Persaudaraan Muslimah Indonesia, mempelajari Islam Secara Menyeluruh.

Minggu, 02 Februari 2020

Suami Menjauh Karena Aroma Tubuhku 1 - 5

#Suami_Menjauh_Karena_Aroma_Tubuhku
*fiksi

Aku Lina, seorang istri dari suami pekerja kantor-Manager, dan ibu dari empat anak yang masih kecil.
Kesibukanku dan suami, membuat kami serumah tapi seolah tak pernah bersama, bertemu hanya di malam hari.
Aku berteman hanya tugas rumah serta kericuhan yang tidak sudah-sudah.
"Sudah pulang, Mas?" tanyaku padanya sesaat setelah masuk dan menutup pintu.
"Hmm"
Hanya itu jawabannya.

Dia mandi, lalu aku menyiapkan kopi dan selanjutnya menemaninya makan. Hanya ada keheningan dan sesekali denting sendok. Entah mengapa semua terasa semakin hambar dan sepi. Tidak ada lagi Dia yang selalu bersemangat menceritakan hari-harinya.
Semua pertanyaanku hanya dijawab iya dan tidak atau hanya berupa gumaman.
**

Di ruang TV, kini ia di sana mngesap rokok dengan cangkir kopi di meja.
Aku menghampiri untuk sekedar mengajaknya bicara ringan, sebenarnya aku mengantuk, namun kasihan padanya jika langsung ditinggal tidur.
"Tadi gimana di kantor, semuanya lancar?" Cetusku membuka obrolan
Dia menoleh, mendelik melihatku dan melirik jarak diantara kami, ada gestur tak nyaman di wajahnya.
"Minggir sedikit, aku gerah."
Aku terdiam sebentar, mencoba mencerna maksudnya. Ia memalingkan wajah dan fokus pada TV. Aku berlalu dengan hati ...
***
Beberapa hari berikutnya.
Sudah lama kami tak sekamar, karna banyaknya anak kami yang memilih tidur denganku. Setelah mereka semua tidur, aku mengganti bayu dan mencuci muka. Lalu berbaring di sampingnya.
"Lin, kamu ga mandi ya?" Tanyanya dengan wajah kesal
"Sudah kok Mas, kenapa?"
"Bau banget sih, pake sabun donk, pake deodorant!" Tandasnya.
Aku kehabisan argumen dan tak ingin beradu argumen, tentu saja semua yang ia katakan sudah aku lakukan
"Sekarang ngapa sih, ga pernah bisa cantik dan wangi, kesibukan ngurus anak? Banyak tuh yang lebih sibuk masih bisa cantik dan wangi."
Lalu
"Dan ya, beli listerine sana."

Aku terpana akan kata katanya, entah, kini aku jengah dengan sikapnya.
Dia seperti melecehkan diriku.
Aku istri yang kehilangan cinta dan kasih sayang. Harga diriku di hujam kedasar kenistaan yang kelam, bagiku.
Hanya karna aku bau dan tak sempat mengurus wangi tubuh. Jangan tiru!
Hanya sebuah kalimat, yang bukan saja meruntuhkan kepercayaan diri seorang istri, tapi juga mencabik hati, malu.
Yakin,ini bukan hanya tentang aroma tapi tentang rasa yang sudah tak berasa. Ia bosan.
Semoga wanita lain tidak merasakan.

-----

 #Suami_Menjauh_Karena_Aroma_Tubuhku (2)
*aku berubah, dia terperangah

Sekian lama menjadi Emak rempong yang dekil kumal, akhirnya aku mulai jengah dengan bullyan paksu dan tetangga. Maaf, bukan tak mampu merawat diri, tapi lebih tentang fokus yg terbagi antara rutinitas dan anak-anak. Bukan mencari pembenaran.
"Kamu jelek amat sih, pake gamis, pucet lagi, ke orang tua." Sungutnya kesal ketika akan berangkat kondangan.
"Maaf, Mas. Tadi aku ga sempet dandan lagi, soalnya anak-anak repot minta dibajuin, Mas juga teriak terus mau jalan," belaku.

"Halah, alasan, jalan kaki aja kamu!" Dia masih merutuk sambil memacu sepeda motor.
Sepulangnya dari pesta, tak kuhiraukan lagi dia, ku raih amplop uang yang selalu kusimpan untuk keperluan darurat dan berangkat ke toko kosmetik. Semuanya ku beli, tak tanggung-tanggung lagi.
Kemudian ke salon, memotong rambut yang tidak pernah sempat kusisir selama sibuk mengurus bayi dan ketiga kakaknya. Uang tandas, se bodoh amat!

Aku pulang lalu membereskan kekacauan rumah dan anak kumandikan. Masak lalu aku hidangkan, kemudian membersihkan diri dan membuka koper pakaian lama yang sudah tak sempat ku urus lagi, masih banyak pakaian yang hanya di beli belum sempat di pakai, itu ketika aku masih punya uang sendiri.

Kukenakan gaun Dior V-neck selutut berbelahan dada rendah. Lalu rambut di Blow, wajah di countour lalu polesan make up, pensil alis, blushing dan lipstik . Tak lupa anting mutiara sebagai penyempurna dan percikan Nina Richi. Harum yang menguar begitu sensual dan elegan.
Paksu pulang,

Ceklek ... pintu terbuka, aku bersitatap dengannya lalu pura-pura mengalihkan diri sibuk nulis di KaBeEm.
Dia terpana dan ... entahlah ia terus memandang.
Tidak ada panggilan keras, atau ocehan tentang apa saja seperti biasa.
Dia ke kamar mandi namun pandangannya lekat padaku. Aku cuek dan dia menabrak dinding kamar mandi, kualat. Dan dia hanya meringis.
Malamnya,
"Sayang, cantik amat sih, aku jadi ..."
"Jauh sana Mas, badanku pegel,aku mau tidur." Usirku lalu menutup wajah dengan selimut? Rasain.
"Tapi ... dek, Mas kan rindu," ucapnya tertahan. Aku tak menanggapinya.
Bibirnya mengerucut dan meninggalkan kamar dengan gumaman yang entah, biarlah ia merasakan sekali-kali pahitnya di tolak. Kapok-pok-pok.

-----

#Suami_Menjauh_Karena_Aroma_Tubuhku (3)
*aku cantik, dia cemburu

Semenjak aku membeli kosmetik dan meng-update penampilan, suamiku jarang uring-uringan, malah terkesan mengalah dengan apa yang aku inginkan. Dulu hanya daster dan longdress yang kukenakan menemani hari-hariku. Sekarang aku berubah, cantik dan modis.

Uang yang ia berikan, jangan tanyakan lagi, dulu aku sangat hemat mengerem kebutuhan pribadi. Tapi sekarang, daripada selalu di-bully suami sendiri lebih baik aku berbenah diri. Toh ini juga untuk memuaskan mata dan hati. Menjaga rumah tangga tetap hangat dan harmonis, itu harus.

"Sayang, cantik banget sih, mau kemana?" ucapnya padahal dulu jarang sekali ia demikian mesra.
Aku yang telah mengenakan setelan blus tile Peacock, legging dan scarf yang mempercantik tampilan serta tas hitam klasik merk Channel, suamiku terlihat menelan ludah.
"Mau arisan dan ngopi bareng sama Ibu-ibu wali murid."
"Kok cantik amat?, biasanya juga pake gamis.

Lagipula ngapain harus kopdar di cafe, biasanya juga ngumpulnya di warung Bik Atun," protes nya sambil cemberut.
Aku tersenyum mengenakan jam tangan dan sepatu Flat Vinchi.
"Bukannya, Mas yang ngajarin kalo bergaul penampilan harus sesuai dengan tempat dan teman bergaul, aku kan mencontoh dari Mas."
Dia tercekat dalam diam. Dan aku berlalu.
"Makanan udah siap, kalo si kakak pulang sekolah, aku sudah letakkan pakaian ganti di ranjang, ada kue dan camilan di kabinet dapur juga jus di
kulkas, daah," pamitku padanya.

Dulu ia enggan berdekatan denganku karna aroma tubuhku sekarang biarlah ia telan pahit semua akibat kebablasan mulutnya. Lagipula aku bosan selalu di rumah dan rutinitas yang sama 24 jam. Tidak salah, kan? jjka aku mengambil sedikit waktu untuk diriku.
Suatu hari ada jamuan makan dia dan kolega kantornya. Aku juga turut serta.
"Mah, kok pake itu sih, ntar pada di lirik lho, sama atasan dan kawanku, aku ga suka."
"Mas ingat ga? Dulu mas nyuruh jalan kaki karna aku pake gamis dan pucat, Sakit lho kakiku mas suruh jalan kaki 5 KM."
Dia hanya terpaku sambil menatap aku memasang risleting gaun ungu yang punggungnya terbuka, kusanggul rambut dan memakai anting emas bertabur permata, suamiku mengusap muka, salah tingkah.
Di pesta, aku sibuk dijamu dan sapa oleh beberapa kolega suami, mereka begitu kaget dan terpesona dengan perubahanku, suamiku? Dia cemberut sepanjang waktu.
"Ayo, pulang sekarang," katanya gusar, tak tahan lagi dengan kecemburuan.
"Lho, kan baru datang Mas."
"Biarin,ayo."

 -----

 #Suami_Menjauh_Karena_Aroma_Tubuhku (4)
*aku mempesona, ia yang tersiksa

Begitulah, kami meninggalkan pesta yang baru kami nikmati setengah jam, ia tak tahan melihat banyak mata memandang istrinya yang mempesona, istri yang dulu selalu ia cela bau minyak padahal selalu sibuk melayani ia dan empat anaknya.
"Kok, cemberut, Mas?" Tanyaku sambil menahan senyum sesampainya dari sana.
"Pokoknya aku ga mau deh, ngajak mama ke mana-mana lagi."
Aku tergelak dengan tingkahnya
"Bukannya Mas, yang mau aku tampil modis dan kekinian, ga suka hanya daster dan baju panjang, kok protes?" balasku.

"Tapi ga gini juga Ma, kamu terlalu cantik, ntar diambil orang lagi," sungutnya.
"Emang Mas, mau itu terjadi?"
"Jangan donk."
"Jadi, maunya apa?"
Dia mengusap wajah dan mengacak rambutnya frustasi. Entah apa yang ia inginkan. Dengan semua hinaan dan kekasaran, serta sikap acuh tak acuhnya dulu, sekarang ia begitu posesif.
"Mau ke mana, Ma?"
"Mau ke Supermarket, belanja bulanan."
"Keren banget, pake jeans, kemeja dan flat Converse, kamu ibu 4 anak atau anak kuliahan sih, aku antar pokoknya," Serunya sambil meraih kunci mobil.
"Lah kan, Mas tadi mau meeting sama kliennya, ga jadi?"
"Gak, gawat kalo terus gini." Gumamnya pelan, aku terkekeh.
**

Hari lain ...
"Itu apa dalam bungkusan?" Tanyanya sambil menunjuk kotak di atas meja ruang TV.
"Oh itu tadi, Bosnya Mas, mampir siang tadi terus ngasih ini, katanya bonus untuk istri Manager unggulan dia," jelasku sambil menunjukkan tas berlogo LV
"Tapi, itu kan mahal Mah."
Aku hanya mengangkat bahu, tidak mengerti.
"Dia lama disini?"
"Gak,cuma ngasih itu terus pamit, terus pesan lain kali kita dinner bareng lagi."
"Ga beres ini, biar aku balikin sama dia." bergegas ia mengembalikan tas Louis Vuitton seharga 12 jutaan itu.
***
Belakangan ia makin kacau dan sering di rumah. Hanya memperhatikan aku istrinya. Tidak lagi kasar atau sibuk sendiri dengan gadget atau keluar bersama teman-temannya. Berubah banget.
Aneh!
**
"Ma, pokoknya Mama ga boleh keluar rumah lagi."
Aku terheran dengan keanehannya pagi ini.
"Kenapa?"
"Penampilan kamu, Mas ga nyaman."
"Lho, Mas maunya apa? Aku cantik dan bergaul salah, jelek kumal dan di rumah aja, katanya salah juga, kuper, jadi maunya apa Mas?"
"Aaargggh ... pokoknya di rumah aja, titik."
"Iya,deh." Aku menurut meski aku heran dan kesal.
Suamiku ini tabiatnya agak beda dari suami lain, istri anteng dirumah dikatain, giliran keluar dimarahin.
Jadi harus gimana biar dia sadar?

#Suami_Menjauh_Karena_Aroma_Tubuhku (5)
*aku yang dipuji, dia yang mau mati.
***

Pagi yang cerah dengan semburat kekuningan mewarnai hari. Aku telah bangun pagi dan membereskan rumah. Anak- anak siap kuantar ke sekolah.
Suamiku duduk di teras sambil menikmati kopi dan bersiap berangkat kantor.
Teng ...
Bunyi bel rumah, rupanya tukang paket membawa sesuatu, terlihat samar-samar olehku dari dalam rumah terhalang kaca jendela. Seperti sebuah rangkaian bunga.
Lalu,
Krashh ... krass, dan glenthuung ...suara tutup tempat sampah dibanting.
"Kenapa, Mas? Siapa yang datang?" Tanyaku sambil menuju ke arahnya.
Mataku terbelalak melihat bouquet bunga yang sudah dirusak dan dipatahkan jadi remahan.
"Ada apa, ini?"
"Kamu lihat, hah, seseorang sudah berani mengirimmu bunga , dia tulis di note 'bunga cantik untuk wanita cantik' kurang ajar, kan? Brengsek!"

Suamiku menggerutu dan merutuk. Dia jingkrak sambik berkacak geram, kesetanan.
Aku juga heran, siapa yang mengirim bunga.
Beralih matanya melihat penampilanku, rambut dicatok dengan Jeans dan kaus Polo merah yang mencetak bagian depan dengan sempurna dan juga tas Berlogo Fendi.
"Kamu mau antar anak atau mau pacaran? aku aja yang ngantar, kamu di rumah aja."
"Mas, kan, harus ke kantor," selaku ragu.
"Ga jadi! Ga aman kalo gini."
"Kok bisa, merasa ga aman gitu?"
"Kali aja kamu selingkuh."
"Gitu ya, kalo orang yang sudah pernah selingkuh, bawaan curiga mulu, merasa orang lain seperti mereka," sindirku santai.
"Kamu ... "
Dia melotot dan ucapannya ditahan, hanya berlalu masuk mobil dan mengantar anak.
***

Siang hari, di meja makan.
"Mah, kenapa sih terlalu modis, ga enak kan, kalo tetiba dilirik banyak orang, lagipula barang Brandedmu itu, ga cocok lagi deh, kalo kamu yang pakai."
"Kok bisa? ga cocok, aku kan ga beli pake tabungan anak, itu aku beli semasa gadis dan masih bekerja dulu, kalo make duit Mas,mana cukup." desisku pelan.
"Iya tapi ... "
Kehabisan kata-katanya sepertinya.
"Pokoknya, aku ga suka!" Tegasnya.
"Jadi, Mas maunya gimana?"
"Mau kamu yang dulu, Mah," ungkapnya lirih.
Akhir-akhir ini ia semakin pucat dan kurus, selalu merasa khawatir dan tidak tenang, melihatku cantik.
"Mana hape kamu, Ma?" pintanya suatu sore
"Kenapa, Mas?"
"Biar aku aja yang pegang, takut kamu dihubungi seseorang."
"Ambil saja, siapa juga yang mau ngubungi."
Ia menatapku sendu,
"Aku hanya takut, akibat perbuatanku selama ini, kamu akan ninggalin aku,
Aku nyadar, sudah banyak nyakitin kamu." Lirihnya putus asa.

bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar