🌷🌷🌷
Bagian 11 author : Marrie Anne.
(Melanjutkan Sekolah)
🌷🌷🌷
"Mak...kalau seperti ini terus, kita gak bisa kaya!" Kataku suatu hari.
Bukan tanpa alasan aku berkata seperti itu, tapi kemurahan hati mak bapak rupanya tersebar dari mulut ke mulut, dari desa ke desa, dari blok trans ke blok lainnya.
"Pak ... nitip sepeda ya pak, saya mau ke kota naik angkot!"
"Pak ... numpang nginap ya pak saya kemalaman kalau pulang ke trans sudah tengah malam!"
"Pak ... pinjam beras dulu sekarung, saya pulang merantau gak dapat apa-apa, mau pulang ke rumah kasian anak istri kalau saya gak bawa sesuatu!"
"Pak ... boleh pinjam bibit padi buat nanam, sekarung saja, saya belum punya uang buat beli"
"Pak ... anak saya mau menikah tapi biaya kami gak ada, boleh pinjam dulu beras beberapa karung buat masakin tamu!"
"Pak ...!"
"Bu ...!"
"Pak ...!"
"Bu ... !"
Aiiihh...rumah kami tidak pernah sepi!
Dan kalau ada yang menginap, kamarku lah yang paling sering dipakai, aku pindah ke kamar mak.
"Bu...numpang nginap ya bu!" Satu keluarga datang lagi.
"Iya bu, tapi kamar sudah terpakai sudah ada yang nginap!" Kata mak.
"Tidak apa-apa, kami tidur di ruang tamu saja!"
Aku segera menggelar tikar, iya karena kami belum punya kasur lebih waktu itu.
Tidak berapa lama, datang lagi orang mau numpang.
Karena sudah tidak kebagian tempat, akhirnya tidur di teras.
Ya, begitulah.
Setiap hari ada saja tamu yang datang dan pergi.
Aku sibuk membantu mak menyediakan makan minum buat mereka.
Mak bapak tidak pernah mengeluh.
Akulah yang kadang-kadang mengingatkan, karena tidak semua yang datang itu kami kenal.
Rumah kami di desa memang letaknya pas dipertigaan antara ke kota kabupaten, ke kota kecamatan dan ke blok trans.
Jadi, tidak heran apabila siang maupun malam banyak orang lalu lalang.
"Bagaimana kalau orang jahat pak!" Kataku suatu hari.
Belum lagi, kalau orang pinjam apapun itu hampir tidak pernah kembali.
"Jangan semua orang di bantu pak, nanti hidup kita begini-begini aja terus, kapan kita hidup lebih!"
Begitu aku bicara suatu hari, setelah bapak memberikan sebidang tanah di samping rumah untuk satu keluarga yang baru datang dari luar pulau.
Mereka numpang nginap di rumah kami beberapa hari, sementara belum tau tujuan mau kemana. Suami istri dan dua orang anak.
Akhirnya bapak mempersilakan mereka mengolah tanah kami, sekaligus membangun rumah di situ.
Begitulah mak bapak, mungkin karena kami terbiasa hidup susah jadi sangat mengerti rasanya ketika perlu bantuan orang lain jadi mak bapak tidak pernah mengeluh membantu orang.
Bahkan siapapun datang, ketika pulang pastilah tidak dengan tangan kosong.
Rambutan, cempedak, sayur mayur, buah durian, apa saja yang ada dijadikan oleh-oleh.
🌹🌹🌹
"Pak ... saya mau nitip semen, ada sekitar 40 karung, semen ini mau saya bawa ke kecamatan, tapi saya mau ke kabupaten dulu, nanti beberapa hari lagi saya mampir ke sini lagi ambil!" Suatu hari seorang supir truk, datang dari blok trans, datang ke rumah.
Karena takut basah akhirnya semen-semen tersebut ditumpuk di ruang tamu.
Tidak apa-apalah, cuma beberapa hari.
Kata abangku.
Hari berlalu, sang supir tidak juga datang.
Minggu demi minggu lewat.
Sebulan, dua bulan, tiga bulan ! Tidak ada tanda-tanda kemunculannya.
Sampai akhirnya, lantai rumah kami ambruk.
Maklum, lantainya papan, tidak akan kuat menahan beban semen sebanyak itu untuk jangka waktu lama.
Dengan terpaksa kami memindahkan semen-semen tersebut keluar rumah, ditutupi dengan daun dan pastik.
Karena bapak harus memperbaiki lantainya.
Aku kesal, lagi-lagi kuingatkan bapak untuk tidak membantu semua orang.
Tapi jawaban bapak mak selalu sama.
"Tidak apa-apa nak, semua orang yang perlu bantuan harus di bantu. Jangan memikirkan balasan, rejeki Batara yang atur!"
"Memberi makan orang tidak akan membuat kita kelaparan, memberi tumpangan tidak akan membuat kita kehujanan!"
Begitulah selalu, padahal kami sendiri pas-pasan. Barang berharga yang kami punya baru satu buah sepeda Jepang, entah kenapa disebut begitu, dan satu buah Tv hitam putih 14 inch.
Sementara tetangga sudah banyak yang punya motor.
Kata bapak, selain buat makan, hasil karet yang belum seberapa buat beli kebutuhan hari-hari.
Juga buat biaya sekolah kami.
Nanti kalau ada uang lebih yang paling penting beli alat-alat bertani. Seperti gergaji mesin, alat giling padi dan sebagainya.
🌸🌸🌸
Tahun 1989.
Akhirnya aku dan kakakku berhasil menamatkan pendidikan SD.
Sementara abangku sudah tamat setahun sebelumnya.
'Kamu tidak usah melanjutkan sekolah ke SMP ya nak, bantu mak di ladang!" Begitu kata mak kepada kami.
Kakakku tidak membantah.
Tapi aku tentu saja menolak.
"Aku mau sekolah mak, aku mau belajar banyak!" Jawabku.
"Anak perempuan buat apa sekolah tinggi-tinggi, nanti juga sama saja, semua ke dapur!" Begitu kata ibu tetangga.
Aku tetap ngotot, sampai akhirnya kakakku yang tinggal di lain desa mengajakku tinggal dengannya.
Kebetulan di desa kakak ada SMP.
Setiap hari sebelum berangkat sekolah, aku membantu menoreh karet atau ke ladang.
Aku tidak mengeluh, yang penting aku tetap sekolah.
Sepatu bolong pun tetap kupakai.
Pakaian seadanya, tidak selengkap teman-temanku.
Seperti halnya sewaktu di SD. Di kelas, nilaiku selalu terbaik, bahkan untuk pelajaran Bahasa Inggris yang waktu itu baru di kenal, aku jagonya.
Tidak ada waktu bermain. Belajar dan membantu kakak, itu saja aktifitasku.
Tidak jarang aku berangkat ke sekolah sambil membawa sayuran, kutawarkan ke guru-guru di sela-sela jam istirahat.
"Na.....kamu nanti bapak kirim mewakili sekolah kita, untuk ikut Jambore Nasional di Jakarta!" Suatu hari bapak Kepala Sekolah memanggilku.
Kelas 2 Smp ketika itu.
Aku memang berprestasi dalam banyak hal.
Jadi tidak heran, kalau bapak Kepala Sekolah sering mengutusku mewakili Sekolah apabila ada perlombaan.
"Tapi semua atribut Pramuka kamu harus lengkap, kalau tidak lengkap, bapak akan kirim teman kamu yang lainnya!" Sambungnya.
"Selain lengkap, kamu harus punya seragam masing-masing 2 pasang!"
"Ahh....Jakarta! Bagaimana ini? Pikirku!"
Aku selalu bermimpi untuk bisa ke Jakarta, bisa lihat Dina Mariana!
Tapi, banyak sekali atribut Pramuka yang aku tidak punya, sepatu pun sudah bolong.
Aku coba bicara ke kakak, ternyata kakak tidak sanggup.
Sementara mau bilang ke mak bapak, aku tidak tega.
Waktu itu, seragam sekolah dan perlengkapannya bukanlah barang yang murah buat kami.
Akhirnya dengan berat hati, aku menolak perintah Kepala sekolahku.
Sedih, kecewa, marah !
Aku membenci kemiskinan, benci kebodohan !
Kenapa orang lain sepertinya hidupnya gampang sekali.
Kenapa buat kami tidak ada yang sederhana.
Tapi momen hari itu, jadi pemacu semangatku untuk belajar makin giat. Aku harus mencari cara, aku harus mengubah nasib. PIkirku!
🌹🌹🌹
1992
Aku akhirnya menamatkan pendidikan SMP.
Lagi-lagi aku dilarang melanjutkan pendidikan.
Perdebatan demi perdebatan mewarnai hari-hariku.
Apalagi sudah ada beberapa laki-laki yang serius melamarku.
Termasuk pak guru Smp.
Aku semakin ketakutan. Ditambah lagi, aku sering diingatkan oleh tetangga-tetangga bahwa aku harus jadi dukun.
Semakin aku besar sepertinya aku semakin dipojokkan.
Tentu saja aku menolak.
Tidak.
Perjalananku masih panjang, aku selalu merasa aku akan pergi jauh.
Jauh sekali perjalananku.
Jadi tidak mungkin aku menikah secepat ini. Tidak mungkin.
"Biar abangmu saja yang sekolah Sma, kalau perempuan cukuplah!"
Begitu kata mak bapak.
"Lihat saja teman-teman seangkatanmu semua sudah menikah!"
Ahh...aku benci sekali. Tiap kali membahas sekolah, membuatku gampang emosi.
Akhirnya, orangtuaku mengalah. Mereka mengijinkanku sekolah, aku dan abang melanjutkan sekolah di kota Kabupaten.
Jauhnya sekitar satu setengah jam naik angkot dari desa.
Di kota, kami tinggal di sebuah rumah tua di pinggir jalan, lebih tepatnya gudang, terbuat dari papan yang sudah lapuk, sudah banyak yang bolong, ukuran 3x3 meter.
Ditengah ruangan ada sekat, pemisah kamarku dan abang.
Aku di bagian dapur, abang di bagian pintu masuk.
Rumah ini dulu, adalah milik pamanku yang sudah lebih dulu tinggal di kota.
Entah kenapa belum dirubuhkan, aku juga tidak pernah tanya.
Di belakang rumah, kami menanam sayur.
Sering di beli oleh tetangga-tetangga.
Selain menjual sayur, abang juga mulai membuat berbagai kreasi dari kayu triplek.
Lumayan kami bisa membantu membiayai sekolah.
Paling menakutkan kalau ada hujan, sudah pasti bocor.
Apalagi ada angin. Rasanya seperti satu rumah akan terbang tersapu angin.
Sementara di sekeliling kami, berdiri rumah rumah bagus, bahkan ada yang dua atau tiga tingkat.
Apabila ada mobil lewat, rumah kami pun ikut bergetar.
Setiap hari aku dan abang berjalan kaki ke sekolah.
Sebuah sekolah Kejuruan, yang lumayan terkenal di kota itu.
Aku selalu menjadi juara kelas, bahkan aku dipilih menjadi ketua kelas, satu-satunya ketua kelas wanita dimasa itu.
Tantangan dan keterbatasan tidak pernah menyurutkan semangat belajarku untuk menjadi yang terbaik.
Berbagai lomba kuikuti, apalagi yang ada hadiahnya.
Bukan apa-apa, tapi apa pun yang bisa membantu kami hidup, aku perjuangkan.
Setiap ada waktu, aku menawarkan diri membantu keluarga-keluarga kaya disekitarku.
Yang paling gampang tentu saja mengajar anak-anak mereka.
Selesai mengajar les, aku membantu mencuci pakaian, menyapu, apa saja.
Apabila kudengar akan ada acara, aku yang lebih dulu maju menawarkan tenaga.
Lumayan, bisa buat beli buku sekolah.
Apabila sabtu tiba, kami pulang kampung.
Minggu sore kembali lagi ke kota.
🌹🌹🌹
Sementara itu di desa.
"Pak ... ini saya bawa padi lima karung. Dulu bapak pernah bantu saya waktu mau nanam belum punya bibit!"
"Pak ... ini saya bawa sertifikat tanah. Memang tidak luas. Saya serahkan ke bapak. Dulu enam tahun lalu, saya pernah pinjam beras buat acara nikahan anak. Maaf baru sekarang bisa membalas budi baik bapak dan ibu!"
Tentu saja bapak menolak karena nilainya jauh lebih besar daripada pinjaman kami yang tidak seberapa.
Tapi karena orangnya ngotot, akhirnya bapak terima, tapi bapak tambahkan beberapa karung beras lagi.
"Pak ... kalau mau main ke trans, titip pesan saja ke yang lewat, nanti kami jemput bapak dan ibu. Rumah kami selalu terbuka buat keluarga bapak ibu!"
Begitulah, bapak mak di sayang banyak orang. Perlahan-lahan tanah pun makin banyak, kebun pun makin luas.
Kami menerima banyak sekali pemberian, dari orang-orang yang pernah kami bantu. Bahkan berlipat kali ganda.
Menjelang tamat Sma, abang sudah bisa beli satu buah motor.
1995
Aku menyelesaikan sekolahku dengan nilai terbaik sekabupaten.
Tentu saja aku bangga.
Aku pulang dengan hati berbunga-bunga.
Mak bapak sudah menunggu. Dan juga seorang laki-laki!
Katanya dia menyerahkan diri kepada keluargaku.
Untuk dijadikan menantu.
Ahh tidak..tidak!
Aku mengurung diri di kamar.
Menangis.
Dan terus menangis.
Aku ingin pergi. Jauh, jauh sekali!
Tapi sanggupkah aku melihat air mata mak?
Aku harus pergi!
Keesokan harinya kuusir laki-laki itu.
Tentu saja aku dimarahi mak bapak. Tidak sopan katanya.
Ahhhh peduli amat. Kataku!
Diam diam aku mengurus berbagai keperluan untuk melanjutkan kuliah.
Surat-surat yang harus dilengkapi, termasuk mencari teman yang bisa menampungku sementara.
Sebulan kemudian.
"Mak, bapak...aku mau berangkat!" Kataku sore itu.
Kubawa tasku. Hanya satu tas berisi beberapa potong pakaian dan Ijazah serta surat-surat lainnya.
"Kamu mau kemana nak?"
"Kakak mau kemana?"
"Adek mau kemana si dek?" Abangku turut bicara.
"Aku mau kuliah...!"
"Nanti ada bis jam enam sore, aku berangkat!"
Ya, aku terpaksa nekat.
Tidak ada diskusi, apalagi minta pesetujuan.
Tidak akan pernah diijinkan. Sebulan terakhir sudah cukup aku ribut dengan abang, mak dan bapak tiap kali aku membahas mau kuliah.
Mak menangis, begitu juga bapak.
Dengan bekal uang dua ratus lima puluh ribu rupiah, aku meninggalkan keluarga dan kampung halamanku. Berbekal sebuah alamat.
Menuju ibukota propinsi yang jaraknya 10 jam perjalanan dengan bis.
Aku belum pernah ke sana.
Entah bagaimana nanti, biarlah terjadi.
🌷🌷🌷
(Marrieanne's)
Bagian 11 author : Marrie Anne.
(Melanjutkan Sekolah)
🌷🌷🌷
"Mak...kalau seperti ini terus, kita gak bisa kaya!" Kataku suatu hari.
Bukan tanpa alasan aku berkata seperti itu, tapi kemurahan hati mak bapak rupanya tersebar dari mulut ke mulut, dari desa ke desa, dari blok trans ke blok lainnya.
"Pak ... nitip sepeda ya pak, saya mau ke kota naik angkot!"
"Pak ... numpang nginap ya pak saya kemalaman kalau pulang ke trans sudah tengah malam!"
"Pak ... pinjam beras dulu sekarung, saya pulang merantau gak dapat apa-apa, mau pulang ke rumah kasian anak istri kalau saya gak bawa sesuatu!"
"Pak ... boleh pinjam bibit padi buat nanam, sekarung saja, saya belum punya uang buat beli"
"Pak ... anak saya mau menikah tapi biaya kami gak ada, boleh pinjam dulu beras beberapa karung buat masakin tamu!"
"Pak ...!"
"Bu ...!"
"Pak ...!"
"Bu ... !"
Aiiihh...rumah kami tidak pernah sepi!
Dan kalau ada yang menginap, kamarku lah yang paling sering dipakai, aku pindah ke kamar mak.
"Bu...numpang nginap ya bu!" Satu keluarga datang lagi.
"Iya bu, tapi kamar sudah terpakai sudah ada yang nginap!" Kata mak.
"Tidak apa-apa, kami tidur di ruang tamu saja!"
Aku segera menggelar tikar, iya karena kami belum punya kasur lebih waktu itu.
Tidak berapa lama, datang lagi orang mau numpang.
Karena sudah tidak kebagian tempat, akhirnya tidur di teras.
Ya, begitulah.
Setiap hari ada saja tamu yang datang dan pergi.
Aku sibuk membantu mak menyediakan makan minum buat mereka.
Mak bapak tidak pernah mengeluh.
Akulah yang kadang-kadang mengingatkan, karena tidak semua yang datang itu kami kenal.
Rumah kami di desa memang letaknya pas dipertigaan antara ke kota kabupaten, ke kota kecamatan dan ke blok trans.
Jadi, tidak heran apabila siang maupun malam banyak orang lalu lalang.
"Bagaimana kalau orang jahat pak!" Kataku suatu hari.
Belum lagi, kalau orang pinjam apapun itu hampir tidak pernah kembali.
"Jangan semua orang di bantu pak, nanti hidup kita begini-begini aja terus, kapan kita hidup lebih!"
Begitu aku bicara suatu hari, setelah bapak memberikan sebidang tanah di samping rumah untuk satu keluarga yang baru datang dari luar pulau.
Mereka numpang nginap di rumah kami beberapa hari, sementara belum tau tujuan mau kemana. Suami istri dan dua orang anak.
Akhirnya bapak mempersilakan mereka mengolah tanah kami, sekaligus membangun rumah di situ.
Begitulah mak bapak, mungkin karena kami terbiasa hidup susah jadi sangat mengerti rasanya ketika perlu bantuan orang lain jadi mak bapak tidak pernah mengeluh membantu orang.
Bahkan siapapun datang, ketika pulang pastilah tidak dengan tangan kosong.
Rambutan, cempedak, sayur mayur, buah durian, apa saja yang ada dijadikan oleh-oleh.
🌹🌹🌹
"Pak ... saya mau nitip semen, ada sekitar 40 karung, semen ini mau saya bawa ke kecamatan, tapi saya mau ke kabupaten dulu, nanti beberapa hari lagi saya mampir ke sini lagi ambil!" Suatu hari seorang supir truk, datang dari blok trans, datang ke rumah.
Karena takut basah akhirnya semen-semen tersebut ditumpuk di ruang tamu.
Tidak apa-apalah, cuma beberapa hari.
Kata abangku.
Hari berlalu, sang supir tidak juga datang.
Minggu demi minggu lewat.
Sebulan, dua bulan, tiga bulan ! Tidak ada tanda-tanda kemunculannya.
Sampai akhirnya, lantai rumah kami ambruk.
Maklum, lantainya papan, tidak akan kuat menahan beban semen sebanyak itu untuk jangka waktu lama.
Dengan terpaksa kami memindahkan semen-semen tersebut keluar rumah, ditutupi dengan daun dan pastik.
Karena bapak harus memperbaiki lantainya.
Aku kesal, lagi-lagi kuingatkan bapak untuk tidak membantu semua orang.
Tapi jawaban bapak mak selalu sama.
"Tidak apa-apa nak, semua orang yang perlu bantuan harus di bantu. Jangan memikirkan balasan, rejeki Batara yang atur!"
"Memberi makan orang tidak akan membuat kita kelaparan, memberi tumpangan tidak akan membuat kita kehujanan!"
Begitulah selalu, padahal kami sendiri pas-pasan. Barang berharga yang kami punya baru satu buah sepeda Jepang, entah kenapa disebut begitu, dan satu buah Tv hitam putih 14 inch.
Sementara tetangga sudah banyak yang punya motor.
Kata bapak, selain buat makan, hasil karet yang belum seberapa buat beli kebutuhan hari-hari.
Juga buat biaya sekolah kami.
Nanti kalau ada uang lebih yang paling penting beli alat-alat bertani. Seperti gergaji mesin, alat giling padi dan sebagainya.
🌸🌸🌸
Tahun 1989.
Akhirnya aku dan kakakku berhasil menamatkan pendidikan SD.
Sementara abangku sudah tamat setahun sebelumnya.
'Kamu tidak usah melanjutkan sekolah ke SMP ya nak, bantu mak di ladang!" Begitu kata mak kepada kami.
Kakakku tidak membantah.
Tapi aku tentu saja menolak.
"Aku mau sekolah mak, aku mau belajar banyak!" Jawabku.
"Anak perempuan buat apa sekolah tinggi-tinggi, nanti juga sama saja, semua ke dapur!" Begitu kata ibu tetangga.
Aku tetap ngotot, sampai akhirnya kakakku yang tinggal di lain desa mengajakku tinggal dengannya.
Kebetulan di desa kakak ada SMP.
Setiap hari sebelum berangkat sekolah, aku membantu menoreh karet atau ke ladang.
Aku tidak mengeluh, yang penting aku tetap sekolah.
Sepatu bolong pun tetap kupakai.
Pakaian seadanya, tidak selengkap teman-temanku.
Seperti halnya sewaktu di SD. Di kelas, nilaiku selalu terbaik, bahkan untuk pelajaran Bahasa Inggris yang waktu itu baru di kenal, aku jagonya.
Tidak ada waktu bermain. Belajar dan membantu kakak, itu saja aktifitasku.
Tidak jarang aku berangkat ke sekolah sambil membawa sayuran, kutawarkan ke guru-guru di sela-sela jam istirahat.
"Na.....kamu nanti bapak kirim mewakili sekolah kita, untuk ikut Jambore Nasional di Jakarta!" Suatu hari bapak Kepala Sekolah memanggilku.
Kelas 2 Smp ketika itu.
Aku memang berprestasi dalam banyak hal.
Jadi tidak heran, kalau bapak Kepala Sekolah sering mengutusku mewakili Sekolah apabila ada perlombaan.
"Tapi semua atribut Pramuka kamu harus lengkap, kalau tidak lengkap, bapak akan kirim teman kamu yang lainnya!" Sambungnya.
"Selain lengkap, kamu harus punya seragam masing-masing 2 pasang!"
"Ahh....Jakarta! Bagaimana ini? Pikirku!"
Aku selalu bermimpi untuk bisa ke Jakarta, bisa lihat Dina Mariana!
Tapi, banyak sekali atribut Pramuka yang aku tidak punya, sepatu pun sudah bolong.
Aku coba bicara ke kakak, ternyata kakak tidak sanggup.
Sementara mau bilang ke mak bapak, aku tidak tega.
Waktu itu, seragam sekolah dan perlengkapannya bukanlah barang yang murah buat kami.
Akhirnya dengan berat hati, aku menolak perintah Kepala sekolahku.
Sedih, kecewa, marah !
Aku membenci kemiskinan, benci kebodohan !
Kenapa orang lain sepertinya hidupnya gampang sekali.
Kenapa buat kami tidak ada yang sederhana.
Tapi momen hari itu, jadi pemacu semangatku untuk belajar makin giat. Aku harus mencari cara, aku harus mengubah nasib. PIkirku!
🌹🌹🌹
1992
Aku akhirnya menamatkan pendidikan SMP.
Lagi-lagi aku dilarang melanjutkan pendidikan.
Perdebatan demi perdebatan mewarnai hari-hariku.
Apalagi sudah ada beberapa laki-laki yang serius melamarku.
Termasuk pak guru Smp.
Aku semakin ketakutan. Ditambah lagi, aku sering diingatkan oleh tetangga-tetangga bahwa aku harus jadi dukun.
Semakin aku besar sepertinya aku semakin dipojokkan.
Tentu saja aku menolak.
Tidak.
Perjalananku masih panjang, aku selalu merasa aku akan pergi jauh.
Jauh sekali perjalananku.
Jadi tidak mungkin aku menikah secepat ini. Tidak mungkin.
"Biar abangmu saja yang sekolah Sma, kalau perempuan cukuplah!"
Begitu kata mak bapak.
"Lihat saja teman-teman seangkatanmu semua sudah menikah!"
Ahh...aku benci sekali. Tiap kali membahas sekolah, membuatku gampang emosi.
Akhirnya, orangtuaku mengalah. Mereka mengijinkanku sekolah, aku dan abang melanjutkan sekolah di kota Kabupaten.
Jauhnya sekitar satu setengah jam naik angkot dari desa.
Di kota, kami tinggal di sebuah rumah tua di pinggir jalan, lebih tepatnya gudang, terbuat dari papan yang sudah lapuk, sudah banyak yang bolong, ukuran 3x3 meter.
Ditengah ruangan ada sekat, pemisah kamarku dan abang.
Aku di bagian dapur, abang di bagian pintu masuk.
Rumah ini dulu, adalah milik pamanku yang sudah lebih dulu tinggal di kota.
Entah kenapa belum dirubuhkan, aku juga tidak pernah tanya.
Di belakang rumah, kami menanam sayur.
Sering di beli oleh tetangga-tetangga.
Selain menjual sayur, abang juga mulai membuat berbagai kreasi dari kayu triplek.
Lumayan kami bisa membantu membiayai sekolah.
Paling menakutkan kalau ada hujan, sudah pasti bocor.
Apalagi ada angin. Rasanya seperti satu rumah akan terbang tersapu angin.
Sementara di sekeliling kami, berdiri rumah rumah bagus, bahkan ada yang dua atau tiga tingkat.
Apabila ada mobil lewat, rumah kami pun ikut bergetar.
Setiap hari aku dan abang berjalan kaki ke sekolah.
Sebuah sekolah Kejuruan, yang lumayan terkenal di kota itu.
Aku selalu menjadi juara kelas, bahkan aku dipilih menjadi ketua kelas, satu-satunya ketua kelas wanita dimasa itu.
Tantangan dan keterbatasan tidak pernah menyurutkan semangat belajarku untuk menjadi yang terbaik.
Berbagai lomba kuikuti, apalagi yang ada hadiahnya.
Bukan apa-apa, tapi apa pun yang bisa membantu kami hidup, aku perjuangkan.
Setiap ada waktu, aku menawarkan diri membantu keluarga-keluarga kaya disekitarku.
Yang paling gampang tentu saja mengajar anak-anak mereka.
Selesai mengajar les, aku membantu mencuci pakaian, menyapu, apa saja.
Apabila kudengar akan ada acara, aku yang lebih dulu maju menawarkan tenaga.
Lumayan, bisa buat beli buku sekolah.
Apabila sabtu tiba, kami pulang kampung.
Minggu sore kembali lagi ke kota.
🌹🌹🌹
Sementara itu di desa.
"Pak ... ini saya bawa padi lima karung. Dulu bapak pernah bantu saya waktu mau nanam belum punya bibit!"
"Pak ... ini saya bawa sertifikat tanah. Memang tidak luas. Saya serahkan ke bapak. Dulu enam tahun lalu, saya pernah pinjam beras buat acara nikahan anak. Maaf baru sekarang bisa membalas budi baik bapak dan ibu!"
Tentu saja bapak menolak karena nilainya jauh lebih besar daripada pinjaman kami yang tidak seberapa.
Tapi karena orangnya ngotot, akhirnya bapak terima, tapi bapak tambahkan beberapa karung beras lagi.
"Pak ... kalau mau main ke trans, titip pesan saja ke yang lewat, nanti kami jemput bapak dan ibu. Rumah kami selalu terbuka buat keluarga bapak ibu!"
Begitulah, bapak mak di sayang banyak orang. Perlahan-lahan tanah pun makin banyak, kebun pun makin luas.
Kami menerima banyak sekali pemberian, dari orang-orang yang pernah kami bantu. Bahkan berlipat kali ganda.
Menjelang tamat Sma, abang sudah bisa beli satu buah motor.
1995
Aku menyelesaikan sekolahku dengan nilai terbaik sekabupaten.
Tentu saja aku bangga.
Aku pulang dengan hati berbunga-bunga.
Mak bapak sudah menunggu. Dan juga seorang laki-laki!
Katanya dia menyerahkan diri kepada keluargaku.
Untuk dijadikan menantu.
Ahh tidak..tidak!
Aku mengurung diri di kamar.
Menangis.
Dan terus menangis.
Aku ingin pergi. Jauh, jauh sekali!
Tapi sanggupkah aku melihat air mata mak?
Aku harus pergi!
Keesokan harinya kuusir laki-laki itu.
Tentu saja aku dimarahi mak bapak. Tidak sopan katanya.
Ahhhh peduli amat. Kataku!
Diam diam aku mengurus berbagai keperluan untuk melanjutkan kuliah.
Surat-surat yang harus dilengkapi, termasuk mencari teman yang bisa menampungku sementara.
Sebulan kemudian.
"Mak, bapak...aku mau berangkat!" Kataku sore itu.
Kubawa tasku. Hanya satu tas berisi beberapa potong pakaian dan Ijazah serta surat-surat lainnya.
"Kamu mau kemana nak?"
"Kakak mau kemana?"
"Adek mau kemana si dek?" Abangku turut bicara.
"Aku mau kuliah...!"
"Nanti ada bis jam enam sore, aku berangkat!"
Ya, aku terpaksa nekat.
Tidak ada diskusi, apalagi minta pesetujuan.
Tidak akan pernah diijinkan. Sebulan terakhir sudah cukup aku ribut dengan abang, mak dan bapak tiap kali aku membahas mau kuliah.
Mak menangis, begitu juga bapak.
Dengan bekal uang dua ratus lima puluh ribu rupiah, aku meninggalkan keluarga dan kampung halamanku. Berbekal sebuah alamat.
Menuju ibukota propinsi yang jaraknya 10 jam perjalanan dengan bis.
Aku belum pernah ke sana.
Entah bagaimana nanti, biarlah terjadi.
🌷🌷🌷
(Marrieanne's)
-----
SEPIRING TULANG AYAM
🌷🌷🌷
Bagian 12
(Masa Kuliah)
🌷🌷🌷
Dengan hati berat namun tekad yang kuat, aku menuju pertigaan jalan.
Sebentar lagi akan ada bis lewat.
Harus, aku harus pergi dari kampung ini.
Tidak ada cara lain.
Sekalipun aku membuat mak menangis, demi masa depan yang lebih baik, semua harus kulalui.
"Dek, abang temani!" Kulihat abang menyusul.
Ditangannya terlihat sebuah tas kecil dan plastik.
"Ini abang bawa pisang rebus buat bekal kita di jalan!" Lanjutnya.
Mak, bapak, Tuti dan kakak-kakakku semua sudah berkumpul, hendak menghantar aku naik bis.
Mak tak kuasa menahan tangisnya.
"Abang gak mau kamu jalan sendiri, abang harus tau tempat kamu tinggal di kota!" Aku tak bisa mencegahnya.
Tidak berapa lama bis datang. Kupeluk mereka satu persatu.
Kami segera mencari kursi kosong, terlihat penumpang tidak terlalu penuh.
Bis melaju perlahan, dari kejauhan mak bapak melambaikan tangan. Menghantar kepergianku.
Air mataku menetes dalam diam.
Maafkan aku mak, bapak, aku terlalu sayang kalian.
Aku harus mengubah hidup keluarga kita.
Takkan kubiarkan kita hidup dalam hina, karena keterbatasan.
🌷🌷🌷
Ingatan demi ingatan kembali melayang di kepalaku.
Ketika suatu hari bermain di hutan, aku menemukan 10 butir telur ayam hutan.
Dengan sukacita kubungkus telur itu dengan bajuku, hati-hati takut pecah.
Setengah berlari kudapatkan mak yang sedang memasak di dapur.
"Mak! mak! Lihat aku dapat telur, 10 butir!" Kuserahkan telur-telur itu. Mak pun segera merebusnya.
Ketika waktunya makan, kami semua sudah siap duduk di lantai dengan piring masing-masing. Tentu saja bukan piring keramik, bahkan bukan piring plastik, tapi daun yang dipotong dan ditekuk jadi menyerupai piring.
Aku sudah tak sabar, pasti rasanya enak sekali. Pikirku.
Kami memang tidak sering makan telur, kalau ayam peliharaan bertelur, bapak lebih memilih untuk menetaskannya supaya ayam bertambah banyak.
Perlahan-lahan kakak mengupas telur.
Aku bangga sekali bisa mempersembahkan hidangan telur untuk makan malam kami.
"Yaahhhhh....busuk dek!" Suara kakakku terdengar kecewa.
"Yahhh ini juga busuk!" Kata adikku.
Satu persatu kami membuka telur itu, ternyata semua busuk bahkan ada dua telur yang sudah hampir jadi anak ayam.
Bapak mak dengan sigap mengambil telur-telur itu.
"Sini nak! mak makan, mak suka telur yang busuk, enak kog!" Kata mak.
"Sini, bapak juga suka, enak sekali!"
Mak bapak segera menyantap telur yang busuk itu.
Sementara yang lain sibuk makan dengan sayur, aku diam mengamati mak bapak.
Ahhh aku tau mereka bohong, mana mungkin telur itu enak!
Batinku.
Mereka hanya ingin menyenangkanku yang terlihat sangat gembira ketika menemukan telur itu.
Hatiku perih, tapi aku tidak berkata-kata.
Dalam diamku aku berjanji, kelak aku besar, akan kubelikan telur yang banyak buat mak bapak.
Telur yang segar dan pasti bagus!
Waktu berlalu.
Di lain hari.
Ketika kami sudah pindah ke desa.
Aku begitu penasaran melihat tetangga paling kaya di desa, makan menggunakan sendok alumunium.
Sore itu, aku nekat merangkak ke bawah kolong dapur mereka.
Pada umumnya dapur di kampung, sebagus apapun rumahnya, lantai dapur terbuat dari kayu Pering kecil-kecil bulat, jadi ketika mencuci piring, air maupun sisa makanan bisa langsung jatuh ke tanah.
Tinggi lantai dapur dari tanah sekitar satu atau satu setengah meter tergantung rumahnya.
Dan hampir tidak pernah pemilik rumah, mengambil apapun yang jatuh, karena tingginya genangan lumpur, kotor, becek dan bau.
Ditanah yang becek dan berlumpur sisa makanan, aku mengais-ngais, mungkin aku bisa menemukan satu buah sendok berkarat, pikirku.
Aku ingin sekali mencoba makan menggunakan sendok, pasti rasanya nikmat sekali.
"Byuuuurrrrrr......."
Baru saja aku mulai mengobok-obok lumpur,
Seember air tumpah dikepalaku, disertai makian pedas.
Sumpah serapah!
Entahlah pemilik rumah tahu atau tidak kalau itu aku.
Sepertinya tahu!
Aku tak peduli.
Aku segera pergi, tentu saja tanpa sendok, hatiku sakit. Lebih sakit dari kakiku yang tersandung batu, ketika berlari.
Tak kuceritakan pada mak, tidak mau membuatnya sedih.
Tapi lagi-lagi aku berjanji dengan diriku sendiri, kalau aku besar, akan kubeli sendok makan berlusin-lusin.
Yang terbaik.
🌹🌹🌹
Bis melaju, melewati desa demi desa, jalanan yang berkelok-kelok, sesekali amblas di jalan yang rusak, bahkan bannya bocor.
Menjelang jam lima pagi, bis mulai mendekati terminal. Kutunjukkan kertas yang berisi alamat yang dituju.
"Mba turun di sini saja!" Kata kondektur bis.
Aku dan abang segera turun.
Tidak mudah menemukan alamat yang di maksud, kami berjalan kaki kesana kemari, menahan kantuk dan penat.
Menjelang jam enam, kami sampai ke alamat tujuan.
Seorang nenek membukakan pintu.
Ya...memang aku meminta tolong kepada teman SMA, yang punya kenalan atau keluarga di kota ini. Agar bisa menumpang satu atau dua hari sampai mendapat tempat tinggal baru.
"Masuk nak!"
Kami segera masuk. Sebuah rumah kecil di dalam komplek, sederhana, satu ruang tamu, dapur dan satu kamar.
Kami dipersilakan istirahat di ruang tamu.
"Silakan kalau mau tidur dulu, pasti capek semalaman di jalan." Katanya.
"Tidak apa-apa nek, saya ijin pamit dulu mau langsung pulang, yang penting saya sudah tahu tempat adik tinggal." Begitu kata abang.
Ya, abang tidak bisa lama meninggalkan ladang, karena pada waktu itu musim panen.
Abang segera berangkat lagi menuju terminal bis, aku tidak memberitahukan bahwa aku hanya sementara di rumah ini, aku tidak mau membuat abang memikirkan tempat tinggalku nantinya.
"Nek ... saya ijin keliling dulu ya nek, nanti sore kembali." Aku berpamitan.
Aku harus segera mencari pekerjaan.
Tidak ada waktu istirahat.
Aku sudah berjanji ke teman bahwa aku hanya satu atau dua hari di rumah neneknya.
Kususuri rumah demi rumah di komplek itu.
Bertanya, barangkali ada yang perlu pembantu rumah tangga.
Sore menjelang, aku mulai lelah, tidak ada yang mau menerimaku.
Aku segera pulang.
Besok aku akan ke komplek sebelah, mudah-mudahan ada yang menerimaku.
Keesokan hari, pagi-pagi sekali aku sudah mulai keliling.
Ke komplek perumahan sebelah.
"Bu permisi, maaf apakah memerlukan jasa pembantu. Saya lagi cari pekerjaan bu!" Dengan berharap kali ini aku diterima.
"O gak mba, saya gak perlu! Tapi coba ke rumah yang paling ujung, kalau tidak salah dulu sempat nyari, buat mengasuh anak kembar mereka!"
Aku bergegas menuju rumah yang di maksud.
Sebuah rumah lumayan besar, lebih besar dari yang lain.
Tidak boleh lama-lama. Sudah menjelang sore.
"Permisi bu, maaf apakah masih memerlukan pengasuh, saya dapat info dari tetangga depan komplek!"
"O iya masih masih!"
Seorang ibu muda, usia sekitar 25 tahun, mempersilakan aku masuk.
"Kamu bisa momong anak?"
"Bisa bu."
"Kamu bisa masak?"
"Saya bisa belajar bu."
"Nyuci, gosok?"
"Nanti saya diajarin saja bu, pasti bisa." Jawabku antusias.
"Baik kalau begitu kamu langsung saja mulai sore ini, kamar kamu disini!"
"Baik bu.. tapi saya rencana mau kuliah bu. Belum tau di mana, sementara belum masuk saya bisa kerja seharian, tapi kalau sudah kuliah, saya beresin kerjaan dulu baru berangkat." Kataku. Nekat.
"Ya....gak apa-apa!" Jawab sang ibu.
"Untuk gaji saya kasi kamu dua puluh lima ribu rupiah sebulan ya mba!"
"Baik bu trima kasih banyak."
Cukuplah, sudah sangat baik, yang penting aku punya tempat tinggal dan dapat makan.
Segera aku ijin pergi sebentar, pamit kepada nenek yang sudah berbaik hati menampungku dua hari satu malam.
🌷🌷🌷
Setiap pagi aku bangun jam empat. Membereskan rumah, sebelum anak-anak majikan bangun dan bapak berangkat ke kantor.
Bapak maupun ibu bersikap baik padaku, kedua anak kembarnya pun manis-manis.
Aku tidak sulit beradaptasi.
Seminggu kemudian.
Aku mulai keliling mencari kampus.
Dengan bekal uang dua ratus lima puluh ribu rupiah, pemberian mak, aku naik angkot kesana kemari.
Bertanya ke sana sini.
Uang harus ku bagi-bagi penggunaanya.
Siang hari aku tidak makan. Nanti sampai di rumah baru makan.
Pilihan pertamaku tentu saja Universitas Negeri.
Tetapi sayang, aku terlambat. Pendaftaran sudah di tutup minggu lalu.
Aku kecewa, dan berpikir keras.
Selain Kampus Negeri pastilah mahal!
Tapi aku harus kuliah bagaimana pun caranya.
Hari berikutnya aku kembali mendatangi kampus lain.
Aku tidak peduli jurusan apa, yang penting uangku cukup.
"Berapa total uang masuk bu?" Tanyaku kepada petugas penerimaan murid baru.
Ketika itu aku mendatangi sebuah Sekolah Tinggi Swasta, di sebuah gedung tiga lantai, di tengah pusat kota.
"Total sekitar tiga juta mba!" Katanya.
"Baik terima kasih bu informasinya." Aku mengambil formulir.
Dan berlalu.
Tidak mungkin, uangku tidak cukup.
Dan aku tidak akan minta ke mak, aku sudah berjanji pada diri sendiri.
Karena aku kuliah atas keinginanku sendiri.
Setelah bertanya-tanya ke beberapa orang yang kutemui di jalan.
Aku bergegas menuju kampus berikutnya.
"Berapa uang masuknya bu?" Tanyaku.
Seorang petugas penerimaan murid baru dengan antusias menerimaku.
Ketika itu aku lagi-lagi mendatangi sebuah Sekolah Tinggi Swasta, di sebuah gedung dua lantai, di pinggir kota.
"Total sekitar empat juta mba!" Katanya.
"Baik bu trima kasih informasinya." Aku segera mengambil formulir dan berlalu.
Ahh jauh sekali dari anggaranku.
Sebenarnya aku sudah memperkirakan, selain Sekolah Negeri uangku takkan cukup.
Tapi aku harus terus berusaha, berharap ada mujizat.
Empat buah kampus sudah kudatangi, tidak satupun yang uang masuknya aku sanggupi.
Satu kali lagi!
Masih ada satu kampus lagi.
Aku tau sepertinya tidak mungkin, karena justru kampus ini terkenal paling mahal diantara yang lain.
Ahh....coba saja!
Tanya-tanya kan tidak ada salahnya.
"Selamat siang bu!"
Aku datang menjelang siang hari.
"Berapa uang masuk di sini bu?" Tanyaku.
"Enam juta mba!"
Aku tertegun.
Pikiranku menerawang jauh. Aku harus kuliah tapi sepertinya harus di tunda hingga tahun depan.
Entah melihatku terdiam, tidak bertanya lebih lanjut tapi tidak juga pergi.
Petugasnya kembali melanjutkan.
"Mba nilai-nilainya bagaimana?" Tanyanya.
"O bagus bu." Jawabku.
"Masuk peringkat tidak?"
"Iya bu, saya juara umum satu." Jawabku semangat.
"Begini, kebetulan kami ada program keringanan, bagi yang mendapat juara satu, dua dan tiga, selama kelas satu sampai kelas tiga SMA, bebas uang masuk. Hanya bayar biaya formulir saja seratus ribu."
"Asal mba bisa menunjukkan bukti di Raport yang sudah di copy dan di legalisir." Lanjutnya.
Ahhhh akhirnya!
Tentu saja aku sudah siap semua dokumen yang kira-kira diperlukan.
"Nanti, kalau nilai-nilai kamu bagus, IPK di atas 3,5 maka ada beasiswa juga. Bebas biaya semester." Katanya.
Dengan hati luar biasa gembira, aku pulang.
Hampir tak percaya dengan keajaiban yang baru saja kutemui.
Tidak sabar ingin segera kuliah.
🌷🌷🌷
Sebulan berlalu, aku sudah harus masuk kuliah.
Pakaianku hanya ada tiga pasang waktu itu. Pakaian terbaik yang kubawa dari kampung.
Mau beli baru, uang belum cukup.
Gaji pun belum terima. Kata bos belum ada uang.
Sehari-hari aku melakukan rutinas pekerjaan. Sebenarnya mulai tidak betah, bukan karena pekerjaan, tapi setelah beberapa hari tinggal, aku sudah mulai melihat hal yang tidak menyenangkan.
Ya, majikanku sering sekali bertengkar. Saling teriak bahkan pukul-pukulan.
Aku tak pernah melihat bapak mak ribut, jadi sulit buatku melihat pertengkaran-pertengkaran mereka apalagi hanya karena perkara kecil.
Tapi aku harus bertahan.
Keuanganku mulai sangat menipis.
Aku belum memberi kabar ke kampung, tempat aku tinggal maupun kuliah.
Aku tak ingin mak kepikiran.
Nanti saja kalau sudah pasti semuanya.
Lagipula, untuk mengirim berita, harus melalui berita di Radio, dengan biaya yang lumayan mahal.
🌺🌺🌺
Masa yang di tunggu-tunggu tiba.
Masa penerimaan murid baru di mulai. Seperti biasa, kami harus melalui masa perpeloncoan atau orientasi.
Dengan bangga aku datang, maklum, menurut info, tidak mudah untuk diterima di kampus ini.
Selain biaya yang mahal, pelajarannya pun susah.
Yang masuk biasanya anak-anak orang kaya, atau anak-anak yang memang pintar.
Tapi kebanyakan anak orang kaya.
Bayangkan saja, sudah banyak yang datang ke kampus bawa mobil.
"Kamu! Sini!" Aku celingak celinguk.
Iya, akulah yang di panggil kakak tingkatku dengan kasar.
"Kamu kenapa ke kampus pakai bandana buat mandi!"
Aku melihat kakak-kakak tingkatku tertawa terbahak-bahak.
Membullyku.
Aku diam.
Tidak sanggup menjawab. Bahkan tidak tahu mau jawab apa.
Bagaimana aku bisa tahu itu bandana buat mandi atau bukan.
Yang aku tahu, bandana itu bagus, dan rambut panjangku rapi.
Dan itu juga pertama kali aku beli bando mahal, biasanya aku hanya pakai ikat atau jepit rambut murahan.
Keesokan harinya, masih dalam masa orientasi.
"Kamu! Sini!" Lagi-lagi aku dihardik dengan kasar.
"Bukannya kemarin kamu sudah pakai baju ini!"
"Iya maaf kak, yang lainnya basah."
"Memangnya semuanya basah, berapa banyak baju kamu!"
"Tiga pasang kak." Jawabku pelan.
Kembali kakak-kakak tingkatku menertawakanku.
Aku menjadi bahan bullyan mereka.
Anak-anak orang kaya itu, mereka sepertinya sangat menikmati menyakiti hatiku.
Ya, hatiku sakit dengan perlakuan mereka!
Tunggu, tunggu saja, aku tidak akan membalas menyakiti kalian, tapi akan kubuat kalian membutuhkanku. Batinku!
Dengan sabar aku selesaikan masa orientasi, tiga hari.
Setelahnya, perkuliahan di mulai.
Banyak sekali buku yang harus di beli, untungnya ada perpustakaan kampus.
Hanya saja tidak semua buku bisa di bawa pulang.
"Anna! Kenapa komputer kamu belum dinyalakan!" Dosen praktikkum bertanya, melihat komputer di depanku masih gelap gulita.
Aku mendapat tempat duduk paling depan.
Sementara anak-anak lain semua sudah sibuk mengetik bahkan ada yang sudah ngeprint.
Ya, inilah kampusku.
Jurusan yang kuambil berbanding terbalik dengan jurusan waktu SMA. Dulu aku mengambil SMK kejuruan Pertanian, dengan alasan bisa belajar yang menunjang pekerjaan mak bapak.
Sekarang, aku mengambil jurusan Ilmu Komputer, Manajemen Informatika.
Bukan karena aku mau belajar komputer, tapi karena uangku hanya cukup disini.
Seumur-umur aku belum pernah lihat bentuk komputer.
"Eehm ...mmmm anu pak, pencet mana ya pak supaya nyala?" Tanyaku polos.
Teman-temanku menertawakanku.
Pak dosen segera membantuku.
Setiap pulang kuliah, aku berkutat dengan buku-buku di perpustakaan.
Kusalin tiap mata pelajaran, aku tidak bisa beli buku paket. Uangku belum ada.
Sebulan berlalu. Ulangan demi ulangan dimulai, ulangan harian.
Pelajaran demi pelajaran.
"Kalian semua harus belajar yang benar! Jangan seperti ini!"
Dosen mebagikan nilai-nilai ulangan.
Dengan lantang dia bicara sambil menunjukkan di depan kelas hasil ulanganku yang tertulis angka nol.
Mata kuliahnya memang sulit, bahasa-bahasa program komputer.
Benar-benar baru aku temui.
Seisi kelas menertawakanku.
Celetukan terdengar di sana sini.
Ahhh.....aku harus sabar.
Perjalananku baru saja dimulai.
Aku harus mengejar ketertinggalanku, sebelum ujian semester aku harus menguasai semua materi.
Agar bisa dapat beasiswa.
Bukan apa-apa. Aku hanya bebas uang masuk dan biaya satu semester pertama. Selanjutnya apabila aku tidak mendapat nilai bagus, aku harus bayar SPP empat ratus ribu per semester.
Bagimana mungkin.
Pikirku!
🌷🌷🌷
(Marrieanne's)
🌷🌷🌷
Bagian 12
(Masa Kuliah)
🌷🌷🌷
Dengan hati berat namun tekad yang kuat, aku menuju pertigaan jalan.
Sebentar lagi akan ada bis lewat.
Harus, aku harus pergi dari kampung ini.
Tidak ada cara lain.
Sekalipun aku membuat mak menangis, demi masa depan yang lebih baik, semua harus kulalui.
"Dek, abang temani!" Kulihat abang menyusul.
Ditangannya terlihat sebuah tas kecil dan plastik.
"Ini abang bawa pisang rebus buat bekal kita di jalan!" Lanjutnya.
Mak, bapak, Tuti dan kakak-kakakku semua sudah berkumpul, hendak menghantar aku naik bis.
Mak tak kuasa menahan tangisnya.
"Abang gak mau kamu jalan sendiri, abang harus tau tempat kamu tinggal di kota!" Aku tak bisa mencegahnya.
Tidak berapa lama bis datang. Kupeluk mereka satu persatu.
Kami segera mencari kursi kosong, terlihat penumpang tidak terlalu penuh.
Bis melaju perlahan, dari kejauhan mak bapak melambaikan tangan. Menghantar kepergianku.
Air mataku menetes dalam diam.
Maafkan aku mak, bapak, aku terlalu sayang kalian.
Aku harus mengubah hidup keluarga kita.
Takkan kubiarkan kita hidup dalam hina, karena keterbatasan.
🌷🌷🌷
Ingatan demi ingatan kembali melayang di kepalaku.
Ketika suatu hari bermain di hutan, aku menemukan 10 butir telur ayam hutan.
Dengan sukacita kubungkus telur itu dengan bajuku, hati-hati takut pecah.
Setengah berlari kudapatkan mak yang sedang memasak di dapur.
"Mak! mak! Lihat aku dapat telur, 10 butir!" Kuserahkan telur-telur itu. Mak pun segera merebusnya.
Ketika waktunya makan, kami semua sudah siap duduk di lantai dengan piring masing-masing. Tentu saja bukan piring keramik, bahkan bukan piring plastik, tapi daun yang dipotong dan ditekuk jadi menyerupai piring.
Aku sudah tak sabar, pasti rasanya enak sekali. Pikirku.
Kami memang tidak sering makan telur, kalau ayam peliharaan bertelur, bapak lebih memilih untuk menetaskannya supaya ayam bertambah banyak.
Perlahan-lahan kakak mengupas telur.
Aku bangga sekali bisa mempersembahkan hidangan telur untuk makan malam kami.
"Yaahhhhh....busuk dek!" Suara kakakku terdengar kecewa.
"Yahhh ini juga busuk!" Kata adikku.
Satu persatu kami membuka telur itu, ternyata semua busuk bahkan ada dua telur yang sudah hampir jadi anak ayam.
Bapak mak dengan sigap mengambil telur-telur itu.
"Sini nak! mak makan, mak suka telur yang busuk, enak kog!" Kata mak.
"Sini, bapak juga suka, enak sekali!"
Mak bapak segera menyantap telur yang busuk itu.
Sementara yang lain sibuk makan dengan sayur, aku diam mengamati mak bapak.
Ahhh aku tau mereka bohong, mana mungkin telur itu enak!
Batinku.
Mereka hanya ingin menyenangkanku yang terlihat sangat gembira ketika menemukan telur itu.
Hatiku perih, tapi aku tidak berkata-kata.
Dalam diamku aku berjanji, kelak aku besar, akan kubelikan telur yang banyak buat mak bapak.
Telur yang segar dan pasti bagus!
Waktu berlalu.
Di lain hari.
Ketika kami sudah pindah ke desa.
Aku begitu penasaran melihat tetangga paling kaya di desa, makan menggunakan sendok alumunium.
Sore itu, aku nekat merangkak ke bawah kolong dapur mereka.
Pada umumnya dapur di kampung, sebagus apapun rumahnya, lantai dapur terbuat dari kayu Pering kecil-kecil bulat, jadi ketika mencuci piring, air maupun sisa makanan bisa langsung jatuh ke tanah.
Tinggi lantai dapur dari tanah sekitar satu atau satu setengah meter tergantung rumahnya.
Dan hampir tidak pernah pemilik rumah, mengambil apapun yang jatuh, karena tingginya genangan lumpur, kotor, becek dan bau.
Ditanah yang becek dan berlumpur sisa makanan, aku mengais-ngais, mungkin aku bisa menemukan satu buah sendok berkarat, pikirku.
Aku ingin sekali mencoba makan menggunakan sendok, pasti rasanya nikmat sekali.
"Byuuuurrrrrr......."
Baru saja aku mulai mengobok-obok lumpur,
Seember air tumpah dikepalaku, disertai makian pedas.
Sumpah serapah!
Entahlah pemilik rumah tahu atau tidak kalau itu aku.
Sepertinya tahu!
Aku tak peduli.
Aku segera pergi, tentu saja tanpa sendok, hatiku sakit. Lebih sakit dari kakiku yang tersandung batu, ketika berlari.
Tak kuceritakan pada mak, tidak mau membuatnya sedih.
Tapi lagi-lagi aku berjanji dengan diriku sendiri, kalau aku besar, akan kubeli sendok makan berlusin-lusin.
Yang terbaik.
🌹🌹🌹
Bis melaju, melewati desa demi desa, jalanan yang berkelok-kelok, sesekali amblas di jalan yang rusak, bahkan bannya bocor.
Menjelang jam lima pagi, bis mulai mendekati terminal. Kutunjukkan kertas yang berisi alamat yang dituju.
"Mba turun di sini saja!" Kata kondektur bis.
Aku dan abang segera turun.
Tidak mudah menemukan alamat yang di maksud, kami berjalan kaki kesana kemari, menahan kantuk dan penat.
Menjelang jam enam, kami sampai ke alamat tujuan.
Seorang nenek membukakan pintu.
Ya...memang aku meminta tolong kepada teman SMA, yang punya kenalan atau keluarga di kota ini. Agar bisa menumpang satu atau dua hari sampai mendapat tempat tinggal baru.
"Masuk nak!"
Kami segera masuk. Sebuah rumah kecil di dalam komplek, sederhana, satu ruang tamu, dapur dan satu kamar.
Kami dipersilakan istirahat di ruang tamu.
"Silakan kalau mau tidur dulu, pasti capek semalaman di jalan." Katanya.
"Tidak apa-apa nek, saya ijin pamit dulu mau langsung pulang, yang penting saya sudah tahu tempat adik tinggal." Begitu kata abang.
Ya, abang tidak bisa lama meninggalkan ladang, karena pada waktu itu musim panen.
Abang segera berangkat lagi menuju terminal bis, aku tidak memberitahukan bahwa aku hanya sementara di rumah ini, aku tidak mau membuat abang memikirkan tempat tinggalku nantinya.
"Nek ... saya ijin keliling dulu ya nek, nanti sore kembali." Aku berpamitan.
Aku harus segera mencari pekerjaan.
Tidak ada waktu istirahat.
Aku sudah berjanji ke teman bahwa aku hanya satu atau dua hari di rumah neneknya.
Kususuri rumah demi rumah di komplek itu.
Bertanya, barangkali ada yang perlu pembantu rumah tangga.
Sore menjelang, aku mulai lelah, tidak ada yang mau menerimaku.
Aku segera pulang.
Besok aku akan ke komplek sebelah, mudah-mudahan ada yang menerimaku.
Keesokan hari, pagi-pagi sekali aku sudah mulai keliling.
Ke komplek perumahan sebelah.
"Bu permisi, maaf apakah memerlukan jasa pembantu. Saya lagi cari pekerjaan bu!" Dengan berharap kali ini aku diterima.
"O gak mba, saya gak perlu! Tapi coba ke rumah yang paling ujung, kalau tidak salah dulu sempat nyari, buat mengasuh anak kembar mereka!"
Aku bergegas menuju rumah yang di maksud.
Sebuah rumah lumayan besar, lebih besar dari yang lain.
Tidak boleh lama-lama. Sudah menjelang sore.
"Permisi bu, maaf apakah masih memerlukan pengasuh, saya dapat info dari tetangga depan komplek!"
"O iya masih masih!"
Seorang ibu muda, usia sekitar 25 tahun, mempersilakan aku masuk.
"Kamu bisa momong anak?"
"Bisa bu."
"Kamu bisa masak?"
"Saya bisa belajar bu."
"Nyuci, gosok?"
"Nanti saya diajarin saja bu, pasti bisa." Jawabku antusias.
"Baik kalau begitu kamu langsung saja mulai sore ini, kamar kamu disini!"
"Baik bu.. tapi saya rencana mau kuliah bu. Belum tau di mana, sementara belum masuk saya bisa kerja seharian, tapi kalau sudah kuliah, saya beresin kerjaan dulu baru berangkat." Kataku. Nekat.
"Ya....gak apa-apa!" Jawab sang ibu.
"Untuk gaji saya kasi kamu dua puluh lima ribu rupiah sebulan ya mba!"
"Baik bu trima kasih banyak."
Cukuplah, sudah sangat baik, yang penting aku punya tempat tinggal dan dapat makan.
Segera aku ijin pergi sebentar, pamit kepada nenek yang sudah berbaik hati menampungku dua hari satu malam.
🌷🌷🌷
Setiap pagi aku bangun jam empat. Membereskan rumah, sebelum anak-anak majikan bangun dan bapak berangkat ke kantor.
Bapak maupun ibu bersikap baik padaku, kedua anak kembarnya pun manis-manis.
Aku tidak sulit beradaptasi.
Seminggu kemudian.
Aku mulai keliling mencari kampus.
Dengan bekal uang dua ratus lima puluh ribu rupiah, pemberian mak, aku naik angkot kesana kemari.
Bertanya ke sana sini.
Uang harus ku bagi-bagi penggunaanya.
Siang hari aku tidak makan. Nanti sampai di rumah baru makan.
Pilihan pertamaku tentu saja Universitas Negeri.
Tetapi sayang, aku terlambat. Pendaftaran sudah di tutup minggu lalu.
Aku kecewa, dan berpikir keras.
Selain Kampus Negeri pastilah mahal!
Tapi aku harus kuliah bagaimana pun caranya.
Hari berikutnya aku kembali mendatangi kampus lain.
Aku tidak peduli jurusan apa, yang penting uangku cukup.
"Berapa total uang masuk bu?" Tanyaku kepada petugas penerimaan murid baru.
Ketika itu aku mendatangi sebuah Sekolah Tinggi Swasta, di sebuah gedung tiga lantai, di tengah pusat kota.
"Total sekitar tiga juta mba!" Katanya.
"Baik terima kasih bu informasinya." Aku mengambil formulir.
Dan berlalu.
Tidak mungkin, uangku tidak cukup.
Dan aku tidak akan minta ke mak, aku sudah berjanji pada diri sendiri.
Karena aku kuliah atas keinginanku sendiri.
Setelah bertanya-tanya ke beberapa orang yang kutemui di jalan.
Aku bergegas menuju kampus berikutnya.
"Berapa uang masuknya bu?" Tanyaku.
Seorang petugas penerimaan murid baru dengan antusias menerimaku.
Ketika itu aku lagi-lagi mendatangi sebuah Sekolah Tinggi Swasta, di sebuah gedung dua lantai, di pinggir kota.
"Total sekitar empat juta mba!" Katanya.
"Baik bu trima kasih informasinya." Aku segera mengambil formulir dan berlalu.
Ahh jauh sekali dari anggaranku.
Sebenarnya aku sudah memperkirakan, selain Sekolah Negeri uangku takkan cukup.
Tapi aku harus terus berusaha, berharap ada mujizat.
Empat buah kampus sudah kudatangi, tidak satupun yang uang masuknya aku sanggupi.
Satu kali lagi!
Masih ada satu kampus lagi.
Aku tau sepertinya tidak mungkin, karena justru kampus ini terkenal paling mahal diantara yang lain.
Ahh....coba saja!
Tanya-tanya kan tidak ada salahnya.
"Selamat siang bu!"
Aku datang menjelang siang hari.
"Berapa uang masuk di sini bu?" Tanyaku.
"Enam juta mba!"
Aku tertegun.
Pikiranku menerawang jauh. Aku harus kuliah tapi sepertinya harus di tunda hingga tahun depan.
Entah melihatku terdiam, tidak bertanya lebih lanjut tapi tidak juga pergi.
Petugasnya kembali melanjutkan.
"Mba nilai-nilainya bagaimana?" Tanyanya.
"O bagus bu." Jawabku.
"Masuk peringkat tidak?"
"Iya bu, saya juara umum satu." Jawabku semangat.
"Begini, kebetulan kami ada program keringanan, bagi yang mendapat juara satu, dua dan tiga, selama kelas satu sampai kelas tiga SMA, bebas uang masuk. Hanya bayar biaya formulir saja seratus ribu."
"Asal mba bisa menunjukkan bukti di Raport yang sudah di copy dan di legalisir." Lanjutnya.
Ahhhh akhirnya!
Tentu saja aku sudah siap semua dokumen yang kira-kira diperlukan.
"Nanti, kalau nilai-nilai kamu bagus, IPK di atas 3,5 maka ada beasiswa juga. Bebas biaya semester." Katanya.
Dengan hati luar biasa gembira, aku pulang.
Hampir tak percaya dengan keajaiban yang baru saja kutemui.
Tidak sabar ingin segera kuliah.
🌷🌷🌷
Sebulan berlalu, aku sudah harus masuk kuliah.
Pakaianku hanya ada tiga pasang waktu itu. Pakaian terbaik yang kubawa dari kampung.
Mau beli baru, uang belum cukup.
Gaji pun belum terima. Kata bos belum ada uang.
Sehari-hari aku melakukan rutinas pekerjaan. Sebenarnya mulai tidak betah, bukan karena pekerjaan, tapi setelah beberapa hari tinggal, aku sudah mulai melihat hal yang tidak menyenangkan.
Ya, majikanku sering sekali bertengkar. Saling teriak bahkan pukul-pukulan.
Aku tak pernah melihat bapak mak ribut, jadi sulit buatku melihat pertengkaran-pertengkaran mereka apalagi hanya karena perkara kecil.
Tapi aku harus bertahan.
Keuanganku mulai sangat menipis.
Aku belum memberi kabar ke kampung, tempat aku tinggal maupun kuliah.
Aku tak ingin mak kepikiran.
Nanti saja kalau sudah pasti semuanya.
Lagipula, untuk mengirim berita, harus melalui berita di Radio, dengan biaya yang lumayan mahal.
🌺🌺🌺
Masa yang di tunggu-tunggu tiba.
Masa penerimaan murid baru di mulai. Seperti biasa, kami harus melalui masa perpeloncoan atau orientasi.
Dengan bangga aku datang, maklum, menurut info, tidak mudah untuk diterima di kampus ini.
Selain biaya yang mahal, pelajarannya pun susah.
Yang masuk biasanya anak-anak orang kaya, atau anak-anak yang memang pintar.
Tapi kebanyakan anak orang kaya.
Bayangkan saja, sudah banyak yang datang ke kampus bawa mobil.
"Kamu! Sini!" Aku celingak celinguk.
Iya, akulah yang di panggil kakak tingkatku dengan kasar.
"Kamu kenapa ke kampus pakai bandana buat mandi!"
Aku melihat kakak-kakak tingkatku tertawa terbahak-bahak.
Membullyku.
Aku diam.
Tidak sanggup menjawab. Bahkan tidak tahu mau jawab apa.
Bagaimana aku bisa tahu itu bandana buat mandi atau bukan.
Yang aku tahu, bandana itu bagus, dan rambut panjangku rapi.
Dan itu juga pertama kali aku beli bando mahal, biasanya aku hanya pakai ikat atau jepit rambut murahan.
Keesokan harinya, masih dalam masa orientasi.
"Kamu! Sini!" Lagi-lagi aku dihardik dengan kasar.
"Bukannya kemarin kamu sudah pakai baju ini!"
"Iya maaf kak, yang lainnya basah."
"Memangnya semuanya basah, berapa banyak baju kamu!"
"Tiga pasang kak." Jawabku pelan.
Kembali kakak-kakak tingkatku menertawakanku.
Aku menjadi bahan bullyan mereka.
Anak-anak orang kaya itu, mereka sepertinya sangat menikmati menyakiti hatiku.
Ya, hatiku sakit dengan perlakuan mereka!
Tunggu, tunggu saja, aku tidak akan membalas menyakiti kalian, tapi akan kubuat kalian membutuhkanku. Batinku!
Dengan sabar aku selesaikan masa orientasi, tiga hari.
Setelahnya, perkuliahan di mulai.
Banyak sekali buku yang harus di beli, untungnya ada perpustakaan kampus.
Hanya saja tidak semua buku bisa di bawa pulang.
"Anna! Kenapa komputer kamu belum dinyalakan!" Dosen praktikkum bertanya, melihat komputer di depanku masih gelap gulita.
Aku mendapat tempat duduk paling depan.
Sementara anak-anak lain semua sudah sibuk mengetik bahkan ada yang sudah ngeprint.
Ya, inilah kampusku.
Jurusan yang kuambil berbanding terbalik dengan jurusan waktu SMA. Dulu aku mengambil SMK kejuruan Pertanian, dengan alasan bisa belajar yang menunjang pekerjaan mak bapak.
Sekarang, aku mengambil jurusan Ilmu Komputer, Manajemen Informatika.
Bukan karena aku mau belajar komputer, tapi karena uangku hanya cukup disini.
Seumur-umur aku belum pernah lihat bentuk komputer.
"Eehm ...mmmm anu pak, pencet mana ya pak supaya nyala?" Tanyaku polos.
Teman-temanku menertawakanku.
Pak dosen segera membantuku.
Setiap pulang kuliah, aku berkutat dengan buku-buku di perpustakaan.
Kusalin tiap mata pelajaran, aku tidak bisa beli buku paket. Uangku belum ada.
Sebulan berlalu. Ulangan demi ulangan dimulai, ulangan harian.
Pelajaran demi pelajaran.
"Kalian semua harus belajar yang benar! Jangan seperti ini!"
Dosen mebagikan nilai-nilai ulangan.
Dengan lantang dia bicara sambil menunjukkan di depan kelas hasil ulanganku yang tertulis angka nol.
Mata kuliahnya memang sulit, bahasa-bahasa program komputer.
Benar-benar baru aku temui.
Seisi kelas menertawakanku.
Celetukan terdengar di sana sini.
Ahhh.....aku harus sabar.
Perjalananku baru saja dimulai.
Aku harus mengejar ketertinggalanku, sebelum ujian semester aku harus menguasai semua materi.
Agar bisa dapat beasiswa.
Bukan apa-apa. Aku hanya bebas uang masuk dan biaya satu semester pertama. Selanjutnya apabila aku tidak mendapat nilai bagus, aku harus bayar SPP empat ratus ribu per semester.
Bagimana mungkin.
Pikirku!
🌷🌷🌷
(Marrieanne's)
-----
SEPIRING TULANG AYAM
🌷🌷🌷
Bagian 13
(Pulang kampung)
🌷🌷🌷
"Na, nanti selesai kelas kamu ke ruang kantor saya!" Perintah pak Budi, dosenku.
"Baik pak!" Jawabku patuh.
Begitu jam pelajaran usai, aku segera menemui pak Budi.
"Kenapa nilai-nilai mata pelajaran kamu yang berhubungan dengan komputer jelek semua!"
Pak Budi memperhatikanku dengan seksama.
"Padahal setelah saya cek berkas-berkas kamu, katanya kamu juara kelas waktu SMK bahkan juara umum!" Lanjutnya lagi.
Wah, aku merasa tidak enak. Jangan-jangan dipikirnya aku berbohong atau memanipulasi nilai.
"Eeemm...maaf pak, betul saya juara kelas, tapi selama di SMK sama sekali tidak ada pelajaran Komputer pak, bahkan liat langsung saja saya belum pernah, cuma tahu pernah liat di koran pak." Jelasku.
"Lalu kenapa kamu malah melanjutkan kuliah disini kalau memang bukan bidang yang kamu kuasai!" Pak Budi sepertinya masih belum puas dengan jawabanku.
"Iya pak, saya ikut program beasiswa uang masuk, uang saya cuma cukup untuk bayar formulir, orang tua saya sebenarnya tidak mengijinkan kuliah karena keterbatasan biaya tapi saya ngotot." Akhirnya aku bisa terbuka.
Hanya kepada pak Budi aku cerita alasanku kuliah di Perguruan Tinggi ini.
"Oooo begitu!"
"Iya pak, saya janji akan mengejar ketertinggalan saya pak, sebelum ujian semester semua akan saya perbaiki!"
"Baiklah...bapak percaya sama kamu!"
"Trima kasih banyak pak."
Semenjak hari itu, pak Budi sering memberikan tugas-tugas ekstra untuk kukerjakan di lab maupun di rumah. Aku sama sekali tidak mengeluh malah senang sekali.
Pak Budi pun selalu mengontrol nilai-nilaiku.
Memasuki bulan ketiga, perkuliahan berjalan normal.
Aku sudah mulai memiliki teman, belum begitu banyak.
Lebih tepatnya sebenarnya aku yang minder.
Pakaianku itu-itu aja.
Pelajaran banyak ketinggalan.
Setiap selesai pelajaran, aku menghabiskan waktu di lab komputer dan di perpustakaan.
Sore itu sesampai di rumah majikanku, sebut saja namanya Pak Alex dan Bu Lien.
"Bak buk bak buk ....!" Terdengar suara gaduh dari dalam rumah.
Aku segera masuk, kulihat Pak Alex sedang memukul ibu dengan sepatu.
Segera kuletakkan tas ku, kupeluk tubuh kecil sang ibu, tak kupedulikan bapak yang terus memukuli, menghantam tangan, punggungku, bertubi tubi. Aku merelakan diri menerima pukulan bapak yang terus berusaha memukul ibu, pak Alex berteriak-teriak marah sementara ibu menangis histeris.
"Sudah! Sudah pak, kasihan ibu!" Teriakku.
Beberapa saat setelah bapak sadar bahwa dia justru memukulku, barulah dia menghentikannya dan meminta maaf padaku.
Tangan dan punggungku lebam-lebam.
Sakit.
Aku tidak merasakan itu semua, aku lebih tidak tega melihat ibu majikanku diperlakukan seperti itu.
Memang si ibu banyak bicara, ada saja yang membuatnya ngomel, bapak pulang telat, bapak taruh baju tidak pada tempatnya, bapak masuk rumah lupa lepas sepatu. Aku juga kadang gregetan. Mungkin karena tidak pernah mendengar mak ngomel, dan bapak juga selalu baik kepada mak.
Terlepas dari itu semua sebenarnya ibu majikanku baik, mengajariku berbagai pekerjaan dengan sabar.
Apalagi anak kembarnya, Tian dan Koko, laki-laki usia lima tahun. Lucu dan menggemaskan sekali.
Betul-betul tidak sanggup melihat pertengkaran mereka.
Aku tidak terbiasa dengan hal-hal seperti itu.
Bapak selalu melindungi mak.
Abang-abang selalu menjaga kami adik-adik perempuannya.
Keesokan harinya.
Di kampus, aku meminta tolong pada temanku.
Barangkali dia ada kenalan, atau tetangga yang mencari pembantu rumah tangga atau pengasuh anak.
Kebetulan dia punya tante, yang tinggal sendiri karena omnya sudah meninggal, sementara anak-anaknya sudah menikah, hanya sesekali datang.
Aku ditawari tinggal dirumah tantenya, membantu mencuci gosok, masak dan membersihkan rumah.
Tentu saja aku mau, gaji terserah yang penting aku bisa tidur dan makan.
Sebenarnya aku pernah tanya-tanya pekerjaan dekat kampus, sebagai pelayan toko, tapi mereka tidak menyediakan tempat tinggal.
🌹🌹🌹
"Pak ... bu ... maaf, besok saya ijin pamit, saya sudah dapat tempat tinggal dekat kampus. Jadi lebih irit tidak perlu naik angkot!" Kataku pagi itu, sebelum bapak berangkat kekantor.
"Kenapa mendadak Na?"
"Tidak pak, sebenarnya dua hari lalu udah mau ngomong!" Ujarku.
Tidak, sebenarnya kemarin aku belum niat pindah.
Rumah tantenya temanku pun katanya agak jauh dari kampus.
Tapi terpaksa.
Semalam, dengan menahan rasa sakit akibat pukulan sepatu bapak, aku berpikir panjang.
Tidak mungkin aku bisa ikut campur urusan rumah tangga majikanku.
Tapi aku juga tidak sanggup menyaksikan pertengkaran demi pertengkaran mereka.
Aku harus pindah, kasian si kembar, tapi terpaksa.
"Hari ini saya selesaikan dulu semua pekerjaan saya bu, besok baru pindah."
"Ya sudah Na kalau itu yang baik buat kamu, saya tidak bisa memaksa!" Ibu majikan menjawabku pelan.
Dia segera mengambil uang limapuluh ribu rupiah, gajiku dua bulan.
Sungguh tidak tega sebenarnya.
Tapi aku harus belajar memprioritaskan pelajaran kuliah, kalau tiap hari tidak bisa fokus, bisa-bisa nilaiku tidak meningkat.
Sementara aku harus mengejar beasiswa.
🌷🌷🌷
Aku mulai bekerja pada majikan baru.
Semua pekerjaan kuselesaikan sebelum berangkat kuliah, dan kulanjutkan sepulang kuliah hingga malam.
Aku tidak di gaji, hanya sesekali di beri uang seribu atau dua ribu.
Tidak apalah yang penting aku ada tempat untuk tidur dan makan.
Tapi aku harus memutar otak.
Karena tiap hari harus naik angkot, uangku betul-betul pas-pasan.
Menjelang ujian semester pertama, nilai-nilai ulangan harianku melonjak tajam.
Bahkan pada waktu pembagian nilai ujian semester, pak Budi hampir tidak percaya.
Nilaiku rata-rata A, IPK ku 3,75.
Teman-teman yang tadinya menganggapku enteng, akhirnya mulai menaruh perhatian padaku.
Beasiswa pun kudapat.
"Na, nanti bapak mau pulang cepat, ada keperluan! Tolong kamu teruskan ya pembahasan materinya!" Kata pak Budi siang itu.
Begitulah, akhirnya aku sering ditugaskan untuk membantu pak Budi mengajar.
Bahkan beliau selalu berpesan ke anak-anak lain.
"Kalau ada yang kurang jelas kalian tanya sama Anna!" Begitu selalu katanya.
Aku merasa senang sekali, semua pelajaran menjadi gampang sekali bahkan aku diberi kepercayaan oleh dosen.
"Pak...pak...saya mau tanya ini!" Seorang temanku mengejar pak Budi keluar ruangan.
"Kan sudah saya bilang, tanya Anna saja!" Jawab pak Budi.
Aku tersenyum, entahlah, ada rasa kepuasan tersediri dalam hatiku!
Teman-temanku mulai banyak, bahkan ada yang minta tolong aku mengajari dirumahnya, apalagi menjelang ujian.
Dan rata-rata mereka anak orang kaya.
Sedikit-sedikit, aku mulai mengamati pergaulan mereka.
Ada rasa iri, kenapa hidup mereka sepertinya gampang sekali.
Mau makan siang tinggal beli, gak pake mikir harga berapa, mau beli baju tinggal ambil, bayar, kesana kemari naik mobil, kalau bosan, naik motor!
Tapi aku jarang sekali ketemu orang tua mereka. Tidak seperti orang tuaku yang siang malam bisa bertemu.
Pernah aku bertanya pada temanku.
"Ta, duitmu kok banyak banget si!"
"Iya orangtuaku uangnya banyak, jadi aku tinggal minta, gak minta pun direkening bankku selalu diisi mama!" Katanya.
Aku benar-benar takjub.
"Aku juga gak tahu pekerjaan papa mama!" Lanjutnya.
Ajaib! Pikirku.
Aku tahu betul ladang-ladang mak bapak, bahkan cara mengolahnya, aku tahu berapa banyak pohon karet kami, bahkan berapa ekor jumlah ayam piaraan bapak.
Entah bagaimana cara orang-orang bisa jadi kaya seperti mereka.
Setiap kali aku datang kerumah Ita, aku selalu mengagumi barang-barang dirumahnya.
Tidurnya pun pakai springbed mewah.
Ahh...kapan aku bisa tidur di tempat tidur seempuk itu. Pikirku.
Dia juga sering mentraktirku, lumayan, aku bisa irit uang makan.
Bahkan kadang bajunya yang tak terpakai dia serahkan ke aku.
Perlahan-lahan aku mulai bisa bernafas lega.
Aku sering menawarkan diri ke teman-teman lain, untuk mengetik, dan berbagai tugas lainnya.
Aku tak pernah meminta bayaran, hanya menawarkan, membantu, apa saja yang bisa aku kerjakan, aku lakukan.
Tapi mereka juga sering memberiku uang saku, lumayan, untuk biaya sehari-hariku.
Teman-temanku tidak mengetahui kesusahan hidupku, aku tak pernah cerita, dan memang aku tidak suka berkeluh kesah kepada orang lain.
Buat apa, pikirku, hanya membuatku direndahkan dan dicemooh orang lain.
🌷🌷🌷
"Na, yuk pulang bareng kuantar!" Siang itu temanku Dino menawarkan bantuannya.
Kebetulan rumahnya memang searah dengan tempat tinggalku.
Dino anak terkaya di kampusku.
Kata teman-teman, rumahnya sangat mewah, bapaknya punya banyak mobil, bahkan katanya punya banyak kapal-kapal mewah.
Membayangkannya saja sudah membuatku sakit kepala!
Sesampai diparkiran. Aku tersentak.
Mobilnya mobil Jeep, berkaca hitam!
Seketika ingatanku melayang pada suatu masa SMP.
🌷🌷🌷
"Na, kamu dengar gak!" Kata Eka temanku.
Waktu itu kami sedang mandi disebuah tepian kecil dekat jalan raya.
"Iya ... ayo cepat! Cepat!"
Kami segera mengambil semua perlengkapan mandi, secepatnya masuk ke dalam hutan, menerobos semak-semak.
"Aduhhh....Ka tunggu!" Kakiku menginjak buah Asam maram.
Dan duri disampingnya.
"Cepat Na, cepetan dong!"
Suara mobil menderu-deru makin mendekat.
Kami panik, berlari makin menjauh kedalam hutan.
Ya, kami memang sangat takut pada mobil.
Mobil Jeep!
Kalau suara mobil angkot kami sudah hafal, jadi kami tidak takut.
Mobil Jeep biasanya kacanya hitam, dan banyak cerita beredar bahwa mobil itu adalah mobil penculik. Kami menyebutnya mobil keruit.
Mereka menculik anak-anak untuk dijadikan bahan campuran aspal jalanan.
Kalau tidak ada campuran, aspal tidak bisa padat.
Kami meringkuk di balik pohon Asam maram, kutahan sakit ditelapak kakiku yang berdarah.
Setelah beberapa saat terdengar suara mobil menjauh barulah kami pelan-pelan kembali ke tepian dan melanjutkan mandi.
🌷🌷🌷
"Ini mobilmu?"
"Iya ... ayoo!"
Dengan ragu-ragu aku naik.
Sepanjang jalan aku masih tidak habis pikir, kenapa mobilnya harus Jeep, apakah ayahnya Dino termasuk orang-orang jahat itu.
Ahh sudahlah, mungkin juga aku memang tidak tahu banyak hal.
Banyak sekali di dunia ini hal-hal yang tidak kumengerti.
Tapi aku semakin terpacu untuk belajar, bukan hanya belajar pelajaran, tapi segala sesuatu yang kutemui.
🌷🌷🌷
"Kepada Ananda Anna, dimohon agar segera pulang kampung, karena ibunda sakit. Sekali lagi, kepada Ananda Anna, dimohon segera pulang kampung karena ibunda sakit!"
Demikian suara pengumuman di radio sore itu.
Memang begitulah cara kami berkomunikasi, belum ada telp, orang lain tentu saja sudah punya.
Setiap sore aku berusaha untuk tidak ketinggalan berita di radio, begitupun kalau aku ingin memberi kabar ke kampung, mak bapak akan mendengarkan melalui radio.
Radio RRI.
Segera aku berpamitan kepada ibu majikanku.
Kebetulan hari itu hari jumat sore.
Jam enam atau tujuh malam selalu ada bis menuju kekampungku.
Terakhir aku pulang tiga bulan lalu.
Tidak bisa sering pulang karena harus irit-irit uang.
Menjelang jam enam pagi aku sampai dirumah.
Bapak sudah menungguku di teras.
Segera aku berlari mendapatkan mak di kamar.
Kupegang tangannya.
"Mak aku pulang!"
"Mak....!"
Pelan mak membuka mata.
"Mak sakit apa?"
"Mak cuma lelah aja nak, mak kepikiran kamu!"
"Aku baik-baik saja mak!"
"Kuliah kamu bagaimana?"
"Baik mak, nilaiku bagus-bagus!"
"Teman-temanmu bagaimana?"
"Semua baik ke aku mak!"
"Bos kamu bagaimana?"
"Baik mak....gak usah dipikirin!"
Mak terlihat tenang, kembali ia menutup mata dan tertidur.
Kupandangi wajah cantik mak.
Aku sudah berjanji untuk tidak mengecewakan mak.
Aku tak pernah cerita bagaimana kesusahanku di kota.
Bagaimana aku dihina kakak kelasku karena bajuku itu-itu saja.
Aku juga tidak pernah memberitahu mak kalau aku sudah pindah kerja ke majikan lain.
Jangan sampai mak kepikiran.
Aku juga tak pernah cerita bahwa aku sering menahan lapar di siang hari kalau uang tinggal sedikit.
Atau ketika aku harus berjalan kaki dari kampus menuju kerumah majikanku kalau uangku habis dan tidak ada teman yang menawariku tumpangan.
Atau bagaimana bosku yang baru sering bicara menyindir kalau kerjaanku dinilainya kurang rapi. Katanya dasar orang kampung!
Tidak!
Mak harus selalu tersenyum, kelak aku akan membayar semua kesusahan yang mak bapak jalanin.
Tekadku bulat!
🌷🌷🌷
(Marrieanne's)
🌷🌷🌷
Bagian 13
(Pulang kampung)
🌷🌷🌷
"Na, nanti selesai kelas kamu ke ruang kantor saya!" Perintah pak Budi, dosenku.
"Baik pak!" Jawabku patuh.
Begitu jam pelajaran usai, aku segera menemui pak Budi.
"Kenapa nilai-nilai mata pelajaran kamu yang berhubungan dengan komputer jelek semua!"
Pak Budi memperhatikanku dengan seksama.
"Padahal setelah saya cek berkas-berkas kamu, katanya kamu juara kelas waktu SMK bahkan juara umum!" Lanjutnya lagi.
Wah, aku merasa tidak enak. Jangan-jangan dipikirnya aku berbohong atau memanipulasi nilai.
"Eeemm...maaf pak, betul saya juara kelas, tapi selama di SMK sama sekali tidak ada pelajaran Komputer pak, bahkan liat langsung saja saya belum pernah, cuma tahu pernah liat di koran pak." Jelasku.
"Lalu kenapa kamu malah melanjutkan kuliah disini kalau memang bukan bidang yang kamu kuasai!" Pak Budi sepertinya masih belum puas dengan jawabanku.
"Iya pak, saya ikut program beasiswa uang masuk, uang saya cuma cukup untuk bayar formulir, orang tua saya sebenarnya tidak mengijinkan kuliah karena keterbatasan biaya tapi saya ngotot." Akhirnya aku bisa terbuka.
Hanya kepada pak Budi aku cerita alasanku kuliah di Perguruan Tinggi ini.
"Oooo begitu!"
"Iya pak, saya janji akan mengejar ketertinggalan saya pak, sebelum ujian semester semua akan saya perbaiki!"
"Baiklah...bapak percaya sama kamu!"
"Trima kasih banyak pak."
Semenjak hari itu, pak Budi sering memberikan tugas-tugas ekstra untuk kukerjakan di lab maupun di rumah. Aku sama sekali tidak mengeluh malah senang sekali.
Pak Budi pun selalu mengontrol nilai-nilaiku.
Memasuki bulan ketiga, perkuliahan berjalan normal.
Aku sudah mulai memiliki teman, belum begitu banyak.
Lebih tepatnya sebenarnya aku yang minder.
Pakaianku itu-itu aja.
Pelajaran banyak ketinggalan.
Setiap selesai pelajaran, aku menghabiskan waktu di lab komputer dan di perpustakaan.
Sore itu sesampai di rumah majikanku, sebut saja namanya Pak Alex dan Bu Lien.
"Bak buk bak buk ....!" Terdengar suara gaduh dari dalam rumah.
Aku segera masuk, kulihat Pak Alex sedang memukul ibu dengan sepatu.
Segera kuletakkan tas ku, kupeluk tubuh kecil sang ibu, tak kupedulikan bapak yang terus memukuli, menghantam tangan, punggungku, bertubi tubi. Aku merelakan diri menerima pukulan bapak yang terus berusaha memukul ibu, pak Alex berteriak-teriak marah sementara ibu menangis histeris.
"Sudah! Sudah pak, kasihan ibu!" Teriakku.
Beberapa saat setelah bapak sadar bahwa dia justru memukulku, barulah dia menghentikannya dan meminta maaf padaku.
Tangan dan punggungku lebam-lebam.
Sakit.
Aku tidak merasakan itu semua, aku lebih tidak tega melihat ibu majikanku diperlakukan seperti itu.
Memang si ibu banyak bicara, ada saja yang membuatnya ngomel, bapak pulang telat, bapak taruh baju tidak pada tempatnya, bapak masuk rumah lupa lepas sepatu. Aku juga kadang gregetan. Mungkin karena tidak pernah mendengar mak ngomel, dan bapak juga selalu baik kepada mak.
Terlepas dari itu semua sebenarnya ibu majikanku baik, mengajariku berbagai pekerjaan dengan sabar.
Apalagi anak kembarnya, Tian dan Koko, laki-laki usia lima tahun. Lucu dan menggemaskan sekali.
Betul-betul tidak sanggup melihat pertengkaran mereka.
Aku tidak terbiasa dengan hal-hal seperti itu.
Bapak selalu melindungi mak.
Abang-abang selalu menjaga kami adik-adik perempuannya.
Keesokan harinya.
Di kampus, aku meminta tolong pada temanku.
Barangkali dia ada kenalan, atau tetangga yang mencari pembantu rumah tangga atau pengasuh anak.
Kebetulan dia punya tante, yang tinggal sendiri karena omnya sudah meninggal, sementara anak-anaknya sudah menikah, hanya sesekali datang.
Aku ditawari tinggal dirumah tantenya, membantu mencuci gosok, masak dan membersihkan rumah.
Tentu saja aku mau, gaji terserah yang penting aku bisa tidur dan makan.
Sebenarnya aku pernah tanya-tanya pekerjaan dekat kampus, sebagai pelayan toko, tapi mereka tidak menyediakan tempat tinggal.
🌹🌹🌹
"Pak ... bu ... maaf, besok saya ijin pamit, saya sudah dapat tempat tinggal dekat kampus. Jadi lebih irit tidak perlu naik angkot!" Kataku pagi itu, sebelum bapak berangkat kekantor.
"Kenapa mendadak Na?"
"Tidak pak, sebenarnya dua hari lalu udah mau ngomong!" Ujarku.
Tidak, sebenarnya kemarin aku belum niat pindah.
Rumah tantenya temanku pun katanya agak jauh dari kampus.
Tapi terpaksa.
Semalam, dengan menahan rasa sakit akibat pukulan sepatu bapak, aku berpikir panjang.
Tidak mungkin aku bisa ikut campur urusan rumah tangga majikanku.
Tapi aku juga tidak sanggup menyaksikan pertengkaran demi pertengkaran mereka.
Aku harus pindah, kasian si kembar, tapi terpaksa.
"Hari ini saya selesaikan dulu semua pekerjaan saya bu, besok baru pindah."
"Ya sudah Na kalau itu yang baik buat kamu, saya tidak bisa memaksa!" Ibu majikan menjawabku pelan.
Dia segera mengambil uang limapuluh ribu rupiah, gajiku dua bulan.
Sungguh tidak tega sebenarnya.
Tapi aku harus belajar memprioritaskan pelajaran kuliah, kalau tiap hari tidak bisa fokus, bisa-bisa nilaiku tidak meningkat.
Sementara aku harus mengejar beasiswa.
🌷🌷🌷
Aku mulai bekerja pada majikan baru.
Semua pekerjaan kuselesaikan sebelum berangkat kuliah, dan kulanjutkan sepulang kuliah hingga malam.
Aku tidak di gaji, hanya sesekali di beri uang seribu atau dua ribu.
Tidak apalah yang penting aku ada tempat untuk tidur dan makan.
Tapi aku harus memutar otak.
Karena tiap hari harus naik angkot, uangku betul-betul pas-pasan.
Menjelang ujian semester pertama, nilai-nilai ulangan harianku melonjak tajam.
Bahkan pada waktu pembagian nilai ujian semester, pak Budi hampir tidak percaya.
Nilaiku rata-rata A, IPK ku 3,75.
Teman-teman yang tadinya menganggapku enteng, akhirnya mulai menaruh perhatian padaku.
Beasiswa pun kudapat.
"Na, nanti bapak mau pulang cepat, ada keperluan! Tolong kamu teruskan ya pembahasan materinya!" Kata pak Budi siang itu.
Begitulah, akhirnya aku sering ditugaskan untuk membantu pak Budi mengajar.
Bahkan beliau selalu berpesan ke anak-anak lain.
"Kalau ada yang kurang jelas kalian tanya sama Anna!" Begitu selalu katanya.
Aku merasa senang sekali, semua pelajaran menjadi gampang sekali bahkan aku diberi kepercayaan oleh dosen.
"Pak...pak...saya mau tanya ini!" Seorang temanku mengejar pak Budi keluar ruangan.
"Kan sudah saya bilang, tanya Anna saja!" Jawab pak Budi.
Aku tersenyum, entahlah, ada rasa kepuasan tersediri dalam hatiku!
Teman-temanku mulai banyak, bahkan ada yang minta tolong aku mengajari dirumahnya, apalagi menjelang ujian.
Dan rata-rata mereka anak orang kaya.
Sedikit-sedikit, aku mulai mengamati pergaulan mereka.
Ada rasa iri, kenapa hidup mereka sepertinya gampang sekali.
Mau makan siang tinggal beli, gak pake mikir harga berapa, mau beli baju tinggal ambil, bayar, kesana kemari naik mobil, kalau bosan, naik motor!
Tapi aku jarang sekali ketemu orang tua mereka. Tidak seperti orang tuaku yang siang malam bisa bertemu.
Pernah aku bertanya pada temanku.
"Ta, duitmu kok banyak banget si!"
"Iya orangtuaku uangnya banyak, jadi aku tinggal minta, gak minta pun direkening bankku selalu diisi mama!" Katanya.
Aku benar-benar takjub.
"Aku juga gak tahu pekerjaan papa mama!" Lanjutnya.
Ajaib! Pikirku.
Aku tahu betul ladang-ladang mak bapak, bahkan cara mengolahnya, aku tahu berapa banyak pohon karet kami, bahkan berapa ekor jumlah ayam piaraan bapak.
Entah bagaimana cara orang-orang bisa jadi kaya seperti mereka.
Setiap kali aku datang kerumah Ita, aku selalu mengagumi barang-barang dirumahnya.
Tidurnya pun pakai springbed mewah.
Ahh...kapan aku bisa tidur di tempat tidur seempuk itu. Pikirku.
Dia juga sering mentraktirku, lumayan, aku bisa irit uang makan.
Bahkan kadang bajunya yang tak terpakai dia serahkan ke aku.
Perlahan-lahan aku mulai bisa bernafas lega.
Aku sering menawarkan diri ke teman-teman lain, untuk mengetik, dan berbagai tugas lainnya.
Aku tak pernah meminta bayaran, hanya menawarkan, membantu, apa saja yang bisa aku kerjakan, aku lakukan.
Tapi mereka juga sering memberiku uang saku, lumayan, untuk biaya sehari-hariku.
Teman-temanku tidak mengetahui kesusahan hidupku, aku tak pernah cerita, dan memang aku tidak suka berkeluh kesah kepada orang lain.
Buat apa, pikirku, hanya membuatku direndahkan dan dicemooh orang lain.
🌷🌷🌷
"Na, yuk pulang bareng kuantar!" Siang itu temanku Dino menawarkan bantuannya.
Kebetulan rumahnya memang searah dengan tempat tinggalku.
Dino anak terkaya di kampusku.
Kata teman-teman, rumahnya sangat mewah, bapaknya punya banyak mobil, bahkan katanya punya banyak kapal-kapal mewah.
Membayangkannya saja sudah membuatku sakit kepala!
Sesampai diparkiran. Aku tersentak.
Mobilnya mobil Jeep, berkaca hitam!
Seketika ingatanku melayang pada suatu masa SMP.
🌷🌷🌷
"Na, kamu dengar gak!" Kata Eka temanku.
Waktu itu kami sedang mandi disebuah tepian kecil dekat jalan raya.
"Iya ... ayo cepat! Cepat!"
Kami segera mengambil semua perlengkapan mandi, secepatnya masuk ke dalam hutan, menerobos semak-semak.
"Aduhhh....Ka tunggu!" Kakiku menginjak buah Asam maram.
Dan duri disampingnya.
"Cepat Na, cepetan dong!"
Suara mobil menderu-deru makin mendekat.
Kami panik, berlari makin menjauh kedalam hutan.
Ya, kami memang sangat takut pada mobil.
Mobil Jeep!
Kalau suara mobil angkot kami sudah hafal, jadi kami tidak takut.
Mobil Jeep biasanya kacanya hitam, dan banyak cerita beredar bahwa mobil itu adalah mobil penculik. Kami menyebutnya mobil keruit.
Mereka menculik anak-anak untuk dijadikan bahan campuran aspal jalanan.
Kalau tidak ada campuran, aspal tidak bisa padat.
Kami meringkuk di balik pohon Asam maram, kutahan sakit ditelapak kakiku yang berdarah.
Setelah beberapa saat terdengar suara mobil menjauh barulah kami pelan-pelan kembali ke tepian dan melanjutkan mandi.
🌷🌷🌷
"Ini mobilmu?"
"Iya ... ayoo!"
Dengan ragu-ragu aku naik.
Sepanjang jalan aku masih tidak habis pikir, kenapa mobilnya harus Jeep, apakah ayahnya Dino termasuk orang-orang jahat itu.
Ahh sudahlah, mungkin juga aku memang tidak tahu banyak hal.
Banyak sekali di dunia ini hal-hal yang tidak kumengerti.
Tapi aku semakin terpacu untuk belajar, bukan hanya belajar pelajaran, tapi segala sesuatu yang kutemui.
🌷🌷🌷
"Kepada Ananda Anna, dimohon agar segera pulang kampung, karena ibunda sakit. Sekali lagi, kepada Ananda Anna, dimohon segera pulang kampung karena ibunda sakit!"
Demikian suara pengumuman di radio sore itu.
Memang begitulah cara kami berkomunikasi, belum ada telp, orang lain tentu saja sudah punya.
Setiap sore aku berusaha untuk tidak ketinggalan berita di radio, begitupun kalau aku ingin memberi kabar ke kampung, mak bapak akan mendengarkan melalui radio.
Radio RRI.
Segera aku berpamitan kepada ibu majikanku.
Kebetulan hari itu hari jumat sore.
Jam enam atau tujuh malam selalu ada bis menuju kekampungku.
Terakhir aku pulang tiga bulan lalu.
Tidak bisa sering pulang karena harus irit-irit uang.
Menjelang jam enam pagi aku sampai dirumah.
Bapak sudah menungguku di teras.
Segera aku berlari mendapatkan mak di kamar.
Kupegang tangannya.
"Mak aku pulang!"
"Mak....!"
Pelan mak membuka mata.
"Mak sakit apa?"
"Mak cuma lelah aja nak, mak kepikiran kamu!"
"Aku baik-baik saja mak!"
"Kuliah kamu bagaimana?"
"Baik mak, nilaiku bagus-bagus!"
"Teman-temanmu bagaimana?"
"Semua baik ke aku mak!"
"Bos kamu bagaimana?"
"Baik mak....gak usah dipikirin!"
Mak terlihat tenang, kembali ia menutup mata dan tertidur.
Kupandangi wajah cantik mak.
Aku sudah berjanji untuk tidak mengecewakan mak.
Aku tak pernah cerita bagaimana kesusahanku di kota.
Bagaimana aku dihina kakak kelasku karena bajuku itu-itu saja.
Aku juga tidak pernah memberitahu mak kalau aku sudah pindah kerja ke majikan lain.
Jangan sampai mak kepikiran.
Aku juga tak pernah cerita bahwa aku sering menahan lapar di siang hari kalau uang tinggal sedikit.
Atau ketika aku harus berjalan kaki dari kampus menuju kerumah majikanku kalau uangku habis dan tidak ada teman yang menawariku tumpangan.
Atau bagaimana bosku yang baru sering bicara menyindir kalau kerjaanku dinilainya kurang rapi. Katanya dasar orang kampung!
Tidak!
Mak harus selalu tersenyum, kelak aku akan membayar semua kesusahan yang mak bapak jalanin.
Tekadku bulat!
🌷🌷🌷
(Marrieanne's)
----
SEPIRING TULANG AYAM
Bagian 14
🌷🌷🌷
(Mulai bekerja)
🌷🌷🌷
Memasuki tahun kedua perkuliahan, aku mulai kesulitan mengatur keuangan.
Tentu saja bisa meminta kepada mak bapak, mereka pasti akan mengusahakannya.
Tapi tidak! Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri.
Aku yang ingin kuliah, tidak akan kurepotkan mereka dengan meminta uang buat biaya kuliah.
Sesekali mak kirim uang.
Tentu aku terima, tapi prinsipku, aku tidak mau meminta.
"Na, kamu mau tidak tinggal di Asrama, tidak bayar, hanya masak sendiri, tapi peraturannya ketat, banyak kegiatan yang harus diikuti, pulangnya pun tidak boleh lebih dari jam sembilan malam!" Kata temanku suatu hari.
"Tidak jauh juga dari kampus, bisa jalan kaki!" Lanjutnya.
"Kalau mau nanti kutanyain, karena tidak semua orang bisa diterima, tergantung ketersediaan kuota penghuni."
Aku mulai memikirkan ucapan temanku.
Tidak apa-apalah peraturan ketat, aku pasti bisa menemukan cara untuk mencari uang tambahan.
Yang penting sekarang ada tempat tinggal dan irit biaya ke kampus.
Tempatku sekarang terlalu jauh, sementara uang untuk bayar angkot kadang ada kadang tidak.
Akhirnya, setelah beberapa hari, aku diterima tinggal di asrama wanita.
Ada empat unit dengan sekitar seratus penghuni yang masing-masing dipimpin oleh ketua unit.
Kuliah pun berjalan lancar.
Aku tidak kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru.
1997
Menjelang tahun ketiga kuliah berjalan, aku mulai mencari pekerjaan.
Kali ini aku mendatangi beberapa kantor, setelah selesai jam kuliah, dengan bermodalkan uang pas-pasan untuk membeli amplop dan membuat lamaran.
Setelah menitipkan lamaran di beberapa tempat, akhirnya, aku dipanggil untuk interview.
Serangkaian pertanyaan tertulis maupun lisan harus kuselesaikan.
Terutama test kemampuan berbahasa Inggris, diprioritaskan katanya.
Setelah menunggu beberapa hari, aku dipanggil kembali.
Aku harus memenuhi satu test lagi yaitu test kesehatan.
Seminggu berlalu, aku sangat berharap diterima bekerja.
Materi kuliah sudah banyak yang kuselesaikan, jadi bisa membagi waktu dengan bekerja.
Aku tidak bisa mulai bekerja menunggu selesai kuliah.
Kelamaan!
Akhirnya aku mendapat kabar bahwa aku diterima bekerja, sebagai kasir di sebuah hotel bintang empat, hotel terbaik kala itu.
Tentu saja aku sangat senang.
Pertama kalinya aku bekerja tidak sebagai pembantu atau pengasuh.
Deg-degan takut salah sekaligus senang.
Aku belum memberi kabar ke kampung, nanti setelah ada waktu aku pasti pulang.
Sudah bisa kubayangkan betapa bangganya mak bapak.
Terakhir aku pulang, mak cerita sambil menangis.
"Kenapa mak menangis?"
"Mak diomongin orang-orang di kampung!"
"Diomongin bagaimana mak maksudnya?"
"Katanya mak sok-sok mampu, berani masukin anak kuliah!"
"Kan aku yang mau mak!"
Ahh kasihan mak, harus menanggung beban diomongin orang karena aku yang keras kepala.
"Iya tapi mereka tetap aja ngomongin, mau bayar pakai apa itu biaya kuliah kata mereka!"
"Sudahlah jangan dipikirin mak!"
Kupeluk mak.
Mungkin mereka cuma iri. Pikirku.
🌹🌹🌹
Dengan pekerjaan sistem shift, aku pun harus menyesuaikan waktu kuliah.
Apabila kerja shift pagi, aku mengambil kuliah sore sampai malam.
Begitu pula apabila kerja shift malam, aku mengambil kuliah pagi.
Tantangan demi tantangan datang silih berganti.
Terutama karena tinggal di asrama yang batas terakhir masuk adalah jam sembilan malam.
Sementara shift kerja malam berakhir pukul sebelas malam.
Beberapa kali aku ijin pulang malam tapi sering merasa tidak enak dengan penghuni lain, apalagi aku sudah dipercayakan menjadi ketua unit.
🌷🌷🌷
Hal yang paling kusenangi selama bekerja adalah bertemu dengan tamu-tamu dari berbagai daerah bahkan dari luar negeri.
Sebagai kasir, aku harus siap ditugaskan diberbagai divisi.
Kemampuan berbahasa inggris sangat diperlukan, karena tamu Bule pasti ada setiap hari. Aku berusaha keras mempelajari banyak hal.
Banyak sekali hal baru.
Dikeluargaku belum pernah ada yang kerja kantoran.
Bahkan sekedar menjadi pengurus desa, belum ada.
Sehingga aku belum ada bayangan bagaimana cara bekerja dengan orang, atau dalam suatu perusahaan secara formal begini.
Suatu hari.
"Na, ini kenapa bonnya ada coretan!"
Sore itu bapak Supervisor memanggilku.
Aku sempat bingung, ada kesalahan apa yang sudah kuperbuat.
"Ini bonnya, angkanya ada yang dicoret!"
"Ooo itu pak tadi ada yang mau pakai fasilitas Gym dua orang tapi tidak jadi, akhirnya satu orang saja yang masuk!" Jelasku.
Pada waktu itu aku ditugaskan di bagian Sport and Recreation.
"Kamu kalau mau buat perubahan harus informasikan ke saya, minta ijin saya, harus paraf saya!"
"Iya maaf pak saya belum mengerti prosedurnya." Aku berusaha menjelaskan.
Dan pada waktu itu memang atasanku juga sedang tidak berada di tempat.
"Ini tidak mungkin, ini kamu sudah tulis dua, trus dicoret jadi satu, pasti uangnya kamu ambil!"
"Baru juga kerja satu bulan, sudah berani gelapin uang!"
Ya Tuhan!
Atasanku tetap tidak mau mendengarkan penjelasanku.
Aku baru bekerja sebulan, banyak hal yang harus kupelajari.
Tentu saja aku mau menerima setiap koreksi, tapi kalau aku dituduh tidak jujur, aku sangat tidak terima.
Mak bapak mengajariku, lebih baik tidak makan daripada meminta apalagi mencuri.
Sakit sekali hatiku dituduh seperti itu.
Aku berusaha menahan tangis. Akupun tidak bisa berdebat lagi karena sudah dibentak-bentak dengan kasar.
Khawatir mengganggu para tamu.
Aku diam dan kuteruskan pekerjaan hari itu.
Biarlah, aku harus sabar, aku perlu pekerjaan ini. Tidak boleh mundur.
Nanti akan ada waktunya, entah dengan cara bagaimana, kebenaran akan ditunjukkan.
Bahwa aku tidak seperti yang dikatakan.
Batinku. Perih!
Beberapa hari kemudian.
"Selamat siang mba." Seorang tamu datang.
"Selamat siang pak, silakan." Kataku.
Aku terkejut.
"Pak pak ... ini tamu yang kemarin, bapak boleh tanya beliau apakah benar yang nge Gym cuma satu atau dua orang!" Kataku kepada bapak Supervisor, yang kebetulan sedang berada di tempat.
Aku melihat keterkejutan di wajahnya, dan rekan kerjaku juga kaget.
Mereka sepertinya takut.
Aku tidak peduli.
Ini kesempatan buatku menjelaskan. Pikirku.
"Pak, maaf beberapa hari lalu betul ya pak, saya ada mengubah tulisan di kwitansi, dari dua orang menjadi satu, karena teman bapak tidak jadi ikut nge Gym," kataku dengan berani.
"Oiya betul betul, kenapa mba?"
"O baik pak tidak apa-apa hanya untuk memperjelas saja!" Jawabku yang tentunya di dengar juga oleh Supervisorku.
Tidak ada yang berani berbicara.
"Na, mestinya tadi kamu diam saja!" Begitu kata supervisorku setelah tamunya pergi.
Dia terlihat kesal.
"Kenapa diam pak, saya tidak terima bapak tuduh saya mengambil uang!" Jawabku dengan sedikit keras.
"Itu kan tadi pak bos, adik kandung yang punya hotel!"
"Mana saya tahu pak!"
Pantas saja mereka terlihat takut.
Ahh sudahlah. Siapa suruh menuduh orang lain seenaknya.
Pikirku!
Sejak kejadian hari itu, setiap kali datang ke Hotel, adik pak bos itu selalu menyapaku.
Bahkan sering datang bersama keluarganya. Istrinya sangat baik.
Kami pun sering ngobrol.
Bahkan kadang lebih lama ngobrolnya dibanding urusannya.
"Na, besok kerumah ya, anakku ulang tahun!"
"Na, besok ikut ya, saya mau makan di restaurant Berkat!"
"Na, besok saya mau cari pakaian di Butik, temenin ya....!"
"Na, besok saya mau nyobain buat kue dirumah, datang ya!"
Begitulah aku sering dilibatkan dalam kegiatannya.
Kadang bersama teman-temannya juga.
Aku sering deg-degan naik mobil mewahnya, masuk rumah mewahnya, dan herannya, mereka memperlakukanku seolah aku setara.
Entahlah aku harus menyebutnya apa, tapi kadang tidak habis mengerti dengan cobaan dan berkat yang kuterima.
Tentu saja aku senang, aktifitasku benar-benar padat.
Tapi aku juga sering bingung.
Kehidupan mereka sangat jauh dibanding kehidupanku.
Aku belajar keras menyesuaikan diri, dan satu prinsip yang kupegang.
Jangan pernah berkeluh kesah tentang kesusahan hidup, jangan meminjam uang atau barang, apalagi meminta apapun.
Mereka tidak akan suka.
Akhir bulan tiba.
Tidak sabar. Kata orang-orang akan segera gajian.
Aku sangat bersemangat.
Kubuka amplop yang kuterima.
Seratus tujuhpuluh lima ribu rupiah.
Nanti pertengahan bulan akan terima uang lagi katanya, uang service.
Entah berapa jumlahnya, kami tidak tahu, karena tergantung banyaknya tamu yang menginap.
Ahhh senangnya.
Malamnya aku segera naik bis pulang kampung.
Tidak sabar ingin memperlihatkan pada mak bapak hasil kerjaku.
"Mak ... bapak !
Dari jauh aku sudah berteriak memanggil mak bapak.
"Mak aku pulang bawa gaji!"
"Kamu kerja apa nak?"
"Kerjanya ngitung uang mak!"
"Seperti di kantor mak, harus pakaian rapi, tidak boleh datang telat."
"Tiap hari juga aku berbahasa inggris kalau ada tamu Bule!"
Dengan antusias kuceritakan semua pada mak bapak.
Mereka terlihat sangat bangga.
Mak memandangku terpana, seolah tak percaya kalau aku bisa kerja kantoran.
Aku tersenyum puas.
Akhirnya perlahan aku bisa membuat mak bapak bangga.
Belum ada dikampungku ada anak yang masih kuliah tapi sudah bekerja.
Tidak kuceritakan pada mak betapa lelahnya tubuhku.
Hampir tidak ada waktu istirahat.
Setiap hari selama tinggal di asrama, jam setengah lima sudah harus bangun piket, berdoa bersama, berangkat kuliah.
Pulang kuliah langsung kerja. Atau sebaliknya kerja langsung kuliah.
Tugas-tugas kuliah sangat banyak. Aku hanya sempat tidur sedikit.
Aku harus terus belajar dan bekerja.
Tak kuceritakan betapa aku kadang merasa takut apabila pulang kerja malam.
Tidak ada tumpangan, kalau beruntung ada teman searah aku nebeng naik motor.
Tapi jadwal kerja tidak selalu sama.
Sehingga aku lebih sering jalan kaki dari Hotel ke asrama.
Kadang sampai asrama sudah jam dua belas malam.
Sepanjang jalan aku takut ada orang jahat.
Atau kadang hujan-hujan jalan kaki.
Menggigil kedinginan.
Tengah malam!
Sendirian!
🌷🌷🌷
(Marrieanne's)
----
Bagian 14
🌷🌷🌷
(Mulai bekerja)
🌷🌷🌷
Memasuki tahun kedua perkuliahan, aku mulai kesulitan mengatur keuangan.
Tentu saja bisa meminta kepada mak bapak, mereka pasti akan mengusahakannya.
Tapi tidak! Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri.
Aku yang ingin kuliah, tidak akan kurepotkan mereka dengan meminta uang buat biaya kuliah.
Sesekali mak kirim uang.
Tentu aku terima, tapi prinsipku, aku tidak mau meminta.
"Na, kamu mau tidak tinggal di Asrama, tidak bayar, hanya masak sendiri, tapi peraturannya ketat, banyak kegiatan yang harus diikuti, pulangnya pun tidak boleh lebih dari jam sembilan malam!" Kata temanku suatu hari.
"Tidak jauh juga dari kampus, bisa jalan kaki!" Lanjutnya.
"Kalau mau nanti kutanyain, karena tidak semua orang bisa diterima, tergantung ketersediaan kuota penghuni."
Aku mulai memikirkan ucapan temanku.
Tidak apa-apalah peraturan ketat, aku pasti bisa menemukan cara untuk mencari uang tambahan.
Yang penting sekarang ada tempat tinggal dan irit biaya ke kampus.
Tempatku sekarang terlalu jauh, sementara uang untuk bayar angkot kadang ada kadang tidak.
Akhirnya, setelah beberapa hari, aku diterima tinggal di asrama wanita.
Ada empat unit dengan sekitar seratus penghuni yang masing-masing dipimpin oleh ketua unit.
Kuliah pun berjalan lancar.
Aku tidak kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru.
1997
Menjelang tahun ketiga kuliah berjalan, aku mulai mencari pekerjaan.
Kali ini aku mendatangi beberapa kantor, setelah selesai jam kuliah, dengan bermodalkan uang pas-pasan untuk membeli amplop dan membuat lamaran.
Setelah menitipkan lamaran di beberapa tempat, akhirnya, aku dipanggil untuk interview.
Serangkaian pertanyaan tertulis maupun lisan harus kuselesaikan.
Terutama test kemampuan berbahasa Inggris, diprioritaskan katanya.
Setelah menunggu beberapa hari, aku dipanggil kembali.
Aku harus memenuhi satu test lagi yaitu test kesehatan.
Seminggu berlalu, aku sangat berharap diterima bekerja.
Materi kuliah sudah banyak yang kuselesaikan, jadi bisa membagi waktu dengan bekerja.
Aku tidak bisa mulai bekerja menunggu selesai kuliah.
Kelamaan!
Akhirnya aku mendapat kabar bahwa aku diterima bekerja, sebagai kasir di sebuah hotel bintang empat, hotel terbaik kala itu.
Tentu saja aku sangat senang.
Pertama kalinya aku bekerja tidak sebagai pembantu atau pengasuh.
Deg-degan takut salah sekaligus senang.
Aku belum memberi kabar ke kampung, nanti setelah ada waktu aku pasti pulang.
Sudah bisa kubayangkan betapa bangganya mak bapak.
Terakhir aku pulang, mak cerita sambil menangis.
"Kenapa mak menangis?"
"Mak diomongin orang-orang di kampung!"
"Diomongin bagaimana mak maksudnya?"
"Katanya mak sok-sok mampu, berani masukin anak kuliah!"
"Kan aku yang mau mak!"
Ahh kasihan mak, harus menanggung beban diomongin orang karena aku yang keras kepala.
"Iya tapi mereka tetap aja ngomongin, mau bayar pakai apa itu biaya kuliah kata mereka!"
"Sudahlah jangan dipikirin mak!"
Kupeluk mak.
Mungkin mereka cuma iri. Pikirku.
🌹🌹🌹
Dengan pekerjaan sistem shift, aku pun harus menyesuaikan waktu kuliah.
Apabila kerja shift pagi, aku mengambil kuliah sore sampai malam.
Begitu pula apabila kerja shift malam, aku mengambil kuliah pagi.
Tantangan demi tantangan datang silih berganti.
Terutama karena tinggal di asrama yang batas terakhir masuk adalah jam sembilan malam.
Sementara shift kerja malam berakhir pukul sebelas malam.
Beberapa kali aku ijin pulang malam tapi sering merasa tidak enak dengan penghuni lain, apalagi aku sudah dipercayakan menjadi ketua unit.
🌷🌷🌷
Hal yang paling kusenangi selama bekerja adalah bertemu dengan tamu-tamu dari berbagai daerah bahkan dari luar negeri.
Sebagai kasir, aku harus siap ditugaskan diberbagai divisi.
Kemampuan berbahasa inggris sangat diperlukan, karena tamu Bule pasti ada setiap hari. Aku berusaha keras mempelajari banyak hal.
Banyak sekali hal baru.
Dikeluargaku belum pernah ada yang kerja kantoran.
Bahkan sekedar menjadi pengurus desa, belum ada.
Sehingga aku belum ada bayangan bagaimana cara bekerja dengan orang, atau dalam suatu perusahaan secara formal begini.
Suatu hari.
"Na, ini kenapa bonnya ada coretan!"
Sore itu bapak Supervisor memanggilku.
Aku sempat bingung, ada kesalahan apa yang sudah kuperbuat.
"Ini bonnya, angkanya ada yang dicoret!"
"Ooo itu pak tadi ada yang mau pakai fasilitas Gym dua orang tapi tidak jadi, akhirnya satu orang saja yang masuk!" Jelasku.
Pada waktu itu aku ditugaskan di bagian Sport and Recreation.
"Kamu kalau mau buat perubahan harus informasikan ke saya, minta ijin saya, harus paraf saya!"
"Iya maaf pak saya belum mengerti prosedurnya." Aku berusaha menjelaskan.
Dan pada waktu itu memang atasanku juga sedang tidak berada di tempat.
"Ini tidak mungkin, ini kamu sudah tulis dua, trus dicoret jadi satu, pasti uangnya kamu ambil!"
"Baru juga kerja satu bulan, sudah berani gelapin uang!"
Ya Tuhan!
Atasanku tetap tidak mau mendengarkan penjelasanku.
Aku baru bekerja sebulan, banyak hal yang harus kupelajari.
Tentu saja aku mau menerima setiap koreksi, tapi kalau aku dituduh tidak jujur, aku sangat tidak terima.
Mak bapak mengajariku, lebih baik tidak makan daripada meminta apalagi mencuri.
Sakit sekali hatiku dituduh seperti itu.
Aku berusaha menahan tangis. Akupun tidak bisa berdebat lagi karena sudah dibentak-bentak dengan kasar.
Khawatir mengganggu para tamu.
Aku diam dan kuteruskan pekerjaan hari itu.
Biarlah, aku harus sabar, aku perlu pekerjaan ini. Tidak boleh mundur.
Nanti akan ada waktunya, entah dengan cara bagaimana, kebenaran akan ditunjukkan.
Bahwa aku tidak seperti yang dikatakan.
Batinku. Perih!
Beberapa hari kemudian.
"Selamat siang mba." Seorang tamu datang.
"Selamat siang pak, silakan." Kataku.
Aku terkejut.
"Pak pak ... ini tamu yang kemarin, bapak boleh tanya beliau apakah benar yang nge Gym cuma satu atau dua orang!" Kataku kepada bapak Supervisor, yang kebetulan sedang berada di tempat.
Aku melihat keterkejutan di wajahnya, dan rekan kerjaku juga kaget.
Mereka sepertinya takut.
Aku tidak peduli.
Ini kesempatan buatku menjelaskan. Pikirku.
"Pak, maaf beberapa hari lalu betul ya pak, saya ada mengubah tulisan di kwitansi, dari dua orang menjadi satu, karena teman bapak tidak jadi ikut nge Gym," kataku dengan berani.
"Oiya betul betul, kenapa mba?"
"O baik pak tidak apa-apa hanya untuk memperjelas saja!" Jawabku yang tentunya di dengar juga oleh Supervisorku.
Tidak ada yang berani berbicara.
"Na, mestinya tadi kamu diam saja!" Begitu kata supervisorku setelah tamunya pergi.
Dia terlihat kesal.
"Kenapa diam pak, saya tidak terima bapak tuduh saya mengambil uang!" Jawabku dengan sedikit keras.
"Itu kan tadi pak bos, adik kandung yang punya hotel!"
"Mana saya tahu pak!"
Pantas saja mereka terlihat takut.
Ahh sudahlah. Siapa suruh menuduh orang lain seenaknya.
Pikirku!
Sejak kejadian hari itu, setiap kali datang ke Hotel, adik pak bos itu selalu menyapaku.
Bahkan sering datang bersama keluarganya. Istrinya sangat baik.
Kami pun sering ngobrol.
Bahkan kadang lebih lama ngobrolnya dibanding urusannya.
"Na, besok kerumah ya, anakku ulang tahun!"
"Na, besok ikut ya, saya mau makan di restaurant Berkat!"
"Na, besok saya mau cari pakaian di Butik, temenin ya....!"
"Na, besok saya mau nyobain buat kue dirumah, datang ya!"
Begitulah aku sering dilibatkan dalam kegiatannya.
Kadang bersama teman-temannya juga.
Aku sering deg-degan naik mobil mewahnya, masuk rumah mewahnya, dan herannya, mereka memperlakukanku seolah aku setara.
Entahlah aku harus menyebutnya apa, tapi kadang tidak habis mengerti dengan cobaan dan berkat yang kuterima.
Tentu saja aku senang, aktifitasku benar-benar padat.
Tapi aku juga sering bingung.
Kehidupan mereka sangat jauh dibanding kehidupanku.
Aku belajar keras menyesuaikan diri, dan satu prinsip yang kupegang.
Jangan pernah berkeluh kesah tentang kesusahan hidup, jangan meminjam uang atau barang, apalagi meminta apapun.
Mereka tidak akan suka.
Akhir bulan tiba.
Tidak sabar. Kata orang-orang akan segera gajian.
Aku sangat bersemangat.
Kubuka amplop yang kuterima.
Seratus tujuhpuluh lima ribu rupiah.
Nanti pertengahan bulan akan terima uang lagi katanya, uang service.
Entah berapa jumlahnya, kami tidak tahu, karena tergantung banyaknya tamu yang menginap.
Ahhh senangnya.
Malamnya aku segera naik bis pulang kampung.
Tidak sabar ingin memperlihatkan pada mak bapak hasil kerjaku.
"Mak ... bapak !
Dari jauh aku sudah berteriak memanggil mak bapak.
"Mak aku pulang bawa gaji!"
"Kamu kerja apa nak?"
"Kerjanya ngitung uang mak!"
"Seperti di kantor mak, harus pakaian rapi, tidak boleh datang telat."
"Tiap hari juga aku berbahasa inggris kalau ada tamu Bule!"
Dengan antusias kuceritakan semua pada mak bapak.
Mereka terlihat sangat bangga.
Mak memandangku terpana, seolah tak percaya kalau aku bisa kerja kantoran.
Aku tersenyum puas.
Akhirnya perlahan aku bisa membuat mak bapak bangga.
Belum ada dikampungku ada anak yang masih kuliah tapi sudah bekerja.
Tidak kuceritakan pada mak betapa lelahnya tubuhku.
Hampir tidak ada waktu istirahat.
Setiap hari selama tinggal di asrama, jam setengah lima sudah harus bangun piket, berdoa bersama, berangkat kuliah.
Pulang kuliah langsung kerja. Atau sebaliknya kerja langsung kuliah.
Tugas-tugas kuliah sangat banyak. Aku hanya sempat tidur sedikit.
Aku harus terus belajar dan bekerja.
Tak kuceritakan betapa aku kadang merasa takut apabila pulang kerja malam.
Tidak ada tumpangan, kalau beruntung ada teman searah aku nebeng naik motor.
Tapi jadwal kerja tidak selalu sama.
Sehingga aku lebih sering jalan kaki dari Hotel ke asrama.
Kadang sampai asrama sudah jam dua belas malam.
Sepanjang jalan aku takut ada orang jahat.
Atau kadang hujan-hujan jalan kaki.
Menggigil kedinginan.
Tengah malam!
Sendirian!
🌷🌷🌷
(Marrieanne's)
----
SEPIRING TULANG AYAM
🌷🌷🌷
Bagian 15
(Beli Lemari)
🌷🌷🌷
Tidak terasa, sudah memasuki bulan kedua bekerja.
Tepat tanggal lima belas bulan berikutnya, seluruh karyawan menerima uang tambahan namanya uang service.
Jumlahnya sama untuk setiap karyawan.
Tidak sabar untuk membuka amplop.
Seratus dua puluh lima ribu rupiah!
Ahhhh senangnya.
Aku sudah melihat-lihat barang yang akan dibeli.
Sepasang anting-anting buat Mak.
Anting perak yang cantik.
Dan sebuah lemari pakaian dari kain.
Aku lupa harganya, ukurannya kecil tapi cukup untuk pakaian yang juga tidak seberapa.
Di Asrama sudah disediakan lemari, lebih tepatnya rak tertutup, tapi sangat kecil.
Kami boleh beli sendiri asal tidak terlalu besar.
Seketika ingatanku melayang pada masa SMP.
🌸🌸🌸
Seluruh kelas ketika itu sedang pelajaran olahraga, kami pun main Volley Ball di lapangan pinggir jalan raya. Di depan sekolah.
Tiba-tiba dari kejauhan.
Sebuah mobil angkot melaju dengan kecepatan sedang.
Belum lagi angkot tersebut berhenti sempurna, terdengar kakak dan abang ramai berteriak.
"Na, ikut yuk."
"Kita mau ke kota."
"Yukk!"
Kulihat Bapak duduk di depan sebelah supir.
Mak di belakang bersama kakak-kakak di dalam angkot.
Kakak iparku juga ikut.
Bahkan keponakan yang masih kecil juga ikut.
Dan kedua abangku duduk di atas angkot.
Mereka terlihat senang sekali.
Apalagi Mak. Tak henti-hentinya mak tersenyum.
Segera aku dekati mereka.
"Mau apa kak?" Tanyaku penasaran.
"Kenapa semua pada ikut."
"Kita mau beli lemari dek," kata abang.
"Iya mau beli lemari yang besar," kakakku menimpali.
"Memangnya ada uangnya?" Tanyaku.
"Ada dek, Mak dapat tembus Dana. Dua angka!"
Ahh pantasan mak kelihatan sangat bahagia.
Mak memang sesekali pasang dana.
Dana adalah istilah untuk lotre mungkin kalau jaman sekarang.
Dulu, pasang dana tidak dianggap ilegal.
Bahkan pengumuman angka berapa yang keluar, seingatku sampai enam angka, diumumkan melalui radio.
Paling kecil dua angka.
Dan untuk pasang angka berapa itu pun tidak sembarangan.
Seringkali diambil dari mimpi, atau kejadian-kejadian tertentu.
Misalkan Abang memanjat pohon kelapa lalu buah pertama jatuh terbelah dua.
Buah kedua juga jatuh terbelah dua.
Sedangkan yang ketiga tetap utuh.
Jadi mungkin dua angka pertama yang keluar adalah dua nol.
Ditambah lagi dengan cerita Bapak.
Bapak pergi mengambil bubu di sungai.
Bubu pertama isinya dua ekor ikan lele.
Bubu kedua juga sama isinya dua ekor ikan lele.
Bubu ketiga kosong.
Nahh, sudah dapat dipastikan minggu ini waktu pengumuman nanti, dua angka pertama adalah dua nol. Katanya.
Lucu yaa!
Sering juga pemilihan angka diambil dari mimpi.
"Na, kamu mimpi apa semalam?" Tanya Abang.
"Mimpi terbang," jawabku.
Ya, aku memang sering sekali mimpi terbang. Sangat sering.
Kata orang-orang, kalau mimpi terbang artinya kita akan pergi merantau jauh sekali.
Dan aku pun percaya, sangat percaya.
Bahkan kadang aku tidak sabar untuk segera tidur agar dapat mimpi terbang.
"Mimpi terbang, pakai sayap nggak?"
"Nggak bang."
"Terus jatuh apa mendarat?"
"Nggak jelas bang, keburu kebangun."
"Yaahhh berarti mungkin ... eh tangannya lurus apa dibentangkan?"
"Lurus! Lurus," kataku setengah kesal.
Aku memang tidak begitu percaya hal begitu.
"Berarti lurus mungkin angka satu ya, terus turunnya gak jelas jadi sepertinya nol."
"Ah terserah abang deh!"
Aku pun berlalu.
Untuk pasang dana, harus bayar kupon.
Tapi tentunya jarang tepat, seingatku cuma dapat dua kali.
"Aku nggak bisa ikut Mak, belum waktunya pulang," jawabku.
"Ya udah kita berangkat yaa."
"Daaahhh dahhhhhh!"
Angkot pun berlalu.
Tidak berapa lama, sekitar dua jam kemudian.
Angkot datang dari arah kota. Aku sedang berada di kelas. Pelajaran sedang berlangsung.
Kulihat angkot berhenti di depan sekolah. Hanya sebentar mungkin karena tidak melihatku, angkot terus jalan.
Tapi kulihat dari pintu kelas, sebuah lemari kayu besar diikat di atas angkot, lemari pajangan tv, ber cat coklat.
Sementara abang berdiri bergelantungan di pintu belakang.
Hari itu adalah pertama kali di rumah kami ada lemari.
Rasanya rumah kami jadi lebih mewah.
Tidak banyak barang yang di pajang dalam lemari itu, cupai kecil, perlengkapan makan pinang, dan beberapa buah tanggui.
Dan satu lagi, cerutu Bapak.
🌷🌷🌷
Hari ini, sepulang kerja pagi, aku masuk kuliah seperti biasa.
Di kelas, ada anak baru pindahan dari Amerika.
Namanya Rosi.
Ceritanya, sang ayah yang merupakan pejabat tinggi Kepolisian ditugaskan di kota kami.
Sebelumnya ditugaskan di Jakarta.
Selama beberapa tahun terakhir, Rosi dikirim ke Amerika untuk kuliah.
Bukan kehendak dia, tapi orangtuanya sengaja untuk memisahkan Rosi dari pacarnya yang orang dari kalangan biasa.
Lalu setelah yakin hubungan Rosi dan pacarnya putus, orangtuanya meminta dia pulang dengan alasan sakit.
Bukannya menemukan orangtuanya sakit, malah dia tidak boleh kembali ke Amerika dan disuruh menikah dengan pilihan orangtuanya yang seorang pengusaha.
Rosi terpaksa setuju dengan catatan dia tetap melanjutkan kuliah.
Ahh....orang-orang kaya memang aneh. Pikirku.
Persoalannya ada-ada saja.
Hidupnya udah enak kenapa dibuat susah.
"Na, ini ada anak baru, kamu bantuin ya," kata dosenku.
"Dia waktu di Amerika kuliah jurusan Hukum, jadi pasti banyak kesulitan," lanjut pak Budi.
"Baik pak."
Entah bagaimana dari jurusan Hukum lanjut ke Komputer. Aku tak pernah tanya.
Bukankah aku juga dari jurusan Pertanian ke Komputer.
Mulai hari itu aku mendapat teman baru, lagi-lagi anak orang kaya.
Entah takdir atau apa namanya.
Tapi aku banyak dikelilingi orang-orang kaya.
Aku semakin percaya bahwa takdirku bukan menjadi dukun, seperti kata orang di kampung.
Aku sering ditraktir Rosi makan, atau diantar pulang kuliah.
Rosi memang sangat tergantung padaku.
Kemampuan belajarnya juga sulit sekali.
Aku harus sangat sabar membantunya belajar.
Juga mendengarkan keluh kesahnya.
Seringkali aku harus mengulang materi yang sama.
Tapi aku tidak pernah mengeluh, kalau berhasil membuat temanku bagus nilainya, itu adalah sebuah prestasi.
Aku sering diajak mampir ke rumah orang tuanya.
Rumah bertingkat tiga yang mewah.
Tentu saja kami naik mobilnya yang juga mewah.
"Na, aku pusing deh. Ribut melulu sama suami."
"Aku sangat tidak bahagia."
Padahal mereka baru setahun menikah, pikirku.
"Na, aku bulan depan mau pindah ke rumah yang satu lagi."
"Mama membelikan rumah yang lebih besar dari yang sekarang. Kalau yang sekarang kan kecil banget, susah aku ngatur barang-barang," lanjutnya.
Ahh aku hanya menyediakan kupingku untuk mendengar.
Seandainya dia tahu, bagaimana hidupku!
Akankah dia terus mengeluh dan mengeluh.
Rumah yang dikatakannya kecil adalah rumah seluas seratus lima puluh meter persegi.
Rumah yang sangat nyaman.
Lengkap dengan segala perabot dan alat elektronik mahal.
Sementara aku, aku tinggal di Asrama gratisan yang ketat dengan peraturannya.
Berebutan mandi dengan dua puluh lima anak perempuan lainnya.
Tidur lurus berdesakan di loteng tepat di bawah atap, bukan di lantai dua.
Ribut antar sesama penghuni sudah biasa.
Kehilangan stock mie sudah biasa.
Sementara dia mengeluh dengan kualitas buah yang dibeli, aku bahkan bersyukur bisa beli sepotong semangka di tukang rujak sekali seminggu.
Atau ketika dia mengeluh mobilnya kurang bagus, aku harus menahan pegal karena berjalan kaki bila uang pas-pasan dan tidak ada tumpangan.
Entahlah!
(Marrieanne's)
bersambung
🌷🌷🌷
Bagian 15
(Beli Lemari)
🌷🌷🌷
Tidak terasa, sudah memasuki bulan kedua bekerja.
Tepat tanggal lima belas bulan berikutnya, seluruh karyawan menerima uang tambahan namanya uang service.
Jumlahnya sama untuk setiap karyawan.
Tidak sabar untuk membuka amplop.
Seratus dua puluh lima ribu rupiah!
Ahhhh senangnya.
Aku sudah melihat-lihat barang yang akan dibeli.
Sepasang anting-anting buat Mak.
Anting perak yang cantik.
Dan sebuah lemari pakaian dari kain.
Aku lupa harganya, ukurannya kecil tapi cukup untuk pakaian yang juga tidak seberapa.
Di Asrama sudah disediakan lemari, lebih tepatnya rak tertutup, tapi sangat kecil.
Kami boleh beli sendiri asal tidak terlalu besar.
Seketika ingatanku melayang pada masa SMP.
🌸🌸🌸
Seluruh kelas ketika itu sedang pelajaran olahraga, kami pun main Volley Ball di lapangan pinggir jalan raya. Di depan sekolah.
Tiba-tiba dari kejauhan.
Sebuah mobil angkot melaju dengan kecepatan sedang.
Belum lagi angkot tersebut berhenti sempurna, terdengar kakak dan abang ramai berteriak.
"Na, ikut yuk."
"Kita mau ke kota."
"Yukk!"
Kulihat Bapak duduk di depan sebelah supir.
Mak di belakang bersama kakak-kakak di dalam angkot.
Kakak iparku juga ikut.
Bahkan keponakan yang masih kecil juga ikut.
Dan kedua abangku duduk di atas angkot.
Mereka terlihat senang sekali.
Apalagi Mak. Tak henti-hentinya mak tersenyum.
Segera aku dekati mereka.
"Mau apa kak?" Tanyaku penasaran.
"Kenapa semua pada ikut."
"Kita mau beli lemari dek," kata abang.
"Iya mau beli lemari yang besar," kakakku menimpali.
"Memangnya ada uangnya?" Tanyaku.
"Ada dek, Mak dapat tembus Dana. Dua angka!"
Ahh pantasan mak kelihatan sangat bahagia.
Mak memang sesekali pasang dana.
Dana adalah istilah untuk lotre mungkin kalau jaman sekarang.
Dulu, pasang dana tidak dianggap ilegal.
Bahkan pengumuman angka berapa yang keluar, seingatku sampai enam angka, diumumkan melalui radio.
Paling kecil dua angka.
Dan untuk pasang angka berapa itu pun tidak sembarangan.
Seringkali diambil dari mimpi, atau kejadian-kejadian tertentu.
Misalkan Abang memanjat pohon kelapa lalu buah pertama jatuh terbelah dua.
Buah kedua juga jatuh terbelah dua.
Sedangkan yang ketiga tetap utuh.
Jadi mungkin dua angka pertama yang keluar adalah dua nol.
Ditambah lagi dengan cerita Bapak.
Bapak pergi mengambil bubu di sungai.
Bubu pertama isinya dua ekor ikan lele.
Bubu kedua juga sama isinya dua ekor ikan lele.
Bubu ketiga kosong.
Nahh, sudah dapat dipastikan minggu ini waktu pengumuman nanti, dua angka pertama adalah dua nol. Katanya.
Lucu yaa!
Sering juga pemilihan angka diambil dari mimpi.
"Na, kamu mimpi apa semalam?" Tanya Abang.
"Mimpi terbang," jawabku.
Ya, aku memang sering sekali mimpi terbang. Sangat sering.
Kata orang-orang, kalau mimpi terbang artinya kita akan pergi merantau jauh sekali.
Dan aku pun percaya, sangat percaya.
Bahkan kadang aku tidak sabar untuk segera tidur agar dapat mimpi terbang.
"Mimpi terbang, pakai sayap nggak?"
"Nggak bang."
"Terus jatuh apa mendarat?"
"Nggak jelas bang, keburu kebangun."
"Yaahhh berarti mungkin ... eh tangannya lurus apa dibentangkan?"
"Lurus! Lurus," kataku setengah kesal.
Aku memang tidak begitu percaya hal begitu.
"Berarti lurus mungkin angka satu ya, terus turunnya gak jelas jadi sepertinya nol."
"Ah terserah abang deh!"
Aku pun berlalu.
Untuk pasang dana, harus bayar kupon.
Tapi tentunya jarang tepat, seingatku cuma dapat dua kali.
"Aku nggak bisa ikut Mak, belum waktunya pulang," jawabku.
"Ya udah kita berangkat yaa."
"Daaahhh dahhhhhh!"
Angkot pun berlalu.
Tidak berapa lama, sekitar dua jam kemudian.
Angkot datang dari arah kota. Aku sedang berada di kelas. Pelajaran sedang berlangsung.
Kulihat angkot berhenti di depan sekolah. Hanya sebentar mungkin karena tidak melihatku, angkot terus jalan.
Tapi kulihat dari pintu kelas, sebuah lemari kayu besar diikat di atas angkot, lemari pajangan tv, ber cat coklat.
Sementara abang berdiri bergelantungan di pintu belakang.
Hari itu adalah pertama kali di rumah kami ada lemari.
Rasanya rumah kami jadi lebih mewah.
Tidak banyak barang yang di pajang dalam lemari itu, cupai kecil, perlengkapan makan pinang, dan beberapa buah tanggui.
Dan satu lagi, cerutu Bapak.
🌷🌷🌷
Hari ini, sepulang kerja pagi, aku masuk kuliah seperti biasa.
Di kelas, ada anak baru pindahan dari Amerika.
Namanya Rosi.
Ceritanya, sang ayah yang merupakan pejabat tinggi Kepolisian ditugaskan di kota kami.
Sebelumnya ditugaskan di Jakarta.
Selama beberapa tahun terakhir, Rosi dikirim ke Amerika untuk kuliah.
Bukan kehendak dia, tapi orangtuanya sengaja untuk memisahkan Rosi dari pacarnya yang orang dari kalangan biasa.
Lalu setelah yakin hubungan Rosi dan pacarnya putus, orangtuanya meminta dia pulang dengan alasan sakit.
Bukannya menemukan orangtuanya sakit, malah dia tidak boleh kembali ke Amerika dan disuruh menikah dengan pilihan orangtuanya yang seorang pengusaha.
Rosi terpaksa setuju dengan catatan dia tetap melanjutkan kuliah.
Ahh....orang-orang kaya memang aneh. Pikirku.
Persoalannya ada-ada saja.
Hidupnya udah enak kenapa dibuat susah.
"Na, ini ada anak baru, kamu bantuin ya," kata dosenku.
"Dia waktu di Amerika kuliah jurusan Hukum, jadi pasti banyak kesulitan," lanjut pak Budi.
"Baik pak."
Entah bagaimana dari jurusan Hukum lanjut ke Komputer. Aku tak pernah tanya.
Bukankah aku juga dari jurusan Pertanian ke Komputer.
Mulai hari itu aku mendapat teman baru, lagi-lagi anak orang kaya.
Entah takdir atau apa namanya.
Tapi aku banyak dikelilingi orang-orang kaya.
Aku semakin percaya bahwa takdirku bukan menjadi dukun, seperti kata orang di kampung.
Aku sering ditraktir Rosi makan, atau diantar pulang kuliah.
Rosi memang sangat tergantung padaku.
Kemampuan belajarnya juga sulit sekali.
Aku harus sangat sabar membantunya belajar.
Juga mendengarkan keluh kesahnya.
Seringkali aku harus mengulang materi yang sama.
Tapi aku tidak pernah mengeluh, kalau berhasil membuat temanku bagus nilainya, itu adalah sebuah prestasi.
Aku sering diajak mampir ke rumah orang tuanya.
Rumah bertingkat tiga yang mewah.
Tentu saja kami naik mobilnya yang juga mewah.
"Na, aku pusing deh. Ribut melulu sama suami."
"Aku sangat tidak bahagia."
Padahal mereka baru setahun menikah, pikirku.
"Na, aku bulan depan mau pindah ke rumah yang satu lagi."
"Mama membelikan rumah yang lebih besar dari yang sekarang. Kalau yang sekarang kan kecil banget, susah aku ngatur barang-barang," lanjutnya.
Ahh aku hanya menyediakan kupingku untuk mendengar.
Seandainya dia tahu, bagaimana hidupku!
Akankah dia terus mengeluh dan mengeluh.
Rumah yang dikatakannya kecil adalah rumah seluas seratus lima puluh meter persegi.
Rumah yang sangat nyaman.
Lengkap dengan segala perabot dan alat elektronik mahal.
Sementara aku, aku tinggal di Asrama gratisan yang ketat dengan peraturannya.
Berebutan mandi dengan dua puluh lima anak perempuan lainnya.
Tidur lurus berdesakan di loteng tepat di bawah atap, bukan di lantai dua.
Ribut antar sesama penghuni sudah biasa.
Kehilangan stock mie sudah biasa.
Sementara dia mengeluh dengan kualitas buah yang dibeli, aku bahkan bersyukur bisa beli sepotong semangka di tukang rujak sekali seminggu.
Atau ketika dia mengeluh mobilnya kurang bagus, aku harus menahan pegal karena berjalan kaki bila uang pas-pasan dan tidak ada tumpangan.
Entahlah!
(Marrieanne's)
bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar