Persaudaraan Muslimah Indonesia, mempelajari Islam Secara Menyeluruh.

Minggu, 02 Februari 2020

Dear Mantan 1 - 5

#Dear_Mantan
Part 1
"Aku menyesal menikah denganmu." Suara Mas Ardian menyusup lirih di telingaku. Pecahan gelas dan piring di sekitar kami menjadi jarak yang tak mungkin lagi kulalui. Hari itu ... kami mengakhiri biduk rumah tangga yang baru berusia dua tahun. Saat seharusnya kami berdua duduk di bangku kuliah semester empat.

****
Dua tahun lalu.
"Kalian masih muda. Isek piyek. Cobalah pikirkan baik-baik." Kalimat Papa meluncur dengan tenang di hadapan kami. Saat Mas Ardian datang dengan satu kotak beludru merah berisi sebuah cincin sederhana dengan setangkai bunga mawar yang diletakkan di atas meja.

Wajah kami tertunduk malu-malu, tapi semangat kami membara dalam hati.
"Kamu, Ardian." Papa memanggil Mas Ardian yang segera disambutnya dengan tatapan wajah penuh hormat.
"Apakah kedua orang tuamu sudah tahu?"
Lalu wajah Mas Ardian lesu. Dia tertunduk tak berani memandang wajah Papa. Dia memandang lurus ke arah bawah, tempat kaki telanjangnya bersembunyi.
"Ardian ... Pernikahan itu bukan sekedar hubungan antara kamu dan Andini. Keluarga juga harus saling tahu." Papa menepuk pundak Mas Ardian memberinya semangat.
"Sementara kusimpan dulu cincin ini, datanglah kembali jika kedua orang tuamu sudah merestui."
Lalu Papa meninggalkan kami yang tidak jadi berbahagia. Aku berusaha menenangkan hati Mas Ardian dengan memandang wajahnya sambil tersenyum.

Namun, saat kami sepenuhnya belum mendapatkan izin orang tua Mas Ardian, takdir berkata lain. Papa mengalami serangan jantung dan meninggal tak lama setelahnya. Entah apa yang dipikirkan Mama saat itu, karena atas desakannya Mas Ardian menikahiku tepat di depan jenazah Papa sebelum dikebumikan. Pak de Danang, kakak tertua Papa menjadi wali nikahku saat itu.
Percayalah, tidak ada rasa bahagia di sana. Meskipun kami lega akhirnya kami bisa bersatu, tapi tidak dalam kondisi yang kami harapkan.
Seminggu sudah ....
Prahara itupun mulai.

Kedua orang tua Mas Ardian datang ke rumah dengan perasaan murka. Mama Mas Ardian yang merupakan sosialita kelas wahid memakiku dan Mama dengan sejadi-jadinya. Sementara Mas Ardian dipukulnya dengan penuh kemarahan.
"Kau anak durhaka! Demi wanita tidak bermasa depan ini kau tinggalkan semua yang sudah kuatur untukmu." Mata Mama Mas Ardian menatapku nyalang. Bahkan satu demi satu kata-katanya menghunjam jauh ke dalam hati. Di sampingku, Mama hanya bisa terisak. Dukanya bertambah.
Namun, Mas Ardian tetap kekeh hidup bersamaku. Jangan tanyakan perasaanku saat itu. Aku seperti memiliki seorang pahlawan baru.

Hingga ... waktu bergulir, kerikil-kerikil rumah tangga mulai menggelitik. Pertengkaran menjadi pengganti ciuman mesra kami setiap malam. Suara panci, atau gelas pecah menggantikan sapaan romantis di pagi hari. Aku dan Mas Ardian seperti berada dalam neraka.
Puncaknya, dia menuduhku egois, hanya duduk diam di rumah sementara dia selalu gagal mencari nafkah. Kehidupannya sebelum menikah yang dimanja dengan materi menjadikan semua barangnya setara dengan nominal rupiah. Kena bekas setrika sedikit saja sudah membuatnya naik pitam. Aku serasa orang bodoh tak tahu mode di benaknya.
Sementara aku, memenuhi bayanganku dengan keegoisan Mas Ardian yang memuakkan. Kasih sayangnya hanya palsu karena nyatanya dia adalah sosok emosional yang mulai kukenal.
Kami, berada dalam jurang kehancuran. Hingga akhirnya memutuskan untuk menandatangani surat perceraian di usia kami yang baru menginjak dua puluh tahun. Usia yang seharusnya masih kami pakai untuk duduk tekun belajar.

****
Sembilan tahun kemudian ....
"Bu Andini, besok Bu Andini menghadap ke perusahaan pusat. Ibu dimutasi ke sana sebagai manajer personalia perusahaan yang baru," ucapan Pak Nando, kepala divisi humas perusahaan Jaya menjadi angin segar bagiku setelah selama ini berusaha melakukan yang terbaik.
Awalnya, semua berjalan baik. Hatiku penuh bunga, bahkan aku mentraktir semua keluarga sebagai bentuk syukurku pada Yang Kuasa.
Namun, keesokan harinya ... Saat aku menatap wajah itu duduk di depanku dengan papan nama kecil di depannya, rasanya duniaku sesak dan sempit.
Kenapa aku abai, kalau perusahaan Jaya sudah diakuisisi oleh perusahaan Ningrat yang merupakan perusahaan keluarga Mas Ardian.
Lelaki itu menangkupkan kedua tangannya di depan dada kemudian tersenyum sinis kepadaku.
Dia, Pak Ardian, sang komisaris perusahaan.
Bersambung .....


-----
#Dear_Mantan
Part 2

Aku berdiri mematung di depan lobi kantor baru. Kepalaku berdenyut, hatiku panas. Melihat sudut hijau di sebelah kananku yang penuh dengan tanaman perdu, kulangkahkan kakiku ke sana. Setidaknya, melihat dedaunan yang melambai tertiup angin bisa membuat hati ini sedikit tenang, dan umpatan di lisan menghilang.
Ya Allah, kenapa harus dia ....
Sempit sekali dunia ini ....
Arggghhh ....
Kutepukkan kakiku ke lantai karena gemas beberapa kali dan ups, heel kuningku terbang jauh ke dekat kolam kecil yang ada di sana.
"Masih saja konyol seperti dulu."
Tiba-tiba suara lelaki itu mengetuk gendang telingaku. Aku berjalan ke arah heelku sambil meliriknya malas. Perasaan tadi laporan awalku ke kantornya sudah selesai, kenapa dia malah nyusul ke sini.
"Maaf, jangan salah sangka dulu. Aku ke sini bukan karena menyusulmu," katanya seolah mengerti pikiranku.

Alamak ... Mataku membulat sambil memunggunginya. Lalu aku mengangguk ke arahnya. Bagaimanapun ini perusahaan dan aku akan berusaha bersikap profesional.
"Ah, sembilan tahun ya. Lumayan, sekarang kau lebih bisa berdandan."
"Stop!" Aku berteriak.
"Pak, tolong tempatkan bapak pada posisi semestinya. Dari tadi saya sudah mencoba tidak mengait-ngaitkan masa lalu sejak saat pertama kali menatap wajah anda. Bisakah anda berpikiran yang sama?"
Mata Mas eh Pak Ardian membelalak lalu dia menetralkan ekspresi wajahnya kembali.
"Oke. Baik. Kuharap kita bisa menjalin kerjasama sebagai bos dan bawahan." Dia berkata kemudian berbalik tapi ... dia mengoceh lagi.
"Ah, satu lagi. Bukankah sepatu itu adalah sepatu yang pernah kuberikan padamu saat pertama kali kita serumah? atau ...."
"Ya." Aku membungkam mulutnya. Seharusnya sepatu sialan ini kubuang dari dulu, tapi ... mengingat dulu Ardian berusaha dengan gigih membelinya aku tak tega. Dia bahkan rela puasa untuk menyisihkan uangnya yang mulai dihentikan keluarganya karena masih nekat meminangku.
Duh, malah ingat masa lalu.
"Sembilan tahun, apa tidak rusak?"
"Au ah. Berisik." Kali ini aku yang meninggalkan wajah kunyuknya yang menyebalkan.

****

Ruangan manajer personalia perusahaan Jaya pusat sungguh menawan. Beberapa bunga anggrek palsu tertata rapi di dekat lemari kabinet yang masih kosong. Di atas meja kerja yang klimis habis dibersihkan aroma bunga mawar dalam pot kecil menguar menenangkan. Dua sofa kecil di depan meja membuatku nyaman saat menerima tamu.
Aku tersenyum sendiri. Pantas saja, ruangan manajer saja mewah, lha tadi, ruangan Big Boss juga besar sekali. Duh, kenapa mengingatnya lagi.

Beberapa barang yang kubawa segera kuletakkan di atas meja dan menatanya. Sebuah foto keluarga dan satu foto diriku sendiri. Lalu ... Aku memandang sepatu yang manis di kakiku.
Ardian. Sepatu ini bukan tak pernah rusak, tali setiap rusak selalu kuperbaiki. Selalu seperti itu.
Hah. Aku mengambil nafas dalam. Mungkin lebih bijak aku menyimpannya saja sekarang. Dulu, tanpa pandangan mata Ardian, sepatu ini akan baik-baik saja, tapi sekarang jika masih kupakai dia akan semakin besar kepala dan merasa selalu dikenang. Cih.

Hari itu, setelah pertemuan pertama yang mendebarkan dan menjengkelkan semua kulalui dengan baik. Termasuk mengenal semua tim bagian personalia perusahaan.
Misi selanjutnya adalah perekrutan anggota pegawai baru untuk resort andalan perusahaan yang akan segera diresmikan di pulau Belitung.
Posisi baru, kesibukan baru. Aku menyemangati diriku sendiri.
Namun, saat semua anggota tim sedang rapat, tiba-tiba sosok bos besar datang menginterupsi.
"Maaf, untuk perekrutan kali ini, aku akan turut serta menghandle dari awal." Suara perintahnya membuat kami kaget. "Direktur bagian pengembangan karyawan posisinya sedang kosong, maka aku yang merangkap jabatannya." Dia melanjutkan.

Sebagai orang baru di perusahaan ini, nyaliku menciut ... mood kerjaku menurun. Bukan karena takut akan ketidakmampuanku. Tapi hadirnya si mantan ini benar-benar menjengkelkan.
"Baik, Pak." Aku menjawab seraya memaksakan senyum di wajah.
Ajeng, Doni, Damar, Resti dan Okta selaku anggota tim yang juga baru kukenal hari ini terlihat bersemangat. Mereka mungkin bangga langsung bertugas bersama bos besar mereka, tapi tidak denganku.
"Ibu manajer, kenapa?" tanyanya kepadaku. Menurut diriku sendiri aku baik-baik saja.
"Sepertinya wajahnya begitu tidak suka."
Sialan. Dia mulai main intrik denganku di depan tim.

"Tidak, Pak. Saya baik-baik saja." Aku menjawabnya dengan ekspresi wajar.
"Kalau begitu setelah ini kita rapat di ruanganku."
"Maaf, Pak. Saya hari ini harus turun ke pegawai untuk berkenalan. Saya kira rapat bisa ditunda." Aduh, kenapa aku malah menginterupsinya. Semua mata memandangku dengan tidak enak ketika aku menolak perintah si bos. Duh.
"Ah, iya ... Aku lupa. Tadi aku menyuruhmu begitu kan?" ralatnya pura-pura.
Aku mengangguk. Lalu senyum ceria semua tim renyah kembali.
Baiklah, Ardian. Apa permainanmu kali ini? Aku, bukanlah Andini sembilan tahun lalu, kau jual ... aku beli.
Bersambung .....

-----

#Dear_Mantan
Part 3

Dua hari setelah pertemuan pertama, setelah sembilan tahun
***
"Kau yang egois!"
"Kau!"
"Bukan, tapi kamu!"
Lalu suara gelas pecah terbanting ke lantai membuatku menutup telinga, mataku terbelalak. Cangkir kopi kecil yang kuambil dari rak Mama dulu kugapai kemudian ikut kubanting ke arahnya. Satu pecahan cangkir terinjak oleh kaki telanjangnya dan berdarah.

Dia kalap, aku pun mendidih, kami melempar apapun yang kami bisa hingga akhirnya aku melempar remote ke arah wajahnya. Luka terbuka di pelipisnya dan aku hanya bisa menutup mulutku yang menganga.
"Ti - tidak!" teriakku. Tubuhku basah dengan keringat sementara air conditioner di kamar mungilku masih menyala dan dingin.
Mimpi itu selalu muncul setiap malam dan mulai semakin panjang setelah aku bertemu lagi dengan Ardian. Terkadang akupun heran dengan apa yang pernah terjadi dalam hidupku. Tak pernah satu kalipun aku bisa mengingat kejadian setelah adu lempar malam itu. Ingatanku akan peristiwa itu seolah menguap dan hilang. Setiap mengenangnya akan berakhir dengan ingatan penandatanganan surat perceraian, itupun hanya ada aku seorang, dua kolega Ardian tanpa Ardian.
Waktu yang terpampang di layar jam meja di nakas masih menunjukkan pukul sebelas malam. Belum terlalu larut tapi tidurku sudah tak lagi nyenyak karena mimpi buruk yang datang. Dengan sedikit mengantuk kulangkahkan kaki ke dekat jendela, membukanya dan menikmati sinar rembulan di atas balkon. Nun jauh di bawah terlihat kerlap-kerlip lampu rumah-rumah penduduk yang bersinar bagai bintang. Kuremas pelan dadaku, ada rasa sepi bergelayut di sana. Titik air mataku menetes di pipi, entah karena apa.

****
"Kau sudah mengecek semuanya?" tanya komisaris perusahaan yang menyebalkan itu di depanku. Belum setengah jam aku datang ke kantor dan dia sudah memanggilku untuk segera melapor.
"Sudah, Pak. Identitas, segala pendukung performa pendaftar sudah kami kroscek semua." Dengan penuh antusias kujawab pertanyaannya. Ini masalah pekerjaan, bukan masalah pribadi. Bukankah aku harus bersikap profesional?
Lalu dia bertepuk tangan.

"Bravo!" Dia mengucap kata itu sambil bertepuk tangan.
"Pantas karirmu melejit dengan cepat. Dua hari kau meminta waktu untuk menangani perekrutan tenaga kerja baru beserta timmu, dan ... Kau bisa melakukannya. Keren!" Matanya menatapku dengan penuh semangat. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku agar tidak terlalu fokus kepadanya. Entah kenapa tatapannya kali ini terasa hangat.
Come on, Andini. Dia bosmu, wajar kan jika memuji kinerjamu.
"Bagaimana kalau nanti sepulang kerja, kutraktir kalian makan malam."
Aku bergeming.
"Semua tim."
Aku belum menjawabnya.
"Atau ...."
"Tidak usah, Pak. Terlalu dini untuk bersenang-senang. Proses perekrutan ini masih panjang." Aku mencari alasan. Radarku serasa menangkap sinyal aneh atas tawarannya. Hih.
"Ah, kau benar. Baiklah, segera buat jadwal terperinci beserta hari dan tanggal yang hendak dipakai untuk pelaksanaan progres lanjut. Lebih cepat pasti lebih baik," ucapnya dengan penuh optimisme.
Lalu, wajah optimisnya membawaku kepada ingatan masa lampau. Saat dia berhasil menaklukkan gunung Semeru bersama kami, bersebelas.
Astaghfirullah. Aku segera membuang kenangan itu dengan meminta pamit kembali ke ruanganku.
"Kalau memang sudah selesai, saya kembali ke ruangan dulu. Pak." Aku menunggu jawabannya. Lalu segera berjalan ke arah luar saat dia memberi anggukan.
Begitu aku memegang kenop pintu ruangannya dia memanggil.
"Andini!"

Mak degh. Hatiku tak karuan.
"I-iya Pak."
Ketika aku menoleh ke arahnya dia menggeleng pelan.
"Tidak, tidak jadi. Aku ... hanya senang bertemu denganmu kembali."
Aku tak tahu harus menanggapinya dengan girang, atau bimbang.

***
"Bu Andini, tadi Pak Ardian berpesan kalau schedule sudah selesai tolong diantarkan ke ruangan beliau." Sarah, sekretaris Mas Ardian eh, Pak Ardian memberitahukan pesan big boss ke kantorku.
"Baik, Mbak Sarah. Nanti saya suruh anak-anak mengantarkan."
"Maaf, Bu. Pesan bapak harus ibu sendiri yang masuk. Soalnya nanti Bapak gak ada di ruangan. Beliau rapat dengan kolega."
Mulutku membentuk huruf O lalu mengangguk ke arahnya. Ada-ada saja.
****

Pukul lima sore.
"Okey, gaess. Terima kasih karena sudah bekerja keras hari ini. Kita jumpa lagi setelah weekend ya. Ingat! Usahakan tidak ada lembur diantara kita," ucapku sebentar berpidato yang disambut tawa renyah mereka.
Lalu kami semua saling pamit. Sebelum menuju ke halte terdekat aku berbelok ke arah ruangan bos Ardian. Sarah yang melihatku datang langsung menyuruhku masuk ke dalam sementara dia berbenah untuk segera pulang.
Ini, kali kedua untuk hari ini. Kulangkahkan kakiku ke dalam ruangannya. Bau harum pengharum ruangan dengan aroma bunga yang kukenal tercium di sana. Bunga camomile. Menenangkan.
Kelambu putih polos di antara kamar mandi dalam ruangan itu cukup mengusik perhatianku. Untunglah Pak Ardian sedang tidak ada jadi aku bisa kepo maksimal atasnya. Kupegang kelambu itu, halus dan rapi seperti hasil buatan tangan. Di bagian bawahnya terukir sebuah inisial. Double A.
Hum.

Ah, tanpa lama-lama segera laporanku kuletakkan di meja kerjanya. Aku tak ingin Sarah menduga-duga yang tidak-tidak. Dia masih di luar kan? Maka aku melangkah dengan segera.
Kalau biasanya aku menyerahkan dari arah depan Pak Ardian sekarang aku menaruhnya lewat tempat duduk Pak Ardian.
Terkejutlah aku dengan foto dalam bingkai yang ada di atasnya. Fotoku dan fotonya dalam balutan gaun pernikahan. Sebuah foto yang tak pernah ada dalam bayanganku.
Kepalaku berdenyut karenanya, membuatku hampir pingsan. Dan ... aku keluar dari ruangannya dalam kondisi berkeringat dingin.
Oh Tuhan. Kenapa aku tak bisa mengingat momen itu? Gambar itu ... dan aroma itu ....
Bersambung .....

------

#Dear_Mantan
Part 4

Jalanan sepanjang jalur bis kota yang kulalui becek karena hujan. Rintik rinainya menambah syahdu suasana sore itu, hawa dingin yang menelusup ke pori-pori kulitku segera kututup dengan jaket tipis yang memang selalu kubawa saat musim penghujan seperti ini. Dua anak remaja bercengkrama di sudut belakang. Mereka saling goda membuat jiwaku meronta.
Iri?
Sebal?
Aku tak tahu. Mereka hanya sangat mengingatkanku pada kisah yang lalu. Dulu, aku dan Ardian-pun seperti itu. Meskipun kami seangkatan tapi, aku terbiasa memanggilnya Mas. Mas Ardian.
Panggilan itulah yang dulu membuatnya sebal kepadaku. Dia bilang dengan memanggilnya seperti itu, aku membuatnya menua sepuluh tahun, pun aku bukan adiknya. Ardian tak tahu kalau aku memiliki maksud lain dengan panggilan itu. Bisa dibilang ... akulah yang mendambanya lebih dulu.
****
Bip.
Notifikasi pesan masuk mengganggu lamunku. Tetesan air di jendela bis mengaburkan bayang-bayang jalanan sekitar.
[Kau dimana?]
Kubuka pesan WhatsApp yang masuk ke gawaiku. Pengirimnya tidak ada dalam daftar kontakku, tapi setelah melihat foto profilnya sungguh membuatku terkesiap. Ponselku hampir saja terlepas dari tangan saking kagetnya.
Pak Ardian.

Aku memandangi langit-langit bis berusaha mencari tahu darimana dia bisa tahu nomorku.
[Maaf, ini siapa?]
Balasku pura-pura.
[Emoticon tertawa terpingkal-pingkal]
[Ibu Andini. Saya kira usia kita sudah sama-sama dewasa. Masak cara ngelesmu kayak anak baru gede aja.]
Huh, dia tahu. He. he.
[Oh, maaf. Aku baru aja liat foto profilnya. Ada yang bisa saya bantu, Pak?]
Duh, orang tinggi seperti dia harus membuat kita sedikit merendah untuk menghindari konflik yang lebih runyam.
[Bagaimana fotoku? Tampan?]
What the ... ? Huek.
[Syukurlah kalau kau masih mengingat wajahku.]
Pernyataannya ini, kenapa terasa mengganjal di hatiku.
[Tentu saja, Pak Ardian. Saya bukan orang yang mudah melupakan masa lalu.]
Kukirim pesan itu, berharap menyelesaikan percakapan yang tak akan ada ujungnya ini.
[Kau yakin?]
[Jadi, kau tahu siapa aku?]
Hah. Menyebalkan. Aku menutup ponsel itu. Kumatikan lalu tak kubuka lagi hingga pagi. Biar saja.

****
Secangkir teh hangat di atas meja pantry apartemenku belum juga dingin saat bel apartemenku berdentang. Siapa yang berkunjung pagi ini. Apalagi sekarang weekend. Mama? Tidak mungkin. Sejak perpisahanku dengan Ardian, Mamalah orang yang paling sebal jika aku pulang ke rumahnya.
"Jika semua perselisihan pasangan diselesaikan dengan perceraian, maka habislah cinta di antara manusia," ucapannya kala itu. Entah apa maksudnya.
Lalu mataku membulat sempurna ketika mengintip ke luar lewat lubang intip di atas pintu.
Bujubune. Kenapa Pak Ardian ke sini? Darimana dia tahu kalau aku tinggal di sini?
"Andini! Buka. Aku tahu kau di dalam."

Aku terlalu berdebar-debar untuk membukakan pintu untuknya. Akan kutunggu sampai dia pergi saja.
Kemudian dia berteriak lagi saat kakiku sudah hampir mencapai ruang tengah.
"Mamamu masuk IGD Andini!" teriaknya lagi.
Mama? Lalu aku segera keluar menghampirinya. Eits ... Kami bertatapan hampir saja aku menabraknya. Terlihat dia sedikit kaget lalu pura-pura cool lagi. Sementara aku? Kubelokkan tubuhku dengan segera agar tidak menyentuh tubuhnya sedikit pun dan langsung menuju ke arah lift.
"Eits, Andini. Kau mau kemana?"
"Ke rumah sakit, lah." Kujawab pertanyaannya yang tak masuk akal itu. Lalu dia tergelak.
"Mamamu memang di IGD tapi, beliau sudah mendapatkan penanganan." Dia berkata sambil berjalan perlahan-lahan ke arahku.
Lalu ... dia merapikan rambutku yang sepertinya tidak rapi. Hatiku berdesir, debar jantungku nyata terdengar di telinga.
"Belum lagi bajumu." Dia melihatku agak menjauh.
"Kau lebih mirip mau ke pasar daripada ke rumah sakit. Itupun ke pasar bukan untuk belanja melainkan meminta sedekah."
Sialan. Aku melihat baju yang kukenakan lalu aku berteriak kencang. Arggghhh. Ardian Semprul.
Segera aku kembali masuk ke dalam apartemen, kemudian mengganti daster kebanggaanku yang telah bolong-bolong di bagian bawah. Suara gelak tawa Ardian menjadikan pagi itu kian ramai.
***

"Bagaimana Mama bisa menghubungimu?" Aku berdiri di depan Mama yang masih terbaring di bangsal IGD. Suntikan obat yang diberikan dokter membuatnya tertidur. Pertanyaan itulah yang pertama kali kuucapkan kepada Ardian.
"Bukan Mama yang menghubungiku. Aku yang menghubunginya."
"Apa? Kau memiliki nomor Mama?" tanyaku tak percaya.
"Ba-bagaimana ...."
"Eh, Mama sadar," seru Ardian memutus pertanyaanku. Lalu kuanggap kali ini Ardian hanya kebetulan yang kembali singgah dalam kehidupan kami.
Bersambung ....


#Dear_Mantan
Part 5

Mama sudah mulai membaik setelah beberapa penanganan dokter di rumah sakit nomor wahid di kota Metropolitan. Sungguh, campur tangan Ardian membuat semua bertekuk lutut padanya. Keramahan sikap Ardian dan kerendahatiannya di mata petugas rumah sakit membuatku sedikit banyak bertanya dalam hati. Kenapa Ardian dan mereka seolah sudah kenal sangat lama.
Entahlah. Mungkin hanya garis hubungan pasien dan relasi bisnis saja.

"Kenapa heran seperti itu?" tanyanya seolah membaca ekspresi wajahku.
"Ah, tidak. Oh ya, Pak. Sebaiknya bapak pulang. Mama sudah membaik. Tadi dokter juga sudah memperbolehkan Mama pulang, kan?" Bukannya menjawab saranku, alih-alih pergi keluar, Pak Ardian malah mendekat ke arahku. Lalu ... cup. Dia mencium pipiku tanpa permisi, lalu berlalu pergi.
Hatiku menghangat, meskipun aku juga marah. Aku sungguh tak mengerti kenapa Pak Ardian bersikap seperti ini. Sebetulnya dia menganggapku sebagai apa? Bukankah hubungan kami sudah selesai lama.
Duh, menyebalkan.

Tepat saat itu, Mama membuka matanya lalu menitikkan air mata.
"Lho, Mama kenapa menangis?" tanyaku sambil menghampiri ranjang Mama di sudut ruangan.
"Tidak apa, Andini. Hanya sedikit kelilipan."
Ah, Mama berbohong. Mana ada debu di ruangan ini, tapi aku mencoba untuk tidak terlalu mengusiknya.
"Mama tidak makan lagi kemarin?" tanyaku sambil merapikan selimut di atasnya. Pandangan matanya memintaku agar tidak marah.
"Apa Mama mau aku tinggal dengan Mama?"
Kali ini Mama mengelus tanganku lalu menggeleng.
"Mama akan baik-baik saja setelah ini. Kau tahu, persiapan pernikahan adikmu benar-benar menyita waktu."

"Ah, jadi karena itu," ucapku sambil duduk di tepi ranjang Mama dan memandang rintik hujan di luar yang masih deras.
"Jika Mama ada kesulitan, ingat ada Andini ya." Mama mengangguk menjawab pernyataanku.
"Lagipula sontoloyo satu itu tak ingin kubantu. Jadi ... Aku diam saja. Coba sampai kapan dia tak butuh aku," kelakarku membicarakan Reza, adik semata wayangku yang ternyata telah dewasa dan siap menikah.
"Semoga dia tahu, bahwa pernikahan tidak serta merta hanya masalah memperjuangkan restu. Setelah menikah, hal-hal yang biasa, yang sepele, yang tak pernah kita tahu sebelumnya akan menjadi duri dalam rumah tangga itu, jika kita tidak menyelesaikannya dalam kondisi kepala dingin maka hal itu bisa menjadi api," kataku lebih pada bergumam dengan diriku sendiri.

Mama kemudian memegang tanganku lebih erat. Tanpa sadar air mata ku sudah meluncur pelan di pipi. Aku tersentak, kenapa hatiku jadi merasa sedih begini. Kemudian aku mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan rumah sakit ini. Dulu sekali ... aku seperti pernah berada di ruangan ini.
"Ma," panggilku kepada Mama.
"Hmm," jawabnya.
"Apa aku pernah ke sini sebelumnya?"
Mata Mama seperti kaget tapi kemudian dia menggeleng dan menjawab bahwa aku belum pernah kemari. Baru kali ini saja.
Baiklah, aku percaya.

****
Ardian sudah berdiri di depan pintu rumah Mama dengan membawa sebuket bunga mawar yang besar. Duh bikin iri saja, karena itu bukan untukku, tentu saja.
"Boleh masuk?"
Aku mengangguk lalu mempersilahkannya duduk.
"Sebentar, biar kulihat apakah Mama tidur atau tidak," kataku basa-basi. Dia mengangguk lalu duduk dengan tenang di ruang tamu. Wajahnya begitu tampan, kemeja biru mudanya di lipat sesiku dan sangat wangi. Rambutnya disisir tidak terlalu rapi tapi ... hot.

Astaghfirullah. Bayangan apa ini? Sebenarnya aku ingin membuat perhitungan dengannya karena berani mencium pipiku kemarin, tapi kuendapkan dulu. Sekarang kurasa bukan waktu yang tepat.
Hari itu Ardian menemani Mama dengan sabar. Sejak dulu, Ardian adalah menantu kesayangan Mama, bahkan sampai sekarang, saat Mama baru kembali bertemu dengannya sikap Mama tidak berubah. Bahkan cenderung lebih memanjakan Ardian.
Heran.
Kemudian aku mengantarnya sampai depan pintu gerbang rumah Mama. Satu ucapannya lagi mengusik hatiku.
"Terimakasih karena mau bertemu denganku lagi," katanya.
Aku mengangguk lalu sedikit berkerut karena menyimpan sebuah pertanyaan.
Tanya ....
Enggak ....
Tanya ... Ah tanya saja.
"Maaf, Pak. Sudah dua kali bapak mengatakan terima kasih seperti itu. Apakah aku pernah tidak suka bertemu dengan bapak saat dulu? Memang sih, kita sudah berpisah tapi, apa aku sampai sebenci itu kepada bapak dan tak mau bertemu lagi?"
Ah, rasanya plong setelah mengutarakan semuanya. Tapi saat Ardian hendak menjawab, panggilan ponselnya menghancurkan konsentrasinya.
"Maaf, Andini. Aku pamit dulu ya, ada rapat mendesak," katanya. Entah dia sengaja mengalihkan pembicaraan atau tidak, aku tak tahu. Yang jelas dia segera berlari lalu menghilang di ujung lorong.

****
Hari itu di kantor ....
Menunggui orang sakit itu bisa membuat kita boring. Meskipun kita merasa tidak sakit tapi menjaga stamina harus tetap diupayakan. Karena biasanya habis menjaga orang sakit bisa-bisa kita jatuh sakit sendiri karena menganggap enteng keluhan sendiri.
Karena itu, meskipun Pak Ardian memberikan izin cuti sebentar untuk menunggu Mama aku tak mengindahkannya. Mama juga memilih dijaga adikku, jika malam hari telah menyapa, baru tiba giliran ku.

"Lho, kenapa masuk?" tanyanya saat kami berpapasan di pintu lift. Aku menjawabnya dengan anggukan karena tak ingin terlihat aneh di mata yang lain.
"Mama lebih sehat?"
Aku mengangguk lagi kemudian mengucapkan terima kasih. Lalu sepanjang sisa hari itu kami hanya saling diam, sibuk dengan pikiran dan target kerja masing-masing.
Saat warna langit mulai merah dan kami bersiap pulang, Pak Ardian mengirimkan sebuah pesan whatsapp.
[Bu Andini, apa aku mengganggu?]
Senyum mengembang di wajahku, menyadari kekonyolannya. Dia bosku kalau dia bertanya masalah pekerjaan tentu saja tidak menggangu, kan?
[Tidak, Pak. Silahkan.]
[Oke.]

Dia mengirim foto schedule yang kuserahkan kepadanya kemarin. Satu buah tanggal dilingkarinya dengan spidol merah.
[Kau yakin tanggal itu tidak apa-apa?] tanyanya.
[Tentu saja tidak, Pak. Tim sudah merencanakannya dengan matang.]
[Kau yakin?]
Aku membalas dengan emoticon senyum.
[Bukankah itu tanggal kematian Papamu?]
Lalu aku tertegun. Dia, lelaki itu masih mengingat tanggal kematian Papa, yang juga menjadi tanggal pernikahan kami dulu.
Aku belum sempat membalas pesannya karena teringat ingatan lama, tetapi tanpa kusadari lelaki itu sudah berdiri di depan meja ruanganku. Senyumnya merekah, dia memegang sebuah map di tangannya yang berisi jadwal baru yang sudah diaturnya.
"Timmu sudah kuberitahu, silahkan gunakan jadwal ini," katanya. Lalu dia mengulurkan kepadaku dan meninggalkanku sendiri di sana dengan perasaan yang tak bisa kuartikan.

Bersambung ....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar