#Dear_Mantan
Part 21 bt Nambaul Athiyah
"Mas!" Aku berteriak ke arah lelakiku yang hendak memukul lelaki tua
itu. Tangannya kupegangi kemudian kepalaku menggeleng, memohon kepadanya
agar tidak melanjutkan. Nafas Mas Ardian tersengal karena menahan
amarah.
"Aku sudah bilang kalau kau jangan datang di hadapan kami." Mas Ardian berjongkok lalu menarik kerah lelaki itu.
"Ha. ha. ha. Ardian. Sebegitu cintanya kau pada wanita ini. Bahkan setelah kucumbu dia?"
"Diam!" Mas Ardian berteriak, mataku membelalak. Lalu, aku berjalan mendekat ke arah lelaki tak tahu malu tadi.
"A-anda, pernah mencumbuku?"
"Andini!"
"Anda yakin?"
"Andini!" Mas Ardian berteriak lalu memelukku.
"Kita keluar dari sini."
"Tidak!" Aku meronta, melepaskan pegangan tangannya.
"Sudah cukup aku hidup bagai orang linglung. Hari ini, biarkan semua
rahasia itu terbuka, Mas!" Aku berteriak sambil menatap wajah Mas Ardian
yang semakin pucat.
"Mas, tolong! Percayalah! Aku bisa menahannya," kataku sambil memegang kedua pipinya.
"Ha. ha. Romantis sekali. Kau juga masih terlihat seksi saja Andini."
Suara lelaki pecundang tadi menginterupsi percakapanku dengan Mas
Ardian. Spontan, aku melihat pakaianku. Blazer hitam sepinggang, kemeja
putih yang kubiarkan terjulur menutupi bagian atas celanaku. Dan ...
celana lebar semata kaki yang nyaman kukenakan ini. Darimana dia
memandang keseksianku.
"Seksi?"
"Iya, sayangnya saat aku mencumbumu kau tiba-tiba tersadar lalu, gagallah aku meraihmu."
Plakk!
Tamparan keras kulayangkan di pipinya.
"Jika mengingat ingatanku yang hilang ini adalah seputar dua tahun
pernikahanku dulu dengan Ardian, sepuluh tahun silam, berarti kau mau
menggauli menantumu?"
"Dasar pecundang!" Aku berteriak keras ke arahnya. Kemudian aku merasakan marah yang sangat besar di dalam dada.
"Kau benar-benar tak tahu diri! Kau bukan manusia."
Mas Ardian menangkap tubuhku yang hampir saja menendang lelaki tak tahu malu itu dengan kakiku yang kuat ini.
Arggghhh.
"Mas, lepasin. Mas."
"Hush. Tadi kau melarangku memukulnya, sekarang kau malah yang bernafsu.
"Apakah kita bisa memasukkannya ke dalam penjara?"
Mas Ardian mengangguk lalu menghubungi security.
"Perintah ini yang kutunggu dari mulutmu."
"Tapi, apa bisa? Kejadiannya sudah begitu lama?" tanyaku sebelum gegabah bertindak saat emosi.
"Bisa, aku masih menyimpan bukti itu."
Hatiku sangat lega mendengar jawaban Mas Ardian, tapi jawaban itu segera pupus bersama dengan pengakuan Mas Ardian setelah itu.
"Mas? Siapa sebenarnya lelaki itu?"
Mas Ardian melihat tepat pada manik mataku, meyakinkan kalau aku akan baik-baik saja setelah aku tahu siapa dia.
"Dia, Papaku. Suami ibuku yang aku bahkan tak pernah suka padanya."
Mendengar itu, aku hanya menutup mulut lalu berdiri di depannya dengan perasaan tak menentu.
Bersambung .....
----
#Dear_Mantan
Part 22
Mataku sembab malam ini, suara gedoran Mas Ardian di luar pintu kamar terdengar pilu. Dia memanggil namaku hendak frustasi.
"Yang ... Sudahlah. Kita lupakan semua. Perjanjian tadi antara dia dan Mama sudah menjadi jaminan semua."
Aku masih tersedu-sedan saat sekali lagi Mas Ardian merayuku untuk keluar dengan jaminan bahwa lelaki itu tak akan datang lagi.
Aku malu. Kenapa hidupku dulu begitu sulit dan menyedihkan. Dan ... Mas Ardian yang memikul semua itu sendiri.
Lalu suara ketukan di pintu itu hilang. Bahkan jejak kehadiran Mas Ardian juga mulai tak terdengar.
Maafkan aku, Mas. Maaf.
****
"Kau tahu, Andini. Karena ulah lelaki tua itu aku tak pernah lagi
menjejakkan kakiku ke rumah. Mama bersikukuh kalau kaulah yang salah
karena datang ke rumah saat sepi. Alasan macam apa itu?" Mas Ardian
mengepalkan tangan. Di depannya tangisku mulai jatuh menetes di pipi.
"Lalu ...." tanyaku meminta cerita dilanjutkan.
"A Kiku menemukanmu nyaris tanpa busana. Dia hendak mencumbumu dan ...
Kupukul kepalanya dengan vas bunga di samping pintu. Lelaki tua itu koma
sepuluh hari."
Mulutku terbuka, mataku melotot karena penjelasannya.
"Mama bilang, kalau aku bisa gigih membelamu, maka dia juga bisa. Tapi,
yang dibelanya orang yang salah." Mas Ardian menjambak rambutnya.
Menceritakan ini kembali bagai membuka lagi luka lamanya.
Mereka ternyata saling membela orang yang dicintai, hanya saja dengan posisi yang berbeda.
"Yang membuatku sebal adalah lelaki itu bersikeras kalau dia tak bersalah bahkan setelah sadar dari koma."
Aku memegang tangan Mas Ardian lalu menangis sekencang-kencangnya.
"Kapan kejadian itu, Mas?"
"Tepat sehari setelah aku melamarmu. Almarhum Papa menyuruhmu
menyampaikan pesan padaku. Sialnya saat tiba di rumah kau malah
diperlakukan tak senonoh. Itu juga salah satu penyebab Papa mengalami
serangan jantung dan meninggal." Mas Ardian terdiam. Akupun sama.
Bedanya hatiku merasa sakit karena ulah bejat lelaki suami Mama Mas
Ardian, aku kehilangan Papaku.
"Apakah setelah itu aku selalu takut pada lelaki itu?"
Mas Ardian mengangguk.
"Bahkan kau selalu bermimpi aneh setelahnya, meraung-raung sendiri dan menangis."
Merasa malu karena seharusnya aku gigih melawan lelaki itu tapi
nyatanya aku malah melupakannya. Menyebalkan. Kemudian aku mengurung
diri di kamar. Hingga pagi datang.
****
Aku mematut wajah
dalam cermin. Baju blazer bergaris-garis telah cantik kukenakan.
Beberapa polesan make up tipis Menyembunyikan sisa tangisanku semalam.
Namun, begitu kubuka pintu kamar ternyata bos besarku masih tertidur pulas di dekat pintu. Wajahnya terlihat lelah dan pucat.
Aku mengecup pelan dahinya, pipinya dan matanya membuka. Dia terkesiap
lalu bertanya pukul berapa. Kukira dia akan bertanya keadaanku tapi
nyatanya dia masih memikirkan yang lain. Tapi, aku tak boleh sebal
atasnya bagaimanapun dia memiliki beban berat sebagai bos besar di
perusahaannya.
Saat dia beranjak bangun aku membuat tubuhnya menegang.
"Mas, aku akan menemui lelaki itu. Nanti siang. Mama dan aku sudah membuat janji."
Mas Ardian berbalik, wajahnya menahan emosi tapi kemudian dia mengangguk pasrah.
"Aku ikut."
Dia mengatakannya tanpa ekspresi lalu berlalu ke kamar mandi.
Bersambung .....
----
#Dear_Mantan
Part 24(end)
Aku dan Mas Ardian berjalan menyusuri taman dekat rumah sambil
berpegangan tangan. Wajah lelah kami beberapa hari ini bahkan
berbulan-bulan sebelumnya sebenarnya, mulai tergantikan dengan senyuman.
Setiap kami berpandangan, hanya ada senyuman. Tapi, aku masih selalu
menyimpan ketakutan. Jika semua ini hanya ilusi sesaat, dan hilang dari
ingatan.
Masih teringat apa yang dilakukan Mama untuk lelaki itu
beberapa hari lalu. Alih-alih mengungkap fakta apa yang disembunyikan,
Mama memilih pilihan meninggalkan kami, anak-anaknya dan mengontrak di
sebuah kontrakan sederhana di dekat penjara untuk memudahkannya
menjenguk suaminya di penjara.
Ah, cinta itu rumit. Bahkan saat kita sudah tahu kalau pasangan kita salah pun, selalu ada hati untuk tetap setia kepadanya.
Pikiranku membayangkan bagaimana kesetiaan Mama terhadap lelaki yang
bagiku tak pantas dicintainya sebegitu rupa itu sangat mengharukan.
"Apa?" Mas Ardian bertanya sambil melirikku yang mencuri pandang atasnya.
"Tidak."
"Hayo, ketahuan memandangku berkali-kali begitu, kan ... kan ... kan ...." godanya sambil mencubit hidungku.
"Enggak. Masak mandang aja gak boleh."
"Oh boleh banget nyonya Ardian. Kau boleh melakukan apa saja
terhadapku." Dia berkata sambil memamerkan cengirannya yang khas.
Memperlihatkan setitik gigi putihnya yang rapi.
"Yakin?" tanyaku.
Kemudian dia mengangguk. Sebenarnya aku hanya ingin menggodanya karena
meskipun Mas Ardian menyembunyikan kegusarannya atas nasib Mamanya, dia
pasti masih merasakannya di dalam hati.
"Kau boleh bertanya
kepada seluruh dunia. Dan jawabannya hanya akulah yang akan tetap setia
kepadamu." Dia menatap wajahku, menatap mataku lalu mengecup keningku.
"Percaya. Sekarang aku tahu darimana kesetiaanmu ini menurun." Aku
memegang kedua pipinya, menyentuhnya dengan kasih dan memeluknya dengan
erat.
"Memang darimana?" tanyanya sambil masih memelukku.
"Dari Mama," jawabku.
Mas Ardian terdiam lalu mengangguk. Esok hari kami berniat mengunjungi
Mama di rumah kontrakannya. Semoga Mama mulai mau berdamai dengan kami.
"Eh, tapi, kenapa Mama menolak membongkar rahasia Papa, Mas?" Aku masih sedikit kebingungan sekaligus ingin tahu.
"Mungkin, karena memang Mama tak ingin ada banyak pihak lain yang terluka."
"Dan ... memilih terluka sendiri?" Aku bertanya padanya. Sekali lagi dia mengangguk.
Separah itu ternyata. Aku mencoba mencerna dalam hati. Tapi, saat Papa
didakwa karena penggelapan dana perusahaan yang dipegang Mama, hal itu
tak terjadi. Mama tak menutupinya dan membukanya di depan pihak berwajib
yang datang. Maka apa sebenarnya yang ditutupinya?
****
"Kau sudah bangun?" Suara lembut itu bertanya padaku di dekat telinga.
Aku menggeliat kemudian mengangguk sambil menatapnya. Setelah menjenguk
Mama kemarin, Mas Ardian mengajakku ke sebuah resort untuk bersantai.
Seiring dengan malam yang kian dingin ... kamipun terbuai cinta.
"Bangunlah, sudah kubuatkan makanan yang enak."
Mataku seketika terbuka saat kata-kata itu meluncur dari mulut Mas Ardian.
"Yakin, enak?"
Mas Ardian mengangguk. Saat aku hendak bangkit Mas Ardian menahanku lalu mengangkatku menuju kamar mandi.
"Mandi dulu, jangan main sosor saja," katanya. Sungguh aku malu
dibuatnya. Lalu dia berbalik ke arah dapur setelah menutup pintu kamar
mandi.
Aku segera berlari menuju meja makan saat selesai mandi
pagi, sajian tempe goreng renyah dengan sambal mentah yang menggugah
selera membuatku lupa kalau aku masih mengenakan handuk tipis di sana.
Mata Mas Ardian tak berhenti menatapku. Dia kemudian mendekat, sangat
dekat lalu ... cup. Kami terbuai kembali.
"Kurasa, kita sudah siap untuk menjadi tiga," bisiknya pelan dan mesra dan ... aku suka.
****
the end
Tidak ada komentar:
Posting Komentar