Persaudaraan Muslimah Indonesia, mempelajari Islam Secara Menyeluruh.

Sabtu, 21 Maret 2020

JODOH WASIAT BAPAK 26 - 30

#Jodoh_wasiat_bapak
#JWB26 author Shofiyah Shofiyah
Part 26

Sudah lima hari aku menginap dirumah sakit dan hari ini aku memutuskan untuk pulang sebentar ke rumah, hendak mengambil pakaian yang bersih untuk ku bawa lagi ke rumah sakit, sedangkan pakaian yang ku bawa kemarin sudah tidak tersisa lagi untukku pakai.

Selain mengambil pakaian bersih lagi, aku juga berencana ingin mencuci pakaian yang sudah kotor ini. Aku memutuskan untuk pulang ke rumah, setelah memastikan bahwa Ummi sudah mulai membaik sehingga bisa ditinggal pulang sebentar.

Tiga puluh menit kemudian aku sampai di depan rumah, tanpa mengetuk aku memasuki rumah yang tampak bersih. Apakah ini semua pekerjaan Clara? Tumben sekali.
"Eh, Neng Hawa udah pulang." Tiba-tiba muncul suara dari sebelah kanan.
Menoleh dan menemukan Bi Imah yang baru saja menegurku. "Loh, Bibi sudah pulang? Kapan pulangnya?"
"Bibi sudah pulang dua hari yang lalu, Neng. Maaf ya Neng, buat Eneng repot selama Bibi nggak ada." Ujar Bi Imah seraya menunduk dengan wajah yang menyiratkan rasa tak enak hati.
"Nggak papa Bi, hanya beberes rumah itu sudah menjadi kebiasan saya dari kecil. Jadi Bibi nggak usah merasa nggak enak seperti itu. Oh iya, anak Bibi udah sembuh total?"
Bi Imah tersenyum mendengarnya, " Alhamdulillah, sudah Neng. Eneng perhatian banget sama Bibi dan keluarga Bibi, padahal Bibi kan cuma pembantu disini."
"Bibi, sesama umat islam kita itu bersaudara, derajat kita sama dihadapan Allah SWT. Yang membedakan hanya keimanan dan ketakwaan kita pada-Nya. Bukan kekayaan yang membedakan derajat kita, karna harta yang kita peroleh didunia ini hanyalah titipan semata."
"Neng Hawa memang wanita yang sangat baik dan ramah, beruntungnya Tuan Raddan bisa mendapatkan istri soleha seperti Eneng."
"Ah, Bibi bisa aja! Ya udah, kalo begitu saya mau ke kamar dulu, ya Bi."
"Tunggu Neng, Bibi ingin bertanya bukan bermaksud kepo tapi Bibi ingin tahu selama beberapa hari ini Neng Hawa pergi kemana ya? Kok tidak pulang ke rumah ini?"
"Ummi saya sedang sakit, jadi saya menjaga beliau dirumah sakit."
"Apakah Tuan Raddan sudah tau tentang ini? Karena selama Eneng tidak ada dirumah, Tuan selalu menanyakan keberadaan Eneng pada saya."
Kutepuk keningku saat teringat belum memberitahukan hal ini pada Mas Raddan,"Astaghfirullah, saya lupa Bi!"
Tanganku bergerak meraih tas yang tersampir di bahu kananku, lalu membukannya mencari keberadaan ponselku yang selama beberapa hari ini kulupakan keberadaannya.
Setelah ketemu langsung saja kutekan tombol power untuk menyalakan, namun layar ponsel tetap sama, berwarna hitam.
"Yah.. lowbet, Bi."
"Cas dulu hapenya, Neng." Usul Bi Imah, yang langsung ku ikuti.
"Charger hapenya ada di kamar, sementara saya nge-cas bisa tidak Bibi bantu saya, mencuci pakaian kotor milik saya yang ada didalam tas ini." ku angkat tas besar yang berisi kotor milikku serta Ummi.
"Neng tidak usah sungkan pada Bibi, itu sudah menjadi tugas Bibi disini sebagai pembantu, untuk melayani Neng yang juga merupakan majikan Bibi."
"Makasih ya Bi, saya pergi kekamar dulu." Aku melangkah pergi ke kamar tanpa membawa tas yang berisi pakaian kotor itu.
Aduh! Kenapa juga aku bisa lupa untuk menghubungi Mas Raddan. Jika seperti ini, pasti Mas Raddan akan memberondongku dengan seribu macam pertanyaan.
***
[Assalamualaikum, Mas Raddan. Maaf Hawa baru bisa hubungin Mas sekarang.]
[Wa'alaikumssalam, masih inget kalo punya suami? Huh!]
Dari layar ponsel kulihat Mas Raddan tengah memalingkan wajahnya, seraya bibirnya mengerucut dengan lucu.
[Maafin Hawa dong, Mas.. Hawa bener-bener lupa hubungin Mas kemarin. Hawa bukannya sengaja tapi beberapa hari kemarin, pikiran Hawa hanya tertuju pada Ummi.]
[Ummi? Ada apa dengan Ummi?]
Mas Raddan menoleh dengan cepat ke arah layar ponselnya setelah mendengarku menyebut kata 'Ummi', membuatku tersenyum.
[Kemarin Ummi sempat koleps dan Hawa sangat kalut memikirkan keadaan Ummi, jadi itu alasan Hawa lupa hubungin Mas.]
[Kenapa kamu nggak bilang sama Mas? Ummi kan sekarang udah jadi ibu Mas juga!]
[Maaf Mas, Hawa bener-bener lupa. Hawa ngasih tau kondisi Ummi sama Bunda aja baru kemarin. Maafin Hawa ya...]
[Nggak semudah itu, sekarang coba kamu agak menjauh dari layar hape lalu berdiri tegak!]
[Buat apa Mas?]
[Jangan protes ikutin aja!]
Dengan bingung aku melangkah mundur menjauh dari layar ponsel yang masih menampilkan wajah Mas Raddan.
[Udah. Trus Hawa harus apa?]
[Rentangkan kedua tanganmu, kemudian gembungkan kedua pipimu.]
Sebenarnya apa sih maksud Mas Raddan menyuruhku melakukan ini semua. Namun aku tetap mengikuti semua perintahnya, agar ia tidak semakin marah padaku
[Nah, kan!]
[Ada apa Mas?]
Aku kembali mendekat ke arah ponselku, saat mendengar Mas Raddan memekik.
[Selama merawat Ummi, apakah kamu makan dengan teratur?]
Otakku langsung berpikir cepat untuk mengingat berapa kali aku makan selama beberapa hari kemarin? Kemudian aku mengingatnya
[Sepertinya satu kali sehari, a--]
[Apa? Satu kali?! Kamu menginginkan kesembuhan untuk Ummi, tapi kamu sendiri malah tidak menjaga diri dengan baik?! Kamu mau menjaga Ummi atau ingin terbaring disana juga sebagai pasien!]
Mati aku! Kenapa aku menjawab seperti itu?! Dengan takut kulirik wajah Mas Raddan yang terlihat sedang emosi di ujung sana.
[Hehehe... jangan marah Mas, Hawa nggak papa kok! Liat Hawa sehat dan bugar, jadi..]
Kruyuukk... kruyuukk...
Aduh! Kenapa juga perutku berbunyi di waktu yang tidak tepat.
[Hehehe.. Mas, Hawa tutup dulu ya, telponnya.]
Ucapku dengan cengengesan seraya ingin memencet tombol, akhiri pada layar ponsel tanpa berani sedikitpun menoleh ke arah Mas Raddan.
[Berani kamu tutup telpon ini, Mas akan pastikan malam ini juga Mas sampai disana?!]
[Cepat panggilkan Bi Imah, Mas mau bicara!]
"Bi Imah! Mas Raddan mau ngomong sama Bibi!" panggilku pada Bi Imah.
"Ada apa Neng?" Bi Imah datang tergopoh-gopoh dari arah dapur.
"Ini, Mas Raddan mau ngomong sama Bibi."
Bi Imah langsung mengalihkan tatapannya ke arah ponsel.
[Ada apa, Tuan?]
[Bi, tolong siapin makanan untuk istri saya yang bandel ini. Taruh semuanya di hadapan saya, sekarang ya, Bi!]
[Ba-baik Tuan.]
Bi Imah langsung bergegas menuju dapur kembali, beberapa menit kemudian Bi Imah datang lagi dengan membawa nampan berisi beberapa makanan dan juga minuman.
[Sudah, Tuan. Apakah ada yang Tuan ingin Bibi lakukan lagi?]
[Tidak ada, Bibi boleh melajutkan pekerjaan Bibi lagi.]
[Baik, Tuan. Saya permisi dulu.]
Bi Imah menundukkan sedikit kepalanya ke arah ponsel.
[Kamu harus makan semuanya, dihadapan Mas, s.e.k.a.r.a.ng juga!]
[Tap-]
[Tidak ada kata protes. Makan sekarang, kalo tidak Mas akan terus marah dan tidak akan mau memaafkanmu.]
[Ya udah, Hawa makan. Tapi Mas beneran mau maafin Hawa kan?]
[Habiskan dulu, baru Mas maafkan.]
[Beneran, loh..]
[Iya...]
Aku pun memakan semua itu dengan Mas Raddan yang terus memerhatikan dari ujung sana, untuk memastikan bahwa aku menghabiskan makanan itu saat ini juga.
[Sudah. Berarti Mas udah maafin Hawa kan?]
[Emm.. gimana ya? Maafin nggak ya..]
[Ihh.. Mas kan udah janji?! Masa mau ngingkarin!]
[Iya, Mas maafin. Tapi jangan ulangi lagi ya?]
[Iya, Masss....]
[Ya udah Hawa tutup dulu ya, soalnya Hawa mau balik lagi ke rumah sakit.]
[Iya. Sampaikan juga salam Mas buat Ummi dan juga kasih tau Ummi, setelah Mas pulang dari sini pasti Mas akan langsung jengukin Ummi.]
[Iya, nanti Hawa sampein. Kerjanya yang semangat ya, Assalamualaikum!]
[Wa'alaikumssalam, minta cium jauhnya dong!]
Dengan malu-malu kutempelkan telapak tanganku ke bibir setelahnya kubalikan telapak tanganku ke arah layar ponsel, disebrang sana kulihat Mas Raddan meraihnya lalu membawanya ke dadanya.
***
Hari sudah menjelang sore, sebaiknya aku bergegas kembali ke rumah sakit. Aku takut Ummi merasa kesepian disana.
Setelah membawa beberapa barang-barang yang kuperlukan selama menginap disana, aku pun melangkah membawa tas besar itu keluar dari kamar untuk kubawa ke rumah sakit kembali.
Namun langkahku terhenti saat Clara tiba-tiba muncul dan menghadangku.
"Mau kemana lo?"
"Aku mau kerumah sakit untuk menjaga Ummi."
"Nggak bisa! Hari ini gue ngadain arisan dirumah, jadi lo harus tetap disini buat bantu-bantu Bi Imah nyiapin semuanya!"
"Nggak bisa Clar! Aku harus ke rumah sakit, Ummi memerlukanku." Aku berusaha menghindar dengan melangkah ke arah lain.
"Heh?! Lo ngeyel ya!"
"Clara.. kalo sekarang aku bener-bener nggak bisa." Aku menangkis tangan Clara yang menghalangiku agar tidak pergi.
"Oh.. gitu. Fine, gue bakal kirimin video ini sama Raddan dan gue pastikan habis itu lo bakal di tendang dari rumah ini karna ketahuan selingkuh!"
Langkahku yang sudah hampir mencapai pintu kembali terhenti setelah mendengar perkataan Clara. Kubalikkan tubuhku menghadap kebelakang lagi, ditangannya Clara memegang sebuah ponsel yang sedang menampilkan video seorang wanita dengan khimar kuning sedang duduk berdua bersama seorang pria dan mereka terlihat sangat dekat.
Dan aku sangat ingat bahwa orang dalam video itu adalah aku dan seorang pria. Tapi kejadiannya bukan seperti itu, aku tidak selingkuh waktu itu ada sekumpulan preman yang tiba-tiba saja mengangguku di jalan,
saat itu aku sedang mencari makan untukku sendiri dan Ummi yang ingin makan lain, selain makanan rumah dari sakit.
Preman-preman itu semakin kurang ajar padaku, mereka dengan berani berusaha menyentuhku. Di jalan yang sepi itu aku terus berteriak meminta tolong, sampai pada akhirnya ada seorang pria yang menolongku.
Setelah berhasil melumpuhkan semua preman itu, pria yang ku ingat pernah membeli bunga di toko bunga tempatku bekerja mengantarku sampai didepan rumah sakit. Saat mataku melihat ke arah wajah pria itu, ternyata pria itu juga memiliki beberapa lebam di wajahnya dan aku menyarankan agar dia mengobati lukanya dulu di rumah sakit.
Pria itu dengan kekeuh menolak untuk di obati di rumah sakit yang letaknya di depan kami, karena merasa berhutang budi akhirnya aku sendiri yang berinisiatif untuk mengobatinya dan ia mau setelah aku membujuknya berulang kali.
"Clara, kejadianya tidak seperti itu. Aku tidak mungkin berseligkuh dari Mas Raddan."
"Tapi apa Raddan akan tetap percaya sama lo setelah melihat video ini?"
Clara menggoyangkan-goyangkan sebuah ponsel, aku berusaha merebut ponsel itu dari tangan Clara tapi dengan cepat Clara menyembunyikan ponsel itu di balik tubuhnya.
"Kalo lo pengen gue hapus video ini, lo harus bantuin Bi Imah untuk melayani semua temen-temen sosialita gue, pas arisan nanti."
Aku hanya bisa pasrah, lebih baik aku mengikuti kemauan Clara dari pada nanti dia membuktikan acamannya dengan mengirimkan video itu pada Mas Raddan. Aku tidak ingin Mas Raddan kembali marah, karena baru saja tadi siang kami berbaikan.
Aku pun kembali menaruh tas itu ke dalam kamar, setelahnya aku pun mulai membantu Bi Imah untuk menyiapkan segala makanan dan minuman yang akan dihidangkan nanti.
"Neng, nggak usah bantuin Bibi. Mendingan Neng duduk aja, lagian Nyonya Clara nggak ada kok." Cegah Bibi seraya mengambil alih teko yang sedang ku pegang.
"Nggak usah Bi, biar saya aja. Nanti kalo Clara tau, dia bisa marah sama Bibi."
"Tapi Neng.."
"Nggak papa, lebih baik Bibi kerjain yang lain aja biar cepet selesai."
"Baik, Neng." Kemudian Bi Imah, memotong kue yang sudah matang lalu memindahkannya ke atas piring.
Sedangkan aku menuangkan jus ke dalam gelas, satu per satu hingga seleasai lalu sehabis itu aku memasukkan beberapa cemilan ke dalam toples kaca.
Tepat jam tiga sore acara arisan yang dimaksud Clara dimulai juga. Aku dan Bi Imah pun langsung menghidangkan camilan serta minuman untuk mereka semua.
"Eh, tunggu!" cegah seorang gadis yang setahuku bernama Devi, teman Clara yang waktu itu datang ke pernikahanku dan membuat sedikit keributan disana.
"Ada apa?" tanyaku sesopan mungkin, aku tidak boleh menyimpan kebencian terhadapnya, lagi pula kejadian itu sudah berlangsung cukup lama.
"Gue nggak suka minum orange jus, ganti!" perintahnya.
Aku mendekat ke arahnya kemudian membawa gelas berisi orange jus itu kembali ke belakang. Di belakang aku membuat minuman lain lagi, untuk Devi. Kemudian aku kembali membawa jus itu ke depan.
"Ini jusnya." Ku pindahkan jus itu dari nampan ke meja.
Prang!
Gelas berisi jus yang baru kusajikan itu terjatuh, sesaat setelah Devi mengambilnya dari atas meja.
"Ups! Gak sengaja. Ambilin jusnya lagi dong, gue udah haus banget soalnya."
"Oh iya, jangan lupa bersihin nih gelasnya." Perintah yang lainnya.
Saat aku hendak membawa minuman itu kembali ke depan, tiba-tiba Bi Imah menahan tanganku.
"Biar Bibi aja, Neng Hawa istirahat. Sejak pulang tadi Neng belum istirahat."
Kucegah tangan Bi Imah yang akan mengambil nampan dari tanganku,"nggak papa Bi. Saya masih kuat, kalo nanti saya udah ngerasa capek dan nggak sanggup, pasti saya akan minta bantuan sama Bibi, kok."
"Tapi.."
"Udah, Bibi tenang aja." Ku usap pundak Bi Imah agar tidak mencemaskanku.
"Ya sudah. Tapi kalo Neng udah capek bilang ke Bibi ya?"
"Iya, Bi." Aku melanjutkan langkah yang tertunda.
"Ini minumannya." Kuletakkan gelas yang berisi jus jambu itu ke hadapan Devi, setelahnya aku mengambil sapu dan serok untuk membersihkan bekas pecahan gelas tadi.
***
Akhirnya arisan itu selesai juga, jika belum selesai juga kemungkinan tulangku benar-benar akan patah. Karena sedari tadi teman-teman Clara selalu meminta ini-itu padaku membuatku harus bolak balik ke dapur, bahkan mereka juga menyuruhku ke mini market depan komplek untuk membelikan permintaan mereka.
Aku beristirahat sebentar, sebelum ikut membereskan ruangan tamu yang baru saja dipakai untuk arisan.
Setelah beristirahat cukup lama akhirnya aku kembali bangkit melangkah menuju ruang tamu untuk beberes, langkahku semakin dekat ke arah ruang tamu dan disaat itu juga aku mendengar sebuah pembicaraan yang membuat langkahku terhenti.
"Obat yang gue saranin buat lo kasih ke suami lo, masih rutin lo kasihkan?" tanya suara yang kukenali milik Devi, teman Clara yang sangat bersemangat menyiksaku sedari tadi.
"Masih. Tapi itu beneran cuma obat untuk memperlambat ingatankan? Nggak ada efek sampingnya, kan?" tanya Clara sedikit khawatir.
Tubuhku bergetar dibalik bilik yang memisahkan antara ruang tamu dan ruang tengah itu, ternyata itu ulah Clara dan temannya.
"Lo harus rutin kasih obat itu buat Raddan biar ingatannya nggak cepet pulih." Kompor salah satu teman Clara lagi.
"Gue rutin kok ngasihnya."
"Bagus!" sahut Devi puas.
Jika dilihat dari raut wajahnya Devi sepertinya sangat puas, melebihi kepuasan Clara. Ada sebenarnya?
"Gue tinggal bentar, ya!" Clara dengan segera melangkah menaiki tangga menuju ke lantai dua.
Ketiga teman-temannya itu masih duduk berbincang di ruang tamu sambil memakan cemilan. Aku yang masih penasaran dengan si Devi, Devi itu memutuskan untuk tetap disini menguping pembicaraan mereka.
Menguping memang perbuatan yang tidak baik tapi ini menyangkut nyawa Mas Raddan, aku harus tetap menguping agar tahu semua kebenarannya.
"Dev, lo bener-bener iblis. Lo dengan gampangnya memanipulasi rasa benci Clara ke Hawa buat memudahkan rencana balas dendam lo. Gila.. lo emang sadis!" kata gadis yang ada disebelahnya itu sambil menggelengkan kepalanya.
"Gue nggak yakin kalo efek obatnya sesimple itu, seorang Devi nggak mungkin melakukan hal sekecil itu untuk melumpuhkan musuhnya kan?"
Aku menutup mulutku, karena terlalu terkejut mendengar percakapan mereka.
"Ssttt... jangan berisik. Clara datang." Peringat Devi membuat kedua temannya langsung terdiam.
Aku harus menyelidikinya, aku yakin ada sesuatu yang besar tengah ngincarku dan Mas Raddan.
Ya Allah tolong tunjukkan kepada hamba, apa yang sebenarnya terjadi.
***
Aku baru sampai ke rumah sakit saat menjelang adzan isya. Pikiranku masih terbayang kejadian tadi, apa maksud kedua teman Clara tadi dan apa yang menyebabkan Devi sangat membenciku lalu kenapa dia menargetkan Mas Raddan juga? Ada apa sebenarnya?
Semua pertanyaan itu hanya bersarang dalam otakku, aku harus mencari jawaban yang mana dulu?
Ah, aku ingat dokter Hans yang waktu itu kumintai tolong, untuk mencari tahu tentang obat yang ada dikamar Mas Raddan. Obat yang kupastikan sama, dengan topik yang mereka bahas tadi.
Masuk ke dalam koridor rumah sakit, aku tidak langsung menuju ruangan Ummi tapi aku berbelok menuju ruangan dokter Hans. Sesampainya di depan ruangan dokter Hans aku langsung mengetuk pintu itu seraya menganggil dokter Hans.
Berulang kali sudah aku mengetuk pintu, namun tak kunjung ada jawaban dari si pemilik ruangan. Kemana dokter Hans? Kenapa tak kunjung membukakan pintu untukku? Apa dia sedang tidak ada di ruangannya?
"Maaf Sus, saya mau tanya, apakah Suster tau dimana Dokter Hans berada sekarang?"
"Oh.. Dokter Hans, kebetulan beberapa hari ini Dokter Hans sedang pergi keluar kota untuk mengikuti seminar."
"Kira-kira kapan Dokter Hans kembali ke sini?"
"Kemungkinan Dokter Hans baru kembali besok lusa."
"Makasih Sus, infonya."
Kenapa disaat genting seperti ini dokter Hans tidak ada, apa yang harus ku lakukan untuk mengetahui kebenaran tentang semua ini?
Aku memutuskan untuk melangkah kembali menuju ruangan tempat Ummi dirawat. Karena permintaan Bunda, Ummi dipindahkan ke ruang VVIP supaya Ummi dapat beristirahat dengan tenang dan cepat kembali pulih.
Dari luar sayup-sayup kudengar suara Silvi, memang dari kemarin Silvi belum sempat menjenguk Ummi karena ada urusan keluarga yang tidak bisa dia tinggal.
Cklek..
Kubuka pintu itu perlahan, didekat ranjang ada Silvi yang sedang mengobrol asik dengan Ummi seraya mengupaskan jeruk untuk Ummi.
"Itu Hawa udah dateng!" Ummi tersenyum lebar melihat kedatanganku.
"Maaf ya, Ummi. Hawa datengnya malem, pengennya dateng sore tapi Hawa harus bantuin Bi Imah, soalnya Clara ngadain acara arisan di rumah."
Aku masuk dan langsung meletakkan tas besar yang kubawa ke sofa di pojok ruangan. Kemudian aku mendekat ke arah Ummi dan Silvi.
"Nggak papa, sebenarnya Ummi juga pengennya kamu istirahat dirumah aja." Sahut Ummi.
"Tapi sama aja, Hawa nanti malah nggak bisa istirahat dengan tenang, karena mikirin Ummi disini."
"Hawa, kamu juga harus mikirin diri kamu sendiri, jangan terlalu fokus mikirin Ummi sampai kamu lupa untuk menjaga kesehatan kamu sendiri. Tadi Raddan telpon Ummi, dia nyuruh Ummi buat peringatin kamu, supaya kamu makan dengan teratur dan istirahat yang cukup."
"Iya, Ummi."
"Haw, lo jadikan besok dateng ke acara reuni SMA kita dulu?" tanya Silvi seraya bangkit dari duduk lalu mendekat ke arahku.
"Hah? Emangnya acaranya besok ya?" tanganku tergerak mengambil ponsel untuk melihat tanggal hari ini.
"Oh iya, gimana ya?" kugaruk belakang leherku, karena bingung. Aku tidak tenang jika meninggalkan Ummi sendirian.
"Dateng aja. Ummi nggak papa disini sendirian, lagi pula acara seperti ini tidak berlangsung setiap tahun. Kamu juga perlu refresing dengan bertemu teman-teman lama mu."
"Beneran, Ummi nggak papa Hawa tinggal?"
"Nggak papa, kamu pergi aja sama Silvi."
"Ya udah, gue besok tetap ikut ke acara reuni itu."
"Yeay! Asik dong! Gue udah bawain gaun ini buat lo, kita bakal couple an." Silvi menyodorkan goody bag berukuran sedang padaku.
Aku mengambilnya dan melihat ke dalam, sebuah gaun malam berwarna maroon. "Sil, berapa harga gaunnya gue bayar, ya?"
"Nggak usah. Lo dateng ke acara ini bareng gue aja, itu udah cukup buat gue."
"Makasih, Silvi!" aku langsung menghambur kepelukan Silvi, sahabatku yang selalu ada untukku. Semoga saja kami masih bisa bersahabat dekat hingga kami tua nanti.
***
Acara reuni yang dinanti-nanti akhirnya tiba, pukul tujuh malam aku sudah siap dengan gaun maroon bermotif bunga berwarna putih di bagian pinggang serta khimar berwarna senada. Agar tidak terkesan monoton aku memasangkan Flatshoes berwarna putih dengan tas yang senada.
Saat ini aku tengah menunggu Silvi yang masih bersiap di rumahnya, dia berkata ingin tampil memukau untuk acara ini jadi dia perlu banyak waktu untul mempercantik diri.
Beberapa menit kemudian sebuah mobil sport berwarna merah berhenti tepat didepan rumah, membuatku mengernyit siapakah gerangan si pemilik mobil dan ada urusan apa dia kesini?
Namun sedetik kemudian keluar seorang gadis yang memakai gaun berwarna maroon dari dalam mobil, gadis itu menoleh ke arahku dengan kaca mata hitam yang bertengger manis di khimar merah milik gadis itu.
"Hawa, ayo masuk!" teriak gadis itu saat melihatku.
"Silvi?!" mataku membulat tak percaya, sejak kapan Silvi bisa mengendarai sebuah mobil?
"Iya, cepetan masuk. Nanti kita terlambat!" teriaknya lagi yang membuatku segera mendekat ke arahnya.
Di dalam mobil aku masih tidak percaya bahwa wanita yang berada di balik kemudi itu adalah sahabat karibku, yang dulunya belum bisa menyetir mobil.
"Silvi, sejak kapan lo bisa naik mobil?"
"Naik mobil sih, gampang! Anak TK aja bisa."
"Eh? M-maksud gue bukan itu, sejak kapan lo bisa nyetir mobil?"
"Oh, soal itu. Gue bisa nyetir mobil sejak sebulan yang lalu."
"Dan lo udah berani bawa gue ke acara reuni pake mobil. Sil, lo jangan main-main dong, gue belum siap mati tau!"
"Tenang aja gue udah dapet SIM beberapa hari yang lalu, lagian gue juga belum siap mati, apalagi saat mengingat status gue masih jomblo."
"Oh syukurlah.." ku usap dadaku yang tadi sudah berdentum tidak karuan.
Tiga puluh menit kemudian kami sampai dipelataran sebuah restoran mewah berbintang lima. Restoran Prancis yang disewa oleh salah satu teman reuni kami, dia meminginkan pertemuan kembali yang mengesankan jadilah dia memboking sebuah restoran yang terkenal sangat mahal ini.
Dari luar saja restoran ini sudah terlihat mewah, dengan warna gold yang melingkupi seluruh bagian restoran ini. Masuk ke dalam ruangan mataku di manjakan oleh lampu-lampu kristal yang menggantung indah di beberapa sudut restoran.
Tak hanya itu, di bagian pojok juga terdapat beberapa pemain biola dan juga pemain piano yang sedang mengalunkan sebuah meloni indah, yang sangat cocok untuk bernostalgia.
Ditengah ruangan terdapat meja kayu panjang yang dikelilingi oleh kursi, ada beberapa orang yang sudah menempati kursi-kursi itu. Terlihat juga beberapa orang yang memakai seragam hitam putih, baik pria maupun wanita yang berjalan kesana kemari sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman.
"Hai, liat siapa yang datang!" seorang pria yang duduk disana bersorak dengan wajah berbinar melihat kedatanganku dan Silvi.
"Woaahh.. cantiknya.."
Aku hanya bisa tersenyum menanggapi mereka, lain halnya dengan Silvi yang sudah melambai-lambaikan tangan, bak artis yang sedang mengadakan jumpa pers.
"Terima kasih, terima kasih, tidak usah berlebihan seperti itu, gue tau kok kalo gue cantik!" ujar Silvi seraya mengibaskan khimarnya dengan centil.
"Lo Silvi kan? Yang kelakuannya mirip preman waktu SMA?" tanya seorang gadis yang kuingat sebagai teman seangkatan kami dulu.
"Eh! Kutu kupret! Ngapa yang lo ingat cuma itu! Gini-gini dulu gue juga pernah ngeharumin nama sekolah di ajang pencak silat, tau?!"
"Iya, iya. Gue kan cuma bilang kayak gitu, jangan sensian dong!" balas gadis itu lagi.
"Udah jangan berantem, kita kan kesini buat reunian." Seorang gadis manis dengan rambut sebahu, melerai berdebatan yang sedang terjadi.
"Oh, iya kayaknya kita seangkatan loh. Kenalin nama gue Rena!" gadis berambut sebahu tadi mengulurkan tangannya ke arahku yang kusambut dengan ramah.
"Hawa." Lalu setelahnya ia mengulurkan tangan ke arah Silvi.
Setelah saling berkenalan kembali, kami mulai menyantap hidangan yang telah tersedia. Sesekali diselingi dengan percakapan yang membuat suasanah hangat tercipta di antara kami.
Menu pembuka dan menu utama sudah selesai kami santap, kini tinggal menyantap menu terakhir yang baru dihidangkan. Puding coklat dengan lelehan susu rasa vanila menutup makan malam di acara reuni ini.
Sesudah makan acara di lanjutkan dengan perbincangan hangat dan saling mengenang masa lalu kami sewaktu masa putih abu-abu dulu.
"Oh, iya Hawa lo udah tau belum?" tanya seorang gadis yang kuketahui bernama Karin, Kakak tingkatku di SMA dulu.
"Tau apa ya, Kak?"
"Itu soal, Tian." Ujarnya sedikit ragu.
"Tian? Kak Sebastian maksud Kakak?" tanyaku memastikan, serasaku dulu ada seseorang yang kukenal bernama Sebastian Hendra Wiraghuna, Kakak tingkatku yang berarti seangkatan dengan Kak Karin.
"Kak Tian, yang suka ngejar-ngejar Hawa bukan Kak?" sergah Silvi ikut kepo.
"Iya, Tian itu."
"Memangnya, ada apa dengan Kak Tian, Kak?" tanyaku yang diangguki oleh Silvi dengan raut wajahnya yang semakin menunjukkan rasa penasaran.
"Dia meninggal tiga tahun setelah kita lulus." Kak Karin mengucapkannya dengan wajah yang tertunduk, sedih.
"Innalillahi wa'inailaihi ro'jiun." Ucap kami yang baru saja tahu perihal ini secara bersamaan.
"Kakak tau apa penyebab dia meninggal?" tanya Silvi kemudian, sepertinya ia masih sangat kepo perihal Kak Tian.
"Waktu itu gue denger sendiri dari adiknya Tian, kalo Tian meninggal karna bunuh diri, Tian frustasi karna cintanya lo tolak, Haw."
"Lalu, dimana makam Kak Tian berada, Kak? Aku ingin kesana, untuk meminta maaf." Lirihku dengan tangan bergetar karena syok, tidak menyangka akibatnya akan semengerikan ini karena aku tidak bisa menerima cintanya.
"Tian dimakamkan, di TPU Keramat Jati."
"Gue yakin dia pasti nyesel udah bunuh dini, soalnya kan Raddan nikah sama orang lain nggak sama Hawa. Kalo dia masih hidup peluang buat dapetin Hawa kan masih terbuka lebar, ya nggak?" pria yang kuketahui bernama Anton menyeletuk.
"Iya, bener juga." angguk yang lain.
Mendengar itu tubuhku langsung membeku, semua orang yang ada disini tidak mengetahui jika aku dan Mas Raddan tetap menikah walaupun statusku menjadi seorang madu. Hanya Silvi yang tahu, dan seolah mengerti Silvi menoleh ke arahku dan menggenggam tanganku untuk menguatkanku.
"Iya, betul juga. Coba aja kalo Tian mau nunggu empat tahun lagi, dia pasti bisa dapetin gadis impiannya."
"Hawa berarti lo belum nikah sekarang?" tanya gadis yang bernama Rena tadi.
Genggaman Silvi ditanganku mengerat, yang lantas membuatku menoleh ke arahnya. Silvi terlihat menggeleng dan berkata tanpa suara "Bilang aja, belum."
"Be-belum, Kak." Jawabku gugup karena harus berbohong, jika aku berkata jujur belum tentu mereka akan memahami posisiku, bisa jadi mereka akan mengucilkanku dan tidak mau lagi menganggapku sebagai temannya.
Mungkin memang lebih baik seperti ini, berbohong namun bukan karena maksud yang jelek. Aku tidak sanggup mendengar cacian dan makian yang keluar dari mulut seseorang yang kukenal, apalagi setelah lama tidak bertemu seperti teman-teman semasa SMA ku ini.
Jika orang yang tidak kukenal yang mencaci makiku, mungkin aku bisa menganggap mereka seolah-olah tidak ada lalu dapat meluoakannya dan kembali menjalani hidup seperti biasanya, namun jika yang menghinaku adalah orang yang kukenal, aku sudah tidak tahu lagi bagaimana caraku menjalani hidup ini tanpa terbayang-bayang ucapan mereka.
_________
Tbc.


-----


#Jodoh_wasiat_bapak
#JWB
Part 27
Author POV

Di ruang kantor yang terletak di lantai dua puluh tujuh gedung ini, terlihat seorang pria yang sedang duduk di balik meja kerjanya tengah menatap serius laptop dihadapannya.
Sedetik kemudian wajah tampan pria itu mengeras, melihat video yang tengah terputar di layar laptopnya.
Brak!
Dengan geram ia menggebrak meja kerjanya, membuat beberapa barang terjatuh dari sana. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras dan matanya menyorot tajam ke depan.
"Kurang ajar! Berani-beraninya dia berbuat seperti itu di belakangku!"
"Kenn!!" panggil pria itu pada asisten pribadinya.
Ken yang sedang mengerjakan laporan di meja kerjanya, langsung tersentak mendengar suara bosnya. Ia langsung menuju ruangan yang letaknya tepat berada di depan mejanya.
"Iya, Pak Bos. Ada apa?" Ken masuk dengan tergesa ke dalam ruangan bos sekaligus sahabatnya itu.
"Pesankan tiket ke Jakarta sekarang juga!" perintah Raddan.
"Tapi.."
"Jangan protes!" Raddan langsung menyela ucapan yang hendak di lontarkan oleh asisten sekaligus sahabatnya.
Ken yang melihat bosnya sedang dalam kondisi yang tidak ingin di bantah itu, langsung menuruti perintah darinya. Membuka ponsel lalu mencari aplikasi pemesanan tiket, setelah ketemu ia langsung mencari jadwal penerbangan dari Kalimantan menuju Jakarta.
"Adanya nanti jam sepuluh malam."
"Cepat pesan!"
Ken mengikuti perintah Raddan, "trus gimana jadwal meeting yang harus lo hadirin besok?"
"Tunda ke hari lain. Saat ini gue harus menyelesaikan masalah yang terjadi di rumah. Dan untuk sementara lo handle semua pekerjaan yang ada disini."
"Siap, Bos!"
***
Setelah dokter mengizinkan ibunya pulang hari ini, Hawa langsung bergegas membereskan pakaian miliknya dan juga ibunya. Senyum terus terukir di bibirnya, melihat ibunya sangat bahagia karena sudah di perbolehkan pulang ke rumah lagi.
Mereka hanya berdua saja disini, ibu mertuanya tidak bisa ikut menemani karena ada urusan lain.
"Ndok, nanti sore jadikan kita ke makam Abi?"
"Jadi dong, Mi. Tapi Hawa mau pergi ke toko bunga dulu, mau beli bunga buat nyekar di makan Abi."
"Iya, Ummi hampir lupa buat beli bunga."
"Ihh.. Ummi nggak sosweet, masa mau ziarah ke makam Abi tapi lupa bawa bunga. Nanti kalo Abi marah di atas sana gimana? "
"Wajarlah kan Ummi sudah tua, jadi gampang lupa. Kalo Abi marah, ya udah jemput Ummi aja, terus di hukumnya di sana aja."
Mendengar itu gerakan Hawa terhenti seketika," apa maksud Ummi ngomong gitu? Hawa nggak suka ya, Ummi bahas-bahas tentang itu."
Bu Maryam menoleh ke arah anak semata wayangnya, rasanya sedih harus meninggalkan anaknya itu. Tapi takdir tidak ada yang tahu kedepannya, namun firasatnya mengatakan waktunya di dunia ini tak akan lama lagi.
"Anak Ummi.. jangan nangis gitu. Ummi cuma bercanda kok." Bu Maryam mendekati anak gadinya itu, lalu membawanya ke dalam pelukannya.
"Ummi jangan ngomong gitu lagi ya?"
"Beres-beresnya udah? Kalo udah kita cepetan pulangnya ya, Ummi bosen disini terus." Bu Maryam memilih mengalihkan pembicaraan.
Dalam pelukan ibunya, Hawa meneteskan bulir bening yang tak sanggup ia tahan lagi.
***
Saat ini Hawa tengah berdiri di depan toko bunga tempatnya bekerja selama sebulan ini, rasa tak enak hati menyelubungi sanubarinya yang telah meminta izin beberapa hari ini untuk merawat ibunya, meski si pemilik toko dengan senang hati memberinya izin namun tetap saja ia merasa seperti melakukan nepotisme.
Rasa sedih merasuki hatinya karena harus meninggalkan pekerjaan ini. Toko bunga dengan palang nama 'Beautifull Flower' meskipun nanti ia sudah tak bekerja lagi disini, tapi ia akan terus mengingatnya sebagai bagian dari perjuangan hidupnya.
Menarik napas panjang ia pun siap melangkah memasuki toko bunga itu. Sekarang tekadnya sudah bulat untuk berhenti bekerja dari toko ini. Seiring langkahnya ia mengumamkan doa semoga saja toko ini bisa menjadi toko besar dan memiliki pelanggan yang banyak nantinya.
"Assalamualaikum!" sapanya pada beberapa teman sesama pekerja disini.
Semua orang yang ada di sana menoleh seraya menjawab salam darinya.
"Wa'alaikumssalam, Hawa. Kamu udah mau kerja lagi, memamgnya ibu kamu udah sembuh?" tanya seorang wanita berkhimar putih yang sedang merangkai bunga.
"Alhamdulillah sudah, Mbak."
"Oh iya, Mbak Alimira nya ada di dalam?" tanya Hawa kemudian seraya kepalanya melongok ke arah pintu ruangan bosnya.
"Ada. Kamu kesini buat kerja, kan? Kenapa nanyain Mbak Almira?" tanya Gina lagi.
"Nanti juga Mbak tau sendiri, tapi sekarang aku harus ketemu sama Mbak Almira dulu. Permisi.." Hawa bergegas menuju sebuah ruangan di pojok yang di sekitarnya terdapat jejeran bunga cantik.
Tok.. tok.. tokk..
Hanya beberapa kali ketukan, tak lama terdengar suara dari dalam yang menyuruhnya untuk masuk, membuat Hawa langsung membuka pintu itu.
"Assalamualaikum, Mbak Almira."
"Wa'alaikumssalam Hawa, silakan duduk!" Almira mempersilakan Hawa untuk duduk di kursi yang ada di hadapannya.
"Mbak, sebelumnya saya minta maaf, tapi sepertinya saya tidak bisa bekerja lagi disini."
Almira yang semula sedang mencatat hasil pemasukan bulan ini di buku jurnalnya, terhenti setelah mendengar ucapan dari pegawainya itu.
"Kenapa kamu mau ngundurin diri? Apa saya pernah berbuat hal yang tidak kamu sukai? Atau karna para pelanggan disini suka gangguin kamu? Atau.."
Hawa buru-buru menggelengkan kepala seraya melambai-lambaikan tangannya,"bukan, bukan karna itu. Saya mau berhenti karna saya merasa tidak enak terus-menerus meminta izin pada Mbak, seperti kemarin?"
"Loh, saya kan bilang tidak masalah. Toh, kamu akan kembali bekerja disini lagi. Jadi jangan merasa tidak enak seperti itu, lagian kamu meminta libur cuti untuk merawat Ibu kamu yang sedang sakit kan?"
"Iya, Mbak. Tapi saya tetap merasa tidak enak pada Mbak dan karyawan lain, sebenarnya suami saya juga tidak mengizinkan saya bekerja disini lagi." Hawa menunduk, mengingat perkataan Raddan yang bersikeras tidak mengizinkan dirinya bekerja di toko bunga ini.
"Sebenarnya saya berat melepas kamu pergi dari toko ini, karna toko ini sangat membutuhkan kamu. Tapi apa boleh buat, jika suami kamu tidak meridhoinya."
"Jadi keputusan Mbak, apa?"
"Pergilah dan sesuai perintah suamimu. Tanpa ridho suami, semua yang kamu lakukan tidak akan berjalan dengan mulus kedepannya."
"Maaf sekali lagi dan terima kasih karna Mbak sudah mau menerima saya bekerja disini selama sebulan ini."
"Iya, saya juga mengucapkan terima kasih sama kamu karna telah memberikan banyak jasa pada toko bunga ini."
"Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu, Mbak." Hawa bangkit dari kursi lalu membalikkan tubuhnya dan menghilang di balik pintu setelah mendengar sahutan dari mantan bosnya itu.

***

Sore hari ini Hawa dan ibunya telah sampai di sebuah pemakaman umum yang terlihat dari palang namanya bertuliskan 'TPU Keramat Jati' semua tanah disini telah di penuhi oleh berpuluh-puluh makam.
Makam dengan berbagai hiasan, ada yang di beri atap, ada yang diberi pagar dan ada pula yang tidak di beri apapun selalu batu nisan.
Hawa dan bu Maryam mulai menyusuri makam-makam itu lalu berhenti saat menemukam makan dengan nisan bertuliskan ' Ahmad Nabhan. M' lalu mereka berdua pun duduk berjongkok disana, setelah melepas alas kaki mereka lalu dipijak.
Hawa mengeluarkan dua buah buku yasin dari dalam tasnya, kemudian ia memberikan salah satunya pada ibunya. Mereka mulai membaca surah yasin itu dan beberapa doa, mendoakan agar ayahnya tenang di alam sana.
"Abi.. maafin Hawa ya, baru bisa berziarah ke makam Abi sekarang. Hawa bukannya tidak ingin melihat Abi, tapi Hawa masih sangat sedih dan kalut setiap melihat nisan yang bertuliskan nama Abi. Maafin Hawa.. hiks.. hiks.." Air mata menggenang di pipi wanita berkhimar putih itu, tangannya terus mengusap-usap nisan bertuliskan nama ayahnya itu.
Rasa sedih masih sangat dalam ia rasakan meskipun ayahnya telah lama menghadap Sang Khalik. Kini tangannya tergerak untuk mengambil bunga dalam keranjang jinjing yang di bawanya, lalu ia taburkan pada makam ayahnya.
Sedang ibunya masih setia duduk berjongkok seraya mengusap-usap nisan ayahnya dengan air mata yang terus berlinang.
"Pasti Abi sekarang sudah bahagia di alam sana, karna Abi tidak merasa kesakitan lagi. Ummi juga ingin ikut Abi, bisakah Abi jemput Ummi sekarang?"
Tangan Hawa mengantung di udara saat mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut ibunya. Bulir bening kembali membasahi pipinya, ia kembali berjongkok di samping ibunya lalu mengusap-usap punggung wanita paruh baya yang telah melahirkannya itu.
"Ummi.. kenapa Ummi ngomong gitu lagi.., Ummi tega ninggalin Hawa? Katanya Ummi mau liat cucu-cucu Ummi lahir?"
"Ummi sudah tua, sayang.. Ummi sering sakit-sakitan dan itu buat kamu sedih juga kerepotan jagain Ummi. Mungkin sudah waktunya Ummi pergi menyusul Abi ke surga sana."
"Katanya Ummi ingin melaksanankan ibadah haji, tapi kenapa Ummi biacara seperti itu?"
Bu Maryam terpekur menatap ke arah makam suaminya," Ummi ingin ke sana, tapi sepertinya waktu Ummi tidak lama lagi di dunia ini. Sebenarnya keinginan terbesar Ummi adalah melihat kamu bahagia, Ndok. Dan sepertinya kamu sudah bahagia dengan Raddan, jadi Ummi akan tenang jika meninggalkan dunia ini sekarang juga karna sekarang sudah ada Raddan, orang yang akan menjaga kamu mengantikan Ummi dan Abi.
Hawa bangkit dengan linangan air mata yang terus menerus meluncur dari kedua mata indahnya, tak sanggup rasanya ia mendengar ucapan yang keluar dari mulut ibunya.
"Tapi tetap saja Hawa masih membutuhkan Ummi, Hawa belum siap jika harus di tinggal oleh Ummi."
"Hawa, siap atau tidak siap kamu harus bisa menerima semua takdir yang sudah di gariskan untukmu dari-Nya."
Hawa melenggang meninggalkan ibunya tanpa kata, hatinya sangat sakit mendengar ucapan Ummi-nya yang melantur kemana-mana padahal semua itu belum tentu terjadi dalam waktu dekat ini.
Hawa hanya terus melangkah tanpa tujuan, hingga akhirnya ia menghentikan langkahnya saat melihat sesosok gadis memakai khimar yang hanya tersampir dipundaknya. Jika di perhatikan lebih dekat, ia merasa familiar dengan gadis itu.
Ia pun memilih melangkahkan kakinya mendekat ke arah gadis itu, seiring langkahnya yang semakin dekat, suara tangis yang ia duga dari gadis itu semakin jelas terdengar. Saat langkahnya semakin dekat, matanya membelalak melihat nisan yang tertulis pada makam itu.
SEBASTIAN H.W

Kedua tangannya sontak menutup mulutnya yang terbuka lebar, air matanya kembali berlinang. Ia baru ingat jika Tian juga di makamkan di TPU ini.
Saat ia akan melangkah semakin dekat, tiba-tiba gadis yang semula masih duduk berjongkok itu bangkit menatap ke arahnya dengan tatapan yang sangat tajam, terlihat jelas sorot kebencian yang sangat mendalam di kedua bola mata gadis itu.
"Mau apa lo kesini, hah?!" gadis itu menudingkan telunjuknya, menunjuk ke arahnya dengan bengis.
"Kamu.."
"Apa?! Lo kaget? Liat gue ada disini! Kenalin gue Devita Maharani Wiraghuna, adik kandung dari pria yang sangat menyukai elo sampai mati! Sebastian Hendra Wiraghuna."
Devi, gadis itu melangkah mendekati seorang wanita yang sangat di cintai oleh Kakaknya itu. Mengusap dengan kasar bekas air mata yang masih tersisa di pipinya, lalu menatap wanita berkhimar putih di hadapannya dengan bengis.
Hawa berdiri mematung semuanya terasa jelas sekarang, Devi teman Clara ini ternyata adik kandung dari Sebastian, pria yang pernah mengungkapkan cinta padanya semasa putih abu-abu dulu. Pantas saja ia terlihat sangat membencinya hari itu, di acara arisan.
"Dasar wanita jahat! Nggak punya hati?! Iblis! Tega-teganya lo nolak cinta Kakak gue, padahal dia udah ngelakuin semua hal untuk elo!" Devi mengatur napasnya sebentar, emosinya sudah tak bisa ia tahan lagi.
"Liat! Liat akibat perbuatan lo, Kakak gue stress dan akhirnya milih bunuh diri dan semua itu karna elo!!" telunjuknya mengarah pada makam kakaknya.
"Dasar pembunuh! Pembunuh biadab lo!" Devi mendorong bahu Hawa, hingga wanita itu jatuh mengenaskan di antara tanah makam.
Hawa hanya bisa terdiam dengan linangan air mata yang tak berkesudahan, membiarkan gadis di hadapannya ini melampiaskan semua emosinya yang selama ini terpendam padanya. Mungkin dengan itu gadis di hadapannya ini bisa memaafkannya.
"Kakak gue itu cinta mati sama lo! Gue adiknya sendiri nggak pernah dia perhatiin seperti dia yang selalu perhatian sama elo! Karna lo udah ngeracunin otak, hati bahkan jiwa Kakak gue?! Gue benci sama lo! Sangat benci!"
"Sampai akhir hayatnya dia hanya ingin lo membalas cintanya, tapi kenapa lo dengan teganya, nolak cinta dia tanpa mau memberinya kesempatan sedikit pun!"
"Maaf.. maaf.."
"Apa, maaf kata lo? Terlambat?! Memangnya dengan kata maaf dari lo, Kakak gue bisa hidup kembali? Nggak kan?! Jadi sekarang pergi lo dari sini!!"
Wajah Devi yang semula menyiratkan kebengisan kini hilang, berganti dengan wajah yang dipenuhi linangan air mata.
"Dev.. aku.. mohon.. sama.. kamu.., tolong.. biarkan.. aku.. untuk.. meminta.. maaf.. langsung.. sama.. Kakak.. kamu." Ucap Hawa dengan isakan yang sangat memilukan, tangannya terulur untuk menggapai tangan Devi.
Devi memundurkan langkahnya mendekat ke arah makam Kakaknya lagi," nggak! Nggak akan gue biarin lo mendekati makam Kakak gue seinci pun! Lo udah nyakitin Kakak gue! Lo udah buat dia menderita, semasa dia hidup. Pergi lo! Gue nggak menerima kehadiran lo disini! Pergi! Pergi wanita jahat! Pergi!!"
"Aku mohon.. kali ini aja.."
"Nggak! Pergi lo dari sini! Pergi!" geram Devi mendorong tubuh Hawa yang baru saja bangkit dan hendak mendekatinya dengan keras, membuat Hawa kembali terjatuh.
"Pergi?!!" sentak Devi sekali lagi.
Hawa bangkit menatap sekilas pada makam Tian, lalu berbalik pergi dari sana. Percuma jika ia meminta maaf sekarang, karna Devi masih dalam keadaan kalut dan belum menerima kepergian kakaknya itu.
Disaat Hawa sudah berlalu pergi, Devi masih menatap kepergiannya dengan tangan mengepal di kedua sisi tubuhnya.
"Gue nggak akan biarin lo hidup bahagia, sampai kapan pun. Gue akan membalaskan rasa sakit yang di alami Kakak gue karna lo!"

***
Seorang pria yang baru saja turun dari pesawat langsung melangkah tergesa menuju sebuah mobil berwarna hitam di pelataran bandara.
Tak lama setelahnya mobil itu melaju membelah jalanan kota Jakarta yang tidak pernah sepi di jam malam seperti ini.
Tangannya tak henti-hentinya mencoba menghubungi satu nomer milik seseorang yang sangat berarti di hidupnya, seseorang yang sangat ia rindukan hingga rasanya sudah tak mampu ia tahan lagi. Namun sampai saat ini panggilannya belum juga mendapat balasan, melirik jam yang ada di pergelangan tangannya ia tersenyum, wajar saja wanitanya tak kunjung menjawab panggilannya ternyata waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam.
Saat ini perasaanya sedang campur aduk, antara rindu, penyelesalan, amarah, dan kecewa tengah menyelubungi hatinya. Tapi perasaan rindunya yang lebih besar dan harus ia obati saat ini juga.
Matanya bergerak gelisah menatap jalanan, ingin rasanya ia segera sampai ke rumah tanpa perlu menempuh kemacetan ini. Ia sudah tak sabar untuk memeluk istri tercintanya.
Setelah menempuh perjalanan hamlir satu jam dari bandara, akhirnya ia sampai di sebuah rumah berpagar putih sebatas pinggang orang dewasa. Kakinya melangkah pasti menuju rumah bercat hijau pupus itu, mengetuk pintu dengan tidak sabar, tanpa memerhatikan keadaan rumah yang sudah gelap karena lampu-lampu di dalam sana sudah di matikan.
"Sayang.."
Raddan, pria itu terus mengetuk pintu seraya menanggil-manggil istri kesayangannya itu agar segera keluar menemuinya.
Pintu itu akhirnya dibuka oleh seorang wanita yang terlihat masih mengantuk. Tanpa aba-aba Raddan langsung memeluk erat tubuh wanita itu, membuat Hawa yang langsung membelalakan matanya seketika karena mendapat pelukan dengan sangat tiba-tiba.
"Ara.. maafin Mas. Maafin Mas yang terlambat mengingat semuanya.. maaf.. maaf.."
Bulir bening jatuh membasahi kedua pipi Hawa saat mendengar ucapan suaminya barusan.
"Mas.. udah inget semuanya?"
Raddan mengangguk dalam pelukannya,"iya, Mas sudah mengingat semuanya. Maafin Mas.. maaf untuk semua perlakuan Mas yang membuat hatimu terluka. Maaf karna telah melupakanmu.. maaf.."
"Hiks.. hiks.. Mass..." Hawa semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh suaminya.
Terimakasih Ya Allah, engkau telah menjawab doa-doa hamba selama ini. Terimakasih.., batin Hawa berkata.
________
Next

-----

#Jodoh_wasiat_bapak
#JWB28
Part 28
Hawa POV

Tak henti-hentinya aku berucap syukur kepada Allah SWT yang telah mengembalikan ingatan suamiku, Mas Raddan.

Memang benar kata orang, jika hasil tak akan menghianati usaha dan doa, sekarang terbukti aku yang selalu berusaha mengingatkan Mas Raddan dengan hal-hal kecil dan selalu mendoakan agar ingatannya segera pulih, kini semuanya telah kembali. Walau dengan keadaan yang berbeda, dulu aku masih menjadi satu-satunya wanita yang ia cintai setelah Bundanya namun kini ada Clara di tengah-tengah hubungan kami.

Saat ini aku ingin menghabiskan waktuku bersama Mas Raddan, biarlah nanti, Mas Raddan saja yang memutuskan langkah apa yang selanjutnya akan dia ambil untuk menyelesaikan masalah ini.
aku memulai pagi ini dengan membuatkan sarapan spesial, itung-itung sebagai syukuran atas kembalinya ingatan Mas Raddan. Satu persatu kupotong bahan-bahan makanan yang telah kucuci sebelumnya.

Ingatanku terputar pada kejadian tadi malam, Mas Raddan yang terlihat sangat menyesal karena telah melupakanku. Sebenarnya aku penasaran hal apa yang bisa membuat ingatan Mas Raddan kembali dengan sangat cepat?
Tadi malam kami memang berbincang cukup panjang sebelum melanjutkan tidur kembali, tapi Mas Raddan hanya membicarakan tentang masalalu kami dan tak ada sedikitpun membahas tentang hal yang membuat ingatannya kembali sepenuhnya.

Lamunanku buyar saat merasakan ada tangan yang memeluk pinggangku dari belakamg disusul dengan kecupan di puncak kepalaku. Tanpa melihat pun aku tahu kalau yang ada di belakangku, pastilah suamiku dan satu lagi sifatnya yang kembali seperti dulu yaitu sifat manjanya yang bertambah.
"Sayang.. kamu kenapa nggak bangunin aku? Aku kalang kabut nyariin kamu tau, waktu nggak nemuin kamu di kamar. Harusnya kamu masakanya nanti aja, Mas kan masih pengen bobok sama kamu.."
"Mas.. Ara lagi masak, Mas minggir dulu. Ara kesusahan buat geraknya." Usirku seraya melepaskan pelukannya.
Sekarang aku memanggil diriku sendiri dengan sebutan 'Ara' itu hanya saat bersama Mas Raddan, itu juga permintaannya.
"Nggak mau, Mas masih kangennnn.... bangett... sama kamu."

Bukannya melepaskan Mas Raddan malah semakin mengeratkan pelukannya pada tubuhku, kepalanya ia sandarkan dengan nyamannya di bahuku. Sifat keras kepalanya juga ikut kembali seperti semula, ia akan terus begini sebelum keinginannnya terpenuhi.
"Kalo mau minta sesuatu nanti aja, sekarang Ara lagi ribet. Lebih baik Mas sekarang mandi dulu biar nanti pas makanannya udah matang, Mas bisa langsung sarapan."
"Mandiin..."
Sontak mataku membelalak mendengar perkataan Mas Raddan dan aku merasakan pipiku juga ikut memerah karenanya. Mandiin? Apa maksudnya?!
Plak!
"Auw!"
Kupukul tangan Mas Raddan yang sudah menjalar kemana-mana.
"Mandi sendiri! Nggak usah manja minta di mandiin segala?!"
"Ingatan Mas baru kembali sayang.. masa kamu udah main KDRT sama Mas."
"Habisnya permintaan Mas itu aneh-aneh aja. Ara lagi masak, Mas malah dateng-dateng minta di mandiin. Hus... sana mandi sendiri aja.." Kubalikkan tubuh Mas Raddan lalu ku dorong menjauh dari dapur.

"Tapi.." Kulihat Mas Raddan hendak berbalik lagi.
Aku langsung berkacak pinggang dengan mata melotot tajam, "mandi sekarang atau Ara kasih ini!" kuambil sebuah pisau yang habis kupakai untuk memotong sayuran.
Mas Raddan berhenti melangkah ke arahku, lalu sedetik kemudian ia berbalik badan dan pergi ke kamar dengan setengah berlari.
Aku yang melihatnya tak kuasa menahan tawa, ini baru Mas Raddan yang dulu, pria yang sangat kucintai dengan sepenuh hati karna-Nya.
Ya Allah terima kasih karna engkau telah mengembalikan ingatan suamiku.

***
SMA Galaksi, ya saat ini kami sedang berada di SMA yang pernah menjadi saksi bisu pertemuan kami.
Dalam rangka merayakan kembali ingatannya, Mas Raddan mengajakku untuk menjelajahi kembali tempat-tempat yang pernah kami singgahi dulu, bisa disebut sejarah cinta kami berdua. Beruntungnya kami kesini saat hari sedang cerah, matahari yang bersinar terik dan diimbangi dengan angin sepoy-sepoy yang menyejukkan kulit.

Kami berjalan dikoridor dekat lapangan basket, bisa diliat disana banyak anak-anak yang sedang bermain basket. Di tribun penonton terlihat banyak anak-anak yang sedang bersorak, menyemangati tim yang mereka dukung. Saat ini mereka sedang melangsungkan acara rutin sehabis ulangan yaitu Class Meeting.
Semasa putih abu-abu dulu hanya beberapa kali aku melihat pertandingan basket seperti ini, itu pun setelah Silvi membujukku ratusan kali. Aku bukanlah anak Sma yang suka nongrokrong di kantin ataupun yang suka ngecengin anak basket dan Kakak kelas yang ganteng. Aku termasuk ke dalam golongan anak terajin yang selalu mengunjungi perpus, bagiku perpus adalah tempat yang sangat bagus untuk menambah ilmu pengetahuanku dan tempat yang paling tenang di sekolah.
"Ra, kamu masih inget waktu pertama kali kita ketemu?" pertanyaan Mas Raddan membuatku menghentikan lamunanku.
"Masih."

Tentu aku masih sangat mengingatnya, dulu Mas Raddan adalah pria paling diminati oleh para gadis di SMA Galaksi ini, hampir semua orang mengidolakannya. Dia pintar dalam pelajaran dan juga dalam bidang olahraga, namun ada satu yang membuat gadis-gadis itu tak berani mendekatinya, dia sangat irit dalam bicara. Dulu Silvi pernah memberi julukan manusia es yang kesasar ke negara tropis pada Mas Raddan.

Jika kalian mengira aku tertarik pada Mas Raddan karna dia tampan, pintar dalam olahraga, berarti kalian salah besar. Soal kepintarannya dalam bidang akademik cukup membuatku tertarik padanya, apalagi setelah ia menjuarai olimpiade sains se-Indonesia, namun ada hal lain yang membuatku terkagum-kagum padanya. Murottal Al-Qur'an adahal hal yang membuatku terpesona dengannya, saat itu sekolah memberikan kewajiban pada semua siswa untuk memilih satu ekskul dari semua ekskul yang ada di SMA Galaksi. Aku menjatuhkan pilihan pada ekskul rohis, menurutku hanya ekskul itu saja yang sesuai minatku.

Di awal pembukaan ekskul semua senior dan pengurus ekskul di harapkan untuk memberi pengarahan pada masing-masing anggota baru, hingga acara di tutup dengan murottal Al-Qur'an dan ternyata Mas Raddan juga merupakan ketua ekskul rohis.
Lantunan ayat-ayat Al-Qur'an yang di senandungkannya sangat menentramkan hatiku, membuatku terusik untuk mengenalnya lebih dekat dan takdir mempertemukan kami lagi di rumah Bang Alif, dari sanalah kami mulai dekat hingga Mas Raddan memberanikan diri untuk meminangku.
Sejak awal kedekatan kami Mas Raddan lah yang terlihat lebih sering memancing obrolan denganku, sosoknya yang dingin dan irit bicara itu sama sekali tak kutemukan.

"Dimana coba?" tanya Mas Raddan Seraya mengalihkan pandangan ke arahku lagi.
"Di musholla sekolah, saat acara pembukaan ekskul rohis. Benerkan?"
"Salah! Aku mengenalmu bahkan lebih jauh sebelum acara itu."
Keningku mengerut dalam, lalu di mana awal pertemuaan kami?
"Terus dimana?"
Mas Raddan mengalihkan tatapannya kembali ke depan, menautkan jari jemari kami kemudian melanjutkan lagi langkah kami yang terhenti.
"Di perputakaan, waktu itu aku nggak sengaja nabrak kamu di ambang pintu perpustakaan. Pas aku mau minta maaf sama kamu, eh, kamu malah udah pergi duluan."
Aku memutar ingatan ke masa itu, lalu mataku membulat saat mengingat kejadian itu," oh pria yang aku tabrak waktu itu Mas, toh!"
"Kamu baru tau? Berarti bener kata Alif kalo kamu itu sangat cuek terhadap hal sekitar yang nggak mempengaruhi jalan kehidupan kamu."

Kepalaku sontak menoleh mendengar ucapan Mas Raddan barusan, "bukan gitu, Ara hanya lebih memfokuskan pada hal-hal yang penting saja. Soal tabrakan itu, Ara rasa nggak terlalu penting."
"Ish! Kalo nggak karna itu Mas nggak bakal kenal kamu dan mulai memethatikan kamu."
"Berarti.. Mas yang si pengagum rahasia yang sering nitipin coklat dan surat lewat Bang Alif!"
"Iya, Mas yang minta Alif buat jadi tukang pos cinta Mas ke kamu." Tiba-tiba saja aku melihat perubahan pada ekspresi wajah Mas Raddan.
"Ada apa Mas? Kenapa tiba-tiba murung gitu?"
Mas Raddan kembali meneggakkan kepalanya, "Alif pasti sekarang benci sama Mas."
"Bang Alif bukan benci dia hanya.. kecewa sama Mas. Apalagi saat dibioskop waktu itu, Bang Alif hampir menghajar Mas kalo nggak Ara halangin."
"Alif masih ada disini kan? Mas ingin meminta maaf sama dia."
"Masih. Bang alif rencananya akan balik ke khairo minggu depan. Mas mau kesana sekarang?"
"Iya, Mas mau menyelesaikan masalah ini satu persatu, biar nggak semakin berlarut-larut."
"Ya udah. Ayok kita ke pesantren."

***
Sore harinya Mas Raddan mengajakku pulang ke rumah kami. Selama perjalanan menuju rumah Mas Raddan terlihat menahan emosi, sesekali juga ia terlihat memukulkan tangannya pada stir mobil.
Rasa penasaranku sudah tak dapat terbendung lagi untuk bertanya mengapa ia terlihat begitu emosional. Bukankah Bang Alif sudah memaafkannya tadi, lalu hal apa yang membuatnya seperti ini?
"Mas..," dengan lembut ku usap bahunya yang terlihat menegang," ada apa sebenarnya, Mas? Kenapa Mas terlihat emosi begitu?"
Mas Raddan mengalihkan sebentar tatapan dari jalan, meraih tanganku yang ada dibahunya lalu digenggamnya dengan erat.
"Nanti kamu juga akan tau." Ucap Mas Raddan yang makin membuatku penasaran.
"Tapi Ara udah penasaran.."
Cup!
Tak kulanjutkan ucapanku saat Mas Raddan memilih bungkam dan mencium punggung tanganku sebagai tanggapan agar aku bersabar. Ku hela napasku pelan sepertinya ini masalah besar yang Mas Raddan ingin selesaikan sendiri.

Lebih baik aku diam, menunggu hal apa yang akan Mas Raddan lakukan nanti setelah tiba di rumah.Turun dari mobil Mas Raddan bergegas memasuki rumah dengan langkah tegas.
Brak!
Astagfirullah hal'adzim! Sepertinya amarah tengah menyelubungi diri Mas Raddan, aku yang masih berada di dalam mobil segera menyusulnya masuk. Baru selangkah aku menginjakkan kaki memasuki rumah, kudengar suara keributan di lantai dua, itu suara.. Mas Raddan dan Clara.
Prang!

Langkahku semakin cepat menaiki tangga saat mendengar bunyi benda terjatuh. Sesampainya di atas kulihat barang-barang telah berhamburan ke lantai, ada juga beberapa figura yang memajang foto-foto keromantisan Mas Raddan dan Clara sudah pecah teronggok mengenaskan di lantai, dengan Clara yang bersimpuh didekat kaki Mas Raddan seraya menangis tersedu-sedu.
"Mas jangan pergi.. a-aku bisa jelasin semuanya.."
"Minggir! Saya tidak akan pernah percaya lagi dengan wanita berhati busuk seperti kamu!" Mas Raddan menepis tangan Clara yang hendak menggapai tangannya, matanya menyorotkan kebencian dan amarah yang sangat dalam.
Clara tak menyerah untuk kembali mendekati Mas Raddan,"Mas.. Vi-video itu.. aku minta maaf.."
Mas Raddan menunduk meraih dagu Clara dengan kasar,"seharusnya kamu bilang maaf pada istri tercinta saya Hawa, bukan pada saya?!" kemudian Mas Raddan menghempaskan dengan kasar wajah Clara kesamping.
Clara melihat aku lalu merangkak mendekatiku, membuat aku kaget seketika saat dia memegang kedua kakiku.
"Hawa.. aku mi-minta.. maaf ya.. atas ke-kejadian di video itu..."
"Video? Video apa Mas?" tanyaku heran pada Mas Raddan.

Mas Raddan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja kecil di dekat tempatnya berdiri, lalu memutarkan video di pesta itu. Tepatnya saat di toilet waktu itu, tidak usah bertanya dari mana Mas Raddan mendapatkan video itu karena tempat kejadian perkara merupakan daerah kekuasaannya.
"Mas mendapatkan video ini dari staf hotel, yang kebetulan ada di toilet yang sama dengan kalian. Sebelum mengetahui video itu, Mas juga sudah menaruh curiga saat Mas tak sengaja melihat gaun, yang Mas belikan untuk kamu teronggok mengenaskan di sudut kamarmu dengan keadaan rusak akibat terbakar. Sejak itu Mas mulai menyelidiki hingga Mas mendapatkan video ini."
Mas Raddan menghela napas kasar, berusaha mengatur emosinya. Kemudian melanjutkan kembali perkataannya yang belum selesai.

"Dan dari video itu Mas mengingat semua tentang masalalu Mas. Tentang kisah kita, tentang masa depan yang Mas ingin raih bersama kamu. Tapi gara-gara dia!" tunjuk Mas Raddan mengarah pada Clara, "gara-gara dia semuanya hancur! Dia mengaku-ngaku sebagai kamu! Dan Mas.. dengan bodohnya percaya. Benar kata Alif, kalo Mas ini bodoh, bodoh, bodoh.."
Aku melangkah mendekati Mas Raddan yang tengah memukuli kepalanya sendiri dengan bruntal.
"Mas.. udah.. Mas jangan menyakiti tubuh Mas seperti ini. Semua ini sudah menjadi takdir kita, ikhlas adalah hal terbaik yang bisa kita pakai untuk menyelesaikan masalah ini. Lebih baik kita ambil hikmahnya dari semua hal yang telah menimpa kita."
"Maafkan Mas.. kamu memang wanita baik dan Mas sangat beruntung bisa memiliki kamu. Maaf.." Mas Raddan langsung merengkuhku ke dalan pelukan hangatnya.
"Ara.. udah maafin Mas kok, lagian semua ini juga bukan sepenunya kesalahan Mas."
Kurasakan Mas Raddan memgangguk dalam pelukannya, setelah beberapa saat Mas Raddan melepaskan pelukan kami. Kemudian mendekati Clara lagi, yang masih menangis seraya meraung-raung meminta ampun.
"Aku talak kamu! Mulai saat ini kamu bukan istriku lagi! Dan sesegera mungkin aku akan mengirimkan surat gugatan cerai ke kamu. Ayo, Ara kita pergi dari sini." Mas Raddan menarik tanganku lagi melangkah menjauhi Clara yang masih terisak.
"Jangan tinggalin aku, Mas... aku nggak salah.. karna aku hanya berusaha memiliki kamu.. orang yang sangat aku cintai..."
Mas Raddan menulikan pendengarannya, tetap melangkah pasti seraya merangkulku dan sesekali juga mengecup puncak kepalaku dengan sayang.
_______



#Jodoh_wasiat_bapak
#JWB29
Part 29
Author POV

Clara masih menangisi kepergian suaminya bersama madu sekaligus musuhnya itu. Tangannya mengepal merasa tidak terima dengan semua ini, dirinya merasa terhina di perlakukan seperti ini.
Ia bertekad akan merebut kembali suaminya dari tangan Hawa, wanita yang sudah merusak rumah tangganya itu. Baginya apa yang sudah menjadi miliknya tak akan bisa dimiliki oleh orang lain lagi, Raddan adalah miliknya yang paling berharga dan tidak akan ia biarkan satu orang pun yang bisa merebutnya.
"Aku pasti bisa merebut kamu lagi dari tangan dia. Karna aku sangat mencintaimu dan kamu juga harus mencintaiku, pria idamanku."
Bangkit berdiri Clara, dengan tekad yang kuat ia akan membawa kembali Raddan kepelukannya. Ia tak pernah kalah dengan siapapun dan dalam hal apapun, jadi sekarang ia juga tak akan kalah dari wanita itu.

***
Raddan mengernyit saat melihat sebuah kotak yang terbungkus kado dalam koper istrinya, saat ini ia sedang menata barang-barang mereka ke rumah minimalis yang ia sewa untuk sementara waktu sambil menunggu rumah baru mereka selesai di bangun.
Sebenarnya istrinya itu mengusulkan untuk tinggal sementara di rumah ibu mertuanya, namun ia merasa sungkan jika berada disana. Dengan kondisi ibu mertuanya yang baru saja sembuh membuatnya takut mengaggu waktu istirahatnya, jadilah ia menyewa sebuah rumah di dekat rumah ibu mertuanya itu.
Sebagai gantinya ia memperkerjakan asisten rumah tangganya di rumah ibu mertuanya itu. Karna ia ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan istrinya, sebagai pengganti bulan madu mereka yang belum terlaksana dulu.
"Sayang.. ini kado untuk siapa?" tanyanya pada istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Oh.. kado itu, sebenarnya mau Ara kasih buat Mas tapi Ara lupa buat ngasihinnya. Buka aja, kalo Mas penasaran."

Raddan yang sudah penasaran langsung membuka kotak itu, sebuah kemeja motif kotak-kotak berwarna abu-abu putih tergeletak rapih di dalam kotak. Meraba kain kemeja itu yang terasa lembut dan nyaman jika ia pakai, pas sesuai seleranya. Saat akan mengambil kemeja itu, matanya tak sengaja menangkap sebuah kartu yang terselip di antara lipatan kemeja.
Ia memilih mengambil kartu berwarna merah muda itu terlebih dulu, meletakkan kotak kado itu. Saat akan membuka kartunya, tiba-tiba sebuah tangan merebutnya dari arah belakang.
"Kartunya nggak penting, jadi nggak usah di baca." Hawa langsung menyembunyikan kartu itu di balik tubuhnya, wajahnya bersemu merah karena merasa malu dengan isi kartu itu. Kartu yang berisi ungkapan rasa cintanya pada pria di hadapannya ini.
"Sebenarnya apa sih isinya? Sini Mas mau liat dulu!" Raddan berusaha meraih kartu itu dari tangan istrinya.
Hawa berusaha menghindar untuk menjauhi suaminya, ia tidak ingin suaminya mengetahui isi kartu yang ada dalam genggamannya ini. Ia hanya terus mundur tanpa memerhatikan keadaan sekitar, membuatnya terpojok saat punggungnya bertabrakan dengan tembok.
Melihat itu Raddan bergerak sigap mengungkung tubuh istrinya, ia tersenyum melihat raut wajah istrinya yang menjadi panik seketika.
"Mau kemana lagi? Hm?" tanya Raddan sambil menaik turunkan sebelah alisnya.
Hawa gelagapan, jika sudah begini ia tidak bisa lagi menghindar dari suaminya. Tapi ia juga tidak mau jika suaminya membaca kartu itu.
"Siniin kartu ucapannya?" Raddan mengulurkan tangan, meminta dengan baik dan lembut.
Hawa tetap kekeuh menggeleng, tidak ingin memberikan kartu itu pada Raddan."Kartunya nggak penting kok! Mendingan Mas cobain kemejanya aja," tawarnya sambil tersenyum manis, berharap Raddan akan luluh dengan senyumannya itu.
"Yakin nggak mau ngasih kartunya?" tanya Raddan sekali lagi yang masih di jawab gelengan oleh istrinya.
"Oh gitu ya, jadi kamu tetap tidak mau memberikan kartu itu pada Mas. Kalo begitu, tidak ada pilihan lain selain.."
Cup..
Raddan mengecup pipi istrinya yang sudah memerah, Hawa yang dicium dengan tiba-tiba hanya bisa terdiam, mematung di tempat. Tanpa Hawa sadari tangan Raddan menyelinap kebelakang tubuhnya lalu mengambil kartu itu dengan mudahnya.
"Dapat!" ucap Raddan seraya mencium kembali pipi istrinya yang chubby itu.
Hawa tersadar dan berusaha merebut kembali kartu itu dari tangan suaminya,"Mas balikin.." sambil berjinjit Hawa berusaha meraih kartu itu dari tangan suaminya.
Raddan mengangat tinggi kedua tangannya lalu membuka kartu itu, kemudian ia mendongak ke atas untuk membaca kata demi kata dari goresan tinta yang tertuang dalam sebuah kertas.
"To, My sweet hubby. Terima kasih telah hadir dalam hidupku, kehadiramu membawa sejuta warna baru ke dalam duniaku. Wahai imam surgaku, penyempurna imanku, aku ingin kamu tahu bahwa aku sangat mencintaimu baik sekarang, esok dan nanti. I love you so much.. From, Your wife."
Bersamaan dengan Raddan yang selesai membaca isi kartu itu, Hawa langsung menutupi wajahnya yang sudah memerah sampai telinga karena malu yang luar biasa.
Raddan menatap istrinya yang sedang menutupi wajahnya, ia tersenyum rasa cintanya sepertinya semakin bertambah setiap harinya pada wanita cinta pertamanya dan ia harap juga cinta terakhir dalam hidupnya. Wanita yang sabar menunggu ingatannya kembali dan selalu berusaha mengembalikan ingatannya dengan langkah-langkah kecilnya.
Wanita berhati selembut sutra dan secantik bidadari ini adalah istrinya, beruntungnya ia sebagai suaminya pria yang amat dicintai wanita ini karena-Nya.
Meletakkan kartu itu, ia langsung mendekat tubuh istrinya seerat mungkin lalu mengangkatnya ke atas dan memutar-mutarkannya.
"Aaa..." Hawa kaget saat merasakan bahwa tubuhnya diangkat.
"Mas.. turunin..," pinta Hawa seraya memukul lengan suaminya ini.
Raddan berhenti memutar-mutarkan tubuh istrinya namun tidak menutunkannya, matanya menatap dalam kedua bola mata istrinya yang berwarna coklat hazel itu.
"I love you too.."
Raddan menurunkan tubuh Hawa dari gendongannya, tapi tidak dengan pelukannya yang semakin erat pada tubuh sang istri, ia mendekatkan wajahnya lalu menepelkan keningnya pada kening istrinya.
"Terima kasih telah mencintaiku selama ini dan selalu setia menungguku."
Hawa mendongak menatap mata sehitam jelaga milik suaminya itu, disana terpancar sorot ketulusan dan kelembutan yang selama ini ia rindukan. Ia pun membalas pelukan suaminya tak kalah erat, menyakinkan diri sendiri bahwa semua ini nyata. Perjuangannya selama ini telah berhasil, pria yang dicintainya kembali lagi.
Raddan mengecupi kening istrinya dengan sayang, tak akan ia lupakan lagi kenangan indah yang telah di ukirnya bersama wanita yang sangat ia cintai ini.
Ia tidak ingin ada perpisahan yang menyakitkan lagi, cukup sekali saja. Jika hal itu terjadi lagi, sungguh ia akan gila.
***
Berantakan. Satu kata yang bisa mengambarkan keadaan kamar seorang gadis cantik dengan rambut panjang yang biasa di curly itu.
Emosinya kembali terkusulut kala melihat orang yang ingin ia hancurkan dapat tertawa bahagia kembali. Rencananya untuk mengancurkan hidup wanita itu gagal berantakan, membuatnya geram.
Brak!
Sebuah botol parfum mendarat mulus bersama barang-barang lainnya yang sudah terlebih dulu berceceran di lantai kamar yang bernuansa pink itu.
Devi menatap pantulan dirinya di dalam cermin, matanya menyorot tajam. Kemudian pandangannya beralih ke samping untuk melihat foto seorang wanita berkhimar yang tersemat pada papan dengan tanda silang merah menghiasinya.
Tangannya mengambil sebuah anak panah kecil, lalu di lemparkannya anak panah itu pada foto wanita tersebut dan tepat sasaran, anak panah itu mengenai wajah wanita dalam foto itu.
"Ini belum berakhir, sebelum lo hancur gue nggak akan berhenti!"
Devi meraih ponselnya di atar kasur, menelepon seseorang seraya beranjak pergi dari kamarnya. Menyakiti orang yang terkasih adalah balas dendam terampuh untuk membuat dia mati secara perlahan karena rasa sakit.
Ia akan membuat hidup wanita itu serasa di neraka, sama seperti yang ia rasakan sekarang. Ditinggalkan oleh satu-satunya keluarga yang ia miliki, hidup sebatang kara disaat ia baru menginjak masa remaja.
"Lakukan sekarang!" perintah Devi pada seseorang di sebrang sana.
Devi menyunggingkan seringai iblis, lihat saja apakah dia masih akan bisa tertawa bahagia setelah ini. Nyawa di bayar nyawa.
***
Raddan hari ini berencana untuk mengajak istrinya kencan, ia akui selama ini waktunya telah terbuang sia-sia dengan wanita jahat yang sudah merusak rencana hidup bahagianya bersama Hawa, satu-satunya wanita yang mengisi relung hatinya hingga saat ini.
"Ayo, Mas.." Hawa sudah rapih dengan atasan tunik berwarna soft pink dan bawahan celana jins berwarna putih, serta khimar panjang yang senada.
Raddan terpukau dengan penampilan istrinya yang terlihat anggun, dalam berpakaian. Ia mengenal betul selera istrinya dalam berpakaian, casual namun tetap terlihat anggun adalah kesukaan istrinya.
"Sebentar Mas pakai jam tangan dulu." Dari pantulan cermin ia membenarkan tatanan rambutnya, saat ini ia juga memakai pakaian casual. Sweater putih dengan celana jins coklat lembut serta sneakers putih membalut tubuhnya dengan sempurna.
"Ayo...!" Raddan mengenggam tangan Hawa, kemudian saling menautkan jari-jari tangan mereka.
Hawa melihat suaminya dengan senyum mengembang, tangannya terasa hangat dan pas digenggaman suaminya. Jadi begini rasanya berkencan dengan kekasih halal, hati terasa berbunga-bunga seperti berada di surganya bunga, dunia pun serasa milik berdua.
Pemandangan taman sore ini sangat indah, seindah sepasang sejoli yang tengah duduk berangkulan di sebuah kursi taman. Saling memandang penuh cinta.
Raddan memerhatikan sekitar melihat keramaian taman ditengah senja ini. Weekend seperti ini taman banyak di padati oleh keluarga-keluarga yang ingin menghabiskan waktu quality time bersama keluarga mereka. Terlihat ada sebuah keluarga yang menggelar tikar di rerumputan taman ini, serta beberapa anak-anak yang saling berkejaran.
Menggengam tangan istrinya seraya mengusap-usap lembut punggung tangannya Raddan berucap," sayang aku pengen cepet-cepet punya anak deh. Pasti lucu liat Ara junior sama Raddan junior. Kalo nanti kita punya anak kita ajak mereka ke taman ini ya, terus kita piknik kayak keluarga itu!" tunjuk Raddan dengan dagunya pada keluarga yang ia amati tadi.
Hawa mengikuti arah pandang suaminya yang mengarah pada sebuah keluarga kecil yang sedang duduk melingkar di atas tikar.
"Iya, nanti kita ajak mereka kesini." Hawa menangkup tangan suaminya dan ikut mengusapnya pelan.
"Nanti kita ceritain anak-anak kita nanti kisah cinta kita. Kalau kita punya anak, kamu pengennya perempuan dulu apa laki-laki dulu?"
Hawa menatap suaminya seraya tersenyum lembut, " Ara nggak mempermasalahkan jenis kelamin, yang penting nanti anak kita sehat tanpa suatu kekurangan apapun itu udah cukup buat Ara."
"Tapi Mas pengennya laki-laki." Ucap Raddan kemudian, membuat Hawa menolehkan kepala ke arah suaminya itu.
Raddan menolehkan ke arah istrinya, kemudian dikecupnya kening istrinya dengan penuh cinta, "Mas nggak salah melabuhkan hati, Mas ke kamu. Kamu adalah wanita penyempurna hidup Mas."
Hawa tersenyum dengan lebar hingga matanya terlihat hanya segaris, "Ara juga bersyukur memiliki Mas sebagai penyempurna agama Ara. Semoga kita akan selalu bersama sampai ajal menjemput ya, Mas."
"Aamiinnn..."
"Mas, Ara laper.. mau beli makanan ke sana dulu, ya..!" tunjuk Hawa pada seorang pedagang kaki lima yang tengah berjualan ketoprak di sebrang jalan sana.
Raddan menahan tangan Hawa, saat melihat istrinya itu hendak bangkit.
"Hari ini, Mas akan memperlakukan kamu bagai tuan putri, jadi kamu duduk diam aja disini, biar Mas yang beliin buat kamu."
Hawa mengangguk, membiarkan suaminya melakukan hal yang dia inginkan. Matanya mengiringi kepergian suaminya, tak lama tangannya berpindah memegang perutnya, ia berharap secepatnya bisa hamil.
Ia juga sangat menantikan kehadiran seorang anak, anak yang akan memanggilnya dengan sebutan ibu. Anak yang akan menyempurnakan kehidupan rumah tangganya.
Brakkk..
Suara benturan yang sangat keras itu, membuat Hawa mengalihkan pandangan ke sumber suara. Di jalan beraspal itu sudah banyak orang berkerumun, mengelilingi seseorang yang baru saja ditabrak sebuah mobil dengan begitu keras.
Jalanan berubah merah oleh darah yang terus menerus keluar dari tubuh si korban. Hawa membeku di tempat duduknya, menyakinkan diri bahwa itu bukanlah suaminya. Sekuat tenaga ia berusaha bangkit dari duduknya melangkah dengan tergesa ke arah kerumunan masa itu.
Menyusup masuk ke dalam kerumunan itu, hingga matanya menemukan seorang pria yang sudah berlumuran darah. Sweater putih yang dikenakannya tadi sudah berubah merah karena darah.
"Mas Raddan...!!!"
_________
Tbc.

------

#Jodoh_wasiat_bapak
#JWB30

Author POV

Part 30

Hawa berjalan mondar-mandir dengan tangan yang saling meremas. Lampu menyala tanda operasi masih berlangsung. Sudah tiga jam ia menunggu dengan cemas di depan ruang ICU tempat suaminya ditangani oleh para dokter dan tenaga medis lainnya.

Bu Winda duduk dengan cemas, keadaanya tak jauh berbeda dengan anak menantunya itu. Saat mendengar anaknya masuk rumah sakit lagi, jantungnya terasa akan copot seketika, ia tak sanggup melihat anaknya kembali terbaring lemah di ranjang rumah sakit seperti dulu jika bisa, lebih baik ia saja yang terbaring di sana jangan anak semata wayangnya itu.

Drrttt.. drrttt... drrttt...

Dering ponsel membuat gerakan Hawa terhenti, mengambil ponselnya disaku celana lalu ia mengangkat panggilan itu tanpa melihat nama pemanggilanya terlebih dahulu.

[Halo? Assalamualaikum?]

[Neng, i-ni bi-bi,]

[Iya, Bi. Ada apa?]

[Neng.. i-bu.. E-neng.. ba-ru saja, me-meninggal..]

Prang!

"Innalillahi wa'inailaihi ro'jiun, Ummii..," ucapnya dengan bergetar tubuhnya luruh ke lantai marmer yang dingin bersamaan dengan bulir air mata yang terus mengalir membasahi kedua pipinya.

Bu Winda kaget saat mendengar bunyi benda terjatuh disertai oleh teriakan, dilihatnya menantunya itu yang baru saja berteriak. Dengan bingung ia menghampirinya, belum sempat ia bertanya, menatunya itu sudah terlebih dulu berlari pergi.

"Hawa! Hawa!"

Hawa tak menghiraukan teriakan ibu mertunya itu, dalam benaknya hanya satu segera sampai dirumah sebelum ibunya dimakamkan.

*
Dengan berlinang air mata Hawa memandikan jenazah ibunya, hatinya merintih kesakitan saat melihat tubuh wanita yang sudah melahirkannya ini terbaring kaku tanpa nyawa di hadapannya. Tubuh ringkihnya terlihat jelas tanpa penghalang apapun, kulitnya sudah memucat karna tidak ada lagi darah yang mengalir dalam tubuh itu.

Meskipun ibunya telah tiada namun kasih sayangnya dan segala jasanya akan ia kenang selamanya. Nanti saat ia telah menjadi seorang ibu, ia akan menjadikan ibunya sebagai panutannya. Ibu adalah sosok idolanya, yang sangat ia kagumi kegigihan dan ketangguhannya dalam menghadapi semua ini.

"Selamat jalan Ummi ... semoga semua amal ibadah Ummi diterima oleh-Nya. Ummi, maafkan segala kesalahan Hawa ... hiks.."

"Udah, Haw. Ikhlaskan kepergian Ummi, kalo lo sedih terus Ummi nggak akan bahagia disana," tegur Silvi.

Menghapus ia matanya, benar apa kata sahabatnya ia harus mengikhlaskan kepergian ibunya agar ibunya bisa tenang di alam sana. Sebagai salam terakhir ia kecup kening ibunya sebelum kain putih itu menutupi seluruh tubuh ibunya.

Setelah di mandikan tubuh ibunya segera dikaffani oleh para tetangga yang membantu prosesi pemakaman ibunya ini, lalu jenazah ibu di bawa ke dalam rumahnya. Di ruang tengah rumahnya telah di penuhi oleh para pelayat yang serentak mengenakan pakaian serba hitam, ditangan mereka terdapat sebuah buku yasin.

Hawa menduduk diantara mereka lalu ikut membacakan yasin untuk mengatar kepergian ibunya menuju Sang Khalik.

Inilah prosesi pemakaman yang sangat menyakitkan bagi Hawa, untuk kedua kalinya ia melihat tubuh orang tersayangnya ditimbun oleh tanah. Air matanya kembali pecah tak kuasa melihatnya, kini ia telah menjadi seorang yatim piatu.

Kepergian ibunya sangat mendadak, padahal ia sudah berencana akan mengajak ibunya itu pergi berlibur, namun belum sempat rencananya terealisasikan ibunya sudah terlebih dahulu di jemput oleh Yang Maha Kuasa.

"Hawa, lo nggak boleh terpuruk oleh keadaan ini. Lo harus tetap tegar seperti pesan Ummi, yang beliau titipkan sama gue," terang Silvi seraya mengusap-usap bahu sahabatnya yang masih bergetar hebat.

Ia pun sama sedihnya dengan sahabatnya ini, karna ia juga sudah menganggap Bu Maryam seperti ibu kandunganya sendiri.

"Lebih baik lo doain mereka, karna doa anak sholeha tidak akan putus un…
#Jodoh_wasiat_bapak
#JWB31

Hawa POV

Part 31

Istanbul, Turki.

Kota yang sangat aku impikan bisa menjadi bulan madu kami dulu, kota yang sangat indah terletak di antara dua benua yaitu benua asia dan eropa, salah satu kota yang pernah dijadikan pusat kerajaan Ottoman. Kota yang memiliki banyak sejarah islami, salah satunya Topcapi palace adalah istana kekaisaran Ottoman yang sudah beralih fungsi menjadi museum yang menyimpan barang-barang peninggalan Rasulullah dan para sahabat.

Selain itu melihat ikon kota Istanbul Turki, Hagia Sophia merupakan bangunan megah yang merupakan contoh penerimaan islam di kota ini, karna di dalam bangunan itu kita bisa menemukan harmoni antara islam dan kristen.

Saat ini kami tengah berjalan-jalan di sepanjang Selat Bosphorus untuk menikmati pemandangan sore, yang indah seraya menyaksikan kapal tongkang yang berlalu lalang.

"Anak-anak, ayo kita duduk dulu disana!" kugandeng kedua tangan anakku menuju tempat duduk yang tersedia di dekat sini.

"Umma.. itu bulung apa?" Aiza melonjak-lonjak menunjuk sekumpulan burung yang sedang terbang di atasnya.

"Itu burung camar, sayang."

"Waahh.. enak ya bisa telbang, Aiza pengen juga punya sayap kayak bulung itu!"

"Aiza, sini duduk dengerin Umma," suruhku seraya menepuk tempat disebelahku.

"Apa Umma? Kapan Aiza bisa telbang kayak bulung itu? Aiza pengen telbang telus ambil bintang di langit sana!" tunjuk Aiza mengacung ke atas awan.

"Aiza, manusia nggak bisa terbang. Yang bisa terbang hanya hewan seperti burung itu," jelasku dengan lembut.

"Tapi Aiza pengen telbang! Aiza mau ambil bintang di langit, tlus Aiza kasih ke Umma."

"Aiza nggak perlu ambil bintang di langit buat Umma karna bagi Umma Aiza dan Bang Azka adalah bintang di hati Umma."

"Benelan?" tanya Aiza memastikan, aku mengangguk. "Yeay! Aiza bintang di hati Umma! Aiza hebat bisa jadi bintang!"

Kedua anakku adalah bintang di hatiku, karna mereka separuh jiwaku. Anak yang Allah hadirkan untuk melengkapi hidupku dan menjadi semangatku untuk melanjutkan hidupku yang sudah hancur ini. Demi mereka akan aku lakukan semua hal untuk membuat mereka bahagia.

Flasback ON

Enam tahun lalu...

Setelah mendengar percakapan Bunda dan Mas Raddan aku berlari keluar dari rumah sakit, dengan derai air mata. Saat aku kebingungan akan pergi kemana, aku bertemu dengan Silvi dan menceritakan semua hal yang membuatku seperti ini. Dengan sabar Silvi menasehatiku dan memerikan pundaknya untukku mengeluarkan segala keluh kesahku selama ini.

Tentang Clara yang tiba-tiba hamil dan Bunda yang meminta Mas Raddan menceraikanku, aku hancur saat itu. Semua hal yang aku impikan hancur dalam sekejap, padahal aku kira setelah Devi ditangkap hidupku akan berjalan mulus kembali, tapi tidak karena Clara masih saja menjadi penghalang yang tidak akan pernah membiarkan kami bersatu kembali.

Mendapatkan cobaan yang bertubi-tubi membuatku mengeluh pada-Nya, dalam setiap sujudku selalu kuselipkan tanya, sebenarnya apa takdir yang sudah Engkau tuliskan pada hamba kenapa hanya kesedihan dan kesedihan yang menghampiri hamba. Kepergian Ummi dan sekarang di paksa berpisah dari orang yang sangat kucintai.

Hari-hari itu kulewati dengan keterpurukan, rasa tak terima dengan takdir ini yang terasa sangat menyesakkan dadaku, hingga membuatku tidak mampu bernapas dengan baik. Tapi semagatku kembali bangkit saat suatu siang, Silvi datang sambil membawa sebuah surat.

"Hawa, lo dapet beasiswa!"

"Beasiswa?"

"Iya, beasiswa yang lo ajuin ke Turki udah dapat jawaban. Lihat ini, lo di terima di kampus favorit di sana!"

Silvi terlihat sangat bahagia padahal aku yang mendapatkan beasiswa itu. Silvi menyerahkan surat berlogo salah satu Universitas yang sudah lama menjadi impianku, Universitas yang terletak di kota Istanbul, Turki.

"Lo harus ambil, mungkin ini rencana Allah supaya lo bisa melanjutkan cita-cita lo yang tertunda. Turki negara yang sangat ingin lo kunjungi, karna tertarik dengan sejara islam di negara itukan, terlebih di kota Istanbul."

Apakah ini jawaba atas doaku selama ini? Di sepertiga malam aku melantunkan doa, meminta jawaban untuk keputusan yang sebaiknya aku ambil. Dan keputusan untuk melanjutkan kuliah S2 ke Turki adalah jawabannya.

Sebelum berangkat, aku menulis sebuah surat untuk berpamitan pada Mas Raddan. Berat, sungguh berat untuk meninggalkan kota ini dan segala kenangan di dalamnya. Di surat itu aku menuliskan isi hatiku, bahwa aku sangat mencintainya. Cinta karna Allah, jika aku memang berjodoh dengan Mas Raddan maka Allah akan mempertemukan kami lagi di masa depan nanti.

Tekadku sudah bulat, lulus dengan nilai terbaik dan pulang kembali ke tanah air menjadi sosok Hawa yang baru.

Setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang, tubuhku terasa lelah. Sesampainya di asrama kampus aku langsung merebahkan diri, tiba-tiba aku di landa pusing dan mual-mual, semula aku kira hanya mula dan pusing biasa sebagai reaksi jetlag karna menepuh perjalanan jauh tapi itu terjadi setiap pagi, muntah-muntah namun yang bisa kumuntahkan hanyalah, cairan putih.

Tumbuhku lemas karena tidak bisa sarapan setiap paginya akibat muntah-muntah yang berujung mengurangi nafsu makanku. Tubuh yang lemas dan lemah namun masih kupaksakan untuk menjalani rutinitas seperti biasa, hingga suatu hari tubuhku semakin lemah dan akhirnya aku pingsan.

Teman sesama mahasiswa disana dengan baik hati membawaku ke dokter, setelah di periksa ternyata aku mengalami hyper emesi dan kekurangan gizi namun bukan itu yang membuatku kaget melainkan kehadiran dua jabang bayi yang saat ini tengah tumbuh di dalam rahimku.

"Muntah-muntah dan mual itu wajar bagi seorang ibu hamil, tapi ibu juga harus tetap memerhatikan asupan makanan untuk mengisi perut Ibu, jangan sampai ibu tidak makan yang bisa berakibat fatal untuk kandungan Ibu."

"Maaf dok, selama ini saya belum tahu mengenai kehamilan ini. Setelah ini pasti saya akan menjaga mereka dengan baik," janjiku seraya mengelus-elus perut yang masih rata.

"Oh, maaf saya tidak tahu. Kalau begitu saya akan resepkan obat supaya ibu tidak terlalu mual dan obat untuk menguatkan janin ibu."

"Iya, dok. Saya sangat membutuhkan kedua hal itu dan saya mau tanya, susu hamil yang paling bagus itu apa ya? Karna saya bukan orang Turki jadi saya bingung mau beli susu yang mana?"

"Oh, pantas logat Ibu berbeda dari saya. Lain kali ajak suaminya ke sini untuk mengetahui perkembangan janin Ibu."

"Suami saya tidak ada disini Bu, saya kesini sebenarnya mau melanjutkan pendidikan saya, jadi saya tidak mengajak suami."

"Oh, maaf. Ini resep obatnya, karna Ibu sendirian disini, tolong kurang-kurangi aktivitas yang berlebihan apalagia dimasa awal-awal kehamilan seperti ini."

"Baik, Dok. Saya akan usahakan tidak melakukan hal-hal yang berat dan membatasi kegiatan yang akan menguras tenaga."

"Ibu harus mulai manambah porsi makan Ibu, karena sekarang Ibu tidak sendirian ada dua janin yang tengah tumbuh dirahim Ibu dan perhatikan gizi yang terkandung dalam makanan yang Ibu konsumsi."

"Baik Dok, saya akan mengikuti semua ajuran dari Dokter."

Keluar dari rungan dokter Obgyn itu aku langsung sujud syukur, sekarang aku tidak akan sendirian lagi karena ada dua buah hatiku yang sedang tumbuh di rahimku saat ini. Meski kehadiran mereka tidak diketahui oleh ayah mereka sendiri tapi aku akan menjaga dan merawat mereka dengan baik.

Aku mulai rajin mengonsumsi makanan sehat dan bergizi, sebisa mungkin aku harus makan setiap harinya meskipun aku masih sering merasakan mual. Trimester pertama telah aku lewati dengan baik, namun kini aku harus melewati masa ngidam yang terkadang membuatku susah untuk tidur. Seperti saat ini aku sangat ingin di peluk oleh Mas Raddan, tapi itu hal yang tidak mungkin bisa kuwujudkan karena aku dan Mas Raddan telah berpisah negara.

Tiba-tiba aku teringat pernah membawa satu kemeja Mas Raddan, dengan cepat kucari kemeja itu dan kupeluk kemeja itu seraya membayangkan Mas Raddan lah yang sedang memelukku dengan erat. Dan akhirnya kedua janinku tenang sehingga aku bisa kembali tertidut nyenyak.

Aku sangat bersyukur, ternyata Allah masih sangat menyayangiku setelah mengambil kedua orang terkasihku yaitu Abi dan Ummi, sekarang Allah mengantinya dengan dua bayi mungil yang sedang berkembang di rahimku.

Meskipun aku kadang kewalahan saat mengidam makanan khas Indonesia yang sangat susah kudapatkan di negara ini. Tapi sebisa mungkin aku mencarinya agar kedua janin dalam rahimku bisa tenang dan tak rewel.

Sehabis sholat Isya sebisa mungkin aku menyempatkan waktu untuk membaca surah Yusuf dan Maryam, aku berharapa anak-anakku nanti bisa tumbuh menjadi anak yang sholeh, sholeha, baik dan pintar dalam agama.

Setelah penantian yang sangat panjang yaitu selama sembilan bulan sepuluh hari, akhirnya aku bisa melihat dua bayi mungil yang selama ini ada didalam rahimku. Bayi berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, kembar campuran.

Dengan bahagia aku memberi mereka nama, untuk yang laki-laki kuberi nama Azka Nafeeza Yusuf dan untuk yang perempuan aku memberinya nama Aiza Nazeera Yasmin. 

Flasback OFF

"Umma.. Aiza mau es klim!" pinta Aiza sambil menunjuk-nujuk ke arah depan, yang rupanya terdapat sebuah kedai es krim sedang tangan sebelahnya lagi menengadah meminta uang padaku.

Aku memberikan selembar Lira Turki, mata uang Turki."Oke, tapi hanya boleh satu cup kecil, tidak ada kata protes."

"Ya udah deh, satu cup aja."

Aku tersenyum tumben sekali dia tidak protes, jika aku mengira dia akan nurut berarti aku salah besar karena saat dia kembali ditangannya terdapat sebuah cup es krim berukuran jumbo dengan toping beraneka ragam, ada messes, bobba, parutan keju, dan berbagai toping lainnya.

"Aiza, Umma tapi bilang apa?" tanyaku saat Aiza sudah duduk di sebelahku.

Aiza tidak menoleh sibuk dengan es krim yang ada dalam genggamannya, namun ia tetap menjawab," Umma bilang boleh beli es klim, tapi satu cup aja."

"Terus apa lagi?" pancingku agar dia mengetahui letak kesalahannya dimana.

"Yang ukurannya kecil."

"Kalo Aiza ingat, kenapa Aiza beli es krim yang cupnya besar?"

"Ini kecil kok Ma," jeda sejenak Aiza kembali memakan es krimnya, "bagi Aiza. Hehehe...," lanjutnya dengan cengengesan.

"Kalo gitu Aiza bagi dong ke Abang Azka."

Aiza berpindah ke samping kananku mendekati Abangnya yang hanya berdiam diri saja seraya melihat pemandangan di sekitarnya.

"Bang Azka mau es klim nggak?"

Azka menoleh sebentar ke arah adik kembarnya, sedetik kemudian ia menggelengkan kepala tandak tidak mau.

"Azka mau beli apa? Biar Umma yang beliin?" gantian aku yang bertanya, siapa tahu anakku yang satu ini menginginkan sesuatu dalam benaknya.

Beginilah keseharianku menghadapi kedua anakku yang memiliki kepribadian yang sangat bertolak belakang. Azka cenderung lebih dingin terhadap orang baru dan irit sekali bicaranya, sedangkan Aiza sangat cerewet dan lebih aktif tapi kadang aktifnya ini dalam hal negatif seperti menjahili teman sekelasnya.

"Umma, Aiza mau nanya,"

"Nanya apa sayang?"

"Ibu itu.. kenapa Umma? Kok pelutnya gede kayak balon mau meleduk?" tanya Aiza seraya menunjuk seorang Ibu hamil yang kebetulan lewat didepan kami.

Tawaku hampir meledak mendengar pertanyaanya, "sayang, Ibu itu sedang hamil, jadi perutnya gede."

"Emang ada apa di dalam pelutnya, kok bisa gede kayak balon?"

"Ada adek bayinya di dalam perut Ibu itu," jelasku perlahan.

"Kok, Ibu itu jahat, kenapa adek bayinya di masukin ke dalam pelut, nanti kalo adek bayinya nggak bisa napas gimana?"

"Adeknya masih kecil jadi belum boleh keluar, dulu Aiza sama Bang Azka juga ada di dalam perut Umma."

"Telus Aiza sama Bang Azka kelualnya gimana?"

Kepalaku serasa berputar mendengar pertanyaan Aiza yang terkadang bisa menjebakku, seperti saat ini tidak mungkin aku memberikan jawaban yang rinci karna otak mungil Aiza sedang berkembang, pasti tidak akan muat untuk menyerap semua hal yang akan ku jelaskan nantinya.

Drrtt... drrtt... drrtt...

Suara dering ponsel menyelamatkan ku dari pertanyaan Aiza yang sulit untuk kuterangkan pada anak seusianya.

"Aiza.. Tante Silvi nelpon, Aiza mau ngobrol sama Tante nggak?"

"Mau! Mau! Siniin hapenya Umma!" Aiza menyulurkan tangan meminta ponsel yang masih ada di genggamanku, alhamdulillah Aiza masih seperti anak kecil lainnya yang pikirannya mudah di alihkan ke arah lain.

"Tante Silvi, nanti kalo Aiza main ke lumah Tante, ajalin Aiza silat, ya?"

*

"Haw, kapan lo balik ke Indo? Gue udah nggak sabar pengen ketemu ponakan gue yang ucul-ucul bingit itu!"

Pertanyaan Silvi kembali terngiang dalam pikiranku, aku sebenarnya ingin pulang ke tanah air tapi saat mengingat kedua anak-anakku yang masih kecil, rasanya aku tidak tega untuk membawa mereka berpergian jauh.

"Umma.. Aiza boleh pergi bareng ayah nggak?"

Suara Aiza menghentikan lamunanku, mengalihkan tatapan aku melihat seorang pria yang dengan stelan jas rapih. Ayah? Itu panggilan sayang Aiza pada pria yang merupakan sahabat kecilku itu.

Aku baru mengingatnya lagi setelah ia mengenalkan namanya, ia pria yang waktu itu menegurku di kala hujan saat pesta di hotel Mas Raddan dulu, ia juga pria yang ada ditoko bunga dan pria yang menolongku dari para preman yang menjahatiku waktu itu.

Mas Feri datang kembali untuk menagih janjiku dulu yang akan bersamanya saat sudah dewasa nanti, namun aku dengan jujur mengatakan bahwa aku tidak bisa. Dan Mas Feri memaklumi itu, tapi ia ingin tetap dekat dengan kedua anakku yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri. Saat tidak sibuk biasanya Mas Feri akan berkunjung ke toko kue milikku lalu mengajak anak-anakku berjalan-jalan.

Selain mengajar di salah satu Universitas aku juga mendirikan sebuah toko kue, untuk menambah-nambah uang bulananku.

Aiza dan Azka hanya mengetahui kalau Mas Feri adalah ayah mereka, aku belum sanggup berbicara jujur tentang ayah kandung mereka, mungkin nanti akan aku jelaskan di waktu yang sudah tepat.

Aiza dengan gembira menghampiri Mas Feri lalu bergelendot manja di lengannya. Ku tolehkan wajah ke arah kursi, Azka terlihat masih serius menatap buku yang ia letakkan di atas meja dengan tangan yang telipat di atas meja juga.

Aku beranjak dari meja kasir untuk menghampirinya, "Azka.. nggak mau ikut jalan-jalan sama Ayah Feri?"

Tanpa mengalihkan tatapan dari bukunya Azka menjawab dengan dingin," Azka nggak mau jalan sama ayah boongan. Om Feri bukan ayah kandung Azka benerkan, Ma?"

Deg!

Aku tahu jika Azka tumbuh menjadi anak cerdas tapi ia kaget saat mendengar ucapan anaknya kali ini. Di saat aku belum siap mengatakannya pada kedua anakku, tapi Azka sudah mengetahuinya terlebih dahulu.

"Azka, tau dari mana?"

"Azka pernah lihat Umma nangis sambil sebut-sebut nama orang lain, tapi itu bukan Om Feri."

Kurengkuh tubuh Azka ke dalam pelukanku, tak kuasa aku menahan lelehan air mata yang memberontak keluar dari pelupuk mataku. Azka mengetahuinya sendiri, aku kira dengan menangis di sepertiga malam mengadukan segala keluh kesahku hanya pada-Nya tidak akan ada yang mendengarnya selain aku dan Yang Maha Kuasa, tapi sekarang anakku telah mengetahui semuanya.

Aku harus bagaimana? Apakah aku harus mengatakan yang sebenarnya?

"Apa Ayah nakal, makanya Umma nangis?"

____

bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar