Persaudaraan Muslimah Indonesia, mempelajari Islam Secara Menyeluruh.

Minggu, 02 Februari 2020

Dear Mantan 11 - 15

#Dear_Mantan
Part 11

Aku menangis terisak di sudut kamar apartemen. Sudah tiga hari ini ... pasca Mama menceritakan kenyataan yang terjadi dulu dan ... Aku masih belum bisa menerima semua ini sepenuhnya. Bunyi bel beberapa kali selalu menyala dari luar apartemenku. Siapa lagi kalau bukan Ardian.
Suaranya berteriak dari luar pintu terdengar menusuk di telingaku. Semua panggilannya tak kuhiraukan, tanpa memikirkan apapun kumatikan gawaiku dan menyepi dalam ruang senyap hatiku.
Ternyata, keinginan gigihku untuk mengetahui semuanya menyisakan lara di hati. Benar kata pepatah, kadangkala mengetahui kebenaran yang harusnya tak terungkap itu menyakitkan. Aku benar-benar harus bisa berpikir jernih sebelum keluar dan kembali menghadapi dunia.
Kueja satu persatu cerita Mama tiga hari lalu, sekali lagi.

****
"Ardian tidak pernah melukaimu. Semua bayangan dalam pikiranmu itu palsu, Sayang ...."
Aku membelalakkan mata tak sanggup menerima ucapan Mama.
"Mama bohong. Mama tak akan pernah berpihak kepadaku. Karena Mama selalu ada di pihak Ardian sejak dulu ...."
"Andini. Kau bilang ingin mendengar kebenaran. Maka inilah kebenaran itu, Nak.
Aku memejamkan mata kali ini, menutup telinga dengan kedua tanganku.
"Andini. Jangan seperti ini."
Lalu Mama mendekat kepadaku dia membuang selimut yang menutupi tubuhku lalu menyingkap bajuku dan menyuruhku memandang perut rata itu.

"Kau lihat. Luka di perutmu berada di bawah pusar. Bukan luka tusukan, itu ...." Mama terdiam, tangisnya jatuh berderai.
Penjelasan Mama memprovokasiku untuk bangun dan melihatnya lebih nyata. Selama ini aku abai atas luka ini karena aku mempercayai penjelasan semua orang selama ini. Bahwa luka itu karena adanya usus busuk yang harus segera dipotong di dalam perut.
Astaghfirullah. Kuraba luka itu. Ada garis melintang di sana. Sebuah garis yang mirip dengan tindakan operasi cesar.

Mataku memandang mata Mama mencari sebuah jawaban jujur. Dan ... Aku melihatnya.
"Ma ... apakah benar ini ...." Aku tak sanggup melanjutkan pertanyaanku. Aku tarik selimut yang tadi dibuang Mama ke arah kakiku, kututupi semua tubuhku dan menangis sejadi-jadinya.
Kenyataan aku pernah menjalani operasi cesar berarti aku dan Ardian, kami ... Pernah memiliki seorang bayi.
"Bayi itu di mana, Ma?" tanyaku dari balik selimut warna biru itu. Samar-samar suara adzan terdengar dari celah jendela kamar yang sengaja dibuka untuk mengambil udara segar.
"Dia, laki-laki. Dan ... putra kalian tidak terselamatkan."
Aku kembali meringkuk di bawah selimut, tubuhku beribah dingin karena kaget dan keringatku bercucuran. Akupun makin deras mengalirkan air mata.

****

"Andini! Buka!" Ardian mengetuk pintuku kembali pada hari ke lima.
"Jangan bersikap pengecut. Kita hadapi semua ini Andini."
Aku mendengarkan kata-katanya dari depan pintu. Kubayangkan wajah panik Ardian berada di bagian lain dari pintu ini. Suaranya bergetar menahan emosi, dia berusaha bersabar.
"Harusnya kau tanya padaku, Andini. Aku bisa menjelaskannya dengan cara yang lebih lembut, sayang ...." Ardian berkata dengan suara serak. Kurasa dia pun menangis beberapa hari ini.
Aku mendekat ke arah pintu, lalu ... kubuka pintu itu perlahan wajah kuyu Ardian terlihat di sana. Dia seperti manusia yang kekurangan tidur dan kurang kasih sayang.
Satu hal yang dilakukannya setelah pintu rumahku terbuka adalah ....
Memeluk dan menangis di pundakku. Sementara aku hanya bisa diam mematung dan ragu untuk memeluknya erat.

****

"Berapa hari kau tak mandi?" Aku menanyakan Ardian kapan terakhir kali dia merawat tubuhnya. Nihil tak ada jawaban, dengan kaos pendek yang kutemukan di lemariku, yah ... bisa dipakai laki-laki maupun wanita Ardian diam membiarkanku mengeringkan rambutnya. Akhirnya tangannya membentuk deretan empat jari sebagai isyarat.
"Dih, pantas saja bau." Aku mencubitnya kecil di pundak. Ardian membelakangiku tapi aku serasa merasakan hangat nafasnya dan renyah senyumannya.
"Habis ini pulanglah. Pekerjaanmu pasti terbengkalai."
Namun, Ardian secepat kilat langsung berbalik arah kepadaku dan dia sekali lagi memeluk tubuhku erat.
"Tidak. Kantorku akan kupindah ke sini," bisiknya lirih. Ujung hidungnya menyentuh rambutku yang sebahu.
"Hush. Gak boleh, kita sudah berpisah Ardian. Stop. Jangan diteruskan." Aku mendorongnya lalu segera memasang jarak aman. Sementara Ardian menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kalau aku mengatakan kita belum bercerai, apa kau percaya?"
Aku membelalakkan mata lalu mendengus kesal.
"Dih, mau bikin jebakan apalagi ini?" tanyaku yang dengan segera mengambilkan ponsel Ardian dan menarik tubuhnya berdiri. Setelah itu kudorong dia ke arah pintu.
"Bye, Boss."

"Hey, Andini. Kita belum selesai."
Ah, aku tak tega. Kubuka lagi pintu itu sedikit.
"Besok ketemu di kantor, pekerjaanku sudah tertunda." Lalu aku hendak menutupnya lagi tapi, kakinya sudah nyangkut di celah pintu sengaja.
"Besok gak ngantor sayang, kita ke Belitung. Kau lupa?"
Kupukul mukaku pelan karena kelupaan lalu kudorong kakinya keluar dan ... Klek. Pintu itu menutup. Hatiku berdebar di balik pintu itu, aku bagaikan ABG yang baru jatuh cinta lagi.
Wajahku memerah teringat kejadian tadi, saat Ardian menjelaskan detail kejadian masa lalu. Saat aku salah paham kepadanya, saat aku melupakan semua kejadian itu sebagai usaha melarikan diri, sedangkan Ardian ... dia bertahan dengan ingatan buruk itu, menempati rumah kami sendiri dengan segala mimpi buruknya setiap malam dan menganggapnya sebagai hukuman karena telah bersikap tidak dewasa saat itu.
Malam itu, di tengah pertengkaran kami aku mengalami kontraksi. Perasaan tak menentu singgah dalam pikiranku hingga pendarahan hebat mengawali kelahiran putra kami. Dengan mengambil segala resiko dokter memberikan pilihan kepada Ardian. Memilih menyelamatkanku atau menyelamatkan bayi kami.
Ardian memilihku. Sedangkan aku memilih melupakannya dan mulai menciptakan ingatan palsu.
Bersambung ....

-----


#Dear_Mantan
Part 12

"Kau menderita post partum syndrome, juga amnesia disosiatif." Mas Ardian duduk di depanku. Setelah Mama menjelaskan semuanya, tentang bayi kami, tentang perdarahanku dan tentang masa lalu yang salah kuingat aku menangis sejadi-jadinya di bawah selimut. Menyadari semua itu, Mas Ardian yang datang saat itu hanya bisa diam mematung di dekat pintu. Aku benar-benar malu telah berpikir yang tidak-tidak atasnya. Aku bahkan membencinya atas hal yang tak dilakukannya. Lalu dia menjelaskan penyakitku saat itu secara medis.
"Kenyataan bahwa bayi kita tidak bisa diselamatkan membuatmu depresi, apalagi hidup kita yang pas-pasan saat itu tak banyak menyumbang nutrisimu, Andini. Kau akhirnya harus merasakan kesakitan dan ketidakpercayaan diri." Suara lirih Mas Ardian terdengar berat saat menjelaskan gejala depresi post partum syndrome ku, tapi setelah dia berhasil mengungkapkan itu semua ada nada lega dalam suaranya.
"Awalnya kukira hanya itu yang kau derita, sehingga akupun bersiap untuk bisa berbagi rasa denganmu, mengatasi semua itu bersama dari awal. Tapi ... ternyata kaupun mulai lupa akan beberapa kejadian yang telah kita lalui. Awalnya kau lupa padaku tapi setelah kau mengingatku kau berteriak seperti orang gila," katanya. Dia menekankan kata gila itu sambil malu-malu. Tanganku menyelinap dari selimut dan mencubit pinggangnya.
"Suka ya, punya istri gila?"

"Hah? Istri? Kau bahkan mengatakan kepada semua kalau kita sudah bercerai. Parahnya lagi luka yang punya karena operasi cesar kau ceritakan kepada beberapa keluarga kalau aku menusukmu. Menyebalkan bukan?"
Aku meringis dari balik selimut dan menyesali ingatanku tentang itu.
"Keesokan harinya kau lupa pada hubungan pernikahan kita, bagimu aku adalah mantan suami."
"Benarkah? Jadi, ingatan akan penandatanganan perceraian itu palsu?"
"Yup. Kau nge-halu." Ardian mengatakan kata halu sambil menjauh dariku. Takut kucubit lagi.
"Amnesiamu yang tebang pilih itu memerlukan waktu untuk pulih. Stress atas pertengkaran kita sebelumnya membut memorimu memilih membuang kenangan itu. Ingin sekali aku memulihkan ingatanmu ini, tapi dokter bilang akan sangat berbahaya bagimu. Kau bisa gila selamanya."
Aku kaget mendengar penjelasan terakhirnya. Sekarang aku faham kenapa Mas Ardian memilih berkorban. Demi aku.
*****
Wajahku sudah mulai cerah beberapa hari ini. Sebuah kaos casual berwarna nude terpasang sempurna di tubuh. Lalu bayanganku membawa wajah Mas Ardian datang. Dia mencium keningku lalu ....
Husah! Husah! Astaghfirullah.
Kenapa aku membayangkan hal-hal aneh lagi? Jangan-jangan amnesia disortifku belum sembuh sempurna ini.
Namun, kenyataan kalau kami masih terikat hubungan suami istri membuat wajahku bersemu merah. Ternyata aku masih berstatus sebagai istri Mas Ardian, berarti cincin di jarinya adalah cincin pernikahan kami dan foto pernikahan itu memang foto pernikahanku dengan lelaki tampan itu.
Hatiku menghangat, senyumku mengembang sempurna.
Ah, mengingat itu semua membuatku berbunga-bunga. Tapi, aku masih ingin mendengar ceritanya saat aku melupakannya, membencinya bahkan mencap jahat pribadinya sebelum kami benar-benar memulai awal yang baru. Sakit hatikah dia?

"Semua akan kuceritakan saat kita di Belitung," katanya saat terakhir kali kami bertemu.
"Dan ... Tak ada jalan untukmu untuk menghindari hukumanku," lanjutnya.
Oh tidak. Hukuman apa itu? Kenapa aku jadi takut? Kulihat koper kecil di atas kasur lalu kuingat kembali ancaman manis Mas Ardian. Duh, apakah aku batal ikut saja ya?
Aku takut, sungguh.
Namun, sejam berikutnya aku sudah berada di bandara dengan anggota timku lengkap, plus Sarah dan Mas Ardian. Semua mata memandangku, ah tidak, memandang kami berdua karena sepanjang datang ke sana Mas Ardian menggandeng tanganku erat dan tak melepaskannya. Dan dengan seenaknya dia mengatakan kepada semua bahwa kami berdua adalah suami istri yang telah merahasiakan pernikahan selama sembilan tahun. Tak mungkin ada yang percaya kan?
Mereka yang mendengar kisah tak masuk akal Mas Ardian hanya bisa mengangguk saja karena takut dipecat, kan?
Hi. Menakutkan.
Bersambung ....

-----
#Dear_Mantan
Part 13

"Kenapa kau memilih menungguku sembilan tahun ini?" Langkah kaki Mas Ardian seketika berhenti saat sebuah pertanyaan yang kupendam beberapa hari ini terlontar juga. Karena kami berjalan bersamaan sambil berpegangan tangan maka langkahkupun ikut berhenti. Kakiku terasa geli saat merasai pasir-pasir kecil yang terhampar di bawahku sementara langit cerah di atas kepala membuat peluhku menetes perlahan-lahan.
"Karena hanya ada satu Andini yang sepertimu." Tangan Mas Ardian merapikan rambut yang menutupi sebagian wajahku karena tertiup angin. Pandangan matanya teduh dan menggetarkan.
Lalu dia berjalan lagi, masih memegang erat tanganku.
"Karena, hanya ada satu cinta di hatiku Andini dan itu buatmu semata," ucapnya pelan tapi tegas. Dia kemudian merangkul pinggangku dan membawaku berjalan lebih lama di atas hamparan pasir pantai Belitung.

"Dih, masih bisa gombal," desisku lirih sambil mencubit kecil lengannya.
"Siapa yang ngegombal? Beban tau ... mencintaimu tapi belun bisa membahagiakanmu. Apalagi jika ingat kalau kita kehilangan bayi kecil itu. Rasanya ...."
Dia menghentikan langkahnya lagi lalu memandang langit yang tinggi.
Kemudian dia berteriak.
"Adik! Doakan kami dari sana!"
Kedua tangannya dibuat mirip speaker yang mengarah ke atas. Akupun ikut melakukan yang sama.
"Adek! Doakan Mama Papa!"
Serta maafkan aku, lanjutku dalam hati. Di sampingku Mas Ardian melirik lalu menggodaku.
"Ecie ... Mama Papa. Kemarin menolakku mentang-mentang gitu," ledeknya dan melanjutkan mencubit ujung hidungku. Hari itu di tengah cerahnya langit dan semilir angin laut kami berdua menertawakan masa lalu dan berjanji akan menatap masa depan bersama.
"Awas ya! Jangan banyak melirik wanita lain. Biasanya sih kalau sudah menaklukkan sasaran akhirnya tergiur sama yang lain." Aku memberinya ultimatum sambil membentuk tanganku menjadi bogem.
Namun yang terjadi ... dia meraih tubuhku lebih dekat lalu, berbisik manja.
"Kalau tak mau itu jadi nyata kau harus memberiku sebuah hadiah," bisiknya disertai kerlingan nakal.

*****
Kami duduk di sebuah kapal nelayan yang bersandar di pinggir pantai, warna kapal yang cerah membuat siapapun bahagia memandangnya. Deburan ombak yang pelan saat melewati bibir pantai membawa banyak buih yang indah dan membawa serta pasir dan kerikil laut yang terserak di depannya menjadi perpaduan yang indah di dasar laut. Menyenangkan sekali. Sementara beberapa burung camar terbang melintas hendak pulang terlihat mengepakkan sayapnya di udara. Sungguh, aku terpana dengan keindahan pantai ini, Pantai Burung Mandi namanya.

"Kau suka ada di sini?" tanya Mas Ardian lembut di dekat telingaku. Aku mengangguk menjawab pertanyaannya tanpa beralih memandang hamparan laut yang indah. Airnya sebening kaca.
"Kau tahu kenapa aku mengajakmu ke sini berdua?" tanyanya lagi. Kali ini aku beralih memandang wajahnya yang tampan.
"Karena aku ingin menemukan kembali cintaku di sini. Dulu ... Belanda diam-diam mencari timah di pantai ini, ketika menemukannya barulah mereka menunjukkan pada dunia bahwa ada harta karun tersimpan di tanah ini dan ... merekalah penemunya."
Aku mengangguk mendengarkan bos besar perusahaan Ningrat berkisah tentang sejarah.
"Benarkah?" tanyaku serius. Dia mengangguk.

"Pantai ini dulu disebut Belanda dengan nama Burum Mandi. Ombaknya tenang, airnya pun jernih. Setidaknya itu menjadi hiburan buat para pekerja Cina yang dipekerjakan Belanda untuk menggali timah di daerah sini." Dia melanjutkan dengan mantap.
"Dih, sok tahu. Darimana kau tahu cerita ini?" Aku menyanggahnya.
Tuk!
Dia menyentil dahiku pelan.
"Kau lihat tadi pas ke sini kita lihat ada Vihara?"
Aku mengangguk meskipun aku tak ingat. Duh, malu.
"Namanya Vihara Dewi Kwan Im. Vihara itu dibangun sebagai tempat ibadah para pekerja Cina dulu."
"O," jawabku membentuk bulatan dengan mulutku kemudian bertepuk tangan untuknya. Hebat.
"Suami siapa sih ini? Kok pintar banget," pujiku sambil merangkulkan kedua tangan ke lehernya. Mata kami saling berpandangan. Tentu saja, wajah Mas Ardian menampilkan kebanggaan ke arahku.
"Sudah, gak boleh sombong," kataku sambil mengajaknya bangkit berdiri dan melanjutkan langkah kaki kami menyusuri pantai Burung Mandi ini. Garis pantainya yang panjang membuat kami puas menyusuri setiap jengkal pasirnya yang luar biasa indah.

Hingga malam mulai datang, dia mengajakku kembali ke penginapan. Betapa kagetnya aku karena di sana semua tim sudah berkumpul ditambah Mama dan adik Mas Ardian yang segera bangkit dari tempat duduknya dan mendekat ke arahku.
"Kupinjam dulu ya, Mas. Masak mau acara istimewa kok ceweknya masih biasa saja dandanannya." Dia segera menarik tanganku dan membawaku ke dalam sebuah kamar.
"Memang kita mau ada acara apaan?" tanyaku pada wanita cantik yang dulu kukenal masih ingusan. Garis wajahnya yang seperti Mas Ardian mengerling nakal ke arahku.
"Surprise dong. Bukan tugasku untuk membukanya," jawabnya sambil tertawa tergelak. Ya sudah aku pasrah. Terlalu banyak kejutan yang diberikan Mas Ardian kepadaku hari ini. Satu kejutan lagi sepertinya tak masalah, kan?
Bersambung .....


-----

#Dear_Mantan
Part 14

Aku mematung di depan cermin rias seukuran badan yang ada dalam kamar sebuah guest house yang disewa Mas Ardian. Wajahku hampir tidak mengenali polesan merah di pipi itu, cermin tipis yang cerah di bibir dan sebuah bando bunga-bunga yang harum di atas kepalaku. Sementara adik Mas Ardian menatapku dengan wajah penuh senyuman.
"Dik, sebenarnya ini mau acara apa?"
"Sstt. Nanti kakak akan tahu. Yuk saatnya kita keluar." Dia mengajakku keluar setelah merapikan gaun pink panjang semata kaki yang bertabur permata di bagian dada. Bahan satinnya membuat gaun itu jatuh dengan sempurna.
Hatiku tak karuan, sebenarnya ini pesta apa?
Tepat saat kami keluar semua orang yang hadir berdiri menyambutku. Mama mengusap air matanya yang berkali-kali jatuh, sementara Mas Ardian sudah berdiri di sampingnya memegang tangan Mama.
Ada sebuah meja di dekat Mas Ardian. Kemudian seorang penduduk lokal berkopyah hitam dan memakai kacamata tebal berulangkali memastikan dokumen di depannya tertata rapi. Tidak hanya itu, Pak De Syam, yang dulu menikahkan kami waktu muda menghampiriku lalu menuntunku duduk di sebuah kursi di dekat Ardian.
"Andini sayang, malam ini Pak de akan menikahkanmu lagi boleh?"
Aku menangis mendengar kata-kata Pak de. Kelebat bayang Papa kali ini hadir di sana. Tak lagi murung seperti dulu, sebaliknya wajahnya sumringah dan bahagia.
Aku mengangguk lalu memandang Mas Ardian yang mengerling nakal ke arahku, seolah berkata, Maaf aku merahasiakannya.
Menyebalkan. Tapi, aku bahagia.
Malam itu, Mas Ardian mengucapkan kembali ijab qabul seperti dulu. Sekarang usia kami lebih dewasa, lebih matang. Jika dinalar maka kami akan lebih bisa menjaga pernikahan baru ini, dibandingkan waktu dulu.
Ketika ucapan sah terdengar dari semua yang hadir, wajah lega nampak jelas di wajah lelakiku. Ketika aku mencium tangannya dia mencium puncak kepalaku lalu berkata pelan.
"Mari kita mulai semuanya dari awal, nyonya Ardian."
Aku mendongak ke arahnya lalu mencium kedua pipinya dan mengangguk. Setelah itu aku memeluk Mama dan kami menangis haru di sana.
"Sah. Kau kembali menjadi istri Ardian, Andini."
Aku mengangguk berkali-kali dan Mama menciumi kedua pipiku menyalurkan rasa sayangnya.
"Selamat untuk kalian berdua," ucapnya kepada Ardian.
Malam itu, kami sah menjadi pasangan suami istri. Selepas acara selesai kami berdua di giring ke arah kamar terbesar di sana. Dan ... Aku tak tahu harus bagaimana.
****
"Aduh. Sakit, Mas." Aku menjerit malam itu saat Mas Ardian dengan kasar menarik duri yang menancap di bawah kakiku. Karena malam ini kami tidak bisa, ah. Kalin tahulah. Aku kedatangan tamu tak diundang maka pesta pun bubar.
Untuk mengenyahkan rasa suntuk kami berjalan-jalan di seputar guest house sambil mendengarkan debur ombak. Sayangnya, aku tak mengindahkan peringatan Mas Ardian agar aku memakai sandal. Hasilnya, duri itu menusuk kakiku dan semalaman rasa nyut-nyutan menemani malamku yang sunyi. Iya, sunyi karena akhirnya aku merintih kesakitan.
Sial.
Sementara Mas Ardian tak berhenti menertawakanku.
"Ndableg sih. Masih sama seperti dulu," kelakarnya. Lalu kami hanya bisa tidur saling berangkulan hingga pagi datang.
*****
Seminggu sudah ....
"Yang ... Weekend ini kita pindah yuk." Suara Mas Ardian terdengar sangat hati-hati.
Aku berhenti mengiris tomat kesukaannya dan mulai menerka kemana arah pembicaraannya.
"Eit tapi kalau kau tak bersedia, tak apa." Dia kemudian kembali meninggalkan dapur dan menghadap laptopnya lagi. Sementara aku menyelesaikan masakan sup jamur camour tomat kesukaan Mas Ardian sambil memikirkan jawaban atas pernyataannya.
Mas Ardian sudah menempati rumah itu sendirian sembilan tahun ini, kurasa sudah saatnya aku juga merasakan hal yang sama dan berusaha mengatasinya.
"Mas, aku tak akan lari lagi, kali ini." Aku berkata di sampingnya saat Mas Ardian sudah tertidur pulas. Entahlah, mungkin besok akan kuutarakan langsung padanya. Lalu kukecup pipinya yang menggemaskan dan ikut tertidur di sampingnya.

Bersambung .....
____
-----

#Dear_Mantan
Part 15

"Yang ... Bisa tolong ambilkan sambalnya?" Mas Ardian sibuk mengambil sepotong ikan asap di atas meja sementara tanganku mengarahkan pandangan ke tempat sambal lalu mendekatkan ke dekat Mas Ardian.
"Nanti siang kita makan bareng, ya? Di ruanganku."
Aku mengangguk mengiyakan tawarannya.
"Jangan lupa dibawa sambalnya. Apa besok kubikinin pantry khusus buatmu?"
"Buat apa?" tanyaku heran dengan dahi mengernyit.
"Tentu saja buat ngulek sambal."
Ya Allah, ternyata itu niatnya. Aku sampai tersedak mendengar apa yang baru saja diutarakan Mas Ardian. Lalu dia nyengir di depanku sambil mengedipkan matanya. Duh, bukannya lucu tapi aku malah dibuatnya jatuh cinta lagi dan lagi.
****
"Mas?"
"Hmm."
Tanganku digenggamnya erat sejak masuk lift sampai sebelum keluar untuk menuju ruangan kantorku.
"Kenapa Mas Ardian membarukan pernikahan kita? Mas bilang kita belum bercerai, kan?" tanyaku kepadanya. Dia memang tak langsung menjawabnya tapi genggaman erat tangannya mewakili semuanya. Dia tak pernah rela jika aku lepas darinya.
"Ya sudah kalau belum siap menjawabnya. Aku sabar, kok." Kepalaku manggut-manggut di depannya tapi bibirku tak kalah majunya.
Cup.
Sekali.
Cup. Kali ini pipi sebelah kiriku dikecupnya.

"Akan aku katakan, tapi ... nanti di rumah. Aku sudah ditunggu klien di kantor. Gak papa ya?"
Aku mengangguk lalu ke luar dari lift berteman senyumnya yang manis.
Hari itu semua berlangsung normal, baik-baik saja jika saja kantor tidak kedatangan tamu agung yang lupa kuperhatikan.
Wajah beliau yang mengeras telah duduk di kursiku, di ruanganku.
"Jadi, kalian menikah lagi?" sapanya sesaat ketika kubuka pintu ruanganku.
Aku mengangguk lalu perlahan melangkah ke arahnya. Ketika aku berusaha meraih tangannya untuk kucium, beliau malah bersendekap. Lalu bangkit berdiri dari kursiku.
"Maaf, Ma. Jika membuat Mama marah."
"Saya gak marah. Saya hanya gak pernah suka denganmu, Andini. Tapi, bagaimana lagi. Tuhan bahkan menjodohkan kalian lagi."
Lalu beliau meninggalkan ruanganku tanpa menoleh lagi kepadaku. Mungkin nanti akan kutanyakan juga kepada Mas Ardian perihal ini.

****
[Mas, kutunggu di rumah kita.]
Kukirim pesan itu ke gawai Mas Ardian.
[Andini. Kau mau kemana? Jangan Andini. Stop!]
Balasan Mas Ardian masuk ke gawaiku tepat setelahnya. Tapi, terlambat. Aku sudah duduk manis di dalam mobil layanan online yang telah melaju menuju rumah lama kami.
Apa yang membuat Mas Ardian begitu panik, sehingga dia meneleponku berkali-kali. Ah, mungkin Mas Ardian khawatir jika aku ke sana sendiri maka aku bisa teringat kenangan lama.
[Mas, aku sudah hampir sampai. Jangan khawatir, aku sudah siap.]
Lalu kusimpan gawai ke dalam tas selempang kecil yang kubawa. Dan ... Disinilah aku. Membuka gerbang kecil itu dan menyusuri jalanan kecil yang indah di depanku. Aku ingat, dulu kami menata kerikil-kerikil itu berdua. Bahkan tanaman salur yang kini telah rimbun di depan pintu depan adalah ideku.

Iya. Aku ingat semua.
Namun, ketika kubuka pintu depan dengan anak kunci yang kuambil dari kantong Mas Ardian dua hari lalu itu, tiba-tiba saja kenangan menyakitkan itu datang lagi. Sangat menyakitkan.
Aku tak tahan. Dada ini begitu sesak. Bayangan demi bayangan datang. Seketika aku berteriak kencang sampai terduduk dengan lemas. Lalu semua gelap. Bayangan samar cahaya hilang. Sinar mataku meredup.
Kemudian aku terjatuh tak sadarkan diri.

Bersambung .....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar