Persaudaraan Muslimah Indonesia, mempelajari Islam Secara Menyeluruh.

Kamis, 26 Maret 2020

SEPIRING TULANG AYAM 6 - 10

SEPIRING TULANG AYAM
🌷🌷🌷
Bagian 6 author : Marrie Anne
(Panen Yang Gagal)
🌷🌷🌷

"Bu, material banyak yang kurang."
Pak Yudi, kontraktor yang mengerjakan rumahku datang memberikan laporan.
"Apa saja itu pak?" Tanyaku.
"Genteng, semen, pasir, hebel dan masih banyak lagi. Nanti saya buatkan rinciannya."
"Baik pak."
Ya, aku memang mengawasi sendiri pebangunan rumahku, rumah nyaman 2 lantai dengan 6 kamar yang kutinggali bersama suami dan anak-anakku.
Mulai dari desain, hingga material yang digunakan.

Melihat tumpukan material yang begitu banyak, seketika ingatanku melayang ke suatu masa 33 tahun yang lalu.
Di sebuah hutan belantara, tempat aku lahir dan dibesarkan.
Sebuah pondok yang hancur karena hujan angin, yang dengan susah payah berusaha kami bangun kembali.
🌹🌹🌹
Sudah selesai dek?" Tanya abang kepada kakakku, sebut saja namanya Ina.
"Sudah bang!" Jawab Ina sambil menyerahkan tumpukan daun Nipah yang sudah dilipat-lipat dan dianyam.
Hari itu, bapak, mak, kakak dan abang bahu-membahu mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan untuk membangun ulang pondok kami.
Sementara aku, dengan panas yang masih naik turun dan sesekali mengingau ketika tertidur, meringkuk digendongan bapak.
"Nak, ini kayu Peringnya dikupas kulitnya," kata bapak kepada kakak.
Sambil menggendongku, bapak pergi bolak balik ke hutan memotong dan mengumpulkan kayu Pering.
Setiba di pondok, kakak-kakak ku bertugas mengupas kulit kayu-kayu itu.
Nantinya akan digunakan sebagai lantai dan tiang-tiang.
Untuk mengikat tiang-tiang digunakan tali dari tanaman merambat yang aku lupa namanya, panjang dan kokoh. Mungkin juga akar pohon.

Jangan tanya palu dan paku, kami tidak punya! Bahkan tidak tau benda apa itu.
"Pak, aku diturunin aja, aku baringan di pondok," kataku lemah.
"Tidak usah nak, bapak gendong saja, pondok belum rapi," bapak bersikukuh menggendongku.
"Tapi bapak berat, menggendongku sambil memotong kayu."
"Udah kamu tidur aja, bapak kuat kok."
Dan akupun tertidur lagi.
Tidak! aku tau bapak tidak kuat seperti perkataannya.
Aku bisa merasakan nafas bapak tersengal-sengal sembari memotong dan menggotong kayu dalam jumlah banyak.
Mata bapak cekung karena tidak tidur, tapi ada kasih dan semangat yang membara untuk membangun tempat beristirahat yang nyaman buat kami dan mak.
Memang dari ke tujuh anaknya, akulah yang paling sering di gendong bapak.
Mungkin karena dari lahir, aku yang paling gampang sakit.
Tubuhku kecil sekali. Sepertinya prematur.
Tapi kata bapak, waktu aku lahir, Tempayan kami yang berisi beras tiba-tiba meluap, berasnya tumpah ruah.
Dan itu pertanda baik. Aku mungkin akan jadi anak yang merubah nasib hidup kami, begitu selalu kata bapak.
Percaya nggak percaya.
Tapi memang dari kecil, aku berbeda.
Aku sering ngotot dalam segala hal.
Tidak gampang menyerah, seperti ketika aku merebut jambu bijiku dari Babi hutan.

Seperti ketika aku rela menumbuk sekarung padi demi sebuah jarum.

Kata mak, kemauanku keras dan aku tak bisa dibantah. Aku hanya diam ketika aku sakit.
"Sebentar kalian semua makan dulu ya, ini mak masak daun Simpur rebus." Terdengar suara mak memecah keriuhan suara daun dan kayu.
Cara memasak kami adalah dengan cara di rebus, atau kalau daging di bakar.
Air minum kami menimba dari sumur, airnya jernih. Kopi, gula, teh? Tidak! Kami tidak tau.
"Iya mak, sebentar lagi!" Jawab kakak.
Kami sekeluarga memang kompak dalam mengerjakan apa saja.
Kata bapak dan mak, kami harus selalu bersama dalam situasi apapun.
Harus menjaga satu sama lain, kita hidup sendiri, tidak bisa berharap pada siapapun.
Tidak boleh ada keributan antar kakak adik, begitu selalu pesan mak bapak.
🌹🌹🌹
Pondok yang kami bangun, berada di tengah-tengah hutan.
Di samping pondok terdapat sungai kecil tempat mandi dan mencuci, lebih tepatnya sebenarnya rawa yang di gali lebih dalam dan dibersihkan rumput-rumputnya sehingga membentuk kubangan air seukuran kolam renang standar.
Disekitarnya rumput-rumput rawa dibiarkan tumbuh liar.
Sesekali sepanjang rawa disekitar tempat kami mandi ditanami padi, tapi jarang, belum tentu sekali setahun. Abang dan bapak lebih suka membuka hutan untuk ditanami padi, karena setelah panen selesai bisa langsung ditanami karet.
Sementara dirawa dipasang perangkap yang namanya Bubu, untuk menangkap kepiting atau ikan lele.
Di rawa itu juga abang selalu menangkap Ular sawah, teman bermainku.
Kami hidup dalam keterbatasan tapi tak pernah merasa kekurangan.
Mungkin karena tidak pernah merasakan apa yang lebih, jadi kami merasa cukup.
Kami tidak pernah bertanya, kenapa kami tinggal di hutan, tidak seperti orang lain, atau bahkan saudara-saudara dari bapak yang tinggal di desa.
Sedangkan mak sendiri berasal dari kampung yang jauhnya hampir sehari semalam berjalan kaki dari pondok kami.
Pernah, bapak, dalam ceritanya menjelang kami tidur, bilang bahwa waktu menikahi mak, bapak cuma berbekal seikat kayu bakar, satu buah parang dan satu Senapan laras panjang yang namanya Senapan Lantak.
Bapak orang nya pendiam tapi pekerja keras. Tidak meminta apapun dari kakek nenek, juga tidak mau tinggal dengan kakek nenek karena tidak mau jadi beban. Bertekad untuk hidup mandiri, menghasilkan dari tenaga sendiri.
Pada waktu itu, kata bapak, asal rajin dan mau berusaha, semua orang bisa membuka lahan asal belum ada yang mengakui lahan tersebut.
Mulailah bapak memilih hutan, mencari tempat yang pas untuk membangun pondok, dan membuka lahan untuk berladang.

🌸🌸🌸
Menjelang malam, pondok belum selesai di bangun.
"Paling tidak atap dan lantai sudah terpasang," begitu kata bapak.
"Besok kita teruskan lagi!"
Sepanjang malam, kami tidur di lantai tanpa dinding.
Dingin, iyaa sangat dingin.
Aku tidur di peluk bapak.
Kakak kakak tidur dekat mak, sementara abang-abangku di bagian sisi luar berjaga-jaga kalau-kalau ada binatang mendekat.
"Pak.....bapak," aku terbangun saat kurasakan tidak ada bapak di sebelahku.
Dengan sedikit tenaga aku mencoba mencari bapak.
Sepertinya sudah tengah malam.
Kulihat dikejauhan, bapak sedang menganyam daun ilalang untuk dinding.
Ditemani pelita yang sesekali tertiup angin.
Bapak sepertinya sengaja bekerja agak jauh dari pondok supaya tidak berisik.
Ahhh bapak!
"Bapak kenapa tidak tidur?"
"Bapak belum ngantuk nak, kamu tidur saja dulu ya nanti bapak temani lagi."
Tidak mungkin bapak tidak mengantuk. Pikirku.
Pasti bapak bekerja supaya besok pondok cepat selesai di bangun.
Kasian bapak!
🌼🌼🌼
Keesokan harinya kembali kakak abang bapak dan mak bekerja menyelesaikan pondok.
"Ahhhh akhirnya selesai juga!" teriak kakakku.
Kulihat wajah bahagia mak dan bapak.
Nanti malam kami akan tidur nyenyak lagi.
"Mak kami berangkat dulu." Abang dan bapak berpamitan berangkat ke ladang untuk melihat padi.
Tidak ada waktu istirahat, bekerja dan bekerja. Begitulah bapak dan abang.
"Bapak...aku ikut!" Rengekku.
Badanku sudah baikan, aku ingin ikut melihat padi-padi kami yang sudah berbuah.
"Ayo!"
Aku berjalan dengan riang, bapak paling depan, abang di belakang.
Kakak dan mak masih membereskan barang-barang yang tidak seberapa di pondok.
Kami tidak sabar melihat padi yang sudah berbuah, tinggal menunggu matang saja.
"Pak...pak lihat!" Teriak abangku.
Kami terperangah.

Kulihat raut wajah bapak terlihat sangat sedih. Sulit digambarkan dengan kata-kata.
Hamparan padi yang sudah berbuah namun belum matang, hampir rata dengan tanah.
Bahkan ada banyak yang akarnya tercabut.
Rupanya hujan angin beberapa hari lalu memporak-porandakan padi-padi itu.
Kulihat bapak bergegas mencoba mencari-cari tanaman padi yang masih bisa ditegakkan.
Tubuh kurusnya membungkuk kesana kemari.
Sia-sia!
Satu persatu, tak bisa terselamatkan.
"Pak, coba kita lihat sebelah sana!" Teriak abang.
Bapak segera menyusuri sampai ke ujung-ujung lahan.
Tidak...tidak ada tanaman yang masih utuh!
Dengan tak kenal lelah bapak kembali menelusuri batang batang padi, barangkali ada buahnya yang sudah matang.
Tidak...tidak ada.
Kulihat wajah bapak!
Tergurat kesedihan yang dalam.
Perlu berapa lama lagi untuk menanam ulang, menunggu berbuah dan matang.
Akankah padi di pondok mencukupi kebutuhan kami selama beberapa bulan ke depan!
Dengan tertatih-tatih kelelahan bapak menghampiriku.
Kami berjalan pulang dalam diam.
"Nanti kita tanam lagi ya nak," kata bapak dengan suara lirih.
Tanpa kata menyerah atau putus asa.
"Iya pak," jawabku pelan.
Ahh bapak.
Aku ingin cepat besar, supaya bapak tidak perlu bekerja keras di ladang.
Batinku.
🌷🌷🌷
(Marrieanne's)

----

SEPIRING TULANG AYAM
🌷🌷🌷
Bagian 7
(Beragih)

🌷🌷🌷
Di sebuah lahan di tengah hutan.
Terlihat bukit-bukit kecil dan lembah yang sudah dipenuhi tanaman padi.
Terlihat indah sekali, tak bosan-bosannya mata memandang.
Memang menanam padi dengan sistem berladang, mengikuti bentuk tanah.
Tidak ada yang perlu di cangkul untuk diratakan.
Apabila musim menanam, aku paling senang kebagian menanam di area yang berbukit.
Aku merasa seperti penguasa ladang setiap kali berada di puncak bukitnya.
Ya, bapak dan abang memang sudah membuka lahan kembali. Lahan yang baru, sementara yang lama sudah ditanami karet.
Sejauh mata memandang, terlihat hamparan padi yang mulai menguning. Sebentar lagi akan panen, sepertinya satu bulan lagi, masa yang sangat menyenangkan sekaligus kerja semakin berat.
Diantara tanaman padi, mak menanam timun, terong, labu siam, labu air dan masih banyak tanaman sayur lainnya.
Sudah banyak juga yang siap di petik.
"Nak, besok katanya ibu-ibu di desa mau pergi ke kota Kecamatan, mak mau ikut, beragih kesana." Terdengar suara mak pagi itu.
Beragih adalah istilah yang biasa digunakan untuk kegiatan menjajakan sayur-mayur dari pintu ke pintu.
"Iya mak. Mak mau bawa jualan apa?" Tanyaku dengan semangat.
"Mak mau bawa daun kedadai, simpur, remudang, pakis, terong, cabai, timun ladang, ubi jalar, labu air, daun singkong. Sebentar kita pergi ke ladang ya nak."
"Iya mak." Jawabku senang.
Sepanjang pagi hingga sore, aku, kakak, dan mak berkeliling di sekitar hutan dan ladang, mengumpulkan aneka sayuran.
Tidak sulit, karena di hutan sudah tersedia banyak sekali, asal kita rajin dan tak cepat menyerah.
Tertusuk duri itu sudah biasa.
Di sengat ulat juga biasa.
Ada yang perlu di panjat, di tebas, di cabut, kesemuanya hanya perlu semangat dan kerja keras.
Di dalam hutan, yang harus diwaspadai adalah binatang hutan seperti Beruang, Rusa, Kijang, Ular, Babi hutan.
Terutama Beruang, Ular, dan Babi hutan harus dihindari.
Karena keduanya cenderung berani berhadapan dengan kita.
Sebaliknya, Rusa dan Kijang, biasanya mereka lari menjauh atau malah diam saja.
Bapak memasang perangkap cukup banyak di sekitar hutan, jadi kami juga harus hafal lokasi-lokasi jebakan tersebut.
Setelah terkumpul cukup banyak sayuran dan buah, kami segera pulang.
"Ini daunnya yang tua-tua jangan di bawa ya nak, tidak boleh jual daun yang tidak bagus."
"Iya mak," jawabku patuh.
Kami bekerja memilah-milah daun singkong yang tua dan muda.
"Terus ini daun simpur yang bolong-bolong ada bekas gigitan ulat, juga harus dipisahin." Lanjut mak.
"Cabai nya di bungkus kecil-kecil."
"Daun kedadai di bungkus dengan daun simpur tua supaya tidak gampang layu, trus di ikat."
Mak terus membimbing kami, agar bisa memilah-milah sayuran dengan baik.
Mak bapak mengajarkan kami untuk selalu jujur dalam segala hal, tidak boleh curang demi mendapatkan keuntungan lebih.
Kalau mau, bisa saja daun-daun sayur yang agak tua atau di gigit ulat disatukan saja trus diikat jadi kelihatan banyak tapi tidak boleh begitu kata mak.
Biar dapat sedikit yang penting kita jujur.
Berilah yang terbaik, begitu kata bapak.
Dan kami anak-anak selalu menyimak, tidak pernah membantah.
Untuk sayuran buah, ditempatkan di Cupai, gendongan yang terbuat dari rotan atau bambu. Ada talinya, panjang. Talinya ditempatkan di kepala, sementara cupainya di punggung.
Untuk sayuran daun-daun disusun rapi, di keranjang tangan. Terbuat dari rotan juga.
Nantinya mak akan membawa keranjang tersebut di tangan kiri dan kanan.
Kami semua senang, besok mak sudah punya banyak sayuran buat dijajakan.

🌹🌹🌹
Keesokan hari, pagi-pagi sekali mak sudah berangkat.
Kulihat senyum merekah di wajah cantiknya.
Ada segunung harapan terlihat di sana.
Harapan bisa pulang membawa baju bekas, dan uang. Serta membeli beberapa macam bahan dapur kalau memungkinkan.
Setelah beberapa kali bapak berjualan ke desa, juga ke kota kecamatan yang jaraknya lumayan jauh dari pondok, kami memang sudah mulai mengenal garam dan micin.
Ternyata masakan jadi enak sekali setelah ditambah kedua bahan dapur tersebut.
"Nak, mak berangkat ya," suara mak terdengar ceria dan penuh semangat.
"Iya mak, hati-hati ya mak."
Aku dan kakak-kakak juga bersiap-siap untuk berangkat menyadap karet.
Hari masih subuh. Hari Minggu jadi kami tidak sekolah.
Tapi bukan berarti kami bisa bangun siang.
Bahkan tiap hari sebelum berangkat ke sekolah pun kami harus menyempatkan diri ke kebun karet yang dekat pondok.
Membantu mak dan bapak.
Sekitar jam 4 sampai jam 4.30 subuh kami menyadap karet.
Pulang mandi, baru bergegas berangkat ke sekolah.
Pulang sekolah kami menumbuk padi hingga sore. Begitulah rutinitas kami.
Kecuali hujan, tidak menumbuk karena padi harus di jemur panas-panas baru bisa ditumbuk.
Kalau hari Sabtu dan Minggu, kami ikut menyadap karet sampai pagi, ke kebun yang agak jauh lokasinya.
Kata bapak, hasil penjualan getah karet akan di kumpulkan untuk membeli papan, bapak mau membangun rumah di desa.
Supaya kami tidak perlu berjalan kaki jauh ke sekolah.
Tapi masih lama, kata bapak perlu banyak getah karet untuk membeli papan yang mahal itu.
🌷🌷🌷
Belum juga siang, dari kejauhan ku lihat mak sudah pulang.
Bawaan mak sepertinya berat.
Aku senang.
Kupikir, mak pasti dapat banyak pakaian atau belanjaan.
Aku segera menyongsong mak yang masih berada di ujung jalan.
Tapi ku lihat wajah mak yang sedih sekali.
Dan yang lebih mengherankan, semua isi keranjang dan cupai masih utuh.
"Mak gak jadi beragih?" Tanyaku polos penuh tanda tanya.
"Gak jadi nak," mak menjawab sendu.
"Kenapa?"
Mak terdiam.
"Kenapa mak gak ikut ke kota?"
Aku masih tidak mengerti.
"Ibu-ibu di desa gak bolehin mak ikut ke kota!" Jawab mak pelan.
"Kenapa mak?" Aku penasaran.
"Katanya mak gak bisa mengenali uang, nanti bikin repot mereka!"
"Kalau ada yang beli dagangan mak, nanti katanya, sebentar-sebentar mak tanya mereka ini uang berapa." Lanjut mak.
"Tadi mak coba tawarin dagangan mak di desa, tapi orang-orang di desa sudah beli ke penjual lain, jadi mak pulang saja."
Seketika mak menangis.
Ya, memang selama ini, mak bapak hanya mengandalkan kejujuran pembeli dalam membayar dagangan.
Mak tidak mengenali nilai uang.
Begitupun kalau membeli sesuatu, apa kata penjual mereka ikut saja.
Aku terpana, pertama kali aku merasakan perasaan yang aneh.
Melihat air mata mak.
Marah, iya, aku marah!
Aku marah kepada ibu-ibu itu yang menyakiti hati mak.
Aku marah dengan ketidaktahuan kami akan banyak hal.
Seketika aku menangis, ku peluk mak.
"Sabar mak, nanti aku besar, kuajak mak menghitung uang yang banyak, entah bagaimana caranya, tapi pasti uang yang banyak!" Batinku pilu.
🌹🌹🌹
(Marrieanne's)

----

SEPIRING TULANG AYAM
🌷🌷🌷
Bagian 8
(Sakit)

🌷🌷🌷
"Mak lagi apa?" Aku habis bermain dengan adikku di rawa sore itu.
Tentu saja setelah selesai membantu mak menumbuk padi.
Di rawa banyak terdapat pohon yang ada buah nya, bisa di makan, warnanya hitam, ahhh lupa lagi namanya apa. Pohonnya tinggi.
Rasanya enak, manis!
"Mak lagi potong sayur buat makan nanti malam, sini bantuin mak!"
"Iya mak."
Aku memotong-motong daun Kedadai, sementara mak menyalakan kayu bakar di bawah tungku.
Kami memasak menggunakan Sampau, sejenis periuk, bisa digunakan untuk memasak nasi, juga memasak rebus-rebus.
Ada talinya.
Cara memasak kami hampir selalu sama, untuk rebusan, rebus air terlebih dulu sampai mendidih baru ditambahkan sayur-sayurnya, garam, micin, dan jahe.
Untuk yang dibakar, nyalakan kayu bakar, setelah bara cukup banyak, tinggal taruh ikan atau daging diatasnya.
Selesai!
Masakan mak selalu paling nikmat, sampai hari ini.

🌷🌷🌷
Keesokan hari. Subuh.
"Dek, kita gak bisa masuk sekolah hari ini!" Teriak abang mengagetkanku.
"Kenapa bang!"
Adikku satu-satunya mulai masuk sekolah.
Aku sudah duduk di bangku kelas 2 SD, sekelas dengan kakakku, karena Ina sempat tidak naik waktu kelas 1.
Sementara abangku Adri, anak no 4, duduk di kelas 4 SD,
Kakakku anak no 3 sekolah sampai kelas 2 SD, kemudian berhenti dan sehari-hari membantu mak bapak.
Sedangkan kakak no 2 tidak pernah mengenyam bangku pendidikan, sama juga, kesehariannya membantu mak bapak di kebun dan di ladang.
Abangku tertua, sudah berhasil menamatkan pendidikan SD nya, tetapi tidak melanjutkan ke SMP. Tidak ada biaya kata bapak.
Dia lah yang banyak sekali membantu bapak membuka lahan, sambil ikut mengurus kami adik-adik.
"Sini dek!"
Seketika aku berlari keluar pondok. Kami melihat sepanjang rawa, bahkan sungai tempat kami mandi sudah tidak terlihat batasannya dengan rumput-rumput yang tumbuh di rawa.
Rupanya hujan tadi malam membuat air meluap, belum pernah terjadi seperti ini.
Abang segera mencari-cari batang titian penghubung antara pondok dan jalan setapak di seberang rawa,
Namun tak terlihat satu pun.
Memang, antara pondok dan jalan setapak menuju desa, dipisahkan oleh rawa, kami menggunakan kayu-kayu bulat besar sebagai jalan titian.
Jaraknya sekitar 200 meter.
"Titiannya hilang semua dek, hanyut!"
Aku kecewa.
Aku tidak pernah bolos dengan alasan apapun.
"Bang aku gak mau bolos!" Kataku setengah menangis.
Bu guru selalu bilang kalau mau pintar tidak boleh bolos.
Bagaimana aku bisa pintar kalau aku bolos.
Bagaimana aku bisa membelikan mak barang-barang kalau aku tidak tau caranya.
"Tapi titian hilang semua dek!"
Abang masih tetap berusaha meyakinkanku.
Kali ini aku benar-benar menangis.
Abang tidak tega melihatku.
Dia tau, di antara kami bersaudara, aku satu-satunya yang berkemauan keras.
Kalau sampai aku menangis artinya aku benar-benar harus berangkat sekolah.
Kalau aku tidak di bantu, pasti aku akan cari jalan sendiri.
"Ya sudah, sini bantuin abang, kita potong pohon pisang aja buat rakit!"
Segera kami bahu-membahu memotong pohon pisang.
Lalu abang mulai mengikat tiap potongan dijadikan satu buah rakit yang cukup lebar.
Kalau terlalu lebar, khawatir terlalu berat malah tenggelam.
"Dek ini sudah selesai, ayo siap-siap abang antar ke seberang!" Begitulah abangku yang tertua selalu memperhatikan kami.
Aku, adekku Tuti, Ina dan Adri segera bersiap-siap.
"Aku duluan aku duluan!" Teriakku.
Kami semua memakai celana pendek, sementara pakaian sekolah di bungkus daun pisang.
Berlapis-lapis jangan sampai basah.
Aku segera naik ke rakit, sementara abangku sambil berenang berusaha mendorong rakit pohon pisang tersebut. Sesekali rakit tersangkut diujung-ujung pohon yang beberapa masih terlihat.
Belum seperempat perjalanan, rakit tiba-tiba mulai timbul tenggelam, mungkin juga pohon pisang terlalu berat kemudian menyerap air sehingga tidak bisa lagi mengambang. Yang jelas aku harus segera turun.
Tidak aku tidak akan menyerah.
"Udah dek pulang aja, libur dulu!"
"Gak mau bang!"
Segera aku melanjutkan menyeberang dengan cara berenang. Sementara bungkusan pakaian kuangkat tinggi-tinggi agar tidak basah.
"Udah abang pulang aja, aku berenang!"
Kataku pada abang.
Sayup kudengar adik dan kakakku berteriak bahwa mereka libur aja.
Dengan semangat membara, tanpa rasa takut, tanpa menyerah aku segera berenang menuju tepian jalan setapak.
Sesekali, aku berpegangan pada ujung pohon. Mengambil nafas, baru lanjut berenang.
Tidak. Aku tidak boleh lama-lama.
Aku bisa terlambat masuk sekolah, pikirku.
Sesampai di ujung jalan setapak, segera kuganti celana pendekku dengan pakaian seragam.
Secepatnya.
Sepatu belum kupakai, kami memang selalu membiasakan pakai sepatu kalau sudah dekat sekolah.
Untuk menghemat sepatu kata mak.
Sepanjang jalan kami bertelanjang kaki, lebih cepat walaupun sesekali menginjak duri atau potongan kayu.
Ku pacu langkah kakiku, penasaran hari ini belajar apa. Aku selalu senang apabila bu guru memberikan materi pelajaran yang baru.
Takjub!
Tapi kadang, aku juga sering penasaran, sering malah! Dengan apa yang teman-temanku kenakan.
Temanku Nur kemarin pakai pita baru dirambutnya, cantik sekali.
Dea, roknya baru, warnanya masih cerah sekali, beda jauh dengan rokku yang kusam.
Tini, pensilnya banyak dan panjang-panjang, sementara pensilku, satu-satunya. Sudah sangat pendek, sampai memegangnya pun sudah sampai diujung jari.
Selama pensilnya masih bisa di pegang kata mak, belum boleh di ganti.
Bahkan ada temanku yang sudah punya Sepeda, padahal jarak rumah dan sekolah dekat sekali.
Begitulah mak bapak mengajarkan bagaimana berhemat hidup dalam keterbatasan.
Dan aku hidup dalam rasa "Iri" kepada teman-temanku.
Yang kusadari kemudian, justru perasaan-perasan itulah yang membuatku terpacu untuk hidup lebih baik.

Aku selalu berusaha mendapatkan nilai terbaik, setiap kali ulangan, aku cari tau siapa yang nilainya paling tinggi, kalau ada teman nilai 8, besoknya kalau ada ulangan lagi aku harus minimal 9.
Pada jam istirahat, ketika teman-temanku bermain, aku lebih memilih duduk di pojok kelas, belajar lagi bagaimana membaca dan menulis lebih baik.
Begitulah aku memacu diri, tidak ada alasan keterbatasan jadi malas.
Hidup itu tentang perjuangan, dalam hal apa saja harus berjuang kata bapak.
Kupercepat jalanku.
Hari sudah siang, aku harus segera pulang.
Mak pasti sudah menunggu.
Kulepas kembali sepatuku, berjalan cepat, berharap air sudah surut.
Dari kejauhan kulihat ternyata air masih tinggi, artinya aku harus kembali berenang untuk bisa sampai pondok.
Lapar!
Kami memang tidak pernah bawa bekal makanan atau pun minuman. Apalagi uang.
Ahh...tidak sabar ketemu mak.
Mak pasti masak enak!

🌺🌺🌺
"Nak bapak pulang!"
"Bapak bawa apa?"
"Ini buah Mentawak matang!"
"Horee....."
Mentawak rasanya enak sekali, jarang ada.
Belum tentu setahun sekali.
"Ini ada juga buah Kemunting kesukaan kamu."
Bapak memang selalu membawa buah-buahan hutan, tiap kali pulang dari ladang.
Kemunting warnanya hitam, rasanya enak, berukuran bulat sebesar kelereng, sedikit lebih kecil, pohonnya tidak terlalu tinggi jadi gampang diambil.
Hampir di sepanjang jalan di hutan, dapat ditemukan buah Kemunting.
Boleh dikatakan, tidak mungkin kelaparan kalau tinggal di hutan, asal tau mana tumbuhan yang daun atau buahnya bisa di makan.

🌻🌻🌻
Malam menjelang.
"Makkk....perutku sakit!"
Terdengar rintihan adikku memecah keheningan malam.
"Bapak...bapak, aku mau buang air!"
Kakakku berteriak.
Bapak segera mengantar kakakku ke luar pondok. Ke semak-semak. Tidak ada toilet, tidak ada kakus.
"Bang...abang!" Aku pun tak kuat menahan mual. Dan muntah seketika.
Abang berusaha memapahku keluar pondok.
mengambilkan minum.
Bapak segera menghampiri, menggendongku.
Ya...bapak selalu menggendongku.
Jangankan lagi sakit.
Setiap pulang dari hutan pun bapak masih sering menggendongku.
Walaupun aku makin berat, kata bapak.
Beberapa saat kemudian.
Di pojok ruangan terlihat abang juga muntah-muntah.
Malam itu satu persatu kami kakak beradik muntah dan buang-buang air.
Entah apa sebabnya.
Padahal makanan yang kami makan sama seperti hari-hari sebelumnya.
Mungkin juga karena musim hujan.
Banyak penyakit.
Kami juga tidak mengerti.
Tidak ada obat.
Tidak ada dokter.
Menjelang pagi.
Aku meringkuk di dekat pintu. Kesakitan menahan perut yang mulas.
Mak bapak masih berjaga-jaga.
Kakakku di pojok dekat dapur.
Adikku tiduran di tengah-tengah ruangan.
Sementara abang di pojok ruangan dekat lumbung padi.
Kami bergeletakan menahan sakit.
Semalaman.
Mak dan bapak sibuk mengurus kami.
Sampai keesokan harinya.
Kulihat mak mulai muntah-muntah.
Tidak lama berselang bapak juga ikut muntah.
Sementara kami kakak beradik tidak ada perbaikan.
Masih muntah dan bolak-balik buang air.
"Bapakk....," terdengar suara adikku merintih pelan.
Tidak, bapak juga tidak kuat bergerak.
Mak juga sama, baringan lemah.
Kondisi kakak dan abang tidak ada yang membaik.
Siapa yang punya sedikit tenaga, dia yang membuatkan makanan seadanya.
Kami pun saling menyuapi.
"Pak, aku mau cari bantuan ke desa!"
Sudah hari ke tiga!
Abangku berusaha bangkit, dengan kekuatan yang tersisa, abang berjalan keluar pondok.
Bapak hanya memandang lemah.
Mak diam.
Bahkan untuk menjawab pun mak tak sanggup.
Baru beberapa langkah keluar pondok, ku lihat abang sudah kembali, sempoyongan.
Rupanya abang pun tidak kuat berjalan.
Dan kembali berbaring lemah.
Ku lihat mak memandang kami dengan tatapan sendunya.
Hati mak pasti sedih sekali. Sesekali mak menangis.
Bapak pun terdiam, bisa kulihat di mata bapak, sejuta pedih.
Ketidakberdayaan yang menyakitkan.
Melihat anak-anaknya merintih satu per satu.
Kami hanya menunggu.
Menunggu kesembuhan datang.
Menunggu keajaiban.
🌷🌷🌷
(Marrieanne's)

----

SEPIRING TULANG AYAM
🌷🌷🌷
Bagian 9
(Rumah Baru)

🌷🌷🌷
Hari menjelang malam.
Satu persatu, kami mulai tertidur.
Nyenyak, hingga keesokan harinya.
Tidak ada lagi yang muntah maupun buang-buang air.
Tanpa obat, tanpa pertolongan, seperti biasanya apabila sakit, kami pulih dengan sendirinya.
Bukan sekali ini saja, tapi cukup sering, sakit flu batuk demam sudah biasa.
Nanti juga akan sembuh.

🌹🌹🌹
Musim demi musim datang silih berganti.
Setiap tahun bapak akan membuka lahan untuk berladang.
Tanpa kenal lelah.
Hutan-hutan lebat ditebang pohonnya terlebih dahulu.
Dengan gergaji mesin? Tentu saja tidak.
Parang, iya, parang!
Parang lebar, panjang, dan sangat tajam.
Bapak dan abang akan mengayunkan parang tersebut sekuat tenaga ke tiap-tiap pohon besar.
Jangan bayangkan pohon mangga, setinggi apapun pohon mangga di depan rumahmu, itu tidaklah seberapa.
Pohon-pohon di hutan itu sangat besar, menjulang tinggi. Dengan dahan-dahan yang banyak. Tidak jarang kami panen lebah terlebih dahulu, karena lebah hutan sering membuat sarang di pohon yang tinggi.
Untuk menebang pohon-pohon di satu lahan, perlu waktu berhari-hari, minggu, bahkan berbulan-bulan. Karena pohon besar setelah tumbang, harus dipotong-potong lagi dahannya supaya gampang nanti waktu proses pembakaran.
Setelah pekerjaan menebang pohon selesai, barulah pekerjaan agak ringan yaitu menebas.
Yang ditebas adalah tanaman-tanaman kecil yang tumbuh diantara pepohonan yang sudah ditebang.
Seru ya!
"Pak, aku ikut ya!" Pintaku.
Iya, kalau untuk pekerjaan menebas memang kami anak-anak perempuan dan mak boleh ikut.
Untuk menebang hanya bapak dan abang, karena berbahaya kata bapak.
Pohon besar bisa saja menimpa kami.
Sedikit demi sedikit pekerjaan diselesaikan, potongan tanaman maupun pohon yang sudah tumbang dibiarkan kering.
Tinggal menunggu masanya untuk membakar lahan.
Sambil menunggu, bapak akan membuat semacam jarak kira-kira 2-3 meter antara lahan yang sudah ditebang dengan hutan disebelahnya yang belum ditebang.
Untuk menghindari api menjalar keluar lahan.
"Kamu jaga paling ujung sebelah kiri," perintah bapak kepada abangku tertua, Hadi.
"Adri ujung sebelah kanan."
"Kamu berdua sebelah sini!" Begitulah bapak mengatur kami satu persatu agar berjaga disetiap titik lahan yang akan dibakar.
Pekerjaan berbahaya.
Namun kami sudah terlatih dan tidak pernah gagal.
Bahkan kami sangat suka apabila waktunya membakar lahan, melihat api membumbung tinggi, semakin kering pohon maka akan semakin hangus artinya tanah akan semakin subur.
Jangan bicara perlindungan lahan hutan, kami tidak mengerti.
Yang kami tau, kalau tidak berladang, kami tidak makan.
Masih banyak pekerjaan lainnya, selesai dibakar, akan ada proses yang disebut Nayak yaitu membersihkan lahan dari kayu-kayu yang tidak ikut terbakar.
Aku sering sengaja mengambil potongan arang, lalu mencoretkannya di muka abang.
Tapi abang tak pernah marah!

Selesai Nayak barulah Menugal, yaitu membuat lubang-lubang dilahan dengan kayu yang sudah dibuat runcing. Baru benih padi dimasukkan ke lubang tersebut.
Kesemuanya itu perlu tenaga yang luar biasa, jangan tanya capeknya bagaimana.
Sudah pasti!
Tapi kami tidak pernah mengeluh. Bahkan selalu tidak sabar menunggu esok hari untuk segera memulai bekerja.
Bekerja di ladang sangat menyenangkan, apalagi kalau sudah masanya panen.
Rasanya semua kerja keras terbayarkan dengan melihat butiran-butiran padi yang menguning.
Selesai panen, lahan akan ditanami karet.
Sampai akhirnya bapak punya banyak kebun karet.
Hasil dari menyadap karet lah yang kemudian digunakan untuk membeli bahan-bahan rumah seperti papan dan atap sirap.

🌷🌷🌷
Kelas 3 SD.
Rumah kami di desa sudah selesai dibangun. Tidak besar. Seluruhnya terbuat dari kayu. Teras, ruang tamu, 3 kamar dan dapur.
Aku, Tuti dan kak Ina sekamar.
Adri dan Hadi sekamar. Dan satu lagi kamar mak bapak.
Sementara kakakku yang kedua sudah menikah dan tinggal di lain desa.
Begitu juga kakakku yang ketiga juga sudah menikah dan tinggal di desa yang berbeda.
"Nak kita sudah bisa tinggal di desa," kata bapak dengan bangga.
Tentu saja bangga, akhirnya kami bisa punya rumah.
Bukan sekedar rumah, tapi rumah dari papan.
Dan hebatnya lagi. Di desa! Akhirnya kami punya tetangga.
Ke sekolah pun hanya jalan kaki beberapa langkah.
Senangnya!
"Berapa habis biaya pak untuk rumah, sama bayar tukangnya?" Tanyaku penasaran.
"Kira-kira 800 rb nak."
Mahal sekali! pikirku.
Perlu berapa kilo getah karet untuk menghasilkan uang sebanyak itu.
Rumah kami nyaman, sangat nyaman.
Warna catnya hijau, luar dalam.
Walaupun rumah sudah di desa, tapi tetap saja setiap hari kami harus bolak-balik ke pondok di hutan.
Karena semua padi dan ternak ada disana.
Bahkan bapak mak dan abang tetap lebih sering menginap di pondok daripada di desa.
Setiap seminggu sekali kami harus membawa getah karet ke desa.
Hari itu, sepulang sekolah kami bergegas ke pondok untuk mengambil karet.
"Ana, ini kamu bawa!" abang menyiapkan getah-getah karet satu cupai penuh untuk kugendong.
Beratnya kira-kira 20 kg.
Begitu juga Ina dan Tuti. Tuti membawa lebih sedikit mungkin sekitar 10 kg.
Masing-masing harus membawa karet. Basah. Karena baru diangkat dari kolam getah.
Dan bau !!
Kami bertiga berjalan beriringan dari pondok menuju desa.
Sesekali berhenti.
Setengah dari perjalanan yang dilewati merupakan jalan raya berbatu yang sering dilewati oleh penduduk transmigrasi dari pulau Jawa.
Sesekali orang bersepeda motor melewati kami.
Kami terus berjalan kaki dengan kaki telanjang. Karena bisa lebih cepat sampai daripada pakai sandal.
"Kak liat kepala kakak!" Kataku.
Kakak menurunkan tali cupai yang ada dikepalanya.
"Kurang dalam, kurang berat kak!" Kataku.
"Coba liat punya kamu!" Kata Ina.
Akupun menurunkan tali cupai dikepalaku.
"Ahh sama aja!" Kakakku tertawa.
Kalau bekas tali kurang dalam di kepala artinya bawaannya kurang berat.
Begitulah kami mentertawakan segala hal.

🌹🌹🌹
Di desa, apabila ada orang sakit, maka diadakan acara Belian, yaitu acara pengobatan oleh dukun.
Sebenarnya sudah ada pak Mantri yang datang sebulan sekali.
Apabila ada yang sakit, ikat plastik hitam di depan rumah, nantinya pak Mantri akan singgah setiap melihat rumah yang sudah ditandai.
Namun, tetap saja, orang-orang di desa termasuk kami, lebih senang ke dukun dari pada berobat ke Mantri.
Setiap ada acara Belian, bapak akan berperan sebagai Pebayu.
Entah dari mana datangnya, tapi bapak punya kemampuan berbicara, tidak tau namanya apa, seperti berbicara bahasa roh, yang kita tidak mengerti.
Dengan nada-nada seperti bersenandung, atau bernyanyi.
Bapak akan duduk di ayunan, yang dipenuhi rumbai-rumbai daun kelapa, lalu mulai berayun-ayun. Pelan.
Sementara pak dukun sibuk dengan mantra-mantra nya.
Dulu, semuanya biasa saja menurutku.
Tapi sekarang, membayangkannya jadi agak bergidik. Sedikit horor!
Mak juga akan sibuk membuat sesajen dari tepung beras, dibentuk menyerupai orang, atau apa saja, aku lupa, bentuknya kecil-kecil, disusun di nampah yang dialasi daun pisang.
Ahh banyak sekali macamnya.
Aku mencoba mengingat satu persatu.
Sementara itu, orang-orang yang sakit akan duduk di depan pak dukun, di atas tikar, dibacain mantra-mantra.
Lalu dengan batu bening atau batu dukun, pasien akan diterawang, nantinya pak dukun akan mencubit-cubit kecil bagian dada atas pasien. Tepatnya di bawah leher.
Setelah selesai, pasien disuruh berdiri, tikarnya diangkat, ditekuk lalu isinya dituang diatas wadah.
Maka akan terlihat butiran-butiran apa saja, bahkan aku pernah melihat jarum, yang kata pak dukun merupakan penyakit yang sudah diambil.
Kami sekeluarga pun apabila ada yang sakit, selalu panggil dukun. Jadi tidak heran dirumah kami banyak sekali ayunan.
Entahlah, dulu semuanya biasa saja.
Kupikir, memang begitulah adanya hidup.
Apa yang kulihat, itu saja yang kucoba mengerti.
Apakah itu salah atau benar, bagaimana kami bisa membedakannya bila hanya itu yang kami tau.

🌹🌹🌹
"Bang Mus, lihat bang!" Teriakku kepada abang sepupuku yang kebetulan berpapasan di jalan menuju pondok.
Aku memperlihatkan sebuah batu bening sekepalan tangan yang kutemukan di dekat genangan air.
Kami mencoba meletakkan batu tersebut di genangan air, tak terlihat saking beningnya.
"Sini dek buatku!" Pinta bang Mus.
"Gak ah!" Tolakku.
Kulihat batu itu bagus sekali.
"Makk mak....!" Sesampainya di rumah segera kucari mak.
"Mak aku dapat batu bagus!"
Mak terbelalak!
Tak percaya.
"Sini mak simpan!"
"Besok ada Belian, kamu ikut ya!"
"Iya mak." Aku tak mengerti.
Keesokan harinya.
Menjelang sore, aku mendengar pembicaraan mak bapak dengan tante dan orang-orang sekitar.
Mereka membicarakan soal batu dukun.
Soal aku jadi dukun.
Tidak, pikirku, aku harus sembunyi.
Mana mungkin aku jadi dukun.
Kusiapkan kain dan Lunggak, sejenis pisau dapur dengan gagang kayu melengkung.
Ketika Belian sudah dimulai.
Orang ramai yang hadir.
Aku mencari tempat dipojok. Kututupi seluruh tubuhku dengan kain, dengan tangan memegang lunggak.
Tiba-tiba.
"Disini, disini!" Teriak tanteku.
Dia mengangkat tubuhku. Berusaha merebut lunggak dari tanganku.
"Tidak! Tidak!" Teriakku.
"Aku tidak mau jadi dukun!"
Mereka tidak peduli.
Aku dibopong ke depan pak dukun, yang sudah siap dengan batu ku.
Aku diterawang.
"Kamu ditakdirkan untuk jadi dukun!"
Begitu katanya.
"Tidak mau tidak mau!" Teriakku.
Menangis!
"Tidak bisa di tolak, ini takdir kamu!" Lanjutnya lagi.
Mana mungkin aku jadi dukun, aku mau sekolah tinggi. Setinggi-tingginya.
Mak bapak tidak ada yang membelaku.
Aku tak bisa menyalahkan mereka.
Pada waktu itu, dukun dianggap orang yang hebat, sakti, ditakuti, hanya orang terpilih yang bisa menjadi dukun.

Dan tidak mungkin menolak kalau sudah terpilih, karena bisa mendatangkan petaka.
Aku lari, ke hutan, bersembunyi hingga pagi.
Tidak ada yang menyadarinya.
Acara Belian berlanjut sampai pagi.
Keesokan harinya aku kembali.
Mereka kembali membicarakan soal aku menjadi dukun.
Lagi-lagi aku marah dan pergi.
Begitu seterusnya, setiap kali ada yang membahas hal tersebut, aku memilih lari ke hutan atau mengurung diri.
Kadang aku mengancam akan menyakiti diri sendiri, sampai akhirnya tidak ada lagi yang berani menyinggung hal tersebut.

🌹🌹🌹
Suatu hari.
Dikejauhan kulihat bapak pulang dari kota membawa sesuatu yang besar.
"Nak, bapak beli TV!"
"Liat pak liat pak!" Kami berteriak ramai.
Aku pernah liat TV di balai desa.
Televisi 14 Inc Hitam putih.
Tabungnya besar. Tapi sulit untuk ikut menontonnya, karena banyak sekali yang nonton.
Bapak akhirnya beli Tv!
Di desa belum ada listrik, Jadi kami menggunakan Aki.
Antenanya menggunakan antena luar, tiangnya tinggi sekali.
Kami semua berkumpul di ruang tamu.
Tv dinyalakan. Warna hitam putih, gambar banyak bintik-bintik.
Sulit sekali mendapat gambar yang bagus.
Sebentar-sebentar abang harus memanjat tiang untuk memutar antena.
"Belum bang belum!" Teriakku.
Gambar belum juga dapat.
Beberapa saat akhirnya satu tayangan berhasil didapat.
Entah channel apa.
Tapi aku ingat judul filmnya Wajah Sutinah.
Film horor. Sutinah adalah kuntilanak.
Kami terpaku menonton, bahkan tetangga banyak yang ikut nonton. Sampai ruangan penuh, beberapa nonton dari jendela.
Sedang seru-serunya adegan Sutinah menakuti orang, tiba-tiba gambar mengecil.
Makin mengecil.
"Yaaahhhhhh akinya mau habis!" Kata abang.
Makin kecil lagi, hingga gambar hanya tinggal sekotak ukuran kotak tisu segiempat.
"Yaaaaa! yaaaa! yaaaa!" Kami berteriak histeris.
Sutinah tengah melayang-layang.
Gambar menghilang total.
🌷🌷🌷
(Marrieanne's)

----


SEPIRING TULANG AYAM
🌷🌷🌷
Bagian 10

🌷🌷🌷
Keesokan harinya.
Abang segera mengantarkan aki ke kota untuk dicharge.
Sesampainya di rumah, hari mulai malam.
Segera, kami bersiap-siap dengan posisi masing-masing.
Entah bagaimana dengan Sutinah, terakhir nonton masih melayang-layang, apakah masih melayang atau sudah jatuh karena kelamaan sudah sehari semalam.
Kami semua penasaran.
Aku duduk paling depan. Karena tubuhku paling kecil.
Yang lain di belakang dan di samping.
Tetangga-tetangga tanpa dikomando sudah datang, ada yang duduk paling belakang, yang datang paling terakhir duduk di luar ngintip dari jendela.
Mak bapak duduk di dekat pintu kamar yang posisinya agak di samping tv.
Tidak lupa, mak sudah menyiapkan rambutan yang banyak sekali.
Ahh mak memang baik hati sekali, selalu memberi pada setiap orang tanpa pernah memikirkan capeknya sendiri.
Ceklek!
Tv dihidupkan.
Layar full bintik-bintik. Kami menyebutnya gambar semut.
Abang segera memanjat tiang antena.
Aku menyusul, menunggu dibawah tiang sambil sesekali mengintip ke dalam dari jendela.
"Belum bang, masih semut!"
Abang kembali memutar-mutar antena.
"Sudah belum?"
"Belum!"
Setelah diputar berulang-ulang akhirnya satu gambar muncul.
Ehh Pak Suharto lagi pidato!
"Bukan bang, bukan Sutinah!"
Abang memutar lagi.
Lagi-lagi yang muncul gambar lain. Gak jelas tapi!
"Lagi bang!"
Ah kasian abang lama-lama di atas tiang antena.
Sutinah tidak juga muncul, malah Dina Mariana lagi asik nyanyi. Aku lupa lagunya apa, tapi suaranya enak di dengar.
Angin mulai datang, tiang antena bergoyang-goyang. Makin lama makin kencang, sampai tiang antena miring ke kiri kanan.
Akhirnya abang turun.
"Ya udah kita nonton ini aja dulu, nanti dicoba lagi!"
Penonton kecewa tapi lama-lama terhibur juga dengan lagu-lagunya Dina Mariana.
🌸🌸🌸
"Dek, abang pernah lihat Dina Mariana," kata abang iparku siang itu.
Ya, abang iparku memang sebelum menikah dengan kakak, katanya sering bepergian ikut bosnya. Dia berasal dari desa yang berbeda. Agak jauh di seberang sungai.
Pekerjaannya adalah tukang bangunan. Dia sering cerita pengalamannya bepergian ke sana kemari. Ke daerah ini daerah itu. Bahkan pernah sampai ke Jakarta.
Katanya! Kami pun tidak tahu benar apa tidak. Tapi kami senang mendengar cerita-ceritanya.
"Beneran bang?"
"Iyaaaa,"
"Ahh gak mungkinlah!" Aku tak percaya.
Mana mungkin orang yang ada di dalam tv itu bisa ada di luar tv.
Kalau memang ada, bagaimana caranya mereka masuk ke tabung sekecil itu.
"Meriam Belina juga abang pernah lihat, tapi dari jauh. Kalau Dina Mariana lihatnya agak dekat!" Lanjutnya.
"Mereka manusia juga bang?"
"Besarnya bagaimana? sama gitu kayak kita?" Cecarku dengan penuh tanda tanya.
"Iya sama!" Abang berusaha meyakinkanku.
"Trus itu tahi lalat di dagunya beneran ada?"
"Iya ada!"
"Masa sih bang, mereka manusia seperti kita?"
Aku masih tak percaya. Ahh abang pasti bohong! Pikirku.
Tapi kata-kata abang ipar membuatku sulit tidur.
Aku selalu kepikiran bagaimana mungkin manusia masuk ke dalam tv.
Bagaimana caranya.
Aku harus cari tahu. Tekadku!
Hari demi hari berlalu, Sutinah tak pernah muncul lagi, sampai kami pun melupakan dia.
Ahh mudah-mudahan dia baik-baik saja.
Tidak perlu menjadi hantu selamanya. Batinku!

🌹🌹🌹
Musim pesta panen tiba. Kebetulan sekolah juga sedang libur.
Kali ini bapak mengajak kami mengunjungi keluarga mak yang jauhnya sekitar 20 jam berjalan kaki.
Ya, kampung kakek nenek dari pihak mak memang jauh. Letaknya di dekat gunung.
Tapi penduduknya ramai.
Untuk menuju ke sana, kami harus melewati blok-blok transmigrasi.
Ada banyak sekali blok. Blok A, Blok B dan seterusnya. Ada sebutan lain-lain juga tapi aku lupa.
Warga trans ramai sekali. Datang dari pulau Jawa. Mereka umumnya bercocok tanam sayur-sayuran. Beda dengan kami yang lebih senang berladang atau menanam karet.
Bapak juga sudah punya banyak kenalan orang trans.
Mereka sangat baik, sering memberi kami sayuran kalau pas lewat desa ketika mereka berjualan sayur ke kota.
Mereka juga sering menginap di rumah kalau pulangnya kemalaman.
Bahkan menitipkan berbagai barang di rumah.
Bapak mak memang selalu terbuka dan baik pada setiap orang.
Tak heran.
Bila Lebaran tiba, kami mendapat banyak sekali rantangan makanan.
Kami juga bisa berbicara bahasa Jawa, walaupun sedikit.

🌺🌺🌺
"Ayo kita berangkat!" Kata bapak setelah semuanya siap.
Hari masih subuh. Sekitar jam empat.
Bapak membawa beras, banyak sekali.
Cupainya panjang sampai hampir menyentuh tanah ketika talinya sudah ditaruh di atas kepala. Tingginya hampir sejajar dengan kepala bapak.
Bisa dibayangkan betapa banyak dan beratnya bawaan bapak.
Mak membawa sayur-sayuran. Secupai besar.
Sementara abang membawa benih padi.
Kakak kakak juga membawa buah dan sayur.
Begitu juga aku.
Hanya adikku yang membawa cupai kecil dengan isinya makanan bekal.
Masing-masing kami membawa pakaian ganti satu pasang.
Perlahan kami mulai berjalan berurutan. Bapak selalu paling depan sementara abang paling belakang dan mak di tengah.
Aku selalu berada di belakang bapak.
Perjalanan berangkat kami lancar, beristirahat seperlunya, memakan bekal, terus melanjutkan perjalanan.
Jalan yang kami lewati adalah jalan raya berbatu, sesekali motor atau sepeda melewati kami.
Menjelang sore, kami sudah melewati blok trans terakhir, jalanan mulai mengecil.
Tinggal jalan setapak tidak berbatu. Bahkan becek, berlumpur, kadang kering. Kami terus berjalan dan berjalan. Tidak ada yang memakai sandal, karena sandal membuat perjalanan agak lambat. Jadi sandal di simpan saja di cupai masing-masing.
Mendekati kampung nenek, kami harus melewati aliran sungai, yang dihubungkan dengan kayu-kayu gelondongan. Berukuran besar. Kami harus berjalan sangat hati-hati karena kayu-kayu itu bulat, jadi gampang tergelincir.
Kami terus berjalan tanpa mengeluh termasuk adikku.
Menjelang tengah malam, akhirnya sampai ke rumah kakek.
Capek sekali tapi sangat senang.
Karena jarak yang jauh membuat kami jarang menemui mereka.
Setelah meletakkan semua barang bawaan kami segera tidur. Diruang tengah.
Besok hari pesta, akan ada banyak orang datang.
Pagi tiba.
"Ayo makan ayo makan!" Ajak tanteku.
Ya, di kampung ini juga adik dan abang mak tinggal.
Bersama-sama dengan kakek nenek.
"Ini tante sudah masak Sebangkang banyak sekali."
Sebangkang adalah beras ketan yang di masak di dalam bambu dengan cara dibakar.
Rasanya enak, ada campuran parutan kelapanya.
Umumnya dibuat kalau ada acara pesta saja.
"Ambil ambil! Sayur umbi pohon kelapa juga enak sekali!"
Berbagai macam hidangan tersedia. Keluarga kerabat sudah banyak yang berdatangan.
Di tengah ruangan terlihat sebuah Tempayan, yang berisi Tuak. Minuman wajib bila pesta padi tiba.
Tempayan adalah sebuah wadah berukuran besar, dengan tinggi bisa sampai satu meter, bahkan lebih, bentuknya seperti Guci atau Vas bunga, biasanya bermotif ular.
Dari pagi hingga sore orang-orang ramai datang silih berganti.
Kami tidak merasa lelah sama sekali.
Bahkan kami menyempatkan diri berkunjung dari satu rumah ke rumah yang lain.
Tidak boleh ada rumah yang terlewatkan karena itu sudah tradisi.
Kalau kita melewatkan suatu rumah, maka dianggap sangat tidak sopan, hingga kita bisa jadi pergunjingan sekampung.
Hari kedua, menjelang tengah malam kami mulai bersiap-siap. Besok subuh kami harus pulang.
Bapak sudah berhasil menukar beras dengan benih padi yang berbeda jenis.
Ya, memang begitulah bapak. Menanam banyak sekali jenis padi, dan terus mencari bibit padi jenis baru.
Mak juga mebawa banyak baju bekas pemberian saudara-saudara mak.
Di dekat kampung nenek, agak ke arah gunung, ada satu desa transmigrasi yang sudah lebih maju.
Ada beberapa toko, dan penduduknya bahkan lebih banyak daripada blok-blok yang kami lewati.
Kesanalah orang-orang sekampung sering berbelanja.
Sekitar jam empat subuh kami berangkat. Berbekal obor di tangan masing-masing. Bawaan kami hampir sama seperti berangkat, benih padi, beras, pakaian, makanan, minuman tuak dan lain sebagainya.
Tapi perjalanan pulang ternyata tidak semudah berangkatnya.
Sungai kecil yang tadinya gampang dilewati, ternyata airnya naik. Menyebabkan gelondongan kayu titian lepas dari ikatannya.
Kami berjalan pelan sekali, tapi tetap saja tergelincir.
"Bang tolong bang!" Aku terjatuh. Berpegangan pada kayu.
Pakaianku basah kuyup. Bawaanku juga basah.
Abang segera menarikku.
Tidak berapa lama, kakakku juga terjatuh.
"Sini kak, pegang tanganku," abang berusaha membantu kami.
Sementara bapak berjalan pelan-pelan. Bapak berusaha sampai duluan di seberang supaya bisa meletakkan padi dan segera berbalik untuk membantu kami melewati titian.
Akhirnya setelah bersusah payah, kami semua sampai di seberang sungai.
Pakaianku dan kakak basah kuyup.
Kami terus berjalan dan berjalan.
Tanpa kenal lelah.
Dari kejauhan blok trans kelihatan. Jalanan pun mulai berbatu.
Beberapa blok terlewati.
Rumah kami masih jauh sekali.
Aku dan adik kelelahan.
Adik mulai menangis.
"Dek jangan nangis!" Kataku.
Tapi adik terus menangis, bahkan sesekali dia menghentikan langkahnya.
Membuat mak harus ikut berhenti dan merayunya agar terus berjalan.
Kulihat telapak kaki Tuti mulai berdarah.
Dia terus menangis sepanjang jalan.
Aku tak henti-henti mengingatkan dia agar jangan menangis.
"Kamu gak boleh nangis!" Pintaku.
Karena aku tahu kalau adik menangis, bapak pasti tidak tega.
Dan akhirnya pasti digendong.
Benar juga! Bapak segera menghentikan langkahnya.
Diangkatnya Tuti dan ditaruhnya diatas padi. Barulah Tuti berhenti menangis.
Aku mengikuti bapak dari belakang.
Tubuh kurusnya terseok-seok.
Bawaan bapak sudah berat sekali, sekarang ditambah adikku.
Tapi bapak tidak mengeluh.
Tidak juga marah kepada adikku.
Sesekali bapak berhenti, memanggil nama kami satu persatu. Untuk memastikan kami semua ada dibelakangnya.
Bapak terus berjalan dan berjalan.
Dengan obor ditangannya.
Membelah gelapnya malam.
🌹🌹🌹
(Marrieanne's)

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar