Persaudaraan Muslimah Indonesia, mempelajari Islam Secara Menyeluruh.

Sabtu, 21 Maret 2020

SUAMI KU 21 - 25

#SUAMI_KU
Part 21 author Sashi Kirana
=======

Pagi itu disaat membuka mata ku lihat Mas Jaya nggak ada disamping ku. Setelah aku turun dari kamar ku, hendak buat sarapan, Bi Ijah bilang kalau Mas Jaya dari jam 4 subuh sudah keluar, katanya mau ke pasar.
Sampai aku mau berangkat kerjapun, Mas Jaya belum pulang.
Beberapa kaliku coba untuk menghubungi tapi telpon ku tidak diangkatnya.
Sengaja aku pergi kerja terlambat 30 menit untuk menunggu nya, tapi yang ku tunggu juga nggak menampakkan batang hidungnya, akhirnya aku pergi menggunakan taxy.

Disaat aku dan Ika lagi sibuk, Mas Jaya meminta aku dan Ika masuk keruangannya. Ku lihat dia memakai pakaian yang tidak aku siapkan, dan kulihat didalam juga ada Pak Wiratman.
" Pak, Wiratman meminta salah satu dari kalian untuk menggantikan Siska sebagai sekretaris beliau, dan ini hanya bersifat sementara, sampai beliau mendapatkan sekretaris baru." Ucap Mas Jaya, setelah aku dan Ika masuk keruangannya.

" Saya minta Bu Zahra yang menggantikan Siska, selain beliau orang lama, beliau juga tidak perlu menyerahkan berkas lagi kepada Bu Ika untuk diserahkan kepada Bapak, dan itu bisa lebih menghemat waktu. Sebagaimana yang kita tau, bahwa Bu Ratna selalu meminta Bu Zahra untuk memeriksa ulang laporan yang akan sampai kemejanya." Jawab Pak Wiratman.

Aku yang mendengar itu sebenarnya tidak setuju, namun berhubung kedudukanku adalah seorang bawahan tidak mungkin menolak, dan keputusan ku serahkan sama Mas Jaya.
" Saya tergantung Pak Heru selaku pimpinan disini." Jawab ku.
Akhir keputusannya akulah yang menggantikan Siska.
Selama aku bekerja dengan Pak Wiratman aku selalu pulang setelah shalat isya, yang membuatku harus selalu malam sampai di rumah, syukurnya Ika mau menemaniku sampai malam, entah apa yang diharapkan orang tua itu sehingga dia selalu memberiku pekerjaan yang rasanya nggak bisa dikerjakan dilain hari.

Ini hari ke-5 aku bekerja dengan nya, dan dia memberiku pekerjaan yang rasanya nggak ada habisnya untuk ku kerjakan, seolah-olah dia membuatku harus tinggal di kantor ini. Seperti hari ini Jam 9 malam aku baru menyelesaikan laporan yang dimintanya.
" Ini laporan yang Bapak minta." ku letakkan laporan yang baru selesai ku kerjakan diatas mejanya.
" Sebentar saya periksa dulu, kamu silahkan duduk dulu." Dia meminta ku untuk duduk dikursi yang ada didepan mejanya.
"Maaf Pak, saya minta izin pulang saja, kalau sudah tidak ada yang dikerjakan lagi. Lagipula ini sudah malam."
Tanpa mau mendengarkan apapun lagi, aku langsung keluar dari ruangannya, dan mengambil tas ku, serta mengajak Ika untuk pulang.
"Zahra, laporan kamu masih berantakan, kamu belum bisa pulang sebelum saya perintahkan." Ucapnya diambang pintu ruangannya begitu melihat ku ingin pulang bersama Ika.

" Bapak saja yang mengerjakan kalau begitu, saya masih punya rumah dan keluarga yang harus saya urus, Nggak seperti Bapak yang menjadikan kantor ini sebagai tempat tinggal."
Ucap ku sengit, dan menarik Ika meninggalkan atasan ku yang menyebalkan itu.
" Za, lu berani ngelawan Pak Wiratman." Ucap Ika.
" CEO mu saja berani ku lawan, apalagi cuma dia. Lagi pula dia sudah keterlaluan."
" Tapi kalau dilihat-lihat dari cara beliau mandang lu, dia sepertinya suka sama lu."
" Udah ah malas bahas dia, nggak penting."
" Lu gue antar pulang ya, kasihan gue bumil pulang sendirian."
Aku hanya mengangguk saja, karena udah terlalu letih rasanya, ingin sampai dirumah dan beristirahat.
Hampir seminggu ini pun Mas Jaya selalu menghindari ku, seharusnya aku yang marah, tapi malah sebaliknya.

****
" Kenapa jam segini baru pulang?" Tanya Mas Jaya begitu aku masuk ke kamar.
" Iya tadi masih banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan."
" Kamu seperti ini sengaja ingin menghindari aku kan?!"
" Kamu ngomong apa Mas, bukannya kamu yang selalu menghindari aku, jam4 pagi kamu selalu pergi ke pasar dan pulang setelah aku berangkat, pakaian yang akh siapkan untuk kamu nggak pernah kamu pakai, kamu malah memilih pakaian lain, kamu tau selama satu minggu ini aku selalu nungguin kamu, aku nggak perduli aku selalu datang terlambat, karena sebelum aku pergi kerja aku ingin lihat kamu, aku pulang malam pun kamu nggak pernah jemput aku. Kalau kamu ingin kita bertengkar, maaf aja Mas aku nggak punya waktu untuk melayani kamu!" Segera aku masuk ke kamar mandi, dan membanting pintu.

Selesai aku membersihkan dan keluar dari kamar mandi, ku lihat Mas Jaya mondar mandir didalam kamar.
" Kamu nggak tidur Mas? Kamu punya masalah?"
" Enggak!"
" Kalau nggak, tidurlah."
Segera aku naik kearas tempat tidur, dan merebahkan diriku.
" Zahra."
"Hemmm."
" Tidurlah, slamat malam."
Ku lihat dia berjalan kearah pintu.
" Mas.. sebelum kamu keluar, aku mau bilang sesuatu. Kamu dulu pernah minta untuk aku nggak ninggalin kamu, sekarang kalau aku yang minta seperti itu, apa kamu akan tetap pergi ninggalin aku disini." Ucapku sambil duduk ditempat tidur.
Mas Jaya menutup pintu dan mendekati ku, dia memilih duduk dipinggir tempat tidur dibawah kaki ku.
" Aku nggak tau mau bicara apalagi Zahra, aku salah sama kamu. Tolong maafkan aku."
Aku segera turun dari tempat tidur, ku genggam tangannya ku ajak dia menuju teras kamar.
" Aku ingin duduk disini Mas. Temani aku, kita bicara disini."
Ku sandarkan kepala ku di lengannya.
" Massss... Kamu pernah bilang, kalau kamu akan lindungi aku dengan cara mu. Apa yang kamu lakukan terhadap Siska itu salah satu caramu melindungiku, meskipun aku tau kamu mengambil langkah yang salah. Aku sudah memaafkan mu, Meskipun aku sakit melihat kamu seperti itu."
Dia langsung memeluk ku. "Kamu benar memaafkan aku?.
"Iya Mas."
" Makasih sayang." Di kecupnya kening ku. "Aku benar-benar tersiksa kamu buat, aku nggak tau harus berbuat apa kemarin-kemarin, aku bingung, makanya aku menghindari kamu."
Lagi-lagi dipeluknya aku dengan erat, dan terus menciumi ku.
" Masss.. kamu meluk aku erat-erat gini, perut aku sakit tau." Ku pukul pelan tangannya.
" Aku lupa sayang, sangkin senengnya" Diletakkannya kepala ku didadanya.
" Detak jantung ku udah normal lagikan kalau dekat kamu."
"Gombal kamu."
" Rasanya darahku benar-benar habis kemarin."
Aku pun melingkarkan tanganku dipinggangnya.
Seperti apapun kamu Mas, kamu adalah suamiku. Aku akan selalu belajar menjadi istri yang nggak akan mengecewakanmu. Mungkinpun kamu pernah terluka dengan sikapku, tapi aku nggak menyadarinya, dan dalam diammu, kamu tetap memaafkan salah ku.

-----

#SUAMI_KU
Part.22
========
Karena terlalu lelah, sehabis Shalat Subuh, aku lebih memilih untuk kembali tidur. Toh ini hari Sabtu, Ika nggak masuk, lebih baik aku juga nggak masuk pikirku.
Kalau bukan karena rasa lapar mungkin aku masih menikmati tidurku. Pada saat membuka mata, serasa hembusan nafas yang hangat ditengkukku.
Ku balikkan tubuhku secara perlahan, agar nggak mengganggu tidur Mas Jaya. Ku pandangi wajahnya, ah.. entah apa yang membuat ku bisa mencintai mu, awal aku mengenal mu kau adalah pria yang dewasa, yang selalu memanjakan ku, tapi sekarang sebaliknya, tapi lembutnya sikap mu masih bisa ku rasakan.
" Kamu bisa terhipnotis jika memandangiku terus sayang." Ucapnya tiba-tiba masih dengan menutup matanya.
"Kamu ih ngagetin aja. Kamu nggak ke pasar Mas?."
" Seneng banget kamu kalau aku pergi." Dikecupnya keningku, perlahan kecupannya pun turun kebibirku. Ditariknya tubuhku untuk lebih dekat dengannya.
" Sayang aku lapar." Ucapku sambil menenggelamkan wajahku dalam pelukannya.
" Kamu kebiasaan, disaat aku lagi ingin mesra-mesraan sama kamu, ada aja."
Aku cuma bisa tersenyum dengar protesannya.
"Kamu mau makan apa?"
" Apa aja, tapi kamu yang masak ya. Aku bisa bedain masakan kamu sama masakan Bibi."
" Oh ya? bedanya dimana."

"Kamu masak dulu, nanti kalau aku udah selesai makannya, aku kasih tau." Ku ciumin wajahnya. Lalu aku turun dari tempat tidur.
Disaat dia turun untuk masak, aku pun membereskan kamar. Sebisa mungkin aku menghindari orang lain masuk dalam kamarku, meski itu siBibi sekalipun, dan sebisa mungkin aku juga nggak membicarakan orang lain diatas tempat tidurku. Selesai membersihkan kamar, akupun segera mandi.
" Sayang buka pintunya." Terdengar suara Mas Jaya dibalik pintu, syukurnya aku sudah selesai mandi, dan sudah memakai baju.
" Kenapa nggak di bawah aja Mas. Aku juga baru mau turun."
Ku lihat dia membawa baki yang berisi makanan.
" Kita makan di teras kamar aja, aku masih mau berduaan sama kamu."
Kubantu mas Jaya menyusun makanan diatas meja kecil yang ada diteras, dan dia juga minta aku menyuapinya, penyakit manjanya udah mulai datang lagi.
Selesai makan, aku membawa piring yang sudah kotor ke bawah, dan membawa segelas teh hangat, yang sengaja aku kasih sedikit jahe dan cengkeh, untuk merilekskan tubuh ku.
" Makasih ya sayang udah mau masakin aku, masakan kamu enak." Ku cium pipinya, sebagai tanda ungkapan terimakasih pada Mas Jaya.
" Dari mana kamu tau itu masakan ku." Dirangkulnya bahuku, untuk bersandar didadanya.
" Masakan kamu terasa masakan Sumateranya, sedikit asin dan pedas, dan rempahnya juga sangat terasa, pokoknya warung Padang seJakarta lewat sayang."
" Iya lewat, karena kamu lewati, nggak kamu singgahi."
Mendapat jawaban seperti itu aku dan dia jadinya tertawa.

"Senin Ratna sudah balik, dan kamu bisa kembali keruangan mu." Ucapnya selembut mungkin sambil mengecup rambutku. " Aku minta maaf membuat kamu susah beberapa hari ini, aku nggak jemput kamu karena aku juga punya urusan lain." Dikecupnya lagi kepala ku. " Dan untuk beberapa hari kedepan aku mau keluar kota." Kembali dia melanjutkan kalimatnya.
"Aku boleh tanya sesuatu?" Kulepaskan diriku dari pelukannya. Kutatap lekat-lekat matanya. " Kenapa setiap keluar kota nomer HP kamu nggak pernah aktif? apa yang kamu sembunyikan dariku?"
Mas Jaya memalingkan wajahnya dariku.
"Nggak ada, aku hanya ke daerah aja, sinyalnya memang agak susah aja."
" Sudahlah, aku nggak akan bertanya lebih jauh lagi. Aku sudah cukup lelah untuk benar-benar mencari tau tentang kamu Mas. Sejauh ini apa yang aku tau tentang kamu udah cukup baik, dan aku harap apa yang kamu lakukan juga pasti hal-hal yang baik." Kupegang kedua pipinya, dan ku kecup keningnya." Sayang, kalau kamu diluar kota jangan telat makan ya, jangan minum kopi, aku cuma khawatir terjadi sesuatu sama kamu. Kalau ada apa-apa sama kamu, aku sama anak kamu bagaimana." Kurebahkan kepalaku dipangkuannya.
" kamu ngantuk?"
" Aku pengen dipeluk kamu, tapi takutnya kamu nggak mau meluk aku lagi." Jawabku sedikit cemberut.
" Kenapa bilang begitu?"
"Iya, udah keenakan meluk Siska."
" kamu ya. Masih aja itu dibahas." digelitikinnya pinggangku, dan aku berkali-kali mencoba menghindar darinya.

Setelah aku menyerah, dia menggendongku dan menjatuhkanku ditempat tidur.
" Kamu sama Sis.." Belum selesai dia melanjutkan kata-kataya, kuletakkan jari telunjukku di bibirnya. Ku miringkan posisiku dan meletakkan satu tangan ku dikepala.
" Jangan pernah sebut nama orang lain, selagi kita sedang di tempat tidur Mas. Jangan tanya alasannya karena aku memang tidak suka aja." Lalu ku kecup bibirnya.
Ditariknya pinggangku untuk lebih mendekat kepadanya. " Aku sangat sayang sama mu, sangat sayang, aku nggak akan meninggalkan mu hanya untuk wanita lain."
Dijatuhkannya keningnya diatas keningku. " Dulu aku sempat ingin meninggalkan mu, aku ingin melepasmu, tapi jika itu kulakukan sama halnya aku mempermainkan pernikahan, apa bedanya aku dengan mantan suami adikuu, meninggalkan hanya karena alasan yang nggak masuk akal. Dulu aku merasa aku tidak mencintaimu, tapi hanya mengagumimu, namun aku salah. Seiring berjalannya waktu cinta itu timbul. Sampai akhirnya akulah yang merasa takut kalau kau yang akan meninggalkan ku."
"Makasih atas kejujuranmu. Hal yang seperti ini yang aku butuhkan dari dulu. Aku tau untuk jujur itu hal yang paling berat, tapi jika kita sudah mengatakannya maka hati dan fikiran kita akan menjadi lapang, hidup kita rasanya nggak ada beban." Kukecup keningnya. Kalau saja waktu itu aku nggak pulang ke kampung, aku nggak akan mendapat nasehat berharga dalam hidup Mas."
Kulihat dia menarik nafas dengan kuat dan membuangnya perlahan.
" Dan sekarang, berhubung aku udah capek dengan posisi miring begini, aku ingin letakkan kepalaku diperut kamu, jadi kamu perbaiki posisi kamu, mari kita tidur siang, karena aku dah ngantuk."
Ku pejamkan mataku, beberapa kali ku dengar dia memanggilku untuk meyakinkan apakah aku benar-benar tidur atau tidak. Disaat aku tidak bergeming sama sekali dia memindahkan posisi tidurku, dan diapun tidur disampingku.
Hati kecil ku bilang, kamu tidak berselingkuh aku tau kamu mencintai ku, tapi misteri tentang dirimu belum sepenuhnya bisa ku tau. Semoga kelak, disaat aku tau itu bukan hal menyakitkan.

*****
Sesuai dengan apa yang dikatakan Mas Jaya pada saat aku kembali ke aktifitasku Mas Jaya mengantar ku sampai keruangan ku.
" Hay, cantik.. duh rajin nya pagi-pagi udah datang." Sapa ku pada Ika.
" Lu balik lagi, trus yang gantiin disana siapa?" Tanya Ika.
"Kamu!" Ucap Mas Jaya dengan cepat.
" Pak boleh reques nggak?"
" Apa?"
" Saya mendingan Bapak jadiin OB atau Receptionis lagi deh dari pada saya kerja sama beliau, saya akui beliau gagah pak, tapi kalau lihat wanita seperti mandang mesum aja." Jawab Ika.
" Tidak ada yang menggantikan siapapun disana. Jadi kalian tenang saja." Kemudian dia pergi meninggalkan ruangan ku, sesudah dia mengecup keningku.
" Za, ada nggak sih stok satu lagi seperti Pak Heru, udah ganteng romantis lagi." Ucap Ika.
" Kalau kamu cari stok seperti dia kamu nggak akan kuat, jadi cukup dia satu aja dan itu khusus buat aku."
Dan aku langsung memulai aktifitas ku.

Terdengar suara ribut, dan terlihat beberapa polisi masuk keruangan Pak Wiratman. Aku dan Ika langsung berdiri didepan pintu ruangan ku. Ku lihat Pak Wiratman di apit dua orang polisi.
"Pak Wiratman ketangkap Za." Ucap Ika
"Iya." Ucap ku pelan.
Pada saat ingin kembali duduk di kursiku, ku lihat Mas Jaya, Mbak Ratna, dan Pak Fajar serta seorang polisi keluar dari ruangan Pak Wiratman, dan beberapa polisi memasang garis police line didepan ruangannya.
Aku kembali memulai aktifitasku yang sempat tertunda, tadi.
" Lu nggak pengen tau apa yang terjadi Za?" Tanya Ika.
" Penasaran sih, tapi nggak mau ngurusin lagian ini persoalan kantor, kita mendingan kerja aja, bukan urusan kita."
" Iya sih, ya udahlah kita kerja lagi, toh juga nanti kita bakal tau apa yang terjadi."
Ku lihat Mas Jaya berdiri didepan pintu, membawa dua kotak makanan, satu kotak diserahkannya sama Ika.
" Sayang, ayo makan dah jam istirahat." Setelah mengucapkan itu dia langsung menutup pintu dan menuju ruangannya.
Aku pun menyusulnya.
" Wajah kamu kenapa Mas?"
Ku lihat sedikit memar memar ditulang pipinya.
" Nggak apa-apa sayang, si bodoh itu hanya memukul ku."
"Memangnya ada apa?"
" Dia sudah menggelapkan uang perusahaan, dan ada kejahatan lain yang dilakukan. Sudahlah itu nggak penting, semua sudah selesai."
Dia memeluk ku dan mencium kening ku. Setelah itu aku makan bersamanya, tapi kali ini dia yang menyuapi ku.

-----

#SUAMI_KU
PART 23.
=======
Sore itu aku pulang dengan Ika, sehabis makan siang Mas Jaya harus ke kantor polisi untuk memberikan kesaksian.
" Lu dari tadi diam aja Buk, Lagi mikirin apa?" Tanya Ika yang sedang mengemudikan motornya.
" Nggak apa-apa, gue cuma mikir, gue naik kura-kura apa naik motor sih, perasaan lama banget." Jawabku.
"Sialan lu, kalau nggak mikirin bawa bumil mah gue dah ngebut kali."
Maaf Ka, nggak semua yang ada dalam hidup gue harus gue ceritain ke lu, sebab memang ada ruang privasi yang nggak bisa gue umbar kesiapapun. Tapi bukan berarti gue nggak menghargai kepedulian lu ma gue.
Setelah menurunkan aku didepan rumah Ika langsung pulang, aku langsung masuk rumah dan menuju kamar untuk membersihkan diri. Selasai mandi dan berpakaian aku langsung turun untuk menyiapkan makan malam.

" Ibu sejak hamil tambah cantik aja sih Bu." Ucap Bi Ijah dengan menyunggingkan senyum.
" Jangan bilang Bibi minta naik gaji ya." Balas ku sambil sedikt tertawa.
" Sejak sama Ibu saya bisa lihat senyum Bapak, atau dengar Bapak tertawa, dulu mandang pun saya nggak berani Buk."
" Wah Bibi dah mulai jelekin suami saya."
Seketika raut wajah si Bibi agak berubah.
" Udah nggak usah dipikirkan, saya bercanda, maaf ya Bi." Sambilku usap pelan lengannya.
Selesai masak dan Shalat Magrib aku minta Bi Ijah menemaniku untuk nonton TV.
"Bi, Bibi bisa kerja sama Bapak dari mana? Lewat Yayasan?" Tanyaku untuk membuka permbicaraan.
Kulihat Bi Ijah seperti enggan untuk bicara.
" Ya sudah kalau nggak mau cerita." Ujarku sambil tersenyum.
" Maaf Bu, bukan nya nggak mau cerita, nanti saya salah bicara Ibu bilang saya jelekin Bapak." Lalu dia menundukkan kepalanya.
"Omongan saya tadi jangan diambil hati, sayakan udah minta maaf."
" Saya dulu ikut Non Ratna dan Bapak karena Bapak pindah rumah saya diajak ikut ke rumah Bapak."
"Bapak sama Bu Ratna pernah tinggal serumah?" Tanyaku dengan mengernyitkan dahiku.
" Apa Ibu nggak tau kalau Bapak kerabat jauh dari pihak Ibu Non Ratna?" Ucap Bi Ijah dengan polosnya.
Aku yang mendapat pertanyaan seperti itu langsung diam.
"Bi, anaknya Bu Ratna kemana? kalau Bu Ratna dulu pernah hamil berarti anaknya sekarang pasti sudah remajakan?"
" Ibu tau kalau Non pernah hamil."
" Bapak pernah cerita."
" Non keguguran." Jawab Bi Ijah singkat.
Kudengar suara mobil memasuki halaman rumah. Pembicaraan ku sama Bi Ijahpun kuhentikan.
" Jangan cerita sama Bapak apa yang kita bicarakan ya. Saya mohon." Pintaku sama Bi Ijah, dan dia membalas dengan anggukan.
Kudengar Mas Jaya mengucapkan salam, dan membuka pintu depan.
" Kamu dah makan sayang?" Tanya Mas Jaya begitu melihatku diruang tengah, lalu mengecup pucuk kepala ku.
" Belum, nungguin kamu. Kamu mau mandi atau makan dulu Mas? Aku masak tadi." Sambil membuka dasi yang dipakainya.
" Makan aja, kalau udah masak, habis itu kamu ganti baju, aku mau ajak kamu jalan-jalan, anggap aja kita mau kencan, kitakan nggak pernah pacaran." Ucapnya sambil mencolek hidungku.
" Kamu ganjen amat sih, dah tua kamu, nggak pantes pacaran."
Dia hanya membalasku dengan senyumannya yang menawan.
"Mass, kita nggak usah kemana-mana ya, kita di rumah aja. Lagian ini udah malam, nggak baik juga buat ibu hamil." Ucapku setelah selesai makan.
" Okelah. Aku mandi dulu. Tapi jangan tidur dulu ya, kita duduk di balkon aja.
Setelah meminta Bi Ijah mengunci pintu dan jendela, aku dan Mas Jaya langsung naik ke kamar.
"Kamu tadi mau ngajak aku kemana emangnya Mas?" Tanyaku setelah aku melihatnya keluar dari kamar mandi.

"Tadinya aku ingin ngajak kamu ke Ancol, duduk ditepi pantai, mendengarkan nyanyian alam, mendengarkan kolaborasi antara ombak dan hembusan angin, apalagi sekarang bulan purnama, pasti indah sayang terlebih sambil memeluk mu." Ujarnya, lalu memelukku dari belakang, dan mencium pipiku.
Diarahkannya langkah kakinya menuju balkon,dengan tubuhku yang masih dalam dekapannya.
" Kamu kenapa sih, tiba-tiba jadi seperti ini, habis kena tonjok otak kamu jadi ngeblank ya."
" Nggak pa-pa ngeblank kalau masih ingat kamu dan makin cinta sama kamu." Ucapnya sambil menciumi pipiku.
Kutarik nafas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan.
" Kamu kenapa? sesak nafas? kamu nggak punya riwayat asma kan?"
" Dari tiga pertanyaan kamu, jawabnya cuma satu, enggak. " Kubalikkan tubuhku menghadapnya " Namanya orang hamil Mas terasa agak berat aja bernafas." Otakku masih memikirkan apa yang dikatakan sama Bi Ijah.
Untuk apa kamu merahasiakan dirimu sama aku Mas,ucap batinku.
Ku pandang wajah Mas Jaya.
" Kamu kenapa liat aku gitu banget? Apa yang kamu pikirin?" Dipegangnya kedua pipiku.
" Aku nggak mikirin apa-apa, cuma liat wajah kamu aja, udah nggak bengkak seperti siang tadi." Kukecup pipinya yang bekas dipukul.
" Udah diobati Ratna tadi."
" Pak Fajar nggak cemburu, secara kaliankan hanya teman, teman kuliah dan rekan bisnis, apalagi kamu dulu sempat mau dinikahkan sama dia. Pastilah Pak Fajar udah tau hal inikan?"
" Sayang, kamu ngomong apa sih, kamu cemburu sama Ratna?"
"Sedikit, pada saat aku mau ngobati luka kamu, kamu nggak kasih. Tapi kamu nggak keberatan Mbak Ratna yang ngobati. Kalau kamu tanya seperti itu, aku jawab iya aku sedikit cemburu." Aku berlalu dari hadapannya dan menaiki tempat tidur, meninggalkan nya yang terdiam mendengar kata-kataku.
" Sayang, kalau aku salah aku minta maaf." Dikecupnya kepalaku, direbahkannya dirinya dibelakangku.
" Semakin sering kamu minta maaf, akan semakin sering kamu melakukan kesalahan. Jadi nggak usah sering-sering minta maaf. Cobalah untuk lebih terbuka memahami istri itu siapa dan fungsinya apa, bukan minta maaf tapi mengulangi kesalahan-kesalahan yang baru lagi."
"Semarah apapun kamu samaku Zahra, Jangan punggungi aku."
Kubalikkan tubuhku menghadapnya. Ku tarik nafas dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar.

" kamu ini mau tidur aja banyak maunya. Kalau aku menghadap kamu gini, terus kalau aku meluk kamu, perut aku ketekan, nafasku tambah sesak. Sampai disini fahamkah Tuan Heru Sanjaya, suamiku yang paling tampan se-Asia Tenggara." Lalu kukecup kening, kedua pipi dan terakhir bibirnya. " Tidur dan jangan brisik lagi." Kuletakkan kepalaku didadanya.
" Kamu salah kalau cemburu sama Ratna."
" Aku udah pernah bilang jangan sebut nama orang lain, di tempat tidur ini hanya ada kamu sama aku, nggak orang lain."
" Setidaknya kamu harus dengarkan aku bicara Zahra!"
Mendengar dia bicara seperti itu, akupun langsung turun dari tempat tidur, dan duduk di sofa.
" Tadinya aku ingin tidur, tapi kalau kamu mau aku dengarkan kamu bicara, sini, duduk disini."
" Kamu kenapa jadi seperti ini? aku punya salah apa sama kamu? Aku sama Ratna tidak ada hubungan apa-apa. Kamu harus ngerti itu, dia hanya membantuku tidak lain dan tidak lebih!"
" Aku seorang istri, aku yang berhak atas diri kamu, sebaliknya kamu berhak atas diriku. Jika aku yang terluka seperti kamu, lalu ada orng lain yang mengobati luka diwajahku, kamu tau bahwa keluarganya pernah memintaku untuk menikah dengannya, apa yang kamu rasakan? Cemburu atau tidak? Istrimu loh disentuh orang lain wajahnya." Ku pandangi dia dengan seksama.
"Nggak ada jawabankan?" Ucapku sambil memaksakan untuk tersenyum.
"Bukannya kamu ingin bicara tadi, bicaralah. Kenapa sekarang kamu diam! Kalau kamu memang ingin bicara sesuatu yang penting aku dengarkan, tapi aku minta apa yang disampikan itu jujur, dan tidak ada yang ditutup-tutupi."
Ku lihat Mas Jaya masih terdiam dan memandangku.
" Udah lama kita menikah Mas, aku pun sekarang lagi hamil, tapi sekalipun Mama mu nggak pernah menelponku, menanyakan tentang kehamilanku, serasa keluargamu hilang ditelan bumi. Aku jadi berfikir, jangan-jangan keluargamu yang datang melamarku waktu itu adalah orang bayaranmu. Untuk hal ini bisakah kamu jelaskan samaku?!"
Melihatnya hanya tetap diam, aku mendekatinya dan membelai rambutnya. Perlahan tanganku mengusap lembut pipinya.
" Aku nggak memaksamu untuk cerita apapun, naluriku mengatakan kamu nggak mengkhianati ku dengan wanita lain. Aku percaya hanya aku yang ada dalam hatimu, tapi aku nggak tau kenapa dan untuk apa kamu menyembunyikan jati dirimu." Ucapku pelan.
"Za.." Pada saat dia mau bicara, kuletakkan jari telunjukku dibibirnya.
" Nggak usah bicara lagi, kalau hanya sekedar untuk meminta maaf, dan mengalihkan pembicaraan dari apa yang ku mau." Kuletakkan keningku dikeningnya.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, jangan kecewakan aku.
Kamu pernah bilang, apapun badai yang menimpa prahara rumah tangga kita, kamu memintaku untuk tetap bersamakan? Aku akan tetap bersamamu dan tetap mencintaimu, tapi jangan kecewakan aku."Lalu ku kecup dan mencium bibirnya.
" Tidur yuk, aku dah ngantuk." Kutarik tangannya menuju tempat tidur. Ku rebahkan kepalaku dilengannya.
Kita boleh beda pendapat, tapi sebisa mungkin aku akan mencoba untuk kita tidak bertengkar hebat. Aku nggak ingin rumah tangga kita jauh dari Rahmat Allah. Meski aku nggak tau entah aku bisa atau tidak, tapi sebisa mungkin aku akan mencoba untuk bisa menenangkan.

******
" Sayang kamu nggak kerja? udah jam 9 ini. "
Dilihatnya aku masih di kamar sedang mengeringkan rambutku dengan hair driyer.
" Aku dah minta izin nggak masuk. Aku mau nagih kamu ngajak aku jalan-jalan."
" Ya udah aku mandi dulu ya." Diapun melangkah masuk kamar mandi, dan akupun segera merapikan diriku.
"Kita mau kemana sayang?"
" Kita ke puncak yuk, aku pengen banget makan mie rebus dan kue moci disana."
" Jauh amat makan mie sampe sana."
" Udah nggak usah bawel." Aku membantu mengenakan pakaiannya.
Setelah semua beres. Aku dan Mas Jaya pamit sama Bi Ijah. Diawal perjalanan aku hanya diam, kucoba untuk terus menutup mata seolah-olah aku sedang tertidur.

Disaat aku udah nggak mau tau tentang siapa Mas Jaya, disaat itu satu persatu tabir tentang dirinya juga dibuka. Kembali ku ingat perkataam Ibu mertuaku " Suamimu bukan orang yang baik, tapi saya sebagai Ibunya lebih mengenal anak saya." Perkataan ini yang sempat membuat kuragu. Semoga saja sikap manisnya juga bukan pura-pura.
Kulayangkan pikiranku ke Bapak. Pria yang sangat menyayangiku, disaat dia melepaskanku kepada laki-laki lain untuk menggantikan tugasnya, kulihat dia berusaha untuk tidak menangis, namun akhirnya air mata itu jatuh juga pada saat dia menciumku.
"Jadilah istri yang baik nak, berusalah untuk mengalah dan jangan membantah meskipun kamu diposisi yang benar. Berusalah untuk menjadi air dan tanah, karena dua unsur inilah yang bisa memadamkan api." Itulah nasehat yang dia ucapkan padaku saat itu.
" Sayang kamu menangis?" Ucapan Mas Jaya menyadarkanku dari lamunanku.
" Enggak, aku cuma rindu Bapak aja." Ku sandarkan kepalaku dilengan Mas Jaya.
" Mas.. Bisa carikan aku cemilan nggak, aku lapar."
" Kalau carikan aku nggak bisa, tapi kalau minta untuk belikan aku bisa sayang." Ucapnya lalu mencium pucuk kepalaku.
Aku berusaha untuk mencairkan suasana, aku nggak mau membuat perjalananku hanya untuk menangisi yang nggak penting. Tujuanku mengajaknya ke Puncak untuk menghibur hatiku, bukan untuk membuat suasana hatiku tambah buruk.

------


SUAMI_KU
PART 24
=======
Sebulan sudah berlalu dari penangkapan Pak Wiratman yang terlibat kasus penggelapan dana perusahaan. Mbak Ratna kembali beraktifitas di kantor.
" Gimana kandunganmu Zahra?" Tanya Mbak Ratna pada saat aku mengantarkan laporan ke ruangannya.
" Alhamdulillah sejauh ini baik." Jawabku sambil memegang perutku sudah mulai terlihat membesar.
" Apakah suamimu selalu memperlakukanmu dengan baik?"
" Iya Mbak."
" Ya sudah kembalilah keruanganmu. Jaga kesehatanmu selalu, jangan terlalu capek." Ucapnya sambil tersenyum.
" Makasih Mbak. Saya permisi"
Sesampai di ruanganku, aku kembali melanjutkan pekerjaanku.
Setelah Mbak Ratna kembali lagi bekerja sikap Mbak Ratna kurasakan sangat berbeda, dia lebih perhatian, nggak jarang dia membawakanku buah-buahan sebagai cemilanku. Kalau di rumah Mas Jaya yang begitu perhatian, disini ada Mbak Ratna yang juga begitu perhatian dan peduli denganku. Apakah yang dikatakan Bi Ijah memang benar. Berarti Mbak Ratnapun membohongiku, bukankah dia pernah bilang dia nggak tau tentang keluarga Mas Jaya.
Sebenarnya mereka itu siapa sih, kenapa harus seperti ini.
Kurasakan sesuatu jatuh di atas mejaku, dan membuatku sadar dari lamuananku.
" Lu mikirin apa Za, nggak baik Ibu hamil ngelamun" Tegur Ika.
" Nggak, gue lagi mikirin laki gue."
" Ya elah, macam lu jauh aja, tinggal lu telphon dia nyamper kemari."
Ucapan Ika hanya kubalas dengan senyuman aja. Udah tiga hari Mas Jaya keluar Kota, seperti biasa hanya dia yang bisa menghubungiku, tapi aku sama sekali nggak bisa menghubunginya.

*****
Sesampai di rumah dan membersihkan diri, aku turun untuk menonton TV, tapi tetap aja fikiranku masih tertuju dengan Mas Jaya dan Mbak Ratna. Lagi-lagi aku mencoba menepis pikiran yang membuatku harus selalu mencurigai mereka.
Ku ajak Bi Ijah untuk menemaniku ke MiniMarket yang ada dekat komplek. Syukurnya aku nggak harus mengantri untuk membayar, karena memang keadaan saat itu sangat sepi.
Pada saat aku selesai membayar, Mbak kasirnya menegurku dengan ramah.
" Maaf, ini Zahra ya?"
"Iya."
Aku yang nggak terlalu memperhatikan sikasir cuma bisa menjawab singkat, sambil coba mengingat-ingat dia siapa.
" Kamu nggak ingat aku, kita dulu satu Sekolah, cuma memang beda kelas. Ini aku Rina."
Dia menghampiriku dan mengajakku untuk ngobrol di bangku yang ada diluar Mini Market.
Setelah aku coba mengamati aku baru ingat.
" Maaf ya Rin, aku bener lupa. Apa kabarnya kamu? " Ucapku setelah aku mengingatnya.
" Aku baik. Aku denger-denger kamu udah nikah? tinggal dimana kamu?"
" Alhamdulillah udah, aku tinggal dua blok dari sini. Rumah yang bercat Putih yang tamannya banyak bunga mawarnya. itu rumah aku. Eh, bukannya kamu aku dengar juga udah nikah?"
" Udah, tapi juga udah cerai. Suamiku punya istri dua, dan aku istri keduanya."
" Kenapa nggak dipertahanin aja."
" Aku nggak sanggup diteror sama istri tuanya. Aku nikah juga nggak tau kalau dia punya istri dan anak. lagian aku kasihan sama anak istrinya, mereka hidup susah sementara aku disenangin, kalau dia bisa seperti itu dengan istrinya, besok-besok di aku dia juga bisa seperti itu, sebelum dia ninggalin jadi aku putusin pisah aja."
" Semoga ada yang lebih baik ya."
Karena hampir Magrib aku putuskan untuk pulang. Banyak Rina bercerita tentang pernikahannya yang cuma seumur jagung. Menikah dengan laki-laki yang terpaut usia lebih tua 5tahun yang menurutnya memiliki pekerjaan yang mapan,dan usia yang dewasa akan membuat dia bahagia, tanpa dia tau bahwa mantan suaminya sudah memiliki Istri. Dia juga bercerita kalau suaminya sedang di istri tuanya HP nya susah dihubungi, alasan keluar kota. Disaat Rina berkata seperti itu, aku teringat sama Mas Jaya.

Selesai shalat Magrib aku nggak turun lagi. Berkali-kali aku mencoba untuk menghubungi Mas Jaya, tapi tetap no.nya nggak aktif.
Aku yakinkan diriku mengatakan bahwa suamiku nggak memiliki wanita lain. Ku lihat Jam sudah menunjukkan pukul 12 lewat, tapi mataku belum ngantuk sama sekali.
" Kamu belum tidur sayang." Suara Mas jaya mengagetkan ku, dan dia perlahan menghampiri dan mencium keningku yang saat itu sedang duduk bersandar di tempat tidur.
" Belum. Kamu udah pulang Mas, Kamu dah makan?"
" Aku dah makan sayang. Aku mau sama kamu aja, aku kangen." Lalu dia memelukku dan kembali mencium keningku.
" Kamu kenapa diam aja, kamu nggak kangen sama aku?" Tanya Mas Jaya, karena melihat ku sama sekali nggak merespon dirinya.
" Aku capek, aku pengen tidur tapi nggak bisa, kepala ku juga pusing." Jawabku.
Dia menarik lembut kepalaku, dan meletakkannya didadanya.
" Kamu mikirin apa, ceritalah. Aku siap mendengarkan." Ucapnya lembut.
"Kamu janji nggak akan marah kalau aku bertanya sesuatu?"
" Aku janji nggak akan marah."

Kujauhkan diriku dari pelukannya dan mengajaknya duduk disofa panjang, yang ada dikamarku.
" Mass, seandainya aku bukan satu-satunya wanita dalam hidupmu, terbukalah. Apakah sebelum menikah denganku kamu sudah menikah dengan orang lain?" Ucapku secara perlahan agar tak menyinggung hatinya.
Mendengarku bicara seperti itu, dia diam sesaat. Ditariknya aku dalam pelukannya.
" Aku menyayangi mu Zahra, kamu satu-satunya istriku. Aku pergi bukan berarti aku punya wanita lain. Saat ini aku sulit menjelaskannya. Aku nggak bermaksud membohongimu, aku hanya belum siap menjelaskan apapun. Kasih aku waktu."
" Maaf kalau aku sudah mencurigaimu dan membuat kamu nggak nyaman sama pertanyaanku." Ku lingkarkan tanganku dipinggangnya.
"Mas... Aku ingin berhenti bekerja. Aku ingin jadi Ibu rumah tangga saja."
"Kenapa?"
" Nggak ada alasan apapun, aku cuma ingin ganti suasana aja."
"Ya sudah, jika itu yang terbaik Mas dukung kamu." Kurasakan pelukannya semakin erat, dan berkali-kali dia mengusap lembut rambutku.
Hari ini aku seperti menemukan Mas Jaya yang dulu, yang bersikap tenang dan dewasa.

*******
Aku masuk kerja seperti biasa. Menyelesaikan laporan yang belum selesai kukerjakan, dan siang ini juga aku akan menyerahkan surat pengunduran diriku. Sebelum aku ke ruangan Mbak Ratna, terlebih dahulu aku bicara dengan Ika bahwa hari ini aku akan mengundurkan diri.
" Ka, gue pengen ngomong ama lu, nggak penting-penting amat, tapi memang harus diomongin." Ucapku sambil mengajaknya duduk disofa, dan menggenggam erat tangannya.
" Lu tau kondisi gue sekarang lagi hamil, lu teman baik gue disini, kalo gue ada salah selama gue jadi phatner kerja lu, maafin gue ya. Hari ini gue putusin gue resign"
" Lu nggak asik ah, gue nggak mau kek gini. Lu bisa ngajuin cuti hamil"
" Lu masih bisa ketemu gue di rumah , cuma gue sedih aja ninggalin lu, syukur gue mau pamit ma lu."
Seketika Ika langsung memelukku, sambil menangis.
" Gue makasih banyak sama lu Za, kalau gue nggak kenal ama lu, mungkin hidup gue masih blangsak."
" Ini udah rizki lu jangan berterimakasih ma gue, lu tau nggak, lu jelek kalau nangis, gue mau ke ruangan Bu Ratna dulu, ngasih surat ini." Ku usap air mata yang ada dikedua pipi Ika.
Setelah melihatnya sudah mulai tenang, aku pamit keruangan Mbak Ratna. Setelah dipersilahkan masuk, Aku duduk dikursi yang ada didepannya.
"Mbak, maaf mengganggu waktunya. Saya mau nyerahkan ini." Ku serahkan surat pengunduran diriku dihapan Mbak Ratna.
" Kamu yakin? ini udah keputusan final?" Tanya Mbak Ratna setelah membaca selembar kertas yang kuberi.
" Udah Mbak, Mas juga udah mengizinkannya. Makasih banyak atas kebaikan yang Mbak beri selama ini"
" Ya sudah jika itu sudah menjadi keputusanmu."
" Makasih ya Mbak." Lalu akupun pamit dari ruangannya.

Sebelum aku keluar dari ruangannya Mbak Ratna memintaku untuk menyerahkan dan menjelaskan kepada Ika mana yang belum selesai aku kerjakan. Setelah makan siang dengan Ika diruangan yang akan ku tinggalkan akupun pamit dengan Ika. Terlalu banyak kenangan dikantor ini, dan aku nggak akan melupakannya.
" Mas Danu" Sapaku pada seorang laki-laki yang sedang duduk diloby.
" Zahra." Ucap laki-laki yang kutegur." Udah lama kita nggak jumpa, terakhir jumpa kamu masih ingusan."
" Dih, masih di ingat aja."
Aku langsung memeluknya. Dia adik Bapaku yang paling kecil, pada saat aku menikah dia sedang Dinas di Pulau paling Timur Indonesia. Karena usianya masih muda dia nggak mau aku panggil Om. Usianya sama dengan Mas Jaya, bahkan masih lebih muda dia.
" Zahra, Mas Danu." Sapa Mbak Wiwin sekretaris baru yang menggantikan Siska.
" Jangan salah sangka dulu, ini Zahra, ponakan Mas, Bapaknya Zahra Kakak Mas yang paling besar."
Mendapat penjelasan dari Mas Danu akhirnya Mbak Wiwinpun mengerti.
" Maaf ya, aku kira kalian ada hubungan lain." Ucap Mbak Wiwin.
" Mas sama Mbak Wiwin?" Tanyaku sambil memandang keduanya.
" Dia calon Mas, rencana Sabtu besok mau Mas bawa ke rumah orangtuamu, sekalian mau ngantar undangan buat kamu dan Wisnu (Kakak laki-laki Zahra)."
Selama aku Mbak Wiwin dan Mas Danu ngobrol, aku nggak menyadari kalau tangan Mas Danu memegang pundakku. Dan Mas Danu juga sempat memegang sekilas perutku.
" Kamu hamil Dek, lah kok Mas nggak ngeh ya." Ucap Mas Danu sambil memengang sekilas perutku.

" Iya sebentar lagi kalian berdua akan jadi Kakek sama Nenek, makanya aku panggil Om aja. Biar sadar Mas itu dah Tua."
Mendengar aku bicara seperti itu kami bertigapun tertawa.
Karena Mbak Wiwin harus kembali kerja dan Mas Danu juga kembali ke kantornya, aku dan mereka berpisah. Kulihat mobil Mas Jaya diluar gerbang kantorku.
" Tumben kamu nunggu aku disini Mas, biasanya juga didepan lobi." Ucapku setelah masuk kemobil.
Tanpa menjawabku dia langsung menjalankan mobilnya.
Sepanjang perjalanan dia hanya diam tanpa menjawabku sedikitpun.
Dua hari Mas Jaya mendiamkanku, setiap aku bertanya dan mengajaknya bicara tidak ada jawaban sama sekali, tanpa aku tau apa kesalahan yang kulakukan. Dua hari itu juga dia tidur di kamar tamu.
" Mas kita harus bicara, kamu nggak bisa diamin aku gini terus, tanpa aku tau salah ku dimana." Ucapku pada Mas Jaya disaat dia baru keluar dari kamar mandi.
" Nggak ada yang harus dibicarakan, semua udah jelas samaku, kamu nuduh aku selingkuh, ternyata tuduhan itu kembali sama kamu! Aku jadi ragu anak itu anakku!"
Tanpa sadar kulayangkan tanganku kepipinya.
" Kamu sadar kamu ngomong apa Mas?"
Nggak terima dengan perlakuanku dia langsung mencengkram erat bahuku.
" Aku sadar aku ngomong apa, aku bilang anak itu bukan anakku! Kamu dengar yang aku bilangkan!"
"Nggak usah nangis, air mata kamu nggak akan mempengaruhi keputusanku! Aku akan tinggalkan kamu!" Ucapnya dengan suara penuh penekanan.
Setelah dia mengatakan itu dia langsung meninggalkanku, dan membanting pintu.
Aku yang nggak tau apa permasalahan yang sebenarnya hanya bisa diam, dan menangisi semua perkataan yang dilontarkan Mas Jaya.
"Cobaan apalagi yang Engkau berikan dalam rumah tanggaku Ya Rabb. Apakah aku manusia yang cukup kuat sehingga KAU memberikanku cobaan seperti ini. Bimbing hatiku untuk tetap kuat menghadapi ujian MU." Ucapku lirih.
Kamu harus mikirin anakmu Zahra, jangan karena hal seperti ini kamu mengakiti anakmu. Sepintas pekataan seperti ini terlintas dibenakku. Tapi perlakuan Mas Jaya kali ini benar-benar keterlaluan.
Setelah membersihkan muka, dan sedikit memoles diri, aku turun ke bawah. Kulihat Bi Ijah sedang menyetrika di bawah tangga.
Melihatku turun Bi Ijah meninggalkan pekerjaannya.
" Ibu mau makan?"
" Iya Bi, Bapak udah makan?"
"Bapak udah pergi."
Aku cuma tersenyum mendengar ucapan Bi Ijah.

Selera makanku memang udah nggak ada, kuusap perlahan perutku, aku harus makan untuk anakku. Sedikit demi sedikit kusuapkan nasi ke dalam mulutku. Aku kuatkan hati untuk nggak menjatuhkan air mataku, tapi tetap saja air mata itu jatuh juga. Aku harus kuat demi anakku, jangan sampai juga dia meninggalkanku. Kamu pasti bisa menghadapi ini semua Zahra. Yakinlah. Kucoba menghibur hatiku sendiri.
Selesai makan, kulihat Bi Ijah menangis ditepi kolam ikan.
" Bibi kenapa nangis?"
"Bibi nggak tega liat Ibu makan sambil menangis begitu."
Kupeluk Bi Ijah
" Kalau saya sedang rapuh seperti itu, Bibi harus kuatin saya jangan ikut nangis." Kuhapus air mata Bi Ijah.
Apa Kesalahan yang kulakukan sampai kamu semarah ini. Apa nggak ada lagi maaf untukku atas segala salahku. Kamu pernah memintaku untuk nggak ninggalin kamu, tapi nyatanya kamu yang pergi ninggalin aku.

------

#SUAMI_KU
PART 25
=====
Tak ada gading yang tak retak, begitu juga dalam kehidup tak ada manusia yang tak luput dari kesalahan, tak ada rumah tangga yang tak pernah ada keributan, pertengkaran, pertikaian, perselisahan pendapat. Seperti itu jugalah yang kurasakan saat ini. Tapi aku percaya inilah ujian cinta itu, siapapun bisa di uji.
Dua minggu sudah aku berhenti dari pekerjaan, dan hampir dua minggu itu juga Mas Jaya tidak pernah pulang, dan aku sendiripun nggak berniat untuk mencarinya. Dia sendiri yang keluar dari rumah ini, dulu dia pernah bilang, yang namanya ombak akan tetap kembali ke Pantai.
Besok adalah Hari pernikahan Mas Mas Danu, undangan sudah kuterima, sementara aku belum membeli kado untuknya. Pagi ini selesai merapikan beberapa tanaman, aku mengajak Bi Ijah untuk jalan-jalan ke Mall selain untuk mencari kado juga untuk sedikit melepaskan rasa jenuhku selama ini.

" Udah berapa lama kita keliling Bi?" Tanyaku sama Bi Ijah sambil menyunggingkan senyum kepadanya.
" Nggak tau Bu." Jawabnya singkat, tapi dari raut wajahnya aku bisa rasakan dia juga udah capek, seperti aku.
"Kita duduk di food court yuk. Saya juga udah lapar."
Setelah aku sama Bi Ijah duduk dan memesan makanan, mataku sempat melihat Mas Jaya sedang duduk dikejauhan memperhatikanku.
Ternyata bukan hanya aku yang mengetahui keberadaanya, Bi Ijahpun sempat melihatnya.
" Bu, sepertinya yang duduk di coffe shop itu Bapak." Ucap Bi Ijah, dengan bola mata sedang memperhatikan seseorang.
" Iya, biar aja. Nggak usah kita hiraukan, pura-pura nggak tau aja." Ucapku membalas perkataan Bi Ijah.
Kulihat Bi Ijah senyum-senyum.
" Bibi lagi senyumin apa?" Tanyaku dengan sedikit rasa penasaran.
" Kalau dipikir-pikir lucu ya Bu, kemarin Bapak marah-marah nggak jelas, kita di rumah pada nangis." Ucapnya sambil menundukkan kepalanya. "Maaf Bu kalau omongan saya lancang."
" Saya lebih seneng Bibi mau ngomong gini, kita bisa lebih saling terbuka, jadi nggak ada jarak." Sambil mengelus pundak Bi Ijah. " Tapi benar juga kalau dipikir-pikir lucu jadinya."
" Selama Bapak nggak di rumah, kalau Bibi ke pasar pernah ketemu Bapak?" Tanya ku kembali pada Bi Ijah.
Mendapat pertanyaan seperti itu dariku, Bi Ijah hanya menundukkan kepala.
" Berarti pernah, dan Bapak melarang Bibi untuk ngomong, gitukan?" Ku genggam tangan Bi Ijah.
" Maaf Bu." Jawab Bi Ijah.
Karena pesanan makan kami sudah datang, akupun mengakhiri pembicaraan dengan Bi Ijah.
" Udah, yuk kita makan." Ajakku.
Selama aku menikmati makananku masih kulihat Mas Jaya duduk ditempatnya. Kuambil HP untuk menghubunginya. Kalau aku telphon, dia pasti nggak akan angkat, setidaknya cukup aku kirim pesan aja.
[Assalamu'alaikum Mas, Maaf kalau aku hubungi kamu. Besok hari pernikahan Adiknya Bapak, kalau kamu bersedia tolong temani aku ya, Aku janji nggak akan membahas masalah pertikaian kita, setidaknya jangan biarkan aku pergi sendiri, aku hanya nggak ingin Ibu ngomong yang tidak-tidak. Maaf kalau aku merepotkan kamu. Terima kasih sebelumnya aku ucapkan atas kemurahan hati kamu.]
Setelah pesan itu aku kirim, aku melanjutkan makanku. Sampai selesai makanpun, tak ada balasan sama sekali. Mungkin memang dia nggak akan menemaniku, sudahlah Zahra jangan berharap lagi, kamu bisa pergi sendiri.
Selesai makan dan ngobrol sebentar aku sama Bi Ijah memutuskan pulang, karena hari juga semakin siang. Tak lupa kado untuk Mas Danu juga udah kubeli.
Baru saja aku menjatuhkan diri di sofa ruang tengah, pintu rumahku diketuk orang. Mau nggak mau dengan sedikit malas-malasan aku berjalan untuk membuka pintu.
"Boleh aku masuk?" Ucap seorang pria, yang tak lain adalah Mas Jaya.
" Masuklah." Jawabku.
Ini orang kalau mau masuk ya masuk aja, nggak usah sok jadi tamu gitu. Keluar dari rumah udah konslet otaknya. Bisik batinku.
Dua minggu nggak pulang, kelihatanya sedikit lebih kurus dia, kulitnya juga semakin gelap aja, apalagi wajahnya sudah mulai sedikit brewokan.
" Kamu dah makan Mas?"
" Aku nggak lapar, aku mau tidur." Direbahkannya tubuhnya diatas karpet yang terbentang diruang tengah.
"Nggak disofa aja? atau di kamar?"
"Aku mau disini."
Terserah dia aja, yang penting dia pulang. Sejujurnya masih sakit hati dengan tingkahnya, sakit hati dengan semua ucapannya, tapi mengalah itulebih baik, setidaknya sampai besok. Kutinggalkan Mas Jaya yang tertidur di ruang tengah.

****
" Besok berangkat jam berapa?" Tanya Mas Jaya selepas dia makan malam.
" Jam 10 aja, sampai sana paling jam 11." Jawabku.
" Ucapanku kemarin, yang bilang itu bukan anakku, aku minta maaf, aku emosi, aku menyesal. Aku mengakui itu anakku. Tapi untuk memaafkanmu karena udah mengkhianatiku, aku nggak bisa." Setelah mengatakan itu dia langsung pergi. Kulihat dia mau memasuki kamar tamu.
Sebelum dia masuk, aku menghentikan langkahnya.
" Mas, Aku berterima kasih atas pengakuanmu tetang anak ini, kamu mau mengakui itu udah lebih dari cukup buatku, terima kasih juga besok kamu mau menemaniku. Apapun keputusan yang akan kamu ambil untuk pernikahan kita aku siap menerimanya. Aku minta maaf atas kesalahan yang kulakukan, kamu menuduhku selingkuh dan mengkhianatimu, aku terima dan untuk kesalahanmu aku sudah maafkan. Satu hal yang kamu harus ingat, kamu selalu memintaku untuk tidak meninggalkanmu, sampai hari ini aku sudah lakukan itu, kalau besok setelah acara itu kamu tinggalkan aku, dan kamu menjatuhkan talaq tiga sekalipun aku siap. Mungkin rumah tangga kita hanya sampai disini, do'aku semoga kamu selalu bahagia. Selamat malam."

Kulihat dia masuk ke kamar, tinggal aku yang masih duduk dikursi makan. Sampai hari dia pulangpun aku nggak tau pengkhianatan apa. Karena aku memang nggak pernah merasa mengkhianatinya.
Aku hanya minta Engkau menunjukkan kebenaran ya RABB, Hamba tau Engkau tidak membenci perceraian, tapi Hambapun tau, Engkau sangat membenci hal itu, jika Engkau masukkan Hamba kepada perkara yang Engkau benci, maka kepada siapa lagi Hamba memohon ampunan, karena Engkau satu-satunya tempat meminta pengampunan, tidak ada lagi Tuhan yang berhak disembah selain Engkau.
*****

Pagi itu sepulang Mas Jaya dari pasar, dan menunggu dia selesai mandi, aku berusaha untuk mempersiapkan keperluannya.
" Kamu mau pakai baju apa Mas?" Tanyaku disaat dia masih di kamar mandi.
" Pakai kemeja warna coklat aja, sama celana levis yang coklat tua itu." Jawabnya dan keluar dari kamar mandi.
" Biar aku pakaikan baju kamu ya, aku nggak tau besok masih bisa seperti ini atau tidak, setidaknya izinkan aku masih menjadi istrimu untuk saat ini." Ucapku dengan menyunggingkan senyum.
" Iya" Jawabnya singkat.
Setelah aku selesai membantunya, kupegang kedua pipinya, untuk menundukkan kepalanya, dan mengecup keningnya.
" Makasih ya Mas, kamu dah rapi sekarang giliran aku mau siap-siap, kamu boleh tunggu aku di bawah."
Nggak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya, tapi aku masih bisa rasakan tatapan matanya, masih ada kehangatan dan cinta disana. Alhamdulillah, beribu pujian hamba sampaikan kepada Mu ya Allah, Engkau masih memberikan cinta dan kasih sayang Mu kepada Hamba Mu ini.
Selama diperjalanan aku dan Mas Jaya seperti orang asing yang tidak saling kenal.
Ya Allah sebegininya, naik taxi onlinepun masih ada basa basinya, ini asli diam, nggak ada komunikasi, serasa naik mobil yang dikemudikan hantu.
" Yakin disini tempatnya?" Tanya Mas Jaya setelah sampai didepan loby hotel tempat resepsi pernikahan Mas Danu.
" Iya disini, sesuai undangannya." Jawabku.
" Nggak minta pakai baju khususkan?" Tanya Mas Jaya kembali.
" Enggak, bebas." Lalu aku dan Mas Jaya keluar dari mobil, menuju tempat resepsi.
Begitu sampai di dalam gedung pertemuan Kulihat beberapa kerabat dari Bapak sudah ada disana, dan beberapa tamu undangan juga sudah mulai berdatangan. Orang yang pertama kali kulihat adalah Bude Mila, saudara sepupu Bapak.
Setelah basa basi, aku dan Mas Jaya berjalan mendekati Raja dan Ratu sehari itu. Mas Jaya menghentikan langkahnya beberapa meter setelah melihat kedua mempelai.
" Zahra, itu benar Om mu yang nikah?" Tanya Mas Jaya dengan raut wajah sedikit heran.
" Iya, kamu nggak lihat yang disampingnya itu Bapak sama Ibu. Maskan tau kalau Bapak sudah nggak punya orang tua lagi, makanya Bapak mewakili Mas Danu sebagai pengganti orang tua." Jawabku.
Seketika raut wajah Mas Jaya berubah, senyum yang dari kemarin tidak menghiasi wajahnya saat itu juga keluar. Dia yang sedari tadi nggak ingin aku pegang, langsung menyelipkan jari-jari tangannya disela jariku.
" Kamu kenapa berubah jadi hangat gini, Mas."
" Nggak pa-pa, udah yuk, kasihan mempelainya dianggurin sama kita." Ditariknya pelan tanganku untuk mendekati Mas Danu dan Mbak Wiwin.
Mbak Wiwin juga sempat kaget pada saat aku memperkenalkan Mas Jaya adalah suamiku. Pada saat Mbak Wiwin memperkenalkan Mas Jaya pada orang tuanya dan mengatakan kalau Mas Jaya adalah aslinya Dirut diperusahaannya, ekor mataku sempat melirik kepada Ibuku yang berdiri nggak jauh dari kami.
Apakah ibuku setelah mengetahui siapa Mas Jaya akan berubah menjadi wanita yang lebih manis kepada menantunya ini atau tidak, tapi hubunganku sama Mas Jayakan sekarang... Ah sudahlah pusing aku mikirinnya.
" Sayang, kamu lapar nggak? Aku ambilin makan ya." Ucap Mas Jaya, setelah kami duduk dikursi yang sudah disediakan untuk tamu.
" Kamu sehat Mas? kenapa kamu tiba-tiba berubah gini." Kukerutkan keningku karena mendengar ucapannya.
" Aku sehat sayang, sehat luar dalam, hatiku lagi bahagia sekarang." Diusapnya perutku " Anak papa lapar ya nak, biar mama makan, maafin papa ya sayang." Spontan dia mencium pipiku, lalu pergi mengambil makanan.

Kulihat Tante Maya menghampiriku. " Hei, Nyonya Heru Sanjaya, nggak tau Tante kalau ponakan Tante tercinta ini Nyonya besar."
" Tante, mau Nyonya besar, nggak Nyonya besar tetap aja ujian hidupnya sama, bahkan ujian sebagai Nyonya besar sungguh luar biasa, buat sumur air mata kering."
Aku dan Tante Maya tertawa. Mas Jaya menghampiriku dengan membawa sepiring makanan.
" Kamu makan yang banyak, aku mau kesana." Lalu dia menunjuk kearah sekumpulan laki-laki yang aku nggak mengenalnya. Belum aku menjawab dia langsung pergi.
" Za, reaksi Ibumu gimana setelah tau siapa menantunya?" Tanya Tante Maya.
Aku hanya menangkat kedua bahuku.
" Duh Kakakku tercinta itu, gemes banget liatnya, pengen Tante ciumin aja biar kurus."
" Kalau ciuman kita berdua bisa buat wanita yang kita cintai itu langsing, bahagia banget hatinya."
Spontan Aku dan Tante Maya tertawa. Lagi asik-asik bercanda, pandangan mata kami berpindah kearah suara sexy yang sedang menyanyikan sebuah lagu. Ku lihat Mas Jaya sedang memainkan gitar akustik sambil menyanyikan lagu Bryan Adams " Please for give me."
" Meleleh Adek Banggggg...." Ucap Tante Maya.
Aku langsung melahap makananku nggak menghiraukan Tante Maya yang terus meledeku.
============

bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar