Persaudaraan Muslimah Indonesia, mempelajari Islam Secara Menyeluruh.

Minggu, 02 Februari 2020

Suami Menjauh Karena Aroma Tubuhku 6 - 10 - Tamat

#Suami_Menjauh_Karena_Aroma_Tubuhku (6)
by Sarah Abdullah.
*aku elegan, dia kesetanan

Malam ini, ada jamuan makan malam resmi perusahaan suamiku, seluruh karyawan datang. Hal ini untuk mengapresiasi kinerja dan loyalitas mereka pada korporasi yang selama ini memberi mereka kesempatan mengabdi.

Suamiku tampan mengenakan setelan jas hitam dan dasi. Sedangkam aku, dengan gaun strapless warna senada keluaran Dolce and Gabbana. Anting dan gelang Cartier, juga tambahan clutch bertabur swarovsky merah muda. Suamiku tersenyum lalu kemudian roman wajahnya berubah.

"Kenapa lagi, Mas?"
"Tetap sama aku ya Ma, selama pesta nanti, aku khawatir." Sambil menggenggam tanganku dan kubalas anggukan pasti juga senyuman.

***
Di pesta,
Nuansa ballroom hotel terlihat begitu mewah lampu-lampu di tata temaram namun elegan, juga rangkaian bunga dan taplak serta penutup kursi dengan warna senada, keemasan.
Di sudut sana ada meja prasmanan, aku beranjak mencari minum setelah berbasa-basi dengan beberapa relasi suami.
"Hai, Lina yah? istrinya Randy kan?" tanya seorang pria sambil mengulurkan tangan.
"Ya, benar, anda siapa?" Jawabku ramah.

"Saya Rio, Manager personalia di perusahaan, senang bertemu anda," ucapnya dengan senyum yang semakin manis. Membentuk lesung pipit.
"Saya juga," balasku.
Kami berbincang sebentar lalu suamiku datang, ia kelihatan tidak senang dan meraih tanganku lalu berdiri diantara kami.
"Eh, Rand, cantik ya, istrimu, andai aku bisa dapat secantik dia."
"Cari aja, wanita banyak, model apa saja tersedia," ketus suamiku tanpa sebab.
"Yang cantik dan setia serta rela ngelahirin banyak anak jarang Rand, andai aku bisa ... "
"Kami permisi sebentar," potong suamiku, aku hanya memberi isyarat permisi padanya dan ia mengangguk ramah.

***
Prang ...
Bunyi sesuatu di dapur, ku dekati rupanya suamiku, membanting gelas.
"Kenapa Mas?"
"Lihat kan, gimana mereka terpesona, dan si Rio itu, terang-terangan banget dia."
"Tapi, aku kan, ga nanggepin berlebihan."
"Tetap aja, Mas ga suka."
"Banyak banget yang Mas ga suka."
Dia menghela nafas kasar dan
"Entah mengapa makin kesini, aku makin ga pede deket kamu, dulu, aku selalu nuntut kamu memantaskan diri mendampingiku, sekarang malah aku yang ga pantes," lirih suaranya terdengar sedih.
"Mas, ga usah aneh-aneh deh, andaikan aku ga sayang sama Mas, masihkah aku bertahan?"
"Itulah yang membuatku kian malu,Lin, kamu begitu tulus, dan aku malah semena-mena selama ini."
*cari ide dulu, ya Mak

-----


#Suami_Menjauh_Karena_Aroma_Tubuhku (7)
*aku bosan,dia blingsatan

Kesedihan dan kegalauan kian menjadi, aku seolah berada di titik yang serba salah. Terkadang hati ini nyeri mengingat kembali semua kekasaran dan cara ia merundungku, bahkan dengan jelas-jelasnya ia mengatakan "Tak pantas aku berdampingan dengannya, terlalu kumal, katanya.
Aku mendekatinya dan merangkulnya
"Ga, Mas, aku ga bakal ninggalin kamu, sudah terlalu banyak yang kita lalui bersama, aku mencintai Mas Randy."

Namun ia malah mendorongku,
"Menjauhlah, kamu pasti akan ninggalin aku, aku tahu itu." Ia semakin kacau.
Aku heran dan kecewa dengan sikapnya,
"Mas! Jika aku ga sayang kamu buat apa aku bertahan dari dulu dalam semua kesusahan, demi apa? Demi orang yang aku sayang Mas, kamu. Aku rela ninggalin kenyamanan di rumah mama, aku rela mengubur impian menjadi executive chef di hotel paling ternama, aku rela meninggalkan gaya hidup kaya dan barang mewah agar kamu ga minder deket aku, itu semua demi apa?"
Dia hanya diam,

"Aku hanya menyimpan barang-barang itu untuk investasi kelak dan memilih menjadi istri yang sholehah, berusaha menutup tubuh, walau belum sempurna, fokus pada keempat anak, dan sibuk mengurus rumah, apa yang kurang, katakan!" Kalimatku meninggi tanpa sengaja.
Dia masih membisu dengan tatapan gamang.

"Aku bahkan tidak memilih bercerita pada orang tuaku, agar Mas tidak kehilangan harga diri seolah tak bisa menghidupiku dengan layak , tak sadarkah? Bahwa di sini aku yang paling makan hati atas sikapnya, Mas?"

"Dan ya, ketika Mas menjalin hubungan dengan wanita lain, aku membaca semua pesan mesra Mas, aku memilih diam dan bersabar saja, namun itu tidak membuat sedikit perubahan pun."
Daripada terus berdebat, aku akan menjemput anak-anak di rumah neneknya, Mas di sini saja kalo ga mau ikut."

***

Malam ini aku hanya tidur berlima dengan anak-anakku, tanpa dia. Walau punya kamar sendiri, mereka lebih suka berada di sekitar ibunya.
Aku juga mengurus rumah dan masak sendiri, demi tidak menghabiskan banyak uang suami, yah, meski karier Mas Randy sudah lumayan bagus, aku memilih untuk tetap berhemat dan seadanya, namun tetap saja semuanya salah bagi dia.
Dia datang dan merangkulku dari belakang, membenamkan wajahnya di balik bahuku, mungkin minta maaf.
"Mas, sebaiknya Mas tidur di kamar depan saja, aku butuh waktu, karena saat ini aku mulai merasa kita memang tidak pantas bersama."
*Bersambung ya Mak

-----
 
#Suami_Menjauh_Karena_Aroma_Tubuhku (8)
*... Maka sebaik wanita adalah yang memelihara (dirinya serta harta) suaminya ... sebagaimana Allah telah menjaga mereka. (Qs, An Nisa-34)
***

Adzan subuh berkumandang, mendayu menyentuh pendengaranku, aku beranjak dari pembaringan lalu membersihkan diri, bersimpuh pada Sang pencipta memohon ridho dan petunjuknya atas hidupku.
Seperti biasa pagi ini, tugas rumah tangga, menyiapkan sarapan dan anak-anak kesekolah, aku lalu bersiap mengenakan gamis merah muda dengan hijab senada.
Si sulung tiba-tiba merangkulku dari belakang dan berbisik "Ma, papa katanya, minta maaf."
Aku hanya tersenyum dan mengelus kepalanya.

Kutinggalkan note di meja makan meminta izin mengantar anak ke sekolah, kemudian menitipkan si Bungsu sebentar pada ibuku, lalu membawa semua barang dan outfit branded yang aku miliki untuk di-resale di butik salah satu teman, aku berniat untuk memanfaatkan kembali uang hasil penjualannya untuk didonasikan pada yayasan anak yatim dan sebagiannya untuk keperluan anak-anakku.
Aku ingin berhijrah dan berubah lebih baik untuk diri sendiri dan keluarga kecilku. Sadar bahwa penting seorang wanita menjaga keindahannya dari pandangan liar, demi mencegah timbulnya fitnah dan perselisihan dalam rumah tangga.
Tring ...

Ada pesan dari Mas Randy,
[Hati-hati di jalan, love u]
Ku balas
[Sebaik-baik pria adalah mereka yang paling baik pada istrinya. HR. ...]
Tidak ada jawaban darinya.
Aku hanya berharap Tuhan memberikan kami kesempatan kedua, memberi kami kesempatan bersyukur atas nikmat umur dan waktu. Aku berjanji pada diri sendiri untuk menjaga keluarga dan kehormatan suami.

***
Sore hari,
Lelah setelah bergelut dengan pembeli Alhamdulillah, semuanya laku dan nominalnya cukup memuaskan. Segera ku transfer ke rekening yayasan tempatku menjadi donatur tetap.
Kemudian menjemput anak lalu mampir di supermarket membeli bahan makanan makan malam.
Entah mengapa hari ini hatiku merasa amat damai dan bahagia.
Ku buka gawai, ada banyak pesan di sana, dari Mas Randy.
[Sayang, kamu pulang jam berapa?]
Lalu sebuah kalimat yang
[ Maaf,
Atas semua kekhilafan seluas samudra, mungkin menipis sebuah harapan namun,
Kutadahkan tangan melangitkan do'a agar bidadariku kembali dan hidup ini cerah kembali]
Eeaaa ...
*ada kejutan di rumah.
Makasih ya Mak, udah baca. Tanpa kalian tulisan ini bukan apa-apa
Maaf tulisannya pendek dan masih banyak salah, terima kasih atas
Kesempatan untuk belajar di sini.
1 part lagi tamat

-----


#Suami_Menjauh_Karena_Aroma_Tubuhku (9)
*Sesungguhnya jika kelembutan menyertai sesuatu, maka ia akan menghiasinya. Sebaliknya tidaklah dicabut kelembutan dari sesuatu, melainkan akan memperburuknya. (HR. Muslim)
***

Sore ini, di mobil-perjalanan pulang-
anak-anak begitu ceria, sepanjang jalan tadi mereka terus bernyanyi dan berceloteh, sedangkan bayiku, tertidur pulas di jok khusus bayi.
Sesampainya di rumah, kuparkirkan mobil di depan pagar karena rumahku tak sejajar dengan jalan. Menuju teras dan pintu utama harus menuruni beberapa anak tangga melewati taman yang rimbun dengan aneka bunga dan kolam air mancur.
"Hai, anak-anak," sapa keponakan suamiku, siska. Ia masih kuliah dan sangat dekat dengan ketiga anakku.
"Hai, kak siska," jawab mereka serempak.
"Yuk, makan ice cream di Baskin Robin."
"Hore ... " mereka bersorak dan langsung menuju mobil siska setelah kuberi isyarat 'iya'.
Ku buka pintu pagar, taman begitu sejuk, sehabis disiram sepertinya. Mataku menangkap sesuatu yang bertebaran sepanjang jalan kecil menuju pintu, jejeran lilin cantik dengan taburan mawar kuning dan putih. Darahku berdesir dan detak jantungku tak beraturan.

Didalam rumah, cahaya temaram dari lilin dan juga taburan bunga begitu semarak, ada sebuah rangkaian mawar merah diatas meja, kuraih dan kucium, semerbak dengan note 'Bunga cantik untuk Bidadariku'.
Ada sebuah kotak besar di samping meja dengan pita keemasan, kubuka, rupanya ada kotak kecik di dalamnya, begitu seterusnya, dan seterusnya hingga aku lelah, kotak terakhir, sebuah kotak perhiasan beludru biru, hatiku terlonjak bahagia, kubuka namun kosong! Aku kecewa.
Tiba-tiba ada dia tersenyum dibelakangku sambil memegang benda putih berkilauan, cincin.
"Bersediakah engkau, mendampingiku selamanya dan memberiku kesempatan membahagiakanmu?" Begitu pintanya sambil berlutut dengan tatapan cintanya. Tatapan yang telah lama aku rindukan.
Aku terharu, hingga tak kuasa berkata hanya mampu menangis bahagia. Lalu ia meraihku dalam pelukannya, damai, jiwa ini diliputi kehangatan.
"Maafkan aku ya, sayang," bisiknya.

Aku hanya mampu terisak,
"Aku janji akan menjagamu dan keluarga kita selamanya, tak kan kuulang lagi, menyakitimu."
Aku tak bergeming, masih tenggelam menikmati kehangatan ada aroma lelaki yang begitu kurindukan.
"Kita ke kamar yuk, bikin adek lagi."
Bisiknya manja.
"Ih, masih sore." Kucubit dia.
Ia mengangkatku dalam dekapan cintanya dan membawa kami keperaduan di mana asmara dan kasih bermuara.

Tamat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar