#Istri Pilihan author : Wahyuni
#Namanya Zanjabila
POV suami
Namaku Sayid Rumaisil Muhammad Awafi. Hari ini hari pernikahanku, dan sekarang aku berada dalam sebuah kamar bersama seorang gadis yang tadi pagi, baru saja kupinta pada Allah untuk menjadi istri.
Kiranya, sudah lima belas menit kami duduk di ranjang pengantin penuh kelopak mawar merah. Tanpa ada yang menyapa, bahkan untuk sekadar memberi salam. Aku tahu, harusnya kewajibanku sebagai suami adalah menyapa duluan, bukankah wanita itu pemalu. Tapi, ah, rasanya suaraku tertahan di tenggorokan saat hendak keluar.
Sehari-hari aku bekerja sebagai seorang dosen di Fakultas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Jika di kampus, aku begitu welcome dengan mahasiswaku, tapi kenapa di kamar ini, nyaliku menciut. Apa karena dia masih terlalu muda, atau karena wajahnya tertutup cadar. Rasanya ingin sekali aku membuka penutup wajah itu, agar aku tahu seperti apa rupa wanita yang telah kupilih jadi istri tanpa melihat terlebih dahulu wajahnya.
Bahkan, saat Mama bersikeras agar aku ikut mereka sewaktu masa khitbah, dengan yakinnya aku menolak, melimpahkan semua keistimewaan itu pada kedua orang tua.
Aku melirik dia yang tampak ayu dalam balutan gamis berwarna abu tua. Sedari tadi di pelaminan, hanya sesekali aku melihatnya mengangkat kepala, selebihnya menunduk.
Wah beruntungnya aku menikahi gadis pemalu. Walau katanya, yang pemalu itu sulit ditaklukkan.
Detik berikutnya aku mulai berpikir, bagaimana cara mencairkan suasana diantara kami. Lebih baik basa basi ke kamar mandi. Tapi, mendadak aku lupa namanya. Ah, ada apa dengan diri ini?
"Salsabila, maaf, bolehkah saya meminjam kamar mandimu?"
Astaghfirullah, benar saja, dia terlonjak. Ampuni diri ini ya Allah.
"Nama saya Zanjabila, Mas? Bukan Salsabila ...."
Kurutuki diri dalam hati. Bisa-bisanya melupakan nama seorang gadis yang tadi pagi baru saja kuikrarkan namanya sehidup sesurga.
"Owh, maaf ya? Mas sulit mengingatnya."
Dia membuang pandangan, mungkin sangat kesal bin nyesek, punya suami lupa sama nama istri.
"Nggih, nggak papa, Mas," jawabnya detik kemudian sambil menunduk, sepertinya berusaha menutupi raut wajahnya agar tak terbaca olehku.
"Kamu nggak marah 'kan?" Kupastikan kembali apa yang baru saja terpikir olehku. Bagaimana jika ia minta cerai? Robbi, jangan sampai hal itu terjadi.
"Nggih, nggak papa, Mas. Jika Sampeyan mau ke kamar mandi, silahkan gunakan saja kamar mandi yang di dalam. Handuknya juga sudah saya gantung di gantungannya. Saya permisi keluar sebentar. Mau bantu-bantu di dapur."
Apa? Bantu-bantu katanya?
Tega nian njenengan, Dik. Mau ninggalin suami di kamar sendirian.
Aku harus menahan kepergiannya. Tapi gimana caranya, masak iya aku genggam jemarinya. Terus dia berbalik menatap wajahku. Lalu ... ah, kebanyakan menghayal!
"Em ...."
Belum sempat aku berkata, dia sudah berlalu pergi. Ah, malam pertama yang tertunda ini mah namanya.
Tak masalah, sesaat lagi ketika dia masuk. Hal pertama yang harus aku lakukan adalah, memintanya duduk di sebelahku, lalu basa basi nanya perasaannya, nanya keluarga, kemana ia ingin melanjutkan pendidikannya. Ya, begitu saja. Selanjutnya, biarlah waktu yang kan menjawab.
Lima belas menit berlalu. "Kenapa dia lama sekali?"
Huawww...
Aku menguap beberapa kali, mungkin karena terlalu lelah. Beberapa hari inipun aku tak berhenti bekerja. Membimbing mahasiswa dan mengajar. Rasanya baru kemarin lajang, Eh malam ini udah jadi suami.
"Hihihi..."
"Ah, benar-benar lama!"
Huawww...
"Aku benar-benar ngantuk. Pejam sebentar, mudah-mudahan Zanjabila mau membangunkanku."
***
POV Istri
Namaku Radha Zanjabila. Umurku sembilan belas tahun saat aku memutuskan untuk menerima lamaran seorang dosen Fakultas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Aku hanya mengenalnya melalui selembar foto. Mungkin yang pertama kali membuatku mengatakan iya pada Abah, karena ketampanan lelaki itu. Enam tahun di pesantren, aku bahkan jarang sekali menatap wajah lelaki, kecuali Ustad atau Gus yang kebetulan mengajar.
Lelaki itu, maksudku calon imamku itu masih memiliki nasab langsung dari keturunan Rasulullah. Namanya Sayid Rumaisil Mohammad Awafi. Tak kupedulikan usianya yang terpaut jauh dariku, bukankah lebih tua itu lebih dewasa. Beruntungnya aku, kelak dari rahimku akan lahir zuriyah-zuriyahnya. Insya Allah aku akan menjadi shalihah untukmu, Mas.
Pernikahan istimewa kamipun berlangsung khidmat. Seluruh teman pesantrenku hadir, termasuk Ustazdah dan Ustadz Pesantren. Sepanjang acara, aku terus saja menunduk, entah rasanya sangat malu jika harus menatap matanya yang jernih bak jelaga.
Hari itu, aku sadar. Beginilah bahagianya seorang wanita di hari pengantin mereka. Sebelum semua angan-anganku akan hari-hari yang bahagia dalam rumah tangga kami, berserakan karena sebuah kesilapan. Kesilapan yang ia lakukan di kamar pengantin kami.
***
"Salsabila, maaf, apakah saya bisa menggunakan kamar mandimu?"
Aku terhenyak, bukan karena pertanyaannya, tapi terkait penyebutan nama. Lupa atau bagaimana, bukankah tadi pagi lelaki yang nampak menawan dalam balutan kemeja putih dan celana katun itu baru saja melangitkan ikrar sehidup sesurga di hadapan seluruh tamu undangan?
'Belum lewat sehari, kenapa bisa salah terucap? Atau jangan-jangan memang benar kata Ateu tempo hari, jika lelaki yang sudah menjadi imamku ini incaran para mahasiswa dan dosen single. '
"Nama saya Zanjabila, Mas? Bukan Salsabila ...."
"Owh, maaf ya? Mas sulit mengingatnya." Lelaki itu tersenyum malu, terlihat salah tingkah.
Kualihkan pandangan, entah apa yang terasa di dada ini. Namun, perih mengambil alih lebih besar.
"Nggih, nggak papa, Mas," jawabku sambil menunduk, berusaha menutupi kilau mengambang di pelupuk mata.
Entah kenapa saat itu aku berpikir, bahwa imamku ini telah salah memilih istri. Mungkin ia berharap yang menjadi istrinya bukan wanita sederhana sepertiku. Mungkin saja, yang ia idamkan jadi pendamping adalah gadis cantik yang sering tampil dalam acara-acara jamuan sosial, atau sekurang-kurangnya dosen terbaik di sebuah Universitas ternama. Sayangnya, aku hanya seorang wanita lulusan pesantren. Cantikpun standard, body pas-pasan, cara berpakaian paling ekstrim, bercadar pula!'
"Kamu nggak marah 'kan?" tanya lelaki itu lagi. Aku hanya mampu menghela napas. Sulit sekali mengakui jika perasaanku benar-benar tersinggung karena kesalahan kecil itu.
"Nggih, nggak papa, Mas. Jika Sampeyan mau ke kamar mandi, silahkan gunakan saja kamar mandi yang di dalam. Handuknya juga sudah saya gantung di gantungannya. Saya permisi keluar sebentar. Mau bantu-bantu di dapur."
'Apa? Bantu-bantu? Bukankah ini malam pengantin, mana ada pengantin baru harus membantu di dapur? Kayaknya aku mulai nggak waras.'
Kujawab asal pertanyaan Mas Wafi, daripada terus di kamar, bisa-bisa aku bergelimangan air mata. Tapi besar harapan, imamku itu berinisiatif untuk mengurungkan niat ini. Ah, tapi sayang. Mas Wafi justru tidak berkata apapun.
Hatiku kembali dihujam rasa perih. Kututup pintu kamar perlahan. Sambil menyandarkan punggung ke daun pintu, kubuka cadar yang masih menempel di wajah.
'Harusnya Mas Wafi yang membuka, tapi kenapa dia tak peduli? Apakah dia tak ingin melihat rupaku?'
Dari pada terus bersedih-sedih, kuputuskan untuk ke dapur. Mencari makanan panghilang stress, barangkali masih tersisa cupcakes coklat. Berjalan ke dapur perlahan, takut Umi masih terjaga dan menangkap basah seorang pengantin wanita kabur dari kamar pengantinnya. Bisa-bisa diadili nanti.
Celingak-celinguk aku menyisir ruangan.
"Alhamdulillah, Umi sudah tidur.'
Kuhidupkan saklar dan ...
"Umi? Kenapa gelap-gelapan, Um?" tanyaku saat mendapati Umi berdiri di depan kulkas.
"Bi-la? Kamu kenapa di luar kamar, Sayang? Mau ngapain?" Wanita itu menutup pintu kulkas dan menghampiriku yang kini merasa diri sebagai maling yang ketangkap basah.
"Ini, anu, Um. Bila mau ambil teh hangat untuk Mas Wafi ...."
'Ah, jadi juga aku bohong malam ini. Astaghfirullah, maafkan anakmu ini, Um."
"Oh, yasudah. Bergegas buatkan, lalu masuk lagi. Nggak baik meninggalkan suamimu sendirian di kamar.
Aku menggigit bibir, rasanya ada yang mengganjal di hati, ingin sekali kuadukan pada Umi. Ah, tapi jangan, seseorang yang sudah memutuskan untuk menikah, harus bisa menjaga rapat urusan rumah tangga mereka.
"Umi kenapa belum tidur?"
"Tadi Umi lupa matikan kompor saat memanaskan air. Kamu kenapa, Neng. Kok kusut begitu atuh mukanya?"
Kusentuh pipi perlahan, memang seorang Ibu paling bisa membaca pikiran anaknya.
"Umi, kayaknya Mas Wafi nggak suka deh sama Bila?"
"Hus, ngomong apa kamu tho. Perasaan tak baik itu harus dihilangkan. Jika dia tidak suka, mana mungkin dia melamar kamu?"
Kuembuskan napas kasar, "barangkali Mas Wafi hanya menurut permintaan Abinya, untuk menikahi aku, Um?"
"Bila, Bila ... menikah itu bukan seperti membeli barang, ijab qabul yang dipersaksikan di hadapan Allah, adalah janji suci. Allah mengistilahkannya mitsaqan ghalizan, sebuah perjanjian yang suci. Bukan ucapan main-main. Apalagi, yang menikahi kamukan seorang dosen keagamaan, lulusan Al Azhar, Cairo. Tidak mungkin beliau berani bermain-main dengan ikrar itu. Sing sabar, Sayang. Membuktikan cinta dan sayang itu butuh waktu, nggak bisa langsung ditunjukkan dalam sehari."
Lagi-lagi aku hanya bisa mengembuskan napas panjang. Jawaban Umi tak cukup membuat batinku tenang.
"Udah, buruan anter ke kamar teh hangatnya. Keburu tidur nanti suamimu?"
"Ya, Um."
Selepas kepergian Umi. Aku mulai mengaduk-aduk gula yang sudah kumasukkan ke dalam gelas.
'Entah-entah Mas Wafi haus dan mau meminum teh hangat ini.' Aku meracau seorang diri. Memilih duduk sejenak di kursi makan sambil menikmati beberapa kue kering. Rasanya aku tak ingin kembali ke kamar.
'Gusti, ampuni hamba-Mu ini ...."
***
Perlahan kubuka pintu kamar yang terbuat dari kayu jati pilihan. Selain sebagai Imam Mesjid, Abah punya usaha Mandiri kilang ketam, usaha yang kata Abah kecil-kecilan tapi sudah mempunyai pegawai lebih dari tiga puluhan orang. Di situlah Abang sering menghabiskan waktu, disela-sela kegiatan rutinnya.
Mungkin aku terlalu lama menghabiskan waktu di luar, hingga Mas Wafi tertidur menunggguiku. Kedekati lelaki itu perlahan, memperhatikan tiap inci pahatan di wajahnya yang nyaris sempurna. Wajah putih bersih dengan alis tebal yang menawan. Belum lagi jambang halus di pinggir wajah. Bibir merekah bak dipoles gincu. Ah semakin sempurna dengan hidung segitiga yang menjulang ke atas.
'Mas ... Mas, kamu benar rupawan. Pasti banyak yang suka, tapi sungguh beruntung aku yang kamu pilih jadi penyempurna imanmu.'
Aku semakin mendekatkan wajahku, penasaran juga ingin mendengar degup jantung imamku itu.
Tiba-tiba, Mas Wafi menggeliat. Tangannya bergerak. Aku segera menjauhkan tubuhku, takut ketangkap basah tengah memperhatikannya. Sambil menarik napas, kuatur degup jantung yang yang tiba-tiba berdetak begitu cepat. Tapi, mataku kembali ditarik menatap lelakiku. Mas Wafi seperti ingin berbicara. Bibirnya bergerak perlahan.
Aku mendekatkan kembali wajahku hingga bisa menangkap sesuatu yang sedang ia sebut dengan lirih.
"Salsabila ... Salsabila ...."
Aku tercekat, napasku terhenti. Seperti ada yang menghunus jantungku dengan kuat. 'Salahkah yang aku dengar barusan ya Allah?"
Tubuhku terduduk di bibir ranjang, kilau mengambang di mata kini berderai sudah. Membasahi cadar abu tua yang ku kenakan. Mungkin aku terlalu terlena, berpikir menjadi gadis terbahagia karena dinikahi lelaki sempurna seperti suamiku kini.
Tapi sepertinya kebahagiaanku akan segera padam, berganti derap tangis yang akan selalu menghiasi hari. Karena namaku bukan Salsabila. Aku Zanjabila, Mas.
Lanjut atau cukup?
***
Cerbung gadis yang ternodai pending sesaat, ya. Kita habiskan cerbung ini terlebih dahulu..
Terima kasih yang sudah singgah.
https://m.facebook.com/groups/805799276260950?view=permalink&id=1458525174321687
Part selanjutnya
-----
#Namanya Zanjabila
POV suami
Namaku Sayid Rumaisil Muhammad Awafi. Hari ini hari pernikahanku, dan sekarang aku berada dalam sebuah kamar bersama seorang gadis yang tadi pagi, baru saja kupinta pada Allah untuk menjadi istri.
Kiranya, sudah lima belas menit kami duduk di ranjang pengantin penuh kelopak mawar merah. Tanpa ada yang menyapa, bahkan untuk sekadar memberi salam. Aku tahu, harusnya kewajibanku sebagai suami adalah menyapa duluan, bukankah wanita itu pemalu. Tapi, ah, rasanya suaraku tertahan di tenggorokan saat hendak keluar.
Sehari-hari aku bekerja sebagai seorang dosen di Fakultas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Jika di kampus, aku begitu welcome dengan mahasiswaku, tapi kenapa di kamar ini, nyaliku menciut. Apa karena dia masih terlalu muda, atau karena wajahnya tertutup cadar. Rasanya ingin sekali aku membuka penutup wajah itu, agar aku tahu seperti apa rupa wanita yang telah kupilih jadi istri tanpa melihat terlebih dahulu wajahnya.
Bahkan, saat Mama bersikeras agar aku ikut mereka sewaktu masa khitbah, dengan yakinnya aku menolak, melimpahkan semua keistimewaan itu pada kedua orang tua.
Aku melirik dia yang tampak ayu dalam balutan gamis berwarna abu tua. Sedari tadi di pelaminan, hanya sesekali aku melihatnya mengangkat kepala, selebihnya menunduk.
Wah beruntungnya aku menikahi gadis pemalu. Walau katanya, yang pemalu itu sulit ditaklukkan.
Detik berikutnya aku mulai berpikir, bagaimana cara mencairkan suasana diantara kami. Lebih baik basa basi ke kamar mandi. Tapi, mendadak aku lupa namanya. Ah, ada apa dengan diri ini?
"Salsabila, maaf, bolehkah saya meminjam kamar mandimu?"
Astaghfirullah, benar saja, dia terlonjak. Ampuni diri ini ya Allah.
"Nama saya Zanjabila, Mas? Bukan Salsabila ...."
Kurutuki diri dalam hati. Bisa-bisanya melupakan nama seorang gadis yang tadi pagi baru saja kuikrarkan namanya sehidup sesurga.
"Owh, maaf ya? Mas sulit mengingatnya."
Dia membuang pandangan, mungkin sangat kesal bin nyesek, punya suami lupa sama nama istri.
"Nggih, nggak papa, Mas," jawabnya detik kemudian sambil menunduk, sepertinya berusaha menutupi raut wajahnya agar tak terbaca olehku.
"Kamu nggak marah 'kan?" Kupastikan kembali apa yang baru saja terpikir olehku. Bagaimana jika ia minta cerai? Robbi, jangan sampai hal itu terjadi.
"Nggih, nggak papa, Mas. Jika Sampeyan mau ke kamar mandi, silahkan gunakan saja kamar mandi yang di dalam. Handuknya juga sudah saya gantung di gantungannya. Saya permisi keluar sebentar. Mau bantu-bantu di dapur."
Apa? Bantu-bantu katanya?
Tega nian njenengan, Dik. Mau ninggalin suami di kamar sendirian.
Aku harus menahan kepergiannya. Tapi gimana caranya, masak iya aku genggam jemarinya. Terus dia berbalik menatap wajahku. Lalu ... ah, kebanyakan menghayal!
"Em ...."
Belum sempat aku berkata, dia sudah berlalu pergi. Ah, malam pertama yang tertunda ini mah namanya.
Tak masalah, sesaat lagi ketika dia masuk. Hal pertama yang harus aku lakukan adalah, memintanya duduk di sebelahku, lalu basa basi nanya perasaannya, nanya keluarga, kemana ia ingin melanjutkan pendidikannya. Ya, begitu saja. Selanjutnya, biarlah waktu yang kan menjawab.
Lima belas menit berlalu. "Kenapa dia lama sekali?"
Huawww...
Aku menguap beberapa kali, mungkin karena terlalu lelah. Beberapa hari inipun aku tak berhenti bekerja. Membimbing mahasiswa dan mengajar. Rasanya baru kemarin lajang, Eh malam ini udah jadi suami.
"Hihihi..."
"Ah, benar-benar lama!"
Huawww...
"Aku benar-benar ngantuk. Pejam sebentar, mudah-mudahan Zanjabila mau membangunkanku."
***
POV Istri
Namaku Radha Zanjabila. Umurku sembilan belas tahun saat aku memutuskan untuk menerima lamaran seorang dosen Fakultas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Aku hanya mengenalnya melalui selembar foto. Mungkin yang pertama kali membuatku mengatakan iya pada Abah, karena ketampanan lelaki itu. Enam tahun di pesantren, aku bahkan jarang sekali menatap wajah lelaki, kecuali Ustad atau Gus yang kebetulan mengajar.
Lelaki itu, maksudku calon imamku itu masih memiliki nasab langsung dari keturunan Rasulullah. Namanya Sayid Rumaisil Mohammad Awafi. Tak kupedulikan usianya yang terpaut jauh dariku, bukankah lebih tua itu lebih dewasa. Beruntungnya aku, kelak dari rahimku akan lahir zuriyah-zuriyahnya. Insya Allah aku akan menjadi shalihah untukmu, Mas.
Pernikahan istimewa kamipun berlangsung khidmat. Seluruh teman pesantrenku hadir, termasuk Ustazdah dan Ustadz Pesantren. Sepanjang acara, aku terus saja menunduk, entah rasanya sangat malu jika harus menatap matanya yang jernih bak jelaga.
Hari itu, aku sadar. Beginilah bahagianya seorang wanita di hari pengantin mereka. Sebelum semua angan-anganku akan hari-hari yang bahagia dalam rumah tangga kami, berserakan karena sebuah kesilapan. Kesilapan yang ia lakukan di kamar pengantin kami.
***
"Salsabila, maaf, apakah saya bisa menggunakan kamar mandimu?"
Aku terhenyak, bukan karena pertanyaannya, tapi terkait penyebutan nama. Lupa atau bagaimana, bukankah tadi pagi lelaki yang nampak menawan dalam balutan kemeja putih dan celana katun itu baru saja melangitkan ikrar sehidup sesurga di hadapan seluruh tamu undangan?
'Belum lewat sehari, kenapa bisa salah terucap? Atau jangan-jangan memang benar kata Ateu tempo hari, jika lelaki yang sudah menjadi imamku ini incaran para mahasiswa dan dosen single. '
"Nama saya Zanjabila, Mas? Bukan Salsabila ...."
"Owh, maaf ya? Mas sulit mengingatnya." Lelaki itu tersenyum malu, terlihat salah tingkah.
Kualihkan pandangan, entah apa yang terasa di dada ini. Namun, perih mengambil alih lebih besar.
"Nggih, nggak papa, Mas," jawabku sambil menunduk, berusaha menutupi kilau mengambang di pelupuk mata.
Entah kenapa saat itu aku berpikir, bahwa imamku ini telah salah memilih istri. Mungkin ia berharap yang menjadi istrinya bukan wanita sederhana sepertiku. Mungkin saja, yang ia idamkan jadi pendamping adalah gadis cantik yang sering tampil dalam acara-acara jamuan sosial, atau sekurang-kurangnya dosen terbaik di sebuah Universitas ternama. Sayangnya, aku hanya seorang wanita lulusan pesantren. Cantikpun standard, body pas-pasan, cara berpakaian paling ekstrim, bercadar pula!'
"Kamu nggak marah 'kan?" tanya lelaki itu lagi. Aku hanya mampu menghela napas. Sulit sekali mengakui jika perasaanku benar-benar tersinggung karena kesalahan kecil itu.
"Nggih, nggak papa, Mas. Jika Sampeyan mau ke kamar mandi, silahkan gunakan saja kamar mandi yang di dalam. Handuknya juga sudah saya gantung di gantungannya. Saya permisi keluar sebentar. Mau bantu-bantu di dapur."
'Apa? Bantu-bantu? Bukankah ini malam pengantin, mana ada pengantin baru harus membantu di dapur? Kayaknya aku mulai nggak waras.'
Kujawab asal pertanyaan Mas Wafi, daripada terus di kamar, bisa-bisa aku bergelimangan air mata. Tapi besar harapan, imamku itu berinisiatif untuk mengurungkan niat ini. Ah, tapi sayang. Mas Wafi justru tidak berkata apapun.
Hatiku kembali dihujam rasa perih. Kututup pintu kamar perlahan. Sambil menyandarkan punggung ke daun pintu, kubuka cadar yang masih menempel di wajah.
'Harusnya Mas Wafi yang membuka, tapi kenapa dia tak peduli? Apakah dia tak ingin melihat rupaku?'
Dari pada terus bersedih-sedih, kuputuskan untuk ke dapur. Mencari makanan panghilang stress, barangkali masih tersisa cupcakes coklat. Berjalan ke dapur perlahan, takut Umi masih terjaga dan menangkap basah seorang pengantin wanita kabur dari kamar pengantinnya. Bisa-bisa diadili nanti.
Celingak-celinguk aku menyisir ruangan.
"Alhamdulillah, Umi sudah tidur.'
Kuhidupkan saklar dan ...
"Umi? Kenapa gelap-gelapan, Um?" tanyaku saat mendapati Umi berdiri di depan kulkas.
"Bi-la? Kamu kenapa di luar kamar, Sayang? Mau ngapain?" Wanita itu menutup pintu kulkas dan menghampiriku yang kini merasa diri sebagai maling yang ketangkap basah.
"Ini, anu, Um. Bila mau ambil teh hangat untuk Mas Wafi ...."
'Ah, jadi juga aku bohong malam ini. Astaghfirullah, maafkan anakmu ini, Um."
"Oh, yasudah. Bergegas buatkan, lalu masuk lagi. Nggak baik meninggalkan suamimu sendirian di kamar.
Aku menggigit bibir, rasanya ada yang mengganjal di hati, ingin sekali kuadukan pada Umi. Ah, tapi jangan, seseorang yang sudah memutuskan untuk menikah, harus bisa menjaga rapat urusan rumah tangga mereka.
"Umi kenapa belum tidur?"
"Tadi Umi lupa matikan kompor saat memanaskan air. Kamu kenapa, Neng. Kok kusut begitu atuh mukanya?"
Kusentuh pipi perlahan, memang seorang Ibu paling bisa membaca pikiran anaknya.
"Umi, kayaknya Mas Wafi nggak suka deh sama Bila?"
"Hus, ngomong apa kamu tho. Perasaan tak baik itu harus dihilangkan. Jika dia tidak suka, mana mungkin dia melamar kamu?"
Kuembuskan napas kasar, "barangkali Mas Wafi hanya menurut permintaan Abinya, untuk menikahi aku, Um?"
"Bila, Bila ... menikah itu bukan seperti membeli barang, ijab qabul yang dipersaksikan di hadapan Allah, adalah janji suci. Allah mengistilahkannya mitsaqan ghalizan, sebuah perjanjian yang suci. Bukan ucapan main-main. Apalagi, yang menikahi kamukan seorang dosen keagamaan, lulusan Al Azhar, Cairo. Tidak mungkin beliau berani bermain-main dengan ikrar itu. Sing sabar, Sayang. Membuktikan cinta dan sayang itu butuh waktu, nggak bisa langsung ditunjukkan dalam sehari."
Lagi-lagi aku hanya bisa mengembuskan napas panjang. Jawaban Umi tak cukup membuat batinku tenang.
"Udah, buruan anter ke kamar teh hangatnya. Keburu tidur nanti suamimu?"
"Ya, Um."
Selepas kepergian Umi. Aku mulai mengaduk-aduk gula yang sudah kumasukkan ke dalam gelas.
'Entah-entah Mas Wafi haus dan mau meminum teh hangat ini.' Aku meracau seorang diri. Memilih duduk sejenak di kursi makan sambil menikmati beberapa kue kering. Rasanya aku tak ingin kembali ke kamar.
'Gusti, ampuni hamba-Mu ini ...."
***
Perlahan kubuka pintu kamar yang terbuat dari kayu jati pilihan. Selain sebagai Imam Mesjid, Abah punya usaha Mandiri kilang ketam, usaha yang kata Abah kecil-kecilan tapi sudah mempunyai pegawai lebih dari tiga puluhan orang. Di situlah Abang sering menghabiskan waktu, disela-sela kegiatan rutinnya.
Mungkin aku terlalu lama menghabiskan waktu di luar, hingga Mas Wafi tertidur menunggguiku. Kedekati lelaki itu perlahan, memperhatikan tiap inci pahatan di wajahnya yang nyaris sempurna. Wajah putih bersih dengan alis tebal yang menawan. Belum lagi jambang halus di pinggir wajah. Bibir merekah bak dipoles gincu. Ah semakin sempurna dengan hidung segitiga yang menjulang ke atas.
'Mas ... Mas, kamu benar rupawan. Pasti banyak yang suka, tapi sungguh beruntung aku yang kamu pilih jadi penyempurna imanmu.'
Aku semakin mendekatkan wajahku, penasaran juga ingin mendengar degup jantung imamku itu.
Tiba-tiba, Mas Wafi menggeliat. Tangannya bergerak. Aku segera menjauhkan tubuhku, takut ketangkap basah tengah memperhatikannya. Sambil menarik napas, kuatur degup jantung yang yang tiba-tiba berdetak begitu cepat. Tapi, mataku kembali ditarik menatap lelakiku. Mas Wafi seperti ingin berbicara. Bibirnya bergerak perlahan.
Aku mendekatkan kembali wajahku hingga bisa menangkap sesuatu yang sedang ia sebut dengan lirih.
"Salsabila ... Salsabila ...."
Aku tercekat, napasku terhenti. Seperti ada yang menghunus jantungku dengan kuat. 'Salahkah yang aku dengar barusan ya Allah?"
Tubuhku terduduk di bibir ranjang, kilau mengambang di mata kini berderai sudah. Membasahi cadar abu tua yang ku kenakan. Mungkin aku terlalu terlena, berpikir menjadi gadis terbahagia karena dinikahi lelaki sempurna seperti suamiku kini.
Tapi sepertinya kebahagiaanku akan segera padam, berganti derap tangis yang akan selalu menghiasi hari. Karena namaku bukan Salsabila. Aku Zanjabila, Mas.
Lanjut atau cukup?
***
Cerbung gadis yang ternodai pending sesaat, ya. Kita habiskan cerbung ini terlebih dahulu..
Terima kasih yang sudah singgah.
https://m.facebook.com/groups/805799276260950?view=permalink&id=1458525174321687
Part selanjutnya
-----
#Isteri_Pilihan
#Part 2
"Kukira tak ada nama wanita di hati suamiku. Ternyata aku salah, dia pernah jatuh cinta. Pada, adik tirinya, Salsabila." Radha Zanjabila.
Pov Bila
***
Setelah mendapatkan ijin dari Abah dan Umi, kami segera melangkah keluar rumah.
"Bismillah, pertama kali semobil dengan lelaki, walau sudah menjadi imam tetap saja deg-degan. Lho, kok malah deg-degan, harusnya 'kan cemburu sama yang namanya Salsabila. Eh, Kok cemburu juga, bukan seharusnya justru khawatir? Aduh, kapan sih hati bisa berbohong?" batinku terus meracau tak jelas.
Kulihat Mas Wafi berjalan ke arahku. "Lho, Mas mau duduk di samping kiri? Lalu siapa yang nyetir mobilnya?" tanyaku polos.
Dia tersenyum sedikit berdehem. Ah, manis sekali senyuman itu, lengkap dengan jakun menonjolnya yang bikin hati meleleh.
Tanpa berucap Mas Wafi menggerakkan tangannya membuka pintu mobil. "Mas cuma mau membukakan pintu mobil, pertama kalinya untuk istri Mas?" jawabnya santai.
Selimut ada Mak, pinjam buat nutup muka. Malu......
Untung aja, cadar masih setia membalut wajah, kalau tidak sudah pasti Mas Wafi melihat wajahku yang memerah bak keriting rebus.
Aku memasuki mobil dengan seperti tadi, deg-degan. Kuseimbangkan napas, agar denyut nadipun ternetralisir. Mas Wafi membuka pintu pagar lalu masuk ke mobil. Tak sedetikpun kulewatkan pandangan dari memperhatikan tiap gerakkan lelaki yang sekarang sudah menjadi imamku itu. Syukurlah aku jatuh cinta saat setelah menikah, hingga tak haram bagiku untuk terus menatap wajahnya. Walau dalam diam dan curi-curi kesempatan.
Mas Wafi duduk di bangku kemudi. Kukira dia akan langsung menghidupkan mobil. But, what?
Dia berbalik, membuat mataku yang sedari tadi menatapnya segera berpaling. Sungguh diluar dugaan, Mas Wafi mengambil sabuk dan mengaitkannya di tubuhku. Jarak kami begitu dekat, hingga aku bisa mendengar degup jantungnya yang bersatu dengan degup jantungku.
"Subhanallah, nikmatnya punya suami?"
'Mas, bisakah aku melupakan kenyataan bahwa tidak ada nama wanita di hatimu selain aku?' batinku bergumam dalam diam.
Andai bisa kuucapkan...
"Bismillah, kita berangkat ya?" ucapnya sambil menatapku.
Saat itu aku ingin menangis, entah menangis bahagia atau karena cemburu. Tapi kenapa aku merasa sangat takut kehilangan Mas Wafi. Pasti karena Salsabila. Ah, siapa sih Salsabila itu?
Mas Wafi memilih jalan Tol Cipularang sebagai alternatif, agar jarak tempuh Bandung dan Jakarta menjadi lebih dekat. Jalanan ini menanjak, menurun, mengkelok, kenapa begitu menggambarkan perasaanku?
Aku jelas menangkap raut cemas dari wajah Mas Wafi, sesekali dia meletakkan tangan kanannya pada pembatas jendela sambil mengusap bibirnya yang merekah bak permen lollipop.
"Ya Allah, redakanlah gemuruh cemburu di hati ini?"
Semua salahku, aku terlalu malu untuk bertanya pada Umi tentang siapa calon suamiku. Hanya nama, umur dan pekerjaan yang aku tahu. Selebihnya aku percayakan pada Abah dan Umi, toh mereka takkan mungkin menikahkanku kecuali dengan lelaki terbaik yang mereka kenal.
Saking polosnya, aku baru tahu nama Papa dan Mama mertua tadi pagi, serta nama adik lelakinya. Tapi tak pernah tersiar kabar jikalau suamiku ini memiliki seorang adik tiri berjenis kelamin perempuan.
"Duh ... Gusti, apakah suamiku sempat falling in love dengan adik tirinya?"
Kubungkam mulut tak berani bertanya, semoga suatu saat, akan ada penjelasan untuk semua ini.
***
Tepat pukul setengah dua belas malam kami sampai di rumah sakit. Mas Wafi dengan cekatan membuka pengunci sabuk pengamannya. Lalu turun membuka pintu mobil.
"Duh, manis sekali kamu Mas?"
"Kita tanya bagian resepsionist dulu, ya?"
Tanpa kuminta, dia memegang jemari tangan.
"Ya Salam, sentuhan pertamaku dengan seorang lelaki. Rasanya begitu damai."
Kuberanikan diri menggenggam tangannya, seakan begitu takut kehilangan. Kami bertanya pada seorang lelaki Mengenai keberadaan adik tiri Mas Wadi. Setelah infomasi jelas, Mas Wafi menuntun langkahku mengikutinya. Langkah lelaki ini begitu cepat, seolah ia begitu khawatir Dan ketakutan. Aku harus melebarkan langkahku agar menyeimbangi jalannya.
Sampai di depan kamar rawatan, Mas Wafi hendak membuka pintu. Namun, pintu itu malah terbuka dari dalam. Papa dan Mama tampak di sebelahnya.
"Assalamualaiku. Gimana keadaan Salsa, Ma?" tanya Mas Wafi tanpa menunggu salamnya dijawab.
"Waalaikum salam. Salsa sudah melewati masa kritis, sekarang dia sudah istirahat. Masuklah," jawab Mama mertuaku setelah melirik Papa mertua. Seperti ada yang ganjil, tapi apa, aku benar-benar tak bisa menebak.
Mas Wafi menatap Papanya, lalu perlahan sesuatu yang tadi membuatku begitu merasa terlindungi, terlepas. Mas Wafiku pergi, ia melepas genggaman tanganku.
Saat itulah aku merasa, bahwa yang di dalam itu lebih penting dariku.
Aku menelan saliva, mengerjapkan mata perlahan, sesuatu mulai menggenangi pelupuk mata. Tiba-tiba, ponsel Papa berdering. Lelaki paruh baya itu tersenyum ke arahku dan berjalan menjauh dari kami. Kini di tempat itu hanya ada aku dan Mama.
"Kita duduk di situ sebentar, yuk?" ajak Mama padaku.
'Tapi, kenapa diluar, bukan di dalam? Kenapa Mama mengijinkan suamiku berdua dengan bukan mahramnya di dalam sana?'
Ah, ingin kutanyakan pada beliau, tapi rasa malu menuntutku untuk diam.
"Ma, siapa yang kecelakaan?"
Wanita itu mendesah. "Pasti Umi belum cerita ke kamu."
"Tentang apa, Ma?"
"Tentang saya."
Lagi-lagi Mama tersenyum, membuatku semakin penasaran.
"Saya ini, Mama tirinya Wafi."
"Mama tiri?"
"Ya, Mama kandung Wafi meninggal saat Awafi berusia lima tahun. Beliau meninggal saat melahirkan adik Wafi. Setahun setelah kejadian naas itu terjadi, Papa Wafi melamar Mama yang notabennya saat itu adalah janda satu anak."
Mama menarik napas panjang. "Salsabila itu adalah anak kandung Mama satu-satunya."
Jantungku seperti tersentak saat nama Salsabila kembali disebut. Ah, seperti apa rupanya. Kenapa hati ini amat sangat penasaran.
"Awafi dan Salsabila hanya terpaut usia tiga tahun, mereka tumbuh bersama dalam keluarga. Saling menyayangi dan menjaga layaknya seorang kakak terhadap seorang adik," Mama menghentikan ucapannya lalu menatapku, "tak pernah terpikir oleh Mama dan Papa jika diantara mereka akan tumbuh rasa selain rasa yang wajar."
Aku lemas mendengar kata terakhir Mama. Kutarik napas dalam, menyiapkan dada agar tak terhempas kenyataan pahit.
"Tamat pesantren, sebelum berangkat ke Cairo. Awafi membuat seluruh rumah terkejut, karena dia menyatakan keinginannya untuk menikahi Salsabila."
"Robbi, berita apa lagi ini?" Aku terhempas ke sandaran kursi. Benar dugaanku, ternyata Mas Wafi berharap yang jadi istrinya adalah Salsabila, buka aku.
Huwa........
"Tapi Papa Awafi menentang keras keinginan putra pertamanya itu."
"Kenapa, Ma? Bukankah mereka tidak haram menikah?"
"Iya, tapi Papa Wafi memegang sebuah prinsip, bahwa tidak ada yang dapat menjamin bahwa dalam sebuah pernikahan tidak akan terjadi perselisihan. Maka jika hal itu terjadi, Papa sangat khawatir akan putus silaturahmi," jawabnya sambil menghela napas.
Aku bisa menangkap kekecewaan dari caranya berbicara. Mungkin Mama menginginkan agar Mas Wafi dan Salsabila menikah, sebuah keinginan yang bertolak belakang dengan prinsip suaminya. Pasti berat untuk mereka saling menerima kenyataan.
"Ya Allah, kasihan sekali kamu Mas. Kamu membentangkan layar kapalmu, berharap bertabuh di dermaga terindah, sayangnya kamu terdampar di pulau asing yang tandus."
Huwa....
"Nak Bila, semua itu masa lalu. Mama percaya mereka sudah move on. Dan Wafi adalah lelaki bertanggung jawab, dia tidak akan mengecewakan siapapun yang sudah ia minta pada Allah sebagai Istri."
Aku mengangguk. Genggaman jemari Mama pada tangaku tak cukup membuat hati ini hangat. Oh, kini aku terlanjur terdampar ke Kutub Utara. Siapa yang bisa mengantarku pulang?
Huwa...
Papa kembali dari menjawab telpon. Kubalut tanganku dengan jilbab lalu meraih tangan lelaki itu untuk ku letakkan di atas kepala. Papa mengelus kepalaku yang berbalut hijab.
"Malam ini, jangan pulang lagi ke Bandung. Ajak Wafi pulang ke rumah Papa, ya?"
Aky hanya mengangguk, kemudian menatap kepergian Papa dan Mama. Kuhela napas panjang sambil membalikkan badan.
"Bukankah semua masa lalu. Semua orang pasti punya masa lalu, meski aku tidak. Satu yang bisa kupegang, Mas Wafi adalah lelaki bertanggung jawab, tidak mungkin ia meninggalkanku. Tapi, banyak kok yang bercerai setelah menikah. Apa salah satu alasannya karena masa lalu? Arghhh ...."
Kugerakkan tangan menyentuh gagang pintu. Perlahan kubuka sedikit, deg-degan atau bagaimana, Entahlah.
Namun, mendadak rasa perih menjalari dari kerongkongan yang terasa kering hingga jantung yang berdegup cepat. Beberapa meter di depan, aku melihat suamiku. Dia duduk berhadapan dengan seorang gadis, sambil mengupas jeruk, ia memberi seulah demi seulah ke tangan gadis itu.
"Beginikah rasanya cemburu, Mas?"
***
-----
#Istri_Pilihanwww.takafuljakarta.com
#part4 Pov Bila
"Aku hanya guling buatmu, Mas ... Inikah malam pertama yang dirindui setiap pengantin baru?" Zanjabila.
***
Mungkin aku istri paling baperan di dunia. Bukankah hal yang wajar, seorang kakak mengupas jeruk dan memberinya ke tangan seorang adik. Apalagi adiknya itu sedang sakit?"
Sisi lain hatiku mencoba berpikit positif, 'tapi masalahnya mereka saling terikat hati, memiliki masa lalu yang membekas kuat, tidak tertutup kemungkinan cinta kembali merekah saat mereka bertemu. Oh Allah, aku harus bagaimana?"
Aku merahup muka perlahan, bayangan saat Mas Wafi memberi jeruk mulai dibuat skenario oleh otakku. 'Sambil saling bertatapan, Mas Wafi meletakkan jeruk di tangan Mbak Salsabila, terus Mbaknya menahan tangan suamiku seraya berkata, tanganku sakit, Mas. Tolong suapin ke mulutku ya, Mas?'
Arghhh ...!
Kubasahi tenggorokan yang kini benar-benar seperti sedang melaksanakan puasa dua hari berturut-turut, sambil menekan-nekan kelopak mata. Sesuatu mulai membuat bagian itu terasa hangat dan memanas.
"Tak ingin kubiarkan hal itu terjadi. Tapi aku harus bagaimana? Masak iya masuk ke ruangan itu tanpa di persilahkan, dimana harga diriku sebagai seorang istri?" Perasaan ini kembali kacau.
Kubulatkan tekad untuk pergi. Tapi nggak berani jauh, aku belum pernah ke Jakarta seorang diri. Lebih baik ke mushalla saja. Rasanya benar-benar tak tahan dengan bisikan-bisikan aneh yang membuat kupingku ikut-ikutan panas. Berwudhu dan shalat sunnah, adalah cara efektif meredam amarah. Kusegerakan langkah menuju tempat peribadatan itu.
'Mas Wafi ... Bila hanya bisa berdoa Mas, agar Mas tidak melupakan Bila. Ingatlah bahwa tadi pagi Mas sudah meminta Bila pada Allah untuk menjadi istri Mas. Jangan lupakan itu, Mas?"
Aku mengusap mata yang kini benar-benar sudah berair. Cengengnya aku ini.
Huwa...
Langkahku terasa begitu berat, teringat aku telah membiarkan suamiku bersama seorang wanita di tempat lain, berduaan. Demi apapun, jangan sampai mereka ngapa-ngapain!
Kubasuh tangan, mulut, muka dan beberapa bagian lain yang menjadi rukun berwudhu. Rasanya lebih tenang dari tadi. Inginnya sih membarengi dengan tahajjud, tapi belum sempat tertidur. Jadi kulaksanakan shalat sunnah saja dua rakaat.
Setelah selesai, kubaringkan sejenak kepalaku yang masih berbalut mukena, serta kembali menutup wajah dengan cadar. Lelah tubuh bisa hilang dengan beristirahat. Tapi jika batin yang kelelahan, kemana aku mencari obatnya.
"Malam ini, malam pertama kami. Harusnya aku dan Mas Wafi menghabiskan malam indah kami di dalam kamar. Bukan terpisah begini, dia bersama gadis yang ia sukai, sementara aku seorang diri di mushalla ini, kedinginan ...."
Perlahan mataku yang dipenuhi kilau mengambang itu terpejam. 'Aku lelah sekali, Bu. Aku ingin tidur?'
***
"Bila ... Bila ...."
Seseorang mengelus pelan wajahku, kubuka mata perlahan. Rasanya sangat berat.
"Kamu disini rupanya, Mas cari ke seluruh perjuru rumah sakit?"
'Suara siapa itu, Mas Wafikah?'
Kugosok-gosok mata, agar dapat membuka sempurna. Ya Allah, benarkah dia yang ada di hadapanku kini?
"Mas Wafi?" ucapku lirih.
Dia langsung mendaratkan kecupan di keningku, kedua tangannya memegang bahuku kiri dan kanan. Sesaat bibir ini bergetar, 'Benarkah yang kurasakan ini, atau hanya mimpi?'
Kupejamkan mata perlahan, mimpi atau bukan, ini pertama kalinya keningku bersentuhan dengan lawan jenis. Syukurnya tidak haram meski yang terjadi hanya sebatas hayalan.
"Kamu pasti kelelahan? Kita pulang sekarang, ya?" ucapnya setelah mengurai kecupan.
'Ah, cepat sekali, padahal masih rindu?'
Ingin rasanya aku memeluk lelaki itu, teganya ia membiarkanku tidur seorang diri begini? Tapi, apa dayaku, aku malu ...
"Di sini sepi, Mas buka, ya?" ucapnya lagi meski aku masih bergeming tak percaya.
Tiba-tiba, Mas Wafi menggerakkan tangannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus untuk membuka tali cadar yang masih melilit di kepalaku.
'Ah, Kenapa sekarang Mas, wajahku 'kan lagi jelek?'
Aku menunduk saat kain penutup itu sempurna ada di tangannya. Entah bagaimana wajahku, apakah ada pulau di sekitar mulut? Sebesar apa, jangan sampai sebesar pulau Kalimantan!
Jemari Mas Wafi kini menyentuh dagu, lalu menaikkan pandanganku beberapa centi. Rasanya nano-nano, mana jantung komat-kamit kayak dipasang bom waktu. Subhanallah ... Kuberanikan diri sejenak menatap mata elangnya yang tampak menawan.
'Seperti apa mukaku, boleh nggak disulap sebentar? Harusnya begini tadi ya, di kamar pengantin.'
Mas Wafi balas menatapku, lalu tersenyum. Ah, kenapa tersenyum? Selucu itukah mukaku kini?
Arghhh ....!
Aku menunduk malu. Tapi tangan Mas Wafi kembali tergerak untuk membuka mukena yang masih menutup kepala.
'Suamiku ... so sweetnya dirimu ...'
Kugigit bibir perlahan, sambil menanti dia berkata sesuatu. Namun, Mas Wafi hanya terus tersenyum sambil menggulung-gulung mukenaku.
"Eh, Mas lupa," katanya sambil memungut cadar lalu mengikat kembali di wajahku.
Aku hanya bisa nerimo tanpa bisa berkata-kata.
"Mas ...," lirihku setelah menerima sekian perlakuan istimewanya.
"Hem ... kenapa?"
"Maaf ya, pergi nggak ngasih tau, Mas?"
"Iya, Mas juga minta maaf. Tadi seperti mengabaikanmu. Sebenarnya tadi itu, Mas ...."
Mas Wafi menghentikan ucapannya dan tersenyum malu-malu. Ah, dia benar-benar menggemaskan ...
"Ah, udah nggak usah dibahas lagi, ya. Kita pulang sekarang, kamu pasti kelelahan. Yuk?" ajaknya sambil beringsut bangkit.
Aku melipat sarung dan berjalan di belakangnya.
"Mbak Salsabila bagaimana, Mas?"
Dia berhenti dan berbalik. Aku menghela napas, entah kenapa aku merasa dia tersakiti saat aku menyebut nama itu.
"Besok kita jenguk lagi ya. Malam ini ada Bik Nah yang menemani Salsa. Kita pulang, kamu butuh istirahat."
"Bik Nah?" tanyaku penasaran.
"Bik Nah itu asisten rumah tangga kami. Tadi saat Mas datang, beliau memang sudah duluan ada di ruangan."
'Oh, jadi tadi Mas Wafi nggak cuma berdua di ruangan itu. Alhamdulillah, syukurlah ...."
Kukira kami akan berjalan sendiri-sendiri, tapi tidak, ia kembali memegangi jemariku.
"Kuharap kamu nggak akan melepasnya lagi, Mas ...."
***
Kami sampai di rumah orang tua Mas Wafi tepat pukul setengah dua malam. Suasana perumahan elite tempat tinggal Mas Wafi tampak sepi, hanga sequrity yang menyambut kedatangan kami di pintu gerbang. Lalu di pagar masuk rumah, kami disambut lagi oleh sequrity.
Menikah dengan anak seorang pengusaha besar adalah sebuah keberuntungan. Tapi itu bukan segalanya, karena harta hanya titipan Allah. Namun, ketika Allah menjodohkanku dengan lelaki yang taat ibadah, itu adalah anugerah terbaik. Karena setelah menikah, yang paling besar pengaruh terhadap seorang istri adalah suami.
Aku teringat, saat masa kecil dahulu. Nia Ramadhani dan Alissa Soebandono pernah satu sinetron yang sempat booming kala itu, 'Inikah Rasanya'.
Saat kecil, keduanya tampak sama, sama-sama belum berhijab. Beranjak dewasa, masih sama-sama eksis di dunia hiburan tanpa berhijab. Namun, setelah menikah, keduanya tampak jauh berbeda. Nia yang dinikahi pengusaha muda nan sukses, masih berpenampilan begitu-begitu saja.
Sementara Alissa yang dinikahi lelaki lebih agamais, sudah berbusana syari, meski keduanya masih sama-sama berkecimpung di dunia hiburan.
Suami, bagaimanapun tetaplah penyempurna. Meski saat ini aku sudah lebih baik dalam berbusana, tapi aku butuh pendamping yang bisa menguatkan iman. Aku juga butuh sosok imam yang membuatku tentram, meredam api cemburu yang berkecamuk di jiwa. Aku butuh Mas Wafi. Imamku.
"Jangan pernah tinggalkan aku, Mas?" Terus, batin ini meracau tanpa henti. Aku benar-benar sangat mencintainya. Cinta pertamaku.
"Kita masuk, ya? Mungkin Mama sama Papa sudah istirahat, tapi Mas punya kunci cadangan kok."
Mas Wafi menuntunku ke dalam rumah. Setelah mengucap salam dan dijawab oleh malaikat, eh tapi bukan malaikat. Kalau malaikat suaranya nggak kedengaran, ya. Lha ini jelas, ada yang nyaut. Aku merinding.
Kulilitkan tangan pada siku Mas Wafi. Ruangan yang gelap yang kini berpendar sinar dari luar, terasa menakutkan karena sesosok makhluk tengah duduk di salah satu kursi tamu.
Aku meringis, sementara Mas Wafi menatapku sambil tersenyum. Ia mengelus lenganku, sambil menenangkan. Tak lama sosok di hadapan kami bangkit dan memegang dinding.
Tap!
Lampu menyala!
"Papa?" sebut Mas Wafi saat mendapati sang papa baru saja menekan saklar.
Aku menghela napas, tapi tanganku terlanjur melingkar lengannya. Segera kulepas.
'Alhamdulillah bukan hantu.'
"Kalian sudah sampai?"
Kami mengangguk berbarengan. Kuraih tangan papa mertua untuk kusalami. Beliau mengelus puncak kepalaku.
"Ajak Zanjabila istirahat, Fi. Pasti dia kelelahan. Kasihan kalian, harusnya Mamamu nggak usah menelpon. Berulang kali Papa melarang, tapi dia tetap bersikeras," lelaki paruh baya itu menghela napas. "Selamat datang di rumah Papa ya, Anakku. Papa harap kamu bisa betah di sini?"
Aku tersenyum, terharu dengan sambutannya. Lelaki itu kemudian berbalik dan meninggalkan kami. Mas Wafi kembali memegang jemari tanganku.
"Ayok kita ke kamar?"
Mataku membelalak seketika. "Masya Allah, kamar?"
Jantungku kembali berlompat-lompatan. Seperti ada yang menabuh genderang, nadiku pun ikut-ikutan menghentak. Sejujurnya, aku bahagia. Setidaknya kami menemukan kamar untuk ditempati bersama, tapi ...
***
"Silahkan masuk?"
Mas Wafi membuka pintu kamar dan menyilahkanku masuk.
Subhanallah, aku terkesima. Benarkah ini kamar yang akan kami tempati malam ini? Kamar indah dengan walpaper bunga di bagian kepala ranjang. Kurasa ini menyengaja, mana ada lelaki yang suka bunga-bungaan.
Wah, senangnya hatiku...
Mas Wafi kembali menarik tanganku dan mendudukkan di ranjang jati dengan tirai putih menjuntai di keempat tiangnya. Sangat romantis, di tambah dua bola lampu indah di atas nakas. Sayangnya belum dihidupkan. Seketika, bulu kudukku berdiri roma.
Mas Wafi meletakkan ponsel dan kunci mobilnya di atas nakas. Lalu mengambil segelas air mineral dari tempat penampungannya di atas meja kerja.
"Kamar ini sekarang jadi kamar kamu juga. Silahkan jika mau melakukan apapun di kamar ini. Yang penting, jangan bawa ranjang keluar kamar," ucapnya sambil tersenyum dan menyerahkan gelas berisi air mineral itu padaku.
Aku mengangguk. "Makasih, Mas."
"Ah, pegalnya badan ini ...."
Mas Wafi kini merebahkan tubuh di atas ranjang, meregangkan kedua tangannya, merelaksasikan otot-ototnya yang mungkin terasa begitu pegal.
Aku melirik tanpa berbicara, rasanya begitu deg-degan. Mas Wafi kembali bergerak, kini ia meringkuk menghadap ke arahku. Dia meraih jemari tanganku lalu membekap ke dada.
Aku menatapnya ragu, dia kembali menyunggingkan senyuman lalu memejamkan mata. Aku menanti mata itu kembali terbuka. Entah, sepertinya aku takut ditinggal tidur sendirian. Lima menit menanti, tetapi matanya tetap terpejam.
Aku tersenyum sendiri. Mas Wafiku sudah terbang ke angkasa.
"Mas ... Mas ... cepat nian engkau tertidur, bahkan baju belum terganti, kaus kaki masih belum terbuka, gigi belum tersikat. Selelah itukah kamu?" Aku berbisik perlahan. Kuayunkan tangan di depan wajahnya. Tak bereaksi.
'Ternyata benar-benar tertidur.'
Kutarik tanganku perlahan, lalu mengelus pelan bahunya. Tetap tak bereaksi.
'Kamu ingin aku bagaimana, Mas? Membiarkan atau melepas semua yang masih menyangkut ini?'
Kutarik napas dalam, bagaimana jika kulepas kaus kakinya, lalu baju kemejanya?
Ah ... memalukan nggak, ya?
'Lebih baik kaus kaki saja.'
Ragu, kegerakkan tangan membuka penutup kakinya. Mas Wafi menggeliat, wajahnya begitu meneduhkan pandangan. Aku penasaran, ingin lagi kutatap wajahnya secara dekat.
'Semoga Mas Wafi tidak bangun.'
Lama menatap, tapi ada sesuatu yang membuatku kasihan padanya.
"Pasti kamu sulit bernapas, Mas."
Kubuka satu anak kancing bajunya paling atas. 'Satu aja cukup.'
Detik kemudian Mas Wafi kembali menggeliat, tapi kini mulutnya seperti merintih. Aku terkesiap, mimpikah dia?
Kudekatkan wajah perlahan, sambil memasang telinga. Mas Wafi mengingau, sambil menyebut sebuah nama dengan lirih, "Salsabila ...."
Aku tercengang, 'benarkah yang kudengar ini?'
Kudekatkan kembali telinga, ingin memastikan apa yang ia sebut barusan.
"Salsabila ...."
'Astaghfirullah ... dalam tidur pun hanya dia yang kamu ingat, Mas?'
Kupejamkan mata, menahan perih yang kini menyebar ke jantung. Suamiku, tak boleh melupakanku!
"Aku Zanjabila, Mas." Kubisikkan di telinganya namaku. Mungkin dia lupa atau bagaimana.
"Salsabila ...." Ia tetap menyebut lirih nama yang sama.
Aku terduduk lemas di sisinya. "Benarkah kamu sangat mencintai Mbak Salsa, Mas?"
Ku tarik dalam-dalam napas agar pernapasanku tak tercekat. "Kalau kamu mencintainya, kenapa nggak bersikeras, Mas. Harusnya jangan nikahi aku ...."
Duniaku kini menghitam, rasanya akulah pengantin wanita termalang di dunia ini. Kegerakkan tangan hendak pergi dari kamar itu, tapi niatku terpatahkan.
Tangan Mas Wafi tiba-tiba kembali membekap erat tanganku. Aku menarik kuat, tapi dia juga menarik dengan kuat hingga tubuhku yang lemah ini ikut terbaring di sisinya. Ia memelukku layaknya memeluk bantal.
Kupejamkan mata perlahan, bulir-bulir bening jatuh bertetes-tetes membasahi ranjang.
"Aku hanya guling buatmu, Mas ... Inikah malam pertama yang dirindui setiap pengantin baru?"
***
-----
#Istri_Pilihan
#Part5
#POV Bila
"Terserah Mas Wafi mau memanggilku dengan sebutan apapun, dipanggil Syahrini pun aku tak mau peduli. Yang kutahu di buku nikah nama Zanjabila bersanding dengan namanya, Rumaisil Muhammad Awafi."
***
Pagi ini aku bangun lebih cepat. Tak ingin dinilai menantu malas oleh ibu mertua. Setengah jam sebelum semua orang bangun, aku sudah bersiap-siap ke dapur.
Sesampai di dapur, aku berdiri lama menatap kulkas. "Sebenarnya aku mau ngapain? Masak aku nggak pintar, kalau nekad takut malah mengecewakan."
Kugaruk-garuk kepala yang masih terasa berat. Tidur membawa beban sekampung, tak bisa membuatku bangun dalam keadaan segar bugar. Tapi sebagai seorang istri, aku tak boleh loyo, harus bisa menyenangkan suami. Umur boleh muda, pikiran harus dewasa.
Tekadku sudah bulat, akan kubuat Mas Wafi melupakan masa lalunya. Sekarang dan sampai kapanpun, dihati suamiku hanya boleh ada namaku seorang.
Terserah Mas Wafi mau memanggilku dengan sebutan apapun, dipanggil Syahrini pun aku tak mau peduli. Yang kutahu di buku nikah nama Zanjabila bersanding dengan namanya, Rumaisil Muhammad Awafi.
Sekarang, hal paling utama yang akan aku lakukan adalah membuatnya sarapan istimewa, barangkali nasi tutug oncom.
Aku memang penggemar oncom, tapi selama ini jika pulang dari pesantren, Umi yang selalu membuatnya untukku. Dan keselnya lagi, aku lupa menanyakan resep masakan itu. Hiks.. Hiks..
'Sebaiknya tanya Mbah Gugel aja, deh?'
Aku berjalan kembali ke kamar untuk mengambil ponsel, tapi sangat terkejut ketika kulihat tempat tidur yang tadi masih ada Mas Wafi di atasnya, kini malah kosong. Kemeja dan celana Mas Wafi tergelefak di atas ranjang. Aku menutup sebelah mata saat melihat yang segitiga pribadi itu terletak paling atas.
'Owalah Mas, bok ya ditutup sedikit yang itu?' racauku dalam hati. Sementara di kamar mandi, pancuran air dari shower terdengar lirih.
'Pasti Mas Wafi sedang mandi.'
Segera kuraih ponsel dan kembali ke dapur. Tapi, dapur kini terdengar sedikit berisik. Sepertinya ada yang sudah bangun selain diriku. Mama mertuakah itu?
'Wah, bisa gagal ini rencana masak sambil nonton youtube?'
Meski ragu, kuteruskan langkah menuju ruang memasak itu. Tampak di sana, seorang wanita paruh baya, sedikit gemuk, tengah sibuk membersihkan bumbu-bumbu masakan di wastafel.
"Maaf, Buk?" lirihku sedikit mengagetkan wanita itu.
Dia berbalik, "Wah, Neng pasti Bila istrinya Mas Wafi?"
Aku mengangguk seraya tersenyum. Kubuka cadar yang menutup wajah, toh kami sesama perempuan, lagi supaya ibuk itu bisa mengenaliku. Kudekati wanita itu, lalu meraih jemari tangannya untuk kusalami.
"Masya Allah. Santun sekali. Saya Sarinem, Neng. Panggil saja Bik Nem. Disini sebagai asisten rumah tangga. Neng kenapa ke dapur? Ada yang mau diambil?"
Aku menggeleng, "Nggak ada, Bik. Saya cuma mau membuatkan sarapan?" jawabku malu-malu.
"Bibik yang biasa siapin sarapan?"
Wanita itu kembali tersenyum. "Kalau pagi, Bibik tugasnya cuma mencuci semua sayur dan bumbu. Biasa, Nyonya sendiri yang masak untuk sarapan. Tapi kalau Neng mau buat sarapan pagi ini, monggo Neng, silahkan. Barangkali mau membuatkan sarapan istimewa untuk suami," ucapnya sambil tersenyum menggoda.
Aku sedikit menunduk, malu. Kedua pipiku pasti sudah merona cabai.
"Benar Bik, nggak papa Bila yang masak?" Kucoba meyakinkan.
"Ya nggak papa atuh, Neng. Nanti kalau Nyonya bangun, biar saya yang sampaikan kalau sarapan pagi ini sudah Neng yang siapkan."
Kali ini aku memaksakan diri untuk tersenyum, entah kenapa aku malah merasa tak enak. Tapi ah, sudahlah.
Kuletakkan ponselku dengan youtube menyala. Lalu mulai menyiapkan bahan. Bik Nem sedikit heran.
"Itu lagi nonton apa, Neng?"
Ragu, tapi kujawab juga pertanyaan wanita itu. "Ini namanya Youtube, Bik. Sebenarnya, saya nggak pintar masak. Biasa makan makanan yang sudah dimasak Ibu di rumah. Tapi hari ini, saya pengen buat nasi Tutug Oncom untuk Mas Wafi, Bik?"
Bik Nem tersenyum menanggapi ucapanku.
"Sini Bibik bantu, Neng. Nggak usah pakai resep dari hape, saya ini asli Sunda. Seblak, Tutug Omcom, itu mah kecil," ucapnya sambil menyerahkan bumbu yang sudah selesai di cuci. Kencur, bawang merah, bawang putih, cabe rawit merah, cabe keriting, kini sudah ada di mangkuk kecil.
Bik Nem lalu mengambil wajan. "Semua bumbu ini dibakar terlebih dahulu, Neng. Oncomnya juga dibakar. Baru digiling dan ditambah garam."
Kulakukan semua arahan Bik Nem. Setelah selesai, wanita itu menyerahkan nasi yang sudah tanak.
"Diaduk ya, Neng," ucapnya sambil menyiapkan daun pembungkus.
"Nasi yang sudah diaduk itu, diletakkan di atas daun pisang ini, Neng." Bik Nem kembali memberi arahan.
Kuikuti sesuai petunjuk. Kini di atas meja dapur, lima piring sudah berisi nasi oncom. Harum aromanya menyengat, memaksaku ingin segera mencicipi. Tapi sabar, belum waktunya.
Kuputuskan untuk kembali ke kamar, sambil menunggu detik-detik azan subuh berkumandang. Namun, kedatangan mama mertua ke dapur, membuat langkahku terhenti.
"Lho, Bila? Kok di dapur?" sapa Mama kaget.
"Ini Nya, tadi Neng Bila baru habis bikin sarapan buat Mas Wafi," potong Bik Nem. Aku hanya menunduk, takut yang kulakukan malah tak disukai Mama mertua.
"Sarapan?" seru Mama mertua.
"Maaf Ma, Bila ...."
"Pengantin baru kok di dapur, harusnya nemeni suami di kamar. Jangan khawatir, di dapur 'kan ada Mama sama Bik Nem?"
Aku menunduk, seperti dugaanku. Mama mertua pasti melarang menantunya ke dapur. Diantara rasa sungkan yang timbul, bahagia perlahan menyusup. Setidaknya hari ini Mas Wafi akan makan masakan buatanku.
"Bila minta maaf, Ma?"
"Yaudah nggak papa, coba kamu ke kamar. Barangkali Wafi sudah mau siap-siap ke mesjid."
Aku terkesiap. Tadi memang benar Mas Wafi sedang mandi, lalu apa sekarang malah sudah berangkat.
'Aduh, sedihnya aku jika dia pergi nggak pamitan ...."
***
Kubuka pintu berukiran mawar dengan perlahan. Di sana, beberapa meter di hadapanku, Mas Wafi tengah memakai koko lengan panjangnya. Kuintip sedikit. Tubuh Mas Wafi yang sedikit berotot meski nggak sispek kayak roti sobek enam bagian. Tetap membuat mataku melotot. Degup jantungku mulai rancak berdentum.
'Subhanallah ... gagahnya suamiku."
Setelah pakaian itu sempurna menutup tubuhnya ia mulai memakai minyak pada rambutnya. Gosok ke kiri, gosok ke kanan, gayanya bak seorang model minyak rambut. Ahay, tampannya Mas Awafiku.
Kini dia meraih sisir kecil, lalu menyisir perlahan rambutnya dengan cepat.
'Harusnya aku yang menyisir, ya? Ah, tapi malu ...."
Kututup kembali pintu kamar, mudah-mudahan Mas Wafi nggak menyadarinya.
Bayangan Mas Wafi dengan setelan koko putih plus kain sarung hitam, menari-nari di dalam benak. Andai aku bisa memeluknya, sekali ... saja. Rindu sekali hati ini ...
Ku sandarkan punggung pada pintu kayu itu beberapa menit, sambil menghayal.
'Yang belum nikah, jangan coba-coba ngehayalin lelaki ya, haram atuh. Saya mah udah halal, cuma belum berani nyentuh, ya ngehayal aja dulu nyambi nunggu waktu yang pas.'
Tiba-tiba...
Brukkk!
"Aww!" Tubuhku kesungkur ke belakang. Mas Wafi terkekeh saat mendapatiku jatuh ketika ia membuka pintu kamar.
'Ya Salam. Tamatlah riwayatku hari ini?'
"Ya Allah, Salsabila ...."
Aku bergidik, lagi-lagi dia memanggilku Salsabila. Mas Wafi mendekat, mencoba membantuku bangun dengan memegangi lengan.
Aku menepis tangannya. Dia terheran.
"Nama saya Zanjabila, Mas!" seruku tak lagi pelan. Ku dorong tubuhnya lalu berhamburan ke kamar.
"Eh ... Ih ... Bi- Bila, maaf. Mas salah lagi, ya."
Dia membatalkan keinginannya keluar kamar, malah membuntutiku yang duduk menghadap ke dinding kamar. Dari kemarin dia terus begitu, awalnya bersikap baik lalu menghempasku ke gunung tertinggi.
'Apa kamu kira aku nggak sakit, Mas?'
Kutundukkan wajah, sementara Mas Wafi mulai bertekuk di hadapanku. Tangannya yang terasa dingin menyentuh tanganku yang hangat.
"Tukan batal wudhu, Mas?" ucapnya sambil menggenggam jemari tanganku erat.
"Siapa suruh Mas megang tangan Bila?"
"Habisnya kamu ngambek, masak Mas biarkan?"
"Siapa yang ngambek?" Kuberanikan diri menatap matanya yang nampak ketakutan.
"Kamu?"
"Bila nggak ngambek?"
"Jangan bohong?"
"Bila nggak bohong. Siapa juga yang ngambe!"
"Kamu?"
"Nggak!"
Cup!
Ah, sensor dulu. Sesuatu mengenai bibirku.
Lembut dan hangat, aku membelalak. Mata kami bertemu sesaat, dia segera menarik wajahnya. Aku yang bagai kesiraman air bunga seketika menunduk.
'Ya Allah, tadi itu apa?'
***
bersambung
#Part 2
"Kukira tak ada nama wanita di hati suamiku. Ternyata aku salah, dia pernah jatuh cinta. Pada, adik tirinya, Salsabila." Radha Zanjabila.
Pov Bila
***
Setelah mendapatkan ijin dari Abah dan Umi, kami segera melangkah keluar rumah.
"Bismillah, pertama kali semobil dengan lelaki, walau sudah menjadi imam tetap saja deg-degan. Lho, kok malah deg-degan, harusnya 'kan cemburu sama yang namanya Salsabila. Eh, Kok cemburu juga, bukan seharusnya justru khawatir? Aduh, kapan sih hati bisa berbohong?" batinku terus meracau tak jelas.
Kulihat Mas Wafi berjalan ke arahku. "Lho, Mas mau duduk di samping kiri? Lalu siapa yang nyetir mobilnya?" tanyaku polos.
Dia tersenyum sedikit berdehem. Ah, manis sekali senyuman itu, lengkap dengan jakun menonjolnya yang bikin hati meleleh.
Tanpa berucap Mas Wafi menggerakkan tangannya membuka pintu mobil. "Mas cuma mau membukakan pintu mobil, pertama kalinya untuk istri Mas?" jawabnya santai.
Selimut ada Mak, pinjam buat nutup muka. Malu......
Untung aja, cadar masih setia membalut wajah, kalau tidak sudah pasti Mas Wafi melihat wajahku yang memerah bak keriting rebus.
Aku memasuki mobil dengan seperti tadi, deg-degan. Kuseimbangkan napas, agar denyut nadipun ternetralisir. Mas Wafi membuka pintu pagar lalu masuk ke mobil. Tak sedetikpun kulewatkan pandangan dari memperhatikan tiap gerakkan lelaki yang sekarang sudah menjadi imamku itu. Syukurlah aku jatuh cinta saat setelah menikah, hingga tak haram bagiku untuk terus menatap wajahnya. Walau dalam diam dan curi-curi kesempatan.
Mas Wafi duduk di bangku kemudi. Kukira dia akan langsung menghidupkan mobil. But, what?
Dia berbalik, membuat mataku yang sedari tadi menatapnya segera berpaling. Sungguh diluar dugaan, Mas Wafi mengambil sabuk dan mengaitkannya di tubuhku. Jarak kami begitu dekat, hingga aku bisa mendengar degup jantungnya yang bersatu dengan degup jantungku.
"Subhanallah, nikmatnya punya suami?"
'Mas, bisakah aku melupakan kenyataan bahwa tidak ada nama wanita di hatimu selain aku?' batinku bergumam dalam diam.
Andai bisa kuucapkan...
"Bismillah, kita berangkat ya?" ucapnya sambil menatapku.
Saat itu aku ingin menangis, entah menangis bahagia atau karena cemburu. Tapi kenapa aku merasa sangat takut kehilangan Mas Wafi. Pasti karena Salsabila. Ah, siapa sih Salsabila itu?
Mas Wafi memilih jalan Tol Cipularang sebagai alternatif, agar jarak tempuh Bandung dan Jakarta menjadi lebih dekat. Jalanan ini menanjak, menurun, mengkelok, kenapa begitu menggambarkan perasaanku?
Aku jelas menangkap raut cemas dari wajah Mas Wafi, sesekali dia meletakkan tangan kanannya pada pembatas jendela sambil mengusap bibirnya yang merekah bak permen lollipop.
"Ya Allah, redakanlah gemuruh cemburu di hati ini?"
Semua salahku, aku terlalu malu untuk bertanya pada Umi tentang siapa calon suamiku. Hanya nama, umur dan pekerjaan yang aku tahu. Selebihnya aku percayakan pada Abah dan Umi, toh mereka takkan mungkin menikahkanku kecuali dengan lelaki terbaik yang mereka kenal.
Saking polosnya, aku baru tahu nama Papa dan Mama mertua tadi pagi, serta nama adik lelakinya. Tapi tak pernah tersiar kabar jikalau suamiku ini memiliki seorang adik tiri berjenis kelamin perempuan.
"Duh ... Gusti, apakah suamiku sempat falling in love dengan adik tirinya?"
Kubungkam mulut tak berani bertanya, semoga suatu saat, akan ada penjelasan untuk semua ini.
***
Tepat pukul setengah dua belas malam kami sampai di rumah sakit. Mas Wafi dengan cekatan membuka pengunci sabuk pengamannya. Lalu turun membuka pintu mobil.
"Duh, manis sekali kamu Mas?"
"Kita tanya bagian resepsionist dulu, ya?"
Tanpa kuminta, dia memegang jemari tangan.
"Ya Salam, sentuhan pertamaku dengan seorang lelaki. Rasanya begitu damai."
Kuberanikan diri menggenggam tangannya, seakan begitu takut kehilangan. Kami bertanya pada seorang lelaki Mengenai keberadaan adik tiri Mas Wadi. Setelah infomasi jelas, Mas Wafi menuntun langkahku mengikutinya. Langkah lelaki ini begitu cepat, seolah ia begitu khawatir Dan ketakutan. Aku harus melebarkan langkahku agar menyeimbangi jalannya.
Sampai di depan kamar rawatan, Mas Wafi hendak membuka pintu. Namun, pintu itu malah terbuka dari dalam. Papa dan Mama tampak di sebelahnya.
"Assalamualaiku. Gimana keadaan Salsa, Ma?" tanya Mas Wafi tanpa menunggu salamnya dijawab.
"Waalaikum salam. Salsa sudah melewati masa kritis, sekarang dia sudah istirahat. Masuklah," jawab Mama mertuaku setelah melirik Papa mertua. Seperti ada yang ganjil, tapi apa, aku benar-benar tak bisa menebak.
Mas Wafi menatap Papanya, lalu perlahan sesuatu yang tadi membuatku begitu merasa terlindungi, terlepas. Mas Wafiku pergi, ia melepas genggaman tanganku.
Saat itulah aku merasa, bahwa yang di dalam itu lebih penting dariku.
Aku menelan saliva, mengerjapkan mata perlahan, sesuatu mulai menggenangi pelupuk mata. Tiba-tiba, ponsel Papa berdering. Lelaki paruh baya itu tersenyum ke arahku dan berjalan menjauh dari kami. Kini di tempat itu hanya ada aku dan Mama.
"Kita duduk di situ sebentar, yuk?" ajak Mama padaku.
'Tapi, kenapa diluar, bukan di dalam? Kenapa Mama mengijinkan suamiku berdua dengan bukan mahramnya di dalam sana?'
Ah, ingin kutanyakan pada beliau, tapi rasa malu menuntutku untuk diam.
"Ma, siapa yang kecelakaan?"
Wanita itu mendesah. "Pasti Umi belum cerita ke kamu."
"Tentang apa, Ma?"
"Tentang saya."
Lagi-lagi Mama tersenyum, membuatku semakin penasaran.
"Saya ini, Mama tirinya Wafi."
"Mama tiri?"
"Ya, Mama kandung Wafi meninggal saat Awafi berusia lima tahun. Beliau meninggal saat melahirkan adik Wafi. Setahun setelah kejadian naas itu terjadi, Papa Wafi melamar Mama yang notabennya saat itu adalah janda satu anak."
Mama menarik napas panjang. "Salsabila itu adalah anak kandung Mama satu-satunya."
Jantungku seperti tersentak saat nama Salsabila kembali disebut. Ah, seperti apa rupanya. Kenapa hati ini amat sangat penasaran.
"Awafi dan Salsabila hanya terpaut usia tiga tahun, mereka tumbuh bersama dalam keluarga. Saling menyayangi dan menjaga layaknya seorang kakak terhadap seorang adik," Mama menghentikan ucapannya lalu menatapku, "tak pernah terpikir oleh Mama dan Papa jika diantara mereka akan tumbuh rasa selain rasa yang wajar."
Aku lemas mendengar kata terakhir Mama. Kutarik napas dalam, menyiapkan dada agar tak terhempas kenyataan pahit.
"Tamat pesantren, sebelum berangkat ke Cairo. Awafi membuat seluruh rumah terkejut, karena dia menyatakan keinginannya untuk menikahi Salsabila."
"Robbi, berita apa lagi ini?" Aku terhempas ke sandaran kursi. Benar dugaanku, ternyata Mas Wafi berharap yang jadi istrinya adalah Salsabila, buka aku.
Huwa........
"Tapi Papa Awafi menentang keras keinginan putra pertamanya itu."
"Kenapa, Ma? Bukankah mereka tidak haram menikah?"
"Iya, tapi Papa Wafi memegang sebuah prinsip, bahwa tidak ada yang dapat menjamin bahwa dalam sebuah pernikahan tidak akan terjadi perselisihan. Maka jika hal itu terjadi, Papa sangat khawatir akan putus silaturahmi," jawabnya sambil menghela napas.
Aku bisa menangkap kekecewaan dari caranya berbicara. Mungkin Mama menginginkan agar Mas Wafi dan Salsabila menikah, sebuah keinginan yang bertolak belakang dengan prinsip suaminya. Pasti berat untuk mereka saling menerima kenyataan.
"Ya Allah, kasihan sekali kamu Mas. Kamu membentangkan layar kapalmu, berharap bertabuh di dermaga terindah, sayangnya kamu terdampar di pulau asing yang tandus."
Huwa....
"Nak Bila, semua itu masa lalu. Mama percaya mereka sudah move on. Dan Wafi adalah lelaki bertanggung jawab, dia tidak akan mengecewakan siapapun yang sudah ia minta pada Allah sebagai Istri."
Aku mengangguk. Genggaman jemari Mama pada tangaku tak cukup membuat hati ini hangat. Oh, kini aku terlanjur terdampar ke Kutub Utara. Siapa yang bisa mengantarku pulang?
Huwa...
Papa kembali dari menjawab telpon. Kubalut tanganku dengan jilbab lalu meraih tangan lelaki itu untuk ku letakkan di atas kepala. Papa mengelus kepalaku yang berbalut hijab.
"Malam ini, jangan pulang lagi ke Bandung. Ajak Wafi pulang ke rumah Papa, ya?"
Aky hanya mengangguk, kemudian menatap kepergian Papa dan Mama. Kuhela napas panjang sambil membalikkan badan.
"Bukankah semua masa lalu. Semua orang pasti punya masa lalu, meski aku tidak. Satu yang bisa kupegang, Mas Wafi adalah lelaki bertanggung jawab, tidak mungkin ia meninggalkanku. Tapi, banyak kok yang bercerai setelah menikah. Apa salah satu alasannya karena masa lalu? Arghhh ...."
Kugerakkan tangan menyentuh gagang pintu. Perlahan kubuka sedikit, deg-degan atau bagaimana, Entahlah.
Namun, mendadak rasa perih menjalari dari kerongkongan yang terasa kering hingga jantung yang berdegup cepat. Beberapa meter di depan, aku melihat suamiku. Dia duduk berhadapan dengan seorang gadis, sambil mengupas jeruk, ia memberi seulah demi seulah ke tangan gadis itu.
"Beginikah rasanya cemburu, Mas?"
***
-----
#Isteri_Pilihan
#Part 3
Pov Wafi
***
"Saya terima nikah dan kawinnya Radha Zanjabila Binti Muhammad Ali dengan mas kawin emas sepuluh gram dibayar tunai."
"Sah?"
Sah...
Sah...
Alhamdulillah.
Gadis yang terpaut usia sepuluh tahun dariku itu meraih tanganku lalu menciuminya takzim. Ku sentuh perlahan puncak kepalanya. Inilah sentuhan pertamaku dengan seorang akhwat yang kelak akan menjadi ibu dari zuriyah-zuriyahku.
Ketika hendak mengecup puncak kepalanya, sebuah tangan menepuk-nepuk bahuku.
"Astaghfirullah, kenapa ada yang tega mengganggu acara sakral yang kuniatkan hanya sekali seumur hidup ini. Ingin ku abaikan, tapi lancang sekali orang itu kini berani menyentuh pipiku.
Aku berbalik.
Blak!
"Bila?" Mataku membulat menatap sesosok wajah yang begitu dekat denganku.
Gadis yang tadi baru saja kuijab qabul namanya kini ada di depan mata. Jarak kami begitu dekat. Aku bisa merasakan embusan napasnya meski tertutup cadar.
Bila sama kagetnya denganku, secepat kilat dia menjauhkan tangan yang tadi sempat menyentuh pipiku.
"Mama nelpon, Mas. Katanya ada yang penting," ucapnya gugup sambil menyerahkan ponsel.
'Astaghfirullah ... yang tadi mimpi rupanya?'
Kuhela napas panjang. "Oh, iya. Maaf ya, Mas kaget."
Kuraih benda pipih itu dari tangan Bila, sekilas terlihat jemari tangannya yang lentik berhias inai, dengan kuku putih bersih terawat. Aku semakin penasaran dengan wajahnya.
Bila berjalan beberapa langkah dan memilih duduk di kursi rias. Aku hanya tersenyum lalu mengangkat telpon.
[Assalamualaikum, Ma.]
[Waalaikum salam. Fi, maaf, Mama terpaksa mengganggu malam pengantin kamu. Salsabila Fi, dia kecelakaan saat baru tiba dari Malaysia. Sekarang sudah di rumah sakit... ]
[Astaghfirullah, di rumah sakit mana, Ma?]
[Rumah Sakit Islam Cempaka Putih. Kamu cepatan, ya Fi]
[Baik, Ma. Kami segera ke sana.]
Ketutup telpon dengan perasaan yang campur aduk. Kenapa Salsa bisa kecelakaan? Kapan dia pulang ke Indonesia, bukannya kemarin saat aku telpon dia bilang nggak bisa pulang karena sedang sibuk menyusun thesis.
"Ada apa, Mas?" tanya Bila membuat pikiranku buyar.
"Kita ke rumah sakit sekarang, ya."
"Siapa yang sakit, Mas?"
"Salsabila."
"Hah, Salsabila?"
"Iya, Salsabila. Adik tiri Mas?" jawabku spontan. Tatapan Bila langsung berubah saat aku menyebut nama Salsa.
'Kenapa? Apa aku salah ngomong?'
"Kamu mau ikut 'kan?" tanyaku ingin memastikan perasaannya.
Bila hanya mengangguk tanpa menjawab. 'Ah, salah apa aku? Kenapa tiba-tiba dia berubah?
'Mungkinkah dia merasa terganggu karena telpon Mama? Apa mungkin dia kepingin ... Ah, tapi inikan lebih darurat. Harusnya dia faham.'
***
Setelah mendapatkan ijin dari Abah dan Umi, kami pun melangkah keluar rumah. Aku berjalan di depan sementara dia berjalan di belakang. Rasanya aneh, tapi yasudahlah. Mungkin kami hanya butuh waktu untuk bisa lebih dekat.
Sambil berjalan kepalaku terus berputar, kasihan juga gadis ini. Dimana-mana orang menikah pasti ingin menghabiskan malam berdua di kamar. Tapi kejadian yang kini terjadi pada kami malah sebaiknya.
Aku harus bisa membuatnya merasa bahagia, apalagi masalahnya sekarang ada pada keluargaku. Sekilas terpikir untuk memberikan perlakuan-perlakuan istimewa, seperti apa ya?
Seketika aku teringat akan sikap romantis ala Rasulullah terhadap istrinya Shafiah binti Huyai. Saat perjalanan pulang menuju Madinah, Anas bin Malik berkata, “Aku melihat Nabi meletakkan lututnya sehingga Shafiah bisa menginjakan kakinya di atas lutut beliau untuk menaiki unta."
'Tapi kendaraanku bukan unta. Ah, kubukakan saja pintu mobil dan menyilahkan masuk bak seorang ratu.'
Senyumku merekah seketika.
"Lho, Mas mau duduk di samping kiri? Lalu siapa yang nyetir mobilnya?" tanyanya polos saat aku berjalan ke sisi kiri mobil.
Aku hanya tersenyum dan berdehem pelan.
"Mas cuma mau membukakan pintu mobil, pertama kalinya untuk istri Mas?" jawabku santai sambil menyilahkannya masuk.
'Ah, sayang sekali aku tak bisa melihat ekspresi wajahnya saat itu, selain karena tertutup cadar, ia tampak menundukkan wajahnya saat melewatiku memasuki mobil.
Ketika kami sudah duduk di bangku masing-masing, segera kugerakkan tangan, memasangkan sabuk pada tubuhnya. Saat itu posisiku amat dekat dengannya. Aku bahkan bisa mendengar degup jantungnya yang bersatu dengan degup jantungku. Pernah aku merasakan debaran begini, dahulu. Tapi, semua itu masa lalu, dan dia adalah masa depanku.
"Bismillah, kita berangkat ya?" ucapku menatapnya. Kutata pula perasaanku yang tiba-tiba terasa melow.
Aku memilih jalan Tol Cipularang sebagai alternatif, agar jarak tempuh Bandung dan Jakarta menjadi lebih dekat. Jalanan ini menanjak, menurun, mengkelok, sesaat terlintas pikiran iseng, jika naik motor mungkin akan terasa lebih romantis.
'Insya Allah, semoga dilain kesempatan.'
Selama perjalanan kami lebih banyak diam. Ku hidupkan DVD player untuk mencairkan suasana, eh taunya lagu melow lagi plus berembel-embel cinta semua.
'Ini pasti kerjaannya Alfi.'
Suasana hatiku jadi benar-benar tak terkendali. Di satu sisi khawatir mengingat Salsa, di sisi lain wanita di sampingku ini kini mampu membuatku keringat dingin.
Kuusap bibir menahan sesuatu yang sedari tadi tertahan, mudah-mudahan sesampainya nanti bisa segera kulepaskan.
***
Tepat pukul setengah dua belas malam kami sampai di rumah sakit. Dengan cekatan kubuka pengunci sabuk pengamannya. Lalu turun membuka pintu mobil.
'Aku sungguh romantis hari ini.'
"Kita tanya bagian resepsionist dulu, ya?" ucapku mengarahkannya.
Tanpa dia minta, segera kugenggam jemari tangannya
"Ya Rahman, ternyata kulitnya benar-benar selembut sutera ...."
Hatiku tiba-tiba terasa menghangat, saat ia membalas genggaman tanganku. Serasa ada sesuatu yang mengalir perlahan dari bagian yang bersentuhan itu hingga menjalari ke seluruh tubuh.
'Nikmat Tuhan mana lagi yang kita dustakan. Aku harus bersyukur, meski sempat salah menempatkan perasaan pada Salsa. Tapi kini, aku mulai merasakan cinta yang sesungguhnya. Rasa cinta yang berbuah pahala. Karena setiap perlakuan baik suami terhadap istri akan dibalas pahala oleh Allah, itu juga sebaliknya.'
Setelah bertanya pada bagian resepsionist. Sampailah kami kini di depan kamar rawatan. Aku hendak membuka pintu. Namun, pintu itu malah terbuka dari dalam. Papa dan Mama tampak di sebelahnya.
"Assalamualaikum. Gimana keadaan Salsa, Ma?" tanyaku buru-buru.
"Waalaikum salam. Salsa sudah melewati masa kritis, sekarang dia sudah istirahat. Masuklah," jawab Mama setelah sempat melirik Papa.
Aku juga menatap Papa, lalu melepas tangan Bila. Sesuatu yang sedari tadi di perjalanan kutahan, kini tak dapat lagi ditoleransi.
"Kamar mandi, mana?" tanyaku pada Bik Nah yang ternyata ada dalam ruangan itu.
Bi Nah tersenyum melihat raut wajahku.
'Ah, leganya ... Eh, tadi Bila bagaimana ya, kutinggalkan begitu saja, pasti dia merasa diasingkan. Biar ayu cari dulu,' pikirku setelah selesai membuang air kecil.
Kubuka pintu kamar mandi.
"Mas ...."
Suara Salsa membuat langkahku terhenti. Aku berbalik dan berjalan menghampirinya. Sudah setahun kami tak bertemu, wajahnya masih begitu meneduhkan.
"Kamu sudah baikan?"
Dia meringis pelan, lalu menunduk. Pasti dia sedih karena aku sudah menikahi gadis lain. Lalu aku harus bagaimana? Bersamanyapun Papa tak mengijinkan.
Melihat wajah Salsa, seketika dadaku terasa begitu sesak. Begitu setiap kali kami bertemu. Makanya kalau dia pulang ke rumah, aku lebih sering memilih menginap di hotel.
'Ah, andai saja waku itu Papa tidak melarang. Astaghfirullah ...."
"Syukurlah kamu sudah baikan. Mas panggilkan Kakak Ipar mudamu dulu, ya?"
Basi-basi kecoba melerai tangis yang hampir berjatuhan di pelupuk matanya.
Aku berjalan ke depan pintu hendak memanggil Salsa. Namun, baru membuka pintu sedikit, tampak Mama sama Bila sedang duduk berbicara. Aku merasa sungkan jika mengganggu mereka. Kuputuskan untuk duduk kembali di sisi Salsa. Sementara Bik Nak beranjak ke kamar mandi.
"Mana orangnya, Mas?" tanya Salsa lembut. Aku tahu, dia sedang mengumpulkan kekuatan untuk bertahan. Hatiku begitu sakit. Entahlah, tapi di luar sana, ada istriku.
"Sedang bicara sama Mama. Kenapa bisa kecelakaan?" tanyaku sambil meraih jeruk dan mengupas kulitnya.
"Aku nggak hati-hati, Mas."
"Katanya nggak bisa pulang?"
"Aku teringat kamu, Mas."
Seketika wajahku yang khusuk menatap jeruk terangkat, kini beralih menatap wajahnya. Hanya rasa sakit kudapati, tiap kali mata kami beradu.
"Mas sudah menikah, Dik."
"Iya, Salsa tahu."
"Sebentar lagi, kamu juga akan menikah."
"Mungkin iya."
"Jangan mungkin, harus iya. Menikah bisa membuat kita melupakan masa lalu, Dik."
Salsa terdiam, kuberikan seulah jeruk agar perasaannya tenang. Dia makan sambil menunduk.
Tak ingin berlama-lama dengan suasana menyedihkan begini, kuletakkan seluruh jeruk yang sudah kubersihkan ke tangannya.
"Mas, coba lihat Mbakmu dulu, ya. Barangkali mereka sudah selesai mengobrol."
Setelah membalikkan badan, kuusap mataku yang tiba-tiba berair. Aku tahu, rasa ini hanya sementara. Aku yakin, Bila bisa menghilangkan rasa tak wajar ini. Dialah istri pilihan Allah untukku.
Saat pintu terbuka, betapa terkejutnya aku. Kursi tunggu yang tadi diduduki Mama dan Bila, kini sudah kosong.
'Kemana mereka?'
Sebaiknya ku telpon saja, tapi berapa nomor hapenya? Aku bahkan lupa menanyakannya. Lebih baik, aku cari seputaran sini dulu, barangkali dia ke kantin.
***
Terjawab ya, Kenapa Mas Wafi melepas tangan Bila, wong dia kebelet pilis.. Wkwkwkw..
Lanjut nggak?
-----
#Part 3
Pov Wafi
***
"Saya terima nikah dan kawinnya Radha Zanjabila Binti Muhammad Ali dengan mas kawin emas sepuluh gram dibayar tunai."
"Sah?"
Sah...
Sah...
Alhamdulillah.
Gadis yang terpaut usia sepuluh tahun dariku itu meraih tanganku lalu menciuminya takzim. Ku sentuh perlahan puncak kepalanya. Inilah sentuhan pertamaku dengan seorang akhwat yang kelak akan menjadi ibu dari zuriyah-zuriyahku.
Ketika hendak mengecup puncak kepalanya, sebuah tangan menepuk-nepuk bahuku.
"Astaghfirullah, kenapa ada yang tega mengganggu acara sakral yang kuniatkan hanya sekali seumur hidup ini. Ingin ku abaikan, tapi lancang sekali orang itu kini berani menyentuh pipiku.
Aku berbalik.
Blak!
"Bila?" Mataku membulat menatap sesosok wajah yang begitu dekat denganku.
Gadis yang tadi baru saja kuijab qabul namanya kini ada di depan mata. Jarak kami begitu dekat. Aku bisa merasakan embusan napasnya meski tertutup cadar.
Bila sama kagetnya denganku, secepat kilat dia menjauhkan tangan yang tadi sempat menyentuh pipiku.
"Mama nelpon, Mas. Katanya ada yang penting," ucapnya gugup sambil menyerahkan ponsel.
'Astaghfirullah ... yang tadi mimpi rupanya?'
Kuhela napas panjang. "Oh, iya. Maaf ya, Mas kaget."
Kuraih benda pipih itu dari tangan Bila, sekilas terlihat jemari tangannya yang lentik berhias inai, dengan kuku putih bersih terawat. Aku semakin penasaran dengan wajahnya.
Bila berjalan beberapa langkah dan memilih duduk di kursi rias. Aku hanya tersenyum lalu mengangkat telpon.
[Assalamualaikum, Ma.]
[Waalaikum salam. Fi, maaf, Mama terpaksa mengganggu malam pengantin kamu. Salsabila Fi, dia kecelakaan saat baru tiba dari Malaysia. Sekarang sudah di rumah sakit... ]
[Astaghfirullah, di rumah sakit mana, Ma?]
[Rumah Sakit Islam Cempaka Putih. Kamu cepatan, ya Fi]
[Baik, Ma. Kami segera ke sana.]
Ketutup telpon dengan perasaan yang campur aduk. Kenapa Salsa bisa kecelakaan? Kapan dia pulang ke Indonesia, bukannya kemarin saat aku telpon dia bilang nggak bisa pulang karena sedang sibuk menyusun thesis.
"Ada apa, Mas?" tanya Bila membuat pikiranku buyar.
"Kita ke rumah sakit sekarang, ya."
"Siapa yang sakit, Mas?"
"Salsabila."
"Hah, Salsabila?"
"Iya, Salsabila. Adik tiri Mas?" jawabku spontan. Tatapan Bila langsung berubah saat aku menyebut nama Salsa.
'Kenapa? Apa aku salah ngomong?'
"Kamu mau ikut 'kan?" tanyaku ingin memastikan perasaannya.
Bila hanya mengangguk tanpa menjawab. 'Ah, salah apa aku? Kenapa tiba-tiba dia berubah?
'Mungkinkah dia merasa terganggu karena telpon Mama? Apa mungkin dia kepingin ... Ah, tapi inikan lebih darurat. Harusnya dia faham.'
***
Setelah mendapatkan ijin dari Abah dan Umi, kami pun melangkah keluar rumah. Aku berjalan di depan sementara dia berjalan di belakang. Rasanya aneh, tapi yasudahlah. Mungkin kami hanya butuh waktu untuk bisa lebih dekat.
Sambil berjalan kepalaku terus berputar, kasihan juga gadis ini. Dimana-mana orang menikah pasti ingin menghabiskan malam berdua di kamar. Tapi kejadian yang kini terjadi pada kami malah sebaiknya.
Aku harus bisa membuatnya merasa bahagia, apalagi masalahnya sekarang ada pada keluargaku. Sekilas terpikir untuk memberikan perlakuan-perlakuan istimewa, seperti apa ya?
Seketika aku teringat akan sikap romantis ala Rasulullah terhadap istrinya Shafiah binti Huyai. Saat perjalanan pulang menuju Madinah, Anas bin Malik berkata, “Aku melihat Nabi meletakkan lututnya sehingga Shafiah bisa menginjakan kakinya di atas lutut beliau untuk menaiki unta."
'Tapi kendaraanku bukan unta. Ah, kubukakan saja pintu mobil dan menyilahkan masuk bak seorang ratu.'
Senyumku merekah seketika.
"Lho, Mas mau duduk di samping kiri? Lalu siapa yang nyetir mobilnya?" tanyanya polos saat aku berjalan ke sisi kiri mobil.
Aku hanya tersenyum dan berdehem pelan.
"Mas cuma mau membukakan pintu mobil, pertama kalinya untuk istri Mas?" jawabku santai sambil menyilahkannya masuk.
'Ah, sayang sekali aku tak bisa melihat ekspresi wajahnya saat itu, selain karena tertutup cadar, ia tampak menundukkan wajahnya saat melewatiku memasuki mobil.
Ketika kami sudah duduk di bangku masing-masing, segera kugerakkan tangan, memasangkan sabuk pada tubuhnya. Saat itu posisiku amat dekat dengannya. Aku bahkan bisa mendengar degup jantungnya yang bersatu dengan degup jantungku. Pernah aku merasakan debaran begini, dahulu. Tapi, semua itu masa lalu, dan dia adalah masa depanku.
"Bismillah, kita berangkat ya?" ucapku menatapnya. Kutata pula perasaanku yang tiba-tiba terasa melow.
Aku memilih jalan Tol Cipularang sebagai alternatif, agar jarak tempuh Bandung dan Jakarta menjadi lebih dekat. Jalanan ini menanjak, menurun, mengkelok, sesaat terlintas pikiran iseng, jika naik motor mungkin akan terasa lebih romantis.
'Insya Allah, semoga dilain kesempatan.'
Selama perjalanan kami lebih banyak diam. Ku hidupkan DVD player untuk mencairkan suasana, eh taunya lagu melow lagi plus berembel-embel cinta semua.
'Ini pasti kerjaannya Alfi.'
Suasana hatiku jadi benar-benar tak terkendali. Di satu sisi khawatir mengingat Salsa, di sisi lain wanita di sampingku ini kini mampu membuatku keringat dingin.
Kuusap bibir menahan sesuatu yang sedari tadi tertahan, mudah-mudahan sesampainya nanti bisa segera kulepaskan.
***
Tepat pukul setengah dua belas malam kami sampai di rumah sakit. Dengan cekatan kubuka pengunci sabuk pengamannya. Lalu turun membuka pintu mobil.
'Aku sungguh romantis hari ini.'
"Kita tanya bagian resepsionist dulu, ya?" ucapku mengarahkannya.
Tanpa dia minta, segera kugenggam jemari tangannya
"Ya Rahman, ternyata kulitnya benar-benar selembut sutera ...."
Hatiku tiba-tiba terasa menghangat, saat ia membalas genggaman tanganku. Serasa ada sesuatu yang mengalir perlahan dari bagian yang bersentuhan itu hingga menjalari ke seluruh tubuh.
'Nikmat Tuhan mana lagi yang kita dustakan. Aku harus bersyukur, meski sempat salah menempatkan perasaan pada Salsa. Tapi kini, aku mulai merasakan cinta yang sesungguhnya. Rasa cinta yang berbuah pahala. Karena setiap perlakuan baik suami terhadap istri akan dibalas pahala oleh Allah, itu juga sebaliknya.'
Setelah bertanya pada bagian resepsionist. Sampailah kami kini di depan kamar rawatan. Aku hendak membuka pintu. Namun, pintu itu malah terbuka dari dalam. Papa dan Mama tampak di sebelahnya.
"Assalamualaikum. Gimana keadaan Salsa, Ma?" tanyaku buru-buru.
"Waalaikum salam. Salsa sudah melewati masa kritis, sekarang dia sudah istirahat. Masuklah," jawab Mama setelah sempat melirik Papa.
Aku juga menatap Papa, lalu melepas tangan Bila. Sesuatu yang sedari tadi di perjalanan kutahan, kini tak dapat lagi ditoleransi.
"Kamar mandi, mana?" tanyaku pada Bik Nah yang ternyata ada dalam ruangan itu.
Bi Nah tersenyum melihat raut wajahku.
'Ah, leganya ... Eh, tadi Bila bagaimana ya, kutinggalkan begitu saja, pasti dia merasa diasingkan. Biar ayu cari dulu,' pikirku setelah selesai membuang air kecil.
Kubuka pintu kamar mandi.
"Mas ...."
Suara Salsa membuat langkahku terhenti. Aku berbalik dan berjalan menghampirinya. Sudah setahun kami tak bertemu, wajahnya masih begitu meneduhkan.
"Kamu sudah baikan?"
Dia meringis pelan, lalu menunduk. Pasti dia sedih karena aku sudah menikahi gadis lain. Lalu aku harus bagaimana? Bersamanyapun Papa tak mengijinkan.
Melihat wajah Salsa, seketika dadaku terasa begitu sesak. Begitu setiap kali kami bertemu. Makanya kalau dia pulang ke rumah, aku lebih sering memilih menginap di hotel.
'Ah, andai saja waku itu Papa tidak melarang. Astaghfirullah ...."
"Syukurlah kamu sudah baikan. Mas panggilkan Kakak Ipar mudamu dulu, ya?"
Basi-basi kecoba melerai tangis yang hampir berjatuhan di pelupuk matanya.
Aku berjalan ke depan pintu hendak memanggil Salsa. Namun, baru membuka pintu sedikit, tampak Mama sama Bila sedang duduk berbicara. Aku merasa sungkan jika mengganggu mereka. Kuputuskan untuk duduk kembali di sisi Salsa. Sementara Bik Nak beranjak ke kamar mandi.
"Mana orangnya, Mas?" tanya Salsa lembut. Aku tahu, dia sedang mengumpulkan kekuatan untuk bertahan. Hatiku begitu sakit. Entahlah, tapi di luar sana, ada istriku.
"Sedang bicara sama Mama. Kenapa bisa kecelakaan?" tanyaku sambil meraih jeruk dan mengupas kulitnya.
"Aku nggak hati-hati, Mas."
"Katanya nggak bisa pulang?"
"Aku teringat kamu, Mas."
Seketika wajahku yang khusuk menatap jeruk terangkat, kini beralih menatap wajahnya. Hanya rasa sakit kudapati, tiap kali mata kami beradu.
"Mas sudah menikah, Dik."
"Iya, Salsa tahu."
"Sebentar lagi, kamu juga akan menikah."
"Mungkin iya."
"Jangan mungkin, harus iya. Menikah bisa membuat kita melupakan masa lalu, Dik."
Salsa terdiam, kuberikan seulah jeruk agar perasaannya tenang. Dia makan sambil menunduk.
Tak ingin berlama-lama dengan suasana menyedihkan begini, kuletakkan seluruh jeruk yang sudah kubersihkan ke tangannya.
"Mas, coba lihat Mbakmu dulu, ya. Barangkali mereka sudah selesai mengobrol."
Setelah membalikkan badan, kuusap mataku yang tiba-tiba berair. Aku tahu, rasa ini hanya sementara. Aku yakin, Bila bisa menghilangkan rasa tak wajar ini. Dialah istri pilihan Allah untukku.
Saat pintu terbuka, betapa terkejutnya aku. Kursi tunggu yang tadi diduduki Mama dan Bila, kini sudah kosong.
'Kemana mereka?'
Sebaiknya ku telpon saja, tapi berapa nomor hapenya? Aku bahkan lupa menanyakannya. Lebih baik, aku cari seputaran sini dulu, barangkali dia ke kantin.
***
Terjawab ya, Kenapa Mas Wafi melepas tangan Bila, wong dia kebelet pilis.. Wkwkwkw..
Lanjut nggak?
-----
#Istri_Pilihanwww.takafuljakarta.com
#part4 Pov Bila
"Aku hanya guling buatmu, Mas ... Inikah malam pertama yang dirindui setiap pengantin baru?" Zanjabila.
***
Mungkin aku istri paling baperan di dunia. Bukankah hal yang wajar, seorang kakak mengupas jeruk dan memberinya ke tangan seorang adik. Apalagi adiknya itu sedang sakit?"
Sisi lain hatiku mencoba berpikit positif, 'tapi masalahnya mereka saling terikat hati, memiliki masa lalu yang membekas kuat, tidak tertutup kemungkinan cinta kembali merekah saat mereka bertemu. Oh Allah, aku harus bagaimana?"
Aku merahup muka perlahan, bayangan saat Mas Wafi memberi jeruk mulai dibuat skenario oleh otakku. 'Sambil saling bertatapan, Mas Wafi meletakkan jeruk di tangan Mbak Salsabila, terus Mbaknya menahan tangan suamiku seraya berkata, tanganku sakit, Mas. Tolong suapin ke mulutku ya, Mas?'
Arghhh ...!
Kubasahi tenggorokan yang kini benar-benar seperti sedang melaksanakan puasa dua hari berturut-turut, sambil menekan-nekan kelopak mata. Sesuatu mulai membuat bagian itu terasa hangat dan memanas.
"Tak ingin kubiarkan hal itu terjadi. Tapi aku harus bagaimana? Masak iya masuk ke ruangan itu tanpa di persilahkan, dimana harga diriku sebagai seorang istri?" Perasaan ini kembali kacau.
Kubulatkan tekad untuk pergi. Tapi nggak berani jauh, aku belum pernah ke Jakarta seorang diri. Lebih baik ke mushalla saja. Rasanya benar-benar tak tahan dengan bisikan-bisikan aneh yang membuat kupingku ikut-ikutan panas. Berwudhu dan shalat sunnah, adalah cara efektif meredam amarah. Kusegerakan langkah menuju tempat peribadatan itu.
'Mas Wafi ... Bila hanya bisa berdoa Mas, agar Mas tidak melupakan Bila. Ingatlah bahwa tadi pagi Mas sudah meminta Bila pada Allah untuk menjadi istri Mas. Jangan lupakan itu, Mas?"
Aku mengusap mata yang kini benar-benar sudah berair. Cengengnya aku ini.
Huwa...
Langkahku terasa begitu berat, teringat aku telah membiarkan suamiku bersama seorang wanita di tempat lain, berduaan. Demi apapun, jangan sampai mereka ngapa-ngapain!
Kubasuh tangan, mulut, muka dan beberapa bagian lain yang menjadi rukun berwudhu. Rasanya lebih tenang dari tadi. Inginnya sih membarengi dengan tahajjud, tapi belum sempat tertidur. Jadi kulaksanakan shalat sunnah saja dua rakaat.
Setelah selesai, kubaringkan sejenak kepalaku yang masih berbalut mukena, serta kembali menutup wajah dengan cadar. Lelah tubuh bisa hilang dengan beristirahat. Tapi jika batin yang kelelahan, kemana aku mencari obatnya.
"Malam ini, malam pertama kami. Harusnya aku dan Mas Wafi menghabiskan malam indah kami di dalam kamar. Bukan terpisah begini, dia bersama gadis yang ia sukai, sementara aku seorang diri di mushalla ini, kedinginan ...."
Perlahan mataku yang dipenuhi kilau mengambang itu terpejam. 'Aku lelah sekali, Bu. Aku ingin tidur?'
***
"Bila ... Bila ...."
Seseorang mengelus pelan wajahku, kubuka mata perlahan. Rasanya sangat berat.
"Kamu disini rupanya, Mas cari ke seluruh perjuru rumah sakit?"
'Suara siapa itu, Mas Wafikah?'
Kugosok-gosok mata, agar dapat membuka sempurna. Ya Allah, benarkah dia yang ada di hadapanku kini?
"Mas Wafi?" ucapku lirih.
Dia langsung mendaratkan kecupan di keningku, kedua tangannya memegang bahuku kiri dan kanan. Sesaat bibir ini bergetar, 'Benarkah yang kurasakan ini, atau hanya mimpi?'
Kupejamkan mata perlahan, mimpi atau bukan, ini pertama kalinya keningku bersentuhan dengan lawan jenis. Syukurnya tidak haram meski yang terjadi hanya sebatas hayalan.
"Kamu pasti kelelahan? Kita pulang sekarang, ya?" ucapnya setelah mengurai kecupan.
'Ah, cepat sekali, padahal masih rindu?'
Ingin rasanya aku memeluk lelaki itu, teganya ia membiarkanku tidur seorang diri begini? Tapi, apa dayaku, aku malu ...
"Di sini sepi, Mas buka, ya?" ucapnya lagi meski aku masih bergeming tak percaya.
Tiba-tiba, Mas Wafi menggerakkan tangannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus untuk membuka tali cadar yang masih melilit di kepalaku.
'Ah, Kenapa sekarang Mas, wajahku 'kan lagi jelek?'
Aku menunduk saat kain penutup itu sempurna ada di tangannya. Entah bagaimana wajahku, apakah ada pulau di sekitar mulut? Sebesar apa, jangan sampai sebesar pulau Kalimantan!
Jemari Mas Wafi kini menyentuh dagu, lalu menaikkan pandanganku beberapa centi. Rasanya nano-nano, mana jantung komat-kamit kayak dipasang bom waktu. Subhanallah ... Kuberanikan diri sejenak menatap mata elangnya yang tampak menawan.
'Seperti apa mukaku, boleh nggak disulap sebentar? Harusnya begini tadi ya, di kamar pengantin.'
Mas Wafi balas menatapku, lalu tersenyum. Ah, kenapa tersenyum? Selucu itukah mukaku kini?
Arghhh ....!
Aku menunduk malu. Tapi tangan Mas Wafi kembali tergerak untuk membuka mukena yang masih menutup kepala.
'Suamiku ... so sweetnya dirimu ...'
Kugigit bibir perlahan, sambil menanti dia berkata sesuatu. Namun, Mas Wafi hanya terus tersenyum sambil menggulung-gulung mukenaku.
"Eh, Mas lupa," katanya sambil memungut cadar lalu mengikat kembali di wajahku.
Aku hanya bisa nerimo tanpa bisa berkata-kata.
"Mas ...," lirihku setelah menerima sekian perlakuan istimewanya.
"Hem ... kenapa?"
"Maaf ya, pergi nggak ngasih tau, Mas?"
"Iya, Mas juga minta maaf. Tadi seperti mengabaikanmu. Sebenarnya tadi itu, Mas ...."
Mas Wafi menghentikan ucapannya dan tersenyum malu-malu. Ah, dia benar-benar menggemaskan ...
"Ah, udah nggak usah dibahas lagi, ya. Kita pulang sekarang, kamu pasti kelelahan. Yuk?" ajaknya sambil beringsut bangkit.
Aku melipat sarung dan berjalan di belakangnya.
"Mbak Salsabila bagaimana, Mas?"
Dia berhenti dan berbalik. Aku menghela napas, entah kenapa aku merasa dia tersakiti saat aku menyebut nama itu.
"Besok kita jenguk lagi ya. Malam ini ada Bik Nah yang menemani Salsa. Kita pulang, kamu butuh istirahat."
"Bik Nah?" tanyaku penasaran.
"Bik Nah itu asisten rumah tangga kami. Tadi saat Mas datang, beliau memang sudah duluan ada di ruangan."
'Oh, jadi tadi Mas Wafi nggak cuma berdua di ruangan itu. Alhamdulillah, syukurlah ...."
Kukira kami akan berjalan sendiri-sendiri, tapi tidak, ia kembali memegangi jemariku.
"Kuharap kamu nggak akan melepasnya lagi, Mas ...."
***
Kami sampai di rumah orang tua Mas Wafi tepat pukul setengah dua malam. Suasana perumahan elite tempat tinggal Mas Wafi tampak sepi, hanga sequrity yang menyambut kedatangan kami di pintu gerbang. Lalu di pagar masuk rumah, kami disambut lagi oleh sequrity.
Menikah dengan anak seorang pengusaha besar adalah sebuah keberuntungan. Tapi itu bukan segalanya, karena harta hanya titipan Allah. Namun, ketika Allah menjodohkanku dengan lelaki yang taat ibadah, itu adalah anugerah terbaik. Karena setelah menikah, yang paling besar pengaruh terhadap seorang istri adalah suami.
Aku teringat, saat masa kecil dahulu. Nia Ramadhani dan Alissa Soebandono pernah satu sinetron yang sempat booming kala itu, 'Inikah Rasanya'.
Saat kecil, keduanya tampak sama, sama-sama belum berhijab. Beranjak dewasa, masih sama-sama eksis di dunia hiburan tanpa berhijab. Namun, setelah menikah, keduanya tampak jauh berbeda. Nia yang dinikahi pengusaha muda nan sukses, masih berpenampilan begitu-begitu saja.
Sementara Alissa yang dinikahi lelaki lebih agamais, sudah berbusana syari, meski keduanya masih sama-sama berkecimpung di dunia hiburan.
Suami, bagaimanapun tetaplah penyempurna. Meski saat ini aku sudah lebih baik dalam berbusana, tapi aku butuh pendamping yang bisa menguatkan iman. Aku juga butuh sosok imam yang membuatku tentram, meredam api cemburu yang berkecamuk di jiwa. Aku butuh Mas Wafi. Imamku.
"Jangan pernah tinggalkan aku, Mas?" Terus, batin ini meracau tanpa henti. Aku benar-benar sangat mencintainya. Cinta pertamaku.
"Kita masuk, ya? Mungkin Mama sama Papa sudah istirahat, tapi Mas punya kunci cadangan kok."
Mas Wafi menuntunku ke dalam rumah. Setelah mengucap salam dan dijawab oleh malaikat, eh tapi bukan malaikat. Kalau malaikat suaranya nggak kedengaran, ya. Lha ini jelas, ada yang nyaut. Aku merinding.
Kulilitkan tangan pada siku Mas Wafi. Ruangan yang gelap yang kini berpendar sinar dari luar, terasa menakutkan karena sesosok makhluk tengah duduk di salah satu kursi tamu.
Aku meringis, sementara Mas Wafi menatapku sambil tersenyum. Ia mengelus lenganku, sambil menenangkan. Tak lama sosok di hadapan kami bangkit dan memegang dinding.
Tap!
Lampu menyala!
"Papa?" sebut Mas Wafi saat mendapati sang papa baru saja menekan saklar.
Aku menghela napas, tapi tanganku terlanjur melingkar lengannya. Segera kulepas.
'Alhamdulillah bukan hantu.'
"Kalian sudah sampai?"
Kami mengangguk berbarengan. Kuraih tangan papa mertua untuk kusalami. Beliau mengelus puncak kepalaku.
"Ajak Zanjabila istirahat, Fi. Pasti dia kelelahan. Kasihan kalian, harusnya Mamamu nggak usah menelpon. Berulang kali Papa melarang, tapi dia tetap bersikeras," lelaki paruh baya itu menghela napas. "Selamat datang di rumah Papa ya, Anakku. Papa harap kamu bisa betah di sini?"
Aku tersenyum, terharu dengan sambutannya. Lelaki itu kemudian berbalik dan meninggalkan kami. Mas Wafi kembali memegang jemari tanganku.
"Ayok kita ke kamar?"
Mataku membelalak seketika. "Masya Allah, kamar?"
Jantungku kembali berlompat-lompatan. Seperti ada yang menabuh genderang, nadiku pun ikut-ikutan menghentak. Sejujurnya, aku bahagia. Setidaknya kami menemukan kamar untuk ditempati bersama, tapi ...
***
"Silahkan masuk?"
Mas Wafi membuka pintu kamar dan menyilahkanku masuk.
Subhanallah, aku terkesima. Benarkah ini kamar yang akan kami tempati malam ini? Kamar indah dengan walpaper bunga di bagian kepala ranjang. Kurasa ini menyengaja, mana ada lelaki yang suka bunga-bungaan.
Wah, senangnya hatiku...
Mas Wafi kembali menarik tanganku dan mendudukkan di ranjang jati dengan tirai putih menjuntai di keempat tiangnya. Sangat romantis, di tambah dua bola lampu indah di atas nakas. Sayangnya belum dihidupkan. Seketika, bulu kudukku berdiri roma.
Mas Wafi meletakkan ponsel dan kunci mobilnya di atas nakas. Lalu mengambil segelas air mineral dari tempat penampungannya di atas meja kerja.
"Kamar ini sekarang jadi kamar kamu juga. Silahkan jika mau melakukan apapun di kamar ini. Yang penting, jangan bawa ranjang keluar kamar," ucapnya sambil tersenyum dan menyerahkan gelas berisi air mineral itu padaku.
Aku mengangguk. "Makasih, Mas."
"Ah, pegalnya badan ini ...."
Mas Wafi kini merebahkan tubuh di atas ranjang, meregangkan kedua tangannya, merelaksasikan otot-ototnya yang mungkin terasa begitu pegal.
Aku melirik tanpa berbicara, rasanya begitu deg-degan. Mas Wafi kembali bergerak, kini ia meringkuk menghadap ke arahku. Dia meraih jemari tanganku lalu membekap ke dada.
Aku menatapnya ragu, dia kembali menyunggingkan senyuman lalu memejamkan mata. Aku menanti mata itu kembali terbuka. Entah, sepertinya aku takut ditinggal tidur sendirian. Lima menit menanti, tetapi matanya tetap terpejam.
Aku tersenyum sendiri. Mas Wafiku sudah terbang ke angkasa.
"Mas ... Mas ... cepat nian engkau tertidur, bahkan baju belum terganti, kaus kaki masih belum terbuka, gigi belum tersikat. Selelah itukah kamu?" Aku berbisik perlahan. Kuayunkan tangan di depan wajahnya. Tak bereaksi.
'Ternyata benar-benar tertidur.'
Kutarik tanganku perlahan, lalu mengelus pelan bahunya. Tetap tak bereaksi.
'Kamu ingin aku bagaimana, Mas? Membiarkan atau melepas semua yang masih menyangkut ini?'
Kutarik napas dalam, bagaimana jika kulepas kaus kakinya, lalu baju kemejanya?
Ah ... memalukan nggak, ya?
'Lebih baik kaus kaki saja.'
Ragu, kegerakkan tangan membuka penutup kakinya. Mas Wafi menggeliat, wajahnya begitu meneduhkan pandangan. Aku penasaran, ingin lagi kutatap wajahnya secara dekat.
'Semoga Mas Wafi tidak bangun.'
Lama menatap, tapi ada sesuatu yang membuatku kasihan padanya.
"Pasti kamu sulit bernapas, Mas."
Kubuka satu anak kancing bajunya paling atas. 'Satu aja cukup.'
Detik kemudian Mas Wafi kembali menggeliat, tapi kini mulutnya seperti merintih. Aku terkesiap, mimpikah dia?
Kudekatkan wajah perlahan, sambil memasang telinga. Mas Wafi mengingau, sambil menyebut sebuah nama dengan lirih, "Salsabila ...."
Aku tercengang, 'benarkah yang kudengar ini?'
Kudekatkan kembali telinga, ingin memastikan apa yang ia sebut barusan.
"Salsabila ...."
'Astaghfirullah ... dalam tidur pun hanya dia yang kamu ingat, Mas?'
Kupejamkan mata, menahan perih yang kini menyebar ke jantung. Suamiku, tak boleh melupakanku!
"Aku Zanjabila, Mas." Kubisikkan di telinganya namaku. Mungkin dia lupa atau bagaimana.
"Salsabila ...." Ia tetap menyebut lirih nama yang sama.
Aku terduduk lemas di sisinya. "Benarkah kamu sangat mencintai Mbak Salsa, Mas?"
Ku tarik dalam-dalam napas agar pernapasanku tak tercekat. "Kalau kamu mencintainya, kenapa nggak bersikeras, Mas. Harusnya jangan nikahi aku ...."
Duniaku kini menghitam, rasanya akulah pengantin wanita termalang di dunia ini. Kegerakkan tangan hendak pergi dari kamar itu, tapi niatku terpatahkan.
Tangan Mas Wafi tiba-tiba kembali membekap erat tanganku. Aku menarik kuat, tapi dia juga menarik dengan kuat hingga tubuhku yang lemah ini ikut terbaring di sisinya. Ia memelukku layaknya memeluk bantal.
Kupejamkan mata perlahan, bulir-bulir bening jatuh bertetes-tetes membasahi ranjang.
"Aku hanya guling buatmu, Mas ... Inikah malam pertama yang dirindui setiap pengantin baru?"
***
-----
#Istri_Pilihan
#Part5
#POV Bila
"Terserah Mas Wafi mau memanggilku dengan sebutan apapun, dipanggil Syahrini pun aku tak mau peduli. Yang kutahu di buku nikah nama Zanjabila bersanding dengan namanya, Rumaisil Muhammad Awafi."
***
Pagi ini aku bangun lebih cepat. Tak ingin dinilai menantu malas oleh ibu mertua. Setengah jam sebelum semua orang bangun, aku sudah bersiap-siap ke dapur.
Sesampai di dapur, aku berdiri lama menatap kulkas. "Sebenarnya aku mau ngapain? Masak aku nggak pintar, kalau nekad takut malah mengecewakan."
Kugaruk-garuk kepala yang masih terasa berat. Tidur membawa beban sekampung, tak bisa membuatku bangun dalam keadaan segar bugar. Tapi sebagai seorang istri, aku tak boleh loyo, harus bisa menyenangkan suami. Umur boleh muda, pikiran harus dewasa.
Tekadku sudah bulat, akan kubuat Mas Wafi melupakan masa lalunya. Sekarang dan sampai kapanpun, dihati suamiku hanya boleh ada namaku seorang.
Terserah Mas Wafi mau memanggilku dengan sebutan apapun, dipanggil Syahrini pun aku tak mau peduli. Yang kutahu di buku nikah nama Zanjabila bersanding dengan namanya, Rumaisil Muhammad Awafi.
Sekarang, hal paling utama yang akan aku lakukan adalah membuatnya sarapan istimewa, barangkali nasi tutug oncom.
Aku memang penggemar oncom, tapi selama ini jika pulang dari pesantren, Umi yang selalu membuatnya untukku. Dan keselnya lagi, aku lupa menanyakan resep masakan itu. Hiks.. Hiks..
'Sebaiknya tanya Mbah Gugel aja, deh?'
Aku berjalan kembali ke kamar untuk mengambil ponsel, tapi sangat terkejut ketika kulihat tempat tidur yang tadi masih ada Mas Wafi di atasnya, kini malah kosong. Kemeja dan celana Mas Wafi tergelefak di atas ranjang. Aku menutup sebelah mata saat melihat yang segitiga pribadi itu terletak paling atas.
'Owalah Mas, bok ya ditutup sedikit yang itu?' racauku dalam hati. Sementara di kamar mandi, pancuran air dari shower terdengar lirih.
'Pasti Mas Wafi sedang mandi.'
Segera kuraih ponsel dan kembali ke dapur. Tapi, dapur kini terdengar sedikit berisik. Sepertinya ada yang sudah bangun selain diriku. Mama mertuakah itu?
'Wah, bisa gagal ini rencana masak sambil nonton youtube?'
Meski ragu, kuteruskan langkah menuju ruang memasak itu. Tampak di sana, seorang wanita paruh baya, sedikit gemuk, tengah sibuk membersihkan bumbu-bumbu masakan di wastafel.
"Maaf, Buk?" lirihku sedikit mengagetkan wanita itu.
Dia berbalik, "Wah, Neng pasti Bila istrinya Mas Wafi?"
Aku mengangguk seraya tersenyum. Kubuka cadar yang menutup wajah, toh kami sesama perempuan, lagi supaya ibuk itu bisa mengenaliku. Kudekati wanita itu, lalu meraih jemari tangannya untuk kusalami.
"Masya Allah. Santun sekali. Saya Sarinem, Neng. Panggil saja Bik Nem. Disini sebagai asisten rumah tangga. Neng kenapa ke dapur? Ada yang mau diambil?"
Aku menggeleng, "Nggak ada, Bik. Saya cuma mau membuatkan sarapan?" jawabku malu-malu.
"Bibik yang biasa siapin sarapan?"
Wanita itu kembali tersenyum. "Kalau pagi, Bibik tugasnya cuma mencuci semua sayur dan bumbu. Biasa, Nyonya sendiri yang masak untuk sarapan. Tapi kalau Neng mau buat sarapan pagi ini, monggo Neng, silahkan. Barangkali mau membuatkan sarapan istimewa untuk suami," ucapnya sambil tersenyum menggoda.
Aku sedikit menunduk, malu. Kedua pipiku pasti sudah merona cabai.
"Benar Bik, nggak papa Bila yang masak?" Kucoba meyakinkan.
"Ya nggak papa atuh, Neng. Nanti kalau Nyonya bangun, biar saya yang sampaikan kalau sarapan pagi ini sudah Neng yang siapkan."
Kali ini aku memaksakan diri untuk tersenyum, entah kenapa aku malah merasa tak enak. Tapi ah, sudahlah.
Kuletakkan ponselku dengan youtube menyala. Lalu mulai menyiapkan bahan. Bik Nem sedikit heran.
"Itu lagi nonton apa, Neng?"
Ragu, tapi kujawab juga pertanyaan wanita itu. "Ini namanya Youtube, Bik. Sebenarnya, saya nggak pintar masak. Biasa makan makanan yang sudah dimasak Ibu di rumah. Tapi hari ini, saya pengen buat nasi Tutug Oncom untuk Mas Wafi, Bik?"
Bik Nem tersenyum menanggapi ucapanku.
"Sini Bibik bantu, Neng. Nggak usah pakai resep dari hape, saya ini asli Sunda. Seblak, Tutug Omcom, itu mah kecil," ucapnya sambil menyerahkan bumbu yang sudah selesai di cuci. Kencur, bawang merah, bawang putih, cabe rawit merah, cabe keriting, kini sudah ada di mangkuk kecil.
Bik Nem lalu mengambil wajan. "Semua bumbu ini dibakar terlebih dahulu, Neng. Oncomnya juga dibakar. Baru digiling dan ditambah garam."
Kulakukan semua arahan Bik Nem. Setelah selesai, wanita itu menyerahkan nasi yang sudah tanak.
"Diaduk ya, Neng," ucapnya sambil menyiapkan daun pembungkus.
"Nasi yang sudah diaduk itu, diletakkan di atas daun pisang ini, Neng." Bik Nem kembali memberi arahan.
Kuikuti sesuai petunjuk. Kini di atas meja dapur, lima piring sudah berisi nasi oncom. Harum aromanya menyengat, memaksaku ingin segera mencicipi. Tapi sabar, belum waktunya.
Kuputuskan untuk kembali ke kamar, sambil menunggu detik-detik azan subuh berkumandang. Namun, kedatangan mama mertua ke dapur, membuat langkahku terhenti.
"Lho, Bila? Kok di dapur?" sapa Mama kaget.
"Ini Nya, tadi Neng Bila baru habis bikin sarapan buat Mas Wafi," potong Bik Nem. Aku hanya menunduk, takut yang kulakukan malah tak disukai Mama mertua.
"Sarapan?" seru Mama mertua.
"Maaf Ma, Bila ...."
"Pengantin baru kok di dapur, harusnya nemeni suami di kamar. Jangan khawatir, di dapur 'kan ada Mama sama Bik Nem?"
Aku menunduk, seperti dugaanku. Mama mertua pasti melarang menantunya ke dapur. Diantara rasa sungkan yang timbul, bahagia perlahan menyusup. Setidaknya hari ini Mas Wafi akan makan masakan buatanku.
"Bila minta maaf, Ma?"
"Yaudah nggak papa, coba kamu ke kamar. Barangkali Wafi sudah mau siap-siap ke mesjid."
Aku terkesiap. Tadi memang benar Mas Wafi sedang mandi, lalu apa sekarang malah sudah berangkat.
'Aduh, sedihnya aku jika dia pergi nggak pamitan ...."
***
Kubuka pintu berukiran mawar dengan perlahan. Di sana, beberapa meter di hadapanku, Mas Wafi tengah memakai koko lengan panjangnya. Kuintip sedikit. Tubuh Mas Wafi yang sedikit berotot meski nggak sispek kayak roti sobek enam bagian. Tetap membuat mataku melotot. Degup jantungku mulai rancak berdentum.
'Subhanallah ... gagahnya suamiku."
Setelah pakaian itu sempurna menutup tubuhnya ia mulai memakai minyak pada rambutnya. Gosok ke kiri, gosok ke kanan, gayanya bak seorang model minyak rambut. Ahay, tampannya Mas Awafiku.
Kini dia meraih sisir kecil, lalu menyisir perlahan rambutnya dengan cepat.
'Harusnya aku yang menyisir, ya? Ah, tapi malu ...."
Kututup kembali pintu kamar, mudah-mudahan Mas Wafi nggak menyadarinya.
Bayangan Mas Wafi dengan setelan koko putih plus kain sarung hitam, menari-nari di dalam benak. Andai aku bisa memeluknya, sekali ... saja. Rindu sekali hati ini ...
Ku sandarkan punggung pada pintu kayu itu beberapa menit, sambil menghayal.
'Yang belum nikah, jangan coba-coba ngehayalin lelaki ya, haram atuh. Saya mah udah halal, cuma belum berani nyentuh, ya ngehayal aja dulu nyambi nunggu waktu yang pas.'
Tiba-tiba...
Brukkk!
"Aww!" Tubuhku kesungkur ke belakang. Mas Wafi terkekeh saat mendapatiku jatuh ketika ia membuka pintu kamar.
'Ya Salam. Tamatlah riwayatku hari ini?'
"Ya Allah, Salsabila ...."
Aku bergidik, lagi-lagi dia memanggilku Salsabila. Mas Wafi mendekat, mencoba membantuku bangun dengan memegangi lengan.
Aku menepis tangannya. Dia terheran.
"Nama saya Zanjabila, Mas!" seruku tak lagi pelan. Ku dorong tubuhnya lalu berhamburan ke kamar.
"Eh ... Ih ... Bi- Bila, maaf. Mas salah lagi, ya."
Dia membatalkan keinginannya keluar kamar, malah membuntutiku yang duduk menghadap ke dinding kamar. Dari kemarin dia terus begitu, awalnya bersikap baik lalu menghempasku ke gunung tertinggi.
'Apa kamu kira aku nggak sakit, Mas?'
Kutundukkan wajah, sementara Mas Wafi mulai bertekuk di hadapanku. Tangannya yang terasa dingin menyentuh tanganku yang hangat.
"Tukan batal wudhu, Mas?" ucapnya sambil menggenggam jemari tanganku erat.
"Siapa suruh Mas megang tangan Bila?"
"Habisnya kamu ngambek, masak Mas biarkan?"
"Siapa yang ngambek?" Kuberanikan diri menatap matanya yang nampak ketakutan.
"Kamu?"
"Bila nggak ngambek?"
"Jangan bohong?"
"Bila nggak bohong. Siapa juga yang ngambe!"
"Kamu?"
"Nggak!"
Cup!
Ah, sensor dulu. Sesuatu mengenai bibirku.
Lembut dan hangat, aku membelalak. Mata kami bertemu sesaat, dia segera menarik wajahnya. Aku yang bagai kesiraman air bunga seketika menunduk.
'Ya Allah, tadi itu apa?'
***
bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar