by Widury Alza Alf
"Apa? Mas kirimi dia uang lagi? Bukankah seminggu yang lalu Mas sudah transfer dia buat biaya Ardan sekolah?" tanya Kynara dengan mata menelisik tajam terhadap pria di depannya itu.
"Iya, tapi Sukma bilang katanya Ardan butuh biaya banyak buat ikut les
private di rumah," jawab Reza sambil menghela napas perlahan.
"Mas sadar nggak, sih? Mas sudah di manfaatin sama Sukma. Dalam sebulan ini, berapa banyak uang yang sudah mas kasih buat dia dengan alasan untuk sekolah Ardan? Jumlahnya lebih besar dari pada kebutuhan kita sehari-hari!" seru Kynara dengan nada kesal.
"Ya, Mas tahu. Tapi, mau bagaimana lagi, lagi pula ini kan buat Ardan," jawab Reza sambil menatap lekat wajah istrinya.
"Terserah kamu, Mas. Aku sudah lelah, bosan berdebat mempermasalahkan hal yang itu-itu saja. Kamu lembek, ga bisa tegas." Kynara membuang muka, lalu pergi dari hadapan suaminya.
Reza hanya memandangi punggung istrinya yang beranjak ke luar. Dia sadar, Kynara marah atas sikapnya yang tak bisa tegas terhadap mantan istrinya hanya karena Ardan, anaknya yang kini diasuh Sukma.
Reza kemudian mengikuti Kynara yang menuju dapur, ternyata istrinya itu sedang memasak untuk menyiapkan makan malam mereka. Diperhatikannya wajah istrinya dari kejauhan, tampak sekali Kynara menahan kemarahan di hatinya, terlihat dari segala sikap dan perbuatannya, bahkan Kynara sedikit membanting pisau yang ada di sampingnya.
Sementara Kynara sama sekali tak menyadari suaminya yang memperhatikannya. Dia menggerutu dalam hati, merasa kesal karena suaminya itu selalu menuruti segala keinginan mantan istrinya, dengan menjadikan Ardan sebagai alasan.
Saat dia sedang memasak, tiba-tiba Reza datang dan memeluknya dari belakang.
"Sayang, maafin aku ya," ujar Reza sambil menyusupkan kepalanya di ceruk leher Kynara. Namun, Kynara hanya diam tak menggubris ucapan suaminya.
"Plesae, jangan marah lagi," kali ini dia mendaratkan kecupan kecil di leher jenjang milik Kynara yang membuat Kynara bergidik geli.
"Bisa diam nggak, sih, Mas? Ganggu aja!" sungut Kynara sebal, lalu melepaskan paksa tangan suaminya yang melingkari perutnya.
"Nggak bisa, apalagi kalau dekat kamu. Bikin tangan pengen kelayapan," jawab Reza setengah berbisik ke telinga istrinya sambil mengeratkan pelukan.
"Pergi sana, nanti kena cipratan minyak panas. Lagian ngapain juga nempel-nempel bantu nggak, gangguin iya!"
"Kalau kamu ngambek, makin gemesin deh." lalu cup! Bibirnya mengecup bibir Kynara sekilas hingga membuat istrinya tersebut mematung sejenak.
"Cepetan masaknya, aku lapar, sayang." bisikan Reza seketika menyadarkan Kynara.
🌸🌸🌸🌸
Kynara Andani, perempuan muda berusia 20 tahun, merupakan istri dari Reza Nugraha, seorang pemilik restoran yang memiliki beberapa cabang di kotanya. Usia Reza terpaut 8 tahun di atas Kynara.
Kynara, adalah seorang gadis desa yang bekerja di salah satu apotek dekat restorannya. Saat itu, Reza berusia 27 tahun, status duda anak satu.
Pertemuan mereka terjadi begitu saja. Kynara yang sering datang ke restoran bersama teman-temannya, dan kebetulan Reza sering berada di tempat tersebut untuk memantau para karyawan yang bekerja padanya.
Awalnya, dia hanya memandang Kynara sebagai abg labil yang hobi nongkrong. Tak ada sedikitpun ketertarikan pada gadis berbadan mungil dan bermata sipit tersebut.
Namun, suatu ketika dia tak sengaja melihat Kynara tertawa lepas, sehingga memperlihatkan lesung pipit di kedua pipinya yang tanpa sadar membuat dirinya tersenyum tipis.
Tawa perempuan itu begitu manis menurutnya. Hingga lama kelamaan ada sesuatu yang berdebar dalam hatinya setiap kali memandang senyum dan tawa gadis mungil tersebut.
Akhirnya dia nekad mendekati gadis tersebut, tak peduli walaupun cemoohan di tujukan padanya. Teman-temannya bahkan mengatakan dia seperti predator anak karena menyukai abg yang usianya jauh di bawahnya.
Ternyata tak mudah menaklukan gadis kecil tersebut, apalagi Kynara dengan terang-terangan menolak Reza karena usianya yang memang jauh berbeda. Bahkan ketika Reza serius berniat ingin melamarnya, Kynara malah tertawa dan mengatakan kalau dirinya akan rugi karena saat itu berstatus gadis harus menikah dengan pria duda punya anak pula, dan lebih pantas menjadi Oomnya bukan suami.
Tapi, bukan Reza Nugraha namanya kalau menyerah begitu saja. Walaupun Kynara menolaknya, dia melakukan berbagai upaya agar dapat mendekati gadisnya. Meski Kynara terkadang bersikap kekanakkan, yang membuat sebagian pria mungkin merasa illfeel melihat tingkahnya, tapi itu tak menyurutkan niatnya untuk menikahi gadis kecil tersebut.
Hingga pada suatu malam, saat itu Kynara yang kebagian lembur terpaksa harus pulang dengan jalan kaki karena tidak ada angkutan umum. Meskipun takut, dia tetap memaksakkan kakinya melangkah menuju kos tempat tinggalnya yang jaraknya tak terlalu jauh dari apotek tempatnya bekerja.
Malam yang sepi dan lengang, membuat Kynara harus berjalan terburu-buru karena takut. Namun, saat sampai di sebuah jalan yang agak sepi dari rumah penduduk, dia melihat segerombol pemuda mabuk. sedang berkumpul.
Kynara berusaha mempercepat langkahnya untuk segera jauh dari gerombolan pemuda tersebut, namun naas, salah seorang dari mereka melihat Kynara yang berjalan sendirian dengan tergesa-gesa. Mereka lalu menghampiri Kynara, bahkan salah seorang dari pemuda tersebut berusaha menggodanya dan mencolek dagunya yang membuat Kynara marah.
Dia berusaha melawan pemuda tersebut, namun tentu saja bukan lawan yang seimbang satu perempuan melawan segerombolan pemuda.
Kynara panik, saat salah satu dari mereka bahkan berhasil menarik paksa baju kemeja yang dikenakannya hingga membuat separuh bajunya terbuka. Kynara terduduk sambil memeluk tubuhnya sendiri, dia merasa takut tapi tak mampu melawan.
Seorang pemuda, yang merupakan ketua geng tersebut lalu menghampiri Kynara, bahkan memaksa menyentuh tubuhnya hingga membuat Kynara berteriak histeris bagai kesetanan.
Saat Kynara berontak berusaha melawan pemuda tersebut, tiba-tiba datang seseorang yang melawan para pemuda mabuk tersebut. Bahkan, orang tersebut dengan mudah menumbangkan beberapa penjahat yang sedang mabuk itu.
Kynara hanya menunduk sambil menangis memegangi bajunya yang hampir koyak. Lalu tanpa dia sadari ada seseorang yang mengulurkan tangannya. Kynara mendongak dan terkejut ketika melihat siapa pria yang menolongnya tersebut, yang tak lain adalah Reza, yang tak sengaja lewat jalan tersebut karena akan pulang.
Reza membantu Kynara berdiri, lalu membuka sweater nya dan memberikan pada Kynara menyadari baju yang di pakai gadis itu sudah sobek di bagian depannya.
Namun, siapa sangka, Kynara bukannya menerima baju tersebut melainkan menghambur ke arahnya lalu memeluk Reza erat sambil menangis. Badannya bahkan gemetar karena ketakutan.
Reza yang merasa ragu, akhirnya balas memeluk tubuh mungil tersebut, lalu mengelus punggungnya perlahan dengan degup jantung yang seperti berlompatan, sambil berusaha mengatur napasnya.
Sejak saat itulah, Kynara seolah menjadi jinak, bahkan tak sungkan bergelayut manja padanya walaupun terkadang sifat galaknya masih sering muncul.
Seiring berjalannya waktu, akhirnya Kynara luluh dan menerima Reza, lalu mereka menikah.
🌺🌺🌺🌺
Suara alarm membangunkan Reza dari tidurnya. Dia melirik ke samping, dilihatnya Kynara masih meringkuk di bawah ketiaknya. Reza tersenyum, mencium kening istrinya lalu beranjak dari tempat tidurnya dengan pelan takut membangunkan istrinya.
Selesai mencuci muka, Reza menuju dapur hendak membuatkan sarapan untuk istrinya. Semalam Kynara mengeluh pusing dan badannya sakit, mungkin karena kecapean. Rumah mereka lumayan besar, sehingga membuat Kynara kerepotan mengurus rumahnya sendiri. Reza pernah menawarkan untuk di bantu asisten rumah tangga, namun, Kynara menolak dengan alasan dia tidak punya kesibukan apapun.
Mereka menikah hampir setahun, tapi belum memiliki anak karena Kynara merasa dirinya masih belum siap di usianya yang masih sangat muda ini. Reza tentu saja tak keberatan dengan keinginan Kynara, baginya yang penting Kynara senang dan bahagia. Soal anak bisa ia fikirkan nanti.
Setengah jam kemudian Reza selesai membuat sarapan, lalu menatanya di atas nampan dan membawanya ke kamar untuk membangunkan istrinya.
"Sayang, bangun."
"Hmmm."
"Sudah pagi cantik, nih, aku buatin sarapan." ujar Reza sambil mengelus-elus pelan punggung istrinya.
Kynara menggeliat, lalu matanya perlahan terbuka dan mendapati suaminya dengan jarak yang sangat dekat.
"Gimana sekarang udah enakkan? Badannya ga sakit lagi?"
Kynara mengangguk, lalu bangun dan duduk bersandar.
Reza mengambilkan susu hangat, lalu memotong-motong roti berlapis selai kacang dan mengangsurkannya pada Kynara.
"Mas, hari ini libur, kan?"
"Iya, kenapa?"
"Antar aku belanja kebutuhan dapur, Mas. Persediaan di kulkas sudah habis, aku belum bisa pergi sendiri, takut pusing lagi."
"Boleh sayang, apa sih yang nggak buat kamu. Ya udah, nanti habis mandi kita berangkat ya, sekalian jalan-jalan."
"Beneran Mas?"
"Iya bener. Makanya cepetan sarapannya habis itu mandi."
Kynara mengangguk, menghabiskan sarapannya lalu mandi.
Reza membereskan tempat tidur, ketika tiba-tiba ponselnya berdering. Dilihatnya layar tersebut dan menampakkan nama Sukma.
'Hallo.'
'Hallo, Mas. Mas bia temenin Ardan kan hari ini? Katanya pengen jalan-jalan sama kita mumpung sekolahnya libur.'
'Maaf, Sukma. Tapi, aku ada janji sama Kynara mau nganter dia belanja.'
'Ayolah, Mas. Mumpung Ardan libur sekolah kita mengajaknya jalan-jalan. Lagi pula Kynara bukan anak kecil, dia 'kan bisa belanja sendiri nggak perlu diantar.'
'Kynara sakit, jadi aku mengantarnya untuk belanja. Jalan-jalannya besok aja.'
'Mas, ini Ardan yang minta, bukan aku. Kamu kok gitu sih lebih mentingin dia daripada anakmu sendiri. Kamu 'kan nggak tiap hari nemenin Ardan, apa susahnya sih sekali-kali mengorbankan waktu demi Ardan?'
'Baiklah, nanti ku hubungi lagi.'
Reza menghela nafas kasar, bingung antara anak atau istrinya. Apalagi, baru saja Reza berjanji untuk menemani Kynara belanja.
Pintu kamar mandi kemudian terbuka, lalu muncullah istrinya yang memandang heran wajah Reza yang tampak gusar.
"Kenapa, Mas?"
"Sayang, maaf ya hari ini aku nggak jadi nganterin kamu belanja?"
"Loh, kenapa Mas? Apa ada masalah di tempat kerja?"
"Nggak, hanya saja barusan Sukma telepon, katanya hari ini Ardan minta ditemenin jalan-jalan mumpung libur sekolah katanya."
"Bukan Ardan, tapi Sukma yang minta jalan-jalan!" jawab Kynara dengan sengit.
"Sayang please, jangan marah gitu."
"Emang bener kenyataannya 'kan. Ardan itu hanya alasan agar Mbak Sukma bisa deketin kamu, bukannya dua hari yang lalu juga kamu habis dari sana nganterin Mbak Sukma ke dokter? Lihat berapa kali dalam seminggu Mbak Sukma minta Mas kesana dengan alasan Ardan? Mas itu nggak peka!"
"Buat kali ini aja, ya. Besok aku libur deh, buat ngabisin waktu seharian sama kamu. Ya?"
"Terserah, Mas. Aku bisa pergi sendiri!"
Reza menyugar rambutnya frustasi, dia benar-benar dibuat pusing oleh kedua wanita tersebut.
Bersambung ....
-----
#Mantan_Istri
Part 2
Kynara berdandan dengan wajah ditekuk. Kesal, karena Reza membatalkan janjinya untuk menemani dia belanja. Jika pun membawa Ardan ke sini, tentulah akan membuang banyak waktu mengingat tempatnya yang lumayan jauh. Belum lagi besok Ardan harus sekolah kembali, tentu saja suaminya itu akan kerepotan mengantar jemput anaknya dalam waktu sehari dengan jarak yang lumayan jauh. Dia juga tak ingin ikut suaminya karena tak mau bertemu dengan Sukma, mantan istri suaminya.
Sementara itu Reza hanya terdiam menyaksikan Kynara. Sedikitpun wanitanya itu tak melirik dia yang berdiri di sampingnya, seakan-akan dia dianggap tak ada.
Kynara berdandan dengan cepat, mengikat rambutnya, lalu memoleskan make up tipis-tipis dengan lipstik warna pink muda, selaras dengan wajahnya yang tampak putih bersemu merah. Selesai berdandan, dia mengambil tas kecil lalu berbalik menghadap Reza sambil menengadahkan tangannya.
"Kenapa?" tanya Reza dengan kening mengernyit heran.
"Minta uang!" sahut Kynara dengan ketus.
Reza mengulum senyum, istrinya memang lucu jika sedang merajuk, layaknya anak kecil yang minta uang jajan kepada ayahnya.
"Aku nggak ada uang cash, Sayang. Bawa ATM aja, ya." jawab Reza lembut sambil memberikan sebuah kartu.
"Ya udah sini, aku habisin duitnya sekalian." kata Kynara dengan mimik muka cemberutnya.
"Iya, terserah kamu mau dihabisin juga, yang penting kamu puas. Kamu tuh lucu tau nggak? Ngambekkan, bikin aku gemes."
"Jangan sentuh-sentuh! Aku mau pergi!" jawab Kynara dengan sengit sambil menepis tangan Reza.
"Iya, Sayang, jangan galak-galak dong. Hati-hati di jalan, ya." pesan Reza sambil mengulurkan tangan kanannya yang disambut Kynara, lalu menciumnya.
Kynara bergegas keluar kamar menuruni undakan tangga, menuju garasi, menghidupkan motor lalu pergi begitu saja tanpa menghiraukan suaminya.
Melihat tingkah istrinya Reza hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan, dia sangat menyadari sifat Kynara yang kadang masih seperti anak kecil, merengek dan bergelayut manja, atau marah-marah dengan pelototan matanya yang kecil.
Jalanan lumayan padat, apa lagi ini hari libur sehingga banyak keluarga yang menikmati liburan di akhir pekan ini. Reza mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Perlu waktu satu jam untuk bisa sampai ke tempat Ardan, anak dari pernikahan pertamanya bersama Sukma.
Sesampainya di kediaman Sukma, didapatinya Ardan sedang duduk di teras rumah dengan pakaian yang sudah rapi. Ardan menyambut ayahnya dengan bahagia karena hari ini dia akan pergi bersama ayahnya.
Sukma menyambut Reza dengan senyum semringah. Wanita itu bahkan tidak malu bergelayut manja di lengan mantan suaminya itu meskipun Reza sudah memperingatkan nya untuk tidak bersikap seperti itu.
"Mas, kok lama sih jemput nya? Jangan bilang kalau gadis kecil itu melarang kamu buat ketemu sama Ardan."
"Dia bukan perempuan seperti itu, Sukma. Jangan berfikiran buruk terhadap istriku." ujar Reza dengan penuh penekanan.
Sukma cemberut, dia melepaskan tangannya dari lengan Reza, lalu memutari bagian depan mobil untuk membuka pintu depan.
"Kamu duduk di belakang." ucap Reza dingin.
"Loh kok gitu sih?"
"Duduk di belakang atau aku pulang sekarang juga!"
"Iya deh iya, aku pindah ke belakang." jawab Sukma dengan membanting pintu.
Reza tak menghiraukan Sukma. Sepanjang jalan dia hanya sibuk berceloteh bersama Ardan yang bercerita tentang kesehariannya dan juga teman-teman di sekolahnya.
🌺🌺🌺🌺
Pukul tiga sore, Reza kembali ke rumahnya setelah mengantar Ardan dan Sukma pulang. Sebelum sampai ke rumahnya, dia membelikan makanan kesukaan Kynara.
Keadaan rumah tampak sepi, Reza berkali-kali mengetuk pintu namun tak ada jawaban dari dalam padahal suara tv terdengar hingga ke luar.
Dia memutar knop pintu, ternyata tidak dikunci. Mungkin Nara di dapur, pikirnya. Namun, betapa terkejutnya dia ketika mendapati Kynara tergolek di depan tv. Sepertinya dia ketiduran ketika emang menonton.
Reza mengambil selimut di kamarnya, lalu menutupi tubuh istrinya tanpa berniat membangunkannya.
'Biar aku saja yang masak untuk makan malam ini,' guman Reza di dalam hati.
Kynara terbangun, menggeliat kecil saat telinganya menangkap suara peralatan dapur yang berisik. Lalu dia menatapi tubuhnya yang terbungkus selimut, barulah ia sadar bahwa Reza sudah pulang.
Namun, dia enggan menghampiri suaminya yang sedang sibuk berkutat di dapur. Reza memang sudah terbiasa memasak sendiri, sehingga Kynara tak perlu repot membantunya ketika Reza memasak.
"Sayang, udah bangun?" tanya Reza yang menghampiri istrinya.
Kynara hanya melirik sekilas, lalu kembali menonton tv yang sebenarnya tidak menarik untuk dilihat.
"Kamu masih marah ya? Nih, aku beliin makanan kesukaan kamu." ucap Reza sambil memberikan bungkusan kepada Kynara.
Namun Kynara hanya diam sambil memalingkan wajahnya, hatinya masih kesal terhadap suaminya.
"Kamu ngambek terus aku cium nih." ujar Reza sambil menyergap istrinya ke dalam pelukan. Kynara berontak, berusaha melepaskan pelukan suaminya. Tapi, Reza semakin erat memeluknya lalu cup! Dia mencium bibir Kynara dengan lembut hingga membuat Kynara menghentikan gerakannya.
"Kamu jahat, Mas, kamu lebih milih nemenin Mbak Sukma daripada aku. Aku nggak suka Mas selalu deket-deket sama dia," ujar Kynara lirih sambil menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan air mata yang menggenang di netranya.
"Maafin aku, sayang. Sungguh aku nggak ada maksud buat nyakitin kamu. Kamu tahu sendiri watak Sukma seperti apa, dia selalu mengancamku dengan membawa Ardan pergi jauh jika aku menolak keinginannya. Aku berat jika harus jauh sama Ardan." jawab Reza sambil membelai rambut Kynara penuh kasih.
"Iya aku tahu itu, Mas. Tapi sayangnya Mbak Sukma manfaatin Ardan buat deket sama kamu."
"Kamu jangan khawatir sayang. Apapun dan bagaimanapun Sukma, dia tak akan bisa merebut kembali hatiku. Dia itu cuma masa lalu aku, hanya sekedar ibu dari anakku nggak lebih karena aku udah punya kamu sebagai istriku. Kamu percaya sama aku kan?"
Kynara hanya terdiam, dia bukan tak percaya pada Reza, hanya saja sikap Sukma yang terlalu menonjol dan menampakkan perhatiannya terhadap Reza membuat dia kesal pada perempuan tersebut.
"Mas, Ardan tinggal di sini aja biar aku ada temennya. Biar Mbak Sukma nggak ganggu kamu lagi."
"Nanti kita coba bujuk Ardan lagi, ya. Mudah-mudahan dia mau tinggal di sini."
Keduanya pun terdiam.
Reza memikirkan bagaimana caranya agar anak semata wayangnya tersebut mau tinggal bersama istrinya. Reza sudah berkali-kali membujuk Ardan, namun Ardan menolak. Selain karena dia sudah sekolah, juga karena Ardan tak memiliki teman banyak di sini sehingga dia tidak kerasan tinggal bersama ayah dan ibu sambungnya.
Kalaupun libur sekolah Ardan hanya menginap dua atau tiga hari, selebihnya dia menghabiskan waktu bersama Sukma, ibu kandungnya. Itu pula yang menyebabkan Sukma sering meminta Reza untuk datang ke rumahnya dengan alasan Ardan, seakan-akan sengaja ingin membuat hubungan Reza dan Kynara menjadi renggang.
🌺🌺🌺🌺
Pagi-pagi sekali Kynara bangun, dia merasa badannya lemas dan kepalanya sedikit pusing. Dengan langkah perlahan dia menuju dapur, seperti biasa memasak untuk menyiapkan sarapan pagi.
Dia sibuk berkutat di dapur, mengiris sayuran dan membuat beberapa olahan ringan untuk sarapan. Namun, ketika sedang mengiris bawang tiba-tiba sesuatu dari perutnya seperti bergejolak meminta dikeluarkan. Kynara berlari ke kamar mandi, lalu memuntahkan isi perutnya yang hanya air putih saja.
Selesai mencuci mulutnya yang terasa pahit dia kembali ke dapur melanjutkan aktifitasnya, tapi kembali mual menyerangnya hingga berkali-kali Kynara muntah dan membuat badannya lemas.
Suara Kynara di kamar mandi rupanya membangunkan Reza yang masih tertidur. Buru-buru suaminya tersebut bangun dan menghampiri Kynara yang masih memegangi perutnya dengan wajah pucat.
"Sayang, kamu kenapa kok mukanya pucat gitu?" tanya Reza panik sambil menyentuh kening istrinya dengan punggung tangan.
"Nggak tahu, Mas. Bangun tidur tiba-tiba badan lemes, kepala pusing. Terus barusan muntah-muntah."
"Kamu kecapean mungkin. Ya udah istirahat aja ya, masak biar aku yang lanjutin," ujar Reza sambil memapah istrinya ke kamar lalu membaringkan tubuh Kynara dan menyelimutinya.
Kynara hanya diam, sementara Reza berlalu ke dapur untuk melanjutkan pekerjaan Kynara yang sedang membuat sarapan.
"Nanti selesai sarapan kita ke dokter, ya. Aku takut kamu kenapa-napa soalnya akhir-akhir ini kamu jadi sering sakit."
"Aku nggak apa-apa kok Mas. Nanti sebentar lagi juga sembuh, ini cuma kecapean aja kok."
"Nggak nggak, kamu harus pergi ke dokter buat mastiin keadaan kamu. Aku antar ya."
Waktu yang masih pagi membuat keadaan rumah sakit sedikit lengang. Belum banyak pasien yang berkunjung sehingga Reza dan Kynara tak harus mengantri lama untuk menunggu panggilan.
Sepuluh menit kemudian tiba giliran Kynara untuk diperiksa. Dengan di dampingi suaminya dia masuk ke ruangan yang serba putih itu.
Dengan dada berdebar, Kynara mengikuti serangkaian tes, wajahnya tegang menanti keterangan dari dokter.
"Ibu Kynara nggak apa-apa, kok, Pak, Bu." ujar dokter sambil tersenyum ke arah mereka.
"Nggak apa-apa gimana maksudnya Dok?" tanya Reza dengan nada tak sabar.
"Ibu Kynara sehat, dia hanya sedang hamil. Usia kandungannya menginjak lima minggu. Selamat ya buat kalian." ujar dokter tersebut sambil mengulurkan tangannya ke arah Reza dan Kynara.
"Istri saya hamil Dok?"
Dokter hanya mengangguk sambil tersenyum, lalu menyerahkan resep obat yang harus di tebus, tak lupa memberi nasihat agar Kynara banyak istirahat dan menjaga kandungannya.
Sepanjang perjalanan pulang, bibir Reza gak henti mengulaskan senyum sumringah sambil menggenggam tangan Kynara dan mengecupnya berkali-kali.
Kynara hanya tersenyum melihat tingkah suaminya sambil memegangi perutnya yang masih rata.
"Terimakasih ya sayang, kamu udah bikin aku bahagia banget hari ini." kata Reza sambil memandang Kynara dengan penuh cinta.
Kynara hanya mengangguk dan tersenyum, tangan kirinya tak lepas memegangi perutnya, tak menyangka bahwa kini telah hadir buah hatinya bersama Reza di dalam rahimnya tersebut.
Dia berjanji akan menjaganya dengan baik, walaupun dulu sempat menolak untuk hamil, namun ketika tahu di perutnya telah hadir sosok mungil yang diidamkan suaminya tak ayal membuat dia senang dan bahagia.
Bersambung....
-----
#Mantan_Istri
Part 3
Seorang anak kecil sedang asik bermain di halaman belakang rumahnya. Di sampingnya tampak seorang wanita duduk di kursi santai sambil membolak balik majalah. Rumah dengan ukuran sedang itu tampak asri, halaman belakang yang lumayan luas dengan rumput jepang yang terhampar bak permadani. Di tengahnya terdapat kolam mini yang di huni beberapa jenis ikan, dan di samping kolam di kelilingi oleh aneka bunga anggrek dan yang lainnya sehingga tampak sedap dipandang mata.
"Ma, teman-teman semua sekolahnya di antar jemput sama ayahnya. Ardan juga pengen kaya mereka."
Sukma menghentikan aktivitasnya, menutup majalah lalu menghampiri Ardan.
"Mama juga bukannya gak mau ayah nganter jemput Ardan, tapi Ardan tahu sendiri kan kalau rumah Papa jauh. Nggak mungkin juga kalau Papa tinggal di sini," jawab Sukma sambil mengelus pelan kepala anak semata wayangnya itu.
Ardan hanya terdiam memandangi mainan yang tercecer di teras rumahnya.
"Masuk yu, Mama buatin makan siang ya," ajak Sukma sambil mnggandeng tangan Ardan.
🌺🌺🌺🌺
Sukma terdiam di balkon kamarnya dengan memandangi pekatnya malam. Dia terdiam menikmati pemandangan khas malam yang tampak begitu indah dengan hiasan sinar lampu dari rumah penduduk.
Ingatannya melayang ke beberapa tahun silam. Dulu, ketika malam yang dingin seperti ini Reza selalu ada menemaninya menikmati malam bersama dengan memberikan kehangatan. Pelukan mesra selalu dia rasakan setiap harinya. Tapi, itu dulu, ketika mereka masih terjalin dalam suatu ikatan pernikahan.
Dia sadar, bahwa dirinya terlalu ambisius dan mengekang suaminya. Sifatnya yang pecemburu dan mudah curiga, membuat mereka kerap kali bertengkar yang di akhiri dengan permintaan maaf dari Reza.
Karena sifatnya itulah yang malah membuat rumah tangga mereka hancur, ditambah lagi dengan kesalahan Sukma yang membuat Reza murka hingga menyebabkan rumah tangga mereka karam bak diterpa badai.
Dan kini, dia menyesali atas segala sikap dan perbuatannya di masa lalu. Juga karena kesalahan dirinya yang begitu fatal, membuat Reza pergi dan menceraikannya.
Tanpa terasa air matanya jatuh perlahan mengenang kehidupannya di masa lalu. Ternyata, membunuh perasaan itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi begitu tahu fakta yang sebenarnya tentang mantan suaminya, membuat dia semakin tersiksa dengan perasaannya sendiri.
Bahkan, begitu tahu Reza telah menikah dengan Kynara, hatinya diliputi kecemburuan yang membara. Dia tak terima Reza mendapatkan perempuan lain sebagai pengganti dirinya hingga muncullah niat untuk merebut Reza kembali dari tangan Kynara.
"Kau pernah jadi milikku, dan kini harus kembali manjadi milikku. Siapapun tak boleh ada yang memilikimu selain aku." desis Sukma dengan pandangan mata yang menerawang.
🌺🌺🌺🌺
Reza sedang sibuk memeriksa keuangan yang masuk di minggu ini. Matanya tak berhenti fokus pada lembaran kertas di depannya hingga suara dering ponsel mengagetkannya dan mengalihkan perhatian Reza.
'Halo.'
'Halo, Mas. Masih di kantor?' sapa suara di ujung telepon sana yang tidak lain adalah Kynara.
'Iya sayang masih di kantor, kenapa?'
'Nanti kalau pulang bawain rujak yang dijual sama Abang di dekat restoran Mas ya.'
'Iya boleh, mau apa lagi?'
'Pengen ayam geprek, aku laper Mas.'
'Belum makan?'
'Cuma buah aja.'
'Kamu ini kan lagi hamil kok nggak makan, nanti sakit loh sayang.'
'Nggak suka nasi Mas, bau.'
'Ya udah, sebentar lagi Mas pulang ya.'
Lalu tut, telepon terputus.
Reza menghela nafas perlahan, lalu bangkit dari kursi dan merenggangkan ototnya yang terasa pegal setelah hampir seharian dia berkutat dengan lembaran kertas di hadapannya.
Sampai di rumah, dia disambut dengan pelukan manja dari istrinya. Entah kenapa semenjak hamil sifat Kynara menjadi sangat manja dan sensitif. Terkadang dia marah-marah hanya karena hal sepele, tapi, Reza memakluminy karena dia lebih pengalaman.
"Sayang, besok aku harus pergi untuk melihat kafe yang baru direnovasi itu. Kamu mau ikut?" tanya Reza ketika mereka sedang bersantai menonton tv.
"Nggak ah Mas, aku masih mabok. Kalau ikut takut nantinya malah ngerepotin di sana, apalagi perjalanannya lumayan jauh."
"Beneran nih nggak mau ikut?"
"Bener Mas. Aku di rumah aja, ya."
"Ya udah istirahat aja di rumah kalau gitu. Ingat ya, kamu nggak boleh cape-cape kasian dede bayinya nanti ikut kecapean," ujar Reza sambil membelai perut Kynara yang sudah mulai buncit.
"Oh iya Mas, kafe itu kan deket rumahnya Ardan, awas loh kamu jangan coba-coba deketin mak lampir itu."
"Ya nggaklah, ngapain juga deket-deket dia. Sukma itu bukan siapa-siapa aku, sayang."
"Ya siapa tahu aja, apalagi kan Mbak Sukma masih cinta sama Mas, makanya dia ngejar-ngejar Mas terus padahal dia udah tahu kalau Mas itu udah nikah lagi."
"Itu berarti Masmu ini ganteng banget makanya terus dikejar-kejar, ya kan?" jawab Reza sambil memainkan alisnya.
"Oh gitu, ya oke lah. Malam ini Mas tidur di sofa sendirian." ujar Kynara ketus yang membuat Reza tertawa terbahak-bahak melihat reaksinya yang tiba-tiba cemberut.
Esoknya, Reza bersiap-siap untuk pergi sesuai dengan rencananya semalam. Kafe lama yang baru saja di renovasi itu terletak di dekat kediaman Sukma karena memang usaha itu sudah dia rintis semenjak dia dan Sukma masih menjadi suami istri.
Sesampainya di sana, dia disambut ramah oleh para pekerja lalu berkeliling melihat-lihat keadaan kafe yang hampir selesai di renovasi.
Waktu menunjukan pukul satu membuat cuaca panas terasa menyengat. Reza menuju halaman belakang kafe berniat istirahat. Dia berdiri menikmati angin sepoi-sepoi sambil mengamati tempat di sekelilingnya yang lumayan teduh karena banyak pohon berdaun rindang yang sengaja ditanam.
Sedang asik menikmati hawa sejuk, tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perutnya yang memeluk belakang punggungnya.
"Mas, aku senang ketemu kamu di sini," terdengar suara yang seperti sengaja mendesah di telinganya.
"Bagaimana kau tahu aku ke sini, Sukma?" tanya Reza datar tanpa merespon perlakuan Sukma.
"Tentu saja aku tahu, bukankah insting seorang wanita itu tidak pernah salah terhadap lelaki yang di cintainya?"
"Lepaskan, Sukma!"
"Tidak, Mas. Aku masih mencintaimu dan aku selalu merindukan saat-saat kita mereguk madu asmara kita berdua."
"Semua itu sudah berlalu Sukma. Kau dan aku sudah berakhir." jawab Reza sambil melepas paksa pelukan Sukma.
"Aku menyesal sudah menyia-nyiakan mu, aku ingin kita seperti dulu lagi walaupun harus ada Kynara di antara Kynara."
"Penyesalanmu itu sudah tak berarti apapun untukku. Bukankah kamu sendiri yang membuangku? Aku sudah katakan aku akan pergi dari hidupmu, pantang bagiku menjilat ludah sendiri." suara Reza terdengar tegas namun datar.
"Jangan pernah ganggu hidupku lagi sekalipun itu Ardan sebagai alasanmu karena kelakuan mu ini sungguh membuatku muak." ujar Reza sambil berlalu meninggalkan Sukma yang masih mematung di tempat.
Sukma menatap nanar kepergian mantan suaminya, hatinya terasa tercabik mengetahui Reza begitu terang-terangan menolaknya.
Reza pamit kepada para pekerja dan bergegas menuju mobilnya untuk pulang. Kehadiran Sukma di sini, kembali mengoyak luka lama yang telah sembuh. Dulu, mereka saling mencintai. Namun, kecintaan Sukma terhadap dirinya yang menggila membuat Sukma menjadi over protektif, mudah cemburu dan curiga hanya karena hal sepele.
Pernah suatu ketika Reza mengantarkan pelanggan yang tak lain adalah adik dari temannya. Gadis tersebut pingsan saat sedang di kafe bersama teman-temannya sehingga membuat Reza terpaksa mengantarkan pulang ke apartemen temannya dengan mengendarai mobilnya.
Lalu tanpa sengaja ketika mobilnya ke luar dari halaman parkir kafe datang Sukma yang mengantarkan makan siang untuk Reza. Melihat mobil suaminya pergi spontan Sukma mengikutinya hingga mobil Reza berhenti di sebuah apartemen dan Reza keluar dari mobil tersebut membopong seorang gadis.
Sukma marah, dia cemburu dan menyangka suaminya bermain mata dengan gadis tersebut apalagi ketika Reza lama tak keluar dari apartemen itu, semakin yakinlah dia bahwa Reza selingkuh tanpa dia cari kebenarannya.
Ketika di rumah, pertengkaranpun pecah tak bisa terelakkan. Sukma tetap dengan pendiriannya menuduh Reza telah berkhianat, sementara Reza berusaha menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya, dan kenapa dia harus lama di apartemen itu. Namun, Sukma tak mau menerima apapun penjelasan suaminya.
Sukma kalap, dia menghancurkan seluruh isi kamar lalu mengemasi bajunya dan pulang ke rumah orang tuanya. Berhari-hari dia menghindari Reza, tak pernah mau menemuinya walaupun Reza sudah menjelaskan cerita yang sebenarnya kepada orang tua Sukma.
Reza akhirnya mengalah, dia membiarkan Sukma tinggal di rumah orang tuanya dengan harapan agar Sukma sadar dan dapat mendinginkan isi hatinya. Namun dua minggu pasca kepulangan Sukma, dia menerima pesan sebuah video yang menunjukkan Sukma sedang melakukan hal terlarang bersama orang lain dalam kondisi mabuk.
Amarah Reza seketika memuncak, sebagai seorang lelaki dia merasa harga dirinya jatuh melihat perbuatan Sukma. Dia lalu mmdatangi kediaman orang tua Sukma lalu menceritakan perihal video yang dilihatnya.
Mengetahui putrinya telah berbuat tak senonoh membuat orang tua Sukma marah. Mereka bahkan bertengkar hebat di depan Reza. Ternyata kejadian tersebut tak sepenuhnya disadari oleh Sukma karena memang dia mabuk. Sukma yang saat itu stres memikirkan rumah tangganya pergi ke klub malan bersama teman-temannya. Namun, karena dia kurang kontrol menyebabkan dirinya terjerumus minuman haram yang berimbas pada perbuatan terlarang.
Sejak saat itulah Reza berikrar dalam hati, sebesar apapun cintanya pada Sukma dia gak akan kembali pada perempuan tersebut karena Sukma dengan sengaja telah menodai sucinya pernikahan mereka. Meskipun kini dia harus rela berpisah dengan Ardan, anak semata wayangnya yang memilih tinggal bersama Sukma.
Bersambung ....
-----
#Mantan_Istri
Part 4
Kynara sedang jalan-jalan di sekitar komplek perumahannya dengan ditemani Reza. Perutnya sudah tampak buncit karena kahamilannya sudah masuk usia 9 bulan. Oleh karena, setiap pagi dia rutin jalan-jalan agar badannya tetap sehat dan proses kelahirannya lancar.
"Mas, kamu mau anak kita laki-laki atau perempuan?" tanya Kynara sambil tetap berjalan dengan tangan digandeng mesra oleh suaminya.
"Laki-laki ataupun perempuan bagiku sama aja, sayang. Yang penting kalian berdua sehat." jawab Reza.
"Oh iya, Mas. Kapan Mas ngajak Ardan ke sini? Aku kangen sama dia, udah lama kita nggak ketemu."
"Nanti kalau dia libur sekolah, Mas coba ajak dia ke sini, ya. Mudah-mudahan dia mau nginep di sini."
"Ide bagus tuh, Mas. Tapi inget, jangan bawa Mak Lampir itu ke sini!" ucap Kynara dengan sengit.
"Kamu sentimen banget sih sama dia," ujar Reza dengan mulut menahan tawa.
"Ya habisnya, kelakuan dia bikin aku sebel Mas. Aku kaya punya madu gara-gara Mbak Sukma yang suka ngerecokin Mas." jawab Kynara dengan wajah ditekuk.
"Yang penting kan Mas sayangnya sama kamu bukan dia."
"Iya sih, tapi kesel aja. Kayanya dia masih ngarep banget ya sama Mas?"
"So tahu kamu, udah ah pulang yuk! Udah panas banget nih, nanti kamu kecapean."
Kynara mengangguk, mereka berbalik arah untuk pulang.
🌺🌺🌺🌺
Jam di dinding menunjukan pukul setengah lima pagi. Kynara beringsut dari tempat tidurnya menuju kamar mandi, diliriknya di samping tempat tidurnya, sepertinya Reza sudah bangun lebih dahulu. Semenjak hamil, Reza memang lebih suka bangun awal untuk membantu pekerjaan Kynara atau membuatkan sarapan.
Kynara berjalan perlahan ke kamar mandi, perutnya terasa mulas seperti ada kebutuhan biologis yang harus dituntaskan. Namun, kali ini rasa mulasnya sedikit berbeda. Apalagi hampir semalaman tadi dia tak bisa tidur karena perutnya terasa sedikit mulas.
'Apa aku akan melahirkan? Tapi dokter bilangnya seminggu lagi,' gumam Kynara dalam hati.
Selesai mencuci muka dia keluar dari kamar mandi lalu mendapati suaminya sedang menata sarapan yang dibawanya di atas nampan.
"Kamu udah bangun, Sayang? Kok mukanya ditekuk gitu?" tanya Reza sambil mengernyitkan keningnya.
"Perutku kok mulas ya Mas? Jangan-jangan mau melahirkan?"
"Bukannya dokter bilang seminggu lagi?"
"Iya sih, tapi siapa tahu kan, Mas?"
"Kalau gitu kita ke dokter aja sekarang, gimana?"
"Nanti aja deh, takutnya malah bukan mau lahiran."
"Ya udah terserah kamu. Sarapan dulu yu!"
Hari ini Reza memilih untuk libur kerja mengingat kondisi Kynara yang mengkhawatirkan. Dia takut Kynara akan melahirkan saat dia sedang kerja sementara di rumah tak ada siapa-siapa yang bisa dimintai tolong.
Benar saja, jam sembilan pagi Kynara benar-benar merasakan kontraksi yang hebat disertai cairan yang mengalir di pahanya. Reza yang sudah paham akan kondisi tersebut berusaha tenang, lalu membawa Kynara ke rumah sakit terdekat.
Sepuluh menit kemudian mereka sampai, Reza memanggil suster meminta bantuan. Dengan sigap para perawat tersebut langsung membawa Kynara ke ruang khusus bersalin. Dengan bantuan seorang bidan dan dua asistennya, akhirnya Kynara berhasil melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Proses kelahirannya sangatlah cepat, membuat dia dan suaminya menangis terharu apalagi ketika bidan memberikan bayi merah tersebut pada Kynara, dia tak kuasa menahan tangis kebahagiaannya.
Reza mengadzani bayi mungil tersebut, lalu menyerahkannya pada perawat. Tanpa terasa dia menitikkan air mata, bahagia dan terharu ketika melihat bayi mungil nan cantik itu.
"Terimakasih sayang, kamu sudah melengkapi kebahagiaanku," ucap Reza sambil mencium kening istrinya.
Kynara tersenyum, tangannya menggenggam jari suaminya dengan lembut.
"Dia cantik ya, Mas."
"Sangat cantik, sama kaya kamu,"
"Mas mau kasih nama apa buat bayi kita?"
"Mmm ... Gimana kalau Zakyna? Artinya Reza Kynara."
"Nama yang cantik,"
Reza dan Kynara saling melempar pandangan lalu keduanya tersenyum.
Keesokkan harinya, Kynara sudah diperbolehkan pulang karena kondisinya pasca melahirkan telah membaik. Dokter hanya mengatakan bahwa Reza harus membantu dan mendukung Kynara agar bisa memberikan ASI secara eksklusif.
Sesampainya di rumah Kynara terkejut ketika melihat kamar bayi yang sudah disiapkan sebelumnya tampak penuh dengan mainan dan berbagai macam boneka dengan warna pink. Ternyata tanpa sepengetahuan dirinya Reza sengaja menghias kamar putri kecilnya itu dengan dibantu oleh kedua orang tuanya yang sengaja datang langsung ke rumah mereka ketika Reza memberitahukan bahwa Kynara telah melahirkan.
"Ibu ...!" seru Kynara dengan membulatkan matanya tatkala melihat mertuanya sedang berdiri di kamar Zakyna.
"Selamat datang cucu nenek yang cantik," sambut ibu Reza sambil merentangkan kedua tangannya.
Kynara menitikkan air matanya, terharu dan bahagia melihat bagaimana kedua mertuanya begitu antusias menyambut kedatangan cucu perempuannya.
"Oh iya sayang, mama kamu katanya belum bisa ke sini nungguin dulu Anita pulang kampung katanya." kata Reza seketika teringat pesan orang tua Kynara.
"Nggak apa-apa, Mas."
Suasana rumah yang tadinya sepi, kini berubah menjadi ramai dengan adanya tangisan si kecil Zakyna. Seringkali Kynara dibuat kewalahan karena tangisan Zakyna yang begitu kencang. Dia yang baru pertama kali melahirkan dan merawat bayi, sedikit kerepotan ketika menghadapi tangisan putrinya. Beruntung ada mertuanya yang sengaja menginap untuk membantunya, sehingga dia banyak belajar dari mertuanya yang tentu sudah sangat berpengalaman.
Seminggu kemudian kedua orang tuanya datang dari kampung dengan membawa aneka olahan khas daerah. Semakin lengkaplah kebahagiaannya. Sementara ibu mertuanya memilih pulang setelah kedatangan besannya tersebut karena ayah Reza sendiri di rumah.
Untuk sejenak, karena kesibukkannya mengurus bayi Kynara bisa bernafas dengan tenang dan melupakan Sukma yang selama ini selalu merongrong hidupnya. Sejak Kynara melahirkan, entah kenapa Sukma tak pernah ada kabar walaupun sekedar membicarakan Ardan seperti yang sering menjadi alasannya ketika menghubungi Reza.
"Mas, kok dari tadi bengong. Melamun, ya?" tanya Kynara yang merasa heran melihat sikap Reza seharian ini tampak lebih banyak diam.
"Nggak, kok, gak melamun. Mas cuma kangen aja sama Ardan."
"Mas nggak coba telepon Sukma gitu, tanyain gimana kabarnya Ardan. Atau Mas samperin aja ke rumahnya!"
"Males, kamu tahu sendiri kan Sukma kaya gimana. Nanti dia kira Mas mau ketemu sama dia,"
"Mas udah transfer uang buat Ardan?"
"Belum, nanti lah Mas belum sempet. Lagian kan jatah bulan lalu Mas ngirimnya agak banyak masa nggak cukup,"
"Aku cuma ngingetin aja sih, jangan sampai Mas lupa,"
"Iya sayang, makasih ya udah ngingetin,"
"Sama-sama, Mas. Makan siang dulu yu, aku udah siapin dari tadi!"
"Ayo! Zakyna tidur?"
"Iya, Mas,"
🌺🌺🌺🌺
Kynara sedang asik bermain bersama putri kecilnya. Setiap hari ketika Reza berangkat kerja, dia menghabiskan hari-harinya dengan menamani Zakyna bermain. Setelah melahirkan, Reza bersikeras untuk mempekerjakan seorang ART di rumahnya agar Kynara bisa fokus mengurus Zakyna. Kynara setuju, dengan catatan, bahwa untuk memasak biar dia sendiri yang mengerjakannya. Pembantu hanya bertugas beres-beres rumah, mencuci baju, dan mengurusi halaman rumah.
Ketika dirinya sedang antusias mengajak bayinya belajar bicara, tiba-tiba bel pintu rumahnya berbunyi. Kynara meletakkan bayinya di atas kasur yang empuk, penasaran karena tak biasanya dia kedatangan tamu. Kynara berlalu ke arah datangnya suara yang ternyata pintunya sudah di bukakan oleh Mbok Narti pembantu rumahnya.
Demi melihat siapa seseorang yang bertamu ke rumahnya membuat Kynara terkejut. Dia mematung di tempatnya berdiri, lalu sesaat kemudian tersadar ketika Mbok Narti lewat di hadapannya.
"Mbak Sukma?"
Bersambung ....
"Mas sadar nggak, sih? Mas sudah di manfaatin sama Sukma. Dalam sebulan ini, berapa banyak uang yang sudah mas kasih buat dia dengan alasan untuk sekolah Ardan? Jumlahnya lebih besar dari pada kebutuhan kita sehari-hari!" seru Kynara dengan nada kesal.
"Ya, Mas tahu. Tapi, mau bagaimana lagi, lagi pula ini kan buat Ardan," jawab Reza sambil menatap lekat wajah istrinya.
"Terserah kamu, Mas. Aku sudah lelah, bosan berdebat mempermasalahkan hal yang itu-itu saja. Kamu lembek, ga bisa tegas." Kynara membuang muka, lalu pergi dari hadapan suaminya.
Reza hanya memandangi punggung istrinya yang beranjak ke luar. Dia sadar, Kynara marah atas sikapnya yang tak bisa tegas terhadap mantan istrinya hanya karena Ardan, anaknya yang kini diasuh Sukma.
Reza kemudian mengikuti Kynara yang menuju dapur, ternyata istrinya itu sedang memasak untuk menyiapkan makan malam mereka. Diperhatikannya wajah istrinya dari kejauhan, tampak sekali Kynara menahan kemarahan di hatinya, terlihat dari segala sikap dan perbuatannya, bahkan Kynara sedikit membanting pisau yang ada di sampingnya.
Sementara Kynara sama sekali tak menyadari suaminya yang memperhatikannya. Dia menggerutu dalam hati, merasa kesal karena suaminya itu selalu menuruti segala keinginan mantan istrinya, dengan menjadikan Ardan sebagai alasan.
Saat dia sedang memasak, tiba-tiba Reza datang dan memeluknya dari belakang.
"Sayang, maafin aku ya," ujar Reza sambil menyusupkan kepalanya di ceruk leher Kynara. Namun, Kynara hanya diam tak menggubris ucapan suaminya.
"Plesae, jangan marah lagi," kali ini dia mendaratkan kecupan kecil di leher jenjang milik Kynara yang membuat Kynara bergidik geli.
"Bisa diam nggak, sih, Mas? Ganggu aja!" sungut Kynara sebal, lalu melepaskan paksa tangan suaminya yang melingkari perutnya.
"Nggak bisa, apalagi kalau dekat kamu. Bikin tangan pengen kelayapan," jawab Reza setengah berbisik ke telinga istrinya sambil mengeratkan pelukan.
"Pergi sana, nanti kena cipratan minyak panas. Lagian ngapain juga nempel-nempel bantu nggak, gangguin iya!"
"Kalau kamu ngambek, makin gemesin deh." lalu cup! Bibirnya mengecup bibir Kynara sekilas hingga membuat istrinya tersebut mematung sejenak.
"Cepetan masaknya, aku lapar, sayang." bisikan Reza seketika menyadarkan Kynara.
🌸🌸🌸🌸
Kynara Andani, perempuan muda berusia 20 tahun, merupakan istri dari Reza Nugraha, seorang pemilik restoran yang memiliki beberapa cabang di kotanya. Usia Reza terpaut 8 tahun di atas Kynara.
Kynara, adalah seorang gadis desa yang bekerja di salah satu apotek dekat restorannya. Saat itu, Reza berusia 27 tahun, status duda anak satu.
Pertemuan mereka terjadi begitu saja. Kynara yang sering datang ke restoran bersama teman-temannya, dan kebetulan Reza sering berada di tempat tersebut untuk memantau para karyawan yang bekerja padanya.
Awalnya, dia hanya memandang Kynara sebagai abg labil yang hobi nongkrong. Tak ada sedikitpun ketertarikan pada gadis berbadan mungil dan bermata sipit tersebut.
Namun, suatu ketika dia tak sengaja melihat Kynara tertawa lepas, sehingga memperlihatkan lesung pipit di kedua pipinya yang tanpa sadar membuat dirinya tersenyum tipis.
Tawa perempuan itu begitu manis menurutnya. Hingga lama kelamaan ada sesuatu yang berdebar dalam hatinya setiap kali memandang senyum dan tawa gadis mungil tersebut.
Akhirnya dia nekad mendekati gadis tersebut, tak peduli walaupun cemoohan di tujukan padanya. Teman-temannya bahkan mengatakan dia seperti predator anak karena menyukai abg yang usianya jauh di bawahnya.
Ternyata tak mudah menaklukan gadis kecil tersebut, apalagi Kynara dengan terang-terangan menolak Reza karena usianya yang memang jauh berbeda. Bahkan ketika Reza serius berniat ingin melamarnya, Kynara malah tertawa dan mengatakan kalau dirinya akan rugi karena saat itu berstatus gadis harus menikah dengan pria duda punya anak pula, dan lebih pantas menjadi Oomnya bukan suami.
Tapi, bukan Reza Nugraha namanya kalau menyerah begitu saja. Walaupun Kynara menolaknya, dia melakukan berbagai upaya agar dapat mendekati gadisnya. Meski Kynara terkadang bersikap kekanakkan, yang membuat sebagian pria mungkin merasa illfeel melihat tingkahnya, tapi itu tak menyurutkan niatnya untuk menikahi gadis kecil tersebut.
Hingga pada suatu malam, saat itu Kynara yang kebagian lembur terpaksa harus pulang dengan jalan kaki karena tidak ada angkutan umum. Meskipun takut, dia tetap memaksakkan kakinya melangkah menuju kos tempat tinggalnya yang jaraknya tak terlalu jauh dari apotek tempatnya bekerja.
Malam yang sepi dan lengang, membuat Kynara harus berjalan terburu-buru karena takut. Namun, saat sampai di sebuah jalan yang agak sepi dari rumah penduduk, dia melihat segerombol pemuda mabuk. sedang berkumpul.
Kynara berusaha mempercepat langkahnya untuk segera jauh dari gerombolan pemuda tersebut, namun naas, salah seorang dari mereka melihat Kynara yang berjalan sendirian dengan tergesa-gesa. Mereka lalu menghampiri Kynara, bahkan salah seorang dari pemuda tersebut berusaha menggodanya dan mencolek dagunya yang membuat Kynara marah.
Dia berusaha melawan pemuda tersebut, namun tentu saja bukan lawan yang seimbang satu perempuan melawan segerombolan pemuda.
Kynara panik, saat salah satu dari mereka bahkan berhasil menarik paksa baju kemeja yang dikenakannya hingga membuat separuh bajunya terbuka. Kynara terduduk sambil memeluk tubuhnya sendiri, dia merasa takut tapi tak mampu melawan.
Seorang pemuda, yang merupakan ketua geng tersebut lalu menghampiri Kynara, bahkan memaksa menyentuh tubuhnya hingga membuat Kynara berteriak histeris bagai kesetanan.
Saat Kynara berontak berusaha melawan pemuda tersebut, tiba-tiba datang seseorang yang melawan para pemuda mabuk tersebut. Bahkan, orang tersebut dengan mudah menumbangkan beberapa penjahat yang sedang mabuk itu.
Kynara hanya menunduk sambil menangis memegangi bajunya yang hampir koyak. Lalu tanpa dia sadari ada seseorang yang mengulurkan tangannya. Kynara mendongak dan terkejut ketika melihat siapa pria yang menolongnya tersebut, yang tak lain adalah Reza, yang tak sengaja lewat jalan tersebut karena akan pulang.
Reza membantu Kynara berdiri, lalu membuka sweater nya dan memberikan pada Kynara menyadari baju yang di pakai gadis itu sudah sobek di bagian depannya.
Namun, siapa sangka, Kynara bukannya menerima baju tersebut melainkan menghambur ke arahnya lalu memeluk Reza erat sambil menangis. Badannya bahkan gemetar karena ketakutan.
Reza yang merasa ragu, akhirnya balas memeluk tubuh mungil tersebut, lalu mengelus punggungnya perlahan dengan degup jantung yang seperti berlompatan, sambil berusaha mengatur napasnya.
Sejak saat itulah, Kynara seolah menjadi jinak, bahkan tak sungkan bergelayut manja padanya walaupun terkadang sifat galaknya masih sering muncul.
Seiring berjalannya waktu, akhirnya Kynara luluh dan menerima Reza, lalu mereka menikah.
🌺🌺🌺🌺
Suara alarm membangunkan Reza dari tidurnya. Dia melirik ke samping, dilihatnya Kynara masih meringkuk di bawah ketiaknya. Reza tersenyum, mencium kening istrinya lalu beranjak dari tempat tidurnya dengan pelan takut membangunkan istrinya.
Selesai mencuci muka, Reza menuju dapur hendak membuatkan sarapan untuk istrinya. Semalam Kynara mengeluh pusing dan badannya sakit, mungkin karena kecapean. Rumah mereka lumayan besar, sehingga membuat Kynara kerepotan mengurus rumahnya sendiri. Reza pernah menawarkan untuk di bantu asisten rumah tangga, namun, Kynara menolak dengan alasan dia tidak punya kesibukan apapun.
Mereka menikah hampir setahun, tapi belum memiliki anak karena Kynara merasa dirinya masih belum siap di usianya yang masih sangat muda ini. Reza tentu saja tak keberatan dengan keinginan Kynara, baginya yang penting Kynara senang dan bahagia. Soal anak bisa ia fikirkan nanti.
Setengah jam kemudian Reza selesai membuat sarapan, lalu menatanya di atas nampan dan membawanya ke kamar untuk membangunkan istrinya.
"Sayang, bangun."
"Hmmm."
"Sudah pagi cantik, nih, aku buatin sarapan." ujar Reza sambil mengelus-elus pelan punggung istrinya.
Kynara menggeliat, lalu matanya perlahan terbuka dan mendapati suaminya dengan jarak yang sangat dekat.
"Gimana sekarang udah enakkan? Badannya ga sakit lagi?"
Kynara mengangguk, lalu bangun dan duduk bersandar.
Reza mengambilkan susu hangat, lalu memotong-motong roti berlapis selai kacang dan mengangsurkannya pada Kynara.
"Mas, hari ini libur, kan?"
"Iya, kenapa?"
"Antar aku belanja kebutuhan dapur, Mas. Persediaan di kulkas sudah habis, aku belum bisa pergi sendiri, takut pusing lagi."
"Boleh sayang, apa sih yang nggak buat kamu. Ya udah, nanti habis mandi kita berangkat ya, sekalian jalan-jalan."
"Beneran Mas?"
"Iya bener. Makanya cepetan sarapannya habis itu mandi."
Kynara mengangguk, menghabiskan sarapannya lalu mandi.
Reza membereskan tempat tidur, ketika tiba-tiba ponselnya berdering. Dilihatnya layar tersebut dan menampakkan nama Sukma.
'Hallo.'
'Hallo, Mas. Mas bia temenin Ardan kan hari ini? Katanya pengen jalan-jalan sama kita mumpung sekolahnya libur.'
'Maaf, Sukma. Tapi, aku ada janji sama Kynara mau nganter dia belanja.'
'Ayolah, Mas. Mumpung Ardan libur sekolah kita mengajaknya jalan-jalan. Lagi pula Kynara bukan anak kecil, dia 'kan bisa belanja sendiri nggak perlu diantar.'
'Kynara sakit, jadi aku mengantarnya untuk belanja. Jalan-jalannya besok aja.'
'Mas, ini Ardan yang minta, bukan aku. Kamu kok gitu sih lebih mentingin dia daripada anakmu sendiri. Kamu 'kan nggak tiap hari nemenin Ardan, apa susahnya sih sekali-kali mengorbankan waktu demi Ardan?'
'Baiklah, nanti ku hubungi lagi.'
Reza menghela nafas kasar, bingung antara anak atau istrinya. Apalagi, baru saja Reza berjanji untuk menemani Kynara belanja.
Pintu kamar mandi kemudian terbuka, lalu muncullah istrinya yang memandang heran wajah Reza yang tampak gusar.
"Kenapa, Mas?"
"Sayang, maaf ya hari ini aku nggak jadi nganterin kamu belanja?"
"Loh, kenapa Mas? Apa ada masalah di tempat kerja?"
"Nggak, hanya saja barusan Sukma telepon, katanya hari ini Ardan minta ditemenin jalan-jalan mumpung libur sekolah katanya."
"Bukan Ardan, tapi Sukma yang minta jalan-jalan!" jawab Kynara dengan sengit.
"Sayang please, jangan marah gitu."
"Emang bener kenyataannya 'kan. Ardan itu hanya alasan agar Mbak Sukma bisa deketin kamu, bukannya dua hari yang lalu juga kamu habis dari sana nganterin Mbak Sukma ke dokter? Lihat berapa kali dalam seminggu Mbak Sukma minta Mas kesana dengan alasan Ardan? Mas itu nggak peka!"
"Buat kali ini aja, ya. Besok aku libur deh, buat ngabisin waktu seharian sama kamu. Ya?"
"Terserah, Mas. Aku bisa pergi sendiri!"
Reza menyugar rambutnya frustasi, dia benar-benar dibuat pusing oleh kedua wanita tersebut.
Bersambung ....
-----
#Mantan_Istri
Part 2
Kynara berdandan dengan wajah ditekuk. Kesal, karena Reza membatalkan janjinya untuk menemani dia belanja. Jika pun membawa Ardan ke sini, tentulah akan membuang banyak waktu mengingat tempatnya yang lumayan jauh. Belum lagi besok Ardan harus sekolah kembali, tentu saja suaminya itu akan kerepotan mengantar jemput anaknya dalam waktu sehari dengan jarak yang lumayan jauh. Dia juga tak ingin ikut suaminya karena tak mau bertemu dengan Sukma, mantan istri suaminya.
Sementara itu Reza hanya terdiam menyaksikan Kynara. Sedikitpun wanitanya itu tak melirik dia yang berdiri di sampingnya, seakan-akan dia dianggap tak ada.
Kynara berdandan dengan cepat, mengikat rambutnya, lalu memoleskan make up tipis-tipis dengan lipstik warna pink muda, selaras dengan wajahnya yang tampak putih bersemu merah. Selesai berdandan, dia mengambil tas kecil lalu berbalik menghadap Reza sambil menengadahkan tangannya.
"Kenapa?" tanya Reza dengan kening mengernyit heran.
"Minta uang!" sahut Kynara dengan ketus.
Reza mengulum senyum, istrinya memang lucu jika sedang merajuk, layaknya anak kecil yang minta uang jajan kepada ayahnya.
"Aku nggak ada uang cash, Sayang. Bawa ATM aja, ya." jawab Reza lembut sambil memberikan sebuah kartu.
"Ya udah sini, aku habisin duitnya sekalian." kata Kynara dengan mimik muka cemberutnya.
"Iya, terserah kamu mau dihabisin juga, yang penting kamu puas. Kamu tuh lucu tau nggak? Ngambekkan, bikin aku gemes."
"Jangan sentuh-sentuh! Aku mau pergi!" jawab Kynara dengan sengit sambil menepis tangan Reza.
"Iya, Sayang, jangan galak-galak dong. Hati-hati di jalan, ya." pesan Reza sambil mengulurkan tangan kanannya yang disambut Kynara, lalu menciumnya.
Kynara bergegas keluar kamar menuruni undakan tangga, menuju garasi, menghidupkan motor lalu pergi begitu saja tanpa menghiraukan suaminya.
Melihat tingkah istrinya Reza hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan, dia sangat menyadari sifat Kynara yang kadang masih seperti anak kecil, merengek dan bergelayut manja, atau marah-marah dengan pelototan matanya yang kecil.
Jalanan lumayan padat, apa lagi ini hari libur sehingga banyak keluarga yang menikmati liburan di akhir pekan ini. Reza mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Perlu waktu satu jam untuk bisa sampai ke tempat Ardan, anak dari pernikahan pertamanya bersama Sukma.
Sesampainya di kediaman Sukma, didapatinya Ardan sedang duduk di teras rumah dengan pakaian yang sudah rapi. Ardan menyambut ayahnya dengan bahagia karena hari ini dia akan pergi bersama ayahnya.
Sukma menyambut Reza dengan senyum semringah. Wanita itu bahkan tidak malu bergelayut manja di lengan mantan suaminya itu meskipun Reza sudah memperingatkan nya untuk tidak bersikap seperti itu.
"Mas, kok lama sih jemput nya? Jangan bilang kalau gadis kecil itu melarang kamu buat ketemu sama Ardan."
"Dia bukan perempuan seperti itu, Sukma. Jangan berfikiran buruk terhadap istriku." ujar Reza dengan penuh penekanan.
Sukma cemberut, dia melepaskan tangannya dari lengan Reza, lalu memutari bagian depan mobil untuk membuka pintu depan.
"Kamu duduk di belakang." ucap Reza dingin.
"Loh kok gitu sih?"
"Duduk di belakang atau aku pulang sekarang juga!"
"Iya deh iya, aku pindah ke belakang." jawab Sukma dengan membanting pintu.
Reza tak menghiraukan Sukma. Sepanjang jalan dia hanya sibuk berceloteh bersama Ardan yang bercerita tentang kesehariannya dan juga teman-teman di sekolahnya.
🌺🌺🌺🌺
Pukul tiga sore, Reza kembali ke rumahnya setelah mengantar Ardan dan Sukma pulang. Sebelum sampai ke rumahnya, dia membelikan makanan kesukaan Kynara.
Keadaan rumah tampak sepi, Reza berkali-kali mengetuk pintu namun tak ada jawaban dari dalam padahal suara tv terdengar hingga ke luar.
Dia memutar knop pintu, ternyata tidak dikunci. Mungkin Nara di dapur, pikirnya. Namun, betapa terkejutnya dia ketika mendapati Kynara tergolek di depan tv. Sepertinya dia ketiduran ketika emang menonton.
Reza mengambil selimut di kamarnya, lalu menutupi tubuh istrinya tanpa berniat membangunkannya.
'Biar aku saja yang masak untuk makan malam ini,' guman Reza di dalam hati.
Kynara terbangun, menggeliat kecil saat telinganya menangkap suara peralatan dapur yang berisik. Lalu dia menatapi tubuhnya yang terbungkus selimut, barulah ia sadar bahwa Reza sudah pulang.
Namun, dia enggan menghampiri suaminya yang sedang sibuk berkutat di dapur. Reza memang sudah terbiasa memasak sendiri, sehingga Kynara tak perlu repot membantunya ketika Reza memasak.
"Sayang, udah bangun?" tanya Reza yang menghampiri istrinya.
Kynara hanya melirik sekilas, lalu kembali menonton tv yang sebenarnya tidak menarik untuk dilihat.
"Kamu masih marah ya? Nih, aku beliin makanan kesukaan kamu." ucap Reza sambil memberikan bungkusan kepada Kynara.
Namun Kynara hanya diam sambil memalingkan wajahnya, hatinya masih kesal terhadap suaminya.
"Kamu ngambek terus aku cium nih." ujar Reza sambil menyergap istrinya ke dalam pelukan. Kynara berontak, berusaha melepaskan pelukan suaminya. Tapi, Reza semakin erat memeluknya lalu cup! Dia mencium bibir Kynara dengan lembut hingga membuat Kynara menghentikan gerakannya.
"Kamu jahat, Mas, kamu lebih milih nemenin Mbak Sukma daripada aku. Aku nggak suka Mas selalu deket-deket sama dia," ujar Kynara lirih sambil menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan air mata yang menggenang di netranya.
"Maafin aku, sayang. Sungguh aku nggak ada maksud buat nyakitin kamu. Kamu tahu sendiri watak Sukma seperti apa, dia selalu mengancamku dengan membawa Ardan pergi jauh jika aku menolak keinginannya. Aku berat jika harus jauh sama Ardan." jawab Reza sambil membelai rambut Kynara penuh kasih.
"Iya aku tahu itu, Mas. Tapi sayangnya Mbak Sukma manfaatin Ardan buat deket sama kamu."
"Kamu jangan khawatir sayang. Apapun dan bagaimanapun Sukma, dia tak akan bisa merebut kembali hatiku. Dia itu cuma masa lalu aku, hanya sekedar ibu dari anakku nggak lebih karena aku udah punya kamu sebagai istriku. Kamu percaya sama aku kan?"
Kynara hanya terdiam, dia bukan tak percaya pada Reza, hanya saja sikap Sukma yang terlalu menonjol dan menampakkan perhatiannya terhadap Reza membuat dia kesal pada perempuan tersebut.
"Mas, Ardan tinggal di sini aja biar aku ada temennya. Biar Mbak Sukma nggak ganggu kamu lagi."
"Nanti kita coba bujuk Ardan lagi, ya. Mudah-mudahan dia mau tinggal di sini."
Keduanya pun terdiam.
Reza memikirkan bagaimana caranya agar anak semata wayangnya tersebut mau tinggal bersama istrinya. Reza sudah berkali-kali membujuk Ardan, namun Ardan menolak. Selain karena dia sudah sekolah, juga karena Ardan tak memiliki teman banyak di sini sehingga dia tidak kerasan tinggal bersama ayah dan ibu sambungnya.
Kalaupun libur sekolah Ardan hanya menginap dua atau tiga hari, selebihnya dia menghabiskan waktu bersama Sukma, ibu kandungnya. Itu pula yang menyebabkan Sukma sering meminta Reza untuk datang ke rumahnya dengan alasan Ardan, seakan-akan sengaja ingin membuat hubungan Reza dan Kynara menjadi renggang.
🌺🌺🌺🌺
Pagi-pagi sekali Kynara bangun, dia merasa badannya lemas dan kepalanya sedikit pusing. Dengan langkah perlahan dia menuju dapur, seperti biasa memasak untuk menyiapkan sarapan pagi.
Dia sibuk berkutat di dapur, mengiris sayuran dan membuat beberapa olahan ringan untuk sarapan. Namun, ketika sedang mengiris bawang tiba-tiba sesuatu dari perutnya seperti bergejolak meminta dikeluarkan. Kynara berlari ke kamar mandi, lalu memuntahkan isi perutnya yang hanya air putih saja.
Selesai mencuci mulutnya yang terasa pahit dia kembali ke dapur melanjutkan aktifitasnya, tapi kembali mual menyerangnya hingga berkali-kali Kynara muntah dan membuat badannya lemas.
Suara Kynara di kamar mandi rupanya membangunkan Reza yang masih tertidur. Buru-buru suaminya tersebut bangun dan menghampiri Kynara yang masih memegangi perutnya dengan wajah pucat.
"Sayang, kamu kenapa kok mukanya pucat gitu?" tanya Reza panik sambil menyentuh kening istrinya dengan punggung tangan.
"Nggak tahu, Mas. Bangun tidur tiba-tiba badan lemes, kepala pusing. Terus barusan muntah-muntah."
"Kamu kecapean mungkin. Ya udah istirahat aja ya, masak biar aku yang lanjutin," ujar Reza sambil memapah istrinya ke kamar lalu membaringkan tubuh Kynara dan menyelimutinya.
Kynara hanya diam, sementara Reza berlalu ke dapur untuk melanjutkan pekerjaan Kynara yang sedang membuat sarapan.
"Nanti selesai sarapan kita ke dokter, ya. Aku takut kamu kenapa-napa soalnya akhir-akhir ini kamu jadi sering sakit."
"Aku nggak apa-apa kok Mas. Nanti sebentar lagi juga sembuh, ini cuma kecapean aja kok."
"Nggak nggak, kamu harus pergi ke dokter buat mastiin keadaan kamu. Aku antar ya."
Waktu yang masih pagi membuat keadaan rumah sakit sedikit lengang. Belum banyak pasien yang berkunjung sehingga Reza dan Kynara tak harus mengantri lama untuk menunggu panggilan.
Sepuluh menit kemudian tiba giliran Kynara untuk diperiksa. Dengan di dampingi suaminya dia masuk ke ruangan yang serba putih itu.
Dengan dada berdebar, Kynara mengikuti serangkaian tes, wajahnya tegang menanti keterangan dari dokter.
"Ibu Kynara nggak apa-apa, kok, Pak, Bu." ujar dokter sambil tersenyum ke arah mereka.
"Nggak apa-apa gimana maksudnya Dok?" tanya Reza dengan nada tak sabar.
"Ibu Kynara sehat, dia hanya sedang hamil. Usia kandungannya menginjak lima minggu. Selamat ya buat kalian." ujar dokter tersebut sambil mengulurkan tangannya ke arah Reza dan Kynara.
"Istri saya hamil Dok?"
Dokter hanya mengangguk sambil tersenyum, lalu menyerahkan resep obat yang harus di tebus, tak lupa memberi nasihat agar Kynara banyak istirahat dan menjaga kandungannya.
Sepanjang perjalanan pulang, bibir Reza gak henti mengulaskan senyum sumringah sambil menggenggam tangan Kynara dan mengecupnya berkali-kali.
Kynara hanya tersenyum melihat tingkah suaminya sambil memegangi perutnya yang masih rata.
"Terimakasih ya sayang, kamu udah bikin aku bahagia banget hari ini." kata Reza sambil memandang Kynara dengan penuh cinta.
Kynara hanya mengangguk dan tersenyum, tangan kirinya tak lepas memegangi perutnya, tak menyangka bahwa kini telah hadir buah hatinya bersama Reza di dalam rahimnya tersebut.
Dia berjanji akan menjaganya dengan baik, walaupun dulu sempat menolak untuk hamil, namun ketika tahu di perutnya telah hadir sosok mungil yang diidamkan suaminya tak ayal membuat dia senang dan bahagia.
Bersambung....
-----
#Mantan_Istri
Part 3
Seorang anak kecil sedang asik bermain di halaman belakang rumahnya. Di sampingnya tampak seorang wanita duduk di kursi santai sambil membolak balik majalah. Rumah dengan ukuran sedang itu tampak asri, halaman belakang yang lumayan luas dengan rumput jepang yang terhampar bak permadani. Di tengahnya terdapat kolam mini yang di huni beberapa jenis ikan, dan di samping kolam di kelilingi oleh aneka bunga anggrek dan yang lainnya sehingga tampak sedap dipandang mata.
"Ma, teman-teman semua sekolahnya di antar jemput sama ayahnya. Ardan juga pengen kaya mereka."
Sukma menghentikan aktivitasnya, menutup majalah lalu menghampiri Ardan.
"Mama juga bukannya gak mau ayah nganter jemput Ardan, tapi Ardan tahu sendiri kan kalau rumah Papa jauh. Nggak mungkin juga kalau Papa tinggal di sini," jawab Sukma sambil mengelus pelan kepala anak semata wayangnya itu.
Ardan hanya terdiam memandangi mainan yang tercecer di teras rumahnya.
"Masuk yu, Mama buatin makan siang ya," ajak Sukma sambil mnggandeng tangan Ardan.
🌺🌺🌺🌺
Sukma terdiam di balkon kamarnya dengan memandangi pekatnya malam. Dia terdiam menikmati pemandangan khas malam yang tampak begitu indah dengan hiasan sinar lampu dari rumah penduduk.
Ingatannya melayang ke beberapa tahun silam. Dulu, ketika malam yang dingin seperti ini Reza selalu ada menemaninya menikmati malam bersama dengan memberikan kehangatan. Pelukan mesra selalu dia rasakan setiap harinya. Tapi, itu dulu, ketika mereka masih terjalin dalam suatu ikatan pernikahan.
Dia sadar, bahwa dirinya terlalu ambisius dan mengekang suaminya. Sifatnya yang pecemburu dan mudah curiga, membuat mereka kerap kali bertengkar yang di akhiri dengan permintaan maaf dari Reza.
Karena sifatnya itulah yang malah membuat rumah tangga mereka hancur, ditambah lagi dengan kesalahan Sukma yang membuat Reza murka hingga menyebabkan rumah tangga mereka karam bak diterpa badai.
Dan kini, dia menyesali atas segala sikap dan perbuatannya di masa lalu. Juga karena kesalahan dirinya yang begitu fatal, membuat Reza pergi dan menceraikannya.
Tanpa terasa air matanya jatuh perlahan mengenang kehidupannya di masa lalu. Ternyata, membunuh perasaan itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi begitu tahu fakta yang sebenarnya tentang mantan suaminya, membuat dia semakin tersiksa dengan perasaannya sendiri.
Bahkan, begitu tahu Reza telah menikah dengan Kynara, hatinya diliputi kecemburuan yang membara. Dia tak terima Reza mendapatkan perempuan lain sebagai pengganti dirinya hingga muncullah niat untuk merebut Reza kembali dari tangan Kynara.
"Kau pernah jadi milikku, dan kini harus kembali manjadi milikku. Siapapun tak boleh ada yang memilikimu selain aku." desis Sukma dengan pandangan mata yang menerawang.
🌺🌺🌺🌺
Reza sedang sibuk memeriksa keuangan yang masuk di minggu ini. Matanya tak berhenti fokus pada lembaran kertas di depannya hingga suara dering ponsel mengagetkannya dan mengalihkan perhatian Reza.
'Halo.'
'Halo, Mas. Masih di kantor?' sapa suara di ujung telepon sana yang tidak lain adalah Kynara.
'Iya sayang masih di kantor, kenapa?'
'Nanti kalau pulang bawain rujak yang dijual sama Abang di dekat restoran Mas ya.'
'Iya boleh, mau apa lagi?'
'Pengen ayam geprek, aku laper Mas.'
'Belum makan?'
'Cuma buah aja.'
'Kamu ini kan lagi hamil kok nggak makan, nanti sakit loh sayang.'
'Nggak suka nasi Mas, bau.'
'Ya udah, sebentar lagi Mas pulang ya.'
Lalu tut, telepon terputus.
Reza menghela nafas perlahan, lalu bangkit dari kursi dan merenggangkan ototnya yang terasa pegal setelah hampir seharian dia berkutat dengan lembaran kertas di hadapannya.
Sampai di rumah, dia disambut dengan pelukan manja dari istrinya. Entah kenapa semenjak hamil sifat Kynara menjadi sangat manja dan sensitif. Terkadang dia marah-marah hanya karena hal sepele, tapi, Reza memakluminy karena dia lebih pengalaman.
"Sayang, besok aku harus pergi untuk melihat kafe yang baru direnovasi itu. Kamu mau ikut?" tanya Reza ketika mereka sedang bersantai menonton tv.
"Nggak ah Mas, aku masih mabok. Kalau ikut takut nantinya malah ngerepotin di sana, apalagi perjalanannya lumayan jauh."
"Beneran nih nggak mau ikut?"
"Bener Mas. Aku di rumah aja, ya."
"Ya udah istirahat aja di rumah kalau gitu. Ingat ya, kamu nggak boleh cape-cape kasian dede bayinya nanti ikut kecapean," ujar Reza sambil membelai perut Kynara yang sudah mulai buncit.
"Oh iya Mas, kafe itu kan deket rumahnya Ardan, awas loh kamu jangan coba-coba deketin mak lampir itu."
"Ya nggaklah, ngapain juga deket-deket dia. Sukma itu bukan siapa-siapa aku, sayang."
"Ya siapa tahu aja, apalagi kan Mbak Sukma masih cinta sama Mas, makanya dia ngejar-ngejar Mas terus padahal dia udah tahu kalau Mas itu udah nikah lagi."
"Itu berarti Masmu ini ganteng banget makanya terus dikejar-kejar, ya kan?" jawab Reza sambil memainkan alisnya.
"Oh gitu, ya oke lah. Malam ini Mas tidur di sofa sendirian." ujar Kynara ketus yang membuat Reza tertawa terbahak-bahak melihat reaksinya yang tiba-tiba cemberut.
Esoknya, Reza bersiap-siap untuk pergi sesuai dengan rencananya semalam. Kafe lama yang baru saja di renovasi itu terletak di dekat kediaman Sukma karena memang usaha itu sudah dia rintis semenjak dia dan Sukma masih menjadi suami istri.
Sesampainya di sana, dia disambut ramah oleh para pekerja lalu berkeliling melihat-lihat keadaan kafe yang hampir selesai di renovasi.
Waktu menunjukan pukul satu membuat cuaca panas terasa menyengat. Reza menuju halaman belakang kafe berniat istirahat. Dia berdiri menikmati angin sepoi-sepoi sambil mengamati tempat di sekelilingnya yang lumayan teduh karena banyak pohon berdaun rindang yang sengaja ditanam.
Sedang asik menikmati hawa sejuk, tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perutnya yang memeluk belakang punggungnya.
"Mas, aku senang ketemu kamu di sini," terdengar suara yang seperti sengaja mendesah di telinganya.
"Bagaimana kau tahu aku ke sini, Sukma?" tanya Reza datar tanpa merespon perlakuan Sukma.
"Tentu saja aku tahu, bukankah insting seorang wanita itu tidak pernah salah terhadap lelaki yang di cintainya?"
"Lepaskan, Sukma!"
"Tidak, Mas. Aku masih mencintaimu dan aku selalu merindukan saat-saat kita mereguk madu asmara kita berdua."
"Semua itu sudah berlalu Sukma. Kau dan aku sudah berakhir." jawab Reza sambil melepas paksa pelukan Sukma.
"Aku menyesal sudah menyia-nyiakan mu, aku ingin kita seperti dulu lagi walaupun harus ada Kynara di antara Kynara."
"Penyesalanmu itu sudah tak berarti apapun untukku. Bukankah kamu sendiri yang membuangku? Aku sudah katakan aku akan pergi dari hidupmu, pantang bagiku menjilat ludah sendiri." suara Reza terdengar tegas namun datar.
"Jangan pernah ganggu hidupku lagi sekalipun itu Ardan sebagai alasanmu karena kelakuan mu ini sungguh membuatku muak." ujar Reza sambil berlalu meninggalkan Sukma yang masih mematung di tempat.
Sukma menatap nanar kepergian mantan suaminya, hatinya terasa tercabik mengetahui Reza begitu terang-terangan menolaknya.
Reza pamit kepada para pekerja dan bergegas menuju mobilnya untuk pulang. Kehadiran Sukma di sini, kembali mengoyak luka lama yang telah sembuh. Dulu, mereka saling mencintai. Namun, kecintaan Sukma terhadap dirinya yang menggila membuat Sukma menjadi over protektif, mudah cemburu dan curiga hanya karena hal sepele.
Pernah suatu ketika Reza mengantarkan pelanggan yang tak lain adalah adik dari temannya. Gadis tersebut pingsan saat sedang di kafe bersama teman-temannya sehingga membuat Reza terpaksa mengantarkan pulang ke apartemen temannya dengan mengendarai mobilnya.
Lalu tanpa sengaja ketika mobilnya ke luar dari halaman parkir kafe datang Sukma yang mengantarkan makan siang untuk Reza. Melihat mobil suaminya pergi spontan Sukma mengikutinya hingga mobil Reza berhenti di sebuah apartemen dan Reza keluar dari mobil tersebut membopong seorang gadis.
Sukma marah, dia cemburu dan menyangka suaminya bermain mata dengan gadis tersebut apalagi ketika Reza lama tak keluar dari apartemen itu, semakin yakinlah dia bahwa Reza selingkuh tanpa dia cari kebenarannya.
Ketika di rumah, pertengkaranpun pecah tak bisa terelakkan. Sukma tetap dengan pendiriannya menuduh Reza telah berkhianat, sementara Reza berusaha menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya, dan kenapa dia harus lama di apartemen itu. Namun, Sukma tak mau menerima apapun penjelasan suaminya.
Sukma kalap, dia menghancurkan seluruh isi kamar lalu mengemasi bajunya dan pulang ke rumah orang tuanya. Berhari-hari dia menghindari Reza, tak pernah mau menemuinya walaupun Reza sudah menjelaskan cerita yang sebenarnya kepada orang tua Sukma.
Reza akhirnya mengalah, dia membiarkan Sukma tinggal di rumah orang tuanya dengan harapan agar Sukma sadar dan dapat mendinginkan isi hatinya. Namun dua minggu pasca kepulangan Sukma, dia menerima pesan sebuah video yang menunjukkan Sukma sedang melakukan hal terlarang bersama orang lain dalam kondisi mabuk.
Amarah Reza seketika memuncak, sebagai seorang lelaki dia merasa harga dirinya jatuh melihat perbuatan Sukma. Dia lalu mmdatangi kediaman orang tua Sukma lalu menceritakan perihal video yang dilihatnya.
Mengetahui putrinya telah berbuat tak senonoh membuat orang tua Sukma marah. Mereka bahkan bertengkar hebat di depan Reza. Ternyata kejadian tersebut tak sepenuhnya disadari oleh Sukma karena memang dia mabuk. Sukma yang saat itu stres memikirkan rumah tangganya pergi ke klub malan bersama teman-temannya. Namun, karena dia kurang kontrol menyebabkan dirinya terjerumus minuman haram yang berimbas pada perbuatan terlarang.
Sejak saat itulah Reza berikrar dalam hati, sebesar apapun cintanya pada Sukma dia gak akan kembali pada perempuan tersebut karena Sukma dengan sengaja telah menodai sucinya pernikahan mereka. Meskipun kini dia harus rela berpisah dengan Ardan, anak semata wayangnya yang memilih tinggal bersama Sukma.
Bersambung ....
-----
#Mantan_Istri
Part 4
Kynara sedang jalan-jalan di sekitar komplek perumahannya dengan ditemani Reza. Perutnya sudah tampak buncit karena kahamilannya sudah masuk usia 9 bulan. Oleh karena, setiap pagi dia rutin jalan-jalan agar badannya tetap sehat dan proses kelahirannya lancar.
"Mas, kamu mau anak kita laki-laki atau perempuan?" tanya Kynara sambil tetap berjalan dengan tangan digandeng mesra oleh suaminya.
"Laki-laki ataupun perempuan bagiku sama aja, sayang. Yang penting kalian berdua sehat." jawab Reza.
"Oh iya, Mas. Kapan Mas ngajak Ardan ke sini? Aku kangen sama dia, udah lama kita nggak ketemu."
"Nanti kalau dia libur sekolah, Mas coba ajak dia ke sini, ya. Mudah-mudahan dia mau nginep di sini."
"Ide bagus tuh, Mas. Tapi inget, jangan bawa Mak Lampir itu ke sini!" ucap Kynara dengan sengit.
"Kamu sentimen banget sih sama dia," ujar Reza dengan mulut menahan tawa.
"Ya habisnya, kelakuan dia bikin aku sebel Mas. Aku kaya punya madu gara-gara Mbak Sukma yang suka ngerecokin Mas." jawab Kynara dengan wajah ditekuk.
"Yang penting kan Mas sayangnya sama kamu bukan dia."
"Iya sih, tapi kesel aja. Kayanya dia masih ngarep banget ya sama Mas?"
"So tahu kamu, udah ah pulang yuk! Udah panas banget nih, nanti kamu kecapean."
Kynara mengangguk, mereka berbalik arah untuk pulang.
🌺🌺🌺🌺
Jam di dinding menunjukan pukul setengah lima pagi. Kynara beringsut dari tempat tidurnya menuju kamar mandi, diliriknya di samping tempat tidurnya, sepertinya Reza sudah bangun lebih dahulu. Semenjak hamil, Reza memang lebih suka bangun awal untuk membantu pekerjaan Kynara atau membuatkan sarapan.
Kynara berjalan perlahan ke kamar mandi, perutnya terasa mulas seperti ada kebutuhan biologis yang harus dituntaskan. Namun, kali ini rasa mulasnya sedikit berbeda. Apalagi hampir semalaman tadi dia tak bisa tidur karena perutnya terasa sedikit mulas.
'Apa aku akan melahirkan? Tapi dokter bilangnya seminggu lagi,' gumam Kynara dalam hati.
Selesai mencuci muka dia keluar dari kamar mandi lalu mendapati suaminya sedang menata sarapan yang dibawanya di atas nampan.
"Kamu udah bangun, Sayang? Kok mukanya ditekuk gitu?" tanya Reza sambil mengernyitkan keningnya.
"Perutku kok mulas ya Mas? Jangan-jangan mau melahirkan?"
"Bukannya dokter bilang seminggu lagi?"
"Iya sih, tapi siapa tahu kan, Mas?"
"Kalau gitu kita ke dokter aja sekarang, gimana?"
"Nanti aja deh, takutnya malah bukan mau lahiran."
"Ya udah terserah kamu. Sarapan dulu yu!"
Hari ini Reza memilih untuk libur kerja mengingat kondisi Kynara yang mengkhawatirkan. Dia takut Kynara akan melahirkan saat dia sedang kerja sementara di rumah tak ada siapa-siapa yang bisa dimintai tolong.
Benar saja, jam sembilan pagi Kynara benar-benar merasakan kontraksi yang hebat disertai cairan yang mengalir di pahanya. Reza yang sudah paham akan kondisi tersebut berusaha tenang, lalu membawa Kynara ke rumah sakit terdekat.
Sepuluh menit kemudian mereka sampai, Reza memanggil suster meminta bantuan. Dengan sigap para perawat tersebut langsung membawa Kynara ke ruang khusus bersalin. Dengan bantuan seorang bidan dan dua asistennya, akhirnya Kynara berhasil melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Proses kelahirannya sangatlah cepat, membuat dia dan suaminya menangis terharu apalagi ketika bidan memberikan bayi merah tersebut pada Kynara, dia tak kuasa menahan tangis kebahagiaannya.
Reza mengadzani bayi mungil tersebut, lalu menyerahkannya pada perawat. Tanpa terasa dia menitikkan air mata, bahagia dan terharu ketika melihat bayi mungil nan cantik itu.
"Terimakasih sayang, kamu sudah melengkapi kebahagiaanku," ucap Reza sambil mencium kening istrinya.
Kynara tersenyum, tangannya menggenggam jari suaminya dengan lembut.
"Dia cantik ya, Mas."
"Sangat cantik, sama kaya kamu,"
"Mas mau kasih nama apa buat bayi kita?"
"Mmm ... Gimana kalau Zakyna? Artinya Reza Kynara."
"Nama yang cantik,"
Reza dan Kynara saling melempar pandangan lalu keduanya tersenyum.
Keesokkan harinya, Kynara sudah diperbolehkan pulang karena kondisinya pasca melahirkan telah membaik. Dokter hanya mengatakan bahwa Reza harus membantu dan mendukung Kynara agar bisa memberikan ASI secara eksklusif.
Sesampainya di rumah Kynara terkejut ketika melihat kamar bayi yang sudah disiapkan sebelumnya tampak penuh dengan mainan dan berbagai macam boneka dengan warna pink. Ternyata tanpa sepengetahuan dirinya Reza sengaja menghias kamar putri kecilnya itu dengan dibantu oleh kedua orang tuanya yang sengaja datang langsung ke rumah mereka ketika Reza memberitahukan bahwa Kynara telah melahirkan.
"Ibu ...!" seru Kynara dengan membulatkan matanya tatkala melihat mertuanya sedang berdiri di kamar Zakyna.
"Selamat datang cucu nenek yang cantik," sambut ibu Reza sambil merentangkan kedua tangannya.
Kynara menitikkan air matanya, terharu dan bahagia melihat bagaimana kedua mertuanya begitu antusias menyambut kedatangan cucu perempuannya.
"Oh iya sayang, mama kamu katanya belum bisa ke sini nungguin dulu Anita pulang kampung katanya." kata Reza seketika teringat pesan orang tua Kynara.
"Nggak apa-apa, Mas."
Suasana rumah yang tadinya sepi, kini berubah menjadi ramai dengan adanya tangisan si kecil Zakyna. Seringkali Kynara dibuat kewalahan karena tangisan Zakyna yang begitu kencang. Dia yang baru pertama kali melahirkan dan merawat bayi, sedikit kerepotan ketika menghadapi tangisan putrinya. Beruntung ada mertuanya yang sengaja menginap untuk membantunya, sehingga dia banyak belajar dari mertuanya yang tentu sudah sangat berpengalaman.
Seminggu kemudian kedua orang tuanya datang dari kampung dengan membawa aneka olahan khas daerah. Semakin lengkaplah kebahagiaannya. Sementara ibu mertuanya memilih pulang setelah kedatangan besannya tersebut karena ayah Reza sendiri di rumah.
Untuk sejenak, karena kesibukkannya mengurus bayi Kynara bisa bernafas dengan tenang dan melupakan Sukma yang selama ini selalu merongrong hidupnya. Sejak Kynara melahirkan, entah kenapa Sukma tak pernah ada kabar walaupun sekedar membicarakan Ardan seperti yang sering menjadi alasannya ketika menghubungi Reza.
"Mas, kok dari tadi bengong. Melamun, ya?" tanya Kynara yang merasa heran melihat sikap Reza seharian ini tampak lebih banyak diam.
"Nggak, kok, gak melamun. Mas cuma kangen aja sama Ardan."
"Mas nggak coba telepon Sukma gitu, tanyain gimana kabarnya Ardan. Atau Mas samperin aja ke rumahnya!"
"Males, kamu tahu sendiri kan Sukma kaya gimana. Nanti dia kira Mas mau ketemu sama dia,"
"Mas udah transfer uang buat Ardan?"
"Belum, nanti lah Mas belum sempet. Lagian kan jatah bulan lalu Mas ngirimnya agak banyak masa nggak cukup,"
"Aku cuma ngingetin aja sih, jangan sampai Mas lupa,"
"Iya sayang, makasih ya udah ngingetin,"
"Sama-sama, Mas. Makan siang dulu yu, aku udah siapin dari tadi!"
"Ayo! Zakyna tidur?"
"Iya, Mas,"
🌺🌺🌺🌺
Kynara sedang asik bermain bersama putri kecilnya. Setiap hari ketika Reza berangkat kerja, dia menghabiskan hari-harinya dengan menamani Zakyna bermain. Setelah melahirkan, Reza bersikeras untuk mempekerjakan seorang ART di rumahnya agar Kynara bisa fokus mengurus Zakyna. Kynara setuju, dengan catatan, bahwa untuk memasak biar dia sendiri yang mengerjakannya. Pembantu hanya bertugas beres-beres rumah, mencuci baju, dan mengurusi halaman rumah.
Ketika dirinya sedang antusias mengajak bayinya belajar bicara, tiba-tiba bel pintu rumahnya berbunyi. Kynara meletakkan bayinya di atas kasur yang empuk, penasaran karena tak biasanya dia kedatangan tamu. Kynara berlalu ke arah datangnya suara yang ternyata pintunya sudah di bukakan oleh Mbok Narti pembantu rumahnya.
Demi melihat siapa seseorang yang bertamu ke rumahnya membuat Kynara terkejut. Dia mematung di tempatnya berdiri, lalu sesaat kemudian tersadar ketika Mbok Narti lewat di hadapannya.
"Mbak Sukma?"
Bersambung ....
-----
#Mantan_Istri
Part 5
Seorang perempuan dengan rambut merah sebahu tampak berdiri angkuh di
hadapannya. Sementara di samping kirinya terdapat anak kecil yang
digandengnya. Kynara sejenak mematung memandangi kedua orang di
hadapannya tersebut.
"Mbak Sukma? Silahkan masuk, Mbak," ucap Kynara sesaat setelah dia terdiam. Melihat Sukma datang bersama Ardan membuat dia sedikit paham tujuan Sukma mendatangi rumahnya.
Sukma melenggang masuk tanpa menghiraukan pemilik rumah, lalu duduk di sofa ruang tamu tersebut dengan kaki disilangkan. Kynara lalu ikut duduk bersebrangan dengan tamunya.
Matanya tak lepas memperhatikan Sukma yang menelisik keadaan rumahnya. Tampak sekali Sukma menunjukkan sikap ketidaksukaannya terhadap istri baru mantan suaminya itu.
Tak lama kemudian muncul Mbok Narti membawakan minuman dan makanan ala kadarnya.
"Terimakasih ya, Mbok. Titip Zakyna sebentar ya," ujar Kynara sambil tersenyum.
"Baik, Neng," lalu Mbok Narti undur diri dari hadapannya.
"Silahkan Mbak, diminum tehnya," ucap Kynara berusaha untuk mencairkan kebekuan di antara keduanya. Walaupun tidak menyukai Sukma, Kynara tetap berusaha berlaku sopan untuk menghormati tamunya tersebut.
"Nggak usah, aku gak lama kok," jawab Sukma dengan ketus.
"Oh iya, seminggu ke depan aku ada urusan penting ke luar kota. Tolong kamu jaga Ardan, kamu nggak ada kerjaan kan? Jadi nggak masalah dong kalau aku titip dia ke kamu?"
"Iya nggak apa-apa, Mbak. Lagian sebenarnya kemarin Mas Reza berencana mau jemput Ardan buat liburan di sini," jawab Kynara berusaha sambil tersenyum.
"Halah alesan, bilang aja udah lupa sama Ardan karena punya anak lagi," kata Sukma sambil mengibaskan tangannya.
"Nggak gitu Mbak. Kemarin Mas Reza emang berencana buat jemput Ardan, tapi karena beberapa hari ini dia sibuk jadi belum sempat,"
"Terserahlah, dan kamu nggak usah so baik sama aku. Dan tolong bilang sama Reza, jangan mentang-mentang punya anak lagi dia jadi lupa sama Ardan. Ingat, Ardan adalah anaknya juga, jadi dia wajib memperhatikannya," ujar Sukma dengan nada sinis.
Kynara hanya menghela napas perlahan menghadapi sikap Sukma yang begitu terang-terangan membencinya. Dia sama sekali tak tertarik untuk meladeninya, apalagi di hadapan anak kecil.
"Sayang, kamu tinggal dulu sama Ayah, ya. Nanti kalau urusan Mama selesai, Mama jemput lagi. Minta temenin main dan jalan-jalan ya sama Ayah, selama ini kan kamu jarang banget main sama Ayah," ucap Sukma kepada Ardan dengan ujung mata melirik Kynara seolah-olah sengaja menyindirnya.
Ardan mengangguk kecil, anak itu memang penurut dan jarang bicara.
Sukma berdiri, mengibaskan pakaian dengan tangannya seakan-akan dia mengusir debu di bajunya. Lalu disambarnya tas kecil yang dia bawa kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Kynara tanpa pamit. Kentara sekali sikapnya itu menunjukkan betapa bencinya dia terhadap Kynara.
Melihat sikap mantan istri suaminya yang begitu menyebalkan, Kynara tak mau ambil pusing. Dia mengalihkan perhatiannya kepada Ardan lalu mengajak anak tersebut masuk ke dalam untuk diperkenalkan kepada adiknya.
"Sini sayang, nah ini Zakyna, adik Ardan juga. Salaman dong Kakak sama dede Zakyna," Kynara berusaha mendekatkan Ardan dengan Zakyna karena bagaimanapun Ardan dan Zakyna adalah adik kakak hanya lain ibu saja.
Ketika putrinya terlelap, Kynara tampak sibuk di dapur memasak untuk makan malamnya. Hari ini dia sengaja memasak menu spesial kesukaan Ardan dan suaminya. Tangannya begitu licah meracik bumbu, memotong sayuran, lalu menyiapkan beberapa bahan yang akan dia masak.
Satu jam kemudian pekerjaannya selesai, dia lalu menatanya sedemikian rupa di atas meja. Zakyna yang memang sudah bangun dari tadi diasuh oleh Mbok Narti.
Setelah selesai menyiapkan segalanya dia bergegas mandi. Hanya butuh waktu lima belas menit untuk membersihkan badan dan merias wajah dengan make up natural, agar wajahnya terlihat lebih segar.
Dilihatnya Zakyna sedang bermain bersama Ardan dengan ditemani oleh Mbok Narti. Dia lalu ikut bergabung bersama mereka.
Tak lama kemudian, terdengar suara mobil memasuki halaman rumahnya. Kynara hapal betul suara mobil itu lalu bergegas menuju pintu depan.
"Surprise ...!" teriak Kynara sesaat setelah membuka pintu sambil menggandeng tangan Ardan.
Reza terkejut, apalagi melihat Ardan ada di samping istrinya. Berkali-kali dia mengedipkan matanya untuk memastikan bahwa penglihatannya tidak salah.
"Mas, Ardan mau nginep di sini loh, tadi Mbak Sukma nganterin kesini," ujar Kynara sambil mengambil tangan kanan Reza lalu menciumnya dengan diikuti oleh Ardan.
"Ayah, Ardan kangen," ucap anaknya tersebut dengan kepala mendongak memandangi Reza.
"Ayah juga kangen sayang, Ardan kok nggak bilang-bilang kalau mau kesini?" Reza mensejajarkan tubuhnya dengan Ardan lalu mencium kening anaknya tersebut.
"Mas mandi dulu, ya, habis itu kita makan malam. Aku udah masakin makanan kesukaan Mas sama Ardan loh."
"Ya boleh," jawab Ardan.
Mereka lalu beriringan masuk ke dalam rumah.
Sementara Reza mandi, Kynara menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Ini memang kebiasaan Kynara, sebagai wujud bakti seorang istri terhadap suaminya, dia selalu menyiapkan segala kebutuhan suaminya.
Suasana makan malam kali ini tampak beda dari biasanya karena kehadiran Ardan. Zakyna diasuh oleh Mbok Narti karena memang usianya baru satu bulan tidak memungkinkan untuk digendong dengan posisi Kynara sedang makan. Di hadapan ayahnya Ardan banyak bercerita tentang teman-teman sekolahnya. Reza dan Kynara begitu antusias mendengarkan celoteh riang dari Ardan. Momen ini memang jarang sekali terjadi mengingat Ardan yang tinggal bersama ibunya.
Malam menjelang mereka berkumpul di ruang keluarga. Reza terlihat begitu bahagia karena bisa melepaskan rindu terhadap anak pertamanya itu apalagi Ardan akan menginap selama seminggu ke depan, jadi dia punya banyak waktu untuk bisa bermain dengannya.
"Sayang, tadi Sukma nggak ngapa-ngapain kamu, kan?" tanya Reza sesaat setelah mereka memasuki kamarnya.
"Nggak kok, Mas. Nih buktinya aku baik-baik saja," jawab Kynara sambil mengambil menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya.
"Syukurlah, aku khawatir dia kasar sama kamu karena aku tahu banget sipat dia kaya gimana,"
"Dia mana berani buat kekacauan di sini Mas, ini kan bukan rumahnya. Mas nggak usah khawatir, kalau dia macam-macam aku pasti bisa mengatasinya,"
Reza mencium kepala Kynara lalu menarik selimut untuk menuju alam mimpi.
🌺🌺🌺🌺
Seminggu sudah Ardan tinggal di rumah Ayahnya, dia sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya bahkan sudah begitu akrab dengan adiknya. Harusnya Ardan pulang hari ini namun karena urusan Sukma belum selesai jadi dia akan tinggal beberapa hari lagi.
Kynara tentu saja tak keberatan walaupun Ardan tinggal lebih lama di sini selama Sukma tak mengganggu ketenangan rumah tangganya. Apalagi Reza lebih bahagia karena dia masih bisa berkumpul dngan anaknya. Reza bukan tak ingin meminta Ardan untuk tinggal bersamanya, tapi karena Sukma bersikukuh untuk mengurus dan membesarkan anaknya membuat Reza terpaksa mengalah.
"Bunda, aku mau tinggal di sini sama Ayah sama Bunda. Di rumah Mama sepi, Mama sering pergi dan aku tinggal di rumah Eyang," ujar Ardan mengutarakan keinginannya ketika mereka sedang bermain bersama.
"Nanti Bunda bilang sama Ayah, ya, kalau Ardan mau disini," jawab Kunara sambil mengelus lembut kepala anak sambungnya tersebut.
"Jangan Bunda, soalnya nggak diijinin sama Mama, katanya kalau aku pergi Mama di rumah sendiri, tapi aku malah sering di tinggal pergi sama Mama," ucap Ardan dengan wajah sendu.
"Sayang, Mama kamu benar. Kalau kamu tinggal di sini nanti Mama sendirian di rumah. Lagian Mama juga kan pergi kerja bukan pergi untuk main-main. Jadi, kamu harus nurut ya sama Mama. Kalau kamu kangen sama Ayah kan bisa datang kesini," Kunara berusaha memberi penjelasan kepada Ardan.
Sukma memang keras kepala, keputusannya tidak bisa dirubah oleh siapa pun. Oleh karena itu, Kynara berusaha untuk bersikap netral karena takut Sukma akan menuduhnya macam-macam yang menyebabkan terjadinya pertengkaran di antara mereka.
Jam di dinding menunjukan pukul sembilan pagi, Kynara baru saja selesai menidurkan Zakyna lalu menemani Ardan yang sedang menonton acara tv kesukaannya.
Tiba-tiba, di luar terdengar suara mobil yang memasuki halaman rumahnya. Kynara beranjak menuju pintu depan, lalu mengintip dari balik kaca rumahnya siapa gerangan yang datang di pagi-pagi begini.
"Mbak Sukma," gumam Kynara ketika mengetahui siapa seseorang di dalam mobil tersebut.
Dia menghela napas perlahan, berusaha menyiapkan mental dan kesabarannya untuk menghadapi wanita itu. Belum sempat membuka pintu, terdengar suara bel rumah yang ditekan dan ngan tidak sabaran.
"Mana anakku?" tanya Sukma tanpa basa basi begitu pintu terbuka.
"Ada di dalam, masuk dulu Mbak," jawab Kynara sambil membuka pintu lebar-lebar mempersilahkan tamunya masuk.
"Nggak usah, panggil dia kesini," Sukma tak menghiraukan ajakan Kynara. Kepalanya melongok ke dalam mencari anaknya.
Kynara beranjak dari hadapan Sukma, memanggil Ardan lalu kembali menghampiri wanita tersebut.
"Mama ...." ucap Ardan sambil mnghambur ke pelukan ibunya.
"Kamu baik-baik aja kan, sayang?" tanya Sukma sambil meneliti tubuh Ardan dari rambut sampai ujung kakinya.
"Aku baik kok Ma. Bunda Nara juga sayang banget sama aku," celoteh Ardan sambil melirik ibu sambungnya.
"Ya udah kita pulang, ya!"
"Nggak mau Ma, Ardan mau di sini sama ayah," rengek Ardan.
"Nggak boleh Ardan, kamu harus pulang!" nada Sukma terdengar tegas.
"Tapi Ma-"
"Pulang sekarang!" bentak Sukma seketika membuat Ardan ketakutan lalu beringsut perlahan menuju mobil ibunya.
"Mbak, nggak boleh gitu sama Ardan," sela Kynara merasa tidak enak melihat sikap Sukma yang begitu keras terhadap anaknya.
"Diam kamu! Kamu nggak berhak ikut campur!" sentak Sukma dengan galak.
"Bukannya gitu, Mbak, dia kan masih kecil,"
"Kamu siapa hah? Berani-beraninya mengatur aku. Heh! Ingat ya, aku ibu kandungnya, jadi aku berhak atas apapun terhadap Ardan!" seru Sukma dengan telunjuk menuding Kynara.
"Nggak usah tunjuk-tunjuk, Ibu Sukma Ambarwati yang terhormat!" Kynara mendadak emosi karena Sukma sikap Sukma.
"Oh, sudah berani melawan rupanya. Kamu itu masih anak kemarin sore, tapi kurang ajar. Aku heran, apa yang Reza banggakan dari kamu sampai-sampai dia memilih kamu jadi istrinya, perempuan kampung!"
"Jaga mulutmu! Oh aku jadi tahu kenapa Mas Reza lebih memilih aku dari pada kembali ke istrinya. Ternyata sikap istrinya lebih kampungan dari pada seorang perempuan kampung."
"Apa?" Sukma melayangkan tangannya hendak menampar wajah Kynara namun berhasil ditangkap.
"Jangan pernah coba-coba menyentuh saya sedikitpun. Ingat! Sikap dan perbuatanmu itu akan menjadi contoh yang buruk untuk anakmu sendiri," ujar Kynara sambil menghempaskan tangan Sukma.
"Awas kau, ya! Urusan kita belum selesai,"
"Terserah! Silahkan pergi dari tempat saya!"
Sukma mendengus tidak suka, dia pergi meninggalkan Kynara dengan menghentak kan kakinya. Dia merasa Kynara kali ini seperti sengaja menantangnya.
"Awas kau Kynara. Rasakan pembalasan ku nanti. Akan kurebut kembali Reza dari tanganmu."
Bersambung ....
"Mbak Sukma? Silahkan masuk, Mbak," ucap Kynara sesaat setelah dia terdiam. Melihat Sukma datang bersama Ardan membuat dia sedikit paham tujuan Sukma mendatangi rumahnya.
Sukma melenggang masuk tanpa menghiraukan pemilik rumah, lalu duduk di sofa ruang tamu tersebut dengan kaki disilangkan. Kynara lalu ikut duduk bersebrangan dengan tamunya.
Matanya tak lepas memperhatikan Sukma yang menelisik keadaan rumahnya. Tampak sekali Sukma menunjukkan sikap ketidaksukaannya terhadap istri baru mantan suaminya itu.
Tak lama kemudian muncul Mbok Narti membawakan minuman dan makanan ala kadarnya.
"Terimakasih ya, Mbok. Titip Zakyna sebentar ya," ujar Kynara sambil tersenyum.
"Baik, Neng," lalu Mbok Narti undur diri dari hadapannya.
"Silahkan Mbak, diminum tehnya," ucap Kynara berusaha untuk mencairkan kebekuan di antara keduanya. Walaupun tidak menyukai Sukma, Kynara tetap berusaha berlaku sopan untuk menghormati tamunya tersebut.
"Nggak usah, aku gak lama kok," jawab Sukma dengan ketus.
"Oh iya, seminggu ke depan aku ada urusan penting ke luar kota. Tolong kamu jaga Ardan, kamu nggak ada kerjaan kan? Jadi nggak masalah dong kalau aku titip dia ke kamu?"
"Iya nggak apa-apa, Mbak. Lagian sebenarnya kemarin Mas Reza berencana mau jemput Ardan buat liburan di sini," jawab Kynara berusaha sambil tersenyum.
"Halah alesan, bilang aja udah lupa sama Ardan karena punya anak lagi," kata Sukma sambil mengibaskan tangannya.
"Nggak gitu Mbak. Kemarin Mas Reza emang berencana buat jemput Ardan, tapi karena beberapa hari ini dia sibuk jadi belum sempat,"
"Terserahlah, dan kamu nggak usah so baik sama aku. Dan tolong bilang sama Reza, jangan mentang-mentang punya anak lagi dia jadi lupa sama Ardan. Ingat, Ardan adalah anaknya juga, jadi dia wajib memperhatikannya," ujar Sukma dengan nada sinis.
Kynara hanya menghela napas perlahan menghadapi sikap Sukma yang begitu terang-terangan membencinya. Dia sama sekali tak tertarik untuk meladeninya, apalagi di hadapan anak kecil.
"Sayang, kamu tinggal dulu sama Ayah, ya. Nanti kalau urusan Mama selesai, Mama jemput lagi. Minta temenin main dan jalan-jalan ya sama Ayah, selama ini kan kamu jarang banget main sama Ayah," ucap Sukma kepada Ardan dengan ujung mata melirik Kynara seolah-olah sengaja menyindirnya.
Ardan mengangguk kecil, anak itu memang penurut dan jarang bicara.
Sukma berdiri, mengibaskan pakaian dengan tangannya seakan-akan dia mengusir debu di bajunya. Lalu disambarnya tas kecil yang dia bawa kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Kynara tanpa pamit. Kentara sekali sikapnya itu menunjukkan betapa bencinya dia terhadap Kynara.
Melihat sikap mantan istri suaminya yang begitu menyebalkan, Kynara tak mau ambil pusing. Dia mengalihkan perhatiannya kepada Ardan lalu mengajak anak tersebut masuk ke dalam untuk diperkenalkan kepada adiknya.
"Sini sayang, nah ini Zakyna, adik Ardan juga. Salaman dong Kakak sama dede Zakyna," Kynara berusaha mendekatkan Ardan dengan Zakyna karena bagaimanapun Ardan dan Zakyna adalah adik kakak hanya lain ibu saja.
Ketika putrinya terlelap, Kynara tampak sibuk di dapur memasak untuk makan malamnya. Hari ini dia sengaja memasak menu spesial kesukaan Ardan dan suaminya. Tangannya begitu licah meracik bumbu, memotong sayuran, lalu menyiapkan beberapa bahan yang akan dia masak.
Satu jam kemudian pekerjaannya selesai, dia lalu menatanya sedemikian rupa di atas meja. Zakyna yang memang sudah bangun dari tadi diasuh oleh Mbok Narti.
Setelah selesai menyiapkan segalanya dia bergegas mandi. Hanya butuh waktu lima belas menit untuk membersihkan badan dan merias wajah dengan make up natural, agar wajahnya terlihat lebih segar.
Dilihatnya Zakyna sedang bermain bersama Ardan dengan ditemani oleh Mbok Narti. Dia lalu ikut bergabung bersama mereka.
Tak lama kemudian, terdengar suara mobil memasuki halaman rumahnya. Kynara hapal betul suara mobil itu lalu bergegas menuju pintu depan.
"Surprise ...!" teriak Kynara sesaat setelah membuka pintu sambil menggandeng tangan Ardan.
Reza terkejut, apalagi melihat Ardan ada di samping istrinya. Berkali-kali dia mengedipkan matanya untuk memastikan bahwa penglihatannya tidak salah.
"Mas, Ardan mau nginep di sini loh, tadi Mbak Sukma nganterin kesini," ujar Kynara sambil mengambil tangan kanan Reza lalu menciumnya dengan diikuti oleh Ardan.
"Ayah, Ardan kangen," ucap anaknya tersebut dengan kepala mendongak memandangi Reza.
"Ayah juga kangen sayang, Ardan kok nggak bilang-bilang kalau mau kesini?" Reza mensejajarkan tubuhnya dengan Ardan lalu mencium kening anaknya tersebut.
"Mas mandi dulu, ya, habis itu kita makan malam. Aku udah masakin makanan kesukaan Mas sama Ardan loh."
"Ya boleh," jawab Ardan.
Mereka lalu beriringan masuk ke dalam rumah.
Sementara Reza mandi, Kynara menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Ini memang kebiasaan Kynara, sebagai wujud bakti seorang istri terhadap suaminya, dia selalu menyiapkan segala kebutuhan suaminya.
Suasana makan malam kali ini tampak beda dari biasanya karena kehadiran Ardan. Zakyna diasuh oleh Mbok Narti karena memang usianya baru satu bulan tidak memungkinkan untuk digendong dengan posisi Kynara sedang makan. Di hadapan ayahnya Ardan banyak bercerita tentang teman-teman sekolahnya. Reza dan Kynara begitu antusias mendengarkan celoteh riang dari Ardan. Momen ini memang jarang sekali terjadi mengingat Ardan yang tinggal bersama ibunya.
Malam menjelang mereka berkumpul di ruang keluarga. Reza terlihat begitu bahagia karena bisa melepaskan rindu terhadap anak pertamanya itu apalagi Ardan akan menginap selama seminggu ke depan, jadi dia punya banyak waktu untuk bisa bermain dengannya.
"Sayang, tadi Sukma nggak ngapa-ngapain kamu, kan?" tanya Reza sesaat setelah mereka memasuki kamarnya.
"Nggak kok, Mas. Nih buktinya aku baik-baik saja," jawab Kynara sambil mengambil menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya.
"Syukurlah, aku khawatir dia kasar sama kamu karena aku tahu banget sipat dia kaya gimana,"
"Dia mana berani buat kekacauan di sini Mas, ini kan bukan rumahnya. Mas nggak usah khawatir, kalau dia macam-macam aku pasti bisa mengatasinya,"
Reza mencium kepala Kynara lalu menarik selimut untuk menuju alam mimpi.
🌺🌺🌺🌺
Seminggu sudah Ardan tinggal di rumah Ayahnya, dia sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya bahkan sudah begitu akrab dengan adiknya. Harusnya Ardan pulang hari ini namun karena urusan Sukma belum selesai jadi dia akan tinggal beberapa hari lagi.
Kynara tentu saja tak keberatan walaupun Ardan tinggal lebih lama di sini selama Sukma tak mengganggu ketenangan rumah tangganya. Apalagi Reza lebih bahagia karena dia masih bisa berkumpul dngan anaknya. Reza bukan tak ingin meminta Ardan untuk tinggal bersamanya, tapi karena Sukma bersikukuh untuk mengurus dan membesarkan anaknya membuat Reza terpaksa mengalah.
"Bunda, aku mau tinggal di sini sama Ayah sama Bunda. Di rumah Mama sepi, Mama sering pergi dan aku tinggal di rumah Eyang," ujar Ardan mengutarakan keinginannya ketika mereka sedang bermain bersama.
"Nanti Bunda bilang sama Ayah, ya, kalau Ardan mau disini," jawab Kunara sambil mengelus lembut kepala anak sambungnya tersebut.
"Jangan Bunda, soalnya nggak diijinin sama Mama, katanya kalau aku pergi Mama di rumah sendiri, tapi aku malah sering di tinggal pergi sama Mama," ucap Ardan dengan wajah sendu.
"Sayang, Mama kamu benar. Kalau kamu tinggal di sini nanti Mama sendirian di rumah. Lagian Mama juga kan pergi kerja bukan pergi untuk main-main. Jadi, kamu harus nurut ya sama Mama. Kalau kamu kangen sama Ayah kan bisa datang kesini," Kunara berusaha memberi penjelasan kepada Ardan.
Sukma memang keras kepala, keputusannya tidak bisa dirubah oleh siapa pun. Oleh karena itu, Kynara berusaha untuk bersikap netral karena takut Sukma akan menuduhnya macam-macam yang menyebabkan terjadinya pertengkaran di antara mereka.
Jam di dinding menunjukan pukul sembilan pagi, Kynara baru saja selesai menidurkan Zakyna lalu menemani Ardan yang sedang menonton acara tv kesukaannya.
Tiba-tiba, di luar terdengar suara mobil yang memasuki halaman rumahnya. Kynara beranjak menuju pintu depan, lalu mengintip dari balik kaca rumahnya siapa gerangan yang datang di pagi-pagi begini.
"Mbak Sukma," gumam Kynara ketika mengetahui siapa seseorang di dalam mobil tersebut.
Dia menghela napas perlahan, berusaha menyiapkan mental dan kesabarannya untuk menghadapi wanita itu. Belum sempat membuka pintu, terdengar suara bel rumah yang ditekan dan ngan tidak sabaran.
"Mana anakku?" tanya Sukma tanpa basa basi begitu pintu terbuka.
"Ada di dalam, masuk dulu Mbak," jawab Kynara sambil membuka pintu lebar-lebar mempersilahkan tamunya masuk.
"Nggak usah, panggil dia kesini," Sukma tak menghiraukan ajakan Kynara. Kepalanya melongok ke dalam mencari anaknya.
Kynara beranjak dari hadapan Sukma, memanggil Ardan lalu kembali menghampiri wanita tersebut.
"Mama ...." ucap Ardan sambil mnghambur ke pelukan ibunya.
"Kamu baik-baik aja kan, sayang?" tanya Sukma sambil meneliti tubuh Ardan dari rambut sampai ujung kakinya.
"Aku baik kok Ma. Bunda Nara juga sayang banget sama aku," celoteh Ardan sambil melirik ibu sambungnya.
"Ya udah kita pulang, ya!"
"Nggak mau Ma, Ardan mau di sini sama ayah," rengek Ardan.
"Nggak boleh Ardan, kamu harus pulang!" nada Sukma terdengar tegas.
"Tapi Ma-"
"Pulang sekarang!" bentak Sukma seketika membuat Ardan ketakutan lalu beringsut perlahan menuju mobil ibunya.
"Mbak, nggak boleh gitu sama Ardan," sela Kynara merasa tidak enak melihat sikap Sukma yang begitu keras terhadap anaknya.
"Diam kamu! Kamu nggak berhak ikut campur!" sentak Sukma dengan galak.
"Bukannya gitu, Mbak, dia kan masih kecil,"
"Kamu siapa hah? Berani-beraninya mengatur aku. Heh! Ingat ya, aku ibu kandungnya, jadi aku berhak atas apapun terhadap Ardan!" seru Sukma dengan telunjuk menuding Kynara.
"Nggak usah tunjuk-tunjuk, Ibu Sukma Ambarwati yang terhormat!" Kynara mendadak emosi karena Sukma sikap Sukma.
"Oh, sudah berani melawan rupanya. Kamu itu masih anak kemarin sore, tapi kurang ajar. Aku heran, apa yang Reza banggakan dari kamu sampai-sampai dia memilih kamu jadi istrinya, perempuan kampung!"
"Jaga mulutmu! Oh aku jadi tahu kenapa Mas Reza lebih memilih aku dari pada kembali ke istrinya. Ternyata sikap istrinya lebih kampungan dari pada seorang perempuan kampung."
"Apa?" Sukma melayangkan tangannya hendak menampar wajah Kynara namun berhasil ditangkap.
"Jangan pernah coba-coba menyentuh saya sedikitpun. Ingat! Sikap dan perbuatanmu itu akan menjadi contoh yang buruk untuk anakmu sendiri," ujar Kynara sambil menghempaskan tangan Sukma.
"Awas kau, ya! Urusan kita belum selesai,"
"Terserah! Silahkan pergi dari tempat saya!"
Sukma mendengus tidak suka, dia pergi meninggalkan Kynara dengan menghentak kan kakinya. Dia merasa Kynara kali ini seperti sengaja menantangnya.
"Awas kau Kynara. Rasakan pembalasan ku nanti. Akan kurebut kembali Reza dari tanganmu."
Bersambung ....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar