Ahlan Wa Sahlan Angeline
(1)
#by_WafaHanin
"Sayang, maapin aku dong. Itu gak seperti yang kamu kira. Aku dan Diana cuma gak sengaja aja bareng, dan gak terjadi apa-apa malam itu karena kami sama-sama mabuk." Reza memelas.
Sejak lama aku sudah tahu, priaku ini hiperseks. Tukang selingkuh! Hanya saja diam adalah senjataku sekarang, selama semua baik-baik saja.
Aku? Sedih? Nggak. Buatku tak ada namanya cinta. Laki-laki di mana-mana buaya, sama saja. Kepalang malu, sekedar jaga image di hadapan teman-teman saja kuterima cowok sok kegantengan di hadapanku ini.
Kusesap pelan latte yang asapnya masih mengepul di atas meja kafe.
"Duh, kenapa kamu diem aja?" Pria itu terus saja meyakinkanku dengan berbagai alasan. Padahal dia bukan guru private, tapi kerjaannya ngeles saja. Parah.
Menikmati minuman, netraku tak sengaja melihat sepasang laki-laki dan perempuan masuk ruangan. Keduanya duduk bersebrangan dua meja dari tempatku dan Reza berada.
Baru saja duduk, wanita berjilbab lebar itu bicara menekan berkali-kali pada pria di hadapannya. Tanpa sadar bibirku naik sebelah karenanya.
Hemh, lelaki yang diidolakan banyak wanita di kampus itu rupanya sudah punya istri ... mungkin ini yang namanya kesempatan. Tuhan sengaja mempertemukanku dengannya di
saat mood tidak enak dan bertambah berkali lipat saat melihat
tampangnya, hingga ada keberanian untuk rasa ini bisa kuluapkan semua.
Kasihan juga, istrinya yang tengah buncit itu terlihat sangat marah. Aneh, kenapa wajah pria itu datar? Atau memang dia diciptakan dari gletser yang ketelan ibunya dulu? Tapi dia punya selera bagus. Wanita dengan balutan jilbab syari itu memiliki kecantikan yang alami.
"Jel? Gimana? Apa kamu dari tadi gak dengerin aku ngomong?" Fokusku teralihkan oleh suara pacarku yang baru jadian bulan lalu. Sekilas melihat pada Reza, kecewa jelas terlukis di wajahnya.
Bodo.
"Za. Kita putus ya," ucapku sembari memasukan ponsel yang tergeletak di samping gelas ke dalam tas.
"What? Bukannya kamu bilang kemaren 'sekarang atau 50 tahun lagi kamu tetep cinta sama aku?' Ingat kan? Ini cuma salah paham."
"Hehh. Buaya!" Kusabetkan tas ke dada pria berkemeja kotak-kotak itu, lalu meninggalkannya .
Reza mengusap rambut kasar.
"Argh. Shit." Menendang sesuatu entah apa, tidak berlama-lama ia pergi ke luar. Namun saat di pintu, pelayan mencegatnya untuk membayar tagihan.
'Hemh. Rasakan itu! Matre, sok playboy pula.'
Selesai urusan dengan Reza, dua kakiku yang terpasang high heels melangkah meja Fathan dan istrinya.
"Ehem. Sayang kamu di sini?" Aku yang datang dari belakang pria itu langsung memegang pundaknya. Seketika ia terkejut, menoleh. Melihat padaku, pria itu berjingkat menjauh.
Meskipun jika ia jijik padaku, aku tak peduli. Harus kutunaikan keinginan untuk menghancurkan rumah tangganya.
"Kamu?!" Mata Fathan melebar. Ia seperti melihat malaikat pencabut nyawa. Begitu juga wanita di hadapannya. Beda sekali ekspresi sekarang dengan beberapa menit lalu saat ia mengomel pada Fathan.
Kusunggingkan senyum termanis.
"Oya, aku pegel. Kok gak di suruh duduk."
"Siapa dia Mas?" tanya istrinya. Dia pasti syok. Suami yang ia kenal sebagai sosok sholeh mengenal wanita berpakaian seksi sepertiku.
Belum mendapatkan jawaban dari Fathan, aku sengaja menyenggol gelas berisi jus hingga tumpah membasahi gamis wanita itu. Sontak ia berdiri.
"Dia siapa sih, Mas?" Wanita itu bangkit, tidak peduli dengan jawaban Fathan berlari keluar kafe.
Ck. Jadi begitu saat wanita sholihah diselingkuhin suaminya, memilih diam dan kabur. Ck. Lemah sekali.
"Dik, tunggu. Mas bisa jelaskan!" Fathan berdiri, tapi tidak dihiraukan wanita pujaannya.
'Rasakan itu!'
Kini ia menoleh, mata elangnya menyorot tajam padaku. Saat pandangan kami beradu, entah ada perasaan aneh yang tak aku mengerti. Kasihan?
"Kamu!" Fathan menunjuk wajahku.
"Semua ini belum selesai." Ia lalu pergi keluar menyusul sang istri.
Kubalas dengan menggedikkan bahu.
Aku mencebik. Lalu tersenyum karena puas.
"Sepertinya kita akan impas, Pak Fathan!"
Namaku Angeline, mahasiswi kaya dan cantik. Saat mereka katakan aku adalah gadis sempurna dan angkuh, sepertinya mereka benar.
TBC
Part selanjutnya
"Sayang, maapin aku dong. Itu gak seperti yang kamu kira. Aku dan Diana cuma gak sengaja aja bareng, dan gak terjadi apa-apa malam itu karena kami sama-sama mabuk." Reza memelas.
Sejak lama aku sudah tahu, priaku ini hiperseks. Tukang selingkuh! Hanya saja diam adalah senjataku sekarang, selama semua baik-baik saja.
Aku? Sedih? Nggak. Buatku tak ada namanya cinta. Laki-laki di mana-mana buaya, sama saja. Kepalang malu, sekedar jaga image di hadapan teman-teman saja kuterima cowok sok kegantengan di hadapanku ini.
Kusesap pelan latte yang asapnya masih mengepul di atas meja kafe.
"Duh, kenapa kamu diem aja?" Pria itu terus saja meyakinkanku dengan berbagai alasan. Padahal dia bukan guru private, tapi kerjaannya ngeles saja. Parah.
Menikmati minuman, netraku tak sengaja melihat sepasang laki-laki dan perempuan masuk ruangan. Keduanya duduk bersebrangan dua meja dari tempatku dan Reza berada.
Baru saja duduk, wanita berjilbab lebar itu bicara menekan berkali-kali pada pria di hadapannya. Tanpa sadar bibirku naik sebelah karenanya.
Hemh, lelaki yang diidolakan banyak wanita di kampus itu rupanya sudah punya istri ... mungkin ini yang namanya kesempatan. Tuhan sengaja mempertemukanku
Kasihan juga, istrinya yang tengah buncit itu terlihat sangat marah. Aneh, kenapa wajah pria itu datar? Atau memang dia diciptakan dari gletser yang ketelan ibunya dulu? Tapi dia punya selera bagus. Wanita dengan balutan jilbab syari itu memiliki kecantikan yang alami.
"Jel? Gimana? Apa kamu dari tadi gak dengerin aku ngomong?" Fokusku teralihkan oleh suara pacarku yang baru jadian bulan lalu. Sekilas melihat pada Reza, kecewa jelas terlukis di wajahnya.
Bodo.
"Za. Kita putus ya," ucapku sembari memasukan ponsel yang tergeletak di samping gelas ke dalam tas.
"What? Bukannya kamu bilang kemaren 'sekarang atau 50 tahun lagi kamu tetep cinta sama aku?' Ingat kan? Ini cuma salah paham."
"Hehh. Buaya!" Kusabetkan tas ke dada pria berkemeja kotak-kotak itu, lalu meninggalkannya
Reza mengusap rambut kasar.
"Argh. Shit." Menendang sesuatu entah apa, tidak berlama-lama ia pergi ke luar. Namun saat di pintu, pelayan mencegatnya untuk membayar tagihan.
'Hemh. Rasakan itu! Matre, sok playboy pula.'
Selesai urusan dengan Reza, dua kakiku yang terpasang high heels melangkah meja Fathan dan istrinya.
"Ehem. Sayang kamu di sini?" Aku yang datang dari belakang pria itu langsung memegang pundaknya. Seketika ia terkejut, menoleh. Melihat padaku, pria itu berjingkat menjauh.
Meskipun jika ia jijik padaku, aku tak peduli. Harus kutunaikan keinginan untuk menghancurkan rumah tangganya.
"Kamu?!" Mata Fathan melebar. Ia seperti melihat malaikat pencabut nyawa. Begitu juga wanita di hadapannya. Beda sekali ekspresi sekarang dengan beberapa menit lalu saat ia mengomel pada Fathan.
Kusunggingkan senyum termanis.
"Oya, aku pegel. Kok gak di suruh duduk."
"Siapa dia Mas?" tanya istrinya. Dia pasti syok. Suami yang ia kenal sebagai sosok sholeh mengenal wanita berpakaian seksi sepertiku.
Belum mendapatkan jawaban dari Fathan, aku sengaja menyenggol gelas berisi jus hingga tumpah membasahi gamis wanita itu. Sontak ia berdiri.
"Dia siapa sih, Mas?" Wanita itu bangkit, tidak peduli dengan jawaban Fathan berlari keluar kafe.
Ck. Jadi begitu saat wanita sholihah diselingkuhin suaminya, memilih diam dan kabur. Ck. Lemah sekali.
"Dik, tunggu. Mas bisa jelaskan!" Fathan berdiri, tapi tidak dihiraukan wanita pujaannya.
'Rasakan itu!'
Kini ia menoleh, mata elangnya menyorot tajam padaku. Saat pandangan kami beradu, entah ada perasaan aneh yang tak aku mengerti. Kasihan?
"Kamu!" Fathan menunjuk wajahku.
"Semua ini belum selesai." Ia lalu pergi keluar menyusul sang istri.
Kubalas dengan menggedikkan bahu.
Aku mencebik. Lalu tersenyum karena puas.
"Sepertinya kita akan impas, Pak Fathan!"
Namaku Angeline, mahasiswi kaya dan cantik. Saat mereka katakan aku adalah gadis sempurna dan angkuh, sepertinya mereka benar.
TBC
Part selanjutnya
-----
#AHLAN_WA_SAHLA N_ANGELINE 2
#HANIN_WAFA
"Saya meminta setiap mata kuliah agama semua mahasiswi menggunakan hijab syar'i. Tempat duduk laki-laki di sebelah kiri dan perempuan di kanan!"
Ruangan hening mendadak ricuh. Kubiarkan mereka mengekspresikan informasi barusan.
Tampak raut tak senang bermunculan di sebagian mahasiswi. Termasuk gadis berpakaian kurang bahan yang mobilnya tanpa sengaja kutabrak. Wajah itu masam.
Sebagian mahasiswa melempar candaan pada teman-teman seksinya. Ada yang balas memukul atau sekedar tertawa cekikikan.
"Ehm. Bisa kita mulai?"
Riak-riak suara itu perlahan menghilang. Berganti keheningan sebagai tanda siap mendengarkan penjelasan mata kuliah agama Islam.
"Dari mana kita berasal? Untuk apa kita hidup dan mau ke mana setelah mati?"
Kuawali pembahasan mata kuliah ini dari aqidah.
"Komunis menjawab kita berasal dari materi, hidup untuk memproduksi materi dan ketika mati kembali menjadi materi. Dan itu salah."
Belum ada reaksi berarti dari mimik mahasiswa tingkat satu semester dua ini.
"Sekuler-Kapita lis
menjawab bahwa Tuhan menciptakan manusia lalu dibiarkan mengatur
hidupnya sendiri. Artinya memisahkan agama dari kehidupan. Tentu ini
batil."
Kulihat gadis yang dipanggi Angel oleh teman lelakinya memasang tampang bete. Tak masalah, mungkin belum terketuk hatinya.
"Bagaimana dengan Islam? Jawabannya paling masuk akal dan sesuai fitrah manusia. Islam menyatakan bahwa manusia diciptakan oleh Allah. Hidup di dunia wajib terikat dengan aturan Pencipta, dan setelah mati akan dimintai pertanggungjawa b atas segala perbuatannya."
Di jam sebelas kuliah berakhir. Aku melangkah lebih dulu sebelum para mahasiswa berhamburan.
Tapi tunggu!
Gadis itu, kenapa dia mepet ke arahku?
Astagfirullah! Tak sopan!
Hampir saja dada yang menampilkan aset berharganya menempel pada lenganku.
Aku mundur satu langkah memberi kesempatan mahasiswi yang jalannya mendongak itu duluan.
Hampir saja.
*****
Hei! Apa itu?
Kakiku berhenti diayunkan demi melihat keramaian di tengah koridor Fakultas Ekonomi. Seorang mahasiswi berkerudung panjang dengan gamis lebar ditunjuk-tunjuk oleh Angel dan genknya.
Ya, nama gadis itu Angel, tepatnya Angeline. Kutahu dari percakapan mereka di ruang kuliah sebelum materi disampaikan.
Dari dosen lain didapat kabar bahwa dia anak pejabat di kota ini. Pantas saja gayanya selangit.
Niat tak ikut campur diurungkan kala sayup terdengar ucapan menyinggung pakaian muslimah. Aku melangkah saat melihat gadis mungil itu tersudut ke tiang besar koridor.
"Ada apa ini?"
Suara baritonku seketika menghentikan aksi buly kawanan squad girl terhadap mahasiswi berhijab itu.
Bukannya takut, Angela malah berjalan menantang ke arahku. Saat kaki diayunkan bagian tubuh sensitifnya ikut bergoyang. Aku beristigfar menahan sesuatu yang berdesir tiba-tiba. Rasanya ingin berteriak, tutuplah auratmu, Nona!
"Anda mau ikut arisan perempuan?"
Kuredam gejolak yang tiba-tiba memberontak.
Bertahanlah, Fathan!
Sebisa mungkin menahan rasa, kuacuhkan gadis berpakaian seksi itu, melangkah menuju mahasisiwi berkerudung biru. Dengan tatapan, aku minta jawaban padanya.
"Saya hanya menegur Angeline untuk tak menjelek-jeleka n pakaian muslimah. Mereka tak terima sepertinya."
Gadis bertubuh lebih kecil dari para penyerangnya itu tak menampakkan rasa gentar sedikit pun. Suaranya tenang dan tak ada getaran di tubuhnya. Hebat juga.
"Maksudnya?"
Aku ingin memastikan terkait kejelasan makna menjelekkan.
"Hai! Pengadu hebat, ya, lo! Hellow, gue ngejelekin apa? Pak Dosen Ganteng, apa saya salah tak mau berhijab karena gerah dan gak modis?"
Kuhela sekian banyak udara agar emosi tak tersulut oleh mulut jelek wanita ini.
Sabar, Fathan!
"Jika tak mau berhijab itu urusan kalian, Saya tak kan mengusik, tapi kalau benar ada unsur menghina pakaian muslimah saya tidak akan tnggal diam."
Sekuat mungkin ditekan suara agar tak kentara amarah di dalamnya. Aku tak masalah orang menghina pribadi, tetapi kalau penghinaan atas hukum agama sampai kapan pun akan membela.
Sorot angkuh itu sedikit meredup. Takut mungkin dengan ketegasanku. Baguslah. Sementara teman genknya mulai merendahkan kepala.
"Mahasiswa itu kaum intelektual. Saya rasa tak pantas menyelesaikan masalah seperti ini. Sebaiknya bubar!"
Kali ini suaraku sedikit meninggi. Tak tahan juga berhadapan dengan genk pembawa keonaran. Anak-anak konglomerat yang kurang perhatian.
Mengajar agama di universitas swasta kelas atas memang tantangan luar biasa. Setiap hari harus tahan dengan berbagai perilaku tak menyenangkan. Jangankan aku dosen pemula, senior saja tak dihargai oleh generasi yang dibesarkan oleh gelimangan harta.
Mau bagaimana lagi? Dosenku yang minta. Katanya di sini butuh pendakwah juga. Mereka harus dirangkul untuk kenal agama bukan dibiarkan terus dalam kejahilannya.
Genk Angel membubarkan diri. Begitupun gadis berhijab biru yang kemudian aku tahu namanya Aqila, mahasiswi tingkat tiga.
"Wah, Anda hebat bisa membuat genk itu takut."
Aku baru sadar kalau banyak orang menonton kejadian ini. Bu Rania, dosen wanita muda itu menyejajari langkah. Risih juga pada kegenitan wanita yang lebih tua tiga tahun itu.
"Gak ada loh yang berani sama mereka. Takut dipecat katanya. Maklumlah mereka suka menggunakan uang dan kekuasaan ayahnya."
Aku mengendikkan bahu. Tak mau lama-lama berjalan bersisian segera pamit dengan alasan ada keperluan.
***
Fatiya memaksa bertemu di kafe yang jaraknya 500 meter dari kampus. Males sebenarnya pasti dia akan menjadi jubir Abi untuk bicara pernikahan.
Hal yang belum kuinginkan.
Aneh, ya. Dosen agama berusia dua puluh delapan tahun belum menikah.
Bukan tak mau menikah. Hanya saja belum ada yang nyangkut di hati.
Kalau saja Fatiya tak merengek, sudah kutolak pertemuan ini. Selain sibuk, juga akan pusing mendengar ceramahnya soal menggenapkan separuh agama. Plus biodata dan foto-foto akhwat yang siap disanding juga. Bahkan ada yang rela jadi yang kedua katanya
Hmm! Kedua? Satu saja belum ada.
"Mas!"
Wanita yang sedang mengandung lima bulan itu melambaikan tangan ke arahku. Dia berdiri di samping pintu utama kafe.
Kenapa tak masuk duluan, eh? Kasian itu beban di perutnya.
Masuk tanpa melihat kanan-kiri. Duduk di depan meja kayu mahoni bulat berwarna coklat. Permukaannya mengkilat sebagai tanda terawat baik.
"Mas nolak lagi, ya. Kurang apa coba Ukhty Syahira? Cantik, sholehah dan cerdas."
Telinga ini langsung panas mendapat cecaran yang sudah kusangka sebelumnya.
Kudiamkan saja Fatiya meluapkan kekesalannya.
Sepuluh menit adik bungsuku bicara. Heran, kok, tak kehabisan kata.
Eh, apa ini?
Belum sempat menanggapi ucapan Fatiya. Satu tangan menyentuh pundakku dan bicara sesuatu yang membuat air muka wanita hamil itu berubah tiga ratus enam puluh derajat.
"Ehm, Sayang kamu di sini?"
Sekilat kutolehkan wajah dan rahangku mulai mengeras demi melihat siapa yang bersikap kurang ajar. Dengan wajah innocent, Angela mengangkat sudut bibirnya lebar.
"Astagfirullah! "
Menepis jari lentik itu, menggeser badan ke pinggir kursi.
"Kamu!"
Entah bagaimana warna mukaku kali ini. Yang pasti ingin rasanya berteriak pada si pembuat keonaran.
Namun, aku masih punya akhlak Islam.
"Siapa dia Mas?" Suara Fatiya meninggi.
Dan, benar-benar leterlaluan gadis itu. Dia menyenggol jus hingga lelehannya membasahi gamis Fatiya.
"Dik, Mas bisa jelaskan!"
Gawat! Fatiya salah paham! Aku menyusul wanita yang susah payah berlari itu.
"Rasain itu!"
Panas, dadaku panas mendengar ejekan wanita selayaknya barbie itu.
Kulemparkan tatapan tajam pada gadis yang tengah tersenyum penuh kemenangan.
"Kamu! Semua ini belum selesai!"
Tanpa sadar, tangan ini menunjuk padanya.
"Sepertimya kita akan impas, Pak Fathan!"
Tawa kecil dari bibir merah itu serupa peluru yang menggores harga diriku.
NEXT
Wafa Farha
***
#HANIN_WAFA
"Saya meminta setiap mata kuliah agama semua mahasiswi menggunakan hijab syar'i. Tempat duduk laki-laki di sebelah kiri dan perempuan di kanan!"
Ruangan hening mendadak ricuh. Kubiarkan mereka mengekspresikan
Tampak raut tak senang bermunculan di sebagian mahasiswi. Termasuk gadis berpakaian kurang bahan yang mobilnya tanpa sengaja kutabrak. Wajah itu masam.
Sebagian mahasiswa melempar candaan pada teman-teman seksinya. Ada yang balas memukul atau sekedar tertawa cekikikan.
"Ehm. Bisa kita mulai?"
Riak-riak suara itu perlahan menghilang. Berganti keheningan sebagai tanda siap mendengarkan penjelasan mata kuliah agama Islam.
"Dari mana kita berasal? Untuk apa kita hidup dan mau ke mana setelah mati?"
Kuawali pembahasan mata kuliah ini dari aqidah.
"Komunis menjawab kita berasal dari materi, hidup untuk memproduksi materi dan ketika mati kembali menjadi materi. Dan itu salah."
Belum ada reaksi berarti dari mimik mahasiswa tingkat satu semester dua ini.
"Sekuler-Kapita
Kulihat gadis yang dipanggi Angel oleh teman lelakinya memasang tampang bete. Tak masalah, mungkin belum terketuk hatinya.
"Bagaimana dengan Islam? Jawabannya paling masuk akal dan sesuai fitrah manusia. Islam menyatakan bahwa manusia diciptakan oleh Allah. Hidup di dunia wajib terikat dengan aturan Pencipta, dan setelah mati akan dimintai pertanggungjawa
Di jam sebelas kuliah berakhir. Aku melangkah lebih dulu sebelum para mahasiswa berhamburan.
Tapi tunggu!
Gadis itu, kenapa dia mepet ke arahku?
Astagfirullah! Tak sopan!
Hampir saja dada yang menampilkan aset berharganya menempel pada lenganku.
Aku mundur satu langkah memberi kesempatan mahasiswi yang jalannya mendongak itu duluan.
Hampir saja.
*****
Hei! Apa itu?
Kakiku berhenti diayunkan demi melihat keramaian di tengah koridor Fakultas Ekonomi. Seorang mahasiswi berkerudung panjang dengan gamis lebar ditunjuk-tunjuk
Ya, nama gadis itu Angel, tepatnya Angeline. Kutahu dari percakapan mereka di ruang kuliah sebelum materi disampaikan.
Dari dosen lain didapat kabar bahwa dia anak pejabat di kota ini. Pantas saja gayanya selangit.
Niat tak ikut campur diurungkan kala sayup terdengar ucapan menyinggung pakaian muslimah. Aku melangkah saat melihat gadis mungil itu tersudut ke tiang besar koridor.
"Ada apa ini?"
Suara baritonku seketika menghentikan aksi buly kawanan squad girl terhadap mahasiswi berhijab itu.
Bukannya takut, Angela malah berjalan menantang ke arahku. Saat kaki diayunkan bagian tubuh sensitifnya ikut bergoyang. Aku beristigfar menahan sesuatu yang berdesir tiba-tiba. Rasanya ingin berteriak, tutuplah auratmu, Nona!
"Anda mau ikut arisan perempuan?"
Kuredam gejolak yang tiba-tiba memberontak.
Bertahanlah, Fathan!
Sebisa mungkin menahan rasa, kuacuhkan gadis berpakaian seksi itu, melangkah menuju mahasisiwi berkerudung biru. Dengan tatapan, aku minta jawaban padanya.
"Saya hanya menegur Angeline untuk tak menjelek-jeleka
Gadis bertubuh lebih kecil dari para penyerangnya itu tak menampakkan rasa gentar sedikit pun. Suaranya tenang dan tak ada getaran di tubuhnya. Hebat juga.
"Maksudnya?"
Aku ingin memastikan terkait kejelasan makna menjelekkan.
"Hai! Pengadu hebat, ya, lo! Hellow, gue ngejelekin apa? Pak Dosen Ganteng, apa saya salah tak mau berhijab karena gerah dan gak modis?"
Kuhela sekian banyak udara agar emosi tak tersulut oleh mulut jelek wanita ini.
Sabar, Fathan!
"Jika tak mau berhijab itu urusan kalian, Saya tak kan mengusik, tapi kalau benar ada unsur menghina pakaian muslimah saya tidak akan tnggal diam."
Sekuat mungkin ditekan suara agar tak kentara amarah di dalamnya. Aku tak masalah orang menghina pribadi, tetapi kalau penghinaan atas hukum agama sampai kapan pun akan membela.
Sorot angkuh itu sedikit meredup. Takut mungkin dengan ketegasanku. Baguslah. Sementara teman genknya mulai merendahkan kepala.
"Mahasiswa itu kaum intelektual. Saya rasa tak pantas menyelesaikan masalah seperti ini. Sebaiknya bubar!"
Kali ini suaraku sedikit meninggi. Tak tahan juga berhadapan dengan genk pembawa keonaran. Anak-anak konglomerat yang kurang perhatian.
Mengajar agama di universitas swasta kelas atas memang tantangan luar biasa. Setiap hari harus tahan dengan berbagai perilaku tak menyenangkan. Jangankan aku dosen pemula, senior saja tak dihargai oleh generasi yang dibesarkan oleh gelimangan harta.
Mau bagaimana lagi? Dosenku yang minta. Katanya di sini butuh pendakwah juga. Mereka harus dirangkul untuk kenal agama bukan dibiarkan terus dalam kejahilannya.
Genk Angel membubarkan diri. Begitupun gadis berhijab biru yang kemudian aku tahu namanya Aqila, mahasiswi tingkat tiga.
"Wah, Anda hebat bisa membuat genk itu takut."
Aku baru sadar kalau banyak orang menonton kejadian ini. Bu Rania, dosen wanita muda itu menyejajari langkah. Risih juga pada kegenitan wanita yang lebih tua tiga tahun itu.
"Gak ada loh yang berani sama mereka. Takut dipecat katanya. Maklumlah mereka suka menggunakan uang dan kekuasaan ayahnya."
Aku mengendikkan bahu. Tak mau lama-lama berjalan bersisian segera pamit dengan alasan ada keperluan.
***
Fatiya memaksa bertemu di kafe yang jaraknya 500 meter dari kampus. Males sebenarnya pasti dia akan menjadi jubir Abi untuk bicara pernikahan.
Hal yang belum kuinginkan.
Aneh, ya. Dosen agama berusia dua puluh delapan tahun belum menikah.
Bukan tak mau menikah. Hanya saja belum ada yang nyangkut di hati.
Kalau saja Fatiya tak merengek, sudah kutolak pertemuan ini. Selain sibuk, juga akan pusing mendengar ceramahnya soal menggenapkan separuh agama. Plus biodata dan foto-foto akhwat yang siap disanding juga. Bahkan ada yang rela jadi yang kedua katanya
Hmm! Kedua? Satu saja belum ada.
"Mas!"
Wanita yang sedang mengandung lima bulan itu melambaikan tangan ke arahku. Dia berdiri di samping pintu utama kafe.
Kenapa tak masuk duluan, eh? Kasian itu beban di perutnya.
Masuk tanpa melihat kanan-kiri. Duduk di depan meja kayu mahoni bulat berwarna coklat. Permukaannya mengkilat sebagai tanda terawat baik.
"Mas nolak lagi, ya. Kurang apa coba Ukhty Syahira? Cantik, sholehah dan cerdas."
Telinga ini langsung panas mendapat cecaran yang sudah kusangka sebelumnya.
Kudiamkan saja Fatiya meluapkan kekesalannya.
Sepuluh menit adik bungsuku bicara. Heran, kok, tak kehabisan kata.
Eh, apa ini?
Belum sempat menanggapi ucapan Fatiya. Satu tangan menyentuh pundakku dan bicara sesuatu yang membuat air muka wanita hamil itu berubah tiga ratus enam puluh derajat.
"Ehm, Sayang kamu di sini?"
Sekilat kutolehkan wajah dan rahangku mulai mengeras demi melihat siapa yang bersikap kurang ajar. Dengan wajah innocent, Angela mengangkat sudut bibirnya lebar.
"Astagfirullah!
Menepis jari lentik itu, menggeser badan ke pinggir kursi.
"Kamu!"
Entah bagaimana warna mukaku kali ini. Yang pasti ingin rasanya berteriak pada si pembuat keonaran.
Namun, aku masih punya akhlak Islam.
"Siapa dia Mas?" Suara Fatiya meninggi.
Dan, benar-benar leterlaluan gadis itu. Dia menyenggol jus hingga lelehannya membasahi gamis Fatiya.
"Dik, Mas bisa jelaskan!"
Gawat! Fatiya salah paham! Aku menyusul wanita yang susah payah berlari itu.
"Rasain itu!"
Panas, dadaku panas mendengar ejekan wanita selayaknya barbie itu.
Kulemparkan tatapan tajam pada gadis yang tengah tersenyum penuh kemenangan.
"Kamu! Semua ini belum selesai!"
Tanpa sadar, tangan ini menunjuk padanya.
"Sepertimya kita akan impas, Pak Fathan!"
Tawa kecil dari bibir merah itu serupa peluru yang menggores harga diriku.
NEXT
Wafa Farha
***
-----
#Ahlan_Wa_Sahla n_Angeline
(3)
#by_WafaHanin
(Mengandung scene dewasa dan kekerasan, bukan bacaan anak-anak)
_____
"Perempuan yang sudah tidak perawan, dia tidak lagi ada harganya."
Baju seksiku? Bukan tanda aku minta disetubuhi atau sejenisnya. Kenyataannya tidak semua wanita berpakaian seksi ia tidak lagi virgin.
Namun kali ini, tangan lelaki yang menarik pakaianku hingga menyembul bagian yang selama ini tertutupi, membuatku sadar ... pakaian seksi ini mengundang birahi.
Sekuat tenaga kutepis setiap sentuhannya hingga akhirnya aku ... menyerah, pasrah.
______
Rahel keluar dari arah toilet, tangannya sibuk mengeringkan bagian lehernya yang masih lembab. Kebiasaan itu anak, sudah sering kutegur, jangan basuh muka saat panas, itu bisa merusak kulitnya. Hiss, tapi emang dasar itu anak kurang peduli pada penampilan.
"Hel. Tasya mana?" tanyaku begitu ia mendekat.
"Ish, Angel. Plis deh, bisa gak panggilnya jangan Hel! Gue risih tau, emang gue 'neraka'! Ck." Rahel mendecak sebal.
Kunaikkan bibir sebelah. "Emang lo kek neraka 'kan, suka nyolot! Panasan pula."
"Ah, serah lo deh tuan putri. Noh, Tasya di dalam. Entah kenapa tuh anak, sembelit kali udah hampir setengah jam kagak keluar dari dalam WC."
Dahiku mengerut. Sejak kapan Tasya yang paling perhatian sama segala hal tentang bodynya sembelit?
"Udah, yah. Ini perut gak bisa diajak kompromi. Gue ke kantin dulu. Buruan susul! Tar gak ada yang bayarin lagi." Rahel berlalu pergi.
"Ya dah, sana! Jangan lupa lo ambil uang dulu pake ATM kemaren," ucapku setengah berteriak.
"Beres Boss!" Rahel menaikkan satu tangannya sambil terus berjalan membelakangiku.
"Hiss dasar. Manggil Boss, tapi kagak ada sopan-sopannya. "
Sengaja kuminta ia menarik uang cash, karena hanya kartu kredit yang kubawa, ini gara-gara dosen kejam itu, uang cash milikku terkuras saat membayar di bengkel. Huft, untung saja di hari yang panasnya gila-gilaan kejadian tabrakannya tidak jauh dari bengkel, benar-benar kebetulan. Dan lagi, aku bisa puas memarahinya, meski dia juga sempat bikin aturan wajib berkerudung yang membuat mood lenyap. Berharap bisa membalasnya.
Memasuki toilet kampus yang ada tiga gadis tengah sibuk berdiri di depan kaca, aku langsung mengetuk salah satu ruangan yang tertutup. Pasti di dalam sana Tasya berada.
"Tass ...!"
Tak ada jawaban, harusnya dia langsung mengomel saat aku memanggilnya tas.
"Sya ...!"
"Hehem." Terdengar deheman dari dalam. Tasya kebiasaan dipanggil lelet nyahutnya.
"Lo sembelit, Sya?"
Tasya sepertinya sedang pilek, ada terdengar beberapa kali ia menghirup cairan dari hidungnya.
"Ng-nggak Njel. Eh, iya. Bentar ya."
Aneh sekali jawaban gadis itu.
Tidak lama ia membuka pintu toilet.
"Em, maaf ya."
"Ya, lama banget. Untung gue kagak sampe lumutan nungguinya. Loe sakit? Kenapa mukanya pucat gitu, sembab lagi matanya, habis nangis?"
"Ish, bawel lo ah. Buruan kita ke kantin sebelum matkul guru sok alim itu."
"Ya, ya." Kurangkul gadis itu ke kantin. Sebenarnya ada yang aneh dari gadis ini, tapi ah sudahlah. Dia tipe gadis yang strong dan judes, pasti bukan sesuatu yang berat tengah menimpanya.
Seiring berjalan, ponsel Tasya berbunyi. Saat ia membukanya, tidak sengaja netraku melihat sebuah foto kontak.
Mataku menyipit.
"Kok kaya Papah," gumamku, tapi Tasya sepertinya mendengar.
Cepat ia menyahut.
"Oh, ini. Bukan kok Njel. Lo ada-ada aja. Ngapain gue hubungi bokap lo? Kurang kerjaan ...." Tasya meringis. Seperti ada yang disembunyikan, tapi benar apa yang dia katakan, untuk apa papa menghubunginya?
"Ooh. Ya udah sih, terima aja. Kenapa ditolak?"
"Nggak, ah. Ini orang iseng aja ngejar-ngejar gue." Tasya menarik tanganku, kami berjalan melewati koridor bangunan.
"Cieh ada yang ngejar-ngejar. Makanya jangan kelamaan jomblonya."
"Lo sendiri?"
"Gue kan sekarang masih berstatus pacarnya Reza. Yah, walaupun cuma status." Aku tersenyum miris.
"Ck. Sialan tu anak emang. Udah morotin, selingkuh pula. Pengen gue kebiri aja." Tasya terlihat geram.
"Hehe. Bisa aja lo."
"Tapi ... lo belum pernah begituan sama dia kan?"
Gadis di sampingku ini bertanya dengan nada khawatir.
"Yaelah, gak mungkin lah gue begituan. Ck. Seborok-borokny a gue, gue tahu wanita tetap berharga kalau dia masih virgin," jawabku datar, tapi entah kenapa wajah Tasya seolah berubah.
"Lo kenapa lagi?"
"Oh, nggak. Apa sih?"
"Ck. Lo tuh aneh banget tau gak! Oya, lo bawa baju ninja?"
"Hemh? Ninja?"
"Itu loh, Dosen Matkul Islam kan minta kita pakai baju ninja pas belajar."
"Heh. Lo bisa aja. Gak harus ninja kali, cukup kek Aqila noh, yang penting lebar dan nyapu lantai." Gadis itu tersenyum, hingga lesung pipitnya nampak kentara. Dia memang sosok manis, judes juga sepertiku, tapi sangat misterius. Banyak hal yang ia sembunyikan, karena itu privasi aku malas membahasnya.
"Ada yang manggil aku?"
Tiba-tiba saja gadis yang Tasya maksud ada di hadapan kami.
"Kenapa lo? Tersindir?" Tasya memperlihatkan tabiat aslinya saat marah pada Aqila.
Ah, kami memang sedang sensi-sensinya dengan makhluk sejenis Aqila di kampus ini.
"Tidak masalah jika kalian hina aku, tapi tidak jilbabku. Ini adalah perintah syariat, yang harusnya bukan cuma aku tapi kalian pun taat, kerudung ini mahkota bagi wanita. Lambang kehormatan yang melindungi dalam Islam." Gadis berkerudung itu mulai emosi, tangannya memegangi pakaiannya. Seolah pamer pada kami.
"Terus ... maksudnya lo lebih terhormat gitu daripada kami setelah pakai baju itu?" Aku tidak tahan untuk tidak bicara dan berusaha menjatuhkannya. Mendengar keributan, tiga teman lain kami mendekat.
"Eh, cupu. Kagak usah ceramah lo. Gara-gara makhluk kayak lo, dunia ini berasa sempit. Kalau mau kekeh pakai baju beginian kenapa lo gak bikin negara sendiri aja sono! Bikin aturan sendiri!" ucap Tasya tak kalah pedas.
"Ada apa Njel?" tanya Salsa begitu sampai di hadapan kami.
Aqila menatap nyalang pada Salsa, Karin dan Mia.
"Lo kenapa, gadis pembersih lantai?" tanya Salsa yang tak suka pada caranya melihat pada teman-temanku. Kami menjulukinya gadis penyapu lantai, lantaran pakaian yang ia kenakan sampai menutup kakinya. Saat berjalan sering kali hanya terlihat ujung sepatu, ia terlihat teguh menjaga penampilan itu meski kami sering membully.
"Ini, Sa. Gue bilang gegara penampilan dia nih yang kaya emak-emak, kita-kita disuruh ikut-ikutan. Norak banget 'kan. Nah, maksud gue dia berpenampilan biasa aja gitu, trus inisiatif dia bilang ke Pak Fathan gitu kalo penampilan tuh gak penting, yang penting hati, jadi gak usahlah maksa mahasiswinya pakai baju kunti begini. Ribet tau gak?!" Seperti biasa aku jadi nyolot saat kegemaranku terusik, lagian Aqila juga sih, sok jadi beda.
"Astagfirullah ...." Gadis dengan pakaian surga itu mengucap pelan. Seolah sangat miris. Hehh. Padahal kami lah yang miris melihatnya, terkungkung oleh pemahaman, teroris dan radikal.
"Oh, jadi lo lagi biang keroknya. Ck. Istigfar segala. Sok suci. Kayak yang lain najis aja lo," ucap Salsa dengan nada kesal, hal yang biasa terjadi saat berhadapan dengan gadis-gadis model Aqila cs.
Baru saja akan membuat perhitungan dengan gadis itu dan menarik kerudung lebarnya, seseorang berteriak.
"Ada apa ini?"
Suara bariton itu seketika menghentikan aksiku dan teman-teman pada anak cupu di hadapan kami.
Mungkin lelaki itu pikir aku takut, melangkah mendekat.
"Anda mau ikut arisan perempuan?"
Aku diacuhkan, sialan! Ia terus berjalan menuju gadis berkerudung biru. Dengan tatapan minta jawaban padanya.
"Saya hanya menegur Angeline untuk tak menjelek-jeleka n pakaian muslimah. Mereka tak terima sepertinya."
Aqila berani rupanya. Suaranya tenang dan tak ada getaran di tubuhnya. Hebat juga.
"Maksudnya?"
Dosen itu bertanya.
"Hai! Pengadu hebat, ya, lo! Hellow, gue ngejelekin apa? Pak dosen apa saya salah tak mau berhijab karena gerah dan gak modis?"
Dosen itu bergeming, ia sepertinya tengah berusaha mencerna apa yang aku ucapkan.
"Jika tak mau berhijab itu urusan kalian, Saya tak kan mengusik, tapi kalau benar ada unsur menghina pakaian muslimah saya tidak akan tinggal diam."
Pria itu bicara seolah menekan amarah dalam dada.
Damn! Gue salah kira.
Ah, tentu saja dia dosen agama, maka bicaranya selalu agama.
Aku memilih diam, meski masih berdiri tak gentar. Ucapannya membuat teman-temanku mulai salah tingkah.
"Mahasiswa itu kaum intelektual. Saya rasa tak pantas menyelesaikan masalah seperti ini. Sebaiknya bubar!"
Kali ini suaranya sedikit meninggi.
Dia hanya belum tahu saja, siapa kami ini, terutama aku. Anak-anak konglomerat yang bisa melakukan apapun di universitas ini.
Heran saja, kenapa ada dosen semenyebalkan itu di sini? Apa perlu aku minta papa mengurusnya. Sikapnya sangat menggangu kami.
Tasya menarik tanganku yang masih menyilang di dada. Tak ingin buang waktu
aku pun pergi mengikuti keinginannya. Disusul Mia, Karin dan Salsa.
Begitupun gadis penyapu lantai yang suci itu.
Di kantin dengan malas kuletakkan bokongku di kursi.
"Ada apa, sih? Lama banget, sampe gue udah habis tiga mangkok bakso!" Rahel bicara sambil mengunyah. Anak itu memang doyan makan, untunglah tubuhnya gak pernah melar, hingga bisa tetap eksis bareng genk kami.
"Udah, ah. Gue males bahasnya. Jordi, Reza dan Aqila ... ditambah lagi Fathan. Huft, kenapa gue harus bertemu dengan manusia-manusia sejenis mereka." Memutar mata malas, lalu perlahan kusesap minuman yang sudah Rahel persiapkan untuk kami.
Teman-teman diam, mereka tahu saat aku tidak mood bicara, maka mereka harus menahan untuk bicara.
Moodku benar-benar buruk sekarang, Jordi tidak henti-hentinya menerorku dengan berbagai cara agar cintanya diterima, padahal sudah kukelabui dengan jadian sama Reza, tapi dia tidak percaya. Lalu Aqila ... yang selalu saja sok suci dan tidak bisa diganggu idealisnya terhadap agama, sekarang ditambah lagi malaikat penolongnya sekaligus neraka buatku, dosen matkul Islam yang baru saja masuk ke universitas ini.
***
"Oya, Njel. Bisa gak pulang nanti lo ke kosan gue?"
Salsa bicara sambil memainkan sedotan di gelasnya.
"Kenapa emang?"
"Ada sesuatu yang harus lo lihat."
Salsa terlihat serius.
"Penting banget?" tanyaku. "Soalnya gue kudu kelarin juga urusan gue sama Reza." Melihat pada arloji, tidak lama lagi waktu yang kujanjikan pada playboy itu.
"Penting, penting, penting banget." Salsa menekan.
"Oke, deh. Lo tunggu aja, sepulang dari kafe gue langsung ke sana." Sebagai orang yang paling didengarkan di genk ini, aku harus menunjukkan sikap menghargai sesama teman. Ah gue gitu loh, udah royal juga paling pengertian. Selama ini aku nyaman ada ditengah mereka, itu kenapa kami saling suport.
***
Sepanjang perjalanan ke kostan Salsa, hati ini rasanya sangat puas. Bisa ngerjain dosen tak tahu diri itu dengan membuat istrinya cemburu. Besok-besok lagi, akan ada rencana lain membuatnya takhluk dan tak berkutik seperti dosen lain. Hemh. Angeline dilawan.
Sampai di kost-kostan, segera memarkir mobil di halaman. Saat mengetuk pintu kamar Salsa, tak ada jawaban.
"Kemana dia?"
Ingin tahu keberadaan gadis itu kuraih ponsel di dalam tas.
Belum sempat memanggilnya, sebuah pesan dari Salsa muncul di layar depan.
[Njel, sorry gue agak telat nih. Masih antri di kasir minimarket. Lo masuk aja ya. Pintu kagak gue kunci]
Sudah jelas apa katanya, mendorong pintu dan merangsek masuk, tapi baru saja masuk seseorang menutup pintu dan menguncinya.
Segera menoleh, mataku melebar seketika.
"Jordi?!"
Pria itu tersenyum masam.
"Hai, Sayang. Akhirnya ...."
"Ap-apa yang lo lakuin?!"
"Jangan takut, kita aman. Tidak seorang pun di kostan jam segini. Temanmu itu sangat baik, bisa mengalihkan perhatian semua orang."
Langkahku semakin mundur seiring Jordi mendekat. Apa sebenarnya tengah terjadi, aku tak mengerti. Mustahil Salsa sengaja melakukan semua ini. Dia tahu aku sangat membenci pria ini, jijik malah.
"Ayo, Sayang. Capek aku nungguin kamu merespon. Ini terpaksa kulakukan ...." Tangan kekar Jordi berusaha menyentuh.
"Aku tau kamu cuma pura-pura sama Reza, kamu hanya jual mahal aja ke aku 'kan. Pakaianmu, gerak tubuhmu mengisyaratkan kamu ingin aku menyentuhmu."
Langkahku terpaksa berhenti saat tubuhku menyentuh dinding ruangan berukuran 3x2 ini. Jordy semakin dekat, dengan cepat ia mengunci tubuhku ke dinding saat aku hendak berlari ke ruang sebelah.
"Jordy ... lepasin! Lo tau siapa bokap gue 'kan?"
Pria dengan pakaian tidak rapi itu menaikkan sebelah bibirnya.
"Yah, dan bokap lo udah buat keluarga gue menderita. Sepertinya selain gue naksir berat sama lo, sakit hati gue juga akan terbalas. Secara seorang pejabat tidak mungkin lah bawa kasus ini ke ranah hukum, apa dia mau mencoreng namanya sendiri?"
"Jordy, gue bisa kasih semua. Tapi jangan apa-apain gue." Meski rasa takut ini begitu besar, aku masih mencoba berpikir waras dan bernegosiasi dengannya.
Tidak mendengarkan ucapanku, pria itu menarik dress bagian bahu hingga terlihat lenganku dengan tali kecil. Matanya tidak berkedip.
Pria itu semakin mendekat hingga kurasa napasnya yang menjijikkan menyentuh kulit tangan, kepala kami hampir tak berjarak. Segera kugigit telinganya hingga berdarah.
"Argh!" Jordy mengerang sebentar, aku yang akan berlari ke arah pintu tertahan saat dengan cepat ia menarik tanganku dan membanting tubuhku ke lantai. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh, nyaris saja kepala terbentur meja.
"Wanita sialan!"
Jordy membabi buta, ia semakin beringas ingin merenggut mahkotaku. Tak ada yang bisa kulakukan selain berteriak sekeras-kerasny a.
"Arghhhh. Tolooooong!"
Namun, sepertinya memang tidak ada yang mendengar. Tubuh pria itu sudah menindihku dan ....
"Brakk!"
Seseorang mendobrak pintu, aku dan Jordy sama terkejut. Mataku melebar sempurna, Dosen yang dingin dan angkuh itu sudah berdiri di sana, dengan dua orang gadis berjilbab di belakangnya.
"Aq-Aqi-la." Suaraku gemetar dan serak.
Fathan menatap nyalang, tangannya mengepal tanpa babibu ia ayunkan pukulan bertubi-tubi pada Jordy.
"Dasarr mahasiswa mesum!"
Hatiku masih dipenuhi rasa takut, Aqila dan gadis lain mendekat, memeluk untuk menenangkanku. Dengan cepat mereka membawaku keluar, dan di dalam sana baku hantam masih terjadi.
BERSAMBUNG
(3)
#by_WafaHanin
(Mengandung scene dewasa dan kekerasan, bukan bacaan anak-anak)
_____
"Perempuan yang sudah tidak perawan, dia tidak lagi ada harganya."
Baju seksiku? Bukan tanda aku minta disetubuhi atau sejenisnya. Kenyataannya tidak semua wanita berpakaian seksi ia tidak lagi virgin.
Namun kali ini, tangan lelaki yang menarik pakaianku hingga menyembul bagian yang selama ini tertutupi, membuatku sadar ... pakaian seksi ini mengundang birahi.
Sekuat tenaga kutepis setiap sentuhannya hingga akhirnya aku ... menyerah, pasrah.
______
Rahel keluar dari arah toilet, tangannya sibuk mengeringkan bagian lehernya yang masih lembab. Kebiasaan itu anak, sudah sering kutegur, jangan basuh muka saat panas, itu bisa merusak kulitnya. Hiss, tapi emang dasar itu anak kurang peduli pada penampilan.
"Hel. Tasya mana?" tanyaku begitu ia mendekat.
"Ish, Angel. Plis deh, bisa gak panggilnya jangan Hel! Gue risih tau, emang gue 'neraka'! Ck." Rahel mendecak sebal.
Kunaikkan bibir sebelah. "Emang lo kek neraka 'kan, suka nyolot! Panasan pula."
"Ah, serah lo deh tuan putri. Noh, Tasya di dalam. Entah kenapa tuh anak, sembelit kali udah hampir setengah jam kagak keluar dari dalam WC."
Dahiku mengerut. Sejak kapan Tasya yang paling perhatian sama segala hal tentang bodynya sembelit?
"Udah, yah. Ini perut gak bisa diajak kompromi. Gue ke kantin dulu. Buruan susul! Tar gak ada yang bayarin lagi." Rahel berlalu pergi.
"Ya dah, sana! Jangan lupa lo ambil uang dulu pake ATM kemaren," ucapku setengah berteriak.
"Beres Boss!" Rahel menaikkan satu tangannya sambil terus berjalan membelakangiku.
"Hiss dasar. Manggil Boss, tapi kagak ada sopan-sopannya.
Sengaja kuminta ia menarik uang cash, karena hanya kartu kredit yang kubawa, ini gara-gara dosen kejam itu, uang cash milikku terkuras saat membayar di bengkel. Huft, untung saja di hari yang panasnya gila-gilaan kejadian tabrakannya tidak jauh dari bengkel, benar-benar kebetulan. Dan lagi, aku bisa puas memarahinya, meski dia juga sempat bikin aturan wajib berkerudung yang membuat mood lenyap. Berharap bisa membalasnya.
Memasuki toilet kampus yang ada tiga gadis tengah sibuk berdiri di depan kaca, aku langsung mengetuk salah satu ruangan yang tertutup. Pasti di dalam sana Tasya berada.
"Tass ...!"
Tak ada jawaban, harusnya dia langsung mengomel saat aku memanggilnya tas.
"Sya ...!"
"Hehem." Terdengar deheman dari dalam. Tasya kebiasaan dipanggil lelet nyahutnya.
"Lo sembelit, Sya?"
Tasya sepertinya sedang pilek, ada terdengar beberapa kali ia menghirup cairan dari hidungnya.
"Ng-nggak Njel. Eh, iya. Bentar ya."
Aneh sekali jawaban gadis itu.
Tidak lama ia membuka pintu toilet.
"Em, maaf ya."
"Ya, lama banget. Untung gue kagak sampe lumutan nungguinya. Loe sakit? Kenapa mukanya pucat gitu, sembab lagi matanya, habis nangis?"
"Ish, bawel lo ah. Buruan kita ke kantin sebelum matkul guru sok alim itu."
"Ya, ya." Kurangkul gadis itu ke kantin. Sebenarnya ada yang aneh dari gadis ini, tapi ah sudahlah. Dia tipe gadis yang strong dan judes, pasti bukan sesuatu yang berat tengah menimpanya.
Seiring berjalan, ponsel Tasya berbunyi. Saat ia membukanya, tidak sengaja netraku melihat sebuah foto kontak.
Mataku menyipit.
"Kok kaya Papah," gumamku, tapi Tasya sepertinya mendengar.
Cepat ia menyahut.
"Oh, ini. Bukan kok Njel. Lo ada-ada aja. Ngapain gue hubungi bokap lo? Kurang kerjaan ...." Tasya meringis. Seperti ada yang disembunyikan, tapi benar apa yang dia katakan, untuk apa papa menghubunginya?
"Ooh. Ya udah sih, terima aja. Kenapa ditolak?"
"Nggak, ah. Ini orang iseng aja ngejar-ngejar gue." Tasya menarik tanganku, kami berjalan melewati koridor bangunan.
"Cieh ada yang ngejar-ngejar. Makanya jangan kelamaan jomblonya."
"Lo sendiri?"
"Gue kan sekarang masih berstatus pacarnya Reza. Yah, walaupun cuma status." Aku tersenyum miris.
"Ck. Sialan tu anak emang. Udah morotin, selingkuh pula. Pengen gue kebiri aja." Tasya terlihat geram.
"Hehe. Bisa aja lo."
"Tapi ... lo belum pernah begituan sama dia kan?"
Gadis di sampingku ini bertanya dengan nada khawatir.
"Yaelah, gak mungkin lah gue begituan. Ck. Seborok-borokny
"Lo kenapa lagi?"
"Oh, nggak. Apa sih?"
"Ck. Lo tuh aneh banget tau gak! Oya, lo bawa baju ninja?"
"Hemh? Ninja?"
"Itu loh, Dosen Matkul Islam kan minta kita pakai baju ninja pas belajar."
"Heh. Lo bisa aja. Gak harus ninja kali, cukup kek Aqila noh, yang penting lebar dan nyapu lantai." Gadis itu tersenyum, hingga lesung pipitnya nampak kentara. Dia memang sosok manis, judes juga sepertiku, tapi sangat misterius. Banyak hal yang ia sembunyikan, karena itu privasi aku malas membahasnya.
"Ada yang manggil aku?"
Tiba-tiba saja gadis yang Tasya maksud ada di hadapan kami.
"Kenapa lo? Tersindir?" Tasya memperlihatkan tabiat aslinya saat marah pada Aqila.
Ah, kami memang sedang sensi-sensinya dengan makhluk sejenis Aqila di kampus ini.
"Tidak masalah jika kalian hina aku, tapi tidak jilbabku. Ini adalah perintah syariat, yang harusnya bukan cuma aku tapi kalian pun taat, kerudung ini mahkota bagi wanita. Lambang kehormatan yang melindungi dalam Islam." Gadis berkerudung itu mulai emosi, tangannya memegangi pakaiannya. Seolah pamer pada kami.
"Terus ... maksudnya lo lebih terhormat gitu daripada kami setelah pakai baju itu?" Aku tidak tahan untuk tidak bicara dan berusaha menjatuhkannya.
"Eh, cupu. Kagak usah ceramah lo. Gara-gara makhluk kayak lo, dunia ini berasa sempit. Kalau mau kekeh pakai baju beginian kenapa lo gak bikin negara sendiri aja sono! Bikin aturan sendiri!" ucap Tasya tak kalah pedas.
"Ada apa Njel?" tanya Salsa begitu sampai di hadapan kami.
Aqila menatap nyalang pada Salsa, Karin dan Mia.
"Lo kenapa, gadis pembersih lantai?" tanya Salsa yang tak suka pada caranya melihat pada teman-temanku. Kami menjulukinya gadis penyapu lantai, lantaran pakaian yang ia kenakan sampai menutup kakinya. Saat berjalan sering kali hanya terlihat ujung sepatu, ia terlihat teguh menjaga penampilan itu meski kami sering membully.
"Ini, Sa. Gue bilang gegara penampilan dia nih yang kaya emak-emak, kita-kita disuruh ikut-ikutan. Norak banget 'kan. Nah, maksud gue dia berpenampilan biasa aja gitu, trus inisiatif dia bilang ke Pak Fathan gitu kalo penampilan tuh gak penting, yang penting hati, jadi gak usahlah maksa mahasiswinya pakai baju kunti begini. Ribet tau gak?!" Seperti biasa aku jadi nyolot saat kegemaranku terusik, lagian Aqila juga sih, sok jadi beda.
"Astagfirullah ...." Gadis dengan pakaian surga itu mengucap pelan. Seolah sangat miris. Hehh. Padahal kami lah yang miris melihatnya, terkungkung oleh pemahaman, teroris dan radikal.
"Oh, jadi lo lagi biang keroknya. Ck. Istigfar segala. Sok suci. Kayak yang lain najis aja lo," ucap Salsa dengan nada kesal, hal yang biasa terjadi saat berhadapan dengan gadis-gadis model Aqila cs.
Baru saja akan membuat perhitungan dengan gadis itu dan menarik kerudung lebarnya, seseorang berteriak.
"Ada apa ini?"
Suara bariton itu seketika menghentikan aksiku dan teman-teman pada anak cupu di hadapan kami.
Mungkin lelaki itu pikir aku takut, melangkah mendekat.
"Anda mau ikut arisan perempuan?"
Aku diacuhkan, sialan! Ia terus berjalan menuju gadis berkerudung biru. Dengan tatapan minta jawaban padanya.
"Saya hanya menegur Angeline untuk tak menjelek-jeleka
Aqila berani rupanya. Suaranya tenang dan tak ada getaran di tubuhnya. Hebat juga.
"Maksudnya?"
Dosen itu bertanya.
"Hai! Pengadu hebat, ya, lo! Hellow, gue ngejelekin apa? Pak dosen apa saya salah tak mau berhijab karena gerah dan gak modis?"
Dosen itu bergeming, ia sepertinya tengah berusaha mencerna apa yang aku ucapkan.
"Jika tak mau berhijab itu urusan kalian, Saya tak kan mengusik, tapi kalau benar ada unsur menghina pakaian muslimah saya tidak akan tinggal diam."
Pria itu bicara seolah menekan amarah dalam dada.
Damn! Gue salah kira.
Ah, tentu saja dia dosen agama, maka bicaranya selalu agama.
Aku memilih diam, meski masih berdiri tak gentar. Ucapannya membuat teman-temanku mulai salah tingkah.
"Mahasiswa itu kaum intelektual. Saya rasa tak pantas menyelesaikan masalah seperti ini. Sebaiknya bubar!"
Kali ini suaranya sedikit meninggi.
Dia hanya belum tahu saja, siapa kami ini, terutama aku. Anak-anak konglomerat yang bisa melakukan apapun di universitas ini.
Heran saja, kenapa ada dosen semenyebalkan itu di sini? Apa perlu aku minta papa mengurusnya. Sikapnya sangat menggangu kami.
Tasya menarik tanganku yang masih menyilang di dada. Tak ingin buang waktu
aku pun pergi mengikuti keinginannya. Disusul Mia, Karin dan Salsa.
Begitupun gadis penyapu lantai yang suci itu.
Di kantin dengan malas kuletakkan bokongku di kursi.
"Ada apa, sih? Lama banget, sampe gue udah habis tiga mangkok bakso!" Rahel bicara sambil mengunyah. Anak itu memang doyan makan, untunglah tubuhnya gak pernah melar, hingga bisa tetap eksis bareng genk kami.
"Udah, ah. Gue males bahasnya. Jordi, Reza dan Aqila ... ditambah lagi Fathan. Huft, kenapa gue harus bertemu dengan manusia-manusia
Teman-teman diam, mereka tahu saat aku tidak mood bicara, maka mereka harus menahan untuk bicara.
Moodku benar-benar buruk sekarang, Jordi tidak henti-hentinya menerorku dengan berbagai cara agar cintanya diterima, padahal sudah kukelabui dengan jadian sama Reza, tapi dia tidak percaya. Lalu Aqila ... yang selalu saja sok suci dan tidak bisa diganggu idealisnya terhadap agama, sekarang ditambah lagi malaikat penolongnya sekaligus neraka buatku, dosen matkul Islam yang baru saja masuk ke universitas ini.
***
"Oya, Njel. Bisa gak pulang nanti lo ke kosan gue?"
Salsa bicara sambil memainkan sedotan di gelasnya.
"Kenapa emang?"
"Ada sesuatu yang harus lo lihat."
Salsa terlihat serius.
"Penting banget?" tanyaku. "Soalnya gue kudu kelarin juga urusan gue sama Reza." Melihat pada arloji, tidak lama lagi waktu yang kujanjikan pada playboy itu.
"Penting, penting, penting banget." Salsa menekan.
"Oke, deh. Lo tunggu aja, sepulang dari kafe gue langsung ke sana." Sebagai orang yang paling didengarkan di genk ini, aku harus menunjukkan sikap menghargai sesama teman. Ah gue gitu loh, udah royal juga paling pengertian. Selama ini aku nyaman ada ditengah mereka, itu kenapa kami saling suport.
***
Sepanjang perjalanan ke kostan Salsa, hati ini rasanya sangat puas. Bisa ngerjain dosen tak tahu diri itu dengan membuat istrinya cemburu. Besok-besok lagi, akan ada rencana lain membuatnya takhluk dan tak berkutik seperti dosen lain. Hemh. Angeline dilawan.
Sampai di kost-kostan, segera memarkir mobil di halaman. Saat mengetuk pintu kamar Salsa, tak ada jawaban.
"Kemana dia?"
Ingin tahu keberadaan gadis itu kuraih ponsel di dalam tas.
Belum sempat memanggilnya, sebuah pesan dari Salsa muncul di layar depan.
[Njel, sorry gue agak telat nih. Masih antri di kasir minimarket. Lo masuk aja ya. Pintu kagak gue kunci]
Sudah jelas apa katanya, mendorong pintu dan merangsek masuk, tapi baru saja masuk seseorang menutup pintu dan menguncinya.
Segera menoleh, mataku melebar seketika.
"Jordi?!"
Pria itu tersenyum masam.
"Hai, Sayang. Akhirnya ...."
"Ap-apa yang lo lakuin?!"
"Jangan takut, kita aman. Tidak seorang pun di kostan jam segini. Temanmu itu sangat baik, bisa mengalihkan perhatian semua orang."
Langkahku semakin mundur seiring Jordi mendekat. Apa sebenarnya tengah terjadi, aku tak mengerti. Mustahil Salsa sengaja melakukan semua ini. Dia tahu aku sangat membenci pria ini, jijik malah.
"Ayo, Sayang. Capek aku nungguin kamu merespon. Ini terpaksa kulakukan ...." Tangan kekar Jordi berusaha menyentuh.
"Aku tau kamu cuma pura-pura sama Reza, kamu hanya jual mahal aja ke aku 'kan. Pakaianmu, gerak tubuhmu mengisyaratkan kamu ingin aku menyentuhmu."
Langkahku terpaksa berhenti saat tubuhku menyentuh dinding ruangan berukuran 3x2 ini. Jordy semakin dekat, dengan cepat ia mengunci tubuhku ke dinding saat aku hendak berlari ke ruang sebelah.
"Jordy ... lepasin! Lo tau siapa bokap gue 'kan?"
Pria dengan pakaian tidak rapi itu menaikkan sebelah bibirnya.
"Yah, dan bokap lo udah buat keluarga gue menderita. Sepertinya selain gue naksir berat sama lo, sakit hati gue juga akan terbalas. Secara seorang pejabat tidak mungkin lah bawa kasus ini ke ranah hukum, apa dia mau mencoreng namanya sendiri?"
"Jordy, gue bisa kasih semua. Tapi jangan apa-apain gue." Meski rasa takut ini begitu besar, aku masih mencoba berpikir waras dan bernegosiasi dengannya.
Tidak mendengarkan ucapanku, pria itu menarik dress bagian bahu hingga terlihat lenganku dengan tali kecil. Matanya tidak berkedip.
Pria itu semakin mendekat hingga kurasa napasnya yang menjijikkan menyentuh kulit tangan, kepala kami hampir tak berjarak. Segera kugigit telinganya hingga berdarah.
"Argh!" Jordy mengerang sebentar, aku yang akan berlari ke arah pintu tertahan saat dengan cepat ia menarik tanganku dan membanting tubuhku ke lantai. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh, nyaris saja kepala terbentur meja.
"Wanita sialan!"
Jordy membabi buta, ia semakin beringas ingin merenggut mahkotaku. Tak ada yang bisa kulakukan selain berteriak sekeras-kerasny
"Arghhhh. Tolooooong!"
Namun, sepertinya memang tidak ada yang mendengar. Tubuh pria itu sudah menindihku dan ....
"Brakk!"
Seseorang mendobrak pintu, aku dan Jordy sama terkejut. Mataku melebar sempurna, Dosen yang dingin dan angkuh itu sudah berdiri di sana, dengan dua orang gadis berjilbab di belakangnya.
"Aq-Aqi-la." Suaraku gemetar dan serak.
Fathan menatap nyalang, tangannya mengepal tanpa babibu ia ayunkan pukulan bertubi-tubi pada Jordy.
"Dasarr mahasiswa mesum!"
Hatiku masih dipenuhi rasa takut, Aqila dan gadis lain mendekat, memeluk untuk menenangkanku. Dengan cepat mereka membawaku keluar, dan di dalam sana baku hantam masih terjadi.
BERSAMBUNG
-----
#AHLAN_WA_SAHLA N_ANGELINE 4
#HANIN_WAFA
#FATHAN
"Dik Fatiyaa, tungguu!"
Hanya butuh semenit untuk sampai di parkiran. Kuraih tangan Fatiya yang akan membuka pintu mobil silvernya.
"Jangan salah paham. Dengerin dulu."
Wanita berperut besar itu mencoba mengatur napas yang tersengal. Wajahnya sudah kemerahan akibat lelah juga sengatan cahaya raja siang.
"Dia itu mahasisiwi yang emang gak suka padaku. Nyari-nyari masalah aja. Mana mungkin Mas bergaul bebas begitu. Percaya, 'kan?"
Fatiya mengangkat dua sudut bibirnya. Bola mata coklat itu mengerjap-ngerj ap.
"Aku gak percaya sama cewek itu, Mas."
"Lah, terus kenapa lari?"
Adik bungsuku itu tertawa kecil.
"Biar dia gak gangguin Mas lagi."
Benar-benar aku tak menyangka akan rencana kilat Fatiya. Hmm, dia lebih hebat dari Angeline ternyata. Tak dapat kutahan tawa, menertawakan kepanikan diri.
"Mas aku pergi, ya. Tuh, barbienya keluar. Cepetan ajak hijrah biar Abi seneng dapet mantu baru. Hihihi!"
"Faa ...."
Ucapanku menggantung di udara. Fatiya buru-buru masuk dan menghidupkan mesin. Ingin kucubit hidungnya bercanda keterlaluan begitu.
Angeline hijrah? Hmmm, anak itu, di ruang kuliah saja risih dengan kerudung mininya apalagi pakai gamis lebar. Aku geleng-geleng kepala sambil mengulum senyum.
Antara penasaran dan entah apa namanya aku mengarahkan pandangan pada pintu kafe. Mencari gadis yang serupa barbie itu.
Tak ada. Sudah pergi rupanya. Ah, apa pula kau ini Fathan? Masa nyari dia?
"Cari saya, Pak?"
"Astagfirullah! "
Untung saja jantung ini tak dibuat dari plastik jadi tak copot saat suara Angeline menyapu telinga.
"Kangen?"
"Kamu mau bikin saya mati!"
"Emang!"
Sambil tertawa kecil, gadis itu melangkah menuju lamborghini merahnya. Sebelum membuka pintu, kepalanya ditolehkan padaku, tersenyum mengejek, lalu mengedipkan sebelah mata.
Untuk kali kesekian aku beristigfar. Entahlah mengapa tak ada kekesalan melihat tingkahnya. Meski sering dia membuat ulah.
Sesaat, aku merasa ada yang berdesir di dalam sana, di dalam dadaku.
Seandainya dia mau hijrah, seandainya ....
***
"Pak, kami ada pertemuan di kosan Benteng Tengah. Kami harap Anda bisa hadir untuk tukar pandangan terkait dakwah di kampus pukul dua. Apa jadwal Anda kosong?"
Radit, ketua umum LDK Al Muhajirin menyampaikan undangan acara tak formal via WA. Bincang santai dengan beberapa aktivis dakwah yang tak ada jadwal kuliah.
"Kosong. Insya Allah saya hadir."
Motor matic ini segera kulajukan ke sebelah barat daya kampus. Melewati beberapa rumah makan di kitaran universitas. Satu kilo meter kira-kira jarak dari gerbang ke kosan ikhwan itu.
Suasana kos-kosan tidak ramai sebab memang masih jam kuliah saat ini. Bangunannya memberi kesan berkelas. Wajarlah universitas ini dihuni mayoritas anak-anak kalangan atas. Pejabat, pengusaha juga artis-artis ibu kota.
Di dua pertiga perjalanan, motor terpaksa kuhentikan sebab ada dua mahasiswi bergamis lebar terlihat berlari keluar gerbang salah satu rumah besar. Panik sepertinya. Entah apa, jadi penasaran.
"Alhamdulillah, Pak, tolong, tolong!"
Segera kumatikan mesin dan turun dari tunggangan hitam.
"Ada apa? Tolong apa?"
"Di dalam ada keributan dan teriakan minta tolong terus-terusan, tapi pintunya gak bisa dibuka!"
Dengan suara terputus-putus, Aqila menyampaikan informasi yang membuat jantungku menghentak.
Tanpa kata lagi, kami masuk ke gerbang besi yang masih berkilat kondisinya.
Karena suara di dalam makin gaduh dan teriakan perempuan tak berhenti, kukerahkan seluruh tenaga untuk mendobrak paksa pintu.
Pada terjangan ketiga, pintu yang tak terlalu tebal itu terbuka.
Angeline!
Mulut ini tak sanggup mengucap nama gadis yang pakaiannya sudah sobek di sana-sini. Pemuda jalang yang akan menghancurkan kehormatan wanita itu mencoba bangkit dari tubuh Angeline.
Aqila dan temannya menghambur pada Angeline dam memapahnya keluar kamar. Masih sempat kudengar ada tangisan dari gadis yang sedang rapuh itu.
Mendapati kondisi durjana ini, sesuatu dalam dadaku meledak. Gelegaknya membuncah saat satu seringai mengejek tercipta di wajah blasteran itu.
Sebelum pemuda itu tegak sempurna satu pukulan mendarat di dadanya. Tak mau buang waktu, kuayunkan kaki kanan tepat ke pelipisnya.
Hhh, tak kena!
Hebat! Dia cepat sekali mengelit. . Sekarang posisi kami berhadapan dalam kondisi seimbang.
"Jangan salahkan jika saya tak sopan, Pak!" tantangnya dengan nada kesombongan.
Pemuda ikal itu langsung melayangkan pukulan ke wajahku. Sedetik saja terlambat habislah hidung ini. Namun, aku terkena tipuannya, hingga satu jotosan dari tangan kiri mendarat di perut. Keras!
Bugh!
"Argh!"
Hantamannya mampu membuatku terjengkang. Memanfaatkan tubuh lawan yang terhuyung, kakinya dihantamkan pada pelipisku hingga keseimbangan makin hilang.
"Astagfirullah! "
Tersadar bahwa posisiku tak bagus, kuluncurkan tubuh ke lantai untuk mengelabui. Saat dia mendekat, dengan kekuatan penuh kakinya kutangkis, seklilat bangkit dan mendaratkan tendangan berputar pada punggung yang hampir menyentuh lantai. Ambruk!
Untuk memastikan lawan tak mampu lagi merangsek, kuhantamkan sikut pada leher belakang dan mengibaskan telapak yang terentang pada kepalanya berulang-ulang hingga lawan pingsan.
Kutinggalkan tubuh yang sudah tak berkutik itu. Bagaimanapun aku akan meneruskan kasus pelecehan ini ke tingkat rektorat. Orang yang jelas bersalah harus mendapat hukuman tak pedui siapa keluarganya. Hukum tak boleh tajam ke bawah, tumpul ke atas sebab hukum bukan alat pelanggeng kekuasaan segelintir orang.
Meski aku pun pesimis kasus ini akan diusut jika pemuda brengsek itu anak pejabat atau pengusaha kelas berat. Pengurus kampus kemungkinan akan mengubur hal itu jika mendapat sogokan atau ancaman dari tuan yang telah berjasa pada mereka.
"Anda tidak apa-apa. Pak?"
Dua mahasiswa menerobos masuk sebelum sempat melangkah ke gerbang pintu. Sementara di luar sana, sudah berkerumun beberapa orang yang penasaran akan keributan di sini.
"Aku tak apa. Urus dan laporkan saja dia."
Dengan isyarat tangan, kuarahkan kedua pemuda itu pada tubuh yang terkulai. Sementara pandangan ini langsung mencari sosok yang menjadi inti permasalahan.
Angeline sudah mereda tangisnya. Tatap angkuh itu berganti raut ketakutan. Trauma mungkin. Sesaat ada kasihan menyelusup di ruang hati, juga rasa aneh yang entahlah aku takut mendefinisikann ya.
"Sebaiknya bawa Angeline ke kosan kalian. Setelah tenang baru antar pulang."
"Iya, Pak!"
Kompak, kedua gadis itu menyambut perintahku. Sementara Angel tetap tak mau menatapku.
"Terima kasih."
Gerakan kakiku terhenti mendengar ucapan lirih dari gadis yang biasanya tak bosan mengejek.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja."
Tak tahan juga untuk tak menoleh. Kata-kata yang kuluncurkan lebih untuk mengalirkan kekuatan pada jiwa yang merapuh. Tak ingin lebih lama terbawa perasaan membingungkan, kuluncurkan motor menuju kosan ikhwan.
***
"Mengapa kita harus percaya pada apa yang tak bisa diraba, dilihat, didengar zatnya," tanya satu mahasiswa yang rambutnya gondrong. Mungkin dia muslim yang terbawa arus atheis dari sayap kiri pergerakan kampus.
Dari mahasiswa aktivis dakwah aku mendapat banyak informasi terkait seluk-beluk kampus ini. Termasuk gerakan kiri yang mengusung slogan 'Kematian Tuhan'.
"Secara logika, tak semua yang tak terlihat itu tak ada."
Aku mengeluarkan ponsel yang sepertinya jauh kualitas dan harganya dari milik mereka.
"Apa kalian akan berkata tak ada Pencipta benda ini? Tentu tidak, bukan? Keberadaan benda ini menunjukkan secara pasti ada pencipta HP."
Kuangkat benda pipih hitam ini lebih tinggi dari kepala. Sementara pandangan menyapu mimik-mimik yang tak semua memperhatikan.T erbayang,
satu ruangan diisi seratus dua puluh orang, wajar jika tak terkontrol
tingkat penerimaan materi pada semua peserta kuliah.
"Handphone yang sederhana saja, untuk ada di dunia memerlukan pembuat apalagi alam raya yang sangat ajaib ini?"
Hening. Saat suaraku meninggi.
Hanya derap pantopelku yang menyapu ruangan.
"Apa mungkin matahari dan planet tersusun rapi sendirinya? Apa bisa gunung-gunung tertancap begitu saja. Apa kebetulan samudera sedalam itu? Jawabannya tak mungkin seperti tak mungkinnya bangku-bangku di ruangan ini rapi tanpa ada yang merapikan."
Aku memutar badan menuju laptop yang telah tersambung dengan LCD. Kuputar beberapa tayangan tentang keajaiban yang ada di alam untuk membawa mereka lebih paham bahwa keberadaan Allah bisa ditemukan lewat ciptaannya.
Lepas memberi kuliah, aku harus pergi ke ruang rektorat. Sepertinya ini terkait kasus Angeline. Dengan bertawakal pada Allah, kususuri bangunan tiga fakultas agar bisa sampai ke tempat itu.
Dan, Hai Gadis yang telah melepas kerudung mininya menyejajari langkah. Apa mungkin dia akan ke sana juga?
Aku mempercepat langkah agar jarak di antara kami lebih lebar. Tentu saja itu berhasil, dengan heels sekitar lima belas centi tak mungkin dia bisa mengejarku.
Di universitas ini hampir tak bisa dibedakan mana artis mana bukan. Hal biasa melihat dandanan ala selebritis dengan fashion yang harganya lebih mahal dari motorku.
Trak!
"Aduh!"
"Kenapa?"
Mendengar lenguhan Angeline di belakang, naluri melindungi muncul seketika. Kuhampiri untuk memastikan keadaannya baik-baik saja.
"Bapak khawatir sama saya?"
Tawa kecil terurai, lalu dia melangkah meninggalkanku yang tengah jengkel.
Dasar Angel!
Kuhela udara demi menyaksikan lekukan tubuh yang bergoyang-goyan g dua meter dari jarakku berdiri.
Kaos merah dan jeans ketat itu sukses mengeksplor apa yang seharusnya haram dipertontonkan.
Astagfirullah!
Cepat-cepat godaan setan di area mata kutepis. Kadang bingung, mau menjaga pandangan bagaimana. Kanan kiri atas bawah aurat semua.
Wahai kaum hawa! Tutuplah auratmu.
"Pak! Pak rektorat udah nungguin, loh!"
"Oh, eh. Iya. Ayo!"
Gelagapan di panggil saat pikiran terbang jauh.
"Pak, maaf, ya waktu di kafe. Bapak jadi bertengkar sama istrinya."
Refleks aku tertawa kecil. Saat sadar, gadis itu tengah menatapku dalam.
"Tenang saja. Dia itu adikku, bukan istri. Saya belum punya istri."
Kali ini wajah di depanku memerah entah kenapa. Malu mungkin. Salah tingkah juga sepertinya.
"Sudah, sana duluan!"
Untuk menutupi perasaan tak karuan, kuarahkan tangan ke depan agar gadis itu duluan. Tanpa pembantahan, dia membalikkan badan.
Tapi, baru dua langkah, menoleh kembali dan berkata, "Bapak manis kalau tertawa."
Dikedipkan sebelah matanya.
"Astagfirullah, Angel," desisku sambil mengusap dada.
Tawa itu berderai kembali.
Untuk meredakan desakan gejolak kubiarkan gadis itu pergi hingga menghilang di balik bangunan. Barulah melangkah pelan-pelan.
Lepas sepuluh menit, sampai di. Ruang rektorat yang terpisah dari bangunan lainnya. Gedung ini berdesign mewah dengan ornamen modern melingkupi.
Sudah duduk di ruang itu Angeline dan tiga orang pria. Salah satunya Bapak Ariansyah, rektor universitas Nusadarma. Di sebelah kiri Angeline ada dua pria berjas perlente.
Aku duduk di sisi kanan Angeline. Setelah basa-basi pembicaraan pun masuk pada intinya
"Kita selesaikan ini secara kekeluargaan. Kami harap saudari Angeline dan Bapak Fathan bisa kooperatif terhadap perdamaian ini. Kami akan mengganti rugi atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan Jordi."
Mata gadis di sampingku membesar, tangannya mengepal, tak beda jauh dengan kondisiku saat ini. Seperti ada ledakan serupa bom hirosima di rongga kiriku.
"Maksud Anda saya tak boleh mempidanakan si brengsek itu! Kalian tak tahu rupanya, siapa ayah saya?" tukas Angeline dengan nada tinggi.
"Karena kami tahu siapa ayah saudari, kami memawarkan solusi terbaik. Untuk menjaga nama baik keluarga masing-masing."
Rasanya amarah ini terlalu membuncah. Tanganku mengepal, jari-jarinya berderak. Aku rak rela kehormatan perempuan diinjak begitu rupa.
"Sepertinya itu lebih untuk menyelamatkan nama keluarga mahasiswa mesum itu. Saya rasa ini keterlaluan. Kalau saya datang terlambat, mungkin saudari Angeline sudah dirusak oleh Jordi."
Percuma menekan suara. Emosi ini sudah tak terkendali ternyata.
"Terserah, hanya kami bisa menghadirkan saksi bahwa mereka itu suka sama suka. Dan, publik pasti percaya mengingat citra saudari Angeline di universitas ini."
Kalau saja aku tak menepis tangan Angeline, dipastikan dia akan menggebrak meja.
"Kami juga bisa menggugat Bapak Fathan atas penganiayaan yang terjadi pada Jordi!"
Aku dan Ageline saling pandang, lalu menatap rektor yang sedari tadi bungkam.
"Memang sebaiknya kita kompromi. Nama baik sama-sama terjaga, termasuk universitas ini."
Dan, emosiku naik ke level tertinggi. Pemimpin yang seharusnya membela kebenaran, malah berpihak pada kejahatan.
Dasar pemimpin zalim!
NEXT
Angeline/ Wafa Farha
***
-----
#HANIN_WAFA
#FATHAN
"Dik Fatiyaa, tungguu!"
Hanya butuh semenit untuk sampai di parkiran. Kuraih tangan Fatiya yang akan membuka pintu mobil silvernya.
"Jangan salah paham. Dengerin dulu."
Wanita berperut besar itu mencoba mengatur napas yang tersengal. Wajahnya sudah kemerahan akibat lelah juga sengatan cahaya raja siang.
"Dia itu mahasisiwi yang emang gak suka padaku. Nyari-nyari masalah aja. Mana mungkin Mas bergaul bebas begitu. Percaya, 'kan?"
Fatiya mengangkat dua sudut bibirnya. Bola mata coklat itu mengerjap-ngerj
"Aku gak percaya sama cewek itu, Mas."
"Lah, terus kenapa lari?"
Adik bungsuku itu tertawa kecil.
"Biar dia gak gangguin Mas lagi."
Benar-benar aku tak menyangka akan rencana kilat Fatiya. Hmm, dia lebih hebat dari Angeline ternyata. Tak dapat kutahan tawa, menertawakan kepanikan diri.
"Mas aku pergi, ya. Tuh, barbienya keluar. Cepetan ajak hijrah biar Abi seneng dapet mantu baru. Hihihi!"
"Faa ...."
Ucapanku menggantung di udara. Fatiya buru-buru masuk dan menghidupkan mesin. Ingin kucubit hidungnya bercanda keterlaluan begitu.
Angeline hijrah? Hmmm, anak itu, di ruang kuliah saja risih dengan kerudung mininya apalagi pakai gamis lebar. Aku geleng-geleng kepala sambil mengulum senyum.
Antara penasaran dan entah apa namanya aku mengarahkan pandangan pada pintu kafe. Mencari gadis yang serupa barbie itu.
Tak ada. Sudah pergi rupanya. Ah, apa pula kau ini Fathan? Masa nyari dia?
"Cari saya, Pak?"
"Astagfirullah!
Untung saja jantung ini tak dibuat dari plastik jadi tak copot saat suara Angeline menyapu telinga.
"Kangen?"
"Kamu mau bikin saya mati!"
"Emang!"
Sambil tertawa kecil, gadis itu melangkah menuju lamborghini merahnya. Sebelum membuka pintu, kepalanya ditolehkan padaku, tersenyum mengejek, lalu mengedipkan sebelah mata.
Untuk kali kesekian aku beristigfar. Entahlah mengapa tak ada kekesalan melihat tingkahnya. Meski sering dia membuat ulah.
Sesaat, aku merasa ada yang berdesir di dalam sana, di dalam dadaku.
Seandainya dia mau hijrah, seandainya ....
***
"Pak, kami ada pertemuan di kosan Benteng Tengah. Kami harap Anda bisa hadir untuk tukar pandangan terkait dakwah di kampus pukul dua. Apa jadwal Anda kosong?"
Radit, ketua umum LDK Al Muhajirin menyampaikan undangan acara tak formal via WA. Bincang santai dengan beberapa aktivis dakwah yang tak ada jadwal kuliah.
"Kosong. Insya Allah saya hadir."
Motor matic ini segera kulajukan ke sebelah barat daya kampus. Melewati beberapa rumah makan di kitaran universitas. Satu kilo meter kira-kira jarak dari gerbang ke kosan ikhwan itu.
Suasana kos-kosan tidak ramai sebab memang masih jam kuliah saat ini. Bangunannya memberi kesan berkelas. Wajarlah universitas ini dihuni mayoritas anak-anak kalangan atas. Pejabat, pengusaha juga artis-artis ibu kota.
Di dua pertiga perjalanan, motor terpaksa kuhentikan sebab ada dua mahasiswi bergamis lebar terlihat berlari keluar gerbang salah satu rumah besar. Panik sepertinya. Entah apa, jadi penasaran.
"Alhamdulillah,
Segera kumatikan mesin dan turun dari tunggangan hitam.
"Ada apa? Tolong apa?"
"Di dalam ada keributan dan teriakan minta tolong terus-terusan, tapi pintunya gak bisa dibuka!"
Dengan suara terputus-putus,
Tanpa kata lagi, kami masuk ke gerbang besi yang masih berkilat kondisinya.
Karena suara di dalam makin gaduh dan teriakan perempuan tak berhenti, kukerahkan seluruh tenaga untuk mendobrak paksa pintu.
Pada terjangan ketiga, pintu yang tak terlalu tebal itu terbuka.
Angeline!
Mulut ini tak sanggup mengucap nama gadis yang pakaiannya sudah sobek di sana-sini. Pemuda jalang yang akan menghancurkan kehormatan wanita itu mencoba bangkit dari tubuh Angeline.
Aqila dan temannya menghambur pada Angeline dam memapahnya keluar kamar. Masih sempat kudengar ada tangisan dari gadis yang sedang rapuh itu.
Mendapati kondisi durjana ini, sesuatu dalam dadaku meledak. Gelegaknya membuncah saat satu seringai mengejek tercipta di wajah blasteran itu.
Sebelum pemuda itu tegak sempurna satu pukulan mendarat di dadanya. Tak mau buang waktu, kuayunkan kaki kanan tepat ke pelipisnya.
Hhh, tak kena!
Hebat! Dia cepat sekali mengelit. . Sekarang posisi kami berhadapan dalam kondisi seimbang.
"Jangan salahkan jika saya tak sopan, Pak!" tantangnya dengan nada kesombongan.
Pemuda ikal itu langsung melayangkan pukulan ke wajahku. Sedetik saja terlambat habislah hidung ini. Namun, aku terkena tipuannya, hingga satu jotosan dari tangan kiri mendarat di perut. Keras!
Bugh!
"Argh!"
Hantamannya mampu membuatku terjengkang. Memanfaatkan tubuh lawan yang terhuyung, kakinya dihantamkan pada pelipisku hingga keseimbangan makin hilang.
"Astagfirullah!
Tersadar bahwa posisiku tak bagus, kuluncurkan tubuh ke lantai untuk mengelabui. Saat dia mendekat, dengan kekuatan penuh kakinya kutangkis, seklilat bangkit dan mendaratkan tendangan berputar pada punggung yang hampir menyentuh lantai. Ambruk!
Untuk memastikan lawan tak mampu lagi merangsek, kuhantamkan sikut pada leher belakang dan mengibaskan telapak yang terentang pada kepalanya berulang-ulang hingga lawan pingsan.
Kutinggalkan tubuh yang sudah tak berkutik itu. Bagaimanapun aku akan meneruskan kasus pelecehan ini ke tingkat rektorat. Orang yang jelas bersalah harus mendapat hukuman tak pedui siapa keluarganya. Hukum tak boleh tajam ke bawah, tumpul ke atas sebab hukum bukan alat pelanggeng kekuasaan segelintir orang.
Meski aku pun pesimis kasus ini akan diusut jika pemuda brengsek itu anak pejabat atau pengusaha kelas berat. Pengurus kampus kemungkinan akan mengubur hal itu jika mendapat sogokan atau ancaman dari tuan yang telah berjasa pada mereka.
"Anda tidak apa-apa. Pak?"
Dua mahasiswa menerobos masuk sebelum sempat melangkah ke gerbang pintu. Sementara di luar sana, sudah berkerumun beberapa orang yang penasaran akan keributan di sini.
"Aku tak apa. Urus dan laporkan saja dia."
Dengan isyarat tangan, kuarahkan kedua pemuda itu pada tubuh yang terkulai. Sementara pandangan ini langsung mencari sosok yang menjadi inti permasalahan.
Angeline sudah mereda tangisnya. Tatap angkuh itu berganti raut ketakutan. Trauma mungkin. Sesaat ada kasihan menyelusup di ruang hati, juga rasa aneh yang entahlah aku takut mendefinisikann
"Sebaiknya bawa Angeline ke kosan kalian. Setelah tenang baru antar pulang."
"Iya, Pak!"
Kompak, kedua gadis itu menyambut perintahku. Sementara Angel tetap tak mau menatapku.
"Terima kasih."
Gerakan kakiku terhenti mendengar ucapan lirih dari gadis yang biasanya tak bosan mengejek.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja."
Tak tahan juga untuk tak menoleh. Kata-kata yang kuluncurkan lebih untuk mengalirkan kekuatan pada jiwa yang merapuh. Tak ingin lebih lama terbawa perasaan membingungkan, kuluncurkan motor menuju kosan ikhwan.
***
"Mengapa kita harus percaya pada apa yang tak bisa diraba, dilihat, didengar zatnya," tanya satu mahasiswa yang rambutnya gondrong. Mungkin dia muslim yang terbawa arus atheis dari sayap kiri pergerakan kampus.
Dari mahasiswa aktivis dakwah aku mendapat banyak informasi terkait seluk-beluk kampus ini. Termasuk gerakan kiri yang mengusung slogan 'Kematian Tuhan'.
"Secara logika, tak semua yang tak terlihat itu tak ada."
Aku mengeluarkan ponsel yang sepertinya jauh kualitas dan harganya dari milik mereka.
"Apa kalian akan berkata tak ada Pencipta benda ini? Tentu tidak, bukan? Keberadaan benda ini menunjukkan secara pasti ada pencipta HP."
Kuangkat benda pipih hitam ini lebih tinggi dari kepala. Sementara pandangan menyapu mimik-mimik yang tak semua memperhatikan.T
"Handphone yang sederhana saja, untuk ada di dunia memerlukan pembuat apalagi alam raya yang sangat ajaib ini?"
Hening. Saat suaraku meninggi.
Hanya derap pantopelku yang menyapu ruangan.
"Apa mungkin matahari dan planet tersusun rapi sendirinya? Apa bisa gunung-gunung tertancap begitu saja. Apa kebetulan samudera sedalam itu? Jawabannya tak mungkin seperti tak mungkinnya bangku-bangku di ruangan ini rapi tanpa ada yang merapikan."
Aku memutar badan menuju laptop yang telah tersambung dengan LCD. Kuputar beberapa tayangan tentang keajaiban yang ada di alam untuk membawa mereka lebih paham bahwa keberadaan Allah bisa ditemukan lewat ciptaannya.
Lepas memberi kuliah, aku harus pergi ke ruang rektorat. Sepertinya ini terkait kasus Angeline. Dengan bertawakal pada Allah, kususuri bangunan tiga fakultas agar bisa sampai ke tempat itu.
Dan, Hai Gadis yang telah melepas kerudung mininya menyejajari langkah. Apa mungkin dia akan ke sana juga?
Aku mempercepat langkah agar jarak di antara kami lebih lebar. Tentu saja itu berhasil, dengan heels sekitar lima belas centi tak mungkin dia bisa mengejarku.
Di universitas ini hampir tak bisa dibedakan mana artis mana bukan. Hal biasa melihat dandanan ala selebritis dengan fashion yang harganya lebih mahal dari motorku.
Trak!
"Aduh!"
"Kenapa?"
Mendengar lenguhan Angeline di belakang, naluri melindungi muncul seketika. Kuhampiri untuk memastikan keadaannya baik-baik saja.
"Bapak khawatir sama saya?"
Tawa kecil terurai, lalu dia melangkah meninggalkanku yang tengah jengkel.
Dasar Angel!
Kuhela udara demi menyaksikan lekukan tubuh yang bergoyang-goyan
Kaos merah dan jeans ketat itu sukses mengeksplor apa yang seharusnya haram dipertontonkan.
Astagfirullah!
Cepat-cepat godaan setan di area mata kutepis. Kadang bingung, mau menjaga pandangan bagaimana. Kanan kiri atas bawah aurat semua.
Wahai kaum hawa! Tutuplah auratmu.
"Pak! Pak rektorat udah nungguin, loh!"
"Oh, eh. Iya. Ayo!"
Gelagapan di panggil saat pikiran terbang jauh.
"Pak, maaf, ya waktu di kafe. Bapak jadi bertengkar sama istrinya."
Refleks aku tertawa kecil. Saat sadar, gadis itu tengah menatapku dalam.
"Tenang saja. Dia itu adikku, bukan istri. Saya belum punya istri."
Kali ini wajah di depanku memerah entah kenapa. Malu mungkin. Salah tingkah juga sepertinya.
"Sudah, sana duluan!"
Untuk menutupi perasaan tak karuan, kuarahkan tangan ke depan agar gadis itu duluan. Tanpa pembantahan, dia membalikkan badan.
Tapi, baru dua langkah, menoleh kembali dan berkata, "Bapak manis kalau tertawa."
Dikedipkan sebelah matanya.
"Astagfirullah,
Tawa itu berderai kembali.
Untuk meredakan desakan gejolak kubiarkan gadis itu pergi hingga menghilang di balik bangunan. Barulah melangkah pelan-pelan.
Lepas sepuluh menit, sampai di. Ruang rektorat yang terpisah dari bangunan lainnya. Gedung ini berdesign mewah dengan ornamen modern melingkupi.
Sudah duduk di ruang itu Angeline dan tiga orang pria. Salah satunya Bapak Ariansyah, rektor universitas Nusadarma. Di sebelah kiri Angeline ada dua pria berjas perlente.
Aku duduk di sisi kanan Angeline. Setelah basa-basi pembicaraan pun masuk pada intinya
"Kita selesaikan ini secara kekeluargaan. Kami harap saudari Angeline dan Bapak Fathan bisa kooperatif terhadap perdamaian ini. Kami akan mengganti rugi atas ketidaknyamanan
Mata gadis di sampingku membesar, tangannya mengepal, tak beda jauh dengan kondisiku saat ini. Seperti ada ledakan serupa bom hirosima di rongga kiriku.
"Maksud Anda saya tak boleh mempidanakan si brengsek itu! Kalian tak tahu rupanya, siapa ayah saya?" tukas Angeline dengan nada tinggi.
"Karena kami tahu siapa ayah saudari, kami memawarkan solusi terbaik. Untuk menjaga nama baik keluarga masing-masing."
Rasanya amarah ini terlalu membuncah. Tanganku mengepal, jari-jarinya berderak. Aku rak rela kehormatan perempuan diinjak begitu rupa.
"Sepertinya itu lebih untuk menyelamatkan nama keluarga mahasiswa mesum itu. Saya rasa ini keterlaluan. Kalau saya datang terlambat, mungkin saudari Angeline sudah dirusak oleh Jordi."
Percuma menekan suara. Emosi ini sudah tak terkendali ternyata.
"Terserah, hanya kami bisa menghadirkan saksi bahwa mereka itu suka sama suka. Dan, publik pasti percaya mengingat citra saudari Angeline di universitas ini."
Kalau saja aku tak menepis tangan Angeline, dipastikan dia akan menggebrak meja.
"Kami juga bisa menggugat Bapak Fathan atas penganiayaan yang terjadi pada Jordi!"
Aku dan Ageline saling pandang, lalu menatap rektor yang sedari tadi bungkam.
"Memang sebaiknya kita kompromi. Nama baik sama-sama terjaga, termasuk universitas ini."
Dan, emosiku naik ke level tertinggi. Pemimpin yang seharusnya membela kebenaran, malah berpihak pada kejahatan.
Dasar pemimpin zalim!
NEXT
Angeline/ Wafa Farha
***
-----
Terjebak di Motel
#AHLAN_WA_SAHLAN_ANGELINE
(5)
(Scene dewasa)
#by_WafaHanin
"Saat kepala berdenyut, dan tubuh terasa berat seseorang membawaku ... kupikir lelaki dengan tato di sekujur tubuhnya adalah orang baik yang akan menolongku, tapi kenapa ia membawaku ke Motel?"
***
Suara orang-orang sudah mendengung, pasti karena keributan ini.
"Kamu baik-baik saja, Njel?" tanya Aqila.
Pertanyaan itu sungguh tidak memerlukan jawaban, dia tidak buta 'kan. Ish, kenapa pula malah hatiku merutuk pada orang yang telah menolong.
Tidak menjawab, aku terlampau syok. Mereka pasti paham.
Kurang lebih dua puluh menit Pak Fathan keluar dengan gagahnya. Menyadari kehadirannya, mataku sontak melihat ke kamar Salsa. Di sana pria bajingan itu terkapar. Pikiran dengan cepat melayang pada Salsa, mungkinkah ia dalang dari semua ini? Tapi untuk apa?
"Bapak tidak apa-apa?" Mimik khawatir terpancar jelas di wajah dua gadis berhijab syari yang membawaku keluar tadi, terutama Aqila. Ada tatapan beda yang ia tujukan pada Pak Fathan.
Ah, tentu saja ... jika saja dia tidak dingin dan angkuh, dia adalah lelaki sempurna tipeku. 'Wait Njel! Dia sudah beristri, dan lo bukan pelakor!'
"Saya tidak apa-apa. Lebih baik kalian bawa gadis ini masuk untuk menenangkannya. Setelah itu baru antar dia pulang." Suara itu sesaat mengusik empatiku. Padahal aku sudah jahat, membuatnya bertengkar dengan istri, tapi ia tetap baik. Rasa bersalah ini mengganggu.
"Laporkan saja dia!" seru pria itu lagi.
Kembali menunduk lebih dalam, saat langkah lelaki tegap itu mendekat.
Berjalan pelan melaluiku, keberanikan mengucap, "Terimakasih." Tanpa melihat ke wajahnya.
Seketika langkahnya terhenti.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja."
Ucapan itu seolah memberiku kekuatan saat sekarang aku masih diliputi rasa takut.
_____
Melihat pada belasan chat yang kukirim pada Salsa.
[Sa! Lo di mana?]
[Kita perlu bicara]
[Kok bisa-bisanya sih, Sa ... Jordy, si peneror ulung ada di kamar lo?]
[Sa, kita peu bicara]
Lalu stiker-stiker lain untuk mengeskpresikan tanya dan rasa kesalku.
Bermenit-menit, berjam-jam belum juga centang dua apalagi centang biru. Shit! Dia memblokirku kah? Jika benar, kita harus membuat perhitungan, Sa! Musuh paling berbahaya itu adalah ketika ia seperti api dalam sekam.
_____
Pagi ini hampir segala penjuru kampus kujelajahi, tapi tak juga kutemukan Salsa.
Saat bersama Angel Genk, mataku tak sengaja menangkap sosok Salsa. Ia berjalan dengan memakai hoodie dan masker di mulutnya. Mungkin gadis itu pikir, aku akan tertipu. Ck, dasar penyamarannya sangat amatir, tampil berbeda seperti itu justru menarik perhatian.
Berjalan cepat padanya, saat jarak kami hanya beberapa centi segera kutarik masker yang menutupi mulutnya.
Menyilangkan tangan di dada, kutatap kesal padanya.
"Kalau lo gak salah, lo pasti gak akan menghindar kek gini."
Salsa terdiam, tentu saja karena ia merasa bersalah. Sial. Dugaanku kali ini benar.
"Dasar pengkhianat!"
Awalnya gadis itu terlihat pasrah, tapi saat orang-orang di sekitar kami mendekat, Salsa tiba-tiba berani, pasti karena image.
"Kenapa kalau gue pengkhianat?! Apa gue harus jadi kacung lo selamanya!" Suara Salsa ditekan.
"Apa?! Jadi benar?" Aku masih tidak percaya melihat reaksinya. Tadinya hati ini berharap, bahwa Salsa melakukannya karena tekanan Jordy tapi ternyata karena dendam pribadi yang tidak aku mengerti.
"Gue capek ya lihat lo yang terlalu sempurna. Gue juga mau lo kaya yang lain, gak sok-sokan virgin!"
Tanganku sudah terangkat akan menampar pipi gadis itu, tapi tangan Tasya sudah memegangi.
Aku menatapnya penuh amarah.
"Heh, kalian. Sampai kapan jadi kacungnya Angel? Kalian rusak sedang dia ... ibarat madu di tengah kalian." Salsa berlalu.
Damn. Semua orang melihat padaku. Juga teman-teman, melihat padaku dengan pandangan yang berbeda dengan biasanya.
______
Melihat Pak Fathan di lorong kampus menuju kantor rektor, kupercepat langkah mengimbanginya. Dosen baru itu pasti dipanggil juga atas kasusku kemarin.
Melihat jalannya yang dipercepat, dia sepertinya sadar maksudku.
Aku tersenyum, tiba-tiba muncul ide di kepala.
"Aduhh!" Aku pura-pura jatuh. Dalam sekejap pria itu berbalik.
"Ada apa?" Wajah tampan dosen itu sangat cemas. Pasti ia pikir aku tengah keseleo karena high heels.
Refleks ia terduduk ingin menolong.
"Bapak khawatir sama saya?"
Tawa kecil terurai, lalu aku melangkah meninggalkannya.
Aku tertawa dan segera bangkit mendahuluinya. Sempat kulihat sekilas, pria itu geleng-geleng, aku yakin dia berpikir bahwa Angeline sangat cerdas mengelabui lawannya.
"Pak! Pak rektorat udah nungguin, loh!"
"Oh, eh. Iya. Ayo!"
Berjalan dengan Pak Fathan begini, membuatku ingat saat ia menolongku semalam.
Tiba-tiba saja hati ini menghangat karena ucapannya, merasa ada seseorang yang peduli dan seolah mau jadi pelindung. What? Pelindung? Dia suami orang Angeline!
"Pak, maaf, ya waktu di kafe. Bapak jadi bertengkar sama istrinya."
Sadar aku menatapnya, pria tegap itu tertawa kecil.
"Tenang saja. Dia itu adikku, bukan istri. Saya belum punya istri."
Jadi dia belum punya istri? Kenapa aku senang mendengarnya. Rasa panas seketika menjalar di kedua pipi.
"Sudah, sana duluan!"
Pak Fathan nampak canggung.
Melihatnya tertawa aku tidak tahan dan berkata, "Bapak manis kalau tertawa."
Sengaja kukedipkan mata menggoda.
Berjalan dengan anggun di depannya, ia pasti tengah terpesona sekarang.
Makanya tak perlu sok dingin dan tidak tertarik pada Angeline, karena hal itu membuatku tertantang menakhlukkannya.
Di dalam ruangan, sudah ada tiga pria menunggu kami.
Pak Rektor, bajingan Jordy dan bokapnya yang sok kaya saingan papah di pileg dua tahun lalu.
Diskusi berlangsung alot, menguras energiku membela diri dan mempertahankan harga diri. Pada akhirnya suara bulat agar masalah perkosaan ini diakhiri dengan jalan kekeluargaan. Ini gara-gara papah, selalu saja sibuk dan tidak ada waktu hanya sekedar datang mengurus permasalahan ini. Tadi malam, saat aku menelpon papah bahkan hanya bergeming di ujung telepon dan segera menutup ponselnya dengan mengatakan ia sedang sangat sibuk. Lebih membuatku sesak saat papah melarang melaporkan Jordy ke polisi.
Menyedihkan saat kita harus hidup dengan orang yang egois.
Keluar dari kantor rektor, Jordy berjalan dengan tenang bahkan sempat melempar senyuman masam padaku. Seketika air mata luruh, membasahi pipi. Tidak ada yang bisa kuperbuat untuk membela diri sendiri.
Seseorang menyerahkan saputangan.
"Ambil ini."
Isak tangisku rupanya mengundang perhatian seseorang, dan itu adalah Pak Fathan.
Ragu kuraih benda itu dari tangannya.
"Maaf, kalau agak bau ya. Maklum punya cowok. Hehe."
Seketika aku mengulas tersenyum dan mengendus bau sapu tangan itu. Gak bau kok.
Laki-laki itu punya selera humor juga ternyata.
"Jangan khawatir ... aku akan memperjuangkan ini sampai bajingan itu mempertanggungjawabkan perbuatannya."
"Oh, be-begitu Pak. Kalau begitu, em ... terimakasih banyak." Ish, aku jadi canggung begini.
_____
Saat akan makan siang di kantin, Jordy tengah menikmati hidangan di atas meja. Pikiranku tidak lagi terkontrol melihat bajingan keparat itu. Dengan langkah pasti ke mejanya. Tanpa basa-basi aku mengambil paksa mangkok bakso di hadapannya, lalu menyiramkan ke kepalanya.
"Brengsek, masih enak-enakan aja lo!"
Pria berjingkat kepanasan. "Au!"
Sesaat bergeming menetralisir kemarahannya. Dengan pandangan terkejut perlahan melihat padaku.
"Ini tidak akan selesai, sebelum lo dapat akibatnya!" Ucapanku serius, kebencian membuatku bisa melakukan segala hal.
"Hehh, lo lagi beruntung aja. Lain kali gue akan dapetin tubuh lo!" Jordy tersenyum masam, melihat tubuhku dari atas sampai bawah. Menjijikkan!
Risih dengan pandangannya, kutampar pipinya dengan keras. Sontak ia pun mengangkat tangan dan akan membalas, tapi urung. Matanya menyipit sebentar lalu memilih pergi.
Merasa stres, bingung menumpahkannya ke mana selain dengan teman-teman.
Aku yang aslinya males ikut mereka dugem, kali ini kami pergi atas inisiatifku.
Di dalam ruangan gegap gempita dengan hingar bingar musik dan lampu kerlap-kerlip kuluapkan semua. Minuman yang kuminum sukses membuat kepala berdenyut dan tubuh seolah melayang, seperti orang gila kami menggerakkan tubuh dan kepala mengikuti alunan musik yang diputar dengan volume sangat keras.
Aku mulai hilang kesadaran, begitu pun teman-teman. Ingin pulang tapi tidak bisa mengandalkan mereka. Hingga tangan kekar seorang laki-laki baik membopongku keluar diskotik.
"Ka-kamu ma-ma-u antar a-a-ku pulang?" sekedar bertanya pun rasanya berat. Kepala ini terlampau pusing.
Lelaki penuh tato itu tersenyum, aku pun merasa aman.
"Ka-kamu gak ja-jahat ka-ya Jordy 'kan? Hahaha."
Kami terus berjalan, lelaki itu membawaku dalam sebuah mobil, beberapa menit aku di bawa keluar. Namun, rasa berat di sekujur tubuh membuatku pasrah.
Mataku sedikit melebar dengan susah payah, terbaca papan besar bertuliskan "MOTEL"
"I-ni bukan rumahku."
BERSAMBUNG
#AHLAN_WA_SAHLAN_ANGELINE
(5)
(Scene dewasa)
#by_WafaHanin
"Saat kepala berdenyut, dan tubuh terasa berat seseorang membawaku ... kupikir lelaki dengan tato di sekujur tubuhnya adalah orang baik yang akan menolongku, tapi kenapa ia membawaku ke Motel?"
***
Suara orang-orang sudah mendengung, pasti karena keributan ini.
"Kamu baik-baik saja, Njel?" tanya Aqila.
Pertanyaan itu sungguh tidak memerlukan jawaban, dia tidak buta 'kan. Ish, kenapa pula malah hatiku merutuk pada orang yang telah menolong.
Tidak menjawab, aku terlampau syok. Mereka pasti paham.
Kurang lebih dua puluh menit Pak Fathan keluar dengan gagahnya. Menyadari kehadirannya, mataku sontak melihat ke kamar Salsa. Di sana pria bajingan itu terkapar. Pikiran dengan cepat melayang pada Salsa, mungkinkah ia dalang dari semua ini? Tapi untuk apa?
"Bapak tidak apa-apa?" Mimik khawatir terpancar jelas di wajah dua gadis berhijab syari yang membawaku keluar tadi, terutama Aqila. Ada tatapan beda yang ia tujukan pada Pak Fathan.
Ah, tentu saja ... jika saja dia tidak dingin dan angkuh, dia adalah lelaki sempurna tipeku. 'Wait Njel! Dia sudah beristri, dan lo bukan pelakor!'
"Saya tidak apa-apa. Lebih baik kalian bawa gadis ini masuk untuk menenangkannya. Setelah itu baru antar dia pulang." Suara itu sesaat mengusik empatiku. Padahal aku sudah jahat, membuatnya bertengkar dengan istri, tapi ia tetap baik. Rasa bersalah ini mengganggu.
"Laporkan saja dia!" seru pria itu lagi.
Kembali menunduk lebih dalam, saat langkah lelaki tegap itu mendekat.
Berjalan pelan melaluiku, keberanikan mengucap, "Terimakasih." Tanpa melihat ke wajahnya.
Seketika langkahnya terhenti.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja."
Ucapan itu seolah memberiku kekuatan saat sekarang aku masih diliputi rasa takut.
_____
Melihat pada belasan chat yang kukirim pada Salsa.
[Sa! Lo di mana?]
[Kita perlu bicara]
[Kok bisa-bisanya sih, Sa ... Jordy, si peneror ulung ada di kamar lo?]
[Sa, kita peu bicara]
Lalu stiker-stiker lain untuk mengeskpresikan tanya dan rasa kesalku.
Bermenit-menit, berjam-jam belum juga centang dua apalagi centang biru. Shit! Dia memblokirku kah? Jika benar, kita harus membuat perhitungan, Sa! Musuh paling berbahaya itu adalah ketika ia seperti api dalam sekam.
_____
Pagi ini hampir segala penjuru kampus kujelajahi, tapi tak juga kutemukan Salsa.
Saat bersama Angel Genk, mataku tak sengaja menangkap sosok Salsa. Ia berjalan dengan memakai hoodie dan masker di mulutnya. Mungkin gadis itu pikir, aku akan tertipu. Ck, dasar penyamarannya sangat amatir, tampil berbeda seperti itu justru menarik perhatian.
Berjalan cepat padanya, saat jarak kami hanya beberapa centi segera kutarik masker yang menutupi mulutnya.
Menyilangkan tangan di dada, kutatap kesal padanya.
"Kalau lo gak salah, lo pasti gak akan menghindar kek gini."
Salsa terdiam, tentu saja karena ia merasa bersalah. Sial. Dugaanku kali ini benar.
"Dasar pengkhianat!"
Awalnya gadis itu terlihat pasrah, tapi saat orang-orang di sekitar kami mendekat, Salsa tiba-tiba berani, pasti karena image.
"Kenapa kalau gue pengkhianat?! Apa gue harus jadi kacung lo selamanya!" Suara Salsa ditekan.
"Apa?! Jadi benar?" Aku masih tidak percaya melihat reaksinya. Tadinya hati ini berharap, bahwa Salsa melakukannya karena tekanan Jordy tapi ternyata karena dendam pribadi yang tidak aku mengerti.
"Gue capek ya lihat lo yang terlalu sempurna. Gue juga mau lo kaya yang lain, gak sok-sokan virgin!"
Tanganku sudah terangkat akan menampar pipi gadis itu, tapi tangan Tasya sudah memegangi.
Aku menatapnya penuh amarah.
"Heh, kalian. Sampai kapan jadi kacungnya Angel? Kalian rusak sedang dia ... ibarat madu di tengah kalian." Salsa berlalu.
Damn. Semua orang melihat padaku. Juga teman-teman, melihat padaku dengan pandangan yang berbeda dengan biasanya.
______
Melihat Pak Fathan di lorong kampus menuju kantor rektor, kupercepat langkah mengimbanginya. Dosen baru itu pasti dipanggil juga atas kasusku kemarin.
Melihat jalannya yang dipercepat, dia sepertinya sadar maksudku.
Aku tersenyum, tiba-tiba muncul ide di kepala.
"Aduhh!" Aku pura-pura jatuh. Dalam sekejap pria itu berbalik.
"Ada apa?" Wajah tampan dosen itu sangat cemas. Pasti ia pikir aku tengah keseleo karena high heels.
Refleks ia terduduk ingin menolong.
"Bapak khawatir sama saya?"
Tawa kecil terurai, lalu aku melangkah meninggalkannya.
Aku tertawa dan segera bangkit mendahuluinya. Sempat kulihat sekilas, pria itu geleng-geleng, aku yakin dia berpikir bahwa Angeline sangat cerdas mengelabui lawannya.
"Pak! Pak rektorat udah nungguin, loh!"
"Oh, eh. Iya. Ayo!"
Berjalan dengan Pak Fathan begini, membuatku ingat saat ia menolongku semalam.
Tiba-tiba saja hati ini menghangat karena ucapannya, merasa ada seseorang yang peduli dan seolah mau jadi pelindung. What? Pelindung? Dia suami orang Angeline!
"Pak, maaf, ya waktu di kafe. Bapak jadi bertengkar sama istrinya."
Sadar aku menatapnya, pria tegap itu tertawa kecil.
"Tenang saja. Dia itu adikku, bukan istri. Saya belum punya istri."
Jadi dia belum punya istri? Kenapa aku senang mendengarnya. Rasa panas seketika menjalar di kedua pipi.
"Sudah, sana duluan!"
Pak Fathan nampak canggung.
Melihatnya tertawa aku tidak tahan dan berkata, "Bapak manis kalau tertawa."
Sengaja kukedipkan mata menggoda.
Berjalan dengan anggun di depannya, ia pasti tengah terpesona sekarang.
Makanya tak perlu sok dingin dan tidak tertarik pada Angeline, karena hal itu membuatku tertantang menakhlukkannya.
Di dalam ruangan, sudah ada tiga pria menunggu kami.
Pak Rektor, bajingan Jordy dan bokapnya yang sok kaya saingan papah di pileg dua tahun lalu.
Diskusi berlangsung alot, menguras energiku membela diri dan mempertahankan harga diri. Pada akhirnya suara bulat agar masalah perkosaan ini diakhiri dengan jalan kekeluargaan. Ini gara-gara papah, selalu saja sibuk dan tidak ada waktu hanya sekedar datang mengurus permasalahan ini. Tadi malam, saat aku menelpon papah bahkan hanya bergeming di ujung telepon dan segera menutup ponselnya dengan mengatakan ia sedang sangat sibuk. Lebih membuatku sesak saat papah melarang melaporkan Jordy ke polisi.
Menyedihkan saat kita harus hidup dengan orang yang egois.
Keluar dari kantor rektor, Jordy berjalan dengan tenang bahkan sempat melempar senyuman masam padaku. Seketika air mata luruh, membasahi pipi. Tidak ada yang bisa kuperbuat untuk membela diri sendiri.
Seseorang menyerahkan saputangan.
"Ambil ini."
Isak tangisku rupanya mengundang perhatian seseorang, dan itu adalah Pak Fathan.
Ragu kuraih benda itu dari tangannya.
"Maaf, kalau agak bau ya. Maklum punya cowok. Hehe."
Seketika aku mengulas tersenyum dan mengendus bau sapu tangan itu. Gak bau kok.
Laki-laki itu punya selera humor juga ternyata.
"Jangan khawatir ... aku akan memperjuangkan ini sampai bajingan itu mempertanggungjawabkan perbuatannya."
"Oh, be-begitu Pak. Kalau begitu, em ... terimakasih banyak." Ish, aku jadi canggung begini.
_____
Saat akan makan siang di kantin, Jordy tengah menikmati hidangan di atas meja. Pikiranku tidak lagi terkontrol melihat bajingan keparat itu. Dengan langkah pasti ke mejanya. Tanpa basa-basi aku mengambil paksa mangkok bakso di hadapannya, lalu menyiramkan ke kepalanya.
"Brengsek, masih enak-enakan aja lo!"
Pria berjingkat kepanasan. "Au!"
Sesaat bergeming menetralisir kemarahannya. Dengan pandangan terkejut perlahan melihat padaku.
"Ini tidak akan selesai, sebelum lo dapat akibatnya!" Ucapanku serius, kebencian membuatku bisa melakukan segala hal.
"Hehh, lo lagi beruntung aja. Lain kali gue akan dapetin tubuh lo!" Jordy tersenyum masam, melihat tubuhku dari atas sampai bawah. Menjijikkan!
Risih dengan pandangannya, kutampar pipinya dengan keras. Sontak ia pun mengangkat tangan dan akan membalas, tapi urung. Matanya menyipit sebentar lalu memilih pergi.
Merasa stres, bingung menumpahkannya ke mana selain dengan teman-teman.
Aku yang aslinya males ikut mereka dugem, kali ini kami pergi atas inisiatifku.
Di dalam ruangan gegap gempita dengan hingar bingar musik dan lampu kerlap-kerlip kuluapkan semua. Minuman yang kuminum sukses membuat kepala berdenyut dan tubuh seolah melayang, seperti orang gila kami menggerakkan tubuh dan kepala mengikuti alunan musik yang diputar dengan volume sangat keras.
Aku mulai hilang kesadaran, begitu pun teman-teman. Ingin pulang tapi tidak bisa mengandalkan mereka. Hingga tangan kekar seorang laki-laki baik membopongku keluar diskotik.
"Ka-kamu ma-ma-u antar a-a-ku pulang?" sekedar bertanya pun rasanya berat. Kepala ini terlampau pusing.
Lelaki penuh tato itu tersenyum, aku pun merasa aman.
"Ka-kamu gak ja-jahat ka-ya Jordy 'kan? Hahaha."
Kami terus berjalan, lelaki itu membawaku dalam sebuah mobil, beberapa menit aku di bawa keluar. Namun, rasa berat di sekujur tubuh membuatku pasrah.
Mataku sedikit melebar dengan susah payah, terbaca papan besar bertuliskan "MOTEL"
"I-ni bukan rumahku."
BERSAMBUNG
Tidak ada komentar:
Posting Komentar