangga kita sediri." Ucap Wulan.
"Kamu mau membunuhku!"
"Ambil bantal Lan, dah nggak kuat Abang jalan lagi." Ucap Mas Jaya pada Wulan dengan sedikit meringis menahan sakit perutnya.
Melihat dia meringis seperti itu aku juga nggak tega melihatnya.
Wulan udah datang membawa beberapa bantal.
" Dek, tolong ambilkan tas Kakak di Kamar, maaf ya kalau ngerepotin." Ucapku pada Wulan.
Mama pun datang menghampiri, melihatnya merintih menahankan sakit.
"Kenapa dia?" Tanya Mama.
" Kekenyangan, jadi sakit perutnya Ma." Jawabku.
" Itu bukan kekenyangan aja, tadi itu ikannya kepedesan, cabe yang dipakai juga cabe rawit semua. Mama nggak nyangka dia akan habisin semuanya."
" Trus gimana dong Ma?" Tanyaku sedikit khawatir.
" Kasih minyak angin aja." Jawab Mama.
Kudengar Mas Jaya masih merintih merasakan sakit diperutnya.
" Ayo ke kamar aja biar aku obati."
" Aku nggak kuat jalan Zahra, disini aja." Ucapnya dengan lirih.
" Geseran kesudut ya, siapa tau Wulan atau yang lain mau nonton."
Kunaikkan sedikit bajunya, untuk mengoleskan minyak telon diperutnya.
" Jangan pakai minyak telon, aku nggak suka baunya." Disingkirkannya minyak telon dari tanganku.
"Trus pakai apa?" Tanyaku.
" Minya zaitun kamu aja." Ucapnya pelan, masih dengan merintih menahankan rasa sakit.
" Mana ada minyak zaitun menghilangkan rasa sakit."Ucap Ulan Menimpali ucapan Mas Jaya.
Diambilnya botol Minyak dari tanganku, dilemparkannya ke arah Wulan.
" Udah nggak usah berantem. Emang benar kata Ulan" Sambil kupukul perut Mas Jaya yang sedang kuolesi minyak.
Dimiringkannya tubuhnya kearahku, diletakkanya tangannya diatas pahaku, masih kudengar suara rintihannya, tapi sudah nggak merintih sekuat tadi. Perlahan suara rintihannya hilang.
"Tidur Kak?" Tanya Wulan.
" Sepertinya." Jawabku.
Akupun berdiri karena udah terlalu pegal pinggangku rasanya duduk berlama-lama.
Kuhampiri Mama mertuaku yang sedang ada di dapur, yang sedang mencuci kacang hijau.
" Mama mau masak bubur kacang ijo?"
" Untuk besok, direndam dulu malam ini, Heru senang makan itu."
"Ma.. Masih ada pudingnya?"
" Itu untuk Heru."
Kupegang kedua tangan Mama mertuaku. "Kalau yang mau makan cucu Mama boleh nggak?" Ku naikkan kedua alisku.
" Kamu?!" Diliriknya perutku.
Kuanggukkan pelan kepalaku.
" Boleh Nak, ayo duduk dulu. Besok Mama buat yang baru untuk dia. Udah berapa bulan sayang?" Sambil mengambilkan puding mangga yang ada dikulkas.
" Udah lima bulan."
" Ngak terlalu kelihatan" Ucapnya.
" Iya, tapi kalau dipegang udah kerasa."
" Rencana kalian sampai berapa lama disini?" Tanya Mama yang sekarang sedang duduk di depanku
" Lusa juga udah pulang." Sambil menyuapkan puding kemulutku.
Kulihat ada sedikit kekecewaan dalam raut wajahnya.
" Jaga calon cucu mama baik-baik ya." Ucapnya pelan.
Lalu aku berdiri, berjalan kearah Mama, dan memeluknya dari belakang.
" Kami akan disini sampai Mama bosan lihat kami, sampai Mama yang mengusir sendiri Anak, Menantu dan Cucu Mama." Lalu kukecup pipinya.
Kutarik kursi kosong yang ada didekatnya, kugenggam erat-erat jemari Mertuaku itu.
" Maaa.. Terimakasih, sudah melahirkan, mendidik, menjaganya sampai seperti sekarang. Terimakasih juga membesarkannya dengan kasih sayang dan cinta, sehingga dia juga bisa menyayangiku, dan menjagaku dengan cinta dan kasih sayang."
Diraihnya kedua pipiku dan dihujaninya aku dengan ciumannya.
" Tapi Mama sudah gagal mendidiknya." Ucapnya lirih dengan suara bergertar.
"Mama bukan gagal mendidiknya, Maaa... Anak Mama itu pernah bilang, setinggi-tinggi bangau terbang pulangnya pasti ke kubangan juga, sejauh-jauh ombak pergi akhirnya akan ke Pantai juga. Dan Anak Mamapun seperti itu juga."
Kulihat matanya mulai berkaca-kaca. Ditundukkan kepalanya.
"Mama kecewa dengannya."
Kupeluk beliau.
"Zahra nggak tau apa yang Mama kecewakan dengannya, sebagai isrtrinya, Zahra minta maaf atas perbuatan Mas yang udah buat Mama kecewa ya."
Bukan hanya Mama yang kecewa dengannya, akupun kecewa dengannya Ma. Bisik hatiku.
" Zahra udah ngantuk Ma, Za ke kamar duluan ya." Kulepaskan pelukanku dari beliau.
" Mama jangan nangis, luntur cantiknya." Kukembangkan senyum untuknya, lalu kukecup keningnya. Dan akupun berlalu dari hadapnnya.
Pada saat aku melewati ruang TV, aku sudah nggak melihat Mas Jaya, aku yakin dia pasti udah di kamar. Begitu aku membuka pintu kulihat dia sudah tertidur.
Sebelum aku naik ke tempat tidur, terlebih dahulu aku cuci muka dan sikat gigi.
" Kamu dari mana sayang?" Tanya Mas Jaya begitu aku merebahkan diriku.
"Kamu suka banget ngagetin. Aku sangka kamu udah tidur tau."
" Aku habis kencan sayang." Kumiringkan tubuhku menghadapnya dan menopang kepala dengan satu tanganku. Kupandangi wajahnya, mata,hidung, serta bibirnya.
" Kenapa memandangiku seperti itu? Apakah aku terlalu tampan?" Tanya nya dengan penuh percaya diri.
" Kamu mau tau kenapa aku mandang kamu seperti itu?" Ucapku sambil mencibirnya.
Dianggukannya kepalanya.
" Entah kenapa aku bisa cinta dan suka dengan pria brengsek seperti kamu." Langsung kukecup bibirnya.
" Oh ya, aku brengsek?"
" Pikir aja sendiri, kalau nggak brengsek apa namanya." Sambil kususuri wajahnya dengan jari telunjukku.
" Sayang... " Ucapnya pelan...
" Hummm." Kuletakkan wajahku diatas wajahnya. " Mas, jangan pernah sakiti aku dengan cara menduakanku ya."
" Kalau menyakitimu dengan cara yang lain?"
" Jangan jugalah." Kurapatkan tubuhku dengannya, kususuri wajahnya dengan hidungku.
"Jangan menggodaku Zahra."
"Hummmm... Honey, aku boleh bilang sesuatu" Bisikku ditelinganya.
"He'eh"
"Tolong matikan lampunya."
Setelah itu kujauhkan diriku darinya dan merebahkan diriku dikasur.
" Zahraaaaa!!!!" Ucapnya dengan sedikit mengeram... sambil membesarkan matanya.
Aku cuma tertawa melihatnya dan langsung menarik selimut untuk menutupi wajahku.
" Kau slalu saja mengerjaiku." Ucapnya, lalu turun dari tempat tidur, dan mematikan lampu. Setelah itu direbahkannya tubuhnya dengan membelakangiku.
" Mas kamu merajuk."
"Enggak, tidurlah. Perutku masih sakit." Ucapnya dingin.
" Mas, aku kenapa jadi rindu sama Pak Heru ya, apa kabarnya Bossku itu."
" Dia lagi disiksa istrinya." Jawabnya dengan ketus.
" Aku masih ingat pertama kali dia menggantikan Mbak Ratna. Senyumnya sangat manis sekali. Ingin rasanya kucium dengan lama bibirnya. Tapikan nggak mungkin ya Mas, diakan sudah punya istri."
Dibalikkannya tubuhnya kearahku.
" Aku nggak menyangka istriku senakal ini, membayangkan laki-laki lain, disaat aku tidur disebelahnya. Menjijikkan sekali tingkahnya." sambil tersenyum sinis.
" Kau nggak tau Mas, saat itu sebenarnya aku juga menginginkannya, tapi karena aku sudah dilecehkan selama dua hari berturut-turut, belum lagi di rumah aku melayanimu, buat aku benar-benar capek saat itu."
Kamipun tertawa sambil bercerita mengingat kejadian saat itu.
*******
Pagi sehabis subuh aku tidur lagi, udara pagi yang dingin membuatku untuk bermalasan.
Sinar mentari pagi yang masuk ke kamarku membuatku terjaga.
perlahan aku turun dari tempat tidur, setelah mencuci muka, dan memoles sedikit wajahku, aku keluar kamar.
" Pagi Ma" Kusapa mertuaku yang sedang duduk diteras belakang rumah.
" Pagi sayang... Apa kamu nggak merasa mual kalau pagi sayang?" Tanya mertuaku.
" Dulu iya, sekarang udah nggak lagi." Jawabku singkat, lalu mengambil gelas yang berisi teh manis.
" Itu minum Mama."
" Tau, tapi cucu Mama pingin minum ini." Kusunggingkan senyum padanya.
" Zahra nggak menyangka Zahra punya mertua sebaik Mama, biasanya antara mertua dan menantu susah sekali akurnya."
" Itu tergantung dari kedua belah pihak menyikapinya Nak... Kalau kamu menguasai suamimu, maka pada saat suamimu ke tempat orangtuanya kamu akan merasa iri, begitu juga sebaliknya jika ibu mertuamu ingin menguasai suamimu, maka dia akan sakit hati kalau suamimu berpihak padamu."
" Iya sih Ma... " Jawabku sambil meneguk sedikit teh dalam gelas yang kupegang.
Kulihat Mas Jaya yang berdiri didepan pintu.
" Sayang duduk sini." Panggilku sama Mas Jaya, dan aku berdiri dari kursi yang ku duduki untuk ditempati Mas Jaya.
" Kamu bawa HP?"
" Ada" Jawab Mas Jaya.
Kuambil HP dari tangannya, kuajak dia untuk berfoto bertiga dengan Mamanya. Awalnya keduanya menolak, karena kupaksa akhirnya mau juga.
" Ayo kita foto bertiga" Ajakku pada Mas Jaya dan Mama.
" Mama banyak kerjaan lain Zahra" Ucap mertuaku dan berusaha berdiri dari kursinya.
" Maaa.. entah kapan moment seperti ini akan ada lagi. Kali ini, untuk kenangan buat Zahra."
Akhirnya dia duduk kembali. Kupanggil Bi Yanti, untuk mengambilkan foto kami. Ada beberapa foto yang dia ambil. Tapi yang paling istimewa adalah foto dimana aku dan Mas Jaya memegang tangan Mamanya dan mencium pipinya. Foto itu kusuruh Mas Jaya mencetaknya, dan memajangnya diruang tengah.
bersambung
Part 30
=======
====>>>
Aku tau bahwa Mama Mertuaku sangat menyayangi putranya, terbukti dengan dia memasak apa yang menjadi kesukaan anaknya. Aku akan belajar seperti kamu Ma, kelak akupun akan menjadi seorang Ibu, membesarkan anak-anak dengan cinta dan kasih sayang. Seperti apapun putramu, kamu tetap menyayanginya meskipun dalam diammu.
" Perutku kenyang banget sayang, aduh..... sakit banget rasanya."
Kulihat Mas Jaya sedikit susah bernafas.
Perlahan dia jalan keruang TV. Aku sempat tertawa lihat dia berjalan sambil memegangi perutnya.
" Kamu ngetawain aku!"
" kamu baru kekenyangan makanan nggak sampe jumlahnya dua kilo udah nggak sanggup jalan, gimana seperti aku."
Disandarkannya badannya didinding, Wulanpun duduk disampingnya.
" Abang mau makan lagi nggak?" Perlahan Wulan menyuapkan puding mangga kemulutnya sendiri.
" Enak loh Bang, ini mangga kita sediri." Ucap Wulan.
"Kamu mau membunuhku!"
"Ambil bantal Lan, dah nggak kuat Abang jalan lagi." Ucap Mas Jaya pada Wulan dengan sedikit meringis menahan sakit perutnya.
Melihat dia meringis seperti itu aku juga nggak tega melihatnya.
Wulan udah datang membawa beberapa bantal.
" Dek, tolong ambilkan tas Kakak di Kamar, maaf ya kalau ngerepotin." Ucapku pada Wulan.
Mama pun datang menghampiri, melihatnya merintih menahankan sakit.
"Kenapa dia?" Tanya Mama.
" Kekenyangan, jadi sakit perutnya Ma." Jawabku.
" Itu bukan kekenyangan aja, tadi itu ikannya kepedesan, cabe yang dipakai juga cabe rawit semua. Mama nggak nyangka dia akan habisin semuanya."
" Trus gimana dong Ma?" Tanyaku sedikit khawatir.
" Kasih minyak angin aja." Jawab Mama.
Kudengar Mas Jaya masih merintih merasakan sakit diperutnya.
" Ayo ke kamar aja biar aku obati."
" Aku nggak kuat jalan Zahra, disini aja." Ucapnya dengan lirih.
" Geseran kesudut ya, siapa tau Wulan atau yang lain mau nonton."
Kunaikkan sedikit bajunya, untuk mengoleskan minyak telon diperutnya.
" Jangan pakai minyak telon, aku nggak suka baunya." Disingkirkannya minyak telon dari tanganku.
"Trus pakai apa?" Tanyaku.
" Minya zaitun kamu aja." Ucapnya pelan, masih dengan merintih menahankan rasa sakit.
" Mana ada minyak zaitun menghilangkan rasa sakit."Ucap Ulan Menimpali ucapan Mas Jaya.
Diambilnya botol Minyak dari tanganku, dilemparkannya ke arah Wulan.
" Udah nggak usah berantem. Emang benar kata Ulan" Sambil kupukul perut Mas Jaya yang sedang kuolesi minyak.
Dimiringkannya tubuhnya kearahku, diletakkanya tangannya diatas pahaku, masih kudengar suara rintihannya, tapi sudah nggak merintih sekuat tadi. Perlahan suara rintihannya hilang.
"Tidur Kak?" Tanya Wulan.
" Sepertinya." Jawabku.
Akupun berdiri karena udah terlalu pegal pinggangku rasanya duduk berlama-lama.
Kuhampiri Mama mertuaku yang sedang ada di dapur, yang sedang mencuci kacang hijau.
" Mama mau masak bubur kacang ijo?"
" Untuk besok, direndam dulu malam ini, Heru senang makan itu."
"Ma.. Masih ada pudingnya?"
" Itu untuk Heru."
Kupegang kedua tangan Mama mertuaku. "Kalau yang mau makan cucu Mama boleh nggak?" Ku naikkan kedua alisku.
" Kamu?!" Diliriknya perutku.
Kuanggukkan pelan kepalaku.
" Boleh Nak, ayo duduk dulu. Besok Mama buat yang baru untuk dia. Udah berapa bulan sayang?" Sambil mengambilkan puding mangga yang ada dikulkas.
" Udah lima bulan."
" Ngak terlalu kelihatan" Ucapnya.
" Iya, tapi kalau dipegang udah kerasa."
" Rencana kalian sampai berapa lama disini?" Tanya Mama yang sekarang sedang duduk di depanku
" Lusa juga udah pulang." Sambil menyuapkan puding kemulutku.
Kulihat ada sedikit kekecewaan dalam raut wajahnya.
" Jaga calon cucu mama baik-baik ya." Ucapnya pelan.
Lalu aku berdiri, berjalan kearah Mama, dan memeluknya dari belakang.
" Kami akan disini sampai Mama bosan lihat kami, sampai Mama yang mengusir sendiri Anak, Menantu dan Cucu Mama." Lalu kukecup pipinya.
Kutarik kursi kosong yang ada didekatnya, kugenggam erat-erat jemari Mertuaku itu.
" Maaa.. Terimakasih, sudah melahirkan, mendidik, menjaganya sampai seperti sekarang. Terimakasih juga membesarkannya dengan kasih sayang dan cinta, sehingga dia juga bisa menyayangiku, dan menjagaku dengan cinta dan kasih sayang."
Diraihnya kedua pipiku dan dihujaninya aku dengan ciumannya.
" Tapi Mama sudah gagal mendidiknya." Ucapnya lirih dengan suara bergertar.
"Mama bukan gagal mendidiknya, Maaa... Anak Mama itu pernah bilang, setinggi-tinggi bangau terbang pulangnya pasti ke kubangan juga, sejauh-jauh ombak pergi akhirnya akan ke Pantai juga. Dan Anak Mamapun seperti itu juga."
Kulihat matanya mulai berkaca-kaca. Ditundukkan kepalanya.
"Mama kecewa dengannya."
Kupeluk beliau.
"Zahra nggak tau apa yang Mama kecewakan dengannya, sebagai isrtrinya, Zahra minta maaf atas perbuatan Mas yang udah buat Mama kecewa ya."
Bukan hanya Mama yang kecewa dengannya, akupun kecewa dengannya Ma. Bisik hatiku.
" Zahra udah ngantuk Ma, Za ke kamar duluan ya." Kulepaskan pelukanku dari beliau.
" Mama jangan nangis, luntur cantiknya." Kukembangkan senyum untuknya, lalu kukecup keningnya. Dan akupun berlalu dari hadapnnya.
Pada saat aku melewati ruang TV, aku sudah nggak melihat Mas Jaya, aku yakin dia pasti udah di kamar. Begitu aku membuka pintu kulihat dia sudah tertidur.
Sebelum aku naik ke tempat tidur, terlebih dahulu aku cuci muka dan sikat gigi.
" Kamu dari mana sayang?" Tanya Mas Jaya begitu aku merebahkan diriku.
"Kamu suka banget ngagetin. Aku sangka kamu udah tidur tau."
" Aku habis kencan sayang." Kumiringkan tubuhku menghadapnya dan menopang kepala dengan satu tanganku. Kupandangi wajahnya, mata,hidung, serta bibirnya.
" Kenapa memandangiku seperti itu? Apakah aku terlalu tampan?" Tanya nya dengan penuh percaya diri.
" Kamu mau tau kenapa aku mandang kamu seperti itu?" Ucapku sambil mencibirnya.
Dianggukannya kepalanya.
" Entah kenapa aku bisa cinta dan suka dengan pria brengsek seperti kamu." Langsung kukecup bibirnya.
" Oh ya, aku brengsek?"
" Pikir aja sendiri, kalau nggak brengsek apa namanya." Sambil kususuri wajahnya dengan jari telunjukku.
" Sayang... " Ucapnya pelan...
" Hummm." Kuletakkan wajahku diatas wajahnya. " Mas, jangan pernah sakiti aku dengan cara menduakanku ya."
" Kalau menyakitimu dengan cara yang lain?"
" Jangan jugalah." Kurapatkan tubuhku dengannya, kususuri wajahnya dengan hidungku.
"Jangan menggodaku Zahra."
"Hummmm... Honey, aku boleh bilang sesuatu" Bisikku ditelinganya.
"He'eh"
"Tolong matikan lampunya."
Setelah itu kujauhkan diriku darinya dan merebahkan diriku dikasur.
" Zahraaaaa!!!!" Ucapnya dengan sedikit mengeram... sambil membesarkan matanya.
Aku cuma tertawa melihatnya dan langsung menarik selimut untuk menutupi wajahku.
" Kau slalu saja mengerjaiku." Ucapnya, lalu turun dari tempat tidur, dan mematikan lampu. Setelah itu direbahkannya tubuhnya dengan membelakangiku.
" Mas kamu merajuk."
"Enggak, tidurlah. Perutku masih sakit." Ucapnya dingin.
" Mas, aku kenapa jadi rindu sama Pak Heru ya, apa kabarnya Bossku itu."
" Dia lagi disiksa istrinya." Jawabnya dengan ketus.
" Aku masih ingat pertama kali dia menggantikan Mbak Ratna. Senyumnya sangat manis sekali. Ingin rasanya kucium dengan lama bibirnya. Tapikan nggak mungkin ya Mas, diakan sudah punya istri."
Dibalikkannya tubuhnya kearahku.
" Aku nggak menyangka istriku senakal ini, membayangkan laki-laki lain, disaat aku tidur disebelahnya. Menjijikkan sekali tingkahnya." sambil tersenyum sinis.
" Kau nggak tau Mas, saat itu sebenarnya aku juga menginginkannya, tapi karena aku sudah dilecehkan selama dua hari berturut-turut, belum lagi di rumah aku melayanimu, buat aku benar-benar capek saat itu."
Kamipun tertawa sambil bercerita mengingat kejadian saat itu.
*******
Pagi sehabis subuh aku tidur lagi, udara pagi yang dingin membuatku untuk bermalasan.
Sinar mentari pagi yang masuk ke kamarku membuatku terjaga.
perlahan aku turun dari tempat tidur, setelah mencuci muka, dan memoles sedikit wajahku, aku keluar kamar.
" Pagi Ma" Kusapa mertuaku yang sedang duduk diteras belakang rumah.
" Pagi sayang... Apa kamu nggak merasa mual kalau pagi sayang?" Tanya mertuaku.
" Dulu iya, sekarang udah nggak lagi." Jawabku singkat, lalu mengambil gelas yang berisi teh manis.
" Itu minum Mama."
" Tau, tapi cucu Mama pingin minum ini." Kusunggingkan senyum padanya.
" Zahra nggak menyangka Zahra punya mertua sebaik Mama, biasanya antara mertua dan menantu susah sekali akurnya."
" Itu tergantung dari kedua belah pihak menyikapinya Nak... Kalau kamu menguasai suamimu, maka pada saat suamimu ke tempat orangtuanya kamu akan merasa iri, begitu juga sebaliknya jika ibu mertuamu ingin menguasai suamimu, maka dia akan sakit hati kalau suamimu berpihak padamu."
" Iya sih Ma... " Jawabku sambil meneguk sedikit teh dalam gelas yang kupegang.
Kulihat Mas Jaya yang berdiri didepan pintu.
" Sayang duduk sini." Panggilku sama Mas Jaya, dan aku berdiri dari kursi yang ku duduki untuk ditempati Mas Jaya.
" Kamu bawa HP?"
" Ada" Jawab Mas Jaya.
Kuambil HP dari tangannya, kuajak dia untuk berfoto bertiga dengan Mamanya. Awalnya keduanya menolak, karena kupaksa akhirnya mau juga.
" Ayo kita foto bertiga" Ajakku pada Mas Jaya dan Mama.
" Mama banyak kerjaan lain Zahra" Ucap mertuaku dan berusaha berdiri dari kursinya.
" Maaa.. entah kapan moment seperti ini akan ada lagi. Kali ini, untuk kenangan buat Zahra."
Akhirnya dia duduk kembali. Kupanggil Bi Yanti, untuk mengambilkan foto kami. Ada beberapa foto yang dia ambil. Tapi yang paling istimewa adalah foto dimana aku dan Mas Jaya memegang tangan Mamanya dan mencium pipinya. Foto itu kusuruh Mas Jaya mencetaknya, dan memajangnya diruang tengah.
bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar