SEPIRING TULANG AYAM
author : Marrie Anne.
🌷🌷🌷
"Aku sayap, aku sayap!"
"Aku dada!"
"Aku yang dada, kan bulan lalu kakak udah kebagian dada!"
"Ya udah tukeran."
"Aku paha yaa jangan ada yang ambil!"
"Kepalanya sisain yaaaa buat bapak kalian!" Kudengar suara mak menimpali keriuhan saudara-saudaraku yang berebutan ayam bakar.
Ya, bukan karena kami suka ayam bakar tapi memang hanya bisa dibakar di atas bara api, karena tidak pernah beli minyak goreng.
Dari lahir, kami bersaudara yang berjumlah 7 orang tinggal di sebuah pondok tua, di dalam hutan yang jaraknya sekitar 2 jam berjalan kaki ke desa terdekat.
Melintasi hutan, sungai, bertemu binatang-binatang hutan itu sudah biasa.
Tidak ada tetangga, tidak ada listrik, tidak ada kasur. Hampir semua yang kami pergunakan berasal dari alam.
Kami tidak mengenal sabun, odol, sikat gigi, dan semua kebutuhan rumah tangga.
Pakaian yang kami kenakan kebanyakan dari kulit kayu, ada beberapa pakaian dari kain, itu pun didapat dari hasil menukar beras dan sayur yang sesekali dibawa oleh bapak dan abang-abang ke desa terdekat.
Aku tidak mengenal gelas, untuk minum kami menggunakan buah labu matang yang sudah dikuras isinya dan dijemur kering.
Untuk mandi kami menggunakan rumput sabun, entah apa namanya tanaman tersebut, tetapi kalau digosok dengan air akan mengeluarkan busa. Itulah yang kami gunakan untuk menggosok badan.
Semua makanan kami dapatkan dari alam, memelihara ayam beberapa ekor, berburu dan bercocok tanam.
Nikmat, ya, tentu saja karena hanya itu yang kami tahu.
Mainanku?
Boneka? Apa itu boneka!
Mainanku adalah ular sawah yang giginya sudah dikikir supaya tidak menggigitku.
Seram kan tapi lucu kog. Ularnya gendut dan tidak galak.
Kalau mati, aku akan nangis berhari-hari, sampai abangku mendapatkannya lagi.
Entah kenapa bapak dan emak memilih tinggal di dalam hutan, kami tidak pernah bertanya, tapi bapak setiap malam sebelum tidur sering cerita tentang kerja keras.
Hidup itu harus kerja keras, jangan mengharapkan pemberian orang lain, jangan pernah meminta.
Dan memang bapak kerja dari subuh ketemu malam.
Tidak pernah mengeluh, dan satu yang luar biasa, bapak tidak pernah marah!
Setiap hari bapak membuka lahan, dan membuka lahan, untuk menanam padi dan karet.
Kami harus bangun jam 4 subuh untuk ikut ke kebun.
"Bapak pulang, bapak pulang!" Teriak adikku.
"Makan pak, itu tadi masih ada kepala ayam!" Kata mak.
"Yaah sudah kumakan mak, tadi aku gak kebagian, jadi kumakan kepala ayamnya!" Jawab abangku yang tertua.
"Ya sudah gak apa-apa tadi bapak sudah makan di kebun, masih kenyang!" jawab bapak lembut, hampir tak terdengar.
Kulihat bapak ke dapur, sekilas kulihat bapak memegang piring-piring bambu yang kami gunakan untuk makan tadi.
"Bapak lagi apa?" Tanyaku.
"Ooo ini biar bapak cuciin piring-piring ini,"
"Aku aja pak, tadi belum sempat nyuci," jawabku.
"Udah gak apa-apa, kamu main saja sana!"
Usiaku 7 tahun saat itu.
Selesai bermain aku tak sabar mencari bapak, ada jambu yang sudah matang di atas pohon ingin kuperlihatkan ke bapak.
Mataku nanar, kulihat sosok rapuh itu, dengan tubuh kurusnya, rambut mulai memutih, duduk di pojok dapur.
Ditangannya terlihat sepiring tulang-tulang ayam, di kunyah dengan lahap dan nikmatnya.
Bapak kelihatan lapar sekali, sehingga tidak menyadari kehadiranku yang memandangnya dengan mata berkaca-kaca.
🌹🌹🌹
Mengenang bapak yang lagi sakit, usia 80 tahun, semoga cepat sembuh, umur panjang, miss u bapak.
🌸🌸🌸
(Marrieanne's)
----
SEPIRING TULANG AYAM
🌷🌷🌷
Bagian 2
(Sabun Wangi)
🌷🌷🌷
"Ma, ada yang aneh dengan jari-jari mama!" Kata anakku.
"Yang mana?"
"Itu ma, jari manis yang kanan lebih pendek dari yang kiri, bentuk ujungnya juga beda, lebih rata!"
"Oo itu! Iya udah dari kecil seperti itu!" Sahutku dengan suara pelan.
Ada rasa ngilu, pedih, senang, entah apa kata yang tepat untuk menggambarkan perasaanku tiap kali kulihat jari manis tangan kananku.
🌺🌺🌺
"Dek, adek abang pulang ni!" Terdengar suara abangku dari kejauhan.
Suaranya sangat gembira, aku tau pasti ada sesuatu yang menurut abangku akan membuatku senang.
Abangku sangat sayang pada kami adek-adeknya, sama seperti bapak, dia akan melakukan apa saja asal kami semua senang.
Aku bergegas keluar pondok menyongsong abang dan bapak yang baru pulang menjajakan beras dan sayur ke kampung-kampung terdekat.
Mereka berangkat pagi sekali, dipunggung mereka terdapat gendongan dari rotan, penuh dengan isi beras, sayur-sayur hutan, seperti daun simpur, daun pakuk kubuk, remudang, rebung, dan masih banyak lagi.
Untuk ditukarkan pakaian, tentu saja pakaian bekas, atau kalau beruntung ada yang mau membelinya, artinya kami bisa dapat uang.
Aku senang melihat uang, tapi juga bingung kenapa beras yang begitu banyak bisa ditukar dengan uang yang cuma selembar atau dua lembar.
"Lihat dek, abang bawa apa!" Kata abang.
"Baju, baju!" Iya aku memang paling senang kalau ada yang menukarkan beras kami dengan pakaian.
Enak pakai baju, bahannya lembut, tidak seperti kulit kayu yang kerap kupakai, kadang gatal dikulit. Maklum, dibuat dengan seadanya, yang penting menutupi badan.
Aku tak sabar melihat barang-barang yang masih terbungkus di gendongan abang.
Sepertinya banyak!
Sama halnya digendongan bapak, terlihat beberapa bungkusan yang kulihat asing.
"Nak, bapak bawa sesuatu yang kamu pasti suka!"
"Apa itu pak! Aku mencium harum yang wangi.
"Katanya ini namanya sabun nak, buat mandi, busanya jauh lebih banyak dari daun yang sering kamu pakai itu!"
Bapak bercerita dengan bangga.
"Tadi beras ada yang beli, trus bapak ke toko, kata orang yang punya toko uangnya bapak bisa pakai buat tukar barang, bapak ingat kamu suka sekali bermain busa daun sabun, jadi bapak tukarkan dengan sabun!"
Mataku bulat membelalak memperhatikan bapak.
Tak percaya!
Apakah ada yang lebih baik dari daun sabunku.
Kupegang dengan hati-hati, takut rusak.
"Ada sabun ada sabun!" Kakak-kakakku ikutan rame.
Kami ramai-ramai membawa potongan sabun itu kedapur, sedetikpun tak kulepaskan dari genggaman tanganku.
"Ambil pisau dapur dek, biar dipotong kecil-kecil, biar hemat!"
"Jangan pisau dapur, kurang tajam!"
"Parang-parang!"
"Iya pake parang, biar potongannya rapi gak pecah-pecah!"
Kuletakkan sabun itu diatas meja, saking semangatnya, aku tidak sadar kalau aku bahkan tetap menggenggam sabun itu ketika abang mulai memotong-memotong sabun itu menjadi 6 bagian, dengan parang yang sangat tajam.
Kami semua terlena dengan harum sabun itu, sehingga tidak ada yang memperhatikan.
"Huuuu huuuuu huuuuu.....!"
Aku berteriak menangis tergugu, bapak dengan sigap mengangkatku, diraihnya tanganku, terlihat darah menguncur deras dari ujung jari manis tangan kananku.
Abang buru-buru mengambil potongan jari itu dan menyembunyikannya, agar aku tidak ketakutan melihatnya.
Bapak segera menggendongku, menenangkanku yang terus menangis, berjam-jam.
"Tenang ya nak ya, nanti besok sembuh, kamu bisa mandi pakai sabun wangi itu yaa, sekarang tenang dulu. Pasti nanti jarinya baik lagi!"
Akhirnya dengan wajah penuh air mata,
Aku tertidur digendongan bapak, sambil tanganku tetap menggenggam potongan sabun wangi itu.
Aku percaya, kalau kata bapak baik maka akan baik semua.
Aku bahagia.
Aku tak sabar menunggu hari esok, kata bapak aku bisa mandi sepuasnya, dengan sabun wangi itu.
Iya, sabun itu memang sungguh wangi, kelihatannya juga mahal sekali, sabun itu sabun Sunlight cap tangan, bungkusnya warna kuning, sabunnya berwarna hijau.
Sabun termewah yang pernah kupakai di masa kecilku.
🌹🌹🌹
(Marrieanne's)
author : Marrie Anne.
🌷🌷🌷
"Aku sayap, aku sayap!"
"Aku dada!"
"Aku yang dada, kan bulan lalu kakak udah kebagian dada!"
"Ya udah tukeran."
"Aku paha yaa jangan ada yang ambil!"
"Kepalanya sisain yaaaa buat bapak kalian!" Kudengar suara mak menimpali keriuhan saudara-saudaraku yang berebutan ayam bakar.
Ya, bukan karena kami suka ayam bakar tapi memang hanya bisa dibakar di atas bara api, karena tidak pernah beli minyak goreng.
Dari lahir, kami bersaudara yang berjumlah 7 orang tinggal di sebuah pondok tua, di dalam hutan yang jaraknya sekitar 2 jam berjalan kaki ke desa terdekat.
Melintasi hutan, sungai, bertemu binatang-binatang hutan itu sudah biasa.
Tidak ada tetangga, tidak ada listrik, tidak ada kasur. Hampir semua yang kami pergunakan berasal dari alam.
Kami tidak mengenal sabun, odol, sikat gigi, dan semua kebutuhan rumah tangga.
Pakaian yang kami kenakan kebanyakan dari kulit kayu, ada beberapa pakaian dari kain, itu pun didapat dari hasil menukar beras dan sayur yang sesekali dibawa oleh bapak dan abang-abang ke desa terdekat.
Aku tidak mengenal gelas, untuk minum kami menggunakan buah labu matang yang sudah dikuras isinya dan dijemur kering.
Untuk mandi kami menggunakan rumput sabun, entah apa namanya tanaman tersebut, tetapi kalau digosok dengan air akan mengeluarkan busa. Itulah yang kami gunakan untuk menggosok badan.
Semua makanan kami dapatkan dari alam, memelihara ayam beberapa ekor, berburu dan bercocok tanam.
Nikmat, ya, tentu saja karena hanya itu yang kami tahu.
Mainanku?
Boneka? Apa itu boneka!
Mainanku adalah ular sawah yang giginya sudah dikikir supaya tidak menggigitku.
Seram kan tapi lucu kog. Ularnya gendut dan tidak galak.
Kalau mati, aku akan nangis berhari-hari, sampai abangku mendapatkannya lagi.
Entah kenapa bapak dan emak memilih tinggal di dalam hutan, kami tidak pernah bertanya, tapi bapak setiap malam sebelum tidur sering cerita tentang kerja keras.
Hidup itu harus kerja keras, jangan mengharapkan pemberian orang lain, jangan pernah meminta.
Dan memang bapak kerja dari subuh ketemu malam.
Tidak pernah mengeluh, dan satu yang luar biasa, bapak tidak pernah marah!
Setiap hari bapak membuka lahan, dan membuka lahan, untuk menanam padi dan karet.
Kami harus bangun jam 4 subuh untuk ikut ke kebun.
"Bapak pulang, bapak pulang!" Teriak adikku.
"Makan pak, itu tadi masih ada kepala ayam!" Kata mak.
"Yaah sudah kumakan mak, tadi aku gak kebagian, jadi kumakan kepala ayamnya!" Jawab abangku yang tertua.
"Ya sudah gak apa-apa tadi bapak sudah makan di kebun, masih kenyang!" jawab bapak lembut, hampir tak terdengar.
Kulihat bapak ke dapur, sekilas kulihat bapak memegang piring-piring bambu yang kami gunakan untuk makan tadi.
"Bapak lagi apa?" Tanyaku.
"Ooo ini biar bapak cuciin piring-piring ini,"
"Aku aja pak, tadi belum sempat nyuci," jawabku.
"Udah gak apa-apa, kamu main saja sana!"
Usiaku 7 tahun saat itu.
Selesai bermain aku tak sabar mencari bapak, ada jambu yang sudah matang di atas pohon ingin kuperlihatkan ke bapak.
Mataku nanar, kulihat sosok rapuh itu, dengan tubuh kurusnya, rambut mulai memutih, duduk di pojok dapur.
Ditangannya terlihat sepiring tulang-tulang ayam, di kunyah dengan lahap dan nikmatnya.
Bapak kelihatan lapar sekali, sehingga tidak menyadari kehadiranku yang memandangnya dengan mata berkaca-kaca.
🌹🌹🌹
Mengenang bapak yang lagi sakit, usia 80 tahun, semoga cepat sembuh, umur panjang, miss u bapak.
🌸🌸🌸
(Marrieanne's)
----
SEPIRING TULANG AYAM
🌷🌷🌷
Bagian 2
(Sabun Wangi)
🌷🌷🌷
"Ma, ada yang aneh dengan jari-jari mama!" Kata anakku.
"Yang mana?"
"Itu ma, jari manis yang kanan lebih pendek dari yang kiri, bentuk ujungnya juga beda, lebih rata!"
"Oo itu! Iya udah dari kecil seperti itu!" Sahutku dengan suara pelan.
Ada rasa ngilu, pedih, senang, entah apa kata yang tepat untuk menggambarkan perasaanku tiap kali kulihat jari manis tangan kananku.
🌺🌺🌺
"Dek, adek abang pulang ni!" Terdengar suara abangku dari kejauhan.
Suaranya sangat gembira, aku tau pasti ada sesuatu yang menurut abangku akan membuatku senang.
Abangku sangat sayang pada kami adek-adeknya, sama seperti bapak, dia akan melakukan apa saja asal kami semua senang.
Aku bergegas keluar pondok menyongsong abang dan bapak yang baru pulang menjajakan beras dan sayur ke kampung-kampung terdekat.
Mereka berangkat pagi sekali, dipunggung mereka terdapat gendongan dari rotan, penuh dengan isi beras, sayur-sayur hutan, seperti daun simpur, daun pakuk kubuk, remudang, rebung, dan masih banyak lagi.
Untuk ditukarkan pakaian, tentu saja pakaian bekas, atau kalau beruntung ada yang mau membelinya, artinya kami bisa dapat uang.
Aku senang melihat uang, tapi juga bingung kenapa beras yang begitu banyak bisa ditukar dengan uang yang cuma selembar atau dua lembar.
"Lihat dek, abang bawa apa!" Kata abang.
"Baju, baju!" Iya aku memang paling senang kalau ada yang menukarkan beras kami dengan pakaian.
Enak pakai baju, bahannya lembut, tidak seperti kulit kayu yang kerap kupakai, kadang gatal dikulit. Maklum, dibuat dengan seadanya, yang penting menutupi badan.
Aku tak sabar melihat barang-barang yang masih terbungkus di gendongan abang.
Sepertinya banyak!
Sama halnya digendongan bapak, terlihat beberapa bungkusan yang kulihat asing.
"Nak, bapak bawa sesuatu yang kamu pasti suka!"
"Apa itu pak! Aku mencium harum yang wangi.
"Katanya ini namanya sabun nak, buat mandi, busanya jauh lebih banyak dari daun yang sering kamu pakai itu!"
Bapak bercerita dengan bangga.
"Tadi beras ada yang beli, trus bapak ke toko, kata orang yang punya toko uangnya bapak bisa pakai buat tukar barang, bapak ingat kamu suka sekali bermain busa daun sabun, jadi bapak tukarkan dengan sabun!"
Mataku bulat membelalak memperhatikan bapak.
Tak percaya!
Apakah ada yang lebih baik dari daun sabunku.
Kupegang dengan hati-hati, takut rusak.
"Ada sabun ada sabun!" Kakak-kakakku ikutan rame.
Kami ramai-ramai membawa potongan sabun itu kedapur, sedetikpun tak kulepaskan dari genggaman tanganku.
"Ambil pisau dapur dek, biar dipotong kecil-kecil, biar hemat!"
"Jangan pisau dapur, kurang tajam!"
"Parang-parang!"
"Iya pake parang, biar potongannya rapi gak pecah-pecah!"
Kuletakkan sabun itu diatas meja, saking semangatnya, aku tidak sadar kalau aku bahkan tetap menggenggam sabun itu ketika abang mulai memotong-memotong sabun itu menjadi 6 bagian, dengan parang yang sangat tajam.
Kami semua terlena dengan harum sabun itu, sehingga tidak ada yang memperhatikan.
"Huuuu huuuuu huuuuu.....!"
Aku berteriak menangis tergugu, bapak dengan sigap mengangkatku, diraihnya tanganku, terlihat darah menguncur deras dari ujung jari manis tangan kananku.
Abang buru-buru mengambil potongan jari itu dan menyembunyikannya, agar aku tidak ketakutan melihatnya.
Bapak segera menggendongku, menenangkanku yang terus menangis, berjam-jam.
"Tenang ya nak ya, nanti besok sembuh, kamu bisa mandi pakai sabun wangi itu yaa, sekarang tenang dulu. Pasti nanti jarinya baik lagi!"
Akhirnya dengan wajah penuh air mata,
Aku tertidur digendongan bapak, sambil tanganku tetap menggenggam potongan sabun wangi itu.
Aku percaya, kalau kata bapak baik maka akan baik semua.
Aku bahagia.
Aku tak sabar menunggu hari esok, kata bapak aku bisa mandi sepuasnya, dengan sabun wangi itu.
Iya, sabun itu memang sungguh wangi, kelihatannya juga mahal sekali, sabun itu sabun Sunlight cap tangan, bungkusnya warna kuning, sabunnya berwarna hijau.
Sabun termewah yang pernah kupakai di masa kecilku.
🌹🌹🌹
(Marrieanne's)
----
SEPIRING TULANG AYAM
🌷🌷🌷
Bagian 3
(Jambu Biji)
🌷🌷🌷
"Aawww....aduh mba, sakit!" Kataku sambil meringis.
"Aduh maaf bu maaf bu," Mba therapist meminta maaf.
"Di bagian situ pelan-pelan ya Mba!"
"Baik bu."
Sore itu aku menghabiskan waktu di Spa langgananku, melepaskan penat setelah lelah seharian beraktifitas.
Pelan-pelan si mba memijat-mijat sepanjang pinggang hingga punggungku.
Sesekali tangannya menyentuh bekas luka di pinggangku, luka lama yang sudah kering, sangat kering tapi bekasnya sangat dalam.
Hingga kedalaman relung hati.
🌷🌷🌷
1983
"Nak, besok bapak berangkat ke desa ya pagi-pagi!" Suara bapak terdengar senang.
"Horeee.......!" Teriakku gembira.
"Aku ikut ya pak!"
"Iya boleh!"
Aku memang sering ikut bapak ke desa, melihat-lihat rumah orang-orang di desa.
Rumah-rumah mewah, setidaknya menurutku, yang terbuat dari kayu.
Bentuknya pun beragam.
Aku juga sering berpapasan dengan anak-anak seusiaku.
Aku sering takjub melihat mereka.
Pernah kulihat ada anak perempuan memakai sesuatu dirambutnya. Manis sekali.
Ya....jepit rambut.
Entah terbuat dari apa. Sepertinya pita.
Aku suka sekali melihatnya.
Sementara dirambutku, aku menggunakan jepit dari tangkai daun singkong yang ditekuk.
Menurutku aku cantik mengenakannya.
Tapi entah mengapa, aku selalu takjub melihat anak itu menggunakan jepit rambut itu.
Dan yang hebatnya!
Mereka berpakaian lengkap, baju, rok atau celana.
Dan sandal !!
Iya, sandal.
Entah kapan aku punya sandal.
Sepertinya mahal.
Kadang-kadang aku berharap, mudah-mudahan ada yang mau menukar sandal dengan sayur-sayur yang kubawa.
Tapi mereka lebih sering menukarnya dengan pakaian.
Ahhhh sudahlah!
🌸🌸🌸
Siang menjelang sore.
Bapak masih mengumpulkan sayur-sayur hutan untuk dibawa esok hari.
Bapak selalu bersemangat apabila sudah tiba waktunya membawa hasil bercocok tanam dan hasil-hasil hutan lainnya ke desa.
Apalagi kadang ada yang memesan barang tertentu dengan imbalan pakaian bekas atau barang lain.
Seperti biasa, mak akan menyiapkan semua yang akan di bawa, disusun rapi dimasukkan ke dalam gendongan dari rotan.
Sepanjang siang tadi aku membantu mak menumbuk padi hingga menjadi beras.
Banyak.
Sampai telapak tanganku melepuh. Sakit? Iya! Tapi aku tidak pernah mengeluh.
Aku selalu bangga melihat padi menjadi beras, apalagi kata orang-orang di desa, beras kami, selain enak dimakan, juga harum.
Berasnya juga bermacam-macam jenisnya, bapak memang selalu bersungguh-sungguh dalam setiap pekerjaannya.
Aku bangga sama bapak!
"Pak, aku mau ke hutan sebentar yaa, kemarin ku lihat ada banyak jambu biji yang sudah mau matang di pohon!"
"Iya nak, jangan lama ya sudah sore!"
Aku segera beranjak.
Takut kemalaman.
Pohon jambu itu tinggi, sangat tinggi dan berbuah lebat, dari bawah kulihat banyak buahnya yang sudah matang dan beberapa hampir matang.
Dengan semangat membara, kupanjat pohon jambu itu, dengan membawa galah.
Diketinggian, kuambil jambu itu satu persatu, kumasukkan ke wadah bambu kecil yang kubawa di pinggangku.
Sementara yang agak jauh, kudorong menggunakan galah hingga jatuh ke tanah.
Sementara aku serius mengumpulkan jambu-jambu itu, dari kejauhan kulihat sosok samar-samar.
Disertai suara mendengus-dengus.
"Binatang apa itu!" Batinku.
Sepertinya Rusa....! Ehhh bukan!!
Beruang? Bukan!
Semakin mendekat!
Babi hutan....!! Iya Babi hutan. Tidak begitu besar tapi sudah pasti galak.
Wahhh gawat! Babi itu mulai mendekati jambu-jambu yang berserakan.
Tidak! Tidak!
Aku tidak akan membiarkannya mengambil jambu-jambu itu.
Tanpa ragu-ragu!
Aku meloncat, melayang, tak kupedulikan tubuhku meluncur mengenai ranting dan dahan pohon jambu.
Aku harus selamatkan jambuku.
Bruukkkkkk.....!aku mendarat ditanah.
Entah posisi mana yang lebih dulu, aku tak peduli.
Yang kutau, di depan mataku, Babi hutan itu menatapku dengan galak dan bersiap-siap menerjangku.
Aku siaga, tapi tenagaku tak seberapa. Babi itu menubrukku dari depan.
Tubuh kecilku menghantam pohon dibelakangku.
"Bapak....! Bapak....!"
Teriakku lirih.
Tidak, bapak tak bisa mendengarku. Aku jauh di dalam hutan.
"Mak......! Mak.......!"
Sepi, sunyi, hanya gema suaraku terdengar.
Bisa kurasakan dengan jelas, perihhhh!
Pinggangku perih, dan basah.
Ada kayu yang menancap disana.
Darah mengalir! Tapi aku tak bisa apa-apa.
Gelap...!!
"Bapak.....mak...!!!!
Huuuuuuu huuuuuu huuuuuuuu!!
1 menit, 10 menit, mungkin 30 menit, mungkin juga 1 jam.
Aku tak tau!
Aku meringkuk. Kesakitan.
Tidak, aku belum mati, aku tidak mau mati, kata bapak aku harus sekolah. Seperti anak-anak di desa yang sering bapak temui.
Sayup-sayup kedengar suara mak dan bapak.
"Nak...nak....!"
Aku mencoba membuka mata.
Aku terbangun.
Pinggangku perih sekali.
Dengan tanganku masih memeluk jambu-jambuku.
Jambu yang besok pagi akan kubawa ke desa bersama bapak.
Kata orang di desa, kalau bapak membawa banyak macam hasil hutan, bapak bisa mendapat pakaian.
Bukan sembarang pakaian bekas!
Iya, jambu ku, bersama dengan beras dan sayur, pesanan orang di desa, akan diitukarkan dengan Seragam Merah Putih ku.
Aku sekolah, aku akan sekolah!
Aku segera bangkit.
Dengan menahan perih di pinggang.
Kubersihkan jambu-jambu itu.
Kubungkus rapi.
Esok aku harus bangun pagi sekali.
Aku tidak sakit, aku kuat. Aku harus kuat!
🌷🌷🌷
(Marrieanne's)QW
🌷🌷🌷
Bagian 3
(Jambu Biji)
🌷🌷🌷
"Aawww....aduh mba, sakit!" Kataku sambil meringis.
"Aduh maaf bu maaf bu," Mba therapist meminta maaf.
"Di bagian situ pelan-pelan ya Mba!"
"Baik bu."
Sore itu aku menghabiskan waktu di Spa langgananku, melepaskan penat setelah lelah seharian beraktifitas.
Pelan-pelan si mba memijat-mijat sepanjang pinggang hingga punggungku.
Sesekali tangannya menyentuh bekas luka di pinggangku, luka lama yang sudah kering, sangat kering tapi bekasnya sangat dalam.
Hingga kedalaman relung hati.
🌷🌷🌷
1983
"Nak, besok bapak berangkat ke desa ya pagi-pagi!" Suara bapak terdengar senang.
"Horeee.......!" Teriakku gembira.
"Aku ikut ya pak!"
"Iya boleh!"
Aku memang sering ikut bapak ke desa, melihat-lihat rumah orang-orang di desa.
Rumah-rumah mewah, setidaknya menurutku, yang terbuat dari kayu.
Bentuknya pun beragam.
Aku juga sering berpapasan dengan anak-anak seusiaku.
Aku sering takjub melihat mereka.
Pernah kulihat ada anak perempuan memakai sesuatu dirambutnya. Manis sekali.
Ya....jepit rambut.
Entah terbuat dari apa. Sepertinya pita.
Aku suka sekali melihatnya.
Sementara dirambutku, aku menggunakan jepit dari tangkai daun singkong yang ditekuk.
Menurutku aku cantik mengenakannya.
Tapi entah mengapa, aku selalu takjub melihat anak itu menggunakan jepit rambut itu.
Dan yang hebatnya!
Mereka berpakaian lengkap, baju, rok atau celana.
Dan sandal !!
Iya, sandal.
Entah kapan aku punya sandal.
Sepertinya mahal.
Kadang-kadang aku berharap, mudah-mudahan ada yang mau menukar sandal dengan sayur-sayur yang kubawa.
Tapi mereka lebih sering menukarnya dengan pakaian.
Ahhhh sudahlah!
🌸🌸🌸
Siang menjelang sore.
Bapak masih mengumpulkan sayur-sayur hutan untuk dibawa esok hari.
Bapak selalu bersemangat apabila sudah tiba waktunya membawa hasil bercocok tanam dan hasil-hasil hutan lainnya ke desa.
Apalagi kadang ada yang memesan barang tertentu dengan imbalan pakaian bekas atau barang lain.
Seperti biasa, mak akan menyiapkan semua yang akan di bawa, disusun rapi dimasukkan ke dalam gendongan dari rotan.
Sepanjang siang tadi aku membantu mak menumbuk padi hingga menjadi beras.
Banyak.
Sampai telapak tanganku melepuh. Sakit? Iya! Tapi aku tidak pernah mengeluh.
Aku selalu bangga melihat padi menjadi beras, apalagi kata orang-orang di desa, beras kami, selain enak dimakan, juga harum.
Berasnya juga bermacam-macam jenisnya, bapak memang selalu bersungguh-sungguh dalam setiap pekerjaannya.
Aku bangga sama bapak!
"Pak, aku mau ke hutan sebentar yaa, kemarin ku lihat ada banyak jambu biji yang sudah mau matang di pohon!"
"Iya nak, jangan lama ya sudah sore!"
Aku segera beranjak.
Takut kemalaman.
Pohon jambu itu tinggi, sangat tinggi dan berbuah lebat, dari bawah kulihat banyak buahnya yang sudah matang dan beberapa hampir matang.
Dengan semangat membara, kupanjat pohon jambu itu, dengan membawa galah.
Diketinggian, kuambil jambu itu satu persatu, kumasukkan ke wadah bambu kecil yang kubawa di pinggangku.
Sementara yang agak jauh, kudorong menggunakan galah hingga jatuh ke tanah.
Sementara aku serius mengumpulkan jambu-jambu itu, dari kejauhan kulihat sosok samar-samar.
Disertai suara mendengus-dengus.
"Binatang apa itu!" Batinku.
Sepertinya Rusa....! Ehhh bukan!!
Beruang? Bukan!
Semakin mendekat!
Babi hutan....!! Iya Babi hutan. Tidak begitu besar tapi sudah pasti galak.
Wahhh gawat! Babi itu mulai mendekati jambu-jambu yang berserakan.
Tidak! Tidak!
Aku tidak akan membiarkannya mengambil jambu-jambu itu.
Tanpa ragu-ragu!
Aku meloncat, melayang, tak kupedulikan tubuhku meluncur mengenai ranting dan dahan pohon jambu.
Aku harus selamatkan jambuku.
Bruukkkkkk.....!aku mendarat ditanah.
Entah posisi mana yang lebih dulu, aku tak peduli.
Yang kutau, di depan mataku, Babi hutan itu menatapku dengan galak dan bersiap-siap menerjangku.
Aku siaga, tapi tenagaku tak seberapa. Babi itu menubrukku dari depan.
Tubuh kecilku menghantam pohon dibelakangku.
"Bapak....! Bapak....!"
Teriakku lirih.
Tidak, bapak tak bisa mendengarku. Aku jauh di dalam hutan.
"Mak......! Mak.......!"
Sepi, sunyi, hanya gema suaraku terdengar.
Bisa kurasakan dengan jelas, perihhhh!
Pinggangku perih, dan basah.
Ada kayu yang menancap disana.
Darah mengalir! Tapi aku tak bisa apa-apa.
Gelap...!!
"Bapak.....mak...!!!!
Huuuuuuu huuuuuu huuuuuuuu!!
1 menit, 10 menit, mungkin 30 menit, mungkin juga 1 jam.
Aku tak tau!
Aku meringkuk. Kesakitan.
Tidak, aku belum mati, aku tidak mau mati, kata bapak aku harus sekolah. Seperti anak-anak di desa yang sering bapak temui.
Sayup-sayup kedengar suara mak dan bapak.
"Nak...nak....!"
Aku mencoba membuka mata.
Aku terbangun.
Pinggangku perih sekali.
Dengan tanganku masih memeluk jambu-jambuku.
Jambu yang besok pagi akan kubawa ke desa bersama bapak.
Kata orang di desa, kalau bapak membawa banyak macam hasil hutan, bapak bisa mendapat pakaian.
Bukan sembarang pakaian bekas!
Iya, jambu ku, bersama dengan beras dan sayur, pesanan orang di desa, akan diitukarkan dengan Seragam Merah Putih ku.
Aku sekolah, aku akan sekolah!
Aku segera bangkit.
Dengan menahan perih di pinggang.
Kubersihkan jambu-jambu itu.
Kubungkus rapi.
Esok aku harus bangun pagi sekali.
Aku tidak sakit, aku kuat. Aku harus kuat!
🌷🌷🌷
(Marrieanne's)QW
----
SEPIRING TULANG AYAM
🌷🌷🌷
Bagian 4
(Jarum Jahit)
🌷🌷🌷
"Nak....."
"Iya mak."
"Kamu bisa tolong mak, pergi ke desa, cari pinjaman jarum jahit. Ini pakaian kalian banyak yang sudah robek-robek!"
"Iya mak!"
Aku baru sampai, ketika itu.
2 jam perjalanan dari sekolah ke pondok.
Bergegas kuganti seragam sekolahku dengan celana pendek dan baju kaos.
Hari ini aku pulang sekolah cepat, entah kenapa, sepertinya guru-guru ada rapat atau semacamnya. Mungkin sekitar jam 10 aku sudah di pondok.
"Mak...aku berangkat!"
"Iya hati-hati nak, langsung pulang ya!"
Kulangkahkan kakiku, kaki telanjangku, aku belum punya sandal. Nantilah, aku pasti punya sandal seperti punya teman sekolahku.
Aku hanya harus menunggu.
2 jam aku berjalan kaki, bersenandung riang, tanpa lelah apalagi menggerutu.
Sambil terus waspada, kalau-kalau ada ular melintas. Atau binatang hutan lainnya.
Takut?
Tidak! Aku lebih takut melihat mak bersedih. Mak tidak banyak bicara, yang dia lakukan hanya mengasihi kami.
Tidak pernah mengeluh, apalagi marah-marah, walau harus mengurus kami sambil membantu bapak di kebun dan di ladang.
Mak selalu tersenyum.
Mak sangat cantik.
Kulitnya putih, walau seringkali kotor karena bekerja dan bekerja.
Kuingat, dalam setiap lelahnya, mak selalu membelai kepalaku sebelum aku tertidur.
"Kamu kalau sudah besar, jangan tinggalin mak ya." Begitu selalu kata-kata yang diulang mak.
"Kamu boleh jadi orang pintar, jadi orang kaya nanti, tapi jangan pernah pergi jauh dari mak." Kadang mak bicara sambil nangis.
Dan aku hanya bisa menjawab "Iya mak."
🌸🌸🌸
"Tante Mita....boleh pinjam jarum jahit?" Kataku setiba di rumah tante Mita.
Tante Mita tinggal di desa, masih ada hubungan keluarga dengan bapak. Tapi agak jauh.
"Iya boleh, tapi langsung dibalikin hari ini juga ya!"
"Iya tante." Jawabku yakin.
Sempat terpikir olehku, kira-kira berapa lama waktu yang aku perlukan untuk bolak balik lagi mengantar jarum itu.
Ahhh tidak penting!
Sekarang aku harus cepat pulang. Mak pasti sudah menunggu.
Aku bergegas, berjalan cepat, berlari, aku harus cepat.
Nanti waktuku tidak cukup.
Kasian mak kalau harus tergesa-gesa menjahit.
"Mak....mak! Ini jarumnya!" Teriakku dari kejauhan.
Nafasku tersengal-sengal!
Kuserahkan jarum itu ke emak, yang langsung dengan sigap memasukkan benang dari serat nanas.
Dan mulai menjahit.
Satu persatu bagian yang robek mak selesaikan, ada juga yang perlu di tambal.
Sekitar jam 3 sore perkiraanku, pekerjaan mak selesai.
Artinya aku harus bergegas mengembalikan jarum itu ke tante Mita.
Tidak lupa kusiapkan obor, karena pasti pulangnya malam.
🌷🌷🌷
"Tante, ini jarumnya sudah. Terima kasih." Kataku sesampainya di rumah tante Mita.
Kurasakan kakiku lelah sekali.
Iya, hampir sepanjang jalan aku berlari.
Berhenti sebentar di jalan yang naik turun terlalu terjal.
Sisanya, aku berlari dan terus berlari.
Aku tidak boleh ingkar janji, nanti tante Mita tidak mau memberi pinjaman lagi.
Pikirku.
Hari sudah mulai gelap, tidak, aku tidak sempat istirahat.
Aku harus bergegas.
Baru setengah perjalanan pulang, hari gelap.
Kunyalakan obor.
Kukurangi kecepatan langkahku.
Aku harus hati-hati, bisa saja tersandung.
Aku harus cepat sampai rumah, mak pasti menunggu dengan cemas.
Ahh....aku senang sudah membantu mak.
Aku bahagia.
🌹🌹🌹
Sebulan berlalu, baju-baju kami kembali banyak yang robek. Maklum, baju kami cuma sedikit, itupun semuanya bekas orang.
Didapat dengan menukarkan beras dan hasil hutan lainnya.
"Nak....mak minta tolong. Pinjam jarum lagi ke tante Mita!"
"Iya mak!"
Hari ini pulang sekolah seperti biasa. Tengah hari aku sudah di pondok.
Bergegas aku kembali menuju desa.
Ahhh.... mudah-mudahan aku dipinjamin jarum itu.
Lagi.
Nanti kalau menjajakan hasil hutan lagi, dan dapat uang, akan kuingatkan bapak supaya beli jarum jahit.
Mak sangat membutuhkannya.
Pikirku.
"Tante...mak mau pinjam jarum lagi!" Kataku.
"Kan dulu udah pernah pinjam!"
"Iya tante maaf kami belum punya, mak mau pinjam lagi!" Suaraku memelas.
Kasian mak kalau aku tidak mendapatkan pinjaman jarum jahit itu.
"Gini deh!"
"Kalau kamu mau bantu tante menumbuk padi, nanti tante kasi 1. Gak usah dibalikin!"
Mataku berbinar, sudah terbayang mak akan senang sekali punya jarum.
Mak bisa menjahit kapan saja.
"Mau .... mau .....tante!" Jawabku antusias.
Ahhh mak pasti menungguku.
Tapi tidak apalah, nanti kujelaskan, mak pasti senang.
Sepanjang sore aku membantu menumbuk padi, entah berapa Kilo, aku tidak tau.
Banyak, sekarung besar.
Aku tidak mengeluh.
Telapak tanganku mulai melepuh, kanan dan kiri, aku terus menumbuk dan menumbuk.
Telapakku perih sekali, bahkan yang sebelah kanan mulai berdarah.
Tidak, aku tidak akan berhenti.
Bahkan tidak bertanya berapa banyak lagi. Atau kapan selesai.
Hanya tak sabar menunggu jarum itu ada ditanganku, untuk kupersembahkan buat emak.
Hari mulai gelap, kuselesaikan pekerjaanku.
"Ini jarumnya!"
"Iya terima kasih tante!"
Kuterima dengan perasaan membuncah. Haru.
Mataku berbinar-binar saat menerimanya.
Kubungkus rapi dengan hati-hati.
Bahkan berlapis-lapis.
Diperjalanan pulang, di hari yang mulai gelap, sambil berlari, sebentar-sebentar kuperiksa jarum itu, jangan sampai jatuh.
Mak pasti senang, sesenang hatiku.
Aku tidak perlu meminjam jarum lagi.
Ahh mak...kata bu guru, kalau aku rajin belajar aku bisa pintar.
Aku mau pintar mak, supaya aku tau bagaimana cara membelikan emak banyak jarum.
Atau bahkan membelikan baju yang baru jadi tidak gampang robek.
"Mak.....ini jarumnya. Buat mak. Tidak perlu dikembalikan!"
Mak menangis, menangis karena menungguku hingga malam.
Menangis karena aku memberinya hadiah jarum.
Sebuah jarum jahit.
Yang mungkin harganya tidak seberapa bagi orang lain, tapi sangat berharga buat kami.
🌷🌷🌷
(Marrieanne's)
🌷🌷🌷
Bagian 4
(Jarum Jahit)
🌷🌷🌷
"Nak....."
"Iya mak."
"Kamu bisa tolong mak, pergi ke desa, cari pinjaman jarum jahit. Ini pakaian kalian banyak yang sudah robek-robek!"
"Iya mak!"
Aku baru sampai, ketika itu.
2 jam perjalanan dari sekolah ke pondok.
Bergegas kuganti seragam sekolahku dengan celana pendek dan baju kaos.
Hari ini aku pulang sekolah cepat, entah kenapa, sepertinya guru-guru ada rapat atau semacamnya. Mungkin sekitar jam 10 aku sudah di pondok.
"Mak...aku berangkat!"
"Iya hati-hati nak, langsung pulang ya!"
Kulangkahkan kakiku, kaki telanjangku, aku belum punya sandal. Nantilah, aku pasti punya sandal seperti punya teman sekolahku.
Aku hanya harus menunggu.
2 jam aku berjalan kaki, bersenandung riang, tanpa lelah apalagi menggerutu.
Sambil terus waspada, kalau-kalau ada ular melintas. Atau binatang hutan lainnya.
Takut?
Tidak! Aku lebih takut melihat mak bersedih. Mak tidak banyak bicara, yang dia lakukan hanya mengasihi kami.
Tidak pernah mengeluh, apalagi marah-marah, walau harus mengurus kami sambil membantu bapak di kebun dan di ladang.
Mak selalu tersenyum.
Mak sangat cantik.
Kulitnya putih, walau seringkali kotor karena bekerja dan bekerja.
Kuingat, dalam setiap lelahnya, mak selalu membelai kepalaku sebelum aku tertidur.
"Kamu kalau sudah besar, jangan tinggalin mak ya." Begitu selalu kata-kata yang diulang mak.
"Kamu boleh jadi orang pintar, jadi orang kaya nanti, tapi jangan pernah pergi jauh dari mak." Kadang mak bicara sambil nangis.
Dan aku hanya bisa menjawab "Iya mak."
🌸🌸🌸
"Tante Mita....boleh pinjam jarum jahit?" Kataku setiba di rumah tante Mita.
Tante Mita tinggal di desa, masih ada hubungan keluarga dengan bapak. Tapi agak jauh.
"Iya boleh, tapi langsung dibalikin hari ini juga ya!"
"Iya tante." Jawabku yakin.
Sempat terpikir olehku, kira-kira berapa lama waktu yang aku perlukan untuk bolak balik lagi mengantar jarum itu.
Ahhh tidak penting!
Sekarang aku harus cepat pulang. Mak pasti sudah menunggu.
Aku bergegas, berjalan cepat, berlari, aku harus cepat.
Nanti waktuku tidak cukup.
Kasian mak kalau harus tergesa-gesa menjahit.
"Mak....mak! Ini jarumnya!" Teriakku dari kejauhan.
Nafasku tersengal-sengal!
Kuserahkan jarum itu ke emak, yang langsung dengan sigap memasukkan benang dari serat nanas.
Dan mulai menjahit.
Satu persatu bagian yang robek mak selesaikan, ada juga yang perlu di tambal.
Sekitar jam 3 sore perkiraanku, pekerjaan mak selesai.
Artinya aku harus bergegas mengembalikan jarum itu ke tante Mita.
Tidak lupa kusiapkan obor, karena pasti pulangnya malam.
🌷🌷🌷
"Tante, ini jarumnya sudah. Terima kasih." Kataku sesampainya di rumah tante Mita.
Kurasakan kakiku lelah sekali.
Iya, hampir sepanjang jalan aku berlari.
Berhenti sebentar di jalan yang naik turun terlalu terjal.
Sisanya, aku berlari dan terus berlari.
Aku tidak boleh ingkar janji, nanti tante Mita tidak mau memberi pinjaman lagi.
Pikirku.
Hari sudah mulai gelap, tidak, aku tidak sempat istirahat.
Aku harus bergegas.
Baru setengah perjalanan pulang, hari gelap.
Kunyalakan obor.
Kukurangi kecepatan langkahku.
Aku harus hati-hati, bisa saja tersandung.
Aku harus cepat sampai rumah, mak pasti menunggu dengan cemas.
Ahh....aku senang sudah membantu mak.
Aku bahagia.
🌹🌹🌹
Sebulan berlalu, baju-baju kami kembali banyak yang robek. Maklum, baju kami cuma sedikit, itupun semuanya bekas orang.
Didapat dengan menukarkan beras dan hasil hutan lainnya.
"Nak....mak minta tolong. Pinjam jarum lagi ke tante Mita!"
"Iya mak!"
Hari ini pulang sekolah seperti biasa. Tengah hari aku sudah di pondok.
Bergegas aku kembali menuju desa.
Ahhh.... mudah-mudahan aku dipinjamin jarum itu.
Lagi.
Nanti kalau menjajakan hasil hutan lagi, dan dapat uang, akan kuingatkan bapak supaya beli jarum jahit.
Mak sangat membutuhkannya.
Pikirku.
"Tante...mak mau pinjam jarum lagi!" Kataku.
"Kan dulu udah pernah pinjam!"
"Iya tante maaf kami belum punya, mak mau pinjam lagi!" Suaraku memelas.
Kasian mak kalau aku tidak mendapatkan pinjaman jarum jahit itu.
"Gini deh!"
"Kalau kamu mau bantu tante menumbuk padi, nanti tante kasi 1. Gak usah dibalikin!"
Mataku berbinar, sudah terbayang mak akan senang sekali punya jarum.
Mak bisa menjahit kapan saja.
"Mau .... mau .....tante!" Jawabku antusias.
Ahhh mak pasti menungguku.
Tapi tidak apalah, nanti kujelaskan, mak pasti senang.
Sepanjang sore aku membantu menumbuk padi, entah berapa Kilo, aku tidak tau.
Banyak, sekarung besar.
Aku tidak mengeluh.
Telapak tanganku mulai melepuh, kanan dan kiri, aku terus menumbuk dan menumbuk.
Telapakku perih sekali, bahkan yang sebelah kanan mulai berdarah.
Tidak, aku tidak akan berhenti.
Bahkan tidak bertanya berapa banyak lagi. Atau kapan selesai.
Hanya tak sabar menunggu jarum itu ada ditanganku, untuk kupersembahkan buat emak.
Hari mulai gelap, kuselesaikan pekerjaanku.
"Ini jarumnya!"
"Iya terima kasih tante!"
Kuterima dengan perasaan membuncah. Haru.
Mataku berbinar-binar saat menerimanya.
Kubungkus rapi dengan hati-hati.
Bahkan berlapis-lapis.
Diperjalanan pulang, di hari yang mulai gelap, sambil berlari, sebentar-sebentar kuperiksa jarum itu, jangan sampai jatuh.
Mak pasti senang, sesenang hatiku.
Aku tidak perlu meminjam jarum lagi.
Ahh mak...kata bu guru, kalau aku rajin belajar aku bisa pintar.
Aku mau pintar mak, supaya aku tau bagaimana cara membelikan emak banyak jarum.
Atau bahkan membelikan baju yang baru jadi tidak gampang robek.
"Mak.....ini jarumnya. Buat mak. Tidak perlu dikembalikan!"
Mak menangis, menangis karena menungguku hingga malam.
Menangis karena aku memberinya hadiah jarum.
Sebuah jarum jahit.
Yang mungkin harganya tidak seberapa bagi orang lain, tapi sangat berharga buat kami.
🌷🌷🌷
(Marrieanne's)
----
SEPIRING TULANG AYAM
🌷🌷🌷
Bagian 5
(Hujan)
🌷🌷🌷
"Nak..ini baju nya sudah selesai di jahit!" Suara mak terdengar.
"Iya mak." Jawabku.
Musim hujan tiba.
Pakaian kami yang hanya beberapa potong tidak kering-kering.
Baju ku selain kulit kayu, ada 2 potong, sepotong kaos, basah, yang kupakai kalau pergi ke desa (itupun ternyata kaos dalam, aku baru tau setelah aku dewasa).
Satu lagi yang selesai di jahit mak.
"Breeeeetttt.......!"
"Yahhhh makkk......bajunya robek lagi" kataku sedih.
Ya, karena jahitannya sudah terlalu banyak ternyata jadi sempit, sehingga ketika kupakai malah robek.
"Sini nak, mak jahit lagi!"
"Gak usah mak gak apa-apa, sudah terlalu banyak jahitannya. Kasian mak jahit nanti robek lagi, aku tunggu aja kaos ku yang satu kering!" Jawabku.
Aku tidak tega melihat wajah mak yang sedih.
Hati mak sangat lembut, gampang menangis.
Bahkan lihat ayam bertelur banyak pun, mak bisa nangis terharu.
Ahhh mak, aku ingin cepat besar supaya bisa membelikan mak anting-anting.
Seperti yang pernah ku lihat di pakai oleh seorang ibu di desa.
Mak pasti akan terlihat lebih cantik.
🌹🌹🌹
Siang, sore, sampai malam menjelang tidur, kaos ku tidak juga kering.
Aku tidak memakai baju, hingga waktunya aku tertidur.
Air hujan menetes sepanjang malam.
Aku bergerak kesana kemari.
Tetap saja ada tetesan air mengenai tubuhku yang tanpa baju.
Kain selimut dari kulit kayu tidak begitu membantu menghangatkan tubuh kecilku.
Kulihat kakak dan abang juga sama, kami semua tidur tak tentu karena banyaknya tetesan air dari atap daun pondok kami.
Kadang terasa angin kencang, yang seperti hendak membawa terbang atap atau dinding yang juga terbuat dari daun.
Ya, pondok kami memang sangat sederhana.
Atap nya terbuat dari daun, entah daun apa namanya. Dindingnya juga dari daun.
Sementara lantainya dari kayu bulat kecil-kecil namanya Pering.
Tidak ada kamar, hanya ada pembatas berupa tumpukan padi dalam wadah rotan.
Aku tidur di sebelah padi.
Gatal, pasti!
Tapi kami sudah terbiasa, tidak pernah mengeluh dan tidak boleh mengeluh.
Hidup itu harus terus bersyukur.
Itu kata bapak.
Pondok kami berdiri sekitar 2 meter di atas tanah. Tentu saja harus begitu, untuk menghindari adanya binatang buas yang sewaktu-waktu bisa datang.
🌸🌸🌸
Menjelang tengah malam.
Aku menggigil.
Kedinginan...tidak! Bukan cuma kedinginan karena cuaca dingin, tapi badanku panas.
Sepertinya aku demam.
Aku memang gampang sakit.
Sering!
Mungkin karena aku terlahir kecil. Kata mak badanku sangat kecil. Mungkin juga prematur. Ahh kami juga tidak mengerti.
"Bapak.....bapak!!"
Aku bergumam.
Aku semakin menggigil.
Samar-samar kudengar keriuhan.
"Kamu jaga disitu!" Suara abangku terdengar di sela-sela deru angin kencang.
"Kak...kakak jaga pojok!"
"Pintunya di pegang!"
"Abang naik ke atap!"
"Jaga adek jaga adek!" Ku dengar suara kakak ku.
"Pak....atap nya lepas!"
"Ikat, ikat lagi!"
Air makin banyak tercurah. Aku basah kuyup.
Meringkuk. Menggigil.
"Lampu, lampu!" Teriak abangku.
Atap makin banyak yang terlepas. Terbawa angin kencang.
Mak sibuk menutupi padi-padi agar tidak basah.
Sepintas ku lihat adik ku di gendong mak.
Aku hanya bisa terdiam, antara sadar dan tidak.
Braaakkkkk!
"Pintu! Pintu! Teriak abang ku.
Yaahhhh!
Pintu copot, terbawa angin kencang.
Bapak berusaha mengejar potongan daun pintu, tapi tetap terlepas.
Angin terlalu kencang.
Dan malam terlalu gelap.
Dinding banyak yang terlepas.
Pelita padam, berkali-kali dinyalain tetap saja padam.
Gelap mencekam.
Suara angin menderu kencang.
Air hujan turun dengan derasnya.
Sesekali petir menggelegar mengejutkan kami.
Abang dan kakak saling berjaga satu sama lain.
Dalam samar, kulihat bapak.
Tubuh kurus nya terlihat gesit.
Berlari kesana kemari, mencoba meyelamatkan potongan-potongan atap dan dinding.
Bertarung melawan alam yang tak bersahabat.
Sesekali bapak menyeka wajahnya yang basah kuyup.
Wajah yang penuh dengan rasa khawatir.
Akankah bisa menjaga kami anak-anak nya dan mak.
Melewati satu malam ini saja.
Menjelang pagi.
Hujan angin mereda.
Bapak mendekatiku. Memelukku.
"Nak...ini bapak. Bapak disini!"
Aku menggigil. Gemetaran! sampai bapak ikut bergetar.
"Pak...bapak jangan pergi!" Kataku lirih.
"Bapak di sini nak. Bapak tidak kemana-mana!"
Suara bapak terdengar tegar.
Tidak!
Aku tau, bapak pura-pura tegar.
Aku tau, hati bapak pedih.
Perihh.
Pondok kami hancur, besok bapak harus membangun lagi.
Mengumpulkan bahan-bahan.
Agar kami tidak kebasahan kala hujan.
Agar kami tidak kepanasan kala matahari terik.
Sepintas terasa ada yang hangat di pipi bapak yang menempel di punggungku.
Iya, aku tau.
Bapak menangis dalam diam!
🌷🌷🌷
(Marrieanne's)
bersambung ...
🌷🌷🌷
Bagian 5
(Hujan)
🌷🌷🌷
"Nak..ini baju nya sudah selesai di jahit!" Suara mak terdengar.
"Iya mak." Jawabku.
Musim hujan tiba.
Pakaian kami yang hanya beberapa potong tidak kering-kering.
Baju ku selain kulit kayu, ada 2 potong, sepotong kaos, basah, yang kupakai kalau pergi ke desa (itupun ternyata kaos dalam, aku baru tau setelah aku dewasa).
Satu lagi yang selesai di jahit mak.
"Breeeeetttt.......!"
"Yahhhh makkk......bajunya robek lagi" kataku sedih.
Ya, karena jahitannya sudah terlalu banyak ternyata jadi sempit, sehingga ketika kupakai malah robek.
"Sini nak, mak jahit lagi!"
"Gak usah mak gak apa-apa, sudah terlalu banyak jahitannya. Kasian mak jahit nanti robek lagi, aku tunggu aja kaos ku yang satu kering!" Jawabku.
Aku tidak tega melihat wajah mak yang sedih.
Hati mak sangat lembut, gampang menangis.
Bahkan lihat ayam bertelur banyak pun, mak bisa nangis terharu.
Ahhh mak, aku ingin cepat besar supaya bisa membelikan mak anting-anting.
Seperti yang pernah ku lihat di pakai oleh seorang ibu di desa.
Mak pasti akan terlihat lebih cantik.
🌹🌹🌹
Siang, sore, sampai malam menjelang tidur, kaos ku tidak juga kering.
Aku tidak memakai baju, hingga waktunya aku tertidur.
Air hujan menetes sepanjang malam.
Aku bergerak kesana kemari.
Tetap saja ada tetesan air mengenai tubuhku yang tanpa baju.
Kain selimut dari kulit kayu tidak begitu membantu menghangatkan tubuh kecilku.
Kulihat kakak dan abang juga sama, kami semua tidur tak tentu karena banyaknya tetesan air dari atap daun pondok kami.
Kadang terasa angin kencang, yang seperti hendak membawa terbang atap atau dinding yang juga terbuat dari daun.
Ya, pondok kami memang sangat sederhana.
Atap nya terbuat dari daun, entah daun apa namanya. Dindingnya juga dari daun.
Sementara lantainya dari kayu bulat kecil-kecil namanya Pering.
Tidak ada kamar, hanya ada pembatas berupa tumpukan padi dalam wadah rotan.
Aku tidur di sebelah padi.
Gatal, pasti!
Tapi kami sudah terbiasa, tidak pernah mengeluh dan tidak boleh mengeluh.
Hidup itu harus terus bersyukur.
Itu kata bapak.
Pondok kami berdiri sekitar 2 meter di atas tanah. Tentu saja harus begitu, untuk menghindari adanya binatang buas yang sewaktu-waktu bisa datang.
🌸🌸🌸
Menjelang tengah malam.
Aku menggigil.
Kedinginan...tidak! Bukan cuma kedinginan karena cuaca dingin, tapi badanku panas.
Sepertinya aku demam.
Aku memang gampang sakit.
Sering!
Mungkin karena aku terlahir kecil. Kata mak badanku sangat kecil. Mungkin juga prematur. Ahh kami juga tidak mengerti.
"Bapak.....bapak!!"
Aku bergumam.
Aku semakin menggigil.
Samar-samar kudengar keriuhan.
"Kamu jaga disitu!" Suara abangku terdengar di sela-sela deru angin kencang.
"Kak...kakak jaga pojok!"
"Pintunya di pegang!"
"Abang naik ke atap!"
"Jaga adek jaga adek!" Ku dengar suara kakak ku.
"Pak....atap nya lepas!"
"Ikat, ikat lagi!"
Air makin banyak tercurah. Aku basah kuyup.
Meringkuk. Menggigil.
"Lampu, lampu!" Teriak abangku.
Atap makin banyak yang terlepas. Terbawa angin kencang.
Mak sibuk menutupi padi-padi agar tidak basah.
Sepintas ku lihat adik ku di gendong mak.
Aku hanya bisa terdiam, antara sadar dan tidak.
Braaakkkkk!
"Pintu! Pintu! Teriak abang ku.
Yaahhhh!
Pintu copot, terbawa angin kencang.
Bapak berusaha mengejar potongan daun pintu, tapi tetap terlepas.
Angin terlalu kencang.
Dan malam terlalu gelap.
Dinding banyak yang terlepas.
Pelita padam, berkali-kali dinyalain tetap saja padam.
Gelap mencekam.
Suara angin menderu kencang.
Air hujan turun dengan derasnya.
Sesekali petir menggelegar mengejutkan kami.
Abang dan kakak saling berjaga satu sama lain.
Dalam samar, kulihat bapak.
Tubuh kurus nya terlihat gesit.
Berlari kesana kemari, mencoba meyelamatkan potongan-potongan atap dan dinding.
Bertarung melawan alam yang tak bersahabat.
Sesekali bapak menyeka wajahnya yang basah kuyup.
Wajah yang penuh dengan rasa khawatir.
Akankah bisa menjaga kami anak-anak nya dan mak.
Melewati satu malam ini saja.
Menjelang pagi.
Hujan angin mereda.
Bapak mendekatiku. Memelukku.
"Nak...ini bapak. Bapak disini!"
Aku menggigil. Gemetaran! sampai bapak ikut bergetar.
"Pak...bapak jangan pergi!" Kataku lirih.
"Bapak di sini nak. Bapak tidak kemana-mana!"
Suara bapak terdengar tegar.
Tidak!
Aku tau, bapak pura-pura tegar.
Aku tau, hati bapak pedih.
Perihh.
Pondok kami hancur, besok bapak harus membangun lagi.
Mengumpulkan bahan-bahan.
Agar kami tidak kebasahan kala hujan.
Agar kami tidak kepanasan kala matahari terik.
Sepintas terasa ada yang hangat di pipi bapak yang menempel di punggungku.
Iya, aku tau.
Bapak menangis dalam diam!
🌷🌷🌷
(Marrieanne's)
bersambung ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar