Persaudaraan Muslimah Indonesia, mempelajari Islam Secara Menyeluruh.

Sabtu, 21 Maret 2020

JODOH WASIAT BAPAK 11 - 15

#Jodoh_wasiat_bapak
#JWB11 author Shofiyah Shofiyah
Part 11

Suasana menjadi canggung akibat kejadian tadi. Aku memilih menyibukkan diri didapur sekalian memasak makan siang sedangkan Mas Raddan naik ke lantai dua dan sampai sekarang belum juga turun kembali.

Sebenarnya aku heran kenapa Mas Raddan sudah pulang jam segini. Padahal setahuku jam pulang kantornya itu sekitar pukul lima sore.

Baru dipikirin orang yang bersangkutan turun dengan pakaian casualnya. Saat pandangan mata kami bertemu suasanah canggung tercipta kembali membuatku cepat-cepat mengalihkan pandangan ke arah lain.
Jantungku mulai jumpalitan tak karuan saat dipikiranku melintas kejadian siang tadi. Tapi suasana seperti ini juga tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, akan semakin canggung saat kami duduk semeja untuk makan siang nanti.
"Auw!" pekikku saat tak segaja jari telunjukku tergores pisau akibat kurangnya konsentrasi dalam memasak.
"Ada apa?" tiba-tiba Mas Raddan sudah berdiri di sampingku.
"Tidak papa!" dustaku seraya menyembunyikan tangan kananku ke balik badanku.
"Kamu pasti bohong. Lalu apa yang kamu sembunyikan di balik badanmu itu?"
"Bukan apa-apa, tidak penting!" kakiku bergerak mundur takut Mas Raddan akan memarahiku seperti dulu.
Mas Raddan melangkah maju mengurungku di antara meja counter dan badannya. Membuat jantungku ingin copot karna detakannya semakin tidak karuan.
"Kalo bukan apa-apa, kenapa kamu menyembunyikannya. Sini saya mau liatnya sendiri!" Mas Raddan menarik paksa tanganku yang kusembunyikan, matanya menajam melihat luka yang ada di jari telunjukku.
"Ini yang kamu bilang bukan apa-apa. Meskipun ini luka kecil tapi kalo dibiarkan bisa infeksi?!" bentaknya marah.

Mataku langsung mengerjap beberapa kali mendengar Mas Raddan membentakku. Sungguh sikapnya memang sangat aneh hari ini. Aku yang terluka kenapa dia yang marah?
Tanpa meminta persetujuanku Mas Raddan langsung membawa tanganku ke washtavel untuk dibersihkan.
Baru saja aku hendak mengatakan bahwa aku bisa mengobatinya sendiri tapi urung saat Mas Raddan berkata, "jangan membantah, diam dan biarkan saya mengobatinya!"
Mas Raddan membawaku duduk di kursi meja makan. Kemudian dia pergi mengambil kotak P3K yang tersimpan di laci meja dekat dinding.

"Siniin tangan kamu!" perintahnya dengan tegas tanda tidak ingin dibantah.
Ku ulurkan jariku yang terluka lalu dia memengang tanganku dengan lembut. Mas Raddan meniup luka itu, dengan perlahan dia merekatkan plester luka itu di jariku.
"Lain kali hati-hati! Dan kurangi sifat cerobohmu itu." Mas Raddan masih berbicara dengan emosi namun aku tahu ada sedikit rasa ke khawatiran dalam ucapannya.
Aku hanya bisa mengangguk saja takutnya jika aku menjawab, emosi Mas Raddan semakin memuncak.
"Mas, kalo Hawa boleh tau. Kenapa jam segini Mas sudah pulang?"
Kulihat raut wajah Mas Raddan menunjukkan ekspresi terkejut walau berusaha dia ditutupi sebisa mungkin.
"Emm, itu bukan urusan kamu. Saya mau pulang lebih awal ataupun tepat waktu itu terserah saya."
"Bukan itu maksud Hawa, kalo Mas bilang mau pulang lebih awalkan Hawa bisa masak makan siangnya lebih cepat dari biasanya."
"Menunggu tidak masalah untuk saya."
"Kalo gitu, Hawa mau lanjut masak dulu ya, Mas."
"Eh! Jangan tangan kamu terluka. Biar saya saja yang memasak makan siang untuk hari ini."
"Tidak perlu, Hawa masih bisa lanjut masak." keukeuh ku yang merasa tidak enak membuat Mas Raddan kerepotan.
"Tetap duduk disini! Saya yang akan melanjutkannya." Mas Raddan beranjak untuk mengembalikan kotak P3K itu kembali ke tempatnya.
Dengan cekatan Mas Raddan menggulung lengan sweater sebatas siku lalu mulai berkutat dengan bahan masakan didapur.
"Kamu tadi mau masak apa?"
"Masak ayam asam pedas sama sop ikan kakap."
"Bisa bantu saya, untuk menunjukkan bahan-bahan apa saja yang dibutuhkan dalam memasak menu yang kamu sebutkan tadi."
"Kan sudah Hawa bilang, biar Hawa saja yang masak." Aku bangkit lalu beranjak mendekatinya.
"Kamu hanya perlu memberitahukan bahan dan bumbunya saja. Untuk bagian masak tetap saya yang akan melakukannya."
"Baiklah." Aku hanya bisa pasrah saat Mas Raddan sudah menunjukkan sifat bossy-nya.
Aku pun menyebutkan bahan dan bumbunya serta cara memasaknya juga dengan perlahan agar Mas Raddan tidak kesulitan mengikuti arahanku.

Satu setengah jam kemudian, dua hidangan itupun sudah siap dimeja makan. Mas Raddan sudah mendudukkan diri di kursi bagian ujung dan aku pun mengikutinya duduk di kursi bagian kanan.
Kulihat Mas Raddan mengambil piring. Segera saja aku berdiri hendak mengambilkan nasi untuknya seperti biasa.
"Kamu mau kemana?"
"Hawa mau mengambilkan nasi dan lauk untuk Mas!"
"Tidak perlu saya bisa sendiri, lagian tangan kamu sedang terluka saya tidak mau membuatmu repot."
"Tapi ini lukanya kecil." Bantahku.
"Diam. Sekarang gantian saya yang akan mengambilkan makanan untuk kamu."
"Eh! Nggak usah!" Tolakku seraya melambaikan tangan, tapi melihat Mas Raddan melotot ke arahku tanda tidak ingin di bantah membuatku urung melakukannya.
Satu hal yang tidak berubah dari Mas Raddan, masih saja lebay jika menghadapi hal seperti ini.

Flasback On
Hari ini aku datang terlambat padahal ada kuis di kelas Pak Hamid pagi ini.
Kecerobohanku semakin hari bertambah akut. Karna belajar sampai larut malam aku jadi bangun terlambat hari ini, padahal kuis akan dilaksanakan pagi ini.
Tapi sekarang aku tidak ada waktu untuk menyesali kecerobohanku itu. Yang perlu aku lakukan sekarang adalah berlari secepat mungkin ke kelas agar tidak terlambat untuk mengikuti kuis itu.
Aku berlari terlalu cepat tanpa melihat jalan yang ku lalui hingga ...
Bruk!!
Aku terperosok jatuh dengan posisi tengkurap. Untung aku memakai gamis yang cukup tebal sehingga tubuhku tidak mengalami lecet parah.
"Shh ..." ringisku saat kurasakan telapak tanganku mengeluarkan darah segar akibat tergores.
Kuis akan dimulai lima menit lagi, membuatku tidak punya cukup waktu untuk mengobatinya. Dengan cepat kurogoh sapu tangan yang terdapat di saku gamisku seraya kembali berlari ke kelas.
Alhamdulillah, akhirnya aku bisa datang tepat waktu dan insya Allah jawabanku benar, karna aku sudah mempelajarinya tadi malam.
Aku keluar dari kelas dengan lega dan aku baru teringat bahwa hari ini Mas Raddan mengajakku makan siang di restoran dekat kampus.
Kulirik jam yang melingkar dipergelangan tanganku yang sudah menunjukkan pukul sebelas lewat. Aku langsung melangkah dengan cepat ke tempat janjian kami.
***
Lima menit kemudian aku sampai disana dan langsung ku edarkan pandangan ke sekitar untuk menemukan sosok pria jangkung itu.
Disana kutemukan Mas Raddan yang duduk membelakangiku. Kulangkahkan kakiku ke sana dengan cepat,"maaf, Mas. Hawa telat."
"Tidak apa-apa yang penting kamu tetap datang." Ujarnya lembut.
Aku mendudukkan diriku di hadapannya.
"Pesan makanan dulu baru setelahnya Mas akan memberitahukan sesuatu padamu."
"Baiklah!" ku ambil buku menu yang ada didepanku dan mulai melihat-lihat isinya.
"Stop! Kenapa tanganmu bisa terluka?" tanyanya berusaha tetap lembut padahal aku mendengar nada marah dalam suaranya.
Secepat mungkin kusembunyikan tanganku yang tadi tergores ke bawah meja." Nggak ini cuma tergores sedikit."
"Ara tunjukkan tanganmu, atau Mas akan menariknya dengan paksa!"
Dengan gugup kutunjukkan tanganku yang terbalut sapu tangan.
"Buka!" perintahnya karna dia tidak mungkin memegang tanganku, dia masih menghormatiku sebagai wanita muslimah yang tidak boleh disentuh oleh orang yang bukan mahramnya.
Aku menurut, membuka ikatan sapu tangan itu dengan perlahan. "Shh ..." kembali aku meringis saat kurasakan angin menerpa lukaku.
"Luka seperti itu kamu bilang 'hanya tergores sedikit' obatin sekarang juga!!"
"Nanti saja setelah makan baru akanaku obati lukanya."
"Baiklah kita pesan makanan dulu. Mbak, cepat kemari!" panggil Mas Raddan pada pelayan wanita yang hendak melewati meja kami.
"Iya Mas, mau pesan apa?"
"Bisa tolong ambilkan kotak P3K dulu, baru setelahnya saya akan memesan makanan."
"Sebentar saya akan mengambilkannya terlebih dulu." Pelayan wanita itu melangkah cepat ke belakang.
"Mas, apa-apaan sih. Kan nanti Hawa bisa obati sendiri dirumah."
"Tidak! Kalo nanti-nanti luka kamu bisa infeksi duluan?! Diam dan jangan membantah lagi."
Bibirku mengerucut, selalu begitu Mas Raddan akan selalu overprotektif dengan sangat lebay jika sudah bersangkutan denganku.
"Ini Mas kotak P3K, mau pesan makanannya sekarang atau nanti?" tanya pelayan wanita itu kemudian.
"Sekarang aja Mbak. Saya pesan sop ayam sama minumnya lemon tea. Mas mau pesen apa?"
"Terserah!"
"Samain aja, Mbak kalo begitu."
"Oh iya. Silakan ditunggu pesannya saya permisi dulu." Pelayan itu pun kembali ke kebelakang setelah mencatat pesanan kami.
Kulihat Mas Raddan sudah mengeluarkan beberapa botol berisi obat."Bersihkan dulu luka kamu pakai ini." Dia memberikan botol yang kuyakini berisi cairan alkohol.
Malas berdebat dengannya, aku mengikuti saja apa yang dia mau. Perlahan aku menuangkan cairan itu sedikit demi sedikit ke telapak tanganku yang tergores.
"Shh ... perihh ..." ringisku sambil memejamkan mata.
"Harusnya kamu lebih hati-hati. Aku nggak suka liat kamu terluka seperti ini, karna aku juga merasakan sakit yang kamu rasakan bahkan lebih parah dari kamu. Maka dari itu tolong jaga dirimu sendiri, bukan hanya untuk kamu saja tapi juga untuk Mas."
"Maaf tapi aku tadi terburu-buru karna ada kuis pagi."
"Mulai sekarang aku akan mengawasi kamu, sesering mungkin agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi."
"Hm, maafin Hawa yang udah buat Mas Raddan khawatir. Hawa akan hati-hati lain kali."
"Sudahlah, Mas nggak suka liat kamu sedih begitu. Sekarang obati tangan kamu dan jangan lupa diperban, agar lukanya cepat sembuh."
"Siap, bos!!" tanganku terangkat, hormat.
Flasback Off

"Ekhm, apa makanannya tidak enak?" pertanyaan dari Mas Raddan membuatku kembali ke realita saat ini.
"Apa?"
"Saya bertanya, apakah makanan buatan saya tidak enak?"
"Enak, kok!"
"Kalo enak kenapa sedari tadi saya liat kamu hanya mengaduk-aduknya saja?"
"Mmm ... tadi masih panas jadi Hawa aduk-aduk dulu supaya dingin." Bohongku, tidak mungkin aku mengatakan bahwa aku sedang mengingat kenangan kita berdua dimasa lalu.
"Oh begitu." Sahutnya kemudian melanjutkan makannya kembali.
Syukurlah dia percaya. Aku pun ikut menikmati makanan dipiringku yang sudah porak-poranda seperti terkena gempa. Sungguh aku tidak sadar telah melakukannya.

***
"Shadaqallahul Adzim." Kututup Al-Qur'an yang barusan kubaca, lalu menciumnya.
Sudah menjadi kebiasaanku untuk membaca beberapa surah setelah sholat maghrib. Rasanya hatiku menjadi tentram setelah membaca kalam-kalam ilahi. Sungguh Al-Qur'an adalah obat terampuh untuk menentramkan hati yang sedang gelisah.
"Hawa! Cepet keluar bukain pintu!" perintah suara yang ku ketahui milik Clara.
Aku pun bergegas menaruh Al-Qur'an milikku kembali ke tempat semula. Lalu aku mulai melepas mukena yang kukenakan dan memakai jilbabku kembali.
Aku melangkah dengan tergegas ke ruang keluarga, takut ada sesuatu yang penting. Semakin dekat dengan ruang keluarga, langkahku mulai melambat. Pemandangan didepanku membuat mataku berembun siap meneteskan air mata. Seharusnya aku tidak boleh begini. Bagaimana pun Clara itu juga istri Mas Raddan, jadi dia berhak untuk berdekatan seintim itu dengan Mas Raddan, suaminya sendiri.
Clara duduk bersama Mas Raddan disofa seraya menonton TV. Dengan mesranya Clara menyandarkan kepalanya di bahu Mas Raddan dan tangannya memeluk pinggang Mas Raddan, sebaliknya Mas Raddan merangkul pundak Clara.

Sungguh aku tidak ingin merasa cemburu melihatnya tapi hatiku merasakan hal yang sebaliknya. Hatiku terasa sangat perih seperti ada yang mencabik-cabiknya dengan pisau tajam. Ini memang hatiku tapi aku tidak bisa mengaturnya untuk tidak merasakan cemburu melihat itu semua.
Apakah aku salah telah masuk ke dalam rumah tangga mereka. Aku memang ada di antara mereka berdua namun kehadiranku seperti bayangan yang tidak terlihat. Tugasku hanya melayani Mas Raddan dalam hal makan karna hanya itu yang tidak bisa Clara lakukan sebagai seorang istri, selain itu aku tidak diperbolehkan berdekatan dengan Mas Raddan.
"Auw!" pekikku meradakan nyeri yang sangat dalam di bagian ulu hati, bersamaan dengan itu air mataku meluncur dengan derasnya dari kedua pelupuk mataku.
"Kamu kenapa?" tanya Mas Raddan mengalihkan tatapannya ke arahku.

Aku tidak menjawabnya, memilih beranjak pergi seraya menghapus air mata yang sudah membasahi seluruh wajahku.
"Nggak usah peduliin dia, Mas. Dia itu pinter akting jadi jangan ke tipu sama tangisan buayanya." Ujar Clara yang masih bisa ku dengar dengan jelas. Aku selalu berusaha bersikap baik padanya tapi kenapa dia dengan kejamnya memfitnahku seperti itu.
"Jangan lupa bukain pintu depan, kayaknya ada tamu!" teriak Clara mengingatkan lagi.
Aku melangkah keluar bukan untuk menuruti perintah Clara, tapi saat ini aku butuh tempat untuk menenangkan pikiran dan hatiku.
Saat kubuka pintu ternyata benar ada tamu. Tamu yang tidak terduga.
"Hawa, kenapa kamu menangis?"
_______


#Jodoh_wasiat_bapak
#JWB12
Part 12
"Hawa, kenapa kamu menangis?" tanya Bunda yang sudah ada didepan pintu. Dengan cepat kuhapus air mata yang masih menggenang dipipi.
"Hawa nggak nangis Bunda. Hawa cuma kelilipan debu," dustaku.
"Jangan coba-coba buat bohongin Bunda. Cepat katakan siapa yang membuatmu menangis?"
"Nggak ada Bun, Hawa nangis karna ... kangen sama Ummi."
"Bunda semakin yakin kalo kamu sedang berbohong!" setelahnya Bunda masuk ke dalam, dengan cepat aku mengikut Bunda masuk ke rumah.
Sampai diruang tengah aku melihat Mas Raddan dan Clara tengah asik saling menyuapi popcron satu sama lain.
"Bagus ya! Kalian asik bermesraan disini sedangkan Hawa kalian suruh untuk membukakan pintu."
"Bunda? Bunda kenapa nggak bilang-bilang dulu ke kita, kalo mau datang?" tanya Clara yang langsung bangkit dari sofa begitupun Mas Raddan yang terkejut melihat ke datangan Bunda.
"Kenapa? Kalian mau siap-siap mengatur adegan seolah-olah kalian memperlakukan Hawa dengan baik atau kamu akan berpura-pura menerima Hawa dengan senang hati, begitu? Tidak usah repot-repot membuat citra yang bagus dihadapan Bunda, karna Bunda sudah mengenal betul bagaimana sifat aslimu."

Bunda menoleh ke arah Mas Raddan. "Raddan jika kamu bertanya kenapa Bunda tidak menyukai Clara, salah satunya karna sifat egoisnya ini."
"Ah! Bunda juga mau bilang, Clara seharusnya kamu bisa berbagi dengan Hawa, karna sekarang Raddan bukan Hanya milikmu tapi juga milik Hawa karna dia juga istrinya."
Clara mendekat ke arah Bunda," mengatakannya memang sangat mudah tapi bagaimana jika Bunda sendiri yang merasakan berada di posisi Clara sekarang. Apa Bunda ihklas membagi suami Bunda dengan orang lain?"
Bunda tetap tenang, melangkah mendekati Clara."Mengikhlaskannya memang sulit tapi Bunda akan berusaha menerimanya. Bukannya melakukan hal picik seperti yang kamu lakukan saat ini, hanya karna tidak ingin suaminya jatuh kepelukan wanita lain yang notebenenya istri suaminya juga."
"Cukup Bunda!!" Mas Raddan maju ke hadapan Bunda dengan tangan mengepal.
Bunda mengangkat tangannya, tanda tidak ingin Mas Raddan ikut campur dalam pembicaraanya dengan Clara. Sebenarnya aku pun ingin menghentikannya namun apa dayaku. Bunda tidak akan berhenti berbicara, sebelum apa yang ada di benak beliau tersampaikan semuanya pada orang yang bersangkutan.
"Biar aku yang menghadapi Bunda, kali ini Mas tidak perlu membantuku dulu." Clara maju semakin memperpendek jaraknya dengan Bunda.
"Aku tidak picik. Aku hanya ingin mempertahankan rumah tanggaku agar tidak semakin hancur karna kedatangan orang ketiga. Yang pantas di sebut picik bukan aku tapi dia!!" Clara menunjukku dengan mata yang menyorot tajam.

Bukan keinginanku untuk menjadi orang ketiga di antara mereka. Tapi kenapa selalu aku yang disalahkan oleh Clara padahal aku selalu mencoba menuruti semua yang dia inginkan agar dia bisa menerimaku sebagai temannya, agar kita bisa saling membantu untuk mengurus kehidupan rumah tangga ini.
"Picik? Orang ketiga? Pelakor? Apa perlu Bunda beberkan beberapa fakta agar semuanya tahu terutama Raddan tentang siapa yang pantas disebut sebagai pelakor?" tubuh Clara mulai mundur dan terlihat bergetar karna takut.
"Stop Bunda! Clara itu wanita baik-baik tidak mungkin dia menjadi seorang pelakor." Lerai Mas Raddan sambil memeluk Clara seraya mengusap-usap punggungnya untuk menenangkannya.
"Mengapa kamu bisa seyakin itu, mengatakan bahwa Clara adalah wanita baik-baik di saat ingatanmu belum pulih. Pulihkan dulu ingatanmu, baru Bunda akan mempercayai semua yang kamu katakan pada saat itu."
Mas Raddan hanya bisa terdiam mendengar perkataan Bunda.

Melihat itu aku maju memegang kedua bahu Bunda dari belakang. "Bunda duduk dulu, biar Hawa buatin minum pasti Bunda haus habis ngomong panjang lebar kayak barusan."
"Hawa, kamu tidak bisa seperti ini terus! Selalu mengalihkan pembicaraan, kamu seharusnya berjuang untuk mendapatkan hak kamu sebagai seorang istri."
"Makasih Bunda sudah membela Hawa, tapi Hawa punya cara lain untuk menyelesaikan masalah yang menimpa Hawa. Sekarang Bunda duduk dulu, ya biar Hawa buatin teh."
"Tidak usah Hawa, Bunda belum selesai. Kali ini Bunda harus tegas terhadap mereka berdua agar mereka tidak memperlakukan kamu seperti ini lagi."
Bunda kembali menoleh ke arah Mas Raddan,"Raddan sekarang Bunda tanya, pernahkan kamu tidur dengan Hawa sejak Hawa tinggal disini?"
Mas Raddan menegang di tempatnya. Sepertinya Bunda benar-benar sudah tidak bisa menahan kekesalannya terhadapa Mas Raddan dan juga Clara.
Bunda menyilangkan kedua tangannya didada lalu berjalan mendekati Mas Raddan dan berjalan mondar-mandir dihadapannya.

"Ah! Bunda tau jawabannya, pasti tidak pernah kan. Jangankan tidur bersama, menggenggam tangannya saja mungkin kamu tidak pernah. Raddan, Bunda hanya ingin mengingatkanmu sekali lagi. Jangan menyia-nyiakan sebuah batu yang mungkin terlihat tidak berharga hanya untuk sebongkah berlian yang belum tentu ke aslianya."
"Apa maksud Bunda?" tanya Mas Raddan bingung.
"Jika kamu ingin tahu apa maksud perkataan Bunda, pulihkan dulu ingatanmu baru kamu akan tau apa yang Bunda maksud."
"Hawa, lebih baik kita keluar. Bunda ingin membicarakan suatu hal sama kamu." Bunda langsung menarik tanganku keluar dari rumah.

***
Di malam minggu seperti ini, warung pinggir jalan yang kami kunjungi penuh dan sesak oleh pembeli yang selalu berdatangan. Memang warung ini terkenal dengan kelezatan aneka olahan daging. Mulai dari sate hingga sop iga sapinya.
"Hawa kamu mau pesen apa?" tanya Bunda yang sudah mendudukkan diri di salah satu kursi. Aku pun ikut mendudukkan diri dihadapannya.
"Hawa belum laper, Bun." Jawabku seadanya.
"Oh kalo gitu, pesen minum aja gimana? Soalnya Bunda mau ngobrol banyak sama kamu."
"Iya udah tapi Hawa yang pesenin ya, Bunda mau apa?"
"Kenapa nggak nunggu pelayan datang aja?"
"Nggak papa, lagian warungnya penuh jadi Hawa aja yang kesana, biar pesanannya cepat jadi."
"Oh gitu. Ya sudah, Bunda pesen sate ayam sama minumnya es jeruk."
"Hawa kesana dulu, ya!"
"Iya."
Aku pun melangkah untuk memesankan makanan dan juga minuman untuk Bunda. Dengan ini aku bisa menghindar dari Bunda, bukannya aku tidak senang berada didekat Bunda hanya saja rasanya hatiku masih sakit dan menjadi lebih sakit setelah melihat kejadian dirumah tadi.

Selama ini aku menurut dengan perintah Mas Raddan bukan berarti aku menerima semuanya, aku melalukan itu supaya kami terhindar dari percecokan. Aku diam, bukan berarti aku tidak memiliki keinginan. Semua orang memiliki keinginan yang mungkin berubah-ubah setiap harinya. Aku pun begitu, untuk saat ini keinginanku hanya satu yaitu ingin Mas Raddan bisa menerimaku sebagai istrinya dengan sepenuh hati.
Aku juga ingin diperlakukan selayaknya istri pada umumnya. Menjadi istri kedua bukanlah kesalahan karna Aisyah seorang wanita sholeha yang di jamin oleh Allah SWT akan masuk surga, juga merupakan istri kesembilan Nabi Muhammad SWA. Disebut salah apabila dia sengaja merebut pria itu dari istri sahnya untuk membalaskan dendam ataupun untuk membuat istri sah pria itu menderita.
Terkadang sikap Mas Raddan baik bahkan sangat baik terhadapku. Namun saat Clara ada didekatnya, Mas Raddan bahkan tidak mau memandang ke arahku sedetik saja. Seperti tadi saat dia bertanya 'kamu kenapa?' saat itu aku merasa sedikit bahagia karna Mas Raddan ternyata memerhatikanku, tapi setelah mendengar perkataan Clara Mas Raddan tidak lagi memperdulikanku dan kembali asik dengan Clara.
Keberadaanku seperti tidak terlihat jika ada Clara didekat Mas Raddan.
Apa karna, Mas Raddan menikahiku hanya untuk memenuhi wasiat Ayah sehingga aku tidak penting dimatanya.

Lamunanku buyar saat teringat Bunda yang masih menunggu disana. Segera aku melangkah ke meja pemesanan untuk memesan makanan yang diinginkan Bunda dan minumannya sekaligus juga untukku.
Setelah beberapa menit akhirnya pesananku jadi. Segera saja aku membawanya ke tempat tadi aku dan Bunda duduk.
"Ini Bunda. Maaf lama." ku letakkan nampan berisi makanan ke meja.
"Nggak papa, lagian Bunda nggak lapar-lapar banget, kok."
Aku kembali mendudukkan diri dihadapan Bunda.
"Kamu beneran, nggak pesen makan?"
"Nggak, Hawa masih kenyang."
"Ya udah, Bunda makan dulu ya."
Aku mengangguk, lalu mengedarkan pandangan ke segala arah seraya menunggu Bunda selesai makan.
Tring!
Bunyi yang berasal dari ponselku, membuatku segera meraih ponsel yang ada di saku gamisku. Ternyata pesan dari Ummi, aku langsung membukanya.
Ummi:
Hawa besok Ummi mau ke pondok pesantren milik Pamanmu. Kamu mau ikut nggak?
Sudah lama aku tidak berkunjung ke rumah Ummi dan juga ke pesantren. Mungkin dengan ikut Ummi ke pesantren aku bisa menenangkan hatiku dan siapa tahu aku bisa mendapatkan pencerahan di sana, untuk memutuskan apa yang harus ku lakukan nantinya.
Me:
Mau dong! Besok Hawa aja yang jemput Ummi dirumah biar bisa barengan ke sananya.
Ummi:
Iya, Ummi tunggu.
Setelahnya aku memasukkan kembali ponselku ke dalam saku. Melihat ke arah Bunda ternyata Bunda sudah menyelesaikan makannya.
"Hawa, ada hal yang ingin Bunda beritahukan sama kamu." Mulai Bunda setelah meminum es jeruknya.
"Tentang apa, Bun?"
"Tentang Raddan. Sebenarnya Bunda sudah berusaha mengingatkan Raddan tentang masa lalunya, melalui barang-barang miliknya yang masih tersimpan di kamarnya yang ada dirumah Bunda. Satu persatu barang itu Bunda kirimkan melalui kurir ke rumah Raddan, tapi hingga saat ini Raddan masih belum mengingat apapun tentang masa lalunya dan setiap Bunda tanya, apakah Raddan pernah menerima paket dari kurir, dia selalu mengatakan tidak pernah." Bunda berhenti sebentar untuk minum es jeruknya kembali.

Aku pun ikut meminum es jeruk milikku yang masih penuh. Sepertinya hal yang disampaikan Bunda adalah salah satu penyebab ingatan Mas Raddan belum juga pulih hingga saat ini.
"Sejak saat itu Bunda mulai curiga, bahwa ada seseorang yang dengan sengaja menyembunyikan atau mungkin membuang semua barang yang Bunda kirimkan itu. Dan orang yang Bunda curigai adalah Clara, satu-satunya orang yang tidak menginginkan ingatan Raddan pulih kembali. Maka dari itu Bunda minta, kamu awasi setiap gerak-gerik Clara dan saat ada kesempatan kamu coba untuk mengingatkan Raddan tentang masa lalunya, sekecil apapun itu."
"Insya Allah, Hawa siap melakukan apa yang Bunda minta. Tapi kasih Hawa waktu untuk memikirkannya semuanya dulu. Saat Hawa sudah siap, Hawa akan memberitahukannya pada Bunda."
"Terima kasih, Hawa. Tidak apa-apa kamu tidak bisa melakukannya sekarang, yang penting kamu mau."
"Nggak usah berterima kasih sama Hawa. Karna Hawa melakukannya juga demi Mas Raddan. Hawa ingin Mas Raddan ingat kembali dengan masa lalunya."
"Hatimu sangat mulia. Raddan beruntung bisa mendapatkan kamu, sebagai istrinya. Bimbing Raddan kembali seperti sedia kala, Bunda percaya sama kamu."
"Bunda doain Hawa aja, semoga Hawa bisa membuat ingatan Mas Raddan kembali lagi."
"Iya, Bunda akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu dan juga Raddan."
"Bunda juga ingin mengatakan bahwa minggu depan kantor milik Ayah yang sekarang di kelola sama Raddan akan mengadakan pesta untuk merayakan anniversary yang ke-58 tahun. Bunda harap kamu bisa datang ke sana untuk mendampingin Raddan."
"Tapi sudah ada Clara. Hawa sepertinya nggak usah ikut, lagian Hawa nggak pernah datang ke pesta-pesta besar kayak gitu, Bun.."
"Kamu sekarang juga istri Raddan, jadi kamu punya hak untuk mendampingin Raddan di acara penting seperti ini."
"Hawa takut, Mas Raddan nggak suka kalo Hawa datang ke acara itu juga." Aku menunduk, kedua tanganku saling meremas. Sungguh aku tidak ingin mengecewakan Bunda tapi aku juga takut Mas Raddan tidak mengizinkan aku datang ke pesta itu.
"Bunda ingin memperkenalkan kamu secara resmi di acara itu, jadi kamu harus datang."
"Hawa akan memutuskannya setelah membicarakan ini dengan Mas Raddan."
"Ya sudah, terserah kamu. Sekarang kita pulang dulu sudah malam." Ajak Bunda kemudian.
Ku lihat jam yang melingkar dipergelangan tanganku yang sudah menunjukkan pukul 21.30. Aku teringat bahwa aku belum sholat Isya.
"Ayo, Bun. Hawa juga belum sholat isya." Aku segera bangkit lalu beranjak keluar dari warung bersama Bunda.

***
Di hari minggu seperti ini rumah akan sepi karna di hari ini Clara akan mengajak Mas Raddan jalan-jalan hingga sore hari.
Waktu itu, minggu pertamaku di sini. Aku sudah menyiapkan sarapan spesial karna Mas Raddan libur di hari minggu, aku berharap setelah sarapan bersama bisa memulai obrolan yang lebih santai dengannya. Aku sudah menanti Mas Raddan turun untuk sarapan bersama. Namun saat Mas Raddan turun, dia tidak sendirian ada Clara bersamanya. Clara melirikku sebentar lalu tanpa menghiraukan keberadaanku Clara mengajak Mas Raddan jogging sekaligus sarapan diluar.
Akhirnya, hari itu aku hanya sarapan seorang diri. Aku tidak menyerah, aku tetap menunggu Mas Raddan kembali ke rumah, tapi kejadian pagi tadi terulang kembali Clara mengajak Mas Raddan pergi lagi setelah selesai mandi. Hingga malam tiba aku tidak bisa mewujudkan keinginanku untuk berbincang dengan Mas Raddan, Clara seperti sengaja melakukannya agar aku tidak bisa mengingatkan Mas Raddan tentang masa lalunya.
Selalu seperti itu setiap minggunya, aku ditinggalkan dirumah tanpa pernah di ajak pergi bersama oleh mereka. Membuatku selalu kesepian di hari minggu seperti ini.
Tapi hari ini aku tidak akan berdiam diri saja dirumah. Aku ingin pergi keluar untuk menenangkan hati dan pikiranku yang sejak tadi malam masih terbayang-bayang oleh rasa sakit.
Ku ambil tas slempang yang tersampir di dekat lemari lalu ku langkan kakiku keluar kamar. Pukul 06.00 masih sangat pagi untuk pergi ke rumah Ummi tapi aku ingin segera pergi, karna aku belum sanggup untuk melihat mereka berdua lagi setelah kejadian tadi malam. kali ini saja, aku ingin menghindar dari masalah yang menimpaku saat ini bukan untuk melarikan diri selamanya hanya saja aku ingin mencari solusi terbaik agar masalah ini cepat selesai.
Masih sepi berarti belum ada yang keluar. Aku melangkah ke arah kulkas, ku ambil sebuah sticky note lalu kutuliskan sesuatu di sana kemudian ku tempelkan ke pintu kulkas.
Aku pamit Mas. Assalamualaikum.
Hawani Azzahra.

***
Sesudah menjemput Ummi, aku langsung melajukan si Mentik menuju pesantren Al-amin milik paman. Keuntungan berpergian di pagi hari apalagi hari minggu, jalanan yang biasanya padat sekarang terlihat lengang hanya beberapa kendaraan terlihat melintas disekitar kami.
Rasanya sudah lama aku tidak berkunjung ke pesantren apalagi setelah menikah, frekuensi kunjunganku semakin berkurang saja. Pesantren Al-amin dulu aku pernah mengenyam pendidikan disana hanya saja waktu SMA, aku mendapat beasiswa di sekolah favorit sehingga aku harus keluar dari pesantren.
Tiga puluh menit kemudian, kami sudah sampai di halaman depan pesantren Al-amin yang di penuhi oleh bunga-bunga indah di bagian samping kiri dan kanan.
Bunga itu sengaja di tanam oleh para santri, agar susanah pesantren tidak terlihat gersang dan kaku. Rasa rindu mulai mengelegak keluar saat melihat susanah pesantren yang masih seperti dulu saat aku menjadi santri wati disini.
"Hawa, kita temui Pamanmu dulu ya." Ajak Ummi yang langsung ku ikuti.
Kami menuju kantor kepala pondok pesantren, ruangan Paman selaku pendiri pondok pesantren Al-amin ini.
Tok .. tok .. tok...
"Silakan, masuk!" terdengar seruan dari dalam, kami pun masuk ke dalam.
Paman menyambut kami dengan senyuman ramahnya. Melihat Paman membuatku rindu dengan sosok Abi yang tegas dan berwibawa.
"Assalamualaikum, Mas!"
"Assalamualaikum, Paman!" aku langsung menghampiri Paman yang masih duduk di kursi kebesarannya.
"Wa'alaikumssalam, Kamu siapa ya?" ledek Paman padaku.
"Ini Hawa keponakan Paman sendiri masa lupa?!"
"Ah masa? Keponakan Paman itu kalo datang kesini pasti langsung meluk Paman. Kok, kamu ndak meluk?"
"Paman! Ini beneran Hawa"aku langsung menghambur kepelukan Paman. Ku peluk Paman seerat mungkin untuk menghapuskan rasa rindu pada Paman yang sudah kuanggap seperti ayahku sendiri.
Dulu saat aku kehilangan Abi, Paman datang menghiburku dan mengatakan bahwa aku bisa menganggapnya sebagai ayahku sendiri, meskipun beliau tidak bisa mengantikan sosok Abi yang sesungguhnya tapi dengan adanya Paman, aku tetap bisa merasakan bagaimana kasih sayang seorang Ayah hingga saat ini.
Paman yang tidak memiliki anak perempuan, membuat Paman mencurahkan segala perhatiannya padaku dan sangat ketat menjagaku seperti pada anaknya sendiri. Bahkan Paman terlihat lebih dekat denganku dari pada anaknya sendiri, membuat sepupuku itu selalu cemburu terhadapku. Padahal tidak seperti itu, Paman tetap perhatian terhadap anaknya sendiri tapi dengan cara yang berbeda.
"Kangen banget ya sama Paman? sampe meluknya erat banget." Paman merenggangkan pelukan kami.
"Iya, Hawa kangen bangettt ... sama Paman. Maaf Hawa nggak pernah berkunjung ke sini lagi sejak Hawa menikah."
"Kenapa minta maaf, kan kalo udah nikah banyak yang harus diurus. Jadi ndak papa, kalo kamu ndak bisa ke sini sering-sering kayak dulu."
"Iya, tapi kan Hawa jadi nggak enak, ntar dikira Hawa udah lupa lagi sama Paman."
"Ya ndak lah, Paman maklum kan kamu sibuk ngurus rumah tangga sama kerjaan kamu. Udah ya jangan sedih-sedih lagi soalnya ada seseorang yang ingin ketemu sama kamu, ndok."
"Siapa Paman?" Paman hanya mengedikkan bahu, bersikap sok misterius.
Lalu tatapanku beralih ke Ummi, dan respon Ummi sama hanya menggedikkan bahu. Fiks! Ada yang mereka rahasiain dari aku.
Paman membawaku ke salah satu ruang kelas yang ada lantai dua pesantren ini. Aku heran ada apa disana, bukankah jam pelajaran sedang berlangsung. Apakah orang yang ingin bertemu denganku adalah salah satu guru yang mengajar disini?

Sepertinya benar karna sesampainya kami di depan pintu kelas, Paman melambaikan tangannya pada seorang guru yang sedang mengajar.
"Pak guru!" panggil Paman pada seorang pria. Pria itu pun menoleh dan tersenyum lalu mulai melangkah mendekati kami.
Seiring langkahnya semakin dekat denganku, membuatku dapat melihat wajahnya dengan jelas. Terlihat sangat familiar di mataku tapi siapa dia?
Pria itu sudah berdiri di depan Paman lalu dengan takzim menyalimi tangan Paman dan Ummi. Kemudian pria itu berhenti didepanku, mata kami saling beradu mengamati satu sama lain. Melihatnya sedekat ini membuatku merasa bahwa aku sudah mengenal pria ini sejak lama.
"Bocil, salim dulu sama gue!" ucap pria seraya menyodorkan tangannya ke arahku agar aku menyalaminya. Dia siapa hingga berani memintaku melakukan itu?
"Cepetan, Bocil!" pinta pria itu lagi seraya menaik turunkan alisnya. Seperti seseorang yang pernah aku kenal dulu tapi siapa?
Tunggu dulu ... hanya ada satu orang yang selalu memanggilku dengan panggilan itu, Bocil. Berarti dia ...
"Bang Alif!!"
_______


#Jodoh_wasiat_bapak
#JWB13
Part 13
"Bang Alif!!" pekikku dengan senang saat aku sudah bisa mengenali dengan jelas orang yang ada di hadapanku ini.
"Iya, Bocil..! Lama amat sih, buat ngenalin gue. Emangnya gue seganteng itu ya, sampe susah lo kenalin?" tanya Bang Alif seraya menaik turunkan sebelah alisnya lagi, meledekku.
"Ish! Bang Alif ternyata masih aja narsis, sama kayak dulu!" karna kesal langsung kucubit lengannya dengan keras.
"Auw! Lo kok nggak sopan banget sih, sama gue?! Gue ini Abang sepupu li dan kita baru aja ketemu harusnya lo salim sama gue kek atau meluk gue, ini malah dikasih cubitan maut?!" dengus Bang Alif tak terima.
"Hahahaha ...." Kulihat Ummi dan Paman hanya tertawa melihat kelakuan kami.
"Biarin, habisnya Abang jahat! Masa balik ke Indo, nggak bilang-bilang sama Hawa!"
"Ya kan biar jadi surprise, kalo bilang namanya bukan surprise lagi dong!" balas Bang Alif tak mau disalahkan.
"Ummi sama Paman juga kenapa nggak kasih tau Hawa?" kini aku gantian menatap mereka berdua yang mungkin ikut dalam skenario kejutan ini.
"Awalnya Ummi udah mau kasih tau kamu, tapi Alif ngelarang Ummi buat bilang ke kamu. Katanya biar jadi supres apalah itu namanya." Sebenarnya aku tidak ingin marah apalagi mendengar Ummi yang kesusahan menyebut kata 'surprise'.
"Paman nggak tau menahu soal ini, jadi jangan marah sama Paman." Ujar Paman membela diri, sebelum aku bertanya padanya.
"Masa? Tadi waktu Hawa tanya siapa yang mau ketemu sama Hawa, kok Paman nggak mau jawab?"
"Hehehe. Paman juga di suruh sama Alif buat nggak ngasih tau kamu. Jangan marah sama Paman ya, marahnya sama Alif aja!" Tunjuk Paman pada Bang Alif.
"Iya, marahin Alif aja jangan Ummi sama Paman." Ucapan Ummi membuat Bang Alif menggerutu tak jelas.
"Tapi Hawa nggak mau maafin Bang Alif, soalnya Bang Alif udah buat Hawa kebingungan nebak-nebak sendiri!!"Aku berpura-pura ngambek untuk gantian mengerjai Bang Alif, aku ingin melihat responnya.
Bang Alif mendekat ke arahku dan wajahnya terlihat memelas,"jangan ngambek dong. Kan Bang Alif cuma mau ngasih kejutan, lain kali Bang alif nggak bakal kayak gini lagi. Janji, suer!" ucap Bang Alif seraya mengangkat jari telunjuk dan jari tengah.

"Hahahaha ..." tawaku meledak melihat ekspresi Bang Alif saat ini. "Satu sama!! Wlee ..."
"Bocil jadi lo cuma ngerjain gue?! Sini lo! gue balas lo, ya!!"
"Ssttt .. berisiknya jangan disini. Ada anak-anak yang lagi belajar."
"Hehehe. Maaf Paman, kalo gitu Hawa pergi dulu ya. Assalamualaikum!" aku menyalimi tangan Paman dan Ummi dengan takzim lalu pergi menghindar dari Bang Alif yang ingin membalasku.
"Alif juga pergi ya, Bi, Mi. Assalamualaikum!" Bang Alif langsung mengejarku setelah menyalimi Ummi dan Paman.

***
Setelah lelah saling kejar-kejaran akhirnya kami memutuskan untuk duduk sambil mengistirahatkan tubuh di bangku taman depan pesantren. Taman yang indah di penuhi oleh bunga-bunga cantik nan wangi.
"Lo beneran udah nikah sama si cowok brengsek itu." ternyata Bang Alif masih menyimpan rasa benci pada Mas Raddan. Padahal kejadian itu sudah cukup lama, aku saja sudah melupakannya agar hatiku tidak merasakan sakit yang lebih dalam lagi karna masih mengenang luka lama itu.
Mungkin jika Bang Alif ada di hari pernikahanku saat itu, akan menjadi lain ceritanya. Bang Alif pasti akan mengagalkan pernikahanku dengan segala cara yang dia mampu, karna Bang Alif tidak mempercayai Mas Raddan lagi untuk menjagaku.
Aku sangat mengenal Bang Alif, dia akan melindungi orang yang sangat di sayanginya dengan cara apapun, itu lah prinsip hidupnya yang terkadang membuatku khawatir jika Bang Alif salah menyayangi seseorang karna akibatnya akan fatal bagi dirinya sendiri.
Bang Alif ini adalah sepupuku lebih tepatnya anak dari Paman Arifin pemilik pesatren ini yang juga kakak kandung dari Ummi-ku. Aku dan Bang Alif langsung dekat saat pertama kali bertemu dulu, kami memiliki kesamaan yaitu sama-sama seorang anak tunggal yang merasa kesepian karna tidak memilik kakak dan adik.

Tapi selama tiga tahun ini kami tidak pernah bertemu karna Bang Alif sedang melanjutkan study S2 nya di Khairo. Padahal Bang Alif dulu sangat keukeuh menolak untuk menetima beasiswa itu tapi entah kenapa Bang Alif akhirnya mau menerima beasiswa dari salah satu universitas ternama di Khairo, Mesir.
"Abang masih nggak suka sama Mas Raddan? Bukannya Abang itu teman dekatnya dulu?" tanyaku takut-takut.
"Abang nggak peduli dengan persahabatan kami, kalo dia udah nyakitin lo berarti dia cari masalah sama Abang?!" ucap Bang Alif tegas.
"Abang nggak boleh kayak gini terus, lagian Mas Raddan ngelakuin itu karna dia nggak tau apa-apa tentang masa lalunya, dia sedang amnesia."
"Hawa! Meskipun dia sedang amnesia seharunya dia nggak memperlakukan lo kayak gitu!" jika Bang Alif sudah memanggilku dengan nama asliku bukan julukan 'Bocil' seperti biasanya berarti dia sedang dalam mode serius dan Bang Alif akan terlihat mengerikan jika sedang serius begini. Aku harus menghindari pembicaraan ini agar tidak berlanjut lagi.
"Sudahlah Bang, Hawa nggak papa kok. Oh ya, Abang pulang ke sini mau liburkan?"
"Hhhh.. iya Abang mau liburan. Jadi kamu harus nemenin Abang terus selama ada disini, ngerti?!" Bang Alif tanpa aba-aba langsung mencubit hidungku.
"Ihh.. lepasin Bang! Sakit!" pekikku seraya memukuli tangan Bang Alif yang belum juga melepaskan tarikannya dihidungku.
"Bocil, Bocil! Lo kok nggak berubah sih, masih aja kecil kek semut."
"Hawa udah besar tau?!"
"Masa? Kok keliatanya masih kayak Bocil." Ledek Bang Alif.
"Kalo nggak percaya coba berdiri, Hawa udah nambah tinggi kok! Katanya kalo nambah tinggi berarti udah besar!" kutarik tangan Bang Alif hingga berdiri dengan tegak di hadapanku lalu aku mendekat untuk mengukur tinggiku.
Kuangkat tangan kananku lalu ku letakkan di atas kepalaku dengan perlahan ku gerakan tanganku lurus hingga menyentuh tubuh Bang Alif. Kudongakkan wajahku untuk melihat perbedaan tinggiku dengan Bang Alif dan alangkah terkejutnya aku saat melihat tinggiku yang masih sebatas dada Bang Alif. Apakah aku tidak bertambah tinggi ataukah Bang Alif yang semakin tinggi, sebab tiga tahun lalu tinggiku juga sama hanya sebatas dada Bang Alif.
"Mana? Masih sama aja. Nggak ada perubahan!" ejeknya padaku.
"Kan, Bang Alif pasti selalu ngejek Hawa. Mendingan Hawa pergi aja dari pada di ejek terus disini!" ujarku beranjak pergi.
Bang Alif ikut bangkit menghadang jalanku," jangan dong! Abang cuma bercanda, kok barusan. Katanya mau menenin Abang terus selama liburan disini?"
"Hawa mau, tapi Abang nggak boleh jahilin Hawa lagi, gimana?"
"Iya udah deh, yang penting kamu harus temenin Abang terus."
"Iya, lagian Hawa juga bosen kalo hari minggu gini dirumah doang, sepi soalnya."
"Kalo gitu, ayo kita jalan-jalan seharian!"
"Ayo!"

***
Bang Alif ngajakku jalan-jalan ke Mall katanya dia ingin menonton film di bioskop. Abang sepupuku ini memang memiliki selera yang aneh, ingin jalan-jalan bukanya ke taman kota atau keliling Jakarta tapi malam jalan ke Mall seperti para gadis saja.
"Bang Alif emangnya mau nonton apa?" tanyaku seraya mengedarkan pandangan ke segala arah sambil melihat-lihat pengunjung yang juga ingin menonton film di bioskop.
"Bocil, liat tuh posternya!" Bang Alif merangkulku seraya tangannya menunjuk poster bergambar hantu yang terpampang besar di salah satu dinding dekat pintu masuk.
Selalu yang diincar Bang Alif adalah film hantu. Bang Alif ini salah satu penggemar berat film hantu, bayangkan setiap ada film hantu yang populer dari manca negara pasti akan dia koleksi. Film hantu yang pernah ku lihat di laptopnya saja banyak sekali. Salah satu yang masih ku ingat, Annabell, Conjuring, The nun, Pengabdi setan, dan masih banyak lagi di antaranya.
"Memangnya ada film hantu yang belum Abang tonton?"
"Ada, film hantu Indonesia yang baru-baru ini belum pernah Abang tonton. Sekarang Abang mau nonton Sunyi, Jalangkung 2, Danur 3 sama-"
"Stop! Abang mau nonton itu semua, hari ini?"
"Kalo bisa hari ini semuanya ditonton kenapa enggak?"
"Satu-satu dulu lah, Bang. Besok kan bisa lagi, masa kita seharian mau nonton doang!"
"Oke deh. Abang juga mau ke tempat lain nanti. Ya udah, hari ini kita nonton satu judul film, sekarang kita pesen tiketnya dulu" Bang Alif hendak menarikku untuk ikut membeli tiket.
"Bang! Hawa mau beli popcorn sama minum. Jadi Abang sendiri aja antri beli tiketnya. Dah!!" aku langsung saja kabur untuk membeli popcorn, karna kulihat antrian untuk membeli tiket cukup panjang pasti akan memakan waktu lama untuk mendapatkannya.
Setelah agak jauh dari Bang Alif, aku tidak langsung membeli popcorn lagian Bang Alif juga masih lama antri tiketnya.

Aku memilih untuk mendudukkan di kursi tunggu yang paling pojok. Aku ingin memberitahu Silvi soal kedatangan Bang Alif. Aku ingin hubungan Silvi dan Bang Alif kembali seperti semula tidak seperti tiga tahun yang lalu entah karna apa mereka berdua menjadi bermusuhan. Saat bertemu selalu saja berantem dan akhirnya pergi dengan menyumpah serapah satu sama lain.

Me:
Silvi, gue mau kasih tau, kalo Bang Alif lagi liburan di Jakarta. Siapa tau lo mau ketemu sama dia! Setahu gue, masalah kalian berdua belum diselesaikan dengan baik tiga tahun silam.
Sepertinya Bang Alif masih lama dapet tiketnya, dengan iseng kubuka salah satu aplikasi bernama instagram yang sudah Silvi unduh di ponselku.
Cekrek!
Dengan iseng aku memotret sepatu yang kukenakan saat ini, lalu aku beri caption di bawah gambar itu.
Menunggu itu memang sulit. Tapi kita tidak bisa mendapatkan sesuatu secara instan tanpa sebuah usaha, doa dan penantian, entah itu panjang atau pendek kita harus tetap sabar menunggu hasilnya.
Setelahnya ku upload foto itu. Aku meng-uploadnya bukan untuk mendapatkan like sebanyak mungkin tapi aku ingin orang yang melihat dan membacanya bisa lebih menghargai artinya sebuah penantian.

Setelahnya aku bergegas memesan popcorn dan minuman untukku dan Bang Alif. Sesampainya aku di depan penjual popcorn, mataku menangkap sesuatu yang kembali membuatku merasakan sakit. Di sana tepatnya di dekat pintu masuk bioskop aku melihat Mas Raddan yang sedang duduk berdua dengan Clara, mereka terlihat serasi sekali dengan baju couple yang mereka kenakan.
Clara memakai kaos lengan pendek bertuliskan 'Claranya Raddan' dan sebaliknya Mas Raddan mengenakan kaos lengan panjang bertuliskan ' Raddannya Clara'
Aku bisa melihat Mas Raddan tersenyum dan tertawa riang bersama Clara. Mas Raddan terlihat lebih bahagia tanpa kehadiranku di sisinya, apa itu artinya aku harus mundur dari pernikahan ini?
"Bocil, lama amat sih pesen popcornnya?" suara Bang Alif membuatku sadar dari lamunanku.
"Masih antri Bang!" elakku padahal sedari tadi aku belum mengantri.
Aku akan berusaha untuk tidak menghiraukan kehadiran mereka berdua dari pada hatiku semakin sakit.
"Liatin apa sih? Kok lo nengok ke sana mulu?!"
"Eh! Nggak ada apa-apa kok, Bang." Dengan cepat ku cegah Bang Alif yang hendak menoleh ke arah tempat Mas Raddan dan Clara duduk. Aku tidak ingin ada keributan disini.
"Bang, lebih baik kita pergi yuk, dari sini!"
"Kan, lo malah bikin gue tambah penasaran!"
"Eh, nggak jadi deh. Kita lanjut nonton film ini." Aku tidak boleh membuat Bang Alif curiga, lebih baik aku tetap menonton film ini, baru setelahnya aku akan mengajak Bang Alif pergi dari Mall ini. Sekarang aku hanya bisa berdoa semoga Mas Raddan tidak menonton film horor seperti kami, Aamiin..
"Lo udah pesen popcronnya?" tanya Bang Alif membuatku mengalihkan pandangan ke arahnya.
"Udah kok yang ini!" tunjukku asal pada salah satu gambar yang tertempel di depan estalase kaca, mataku masih sibuk mengamati pergerakan Mas Raddan meski otakku terus mengatakan jangan, tapi hatiku tetap keukeuh ingin terus melihatnya.
Saat ini otak dan hatiku sedang tidak sinkron. Hatiku terus berkata lanjutkan tapi otakku terus berkata sebaliknya. Dan lagi-lagi aku kalah dengan hati, tubuhku lebih memilih mengikuti kata hatiku dari pada mengikuti perintah otakku.
"Beneran?" tanya Bang Alif seperti tidak yakin, aku kembali menoleh ke arah Bang Alif."Iya, kenapa memangnya?"
"Yang lo tunjuk itu rasa durian. Lo kan alergi sama durian, Bocil?!"
"Hah? Masa!" aku pun langsung merutuki mulutku yang asal jeplak," hehehe. Terserah Mas- eh, maksudnya Bang Alif aja, deh. Kalo gitu Hawa mau pesenin minuman aja!" aku langsung bergegas menuju stan yang menjual minuman.
"PERHATIAN-PERHATIAN, DIHARAPKAN PARA PENONTON YANG AKAN MEMASUKI RUANGAN 03, AGAR SEGERA MEMASUKI RUANGAN. KARENA FILM AKAN DIMULAI 10 MENIT LAGI."
Terdengar seruan dari dalam sana yang membuatku bergegas untuk membeli minuman, karna aku belum tau akan masuk ke ruangan yang mana.
"Ayo, cepat Cil beli minumnya. Kita udah harus masuk! Kita kebagian ruang 3!" Bang Alif tiba-tiba sudah berdiri didekatku.
"Oh iya, Bang! Ini Hawa tinggal ambil minumannya."
***
Aku dan Bang Alif mendapatkan kursi nomer 21 dan 22 yang letaknya pas di tengah-tengah.
"Lo duduknya mau yang sebelah mana?" tanya Bang Alif saat kami sudah berdiri didepan kursi yang sesuai dengan tiket milik kami berdua.
"Yang ini aja, Hawa nggak suka dipojokkan."
"Oh ya udah, Abang yang di pojok." Bang Alif duduk di kursi nomer 21 dan aku nomer 22.
Di bagian deretan kursi ini, baru ditempati beberapa orang termasuk kami berdua. Kursi yang berada tepat disebelahku juga belum ada yang menempatinya.
Lampu ruangan mulai dimatikan tandanya filmnya akan dimulai sebentar lagi. Ku letakkan dua popcorn dengan rasa yang berbeda di tengah-tengah kami berdua, ku berikan satu minuman soda untuk Bang Alif sedangkan minumanku kutaruh di sebelah kananku yang terdapat tempat untuk menaruh minuman.
Film sudah mulai diputar, fokusku pun beralih pada adegan demi adegan dalam film itu. Seorang gadis terlihat memasuki suatu ruangan yang sangat gelap di dalam rumah kosong yang sudah lama tidak di huni itu.
Dalam film horor kebanyakan cahaya lampunya sengaja tidak diterangkan agar kesan horornya semakin terasa nyata. Membuat suasanah ruang bioskop yang gelap semakin terasa gelap gulita.
"Sstt ... Cil! Suapin gue popcornnya dong!" pinta Bang Alif saat aku tengah serius menonton, membuatku menggeram karna merasa terganggu.
Dengan malas aku menyuapkan beberapa butir popcorn ke dalam mulut Bang Alif sekaligus, biar tau rasa! Suruh siapa ganggu-ganggu pas lagi asik-asiknya nonton.
"Uhuk!" kudengar Bang Alif tersedak popcorn. Semoga saja Bang Alif tidak berani menganggu aku lagi.
Di dalam layar bioskop terlihat gadis berambut coklat itu mulai gelisah, tangannya terangkat memegangi tengkuknya. Gadis itu menoleh ke arah belakang dan ...
"Waaa!!!"
Refleks aku langsung memeluk lengan seseorang yang ada disebelahku, aku bukanya takut tapi aku kaget karna Bang Alif mengagetkanku dengan menepuk pundakku sedikit keras bersamaan dengan munculnya hantu dalam film itu. Untung lah, suaraku teredam oleh teriakan semua orang di ruangan ini, sehingga aku tidak harus menanggung malu akibat ulah Bang Alif.
Seketika mataku membelalak saat sadar aku tengah memeluk seseorang yang berada di samping kananku. Dengan takut-takut kulepaskan tanganku yang masih melingkari lengan orang itu tapi orang itu yang wajahnya tidak jelas itu malah menarik tanganku ke dadanya.
Dengan cepat kudongakkan kepalaku dan...
Cup!
Jarak yang terlalu dekat antara aku dan orang itu membuatku bibirku dengan tidak sengaja bersentuhan dengan bibir orang itu.
Dengan cepat kutarik tanganku dari genggaman orang itu sungguh aku merasa sudah menghianati Mas Raddan karna bersentuhan dengan orang yang bukan mahramku.
Huwaaa ... rasanya aku ingin menangis disini. Bersentuhan tangan dengan orang yang bukan mahram saja sudah dosa apalagi ini?!
Ya Allah hamba benar-benar tidak sengaja, tolong maafkan hambamu ini. Mas Raddan maafkan Hawa yang tidak sengaja sudah menghianatimu..
Hiks.. Hiks..
_______


#Jodoh_wasiat_Bapak
#JWB14
Part 14
Disaat aku masih menenangkan diriku dari insiden barusan. Cahaya dari layar bioskop menyorot terang ke arah kami. Dengan takut-takut aku melirik ke arah orang yang duduk disebelahku dan seketika mataku membelalak tak percaya. Orang yang duduk disebelahku plus orang yang tak sengaja kucium ternyata adalah suamiku sendiri, Mas Raddan.
Matanya sama-sama membelalak sepertiku dan sepertinya tidak ada yang mengetahui kejadian barusan selain kami berdua karna kulihat Clara masih asik dengan tontonannya.
Ya, Allah berarti hamba tidak berdosa karna yang hamba cium adalah suami hamba sendiri, seorang pria yang dihalalkan untuk hamba. Terima kasih, Ya Allah karna engkau masih baik terhadap hamba.
Kami masih saling menatap sama-sama syok. Ini pertama kalinya aku bisa memandang wajah Mas Raddan sedekat ini. Pipiku terasa panas, ada apa ini sebenarnya? Jantungku juga ikut berulah dengan bergedup semakin kencang seperti akan copot saja. Aku tidak memungkiri bahwa rupa Mas Raddan bak dewa Yunani kuno yang sangat tampan. Wajahnya bahkan tidak bercela sedikitpun, wajar bila sedari dulu Mas Raddan banyak di idolakan para gadis-gadis yang berada disekitarnya. Jantungku berdegup semakin cepat, jika aku masih berada dalam posisi ini maka cepat atau lambat Mas Raddan akan menyadari suara degupan jantungku yang sangat kencang. Bagaimana ini?
Ya Allah, tolong selamatkan Hawa dari situasi ini.

"Bocil! Lo mepet-mepet ke sana? Sini sama Abang!" dengan paksa Bang Alif menarikku kedalam pelukannya.
Alhamdulillah, selamat. Terima kasih, Ya Allah engkau telah menyelamatkan hamba dari situasi barusan. Aku langsung mengelus-elus dadaku merasa lega. Makasih juga Bang Alif.
Bang Alif memelukku dengan kencang hanya memberikan space yang sangat sempit untuk ruang gerakku. Otakku segera menangkap gelagat Bang Alif yang sedang menahan emosinya.
Kulirik Mas Raddan dari balik lengan Bang Alif, raut wajahnya masih datar hanya saja pandangannya terus mengarah ke arahku dan Bang Alif. Tapi kali ini aku nggak boleh ke ge'eran lagi seperti tempo hari, mungkin saja Mas Raddan sedang melihat sesuatu yang lain dan itu bukan aku tentunya.
Memikirkannya saja membuat hatiku sakit, aku sangat merindukan sosok Mas Raddan yang dulu. Sosok yang lembut penuh perhatian dan selalu berusaha membuatku bahagia. Sangat berbeda dengan sosok Mas Raddan sekarang yang selalu bersikap dingin, ketus, cuek dan emosian terus.
"Hawa, kamu nggak papa kan?" tanya Bang alif khawatir.
Apakah Bang Alif takut jika aku sakit hati melihat Clara dan Mas Raddan ."Nggak papa, Bang. Tenang Hawa udah nyaipin baja buat tameng jadi insya Allah Hawa kuat kok, Bang." Aku berusaha menampilkan senyuman terbaikku agar Bang Alif tidak curiga bahwa sebenarnya hatiku sedang terluka. Biarlah aku yang menyelesaikan masalah ini sendiri, sudah banyak aku merepotkan Bang Alif jadi kali ini aku akan berjuang sendiri menghadapi semuanya.
"Beneran?" tanyanya lagi.
Dengan gemas kucubit pipi Bang Alif, "beneran! Hawa nggak papa! Jangan bawel deh?!"
"Oh berani ya, ngatain Abang bawel?!" bisik Bang Alif di telingaku seraya balas mencubit pipiku.
"Bilang nggak papa ntar dirumah nangis sendirian di kamar!" sindir Bang Alif membuatku kesal
"Ish! Abang berisik deh!" kusumpal mulutnya dengan popcorn.
"Uhuk! Uhuk!" Bang Alif kembali batuk, aku langsung mengambilkan minuman miliknya dan mengarahkan sedotan ke bibirnya.
"Uhukk! Uhukk!"
"Maafin Hawa ya, Bang. Masih sakit?" tanyaku panik melihat Bang Alif masih saja batuk.
"Minuman punya Abang udah habis jadi Bang Alif minum punya Hawa aja, ini!" kusodorkan minuman milikku yang belum kusentuh sama sekali.

"Makasih,Cil. Uhukk! uhukk!" Bang Alif langsung meneguk minuman milikku dengan rakus sepertinya tenggorokannya sangat sakit akibat tersedak.
Ku usap-usap punggung Bang Alif, supaya batuknya mereda. "Bang, maafin Hawa. Hawa nggak maksud buat Abang tersedak." Air mataku meluncur melihat Bang Alif yang tersenyum ke arahku seharunya Bang Alif marah bukan tersenyum.
"Eh, Bocilnya Abang jangan nangis? Ini bukan salah lo. Gue nggak papa, beneran!"
Aku langsung mendongak melihat Bang Alif yang sudah tidak terbatuk-batuk lagi akibat tersedak. Senyumku mengembang, "maafin Hawa ya, Bang." Kataku seraya merangsek ke dalam pelukan Bang Alif.
Baru sedetik aku berada dalam pelukan Bang Alif tiba-tiba ada yang menarik tanganku, dengan cepat orang itu menarikku hingga keluar dari ruangan bioskop. Sayup-sayup ku dengar suara Bang Alif yang protes dan saat ku tolehkan wajahku ke arah belakang Bang Alif terlihat sedang mengejar kami begitupun Clara yang melihatku dengan mata berkilat penuh amarah.
Kembali aku melihat ke arah depan, Mas Raddan menarik tanganku dengan kencang membuat tanganku sakit dan langkah kakinya yang lebar membuatku kesusahan untuk mengimbangi langkahnya.
"Mas.. sakit.. tolong lepasin," pintaku dengan lembut.
Tanpa menghiraukan perkataanku Mas Raddan tetap menyeretku entah kemana. Air mataku semakin menggenang di pelupuk mata, sungguh rasanya kaki dan tanganku seperti mati rasa, aku ingin melepaskan diri tapi tidak bisa dan meminta Mas Raddan untuk melepaskan juga tidak akan dihiraukan.
Bruk!
Tubuhku menghantam tembok setelah Mas Raddan menghempaskan tanganku dengan kasar. Kulihat pergelangan tanganku memerah, ada bekas genggaman tangan Mas Raddan disana.
"Kenapa harus kamu?!"
Duk!
Suara itu membuatku mendongak, mataku membulat melihat Mas Raddan yang baru saja menghantamkan tangannya ke tembok.

"Mas! Mas, ngapain mukul tembok?" tanya ku panik seraya hendak meraih tangannya untuk melihat apakah berdarah atau tidak.
"Oh ternyata begitu caramu menggoda pria tadi. Sayangnya aku tidak bisa semudah itu kamu goda!" Mas Raddan menjauhkan tangannya dari jangkauan tanganku seperti jijik di sentuh olehku.
"Apa maksud-"
"Nggak usah sok-sok polos, deh?! Saya tau, kamu tidak sesuci itu!" aku hanya terdiam mendengar itu hanya air mataku yang masih setia mengalir dengan deras.
"Ternyata benar apa kata Clara, jika sebenarnya kamu tidak sebaik itu. Saya hampir tertipu dengan jilbab yang kamu kenakan tapi untungnya Allah masih menyanyangi saya dengan memperlihatkan sifat aslimu sebelum saya menerima kamu sebagai istri saya seutuhnya." Lanjut Mas Raddan lagi yang semakin membuat hatiku sakit hingga kini hancur berkeping-keping. Aku tidak pernah menyangka pria yang kucintai tega mengatakan hak sekeji itu padaku.
Kuhapus air mataku, kali ini aku tidak bisa hanya berdiam diri. Sudah cukup Mas Raddan menyakitiku dengan sikapnya yang selalu acuh padaku tapi sekarang dia sudah benar-benar memancing emosiku, apalagi disaat aku sedang menstruasi seperti sekarang akan sangat mudah terpancing.
Dengan berani aku mendekatkan diri padanya lalu mendongak beradu pandang dengan manik sehitam jelaga itu.

"Asal Mas tau, semua yang dilihat oleh mata belum tentu kebenaran! Seharusnya Mas cari tahu kebenarannya, sebelum menuduh orang tanpa bukti yang kuat. Satu lagi Mas, aku bukan wanita seperti itu yang suka bergonta-ganti pasangan dengan mudah. Karna bagiku cinta itu tulus dan suci yang berasal dari hati dan sampai detik ini, hanya ada satu orang pria yang bersemayam dihatiku." setelah mengucapkannya aku melangkah hendak pergi tapi lagi-lagi Mas Raddan menahan tanganku.
"Tunggu dulu!"
Tanganku mengepal geram, dengan marah kusentakkan tangan Mas Raddan dari tanganku." Apa lagi? Mas mau minta penjelasan tentang lelaki yang ada di dalam sana! Buat apa? Percuma aku jelaskan! Toh akhirnya, kamu hanya akan mempercayai Clara."
"Hawa, kamu nggak papa?" tanya Bang Alif seraya menangkup wajahku.
"Bang, bawa Hawa pergi dari sini!"
"Oke, kita pergi sekarang!" Bang Alif beralih merangkul bahuku, "dan buat lo, siap-siap aja gue bakal bales!"

***
"Haw! Hawa? Oy!" Silvi tiba-tiba muncul, membuatku kaget saja.
"Hm, ada apa?" tanyaku malas, rasanya aku tidak bersemangat untuk melakukan apapun hari ini, sebenarnya bukan hari ini saja rasa semangatku sudah luntur sejak beberapa hari yang lalu, setelah kejadian di bioskop itu.
"Gue udah dapetin pekerjaan sambilan buat lo!" aku langsung duduk dengan tegak setelah mendengar ucapan Silvi.
"Yang bener? Trus kapan gue, mulai kerjanya?"
"Sabar, sabar. Kemungkinan besok lo udah bisa mulai kerja."
"Beneran?! Alhamdulillah akhirnya aku bisa menambah tabungan untuk memberangkatkan Ummi naik haji. Silvi makasih banget ya, lo emang sahabat terbaik gue!" aku langsung memeluk Silvi sambil membawanya berputar-putar.
"Iya, tapi jangan muter-muter terus, gue pusing! Lo kok udah seneng banget, padahal gue belum kasih tau apa pekerjaan lo nanti."
Ku garuk pelipisku, "iya juga sih, tapi gue enggak mempermasalahkan apa pekerjaan gue nanti yang penting pekerjaan itu halal."
"Ciri khas lo banget, yang nggak memandang remeh semua pekerjaan. Lo dapet kerjaan di Beautifull Flower milik sepupu gue. Lo kerjanya ngerangkai bunga sama melayani pembeli. Suka nggak?"
"Iya, gue suka banget!! Makasih Silvi yang cantik! Lo emang sahabat yang paling pengertian deh!" kupeluk lagi Silvi dengan erat.
"Ya jelas lah gue sahabat lo yang paling pengertian! Orang gue sahabat lo satu-satunya."
"Hehehe. Bener juga ya.." Kugaruk kepalaku yang tidak gatal.
"Belum tua, tapi lo udah mulai menunjukkan kepikunan dini. Ckckck.."
"Apa lo bilang?! Pikun! Enak aja gue cuma lupa bukan pikun?!" geramku merasa tak terima dengan ucapan Silvi.
"Sama aja!" ucap Silvi seraya berlari menjauhiku.
"Nggak ada teorinya, ngarang aja lo?!
"Ada. Barusan gue yang bikin!" ujar Silvi lagi.
"Silvi! Sini lo!"
"Tangkap aja kalo bisa. Wlee!" Silvi mengejekku dengan menjulurkan lidahnya.
"Hahaha.." Aku akhirnya bisa tertawa setelah kejadian itu. Sepertinya Silvi sengaja melakukan ini untuk menghiburku, dia pasti tau bahwa aku selalu murung setiap hari karna sekarang aku sedang menginap dirumahnya. Ya, aku melarikan diri sebentar untuk menenangkan diri sekaligus untuk memikirkan solusi dari masalah ini.
Aku memilih menginap ditempat Silvu karna aku tidak ingin Ummi ataupun Bunda mengetahui masalah ini jika aku memilih pulang ke rumah Ummi. Jika aku memilih tinggal di pesantren maka Bang Alif akan semakin marah pada Mas Raddan karna sampai sekarang Mas Raddan belum juga berusaha untuk mencari tahu keberadaanku.

***
Keesokkan harinya sepulang mengajar aku langsung bergegas menuju tempat kerja yang kemarin Silvi beritahukan padaku. Meskipun Silvi bilang aku sudah boleh kerja hari ini tapi aku tetap akan mendaftarkan diri secara formal agar tidak merasa di spesialkan karna mendapatkan rekomondasi dari Silvi, sepupu pemilik toko.
Dengan kemeja putih polos dan bawahan rok lipit panjang berwarna pink soft bermotif bunga sakura serta jilbab polos warna senada, aku siap untuk mendaftarkan diri.
Letak toko bunga ini berhadapan dengan gedung-gedung perkantoran. Aku pernah mendengar dari Silvi bahwa alasan sepupunya mendirikan toko di tengah-tengah gedung pencakar langit ini karna ingin menghadirkan pemandangan yang indah dan tak biasa serta untuk menghidupkan pemandangan di antara gedung-gedung itu.
Semakin mendekati toko bunga itu aku bisa melihat jika toko itu di kelilingi oleh dinding kaca yang tembus pandang sedang di bagian luar terdapat keranjang-keranjang yang juga diisi oleh bunga gantung yang terlihat sangat cantik.
Pintu kaca tersebut terbuka dengan tulisan 'Open' dibagian samping pintu.
"Bismillah!" aku pun langsung masuk ke dalam, indra penciumanku langsung di manjakan oleh wewangian dari berbagai macam bunga yang ada disana.
"Assalamualaikum!"
Kulongokkan kepalaku ke kanan dan ke kiri, kakiku mulai melangkah semakin masuk ke dalam toko bunga itu.
"Permisi! Assalamualaikum!" ulangku lagi.
Belum juga ada sautan dari dalam, "permisi, apa ada orang disini?"
"Wa'alaikumssalam, Mbak mau beli bunga?" tanya Mbak-mbak berbaju ungu.
"Bukan saya mau ngelamar kerja disini." Jawabku sopan.
"Oh, Mbak yang mau ngelamar kerja. Udah ditunggu sama Ibu bos didalam. Ruangannya ada disebelah sana, Mbak!" telunjuk Mbak dengan jilbab ungu itu mengarah pada sebuah ruangan yang dikelilingi oleh bunga-bunga di bagian depannya.
"Oh itu ya, makasih ya Mbak. Saya permisi dulu kalo begitu." Pamitku setelahnya aku melangkah ke sana dengan jantung yang berdegup kencang karna gugup.
Tok.. Tok.. Tokk...
"Masuk!" seru sebuah suara dari dalam sana.
Kurapihkan kemeja yang kukenakan lalu kuhirup napas sedalam-dalamnya untuk meredakan kegugupanku, baru setelahnya aku menarik kenop pintu hingga pintu itu terbuka.
"Assalamualaikum!" salamku seraya masuk ke dalam.
"Wa'alaikumssalam, silahkan duduk!" perintah seorang wanita cantik berambut pendek.
Aku mendudukkan diri dihadapan wanita itu yang dibatasi sebuah meja kayu.
"Kamu pasti Hawa, kan?" tanya Mbak yang ada didepanku ini.
"Iya, saya mau daftar kerja disini."
"Sebelumnya perkenalkan dulu, saya Almira pemilik toko bunga ini. Saya sudah mendengar banyak tentangmu dari Silvi dan kamu tidak usah mendaftar lagi karna saya sudah mengetahui semua tentang kamu dari Silvi. Hari ini juga kamu sudah boleh kerja disini, kalau begitu selamat bekerja!" Wanita berambut pendek sebahu yang ternyata bernama Almira itu menyodorkan tangan ke arahku.
Aku pun menjabat tangannya seraya," terima kasih karna Ibu mau menerima saya disini. Saya akan berkerja dengan giat!"
"Jangan terlalu formal begitu, panggil saja saya dengan sebutan Mbak. Saya belum setua itu untuk kamu panggil Ibu."
Ku garuk kepalaku," tapi saya tidak ada maksud mengatakan kalo Ib- eh maksudnya Mbak itu tua. Karna menurut saya itu panggilan formal yang biasa digunakan oleh orang-orang saat memanggil atasan mereka."
"Hahaha.. Hawa, Hawa. Saya cuma bercanda, kamu tidak harus menganggap serius semua ucapan saya. Memang Ibu itu panggilan formal untuk para atasan wanita tapi kita tidak bekerja dikantoran jadi lebih enak jika memanggil saya dengan sebutan Mbak."
"Tapi tadi Mbak-mbak yang menunjukkan ruangan ini, memanggil Mbak Almira dengan sebutan Ibu?"
"Dia memamg seperti itu, sudah saya bilang untuk memanggil saya dengan sebutan Mbak saja tapi dia tetap ingin memanggil Ibu. Tapi saya lebih suka di panggil Mbak, kedengarannya lebih enak dan dengan panggilan itu saya merasa dekat dengan karyawan saya."
"Baiklah, Mbak Almira."
"Nah, begitu lebih baik. Ini seragam milikmu yang saya sudah buatkan dengan ukuran over size." Mbak Almira menyodorkan sebuah bungkusan plastik yang berisi baju berwarna ungu dengan tulisan BF di bagian dada sebelah kiri.
"Kalo begitu saya permisi dulu, mau ganti baju."
"Silakan!"
Aku membalikkan badan keluar dari ruangan Mbak Almira. Alhamdulillah semuanya lancar. Sekarang aku harus mulai bekerja, Ya Allah mudahkan lah hamba dalam mencari rizki, Aamiin..

***
Pukul 17.00 waktunya pulang kerja, ternyata bekerja disini sangat menyenangkan. Aku bisa melihat bermacam-macam bunga dari yang sering aku lihat sampai bunga yang baru aku tahu namanya. Aku juga bisa sedikit terhibur dan tidak selalu murung saat memikirkan kehidupan pernikahanku.
Aku selalu memimpikan bisa hidup bahagia dengan pria yang salah satu tulang rusuknya ku pinjam, namun semua itu tidak lah semudah yang ada dimimpiku karna pernikahan yang ku jalani ini penuh dengan kerikil tajam, yang terus menerus menusuk-nusuk hatiku untuk menghalangi aku mewujudkan mimpi itu.
Tes!
Tetesan air yang mengenai wajahku membuatku mendongak ke atas ternyata hujan mulai turun. Aku pun mengurungkan niat untuk segera pulang dan memilih menunggu di kursi yang terdapat dibagian luar toko seraya menunggu hujan reda.
Aku kira tidak akan hujan hari ini karna sedari tadi matahari bersinar dengan sangat terik tapi sekarang langit terlihat gelap, segelap hatiku yang seperti berjalan di antara lorong kegelapan tak berujung.
Sepertinya hujan akan lama berhenti dari pada kesepian dan melamun terus, aku memilih mengambil earphone dari dalam tas dan juga ponsel lebih baik aku mendengarkan beberapa lagu untuk mengusir rasa bosan. Aku butuh hiburan dikala luka hatiku yang masih menganga lebar.
Kuyyukk.. Kyukk
Bunyi yang berasal dari perutku membuatku teringat bahwa aku belum makan apapun sehabis pulang dari sekolah tadi. Mataku mulai menjelajah sekitar untuk menemukan penjual makanan gerobak, mungkin masih ada yang berjualan disekitar sini.

Bibirku melengkungkan sebuah senyuman saat mataku menangkap sebuah gerobak penjual mie ayam. Aku pun langsung beranjak berdiri lalu meraih payung yang ada didekat pintu toko dan langsung melangkah menuju gerobak penjual mie ayam itu.
"Bang, beli mie ayamnya satu!"
"Bang, beli mie ayamnya satu!" ucapku bersamaan dengan seseorang yang juga baru datang.
Aku menoleh ke arah orang tersebut dan mataku langsung membelalak. Ingatanku melayang ke beberapa hari yang lalu tepatnya kejadian di bioskop itu, seketika air mataku meluncur dengan bebas di kedua pipiku. Hatiku kembali terasa perih, lukanya memang tak berdarah tapi luka ini akan sangat membekas dari pada luka yang mengeluarkan darah. Aku belum sanggup jika harus berhadapan dengannya lagi.
"Maaf Mbak, Mas, mie ayamnya tinggal satu porsi jadinya mau bagaimana?"
Suara Abang penjual mie ayam mengalihkan tatapanku dari pria dengan stelan kantoran di sampingku.
________


#Jodoh_wasiat_bapak
#JWB15
Part 15
Pov Author

Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Hawa langsung berlari menjauhi suaminya yang sudah menancapkan belati di hatinya. Payung yang ada di tangannya terlepas karna tangannya terasa sangat lemah, mungkin karna ia belum makan ditambah suasanah hatinya yang sedang tidak kondusif.
Raddan yang baru tersadar dari keterkejutanya langsung berlari menyusul istrinya itu. Rasa bersalah kini tengah bersarang di hatinya, setelah mengetahui kebenarannya. Bahwa pria yang tempo hari bersama istrinya di bioskop itu bukan selingkuhan tapi saudara sepupunya istrinya.
Hatinya kini ikut bersedih, melihat wanita yang dinikahinya hanya karna wasiat itu menangis bahkan sekarang dia enggan menatap wajahnya. Meskipun ia hanya menikahinya karna wasiat tapi bukan berarti ia bisa menyakiti hatinya dengan begitu kejam. Pasti Ayahnya akan sangat murka jika beliau masih hidup dan melihat semua ini. Apalagi kemarahannya tempo hari telah melukai hati seorang wanita yang sangat baik sepertinya.

Kesalahannya memang fatal, tapi saat itu emosi tengah menguasai dirinya. Entah kenapa hari itu ia sangat marah dan merasa tidak suka saat ada lelaki lain yang berani menyentuh istrinya apalagi didepan mata kepalanya sendiri. Pokoknya ia harus segera meminta maaf dan membawanya kembali pulang ke rumah.
Langkah kakinya semakin ia percepat untuk mengejar langkah istrinya apalagi saat matanya menangkap tubuh istrinya yang mulai oleng.
Bruk!

Tepat. Saat ia berhasil menyusul Hawa tiba-tiba dia langsung terjatuh dan tak sadarkan diri. Raut khawatir tak bisa ia sembunyikan dari wajahnya. Dengan cepat digendongnya tubuh istrinya untuk di bawa ke ruangan dikantornya.
Ditengah guyuran air hujan Raddan membawa tubuh Hawa dalam gendongannya menuju kantornya yang letaknnya tepat di depan toko bunga tempat Hawa bekerja.
Suasanah kantor sudah sepi, semua karyawan sepertinya sudah pulang ke rumah masing-masing. Hujannya juga semakin lebat, tidak mungkin ia pulang secepatnya lebih baik ia membawa Hawa ke ruangannya untuk beristirahat hingga hujannya reda.
Sesampainya di ruangannya Raddan langsung membaringkan Hawa di sofa yang ada di sana. Raddan berjalan ke arah kamar mandi untuk mengambil handuk, jika Hawa dibiarkan terus menerus seperti ini, maka kemungkinan besar besok dia akan demam atau terkena flu akibat kehujanan.
Setelah menghanduki bagian wajah dan tangannya, Raddan kembali melangkah ke arah meja kerjanya. Meraih gagang telepon lalu menghubungi seseorang untuk membelikan pakaian ganti untuk Hawa.

***
Raddan kembali mengendong Hawa menuju kamar tidur yang memang di sediakan untuknya. Baju Hawa sudah di ganti oleh karyawati yang ia mintai tolong untuk membelikan baju tadi. Jika seperti ini maka kemungkinan Hawa akan terkena demam kecil. Kamar tidur ini memiliki fasilitas lengkap karna sering ia gunakan saat kepalanya terasa pusing atau ketika ia merasa sangat lelah.
Dalam diam Raddan terus memandangi wajah ayu di depannya. Dari pengamatannya selama ini istri keduanya ini, tidak suka memakai baju atau apapun yang berbau glamor tidak seperti Clara yang sangat menyukai barang-barang mahal dan berkelas.
Pernikahan mereka sudah berlangsung hampir selama dua bulan tapi istrinya ini tak pernah sekalipun meminta uang bulanan seperti Clara. Ia juga baru menyadari jika selama mereka menikah belum pernah ada perbincangan hangat antara ia dan Hawa selain saat mereka berada di meja makan, itu puj hanya sesekali.
Melihat wajah Hawa yang tertidur lelap membuat hatinya merasa nyaman dan damai. Baru kali ini ia bisa memerhatikan wajah istri keduanya ini dari dekat dan ia mengakui jika istrinya ini sangat manis dan cantiknya natural seperti terpancar dari kesucian hatinya.
Melintas sebuah rasa penasaran tentang kejadian di bioskop waktu itu, hingga ia menberanikan diri untuk mendekatkan wajahnya dan..

Cup!
Setuhan bibirnya dikulit kening istrinya ini membuat tubuhnya bergetar hebat dan jantungnya ikut berdetak tak normal. Perasaan yang tidak pernah timbul saat berciuman dengan Clara. Sewaktu di bioskop ia juga merasakan hal yang sama namun saat itu ia anggap hanya reaksi wajar karna ia sangat terkejut waktu itu, tapi kali ini tubuhnya bereaksi sama persis seperti hari itu. Sebenarnya ada apa dengan dirinya? Mengapa bisa begini?
Drrtt ... drrtt ... drrtt ....
Bunyi dering ponsel membuatnya mengalihkan pandangan dari wajah Hawa untuk mengambil ponsel miliknya yang tersimpan di saku celana bahannya.
Ia langsung bangkit saat melihat caller id yang tertera di layar ponselnya.
Clara is calling..
Ia pun mengangkat panggilan itu setelah menjauh terlebih dahulu dari ranjang yang ditempati Hawa.
"Iya, sayang. Ada apa?"
"...."
"Mas, nggak bisa balik sekarang soalnya masih ada kerjaan yang belum selesai. Kayaknya Mas akan lembur hari ini. Jadi jangan nunggu Mas, pulang ya."
"...."
"Pekerjaan ini sangat penting. Jadi Mas nggak bisa menundanya!"
"...."
"Hm. Bye!"
Soal pekerjaan itu semuanya bohong. Karna hanya itu yang terlintas di otaknya sebagai alasan agar ia bisa pulang terlambat.
Sebenarnya ia juga bingung kenapa dirinya harus berbohong pada Clara, hanya karna ia masih ingin bersama Hawa disini. Hatinya rasanya tidak rela jika harus meninggalkannya sendirian disini. Terlebih lagi ada masalah yang belum mereka selesaikan.
Ia kembali mendekati Hawa, rasanya belum puas melihat wajah yang terlihat sangat damai dalam tidurnya itu. Sebenarnya ia ingin membelikan makanan karna tadi ia melihat istrinya ini ingin membeli mie ayam sebelum pingsan tapi sekarang ia malas sekali beranjak dari sini, lebih baik memesan makan dengan jasa ojol.
Segera ia nyalakan ponselnya kembali, lalu memesan makanan melalui aplikasi pengantar makanan. Karna ia masih kenyang, jadi ia hanya memesan dua mangkuk makanan. Biar Hawa bisa memilih di antara keduanya.
***
"sshh.." Hawa bangkit dari tidurnya, keadaan tubuhnya terasa sudah lebih baik dari sebelumnya.
Beberapa menit kemudian keningnya berkerut saat matanya mengedar melihat sekeliling. Ini bukan kamar yang ku tempati di rumah Silvi! kata batinnya terkejut.
Ia pun segera bangkit dan kembali terkejut saat melihat pakaiannya yang dikenakannya ini berbeda dari yang terakhir ia ingat. "Aaaa...!!"
Teriakan yang cukup kencang sampai mengalahkan suara derasnya hujan di luar sana itu, membuat seseorang yang tengah tertidur lelap langsung terbangun.
Raddan yang terbangun karna suara teriakan itu pun segera mendekat ke arah Hawa. "Ada apa?" tanyanya dengan suara yang masih serak khas orang bangun tidur. Tangannya mengusap-usap matanya yang masih kurang jelas untuk melihat.
"Mas, Mas ngapain disini?" tanya Hawa bingung seraya melihat sekeliling mereka.
"Ini ruangan kantorku. Jadi wajar kalo aku ada disini."
"Ruangan kantor?" ingatan Hawa langsung melayang ke kejadian sebelum ia berada ditempat ini.Seingatnya ia pingsan di tengah hujan deras lalu tidak ada lagi yang bisa ia ingat.
"L-lalu s-siapa yang membawaku kesini?" tanyanya dengan tangan yang masih tersilang didepan dada.
"Saya." Jawab Raddan singkat.
"T-terus yang mengganti pakaian ini, siapa?"
Raddan menyilangkan tangan di dada, kedua alisnya dia naik turunkan. Sepertinya asik kalau dia mengerjai istrinya ini."Memangnya kamu melihat ada orang lain disini?"
Hawa langsung memelototkan matanya dengan sigap di ambilnya bantal yang ada di sebelahnya. Lalu dengan kuat ia lemparkan bantal itu hingga mengenai wajah Raddan.
Buk!
"Dasar cowok mesum?!!" makinya seraya melemparkan bantal lagi ke arah Raddan.
Kali ini Raddan berhasil menangkap bantal itu sehingga tidak mengenai wajahnya. "Apa? Kamu bilang, mesum?"
"Iya! Mesum. Mas kan yang gantiin baju Hawa, berarti Mas itu mesum!" Hawa kembali mengambil sebuah bantal guling, kali ini ia tidak melemparkannya tapi ia mendekati Raddan dan memukulnya secara bertubi-tubi.
Buk! Buk! Buk!

"Dasar mesum! Semua cowok sama aja! Otaknya nggak ada yang beres!!"
Hawa terus memukuli Raddan seraya memaki-makinya. Raddan yang sudah lelah dipukuli akhirnya menangkap bantal guling yang di pakai Hawa, untuk memukulinya itu lalu menarik bantal itu dengan kuat hingga kini wajah keduanya hanya berjarak beberapa senti.
"Tidak ada kata mesum, untuk suami yang hanya menggantikan baju pada istrinya sendiri." Bisik Raddan di depan wajah Hawa.
Deg! Deg! Deg!
Wajah Hawa memerah mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Raddan. Benar, sekarang mereka telah menjadi sepasang suami istri. Kenapa ia bisa melupakan hal itu!
Lalu sekarang ia harus bagaimana? Ditengah kebingungan yang melanda dirinya, Hawa kembali di kagetkan oleh kelakuan Raddan yang semakin mendekatkan wajah mereka dan tangan Raddan sudah terangkat memegang dagunya.
Hawa yang melihat itu langsung memejamkan mata. Ia terlalu takut untuk mengetahui apa yang akan Raddan lakukan selanjutnya.
Kruyuk.. Kruyukk..!
Suara yang berasal dari perutnya, ia hampir lupa jika sedari tadi siang ia belum makan apapun. Bersamaan dengan itu ia juga merasakan Raddan kembali menjauhkan wajah mereka.
"Sepertinya kamu lapar, lebih baik kamu makan dulu. Ayo kita kesana! Saya sudah membelikan makanan untuk kamu." Raddan berjalan mendahului Hawa menuju meja di tengah ruangan yang di atasnya sudah terdapat dua mangkuk makanan.

Hawa kembali membuka matanya dan mulai bernapas dengan benar kembali. Perlakuan Raddan barusan membuatnya menahan napas beberapa detik.
Ia sangat bersyukur karna perutnya berbunyi di waktu yang tepat. Ia tidak sanggup jika harus berbedakatan dengan Raddan seperti tadi lagi, karna itu tidak baik bagi kesehatan jantungnya.
Sedangkan Raddan merutuki sikapnya barusan. Saat ini otak, tubuh dan hatinya tengah konslet. Bahkan ia berpikiran untuk kembali mencium Hawa saat melihat wajah istrinya itu bersemu merah tadi.
Hawa mendudukkan diri di sofa yang berada tepat didepan meja kaca itu. Lalu mulai melihat isi mangkuk dari makanan di hadapannya.
"Ekhm! Mas nggak makan juga?" tanya Hawa tidak enak saat melihat Raddan hanya berdiam diri di depannya.
"Saya-"
Kruyuk.. Kruyukk!
"Mas ikut makan saja. Ini kan ada dua mangkuk Hawa nggak mungkin bisa habisin dua-duanya sekaligus."
Raddan yang merasa lapar ikut mendudukkan diri di sebelah Hawa.
"Mas, mau makan apa?" tanya Hawa lagi saat melihat Raddan kembali diam.
Dalam hati Raddan berkata, makan kamu! Tapi secepat mungkin Raddan mengenyahkannya. "Saya mau makan ini saja!"
Raddan mengambil sebuah mangkuk berisi bubur ayam. Melihat itu Hawa segera merebut mangkuk itu, "Mas kan nggak suka bubur ayam selain masakan a-"
"Apa?" tanya Raddan yang tidak terlalu jelas mendengar perkataan Hawa.
"Nggak papa, Mas makan ini aja!" Hawa menyodorkan mangkuk yang berisi mie ayam. "Biar Hawa yang makan buburnya."
"Tidak usah. Saya makan bubur saja, kamu makan ini! Kamu ingin membeli mie ayam kan, sebelum pingsan tadi."
"Tapi.."
"Makan saja! Jangan banyak protes!"
Hawa yang mendengar itu akhirnya membuka plastik penutup mangkuk yang berisi mie ayam itu. Kemudian diambilnya sumpit yang ada di meja, di aduk-aduknya mie itu hingga bumbunya tercampur rata. Matanya kembali melirik ke arah Raddan yang terlihat memaksakan diri untuk menelan bubur itu.
Rasanya ia tidak tega melihat wajah Raddan yang terlihat begitu tersiksa saat memakan bubur itu sesuap demi sesuap. Ia sangat tahu jika Raddan tidak menyukai bubur kecuali bubur yang dimasak olehnya.
"Mas, gimana kalo makananya kita bagi dua aja!" usul Hawa.
"Maksudnya?"
"Gini, Mas habiskan bubur itu separuh mangkuk lalu Hawa juga menghambiskan mie ayamnya separuh juga! Biar adil kita sama-sama merasakan keduanya."
Raddan mengangguk tanpa bantahan. Dia juga merasa tidak sanggup jika harus menghabiskan bubur ini semangkuk penuh.

***
Beberapa saat kemudian keduanya sudah selesai makan. Kini Hawa duduk termenung di sofa. Sedangkan Raddan keluar untuk membuatkan minum untuk mereka berdua.
Ia kembali ingat dengan masalah yang belum mereka selesaikan. Apakah ia harus membahasnya sekarang? Tapi ini sudah malam tidak baik rasanya jika harus berdebat karna masalah ini lagi. Lebih baik ia selesaikan masalah ini besok saja dan masalah ini harus segera selesai. Tidurnya selama seminggu ini tidak nyenyak karna masalah ini belum terselesaikan.
Ia merasa tidak enak karna Raddan yang membuatkan minum untuknya. Itu seharusnya menjadi tugasnya tapi Raddan berkeras ingin membuatkan minum untuknya, sikap Raddan hari ini sangat lembut berbeda dari yang terakhir kali di bioskop itu.
Ia menoleh ke arah pintu yang terbuka. Di sana sudah ada Raddan yang membawa dua cangkir kopi di kedua tangannya.
"Di dapur hanya ada kopi saja. Kamu suka kopi?" tanya Raddan sembari menaruh satu cangkir kopi di meja.
"Bukannya yang nggak bisa minum kopi itu Mas, ya?" herannya. Dulu sewaktu mereka kuliah Raddan pernah bilang bahwa dia tidak bisa meminum kopi walau hanya seteguk saja.
"Tidak papa, hanya sekali ini." Ia hanya bisa mengangguk lalu mengambil cangkir berisi kopi itu dan meminumnya dengan pelan karna masih sangat panas.
Baru beberapa teguk Raddan meminum kopi itu, tubuhnya terasa melayang. Pandangannya sudah tidak fokus.

Hawa yang menyadari itu segera meletakkan cangkir kopinya lalu mendekati Raddan." Mas, Mas nggak papa kan?"
"Sshh.. saya .. Auw!" Raddan menggelengkan kepalanya untuk mengusir rasa pusing yang melandanya.
"Hawa papah ya, ke kasur!"
Raddan hanya bisa mengangguk, pasrah. Kepalanya benar-benar terasa berputar-putar, pusing sekali.
Dengan lambat ia berusaha memapah Raddan, bobot tubuhnya yang lebih kecil dari Raddan membuat langkahnya terasa sangat berat saat memapah Raddan ke ranjang.
Hampir sampai. Hawa semakin memacu langkahnya agar lebih cepat sampai di kasur hingga...
Duk!
Kaki Hawa tersandung meja nakas samping tempat tidur, membuat dirinya terjatuh terlebih dahulu lalu disusul oleh Raddan di atasnya.
Bruk!
Untungnya mereka jatuh tepat di atas kasur, sehingga tubuh mereka masih terselamatkan. Dengan sekuat tenaga ia berusaha menggeserkan tubuh Raddan ke samping karna Raddan jatuh tepat di atasnya, membuatnya susah bernapas.
Dalam keadaan Raddan yang sudah tidak sadarkan diri, bobot tubuhnya terasa semakin berat."Hhhh.. kenapa susah banget sih!"
Berulang-ulang kali ia berusaha menyingkirkan tubuh Raddan dari atasnya dan akhirnya berhasil. Dengan cepat ia bangkit dari kasur hendak menuju sofa, lebih baik ia menginap semalam disini karna hari sudah semakin larut dan hujan juga tak kunjung berhenti.
Hap!
Sebuah tangan menariknya tangannya hingga membawa tubuhnya ikut tertarik dan terjatuh kembali namun bukan di atas kasur tapi di atas dada bidang Raddan. Ia kembali hendak bangkit tapi gerakannya kalah cepat dengan tangan Raddan yang sudah terlebih dulu melingkari pinggangnya.
"Mas, Mas lepasin Hawa!" pintanya seraya memukul-mukul dada Raddan dengan tangannya yang bebas.
"Hm.." Bukannya membebaskanya Raddan malah membawa tubuh Hawa semakin masuk ke dalam pelukannya, dengan kaki yang juga ikut memeluk tubuhnya. Sekarang ia tidak bisa bergerak sama sekali tubuhnya sudah terkurung dalam pelukan suaminya ini.
Saat dirasa tubuh Raddan mulai melemas, ia kembali berusaha untuk melepaskan pelukannya tapi bersamaan dengan itu lampu ruangan tiba-tiba mati, membuatnya mengurungkan niatnya untuk kabur.

Jika keadaan gelap seperti ini ia sama sekali tidak bisa kabur kemana-mana karna ia tidak bisa melihat apa-apa. Lebih baik ia pasrah dalam keadaan ini dan menunggu lampu kembali menyala.
Namun lampu tak kunjung menyala hingga kantuknya kembali datang, membuatnya kembali tertidur tapi kali ini dengan posisi yang berbeda karna ia masih ada dalam pelukan Raddan, suaminya.
_________

Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar