Persaudaraan Muslimah Indonesia, mempelajari Islam Secara Menyeluruh.

Minggu, 02 Februari 2020

Mantan Istri 6 - 10 (end)

#Mantan_Istri
Part 6 by Widury Alza Alf.


Sepanjang perjalanan, Sukma tak hentinya mengumpat. Dia merasa kesal, atas perlawanan Kynara yang dirasa seperti merendahkannya. Seandainya tadi dia tidak sedang bersama Ardan, mungkin dia sudah menjambak perempuan itu.

Sementara Ardan yang duduk di sampingnya tengah asyik bermain game di ponsel ibunya. Bocah itu sama sekali tidak mempedulikan kekesalan ibunya.
Sesampainya di rumah, dia memarkirkan mobilnya di garasi kemudian memanggil pembantu rumahnya untuk mengurus Ardan dan berlalu ke kamarnya.

Sukma merebahkan tubuhnya yang lelah di atas ranjang ukuran besar, matanya memandang langit-langit kamar. Ingatannya kembali ke masa-masa saat dia masih istri Reza. Kamar ini adalah saksi pergumulan panas mereka di setiap saat. Tak ada sudut yang terlewatkan untuk menikmati surga dunia itu bersama Reza.

Semua bayangan indah itu berkelebat di pelupuk matanya, menguak kembali luka lama yang selalu dia sembunyikan. Sungguh, Sukma menyesali atas sikapnya dulu yang tak mau menerima penjelasan mantan suaminya itu. Karena amarah yang memuncak, membuat Sukma buta mata dan tak ingin mendengar pembelaan apapun dari mantannya.

Tanpa terasa tetesan kristal bening meleleh dari sudut matanya membentuk pola yang tak beraturan. Sungguh dia tersiksa karena perasaannya sendiri, walaupun dia berusaha untuk membunuh perasaan itu secara paksa, namun nyatanya itu semua tak semudah membalikkan telapak tangan.

Sukma berusaha untuk menerima kenyataannya bahwa hubungan Reza dengan dirinya sudah berakhir. Tapi, ketika melihat kebahagiaan Reza bersama istrinya, ternyata menimbulkan kecemburuan yang menguasai hatinya hingga dia bertekad akan merebut Reza kembali bagaimana pun caranya.

Ketukan pintu seolah menyadarkannya dari lamunan. Segera dia usap air matanya dengan punggung tangan, lalu membuka pintu.
"Ada apa, Bi?" tanya Sukma pada pembantu rumahnya yang tadi mengetuk pintu.
"Ada tamu di bawah, katanya temen Nyonya," jawab Bi Ani, pembantu di rumah Sukma.
"Iya, sebentar lagi aku turun ke bawah," jawab Sukma sambil kembali masuk ke kamar.
Sukma berfikir, siapa yang akan bertemu dengannya di siang begini. Dia mencuci mukanya agar terlihat lebih segar, lalu bercermin dan keluar kamar setelah memastikan wajahnya tak meninggalkan bekas air mata.

"Hai, sis," sapa seseorang di ruang tamunya.
Mata Sukma membulat demi melihat siapa yang bertamu ke rumahnya. Sekonyong-konyong dia berlari menghampiri orang tersebut dan menghambur ke pelukannya.
"Devi, lo apa kabar? Kapan balik dari Singapur?" tanya Sukma sesaat setelah mereka melepas pelukannya.
"Kabar gue baik, gue baru pulang seminggu yang lalu. Tadinya pengen ngabarin lo kalau gue udah pulang, tapi nomor lo nggak bisa dihubungi,"

"Iya sory banget, ponsel gue yang dulu hilang dan otomatis gue kehilangan kontak lo, Dev,"
"Pantesan, eh ngomong-ngomong gimana keadaan lo sekarang? Udah move on dong dari sang mantan, hihihi," Devi menggoda Sukma sambil tertawa cekikikan.

Sukma mendelik tajam mendengar ocehan sahabatnya itu. Devi adalah sahabat karibmya sejak SMA, dia sudah tahu betul watak sahabatnya itu seperti apa. Baginya, Devi adalah sahabat baiknya walaupun terkadang kelakuannya itu terlihat menyebalkan.

Mereka asyik membicarakan tentang kesehariannya selama mereka berpisah. Selama satu tahun ini Devi pindah ke luar negeri mengikuti suaminya mengurus cabang usahanya di Singapura, dan baru seminggu yang lalu dia pindah kembali ke sini.

Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang saat Devi pamit untuk pulang.
"Sist, gue balik dulu ya takutnya nanti suami gue nyariin kalau lama-lama pergi dari rumah,"
"Yah, padahal masih kangen, masih pengen ngobrol,"
"Besok-besok gue ke sini lagi deh. Eh, nanti malam ada acara nggak?"
"Mmm ... Kayanya nggak, kenapa emang?"
"Keluar yu, kita nongki-nongki cantik. Gue kangen udah lama gak ngumpul sama sahabat yang lainnya,"
"Oke, gue sepakat sama tawaran lo!"

"Nanti gue kabarin lagi ya, Sist, sekalian share lokasinya juga. Ya udah gue pulang dulu lah, bye,"
Setelah cipika-cipika, Devi lalu keluar dan langsung menghampiri taksi online yang sudah dipesannya.
Jam tujuh malam, Sukma sudah siap-siap untuk berangkat menuju tempat yang sudah di janjikan sahabatnya. Mengenakan dress selutut berwarna merah marun dan rambut dibiarkan tergerai. Setelah titip pesan kepada Bi Ani untuk menjaga Ardan, dia siap melesat dengan menggunakan taksi online yang sudah dipesannya sejak tadi.

Hingar bingar musik tampak terdengar memekakkan telinga. Para wanita cantik dan seksi berlalu lalang sambil memegang gelas berisi minuman. Sukma melangkajkan kakinya dengan mantap memasuki tempat tersebut, kepalanya celingak-celinguk mencari keberadaan sahabatnya.
"Hai Sist, gue di sini," teriak seseorang yang tak lain adalah Devi, sedang duduk bersama beberapa sahabatnya.
Sukma menghampiri mereka, lalu ikut gabung bersama dengan hiruk pikuk suara orang-orang di sekitarnya.
Sukma bercengkrama bersama teman-temannya dengan ditemani beberapa botol minuman yang tersedia di sana.
"Eh Sukma, lo masih doyan aja nih sama minuman itu?" tanya seorang wanita yang berambut cokelat.

"Sekarang udah nggak terlalu Sin, tahu sendirilah lo gue single parent udah punya anak pula, mana ada waktu buat senang-senang kaya gini," jawab Sukma setengah berteriak untuk mengimbangi suara musik yang menghentak.
"Lagian kenapa gak lo kasih aja sih anak lo sama mantan, biar lo bisa sering-sering ke sini sama kita," jawab perempuan tadi yang ternyata bernama Sindi.
"Kalau anak gue dikasih ke dia, gue gak ada alasan dong buat minta duit sama dia."
"Ah lo emang pinter morotin duit orang," sela Devi, lalu mereka tertawa terbahak-bahak.
"Eh, gue pulang duluan ya, kepala gue udah agak pusing nih. Gue takut mabok parah kalau terus-terusan di sini." ujar Sukma sambil berdiri dengan agak sempoyongan.
"Gue anter ya," tawar Devi.
"Nggak usah, gue naik taksi online aja," jawab Sukma sambil mengibaskan tangannya.
Sukma berjalan keluar dari tempat tersebut. Matanya berkeliling memandang keadaan sekitar yang tampak gelap. Lalu dengan perlahan dia berjalan menuju jalan raya, kepalanya terasa pusing seperti berputar sehingga membuat dia sedikit terhuyung.

Di saat yang bersamaan, Reza yang baru pulang dari rumah temannya kebetulan melewati jalan tersebut. Ketika matanya tengah fokus memandang jalanan, tiba-tiba netranya menangkap seseorang yang tengah berjalan dengan sempoyongan.

Matanya sedikit menyipit melihat siluet di depannya. Setelah semakin dekat. akhirnya dia tahu siapa perempuan itu. Reza menghentikan mobilnya, lalu turun dan menghampiri Sukma.
"Sukma? Kamu ngapain malam-malam ada di sini? Ardan kamu tinggalin di rumah, hah?" hardik Reza.

Sukma yang setengah mabuk, memperhatikan pria yang berdiri di depannya. Sedetik kemudian sudut bibirnya terangkat ketika mengetahui siapa yang ada di hadapannya.
"Mas Reza," suara Sukma terdengar mendesah, lalu dengan gerakan manja dia mendekati mantan suaminya itu.
"Kamu masih belum berubah dari dulu. Bagaimana mungkin kamu bisa mendidik Ardan dengan baik sementara sikapmu sendiri jauh dari kata baik!"
"Ayolah Mas, jangan marah-marah terus. Kita pulang yu," jawab Sukma setengah tak sadar.
Reza menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Sukma. Dengan kesal dia menyeret lengan Sukma, lalu membuka pintu belakang mobilnya.
"Masuk!" suara Reza terdengar dingin dan tegas, kemudian menuntun Sukma untuk masuk ke mobilnya.

Reza memutar arah, menuju rumah Sukma untuk mengantar mantan istrinya pulang. Sebelumnya, dia telah menghubungi Kynara untuk mengabarkan bahwa dia akan pulang telat malan ini, namun dia tak menjelaskan perihal keterlambatannya itu.

Perlu waktu lima belas untuk sampai ke kediaman Sukma. Sepanjang perjalanan, Reza hanya terdiam. Hatinya kesal bukan main mengetahui perbuatan Sukma yang tidak pernah berubah dari dulu. Matanya melirik sekilas ke belakangnya, andaikan dia tidak punya rasa kemanusiaan malas rasanya harus berurusan kembali dengan mantan istrinya itu. Namun, dia masih mempunyai sedikit nurani untuk mengantarkan wanita yang tak lain adalah ibu kandung dari anaknya.
Sesampainya di rumah, dia di sambut oleh perempuan paruh baya, Bi Ani, pembantu Sukma. Reza memerintahkan Bi Ani untuk membantu Sukma keluar dari mobilnya, sementara dia menuju kamar Ardan untuk menengok anaknya yang sudah terlelap.

Bersambung ...


#Mantan_Istri
Part 7

Reza memandangi buah hatinya yang tengah terlelap, mengelus rambutnya dengan sayang lalu menciumnya. Andaikan saat ini Ardan belum tidur mungkin dia akan membawa Ardan pulang ke rumahnya. Melihat sifat mantan istrinya yang masih suka keluar malam, membuat dia sangsi untuk mempercayakan Ardan pada Sukma.

Dia lalu keluar dari kamar anaknya tersebut, didapatinya Sukma sedang duduk di sofa sambil memijat pelipisnya. Reza mengamati ruangan tersebut, keadaannya tak banyak berubah semenjak dia memutuskan untuk berpisah. Dulu, rumah inilah yang ditempati oleh mereka berdua, menghabiskan waktu malam berdua hingga sesuatu terjadi dan memisahkan mereka. Reza sengaja memberikan rumah ini untuk Sukma sebagai harta gono gini, sementara dia menempati rumah yang saat itu baru dibangun yang rencananya akan ditinggali mereka.

"Kamu istirahat, jangan suka keluar malam, nggak baik untuk perempuan," perintah Reza sambil berlalu dari hadapan Sukma.
Dia hendak pulang karena hari sudah larut malam. Namun, belum sempat memutar knop pintu, Sukma datang mnghapiri dan memeluknya.
"Za, tolong jangan pergi, hanya untuk malam ini saja," suara Sukma terdengar pelan.
"Sukma, tolong jangan seperti ini. Kita sudah bukan siapa-siapa lagi," ucap Reza sambil berusaha melepas pelukan Sukma.
"Aku tahu, Reza, kita bukan siapa-siapa lagi. Tapi, salahkah aku jika berharap kita bisa seperti dulu lagi, menjalani hari bersama dengan penuh kebahagiaan,"

"Berapa kali aku katakan kepadamu, Sukma, aku tak bisa. Aku sudah bersama Kynara, jadi, lupakanlah aku carilah kebahagianmu dengan pria lain,"
"Aku nggak bisa, Za. Aku gak bisa, kamu adalah pria pertama dan terakhirku dan selamanya akan tetap begitu,"
"Sukma, kamu hanya sedang mabuk jadi bicara seperti itu. Ayo, aku antar ke kamar!" ujar Reza sambil menarik perlahan lengan Sukma.
"Aku sadar, Za, aku tidak mabuk!" seru Sukma dengan nada meninggi dan menepis tangan mantan suaminya itu.

"Lalu, kalau kau tidak mabuk kenapa kau berkata seolah-olah aku ini bukan suami orang. Kau harus sadar Sukma, aku sudah memiliki Kynara, nggak mungkin harus kembali lagi bersamamu,"
"Aku tahu kau sudah menikah lagi, tapi aku tak mengapa meskipun kau jadikan aku istri kedua, atau istri siri sekalipun, aku tak masalah," kini suara Sukma terdengar lirih.

"Banyak lelaki lain yang lebih baik dariku, yang lebih mengerti dirimu, jadi carilah jalan hidupmu sendiri. Kamu masih muda Sukma, masih banyak pria lain yang akan menyayangi dan menerima mu dengan tulus," Reza berusaha memberi pengertian dengan cara yang lembut.
"Tapi, aku tak pernah bisa melupakanmu. Aku menyesal karena telah menuduhmu berselingkuh. Ayolah Za, aku rela melakukan apapun demi kamu, asalkan kamu mau kembali padaku," ujar Sukma dengan diiringi tetesan air mata.

Lalu, dengan nekad, di hadapan mantan suaminya tersebut Sukma menanggalkan gaun yang dipakainya, hingga tampaklah tubuhnya yang hanya memakai pakaian dalam.
Reza tentu saja kaget melihat aksi Sukma, dia tak menyangka Sukma akan berbuat seperti itu di hadapannya hanya karena mengharapkan dia kembali. Dia hanya menatap nanar mantan istrinya, perasaannya yang tadi benci dan kesal kini menjadi iba.

"Ambil bajumu dan pakai kembali, kamu tidak perlu merendahkan dirimu seperti ini di hadapanku," ujar Reza sambil memungut gaun yang tergeletak di lantai lalu memberikannya kepada Sukma.
"Masuklah ke kamarmu dan istirahat, ini sudah larut malam. Jagalah dirimu dan kunci pintu rumah," Reza kembali berucap sambil berlalu keluar dari rumah Sukma menuju mobilnya untuk pulang, meninggalkan Sukma yang hanya bisa meratap pilu.

Sukma menangis pasrah di kamarnya, hatinya terluka mendapat penolakan berkali-kali dari mantan suaminya itu.
"Kenapa, Za? Kenapa kamu tak bisa merasakan sedikit saja cintaku ini? Kenapa?" teriak Sukma sambil menangis. Suaranya terdengar pilu menyayat hati siapapun yang mendengarnya.

Sementara itu, Reza memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Waktu sudah hampir tengah malam, Kynara pasti akan bertanya kenapa pulang selarut ini karena dia tak biasanya pulang malam.
Satu jam kemudian dia sampai di rumahnya. Lampu masih menyala pertanda Kynara belum tidur. Namun, istrinya itu tak seperti biasanya yang selalu menyambut di depan pintu. Beruntung, dia selalu membawa kunci serep jadi tidak perlu menunggu di bukakan pintu.

Keadaan rumah tampak sepi, hanya suara tv yang terdengar dari ruang keluarga. Reza memanggil istrinya, namun sepi tak terdengar sahutan. Ternyata, Kynara tertidur di sofa ruang keluarga dengan posisi meringkuk. Rupanya, istrinya itu ketiduran menunggu Reza pulang.
Dihampirinya Kynara, lalu mencium keningnya dengan lembut.

Suara alarm membangunkan Kynara dari lelapnya. Matanya perlahan mengerjap, sedetik kemudian dia terlonjak saat menyadari dirinya ada di kamarnya. Namun, ketika melihat seseorang yang masih mendengkur halus di sampingnya, barulah dia mengerti kenapa ada di sini padahal semalam dia tertidur di ruang keluarga saat tengah menunggu suaminya pulang.

Kynara sibuk di dapur menyiapkan sarapan dan bekal untuk suaminya. Sudah menjadi kebiasaan ya, sebelum Zakyna bangun dia selalu menyempatkan diri memasak untuk suaminya. Tak lama kemudian terdengar suara tangisan Zakyna, rupanya putrinya itu sudah bangun.
Kynara mematikan kompor, lalu mencuci tangannya. Belum sempat dia melap tangannya, tiba-tiba Reza sudah berdiri di belakangnya sambil menggendong Zakyna.

"Mas pasti kebangun karena suara tangisan Zakyna ya, maaf ya Mas, tadi aku tanggung lagi masak," ujar Kynara sambil mengambil alih Zakyna dari suaminya.
"Nggak apa-apa kok sayang, lagian ini kan udah siang," jawab Reza sambil mencium pipi istrinya.
"Cuci muka dulu ih bau," ucap Kynara sambil mengusap pipi yang dicium suaminya.
Reza hanya cengengesan lalu meninggalkan istrinya menuju kamar mandi.

"Mas, semalam kamu pulang jam berapa?" tanya Kynara disela-sela sarapannya bersama suami.
"Kalau nggak salah jam sebelas malam. Kamu tidur nyenyak banget sih, sampai-sampai nggak sadar kalau aku gendong kamu ke kamar,"
"Aku cape, Mas. Seharian kemarin Zakyna agak rewel, makanya semalam aku tidur nyenyak banget. Emang semalam kenapa kok pulangnya telat Mas? Mana udah malam banget lagi,"
"Itu ... Eum, ada sedikit masalah di restoran, sayang. Jadi aku terpaksa menyelesaikan masalah dulu sebelum.pulang," jawab Reza terpaksa berbohong karena tak ingin istrinya salah paham tentang dirinya dan juga Sukma.

"Terus, sekarang gimana?"
"Udah selesai, sayang. Ya udah aku berangkat dulu ya, hari aku mau ngecek kafe yang ada di Jalan Cempaka. Banyak karyawan yang bilang katanya akhir-akhir ini pengunjung sepi karena bosan dengan menu dan juga suasana kafe. Jadi, kamu hati-hati ya di rumah," ujar Reza lalu bangkit setelah menghabiskan sarapannya.
Kynara mengantar suaminya sampai pintu depan, lalu mencium tangan suaminya dengan takzim sebelum Reza berangkat.

Dengan menggendong Zakyna, dia membereskan pakaian kotor di kamarnya, mengumpulkan lalu menaruhnya di keranjang pakaian untuk dicuci oleh Mbok Narti. Merasa pegal, dia meletakkan putrinya di kereta bayi yang terdapat di kamarnya.
Sambil mengasuh putrinya, Kynara membereskan kamar mereka. Biasanya, Reza yang selalu rutin setiap pagi membereskan kamarnya sebelum berangkat kerja, tapi karena hati ini dia bangun kesiangan jadi tidak sempat membantu istrinya.

Selesai membereskan tempat tidur, dia kembali membereskan beberapa barang yang tampak berserakan. Ada juga kemeja suaminya yang tersampir di kursi meja rias, sepertinya Reza lupa menyimpan pakaian kotornya ke dalam keranjang.

Ketika dia menyentuh pakaian itu, tiba-tiba hidungnya mencium bau parfum asing yang berasal dari baju bekas suaminya. Dia mengendus-endus hidungnya, memastikan dari mana asal bau tersebut. Namun, keningnya mengernyit ketika menyadari bahwa bau tersebut berasal dari baju Reza.
'Kok baunya lain ya? Ini seperti bukan bau parfum nya Mas Reza," gumam Kynara dalam hati.
Dia membolak-balik baju tersebut, hingga netranya menangkap ada bekas lipstik dengan samar di bagian depan kemeja tersebut. Tiba-tiba, perasaan was-was menyergap melihat tanda merah di baju suaminya tersebut. Hatinya bertanya-tanya, kenapa ada bekas lipstik di kemeja Reza.

Pikiran buruk pun menghampirinya, tentang fakta yang dia temukan di pakaian tersebut. Namun, dia berusaha menepis dan yakin bahwa Reza tak mungkin main perempuan di belakangnya. Tapi, melihat lipstik ini, hatinya menjadi bimbang dan dipenuhi oleh syak wasangka.
"Sebenarnya semalam kamu kemana, Mas?"

Kynara hanya terdiam, perasaannya sendiri menjadi gelisah tak menentu. Dia begitu dibuat penasaran dengan bekas lipstik di baju suaminya itu. Ingin menelepon Reza lalu menanyakannya, tapi takut itu akan mengganggu pekerjaan suaminya.
Akhirnya, dia memutuskan untuk melupakan sementara masalah tersebut, dan akan menanyakannya secara langsung saat Reza pulang nanti.

Bersambung ...


#Mantan_Istri
Part 8

Deru mesin mobil terdengar memasuki halaman rumah. Kynara yang tengah mengasuh anaknya segera bangkit menuju pintu depan untuk menyambut suaminya dengan menggendong Zakyna. Dia melirik jam di dinding baru pukul setengah lima sore, harusnya suaminya itu pulang malam karena Reza pergi ke restorannya yang berjarak cukup jauh dari rumah.

"Kok udah pulang, Mas?" tanya Kynara heran sambil mencium tangan suaminya.
"Iya sayang, tadinya Mas mau pergi ke Jalan Cempaka, tapi nggak jadi karena dihandle sama Dimas," jawab Reza
"Emangnya Dimas nggak repot gitu, Mas?"
"Sedikit sih, tapi gak apa-apalah, sekali-kali nyuruh dia," jawab Reza sambil mengendikkan bahunya.
"Oh, Mas mau mandi? Aku siapin dulu ya,"
"Boleh sayang, sini Zakyna biar aku yang gendong," ujar Reza sambil mengambil Zakyna dari gendongan istrinya.

Kynara bergegas menyiapkan air hangat untuk Reza, sementara Reza bermain bersama putrinya.
Sementara Reza mandi, Kynara menyiapkan kopi panas dan pisang goreng untuk suaminya. Selama bekerja, fikirannya tak lepas dari tanda merah di baju suaminya itu. Ingin sekali dia memberondong suaminya dengan pertanyaan, tapi dia tahan niatnya itu karena tahu Reza lelah dan pasti akan memicu pertengkaran karena bertanya di waktu yang tidak tepat.

Selesai mandi dan berpakaian, Reza menghampiri istrinya yang sedang bermain dengan Zakyna di teras belakang rumahnya. Udara yang sejuk sera angin sepoi-sepoi membuat suasana terasa nyaman.
Mereka memperhatikan Zakyna yang sedang bermain boneka, kini anaknya itu sudah bisa duduk dan merangkak. Bibirnya tak henti berceloteh khas bahasa bayi yang membuat dirinya terlihat semakin menggemaskan.

Kynara hanya sesekali tertawa karena masih ada yang mengganjal pikirannya. Dia kembali mengurungkan niatnya untuk bertanya tatkala melihat suaminya itu tampak bahagia menikmati momen kebersamaan dengan putrinya yang memang jarang sekali terjadi karena Reza yang sibuk kerja.
Menyadari istrinya mendadak jadi pendiam, Reza merasa heran. Biasanya Kynara selalu heboh menceritakan bagaimana keseharian dirinya menghabiskan waktu bersama Zakyna ketika Reza belum pulang. Namun, kali ini beda. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan oleh istrinya.
"Sayang, kamu kenapa dari tadi aku lihat kok diem aja?" tanya Reza tak bisa lagi menahan rasa penasarannya.

"Masa sih, Mas? Perasaan biasa aja," jawab Kynara dengan senyuman yang dipaksakan.
"Beneran nggak apa-apa? Kamu gak biasanya loh seperti ini,"
"Beneran nggak apa-apa kok. Oh iya, Mas aku titip Zakyna ya. Mau masak dulu buat makan malam," ujar Kynara berusaha untuk menghindari pertanyaan Reza.
Reza hanya mengangguk pelan, matanya yak lepas memperhatikan gerak gerik istrinya dari teras belakang yang memang langsung tersambung ke dapur.

🌺🌺🌺🌺

Selepas magrib mereka menikmati makan malam dengan diam. Kynara hanya sesekali bicara itu pun jika Reza bertanya padanya.
Selesai makan, Kynara membereskan piring kotor di mejanya dan langsung mencucinya. Kebetulan hari ini Mbok Narti libur menengok saudaranya di kampung yang sedang sakit keras.
"Kamu pasti cape, ya?" tanya Reza ketika mereka tengah duduk berdua di kamarnya.
"Lumayan Mas, apalagi hari ini semua pekerjaan rumah aku yang kerjakan, mana repot ngasuh Zakyna," jawab Kynara sambil merenggangkan ototnya yang terasa kaku setelah seharian sibuk berjibaku dengan berbagai pekerjaan rumah.

"Sini aku pijitin," ujar Reza. Lalu tangannya memijit dengan perlahan punggung dan bahu istrinya. Kynara, menurutnya adalah perempuan tangguh dan penyabar.
Selama ini dia tak pernah mendengar istrinya mengeluhkan apapun, walaupun kesehariannya hanya mengasuh Kynara dan mengerjakan pekerjaan rumah. Dan salah satu yang membuat dia begitu terkagum-kagum pada wanita sederhana ini adalah sosoknya yang tegas walaupu.n terkadang sedikit manja.

"Mas aku boleh tanya sesuatu?" tanya Kynara lalu memutar badannya menghadap Reza.
"Ya bolehlah. Kok nanyanya gitu?"
"Tapi tolong kamu jawab jujur ya, Mas. Jangan sekali-kali kamu bohong sama aku."
"Oke, kamu mau tanya apa?"
Kynara beranjak dari tempat tidurnya menuju keranjang pakaian kotor yang tersimpan di sudut kamar. Diambilnya pakaian bekas Reza yang sengaja tidak dicuci.
"Ini! Bekas lipstik siapa, Mas?" tanya Kynara tegas dengan tangan menunjuk tanda merah yang berbekas di baju tersebut.

Reza memperhatikan baju tersebut, sedetik kemudian dia terkejut melihat ada sesuatu di bajunya.
Dasar Sukma bodoh, dia selalu saja menimbulkan masalah untuk diriku, gerutu Reza merasa kesal.
"Mas, kok diam? Ini apa Mas? Sebenarnya semalam kemarin kamu kemana?" tanya Kynara kembali menyadari Reza hanya terdiam.

Reza menarik nafas perlahan, berusaha meredakan debar jantung yang berlompatan.
"Baiklah, aku akan jujur sama kamu. Tapi tolong, kamu jangan marah, ya?"
Kynara mengangguk, lalu kembali duduk di hadapan suaminya.
"Sebenarnya waktu itu aku ketemu Sukma," jawab Reza dengan suara pelan.
"Apa? Kamu ketemu sama dia tapi nggak ngasih tahu aku?" tiba- tiba Kynara bersuara dengan nada tinggi.
"Dengar dulu, sayang. Waktu itu aku nggak sengaja bertemu dengannya,"
Reza kemudian menuturkan bagaimana dia bisa bertemu dengan Sukma malam itu. Dia jelaskan semuanya, bahwa dia hanya menolong Sukma karena kasihan semata, tak ada maksud apapun.
Kynara mendengarkan cerita Reza dengan seksama. Dia berusaha untuk menahan kekesalannya, walaupun tak dipungkiri bahwa hatinya merasa cemburu terhadap mantan istri suaminya itu.
"Dengar, sayang. Aku hanya menolong dia, jadi aku mohon percaya sama aku," ucap Reza sambil menatap lekat manik mata istrinya.

"Apa kamu bisa dipercaya?"
"Kamu meragukan ku?"
Kynara tertunduk, mukanya berubah menjadi sayu. Dia khawatir, selama mereka masih sering bertemu bukan tidak mungkin jika suatu saat akan rujuk kembali, apalagi mereka sudah dikaruniai seorang anak.
"Tolong percayalah padaku," ujar Reza sambil menangkup wajah istrinya.
"Aku percaya padamu, Mas. Hanya saja, aku takut kehilangan kamu jika suatu saat takdir menyatukan kalian kembali," ucap Kynara dengan suara lirih.

"Itu tidak mungkin, sayang. Hubunganku dan dia sudah berakhir jauh sebelum kita saling mengenal. Meskipun sudah ada Ardan di antara kami, tapi bagiku Sukma tetaplah mantan istri di masa lalu ku,"

"Aku selalu berharap kamu selamanya hanya milikku, Mas. Tapi, kalaupun kamu harus kembali bersamanya demi Ardan, aku ikhlas. Yang penting kamu dan Ardan bahagia,"

"Bicara apa kamu ini? Jangan berfikiran seperti itu. Kamu tidak akan pernah kehilanganku, karena pantang bagiku untuk kembali bersama dia lagi. Kalaupun bisa, harusnya sudah kulakukan dari dulu sebelum aku mengenalimu. Ingat, dia hanya masa lalu ku. Jadi jangan kuatir untuk hal itu, kau mengerti?"

Kynara mengangguk pelan, matanya terpejam saat Reza mengecup keningnya dalam.
Entah kenapa, hatinya mendadak mengkhawatirkan sesuatu yang menurut Reza tak akan terjadi. Bagaimanapun, dia seorang perempuan yang begitu mengerti perasaannya sebagai sesama wanita. Apalagi, melihat sikap Sukma yang begitu ambisius dan menyatakan menginginkan Reza secara terang-terangan, bukan tidak mungkin jika suatu saat Reza kembali kepada mantan istrinya itu. Walaupun dia tahu bahwa bagi Reza, kembali kepada Sukma adalah hal yang mustahil baginya. Namun, sebagai seorang istri, dia tetap merasa cemburu dan kesal karena merasa diganggu dengan ulah Sukma yang selalu merongrongnya.

🌺🌺🌺🌺

[Temui aku di kafe Rainbow, jam 11 siang nanti. Ada yang ingin aku bicarakan mengenai Ardan. Penting!]
Sebuah pesan di terima Kynara, dari Sukma? Ada apa? Kynara membatin.
[Silahkan bicara saja dengan suamiku.] tulis Kynara singkat.
[Aku lebih suka bicara antara wanita, jadi tolong datanglah.] balasan dari sana.
[Bagaimana jika aku menolak?]
[Berarti kau tak menganggap Ardan sebagai anak dari suamimu.]
[Kau mengancamku?]
[Terserah! Aku tunggu jam 11.]
Kynara menghela napas kasar, lalu membanting ponselnya ke atas kasur.
"Apa-apaan ini? Kenapa harus aku sendiri yang menemuinya?" gumam Kynara sambil menatap ke luar jendela.
Kynara bimbang, antara menuruti permintaan Sukma atau mengabaikannya. Dia tahu betul bagaimana watak perempuan mantan istri suaminya tersebut.
Bersambung ...


#Mantan_Istri
Part 9

Kynara memutuskan untuk menemui Sukma di tempat yang sudah dijanjikan. Sebelum berangkat, dia menghubungi suaminya, namun, nomornya tidak bisa dihubungi.
Pukul setengah sebelas siang, dia sudah siap berangkat menggunakan taksi online yang dipesannya. Sementara Zakyna dia titipkan kepada Aisyah, anak bungsu Mbok Narti yang selama beberapa hari ini tinggal di rumahnya karena libur kuliah.

Butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai ke tempat tujuan. Di perjalanan, Kynara kmbali menghubungi suaminya, tapi tetap nomornya tidak aktif.
"Mungkin dia sedang rapat, makanya ponselnya dimatikan," gumamnya dalam hati sambil menimang-nimang benda pipih tersebut.
Akhirnya, dia memutuskan untuk mengirimkan pesan singkat kepada Reza yang mengatakan bahwa dia akan menemui Sukma di kafe Rainbow.

Sesampainya di sana, Kynara masuk ke tempat tersebut. Dia mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang mengajaknya bertemu yang sepertinya belum sampai. Kynara memang datang lima menit lebih awal dari waktu yang dijanjikan.
Kynara memesan segelas lemon tea untuk menemaninya menunggu Sukma. Dia asik berselancar di dunia maya, hingga kemudian disadarinya bahwa dirinya sudah menunggu hampir setengah jam.
"Di mana perempuan itu? Apa dia mempermainkanku?" gerutu Kynara kesal.
[Di mana kau?] tulisnya singkat kepada Sukma.
Sepuluh menit kemudian, datang balasan dari Sukma.
[Aku ada sedikit urusan, jadi agak terlambat]
[Kau mempermainkanku?]
[Tentu saja tidak!]
[Kuberi waktu sepuluh menit. Jika lebih dari itu aku pulang]
[Baiklah]

Kynara menghela nafas panjang lalu membuangnya perlahan. Wanita itu, di hadapannya atau tidak, selalu saja membuatnya kesal. Andai dia tidak ingat Ardan, malas rasanya harus menuruti permintaan Sukma yang menurutnya terlalu berlebihan.
Meskipun begitu, dia harus tetap waspada. Sukma adalah wanita yang tak suka dikalahkan, siapa tahu dia mengundangnya ke sini hanya untuk menjebak dan mencelakakannya.
Sepuluh menit waktu yang diminta Kynara, Sukma benar-benar datang. Dia mengenakan dres selutut dengan warna gelap, sangat kontras dengan rambutnya yang kemerahan.
"Halo Kynara, sudah lama menunggu?" ujar Sukma dengan senyum ramah yang dibuat-buat.
Kynara hanya meliriknya sekilas, lalu menyeruput sisa minumannya yang tinggal separuh.
"Aku tidak punya banyak waktu. Cepat katakan, apa yang membuatku harus menemuimu?" todong Kynara tanpa basa-basi.

"Oh ayolah, jangan terburu-buru seperti itu. Kita bicara santai sebagai sesama wanita, kapan lagi kita bisa menikmati waktu berdua seperti ini," suara Sukma terdengar ramah, namun tidak bagi Kynara.
"Apa yang kau rencanakan? Sehingga harus mengundangku ke sini? Bukankah biasanya kau lebih suka mengganggu Reza ketimbang bicara denganku?" sahut Kynara sinis.
"Sepertinya kau menilaiku dengan sangat buruk. Bukankah setiap manusia itu ada sisi baiknya juga?"
"Harusnya begitu, tapi tidak dngan dirimu!"
"Kenapa kau bicara seprti itu seolah-olah aku ini manusia yang sangat buruk di matamu?"
"Itu kau tahu bahwa kau adalah manusia paling buruk di hadapanku, kenapa masih belum sadar juga?" Kynara terkekeh dengan nada mengejek.

Sukma geram, dia mengepalkan tangan di atas pahanya. Ingin rasanya menonjok muka istri baru mantan suaminya itu, namun dia mengurungkan niatnya karena bukan itu tujuan utama mengundang Kynara kemari.
"Oh iya, apa kabar putri cantik kesayangan suamimu itu?" tanya Sukma dengan nada penuh sindiran.
"Zakyna? Tentu saja dia baik,"
"Syukurlah, pasti dia secantik dirimu,"
Kynara hanya tersenyum sinis, merasa muak mendengar ocehan Sukma.

"Sebelum bicara, aku pesankan makanan untuk kita. Jadi, kuharap kau bisa santai sejenak," ujar Sukma, lalu tangannya melambai kepada pelayan dan memesan dua porsi makanan dan dua gelas jus.
Sepuluh menit kemudian, hidangan tersaji di meja. Sukma menyuruh pelayan pergi dan dia yang mengatur tatanan makanannya. Kynara memerhatikan Sukma yang sedang menata pesanannya.
"Mari, kita nikmati hidangan ini," ucap Sukma sambil tersenyum manis.
Kynara hanya terdiam, melahap bagiannya. Sementara Sukma makan dengan matanya berkali-kali mencuri pandang ke arah perempuan di depannya. Ujung bibirnya terangkat, melihat Kynara yang sepertinya kali ini akan takluk kepadanya.

"Apa Reza sudah cerita padamu?" tanyanya di sela-sela suapannya.
"Cerita apa?" tanya Kynara sambil mengernyitkan keningnya heran.
"Ya ... Tentang malam itu. Aku mengatakan padanya bahwa aku menginginkan dia kembali, tak masalah walaupun aku harus menjadi yang kedua. Tapi, dia tak menjawabnya. Jadi aku fikir, akan lebih leluasa jika aku langsung membicarakan hal ini kepadamu," jawab Sukma lagi-lagi dengan senyum manis yang sengaja dipaksakan.

Mendengar perkataan Sukma, Kynara menghentikan kegiatannya.Seluruh badannya mendadak terasa panas, padahal ruangan itu ber-AC. Namun, dia berusaha tenang dan menyembunyikan kekagetannya. Ia yakin, jika menghadapi Sukma dengan emosi tentu saja wanita itu akan merasa menang.
Kynara meletakkan sendoknya ke piring, lalu mengangkat wajahnya dan memandang tepat ke manik mata perempuan di depannya itu.
"Jadi?" tanyanya dengan tenang.
"Ya, seperti yang kukatakan tadi, bahwa aku akan menjadi istrinya kembali, setelah kamu!" jawab Sukma dengan terang-terangan.

"Lalu, apa kau fikir dengan membicarakan ini padaku, kau akan mendapatkan lampu hijau untuk kembali kepada Reza, begitu maksudmu?"
"Tepat sekali! Ah, ternyata kau sedikit jenius untuk urusan hati,"
"Kau salah. Meskipun kau membicarakan hal ini denganku, bukan berarti kau bisa kembali merebutnya. Kau lupa? Bahwa dia sudah membuangmu?" jawab Kynara dengan menatap tajam.
"Lalu bagaimana jika aku tetap memaksanya?"
"Silahkan, jika kau bisa. Aku sungguh kasihan padamu, harus rela mengemis-ngemis seperti ini hanya demi seseorang yang sudah membuangmu. Di mana harga dirimu sebagai perempuan?" tanya Kynara dengan tenang.
Sukma meradang, dirinya merasa dihinakan oleh bocah perempuan di hadapannya. Tapi, dia berusaha tenang agar tujuan utamanya bisa tercapai.

"Kau masih ingusan, jadi tidak akan mengerti bagaimana seseorang jika sudah mencintai kekasihnya,"
"Cinta macam apa yang rela merendahkan harga diri demi suami orang lain,"
"Sepertinya kau belum paham siapa diriku, lihatlah, akan kutunjukkan padamu bagaimana caranya membuat Reza kembali bertekuk lutut kepadaku," ujar Sukma dengan sinis.
Kynara merasa amarahnya seakan-akan meledak menghadapi sikap keras Sukma.Dia mengambil minuman di depannya, lalu menenggaknya hingga tersisa setengahnya.

Tak lama kemudian, kepalanya terasa pusing dan pandangannya berkunang-kunang. Sukma yang memperhatikannya tersenyum penuh kemenangan. Kali ini dia yakin, bahwa rencananya untuk menyingkirkan Kynara akan berhasil.
Sukma melirik kepada pelayan yang mengantarkan pesanannya tadi, dia tak lain adalah Devi, sahabat Sukma sekaligus pemilik kafe tersebut. Wanita itu mendekat ke arah Sukma, sesaat kemudian pandangannya beralih pada Kynara yang pingsan dengan posisi duduk dan kepala terkulai.
"Gimana? Rencana kita berhasil kan?" tanya perempuan tinggi semampai tersebut.
"Pasti sukses dong. Thank you ya lo udah bantuin gue,"
"Its oke!"
Devi lalu memanggil satpam untuk membantunya mengangkat Kynara ke dalam Sukma dengan dalih bahwa Kynara pingsan dan Sukma akan membawanya ke dokter.

🌺🌺🌺🌺

Sukma mengendarai mobilnya dengan tenang. Sudah hampir dua jam dia menyetir mobil dengan tujuan ke tempat yang sangat jauh dari kediamannya.
Sesekali matanya melirik ke kursi belakang di mana terdapat seorang perempuan yang tergeletak pingsan dengan tangan terikat. Bibirnya tak henti mengembangkan senyum, mengingat rencananya kali ini akan berhasil untuk menyingkirkan perempuan perebut kebahagiaannya itu.

"Akan kubuat wajahmu menjadi buruk rupa sehingga Reza pun tak tak sudi melihatmu lagi. Kau bermain - main denganku, jadi rasakan akibatnya!" ucap Sukma sambil tertawa penuh kemenangan.
Sementara itu di kursi belakang, Kynara mulai sadar dari pingsannya. Perlahan dia buka matanya, namun kepalanya masih sedikit pusing. Dia kembali memejamkan matanya, lalu membukanya perlahan. Kynara merasa heran karena berada di tempat asing dan mulai menyadari bahwa dia sedang berada di dalam mobil yang sedang melaju.

Dia bangkit dari tidurnya dan terkejut melihat kedua tangannya yang terikat. Semakin kaget Kynara ketika melihat siapa yang menyetir mobil tersebut, lalu ingatannya kembali melayang ke beberapa jam lalu.
"Sukma? Ada apa ini?" teriak Kynara panik mengetahui dirinya berada dalam mobil Sukma di tempat asing pula.
Sukma kaget saat melihat Kynara yang sudah duduk tegak di belakangnya. Dia tak percaya Kynara sudah siuman dalam waktu yang cepat.
"Kau sudah sadar rupanya? Aku akan membawamu ke suatu tempat yang indah," jawab Sukma dengan senyum sinis.

"Apa yang kau lakukan Sukma? Lepaskan aku!" sentak Kynara dengan galak.
"Lepaskan sendiri kalau bisa," jawab Sukma dengan tawanya yang terdengar seram di telinga Kynara.
Merasa geram, Kynara maju ke depan lalu mengapit leher Sukma dengan kedua lengannya karena dia tak bisa melepaskan tali yang mengikat pergelangan tangannya.
Sukma meronta, matanya membelalak karena lehernya tercekik oleh leher Kynara. Namun, Kynara menekan lengannya dengan sekuat tenaga ke leher Sukma hingga Sukma nafas Sukma tersengal.
Sukma melepaskan kemudi mobil, lalu tangannya berusaha melepaskan lengan Kynara yang mencekiknya. Tanpa dia sadari, laju mobil yang kencang kehilangan kendali hingga membuat keduanya terbanting.

"Lepaskan, bodoh!" teriak Sukma sambil meronta.
Lalu kemudian ....
Aarrrggghhh ....
Keduanya menjerit, mobil yang melaju kencang itu oleng kehilangan kendali, menabrak pembatas jalan, lalu terjun ke jurang melewati bahu jalan.

Bersambung ....


#Mantan_Istri
Part 10

Jam di dinding menunjukan pukul 14.30 ketika Reza sampai di rumahnya. Keningnya mengernyit heran ketika melihat Mbok Narti tergopoh-gopoh membukakan pintu dan Zakyna yang di asuh Aisyah. Biasanya istrinya yang selalu menyambutnya di depan pintu setiap kali Reza pulang bekerja.
"Kynara mana, Mbok?" tanya Reza dengan mata menatap wanita paruh baya di hadapannya itu.
"Neng Kynara pergi keluar, Tuan," jawab Mbok Narti dengan kepala menunduk.
"Keluar? Mau kemana dia, Mbok?"

"Si Mbok tidak tahu, Tuan. Non Kynara hanya bilang mau pergi keluar dan menitipkan Zakyna kepada Aisyah," ungkap Mbok Narti.
"Ya sudah kalau begitu, Mbok boleh pergi," ujar Reza dengan dijawab anggukan oleh asisten rumah tangganya itu.
Reza melenggang menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Dalam benaknya dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan tentang kemana pergi istrinya.

Selesai mandi dan berpakaian, dia mengambil ponselnya berniat menghubungi Kynara. Namun, ternyata ponselnya mati karena tadi dia ada rapat mendadak dengan para rekan kerjanya sehingga mematikan benda pipih tersebut dan lupa menghidupkannya kembali.
Dia menyalakan ponselnya, dan mendapati beberapa panggilan tak terjawab dari istrinya dan ada sebuah pesan chat. Dia membuka aplikasi chat dan membaca pesan dari Kynara yang dikirim pukul sebelas siang tadi.

[Mas, aku ijin pergi menemui Sukma di kafe Rainbow jam sebelas.]
Mata Reza terbelalak demi membaca pesan dari istrinya. Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang seperti dipompa ketika menyadari Kynara sudah pergi dari rumah sejak pukul sebelas tadi dan sampai sekarang belum pulang, itu artinya sudah lebih dari tiga jam istrinya pergi dari rumah.
Tanpa makan siang terlebih dahulu, dia bergegas turun dari kamarnya dan meminta Mbok Narti juga Aisyah untuk menjaga Zakyna. Tanpa menghiraukan pandangan bingung dari mereka dia langsung keluar menuju mobilnya.

Reza memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Dia tidak mempedulikan suara klakson dan juga umpatan dari beberapa pengendara yang hampir celaka karenanya. Baginya sekarang adalah dia cepat sampai ke tempat tujuan dan menemui istrinya.
Sesampainya disana, dia langsung memarkirkan kendaraannya lalu menerobos masuk lalu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, tapi dia tak menemukan apa yang dicarinya. Segera dia menghampiri para pelayan kafe dan menanyakan apakah istrinya ada disana dengan menunjukan foto Kynara.

Jawaban para pegawai membuatnya kecewa karena mereka tak mengetahuinya. Tentu saja para pelayan itu tidak melihat Kynara karena bos mereka langsung melayaninya atas permintaan Sukma.
Reza kembali menyusuri kendaraan untuk mencari keberadaan istrinya. Perut yang terasa lapar karena memang belum makan siang memaksanya memarkirkan kendaraan di salah satu warung nasi di pinggir jalan.
Dia memesan satu piring nasi beserta soto betawi dan segelas teh panas. Fikirannya kacau dan hatinya tak tenang mengetahui istrinya tak ada di tempat. Dia mencoba berkali-kali menghubungi Kynara dan juga Sukma, tapi nomor keduanya tak bisa dihubungi.

Walaupun keadaannya sedang kusut masai, Reza berusaha menekan suap demi suap ke mulutnya. Dia menatap nanar makanan di hadapannya, hingga terdengar sebuah berita dari tv di warung tersebut yang membuatnya mengangkat wajah dan tertarik untuk melihatnya.

Seorang wartawan memberikan laporan bahwa telah terjadi kecelakaan tunggal sebuah mobil sedan warna hitam yang jatuh ke jurang dengan dua orang penumpang wanita di dalamnya.
Penasaran Reza mengamati secara jelas berita tersebut, dan seketika matanya membelalak tak percaya ketika melihat plat nomor mobil tersebut yang sangat dikenalnya. Ya, itu adalah mobil yang dia hadiahkan kepada Sukma saat ulang tahun pernikahan mereka yang ke tiga.

Reza hapal betul rupa mobil dan segala pernak perniknya tersebut. Dengan tergesa dia mengambil selembar uang kertas berwarna merah lalu membayar makanannya. Bergegas dia menuju kendaraannya tanpa menghiraukan pemilik warung yang memanggilnya untuk memberikan kembalian.

Reza mengendarai mobilnya bagai kesetanan. Dia sama sekali tak menghiraukan aturan berkendara. Sekelebat bayangan istrinya menari di pelupuk mata tatkala ia ingat berita di tv tadi. Dia berusaha fokus pada jalan yang dilaluinya walaupun harus mengebut membawa mobilnya.
Sementara di tempat kejadian jatuhnya mobil Sukma ke dalam jurang, tampak beberapa wartawan sibuk meliput kejadian. Mobil polisi pun berlalu lalang di tempat kejadian perkara. Para pengendara banyak yang berhenti untuk menyaksikan kecelakaan tunggal tersebut hingga membuat tempat itu mendadak penuh sesak dengan manusia.

Kynara dan Sukma berhasil dibawa ke jalan raya dengan bantuan para relawan. Sementara mobil yang tersangkut belum bisa diangkat karena tidak ada alat berat. Beberapa tenaga medis berusaha memberikan pertolongan pertama pada korban, lalu kemudian mereka berdua dinaikkan ke dalam ambulance menuju rumah sakit terdekat.

Reza sampai di tempat kecelakaan lima menit setelah ambulance pergi membawa istrinya. Dia berusaha menerobos para pengendara yang mengerubungi tempat tersebut. Setelah berhasil dia melihat ke dalam jurang untuk memastikan bahwa mobil itu adalah mobil Sukma, lalu bertanya kepada polisi mengenai korban dari kecelakaan tersebut.

Dari keterangan polisi dia dapat memastikan bahwa itu adalah istrinya, karena polisi menemukan kartu identitas keduanya di dalam dompet masing-masing. Tubuhnya mendadak lemas, dia merasa tulang-tulangnya seperti diloloskan satu persatu hingga tumbang tak dapat menahan berat tubuhnya.
Setelah mendapat keterangan kemana para medis membawa istrinya, dia segera masuk ke mobil dengan ditemani oleh seorang anggota polisi dan bergegas menuju tempat di mana Kynara akan mendapat penanganan.

🌺🌺🌺🌺

Satu jam sudah Kynara terbaring dalam keadaan pingsan. Dokter mengatakan Kynara tidak mengalami cedera yang serius di tubuhnya, hanya dia sedikit syok dan trauma karena kejadian tersebut.
Reza tersedu di pinggir ranjang rumah sakit menyaksikan istrinya terbaring lemah dengan tangan dan wajah penuh luka. Tangannya di perban, namun beruntung dia tak mengalami luka di kaki karena saat itu Kynara mengenakan celana jeans panjang.

Berbeda dengan Sukma, perempuan itu keadaannya sungguh mengenaskan. Sukma yang mengemudikan mobil harus mengalami patah tulang kaki karena bagian depan mobil rusak parah dan kakinya terjepit badan mobil selama hampir satu jam.

Tempat kecelakaan yang merupakan tebing curam menyulitkan proses evakuasi sehingga Sukma harus merasakan sakit yang sangat lama ketika ketika kakinya terjepit.
Orang tua Sukma yang berada di luar kota sudah tiba di rumah sakit. Bahkan ibu Sukma menangis histeris melihat kaki putrinya terbalut gips dan wajah dan kepala yang penuh luka. Sejak datang tadi Sukma pingsan dan hingga kini belum siuman.

Reza sama sekali tak berniat melihat keadaan mantan istrinya walupun mereka berada di tempat yang sama. Dia merasa benci dan marah pada wanita tersebut karena telah menyebabkan istrinya menjadi seperti ini. Meskipun telinganya mendengar desas desus dari para perawat bahwa keadaan Sukma lebih parah dari istrinya, tapi dia sama sekali tak tertarik untuk menengoknya atau sekedar menanyakan bagaimana keadaannya.

🌺🌺🌺🌺

Bau obat-obatan terasa menyengat menusuk hidung. Perlahan Kynara membuka matanya dan mengerjap beberapa kali. Dipandanginya ruangan tempatnya berbaring, lalu beralih pada tangan yang terpasang jarum infus, barulah dia mengerti bahwa sekarang dirinya berada di rumah sakit.
Disampingnya terdapat sang suami yang sedang tertidur dengan posisi duduk dan kepala tertelungkup di atas kasur. Kynara terdiam, berusaha mengingat kejadian sebelum dia sampai ke sini. Air matanya perlahan menetes ketika dia ingat peristiwa yang menyebabkan dirinya berada di sini.

Tangannya berusaha menyentuh kepala Reza dengan pelan, dan berhasil membuat Reza terjaga dari tidurnya.
"Sayang, kamu sudah sadar?" tanya Reza seraya bangkit dari duduknya.
Kynara menatap nanar wajah suaminya yang terlihat letih, lalu mengangguk perlahan. Reza menangis, lalu meraih tangan istrinya dan mncium penuh haru. Dia tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya ketika melihat istrinya sadar lalu memanggil dokter untuk memeriksa keadaan istrinya.

Lain halnya dengan Sukma, setelah sadar wanita itu histeris ketika mengetahui dia mengalami patah tulang kaki kiri dan harus berjalan dengan menggunakan kruk. Dokter mengatakan kemungkinan kecil kakinya untuk sembuh dan bisa berjalan normal kembali mengingat benturan benda keras yang menyebabkan tulang kakinya patah.

Ibunda Sukma berusaha menenangkan keadaan putrinya. Beliau sangat terpukul mengetahui anaknya harus cacat karena kecelakaan tersebut. Namun, ibunda Sukma pandai menyembunyikan kesedihannya di depan putrinya yang kini merana.
Sejak dokter memvonis dirinya cacat kaki, Sukma bagaikan mayat hidup. Dia hanya melamun, terdiam, lalu mnangis histeris. Sukma sangat syok dan tak percaya dia harus mengalami kejadian tersebut.

"Aku mau mati saja! Aku mau mati! Jangan sentuh aku!" teriak Sukma ketika ibunya mendekat berusaha menenangkan.
"Jangan seperti ini, Sukma. Kamu harus sabar, nanti kita akan melakukan pengobatan yang lebih bagus lagi agar kaki kamu kembali normal," bujuknya sambil berusaha mendekati putrinya.
"Kenapa aku harus cacat, Bu? Kenapa?"
"Sabar ya, sayang. Sabar," ucap Ibunya Sukma dengan suara bergetar menahan kesedihan.
Sukma menangis pilu di pelukan ibunya, dia hanya butuh pelukan untuk menenangkan hatinya. Dia marah dan kecewa, ketika tahu bahwa Kynara hanya mengalami luka biasa. Harusnya Kynara yang mati dan cacat, bukan malah dirinya yang kini menderita.
.
.
.
End


#Mantan_Istri
Spesial extra part

Kynara sedang sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya. Sementara pekerjaan rumah seperti mencuci, bersih-bersih rumah dan yang lainnya dikerjakan oleh Mbok Narti.
Setelah selesai dia menata makanannya sedemikian rupa. Ada nasi goreng sosis, telur dadar, dan yang lainnya. Sebentar lagi mereka akan sarapan pagi.
"Bun, aku hari ini pulang telat ya. Ada pelajaran tambahan," ujar Ardan sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.

"Iya nggak apa-apa. Jangan lupa bekalnya dibawa ya, apalagi hari ini kamu pulang telat," jawab Kynara sambil menatap intens putranya.
"Bunda, aku juga mau bekal yang kaya kakak," rengek si kecil Zakyna, usianya kini sudah 6 tahun dan mulai masuk ke sekolah TK.
"Boleh, berangkatnya sekalian sama Ayah aja ya, nanti pulang dijemput sama Mbok Narti, nggak apa-apa kan, sayang?" tanya Kynara sambil mengusap lembut kepala Zakyna.
"Iya, Bun. Ayah, nanti pulang kerja kita main ke taman ya? Ayah kan udah janji mau ngajakin Zakyna main?" ucap Zakyna dengan pandangan mata penuh harap.
"Iya, sayang. Nanti kita main bareng sama kakak juga ya," jawab Reza.

Kynara tersenyum memandang suaminya. Reza selalu bisa nulis menjalankan perannya sebagai seorang ayah dengan baik walaupun di sibuk kan di ngan pekerjaannya. Dia bersyukur memiliki suami seperti Reza, selain pria penyayang Reza juga tak segan membantunya memasak di dapur saat dirinya sedang kurang enak badan.

Lima tahun sudah sejak kejadian dirinya kecelakaan bersama Sukma, kini dia suaminya pindah dari rumah yang dulu mereka tempati. Alasannya Kynara tak mau di bayang-bayang Sukma lagi, walaupun kini wanita itu harus berjalan menggunakan kruk dengan satu kaki akibat kecelakaan tersebut.

Sejak kejadian itu, Reza meminta Ardan untuk diasuh oleh Kynara mengingat kondisi Sukma yang tidak memungkinkan untuk mengurus Ardan. Sukma menyetujuinya, dengan syarat tak boleh menghalangi jika dia ingin bertemu Ardan dan disetujui oleh Reza.

Selesai sarapan, Kynara mengantar kedua anaknya yang akan sekolah hingga ke pintu depan.
"Hati-hati di jalan ya, Mas," ucap Kynara sambil mencium punggung tangan suaminya.
"Kamu juga hati-hati ya, jangan capek, jangan kemana-mana. Kalau ada mau di beliin sesuatu minta tolong Mbok Narti ya, atau telepon aku aja, oke?"
"Iya, Mas nggak usah khawatir,"

"Ya udah, Mas berangkat dulu. Hai jagoan, jangan nakal ya di dalam perut bunda," Reza membungkuk mencium perut Kynara yang sudah tampak buncit, lalu kemudian terasa olehnya sebuah tendangan kecil dari dalam perut istrinya. Kynara hanya tersenyum sambil mengelus kepala suaminya dengan lembut.

Setelah mereka menghilang dari pandangan, Kynara kembali masuk ke dalam rumahnya.
Tak ada apapun yang bisa dikerjakan Kynara di rumah selain hanya tiduran. Selain karena memang ada asisten rumah tangga yang membantunya, juga dengan kondisi perut yang sudah memasuki usia sembilan bulan membuat dirinya sedikit kesulitan untuk beraktifitas terlalu lama.

Kyanara tersenyum sambil mengelus-elus perutnya. Setelah melakukan USG, dokter memperkirakan kelahirannya sekitar seminggu lagi. Dia sudah tak sabar untuk bertemu dengan sang jabang bayi yang menurut hasil USG bayinya itu kemungkinan berjenis kelamin laki-laki.
Jam di dinding menunjukkan pukul 09.00 pagi. Kynara hendak berbaring di tempat tidurnya ketika dia merasa perutnya sedikit mulas dan ada rasa tak nyaman di area sensitifnya.

Dia beranjak ke kamar mandi, alangkah terkjutnya dia ketika menemukan sedikit flek hitam di calana dalamnya. Jantungnya berdebar, dia mulai takut akan terjadi sesuatu pada kehamilannya.
Seuluh menit kemudian, tiba-tiba Kynara merasakan celana dalamnya basah. Seperti ingin buang air kecil tapi tak bisa ditahan. Khawatir terjadi sesuatu, cepat dia menelepon Reza dan meminta suaminya untuk pulang.
Reza menyetir mobil dengan panik. Cemas melandanya ketika mengetahui terjadi sesuatu pada istrinya. Dia tahu kelahiran istrinya masih seminggu lagi sehingga tak pernah mengira istrinya akan melahirkan hari ini.
Sesampainya di rumah dia langsung masuk ke kamar menemui istrinya yang sudah terbaring lemas di kasur, sementara Mbok Narti tampak di sampingnya sedang mengemas perlengkapan yang akan dibawanya ke rumah sakit.
"Mas, sakit," rintih Kynara dengan suara lemah.
"Kita ke rumah sakit sekarang ya sayang. Kamu harus kuat ya, demi anak kita," ujar Reza sambil mencium kening Kynara lalu membopong istrinya menuju mobil.
.
Sesampainya di rumah sakit, Kynara langsung di tangani oleh dokter yang biasa memeriksanya. Ternyata, Kynara sudah akan melahirkan dan pembukaannya hampir lengkap padahal dokter memprediksi bahwa kelahirannya seminggu lagi, namun ternyata semua lebih cepat dari perkiraan.
Tak butuh waktu lama, terdengarlah suara tangis bayi laki-laki yang begitu kencang. Reza menerima bayi tersebut dengan tangan gemetar, tangis haru tak bisa dia sembunyikan melihat bayi merah nan tampan di pelukannya.

"Bayinya laki-laki, sayang," bisik Reza sambil terseyum menatap istrinya.
Kynara mengangguk, lalu mencoba menggendong bayi mungil nya tersebut. Tak lama kemudian, Zakyna datang menyusul bersama Mbok Narti. Matanya berbinar melihat bayi kecil yang di gendong ibunya.
"Bunda, aku mau gendong dede bayi," rengek Zakyna sambil mengulurkan kedua tangannya.
"Jangan dulu, sayang. Tunggu nanti ya kalau Zakyna sudah besar," jawab Reza dengan meraih Zakyna ke pangkuannya.
Zakyna merengut kecewa, kepalanya menunduk dengan mata memerah berkaca-kaca. Kynara tersenyum melihat putrinya sedang merajuk.
"Ayah beliin lagi boneka barbie terbaru deh buat Zakyna, ya? Mau kan?" tanya Reza berusaha mmbujuk putri kecilnya yang hanya terdiam.
Zakyna mendongakkan kepalanya, lalu menatap ayahnya dengan pandangan berbinar.
"Beneran, Yah?"
"Bener dong, kapan ayah bohong?"
"Tapi, Bunda ...." Zakyna kembali terdiam lesu sambil menundukkan kepalanya.

"Bunda nggak akan berani larang, percaya deh sama Ayah. Nanti sambil makan siang kita beli ya boneka barbienya."
"Horeee ... Belinya tiga sekalian ya, Yah,"
"Iya boleh, apa sih yang nggak buat putri tercantik Ayah," jawab Reza sambil mencolek hidung Zakyna yang bersorak gembira.
Kynara hanya tersenyum menyaksikan keduanya. Kebahagiannya kini terasa sangatlah lengkap, di tambah lagi dengan kehadiran si kecil yang belum di beri nama.

Sehari menginap di rumah sakit, Dokter sudah mengijinkan dia pulang karena kondisinya langsung membaik pasca melahirkan. Berkat dukungan dan kasih sayang suaminya, Kynara tampak lebih baik dan segar walupun Naru selesai melahirkan.
Kebahagiaannya tak hanya itu, ketika pulang ke rumah dia di kejutkan oleh kehadiran orang tua dan mertuanya yang sengaja datang untuk menyambut kehadiran cucu baru mereka. Bahkan mereka rela mendekorasi rumah sedemikian rupa untuk menyenangkan dirinya.
.
.
"Mas, kamu mau kasih nama apa buat anak kita?" tanya Kynara sesaat sebelum mereka tidur.
Reza nampak berfikir, lalu seulas senyum terbit di wajahnya. "Satria Nugraha, gimana?"
"Nama yang bagus, kapan akikahnya, Mas?"
"Nanti kita bicara dulu sama orang tua kita ya, biar mereka yang menentukan kapan akikah Satria," jawab Reza sambil membelai kepala sang istri yang bersandar di dadanya.
Kynara menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Bibirnya tak henti mengucap syukur atas segala kebahagiaan yang kini dirasakannya. Betapa tidak, dia memiliki Reza yang sangat menjaganya, dan juga mertua yang sangat menyayanginya. Ditambah lagi kini rumah tangganya terasa tenang dan damai karena sudah tidak lagi dirongrong oleh mantan istri suaminya yang kini tinggal jauh di luar kota bersama orang tuanya.

The end.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar