Persaudaraan Muslimah Indonesia, mempelajari Islam Secara Menyeluruh.

Kamis, 05 Maret 2020

Revisi Hati 11 - 14 (ending )

#Revisi_Hati
Part 11 by Iim Bundanya Faras

Aku meletakkan nasi goreng beserta telur mata sapi buatanku di meja makan. Tak lupa menaruh segelas air putih hangat.
Melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, aku segera menghampiri mas Adam yang masih ada di dalam kamar. Kami sekarang sudah tinggal di rumah kami sendiri. Rumah yang dibeli oleh mas Adam sejak beberapa tahun yang lalu. Sebelumnya rumah ini kosong dan hanya dibersihkan seperlunya saja. Mama memang tidak mengizinkan anaknya untuk tinggal sendiri saat masih lajang. Katanya sebagai upaya untuk meminimalisir kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.
"Mas, sudah hampir jam tujuh, lho. Agak cepetan, nanti telat. Hari senin biasanya kan di mana-mana sering macet." Aku mengingatkan mas Adam yang masih duduk di tepi tempat tidur. Entah sedang mengerjakan apa dengan gawai di tangannya.

Mas Adam segera berdiri sambil mengakhiri kegiatannya dengan ponsel. "Ada residen tadi telepon soal pasien rawat inap. Makanya aku kasih instruksi dulu sebelum aku datang."
"Ya sudah, sekarang sarapan dulu," ajakku pada mas Adam.
"Istriku yang cantik sudah siapkan sarapan apa?" Mas Adam kambuh lagi. Sejak menikah jadi hobi menggodaku. Dan aku masih saja tersipu mendengar gombalan darinya. "Tambah cantik kalau pipinya merah begini," tambah mas Adam dengan senyum jahil.

Aku melengos pura-pura cuek dan membalikkan tubuh. Baru akan melangkah keluar kamar, sepasang lengan melingkari perutku. Punggungku sudah menempel dengan dada mas Adam.
"Mas ...." Aku memberikan peringatan pada mas Adam. Aku tidak mau ada drama telat bekerja karena 'sesuatu' yang harusnya bisa ditunda.
"Janji dulu? Nanti malam tungguin aku pulang. Masa sudah dua malam, aku pulang kerja dan disuguhi pemandangan punggungmu yang sudah tidur," ucap mas Adam.
Aku terkekeh geli. Ya, aku sebenarnya juga nggak sengaja. Sudah berusaha menunggu suami pulang tapi mata tak bisa diajak kompromi. Terbiasa tidur di bawah jam sepuluh malam. Dan dua malam ini, mas Adam pulang menjelang tengah malam karena tertahan pasien yang harus dia tangani di IGD.
"Insya Allah, nanti malam aku tungguin." Aku melepas tangan mas Adam yang memelukku dari belakang. "Sekarang kita sarapan terus berangkat kerja. Oke?" Aku menoleh ke belakang dan mas Adam mengangguk lalu mencuri sebuah kecupan di pipiku.

***
"Suami kamu ke mana, Sha?" Maya bertanya ketika masuk ke rumah dan tidak mendapati keberadaan mas Adam.
"Rumah sakit. Tapi paling sebelum makan siang, sudah pulang ke rumah. Cuma visit pasien di bangsal rawat inap aja."
Maya berdecak sambil geleng-geleng kepala mendengar jawabanku. "Gila! Punya suami banyak duit ternyata repot juga, ya? Sampai hari Minggu juga masih ditinggal kerja." Aku mendengus, sementara Anisa tersenyum geli.
Aku mengelus perut Anisa yang membuncit. Usia kandungannya sekarang sudah memasuki delapan bulan. "Jenis kelaminnya apa, Nis?"
"Insya Allah cowok."

"Wah, Farhan senang banget pasti tuh! Secara dia emang pengen anak cowok, kan?" celetuk Maya.
Anisa mengangguk dengan bibir manyun. "Iya. Padahal aku yang pengen anak cewek. Tapi doanya Farhan yang terkabul. Tapi nggak apa-apa, sih. Yang penting sehat, kan? Eh, Sha, kok kamu malah bengong, sih?"
Teguran dari Anisa membuatku sedikit terkejut. Tadi tiba-tiba saja kilasan masa lalu menghampiri benakku. Tentang kehamilanku dulu, dan juga tentang Haidar. Menimbulkan sedikit rasa iri pada Anisa. Tapi segera kutepiskan rasa itu. Aku harus sadar kalau semua yang terjadi atas izin Allah.
"Nggak apa-apa. Eh, kalian mau minum apa? Biar aku buatin." Aku sengaja mengalihkan pembicaraan. Tak mau mereka menangkap kesedihan yang sempat hinggap di hatiku.
"Apa aja, deh. Sekalian camilan juga boleh," jawab Maya sambil nyengir. Aku pura-pura mencebik dan cepat berlalu.

Aku mengambil kesempatan saat di dapur. Mengelola emosiku. Aku tidak mau kembali meratapi takdir. Harusnya aku lebih bersyukur. Apalagi sekarang sudah ada mas Adam di sisiku.
Setelah memastikan wajahku kembali normal, aku bergegas ke ruang tamu. Membawakan makanan dan minuman untuk para sahabatku.
"Sha, sekarang kamu harus lebih pinter, ya? Kejadian yang dulu dijadikan pelajaran. Kamu harus lebih pantau kegiatan suamimu yang sekarang."
"Hush! Nggak usah kompor, deh, May!" Anisa yang menyahut. Tangannya dengan lancang menoyor kepala Maya.
Aku justru tersenyum melihat tingkah mereka berdua. "Udah. Ngapain juga kalian yang ribut. Dan buat kamu, May, aku percaya kok sama mas Adam. Dia itu beda sama Salman."
Maya terlihat ingin membantahnya tapi segera didahului oleh Anisa. "Bagus, Sha. Dalam rumah tangga itu yang terpenting adalah komunikasi dan kepercayaan. Terlalu banyak buruk sangka hanya akan menyiksa batinmu sendiri. Jangan dengerin Maya yang cuma pintar teori aja, tapi praktiknya nol."
"Iya, deh. Kalian emang lebih berpengalaman. Sudah merasakan indahnya menikah. Apalagi pengantin baru kayak Gisha ini. Jangan-jangan sofa yang aku duduki ini, semalam jadi medan perang, ya? Tapi nggak ada yang berceceran, kan, Sha?"
Aku menggeplak lengan Maya dengan segenap kekuatan yang kumiliki. "Nih orang masih perawan, tapi mulutnya nyampah banget, sih!"
Anisa terbahak melihat Maya yang mengelus lengannya yang barusan kupukul sambil meringis kesakitan.

***
Aku keluar dari kamar dengan wajah yang kutekuk. Moodku hari ini rasanya terjun bebas. Setelah seminggu, aku berdebar-debar karena jadwal haidku yang terlambat. Tamu bulanan yang tak aku harapkan itu justru muncul.
"Lho, mau ke rumah Mama kok malah cemberut begitu?" tegur Mas Adam yang duduk menungguku di ruang tamu.
"Aku lagi haid, Mas." Aku menjawab dengan lesu.
Mas Adam kelihatan heran. "Kamu haid, berarti aku yang puasa, tapi kenapa malah kamu yang kelihatan sedih?"
Kuhampiri mas Adam dan kulayangkan cubitan di perutnya. Membuat dia terkekeh geli karena sudah berhasil memancing kekesalanku. Padahal mas Adam tahu pasti apa penyebab mendung di wajahku ini.

Kedua tangan mas Adam kemudian merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya. Tangannya mengusap belakang kepalaku dengan lembut. "Anak itu rezeki, Sha. Hak prerogatif Allah. Kalau memang kita belum diberi kepercayaan, ya berarti kita harus banyak bersabar."
"Tapi aku takut kalau ada masalah dengan kandunganku? Apalagi aku pernah mengalami kecelakaan." Suaraku agak teredam dalam pelukan mas Adam. Mas Adam menghela napas namun tetap memberikan belaian lembut di kepalaku.
"Waktu kamu kecelakaan, tim dokter yang menangani kamu selain dokter kandungan, juga dokter bedah. Dan aku salah satu dokternya. Dan setahuku nggak ada yang bermasalah dengan rahim kamu." Tangan mas Adam menangkup kedua pipiku. Mendongakkan wajahku untuk menghadap ke wajahnya. "Atau biar yakin, kamu mau periksa ke dokter kandungan?"
Aku menggeleng. Rasa takut membuatku enggan untuk berkonsultasi dengan dokter. Aku takut kalau ternyata benar ada masalah dengan rahimku. Sesuatu yang sangat kutakuti.
"Kalau kamu nggak mau, ya nggak apa-apa. Tapi wajahmu juga jangan sedih seperti itu. Kita hanya harus berdoa dan berusaha lebih giat. Atau kamu mau nambah porsinya?"

"Mas!" Aku gemas sekali kalau omongan mas Adam suka menyerempet ke mana-mana. Dan mas Adam malah tertawa menyebalkan. Membuatku makin kesal.
Aku sengaja pura-pura marah sepanjang perjalanan ke rumah Mama. Bodo amat kalau dibilang aku childish. Tapi sebenarnya aku juga tidak serius marah. Hanya ingin membuat mas Adam jadi senewen aja.
"Sha, udahan ya ngambeknya? Aku janji deh akan berhenti godain kamu lagi. Eh, nggak berhenti juga, sih. Aku nggak akan sering-sering godain kamu. Aku akan berusaha agak jarang yang godain kamu."
Duh, kalimat permintaan maafnya mas Adam kok malah bikin aku mau ketawa. Tapi aku tahan biar nggak ketahuan.
"Sha, tolong maafin aku. Pliiiiiissss, Sayang?"
"Tapi janji dulu?"
"Janji apa?"
"Jangan marah kalau aku nanti ngerjain kamu." Dan lepaslah tawa yang sedari tadi kutahan. Apalagi melihat muka mas Adam yang agak kebingungan.
Namum saat dia akhirnya sadar kalau aksi ngambekku tadi cuma pura-pura, dia malah ikutan tersenyum geli. "Untung aku lagi nyetir, Sha. Kalau nggak, udah habis kamu!"
"Idih, ngancem! Emang Mas berani ngabisin aku?" Aku sengaja menantangnya.
Mas Adam mengerling jahil. "Berani, dong. Nanti aku ciumin kamu sampai kamu kehabisan napas."
"Mas Adam mesum!!!"

***
"Halo, Kakak ipar!" Sebuah pelukan penuh semangat menyambutku begitu pintu rumah terbuka.
Aku sampai terbengong. Sedikit syok dengan penyambutan penuh kasih namun agak sedikit bar-bar ini. Untungnya, Salwa sadar diri dan segera melepaskan pelukannya. Dia meringis ke arahku dan mas Adam.
"Aku berlebihan, ya?"
"Nggak berlebihan, kok. Cuma lebay dan norak aja," jawab mas Adam sembari menggiring kami untuk masuk ke dalam rumah.
Salwa mengerucutkan bibirnya. Membuatku tersenyum geli. Nih anak seumuran denganku tapi kadang aku merasa tingkahnya masih seperti abege.
"Mama ada di rumah, kan?" tanya mas Adam.
Salwa melirikku dengan raut wajah tak biasa sebelum menjawab pertanyaan mas Adam. "Ada. Kebetulan ada tamu buat Mama."
"Tamu? Siapa?"

Salwa benar-benar bertingkah aneh karena sekarang dia kembali melirikku. Dengan ekspresi takut-takut.
Jawaban belum diberikan oleh Salwa saat kami sudah sampai di ruang keluarga. Tampak Mama sedang berbincang dengan seorang gadis cantik. Walaupun sedang duduk, tapi aku bisa melihat kalau gadis itu tinggi semampai dengan wajah yang jelita. Mama dan gadis itu menengok bersamaan ke arah kami.
"Eh, kalian datang ke sini?" Mama berdiri dan menyambut kami. Tidak lupa selalu memberikan sebuah pelukan untukku.
"Hai, Mas Adam? Ini pasti istrinya, ya?" Gadis itu ikut berdiri dan langsung menyapa.
Aku tak mengenal siapa dia. Kurasa dia bukan keluarga mas Adam karena aku tak melihatnya hadir di acara resepsi pernikahan kami.
"Hai, Khanza? Kapan balik dari Australia?" Walaupun mas Adam membalas sapaan itu dengan nada datar tanpa antusiasme. Namun aku bisa menduga kalau hubungan mereka cukup dekat. Entah dulu, atau malah sampai sekarang.

"Baru dua mingguan, Mas. Dan aku kecewa karena kamu nggak undang aku ke pernikahan kamu. Aku kaget waktu Tante cerita kalau kamu sudah menikah. " Gadis itu memasang ekspresi pura-pura marah yang entah kenapa sangat menggangguku. Apalagi melihat nada bicaranya yang sok akrab dengan mas Adam.
Mas Adam justru tersenyum tipis ke arah Khanza. Tangannya merangkul bahuku. "Sekarang sudah tahu, kan? Dan ini istriku, namanya Gisha." Mas Adam menoleh padaku kemudian berkata, "Ini Khanza, juniorku waktu PPDS."
Aku dan Khanza saling bersalaman dengan singkat. Aku membalas senyuman ramahnya dengan senyuman yang kubuat semanis mungkin.
Tapi ucapan Khanza berikutnya sukses membekukan senyum di wajahku.
"Mas, kamu nggak sekalian bilang sama istrimu? Biar nggak jadi salah paham nantinya. Kalau selain hubungan senior dan junior, kita juga pernah pacaran."
To be continued ....
****


#Revisi_Hati
Part 12

Sesering apapun aku berusaha mengenyahkan bayang-bayang itu, tetap saja rasanya sangat sulit. Apalagi melihat penampakan dari mantan pacar suamiku itu. Body goals, dengan otak cerdas , dan background keluarga yang amazing.

Khanza ini ternyata selain menjadi dokter spesialis bedah di usia yang tergolong masih muda, dia juga merupakan putri dari direktur rumah sakit tempat mas Adam bekerja. Dengan kata lain, Khanza ini adalah anak dari salah satu dokter spesialis bedah syaraf terkemuka di Indonesia ini.
Dan bagaimana perasaanku saat tahu kalau Khanza dan mas Adam pernah menjalin hubungan asmara di masa lalu? Cemburu? Iya! Minder? Pasti! Marah? Iya, tapi aku bingung mau marah sama siapa! Dan jelas ini bukan kesalahan mas Adam ataupun Khanza.

"Khanza itu cantik, ya, Mas?" Aku sengaja memancing reaksi mas Adam saat kami sudah berada di rumah.
Mas Adam yang sedang membaca sebuah buku sambil bersandar di headboard menoleh ke arahku sambil mengerutkan dahi. Aku yang sedang membersihkan wajah di depan meja rias pura-pura sibuk untuk menghindari kontak mata dengan mas Adam. Jangan sampai mas Adam tahu kalau aku sedang cemburu. Malu sekali rasanya aku mengaku cemburu.
"Semua wanita kan emang cantik. Yang ganteng, baru laki-laki."
Jawaban netral setengah bercanda itu malah membuat suasana hatiku bertambah buruk. Secara tidak langsung, mas Adam nggak membantah kecantikan yang dimiliki Khanza.

"Pasti banyak laki-laki yang suka sama dia." Aku masih melanjutkan. Cemburu memang menguras emosi ternyata.
Aku yang sudah selesai dengan urusan wajah, berdiri dan naik ke atas tempat tidur. Langsung berbaring dengan posisi terlentang. Mas Adam menutup bukunya dan menaruh buku itu di atas nakas. Kemudian ikut berbaring, dengan posisi miring ke arahku.
"Kenapa malah bicara soal Khanza? Mending kita pakai quality time untuk ngomongin tentang kita sendiri, daripada bahas orang lain?"
Eh, ini mas Adam berusaha menghindar dan mengalihkan topik pembicaraan begitu?
"Dulu, gimana caranya mas Adam menyatakan cinta sama Khanza?"

Rasanya aku ingin melakban mulutku sendiri. Kenapa harus menanyakan hal seperti ini. Wanita kan memang lucu? Suka mencari tahu masa lalu pasangan tapi akhirnya jadi menyakiti hatinya sendiri dengan merasakan cemburu berlebihan. Kepo yang sebenarnya cari penyakit untuk dirinya sendiri.
Apalagi saat kepala mas Adam menggeleng. Itu artinya dia tak mau bercerita, kan? Apakah kenangan itu terlalu indah, ataukah menyedihkan karena akhirnya mereka harus berpisah?
Tapi aku enggan mencerca mas Adam dengan pertanyaan berikutnya. Lebih baik diam daripada tidak diacuhkan. Aku akhirnya memilih memiringkan badan dan memunggungi mas Adam. Dosa? Biarin deh, kan aku lagi marah.
Kurasakan mas Adam memelukku dari belakang. Aku berusaha melepaskan tangannya dari perutku. "Aku lagi haid, Mas." Aku sengaja mengingatkan. Eh, mas Adam malah tertawa.
"Aku cuma mau peluk kamu aja. Selamat tidur, Sayang. Jangan lupa berdoa dulu." Setelah itu kurasakan kecupan di puncak kepalaku.

***
Suara denting ponsel memecah keheningan yang menyelimuti saat aku dan mas Adam sedang sarapan. Aku memang sengaja tidak banyak bicara pagi ini. Lanjutan aksi kesalku semalam.
Karena posisi ponsel mas Adam tidak jauh dariku, aku bisa melihat layarnya. Menampilkan pop up pesan dari kontak bernama 'Dini Koas'.

Dan untuk apa pagi-pagi begini si Koas itu sudah menghubungi mas Adam???
Tapi mas Adam mengabaikan ponselnya. Padahal ada lebih dari satu pesan.
"Kok nggak dibuka? Siapa tahu penting?" Aksi tutup mulutku ternyata masih kalah dengan rasa kepo.
Mas Adam menggeleng dengan tenang. "Kalau penting, nanti juga telepon. Aku sudah bilang sama mereka, kalau penting jangan cuma kirim pesan."
Ah, pasti cuma alasan saja! Biar aku nggak tahu apa isi pesan itu dan apa balasan yang diberikan oleh mas Adam.
"Sayang, kamu kenapa sih kok dari semalam jadi irit bicara?" Mas Adam akhirnya menyadari keanehanku dan menanyakannya saat perjalanan berangkat kerja.
"Ah, biasa aja." Aku sengaja menjawab dengan singkat.
Dari ekor mataku, aku bisa melihat mas Adam melihatku dengan sorot mata tak percaya. Namun aku pura-pura tak peduli. Sengaja terlihat sibuk dengan ponselku yang menampilkan aplikasi google chrome yang terbuka. Dan terkutuklah jari-jariku yang mengetik 'tanda-tanda seseorang yang terlibat CLBK' di kolom pencarian.

***
Beberapa hari ini, aku benar-benar menyiksa diriku sendiri dengan terus membuat prasangka buruk. Tapi untungnya aku sudah bisa sedikit mengendalikannya. Aku sudah tidak bersikap dingin lagi pada mas Adam. Aku sadar kalau dalam kasus ini dia tidak bersalah.
Seperti aku sendiri yang punya masa lalu. Jadi, aku tidak bisa menuntut mas Adam karena punya masa lalu juga. Apalagi saat kami menikah, dia sudah berusia matang. Wajar kalau pernah ada satu atau dua perempuan dalam hidupnya.
Tapi tetap saja ada ganjalan besar dalam hatiku. Terutama pertanyaanku yang tidak dijawab mas Adam soal bagiamana dulu saat dia menyatakan cinta pada Khanza. Juga aku baru menyadari kebiasaan mas Adam yang sering mengabaikan pesan masuk di ponselnya saat berada di rumah.
Dan akhirnya aku tak bisa lagi menahan amarahku. Sore ini, harusnya aku dan mas Adam berkunjung ke rumah Ayah dan Ibu. Namun tiba-tiba saja ada panggilan masuk di ponsel mas Adam. Aku sempat melihat identitas si pemanggil. 'Renata Residen bedah'. Ini kenapa rumah sakit isinya koas dan residen perempuan semua, ya?

"Sayang, aku harus ke rumah sakit sekarang. Ada pasien korban kecelakaan di IGD. Penanganannya sudah di luar wewenang dokter umum dan residen bedah, sementara dokter spesialis bedah yang jadwal jaga hari ini, anaknya sakit. Nggak apa-apa kan kalau kita batalin dulu rencana kunjungan ke rumah Ayah dan Ibu. Lain kali kita reschedule. Oke?"
Bisa apa aku selain mengangguk. Tidak mungkin aku melarang kepergian mas Adam. Nyawa orang lain jadi taruhan. Jadi, aku hanya bisa menghela napas melihat mobil mas Adam berlalu pergi.
Tapi moodku benar-benar buruk. Ditambah aku sudah rindu pada Ayah dan Ibu. Maka dari itu kuambil langkah sedikit ekstrim. Bukannya kembali masuk ke dalam rumah, aku justru memesan taksi ke rumah Ayah dan Ibu.
"Lho kok cuma sendiri, Sha? Adam ke mana?" tanya Ibu kelihatan heran sekaligus khawatir. Setelah menikah, aku memang tak pernah datang sendiri. Selalu ada mas Adam yang menemani.
"Ke rumah sakit. Ada panggilan darurat." Aku menjawab singkat.
Ayah yang keluar dari kamar sempat terkejut juga melihatku sudah duduk di ruang tengah. Sebuah pelukan aku berikan pada Ayah.
"Kenapa mukanya kusut begitu?"
Ayah ini biarpun sering membuat orang segan karena pembawaannya yang kalem, tapi sebenarnya mempunyai hati yang peka. Ini salah satu buktinya. Ibu bahkan nggak menyadari suasana hatiku yang buruk, justru Ayah yang lebih sensitif.
"Nggak kenapa-kenapa, Yah."

Mata Ayah masih melihatku dengan tatapan menyelidik. Tapi beliau tak berkomentar lebih lanjut. Mungkin paham kalau aku termasuk orang yang sukar dipaksa.
"Sha, rumah tangga itu bukan sekedar menyatukan dua kepala. Tapi ada kompromi juga di dalamnya. Di situlah kita dituntut untuk bisa berpikir dengan kepala dingin. Mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan akal sehat, bukan emosi semata. Mengesampingkan ego, demi kedamaian bersama. Kamu paham itu, kan?"
"Paham. Lagian cara berpikir mas Adam juga dewasa, Yah."
"Adam, memang iya. Tapi kamu, belum."
"Ayah ...." Aku merengek tidak terima.
Tapi hal itu justru membuat Ayah tertawa.
"Sekarang kalau kamu lagi nggak punya masalah, mana mungkin ke sini sendirian? Adam nggak akan mungkin tega. Kecuali kamu yang pergi tanpa izin."
Makjleb banget kalimat dari Ayah itu. Tapi aku juga nggak mungkin mengakui ataupun menyangkalnya.

"Sebaiknya kamu coba introspeksi diri. Ayah hanya mengingatkan satu hal, setiap orang hanya menanggung dosa yang dibuatnya sendiri, tidak ada yang menanggung dosa orang lain. Ada hadits yang menyebutkan hal itu."
Aku mengerutkan kening dengan bingung. "Maksud Ayah?"
"Salman dan Adam itu dua individu yang berbeda. Jangan karena Salman pernah berbuat kesalahan, Adam menjadi ikut kena getahnya."

***
Mas Adam menjemputku ke rumah Ayah dan Ibu. Sebenarnya aku mau menginap saja, tapi mas Adam memberikan isyarat kalau dia tak mengizinkan. Dan membantahnya jelas bukan ide yang bagus. Apalagi di depan Ayah dan Ibu.
"Gisha, sekarang jelaskan sama aku. Kenapa kamu pergi tanpa izin. Kamu nggak mikir kalau aku bakalan khawatir saat pulang dan menemukan kamu nggak ada di rumah. Nomormu juga nggak aktif."

Aku diam. Membuka mulut pun percuma. Aku bingung bagaimana caranya mengungkapkan semua ganjalan di hatiku. Dan kalimat mas Adam bagiku hanya merupakan penghakiman saja. Padahal bagiku, dia yang bersalah di sini. Membuka peluang bagiku untuk salah paham dengan sikapnya.
"Sha, kamu sudah dewasa, kan? Harusnya tahu kalau masalah itu dihadapi, bukan dihindari."
Kalimat itu menjadi pelatuk bagi amarahku yang telah lama terendap. Baiklah, kalau memang ini kemauan mas Adam. Akan aku ungkapkan semua 'dosa-dosa'nya.
"Mas sendiri yang membuka peluang untuk timbul masalah itu. Aku nggak akan berprasangka sama Mas seandainya Mas mau terbuka sama aku."
Mas Adam kelihatan bingung, entah sungguhan atau hanya pura-pura saja.
"Kurang terbuka apa aku sama kamu, Sha? Memangnya ada hal yang aku sembunyikan darimu?"
"Banyak!" Aku melambaikan tanganku ke udara. "Mas nggak pernah jawab pesan dari rekan kerja perempuan saat di rumah. Artinya Mas nggak jujur dan terbuka soal bagaimana komunikasi antara Mas dan para koas atau residen atau perawat mungkin, bisa jadi juga yang lain-lainnya."

Mas Adam tak menyahut. Tangannya justru memberikan isyarat padaku untuk meneruskan bicara.
"Kedua, soal masa lalu Mas. Aku bahkan baru tahu kalau Mas punya mantan pacar."
Napasku terengah-engah. Namun hatiku lega. Telah mengeluarkan semua yang masalah yang tersimpan dan mencekik kedamaian hatiku.
"Sudah?" Mas Adam bertanya dengan tenang. "Sekarang, kamu duduk dulu. Aku akan jelaskan satu persatu."
Aku menuruti perintah mas Adam. Mengambil duduk di depan mas Adam. Terdapat meja di antara kami.
"Pertama, seperti yang sudah aku katakan sama kamu sebelumnya, aku memang nggak pernah balas pesan anak-anak koas ataupun residen, kecuali untuk hal-hal yang penting. Kamu mungkin tidak percaya, tapi bagiku komunikasi lewat pesan itu membuang-buang waktu dan tidak efektif sama sekali."
"Tapi dulu kita sering berkirim pesan, Mas. Aku masih ingat kok." Aku membantah alasan yang diberikan oleh mas Adam.
"Itu karena kamu yang nggak pernah mau angkat telepon dariku. Terpaksa, aku ladenin keinginan kamu untuk komunikasi via pesan. Kalau bukan kamu yang minta, aku juga nggak akan mau."
Ehm ... mas Adam bisa dipercaya nggak, ya?

"Kamu masih nggak percaya? Kamu bisa tanya sama kolegaku di rumah sakit. Mereka sudah tahu betul sifatku itu. Jadi jarang sekali ada yang mengirimkan pesan untukku dalam keadaan darurat."
Aku terpaksa menerima alasan dari mas Adam. Kuanggukkan kepala padanya.
"Kedua, soal Khanza. Kamu nggak pernah tanya soal masa laluku, makanya aku pikir kamu nggak tertarik. Jadinya, aku nggak pernah cerita apapun."
"Halah ... buktinya kemarin aku nanya juga nggak dijawab." Aku mencibir jawaban mas Adam.
"Kapan?"
"Kemarin aku tanya gimana caranya Mas Adam dulu nembak Khanza, tapi kamu nggak mau jawab."
"Aku nggak jawab? Bukannya aku waktu itu geleng kepala?" Mas Adam balik bertanya dengan heran. Duh, bikin aku kesal. Memang apa bedanya antara nggak mau jawab dan geleng kepala?
"Iya, geleng kepala artinya menolak jawab, kan?" Aku menyahut dengan nada kesal.
Mas Adam malah tersenyum. Jenis senyum miring yang meremehkan. Dan aku paling sebal bila diberi senyum seperti itu. Seolah meremehkan diriku.
"Gelengan kepalaku itu artinya tidak. Yang berarti tidak ada pernyataan cinta dariku buat Khanza."
"Halah! Nggak ada pernyataan cinta kok bisa jadian?"
Benar-benar ucapan yang nggak masuk akal.
"Ya, bisa. Karena bukan aku yang berinisiatif memulai hubungan kami dulu. Meminjam istilah kamu kemarin, Khanza yang nembak aku."
Aku melongo sejadi-jadinya. "Kamu nggak ngarang bebas kan, Mas? Masa sih?"
Mas Adam terkekeh geli melihat reaksiku. Dia berdiri dan menghampiriku. Duduk menempel padaku.
"Kamu kenapa nggak percaya begitu? Memangnya ada yang aneh?"
Aku mengangguk dengan mantap. "Aneh banget."
"Ya, dulu fokusku masih pada pendidikan dan karir, Sha. Banyak pencapaian yang masih ingin kuraih. Dan bagiku, pacaran hanya akan menghambat konsentrasiku saja."
"Bahkan perempuan sesempurna Khanza harus memulai duluan untuk bisa jadi pacarmu, Mas?"
"Iya, awalnya aku tolak. Tapi dia ngeyel katanya nggak akan ganggu fokusku. Aku kasih dia kesempatan tapi ternyata kami gagal. Ya sudah, bubar jalan. Bahkan di ingatanku, aku lebih cenderung menganggap Khanza itu juniorku, ketimbang mantan pacar."
Pengen nggak percaya, tapi kok sepertinya mas Adam berkata jujur.
"Tapi setelah target Mas Adam tercapai, nggak pengen balikan sama Khanza gitu?"
Mas Adam menggeleng. "Aku udah suka sama wanita lain. Dia yang udah bikin aku melakukan salah satu hal yang paling aku benci, mencetin keyboard hape cuma biar bisa ngobrol. Agar aku bisa pendekatan sama dia."
Duh, mas Adam ini kok jagonya merayu walau dengan wajah datar begitu. Dan anehnya aku tetap aja tersipu kalau mendengarnya.
Kedua tangan mas Adam menangkup kedua belah pipiku. Mengelusnya dengan ibu jari.
"Gisha, kamu harus mulai belajar percaya sama aku, juga dirimu sendiri. Jangan pernah merasa rendah diri lagi. Kamu itu memang luar biasa hingga bisa buat aku jadi tergila-gila sama kamu. Dan aku, memang cintanya sama kamu. Maunya sama kamu. Aku ini tipe laki-laki yang tahu betul apa yang aku inginkan. Aku akan perjuangkan apapun yang benar-benar hatiku inginkan. Jadi stop berpikiran macam-macam."

"Kunci hubungan yang paling penting adalah komunikasi dan kepercayaan. Kalau kamu punya ganjalan apapun itu, bicarakan sama aku. Lebih baik kamu marah-marah daripada kamu diam saja. Karena diam itu tidak menyelesaikan masalah. Dan juga, coba berikan kepercayaan padaku. Aku ini suamimu. Pria yang sudah mengambil alih tanggung jawab atasmu dari tangan Ayah. Jadi, aku pastikan kebahagiaanmu adalah salah satu tujuan hidupku sekarang. Dan membuatmu menderita adalah pantangan besar bagiku. Tolong percaya sama aku, Sha."
To be continued ....
***


#Revisi_Hati
Part 13

Aku kaget saat melihat sebuah permintaan pertemanan di akun Facebook milikku. Sebuah akun dengan nama Khanza Syakira Risyad. Tak perlu membuka profilnya, aku sudah tahu kalau ini akun milik si mantan suamiku.
Sebenarnya hatiku ingin menekan tombol hapus, tapi jariku menurut pada logikaku yang menyuruh menekan tombol konfirmasi.
Kebetulan kulihat dia sedang online juga. Dan tak berselang lama setelah aku mengkonfirmasi permintaan pertemanannya, ada pesan pribadi masuk darinya.
[Hai, Gisha? Masih ingat aku, kan?]
Bagusnya aku jawab apa, ya? Pura-pura lupa aja, biar dia tahu kalau dirinya tak sepenting itu untuk kuingat. Tapi bagaimana kalau dia justru mengira otakku lemot dengan daya ingat yang lemah? Fiuh ... repot juga nanti.

[Hai, ingat kok. Junior mas Adam, kan? Yang kemarin ketemu di rumah Mama.]
Aku langsung mengirimkan balasan itu.
[Kemarin kita belum sempat ngobrol. Kapan-kapan kita bisa ketemuan, nggak? Aku penasaran mau ngobrol sama kamu. Pasti seru kalau kita bahas gimana mas Adam yang dulu dengan mas Adam yang sekarang.]
Seru? Kok aku nggak minat sama sekali, ya? Namun karena mengingat norma kesopanan yang harus kujunjung, aku terpaksa membalas pesan itu.
[Insya Allah, nanti aku minta izin dulu sama suami.]
Sengaja, aku tulis kata suami sebagai pengganti mas Adam. Biar dia tahu posisiku juga posisinya sekarang.

***
"Hai, Gisha? Apa kabar?" Khanza menyambutku dengan senyuman lebar.
Aku mengulurkan tangan bermaksud menyalaminya, namun dia malah memberiku sebuah pelukan plus cipika-cipiki. Seolah kami adalah teman yang lama tidak berjumpa.
Aktingnya lumayan juga. Namun aku juga tak mau kalah. Kuberikan senyuman paling ramah yang kubisa. Juga sapaan yang terdengar antusias.
"Alhamdulillah, baik. Kamu sendiri gimana?"
"Nggak pernah sebaik ini."
Lebay, cibirku dalam hati.
Khanza mengajak bertemu di restoran hotel tempat dia menginap. Awalnya agak heran juga saat mengetahui dia tinggal di hotel. Memang tak ada rumah di Indonesia?
"Senin besok aku mulai dinas di rumah sakit MCI. Akhirnya bisa kembali bekerja di negara sendiri."
Aku memasang wajah ikut berbahagia. Ternyata dia mau pamer kalau akan bekerja di tempat yang sama dengan mas Adam. Berharap aku cemburu? No! Kalaupun aku cemburu, aku lebih memilih untuk tidak menampakannya.
"Kamu sama mas Adam sudah menikah berapa lama, Sha?"
"Baru sekitar empat bulan."
Khanza manggut-manggut. Ekspresinya seperti menunjukkan rasa simpati. "Belum dapat momongan, ya?"
Pertanyaan itu menusuk tepat di hatiku. Ingin tersinggung, tapi aku tahan. "Belum dikasih sama Allah."
"Nggak apa-apa. Mas Adam juga sabar, kan? Dia dari dulu memang begitu. Selalu baik sama semua orang."
Aku hanya menanggapinya dengan senyuman. Tidak mau terpancing. Semakin ke sini, makin terlihat tujuan Khanza mengajakku bertemu. Jelas bukan tujuan yang baik.
"Mas Adam itu sebenarnya punya bakat yang luar biasa, lho, Sha. Kalau dia mau, dia bisa lebih sukses dari sekarang. Jauh ... jauh ... lebih sukses."
"Maksudnya?" Aku tak bisa menebak arah pembicaraannya kali ini.
"Selain menjadi dokter, mas Adam juga bisa mengembangkan kemampuannya dalam mengelola rumah sakit."

Ini jelas pembahasan di luar bidang yang aku kuasai. Tapi sedikit banyak aku agak paham juga. Memang kebanyakan dokter juga berkarir di luar profesi. Tapi kurasa mas Adam tidak tertarik pada hal-hal seperti itu.
"Sejak mas Adam masih menjadi residen, papaku sudah sangat menyukainya. Bahkan berharap punya menantu seperti mas Adam. Cerdas dan berbakat, juga punya loyalitas yang tinggi."
Aku menahan napas. Terasa ada nyeri yang menghujam. Namun kembali aku menenangkan emosiku. Aku tak boleh mempermalukan diriku sendiri.
"Tapi mas Adam itu terlalu idealis. Dia nggak mau mendekati orang-orang penting yang bisa mendukung karirnya. Dia juga menolak saat aku mengajaknya menikah. Padahal itu sangat bagus untuk perkembangan karirnya. Papaku jelas akan sangat mendukungnya." Khanza mengucapkan semua itu dengan nada ringan. Tak ada sedikitpun rasa sungkan yang dia miliki untukku. Padahal yang dia bicarakan adalah suamiku.
"Mas Adam memang bukan penjilat," ucapku tajam.

Khanza tidak bisa menyembunyikan rasa tersinggungnya. Ada sekelebat amarah di matanya.
"Kamu yang terlalu polos, Sha. Harusnya kamu bisa mendukung suamimu untuk maju. Hal itu pasti sudah aku lakukan seandainya aku yang menjadi istri mas Adam." Khanza benar-benar terlihat percaya diri.
Aku berusaha menenangkan diriku. Tak mau bertindak gegabah. Kalau aku sampai berbuat sesuatu yang memalukan, bukan cuma harga diriku yang jadi taruhannya. Tapi juga nama baik mas Adam.
"Aku rasa setiap orang punya visi masing-masing dalam hidupnya. Dan jangan salahkan orang lain bila tak sependapat dengan kamu. Kebahagiaan dan kesuksesan adalah sesuatu yang relatif. Tergantung dari sudut pandang mana orang melihatnya. Dan takaran setiap individu jelas berbeda. Itulah gunanya kita menempatkan diri sesuai dengan kemampuan kita." Aku mengucapkan semua itu dengan nada yang kubuat setenang mungkin. Padahal dadaku sudah bergemuruh. Bahkan mataku rasanya memanas. Amarah kadang memang memicu air mata bagiku. Hal yang tidak aku sukai dari diriku sendiri. Karena bagiku itu hanya akan memperlihatkan kelemahan saja.

Khanza kini tersenyum. Sinis. Rupanya dia merasa tak perlu lagi menutupi rasa tidak sukanya padaku. "Dan semua orang bisa berubah, Gisha. Wajar bagi mereka yang masih muda untuk berpikiran idealis, prinsipil, dan berego tinggi. Tapi ketika usia sudah semakin dewasa, mereka akan mulai menyadari kalau hidup nggak hanya butuh itu. Kejujuran memang penting, tapi ada yang jauh lebih penting. Pencapaian di mata masyarakat, kekuasaan, dan yang terpenting ... uang."
Seandainya aku tidak memikirkan mas Adam, pasti sudah kutampar wajah cantik itu bolak-balik. Agar dia sadar betapa picik pikirannya. Namun rasanya percuma mendebat orang yang sudah buta mata hati seperti Khanza ini. Jadi lebih baik aku menyingkir sebelum kehilangan kendali diri.
"Rasanya sudah cukup aku mendengar semua nasihatmu. Akan kupikirkan baik-baik di rumah. Tapi sebaiknya aku ingatkan kamu sekali lagi. Wanita yang akhirnya dipilih mas Adam, yang disebut namanya saat mengucapkan kalimat kabul adalah namaku. Harusnya kamu tahu itu artinya apa. Permisi."

Aku meninggalkan Khanza yang masih duduk dengan wajah terperangah. Terserah apa yang akan dia lakukan nanti. Yang jelas aku harus bisa menenangkan diri setelah mendengar masukan berbalut kalimat penghinaan yang barusan kuterima.
Dengan gerakan cepat aku berdiri dari kursi dan berbalik pergi. Melangkah menuju pintu keluar restoran. Mataku rasanya benar-benar memanas. Hingga kurasa satu kedipan saja pasti akan berhasil menjatuhkan bulir-bulir bening dari kelopak mataku. Telingaku rasanya juga berdenging. Jantungku berdegup cepat karena emosi yang menguasai.
Karena kurang konsentrasi, aku sampai menabrak seseorang di lobi hotel. Kami terjatuh bersamaan.
"Jalan pakai mata dong, Mbak!" tegur wanita yang baru saja kutabrak.

Seorang wanita yang mungkin berusia akhir empat puluhan. Berdandan khas sosialita. Sekarang dia memandang tajam padaku dengan marah. Ah, sial sekali. Kenapa di saat seperti ini aku harus berurusan dengan orang yang sombong dan menyebalkan. Kecelakaan tadi jelas-jelas adalah kesalahan kami berdua. Bila aku berjalan dengan terburu-buru, maka dia berjalan sambil fokus pada gawainya tanpa melihat sekitar.
"Maaf, ya, Bu? Ibu tadi juga bersalah. Fokus pada ponsel sampai tidak melihat sekitar." Aku membantah. Emosi yang kutahan sedari tadi rasanya butuh pelampiasan.
Wanita itu kini berdiri dengan tangan bertolak pinggang. Tampak semakin marah. "Dasar nggak punya sopan santun. Sudah salah, malah nyolot! Anak muda jaman sekarang. Belajar hargai yang lebih tua!"
Aku baru akan membalas ucapan itu saat kurasa ada seseorang yang menahan lenganku. Bersamaan dengan suara berat yang menginterupsi pertengkaran kami.
"Maafkan teman saya, Bu. Silakan lanjutkan urusan Ibu kembali."
Aku menoleh dan membeku melihat orang yang sekarang sudah berdiri di sampingku itu.
Dia ... Salman.

***
"Kamu kenapa, Sha? Nggak biasanya kamu emosi seperti tadi, apalagi dengan orang yang lebih tua."
Salman mulai menginterogasiku setelah memaksa aku untuk duduk di sebuah sofa yang tersedia di lobi hotel. Aku sebenarnya mau menolak, tapi juga tak enak hati. Apalagi Salman sudah membantuku menyelesaikan masalah tadi. Pikiranku sendiri masih terlalu kacau akibat kata-kata dari Khanza. Namun aku tak mungkin menceritakannya pada Salman.
"Aku nggak apa-apa kok, Mas. Mungkin sedikit sensitif aja."
Salman memandangku dengan tatapan menyelidik. Aku berusaha memasang wajah datar tanpa ekspresi. Semoga bisa mengenyahkan kecurigaan Salman.
"Kamu sendiri ada urusan apa di sini, Mas?"
Aku sengaja bertanya untuk mengalihkan topik. Dan untungnya Salman paham. Dia tak melanjutkan cecarannya padaku.
"Aku sedang jadi guru pendamping buat muridku yang mengikuti lomba debat bahasa Inggris. Kebetulan ini sedang jeda ishoma."

Aku mengangguk paham. Sesaat kami hanya saling berdiam diri. Otakku sedang malas untuk menciptakan topik obrolan.
"Sha ... selamat, ya, untuk pernikahanmu."
Aku tertegun sesaat mendengar ucapan selamat dari mulut Salman itu. Ada sedikit sendu terselip, tapi lebih dominan nada yang tulus. Aku memang tak mengundangnya kemarin. Buat apa? Hubungan kami sudah berakhir. Dan menurutku, dia juga tak akan hadir kalaupun aku mengundangnya.
"Makasih, Mas." Hanya itu yang bisa kuucapkan sebagai balasan.

Salman menghela napas panjang dan agak berat. Matanya menatapku dengan sungguh-sungguh. "Kumohon untuk tetap seperti ini, Sha. Setidaknya jangan memusuhi aku. Balas sapaanku bila kita tidak sengaja bertemu. Aku sendiri juga akan berusaha untuk tidak menemui kamu dengan sengaja. Kalaupun kamu tidak akan mungkin melupakan kesalahanku dulu, setidaknya ingatlah kalau pernah ada Haidar di antara kita. Pasti Haidar tak akan senang bila melihat orangtuanya bermusuhan. Bisa kan, Sha?"

Entah kenapa mendengar nama Haidar disebut oleh Salman membuat mataku berkabut. Anak itu ... adalah kehilangan terbesar yang aku alami. Dan aku tiba-tiba merasa bersalah padanya karena selama ini telah membenci pada ayahnya. Padahal pria inilah yang telah mengalirkan darahnya pada Haidar.
Tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, aku segera mengangguk mengiyakan permintaan Salman.
Keputusan Mama benar kan, Sayang?

***
Sebuah pesan masuk ke ponselku. Dari nomor asing yang belum ada di daftar kontakku. Ragu awalnya, namun akhirnya aku buka pesan itu.
Hatiku mencelos melihat sebuah foto yang dikirim. Foto mas Adam dan Khanza. Mataku memanas mengamati foto itu. Mereka memakai snelli dan berdiri berdampingan dengan tubuh merapat. Kedua tangan Khanza merangkul mesra lengan mas Adam. Kepalanya disandarkan di bahu mas Adam. Khanza tersenyum lebar ke arah kamera. Sedangkan mas Adam hanya tersenyum tipis, tapi kelihatan tulus dan tidak terpaksa.
Di foto itu disertai dengan pesan teks.
[Sesuatu yang disebut kenangan, tidak dilupakan, hanya tersimpan di sudut, dan menunggu untuk ditemukan.]

Aku masih menatap nanar layar ponselku. Ini hari Minggu, dan mas Adam memang pergi ke rumah sakit. Hanya untuk visit pasien rawat inap. Biasanya dia pulang sebelum makan siang, tapi sekarang sudah menjelang sore dan mas Adam belum tampak juga. Justru, aku mendapatkan kiriman foto ini. Jelas siapa pengirimnya, tidak lain, pasti adalah Khanza.
Otakku menyuruh untuk berpikir secara jernih. Jangan gegabah dan mudah tersulut. Tapi hatiku juga tidak bisa berbohong. Sakit sekali melihat kenyataan lewat gambar dua dimensi ini.
Kemarin, aku memang tak menceritakan tentang pertemuanku dengan Khanza pada mas Adam. Kebetulan mas Adam pulang kerja dengan muka kusut dan terlihat stress. Makanya aku tidak mau menambah beban pikirannya. Siapa sangka kalau sekarang aku disuguhi foto mesra suamiku dengan wanita lain.

Suara derit pintu menyadarkan aku dari pikiranku yang berkelana. Mas Adam sudah pulang. Wajahnya tampak biasa saja. Justru aku melihat dia lebih segar ketimbang kemarin ataupun pagi tadi.
Dia mengucapkan salam dan mengulurkan tangannya untuk kusalim. Aku melakukannya lebih seperti robot. Hanya berupa gerakan yang tercipta tanpa makna. Bahkan aku tak bisa mengukir senyum saat mas Adam mencium keningku.
Tiba-tiba saja kesedihan menyeruak di hatiku. Akankah aku merasakan kehilangan lagi? Benarkah mas Adam tega berkhianat padaku?
Dengan air mata tertahan, aku bergegas masuk ke dalam kamar. Tanpa memperhatikan raut wajah keheranan dari mas Adam. Aku bisa mendengar dia memanggil namaku dengan samar. Namun aku abaikan.
Terduduk di tepi tempat tidur, aku mengusap kedua mataku. Mencoba menghentikan laju air mata ini sebelum menjadi-jadi. Namun percuma. Air mata ini terus turun saling berkejaran. Membuatku sampai terisak pelan.
Mas Adam yang menyusulku masuk ke kamar terlihat kaget melihatku yang berkubang dengan tangisan. Dia mendekat dengan wajah yang panik.
"Kamu kenapa, Sha?"

Tangannya akan menyentuh bahuku, namun reflek aku menolak sentuhan itu. Mas Adam tampak agak syok dengan reaksiku. Namun dia diam. Hingga aku beranikan menatap matanya.
"Kenapa nggak jujur saja sama aku, Mas, kalau kamu memang lebih memilih dia?"
Kening pria itu berkerut dalam. Mungkim berpikir keras mengartikan kalimat random tanpa pembukaan yang aku lontarkan.
"Dia? Siapa?"
Aku mengusap kedua pipiku dengan kasar. Mengambil ponsel di saku rok. Mencari pesan sialan itu dan menyodorkan ke depan wajah mas Adam.
Mata mas Adam memicing. Meraih ponselku dan mulai mengamati foto itu.
"Kapan kamu dapat kiriman foto ini?" tanya mas Adam dengan intonasi rendah yang agak menakutkan di telingaku.
"Beberapa jam yang lalu."
Mas Adam menyerahkan kembali ponselku. "Dan menurutmu kapan foto itu diambil?"
"Hari ini." Entah darimana aku menyimpulkan ini. Tapi memang itu yang terpikirkan olehku sejak menerima foto itu.
Mas Adam masih terus menatapku. Menantang mataku dengan sorot seperti orang yang kecewa. Membuatku merasakan sesuatu yang asing. Aku tak pernah mendapat tatapan kecewa seperti ini sebelumnya.
"Sha, sampai begitunya kamu nggak percaya sama aku?"
Aku diam. Mulai ragu dengan asumsiku.

"Bahkan kamu nggak berusaha mencari kebenarannya padaku? Kamu lewatkan semua detail aneh hanya karena dikuasai oleh emosi dan segala prasangka yang diciptakan oleh pikiranmu."
Mas Adam menunjuk ponsel yang ada di tanganku. "Walaupun aku memang tidak pernah ganti gaya rambut, tapi apa kamu nggak sadar kalau di foto itu rambutku tampak lebih pendek? Kamu juga nggak perhatikan lengan snelli yang aku pakai. Juga kantong yang penuh dengan alat tulis itu?"
Aku menahan napas mendengar semua perkataan mas Adam. Sesaat kemudian mulai merutuki kebodohanku.
"Kamu memang bukan tenaga kesehatan, tapi setidaknya pernah bekerja di rumah sakit bertahun-tahun. Tidak bisa membedakan yang mana koas, residen, atau konsulen? Itu foto lama. Saat aku masih menjadi residen bedah."
Aku menggigit bibir bawahku dengan rasa bersalah yang menggelayut. Malu juga.
"Maaf, Mas," ucapku pelan.
Mas Adam menggeleng dengan sorot mata yang masih terlihat kecewa. Membuatku makin merasa bersalah.
"Ini bukan hanya masalah siapa yang salah dan siapa yang benar. Tapi dasar hubungan kita yang belum kuat, terutama dari kamu, Sha. Apakah nilaiku serendah itu di matamu hingga tak pantas mendapatkan kepercayaan darimu? Tadi, kamu nggak konfirmasi, tapi langsung menghakimi."
Aku tak bisa lagi membantah. Kemarahanku tadi langsung padam, berganti dengan perasaan bersalah. Juga merasa kerdil karena buruknya prasangka yang kuciptakan.
"Terus apa jadinya kalau kamu ada di posisiku sekarang dan mendapat kiriman foto ini?" Kini gantian mas Adam yang menyodorkan ponselnya padaku.
Aku melihat layar ponsel mas Adam yang menampilkan sebuah foto. Tenggorokanku langsung tercekat. Jantungku seolah langsung dipaksa berhenti berdetak sebelum kemudian berdebar dengan keras dan cepat.
Foto itu ... fotoku dengan Salman yang diambil saat kami duduk di sofa lobi hotel kemarin.
Aku tak mungkin membantahnya. Karena itu memang foto asli. Dan kalimat selanjutnya dari mas Adam semakin memojokkan posisiku.
"Aku ingat itu baju yang kamu pakai kemarin pagi saat akan berangkat bekerja. Dan baju itu belum lama kamu beli setelah kita menikah. Jadi, foto itu diambil kapan, Sha? Karena seingatku kamu nggak pernah cerita apapun soal pertemuan itu."
To be continued ....
***


#Revisi_Hati
Spesial Part
Salman's POV

"Nin, cewek yang barusan daftar, masuk ke kelas apa?"
"Kenapa, sih? Naksir, ya?
"Cuma nanya aja, sih. Tapi boleh dong aku dapet ngajar di kelas dia."
"Dasar!!!"
***
"Ngapain, sih, kamu ke sekolahku? Nggak cukup kita ketemu di bimbel aja? Aku bisa bosen kalau keseringan lihat wajah kamu."
"Ya ampun, jangan galak begitulah. Nanti kualat terus jadi naksir sama aku gimana?"
"...."
"Melotot gitu, kamu tetap cantik kok!"
***
"Kamu pacarnya Gisha?"
"Iya, Om."
"Bohong, Yah!"
"Terus kalian apa dong? Musuh tapi cinta?"
"Lagi usaha, Om. Doain ya semoga hati Gisha cepat dibukakan untuk saya."

***
"Traktiran gaji pertama aku sebagai guru yang sebenarnya, nih! Kamu mau makan apa, bebas pilih."
"Udah, deh! Baru gajian sekali, jangan boros begini. Mending ditabung uangnya. Atau beliin sesuatu buat mama kamu. Aku nggak usah ditraktir."
"Tabungan buat masa depan kita, ya?"
"Ngawur!!!"

***
"Makanya jangan kebanyakan begadang. Kurangi juga tuh kebiasaan kamu main PS."
"Siap, Cantik. Lagian sebenarnya aku juga nggak sengaja kok sakitnya kemarin."
"Idih! Emang ada gitu orang yang sengaja sakit?"
"Ada. Besok-besok aku mau sengaja sakit, biar sikap kamu bisa manis seperti kemarin."
"...."
"Sha, belum mau jadi pacarku?"
"Oke, deh."
"Hah? Apa, Sha?"
"Oke. Kamu tanya sekali lagi, aku ralat jawabanku."
"Alhamdulillah, ya Allah. Akhirnya penantianku selama tiga tahun terbayar lunas tanpa kredit."

***
"Capek, ya? Makanya nggak usah anter jemput aku segala. Rute kamu tiap hari itu udah ruwet banget. Dari rumah kamu, rumahku, rumah sakit, sekolahmu, ke rumah sakit lagi, rumahku lagi, terus baru kamu pulang ke rumahmu sendiri."
"Dibikin nggak ruwet, yuk?"
"Maksudnya?"
"Dari rumah kita, ke rumah sakit, sekolahku, ke rumah sakit lagi, baru pulang ke rumah kita."
"...."
"Nikah sama aku yuk, Sha?"
"Kamu serius?"
"Iya, serius banget."
"Tapi janji, ya? Kamu akan terus setia sama aku dan nggak akan berubah?"
"Tentu, Sayang."

***
"Sha, aku beneran mau jadi ayah?"
"Iya."
"Sha, kamu hamil anakku?"
"Ya iyalah anak kamu!"
"Sha, sekarang kamu panggil aku pake 'Mas' dong. Masa kita udah mau punya anak, kamu masih sebut nama aja ke suami kamu."
"Kebanyakan permintaan, deh."
"Please, Sayang ...."
"Iya, Maaaas. Puas???"
"Hehehe, lebih puas kalau sambil dikasih senyum manis, sih. Makasih banyak, ya, Sayang."

***
"Kamu kenapa diam aja waktu dikerjain sama teman-teman kamu? Harusnya kamu membela diri, atau minimal lapor sama guru."
"Maaf, Pak. Tapi mereka cuma bercanda kok."
"Bercanda kamu bilang? Kamu sadar nggak, sih? Kalau nggak kepergok sama saya, kamu itu mau dikunciin di toilet sama mereka."
"...."
"Saya akan minta guru BK untuk panggil orangtua kamu dan orangtua mereka."
"Jangan, Pak. Mereka akan semakin benci sama saya."
"Terus kamu mau diem aja? Sanggup jadi korban perundungan terus menerus? Ya sudah, saya mau panggil orangtua kamu saja."
"Orangtua saya sudah meninggal, Pak."
"Wali kamu?"
"Kakak. Tapi dia kerja di luar kota."
"Huft! Ya sudah, mau saya kasih saran, Dara? Cobalah kamu terbuka dengan teman-teman yang lain. Akrabkan diri dengan teman yang pemberani tapi baik, seperti Kartika misalnya. Dia pasti akan belain kamu kalau ada anak-anak bandel yang ganggu kamu."
"Iya, Pak. Terima kasih."
***
"Kamu kenapa belum pulang padahal udah sore begini?"
"...."
"Ada yang ganggu kamu lagi?"
"Dompet saya hilang, Pak. Saya nggak punya ongkos."
"Hilang atau diminta paksa? Ya sudah sini, saya antar kamu pulang."

***
"Ra, maafkan saya, ya? Harusnya saya nggak lakuin ini ke kamu. Ini salah. Dosa besar. Dan tadi pengalaman kamu yang pertama, kan? Harusnya saya nggak merusak kamu."
"Tapi saya nggak apa-apa, Pak."
"Tapi saya yang kenapa-napa. Saya udah punya istri."
"Selain kakak saya, di dunia ini cuma Bapak yang peduli sama saya. Saya nggak minta status atau apapun, Pak. Cukup perhatian dari Bapak saja, sudah sangat berarti bagi saya."
***
"Sayang, usia kehamilan kamu udah berapa bulan?"
"6 bulan. Emang kenapa, Mas?"
"Aku merasa belum bisa jadi suami yang baik buat kamu. Tapi kamu mau maafin aku kalau aku ada salah, kan?"
"Ih, kamu aneh deh, Mas. Belum lebaran, udah minta maaf aja."
"Serius, Sha. Dalam hidupku, setelah Mama, kamu adalah wanita paling berharga yang akan aku upayakan untuk terus bahagia. Tapi ...."
"Tapi apa?"
"Ah, nggak ada. Udah kamu bobok sana. Harus banyak istirahat. Aku mau lanjutin kerjaan aku. Sebentar lagi, kamar untuk calon anak kita udah siap."
***
"Ra, setelah kamu lulus ini, aku minta kita tidak bertemu lagi."
"Tapi, Pak ...."
"Demi kebaikanmu, Ra. Saya nggak mungkin bisa kasih sesuatu yang kamu harapkan. Saya cuma berdoa agar kamu bisa menemukan laki-laki yang jauh lebih baik dari saya dan bisa menerima kamu apa adanya."
"Bahkan saya nggak boleh kirim pesan atau telepon Bapak saat ada kesulitan?"
"Oke, boleh. Tapi saya harap kamu mengerti posisi saya. Ada hati istri saya yang harus dijaga."

***
"Salman, lebih baik kita segera makamkan anak kamu."
"Tapi Gisha belum lihat wajah anak kami, Pa."
"Gavin sudah ambil beberapa fotonya tadi."
"Tapi nanti kalau Gisha nanyain anak kami, aku harus jawab apa, Pa?"
"Kamu harus kuat sebagai laki-laki. Harus bisa jadi sandaran istri kamu."
***
"Aku minta maaf kalau selama ini sudah sering melukai perasaan kamu, Sha."
"...."
"Soal rumah, kamu bisa tetap tinggal di sana. Biar aku yang pergi."
"Itu rumah kamu. Aku yang dulu datang, jadi aku juga yang akan pergi."
"Tapi rumah itu hadiah dari Papa untuk pernikahan kita."
"Kamu pikir aku masih mau tinggal di rumah itu?"

***
Aku mendorong pintu depan rumah hingga terbuka. Pengap dan debu langsung merangsek ke indera penciumanku. Gelap, karena semua jendela tertutup tirai.
Bisa kulihat debu yang menumpuk di lantai. Juga di atas kain yang menutupi semua perabotan. Walaupun Mama menyuruh orang untuk membersihkan rumah ini sebulan sekali, tetap saja rumah ini terlihat terbengkalai.
Menyedihkan dan dingin. Padahal dulu di sini adalah tempat terhangat yang pernah kusinggahi. Di sini, aku menemukan arti kata pulang yang sebenarnya. Tapi kini, aku kembali terombang-ambing. Mengambang dalam ketidakpastian hidup. Hidup tapi seolah tak bernyawa.
Kakiku melangkah menyusuri ruangan satu persatu. Menuju sebuah pintu berwarna putih. Kuusap permukaan daun pintu yang juga kotor itu. 'Baby's Room'. Tulisan itu aku yang membuatnya sendiri. Tanganku pula yang menempelkannya.

Kutarik napas panjang sebelum mendorong pintu itu. Terbuka dan menyajikan pemandangan yang menikam hatiku berkali-kali.
Harusnya di sini adalah tempat yang menjadi favoritku saat pulang kerja. Tempatku menjumpai seorang malaikat kecil yang kemungkinan menuruni garis wajahku.
Di sebelah kanan dekat jendela, ada sebuah tempat tidur berwarna putih. Tempat tidur itu dulu dipilih sendiri oleh Gisha. Setelah kebingungan selama berhari-hari, akhirnya wanita itu memilihnya. Dan aku sangat menyukai seleranya. Aku ingat, saat itu kandungan Gisha berusia lima bulan.
Dinding kamar bertema pesawat terbang. Dengan warna biru langit dan awan putih di beberapa bagian. Gisha sempat protes, tapi kali itu aku yang berhasil memenangkan perdebatan.
Lemari pilihan Gisha terletak di dekat tempat tidur. Dua pintu. Dan bila kubuka, di dalamnya akan ada setumpuk pakaian bayi, selimut, dan perlengkapan lainnya. Hasil pencarianku bersama Gisha selama berminggu-minggu.

Aku membuka lemari itu. Sengaja melewatkan pemandangan setumpuk baju untuk Haidar. Bergegas aku hanya mengambil segulung koran bekas di bagian paling atas dan kembali menutup lemari itu.
Kuhamparkan koran bekas itu di lantai. Selebar yang dibutuhkan tubuhku untuk berbaring. Terlentang menghadap langit-langit kamar, pikiranku mulai menjelajahi semua yang harusnya terjadi, tapi aku kacaukan.
Kalimat seandainya, seandainya, dan seandainya terus memonopoli benakku. Melawan logikaku yang meminta untuk menerima apa yang terjadi. Logika yang mengajakku untuk berdamai dengan keadaan. Tapi sulit. Bahkan kurasa lebih mudah mati daripada menerima semua ini dengan lapang dada. Karena nyatanya aku adalah seburuk-buruknya bajingan di dunia. Pria yang menenggelamkan istrinya dalam kesengsaraan. Dan seseorang yang secara tidak langsung telah membunuh darah dagingnya sendiri.

***
Dua anak kecil itu duduk menghampar di lapangan berumput hijau. Angin bertiup sepoi-sepoi. Menerbangkan bau segar dari pepohonan yang basah setelah tertimpa hujan.
Dilihat dari perawakan dan postur tubuhnya, kelihatan kalau dua anak itu tidak banyak berselisih usia. Yang satu tampak sehat dan bahagia. Memakai pakaian berwarna putih bersih. Wajahnya bersinar dengan mata hitam berkilau. Tajam namun menyejukkan. Yang satunya lagi memakai baju berwarna abu-abu. Wajahnya tak kalah tampan dari yang satunya, tapi nampak mendung bergelantung di wajahnya. Kesedihan itu jelas terukir di sudut bibirnya yang tertarik ke bawah.
"Mamaku mau pergi."

"Nggak. Aku akan bilang sama Papa biar jagain Mama kamu. Biar dia nggak pergi." Bocah berbaju putih itu menghibur temannya.
"Tapi Papa nggak pernah sayang sama aku dan Mama."
"Sayang. Tapi Papa belum sadar. Kamu harus kasih Papa kesempatan."
"Papa jahat sama aku."
"Nggak. Papa sebenarnya baik."
"Papa jahat!"
Anak berbaju abu-abu itu menoleh padaku. Wajahnya menyiratkan amarah. Telunjuknya terarah padaku. Aku terpaku. Tidak bisa bicara. Tidak mampu bergerak.
"Papa jahat! Papa pembunuh! Aku benci Papa!"

***
Aku membuka mata. Napasku terengah. Mimpi tadi tampak seperti nyata. Bahkan dua wajah itu terasa familiar bagiku.
Kuhirup napas dalam-dalam. Mencari ketenangan. Menormalkan kembali detak jantung yang sempat menggila.
Tapi kesadaran itu tiba-tiba menyelinap ke otakku. Membuat tubuhku membeku. Anak-anak tadi ... itu anakku?
Pembunuh? Pembunuh, katanya? Aku adalah pembunuh?
Sekelebat bayangan buruk terbentuk dalam pikiranku. Membuat badanku menegak seketika. Kemungkinan-kemungkinan itu, akankah benar-benar terjadi? Akankah membuatku kembali menyesal?

Aku berdiri. Bergerak menuju kamar mandi. Untungnya air masih mengalir jadi aku bisa mencuci wajah.
Saat aku keluar dari kamar mandi, kulihat ponselku yang tergeletak di lantai, tepat di samping tempatku berbaring tadi, menyala dan bergetar.
Rani calling ....
Rani? Tumben dia meneleponku? Rani adalah asisten rumah tangga yang kupekerjakan untuk membantu Dara mengurus anaknya. Aku memang hampir tak pernah pulang ke rumah yang ditempati Dara. Memilih tinggal di rumah Mama saja. Maka Rani yang membantu dan menemani Dara.

***
Aku memarkirkan mobil dengan sembarangan. Langkahku kupacu secepat mungkin. Seperti jantungku yang rasanya berdetak tiga kali normal.
Masih terngiang di telingaku suara Rani di telepon tadi.
'Pak, bu Dara kecelakaan. Motornya diserempet mobil waktu mau ke pasar.'
Napasku terengah-engah saat akhirnya sampai di IGD rumah sakit. Kepalaku menoleh ke sana kemari. Mencari keberadaan Dara. Kudekati kerumunan tenaga medis yang terlihat sibuk. Beberapa orang polisi, juga orang yang tidak kukenal.
"Dara ...." Suaraku tercekat saat mengucapkan nama itu.
Beberapa orang yang di dekatku menoleh. Seorang petugas polisi sigap mendekatiku. Menanyakan identitasku. Dengan setengah linglung, aku menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan padaku.
Baru saat aku harus menandatangani surat persetujuan operasi, ketakutanku merayap keluar. Mengembalikan kesadaranku sepenuhnya.
"Operasi, dok?"
"Iya. Terjadi cedera kepala berat yang butuh tindakan segera."

Aku tidak begitu mendengar penjelasan selanjutnya. Pikiranku terlalu kacau. Seorang perawat menyodorkan surat persetujuan operasi padaku. Tanganku gemetar saat membubuhkan tanda tangan di lembaran kertas itu.
Kilasan masa lalu kembali hadir. Saat Gisha kecelakaan. Dia juga harus menjalani operasi. Dan kini Dara. Apakah aku ini lelaki pembawa sial hingga semua orang terdekatku harus mengalami kejadian seperti ini? Kujambak rambutku dengan rasa frustasi.
Ya Allah ... kali ini saja, tolong kabulkan doa hamba. Berilah kesempatan pada hamba agar bisa menebus dosa-dosa pada istri yang telah hamba dzalimi selama ini ....

***
"Jangan berani-berani mencoba untuk bertemu dengan Dara," desis Irham di depan mukaku.
Kedua tangannya mencengkram kerah kemeja yang kupakai. Sudut bibirku mulai terasa menebal karena baru saja bertemu dengan kepalan tangan Irham. Pelipisku yang tadi dia pukul juga mulai berdenyut. Tapi semua ini tidak akan menyurutkan tekadku untuk bertemu dengan Dara.

Sejak Dara sadar kemarin, Irham tak pernah memberikan kesempatan padaku untuk menemui Dara. Aku paham alasan dia begitu membenciku. Sangat paham. Tapi aku juga akan tak akan menyerah. Dosaku sudah terlalu menumpuk. Aku butuh bertemu dengan Dara agar aku tidak menjadi gila.
"Aku akan tetap di sini. Sampai Dara bisa pulang ke rumah."
"Dara akan pulang ke rumahku. Perceraian kalian akan diurus oleh pengacaraku."
"Aku nggak akan menceraikan Dara. Sampai kapanpun."
Irham melepaskan cengkeramannya di kemejaku. Kemudian tersenyum sinis. "Menyesal sekarang?"
Aku mengangguk. "Tolong beri aku kesempatan. Aku janji nggak akan menyia-nyiakan Dara dan Haikal."
Kembali, Irham mencibir janjiku. Namun dia kemudian memandangi lantai . Terpekur sesaat.
"Kalau kamu sampai menyakiti mereka lagi, aku yang akan bunuh kamu dengan tanganku sendiri."

***
Dara yang berbaring di tempat tidur dalam keadaan terjaga menoleh saat aku masuk. Senyum terukir di wajahnya yang pucat. Entah kenapa justru membuat hatiku nyeri. Apalagi saat guratan rasa khawatir terlukis di wajahnya.
"Mas, wajahmu kenapa?"
Aku menggeleng. Tenggorokanku rasanya kering. Suaraku menghilang. Keadaannya tidak jauh lebih baik dari aku, tapi dia masih mengkhawatirkan diriku. Tanganku bergerak mengusap pipinya yang terasa dingin.
"Gimana keadaan kamu?" tanyaku dengan suara serak.

Dara kembali mengulas senyum. "Baik, kok. Kata dokter sudah bisa pulang dalam beberapa hari ke depan." Kemudian wajah itu terlihat sedih. "Mas, maafin aku, ya? Di hari ulang tahunmu, aku malah bikin kamu repot. Padahal aku berencana mau bikin kue ulang tahun khusus untuk kamu, tapi karena nggak hati-hati bawa motor, malah celaka begini. Maaf, ya, Mas?"
Air mataku tak terbendung lagi. Segala makian memang pantas diteriakkan padaku. Si dungu yang telah menyia-nyiakan wanita yang begitu tulus padanya selama ini. Bodoh kamu, Salman! Kamu hampir terjerembab ke lubang yang sama. Kehilangan seseorang karena kebodohanmu sendiri.
"Maafin aku, Ra. Maaf ...."
Selesai ....
****


#Revisi_Hati
Terima kasih untuk admin dan moderator yang meloloskan tulisan ini ....
***
Spesial Part
Ini ekstra part spesial buat para pembaca yang kurang puas kemarin sama nasibnya Salman, hehe ....
Gara-gara si Salman kok para reader jadi baper dan sebel, padahal tujuan saya buat cerita kan untuk menghibur para pembaca, maka dari itu saya persembahkan part spesial ini.
Semoga terhibur ....

***
Author's POV
Adam memijat pelipisnya yang berdenyut. Pusing karena kurang tidur. Namun dia harus tetap menjemput Salwa. Kemarin dia sudah alpa menjemput yang berakibat Salwa marah besar. Dan Adam tak mau mengulang kesalahan yang sama. Bukan hanya karena takut Salwa marah, tapi juga lebih pada kekhawatiran Adam bila Salwa harus pulang sendiri.

Sejak Papanya meninggal, Adam sudah bertekad akan selalu menjaga Mama dan juga adiknya. Dua orang anggota keluarganya itu menjadi prioritas Adam sekarang. Jadi sebisa mungkin, Adam selalu meluangkan waktu untuk Mama dan Salwa. Bahkan di sela padatnya jadwal koas yang rasanya membuat kepala Adam mau meledak.
Adam menghentikan motornya di depan sebuah lembaga bimbingan belajar yang beberapa bulan ini menjadi tempat les Salwa sebagai persiapan Ujian Nasional dan SBMPTN. Tepat saat itu hujan turun tiba-tiba dengan derasnya. Membuat Adam bergegas turun dari motor dan berteduh di emperan bangunan bimbel itu. Setelah melihat jam tangannya, Adam memperkirakan beberapa menit lagi harusnya Salwa sudah keluar.
Dan perkiraan Adam ternyata tepat. Beberapa siswa berseragam dengan badge sekolah yang berbeda-beda keluar dari dalam. Salwa berjalan keluar bersama seorang gadis berambut panjang yang dikuncir ekor kuda.

"Eh, tumben udah datang duluan, Mas?" tanya Salwa sembari mencium punggung tangan Adam.
"Iya, tadi abis selesai jaga, Mas langsung ke sini."
Salwa menarik lengan temannya mendekat. "Sha, kenalin ini kakakku."
Gisha tersenyum tipis kepada Adam. Mereka saling berjabat tangan singkat sambil menyebutkan nama masing-masing.
"Mas lupa bawa jas hujan. Kita tunggu hujannya reda dulu, ya?"
Salwa mengangguk pasrah. Padahal dia sudah lapar dan lelah.
Gisha yang juga kelupaan membawa jas hujan ikut menunggu. Beberapa siswa yang memakai jas hujan langsung pulang. Ada juga yang nekad walaupun tidak membawa jas hujan. Namun kebanyakan masih menunggu hujan reda.

Ponsel yang berada di saku rok Gisha bergetar. Panggilan telepon dari nomor adiknya.
"Ada apa, Vin?" Suara Gisha yang menjawab telepon bisa terdengar oleh Salwa maupun Adam yang berdiri di dekatnya.
Beberapa saat kemudian, Gisha menutup teleponnya. Menoleh pada Salwa yang berada di sampingnya. "Aku duluan, ya, Sal? Adikku minta jemput."
"Hah? Masih ujan gede begini lho, Sha. Kamu kan nggak bawa jas hujan," cegah Salwa agak khawatir.
Tapi Gisha hanya mengulas senyum dan menggeleng. Setelah itu, tubuh kurusnya menerobos hujan yang masih turun dengan lebat. Menaiki motornya dan melajukannya ke sekolah Gavin.
Adam memandang gadis remaja itu dengan perasaan agak tertarik. Sosoknya seperti mengingatkan dia pada dirinya sendiri. Begitu mempentingkan keluarga. Demi adiknya, dia rela berkendara di bawah guyuran hujan yang lebat seperti ini.

***
"Pagi, Pak," sapa Adam pada seorang pria paruh baya yang sedang berkutat dengan ember dan selang. Tampak akan menyirami pohon-pohon di sekitar lahan parkir khusus karyawan rumah sakit.
"Di sini kalau mau nyari sarapan, yang enak di mana, ya, Pak?"
"Bubur ayam di seberang itu, Pak. Enak rasanya. Banyak yang suka sarapan di sana."
Adam mengangguk. "Mari Pak, ikut sarapan bareng saya," ajaknya.
Pria itu menggeleng sambil tersenyum sopan. "Terima kasih, Pak. Lain kali saja."
"Sekalian menemani saya sarapan sambil ngobrol, Pak." Adam terus membujuk Bapak itu.
"Lain kali saja, Pak. Saya masih ada yang harus dikerjakan."
Adam pun mengangguk kemudian permisi pergi. Berjalan ke seberang rumah sakit yang merupakan tempat kerjanya yang baru.

Tempat penjual bubur ayam yang dimaksud ternyata lumayan ramai. Mungkin rasanya benar-benar enak hingga banyak yang sarapan di sini. Hampir semua meja terisi. Adam terpaksa memilih bergabung dengan meja yang sudah diisi oleh seorang gadis.
Adam menggangguk singkat pada gadis itu yang dibalas dengan wajah datar. Beberapa kali, Adam mencuri pandang ke arah teman semejanya itu. Merasa agak familiar dengan wajahnya tapi Adam lupa pernah melihatnya di mana. Gadis itu juga tampak tidak mengenalinya.
Beberapa saat kemudian gadis itu selesai terlebih dulu. Dia mengangguk pada Adam dengan senyum tipis. Menghampiri penjual untuk membayar sekaligus memesan lagi untuk dibungkus.
Setelah Adam menyelesaikan sarapannya, dia juga menghampiri penjual untuk membayar. Bersamaan dengan selesainya transaksi yang dilakukan gadis itu.
Dan ternyata gadis itu juga bekerja di rumah sakit. Tapi melihat pakaiannya, dia bukanlah tenaga kesehatan, mungkin staff management.

Adam mengiringi langkah gadis itu sambil mengamatinya. Juga tetap sambil berusaha mengingat di mana dia pernah melihat wajah itu.
Kening Adam mengernyit saat melihat gadis itu memberikan bungkusan bubur ayam yang dia bawa kepada pria paruh baya yang tadi ngobrol dengannya. Bahkan mereka terlihat akrab.
"Terima kasih, ya, Mbak Gisha. Setiap hari sudah belikan sarapan buat saya." Bapak itu tersenyum lebar saat mengucapkannya.
Gisha? Gisha ... Gisha ... nama yang tidak asing. Dan beberapa detik kemudian ingatan Adam menemukan nama itu di memori yang lama tersimpan.
Gisha ... ini teman Salwa di bimbel dulu, akhirnya Adam menemukan jawabannya.

***
"Wah, udah nggak ada alasan nih buat para koas sama perawat laki-laki biar bisa ngurus sesuatu ke HRD lagi," kata seorang perawat perempuan yang ada di meja jaga perawat siang ini.
Adam yang baru saja selesai visit, mampir sebentar untuk mengisi rekam medis pasien.
"Emang ada apa, sih?" tanya Nesa, perawat yang tadi menemani Adam visit pasien.
Arum, si pemula topik pembicaraan mengangkat sebuah undangan di tangannya. "Gisha, anak HRD, mau nikah."
Nesa langsung tertawa keras, namun seketika berhenti saat Adam menoleh padanya dengan heran. "Maaf, dok, keceplosan." Dia nyengir.
Kebetulan saat itu ada perawat laki-laki yang lewat membawa infus kosong. Arum langsung berteriak memanggilnya. "Fen, sini! Ada kabar gembira buat kamu."
Fendi melipir untuk mampir. Menganggukkan kepala dengan hormat pada Adam sebagai sapaan, kemudian baru bertanya pada Arum. "Ada apa, sih?"
Arum menyerahkan undangan di tangannya pada Fendi. Seringai jahil muncul di bibirnya. Fendi menerima dengan bingung. Kemudian membaca undangan itu. Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya mata pria itu melotot. Terlihat tidak terima sama sekali.

"Serius ini? Gisha Adriyani? Staff HRD favorit sejuta umat di rumah sakit ini?"
Arum, Nesa, dan perawat lain yang ada di situ mengangguk dengan semangat. Antara kasihan juga geli.
"Ya Allah, padahal tiap siang dan malam udah berdoa biar dia putus sama pacarnya. Kok malah nikah sih jadinya?"
Kontan tawa terbahak-bahak langsung membahana melihat tampang Fendi yang ngenes.
"Doa jelek ya nggak mungkin dikabulkan," celetuk Nesa.
Beberapa menit kemudian mereka masih mengolok-olok Fendi yang cintanya kandas sebelum diungkapkan. Tanpa mereka tahu kalau berita pernikahan itu bukan cuma mematahkan hati Fendi. Ada dua orang di situ yang patah hati. Bila yang satunya ekspresif dan terlihat jelas kekecewaannya, maka yang satunya terlalu pandai menyembunyikan rasa lewat ekspresi datarnya.

***
Suara ketukan di pintu mengalihkan perhatian Adam dari layar laptop di hadapannya. Setelah Adam mengucapkan izin untuk masuk, seorang perawat masuk sambil membawa paper bag. Menaruhnya di atas meja kerja Adam.
"Ada kiriman dari istri dokter Adam," ucap perawat bernama Karina itu.
"Loh, memang istri saya ke sini tadi?" Adam bertanya heran.
"Nggak, Pak. Dikirim lewat ojek daring."
"Oh, begitu. Makasih, ya, Rin."
"Iya, Pak. Permisi." Karina pun berlalu keluar dari ruangan Adam.

Adam membuka paper bag itu. Mengeluarkan isinya yang ternyata adalah kotak makan tiga susun. Senyum kecilnya terbit. Tumben Gisha seperhatian ini padanya.
Adam membuka kotak makan itu satu persatu. Kotak yang pertama berisi nasi putih. Kotak kedua berisi daging asam manis. Yang ketiga atau terakhir berisi tumis sayuran. Namun kening Adam berkerut saat melihat ada buncis di dalam tumisan tersebut. Pasalnya Adam tidak begitu menyukais sayuran yang rasanya agak asam itu. Dan harusnya Gisha sudah tahu.
Ada selembar kertas kecil yang ditaruh di dalam plastik kecil berisi sendok dan garpu. Adam tersenyum saat membuka kertas yang ternyata berisi tulisan tangan Gisha itu.
Buat suamiku tersayang.
Makan siangnya ini dimakan sampai habis, ya? Nggak boleh ada sisa, nanti yang masak ngambek lho

....
Oh ya, buncisnya juga dimakan. Nggak boleh nolak makan sayuran apapun juga mulai sekarang. Belajar jadi ayah yang baik untuk anaknya nanti.
Salam sayang dari istrimu yang paling bawel.
Ps. Oh ya, kerjanya juga semangat, ya? Apalagi sebentar lagi anggota keluarganya mau bertambah.
Adam mengulangi kalimat terakhir yang ditulis istrinya itu beberapa kali. Berusaha meyakinkan apa maksud tulisan itu. Ada rasa ketidakpercayaan saat dia berhasil menduga maksud Gisha.
Tangannya langsung meraih ponsel. Segera menghubungi nomor ponsel Gisha. Tidak menunggu lama sampai panggilan itu dijawab oleh Gisha.
"Assalamualaikum, Mas," sapa Gisha dari seberang sambungan.
"Walaikumsalam. Sha, ini beneran?" tanya Adam tidak sabar.
Bukannya segera menjawab, malah terdengar tawa berderai dari Gisha. Membuat Adam menjadi gemas sekaligus penasaran.
"Sha ...." Adam memberi peringatan pada istrinya itu.
"Iya, makanya cepat pulang, Mas. Aku kangen ...."
Dan setelah mengatakan kalimat yang begitu menggoda itu, Gisha langsung mematikan sambungan telepon dengan seenaknya. Membuat Adam menjadi gemas bukan main.
Dan dalam sepanjang sejarah karirnya, untuk pertama kalinya Adam mempunyai keinginan untuk membolos kerja dengan alasan pribadi.

***
Maya membuka pintu dengan kekuatan ekstra. Membuat Gisha dan Anisa yang berada di dalam terperanjat kaget.
"Kalem sedikit kenapa, May?" tegur Anisa.
Tapi yang ditegur terlihat tidak peduli. Langsung berjalan menghampiri Gisha yang memangku bayinya. Matanya memandang takjub makhluk mungil itu.
"Masya Allah, cakep banget," puji Maya terkagum-kagum. Gisha langsung tersenyum jumawa. Padahal si bayi yang dipuji. Hidung ibunya yang ikut mengembang.

"Tumben kamu bisa pulang sore? Biasanya lembur terus? Bisa keluar siang pas weekend aja," tanya Gisha pada temannya yang masih memakai setelan baju kantor itu.
"Atasanku lagi ketempelan jin baik kayaknya. Tumbenan dia juga pulang tenggo, kayaknya sih ada urusan gitu. Ya sudah pas dia balik, aku ikutan balik," jawab Maya kemudian tertawa senang. Merasa bisa mengelabui bosnya.
Anisa yang duduk di sofa kemudian berdiri. "Aku pamit dulu, ya? Kasihan si Dzaky kalau aku tinggal lama-lama."
"Kenapa nggak diajak ke sini aja?" Maya bertanya dengan heran.
"Anak kecil nggak boleh masuk, May. Emang kamu nggak baca peraturan besuk? Makanya aku tinggalin Dzaky di lobi sama Farhan. Udah ya, Sha. Kamu ganti ditemenin Maya, ya?"
Gisha mengangguk dan melambaikan tangan pada Anisa yang berlalu keluar.

"Sha, mas Adam mana?"
"Ada. Tapi sekarang lagi praktik. Nanti pas udah selesai, dia juga ke sini lagi."
"Aku numpang ke toilet dulu, ya? Kebelet pipis dari tadi, sekalian mau cuci muka." Maya meringis lalu masuk ke kamar mandi yang ada di ruang rawat Gisha.
Gisha baru saja akan mengelus pipi bayinya saat pintu kembali terbuka. Awalnya mengira Maya, tapi ternyata pintu masuk yang terbuka.
"Hai, boleh masuk?" tanya seorang pria yang berdiri di depan pintu. Kedua tangannya membawa kotak yang dibungkus dengan kertas kado berbentuk lucu.
Gisha mengangguk sembari mengulas senyum ramah. "Silakan. Repot banget pakai bawa kado?"
Pria itu masuk dan menaruh kado yang dibawanya di atas nakas samping tempat tidur. Tangannya terulur mengelus pipi bayi Gisha sekilas.
"Jagoan, ya?"

Gisha mengangguk. "Makasih kadonya, Om." Gisha sengaja meniru suara anak kecil saat mengatakannya. Mengundang tawa kecil dari pria itu.
Saat itulah tiba-tiba terdengar suara Maya dari kamar mandi. "Sha, doain aku, ya? Jangan sampai bosku tahu kalau aku hari ini kabur balik sore. Bisa-bisa kena ceramah panjang lebar. Biar kata laki-laki, tapi bosku kalau sudah ngomel ngalahin emak-emak yang mergokin suaminya selingkuh. Pantesan deh dia itu jadi bujang lapuk."
Gisha meringis pada pria yang kini memandangnya penuh tanya. "Maaf, itu temanku. Kadang emang suka asal kalau ngomong."
Sesaat kemudian Maya keluar dari kamar mandi dengan wajah lebih segar. Bibirnya tersenyum lebar.
Namun saat melihat pria yang kini berdiri di dekat tempat tidur Gisha, matanya melotot kaget.
"Pak Irham? Kok bisa ada di sini? Tahu dari mana saya di sini? Pak Irham sadap ponsel saya biar bisa tahu lokasi saya?" Maya bertanya dengan ketakutan yang bercampur penasaran.
Gisha memandang bolak-balik antara mereka berdua. Kemudian bertanya heran pada Irham. " Kamu kenal Maya?"

Irham mengangguk pada Gisha. Kemudian menoleh pada Maya dengan tatapan tidak terbaca saat menjawab pertanyaan Gisha. "Kebetulan aku ini adalah atasan Maya sekaligus bujang lapuk yang kalau ngomel bisa mengalahkan emak-emak yang mergokin suaminya yang selingkuh."
Glek! Maya menelan ludah dengan susah payah. Dan pikirannya mulai berkelana ke mana-mana. Kira-kira apa yang bisa dilakukannya untuk membuat Irham amnesia. Cukup amnesia parsial saja, khusus kejadian hari ini.
Selesai ....
***


#Revisi_Hati
Part 14 (Ending)

"Aku ingat itu baju yang kamu pakai kemarin pagi saat akan berangkat bekerja. Dan baju itu belum lama kamu beli setelah kita menikah. Jadi, foto itu diambil kapan, Sha? Karena seingatku, kamu nggak pernah cerita apapun soal pertemuan itu."
Bibirku kelu untuk sekedar membela diri. Dalam pikiranku terlalu banyak pertanyaan yang tidak terjawab. Tentang siapa yang mengambil foto itu, tentang apa motif orang yang sepertinya ingin mengadu domba kami berdua, juga tentang apa yang ada di pikiran mas Adam sekarang.
Mas Adam kembali menghela napas. Terlihat lelah. Pemandangan yang makin membuat rasa bersalahku membumbung tinggi. Tubuh tegap itu berbalik. Berjalan menuju sofa yang berada di dekat jendela.
Mas Adam mendudukkan tubuhnya dengan pandangan yang masih mengarah padaku. Entah apa makna tatapan itu. Aku terlalu takut untuk mengartikannya.
"Kemarin kamu bilang kalau Khanza yang mengajakmu untuk bertemu. Tapi siang harinya justru aku mendapat kiriman foto itu. Sepulang dari rumah sakit, aku masih mencoba berpikir positif. Kuberikan kamu kesempatan untuk bercerita sendiri. Tapi kamu malah diam. Tidak menceritakan apapun. Tentang rencana pertemuan dengan Khanza yang aku nggak tahu terlaksana atau batal. Juga pertemuan kamu dengan Salman."

"Aku memang beneran ketemu dengan Khanza, Mas. Cuma aku nggak menceritakan pembicaraan kami sama kamu. Karena jujur, aku nggak suka dengan sikap Khanza. Dan bila aku menceritakan tentang sikapnya itu, aku takut kamu nggak percaya."
"Memang aku pernah meragukan kejujuran kamu?"
Dengan berat hati, aku menggeleng. Mas Adam memang selalu percaya padaku, justru aku yang sering tidak mempercayainya.
"Sha, kamu sadar nggak kalau komunikasi kita ini mulai nggak sehat? Kamu terlalu sering menutup-nutupi isi hatimu. Juga sulit berbagi pikiran denganku."
"Bukan begitu, Mas. Aku hanya menunggu waktu yang tepat."
"Dan sebelum waktu yang menurutmu tepat itu ada, salah paham sudah terlanjur terjadi. Kamu suka kalau kita sering berselisih paham seperti ini?"
"Nggak, Mas. Tentu aja aku nggak mau ada salah paham antara kita. Dan soal Salman ...."
"Nggak perlu kamu jelasin soal Salman padaku," potong mas Adam.
Aku memandang mas Adam dengan putus asa. "Aku nggak sengaja ketemu sama dia, Mas."
"Aku sudah tahu."
Ucapan mas Adam membuatku kaget bercampur dengan heran. "Mas tahu dari mana?"
"Sebelum pulang tadi, aku menemui Salman lebih dulu. Untuk menanyakan kebenaran foto kalian. Dia bilang katanya nggak sengaja bertemu sama kamu. Dia berada di hotel itu dalam rangka tugas dari sekolah. Dia juga bilang kamu kelihatan kacau tapi tidak mau bercerita apapun padanya."
Aku tertegun mendengar keterangan dari mas Adam itu. "Jadi kamu menemui Salman tadi? Untuk mengkonfirmasi foto itu?"
Mas Adam memandangku tajam. "Iya. Aku juga sudah siap untuk menghajarnya bila dia yang sengaja mengajakmu untuk bertemu."
Tanpa terasa mataku memanas dan dengan cepat bulir bening mengalir di pipiku. Aku malu pada diriku sendiri. Ternyata kekhawatiran bukan hanya milikku saja. Mas Adam pun punya. Namun nyata sekali perbedaan sikap kami dalam menghadapinya. Bila aku hanya mengedepankan emosi dan prasangka. Mas Adam justru memilih berpikir dengan kepala dingin, mencari kebenaran menggunakan logika, dan tidak menciptakan prasangka yang hanya akan membutakan langkah.
Jelas kedewasaan kami berada di level yang berbeda. Bila dia sudah mencapai tingkat bijaksana, maka levelku minus. Aku bahkan lebih kekanakan dari anak-anak yang duduk di bangku sekolah dasar.

"Siang kemarin aku memang ketemu dengan Khanza. Dia mengatakan semua hal yang membuatku makin merasa tak berguna untukmu, Mas." Lalu aku ceritakan semua pembicaraanku dengan Khanza. Tak ada lagi yang kututup-tutupi.
Mas Adam mendengarkan dengan seksama. Terus diam hingga ceritaku habis. Setelah itu, dia baru mulai buka suara.
"Pernikahan bisa dimulai dengan sebuah komitmen, Sha. Tapi dalam menjalankannya diperlukan komunikasi dan kepercayaan. Dan semua itu harus dilakukan oleh kedua belah pihak. Nggak bisa kalau dari aku saja. Seperti dua kaki yang maju bergantian saat melangkah, begitu juga sebuah hubungan. Tidak ada yang selalu menang, ataupun yang selalu kalah. Semua harus berimbang. Kalau berat sebelah, maka jalan pun akan timpang. Tidak mustahil, akan roboh di tengah jalan."
"Ini bukan lagi soal Khanza ataupun Salman, Sha. Ini lebih pada tentang landasan dalam hubungan kita. Kepercayaan yang menjadi akar dari sebuah hubungan. Semakin besar rasa kepercayaan antara kita, maka semakin kuat hubungan kita. Bahkan badai pun tak akan menjatuhkan kita. Namun bila akar yang berusaha aku tumbuhkan, selalu kamu matikan, maka hubungan kita ini akan rapuh. Jangankan badai, angin sepoi-sepoi pun akan dapat menumbangkannya."
Aku makin terisak dalam tangis. Penyesalanku rasanya sudah menggunung. Seiring dengan kesadaranku tentang betapa buruk sikap yang kuambil selama ini. Tanpa sadar aku sudah melukai hati mas Adam.

"Awalnya aku berpikir tidak apa-apa kalaupun kamu belum mencintaiku. Yang terpenting kamu setuju untuk menikah denganku. Bahkan dengan naif, aku yakin akan bisa membuatmu jatuh cinta padaku kelak. Nyatanya sekarang? Jangankan cinta, bahkan kepercayaan darimu pun belum pantas aku dapatkan."
Aku menggeleng dalam tangisanku. Sungguh ingin kubantah semua kesimpulan yang diucapkan mas Adam itu. Tapi tak ada suara yang keluar dari mulutku. Kalah dengan isak yang justru makin mengeras.
Mas Adam berdiri menghampiriku yang duduk di tepi ranjang. Dia agak membungkuk untuk menyejajarkan wajahnya dengan wajahku. Kedua telapak tangannya menyentuh pipiku. Memberikan usapan lembut saat menghapus basahnya pipiku.
Mata hitam pekat itu menyorotku dengan tatapan yang membuat hatiku hancur. Ada kesedihan dan keputusasaan dalam netra yang terus memandangi wajahku dalam jarak dekat. Dan hatiku makin perih saat menyadari diriku yang menyebabkan tatapan terluka itu timbul.

"Maafkan aku, Sha. Harusnya dulu aku nggak terlalu memaksamu untuk menerimaku. Karena ini tak akan pernah berhasil kalau hanya ragamu yang kumiliki."
Kepalaku menggeleng dalam pegangan kedua tangan mas Adam. Berusaha memberikan penyangkalan. Namun mas Adam bergeming. Entah dia tak tahu maksud yang ingin kusampaikan, atau mungkin memang tak mau tahu lagi.
"Sekarang, aku serahkan padamu tentang bagaimana kelanjutan hubungan kita ke depan. Aku tak akan memaksa kamu lagi. Apapun keputusanmu nanti, aku akan terima dengan lapang dada. Satu hal yang perlu kamu tahu, aku memang sangat mencintaimu, namun ... aku tak akan pernah egois untuk terus mengikatmu dalam hubungan yang hanya akan menyiksamu."
Kemudian mas Adam mengecup keningku dengan lembut. Membuatku sontak memejamkan mata. Tapi air mataku kembali mengalir. Aku seakan bisa merasakan keputusasaannya dalam kecupan ini. Menyiarkan pernyataan kekalahannya. Yang anehnya juga menghancurkan diriku sampai dalam.

***
Semalaman aku tidak bisa tidur nyenyak. Setelah membuat keputusan sepihak tentang aku yang katanya harus memikirkan ulang hubungan kami, mas Adam keluar kamar. Aku tunggu berjam-jam dan dia tak juga kembali masuk. Aku mencarinya dan menemukannya tertidur di sofa yang berada di kamar lain, yang dia fungsikan sebagai ruang kerja dan perpustakaan.
Sebenarnya aku sudah punya keputusan tentang hubungan kami. Yang tentu saja akan terus aku pertahankan. Sejak awal aku tak main-main dalam hubungan ini. Hanya sikapku yang mungkin membuat mas Adam merasa aku tak sepenuhnya menyerahkan diri padanya. Padahal aku juga sudah jatuh cinta padanya.

Aku bertekad untuk segera memberitahukan hal itu pada mas Adam keesokan harinya. Namun semua rencanaku gagal. Saat aku keluar kamar setelah sholat subuh, bermaksud menyiapkan sarapan, mas Adam juga keluar dari ruang kerjanya. Sudah berpakaian lengkap dan rapi. Bahkan aku tak sadar kapan dia mengambil baju dari dalam kamar. Apakah saat aku sedang terlelap sebentar?
"Mas kok sudah rapi?" Aku bertanya pada mas Adam yang berdiri di depan ruang kerjanya sambil mengancingkan kancing di lengan kemejanya. Padahal biasanya dia minta bantuanku.
"Aku ada panggilan mendadak. Harus berangkat pagi-pagi. Tadi aku sudah hubungi Gavin. Untuk sementara ini, dia yang akan mengantarmu sekalian berangkat kerja. Seminggu ini jadwalku padat." Mas Adam menjawab tanpa memandangku. Membuat hatiku kembali nyeri. Bahkan langsung memicu kelenjar air mataku untuk berproduksi.

Setelah mengatakan itu, mas Adam berlalu. Hanya pamit dengan mengucapkan salam. Tak ada salim ataupun kecupan di kening untukku seperti biasanya.
Dan pagi itu, untuk pertama kalinya selama masa pernikahan kami, aku menangis tersedu-sedu. Di sudut dapur dengan posisi berjongkok. Tanganku menutupi wajahku. Aku biarkan air mataku terus mengalir menyesali kebodohanku selama ini.
Aku harap hari buruk ini akan segera berakhir. Ternyata salah. Hukuman dari mas Adam ini tidak hanya berlangsung sehari saja. Hari-hari berikutnya pun sama. Dia bersikap dingin dan menjaga jarak denganku. Membuatku jadi ragu untuk mendekatinya. Dan rasa takutku akan kehilangan mas Adam juga makin menjadi.
Mas, tolong jangan hukum aku seperti ini ....

***
Aku menghampiri gadis cantik yang duduk di belakang meja penerima tamu itu. Dia sedang sibuk dengan layar komputer di depannya hingga tak menyadari kedatanganku.
"Pagi, Renia," sapaku dengan pelan.
Gadis itu mendongak dengan sedikit kaget. Namun kemudian tersenyum lebar. "Pagi mbak Gisha. Mau ketemu Ibu, ya?"
"Iya. Ada pasien nggak di dalam?"
"Nggak ada, Mbak. Jadwal Ibu kosong hingga dua jam berikutnya. Langsung masuk saja, Mbak."
"Makasih, ya."
Aku melangkah menuju ruang praktik Mama di klinik ini. Tempat Mama memberikan pelayanan jasa ilmu beliau di bidang psikologi.
Aku mengetuk daun pintu dua kali. Setelah ada jawaban yang menyuruh masuk, baru aku buka pintu berwarna cokelat gelap itu.
"Gisha. Tumben kamu ke sini, Sayang? Sini," sambut Mama dengan semangat.
Aku mendekati beliau. Mencium punggung tangannya, kemudian memeluk sekilas. Dan ajaibnya, baru mencium aroma parfum di baju ibu kandung mas Adam ini saja sudah membuat hatiku tenang.
Mama menghela aku untuk duduk di sofa. Kemudian membuatkan secangkir teh untukku.
"Ada apa, Sayang? Kok wajahmu terlihat mendung?" Mama langsung bertanya setelah aku menyesap teh hangat dari cangkirku.

Perpaduan yang pas. Jiwa yang frustasi. Ruangan dan penerangan yang nyaman. Teh hangat dan wajah Mama yang teduh. Membuat semua emosi di jiwaku tumpang tindih . Segala kesedihan, kekhawatiran, kekecewaan, dan juga kemarahan yang tertimbun di hatiku meronta ingin keluar.
Cukup satu pertanyaan dari Mama dan aku mengungkapkan semua masalahku dengan mas Adam. Segalanya. Tentang salah paham kami. Tentang kekecewaan mas Adam padaku. Tentang kekhawatiranku akan kehilangan mas Adam. Kemarahanku pada diriku sendiri.
Bagai air bah, semua meluap tanpa bisa kutahan. Seiring dengan bibirku yang terbuka akan cerita tentang semuanya, air mataku ikut luruh. Aku mengambil jeda berkali-kali saat kurasakan napasku tersendat. Puluhan lembar tisu sudah berubah menjadi gumpalan-gumpalan basah.
Entah berapa lama aku menghabiskan waktu untuk bercerita, tahu-tahu saja batinku terasa lega. Serasa telah tersingkir batu yang tadinya menindih dadaku. Mama tak henti mengusap kepalaku dengan gerakan lembut.
"Sudah, Sayang? Atau masih ada yang mau kamu sampaikan?"
Aku menggeleng dengan tangan yang masih mengusap wajahku yang basah dan terasa lembab.
"Sayang, Mama tak ingin membela salah satu dari kalian. Karena kalian sama-sama bersalah."
"Mengingat masa lalu yang pernah kamu alami, memang wajar kalau kamu kemudian mengalami krisis kepercayaan diri. Normal ... tapi juga tidak bisa dibiarkan, Sayang. Itu adalah sesuatu yang harus kamu ubah. Kamu nggak bisa terus-terusan hidup dalam masa lalu. Semua itu hanya akan menenggelamkan dirimu sendiri ke dalam penderitaan."

"Dan Adam datang, menawarkan tangannya untuk menarik dirimu keluar dari trauma itu. Dia menjanjikan kebahagiaan dan cinta yang sayangnya masih belum bisa mengembalikan kepercayaan dirimu yang sempat hilang. Adam mungkin kecewa, tapi Mama yakin dia nggak akan putus asa."
"Tapi mas Adam bahkan sudah bilang sama aku, Ma. Kalau semua keputusan ada di tanganku. Sepertinya kesabaran mas Adam sudah habis kali ini." Aku berbicara di sela air mata yang kembali mengalir.
Mama menatapku teduh. "Justru itu tandanya Adam masih menomorsatukan perasaanmu di atas perasaannya sendiri. Dia masih mencintaimu, Sayang. Sekarang tinggal kamu yang harus berani mengambil keputusan. Tetap melangkah maju bersama Adam atau memilih mundur. Hatimu bagaimana? Pilihan mana yang akan kamu pilih?"
"Tetap sama mas Adam, Ma."
"Memangnya kamu sudah cinta sama Adam sampai kelihatan sangat takut untuk pisah sama dia."
"Udah," cicitku pelan.
"Udah apa?" Mama kembali bertanya dengan kerlingan menggoda.
"Cinta sama mas Adam." Aku menjawab dengan malu. Mama malah tersenyum melihatku seperti ini.
"Sudah pernah bilang sama dia?"

Aku menggeleng. Mama menghela napas panjang. Kelihatan agak kesal.
"Berarti Adam sama aja sama kamu. Bicara teori soal negatifnya berprasangka tapi dirinya sendiri juga menciptakan kesimpulan dengan prasangka yang dibuat sendiri. Jadi, kamu harus menghilangkan prasangka Adam padamu."
"Caranya, Ma?"
"Ungkapkan kalau kamu sebenarnya juga cinta sama dia." Mama berkata dengan mantap.

***
"Ya ampun, gayamu kayak nyonya sosialita aja. Copot kenapa kacamatanya kalau di dalam rumah," cerocos Maya saat aku masuk ke dalam rumah Anisa.
Dan gadis itu langsung menjerit histeris saat melihat penampakan wajah dan mataku yang sembab.
"Matamu bengkak segede bola pingpong begitu gara-gara nangis atau korban KDRT?"
Anisa yang sedang menyusui bayinya ikut melihatku dengan tatapan khawatir. Bayinya yang tampan itu terlihat anteng di pangkuan ibunya.
"Aku pusing banget."
"Kenapa? Pak dokter bikin ulah? Dia selingkuh? Atau melakukan KDRT sama kamu?" Pertanyaan Maya berisi tuduhan semua.
"Ngawur! Nggaklah."
"Terus apa, dong?"
"Kali ini aku yang salah, May."
"Hah? Kamu selingkuh, Sha?"
Ya ampun!!! Ini anak kenapa isi otaknya nggak ada yang benar, sih? Dan herannya, kenapa aku selama ini betah jadi temannya???

"Woy, diam dulu kenapa, May! Biarin Gisha cerita dulu." Anisa akhirnya yang menghentikan Maya sebelum omongannya makin ngawur.
Aku menghela napas. Menyiapkan diri untuk mereka maki-maki nanti bila aku selesai bercerita. Aku sadar kalau aku butuh masukan dan mereka termasuk teman yang selama ini bisa kuandalkan.
Satu persatu peristiwa yang terjadi dalam rumah tanggaku mulai kuungkapkan. Mulai dari hadirnya Khanza sampai pertengkaranku dengan mas Adam malam itu. Juga pertemuanku dengan Mama tadi siang.
Selesai aku menuntaskan kisahku, Anisa menatapku dengan pandangan kasihan. Sementara Maya lebih ke arah kesal dengan sikap yang kuambil.
"Cemburu boleh, tapi ya jangan buta dong, Sha." Maya mulai berkomentar.
Namun Anisa memberikan isyarat lewat mata agar Maya berhenti. Dan ajaibnya Maya menurut pada ibu satu anak itu.

"Kalau aku sih setuju dengan nasihat dari ibu mertua kamu, Sha. Sekarang giliran kamu yang harus meyakinkan mas Adam kalau kamu juga mencintai dia dan nggak ingin pisah darinya." Anisa mengatakan pendapatnya.
"Tapi caranya gimana? Aku bingung mulai dari mana. Sementara beberapa hari ini mas Adam menghindar sama aku. Masa aku ujug-ujug bilang, 'Mas, aku cinta kamu' gitu, kan nggak lucu," ucapku setengah frustasi.
Dan Maya malah tertawa ngakak mendengar ucapanku. Ni anak emang benar-benar minta dirukiyah biar setannya pada pergi.
Setelah menghentikan tawanya, Maya membusungkan dada dengan jumawa. "Soal itu, serahkan sama pakarnya."
Perasaanku tiba-tiba jadi nggak enak, ya?

***
Malam ini, mas Adam pulang tepat pukul tujuh. Persis seperti permintaanku lewat pesan tadi. Ya walaupun pesanku berisi kebohongan. Semoga Allah mengampuni dosaku kali ini. Aamiin.
"Lho, kok belum siap-siap? Katanya mau makan malam di rumah Ayah untuk merayakan promosi jabatannya Gavin?" Mas Adam bertanya dengan heran karena melihatku masih memakai baju rumahan.
"Mas sholat aja dulu terus siap-siap," jawabku dengan jantung berdebar. Takut rencanaku gagal malam ini.
Sepertinya mas Adam masih heran, tapi dia tak membantah. Masuk ke ruang kerjanya yang sekarang menjadi kamar tidurnya setelah insiden tanpa darah malam itu. Bahkan dia sudah menyimpan beberapa baju dan alat mandinya di kamar itu. Membuatku harus tidur di kamar sendiri. Mengenaskan, bukan?
Makan malam keluarga karena promosi jabatan yang diterima Gavin jelas adalah kebohongan yang kuciptakan atas usul Maya. Mana ada Gavin bisa naik jabatan, dia itu tidak dipecat dari pekerjaannya saja sudah bersyukur.

Padahal malam ini, aku menyiapkan makan malam yang romantis di rumah untuk kami berdua. Ini adalah ide Maya juga. Aku sengaja memesan semua makanan favorit mas Adam dari restoran langganannya. Kecuali untuk hidangan penutup mulut, aku membuat sendiri puding spesial untuk mas Adam.
Makanan sudah kuatur sebagus mungkin di atas meja. Berusaha membuat presentasi yang cantik. Setelah itu aku bergegas masuk ke dalam kamar. Mempersiapkan langkah terakhir untuk menyempurnakan rencana malam ini.
Berulangkali aku menatap cermin. Antara ragu dan yakin. Dan lagi-lagi ini ide Maya. Bila biasanya aku memakai make up minimalis, kini aku tampil agak berani. Lipstik yang biasanya berwarna soft, aku ganti yang berwarna agak seksi.

Baju yang kupakai juga berasal dari pilihan Maya. Sebuah gaun malam elegan dengan bahan lembut yang jatuh. Berwarna hitam, tanpa lengan, dan panjangnya selutut. Sebenarnya aku tak biasa memakai pakaian seperti ini. Keluar rumah tak mungkin, karena aku memakai jilbab. Di dalam rumah juga tidak pernah. Bahkan baju tidurku selama ini hanyalah setelan piyama berlengan panjang dan celana panjang.
Setelah mengatur napas berkali-kali dan menyakinkan diri sendiri, akhirnya aku keluar dari kamar. Mas Adam sudah duduk di sofa dengan ponsel di tangannya. Awalnya dia tak menyadari kehadiranku. Dan aku juga enggan memanggilnya. Takut melihat reaksinya nanti.
Namun sesaat kemudiaan, mas Adam menoleh padaku. Awalnya kami saling berpandangan. Tapi aku segera membuang muka. Takut akan responnya.
"Malam ini, kita makan malam di rumah, Mas. Ada rekonsiliasi yang mau aku ajukan."
Aku mengucapkan itu sambil berjalan ke ruang makan. Tanpa menunggu jawaban dari mas Adam. Takut kalau dia menolak.
Tapi kekhawatiranku ternyata tidak berguna. Mas Adam mengikutiku ke ruang makan tanpa membantah. Bahkan tak meminta penjelasan tentang kebohongan yang aku katakan sebelumnya soal makan malam keluarga.
Malam itu, aku berperan sebagai istri yang baik. Kuambilkan nasi dan lauk ke piring mas Adam. Berusaha menciptakan suasana yang hangat seperti hubungan kami baik-baik saja. Tapi respon mas Adam masih datar-datar saja. Dan jujur, itu agak menciutkan nyaliku.

Kami makan malam dalam hening. Aku terlalu takut untuk merangkai kata. Sehingga memilih untuk menunggu makan malam selesai untuk mulai berbicara. Setidaknya kalau hasilnya tidak sebaik ekspektasiku, aku sudah kenyang. Jadi ada energi untuk menangis. Ya ampun, aku makin terdengar menyedihkan!
Waktu melihat mas Adam sudah selesai dengan makanan di piringnya, aku mengikuti langkah mas Adam. Menyingkirkan piring ke samping dan minum air putih di gelas dengan perlahan.
"Mas, aku mau bicara," ucapku. Mencoba terlihat tenang dan percaya diri. Padahal aku sudah gemetar. Bersyukur sekali posisiku sekarang dalam keadaan duduk. Kalau berdiri, pasti akan tampak kakiku yang goyah.

"Silakan," jawab mas Adam dengan datar.
Mengatur napas, dan tak lupa mengucap basmalah, aku memulai rekonsiliasi yang ingin aku ajukan.
"Aku sudah memikirkan semuanya. Benar-benar kupikir dengan baik-baik. Aku menyadari kalau memang ada yang salah pada diriku. Terlalu terpaku pada masa lalu membuatku menjadi manusia bodoh. Aku sia-siakan suamiku yang baik hanya karena pengkhianatan yang pernah kualami. Padahal mas Adam jelas tak bersalah dan tak ada hubungannya dengan Salman dan masa laluku."
Mas Adam masih bungkam dengan wajah datar mendengar prolog yang kusampaikan. Respon yang kurang positif membuat kepercayaan diriku turun. Namun aku harus tetap berusaha. Ini belum apa-apa.
"Aku juga menyadari kalau selama ini sikapku sangat jauh dari bijaksana. Seringkali mengedepankan ego, emosi, juga gegabah. Aku juga tak bisa memberikan penghargaan yang baik bagi mas Adam, terutama dalam hal ini adalah kepercayaan. Tapi aku sekarang sedang berproses, agar aku bisa kembali menaruh kepercayaanku pada orang lain. Aku juga akan menjauhkan pikiranku dari prasangka-prasangka yang hanya berdampak negatif pada hubungan kita."
Aku bisa melihat alis mas Adam naik. Seolah meragukan kalimat-kalimat dariku. Menantangku untuk lebih meyakinkan dia lagi.

"Aku bersedia memperbaiki semuanya dari awal. Dari pola komunikasi, aku akan lebih terbuka pada mas Adam. Kepercayaan, aku akan mulai belajar percaya pada mas Adam melebihi siapapun. Aku juga akan membagikan semua yang ada di pikiranku pada mas Adam, baik itu beban maupun kebahagiaan."
"Yakin?" Satu kata itu akhirnya keluar dari mulut mas Adam.
Aku mengangguk dengan mantap.
"Bila seandainya nanti kamu melihat fotoku tanpa busana dengan wanita lain, apa yang akan kamu lakukan?"
Ya, ampun. Amit-amit, deh!
"Aku akan konfirmasi dulu sama kamu, Mas. Juga membuktikan keaslian foto itu. Teknologi makin canggih, bisa saja itu foto rekayasa."
"Seandainya nanti muncul Khanza-Khanza yang lain dalam pernikahan kita?"
"Aku akan terus bertahan bersama mas Adam selama mas Adam masih memilih dan menginginkan aku. Dengan catatan, mas Adam nggak tergoda dengan Khanza-Khanza itu."
Aku bisa melihat sudut bibir mas Adam berkedut. Pasti dia sedang menahan tawa.
"Oh ya, aku juga mau mengajukan komplain sama kamu, Mas."
Kening itu berkerut dalam. "Komplain? Apa?"

"Waktu itu kamu bilang kalau aku nggak pernah bisa kasih kepercayaan dan cinta sama kamu. Katanya yang butuh pernyataan verbal hanya wanita saja, tapi ternyata laki-laki juga sama. Bisa-bisanya Mas Adam meragukan cintaku sama kamu padahal kita sudah menikah. Mas pikir aku mau menikah tanpa cinta?"
Mas Adam terdiam mendengar pernyataan cinta tersirat dariku. Tak ada respon apapun. Membuat kepercayaan diriku jatuh pada titik terendah. Apakah semua ini sudah terlambat? Tiba-tiba saja mataku memanas. Rasanya aku ingin menangis saat ini juga.
Untuk mencegah mempermalukan diriku sendiri dengan menangis, aku beranjak berdiri. "Aku ambilkan puding buat pencuci mulut dulu."
Dengan langkah terburu-buru, aku menuju kulkas. Tanganku baru membuka pintu kulkas saat ada tangan lain yang menutup kembali pintu itu. Dan tahu-tahu saja tubuh mas Adam sudah merapat pada tubuhku.
Kedua tangan mas Adam berada di lenganku dan memutar tubuhku untuk menghadap ke arahnya. Dan detik berikutnya bibirnya menciumku. Dengan ciuman dalam yang membuatku kesulitan mengimbanginya.
Napasku terengah-engah saat akhirnya mas Adam menjeda ciumannya. Wajah kami begitu dekat dengan napas yang sama-sama memburu. Mata mas Adam menatapku dalam. Kubalas tatapan itu dengan sedikit mendongak karena perbedaan tinggi badan kami.
"Bilang lebih jelas, Sha," bisik mas Adam pelan.
"Apa?"
"Kalau kamu juga cinta sama aku?"

Sorot mata penuh harap itu benar-benar melumpuhkanku. Kakiku berjinjit memberi kecupan sekilas di bibirnya. Baru kali ini aku melakukan pergerakan duluan. Selama pernikahan kami, selalu mas Adam yang memulai kegiatan mesra kami.
"Aku cinta sama kamu, Mas. Memang baru sekarang kukatakan. Tapi aku sudah merasakannya sejak aku menerima kamu jadi calon suamiku."
Dan bibir kesukaanku itu mengulas senyum tipis. Yang anehnya bisa membuat jantungku berdebar makin tak terkendali. Kemudian dalam satu gerakan, mas Adam mengangkat tubuhku ke dalam gendongannya.
"Mas, pudingnya?" Aku bertanya saat kaki mas Adam terus melangkah menuju kamar kami.
"Rekonsiliasi belum selesai. Dan aku ingin melanjutkannya di kamar," bisik mas Adam di telingaku. Hangat napasnya menerpa telingaku.

Tidak lama kemudian tubuhku terhempas di tempat tidur dalam gerakan pelan. Langit-langit kamar menjadi objek mataku yang kemudian berganti dengan wajah mas Adam yang menempatkan tubuhnya di atasku.
"Siapa yang nyaranin kamu buat beli baju seperti ini?" tanya mas Adam sambil mulai menciumi seluruh bagian wajahku.
"Maya." Aku masih bisa menjawab dengan sedikit kewarasan yang tersisa.
Mas Adam mengangkat wajahnya. Menatapku lagi. "Ingatkan aku untuk memberikan kado spesial untuk pernikahan Maya nanti."
Kemudian mas Adam kembali melanjutkan rekonsiliasi hubungan kami sesuai dengan versinya.

SELESAI ....
****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar