#Dear_Mantan
Part 6
Buket Bunga
Aku masih teringat saat terakhir kali Pak Ardian hendak menjawab
pertanyaanku tapi, terputus oleh panggilan mendadak dari tim humas
perusahaan. Beberapa hari kemudian aku tak lagi bertemu dengannya di
kantor, pun di rumah Mama. Sebenarnya aku tak pernah mengharapkan dia
datang ke rumah Mama, tapi ... berkali-kali Mamaku yang masih cantik di
usianya itu selalu bertanya. Klik. Otomatis alarm bawah sadarku
menyimpan pertanyaan itu setiap hari dan jawabannya.
"Ma,
sebenarnya bagaimana sih perasaan Mama sama Pak Ardian. Jangan selalu
menanyakannya dong, Ma. Aku enggak enak nih." Aku berusaha menyelimuti
Mama yang masih pucat wajahnya dengan selimut bulu tebal berwarna
jingga. Mama bilang itu selimut peninggalan Papa saat mereka masih
saling kasmaran. Sekarang aku tahu darimana sifat menyimpan barang
kenangan yang kusuka ini menurun. Darinya.
"Memang itu jadi masalahkah di kantormu, Din?" tanya Mama balik.
Aku menggeleng. Sejujurnya aku juga heran karena suasana perusahaan
yang adem ayem. Mereka sepertinya tidak pernah tahu kalau aku dan Pak
Ardian pernah menjadi suami istri.
Ah, benar. Sembilan tahun.
Kalau bukan pencari gosip mana ada orang yang mau mencari sejarah hidup
orang lain yang sudah lama berlalu.
"Lalu, kenapa Mama gak boleh ngarep dia jenguk Mama setiap hari."
"Karena Andini juga baru di sana, hampir sebulan. Masak karyawan baru
kok bisa buat bossnya bolak-balik datang ke rumah Mamanya."
"Eiys. Kamu bukan pegawai biasa. Kamu manajer loh Din disana." Mama duduk di dinding ranjang. Kepalanya dimiringkan sedikit.
"Iya, sih Ma. Tetap saja gak bisa seperti itu. Terkait pula nanti dengan kinerjaku, Ma. Aku jadi merasa terbebani."
Mama terdiam kemudian menarik selimut, menelusupkan kepala ke dalamnya
lalu berpura-pura mengantuk. Kalau sudah begini ... lebih baik aku juga
mundur, balik ke kamar masa remajaku dan ikut tertidur.
***
"Dew." Aku memanggil Dewi, salah satu anggota timku yang paling rajin
untuk sejenak melihat sesuatu di kantorku. Sebenarnya aku sudah
melihatnya dari kaca pembatas ruanganku yang tembus pandang. Hanya saja,
sekedar mencari penguat bolehkan?
"Iya, Bu." Dia segera mendekat sambil mengikat rambut ikalnya ke arah samping. Leher jenjangnya jadi ikut terlihat pas.
"Kau lihat apa yang ada di mejaku itu?" tanyaku mengetesnya.
"Ya Allah. Bu. Kirain apa." Dia berucap sambil memandang tepat ke arah mejaku.
"Oh my God. Bu ... Ibu berkencan?"
"Apa?" tanyaku menyanggahnya.
"Kalau Ibu enggak berkencan, gak mungkin lah. Bu ... Buket bunga
sebesar ini dengan bunga asli yang ...." Dia membaui buket bunga itu.
"Harum ...."
"Itu mahal. Biasanya, menurut pengalamanku, kalau buket segede ini itu tanda cinta. Ah. Lebih hot lagi ya Bu ...."
Dia lalu mendekat ke arahku dan berbisik di telinga.
"Apa?"
"Heem. Bu." Dia berseru dengan wajah berseri-seri dan menepuk kedua tangannya.
Daripada dia nanti tambah ngaco, kusuruh dia kembali ke mejanya.
"Kira-kira dari siapa ya, Bu?" Tangannya hendak menggapai sebuah kertas
kecil yang tersemat di buket bunga tapi segera kugeser bunganya.
"Hush. Balik kerja," kataku mengusirnya. Bukan Dewi namanya kalau enggak usil. Dia terkekeh-kekeh sambil balik ke mejanya.
Lama aku terpaku memandang buket itu tanpa bisa berpikir apa-apa. Kemudian kugelengkan kepalaku berkali-kali.
Tidak mungkin. Dewi pasti kehabisan obat normalnya. Masak buket ini adalah buket lamaran seperti bisikannya tadi.
Heh. Hi. Aku tiba-tiba bergidik ngeri.
****
[Terima kasih buket bunganya, Pak.]
[Saya kira itu berlebihan.]
Pesan itu kukirim ke nomor Pak Ardian yang baru tadi kutanyakan Sarah dimana adanya.
[Kau suka?]
Ardian membalas disertai emoticon senyum.
[Itu berlebihan, Pak.]
[Bahkan kata Dewi buket itu sudah mirip dengan buket lamaran.]
Lalu Pak Ardian membalasnya lagi dengan mengirim gambar jarinya yang
sudah tersemat sebuah cincin. Gambar itu kubesarkan sedemikian rupa.
Benar. Sebuah cincin pernikahan, karena cincin pertunangan tak mungkin
seperti itu.
[Jangan khawatir. Aku sudah beristri, Bu Andini.]
Lalu hatiku mencelos. Entah kenapa aku malah kecewa. Semprul.
[Alhamdulillah, Pak. Jadi saya lega. Eh, tapi masih kata Dewi nih. Katanya buket itu bisa juga berarti tanda cinta.]
Emoticon orang tertawa tergelak dikirimnya sebagai jawaban.
[Aku heran, apa sih kepintaranmu selama ini. Hingga bisa jadi manajer. Gak peka sama sekali.]
Aku merasa kecewa membaca balasan watsapp darinya yang terkesan mengejekku.
Kudiamkan lama ....
Biarin.
Lalu dia mengirim lagi.
[Jikalau itu memang pernyataan cinta, kamu mau apa?]
[Jangan, Pak. Saya tak mau menjadi pegawai yang durhaka.]
Sekali lagi emoticon tergelak dia kirimkan lagi.
[Kalau aku kekeh mengejarmu, bagaimana?]
Maka kumatikan ponselku malam itu. Hi ... mengerikan. Mulai saat ini
aku harus menjauhi Pak Ardian. Aku tak ingin menghancurkan perasaannya
dan hubungannya dengan istrinya. Karena aku sudah pernah merasakan
sakitnya perpisahan saat bersamanya dulu.
Mulai besok, aku harus menghindarinya. Harus.
Bersambung ..... 🤔♥️
#Dear_Mantan
Part 7
Dua bulan berlalu ....
"Baik. Semua final ya?" Aku duduk berhadapan dengan anggota tim
perekrutan pegawai baru yang sudah memasuki babak akhir. Kami berdiskusi
dan akhirnya menyepakati lima puluh kandidat cleaning service, sepuluh
kandidat security serta dua puluh customer service siap memasuki sesi
terakhir. Sesi wawancara.
"Yup! Bu." Semua bersorak memberi
semangat. Dua bulan berlalu sudah. Penyeleksian yang cukup ketat harus
dilakukan karena gedung baru perusahaan Jaya ini juga meliputi resort
bertaraf Internasional yang akan sangat memuakkan jika berkualitas
rendah. Wajahku sebagai manajer tim juga akan ikut tercoreng.
Lalu, tibalah saat mendebarkan. Hasil hari ini harus dilaporkan kepada Big Boss.
Duh, sudah dua bulan ini aku berhasil menghindarinya, mau tak mau
terpaksa kali ini aku harus mengunjungi kandang macan itu sendiri.
"Oke! Karena semua sudah bersepakat, hari ini akan saya laporkan kepada Bos besar."
"Oke. Aku siap menerimanya."
Sebuah suara tiba-tiba menjawab dari arah belakangku. Semua anggota tim
segera berdiri untuk memberikan salam hormat termasuk aku.
"Oh, oke. Pak!" jawabku mungkin agak terlalu bersemangat karena kaget.
"Tidak di sini Bu Andini. Boleh kupinjam ruangannya ya?" tanyanya basa-basi. Menyebalkan.
Lalu aku mengangguk dan mengekor di belakangnya. Syukurlah dalam
ruangan itu ada Sarah, sekretarisnya jadi ... aku bisa rileks dan tidak
begitu tegang. Bayanganku akan kejadian terakhir kali dulu tidak akan
terjadi kali ini.
Ya, saat itu. Sebelum aku benar-benar
menghindarinya. Dia menungguku di lobi kemudian memberikan satu tangkai
bunga mawar yang indah, menoleh ke arah kanan dan kiri dan ... saat aku
terbengong dia mencium pipi kananku. Lagi ... kemudian berlalu seolah
tak ada apa-apa.
Sebal dengan kelakuannya aku mengirimkan ke gawainya sebuah umpatan.
[Taelamo xxxx]
Yah, maksudku yang bangsa begitu lalu aku kabur. Saat dia membacanya Pak Ardian berteriak kencang. "Andini! Awas ya!"
Teriakannya tertinggal di belakangku. Selama dua bulan ini semua
perasaanku kacau atasnya. Foto pernikahanku dan dia, cincin di jarinya
... kenapa semuanya menjadi teka teki yang kontras di antara kami.
Sebenarnya, aku sudah lupa apa penyebab perceraian kami dulu.
Huft.
"Bu Andini. Bu Andini." Suara panggilan seseorang menyadarkanku. Aduh
ternyata aku sempat melamun juga. Saat aku mulai ingat Sarah sudah di
dekatku dan memegang lenganku.
"Ibu enggak apa-apa?"
Aku mengangguk, sementara dari ujung mataku aku bisa melihat kalau Pak Ardian tersenyum mengejekku. Menyebalkan.
"Eh oke. Maaf, kita sampai mana?" tanyaku sedikit lupa.
"Nanti Bapak akan menghandle sesi wawancara, Bu." Sarah membaca detail
catatannya. Sungguh seorang sekretaris yang baik dan cantik.
Jangan-jangan ... Ah kutepis lagi bayanganku dua kali. Aku tak mau
tertangkap basah melamun lagi.
"Apa?"
Ardian mengangguk di seberang mejaku.
"Dan ... satu lagi keputusanku."
Pak Ardian beranjak dari kursiku kemudian berdiri di hadapanku yang sudah ikut berdiri juga bersama Sarah.
"Malam ini, kutraktir kalian. Satu tim. Sebagai penghargaan atas kerja keras kalian dua bulan yang sibuk ini."
"A ...."
"No no no no. Aku tidak menerima bantahan." Dia kemudian berlalu dengan
Sarah yang mengekorinya sambil tersenyum. Di depan ruang kantorku dia
mengumumkan traktirannya dan disambut sorak sorai bahagia anak buahku.
Oh tidak ....
****
"Warung Gayeng"
Tulisan bercetak warna pink itu terlihat manis di atas bangunan
sederhana yang dikelilingi kolam ikan koi besar di sekelilingnya.
Deretan tanaman bersulur yang merambat di sepanjang dinding bambu yang
menghiasinya membuat mata segar dan tenang. Benar-benar meneduhkan.
Samar-samar aku seperti mengenal bangunan ini. Terlebih lagi saat
kulihat seorang wanita paruh baya yang memakai baju khas kebaya Jawa
mengamatiku dengan seksama. Dia sedang bercakap-cakap dengan Pak Ardian
dengan akrab.
Beberapa wajah timku terlihat kurang bersemangat
saat kami memasuki warung ini, mungkin ekspektasi mereka akan melebihi
warung ini mengingat yang mentraktir mereka adalah big boss tapi, saat
menu yang tersaji di bilik gazebo yang kami tempati keluar semua, wah
... wajah mereka bersemu merah kembali dan bahagia. Ternyata benar kata
pepatah, rayulah kolegamu dengan perutnya. Luar biasa. Pegiat bisnis
semacam Pak Ardian pasti sangat hafal dengan prinsip ini.
Bahkan,
demi apa? Perempuan Jawa tadi yang ternyata pemilik warung yang masih
terlihat cantik di usianya itu ikut menyapa langsung kami. Walaupun
beliau terlihat bercakap-cakap dengan anak buahku pandangan matanya
lebih banyak mencuri-curi pandang terhadapku.
Hm. Misterius.
Sementara Pak Ardian di ujung meja terlihat asyik menikmati makanannya
tanpa terusik. Menyebalkan. Apa yang sebenarnya dia obrolkan tadi dengan
Ibu pemilik warung ini. Lalu rasa sebalku menambah gejolak rasa
laparku. Gulungan tepung yang cantik dengan isi di dalamnya yang tersaji
di depanku membuat hati ini tergelitik menyantapnya. Apalagi cocolan
sambal mentah yang wangi di sampingnya ah, menggiurkan.
Tiba-tiba ....
"Stop. Jangan dimakan. Gulungan tepung ini berisi udang Nona cantik. Anda alergi jangan dimakan."
Pemilik warung tadi menyuruhku berhenti. Tanganku menggantung di udara lalu beralih mengambil makanan yang lain.
Meskipun aku berpura-pura cuek tapi kuperhatikan pandangan mata Ardian
lekat menatapku. Ada kelegaan di sana. Apakah Ardian juga tahu kalau aku
alergi udang? dan dia bersyukur karena pemilik warung juga mengetahui
hal itu dan menghentikan aksiku. Ah entahlah.
Nanti, aku akan
mencari tahu. Yang penting sekarang akan kunikmati semua ini. Gurame
bakar bumbu madu, sate ayam ungkep yang nikmat, sambal hijau yang
menggoda dan sambal mentah yang maknyus sudah menyediakan kita waktu
untuk sejenak lupa akan kenangan. Eh.
****
Hari itu, saat
selesai mentraktir ternyata Pak Ardian dan Sarah harus lebih dulu pergi.
Hal ini membuatku memiliki kesempatan untuk menanyakan kepada pemilik
warung. Kenapa dia bisa tahu kalau aku alergi udang. Bahkan, jujur aku
juga sedikit lupa.
Jawabannya sungguh di luar dugaanku.
"Tentu saja saya hafal. Dulu, kalian berdua adalah pelanggan tetap
warung saya. Saat kalian membolos tanpa alasan, larinya ya ke sini.
Bahkan dulu, nona cantik ini suka belajar cara membuat urap-urap yang
enak kesukaan Mas Ardian. Ciee ... ternyata masih awet saja sampai
sekarang."
"Tapi, maaf-maaf ya, Nduk. Nona cantik ... kalau marahan jangan lama-lama. Kasihan tuh yang kebingungan."
Waduh. Aku sungguh tidak tahu harus menimpali seperti apa.
"Tadi nak Ardian sempat cerita kalau kalian sedang kurang harmonis.
Maka kalau kalian tidak romantis nak Ardian berpesan agar aku jangan
heran." Lalu beliau pamit karena ada pelanggan yang juga kenalannya.
Jadi, selama ini Ardian menutupi status perceraian kami. Kepada setiap orang yang mengenal kami berdua?
Sebenarnya apa yang dia mau? Oh Ardian. Kau menyebalkan.
Bersambung ....
-----
Dear Mantan
Part 8
Aku masih berada di warung Gayeng saat gerimis tipis turun mengguyur
alam. Keseruan belajar meracik urap-urap membuatku lupa akan waktu.
Entah kenapa aku terhanyut dalam cerita Mbak Mayang, nama perempuan
cantik paruh baya yang menemaniku tadi. Hingga tergelitik untuk belajar
lagi membuat urap-urap, entah untuk apa? Sepanjang waktu itu Mbak Mayang
bilang ... Aku dan Ardian sering memanggilnya mbak bukan Bu. Membuatnya
terlihat lebih awet muda.
Pelan-pelan aku mulai ingat kenangan
itu. Bahkan telapak tanganku dan Ardian masih ada dalam salah satu kamar
mandi warungnya. Angin ribut yang pernah menyapa wilayah itu sempat
menghancurkan beberapa bagian warung. Termasuk kamar mandi. Saat itulah
aku dan Ardian ikut membenahi dan turut serta mengecat bangunan baru.
Aku ingat. Setiap sapuan kuasku di dinding itu, lalu kusapukan lagi
beberapa di wajah Ardian yang tampan.
Satu per satu frame memori
yang sempat tak kuingat perlahan muncul berderet. Mendadak kepalaku
berdenyut. Debar jantungku semakin cepat dan ....
Tring!
Suara pecahan kaca di dapur Mbak Mayang menampakkan kembali
siluet-siluet yang selalu kulihat dalam mimpi. Ada Ardian dan aku dalam
bentangan jarak yang penuh pecahan kaca. Lalu ... Ardian berjalan ke
sisi kanannya dan mengambil sebuah bingkai foto yang terpasang di
dinding. Dia mengangkat tangannya lalu ....
Blar!
Ardian membanting foto itu ke lantai. Lalu ... lalu ....
Arggghh.
Aku berteriak kencang sekali. Kutatap lekat kedua tanganku yang seolah
berlumuran darah. Hingga suara Mbak Mayang memanggilku dari luar pintu
sambil mengetuk-ngetuknya membuatku tersadar bahwa aku baik-baik saja.
Bayanganku tadi ... itu hanya sekedar bayangan. Tapi cukup mengusikku.
Darah siapa itu? yang berlumuran di tanganku.
****
Wajah Mbak Mayang sedikit panik saat melihat keadaanku yang kacau.
Setelah memberiku segelas minuman sereh hangat bercampur gula batu dia
duduk di sampingku lalu mengelus lembut tanganku.
"Minumlah.
Campuran batang sereh dengan gula batu di dalam minuman ini akan
membuatmu hangat." Aku mengangguk lalu mulai menyesap. Bau harum sereh
yang tercium membuat urat-urat sarafku yang menegang mulai terurai
pelan-pelan.
"Apa perlu kukabari Ardian?"
Aku menggeleng cepat. Lalu dia pun memahamiku.
"Benar, ada kalanya kita tak ingin pasangan kita melihat kondisi kita yang paling buruk." Dia bersuara.
"Wajah lecek tanpa make up, daster kusut, badan kecut belum mandi itu
bukanlah perkara besar bagi wanita yang sudah menikah. Tapi, jika
kondisi kita tertekan, jiwa kita tersiksa, kita cenderung
menyembunyikannya dari pasangan kita. Berharap tidak semakin menjadi
beban." Mbak Mayang lalu melanjutkan kata-katanya. Aku mengangguk dalam
diam lalu menitikkan air mata.
"Padahal saat seperti itulah, seharusnya ada tangan lembut pasangan kita," lanjutnya dengan menyeka air mataku.
"Bicaralah baik-baik dengan Ardian. Kalian bukan remaja lagi seperti
dulu. Kurasa niat kalian ingin bercerai dulu tak akan muncul lagi, kan?"
Jadi, aku dan Ardian dulu memang ingin bercerai dan mengakhiri
kehidupan rumah tangga. Hanya saja aku benar-benar tak tahu apa yang
terjadi setelahnya. Yang kuingat aku terbang ke Sydney untuk belajar
manajemen perusahaan hingga kemudian diterima di perusahaan Jaya selama
bertahun-tahun. Kemudian berjumpa lagi dengan Ardian setelah sekian
lama.
"Saling menyakiti kalian dulu itu karena usia kalian yang
terlalu muda. Kalau kali ini kalian bertengkar lagi karena masalah lain
kan bisa dibicarakan baik-baik. Kalian berdua sudah bertahan sekian
tahun. Tak ada salahnya kan mulai menebarkan benih-benih cinta lagi?"
Duh, priyayi Jawa ini kok pintar memberikan nasehat. Aku sampai tersipu dibuatnya.
"Mbak Mayang sudah hafal banget ya sifat Ardian?"
Beliau mengangguk. Lalu mengelus tanganku. Dia sudah kuanggap anak
sendiri. Kau juga. Hanya saja mungkin dia lebih nyaman menangis di
depanku karenamu daripada menangis di depanmu langsung, Nona cantik."
Aku mengangguk lalu memeluknya. Pantas sekali Ardian lebih nyaman
mencurahkan kegundahannya kepada Mbak Mayang. Beliau sosok yang hangat.
Akupun lega setelah menangis di depannya.
Aku berjanji akan mulai
sering mengunjunginya. Ternyata Mbak Mayang telah memiliki ikatan lama
denganku dan Ardian. Kenapa aku bisa lupa?
Namun, yang tak kalah
mengejutkan lagi adalah saat dia menyuruh sopirnya mengantarku pulang,
dia salah memberikan petunjuk alamat.
Bangunan rumah mungil dan
sederhana di pinggir kota ini begitu indah. Eh tapi, ini bukan
apartemenku. Kenapa sopir Mbak Mayang membawaku kemari.
Waktu aku
memprotes sang sopir dia mengatakan bahwa dia sudah sering mengantar
pesanan makanan Pak Ardian. Karena tadi Mbak Mayang mengatakan aku
istrinya Pak Ardian dan sayangnya aku hanya diam tak menyangkal alhasil
datanglah aku di sini.
Rumah ini, rumah Bos Ardian.
Aku
tak bisa berkutik. Hatiku cukup malu jika memintanya mengantarku ke
tempat lain. Jadi ... aku pura-pura turun sebentar dan berlari ke teras
depan yang dipenuhi rimbunan tanaman merambat yang cantik. Gerimis masih
turun menyelimuti alam, udara dingin menerpa wajahku yang terdiam di
depan pintu rumah itu. Kenangan lama tiba-tiba muncul di sana.
Aku mengingat bagaimana di depan pintu itu diriku pernah memeluk mesra
Ardian sebelum suara teriakan sekali lagi terdengar di telingaku.
****
"Ya Allah, Andini. Kenapa kamu, Nak?"
Mama menyambutku dengan panik saat diriku sudah berdiri di depan rumah
dalam keadaan basah kuyup. Kenangan-kenangan yang kembali datang itu
membuatku frustasi. Ada rasa marah, sedih, kesal dan perasaan-perasaan
lain yang bercampur dalam diri ini.
Namun, aku tak tahu harus mulai dari mana dan mulai dari siapa yang akan kutagih penjelasan.
Kepalaku yang berkunang-kunang juga sebab lain aku tak lagi bisa berpikir dengan jernih.
Mungkin sementara ini, aku harus tetap diam. Sampai aku benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Mama, selimuti aku. Rasanya semua dingin, dan sakit ... di sini," kataku sambil menunjuk arah hatiku.
Mama hanya diam mengangguk lalu menuntunku masuk ke dalam untuk
memberikan sebuah kehangatan. Sama seperti aku, sorot mata Mama
memancarkan rasa heran. Tapi beliau memilih diam dan menunggu.
Bersambung ..
-----
#Dear_Mantan
Part 9
Tok ... Tok ....
Aku mendongakkan kepala untuk melihat siapa yang mengetuk pintu kaca
ruanganku. Ternyata, Sarah. Ketika kepalaku mengangguk mempersilahkannya
dia berjalan dengan anggun sambil membawa sebuah kotak sedang berpita
biru.
"Maaf, Bu Andini. Saya mau menyampaikan pesan Pak Ardian,
kalau Ibu disuruh menghadap terkait progres wawancara empat hari lagi."
Aku mengangguk mendengarkan kata-kata Sarah. Wajahnya yang cantik terkadang mengingatkanku pada masa seusianya dulu.
"Baik Sarah. Saya selesaikan beberapa dokumen dulu baru menghadap ya."
Dia mengangguk. Kemudian membawa kado itu lagi ikut serta dengannya.
Ulala ... jebakan batman ternyata. Kukira kado itu buatku. Sadar dengan
pandanganku atas kado tadi Sarah kemudian memberikan penjelasan bahwa
kado itu adalah titipan teman dekat Pak Ardian.
"Ah ya, kado ini adalah kado ulang tahun Pak Ardian dari teman dekatnya, Bu." Sarah menjelaskan dengan sangat gamblang.
"Jadi, hari ini ulang tahunnya Pak Ardian?" tanyaku sungguh-sungguh.
Dengan antusias Sarah mengangguk kembali. Lalu mataku terbelalak saat
melihat dua lingkaran di kalender mejaku. Satu tanggal 20 Februari atau
hari ini dan satu lagi tanggal 24 Februari, hari meninggalnya Papa.
Kepalaku kuketuk-ketuk dengan pelan. Hatiku marah. Kenapa aku masih
saja mengingat hari ulang tahun lelaki jahat itu dalam alam bawah
sadarku. Iya, lelaki yang telah membuatku berlumuran darah.
Jika
semua proses perekrutan ini selesai dan sukses aku akan mengajukan
pemindahan tugas dengan segera. Setiap mengingat kejadian itu aku tak
bisa tenang. Bagaimana mungkin aku bisa duduk diam dengan mantan suami
yang menusukku pada malam itu.
Iya, malam saat aku datang ke
rumah Ardian bayangan peristiwa masa lampau itu datang. Ardian
membanting foto pernikahan kami yang tergantung di dinding. Lalu aku
berteriak histeris ke arahnya. Tapi, dengan pecahan kaca bekas pigura
foto itu Ardian menusukku. Tanganku, perutku semua berlumuran darah. Dan
sekarang lelaki itu bahkan masih tersenyum padaku setelah bertemu
kembali denganku. Sialan. Menyebalkan.
Namun, aku diam. Aku tak
ingin lagi mengusik kisah ini. Biarlah dia merasa kalau aku sudah
melupakannya. Hanya saja aku tak bisa menerima jika Mama masih saja
mengingat kebaikan Ardian dan dia bertekad akan mengundang Ardian untuk
menghadiri peringatan haul Papa. Entah apa yang ada dalam benak Mama.
Aku sama sekali tak tahu.
****
"Dua hari ini kau kemana?"
"Maaf, Pak. Bisa tolong fokus. Kita sedang membicarakan pekerjaan." Aku
menginterupsi pertanyaannya yang kutahu akan mengarah ke mana.
"Oh. Iya. Maaf. Aku hanya penasaran, setiap ke kantormu ternyata kau tak ada."
"Mungkin saat itu aku keluar ke lapangan dengan anak-anak tim." Duh,
aku keceplosan. Kupukul bibirku pelan. Terlihat Pak Ardian
menyunggingkan senyumnya.
Fokus. Fokus. Ingatku pada diriku sendiri.
"Baiklah. Bagus. Semua progres berjalan sesuai rencana dan alur. Dua
hari lagi setelah acara haul Papa kita terbang ke Belitung." Dia berkata
dengan senyum yang sangat manis. Ternyata Mama sudah memberinya
undangan untuk datang ke haul Papa, dan ... lelaki ini dengan tanpa
malu-malu mengiyakan semua. Sungguh tak tahu diri. Pecundang.
"Andini, kenapa? Kamu kenapa?" Tiba-tiba Pak Ardian sudah duduk di dekatku. Dia juga mengguncangkan bahuku.
"Jangan sentuh aku, Pak!" ucapku sambil berdiri menjauh darinya.
"Ma-maaf. Tadi kukira kau ... sedikit linglung."
Astaghfirullah. Aku benar-benar bisa gila kalau seperti ini.
"Maaf, Pak. Mungkin saya terlalu capai. Jadi ... banyak melamun."
"Kau yakin? Apa kau perlu ke dokter?"
Aku menggeleng dengan cepat. Siapa dia menentukan langkah untukku seperti itu.
Namun, setiap kali perhatiannya muncul sebagian dari diriku merasa senang. Sadarlah Andini. Dia pernah menyakitimu. Arggghhh.
Tidak betah berlama-lama, kuputuskan untuk pamit kembali ke kantor lagi. Tapi ... Sekali lagi dia bisa menghentikan langkahku.
"Tunggu! Maukah kau menemaniku makan siang ini?"
Aku hendak membuka mulut untuk menolak. Tapi ...
"Hari ini ulang tahunku." Dia melanjutkan dengan mimik wajah yang manis.
Hatiku luluh lagi. Aku mengangguk lalu keluar dari kantornya dengan penuh penyesalan. Ah, Andini. Berpikirlah dengan waras.
Namun, aku terlanjur mengangguk. Biarlah, aku mengalah sekali lagi.
Lagipula membahagiakan seseorang yang sedang berulang tahun pasti
perbuatan terpuji, kan?
Bersambung ......
----
#Dear_Mantan
Part 10
Sungguh keterlaluan. Geregetan hatiku dibikin oleh Pak Ardian.
Bayangkan saja, dia datang dengan cool ke rumah saat peringatan kematian
Papa. Keaktifannya membantu anggota keluarga membuat banyak tetangga
terkesima dibuatnya. Belum lagi emak-emak itu, melihat body Pak Ardian
yang aduhai, wajah tampannya yang tak pernah lepas dari senyum, dih,
pencitraan.
Sebetulnya sejak saat itu aku selalu uring-uringan
jika Pak Ardian di dekatku. Belum lagi saat makan siang kemarin.
Memanfaatkan hari ulang tahunnya sebagai alasan, dia berhasil membuat
hatiku melunak. Tapi, saat tiba di tempat makan yang direncanakan
seorang wanita muda datang menghampiri kami lalu ....
Arggghhh.
Frustasi aku dibuatnya. Wanita itu menyiram segelas air putih ke mukaku.
Begitu aku mengamatinya lekat-lekat ... Ya Tuhan. Dia kan Sonya, adik
Ardian.
Ucapannya selanjutnya adalah ... "Jangan pernah kau dekati kakakku. Penjahat."
Aku dibilangnya penjahat. Sementara Ardian menenangkan Sonya, aku pergi
dari sana dengan hati yang marah. Sejahat apa aku di matanya hanya
karena aku menceraikan Ardian. Dia tak tahu kalau kakaknya pernah
menusukku hanya karena pertengkaran sepele.
Menyebalkan.
Lalu, sekarang Ardian bersikap bak malaikat setelah peristiwa itu. Kalian bisa bayangkan bagaimana sebalnya aku, kan?
*****
Acara malam ini berakhir dengan penuh khidmat. Air mata Mama kali ini
tidak terlalu banyak keluar, mungkin karena Mama bahagia ada Ardian di
sekitarnya.
Namun, tidak denganku. Darahku mendidih, senyumku
menghilang. Tepat saat Ardian berpamitan dari rumah Mama aku mencegatnya
lewat dari jalan depan rumah Mama.
Saat aku membentangkan tangan
di tengah jalan, Ardian menekan pedal remnya dengan cepat. Sinar lampu
depan mobil Ardian menyilaukan mataku dan bayang-bayang peristiwa lama
itu muncul lagi.
Aku berteriak sekencang mungkin lalu ... Aku jatuh tak sadarkan diri.
Satu-satunya yang kuingat adalah ....
Kenapa jadi aku yang memegang pecahan kaca itu?
****
"Maksudnya apa sih, Andini?" Mama segera menanyakan banyak hal begitu aku sadar dan kondisiku mulai membaik.
"Sebenarnya salah Ardian padamu apa? Kenapa kau bisa begitu
membencinya? Andini?" Sekali lagi Mama memberondongku dengan pertanyaan
yang akupun masih bingung menjawabnya.
"Ardian bisa melihatmu
saja dia sudah senang. Sembilan tahun dia diam tak mengusikmu, Andini.
Tapi ketika takdir mempertemukan kalian kembali, apakah harus Ardian
yang disalahkan?" Tangan Mama memegang lenganku. Kepalaku masih
berdenyut mencerna satu demi satu pertanyaan Mama.
"Jika memang ada yang harus disalahkan ...." Mama diam memberi jeda di sela setiap pernyataannya.
"Maka salahkan Mama. Jika saat itu Mama tidak memaksa kalian menikah, semua ini tak akan pernah terjadi.
Mama terdiam. Satu yang kuingat adalah saat itu kami saling mencintai,
jadi tak ada yang bisa menyalahkan Mama. Lalu kata-kata Mama selanjutnya
membuatku menitikkan air mata.
"Harusnya saat itu, Mama
memberitahumu bahwa pernikahan bukan semudah membalik telapak tangan.
Bukan semata urusan mendapatkan restu lalu selesai. Pernikahan juga
masalah bosan dan usaha untuk saling menyadari kekurangan
masing-masing." Mama mengusap air matanya.
"Pernikahan juga
masalah, jika kalian masih dalam kondisi labil. Saat lelaki yang belum
matang harus mencari nafkah untuk istrinya sementara dia selama ini
selalu tercukupi secara materi, rasa capek itu akan muncul. Rasa paling
tersiksa akan menghinggapi rasa, dan ... rasa diabaikan akan muncul
perlahan-lahan." Mama menggenggam tanganku, aku ikut menangis
bersamanya.
"Bahkan dalam dirimu, Andini. Mama lupa untuk
menasehatimu agar mau mengalah kepada ego. Saat kau terdiam di dalam
rumah dalam kondisi bosan sedangkan Mama tak cukup memberimu bekal
bagaimana mengatur rumah maka suamimu akan merasa kau tak berguna. Jika
saja semua hal ini kutunjukkan kepada kalian setelah pernikahan kalian
pasti efeknya tidak akan seperti ini." Mama terisak semakin keras.
"Puncaknya ...."
"Puncaknya apa, Ma?"
"Kau melupakan semuanya selama ini, biarlah semua yang lalu itu muncul perlahan-lahan."
Aku mendesah memprotes perkataan Mama. Sebelum Mama benar-benar bungkam aku menanyakan padanya.
"Sebetulnya apa yang terjadi malam itu, Ma? Kenapa adik Mas Ardian
mengatakan aku penjahat? Sebenarnya siapa yang menusuk siapa malam itu?"
"Kau mengingatnya?"
Aku mengangguk lemah.
"Iya, baru-baru ini saja." Aku berkata sambil mengusap peluh yang keluar dari dahi.
"Apakah aku yang menusuk Ardian, Ma?" Kupandangi lekat-lekat matanya. Aku tak ingin ada kebohongan sekali lagi.
"Kau yakin mau mendengar semua ini?"
Aku mengangguk lalu mulai menata hati. Meskipun aku tak yakin bisa menahan beban berat ini lebih lama lagi.
Bersambung ....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar