Persaudaraan Muslimah Indonesia, mempelajari Islam Secara Menyeluruh.

Sabtu, 21 Maret 2020

JODOH WASIAT BAPAK 31 - 35

#Jodoh_wasiat_bapak
Hawa POV
Part 31 Author Shofiyah Shofiyah
Istanbul, Turki.

Kota yang sangat aku impikan bisa menjadi bulan madu kami dulu, kota yang sangat indah terletak di antara dua benua yaitu benua asia dan eropa, salah satu kota yang pernah dijadikan pusat kerajaan Ottoman. Kota yang memiliki banyak sejarah islami, salah satunya Topcapi palace adalah istana kekaisaran Ottoman yang sudah beralih fungsi menjadi museum yang menyimpan barang-barang peninggalan Rasulullah dan para sahabat.

Selain itu melihat ikon kota Istanbul Turki, Hagia Sophia merupakan bangunan megah yang merupakan contoh penerimaan islam di kota ini, karna di dalam bangunan itu kita bisa menemukan harmoni antara islam dan kristen.
Saat ini kami tengah berjalan-jalan di sepanjang Selat Bosphorus untuk menikmati pemandangan sore, yang indah seraya menyaksikan kapal tongkang yang berlalu lalang.
"Anak-anak, ayo kita duduk dulu disana!" kugandeng kedua tangan anakku menuju tempat duduk yang tersedia di dekat sini.
"Umma.. itu bulung apa?" Aiza melonjak-lonjak menunjuk sekumpulan burung yang sedang terbang di atasnya.
"Itu burung camar, sayang."
"Waahh.. enak ya bisa telbang, Aiza pengen juga punya sayap kayak bulung itu!"
"Aiza, sini duduk dengerin Umma," suruhku seraya menepuk tempat disebelahku.
"Apa Umma? Kapan Aiza bisa telbang kayak bulung itu? Aiza pengen telbang telus ambil bintang di langit sana!" tunjuk Aiza mengacung ke atas awan.
"Aiza, manusia nggak bisa terbang. Yang bisa terbang hanya hewan seperti burung itu," jelasku dengan lembut.
"Tapi Aiza pengen telbang! Aiza mau ambil bintang di langit, tlus Aiza kasih ke Umma."
"Aiza nggak perlu ambil bintang di langit buat Umma karna bagi Umma Aiza dan Bang Azka adalah bintang di hati Umma."
"Benelan?" tanya Aiza memastikan, aku mengangguk. "Yeay! Aiza bintang di hati Umma! Aiza hebat bisa jadi bintang!"
Kedua anakku adalah bintang di hatiku, karna mereka separuh jiwaku. Anak yang Allah hadirkan untuk melengkapi hidupku dan menjadi semangatku untuk melanjutkan hidupku yang sudah hancur ini. Demi mereka akan aku lakukan semua hal untuk membuat mereka bahagia.
Flasback ON
Enam tahun lalu...
Setelah mendengar percakapan Bunda dan Mas Raddan aku berlari keluar dari rumah sakit, dengan derai air mata. Saat aku kebingungan akan pergi kemana, aku bertemu dengan Silvi dan menceritakan semua hal yang membuatku seperti ini. Dengan sabar Silvi menasehatiku dan memerikan pundaknya untukku mengeluarkan segala keluh kesahku selama ini.
Tentang Clara yang tiba-tiba hamil dan Bunda yang meminta Mas Raddan menceraikanku, aku hancur saat itu. Semua hal yang aku impikan hancur dalam sekejap, padahal aku kira setelah Devi ditangkap hidupku akan berjalan mulus kembali, tapi tidak karena Clara masih saja menjadi penghalang yang tidak akan pernah membiarkan kami bersatu kembali.
Mendapatkan cobaan yang bertubi-tubi membuatku mengeluh pada-Nya, dalam setiap sujudku selalu kuselipkan tanya, sebenarnya apa takdir yang sudah Engkau tuliskan pada hamba kenapa hanya kesedihan dan kesedihan yang menghampiri hamba. Kepergian Ummi dan sekarang di paksa berpisah dari orang yang sangat kucintai.
Hari-hari itu kulewati dengan keterpurukan, rasa tak terima dengan takdir ini yang terasa sangat menyesakkan dadaku, hingga membuatku tidak mampu bernapas dengan baik. Tapi semagatku kembali bangkit saat suatu siang, Silvi datang sambil membawa sebuah surat.
"Hawa, lo dapet beasiswa!"
"Beasiswa?"
"Iya, beasiswa yang lo ajuin ke Turki udah dapat jawaban. Lihat ini, lo di terima di kampus favorit di sana!"
Silvi terlihat sangat bahagia padahal aku yang mendapatkan beasiswa itu. Silvi menyerahkan surat berlogo salah satu Universitas yang sudah lama menjadi impianku, Universitas yang terletak di kota Istanbul, Turki.
"Lo harus ambil, mungkin ini rencana Allah supaya lo bisa melanjutkan cita-cita lo yang tertunda. Turki negara yang sangat ingin lo kunjungi, karna tertarik dengan sejara islam di negara itukan, terlebih di kota Istanbul."
Apakah ini jawaba atas doaku selama ini? Di sepertiga malam aku melantunkan doa, meminta jawaban untuk keputusan yang sebaiknya aku ambil. Dan keputusan untuk melanjutkan kuliah S2 ke Turki adalah jawabannya.
Sebelum berangkat, aku menulis sebuah surat untuk berpamitan pada Mas Raddan. Berat, sungguh berat untuk meninggalkan kota ini dan segala kenangan di dalamnya. Di surat itu aku menuliskan isi hatiku, bahwa aku sangat mencintainya. Cinta karna Allah, jika aku memang berjodoh dengan Mas Raddan maka Allah akan mempertemukan kami lagi di masa depan nanti.
Tekadku sudah bulat, lulus dengan nilai terbaik dan pulang kembali ke tanah air menjadi sosok Hawa yang baru.
Setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang, tubuhku terasa lelah. Sesampainya di asrama kampus aku langsung merebahkan diri, tiba-tiba aku di landa pusing dan mual-mual, semula aku kira hanya mula dan pusing biasa sebagai reaksi jetlag karna menepuh perjalanan jauh tapi itu terjadi setiap pagi, muntah-muntah namun yang bisa kumuntahkan hanyalah, cairan putih.
Tumbuhku lemas karena tidak bisa sarapan setiap paginya akibat muntah-muntah yang berujung mengurangi nafsu makanku. Tubuh yang lemas dan lemah namun masih kupaksakan untuk menjalani rutinitas seperti biasa, hingga suatu hari tubuhku semakin lemah dan akhirnya aku pingsan.
Teman sesama mahasiswa disana dengan baik hati membawaku ke dokter, setelah di periksa ternyata aku mengalami hyper emesi dan kekurangan gizi namun bukan itu yang membuatku kaget melainkan kehadiran dua jabang bayi yang saat ini tengah tumbuh di dalam rahimku.
"Muntah-muntah dan mual itu wajar bagi seorang ibu hamil, tapi ibu juga harus tetap memerhatikan asupan makanan untuk mengisi perut Ibu, jangan sampai ibu tidak makan yang bisa berakibat fatal untuk kandungan Ibu."
"Maaf dok, selama ini saya belum tahu mengenai kehamilan ini. Setelah ini pasti saya akan menjaga mereka dengan baik," janjiku seraya mengelus-elus perut yang masih rata.
"Oh, maaf saya tidak tahu. Kalau begitu saya akan resepkan obat supaya ibu tidak terlalu mual dan obat untuk menguatkan janin ibu."
"Iya, dok. Saya sangat membutuhkan kedua hal itu dan saya mau tanya, susu hamil yang paling bagus itu apa ya? Karna saya bukan orang Turki jadi saya bingung mau beli susu yang mana?"
"Oh, pantas logat Ibu berbeda dari saya. Lain kali ajak suaminya ke sini untuk mengetahui perkembangan janin Ibu."
"Suami saya tidak ada disini Bu, saya kesini sebenarnya mau melanjutkan pendidikan saya, jadi saya tidak mengajak suami."
"Oh, maaf. Ini resep obatnya, karna Ibu sendirian disini, tolong kurang-kurangi aktivitas yang berlebihan apalagia dimasa awal-awal kehamilan seperti ini."
"Baik, Dok. Saya akan usahakan tidak melakukan hal-hal yang berat dan membatasi kegiatan yang akan menguras tenaga."
"Ibu harus mulai manambah porsi makan Ibu, karena sekarang Ibu tidak sendirian ada dua janin yang tengah tumbuh dirahim Ibu dan perhatikan gizi yang terkandung dalam makanan yang Ibu konsumsi."
"Baik Dok, saya akan mengikuti semua ajuran dari Dokter."

Keluar dari rungan dokter Obgyn itu aku langsung sujud syukur, sekarang aku tidak akan sendirian lagi karena ada dua buah hatiku yang sedang tumbuh di rahimku saat ini. Meski kehadiran mereka tidak diketahui oleh ayah mereka sendiri tapi aku akan menjaga dan merawat mereka dengan baik.
Aku mulai rajin mengonsumsi makanan sehat dan bergizi, sebisa mungkin aku harus makan setiap harinya meskipun aku masih sering merasakan mual. Trimester pertama telah aku lewati dengan baik, namun kini aku harus melewati masa ngidam yang terkadang membuatku susah untuk tidur. Seperti saat ini aku sangat ingin di peluk oleh Mas Raddan, tapi itu hal yang tidak mungkin bisa kuwujudkan karena aku dan Mas Raddan telah berpisah negara.
Tiba-tiba aku teringat pernah membawa satu kemeja Mas Raddan, dengan cepat kucari kemeja itu dan kupeluk kemeja itu seraya membayangkan Mas Raddan lah yang sedang memelukku dengan erat. Dan akhirnya kedua janinku tenang sehingga aku bisa kembali tertidut nyenyak.
Aku sangat bersyukur, ternyata Allah masih sangat menyayangiku setelah mengambil kedua orang terkasihku yaitu Abi dan Ummi, sekarang Allah mengantinya dengan dua bayi mungil yang sedang berkembang di rahimku.
Meskipun aku kadang kewalahan saat mengidam makanan khas Indonesia yang sangat susah kudapatkan di negara ini. Tapi sebisa mungkin aku mencarinya agar kedua janin dalam rahimku bisa tenang dan tak rewel.
Sehabis sholat Isya sebisa mungkin aku menyempatkan waktu untuk membaca surah Yusuf dan Maryam, aku berharapa anak-anakku nanti bisa tumbuh menjadi anak yang sholeh, sholeha, baik dan pintar dalam agama.
Setelah penantian yang sangat panjang yaitu selama sembilan bulan sepuluh hari, akhirnya aku bisa melihat dua bayi mungil yang selama ini ada didalam rahimku. Bayi berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, kembar campuran.
Dengan bahagia aku memberi mereka nama, untuk yang laki-laki kuberi nama Azka Nafeeza Yusuf dan untuk yang perempuan aku memberinya nama Aiza Nazeera Yasmin.
Flasback OFF

"Umma.. Aiza mau es klim!" pinta Aiza sambil menunjuk-nujuk ke arah depan, yang rupanya terdapat sebuah kedai es krim sedang tangan sebelahnya lagi menengadah meminta uang padaku.
Aku memberikan selembar Lira Turki, mata uang Turki."Oke, tapi hanya boleh satu cup kecil, tidak ada kata protes."
"Ya udah deh, satu cup aja."
Aku tersenyum tumben sekali dia tidak protes, jika aku mengira dia akan nurut berarti aku salah besar karena saat dia kembali ditangannya terdapat sebuah cup es krim berukuran jumbo dengan toping beraneka ragam, ada messes, bobba, parutan keju, dan berbagai toping lainnya.
"Aiza, Umma tapi bilang apa?" tanyaku saat Aiza sudah duduk di sebelahku.
Aiza tidak menoleh sibuk dengan es krim yang ada dalam genggamannya, namun ia tetap menjawab," Umma bilang boleh beli es klim, tapi satu cup aja."
"Terus apa lagi?" pancingku agar dia mengetahui letak kesalahannya dimana.
"Yang ukurannya kecil."
"Kalo Aiza ingat, kenapa Aiza beli es krim yang cupnya besar?"
"Ini kecil kok Ma," jeda sejenak Aiza kembali memakan es krimnya, "bagi Aiza. Hehehe...," lanjutnya dengan cengengesan.
"Kalo gitu Aiza bagi dong ke Abang Azka."
Aiza berpindah ke samping kananku mendekati Abangnya yang hanya berdiam diri saja seraya melihat pemandangan di sekitarnya.
"Bang Azka mau es klim nggak?"
Azka menoleh sebentar ke arah adik kembarnya, sedetik kemudian ia menggelengkan kepala tandak tidak mau.
"Azka mau beli apa? Biar Umma yang beliin?" gantian aku yang bertanya, siapa tahu anakku yang satu ini menginginkan sesuatu dalam benaknya.
Beginilah keseharianku menghadapi kedua anakku yang memiliki kepribadian yang sangat bertolak belakang. Azka cenderung lebih dingin terhadap orang baru dan irit sekali bicaranya, sedangkan Aiza sangat cerewet dan lebih aktif tapi kadang aktifnya ini dalam hal negatif seperti menjahili teman sekelasnya.
"Umma, Aiza mau nanya,"
"Nanya apa sayang?"
"Ibu itu.. kenapa Umma? Kok pelutnya gede kayak balon mau meleduk?" tanya Aiza seraya menunjuk seorang Ibu hamil yang kebetulan lewat didepan kami.
Tawaku hampir meledak mendengar pertanyaanya, "sayang, Ibu itu sedang hamil, jadi perutnya gede."
"Emang ada apa di dalam pelutnya, kok bisa gede kayak balon?"
"Ada adek bayinya di dalam perut Ibu itu," jelasku perlahan.
"Kok, Ibu itu jahat, kenapa adek bayinya di masukin ke dalam pelut, nanti kalo adek bayinya nggak bisa napas gimana?"
"Adeknya masih kecil jadi belum boleh keluar, dulu Aiza sama Bang Azka juga ada di dalam perut Umma."
"Telus Aiza sama Bang Azka kelualnya gimana?"
Kepalaku serasa berputar mendengar pertanyaan Aiza yang terkadang bisa menjebakku, seperti saat ini tidak mungkin aku memberikan jawaban yang rinci karna otak mungil Aiza sedang berkembang, pasti tidak akan muat untuk menyerap semua hal yang akan ku jelaskan nantinya.
Drrtt... drrtt... drrtt...
Suara dering ponsel menyelamatkan ku dari pertanyaan Aiza yang sulit untuk kuterangkan pada anak seusianya.
"Aiza.. Tante Silvi nelpon, Aiza mau ngobrol sama Tante nggak?"
"Mau! Mau! Siniin hapenya Umma!" Aiza menyulurkan tangan meminta ponsel yang masih ada di genggamanku, alhamdulillah Aiza masih seperti anak kecil lainnya yang pikirannya mudah di alihkan ke arah lain.
"Tante Silvi, nanti kalo Aiza main ke lumah Tante, ajalin Aiza silat, ya?"
***
"Haw, kapan lo balik ke Indo? Gue udah nggak sabar pengen ketemu ponakan gue yang ucul-ucul bingit itu!"
Pertanyaan Silvi kembali terngiang dalam pikiranku, aku sebenarnya ingin pulang ke tanah air tapi saat mengingat kedua anak-anakku yang masih kecil, rasanya aku tidak tega untuk membawa mereka berpergian jauh.
"Umma.. Aiza boleh pergi bareng ayah nggak?"
Suara Aiza menghentikan lamunanku, mengalihkan tatapan aku melihat seorang pria yang dengan stelan jas rapih. Ayah? Itu panggilan sayang Aiza pada pria yang merupakan sahabat kecilku itu.
Aku baru mengingatnya lagi setelah ia mengenalkan namanya, ia pria yang waktu itu menegurku di kala hujan saat pesta di hotel Mas Raddan dulu, ia juga pria yang ada ditoko bunga dan pria yang menolongku dari para preman yang menjahatiku waktu itu.
Mas Feri datang kembali untuk menagih janjiku dulu yang akan bersamanya saat sudah dewasa nanti, namun aku dengan jujur mengatakan bahwa aku tidak bisa. Dan Mas Feri memaklumi itu, tapi ia ingin tetap dekat dengan kedua anakku yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri. Saat tidak sibuk biasanya Mas Feri akan berkunjung ke toko kue milikku lalu mengajak anak-anakku berjalan-jalan.
Selain mengajar di salah satu Universitas aku juga mendirikan sebuah toko kue, untuk menambah-nambah uang bulananku.
Aiza dan Azka hanya mengetahui kalau Mas Feri adalah ayah mereka, aku belum sanggup berbicara jujur tentang ayah kandung mereka, mungkin nanti akan aku jelaskan di waktu yang sudah tepat.
Aiza dengan gembira menghampiri Mas Feri lalu bergelendot manja di lengannya. Ku tolehkan wajah ke arah kursi, Azka terlihat masih serius menatap buku yang ia letakkan di atas meja dengan tangan yang telipat di atas meja juga.
Aku beranjak dari meja kasir untuk menghampirinya, "Azka.. nggak mau ikut jalan-jalan sama Ayah Feri?"
Tanpa mengalihkan tatapan dari bukunya Azka menjawab dengan dingin," Azka nggak mau jalan sama ayah boongan. Om Feri bukan ayah kandung Azka benerkan, Ma?"
Deg!
Aku tahu jika Azka tumbuh menjadi anak cerdas tapi ia kaget saat mendengar ucapan anaknya kali ini. Di saat aku belum siap mengatakannya pada kedua anakku, tapi Azka sudah mengetahuinya terlebih dahulu.
"Azka, tau dari mana?"
"Azka pernah lihat Umma nangis sambil sebut-sebut nama orang lain, tapi itu bukan Om Feri."
Kurengkuh tubuh Azka ke dalam pelukanku, tak kuasa aku menahan lelehan air mata yang memberontak keluar dari pelupuk mataku. Azka mengetahuinya sendiri, aku kira dengan menangis di sepertiga malam mengadukan segala keluh kesahku hanya pada-Nya tidak akan ada yang mendengarnya selain aku dan Yang Maha Kuasa, tapi sekarang anakku telah mengetahui semuanya.
Aku harus bagaimana? Apakah aku harus mengatakan yang sebenarnya?
"Apa Ayah nakal, makanya Umma nangis?"
________
Tbc.


#Jodoh_wasiat_bapak
#JWB32

Part 32

Author POV

"Masih kurang, ganti?!"

"Ini yang kamu bilang maksimal? Ini itu masih jelek?!"

"Masih belum sesuai keinginan saya, ganti?!"

"Buat lagi?!"

Bruk!

Bruk!

Bruk!

Beberapa karyawan keluar dari ruangan Raddan dengan bahu lunglai. Bagaimana tidak? Berkas laporan yang mereka buat dengan susah payah, hingga menguras tenaga dan pikiran mereka berakhir mengenaskan di tempat sampah!

Ken yang melihat pemandangan itu tak merasa heran lagi, pasti ulah dari sahabat sekaligus bos tersayangnya itu, kejadian ini berawal setelah sahabatnya itu kehilangan pawang cintanya yaitu Hawa.

Sejak Hawa pergi sahabatnya Raddan menjadi gampang emosian dan semua itu dia lampiaskan pada para karyawannya.

Melangkah masuk ke ruangan bosnya, Ken melihat seorang pria yang tengah duduk dibalik meja kerjanya seraya memijit pelipisnya dengan punggung  bersandar di kursi kebesaraannya.

Penampilan pria itu sangat berbeda dari enam tahun yang lalu, lihatlah sekarang pria itu sudah mirip orang hutan yang nyasar ke kota. Kemeja berwarna putih yang terkancing asal, dasi yang mengantung dengan asal, rambut gondrong, brewokan, dan mata sayu karena kurang tidur.

Keadaan sahabatnya ini sudah berada ditahan yang sangat kronis, benar-benar mengkhawatirkan sekali. Ia sebagai sahabat terdekatnya saja tidak tega melihatnya, sungguh miris kisah cinta sahabat baiknya ini dan yang lebih mirisnya Raddan terkenal sindrom pembucin sejati pada istri tercintanya itu.

"Dan, lo jangan terpuruk terus kayak gini, kalo lo masih cinta ya cari lagi, jangan kayak gini ngelampiasin sama karyawan yang nggak tau apa-apa!" cibir Ken seraya melangkah menuju sofa.

Raddan menoleh ke arah Ken, "gue udah nyari dia kemana pun tapi tetap aja nggak ketemu! Terus sekarang gue harus cari dia kemana lagi, hah?!"

Ken masih duduk dengan santai tidak kaget mendengar nada bicara Raddan yang naik beberapa oktaf," yah.. masa gitu aja lo udah nyerah! Dia aja bisa sabar damlingin lo disaat lo lupa ingatan. Jadi seharusnya lo jangan gampang nyerah, bangkit lagi dan cari dia sampai ketemu!"

Raddan bangkit menatap Ken dengan serius, "trus gue harus cari dia kemana lagi? Gue udah ubek-ubek seluruh Jakarta, bandung, bogor dan hampir seluruh Indonesia udah gue jelajahi buat nyariin dia. Tapi tetap aja dia nggak ketemu!"

"Nyarinya jangan pake GPS di google Maps dong, tapi pake hati. Hati itu kompas cinta yang paling tepat, jadi lebih baik tanya sama hati lo sendiri kemana dia pergi."

Raddan bangkit beranjak dari duduk hendak keluar ruangan. Namun kembali terhenti saat mendengar kalimat yang di lontarkan sahabatnya itu.

"Ya, tapi nggak sekarang juga, kita ada pertemuan bisnis sama investor asing lusa, untuk membicarakan masalah bisnis restoran yang akan kita bangun di negara mereka."

Raddan geram pada sahabat sekaligus bawahannya ini, katanya tadi ia harus bangkit untuk berjuang mencari lagi keberadaan istri tercintanya itu, saat ia akan melakukannya tiba-tiba sahabatnya memintanya untuk menghadiri pertemuan bisnis. Sebenarnya apa sih yang sahabatnya inginkan?!

"Oh, iya satu lagi! Lebih baik sekarang lo rapihin penampilan yang kayak manusia goa ini."

Raddan sudah berusaha sabar, tapi sahabatnya ini perlu mendapat lemparan sepatu agar mulutnya diam. Melepas sepatunya, ia menoleh ke arah Ken, " lo pergi sekarang, kalo nggak gue lempar pake sepatu ini biar mulut lo yang cerewet itu bisa diem!"

Ken yang melihat kilat kemarahan di mata Raddan langsung melarikan diri dari ruangan sahabatnya itu.

*

Raddan telah sampai di rumah, rumah yang menjadi impiannya bersama istri tercintanya itu, Hawa. Kini hanya ia yang menempatinya,  perabotan yang ada disini masih sedikit karena ia ingin nanti istrinya saja yang menghiasi rumah inu, tapi saat rumah ini sudah jadi pemiliknya menghilang entah kemana.

Raddan masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar utama yang ada di lantai dua rumah ini, kamar besar dengan walpaper dinding berwarna biru muda bermotif bunga-bunga, furnitur di kamar ini masih sedikit hanya ada sebuah kasur king size, meja nakas yang ada di sampingnya, lalu lemari baju tiga pintu, dan sebuah pigura foto berukuran besar di letakkan tepat di atas ranjang.

Melangkah masuk ia mendudukkan diri diatas ranjang lalu menarik laci meja nakas yang ada disampingnya, meraih selembar kertas lusuh. Kertas yang berisi surat perpisahan dari istri tercintanya, sampai detik ini pun ia masih tidak menyangka bahwa kebersamaan mereka sangat singkat.

Selagi ada waktu seharunya ia manfaatkan sebaik mungkin, jika nanti ia bertemu kembali dengan istri tercintanya itu, ia akan berusaha memjadi suami yang lebih baik lagi tidak seperti dulu.

Flasback ON

Enam tahun lalu...

Setelah pertengkaran antara ia dengan ibunya, tak lama kemudian muncul seorang suster yang membawa parsel cantik yang berisi buah-buahan di dalamnya.

"Maaf Pak, tadi saya menemukan bingkisan ini tepat di depan pintu," kata suster itu seraya menaruh parsel buah-buahan ke atas meja nakas, samping brankar yang di tempat Raddan.

Raddan hanya melihat sekilas, pertengkarannya dengan ibunya membuat moodnya buruk, ia tidak akan menceraikan Hawa. Cintanya hanya untuk Hawa, wanita pertama yang bisa memikat hatinya pada pandangan pertama dan ia juga berharap Hawa juga lah yang akan menjadi wanita terakhirnya.

Seorang wanita baik hati, ramah, sopan, cerdas, dan mandiri. Wanita pertama yang bisa merutuhkan dinding beton yang melindungi hatinya, dulu ia hanya seorang pria tanpa tujuan hidup tapi karena kehadiran Hawa ia memiliki tujuan dan cita-cita dalam hidupnya.

Tanpa menoleh tangannya terangkat untuk mengambil ponselnya yang ia taruh di atas meja nakas, saat tangannya berhasil meraih ponsel itu di saat yang bersamaan tangannya juga tak sengaja menyenggol parsel berisi buah itu hingga terjatuh ke lantai.

Bruk!

Raddan menoleh ke arah bunyi suara yang ternyata berasal dari buah-buahan, yang tadi terbungkus parsel dan kini sudah berserakan ke lantai, menghela napas ia pun beranjak dari brankar untuk merapihkan semuanya. Satu persatu buah-buahan itu ia masukkan kembali ke dalam keranjang, hingga matanya menangkap sebuah kartu ucapan yang ikut terjatuh di antara buah-buahan itu, kartu ucapan berbentuk love berwarna pink.

Ingatannya terputar disaat ia ada di rumah kontrakan dan melihat kartu ucapan yang serupa, kartu ini mirip seperti kartu yang pernah ia temukan di dalam kotak kado waktu itu.

Apa ini pemberian Hawa?! Apa Hawa kesini?

Tanpa berpikir panjang Raddan langsung melepaskan jarum inpus yang masih ada di tangannya, dengan cepat ia berlari keluar ruangan seraya memanggil nama istrinya itu. Sebelah tangannya menggenggam kartu itu dengan erat, sedang tangan satunya terus meneteskan darah karena inpus yang dilepas secara paksa itu.

Sampai di luar rumah sakit ia tidak menemukan keberadaan Hawa di antara orang-orang yang berlalu lalang, meski sudah mengedarkan pandangan keseliling beberapa kali tetap saja hasilnya sama, tidak ada.

"Araa... Araa... kamu dimana?" jeritnya di antara lalu lalang orang yang berjalan di sekitarnya.

Orang-orang yang lewat melihat Raddan dengan aneh, ada beberapa dari mereka yang mengiranya gila namun ada beberapa yang merasa kasihan melihat kesedihan saat mendengar teriakan memilukannya.

Raddan merasakan kepalanya yang di bebat perban terasa pusing, namun ia tetap melajukan langkahnya untuk mencari keberadaan istrinya. Tak memperdulikan keadaanya sendiri ia terus berlari ke pinggir jalan untuk menyetopkan sebuah taksi.

"Pak, antarkan saya ke jalan merpati!" ujar Raddan yang baru saja masuk ke dalam sebuah taksi.

"Baik, pak." Supir taksi itu mengangguk, kemudian ia segera melajutkan mobilnya sesuai arahan dari penumpangnya.

Raddan terus meminta supaya supir taksi itu lebih cepat lagi menjalankan mobilnya, Raddan sama sekali tidak memperdulikan darah yang terus mengalir di pergelangan tangannya.

Sesampainya di rumah kontrakan ia langsung berlari masuk ke dalam kamar, menilik ke lemari pakaian semua baju milik istrinya sudah tidak ada lagi di sana. Melihat ke arah ranjang ia menemukan sebuah surat, mengambil surat itu ia berlari lagi ke arah rumah ibu mertuanya.

"Bi, Ara ada disini?" tanya Raddan dengan tergesa setelah perempuan paruh baya itu membukakan pintu rumah ibu mertuanya.

"Tidak Tuan, Neng Hawa tadi pamit pergi sama Bibi mau jengukin Tuan. Karena beberapa hari kemarin Neng Hawa teh, masih berduka dan sibuk nyiapin acara pengajian buat Ummi yang baru saja meninggal."

Hati Raddan serasa ditusuk dengan sebilah bambu runcing, bagaimana ia tidak tahu jika ibu mertuanya telah berpulang ke rahmatullah. Istrinya itu sedang berduka dan ia sama sekali tidak tahu, ia merasa gagal menjadi suami yang baik untuk istrinya itu tapi ia masij berharap Hawa masih mau memaafkannya. Dengan gemetar dibukannya kartu ucapan itu terlebih dahulu.

To: Mas suami.

Makasih Mas udah bertahan, jika Mas ikut pergi seperti Ummi mungkin Ara tidak mampu untuk melanjutkan hidup Ara kedepannya.

From: Ara, istrimu.

Air matanya mengalih setelah membaca pesan yang di tuliskan istrinya pada kartu itu, perasaannya semakin sakit. Semua yang Clara katakan padanya adalah sebuah kebohongan, istrinya tidak sengaja meninggalkannya atau tidak mau merawatnya, tapi istrinya tidak bisa merawatnya di rumah sakit karena dia sedang berduka atas meninggalnya wanita yang telah melahirkannya.

Kemudian tangannya beralih membuka surat yang tadi ia temukan di atas ranjang.

To: Mas Raddan.

Ara mendengar pertengkaran antara Mas dengan Bunda, turutilah keinginan Bunda yang menginginkan Mas kembali rujuk dengan Clara. Bagaimana pun anak yang ada dalam kandungan Clara itu darah daging Mas sendiri.

Meskipun berat dan sangat sulit tapi Ara sudah memutuskan untuk mundur dari Mas pernikahan ini, keputusan yang sangat menyakitkan untuk Ara namun Ara juga tidak mau anak yang tak berdosa itu menjadi korbannya, jika Ara tetap egois mempertahankan rumah tangga kita.

Ara pamit pergi, semoga Mas tetap bisa bahagia meskipun tanpa Ara disisi Mas lagi. Jika kita memang di takdirkan untuk bersama, pasti kita akan di pertemukan kembali oleh-Nya.

From: Hawani Azzahra.

Raddan luruh ke tanah dengan rasa penyesalan tak terkira, andai waktu bisa di putar kembali yang pertama kali ia lalukan adalah tidak menikahi Clara dan andai Clara tidak hamil, ia s pasti sudah hidup bahagia bersama Clara, andai... yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah berandai-andai saja. Kenapa penyesalan selalu datang terlambat?!

Flasback OFF

Mengingat masalalu membuat hatinya sakit dan sesak di saat yang bersamaan, air matanya juga kembali tumpah tuah setelah membaca surat ini lagi. Lebih baik ia tidur untuk mengistirahatkan tubuh dan hatinya yang lelahnya luar biasa.

Mimpi terasa lebih indah baginya sekarang dari pada realita yang selalu menyesakkan dada.

*

Clara kesal, ia memang bisa mendapatkan kembali statusnya sebagai istri Raddan tapi itu hanya status dalam surat nikah, tidak lebih. Bahkan selama enam tahun ini Raddan tak pernah menyentuhnya lagi, pulang ke rumah ini hanya karena permintaan anak mereka dan Raddan akan selalu memilih tidur di kamar putrinya.

Meskipun Hawa sudah pergi jauh dari hidup Raddan, tapi tetap saja nama Hawa lah yang tetap mereka di hati Raddan, bagaikan sebuah noda hitam yang sangat membandel.

"Mama...," panggil sebuah suara.

Clara mengalihkan pandangan dari majalah yang tidak di bacanya, menoleh ke arah seorang gadis cilik berkuncir dua itu.

"Iya, ada apa?" jawab Clara sedikit malas.

"Ma, Cantika mau jalan-jalan sama Papa, Mama mau ikut?"

Clara langsung bangkit dari duduknya melangkah ke arah putrinya," jalan- jalan kemana?"

"Ke taman bermain."

"Tunggu sebentar, Mama ikut."

Clara segera naik ke lantai dua untuk mengambil tas dan merapihkan sedikit penampilannya. Ia ingin terlihat cantik di depan suaminya, meskipun sudah menjadi ibu ia harus tetap terlihat modis.

"Ma, Cantik tunggu di depan ya!" teriak gadis cilik itu seraya berlari ke pintu depan.

Di depan rumah terlihat Raddan yang tengah menyederkan punggungnya di pintu mobil bagian kiri menanti anaknya keluar, saat netranya menangkap kedatangan seorang gadis cilik yang memakai gaun berwarna pink, ia langsung membuka pintu mobil yang ada di belakangnya.

"Papa, tunggu sebentar Mama mau ikut!" ujar anaknya seraya menolehkan kepalanya kebelakang, membuat rambutnya yang dikuncir kuda itu ikut bergoyang.

Clara keluar dengan dress yang panjangnya hampir menyentuh mata kaki berwarna hijau muda itu, Clara melangkah dengan senyuman memandang penampilan Radda yang sudah kembali seperti dulu tampan, tanpa jambang dan rambutnya telah di potong rapih.

"Makasih, sayang."

"Saya membukakan pintu untuk Cantika bukan buat kamu," ketus Raddan, saat melihat Clara lah yang masuk ke kursi penumpang bagian depan.

"Sama aja Mas, lagian cantika masih kecil jadi masih perlu di pangku. Ayo Cantika sini, Mama pangku."

Cantika masuk dan duduk di atas pangkuan Clara, Raddan pun ikut masuk ke dalam mobil. Setelahnya mobil itu berjalan menuju sebuah taman hiburan yang sedang ramai oleh para pengunjung lainnya.

Cantika tersenyum lebar seraya mengoyang-goyangkan kedua tangannya yang berada dalam gandengan orangtuanya. Ia bahagia bisa berjalan-jalan bersama kedua orangtuanya.

"Cantika anak yang kesayangan Papa, besok Papa ada kerjaan di luar negeri jadi Papa nggak bisa ajak Cantika jalan-jalan beberapa minggu ke depan, Cantika nggak papa kan kalo di tinggal beberapa minggu sama Papa?"

Cantika menoleh dengan bibir mengerucut, "tapi Papa akan pulan ke rumah lagi, kan?"

Raddan tersenyum kemudian mengangguk, "iya, Papa akan pulang lagi dan bawain Cantika mainan barbie yang baru."

"Beneran?"

"Iya, sayang.."

Cantika langsung memeluk Raddan lalu mencium pipi Raddan, "Cantika sayang, Papa..."

Clara menghentakkan kakinya kesal, karena sedari tadi Raddan hanya mengobrol dengan Cantika tanpa sekalipun mengajak dirinya, keberadaanya benar-benar dianggap tak kasap mata oleh suaminya itu.

Raddan bangkit meraih tangan Cantika," jadi hari ini, ayo kita main sepuasnya!"

"Ayo, kita main!" Cantika menarik tangan Raddan dan mereka bermain dengan seru tanpa menghiraukan keberadaan Clara.

*

Istanbul, Turki

"Günaydın, çocuklar!" (selamat pagi, anak-anak!) sapa bu Zatha pada semua anak-anak yang sudah berkumpul di lapangan sekolah itu.

"Günaydın, Bayan..." (Selamat pagi, bu guru...) Jawab semuanya serempak.

"Hari ini kita akan belajar diluar lingkungan sekolah, karena Ibu ingin kalian bisa mengenal lingkungan sekitar."

"Yeay!!" sorak semua anak-anak dengan gembira.

"Oke, kalo begitu sekarang kalian berbaris dengan rapih, kita jalan bersama-sama ke taman didekat sini."

Semua anak-anak berbaris memanjang kebelakang dua-dua, Azka segera berbaris di samping saudari kembarnya untuk mengawasianya agar tidak berbuat ulah lagi.

Bu Zatha mengarahkan anak-anak dari belakang, dengan hati-hati mereka berjalan ke arah taman dekat sekolah.

Sesampainya disana bu Zatha menggelar sebuah karpet tipis untuk alas duduk mereka, setelahnya acara belajar mengajar pun dimulai. Anak-anak terlihat gembira belajar di alam terbuka seperti ini.

Tiga puluh menit kemudian anak-anak di perbolehkan istirahat, tidak seperti anak-anak lain yang memilih bermain, Azka tetap duduk hanya saja tempatnya berpindah ke kursi taman dekat air mancur.

Tak lama setelah ia duduk datang seorang pria dewasa yang ikut duduk di sebelahnya, saat ia hendak melayangkan protes karena pria itu duduk di sebelahnya tanpa izin padanya terlebih dahulu, namun urung ia lakukan saat mendengar gumaman pria dewasa itu.

"Sebenarnya kamu ada dimana sih, Ra!" gumam pria itu seraya meremas rambutnya kuat.

Azka memerhatikan pria itu dengan lekat, bahasa yang digunakan pria dewasa itu sama seperti bahasa negara asal ibunya.

"Mas udah cariin kamu kemana-mana tapi sampai sekarang, kenapa Mas belum nemuin kamu juga!" sekali lagi pria itu meremas rambutnya kuat.

"Kenapa sih, orang dewasa itu banyak masalahnya?"

Pria berkemeja garis-garis itu menoleh ke arah samping, disana ada seorang anak kecil.

__

Tbc.

-----

#Jodoh_wasiat_bapak
#JWB33
Part 33
"Kamu bisa bahasa Indonesia?" tanya Raddan pada anak lelaki yang duduk di sebelahnya.
Azka menoleh kembali ke arah pria dewasa yang ada di sebelahnya, "iya, soalnya Umma berasal dari Indonesia juga."
Raddan memerhatikan anak yang ada di sebelahnya, jika di perhatikan dengan seksama anak ini terlihat tidak asing di matanya, wajahnya terasa sangat familiar.
"Nama kamu siapa?" tanya Raddan kemudian, ia tiba-tiba merasa ingin sekali akrab dengan anak lelaki ini.
"Azka," jawab anak itu singkat.
Melihat respon anak itu Raddan jadi terlempar ke masalalunya, saat ia masih remaja sikapnya juga tak jauh berbeda dengan anak lelaki ini, dingin.
"Lalu apa maksud ucapan kamu tadi?" tanya Radda yang kembali teringat ucapan anak kecil di sampingnya ini.
Azka menghela napas, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku taman yang sedang ia duduki, "Umma Azka juga kayak gitu punya banyak masalah, tiap malem nangis terus."
Entah kenapa hati Raddan merasakan kesedihan yang dalam setelah mendengar ucapan anak lelaki ini, " kenapa kok, nangis?"
Azka menggedikan bahunya, "nggak tau, tapi kayaknya gara-gara ayah kandung Azka."
"Memangnya apa yang sudah ayah kandung kamu lakuin, sampai bikin Umma kamu nangis?"
"Azka juga nggak tau, Umma belum mau kasih tau ke Azka."
Dari kejauhan Aiza heran, melihat ke arah kakak kembarnya yang sedang mengobrol dengan seseorang, tidak biasanya kakak kembarnya suka mengobrol. Karena penasaran Aiza pun akhirnya mendekati keduanya.
"Bang, ngobrol sama siapa?" tanya Aiza seraya menjilati permen lolipop yang ada di genggamannya.
Azka menoleh ke sumber suara yang baru menegurnya," sama orang."
Pandangan Aiza beralih pada pria dewasa yang duduk di sambing kakak kembarnya, "nama Om siapa? Kenalin nama aku Aiza!" dengan berani Aiza mengulurkan tangan mungilnya ke arah Raddan.
Raddan melihat ke arah anak perempuan berkhimar hijau dengan gambar kartun Masha di bagian depan itu yang sedang mengulurkan satu tangannya ke arahnya, " panggil aja Om Raddan." Raddan membalas jabatan tangan dari gadis cilik itu.
Setelahnya Raddan melihat ke arah anak lelaki di sebelahnya lalu ke arah gadis cilik itu lagi, mirip.
"Kalian berdua kembar?"
Azka dan Aiza serentak mengangguk, "iya, kita kembar."
Kemudian Aiza ikut mendudukkan diri di tengah-tengah antara Azka dengan Raddan," Om Tampan, kenapa ada disini?" tanya Aiza masih dengan menjilati permen yang ada dalam ganggamannya.
"Tampan?" heran Raddan bukannya dia tadi memperkenalkan namanya sebagai Raddan bukan tampan.
"Aiza masih cadel Om, jadi panggilnya Om Tampan aja, ya?" pinta Aiza.
Raddan mengangguk-anggukkan kepalanya, "ya udah, nggak papa."
"Emang apa masalah Om? Sama kayak Umma juga?" celetuk Azka tiba-tiba.
Raddan menyandarkan kedua tangannya di kursi taman untuk ia jadikan bantalan kepalanya, "istri Om hilang."
"Kok bisa hilang? Di culik?" tanya Azka lagi, anak lelaki itu terlihat sangat penasaran dengan cerita orang dewasa.
Sedangkan Aiza masih fokus menghabiskan permen lolipop yang ada di tangannya, namun terkadang ikut menyimak pembicaraan antara kakak kembarnya dengan pri yang ada di sebelahnya.
"Bukan, istri Om pergi jauh, dan Ok belum nemuin istri Om sampai sekarang." Raddan menunduk lesu, pikirannya kembali teringat tentang Hawa.
"Nih, buat Om!" sebuah permen terulur ke hadapan Raddan, membuat Raddan menoleh ke arah orang yang mengulurkan permen itu padanya.
Aiza mengulurkan permen itu pada Raddan sedang permen miliknya sedang ia emut di dalam mulutnya, " ini buat Om, biasanya kalo Aiza nangis Umma selalu kasih Aiza pelmen, telus Aiza belhenti deh nangisnya."
Raddan tersenyum melihat kepolosan anak kecil ini, sungguh orangtuanya pasti seseorang yang hebat karena mampu mendidik kedua anak kembar ini dengan baik dan mereka juga pintar-pintar.
"Makasih."
"Sama-sama...," sahut Aiza kemudian tangannya terangkat untuk mengambil permen yang ada di dalam mulutnya, lalu menjilatinya kembali tapi tatapannya beralih ke arah kakak kembarnya yang tidak mendapatkan permen.
"Maaf Bang, pelmennya cuma dua jadi Abang nggak kebagian."
Azka hanya tersenyum melihat tingkah adiknya kembarnya itu, tangannya terangkat untuk mengusap puncak kepala adiknya yang tertutup khimar, "nggak papa. Abang nggak pengen permen kok."
Raddan tersenyum kemudian tangannya terangkat untuk mengusap kedua puncak kepala bocah itu, membuat Aiza dan Azka tersenyum. Entah kenapa hatinya tentram melihat senyum yang tercipta di bibir mereka, senyuman itu mirip seperti senyuman seseorang yang sangat ia rindukan.
***
Saat ini Hawa tengah berbaring untuk menidurkan anak-anaknya, sebelum itu ia ingin menanyakan kegiatan sekolah yang kedua anak kembarnya lakukan, ini adalah caranya untuk lebih dekat dengan anaknya. Ia ingin menjadi orangtua sekaligus sahabat yang baik untuk anak-anaknya.
"Aiza, Azka gimana tadi di sekolah?" tanya Hawa seraya mengusap puncak kepala putrinya dan putranya yang tidur terlentang di samping kirinya.
"Selu Umma, kita di ajak belajal di taman."
"Wahh.. seru dong. Kalo menurut Bang Azka gimana?"
Azka menoleh sebentar ke arah ibunya lalu tatapannya kembali mengarah ke atas, "seru."
Hawa hanya bisa menghela napas melihat anak lelakinya yang sangat susah untuk di ajak bicara atau sekadar berbagi cerita, padahal ia juga ingin mendengar cerita versi anak lelakinya ini. Tapi Azka sangat susah untuk mengungkapkan isi hatinya, ternyata bukan hanya wajah saja yang mirip dengan ayahnya tapi sifat dan kelakuannya sama seperti Raddan saat masih remaja dulu selalu bersikap dingin terhadap orang, sedangkan anak perempuannya cenderung mewarisi sifat jahil yang dimiliki ayahnya.
Tatapan Hawa kembali mengarah pada Aiza, "terus tadi disana ngapain aja?"
Aiza bangkit dari tidurnya, "tadi Aiza main sama temen-temen, Aiza juga ketemu sama Om Tampan."
Hawa mengerutkan keningnya dalam, "Om Tampan? Siapa itu?"
"Orang yang nggak sengaja Azka temui di taman tadi," sahut Azka, membuat Hawa mengalihkan tatapannya ke arah anak lelakinya itu.
"Tadi Om Tampan itu sedih telus Aiza kasih pelmen deh, habis itu Om Tampannya senyum lagi."
Anak perempuannya ini sangatlah baik meskipun terkadang jahil tapi Aiza ini masih sangat polos, sungguh baik hati anaknya ini.
"Umma, apa orang dewasa selalu punya banyak masalah kayak Umma sama Om Dewasa itu?" tanya Azka yang masih saja penasaran.
Hawa menatapa ke arah anak lelakinya itu, "maksud Azka apa? Memangnya Om itu kenapa?"
"Istri Om itu hilang, jadi Om itu sedih karena istrinya nggak ketemu-ketemu juga."
Hawa mengusap-usap puncak kepala anak lelakinya itu, "semua orang pasti punya masalah yang berbeda-beda dalam hidup mereka, itu adalah bentuk cobaan dari Allah untuk meningkatkan keimanan kita pada-Nya, kalau kita nggak berhasil berarti iman kita belum kuat."
"Tapi kan Umma orang baik, kenapa orang baik masih dapat cobaan?"
"Sudah pukul sembilan malam, waktunya kalian tidur. Pertanyaan itu besok baru akan Umma jawab."
Azka menatap ibunya dengan serius, " terus kapan Umma akan kasih tahu Azka sama Aiza tentang ayah kandung kita? Apa tunggu kita dewasa dulu?"
Hawa terdiam, putranya ini sangatlah cerdas tidak mudah untuknya melupakan suatu hal yang masih mengganjal di otaknya. Terkadang ia sampai di buat bungkam oleh pertanyaan dan speskulasi yang terlontar dari mulut putranya ini.
"Umma akan kasih tau ke Bang Azka dan Aiza setelah kalian naik kelas, tapi dengan syarat kalian harus mendapatkan nilai terbaik di kelas, gimana?"
Azka mengangguk, "oke Azka terima tantangan Umma. Tapi Umma harus janji setelah Azka dan Dek Aiza dapat nilai yang bagus Umma harus mengatakan yang sebenarnya?"
Azka mengangkat jari kelingkingnya uke arah ibunya, yang di sambut oleh Hawa, "iya Umma janji."
"Ya udah sekarang Bang Azka harus tidur, lihat Adeknya aja udah tidur."
Di samping kanannya terlihat Aiza yang sudah terlelap dalam tidurnya, sepertinya kegiatan di sekolah tadi sangat menguras tenaganya.
"Iya, Umma." Azka memposisikan tubuhnya terlentang, membaca doa sebelum tidur kemudian menghadapkan tubuhnya ke arah kanan, sesuai dengan posisi tidur yang di anjurkan oleh Rasulullah SWA.
***
"Ken, jadwal gue hari ini apa aja?" tanya Raddan seraya memasangkan dasi ke lehernya, di depan cermin.
Ken membuka tab yang di tangannya, lalu memeriksa jadwal atasannya sekaligus sahabatnya itu.
"Hari ini ada tiga pertemuan, jam delapan pagi ini lo ada meeting sama Pak Ahmed untuk membahas tentang kontrak kerja sama kita, terus jam tiga sore lo harus survey lahan yang akan kita pakai untul mendirikan sebuah restoran dan yang terakhir ada jamuan makan malam dengan Pak Emir di restoran Khazanah pukul delapan malam."
Raddan mengangguk, kemudian mengambil jasnya yang tersampir di sofa, "siang ini gue bebasin lo terserah lo mau jalan-jalan kemana aja, gue mau ke suatu tempat."
"Jangan-jangan lo mau ketemu sama orang yang kasih permen lolipop itu buat lo?" selidik Ken yang tak sengaja melihat Raddan tersenyum-senyum saat melihat permen itu.
"Iya, gue mau ketemu sama mereka lagi."
"Siapa mereka itu?"
"Lo jangan kepo kayak dora deh, pokoknya nanti siang jangan ganggu gue, ngerti?"
Ken hanya mengangguk saja, sudah lama ia tidak pernah melihat Raddan sebahagia dan segembira ini, jadi ia akan membiarkannya saja kali ini.
Raddan bergegas memasuki mobil melihat ke arah pergelangan tangannya, sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Ternyata pertemuan itu berlangsung sangat lama sampai memakan waktu hingga berjam-jam. Dengan cepat ia pacu mobilnya ke kawasan sekolah dekat taman kemarin tempat ia bertemu dengan dua anak kembar itu.
Dari jendela kaca mobil ia bisa melihat dua anak kecil yang sedang duduk di kursi dekat pintu gerbang sekolah, sedangkan keadaan sekolah sudah sangat sepi. Segera Raddan keluar dari mobil untuk menghampiri keduanya, sepertinya orangtua mereka terlambat untuk menjemput kedua anak kembar itu.
"Hai, kita ketemu lagi. Kalian kenapa masih ada disini?" tanya Raddan setelah berhadapan dengan keduanya.
"Om Tampan!" Aiza langsung bangkit dari duduknya, matanya berbinar melihat ke datangan Raddan.
"Hai, manis.. kok belum pulang?" Raddan langsung mendekati Aiza, lalu berjongkok di hadapan gadis cilik itu.
"Hai juga, Om Tampan! Umma belum jemput Aiza sama Bang Azka, jadi kita masih ada disini."
"Ya udah, sekarang Om temenin kalian sambil nunggu Umma kalian dateng buat jemput, gimana boleh nggak?"
"Boleh dong, Om! Ayo sini duduk sama Aiza." Aiza menarik tangan Raddan untuk duduk di sebelahnya.
Raddan pun ikut duduk di antara kedua anak kembar itu, lalu tatapannya beralih ke arah anak lelaki yang masih saja terdiam tidak sepertinya dia tidak menyadari kedatangannya.
"Hai, ganteng." Raddan menoleh ke arah Azka, lalu mengusap puncak kepala anak itu.
Azka tersadar dari lamunannya, "loh Om, kok ada disini?" tanya Azka heran melihat pria dewasa itu sudah ada di sebelahnya.
"Om, pengen ketemu sama kalian lagi, sebenarnya Om juga mau ajak kalian jalan-jalan."
Azka menatap Raddan dengan lekat, hatinya merasa nyaman berada didekat pria dewasa ini, padahal mereka baru saja bertemu dua kali ini.
"Tapi Azka sama Aiza nggak boleh pergi sama sembarangan orang, kalo mau pergi harus izin sama Umma dulu," sahut Azka sedikit lesu, tidak biasanya ia menginginkan pergi dengan orang yang belum terlalu di kenalnya tapi sekarang berbeda ia ingin sekali menghabiskan waktu dengan pria dewasa yang duduk di sebelahnya ini.
"Iya Om, Aiza juga pengen jalan-jalan. Kalo Om mau ajak kita jalan-jalan, Om harus izin dulu sama Umma."
"Gimana kalo Om yang antar kalian pulang, sekagus minta izin ke Umma kalian?"
"Boleh Om, tapi kalo Umma jemput kesini gimana?" bingung Aiza kemudian.
"Ya udah Om temenin kalian disini aja, jalan-jalannya besok aja setelah Om minta izin sama Umma kalian."
Sambil menunggu mereka berbincang asik, dan baru berhenti ketika mendengar suara yang berasal dari perut mereka.
Kruyuukk... Kruyukk...
Mereka bertiga menunduk melihat perut mereka yang baru saja berbunyi kemudian saling menatap lalu sama-sama tertawa, saat menyadari jika ternyata mereka sama-sama lapar.
"Kalian berdua lapar juga, ya?"
"Iya, Om juga?"
"Iya, Om juga udah kelaparan sejak tadi, sepertinya Umma kalian masih agak lama. Gimana kalo kita makan di kafe sebrang sana!" tunjuk Raddan ke kafe yang letaknya tak jauh dari tempat mereka duduk saat ini.
"Boleh, ayo kita ke sana!" Aiza menarik tangan Azka dan Raddan, Raddan dan Azka hanya pun mengikuti Aiza yang menarik tangan mereka.
Sesampainya mereka di kafe itu ketiganya memesan kebab, setelah kebab itu habis mereka lanjut memakan es krim yang berukuran jumbo bersama-sama.
Kedekatan mereka membuat pengunjung lainnya melting, benar-benar mencerminkan hubungan harmonis antara anak dan ayah. Para gadis yang memerhatikan Raddan mengusap bibir kedua anak kembar itu yang belepotan karena es krim dengan penuh perhatian, pun ikut terkagum dan menginginkan sosok suami idaman seperti Raddan.
Raddan yang sedikit mengerti bahasa Turki menatap heran ke arah pengunjung yang mengira bahwa ia adalah ayah dari kedua anak kembar di sampingnya ini, apa karena melihat kedekatan mereka sehingga pengunjung itu mengira bahwa kedua anak ini adalah anaknya?
Mereka keluar dari kafe tersebut dengan bergandengan tangan, Aiza terlihat sangat senang dan bahagia begitu pun Azka yang ikut tersenyum tipis hampir tak terlihat.
"Aiza, Azka, kalian dari mana saja?" tanya sebuah suara membuat Raddan, Aiza, dan Azka serentak menoleh ke sumber suara.
_________


#Jodoh_wasiat_bapak
#JWB34
Part 34

Istanbul, Turki
"Aiza, Azka, kalian dari mana saja?" tanya sebuah suara membuat mereka bertiga menoleh ke arah sumber suara.
Belum sempat Raddan melihat jelas seorang wanita berpayung merah itu, tiba-tiba ponselnya yang ada di saku celananya berdering membuatnya memilih mengangkatnya terlebih dahulu. Nama Ken tertera sebagai pemanggil, ia memilih pergi menjauh dari kedua anak kembar itu untuk menjawab panggilan itu. Jika Ken mengatakan hal yang tidak penting maka ia akan langsung mematikannya dan nanti ia akan memberikan perhitungan pada sahabatnya sekaligus bawahannya di hotel.
[Halo? Ada apa?]
[Gawat, Dan. Ada masalah di lapangan!]
[Masalah apa?]
[Masalah serius, gue nggak bisa jelasin lewat telpon. Lebih baik lo cepetan datang ke sini, sebelum semuanya tambah kacau!]
Raddan menghela napas, sebenarnya ia ingin mengajak pergi jalan-jalan kedua anak kembar itu, namun karena ada masalah ini ia terpaksa harus menundanya. Menoleh sebentar kebelakang, ia melihat kedua anak kembar itu hendak pergi bersama wanita berkhimar biru dengan payung merah ditangannya itu.
[Oke, gue kesana sekarang!]
Raddan melangkah ke arah tempat mobilnya terparkir, sebelum masuk ke mobil sekali lagi Raddan menyempatkan untuk menoleh ke arah kedua anak kembar itu. Di saat yang sama Azka juga menoleh ke arahnya, Raddan tersenyum kemudian melambaikan tangannya lalu setelehnya ia masuk ke dalam mobil.
Hawa menoleh ke arah kanan, ia tidak menemukan keberadaan Azka padahal tadi putranya itu berjalan di sampingnya. Menengok ke arah belakang ia melihat Azka masih saja terdiam seraya melambaikan tangan, mengalihkan pandangan ke arah yang sama dengan purtnya Hawa tak menemukan siapapun hanya ada sebuah mobil hitam yang sudah melaju.
"Azka, ayo kita pulang!" panggilan Hawa, membuat Azka segera menghampiri ibunya itu.
"Tadi Azka lambai-lambai ke siapa?" tanya Hawa setelah Azka berjalan di sampingnya.
"Sama Om yang waktu itu Azka temui di taman."
Hawa mengangguk-anggukan kepalanya, "oh, jadi kalian tadi di ajak jalan-jalan sama Om yang waktu itu kalian ceritain ke Umma?"

"Iya, Umma. Tadi kita berdua juga di ajak makan di sana!" telunjuk Aiza mengacung ke samping mengarah ke sebuah kafe yang terletak di sebrang sana.
"Kita makan kebab sama es klim. Om Tampan itu baik banget sama Aiza dan Bang Azka."
"Tapi kalian nggak ngerepotin Om itu kan?
Azka menoleh ke arah ibunya, "nggak dong. Katanya Om itu malah mau ajak Aiza sama Bang Azka jalan-jalan lagi."
Hawa heran, saat kedua anaknya sangat akrab dengan pria asing yang sering di sebut dengan panggilan Om Tampan itu. Terlebih Azka anaknya yang terkenal sangat pendiam dan sangat sulit di dekati oleh orang lain, terlihat akrab dengan pria asing itu. Membuatnya jadi penasaran siapa gerangan pria itu sehingga bisa akrab dengan kedua anak kembarnya secepat ini.
***
"Ini punya Aiza!"
"Enggak, ini milik Elif!!"
"Punya Aiza!"
"Milik Elif!"
Kedua gadis kecil dengan seragam sekolah yang sama itu terus saja berdebat, merebutkan sebungkus cokelat pemberian dari teman sekelas mereka.
"Aiza duluan yang ngambil, belarti punya Aiza?!" rebut Aiza dengan paksa.
"Tapi Hazna juga kasih ini buat Elif?!" kembali coklat itu di tarik paksa oleh gadis cilik dengan rambut pirang yang di kuncir dua.
"Hazna ngasih cokelatnya ke Aiza duluan!" Aiza kembali menarik sebungkus coklat itu dari tangan Elif.
Elif yang merasa bahwa dia lah pemilik cokelat itu merebutnya paksa dari tangan Aiza, hingga terjadilah tarik-tarikan yang cukup sengit antara kedua gadis cilik itu. Teman-temannya yang melihat kejadian itu melaporkan ke guru wali kelas mereka.
"Aiza! Elif! Sudah cukup! Sekarang kalian ikut Ibu ke kantor!" perintah Bu Zatha tegas pada kedua anak muridnya.
Di sinilah mereka sekarang, di ruang guru berhadapan dengan Bu Zatha selaku wali kelas mereka berdua.
"Sekarang Ibu tanya, siapa yang memulai perkelahian ini terlebih dahulu?"
Aiza dan Elif sama-sama tidak mau menjawab, keduanya masih menunduk seraya memilih tangan dalam pangkuan.
"Baik, kalau itu mau kalian. Ibu akan panggil kedua orang tua kalian ke sekolah saat ini juga."
Bu Zatha langsung meraih telepon yang ada di atas meja lalu mendial nomer wali murid dari kedua murid yang sedang duduk di hadapannya ini.
Azka yang baru saja keluar dari toilet mengernyit saat melihat teman-temannya sedang berkerumun di depan kantor guru, saat ia akan mendekat tiba-tiba sebuah suara dari arah belakang memanggil namanya.
"Umma? Kenapa Umma ada disini?" kaget Azka saat menoleh ke arah belakang, diliatnya ibunya tengah melangkah ke arahnya seraya memanggil namanya.
"Umma di panggil sama guru kamu, katanya Aiza berantem sama temennya. Bang Azka tau apa masalah
yang membuat Aiza berantem?"
Azka menggeleng, kemudian mereka sama-sama melangkah menyeruak kerumunan untuk masuk ke dalam kantor. Di dalam ruangan sudah ada seorang ibu-ibu berkhimar hitam yang duduk di samping anak perempuan berkuncir dua itu.
Aiza yang melihat ibunya datang langsung menghampirinya, matanya berlinang dengan bergetar ketakutan. Ia tidak mau ibunya marah, ini bukan salahnya.
"Aiza nggak salah Umma, Aiza bukan anak nakal. Umma jangan malahin Aiza, ya?" mohon Aiza seraya memeluk perut Hawa dengan erat.
Hawa menunduk, merenggangkan pelukan Aiza lalu menatap lekat mata putrinya yang sudah berlinang air mata. Di rengkuhnya tubuh putrinya ke dalam pelukannya, tak sanggup rasanya ia melihat putrinya menangis tergugu seperti sekarang ini.
"Aiza jangan nangis terus, Umma mau bicara dulu sama Bu guru. Dan Umma janji nggak akan marahi Aiza."
"Benelan?"

Hawa mengangguk, ia memang tidak ingin memarahi anak-anaknya yang bisa mengakibatkan mental mereka menjadi tergangu dan rasa nyaman mereka padanya bisa berkurang karena itu. Ia lebih memilih menasehati baik-baik kedua anaknya agar tak mengulangi kesalahan yang sama.
Setelah tangis putrinya mulai reda, ia bangkit mengajak serta putra putrinya untuk duduk bersamanya. Tatapannya beralih pada guru wali kelas kedua anaknya, "sebeneranya duduk permasalahannya itu apa?
"Jadi begini..." Bu Zatha menjelaskan sesuai dengan apa yang murid-muridnya laporkan tadi, karena kedua muridnya ini memilih tetap bungkam tanpa mau mengklarifikasi tentang kebenarannya.
"Sebenarnya ini bukan pertama kalinya mereka bertengkar seperti ini, karena sebelumnya bahkan lebih parah lagi. Dan nasehat saya tidak mereka dengarkan, buktinya sampai hari ini mereka masih terus bertengkar."
Hawa menghela napas, ini bukan sepenuhnya kesalahan putrinya karena ia juga ikut andil di dalamnya. Mungkin karena kesibukannya dalam bekerja membuat Aiza merasa kurang di perhatikan. Di usapnya puncak kepala putrinya dengan sayang.
"Umma.." Aiza mendongak menatap Hawa dengan takut-takut.
"Nggak papa, Umma tau Aiza anak yang baik. Maafin Umma, ya.."
Air matanya berlinang, dulu sekali ia pernah bermimpi akan memiliki keluarga kecil yang lengkap. Namun mimpi itu belum juga menjadi nyata, karena sampai detik ini ia masih menjalankan peran sebagai seorang ibu sekaligus ayah untuk kedua anak kembarnya ini.
"Bu Zatha, saya punya solusi untuk masalah ini. Setelah ini saya yakin tidak ada lagi perkelahian antar keduanya," ucapnya dengan yakin.
"Apa itu?"
***
Beberapa hari ini Raddan disibukkan oleh masalah yang terjadi pada pembangunan restoran miliknya, membuatnya tidak bisa menemui kedua anak kembar itu. Hari ini, ia bertekad untuk bertemu dengan kedua anak kembar yang sangat menggemaskan itu, rasa rindu yang menyeludup ke dalam hatinya tidak dapat tertahankan lagi. Ia merasakan ikatan batin yang kuat dengan kedua anak itu, padahal mereka tidak ada hubungan darah dengannya.
Dengan tak sabar Raddan berdiri di depan gerbang menanti kedua anak kembar itu keluar dari gerbang sekolah mereka, dan tepat sekali ia datang di saat bel tanda pulang sekolah baru saja di bunyikan. Ia berdiri di sebelah gerbang dengan mata yang melihat awas setiap anak yang melewati gerbang itu, di kedua tangannya terdapat empat buah paper bag yang berisi mainan untuk kedua anak kembar itu.
Kening Raddan mengerut dalam, karena ia belum juga melihat kedua anak kembar itu padahal keadaan sekolah sudah mulai sepi. Apa mereka tidak berangkat ke sekolah? Dari pada pusing memikirkan spekulasi yang ada di dalam otaknya, lebih baik ia bertanya pada guru yang baru keluar dari pintu gerbang.
"Permisi Bu, saya mau bertanya."
Bu Zatha yang baru saja keluar dari gerbang menoleh ke arah seorang pria," ada apa ya, Pak?"
"Saya mau tanya apakah anak kembar yang bernama Aiza dan Azka tidak masuk sekolah? Karena saya sudah menunggu mereka sedari tadi, tapi sampai sekarang saya belum juga melihat mereka keluar dari gerbang?"
"Oh, Aiza dan Azka mereka sudah pindah sekolah sejak beberapa hari yang lalu."
Raddan kaget mendengar jawaban itu, padahal ia belum sempat mengucapkan salam perpisahan tapi kedua anak itu sudah terlebih dahulu meninggalkannya.
"Ya sudah, makasih Bu."
"Iya, sama-sama."
Raddan berlalu dari sana dengan lunglai, harapannya bisa bertemu dengan si kembar pupus sudah. Ia berharap suatu saat nanti bisa kembali bertemu dengan mereka.
***
Jakarta, Indonesia.
"Umma! Kaos kaki Aiza nggak ada sebelah?"
Hawa yang sedang sibuk membuat sarapan di dapur, menghela napas saat untuk kesekian kalinya di pagi ini putrinya berteriak karena tidak menemukan barang-barang miliknya.
Memang mereka baru beberapa hari sampai di Jakarta dan ada beberapa barang yang belum sempat mereka bereskan. Kesibukannya bertambah saat melihat purtanya masih diam dengan dasi yang belum terpasang rapih.
"Umma, kerudung Aiza udah rapih belum?" Hawa menoleh ke arah anak perempuannya, kemudian ia membenarkan sedikit kerudung anaknya yang masih kurang rapih.
"Sudah, rapih. Sekarang Aiza duduk sama Bang Azka, sebentar lagi Umma bawain sarapan untuk kalian."
"Oke, Ma."
Sekarang mereka tengah menyantap sarapan pagi mereka, karena sejak kecil kedua anaknya terbiasa makan makanan khas turki jadi menu sarapan untuk kali ini adalah kebab isi daging dan sayuran.
"Hari ini pertama kalian masuk ke sekolah baru, Umma harap kalian berdua bisa bersekolah dengan baik dan ingat jangan nakal!" tatapan Hawa mengarah pada anak perempuannya yang masih asik makan, " terutama Aiza."
Aiza menghentikan makannya, "Aiza nggak pernah nakal Umma. Kemarin Aiza cuma khilaf aja."
Hawa menggelengkan kepala mendengar jawaban anaknya yang selalu bervariasi setiap kali ia ingatkan untuk tidak berbuat nakal lagi. "Kenapa Aiza suka ngusilin temen-temen di sekolah, sekolah itu tempat untuk menuntut ilmu bukan tempat berbuat usil. Sekarang Umma tanya, kalo sudah besar Aiza mau jadi apa?"

Aiza meletakkan gelas susunya yang isinya sudah ia tandaskan, "mau jadi penjual es klim."
Kening Hawa berkerus dalam, "kok penjual es krim?"
Bangkit dari kursi Aiza meraih tas ranselnya, "iya penjual es klim di tulki kan suka usil."
Hawa memilih bangkit, untuk membereskan piring bekas sarapan mereka. Kepalanya pusing mendengar jawaban anak perempuannya yang semakin ngawur.
"Tunggu Umma di depan, setelah ini Umma nyusul!" teriak Hawa saat anaknya terlihat sudah bersiap keluar rumah.
Kini Hawa beserta kedua anaknya telah sampai di depan gerang yang bertuliskan 'TK Angkasa Jaya' tempat yang ia pilih untuk menyekolahkan kedua anaknya. Masuk ke dalam sekolah Hawa langsung membawa kedua anaknya menuju ruang kepala sekolah. Setelah menyelesaikan urusan di kantor kepala sekolah Aiza dan Azka di bimbing oleh guru wali kelas mereka untuk memasuki ruang kelas.
"Assalamualaikum, semuanya! Nama saya Aiza dan ini Abang saya Azka."
Semua anak terlihat antusias melihat kedatangan anak kembar yang akan menjadi teman baru mereka. Cara berkenalan Aiza juga lucu mirip kartun anak kembar di tipi yang sangat di gemari sebagian besar anak-anak di indonesia itu.
Hawa memerhatikan kedua anaknya yang sedang memperkenalkan diri di depan kelas, tak terasa anaknya sekarang sudah menginjak usai lima tahun. Sebelum pulang ia menyempatkan waktu untuk berbincang dengan wali kelas yang akan mengajar di kelas ini, setelah selesai ia bergegas pulang ke rumah.
"Kalau mau berkenalan lagi nanti saja, sekarang Aiza duduk di samping Cantika dan Azka duduk di samping Ari." Bu Galuh menunjuk dua kursi kosong yang masih tersisa di kelas ini.
Aiza dan Azka pun melangkah ke tempat duduk masing-masing. Setelah semuanya duduk di tempatnya masing-masing, pelajaran pun di mulai.
***
Saat ini Hawa sedang sibuk membuat kue bersama sahabatnya, Silvi. Dapur kecil di rumah mendiang orangtuanya sudah di penuhi oleh tepung dan berbagai macam alat untuk membuat kue, namun kali ini tujuan Hawa membuat kue bukan untuk di jual namun untuk merayakan ulang tahun anak kembarnya yang baru menginjak usia lima tahun.
"Haw, cup cake-nya udah matang, mau dihias kayak gimana, nih?" tanya Silvi sambil membawa loyang kue yang berisi cup cake itu ke hadapan Hawa.
"Lihat di kertas itu, gue udah buatin contoh gambarnya." Silvi mengambil kertas yang di tunjuk oleh Hawa.
"Yang ini, bukan?" Silvi mengangkat salah satu kertas itu, Hawa menoleh kemudian mengangguk, lalu kembali menghias nasi tumpeng yang ia buat juga untuk ulang tahun anaknya.
Sehabis menghias kue-kue keduanya lanjut mendekor ruangan yang masih belum dihiasi apapun, mengeluarkan pita-pita dan balon-balon untuk ia pakai menghiasi ruang tengah rumah ini. Beberapa menit kemudian semua sudah selesai dan mereka berdua akhirnya bisa beristirahat.
"Maafin ya, Sil. Gue minta bantuan lo buat nyiapin ini semua, padahal kan lo lagi bunting."
Silvi mengusap perutnya yang sudah mulai membesar, "nggak papa. Lagian gue juga bosen kalo di rumah mulu, laki gue possesif banget. Semenjak kehamilan gue udah menginjak usia lima bulan, laki gue semakin possesif masa gue nggak boleh gerak sama sekali."
"Laki lo emang parah!"
Tokk... tokk... tokk...
"Assalamualaikum, Umma..."
Ditengah perbincangan seru mereka, terdengar suara ketukan pintu yang membuat keduanya menoleh ke arah depan. Melihat ke arah jam dinding ternyata waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Itu pasti anak-anaknya.
Mengambil topi ulang tahun anaknya, ia segera membuka pintu dengan senyuman lebar.
"Wa'alaikumssalam, anak Umma!"
Azka dan Aiza sedikit kaget saat Hawa memasangkan topi ulang tahun ke kepala mereka. Aiza langsung memekik gembira saat melihat ruang tengah rumahnya sudah di dekorasi dengan banyak balon.
"Ayo, semuanya masuk!" ajak Hawa yang melihat teman-teman baru anaknya sudah datang, beserta kedua guru yang tadi ia temui di sekolah baru anaknya.
Hawa tersenyum haru melihat kedua anaknya yang telah tumbuh menjadi anak yang pintar dan sehat, sekarang mereka tengah menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan gembira.
"Ara!"
Hawa yang mendengar suara orang yang memanggilnya menoleh ke arah belakang, belum hilang rasa terkejutnya tiba-tiba tubuhnya sudah ada di dalam pelukan pria yang sampai saat ini, masih merajai hatinya itu.
"Ara, Mas sangat merindukanmu."
Hawa akhirnya membalas pelukan Raddan tak kalah erat.
________


#Jodoh_wasiat_bapak
#JWB35
Part 35

Sepulangnya Raddan dari luar negeri, Raddan tidak lantas pulang ke rumah. Seperti biasanya saat waktu luang ia menyempatkan waktu untuk berkunjung ke rumah mendiang mertuanya itu. Harapannya hanya satu, bisa menemukan Hawa di dalam sana.
Mata Raddan berbinar, sepertinya doanya kali ini sudah dikabulkan oleh Allah SWT, saat mendengar riuh suara orang bernyanyi dari dalam rumah mendiang ibu mertuanya itu. Dengan jantung yang berdebar kencang, Raddan melangkahkan kakinya memasuki rumah itu.
Di sana berdiri istrinya yang sangat ia rindukan, tengah memerhatikan anak-anak yang sedang menyanyikan lagu selamat ulang tahun itu.
"Ara!"
Wanita itu menoleh dengan mata membulat karena terkejut, tanpa menunggu wanita itu sadar dari rasa terkejutnya, ia langsung maju untuk merengkuh tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Meluapkan rasa rindu yang sangat mengebu-gebu.
"Ara, Mas sangat merindukanmu."
Hawa yang sudah tersadar dari rasa terkejutnya ikut membalas pelukan dari pria yang masih sangat ia cintai ini, pri yang masih bertahta di kerjaan hatinya.
"Ini nyatakan?" Raddan melepas pelukan sejenak, untuk menatap wajah wanita yang ada di hadapannya ini. Wanita itu telah berubah, wajahnya semakin bersinar.
"Mas-" belum selesai Hawa berbicara Raddan kembali merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukanya, untuk mengobati kerinduannya selama ini.

Dalam hati Raddan berjanji tidak akan pernah melepaskan wanita ini sampai kapanpun dan dengan alasan apapun, tidak lagi karena hatinya sangat sakit menahan rindu yang sudah menahun menghinggapi hatinya ini. Rindu yang membuatnya menjadi gila.
"Jangan pernah tinggalin Mas lagi, tanpa izin dari Mas. Dan pastinya Mas tidak akan pernah mengizinkannya."
Hawa tersenyum dalam pelukan pria yang masih sangat ia cintai ini, pria satu-satunya yang bisa membuatnya jatuh hati, pria yang merupakan ayah dari kedua anaknya.
"Mas, sangat merindukanmu hingga rasanya hampir gila."
Hawa mengeratkan pelukannya kepalanya mengangguk, merasakan hal yang sama dengan Raddan. Ia bisa bertahan hingga hari ini karena kehadiran kedua anaknya, yang membuatnya kuat untuk menjalani kehidupan hingga detik ini.

Raddan melepaskan pelukannya lalu menatap Hawa dengan sorot mata teduh yang di penuhi kerinduan, mendekatkan wajah ke arah kening belum sempat bibirnya menepel di kulit kening Hawa, suara yang berasal dari belakang membuatnya urung.
"Ekhm! Ingat disini ada anak-anak kecil, tolong jaga sikap!" tegur Silvi pada pasangan sejoli yang sedang melepas kerinduan itu.
Raddan menggaruk tengkuknya canggung, mengedarkan pandangan sekeliling yang di penuhi oleh anak-anak kecil dengan seragam TK. Sedang anak-anak itu memerhatikan dengan sorot mata polosnya.

Aiza melihat ibunya di peluk seorang pria bingung, memiringkan kepalanya sedikit Aiza berusaha mengingat pria yang memeluk ibunya itu. "Om Tampan?"
Raddan mengalihkan tatapan ke arah suara itu berasal, seorang gadis cilik dengan topi ulang tahun itu menghampirinya. "Om Tampan kenapa ada disini?" tanya Aiza penasaran.
Raddan terkejut karena anak kembar yang ia cari beberapa hari lalu tiba-tiba ada disini, mengedarkan pandangan sekali lagi Raddan baru menyadari jika disini sedang berlangsung acara ulang tahun.
"Telus kenapa, Om peluk-peluk Umma Aiza?" alis Raddan terangkat sebelah, siapa yang anak ini maksud sebagai ibunya? Jangan, jangan... kepalanya menoleh ke arah belakang, menatap Hawa dengan sorot mata penuh tanya.
Hawa mengangguk, Raddan sontak bersimpuh di hadapan Aiza dan menarik tangan Azka untuk mendekat kepadanya. Lalu merengkuh keduanya dalam pelukannya, air matanya tak kuasa lagi ia tahan. Kedua anak yang ada dalam pelukannya, anak yang ia temui di negeri orang itu ternyata adalah darah dagingnya sendiri.

Azka memeluk tubuh Raddan tak kalah erat, butiran bening meluncur dari pelupuk matanya. Sekarang ia tahu rasanya di peluk ayah kandunganya.
Hawa terharu melihat itu, akhirnya kedua anaknya dapat bertemu dengan ayah kandung mereka. Ayah yang selama ini tidak mereka ketahui sosoknya. Keluarga kecilnya telah lengkap, ia berharap kebahagiaan akan selalu menyertai keluarga kecilnya ini. Ucapan syukur tidak henti ia panjatkan dalam hatinya pada Yang Maha Kuasa, yang telah mennyatukan mereka kembali.
Raddan langsung merengkuh kedua anaknya dalam pelukannya, mengecup kening kedua anaknya. Air mata menetes membasahi kedua pipiRaddan, ia tak menyangka bahwa selama ini ada darah dagingnya yang tumbuh di rahim istri tercintanya. Dalam hatinya ia mengucapkan beribu-ribu syukur pada Yang Maha Kuasa karena telah mempertemukan mereka kembali berserta kedua anaknya yang tak pernah ia ketahui keberadaanya selama ini, sungguh ini adalah hari yang sangat membahagiakan baginya.

"Om, kenapa peluk Aiza sambil nangis? Om sedih lagi?"
Raddan menggeleng, "mulai saat ini jangan panggil Om lagi tapi Baba. Baba adalah ayah kandung kalian."
"Baba," ucap Aiza dan Azka bersamaan.
"Iya, Baba.." Raddan menangis haru, rasa bahagia membuncah di dada saat mendengar kedua anak kembarnya memanggilnya dengan sebutan yang selama ini selalu ia ingin dengarkan dari anak-anaknya. Kembali ia peluk tubuh kedua anaknya itu, anak-anaknya dari wanita yang sangat ia cintai.
"Aiza, Azka, kapan tiup lilinnya?" tanya salah satu temannya yang berdiri.
"Ayo Ba, kita ke sana tiup lilinnya!" ajak Azka dan Aiza pada sang ayah.
Raddan ngangguk, lalu mengikuti tarikan tangan dari kedua anaknya itu. Berdiri mendampingi kedua anaknya untuk meniup lilin ulang tahunnya. Melihat lilin yang terdapat di atas kue tar itu, hati Raddan sesak rasa sesal itu kembali lagi, menyesal karena tidak dapat melihat tumbuh kembang kedua anak kembarnya yang lucu-lucu ini.
Tiup lilinnya... tiup lilinnya... tiup lilinnya sekarang juga... sekarang juga... sekarang juga....
Setelah nyanyian selesai Azka dan Aiza serentak meniup lilin itu, nyanyian kembali berlanjut. Azka memberikan potongan kue itu pada Raddan yang di sambut Raddan haru.

Bersimpuh di depan anak lelakinya ini, ia sematkan ciuman penuh kasih sayang di keningnya.
"Selamat ulang tahun, anak Baba yang paling ganteng.." Azka mengangguk, lalu Raddan membawa putranya ke dalam gendongannya.
Sekarang giliran Aiza yang akan memberikan kue pertamanya. Menoleh ke arah ibunya, Aiza menghampiri Hawa. "Ini untuk Umma!" Aiza menyodorkan piring kue itu pada Hawa.
Hawa bersimpuh di hadapan anaknya itu, "selamat ulang tahun sayang. Semoga menjadi anak yang cerdas, sholeh dan sholeha."
Melihat ke arah kakak kembarnya yang di gendong, Aiza pun menginginkan hal yang sama, menoleh pada ibunya. Aiza merentangkan tangannya ke arah Hawa, "gendong..."
Hawa tersenyum lalu meraih Aiza ke dalam gendongannya.
Silvi yang melihatnya ikut terbawa suasanah dan baper, "gue fotoin ya!"
Dengan sigap Silvi meraih kamera yang memang sudah ia siapkan untuk mengabadikan moment ini.
Raddan menarik pinggang Hawa mendekat, tubuh Hawa sedikit berjengit kaget namun setelahnya ia tenang kembali. Tatapannya mengarah kedepan, tersenyum pada kamera.
Cekrek!

***

Hari sudah berganti malam, lampu-lampu jalanan sudah mulai menyala, membuat cahaya bulan dan bintang tertutupi oleh sorotannya. Hawa bangkit dari tidurnya, memerhatikan keadaan sekitar ternyata ia sudah berada di atas kasur.
Mata Hawa seketika membelalak saat teringat dengan Raddan, apakah benar ia tadi bertemu dengan Raddan ataukah hanya sekadar mimpi belaka? Dengan cepat di cepolnya asal rambut panjangnya yang sangat berantakan itu, kemudian beranjak dari ranjang lalu melangkah cepat ke arah kamar anak-anaknya, seingatnya tadi Raddan masih berada disana sebelum ia tidur atau itu hanya bagian dari bunga mimpinya.
Memegang kenop pintu dengan dada yang bergemuruh hebat, menyiapkan hatinya untuk kemungkinan yang paling menyakitkan.
Krek!
Membuka pintu itu dengan perlahan, melihat ke arah ranjang yang sedang di tempat kedua anaknya dan dia ada disana! Pria itu tengah tertidur bersama kedua anaknya.
Belum sepenuhnya percaya, ia mencubit dengan kencang pipinya. "Auw!" sakit, berarti ini bukan sekadar mimpinya belaka.
Tidur Raddan terusik saat mendengar suara pekikan seseorang, menoleh ke arah pintu ia melihat wanita secantik bidadari dengan daster membalut tubuhnya. Meskipun hanya memakai daster tapi tetap saja tidak dapat menyembunyikan kecantikannya, kecantikan yang berasal dari dalam hatinya bukan hanya karena polesan make up semata.
Raddan bangkit dari ranjang melangkah pasti ke arah wanita tercintanya itu, tanpa aba-aba ia mengangkat tubuh Hawa ke dalam gendongannya.

"Mas!" pekik Hawa kaget, seraya menepuk-nepuk bahu Raddan.
"Mas, turunin!" pinta Hawa, ia takut jika nanti anak-anaknya bangun dan melihat semua ini," ada anak-anak."
Raddan mengangguk, membuat Hawa menghelas napas lega melihat itu dan bersiap untuk turun. Tapi dugaannya salah karena setelahnya Raddan malah membawanya keluar kamar dengan ia yang masih berada dalam gendongannya.
"Mas, turunin. Nanti Mas kecapean, sekarang berat badan Ara udah nambah soalnya!" pinta Hawa sekali lagi.
Raddan menurunkan Hawa di sofa ruang tengah, membuat Hawa menghela napas lega. Tapi ternyata itu hanya berlangsung sesaat karena setelahnya, Raddan melakukan hal yang membuat jantungnya serasa jatuh ke perut.

Raddan bersimpuh di hadapan Hawa yang sedang duduk di sofa, meraih tangannya dan mengecupnya berkali-kali sambil mengucapkan kata terima kasih dan meminta maaf terus- menerus.
"Terima kasih dan maaf," ucap Raddan dengan sesegukan.
Dengan gemetaran Hawa meraih dagu Raddan, mendongakkan kepala pria itu agar bertatapan dengannnya, "Apa maksud Mas?"
Raddan menatap mata coklat yang meneduhkan milik wanitanya, air matanya kembali berlinang.
"Maaf tidak ada di sampingmu saat kamu berjuang untuk melahirkan si kembar, maaf karena Mas tidak tau mengenai kehadiran si kembar, maaf karena Mas baru bisa menemukanmu sekarang, maaf dan terima kasih telah memberikan hal yang sangat berharga di hidup Mas, terima kasih telah kembali ke dalam hidup Mas lagi."

Hawa menitikkan air mata, mendengar semua kata-kata yang di ucapkan oleh Raddan. Hatinya menghangat, ini adalah hari terindah dalam mimpi pun ia tidak berani untuk menghayalkannya. Terima kasih Ya Allah, karena engkau telah mempertemukan kita kembali.
"Mas tidak bersalah, ini sudah jalan takdir hidup kita. Ara senang kita telah di pertemukan kembali, tidak usah mengingat hal yang pahit lagi."
Raddan mengangguk mengecup punggung tangan Hawa penuh kelembutan, benar semua ini karena takdir yang sudah Allah gariskan dalam kehidupannya. Raddan bangkit kemudian merengkuh Hawa ke dalam pelukannya, ia tidak akan pernah melepaskan wanita ini lagi.
Saat ini yang paling terpenting adalah menebus semua waktu yang ia lewatkan tanpa kehadiran istri dan anak-anaknya. Sekarang prioritasnya adalah Hawa dan kedua anak kembarnya. Biarlah seiring waktu berjalan semua kemuritan ini selesai, satu hal yang pasti akan ia lakukan nanti yaitu menceraikan Clara. Wanita yang sudah menyebabkan semua permasalahana ini.

Ia tahu bahwa tidak ada wanita yang mau berbagi suami dengan wanita lain, meskipun wanita itu baik, lembut, memiliki iman yang kuat dan selalu taat pada perintah Allah, dalam hati terkecil mereka pasti ada rasa cemburu dan tidak rela saat melihat suaminya bersama wanita lain. Dan ia tidak akan mampu untuk menyakiti hati Hawa lebih dari ini, karena hatinya juga akan merasakan sakit jika melihat setitik air mata yang jatuh dari pipi istrinya, bahkan rasa sakitnya lebih besar dari itu.
"Sayang besok pindah ya, kerumah baru kita?"
Hawa yang masih bersandar dalam pelukan suaminya itu, sontak bangkit lalu menatap Raddan lekat.
"Tapi.. kita kan, sudah berpisah?"
Raddan tersenyum, merengkuh kembali istrinya dalam pelukannya. Membuat Hawa kebingungan mengartikan sikap pria yang sedang memeluknya saat ini.
"Kata siapa?"
________
Ada yang ingin tahu isi hati terdalam Raddan? Nanti akan ada POV Raddan satu part sebelum ending.
Terima kasih untuk admin yang sudah mau meloloskan cerita saya dan para pembaca juga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar