#Jodoh_wasiat_bapak
#JWB6 author Shofiyah Shofiyah
Part 6
Suasana senja menjadi waktu favoritku untuk merenung di balkon kamar. Terkadang juga aku mengerjakan tugas-tugas sekolah disini sambil duduk melihat senja di temani segelas teh hangat.
Balkon kamarku adalah tempat favoritku untuk mengeluarkan keluh kesahku terhadap apapun. Kini hal yang sedang mengganggu pikiranku adalah kapan waktu yang tepat untuk memberitahu pada Ummi tentang keputusanku ini. Aku juga masih ragu namun selama beberapa hari ini aku selalu memimpikan hal yang sama apalagi tadi malam aku bermimpi bertemu dengan Abi dan Ayah mereka memberiku beberapa nasehat dan juga wejangan.
Senja banyak disukai orang namun senja tak pernah memberi harapan palsu pada siapapun dengan cara memunculkan diri lebih awal agar orang yang menyukainya puas melihatnya kehadirannya. Senja tetap datang sesuai waktu yang sudah ditetapkan dan selalu seperti itu. Senja itu selalu datang meski tertutup kabut awan hitam yang membuatnya tidak terlihat.
Aku ingin menjadi seperti senja sore hari, selalu datang diwaktu yang tepat dan tak pernah mengingkari janji juga tak pernah menyerah untuk selalu datang meski kehadirannya tidak terlihat sekalipun.
Kulirik jam tangan yang semat di tangan kiriku, pukul 17.50 masih ada waktu tersisa sebelum azan maghrib berkumandang lebih baik aku gunakan untuk menonton TV bersama Ummi.
Tepat seperti dugaanku Ummi tengah asik menonton FTV disalah satu stasiun TV swasta yang banyak digandrungi para emak-emak +62 termasuk Ummi diantaranya.
"Ummi, lagi nonton apa sih serius amat?" tanyaku untuk mengalihkan fokus Ummi.
"Ini loh, ndok. FTV hidayah tentang seorang istri yang di dzolimi oleh suaminya dan madunya." Jelas Ummi menggebu-gebu, tatapannya masih serius tertuju pada layar TV.
"Oh ... gitu. Ummi kalo cerita itu terjadi pada Hawa, apa yang bakal Ummi lakuin?" tanyaku penasaran dengan respon Ummi.
"Oh, tentu Ummi akan bela kamu mati-mati kalo kamu benar! Ummi akan menjadi seperti ibunya Arini seperti didalam film itu," tunjuk Ummi pada layar TV yang sedang menayangkan seorang wanita paruh baya seumuran Ummi. Wanita itu terlihat tegas dalam membela anaknya yang disakiti oleh suaminya sendiri.
"Tapi pesan Ummi, kalo kamu menikah nanti sekuat tenaga kamu harus pertahankan keutuhan rumah tangga kamu ya, ndok. Sudah menjadi impian semua orang jika mereka hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Ummi harap kamu juga begitu, ndok."
"Iya Ummi. Insya Allah Hawa akan berusaha untuk mempertahankan rumah tangga Hawa nantinya."
Ummi menoleh ke arahku sepenuhnya lalu memegang pundakku dengan lembut," ujian dalam rumah tangga itu berat tapi kamu harus ingat satu hal. Perceraian adalah hal yang dibenci Allah meski tidak diharamkan. Perceraian itu bisikan setan, jika kamu tidak kuat untuk menghadapi masalahmu dalam pernikahan nanti. Ingatlah untuk selalu bertawakal pada Allah, pasti semuanya bisa kamu lewati dengan baik."
"Mi, sesuai dengan petunjuk dari Allah. Hawa sudah memutuskan untuk menjalankan wasiat dari Abi." Ucapku tegas penuh keyakinan.
"Alhamdulillah, Ummi hanya bisa mendoakan untuk kelancaran hidup kamu di masa depan, ndok." Ummi langsung merengkuhku dalam pelukan hangatnya.
"Besok kamu harus memberitahukan ini pada Bundamu, pasti dia akan senang sekali mendengarnya.
"Iya Ummi." Sepertinya keputusanku ini sudah tepat, melihat raut kebahagian terpancar sempurna di wajah Ummi.
***
Keesokan harinya aku menemui Bunda untuk memberitahukan keputusanku ini.
Bunda sangat gembira mendengarnya dan langsung minta bertemu Ummi untuk merundingkan tentang tanggal dan konsep pernikahanku.
Karna Mas Raddan juga sudah menyetujui hal ini beberapa hari yang lalu.
Tanggal pernikahan telah disepakati oleh kedua belah pihak, yaitu tanggal dua puluh empat bulan depan. Yang artinya tinggal tersisa dua minggu lagi dari sekarang.
Cepat sekali bukan, itu semua karna permintaan Mas Raddan yang menginginkan pernikahan berkonsep sederhana, membuat Bunda ikut mengajukan beberapa persyaratan di anatarnya dengan mempercepat tanggal pernikahan jika Mas Raddan tidak setuju maka pernikahan ini akan dilangsungkan dengan sangat megah dan tamu yang diundang mencapai angka seribu. Tentu Mas Raddan menolak dengan keras, dia menginginka pernikahan sederhana dengan tamu yang sedikit agar tidak banyak orang yang mengetahui pernikahan ini, kasarnya dia tidak menginginkan pernikahan ini diketahui publik.
Dan sekarang aku tengah berada disebuah butik ternama untuk melakukan pengukuran dua kebaya. Kebaya itu akan aku kenakan saat akad pagi hari dan resepsi malam harinya.Kebaya untuk akad tentu berwarna putih berkain brukat dengan hiasan manik-manik yang cantik dipasangkan dengan kain songket warna keemasan. Sedangkan untuk acara resepsi kebaya yang kugunakan merupakan kebaya modern dengan potongan loose, kebaya ini terlihat seperti gaun malam namun tertutup agar bisa menyesuaikan dengan hijab yang kukenakan ini. Aku memilih warna biru malam untuk kebaya saat resepsi.
"Hawa, coba kebaya ini. Bunda ingin melihat kamu memakainya," Bunda menyodorkan sebuah kebaya dengan ekor yang cukup panjang.
Aku meringis dari penglihatanku saja kebaya itu sangat berat dengan berat hati aku tetap mengambilnya, rasanya tidak enak menolak permintaan Bunda. Ternyata sesuai dugaan kebaya itu sangat berat, hampir saja aku menjatuhkannya saat kebaya itu baru mendarat ditanganku.
Kulangkahkan kakiku memasuki ruang ganti, didalamnya aku dilanda kebingungan untuk mengenakanya kancing kebaya-nya sangat sulit dibuka. Ingin keluar tapi sudah terlanjur buka baju, aku dengan teliti mulai membuka kancing itu dengan hati-hati takut copot.
Setelah terpasang sempurna kukenakan kembali jilbabku yang sempat kulepas, barulah kemudian aku keluar ruang ganti.
"Subhanallah, cantiknya calon mantu Bunda!" pekik Bunda saat aku baru keluar.
"Raddan, kesini coba liat calon istrimu ini!" panggil Bunda yang membuat aku kaget, bukanya tadi Mas Raddan mengatakan tidak bisa datang?
Pria itu mendekat ke arah kami, membuat jantungku berdetak tidak normal.
"Cantikkan calon istrimu ini?" tanya Bunda pada Mas Raddan. "Biasa saja." Jawaban singkat yang membuatku tertohok, apakah dimatanya aku terlihat sangat biasa. Ku akui Clara memang lebih segala-galanya dariku yang hanya seorang gadis kampung.
"Tapi menurut Bunda, Hawa lebih cantik dari Clara. Hawa cantiknya natural luar dalam sedangkan Clara cantiknya hanya bagian luar sedangkan dalamnya busuk." Ujar Bunda yang membuat tatapan Raddan mengelap karna marah.
"Bunda, Hawa udahan ya pake kebaya-nya." ucapku untuk mengalihkan pembincaraan ini agar tidak terjadi keributan.
"Coba yang ini juga ya," Bunda kembali menyodorkan sebuah kebaya padaku."Aduh, Hawa lupa kalo ada urusan kerjaan yang belum selesai. Jadi Hawa harus balik ke sekolah lagi Bun, maaf ya." Itu hanya alasanku agar Bunda tidak memaksa aku memakai kebaya itu, yang ini saja sudah hampir tidak sanggup aku memikul bebannya apalagi harus memakai yang lainnya lagi. Mendingan cari alasan bair bisa cepet pergi dari sini.
"Ya udah, nggak papa. Yang penting urusan sekolah harus selesai sebelum hari pernikahan kamu nanti."
"Sip, Bun. Assalamualaikum," pamitku seraya mencium tangan Bunda takzim.
"Raddan yang antar kamu," Bunda mendorong Raddan untuk menyusulku.
Kenapa jadi begini ...
Di dalam mobil terjadi keheningan antara kami, sebenarnya banyak hal yang ingin aku tanyakan tapi seketika urung saat terngiang perkataan dokter yang menangani Mas Raddan dulu hinggap dipikiranku. Mas Raddan terlihat fokus menyemudikan mobil.
"Ekhm, saya nggak nyangka ternyata gadis yang Ayah dan Bunda jodohkan pada saya itu kamu. Seorang gadis ceroboh!"
Sontak kepalaku menoleh ke arahnya, "apa maksud ucapan anda barusan?" tanyaku formal.
"Seorang pelayan restoran yang ceroboh!" jelasnya lagi.
Deg! Dia ingat.
"S-saya sedang tidak fokus waktu itu."
"Tetap saja sekali ceroboh, namanya ceroboh."
"Terserah kata Bapak, saya tidak perduli." Dalam hati aku tidak seperti itu, aku sangat tersinggung dengan ucapannya. Dua kali dia mengatakan hal yang cukup menyakitkan buatku.
Drrttt ... drrttt ... drrttt ...
Suara ponsel membuat Mas Raddan memelankan laju mobilnya untuk mengangkat panggilan itu, kulihat nama Clara tertera sebagai si pemanggil.
"Halo, Assalamualaikum?" mulai Mas Raddan.
"...."
"Iya, nanti Mas bawakan saat pulang."
"...."
"Sebentar lagi, Mas pulangnya."
"...."
"Iya, Sayangku."
Cukup! Sudah aku tidak kuat untuk mendengar percakapan mereka lebih lama lagi."Stop! Aku turun disini saja."
Mas Raddan menghentiaj laju mobilnya dan aku segera keluar dari sana tanpa menoleh untuk berpamitan, aku langsung berlari kesembarang tempat yang terpenting suara percakapan mereka tidak bisa lagi terjangkau oleh gendang telingaku.
Sungguh rasa cemburu itu sangat menyesakkan dadaku.
_______
#JWB6 author Shofiyah Shofiyah
Part 6
Suasana senja menjadi waktu favoritku untuk merenung di balkon kamar. Terkadang juga aku mengerjakan tugas-tugas sekolah disini sambil duduk melihat senja di temani segelas teh hangat.
Balkon kamarku adalah tempat favoritku untuk mengeluarkan keluh kesahku terhadap apapun. Kini hal yang sedang mengganggu pikiranku adalah kapan waktu yang tepat untuk memberitahu pada Ummi tentang keputusanku ini. Aku juga masih ragu namun selama beberapa hari ini aku selalu memimpikan hal yang sama apalagi tadi malam aku bermimpi bertemu dengan Abi dan Ayah mereka memberiku beberapa nasehat dan juga wejangan.
Senja banyak disukai orang namun senja tak pernah memberi harapan palsu pada siapapun dengan cara memunculkan diri lebih awal agar orang yang menyukainya puas melihatnya kehadirannya. Senja tetap datang sesuai waktu yang sudah ditetapkan dan selalu seperti itu. Senja itu selalu datang meski tertutup kabut awan hitam yang membuatnya tidak terlihat.
Aku ingin menjadi seperti senja sore hari, selalu datang diwaktu yang tepat dan tak pernah mengingkari janji juga tak pernah menyerah untuk selalu datang meski kehadirannya tidak terlihat sekalipun.
Kulirik jam tangan yang semat di tangan kiriku, pukul 17.50 masih ada waktu tersisa sebelum azan maghrib berkumandang lebih baik aku gunakan untuk menonton TV bersama Ummi.
Tepat seperti dugaanku Ummi tengah asik menonton FTV disalah satu stasiun TV swasta yang banyak digandrungi para emak-emak +62 termasuk Ummi diantaranya.
"Ummi, lagi nonton apa sih serius amat?" tanyaku untuk mengalihkan fokus Ummi.
"Ini loh, ndok. FTV hidayah tentang seorang istri yang di dzolimi oleh suaminya dan madunya." Jelas Ummi menggebu-gebu, tatapannya masih serius tertuju pada layar TV.
"Oh ... gitu. Ummi kalo cerita itu terjadi pada Hawa, apa yang bakal Ummi lakuin?" tanyaku penasaran dengan respon Ummi.
"Oh, tentu Ummi akan bela kamu mati-mati kalo kamu benar! Ummi akan menjadi seperti ibunya Arini seperti didalam film itu," tunjuk Ummi pada layar TV yang sedang menayangkan seorang wanita paruh baya seumuran Ummi. Wanita itu terlihat tegas dalam membela anaknya yang disakiti oleh suaminya sendiri.
"Tapi pesan Ummi, kalo kamu menikah nanti sekuat tenaga kamu harus pertahankan keutuhan rumah tangga kamu ya, ndok. Sudah menjadi impian semua orang jika mereka hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Ummi harap kamu juga begitu, ndok."
"Iya Ummi. Insya Allah Hawa akan berusaha untuk mempertahankan rumah tangga Hawa nantinya."
Ummi menoleh ke arahku sepenuhnya lalu memegang pundakku dengan lembut," ujian dalam rumah tangga itu berat tapi kamu harus ingat satu hal. Perceraian adalah hal yang dibenci Allah meski tidak diharamkan. Perceraian itu bisikan setan, jika kamu tidak kuat untuk menghadapi masalahmu dalam pernikahan nanti. Ingatlah untuk selalu bertawakal pada Allah, pasti semuanya bisa kamu lewati dengan baik."
"Mi, sesuai dengan petunjuk dari Allah. Hawa sudah memutuskan untuk menjalankan wasiat dari Abi." Ucapku tegas penuh keyakinan.
"Alhamdulillah, Ummi hanya bisa mendoakan untuk kelancaran hidup kamu di masa depan, ndok." Ummi langsung merengkuhku dalam pelukan hangatnya.
"Besok kamu harus memberitahukan ini pada Bundamu, pasti dia akan senang sekali mendengarnya.
"Iya Ummi." Sepertinya keputusanku ini sudah tepat, melihat raut kebahagian terpancar sempurna di wajah Ummi.
***
Keesokan harinya aku menemui Bunda untuk memberitahukan keputusanku ini.
Bunda sangat gembira mendengarnya dan langsung minta bertemu Ummi untuk merundingkan tentang tanggal dan konsep pernikahanku.
Karna Mas Raddan juga sudah menyetujui hal ini beberapa hari yang lalu.
Tanggal pernikahan telah disepakati oleh kedua belah pihak, yaitu tanggal dua puluh empat bulan depan. Yang artinya tinggal tersisa dua minggu lagi dari sekarang.
Cepat sekali bukan, itu semua karna permintaan Mas Raddan yang menginginkan pernikahan berkonsep sederhana, membuat Bunda ikut mengajukan beberapa persyaratan di anatarnya dengan mempercepat tanggal pernikahan jika Mas Raddan tidak setuju maka pernikahan ini akan dilangsungkan dengan sangat megah dan tamu yang diundang mencapai angka seribu. Tentu Mas Raddan menolak dengan keras, dia menginginka pernikahan sederhana dengan tamu yang sedikit agar tidak banyak orang yang mengetahui pernikahan ini, kasarnya dia tidak menginginkan pernikahan ini diketahui publik.
Dan sekarang aku tengah berada disebuah butik ternama untuk melakukan pengukuran dua kebaya. Kebaya itu akan aku kenakan saat akad pagi hari dan resepsi malam harinya.Kebaya untuk akad tentu berwarna putih berkain brukat dengan hiasan manik-manik yang cantik dipasangkan dengan kain songket warna keemasan. Sedangkan untuk acara resepsi kebaya yang kugunakan merupakan kebaya modern dengan potongan loose, kebaya ini terlihat seperti gaun malam namun tertutup agar bisa menyesuaikan dengan hijab yang kukenakan ini. Aku memilih warna biru malam untuk kebaya saat resepsi.
"Hawa, coba kebaya ini. Bunda ingin melihat kamu memakainya," Bunda menyodorkan sebuah kebaya dengan ekor yang cukup panjang.
Aku meringis dari penglihatanku saja kebaya itu sangat berat dengan berat hati aku tetap mengambilnya, rasanya tidak enak menolak permintaan Bunda. Ternyata sesuai dugaan kebaya itu sangat berat, hampir saja aku menjatuhkannya saat kebaya itu baru mendarat ditanganku.
Kulangkahkan kakiku memasuki ruang ganti, didalamnya aku dilanda kebingungan untuk mengenakanya kancing kebaya-nya sangat sulit dibuka. Ingin keluar tapi sudah terlanjur buka baju, aku dengan teliti mulai membuka kancing itu dengan hati-hati takut copot.
Setelah terpasang sempurna kukenakan kembali jilbabku yang sempat kulepas, barulah kemudian aku keluar ruang ganti.
"Subhanallah, cantiknya calon mantu Bunda!" pekik Bunda saat aku baru keluar.
"Raddan, kesini coba liat calon istrimu ini!" panggil Bunda yang membuat aku kaget, bukanya tadi Mas Raddan mengatakan tidak bisa datang?
Pria itu mendekat ke arah kami, membuat jantungku berdetak tidak normal.
"Cantikkan calon istrimu ini?" tanya Bunda pada Mas Raddan. "Biasa saja." Jawaban singkat yang membuatku tertohok, apakah dimatanya aku terlihat sangat biasa. Ku akui Clara memang lebih segala-galanya dariku yang hanya seorang gadis kampung.
"Tapi menurut Bunda, Hawa lebih cantik dari Clara. Hawa cantiknya natural luar dalam sedangkan Clara cantiknya hanya bagian luar sedangkan dalamnya busuk." Ujar Bunda yang membuat tatapan Raddan mengelap karna marah.
"Bunda, Hawa udahan ya pake kebaya-nya." ucapku untuk mengalihkan pembincaraan ini agar tidak terjadi keributan.
"Coba yang ini juga ya," Bunda kembali menyodorkan sebuah kebaya padaku."Aduh, Hawa lupa kalo ada urusan kerjaan yang belum selesai. Jadi Hawa harus balik ke sekolah lagi Bun, maaf ya." Itu hanya alasanku agar Bunda tidak memaksa aku memakai kebaya itu, yang ini saja sudah hampir tidak sanggup aku memikul bebannya apalagi harus memakai yang lainnya lagi. Mendingan cari alasan bair bisa cepet pergi dari sini.
"Ya udah, nggak papa. Yang penting urusan sekolah harus selesai sebelum hari pernikahan kamu nanti."
"Sip, Bun. Assalamualaikum," pamitku seraya mencium tangan Bunda takzim.
"Raddan yang antar kamu," Bunda mendorong Raddan untuk menyusulku.
Kenapa jadi begini ...
Di dalam mobil terjadi keheningan antara kami, sebenarnya banyak hal yang ingin aku tanyakan tapi seketika urung saat terngiang perkataan dokter yang menangani Mas Raddan dulu hinggap dipikiranku. Mas Raddan terlihat fokus menyemudikan mobil.
"Ekhm, saya nggak nyangka ternyata gadis yang Ayah dan Bunda jodohkan pada saya itu kamu. Seorang gadis ceroboh!"
Sontak kepalaku menoleh ke arahnya, "apa maksud ucapan anda barusan?" tanyaku formal.
"Seorang pelayan restoran yang ceroboh!" jelasnya lagi.
Deg! Dia ingat.
"S-saya sedang tidak fokus waktu itu."
"Tetap saja sekali ceroboh, namanya ceroboh."
"Terserah kata Bapak, saya tidak perduli." Dalam hati aku tidak seperti itu, aku sangat tersinggung dengan ucapannya. Dua kali dia mengatakan hal yang cukup menyakitkan buatku.
Drrttt ... drrttt ... drrttt ...
Suara ponsel membuat Mas Raddan memelankan laju mobilnya untuk mengangkat panggilan itu, kulihat nama Clara tertera sebagai si pemanggil.
"Halo, Assalamualaikum?" mulai Mas Raddan.
"...."
"Iya, nanti Mas bawakan saat pulang."
"...."
"Sebentar lagi, Mas pulangnya."
"...."
"Iya, Sayangku."
Cukup! Sudah aku tidak kuat untuk mendengar percakapan mereka lebih lama lagi."Stop! Aku turun disini saja."
Mas Raddan menghentiaj laju mobilnya dan aku segera keluar dari sana tanpa menoleh untuk berpamitan, aku langsung berlari kesembarang tempat yang terpenting suara percakapan mereka tidak bisa lagi terjangkau oleh gendang telingaku.
Sungguh rasa cemburu itu sangat menyesakkan dadaku.
_______
#Jodoh_wasiat_bapak
#JWB7
Part 7
Sempat rasa cemburu hampir membuatku membatalkan acara sakral ini namun saat aku melihat wajah Ummi yang terlihat bahagia dan sangat antusias menyiapkan acara pernikahanku membuat aku mengurungkannya. Ini semua demi Ummi dan wasiat Abi, berbekal itu aku siap melanjutkan pernikahan ini.
Allah tidak akan memberikan ujian melebihi batas kemampuan hambanya jika Allah sudah memberikan ujian ini padaku berarti aku sanggup melewatinya. Semoga saja setelah melewati ujian ini aku bisa menjadi orang yang lebih baik lagi, Aamiin....
Terdengar suara seorang pria yang sedang melantunkan surah Ar-Rahman dia adalah Mas Raddan. Sesuai permintaanku bahwa aku ingin sekali mendapatkan mahar surah Ar-Rahman dan Mas Raddan menyanggupi meski harus dibujuk Bunda terlebih dulu.
Ya, hari ini adalah hari sakral yang dinanti-nanti setiap orang yaitu pernikahan. Tak terasa air mataku mengalir dari kedua pelupuk mataku mengingat bahwa sebentar lagi baktiku akan berpindah pada suamiku. Sedih rasanya harus meninggalkan Ummi sendirian tapi Ummi dengan tenangnya mengatakan bahwa Ummi tidak papa, beliau juga mengatakan akan tinggal bersama Bunda jika aku masih saja mengkhawatirkannya. Sungguh aku masih ingin membahagiakan Ummi dengan mewujudkan impian Ummi untuk pergi haji.
Meski aku sudah menikah tapi aku akan sering menengok Ummi dan Bunda. Uang tabunganku masih belum cukup untuk memberangkatkan Ummi naik haji tapi aku akan berusaha menggenapinya agar Ummi tetap bisa naik haji. Itu tekatdku untuk saat ini.
Inilah saat-saat mendebarkan itu, Mas Raddan akan menjabat tangan pamanku yang mengantikan Abi sebagai wali nikahku, namun aku tidak bisa melihatnya karna aku masih ada dikamarku dilantai dua.
"Saudara Muhammad Raddan Al-azmi bin Muhammad Farhan Rizaka. Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan keponakan saya yang bernama Hawani Azzahra binti Ahmad Nabhan Maulana dengan maskawin seperangkat alat sholat serta hafalan surah Ar-Rahman dan emas seberat 400 gram. Tunai.
Jantungku semakin berdebar tidak karuan.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Hawani Azzahra binti Ahmad Nabhan Maulana dengan maskawin tersebut. Tunai."
"Bagaimana para saksi, sah?"
"Sah!" jawab semuanya yang bisa kudengar melalui pengeras suara yang terpasang dibeberapa sudut rumah.
"Alhamdulillah ..." Kemudian penghulu membacakan doa pengantin.
Cklek!
Suara pintu terbuka membuatku menoleh, diambang pintu kulihat Ummi tersenyum hangat ke arahku. Air mataku tak kuasa kubendung lagi, sekarang aku sudah menjadi seorang istri dan baktiku sudah berpindah pada suamiku. Rasa tak percaya, bahagia, sedih, semuanya bercampur aduk.
"Ummi!" aku sudah tidak bisa menahan keinginan untuk memeluk tubuh Ummi."Hiks! Hiks! Hawa sedih kalo harus ninggalin Ummi. Ummi ikut Hawa yuk,"
"Hahaha, nggak bisa gitu lah, ndok. Sekarang kamu sudah menjadi seorang istri tugas kamu adalah mengikuti apa kata suamimu bukan Ummi lagi selama apa yang dia perintahkan masih dalam ketentuan Allah SWT. Karna bakti seorang perempuan akan berpindah bila dia sudah menikah sedangkan seorang lelaki baktinya akan selalu pada ibunya."
"Iya Hawa tau, tapi Hawa masih pengen tidur sama Ummi." Rengekku seperti anak kecil.
"Ih, dasar kamu ya ... kamu lupa udah tiga malam berturut-turut kamu tidurnya minta Ummi kelonin, loh. Sekarang temui suamimu dibawah, kasihan dia udah nunggu lama. Jangan lupa lap ingusmu itu," aku mengerucutkan bibirku masih semapat-sempatnya Ummi bercanda disaat seperti ini.Ummi menarik tanganku keluar dari kamar menuju tempat prosesi akad tadi berlangsung.
Aku berjalan sangat lamban dan hati-hati bukan ingin belagak seperti putri keraton hanya saja kebaya yang kukenakan ini beratnya tidak main-main 3 kilo, serta memiliki ekor yang panjangnya mencapai 1 meter dan kain songket keemasan yang membalut kakiku membuatku semakin susah untuk berjalan cepat ataupun biasa saja.
Jangan lupakan high heels setinggi 7 senti yang kukenakan ini. Sebenarnya aku hendak protes tapi Bunda sudah mewanti-wanti agar aku tetap memakainya. Ini sangat melelahkan ditambah aku harus menuruni beberapa anak tangga untuk sampai dibawah. Jangan mengira aku pandai memakai sepatu yang kata perempuan kebanyakan adalah harta atau barang yang sangat berharga, aku bisa memakai high heels ini juga butuh perjuangan yang sangat keras selama seminggu penuh, aku berlatih untuk memakainya. Hasilnya cukup memuaskan meskipun terdapat banyak memar dipergelangan kakiku serta bagian jemarinya.
Namun itu semua terbayar setelah melihat senyum Bunda dan Ummi yang menggembang dengan sempurna di hari bahagiaku ini.
Tak terasa kini kakiku sudah melangkah menuju tempat Mas Raddan, pria yang baru saja menjadi suamiku. Entah kenapa pipiku terasa panas saat mengatakan bahwa Mas Raddan adalah suamiku.
Ummi menuntunku untuk duduk di sebelah Mas Raddan, kemudian Ummi ikut duduk disebelah Bunda yang tengah menangis menyaksikan acara akad ini. Setelahnya Pak Penghulu memberi arahan untuk memasangkan cincin dijari manis pasangan.
"Bismillah," ucapku seraya memasangkan cincin ke jari manis Mas Raddan. Aku membeku saat tangan kami bersentuhan, terasa seperti ada aliran listrik yang menyengat kulitku barusan.
Apa ini yang namanya kenikmatan sehabis menikah hanya karna sentuhan yang tak disengaja saja jantungku langsung berdetak dengan kencang.
Kuhentikan lamunanku saat mendengarnya berdehem.Ternyata giliran dia yang memasangkan cincin ke jari manisku. Setelah selesai kucium tangannya dengan takzim kemudian aku mendongak dan kulihat dia mendekatkan bibirnya ke arah keningku.
Ya, Allah. Jantungku!!
Deg! Deg! Deg!
Cup!
Allahuakbar! Jantungku seperti akan melompat keluar dan mungkin sekarang suaranya detakannya bisa didengar olehnya. Bisa kupastikan wajahku sudah memerah tidak karuan.
***
Di acara resepsi ini aku hanya mengundang Silvi, bukan karna aku tidak mempunyai teman selain dia hanya saja Mas Raddan sudah memperingatkanku supaya tidak mengundang banyak teman yang berpotensi dalam menyebarkan pernikahan ini.
Kami berdua sudah siap menyambut tamu yang berdatangan. Kebaya berpotonga loose berwarna biru malam sudah kukenakan, tak lupa jilbab sewarna dengan hiasa bunga-bunga juga aku kenakan tapi bukan jilbab dengan tatanan modern karna aku lebih nyaman dengan jilbab yang menutub bagian dada. Ada juga hiasan kepala dari rangkaian bunga-bunga yang dibentuk melingkar seperti mahkota.
Tamu satu persatu naik ke podium untuk memberikan selamat pada kami berdua. Aku dan Mas Raddan bangkit berdiri menyambut mereka.
Setelahnya kami duduk kembali.
Tidak seperti pasangan kebanyakan yang mengobrol ataupun bercanda tawa di atas pelaminan, Mas Raddan terlihat enggan sedari tadi, tatapannya hanya mengarah ke satu objek di ujung sana. Siapa lagi kalo bukan Clara yang berdiri sendirian di pojok sana menggunakan gaun sewarna dengan ku dan hanya saja dengan model yang berbeda panjangnya hanya sebatas lutut karna Clara belum berhijab.
Sakit, tentu wanita mana yang tidak sakit ketika dihari bahagia mereka, suaminya lebih memilih melihat wanita lain meskipun itu istri pertamanya.
"Aaa... selamat Hawa akhirnya lo taken juga!" teriakan Silvi yang baru saja menaiki podium membuat lamunanku buyar, air mata yang menetes di pipi segera ku hapus.
"Hai, dateng juga lo. Sama siapa?" tanyaku sambil melongokkan kepala ke kanan dan kiri.
"Lo mah ... kerjaannya ngehina gue mulu! Gue datengnya sendiri, kan belum ada gandengan." Jawab Silvi dengan cemberut.
"Ya, maaf. Gue kan nggak tau. Gue kira lo bakalan dateng sama gebetan lo itu, tuh! Yang ganteng," godaku.
"Lupakan saja! Sepertinya doi nggak peka-peka sama kode keras yang gue kasih selama ini."
"Kacian...." kuusap kepalanya yang tertutup jilbab berwarna pink.
"Ini hari bahagia lo jadi gue harus bahagia." Ujar Silvi kembali tersenyum. Tatapannya beralih ke sebelahku,"dan buat lo! Sekali lo bikin sahabat gue nangis, gue bakal bawa pergi sahabat gue ini dan jangan harap lo bisa ketemu lagi sama dia."
"Sil, udah ..." leraiku seraya menurunkan jari telunjuknya yang mengacung didepan wajah Mas Raddan, untuk mencegah Silvi berbuat sesuatu diluar nalar manusia.
"Gue cuma mau peringatin sama cowok yang pikunnya kebangetan ini. Masa bisa lupa sama orang yang dicintainya selama bertahun-tahun, apalagi namanya kalo bukan pikun!"
"Please! Cukup Sil."
"Oke. Kalo lo udah nggak sanggup tinggal lambaikan bendera putih ke gue dan gue akan bawa lo pergi dari sini."
"Hahaha. Apaan sih!" kupukul pelan lengannya.
"Gue serius tau?!"
"Udah, udah masa kita mau debat dinikahan gue."
"Ya udah deh, gue ngalah. Semoga lo bahagia, Haw." Silvi turun dari podium tanpa menangkupkan tangan untuk bersalaman pada Mas Raddan.
"Maafin sikap Silvi ya, Mas." Sebagai temannya Silvi aku merasa harus mengucapkan maaf pada Mas Raddan atas sikapnya yang tadi.
"Seharusnya kamu bisa memilih teman yang lebih baik dari gadis itu. Supaya kamu tidak ketularan sifat buruknya yang barusan."
"Tapi Silvi sebenarnya baik, cuma emang kalo ngomong dia blak-blakan buat orang yang baru kenal dia mungkin kelihatanya nyebelin tapi kalo udah lama kenal kamu pasti nggak akan nilai dia seperti itu."
"Tapi bagaimana bisa dia berbicara seperti tadi, padahal aku baru kali ini bertemu dengannya?"
"I-itu karna ..."
"Hai bro selamat ya, akhirnya lo bisa menikah sama dia. Nggak sia-sia gue dukung lo semasa SMA buat dapetin dia," tiba-tiba Andra, teman SMA kami berdua datang menghentikan percakapan kami.
"Thanks, tapi gue sama sekali nggak ngerti tentang semuanya yang lo bicarain barusan," bingung Mas Raddan.
"Ah, ternyata lo masih lupa ingatan?"
"Andra makasih ya, udah datang." Kualihkan perhatian Andra supaya tidak membahas hal itu lebih lanjut aku takut jika Mas Raddan akan kembali mengalami pusing-pusing seperti dulu, jika ada yang membahas tentang hal yang belum bisa dia ingat kembali.
"Gue cuma mau bilang, congrats buat kalian. Dan buat lo, bro! Gue harap lo cepet sembuh, jangan sakitin dia lagi karna dia itu wanita yang nggak pantes lo sia-siain." Ujar Andra seraya menepuk-nepuk bahu Mas Raddan, kemudian dia turun dari podium.
Kening Mas Raddan sedikit mengerut mendengar itu.
"Mas, nggak papa?" aku takut kejadian dulu terulang lagi, lebih baik Mas Raddan tidak mengingatku dari pada dia merasa kesakitan saat berusaha mengenang masa lalunya.
"Nggak!" ujarnya dingin.
"Syukurlah..."
"Oh, ini toh yang namanya pelakor masa kini. Keliatannya aja alim tapi kelakuannya, suka ngerebut suami orang!" tiba-tiba ada sekumpulan gadis yang menaiki podium seraya mengatakan hal yang sangat menyakitkan buatku. Aku tidak merebut Mas Raddan dari istrinya sungguh aku bukan pelakor, ingin aku berteriak seperti itu namun aku tidak ingin terjadi keributan disini.
Salah satu gadis lainnya mendekatiku menarik ujung jilbab yang kukenakan," pakeannya muslimah tapi hatinya busuk. Kalo pelakor ya pelakor aja nggak usah sok alim, nggak guna?!" ujarnya seraya menghempaskan ujung jilbabku yang tadi dipegangnya.
Tamu undangan yang sedang asik menyantap hidangan malam ini, menoleh saat mendengar kata-kata yang dilontarkan kedua gadis itu.
Mas Raddan diam saja tidak berusaha menolong ataupun mengatakan sesuatu untuk membela aku istrinya sendiri, apakah penilaian Mas Raddan terhadapku sama seperti penilaian mereka.
"Sadar diri dong! Seharusnya lo bisa ngaca sebelum lo ngerebut suami orang muka pas-pasan aja sok jadi pelakor, mana gayanya kamseupay banget lagi! Iyuhh..." Gadis yang pertama berbicara tadi kembali berucap sambil sedikit mendorong tubuhku kebelakang.
Semua tamu undangan mulai berbisik-bisik mungkin sedang berspekulasi mengenai apa yang para gadis itu bicarakan. Mereka mulai menatapku dengan berbagai macam tatapan ada yang menyudutkan dan ada juga yang memandangku dengan kasihan.
Aku tidak pernah bercita-cita atau menginginkan menjadi seorang pelakor atau istri kedua, seperti wanita lainnya aku hanya ingin menjadi istri satu-satunya dari pria yang ku cintai. Tapi inilah takdirku yang harus menjadi istri kedua, aku tidak menyalahkan Sang Maha Kuasa atas semua ini. Aku hanya tidak habis pikir dengan jalan pikiran mereka yang menganggap aku seolah-olah hal yang menjijikan padahal aku dan mereka sama, sama-sama manusia yang tak luput dari salah.
"Ucchh ... cacian ... bisanya cuma nangis minta dikasihani, iya?" ucap kedua gadis itu bersamaan.
"Cukup! Penghinaan kalian terhadap menantu saya?! Sekarang juga kalian pergi atau saya panggilkan security kesini?!" bentak Bunda yang baru saja kembali, tadi Bunda dan Ummi memang sedang berganti pakaian jadi hanya ada aku dan Mas Raddan dipodium ini.
Kuhampiri Bunda dan kuusap kedua bahunya yang naik turun karna amarah. Aku harus bisa melawan mereka sendiri, aku tidak bisa melihat Bunda ataupun Ummi terbawa emosi yang dapat membahayakan kesehatan mereka berdua.
Aku maju kedepan menatap mereka satu persatu,"sudah puas kalian mencemoohku?! Kita ini sama-sama makhluk ciptaan-Nya tapi kenapa kalian bisa menghakimiku hanya karna aku menjadi istri kedua. Menjadi istri kedua bukanlah aib, memangnya ada larangan jika seorang suami beristri dua? Selama dia mampu menafkahi semua istrinya tidak ada larangan baginya, untuk berpoligami."
"Satu lagi, jangan menuduh orang sembarangan tanpa tahu kebenarannya. Kita ini sama-sama manusia yang kodratnya tidak pernah luput dari salah, sebaiknya kalian intropeksi diri sendiri sebelum mencari-cari kesalahan dan keburukan orang lain. Silakan kalian pergi dari sini, dengan cara baik-baik atau mau diseret paksa oleh security kami,"
Kulihat Ummi tersenyum, ternyata beliau tidak membelaku bukan karna tidak peduli tapi beliau yakin bahwa aku bisa menghadapi mereka dengan caraku sendiri. Terima kasih Ummi yang sudah mengajarkan padaku untuk menjadi wanita tangguh dan berjiwa kuat.
Prok! Prok! Prok!
Semua tamu undangan bertepuk tangan sebagai apreriasi terhadap hal yang baru saja kulakukan. Ada juga yang mengacungkan jempol penuh kekaguman.
Sedangkan dari pandanganku Mas Raddan hanya bisa menunduk malu karna tidak bisa berbuat apa-apa.
"Raddan ikut Bunda, sekarang juga!"
"Silakan di lanjutkan acara makan-makannya." Ujarku pada semua tamu.
Aku dan Ummi segera menyusul Bunda dan Mas Raddan takut terjadi pertengkaran hebat antara keduanya.
________
#JWB7
Part 7
Sempat rasa cemburu hampir membuatku membatalkan acara sakral ini namun saat aku melihat wajah Ummi yang terlihat bahagia dan sangat antusias menyiapkan acara pernikahanku membuat aku mengurungkannya. Ini semua demi Ummi dan wasiat Abi, berbekal itu aku siap melanjutkan pernikahan ini.
Allah tidak akan memberikan ujian melebihi batas kemampuan hambanya jika Allah sudah memberikan ujian ini padaku berarti aku sanggup melewatinya. Semoga saja setelah melewati ujian ini aku bisa menjadi orang yang lebih baik lagi, Aamiin....
Terdengar suara seorang pria yang sedang melantunkan surah Ar-Rahman dia adalah Mas Raddan. Sesuai permintaanku bahwa aku ingin sekali mendapatkan mahar surah Ar-Rahman dan Mas Raddan menyanggupi meski harus dibujuk Bunda terlebih dulu.
Ya, hari ini adalah hari sakral yang dinanti-nanti setiap orang yaitu pernikahan. Tak terasa air mataku mengalir dari kedua pelupuk mataku mengingat bahwa sebentar lagi baktiku akan berpindah pada suamiku. Sedih rasanya harus meninggalkan Ummi sendirian tapi Ummi dengan tenangnya mengatakan bahwa Ummi tidak papa, beliau juga mengatakan akan tinggal bersama Bunda jika aku masih saja mengkhawatirkannya. Sungguh aku masih ingin membahagiakan Ummi dengan mewujudkan impian Ummi untuk pergi haji.
Meski aku sudah menikah tapi aku akan sering menengok Ummi dan Bunda. Uang tabunganku masih belum cukup untuk memberangkatkan Ummi naik haji tapi aku akan berusaha menggenapinya agar Ummi tetap bisa naik haji. Itu tekatdku untuk saat ini.
Inilah saat-saat mendebarkan itu, Mas Raddan akan menjabat tangan pamanku yang mengantikan Abi sebagai wali nikahku, namun aku tidak bisa melihatnya karna aku masih ada dikamarku dilantai dua.
"Saudara Muhammad Raddan Al-azmi bin Muhammad Farhan Rizaka. Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan keponakan saya yang bernama Hawani Azzahra binti Ahmad Nabhan Maulana dengan maskawin seperangkat alat sholat serta hafalan surah Ar-Rahman dan emas seberat 400 gram. Tunai.
Jantungku semakin berdebar tidak karuan.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Hawani Azzahra binti Ahmad Nabhan Maulana dengan maskawin tersebut. Tunai."
"Bagaimana para saksi, sah?"
"Sah!" jawab semuanya yang bisa kudengar melalui pengeras suara yang terpasang dibeberapa sudut rumah.
"Alhamdulillah ..." Kemudian penghulu membacakan doa pengantin.
Cklek!
Suara pintu terbuka membuatku menoleh, diambang pintu kulihat Ummi tersenyum hangat ke arahku. Air mataku tak kuasa kubendung lagi, sekarang aku sudah menjadi seorang istri dan baktiku sudah berpindah pada suamiku. Rasa tak percaya, bahagia, sedih, semuanya bercampur aduk.
"Ummi!" aku sudah tidak bisa menahan keinginan untuk memeluk tubuh Ummi."Hiks! Hiks! Hawa sedih kalo harus ninggalin Ummi. Ummi ikut Hawa yuk,"
"Hahaha, nggak bisa gitu lah, ndok. Sekarang kamu sudah menjadi seorang istri tugas kamu adalah mengikuti apa kata suamimu bukan Ummi lagi selama apa yang dia perintahkan masih dalam ketentuan Allah SWT. Karna bakti seorang perempuan akan berpindah bila dia sudah menikah sedangkan seorang lelaki baktinya akan selalu pada ibunya."
"Iya Hawa tau, tapi Hawa masih pengen tidur sama Ummi." Rengekku seperti anak kecil.
"Ih, dasar kamu ya ... kamu lupa udah tiga malam berturut-turut kamu tidurnya minta Ummi kelonin, loh. Sekarang temui suamimu dibawah, kasihan dia udah nunggu lama. Jangan lupa lap ingusmu itu," aku mengerucutkan bibirku masih semapat-sempatnya Ummi bercanda disaat seperti ini.Ummi menarik tanganku keluar dari kamar menuju tempat prosesi akad tadi berlangsung.
Aku berjalan sangat lamban dan hati-hati bukan ingin belagak seperti putri keraton hanya saja kebaya yang kukenakan ini beratnya tidak main-main 3 kilo, serta memiliki ekor yang panjangnya mencapai 1 meter dan kain songket keemasan yang membalut kakiku membuatku semakin susah untuk berjalan cepat ataupun biasa saja.
Jangan lupakan high heels setinggi 7 senti yang kukenakan ini. Sebenarnya aku hendak protes tapi Bunda sudah mewanti-wanti agar aku tetap memakainya. Ini sangat melelahkan ditambah aku harus menuruni beberapa anak tangga untuk sampai dibawah. Jangan mengira aku pandai memakai sepatu yang kata perempuan kebanyakan adalah harta atau barang yang sangat berharga, aku bisa memakai high heels ini juga butuh perjuangan yang sangat keras selama seminggu penuh, aku berlatih untuk memakainya. Hasilnya cukup memuaskan meskipun terdapat banyak memar dipergelangan kakiku serta bagian jemarinya.
Namun itu semua terbayar setelah melihat senyum Bunda dan Ummi yang menggembang dengan sempurna di hari bahagiaku ini.
Tak terasa kini kakiku sudah melangkah menuju tempat Mas Raddan, pria yang baru saja menjadi suamiku. Entah kenapa pipiku terasa panas saat mengatakan bahwa Mas Raddan adalah suamiku.
Ummi menuntunku untuk duduk di sebelah Mas Raddan, kemudian Ummi ikut duduk disebelah Bunda yang tengah menangis menyaksikan acara akad ini. Setelahnya Pak Penghulu memberi arahan untuk memasangkan cincin dijari manis pasangan.
"Bismillah," ucapku seraya memasangkan cincin ke jari manis Mas Raddan. Aku membeku saat tangan kami bersentuhan, terasa seperti ada aliran listrik yang menyengat kulitku barusan.
Apa ini yang namanya kenikmatan sehabis menikah hanya karna sentuhan yang tak disengaja saja jantungku langsung berdetak dengan kencang.
Kuhentikan lamunanku saat mendengarnya berdehem.Ternyata giliran dia yang memasangkan cincin ke jari manisku. Setelah selesai kucium tangannya dengan takzim kemudian aku mendongak dan kulihat dia mendekatkan bibirnya ke arah keningku.
Ya, Allah. Jantungku!!
Deg! Deg! Deg!
Cup!
Allahuakbar! Jantungku seperti akan melompat keluar dan mungkin sekarang suaranya detakannya bisa didengar olehnya. Bisa kupastikan wajahku sudah memerah tidak karuan.
***
Di acara resepsi ini aku hanya mengundang Silvi, bukan karna aku tidak mempunyai teman selain dia hanya saja Mas Raddan sudah memperingatkanku supaya tidak mengundang banyak teman yang berpotensi dalam menyebarkan pernikahan ini.
Kami berdua sudah siap menyambut tamu yang berdatangan. Kebaya berpotonga loose berwarna biru malam sudah kukenakan, tak lupa jilbab sewarna dengan hiasa bunga-bunga juga aku kenakan tapi bukan jilbab dengan tatanan modern karna aku lebih nyaman dengan jilbab yang menutub bagian dada. Ada juga hiasan kepala dari rangkaian bunga-bunga yang dibentuk melingkar seperti mahkota.
Tamu satu persatu naik ke podium untuk memberikan selamat pada kami berdua. Aku dan Mas Raddan bangkit berdiri menyambut mereka.
Setelahnya kami duduk kembali.
Tidak seperti pasangan kebanyakan yang mengobrol ataupun bercanda tawa di atas pelaminan, Mas Raddan terlihat enggan sedari tadi, tatapannya hanya mengarah ke satu objek di ujung sana. Siapa lagi kalo bukan Clara yang berdiri sendirian di pojok sana menggunakan gaun sewarna dengan ku dan hanya saja dengan model yang berbeda panjangnya hanya sebatas lutut karna Clara belum berhijab.
Sakit, tentu wanita mana yang tidak sakit ketika dihari bahagia mereka, suaminya lebih memilih melihat wanita lain meskipun itu istri pertamanya.
"Aaa... selamat Hawa akhirnya lo taken juga!" teriakan Silvi yang baru saja menaiki podium membuat lamunanku buyar, air mata yang menetes di pipi segera ku hapus.
"Hai, dateng juga lo. Sama siapa?" tanyaku sambil melongokkan kepala ke kanan dan kiri.
"Lo mah ... kerjaannya ngehina gue mulu! Gue datengnya sendiri, kan belum ada gandengan." Jawab Silvi dengan cemberut.
"Ya, maaf. Gue kan nggak tau. Gue kira lo bakalan dateng sama gebetan lo itu, tuh! Yang ganteng," godaku.
"Lupakan saja! Sepertinya doi nggak peka-peka sama kode keras yang gue kasih selama ini."
"Kacian...." kuusap kepalanya yang tertutup jilbab berwarna pink.
"Ini hari bahagia lo jadi gue harus bahagia." Ujar Silvi kembali tersenyum. Tatapannya beralih ke sebelahku,"dan buat lo! Sekali lo bikin sahabat gue nangis, gue bakal bawa pergi sahabat gue ini dan jangan harap lo bisa ketemu lagi sama dia."
"Sil, udah ..." leraiku seraya menurunkan jari telunjuknya yang mengacung didepan wajah Mas Raddan, untuk mencegah Silvi berbuat sesuatu diluar nalar manusia.
"Gue cuma mau peringatin sama cowok yang pikunnya kebangetan ini. Masa bisa lupa sama orang yang dicintainya selama bertahun-tahun, apalagi namanya kalo bukan pikun!"
"Please! Cukup Sil."
"Oke. Kalo lo udah nggak sanggup tinggal lambaikan bendera putih ke gue dan gue akan bawa lo pergi dari sini."
"Hahaha. Apaan sih!" kupukul pelan lengannya.
"Gue serius tau?!"
"Udah, udah masa kita mau debat dinikahan gue."
"Ya udah deh, gue ngalah. Semoga lo bahagia, Haw." Silvi turun dari podium tanpa menangkupkan tangan untuk bersalaman pada Mas Raddan.
"Maafin sikap Silvi ya, Mas." Sebagai temannya Silvi aku merasa harus mengucapkan maaf pada Mas Raddan atas sikapnya yang tadi.
"Seharusnya kamu bisa memilih teman yang lebih baik dari gadis itu. Supaya kamu tidak ketularan sifat buruknya yang barusan."
"Tapi Silvi sebenarnya baik, cuma emang kalo ngomong dia blak-blakan buat orang yang baru kenal dia mungkin kelihatanya nyebelin tapi kalo udah lama kenal kamu pasti nggak akan nilai dia seperti itu."
"Tapi bagaimana bisa dia berbicara seperti tadi, padahal aku baru kali ini bertemu dengannya?"
"I-itu karna ..."
"Hai bro selamat ya, akhirnya lo bisa menikah sama dia. Nggak sia-sia gue dukung lo semasa SMA buat dapetin dia," tiba-tiba Andra, teman SMA kami berdua datang menghentikan percakapan kami.
"Thanks, tapi gue sama sekali nggak ngerti tentang semuanya yang lo bicarain barusan," bingung Mas Raddan.
"Ah, ternyata lo masih lupa ingatan?"
"Andra makasih ya, udah datang." Kualihkan perhatian Andra supaya tidak membahas hal itu lebih lanjut aku takut jika Mas Raddan akan kembali mengalami pusing-pusing seperti dulu, jika ada yang membahas tentang hal yang belum bisa dia ingat kembali.
"Gue cuma mau bilang, congrats buat kalian. Dan buat lo, bro! Gue harap lo cepet sembuh, jangan sakitin dia lagi karna dia itu wanita yang nggak pantes lo sia-siain." Ujar Andra seraya menepuk-nepuk bahu Mas Raddan, kemudian dia turun dari podium.
Kening Mas Raddan sedikit mengerut mendengar itu.
"Mas, nggak papa?" aku takut kejadian dulu terulang lagi, lebih baik Mas Raddan tidak mengingatku dari pada dia merasa kesakitan saat berusaha mengenang masa lalunya.
"Nggak!" ujarnya dingin.
"Syukurlah..."
"Oh, ini toh yang namanya pelakor masa kini. Keliatannya aja alim tapi kelakuannya, suka ngerebut suami orang!" tiba-tiba ada sekumpulan gadis yang menaiki podium seraya mengatakan hal yang sangat menyakitkan buatku. Aku tidak merebut Mas Raddan dari istrinya sungguh aku bukan pelakor, ingin aku berteriak seperti itu namun aku tidak ingin terjadi keributan disini.
Salah satu gadis lainnya mendekatiku menarik ujung jilbab yang kukenakan," pakeannya muslimah tapi hatinya busuk. Kalo pelakor ya pelakor aja nggak usah sok alim, nggak guna?!" ujarnya seraya menghempaskan ujung jilbabku yang tadi dipegangnya.
Tamu undangan yang sedang asik menyantap hidangan malam ini, menoleh saat mendengar kata-kata yang dilontarkan kedua gadis itu.
Mas Raddan diam saja tidak berusaha menolong ataupun mengatakan sesuatu untuk membela aku istrinya sendiri, apakah penilaian Mas Raddan terhadapku sama seperti penilaian mereka.
"Sadar diri dong! Seharusnya lo bisa ngaca sebelum lo ngerebut suami orang muka pas-pasan aja sok jadi pelakor, mana gayanya kamseupay banget lagi! Iyuhh..." Gadis yang pertama berbicara tadi kembali berucap sambil sedikit mendorong tubuhku kebelakang.
Semua tamu undangan mulai berbisik-bisik mungkin sedang berspekulasi mengenai apa yang para gadis itu bicarakan. Mereka mulai menatapku dengan berbagai macam tatapan ada yang menyudutkan dan ada juga yang memandangku dengan kasihan.
Aku tidak pernah bercita-cita atau menginginkan menjadi seorang pelakor atau istri kedua, seperti wanita lainnya aku hanya ingin menjadi istri satu-satunya dari pria yang ku cintai. Tapi inilah takdirku yang harus menjadi istri kedua, aku tidak menyalahkan Sang Maha Kuasa atas semua ini. Aku hanya tidak habis pikir dengan jalan pikiran mereka yang menganggap aku seolah-olah hal yang menjijikan padahal aku dan mereka sama, sama-sama manusia yang tak luput dari salah.
"Ucchh ... cacian ... bisanya cuma nangis minta dikasihani, iya?" ucap kedua gadis itu bersamaan.
"Cukup! Penghinaan kalian terhadap menantu saya?! Sekarang juga kalian pergi atau saya panggilkan security kesini?!" bentak Bunda yang baru saja kembali, tadi Bunda dan Ummi memang sedang berganti pakaian jadi hanya ada aku dan Mas Raddan dipodium ini.
Kuhampiri Bunda dan kuusap kedua bahunya yang naik turun karna amarah. Aku harus bisa melawan mereka sendiri, aku tidak bisa melihat Bunda ataupun Ummi terbawa emosi yang dapat membahayakan kesehatan mereka berdua.
Aku maju kedepan menatap mereka satu persatu,"sudah puas kalian mencemoohku?! Kita ini sama-sama makhluk ciptaan-Nya tapi kenapa kalian bisa menghakimiku hanya karna aku menjadi istri kedua. Menjadi istri kedua bukanlah aib, memangnya ada larangan jika seorang suami beristri dua? Selama dia mampu menafkahi semua istrinya tidak ada larangan baginya, untuk berpoligami."
"Satu lagi, jangan menuduh orang sembarangan tanpa tahu kebenarannya. Kita ini sama-sama manusia yang kodratnya tidak pernah luput dari salah, sebaiknya kalian intropeksi diri sendiri sebelum mencari-cari kesalahan dan keburukan orang lain. Silakan kalian pergi dari sini, dengan cara baik-baik atau mau diseret paksa oleh security kami,"
Kulihat Ummi tersenyum, ternyata beliau tidak membelaku bukan karna tidak peduli tapi beliau yakin bahwa aku bisa menghadapi mereka dengan caraku sendiri. Terima kasih Ummi yang sudah mengajarkan padaku untuk menjadi wanita tangguh dan berjiwa kuat.
Prok! Prok! Prok!
Semua tamu undangan bertepuk tangan sebagai apreriasi terhadap hal yang baru saja kulakukan. Ada juga yang mengacungkan jempol penuh kekaguman.
Sedangkan dari pandanganku Mas Raddan hanya bisa menunduk malu karna tidak bisa berbuat apa-apa.
"Raddan ikut Bunda, sekarang juga!"
"Silakan di lanjutkan acara makan-makannya." Ujarku pada semua tamu.
Aku dan Ummi segera menyusul Bunda dan Mas Raddan takut terjadi pertengkaran hebat antara keduanya.
________
#Jodoh_wasiat_bapak
#JWB8
Part 8
"Bunda kecewa sama kamu,Dan. Ternyata amnesia tidak hanya menghilangkan semua ingatan kamu tapi juga membuat kamu buta?! Bagaimana bisa seorang suami tidak melakukan apapun saat istrinya dihina dihadapan semua orang apalagi disaat kalian baru saja melangsungkan pernikahan. Sebenarnya kamu itu masih punya hati nurani atau tidak?!"
Mas Raddan hanya bisa menunduk mendengarkan semua kemarahan yang sedang di luapkan oleh Bunda.
Aku dan Ummi juga tidak berani berbuat sesuatu untuk mencegah pertengkaran ini.
"Tidakkah kamu malu sebagai seorang lelaki yang tidak bisa berbuat apa-apa disituasi seperti tadi. Bagaimana jika Bunda dalam posisi Hawa, dihina dan dicaci seperti tadi! Apa kamu masih tetap akan diam?"
Mas Raddan hendak menjawab tapi Bunda kembali menyela,"bayangkan jika posisi itu berbalik, kamu yang dihina lalu istri yang tepat berada disampingmu tidak membela atau menguatkan kamu. Bagaimana rasanya?" Bunda sengaja menekankan kata 'tepat' untuk mempertegas rasa kesalnya terhadap Mas Raddan.
"Maafin Raddan, Bun. Raddan akui bahwa Raddan memang salah." Sesal Mas Raddan masih dengan menunduk.
"Seharusnya kamu meminta maaf pada Hawa bukan ke Bunda. Jika Hawa memaafkanmu, maka Bunda juga akan memaafkanmu." Ujar Bunda kemudian melangkahkan kaki menuju sofa.
Mas Raddan mendekat ke arahku sepertinya dia menyesal tidak melakukan apapun padaku tadi.
"Aku tidak papa, Mas. Jadi Mas Raddan tidak usah merasa bersalah seperti itu."Ucapku sambil menggeleng.
"Makasih." Ucapnya lirih.
"Sama-sama,"
"Lebih baik kalian masuk ke kamar, acaranya juga sudah selesai." Suruh Ummi.
"Baik, Ummi. Ayo Mas," ajakku pada Mas Raddan.
Mas Raddan hanya mengangguk kemudian melangkah menaiki tangga untuk ke kamarku di lantai dua. Karna acara akad dan resepsi ini memang di adakan di rumahku.
Sayup-sayup kudengar suara Bunda yang tengah memarahi Clara. Aku tahu Bunda pasti sedang mengintrograsi Clara sebab gadis yang tadi datang merusak acara dengan mengata-ngataiku adalah teman Clara, aku sedikit mengenal mereka karna kami pernah satu kampus dulu.
***
Mas Raddan yang memasuki kamar terlebih dulu sepertinya langsung menuju kamar mandi, saat aku masuk terdengar suara air dari dalamnya.
Dengan telaten aku mengekuarkan satu stel pakaian tidur untuk Mas Raddan. Sudah menjadi tugas seorang istri untuk melayani suaminya.
Cklek!
Bunyi pintu kamar mandi yang terbuka membuatku gugup. Semua gadis mungkin akan sepertiku dimalam pertama mereka. Ya, Allah hamba harus bagaimana?
Tak sengaja mataku melirik ke arah Mas Raddan yang hanya menggunakan handuk sebatas pusar.
Aku cepat-cepat berbalik, tak pernah aku melihat pria berpakaian seminim itu.
Aku yang sudah bisa merasakan wajahku bersemu merah segera saja kuraih handuk yang ada digantungan dekat lemari baju kemudian masuk ke kamar mandi. Hal yang terbaik karna mungkin sebentar lagi jantungku akan copot, irama detaknya diluar batas normal. Jantung, jangan seperti ini aku bisa mati.
Kuputuskan untuk mandi, semoga saja setelahnya aku bisa kembali tanpa kegugupan dan detak jantungku normal kembali.
Setengah jam kemudian barulah aku selesai mandi, baju kebaya kuganti dengan piyama tidur lengan panjang motif kupu-kupu berwarna biru serta jilbab instan senada. Aku akan menunjukkan mahkotaku pada Mas Raddan disaat dia telah menerimaku sebagai istrinya nanti.
Kreek ...
Perlahan kubuka pintu kamar mandi, kusembulkan kepalaku untuk melihat keadaan diluar. Pandanganku terhenti saat melihat sofa yang terletak dipojok yang berhadapan dengan pintu kamar mandi, disana Mas Raddan sudah terlelap dalam tidurnya meskipun kurang nyaman tentu saja bagaiamana bisa nyaman tertidur jika ukuran sofa itu lebih kecil dari ukuran tubuhnya. Kakinya saja terlihat mengantung dibagian ujung pegangan sofa.
Aku keluar lalu mendekat ke sana, lebih baik aku saja yang tidur disana biar Mas Raddan yang tidur diranjang.
"Mas!" kugoyangkan bahunya untuk membangunkannya.
"Hmm ..." Mas Raddan hanya bergumam lalu membalikkan wajah memunggungiku.
"Mas, pindah saja ke ranjang biar Hawa yang tidur disofa." Ujarku tidak berhenti membujuknya agar bangun.
"Berisik banget, sih! Bisa diam nggak saya butuh tidur?!" bentaknya membuatku mundur beberapa langkah.
Sudahlah lebih baik aku mengalah, kuambil selimut untuk menyelimutinya. "Good night Mas, semoga mimpi indah." ucapku didekat kepala Mas Raddan. Sesudahnya aku naik ke ranjang dan tidur seraya memandangi wajah polos Mas Raddan saat tertidur.
***
Allahu Akbar ... Allahu Akbar Lailahaillah ....
Mendengar suara azan shubuh berkumandang membuat mataku terjaga seketika, kubangkitkan tubuhku lalu kubaca doa sehabis bangun tidur kemudian aku bangkit untuk mandi lalu menunaikan sholat shubuh. Aku segera memasuki kamar mandi untuk membersikan diri dari hadas besar dan kecil.
Aku teringat bahwa sekarang aku telah menjadi istri kupercepat waktu mandiku, bergegas keluar kutolehkan wajahku ke sofa tempat Mas Raddan tertidur tadi malam. Kulangkah kakiku ke sana untuk membangunkannya.
"Mas, sholat yuk. Udah shubuh, bangun." kugoyang-goyangkan bahunya agar dia segera bangun.
"Lima menit lagi," balasnya masih dengan mata tertutup.
"Mas, sholat itu baiknya diawal waktu. Jadi ayo bangun terus sholat berjamaah." Kali ini aku tidak akan menyerah seperti tadi malam, Mas Raddan sekarang adalah imamku dalam ibadah seumur hidup menuju ridho Allah SWT.
"Iya, iya dasar bawel!" Mas Raddan bangkit seraya mengacak-acak rambutnya kasar.
Senyumku mengembang ini akan menjadi sholat berjamaah pertama kami setelah menjadi sepasang suami istri.
Saat Mas Raddan keluar dari kamar mandi aku siap dengan mukena dan dua sajadah yang kugelar, satu untukku dan satu untuknya lengkap dengan sarung beserta kopiah juga.
Mas Raddan yang sudah mengenakan kaos oblong berwarna putih serta celana kain panjang melangkah ke arahku, dipakainya sarung dan kopiah itu. Subhanallah, sungguh makhluk cipataanmu yang mendekati kata sempurna ada didepan mataku. Nikmat dari-Mu memang tiada duanya.
Astagfirullahal'adzim ingat Hawa, kamu ingin sholat jadi hilangkan pikiran lain dan khusyuk lah dalam beribadah. Kata batinku yang membuatku tersadar.
"Allahu Akbar," Mas Raddan sudah mengangkat tangannya, takbiratul ikram.
"Allahu Akbar," kuangkat tanganku sebatas dada lalu kulipat didepan dada.
Sehabis sholat kutengadahkan tanganku ke atas, "Ya Allah, hamba mohon bimbinglah hamba agar bisa menjadi istri yang sholeha, istri yang amanah dan istri yang berbakti pada suaminya. Ya Allah, lindungi kami semua dari segala mara bahaya, berikanlah kami kesabaran dalam menghadapi ujian dari-Mu. Aamiin." Kuraup wajahku setelah selesai berdoa lalu kucium dengan takzim tangan Mas Raddan.
Aku bangkit melepas mukenaku lalu kulipat dan kumasukkan kedalam koper yang akan kubawa kerumahas Raddan nanti.
Aku harus segera menyiapkan makanan untuk Mas Raddan. Tanpa berkata aku keluar dari kamar menuju dapur.
***
Didapur ternyata sudah ada Ummi dan Bunda. Mereka berdua melihat ke arahku seraya tersenyum menggoda.
"Sudah ngapain aja tadi malam?" tanya Bunda
"Tidur, memang apalagi." Jawabku polos.
"Kalo begitu sebelum tidur?" Ummi ikut bertanya.
"Mandi."
"Yah ... nggak seru dong." Ujar Bunda yang kutanggapi dengan mengangkat sebelah alisku, bingung.
"Jadi kamu masih perawan ting-ting?" Ummi bertanya penasaran.
"Ternyata belum jebol." Ujar Bunda frontal yang diangguki Ummi.
Memangnya main bola, pake jebol segala. Emak-emak dan kata-katanya memang sangat tak terduga.
Aku hanya bisa mengeleng-gelengkan kepala, tak habis pikir.
Tak kuhiraukan kedua Emakku itu, fokusku adalah membuat makanan kesukaan Mas Raddan.
Satu jam kemudian semua makanan telah siap untuk dihidangkan. Ada udang asam manis, ayam rica-rica, telur balado, kepiting saus tiram dan sop ayam. Semua sudah tertata dengan cantik di atas meja makan.
Bertepatan dengan itu kulihat Mas Raddan turun bersama Clara sambil berpegangan tangan sangat mesra. Mereka berdua terlihat serasi yang satu cantik dan satu lagi tampan. Sedangkan aku tampak kucel setelah memasak pakaianku yang dibalut celemek masak terlihat sangat sederhana jika dibandingkan dengan pakaian yang mereka kenakan. Aku merasa tersisih, memang aku hanya istri kedua tak bolehkah aku merasakan kebahagiaan juga.
Hatiku sakit saat melihat Mas Raddan menatap Clara dengan lembut dan senyum yang mengembang sempurna sedangkan saat melihatku hanya ada tatapan dingin dan tajam serta ekspresi datar andalan Mas Raddan.
"Sabar, ndok. Allah memberikan ujian ini karna Allah tau kamu itu wanita yang kuat." Ummi mengusap-usap punggungku seraya memberiku semangat. Aku tersenyum, "Hawa kuat kok, Mi."
Aku mendekat ke arah tempat Mas Raddan duduk bermaksud mengambilkan sarapan untuknya. Setelahnya aku duduk disamping Clara karna Mas Raddan duduk di bagian ujung dan yang tersisa hanya tempat ini.
"Enak nggak makanannya?" tanya Bunda pada Mas Raddan.
"Enak."
"Ini Hawa loh, yang masak."
"Hm." Jawab Mas Raddan singkat kemudian sibuk kembali menyantap sarapan paginya.
"Hawa itu memang istri dan menantu idaman semua ibu. Nggak hanya cantik tapi pinter masak, beberes rumah dan tentu saja memanjakan suaminya, nggak kayak dia. Masak aja nggak bisa, bisanya cuma shopping buat ngambisi duit suami aja!" sontak kepalaku mendongak sepenuhnya dari piring mendengar ucapan Bunda.
Kluntang!
Suara sendok dijatuhkan yang berasal dari Mas Raddan,"Bunda jangan selalu menyudutkan Clara seperti itu terus, Bunda boleh nggak menyukai Clara tapi jangan seperti ini, selalu menyakiti hatinya?!"
"Apa yang Bunda bicarakan itu fakta. Buka Mata kamu Raddan!" Bunda ikut meninggikan suaranya.
"Raddan tidak mempermasalahkan jika Clara tidak bisa masak. Raddan menjadikan Clara sebagai seorang istri untuk mendampingin Raddan bukan untuk menjadikannya pembantu. Kalo Clara suka shopping untuk mengahabiskan uang Raddan itu wajar karna Raddan mencari menafkah untuk istri Raddan."
Bunda terlihat sangat emosi mendengar ucapan Mas Raddan, sebelum terjadi keributan besar aku segera bertindak.
"Bunda, gimana masakan Hawa enak, nggak?" tanyaku membuat Bunda menoleh ke arahku.
"Enak banget Bunda suka semuanya. Kamu memang pintar untuk memanjakan lidah Bunda, masakan kamu ini nggak kalah sama masakan diretoran bintang lima."
Aku berhasil mengalihkan fokus Bunda dan kami pun makan dengan tenang kembali.
***
Dua koper sudah siap untuk dimasukkan kedalam bagasi mobil. Air mata tak kuasa kubendung ketika harus meninggalkan rumah masa kecilku ini.
"Ummi nggak bisa ikut sama Hawa ke rumah baru?" rengekku seraya menarik-narik lengan gamis yang Ummi kenakan.
"Ya, nggak bisa gitu. Sekarang kan kamu sudah menikah masa Ummi tinggal bareng kamu, nanti ganggu lagi." Canda Ummi.
"Ihh.. Hawa kan masih pengen tinggal sama Ummi. Nanti kalo nggak ada Hawa siapa yang jagain Ummi? Makanya ayo ikut, Mi."
"Ummi bukan anak kecil jadi Ummi bisa jaga diri sendiri," ujar Ummi menenangkanku.
"Ya udah, deh. Hawa pamit ya, Mi, Bun. Assalamualaikum,"
"Wa'aikumssalam." Jawab Ummi.
"Wa'aikumssalam, pengantin barunya duduk didepan." Bunda berkata dengan keras saat melihat Clara hendak duduk dikursi depan.
Aku meringis sebegitu bencinya kah, Bunda pada Clara padahal aku yang pernah disakiti atau mungkin saja masih olehnya saja tidak seperti itu.
Aku duduk dikursi depan bersama Mas Raddan sedangkan Clara harus mengalah duduk dibelakang.
Dipertengahan jalan Mas Raddan tiba-tiba menghentikan mobil, menoleh ke arahku dengan tatapan tajam." Turun!" perintahnya yang membuatku bingung, masih ditengah jalan lalu untuk apa aku turun.
"Tapi, Mas. Rumahnya kan masih jauh?"
"Bisa nggak nurut aja dulu, jangan banyak membantah." Aku langsung menundukkan kepalaku, lalu keluar mobil tanpa membantah lagi.
"Clara pindah ke depan!" perintah Mas Raddan lagi.
"Dan kamu, duduk dibelakang!"
"Itu tempat yang cocok buat seorang istri kedua." Lanjutnya dengan dingin.
Masih sambil menunduk aku duduk dibelakang mengikuti perintah Mas Raddan. Hatiku sangat sakit, aku sadar posisiku hanya sebagai istri kedua tapi apakah sehina itu hingga tempat duduk saja aku harus mengalah.
_________
#JWB8
Part 8
"Bunda kecewa sama kamu,Dan. Ternyata amnesia tidak hanya menghilangkan semua ingatan kamu tapi juga membuat kamu buta?! Bagaimana bisa seorang suami tidak melakukan apapun saat istrinya dihina dihadapan semua orang apalagi disaat kalian baru saja melangsungkan pernikahan. Sebenarnya kamu itu masih punya hati nurani atau tidak?!"
Mas Raddan hanya bisa menunduk mendengarkan semua kemarahan yang sedang di luapkan oleh Bunda.
Aku dan Ummi juga tidak berani berbuat sesuatu untuk mencegah pertengkaran ini.
"Tidakkah kamu malu sebagai seorang lelaki yang tidak bisa berbuat apa-apa disituasi seperti tadi. Bagaimana jika Bunda dalam posisi Hawa, dihina dan dicaci seperti tadi! Apa kamu masih tetap akan diam?"
Mas Raddan hendak menjawab tapi Bunda kembali menyela,"bayangkan jika posisi itu berbalik, kamu yang dihina lalu istri yang tepat berada disampingmu tidak membela atau menguatkan kamu. Bagaimana rasanya?" Bunda sengaja menekankan kata 'tepat' untuk mempertegas rasa kesalnya terhadap Mas Raddan.
"Maafin Raddan, Bun. Raddan akui bahwa Raddan memang salah." Sesal Mas Raddan masih dengan menunduk.
"Seharusnya kamu meminta maaf pada Hawa bukan ke Bunda. Jika Hawa memaafkanmu, maka Bunda juga akan memaafkanmu." Ujar Bunda kemudian melangkahkan kaki menuju sofa.
Mas Raddan mendekat ke arahku sepertinya dia menyesal tidak melakukan apapun padaku tadi.
"Aku tidak papa, Mas. Jadi Mas Raddan tidak usah merasa bersalah seperti itu."Ucapku sambil menggeleng.
"Makasih." Ucapnya lirih.
"Sama-sama,"
"Lebih baik kalian masuk ke kamar, acaranya juga sudah selesai." Suruh Ummi.
"Baik, Ummi. Ayo Mas," ajakku pada Mas Raddan.
Mas Raddan hanya mengangguk kemudian melangkah menaiki tangga untuk ke kamarku di lantai dua. Karna acara akad dan resepsi ini memang di adakan di rumahku.
Sayup-sayup kudengar suara Bunda yang tengah memarahi Clara. Aku tahu Bunda pasti sedang mengintrograsi Clara sebab gadis yang tadi datang merusak acara dengan mengata-ngataiku adalah teman Clara, aku sedikit mengenal mereka karna kami pernah satu kampus dulu.
***
Mas Raddan yang memasuki kamar terlebih dulu sepertinya langsung menuju kamar mandi, saat aku masuk terdengar suara air dari dalamnya.
Dengan telaten aku mengekuarkan satu stel pakaian tidur untuk Mas Raddan. Sudah menjadi tugas seorang istri untuk melayani suaminya.
Cklek!
Bunyi pintu kamar mandi yang terbuka membuatku gugup. Semua gadis mungkin akan sepertiku dimalam pertama mereka. Ya, Allah hamba harus bagaimana?
Tak sengaja mataku melirik ke arah Mas Raddan yang hanya menggunakan handuk sebatas pusar.
Aku cepat-cepat berbalik, tak pernah aku melihat pria berpakaian seminim itu.
Aku yang sudah bisa merasakan wajahku bersemu merah segera saja kuraih handuk yang ada digantungan dekat lemari baju kemudian masuk ke kamar mandi. Hal yang terbaik karna mungkin sebentar lagi jantungku akan copot, irama detaknya diluar batas normal. Jantung, jangan seperti ini aku bisa mati.
Kuputuskan untuk mandi, semoga saja setelahnya aku bisa kembali tanpa kegugupan dan detak jantungku normal kembali.
Setengah jam kemudian barulah aku selesai mandi, baju kebaya kuganti dengan piyama tidur lengan panjang motif kupu-kupu berwarna biru serta jilbab instan senada. Aku akan menunjukkan mahkotaku pada Mas Raddan disaat dia telah menerimaku sebagai istrinya nanti.
Kreek ...
Perlahan kubuka pintu kamar mandi, kusembulkan kepalaku untuk melihat keadaan diluar. Pandanganku terhenti saat melihat sofa yang terletak dipojok yang berhadapan dengan pintu kamar mandi, disana Mas Raddan sudah terlelap dalam tidurnya meskipun kurang nyaman tentu saja bagaiamana bisa nyaman tertidur jika ukuran sofa itu lebih kecil dari ukuran tubuhnya. Kakinya saja terlihat mengantung dibagian ujung pegangan sofa.
Aku keluar lalu mendekat ke sana, lebih baik aku saja yang tidur disana biar Mas Raddan yang tidur diranjang.
"Mas!" kugoyangkan bahunya untuk membangunkannya.
"Hmm ..." Mas Raddan hanya bergumam lalu membalikkan wajah memunggungiku.
"Mas, pindah saja ke ranjang biar Hawa yang tidur disofa." Ujarku tidak berhenti membujuknya agar bangun.
"Berisik banget, sih! Bisa diam nggak saya butuh tidur?!" bentaknya membuatku mundur beberapa langkah.
Sudahlah lebih baik aku mengalah, kuambil selimut untuk menyelimutinya. "Good night Mas, semoga mimpi indah." ucapku didekat kepala Mas Raddan. Sesudahnya aku naik ke ranjang dan tidur seraya memandangi wajah polos Mas Raddan saat tertidur.
***
Allahu Akbar ... Allahu Akbar Lailahaillah ....
Mendengar suara azan shubuh berkumandang membuat mataku terjaga seketika, kubangkitkan tubuhku lalu kubaca doa sehabis bangun tidur kemudian aku bangkit untuk mandi lalu menunaikan sholat shubuh. Aku segera memasuki kamar mandi untuk membersikan diri dari hadas besar dan kecil.
Aku teringat bahwa sekarang aku telah menjadi istri kupercepat waktu mandiku, bergegas keluar kutolehkan wajahku ke sofa tempat Mas Raddan tertidur tadi malam. Kulangkah kakiku ke sana untuk membangunkannya.
"Mas, sholat yuk. Udah shubuh, bangun." kugoyang-goyangkan bahunya agar dia segera bangun.
"Lima menit lagi," balasnya masih dengan mata tertutup.
"Mas, sholat itu baiknya diawal waktu. Jadi ayo bangun terus sholat berjamaah." Kali ini aku tidak akan menyerah seperti tadi malam, Mas Raddan sekarang adalah imamku dalam ibadah seumur hidup menuju ridho Allah SWT.
"Iya, iya dasar bawel!" Mas Raddan bangkit seraya mengacak-acak rambutnya kasar.
Senyumku mengembang ini akan menjadi sholat berjamaah pertama kami setelah menjadi sepasang suami istri.
Saat Mas Raddan keluar dari kamar mandi aku siap dengan mukena dan dua sajadah yang kugelar, satu untukku dan satu untuknya lengkap dengan sarung beserta kopiah juga.
Mas Raddan yang sudah mengenakan kaos oblong berwarna putih serta celana kain panjang melangkah ke arahku, dipakainya sarung dan kopiah itu. Subhanallah, sungguh makhluk cipataanmu yang mendekati kata sempurna ada didepan mataku. Nikmat dari-Mu memang tiada duanya.
Astagfirullahal'adzim ingat Hawa, kamu ingin sholat jadi hilangkan pikiran lain dan khusyuk lah dalam beribadah. Kata batinku yang membuatku tersadar.
"Allahu Akbar," Mas Raddan sudah mengangkat tangannya, takbiratul ikram.
"Allahu Akbar," kuangkat tanganku sebatas dada lalu kulipat didepan dada.
Sehabis sholat kutengadahkan tanganku ke atas, "Ya Allah, hamba mohon bimbinglah hamba agar bisa menjadi istri yang sholeha, istri yang amanah dan istri yang berbakti pada suaminya. Ya Allah, lindungi kami semua dari segala mara bahaya, berikanlah kami kesabaran dalam menghadapi ujian dari-Mu. Aamiin." Kuraup wajahku setelah selesai berdoa lalu kucium dengan takzim tangan Mas Raddan.
Aku bangkit melepas mukenaku lalu kulipat dan kumasukkan kedalam koper yang akan kubawa kerumahas Raddan nanti.
Aku harus segera menyiapkan makanan untuk Mas Raddan. Tanpa berkata aku keluar dari kamar menuju dapur.
***
Didapur ternyata sudah ada Ummi dan Bunda. Mereka berdua melihat ke arahku seraya tersenyum menggoda.
"Sudah ngapain aja tadi malam?" tanya Bunda
"Tidur, memang apalagi." Jawabku polos.
"Kalo begitu sebelum tidur?" Ummi ikut bertanya.
"Mandi."
"Yah ... nggak seru dong." Ujar Bunda yang kutanggapi dengan mengangkat sebelah alisku, bingung.
"Jadi kamu masih perawan ting-ting?" Ummi bertanya penasaran.
"Ternyata belum jebol." Ujar Bunda frontal yang diangguki Ummi.
Memangnya main bola, pake jebol segala. Emak-emak dan kata-katanya memang sangat tak terduga.
Aku hanya bisa mengeleng-gelengkan kepala, tak habis pikir.
Tak kuhiraukan kedua Emakku itu, fokusku adalah membuat makanan kesukaan Mas Raddan.
Satu jam kemudian semua makanan telah siap untuk dihidangkan. Ada udang asam manis, ayam rica-rica, telur balado, kepiting saus tiram dan sop ayam. Semua sudah tertata dengan cantik di atas meja makan.
Bertepatan dengan itu kulihat Mas Raddan turun bersama Clara sambil berpegangan tangan sangat mesra. Mereka berdua terlihat serasi yang satu cantik dan satu lagi tampan. Sedangkan aku tampak kucel setelah memasak pakaianku yang dibalut celemek masak terlihat sangat sederhana jika dibandingkan dengan pakaian yang mereka kenakan. Aku merasa tersisih, memang aku hanya istri kedua tak bolehkah aku merasakan kebahagiaan juga.
Hatiku sakit saat melihat Mas Raddan menatap Clara dengan lembut dan senyum yang mengembang sempurna sedangkan saat melihatku hanya ada tatapan dingin dan tajam serta ekspresi datar andalan Mas Raddan.
"Sabar, ndok. Allah memberikan ujian ini karna Allah tau kamu itu wanita yang kuat." Ummi mengusap-usap punggungku seraya memberiku semangat. Aku tersenyum, "Hawa kuat kok, Mi."
Aku mendekat ke arah tempat Mas Raddan duduk bermaksud mengambilkan sarapan untuknya. Setelahnya aku duduk disamping Clara karna Mas Raddan duduk di bagian ujung dan yang tersisa hanya tempat ini.
"Enak nggak makanannya?" tanya Bunda pada Mas Raddan.
"Enak."
"Ini Hawa loh, yang masak."
"Hm." Jawab Mas Raddan singkat kemudian sibuk kembali menyantap sarapan paginya.
"Hawa itu memang istri dan menantu idaman semua ibu. Nggak hanya cantik tapi pinter masak, beberes rumah dan tentu saja memanjakan suaminya, nggak kayak dia. Masak aja nggak bisa, bisanya cuma shopping buat ngambisi duit suami aja!" sontak kepalaku mendongak sepenuhnya dari piring mendengar ucapan Bunda.
Kluntang!
Suara sendok dijatuhkan yang berasal dari Mas Raddan,"Bunda jangan selalu menyudutkan Clara seperti itu terus, Bunda boleh nggak menyukai Clara tapi jangan seperti ini, selalu menyakiti hatinya?!"
"Apa yang Bunda bicarakan itu fakta. Buka Mata kamu Raddan!" Bunda ikut meninggikan suaranya.
"Raddan tidak mempermasalahkan jika Clara tidak bisa masak. Raddan menjadikan Clara sebagai seorang istri untuk mendampingin Raddan bukan untuk menjadikannya pembantu. Kalo Clara suka shopping untuk mengahabiskan uang Raddan itu wajar karna Raddan mencari menafkah untuk istri Raddan."
Bunda terlihat sangat emosi mendengar ucapan Mas Raddan, sebelum terjadi keributan besar aku segera bertindak.
"Bunda, gimana masakan Hawa enak, nggak?" tanyaku membuat Bunda menoleh ke arahku.
"Enak banget Bunda suka semuanya. Kamu memang pintar untuk memanjakan lidah Bunda, masakan kamu ini nggak kalah sama masakan diretoran bintang lima."
Aku berhasil mengalihkan fokus Bunda dan kami pun makan dengan tenang kembali.
***
Dua koper sudah siap untuk dimasukkan kedalam bagasi mobil. Air mata tak kuasa kubendung ketika harus meninggalkan rumah masa kecilku ini.
"Ummi nggak bisa ikut sama Hawa ke rumah baru?" rengekku seraya menarik-narik lengan gamis yang Ummi kenakan.
"Ya, nggak bisa gitu. Sekarang kan kamu sudah menikah masa Ummi tinggal bareng kamu, nanti ganggu lagi." Canda Ummi.
"Ihh.. Hawa kan masih pengen tinggal sama Ummi. Nanti kalo nggak ada Hawa siapa yang jagain Ummi? Makanya ayo ikut, Mi."
"Ummi bukan anak kecil jadi Ummi bisa jaga diri sendiri," ujar Ummi menenangkanku.
"Ya udah, deh. Hawa pamit ya, Mi, Bun. Assalamualaikum,"
"Wa'aikumssalam." Jawab Ummi.
"Wa'aikumssalam, pengantin barunya duduk didepan." Bunda berkata dengan keras saat melihat Clara hendak duduk dikursi depan.
Aku meringis sebegitu bencinya kah, Bunda pada Clara padahal aku yang pernah disakiti atau mungkin saja masih olehnya saja tidak seperti itu.
Aku duduk dikursi depan bersama Mas Raddan sedangkan Clara harus mengalah duduk dibelakang.
Dipertengahan jalan Mas Raddan tiba-tiba menghentikan mobil, menoleh ke arahku dengan tatapan tajam." Turun!" perintahnya yang membuatku bingung, masih ditengah jalan lalu untuk apa aku turun.
"Tapi, Mas. Rumahnya kan masih jauh?"
"Bisa nggak nurut aja dulu, jangan banyak membantah." Aku langsung menundukkan kepalaku, lalu keluar mobil tanpa membantah lagi.
"Clara pindah ke depan!" perintah Mas Raddan lagi.
"Dan kamu, duduk dibelakang!"
"Itu tempat yang cocok buat seorang istri kedua." Lanjutnya dengan dingin.
Masih sambil menunduk aku duduk dibelakang mengikuti perintah Mas Raddan. Hatiku sangat sakit, aku sadar posisiku hanya sebagai istri kedua tapi apakah sehina itu hingga tempat duduk saja aku harus mengalah.
_________
#Jodoh_wasiat_b apak
#JWB9
Part 9
Rumah baru semoga aku betah disini dan semoga ridho Allah selalu menyertaiku sehingga rumah ini bisa disukai oleh para malaikat sehingga kebahagiaan selalu memenuhi rumah ini, Aamiin.
"Bismillah ..." ucapku seraya melangkahkan kaki kananku memasuki rumah ini.
"Bi Imah! Bi Imah!" teriak Mas Raddan memanggil seseorang.
Dari arah belakang yang kutebak adalah dapur datang seorang wanita setengah baya dengan tergopoh-gopoh sambil memegang lap.
"Ada apa Tuan?" tanya wanita itu dengan napas yang masih ngos-ngosan.
"Tunjukan kamar yang akan dia tempati!" tunjuk Mas Raddan padaku kemudian dia pergi sambil menggandeng Clara menaiki lantai dua rumah ini.
"Mari Nyonya saya tunjukkan kamarnya," wanita setengah baya itu mempersilakan dengan tangan memberi isyarat agar aku berjalan terlebih dulu. Kuusap air mataku yang sempat menetes, kuraih koper milikku hendak menyeretnya namun wanita yang dipanggil Bi Imah itu mengambil alih koperku untuk dibawanya.
"Biar saya saja, Nyonya tinggal jalan mengikuti saya."
"Jangan panggil saya Nyonya panggil Hawa saja, rasanya saya tidak pantas dipanggil seperti itu karna bukan saya yang menggaji Bibi."
"Tapi Nyonya istri Tuan berarti Nyonya majikan saya, tak pantas rasanya jika saya hanya memanggil nama saja."
"Kalo begitu panggil saya dengan sebutan Neng, itu terdengar lebih baik."
"Baiklah Neng Hawa, mari saya antar ke kamar Eneng."
Aku mengangguk melangkah dibelakangnya mengikuti.
***
Tak terasa sudah hampir seminggu aku tinggal disini.
Besok aku sudah mulai bekerja lagi, bukannya aku gila kerja karna hanya meminta cuti seminggu lebih beberapa hari.
Aku juga sebenarnya ingin cuti lama untuk menghabiskan bulan madu berdua seperti pasangan suami istri lainnya tapi apa boleh buat jika Mas Raddan tidak menginginkan hal itu dengan alasan masih banyak pekerjaan yang belum dia selesaikan karna terhambat oleh pernikahan kami.
Pikiranku mulai melayang, apakah seseorang yang mengalami amnesia bisa membuat kepribadian serta perilakunya ikut berubah? Ataukah itu hanya terjadi pada kasus Mas Raddan saja.
Flasback On
"Pacarku Sayang, lagi ngapain?" tanya suara berat milik pria berbadan atletis yang langsung mendudukkan diri di sebelahku.
"Kepo!" sahutku seraya menjauhkan majalah yang sedang kubaca dari jangkauan pandangan Mas Raddan.
"Pelit banget sih, liat doang aja nggak boleh?!" dengusnya sambil memalingkan wajah, ngambek.
"Gitu doang aja ngambek, situ laki apa bukan?" godaku yang semakin membuatnya merajuk.
"Aku pergi nih, kalo kamu masih ngambek?" ancamku yang ampuh buat dia kembali menoleh ke arahku.
"Eh, jangan dong! Aku kan kesini mau ngapel masa ditinggalin,"
"Ya udah jangan kepo gitu. Kalo masih mau disini, diam terus duduk yang manis."
"Iya deh, tapi aku penasaran liat apa sih kamu, sampe senyum-senyum gitu bacanya? Jangan-jangan ada gambar cowok ya di situ?" tuduhnya ngawur.
"Oh, banyak banget! Ganteng-ganteng lagi." Sarkasku membalas tuduhannya.
"Siniin majalahnya!" pintanya berusaha merebut majalah itu dari tanganku.
"Nggak, nggak ada aku bohong." Sebisa mungkin aku menjauhkan majalah itu.
"Aku nggak percaya sebelum aku liat sendiri, jadi siniin majalahnya." Dia berhasil merebut majalah itu dari tanganku lalu membuka halamannya dengan cepat, mencari-cari gambar pria yang mungkin dia temui disana.
"Udah puas liatnya. Aku bilang nggak ada, aku bilang kayak tadi soalnya kamu nuduh-nuduh aku sembarangan sih?!" kesalku.
"Maaf deh. Nggak lagi," sesalnya.
"Kamu selalu bilang 'aku cinta banget sama kamu, Ara' tapi kayak gini aja kamu udah su'udzon sama aku. Kalo cinta itu, harus dilandasi sama rasa kepercayaan satu sama lain."
"Iya, maaf. Aku percaya sama kamu tapi aku nggak bisa percaya sama cowok-cowok yang suka deketin kamu."
"Mulai sekarang mending kurang-kurangin deh sifat posesif kamu itu."
"Oh ... tentu tidak bisa! Malahan aku harus semakin posesif sama kamu, biar kamu nggak bisa berpaling ke cowok lain."
"Terserah kamu aja, aku males debat sama kamu. Siniin majalahnya aku mau baca lagi!" kurebut majalah itu dari tangannya.
"Sebenarnya itu majalah apaan sih?"
Kuperlihatkan bagian covernya pada Mas Raddan agar dia bisa membacanya sendiri.
"Oh destinasi liburan, emang kamu mau liburan kemana?" tanyanya seraya ikut melihat ke halaman yang sedang kubuka.
"Turki? Kenapa kamu pengen banget ke sana?" tanya lagi Mas Raddan seraya ikut melihat majalah yang menampilkan Ikon kota Istanbul.
"Aku kagum sama keindahan kota ini. Kota Istanbul, Turki adalah kota yang sangat ingin aku kunjungi." Anganku melayang membayangkan bisa bertandang ke kota yang pernah dipimpian oleh kekaisaran Ottoman itu.
"Oke, aku akan mewujudkan impian kamu untuk berlibur ke sana tapi nanti setelah kita menikah sekalian honey moon buat kita." Janjinya padaku. Yang kusambut dengan gembira.
Flasback Off
Lamunanku buyar ketika terdengar suara seseorang berteriak dari ruang tengah. Kamar yang kutempati ada dilantai dasar sehingga aku dapat dengan jelas mendengar semua yang terjadi diluar kamar.
Aku pun melangkah keluar ingin melihat siapa yang berteriak. Sesampainya aku diruang tengah, ternyata yang berteriak adalah Clara.
"Ada apa sih, kamu teriak-teriak gitu?" tanyaku seraya menghampirinya.
"Suka-suka gue lah?! Rumah ini juga rumah gue jangan sok ngatur deh, jadi istri kedua aja belagu. Ups! Gue lupa, lo kan istri kedua yang di anggap pembantu sama Raddan." Cacinya padaku.
"Terserah kamu mau bilang apa, karna aku tetaplah istri Mas Raddan."
"Percuma jadi istri kalo nggak dicintai. Raddan itu sekarang cuma cinta gue, jadi buang jauh-jauh pikiran lo buat dapetin hati Raddan lagi. Soalnya itu nggak akan ngaruh buat dia! Raddan itu tipe cowok setia, baginya hanya ada satu wanita yang bisa jadi pendampingnya dan itu cuma gue." Dengan angkuhnya Clara bersedekap dada sambil mengangkat kepalanya.
"Cinta palsu lebih tepatnya. Karna kamu mengaku-ngaku masih jadi kekasihnya disaat dia tengah amnesia. Bagaimana jika Mas Raddan mengingat kembali semuanya, apakah dia akan tetap menatap kamu penuh cinta?" balasku agar dia tidak terlalu sombong dengan hal yang fana ini.
"Itu tak akan terjadi. Buktinya selama empat tahun ini Raddan nggak pernah sekalipun mengingat lo lagi!"
"Aku akan kembali berusaha membuat dia ingat tentang semua kenangan kami." Tekadku mulai bangkit untuk membuat ingatan Mas Raddan kembali lagi.
"Coba aja kalo bisa?!" Ujar Clara meremehkan lalu dia melenggang pergi keluar entah kemana.
"Ya, Allah tolong bantu hambamu ini untuk memulihkan ingatan Mas Raddan. Aamiin ...."
***
Hari ini aku beres-beres rumah sekaligus olahraga, kebetulan Bi Imah
sedang pulang kampung jadi tidak ada yang mengurus rumah, aku yang tidak terbiasa diam dirumah tanpa melakukan apapun dengan senang hati melakukan ini semua.
Semua sudah beres sekarang saatnya aku siap-siap menemui Silvi.Siang ini Silvi mengajakku pergi nongkrong ke Kafe yang sedang hits. Sudah lama aku tidak bertemu dia sejak hari pernikahanku itu.
Sebelum berangkat aku menyempatkan mengirim pesan pada Mas Raddan, jika aku ingin pergi bersama temanku.
Me:
Mas Raddan, Hawa boleh pergi sama temen nggak? ke kafe doang kok.
Balasannya datang agak terlambat.
Mas Raddan:
Terserah.
Me:
Kalo begitu Hawa berangkat dulu, Mas. Assalamualaikum .
Mas Raddan:
Wa'alaikumssala m.
Sesudahnya dengan perasaan tenang aku menuju kafe sesuai arahan Silvi. Seperti biasa aku selalu membawa si Mentik alias motor Metic tercantik kesayanganku.
Lebih nyaman berkendara menggunakan motor ketimbang mobil. Kalo macet bisa cari celah kosong buat nyalip sedangkan mobil meskipun bagus dan sangat mahal dan tidak kepanasan tapi tetap aja kalo macet yang berhenti, nggak bisa nyalip-nyalip lincah kayak si Mentik ini.
Kafe yang Silvi maksud ternyata sebuah kafe baru yang terletak di jalan Garuda nomer 9 masih di Jakarta selatan.
Melewati pintu kaca kafe aku masuk seraya mengedarkan pandangan, hingga aku menemuka seorang gadis memakai jilbab hijau toska sedang memandang ke luar melalui dinding kaca kafe yang dibuat tembus pandang.
"Dorr!"
"Eh, ayam mati! Ayam mati! Hawaaa ...!" geramnya seraya mencubit lenganku cukup keras.
"Hehehe, kenapa?" tanyaku pura-pura tidak mengerti.
"Ihh ... lo jahil banget sih?! Lo kan tau gue ini latah, masih aja lo kagetin gue?!" marahnya sambil melototkan mata yang menurutku sangat lucu di wajahnya yang chubby itu.
"Hahaha, sori gue lupa kayaknya."
"Halah! Pura-pura sok lupa, padahal emang sengaja. Pasti lo kesepian nggak ketemu gue beberapa hari kan?"
"Enggak tuh! Hidup gue malah damai sentosa nggak ada mulut mercon lo itu."
"Ish! Udah, udah duduk dulu, kita makan-makan syantik. Jarang-jarang kita bisa ngumpul gini kan lo udah merid."
Aku mendudukkan diri di kursi seberang Silvi.
"Makanya cepetan nikah, biar nggak kesepian lagi."
"Pengen sih, tapi calonnya nggak peka-peka sama kode gue."
"Yang sabar ya, doain aja doi lo peka biar cepet dia nikahin lo."
"Aamiin. Eh, btw Raddan nggak buat lo nangis lagi, kan?"
"Nggak kok." Jawabku berbohong, aku tidak mungkin menceritakan masalah rumah tanggaku pada orang lain meskipun itu sahabatku sendiri. Terlebih tentang Mas Raddan yang telah menjadi suamiku, karna aib seorang suami juga aib bagi istrinya.
"Mbak!" panggil Silvi pada pelayan wanita yang lewat di samping meja kami.
"Iya, Mbak. Mau pesan apa?" tanya pelayan itu mendekati meja kami.
"Saya mau pesan, Nachos sama minumnya Ice Drink." Pesan Silvi yang langsung dicatat oleh pelayan wanita itu.
Aku masih membolak-balik buku menu dihadapanku, mencari makanan yang sesuai dengan keinginanku."Ka lo saya pesan, Chicken Fingers terus minumnya Milk Tea Bobba."
Pelayan wanita mulai mencatat lagi di note kecilnya lalu mendongak kembali,"apa masih ada yang mau dipesan lagi?"
"Nggak itu aja." Jawab Silvi membuat pelayan wanita itu undur diri ke belakang.
Melihat pelayan itu mengingatkan aku pada diriku yang dulu pernah menjadi pelayan restoran. Tapi saya karna kecerobohanku waktu itu, aku dipecat oleh Pak Edi atas perintah Mas Raddan.
"Haw! Hawaaa ... hoi?!" Silvi menepuk bahuku dengan keras membuat aku tersadar dari lamunanku.
"Ngelamunn ... aja kerjaan lo, kesambet baru tau rasa lo?!"
"Ihh ... kalo doa itu yang baik. Masa doain sahabat sendiri kesambet."
"Ya, habisnya lo juga sih, suka banget ngelamun."
"Sil, gue butuh kerjaan sampingan, lo ada kenalan nggak yang lagi buka lowongan kerja gitu?"
"Lo butuh duit tambahan buat berangkatin Ummi naik haji?"
"Iya. Duit gue masih kurang beberapa juta buat berangkatin Ummi naik haji. Lo bisa cariin lowongan kerja buat gue, nggak?"
"Nanti coba gue cariin ke temen-temen yang lain. Siapa tau ada yang lagi buka lowongan kerja."
"Makasih Silvi ..." aku bangkit dan langsung memeluk Silvi.
"Iya, sama-sama."
"Permisi ini pesanannya," ujar pelayan wanita itu seraya membawa nampan berisi pesanan kami berdua.
"Oh iya, makasih." Aku kembali duduk dikursiku yang tadi.
Kami menikmati makanan dengan hening, sudah menjadi kebiasaan kami berdua jika makan tidak boleh ada obrolan.
Aku mulai menyantap makanan yang kupesan Chiken Fingers ini enak, ini pertama kalinya aku memakannya. Nanti aku akan mencoba membuatnya sendiri dirumah.
Sama halnya dengan minuman yang kupesan ini, aku belum pernah merasakannya. minumannya enak perpaduan susu dan tehnya menyatu dengan baik, apalagi dengan tambahan bubble yang sering disebut dengan bobba. Minuman khas Taiwan ini sangat populer dikalangan milenial saat ini sehingga banyak kafe-kafe yang menambahkan minuman ini ke daftar menu mereka.
"Haw, gue ke toilet dulu ya, kebelet banget soalnya."
Aku hanya mengelengkan kepala melihat Silvi yang sudah melangkah ke toilet seraya memegangi perut. Lalu kusesap lagi minuman yang masih tersisa digelas, sambil menunggu Silvi kembali.
Sedang asik minum tiba-tiba ada seseorang yang memanggilku dari arah belakang, membuatku menoleh.
"Halo Bu Hawa, kebetulan ketemu disini, sendirian Bu?" tanya seorang pria yang sudah berdiri di samping mejaku.
"Enggak kok Pak, saya datang sama Silvi." Jawabku.
"Oh sama Bu Silvi, boleh saya ikut duduk disini?"
"Silakan duduk Pak Rama. Lagian kafe ini bukan punya saya, jadi saya nggak ada hak buat ngelarang Bapak duduk disini."
Pak Rama duduk dikursi tengah yang masih tersisa."Bisa aja Bu Hawa bercandanya."
"Yang saya omongin itu fakta, Pak. Kalo Bapak sendiri ke sini sama siapa?"
"Maunya sih sama istri, tapi nggak ada yang mau jadi istri saya, Bu."
"Ah, masa. Coba Bapak amati sekitar siapa tahu ada yang nyantol." Ternyata Pak Rama memang tidak peka terhadap kode keras yang diberikan oleh Silvi, bahwa dia menyukai Pak Rama.
"Pak Rama, kalo Bapak sendiri ada seseorang yang bapak sukai?" tanyaku agar semuanya jelas, jika Pak Rama menyukai seseorang jelas saja Pak Rama tidak bisa menangkap kode dari Silvi.
"Ada. Tapi saya merasa belum cukup yakin untuk mengutarakan perasaan saya padanya."
Ternyata benar dugaanku, lalu Silvi bagaimana?"oh begitu. Saya boleh tau siapa orang yang Bapak sukai?"
"Sebenarnya ..."
"Loh, Pak Rama kok bisa ada disini?" tanya Silvi yang sudah kembali dari toilet.
"Oh kebetulan saya juga ingin makan disini, trus pas lagi cari tempat duduk saya liat Bu Hawa jadi saya ikut duduk disini. Bolehkan saya duduk disini?"
"Oh boleh, boleh Pak. Saya malah senang Bapak ikut duduk disini, jadi tambah rame ngumpulnya." Silvi mengembangkan senyum termanisnya lalu duduk kembali dikursinya dengan gaya yang anggun. Cinta memang luar biasa, bisa mengubah seseorang, buktinya Silvi yang sedikit urakan saja berubah menjadi anggun hanya agar terlihat cantik dimata orang yang dia cintai.
***
Pukul 5 sore aku baru pulang, ternyata Silvi tidak hanya mengajakku ke kafe aja tapi juga belanja ke Mall sekalian tp-tp sama Pak Rama biar lebih lama gitu, katanya. Ada-ada saja sahabatku yang satu itu, kalo sudah mencintai seseorang dia akan total melakukan apapun agar orang itu mencintainya juga. Semoga saja orang yang disukai Pak Rama itu Silvi, aku tidak tega melihat Silvi patah hati jika cintanya bertepuk sebelah tangan.
Akhirnya aku juga ikut belanja tapi bukan buat aku, aku membeli sebuah kemeja untuk Mas Raddan. Soal ukuran aku yakin pas, karna aku menanyakan ukuran baju Pak Rama karna badannya kulihat tidak jauh berbeda dengan Mas Raddan.
Memasuki rumah suasana sepi yang menyambutku. Sepetinya Clara juga belum pulang padahal tadi dia yang pergi duluan ketimbang aku.
Karna aku sudah sholat ashar di musholla Mall, jadi sekarang aku tinggal menyiapkan makanan untuk nanti makan malam.
Aku mulai mengambil bahan-bahan yang akan kugunakan untuk memasak makanan. Rencananya aku akan memasak tiga macam menu makanan.
Aku sudah memutuskan untuk masak udang cripsy, sayur asem dan ayam sambel ijo.
Bi Imah sedang pulang kampung sejak beberapa hari yang lalu. Karna anak bungsunya sedang sakit. Aku sungguh tidak tega sehingga aku langsung meminta Mas Raddan untuk memberikan cuti yang panjang agar Bi Imah dapat merawat anaknya hingga sembuh, sebagai gantinya aku yang akan mengurus rumah selama Bi Imah cuti kerja.
Aku mulai mencuci sayur-sayuran yang akan aku masukkan ke dalam sayur asem nantinya, setelahnya gantian aku mencuci udang dan ayam yang telah aku bersihkan berulang kali agar bau amisnya hilang.
Satu jam kemudian semuanya sudah siap dimeja makan tinggal menunggu Mas Raddan dan Clara pulang.
Tepat pukul enam lebih dua menit Mas Raddan pulang, aku segera menyambutnya di pintu depan.
"Sini Mas, Hawa bawain tasnya." Tanganku terulur untuk mengambil tas dari tangan Mas Raddan.
"Tidak perlu, saya bisa membawanya sendiri."
"Kalo gitu Hawa bawain jasnya, mau?"
"Saya tidak perlu bantuanmu. Jadi tinggalkan saya sendiri."
"Oh, apa Hawa buatin teh aja buat Mas?"
"Saya bilang pergi ya pergi?!" bentak Mas Raddan yang terlihat lelah. Mungkin karna lelah harus bekerja didua tempat sekaligus, seharusnya aku mengerti dan tidak menganggunya.
"Maafin Hawa, kalo Hawa ganggu. Kalo begitu Hawa pergi dulu," aku langsung melangkah ke arah kamar Mas Raddan untuk menyiapkan air hangat, siapa tahu itu dapat menghilangkan rasa lelahnya.
Setelahnya aku kembali ke kamarku untuk menunaikan sholat maghrib karna azan sudah berkumandang.
Sudah waktunya makan malam, aku segera melangkah ke dapur untuk memanaskan sayur asem yang mungkin saja sudah dingin. Semuanya sudah siap, aku menyiapkan tiga piring diatas meja sambil menunggu Mas Raddan pulang dari masjid.
Bunyi pintu depan terbuka langsung membuatku beranjak berdiri untuk menyambut Mas Raddan. Ternyata Mas Raddan tidak sendirian ada Clara di sampingnya yang baru saja pulang.
"Mas aku ke atas dulu, mau mandi. Sini sajadahnya aku bawain." Clara mendaratkan ciuman dipipi Mas Raddan kemudian pergi ke kamar seraya membawakan sajadah milik Mas Raddan.
Kenapa hatiku terasa sangat perih melihat kemesraan mereka berdua, harusnya aku tidak boleh merasa secemburu ini pada Clara. Bagaimana pun juga Clara istri Mas Raddan yang mempunyai hak untuk itu. Ya Allah hamba mohon tolong hilangkan rasa cemburu yang berlebihan dalam hati hamba.Hamba tidak ingin para setan itu memperdaya hamba dengan tipu muslihatnya hanya karna rasa cemburu hamba ini.
"Mas Raddan makan malam sudah siap, Mas mau makan sekarang biar Hawa siapin?" tanyaku.
"Kamu nggak perlu seperti ini, melaksanakan kewajiban seorang istri pada suaminya. Saya menikahi kamu itu karna wasiat dari Ayah saya, jadi kamu bisa bebas melakukan hal apapun, tanpa merasa terbebani dengan kewajiban itu. Saya juga tau kamu menyetujui pernikahan ini hanya karna wasiat itu, kan?"
"Tidak Mas, Hawa menerima pernikahan ini karna Allah dan juga karna rasa ..."
"Udah cukup! Saya nggak mau dengar apapun lagi dari mulut kamu?!" sebelum pergi Mas Raddan membanting kopiah yang dikenakannya ke meja.
Sebenarnya kesalahan apa yang aku lakukan hingga Mas Raddan terlihat sangat marah padaku. Padahal aku mau menikah dengan Mas Raddan karna Allah dan rasa cinta yang kukira sudah hilang ternyata masih bersemayam dengan baik di dalam telung hatiku.
________
#JWB9
Part 9
Rumah baru semoga aku betah disini dan semoga ridho Allah selalu menyertaiku sehingga rumah ini bisa disukai oleh para malaikat sehingga kebahagiaan selalu memenuhi rumah ini, Aamiin.
"Bismillah ..." ucapku seraya melangkahkan kaki kananku memasuki rumah ini.
"Bi Imah! Bi Imah!" teriak Mas Raddan memanggil seseorang.
Dari arah belakang yang kutebak adalah dapur datang seorang wanita setengah baya dengan tergopoh-gopoh sambil memegang lap.
"Ada apa Tuan?" tanya wanita itu dengan napas yang masih ngos-ngosan.
"Tunjukan kamar yang akan dia tempati!" tunjuk Mas Raddan padaku kemudian dia pergi sambil menggandeng Clara menaiki lantai dua rumah ini.
"Mari Nyonya saya tunjukkan kamarnya," wanita setengah baya itu mempersilakan dengan tangan memberi isyarat agar aku berjalan terlebih dulu. Kuusap air mataku yang sempat menetes, kuraih koper milikku hendak menyeretnya namun wanita yang dipanggil Bi Imah itu mengambil alih koperku untuk dibawanya.
"Biar saya saja, Nyonya tinggal jalan mengikuti saya."
"Jangan panggil saya Nyonya panggil Hawa saja, rasanya saya tidak pantas dipanggil seperti itu karna bukan saya yang menggaji Bibi."
"Tapi Nyonya istri Tuan berarti Nyonya majikan saya, tak pantas rasanya jika saya hanya memanggil nama saja."
"Kalo begitu panggil saya dengan sebutan Neng, itu terdengar lebih baik."
"Baiklah Neng Hawa, mari saya antar ke kamar Eneng."
Aku mengangguk melangkah dibelakangnya mengikuti.
***
Tak terasa sudah hampir seminggu aku tinggal disini.
Besok aku sudah mulai bekerja lagi, bukannya aku gila kerja karna hanya meminta cuti seminggu lebih beberapa hari.
Aku juga sebenarnya ingin cuti lama untuk menghabiskan bulan madu berdua seperti pasangan suami istri lainnya tapi apa boleh buat jika Mas Raddan tidak menginginkan hal itu dengan alasan masih banyak pekerjaan yang belum dia selesaikan karna terhambat oleh pernikahan kami.
Pikiranku mulai melayang, apakah seseorang yang mengalami amnesia bisa membuat kepribadian serta perilakunya ikut berubah? Ataukah itu hanya terjadi pada kasus Mas Raddan saja.
Flasback On
"Pacarku Sayang, lagi ngapain?" tanya suara berat milik pria berbadan atletis yang langsung mendudukkan diri di sebelahku.
"Kepo!" sahutku seraya menjauhkan majalah yang sedang kubaca dari jangkauan pandangan Mas Raddan.
"Pelit banget sih, liat doang aja nggak boleh?!" dengusnya sambil memalingkan wajah, ngambek.
"Gitu doang aja ngambek, situ laki apa bukan?" godaku yang semakin membuatnya merajuk.
"Aku pergi nih, kalo kamu masih ngambek?" ancamku yang ampuh buat dia kembali menoleh ke arahku.
"Eh, jangan dong! Aku kan kesini mau ngapel masa ditinggalin,"
"Ya udah jangan kepo gitu. Kalo masih mau disini, diam terus duduk yang manis."
"Iya deh, tapi aku penasaran liat apa sih kamu, sampe senyum-senyum gitu bacanya? Jangan-jangan ada gambar cowok ya di situ?" tuduhnya ngawur.
"Oh, banyak banget! Ganteng-ganteng
"Siniin majalahnya!" pintanya berusaha merebut majalah itu dari tanganku.
"Nggak, nggak ada aku bohong." Sebisa mungkin aku menjauhkan majalah itu.
"Aku nggak percaya sebelum aku liat sendiri, jadi siniin majalahnya." Dia berhasil merebut majalah itu dari tanganku lalu membuka halamannya dengan cepat, mencari-cari gambar pria yang mungkin dia temui disana.
"Udah puas liatnya. Aku bilang nggak ada, aku bilang kayak tadi soalnya kamu nuduh-nuduh aku sembarangan sih?!" kesalku.
"Maaf deh. Nggak lagi," sesalnya.
"Kamu selalu bilang 'aku cinta banget sama kamu, Ara' tapi kayak gini aja kamu udah su'udzon sama aku. Kalo cinta itu, harus dilandasi sama rasa kepercayaan satu sama lain."
"Iya, maaf. Aku percaya sama kamu tapi aku nggak bisa percaya sama cowok-cowok yang suka deketin kamu."
"Mulai sekarang mending kurang-kurangin
"Oh ... tentu tidak bisa! Malahan aku harus semakin posesif sama kamu, biar kamu nggak bisa berpaling ke cowok lain."
"Terserah kamu aja, aku males debat sama kamu. Siniin majalahnya aku mau baca lagi!" kurebut majalah itu dari tangannya.
"Sebenarnya itu majalah apaan sih?"
Kuperlihatkan bagian covernya pada Mas Raddan agar dia bisa membacanya sendiri.
"Oh destinasi liburan, emang kamu mau liburan kemana?" tanyanya seraya ikut melihat ke halaman yang sedang kubuka.
"Turki? Kenapa kamu pengen banget ke sana?" tanya lagi Mas Raddan seraya ikut melihat majalah yang menampilkan Ikon kota Istanbul.
"Aku kagum sama keindahan kota ini. Kota Istanbul, Turki adalah kota yang sangat ingin aku kunjungi." Anganku melayang membayangkan bisa bertandang ke kota yang pernah dipimpian oleh kekaisaran Ottoman itu.
"Oke, aku akan mewujudkan impian kamu untuk berlibur ke sana tapi nanti setelah kita menikah sekalian honey moon buat kita." Janjinya padaku. Yang kusambut dengan gembira.
Flasback Off
Lamunanku buyar ketika terdengar suara seseorang berteriak dari ruang tengah. Kamar yang kutempati ada dilantai dasar sehingga aku dapat dengan jelas mendengar semua yang terjadi diluar kamar.
Aku pun melangkah keluar ingin melihat siapa yang berteriak. Sesampainya aku diruang tengah, ternyata yang berteriak adalah Clara.
"Ada apa sih, kamu teriak-teriak gitu?" tanyaku seraya menghampirinya.
"Suka-suka gue lah?! Rumah ini juga rumah gue jangan sok ngatur deh, jadi istri kedua aja belagu. Ups! Gue lupa, lo kan istri kedua yang di anggap pembantu sama Raddan." Cacinya padaku.
"Terserah kamu mau bilang apa, karna aku tetaplah istri Mas Raddan."
"Percuma jadi istri kalo nggak dicintai. Raddan itu sekarang cuma cinta gue, jadi buang jauh-jauh pikiran lo buat dapetin hati Raddan lagi. Soalnya itu nggak akan ngaruh buat dia! Raddan itu tipe cowok setia, baginya hanya ada satu wanita yang bisa jadi pendampingnya dan itu cuma gue." Dengan angkuhnya Clara bersedekap dada sambil mengangkat kepalanya.
"Cinta palsu lebih tepatnya. Karna kamu mengaku-ngaku masih jadi kekasihnya disaat dia tengah amnesia. Bagaimana jika Mas Raddan mengingat kembali semuanya, apakah dia akan tetap menatap kamu penuh cinta?" balasku agar dia tidak terlalu sombong dengan hal yang fana ini.
"Itu tak akan terjadi. Buktinya selama empat tahun ini Raddan nggak pernah sekalipun mengingat lo lagi!"
"Aku akan kembali berusaha membuat dia ingat tentang semua kenangan kami." Tekadku mulai bangkit untuk membuat ingatan Mas Raddan kembali lagi.
"Coba aja kalo bisa?!" Ujar Clara meremehkan lalu dia melenggang pergi keluar entah kemana.
"Ya, Allah tolong bantu hambamu ini untuk memulihkan ingatan Mas Raddan. Aamiin ...."
***
Hari ini aku beres-beres rumah sekaligus olahraga, kebetulan Bi Imah
sedang pulang kampung jadi tidak ada yang mengurus rumah, aku yang tidak terbiasa diam dirumah tanpa melakukan apapun dengan senang hati melakukan ini semua.
Semua sudah beres sekarang saatnya aku siap-siap menemui Silvi.Siang ini Silvi mengajakku pergi nongkrong ke Kafe yang sedang hits. Sudah lama aku tidak bertemu dia sejak hari pernikahanku itu.
Sebelum berangkat aku menyempatkan mengirim pesan pada Mas Raddan, jika aku ingin pergi bersama temanku.
Me:
Mas Raddan, Hawa boleh pergi sama temen nggak? ke kafe doang kok.
Balasannya datang agak terlambat.
Mas Raddan:
Terserah.
Me:
Kalo begitu Hawa berangkat dulu, Mas. Assalamualaikum
Mas Raddan:
Wa'alaikumssala
Sesudahnya dengan perasaan tenang aku menuju kafe sesuai arahan Silvi. Seperti biasa aku selalu membawa si Mentik alias motor Metic tercantik kesayanganku.
Lebih nyaman berkendara menggunakan motor ketimbang mobil. Kalo macet bisa cari celah kosong buat nyalip sedangkan mobil meskipun bagus dan sangat mahal dan tidak kepanasan tapi tetap aja kalo macet yang berhenti, nggak bisa nyalip-nyalip lincah kayak si Mentik ini.
Kafe yang Silvi maksud ternyata sebuah kafe baru yang terletak di jalan Garuda nomer 9 masih di Jakarta selatan.
Melewati pintu kaca kafe aku masuk seraya mengedarkan pandangan, hingga aku menemuka seorang gadis memakai jilbab hijau toska sedang memandang ke luar melalui dinding kaca kafe yang dibuat tembus pandang.
"Dorr!"
"Eh, ayam mati! Ayam mati! Hawaaa ...!" geramnya seraya mencubit lenganku cukup keras.
"Hehehe, kenapa?" tanyaku pura-pura tidak mengerti.
"Ihh ... lo jahil banget sih?! Lo kan tau gue ini latah, masih aja lo kagetin gue?!" marahnya sambil melototkan mata yang menurutku sangat lucu di wajahnya yang chubby itu.
"Hahaha, sori gue lupa kayaknya."
"Halah! Pura-pura sok lupa, padahal emang sengaja. Pasti lo kesepian nggak ketemu gue beberapa hari kan?"
"Enggak tuh! Hidup gue malah damai sentosa nggak ada mulut mercon lo itu."
"Ish! Udah, udah duduk dulu, kita makan-makan syantik. Jarang-jarang kita bisa ngumpul gini kan lo udah merid."
Aku mendudukkan diri di kursi seberang Silvi.
"Makanya cepetan nikah, biar nggak kesepian lagi."
"Pengen sih, tapi calonnya nggak peka-peka sama kode gue."
"Yang sabar ya, doain aja doi lo peka biar cepet dia nikahin lo."
"Aamiin. Eh, btw Raddan nggak buat lo nangis lagi, kan?"
"Nggak kok." Jawabku berbohong, aku tidak mungkin menceritakan masalah rumah tanggaku pada orang lain meskipun itu sahabatku sendiri. Terlebih tentang Mas Raddan yang telah menjadi suamiku, karna aib seorang suami juga aib bagi istrinya.
"Mbak!" panggil Silvi pada pelayan wanita yang lewat di samping meja kami.
"Iya, Mbak. Mau pesan apa?" tanya pelayan itu mendekati meja kami.
"Saya mau pesan, Nachos sama minumnya Ice Drink." Pesan Silvi yang langsung dicatat oleh pelayan wanita itu.
Aku masih membolak-balik buku menu dihadapanku, mencari makanan yang sesuai dengan keinginanku."Ka
Pelayan wanita mulai mencatat lagi di note kecilnya lalu mendongak kembali,"apa masih ada yang mau dipesan lagi?"
"Nggak itu aja." Jawab Silvi membuat pelayan wanita itu undur diri ke belakang.
Melihat pelayan itu mengingatkan aku pada diriku yang dulu pernah menjadi pelayan restoran. Tapi saya karna kecerobohanku waktu itu, aku dipecat oleh Pak Edi atas perintah Mas Raddan.
"Haw! Hawaaa ... hoi?!" Silvi menepuk bahuku dengan keras membuat aku tersadar dari lamunanku.
"Ngelamunn ... aja kerjaan lo, kesambet baru tau rasa lo?!"
"Ihh ... kalo doa itu yang baik. Masa doain sahabat sendiri kesambet."
"Ya, habisnya lo juga sih, suka banget ngelamun."
"Sil, gue butuh kerjaan sampingan, lo ada kenalan nggak yang lagi buka lowongan kerja gitu?"
"Lo butuh duit tambahan buat berangkatin Ummi naik haji?"
"Iya. Duit gue masih kurang beberapa juta buat berangkatin Ummi naik haji. Lo bisa cariin lowongan kerja buat gue, nggak?"
"Nanti coba gue cariin ke temen-temen yang lain. Siapa tau ada yang lagi buka lowongan kerja."
"Makasih Silvi ..." aku bangkit dan langsung memeluk Silvi.
"Iya, sama-sama."
"Permisi ini pesanannya," ujar pelayan wanita itu seraya membawa nampan berisi pesanan kami berdua.
"Oh iya, makasih." Aku kembali duduk dikursiku yang tadi.
Kami menikmati makanan dengan hening, sudah menjadi kebiasaan kami berdua jika makan tidak boleh ada obrolan.
Aku mulai menyantap makanan yang kupesan Chiken Fingers ini enak, ini pertama kalinya aku memakannya. Nanti aku akan mencoba membuatnya sendiri dirumah.
Sama halnya dengan minuman yang kupesan ini, aku belum pernah merasakannya. minumannya enak perpaduan susu dan tehnya menyatu dengan baik, apalagi dengan tambahan bubble yang sering disebut dengan bobba. Minuman khas Taiwan ini sangat populer dikalangan milenial saat ini sehingga banyak kafe-kafe yang menambahkan minuman ini ke daftar menu mereka.
"Haw, gue ke toilet dulu ya, kebelet banget soalnya."
Aku hanya mengelengkan kepala melihat Silvi yang sudah melangkah ke toilet seraya memegangi perut. Lalu kusesap lagi minuman yang masih tersisa digelas, sambil menunggu Silvi kembali.
Sedang asik minum tiba-tiba ada seseorang yang memanggilku dari arah belakang, membuatku menoleh.
"Halo Bu Hawa, kebetulan ketemu disini, sendirian Bu?" tanya seorang pria yang sudah berdiri di samping mejaku.
"Enggak kok Pak, saya datang sama Silvi." Jawabku.
"Oh sama Bu Silvi, boleh saya ikut duduk disini?"
"Silakan duduk Pak Rama. Lagian kafe ini bukan punya saya, jadi saya nggak ada hak buat ngelarang Bapak duduk disini."
Pak Rama duduk dikursi tengah yang masih tersisa."Bisa aja Bu Hawa bercandanya."
"Yang saya omongin itu fakta, Pak. Kalo Bapak sendiri ke sini sama siapa?"
"Maunya sih sama istri, tapi nggak ada yang mau jadi istri saya, Bu."
"Ah, masa. Coba Bapak amati sekitar siapa tahu ada yang nyantol." Ternyata Pak Rama memang tidak peka terhadap kode keras yang diberikan oleh Silvi, bahwa dia menyukai Pak Rama.
"Pak Rama, kalo Bapak sendiri ada seseorang yang bapak sukai?" tanyaku agar semuanya jelas, jika Pak Rama menyukai seseorang jelas saja Pak Rama tidak bisa menangkap kode dari Silvi.
"Ada. Tapi saya merasa belum cukup yakin untuk mengutarakan perasaan saya padanya."
Ternyata benar dugaanku, lalu Silvi bagaimana?"oh begitu. Saya boleh tau siapa orang yang Bapak sukai?"
"Sebenarnya ..."
"Loh, Pak Rama kok bisa ada disini?" tanya Silvi yang sudah kembali dari toilet.
"Oh kebetulan saya juga ingin makan disini, trus pas lagi cari tempat duduk saya liat Bu Hawa jadi saya ikut duduk disini. Bolehkan saya duduk disini?"
"Oh boleh, boleh Pak. Saya malah senang Bapak ikut duduk disini, jadi tambah rame ngumpulnya." Silvi mengembangkan senyum termanisnya lalu duduk kembali dikursinya dengan gaya yang anggun. Cinta memang luar biasa, bisa mengubah seseorang, buktinya Silvi yang sedikit urakan saja berubah menjadi anggun hanya agar terlihat cantik dimata orang yang dia cintai.
***
Pukul 5 sore aku baru pulang, ternyata Silvi tidak hanya mengajakku ke kafe aja tapi juga belanja ke Mall sekalian tp-tp sama Pak Rama biar lebih lama gitu, katanya. Ada-ada saja sahabatku yang satu itu, kalo sudah mencintai seseorang dia akan total melakukan apapun agar orang itu mencintainya juga. Semoga saja orang yang disukai Pak Rama itu Silvi, aku tidak tega melihat Silvi patah hati jika cintanya bertepuk sebelah tangan.
Akhirnya aku juga ikut belanja tapi bukan buat aku, aku membeli sebuah kemeja untuk Mas Raddan. Soal ukuran aku yakin pas, karna aku menanyakan ukuran baju Pak Rama karna badannya kulihat tidak jauh berbeda dengan Mas Raddan.
Memasuki rumah suasana sepi yang menyambutku. Sepetinya Clara juga belum pulang padahal tadi dia yang pergi duluan ketimbang aku.
Karna aku sudah sholat ashar di musholla Mall, jadi sekarang aku tinggal menyiapkan makanan untuk nanti makan malam.
Aku mulai mengambil bahan-bahan yang akan kugunakan untuk memasak makanan. Rencananya aku akan memasak tiga macam menu makanan.
Aku sudah memutuskan untuk masak udang cripsy, sayur asem dan ayam sambel ijo.
Bi Imah sedang pulang kampung sejak beberapa hari yang lalu. Karna anak bungsunya sedang sakit. Aku sungguh tidak tega sehingga aku langsung meminta Mas Raddan untuk memberikan cuti yang panjang agar Bi Imah dapat merawat anaknya hingga sembuh, sebagai gantinya aku yang akan mengurus rumah selama Bi Imah cuti kerja.
Aku mulai mencuci sayur-sayuran yang akan aku masukkan ke dalam sayur asem nantinya, setelahnya gantian aku mencuci udang dan ayam yang telah aku bersihkan berulang kali agar bau amisnya hilang.
Satu jam kemudian semuanya sudah siap dimeja makan tinggal menunggu Mas Raddan dan Clara pulang.
Tepat pukul enam lebih dua menit Mas Raddan pulang, aku segera menyambutnya di pintu depan.
"Sini Mas, Hawa bawain tasnya." Tanganku terulur untuk mengambil tas dari tangan Mas Raddan.
"Tidak perlu, saya bisa membawanya sendiri."
"Kalo gitu Hawa bawain jasnya, mau?"
"Saya tidak perlu bantuanmu. Jadi tinggalkan saya sendiri."
"Oh, apa Hawa buatin teh aja buat Mas?"
"Saya bilang pergi ya pergi?!" bentak Mas Raddan yang terlihat lelah. Mungkin karna lelah harus bekerja didua tempat sekaligus, seharusnya aku mengerti dan tidak menganggunya.
"Maafin Hawa, kalo Hawa ganggu. Kalo begitu Hawa pergi dulu," aku langsung melangkah ke arah kamar Mas Raddan untuk menyiapkan air hangat, siapa tahu itu dapat menghilangkan rasa lelahnya.
Setelahnya aku kembali ke kamarku untuk menunaikan sholat maghrib karna azan sudah berkumandang.
Sudah waktunya makan malam, aku segera melangkah ke dapur untuk memanaskan sayur asem yang mungkin saja sudah dingin. Semuanya sudah siap, aku menyiapkan tiga piring diatas meja sambil menunggu Mas Raddan pulang dari masjid.
Bunyi pintu depan terbuka langsung membuatku beranjak berdiri untuk menyambut Mas Raddan. Ternyata Mas Raddan tidak sendirian ada Clara di sampingnya yang baru saja pulang.
"Mas aku ke atas dulu, mau mandi. Sini sajadahnya aku bawain." Clara mendaratkan ciuman dipipi Mas Raddan kemudian pergi ke kamar seraya membawakan sajadah milik Mas Raddan.
Kenapa hatiku terasa sangat perih melihat kemesraan mereka berdua, harusnya aku tidak boleh merasa secemburu ini pada Clara. Bagaimana pun juga Clara istri Mas Raddan yang mempunyai hak untuk itu. Ya Allah hamba mohon tolong hilangkan rasa cemburu yang berlebihan dalam hati hamba.Hamba tidak ingin para setan itu memperdaya hamba dengan tipu muslihatnya hanya karna rasa cemburu hamba ini.
"Mas Raddan makan malam sudah siap, Mas mau makan sekarang biar Hawa siapin?" tanyaku.
"Kamu nggak perlu seperti ini, melaksanakan kewajiban seorang istri pada suaminya. Saya menikahi kamu itu karna wasiat dari Ayah saya, jadi kamu bisa bebas melakukan hal apapun, tanpa merasa terbebani dengan kewajiban itu. Saya juga tau kamu menyetujui pernikahan ini hanya karna wasiat itu, kan?"
"Tidak Mas, Hawa menerima pernikahan ini karna Allah dan juga karna rasa ..."
"Udah cukup! Saya nggak mau dengar apapun lagi dari mulut kamu?!" sebelum pergi Mas Raddan membanting kopiah yang dikenakannya ke meja.
Sebenarnya kesalahan apa yang aku lakukan hingga Mas Raddan terlihat sangat marah padaku. Padahal aku mau menikah dengan Mas Raddan karna Allah dan rasa cinta yang kukira sudah hilang ternyata masih bersemayam dengan baik di dalam telung hatiku.
________
#Jodoh_wasiat_b apak
#JWB10
Part 10
Pagi ini aku sudah siap untuk kembali kerutinitasku sehari-hari yaitu mengajar. Dengan pakaian gamis yang bermotif batik dengan jilbab abu-abu, aku keluar dari kamar ingin menyiapkan makanan untuk Mas Raddan dan juga Clara.
Pukul lima lewat tiga puluh menit, cukup untuk aku membuat sarapan sepertinya nasi goreng seafood lebih praktis. Kupasangkan celemek masak agar bajuku tidak kotor barulah aku mulai memasak.
Kusiapkan bahan-bahan yang akan kugunakan setelahnya aku mulai memotong cabai, bawang merah dan putih kemudian kupanaskan minyak lalu kumasukkan semua bumbu, telur, udang, setelahnya kumasukkan nasi putih semangkuk besar. Terakhir kutambahkan kecap, dan nasi goreng pun telah siap untuk disantap.
Kuletakkan mangkuk besar yang sudah kuisi nasi goreng diatas meja makan. Aku duduk memunggu Mas Raddan dan Clara bangun untuk sarapan. Ingin aku memanggil Mas Raddan ke atas lamgsung tapi aku takut Mas Raddan tidak menyukainya.
Terkadang aku bertanya dalam hati kenapa Mas Raddan menempatkan aku dilantai dasar. Apakah aku tidak pantas menempati kamar dilantai dua itu, setahuku ada banyak kamar kosong disana. Ah, tapi aku tidak boleh su'udzon seperti itu, siapa tahu Mas Raddan punya alasan yang baik menempatkan aku dikamar bawah.
Suara langkah membuatku tersadar dari lamunan. Mas Raddan terlihat baru saja menuruni anak tangga satu persatu dengan tangan yang sibuk mengikatkan dasi dikerah kemejanya.
"Mas, Hawa bantu ya memakai dasinya." Tawarku takut-takut.
Mas Raddan mendekat ke arahku. Jantungku kembali berdetak tidak normal, gugup dan hatiku menjadi berbunga-bunga. Ya Allah terima kasih akhirnya aku bisa melayani Mas Raddan dengan baik tanpa penolakannya.
Dengan tangan yang sedikit bergetar aku mulai menyimpulkan dasi itu dengan perlahan. Tapi ini aneh tidak seperti biasanya Mas Raddan memperbolehkan aku menyentuhnya, tapi ini juga merupakan suatu kemajuan yang bagus untuk hubunga kami.
Jantungku semakin tidak karuan saat menyadari tatapan Mas Raddan terus menerus tertuju ke arah wajahku atau hanya perasaanku saja.
"Sudah selesai." Kulihat Mas Raddan sedikit terlonjak mendengar suaraku barusan, ternyata dia melamun. Aku terlalu ke ge'eran berharap dia sedang menatapku.
Aku membalikkan tubuhku kembali menuju meja makan."Mas, sarapannya sudah siap."Dengan tidak bersemangat aku memulai sarapan pagi tanpa menoleh ke arah Mas Raddan lagi, sebisa mungkin aku menahan air mata yang sudah memenuhi pelupuk mataku. Rasanya sesakit ini saat aku berada didekatnya namun pikirannya melayang entah kemana.
Kini fokusku hanya menyelesaikan sarapan secepatnya dan segera berangkat ke sekolah untuk mengajar.
Dari ekor mataku aku menangkap pergerakan Mas Raddan yang mulai ikut sarapan bersamaku. Sekesal apapun aku terhadapnya tetap saja kewajiban seorang istri tetap kulaksanakan.
"Mau Hawa ambilin makannya, roti atau nasi goreng seafood?" tanyaku tanpa menoleh ke arahnya.
"Apa saja." Jawabnya singkat.
Ku sendokkan nasi goreng ke piringnya, setelahnya aku duduk kembali melanjutkan sarapanku.
"Clara kenapa nggak ikut sarapan?" tanyaku.
"Masih tidur." Aku hanya mengangguk kemudian melangkah ke arah tempat cuci piring.
"Setelah selesai sarapan, Mas letakin aja piringnya di sana nanti akan aku cuci sepulang kerja."
"Hawa berangkat sekarang, Assalamualaikum ." Pamitku seraya kucium dengan takzim tangan Mas Raddan.
Melangkah ke arah kamar, aku mengambil tas selempang yang berukuran cukup besar agar buku yang hendak kubawa muat kuletakkan didalamnya.
Kuraih kunci motorku yang ada di atas meja, kemudian aku keluar dari kamar menuju garasi.
***
Sampai digarasi aku mulai menghidupkan si Mentik tapi entah kenapa sudah berulang kali aku menstaternya tapi si Mentik tak kunjung hidup. Apa mungkin sudah waktunya servis motor? Karna takut terlambat aku memutuskan untuk naik angkot saja.
Berjalan melewati gerbang rumah langkahku berbelok keluar dari komplek perumahan ini.
Aku harus berjalan sekitar tujuh meter untuk menemukan angkot, sering aku lihat banyak orang yang menunggunya di sana.
Apa aku terlalu pagi untuk menunggu angkot, sebab tidak ada orang satu pun disini. Kulihat pergelangan tanganku jam menunjukkan pukul 06.20 tidak terlalu pagi lalu dimana orang-orang itu.
Apa mungkin mereka belum datang. Ya sudah aku menunggu disini dulu, barang kali nanti ada angkot lewat.
Tinn ... tinn ...
Bunyi kelakson motor membuatku menoleh ke sumber suara, ada sebuah motor yang mendekat ke arahku.
"Assalamualaiku m, Bu Hawa. Ibu lagi ngapain disini?" tanya pria itu seraya turun dari motor dengan helm yang masih terpasang dikepalanya.
"Siapa ya?" tanyaku bingung, mendengar pria itu memanggilku seperti dia mengenalku.
"Saya Rama. Oh pantas, Bu Hawa bingung ternyata helmnya belum saya lepas."
"Oh ... Pak Rama. Bapak kenapa ada disini?" aku bingung kenapa Pak Rama bisa ada dijalanan disekitar komplek.
"Saya warga dikomplek ini, rumah saya nomer 56 letaknya agak di ujung, yang bercat abu-abu." Jelas Pak Rama.
"Bapak warga baru itu, saya memang dengar sedikit dari tetangga sebelah, kalo ada orang yang baru pindah ternyata itu Pak Rama."
"Bu Hawa juga tinggal dikomplek ini, kok saya nggak pernah liat ya?"
"Memang saya lebih sering berada didalam rumah ketimbang diluar rumah. Kalo saya sedang ada waktu senggang kadang saya juga jalan-jalan disekitar komplek ini sekalian bersilaturahmi dengan para tetangga."
"Oh begitu, rumah Ibu yang mana kalo saya boleh tau. Saya kan masih baru disini, jadi saya butuh bantuan Ibu supaya saya bisa berbaur dengan warga sekitar."
"Em ... rumah saya yang-"
Tinn ... tinn ... tinnn ....
Suara klakson mobil sontak membuat kami menoleh ke arah belakang motor Pak Rama. Disana ada sebuah mobil Mercedes Benz berwarna hitam yang terus membunyikan klakson tepat dibelakang motor milik Pak Rama, mobil itu terlihat familiar dimataku. Nomer platnya juga aku hapal tapi aku pernah melihatnya dimana, ya?
Seketika mataku membelalak saat aku teringat sering melihat mobil itu, terparkir digarasi rumah yang berarti mobil itu milik Mas Raddan.
"Pak Rama saya permisi dulu. Ada urusan yang harus saya selesaikan sekarang. Assalamualaikum !"
"Tapi, Bu ..." Telingaku tidak dapat menangkap ucapan Pak Rama hingga selesai, karna aku sudah melangkah dengan cepat ke arah mobil Mas Raddan.
Sesampainya aku disamping mobil itu jendelanya sudah terbuka lalu terdengar seruan Mas Raddan yang menyuruhku masuk ke dalam mobil.
Aku pun mematuhi perintahnya, setelah aku duduk menyerong melihat ke arahnya,"ada apa Mas, menyuruhku masuk?"
"Pakai sabuk pengamannya!" aku mematuhinya lagi. Kupasang sabuk pengaman itu melingkari tubuhku.
"Mas sebenarnya ada apa?"
"Dimana alamat sekolah tempat kamu mengajar?"
"Di jalan garuda nomer 20." Aneh sedari tadi Mas Raddan tidak menjawab pertanyaanku malah memerintahkan hal yang lain.
Sekarang aku memilih diam karna bertanya pun jawabannya tidak pernah nyambung dengan hal yang kutanyakan.
Sepertinya benar dugaanku ada yang aneh dengan sikap Mas Raddan hari ini, liat saja kelakuannya sekarang yang sedikit-sesikit
melihat ke spion yang ada di sampingku. Aku yang mulai penasaran pun
ikut melongok ke arah spion mobil, yang sedang diperhatikan oleh Mas
Raddan. Belum sempat kulihat dengan jelas apa yang ada dibelakang sana,
tiba-tiba Mas Raddan berbicara, membuat aku kembali menoleh ke arahnya.
"Mas ngomong apa barusan, Hawa kurang jelas dengernya?"
"Cowok yang tadi sama kamu itu siapa?" tanya Mas Raddan mengulangi perkataanya.
"Cowok?" otakku tiba-tiba menjadi lelet mencerna ucapan Mas Raddan.
"Yang tadi ngobrol sama kamu." Perjelas Mas Raddan lagi.
"Oh ... Pak Rama."
"Iya, mungkin saya kan nggak tau namanya siapa. Ada hubungan apa kamu sama dia?"
"Hubungan? Kami hanya sebatas rekan kerja, dia guru baru di SD IT Darussalam tempat aku mengajar."
"Oh, begitu. Lalu kenapa dia bisa berada di daerah komplek kita, dia mau jemput kamu?"
Pertanyaan Mas Raddan semakin aneh saja tapi aku harus tetap menjawabnya siapa tahu penting untuk Mas Raddan."Pak Rama itu tetangga baru kita Mas, rumahnya yang bercat abu-abu. Oh, kebetulan Mas. Pak Rama lagi cari teman buat tanya-tanya seputar kegiatan di komplek ini, Mas mau Hawa kenali ke dia?"
"Nggak usah. Kalo saya mau, saya bisa berkenalan sendiri dengan dia." Ketus Mas Raddan.
"Oh, begitu." Setelahnya tidak ada percakapan lagi diantara kami hingga aku sampai disekolah tempatku mengajar.
"Assalamualaiku m, hati-hati di jalan." Kuraih tangan Mas Raddan lalu kucium dengan takzim, barulah kemudian aku melangkah keluar dari mobil.
"Wa'alaikumssal am, iya." Jawabnya.
***
"Ibu mau memberikan pertanyaan untuk kalian, siapa diantara kalian yang bisa menjawabnya, Ibu boleh istrirahat terlebih dulu. Mau tidak?"
"Mau, Bu!" Jawab semua anak-anak dengan senang. Mengajar anak-anak memang lebih enak dengan permainan seperti ini.
"Pertanyaan pertama, rukun iman ada berapa? Yang tau jawabannya angkat tangan lalu jawabnya sambil berdiri."
"Anna tau, Bu!" seorang gadis kecil yang manis mengangkat tangannya lalu berdiri," rukun iman ada enam, Bu."
"Iya benar, Anna boleh istirahat sekarang!"
"Yeay!" Anna maju lalu menghampiriku untuk menyalimi tanganku kemudian berlari keluar kelas dengan riang.
"Sekarang pertanyaan kedua, rukun islam ada berapa?"
"Rio bisa jawab, Bu. Rukun islam ada lima." Jawab Rio sambil berdiri.
"Pinter, jawaban Rio juga benar. Rio boleh istirahat sekarang."
"Dan sekarang pertanyaan ketiga, sebutkan rukun iman yang ketiga?"
"Aan, bisa jawab Bu!"
"Lina, juga bisa jawab Bu!"
"Bu Hawa, Nita juga mau jawab!"
"Jangan berebut, Ibu masih ada banyak pertanyaan. Karna yang tunjuk tangan Aan dulu, jadi Ibu persilakan Aan yang menjawab pertanyaanya terlebih dahulu,"
"Rukum iman yang ketiga adalah iman kepada kitab-kita Allah."
"Benar sekali, Aan juga boleh istirahat sekarang."
Kulihat Lina dan Nita mengerucutkan bibir, sedih."Jangan sedih, Ibu masih ada banyak pertanyaan. Sekarang coba jawab lagi siapa Nabi yang bisa berbicara dengan binatang?"
"Lina tau, Bu! Nabi Sulaiman A.S benar tidak, Bu?"
"Iya betul. Lina juga sudah boleh istirahat."
Teng ... teng ... teng ... teng ....
"Tanya jawabnya dilanjutkan minggu depan lagi ya, karna jam pelajaran Ibu sudah selesai. Sampai jumpa lagi, Assalamualaikum !"
"Wa'alaikumssal am!" jawab semuanya kompak kemudian mereka berbondong-bond ong keluar kelas.
Segera kurapihkan kembali buku-buku yang masih berserakan dimeja, setelah itu aku keluar kelas menuju ke ruang guru.
Sesampainya disana kulihat ada Silvi sedang duduk dikursinya sambil bercermin dikaca kecil miliknya. Ini cukup aneh, tidak biasanya Silvi suka berdandan seperti sekarang.
Silvi yang kukenal itu sebenarnya tripikel gadis tomboi, yang kemana-mana lebih suka memakai celana dari oada rok. Dia juga menyukai atasan oversize dengan warna army atau jaket dengan warna yang sama. Silvi pernah mengatakan kesukaanya pada warna army itu sejak dia menjadi fans gril dari boyband ternama korea yaitu BTS. Terus malah keterusan sampai sekarang, tapi akhir-akhir ini dia terlihat agak feminim, apa ini pengaruh cintanya terhadapa Pak Rama. Jika benar, Fiks! Silvi serius terhadap perasaannya pada Pak Rama.
Kulangkahkan kakiku ke depan meja Silvi. Cukup lama aku berdiri diam didepannya tapi gadis berjilbab maroon yang saat ini sedang asik berdandan itu masih juga tak menyadari kedatanganku. Sungguh hebat, kefokusannya saat ini patut di acungin jempol.
"Ekhm! Serius amat Mbak dandannya, sampe nggak ngeh, kalo gue dateng."
Silvi yang sedang memoleskan liptint ke bibirnya terlonjak kaget.
"Loh Hawa, sejak kapan lo ada disini?"
"Sejak kemarin?!"
"Ihh .. yang bener!"
"Udah cukup lama gue berdiri disini sambil liatin lo yang senyam-senyum dikaca."
"Lama dong! Kok gue nggak nyadar, ya?" Silvi menggaruk-garuk kepalanya, bingung.
"Lo terlalu fokus dandan. Gue mau nanya, sejak kapan lo suka dandan?"
"Emm .. sejak ..., eh makan dulu yok gue laper." Silvi tiba-tiba mengalihkan pembicaraan, dia mengajakku tapi tatapannya mengarah ke belakangku. Saat aku mengikuti arah pandang Silvi, aku menemukan Pak Rama yang baru saja masuk ke dalam kantor. Pantas Silvi mengalihkan pembicaraan.
"Bentar dulu, gue mau naruh-"
Silvi mengambil paksa semua buku yang ada di tanganku lalu meletakkannya dengan cepat dimejaku. Belum sempat aku protes, Silvi sudah menarikku keluar dari kantor.
Setelah agak jauh barulah Silvi melepaskan genggaman tangannya dari lenganku.
"Sil, kenapa sih! Lo kok buru-buru banget tadi?"
"Gue malu sama Pak Rama."
"Sejak kapan seorang Silvi punya malu, bukannya biasanya lo yang suka malu-maluin diri sendiri?"
"Ish, jangan ungkit masa lalu. Gue udah mau berubah menjadi lebih baik kok, sekarang."
"Saran gue, lo berubah itu karna Allah jangan hanya karna Pak Rama. Supaya perubahan lo itu permanen, coba kalo lo berubah cuma buat dapetin hati Pak Rama. Seandainya aja nih, Pak Rama suka sama orang lain trus lo kecewa, marah dan akhirnya kembali seperti semula. Semuanya akan sia-sia kalo lo ngelakuinnya bukan karna Allah."
"Astaghfirullah , untung lo ingetin gue Haw. Ya Allah maafkan hamba karna hampir saja hamba melupakan-Mu."
"Gue bakal mencoba berubah menjadi lebih baik, hanya karna Allah." Lanjut Silvi penuh tekad.
"Syukur, Alhamdulillah. Trus sekarang mau ngapain?"
"Makan, gue udah laper banget." Silvi kembali menarik tanganku menuju kantin sekolah.
***
Sekarang kami berdua tengah asik menyantap semangkuk mie ayam bakso, bahkan aku sudah menghabiskan satu porsi dan ini porsi yang keduaku.
"Emang lo belum kenyang makan seporsi, sampe nambah lagi?"
"Belum. Lo kan tau mie ayam itu makanan kesukaan gue dan selama cuti kemarin gue nggak bisa makan mie ayam buatan Bu Darmi." Bu Darmi itu penjual mie ayam di kantin sekolah ini.
Kulihat Silvi hanya menggelengkan kepalanya, kemudian melanjutkan menyantap mie ayam dimangkuknya.
Beberapa menit kemudian kami selesai makan tapi kami masih duduk disini, sembari menikmati cemilan yang baru saja kami beli sebagai pencuci mulut. Memang sedikit aneh, tapi itulah kebiasaan kami berdua.
Dari kantin ini aku bisa melihat jelas apa saja yang dilakukan anak-anak dilapangan basket. Ada yang sedang bermain kejar-kejaran, bermain petak umpet, lompat tali dan masih banyak lagi. Masa anak-anak memang indah, mereka hanya memikirkan bermain dan bermain. Dulu saat masih kecil aku ingin cepat dewasa, namun saat sudah dewasa aku ingin kembali menjadi anak kecil, sungguh manusia itu tidak pernah merasa puas seperti diriku ini.
"Hawa, pinjem hape lo dong?" ucapan Silvi menginterupsi lamunanku.
Tanganku terulur untuk meraih ponsel yang ku taruh di saku gamisku. Setelah dapat langsung kuserahkan pada Silvi.
Silvi meraihnya dan langsung membuka screen lock ponselku. Jangan tanya bagaimana Silvi bisa tahu kode sandi ponselku, itu karna Silvi yang membuatkan kode sandi untuk ponselku. Kalo aku mana bisa membuat hal seperti itu.
"Haw, hape lo sih udah ganti jadi lebih bagus tapi kenapa aplikasinya sedikit banget. Sosial media aja lo cuma punya Whatssap itu pun lo buat akunnya, karna Pak Kepsek mewajibkan semua guru untuk masuk grup yang ada di Whatssap. Facebook, Instagram, Tik-tok, Twitter, sama Line lo sama sekali nggak punya. Hebat, hape I-phone rasa jangkrik."
"Lo tau sendiri gue tuh nggak bisa pake hape begituan. Gue lebih nyaman pake hape jangkrik yang dulu." Sebenarnya ponsel bermerk apel kegigit itu adalah pemberian dari Bunda saat tahu ponselku yang milikku dulu sudah rusak dan tidak bisa diperbaiki lagi.
Aku sudah mengatakan pada Bunda nanti aku akan membeli ponsel baru. Tapi Bunda memaksa ingin membelikan ponsel untukku, waktu itu Bunda mengajakku pergi ke counter handphone. Bunda membebaskan aku untuk memilih ponsel mana yang aku suka. Saat aku memilih ponsel tipe jangkrik dan menunjukkannya pada Bunda, Bunda langsung tidak setuju lalu memilihkan ponsel keluaran terbaru untukku.
"Gue tuh pusing kalo pake hape bagus kek gini. Pencetannya cuma tiga disamping, aplikasinya bingungin, mana gede banget kalo masukin saku kadang nggak muat."
"Ya ampun, Hawa ... lo bisa pake laptop masa pake hape beginian aja lo nggak bisa."
"Itu kasusnya beda, kalo laptop aku udah belajar sejak SMA. Tapi hape kayak gini kan, aku nggak pernah belajar jadi bingung makenya."
"Makannya gaul dikit. Sini gue ajarin sekalian gue mau unduh aplikasi yang gue sebutin tadi biar lo nggak ketinggalan jaman!"
***
Pukul satu siang aku sudah sampai dirumah, aku pulang menggunakan ojol. Tidak mungkin kan aku meminta Mas Raddan untuk menjemputku karna aku tidak mau merepotkanya, mungkin saat ini dia sedang sibuk bekerja.
Rumah masih sepi, Bi Imah belum balik dari kampungnya. Aku bergegas ke kamar untuk menaruh tasku dan mandi.
Sejam kemudian aku keluar kamar, mengedarkan pandangan keseluruh penjuru rumah. Lalu kuputuskan untuk membersihkannya
agar terasa lebih nyaman. Dimulai dengan mencuci piring bekas sarapan
tadi pagi, menyapu, membersihkan meja, membuang sampah ke depan dan
terakhir aku ingin menganti korden yang sudah terlihat kusam.
Aku berjalan ke arah gudang untuk mencari kursi tinggi agar mudah saat melepas dan memasang kordennya nanti. Kubuka satu persatu kain putih yang menutupi barang-barang yang ada disana.
Bruk!
Tak sengaja aku menjatuhkan kardus berukuran sedang, terlihat barang-barang didalamnya berhamburan keluar. Aku pun bersimpuh untuk mengambilnya satu persatu.
Tanganku terhenti ketika menyentuh sebuah kotak kado berwarna biru dengan pita berwarna putih yang terlihat sudah usang. Aku meletakkan kembali kardus itu ke tempat semula tapi tidak dengan kado itu, aku penasaran dengan isinya entah kenapa kado itu menarik perhatianku, aku memutuskan untuk membawanya dan akan aku buka nanti. Setelahnya aku mengambil kursi tinggi yang ada di pojok gudang.
Sebelum mengganti korden kuletakkan kado itu dikamarku terlebih dahulu baru setelahnya ku seret kursi itu ke dekat kaca jendela.
Perlahan ku naiki kursi itu dengan hati-hati lalu aku mulai melepaskan kaitan korden itu satu persatu. Aku melepaskan kaitan korden seraya bersenandung lirih menghibur diri. Saking asiknya aku sampai tidak memerhatikan pijakan kakiku hingga, salah satu kakiku tergelincir dan membuat tubuhku oleng.
"Aaaa ...!!"
Seketika aku memejamkan mata karna aku sudah sangat yakin akan terjerembab jatuh ke lantai. Sudah beberapa detik berlalu namun tidak ada suara benturan dan tubuhku juga tidak merasakan sakit.
Segera kubuka mataku dan langsung membelalak ketika kulihat seseorang sedang mendekap tubuhku dalam gendongannya. Pantas saja aku tidak merasakan sakit, tapi sekarang malah jantungku yang berulah dengan berdegup dengan tidak wajar.
Ya Allah sejak kapan Mas Raddan ada disini?
________
Bersambung
#JWB10
Part 10
Pagi ini aku sudah siap untuk kembali kerutinitasku sehari-hari yaitu mengajar. Dengan pakaian gamis yang bermotif batik dengan jilbab abu-abu, aku keluar dari kamar ingin menyiapkan makanan untuk Mas Raddan dan juga Clara.
Pukul lima lewat tiga puluh menit, cukup untuk aku membuat sarapan sepertinya nasi goreng seafood lebih praktis. Kupasangkan celemek masak agar bajuku tidak kotor barulah aku mulai memasak.
Kusiapkan bahan-bahan yang akan kugunakan setelahnya aku mulai memotong cabai, bawang merah dan putih kemudian kupanaskan minyak lalu kumasukkan semua bumbu, telur, udang, setelahnya kumasukkan nasi putih semangkuk besar. Terakhir kutambahkan kecap, dan nasi goreng pun telah siap untuk disantap.
Kuletakkan mangkuk besar yang sudah kuisi nasi goreng diatas meja makan. Aku duduk memunggu Mas Raddan dan Clara bangun untuk sarapan. Ingin aku memanggil Mas Raddan ke atas lamgsung tapi aku takut Mas Raddan tidak menyukainya.
Terkadang aku bertanya dalam hati kenapa Mas Raddan menempatkan aku dilantai dasar. Apakah aku tidak pantas menempati kamar dilantai dua itu, setahuku ada banyak kamar kosong disana. Ah, tapi aku tidak boleh su'udzon seperti itu, siapa tahu Mas Raddan punya alasan yang baik menempatkan aku dikamar bawah.
Suara langkah membuatku tersadar dari lamunan. Mas Raddan terlihat baru saja menuruni anak tangga satu persatu dengan tangan yang sibuk mengikatkan dasi dikerah kemejanya.
"Mas, Hawa bantu ya memakai dasinya." Tawarku takut-takut.
Mas Raddan mendekat ke arahku. Jantungku kembali berdetak tidak normal, gugup dan hatiku menjadi berbunga-bunga.
Dengan tangan yang sedikit bergetar aku mulai menyimpulkan dasi itu dengan perlahan. Tapi ini aneh tidak seperti biasanya Mas Raddan memperbolehkan aku menyentuhnya, tapi ini juga merupakan suatu kemajuan yang bagus untuk hubunga kami.
Jantungku semakin tidak karuan saat menyadari tatapan Mas Raddan terus menerus tertuju ke arah wajahku atau hanya perasaanku saja.
"Sudah selesai." Kulihat Mas Raddan sedikit terlonjak mendengar suaraku barusan, ternyata dia melamun. Aku terlalu ke ge'eran berharap dia sedang menatapku.
Aku membalikkan tubuhku kembali menuju meja makan."Mas, sarapannya sudah siap."Dengan tidak bersemangat aku memulai sarapan pagi tanpa menoleh ke arah Mas Raddan lagi, sebisa mungkin aku menahan air mata yang sudah memenuhi pelupuk mataku. Rasanya sesakit ini saat aku berada didekatnya namun pikirannya melayang entah kemana.
Kini fokusku hanya menyelesaikan sarapan secepatnya dan segera berangkat ke sekolah untuk mengajar.
Dari ekor mataku aku menangkap pergerakan Mas Raddan yang mulai ikut sarapan bersamaku. Sekesal apapun aku terhadapnya tetap saja kewajiban seorang istri tetap kulaksanakan.
"Mau Hawa ambilin makannya, roti atau nasi goreng seafood?" tanyaku tanpa menoleh ke arahnya.
"Apa saja." Jawabnya singkat.
Ku sendokkan nasi goreng ke piringnya, setelahnya aku duduk kembali melanjutkan sarapanku.
"Clara kenapa nggak ikut sarapan?" tanyaku.
"Masih tidur." Aku hanya mengangguk kemudian melangkah ke arah tempat cuci piring.
"Setelah selesai sarapan, Mas letakin aja piringnya di sana nanti akan aku cuci sepulang kerja."
"Hawa berangkat sekarang, Assalamualaikum
Melangkah ke arah kamar, aku mengambil tas selempang yang berukuran cukup besar agar buku yang hendak kubawa muat kuletakkan didalamnya.
Kuraih kunci motorku yang ada di atas meja, kemudian aku keluar dari kamar menuju garasi.
***
Sampai digarasi aku mulai menghidupkan si Mentik tapi entah kenapa sudah berulang kali aku menstaternya tapi si Mentik tak kunjung hidup. Apa mungkin sudah waktunya servis motor? Karna takut terlambat aku memutuskan untuk naik angkot saja.
Berjalan melewati gerbang rumah langkahku berbelok keluar dari komplek perumahan ini.
Aku harus berjalan sekitar tujuh meter untuk menemukan angkot, sering aku lihat banyak orang yang menunggunya di sana.
Apa aku terlalu pagi untuk menunggu angkot, sebab tidak ada orang satu pun disini. Kulihat pergelangan tanganku jam menunjukkan pukul 06.20 tidak terlalu pagi lalu dimana orang-orang itu.
Apa mungkin mereka belum datang. Ya sudah aku menunggu disini dulu, barang kali nanti ada angkot lewat.
Tinn ... tinn ...
Bunyi kelakson motor membuatku menoleh ke sumber suara, ada sebuah motor yang mendekat ke arahku.
"Assalamualaiku
"Siapa ya?" tanyaku bingung, mendengar pria itu memanggilku seperti dia mengenalku.
"Saya Rama. Oh pantas, Bu Hawa bingung ternyata helmnya belum saya lepas."
"Oh ... Pak Rama. Bapak kenapa ada disini?" aku bingung kenapa Pak Rama bisa ada dijalanan disekitar komplek.
"Saya warga dikomplek ini, rumah saya nomer 56 letaknya agak di ujung, yang bercat abu-abu." Jelas Pak Rama.
"Bapak warga baru itu, saya memang dengar sedikit dari tetangga sebelah, kalo ada orang yang baru pindah ternyata itu Pak Rama."
"Bu Hawa juga tinggal dikomplek ini, kok saya nggak pernah liat ya?"
"Memang saya lebih sering berada didalam rumah ketimbang diluar rumah. Kalo saya sedang ada waktu senggang kadang saya juga jalan-jalan disekitar komplek ini sekalian bersilaturahmi dengan para tetangga."
"Oh begitu, rumah Ibu yang mana kalo saya boleh tau. Saya kan masih baru disini, jadi saya butuh bantuan Ibu supaya saya bisa berbaur dengan warga sekitar."
"Em ... rumah saya yang-"
Tinn ... tinn ... tinnn ....
Suara klakson mobil sontak membuat kami menoleh ke arah belakang motor Pak Rama. Disana ada sebuah mobil Mercedes Benz berwarna hitam yang terus membunyikan klakson tepat dibelakang motor milik Pak Rama, mobil itu terlihat familiar dimataku. Nomer platnya juga aku hapal tapi aku pernah melihatnya dimana, ya?
Seketika mataku membelalak saat aku teringat sering melihat mobil itu, terparkir digarasi rumah yang berarti mobil itu milik Mas Raddan.
"Pak Rama saya permisi dulu. Ada urusan yang harus saya selesaikan sekarang. Assalamualaikum
"Tapi, Bu ..." Telingaku tidak dapat menangkap ucapan Pak Rama hingga selesai, karna aku sudah melangkah dengan cepat ke arah mobil Mas Raddan.
Sesampainya aku disamping mobil itu jendelanya sudah terbuka lalu terdengar seruan Mas Raddan yang menyuruhku masuk ke dalam mobil.
Aku pun mematuhi perintahnya, setelah aku duduk menyerong melihat ke arahnya,"ada apa Mas, menyuruhku masuk?"
"Pakai sabuk pengamannya!" aku mematuhinya lagi. Kupasang sabuk pengaman itu melingkari tubuhku.
"Mas sebenarnya ada apa?"
"Dimana alamat sekolah tempat kamu mengajar?"
"Di jalan garuda nomer 20." Aneh sedari tadi Mas Raddan tidak menjawab pertanyaanku malah memerintahkan hal yang lain.
Sekarang aku memilih diam karna bertanya pun jawabannya tidak pernah nyambung dengan hal yang kutanyakan.
Sepertinya benar dugaanku ada yang aneh dengan sikap Mas Raddan hari ini, liat saja kelakuannya sekarang yang sedikit-sesikit
"Mas ngomong apa barusan, Hawa kurang jelas dengernya?"
"Cowok yang tadi sama kamu itu siapa?" tanya Mas Raddan mengulangi perkataanya.
"Cowok?" otakku tiba-tiba menjadi lelet mencerna ucapan Mas Raddan.
"Yang tadi ngobrol sama kamu." Perjelas Mas Raddan lagi.
"Oh ... Pak Rama."
"Iya, mungkin saya kan nggak tau namanya siapa. Ada hubungan apa kamu sama dia?"
"Hubungan? Kami hanya sebatas rekan kerja, dia guru baru di SD IT Darussalam tempat aku mengajar."
"Oh, begitu. Lalu kenapa dia bisa berada di daerah komplek kita, dia mau jemput kamu?"
Pertanyaan Mas Raddan semakin aneh saja tapi aku harus tetap menjawabnya siapa tahu penting untuk Mas Raddan."Pak Rama itu tetangga baru kita Mas, rumahnya yang bercat abu-abu. Oh, kebetulan Mas. Pak Rama lagi cari teman buat tanya-tanya seputar kegiatan di komplek ini, Mas mau Hawa kenali ke dia?"
"Nggak usah. Kalo saya mau, saya bisa berkenalan sendiri dengan dia." Ketus Mas Raddan.
"Oh, begitu." Setelahnya tidak ada percakapan lagi diantara kami hingga aku sampai disekolah tempatku mengajar.
"Assalamualaiku
"Wa'alaikumssal
***
"Ibu mau memberikan pertanyaan untuk kalian, siapa diantara kalian yang bisa menjawabnya, Ibu boleh istrirahat terlebih dulu. Mau tidak?"
"Mau, Bu!" Jawab semua anak-anak dengan senang. Mengajar anak-anak memang lebih enak dengan permainan seperti ini.
"Pertanyaan pertama, rukun iman ada berapa? Yang tau jawabannya angkat tangan lalu jawabnya sambil berdiri."
"Anna tau, Bu!" seorang gadis kecil yang manis mengangkat tangannya lalu berdiri," rukun iman ada enam, Bu."
"Iya benar, Anna boleh istirahat sekarang!"
"Yeay!" Anna maju lalu menghampiriku untuk menyalimi tanganku kemudian berlari keluar kelas dengan riang.
"Sekarang pertanyaan kedua, rukun islam ada berapa?"
"Rio bisa jawab, Bu. Rukun islam ada lima." Jawab Rio sambil berdiri.
"Pinter, jawaban Rio juga benar. Rio boleh istirahat sekarang."
"Dan sekarang pertanyaan ketiga, sebutkan rukun iman yang ketiga?"
"Aan, bisa jawab Bu!"
"Lina, juga bisa jawab Bu!"
"Bu Hawa, Nita juga mau jawab!"
"Jangan berebut, Ibu masih ada banyak pertanyaan. Karna yang tunjuk tangan Aan dulu, jadi Ibu persilakan Aan yang menjawab pertanyaanya terlebih dahulu,"
"Rukum iman yang ketiga adalah iman kepada kitab-kita Allah."
"Benar sekali, Aan juga boleh istirahat sekarang."
Kulihat Lina dan Nita mengerucutkan bibir, sedih."Jangan sedih, Ibu masih ada banyak pertanyaan. Sekarang coba jawab lagi siapa Nabi yang bisa berbicara dengan binatang?"
"Lina tau, Bu! Nabi Sulaiman A.S benar tidak, Bu?"
"Iya betul. Lina juga sudah boleh istirahat."
Teng ... teng ... teng ... teng ....
"Tanya jawabnya dilanjutkan minggu depan lagi ya, karna jam pelajaran Ibu sudah selesai. Sampai jumpa lagi, Assalamualaikum
"Wa'alaikumssal
Segera kurapihkan kembali buku-buku yang masih berserakan dimeja, setelah itu aku keluar kelas menuju ke ruang guru.
Sesampainya disana kulihat ada Silvi sedang duduk dikursinya sambil bercermin dikaca kecil miliknya. Ini cukup aneh, tidak biasanya Silvi suka berdandan seperti sekarang.
Silvi yang kukenal itu sebenarnya tripikel gadis tomboi, yang kemana-mana lebih suka memakai celana dari oada rok. Dia juga menyukai atasan oversize dengan warna army atau jaket dengan warna yang sama. Silvi pernah mengatakan kesukaanya pada warna army itu sejak dia menjadi fans gril dari boyband ternama korea yaitu BTS. Terus malah keterusan sampai sekarang, tapi akhir-akhir ini dia terlihat agak feminim, apa ini pengaruh cintanya terhadapa Pak Rama. Jika benar, Fiks! Silvi serius terhadap perasaannya pada Pak Rama.
Kulangkahkan kakiku ke depan meja Silvi. Cukup lama aku berdiri diam didepannya tapi gadis berjilbab maroon yang saat ini sedang asik berdandan itu masih juga tak menyadari kedatanganku. Sungguh hebat, kefokusannya saat ini patut di acungin jempol.
"Ekhm! Serius amat Mbak dandannya, sampe nggak ngeh, kalo gue dateng."
Silvi yang sedang memoleskan liptint ke bibirnya terlonjak kaget.
"Loh Hawa, sejak kapan lo ada disini?"
"Sejak kemarin?!"
"Ihh .. yang bener!"
"Udah cukup lama gue berdiri disini sambil liatin lo yang senyam-senyum dikaca."
"Lama dong! Kok gue nggak nyadar, ya?" Silvi menggaruk-garuk
"Lo terlalu fokus dandan. Gue mau nanya, sejak kapan lo suka dandan?"
"Emm .. sejak ..., eh makan dulu yok gue laper." Silvi tiba-tiba mengalihkan pembicaraan, dia mengajakku tapi tatapannya mengarah ke belakangku. Saat aku mengikuti arah pandang Silvi, aku menemukan Pak Rama yang baru saja masuk ke dalam kantor. Pantas Silvi mengalihkan pembicaraan.
"Bentar dulu, gue mau naruh-"
Silvi mengambil paksa semua buku yang ada di tanganku lalu meletakkannya dengan cepat dimejaku. Belum sempat aku protes, Silvi sudah menarikku keluar dari kantor.
Setelah agak jauh barulah Silvi melepaskan genggaman tangannya dari lenganku.
"Sil, kenapa sih! Lo kok buru-buru banget tadi?"
"Gue malu sama Pak Rama."
"Sejak kapan seorang Silvi punya malu, bukannya biasanya lo yang suka malu-maluin diri sendiri?"
"Ish, jangan ungkit masa lalu. Gue udah mau berubah menjadi lebih baik kok, sekarang."
"Saran gue, lo berubah itu karna Allah jangan hanya karna Pak Rama. Supaya perubahan lo itu permanen, coba kalo lo berubah cuma buat dapetin hati Pak Rama. Seandainya aja nih, Pak Rama suka sama orang lain trus lo kecewa, marah dan akhirnya kembali seperti semula. Semuanya akan sia-sia kalo lo ngelakuinnya bukan karna Allah."
"Astaghfirullah
"Gue bakal mencoba berubah menjadi lebih baik, hanya karna Allah." Lanjut Silvi penuh tekad.
"Syukur, Alhamdulillah. Trus sekarang mau ngapain?"
"Makan, gue udah laper banget." Silvi kembali menarik tanganku menuju kantin sekolah.
***
Sekarang kami berdua tengah asik menyantap semangkuk mie ayam bakso, bahkan aku sudah menghabiskan satu porsi dan ini porsi yang keduaku.
"Emang lo belum kenyang makan seporsi, sampe nambah lagi?"
"Belum. Lo kan tau mie ayam itu makanan kesukaan gue dan selama cuti kemarin gue nggak bisa makan mie ayam buatan Bu Darmi." Bu Darmi itu penjual mie ayam di kantin sekolah ini.
Kulihat Silvi hanya menggelengkan kepalanya, kemudian melanjutkan menyantap mie ayam dimangkuknya.
Beberapa menit kemudian kami selesai makan tapi kami masih duduk disini, sembari menikmati cemilan yang baru saja kami beli sebagai pencuci mulut. Memang sedikit aneh, tapi itulah kebiasaan kami berdua.
Dari kantin ini aku bisa melihat jelas apa saja yang dilakukan anak-anak dilapangan basket. Ada yang sedang bermain kejar-kejaran, bermain petak umpet, lompat tali dan masih banyak lagi. Masa anak-anak memang indah, mereka hanya memikirkan bermain dan bermain. Dulu saat masih kecil aku ingin cepat dewasa, namun saat sudah dewasa aku ingin kembali menjadi anak kecil, sungguh manusia itu tidak pernah merasa puas seperti diriku ini.
"Hawa, pinjem hape lo dong?" ucapan Silvi menginterupsi lamunanku.
Tanganku terulur untuk meraih ponsel yang ku taruh di saku gamisku. Setelah dapat langsung kuserahkan pada Silvi.
Silvi meraihnya dan langsung membuka screen lock ponselku. Jangan tanya bagaimana Silvi bisa tahu kode sandi ponselku, itu karna Silvi yang membuatkan kode sandi untuk ponselku. Kalo aku mana bisa membuat hal seperti itu.
"Haw, hape lo sih udah ganti jadi lebih bagus tapi kenapa aplikasinya sedikit banget. Sosial media aja lo cuma punya Whatssap itu pun lo buat akunnya, karna Pak Kepsek mewajibkan semua guru untuk masuk grup yang ada di Whatssap. Facebook, Instagram, Tik-tok, Twitter, sama Line lo sama sekali nggak punya. Hebat, hape I-phone rasa jangkrik."
"Lo tau sendiri gue tuh nggak bisa pake hape begituan. Gue lebih nyaman pake hape jangkrik yang dulu." Sebenarnya ponsel bermerk apel kegigit itu adalah pemberian dari Bunda saat tahu ponselku yang milikku dulu sudah rusak dan tidak bisa diperbaiki lagi.
Aku sudah mengatakan pada Bunda nanti aku akan membeli ponsel baru. Tapi Bunda memaksa ingin membelikan ponsel untukku, waktu itu Bunda mengajakku pergi ke counter handphone. Bunda membebaskan aku untuk memilih ponsel mana yang aku suka. Saat aku memilih ponsel tipe jangkrik dan menunjukkannya pada Bunda, Bunda langsung tidak setuju lalu memilihkan ponsel keluaran terbaru untukku.
"Gue tuh pusing kalo pake hape bagus kek gini. Pencetannya cuma tiga disamping, aplikasinya bingungin, mana gede banget kalo masukin saku kadang nggak muat."
"Ya ampun, Hawa ... lo bisa pake laptop masa pake hape beginian aja lo nggak bisa."
"Itu kasusnya beda, kalo laptop aku udah belajar sejak SMA. Tapi hape kayak gini kan, aku nggak pernah belajar jadi bingung makenya."
"Makannya gaul dikit. Sini gue ajarin sekalian gue mau unduh aplikasi yang gue sebutin tadi biar lo nggak ketinggalan jaman!"
***
Pukul satu siang aku sudah sampai dirumah, aku pulang menggunakan ojol. Tidak mungkin kan aku meminta Mas Raddan untuk menjemputku karna aku tidak mau merepotkanya, mungkin saat ini dia sedang sibuk bekerja.
Rumah masih sepi, Bi Imah belum balik dari kampungnya. Aku bergegas ke kamar untuk menaruh tasku dan mandi.
Sejam kemudian aku keluar kamar, mengedarkan pandangan keseluruh penjuru rumah. Lalu kuputuskan untuk membersihkannya
Aku berjalan ke arah gudang untuk mencari kursi tinggi agar mudah saat melepas dan memasang kordennya nanti. Kubuka satu persatu kain putih yang menutupi barang-barang yang ada disana.
Bruk!
Tak sengaja aku menjatuhkan kardus berukuran sedang, terlihat barang-barang didalamnya berhamburan keluar. Aku pun bersimpuh untuk mengambilnya satu persatu.
Tanganku terhenti ketika menyentuh sebuah kotak kado berwarna biru dengan pita berwarna putih yang terlihat sudah usang. Aku meletakkan kembali kardus itu ke tempat semula tapi tidak dengan kado itu, aku penasaran dengan isinya entah kenapa kado itu menarik perhatianku, aku memutuskan untuk membawanya dan akan aku buka nanti. Setelahnya aku mengambil kursi tinggi yang ada di pojok gudang.
Sebelum mengganti korden kuletakkan kado itu dikamarku terlebih dahulu baru setelahnya ku seret kursi itu ke dekat kaca jendela.
Perlahan ku naiki kursi itu dengan hati-hati lalu aku mulai melepaskan kaitan korden itu satu persatu. Aku melepaskan kaitan korden seraya bersenandung lirih menghibur diri. Saking asiknya aku sampai tidak memerhatikan pijakan kakiku hingga, salah satu kakiku tergelincir dan membuat tubuhku oleng.
"Aaaa ...!!"
Seketika aku memejamkan mata karna aku sudah sangat yakin akan terjerembab jatuh ke lantai. Sudah beberapa detik berlalu namun tidak ada suara benturan dan tubuhku juga tidak merasakan sakit.
Segera kubuka mataku dan langsung membelalak ketika kulihat seseorang sedang mendekap tubuhku dalam gendongannya. Pantas saja aku tidak merasakan sakit, tapi sekarang malah jantungku yang berulah dengan berdegup dengan tidak wajar.
Ya Allah sejak kapan Mas Raddan ada disini?
________
Bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar