Persaudaraan Muslimah Indonesia, mempelajari Islam Secara Menyeluruh.

Sabtu, 15 Februari 2020

Pengantin Bayaran Sang CEO 16 - 20

#Pengantin_Bayaran_Sang_CEO
#Part.16a.
#CEO'sBride.

“Max Vendros, pastinya kamu nggak nyangka kita ketemu di sini.” Amarisa berucap pelan dengan gelas di tangan. Memandang laki-laki tampan yang pernah mematahkan hatinya. Max Vendros yang tinggi, mata kebiruan, dan terlihat menawan dalam balutan batik.

“Kejutan besar memang.” Max mengakui. “Apalagi perihal hubunganmu dengan Andrew. Gesit juga kamu, tangkapan yang bagus.” Max mengangkat gelas ke arah Amarisa.


Wanita cantik di hadapannya tertawa lirih, memperlihatkan deretan gigi putih yang dirawat. Setelah selesai bicara dengan Pak Johanes dan para pemegang saham yang lain, mereka bicara sambil bersandar pada pagar dan memandang ke arah pepohonan. Terus terang Max enggan bicara dengan Amarisa, jika bukan ajakannya yang mendesak.

“Jujur saja aku lebih menyukaimu, Max. Apa daya, ternyata seleramu soal wanita payah. Tadinya kupikir sainganku adalah Violet, sang artis terkenal. Setelah semua yang kulakukan untuk menjauhkannya darimu, kau malah memilih gadis miskin menjadi istrimu.”
Max menoleh cepat. “Apa maksudmu dengan menjauhkan Violet dariku!” Dia bertanya dengan suara tajam.

Amarisa mengedikkan sebelah bahu. Memandang hijau pepohonan di bawah mereka. Cuaca cukup segar dan tidak terlalu dingin di tempat mereka berdiri. Meski angin berdesir lumayan kencang.
“Amarisa, jawab!”

Desakan Max membuat alis Amarisa berkerut. Menelengkan kepala dia menatap laki-laki di sampingnya dengan tajam. “Kenapa Max? Kenapa masih peduli dengan Violet? Bukankah sudah ada istrimu?”
Max terdiam, meneguk minuman di gelasnya. Menimbang kata-kata sebelum berucap pada wanita yang kini menatapnya tajam.

“Aku nggak ingin ada yang menderita karenamu,” ucapnya hati-hati.
Terdengar tawa nyaring dari mulut Amarisa. Sebuah tawa yang penuh ejekan. Max mendiamkannya hingga suara Amarisa benar-benar menghilang dan berganti dengan ucapan tajam.

“Max Vendros, memang kamu pikir sedang bicara dengan siapa? Mau mengelabuhiku. Bilang saja kalau kamu masih peduli dengan mantan kekasihmu yang lebih memilih karir dari pada cintanya!” Amaris beringsut mendekat. “Apa kamu ingin tahu rahasia? Jika proyek film yang sedang dikerjakan Violet di luar negeri adalah proyekku? Tidak tahu bukan?”

“Buat apa kamu berbuat begitu, Amarisa?” Max menegur dingin.
“Sudah kubilang, kan? Aku jatuh cinta pada pandangan pertama denganmu. Saat aku tahu jika kau menjalin hubungan dengan artis itu, segala cara kulakukan untuk memikat hatinya demi menjauhimu. Berhasil bukan? Kasihan sekali kau Max.”

Sekali lagi Max membiarkan Amarisa mengejek ketololannya. Benar-benar memalukan ternyata membiarkan hubungannya diporak-porandakan seorang wanita. Ia sama sekali tidak menyangka jika kepergian Violet ke luar negeri yang tadinya untuk mengejar karir ternyata adalah rekayasa Amarisa. Lalu, siapa kini yang harus disalahkan? Dirinya yang tak mencari tahu lebih dulu sebelum membiarkan kekasihnya pergi atau memang hatinya yang mulai berjarak dengan Violet secara tak sadar telah membiarkannya pergi. Max terdiam dengan beribu pikiran di otaknya.

“Usahamu berhasil bukan? Menjauhkan Violet dariku. Kami sudah putus hubungan.”
Terdengar desahan napas panjang dari Amarisa. Mereka berdua tetap terdiam di tempatnya, tidak peduli pada suara tawa yang terdengar riuh di belakang mereka.
“Tadinya begitu, sampai gadis gembel itu mengacaukan pertunanganku.”
“Berhenti merendahkan istriku!” sentak Max tajam.
“Cih! Kamu pikir aku nggak tahu ada yang nggak beres di balik pernikahan kalian? Aku akan mencari tahu.”

“Apa gunanya untukmu. Toh, kamu sudah mendapatkan Andrew.”
“Nggak ada, setidaknya membalas dendam karena kalian melukaiku. Andrew orang baik, seorang tunangan yang manis,” desah Amarisa dengan mata menerawang. Lalu berpaling cepat ke arah Max dan berbisik. “BTW, film Violet tidak akan pernah tayang di bioskop mana pun, Max. Dia dibayar untuk menghabiskan waktu … hahaha. Kasihan sekali dia.”

Amarisa pergi masih dengan tawa di mulutnya, meninggalkan Max dengan kegeraman luar biasa. Kata-kata Amarisa tentang Violet diakui atau tidak, sedikit memukul perasaannya. Tadinya ia berpikir akan merelakan Violet jika benar-benar dia mendapatkan karir yang diinginkan. Siapa sangka, semua adalah manipulasi Amarisa.

Masih segar dalam ingatan Max, pertengkarannya dengan Violet yang akhirnya berujung pada putusnya hubungan mereka. Dirinya yang merasa sang kekasih lebih mementingkan karir dan Violet yang merasa tidak didukung dan dihargai. Kini, waktu berputar dan ia tidak lagi sendiri. Ada Jovanka yang harus dipikirkan.

Seandainya saja, Violet tidak terlalu memikirkan perkataan orang tuanya. Seandainya saja, Violet lebih percaya padanya. Mungkin saja, akan lain ceritanya.
‘Aku gagal menyelamatkan Violet tapi tidak akan membiarkan Amarisa menyentuh Jojo,’ ucap Max lebih pada diri sendiri.

Mengikuti dorongan hati, ia melangkah menyusuri pagar. Matanya menangkap sosok Steve yang terlihat mencolok dalam pakaian putih-putihnya. Sepertinya sedang asyik menggoda para gadis remaja, kerabat Pak Johanes.

Ia mengedarkan pandangan, mencari sosok istrinya yang menghilang terlalu lama dengan Andrew. Samar-samar ia menangkap sosok Jovanka di dalam saung tak jauh dari tempat Steve bercengkrama. Max berjalan lebih cepat, semakin mendekati saung dia melihat hal yang ganjil.

Seoarang wanita dalam pakaian tukang kebun memeluk Jovanka erat. Sementara Andrew berusaha memisahkan mereka. Jeritan dari wanita tukang kebun membuat Max berlari menghampiri.
“Dia Raline, Tuan,” rintih si wanita tua.
“Bukan! Bu Mainah, lepaskan pelukanmu!” Suara Andrew terdengar kasar.
“Tidaaak! Dia Raline, aku akan membawanya pulang!”

Jovanka memucat dalam pelukan si wanita tua yang dipanggil Bu Mainah. Tubuhnya didekap erat hingga membuat sesak sementara Andrew berusaha membuatnya bebas.
“Ada apa ini, Andrew?” Max datang, bergerak sigap membantu Andrew untuk melepaskan Jovanka dari pelukan Bu Maenah. Dengan tenaga dua laki-laki mau tak mau wanita tua itu melepaskan pelukannya dari Jovanka.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya Max pada Jovanka yang terdiam sambil memeluk bahunya.
Jovanka mengangguk. “Iya, aku baik-baik saja. Siapa dia?”
“Aku ibumu, Naak!” Wanita itu meronta dalam genggaman Andrew yang memegangnya kuat agar tidak menubruk Jovanka.
“Tuan Max, tolong bawa istri Anda pergi dari sini,” pinta Andrew keras. Mengatasi suara tangisan wanita di sampingnya.

“Baiklah, Ayo.” Max merangkul istrinya dan membimbingnya pergi.
“Tapi ….” Jovanka menatap Bu Maenah dengan pandangan memelas.
“Pergi, Jojo!” usir Andrew keras dengan tangan memeluk Bu Maenah.
Dengan terpaksa Jovanka mengikut suaminya. Meninggalkan wanita tua yang kini melolong makin keras.

“Raline! Raline! Kembali kau, Naaak!”
“Diam! Diamlah, Bu. Jangan mempermalukan aku di sini!” Bentakan Andrew terdengar samar-samar oleh Max dan Jovanka yang melangkah pergi. Keduanya berjalan perlahan menuju tenda besar di mana ada kursi dan meja di sana. Sementara teriakan Bu Maenah samar-samar menghilang.
“Apa dia menyakitimu?” tanya Max sambil mendudukkan Jovanka di kursi.
“Maksudmu wanita tadi, Sir?”

Max mengangguk, matanya menelisik wajah istirnya.
“Tidak, dia hanya memelukku dan terus menerus memanggil Raline!”
Max mengernyit. “Siapakah, Raline?”
“Aku nggak tahu,” jawab Jovanka sambil menggeleng. “Dulu pertama kali bertemu Andrew, dia juga memanggilku Raline. Hari ini wanita tua itu, aku sama sekali nggak tahu siapa itu Raline.”
Max berjongkok di depan Jovanka, memandang istrinya yang terlihat gugup menggigit bibir. “Apakah ada kemungkinan kalian kembar?”

“Ooh, Tidak. Bisa kupastikan itu pada orang tuaku, Sir.”
“Ya sudah, abaikan. Kita jalan-jalan kalau kamu memang baik-baik saja.”
Jovanka bangkit dari kursi. Mengikuti Max mengitari pagar dan melihat pemandangan. Di ujung pagar mereka melihat keramaian. Bertemu dengan Steve dengan tangan memegang gelas, sibuk menerima telepon. Alis Steve terangkat saat melihat Max dan Jovanka datang bersamaan.
“Max, aku ingin bicara,” ucapnya di sela percakapannya di handphone.

Max mengangguk dan menunggunya di sisi tiang. Ada semacam pohon besar yang menarik minatnya untuk diamati. Berdaun kuning dan terlihat rimbun.
“Menurutmu ini pohon apa?” tanya Max pada istrinya.
“Entahlah, tapi Sir. Aku lapar,” bisik Jovanka pelan dengan suara nyaris malu-malu.
Max tersenyum. “Pergilah, meja prasmanan ada di samping pintu. Aku menunggu di sini.”
Mengangguk perlahan, Jovanka meninggalkan Max yang sedang menunggu Steve menelepon.
Sementara Max yang berdiri diam bersandar pada pohon mengawasi kepergian Jovanka. Tanpa sadar matanya mengikuti langkah istrinya yang gemulai. Dalam hati mengakui jika Jovanka terlihat sexy tapi juga manis dalam balutan gaun batik. Tepukan di pundak membuyarkan lamunannya.
“Bro, sudah tahu kabar penting?” tanya Steve padanya.
Si pemilik pundak hanya menganguk kecil. “Sepertinya aku tahu, pertunangan Andrew dan Amarisa?”

“Iyaa, sial. Sungguh di luar perkiraan. Jadi, apa yang tadi kalian bicarakan?”
“Tidak banyak, Pak Johanes hanya memperkenalkan Amarisa sebagai tunangan dari Andrew dan itu diharapkan akan memperkuat kerja sama dalam proyek Aditama.”
“Lalu, apa tanggapan Andrew?” Steve berdiri sambil meneguk minumannya perlahan. Memperhatikan wajah sepupunya yang terlihat bingung.
“Aku belum tanya masalah ini dengan Andrew, karena dari semenjak kami datang dia pergi dengan Jojo.”
“Begitukah?” tanya Steve dengan ekspresi tertarik.
Max memutar tubuh, memandang sepupunya yang rambut pirangnya terlihat bersinar terkena pancaran sinar matahari.

“Tahu tidak, kurasa Raline ada hubungannya dengan Andrew dan itu bukan hubungan yang biasa saja. Karena tadi, aku memergoki seorang wanita pekerja yang histeris memanggil Jojo dengan sebutan Raline.”
“What? Di mana? Di sini?”
Max mengangguk. “Yes, dan ingat yang dikatakan Jojo? Saat Andrew mengira dia Raline?”
Steve mengernyit.Tangannya mengurut pelipis. Mulutnya berdecak tak percaya.

“Kamu harus bergerak cepat, Steve. Soal informasi tentang Raline. Apalagi sekarang Amarisa sudah bertunangan dengan Andrew. Posisi tawar kita akan semakin kecil di sini. Jika kita bisa menyibak satu saja rahasia tentang mereka, aku yakin sekali, mereka akan berpikir seribu kali untuk mengerjai kita.”

Steve mengangguk. Meneguk minumannya hingga habis. Permainan dalam bisnis acap kali memang kejam. Mereka bisa saling sikut kapan saja tapi alangkah lebih baik jika bisa berdamai.
“Aku akan bergerak cepat, di mulai dari sini kalau begitu. Apa kamu tahu jika ini vila Andrew bukan Pak Johanes?”

“Yah, Pak Johanes ada mengatakan pada kami tadi.”
“Menarik, benar-benar permainan yang menarik dan istrimu ada di pusaran mereka, ya? Aah, Upik Abu. Sungguh tak kusangka peranmu akan semakin besar di sini. Hahaha ….”

Mengabaikan Steve yang tertawa, mata Max celingukan untuk mencari sosok Jovanka yang tak jua kembali dari mengambil makanan. Benaknya berspekulasi tentang kemungkinan istrinya akan bertemu orang yang tidak diinginkan. Demi menghindari hal yang buruk, Max meninggalkan Steve menuju meja prasmanan.
****


-------

#Pengantin_Bayaran_Sang_CEO
#Part.16b.
#CEO'S Bride.

****

“Hallo, gadis gembel.”
Sapaan lembut menusuk membuat Jovanka menoleh. Ia menatap sepasang mata cantik yang menyipit curiga. Bibir merah merona dengan mata bulat indah. Amarisa memang terlihat jelita. Meski kesan keras tidak dapat hilang dari sikapnya.

Jovanka memilih untuk mengabaikannya. Tangannya sibuk mengisi piring dengan makanan yang dia inginkan. Berharap jika ia diam maka wanita galak di sampingnya akan pergi. Tangannya sedang menyendok olahan ikan saat kembali terdengar teguran di belakangnya.
“Jangan mengabaikanku, gadis miskin!” sentak Amarisa.

Mau tidak mau, Jovanka menoleh dan tersenyum manis untuk menyapa. “Hallo, Kakak cantik. Apa kabar?”
Amarisa tertawa lirih. “Jangan sok manis.”
“Huft, sungguh tipikal Nona Besar yang ingin selalu dilayani. Disapa salah, dicuekin marah. Apa sih maumu?” gerutu Jovanka cukup keras untuk didengar Amarisa.

Amarisa meraih lengan Jovanka dan membimbingnya pergi. Untuk sejenak tindakan Amarisa membuatnya marah dan meronta tapi menyadari banyak pasang mata menatap mereka dan tidak ingin terlihat mencurigakan, dia terpaksa mengikuti kemauannya. Mereka berdiri berhadapan di dekat kolam dengan tangan menggenggam piring penuh makanan.

“Aku ingin makan. Nggak bisa ya ngasih aku waktu untuk makan?” protesnya sambil menyodorkan makanan ke muka Amarisa yang mengernyit.
“Jauhkan makanan itu dariku!”
“Sebenarnya apa masalahmu?”

Amarisa menatap mata Jovanka tajam. “Masalahku adalah rasa sakit hati karena perbuatanmu yang membuatku malu,” desisnya dengan nada menusuk tajam. “Kamu pikir aku akan melupakan itu, gadis miskin? Bagaimana kamu menghancurkan pertunanganku?”

Semua perkataan Amarisa sungguh-sungguh keluar dari dasar hatinya yang terdalam. Kebenciannya pada Jovanka terpancar jelas di wajahnya bahkan tidak tertutupi oleh sapuan make-up.
“Aku minta maaf soal itu,” gumam Jovanka. Matanya menatap Amarisa sekedar untuk menilai seberas besar rasa marah yang akan ditumpahkan wanita di depannya. “Aku minta maaf telah mengacau tapi aku nggak akan pernah minta maaf untuk hal yang sudah terlanjur kulakukan. Kalau nggak ada lagi yang dibahas, aku mau makan, permisi.”

“Mau kemana kamu!” Amarisa meraih lengan Jovanka yang hendak beranjak. “Aku belum selesai bicara denganmu.”
“Yah, sudah! Urusan kita sudah selesai, Amarisa. Kau pikir aku akan membiarkan dirimu memarahiku di sini? Enak saja!” Jovanka menyentakkan tangan Amarisa. “Kendalikan dirimu Nona Besar, banyak orang di sini.”

Amarisa mendengkus. “Dasar gembel tak tahu diri. Jangan sok manis di depanku.”
“Ya sudah, aku pergi, siapa sudi bicara sama orang pemarah.” Jovanka baru beranjak dua langkah dan berhenti karena geraman Amarisa.

“Hei, pasti karena kamu lahir dari orang tua miskin makanya tidak bisa mengajarimu sopan santun!”
Amarisa mendelik, Jovanka tak mau kalah. “Jangan berani-beraninya menghina orang tuaku,” desisnya sambil berbalik dan menunjuk Amarisa. “Salahmu sendiri memaksa laki-laki yang jelas-jelas nggak cinta sama kamu untuk menikah. Kenapa marah padaku? Max menginginkanku bukan kamu!”
Plak!

Jovanka terhunyung. Sebuah tamparan tak terduga dilayangkan Amarisa ke pipinya. Piringnya yang berisi makanan jatuh ke tanah dan makanan di atasnya berhamburan.
“Itu tamparan kedua dariku, gadis miskin tak tahu malu! Pelacur!”

Jovanka menegakkan tubuh, dengan sekuat tenaga melayangkan pukulan balasan ke arah Amarisa. Terlalu kuat tenaga yang ia keluarkan membuat wanita di hadapannya terjungkal kesakitan.
Jovanka berdiri menjulang di depan Amarisa. Mengepalkan tangan, wajahnya memerah karena memendam amarah. “Kau boleh mengatakan hal apa pun padaku, tapi haram bagimu untuk menghina orang tuaku.” Teriakan dan adu otot mereka menarik perhatian orang-orang di sekitar. Beberapa tamu bahkan mendekat karena penasaran.

“Kamu pikir kamu siapa? Berani memukulku!” Amarisa terhuyung, bangkit dari tempatnya terjatuh. “Aku akan menuntutmu karena ini!”
“Coba saja!” tantang Jovanka.
“Jojo! Apa yang terjadi?”

Max datang menyeruak kerumanan. Memandang istrinya yang berdiri dengan wajah memerah. Di depannya Amarisa terlihat bercucuran air mata sambil memegang pipinya.
“Ajari istrimu sopan santun, Max. Aku mengajaknya bicara baik-baik dan dia memukulku.”
Ucapan Amarisa membuat emosi Jovanka memuncak. “Apa katamu!”
“Jojo, diam!” bentak Max dengan tangan meraih tangan Jovanka yang terkepal. “Ingat, banyak orang di sini. Jangan membuat malu.”

Jovanka melirik suaminya dengan sakit hati. “Dia memukulku dan kamu menyuruhku menahan diri?”
Belum sempat Max menjawab, terdengar suara lain yang menyibak kerumunan.
“Ada apa ini? Amarisa, darling?” Andrew muncul, menatap bingung pada Amarisa yang mendekap pipinya dan Jovanka yang berdiri garang di samping Max.

“Andrew, honey. Lihat aku, wanita itu memukulku!” Amarisa memekik manja. Menjatuhkan dirinya dalam pelukan Andrew dan menangis segugukan.
“Tenang, sudah. Jangan menangis.” Andrew mengelus punggung tunangannya. “Jelaskan padaku ada apa ini, Tuan Max?”
Max meraih tangan Jovanka dan menggenggamnya. “Maaf, Tuan Andrew. Ini salah istri saya sudah berbuat kasar.”
“Apa katamu? Dia yang memukulku lebih dulu!” sergah Jovanka marah.
“Jojo, please,” desis Max.

Jovanka tak mengindahkannya, hatinya retak dan perih saat mengetahuai jika Max sama sekali tidak membelanya dalam hal ini. “Dia memukulku dan aku membalasnya, apa salahku?” ucap Jovanka pelan di samping suaminya yang berdiri kaku.

Andrew menatap Jovanka yang terlihat marah dengan tangan berada dalam genggaman Max. Sementara Amarisa masih menangis di punggungnya.
Max sendiri terlihat bingung. Yang dia tahu hanya menggenggam tangan Jovanka, tidak ingin membiarkanya meluapkan amarah.

“Atas nama istri saya, ijinkan saya memohon maaf,” Max membungkuk pada Andrew dan Amarisa.
Detik itu juga, Jovanka menggeliat dan melepaskan diri dari genggaman Max. Mengibaskan sekuat tenaga tangan suaminya dan setengah berlari meninggalkan kerumunan. Tak sanggup rasanya berlama-lama di antara orang-orang yang menghakimi. Ia hanya ingin pergi, entah kemana asal jauh dari mereka.

“Jojo, tunggu!” Terdengar suara Max menyusulnya. Jovanka mengabaikannya, terus melangkah menuju parkiran mobil. Lalu berdiri bingung, saat dia sadar tidak membawa kendaraan apa pun ke sini.

Terdengar bunyi pintu mobil dibuka. Sekejab kemudian tangan Max meraihnya dan menuntun masuk mobil lalu mendudukkanya di samping kemudi. Max menyetir dengan kecepatan sedang, membawa mobil melaju menuruni bukit.

Sepanjang jalan menuju Jakarta tidak ada percakapan di antara mereka. Jovanka memandang ke arah mana saja asal bukan suaminya. Berkali-kali Max mencoba mengajaknya bicara tapi ia menutup mulut rapat-rapat. Wajah Jovanka kaku dan pucat. Saat ini yang dia inginkan hanya cepat-cepat sampai tujuan.

Tiba di rumah, sebelum mobil benar-benar berhenti, Jovanka meraih pintu dan setengah berlari masuk ke dalam rumah. Ia mengabaikan Bu Erna yang menyapa, berlari menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar.

Membuka lemari dan mengambil koper yang ia bawa sewaktu datang, menyibak gantungan pakaian dalam lemari dan mengambil baju-bajunya lalu menaruhnya begitu saja dalam koper yang terbuka.
“Apa yang kamu lakukan?” tegur Max padanya. Tanpa disadari Max berdiri kaku di dekat pintu.
Jovanka terdiam, terus mengambil baju dan menjejalkan dalam koper. Menarik resleting untuk menutup koper dengan tangannya yang terlihat memerah.

“Jovanka! Apa kau dengar pertanyaanku?” Kali ini Max berkata dengan emosi yang tak tertutupi.
Jovanka menegakkan tubuh, meneteng koper di tangan dan berdiri sambil menarik napas panjang. Memandang suaminya yang berdiri bingung, ia berkata dengan suara tercekat. “Aku akan pulang.”
“Apa?”

“Kamu nggak salah dengar, Mr. Max. Aku mau pulang, selamat tingggal.” Jovanka melewati samping Max menuju pintu.
“Jangan berani-berani kamu melakukan itu, Jovanka! Stop!” teriak Max keras. “Ini perintah!”
Jovanka menghentikan langkah, memutar tubuh dan bertanya lirih. “Perintah siapa? Tuan Max pada bawahannya atau Max untuk istri bayarannya? Kenapa? Kamu takut aku meminta cerai untuk pernikaha pura-pura kita? Tenang saja, itu nggak kulakukan Mr. Max tapi aku sudah muak berada di sisimu.”

Max terlihat terpukul mendengar kata-kata Jovanka. “Apa karena aku tidak membelamu? kamu harusnya tahu bagaimana posisiku. Di sana ada banyak re---,”
“Relasimu! Dan aku tahu mereka yang utama bukan?” sergah Jovanka marah. “kamu bahkan tak bertanya apa yang telah dilakukan Amarisa padaku. Dia memukulku lebih dulu. Menghina habis-habisan keluargaku. Kami memang miskin, tapi kami punya harga diri!” Selesai menumpahkan unek-uneknya, Jovanka kembali berbalik menuju pintu.

“Aku belum selesai,” desis Max.
“Aku sudah selesai, untuk apa bertahan di sisi orang yang tidak akan pernah membelaku.”
Berkata terakhir kalinya, Jovanka melangkah cepat menyeret koper. Tiba di dekat pintu, dia merasakan tubuhnya direngkuh paksa.

“Apa-apaan ini?” teriakannya menembus kesunyian kamar.
Belum sempat ia memberontak, Max mengangkat tubuhnya dan melemparkannya ke atas ranjang. Tangan kanan Max mengunci kedua tangan Jovanka di atas kepala. Kedua kakinya menjepit tubuh istrinya di atas ranjang hingga tidak dapat bergerak.
“Apa-apaan ini, lepaskan aku!” Jovanka memberontak. Berusaha melepaskan diri dari tubuh Max yang mengurungnya.
“Kamu pikir semudah itu akan meninggalkanku, Jovanka?” desis Max dengan mata menatap tajam pada istrinya yang berada di bawah tubuhnya.

“Lepaskan aku, aku mohon. Aku nggak akan meminta cerai, aku hanya ingin pulang,” rintih Jovanka sekarang dengan air mata berlinang. “Aku muak berada di antara kalian para orang kaya yang menganggapku seperti sampah. Aku bisa saja mengabaikan mereka asal kau di sisiku tapi ….”
“Banyak hal yang aku pikirkan Jovanka, bisnis dan kerjama sama yang telah terjalin.”
“Aku tahu, karena itu lepaskan aku. Please, Sir. Aku ingin pulang.”
“Bagaimana jika aku nggak mau lepasin kamu?”
Jovanka menangis sekarang. Air mata yang dia tahan semenjak dari vila akhirnya keluar tak terkendali. Bulir-bulir besar membasahi pipinya.

Max memandang iba, akhirnya melepaskan tangannya yang mengunci tangan Jovanka. Dan melihat dengan miris, istrinya yang menangis tersedu-sedu sambil menutup mata. Mengikuti dorongan hati, Max berpindah ke samping tubuh Jovanka. Berbaring miring dan meraup istrinya dalam pelukan.
“Maafkan, aku. Kamu dengar Jojo? Maafkan aku,” desah Max dengan tangan mengelus punggung Jovanka.

Jovanka tidak menjawab, dia menangis dan menangis untuk menumpahkan perasaannya. Berbulan-bulan ia menahan diri dari hinaan Steve, Violet atau Amarisa. Ia bisa menahan apa pun yang orang lain katakan tentangnya asalkan Max mempercayainya. Hari ini, ia menyadari jika posisinya tak lebih dari seorang istri bayaran. Apa pun yang terjadi padanya, Max tidak akan peduli karena bisnis adalah yang utama.

“Aku nggak akan meminta cerai,” ucap Jovanka tersendat di antara tangis. “tapi aku pingin pulang. Seenggaknya beberapa hari, biarkan aku pulang.”
Max merenggangkan pelukannya, menatap wajah Jovanka yang bersimbah air mata. Tangannya bergerak dari rambut hingga mencapai pipi Jovanka yang memerah.
“Dia memukulmu, si Amarisa. Dan aku tak bisa apa-apa untuk membelamu. Wajar jika kamu marah dan kecewa padaku, Jovanka. Maafkan, aku,” desah Max penuh penyesalan.

Jovanka menggeleng, mencoba tersenyum di antara air mata. “Ada banyak hal yang kamu pertaruhkan, Sir. Aku paham sekarang. Maaf sudah menuntut macam-macam.” Dia menggeliat. Akhirnya, Max melonggarkan pelukannya dan membiarkan Jovanka duduk di ranjang.
“Apa kamu tetap ingin pulang?” tanya Max pelan.
Jovanka mengangguk. “Iya, aku kangen orang tuaku.”
“Untuk berapa lama?”

Jovanka bangkit dari ranjang dan berdiri. Mengusap air mata dengan punggung tangan dan mengangguk pada Max yang terlihat kusut duduk di atas ranjang. “Entah untuk berapa lama. Selamat tinggal, Sir.”

Kali ini Jovanka benar-benar pergi, membuka pintu dan meraih kopernya yang dilempar oleh Max. Ia menuruni tangga dengan cepat tanpa menoleh ke arah Max yang berdiri gamang di pintu kamar.
“Miss, Anda mau kemana?” tanya Bu Erna bingung saat melihatnya menyeret koper menuruni tangga.

“Pulang,” jawab Jovanka singkat. Tiba di ujung tangga, setengah berlari ia menyeberangi ruangan tengah menuju ruang tamu. Meraih helm di atas rak sepatu dan bergegas memakainya. Tanpa basa basi bahkan tidak mengganti gaun pestanya, ia menstarter motor yang terparkir di teras dan meninggalkan rumah besar yang selama hampir tujuh bulan ini ia tempati.
Kepergiaan Jovanka tidak hanya meninggalkan teka-teki pada benak Bu Erna tapi juga penyesalan dalam diri Max. Ia terduduk di ranjang dengan wajah ditekuk. Memijat kepalanya yang mendadak pusing. Peristiwa hari ini benar-benar menguras emosinya dan membuat istrinya pergi. Dan semua karena kesalahannya.

***

#Pengantin_Bayaran_Sang_CEO.
#Part.17a.
#CEO's Bride.

*******

“Apa kamu nggak ingin kembali ke rumah suamimu?” tanya Bu Ningrum pada anak perempuannya yang sedang duduk melamun di ruang tamu. Sudah seminggu Jovanka meninggalkan rumah Max dan tidak ada tanda-tanda dia akan kembali ke sana.
“Apa dia nggak cari kamu?”

Jawaban Jovanka hanya berupa gelengan tanpa penjelasan.
Bu Ningrum mendesah pelan. Sebagai orang tua, dia dan suaminya tahu jika rumah tangga anak perempuannya sedang ada masalah. Namun mereka tidak ingin banyak ikut campur, apalagi jika melihat sikap Jovanka yang menjadi lebih pendiam. Mereka sendiri mengalami, susahnya berdamai dengan keadaan jika ego sedang menguasai hati.

“Apa kamu mau makan siang? Semua udah kenyang, cuma kamu yang belum makan, Jo.”
“Nanti, Ma,” jawab Jovanka pelan. Matanya menatap TV yang menyala dengan pandangan menerawang. “Belum lapar.”

“Apa kamu nggak mau telepon dia untuk datang menjemputmu?”
Jovanka menggeleng. Ia tahu yang disebut dia oleh mamanya adalah Max.
Bu Ningrum menghela napas. Tidak tahu lagi harus bagaimana. Dengan enggan dia meninggalkan anak perempuannya sendiri. Ia tahu Jovanka lebih suka memendam masalahnya sendiri. Terkadang hal itu membuatnya kuatir.

Semenjak anak perempuannya menikah dengan orang kaya, pandangan para tetangga dan kerabat berubah seratus delapan puluh derajat pada keluarga mereka. Menjadi terlalu manis dan menjijikan, terkadang hal itu membuat suaminya geram. Rasa penasaran mereka pada Max cenderung mengesalkan.
“Katanya punya menantu milyader, kok masih tinggal di rumah kumuh?”
Lain kali mereka akan mengatakan hal yang berbeda. “Bu Ningrum, kenapa nggak ikut tinggal bersama menantunya di rumah mewah?”

Kenyinyiran mereka mengesalkan, tentu saja. Kini kepulangan Jovanka makin banyak menimbulkan teka-teki di lingkungan tempat tinggalnya. Ada yang bilang, Jovanka bercerai, diusir dari rumah suaminya dan banyak kabar miring lain. Itulah kenapa, Bu Ningrum memilih untuk tetap di rumah selama Jovanka di sini.

Jovanka yang tidak memperhatikan kegundahan mamanya, berkutat dengan remote TV tanpa benar-benar menontonnya. Pikirannya berkecamuk antara marah, sebal tapi juga rindu secara bersamaan.
“Kakak, kenapa minggat dari rumah, ada apa?” Satu panggilan panik dari Evelyn dia terima kemarin. Mau tidak mau hati Jovanka merasa tersentuh, setidaknya ada yang merasa kehilangan karena kepergiaannya, meski itu bukan sang suami.

‘Memang apa yang kamu harapkan Jovanka. Kamu hanya istri bayaran untuk seorang Max Vendros. Kamu marah dan mengamuk trus ngaruh buat dia gitu,’ desah Jovanka dalam hati. Detik itu pula, matanya terasa memanas.

Peristiwa tentang Amarisa dan Violet yang menyerangnya demi Max sedikit banyak membuka hatinya untuk tidak benar-benar jatuh cinta pada Max.
‘Lalu apa arti debar di dada tiap kali mengingat tentangnya,’ desah Jovanka dalam hati. Diam-diam menyimpan rapat kerinduannya pada Max.

*****
Rumah sepi, dari dulu rumahnya memang sepi tapi entah kenapa akhir-akhir ini terasa lebih sunyi. Max berpikir  sambil mengisap cerutunya kuat-kuat. Kehadiran Jovanka di sini selama kurang lebih tujuh bulan, berpengaruh banyak pada suasana rumah. Istrinya yang ceria, ramah dan penyayang disukai oleh para pelayan. Bahkan Bu Erna yang biasanya selalu kaku dan menjaga jarak, terlihat sangat dekat dengan Jovanka.

Suara Jovanka yang sedang tertawa bersama pelayan atau terkikik saat menggodanya adalah sumber kegembiraan di rumah ini. Yang membuat para pelayan senang tentu saja nafsu makan Jovanka yang besar, membuat para koki merasa dihargai. Seringkali ia mendapati, istrinya meminta agar dibuatkan makanan kampung kesukaannya, seperti cilok dan cireng. Jenis makanan yang tidak akan pernah disentuhnya.

Kini rumahnya kembali sunyi, tidak ada Jovanka yang ceria mondar-mandir di rumahnya yang besar.
“Pulang dari luar kota malah melamun,” ucap Steve di ujung sofa. Sepupunya datang setelah tahu kepulangannya dari luar kota.
“Apa Jojo datang bekerja?”
Pertanyaan darinya membuat Steve mengangkat sebelah alis. “Kenapa? Kamu kangen karena Upik Abu minggat? Kenapa tidak jemput dia kembali.” Steve berkata sambil menggoda. “Kalian itu bertengkar seperti suami istri beneran.”

Max mendengkus, mematikan cerutu dan menaruhnya ke asbak kaca di atas meja. Mengenyakkan pinggulnya ke atas sofa. “Ingin jemput tapi ….”
“Tapi apa? Takut dia nggak mau?”
“Entahlah, kurasa ada banyak salahku di sini.”
“Halah! Kamu yang nggak tegas,” ucap Steve sambil mengibaskan tangannya. “Dia itu istri bayaran, digaji untuk tinggal di sini. Sudah seharusnya dia membantumu bukan malah mengumbar egois.”
Max terdiam, mengusap wajahnya sebelum bicara. “Aku rasa ini memang salahku. Jelas-jelas dia hanya membela diri dari Amarisa. Istri bayaran apa bukan, memang dia wajib mempertahakan harga diri kami. Sialnya, ada Andrew di sana dan membuatku tak berkutik.”

“Maksudmu apa?” tanya Steve heran.
Mengambil napas panjang, Max mulai bercerita asal muasal pertengkarannya dengan Jovanka yang berakhir dengan kepergian istrinya.
Awalnya Steve hanya terdiam mendengarkan tapi lama kelamaan wajahnya berubah kesal.
“Kalau gitu kamu yang salah, Max. Jelas-jelas dia dipukul duluan!” celetuknya saat Max selesai bercerita.
“Aku tahu aku salah,” sergah Max keras. Otaknya sedang buntu dan dia tidak butuh tuduhan tambahan dari sepupunya. “Saat itu ada Andrew, ada Pak Johanes dan kamu tahu sendiri bagaimana posisiku.”

Steve berdecak tidak puas. “Dalam banyak hal aku bertentangan dengan Upik Abu tapi dalam hal ini aku merasa kamu bodoh. Dia istrimu yang berarti kehormatanmu dan membiarkannya dihina itu keterlaluan, sih.”
Max mendesah dan menghela napas panjang. Makin lama bicara dengan Steve makin membuat rasa bersalahnya memuncak.

“Kamu terus menerus menyalahkan aku. Bukannya membantu cari solusi.”
“Solusinya cuma satu, jemput dia. Atau semua yang telah rintis akan hancur jika dia meminta cerai.”
“Apa menurutmu Jovanka akan melakukan itu?” tanya Max sangsi.
Steve mengangguk. “Jelas, jika kamu terus menerus tidak mempercayainya.
Max mengusap wajah, menekan-nekan alis dengan jari dan berharap bisa mengusir rasa pusing yang menggerogotinya.

Handphone di tangan Steve berdering. Keningnya berkerut saat melihat nama pemanggil yang tertera di layar. Berdehem sebentar, dia mulai menerimanya.
Max hanya terdiam mendengarnya bicara. Makin lama obrolan makin kelihatan kerut wajah sepupunya. Sedikit banyak dia bisa menebak siapa si penelepon.

“Max, Kamal baru saja menelepon.” Steve meletakkan handphone di atas meja dan memandang sepupunya lekat-lekat. “Boss-nya ingin datang ke Vendros Impersia Jakarta Utara.”
Tanpa sadar Max mendengkus jengkel. “Tempat Jojo bekerja.”
Steve mengangguk.
“Mau apa dia?”

Steve mengedikkan sebelah bahu. “Katanya ingin menjenguk Miss Jojo dan untuk meminta maaf atas kejadian yang tidak mengenakkan waktu di vila.”
“Apakah dia akan datang bersama Amarisa?”
“Entahlah, dan yang pasti kamu harus bicara masalah ini dengan Jojo.”
Max bangkit dari tempat duduknya. Melangkah mondar-mandir di depan Steve. Perasaanya campur aduk. Ada keinginan menelepon Jovanka sekarang dan mengatakan perihal kunjungan Andrew. Entah bagaimana dia yakin, istrinya akan semakin memandang rendah padanya. Memanggilnya hanya saat ada perlu.

“Bagaimana mengatakan ini pada Jojo?” gumam Max cukup keras untuk didengar Steve.
Sepupunya tertawa lirih. “Tinggal ada telepon dan bilang, ‘Jojo, jangan lupa besok pakai baju yang bagus. Andrew mau datang’ sudah gitu aja.”
“Mudah bagimu bicara begitu,” gerutu Max. “bukan kamu yang sedang dia benci tapi aku.”
“Hei, aku hanya memberi saran.”
Max berhenti di tengah ruangan. Berpikir sejenak sebelum menanggil Bu Erna melalui interkom yang terpasang di dinding. Tak lama, kepala asisten rumah tangganya datang menghadap.
“Tuan memanggil saya?”

“Ah, Bu Erna. Tolong siapkan satu stel baju kerja istriku,” perintah Max padanya.
“Maksud Tuan?”
“Baju kerja yang sedikit lebih mewah dari biasanya. Besok pagi aku akan membawanya.”
Tanpa banyak tanya, Bu Erna mengangguk dan meninggalkan ruangan.
“Besok kita mengantor di Vendros Impersia Jakarta-Utara.” Max berucap pelan.
Steve mengangkat bahu. “Up to you.”

****
“Jojo, kamu dicariin Mr.Steve!” Irma datang tergopoh-gopoh ke arah Jovanka yang baru saja memarkir motor.
“Hah, Steve ada di sini?” tanya Jovanka balik.
“Iya, buruan sana! Nggak enak kalau dia lama nunggu. Tapi kenapa wajahmu pucat?” tanya Irma mengamatinya.
“Oh ya, mungkin karena semalam kurang tidur dan sedikit flu juga.”
“Udah minum obat?”
Jovanka menggeleng. “Nggak parah.”
“Ya sudah, buruan ke kantor Mr. Steve. Dia udah nunggu.”

“Emang aku peduli kalau dia nunggu lama? Makin lama dia nunggu makin bagus.” gerutu Jovanka dengan langkah tegap berjajaran dengan Irma.
“Hah, kamu ngomong apa, Jo?”
Jovanka meringis. “Nggak ada apa-apa, aku ke kantor dulu. Bye.”
Mereka berpisah di ujung lorong. Irma menuju kantor staf dan Jovanka melangkahkan kaki ke kantor Max. Ia menarik napas sejenak sebelum mengetuk pintu dengan pelan dan membukanya.
“Ah, Upik Abu. Kamu datang telat, ya?” Suara Steve yang menggelegar menyambutnya.
Jovanka memasang wajah cemberut, melihat Steve duduk di kursi Max. “Siapa bilang? Ini belum jam delapan. Kamu aja yang datang kepagian,” jawabnya ketus.

Steve mengangkat sebelah alis, memandang Jovanka yang berdiri cemberut.
“Eih, Upik Abu. Sini bentar, ada sesuatu yang penting. Aku nggak mau pagi-pagi berantem sama kamu.”
Jovanka mengangkat kepala, melangkah menuju sofa dan mengenyakkan diri di sana.“Ada apa? Apa kamu akan mengantor seharian di sini?”
“Iya, dan Max tentu saja.”
Deg.
Jovanka merasakan sentakan kecil di dadanya. Sedikit kaget mendengar kabar Max akan mengantor di sini.
“Dengar Upik Abu, ada sesuatu yang penting yang harus kamu lakukan.” Entah kapan datangnya dan tanpa disadari Jovanka, Steve berdiri dekat dengannya.
“Ada apa?”
“Andrew akan datang hari ini, jadi---,”
“Ah, pantas saja kalian datang!” sergah Jovanka memotong perkataan Steve. “Baiklah, aku mengerti. Aku akan menjalankan tugasku seperti biasa.”

Steve berdecak tidak puas. Memandang Jovanka dari tempatnya berdiri. Matanya mengawasi istri sepupunya yang terlihat cemberut. Dia tahu wanita di depannya sedang kesal.
“Kamu tahu? Menurutku Max memang bersalah karena tidak membelamu.”
Ucapan Steve bagaikan petir di siang bolong. Jovanka yang mendengarnya langsung mendongak heran. Sama sekali tidak menyangka Steve akan sependapat dengannya. Apakah Steve sedang kesambet setan atau apa.

“Benarkah?” tanyanya tidak yakin.
Steve mengangguk. “Iya, dia salah. Dan aku rasa dia sudah dihukum untuk kesalahannya yaitu, kamu minggat dari rumahnya.”
“Aku nggak minggat,” gerutu Jovanka. “Aku pamitan kok.”
“Judulnya pergi dari rumah Upik Abu. Kalau aku aku berada di posisimu akan melakukan hal yang sama.”

Jovanka menepuk-nepuk kupingnya. “Eih, aku nggak salah dengar kamu sependapat denganku?”
Terdengar dengkusan tidak sopan dari mulut Steve.
“Aku bekerja untuk Vendros Impersia dari semenjak lulus kuliah. Itu juga yang membuatku setuju Max menikahimu. Sampai kini, aku akui akan ada banyak masalah yang menimpa Vendros jika tanpa kehadiranmu.” Steve memandang Jovanka yang terdiam. “Max salah, dia layak dihukum tapi aku meminta tolong demi Vendros Impersia, Jojo.”

Perkataan dan permohonan Steve yang lebih lembut dari biasanya membuat Jovanka mau tidak mau berpikir. Dia memang marah dengan Max tapi dia masih menyimpan kewajiban sebagai istri bayaran. Memang sudah seharusnya, selama kontrak belum berakhir, ia harus melakukan apa pun yang diperintahkan utuknya.

“Jam berapa Andrew datang?” tanya Jovanka.
“Jam makan siang, bisa jadi kita akan makan siang di luar. Aku sudah menyiapkan baju ganti untukmu.” Steve menunjuk kantong kertas di atas mejanya.
Jovanka mengangguk. Berdiri dari kursi dan menyambar kantong berisi baju. Mengintip isinya sejenak sebelum melangkah menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Sebentar lagi Max datang, dia akan memoles lipstik dan berdandan sedikit.
Bersambung ...

***


Pengantin_Bayaran_Sang_CEO
Part.17b.

*******

“Miss Jojo, senang melihatmu.” Andrew menghampiri Jovanka yang berdiri bersisihan dengan Max dan mengecup punggung tangannya. “Entah kenapa terlihat tirus, apakah kamu sakit?” tanyanya sambil memandang Jovanka dengan kritis.

“Ah, nggak. Mungkin hanya sedikit kecapean,” jawab Jovanka dengan senyum tersungging. Melirik penampilannya dalam balutan rompi dan celana merah muda lembut dengan kemeja putih.
“Oh, syukurlah. Jangan sakit, nanti tidak ada lagi lagi yang mau traktir aku makan mie tek-tek.”
Mau tidak mau Jovanka tersenyum mendengar keramahan dalam suara Andrew. Dia melirik suaminya yang berdiri tenang di sampingnya. Teringat olehnya, sesaat setelah Max datang dan melihatnya yang pertama diucapkan suaminya membuat hatinya terpukul.

“Jojo, aku minta bantuanmu.”
Tanpa kata rindu, maaf atau apa pun yang menyiratkan penyesalan. Diam-diam rasa sakit menggerogoti hatinya. Namun ia tahu sudah tugasnya untuk bersikap baik dan tampil sebagai Nyonya Vendros. Ia tahu, dia dibayar untuk itu.

“Silahkan duduk, Sir.” Max menyilahkan Andrew duduk. Kemudian merangkul pundak istrinya dan membimbingnya ke kursi kosong. Bisa dia rasakan Jovanka sedikit menegang karena sentuhannya.
Mereka berlima duduk berhadapan di meja panjang yang sekaligus berfungsi sebagai ruang makan. Berada persis di sebelah kantor Max dengan dinding kaca yang menampakkan pemandangan taman apartemen.
“Seharusnya saya menjamu Tuan Andrew di restoran, bukan di kantor kami yang kecil ini.” Max membuka percakapan.

“Tidak masalah Mr. Max. Saya senang berkunjung kemari.” Andrew menjawab diplomatis.
Tidak lama tiga orang pelayan berseragam datang menghidangkan makanan. Jovanka melihat sepertinya Steve memesan dari restoran lokal yang terkenal. Banyak ikan, daging dan olahan lauk pauk dalam balutan bumbu kental menggugah selera. Jika dia tidak sedang sakit, mungkin makanan di atas meja akan sangat lezat dinikmati.

“Sesekali kita menikmati masakan padang.” Steve berucap ramah.
“Saya suka rendangnya, Steve dan restoran ini memang favorite.” Andrew menimpali tak kalah ramah.
Mereka mulai makan sambil bercakap. Max melirik istrinya yang makan dalam diam. Sejenak terlihat ragu-ragu untuk mengucapkan sesuatu.
“Kenapa makannya sedikit sekali,” bisiknya di telinga Jovanka.
Jovanka sedikit berjengit. Menyuap nasi rendang ke mulut sebelum menjawab.”Tadi sarapan banyak sekali.”

“Di rumah apa di kantor, sarapannya?”
Lagi-lagi Max bertanya sesuatu yang tak penting padanya dan membuat Jovanka malas menjawab tapi saat menyadari seluruh mata di sekeliling meja makan menatap mereka berdua, mau tidak mau dia berpura-pura ramah.
“Di rumah, Mama bikin nasi goreng.”

Keduanya kembali terdiam. Di ruangan terdengar denting peralatan makan dan obrolan Steve dengan Kamal yang membahas soal nilai saham.
Sementara dari ujung meja, Andrew mengawasi Jovanka yang berbicara lirih dengan Max dengan mata bersinar ingin tahu.

Setelah makan siang, pertemuan dilanjutkan di ruang meeting. Selama beberapa saat Jovanka hanya duduk diam mendengarkan Andrew bicara soal bisnis dengan Max. Sementara Steve dan Kamal terlibat diskusi mengenai trend produk makanan yang merupakan salah satu produk andalan dari Vendros Impersia Group. Demi menghilangkan rasa bosan, dia bangkit dari kursi dan bersender pada jendela kaca untuk menikmati pemandangan.

“Apa kamu baik-baik saja?” Jovanka menoleh kaget. Melihat Andrew sudah berdiri di dekatnya.
“Iya, Sir.” Jovanka tersenyum. Melihat sekilas ke arah Max yang sedang menerima telepon.
“Tapi wajah kamu pucat.”
“Oh, kurang tidur saja. Tapi selebihnya baik.”
Keduanya terdiam, berdiri berhadapan di jendela kaca. Sinar matahari membias wajah Jovanka dan membuatnya makin terlihat pucat.
“Aku minta maaf, Jo,” ucap Andrew memecah kesunyian.
“Untuk apa, Sir?” Jovanka mendongak bingung.

Andrew meletakkan tangan ke kaca jendela dan mengetuk pelan dengan mata memandang Jovanka. Menengkan kepala seakan-akan menimbang sebelum bicara.
“Untuk perlakuan Amarisa padamu. Dia sudah bersikap keterlaluan padamu dan sebagai tunangannya aku minta maaf.”

Jovanka tertegun. Memandang Andrew yang terlihat bersungguh-sungguh meminta maaf demi kekasihnya. Mau tidak mau sikapnya membuat Jovanka teringat akan Max yang melakukan hal yang sama. Meminta maaf di hadapan semua orang karena sikapnya. Sentakan rasa kasihan dan bersalah menyelusup masuk ke hatinya.

“Jangan meminta maaf, Sir. Jojo juga salah, nggak bisa nahan diri. Tolong sampaikan ucapan maafku pada Nona Amarisa.” Jovanka berkata sambil menundukkan kepala dan tanpa disadari anak rambut jatuh menutupi dahi.

Andrew tertegun melihatnya, memandang wanita di depannya lekat-lekat. Meski berusaha menahan diri tapi tangannya gatal untuk menyentuh. Tanpa disadari ia mengulurkan tangan untuk menyetuh anak rambut Jovanka.
“Tuan Andrew.”

Suara teguran membuat mereka tersentak. Andrew menarik kembali tangannya yang setengah terulur dan memandang Max yang entah kapan sudah berdiri di dekat mereka.
“Jojo, apa kamu mau istirahat dulu? Wajahmu pucat.” Dengan sedikit posesif Max merangkul bahu Jovanka dan mengelus pelan pipinya.

Jika Jovanka berjengit kaget, lain dengan Andrew yang melihat dengan wajah mengeras.
“Tapi, aku baik-baik saja,” ucap Jovanka sambil menelan ludah. Merasakan sentuhan Max sekarang menjalar ke lehernya.
“Tidak, wajah dan lehermu memang sedikit hangat. Mungkin gara-gara semalam, capek ya?”
Perkataan yang ambigu dari Max membuat wajah Jovanka memerah. Entah kenapa sepertinya sang suami sengaja mengatakan sesuatu yang memancing rasa ingin tahu orang lain. Dan orang itu adalah Andrew.

‘Ah, memalukan. Pasti Andrew menduga yang tidak-tidak,’ pikir Jovanka masam.
“Ayo, sana, Sayang. Istirahatlah. Aku bangunkan nanti kalau waktunya pulang.”
Jantung Jovanka rasanya mau copot karena panggilan sayang dari laki-laki yang selama tujuh bulan ini menjadi suaminya. Demi menghilangkan rasa malu, Jovanka mengangguk dan berpamitan menuju kantor Max. Ia tahu ada sebuah ranjang yang terletak di belakang ruangan Max. Mungkin digunakan khusus untuk beristirahat dan ia butuh tidur sekarang. Kepalanya berdentum-dentum menyakitkan.
Saat berbaring di ranjang, mengambil selimut dan mencoba memejamkan mata. Ia teringat akan sentuhan hangat Max di wajah dan lehernya. Panggilan sayang yang terdengar mesra dan betapa perhatian yang ditujukan untuknya terasa alami dan tidak dibuat-buat. Sangat aneh rasanya melihat suaminya bersikap mesra dan posesif.

‘Sayangnya, pernikahan kami hanya kontrak dan dilarang keras jatuh cinta. Jaga hati, Jovanka. Jaga hati.’
Dengan air mata menetes di ujung pelupuk. Jovanka mulai terlelap.
Sepeninggal Jovanka, Max dan Andrew tidak bergeming dari tempat mereka berdiri dekat jendela kaca. Andrew tidak mengalihkan pandangannya ke arah Jovanka yang menghilang.
Akhirnya ia menoleh setelah mendengar Max berdehem. “Saya benar-benar minta maaf soal Amarisa.”

Max menggeleng. “Tidak ada yang harus dimaafkan.”
“Apakah Jojo menjadi tertekan karena itu?”
“Sedikit dan saya memaklumi.”
Andrew mengangguk. Mengembuskan napas panjang, matanya memandang sosok Max yang terlihat tampan dengan mata kebiruan.

“Mr. Max, saya agak kesulitan mengatasi masalah hubungan saya dengan Amarisa.”
Max mengangkat sebelah alis. Tidak mengerti dengan maksud Andrew tapi enggan juga bertanya.
Andrew tersenyum simpul. Meletakkan tangan ke dalam saku dan menyandarkan tubuh pada jendela. “Amarisa dan saya sama-sama tahu. Meski kami terikat suatu hubungan tapi kami mengerti, siapa yang sesungguhnya kami cintai.”

Max masih terdiam dan membiarkan laki-laki kaya yang berdiri di depannya terus bicara. Persoalan pribadi seperti ini ia tak tahu bagaimana harus menanggapinya.
“Apa kamu tidak bertanya, Max Max. Siapa laki-laki yang dicintai Amarisa?”
Max mengedikkan bahu, tidak ingin terpancing dengan pertanyaan lawan bicaranya yang sepertinya ia bisa menebak akan menuju kemana.

“Urusan Amarisa bukan lagi urusan saya,” jawabnya diplomatis tapi tegas.
Entah kenapa, Andrew tertawa terbahak-bahak. Dia menganggukkan-anggukan kepala sebagai tanda mengerti.
“Saya paham, tidak usah diambil hati pertanyaan saya. Hanya satu yang perlu Anda ketahui.”
Andrew mendekat dan berbisik pelan. “Jovanka adalah istri yang luar biasa. Dan saya mengharapkan kehadiran kalian berdua di rumah saya, minggu depan.”


Dengan kata-kata terakhir yang penuh penekanan Andrew meninggalkan Max sendirian di dekat jendela. Memandang tumbuhan bunga yang layu karena siraman panas matahari. Sementara seekor kupu-kupu hijau berjuang untuk mengisap madu. Sementara rumput hijau yang tertata rapi seakan tak terpengaruh oleh panasnya matahari. Max mengembuskan napas kasar, sepertinya ia mulai paham akan pola permainan Andrew. Tersenyum dalam hati, ia bertekad akan bermain cantik dan baik. Tidak ingin terburu-buru menduga hal yang buruk.

Andrew dan Kamal pergi tanpa berpamitan pada Jovanka yang masih tertidur. Setelah kepergian tamu mereka, Max memutuskan untuk tetap mengantor di cabang dengan Steve.
Menjelang sore, Jovanka terbangun dengan kaget dan agak lama untuk menyadari kalau dirinya tidur di kantor. Setelah mencuci muka, ia melangkah tergesa keluar dari kamar dan tertegun melihat Max dan Steve menunduk di atas laptop mereka.

“Sir, maaf aku ketiduran.” Jovanka berkata malu-malu sambil menghampiri meja suaminya.
“Apa kamu sudah baikan?” tanya Max.
“Iya, sudah dan aku mau ke kembali ke kantor.”
“Tidak, usah. Pulang saja langsung. Kamu sakit, kemasi barang-barangmu. Kita pulang sekarang.”
Perkataan dan ajakan suaminya membuat Jovanka bingung. “Aku bisa pulang sendiri.”
Max menopangkan dagu, menatap istrinya yang berdiri dengan wajah sedikit pucat. “Jojo, mau sampai kapan kamu pergi dari rumah?”
Jovanka menunduk.

“Sudah lebih dari seminggu, apakah kemarahanmu belum reda?”
Pertanyaan Max dijawab dengan keras oleh Steve.
“Aah, pekerjaanku sudah selesai di sini. Mau pulang saja.”
Max mengabaikan sepupunya yang terlihat sibuk membereskan perlengkapan kerja. Ia memandang ke arah istrinya yang berdiri terdiam. Menarik napas panjang, dia bangkit dari kursi dan menghampiri Jovanka.
“Jojo, apakah kamu masih marah?”
“Tentu saja dia marah, Max. Siapa pun sebagai istri jika diperlakukan begitu akan marah,” sergah Steve keras dengan senyum usil tersungging.
“Bisa tidak kamu tutup mulut?” tegur Max padanya.

Sementara Jovanka diam-diam mengulum senyum mendengar pembelaan Steve yang tak biasa.
“Ups, aku mau pulang.” Dengan santai Steve menghampiri Jovanka dan berkata lirih padanya. “Jangan mau menerima begitu saja permintaan maafnya. Aku rasa, dia tidak cukup tulus.”
“Steve!” tegur Max keras.
Sepupunya hanya tertawa terbahak-bahak, menenteng tas hitam berisi laptop dan melangkah pergi meninggalkan sepasang suami istri yang sedang bercakap. Di dekat pintu ia menoleh dan memandang Jovanka sekali lagi sebelum berucap keras.
“Kalau aku jadi kamu, Jojo. Aku akan minta sebongkah berlian sebagai tanda permintaan maaf. Kalau perlu Max harus mengumumkan di harian surat kabar kalau dia menyesali diri dan itu harus dilakukan selama seminggu. Aah, ya, minta sekalian rumah dan mobil mewah ya, siapa suruh jadi laki-laki tidak peka. Hahaha ….”

Meninggalkan tawa di belakang punggungnya, Steve menghilang di balik pintu. Sementara Jovanka merasa wajahnya menghangat karena godaan sepupu Max padanya.
“Jojo, kamu nggak berpikir kalau omongan Steve benar, kan?” tegur Max padanya.
Jovanka tersadar dari lamunan dan memandang suaminya yang beberapa hari ini tidak ia temui. Mereka berdiri sangat dekat, tercium parfum Max yang wanginya maskulin. Ia bahkan pernah memeluk erat tubuh kekar di depannya saat mereka berdansa.

Mereka bertatapan dalam diam. Jovanka yang mengalihkan pandangan lebih dulu.
“Jojo masih ingin di rumah, Sir.”
“Rumahku juga rumahmu.”
“Rumah orang tua maksudnya.”
“Mau berapa lama? Bagaimana nanti kalau ada yang tahu?”
Ah, jadi ini masalahnya. Max menginginginkan dia kembali karena takut omongan orang bukan karena hal lain. Tebak Jovanka sedih.

“Tenang saja, Sir. Tidak ada satu orang pun yang tahu atau peduli aku pulang,” ketus Jovanka tanpa sadar. Tangannya menyambar tas yang tergetelak di atas meja Max dan melangkah menuju pintu. “Kalau butuh kehadiranku, Anda tinggal menelepon dan aku datang.”
“Jojo, pulang dulu, Sir,” pamitnya sambil beranjak pergi.
“Jojo … aku belum selesai bicara.”

Teriakan Max menghentikan langkahnya. Namun ia bergeming dan menyadari Max mendekatinya.
“Aku sudah minta maaf, tidakah itu cukup? Kalau aku tidak datang menjemputmu, karena beberapa hari ini aku keluar kota.”
Jovanka tersenyum lemah. “Cukup, dan tidak ada yang perlu dimaafkan juga. Hanya--.”
“Hanya apa?” desak Max.
Jovanka melirik suaminya yang entah kenapa seminggu tidak melihatnya terlihat makin tampan. Hatinya berdesir, kerinduan menyergap pelan. Bukankah rasanya menyakitkan, mengharapkan seseoarng mengerti akan kita dan orang itu adalah seorang CEO sedangkan dirinya hanyalah wanita biasa.

“Beri aku waktu, Sir. Jojo pasti kembali ke sana.”
Max meraih lengan istrinya seolah tahu ia hendak ditinggalkan.
“Kamu sakit, biarkan aku merawatmu.”
Jovanka menggeleng. “Di rumah ada Papa dan Mama.”
“Jojo, bagaimana kalau--,”
“Kalau ada pertemuan menyangkut bisnis, aku akan datang segera. Bukankah untuk itu aku dibayar?”
Pertanyaan Jovanka membuat Max terdiam. Ia mengembuskan napas panjang, merasa kalah. Dengan berat hati melepas lengan istrinya. “Baiklah, jaga diri baik-baik. Pulanglah secepatnya.”

Jovanka tidak menjawab, hanya mengangguk pelan dan berderap menuju pintu. Ia bahkan tidak menoleh saat menutup pintu di belakangnya. Sengaja itu ia lakukan demi niat untuk mengurangi perasaan sesak yang tiba-tiba menyeruak dalam dadanya. Menahan air mata yang tergenang di pelupuk, dirinya menyadari satu hal besar. Dia jatuh cinta dengan Max Vendros.
Sementara Max berdiri tak berkedip, memandang pintu yang menutup dan sosok Jovanka yang menghilang. Entah kenapa, hatinya merasa kosong tiba-tiba. Seperti ada sebagian jiwanya yang direnggut lepas dan menyisakan ruang hampa. Menghela napas panjang, Max kembali duduk di kursinya.

Handphone di atas meja bergetar. Ada sebuah pesan masuk. Dengan enggan ia membukanya dan mendapati nama Violet tertera di sana.
“Max, aku kangen.”

*****


#Pengantin_Bayaran_Sang_CEO.
#Part.18a.
#CEO's Bride.

*****
Jovanka merasa dirinya flu berat. Setelah pertemuannya kemarin dengan Max Vendros, semalaman ia tidak dapat memicingkan mata. Akibatnya, saat pagi kepala terasa berat dan hidung tersumbat. Dengan terpaksa dia ijin kerja. Bosan di kamar, sengaja ia duduk di ruang tamu dan menonton TV. Meski acara yang sedang tayang tak satu pun menarik minatnya.

Ia tak henti mengutuk diri sendiri yang rela menyengsarakan hati hanya demi laki-laki kaya yang tidak akan pernah melihatnya. Bukankah Max sudah mengatakan untuknya agar menjaga hati. Dan kini ia melanggarnya. Dengan terpaksa, ia harus menanggung beban, jatuh cinta pada orang yang tidak mungkin ia miliki.

“Kak, mau dibawain sesuatu nggak?”
Sapaan Agra membuat Jovanka tersentak dari tempat duduknya. Rumah sedang sepi, papa dan mama sedang keluar. Agra mengenyakkan diri di sofa sambil memakai kaos kaki dan sepatu kets putih. Dia mengernyit saat jawaban kakaknya hanya berupa gelengan.
“Nggak mau martabak atau es bubble gitu? Di kampus Agra ada es doger yang enak.” Jawaban Jovanka tetap sama, gelengan kepala dengan tangan memegang tisu untuk mengelap hidungnya yang pilek.

“Oh ya, lagi pilek. Nanti malam Kakak antar Papa ke RS untuk chek-up ya? Bisa nggak?”
Jovanka mengangguk. “Sekalian periksa, pilek parah.”
Dengan anggukan kepala Agra meninggalkan kakaknya sendiri di ruang tamu. Ia tahu kakaknya sakit karena banyak pikiran. Semenjak meninggalkan rumah suaminya, kakaknya menjadi murung dan tak ceria lagi seperti dulu. Meski benaknya bertanya-tanya tapi ia tidak ingin banyak ikut campur. Setelah memastikan membawa semua perlengkapan kuliah, ia memacu motor lama yang dulunya milik Jovanka mengaung meninggalkan rumah.

Sepeninggal adiknya, Jovanka mematikan layar TV. Tangannya meraih handphone dan menatap layar yang gelap, tidak ada pesan mau pun panggilan di sana. Hati sedikit merasa pedih, ternyata suaminya memang sama sekali tak ada niat mencarinya. Ia tahu hal itu tetap saja merasa sakit.
“Ugh, lebih baik aku tidur,” gumamnya malas. Mengangkat pinggulnya dari atas sofa dan berjalan tersaruk menuju kamar tidur.

****
“Hai, cewek.”
“Suit-suit, cantiknya.”
Berbagai godaan yang terlontar ke arahnya hanya ditanggapi dingin oleh Evelyn. Ia sudah terbiasa dengan keusilan para lelaki yang melihatnya, apalagi melihatnya berjalan sendirian. Prioritasnya lebih penting dari pada mengurusi godaan usil mereka. Kampus yang ia datangi lumayan terkenal. Jam istirahat dan banyak mahasiswa sedang nongkrong di sepanjang jalan serta lorong yang dilewati. Meski mulut mereka usil menggoda tapi tetap sopan tanpa berani menjamah.

Saat ini hatinya sedang kacau, kemarin pergi ke rumah Max dan dia mendapati jika Jovanka yang minggat belum juga kembali. Apalagi menurut penuturan Bu Erna, kakak iparnya membawa serta baju-bajunya. Saat dia menanyakan hal itu pada kakaknya, hanya mendapat tanggapan dingin dan perkataan pelan, “Jangan ikut campur.”

Saat Jovanka baru pergi dua hari ia sempat meneleponnya dan bertanya kabar. Saat itu kakak iparnya berkata jika dia akan kembali secepatnya. Tapi nyatanya? Evelyn tidak bisa dibohongi, ada sesuatu terjadi. Dari dulu ia tahu Max pendiam tapi kemarin terlihat sangat murung dan garang. Seolah menyimpan suatu perasaan terpendam.

Tidak bisa dibiarkan, kehadiran Jovanka di rumah kakaknya sedikit banyak membawa perubahan bagus untuk hubungannya dengan Max. Kini, ia kembali merasa asing dengan kakaknya sendiri saat tahu Jovanka pergi.
Tiba di ujung koridor yang ramai, mata Evelyn celingak-celinguk mencari sosok yang ia cari. Seorang mahasiswa berjas putih dengan wajah bulat menyapanya malu-malu.
“Cari siapa, Kak?”

Evelyn menatap cowok di depannya. Dalam hati bergumam tak ada salahnya meminta bantuan.
“Ada Agra? Mahasiswa kedoteran semester enam?”
Si cowok di depannya mengangguk cepat. “Ada, dia di dalam. Tunggu aku panggilkan.”
Evelyn berdiri diam di tempatnya sampai lima menit kemudian muncul Agra dalam jas putih dengan alis terangkat saat melihatnya. Terus terang penampilan Agra membuat Evelyn merasa sedikit syok. Ternyata, jas putih bisa mengubah penampilan seseorang.

“Wew, Tuan Putri. Ada apa kemari? Mau nagih?” tanya Agra sinis sambil menghampiri Eveyln. Sementara di belakang mereka terdengar suitan menggoda.
Mereka berdiri berhadapan dengan mata saling memandang tajam. Evelyn mulai merasa risih dengan riuhnya obrolan, dagunya terangkat sambil berkata memerintah.

“Aku ada urusan penting, ikut aku. Kita ngobrol di tempat sepi.” Tanpa menunggu jawaban Agra dia melangkah ke taman samping koridor yang sepi. Menoleh sekilas hanya untuk memastikan Agra mengikutinya.
“Buruan!” teriaknya saat melihat Agra tak bergerak.
“Dasar, tukang perintah!” gerutu Agra sebal. Tapi mengikuti juga langkah Evelyn. Jika tidak ingat kalau mereka ada hubungan keluarga, pingin rasanya meninggalkan gadis sombong itu sendirian di sini.

“Ada apa?” tanya Agra saat mereka berdiri berhadap-hadapan di bawah pohon palem.
Evelyn bersendekap. “Kakakmu minggat.”
“Apa?”
“Kak Jojo minggat dari rumah Kakaku. Masa nggak tahu, sih?”
Agra mengembuskan napas kesal, menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Melirik gadis cantik yang memandangnya galak dan bersikap seakan-akan dia yang salah karena Jovanka pergi dari rumah suaminya.

“Aku juga nggak tahu apa masalahnya, seminggu lalu Kak Jo pulang. Murung, diam dan tiap kali ditanya hanya menggeleng. Apa mereka bertengkar?”
Evelyn mengangguk. “Sepertinya iya, aku mencari info dari Bu Erna mereka terlibat pertengkaran sepulang dari menghadiri pesta di vila. Setelahnya, Kak Jojo pergi dan sampai sekarang belum kembali. Emang dia nggak cerita apa-apa sama kalian?”

“Nggak ada,” jawab Agra sambil menggeleng. “Jangan kata mau cerita, tiap kali kami mengajak bicara dia hanya diam. Ah, susahnya sih hidup berumah tangga.”
“Sepertinya ada yang tidak beres,” gumam Evelyn pada diri sendiri. Matanya menerawang memandang suasana kampus yang ramai di siang hari. Lalu menoleh memandang Agra yang tertegun di depannya. “Kak Max juga terlihat murung. Kamu harus bantu aku.”
“Maksudmu apa?” tanya Agra heran.

“Kok pakai tanya gitu!” sergah Evelyn galak. “tentu saja kita mikir gimana cara biar mereka balikan. Malah tanya sih?”
“Yee, ditanya baik-baik malah nyolot.”
“Nah, kamu lemot. Mahasiswa kedokteran tapi nggak cepat nangkep omongan orang.”
Agra mengembuskan napas kesal lalu beringsut mendekati Evelyn. Membuat gadis di depannya melangkah mundur.
“Apa-apaan, nih?” tanya Evely bingung.
Agra terus mendesak hingga tubuh Evelyn terdorong menyentuh pohon. Matanya menyorot tajam ke arah gadis di depannya yang juga melotot kesal, meski terlihat ada percik ketakutan di sana.
“Tuan Putri, kamu terbiasa bicara kasar dengan orang yang tidak selevel denganmu. Silahkan saja tapi hati-hati bicara denganku. Aku bukan bawahanmu yang bisa diperintah-perintah seenak jidatmu!”

Evelyn merasa gugup sekarang, tanpa sengaja membasahi bibirnya yang kering. Tubuh Agra berada terlalu dekat dengannya, tinggi menjulang dengan ekspresi kesal. Dari tempatnya, terlihat jelas kemiripan antara Agra dan Jovanka, sama-sama bermata tajam dengan dagu terbelah. Alis lebat hingga nyaris menyatu di kening. Yang membedakan hanya bentuk wajah, Agra lebih tirus dibanding kakaknya.

“Aku nggak ada maksud gitu,” ucap Evelyn lemah. Menggigit bibir sambil menunduk dan menyorongkan kedua tangan untuk mendorong dada Agra. “Mundur sedikit bisa? Kamu membuatku ketakutan.”
Agra mundur dua langkah. Masih dengan mata mengawasi Evelyn yang gugup.

“Gini, Agra. Aku hanya ingin Kak Jo kembali ke rumah. Itulah yang bikin aku rela panas-panasan datang kemari.”
Tidak ada jawaban dari Agra. Mau nggak mau Evelyn mendongak dan menatap mata Agra yang memandangnya tak berkedip.
“Ayolah, bantu aku,” pintanya lirih.
Agra berdecak, mengalihkan pandangannya dari Evelyn ke arah teman-teman kampusnya yang kini bergerombol di seberang mereka. Terlihat ada rasa penasaran di sana atas kehadiran Evelyn. Pasti setelah ini dia akan dicecar habis-habisan.

“Rencanamu apa?” Akhirnya ia menoleh dan bertanya pada Evelyn.
“Yes!” Evely bersorak. “Aku punya beberapa opsi untuk membuat mereka baikan dan mau balikan. Tapi semuanya bukan hal yang mudah dilakukan kalau kamu nggak bantu aku.”
“Apa ini berarti kita harus diam-diam?”
“Tentu saja, hanya kamu dan aku yang tahu,” ucap Evelyn dengan wajah berseri-seri.
Sekejap, Agra merasa terpesona. Di bawah sinar matahari yang panas membakar, kulit putih Evelyn terlihat bercahaya. Jujur saja, jika sedang tersenyum seperti sekarang, Evelyn terlihat imut dan memukau. Geli dengan pikirannya sendiri, Agra tersenyum kecut.
“Oke, Tuan Putri. Apa rencanamu?”
Siang itu, di bawah naungan pohon palem keduanya berdiri berdekatan dan terlibat obrolan serius untuk membentuk rencana menyatukan Max dan Jovanka kembali. Tidak memedulikan matahari yang bersinar terik atau banyak mata yang memandang ingin tahu, mereka berdiskusi hingga nyaris satu jam. Setelahnya, Evelyn beranjak pulang dengan senyum terkembang.

****
Aroma mentega bercampur dengan keju dan rempah-rempah terasa menggoda selera. Denting peralatan makan dengan obrolan yang berputar di sekitar meja pengunjung membuat suasana restoran terlihat ramai, meski jam makan siang sudah berlalu. Max dan Violet duduk berhadapan di sebuah restoran yang menyajikan makanan khas Italy. Mereka sengaja memesan meja di dekat jendela kaca yang menampakkan pemandangan kota yang tersiram matahari sore. Di atas piring persegi putih ada makanan berupa pasta dan salad berjajaran dengan mangkok kecil berisi krim sup yang tertutup roti.
Terlihat Violet hanya bermain-main dengan sayuran di piringnya dengan mata menatap Max yang asyik menyesap minuman dingin di gelas tinggi.
“Max, bicaralah. Dari tadi kamu diam saja.”

Max mengangkat wajah dari gelas. Memandang wanita cantik berbaju hitam yang duduk anggun di depannya. Ia menatap sepasang mata jernih dan indah, dengan bulu mata nan lentik. Wajah tirus dengan tulang pipi menonjol dan bibir yang poles sempurna. Violet memang luar biasa cantik, dari dulu ia tahu. Wanita di hadapannya pula yang pernah membuatnya mabuk kepayang dan jatuh berkubang dalam kepiluan.
“Max ….”
“Ada apa, Vi.”
Violet mendesah dramatis, menggigit bibirnya yang terlihat basah berkilau. “Aku lelah, Max. Setelah berminggu-minggu pergi untuk syuting, kini aku kembali dan berharap kita bisa bertemu atau setidaknya makan bersama. Tapi kamu suliiit sekali didekati. Apa istrimu membelenggu hidupmu, Max?”

Perkataan Violet tentang istri membuat pikiran Max serta merta tertuju ke Jovanka. Dari laporan yang ia dapat dari Steve, hari ini istrinya ijin tidak masuk kerja. Mungkin sakitnya parah, ia berniat menelepon untuk mencari tahu tapi tumpukan pekerjaan membuatnya lupa. Akhirnya, berjanji pada diri sendiri untuk menjenguk istrinya nanti.

“Max! Kamu dengar omonganku?”
Lagi-lagi Max tersentak. Memandang Violet yang wajahnya cemberut karena kesal.
“Iya, Vi. Aku dengar. Setahuku memang tidak ada lagi yang harus dibahas antara kita.”
“Kamu salah, Max. Banyak hal yang harus kita bahas.”
“Apa contohnya,” tanya Max sambil menggoyang minuman di gelasnya.
Violet memajukan tubuhnya, hingga benar-benar mendekat ke arah Max. “Aku sudah pikirkan matang-matang dan setuju untuk menjadi wanita kedua,” ucapnya pelan dengan senyum manis tersungging.

Max mengangkat sebelah alis. “Maksudmu, apa?”
Violet tertawa kecil, wajahnya terlihat memerah. “Duuh, jangan membuatku malu karena mengulang kata, Max. Ayolah, masa kamu nggak ngerti omonganku.”
“Memang tidak.”
“Max, aku bersedia menjadi wanita simpananmu,” bisik Violet dengan dramatis.
Max menatap wanita di hadapannya dengan pandangan tak percaya. “Kamu gila, Vi. Kamu sadar apa yang kamu ucapkan?”
Violet mengangguk, melirik sebentar ke arah pelayan yang lewat dengan nampan di tangan. Setelah memastikan tidak ada orang yang akan mendengarkan pembicaraan mereka, ia mengedipkan mata.
“Aku sadar sesadar-sadarnya Max Vendros. Bersedia menjatuhkan harga diriku demi mendapatkan cintamu. Wanita itu boleh saja menyandang status sebagai istrimu tapi akulah yang akan selalu memiliki hatimu.”

Max tertegun, memandang Violet lekat-lekat seakan belum pernah melihat sebelumnya. Rasa tak percaya menguasainya. Perkataan yang keluar dari wanita yang pernah ia puja membuatnya tercengang.
“Wanita simpanan? Betapa rendah kamu membungkuk Violet,” sindirnya pedas.
Violet hanya tersenyum kecil, membanting sendok di tangannya. Dan bersendekap memandang Max. “Terserah apa katamu, aku tidak peduli. Yang aku inginkan hanya satu, memilikimu. Aku akui, sudah membuang banyak waktuku tapi itu semua demi karir, Max.”

Max tidak menjawab. Perkataan Violet tentang karir membuatnya tertegun. Ada selintas perasaan kasihan saat menatap wajah Violet. Benaknya berpikir, bagaimana jadinya jika Violet tahu kalau karir yang selama ini dia banggakan adalah kreasi Amarisa? Dan semua dilakukan demi menjauhkan Violet darinya.

“Jalani hidupmu, Vi. Jangan berpikir sesuatu yang aneh seperti itu. Bagaimana pun kita tetap bisa berteman.” Akhirnya dia menjawab diplomatis dan bertekad ingin menyimpan dulu informasi tentang Amarisa.
“Tidak!” sergah Violet agak keras. “aku tidak mau berteman. Aku ingin menjadi kekasihmu.”
“Kamu sudah kehilangan kesempatan itu.” Max meneguk minumannya.

Mata Violet berkedip cepat, beringsut di atas kursi seakan jaraknya sekarang tidak cukup dekat dengan Max. “Beri aku kesempatan sekali lagi, please.”
Tidak ada jawaban dari Max, matanya menatap layar handphone yang menyala karena ada panggilan dan ada nama adiknya tertera di layar. Ia mengernyitkan kening, merasa heran. Tidak biasanya Evelyn menelepon di jam sibuk. Mengabaikan Violet yang menunggu jawaban, Max meraih handphone dan membuka layarnya.
“Ada apa?”

Terdengar ucapan panik dari seberang. “Kak Max! Buruan datang! Kak Jojo di rumah sakit!”
“Apa?”
“Aduuh, Kak Jojo di rumah sakit. Buruan, datang!”
“Dari mana kamu tahu?” tanya Max sambil bangkit dari kursi secara serampang. Tindakannya membuat Violet kebingungan.
“Aku sama Agra lagi di rumah sakit.” Evely terdiam, mengatakan sesuatu pada orang di sampingnya dan tak lama suara Agra menggantikannya. “Halo, Kak Aku Agra. Itu, anu Kak Jojo lagi di rumah sakit.”

“Rumah sakit mana? Apakah sakitnya parah?” Max berteriak tak sabar di handphonenya. Lalu diam menyimak saat Agra menyebutkan nama rumah sakit. Tanpa basa-basi menutup telepon dan memandang Violet yang kebingungan.
“Sorry, Vi. Aku harus pergi, Jojo masuk rumah sakit.”
Mata Violet membulat tak percaya. “Apa? Kamu mau meninggalkan aku, Max?”
Max mengangguk. “Maaf, see you!”
“Max, tunggu. Aku belum selesai bicara!”

Mengabaikan Violet yang berteriak memanggilnya, Max berderap membuka pintu restoran dan setengah berlari menuju parkiran di mana sopirnya menunggu. Di dalam mobil yang melaju kencang, ia berusaha menelepon Jovanka tapi kecewa karena masuk dalam kotak suara. Perasaan kuatir menghimpit hatinya. Bagaimana pun Jovanka adalah istrinya, dan ia akan merasa sangat bersalah jika terjadi sesuatu padanya saat hubungan mereka sedang renggang.
Dalam perjalanan pikirannya mengembara tentang Jovanka dan senyum manisnya atau juga sikapnya yang blak-blakan. Hati Max Vendros diliputi kekuatiran akan keselamatan istrinya.
“Jojo, kamu harus kuat. Tunggu aku datang,” gumam Max dengan mata memandang handphone di tangannya.

****


#Pengantin_Bayaran_Sang_CEO
#Part_18b.
#CEO's Bride.
*****

Setelah berjibaku di atas aspal selama kurang lebih satu jam dengan banyaknya kendaraan yang melaju bersamaan, mobil memasuki area rumah sakit Harapan yang ramai. Sopir menurunkannya di pintu lobi rumah sakit. Sore hari, kondisi rumah sakit dalam keadaan ramai pengunjung. Max beranjak menuju informasi untuk menanyakan perihal istrinya saat matanya menangkap sosok Agra dan Evelyn yang menunggunya di dekat meja informasi.

“Agra, di mana Kakakmu? Apa yang terjadi?” tanya Max bingung dengan wajah menyiratkan kekuatiran. Sementara Evelyn di sampingnya terus menunduk.
“Itu, Kak Jo sedang di ruang dokter,” jawab Agra pelan. Matanya melirik ke arah Evelyn.
“Apa? Lalu di mana kamarnya? Dia sakit atau kecelakaan?” desak Max sambil mengguncang bahu Agra. “ruang dokter mana? Apa dia mau menjalani operasi?”

“Kak, tenang,” tegur Agra sambil melepaskan tangan Max dari bahunya. “Ayo, aku antar.”
Mereka bertiga berjalan beriringan menuju bagian belakang rumah sakit di mana berjajar ruang praktek untuk para dokter umum. Pengunjung, pasien dan perawat berjalan mondar-mandir memenuhi lobi. Max bingung saat Agra menghentikan langkah di depan ruang dokter jantung.
“Kakakmu kena serangan jantung?” tanya Max was-was. “Apa dia baik-baik saja? Kenapa di rumah sakit ini, bukannya banyak rumah sakit yang lebih bagus.”

“Kak,” tegur Evelyn menyadarkan gumaman Max. “Santai napa?”
Max menarik napas panjang untuk menenangkan diri sementara Agra membuka pintu ruang dokter. Pemandangan pertama yang dilihat olehnya adalah Pak Rahman yang sedang tidur di atas ranjang pemeriksaan dengan Jovanka duduk di depan meja dokter. Wajah Jovanka menunjukkan kekagetan saat melihat suaminya datang.

“Sir, ada apa kemari?” tanya Jovanka bingung dengan suara berat khas orang terkena flu.
Max tidak menjawab, melangkah lurus mendekati Jovanka dan meraih kepala istrinya dalam dekapannya. “Syukurlah, kamu baik-baik saja. Tadinya kupikir terjadi sesuatu yang membuatmu harus dirawat,” ucapnya dengan suara bergetar.

Jovanka menggeliat, berusaha melepaskan diri dari dekapan suaminya. “Kenapa berpikiran begitu?” tanyanya heran. “aku cuma flu. Tadi sudah periksa ke dokter juga.”
Mereka berdua tidak sadar saat Agra meletakkan sebuah handphone ke atas meja dengan hati-hati lalu pergi meninggalkan ruangan dokter bersama Evelyn.

“Karena mereka.” Max menunjuk ke arah pintu di mana sebelumnya berdiri Evelyn dan Agra. Tapi sayang, kedua orang yang telah membohonginya kini lenyap entah kemana.
“Mereka menipuku,” desis Max. “Evelyn dan Agra menelepon dan mengatakan kalau kamu dirawat di rumah sakit. Lalu aku meneleponmu tapi tidak aktif.”

Jovanka tertawa lirih. “Duduklah, Sir. Biar aku jelaskan. Soal handphoneku yang nggak aktif, kayaknya tadi dipinjam sama Agra.”
“Dan digunakan untuk menipuku.”
Max duduk di kursi kosong samping Jovanka dengan tangan menggenggam erat tangan istrinya. Tak lama muncul suster membawa peralatan deteksi jantung untuk Pak Rahman yang berbaring di ranjang. Seorang dokter berpakaian putih menyusul masuk tak lama kemudian.

“Ah, ruanganku ramai ternyata,” sapa sang dokter ramah sebelum beranjak ke ranjang tempat Pak Rahman berbaring.
“Papaku yang sedang chek-up dan aku hanya mengantarnya,” bisik Jovanka pelan. Takut suaranya terlalu keras hingga mengganggu jalannya pemeriksaan.
Max melirik istinya. “Syukurlah, tadinya aku berpikir yang bukan-bukan. Apakah kamu sudah baikan?”
“Iya, sudah.”

Max meraih pundak istrinya dan mengikuti dorongan hati mengecup puncak kepala Jovanka. “Bagus, sepanjang jalan aku kuatir.”
Mau tak mau, Jovanka merasa tersentuh atas perhatian suaminya. Tangannya meraih tangan Max dan menggenggamnya. “Terima kasih sudah mengkuatirkanku.”
“Kalian pulang sana, nanti aku pulang sendiri.” Pak Rahman yang baru saja selesai menjalani pemeriksaan memberi perintah dari atas ranjang.
“Tidak Pa, aku antar Papa pulang,” jawab Jovanka.

“Jojo, kamu sudah terlalu lama pergi. Sana, ikut pulang sama suamimu,” usirnya sekali lagi pada anak perempuannya. “Dilarang ikut Papa pulang. Suamimu sudah menjemput, kamu harus ikut dia pulang.”
Jovanka terlihat bimbang. Max yang berada di sampingnya mengerti betul perasaan istrinya. Ia bangkit dari kursi sambil menarik tangan Jovanka yang berada dalam genggaman.
“Maaf, ya. Dok. Anak saya dan suaminya sedang bertengkar.” Pak Rahman memberitahu dokter yang memeriksanya.

“Hahaha … biasa itu dalam rumah tangga.” Sang dokter terkekeh.
Jovanka menunduk malu. Membiarkan Max menarik tubuhnya dari kursi.
“Pa, kami pulang dulu. Kalau memang nggak kuat naik motor, tinggal aja. Biar orangku nanti yang mengurus.” Max berkata dengan nada sopan ke arah mertuanya.
“Aduh, aku belum setua itu sampai nggak sanggup bawa motor sendiri,” timpal Pak Rahman sambil mengibaskan tangannya. “Sana, kalian pulang dan selesaikan masalah kalian.”
Mau nggak mau Jovanka beranjak pergi bersama Max. Tanpa sadar mereka bergandengan menyusuri lobi rumah sakit yang ramai. Diam-diam Jovanka mengamati penampilan suaminya yang terlihat tampan dan menawan. Banyak mata memandang ke arah suaminya yang berpenampilan mencolok dengan jas dan manset resmi.

“Jojo, aku minta maaf.”
Mereka berdiri di teras rumah sakit yang cenderung lebih sepi.
“Aku mengaku salah tidak membelamu dan membuatmu marah. Sejujurnya aku siap jika kamu mengamuk atau apalah, asal jangan memutuskan kontrak kita.”
“Karena kontrak pernikahan kita terkait dengan proyekmu bukan?” ucap Jovanka lirih menimpali permintaan maaf suaminya.

Max menelengkan kepala, memandang istrinya yang berwajah sedikit pucat. “Bisa dibilang begitu dan aku nggak akan mengikarinya. Tapi ada banyak hal lainnya.”
“Apa?” tanya Jovanka penuh harap. Entah kenapa, dia berharap suaminya akan mengatakan sesuatu yang menyenangkan hatinya.
“Rumah sepi dan Bu Erna bingung mau bicara sama siapa.”
Terdengar dengkusan tak percaya dari mulut Jovanka. “Hanya itu, soal Bu Erna?” Mau tak mau Jovanka kecewa mendengarnya.

“Ada lagi, ruang makan sepi dan para koki juga merasa tak enak karena kurang kerjaan. Karena tanpa kamu mereka nggak tahu harus memasak untuk siapa. Secara aku jarang ada di rumah.”
Jovanka ternganga mendengar alasan suaminya yang meminta dia kembali. Makin banyak alasan yang diungkapkan makin terdengar aneh. Tak sadar tawa keluar dari mulutnya.

“Ayo, kita pulang.” Max menggandengnya menuju mobil yang terparkir di halaman rumah sakit.
“Aku belum mengatakan setuju untuk ikut pulang, Sir.”
“Oh, kalau kamu tidak mau terpaksa aku memakai kekerasan.”
“Oh, ya? Mengikatku?” tantang Jovanka pada Max yang menggandeng tangannya.
Max berbisik di kupingnya. “Jika perlu, mengikat erat dan menggendongmu.”

Bisikan suaminya membuat darah Jovanka berdesir. “Bagaimana baju-bajuku?” tanyanya bingung.
“Biarkan saja, nanti kita beli baju lagi.”
“Wew, itu pemborosan Sir.”
“Tidak masalah, demi kamu.”
“Aku jujur saja masih kesal karena nggak dibela.”
“Baiklah, nanti aku buatkan baner untuk dipasang di tengah jalan sebagai tanda permintaan maaf atau seperti kata Steve? Memasang pengumuman di surat kabar?”
Jawaban Max membuat Jovanka terkikik dan tanpa sadar dia mengikuti langkah suaminya yang mengajaknya pulang. Cukup sudah seminggu ini dia merajuk. Permintaan maaf dari Max mau tidak mau meluluhkan amarahnya. Mereka masuk ke mobil dengan senyum terkulum.

Max sendiri merasa bahagia, setengah hatinya yang kosong selama kepergian istrinya kini terisi kembali. “Aku lupa mengatakan satu hal padamu,” ucapnya pelan saat mereka duduk berdampingan.
Jovanka menoleh penuh harap. “Apa, Sir.”
“Aku kehilangan dan kesepian tanpa kamu.”
Ini bukan pernyataan cinta tapi cukup untuk membuat hati Jovanka berbunga-bunga. Dia tidak menolak saat Max meraih tangannya dan mereka saling menggenggam sepanjang jalan menuju rumah.

Di dekat pilar putih besar yang berada tepat di depan minimarket rumah sakit, sepasang muda-mudi mengawasi kepergian Jovanka dan suaminya. Keduanya berpandangan dan saling menepukkan tangan saat melihat mobil Max menghilang di jalanan.
“Rencana kita berhasil,” ucap Evelyn dengan berseri-seri.
“Kamu hebat,” puji Agra.
“Tetap saja aku nggak bisa menyembunyikan perasaan bersalah lama-lama dari Kak Max. Untung dia sedang merasa kuatir jadi nggak curiga sama wajahku yang berusaha menahan tawa. Pasti kalau ketemu ntar aku dijewer.”

Keduanya berpandangan lalu tertawa bersamaan. Kembalinya Jovanka ke rumah Max disambut suka cita keduanya yang merencanakan agar kakak-kakak mereka kembali bersama.
“Di mana mobilmu?” tanya Agra pada Evelyn yang masih tersenyum senang.
“Ah, ya. Aku naik taxi tadi kemari. Mobilku ada di bengkel. Ada yang salah dengan mesinnya.” Evelyn melihat jam di tangannya. “Harusnya sekarang bisa diambil.”
Agra menatapnya, menimbang sejenak sebelum bicara.
“Apa kamu pernah naik motor?”
Evelyn menggeleng.
“Mau aku antar ke bengkel? Naik motorku.”
Evelyn melirik Agra, menggigit bibir bawahnya. Tawaran Agra sungguh menggoda tapi dia takut karena tidak pernah naik motor sebelumnya.

“Uhm … itu.”
“Nggak apa-apa kalau nggak mau. Aku panggilkan taxi.”
Agra melangkah menuju tempat parkiran Taxi. Kakinya berhenti saat mendengar Evelyn memanggil.
“Agra, aku mau coba naik motor.”
Malam itu, untuk pertama kalinya Evelyn naik motor. Sensasinya sungguh membuat dia gembira. Tanpa sadar tangannya merangkul pinggang Agra saat merasakan motor melaju cepat dan menyelap-nyelip di antara padatnya kendaraan. Sering kali mata terpejam untuk merasakan angin malam menerpa wajahnya.
Dari kaca spion, Agra memperhatikan Evelyn yang memekik gembira atau terlonjak takut. Tanpa sadar, senyum terkulum di bibirnya.
“Tuan Putri, pegangan yang kuat. Kita ngebut!”
“Aah, aku nggak mau ngebuuut!”
Suara Evelyn terdengar samar-samar diterpa angin malam bercampur dengan derai tawa dari mulut Agra.

****

#Pengantin_Bayaran_Sang_CEO
#Part_19a
#CEO'sBride.

****
“Wah, daerah manakah ini?” Jovanka bertanya gembira saat menyusuri jalanan beraspal dengan banyak pohon-pohon rindang ditanam di sepanjang jalan.
“Kenapa? Kamu suka?” tanya Max dari balik kemudi. Memandang istrinya yang membuka jendela kaca mobil dan mengeluarkan tangannya.
“Iya, asri sekali. Nggak nyangka kalau Tuan Andrew tinggal di rumah seperti ini. Aku kira dia akan sepertimu, Sir.”
“Sepertiku?”
“Iyaa, laki-laki maskulin yang menyukai segala sesuatunya serba praktis. Rumah mewah di tengah kota adalah buktinya.”
Max tertawa. “Wah, senang rasanya mendengarmu menganalisaku. Kapan-kapan aku akan membawamu ke rumah masa kecilku dan aku yakin kamu akan suka di sana.”
“Apakah sehebat ini pemandangannya?” tanya Jovanka penuh harap.

Max mengangguk. “Penuh pohon pinus, palem dan kolam ikan. Rumah dipenuhi ukiran kayu jati.”
“Waah, pastinya indah,” gumam Jovanka pelan. Sekejap kemudian senyum menghilang dari bibirnya. “Sayangnya Papamu nggak suka sama aku. Jadi kemungkinan kecil aku bisa ke sana.”
Max menoleh sekilas ke samping. Melirik istrinya yang kini duduk dengan wajah cemberut. “Kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi. Suatu saat aku pasti membawamu ke sana.”
Kali ini Jovanka mengangguk. “Apakah kita akan bertemu Amarisa di sini?”
“Bisa jadi, bukahkah dia tunangan Andrew?”

Jovanka mendesah kuatir. Teringat pertemuan terakhirnya dengan Amarisa yang berujung pertengkaran antara dirinya dan Max. Ia berharap, perjumpaan kali ini dengan Amarisa akan berlangsung damai tanpa pertumpahan darah.
Mobil memasuki jalanan berbatu yang ditata rapi membelah halaman rumput. Dan berhenti di teras rumah dengan pilar kokoh dari batu marmer. Sang tuan rumah sudah menunggu dengan senyum terkembang.

“Selamat datang di rumahku, Mr. Max dan Miss Jovanka.”
Andrew menyambut mereka di pintu rumahnya yang luar biasa besar. Bagi Jovanka rumah Max sangat besar tapi nyatanya kediaman Andrew dua kali besarnya dari rumah Max.
Rumah bak istana yang berdiri di atas halaman berumput hijau. Terlihat megah dengan bentuk bangunan mirip benteng jaman kerajaan Eropa. Ada banyak jendela kaca besar berbentuk lenkung. Pintunya sendiri sangat besar dan tinggi terbuat dari kayu. Terdiri atas tiga lantai dengan cat tembok warna krem lembut.

Jovanka yang siang ini memakai gaun dari sifon warna putih mengembang, digiring masuk ke dalam ruang makan luas dengan dinding kaca yang menghadap langsung ke kolam renang. Ada sekitar sepuluh pelayan berseragam putih menunggu mereka di sisi dinding. Semuanya serempak menghormat saat Jovanka dan Max duduk di kursi.
“Wah, rumah Anda indah sekali,” puji Jovanka senang. Matanya berkedip gembira melihat taman anggrek di samping kolam. Terlihat jelas dari tempat duduknya.
“Terim kasih.” Andrew mengambil napkin dan meletakkannya di pangkuan.
“Sungguh tersanjung mendapatkan undangan ke rumah yang luar biasa dengan tuan rumah yang juga luar biasa.” Kali ini Max yang memuji.

Andrew tersenyum. Membiarkan pelayan mengisi gelas tinggi mereka dan mengangkat gelas untuk bersulang dengan Max.
“Jojo ingin makan apa?” tanya Andrew pada Jovanka yang sedang mengagumi anggrek dari tempat duduknya.

“Oh, apa saja, Sir. Aku pemakan segala.” Dia menjawab sambil tersenyum simpul.
Andrew tertawa lirih. “Baiklah, kita pesan olahan sea food.”

Hidangan demi hidangan disajikan bergantian di atas piring porselen. Semua makanan ditata dengan artistik dan diolah menggunakan rempah pilihan. Mereka makan sambil mengobrol tentang hal-hal ringan misalnya film, musik atau isu masyarakat terkini.

“Sir, kenapa nggak ada Nona Amarisa?” Jovanka bertanya sambil menyuapkan scallop ke mulutnya. Mulutnya mengunyah pelan, merasakan daging kerang dengan saos mentega bercitarasa tinggi dan gurih.
Andrew tidak menjawab. Matanya memandang Jovanka yang terlihat betul menikmati hidangan. Sungguh menyenangkan memperhatikan caranya makan. Ia menoleh saat Max berdehem pelan. Menyadari jika menatap Jovanka terlalu lama.
Mengangkat gelas dan meneguk isinya, Andrew menjawab pelan. “Amarisa sedang ke luar negeri. Bisa jadi untuk seminggu kedepan.”
“Ooh, untung saja. Kalau ada dia, bisa jadi kami sekarang sedang baku hantam,” gumam Jovanka pelan. Tetap saja didengar oleh Andrew dan Max.
“Jojo,” tegur Max mengingatkan.

Jovanka mendongak, memandang suaminya lalu kembali menunduk. “Maaf.”
Terdengar tawa menggelegar dari mulut Andrew. Sebuah tawa lepas yang mengagetkan mereka yang ada di ruangan. Max bahkan memandangnya heran.
“Aku justru ingin minta maaf atas kelakuannya waktu itu. Nggak hanya membuat keributan tapi juga rasa malu.” Andrew memberi tanda pada pelayan. Tak lama muncul seorang pelayan wanita dengan nampan di tangan. Mengangsurkan sebuah kotak mengkilat ke arah Jovanka.

“Apa ini?” tanya Jovanka bingung. Mengambil kotak yang disodorkan untuknya.
“Sebagai tanda permintaan maaf, bukalah.”
Jovanka memandang Max, seakan meminta ijin untuk membuka kotak. Saat melihat suaminya mengangguk samar, ia buka kotak dengan hati-hati lalu terpekik saat melihat isinya.
“Coklat delafee istimewa, khusus didatangkan dari Swiss sebagai permintaan maaf karena membuatmu malu dan terluka hari itu.”

Jovanka merona gembira saat melihat coklat berbentuk pipih panjang di dalam kotak mewah. Setiap batang coklat dilapisi bubuk emas dan hanya ada delapan buah di dalam kotak. Terus terang ia belum pernah makan coklat semewah ini karena terakhir yang ia makan adalah merek godiva yang dibawakan Max untuknya saat kunjungan ke Singapura. Itu saja sudah membuatnya memekik senang.
Dengan senyum terkembang ia menutup kotak di tangannya. “Terima kasih sekali lagi,” ucapnya pada Andrew.
“Anda sangat baik pada istri saya, Tuan Andrew,” puji Max ringan.
“Ah, tidak. Sudah seharusnya, kita kan berteman.”

Kamal datang saat mereka sedang menikmati makanan penutup berupa pudding caramel dengan irisan strawberry yang disiram saos lemon, ditata di atas piring berpinggiran emas bersama brownis coklat dalam irisan kecil.
“Selamat siang, Tuan Max dan Miss Jovanka.” Kamal mengangguk hormat pada tamu yang sedang bersantap.

“Ah, Kamal. Kamu datang tepat waktu, bisakan kamu menemai Miss Jovanka melihat kebun anggrek? Saat aku ingin membicarakan hal yang penting dengan Mr.Max,” ucap Andrew menoleh pada Kamal. “Kami takut Miss Jovanka akan merasa bosan jika mendengar perihal pekerjaan.”
“Dengan senang hati, Tuan.” Kamal mengangguk sekali lagi.

Jovanka bangkit dari kursi, meraih tangan Max dan meremasnya pelan sebelum melangkah keluar bersama Kamal. Meninggalkan suaminya dan Andrew.
“Mari, kita berbincang sambil minum kopi,” ajak Andrew pada Max.
Max dibawa masuk ke sebuah ruangan dengan kaca jendela menghadap halaman depan. Sementara jendela kaca samping menghadap langsung ke arah taman anggrek. Dari tempat mereka mengobrol terlihat pemandangan di mana Jovanka sedang menghidu bunga-bunga anggrek ditemani Kamal.
“Rumah Anda sungguh nyaman, Tuan,” puji Max yang disambut senyum terkulum dari Andrew.
“Memang, tapi hanya ada pelayan di sini. Berbeda dengan Anda yang punya istri untuk menemani.”
Keduanya berpandangan lalu tertawa karena sepemahaman. Baik mata Max mau pun Andrew tidak berhenti melirik Jovanka.

‘Dia terlihat menawan dan bersinar dalam balutan gaun putih dan berdiri di antara bunga.’ Max berkata dalam hati, mengamati istrinya tanpa sadar.
“Sungguh menyenangkan bukan, bisa menikah?” Ucapan Andrew membuyarkan lamunan Max.
“Sebentar lagi akan ada Amarisa di sini. Dia yang akan mendampingi Anda dan membuat rumah lebih semarak.”
“Ehm … bisa jadi,” gumam Andrew ambigu. “ Bagaimana dengan jalannya proyek Aditama? Sudah ground breaking?” ucap Andrew untuk mengalihkan pembicaraan soal Amarisa.
“Sejauh ini lancar,” jawab Max. Dia mengisap cerutu yang disuguhkan sang tuan rumah untuknya. “jika nggak ada kendala, kemungkinan dalam tiga tahun kedepan sudah bisa beroperasi.”
“Untuk perumahannya?”
“Iya, beserta mall. Yang lain akan mengikuti.”
Andrew bangkit dari kursi. Memandang langsung ke taman lalu berpaling ke arah tamunya.”Saya ingin menawarkan mega proyek real estate kepada Anda. Ini benar-benar proyek fantastis. Dijamin, nama Vendros Impersia akan terangkat jika bisa menangani proyek ini.”
Max mengangkat sebelah alisnya. “Proyek apakah yang Anda maksud?”
Andrew mengambil setumpuk kertas mengkilat dari atas nakas di dekat jendela lalu mengansurkannya kepada Max.

“Mega proyek, pembangunan hunian terpadu yang terintregitas dengan taman bermain yang kelak akan menjadi sarana hiburan paling besar di Indonesia.”
“Wow.” Max bersiul pelan. Memandang kertas mengkilat di mana tercetak foto-foto yang semuanya masih berupa pola kasar sebuah mega proyek dan mengamatinya penuh minta.
“Kenapa Anda menawarkan kerja sama ini pada saya? Bukankah Pak Johanes biasa menggandeng Jayaraya Group? Ada juga keluarga Lim. Setahu saya kakak kedua calon istri Anda pun mempunyai perusahaan kontruksi.”

Hening, tidak ada jawaban dari Andrew. Bunyi kertas dibalik oleh Max terdengar nyaring di dalam ruangan.
Diam-diam saat Max sedang asyik dengan berbagai sketsa di tangannya. Andrew menatap Jovanka dari balik kaca. Melihat dengan gembira bagaimana wanita dalam gaun putih tertawa lepas. Sepertinya Kamal mengatakan sesuatu yang membuatnya senang. Mudah sekali ternyata untuk membuat seorang Jovanka tertawa. Tanpa sadar Andrew mendesah.
“Bagaimana, Tuan Adrew?”
Teguran dari Max membuatnya menoleh. Masih dengan posisi berdiri ia berkata lugas. “Keluarga Lim memang memiliki perusahaan kontruksi tapi secara pengalaman mereka tidak sehebat Anda. Tentu saja dalam hal ini saya harus memilih yang berpengalaman.”
“Betul.” Max mengangguk setuju.

“Sedangkan untuk Jaya Raya Group, mereka saat ini sedang konsentrasi untuk proyek Aditama dan juga satu pengembangan kawasan di daerah Kalimantan. Di mana kelak kawasan itu hanya bisa dihuni oleh keluarga kaya raya yang ingin memiliki rumah yang berada di tengah hutan dan gunung. Itu juga proyek sulit.”
Sekali lagi Max mengangguk. “Tentunya, selain dana dan juga kemampuan kami di bidang property pastinya Anda mengingkan syarat lain agar Vendros Impersia bisa bergabung dalam mega proyek yang ditawarkan.”

“Hahaha … Anda cerdas sekali, Tuan Max. Tentu saja selalu ada kompensasi untuk setiap hal.”
Max termenung, memandang sketsa di tangannya. Sebuah proyek besar yang tidak hanya bernilai milyaran dollar tapi juga akan mengangkat nama Vendros Impersia sebagai pengembang kelas atas. Mendongakkan kepala, ia menatap Andrew yang berdiri memunggunginya. Sepertinya pikiran sang tuan rumah sedang berkelana entah kemana. Tanpa sadar matanya menangkap bayangan Jovanka yang kini berdiri di bawah kanopi bunga. Ada dua pelayan perempuan menemaninya.
Andrew berbalik. “Syarat Anda untuk mendapatkan proyek ini sangat mudah, Tuan Max.”
“Tolong jelaskan pada saya, jika berkenan.”
“Istri Anda.”

Max tertegun. “Apa maksud Anda, tolong diulangi.”
“Anda tidak salah dengan Max Vendros. Saya menginginkan istri Anda sebagai syarat untuk mendapatkan proyek ini.”
Perkataan tuan rumah membungkam mulut Max. Ia sungguh-sungguh kaget mendengar penuturan Andrew. Awalnya ia merasa jika laki-laki di depannya sedang menggodanya tapi diucapkan dua kali dengan nada bersungguh-sungguh membuat Max sadar jika Andrew tidak main-main dengan ucapannya.
“Anda bergurau bukan?”
Andrew menggeleng. “Tidak, saya benar-benar menginginkan Jovanka.”
“Jelaskan maksud dari menginginkan,” ucap Max lamat-lamat sambil menarik napas panjang.
“Well, bisa dibilang saya jatuh cinta dengan Jovanka.”
“Lalu?”
“Saya menginginkan dia sebagai pendamping, sebagai wanita yang bisa dimiliki.”

Sekarang Max benar-benar tercengang mendengar penuturan lawan bicaranya. Ia bangkit dari kursi dan berdiri di samping Andrew. Mereka berdua sama-sama memandang Jovanka yang sekarang terlihat asyik merangkai bunga di bawah kanopi. Ada sebuah kipas angin salju yang diputar untuk menghalau panas yang menyengat.
“Bukannya ada Amarisa?” ucap Max pelan.
Andrew tertawa terbahak-bahak. Menengkan kepala untuk memandang Max. “Dia hanya wanita yang akan memperluas bisnisku. Bukan untuk dicintai, Max Vendros.”
“Lalu, kenapa Jovanka? Apakah karena dia mirip dengan Raline? Siapa Raline?”
Berondongan pertanyaan dari Max membuat Andrew terdiam. Memasukkan tangan ke dalam saku ia terlihat berpikir sebelum menjawab pertanyaan Max. Dari tempat mereka berdiri, terlihat Kamal datang menghampiri Jovanka yang sedang merangkai bunga dan memberikan sebuah keranjang untuknya.

****

#Pengantin_Bayaran_Sang_CEO
#Part.19b
#CEO's Bride.

*****

Berondongan pertanyaan dari Max membuat Andrew terdiam. Memasukkan tangan ke dalam saku ia terlihat berpikir sebelum menjawab pertanyaan Max. Dari tempat mereka berdiri, terlihat Kamal datang menghampiri Jovanka yang sedang merangkai bunga dan memberikan sebuah keranjang untuknya.
“Di rumah ini tidak ada keranjang bambu seperti itu, aku yakin Kamal pasti membelikan untuk Jojo,” gumam Andrew seperti sedang menceritakan sesuatu yang penting.

“Anda belum menjawab pertanyaanku, kenapa harus Jojo dan siapa Raline?”
“Ralina adalah mantan kekasih saya.”
Max menoleh. “Lalu, Anda ingin menggantikannya dengan Jojo? Karena mereka mirip?”
Andrew tertawa terbahak-bahak. “Mereka berdua mirip, sangat mirip malah. Kadang kala aku berpikir mereka adalah saudara kembar. Sudah kuselidiki ternyata bukan.”
“Itu hanya kemiripan fisik dan Anda berani sekali menyilidiki asal usul istriku!” sergah Max panas. Pernyataan demi pernyataan yang keluar dari mulut Andrew tentang Jovanka membuatnya kesal.
“Ya-ya, memang hanya fisik Mr. Max.” Andrew menepuk punggung Max pelan. Bergaya seolah-olah mereka adalah teman lama yang sedang bicara akrab. “Soal asal usul istrimu nggak usah kuatir, meski aku tahu dia hanya dari keluarga biasa, bagiku nggak masalah.”

“Memang seharusnya itu bukan masalahmu,” gumam Max. “Siapa Raline? Sepertinya dia menghilang atau sudah mati?”
Andrew melangkah menuju meja, menuang secangkir kopi panas untuknya dan menyesapnya perlahan. Kopi kental tanpa krim dan gula, aromanya terasa nikmat di lidah.
“Tuan Andrew,” desak Max.
“Raline hilang,” ucap Andrew sambil meletakkan cangkir ke atas meja.
“Cari kalau begitu, bukannya Anda punya uang dan koneksi?”
Andrew menoleh. “Sudah dan tidak ketemu.”
“Dan Anda bermaksud menggantikan kehadirannya dengan Jojo?”
“Iya. Aku jatuh cinta pada Jojo dari pertama kami bertemu.”
“Sadarkah Anda jika mereka adalah orang yang berbeda meski secara fisik sama?”
“Iyaa, aku sadar. Raline bukan Jojo dan sebaliknya tapi makin hari aku mengenal Jojo aku makin menyukainya. Apakah perasaanku salah, Max?”
“Dia istriku!” Max menuding Andrew.

“Aku tahuuu!” teriak Andrew tidak mau kalah. “Karena itu aku memberikan kompensasi besar untuk pertukaran ini. Bayangkan, keuntungan yang bisa didapatkan oleh Vendros Impersia!”
“Dia bukan barang yang seenaknya bisa ditukar. Dia manusia, punya hati dan perasaan.”
Andrew tertawa terbahak-bahak hingga bergema ke seluruh ruangan. Max mengabaikannya, memandang Jovanka yang duduk di atas kursi di bawah kanopi dengan keranjang bambu berada di tangannya. Mendadak, Max merasakan desakan yang kuat ingin membawa istrinya cepat-cepat pergi dari sini.

“Max Vendros, kamu pikir aku tidak tahu apa yang tersenmbunyi dalam pikiranmu?”
“Apa maksudmu?” tanya Max bingung. Mengabaikan basa-basi dalam percakapan dengan Andrew.
“Amarisa setengah mati menginginkanmu, dia jatuh cinta padamu. Lalu ada sang artis, Violet yang sampai sekarang aku yakin tetap memujamu.”
“Bukankah itu tidak ada hubungannya dengan Jovanka?”
Andrew berteriak dan berputar di tempatnya berdiri. “Ada, tentu saja ada. Kamu pikir Jojo akan bahagia jika hidupnya terus menerus diteror pada wanita yang ingin memperebutkanmu?”
Max tersenyum mengejek. “Dan kau pikir dia akan bahagia jika bersamamu?”

“Tentu saja.” Andrew berkata sambil mengembangkan tangannya. “Aku bisa memberikan apa pun yang dia mau. Sudah kamu lihat buktinya, kan? Bahkan aku sanggup menukar proyek milyaran dollar demi dirinya. Kamu tak akan mampu, Max Vendros.”
“Aku--,”
“---aku memberikanmu kesempatan Max. Untuk berpikir perihal ini. Tenang saja, berpikirlah yang matang sebelum memberikan jawaban padaku.”

“Kenapa kamu berpikir aku akan memikirkan tentang menukar Jovanka?” kata Max dingin.
Andrew mendekat dan berbisik. “Kamu tidak akan menolak uang Max Vendros atau bagaimana jika salah satu perusahaan retailmu aku sentil?”
“Kamu menjijikan!” sergah Max. “Semakin lama bicara denganmu membuatku makin muak.”
Max berbalik dan melangkah menuju pintu.

“Ingat Max, ada banyak orang yang terlibat dalam caramu mengambil keputusan. Jovanka tentu saja, Violet dan keluargamu.”
“Kamu mengancamku?” tanya Max tanpa menoleh.
“Iya, tentu saja. Senang rasanya kamu mengerti dengan cepat.”
Max menyentakkan pintu ruangan hingga terbuka. Mengabaikan tata karma ia berderap menuju tempat istrinya yang sedang berada di di bawah kanopi bunga. Udara panas masih menyengat.
“Hai, sudah selesai mengobrolnya?” sapa Jovanka dengan wajah memerah. Bisa jadi karena senang atau juga karena panas.

“Sudah, dan saatnya kita pamit pada tuan rumah.” Max mengulurkan tangan pada Jovanka yang menyambutnya dengan senang.
“Baiklah, kita pulang. Terima kasih atas perhatian kalian semua,” ucap Jovanka pada para pelayan yang sedari tadi menemaninya.
Mereka berjalan beriringan, saat mencapai pintu ruang makan sudah ada Andrew dan Kamal yang menunggu.
“Jojo, bagaimana dengan koleksi anggrekku? Apa kamu menyukainya?” tanya Andrew dengan wajah tersenyum.
“Wah, koleksi yang luar biasa Tuan Andrew.”
“Sering-seringlah kalian datang kemarin, siapa tahu koleksi makin bertambah jika kamu datang kembali.”

Jovanka mengangguk dengan semangat. Tidak menyadari suaminya yang berdiri kaku.
“Terima kasih atas undangan Anda hari ini, Mr. Andrew.” Max menyalami sang tuan rumah. Bersikap seolah-olah tidak ada masalah di antara mereka.
“Terima kasih kembali, Mx.Max. Saya senantiasa menantikan kehadiran Anda dan istri di sini.”
Keduanya saling menjabat dengan genggaman yang lebih kuat dari biasanya. Tanpa kata-kata hanya saling memandang dengan menilai.

“Bunga anggrek dan coklat sudah diantarkan oleh pelayan ke mobil,” ucap Kamal tenang.
Max mengangguk dan bergumam ‘terima kasih’ lalu membawa istrinya menuju mobil mereka yang terparkir di teras. Tanpa basa-basi ia menstarter mobil dan melaju meninggalkan rumah besar di belakang mereka.

Andrew menatap kepergian tamunya dengan senyum kecil tersungging. “Dia mengamuk, Kamal. Hahaha … Max Vendros mengamuk.”
“Berarti rencana Anda gagal, Tuan?”
Andrew melirik Kamal. “Begitukah menurutmu? Aku yakin sekarang Max Vendros sedang bingung memikirkan antara Jojo atau proyek milyaran dollar. Kita tunggu saja Kamal. Aku tidak suka ditolak apalagi dikalahkan. Benar-benar tidak suka.”

Mereka berjalan beriringan menuju rumah. Andrew mengulum senyum mengingat tentang Jovanka yang terlihat bahagia di bawah kanopi bunga. Terbentuk rencana gila di otaknya jika kelak Jovanka benar menjadi miliknya, maka ia akan menyulap halaman menjadi kebun bunga khusus untuk dia.
“Kita akan bersama, Jojo,” desis Andrew sambil menatap kanopi bunga yang kini kosong.
Sementara di dalam mobil, Max terus menerus melirik Jovanka yang terlihat asyik mengunyah coklat dari Andrew. Dengan mata setengah terpejam dan mulut yang mengecap nikmat.
“Aah, enak coklat ini. Terasa lumer di mulut. Sayang nggak dingin.”
“Sampai rumah kamu bisa masukkan dalam kulkas.”

“Ya, jika boleh tahu berapa harga sekotak coklat ini, Sir?”
Max berpikir sejenak. “Coklat itu berbalut serpihan emas 24 karat. Jika tidak salah ingat kisaran harga 5 juta per 450 gram.”
“What?” Jovanka berteriak tanpa sadar. “Mahalnya coklat ini. Apa bisa kalau aku nggak makan tapi aku ambilin emasnya aja untuk dijual?” tanyanya berapi-api. Menatap cokalt di tangannya dengan semangat.
“Jojo, jangan norak. Itu emas untuk makanan.”
Jovanka merengut, bergumam pelan seperti pemborosan atau uang yang terbuang sia-sia hanya untuk coklat. Tidak memperhatikan suaminya yang terlihat lebih pendiam dari saat mereka memasuki mobil.

Max menarik napas panjang. Berusaha melonggarkan paru-parunya yang terasa sesak. Masih terngiang pembicaraannya dengan Andrew tentang bisnis dan Jovanka. Makin diingat makin membuatnya marah.
Hujan deras mengguyur saat mobil memasuki jalan bebas hambatan. Meski begitu tidak ada kemacetan terjadi. Jovanka yang kelelahan tanpa sadar tertidur di kursinya. Ia terbangun saat merasakan kilat menyambar dan gemuruh hujan turun bagai ditumpahkan dari langit.
Mobil melaju pelan memasuki komplek dan masuk ke dalam halaman. Saat berhenti di teras, Jovanka yang baru turun dari mobil tertegun melihat sesuatu.

“Aduh, kasihan.” Dengan langkah cepat dan tak menghiraukan derasnya hujan, ia melangkah menuju semak perdu yang ditatam di pinggiran teras.
“Jojo, kamu ngapain?” teriak Max saat melihat istrinya hujan-hujanan berjongkok di teras.
“Bentar, Sir. Mau nolong kucing kecil.”
Max melangkah menghampiri, tanpa sadar tubuhnya pun basah kuyup karena hujan. Dia menunduk dan melihat Jovanka berusaha meraih kucing kecil yang sepertinya ketakutan di bawah rumpun bunga.
“Sini manis, aih jangan takut.”

Akhirnya Jovanka berhasil menariknya. Dan setengah berlari menuju teras dengan Max di belakangnya.
“Ah, pantas saja dia berteriak. Kakinya luka, tersangkut,” gumam Jovanka tak memperdulikan tubuhnya yang basah kuyup. Lalu menoleh heran pada suaminya yang juga basah kuyup. “Sir, kok ikut hujan-hujanan?”
Max membuang napas kesal. Menarik tangan Jovanka menuju rumah dan meneriakkan perintah pada pelayan.
“Bawa kucing kecil ini dan rawat dia baik-baik.”

Jovanka menyerahkan kucing pada pelayan perempuan yang tergopoh-gopoh mendatangi mereka. Sedikit menggigil karena dingin air hujan bertemu dengan ruangan yang ber-AC. Jemarinya menggosok-gosok lengan telanjangnya yang basah tanpa menyadari jika gaun yang ia kenakan menempel erat dan memperlihatkan lekuk tubuh.
Max terpaku menatap istrinya yang sibuk mengganti alas kaki dengan sandal rumah. Max menelan ludah, menatap istrinya molek. Kemana ia selama ini, hingga baru sekarang menyadari jika istrinya cantik.

“Jojo ….” panggilnya dengan suara serak.
“Ya?” Jovanka menoleh saat sudah berhasil mengganti sepatu dengan alas kaki.
Max mengulurkan tangan, mengelus pelan pipi istrinya. Mereka bertatapan dengan intens dan tanpa sadar saling bergerak mendekat. Dua tubuh dingin dengan hati membara ingin menyentuh.
Jovanka berteriak kecil saat tangan Max menariknya menuju tangga. Setengah berlari ia membiarkan suaminya membawanya menuju kamar.

Ia berjengit saat Max membuka pintu kamar pribadi pria itu dan menariknya masuk. Sebelum ia sempat membuka mulut untuk bertanya, Max menempelkan bibir.
Terdengar pintu dibanting menutup, dalam keremangan Jovanka melihat suaminya menatap tajam sebelum kembali mengecup. Tanpa sadar ia mengalungkan tangan pada leher Max.
“Jojo, aku tidak memaksamu. Tapi aku menginginkanmu sekarang.”
“Apakah kamu mau?” bisik Max pelan.
Tidak ada jawaban dari Jovanka.
“Jawablah, apakah kamu mau?” bisiknya menuntut.
“Yah, aku mau.”

Mungkin karena pengaruh cinta atau juga emosi, tapi Max merasa sangat ingin memiliki Jovanka sekarang. Merengkuh sepenuh hati apa yang seharusnya menjadi miliknya dari dulu, Jovanka. Perasaan ingin memiliki mencengkeramnya kuat. Jovanka adalah miliknya. Ia tidak akan menyerahkan pada siapa pun karena wanita yang sekarang ada di pelukannya adalah miliknya.

Persetan dengan proyek, Andrew dan semua orang yang menentang hubungan mereka, saat ini ia hanya ingin mencurahkan seluruh kasih sayang, hidup dan cinta. Ia pernah kehilangan sekali saat Jovanka pergi meninggalkan rumah dan bertekad tidak akan kehilangan untuk kedua kalinya
Dengan perasaan yang meluap-luap, ia berbisik. “Jojo, I love you.”

Hujan menjadi saksi saat Jovanka menangis bahagia dengan Max berada dalam pelukannya. Akhirnya, apa yang ia tunggu menjadi kenyataan. Bahwa cinta tumbuh di hati seorang Max Vendros untuknya. Sekarang, saat ini, ia adalah milik dari Max seutuhnya. Ini bukan mimpi, ini nyata karena ia bisa merasakan cinta melingkupinya.
“I love you, too. Mr. Max.”

****

#Pengantin_Bayaran_Sang_CEO
#Part_20a
#CEO's Bride.

****
Hujan mengguyur deras, malam dingin dengan petir menyambar dan memberikan bayangan menakutkan pada kaca. Max dan Jovanka terbaring berpelukan. Gairah baru saja reda. Jovanka sendiri merasa beruntung bisa menggerakkan ujung jarinya setelah kelelahan yang tiada tara.
“Tanda apakah ini?” tanya Jovanka dengan jari menyusuri pundak suaminya.
“Oh, ini kecelakaan dulu.”
“Sepertinya ini tertimpa sesuatu yang amat berat.” Jovanka mengawasi lebih dekat dan melihat guratan bekas luka yang terlihat dalam. “Peristiwa apa? Kalau boleh tahu.”
Max menghela napas panjang, meraup tubuh istrinya dan mendekap erat. Matanya menerawang menatap langit-langit kamar. Ingatan tentang masa kecilnya menyeruak tajam.
“Ini ada hubungannya dengan Steve.”

Jovanka ingin duduk untuk mendengarkan lebih lanjut tapi tertahan oleh lengan Max yang merangkulnya erat. “Oh ya, bisa ceritakan padaku?” desaknya.
“Apakah kamu ingin mendengar masa lalu Steve?”
“Si Tuan Cantik yang arogan itu? Ada apa sama dia? Kupikir dari lahir dia sudah sombong.”
Max tersenyum simpul mendengar gerutuan istrinya. Permusuhan yang tercipta antara Steve dan Jovanka memang menggelikan.

“Apakah kamu tidak merasa kami berbeda meskipun berdarah Vendros?”
Jovanka mengangguk. “Yup, kalian beda secara kamu bermata biru dan dia sipit. Kupikir karena Mamamu orang Belanda, Sir.”
“Dan Papa Steve orang China.”
“Ooh, pantas saja. Lalu?”
“Kamu nggak sabaran sekali.” Max mencolek dagu istrinya. “Steve kecil itu pemalu.”
“Hah! Serius?” Jovanka kembali rebah karena tubuhnya ditahan.
“Aunty Aileen, Mama Steve adalah wanita cantik yang lebih suka hidup glamour sebagai artis dari pada mengurus perusahaan. Kamu harusnya kenal dia, artis jaman dulu dengan nama panggung Amarosa.”

“Iyaa, aku kenal dan dia memang amat cantik.” Jovanka terbelalak kaget, “dia Mamanya Tuan Cantik nan songong itu?”
Max mengangguk. “Aunty menikah dengan Uncle Huang karena perjodohan dari Gandpa. Demi bisnis semata. Setiap hari rumah tangga mereka penuh dengan pertengkaran. Steve hanya bisa melihat sambil menangis saat orang tuanya bertengkar hingga nyaris menghancurkan rumah.”
Max terdiam sesaat dan mendesah sebelum melanjutkan ceritanya. “Suatu hari, kami sekeluarga besar berlibur ke vila keluarga. Satu keluarga menepati satu buah vila. Terjadi pertengkaran hebat antar kedua orang tuanya lalu pergi meninggalkan dia sendiri di vila yang besar. Entah bagaimana awalnya, terjadi kebakaran. Aku yang semula hendak mengajaknya menyelinap keluar untuk bermain malah mendapati api merambat dari ruang tamu ke arah tempat tidur.”

Max memejamkan mata. Mengingat kembali tentang api yang menyala-nyala dan suara teriakan. Sentuhan lembut Jovanka di lengannya membuatnya tersadar.

“Steve terjebak, dia menangis meminta tolong. Yang aku pikirkan saat itu adalah menyelamatkan saudaraku satu-satunya. Aku melangkah mendekati api, menggendong dia yang nyaris pingsan karena menghirup asap. Tiba di dekat pintu ruang tamu, ada sebongkah kayu berapi yang runtuh. Aku tersandung, Steve terguling dan kayu itu menimpaku. Untunglah Grandpa dan Papa datang menyelamatkan kami. Jika tidak, mungkin aku tidak akan hidup sampai sekarang.”

Air mata, entah dari mana datangnya mengalir di pipi Jovanka. Melirik suaminya yang memejamkan mata. Ia tahu, jika Max sedang berusaha meredakan kesedihan akan masa lalu. Bayangan tentang dua anak kecil menghindari api sungguh membuatnya pilu.

“Apakah kedua orang Steve akhirnya berdamai setelah kejadian itu?” tanya Jovanka pelan dengan tangan mengelus dagu suaminya yang bercambang tipis.
Max menggeleng. “Grandpa yang mengamuk akhirnya menyuruh keduanya mengambil keputusan dan yang mereka mau adalah bercerai. Steve yang tidak ingin ikut keduanya memilih tinggal bersama kami. Uncle Huang kembali ke China dan membangun bisnis di sana, terakhir kudengar sudah menikah lagi dan Aunty Aileen, menikmati hidupnya dengan berkeliling dunia dan menjalin hubungan dengan banyak laki-laki. Sekarang sedang di Amerika dan kabarnya akan menikah dengan seorang pengusaha asal Perancis.”
“Wow, kasihan Steve.”

Max mengangguk setuju. “Kasihan dan dia memilih tegar untuk jalan hidupnya sendiri. Mamaku menyayanginya seperti anak sendiri. Hingga saat dia meninggal, selain aku justru Steve yang merasa sangat kehilangan.”
“Itukah yang membuatnya menyayangimu? Karena kamu menyelamatkan nyawanya?”
Max tersenyum dan menoleh pada istrinya. “Dia saudaraku.”
“Apakah dia pernah jatuh cinta?”
“Steve?”
Jovanka mengangguk.

“Pada seorang wanita dan dia lepaskan karena tahu orang tua sang wanita lebih menginginkan anaknya menikah denganku sang pewaris Vendros dari pada Steve.”
“Aaah, pasti sakit hatinya.”
“Iya, cinta pertama dan mungkin terakhir bagi Steve.”
Jovanka mengangguk berulang kali. “Baiklah, Sir. Setelah mendengar ceritamu, mulai besok aku akan bersikap baik dan manis sama dia.”
“Manis dan baik?” tanya Max heran. “seperti apa contohnya.”
Jovanka mengangkat bahu. “Entah, nanti kupikirkan. Sekarang mari kita tidur.”
Max berguling dan memeluk istrinya. “Siapa bilang aku mengantuk.”
Jovanka terbelalak. “Tapi, kaaan ….”
Suara protesnya dibungkam oleh kecupan dari suaminya.

*******
“Sudah siap menerima terkaman harimau?” goda Max pada istrinya saat mereka turun dari mobil dan berada tepat di depan rumah orang tuanya.

“Diih, apaan sih?” jawab Jovanka pelan, “Dosa ngatain orang tua sendiri kayak gitu.”
Max tersenyum simpul dan mengecup pelan pipi Jovanka dan membuat istrinya memprotes marah.
Jujur saja dalam hati Jovanka merasa ketakutan. Setelah pernikahan pura-pura yang berujung pada pernyataan cinta Max yang sahdu pada malam mereka bercinta. Kini ia merasa makin lama makin tidak ada lagi hal pura-pura dalam pernikahan mereka. Semua terasa natural sekarang. Tentang mereka berciuman, berpelukan atau pun saat bercinta sepanjang malam.

“Rumahnya sejuk dan asri.” Jovanka mengedarkan pandangan keseantero halaman yang dikelilingi tumbuhan pakis dan jati.
“Suka rumah seperti ini?” Max mendekati istrinya dan memeluk dari belakang. Sungguh aneh tapi menyentuh istrinya adalah candu baru baginya.
“Suka, seperti berada di dalam hutan di mana hanya kita berdua,” jawab Jovanka malu-malu.
“Trus? Mau ngapain kalau berdua terus?” Max menggigit kecil kuping istrinya.
Wajah Jovanka merona, menggeliat geli karena ulah usil suaminya. “Diih, apaan, nih? Depan rumah orang juga?”
“Biar saja,” desah Max pelan. “Biar mereka tahu kalau kita sedang jatuh cinta dan rasanya ingin bercinta sepanjang waktu.”
“Hahaha … mesum.” Jovanka menggeliat dan berusaha lepas dari pelukan suaminya. Sudah dua minggu berlalu dari semenjak mereka pertama kali bercinta. Sekarang setiap hari tak terlewati tanpa saling menyentuh dan mengumbar kemesraan.

Tanpa malau-malu, Max meminta Jovanka sekamar dengannya dan memerintahkan para pelayan untuk memindahkan baju-baju istrinya ke lemarinya. Bu Erna bahkan secara tersirat mengharapkan akan ada tangis bayi di rumah besar mereka.

Keduanya menghentikan candaan saat melihat pintu jati terbuka. Muncul Pak Abraham Vedros, memasang wajah kaku dengan tubuh berbalut piyama. Matanya memandang tajam pada anak dan menantunya yang berpelukan di depan rumah.
“Sir, sepertinya Papamu tidak suka dengan kehadiran kita,” bisik Jovanka sambil memandang takut-takut pada laki-laki tua yang berdiri gagah di depan pintu.
“Santai, dia nggak akan menggigit.”
Max melepaskan pelukannya dan meraih tangan Jovanka, menuntunnya ke tempat sang papa berdiri.
“Pa, pagii,” sapa Max pelan.
Pak Abraham tidak menjawab. Memandang lurus pada anak laki-lakinya dengan seorang wanita yang terlihat gugup di sampingnya. Siapa pun akan merasa gugup jika melihat sikapnya yang mengintimidasi.
“Mau apa kalian datang!” tegurnya pelan.

Max memandang Jovanka yang menunduk. Belum sempat ia menjawab, dari arah pintu yang terbuka muncul Evely yang tersenyum ceria.
“Ah, Kaka Jojo, Kak Max, senang kalian datang!” Tanpa basa-basi Evelyn merengggut Jovanka dari samping Max dan memeluknya.
“Eve, apa kabar?” tanya Jovankan di sela-sela pelukan adik iparnya yang menggebu-gebu.
“Baik, Kakak. Ayo, masuk. Ada Mama di dalam.”
Mengabaikan papanya yang masih berpandangan tajam dengan Max, Evelyn menuntun kakak iparnya menuju dalam rumah.
Jovanka sedikit terkesiap melihat interior rumah yang luas dan ditata artistik dengan berbagai ukiran kayu menghiasai seluruh ruangan. Dari mulai meja, kursi hingga panel dinding. Dia hanya bisa terdiam saat Evelyn membawanya ke teras samping di mana kolam ikan yang luas terpampang di depan mata.
“Duduk, Kak. Sebentar lagi Mama datang.”

Jovanka tersenyum kecil saat pinggulnya menyentuh kursi dari ukiran kayu dengan alas empuk. “Aku merasa grogi,” ucapnya terus terang pada adik iparnya.
“Santai, Mamaku baik, kok.” Evelyn menepuk punggung Jovanka untuk menenangkan.
Tak lama datang dua pelayan membawa peralatan minum teh disertai irisan buah dan kue. Aroma teh mawar tercium semerbak. Jovanka sedang menghirup teh-nya saat muncul sesosok wanita setengah baya yang masih terlihat cantik. Mengenakan blus berpotongan sederhana, matanya menatap Jovanka tajam.
“Jadi, ini istri Max?”
Jovanka bangkit dari duduknya, mengangguk ke arah mamanya Evelyn yang dia tahu bernama Faranisa. Seorang wanita cantik yang masih terlihat menawan di umur hampir setengah abad dengan rambut yang disanggul rapi dan riasan sederhana pada wajah.

“Selamat siang, Bu.” Mengabaikan sikap permusuhan, Jovanka menyapa ramah.
Bu Faranisa mengangguk kecil. Matanya secara terang-terangan memandang Jovanka dari atas ke bawah. dengan pandangan menilai.
“Kelihatannya penampilanmu berubah dari pertama kami melihatmu, ya?” Dengan senyum sinis, Bu Faranisa melirik pakaian yang dipakai tamunya. “Tunik dan celana itu bermerek. Enak kan menikah dengan orang kaya?” celanya sinis.
“Mama ….” protes Evelyn.

Jovanka merasakan dadanya nyeri tapi ia mencoba terus tersenyum. Bagaimana pun yang ia hadapi orang tua.
“Terima kasih atas pujiannya, saya akan terus berusaha untuk memperbaiki penampilan.” Jovanka menjawab tenang dengan senyum terkembang.
Jawaban Jovanka membuat Bu Faranisa tersentak. Dia berkacak pinggang, wajahnya sedikit memerah apalagi melihat Jovanka tersenyum tanpa kesal.
“Ayolah, Ma. Kak Jojo udah jauh-jauh datang.” Evelyn merangkul bahu mamanya. “jangan marah-marah.”
Dengkusan pelan terdengar dari mulut Bu Faranis. “Duduk!” perintahnya kalem.

Jovanka patuh, duduk di tempatnya semula. Melirik pada sepasang ibu anak yang kini duduk berseberangan dengannya. Terlihat oleh Jovanka kalau Evelyn sama sekali tidak peduli dengan sikap mamanya yang tidak ramah. Dia berceloteh gembira tentang kolam, teh panas dan kue yang harus dicoba oleh Jovanka.
“Mau apa kalian datang kemari?” Tanpa basa-basi Bu Faranisa bertanya pada Jovanka yang asyik mendengarkan celoteh Evelyn.
Jovanka menggeleng sebelum berkata. “Tidak ada, hanya ingin silahturahmi. Bagaimana pun suamiku adalah bagian dari rumah ini.”
“Jangan berpikir jika semudah itu kamu diterima di rumah ini apalagi sebagai menantu.” Bu Faranisa mengangkat sebelah kaki dengan tangan bersendekap.

“Memang tidak ada niat begitu, apalagi dengan kedudukan saya yang dianggap tidak sederajat.”
“Nah, kamu tahu itu! Kenapa tidak menceraikan Max kalau begitu!” ucap Bu Faranisa keras.
“Mama!” sergah Evelyn memotong perkataan mamanya. “Mama bicara apa? Keterlaluan ini ngomongnya. Kak Jojo dan Kak Max bermaksud baik datang kemari.”
“Eve, kamu diam saja!”
“Nggak, bagaimana Eve diam kalau Mama semena-mena.”

Jovanka hanya diam memperhatikan perdebatan ibu dan anak di depannya. Ide untuk menyambangi rumah ini berasal dari dirinya dan sekarang dia merasa bersalah pada Max yang ia tahu akan mengalami masalah dengan papanya. Terselip sedikit perasaan menyesal saat melihat bagaimana Bu Faranisa menolaknya terang-terangan. Ini tidak akan mudah tentu saja.
“Bu Faranisa, Max kangen dengan rumahnya. Apa salahnya dia datang?”
Ucapan Jovanka menghentikan perdebatan Evelyn dan mamanya. Keduanya memandang Jovanka yang duduk melipat tangan.

“Setelah lulus SMA, dia sudah jarang sekali kembali ke rumah ini. Hari ini kalau nggak salah adalah hari ulang tahun Pak Abraham. Makanya, meski sudah tahu akan ditolak, kami tetap datang.”
Handphone di tangan Evelyn berbunyi. Gadis itu mengangkat dan menjauh dari mama dan kakak iparnya.
“Apa Max mengatakan sesuatu tentang Papanya?” tanya Bu Faranisa tiba-tiba pada Jovanka yang tertegun.
“Tentang apa?”
“Semuanya, masa lalu dan masa sekarang.”
Jovanka mengangguk. “Tentang kebencian terhadap Papanya karena sudah menyingkirkan Mamanya dan juga perihal dia yang tidak pernah akur dengan pengganti Mamanya.”
“Apakah dia masih menyimpan amarah pada kami?”
Jovanka berpikir sejenak. Mengingat tentang ucapan Max perihal keluarganya. Sebenarnya tidak ada kebencian di sana hanya tersisa rasa kecewa.
“Tidak, lebih banyak rasa kecewa.”

Bu Faranisa tidak menjawab. Mengangkat cangkir di depannya dan menghirup perlahan teh mawar dalam cangkir porselen. Sementara Evelyn belum kembali, keduanya duduk terdiam.
Suara burung berkicau ditimpa suara binatang lain dan desau daun yang bergesekan karena angin membuat Jovanka seperti sedang berada di tengah hutan. Tanpa sadar ia memejamkan mata dan menghirup aroma segar alam sekitar dalam-dalam.
“Jujur saja, kamu bukan menantu ideal pilihan kami.”
Jovanka membuka mata dan mengangguk. “Saya tahu, Amarisa memang lebih cocok.”
“Yang kamu lakukan waktu itu terhitung sadis dan memalukan. Berani mengacaukan pesta pertunangan Max dan membawanya pergi. Bisa saja kami menjebloskanmu ke kantor polisi.”
Jovanka tersenyum. “Tidak kalian lakukan karena Max bukan?”
“Iya, dia sempat mengancam untuk memutuskan hubungan keluarga kalau kami lakukan itu.”
“Dan kalian menuruti karena memang sayang sama dia.”
Bu Faranisa tidak menjawab, menggigit bibir bawah dan tanpa sadar memainkan cangkir di tangan. “Sepertinya begitu, terlalu sayang terlihat bukan? Sayangnya Max tidak melihatnya.”
“Perasaan Anda bukan?”
“Maksudmu?” tanya Bu Faranisa bingung.
“Max tidak bisa melihat perasaan Anda yang sesungguhnya. Jika Anda benar-benar menyayanginya sebagai anak.”

Sunyum kecil tersungging di mulut wanita setengah baya di depan Jovanka. Sebuah senyum yang langka di mana masih terlihat sikap menjaga jarak antara mereka.
“Apakah Max mengatakan dengan detil masa lalunya?”
Jovanka mengangguk.
“Apakah kamu juga ingin menghakimiku?”
Jovanka mengangangkat bahu. “Untuk apa? Saya nggak kenal Anda. Dan urusan ini harusnya diselesaikan antar keluarga.”
Bu Faranisa mengangguk. Matanya menerawang memandang kolam di mana air gemericik terdengar nyaring. Siang ini udara cukup cerah tapi tidak panas. Dia melirik gadis di sampingnya yang meskipun duduk tenang tapi tidak bisa menyembunyikan kegugupan. Diam-diam menilai Jovanka dari cara duduk dan bicara.
“Penampilanmu jauh berubah tapi asal-usul tidak bisa berubah,” celetuknya tiba-tiba.
Jovanka mengangguk. “Saya nggak mau ubah asal-usul demi apa pun karena saya merasa bersyukur memiliki mereka sebagai keluarga .”
“Apa kamu tidak pernah merasa minder?” tanya Bu Faranisa ingin tahu. “Saat berada dekat dengan relasi Max dan segala kekayaan yang melingkupinya.”
Jovanka mengangguk kuat. “Sangat minder, pernah suatu saat saya ingin pergi dan meninggalkan semua agar bebas dari tekanan dan Max menarik saya kembali.”
Dari kejauhan terdengar suara Evelyn berteriak. Entah sedang bicara dengan siapa. Jovanka melirik ibu tiri suaminya yang sepertinya tenggelam dalam pikirannya sendiri.

“Dia punya pacar yang tak terlupakan,” ucap Bu Faranisa sambil menelengkan kepala memandang Jovanka.
“Saya tahu, Violet bukan?”
“Kamu tidak takut dia akan merebut Max kembali?”
Jovanka mengangguk. “Takut sekali tapi saya akan mempertahakan Max di sisi saya karena kami suami istri dan dia orang lain.”
Jawaban Jovanka membuat Bu Faranisa tersenyum tanpa sadar. “Percaya diri sekali kamu.”
“Harus, saya mencintainya dan akan tetap mencintainya sampai kapan pun.”

-----


#Pengantin_Bayaran_Sang_CEO
#Part.20b
#CEO's Bride.

****
“Mau apa kalian kemari?”
“Selamat ulang tahun, Pa.”
Bapak dan anak, duduk bersebrangan dengan sikap kaku di atas kursi jati. Keduanya bahkan tidak saling memandang. Terlihat jelas sekali jika mereka tidak akur satu sama lain.
“Jangan sok bilang kalau kamu datang hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun?”
Max melirik papanya yang masih terlihat gagah meski mengidap penyakit jantung. Seorang papa yang ia musuhi dari belasan tahun lalu.
“Memang iya, tapi sejujurnya ada hal lain.”

Pak Abraham menoleh. “Nah, benarkan. Ada hal lain. Coba katakan padaku ada apa? Apa kamu ingin pamer keberhasilanmu meraih proyek dari Pak Johanes?”
Max menggeleng. Terdiam sejenak untuk menimbang kata-kata untuk papanya. Entah kenapa ia merasa jika pembicaraan ini tidak akan mudah untuk mencapai titik temu.
“Aku datang untuk meminta tolong.”
“Apaaa? Apa aku nggak salah dengar? Seorang Max meminta bantuan?”
Suara tawa menggelegar keluar dari mulut Pak Abraham. Max mendiamkannya, sudah yakin sebelumnya jika ini akan terjadi.
“Sudah selesai tertawanya, Pa?”
Teguran Max membuat Pak Abraham terdiam. Mengubah duduknya hingga benar-benar bisa memandang anak laki-lakinya.

‘Dia tidak hanya terlihat tampan dan berkelas tapi juga berwibawa. Mata biru warisan Mamanya membuat dia terlihat menawan. Anak laki-lakiku sudah besar dan memusuhiku,’ desah Pak Abrham dalam hati.
“Apa yang sebenarnya kamu inginkan, Max?” tanya Pak Abraham dengan suara melunak. Helaan napas panjang keluar dari mulutnya.“Tidak biasanya kamu datang meminta tolong di saat segala hal bisa kamu lakukan sendiri. Dan kenapa kamu berpikir aku akan menolongmu?”
“Karena ini menyangkut Vendros Group. Jadi jika aku salah langkah bukan hanya aku yang kena tapi juga bisnis lain yang menyangkut Vendros.”

Pak Abraham mengernyitkan kening. “Ada apa , Max?”
Max meraih kopi yang ditungankan Eveylin untuknya. Mengirup sedikit sebelum berbicara. “Andrew, ponakan Pak Johanes, menawarkan kerja sama untuk membangun perumahan sekaligus taman hiburan.”
“Apakah yang disebut-sebut sebagai mega proyek tahun ini?” tanya Pak Abraham.
Max mengangguk. “Iya, mereka sudah memperlihatkan proposalnya padaku tapi sayangnya ada syarat berat yang harus kupenuhi.”
“Apa? Mereka meminta dana besar atau tenaga kerja asing?”
“Bukan, Andrew meminta istriku.”
“Apaaa?”

Max menghirup napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Masih segar dalam ingatannya bagaimana sikap Andrew yang menggebu-gebu pada istrinya. Andrew yang siap mengorbankan apa pun termasuk uang yang amat sangat besar demi seorang Jovanka.
“Andrew menyukai istriku, Pa. Dia akan memberikan kontrak untuk menggarap mega proyek itu jika aku bersedia melepas wanitaku.”
Pak Abraham tercengang mendengar penjelasan anaknya. “Kamu nggak salah dengar kan? Nggak mungkin Andrew sang jutawan ingin merebut istri orang?”

Max menggeleng. “Tidak, ini benar. Dua minggu lalu tawaran diajukan padaku.”
Pak Abraham mengusap wajah. Dengkusan tak percaya keluar dari mulutnya. Tangannya meraih cangkir kopi yang mulai mendingin dan meneguknya dalam satu tegukan besar sebelum bicara.
“Anak muda jaman sekarang memang sudah gila. Berani sekali dia menawarkan proyek dengan nyawa manusia. Bukankah itu suatu hal yang tidak masuk akal?”
Max setuju dengan pendapat papanya. “Memang dia keterlaluan.”

Pak Abraham menoleh, memandang anaknya lekat-lekat. “Apa istimewanya istrimu, itu?”
Max menjawab pelan. “Bagi banyak orang dia wanita biasa tapi bagiku dia wanita luar biasa. Aku nggak akan melepaskanya demi proyek jutaan dollar sekali pun karena aku juga tidak berniat menjual istriku sendiri.”
“Adakah alasan lain Andrew menginginkan istrimu?”
“Ada, Pa. Itu yang belum bisa kami cari tahu. Aku sudah menyuruh Steve menyelidiki tapi belum membuahkan hasil.”
Pak Abraham bangkit dari duduknya. Memandang pohon-pohon yang tumbuh di mengelilingi rumahnya. Ada anak laki-lakinya di sini, seperti mengingatkan kembali tentang masa lalu saat Max dan mamanya, Beatrice pertama kali menginjak rumah ini. Kegembiraan tidak bisa disembunyikan oleh istri dan anaknya saat itu. Dia sendiri merasa bangga, setelah berusaha bertahun-tahun membangun kerajaan bisnis akhirnya bisa memberikan rumah untuk dan istrinya. Sayangnya, bertahun kemudian, Beatrice pergi dari rumah ini dan meninggalkan anak laki-laki yang selalu menganggapnya bersalah.

“Membangun bisnis apalagi kepercayaan orang itu tidak mudah. Pak Johanes dan Andrew adalah investor handal. Mereka sanggup menyokong sebanyak apa pun dana yang diperlukan asalkan perjanjian memuaskan. Dengan pundi-pundi uang yang berasal dari perbankan, mereka sanggup mencetak uang.”
Suara Pak Vendros terdengar lirih di antara nyaring suara burung berkicau.
“Aku tahu, Pa. Karena itulah aku datang, untuk meminta bantuan.”
Pak Vendros menoleh. “Bantuan apa, Max? Kamu menginginkan apa?”
Max bangkit dari tempat duduknya. Berdiri sejajar dengan papanya yang kini terlihat jauh lebih pendek darinya.
“Hanya dukungan moral, karena jelas aku akan menolak tawaran Andrew.”
“Penolakanmu akan berpengaruh pada bisnis Vendros.”
“Itu sudah pasti tapi aku tidak akan pernah menjual istriku.”
Pak Abraham tersenyum, menepuk pundak Max yang berdiri menjulang di sampingnya. “Kamu jatuh cinta?”
Max tersenyum. “Iya.”
“Apakah kamu sudah melupakan artis itu?”
Senyum memudar dari mulut Max. “Belum, tapi aku akan melupakannya perlahan. Seiring berjalannya waktu aku akan benar-benar melupakannnya.”
“Papa tidak menyangka kamu akan menikah dengan gadis seperti itu.”
“Miskin dan tidak punya uang?”
“Iyaa, dibandingkan Amarisa yang--,”
“Amarisa bertunangan dengan Andrew!” tukas Max menghentikan omongan papanya.
“Wow, kejutan.” Pak Abraham bersiul.
keduanya terdiam, dengan mata lurus menerawang. Pak Abraham membayangkan perusahaannya berada dalam lingkaran Andrew dan Amarisa.
“Steve datang dua hari lalu.”
Max menoleh cepat. “Untuk apa?”
Pak Abraham mengangkat bahu. “Merasakan kekuatiran padamu. Rupanya instingnya kuat. Kamu belum mengatakan perihal permintaan Andrew padanya bukan?”
Max menggeleng. “Belum, Steve tidak terlalu menyukai Jovanka.
Pak Abraham tertawa. “Dia normal, kamu yang nggak. Bicaralah padanya soal ini dan jangan biarkan pikiran buruk berlarut-larut dalam pikirannya. Aku rasa dia mulai menyelidiki perihal Andrew dan Pak Johanes bukan?”
“Iya, dan belum ada hasil.”
“Aku yakin mereka menutup rapat-rapat.”

Dalam hati Max mengakui perkataan papanya. Tidak akan mudah memang menggali informasi tentang keluarga konglomerat karena mereka selalu punya cara untuk menguburnya.
“Steve mengatakan padaku juga jika kamu punya kartu truf soal keluarga Amarisa?”
“Iya, Sang Papa.”
“Apakah penting, atau hal menjijikan yang ingin mereka singkirkan?”
“Menjijikkan.”
Keduanya kembali terdiam. Sama-samar terdengar suara tawa Evelyn yang kadang ditimpa tawa Jovanka.
‘Apakah dia baik-baik saja di dalam sana? Bicara dengan Eve dan ibu tiriku? Apakah dia tidak mengalami penghinaan.’ Tanpa sadar, pikiran Max tertuju pada Jovanka.
“Max.”
“Iya, Pa.”
“Aku akan membantumu. Ini bukan karena aku merestui dia menjadi menantuku tapi karena menyangkut harga diri Verdros Group.”
Max mengulum senyum. “Aku tahu, Pak. Terima kasih.”

Bahkan saat Jovanka berpamitan pulang, satu kata patah pun tidak keluar dari Pak Abraham untuk Jovanka tapi istri Max itu berusaha mengabaikannya. Dia msih tetap tersenyum saat berpamitan.
Evelyn memeluk riang, Bu Faranisa meski tidak terlalu ramah tapi tidak ada lagi senyum sinis tersungging di bibirnya.
Sepanjang jalan pulang, Jovanka berceloteh gembira. Tentang koleksi sepatu milik Evelyn yang membuatnya takjub, tentang hoby Bu Faranisa yang suka mengumpulkan perhiasan dari mutiara.
“Apa kamu juga ingin seperti itu?”
“Apa, Sir?”
“Mengoleksi sesuatu.”
Jovanka tertawa, mengibaskan rambutnya kebelakang dan tangannya memainkan sabuk pengaman. Dia melirik suaminya dengan tatapan nakal.

“Kalau aku mau koleksi sesuatu yang mahal apa kamu akan belikan?”
Max menaikkan sebelah alis. “Sesuatu yang mahal? Apa contohnya?”
“Yah, seperti berlian atau apalah.”
Max mengangguk kecil dengan mata tetap memandang jalanan berbatu yang menuju luar komplek.
“Baiklah, kalau gitu aku memilih kamu koleksi apalah.”
Untuk sejenak Jovanka bingung lalu tawa keras keluar dari mulutnya saat dia mengerti apa maksud dari suaminya. Max mengamati istrinya yang tertawa. Mengikuti dorongan hati ia hentikan mobilnya di bawah pohon rindang.
“Kok, berhenti di sini?” tanya Jovanka bingung.
Max melepaskan sabuk pengamannya lalu sabuk pengaman istrinya dan tersenyum sambil berkata pelan. “Melihat istriku tertawa sepertinya aku ingin mengecupnya.”
“Hah, apa?”
“Mengecupmu,” ucap Max parau dengan mata memandang intens.
“Sir, jangan macam-macam. Ini tempat umum.”
Tidak memberikan kesempatan pada istrinya untuk menolak, Max menyergap Jovanka dalam satu kecupan yang dalam dan panjang. Desah napas tertahan terdengar bersamaan dengan suara kecupan.
Jovanka terengah, dalam satu jeda ia memiringkan wajahnya yang memerah dan berkata pelan pada suaminya. “Kita sedang di luar, Sir.”
“Trus, apa masalahnya?” tanya Max dengan suara serak.
“Akan ada orang yang melihat,” ucap Jovanka di sela napas yang memburu.
“Tidak akan ada yang lihat, paling juga CCTV.”
Jovanka mendorong dada Max. “Nah, itu dia. Ada CCTV, malu kalau keluargamu lihat.”
Max tersenyum kecil dan berbisik mesra. “Tidak, mereka cuma lihat bagian belakang mobil dan itu pun dari jauh. Aku tahu di mana letak CCTV-nya.”
Sekali lagi tidak memedulikan penolakan dan jeritan istrinya, Max meneruskan aksinya.
Setelah gairah mereda dan Max membawa mobil melaju meninggalkan komplek perumahan Vendros, Jovanka menutup wajahnya rapat-rapat. Rona merah menjalari wajah hingga ke leher yang penuh dengan bekas kecupan. Ia malu karena keliaran suaminya menular padanya. Merasa malu karena tak mampu menolak hasrat yang timbul saat dekat dengan suaminya.
“Aku memang payah,” ucap Jovanka pelan sambil mengetuk pelipisnya.
“Tidak, kamu hebat. Baik dia atas ranjang mau pun dalam hal lainnya.”
Jovanka merasa wajahnya memanas. “Siiir! Mesum banget, sih!”
Suara tawa Max terdengar menggelegar dalam mobil yang melaju cepat di atas jalan bebas hambatan. Sore yang menawan di mana lembayung senja menggantung indah dan menjalarkan rona jingga yang memikat.

Jovanka menatap kagum pada jalanan lengang di hadapannya. Ada matahari yang mulai terbenam hingga terlihat seperti bola besar yang menggantung di langit. Dari mobil mereka yang melaju cepat, ia merasa sedang mengejar matahari bersama seorang kekasih di sampingnya.
‘Aku bahagia, Tuhan. Terima kasih untuk segalanya karena telah memilih seorang suami yang baik untukku.’ Jovanka berdoa dalam hati.
“Sir.”
“Iya?”
“Aku mencintaimu.”

-----

bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar