#Revisi_Hati
Part 6 by Iim Bundanya Farras
Aku berusaha memapah Anisa yang lemah lunglai. Hari ini tiba-tiba dia
menghubungiku dan minta tolong diantar ke rumah sakit. Badannya lemas
dan dia tak kunjung berhenti muntah. Sementara Farhan sedang mengikuti
seminar penting. Orangtua mereka ada di luar kota semua. Praktis, tak
ada keluarga yang bisa dimintai tolong.
Setelah masuk melalui
pintu IGD, perawat langsung menyambut kami. Mengambil Anisa dari
papahanku. Perawat membaringkan tubuh Anisa di salah satu ranjang. Mulai
melakukan pemeriksaan umum. Sementara aku bergerak ke bagian
administrasi di IGD.
Urusan administrasi selesai, aku menghampiri
Anisa kembali. Kebetulan dokter sudah selesai melakukan pemeriksaan.
Ternyata Anisa mengalami hyperemesis gravidarum. Dan untuk menghindari
dehidrasi dan kekurangan nutrisi, Anisa harus menjalani rawat inap.
"Tolong kasih tahu Farhan ya, Sha?" pinta Anisa dengan suara lemah.
"Iya, kamu ada yang pengen dimakan?"
Anisa menggeleng kemudian memejamkan mata. Sepertinya masih merasa
pusing. Aku berlalu untuk menelepon di luar IGD. Agar tidak menggangu
pasien-pasien di IGD ini.
Untungnya seminar yang diikuti Farhan
sudah selesai. Dia bisa segera pulang. Aku paham betul kalau dalam
kondisi seperti ini, yang paling dibutuhkan Anisa adalah keberadaan
suaminya.
Saat aku masuk lagi ke dalam IGD, langkahku tertahan
saat mendengar bentakan tertahan dari ranjang yang paling dekat dengan
pintu. Tirainya agak terbuka sedikit. Sebenarnya aku ingin
mengabaikannya, namun rasa keingintahuanku muncul juga. Apalagi ada nada
marah dalam suara itu.
"Anakmu sampai sakit begini dan baru kamu
bawa ke rumah sakit? Kamu mikir nggak, sih, kalau ini bisa berbahaya?
Apalagi diare. Bisa membahayakan nyawanya!"
Suara seorang laki-laki terdengar geram. Membuat aku heran kenapa dia harus marah-marah seperti itu.
"Nggak ada yang nemenin aku ke rumah sakit, Mas."
Kali ini suara perempuan yang menjawab dengan takut-takut.
"Suami kamu ke mana?"
"Dia datang hanya saat kasih uang bulanan. Tapi sudah beberapa bulan
ini, uangnya ditransfer. Karena itu, dia nggak datang lagi."
"Astaghfirullah, kehidupan pernikahan macam apa sih yang kalian jalankan ini?!"
Aku berjengit kaget sekarang. Volume suara itu naik. Bisa kulihat beberapa orang juga mulai melirik ke sumber suara itu.
Baru saja aku akan berlalu, saat tirai di dekatku itu terayun terbuka.
Memperlihatkan seorang balita kurus yang mungkin berusia kurang dari dua
tahun terbaring di atas ranjang. Seorang perempuan muda duduk di kursi
sebelah tempat tidur. Menunduk dengan tangan mengelus kaki anaknya.
Namun yang membuat tubuhku membeku adalah seorang pria yang baru saja
menyibak tirai. Wajahnya juga tampak terkejut saat melihatku. Walaupun
terakhir bertemu sudah lebih dari dua tahun, aku masih mengenalinya.
Tampaknya dia pun begitu.
***
Suara pintu yang dibuka
dengan kekuatan ekstra mengejutkan aku dan Anisa. Farhan masuk ke dalam
kamar inap dengan napas yang terengah-engah. Pria itu langsung
menghampiri istrinya yang terbaring di atas tempat tidur.
"Kamu
nggak apa-apa, kan, Nis?" Farhan bertanya sambil memeriksa wajah, tangan
dan kaki Anisa. Seolah berharap menemukan luka yang menjadi penyebab
sakitnya sang istri.
"Anisa itu didiagnosis hyperemesis
gravidarum. Muntah berlebihan karena pengaruh hormon kehamilan. Jadi
kamu nggak bakal nemuin luka atau memar di tubuhnya biarpun kamu buka
semua baju Anisa." Aku mengomentari tingkah Farhan.
"Wah, kalau
aku mau buka baju Anisa juga nggak bakalan di depan kamu, Sha. Itu kan
kegiatan kami yang paling pribadi. Nggak boleh ada yang nonton."
Farhan mengedipkan sebelah matanya padaku sambil tersenyum miring.
Serius, menyebalkan sekali. Aku berlagak mau muntah dan memasang muka
jijik. Sedangkan Anisa langsung mendaratkan sebuah cubitan di
pinggangnya. Cubitan maha pedas yang menyebabkan Farhan sampai meringis
kesakitan.
"Ya sudah, karena kamu sudah datang, aku mau pulang."
Aku beranjak dari duduk. Menghampiri Anisa dan mengusap lengan atasnya. "Cepat pulih, ya, Nis?"
Anisa mengangguk sambil tersenyum dengan wajahnya yang masih pucat. "Makasih ya, Sha."
***
Aku berbalik setelah menutup pintu ruang rawat Anisa. Bermaksud pulang memakai taksi, aku berjalan ke arah lobi rumah sakit.
Namun langkahku terhenti di ujung koridor. Ada seseorang yang berdiri
bersandar di tembok. Matanya terpejam. Tak ada kegiatan yang dia
lakukan. Tapi aku seakan tahu tujuannya ada di situ. Dia ingin berbicara
padaku.
Sesaat kemudian mata itu terbuka. Kepalanya menoleh ke
arahku. Setelah bertemu pandang, dia langsung menegakkan posisi
berdirinya.
"Bisa kita bicara?"
***
"Aku mau menyampaikan permohonan maaf yang telah lama tertunda."
"Nggak perlu. Kurasa kamu nggak punya kesalahan apapun padaku. Jadi tidak ada yang perlu dimaafkan."
Pria berambut cepak khas eksekutif muda itu menghembuskan napas berat. Terlihat banyak beban pikiran.
"Orangtua kami meninggal sekitar tujuh tahun yang lalu. Dalam
kecelakaan lalu lintas. Saat itu aku baru memulai karir, sedangkan Dara
masih kelas satu SMP."
"Aku pikir semua akan baik-baik saja. Dara
adalah anak yang manis, penurut, dan juga pendiam. Dia tak pernah
membantahku. Juga selalu mentaati peraturan yang kubuat."
"Tapi aku keliru. Terlalu lalai. Tugas menggantikan peran orangtua yang kuemban, malah aku sepelekan."
"Semua bermula ketika aku dimutasi oleh kantor sekitar tiga tahun yang
lalu. Aku harus pindah tugas di luar kota. Entah kenapa aku mempercayai
Dara akan baik-baik saja. Toh aku akan pulang menengoknya sebulan
sekali."
"Itulah kesalahan terbesarku. Yang sampai saat ini,
masih terus aku sesali. Aku telah menghancurkan masa depan Dara. Aku
juga telah menghancurkan rumah tanggamu. Andai saja waktu itu aku
bersikap lebih bijak. Membawa Dara untuk ikut serta pindah, atau mungkin
resign dari pekerjaan dan mencari pekerjaan lain di kota ini. Mungkin
semua ini nggak akan terjadi."
Aku menyimak segala ucapan Irham
dengan perasaan kacau. Ini seperti membuka luka lama. Sungguh, aku
memang sudah berproses dalam menyembuhkan luka hati. Tapi itu tak
menghalangi rasa nyeri itu hadir saat aku diingatkan kembali pada masa
itu.
Apalagi tadi aku sempat melihat anak itu. Walaupun hanya
sekilas karena aku langsung berlalu setelah bertatap muka dengan Irham.
Anak itu, yang hadir ketika aku juga tengah mengandung anakku. Anakku
pergi, tapi dia masih ada. Bila tak ada iman di hati, aku sungguh ingin
merutuki takdir ini.
"Sekarang kehidupan Dara juga semakin
hancur. Dia menikah tapi hidup seperti tidak bersuami. Kewajiban
suaminya yang terpenuhi hanya sebatas uang untuk biaya hidup."
"Cari Salman. Suruh dia bertanggungjawab." Aku mengatakan itu dengan nada tajam.
Irham menatapku dengan pandangan putus asa. Entah apa yang dia pikirkan
tentang aku. Mengapa dia harus menceritakan semua ini padaku? Posisiku
sudah berada di luar lingkaran hidup mereka.
"Sudah. Bahkan
berkali-kali. Pernah juga aku sampai memukuli dia karena tidak menjenguk
anaknya yang sedang sakit. Tapi dia tetap tidak berubah. Seolah baginya
Dara dan anaknya itu bukan sesuatu yang berarti di hidupnya."
"Dan Dara juga keras kepala. Saranku untuk berpisah dengan laki-laki itu
hanya dianggap angin lalu. Padahal apa gunanya berkeluarga hanya untuk
label status saja. Kalau hanya biaya hidup, tidak perlu bergantung pada
suaminya itu. Aku masih sanggup menghidupi adik dan keponakanku."
Nyata emosi yang bergelut di dada Irham. Aku bisa memakluminya. Dia
pasti tak rela adiknya semata wayang harus menderita karena suaminya.
"Yang jelas, aku tak ada hubungan lagi dengan Salman. Apa yang terjadi
padanya dan keluarga barunya, bukan lagi menjadi urusanku."
Irham menganggukkan kepalanya. Tanda dia paham akan maksud ucapanku.
"Tapi aku bisa minta sesuatu padamu?"
"Apa?"
"Tolong maafkan Dara."
Aku tersenyum sinis. Hebat wanita itu. Berharap mendapat maaf tanpa meminta maaf. Lucu sekali.
"Kenapa kamu yang meminta maaf untuk kesalahan Dara?"
"Dia malu untuk bertemu denganmu. Percayalah, adikku tidak seburuk itu."
Kali ini aku berikan tawa dengan pandangan sinis ke arah Irham.
Harusnya dia tahu kalau seseorang tidak bisa dibela secara membabi buta
seperti itu. Walaupun itu adiknya sendiri. Salah tetaplah salah.
"Oke, aku maafkan. Tapi minta dia untuk tidak muncul di kehidupanku lagi."
***
Ayah sedang duduk di teras saat aku sampai di rumah. Segera kusalami beliau.
"Anisa gimana?"
"Anisa dirawat, Yah. Tapi kondisinya sudah bagus, kok. Farhan juga sudah ada di sana."
Ayah mengangguk kemudian menyesap kopinya. Tangannya menunjuk kursi kosong. "Duduk dulu, Sha. Ada yang mau Ayah bicarakan."
Aku duduk kemudian diam menunggu apa yang ingin diucapkan oleh Ayah.
"Kamu sudah bisa melupakan Salman, Sha?"
Aku mengernyit. Tumben sekali Ayah mengangkat topik ini. Sebelumnya,
kami selalu menghindari nama itu disebut dalam pembicaraan apapun.
"Sudah, Yah. Ayah sendiri yang bilang sama aku kalau tak ada gunanya mengingat rasa sakit yang diberikan seseorang."
Ayah mengangguk-angguk. "Kamu tahu, Sha? Keputusan yang paling Ayah
sesali seumur hidup Ayah adalah saat menyerahkan kamu ke Salman dulu.
Ternyata Ayah bisa keliru menilai dia. Ayah pikir dia bisa membahagiakan
kamu."
"Yah, itu semua sudah lewat. Tak perlu ada penyesalan lagi."
Aku paling benci kalau ada anggota keluargaku yang menyalahkan diri
atas kejadian itu, padahal satu-satunya tersangka yang harus disalahkan
adalah Salman.
"Tapi ada yang mau Ayah sampaikan. Sore tadi, ada
seorang pria berkunjung ke rumah ini dan menemui Ayah. Dia mengatakan
niatnya untuk meminta kamu menjadi istrinya."
Aku kaget luar biasa. Sampai kehilangan kemampuan untuk berkata-kata selama beberapa saat.
"Siapa, Yah?"
"Dia bilang sudah cukup lama mengenalmu untuk menilai kalau kamu bisa menjadi calon istri yang baik untuknya."
To be continued ....
***
#Revisi_Hati
Part 7
"Nggak mau sekalian mampir masuk ke dalam? Mungkin bisa ketemu dengan beberapa mantan rekan kerja kamu."
Pertanyaan itu disuarakan ketika pelayan rumah makan yang mencatat pesanan kami berlalu pergi.
Aku menggeleng. Sebenarnya saat ini aku gugup sekali. Tapi pertemuan
ini harus dilakukan. Serius. Bahkan semalaman aku tidak bisa tidur
karena memikirkan apa yang akan aku sampaikan padanya dalam pertemuan
ini.
"Langsung saja, ya, Mas? Aku minta kamu jawab pertanyaanku. Bisa?"
Dia mengangguk mengiyakan dengan senyum tipis.
"Benarkah kemarin kamu datang ke rumahku?"
"Iya."
"Bertemu dengan ayahku?"
"Iya."
"Terus ... kamu ... melamarku?"
Kali ini anggukan kepala yang dia berikan. Aku menyandarkan punggung ke
sandaran kursi yang kududuki. Masih tidak habis pikir dengan kenyataan
ini.
"Kok bisa???" Aku bertanya di antara rasa kebingungan ini.
Anehnya dia justru tertawa kecil dengan suara pelan.
"Ayahmu sendiri yang bicara sama kamu? Tapi kamu masih nggak percaya?
Kok bisa?" Dia mengadopsi nada bertanya yang tadi kupakai.
Tanpa sadar, aku langsung mendengus.
"Aku nggak sedang bercanda, Mas Adam."
"Aku juga serius, Gisha Adriani."
Kemudian dia tersenyum sambil mengangkat kedua tangannya. "Oke.
Sekarang benar-benar serius. Memangnya ada yang aneh dengan niatku itu?"
"Aneh? Banyak."
"Coba sebutkan!" Dia menantang.
Aku mengangkat telapak tangan kananku dengan posisi terbuka. Lalu
menekuk satu persatu jariku mulai dari ibu jari sambil menyebutkan
keanehan yang kurasakan.
"Satu, ini terlalu mendadak. Dua, kita
memang kenal sudah lama, tapi tidak pernah dekat apalagi akrab. Tiga,
kenapa Mas pilih aku di antara banyak pilihan lain? Empat, semua ini
nggak masuk akal. Lima, Mas udah sukses bikin aku ngerasa lagi kena
prank." Aku menutup penuturanku bersamaan dengan kelima jariku yang
menekuk.
Mas Adam masih tampak tenang. Tidak terintimidasi sama
sekali dengan alasan-alasan yang aku katakan. Juga tidak kelihatan
gugup. Usia memang menentukan sikap dan pembawaan kali, ya? Atau karena
lokasi pertemuan yang kupilih adalah rumah makan dekat rumah sakit, jadi
dia merasa sedang di kandang sendiri.
"Sudah? Cuma itu?"
Enteng banget, dia yang bertanya. Aku mengangguk mantap. Berusaha
menguasai keadaaan. Jangan sampai kelihatan kalau aku nervous.
"Satu, kamu bilang ini mendadak? Bagiku, nggak juga. Kamu sudah punya
waktu dua tahun untuk berbenah hati, jadi kurasa ini justru waktu yang
tepat. Timing itu penting banget. Karena kalau kelamaan aku menunggu,
bisa-bisa malah hilang moment'nya."
"Dua, kita sudah kenal lama
tapi tidak pernah akrab? Tapi buatku nggak harus akrab untuk bisa
menilai seseorang. Aku bahkan sudah hafal karakter kamu dari cerita
Salwa sejak sepuluh tahun yang lalu. Aku pastikan semua orang juga akan
mengenalmu dengan baik kalau setiap hari dicekoki omongan tentang kamu,
Gisha yang beginilah ... Gisha yang begitulah. Dan setelah kita bertemu
lagi sejak aku pindah ke rumah sakit ini, aku setuju dengan cerita Salwa
tentang kamu."
"Tiga, kenapa aku pilih kamu dari sekian pilihan yang ada? Ya, sederhana jawabannya, karena aku suka sama kamu."
"Empat, ini nggak masuk akal buat kamu? Tapi sangat masuk di akalku."
"Lima, kamu ngerasa ini prank? Nggak dong. Aku nggak suka berbohong,
apalagi untuk hal-hal serius seperti ini. Lagipula kalau-kalau kamu
lupa, aku mau ingetin kalau aku itu dokter, bukan influencer."
Aku sukses melongo mendengar penjelasan panjang lebar dari mas Adam. Hal
ini mengingatkan aku pada kejadian beberapa tahun lalu. Saat aku tidak
sengaja melihat mas Adam sedang menjelaskan tentang metode operasi
invasif maupun invasif minimal beserta penanggulangan komplikasinya pada
para koas yang sedang bertugas di stase bedah.
Saat itu aku bisa
melihat beragam ekspresi. Dari yang terpukau sambil komat-kamit mencoba
mengulang kalimat-kalimat penting, ada yang sibuk coret-coret di buku
catatannya, dan yang paling lucu melihat mereka yang terbengong-bengong
dengan mulut melongo. Dan aku yakin kalau sekarang ekspresiku mirip
dengan reaksi koas yang terakhir kusebutkan tadi.
"Bagaimana? Jawabanku memuaskan? Atau ada pertanyaan tambahan?"
Mataku menyipit ke arah mas Adam. "Nanti aku pikirkan lagi pertanyaan berikutnya. Untuk sementara cukup dulu."
Tak kusangka mas Adam malah tersenyum, agak lebar dari biasanya.
"Good. Setidaknya kamu nggak langsung menolakku. Berarti masih ada kesempatan kita untuk saling mengenal terlebih dulu, kan?"
"Ya, aku merasa harus kasih mas Adam kesempatan. Apresiasi untuk sikap
berani yang kamu tunjukkan dengan menemui Ayah dan langsung meminta
restu beliau."
"Aku memang punya prinsip dalam menjalin suatu hubungan. Harus dengan restu orangtua. Tidak ada main belakang."
"Jadi mau mundur kalau seandainya nanti orangtuaku nggak setuju?"
Mas Adam malah tersenyum penuh percaya diri. "Aku optimis kalau bisa
meyakinkan orangtuamu. Justru, hatimu yang masih sulit kupastikan."
***
[Umur kamu berapa, Mas?]
Aku kirimkan pesan itu ke nomor ponsel mas Adam. Iseng saja sebenarnya. Tapi juga ingin tahu.
Setengah jam kemudian, bukannya membalas pesanku, mas Adam malah
menelepon. Tapi langsung aku tolak panggilan itu. Rasanya masih kikuk
saja kalau bicara lewat telepon.
[Jangan telepon. Lewat pesan aja.]
[Kamu dulu staff di HRD, dan kamu nggak tahu umurku?]
[Ya, aku memang nggak tahu. Memang Mas pikir aku sekurang kerjaan itu harus tahu umur semua staff rumah sakit?]
[34 tahun, dua bulan lagi.
Kalau umurmu?]
[Nggak sopan tanya umur ke perempuan.]
[Standar ganda, heh? Tapi nggak kamu jawab pun, aku sudah tahu. Selisih umur kita 6 tahun. Kamu sebaya dengan Salwa, kan?]
[Menurut Mas, apa yang menyebabkan seseorang selingkuh?]
Ada jeda cukup lama untuk mas Adam membalas pesanku yang terakhir ini.
[Kamu beneran nggak mau kita bicara lewat telepon aja? Biar lebih
jelas. Pertanyaanmu cukup krusial. Dan aku nggak mau kita salah paham
hanya karena kesalahan dalam pemaknaan tulisan.]
Aku tertawa
setelah membaca balasan pesan dari mas Adam. Dia ini benar-benar orang
yang serius. Dan sepertinya semua yang dibicarakannya itu harus
berbobot. Kalau laki-laki lain, aku rasa mereka langsung memaparkan
jawaban panjang lebar, yang 0,5% berisi pemikirannya, dan sisanya berisi
omong kosong semata.
[Kalau begitu, jawaban pertanyaan ini disimpan untuk pertemuan kita selanjutnya saja.]
[Balasan kamu itu secara tidak langsung adalah ajakan untuk bertemu denganku lagi, ya? Kamu mulai modus, ya, Gisha?]
Aku melempar ponselku ke atas kasur lalu memegang kedua pipiku yang rasanya panas. Kamu salah strategi, Gisha!!!
***
"Kamu benar-benar keterlaluan deh, Sha!" Maya berteriak tepat di samping telingaku.
Telunjukku langsung mendorong pelipis Maya agar kepalanya menjauh dariku.
Sabtu ini, Maya mengajakku mencari baju untuk dipakai ke acara undangan
pernikahan. Pernikahan salah satu teman kami saat SMA dulu. Setelah
mendapatkan apa yang kami inginkan, kami kemudian mengisi perut di food
court yang ada di dalam pusat perbelanjaan ini juga.
"Lebay!" komentarku. Tapi Maya malah mencibir ke arahku.
"Gimana nggak keterlaluan? Aku aja lho sekalipun belum pernah ngerasain
dilamar. Masa sih kamu udah dua kali dilamar? Nggak adil, nih!
Melanggar pancasila sila kelima."
Dasar Miss drama! Aku baru saja
menceritakan tentang mas Adam yang melamarku. Dan sesuai dugaanku, Maya
langsung bereaksi berlebihan. Padahal aku tidak menceritakan semuanya.
Seandainya dia tahu isi pesan-pesanku dengan mas Adam, pasti dia bakalan
histeris. Aku saja tidak menyangka kalau mas Adam yang kelihatan serius
seperti itu, tapi bisa begitu manis kata-katanya.
Aku dan mas
Adam memang semakin intens berhubungan lewat pesan. Aku masih belum mau
mengangkat teleponnya. Bagiku, lebih nyaman bertukar pesan.
Kami
belum sempat bertemu lagi karena mas Adam sejak beberapa hari yang lalu
pergi ke Bali. Mengikuti sebuah seminar para dokter spesialis bedah.
"Ini namanya rezeki anak solehah, May? Makanya banyak berdoa, dong. Biar cepat ketemu jodoh."
"Doa udah setiap hari, Sha. Cuma belum nongol juga. Kamu nih yang
peletnya kebangetan manjurnya. Mana yang kecantol dokter pula."
"Pelet apaan, sih? Ngawur!"
"Mau dong kapan-kapan aku dikenalin sama mas Adam ini. Siapa tahu dia bisa kenalin aku sama salah satu kolega dia."
"Ngarep, ya?" Aku sengaja bertanya untuk meledek Maya. Maya sudah
melotot ingin protes tapi didahului oleh suara yang menyapaku.
"Gisha?"
Aku dan Maya menoleh bersamaan. Sudah ada dua orang wanita berdiri di dekat meja kami.
Salah satunya adalah Salwa yang hari ini kelihatan cantik dengan gamis warna fuschia dan jilbab abu-abu muda.
"Eh, beneran kamu! Tadi waktu baru masuk sini, aku udah feeling kalau itu kamu biarpun aku baru lihat dari belakang."
Aku berdiri dari dudukku, diikuti oleh Maya.
Salwa menoleh pada wanita paruh baya yang berdiri di sampingnya. Wanita
yang tetap kelihatan cantik walaupun usianya sudah tidak muda lagi.
"Ini Gisha, Ma."
Mama Salwa tersenyum ke arahku. Dengan senyum anggun yang terlihat
tulus. Aku mengulurkan tangan yang langsung disambut oleh beliau. Bahkan
tanpa sungkan beliau malah menarik tubuhku, memeluk sekilas sambil
menempelkan pipi kanan dan kiri. Aku jadi salting dibuatnya.
"Cantik begini, pantas Adam kepincut. Ternyata selera putra mama memang tinggi."
Aku otomatis langsung tersipu dengan pipi yang memanas. Dan juga baru sadar kalau mama Salwa berarti mama mas Adam juga.
Kemudian beliau mengalihkan perhatiannya pada Maya yang berada di
sampingku. Maya yang tahu diri langsung mengulurkan tangan sembari
memperkenalkan diri.
"Saya Maya, temannya Gisha. Tante ini ibunya mas Adam, ya? Calon mertua Gisha, dong?"
Salwa dan mamanya tertawa mendengar ucapan Maya yang blak-blakan.
Wajahku sekarang pasti sudah benar-benar merah. Malu banget. Dasar Maya!
Ni anak benar-benar minta dikepang ususnya!!!
To be continued ....
***
#Revisi_Hati
Part 8
Gavin mencegat langkahku yang membawa nampan berisi secangkir teh dan piring berisi risoles buatanku.
"Kenapa?"
"Mbak, serius sama dia?"
"Memangnya kenapa? Kemarin pas dia pertama kali ke sini, kamu
ramah-ramah aja sama dia. Kenapa sekarang jadi pasang muka ngajak perang
begitu?"
Gavin mengembuskan napas sembari menyugar rambutnya yang hitam. Satu tangannya berada di pinggang.
"Kemarin dia ngakunya sebagai mantan rekan kerja, jadi aku nggak perlu waspada. Kalau sekarang jelas beda, kan?"
Aku tertawa kecil melihatnya. Kuserahkan nampan yang kubawa ke tangan Gavin. Dia menerima dengan bingung.
"Sekarang, bawain itu ke depan!"
"Lho? Kok jadi aku?" Gavin tentu saja langsung protes. Tapi aku tak
peduli. Dengan terpaksa, dia mengikutiku dari belakang dengan membawa
nampan itu.
Aku duduk di sofa panjang yang berada di sebelah kiri
sofa tunggal yang diduduki mas Adam. Gavin meletakkan nampan itu di
meja. Kemudian menyusul duduk di sebelahku di sofa yang sama.
"Silakan di minum, Mas," ucapku pada mas Adam.
Gavin masih diam. Tapi aku tahu dia mengamati mas Adam dengan tatapan
sok mengintimidasi. Sedangkan mas Adam terlihat tenang. Mengucapkan
terima kasih sebelum meminum perlahan teh dari cangkir yang masih agak
panas.
"Gimana kabarnya, Vin? Masih di perusahaan yang kemarin?"
Mas Adam yang memulai obrolan karena Gavin masih tetap bungkam, namun
juga tak beranjak pergi.
"Alhamdulillah, baik. Masih, walaupun banyak kendala dan masalah tapi asyik kerja di sana."
"Memang apa kendalanya?" Mas Adam tetap terlihat ramah biarpun Gavin menjawabnya agak malas-malasan.
"Ya, banyak. Mas juga nggak akan ngerti kalau aku bilang," jawabnya agak nyolot.
Kusikut pinggang Gavin yang berada di dekatku. Gavin balas dengan
melotot ke arahku dan pura-pura tak tahu arti kode dariku. Mas Adam
malah senyum-senyum melihat tingkah kami berdua.
"Ya, emang
bener, kan? Mas Adam nggak akan paham kalau aku sebutin istilah coding,
debugging, gateway, IP, dan istilah lainnya." Gavin menyerangku dengan
sewot.
Aku balas melotot. "Iya, benar. Kayak kamu, yang juga
nggak bakalan mudeng kalau mas Adam nyebutin istilah medis seperti,
laparoskopi, biopsi, atau kolektomi. Kamu paling cuma tahu istilah
amputasi, itu juga gara-gara kamu kebanyakan nonton sinetron."
Gavin tertawa mengejek ke arahku. "Sama juga. Mbak juga paling cuma tahu
istilah hacker doang, gara-gara kebanyakan nonton film."
"Ehm ...."
Suara deheman mas Adam membuatku dan Gavin menoleh ke arahnya. Menginterupsi ketegangan di antara kami.
"Mungkin kita bisa membahas sesuatu yang sama-sama kita pahami. Sepakbola, misalnya. Kebetulan tim favoritku Chelsea."
Gavin menatap mas Adam dengan senyum manis bin sinis. "Sorry, Mas. Berarti kita beda kubu. Aku fans sejatinya Liverpool."
"Oh ya, Mas, dulu waktu aku kuliah, kampusku pernah mengadakan kegiatan
sosial. Acara khitan massal. Waktu itu, aku jadi asisten dokternya.
Jadi aku tahu sedikit soal proses sirkumsisi. Mungkin bisa dipraktekkan
kalau nanti ketemu laki-laki kurang ajar. Biar ada efek jera. By the
way, aku cuma kasih info aja, nggak ada maksud lain." Gavin berbicara
sambil beranjak berdiri.
Pria berusia 26 tahun itu kemudian
berlalu ke dalam. Tanpa mengucapkan permisi pada mas Adam. Awas aja
nanti! Aku uleg pakai cobek.
"Adik kamu lucu, ya?" komentar mas Adam sambil tersenyum geli.
"Lucu? Selera humor kamu aneh, Mas. Nyebelin begitu dibilang lucu."
"Beneran. Dia begitu kan karena sayang banget sama kakaknya. Duh,
nambah lagi PRku. Selain orangtua kamu, ada adik kamu juga yang mesti
aku taklukan."
Duh, mas Adam ini to the point banget, sih!
"Gimana acara di Bali? Lancar, kan?" Aku bertanya untuk mengalihkan topik pembicaraan.
Mas Adam mengangguk. Wajahnya kelihatan masih lelah. Wajar, sih. Dia
baru sampai di Jakarta tadi pagi. Dan sore ini sudah datang ke rumahku.
"Alhamdulillah, lancar. Tapi padat banget. Oh, ya, ini aku bawain oleh-oleh buat keluarga di sini."
Mas Adam menggeser plastik berlogo toko oleh-oleh ke hadapanku.
"Makasih, Mas."
"Sama-sama." Mas Adam menghela napas sebelum melanjutkan ucapannya. "Kemarin, kamu sempat ketemu sama Salwa dan Mama, ya?"
Aku mengangguk mengiyakan.
"Gawat, Sha. Mama suka sama kamu. Aku sekarang diteror terus." Mas Adam
mengucapkannya dengan mimik dibuat memelas. Aku bukannya kasihan, tapi
jadinya malah gemas.
"Sha, aku mau jawab pertanyaan kamu yang kemarin."
"Oke. Aku akan dengar jawaban kamu, Mas."
"Bagiku, selingkuh itu disebabkan oleh gagalnya seseorang memegang
komitmen yang telah dibuatnya. Sebagian pelakunya kemudian menjadikan
beberapa hal sebagai alasan. Tapi bagiku, nggak ada sesuatu yang bisa
membuat orang untuk berselingkuh seandainya dia memegang teguh komitmen
yang dijalaninya bersama pasangan."
"Tapi kalau seandainya pasangan kita membuat kita kecewa, akhirnya melampiaskannya dengan selingkuh, bagaimana?"
"Tetap nggak boleh, Sha. Apalagi hanya karena hal seperti kecewa. Kamu
berpasangan dengan manusia, ya memang harus siap untuk kecewa. Kalaupun
memang kekurangan pasangan sudah tidak bisa ditoleransi, ya selesaikan
dulu masalahnya. Bukan dengan jalan selingkuh."
"Selesaikan? Maksudnya berpisah?"
"Bisa iya, bisa tidak. Tergantung dari keputusan yang diambil pasangan
itu. Setiap hubungan pasti ada pasang surutnya, Sha. Di saat itulah,
konsistensi kita terhadap komitmen yang kita buat bisa mempertahankan
hubungan itu."
"Kalau seandainya kita memutuskan untuk membuat
komitmen, apakah Mas bisa menjamin tidak akan ada perselingkuhan,
walaupun kelak aku mungkin berbuat sesuatu yang menyakitimu, atau
mungkin aku akan mengecewakanmu?"
"Pertanyaanmu ini sebenarnya
seperti dua mata pisau untukku, Sha. Kalau aku jawab iya, pasti kesannya
aku terlalu murah janji. Tapi kalau aku jawab tidak, kamu akan sulit
mempercayaiku."
"Tapi di sini, aku mau tekankan padamu dulu, Sha.
Kalau komitmen yang aku inginkan dalam hubungan kita adalah pernikahan.
Hubungan yang berkekuatan hukum dan agama. Di mana ada hak dan
kewajiban di dalamnya yang mengikat kita. Jadi, aku nggak akan
main-main. Kamu tanya kalau apakah aku bisa menjamin kalau aku bisa
setia selamanya sama kamu? Tentu, aku masih takut dosa, Sha."
"Pernikahan bukanlah hal yang bisa dipermainkan semudah itu. Tidak bisa
dengan alasan bosan, kecewa, atau lelah kemudian menjadikan kita menodai
janji pernikahan. Pangkal utama dalam suatu hubungan adalah sikap kita
memegang komitmen, Sha. Walaupun ribuan masalah timbul, ratusan kali
rasa kecewa hadir, dan puluhan penggoda mengganggu, kalau kita fokus
pada tujuan pernikahan, dan kita teguh memegang komitmen, semua akan
teratasi. Layaknya kapal yang sedang berlayar, kita tidak mungkin
berharap selalu dalam cuaca yang cerah, kan? Pasti ada saat di mana
badai itu datang. Kita tak perlu takut, cukup siapkan diri kita untuk
menghadapi badai itu."
Aku berusaha mencerna semua maksud yang
ingin disampaikan oleh mas Adam. Berusaha menelaah apakah ini yang aku
cari dari diri seorang pria yang kelak akan jadi pasanganku.
"Tapi bagi orang sepertiku, sulit untuk berjalan maju, di saat aku
pernah mengalami kejatuhan yang amat sangat menyakitkan, Mas."
"Aku paham, Sha. Maka dari itu, take your time. Sebanyak yang kamu
butuhkan. Aku siap menunggu. Tapi aku hanya ingin memastikan kalau kamu
sudah siap berjalan lagi, aku yang akan berdiri di sampingmu dan
menemani langkahmu."
Aku masih diam. Hatiku bimbang. Ini termasuk
satu langkah cukup besar dalam hidupku. Mengiyakan permintaan mas Adam
berarti memberikan harapan padanya. Tapi bagaimana kalau seandainya aku
akan terus stuck di tahap ini? Bukankah artinya penantian mas Adam hanya
akan sia-sia belaka.
"Kamu nggak takut kecewa sama aku, Mas? Kalau penantianmu nanti jadi sia-sia bagaimana?"
"Itu resiko yang sudah aku pikirkan jauh-jauh hari sebelum aku
melangkah mendekatimu, Sha. Aku anggap setiap kesempatan akan ada resiko
yang menyertainya. Jadi, aku bisa terima apapun yang terjadi nanti."
"Kalau begitu, tunggu aku siap, ya, Mas? Semoga tidak butuh waktu lama."
***
"Yah, tadi siang kan sudah Ayah yang suapin Ibu. Sekarang gantian aku,
dong," protes Gavin saat Ayah sudah menguasai nampan jatah makan dari
rumah sakit.
Sudah dua hari, Ibu dirawat di rumah sakit karena
sakit tipes. Seminggu mengalami deman tinggi, dan setelah dilakukan tes
darah ternyata hasil tes widalnya positif.
Dan sekarang dua orang anak-bapak itu sibuk berdebat tentang siapa yang berhak menyuapi Ibu.
"Ayah ini suaminya Ibu. Kamu cuma anak. Mending kamu kerja sana, Vin."
"Ini hari Minggu, Yah. Kantorku tutup hari ini."
Tapi Ayah tetap keras kepala. Ibu hanya tersenyum dengan wajah pucat
mengamati mereka. Akhirnya Gavin yang mengalah dan duduk di sofa yang
tersedia. Terlihat kesal.
Aku memutuskan keluar dari kamar karena
tadi ada teman-temanku yang datang menjenguk Ibu. Cuma mereka keluar
setelah melihat keadaan Ibu dan menunggu di kursi yang tersedia di
koridor agar Ibu bisa istirahat.
Maya tengah duduk dengan ponsel
di tangannya. Terlihat sibuk. Sementara Anisa mengobrol dengan suaminya.
Aku pun duduk bergabung dengan mereka bertiga.
"Eh, mas Adam mana, Sha? Aku penasaran nih pengen ketemu dia." Anisa bersuara ketika aku baru saja duduk.
"Kurang tahu. Mungkin masih praktik."
Tiba-tiba kurasakan sikutan dari Maya. Kepalanya memberi kode agar aku menoleh ke arah yang dia tunjuk.
Salman berjalan ke arah kami. Dia memakai kemeja denim berlengan
pendek. Aku sendiri cukup kaget melihat kedatangannya. Orangtuanya
kemarin memang sudah menjenguk Ibu, tapi aku tidak tahu kalau dia juga
berani menampakkan wajahnya di sini.
Ini memang bukan pertemuan pertama kami sejak berpisah. Ada beberapa kali pertemuan. Namun aku selalu bersikap abai padanya.
"Hai, Gisha?" Dia menyapaku pertama kali. Kemudian berganti menyapa Maya, Anisa, dan Farhan.
"Boleh aku masuk? Aku mau jenguk Ibu." Salman minta izin padaku.
"Tentu. Silakan masuk. Ada Ayah dan Gavin di dalam," jawabku mencoba
terdengar santai. Dan untungnya mas Ghadi tidak ada di sini. Bisa babak
belur Salman dibuatnya.
Aku mengawasi Salman yang masuk ke ruang
rawat Ibu. Setelahnya aku menghembuskan napas dengan berat. Hati ini
masih sakit bila melihat wajah itu. Padahal aku sudah bertekad untuk
memaafkan. Tapi ternyata melupakan itu lebih sulit.
Kami berempat
duduk dalam diam. Tidak ada yang bersuara. Entah kenapa suasana jadi
dingin sejak Salman muncul. Pikiranku sendiri juga sibuk menebak apa
yang terjadi di dalam sana.
Salman tidak menghabiskan banyak
waktu di dalam kamar inap Ibu. Aku tahu pasti dia tak mendapat sambutan
yang ramah. Walaupun tidak memusuhi dengan memaki, tapi Ayah berubah
dingin menghadapi Salman sejak perselingkuhannya dulu terungkap. Ibu
lebih pada sikap netral. Beliau memang wanita lemah lembut yang sukar
bersikap buruk pada orang lain. Sedangkan Gavin, dia berubah dari fans
Salman menjadi haternya.
Jangan tanyakan sikap yang diambil mas
Ghadi. Dia menghajar habis-habisan Salman saat pertama kali bertemu
setelah kejadian itu. Salman sendiri hanya pasrah dan tidak membalas
pukulan-pukulan dari mas Ghadi.
"Bisa bicara sebentar, Sha?"
Bukannya langsung pergi, Salman justru kembali menghampiriku. Matanya
melirik ke arah Maya, Anisa, dan Farhan. Seolah tahu kalau kami butuh
privasi, ketiga orang itu berdiri.
"Aku pulang dulu, ya, Sha.
Kebetulan Mama lagi datang ke rumah, jadi aku nggak enak pergi
lama-lama." Anisa pamit dengan memelukku sebentar.
Maya mengambil
sebotol minuman teh kemasan dari dalam Tote bag yang dibawanya. Dia
memang sering membawa minum di tasnya bila bepergian. Tapi tangannya
mengulurkan minuman itu padaku. Yang aku sambut dengan kening berkerut
bingung.
"Diminum, Sha. Rasanya enak, deh. Terbuat dari pucuk daun teh. Emang kalau daun muda itu rasanya lebih segar."
Farhan membuang muka sambil terbatuk-batuk, yang aku yakini sebagai
usahanya menyamarkan tawa mendengar ucapan Maya. Anisa melipat bibir
menahan senyum. Sedang ekspresi Maya terlihat wajar, seolah mengatakan
hal yang biasa, padahal aku jelas melihat ada sindiran di dalamnya.
Apalagi dia menekankan kata daun muda.
"Iya, makasih." Hanya itu yang bisa kuucapkan.
Mereka bertiga kemudian berlalu. Meninggalkan aku dan Salman dalam keadaan diam.
Aku mengambil duduk di kursi persis di samping pintu. Salman
menyusulku. Duduk sejajar denganku namun memberi jarak satu kursi kosong
di antara kami. Aku diam menunggu. Tak ada niat sedikit pun untuk
memulai percakapan, apalagi mengawali dengan basa-basi.
Salman
juga betah dengan bungkamnya. Entah apa yang menyebabkan dia tak kunjung
membuka suara. Kesulitan menyusun kata atau masih berusaha mengumpulkan
keberanian.
Padahal dulu aku mengenalnya sebagai seseorang yang
supel yang tak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Tak pernah terlihat
kaku menghadapi orang yang baru dikenal. Juga pribadi yang bersemangat
dengan senyum yang menyiratkan seolah semua akan baik-baik saja.
Sekarang, secara fisik tak ada perbedaan signifikan yang kulihat dari
diri Salman. Dia masih tampil apa adanya. Rapi tapi tidak pernah
berlebihan. Namun jelas ada yang berbeda dari sorot matanya. Biarpun
cuma sebentar kami beradu pandang, tapi kulihat binar yang dulu tak
pernah redup di matanya itu seolah menghilang. Tidak meninggalkan jejak
apapun selain kekosongan.
"Apa kabar, Sha?" Akhirnya pertanyaan itu yang dia pilih sebagai pembuka.
"Baik." Aku sengaja tidak bertanya balik. Buat apa? Toh keadaannya sekarang tidak penting lagi bagiku.
"Mungkin kamu akan menganggapku nggak tahu diri, tapi aku akan tetap bertanya. Apakah kamu sudah memaafkan aku?"
Maaf? Memang sepenting apa kata maaf bagi seseorang seperti Salman ini?
Setelah dua tahun, apakah masih penting aku memaafkan dia atau tidak?
"Sha, sungguh aku nggak bisa lupain apa yang pernah kita jalani. Semua
ini seperti membunuhku pelan-pelan. Dan apakah aku salah kalau berharap
kesempatan untuk dapat kembali sama kamu?"
"Salah!" Aku menjawab sambil menatapnya tajam.
Salman balas menatapku dengan pandangan yang tak bisa kuartikan.
Seperti ada rasa sesal, sedih, dan pengharapan dari netra hitam itu.
Kami beradu pandang selama beberapa detik. Aku berusaha menyampaikan
perasaanku lewat jendela hatiku ini. Segala kesakitan yang pernah
kualami. Salman yang akhirnya mengalah lebih dulu untuk memutuskan
kontrak mata di antara kami. Kepalanya menunduk dan aku bisa melihat dia
tersenyum pahit.
"Rupanya sudah habis kesempatan untukku. Aku
memang nggak tahu diri, Sha. Apalagi bila ini berkaitan dengan kamu.
Bahkan sebenarnya aku rela menjadi budakmu asal bisa tetap ada di
sisimu."
Aku mengatur napas. Mengelola emosi dalam jiwaku. Tak
boleh ada gegabah dalam menghadapi Salman. Aku menyadari kalau harus ada
yang kututup dari masa laluku agar aku bisa membuka lembaran baru dalam
hidupku.
"Kamu sudah punya keluarga baru, Mas. Hiduplah
baik-baik dengan mereka. Aku sudah mencoba ikhlas dengan semua yang
terjadi. Kuanggap itu sebagai takdirku yang harus diterima dengan lapang
dada. Aku juga akan mencoba memulai hidup baru."
"Tidak semudah itu, Sha."
Aku tak bisa melihat ekspresi Salman saat menyuarakan kalimat itu. Tapi
dari nada suaranya yang bergetar, aku tahu ini berat untuknya. Tapi tak
ada gunanya menyesal sekarang. Semua tak lagi sama. Dan hatiku tak
selapang itu untuk bisa menerimanya kembali setelah dia melakukan
kesalahan besar.
"Memang tidak mudah, tapi bukannya tidak
mungkin, kan? Beberapa waktu lalu, aku bertemu Irham. Dia menceritakan
sedikit padaku soal keadaan adiknya sekarang. Apakah itu benar, Mas?
Kamu nggak pernah melakukan tanggungjawabmu sebagai seorang suami dan
ayah?"
Helaan napas yang berat terdengar. Kemudian jeda sejenak
sebelum Salman menjawab pertanyaan dariku. "Sulit, Sha. Aku selalu
teringat kamu, dan ... anak kita. Aku ... bahkan tak bisa melihat mata
anak itu tanpa teringat Haidar. Aku ...."
Suaranya terputus. Aku
menoleh padanya dan melihat dia menunduk dalam-dalam. Satu tangannya
menutupi mata. Dan bahu itu bergetar. Menyajikan pemandangan
menyedihkan. Kekalahan seorang Salman.
"Semua yang terjadi cukup
kita jadikan pelajaran, Mas. Tak perlu hidup dalam penyesalan selamanya.
Yang penting dirimu mau berubah menjadi lebih baik. Aku juga ...."
Kalimatku terhenti kala kepalaku menoleh ke arah kanan dan mendapati
mas Adam berdiri di ujung koridor. Menatapku dengan raut wajah yang
tidak terbaca dari jarak beberapa meter.
To be continued ....
#Revisi_Hati
Part 9
Aku mengikuti langkah mas Adam menuju kantin rumah sakit. Kami berjalan
dalam diam. Entah kenapa aku takut menghadapi reaksi mas Adam saat
melihat aku terlibat pembicaraan serius dengan Salman.
Untung
tadi, Salman mendapatkan telepon dan harus buru-buru pergi. Jadi tidak
ada konfrontasi langsung antara dia dan mas Adam. Bahkan kukira Salman
tidak mengetahui keberadaan mas Adam yang melihat kami. Wajar, dia
memang tak mengenal mas Adam.
"Duduk sini, Sha," perintah mas
Adam yang menarik sebuah kursi untukku. Aku menurut dan segera duduk.
Sedangkan mas Adam kemudian berlalu ke counter makanan. Tak lama, dia
kembali dengan membawa nampan berisi dua gelas teh panas dan sepiring
nasi goreng dan roti bungkus.
Mas Adam memindah isi nampan ke atas meja. Menggeser segelas teh panas dan sepiring nasi goreng ke hadapanku.
"Makan dulu, Sha. Kata Ayah dari pagi kamu belum makan."
Mas Adam sendiri meminum tehnya dan membuka sebungkus roti.
Mengunyahnya pelan sambil mengamatiku. Aku sebenarnya enggan makan tapi
kupaksakan diri untuk menelan. Namun aku hanya sanggup menghabiskan
beberapa suap saja. Mas Adam mengangkat alis saat aku mendorong piringku
ke samping.
"Sudah kenyang." Aku meringis.
Mas Adam menghela napas. Tangannya meraih sebungkus roti dan membuka plastiknya.
"Makan ini kalau gitu."
Terpaksa, aku mengambil roti dari tangan mas Adam. Menggigit sedikit
dan mulai mengunyahnya. Mas Adam tersenyum melihat apa yang kulakukan.
Dia kemudian meraih piring nasi gorengku. Aku langsung mencegahnya saat
mas Adam mulai menyuap.
"Jangan, Mas! Beli yang baru aja. Itu kan bekasku," ucapku.
"Nggak apa-apa. Daripada mubazir," jawab mas Adam terlihat cuek.
Aku memandangnya dengan agak heran. Dia ini kan dokter, kok mau makan
makanan bekas milikku. Mungkin karena merasa diperhatikan, mas Adam
mengangkat wajahnya. Menatapku dengan sorot mata bertanya.
"Kenapa?"
Aku langsung menggeleng seketika. Namun tetap mengawasi mas Adam yang makan dengan lahap. Sepertinya dia benar-benar lapar.
Mas Adam menyelesaikan makannya bersamaan dengan habisnya roti yang
kumakan. Pikiranku masih sibuk menerka tentang apa yang dipikirkan mas
Adam saat tadi melihatku bersama Salman. Dari tadi bahkan dia tak
menyinggung masalah itu.
"Mas, kamu nggak mau tanya sesuatu sama aku?"
Mas Adam menatapku dengan serius. "Memang ada yang mau kamu jelaskan?" Dia justru bertanya balik padaku.
Aku terpaku. Bingung dan tak paham akan reaksi yang ditunjukkan oleh
mas Adam. Apalagi dengan ekspresi mas Adam yang sulit kubaca, menjadikan
aku susah untuk meraba apa yang ada di hati dan pikirannya.
"Soal Salman tadi. Mas Adam melihatnya, kan?"
Mas Adam mengangguk dengan wajah datar.
"Kamu nggak cemburu?"
Dia malah tertawa. Aku merengut melihat respon darinya. Reaksi mas Adam
membuatku jadi meragukan kesungguhan perasaannya padaku. Bukannya orang
yang mencintai itu harusnya cemburu melihat orang yang dicintai
berkomunikasi dengan mantannya, apalagi mantan suami.
"Aku tahu diri, Sha."
"Hah? Maksudnya?"
Mas Adam mengulas senyum manis padaku. Membuatku jadi sedikit gagal fokus.
"Karena aku belum merasa punya hak untuk cemburu sama kamu." Aku
mengerutkan kening. "Mungkin akan berbeda kalau kita sudah menikah
nanti. Aku pastikan kamu harus minta izin sama aku kalau mau menemui
Salman. Dan itu juga tidak aku izinkan sendiri, aku akan menemani kamu."
Sekarang aku paham maksudnya. Dan kuakui kalau pemikiran mas Adam
begitu dewasa. Dia jelas mengedepankan logika ketimbang emosi semata.
Satu poin plus untuknya.
"Sha, kita nikah, yuk? Biar aku nggak perlu nahan rasa cemburuku lagi."
Kalimat ajakan dari mas Adam sukses membuatku tersedak teh yang baru saja kuminum.
***
Aku menghampiri mas Gadhi yang duduk di teras depan. Meletakkan secangkir kopi yang tadi dimintanya.
"Mas jadi pulang besok?" tanyaku sembari mengambil tempat di kursi sebelah mas Ghadi.
Mas Ghadi mengangguk. "Iya. Kasihan kak Mutia. Lagi hamil tapi harus
ngurus Fadil sendirian. Itu anak kalau sama mamanya manja banget."
Tangan mas Ghadi meraih cangkir dan menyesap isinya perlahan. "Lagian
Ibu sudah baikan. Kamu sama Gavin bisa kan bantuin Ayah buat jagain
Ibu?"
Kuanggukkan kepala. Melirik mas Ghadi, aku menghela napas.
Mengatur keberanian sekaligus menyusun kalimat. "Mas, kalau aku ingin
menikah lagi, menurutmu gimana?"
Mas Ghadi langsung terbatuk-batuk mendengar ucapanku. Membuatku meringis. "Apa, Sha?"
"Menikah. Sepertinya aku mau mencoba memulai hubungan dengan orang baru."
"Pernikahan itu bukan ajang coba-coba, Sha. Kenapa? Apa gara-gara
mantan kamu yang brengsek itu? Kata Gavin, dia jenguk Ibu waktu di rumah
sakit. Dia menekan kamu? Atau malah neror kamu untuk balikan?"
"Nggak," sahutku tidak terima. "Ini nggak ada hubungannya dengan Salman."
Mas Ghadi memicingkan mata ke arahku. " Beneran? Emang kamu sudah nggak ada rasa lagi sama dia? Udah beneran move on?"
"Jelas sudah dong, Mas! Setelah disakiti seperti itu, aku nggak sebodoh
itu untuk berpikir menerima dia lagi. Aku sama dia udah benar-benar
berakhir." Aku mengatakannya dengan yakin. Itu memang kenyataan. Tak ada
lagi rasa yang tersisa di hatiku untuk mas Salman. Penghianatan yang
dia lakukan sudah sukses menghanguskan semua simpati dan cintaku
padanya.
"Bagus kalau begitu." Matanya masih menyelidik padaku. " Terus siapa orangnya?"
"Namanya Adam Dewangga."
"Adam? Teman kamu yang jenguk di rumah sakit kemarin? Yang juga dokter di rumah sakit itu?"
"Iya. Sebenernya mas Adam juga sudah menemui Ayah. Minta izin dan restu
beliau. Awalnya aku masih ragu dan meminta waktu untuk
mempertimbangkannya. Dan sekarang aku sudah punya jawaban untuknya."
Helaan napas panjang keluar dari mas Ghadi. Dia menatapku serius.
Wajahnya yang serupa dengan Ayah itu sungguh bisa membuat orang yang
ditatapnya menjadi gugup. Tak terkecuali aku. "Ayah bilang apa?"
"Ayah bilang semua keputusan ada di tanganku. Tapi ... aku juga butuh pendapat kamu, Mas."
"Kalau aku nggak setuju memang kamu mau batalin niatmu itu?" tanya mas Ghadi.
Aku agak tertegun sesaat. Keyakinanku pada mas Adam memang sudah
mantap. Namun mendengar pertanyaan mas Gadhi membuatku agak goyah. Ini
pilihan yang sulit bagiku.
Usapan di kepala mengembalikan
kesadaranku dari bimbang yang menghampiri. Mas Ghadi memberiku senyuman
manis yang tulus. "Mas selalu percaya sama kamu. Dan pilihanmu pasti
tidak sembarangan. Kamu adalah salah satu perempuan langka yang sering
memilih untuk memakai logika ketimbang emosi atau perasaan dalam
menghadapi masalah."
"Jadi, Mas mendukung langkah yang akan kupilih?" Aku berusaha mencari jawaban yang pasti.
"Tentu. Asal kamu bahagia, Sha, itu sudah cukup bagi Mas, juga keluarga
kita." Mas Ghadi menjawab mantap. "Tapi kamu harus selalu ingat. Kamu
punya keluarga yang selalu bisa kamu andalkan saat kamu dalam kesulitan.
Jadi, tetap cari Ayah, Mas, atau Gavin kalau kamu butuh bahu untuk
bersandar. Oke?"
Aku mengangguk dengan pandangan yang mengabur.
Tidak perlu dukungan dari ribuan orang. Bagiku, cukup satu dukungan dari
keluarga, maka aku yakin untuk melangkah ke manapun dengan pasti.
***
"Hei?" Mas Adam menghampiriku dengan langkah yang terburu-buru. "Sudah
lama? Kok nggak ngabarin dulu. Untung hari ini pasienku nggak banyak."
Aku menggeleng. "Baru saja, kok. Tapi aku nggak ganggu pekerjaan kamu, kan, Mas?" tanyaku sedikit khawatir.
"Nggaklah. Sudah selesai semua pekerjaanku hari ini." Mas Adam duduk tepat di depanku. "Kamu udah pesan belum?"
"Belum. Nungguin kamu."
Dia tersenyum mendengar jawabanku. Membuatku aku jadi tertawa kecil.
"Sekarang udah bisa gombal, ya? Jangan begitu, dong, Sha. Kalau aku
makin suka sama kamu sementara kamu masih abu-abu begini, kan repot
untuk masa depan hatiku nanti." Aku tergelak sekarang. Mas Adam mengusap
tengkuknya dengan senyum agak salah tingkah. Menggemaskan.
Mas
Adam memanggil pelayan rumah makan untuk memesan makanan dan minuman.
Aku memilih mengikuti pesanan mas Adam saja. Toh sebenarnya aku kemari
bukan untuk makan, tapi untuk bicara.
"Tumben banget nih kamu ngajakin aku ketemu?" tanya Mas Adam di sela makannya.
"Habisin dulu makannya. Nanti baru bicara. Ada sesuatu yang mau aku omongin sama kamu, Mas."
Dia mengerutkan kening dengan heran. Tapi tetap menuruti permintaanku. Hening menguasai meja kami.
"Sekarang, kamu bisa bicara. Aku penasaran banget. Karena sepertinya
ini cukup serius." Rasa gugup tampak di wajah mas Adam. Aku yang
melihatnya jadi merasa geli, tapi juga kasihan.
"Mas, bisa luangkan waktu minggu depan?"
"Untuk?"
"Ayah dan Ibu menunggu kedatangan Mas ke rumah."
Mas Adam belum dapat menangkap arti kalimatku itu. Dia masih kelihatan bingung. "Memang ada apa, Sha?"
Yaelah, Pak dokter ternyata bisa lemot juga. "Ya, untuk membicarakan kelanjutan hubungan kita."
Butuh beberapa detik sampai pesanku sampai di otak mas Adam. Setelah
itu, dia terlihat senang sekaligus tak percaya. " Serius, Sha?" Aku
mengangguk menjawabnya. "Kamu yakin, kan?"
"Yakin dong, Mas."
"Sha, jawabanmu sudah dikunci, ya? Nggak bisa diganti lagi."
Aku tergelak sekarang. Wajah mas Adam kelihatan lucu sekali. Seperti
anak kecil yang diperbolehkan main padahal jam tidur siang. Senang tapi
takut itu cuma jebakan saja.
"Iya, Mas. Kuncinya udah aku kasih ke kamu sekarang."
To be continued ....
#Revisi_Hati
Part 10
"Ayo, turun! Mama sudah nunggu di dalam. Kalau Salwa sedang visit ke rumah pasiennya."
"Mas, jantungku rasanya deg-degan banget."
Mas Adam tergelak. "Ya, bagus. Artinya jantungmu masih bekerja untuk memompa darah ke seluruh tubuh."
Aku mencoba nengatur napas. Meredakan kegugupan dengan teknik yang
kutahu. Mengambil napas panjang dengan hidung dan mengeluarkan secara
perlahan melalui mulut. Saking konsentrasinya, aku sampai tak sadar
kalau mas Adam sudah turun dan mengitari mobil. Sekarang dia berada di
balik pintu penumpang yang aku tempati. Membuka pintu untukku dan
tersenyum berusaha menenangkan diriku.
"Please, Sha, cukup jadi
dirimu sendiri. Mamaku itu wanita hebat. Dia tak pernah memandang
sebelah mata seseorang hanya berdasar status saja." Ucapan mas Adam itu
menohok hatiku. Begitu nyatakah ketakutan yang kualami. Jelas ada
kekhawatiran kalau aku akan ditolak yang tersirat dari bahasa tubuhku
hingga bisa dibaca oleh mas Adam.
Aku menghembuskan napas sekali
lagi, kemudian mengucap basmalah di dalam hati. Semoga ini menjadi awal
yang baik. Untuk semuanya.
Mas Adam membuka pintu sembari
mengucapkan salam. Terdengar jawaban dari dalam. Kami melewati ruang
tamu dan langsung masuk ke ruang tengah yang sepertinya merupakan ruang
keluarga.
Satu sosok yang pernah kujumpai beberapa bulan lalu, tersenyum lebar dan berdiri menyambutku.
Mas Adam mencium tangan beliau. Saat giliranku, sebuah pelukan menjadi sambutan.
"Apa kabar, Tante?" sapaku, berusaha terlihat tidak gugup.
Mama mas Adam menggeleng. "Mama, Sayang. Kata Adam, kamu sudah menerima
dia. Jadi mulai sekarang mending langsung dibiasakan manggil 'mama'
aja."
Aku mengangguk kikuk. Dan mas Adam malah tertawa.
Menyebalkan. "Kamu tegang banget, sih! Ma, Gisha kayaknya takut banget
sama Mama." Aku mendelik ke arah mas Adam. Bukannya surut, tawanya
justru makin keras.
Mama akhirnya menggeplak lengan Mas Adam.
"Udah, jangan ganggu Gisha. Kalau dia marah dan batal nerima kamu, kan
nanti kamu yang merana." Lucunya, mas Adam langsung menghentikan
tawanya. "Sekarang, Mama mau bicara berdua sama Gisha. Percakapan empat
mata antara mertua dan calon menantu. Kamu ke atas sana. Bawa Papa kamu
ke sini. Gisha pasti belum kenal, kan?"
Mas Adam menurut.
Melempariku senyum sebelum berlalu dan menaiki tangga ke lantai atas.
Dan aku baru menyadari satu hal kalau mas Adam belum pernah menceritakan
apapun soal papanya. Sekalipun belum pernah. Membuatku jadi makin
gerogi.
"Sayang, santai aja." Mama mas Adam membelai lengan
atasku. Membuatku sedikit kaget karena pikiranku tadi sibuk sendiri.
"Adam sudah menceritakan semuanya tentang kamu. Juga apa yang pernah
kamu alami. Apakah kamu merasa rendah diri karena pernah gagal dan
menyandang status janda?"
Pertanyaan to the point dari Mama mas
Adam membuatku agak terkejut. Sekaligus bingung bagaimana menanggapi.
Padahal hal itu benar. Kadang ada rasa tak percaya diri yang menghampiri
saat mengingat kegagalan masa laluku.
Mama mas Adam menggenggam
tanganku erat. Entah kenapa memandang matanya yang teduh seolah dapat
mengenyahkan kerisauan di hatiku.
"Seseorang itu dinilai dari
seberapa tangguh dia menghadapi masalah yang menghadang hidupnya. Dan
Allah mendatangkan masalah itu pada kita, bukti kalau Allah percaya kita
akan mampu melewatinya. Persis, seperti yang sudah kamu lakukan. Kamu
jatuh, tapi kamu mau bangkit. Berdiri kembali, bahkan sekarang
menyiapkan diri untuk melangkah maju. Kurang keren apa calon mantu Mama
ini?"
Aku tersenyum tersipu. Pujian itu terdengar tulus. Dan aku seperti mendapat siraman air dingin. Menyejukkan perasaan.
Setelah selama ini, aku hidup dalam stigma negatif tentang janda yang
beredar di masyarakat, terutama orang awam. Aku tidak memungkiri kalau
hal-hal seperti itu kadang memberi tekanan pada mentalku. Bahkan aku
sempat ragu untuk kembali keluar menghadapi dunia.
Memang sudah
ada beberapa orang yang mulai terbuka pikirannya. Tidak melulu
menggeneralisir sesuatu, dan lebih objektif dalam menilai. Tapi
orang-orang seperti itu masih sangat terbatas jumlahnya. Dan untungnya,
calon keluarga baruku termasuk orang-orang yang sedikit itu.
"Makasih, ya, Ma," ucapku dengan sungguh-sungguh.
Suara langkah kaki menuruni tangga mengalihkan perhatianku. Kulihat mas
Adam sudah turun dari lantai atas. Sendirian. Lho di mana papanya? Apa
jangan-jangan beliau menolak bertemu denganku?
Tapi mas Adam
melangkah dengan wajah tenang. Tak tampak emosi negatif. Justru bibirnya
melengkung lebar. Kedua tangannya membawa sebuah pigura foto berukuran
sekitar 16R. Dia menyerahkan pigura foto itu pada mamanya.
Mama
mas Adam memperlihatkan pigura itu padaku. Tampak sebuah foto seorang
pria gagah berseragam tentara. Tampak tanda palang merah pada kain putih
yang tersemat di bagian lengan bajunya. Menerangkan kalau orang
tersebut adalah bagian dari tim medis.
"Ini papanya Adam dan Salwa. Meninggal sekitar dua puluh tahun yang lalu dalam tugasnya."
Aku tertegun mendengar kalimat dari Mamanya mas Adam itu. Kemudian
kutoleh mas Adam yang ternyata juga tengah menatapku. Kami berpandangan
selama beberapa detik. Kucoba menyelami bola mata hitam pekat itu.
Mungkin duka itu telah pergi. Tapi rasa kehilangan masih mengambang dan
tampak nyata.
Mama mas Adam membelai kepalaku dengan lembut.
"Jadi, status kita sama, Sha. Sekarang kamu harus ingat, kalau kamu
merendahkan dirimu, berarti kamu juga merendahkan Mama. Karena kita
sama." Kedua lengan wanita berhati mulia itu kemudian memerangkap
tubuhku dalam pelukan hangat. "Ingat itu selalu, ya, Sayang."
Aku
tak bisa lagi menahan air mataku yang menggenang di pelupuk mataku.
Apalagi saat isakan dari Mama mas Adam mengalun pelan. Kami terbuai
dalam keharuan bersama. Mama mas Adam mungkin teringat akan suami yang
dicintainya. Sedangkan aku lebih pada rasa syukur akan perhatian dan
pengertian yang kuterima.
Suasana syahdu itu terpecah oleh suara
nada dering telepon. Mas Adam mengambil ponselnya yang terletak di saku
celana. Menjawab panggilan itu sebentar.
"Salwa minta jemput. Kamu nggak apa-apa aku tinggal sebentar, kan, Sha?" Mas Adam bertanya padaku.
Mama mas Adam yang menjawabnya. "Nggak apa-apa, Dam. Tenang aja kamu. Gisha aman sama Mama."
"Iya, Sha. Mama asyik kok diajak ngobrol. Makanya banyak orang yang mau
bayar mahal cuma agar didengar curhatannya sama Mama." Mas Adam
menggoda Mamanya yang langsung dihadiahi cubitan di lengan. "Ini sih
emang nggak galak, tapi sadis namanya."
"Udah, sana jemput Salwa," usir Mama mas Adam.
Mas Adam kemudian berlalu dengan sisa tawanya. Membuat Mama geleng-geleng kepala.
"Adam dulu sebenarnya bercita-cita menjadi prajurit lho, Sa." Mama
menoleh padaku yang kaget. Kemudian beliau tersenyum. " Kalau papanya
adalah dokter militer. Maka, Adam lebih tertarik menjadi prajurit saja.
Tapi setelah Papa meninggal, Adam berganti haluan, dia lebih memilih
dokter. Setidaknya dengan hal itu, dia dapat memenuhi dua hal. Pertama,
meneruskan salah satu profesi papanya. Kedua, dia masih bisa menjaga
Mama dan Salwa."
"Dia memang sedewasa itu. Di usia belasan, dia
sudah merasa harus memikul tanggung jawab untuk menggantikan peran
papanya. Makanya, Mama bangga sekali dengan Adam."
Mama menggenggam erat tanganku. Matanya berkaca-kaca yang membuatku ikut merasakan kesedihannya.
"Dulu, Papa adalah pusat dunia bagi kami, Sha. Papa bisa menempatkan
diri dengan teramat tepat. Sanggup menjadi sosok suami yang hebat, ayah
yang membanggakan, dan juga warga negara yang begitu mengabdi pada bumi
pertiwinya."
"Kehilangan itu mendadak, Sha. Pagi itu Papa masih
sempat menelepon Mama dari tempat tugasnya di belahan Indonesia timur
sana. Masih menanyakan kegiatan PMR yang diikuti Adam. Sempat menanyakan
warna baju yang diinginkan Salwa sebagai hadiah ulang tahunnya. Dan
begitu malam tiba, berita itu datang. Mereka bilang Papa menjadi korban
hilang dalam bencana gempa susulan." Mama menjeda ceritanya sesaat hanya
untuk menyusut air matanya yang membasahi pipi. Aku pun sama. Sungguh
bisa kubayangkan duka yang dulu mendera keluarga ini.
"Mama
menelepon ke sana ke mari. Berharap mendapatkan berita yang kiranya
sedikit melegakan. Tapi nihil. Bahkan Mama tinggalkan anak-anak di
rumah, langsung pergi ke lokasi bencana itu. Hanya untuk menemukan tubuh
Papa yang tak bernyawa lagi. Tubuh yang beberapa minggu sebelumnya
masih mendekap erat Mama kala pamit akan kembali ke tempat tugas. Tangan
yang terkulai itu yang sempat menggendong dan menenangkan Salwa saat
rewel akan ditinggal. Bibir membisu itu yang sebelumnya masih memberikan
petuah panjang lebar pada putra sulungnya akan kewajiban seorang
laki-laki dalam keluarga."
"Sejak saat itu, Adam selalu berusaha menjalankan perannya sebagai kepala keluarga."
Mama tersenyum hangat. "Adam bilang kalau kamu adalah wanita yang
tangguh. Walaupun dihadapkan pada kehilangan bertubi-tubi, tapi masih
sanggup bangkit sendiri. Dan Mama yakin kamu pasti bisa mendampingi Adam
dengan baik." Aku langsung menggeleng. Pujian itu terlalu berlebihan.
Aku tidak setangguh itu.
"Aku bisa bangkit dari keterpurukan bukan karena aku tangguh, Ma. Tapi karena aku punya keluarga yang selalu mendukungku."
"Berarti keluarga kamu adalah keluarga yang hebat. Nggak heran makanya
menghasilkan anak sekeren kamu. Bisa survive setelah mendapat cobaan
luar biasa. Jadi, tolong bantu Mama dengan mendampingi Adam selalu, ya,
Sha?"
***
"Saya terima nikahnya Gisha Adriani Lukman binti Muhammad Lukman dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Mantap dan jelas suara mas Adam saat mengucapkan janji itu. Detik itu,
resmi dia menjadi suamiku. Menjadi seseorang yang berhak menerima semua
baktiku.
Bunyi derit pintu kamar yang terbuka mengalihkan pandanganku dari ponsel yang menampilkan puluhan pesan ucapan selamat.
Mas Adam masuk ke kamar masih dengan memakai baju koko yang dipakainya saat pengajian tadi.
Kami memang hanya mengadakan acara akad nikah saja hari ini. Disambung
dengan kajian dari seorang ustadz setelah acara akad. Resepsinya masih
dilakukan besok. Semua atas kehendak mas Adam. Katanya agar kami lebih
konsentrasi pada acara akad nikah saja yang sebenarnya jauh lebih
penting.
"Udah pada pulang semua, Mas?" tanyaku saat mas Adam keluar dari kamar mandi. Sepertinya habis mengambil wudhu.
"Sudah. Tinggal dua orang sepupu kamu, tapi katanya mau menginap. Itu
lho yang sebaya sama Gavin." Aku mengangguk. Mas Adam mengambil ponsel
dari tanganku. "Gih, ambil wudhu dulu. Terus kita sholat sunah
berjamaah."
Aku bergegas melaksanakan perintah mas Adam. Masuk ke
kamar mandi dan mengambil wudhu. Saat keluar kamar, mas Adam sudah siap
dengan dua sajadah yang telah tergelar di lantai. Mukenaku juga sudah
ada.
Mas Adam ini memang tidak seperti kebanyakan laki-laki
lainnya. Dia bisa menemukan benda-benda yang dicarinya padahal kamarku
ini masih asing baginya. Mungkin ketelitian yang membuatnya berbeda.
Padahal Gavin saja masih ribut tiap pagi karena tidak bisa menemukan
kaus kaki atau kemeja di lemarinya sendiri.
Kami segera melakukan
dua rekaat sholat sunah. Pertama kalinya aku menjadi makmum mas Adam.
Rasanya luar biasa. Akhirnya aku memiliki imam yang semoga kelak selalu
bisa membimbingku ke arah yang lebih baik lagi. Tak terasa air mataku
kembali menetes. Masih tak menyangka kalau akhirnya akan ada saat di
mana kebahagiaan kembali menyapaku.
Selesai berdoa, mas Adam
meraih kepalaku. Membacakan doa untuk kebaikan di ubun-ubun kepalaku.
Mengecup keningku lembut, kemudian tersenyum hangat.
"Makasih,
ya, Sha. Karena telah menerima Mas menjadi imam bagimu. Mulai sekarang
kita belajar bersama dalam membangun rumah tangga kita."
Aku mengangguk dengan wajah yang terasa panas. Apalagi mendapat tatapan intens dari mas Adam.
Dengan lembut mas Adam menggandengku. Duduk di tepi tempat tidur, mas
Adam memposisikan aku berada di atas pangkuannya. Yang kurasakan antara
bahagia, malu, dan juga gemetar karena gugup.
"Boleh kalau aku minta hakku sekarang?"
Pipiku rasanya panas sekali. Jantungku berdetak kencang. Tapi aku tahu
kalau mas Adam menunggu jawaban dariku. Maka aku lebih memilih
mengangguk daripada mengeluarkan suara yang takutnya terdengar seperti
cicitan.
Mas Adam mengusap pipiku lembut. "Aku memang nggak berpengalaman, Sha, tapi aku yakin bisa memberikan yang terbaik."
Tawa kecilku berderai. "Kalimatmu itu seperti orang mau melamar kerja, Mas." Mas Adam ikut tertawa.
Namun tawaku terhenti saat bibirnya mengecup bibirku. Hangat walau
hanya sekejap karena mas Adam kemudian menarik wajahnya menjauh kembali.
Lalu bibirnya membisikkan doa untuk keselamatan kami juga calon
anak-anak kami yang kelak mungkin akan dihadirkan oleh Allah.
Setelah itu, mas Adam memenuhi janjinya beberapa saat lalu. Mengajakku
untuk merasakan pengalaman yang luar biasa. Dan kami bagaikan anak kecil
yang baru saja menemukan mainan baru. Rasa ingin tahu kami menggelegak
dan butuh jawaban yang terus kami kejar. Hingga terdengar suara adzan
subuh dari masjid bersamaan dengan berakhirnya petualangan kami.
"I love you, Sha," bisik mas Adam dengan suara serak di telingaku.
To be continued ....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar