#Part_21a.
#CEO's Bride, by Nev Nov
“Diam, Sir. Jangan gerak-gerak.”
“Ini, tidak kemana-mana.”
“Eih, kok agak susah, ya?”
“Pelan-pelan, santai. Dan mau sampai kapan kamu manggil aku, Sir?”
Jovanka terkikik, matanya berkonsentrasi untuk memasang dasi di leher suaminya. Setelah berlatih berkali-kali dengan arahan dari Max sendiri, ini ketiga kalinya ia membantu suami memakai dasi. Setelah berkutat hampir sepuluh menit, akhirnya selesai juga pekerjaannya.
“Beres, Sir. Ah, tampannya suamiku.” Jovanka mengecup pelan bibir Max.
“Aku tampan itu sudah dari sananya,” ucap Max pelan dan berhasil membuat istrinya terpingkal-pingkal geli.
“Iya, deh, Iyaaa … aku percaya.”
Sekarang, semua urusan Max menjadi urusan Jovanka. Dari mulai menyiapkan baju sampai memasangkan dasi. Awalnya, Jovanka sama sekali tidak mengerti bagaimana memadu-madankan pakaian dan warna agar tampak serasi. Dengan bantuan dari Bu Erna, Evelyn dan membaca banyak informasi, perlahan tapi pasti ia sudah bisa sedikit menguasai. Mendandani suaminya agar terlihat keren tapi juga.
“Apa kamu nggak berniat berhenti kerja?” tanya Max padanya.
Jovanka memandang heran, menghentikan kesibukannya yang sedang merapikan dasi suaminya di dalam lemari.
“Kenapa tiba-tiba berpikiran begitu?”
Max tersenyum, mengelus wajahnya. “Kepikiran saja, apa kamu tidak mau tetap tinggal di rumah dan tidak perlu repot-repot kerja.”
Jovanka tertawa. “Aku butuh uang buat biaya kuliah Agra.”
Max mengangkat sebelah alis. Memperhatikan istrinya yang kini sibuk merapikan kemeja yang tergantung.
“Aku bisa memberikan itu.”
“Dan aku tidak mau,” jawab Jovanka pelan.
“Kenapa? Kita suami istri. Sedah sepantasnya jika saling membantu.”
Jovanka berbalik, menghampiri suaminya dan merangkulkan tangannya di leher Max. “Terima kasih untuk perhatiannya tapi Agra adalah tanggung jawabku. Biarkan aku melakukannya, Sir.”
Max berdecak tidak puas dengan jawaban istrinya tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Percuma berdebat dengan Jovanka soal uang karena dia pasti kalah.
“Kamu berangkat ke sana sendiri atau bareng Steve?”
“Steve akan menjemputku. Ayo, turun.”
Jovanka mengangguk dan berbisik mesra sebelum keluar dari kamar. “Semoga meetingnya berhasil dan pundi-pundi uangmu bertambah. Aku sudah menyiapkan kejutan untuk merayakan keberhasilanmu.”
Max merasa darahnya berdesir. “Apa ini tentang lingere dan garter belt?” desaknya ingin tahu.
Jovanka berbisik. “Stocking bunga, lilin dan es krim.”
“Kamu nakal!” bisik Max sambil mengigit kecil kuping Jovanka dan membuat istrinya tertawa.
Mengabaikan gairah yang terpicu oleh perkataan istrinya, Max menggandeng Jovanka menuruni tangga. Hari Sabtu ada meeting yang tidak bisa diabaikan. Ia sudah biasa bekerja keras dari muda dan buatnya, meeting di hari libur bukan hal yang berat, kecuali karena harus meninggalkan istrinya.
“Kamu jadi mau ke rumah orang tuamu?”
Jovanka mengangguk. “Jadi, dan jemput aku di sana, ya?”
“Baiklah, jangan pulang dulu sebelum aku datang.”
“Siap, Boss.”
Keduanya kembali berkecupan di ruang tengah. Terlalu asyik hingga tidak menyadari sepasang mata melotot di pintu yang menghubungkan tempat mereka berdiri berpelukan dengan ruang tamu.
“What? Apa ini? OMG … jangan bilang kalau kalian sedang kecupan?”
Keduanya saling melepaskan diri dan terperangah menatap Steve yang melotot. Wajah dan tatapan matanya seakan menyiratkan kalau dia telah melihat sesuatu yang menakutkan. Matanya beralih cepat dari Max yang berdiri tenang sambil merangkul bahu istrinya ke arah Jovanka yang menunduk dengan pipi bersemu merah.
“Jelaskan padaku,” ucap Steve lamat-lamat. Menggelengkan kepala ke kanan dan kiri seakan-akan untuk menjernihkan pikirannya.
Max melepaskan Jovanka, melangkah lebar dan menghampiri sepupunya yang masih berdiri bingung.
“Ayo, kita berangkat!” ajak Max sambil mendorong bahu Steve.
“Tunggu, tapi kamu ciuman sama Upik Abu, Max? I can’t belive it!” teriak Steve sedikit histeris. “Apa kamu tahu siapa dia, Max?”
“Dia istriku,” jawab Max kalem..
“Itu hanya di atas kertas. Harusnya nggak ada kontak fisik. Ada apa ini?”
“Jangan histeris, aku jelasin di mobil.”
Jovanka melihat sambil tersenyum. Dari tempatnya berdiri ia menatap geli pada Steve yang biasanya selalu bersikap arogan, kali ini terlihat marah dan kesal. Meski begitu, dia tak berdaya untuk menolak ajakan Max menuju mobil. Jovanka tahu, jika diberi sedikit kesempatan untuk bertanya, pasti Steve akan mencecarnya habis-habisan.
Dari pada sibuk memikirkan sikap sepupu suaminya yang aneh, Jovanka memutuskan akan lebih baik kalau dia bersiap-siap untuk pergi ke rumah orang tuanya. Sudah lama tidak berkunjung ke sana.
Sementara di dalam mobil, Steve yang duduk di kursi belakang melirik kesal pada Max yang asyik dengan dokumen di tangan. Otaknya serasa penuh dan ingin meledak karena butuh penjelasan. Sungguh pemandangan yang tidak wajar, melihat Max berciuman mesra dengan Jovanka.
“Jangan-jangan, kalian sudah tidur bersama?” gumam Steve cukup keras untuk didengar Max.
Max tidak menjawab, hanya melirik sekilas dan kembali fokus pada dokumen di tangannya.
“Max, please!”
Terdengar desahan napas panjang dari mulut Max. Dokumen ia tutup di pangkuan. Sejenak matanya mengembara memandang jalan raya yang tidak terlalu ramai oleh kendaraan di hari Sabtu. Padahal biasanya selalu macet. Sengaja ia berlama-lama untuk memberi penjelasan pada sepupunya, hanya demi kesenangan semata. Membuat Steve penasaran.
“Aku jatuh cinta dengan Jovanka.”
“Ya Tuhan ….” Steven mendesah sambil menutup wajahnya. Sedetik kemudian ia menatap Max kembali.
“Aku benar-benar nggak percaya. Max Vendros jatuh cinta dengan istri bayaran?”
Max mengangguk pelan.
“Sejak kapan?”
Max mengedikkan bahu. “Entah, mungkin minggu lalu, bulan lalu atau bisa jadi saat dari pertama bertemu.”
Steve mendengkus keras. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jika tidak dalam kondisi serius pasti Max tertawa melihat tingkah sepupunya. Siapa sangka informasi dia jatuh cinta dengan Jovanka membuat Steve lupa diri untuk menjaga penampilannya tetap rapi.
“Santai, Bro. Dunia tidak kiamat meski aku jatuh cinta dengan Jojo.”
“Hah! Bisa kamu bicara gitu!” sergah Steve keras. “Apa kamu tidak berpikir dampak dari semuanya?”
Max menoleh sambil mengangkat sebelas alis. “Apa contohnya?”
“Uncle Abraham off course!”
“Minggu kemarin aku sudah ke sana bersama Jovanka. Tidak usah kuatir soal itu.”
Steve menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil. Jawaban Max sedikit memukul perasaannya.
“Steve, santai saja. Ini hanya perkara jatuh cinta biasa.”
“Ini bukan hal biasa jika menyangkut Jovanka. Kamu tahu siapa dia dan bagaimana kehidupannya.”
“Ya, dan buatku itu sama sekali bukan masalah.”
Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing. Sementara mobil yang membawa mereka ke arah luar kota melaju dengan cepat tapi stabil. Tanpa sadar Max tersenyum simpul, mengingat tentang istrinya yang makin hari makin terlihat lucu dan menggemaskan. Setelah sekian lama tinggal bersama dalam suasana kaku dan formal, kini saatnya benar-benar untuk saling mengenal.
Bu Erna bahkan secara tersirat mengatakan jika berharap akan ada tangis bayi dalam waktu dekat di rumah mereka. Mau tidak mau Max memikirkannya. Entah kenapa, gagasan mempunyai anak dengan Jovanka adalah sesuatu yang menarik untuknya.
“Bagaimana dengan Violet?”
Ucapan Steven menghentikan lamunan Max tentang anak. Dia menoleh ke arah sepupunya sebelum bertanya tenang. “Kenapa dia?”
Steve mendesah. “Dia masih berharap padamu.”
“Aku akan bicara padanya nanti.”
“Dan mematahkan hatinya.”
“Dia mematahkan hatiku lebih dulu. Kini waktunya kita untuk saling melupakan.”
Perkataan Steve yang menyinggung soal Violet membuatnya berpikir tentang perkataan Amarisa di vila tempo hari.
“Apa kamu tahu kalau kepergian Violet ke Amerika adalah inisiatif Amarisa?”
Steve menoleh keheranan. “Maksudnya apa?”
Max mengambil napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
“Waktu di vila, Amarisa mengatakan secara terang-terangan padaku kalau dia yang mengadakan proyek film untuk Violet.”
“Demi apa?”
“Demi menjauhkan Violet dariku.”
“Ya Tuhan, dan itu berhasil bukan? Kamu sama Violet tidak bersama lagi,” kecam Steve keras. Mengetuk-ngetuk lututnya dengan buku jari.“Lalu apa faedahnya buat dia, toh akhirnya kamu tidak memilihnya.”
Hening. Max membiarkan Steve menyimpulkan sendiri perkataannya.
“Wanita gila, terlalu obsesif denganmu. Sekarang justru dia bertunangan dengan Andrew.”
“Dan Andrew menginginkan Jovanka.”
“Apa?”
Secara perlahan Max menceritakan kembali pertemuannya dengan Andrew dan penawaran yang diberikan Andrew padanya perihal mega proyek dengan penukaran Jovanka sebagai kompensasinya. Makin makin yang ia ceritakan makin memucat wajah sepupunya. Max tahu, meski Steve bersikap sangat keras pada Jovanka tapi dia tidak akan mentolerir hal-hal yang merusak harga diri perempuan, terlebih lagi sekarang Jovanka adalah istrinya.
“Gilaaa! Benar-benar gila, Andrew. Dia terobesesi dengan Jovanka hanya karena mirip Raline?”
Max mengangguk, membenarkan pertanyaan Steve.
“Lalu, apa rencanamu? Terus terang semua yang aku dengar hari ini membuat pikiranku berkecamuk tak menentu. Pertama Violet, Amarisa, Andrew, dan Jojo.”
Mobil melambat saat keluar dari jalur bebas hambatan menuju kompek perumahan di pinggiran kota. Dari dalam mobil. Max melihat banyak pengamen dan pedagang asongan berjejer di lampu perempatan lampu merah. Matanya menatap tajam pada seorang wanita setengah baya yang menggendong anak kecil dengan pembersih di tangan. Mengelap kaca mobil demi mengharapkan sedikit rupiah. Sesaat sebelum mobil melewati lampu lalu-lintas yang kini berubah menjadi hijau, Max membuka pintu kaca dan mengulurkan uang pada ibu yang menggendong anak. Perjuangan seorang ibu selalu membuatnya mengingat tentang mamanya yang sudah meninggal.
“Max ….”
Teguran dari Steve membuatnya tersentak.
“Aku sudah bertemu Papa dan menjelaskan pokok permasalahannya. Meski dia tidak menyetujui hubunganku dengan Jovanka tapi demi menjaga kehormatan Vendros, dia siap membantuku. Terus terang, Andrew mengancam untuk menekan Vendros Group.”
Steve mengangguk cepat. “Bagus, aku akan ke tempat Uncle nanti malam. Kembali berdiskusi soal ini dan mengambil langkah-langkah preventif.” Dia menoleh ke arah Max yang mengangguk.”Kapan rencananya kamu akan bicara ini pada Andrew? Kalau kamu menolak tawarannya?”
“Minggu depan.”
“Fuih, rumit Max. Segalanya terlihat rumit sekarang. Ingat posisi Andrew sebagai ponakan Pak Johanes.”
“Iya, tapi aku tidak akan menyerahkan istriku padanya.”
Entah apa yang lucu tapi Steve tertawa terbahak-bahak. Tidak peduli jika Max memandangnya heran. Dia terus tertawa hingga mobil berhenti di sebuah gedung berlantai lima yang terletak tidak jauh dari lapangan golf di samping perumahan mewah.
“Kamu kenapa?” tanya Max heran saat melihat sepupunya masih terus tertawa meski sudah keluar dari dalam mobil.
Steve mengampiri Max dan menepuk punggungnya. “Aku kaget, Max Vendros dibuat bertekuk-lutut oleh seoarang Upik Abu. Ah, salah, sekarang dia adalah Cinderela.”
“Terserah apa katamu.” Max melangkah cepat menaiki undakan yang membawanya ke pintu gedung yang dijaga empat satpam.
“Tapi aku bahagia. Meski sang mempelai wanita bukan yang aku harapkan tapi melihatmu bahagia juga membuatku bahagia.”
Max mendengkus. “Jangan lupa informasi soal Andrew dan Raline.”
“Siaap!”
Keduanya terdiam dan memasang wajah tenang tanpa senyum saat sekelompok orang berdasi dan berjas rapi menyambut mereka di pintu masuk. Pertemuan bisnis akan dimulai, kini saatnya mengesampingkan urusan pribadi.
****
#CEO's Bride, by Nev Nov
“Diam, Sir. Jangan gerak-gerak.”
“Ini, tidak kemana-mana.”
“Eih, kok agak susah, ya?”
“Pelan-pelan, santai. Dan mau sampai kapan kamu manggil aku, Sir?”
Jovanka terkikik, matanya berkonsentrasi untuk memasang dasi di leher suaminya. Setelah berlatih berkali-kali dengan arahan dari Max sendiri, ini ketiga kalinya ia membantu suami memakai dasi. Setelah berkutat hampir sepuluh menit, akhirnya selesai juga pekerjaannya.
“Beres, Sir. Ah, tampannya suamiku.” Jovanka mengecup pelan bibir Max.
“Aku tampan itu sudah dari sananya,” ucap Max pelan dan berhasil membuat istrinya terpingkal-pingkal geli.
“Iya, deh, Iyaaa … aku percaya.”
Sekarang, semua urusan Max menjadi urusan Jovanka. Dari mulai menyiapkan baju sampai memasangkan dasi. Awalnya, Jovanka sama sekali tidak mengerti bagaimana memadu-madankan pakaian dan warna agar tampak serasi. Dengan bantuan dari Bu Erna, Evelyn dan membaca banyak informasi, perlahan tapi pasti ia sudah bisa sedikit menguasai. Mendandani suaminya agar terlihat keren tapi juga.
“Apa kamu nggak berniat berhenti kerja?” tanya Max padanya.
Jovanka memandang heran, menghentikan kesibukannya yang sedang merapikan dasi suaminya di dalam lemari.
“Kenapa tiba-tiba berpikiran begitu?”
Max tersenyum, mengelus wajahnya. “Kepikiran saja, apa kamu tidak mau tetap tinggal di rumah dan tidak perlu repot-repot kerja.”
Jovanka tertawa. “Aku butuh uang buat biaya kuliah Agra.”
Max mengangkat sebelah alis. Memperhatikan istrinya yang kini sibuk merapikan kemeja yang tergantung.
“Aku bisa memberikan itu.”
“Dan aku tidak mau,” jawab Jovanka pelan.
“Kenapa? Kita suami istri. Sedah sepantasnya jika saling membantu.”
Jovanka berbalik, menghampiri suaminya dan merangkulkan tangannya di leher Max. “Terima kasih untuk perhatiannya tapi Agra adalah tanggung jawabku. Biarkan aku melakukannya, Sir.”
Max berdecak tidak puas dengan jawaban istrinya tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Percuma berdebat dengan Jovanka soal uang karena dia pasti kalah.
“Kamu berangkat ke sana sendiri atau bareng Steve?”
“Steve akan menjemputku. Ayo, turun.”
Jovanka mengangguk dan berbisik mesra sebelum keluar dari kamar. “Semoga meetingnya berhasil dan pundi-pundi uangmu bertambah. Aku sudah menyiapkan kejutan untuk merayakan keberhasilanmu.”
Max merasa darahnya berdesir. “Apa ini tentang lingere dan garter belt?” desaknya ingin tahu.
Jovanka berbisik. “Stocking bunga, lilin dan es krim.”
“Kamu nakal!” bisik Max sambil mengigit kecil kuping Jovanka dan membuat istrinya tertawa.
Mengabaikan gairah yang terpicu oleh perkataan istrinya, Max menggandeng Jovanka menuruni tangga. Hari Sabtu ada meeting yang tidak bisa diabaikan. Ia sudah biasa bekerja keras dari muda dan buatnya, meeting di hari libur bukan hal yang berat, kecuali karena harus meninggalkan istrinya.
“Kamu jadi mau ke rumah orang tuamu?”
Jovanka mengangguk. “Jadi, dan jemput aku di sana, ya?”
“Baiklah, jangan pulang dulu sebelum aku datang.”
“Siap, Boss.”
Keduanya kembali berkecupan di ruang tengah. Terlalu asyik hingga tidak menyadari sepasang mata melotot di pintu yang menghubungkan tempat mereka berdiri berpelukan dengan ruang tamu.
“What? Apa ini? OMG … jangan bilang kalau kalian sedang kecupan?”
Keduanya saling melepaskan diri dan terperangah menatap Steve yang melotot. Wajah dan tatapan matanya seakan menyiratkan kalau dia telah melihat sesuatu yang menakutkan. Matanya beralih cepat dari Max yang berdiri tenang sambil merangkul bahu istrinya ke arah Jovanka yang menunduk dengan pipi bersemu merah.
“Jelaskan padaku,” ucap Steve lamat-lamat. Menggelengkan kepala ke kanan dan kiri seakan-akan untuk menjernihkan pikirannya.
Max melepaskan Jovanka, melangkah lebar dan menghampiri sepupunya yang masih berdiri bingung.
“Ayo, kita berangkat!” ajak Max sambil mendorong bahu Steve.
“Tunggu, tapi kamu ciuman sama Upik Abu, Max? I can’t belive it!” teriak Steve sedikit histeris. “Apa kamu tahu siapa dia, Max?”
“Dia istriku,” jawab Max kalem..
“Itu hanya di atas kertas. Harusnya nggak ada kontak fisik. Ada apa ini?”
“Jangan histeris, aku jelasin di mobil.”
Jovanka melihat sambil tersenyum. Dari tempatnya berdiri ia menatap geli pada Steve yang biasanya selalu bersikap arogan, kali ini terlihat marah dan kesal. Meski begitu, dia tak berdaya untuk menolak ajakan Max menuju mobil. Jovanka tahu, jika diberi sedikit kesempatan untuk bertanya, pasti Steve akan mencecarnya habis-habisan.
Dari pada sibuk memikirkan sikap sepupu suaminya yang aneh, Jovanka memutuskan akan lebih baik kalau dia bersiap-siap untuk pergi ke rumah orang tuanya. Sudah lama tidak berkunjung ke sana.
Sementara di dalam mobil, Steve yang duduk di kursi belakang melirik kesal pada Max yang asyik dengan dokumen di tangan. Otaknya serasa penuh dan ingin meledak karena butuh penjelasan. Sungguh pemandangan yang tidak wajar, melihat Max berciuman mesra dengan Jovanka.
“Jangan-jangan, kalian sudah tidur bersama?” gumam Steve cukup keras untuk didengar Max.
Max tidak menjawab, hanya melirik sekilas dan kembali fokus pada dokumen di tangannya.
“Max, please!”
Terdengar desahan napas panjang dari mulut Max. Dokumen ia tutup di pangkuan. Sejenak matanya mengembara memandang jalan raya yang tidak terlalu ramai oleh kendaraan di hari Sabtu. Padahal biasanya selalu macet. Sengaja ia berlama-lama untuk memberi penjelasan pada sepupunya, hanya demi kesenangan semata. Membuat Steve penasaran.
“Aku jatuh cinta dengan Jovanka.”
“Ya Tuhan ….” Steven mendesah sambil menutup wajahnya. Sedetik kemudian ia menatap Max kembali.
“Aku benar-benar nggak percaya. Max Vendros jatuh cinta dengan istri bayaran?”
Max mengangguk pelan.
“Sejak kapan?”
Max mengedikkan bahu. “Entah, mungkin minggu lalu, bulan lalu atau bisa jadi saat dari pertama bertemu.”
Steve mendengkus keras. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jika tidak dalam kondisi serius pasti Max tertawa melihat tingkah sepupunya. Siapa sangka informasi dia jatuh cinta dengan Jovanka membuat Steve lupa diri untuk menjaga penampilannya tetap rapi.
“Santai, Bro. Dunia tidak kiamat meski aku jatuh cinta dengan Jojo.”
“Hah! Bisa kamu bicara gitu!” sergah Steve keras. “Apa kamu tidak berpikir dampak dari semuanya?”
Max menoleh sambil mengangkat sebelas alis. “Apa contohnya?”
“Uncle Abraham off course!”
“Minggu kemarin aku sudah ke sana bersama Jovanka. Tidak usah kuatir soal itu.”
Steve menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil. Jawaban Max sedikit memukul perasaannya.
“Steve, santai saja. Ini hanya perkara jatuh cinta biasa.”
“Ini bukan hal biasa jika menyangkut Jovanka. Kamu tahu siapa dia dan bagaimana kehidupannya.”
“Ya, dan buatku itu sama sekali bukan masalah.”
Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing. Sementara mobil yang membawa mereka ke arah luar kota melaju dengan cepat tapi stabil. Tanpa sadar Max tersenyum simpul, mengingat tentang istrinya yang makin hari makin terlihat lucu dan menggemaskan. Setelah sekian lama tinggal bersama dalam suasana kaku dan formal, kini saatnya benar-benar untuk saling mengenal.
Bu Erna bahkan secara tersirat mengatakan jika berharap akan ada tangis bayi dalam waktu dekat di rumah mereka. Mau tidak mau Max memikirkannya. Entah kenapa, gagasan mempunyai anak dengan Jovanka adalah sesuatu yang menarik untuknya.
“Bagaimana dengan Violet?”
Ucapan Steven menghentikan lamunan Max tentang anak. Dia menoleh ke arah sepupunya sebelum bertanya tenang. “Kenapa dia?”
Steve mendesah. “Dia masih berharap padamu.”
“Aku akan bicara padanya nanti.”
“Dan mematahkan hatinya.”
“Dia mematahkan hatiku lebih dulu. Kini waktunya kita untuk saling melupakan.”
Perkataan Steve yang menyinggung soal Violet membuatnya berpikir tentang perkataan Amarisa di vila tempo hari.
“Apa kamu tahu kalau kepergian Violet ke Amerika adalah inisiatif Amarisa?”
Steve menoleh keheranan. “Maksudnya apa?”
Max mengambil napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
“Waktu di vila, Amarisa mengatakan secara terang-terangan padaku kalau dia yang mengadakan proyek film untuk Violet.”
“Demi apa?”
“Demi menjauhkan Violet dariku.”
“Ya Tuhan, dan itu berhasil bukan? Kamu sama Violet tidak bersama lagi,” kecam Steve keras. Mengetuk-ngetuk lututnya dengan buku jari.“Lalu apa faedahnya buat dia, toh akhirnya kamu tidak memilihnya.”
Hening. Max membiarkan Steve menyimpulkan sendiri perkataannya.
“Wanita gila, terlalu obsesif denganmu. Sekarang justru dia bertunangan dengan Andrew.”
“Dan Andrew menginginkan Jovanka.”
“Apa?”
Secara perlahan Max menceritakan kembali pertemuannya dengan Andrew dan penawaran yang diberikan Andrew padanya perihal mega proyek dengan penukaran Jovanka sebagai kompensasinya. Makin makin yang ia ceritakan makin memucat wajah sepupunya. Max tahu, meski Steve bersikap sangat keras pada Jovanka tapi dia tidak akan mentolerir hal-hal yang merusak harga diri perempuan, terlebih lagi sekarang Jovanka adalah istrinya.
“Gilaaa! Benar-benar gila, Andrew. Dia terobesesi dengan Jovanka hanya karena mirip Raline?”
Max mengangguk, membenarkan pertanyaan Steve.
“Lalu, apa rencanamu? Terus terang semua yang aku dengar hari ini membuat pikiranku berkecamuk tak menentu. Pertama Violet, Amarisa, Andrew, dan Jojo.”
Mobil melambat saat keluar dari jalur bebas hambatan menuju kompek perumahan di pinggiran kota. Dari dalam mobil. Max melihat banyak pengamen dan pedagang asongan berjejer di lampu perempatan lampu merah. Matanya menatap tajam pada seorang wanita setengah baya yang menggendong anak kecil dengan pembersih di tangan. Mengelap kaca mobil demi mengharapkan sedikit rupiah. Sesaat sebelum mobil melewati lampu lalu-lintas yang kini berubah menjadi hijau, Max membuka pintu kaca dan mengulurkan uang pada ibu yang menggendong anak. Perjuangan seorang ibu selalu membuatnya mengingat tentang mamanya yang sudah meninggal.
“Max ….”
Teguran dari Steve membuatnya tersentak.
“Aku sudah bertemu Papa dan menjelaskan pokok permasalahannya. Meski dia tidak menyetujui hubunganku dengan Jovanka tapi demi menjaga kehormatan Vendros, dia siap membantuku. Terus terang, Andrew mengancam untuk menekan Vendros Group.”
Steve mengangguk cepat. “Bagus, aku akan ke tempat Uncle nanti malam. Kembali berdiskusi soal ini dan mengambil langkah-langkah preventif.” Dia menoleh ke arah Max yang mengangguk.”Kapan rencananya kamu akan bicara ini pada Andrew? Kalau kamu menolak tawarannya?”
“Minggu depan.”
“Fuih, rumit Max. Segalanya terlihat rumit sekarang. Ingat posisi Andrew sebagai ponakan Pak Johanes.”
“Iya, tapi aku tidak akan menyerahkan istriku padanya.”
Entah apa yang lucu tapi Steve tertawa terbahak-bahak. Tidak peduli jika Max memandangnya heran. Dia terus tertawa hingga mobil berhenti di sebuah gedung berlantai lima yang terletak tidak jauh dari lapangan golf di samping perumahan mewah.
“Kamu kenapa?” tanya Max heran saat melihat sepupunya masih terus tertawa meski sudah keluar dari dalam mobil.
Steve mengampiri Max dan menepuk punggungnya. “Aku kaget, Max Vendros dibuat bertekuk-lutut oleh seoarang Upik Abu. Ah, salah, sekarang dia adalah Cinderela.”
“Terserah apa katamu.” Max melangkah cepat menaiki undakan yang membawanya ke pintu gedung yang dijaga empat satpam.
“Tapi aku bahagia. Meski sang mempelai wanita bukan yang aku harapkan tapi melihatmu bahagia juga membuatku bahagia.”
Max mendengkus. “Jangan lupa informasi soal Andrew dan Raline.”
“Siaap!”
Keduanya terdiam dan memasang wajah tenang tanpa senyum saat sekelompok orang berdasi dan berjas rapi menyambut mereka di pintu masuk. Pertemuan bisnis akan dimulai, kini saatnya mengesampingkan urusan pribadi.
****
#Pengantin_Bayaran_Sang_CEO
#Part_21b.
#CEO's Bride.
****
“Kak, datang sendirian? Mana suamimu?” Agra bertanya sambil celingak-celinguk saat melihat Jovanka duduk di dapur mengupas bawang.
“Mr.Max sedang meeting.”
“Hah, Sabtu gitu.”
“Dia super sibuk.” Jovanka mengusap matanya yang perih dengan punggung tangan. Mengupas bawang selalu membuatnya mengeluarkan air mata.
“Oh, iya, sih. Beda sama kami yang pengangguran,” celetuk Agra sambil mencomot kerupuk di atas meja makan dan mengunyah dengan berisik.
“Kamiii? Kamu aja kale, aku mah kerja,” goda Jovanka padanya.
“Iyaa-iyaa, serah deh. BTW, salam buat si Tuan Putri.”
Jovanka meletakkan talenan berisi irisan bawang dan mencuci tangan di westafel. Mengeringkan dengan selembar tisu dan melangkah mendekati adiknya.
“Siapa Tuan Putri, sih?”
“Yee, itu adiknya Mr.Max.”
“Ooh, Evelyn. Kenapa kamu nggak bilang sendiri ama dia? Nggak ada nomor handphonenya? Sini aku kasih.”
“Diih, paan. Cuma mau bilang makasih waktu itu.”
“Yakin, dia cakep loh.” goda Jovanka pada adiknya yang mulai terlihat jengah.
“Iya, tapi galak!” bantah Agra.
“Nah, kamu mengakui dia cantik. Ini nomornya, catat buruan!”
Tanpa memberi kesempatan Agra untuk menghindar, Jovanka menyambar handphone milik adiknya dan mengirimkan nomor Evelyn lalu menyimpannya.
“Pemaksaan ini,” desis Agra memandang handphonenya.
“Suatu saat kamu pasti bilang makasih sama aku untuk hari ini,” ucap Jovanka sambil tersenyum. Meninggalkan adiknya yang masih asyik mengunyah kerupuk menuju kamarnya.
Papa dan mamanya sedang pergi arisan ke rumah saudara. Tidak lama Agra pamit keluar. Ditinggal sendiri di rumah, Jovanka sibuk berbenah. Dari mulai mengganti gorden sampai menyapu dan mengepel. Setelahnya memasak untuk makan malam. Selesai semuanya, ia membawa handphone ke ruang tamu dan mengecek pesan yang masuk.
“Meeting sudah selesai, lagi di jalan pulang. Nanti aku jemput.” Sebuah pesan dari suaminya membuatnya tersenyum.
“Baiklah, aku tunggu.”
“Apa lingerenya berwarna merah?”
Jovanka tertawa terbahak-bahak sambil menyembunyikan wajah malu. Sungguh aneh rasanya bertukar pesan mesra dengan Max yang dulu terlihat kaku dan menjaga jarak. Tapi jauh di dalam hati Jovanka mengakui jika itu menyenangkan.
Suara motor memasuki halaman membuatnya tersentak. Bangkit perlahan dari sofa, ia menatap nanar sekaligus kaget pada mantan tunangannya yang datang tiba-tiba.
Mahendra turun dari motor, tersenyum ke arah Jovanka yang mematung di tengah pintu.
“Jojo, apa kabar? Kamu makin cantik,” ucapnya sambil tersenyum dan mengulurkan tangan untuk bersalaman tapi ia tarik kembali karena Jovanka tidak menyambut ulurannya.
“Mau apa kamu, Hendra?” tanya Jovanka ketus. Diam-diam ia perhatikan laki-laki yang dulu pernah mengisi hatinya terlihat kurus dengan penampilan acak-acakan.
“Jangan galak begitu, Jo. Please, aku hanya ingin berkunjung,” bujuk Hendra dengan suara memelas.
Jovanka mengembuskan napas panjang. Duduk di kursi plastik yang ada di teras dengan tangan bersendekap. Matanya memandang ke arah mana pun asal tidak ke wajah Mahendra.
“Kenapa kamu selalu datang saat aku sedang kemari?” tanya Jovanka ingin tahu. “apa kamu punya mata-mata di sini?”
Terdengar tawa lirih dari mulut Mahendra. Jovanka meliriknya sekilas, sama sekali tidak berkeinginan basa basi untuk mempersilahkan Mahendra duduk.
“Iya memang, bisa dibilang begitu. Aku membayar beberapa orang untuk memberiku informasi setiap kali kamu datang.” Mahendra menggaruk rambutnya yang kini disemir merah tembaga. Menelengkan kepala untuk memandang mantan kekasihnya yang duduk tenang seakan tak tersentuh. “Kalau tak salah dengan beberapa minggu lalu kamu menginap lama di rumah, apakah rumah tanggamu bermasalah? Sayang aku sedang ada di luar kota--.”
“Apa yang terjadi denganku bukan lagi urusanmu!” sergah Jovanka panas. “sudah berkali-kali kubilang untuk melupakanku.”
“Sayangnya, aku nggak bisa.” Mahendra berkata lirih.
“Harus bisa,” tegas Jovanka galak. “kita sama-sama sudah berumah tangga sekarang.”
Mahendra mengenyakkan diri di kursi plastik lain yang tidak jauh dari Jovanka. Sejenak mereka terdiam saat beberapa anak-anak berlarian sambil menjerit melewati gang kecil di depan rumah. Saat suara-suara berisik mulai menghilang, Mahendra berkata lirih.
“Aku sudah berpisah dengan Lisa.”
Jovanka kaget mendengar penuturannya tapi ia tetap menutup mulut rapat-rapat, tidak ingin bertanya apa pun.
“Apa kamu nggak mau bilang sesuatu soal ini?” tanya Mahendra padanya.
“Bukan urusanku,” ketus Jovanka. “dan di sini bukan tempat konseling orang gagal berumah tangga.”
Mahendra mengentakkan kaki ke lantai dan berkata sedikit keras. “Kamu kejam, Jo. Setidaknya sedikit bersimpatilah padaku.”
“Rasa simpatiku menguap di sore kali itu,” ucap Jovanka lirih.
“Hah, aku tahu aku salah!” ujar Mahendra keras. “jika waktu bisa diputar kembali aku ingin memperbaikinya.”
“Sayangnya aku tidak, Hendra.”
Jawaban telak Jovanka membuat Mahendra yang semula terlihat bersemangat kini layu bagai bunga tak disiram. Kakinya bergerak pelan menggores lantai dengan sepatu ketsnya dan matanya melirik sesekali pada Jovanka yang duduk tenang dengan tangan bersendekap.
“Aku bertemu Lisa di sebuah klub malam, suatu hari saat kita bertengkar dan aku yang pusing ingin melarikan diri.”
Jovanka mau tidak mau menoleh mendengar cerita Mahendra. “Hei, stop, ya cerita kamu. Aku nggak mau dengar apa pun.”
Mahendra mengangkat tangan.
“Aku tahu, setidaknya biarkan aku bercerita untuk mengurangi beban batinku. Aku berhutang penjelasan padamu, Jo. Plaese.”
Menimbang sejenak, akhirnya Jovanka memberikan kesempatan pada Mahendra untuk bercerita. Apa salahnya mendengar orang berkeluh kesah, toh kini mereka tidak ada lagi hubungan apa pun. Di hati Jovanka kini hanya ada Max dan Mahendra hanya sebuah nama tanpa arti lagi baginya.
“Waktumu sepuluh menit untuk cerita.”
Mahendra tersenyum kecil. Memandang profil Jovanka dari samping yang terlihat sangat cantik. Entah hanya perasaannya saja atau memang Jovanka berubah menjadi sangat anggun? Mahendra bertanya-tanya dalam hati.
“Malam itu aku dijebak,” tutur Mahendra melanjutkan ceritanya. “Lisa mencekokiku dengan alkhohol dan kami tidur bersama. Setelahnya, dia terus menerus datang ke kios, rumah dan berlanjut hingga akhirnya dia mengaku hamil dan dengan terpaksa aku menikahinya.
“Kubilang dengan terpaksa karena jujur dalam hati aku merasa berdosa padamu. Sore, itu. Aku sudah bersikap kasar padamu tapi sejujurnya aku takut. Takut kehilanganmu, Jo.”
Jovanka mendesah, tanpa sadar pikirannya mengembara ke peristiwa sore kala itu yang akhirnya menjadi titik balik hubungannya dengan Mahendra dan Max. Segalanya sudah terjadi, ia bahkan tidak ingin mengingatnya kembali.
“Kamu tahu, Jo? Lisa meninggalkanku karena dia tahu aku nggak bisa lupa sama kamu.”
“Gimana anak kalian?”
Terdengar desahan napas panjang dari Mahendra, tak lama suaranya terdengar berat dan penuh kesedihan. “Anak kami keguguran di usia empat bulan. Meski awalnya terpaksa tapi aku menyayangi anak itu.”
“Aku turut berduka cita.”
Mahendra menggeleng. “Itu adalah pemicu lain kandasnya pernikahan kami dan Lisa pergi bebas meninggalkanku.”
Keheningan tercipat di antara mereka. Angin sore bertiup sepoi-sepoi, sedikit memberi kesejukan di antara panasnya udara. Rumah Jovanka berada di dalam pemukiman padat penduduk. Panas dam sumpek adalah hal wajar untuk mereka. Duduk di teras ditemani angin bertiup menyejukkan adalah hal menyenangkan baginya jika bukan kehadiran sang mantan kekasih.
“Apakah ceritamu sudah selesai? Kalau sudah, pulanglah!” usir Jovanka pada Mahendra yang terlihat terpukul mendengar kata-katanya.
“Jo, setidaknya sedikit bersimpatilah padaku.”
Jovanka mendengkus. “Udah habis simpatiku.”
“Kamu kejam Jovanka, entah kenapa aku merasa tak mengenalimu lagi. Apa mungkin uang membuatmu lupa berpijak di bumi? Apa karena kekayaan suamimu?” ujar Mahendra dengan nada tinggi.
Mau tidak mau Jovanka merasa panas mendengar omongannya. Serta merta ia bangkit dari kursi dan memandang Mahendra dengan galak.
“Kamu pergi sekarang!” tunjuk Jovanka ke arah jalanan. “aku nggak mau lagi ngomong sama kamu.”
“Sombong kamu, benar-benat sombong!” Mahendra bangkit dari kursi dan kini mereka berdiri berhadapan. “memangnya nggak bisa ya kamu maafin aku?” lirih Mahendra.
Ucapannya membuat Jovanka tertawa. “Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kamu adalah bagian dari masa lalu yang nggak ingin kuulang.”
“Setidaknya kita masih bisa berteman.”
“Aku yang nggak mau temenan sama kamu!” tolak Jovanka keras.
Keduanya sibuk beradu mulut dan tidak menyadari sesosok laki-laki berpenampilan perlente datang menghampiri. Matanya yang kebiruan menyipit ke arah istrinya yang terlihat marah memaki seorang laki-laki berambut merah. Melangkah pelan, Max berdehem dan membuat kedua orang di depannya terlonjak.
“Jojo, ada apa?” tanyanya bingung.
Jovanka berjengit, memandang ke arah datangnya suara dan tersenyum cerah saat melihat suaminya datang. “Hai, sudah datang? Nggak macet, ya? Cepat sih.”
Max mengulurkan tangan dan merangkul pundak Jovanka. “Jalanan lancar. Dan aku menepati janji untuk menjemputmu” Max mengelus rambut istrinya lalu bertanya tenang. “Siapa dia, Jo?”
“Oh, dia---,”
“Aku, Mahendra. Mantan kekasih istrimu,” sergah Mahendra memotong perkataan Jovanka.
Max menaikkan sebelah alisnya. Mengamati Mahendra dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang terang-terangan. Mata birunya yang menyorot tajam membuat Mahendra terlihat sedikit gentar.
“Mantan berarti kalian sudah tidak ada hubungan. Lalu kenapa masih mengganggunya?” tanya Max pada Mahendra.
“Apa salahnya? Kami hanya berdiskusi kecil.”
“Diskusi kecil yang membuat wajah istriku merah padam karena marah?”
Jovanka mengusap lengan suaminya. “Sudah, jangan ladeni dia. Yuuk, masuk.”
Max bergeming, masih memandang Mahendra dan melihat laki-laki berambut merah di depannya kini meringis.
“Kalian tahu apa isu yang terdengar dari pernikahan kalian? Tidak bukan? Mua tahu nggak Jo?”
“Jangan mengoceh yang nggak perlu dan mempermalukan dirimu, pergilah Hendra!” sentak Jovanka keras.
“Tidaak, kamu harus dengar dulu. Mereka bilang kamu murahan dan menjual tubuh--.”
Belum selesai ucapannya, Mahendra merasakan lehernya ditarik dan tubuhnya diempaskan ke tanah dan membutnya jatuh terjengkang. Setelah itu sebuah sepatu menginjak kakinya kuat dan membuatnya menjerit kesakitan.
“Sir, sudah. Jangan terpancing omongannya.” Jovanka berusaha menenangkan suaminya tapi Max tidak menggubrisnya.
Masih dengan kaki menginjak telapak Mahendra, Max berjongkok di depan laki-laki yang meringis kesakitan.
“Kuperingatkan kau, laki-laki tak tahu diri. Sekali lagi kamu menghina istriku akan kubuat seluruh keluargamu kehilangan harta. Apa kau dengar?”
“A-aku, aah. Lepaskan, sa-sakit,” rintih Mahendra memohon.
“Satu lagi, kalau sekali lagi kamu berani datang kemari dan mengusik istriku dann keluarganya, aku akan membuatmu mendekam di penjara tanpa tahu apa salahmu. Jangan main-main dengan Max Vendros, apa kau dengar!” Max berteriak dengan tangan mencengkeram leher Mahendra. Sementara Jovanka berdiri di belakangnnya dengan kuatir.
Dengan napas tersengal karena kesakitan, Mahendra berucap pelan. “Iy-iya, aku dengar.”
“Bagus.” Dengan sekali sentakan, Max melepaasan cengkeraman dan injakannya. Memandang penuh benci pada laki-laki yang terhuyung bangun dari tempatnya terjungkal.
“Pergi, dan awas jika kamu berani melanggar ucapanku!” ancam Max pada Mahendra yang kini melangkah tertatih mendekati motornya yang terparkir di halaman.
Jovanka menatap dengan sedikit iba pada Mahendra yang menstarter motor dengan wajah bersimbah peluh dan terlihat sangat kesakitan. Tanpa berkata-kata lagi, dia membawa motornya mundur dan melaju pelan meninggalkan rumah Jovanka. membawa serta seluruh harapan yang semula mungkin dia ingin berikan pada mantan kekasihnya.
“Tuan Max, Anda sungguh kejam,” decak Jovanka pada suaminya.
Max menoleh, mengalihkan pandangannya dari gang tempat Mahendra menghilang.
“Kenapa? Tidak suka mantan pacarmu terluka?”
Jovanka tertawa. Merangkul leher suaminya dan mengecup mesra. “Jangan bilang kamu cemburu padanya.”
Max mengelus wajah istrinya. “Dia terlalu bodoh untuk menjadi sasaran kecemburuan karena aku tahu, istriku tidak mungkin meliriknya.”
“Wah, terima kasih. Pujian yang manis.”
“Itu bukan pujian Jo. Aku hanya ingin memperjelas kalau ada aku di sampingmu mana mungkin kamu melirik laki-laki lain.”
“Dasar narsis! Apaan, sih?”
Jovanka tertawa terbahak-bahak dalam pelukan suaminya. Dalam hati sungguh mengakui, jika ada Max di sisinya dia tidak akan pernah menginginkan orang lain.
***
#Part_21b.
#CEO's Bride.
****
“Kak, datang sendirian? Mana suamimu?” Agra bertanya sambil celingak-celinguk saat melihat Jovanka duduk di dapur mengupas bawang.
“Mr.Max sedang meeting.”
“Hah, Sabtu gitu.”
“Dia super sibuk.” Jovanka mengusap matanya yang perih dengan punggung tangan. Mengupas bawang selalu membuatnya mengeluarkan air mata.
“Oh, iya, sih. Beda sama kami yang pengangguran,” celetuk Agra sambil mencomot kerupuk di atas meja makan dan mengunyah dengan berisik.
“Kamiii? Kamu aja kale, aku mah kerja,” goda Jovanka padanya.
“Iyaa-iyaa, serah deh. BTW, salam buat si Tuan Putri.”
Jovanka meletakkan talenan berisi irisan bawang dan mencuci tangan di westafel. Mengeringkan dengan selembar tisu dan melangkah mendekati adiknya.
“Siapa Tuan Putri, sih?”
“Yee, itu adiknya Mr.Max.”
“Ooh, Evelyn. Kenapa kamu nggak bilang sendiri ama dia? Nggak ada nomor handphonenya? Sini aku kasih.”
“Diih, paan. Cuma mau bilang makasih waktu itu.”
“Yakin, dia cakep loh.” goda Jovanka pada adiknya yang mulai terlihat jengah.
“Iya, tapi galak!” bantah Agra.
“Nah, kamu mengakui dia cantik. Ini nomornya, catat buruan!”
Tanpa memberi kesempatan Agra untuk menghindar, Jovanka menyambar handphone milik adiknya dan mengirimkan nomor Evelyn lalu menyimpannya.
“Pemaksaan ini,” desis Agra memandang handphonenya.
“Suatu saat kamu pasti bilang makasih sama aku untuk hari ini,” ucap Jovanka sambil tersenyum. Meninggalkan adiknya yang masih asyik mengunyah kerupuk menuju kamarnya.
Papa dan mamanya sedang pergi arisan ke rumah saudara. Tidak lama Agra pamit keluar. Ditinggal sendiri di rumah, Jovanka sibuk berbenah. Dari mulai mengganti gorden sampai menyapu dan mengepel. Setelahnya memasak untuk makan malam. Selesai semuanya, ia membawa handphone ke ruang tamu dan mengecek pesan yang masuk.
“Meeting sudah selesai, lagi di jalan pulang. Nanti aku jemput.” Sebuah pesan dari suaminya membuatnya tersenyum.
“Baiklah, aku tunggu.”
“Apa lingerenya berwarna merah?”
Jovanka tertawa terbahak-bahak sambil menyembunyikan wajah malu. Sungguh aneh rasanya bertukar pesan mesra dengan Max yang dulu terlihat kaku dan menjaga jarak. Tapi jauh di dalam hati Jovanka mengakui jika itu menyenangkan.
Suara motor memasuki halaman membuatnya tersentak. Bangkit perlahan dari sofa, ia menatap nanar sekaligus kaget pada mantan tunangannya yang datang tiba-tiba.
Mahendra turun dari motor, tersenyum ke arah Jovanka yang mematung di tengah pintu.
“Jojo, apa kabar? Kamu makin cantik,” ucapnya sambil tersenyum dan mengulurkan tangan untuk bersalaman tapi ia tarik kembali karena Jovanka tidak menyambut ulurannya.
“Mau apa kamu, Hendra?” tanya Jovanka ketus. Diam-diam ia perhatikan laki-laki yang dulu pernah mengisi hatinya terlihat kurus dengan penampilan acak-acakan.
“Jangan galak begitu, Jo. Please, aku hanya ingin berkunjung,” bujuk Hendra dengan suara memelas.
Jovanka mengembuskan napas panjang. Duduk di kursi plastik yang ada di teras dengan tangan bersendekap. Matanya memandang ke arah mana pun asal tidak ke wajah Mahendra.
“Kenapa kamu selalu datang saat aku sedang kemari?” tanya Jovanka ingin tahu. “apa kamu punya mata-mata di sini?”
Terdengar tawa lirih dari mulut Mahendra. Jovanka meliriknya sekilas, sama sekali tidak berkeinginan basa basi untuk mempersilahkan Mahendra duduk.
“Iya memang, bisa dibilang begitu. Aku membayar beberapa orang untuk memberiku informasi setiap kali kamu datang.” Mahendra menggaruk rambutnya yang kini disemir merah tembaga. Menelengkan kepala untuk memandang mantan kekasihnya yang duduk tenang seakan tak tersentuh. “Kalau tak salah dengan beberapa minggu lalu kamu menginap lama di rumah, apakah rumah tanggamu bermasalah? Sayang aku sedang ada di luar kota--.”
“Apa yang terjadi denganku bukan lagi urusanmu!” sergah Jovanka panas. “sudah berkali-kali kubilang untuk melupakanku.”
“Sayangnya, aku nggak bisa.” Mahendra berkata lirih.
“Harus bisa,” tegas Jovanka galak. “kita sama-sama sudah berumah tangga sekarang.”
Mahendra mengenyakkan diri di kursi plastik lain yang tidak jauh dari Jovanka. Sejenak mereka terdiam saat beberapa anak-anak berlarian sambil menjerit melewati gang kecil di depan rumah. Saat suara-suara berisik mulai menghilang, Mahendra berkata lirih.
“Aku sudah berpisah dengan Lisa.”
Jovanka kaget mendengar penuturannya tapi ia tetap menutup mulut rapat-rapat, tidak ingin bertanya apa pun.
“Apa kamu nggak mau bilang sesuatu soal ini?” tanya Mahendra padanya.
“Bukan urusanku,” ketus Jovanka. “dan di sini bukan tempat konseling orang gagal berumah tangga.”
Mahendra mengentakkan kaki ke lantai dan berkata sedikit keras. “Kamu kejam, Jo. Setidaknya sedikit bersimpatilah padaku.”
“Rasa simpatiku menguap di sore kali itu,” ucap Jovanka lirih.
“Hah, aku tahu aku salah!” ujar Mahendra keras. “jika waktu bisa diputar kembali aku ingin memperbaikinya.”
“Sayangnya aku tidak, Hendra.”
Jawaban telak Jovanka membuat Mahendra yang semula terlihat bersemangat kini layu bagai bunga tak disiram. Kakinya bergerak pelan menggores lantai dengan sepatu ketsnya dan matanya melirik sesekali pada Jovanka yang duduk tenang dengan tangan bersendekap.
“Aku bertemu Lisa di sebuah klub malam, suatu hari saat kita bertengkar dan aku yang pusing ingin melarikan diri.”
Jovanka mau tidak mau menoleh mendengar cerita Mahendra. “Hei, stop, ya cerita kamu. Aku nggak mau dengar apa pun.”
Mahendra mengangkat tangan.
“Aku tahu, setidaknya biarkan aku bercerita untuk mengurangi beban batinku. Aku berhutang penjelasan padamu, Jo. Plaese.”
Menimbang sejenak, akhirnya Jovanka memberikan kesempatan pada Mahendra untuk bercerita. Apa salahnya mendengar orang berkeluh kesah, toh kini mereka tidak ada lagi hubungan apa pun. Di hati Jovanka kini hanya ada Max dan Mahendra hanya sebuah nama tanpa arti lagi baginya.
“Waktumu sepuluh menit untuk cerita.”
Mahendra tersenyum kecil. Memandang profil Jovanka dari samping yang terlihat sangat cantik. Entah hanya perasaannya saja atau memang Jovanka berubah menjadi sangat anggun? Mahendra bertanya-tanya dalam hati.
“Malam itu aku dijebak,” tutur Mahendra melanjutkan ceritanya. “Lisa mencekokiku dengan alkhohol dan kami tidur bersama. Setelahnya, dia terus menerus datang ke kios, rumah dan berlanjut hingga akhirnya dia mengaku hamil dan dengan terpaksa aku menikahinya.
“Kubilang dengan terpaksa karena jujur dalam hati aku merasa berdosa padamu. Sore, itu. Aku sudah bersikap kasar padamu tapi sejujurnya aku takut. Takut kehilanganmu, Jo.”
Jovanka mendesah, tanpa sadar pikirannya mengembara ke peristiwa sore kala itu yang akhirnya menjadi titik balik hubungannya dengan Mahendra dan Max. Segalanya sudah terjadi, ia bahkan tidak ingin mengingatnya kembali.
“Kamu tahu, Jo? Lisa meninggalkanku karena dia tahu aku nggak bisa lupa sama kamu.”
“Gimana anak kalian?”
Terdengar desahan napas panjang dari Mahendra, tak lama suaranya terdengar berat dan penuh kesedihan. “Anak kami keguguran di usia empat bulan. Meski awalnya terpaksa tapi aku menyayangi anak itu.”
“Aku turut berduka cita.”
Mahendra menggeleng. “Itu adalah pemicu lain kandasnya pernikahan kami dan Lisa pergi bebas meninggalkanku.”
Keheningan tercipat di antara mereka. Angin sore bertiup sepoi-sepoi, sedikit memberi kesejukan di antara panasnya udara. Rumah Jovanka berada di dalam pemukiman padat penduduk. Panas dam sumpek adalah hal wajar untuk mereka. Duduk di teras ditemani angin bertiup menyejukkan adalah hal menyenangkan baginya jika bukan kehadiran sang mantan kekasih.
“Apakah ceritamu sudah selesai? Kalau sudah, pulanglah!” usir Jovanka pada Mahendra yang terlihat terpukul mendengar kata-katanya.
“Jo, setidaknya sedikit bersimpatilah padaku.”
Jovanka mendengkus. “Udah habis simpatiku.”
“Kamu kejam Jovanka, entah kenapa aku merasa tak mengenalimu lagi. Apa mungkin uang membuatmu lupa berpijak di bumi? Apa karena kekayaan suamimu?” ujar Mahendra dengan nada tinggi.
Mau tidak mau Jovanka merasa panas mendengar omongannya. Serta merta ia bangkit dari kursi dan memandang Mahendra dengan galak.
“Kamu pergi sekarang!” tunjuk Jovanka ke arah jalanan. “aku nggak mau lagi ngomong sama kamu.”
“Sombong kamu, benar-benat sombong!” Mahendra bangkit dari kursi dan kini mereka berdiri berhadapan. “memangnya nggak bisa ya kamu maafin aku?” lirih Mahendra.
Ucapannya membuat Jovanka tertawa. “Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kamu adalah bagian dari masa lalu yang nggak ingin kuulang.”
“Setidaknya kita masih bisa berteman.”
“Aku yang nggak mau temenan sama kamu!” tolak Jovanka keras.
Keduanya sibuk beradu mulut dan tidak menyadari sesosok laki-laki berpenampilan perlente datang menghampiri. Matanya yang kebiruan menyipit ke arah istrinya yang terlihat marah memaki seorang laki-laki berambut merah. Melangkah pelan, Max berdehem dan membuat kedua orang di depannya terlonjak.
“Jojo, ada apa?” tanyanya bingung.
Jovanka berjengit, memandang ke arah datangnya suara dan tersenyum cerah saat melihat suaminya datang. “Hai, sudah datang? Nggak macet, ya? Cepat sih.”
Max mengulurkan tangan dan merangkul pundak Jovanka. “Jalanan lancar. Dan aku menepati janji untuk menjemputmu” Max mengelus rambut istrinya lalu bertanya tenang. “Siapa dia, Jo?”
“Oh, dia---,”
“Aku, Mahendra. Mantan kekasih istrimu,” sergah Mahendra memotong perkataan Jovanka.
Max menaikkan sebelah alisnya. Mengamati Mahendra dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang terang-terangan. Mata birunya yang menyorot tajam membuat Mahendra terlihat sedikit gentar.
“Mantan berarti kalian sudah tidak ada hubungan. Lalu kenapa masih mengganggunya?” tanya Max pada Mahendra.
“Apa salahnya? Kami hanya berdiskusi kecil.”
“Diskusi kecil yang membuat wajah istriku merah padam karena marah?”
Jovanka mengusap lengan suaminya. “Sudah, jangan ladeni dia. Yuuk, masuk.”
Max bergeming, masih memandang Mahendra dan melihat laki-laki berambut merah di depannya kini meringis.
“Kalian tahu apa isu yang terdengar dari pernikahan kalian? Tidak bukan? Mua tahu nggak Jo?”
“Jangan mengoceh yang nggak perlu dan mempermalukan dirimu, pergilah Hendra!” sentak Jovanka keras.
“Tidaak, kamu harus dengar dulu. Mereka bilang kamu murahan dan menjual tubuh--.”
Belum selesai ucapannya, Mahendra merasakan lehernya ditarik dan tubuhnya diempaskan ke tanah dan membutnya jatuh terjengkang. Setelah itu sebuah sepatu menginjak kakinya kuat dan membuatnya menjerit kesakitan.
“Sir, sudah. Jangan terpancing omongannya.” Jovanka berusaha menenangkan suaminya tapi Max tidak menggubrisnya.
Masih dengan kaki menginjak telapak Mahendra, Max berjongkok di depan laki-laki yang meringis kesakitan.
“Kuperingatkan kau, laki-laki tak tahu diri. Sekali lagi kamu menghina istriku akan kubuat seluruh keluargamu kehilangan harta. Apa kau dengar?”
“A-aku, aah. Lepaskan, sa-sakit,” rintih Mahendra memohon.
“Satu lagi, kalau sekali lagi kamu berani datang kemari dan mengusik istriku dann keluarganya, aku akan membuatmu mendekam di penjara tanpa tahu apa salahmu. Jangan main-main dengan Max Vendros, apa kau dengar!” Max berteriak dengan tangan mencengkeram leher Mahendra. Sementara Jovanka berdiri di belakangnnya dengan kuatir.
Dengan napas tersengal karena kesakitan, Mahendra berucap pelan. “Iy-iya, aku dengar.”
“Bagus.” Dengan sekali sentakan, Max melepaasan cengkeraman dan injakannya. Memandang penuh benci pada laki-laki yang terhuyung bangun dari tempatnya terjungkal.
“Pergi, dan awas jika kamu berani melanggar ucapanku!” ancam Max pada Mahendra yang kini melangkah tertatih mendekati motornya yang terparkir di halaman.
Jovanka menatap dengan sedikit iba pada Mahendra yang menstarter motor dengan wajah bersimbah peluh dan terlihat sangat kesakitan. Tanpa berkata-kata lagi, dia membawa motornya mundur dan melaju pelan meninggalkan rumah Jovanka. membawa serta seluruh harapan yang semula mungkin dia ingin berikan pada mantan kekasihnya.
“Tuan Max, Anda sungguh kejam,” decak Jovanka pada suaminya.
Max menoleh, mengalihkan pandangannya dari gang tempat Mahendra menghilang.
“Kenapa? Tidak suka mantan pacarmu terluka?”
Jovanka tertawa. Merangkul leher suaminya dan mengecup mesra. “Jangan bilang kamu cemburu padanya.”
Max mengelus wajah istrinya. “Dia terlalu bodoh untuk menjadi sasaran kecemburuan karena aku tahu, istriku tidak mungkin meliriknya.”
“Wah, terima kasih. Pujian yang manis.”
“Itu bukan pujian Jo. Aku hanya ingin memperjelas kalau ada aku di sampingmu mana mungkin kamu melirik laki-laki lain.”
“Dasar narsis! Apaan, sih?”
Jovanka tertawa terbahak-bahak dalam pelukan suaminya. Dalam hati sungguh mengakui, jika ada Max di sisinya dia tidak akan pernah menginginkan orang lain.
***
#Pengantin_Bayaran_Sang_CEO
#Part_22a
#CEO's Bride.
Andrew menatap foto di tangannya. Mengelus wajah yang tercetak di sana dan sesekali menciumnya. Pikirannya berkecamuk antara perasaan rindu dan bingung. Tangan kanan memegang foto dan tangan kiri meraih handphone untuk membuka gallery. Menemukan satu wajah yang ia inginkan dan membandingkan keduanya. Jelas-jelas memiliki kemiripan. Ia memejamkan mata, berusaha mengingat setiap momen dengan dua orang yang ada di foto yang ia pegang.
‘Mereka benar-benar mirip, bagai pinang dibelah dua,’ desahnya dalam hati.
Terdengar ketukan di pintu. Kamal masuk dan berdiri di depannya sambil mengangguk hormat. “Tuan, memanggil saya?”
“Kamal, aku melihat keduanya makin lama makin mirip. Apa benar bukan saudara kembar?”
“Bukan Tuan, sudah saya pastikan.”
Andrew mendesah. “Semenjak kehadiran Jojo, pikiranku jadi aneh. Aku suka sekali di dekatnya.”
“Mereka berbeda orang, Tuan.”
Andrew menoleh, mengalihkan pandangannya dari foto ke pegawainya yang sedang menunduk. “Aku tahu, pribadinya pun berbeda. Raline itu lembut, pendiam dan penurut. Sedangkan Jojo … dia luar biasa. Dekat dengannya bikin aku terus menerus ingin tertawa.”
“Lalu? Apa rencana Tuan?”
“Apakah Max Vendros sudah memberikan jawaban?”
“Belum, Tuan. Anda ingin saya tanyakan padanya?”
Andrew menggeleng. “Jangan, beri dia waktu untuk berpikir. Seorang Max Vendros aku yakin tidak akan menolak kesempatan.”
“Bagaimana jika Nona Amarisa tahu soal ini?”
Andrew tertawa kecil, mengingat tentang Amarisa yang kini sudah menjadi tunangannya. Wanita cantik dan ambisius, cocok sekali untuk membantunya membangun bisnis.
Ia ingat saat pertama kali bertemu dengan Amarisa di sebuah tender perusahaan. Mau tidak mau ia mengakui keberanian wanita anak keluarga Lim itu. Tanpa basa-basi mengajukan lamaran pertunangan dengan deal-deal yang tidak dapat ia tolak. Kelak, pernikahan mereka adalah pernikahan dua raksasa pengendali bisnis.
“Amarisa, hanya cocok untuk bisnis. Tidak untuk lebih dari itu. Lagi pula dia masih belum bisa melupakan Max Vendros. Terakhir kulihat, dia bahkan berani memukul Jovanka karena cemburu. Jika dia tahu masalah ini, maka aku akan mengajukan penawaran lain untuknya. Toh, tidak ada cinta di antara kami.”
Kamal mengangguk. Tidak membantah apa pun yang dikatakan Tuannya.
“Jangan lupa siapkan kontraknya, Kamal. Aku yakin, Max Vendros akan segera datang untuk menandatanganinya.” Lalu tawa keras menggelegar keluar dari mulut Andrew.
“Baik, Tuan. Saya siapkan detil kontraknya.”
Andrew mengangguk. Wajahnya bersemu merah karena perasaan berbunga yang melingkupinya. Ia bahkan berpikir, deal bisni paling besar pun tak semenyenangkan ini. Ia udah terbiasa menang, baik di bidang pendidikan, bisnis dan wanita. Tidak ada yang bisa menolak pesona seorang Andrew Tyler.
Masih terbias terang dalam ingatannya, bagaimana dulu saat sekolah menengah atas ia tidak suka dikalahkan. Pernah suatu hari ada seorang murid baru datang dan kepandaiannya mengalahkannya. Anak perempuan dari keluarga sederhana, dengan wajah cantik rupawan dan tidak ingin mengenalnya karena bagi sang anak perempuan pelajaran lebih penting dari pada mengenal laki-laki. Saat itu, perasaan sakit hati melingkupinya. Satu karena tidak diindahkan, kedua karena dikalahkan. Akhirnya ia mencoba segala cara mendekati anak perempuan saingannya, merayu siang dan malam. Hingga akhirnya membuat anak perempuan itu terlena, jatuh cinta padanya dan mudah saja Andrew mematahkan hatinya. Menginjak sementer akhir, si anak perempuan pindah sekolah dan Andrew kembali menjadi juara.
Hal itu berlaku juga untuk bisnis, mendekati lawan pelan-pelan dan membuatnya bertekuk lutut adalah keahliannya. Kini, yang ia harapkan hanya satu, mengalahkan Max Vendros demi hal lain selain uang.
“Jojo … kita akan bertemu lagi. Saat itu, kamu akan menjadi milikku, utuh!”
****
Jovanka belum pernah datang ke kantor Max. Ini adalah pertama kalinya ia datang dan melongo melihat betapa megah dan kerennya interior lobi gedung. Ia datang ke sini bukan atas kemauan sendiri tapi Bu Nina menyuruhnya untuk mengantarkan surat. Hal yang seharusnya menjadi pekerjaan Pak Yanto tapi hari ini ia yang melakukan karena Pak Yanto sakit.
‘Semoga aku tidak bertemu Mr.Max,’ desah Jovanka dengan mata melirik waspada ke kanan dan kiri.
Lobi gedung didominasi warna pastel dan kuning. Ada lampu kristal besar tergantung di langit-langit. Kafe dan toko berjejer rapi di lobi bagian belakang. Ada tangga melingkar menuju lantai satu yang berada di sisi kanan dan kiri tempat resepsionis. Orang-orang berlalu lalang dengan tas besar di pundak atau handphone di tangan. Semua terlihat sibuk dan terburu-buru.
Setelah mengganti KTP dengan akses lift, Jovanka naik ke lantai lima belas sesuai intruksi Bu Nina. Tiba di lantai lima belas ia sedikit kebingungan. Matanya celingak-celinguk mencari seseorang untuk ditanya karena koridor sepi. Melangkah perlahan, dia menemukan ruangan yang dia cari. Mendorong pintu kaca hingga terbuka dan di hadapkan pada pemandangan pegawai kantor yang terlihat sangat sibuk.
“Selamat siang, ada yang bisa dibantu?” Seorang penerima tamu menyapa ramah dari balik meja. Seorang gadis sumuran dirinya dengan seragam biru dan rambut disanggul rapi.
“Maaf, Mbak. Saya ingin mengantarkan surat untuk Pak Surya dari divisi keuangan.” Jovanka mengulurkan amplop tebal warna coklat pada resepsionis yang menerimanya dengan cekatan.
“Tunggu sebentar, saya sambungkan dulu dengan Pak Surya. Ini dari mana?”
“Vendros Impersia cabang Jakarta-Utara.”
Si gadis resepsionis tersenyum. Mempersilahkan Jovanka duduk di kursi kayu berpelitur mengkilat tak jauh dari pintu .
Jovanka mengangga, memandang banyaknya pegawai yang terlihat sibuk dari balik pintu kaca di depannya. Lantai yang diinjaknya dilapisi karpet tebal merah bata. Ada dua tanamam palem dengan ukuran lumayan besar berdiri kokoh dalam pot di samping kanan dan kiri pintu.
“Maaf, dengan Mbak siapa ini?” tanya resepsionis dengan telepon terjepit di antara telinga dan bahu.
“Jovanka.”
Si resepsionis mengangguk, melanjutkan pembicaraan. Tak lama setelah dia meletakkan telepon, bicara lirih pada Jovanka yang menunggunya.
“Pak Surya sebentar lagi keluar, Mbak disuruh menunggu,” ucap resepsionis sebelum menghilang ke dalam dan kembali lagi ke tempatnya sepuluh menit kemudian.
Jovanka mengangguk. Kembali melanjutkan pengamatannya menyeluruh terhadap kantor utama suaminya. Berbeda dengan kantornya yang kecil, tempat ini memang impian bagi para pekerja yang menginginkan gaji besar dan gengsi. Terletak di pusat kota, siapa pun yang merasa punya kemampuan pasti memimpikan bekerja di Vendros Impersia. Tanpa terasa, sudah tiga puluh menit menunggu dan Pak Surya tak juga keluar. Jovanka hanya ingin keluar dari kantor ini sebelum Max melihatnya.
“Mbak, bisa tolong telepon Pak Surya sekali lagi? Saya harus kembali ke kantor,” pintanya pada resepsionis di depannya dan menerima anggukan.
Nyatanya, Pak Surya tak secepat itu juga keluar. Tepat saat Jovanka sudah menunggu nyaris satu jam dengan baterai handphone lobet karena ia terus menggunakannya untuk main game, seseorang yang ditunggunya datang juga.
Bertubuh gempal dengan tinggi badan tidak tidak lebih dari 165 cm, berkumis dengan wajah bulat yang menyiratkan kekesalan. Pak Surya adalah laki-laki setengah baya dengan pakaian perlente. Matanya menatap galak pada Jovanka.
“Kamu ini, nggak sabaran banget, ya? Aku katakan kalau nunggu ya nunggu!” bentaknya pada Jovanka yang terkesiap kaget.
“Ini, saya menunggu, Pak.”
“Iya, dan berani-beraninya menyuruh Rini,” ucap Pak Surya sambil menuding gadis resepsionis sekilas lalu kembali marah pada Jovanka. “untuk memanggilku datang kemari secepatnya. Apa kamu nggak tahu betapa sibuknya kami? Dan kamu hanya gadis pengantar surat berani menyuruhku?”
Jovanka benar-benar bingung sekarang. Ia tidak mengerti kenapa laki-laki berkumis di depannya mengoceh tak karuan.
“Bapak nggak usah marah-marah, kalau memang nggak ada urusan lagi, saya pamit pergi.”
“Hei, kamu. Bisa nggak sopan gitu sama aku?” bentak Pak Surya marah. Melemparkan kertas yang sedari dikepitnya hingga berhamburan di lantai.
Tindakannya tidak hanya membuat Jovanka kaget tapi juga mengejutkan resepsionis dan pegawai yang berlalu-lalang keluar masuk pintu kaca.
“Kamu bilang sama atasanmu, si Nina itu. Untuk kerja yang benar! Email dia aku nggak baca karena memang hitungannya nggak masuk akal. Lalu berani-beraninya menyuruh kamu untuk datang kemari dan mengacau!”
Jovanka berdiri mematung, memandang kertas yang bertebaran di lantai. Beberapa di antaranya adalah kwitansi tanda terima.
“Punguti semua lalu berikan pada si Nina!”
Jovanka menahan geram. Jika mengikuti kata hati ingin rasanya ia setrum laki-laki bogel dan pemarah di depannya. Tapi ia cukup tahu diri untuk tidak membuat masalah. Bagaimana pun juga ini adalah kantor suaminya. Dengan enggan ia menunduk untuk memunguti kertas sementara Pak Surya masih mengomel tentang uang, perhitungan dan segala macam tentang kesalahan kantor cabang.
“Kalian ini para pegawai kantor cabang, nggak pernah bisa selesaikan masalah dengan cepat. Nina, Maulana, semua sama saja!”
“Ada apa ini?”
Suara teguran mengagetkan mereka. Ocehan Pak Surya terhenti seketika. Sementara Jovanka yang sedang menunduk melirik laki-laki yang baru saja menegur mereka dari balik punggungnya. Benar dugaannya, Steve sedang berdiri pongah dengan setelah salem dan memandang bingung pada kertas-kertas yang berhamburan di lantai.
“Ah, selamat siang, Mr. Steve. Maaf menganggung perjalanan Anda, silahkan.” Pak Surya berkata semanis madu mempersilahkan Steve masuk.
Sementara Jovanka berusaha untuk tidak dikenali dengan berjongkok memunggungi Steve.
“Jojo, ngapain kamu jongkok di situ?”
“Ah, sial!” gumam Jovanka saat mendengar teguran Steve.
“Ada apa, Jojo. Apa lantai kantor kami terlalu bersih untuk diamati.”
Jovanka bangkit perlahan dan membalikkan tubuh menghadap Steve yang memandangnya dengan alis terangkat . Lalu melambaikan tangan seakan sudah lama tidak melihat sepupu suaminya.
“Hai.”
Pak Surya melongo, menunjuk antara Jovanka dan Steve. “Mr. Steve mengenal gadis ini?”
Steve mengangguk. “Cukup baik, apa yang dia lakukan Pak Surya?”
Sekarang giliran laki-laki yang dipanggil Pak Surya terbelalak. Sama sekali tak menyangka jika pegawai biasa dari kantor cabang mengenal sang manager.
“Itu, Mr. Pekerjaan orang cabang tidak pernah beres. Dan saya sedang memberikan pelajaran pada gadis ini agar bersikap sopan.”
“Dengan menyebar kertas di lantai?” tanya Steve dengan pandangan tenang.
“Itu, hanya salah paham, Mr.”
“Kamu tidak tahu siapa dia, Pak Surya,” ucap Steve tenang sambil mengetik pesan di handphone.
Jovanka yang melihat gelagat yang tidak baik antara Pak Surya dan Steve memutuskan untuk bertindak. “Steve, aku masih banyak kerjaan. Pergi dulu, ya?” Baru dua langkah ia berjalan suara Steve kembali terdengar menegurnya.
“Jangan coba-coba kabur, Jojo. Max sebentar lagi keluar. Tetap diam di situ!”
“Ah, mati aku,” gumam Jovanka sambil berbalik menghadap Steve yang berdiri tenang dengan Pak Surya yang sekarang terlihat memucat. Keringat sebesar biji jagung menuruni wajahnya.
****
#Part_22a
#CEO's Bride.
Andrew menatap foto di tangannya. Mengelus wajah yang tercetak di sana dan sesekali menciumnya. Pikirannya berkecamuk antara perasaan rindu dan bingung. Tangan kanan memegang foto dan tangan kiri meraih handphone untuk membuka gallery. Menemukan satu wajah yang ia inginkan dan membandingkan keduanya. Jelas-jelas memiliki kemiripan. Ia memejamkan mata, berusaha mengingat setiap momen dengan dua orang yang ada di foto yang ia pegang.
‘Mereka benar-benar mirip, bagai pinang dibelah dua,’ desahnya dalam hati.
Terdengar ketukan di pintu. Kamal masuk dan berdiri di depannya sambil mengangguk hormat. “Tuan, memanggil saya?”
“Kamal, aku melihat keduanya makin lama makin mirip. Apa benar bukan saudara kembar?”
“Bukan Tuan, sudah saya pastikan.”
Andrew mendesah. “Semenjak kehadiran Jojo, pikiranku jadi aneh. Aku suka sekali di dekatnya.”
“Mereka berbeda orang, Tuan.”
Andrew menoleh, mengalihkan pandangannya dari foto ke pegawainya yang sedang menunduk. “Aku tahu, pribadinya pun berbeda. Raline itu lembut, pendiam dan penurut. Sedangkan Jojo … dia luar biasa. Dekat dengannya bikin aku terus menerus ingin tertawa.”
“Lalu? Apa rencana Tuan?”
“Apakah Max Vendros sudah memberikan jawaban?”
“Belum, Tuan. Anda ingin saya tanyakan padanya?”
Andrew menggeleng. “Jangan, beri dia waktu untuk berpikir. Seorang Max Vendros aku yakin tidak akan menolak kesempatan.”
“Bagaimana jika Nona Amarisa tahu soal ini?”
Andrew tertawa kecil, mengingat tentang Amarisa yang kini sudah menjadi tunangannya. Wanita cantik dan ambisius, cocok sekali untuk membantunya membangun bisnis.
Ia ingat saat pertama kali bertemu dengan Amarisa di sebuah tender perusahaan. Mau tidak mau ia mengakui keberanian wanita anak keluarga Lim itu. Tanpa basa-basi mengajukan lamaran pertunangan dengan deal-deal yang tidak dapat ia tolak. Kelak, pernikahan mereka adalah pernikahan dua raksasa pengendali bisnis.
“Amarisa, hanya cocok untuk bisnis. Tidak untuk lebih dari itu. Lagi pula dia masih belum bisa melupakan Max Vendros. Terakhir kulihat, dia bahkan berani memukul Jovanka karena cemburu. Jika dia tahu masalah ini, maka aku akan mengajukan penawaran lain untuknya. Toh, tidak ada cinta di antara kami.”
Kamal mengangguk. Tidak membantah apa pun yang dikatakan Tuannya.
“Jangan lupa siapkan kontraknya, Kamal. Aku yakin, Max Vendros akan segera datang untuk menandatanganinya.” Lalu tawa keras menggelegar keluar dari mulut Andrew.
“Baik, Tuan. Saya siapkan detil kontraknya.”
Andrew mengangguk. Wajahnya bersemu merah karena perasaan berbunga yang melingkupinya. Ia bahkan berpikir, deal bisni paling besar pun tak semenyenangkan ini. Ia udah terbiasa menang, baik di bidang pendidikan, bisnis dan wanita. Tidak ada yang bisa menolak pesona seorang Andrew Tyler.
Masih terbias terang dalam ingatannya, bagaimana dulu saat sekolah menengah atas ia tidak suka dikalahkan. Pernah suatu hari ada seorang murid baru datang dan kepandaiannya mengalahkannya. Anak perempuan dari keluarga sederhana, dengan wajah cantik rupawan dan tidak ingin mengenalnya karena bagi sang anak perempuan pelajaran lebih penting dari pada mengenal laki-laki. Saat itu, perasaan sakit hati melingkupinya. Satu karena tidak diindahkan, kedua karena dikalahkan. Akhirnya ia mencoba segala cara mendekati anak perempuan saingannya, merayu siang dan malam. Hingga akhirnya membuat anak perempuan itu terlena, jatuh cinta padanya dan mudah saja Andrew mematahkan hatinya. Menginjak sementer akhir, si anak perempuan pindah sekolah dan Andrew kembali menjadi juara.
Hal itu berlaku juga untuk bisnis, mendekati lawan pelan-pelan dan membuatnya bertekuk lutut adalah keahliannya. Kini, yang ia harapkan hanya satu, mengalahkan Max Vendros demi hal lain selain uang.
“Jojo … kita akan bertemu lagi. Saat itu, kamu akan menjadi milikku, utuh!”
****
Jovanka belum pernah datang ke kantor Max. Ini adalah pertama kalinya ia datang dan melongo melihat betapa megah dan kerennya interior lobi gedung. Ia datang ke sini bukan atas kemauan sendiri tapi Bu Nina menyuruhnya untuk mengantarkan surat. Hal yang seharusnya menjadi pekerjaan Pak Yanto tapi hari ini ia yang melakukan karena Pak Yanto sakit.
‘Semoga aku tidak bertemu Mr.Max,’ desah Jovanka dengan mata melirik waspada ke kanan dan kiri.
Lobi gedung didominasi warna pastel dan kuning. Ada lampu kristal besar tergantung di langit-langit. Kafe dan toko berjejer rapi di lobi bagian belakang. Ada tangga melingkar menuju lantai satu yang berada di sisi kanan dan kiri tempat resepsionis. Orang-orang berlalu lalang dengan tas besar di pundak atau handphone di tangan. Semua terlihat sibuk dan terburu-buru.
Setelah mengganti KTP dengan akses lift, Jovanka naik ke lantai lima belas sesuai intruksi Bu Nina. Tiba di lantai lima belas ia sedikit kebingungan. Matanya celingak-celinguk mencari seseorang untuk ditanya karena koridor sepi. Melangkah perlahan, dia menemukan ruangan yang dia cari. Mendorong pintu kaca hingga terbuka dan di hadapkan pada pemandangan pegawai kantor yang terlihat sangat sibuk.
“Selamat siang, ada yang bisa dibantu?” Seorang penerima tamu menyapa ramah dari balik meja. Seorang gadis sumuran dirinya dengan seragam biru dan rambut disanggul rapi.
“Maaf, Mbak. Saya ingin mengantarkan surat untuk Pak Surya dari divisi keuangan.” Jovanka mengulurkan amplop tebal warna coklat pada resepsionis yang menerimanya dengan cekatan.
“Tunggu sebentar, saya sambungkan dulu dengan Pak Surya. Ini dari mana?”
“Vendros Impersia cabang Jakarta-Utara.”
Si gadis resepsionis tersenyum. Mempersilahkan Jovanka duduk di kursi kayu berpelitur mengkilat tak jauh dari pintu .
Jovanka mengangga, memandang banyaknya pegawai yang terlihat sibuk dari balik pintu kaca di depannya. Lantai yang diinjaknya dilapisi karpet tebal merah bata. Ada dua tanamam palem dengan ukuran lumayan besar berdiri kokoh dalam pot di samping kanan dan kiri pintu.
“Maaf, dengan Mbak siapa ini?” tanya resepsionis dengan telepon terjepit di antara telinga dan bahu.
“Jovanka.”
Si resepsionis mengangguk, melanjutkan pembicaraan. Tak lama setelah dia meletakkan telepon, bicara lirih pada Jovanka yang menunggunya.
“Pak Surya sebentar lagi keluar, Mbak disuruh menunggu,” ucap resepsionis sebelum menghilang ke dalam dan kembali lagi ke tempatnya sepuluh menit kemudian.
Jovanka mengangguk. Kembali melanjutkan pengamatannya menyeluruh terhadap kantor utama suaminya. Berbeda dengan kantornya yang kecil, tempat ini memang impian bagi para pekerja yang menginginkan gaji besar dan gengsi. Terletak di pusat kota, siapa pun yang merasa punya kemampuan pasti memimpikan bekerja di Vendros Impersia. Tanpa terasa, sudah tiga puluh menit menunggu dan Pak Surya tak juga keluar. Jovanka hanya ingin keluar dari kantor ini sebelum Max melihatnya.
“Mbak, bisa tolong telepon Pak Surya sekali lagi? Saya harus kembali ke kantor,” pintanya pada resepsionis di depannya dan menerima anggukan.
Nyatanya, Pak Surya tak secepat itu juga keluar. Tepat saat Jovanka sudah menunggu nyaris satu jam dengan baterai handphone lobet karena ia terus menggunakannya untuk main game, seseorang yang ditunggunya datang juga.
Bertubuh gempal dengan tinggi badan tidak tidak lebih dari 165 cm, berkumis dengan wajah bulat yang menyiratkan kekesalan. Pak Surya adalah laki-laki setengah baya dengan pakaian perlente. Matanya menatap galak pada Jovanka.
“Kamu ini, nggak sabaran banget, ya? Aku katakan kalau nunggu ya nunggu!” bentaknya pada Jovanka yang terkesiap kaget.
“Ini, saya menunggu, Pak.”
“Iya, dan berani-beraninya menyuruh Rini,” ucap Pak Surya sambil menuding gadis resepsionis sekilas lalu kembali marah pada Jovanka. “untuk memanggilku datang kemari secepatnya. Apa kamu nggak tahu betapa sibuknya kami? Dan kamu hanya gadis pengantar surat berani menyuruhku?”
Jovanka benar-benar bingung sekarang. Ia tidak mengerti kenapa laki-laki berkumis di depannya mengoceh tak karuan.
“Bapak nggak usah marah-marah, kalau memang nggak ada urusan lagi, saya pamit pergi.”
“Hei, kamu. Bisa nggak sopan gitu sama aku?” bentak Pak Surya marah. Melemparkan kertas yang sedari dikepitnya hingga berhamburan di lantai.
Tindakannya tidak hanya membuat Jovanka kaget tapi juga mengejutkan resepsionis dan pegawai yang berlalu-lalang keluar masuk pintu kaca.
“Kamu bilang sama atasanmu, si Nina itu. Untuk kerja yang benar! Email dia aku nggak baca karena memang hitungannya nggak masuk akal. Lalu berani-beraninya menyuruh kamu untuk datang kemari dan mengacau!”
Jovanka berdiri mematung, memandang kertas yang bertebaran di lantai. Beberapa di antaranya adalah kwitansi tanda terima.
“Punguti semua lalu berikan pada si Nina!”
Jovanka menahan geram. Jika mengikuti kata hati ingin rasanya ia setrum laki-laki bogel dan pemarah di depannya. Tapi ia cukup tahu diri untuk tidak membuat masalah. Bagaimana pun juga ini adalah kantor suaminya. Dengan enggan ia menunduk untuk memunguti kertas sementara Pak Surya masih mengomel tentang uang, perhitungan dan segala macam tentang kesalahan kantor cabang.
“Kalian ini para pegawai kantor cabang, nggak pernah bisa selesaikan masalah dengan cepat. Nina, Maulana, semua sama saja!”
“Ada apa ini?”
Suara teguran mengagetkan mereka. Ocehan Pak Surya terhenti seketika. Sementara Jovanka yang sedang menunduk melirik laki-laki yang baru saja menegur mereka dari balik punggungnya. Benar dugaannya, Steve sedang berdiri pongah dengan setelah salem dan memandang bingung pada kertas-kertas yang berhamburan di lantai.
“Ah, selamat siang, Mr. Steve. Maaf menganggung perjalanan Anda, silahkan.” Pak Surya berkata semanis madu mempersilahkan Steve masuk.
Sementara Jovanka berusaha untuk tidak dikenali dengan berjongkok memunggungi Steve.
“Jojo, ngapain kamu jongkok di situ?”
“Ah, sial!” gumam Jovanka saat mendengar teguran Steve.
“Ada apa, Jojo. Apa lantai kantor kami terlalu bersih untuk diamati.”
Jovanka bangkit perlahan dan membalikkan tubuh menghadap Steve yang memandangnya dengan alis terangkat . Lalu melambaikan tangan seakan sudah lama tidak melihat sepupu suaminya.
“Hai.”
Pak Surya melongo, menunjuk antara Jovanka dan Steve. “Mr. Steve mengenal gadis ini?”
Steve mengangguk. “Cukup baik, apa yang dia lakukan Pak Surya?”
Sekarang giliran laki-laki yang dipanggil Pak Surya terbelalak. Sama sekali tak menyangka jika pegawai biasa dari kantor cabang mengenal sang manager.
“Itu, Mr. Pekerjaan orang cabang tidak pernah beres. Dan saya sedang memberikan pelajaran pada gadis ini agar bersikap sopan.”
“Dengan menyebar kertas di lantai?” tanya Steve dengan pandangan tenang.
“Itu, hanya salah paham, Mr.”
“Kamu tidak tahu siapa dia, Pak Surya,” ucap Steve tenang sambil mengetik pesan di handphone.
Jovanka yang melihat gelagat yang tidak baik antara Pak Surya dan Steve memutuskan untuk bertindak. “Steve, aku masih banyak kerjaan. Pergi dulu, ya?” Baru dua langkah ia berjalan suara Steve kembali terdengar menegurnya.
“Jangan coba-coba kabur, Jojo. Max sebentar lagi keluar. Tetap diam di situ!”
“Ah, mati aku,” gumam Jovanka sambil berbalik menghadap Steve yang berdiri tenang dengan Pak Surya yang sekarang terlihat memucat. Keringat sebesar biji jagung menuruni wajahnya.
****
#Pengantin_Bayaran_Sang_CEO
#Part.22b
#CEO's Bride.
****
“Ah, mati aku,” gumam Jovanka sambil berbalik menghadap Steve yang berdiri tenang dengan Pak Surya yang sekarang terlihat memucat. Keringat sebesar biji jagung menuruni wajahnya.
Tak lama pintu kaca terbuka, Max memandang heran ke arah Jovanka yang menunduk dan Pak Surya yang memucat.
“Jojo, kamu datang ke kantor suamimu dan tidak ingin menyapa?”
Jika ada petir menyambar maka pecah seluruh kaca saat mendengar kata-kata Max. Tidak hanya gadis penjaga resepsionis yang ternganga, para pegawai yang semua hendak keluar masuk pun terkaget. Terlebih lagi Pak Surya yang sekarang terlihat nyaris pingsan.
“Ap-pa, ma-maaf. Ini istri, Anda?” Setengah tergagap Pak Surya bertanya.
Max mengangguk pelan. Melangkah melewati Pak Surya dan meraih lengan Jovanka yang mematung. “Ayo, masuk. Aku mau bicara.”
“Tapi, Sir. Aku harus balik ke kantor,” tolak Jovanka dengan enggan.
“Masih mau membantah?”
Mau tidak mau Jovanka menuruti suaminya. Digandeng masuk ke dalam kantor yang luas dengan banyak pegawai memandang heran. Dia hanya bisa pasrah saat dibawa masuk ke lantai melewati tangga melingkar dari kuningan yang dipoles mengkilat. Masih dengan tangan Max menggenggamnya. Para pegawai malu-malu memandang dari balik kubikel mereka. Bahkan beberapa pegawai yang berada di dalam ruangan berkaca pun keluar untuk melihat.
Sementara di ruang resepsionis, Pak Surya masih tidak beranjak dari tempatnya. Menatap Steve yang memandangnya santai.
“Mr, sepertinya saya salah.”
Steve mengangguk. “Jelas Pak Surya. Jovanka itu istri Max dan tentunya dia tidak akan senang istrinya diperlakukan demikian.”
“Tapi saya nggak bermaksud begitu. Jika seandainya saya tahu kalau dia itu, istri big boss.” Ucapan Pak Surya makin lama makin pelan. “Saya terbawa emosi karena melihat betapa berantakannya laporan yang mereka berikan.”
Steve menaikkan sebelah alis. Menepuk punggung Pak Surya sebentar sebelum masuk ke dalam pintu kaca. “Siap-siap saja, Pak. Tahu sendiri jika Max marah. Bagaimana pun ada apa pun alasannya, tindakanmu terlalu merendahkan orang lain.”
Jika bisa masuk dan tenggelam ke dalam bumi, itu sudah dilakukan oleh Pak Surya. Bahkan Rini si resepsionis pun memandang kepergian Steve dengan gemetar dan wajah pasai karena takut.
Di dalam ruangan besar dengan karpet merah menutupi lantai beserta dinding kaca yang menampakkan pemandangan luar dan meja besar di dekat pintu. Jovanka tertunduk di atas sofa sementara suaminya berdiri dengan wajah masam.
“Tahu kesalahanmu apa, Jo?”
Jovanka mengangguk. “Iya, Sir. Datang tanpa menyapa.”
“Bagus, lalu apa tindakanmu untuk minta maaf?”
“Tidak akan mengulangi lagi,” jawab Jovanka pelan.
“Oke, lalu?”
Jovanka mendongak. Memandang Max yang berdiri sambil bersendekap. “Lalu, apa?”
“Dari kantor cabang kemari kamu naik motor, betul?”
Jovanka mengangguk.
“Tahu betapa jauh dan bahayanya?”
Jovanka mengangkat tangannya dan berkata enteng. “Oh, tidak. Aku sudah biasa.”
“Begitu,” ucap Max dengan expresi menahan marah. Serta merta Jovanka terdiam.
“Mulai besok tidak ada lagi naik motor ke kantor apa lagi kelayapan untuk mengantarkan surat.”
“Tapi, Sir.”
Max mengangkat tangan untuk menghentikan sanggahan istrinya. “Aku sudah menyuruh Steve untuk memberitahu orang cabang soal statusmu. Akan ada mobil dan sopir yang mengantarmu pulang pergi.”
“Mati, aku. Gimana kalau mereka berubah sikap, Sir?” rengek Jovanka.
“Begitu? jadi lebih penting anggapan mereka dari pada aku? Baiklah, terus saja naik motor dan aku potong gajimu.”
Jovanka ingin menangis sekarang. Gajinya sebagai administrasi kecil dan harus dipotong hanya karena ia melanggar perintah. Ia merasa nasibnya benar-benar apes sekarang.
Dengan malu-malu Jovanka bangkit dari sofa dan menghampiri suaminya. “Jangan marah, sih. Aku cuma ingin menjaga reputasimu.”
“Reputasiku?” tanya Max sambil mengangkat sebelah alis.
Memberanikan diri, Jovanka mengalungkan lengan pada leher suaminya dan berkata dengan ragu-ragu. Seakan takut jika mendengar apa yang ia katakana akan membuat Max marah.
“Iya, reputasimu. Seorang Max ternyata istrinya--,”
Sebuah kecupan mendapat di bibir Jovanka dan membungkam perkataannya.
“Kamu berlebihan,” ucap Max sambil mengelus pipi istrinya. “Kamu istriku, kenapa mikir perasaan orang lain?”
“Maaf.” Jovanka menunduk malu.
“Ayo, berkeliling kantor. Dan ada satu kafe yang menyediakan cake yang enak sekali. Kamu pasti suka.”
“Apakah kamu sudah nggak marah?” tanya Jovanka was-was.
Max meraih pinggang Jovanka dan mengecup sekali lagi, kali ini lebih dalam. “Istriku yang bandel datang ke kantorku tanpa pemberitahuan. Lalu melihat dia diam saja dimarahi orang. Menurutmu bagaimana, Jo?”
Jovanka menggigit bibir bawahnya. “Maaf, sepertinya bapak berkumis itu sedang kesal jadi---,”
“Kamu membelanya?”
“Oh, nggak hanya saja.”
Jovanka terdiam saat serbuan kecupan datang bertubi-tubi menyergapnya.
“Kamu banyak omong,” ucap Max geli. Menatap Jovanka yang tersipu dengan bibir bengkak. “Ayo, kita turun.”
Setelah kedatangan Jovanka sore itu, di kantor pusat Vendros Impersia terjadi kehebohan masal. Terdengar banyak ungkapan patah hati dari para pegawai perempuan. Jika seorang Max Vendros sudah menikah. Pupus sudah harapan mereka untuk mendapatkan perhatian dari Max.
Keadaan di kantor cabang pun tak jauh berbeda. Entah apa yang dikatakan Steve pada mereka, para pejabat tinggi kini menunduk hormat pada Jovanka. Jika sebelumnya ia menepati ruangan sempit bersama Irma, kini Jovanka dipindahkan ke dalam ruangan Max. Saat Irma yang tidak tahu menahu tentang situasi yang sesungguhnya terjadi, bertanya heran perihal pemindahannya, ia hanya menjawab singkat.
“Aku jadi sekretaris Mr. Max.”
Setelah hari itu, tidak ada lagi mie tek-tek, gorengan atau es teh manis yang biasanya selalu menjadi jajanan favorit Jovanka saat istirahat. Kini berganti menjadi catering mewah dengan banyak lauk-pauk lezat dan menyehatkan. Pada akhirnya, Irmalah yang memakan sebagian besar jatahnya.
“Wah-wah, ternyata menjadi sekretaris boss besar itu enak, yaa?”
Jovanka hanya meringis, menatap Irma melahap makanannya dengan senang. Jika bukan karena takut dipotong gaji, ia tentu lebih suka posisi dan ruangannya yang lama.
“Aku akan minta kenaikan gaji, ntar,” gumam Jovanka tanpa sadar. Masih dengan mata menerawang memandang sahabatnya yang makan dengan lahap. “Posisiku kini bukan lagi staff admin tapi sekretaris, yess!” Membayangkan akan naik gaji membuat mata Jovanka bersinar cerah.
Jovanka menatap motornya dengan sedih, setelah perintah dari Max untuk menggunakan sopir, motor pink kesayangannya lebih banyak terparkir di garasi.
***
“Mama! Papa!” Jovanka berteriak bahagia saat melihat orang tuanya datang ke rumahnya.
“Nih, Agra bawa mereka musti pakai maksa,” gerutu adik laki-lakinya yang duduk di samping sopir. Sepertinya mereka datang dengan naik mobil yang dipesan online.
“Jo, rumahnya gede amat?” bisik Bu Ningrum dengan kekaguman tidak dapat ia sembunyikan dari wajah.
Jovanka tertawa. “Ayo, kita lihat-lihat bagian dalam.”
Pak Rahman yang mengekor di belakang mereka pun tak kalah groginya saat memasuki pintu rumah yang besar. Ia bahkan nyaris membuka sepatunya di depan pintu jika anak perempuannya tidak mencegah.
“Pa, jangan copot sepatu di situ. Dalam sini aja, ganti sama sandal.”
Jovanka menyodorkan sandal putih yang biasa dipakai di dalam ruangan pada orang tua dan adiknya.
“Jo, apa kamu nggak tersesat kalau mau keluar masuk. Banyak kamar dan lorong di rumah ini,” ucap Pak Rahman dengan mata berkeliling ruangan.
“Iih, Papa. Jangan norak gitu, ah?” goda Agra.
“Selamat datang di rumah kami.” Max datang menyapa pada mertuanya yang terlihat berdiri mematung setengah bingung dan kagum.
“Ah, Nak Max. Rumah kamu gede sekali.” Dengan sikap yang akrab seakan telah mengenal Max bertahun-tahun, Bu Ningrum menjabat tangan laki-laki di depannya dengan antusias.
“Senang jika ibu menyukainya,” jawab Max sambil tersenyum. Lalu mengalihkan pandangan pada Pak Rahman dan ganti menjabat tangannya. “Selamat datang, Pak. Sehat selalu tentunya.”
Pak Rahman mengangguk pelan. “Kabar baik. Allhamdullilah sehat selalu.”
“Kalau begitu, mari silahkan masuk. Hidangan makan siang sudah kami siapakan.”
“Yuuk, Ma. Hari ini ada kepiting lada hitam kesukaan Mama.” Jovanka menggandeng tangan Bu Ningrum dan menuntunnya menuju meja makan.
Kedua orang tua Jovanka beserta adiknya terbelalak kaget saat melihat banyaknya hidangan yang tersaji di atas meja.
“Jojo, ini bisa untuk makan orang sekampung!” Tanpa sadar Bu Ningrum keceplosan bicara saat melihat makanan yang melimpah.
“Biar kalian senang,” ucap Jovanka dengan senyum mengembang. Tangannya sibuk menyipakan peralatan makan untuk papa dan mamanya.
Setelah acara makan siang yang berlangsung seru penuh tawa. Agra meminta ijin untuk ke perpustakaan Max dan tenggelam di sana. Jovanka membawa mamanya ke ruang tengah untuk makan buah dan mengobrol sementara Max duduk dengan mertua laki-lakinya di teras belakang.
“Sibuk apa sekarang, Pak?”
Pertanyaan dari menantunya membuat Pak Rahman tertawa lirih. “Masih jadi mandor bangunan cuma sudah tidak seaktif dulu.”
“Kenapa?”
“Satu, darah tinggi sering kumat. Dua, banyak pesaing sekarang meski bisa dibilang untuk kualitas bangunan, aku dan orang-orangku menjamin lebih bagus dari mereka.”
Max mengangguk dan mengisap cerutunya. “Sekarang? Ada proyek yang ditangani?”
“Ada, pemugaran masjid dan akan selesai dua minggu lagi.”
Keduanya terdiam, masing-masing tenggelam dengan pikirannya. Jika Max berpikir tentang betapa tenang dan sabarnya papa Jovanka lain halnya dengan Pak Rahman yang tidak bisa menyimpan kekaguman akan besarnya rumah sang menantu.
“Sebelumnya bapak ucapkan terima kasih, Max.”
“Untuk apa?” tanya Max bingung.
Pak Rahman lagi-lagi tersenyum kecil. “Bisa dibilang kamu sudah menyelamatkan keluarga kami. Aku dengar dari Jojo kalau hutang-hutang kami pada Mahendra kamu yang membayarnya?”
Max tidak menjawab pertanyaan Pak Rahman. Membiarkan laki-laki tua di sampingnya berasumsi sendiri.
“Waktu Mahendra ngotot untuk menikah dengan Jovanka, kami merasa marah dan kesal tapi tidak berdaya karena uang tiga ratus juta yang terlanjur dipakai. Siapa sangka, Jovanka menikah denganmu dan mampu membayar hutang-hutang.”
Max menoleh saat merasakan tangan Pak Rahman menepuk lengannya. Senyum kebapakan diliputi terima kasih muncul di antara kerutan di wajahnya. “Terima kasih.”
Ucapannya yang tulus serta merta menyentuh hati Max. “Itu adalah tugas saya sebagai suami.”
Pak Rahman mengangguk senang. “Aku senang Jojo menikah denganmu. Tadinya kami kuatir jika kamu akan mempermainkan dan mematahkan hatinya.”
Max sedikit tersentak, melirik papa istrinya yang berbicara dengan pandangan menerawang.
“Dari muda Jojo terbiasa kerja keras. Tanpa dia, kami tidak sanggup membiayai kuliah Agra yang membutuhkan biaya yang besar. Dia layak bahagia bukan, Max?”
Pertanyaan atau bisa jadi penekanan kata ‘bahagia’ membuat Max tercenung. Apakah benar ia bisa membuat istrinya bahagia dengan begitu banyak tekanan menerpa kehidupan mereka. Jujur saja, ia juga berharap agar Jovanka bahagia di sisinya, membantu melewati berbagi ujian hidup. Bukan hanya sehari, dua hari tapi untuk selamanya.
“Bapak tidak usah mikir macam-macam, yang penting jaga kesehatan,” ucap Max untuk menenangkan hati mertuanya.
Pukul tujuh malam, keluarga Jovanka pamit pulang. Bu Ningrum tidak menolak saat Max memerintahkan sopir mengantar mereka.
“Haduh, ini apa saja?” tanya Bu Ningrum bingung saat melihat berbagai bingkisan diberikan Max untuknya.
“Cuma makanan, Ma.” Jovanka memeluk mamanya sekali lagi sebelum mereka masuk mobil dan melambai gembira saat kendaraan melaju meninggalkan rumah besar yang ditempati Jovanka.
Berdua, Max dan Jovanka berdiri bersisihan di teras. Memandang halaman temaran. Hati Jovanka merasakan kebahagiaan mendalam saat melihat keluarganya datang berkunjung. Hingga mereka pergi, hatinya masih menahan haru.
“Sir, terima kasih.”
“Untuk apa?” tanya Max dan kebingungan saat melihat Jovanka menghapus air mata di sudut pelupuk. “Kenapa menangis?”
Jovanka menggeleng. “Nggak, hanya bahagia saja. Mereka akhirnya berani datang kemari.”
“Kamu begitu bahagia sampai menangis?” tanya Max heran.
Jovanka tertawa kecil. “Iya, aku memang aneh. Pokoknya terima kasih.”
Jovanka meraih tangan Max dan menggenggamnya. Mereka berdiri berdekatan hingga dari tempat Jovanka berdiri tercium samar aroma tubuh Max yang maskulin.
“Apa kamu akan menggenggam tanganku sepanjang malam?”
“Hehehe, iya kalau perlu. Sebagai ucapan terima kasih karena sudah berlaku baik pada keluargaku. Semenjak kasusku dengan Mahendra, Papa belum pernah sebahagia itu.”
Hati Max merasa tergerak karena penuturan Jovanka. Untuk sebuah senyum dan sambutan biasa, wanita di sampingnya terharu hingga menangis. Mata Max menerawang, mengingat tentang arti keluarga yang sesungguhnya. Bukankah sudah lama ia tidak merasakan kehangatan keluarga semenjak mamanya meninggal.
“Sudah jangan nangis, nanti dikira Bu Erna aku marahin kamu.” Dengan satu tangan yang bebas, Max mengelus rambut Jovanka.
Jovanka meraih tangan mereka yang tergenggam dan meletakkannya di pipi.
Di malam tak berbulan dengan desir angin membelai lembut tubuh mereka, Max merasakan dirinya bergerak pelan. Memeluk istrinya dengan mesra dan hangat. Ia merasakan hatinya tergetar saat mencium aroma tubuh Jovanka yang lembut.
Sementara Jovanka memejamkan mata, menikmati momen yang ia rasakan sekarang. Hangat dan menetramkan. Dengan senyum tersungging dan tubuh dalam pelukan Max, ia mendesah dalam hati.
‘Aku jatuh cinta dengan Max Vendros. Bukan karena dia tampan atau juga kaya tapi karena dia baik pada keluargaku. Tuhan, aku mencintainya.’
Lamunannya buyar karena Max mengatakan sesuatu hal. “Apakah kita akan tetap berpelukan di sini sampai malam? Bagaimana kalau aku punya ide untuk menghabiskan malam ini dengan lebih mengasyikkan?”
“Apa?”
Max berbisik pelan. “Ada meja yang pas di kamarmu. Ayo, kita coba sesuatu di sana.”
Wajah Jovanka memanas. “Masih sore.”
Max meraih tangannya dan menyeret masuk. “Bagus, kita bisa pindah ke kamar mandi kalau bosan atau ke balkon.”
“Mr. Max. Anda mesum!”
Teriakan Jovanka dibalas tawa menggelegar dari suaminya.
****
#Part.22b
#CEO's Bride.
****
“Ah, mati aku,” gumam Jovanka sambil berbalik menghadap Steve yang berdiri tenang dengan Pak Surya yang sekarang terlihat memucat. Keringat sebesar biji jagung menuruni wajahnya.
Tak lama pintu kaca terbuka, Max memandang heran ke arah Jovanka yang menunduk dan Pak Surya yang memucat.
“Jojo, kamu datang ke kantor suamimu dan tidak ingin menyapa?”
Jika ada petir menyambar maka pecah seluruh kaca saat mendengar kata-kata Max. Tidak hanya gadis penjaga resepsionis yang ternganga, para pegawai yang semua hendak keluar masuk pun terkaget. Terlebih lagi Pak Surya yang sekarang terlihat nyaris pingsan.
“Ap-pa, ma-maaf. Ini istri, Anda?” Setengah tergagap Pak Surya bertanya.
Max mengangguk pelan. Melangkah melewati Pak Surya dan meraih lengan Jovanka yang mematung. “Ayo, masuk. Aku mau bicara.”
“Tapi, Sir. Aku harus balik ke kantor,” tolak Jovanka dengan enggan.
“Masih mau membantah?”
Mau tidak mau Jovanka menuruti suaminya. Digandeng masuk ke dalam kantor yang luas dengan banyak pegawai memandang heran. Dia hanya bisa pasrah saat dibawa masuk ke lantai melewati tangga melingkar dari kuningan yang dipoles mengkilat. Masih dengan tangan Max menggenggamnya. Para pegawai malu-malu memandang dari balik kubikel mereka. Bahkan beberapa pegawai yang berada di dalam ruangan berkaca pun keluar untuk melihat.
Sementara di ruang resepsionis, Pak Surya masih tidak beranjak dari tempatnya. Menatap Steve yang memandangnya santai.
“Mr, sepertinya saya salah.”
Steve mengangguk. “Jelas Pak Surya. Jovanka itu istri Max dan tentunya dia tidak akan senang istrinya diperlakukan demikian.”
“Tapi saya nggak bermaksud begitu. Jika seandainya saya tahu kalau dia itu, istri big boss.” Ucapan Pak Surya makin lama makin pelan. “Saya terbawa emosi karena melihat betapa berantakannya laporan yang mereka berikan.”
Steve menaikkan sebelah alis. Menepuk punggung Pak Surya sebentar sebelum masuk ke dalam pintu kaca. “Siap-siap saja, Pak. Tahu sendiri jika Max marah. Bagaimana pun ada apa pun alasannya, tindakanmu terlalu merendahkan orang lain.”
Jika bisa masuk dan tenggelam ke dalam bumi, itu sudah dilakukan oleh Pak Surya. Bahkan Rini si resepsionis pun memandang kepergian Steve dengan gemetar dan wajah pasai karena takut.
Di dalam ruangan besar dengan karpet merah menutupi lantai beserta dinding kaca yang menampakkan pemandangan luar dan meja besar di dekat pintu. Jovanka tertunduk di atas sofa sementara suaminya berdiri dengan wajah masam.
“Tahu kesalahanmu apa, Jo?”
Jovanka mengangguk. “Iya, Sir. Datang tanpa menyapa.”
“Bagus, lalu apa tindakanmu untuk minta maaf?”
“Tidak akan mengulangi lagi,” jawab Jovanka pelan.
“Oke, lalu?”
Jovanka mendongak. Memandang Max yang berdiri sambil bersendekap. “Lalu, apa?”
“Dari kantor cabang kemari kamu naik motor, betul?”
Jovanka mengangguk.
“Tahu betapa jauh dan bahayanya?”
Jovanka mengangkat tangannya dan berkata enteng. “Oh, tidak. Aku sudah biasa.”
“Begitu,” ucap Max dengan expresi menahan marah. Serta merta Jovanka terdiam.
“Mulai besok tidak ada lagi naik motor ke kantor apa lagi kelayapan untuk mengantarkan surat.”
“Tapi, Sir.”
Max mengangkat tangan untuk menghentikan sanggahan istrinya. “Aku sudah menyuruh Steve untuk memberitahu orang cabang soal statusmu. Akan ada mobil dan sopir yang mengantarmu pulang pergi.”
“Mati, aku. Gimana kalau mereka berubah sikap, Sir?” rengek Jovanka.
“Begitu? jadi lebih penting anggapan mereka dari pada aku? Baiklah, terus saja naik motor dan aku potong gajimu.”
Jovanka ingin menangis sekarang. Gajinya sebagai administrasi kecil dan harus dipotong hanya karena ia melanggar perintah. Ia merasa nasibnya benar-benar apes sekarang.
Dengan malu-malu Jovanka bangkit dari sofa dan menghampiri suaminya. “Jangan marah, sih. Aku cuma ingin menjaga reputasimu.”
“Reputasiku?” tanya Max sambil mengangkat sebelah alis.
Memberanikan diri, Jovanka mengalungkan lengan pada leher suaminya dan berkata dengan ragu-ragu. Seakan takut jika mendengar apa yang ia katakana akan membuat Max marah.
“Iya, reputasimu. Seorang Max ternyata istrinya--,”
Sebuah kecupan mendapat di bibir Jovanka dan membungkam perkataannya.
“Kamu berlebihan,” ucap Max sambil mengelus pipi istrinya. “Kamu istriku, kenapa mikir perasaan orang lain?”
“Maaf.” Jovanka menunduk malu.
“Ayo, berkeliling kantor. Dan ada satu kafe yang menyediakan cake yang enak sekali. Kamu pasti suka.”
“Apakah kamu sudah nggak marah?” tanya Jovanka was-was.
Max meraih pinggang Jovanka dan mengecup sekali lagi, kali ini lebih dalam. “Istriku yang bandel datang ke kantorku tanpa pemberitahuan. Lalu melihat dia diam saja dimarahi orang. Menurutmu bagaimana, Jo?”
Jovanka menggigit bibir bawahnya. “Maaf, sepertinya bapak berkumis itu sedang kesal jadi---,”
“Kamu membelanya?”
“Oh, nggak hanya saja.”
Jovanka terdiam saat serbuan kecupan datang bertubi-tubi menyergapnya.
“Kamu banyak omong,” ucap Max geli. Menatap Jovanka yang tersipu dengan bibir bengkak. “Ayo, kita turun.”
Setelah kedatangan Jovanka sore itu, di kantor pusat Vendros Impersia terjadi kehebohan masal. Terdengar banyak ungkapan patah hati dari para pegawai perempuan. Jika seorang Max Vendros sudah menikah. Pupus sudah harapan mereka untuk mendapatkan perhatian dari Max.
Keadaan di kantor cabang pun tak jauh berbeda. Entah apa yang dikatakan Steve pada mereka, para pejabat tinggi kini menunduk hormat pada Jovanka. Jika sebelumnya ia menepati ruangan sempit bersama Irma, kini Jovanka dipindahkan ke dalam ruangan Max. Saat Irma yang tidak tahu menahu tentang situasi yang sesungguhnya terjadi, bertanya heran perihal pemindahannya, ia hanya menjawab singkat.
“Aku jadi sekretaris Mr. Max.”
Setelah hari itu, tidak ada lagi mie tek-tek, gorengan atau es teh manis yang biasanya selalu menjadi jajanan favorit Jovanka saat istirahat. Kini berganti menjadi catering mewah dengan banyak lauk-pauk lezat dan menyehatkan. Pada akhirnya, Irmalah yang memakan sebagian besar jatahnya.
“Wah-wah, ternyata menjadi sekretaris boss besar itu enak, yaa?”
Jovanka hanya meringis, menatap Irma melahap makanannya dengan senang. Jika bukan karena takut dipotong gaji, ia tentu lebih suka posisi dan ruangannya yang lama.
“Aku akan minta kenaikan gaji, ntar,” gumam Jovanka tanpa sadar. Masih dengan mata menerawang memandang sahabatnya yang makan dengan lahap. “Posisiku kini bukan lagi staff admin tapi sekretaris, yess!” Membayangkan akan naik gaji membuat mata Jovanka bersinar cerah.
Jovanka menatap motornya dengan sedih, setelah perintah dari Max untuk menggunakan sopir, motor pink kesayangannya lebih banyak terparkir di garasi.
***
“Mama! Papa!” Jovanka berteriak bahagia saat melihat orang tuanya datang ke rumahnya.
“Nih, Agra bawa mereka musti pakai maksa,” gerutu adik laki-lakinya yang duduk di samping sopir. Sepertinya mereka datang dengan naik mobil yang dipesan online.
“Jo, rumahnya gede amat?” bisik Bu Ningrum dengan kekaguman tidak dapat ia sembunyikan dari wajah.
Jovanka tertawa. “Ayo, kita lihat-lihat bagian dalam.”
Pak Rahman yang mengekor di belakang mereka pun tak kalah groginya saat memasuki pintu rumah yang besar. Ia bahkan nyaris membuka sepatunya di depan pintu jika anak perempuannya tidak mencegah.
“Pa, jangan copot sepatu di situ. Dalam sini aja, ganti sama sandal.”
Jovanka menyodorkan sandal putih yang biasa dipakai di dalam ruangan pada orang tua dan adiknya.
“Jo, apa kamu nggak tersesat kalau mau keluar masuk. Banyak kamar dan lorong di rumah ini,” ucap Pak Rahman dengan mata berkeliling ruangan.
“Iih, Papa. Jangan norak gitu, ah?” goda Agra.
“Selamat datang di rumah kami.” Max datang menyapa pada mertuanya yang terlihat berdiri mematung setengah bingung dan kagum.
“Ah, Nak Max. Rumah kamu gede sekali.” Dengan sikap yang akrab seakan telah mengenal Max bertahun-tahun, Bu Ningrum menjabat tangan laki-laki di depannya dengan antusias.
“Senang jika ibu menyukainya,” jawab Max sambil tersenyum. Lalu mengalihkan pandangan pada Pak Rahman dan ganti menjabat tangannya. “Selamat datang, Pak. Sehat selalu tentunya.”
Pak Rahman mengangguk pelan. “Kabar baik. Allhamdullilah sehat selalu.”
“Kalau begitu, mari silahkan masuk. Hidangan makan siang sudah kami siapakan.”
“Yuuk, Ma. Hari ini ada kepiting lada hitam kesukaan Mama.” Jovanka menggandeng tangan Bu Ningrum dan menuntunnya menuju meja makan.
Kedua orang tua Jovanka beserta adiknya terbelalak kaget saat melihat banyaknya hidangan yang tersaji di atas meja.
“Jojo, ini bisa untuk makan orang sekampung!” Tanpa sadar Bu Ningrum keceplosan bicara saat melihat makanan yang melimpah.
“Biar kalian senang,” ucap Jovanka dengan senyum mengembang. Tangannya sibuk menyipakan peralatan makan untuk papa dan mamanya.
Setelah acara makan siang yang berlangsung seru penuh tawa. Agra meminta ijin untuk ke perpustakaan Max dan tenggelam di sana. Jovanka membawa mamanya ke ruang tengah untuk makan buah dan mengobrol sementara Max duduk dengan mertua laki-lakinya di teras belakang.
“Sibuk apa sekarang, Pak?”
Pertanyaan dari menantunya membuat Pak Rahman tertawa lirih. “Masih jadi mandor bangunan cuma sudah tidak seaktif dulu.”
“Kenapa?”
“Satu, darah tinggi sering kumat. Dua, banyak pesaing sekarang meski bisa dibilang untuk kualitas bangunan, aku dan orang-orangku menjamin lebih bagus dari mereka.”
Max mengangguk dan mengisap cerutunya. “Sekarang? Ada proyek yang ditangani?”
“Ada, pemugaran masjid dan akan selesai dua minggu lagi.”
Keduanya terdiam, masing-masing tenggelam dengan pikirannya. Jika Max berpikir tentang betapa tenang dan sabarnya papa Jovanka lain halnya dengan Pak Rahman yang tidak bisa menyimpan kekaguman akan besarnya rumah sang menantu.
“Sebelumnya bapak ucapkan terima kasih, Max.”
“Untuk apa?” tanya Max bingung.
Pak Rahman lagi-lagi tersenyum kecil. “Bisa dibilang kamu sudah menyelamatkan keluarga kami. Aku dengar dari Jojo kalau hutang-hutang kami pada Mahendra kamu yang membayarnya?”
Max tidak menjawab pertanyaan Pak Rahman. Membiarkan laki-laki tua di sampingnya berasumsi sendiri.
“Waktu Mahendra ngotot untuk menikah dengan Jovanka, kami merasa marah dan kesal tapi tidak berdaya karena uang tiga ratus juta yang terlanjur dipakai. Siapa sangka, Jovanka menikah denganmu dan mampu membayar hutang-hutang.”
Max menoleh saat merasakan tangan Pak Rahman menepuk lengannya. Senyum kebapakan diliputi terima kasih muncul di antara kerutan di wajahnya. “Terima kasih.”
Ucapannya yang tulus serta merta menyentuh hati Max. “Itu adalah tugas saya sebagai suami.”
Pak Rahman mengangguk senang. “Aku senang Jojo menikah denganmu. Tadinya kami kuatir jika kamu akan mempermainkan dan mematahkan hatinya.”
Max sedikit tersentak, melirik papa istrinya yang berbicara dengan pandangan menerawang.
“Dari muda Jojo terbiasa kerja keras. Tanpa dia, kami tidak sanggup membiayai kuliah Agra yang membutuhkan biaya yang besar. Dia layak bahagia bukan, Max?”
Pertanyaan atau bisa jadi penekanan kata ‘bahagia’ membuat Max tercenung. Apakah benar ia bisa membuat istrinya bahagia dengan begitu banyak tekanan menerpa kehidupan mereka. Jujur saja, ia juga berharap agar Jovanka bahagia di sisinya, membantu melewati berbagi ujian hidup. Bukan hanya sehari, dua hari tapi untuk selamanya.
“Bapak tidak usah mikir macam-macam, yang penting jaga kesehatan,” ucap Max untuk menenangkan hati mertuanya.
Pukul tujuh malam, keluarga Jovanka pamit pulang. Bu Ningrum tidak menolak saat Max memerintahkan sopir mengantar mereka.
“Haduh, ini apa saja?” tanya Bu Ningrum bingung saat melihat berbagai bingkisan diberikan Max untuknya.
“Cuma makanan, Ma.” Jovanka memeluk mamanya sekali lagi sebelum mereka masuk mobil dan melambai gembira saat kendaraan melaju meninggalkan rumah besar yang ditempati Jovanka.
Berdua, Max dan Jovanka berdiri bersisihan di teras. Memandang halaman temaran. Hati Jovanka merasakan kebahagiaan mendalam saat melihat keluarganya datang berkunjung. Hingga mereka pergi, hatinya masih menahan haru.
“Sir, terima kasih.”
“Untuk apa?” tanya Max dan kebingungan saat melihat Jovanka menghapus air mata di sudut pelupuk. “Kenapa menangis?”
Jovanka menggeleng. “Nggak, hanya bahagia saja. Mereka akhirnya berani datang kemari.”
“Kamu begitu bahagia sampai menangis?” tanya Max heran.
Jovanka tertawa kecil. “Iya, aku memang aneh. Pokoknya terima kasih.”
Jovanka meraih tangan Max dan menggenggamnya. Mereka berdiri berdekatan hingga dari tempat Jovanka berdiri tercium samar aroma tubuh Max yang maskulin.
“Apa kamu akan menggenggam tanganku sepanjang malam?”
“Hehehe, iya kalau perlu. Sebagai ucapan terima kasih karena sudah berlaku baik pada keluargaku. Semenjak kasusku dengan Mahendra, Papa belum pernah sebahagia itu.”
Hati Max merasa tergerak karena penuturan Jovanka. Untuk sebuah senyum dan sambutan biasa, wanita di sampingnya terharu hingga menangis. Mata Max menerawang, mengingat tentang arti keluarga yang sesungguhnya. Bukankah sudah lama ia tidak merasakan kehangatan keluarga semenjak mamanya meninggal.
“Sudah jangan nangis, nanti dikira Bu Erna aku marahin kamu.” Dengan satu tangan yang bebas, Max mengelus rambut Jovanka.
Jovanka meraih tangan mereka yang tergenggam dan meletakkannya di pipi.
Di malam tak berbulan dengan desir angin membelai lembut tubuh mereka, Max merasakan dirinya bergerak pelan. Memeluk istrinya dengan mesra dan hangat. Ia merasakan hatinya tergetar saat mencium aroma tubuh Jovanka yang lembut.
Sementara Jovanka memejamkan mata, menikmati momen yang ia rasakan sekarang. Hangat dan menetramkan. Dengan senyum tersungging dan tubuh dalam pelukan Max, ia mendesah dalam hati.
‘Aku jatuh cinta dengan Max Vendros. Bukan karena dia tampan atau juga kaya tapi karena dia baik pada keluargaku. Tuhan, aku mencintainya.’
Lamunannya buyar karena Max mengatakan sesuatu hal. “Apakah kita akan tetap berpelukan di sini sampai malam? Bagaimana kalau aku punya ide untuk menghabiskan malam ini dengan lebih mengasyikkan?”
“Apa?”
Max berbisik pelan. “Ada meja yang pas di kamarmu. Ayo, kita coba sesuatu di sana.”
Wajah Jovanka memanas. “Masih sore.”
Max meraih tangannya dan menyeret masuk. “Bagus, kita bisa pindah ke kamar mandi kalau bosan atau ke balkon.”
“Mr. Max. Anda mesum!”
Teriakan Jovanka dibalas tawa menggelegar dari suaminya.
****
#Pengantin_Bayaran_Sang_CEO
#Part.23a
#CEO'sBride.
******
Keduanya bertatapan dengan intens di dalam ruangan berdinding kaca. Ada semacam ketegangan menguar keras di balik sikap diam mereka. Seakan tak terpengaruh oleh sikap permusuhan keduanya, di belakang mereka ada Kamal yang sibuk mengatur kopi untuk suguhan. Bersikap seolah-olah tidak melihat ketegangan di antara dua laki-laki yang berdiri di dekat meja. Setelah tugasnya selesai, diam-diam dia melangkah keluar dan menutup pintu.
“Apa saya tidak salah dengar? Mr. Max menolak tawaran Andrew Tyler?” ucap Andrew sedingin es. Kemeja putih yang ia pakai terlihat mentereng dan membuat wajahnya yang putih terlihat pucat.
Max mengedikkan sebelah bahu sambil tersenyum. “Andrew Tyler bukan siapa-siap bagi Max Vendros.”
Pengakuan Max membuat wajah Andrew mengeras. Dia menatap Max tajam sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya ke jendela. Meski berusaha ditutupi ada kejengkelan jelas terpeta di wajahnya.
Max sendiri tidak bergeming dari tempat berdiri. Bersikap seolah-olah mereka bicara tentang bisnis dan bukan tentang Jovanka. Berbeda dengan Andrew yang melepas jas-nya, Max datang masih memakai setelan jas lengkap. Dengan kemeja biru muda di dalam jas yang tidak terkancing.
“Ini perihal uang yang sangat banyak dan prestise yang bisa Anda dapat jika mengerjakan proyek yang saya tawarkan.”
Max menyunggingkan senyum kecil, lebih menyerupai bibir yang ditarik paksa dari pada sebuah senyuman. Mata birunya menatap Andrew tajam.
“Istri saya adalah prestise tertinggi dalam hidup.”
Pelan, tegas dan menusuk, itu yang dirasakan Andrew saat mendengar jawaban laki-laki di hadapannya. Ia menegakkan tubuh, memasukkan tangan dalam saku dan mencoba terlihat rileks seolah tidak terganggu dengan jawaban Max.
“Benarkah, itu maumu? Jangan sampai kamu menyesali ini, Max Vendros!”
Peringatan lawannya membuat Max tertawa, benar-benar tertawa keras. Sekejap kemudian berhenti, mendecakkan lidah dan menelengkan kepala untuk memandang Andrew seakan belum pernah melihat dia sebelumnya.
“Kamu pikir aku tidak tahu apa yang membuatmu menginginkan istriku,” ucap Max pelan. “karena dia mirip Raline bukan? Mantan kekasihmu.”
Air muka Andrew sedikit berubah, perkataan yang keluar dari mulutnya seperti tajam menusuk. “Kalian menyelidiku?”
Max berpindah dari tempatnya berdiri dan melangkah menuju jendela kaca tebal tapi bening. Kantor Andrew berada di lantai lima. Dari tempatnya berdiri bisa terlihat lapangan parkir yang penuh dengan mobil. Gedung-gedung perkantoran berdiri menjulang diapit oleh apartemen mewah dan mall. Max tahu, jika property di daerah sini bernilai puluhan juta per-meternya. Ditata dengan konsep hutan kota, lingkungan tempat Andrew mengantor terasa sejuk oleh banyaknya pepohonan hijau. Selesai mengagumi pemandangan di depannya, ia menoleh perlahan.
“Aku tahu kamu juga menyelidiku, bukankah itu hal biasa dalam hubungan kerja sama Andrew Tyler? Lalu, saat kamu menginginkan istriku, sudah jelas pasti aku akan mencari tahu perihal masa lalumu.”
“Ini tidak ada hubungannya dengan Raline,” desis Andrew dingin. “Aku menyukai Jojo dari pertama melihatnya, saat itu dia belum menjadi istrimu!”
Max menyipitkan mata. “Bisa jadi, tapi aku yakin kamu nggak akan pernah memerhatikannya jika dia tidak mirip mantan kekasihmu.” Max menyisirkan tangannya ke pinggiran jendela. Merasakan pinggiran yang terbuat dari besi tajam sedikit menggores jemarinya. “Seorang Andrew Tyler bisa mendapatkan wanita mana pun yang dia mau tapi dia justru mengingkan istri orang lain. Kamu gila!”
Tanpa diduga, Andrew menerjang Max dan berusaha mencengkeram leher kemejanya. Sementara Max sendiri tidak mau kalah, tangannya mencengkeram leher laki-laki di depannya. Keduanya saling melotot dan menggeram marah.
“Aku memang gila, jadi kenapa kalau aku gila,” desis Andrew tepat di muka Max.
“Silahkan jadi gila tapi jangan usik keluargaku terutama istriku.” Max berkata mengancam. “Kamu pikir hanya Andrew Tyler yang hebat dalam memainkan nasib orang?”
“Kamu menentangku?”
“Yaaah, aku menentangmu. Sebentar lagi aku juga akan tahu, apa penyebab menghilangnya sosok Raline dari kehidupan Andrew Tyler dan membuat sang milyader merana.”
Keduanya berdiri berhimpitan dekat meja dengan tangan masih saling mencengkeram saat terdengar ketukan di pintu.
Kamal masuk dengan setumpuk dokumen di tangan dan memandang heran pada dua laki-laki yang nyaris baku hantam.
“Tuan.” Kamal menyapa bingung.
Kedatangan asistennya membuat Andrew melepaskan cengkeramannya pada leher Max. Begitu pun sebaliknya.
Max menggelengkan kepala, tangannya bergerak gesit merapikan kemeja dan dasi yang kusut. Kedatangan Kamal menghentikan sementara emosi yang menggelegak dalam kepala dan hati. Ia menatap Andrew yang terlihat sama terguncangnya.
“Cukup sudah apa yang ingin aku sampaikan.” Max berdehem sejenak sebelum melanjutkan omongannya. “Jika kamu masih menyentuh keluargaku, aku tidak akan segan-segan bertindak. Selamat siang.” Dengan ucapan terakhir yang penuh ancaman, Max berlalu dari kantor Andrew, di bawah tatapan membara laki-laki yang tak lain adalah patner kerja. Sayangnya kini mereka menjadi musuh.
Sepeninggal Max, Andrew meraih asbak di atas meja dan melemparkannya ke dinding. Tidak cukup hanya itu, ia juga membanting semua peralatan di dalam kantor. Sementara Kamal berdiri diam di tempatnya, tidak terpengaruh oleh sikap emosional boss-nya.
“Kamal,” ucap Andrew dengan terengah. Matanya menatap sekeliling ruangan yang porak poranda. “Buat janji dengan Amarisa. Aku ingin memutuskan hubungan dengannya.”
Kamal mengernyit. “Kenapa Tuan? Bukankah dengan adanya Nona Amarisa maka posisi Tuan akan semakin kuat?”
“Tidak, justru akan semakin menyulitkan karena Amarisa tidak menyukai Jovanka.”
Kamal mengangguk tenang. “Ada lagi, Tuan?”
Andrew terdiam sejenak, menimbang-nimbang pikirannya. “Aku ingin memporak-porandakan saham Vendros.
****
“Bagaimana ini, Max. Turun terus.” Steve menatap layar monitor yang sedang menayangkan grafik saham. Sebuah monitor besar ada empat buah terpasang di dinding kantor Max.
Max terpaku, bergerak gelisah di tempat duduknya dengan jari mengetuk-ngetuk meja. Mata tertuju pada layar tapi pikirannya mengembara kemana-mana.
“Rupanya Andrew membuktikan ancamannya.” Steve kembali bergumam. Beranjak dari tempatnya berdiri dan duduk di depan sepupunya.
“Aku tahu dia akan membuktikan kekuasaannya dengan mengobrak-abrik harga saham Vendros. Ini bukan di luar perkiraan. Hanya tidak menyangka akan secepat ini,” ucap Max pelan. Menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. “Gila dia, hanya demi obsesinya pada Jojo.”
Steve mencondongkan tubuhnya ke depan. “Tahu tidak, firasatku mengatakan Raline itu sudah meninggal.”
“Oh, ya?”
“Dari data terakhir yang kutelusuri, Raline terakhir kali dijumpai sekitar dua tahun lalu di hari Jumat tanggal 14 July di sebuah restoran bersama laki-laki yang tidak diketahui namanya. Lalu tanggal 11 Agustus dia dinyatakan menghilang. Bukankah itu mencurigakan? Sedangkan tanggal 13 July dia terlihat masih berkencan dengan Andrew.”
“Laki-laki yang bersamanya? Siapa?”
Steve mengangkat bahu. “Tidak ada yang tahu, bisa jadi kekasih baru Raline.”
Max mengernyitkan dahi. Mencoba memikirkan korelasi antara pernyataan Steve dengan fakta yang ia tahu. Jovanka, Ralini dan Andrew.
“Berarti benar dugaanku, Andrew menjadi labil dan sering depresi karena kehilangan Raline,” gumam Max.
“Yah, betul,” ucap Steve dengan tangan menunjuk sepupunya. “yang perlu kita cari tahu adalah penyebab kematian Raline dan di mana dia dikuburkan.”
“Kurasa Bu Maenah tidak tahu jika putrinya sudah meninggal. Buktinya dia histeris saat melihat Jojo yang dia kira Raline.” Max berputar di tempat duduknya dengan tangan menggaruk rambut yang tidak gatal. Melirik ke arah Steve yang termenung. “Cari orang untuk mendekati Bu Maenah dan korek masa kecil Raline. Lakukan diam-diam dan cepat. Kita tidak punya banyak waktu.”
Steve mengannguk. “Baiklah, apakah kamu memberitahu Jojo masalah ini?”
Max menggeleng. “Dia tidak perlu tahu. Biar dia bahagia dengan hidupnya sekarang.”
Mendadak pintu kantor Max terbuka tanpa ada orang yang mengetuknya lebih dulu. Keduanya menoleh kaget dan melihat Pak Abraham Vendros berdiri di depan pintu yang terbuka.
“Pa ….” Max menyapa dan bangkit dari kursi. Begitu pula Steve.
“Kenapa Uncle nggak bilang dulu mau datang? Aku bisa jemput.”
Pak Abraham melambaikan tangannya, memberi tanda agar kedua anak muda di depannya diam. Melangkah tergesa menuju monitor yang menyala.
“Hari ini jatuh berapa poin?” tanyanya pelan.
“Sekitar 40 poin,” jawab Steve.
Pak Abraham mengangguk samar. Masih dengan mata mengawasi layar monitor lalu membalikkan tubuh. Menghadap pada anak laki-lakinya. “Max, kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan?”
Max mengangguk. “Mengeluarkan sebagian simpanan kita untuk membeli saham kita kembali.”
“Apakah berhasil?”
Max menggeleng. “Belum, mereka menyerang terlalu kuat.”
Pak Abraham menoleh pada Steve. “Bagaiman informasi tentang pribadi Andrew? Dan wanita yang dia cari?”
“Sudah dapat Uncle, tapi belum cukup kuat untuk menekannya.” Steve menjawab pelan.
Mereka bertiga berdiri diam berhadapan seolah-olah saling membagi pikiran masing-masing.
Max memandang papanya yang terlihat tampan dalam setelan jas hitam dan manset dari emas yang tersemat di ujung lengannya. Ada sapu tangan putih menyembul di balik saku. Senada dengan warna kemeja yang dia pakai. Dalam usia yang tak lagi muda, Max melihat papanya masih sangat tampan.
“Steve, panggil semua komisaris dan direksi juga para pemegang saham. Kita rapat malam ini!” perintah Pak Abraham.
Tanpa banyak kata, Steve mengangguk dan meninggalkan ruangan dalam gerak cepat.
“Max, sudah bicara dengan Pak Johanes masalah ini?”
Max menggeleng. “Belum, karena aku tidak yakin beliau akan percaya perkataanku, apalagi ini hanya menyangkut soal wanita. Tentu beliau akan menganggap aneh. Apalagi menurut informan, tidak ada keluarga Andrew yang tahu perihal hubungannya dengan Raline, gadis miskin anak tukang kebun.”
Pak Abraham mengangguk serius. “Aku mengerti, jika menjadi Pak Johanes aku pun tidak akan percaya kalau ponakannya sanggup menyenggol perusahaan orang lain hanya demi wanita.”
“Iya, Pa. Itulah kenapa, aku dan Steve berusaha menyelesaikan secara diam-diam.”
“Bagaimana proyek perumahan dengan Pak Johanes? Bukankah Andrew ada saham di sana?”
“Oh, dia tidak menyentuh itu. Yang dia sentuh hanya yang berhubungan dengan The Green Palace.”
“Sayangnya, saham perusahaan kita yang lain kena imbas,” ucap Pak Abraham muram.
Bapak dan anak, tanpa disadari menghela napas panjang secara bersamaan. Merasa sepemikiran.
Malam itu, terjadi rapat besar para jajaran pejabat di Vendros Group. Terjadi perdebatan, adu argumen dan silang pendapat yang sengit. Ruang rapat rasanya seperti medan perang, senjata yang mereka gunakan adalah data dan tentu saja, uang.
Malam itu, Max Vendros pulang larut dalam keadaan kusut. Jovanka yang menyambut kepulangan suaminya hanya bisa memandang dengan wajah prihatin. Dia tahu persis jika suaminya sangat pekerja keras meski mereka hidup bergelimang harta. Karena harta yang mereka punya sesungguhnya berupa tanggung jawab.
“Larut sekali pulangnya, banyak kerjaan?” Jovanka membantu suaminya membuka jas dan dasi.
“Iya, ada rapat.”
“Apakah ada masalah?”
***
#Part.23a
#CEO'sBride.
******
Keduanya bertatapan dengan intens di dalam ruangan berdinding kaca. Ada semacam ketegangan menguar keras di balik sikap diam mereka. Seakan tak terpengaruh oleh sikap permusuhan keduanya, di belakang mereka ada Kamal yang sibuk mengatur kopi untuk suguhan. Bersikap seolah-olah tidak melihat ketegangan di antara dua laki-laki yang berdiri di dekat meja. Setelah tugasnya selesai, diam-diam dia melangkah keluar dan menutup pintu.
“Apa saya tidak salah dengar? Mr. Max menolak tawaran Andrew Tyler?” ucap Andrew sedingin es. Kemeja putih yang ia pakai terlihat mentereng dan membuat wajahnya yang putih terlihat pucat.
Max mengedikkan sebelah bahu sambil tersenyum. “Andrew Tyler bukan siapa-siap bagi Max Vendros.”
Pengakuan Max membuat wajah Andrew mengeras. Dia menatap Max tajam sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya ke jendela. Meski berusaha ditutupi ada kejengkelan jelas terpeta di wajahnya.
Max sendiri tidak bergeming dari tempat berdiri. Bersikap seolah-olah mereka bicara tentang bisnis dan bukan tentang Jovanka. Berbeda dengan Andrew yang melepas jas-nya, Max datang masih memakai setelan jas lengkap. Dengan kemeja biru muda di dalam jas yang tidak terkancing.
“Ini perihal uang yang sangat banyak dan prestise yang bisa Anda dapat jika mengerjakan proyek yang saya tawarkan.”
Max menyunggingkan senyum kecil, lebih menyerupai bibir yang ditarik paksa dari pada sebuah senyuman. Mata birunya menatap Andrew tajam.
“Istri saya adalah prestise tertinggi dalam hidup.”
Pelan, tegas dan menusuk, itu yang dirasakan Andrew saat mendengar jawaban laki-laki di hadapannya. Ia menegakkan tubuh, memasukkan tangan dalam saku dan mencoba terlihat rileks seolah tidak terganggu dengan jawaban Max.
“Benarkah, itu maumu? Jangan sampai kamu menyesali ini, Max Vendros!”
Peringatan lawannya membuat Max tertawa, benar-benar tertawa keras. Sekejap kemudian berhenti, mendecakkan lidah dan menelengkan kepala untuk memandang Andrew seakan belum pernah melihat dia sebelumnya.
“Kamu pikir aku tidak tahu apa yang membuatmu menginginkan istriku,” ucap Max pelan. “karena dia mirip Raline bukan? Mantan kekasihmu.”
Air muka Andrew sedikit berubah, perkataan yang keluar dari mulutnya seperti tajam menusuk. “Kalian menyelidiku?”
Max berpindah dari tempatnya berdiri dan melangkah menuju jendela kaca tebal tapi bening. Kantor Andrew berada di lantai lima. Dari tempatnya berdiri bisa terlihat lapangan parkir yang penuh dengan mobil. Gedung-gedung perkantoran berdiri menjulang diapit oleh apartemen mewah dan mall. Max tahu, jika property di daerah sini bernilai puluhan juta per-meternya. Ditata dengan konsep hutan kota, lingkungan tempat Andrew mengantor terasa sejuk oleh banyaknya pepohonan hijau. Selesai mengagumi pemandangan di depannya, ia menoleh perlahan.
“Aku tahu kamu juga menyelidiku, bukankah itu hal biasa dalam hubungan kerja sama Andrew Tyler? Lalu, saat kamu menginginkan istriku, sudah jelas pasti aku akan mencari tahu perihal masa lalumu.”
“Ini tidak ada hubungannya dengan Raline,” desis Andrew dingin. “Aku menyukai Jojo dari pertama melihatnya, saat itu dia belum menjadi istrimu!”
Max menyipitkan mata. “Bisa jadi, tapi aku yakin kamu nggak akan pernah memerhatikannya jika dia tidak mirip mantan kekasihmu.” Max menyisirkan tangannya ke pinggiran jendela. Merasakan pinggiran yang terbuat dari besi tajam sedikit menggores jemarinya. “Seorang Andrew Tyler bisa mendapatkan wanita mana pun yang dia mau tapi dia justru mengingkan istri orang lain. Kamu gila!”
Tanpa diduga, Andrew menerjang Max dan berusaha mencengkeram leher kemejanya. Sementara Max sendiri tidak mau kalah, tangannya mencengkeram leher laki-laki di depannya. Keduanya saling melotot dan menggeram marah.
“Aku memang gila, jadi kenapa kalau aku gila,” desis Andrew tepat di muka Max.
“Silahkan jadi gila tapi jangan usik keluargaku terutama istriku.” Max berkata mengancam. “Kamu pikir hanya Andrew Tyler yang hebat dalam memainkan nasib orang?”
“Kamu menentangku?”
“Yaaah, aku menentangmu. Sebentar lagi aku juga akan tahu, apa penyebab menghilangnya sosok Raline dari kehidupan Andrew Tyler dan membuat sang milyader merana.”
Keduanya berdiri berhimpitan dekat meja dengan tangan masih saling mencengkeram saat terdengar ketukan di pintu.
Kamal masuk dengan setumpuk dokumen di tangan dan memandang heran pada dua laki-laki yang nyaris baku hantam.
“Tuan.” Kamal menyapa bingung.
Kedatangan asistennya membuat Andrew melepaskan cengkeramannya pada leher Max. Begitu pun sebaliknya.
Max menggelengkan kepala, tangannya bergerak gesit merapikan kemeja dan dasi yang kusut. Kedatangan Kamal menghentikan sementara emosi yang menggelegak dalam kepala dan hati. Ia menatap Andrew yang terlihat sama terguncangnya.
“Cukup sudah apa yang ingin aku sampaikan.” Max berdehem sejenak sebelum melanjutkan omongannya. “Jika kamu masih menyentuh keluargaku, aku tidak akan segan-segan bertindak. Selamat siang.” Dengan ucapan terakhir yang penuh ancaman, Max berlalu dari kantor Andrew, di bawah tatapan membara laki-laki yang tak lain adalah patner kerja. Sayangnya kini mereka menjadi musuh.
Sepeninggal Max, Andrew meraih asbak di atas meja dan melemparkannya ke dinding. Tidak cukup hanya itu, ia juga membanting semua peralatan di dalam kantor. Sementara Kamal berdiri diam di tempatnya, tidak terpengaruh oleh sikap emosional boss-nya.
“Kamal,” ucap Andrew dengan terengah. Matanya menatap sekeliling ruangan yang porak poranda. “Buat janji dengan Amarisa. Aku ingin memutuskan hubungan dengannya.”
Kamal mengernyit. “Kenapa Tuan? Bukankah dengan adanya Nona Amarisa maka posisi Tuan akan semakin kuat?”
“Tidak, justru akan semakin menyulitkan karena Amarisa tidak menyukai Jovanka.”
Kamal mengangguk tenang. “Ada lagi, Tuan?”
Andrew terdiam sejenak, menimbang-nimbang pikirannya. “Aku ingin memporak-porandakan saham Vendros.
****
“Bagaimana ini, Max. Turun terus.” Steve menatap layar monitor yang sedang menayangkan grafik saham. Sebuah monitor besar ada empat buah terpasang di dinding kantor Max.
Max terpaku, bergerak gelisah di tempat duduknya dengan jari mengetuk-ngetuk meja. Mata tertuju pada layar tapi pikirannya mengembara kemana-mana.
“Rupanya Andrew membuktikan ancamannya.” Steve kembali bergumam. Beranjak dari tempatnya berdiri dan duduk di depan sepupunya.
“Aku tahu dia akan membuktikan kekuasaannya dengan mengobrak-abrik harga saham Vendros. Ini bukan di luar perkiraan. Hanya tidak menyangka akan secepat ini,” ucap Max pelan. Menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. “Gila dia, hanya demi obsesinya pada Jojo.”
Steve mencondongkan tubuhnya ke depan. “Tahu tidak, firasatku mengatakan Raline itu sudah meninggal.”
“Oh, ya?”
“Dari data terakhir yang kutelusuri, Raline terakhir kali dijumpai sekitar dua tahun lalu di hari Jumat tanggal 14 July di sebuah restoran bersama laki-laki yang tidak diketahui namanya. Lalu tanggal 11 Agustus dia dinyatakan menghilang. Bukankah itu mencurigakan? Sedangkan tanggal 13 July dia terlihat masih berkencan dengan Andrew.”
“Laki-laki yang bersamanya? Siapa?”
Steve mengangkat bahu. “Tidak ada yang tahu, bisa jadi kekasih baru Raline.”
Max mengernyitkan dahi. Mencoba memikirkan korelasi antara pernyataan Steve dengan fakta yang ia tahu. Jovanka, Ralini dan Andrew.
“Berarti benar dugaanku, Andrew menjadi labil dan sering depresi karena kehilangan Raline,” gumam Max.
“Yah, betul,” ucap Steve dengan tangan menunjuk sepupunya. “yang perlu kita cari tahu adalah penyebab kematian Raline dan di mana dia dikuburkan.”
“Kurasa Bu Maenah tidak tahu jika putrinya sudah meninggal. Buktinya dia histeris saat melihat Jojo yang dia kira Raline.” Max berputar di tempat duduknya dengan tangan menggaruk rambut yang tidak gatal. Melirik ke arah Steve yang termenung. “Cari orang untuk mendekati Bu Maenah dan korek masa kecil Raline. Lakukan diam-diam dan cepat. Kita tidak punya banyak waktu.”
Steve mengannguk. “Baiklah, apakah kamu memberitahu Jojo masalah ini?”
Max menggeleng. “Dia tidak perlu tahu. Biar dia bahagia dengan hidupnya sekarang.”
Mendadak pintu kantor Max terbuka tanpa ada orang yang mengetuknya lebih dulu. Keduanya menoleh kaget dan melihat Pak Abraham Vendros berdiri di depan pintu yang terbuka.
“Pa ….” Max menyapa dan bangkit dari kursi. Begitu pula Steve.
“Kenapa Uncle nggak bilang dulu mau datang? Aku bisa jemput.”
Pak Abraham melambaikan tangannya, memberi tanda agar kedua anak muda di depannya diam. Melangkah tergesa menuju monitor yang menyala.
“Hari ini jatuh berapa poin?” tanyanya pelan.
“Sekitar 40 poin,” jawab Steve.
Pak Abraham mengangguk samar. Masih dengan mata mengawasi layar monitor lalu membalikkan tubuh. Menghadap pada anak laki-lakinya. “Max, kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan?”
Max mengangguk. “Mengeluarkan sebagian simpanan kita untuk membeli saham kita kembali.”
“Apakah berhasil?”
Max menggeleng. “Belum, mereka menyerang terlalu kuat.”
Pak Abraham menoleh pada Steve. “Bagaiman informasi tentang pribadi Andrew? Dan wanita yang dia cari?”
“Sudah dapat Uncle, tapi belum cukup kuat untuk menekannya.” Steve menjawab pelan.
Mereka bertiga berdiri diam berhadapan seolah-olah saling membagi pikiran masing-masing.
Max memandang papanya yang terlihat tampan dalam setelan jas hitam dan manset dari emas yang tersemat di ujung lengannya. Ada sapu tangan putih menyembul di balik saku. Senada dengan warna kemeja yang dia pakai. Dalam usia yang tak lagi muda, Max melihat papanya masih sangat tampan.
“Steve, panggil semua komisaris dan direksi juga para pemegang saham. Kita rapat malam ini!” perintah Pak Abraham.
Tanpa banyak kata, Steve mengangguk dan meninggalkan ruangan dalam gerak cepat.
“Max, sudah bicara dengan Pak Johanes masalah ini?”
Max menggeleng. “Belum, karena aku tidak yakin beliau akan percaya perkataanku, apalagi ini hanya menyangkut soal wanita. Tentu beliau akan menganggap aneh. Apalagi menurut informan, tidak ada keluarga Andrew yang tahu perihal hubungannya dengan Raline, gadis miskin anak tukang kebun.”
Pak Abraham mengangguk serius. “Aku mengerti, jika menjadi Pak Johanes aku pun tidak akan percaya kalau ponakannya sanggup menyenggol perusahaan orang lain hanya demi wanita.”
“Iya, Pa. Itulah kenapa, aku dan Steve berusaha menyelesaikan secara diam-diam.”
“Bagaimana proyek perumahan dengan Pak Johanes? Bukankah Andrew ada saham di sana?”
“Oh, dia tidak menyentuh itu. Yang dia sentuh hanya yang berhubungan dengan The Green Palace.”
“Sayangnya, saham perusahaan kita yang lain kena imbas,” ucap Pak Abraham muram.
Bapak dan anak, tanpa disadari menghela napas panjang secara bersamaan. Merasa sepemikiran.
Malam itu, terjadi rapat besar para jajaran pejabat di Vendros Group. Terjadi perdebatan, adu argumen dan silang pendapat yang sengit. Ruang rapat rasanya seperti medan perang, senjata yang mereka gunakan adalah data dan tentu saja, uang.
Malam itu, Max Vendros pulang larut dalam keadaan kusut. Jovanka yang menyambut kepulangan suaminya hanya bisa memandang dengan wajah prihatin. Dia tahu persis jika suaminya sangat pekerja keras meski mereka hidup bergelimang harta. Karena harta yang mereka punya sesungguhnya berupa tanggung jawab.
“Larut sekali pulangnya, banyak kerjaan?” Jovanka membantu suaminya membuka jas dan dasi.
“Iya, ada rapat.”
“Apakah ada masalah?”
***
#Part_23b.
#CEO's Bride.
****
Malam itu, Max Vendros pulang larut dalam keadaan kusut. Jovanka yang menyambut kepulangan suaminya hanya bisa memandang dengan wajah prihatin. Dia tahu persis jika suaminya sangat pekerja keras meski mereka hidup bergelimang harta. Karena harta yang mereka punya sesungguhnya berupa tanggung jawab.
“Larut sekali pulangnya, banyak kerjaan?” Jovanka membantu suaminya membuka jas dan dasi.
“Iya, ada rapat.”
“Apakah ada masalah?”
Melihat istrinya bertanya dengan nada kuatir, Max tersenyum. “Tidak ada, rapat tahunan seperti biasa.” Dia merengkuh istrinya dalam pelukan dan memberikan kecupan singkat. Anehnya, berdekatan dengan istrinya membuat gairahnya bangkit.
“Hei, bukannya kamu lagi capek?” elak Jovanka dengan wajah memerah dan napas memburu. Tangan-tangan suaminya bergerak lincah di seluruh tubuh.
“Ada satu hal yang bisa kamu lakukan untuk menghilangkan rasa lelahku,” bisik Max mesra.
“Apa?” Jovanka terengah.
“Ini.” Max memberikan jawaban berupa satu kecupan cepat di bibir. Mendorong tubuh istrinya ke ranjang. Mereka bermesraan dalam keadaan kamar terang benderang. Bersama dengan Jovanka adalah salah satu cara menunjukkan kepemilikan dan rasa cintanya yang mendalam pada wanita yang saat ini sedang berada dalam pelukannya. Tidak tahan menghadapi gairah, Max melenguh dalam kebahagiaan.
Boleh saja perusahaannya sedang kacau saat ini. Bisa jadi esok akan terjadi hal yang lebih besar dari sekedar saham yang turun nilainya tapi sekarang, saat ini ia memiliki istrinya.
Jovanka bukan lagi wanita biasa, dia adalah milik Vendros yang harus dilindungi. Max akan berbuat apa pun itu, bahkan berperang tidak hanya dengan Andrew tapi juga seluruh dunia untuk membuat Jovanka tetap aman dan menjadi miliknya.
Setelah sesi kebersamaan yang menguras tenaga, Jovanka memperhatikan suaminya yang tertidur pulas. Sisa-sisa kelelahan terlihat jelas di wajah Max. Laki-laki itu tertidur dengan meringkuk. Tidak biasanya suaminya seperti itu.
Jovanka bangkit dari ranjang, mengambil jubah yang tergeletak di atas kursi dan memakainya. Setelah mematikan lampu ia turun ke bawah, pukul tiga dini hari dan ia merasa lapar. Entah kenapa akhir-akhir ini ia merasa mudah sekali lapar.
Dapur sepi, tidak ada orang. Saat ia sedang sibuk membuka kulkas, kucing kecil datang menghampiri dan mengendus kakinya. Jovanka tersenyum menatap kucing yang terlihat sehat.
“Sedang cari apa, Miss.”
Jovanka terlonjak, meraba dadanya. “Astagfirullah, Bu Erna. Bikin kaget!” Dia memekik tanpa sadar dan menatap Bu Erna dalam balutan baju tidur. Dalam hati Jovanka bertanya-tanya apakah sang kepala asisten rumah tangga tidak pernah tidur?
“Miss?”
Jovanka tersenyum. “Aku lapar, ada sesuatu yang bisa dimasak? Mie Instan gitu?”
Bu Erna menggeleng. “Dilarang makan mie instan apalagi tengah malam begini. Miss, silahkan duduk. Biar saya yang memasak.”
“Tapi, Bu.” Jovanka berusaha melarang tapi wanita setengah baya di depannya merentangkan tangan dan menyuruhnya duduk. Mau tidak mau Jovanka menurutinya. Berhadapan dengan Bu Erna seperti berhadapan dengan ibunya sendiri. Ia tak berani membantah.
Tangan Bu Erna dengan terampil memotong bumbu dan memasukkannya dalam panci kaca. Tak lama aroma bumbu dan rempah menyeruak di dapur. Tidak sampai tiga puluh menit, sebuah mangkok besar berisi mie, telur, sayur dan irisan daging disajikan panas-panas ke hadapan Jovanka.
“Silahkan, Miss.”
“Bu Erna mana? Masa aku doang yang makan?” ucap Jovanka heran.
“Saya sudah minum susu dan makan roti, silahkan Miss nikmati mie-nya nanti keburu dingin.”
Sementara Jovanka makan mie kuah yang lezat, Bu Erna sibuk membersihkan peralatan masak. Ada sebuah piring kecil berisikan daging rebus diberikan untuk Snowy, kucing mereka yang makan dengan gembira di bawah meja.
“Bu Erna.”
“Iya, Miss?” Bu Erna menghentikan aktivitasnya dan menghampiri Jovanka. “Ada yang bisa dibantu lagi?”
Jovanka menggeleng. “Aku kuatir, sepertinya suamiku ada masalah dan dia nggak mau bilang apa-apa padaku.”
Bu Erna menatap Jovanka yang menunduk di atas mangkoknya. Berpikir sejenak sebelum menjawab. “Mr.Max laki-laki yang kuat. Saya yakin beliau akan bisa mengatasi masalah apa pun itu tentang Vendros Group. Yang Miss perlu lakukan hanya tetap di sampingnya.”
“Aku tahu itu, tapi rasanya tetap menyebalkan. Saat orang yang kita cintai terkena masalah dan kita nggak bisa apa-apa.”
Sebuah senyum langka keluar dari mulut Bu Erna, wanita itu menepuk pelan punggung Jovanka serasa berkata dengan nada lembut. “Cinta, dukungan dan kepercayaan. Itu yang dibutuhkan Tuan dari Anda, Miss.”
Nasihat Bu Erna masuk dalam pikiran Jovanka. Mau tidak mau ia mengakui jika apa yang dikatakan wanita setengah baya di belakangnya ada benarnya juga. Saat ini yang ia lakukan hanya memberi dukungan dan kasih sayang.
Selesai menyantap mie rebus, Jovanka masuk ke kamar dan menyelusup ke dalam pelukan suaminya yang terlelap. Matanya menatap wajah Max dalam gelap dan serta merta perasaan penuh cinta memenuhi hatinya.
“Sayang, i love you,” bisik Jovanka sebelum terlelap bersama mimpi dalam pelukan suaminya.
****
Di sebuah ruangan berjendela lengkung yang menghadap ke kebun anggrek, Andrew berdiri mematung. Ada setumpuk dokumen terbuka di atas nakas tepat di samping dinding bata. Masih segar dalam ingatannya, tentang Jovanka yang berdiri di antara bunga anggrek. Terlihat menawan dalam balutan gaun putih dan tersenyum cerah bahkan mengalahkan pesona anggrek itu sendiri. Saat itu, jika tidak ingat sedang ada Max di sampingnya, ingin rasanya ia menghampiri Jovanka dan memeluknya.
Akhir-akhir ini ia menjadi gila karena wanita apalagi jika mengingat wanita itu milik orang lain. Sudah dia usahakan untuk melupakan tapi makin hari makin besar juga niatnya untuk mendapatkan istri Max Vendros.
‘Aku harap, tekanan pada perusahaannya akan membuat Max berubah pikiran. Seharusnya dia tahu jika aku tidak pernah bermain-main dengan ancamanku. Mereka boleh mengatakan aku gila, aku tidak peduli. Selama aku bisa memilik apa yang kuinginkan, persetan dengan pendapat orang lain.’
Andrew tersenyum sinis, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Betapa menyenangkan memikirkan akan segera bersama Jovanka.
Ia tersentak saat mendengar pintu diketuk dan menoleh untuk melihat Kamal masuk bersama seorang wanita cantik berambut hitam sebahu.
“Tuan, ini yang Anda minta.” Kamal meraih lengan sang wanita dan menyeretnya menuju Andrew yang memandang mereka dengan mengernyit.
Sang wanita menatap Andrew sambil tersenyum manis. Dadanya terlihat menggoda dari balik gaun ketat warna putih yang dia pakai. Aroma parfum disemprot sedikit menyengat dari yang seharusnya. Dengan bibir yang dipoles lipstik merah marun, dia melangkah gemulai menghampiri Andrew yang berdiri mematung.
“Hallo tampan, sudah menungguku?” Tanpa malu wanita itu menyodorkan tubuhnya dan menggesek dada di lengan Andrew.
Andrew hanya memandangnya acuh lalu mengangguk pada asistennya. “Pergilah, biar aku yang mengurus dia.”
Kamal mengangguk patuh, mundur dengan cepat dan menutup pintu di belakangnya.
“Waah, taman anggreknya indah?” wanita bergaun putih memekik senang saat melihat taman dari balik jendela.
Andrew meraih kepala wanita di depannya dan menjambak rambutnya. “Jangan melihat ke sana, kamu dibayar bukan untuk melihat anggrek.”
Sang wanita meringis kesakitan, tetap tersenyum menatap Andrew yang terlihat garang. “Aww, sakit, Sayang. Pelan-pelan doang. Jangan kasar begitu.” Belum lenyap senyum dari bibirnya saat sebuah tamparan melayang di pipinya.
“Sayangnya, aku mengundangmu datang bukan untuk bermain halus. Berlutut!”
Di luar Kamal berdiri diam tidak jauh dari ruangan Andrew. Ia sudah memerintahkan para pelayan untuk menjauh selama boss-nya bersama wanita yang ia panggil dari rumah bordil terkenal. Ia tahu wanita itu adalah artis pendatang baru yang menjajakan diri demi kehidupan yang lebih mewah. Terbukti dari ekpresinya yang melonjak gembira hingga nyaris menjijikkan saat tahu kliennya adalah sang milyader, Andrew Tyler.
Kamal tetap bergeming, meski terdengar jeritan menyayat dari dalam kamar. Dengan tenang ia melihat jam di tangannya. Butuh sekitar dua jam sampai ruangan menjadi sunyi senyap lalu sang wanita keluar dengan badan lebam. Yang ia lakukan hanya satu, memberi uang banyak dan ancaman secukupnya. Itu sangat efektif untuk menutup mulut mereka.
Dia sudah bertahun-tahun ikut Andrew, dan membuat tuannya bahagia adalah salah satu tugasnya. Kamal bergerak saat melihat pintu terbuka dan wanita dengan gaun robek-robek tertatih keluar.
“Pakai ini, ayo keluar!” ucapnya dingin dengan tangan menyambar jubah yang sudah dia siapkan di atas kursi dekat ruangan. Memberikannya pada si wanita yang terlihat menangis saat memakainya dan masih tanpa emosi, menyeret sang artis pendatang baru keluar dari rumah Andrew.
Bagi Kamal, kepuasan tuannya adalah prioritas bahkan jika dia harus membunuh orang sekali pun.
***
tamat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar