#Revisi_Hati
Part 11 by Iim Bundanya Faras
Aku meletakkan nasi goreng beserta telur mata sapi buatanku di meja makan. Tak lupa menaruh segelas air putih hangat.
Melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, aku segera
menghampiri mas Adam yang masih ada di dalam kamar. Kami sekarang sudah
tinggal di rumah kami sendiri. Rumah yang dibeli oleh mas Adam sejak
beberapa tahun yang lalu. Sebelumnya rumah ini kosong dan hanya
dibersihkan seperlunya saja. Mama memang tidak mengizinkan anaknya untuk
tinggal sendiri saat masih lajang. Katanya sebagai upaya untuk
meminimalisir kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.
"Mas,
sudah hampir jam tujuh, lho. Agak cepetan, nanti telat. Hari senin
biasanya kan di mana-mana sering macet." Aku mengingatkan mas Adam yang
masih duduk di tepi tempat tidur. Entah sedang mengerjakan apa dengan
gawai di tangannya.
Mas Adam segera berdiri sambil mengakhiri
kegiatannya dengan ponsel. "Ada residen tadi telepon soal pasien rawat
inap. Makanya aku kasih instruksi dulu sebelum aku datang."
"Ya sudah, sekarang sarapan dulu," ajakku pada mas Adam.
"Istriku yang cantik sudah siapkan sarapan apa?" Mas Adam kambuh lagi.
Sejak menikah jadi hobi menggodaku. Dan aku masih saja tersipu mendengar
gombalan darinya. "Tambah cantik kalau pipinya merah begini," tambah
mas Adam dengan senyum jahil.
Aku melengos pura-pura cuek dan
membalikkan tubuh. Baru akan melangkah keluar kamar, sepasang lengan
melingkari perutku. Punggungku sudah menempel dengan dada mas Adam.
"Mas ...." Aku memberikan peringatan pada mas Adam. Aku tidak mau ada
drama telat bekerja karena 'sesuatu' yang harusnya bisa ditunda.
"Janji dulu? Nanti malam tungguin aku pulang. Masa sudah dua malam, aku
pulang kerja dan disuguhi pemandangan punggungmu yang sudah tidur," ucap
mas Adam.
Aku terkekeh geli. Ya, aku sebenarnya juga nggak
sengaja. Sudah berusaha menunggu suami pulang tapi mata tak bisa diajak
kompromi. Terbiasa tidur di bawah jam sepuluh malam. Dan dua malam ini,
mas Adam pulang menjelang tengah malam karena tertahan pasien yang harus
dia tangani di IGD.
"Insya Allah, nanti malam aku tungguin." Aku
melepas tangan mas Adam yang memelukku dari belakang. "Sekarang kita
sarapan terus berangkat kerja. Oke?" Aku menoleh ke belakang dan mas
Adam mengangguk lalu mencuri sebuah kecupan di pipiku.
***
"Suami kamu ke mana, Sha?" Maya bertanya ketika masuk ke rumah dan tidak mendapati keberadaan mas Adam.
"Rumah sakit. Tapi paling sebelum makan siang, sudah pulang ke rumah. Cuma visit pasien di bangsal rawat inap aja."
Maya berdecak sambil geleng-geleng kepala mendengar jawabanku. "Gila!
Punya suami banyak duit ternyata repot juga, ya? Sampai hari Minggu juga
masih ditinggal kerja." Aku mendengus, sementara Anisa tersenyum geli.
Aku mengelus perut Anisa yang membuncit. Usia kandungannya sekarang sudah memasuki delapan bulan. "Jenis kelaminnya apa, Nis?"
"Insya Allah cowok."
"Wah, Farhan senang banget pasti tuh! Secara dia emang pengen anak cowok, kan?" celetuk Maya.
Anisa mengangguk dengan bibir manyun. "Iya. Padahal aku yang pengen
anak cewek. Tapi doanya Farhan yang terkabul. Tapi nggak apa-apa, sih.
Yang penting sehat, kan? Eh, Sha, kok kamu malah bengong, sih?"
Teguran dari Anisa membuatku sedikit terkejut. Tadi tiba-tiba saja
kilasan masa lalu menghampiri benakku. Tentang kehamilanku dulu, dan
juga tentang Haidar. Menimbulkan sedikit rasa iri pada Anisa. Tapi
segera kutepiskan rasa itu. Aku harus sadar kalau semua yang terjadi
atas izin Allah.
"Nggak apa-apa. Eh, kalian mau minum apa? Biar
aku buatin." Aku sengaja mengalihkan pembicaraan. Tak mau mereka
menangkap kesedihan yang sempat hinggap di hatiku.
"Apa aja, deh. Sekalian camilan juga boleh," jawab Maya sambil nyengir. Aku pura-pura mencebik dan cepat berlalu.
Aku mengambil kesempatan saat di dapur. Mengelola emosiku. Aku tidak
mau kembali meratapi takdir. Harusnya aku lebih bersyukur. Apalagi
sekarang sudah ada mas Adam di sisiku.
Setelah memastikan wajahku kembali normal, aku bergegas ke ruang tamu. Membawakan makanan dan minuman untuk para sahabatku.
"Sha, sekarang kamu harus lebih pinter, ya? Kejadian yang dulu
dijadikan pelajaran. Kamu harus lebih pantau kegiatan suamimu yang
sekarang."
"Hush! Nggak usah kompor, deh, May!" Anisa yang menyahut. Tangannya dengan lancang menoyor kepala Maya.
Aku justru tersenyum melihat tingkah mereka berdua. "Udah. Ngapain juga
kalian yang ribut. Dan buat kamu, May, aku percaya kok sama mas Adam.
Dia itu beda sama Salman."
Maya terlihat ingin membantahnya tapi
segera didahului oleh Anisa. "Bagus, Sha. Dalam rumah tangga itu yang
terpenting adalah komunikasi dan kepercayaan. Terlalu banyak buruk
sangka hanya akan menyiksa batinmu sendiri. Jangan dengerin Maya yang
cuma pintar teori aja, tapi praktiknya nol."
"Iya, deh. Kalian
emang lebih berpengalaman. Sudah merasakan indahnya menikah. Apalagi
pengantin baru kayak Gisha ini. Jangan-jangan sofa yang aku duduki ini,
semalam jadi medan perang, ya? Tapi nggak ada yang berceceran, kan,
Sha?"
Aku menggeplak lengan Maya dengan segenap kekuatan yang kumiliki. "Nih orang masih perawan, tapi mulutnya nyampah banget, sih!"
Anisa terbahak melihat Maya yang mengelus lengannya yang barusan kupukul sambil meringis kesakitan.
***
Aku keluar dari kamar dengan wajah yang kutekuk. Moodku hari ini
rasanya terjun bebas. Setelah seminggu, aku berdebar-debar karena jadwal
haidku yang terlambat. Tamu bulanan yang tak aku harapkan itu justru
muncul.
"Lho, mau ke rumah Mama kok malah cemberut begitu?" tegur Mas Adam yang duduk menungguku di ruang tamu.
"Aku lagi haid, Mas." Aku menjawab dengan lesu.
Mas Adam kelihatan heran. "Kamu haid, berarti aku yang puasa, tapi kenapa malah kamu yang kelihatan sedih?"
Kuhampiri mas Adam dan kulayangkan cubitan di perutnya. Membuat dia
terkekeh geli karena sudah berhasil memancing kekesalanku. Padahal mas
Adam tahu pasti apa penyebab mendung di wajahku ini.
Kedua tangan
mas Adam kemudian merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya. Tangannya
mengusap belakang kepalaku dengan lembut. "Anak itu rezeki, Sha. Hak
prerogatif Allah. Kalau memang kita belum diberi kepercayaan, ya berarti
kita harus banyak bersabar."
"Tapi aku takut kalau ada masalah
dengan kandunganku? Apalagi aku pernah mengalami kecelakaan." Suaraku
agak teredam dalam pelukan mas Adam. Mas Adam menghela napas namun tetap
memberikan belaian lembut di kepalaku.
"Waktu kamu kecelakaan,
tim dokter yang menangani kamu selain dokter kandungan, juga dokter
bedah. Dan aku salah satu dokternya. Dan setahuku nggak ada yang
bermasalah dengan rahim kamu." Tangan mas Adam menangkup kedua pipiku.
Mendongakkan wajahku untuk menghadap ke wajahnya. "Atau biar yakin, kamu
mau periksa ke dokter kandungan?"
Aku menggeleng. Rasa takut
membuatku enggan untuk berkonsultasi dengan dokter. Aku takut kalau
ternyata benar ada masalah dengan rahimku. Sesuatu yang sangat kutakuti.
"Kalau kamu nggak mau, ya nggak apa-apa. Tapi wajahmu juga jangan sedih
seperti itu. Kita hanya harus berdoa dan berusaha lebih giat. Atau kamu
mau nambah porsinya?"
"Mas!" Aku gemas sekali kalau omongan mas
Adam suka menyerempet ke mana-mana. Dan mas Adam malah tertawa
menyebalkan. Membuatku makin kesal.
Aku sengaja pura-pura marah
sepanjang perjalanan ke rumah Mama. Bodo amat kalau dibilang aku
childish. Tapi sebenarnya aku juga tidak serius marah. Hanya ingin
membuat mas Adam jadi senewen aja.
"Sha, udahan ya ngambeknya?
Aku janji deh akan berhenti godain kamu lagi. Eh, nggak berhenti juga,
sih. Aku nggak akan sering-sering godain kamu. Aku akan berusaha agak
jarang yang godain kamu."
Duh, kalimat permintaan maafnya mas Adam kok malah bikin aku mau ketawa. Tapi aku tahan biar nggak ketahuan.
"Sha, tolong maafin aku. Pliiiiiissss, Sayang?"
"Tapi janji dulu?"
"Janji apa?"
"Jangan marah kalau aku nanti ngerjain kamu." Dan lepaslah tawa yang
sedari tadi kutahan. Apalagi melihat muka mas Adam yang agak
kebingungan.
Namum saat dia akhirnya sadar kalau aksi ngambekku
tadi cuma pura-pura, dia malah ikutan tersenyum geli. "Untung aku lagi
nyetir, Sha. Kalau nggak, udah habis kamu!"
"Idih, ngancem! Emang Mas berani ngabisin aku?" Aku sengaja menantangnya.
Mas Adam mengerling jahil. "Berani, dong. Nanti aku ciumin kamu sampai kamu kehabisan napas."
"Mas Adam mesum!!!"
***
"Halo, Kakak ipar!" Sebuah pelukan penuh semangat menyambutku begitu pintu rumah terbuka.
Aku sampai terbengong. Sedikit syok dengan penyambutan penuh kasih
namun agak sedikit bar-bar ini. Untungnya, Salwa sadar diri dan segera
melepaskan pelukannya. Dia meringis ke arahku dan mas Adam.
"Aku berlebihan, ya?"
"Nggak berlebihan, kok. Cuma lebay dan norak aja," jawab mas Adam sembari menggiring kami untuk masuk ke dalam rumah.
Salwa mengerucutkan bibirnya. Membuatku tersenyum geli. Nih anak
seumuran denganku tapi kadang aku merasa tingkahnya masih seperti abege.
"Mama ada di rumah, kan?" tanya mas Adam.
Salwa melirikku dengan raut wajah tak biasa sebelum menjawab pertanyaan mas Adam. "Ada. Kebetulan ada tamu buat Mama."
"Tamu? Siapa?"
Salwa benar-benar bertingkah aneh karena sekarang dia kembali melirikku. Dengan ekspresi takut-takut.
Jawaban belum diberikan oleh Salwa saat kami sudah sampai di ruang
keluarga. Tampak Mama sedang berbincang dengan seorang gadis cantik.
Walaupun sedang duduk, tapi aku bisa melihat kalau gadis itu tinggi
semampai dengan wajah yang jelita. Mama dan gadis itu menengok bersamaan
ke arah kami.
"Eh, kalian datang ke sini?" Mama berdiri dan menyambut kami. Tidak lupa selalu memberikan sebuah pelukan untukku.
"Hai, Mas Adam? Ini pasti istrinya, ya?" Gadis itu ikut berdiri dan langsung menyapa.
Aku tak mengenal siapa dia. Kurasa dia bukan keluarga mas Adam karena
aku tak melihatnya hadir di acara resepsi pernikahan kami.
"Hai,
Khanza? Kapan balik dari Australia?" Walaupun mas Adam membalas sapaan
itu dengan nada datar tanpa antusiasme. Namun aku bisa menduga kalau
hubungan mereka cukup dekat. Entah dulu, atau malah sampai sekarang.
"Baru dua mingguan, Mas. Dan aku kecewa karena kamu nggak undang aku ke
pernikahan kamu. Aku kaget waktu Tante cerita kalau kamu sudah menikah.
" Gadis itu memasang ekspresi pura-pura marah yang entah kenapa sangat
menggangguku. Apalagi melihat nada bicaranya yang sok akrab dengan mas
Adam.
Mas Adam justru tersenyum tipis ke arah Khanza. Tangannya
merangkul bahuku. "Sekarang sudah tahu, kan? Dan ini istriku, namanya
Gisha." Mas Adam menoleh padaku kemudian berkata, "Ini Khanza, juniorku
waktu PPDS."
Aku dan Khanza saling bersalaman dengan singkat. Aku membalas senyuman ramahnya dengan senyuman yang kubuat semanis mungkin.
Tapi ucapan Khanza berikutnya sukses membekukan senyum di wajahku.
"Mas, kamu nggak sekalian bilang sama istrimu? Biar nggak jadi salah
paham nantinya. Kalau selain hubungan senior dan junior, kita juga
pernah pacaran."
To be continued ....
****
#Revisi_Hati
Part 12
Sesering apapun aku berusaha mengenyahkan bayang-bayang itu, tetap saja
rasanya sangat sulit. Apalagi melihat penampakan dari mantan pacar
suamiku itu. Body goals, dengan otak cerdas , dan background keluarga
yang amazing.
Khanza ini ternyata selain menjadi dokter spesialis
bedah di usia yang tergolong masih muda, dia juga merupakan putri dari
direktur rumah sakit tempat mas Adam bekerja. Dengan kata lain, Khanza
ini adalah anak dari salah satu dokter spesialis bedah syaraf terkemuka
di Indonesia ini.
Dan bagaimana perasaanku saat tahu kalau Khanza
dan mas Adam pernah menjalin hubungan asmara di masa lalu? Cemburu?
Iya! Minder? Pasti! Marah? Iya, tapi aku bingung mau marah sama siapa!
Dan jelas ini bukan kesalahan mas Adam ataupun Khanza.
"Khanza itu cantik, ya, Mas?" Aku sengaja memancing reaksi mas Adam saat kami sudah berada di rumah.
Mas Adam yang sedang membaca sebuah buku sambil bersandar di headboard
menoleh ke arahku sambil mengerutkan dahi. Aku yang sedang membersihkan
wajah di depan meja rias pura-pura sibuk untuk menghindari kontak mata
dengan mas Adam. Jangan sampai mas Adam tahu kalau aku sedang cemburu.
Malu sekali rasanya aku mengaku cemburu.
"Semua wanita kan emang cantik. Yang ganteng, baru laki-laki."
Jawaban netral setengah bercanda itu malah membuat suasana hatiku
bertambah buruk. Secara tidak langsung, mas Adam nggak membantah
kecantikan yang dimiliki Khanza.
"Pasti banyak laki-laki yang suka sama dia." Aku masih melanjutkan. Cemburu memang menguras emosi ternyata.
Aku yang sudah selesai dengan urusan wajah, berdiri dan naik ke atas
tempat tidur. Langsung berbaring dengan posisi terlentang. Mas Adam
menutup bukunya dan menaruh buku itu di atas nakas. Kemudian ikut
berbaring, dengan posisi miring ke arahku.
"Kenapa malah bicara
soal Khanza? Mending kita pakai quality time untuk ngomongin tentang
kita sendiri, daripada bahas orang lain?"
Eh, ini mas Adam berusaha menghindar dan mengalihkan topik pembicaraan begitu?
"Dulu, gimana caranya mas Adam menyatakan cinta sama Khanza?"
Rasanya aku ingin melakban mulutku sendiri. Kenapa harus menanyakan hal
seperti ini. Wanita kan memang lucu? Suka mencari tahu masa lalu
pasangan tapi akhirnya jadi menyakiti hatinya sendiri dengan merasakan
cemburu berlebihan. Kepo yang sebenarnya cari penyakit untuk dirinya
sendiri.
Apalagi saat kepala mas Adam menggeleng. Itu artinya dia
tak mau bercerita, kan? Apakah kenangan itu terlalu indah, ataukah
menyedihkan karena akhirnya mereka harus berpisah?
Tapi aku
enggan mencerca mas Adam dengan pertanyaan berikutnya. Lebih baik diam
daripada tidak diacuhkan. Aku akhirnya memilih memiringkan badan dan
memunggungi mas Adam. Dosa? Biarin deh, kan aku lagi marah.
Kurasakan mas Adam memelukku dari belakang. Aku berusaha melepaskan
tangannya dari perutku. "Aku lagi haid, Mas." Aku sengaja mengingatkan.
Eh, mas Adam malah tertawa.
"Aku cuma mau peluk kamu aja. Selamat
tidur, Sayang. Jangan lupa berdoa dulu." Setelah itu kurasakan kecupan
di puncak kepalaku.
***
Suara denting ponsel memecah
keheningan yang menyelimuti saat aku dan mas Adam sedang sarapan. Aku
memang sengaja tidak banyak bicara pagi ini. Lanjutan aksi kesalku
semalam.
Karena posisi ponsel mas Adam tidak jauh dariku, aku
bisa melihat layarnya. Menampilkan pop up pesan dari kontak bernama
'Dini Koas'.
Dan untuk apa pagi-pagi begini si Koas itu sudah menghubungi mas Adam???
Tapi mas Adam mengabaikan ponselnya. Padahal ada lebih dari satu pesan.
"Kok nggak dibuka? Siapa tahu penting?" Aksi tutup mulutku ternyata masih kalah dengan rasa kepo.
Mas Adam menggeleng dengan tenang. "Kalau penting, nanti juga telepon.
Aku sudah bilang sama mereka, kalau penting jangan cuma kirim pesan."
Ah, pasti cuma alasan saja! Biar aku nggak tahu apa isi pesan itu dan apa balasan yang diberikan oleh mas Adam.
"Sayang, kamu kenapa sih kok dari semalam jadi irit bicara?" Mas Adam
akhirnya menyadari keanehanku dan menanyakannya saat perjalanan
berangkat kerja.
"Ah, biasa aja." Aku sengaja menjawab dengan singkat.
Dari ekor mataku, aku bisa melihat mas Adam melihatku dengan sorot mata
tak percaya. Namun aku pura-pura tak peduli. Sengaja terlihat sibuk
dengan ponselku yang menampilkan aplikasi google chrome yang terbuka.
Dan terkutuklah jari-jariku yang mengetik 'tanda-tanda seseorang yang
terlibat CLBK' di kolom pencarian.
***
Beberapa hari ini,
aku benar-benar menyiksa diriku sendiri dengan terus membuat prasangka
buruk. Tapi untungnya aku sudah bisa sedikit mengendalikannya. Aku sudah
tidak bersikap dingin lagi pada mas Adam. Aku sadar kalau dalam kasus
ini dia tidak bersalah.
Seperti aku sendiri yang punya masa lalu.
Jadi, aku tidak bisa menuntut mas Adam karena punya masa lalu juga.
Apalagi saat kami menikah, dia sudah berusia matang. Wajar kalau pernah
ada satu atau dua perempuan dalam hidupnya.
Tapi tetap saja ada
ganjalan besar dalam hatiku. Terutama pertanyaanku yang tidak dijawab
mas Adam soal bagiamana dulu saat dia menyatakan cinta pada Khanza. Juga
aku baru menyadari kebiasaan mas Adam yang sering mengabaikan pesan
masuk di ponselnya saat berada di rumah.
Dan akhirnya aku tak
bisa lagi menahan amarahku. Sore ini, harusnya aku dan mas Adam
berkunjung ke rumah Ayah dan Ibu. Namun tiba-tiba saja ada panggilan
masuk di ponsel mas Adam. Aku sempat melihat identitas si pemanggil.
'Renata Residen bedah'. Ini kenapa rumah sakit isinya koas dan residen
perempuan semua, ya?
"Sayang, aku harus ke rumah sakit sekarang.
Ada pasien korban kecelakaan di IGD. Penanganannya sudah di luar
wewenang dokter umum dan residen bedah, sementara dokter spesialis bedah
yang jadwal jaga hari ini, anaknya sakit. Nggak apa-apa kan kalau kita
batalin dulu rencana kunjungan ke rumah Ayah dan Ibu. Lain kali kita
reschedule. Oke?"
Bisa apa aku selain mengangguk. Tidak mungkin
aku melarang kepergian mas Adam. Nyawa orang lain jadi taruhan. Jadi,
aku hanya bisa menghela napas melihat mobil mas Adam berlalu pergi.
Tapi moodku benar-benar buruk. Ditambah aku sudah rindu pada Ayah dan
Ibu. Maka dari itu kuambil langkah sedikit ekstrim. Bukannya kembali
masuk ke dalam rumah, aku justru memesan taksi ke rumah Ayah dan Ibu.
"Lho kok cuma sendiri, Sha? Adam ke mana?" tanya Ibu kelihatan heran
sekaligus khawatir. Setelah menikah, aku memang tak pernah datang
sendiri. Selalu ada mas Adam yang menemani.
"Ke rumah sakit. Ada panggilan darurat." Aku menjawab singkat.
Ayah yang keluar dari kamar sempat terkejut juga melihatku sudah duduk di ruang tengah. Sebuah pelukan aku berikan pada Ayah.
"Kenapa mukanya kusut begitu?"
Ayah ini biarpun sering membuat orang segan karena pembawaannya yang
kalem, tapi sebenarnya mempunyai hati yang peka. Ini salah satu
buktinya. Ibu bahkan nggak menyadari suasana hatiku yang buruk, justru
Ayah yang lebih sensitif.
"Nggak kenapa-kenapa, Yah."
Mata
Ayah masih melihatku dengan tatapan menyelidik. Tapi beliau tak
berkomentar lebih lanjut. Mungkin paham kalau aku termasuk orang yang
sukar dipaksa.
"Sha, rumah tangga itu bukan sekedar menyatukan
dua kepala. Tapi ada kompromi juga di dalamnya. Di situlah kita dituntut
untuk bisa berpikir dengan kepala dingin. Mengambil keputusan
berdasarkan pertimbangan akal sehat, bukan emosi semata. Mengesampingkan
ego, demi kedamaian bersama. Kamu paham itu, kan?"
"Paham. Lagian cara berpikir mas Adam juga dewasa, Yah."
"Adam, memang iya. Tapi kamu, belum."
"Ayah ...." Aku merengek tidak terima.
Tapi hal itu justru membuat Ayah tertawa.
"Sekarang kalau kamu lagi nggak punya masalah, mana mungkin ke sini
sendirian? Adam nggak akan mungkin tega. Kecuali kamu yang pergi tanpa
izin."
Makjleb banget kalimat dari Ayah itu. Tapi aku juga nggak mungkin mengakui ataupun menyangkalnya.
"Sebaiknya kamu coba introspeksi diri. Ayah hanya mengingatkan satu
hal, setiap orang hanya menanggung dosa yang dibuatnya sendiri, tidak
ada yang menanggung dosa orang lain. Ada hadits yang menyebutkan hal
itu."
Aku mengerutkan kening dengan bingung. "Maksud Ayah?"
"Salman dan Adam itu dua individu yang berbeda. Jangan karena Salman
pernah berbuat kesalahan, Adam menjadi ikut kena getahnya."
***
Mas Adam menjemputku ke rumah Ayah dan Ibu. Sebenarnya aku mau menginap
saja, tapi mas Adam memberikan isyarat kalau dia tak mengizinkan. Dan
membantahnya jelas bukan ide yang bagus. Apalagi di depan Ayah dan Ibu.
"Gisha, sekarang jelaskan sama aku. Kenapa kamu pergi tanpa izin. Kamu
nggak mikir kalau aku bakalan khawatir saat pulang dan menemukan kamu
nggak ada di rumah. Nomormu juga nggak aktif."
Aku diam. Membuka
mulut pun percuma. Aku bingung bagaimana caranya mengungkapkan semua
ganjalan di hatiku. Dan kalimat mas Adam bagiku hanya merupakan
penghakiman saja. Padahal bagiku, dia yang bersalah di sini. Membuka
peluang bagiku untuk salah paham dengan sikapnya.
"Sha, kamu sudah dewasa, kan? Harusnya tahu kalau masalah itu dihadapi, bukan dihindari."
Kalimat itu menjadi pelatuk bagi amarahku yang telah lama terendap.
Baiklah, kalau memang ini kemauan mas Adam. Akan aku ungkapkan semua
'dosa-dosa'nya.
"Mas sendiri yang membuka peluang untuk timbul
masalah itu. Aku nggak akan berprasangka sama Mas seandainya Mas mau
terbuka sama aku."
Mas Adam kelihatan bingung, entah sungguhan atau hanya pura-pura saja.
"Kurang terbuka apa aku sama kamu, Sha? Memangnya ada hal yang aku sembunyikan darimu?"
"Banyak!" Aku melambaikan tanganku ke udara. "Mas nggak pernah jawab
pesan dari rekan kerja perempuan saat di rumah. Artinya Mas nggak jujur
dan terbuka soal bagaimana komunikasi antara Mas dan para koas atau
residen atau perawat mungkin, bisa jadi juga yang lain-lainnya."
Mas Adam tak menyahut. Tangannya justru memberikan isyarat padaku untuk meneruskan bicara.
"Kedua, soal masa lalu Mas. Aku bahkan baru tahu kalau Mas punya mantan pacar."
Napasku terengah-engah. Namun hatiku lega. Telah mengeluarkan semua yang masalah yang tersimpan dan mencekik kedamaian hatiku.
"Sudah?" Mas Adam bertanya dengan tenang. "Sekarang, kamu duduk dulu. Aku akan jelaskan satu persatu."
Aku menuruti perintah mas Adam. Mengambil duduk di depan mas Adam. Terdapat meja di antara kami.
"Pertama, seperti yang sudah aku katakan sama kamu sebelumnya, aku
memang nggak pernah balas pesan anak-anak koas ataupun residen, kecuali
untuk hal-hal yang penting. Kamu mungkin tidak percaya, tapi bagiku
komunikasi lewat pesan itu membuang-buang waktu dan tidak efektif sama
sekali."
"Tapi dulu kita sering berkirim pesan, Mas. Aku masih ingat kok." Aku membantah alasan yang diberikan oleh mas Adam.
"Itu karena kamu yang nggak pernah mau angkat telepon dariku. Terpaksa,
aku ladenin keinginan kamu untuk komunikasi via pesan. Kalau bukan kamu
yang minta, aku juga nggak akan mau."
Ehm ... mas Adam bisa dipercaya nggak, ya?
"Kamu masih nggak percaya? Kamu bisa tanya sama kolegaku di rumah
sakit. Mereka sudah tahu betul sifatku itu. Jadi jarang sekali ada yang
mengirimkan pesan untukku dalam keadaan darurat."
Aku terpaksa menerima alasan dari mas Adam. Kuanggukkan kepala padanya.
"Kedua, soal Khanza. Kamu nggak pernah tanya soal masa laluku, makanya
aku pikir kamu nggak tertarik. Jadinya, aku nggak pernah cerita apapun."
"Halah ... buktinya kemarin aku nanya juga nggak dijawab." Aku mencibir jawaban mas Adam.
"Kapan?"
"Kemarin aku tanya gimana caranya Mas Adam dulu nembak Khanza, tapi kamu nggak mau jawab."
"Aku nggak jawab? Bukannya aku waktu itu geleng kepala?" Mas Adam balik
bertanya dengan heran. Duh, bikin aku kesal. Memang apa bedanya antara
nggak mau jawab dan geleng kepala?
"Iya, geleng kepala artinya menolak jawab, kan?" Aku menyahut dengan nada kesal.
Mas Adam malah tersenyum. Jenis senyum miring yang meremehkan. Dan aku
paling sebal bila diberi senyum seperti itu. Seolah meremehkan diriku.
"Gelengan kepalaku itu artinya tidak. Yang berarti tidak ada pernyataan cinta dariku buat Khanza."
"Halah! Nggak ada pernyataan cinta kok bisa jadian?"
Benar-benar ucapan yang nggak masuk akal.
"Ya, bisa. Karena bukan aku yang berinisiatif memulai hubungan kami
dulu. Meminjam istilah kamu kemarin, Khanza yang nembak aku."
Aku melongo sejadi-jadinya. "Kamu nggak ngarang bebas kan, Mas? Masa sih?"
Mas Adam terkekeh geli melihat reaksiku. Dia berdiri dan menghampiriku. Duduk menempel padaku.
"Kamu kenapa nggak percaya begitu? Memangnya ada yang aneh?"
Aku mengangguk dengan mantap. "Aneh banget."
"Ya, dulu fokusku masih pada pendidikan dan karir, Sha. Banyak
pencapaian yang masih ingin kuraih. Dan bagiku, pacaran hanya akan
menghambat konsentrasiku saja."
"Bahkan perempuan sesempurna Khanza harus memulai duluan untuk bisa jadi pacarmu, Mas?"
"Iya, awalnya aku tolak. Tapi dia ngeyel katanya nggak akan ganggu
fokusku. Aku kasih dia kesempatan tapi ternyata kami gagal. Ya sudah,
bubar jalan. Bahkan di ingatanku, aku lebih cenderung menganggap Khanza
itu juniorku, ketimbang mantan pacar."
Pengen nggak percaya, tapi kok sepertinya mas Adam berkata jujur.
"Tapi setelah target Mas Adam tercapai, nggak pengen balikan sama Khanza gitu?"
Mas Adam menggeleng. "Aku udah suka sama wanita lain. Dia yang udah
bikin aku melakukan salah satu hal yang paling aku benci, mencetin
keyboard hape cuma biar bisa ngobrol. Agar aku bisa pendekatan sama
dia."
Duh, mas Adam ini kok jagonya merayu walau dengan wajah datar begitu. Dan anehnya aku tetap aja tersipu kalau mendengarnya.
Kedua tangan mas Adam menangkup kedua belah pipiku. Mengelusnya dengan ibu jari.
"Gisha, kamu harus mulai belajar percaya sama aku, juga dirimu sendiri.
Jangan pernah merasa rendah diri lagi. Kamu itu memang luar biasa
hingga bisa buat aku jadi tergila-gila sama kamu. Dan aku, memang
cintanya sama kamu. Maunya sama kamu. Aku ini tipe laki-laki yang tahu
betul apa yang aku inginkan. Aku akan perjuangkan apapun yang
benar-benar hatiku inginkan. Jadi stop berpikiran macam-macam."
"Kunci hubungan yang paling penting adalah komunikasi dan kepercayaan.
Kalau kamu punya ganjalan apapun itu, bicarakan sama aku. Lebih baik
kamu marah-marah daripada kamu diam saja. Karena diam itu tidak
menyelesaikan masalah. Dan juga, coba berikan kepercayaan padaku. Aku
ini suamimu. Pria yang sudah mengambil alih tanggung jawab atasmu dari
tangan Ayah. Jadi, aku pastikan kebahagiaanmu adalah salah satu tujuan
hidupku sekarang. Dan membuatmu menderita adalah pantangan besar bagiku.
Tolong percaya sama aku, Sha."
To be continued ....
***
#Revisi_Hati
Part 13
Aku kaget saat melihat sebuah permintaan pertemanan di akun Facebook
milikku. Sebuah akun dengan nama Khanza Syakira Risyad. Tak perlu
membuka profilnya, aku sudah tahu kalau ini akun milik si mantan
suamiku.
Sebenarnya hatiku ingin menekan tombol hapus, tapi jariku menurut pada logikaku yang menyuruh menekan tombol konfirmasi.
Kebetulan kulihat dia sedang online juga. Dan tak berselang lama
setelah aku mengkonfirmasi permintaan pertemanannya, ada pesan pribadi
masuk darinya.
[Hai, Gisha? Masih ingat aku, kan?]
Bagusnya aku jawab apa, ya? Pura-pura lupa aja, biar dia tahu kalau
dirinya tak sepenting itu untuk kuingat. Tapi bagaimana kalau dia justru
mengira otakku lemot dengan daya ingat yang lemah? Fiuh ... repot juga
nanti.
[Hai, ingat kok. Junior mas Adam, kan? Yang kemarin ketemu di rumah Mama.]
Aku langsung mengirimkan balasan itu.
[Kemarin kita belum sempat ngobrol. Kapan-kapan kita bisa ketemuan,
nggak? Aku penasaran mau ngobrol sama kamu. Pasti seru kalau kita bahas
gimana mas Adam yang dulu dengan mas Adam yang sekarang.]
Seru?
Kok aku nggak minat sama sekali, ya? Namun karena mengingat norma
kesopanan yang harus kujunjung, aku terpaksa membalas pesan itu.
[Insya Allah, nanti aku minta izin dulu sama suami.]
Sengaja, aku tulis kata suami sebagai pengganti mas Adam. Biar dia tahu posisiku juga posisinya sekarang.
***
"Hai, Gisha? Apa kabar?" Khanza menyambutku dengan senyuman lebar.
Aku mengulurkan tangan bermaksud menyalaminya, namun dia malah
memberiku sebuah pelukan plus cipika-cipiki. Seolah kami adalah teman
yang lama tidak berjumpa.
Aktingnya lumayan juga. Namun aku juga
tak mau kalah. Kuberikan senyuman paling ramah yang kubisa. Juga sapaan
yang terdengar antusias.
"Alhamdulillah, baik. Kamu sendiri gimana?"
"Nggak pernah sebaik ini."
Lebay, cibirku dalam hati.
Khanza mengajak bertemu di restoran hotel tempat dia menginap. Awalnya
agak heran juga saat mengetahui dia tinggal di hotel. Memang tak ada
rumah di Indonesia?
"Senin besok aku mulai dinas di rumah sakit MCI. Akhirnya bisa kembali bekerja di negara sendiri."
Aku memasang wajah ikut berbahagia. Ternyata dia mau pamer kalau akan
bekerja di tempat yang sama dengan mas Adam. Berharap aku cemburu? No!
Kalaupun aku cemburu, aku lebih memilih untuk tidak menampakannya.
"Kamu sama mas Adam sudah menikah berapa lama, Sha?"
"Baru sekitar empat bulan."
Khanza manggut-manggut. Ekspresinya seperti menunjukkan rasa simpati. "Belum dapat momongan, ya?"
Pertanyaan itu menusuk tepat di hatiku. Ingin tersinggung, tapi aku tahan. "Belum dikasih sama Allah."
"Nggak apa-apa. Mas Adam juga sabar, kan? Dia dari dulu memang begitu. Selalu baik sama semua orang."
Aku hanya menanggapinya dengan senyuman. Tidak mau terpancing. Semakin
ke sini, makin terlihat tujuan Khanza mengajakku bertemu. Jelas bukan
tujuan yang baik.
"Mas Adam itu sebenarnya punya bakat yang luar
biasa, lho, Sha. Kalau dia mau, dia bisa lebih sukses dari sekarang.
Jauh ... jauh ... lebih sukses."
"Maksudnya?" Aku tak bisa menebak arah pembicaraannya kali ini.
"Selain menjadi dokter, mas Adam juga bisa mengembangkan kemampuannya dalam mengelola rumah sakit."
Ini jelas pembahasan di luar bidang yang aku kuasai. Tapi sedikit
banyak aku agak paham juga. Memang kebanyakan dokter juga berkarir di
luar profesi. Tapi kurasa mas Adam tidak tertarik pada hal-hal seperti
itu.
"Sejak mas Adam masih menjadi residen, papaku sudah sangat
menyukainya. Bahkan berharap punya menantu seperti mas Adam. Cerdas dan
berbakat, juga punya loyalitas yang tinggi."
Aku menahan napas.
Terasa ada nyeri yang menghujam. Namun kembali aku menenangkan emosiku.
Aku tak boleh mempermalukan diriku sendiri.
"Tapi mas Adam itu
terlalu idealis. Dia nggak mau mendekati orang-orang penting yang bisa
mendukung karirnya. Dia juga menolak saat aku mengajaknya menikah.
Padahal itu sangat bagus untuk perkembangan karirnya. Papaku jelas akan
sangat mendukungnya." Khanza mengucapkan semua itu dengan nada ringan.
Tak ada sedikitpun rasa sungkan yang dia miliki untukku. Padahal yang
dia bicarakan adalah suamiku.
"Mas Adam memang bukan penjilat," ucapku tajam.
Khanza tidak bisa menyembunyikan rasa tersinggungnya. Ada sekelebat amarah di matanya.
"Kamu yang terlalu polos, Sha. Harusnya kamu bisa mendukung suamimu
untuk maju. Hal itu pasti sudah aku lakukan seandainya aku yang menjadi
istri mas Adam." Khanza benar-benar terlihat percaya diri.
Aku
berusaha menenangkan diriku. Tak mau bertindak gegabah. Kalau aku sampai
berbuat sesuatu yang memalukan, bukan cuma harga diriku yang jadi
taruhannya. Tapi juga nama baik mas Adam.
"Aku rasa setiap orang
punya visi masing-masing dalam hidupnya. Dan jangan salahkan orang lain
bila tak sependapat dengan kamu. Kebahagiaan dan kesuksesan adalah
sesuatu yang relatif. Tergantung dari sudut pandang mana orang
melihatnya. Dan takaran setiap individu jelas berbeda. Itulah gunanya
kita menempatkan diri sesuai dengan kemampuan kita." Aku mengucapkan
semua itu dengan nada yang kubuat setenang mungkin. Padahal dadaku sudah
bergemuruh. Bahkan mataku rasanya memanas. Amarah kadang memang memicu
air mata bagiku. Hal yang tidak aku sukai dari diriku sendiri. Karena
bagiku itu hanya akan memperlihatkan kelemahan saja.
Khanza kini
tersenyum. Sinis. Rupanya dia merasa tak perlu lagi menutupi rasa tidak
sukanya padaku. "Dan semua orang bisa berubah, Gisha. Wajar bagi mereka
yang masih muda untuk berpikiran idealis, prinsipil, dan berego tinggi.
Tapi ketika usia sudah semakin dewasa, mereka akan mulai menyadari kalau
hidup nggak hanya butuh itu. Kejujuran memang penting, tapi ada yang
jauh lebih penting. Pencapaian di mata masyarakat, kekuasaan, dan yang
terpenting ... uang."
Seandainya aku tidak memikirkan mas Adam,
pasti sudah kutampar wajah cantik itu bolak-balik. Agar dia sadar betapa
picik pikirannya. Namun rasanya percuma mendebat orang yang sudah buta
mata hati seperti Khanza ini. Jadi lebih baik aku menyingkir sebelum
kehilangan kendali diri.
"Rasanya sudah cukup aku mendengar semua
nasihatmu. Akan kupikirkan baik-baik di rumah. Tapi sebaiknya aku
ingatkan kamu sekali lagi. Wanita yang akhirnya dipilih mas Adam, yang
disebut namanya saat mengucapkan kalimat kabul adalah namaku. Harusnya
kamu tahu itu artinya apa. Permisi."
Aku meninggalkan Khanza yang
masih duduk dengan wajah terperangah. Terserah apa yang akan dia
lakukan nanti. Yang jelas aku harus bisa menenangkan diri setelah
mendengar masukan berbalut kalimat penghinaan yang barusan kuterima.
Dengan gerakan cepat aku berdiri dari kursi dan berbalik pergi.
Melangkah menuju pintu keluar restoran. Mataku rasanya benar-benar
memanas. Hingga kurasa satu kedipan saja pasti akan berhasil menjatuhkan
bulir-bulir bening dari kelopak mataku. Telingaku rasanya juga
berdenging. Jantungku berdegup cepat karena emosi yang menguasai.
Karena kurang konsentrasi, aku sampai menabrak seseorang di lobi hotel. Kami terjatuh bersamaan.
"Jalan pakai mata dong, Mbak!" tegur wanita yang baru saja kutabrak.
Seorang wanita yang mungkin berusia akhir empat puluhan. Berdandan khas
sosialita. Sekarang dia memandang tajam padaku dengan marah. Ah, sial
sekali. Kenapa di saat seperti ini aku harus berurusan dengan orang yang
sombong dan menyebalkan. Kecelakaan tadi jelas-jelas adalah kesalahan
kami berdua. Bila aku berjalan dengan terburu-buru, maka dia berjalan
sambil fokus pada gawainya tanpa melihat sekitar.
"Maaf, ya, Bu?
Ibu tadi juga bersalah. Fokus pada ponsel sampai tidak melihat sekitar."
Aku membantah. Emosi yang kutahan sedari tadi rasanya butuh
pelampiasan.
Wanita itu kini berdiri dengan tangan bertolak
pinggang. Tampak semakin marah. "Dasar nggak punya sopan santun. Sudah
salah, malah nyolot! Anak muda jaman sekarang. Belajar hargai yang lebih
tua!"
Aku baru akan membalas ucapan itu saat kurasa ada
seseorang yang menahan lenganku. Bersamaan dengan suara berat yang
menginterupsi pertengkaran kami.
"Maafkan teman saya, Bu. Silakan lanjutkan urusan Ibu kembali."
Aku menoleh dan membeku melihat orang yang sekarang sudah berdiri di sampingku itu.
Dia ... Salman.
***
"Kamu kenapa, Sha? Nggak biasanya kamu emosi seperti tadi, apalagi dengan orang yang lebih tua."
Salman mulai menginterogasiku setelah memaksa aku untuk duduk di sebuah
sofa yang tersedia di lobi hotel. Aku sebenarnya mau menolak, tapi juga
tak enak hati. Apalagi Salman sudah membantuku menyelesaikan masalah
tadi. Pikiranku sendiri masih terlalu kacau akibat kata-kata dari
Khanza. Namun aku tak mungkin menceritakannya pada Salman.
"Aku nggak apa-apa kok, Mas. Mungkin sedikit sensitif aja."
Salman memandangku dengan tatapan menyelidik. Aku berusaha memasang
wajah datar tanpa ekspresi. Semoga bisa mengenyahkan kecurigaan Salman.
"Kamu sendiri ada urusan apa di sini, Mas?"
Aku sengaja bertanya untuk mengalihkan topik. Dan untungnya Salman paham. Dia tak melanjutkan cecarannya padaku.
"Aku sedang jadi guru pendamping buat muridku yang mengikuti lomba debat bahasa Inggris. Kebetulan ini sedang jeda ishoma."
Aku mengangguk paham. Sesaat kami hanya saling berdiam diri. Otakku sedang malas untuk menciptakan topik obrolan.
"Sha ... selamat, ya, untuk pernikahanmu."
Aku tertegun sesaat mendengar ucapan selamat dari mulut Salman itu. Ada
sedikit sendu terselip, tapi lebih dominan nada yang tulus. Aku memang
tak mengundangnya kemarin. Buat apa? Hubungan kami sudah berakhir. Dan
menurutku, dia juga tak akan hadir kalaupun aku mengundangnya.
"Makasih, Mas." Hanya itu yang bisa kuucapkan sebagai balasan.
Salman menghela napas panjang dan agak berat. Matanya menatapku dengan
sungguh-sungguh. "Kumohon untuk tetap seperti ini, Sha. Setidaknya
jangan memusuhi aku. Balas sapaanku bila kita tidak sengaja bertemu. Aku
sendiri juga akan berusaha untuk tidak menemui kamu dengan sengaja.
Kalaupun kamu tidak akan mungkin melupakan kesalahanku dulu, setidaknya
ingatlah kalau pernah ada Haidar di antara kita. Pasti Haidar tak akan
senang bila melihat orangtuanya bermusuhan. Bisa kan, Sha?"
Entah
kenapa mendengar nama Haidar disebut oleh Salman membuat mataku
berkabut. Anak itu ... adalah kehilangan terbesar yang aku alami. Dan
aku tiba-tiba merasa bersalah padanya karena selama ini telah membenci
pada ayahnya. Padahal pria inilah yang telah mengalirkan darahnya pada
Haidar.
Tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, aku segera mengangguk mengiyakan permintaan Salman.
Keputusan Mama benar kan, Sayang?
***
Sebuah pesan masuk ke ponselku. Dari nomor asing yang belum ada di
daftar kontakku. Ragu awalnya, namun akhirnya aku buka pesan itu.
Hatiku mencelos melihat sebuah foto yang dikirim. Foto mas Adam dan
Khanza. Mataku memanas mengamati foto itu. Mereka memakai snelli dan
berdiri berdampingan dengan tubuh merapat. Kedua tangan Khanza merangkul
mesra lengan mas Adam. Kepalanya disandarkan di bahu mas Adam. Khanza
tersenyum lebar ke arah kamera. Sedangkan mas Adam hanya tersenyum
tipis, tapi kelihatan tulus dan tidak terpaksa.
Di foto itu disertai dengan pesan teks.
[Sesuatu yang disebut kenangan, tidak dilupakan, hanya tersimpan di sudut, dan menunggu untuk ditemukan.]
Aku masih menatap nanar layar ponselku. Ini hari Minggu, dan mas Adam
memang pergi ke rumah sakit. Hanya untuk visit pasien rawat inap.
Biasanya dia pulang sebelum makan siang, tapi sekarang sudah menjelang
sore dan mas Adam belum tampak juga. Justru, aku mendapatkan kiriman
foto ini. Jelas siapa pengirimnya, tidak lain, pasti adalah Khanza.
Otakku menyuruh untuk berpikir secara jernih. Jangan gegabah dan mudah
tersulut. Tapi hatiku juga tidak bisa berbohong. Sakit sekali melihat
kenyataan lewat gambar dua dimensi ini.
Kemarin, aku memang tak
menceritakan tentang pertemuanku dengan Khanza pada mas Adam. Kebetulan
mas Adam pulang kerja dengan muka kusut dan terlihat stress. Makanya aku
tidak mau menambah beban pikirannya. Siapa sangka kalau sekarang aku
disuguhi foto mesra suamiku dengan wanita lain.
Suara derit pintu
menyadarkan aku dari pikiranku yang berkelana. Mas Adam sudah pulang.
Wajahnya tampak biasa saja. Justru aku melihat dia lebih segar ketimbang
kemarin ataupun pagi tadi.
Dia mengucapkan salam dan mengulurkan
tangannya untuk kusalim. Aku melakukannya lebih seperti robot. Hanya
berupa gerakan yang tercipta tanpa makna. Bahkan aku tak bisa mengukir
senyum saat mas Adam mencium keningku.
Tiba-tiba saja kesedihan menyeruak di hatiku. Akankah aku merasakan kehilangan lagi? Benarkah mas Adam tega berkhianat padaku?
Dengan air mata tertahan, aku bergegas masuk ke dalam kamar. Tanpa
memperhatikan raut wajah keheranan dari mas Adam. Aku bisa mendengar dia
memanggil namaku dengan samar. Namun aku abaikan.
Terduduk di
tepi tempat tidur, aku mengusap kedua mataku. Mencoba menghentikan laju
air mata ini sebelum menjadi-jadi. Namun percuma. Air mata ini terus
turun saling berkejaran. Membuatku sampai terisak pelan.
Mas Adam
yang menyusulku masuk ke kamar terlihat kaget melihatku yang berkubang
dengan tangisan. Dia mendekat dengan wajah yang panik.
"Kamu kenapa, Sha?"
Tangannya akan menyentuh bahuku, namun reflek aku menolak sentuhan itu.
Mas Adam tampak agak syok dengan reaksiku. Namun dia diam. Hingga aku
beranikan menatap matanya.
"Kenapa nggak jujur saja sama aku, Mas, kalau kamu memang lebih memilih dia?"
Kening pria itu berkerut dalam. Mungkim berpikir keras mengartikan kalimat random tanpa pembukaan yang aku lontarkan.
"Dia? Siapa?"
Aku mengusap kedua pipiku dengan kasar. Mengambil ponsel di saku rok.
Mencari pesan sialan itu dan menyodorkan ke depan wajah mas Adam.
Mata mas Adam memicing. Meraih ponselku dan mulai mengamati foto itu.
"Kapan kamu dapat kiriman foto ini?" tanya mas Adam dengan intonasi rendah yang agak menakutkan di telingaku.
"Beberapa jam yang lalu."
Mas Adam menyerahkan kembali ponselku. "Dan menurutmu kapan foto itu diambil?"
"Hari ini." Entah darimana aku menyimpulkan ini. Tapi memang itu yang terpikirkan olehku sejak menerima foto itu.
Mas Adam masih terus menatapku. Menantang mataku dengan sorot seperti
orang yang kecewa. Membuatku merasakan sesuatu yang asing. Aku tak
pernah mendapat tatapan kecewa seperti ini sebelumnya.
"Sha, sampai begitunya kamu nggak percaya sama aku?"
Aku diam. Mulai ragu dengan asumsiku.
"Bahkan kamu nggak berusaha mencari kebenarannya padaku? Kamu lewatkan
semua detail aneh hanya karena dikuasai oleh emosi dan segala prasangka
yang diciptakan oleh pikiranmu."
Mas Adam menunjuk ponsel yang
ada di tanganku. "Walaupun aku memang tidak pernah ganti gaya rambut,
tapi apa kamu nggak sadar kalau di foto itu rambutku tampak lebih
pendek? Kamu juga nggak perhatikan lengan snelli yang aku pakai. Juga
kantong yang penuh dengan alat tulis itu?"
Aku menahan napas mendengar semua perkataan mas Adam. Sesaat kemudian mulai merutuki kebodohanku.
"Kamu memang bukan tenaga kesehatan, tapi setidaknya pernah bekerja di
rumah sakit bertahun-tahun. Tidak bisa membedakan yang mana koas,
residen, atau konsulen? Itu foto lama. Saat aku masih menjadi residen
bedah."
Aku menggigit bibir bawahku dengan rasa bersalah yang menggelayut. Malu juga.
"Maaf, Mas," ucapku pelan.
Mas Adam menggeleng dengan sorot mata yang masih terlihat kecewa. Membuatku makin merasa bersalah.
"Ini bukan hanya masalah siapa yang salah dan siapa yang benar. Tapi
dasar hubungan kita yang belum kuat, terutama dari kamu, Sha. Apakah
nilaiku serendah itu di matamu hingga tak pantas mendapatkan kepercayaan
darimu? Tadi, kamu nggak konfirmasi, tapi langsung menghakimi."
Aku tak bisa lagi membantah. Kemarahanku tadi langsung padam, berganti
dengan perasaan bersalah. Juga merasa kerdil karena buruknya prasangka
yang kuciptakan.
"Terus apa jadinya kalau kamu ada di posisiku
sekarang dan mendapat kiriman foto ini?" Kini gantian mas Adam yang
menyodorkan ponselnya padaku.
Aku melihat layar ponsel mas Adam
yang menampilkan sebuah foto. Tenggorokanku langsung tercekat. Jantungku
seolah langsung dipaksa berhenti berdetak sebelum kemudian berdebar
dengan keras dan cepat.
Foto itu ... fotoku dengan Salman yang diambil saat kami duduk di sofa lobi hotel kemarin.
Aku tak mungkin membantahnya. Karena itu memang foto asli. Dan kalimat selanjutnya dari mas Adam semakin memojokkan posisiku.
"Aku ingat itu baju yang kamu pakai kemarin pagi saat akan berangkat
bekerja. Dan baju itu belum lama kamu beli setelah kita menikah. Jadi,
foto itu diambil kapan, Sha? Karena seingatku kamu nggak pernah cerita
apapun soal pertemuan itu."
To be continued ....
***
#Revisi_Hati
Spesial Part
Salman's POV
"Nin, cewek yang barusan daftar, masuk ke kelas apa?"
"Kenapa, sih? Naksir, ya?
"Cuma nanya aja, sih. Tapi boleh dong aku dapet ngajar di kelas dia."
"Dasar!!!"
***
"Ngapain, sih, kamu ke sekolahku? Nggak cukup kita ketemu di bimbel aja? Aku bisa bosen kalau keseringan lihat wajah kamu."
"Ya ampun, jangan galak begitulah. Nanti kualat terus jadi naksir sama aku gimana?"
"...."
"Melotot gitu, kamu tetap cantik kok!"
***
"Kamu pacarnya Gisha?"
"Iya, Om."
"Bohong, Yah!"
"Terus kalian apa dong? Musuh tapi cinta?"
"Lagi usaha, Om. Doain ya semoga hati Gisha cepat dibukakan untuk saya."
***
"Traktiran gaji pertama aku sebagai guru yang sebenarnya, nih! Kamu mau makan apa, bebas pilih."
"Udah, deh! Baru gajian sekali, jangan boros begini. Mending ditabung
uangnya. Atau beliin sesuatu buat mama kamu. Aku nggak usah ditraktir."
"Tabungan buat masa depan kita, ya?"
"Ngawur!!!"
***
"Makanya jangan kebanyakan begadang. Kurangi juga tuh kebiasaan kamu main PS."
"Siap, Cantik. Lagian sebenarnya aku juga nggak sengaja kok sakitnya kemarin."
"Idih! Emang ada gitu orang yang sengaja sakit?"
"Ada. Besok-besok aku mau sengaja sakit, biar sikap kamu bisa manis seperti kemarin."
"...."
"Sha, belum mau jadi pacarku?"
"Oke, deh."
"Hah? Apa, Sha?"
"Oke. Kamu tanya sekali lagi, aku ralat jawabanku."
"Alhamdulillah, ya Allah. Akhirnya penantianku selama tiga tahun terbayar lunas tanpa kredit."
***
"Capek, ya? Makanya nggak usah anter jemput aku segala. Rute kamu tiap
hari itu udah ruwet banget. Dari rumah kamu, rumahku, rumah sakit,
sekolahmu, ke rumah sakit lagi, rumahku lagi, terus baru kamu pulang ke
rumahmu sendiri."
"Dibikin nggak ruwet, yuk?"
"Maksudnya?"
"Dari rumah kita, ke rumah sakit, sekolahku, ke rumah sakit lagi, baru pulang ke rumah kita."
"...."
"Nikah sama aku yuk, Sha?"
"Kamu serius?"
"Iya, serius banget."
"Tapi janji, ya? Kamu akan terus setia sama aku dan nggak akan berubah?"
"Tentu, Sayang."
***
"Sha, aku beneran mau jadi ayah?"
"Iya."
"Sha, kamu hamil anakku?"
"Ya iyalah anak kamu!"
"Sha, sekarang kamu panggil aku pake 'Mas' dong. Masa kita udah mau punya anak, kamu masih sebut nama aja ke suami kamu."
"Kebanyakan permintaan, deh."
"Please, Sayang ...."
"Iya, Maaaas. Puas???"
"Hehehe, lebih puas kalau sambil dikasih senyum manis, sih. Makasih banyak, ya, Sayang."
***
"Kamu kenapa diam aja waktu dikerjain sama teman-teman kamu? Harusnya kamu membela diri, atau minimal lapor sama guru."
"Maaf, Pak. Tapi mereka cuma bercanda kok."
"Bercanda kamu bilang? Kamu sadar nggak, sih? Kalau nggak kepergok sama saya, kamu itu mau dikunciin di toilet sama mereka."
"...."
"Saya akan minta guru BK untuk panggil orangtua kamu dan orangtua mereka."
"Jangan, Pak. Mereka akan semakin benci sama saya."
"Terus kamu mau diem aja? Sanggup jadi korban perundungan terus menerus? Ya sudah, saya mau panggil orangtua kamu saja."
"Orangtua saya sudah meninggal, Pak."
"Wali kamu?"
"Kakak. Tapi dia kerja di luar kota."
"Huft! Ya sudah, mau saya kasih saran, Dara? Cobalah kamu terbuka
dengan teman-teman yang lain. Akrabkan diri dengan teman yang pemberani
tapi baik, seperti Kartika misalnya. Dia pasti akan belain kamu kalau
ada anak-anak bandel yang ganggu kamu."
"Iya, Pak. Terima kasih."
***
"Kamu kenapa belum pulang padahal udah sore begini?"
"...."
"Ada yang ganggu kamu lagi?"
"Dompet saya hilang, Pak. Saya nggak punya ongkos."
"Hilang atau diminta paksa? Ya sudah sini, saya antar kamu pulang."
***
"Ra, maafkan saya, ya? Harusnya saya nggak lakuin ini ke kamu. Ini
salah. Dosa besar. Dan tadi pengalaman kamu yang pertama, kan? Harusnya
saya nggak merusak kamu."
"Tapi saya nggak apa-apa, Pak."
"Tapi saya yang kenapa-napa. Saya udah punya istri."
"Selain kakak saya, di dunia ini cuma Bapak yang peduli sama saya. Saya
nggak minta status atau apapun, Pak. Cukup perhatian dari Bapak saja,
sudah sangat berarti bagi saya."
***
"Sayang, usia kehamilan kamu udah berapa bulan?"
"6 bulan. Emang kenapa, Mas?"
"Aku merasa belum bisa jadi suami yang baik buat kamu. Tapi kamu mau maafin aku kalau aku ada salah, kan?"
"Ih, kamu aneh deh, Mas. Belum lebaran, udah minta maaf aja."
"Serius, Sha. Dalam hidupku, setelah Mama, kamu adalah wanita paling
berharga yang akan aku upayakan untuk terus bahagia. Tapi ...."
"Tapi apa?"
"Ah, nggak ada. Udah kamu bobok sana. Harus banyak istirahat. Aku mau
lanjutin kerjaan aku. Sebentar lagi, kamar untuk calon anak kita udah
siap."
***
"Ra, setelah kamu lulus ini, aku minta kita tidak bertemu lagi."
"Tapi, Pak ...."
"Demi kebaikanmu, Ra. Saya nggak mungkin bisa kasih sesuatu yang kamu
harapkan. Saya cuma berdoa agar kamu bisa menemukan laki-laki yang jauh
lebih baik dari saya dan bisa menerima kamu apa adanya."
"Bahkan saya nggak boleh kirim pesan atau telepon Bapak saat ada kesulitan?"
"Oke, boleh. Tapi saya harap kamu mengerti posisi saya. Ada hati istri saya yang harus dijaga."
***
"Salman, lebih baik kita segera makamkan anak kamu."
"Tapi Gisha belum lihat wajah anak kami, Pa."
"Gavin sudah ambil beberapa fotonya tadi."
"Tapi nanti kalau Gisha nanyain anak kami, aku harus jawab apa, Pa?"
"Kamu harus kuat sebagai laki-laki. Harus bisa jadi sandaran istri kamu."
***
"Aku minta maaf kalau selama ini sudah sering melukai perasaan kamu, Sha."
"...."
"Soal rumah, kamu bisa tetap tinggal di sana. Biar aku yang pergi."
"Itu rumah kamu. Aku yang dulu datang, jadi aku juga yang akan pergi."
"Tapi rumah itu hadiah dari Papa untuk pernikahan kita."
"Kamu pikir aku masih mau tinggal di rumah itu?"
***
Aku mendorong pintu depan rumah hingga terbuka. Pengap dan debu
langsung merangsek ke indera penciumanku. Gelap, karena semua jendela
tertutup tirai.
Bisa kulihat debu yang menumpuk di lantai. Juga
di atas kain yang menutupi semua perabotan. Walaupun Mama menyuruh orang
untuk membersihkan rumah ini sebulan sekali, tetap saja rumah ini
terlihat terbengkalai.
Menyedihkan dan dingin. Padahal dulu di
sini adalah tempat terhangat yang pernah kusinggahi. Di sini, aku
menemukan arti kata pulang yang sebenarnya. Tapi kini, aku kembali
terombang-ambing. Mengambang dalam ketidakpastian hidup. Hidup tapi
seolah tak bernyawa.
Kakiku melangkah menyusuri ruangan satu
persatu. Menuju sebuah pintu berwarna putih. Kuusap permukaan daun pintu
yang juga kotor itu. 'Baby's Room'. Tulisan itu aku yang membuatnya
sendiri. Tanganku pula yang menempelkannya.
Kutarik napas panjang sebelum mendorong pintu itu. Terbuka dan menyajikan pemandangan yang menikam hatiku berkali-kali.
Harusnya di sini adalah tempat yang menjadi favoritku saat pulang
kerja. Tempatku menjumpai seorang malaikat kecil yang kemungkinan
menuruni garis wajahku.
Di sebelah kanan dekat jendela, ada
sebuah tempat tidur berwarna putih. Tempat tidur itu dulu dipilih
sendiri oleh Gisha. Setelah kebingungan selama berhari-hari, akhirnya
wanita itu memilihnya. Dan aku sangat menyukai seleranya. Aku ingat,
saat itu kandungan Gisha berusia lima bulan.
Dinding kamar
bertema pesawat terbang. Dengan warna biru langit dan awan putih di
beberapa bagian. Gisha sempat protes, tapi kali itu aku yang berhasil
memenangkan perdebatan.
Lemari pilihan Gisha terletak di dekat
tempat tidur. Dua pintu. Dan bila kubuka, di dalamnya akan ada setumpuk
pakaian bayi, selimut, dan perlengkapan lainnya. Hasil pencarianku
bersama Gisha selama berminggu-minggu.
Aku membuka lemari itu.
Sengaja melewatkan pemandangan setumpuk baju untuk Haidar. Bergegas aku
hanya mengambil segulung koran bekas di bagian paling atas dan kembali
menutup lemari itu.
Kuhamparkan koran bekas itu di lantai.
Selebar yang dibutuhkan tubuhku untuk berbaring. Terlentang menghadap
langit-langit kamar, pikiranku mulai menjelajahi semua yang harusnya
terjadi, tapi aku kacaukan.
Kalimat seandainya, seandainya, dan
seandainya terus memonopoli benakku. Melawan logikaku yang meminta untuk
menerima apa yang terjadi. Logika yang mengajakku untuk berdamai dengan
keadaan. Tapi sulit. Bahkan kurasa lebih mudah mati daripada menerima
semua ini dengan lapang dada. Karena nyatanya aku adalah
seburuk-buruknya bajingan di dunia. Pria yang menenggelamkan istrinya
dalam kesengsaraan. Dan seseorang yang secara tidak langsung telah
membunuh darah dagingnya sendiri.
***
Dua anak kecil itu
duduk menghampar di lapangan berumput hijau. Angin bertiup sepoi-sepoi.
Menerbangkan bau segar dari pepohonan yang basah setelah tertimpa hujan.
Dilihat dari perawakan dan postur tubuhnya, kelihatan kalau dua anak
itu tidak banyak berselisih usia. Yang satu tampak sehat dan bahagia.
Memakai pakaian berwarna putih bersih. Wajahnya bersinar dengan mata
hitam berkilau. Tajam namun menyejukkan. Yang satunya lagi memakai baju
berwarna abu-abu. Wajahnya tak kalah tampan dari yang satunya, tapi
nampak mendung bergelantung di wajahnya. Kesedihan itu jelas terukir di
sudut bibirnya yang tertarik ke bawah.
"Mamaku mau pergi."
"Nggak. Aku akan bilang sama Papa biar jagain Mama kamu. Biar dia nggak pergi." Bocah berbaju putih itu menghibur temannya.
"Tapi Papa nggak pernah sayang sama aku dan Mama."
"Sayang. Tapi Papa belum sadar. Kamu harus kasih Papa kesempatan."
"Papa jahat sama aku."
"Nggak. Papa sebenarnya baik."
"Papa jahat!"
Anak berbaju abu-abu itu menoleh padaku. Wajahnya menyiratkan amarah.
Telunjuknya terarah padaku. Aku terpaku. Tidak bisa bicara. Tidak mampu
bergerak.
"Papa jahat! Papa pembunuh! Aku benci Papa!"
***
Aku membuka mata. Napasku terengah. Mimpi tadi tampak seperti nyata. Bahkan dua wajah itu terasa familiar bagiku.
Kuhirup napas dalam-dalam. Mencari ketenangan. Menormalkan kembali detak jantung yang sempat menggila.
Tapi kesadaran itu tiba-tiba menyelinap ke otakku. Membuat tubuhku membeku. Anak-anak tadi ... itu anakku?
Pembunuh? Pembunuh, katanya? Aku adalah pembunuh?
Sekelebat bayangan buruk terbentuk dalam pikiranku. Membuat badanku
menegak seketika. Kemungkinan-kemungkinan itu, akankah benar-benar
terjadi? Akankah membuatku kembali menyesal?
Aku berdiri. Bergerak menuju kamar mandi. Untungnya air masih mengalir jadi aku bisa mencuci wajah.
Saat aku keluar dari kamar mandi, kulihat ponselku yang tergeletak di
lantai, tepat di samping tempatku berbaring tadi, menyala dan bergetar.
Rani calling ....
Rani? Tumben dia meneleponku? Rani adalah asisten rumah tangga yang
kupekerjakan untuk membantu Dara mengurus anaknya. Aku memang hampir tak
pernah pulang ke rumah yang ditempati Dara. Memilih tinggal di rumah
Mama saja. Maka Rani yang membantu dan menemani Dara.
***
Aku memarkirkan mobil dengan sembarangan. Langkahku kupacu secepat
mungkin. Seperti jantungku yang rasanya berdetak tiga kali normal.
Masih terngiang di telingaku suara Rani di telepon tadi.
'Pak, bu Dara kecelakaan. Motornya diserempet mobil waktu mau ke pasar.'
Napasku terengah-engah saat akhirnya sampai di IGD rumah sakit.
Kepalaku menoleh ke sana kemari. Mencari keberadaan Dara. Kudekati
kerumunan tenaga medis yang terlihat sibuk. Beberapa orang polisi, juga
orang yang tidak kukenal.
"Dara ...." Suaraku tercekat saat mengucapkan nama itu.
Beberapa orang yang di dekatku menoleh. Seorang petugas polisi sigap
mendekatiku. Menanyakan identitasku. Dengan setengah linglung, aku
menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan padaku.
Baru saat aku harus menandatangani surat persetujuan operasi, ketakutanku merayap keluar. Mengembalikan kesadaranku sepenuhnya.
"Operasi, dok?"
"Iya. Terjadi cedera kepala berat yang butuh tindakan segera."
Aku tidak begitu mendengar penjelasan selanjutnya. Pikiranku terlalu
kacau. Seorang perawat menyodorkan surat persetujuan operasi padaku.
Tanganku gemetar saat membubuhkan tanda tangan di lembaran kertas itu.
Kilasan masa lalu kembali hadir. Saat Gisha kecelakaan. Dia juga harus
menjalani operasi. Dan kini Dara. Apakah aku ini lelaki pembawa sial
hingga semua orang terdekatku harus mengalami kejadian seperti ini?
Kujambak rambutku dengan rasa frustasi.
Ya Allah ... kali ini
saja, tolong kabulkan doa hamba. Berilah kesempatan pada hamba agar bisa
menebus dosa-dosa pada istri yang telah hamba dzalimi selama ini ....
***
"Jangan berani-berani mencoba untuk bertemu dengan Dara," desis Irham di depan mukaku.
Kedua tangannya mencengkram kerah kemeja yang kupakai. Sudut bibirku
mulai terasa menebal karena baru saja bertemu dengan kepalan tangan
Irham. Pelipisku yang tadi dia pukul juga mulai berdenyut. Tapi semua
ini tidak akan menyurutkan tekadku untuk bertemu dengan Dara.
Sejak Dara sadar kemarin, Irham tak pernah memberikan kesempatan padaku
untuk menemui Dara. Aku paham alasan dia begitu membenciku. Sangat
paham. Tapi aku juga akan tak akan menyerah. Dosaku sudah terlalu
menumpuk. Aku butuh bertemu dengan Dara agar aku tidak menjadi gila.
"Aku akan tetap di sini. Sampai Dara bisa pulang ke rumah."
"Dara akan pulang ke rumahku. Perceraian kalian akan diurus oleh pengacaraku."
"Aku nggak akan menceraikan Dara. Sampai kapanpun."
Irham melepaskan cengkeramannya di kemejaku. Kemudian tersenyum sinis. "Menyesal sekarang?"
Aku mengangguk. "Tolong beri aku kesempatan. Aku janji nggak akan menyia-nyiakan Dara dan Haikal."
Kembali, Irham mencibir janjiku. Namun dia kemudian memandangi lantai . Terpekur sesaat.
"Kalau kamu sampai menyakiti mereka lagi, aku yang akan bunuh kamu dengan tanganku sendiri."
***
Dara yang berbaring di tempat tidur dalam keadaan terjaga menoleh saat
aku masuk. Senyum terukir di wajahnya yang pucat. Entah kenapa justru
membuat hatiku nyeri. Apalagi saat guratan rasa khawatir terlukis di
wajahnya.
"Mas, wajahmu kenapa?"
Aku menggeleng.
Tenggorokanku rasanya kering. Suaraku menghilang. Keadaannya tidak jauh
lebih baik dari aku, tapi dia masih mengkhawatirkan diriku. Tanganku
bergerak mengusap pipinya yang terasa dingin.
"Gimana keadaan kamu?" tanyaku dengan suara serak.
Dara kembali mengulas senyum. "Baik, kok. Kata dokter sudah bisa pulang
dalam beberapa hari ke depan." Kemudian wajah itu terlihat sedih. "Mas,
maafin aku, ya? Di hari ulang tahunmu, aku malah bikin kamu repot.
Padahal aku berencana mau bikin kue ulang tahun khusus untuk kamu, tapi
karena nggak hati-hati bawa motor, malah celaka begini. Maaf, ya, Mas?"
Air mataku tak terbendung lagi. Segala makian memang pantas diteriakkan
padaku. Si dungu yang telah menyia-nyiakan wanita yang begitu tulus
padanya selama ini. Bodoh kamu, Salman! Kamu hampir terjerembab ke
lubang yang sama. Kehilangan seseorang karena kebodohanmu sendiri.
"Maafin aku, Ra. Maaf ...."
Selesai ....
****
#Revisi_Hati
Terima kasih untuk admin dan moderator yang meloloskan tulisan ini ....
***
Spesial Part
Ini ekstra part spesial buat para pembaca yang kurang puas kemarin sama nasibnya Salman, hehe ....
Gara-gara si Salman kok para reader jadi baper dan sebel, padahal
tujuan saya buat cerita kan untuk menghibur para pembaca, maka dari itu
saya persembahkan part spesial ini.
Semoga terhibur ....
***
Author's POV
Adam memijat pelipisnya yang berdenyut. Pusing karena kurang tidur.
Namun dia harus tetap menjemput Salwa. Kemarin dia sudah alpa menjemput
yang berakibat Salwa marah besar. Dan Adam tak mau mengulang kesalahan
yang sama. Bukan hanya karena takut Salwa marah, tapi juga lebih pada
kekhawatiran Adam bila Salwa harus pulang sendiri.
Sejak Papanya
meninggal, Adam sudah bertekad akan selalu menjaga Mama dan juga
adiknya. Dua orang anggota keluarganya itu menjadi prioritas Adam
sekarang. Jadi sebisa mungkin, Adam selalu meluangkan waktu untuk Mama
dan Salwa. Bahkan di sela padatnya jadwal koas yang rasanya membuat
kepala Adam mau meledak.
Adam menghentikan motornya di depan
sebuah lembaga bimbingan belajar yang beberapa bulan ini menjadi tempat
les Salwa sebagai persiapan Ujian Nasional dan SBMPTN. Tepat saat itu
hujan turun tiba-tiba dengan derasnya. Membuat Adam bergegas turun dari
motor dan berteduh di emperan bangunan bimbel itu. Setelah melihat jam
tangannya, Adam memperkirakan beberapa menit lagi harusnya Salwa sudah
keluar.
Dan perkiraan Adam ternyata tepat. Beberapa siswa
berseragam dengan badge sekolah yang berbeda-beda keluar dari dalam.
Salwa berjalan keluar bersama seorang gadis berambut panjang yang
dikuncir ekor kuda.
"Eh, tumben udah datang duluan, Mas?" tanya Salwa sembari mencium punggung tangan Adam.
"Iya, tadi abis selesai jaga, Mas langsung ke sini."
Salwa menarik lengan temannya mendekat. "Sha, kenalin ini kakakku."
Gisha tersenyum tipis kepada Adam. Mereka saling berjabat tangan singkat sambil menyebutkan nama masing-masing.
"Mas lupa bawa jas hujan. Kita tunggu hujannya reda dulu, ya?"
Salwa mengangguk pasrah. Padahal dia sudah lapar dan lelah.
Gisha yang juga kelupaan membawa jas hujan ikut menunggu. Beberapa
siswa yang memakai jas hujan langsung pulang. Ada juga yang nekad
walaupun tidak membawa jas hujan. Namun kebanyakan masih menunggu hujan
reda.
Ponsel yang berada di saku rok Gisha bergetar. Panggilan telepon dari nomor adiknya.
"Ada apa, Vin?" Suara Gisha yang menjawab telepon bisa terdengar oleh Salwa maupun Adam yang berdiri di dekatnya.
Beberapa saat kemudian, Gisha menutup teleponnya. Menoleh pada Salwa
yang berada di sampingnya. "Aku duluan, ya, Sal? Adikku minta jemput."
"Hah? Masih ujan gede begini lho, Sha. Kamu kan nggak bawa jas hujan," cegah Salwa agak khawatir.
Tapi Gisha hanya mengulas senyum dan menggeleng. Setelah itu, tubuh
kurusnya menerobos hujan yang masih turun dengan lebat. Menaiki motornya
dan melajukannya ke sekolah Gavin.
Adam memandang gadis remaja
itu dengan perasaan agak tertarik. Sosoknya seperti mengingatkan dia
pada dirinya sendiri. Begitu mempentingkan keluarga. Demi adiknya, dia
rela berkendara di bawah guyuran hujan yang lebat seperti ini.
***
"Pagi, Pak," sapa Adam pada seorang pria paruh baya yang sedang
berkutat dengan ember dan selang. Tampak akan menyirami pohon-pohon di
sekitar lahan parkir khusus karyawan rumah sakit.
"Di sini kalau mau nyari sarapan, yang enak di mana, ya, Pak?"
"Bubur ayam di seberang itu, Pak. Enak rasanya. Banyak yang suka sarapan di sana."
Adam mengangguk. "Mari Pak, ikut sarapan bareng saya," ajaknya.
Pria itu menggeleng sambil tersenyum sopan. "Terima kasih, Pak. Lain kali saja."
"Sekalian menemani saya sarapan sambil ngobrol, Pak." Adam terus membujuk Bapak itu.
"Lain kali saja, Pak. Saya masih ada yang harus dikerjakan."
Adam pun mengangguk kemudian permisi pergi. Berjalan ke seberang rumah sakit yang merupakan tempat kerjanya yang baru.
Tempat penjual bubur ayam yang dimaksud ternyata lumayan ramai. Mungkin
rasanya benar-benar enak hingga banyak yang sarapan di sini. Hampir
semua meja terisi. Adam terpaksa memilih bergabung dengan meja yang
sudah diisi oleh seorang gadis.
Adam menggangguk singkat pada
gadis itu yang dibalas dengan wajah datar. Beberapa kali, Adam mencuri
pandang ke arah teman semejanya itu. Merasa agak familiar dengan
wajahnya tapi Adam lupa pernah melihatnya di mana. Gadis itu juga tampak
tidak mengenalinya.
Beberapa saat kemudian gadis itu selesai
terlebih dulu. Dia mengangguk pada Adam dengan senyum tipis. Menghampiri
penjual untuk membayar sekaligus memesan lagi untuk dibungkus.
Setelah Adam menyelesaikan sarapannya, dia juga menghampiri penjual
untuk membayar. Bersamaan dengan selesainya transaksi yang dilakukan
gadis itu.
Dan ternyata gadis itu juga bekerja di rumah sakit.
Tapi melihat pakaiannya, dia bukanlah tenaga kesehatan, mungkin staff
management.
Adam mengiringi langkah gadis itu sambil
mengamatinya. Juga tetap sambil berusaha mengingat di mana dia pernah
melihat wajah itu.
Kening Adam mengernyit saat melihat gadis itu
memberikan bungkusan bubur ayam yang dia bawa kepada pria paruh baya
yang tadi ngobrol dengannya. Bahkan mereka terlihat akrab.
"Terima kasih, ya, Mbak Gisha. Setiap hari sudah belikan sarapan buat saya." Bapak itu tersenyum lebar saat mengucapkannya.
Gisha? Gisha ... Gisha ... nama yang tidak asing. Dan beberapa detik
kemudian ingatan Adam menemukan nama itu di memori yang lama tersimpan.
Gisha ... ini teman Salwa di bimbel dulu, akhirnya Adam menemukan jawabannya.
***
"Wah, udah nggak ada alasan nih buat para koas sama perawat laki-laki
biar bisa ngurus sesuatu ke HRD lagi," kata seorang perawat perempuan
yang ada di meja jaga perawat siang ini.
Adam yang baru saja selesai visit, mampir sebentar untuk mengisi rekam medis pasien.
"Emang ada apa, sih?" tanya Nesa, perawat yang tadi menemani Adam visit pasien.
Arum, si pemula topik pembicaraan mengangkat sebuah undangan di tangannya. "Gisha, anak HRD, mau nikah."
Nesa langsung tertawa keras, namun seketika berhenti saat Adam menoleh
padanya dengan heran. "Maaf, dok, keceplosan." Dia nyengir.
Kebetulan saat itu ada perawat laki-laki yang lewat membawa infus
kosong. Arum langsung berteriak memanggilnya. "Fen, sini! Ada kabar
gembira buat kamu."
Fendi melipir untuk mampir. Menganggukkan
kepala dengan hormat pada Adam sebagai sapaan, kemudian baru bertanya
pada Arum. "Ada apa, sih?"
Arum menyerahkan undangan di tangannya
pada Fendi. Seringai jahil muncul di bibirnya. Fendi menerima dengan
bingung. Kemudian membaca undangan itu. Tidak butuh waktu lama hingga
akhirnya mata pria itu melotot. Terlihat tidak terima sama sekali.
"Serius ini? Gisha Adriyani? Staff HRD favorit sejuta umat di rumah sakit ini?"
Arum, Nesa, dan perawat lain yang ada di situ mengangguk dengan semangat. Antara kasihan juga geli.
"Ya Allah, padahal tiap siang dan malam udah berdoa biar dia putus sama pacarnya. Kok malah nikah sih jadinya?"
Kontan tawa terbahak-bahak langsung membahana melihat tampang Fendi yang ngenes.
"Doa jelek ya nggak mungkin dikabulkan," celetuk Nesa.
Beberapa menit kemudian mereka masih mengolok-olok Fendi yang cintanya
kandas sebelum diungkapkan. Tanpa mereka tahu kalau berita pernikahan
itu bukan cuma mematahkan hati Fendi. Ada dua orang di situ yang patah
hati. Bila yang satunya ekspresif dan terlihat jelas kekecewaannya, maka
yang satunya terlalu pandai menyembunyikan rasa lewat ekspresi
datarnya.
***
Suara ketukan di pintu mengalihkan perhatian
Adam dari layar laptop di hadapannya. Setelah Adam mengucapkan izin
untuk masuk, seorang perawat masuk sambil membawa paper bag. Menaruhnya
di atas meja kerja Adam.
"Ada kiriman dari istri dokter Adam," ucap perawat bernama Karina itu.
"Loh, memang istri saya ke sini tadi?" Adam bertanya heran.
"Nggak, Pak. Dikirim lewat ojek daring."
"Oh, begitu. Makasih, ya, Rin."
"Iya, Pak. Permisi." Karina pun berlalu keluar dari ruangan Adam.
Adam membuka paper bag itu. Mengeluarkan isinya yang ternyata adalah
kotak makan tiga susun. Senyum kecilnya terbit. Tumben Gisha seperhatian
ini padanya.
Adam membuka kotak makan itu satu persatu. Kotak
yang pertama berisi nasi putih. Kotak kedua berisi daging asam manis.
Yang ketiga atau terakhir berisi tumis sayuran. Namun kening Adam
berkerut saat melihat ada buncis di dalam tumisan tersebut. Pasalnya
Adam tidak begitu menyukais sayuran yang rasanya agak asam itu. Dan
harusnya Gisha sudah tahu.
Ada selembar kertas kecil yang ditaruh
di dalam plastik kecil berisi sendok dan garpu. Adam tersenyum saat
membuka kertas yang ternyata berisi tulisan tangan Gisha itu.
Buat suamiku tersayang.
Makan siangnya ini dimakan sampai habis, ya? Nggak boleh ada sisa, nanti yang masak ngambek lho
....
Oh ya, buncisnya juga dimakan. Nggak boleh nolak makan sayuran apapun
juga mulai sekarang. Belajar jadi ayah yang baik untuk anaknya nanti.
Salam sayang dari istrimu yang paling bawel.
Ps. Oh ya, kerjanya juga semangat, ya? Apalagi sebentar lagi anggota keluarganya mau bertambah.
Adam mengulangi kalimat terakhir yang ditulis istrinya itu beberapa
kali. Berusaha meyakinkan apa maksud tulisan itu. Ada rasa
ketidakpercayaan saat dia berhasil menduga maksud Gisha.
Tangannya langsung meraih ponsel. Segera menghubungi nomor ponsel Gisha.
Tidak menunggu lama sampai panggilan itu dijawab oleh Gisha.
"Assalamualaikum, Mas," sapa Gisha dari seberang sambungan.
"Walaikumsalam. Sha, ini beneran?" tanya Adam tidak sabar.
Bukannya segera menjawab, malah terdengar tawa berderai dari Gisha. Membuat Adam menjadi gemas sekaligus penasaran.
"Sha ...." Adam memberi peringatan pada istrinya itu.
"Iya, makanya cepat pulang, Mas. Aku kangen ...."
Dan setelah mengatakan kalimat yang begitu menggoda itu, Gisha langsung
mematikan sambungan telepon dengan seenaknya. Membuat Adam menjadi
gemas bukan main.
Dan dalam sepanjang sejarah karirnya, untuk
pertama kalinya Adam mempunyai keinginan untuk membolos kerja dengan
alasan pribadi.
***
Maya membuka pintu dengan kekuatan ekstra. Membuat Gisha dan Anisa yang berada di dalam terperanjat kaget.
"Kalem sedikit kenapa, May?" tegur Anisa.
Tapi yang ditegur terlihat tidak peduli. Langsung berjalan menghampiri
Gisha yang memangku bayinya. Matanya memandang takjub makhluk mungil
itu.
"Masya Allah, cakep banget," puji Maya terkagum-kagum. Gisha
langsung tersenyum jumawa. Padahal si bayi yang dipuji. Hidung ibunya
yang ikut mengembang.
"Tumben kamu bisa pulang sore? Biasanya
lembur terus? Bisa keluar siang pas weekend aja," tanya Gisha pada
temannya yang masih memakai setelan baju kantor itu.
"Atasanku
lagi ketempelan jin baik kayaknya. Tumbenan dia juga pulang tenggo,
kayaknya sih ada urusan gitu. Ya sudah pas dia balik, aku ikutan balik,"
jawab Maya kemudian tertawa senang. Merasa bisa mengelabui bosnya.
Anisa yang duduk di sofa kemudian berdiri. "Aku pamit dulu, ya? Kasihan si Dzaky kalau aku tinggal lama-lama."
"Kenapa nggak diajak ke sini aja?" Maya bertanya dengan heran.
"Anak kecil nggak boleh masuk, May. Emang kamu nggak baca peraturan
besuk? Makanya aku tinggalin Dzaky di lobi sama Farhan. Udah ya, Sha.
Kamu ganti ditemenin Maya, ya?"
Gisha mengangguk dan melambaikan tangan pada Anisa yang berlalu keluar.
"Sha, mas Adam mana?"
"Ada. Tapi sekarang lagi praktik. Nanti pas udah selesai, dia juga ke sini lagi."
"Aku numpang ke toilet dulu, ya? Kebelet pipis dari tadi, sekalian mau
cuci muka." Maya meringis lalu masuk ke kamar mandi yang ada di ruang
rawat Gisha.
Gisha baru saja akan mengelus pipi bayinya saat
pintu kembali terbuka. Awalnya mengira Maya, tapi ternyata pintu masuk
yang terbuka.
"Hai, boleh masuk?" tanya seorang pria yang berdiri
di depan pintu. Kedua tangannya membawa kotak yang dibungkus dengan
kertas kado berbentuk lucu.
Gisha mengangguk sembari mengulas senyum ramah. "Silakan. Repot banget pakai bawa kado?"
Pria itu masuk dan menaruh kado yang dibawanya di atas nakas samping
tempat tidur. Tangannya terulur mengelus pipi bayi Gisha sekilas.
"Jagoan, ya?"
Gisha mengangguk. "Makasih kadonya, Om." Gisha sengaja meniru suara
anak kecil saat mengatakannya. Mengundang tawa kecil dari pria itu.
Saat itulah tiba-tiba terdengar suara Maya dari kamar mandi. "Sha,
doain aku, ya? Jangan sampai bosku tahu kalau aku hari ini kabur balik
sore. Bisa-bisa kena ceramah panjang lebar. Biar kata laki-laki, tapi
bosku kalau sudah ngomel ngalahin emak-emak yang mergokin suaminya
selingkuh. Pantesan deh dia itu jadi bujang lapuk."
Gisha meringis pada pria yang kini memandangnya penuh tanya. "Maaf, itu temanku. Kadang emang suka asal kalau ngomong."
Sesaat kemudian Maya keluar dari kamar mandi dengan wajah lebih segar. Bibirnya tersenyum lebar.
Namun saat melihat pria yang kini berdiri di dekat tempat tidur Gisha, matanya melotot kaget.
"Pak Irham? Kok bisa ada di sini? Tahu dari mana saya di sini? Pak
Irham sadap ponsel saya biar bisa tahu lokasi saya?" Maya bertanya
dengan ketakutan yang bercampur penasaran.
Gisha memandang bolak-balik antara mereka berdua. Kemudian bertanya heran pada Irham. " Kamu kenal Maya?"
Irham mengangguk pada Gisha. Kemudian menoleh pada Maya dengan tatapan
tidak terbaca saat menjawab pertanyaan Gisha. "Kebetulan aku ini adalah
atasan Maya sekaligus bujang lapuk yang kalau ngomel bisa mengalahkan
emak-emak yang mergokin suaminya yang selingkuh."
Glek! Maya
menelan ludah dengan susah payah. Dan pikirannya mulai berkelana ke
mana-mana. Kira-kira apa yang bisa dilakukannya untuk membuat Irham
amnesia. Cukup amnesia parsial saja, khusus kejadian hari ini.
Selesai ....
***
#Revisi_Hati
Part 14 (Ending)
"Aku ingat itu baju yang kamu pakai kemarin pagi saat akan berangkat
bekerja. Dan baju itu belum lama kamu beli setelah kita menikah. Jadi,
foto itu diambil kapan, Sha? Karena seingatku, kamu nggak pernah cerita
apapun soal pertemuan itu."
Bibirku kelu untuk sekedar membela
diri. Dalam pikiranku terlalu banyak pertanyaan yang tidak terjawab.
Tentang siapa yang mengambil foto itu, tentang apa motif orang yang
sepertinya ingin mengadu domba kami berdua, juga tentang apa yang ada di
pikiran mas Adam sekarang.
Mas Adam kembali menghela napas.
Terlihat lelah. Pemandangan yang makin membuat rasa bersalahku
membumbung tinggi. Tubuh tegap itu berbalik. Berjalan menuju sofa yang
berada di dekat jendela.
Mas Adam mendudukkan tubuhnya dengan
pandangan yang masih mengarah padaku. Entah apa makna tatapan itu. Aku
terlalu takut untuk mengartikannya.
"Kemarin kamu bilang kalau
Khanza yang mengajakmu untuk bertemu. Tapi siang harinya justru aku
mendapat kiriman foto itu. Sepulang dari rumah sakit, aku masih mencoba
berpikir positif. Kuberikan kamu kesempatan untuk bercerita sendiri.
Tapi kamu malah diam. Tidak menceritakan apapun. Tentang rencana
pertemuan dengan Khanza yang aku nggak tahu terlaksana atau batal. Juga
pertemuan kamu dengan Salman."
"Aku memang beneran ketemu dengan
Khanza, Mas. Cuma aku nggak menceritakan pembicaraan kami sama kamu.
Karena jujur, aku nggak suka dengan sikap Khanza. Dan bila aku
menceritakan tentang sikapnya itu, aku takut kamu nggak percaya."
"Memang aku pernah meragukan kejujuran kamu?"
Dengan berat hati, aku menggeleng. Mas Adam memang selalu percaya padaku, justru aku yang sering tidak mempercayainya.
"Sha, kamu sadar nggak kalau komunikasi kita ini mulai nggak sehat?
Kamu terlalu sering menutup-nutupi isi hatimu. Juga sulit berbagi
pikiran denganku."
"Bukan begitu, Mas. Aku hanya menunggu waktu yang tepat."
"Dan sebelum waktu yang menurutmu tepat itu ada, salah paham sudah
terlanjur terjadi. Kamu suka kalau kita sering berselisih paham seperti
ini?"
"Nggak, Mas. Tentu aja aku nggak mau ada salah paham antara kita. Dan soal Salman ...."
"Nggak perlu kamu jelasin soal Salman padaku," potong mas Adam.
Aku memandang mas Adam dengan putus asa. "Aku nggak sengaja ketemu sama dia, Mas."
"Aku sudah tahu."
Ucapan mas Adam membuatku kaget bercampur dengan heran. "Mas tahu dari mana?"
"Sebelum pulang tadi, aku menemui Salman lebih dulu. Untuk menanyakan
kebenaran foto kalian. Dia bilang katanya nggak sengaja bertemu sama
kamu. Dia berada di hotel itu dalam rangka tugas dari sekolah. Dia juga
bilang kamu kelihatan kacau tapi tidak mau bercerita apapun padanya."
Aku tertegun mendengar keterangan dari mas Adam itu. "Jadi kamu menemui Salman tadi? Untuk mengkonfirmasi foto itu?"
Mas Adam memandangku tajam. "Iya. Aku juga sudah siap untuk menghajarnya bila dia yang sengaja mengajakmu untuk bertemu."
Tanpa terasa mataku memanas dan dengan cepat bulir bening mengalir di
pipiku. Aku malu pada diriku sendiri. Ternyata kekhawatiran bukan hanya
milikku saja. Mas Adam pun punya. Namun nyata sekali perbedaan sikap
kami dalam menghadapinya. Bila aku hanya mengedepankan emosi dan
prasangka. Mas Adam justru memilih berpikir dengan kepala dingin,
mencari kebenaran menggunakan logika, dan tidak menciptakan prasangka
yang hanya akan membutakan langkah.
Jelas kedewasaan kami berada
di level yang berbeda. Bila dia sudah mencapai tingkat bijaksana, maka
levelku minus. Aku bahkan lebih kekanakan dari anak-anak yang duduk di
bangku sekolah dasar.
"Siang kemarin aku memang ketemu dengan
Khanza. Dia mengatakan semua hal yang membuatku makin merasa tak berguna
untukmu, Mas." Lalu aku ceritakan semua pembicaraanku dengan Khanza.
Tak ada lagi yang kututup-tutupi.
Mas Adam mendengarkan dengan seksama. Terus diam hingga ceritaku habis. Setelah itu, dia baru mulai buka suara.
"Pernikahan bisa dimulai dengan sebuah komitmen, Sha. Tapi dalam
menjalankannya diperlukan komunikasi dan kepercayaan. Dan semua itu
harus dilakukan oleh kedua belah pihak. Nggak bisa kalau dari aku saja.
Seperti dua kaki yang maju bergantian saat melangkah, begitu juga sebuah
hubungan. Tidak ada yang selalu menang, ataupun yang selalu kalah.
Semua harus berimbang. Kalau berat sebelah, maka jalan pun akan timpang.
Tidak mustahil, akan roboh di tengah jalan."
"Ini bukan lagi
soal Khanza ataupun Salman, Sha. Ini lebih pada tentang landasan dalam
hubungan kita. Kepercayaan yang menjadi akar dari sebuah hubungan.
Semakin besar rasa kepercayaan antara kita, maka semakin kuat hubungan
kita. Bahkan badai pun tak akan menjatuhkan kita. Namun bila akar yang
berusaha aku tumbuhkan, selalu kamu matikan, maka hubungan kita ini akan
rapuh. Jangankan badai, angin sepoi-sepoi pun akan dapat
menumbangkannya."
Aku makin terisak dalam tangis. Penyesalanku
rasanya sudah menggunung. Seiring dengan kesadaranku tentang betapa
buruk sikap yang kuambil selama ini. Tanpa sadar aku sudah melukai hati
mas Adam.
"Awalnya aku berpikir tidak apa-apa kalaupun kamu belum
mencintaiku. Yang terpenting kamu setuju untuk menikah denganku. Bahkan
dengan naif, aku yakin akan bisa membuatmu jatuh cinta padaku kelak.
Nyatanya sekarang? Jangankan cinta, bahkan kepercayaan darimu pun belum
pantas aku dapatkan."
Aku menggeleng dalam tangisanku. Sungguh
ingin kubantah semua kesimpulan yang diucapkan mas Adam itu. Tapi tak
ada suara yang keluar dari mulutku. Kalah dengan isak yang justru makin
mengeras.
Mas Adam berdiri menghampiriku yang duduk di tepi
ranjang. Dia agak membungkuk untuk menyejajarkan wajahnya dengan
wajahku. Kedua telapak tangannya menyentuh pipiku. Memberikan usapan
lembut saat menghapus basahnya pipiku.
Mata hitam pekat itu
menyorotku dengan tatapan yang membuat hatiku hancur. Ada kesedihan dan
keputusasaan dalam netra yang terus memandangi wajahku dalam jarak
dekat. Dan hatiku makin perih saat menyadari diriku yang menyebabkan
tatapan terluka itu timbul.
"Maafkan aku, Sha. Harusnya dulu aku
nggak terlalu memaksamu untuk menerimaku. Karena ini tak akan pernah
berhasil kalau hanya ragamu yang kumiliki."
Kepalaku menggeleng
dalam pegangan kedua tangan mas Adam. Berusaha memberikan penyangkalan.
Namun mas Adam bergeming. Entah dia tak tahu maksud yang ingin
kusampaikan, atau mungkin memang tak mau tahu lagi.
"Sekarang,
aku serahkan padamu tentang bagaimana kelanjutan hubungan kita ke depan.
Aku tak akan memaksa kamu lagi. Apapun keputusanmu nanti, aku akan
terima dengan lapang dada. Satu hal yang perlu kamu tahu, aku memang
sangat mencintaimu, namun ... aku tak akan pernah egois untuk terus
mengikatmu dalam hubungan yang hanya akan menyiksamu."
Kemudian
mas Adam mengecup keningku dengan lembut. Membuatku sontak memejamkan
mata. Tapi air mataku kembali mengalir. Aku seakan bisa merasakan
keputusasaannya dalam kecupan ini. Menyiarkan pernyataan kekalahannya.
Yang anehnya juga menghancurkan diriku sampai dalam.
***
Semalaman aku tidak bisa tidur nyenyak. Setelah membuat keputusan
sepihak tentang aku yang katanya harus memikirkan ulang hubungan kami,
mas Adam keluar kamar. Aku tunggu berjam-jam dan dia tak juga kembali
masuk. Aku mencarinya dan menemukannya tertidur di sofa yang berada di
kamar lain, yang dia fungsikan sebagai ruang kerja dan perpustakaan.
Sebenarnya aku sudah punya keputusan tentang hubungan kami. Yang tentu
saja akan terus aku pertahankan. Sejak awal aku tak main-main dalam
hubungan ini. Hanya sikapku yang mungkin membuat mas Adam merasa aku tak
sepenuhnya menyerahkan diri padanya. Padahal aku juga sudah jatuh cinta
padanya.
Aku bertekad untuk segera memberitahukan hal itu pada
mas Adam keesokan harinya. Namun semua rencanaku gagal. Saat aku keluar
kamar setelah sholat subuh, bermaksud menyiapkan sarapan, mas Adam juga
keluar dari ruang kerjanya. Sudah berpakaian lengkap dan rapi. Bahkan
aku tak sadar kapan dia mengambil baju dari dalam kamar. Apakah saat aku
sedang terlelap sebentar?
"Mas kok sudah rapi?" Aku bertanya
pada mas Adam yang berdiri di depan ruang kerjanya sambil mengancingkan
kancing di lengan kemejanya. Padahal biasanya dia minta bantuanku.
"Aku ada panggilan mendadak. Harus berangkat pagi-pagi. Tadi aku sudah
hubungi Gavin. Untuk sementara ini, dia yang akan mengantarmu sekalian
berangkat kerja. Seminggu ini jadwalku padat." Mas Adam menjawab tanpa
memandangku. Membuat hatiku kembali nyeri. Bahkan langsung memicu
kelenjar air mataku untuk berproduksi.
Setelah mengatakan itu,
mas Adam berlalu. Hanya pamit dengan mengucapkan salam. Tak ada salim
ataupun kecupan di kening untukku seperti biasanya.
Dan pagi itu,
untuk pertama kalinya selama masa pernikahan kami, aku menangis
tersedu-sedu. Di sudut dapur dengan posisi berjongkok. Tanganku menutupi
wajahku. Aku biarkan air mataku terus mengalir menyesali kebodohanku
selama ini.
Aku harap hari buruk ini akan segera berakhir.
Ternyata salah. Hukuman dari mas Adam ini tidak hanya berlangsung sehari
saja. Hari-hari berikutnya pun sama. Dia bersikap dingin dan menjaga
jarak denganku. Membuatku jadi ragu untuk mendekatinya. Dan rasa takutku
akan kehilangan mas Adam juga makin menjadi.
Mas, tolong jangan hukum aku seperti ini ....
***
Aku menghampiri gadis cantik yang duduk di belakang meja penerima tamu
itu. Dia sedang sibuk dengan layar komputer di depannya hingga tak
menyadari kedatanganku.
"Pagi, Renia," sapaku dengan pelan.
Gadis itu mendongak dengan sedikit kaget. Namun kemudian tersenyum lebar. "Pagi mbak Gisha. Mau ketemu Ibu, ya?"
"Iya. Ada pasien nggak di dalam?"
"Nggak ada, Mbak. Jadwal Ibu kosong hingga dua jam berikutnya. Langsung masuk saja, Mbak."
"Makasih, ya."
Aku melangkah menuju ruang praktik Mama di klinik ini. Tempat Mama memberikan pelayanan jasa ilmu beliau di bidang psikologi.
Aku mengetuk daun pintu dua kali. Setelah ada jawaban yang menyuruh masuk, baru aku buka pintu berwarna cokelat gelap itu.
"Gisha. Tumben kamu ke sini, Sayang? Sini," sambut Mama dengan semangat.
Aku mendekati beliau. Mencium punggung tangannya, kemudian memeluk
sekilas. Dan ajaibnya, baru mencium aroma parfum di baju ibu kandung mas
Adam ini saja sudah membuat hatiku tenang.
Mama menghela aku untuk duduk di sofa. Kemudian membuatkan secangkir teh untukku.
"Ada apa, Sayang? Kok wajahmu terlihat mendung?" Mama langsung bertanya setelah aku menyesap teh hangat dari cangkirku.
Perpaduan yang pas. Jiwa yang frustasi. Ruangan dan penerangan yang
nyaman. Teh hangat dan wajah Mama yang teduh. Membuat semua emosi di
jiwaku tumpang tindih . Segala kesedihan, kekhawatiran, kekecewaan, dan
juga kemarahan yang tertimbun di hatiku meronta ingin keluar.
Cukup satu pertanyaan dari Mama dan aku mengungkapkan semua masalahku
dengan mas Adam. Segalanya. Tentang salah paham kami. Tentang kekecewaan
mas Adam padaku. Tentang kekhawatiranku akan kehilangan mas Adam.
Kemarahanku pada diriku sendiri.
Bagai air bah, semua meluap
tanpa bisa kutahan. Seiring dengan bibirku yang terbuka akan cerita
tentang semuanya, air mataku ikut luruh. Aku mengambil jeda berkali-kali
saat kurasakan napasku tersendat. Puluhan lembar tisu sudah berubah
menjadi gumpalan-gumpalan basah.
Entah berapa lama aku
menghabiskan waktu untuk bercerita, tahu-tahu saja batinku terasa lega.
Serasa telah tersingkir batu yang tadinya menindih dadaku. Mama tak
henti mengusap kepalaku dengan gerakan lembut.
"Sudah, Sayang? Atau masih ada yang mau kamu sampaikan?"
Aku menggeleng dengan tangan yang masih mengusap wajahku yang basah dan terasa lembab.
"Sayang, Mama tak ingin membela salah satu dari kalian. Karena kalian sama-sama bersalah."
"Mengingat masa lalu yang pernah kamu alami, memang wajar kalau kamu
kemudian mengalami krisis kepercayaan diri. Normal ... tapi juga tidak
bisa dibiarkan, Sayang. Itu adalah sesuatu yang harus kamu ubah. Kamu
nggak bisa terus-terusan hidup dalam masa lalu. Semua itu hanya akan
menenggelamkan dirimu sendiri ke dalam penderitaan."
"Dan Adam
datang, menawarkan tangannya untuk menarik dirimu keluar dari trauma
itu. Dia menjanjikan kebahagiaan dan cinta yang sayangnya masih belum
bisa mengembalikan kepercayaan dirimu yang sempat hilang. Adam mungkin
kecewa, tapi Mama yakin dia nggak akan putus asa."
"Tapi mas Adam
bahkan sudah bilang sama aku, Ma. Kalau semua keputusan ada di
tanganku. Sepertinya kesabaran mas Adam sudah habis kali ini." Aku
berbicara di sela air mata yang kembali mengalir.
Mama menatapku
teduh. "Justru itu tandanya Adam masih menomorsatukan perasaanmu di atas
perasaannya sendiri. Dia masih mencintaimu, Sayang. Sekarang tinggal
kamu yang harus berani mengambil keputusan. Tetap melangkah maju bersama
Adam atau memilih mundur. Hatimu bagaimana? Pilihan mana yang akan kamu
pilih?"
"Tetap sama mas Adam, Ma."
"Memangnya kamu sudah cinta sama Adam sampai kelihatan sangat takut untuk pisah sama dia."
"Udah," cicitku pelan.
"Udah apa?" Mama kembali bertanya dengan kerlingan menggoda.
"Cinta sama mas Adam." Aku menjawab dengan malu. Mama malah tersenyum melihatku seperti ini.
"Sudah pernah bilang sama dia?"
Aku menggeleng. Mama menghela napas panjang. Kelihatan agak kesal.
"Berarti Adam sama aja sama kamu. Bicara teori soal negatifnya
berprasangka tapi dirinya sendiri juga menciptakan kesimpulan dengan
prasangka yang dibuat sendiri. Jadi, kamu harus menghilangkan prasangka
Adam padamu."
"Caranya, Ma?"
"Ungkapkan kalau kamu sebenarnya juga cinta sama dia." Mama berkata dengan mantap.
***
"Ya ampun, gayamu kayak nyonya sosialita aja. Copot kenapa kacamatanya
kalau di dalam rumah," cerocos Maya saat aku masuk ke dalam rumah Anisa.
Dan gadis itu langsung menjerit histeris saat melihat penampakan wajah dan mataku yang sembab.
"Matamu bengkak segede bola pingpong begitu gara-gara nangis atau korban KDRT?"
Anisa yang sedang menyusui bayinya ikut melihatku dengan tatapan
khawatir. Bayinya yang tampan itu terlihat anteng di pangkuan ibunya.
"Aku pusing banget."
"Kenapa? Pak dokter bikin ulah? Dia selingkuh? Atau melakukan KDRT sama kamu?" Pertanyaan Maya berisi tuduhan semua.
"Ngawur! Nggaklah."
"Terus apa, dong?"
"Kali ini aku yang salah, May."
"Hah? Kamu selingkuh, Sha?"
Ya ampun!!! Ini anak kenapa isi otaknya nggak ada yang benar, sih? Dan herannya, kenapa aku selama ini betah jadi temannya???
"Woy, diam dulu kenapa, May! Biarin Gisha cerita dulu." Anisa akhirnya yang menghentikan Maya sebelum omongannya makin ngawur.
Aku menghela napas. Menyiapkan diri untuk mereka maki-maki nanti bila
aku selesai bercerita. Aku sadar kalau aku butuh masukan dan mereka
termasuk teman yang selama ini bisa kuandalkan.
Satu persatu
peristiwa yang terjadi dalam rumah tanggaku mulai kuungkapkan. Mulai
dari hadirnya Khanza sampai pertengkaranku dengan mas Adam malam itu.
Juga pertemuanku dengan Mama tadi siang.
Selesai aku menuntaskan
kisahku, Anisa menatapku dengan pandangan kasihan. Sementara Maya lebih
ke arah kesal dengan sikap yang kuambil.
"Cemburu boleh, tapi ya jangan buta dong, Sha." Maya mulai berkomentar.
Namun Anisa memberikan isyarat lewat mata agar Maya berhenti. Dan ajaibnya Maya menurut pada ibu satu anak itu.
"Kalau aku sih setuju dengan nasihat dari ibu mertua kamu, Sha.
Sekarang giliran kamu yang harus meyakinkan mas Adam kalau kamu juga
mencintai dia dan nggak ingin pisah darinya." Anisa mengatakan
pendapatnya.
"Tapi caranya gimana? Aku bingung mulai dari mana.
Sementara beberapa hari ini mas Adam menghindar sama aku. Masa aku
ujug-ujug bilang, 'Mas, aku cinta kamu' gitu, kan nggak lucu," ucapku
setengah frustasi.
Dan Maya malah tertawa ngakak mendengar ucapanku. Ni anak emang benar-benar minta dirukiyah biar setannya pada pergi.
Setelah menghentikan tawanya, Maya membusungkan dada dengan jumawa. "Soal itu, serahkan sama pakarnya."
Perasaanku tiba-tiba jadi nggak enak, ya?
***
Malam ini, mas Adam pulang tepat pukul tujuh. Persis seperti
permintaanku lewat pesan tadi. Ya walaupun pesanku berisi kebohongan.
Semoga Allah mengampuni dosaku kali ini. Aamiin.
"Lho, kok belum
siap-siap? Katanya mau makan malam di rumah Ayah untuk merayakan promosi
jabatannya Gavin?" Mas Adam bertanya dengan heran karena melihatku
masih memakai baju rumahan.
"Mas sholat aja dulu terus siap-siap," jawabku dengan jantung berdebar. Takut rencanaku gagal malam ini.
Sepertinya mas Adam masih heran, tapi dia tak membantah. Masuk ke ruang
kerjanya yang sekarang menjadi kamar tidurnya setelah insiden tanpa
darah malam itu. Bahkan dia sudah menyimpan beberapa baju dan alat
mandinya di kamar itu. Membuatku harus tidur di kamar sendiri.
Mengenaskan, bukan?
Makan malam keluarga karena promosi jabatan
yang diterima Gavin jelas adalah kebohongan yang kuciptakan atas usul
Maya. Mana ada Gavin bisa naik jabatan, dia itu tidak dipecat dari
pekerjaannya saja sudah bersyukur.
Padahal malam ini, aku
menyiapkan makan malam yang romantis di rumah untuk kami berdua. Ini
adalah ide Maya juga. Aku sengaja memesan semua makanan favorit mas Adam
dari restoran langganannya. Kecuali untuk hidangan penutup mulut, aku
membuat sendiri puding spesial untuk mas Adam.
Makanan sudah
kuatur sebagus mungkin di atas meja. Berusaha membuat presentasi yang
cantik. Setelah itu aku bergegas masuk ke dalam kamar. Mempersiapkan
langkah terakhir untuk menyempurnakan rencana malam ini.
Berulangkali aku menatap cermin. Antara ragu dan yakin. Dan lagi-lagi
ini ide Maya. Bila biasanya aku memakai make up minimalis, kini aku
tampil agak berani. Lipstik yang biasanya berwarna soft, aku ganti yang
berwarna agak seksi.
Baju yang kupakai juga berasal dari pilihan
Maya. Sebuah gaun malam elegan dengan bahan lembut yang jatuh. Berwarna
hitam, tanpa lengan, dan panjangnya selutut. Sebenarnya aku tak biasa
memakai pakaian seperti ini. Keluar rumah tak mungkin, karena aku
memakai jilbab. Di dalam rumah juga tidak pernah. Bahkan baju tidurku
selama ini hanyalah setelan piyama berlengan panjang dan celana panjang.
Setelah mengatur napas berkali-kali dan menyakinkan diri sendiri,
akhirnya aku keluar dari kamar. Mas Adam sudah duduk di sofa dengan
ponsel di tangannya. Awalnya dia tak menyadari kehadiranku. Dan aku juga
enggan memanggilnya. Takut melihat reaksinya nanti.
Namun sesaat
kemudiaan, mas Adam menoleh padaku. Awalnya kami saling berpandangan.
Tapi aku segera membuang muka. Takut akan responnya.
"Malam ini, kita makan malam di rumah, Mas. Ada rekonsiliasi yang mau aku ajukan."
Aku mengucapkan itu sambil berjalan ke ruang makan. Tanpa menunggu jawaban dari mas Adam. Takut kalau dia menolak.
Tapi kekhawatiranku ternyata tidak berguna. Mas Adam mengikutiku ke
ruang makan tanpa membantah. Bahkan tak meminta penjelasan tentang
kebohongan yang aku katakan sebelumnya soal makan malam keluarga.
Malam itu, aku berperan sebagai istri yang baik. Kuambilkan nasi dan
lauk ke piring mas Adam. Berusaha menciptakan suasana yang hangat
seperti hubungan kami baik-baik saja. Tapi respon mas Adam masih
datar-datar saja. Dan jujur, itu agak menciutkan nyaliku.
Kami
makan malam dalam hening. Aku terlalu takut untuk merangkai kata.
Sehingga memilih untuk menunggu makan malam selesai untuk mulai
berbicara. Setidaknya kalau hasilnya tidak sebaik ekspektasiku, aku
sudah kenyang. Jadi ada energi untuk menangis. Ya ampun, aku makin
terdengar menyedihkan!
Waktu melihat mas Adam sudah selesai
dengan makanan di piringnya, aku mengikuti langkah mas Adam.
Menyingkirkan piring ke samping dan minum air putih di gelas dengan
perlahan.
"Mas, aku mau bicara," ucapku. Mencoba terlihat tenang
dan percaya diri. Padahal aku sudah gemetar. Bersyukur sekali posisiku
sekarang dalam keadaan duduk. Kalau berdiri, pasti akan tampak kakiku
yang goyah.
"Silakan," jawab mas Adam dengan datar.
Mengatur napas, dan tak lupa mengucap basmalah, aku memulai rekonsiliasi yang ingin aku ajukan.
"Aku sudah memikirkan semuanya. Benar-benar kupikir dengan baik-baik.
Aku menyadari kalau memang ada yang salah pada diriku. Terlalu terpaku
pada masa lalu membuatku menjadi manusia bodoh. Aku sia-siakan suamiku
yang baik hanya karena pengkhianatan yang pernah kualami. Padahal mas
Adam jelas tak bersalah dan tak ada hubungannya dengan Salman dan masa
laluku."
Mas Adam masih bungkam dengan wajah datar mendengar
prolog yang kusampaikan. Respon yang kurang positif membuat kepercayaan
diriku turun. Namun aku harus tetap berusaha. Ini belum apa-apa.
"Aku juga menyadari kalau selama ini sikapku sangat jauh dari bijaksana.
Seringkali mengedepankan ego, emosi, juga gegabah. Aku juga tak bisa
memberikan penghargaan yang baik bagi mas Adam, terutama dalam hal ini
adalah kepercayaan. Tapi aku sekarang sedang berproses, agar aku bisa
kembali menaruh kepercayaanku pada orang lain. Aku juga akan menjauhkan
pikiranku dari prasangka-prasangka yang hanya berdampak negatif pada
hubungan kita."
Aku bisa melihat alis mas Adam naik. Seolah meragukan kalimat-kalimat dariku. Menantangku untuk lebih meyakinkan dia lagi.
"Aku bersedia memperbaiki semuanya dari awal. Dari pola komunikasi, aku
akan lebih terbuka pada mas Adam. Kepercayaan, aku akan mulai belajar
percaya pada mas Adam melebihi siapapun. Aku juga akan membagikan semua
yang ada di pikiranku pada mas Adam, baik itu beban maupun kebahagiaan."
"Yakin?" Satu kata itu akhirnya keluar dari mulut mas Adam.
Aku mengangguk dengan mantap.
"Bila seandainya nanti kamu melihat fotoku tanpa busana dengan wanita lain, apa yang akan kamu lakukan?"
Ya, ampun. Amit-amit, deh!
"Aku akan konfirmasi dulu sama kamu, Mas. Juga membuktikan keaslian
foto itu. Teknologi makin canggih, bisa saja itu foto rekayasa."
"Seandainya nanti muncul Khanza-Khanza yang lain dalam pernikahan kita?"
"Aku akan terus bertahan bersama mas Adam selama mas Adam masih memilih
dan menginginkan aku. Dengan catatan, mas Adam nggak tergoda dengan
Khanza-Khanza itu."
Aku bisa melihat sudut bibir mas Adam berkedut. Pasti dia sedang menahan tawa.
"Oh ya, aku juga mau mengajukan komplain sama kamu, Mas."
Kening itu berkerut dalam. "Komplain? Apa?"
"Waktu itu kamu bilang kalau aku nggak pernah bisa kasih kepercayaan
dan cinta sama kamu. Katanya yang butuh pernyataan verbal hanya wanita
saja, tapi ternyata laki-laki juga sama. Bisa-bisanya Mas Adam meragukan
cintaku sama kamu padahal kita sudah menikah. Mas pikir aku mau menikah
tanpa cinta?"
Mas Adam terdiam mendengar pernyataan cinta
tersirat dariku. Tak ada respon apapun. Membuat kepercayaan diriku jatuh
pada titik terendah. Apakah semua ini sudah terlambat? Tiba-tiba saja
mataku memanas. Rasanya aku ingin menangis saat ini juga.
Untuk
mencegah mempermalukan diriku sendiri dengan menangis, aku beranjak
berdiri. "Aku ambilkan puding buat pencuci mulut dulu."
Dengan
langkah terburu-buru, aku menuju kulkas. Tanganku baru membuka pintu
kulkas saat ada tangan lain yang menutup kembali pintu itu. Dan
tahu-tahu saja tubuh mas Adam sudah merapat pada tubuhku.
Kedua
tangan mas Adam berada di lenganku dan memutar tubuhku untuk menghadap
ke arahnya. Dan detik berikutnya bibirnya menciumku. Dengan ciuman dalam
yang membuatku kesulitan mengimbanginya.
Napasku terengah-engah
saat akhirnya mas Adam menjeda ciumannya. Wajah kami begitu dekat dengan
napas yang sama-sama memburu. Mata mas Adam menatapku dalam. Kubalas
tatapan itu dengan sedikit mendongak karena perbedaan tinggi badan kami.
"Bilang lebih jelas, Sha," bisik mas Adam pelan.
"Apa?"
"Kalau kamu juga cinta sama aku?"
Sorot mata penuh harap itu benar-benar melumpuhkanku. Kakiku berjinjit
memberi kecupan sekilas di bibirnya. Baru kali ini aku melakukan
pergerakan duluan. Selama pernikahan kami, selalu mas Adam yang memulai
kegiatan mesra kami.
"Aku cinta sama kamu, Mas. Memang baru
sekarang kukatakan. Tapi aku sudah merasakannya sejak aku menerima kamu
jadi calon suamiku."
Dan bibir kesukaanku itu mengulas senyum
tipis. Yang anehnya bisa membuat jantungku berdebar makin tak
terkendali. Kemudian dalam satu gerakan, mas Adam mengangkat tubuhku ke
dalam gendongannya.
"Mas, pudingnya?" Aku bertanya saat kaki mas Adam terus melangkah menuju kamar kami.
"Rekonsiliasi belum selesai. Dan aku ingin melanjutkannya di kamar,"
bisik mas Adam di telingaku. Hangat napasnya menerpa telingaku.
Tidak lama kemudian tubuhku terhempas di tempat tidur dalam gerakan
pelan. Langit-langit kamar menjadi objek mataku yang kemudian berganti
dengan wajah mas Adam yang menempatkan tubuhnya di atasku.
"Siapa yang nyaranin kamu buat beli baju seperti ini?" tanya mas Adam sambil mulai menciumi seluruh bagian wajahku.
"Maya." Aku masih bisa menjawab dengan sedikit kewarasan yang tersisa.
Mas Adam mengangkat wajahnya. Menatapku lagi. "Ingatkan aku untuk memberikan kado spesial untuk pernikahan Maya nanti."
Kemudian mas Adam kembali melanjutkan rekonsiliasi hubungan kami sesuai dengan versinya.
SELESAI ....
****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar