Persaudaraan Muslimah Indonesia, mempelajari Islam Secara Menyeluruh.

Sabtu, 21 Maret 2020

JODOH WASIAT BAPAK 1- 5


jodoh_wasiat_bapak
Part 1 author Shofiyah Shofiyah

Ku rapihkan gamis dan kerudung yang ku kenakan."Bismillah..." setelah mengucapkannya aku melangkah masuk ke dalam kelas tempatku mengajar.
"Assalamualaikum,anak-anak!" sapaku saat memasuki kelas.
"Wa'alaikumssalam Ibu guru cantik..." jawab semuanya serempak.

Profesiku adalah seorang guru yang mengajar di SD IT Darulssalam. Aku sangat senang mengajar disini selain guru-guru-nya baik dan ramah, mengajar anak-anak adalah hal yang sangat menyenangkan bagiku.


Aku hanya bisa tersenyum seraya menggelengkan kepala melihat balasan sapaan dari murid-muridku itu.Padahal mereka masih kecil tapi jago menggombal,dasar anak jaman now.
Ku letakkan buku beserta sling bag milikku ke atas meja,mengambil satu buku lalu membukanya dan kulihat ada bagian tugas siswa yang ku tandai.
"Minggu kemarin Ibu memberi kalian PR. Hayoo... Siapa yang belum mengerjakan PR-nya ayo tunjuk tangan?" ku acungkan tangan ke atas,memberi contoh pada mereka."Jangan boong,Allah nggak suka sama anak yang suka boong lohh...,"
Ada beberapa anak yang mengacungkan tangannya, salah satu dari mereka berjalan ke arahku.
"Bu! Rio belum ngerjain PR-nya, Mama sama Papa Rio nggak mau ngajarin Rio,mereka sibuk terus cari uang!" adu Rio dengan wajah yang cemberut.Aku turut prihatin mendengarnya,Rio sering bercerita padaku tentang kedua orangtuanya. Aku jadi tahu bahwa kedua orang tuanya sibuk bekerja hingga melupakan anaknya yang masih membutuhkan kasih sayang.
"Ya sudah, nggak papa. Sekarang Rio duduk lagi!" perintahku yang langsung di angguki oleh Rio.
Dalam hati aku berdoa semoga aku bisa menjadi orangtua yang selalu ada untuk anak-anakku nanti, aminn.
***
Setelah selesai mengajar ku lajukan motor metik kesayanganku menuju restoran tempatku bekerja sampingan. Aku bekerja sampingan bukan karna gaji seorang PNS sedikit atau kurang untukku, tapi aku berniat menabung untuk biaya Ummi naik haji nanti.
Sudah dari lama Ummi ingin naik haji namun semua keinginan itu harus pupus saat Abi meninggal tiga tahun yang lalu,uang yang sudah Ummi tabung untuk pergi haji terpaksa dipakai untuk pengobatan Abi hingga habis tak bersisa. Meninggalnya Abi juga membuatku dan Ummi terpukul hingga terpuruk selama berbulan-bulan.
Aku bisa merasakan betapa sakitnya kehilangan orang yang kita cintai, disaat kita masih amat sangat mencintainya. Aku mulai belajar agar tak terlalu mengantungkan semuanya pada rasa cinta. Aku akan berusaha mencintai lelaki yang menjadi jodohku nanti hanya karna Allah, pasti cinta kita bisa tumbuh dengan damai.
"Hawa!" panggil seseorang dari belakang membuatku tersadar, ku balikkan badanku ke belakang ternyata Dena, temanku sesama pekerja disini.
"Iya Dena, kenapa?"

"Hawa,cepet kamu ganti baju seragam! Kita kedatangan tamu VVIP!" Ucap Dena yang sudah memakai baju batik berwarna hijau serta rok hitam khas pelayan Restoran Azmira tempatku bekerja.
"Oh iya,aku akan ganti sekarang." ucapku kemudian bergegas menuju ruang ganti.
Alhamdulillah Pak Manager resto ini sangat baik sehingga memperbolehkan aku memakai seragam yang sedikit berbeda dengan yang lainnya. Ya,seragamku ini aku buat menjadi gamis agar auratku tetap tertutup meski bekerja sebagai pelayan.
"Bismillah!" ucapku sebelum menulai bekerja seperti biasa,kemudian ku langkahkan kaki ku menuju meja pelanggan seraya membawa note kecil untuk menulis pesanan nanti.
Dena melambaikan tangannya menyuruku memasuki ruangan yang di khusus kan untuk para pelanggan VVIP, ruangan itu terletak di lantai tiga restoran ini. Sepertinya orang yang berada diruangan itu sangat penting, hingga semua pelayan di kerahkan untuk melayaninya.
Entah kenapa jantungku berdegup dengan kencang,perasaanku menjadi tidak enak. Semoga tidak ada hal buruk yang akan terjadi,amin. Ku raup wajahku dengan kedua telapak tangan setelah membaca doa untuk memohon pertolongan dan meminta penjagaan dari segala mara bahaya yang mungkin menerjangku.

Ku langkahkan kakiku memasuki ruangan itu,dari tempatku berdiri terlihat ada empat pria berjas mahal. Pantas saja mereka diperlakukan se-spesial ini,ternyata mereka benar orang penting terlihat dari penampilannya.
Aku sudah berdiri disamping meja ke empat orang itu dengan kepala menunduk hormat,menunggu salah satunya memberi perintah padaku.
"Silahkan pesan dan nikmati pelayanan dari restoran saya!" ucap seorang pria yang duduk tepat disebelahku.
Suara itu seperti familiar di telingaku. Ya,Allah jangan katakan orang itu...
"Tolong kamu catat pesanan kami." pria itu kembali bersuara yang membuat tubuhku bergetar ketakutan, tak berani aku mendongakkan kepalaku.
Air mataku meluncur dengan sendirinya,aku benar-benar tak sanggup jika harus berhadapan dengannya lagi.Ya,Allah kenapa engkau pertemukan kami lagi?
"Hei!" pria itu menepuk lenganku, membuatku tersentak dan refleks note yang ku pegang terjatuh dari tanganku.
"M-maaf Pak!" ucapku setelah mengambil note itu,seraya ku hapus air yang mengalir dipipiku dengan kasar.Aku tidak boleh menangis! Dan terlihat lemah. Aku harus kuat!,semangatku dalam hati.
"Kamu harus profesional dalam bekerja! Saya harap kedepannya kamu tidak seperti ini lagi!" ujar pria itu dengan intonasi sedikit meninggi.
"Iya, Pak." ku dongakkan kepalaku dan langsung berhadapan dengan mata segelap jelaga milik pria itu, Muhammad Raddan Al-azmi. Jauh di lubuk hatiku yang paling dalam aku sangat merindukan tatapan itu yang menyorot lembut ke arahku, seperti dulu. Namun sekarang tidak lagi.
Mata itu menatapku tajam,"jangan ulangi kesalahan seperti ini lagi! Saya termasuk orang yang tidak mudah memaafkan orang jika sudah berbuat kesalahan pada saya?!"
"Sekali lagi saya minta maaf,Pak." ucapku sungguh-sungguh.
Kenapa disaat aku sudah bisa melupakannya, dia kembali hadir dalam hidupku. Sungguh hatiku terasa perih melihatnya disini.
Dengan tangan gemetar aku mencatat pesanan semuanya, ku tarik napas panjang lalu ku hembuskan perlahan. Aku harus kuat menjalani ini semua demi Ummi.

***
Prang!
Tak sengaja aku menjatuhkan piring berisi makanan yang hendak ku hidangkan.
Raddan bangkit berdiri menatapku tajam,tangannya menarik lenganku dengan kasar keluar dari ruangan itu.
Ia menarikku masuk ke ruangannya di lantai tiga restoran ini. Sesampainya di sana lenganku dihempaskan dengan kasar membuatku terjatuh ke lantai.
"Kamu sebenarnya bisa kerja apa tidak sih?!" bentaknya padaku yang membuat airmataku turun dengan derasnya.
"M-maaf Pak. Saya benar-benar tidak sengaja tadi." ucapku sesegukan.
"Maaf,maaf?! Kalo cuma minta maaf bisa buat semuanya selesai penjara tidak akan penuh?!" sungguh hatiku sangat sakit mendengarnya berbicara dengan nada setinggi itu, apa kesalahanku sangat fatal hingga ia se emosi itu.
"Siapa yang menerima kamu bekerja disini?" tanyanya dengan nada sedikit lebih halus dari sebelumnya.
"Pak Edi," jawabku dengan pelan.
"Ya,sudah. Kamu keluar dan panggilkan Pak Edi suruh ke sini!" aku langsung menganggukkan kepala kemudian membalikkan tubuhku untuk meninggalkan ruangan yang terasa sangat sesak bagiku.
Setelah memanggilkan Pak Edi,aku segera melangkah ke arah loker entah kenapa perasaanku tidak enak sedari tadi dan ingatanku selalu tertuju pada Ummi.
Ada apa ini,perasaanku semakin tidak karuan saat melihat layar ponselku yang menampilkan banyak panggilan tak terjawab dari Bu Endang, tetangga sebelah rumah.
Segera saja ku hubungi kembali nomer Bu Endang,setelah menunggu beberapa saat akhirnya panggilanku di jawab juga.
"Assalamualaikum,Bu Endang."
"Wa'alaikumsaalam, Neng Hawa. Ibu mau kasih tau bahwa Ummi masuk rumah sakit, penyakit jantungnya kumat lagi!"
Prang!
Ponsel yang tadi masih menempel di telingaku langsung meluncur jatuh bersamaan dengan air mataku yang juga mengalir deras dari kedua pelupuk mataku.
Ummi... Jangan tinggalin Hawa....
_______


#Jodoh_wasiat_bapak
#JWB2
Part 2

Tak kupedulikan keadaan tubuhku yang basah kuyup, akibat ke hujanan. Yang terpenting saat ini adalah memastikan bahwa keadaan Ummi baik-baik saja. Di setiap langkahku menuju rumah sakit, bibirku tak hentinya mengucapkan doa agar Ummi diberi kesembuhan oleh Yang Maha Kuasa.
Masuk ke dalam lobby langkahku langsung tertuju ke meja resepsionis, sesampainya di sana dengan tidak sabar aku bertanya di mana ruangan Ummi Maryam berada. Setelahnya dengan tergesa-gesa aku menyusuri lorong-lorong rumah sakit hingga sampai di ruangan Dahlia kamar nomer 3.
Di dalam kamar terdapat empat brankar yang saling berhadapan,salah satunya telah di isi oleh Ummi.
"Ummi! Ummi!" teriakku membuat Ummi yang semula masih terbaring dengan mata terpejam, langsung terperanjat bangun dan menoleh ke arahku.
Kurengkuh tubuh renta Ummi ke dalam pelukanku. Rasanya aku tak sanggup melihat Ummi terbaring lemah di atas brankar rumah sakit seperti ini, dengan selang infus yang menempel di lengan serta hidungnya sebagai alat bantu pernafasan.
"Ummi kenapa bisa drop kayak gini?" tanyaku dengan khawatir.
"Ndok mungkin sebentar lagi Ummi bakal pergi ke suatu tempat yang jauh. Jaga diri baik-baik ya,Ndok." Bukannya menjawab pertanyaanku Ummi malah berbicara yang bukan-bukan.
"Nggak boleh! Ummi jangan ngomong gitu?! Hawa nggak suka! Hawa cuma punya Ummi di dunia ini, kalo Ummi pergi Hawa sama siapa?" pelukanku di tubuh Ummi semakin erat, kata-kata Ummi membuatku takut akan kehilangan sosok wanita hebat seperti Ummi, wanita yang telah melahirkanku ke dunia ini.
"Hahahaha ... Ummi cuma bercanda kok. Jangan anggap serius, Ummi nggak bakal pergi tanpa persetujuan putri Ummi yang paling cantik ini. Takut banget ya, di tinggal sama Ummi?" tanya Ummi dengan bercanda, kemudian mencubiti pipiku dengan gemas.
Mendengar itu bibirku mengerucut, melepaskan pelukanku dari tubuh Ummi. "Ishh... Ummi jahat! Hawa kira beneran tadi!" ucapku sambil menghapus air mata yang sudah membanjiri wajahku sedari tadi.
"Ndok, kenapa bajunya basah? Eh, tunggu perasaan ... tadi pagi kamu ndak pake baju ini?" tanya Ummi setelah melihat ke arah pakaian yang kukenakan. Pantas saja Ummi menatapku heran, karna sekarang aku masih memakai pakaian seragam kerja di restoran.
Mati aku!, pasti akan ada masalah lagi nanti, karna aku masih memakai seragam restoran, diluar jam kerjaku.
"Hehehehe.... Ini memang bukan baju Hawa. Ini baju milik sekolahan dan belum sempat Hawa ganti, soalnya ... tadi Hawa buru-buru ke sini," cengirku untuk menghilangkan kecurigaan Ummi. Pokoknya Ummi nggak boleh tau, kalo aku kerja sebagai pelayan di restoran Azmira. Bisa gagal rencanaku kalo Ummi tau!
"Ya udah! Sana ganti dulu, biar ndak masuk angin!" suruh Ummi seraya mendorongku menjauh.
"Tapi Hawa masih mau disini...," rengekku manja pada Ummi dan kembali memeluknya.
"Udah sana ganti! Baju Ummi ikutan basah nih, gara-gara kamu meluknya kenceng banget!" tunjuk Ummi pada lengan bajunya yang terlihat sedikit basah.
"Ya udah, deh!" aku membalikkan badan dengan tidak rela.
"Hahaha...," kudengar suara tawa Ummi di belakang. Dalam hati, ku ucapkan syukur sebanyak-banyaknya, karna Ummi masih bisa tertawa lepas dalam keadaan seperti ini.

***
Setelah berganti pakaian yang baru, dengan semangat ku langkahkan kakiku ke arah kantin rumah sakit, untuk membeli makanan.
Sesampainya dikantin, segera saja ku pesan beberapa makanan karna perutku sudah berbunyi sejak tadi. Sambil menunggu pesanan datang kurogoh saku gamisku, mengeluarkan ponsel milikku yang sudah tidak jelas bentuknya lagi.
Aku sedih melihat keadaan ponselku saat ini, namun apa boleh buat itu juga perbuatanku yang dengan tidak sengaja menjatuhkannya tadi.
"Mbak, ini pesanannya." Seorang pelayan wanita membawakan pesananku, membuatku mendongak ke arah pelayan wanita itu.
"Oh, makasih." Sahutku, yang dijawab anggukan serta senyuman oleh pelayan wanita itu.
Aku jadi teringat apa yang sudah ku perbuat siang tadi, di restoran. Dua hal yang ku sesali saat ini adalah pertemuanku dengannya lagi, dan keteledoran yang kuperbuat tadi sehingga mendapatkan makian darinya.
Semoga saja aku tidak bertemu lagi dengan dia hari ini dan hari-hari lainnya, aamiin....
Sebelum makan aku berdoa terlebih dahulu, dalam sekejap semua makanan itu sudah berpindah ke dalam perutku. Memang aku terkenal jago makan tapi anehnya, badanku masih tetap kecil mungil seperti orang yang tidak memiliki gizi.
Kulirik pergelangan tanganku yang tersemat sebuah jam tangan berukuran mini, mataku melotot saat melihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 18.00 berarti aku sudah meninggalkan Ummi cukup lama.
Segera saja kuambil kantong plastik berisi buah apel di samping tempat dudukku, aku langsung berlari dengan cepat menuju kamar Ummi.
Bruk!

Aku terjatuh setelah bahuku menambrak sesuatu tepat didepan kamar Ummi. Perasaan jalanku sudah benar, tidak mungkin aku menabrak tembokkan?
Dengan gerakan slow motion ku dongakkan kepalaku ke atas, seketika dunia terasa berhenti. Dia lagi! Baru saja aku berdoa agar tak dipertemukan lagi dengan dia, tapi apa sekarang? Dia berdiri tepat didepanku dengan tatapan seperti tadi pagi.
Kualihkan pandanganku, rasanya tidak kuat melihat mata itu yang lagi-lagi menatapku tajam. Seketika mataku melotot, melihat buah apel yang baru kubeli sudah berserakan kemana-mana. Dengan cepat ku raih kantong plastik yang ikut terjatuh lalu ku ambil satu persatu apel itu, dan ku masukkan kembali ke dalam plastik.
Tinggal satu buah apel yang belum ku ambil, saat akan ku ambil....
kress!
Dengan sengaja Raddan menginjak buah apel itu dengan ganas di depan mataku, dengan marah aku berdiri lalu menatapnya tajam.
"Apa salah buah apel itu, hingga kamu menginjaknya seperti itu?!"
Raddan terlihat acuh lalu pergi dari hadapanku tanpa menjawab pertanyaanku atau mengucapkan kata permohonan maaf. Dapat kulihat dari sorot matanya bahwa ia sedang dalam keadaan marah, meskipun begitu seharusnya ia tidak melampiaskan hal itu dengan menginjak buah apel milikku.
"Ish! Dasar manusia sombong!!" ucapku kesal, kemudian ku lanjutkan langkah ke dalam kamar Ummi. Tak habis pikir, bagaimana dulu aku bisa menyukai pria seperti dia,kasar, sombong, dan suka seenaknya.

***
Di dalam kamar kulihat Ummi tengah berbincang seru dengan seorang wanita sebayanya yang juga tengah berbaring di brankar samping kiri Ummi.
"Ummi, Hawa belikan buah apel kesukaan Ummi!" ujarku sambil mengangkat tinggi-tinggi kantong plastik itu seraya mendekat ke brankar yang ditempati Ummi, membuat perbincangan seru Ummi terhenti seketika.
Kuletakkan buah apel itu di meja nakas samping brankar Ummi.
"H-hawa?" panggil seseorang dibelakangku, suara itu bukan milik Ummi tapi aku sangat mengenal sosok si pemilik suara itu.
Kubalikkan tubuhku dan benar dugaanku.
Degh!
Wanita paruh baya yang sangat amat ku rindukan, sudah lama aku tidak pernah bertemu lagi dengannya.
"Hiks...." Air mataku meluncur dengan deras, langsung saja aku berlari ke arahnya lalu memeluk tubuh wanita paruh baya itu dengan penuh kerinduan.
_______


#Jodoh_wasiat_bapak
#JWB3
Part 3
Autor POV

Beberapa menit sebelumnya....
"Bunda!" ucap seorang pria yang baru saja memasuki ruangan Dahlia, kamar nomer 3 itu.
Seorang wanita paruh baya menoleh ke arah pria itu, wajahnya terlihat pucat dengan selang infus yang terpasang ditangan kanannya serta di hidung sebagai alat bantu pernafasan.
"Masih inget sama Bunda, kirain dah lupa!" sindir wanita paruh baya itu seraya bangkit lalu menaikkan bantal untuk bersender. Pria itu membantu ibunya agar bisa duduk dengan nyaman.
"Bunda ngomong apa, sih? Raddan tentu masih inget sama Bunda," bantah Raddan, pria itu ikut mendudukkan diri di samping brankar yang di tempati ibunya.
Bu Winda menyilangkan tangan di dada,"inget kamu bilang?! Kalo inget, kenapa kamu udah jarang banget nengokin Bunda? Giliran masuk rumah sakit aja baru di tengokin."
"Maaf Bun, dari kemarin Raddan sibuk banget ngurusin kerjaan kantor sama Clara-"
"Kan, kan, pasti ini ada sangkut pautnya sama istri kamu yang super lebay itu! Dia pasti larang-larang kamu buat ketemu Bunda, kan?"
Raddan menunduk meraup wajahnya dengan kasar, menghirup napas dalam-dalam lalu kembali mendongak menatap wajah ibunya.
"Mau Bunda apa?" tanya Raddan dengan nada suara yang lebih lembut, meskipun saat ini emosinya tengah melandanya akibat ucapan ibunya ditambah rasa capek setelah seharian bekerja, namun rasa hormatnya masih ia junjung tinggi.
Bu Winda menyunggingkan senyum,"Bunda mau kamu menikah lagi."
Raddan bangkit dari duduknya secara tiba-tiba, membuat kursi yang didudukinya terbalik dan jatuh ke belakang.

"Raddan nggak bisa?! Udah berapa kali Raddan bilang sama Bunda, Raddan nggak mau nikah lagi?!" bentak Raddan tersulut emosi.
Bu Winda terlonjak kaget dan mengeluarkan airmata mendengar bentakan anaknya,"kamu masih ingetkan, permintaan Bunda dihari ulang tahun Bunda kemarin. Ini sudah lewat dua bulan, apa Clara sudah menujukkan tanda-tanda bahwa dia hamil?"
Pertanyaan yang di lontarkan ibunya membuat Raddan membeku, sudah berulang kali mereka berusaha tapi sampai saat ini Clara belum juga hamil.
"Kenapa Bunda selalu menginginkan Raddan untuk menikah lagi?" tanya Raddan mengalihkan pembicaraan.
"Ini bukan hanya keinginan Bunda tapi juga keinginan Ayahmu," Bu Winda menunduk, rasanya sedih jika mengingat kembali mendiang suaminya yang sudah berpulang ke rahmatullah tiga tahun yang lalu.
"Bunda ...." Raddan mendekat merengkuh tubuh renta ibunya ke dalam pelukannya, setitik airmata ikut terjatuh dari pelupuk matanya.
"Hiks ... s-sebenarnya ... Ayahmu ... memberikan wasiat padamu." Raddan melepaskan pelukannya,menatap ibunya dengan rasa penasaran.
Bu Winda mengambil sebuah surat dari balik bantal, lalu dia ulurkan pada Raddan. Raddan mengerutkan kening, melihat kertas surat itu yang sudah menguning namun tak urung ia mengambilnya juga.
"Baca dulu. Itu surat yang Ayahmu tinggalkan untukmu, Bunda sudah menyampaikan pesan sesuai perintah Ayahmu. Sekarang terserah kamu, mau mengikuti wasiat Ayahmu atau tidak."
Raddan masih memandang surat itu dengan gamang, antara ingin membukanya sekarang atau nanti.
"Jika kamu memutuskan untuk mengikuti wasiat Ayahmu. Bunda hanya berpesan agar kamu melakukannya karna Allah dan sebagai baktimu pada Ayahmu, inysa Allah semuanya akan berjalan dengan lancar sesuai kehendak-Nya." Pesan Bu Winda melihat kebimbangan anaknya.
Ddrrttt ... drrtt ... drrtt....
Suasanah hening itu buyar setelah bunyi ponsel Raddan terdengar. Dengan cepat Raddan mengambil ponsel itu lalu mendekatkanya ke telinga."halo, assalamualaikum ...."
"...."
"Oh iya, Mas akan segera pulang." setelahnya Raddan mematikan sambungan terlebih dulu, kemudian membalikan badannya seraya menaruh ponselnya lagi ke dalam saku celananya.
"Bunda harap kamu mengikuti apa yang sudah Ayahmu wasiatkan." Ucapan ibunya yang terakhir Raddan dengar sebelum melangkah keluar.
***

POV Hawa
"Bunda, Hawa rindu..." tangisku sesegukan dipelukan Bunda Winda.
"Sama Bunda juga. Kamu kenapa nggak pernah hubungin Bunda lagi sejak ...."
Ku lepaskan pelukanku, perlahan ku seka air mata Bunda."Maaf Bunda, nggak seharusnya Hawa menjauh dari Bunda. Hawa paham sekarang, apapun masalah kita, silaturahmi harus tetap terjaga."
"Bunda udah nggak sabar, jadiin kamu mantu Bunda." Mataku membulat mendengar kata-kata Bunda, entah kenapa perasaanku menjadi tidak enak.
"M-maksud Bunda apa?" Ku tolehkan wajahku ke arah Ummi yang juga menampilkan senyum misterius. "Ummi seben-"
Allahuakbar ... Allahuakbar ....
Suara azan berkumandang menghentikan ucapanku, meski rasa penasaran seakan menyuruhku untuk melanjutkan pembicaraan ini, tapi suara azan membuatku ingat bahwa dahulukan sholat di atas urusan-urusan lain apalagi ini hanya urusan dunia semata.
"Ummi, Bunda, kita lanjutkan nanti, Hawa mau ke mushola dulu, soalnya udah maghrib." Pamitku yang di jawab anggukan keduanya dengan kompak.

***
Setelah sholat perasaanku kembali tenang, rasa was-was yang tadi ku rasakan sebelum sholat mendadak hilang. Semoga saja ridho-Mu selalu menyertaiku, aamiin....
Kulangkahkan kakiku kembali ke kamar yang di tempati Ummi dan juga Bunda. Ingin segera menanyakan maksud ucapan Bunda dan arti senyuman misterius Ummi.
"Assalamualaikum, Ummi, Bunda!" salamku.
"Wa'alaikumssalam," jawab keduanya kompak lagi.
Segera aku melangkah maju lalu menyeret kursi disamping brankar Ummi, kemudian ku tempatkan di antara brankar milik Ummi dan Bunda.
"Sekarang Hawa minta penjelasan apa maksud senyum Ummi tadi dan juga maksud dari ucapan Bunda yang menyangkut tentang menantu, itu?" tanyaku dengan menggebu-gebu rasa penasaran yang sudah bercokol sejal tadi langsung ku kekuarkan semua.
"Satu lagi! Ummi kenal Bunda Winda dari mana?" tanyaku lagi, agar semuanya menjadi clear.
Ummi mengenggam kedua tanganku, membuatku menoleh ke arah Ummi sepenuhnya, "ndok, Ummi dan Bunda Winda sebenarnya kami sahabatan sejak jaman SMA, begitupun dengan Abi dan Ayah Farhan. Sudah lama kami putus kontak karna kesibukan masing-masing, dan sekarang baru ketemu tapi sayang, Abi sudah tidak ada ...."
"Ayah Farhan juga sudah meninggal, Hawa." Lanjut Bunda yang membuatku tak kuasa untuk tidak menangis, rasanya aku menjadi orang paling cengeng hari ini.
"Tapi Bunda sekarang bahagia, karna ternyata kamu anak dari sahabat karib Bunda!" kepalaku otomatis mendongak mendengar nada ceria dalam kalimat Bunda, ku tolehkan wajahku ke arah Ummi dan ekspresinya pun sama dengan Bunda. Aneh, mengapa bisa secepat itu ekspresi wajah mereka berubah?
"Ekhmm! Jadi maksud ucapan Bunda tadi adalah ..." Bunda sengaja mengantungkan kalimatnya untuk menjahiliku, sifatnya sama persis seperti pria itu, sosok lelaki yang masih kucintai hingga hari ini.
"Maukah kamu jadi istri dari Raddan anak Bunda?"
Mataku melotot dan langsung bangkit dari duduk setelah mendengar kelanjutan dari ucapan Bunda," Bagaimana bisa Bunda berkata seperti itu, sedangkan kenyataanya Mas Raddan telah memiliki seorang istri?!" karna terbawa emosi suaraku sedikit meninggi membuat Ummi dan Bunda sedikit terlonjak kaget.
"M-maaf ... H-hawa ... tidak bermaksud berbicara sekencang tadi." ku tundukkan kepalaku, merasa sangat bersalah. Seharusnya aku bisa menahan emosiku tapi aku hanya seorang manusia biasa yang memiliki hawa napsu untuk melampiaskan segala hal yang kurasakan.
"Tidak apa-apa. Ini juga salah Bunda yang membuatmu shock, jadi wajar saja jika kamu marah." kulihat Bunda menundukkan kepalanya dalam.
Kurengkuh kedua bahu Bunda lalu ku donggakkan kepalanya dengan lembut,"Bunda nggak salah. Hawa memang shock mendengar ucapan Bunda tapi nggak seharusnya Hawa berteriak seperti itu, mau kan Bunda maafin Hawa?"
Bunda mengangguk,"seharusnya Bunda yang minta maaf."
"Ndok," panggil Ummi yang membuatku menoleh ke arahnya.
"Ndok, Ummi ingin bicara serius tentang masa depanmu." Mimik wajahku berubah serius saat melihat sorot mata Ummi yang tidak seperti biasanya, seperti ada hal yang sangat penting ingin di sampaikannya.

Kuseret kembali kursi itu menghadap brankar Ummi.
"Ndok, penyebab Ummi drop itu karna Ummi khawatir dengan masa depanmu, jika sewaktu-waktu Ummi dipanggil oleh Yang Maha Kuasa rasanya Ummi tak tenang jika harus meninggalkan kamu sendirian di dunia yang kejam ini. Selain itu Ummi juga hampir lupa menyampaikan wasiat Abi-mu sebelum meninggal," ucap Ummi panjang lebar.
"Surat wasiat?"
"Abi menitipkan sebuah surat wasiat yang Ummi simpan di laci dekat tempat tidur Ummi. Saat pulang ke rumah nanti, kamu ambil surat itu dan baca sendiri supaya kamu percaya. Setelah itu baru kamu tanyakan pada Ummi apa yang tidak kamu mengerti dari surat itu,"
Kuanggukan kepalaku dengan ragu, perasaanku semakin tidak karuan. Belum sempat aku bertanya apakah ucapan Bunda serius, sudah ada lagi hal yang membuat kepalaku semakin pusing. Ya Allah, ada apa sebenarnya ini ....
_______


#Jodoh_wasiat_bapak
#JWB4

Part 4

"Hawaa ...." teriakan itu menggema di seluruh penjuru lorong sekolah.
Tanpa melihat ke arah belakang pun, aku sudah tahu siapa orang yang baru saja memanggil namaku, dia Silvia Khoirotun Nissa sahabatku, gadis super heboh dan rempong yang sangat tergila-gila dengan Oppa-Oppa korea dan segala tentang negeri gingseng itu.
"Hawaa ... daebak! Gue lagi seneng banget, nget, nget! Akhirnya setelah penantian selama tujuh purnama, tujuh musim, sampai tujuh abad. Hari ini, disekolah ini bakal kedatangan guru baru yang asli keren abiss mirip Oppa-Oppa gue yang ada di Korea sana. Aaaa ...."
Satu hal lagi ciri khas sahabatku yang satu ini, sangat lebay. Meskipun sudah lama lulus dari SMA namun jiwa anak mudanya masih sangat membara, jika dulu dia sering membahas tentang murid baru yang ganteng dan keren, sekarang beda lagi setelah kita sama-sama menjadi seorang guru, bahasannya guru baru yang ganteng lah yang ini itu dan lain-lain.
"Jangan terlalu berharap lebih, ntar kayak tahun kemarin yang datang bukannya guru ganteng tapi malah Pak Toto."
Silvi berdecak sebal,"ish! Kali ini nggak lagi, gue yakin kalo Pak Rama si guru baru itu ganteng banget. Nggak bakal kayak Pak Toto yang selalu bawa lampu neon kemana-mana, silau!"
"Hahahaha ..." Pak Toto yang sedang kita bahas ini penampilannya sangat kuno ditambah kepalanya yang gundul mengkilat itu membuat Silvi selalu alergi didekatnya.
"Selamat pagi Bu Silvi, Bu Hawa." pucuk dicinta ula pun tiba, baru saja di omongin Pak Toto tiba-tiba nongol, seperti biasa kepalanya yang gundul itu tidak tertutup apa-apa membuat sinar matahari yang baru terbit memantul diatas kepalanya.
"Pagi Pak Toto," dengan sopan ku balas sapaan Pak Toto sedangkan Silvi menjawabnya dengan setengah hati, susah payah ku tahan tawa yang ingin meledak lagi.
"Neng Sisil mau bareng nggak ke kantornya sama Aa Toto?" tawar Pak Toto pada Silvi.
Dengan ketus Silvi menjawab,"nggak mau!"
"Ya sudah. Aa masuk duluan ya, dadah ...." pamit Pak Toto, sebelum berbalik Pak Toto menyempatkan memberikan cium jauh untuk Silvi kemudian Pak Toto pergi.
"Bhahahaha ...." meledaklah tawa yang sedari tadi ku tahan, Silvi menatapku tajam. "Ketawain gue aja teross ... tapi kali ini gue yakin 100% Pak Rama itu ganteng!" tegas Silvi.
"Iya, iya. Percaya, percaya ...."
"Awas aja, kalo nanti lo kesem-sem juga sama tuh guru baru." Ujar Silvi seraya berjalan mundur sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arahku, mengancam.
Ku pegang pundak Silvi lalu membalikkan badannya, mengarahkan jalannya ke depan lagi. "Udah, udah. Lebih baik kita hentikan pembahasan ini, dan cepet-cepet masuk kantor soalnya bentar lagi bel masuk berbunyi."
"Huh! Oke deh," sahut Silvi dengan pasrah, kalo nggak disuruh berhenti pasti dia bakal nyerocos terus.
***
"Haw, pinjem kaca dong! Punya gue ketinggalan soalnya, gue kan mau tacap biar Pak Rama kesem-sem ama gue," pinta Silvi, ku ambil tas milikku lalu ku letakkan diatas pangkuanku, tanpa melihatnya tanganku bergerak untuk mengobrak- abrik isi tas-ku.
Bruk!
Karna terlalu terburu-buru dan tak memerhatikannya semua isi tas-ku jadi terjatuh semua. Aku berjongkok untuk mengambil barang-barangku satu persatu, hingga pandanganku jatuh pada sebuah kertas yang terlihat sudah lusuh dan menguning, dengan perlahan kubuka surat yang sudah berada dalam tas-ku selama berminggu-minggu namun sampai saat ini belum berani ku baca selalu ada keraguan tapi kali ini aku harus membukanya agar semuanya bisa cepat diselesaikan.
Untuk putriku, Hawani Azzahra.
Abi dan teman Abi dulu pernah membuat janji untuk menjodohkan anak-anak kami setelah mereka dewasa, jika kamu membaca surat ini berarti Abi sudah tidak bisa lagi mendampingi kamu untuk melangkah di pelaminan nanti.
Putri Abi yang paling cantik,
"Jelas Hawa putri Abi yang paling cantik orang cuma Hawa anak Abi," gumamku saat membaca bagian itu.
bolehkan Abi meminta satu hal pada putri Abi ini?
"Ish! Tentu boleh dong." Ujarku menjawab isi surat itu.
Abi minta kamu mau menerima perjodohan ini agar Abi bisa tenang melihat ada seseorang yang bisa menggantikan Abi untuk menjagamu. Karna Abi yakin anaknya temen Abi ini bisa mengayomi dan membimbingmu dalam ibadah seumur hidup ini, Abi sudah pernah bertemu dengannya dan anaknya ramah, sopan juga memiliki jiwa tanggung jawab yang besar. Namanya Muhammad Raddan Al-azmi anaknya Om Farhan, mungkin kamu belum kenal tapi Abi yakin dia bisa menjadi imam yang baik untuk kamu.
Sudah itu saja pesan yang ingin Abi sampaikan dan ingat apapun yang terjadi kamu harus selalu bertawakal pada Allah.
Ya, Allah ternyata ini hal yang ingin Abi sampaikan. Abi menginginkan aku menikah dengan anak sahabatnya, sekarang aku tahu kenapa Bunda ingin aku menjadi menantunya ternyata ini juga karna permintaan almarhum Ayah.
Apa yang harus kulakukan? Aku sungguh bingung. Jika aku memutuskan untuk melaksanakan wasiat ini, itu artinya aku harus mau jadi istri keduanya Mas Raddan.
Kubekap mulutku yang akan mengeluarkan isak tangis.
"Haw, lo kenapa? Ada apa? Lo sakit?" panik Silvi bergegas menghampiriku dengan panik dia memeriksa tubuhku yang tidak ku tanggapi apa-apa. Tubuhku sangat lemas hingga untuk berbicara pun terasa sangat sulit.
"Ya Allah, Hawa lo kenapa bilang sama gue, jangan buat gue bingung gini!" Silvi menyentakkan tubuhku.
"Sil, gue harus gimana ..."
"Hah? Gimana apanya?" Silvi semakin bingung.
"Hiks! Sil, gue harus gimana ..."
"Lo cerita sama gue ada apa sebenarnya, biar gue bisa bantuin lo."
Dengan tangan gemetar ku ulurkan surat itu agar Silvi bisa membacanya sendiri.
Silvi langsung mengambil surat itu dan membacanya, sedetik kemudian ekspresinya ikut shock. "I-ini Raddan yang itu?" ku anggukan kepalaku mendengar pertanyaan Silvi.
"Ya, Allah ..." Silvi langsung merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya." Hawa, lo harus sabar. Semuanya pasti akan ada jalan keluarnya," Silvi berusaha menenangkanku, membuatku ingat bahwa Allah selalu bersama hamba- hambanya yang sabar.
Dengan perlahan aku bangkit berdiri merapihkan semua kertas yang masih berserakan di mejaku. "Sil, tolong izinin gue sama Pak Kepala sekolah. Saat ini gue nggak bisa fokus kerja," Silvi terlihat mengangguk.
Ku ambil tas ku yang masih tergeletak di lantai, lalu ku sampirkan dibahu kananku setelahnya dengan sedikit tertatih aku berusaha melangkah keluar dari kantor.
Duk!
Tidak segaja bahuku menyenggol seseorang yang sepertinya hendak masuk.Tanpa melihatnya ku tundukkan sedikit kepalaku seraya berkata maaf kemudian ku lanjut kembali langkahku menuju parkiran motor.
Sungguh saat ini kepalaku tidak bisa berpikir jernih, beban yang harus ku pikul sangatlah berat.
***
"Ara!" panggil sebuah suara yang sangat ku hapal dan hanya dia seorang yang selalu memanggilku dengan nama itu.
Dengan perlahan kubalikkan badan ke arah belakang, di sana berdiri seorang pria bertubuh jangkung, berahang tegas, berkulit putih, beralis lebat, memiliki bulu mata yang lentik, serta pemilik senyum yang indah dengan bola mata sehitam jelaga.
Dalam doa, aku selalu berharap dia bisa menjadi imamku di masa depan nanti untuk mengarungi bahtera rumah tangga bersama. Aku mengharapkan bisa menjadi jodohnya bukan karna dia tampan namun ahlaknya lah yang membuatku melabuhkan pilihanku padanya, ya dia Muhammad Raddan Al-Azmi.
"Hai Mbak pacar, bagaimana kabarnya hari ini?" sapanya padaku disertai senyuman jahilnya, dia tahu jika aku tidak menyukai sebutan itu.
"Ish! Kan udah aku bilang jangan panggil aku begitu?!" kesalku seraya mengerucutkan bibirku beberapa senti.
"Hahaha, lucu banget sih ... jadi pengen cubit deh." Tangannya terangkat hendak menyentuh pipiku namun secepat mungkin aku menghindarinya,"belum halal, jadi nggak boleh ya!" ujarku seraya menatapnya tajam.
"Kan kita pacaran ... masa masih nggak boleh, sih!" keluhnya, wajahnya terlihat imut saat dia tengah merajuk seperti itu. Astagfirullah, tundukkan pandanganmu Hawa jangan sampai napsu menghasutmu untuk melakukan hal yang dilarang oleh- Nya.
"Siapa yang bilang kita pacaran? Itu hanya opinimu saja Mas. Jangan ke Pedean gitu,belum tentu aku mau."
"Masa nggak mau? Seriusan ... tapi kok Mas liat mukanya merah merona gitu?" godanya yang memang berhasil membuatku merona namun secepat mungkin ku netralkan kembali raut wajahku.
"Nggak kok!" sangkalku.
Dari ekor mataku kulihat Mas Raddan melangkah menuju kursi taman, memang kami janjian bertemu di taman Yudhana, taman ini sangat indah dan ramai di sore hari seperti ini. Apa dia marah?
"Memang Mas, yang mengklaim kamu itu pacar Mas. Semua itu Mas lakuin agar tidak ada pria lain yang berani mendekati kamu. Jika Mas hanya mengatakan hubungan kita sebatas ta'aruf itu tidak akan membuat para pria itu jera untuk mendekati kamu lagi. Mas lakuin itu karna permintaan mu juga yang belum ingin menikah selama masih kuliah, jadi jangan protes kalo Mas bilang kamu itu pacar Mas."
Memang aku mengatakan itu agar Mas Raddan semangat dalam menyelesaikan kuliah jika aku langsung menerima lamarannya minggu lalu, bisa ku pastikan Mas Raddan akan melupakan semua hal tentang kampus.
"Semangat Mas! Mas harus buktikan dulu pada Ara jika Mas bisa lulus kuliah dengan nilai bagus, biar nggak malu-maluin Ara nanti." Ledekku sambil melangkah ke arahnya dan ikut mendudukkan diri dikursi taman.
"Mulai nakal ya, Mas ini pintar tau!" ucapnya tak terima.
Aku sedikit tertawa mendengar nada suaranya.
"Ara ... apapun yang terjadi di masa depan nanti. Mas mohon padamu, tetaplah di samping Mas karna Mas tidak akan sanggup jika harus kehilanganmu." Ucap Mas Raddan lagi namun raut wajahnya sudah berubah menjadi serius.
Aku mengangguk," insya Allah, Mas. Ara akan dukung apapun keputusan Mas selama itu baik dan benar."
"Hah ...." napaku tersengal dan langsung terbangun dari tidurku, kenangan itu muncul kembali dalam mimpiku. Ya, Allah pertanda apa ini?
Bangkit dari pembaringan dengan perlahan ku usap wajahku kemudian ku baca doa sesudah bangun dari tidur, setelahnya ku lirik jam dinding yang tertempel di kepala ranjang
ternyata baru pukul 3 dini hari.
Lebih baik aku bermunajat pada Yang Maha Kuasa terlebih dulu, untuk meminta petunjuk tentang apa yang harus ku lakukan dalam menghadapi masalah yang kuhadapi saat ini.
________


#Jodoh_wasiat_Bapak
#JWB5
Part 5

Di pertengahan anak tangga langkahku terhenti saat melihat Ummi yang sedang menyiapkan sarapan pagi untuk kami berdua. Ku lengkungkan senyum terbaikku, meski pikiranku sedang kacau tapi sebisa mungkin aku harus selalu tersenyum didepan Ummi. Karna jika Ummi mengetahuinya pasti beliau juga akan ikut memikirkan jalan keluarnya sesusah apapun itu dan dampaknya bisa membuat kesehatan Ummi bermasalah lagi seperti waktu itu. Maka dari itu sebisa mungkin aku harus menyelesaikan masalah ini secepatnya.
"Pagi, Ummi!" sapaku dengan riang, membuat Ummi menoleh ke arahku dan tersenyum.
"Tara ... hari ini Ummi masak makanan spesial," ujar Ummi seraya tangannya memperagakan adegan seperti di tipi-tipi yang mempersilakan aku untuk duduk seperti tuan ratu.
Dengan cepat kulangkahkan kakiku menuju meja makan, di meja sudah tersedia nasi dengan lauk pauk yang beraneka ragam. Mulai dari orek tempe, perkedel, sayur sop, ayam goreng dan masih banyak lagi.
"Dalam rangka apa Ummi masak sebanyak ini?" menyipitkan mata kutatap Ummi dengan menyelidik.
"Ummi ... lagi seneng aja, emangnya nggak boleh?"
"Ya, boleh sih ... tapi siapa yang mau habisin makanan sebanyak ini, Mi?"
"Nanti juga bakal habis, kayak kamu nggak doyan makan aja!" sindir Ummi.
"Ish! Ummi. Hawa emang doyan makan, tapi Hawa nggak serakus itu tau?!"
"Udah. Makan aja, ntar kamu telat lagi." Ummi duduk di kursi bagian ujung kepala meja sedangkan aku sudah duduk di kursi sebelah kiri Ummi.
Kami pun memakan sarapan dengan tenang hanya suara dentingan sendok dan garpu yang terdengar. Karna seharian kemarin aku mogok makan karna mood-ku yang kurang bagus jadi sekarang aku makan cukup banyak, piringku penuh dengan lauk yang sudah menggunung. Sudut mataku mendapati Ummi yang sedang tertawa melihat ke arah piringku, ternyata aku sedoyan itu dengan makanan. Ckckck...
"Ndok," panggil Ummi saat aku tengah meneguk segelas susu untuk mengakhiri sarapanku.
"Kamu udah baca surat dari Abi?" lanjut Ummi yang mengingatkanku pada surat wasiat yang ditulis Abi untukku.
Sepertinya biasa aku tak akan pandai berbohong dihadapan Ummi dengan perlahan kuanggukan kepalaku.
"Jadi bagaimana keputusanmu?"
"Hawa belum mendapatkan petunjuk, Mi. Jadi Hawa belum bisa menjawab hal itu sekarang,"
"Kamu sudah sholat istikharah?"
"Alhamdulillah sudah, Mi. Tapi Hawa belum mendapatkan jawabannya," memang benar seperti itu adanya, aku tidak bisa tertidur lagi setelah sholat istikharah tadi malam sehingga aku memutuskan untuk membaca beberapa surah sambil menunggu azan shubuh berkumandang setelahnya aku menyiapkan segala keperluan untuk mengajar.
"Ya sudah, tak apa. Ummi tidak memaksamu untuk menjawab sekarang, tapi ada baiknya kamu temui Bunda Winda. Bundamu itu sangat ingin bertemu, katanya ada hal penting yang ingin disampaikan sama kamu."
"Insya Allah nanti Hawa akan hubungi Bunda."
Susu digelasku sudah tandas, saatnya untuk berangkat mengajar." Ummi, Hawa berangkat ngajar dulu ya, Assalamualaikum!" pamitku sambil menyamili tangan Ummi dengan takzim dan tak lupa kucium kedua pipi wanita kesayanganku itu.
***
Sesampainya disekolah Silvi menyambutku dengan kehebohan.
"Haw, lo udah nggak papa kan?" Silvi melontarkan pertanyaan sambil memeriksa seluruh badanku, membuatku mengerutkan kening.
"Ngapain lo meriksa seluruh badan gue?!"
Silvi menghentikkan gerakannya yang hendak memeriksa bagian ketiakku, gadis berhijab modern itu menjauhkan badannya lalu menghela napas lega. "Gue itu takut lo ikut-ikutan video yang lagi viral itu, kalo lagi ada masalah suka ngelukain badannya sendiri pake silet."
"Kehaluan lo udah sangat akut, gue aja nggak pernah nonton video viral begituan jadi gue nggak tau dan juga gue takut sama Allah kalo ngelakuin hal kayak gitu. Makanya kalo lo nonton You Tube jangan cuma nontonin video-video viral aja, tapi cari video yang bermanfaat dan banyak kaedahnya. Lagian di negara berflower yang santuy ini kebanyakan hal-hal yang viral itu hal yang negatif nggak semua hal yang viral bisa kita contoh, jadi sebagai warga +62 yang baik dan berbudi luhur kita harus bisa menjadi warga yang tetap santuy tapi juga pintar secara bersamaan termasuk dalam hal memilah tontonan yang bisa kita terapkan dalam kehidupan kita selanjutnya."
"Ngomongnya nggak suka hal yang viral tapi bahasa yang lo pake juga bahasa yang lagi viral juga."
"Gue dengernya juga pas liat ceramah di tipi yang membahas tentang hal kekinian, biar nggak di bilang kudet gitu." Ujarku seraya menaik-turunkan kedua alisku.
"Huh?! Sekarepmu ae!" dengus Silvi lalu berjalan lebih dulu kedepan.
"Iya dong! Kan mulut, mulut gue. Jadi terserah gue lah!"
Namun Silvi tak membalas ucapanku seperti biasanya, heran ku tolehkan wajahku ke arah depan. Kulihat Silvi tengah mengobrol dengan seorang pria dari gesturnya Silvi terlihat malu-malu padahal biasanya dia suka malu-maluin. Siapa sebenatnya pria itu sampai membuat Silvi seperti itu?
"Hawa, sini!" panggil Silvi seraya melambaikan tangan menyuruhku mendekat.
aku pun menurutinya melangkah ke arah dua orang itu,"Haw, kenali ini Pak Rama guru baru yang gue bilang itu." Ah, pantas saja aku tidak kenal, ternyata dia guru baru yang kemarin Silvi ceritakan dengan sangat heboh plus lebay.
Menangkupkan kedua tangan di dada," Hawa Azzahra."
Pria itu pun melakukan hal yang sama,"Angga Ramadhani."
"Haw, gue mau pedekate sama dia jadi lo harus temenin gue, oke!" bisik Silvi ditelingaku, kutolehkan wajahku lalu menggeleng tanda tak mau mengikuti keinginannya."Haw, kali ini aja. Lagian kalo kita berduaan aja kan nggak boleh, bukan mahramnya."
Ku hela napasku pasrah,"iya deh. Sekarepmu ae!" balasku mengikuti kata-katanya tadi.
"Pak Rama, boleh nggak kita ngobrol-ngobrol dulu dikantin sebelum bel masuk.Eh, maksud saya, sekalian kita saling berkenalan biar nggak kaku ke depannya." Ujar Silvi melancarkan bujuk rayunya.
"Emm ... boleh. Saya juga perlu tanya-tanya soal sekolah ini dan semacamnya pada kalian, supaya saya bisa mengajar dengan baik disekolah ini." Sahut Pak Rama seraya melangkah mengikutiku dan Silvi ke kantin sekolah.
***
Di sinilah aku sekarang, duduk menunggu Bunda di Nu&Ra Kafe yang terletak di jalan Pahlawan nomer 3 jakarta selatan. Kafe ini memang sedang hits dikalangan anak muda jaman sekarang, apalagi interior kafe yang mengusung konsep keinian dengan tema kartun islami buatan anak negeri yaitu Nussa & Rarra. Di bagian pojok sebelah kiri kafe ini menyediakan ruang baca yang dilengkapi dengan berbagai macam buku mulai dari buku cerita anak sampai novel untuk remaja pun tersedia disana, dibagian dindingnya terdapat gambar Nussa & Rarra serta Anta dalam berbagai pose.
Penataan meja disini juga tidak monoton begitu juga kursi disini, ada meja dan 4 kursi yang saling berhadapan menghadap dinding kafe, ada juga sofa panjang dengan motif Nussa & Rarra yang terletak di bagian pojok kanan lengkap dengan meja panjang cocok untuk keluarga besar yang ingin mengunjungi kafe ini bersama-sama. Kafe ini memiliki dua lantai, lantai yang ku tempati ada di lantai dua, sedangkan lantai satu memiliki tema yang sama namun dengan interior yang sedikit berbeda, pokoknya instagramable dengan tambahan lampu-lampu gantung yang kecil nan indah berbentuk seperti bunga mawar.
"Maaf Bunda telat, Hawa udah nunggu lama?"tanya Bunda yang membuatku menghentikkan kegiatanku memperhatikan interior kafe ini.
"Nggak juga kok, Bun. Lagian Hawa nggak ngerasa bosan nunggu Bunda, soalnya kafe ini interiornya bagus, jadi nggak berasa lama nunggunya, hehehehe." Cengirku.
"Oh syukurlah, Bunda kira kamu udah pergi karna Bunda kelamaan."
"Nggak lah, Hawa pasti bakal tetap nunggu Bunda kok. Hawa kan kangen juga sama Bunda," bangkit dari duduk dan langsung ku rengkuh tubuh Bunda ke dalam pelukanku.
Setelahnya Bunda mendudukkan diri didepanku, kemudian beliau memanggil pelayan dan kami memesan makanan. Aku baru teringat kalo ternyata perutku sangat keroncongan, karna aku belum makan sejak pulang dari sekolah tadi.
"Ekhm.." Dehem Bunda membuatku mengalihkan tatapan ke arahnya.
"Hawa, apa keputusanmu mengenai hal yang Bunda utarakan waktu itu. Tentang menjadi menantu Bunda?" tanya Bunda to the point.
Sontak mataku membelalak ternyata benar dugaanku saat mendengar ajakan Bunda ditelepon tadi.
"Hawa belum bisa memutuskannya sekarang Bun, kasih Hawa waktu sebentar lagi. Sampai Hawa mendapatkan jawabannya,"
Ku lihat Bunda menghela napas kecewa,"ya sudah. Tapi Bunda tetap ingin kamu menjadi menantu Bunda,"
"Bunda masih belum bisa menerima Clara sebagai menantu Bunda?"
"Bunda tidak mungkin lupa dengan hal yang sudah dia perbuat pada mu, Hawa. Seharusnya Bunda yang tanya, apa kamu sudah mengihklaskan Clara menjadi istri Raddan?"
Hal itu juga yang sebenarnya masih aku tanyakan dalam setia curhatanku di setiap bait-bait doa yang ku panjatkan pada Yang Maha Kuasa, namum rasanya tetap saja sulit mengihklaskan hal itu meski keadaanku sudah lebih baik dari empat tahun lalu.
"Insya Allah, Hawa ihklas Bun." Jawabku dengan ragu.
"Kamu masih ragu kan, itu wajar bagi seorang wanita yang sudah dilamar dan tiba-tiba saja karna kecelakaan si calon suami malah menikahi wanita lain."
"Bunda harus berusaha ihklas juga, Kulihat Mas Raddan mencintai Clara juga sekarang." Sakit, sungguh sangat sakit mengatakan bahwa pria yang kita cintai mencintai wanita lain.
"Raddan nggak mencintai perempuan iblis itu, dia hanya sedang lupa. Bunda yakin bahwa jauh dilubuk hati Raddan yang paling dalam masih jelas tertulis nama 'Hawani Azzahra' sebagai pemilik hatinya."
"Tapi Hawa yang nggak yakin Bun, ini sudah lewat bertahun-tahun namun tidak ada tanda-tanda ingatan Mas Raddan akan kembali."
"Bunda tidak bermaksud untuk su'udzon, Bunda hanya curiga perempuan iblis itu lah penyebab ingatan Raddan belum juga pulih hingga sekarang."
"Astagfirullah, Bunda jangan menuduh orang sembarangan, itu sama saja Bunda bersu'udzon."
"Kalo begitu bantu Bunda agar tidak selalu bersu'udzon seperti ini terus,"
"Maksud Bunda apa?"
Bunda meraih tanganku lalu mengenggamnya dengan kuat,"jadilah istri Raddan dan sadarkan kembali dia, buat dia kembali mengingat bahwa kamu adalah gadis yang sangat dia cintai."
_______

Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar