(11)
#BY_WafaHanin
"Ahhh, segar sekali ...."
Air mineral yang kuminum mampu membasahi kerongkongan terasa kering karena cuaca yang sedang panas-panasnya.
Fokusku terganggu kala melewati koridor bangunan besar universitas tempatku selama dua tahun belakangan menimba ilmu. Seorang yang dari kejauhan mirip Pak Fathan berjalan agak sempoyongan. Apa dia mabuk? Duh, mikir apa sih lo, Njel? Emangnya lo, meski memiliki wajah bidadari tapi hati dan perilakunya iblis. OMG, malah aku memaki diri sendiri ....
Tapi kenyataannya memang demikian, selain berparas bak angel, hati Pak Fathan pun sama serupa angel. Kenapa tiba-tiba aku hatiku selalu memujinya? Jangan-jangan aku benar-benar jatuh cinta?
Cinta tidak semudah itu Angeline, kamu harus mengukurnya. Perintah otak ini akhirnya mendorongku mendekati pria itu.
Berjalan lebih cepat, hingga suara high heels terdengar lebih beruntun dan nyaring dari lantai marmer sepanjang lorong.
Lelaki berpakaian rapi itu terlihat lemas duduk di salah satu bangku panjang yang terbuat dari semen di sepanjang bangunan universitas.
Dari dekat Pak Fathan terlihat berbeda dari biasanya, mata elangnya yang biasanya tersorot tajam, kini terlihat layu. Sakitkah dia? Bahkan kulit wajahnya terlihat pucat.
"Bapak pucat? Bapak sakit?"
Tidak menjawab pria itu meringis seperti menahan sakit, hal itu lantas membuat tanganku refleks memegang tangannya.
"Badan Bapak panas."
Spontan pria itu menarik tangannya, dia pasti tidak suka. 'Duh, Njel ... maen pegang-pegang aja sih!'
"Eh, maaf Pak. Hehe."
Pria itu tersenyum datar, sepertinya ia maklum pada sifatku yang slengehan ini.
"Minum dulu, Pak." Kusodorkan botol mineral yang sedari tadi kupegang, berharap bisa menambah energinya.
"Makasih, ya. Saya gak papa, kok." Pak Fathan akhirnya membuka suara. Syukurlah, kupikir tadinya ia kenapa-kenapa. Kan gak lucu kalau tiba-tiba dia pingsan, dan badanku yang kecil ini maksa nolong.
Aku mengangguk. Suasana hening beberapa saat, sebelum aku benar-benar merasa canggung segera kupecah kesunyian di antara kami.
"Pak, ehm."
"Apa?" Pria itu menjawab cepat.
"Hijab itu wajib banget, ya? Saya kan minim ilmu agamanya. Kalau berhijab aneh, gak? Entar gak ngerti apa-apa, malu 'kan?"
Huft, leganya bisa mengungkap uneg-uneg ini pada seseorang. Jika ingin berubah, setidaknya ada yang mendukungku, karena mengungkapkan pada Tasya, Rahel, papa atau bahkan mama semua itu tidak akan membantu, malah bisa jadi akan banyak pertentangan dari mereka.
Pria itu malah tertawa mendengar pertanyaanku.
"Kok Bapak malah senyum? Lucu, ya kalau saya nanya gitu?" tanyaku, padahal aku tengah serius.
"Oh, eh, maaf, bukan begitu. Hanya, saya seneng banget dengernya."
"Seneng?"
Ia mengangguk, tanpa sengaja pandangan kami beradu. Mata elangnya kini terlihat menajam. Syukurlah, air itu telah membuatnya lebih berenergi. Apa iya karena air? Atau karena aku? Ah, kenapa aku jadi terus berbunga begini, mana pipi panas lagi. Duh, pasti sekarang pipiku semerah tomat. Entah, kenapa aku merasa Pak Fathan pun merasakan hal sama denganku.
"Kalau kamu mau hijrah, Bapak bersedia membimbingmu."
Pak Fathan menyambung ucapannya, seketika aku mendongak menatap wajahnya, dia bilang mau membimbingku. Apa artinya itu?
***
"Woy ....!" Rahel mengagetkanku saat berjalan keluar.
"Ish. Kurang kerjaan banget sih, Hel! Kalau gue jantungan gimana? Gua 'kan belum kawin!" cerocosku kesal.
"Hel lagi, Hel lagi!" Gadis itu mendesah, sama kesalnya denganku karena dipanggil 'Hell'/ neraka.
Impas deh kalau begitu, dia buat aku kaget dan kesal, aku balas dengan membuatnya kesal pula. Ya ampun, kenapa sifat picikku susah sekali menghilangkan.
Jika bukan karena aku ingin jadi baik dan punya masa depan baik, aku pasti meneruskan berdebat dengannya sekarang.
'Oke, Njel. Mulai dari hal-hal kecil untuk berubah. Fighting!'
Rahel sudah melihatku, ia heran sepertinya. Yah, mau bagaimana lagi.
"Njel, lo kenapa?" Tapak Rahel sudah ada di keningku. "Sakit?" Ia menelengkan kepala seperti mengukur sesuatu.
"Temperaturnya normal."
Segera kutepis tangan lentik gadis itu. "Hiss, sia ...." Ingat harus mengontrol ucapan kuhentikan perkataan tersebut.
"Ck. Emang gak waras lo Njel. Hemmm." Kali ini Rahel pasrah, kami berjalan bersisian.
"Mungkin, sejak hari ini. Lo bakal lihat gue aneh, Hel. Tapi gue selamanya tetep temen lo."
"Apa?" Gadis itu menoleh, menatapku. Seolah ia tengah berusaha mencerna maksud dari ucapanku tapi gagal.
Aku hanya bisa tersenyum. Belum waktunya mengungkap gejolak di hati. Aku sendiri bahkan belum mengerti gejolak apa ini? Hati kerap menegur saat kebiasaanku yang dulu kembali kulakukan.
"Oya, Tasya mana ya. Gue gak lihat dia sejak Pak ketiga?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Tau, tuh. Stress tuh anak keknya. Tau aja Bu Widya itu dosen killer, malah dia pulang. Akhir-akhir ini Tasya aneh, Njel." Rahel bicara dengan menatap ke depan.
"Maksud lo?"
"Ya aneh. Sering sakit. Kek masuk angin gitu."
"Masuk angin?"
"Ck. Ya udahlah, ga usah dipikirin. Tar lama-lama dia juga cerita." Rahel merangkulku, mempercepat langkahnya. "Gue udah lapar!"
Dasar tukang makan.
***
Lelah sekali, kurebahkan tubuh ke ranjang. Aku terpaksa bolos di matkul terakhir, tak sanggup rasanya. Memandangi langit-langit kamar. Interior mewah menghiasi seluruh sudut rumah ini, kenapa aku baru memperhatikan? Dan setelah diperhatikan, semua itu bukan hal yang membuatku bahagia. Apa papa tidak menyadari itu.
Semakin lama memandang dengan pikiran yang mengembara ke mana-mana, tiba-tiba pikiranku kembali melayang pada Pak Fathan. Lagi? Ah, benar. Ternyata aku sudah jatuh cinta pada pria itu.
Saat akan bangkit, tak sengaja mataku melihat benda yang bertengger manis di meja rias? Sebuah tas wanita.
"Bukankah itu milik Tasya?"
Anak itu di sini lagi. Kenapa dia semakin aneh. Pergi tak ada kabar, ke rumahku pun tak berkabar.
Berdiri. Mencari anak itu. Pasti ia tengah makan di dapur atau santai di paviliun. Kucari naik turun tangga di dua tempat itu. Nihil. Tasya tak ada. Ke mana dia?
"Lebih baik kuhubungi ponselnya saja. Oh, ya ampun. Ponselku kan ada di kamar." Menepuk jidat sendiri, lalu setengah berlari kembali ke kamar.
Namun, saat di depan kamar aku mendengar suara tawa kecil dari kamar papa yang membuatku menghentikan langkah. Apa itu? Bergerak pelan, sampai di depan pintu kamar papa menempelkan telinga di benda persegi panjang itu. Tawa berderai dari dalam sana, papa dan ... apa itu Tasya?
Tak pikir panjang aku meraih handle pintu. Tak dikunci, ada kelegaan tersendiri.
Betapa terkejut, aku berteriak.
"Papa! Tasya!"
Tasya tengah di atas tubuh papa yang bertelanjang dada. Keduanya menoleh seketika. Mereka pasti tak menyangka melihatku sama denganku yang shock!
Mendekat pada mereka dan menarik Tasya dengan kasar. "Lo apa-apaan?"
Gadis itu menangis begitu saja.
"Sayang, papa bisa jelaskan." Papa membenarkan posisi duduknya.
"Nggak Pa! Nggak ada yang perlu dijelaskan. Bahkan binatang tidak sehina kalian! Jangan pernah lagi mencariku!"
Aku pergi meninggalkan dua makhluk yang membuatku jijik itu. Ke kamar mengemas barang ke ransel kecil.
Tadinya aku ingin pergi begitu saja, tapi aku perlu menutup tubuhku.
Di garasi melihat mobil kesayangan, rasanya miris. Itu milik papa. Akhirnya aku memilih berjalan, isak tangis terjadi begitu saja tanpa bisa kutahan. Bagaimana mereka bisa melakukannya?
Seseorang menghentikan motornya di sampingku. Belum sempat aku melihat, dia memanggil.
"Angeline."
Aku pun menoleh.
"Pak Fathan."
BERSAMBUNG
-------
#BY_WafaHanin
"Ahhh, segar sekali ...."
Air mineral yang kuminum mampu membasahi kerongkongan terasa kering karena cuaca yang sedang panas-panasnya.
Fokusku terganggu kala melewati koridor bangunan besar universitas tempatku selama dua tahun belakangan menimba ilmu. Seorang yang dari kejauhan mirip Pak Fathan berjalan agak sempoyongan. Apa dia mabuk? Duh, mikir apa sih lo, Njel? Emangnya lo, meski memiliki wajah bidadari tapi hati dan perilakunya iblis. OMG, malah aku memaki diri sendiri ....
Tapi kenyataannya memang demikian, selain berparas bak angel, hati Pak Fathan pun sama serupa angel. Kenapa tiba-tiba aku hatiku selalu memujinya? Jangan-jangan aku benar-benar jatuh cinta?
Cinta tidak semudah itu Angeline, kamu harus mengukurnya. Perintah otak ini akhirnya mendorongku mendekati pria itu.
Berjalan lebih cepat, hingga suara high heels terdengar lebih beruntun dan nyaring dari lantai marmer sepanjang lorong.
Lelaki berpakaian rapi itu terlihat lemas duduk di salah satu bangku panjang yang terbuat dari semen di sepanjang bangunan universitas.
Dari dekat Pak Fathan terlihat berbeda dari biasanya, mata elangnya yang biasanya tersorot tajam, kini terlihat layu. Sakitkah dia? Bahkan kulit wajahnya terlihat pucat.
"Bapak pucat? Bapak sakit?"
Tidak menjawab pria itu meringis seperti menahan sakit, hal itu lantas membuat tanganku refleks memegang tangannya.
"Badan Bapak panas."
Spontan pria itu menarik tangannya, dia pasti tidak suka. 'Duh, Njel ... maen pegang-pegang aja sih!'
"Eh, maaf Pak. Hehe."
Pria itu tersenyum datar, sepertinya ia maklum pada sifatku yang slengehan ini.
"Minum dulu, Pak." Kusodorkan botol mineral yang sedari tadi kupegang, berharap bisa menambah energinya.
"Makasih, ya. Saya gak papa, kok." Pak Fathan akhirnya membuka suara. Syukurlah, kupikir tadinya ia kenapa-kenapa. Kan gak lucu kalau tiba-tiba dia pingsan, dan badanku yang kecil ini maksa nolong.
Aku mengangguk. Suasana hening beberapa saat, sebelum aku benar-benar merasa canggung segera kupecah kesunyian di antara kami.
"Pak, ehm."
"Apa?" Pria itu menjawab cepat.
"Hijab itu wajib banget, ya? Saya kan minim ilmu agamanya. Kalau berhijab aneh, gak? Entar gak ngerti apa-apa, malu 'kan?"
Huft, leganya bisa mengungkap uneg-uneg ini pada seseorang. Jika ingin berubah, setidaknya ada yang mendukungku, karena mengungkapkan pada Tasya, Rahel, papa atau bahkan mama semua itu tidak akan membantu, malah bisa jadi akan banyak pertentangan dari mereka.
Pria itu malah tertawa mendengar pertanyaanku.
"Kok Bapak malah senyum? Lucu, ya kalau saya nanya gitu?" tanyaku, padahal aku tengah serius.
"Oh, eh, maaf, bukan begitu. Hanya, saya seneng banget dengernya."
"Seneng?"
Ia mengangguk, tanpa sengaja pandangan kami beradu. Mata elangnya kini terlihat menajam. Syukurlah, air itu telah membuatnya lebih berenergi. Apa iya karena air? Atau karena aku? Ah, kenapa aku jadi terus berbunga begini, mana pipi panas lagi. Duh, pasti sekarang pipiku semerah tomat. Entah, kenapa aku merasa Pak Fathan pun merasakan hal sama denganku.
"Kalau kamu mau hijrah, Bapak bersedia membimbingmu."
Pak Fathan menyambung ucapannya, seketika aku mendongak menatap wajahnya, dia bilang mau membimbingku. Apa artinya itu?
***
"Woy ....!" Rahel mengagetkanku saat berjalan keluar.
"Ish. Kurang kerjaan banget sih, Hel! Kalau gue jantungan gimana? Gua 'kan belum kawin!" cerocosku kesal.
"Hel lagi, Hel lagi!" Gadis itu mendesah, sama kesalnya denganku karena dipanggil 'Hell'/ neraka.
Impas deh kalau begitu, dia buat aku kaget dan kesal, aku balas dengan membuatnya kesal pula. Ya ampun, kenapa sifat picikku susah sekali menghilangkan.
Jika bukan karena aku ingin jadi baik dan punya masa depan baik, aku pasti meneruskan berdebat dengannya sekarang.
'Oke, Njel. Mulai dari hal-hal kecil untuk berubah. Fighting!'
Rahel sudah melihatku, ia heran sepertinya. Yah, mau bagaimana lagi.
"Njel, lo kenapa?" Tapak Rahel sudah ada di keningku. "Sakit?" Ia menelengkan kepala seperti mengukur sesuatu.
"Temperaturnya normal."
Segera kutepis tangan lentik gadis itu. "Hiss, sia ...." Ingat harus mengontrol ucapan kuhentikan perkataan tersebut.
"Ck. Emang gak waras lo Njel. Hemmm." Kali ini Rahel pasrah, kami berjalan bersisian.
"Mungkin, sejak hari ini. Lo bakal lihat gue aneh, Hel. Tapi gue selamanya tetep temen lo."
"Apa?" Gadis itu menoleh, menatapku. Seolah ia tengah berusaha mencerna maksud dari ucapanku tapi gagal.
Aku hanya bisa tersenyum. Belum waktunya mengungkap gejolak di hati. Aku sendiri bahkan belum mengerti gejolak apa ini? Hati kerap menegur saat kebiasaanku yang dulu kembali kulakukan.
"Oya, Tasya mana ya. Gue gak lihat dia sejak Pak ketiga?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Tau, tuh. Stress tuh anak keknya. Tau aja Bu Widya itu dosen killer, malah dia pulang. Akhir-akhir ini Tasya aneh, Njel." Rahel bicara dengan menatap ke depan.
"Maksud lo?"
"Ya aneh. Sering sakit. Kek masuk angin gitu."
"Masuk angin?"
"Ck. Ya udahlah, ga usah dipikirin. Tar lama-lama dia juga cerita." Rahel merangkulku, mempercepat langkahnya. "Gue udah lapar!"
Dasar tukang makan.
***
Lelah sekali, kurebahkan tubuh ke ranjang. Aku terpaksa bolos di matkul terakhir, tak sanggup rasanya. Memandangi langit-langit kamar. Interior mewah menghiasi seluruh sudut rumah ini, kenapa aku baru memperhatikan? Dan setelah diperhatikan, semua itu bukan hal yang membuatku bahagia. Apa papa tidak menyadari itu.
Semakin lama memandang dengan pikiran yang mengembara ke mana-mana, tiba-tiba pikiranku kembali melayang pada Pak Fathan. Lagi? Ah, benar. Ternyata aku sudah jatuh cinta pada pria itu.
Saat akan bangkit, tak sengaja mataku melihat benda yang bertengger manis di meja rias? Sebuah tas wanita.
"Bukankah itu milik Tasya?"
Anak itu di sini lagi. Kenapa dia semakin aneh. Pergi tak ada kabar, ke rumahku pun tak berkabar.
Berdiri. Mencari anak itu. Pasti ia tengah makan di dapur atau santai di paviliun. Kucari naik turun tangga di dua tempat itu. Nihil. Tasya tak ada. Ke mana dia?
"Lebih baik kuhubungi ponselnya saja. Oh, ya ampun. Ponselku kan ada di kamar." Menepuk jidat sendiri, lalu setengah berlari kembali ke kamar.
Namun, saat di depan kamar aku mendengar suara tawa kecil dari kamar papa yang membuatku menghentikan langkah. Apa itu? Bergerak pelan, sampai di depan pintu kamar papa menempelkan telinga di benda persegi panjang itu. Tawa berderai dari dalam sana, papa dan ... apa itu Tasya?
Tak pikir panjang aku meraih handle pintu. Tak dikunci, ada kelegaan tersendiri.
Betapa terkejut, aku berteriak.
"Papa! Tasya!"
Tasya tengah di atas tubuh papa yang bertelanjang dada. Keduanya menoleh seketika. Mereka pasti tak menyangka melihatku sama denganku yang shock!
Mendekat pada mereka dan menarik Tasya dengan kasar. "Lo apa-apaan?"
Gadis itu menangis begitu saja.
"Sayang, papa bisa jelaskan." Papa membenarkan posisi duduknya.
"Nggak Pa! Nggak ada yang perlu dijelaskan. Bahkan binatang tidak sehina kalian! Jangan pernah lagi mencariku!"
Aku pergi meninggalkan dua makhluk yang membuatku jijik itu. Ke kamar mengemas barang ke ransel kecil.
Tadinya aku ingin pergi begitu saja, tapi aku perlu menutup tubuhku.
Di garasi melihat mobil kesayangan, rasanya miris. Itu milik papa. Akhirnya aku memilih berjalan, isak tangis terjadi begitu saja tanpa bisa kutahan. Bagaimana mereka bisa melakukannya?
Seseorang menghentikan motornya di sampingku. Belum sempat aku melihat, dia memanggil.
"Angeline."
Aku pun menoleh.
"Pak Fathan."
BERSAMBUNG
-------
#AHLAN_WA_SAHLAN_ANGELINE 12
#Haninhumayro_Wafafarha
"Buburnya dihabiskan, trus minum obatnya?"
Setelah meletakkan bubur di atas nakas, Umi menempelkan tangan di keningku. Sedikit menggelengkan kepala, lalu duduk di tepi ranjang.
Gejala thypus ternyata penyebab ambruknya tubuhku kemarin. Angeline dan ihkwan LDK yang mengantarkanku pulang waktu itu.
Lolos satu senyuman mengingat raut kecemasan di wajah cantik itu.
"Kok, malah senyum-senyum. Inget siapa hayo!"
Tepukan umi sukses mengembalikan lamunan sesaat itu.
"Han, gadis yang nganter kamu itu siapa?"
"Oh, eh. Angeline. Mahasiswiku, Um. Kebetulan dia ngeliat aku duduk di taman, trus dia yang menghubungi anak LDK."
Ditanya soal gadis yang barusan kulamunkan cukup membuatku grogi.
"Ehm, kayaknya dia deket sama kamu. Eh, hati-hati, loh. Inget Aqila."
Diingatkan soal Aqila, dilema itu menyeruak kembali di dada ini. Sepertinya harus disampaikan keputusanku terkait rencana perjodohan ini agar semua jelas.
"Um, sepertimya aku gak bisa menikah dengan Aqila."
Sudah kusangka, reaksinya akan begini. Mata Umi lebih membesar dari ukuran normal, mulut pun terbuka lebih lebar. Sekali lagi diletakkan telapak tangannya di dahi. Memastikan mungkin aku tidak meracau.
"Jangan ngomong yang aneh-aneh, Han. Udah makan dulu, minum obat trus istirahat. Baru kalau sudah pulih kita ngobrol lagi."
Lepas menyodorkan bubur, wanita anggun itu berlalu. Sepertinya tak mau mendengar hal yang tak menyenangkan hati.
Menyuap perlahan bubur buatan umi sambil pikiran melayang ke mana-mana. Terhenti di satu sosok yang kerap mengganggu konsentrasi. Angeline.
Ungkapan keinginannya untuk berhijab membuat asaku makin tinggi. Asa untuk membersamainya dalam mengarungi kehidupan.
Hanya saja, aku paham itu takkan mudah. Ada tembok besar yang memalang di antara kami. Butuh perjuangan untuk memugarnya.
Angeline, apa hatimu seperti hatiku?
***
Seminggu beristirahat makin membuatku yakin bahwa tanpa aktivitas hidup itu membosankan. Hari ini semangatku untuk mengajar berkali lipat.
Menyampaikan kebenaran ajaran Islam seolah candu dalam hidup. Sehari tak menjelaskan aqidah dan syariah rasanya gatal mulut ini.
Ketidakterikatan umat Islam pada agamanya kadang bukan karena tidak mau, bisa jadi sebab tak tahu. Untuk itulah dakwah harus terus digencarkan agar kaum muslimin kembali pada jalan seharusnya, yaitu Islam rahmatan lil alamiin.
Hanya saja tantangan dakwah hari ini lebih berat sebab fitnah terhadap Islam kian merajalela. Ajarannya diselewengkan dengan diusungnya tema Islam nusantara yang jelas sesat dan menyesatkan. Ulama dipersekusi dan pengajian dibubarkan. Tidak anti Islamnya di mana?
Aku memasuki ruang kuliah yang masih riuh rendah oleh obrolan para mahasiswa. Menyadari kehadiran dosennya, segera mereka merapikan barisan duduk. Sebagian menanyakan kabar kesehatanku, yang lain cuek saja.
Lepas mengucap salam pembahasan mata kuliah dimulai. Seratus sepuluh mahasiswa telah siap dengan modul pembelajaran.
"Ajaran Islam yang lurus tak mengenal istilah Islam radikal dan Islam moderat. Istilah itu ada untuk mengadu domba umat Islam. Agar mereka saling curiga dan tak bersatu."
Kusapukan pandangan pada seluruh mahasiswa yang terlihat masih antusias mendengarkan. Mereka adalah agen of change yang sudah saatnya sadar akan permainan kafir barat terhadap agamanya. Mereka wajib melek politik agar tak mudah terbawa opini sesat yang ditiupkan musuh-musuh Islam
"Terikat secara utuh pada syariat Islam adalah kewajiban bukan radikal. Tak diizinkan seorang muslim mengambil Islam hanya sebagian, sedang sebagian lain dicampakkan. Umat Islam dalam berpakaian, menikah, ibadah, berekonomi, berbudaya, bersosial bahkan bernegara haruslah mengikuti tuntunan Islam."
Sampai saat ini belum ada reaksi buruk dari sisi mahasiswaku. Sebagian mereka mengerenyitkan dahi. Sedang mencerna mungkin.
"Apakah Islam mengatur ekonomi, budaya, sosial dan politik? Tentu saja sebab Islam itu sempurna, lengkap dan mampu menjawab tantangan zaman hingga akhir dunia."
Kuberi kesempatan pada mahasiwa untuk bertanya terkait materi kuliah. Bahkan aku menyediakan waktu di luar jam kuliah jika ada yang masih mengganjal di pikiran.
Lepas mengajar aku bergegas ke rumah Fatiya. Seminggu ini dia minta ditemani sebab suaminya dinas luar kota. Umi pun sama cemasnya hingga menyuruhku menginap di sana. Khawatir juga pada kandungan yang sudah memasuki usia tujuh bulan.
Seperti biasa adik bawel itu akan nitip dibelikan ini itu di perjalanan. Bawaan bayi candanya. Padahal aku tahu memang manja saja dia itu.
Siomay, baso, ketoprak dan masih banyak lagi makanan sudah terbungkus rapi. Aku bingung senapsu itukah ibu hamil pada makanan. Pantas saja badannya sekarang makin mengembang.
Baru saja merapikan belanjaan, sosok yang sangat kukenal melintas di depanku. Tak percaya awalnya. Masa iya Angeline jalan kaki? Di area kuliner pasaran lagi.
Sepertinya dia tak melihatku. Pantas saja tak menyapa. Tertuntun penasaran kuikuti ke mana gadis itu pergi.
"Angel!"
Refleks, pemilik kulit terawat itu menoleh. Dadaku sedikit berdenyut melihat kondisi wajah itu. Ada jejak airmata di sana.
Seperti orang linglung di menghampiri dan eh,
Astagfirullah! Dia memelukku.
Sel di rongga dada seolah memberi perintah agar gendang jantungku ditabuh. Kencang sekali. Riuh dan ramai seketika.
Tak mau kalah, darah ikut mendesir dan alirannya menjadi berkali lipat. Naluri lelakiku bangkit.
Astagfirullah, kemeja ini sudah basah.
Perlahan kudorong tubuh yang dilekatkan pada raga yang sedang bergetar ini.
"Maaf, Angel. Kita tak boleh begini."
Kepala itu mendongak, bola bening yang dipenuhi air itu bergerak-gerak.
"Maaf," desisnya.
Khawatir dengan kondisi fsikologisnya, aku mengajak Angel ke salah satu kedai baso yang cukup luas.
Hampir sepuluh menit Angel menangis di hadapanku. Kacau tentu perasaan ini mendapati gadis yang mulai mengganggu hati itu terlihat rapuh.
Meski panasaran sudah tingkat angkasa, tak patut juga aku mencampuri urusannya. Biarkan saja nanti juga cerita sendiri.
"Aku benci Papa. Aku kabur dari rumah dan tak tahu harus ke mana?"
Ya, Allah.
Aku bingung. Masa membawa Angel ke rumah. Bisa-bisa ada ledakan bom hirosima.
Deringan telepon menjeda perbincangan kami.
Ya, ampun. Aku sampai lupa. Fatiya dia pasti sedang mengerucutkan bibir. Benar saja, belum menjawab salam sudah keluar kalimat yang tak henti-henti.
"Aku Wa, ya. Ssst! Ngomongnya udah dulu. Bibirnya nanti dower."
Tak enak dengan Angeline, kukirim pesan minta bantuan Fatiya untuk menampung mahasiswi depresi itu di rumahnya sementara. Suaminya sedang tak ada juga pikirku. Amanlah.
Tak selang lima belas menit, mobil Fatiya datang.
Tak butuh waktu lama meyakinkan Angeline untuk menginap di rumah Fatiya.
Ya, Allah. Inikah jalan itu
***
"Baiknya kamu pikirkan lagi, jangan terburu-buru menolak perjodohan ini."
Hatiku sudah mantap untuk menolak perjodohan dengan Aqila. Tak ada cela di dirinya. Hanya tak ikhlas saja.
Bukan hanya wanita yang punya hak menerima dan menolak. Pria pun sama, mau sesempurna apa pun seorang perempuan, jika tak ada ridho di hati percuma juga.
"Afwan, sekali lagi afwan, Bi. Justru kalau terus diulur keputusan, mereka akan makin berharap. Lebih tidak enak lagi nantinya."
Aku tahu abi menahan gejolak yang hampir meledak. Tangannya sedikit bergetar, dada pun terlihat turun naik.
Abi bangkit tanpa kata lagi. Menahan diri dari ucapan dan sikap buruk padaku mungkin. Umi yang sedari tadi berwajah muram juga pergi meninggalkanku.
Nanar, netraku menatap kepergian pria dan wanita yang hatinya tengah kecewa. Helaan berat keluar juga dari mulut ini. Paru-paru pun ikut menyempit.
Kesesakan ini bukan hanya karena masalah Aqila lebih dari itu persoalannya.
Angeline, ya Angeline.
Akankah abi dan umi menerima pilihanku?
Dan
Mungkinkah orang tuanya bersedia menjadikanku menantu?
***
-------
#Haninhumayro_Wafafarha
"Buburnya dihabiskan, trus minum obatnya?"
Setelah meletakkan bubur di atas nakas, Umi menempelkan tangan di keningku. Sedikit menggelengkan kepala, lalu duduk di tepi ranjang.
Gejala thypus ternyata penyebab ambruknya tubuhku kemarin. Angeline dan ihkwan LDK yang mengantarkanku pulang waktu itu.
Lolos satu senyuman mengingat raut kecemasan di wajah cantik itu.
"Kok, malah senyum-senyum. Inget siapa hayo!"
Tepukan umi sukses mengembalikan lamunan sesaat itu.
"Han, gadis yang nganter kamu itu siapa?"
"Oh, eh. Angeline. Mahasiswiku, Um. Kebetulan dia ngeliat aku duduk di taman, trus dia yang menghubungi anak LDK."
Ditanya soal gadis yang barusan kulamunkan cukup membuatku grogi.
"Ehm, kayaknya dia deket sama kamu. Eh, hati-hati, loh. Inget Aqila."
Diingatkan soal Aqila, dilema itu menyeruak kembali di dada ini. Sepertinya harus disampaikan keputusanku terkait rencana perjodohan ini agar semua jelas.
"Um, sepertimya aku gak bisa menikah dengan Aqila."
Sudah kusangka, reaksinya akan begini. Mata Umi lebih membesar dari ukuran normal, mulut pun terbuka lebih lebar. Sekali lagi diletakkan telapak tangannya di dahi. Memastikan mungkin aku tidak meracau.
"Jangan ngomong yang aneh-aneh, Han. Udah makan dulu, minum obat trus istirahat. Baru kalau sudah pulih kita ngobrol lagi."
Lepas menyodorkan bubur, wanita anggun itu berlalu. Sepertinya tak mau mendengar hal yang tak menyenangkan hati.
Menyuap perlahan bubur buatan umi sambil pikiran melayang ke mana-mana. Terhenti di satu sosok yang kerap mengganggu konsentrasi. Angeline.
Ungkapan keinginannya untuk berhijab membuat asaku makin tinggi. Asa untuk membersamainya dalam mengarungi kehidupan.
Hanya saja, aku paham itu takkan mudah. Ada tembok besar yang memalang di antara kami. Butuh perjuangan untuk memugarnya.
Angeline, apa hatimu seperti hatiku?
***
Seminggu beristirahat makin membuatku yakin bahwa tanpa aktivitas hidup itu membosankan. Hari ini semangatku untuk mengajar berkali lipat.
Menyampaikan kebenaran ajaran Islam seolah candu dalam hidup. Sehari tak menjelaskan aqidah dan syariah rasanya gatal mulut ini.
Ketidakterikatan umat Islam pada agamanya kadang bukan karena tidak mau, bisa jadi sebab tak tahu. Untuk itulah dakwah harus terus digencarkan agar kaum muslimin kembali pada jalan seharusnya, yaitu Islam rahmatan lil alamiin.
Hanya saja tantangan dakwah hari ini lebih berat sebab fitnah terhadap Islam kian merajalela. Ajarannya diselewengkan dengan diusungnya tema Islam nusantara yang jelas sesat dan menyesatkan. Ulama dipersekusi dan pengajian dibubarkan. Tidak anti Islamnya di mana?
Aku memasuki ruang kuliah yang masih riuh rendah oleh obrolan para mahasiswa. Menyadari kehadiran dosennya, segera mereka merapikan barisan duduk. Sebagian menanyakan kabar kesehatanku, yang lain cuek saja.
Lepas mengucap salam pembahasan mata kuliah dimulai. Seratus sepuluh mahasiswa telah siap dengan modul pembelajaran.
"Ajaran Islam yang lurus tak mengenal istilah Islam radikal dan Islam moderat. Istilah itu ada untuk mengadu domba umat Islam. Agar mereka saling curiga dan tak bersatu."
Kusapukan pandangan pada seluruh mahasiswa yang terlihat masih antusias mendengarkan. Mereka adalah agen of change yang sudah saatnya sadar akan permainan kafir barat terhadap agamanya. Mereka wajib melek politik agar tak mudah terbawa opini sesat yang ditiupkan musuh-musuh Islam
"Terikat secara utuh pada syariat Islam adalah kewajiban bukan radikal. Tak diizinkan seorang muslim mengambil Islam hanya sebagian, sedang sebagian lain dicampakkan. Umat Islam dalam berpakaian, menikah, ibadah, berekonomi, berbudaya, bersosial bahkan bernegara haruslah mengikuti tuntunan Islam."
Sampai saat ini belum ada reaksi buruk dari sisi mahasiswaku. Sebagian mereka mengerenyitkan dahi. Sedang mencerna mungkin.
"Apakah Islam mengatur ekonomi, budaya, sosial dan politik? Tentu saja sebab Islam itu sempurna, lengkap dan mampu menjawab tantangan zaman hingga akhir dunia."
Kuberi kesempatan pada mahasiwa untuk bertanya terkait materi kuliah. Bahkan aku menyediakan waktu di luar jam kuliah jika ada yang masih mengganjal di pikiran.
Lepas mengajar aku bergegas ke rumah Fatiya. Seminggu ini dia minta ditemani sebab suaminya dinas luar kota. Umi pun sama cemasnya hingga menyuruhku menginap di sana. Khawatir juga pada kandungan yang sudah memasuki usia tujuh bulan.
Seperti biasa adik bawel itu akan nitip dibelikan ini itu di perjalanan. Bawaan bayi candanya. Padahal aku tahu memang manja saja dia itu.
Siomay, baso, ketoprak dan masih banyak lagi makanan sudah terbungkus rapi. Aku bingung senapsu itukah ibu hamil pada makanan. Pantas saja badannya sekarang makin mengembang.
Baru saja merapikan belanjaan, sosok yang sangat kukenal melintas di depanku. Tak percaya awalnya. Masa iya Angeline jalan kaki? Di area kuliner pasaran lagi.
Sepertinya dia tak melihatku. Pantas saja tak menyapa. Tertuntun penasaran kuikuti ke mana gadis itu pergi.
"Angel!"
Refleks, pemilik kulit terawat itu menoleh. Dadaku sedikit berdenyut melihat kondisi wajah itu. Ada jejak airmata di sana.
Seperti orang linglung di menghampiri dan eh,
Astagfirullah! Dia memelukku.
Sel di rongga dada seolah memberi perintah agar gendang jantungku ditabuh. Kencang sekali. Riuh dan ramai seketika.
Tak mau kalah, darah ikut mendesir dan alirannya menjadi berkali lipat. Naluri lelakiku bangkit.
Astagfirullah, kemeja ini sudah basah.
Perlahan kudorong tubuh yang dilekatkan pada raga yang sedang bergetar ini.
"Maaf, Angel. Kita tak boleh begini."
Kepala itu mendongak, bola bening yang dipenuhi air itu bergerak-gerak.
"Maaf," desisnya.
Khawatir dengan kondisi fsikologisnya, aku mengajak Angel ke salah satu kedai baso yang cukup luas.
Hampir sepuluh menit Angel menangis di hadapanku. Kacau tentu perasaan ini mendapati gadis yang mulai mengganggu hati itu terlihat rapuh.
Meski panasaran sudah tingkat angkasa, tak patut juga aku mencampuri urusannya. Biarkan saja nanti juga cerita sendiri.
"Aku benci Papa. Aku kabur dari rumah dan tak tahu harus ke mana?"
Ya, Allah.
Aku bingung. Masa membawa Angel ke rumah. Bisa-bisa ada ledakan bom hirosima.
Deringan telepon menjeda perbincangan kami.
Ya, ampun. Aku sampai lupa. Fatiya dia pasti sedang mengerucutkan bibir. Benar saja, belum menjawab salam sudah keluar kalimat yang tak henti-henti.
"Aku Wa, ya. Ssst! Ngomongnya udah dulu. Bibirnya nanti dower."
Tak enak dengan Angeline, kukirim pesan minta bantuan Fatiya untuk menampung mahasiswi depresi itu di rumahnya sementara. Suaminya sedang tak ada juga pikirku. Amanlah.
Tak selang lima belas menit, mobil Fatiya datang.
Tak butuh waktu lama meyakinkan Angeline untuk menginap di rumah Fatiya.
Ya, Allah. Inikah jalan itu
***
"Baiknya kamu pikirkan lagi, jangan terburu-buru menolak perjodohan ini."
Hatiku sudah mantap untuk menolak perjodohan dengan Aqila. Tak ada cela di dirinya. Hanya tak ikhlas saja.
Bukan hanya wanita yang punya hak menerima dan menolak. Pria pun sama, mau sesempurna apa pun seorang perempuan, jika tak ada ridho di hati percuma juga.
"Afwan, sekali lagi afwan, Bi. Justru kalau terus diulur keputusan, mereka akan makin berharap. Lebih tidak enak lagi nantinya."
Aku tahu abi menahan gejolak yang hampir meledak. Tangannya sedikit bergetar, dada pun terlihat turun naik.
Abi bangkit tanpa kata lagi. Menahan diri dari ucapan dan sikap buruk padaku mungkin. Umi yang sedari tadi berwajah muram juga pergi meninggalkanku.
Nanar, netraku menatap kepergian pria dan wanita yang hatinya tengah kecewa. Helaan berat keluar juga dari mulut ini. Paru-paru pun ikut menyempit.
Kesesakan ini bukan hanya karena masalah Aqila lebih dari itu persoalannya.
Angeline, ya Angeline.
Akankah abi dan umi menerima pilihanku?
Dan
Mungkinkah orang tuanya bersedia menjadikanku menantu?
***
-------
#AHLAN_WA_SAHLAN_ANGELINE
(13)
#By_WafaHanin
Melihat pria itu turun dari motor seketika aku memeluknya, tidak peduli dengan orang di sekitar, aku bahkan lupa bahwa Pak Fathan sangat menjaga yang namanya sentuhan terhadap wanita.
Beberapa saat aku menangis di pelukan lelaki yang sudah mencuri hatiku itu, menumpahkan semua rasa sakit yang kubawa dari rumah karena ulah papa dan Tasya. Ya Tuhan ... sedamai ini rasanya, jika saja dada bidang ini selalu ada saat aku terpuruk seperti sekarang.
Belum juga puas dan tenang, Pak Fathan mendorong tubuhku yang memeluknya.
"Em, maaf tidak seharusnya kita seperti ini."
Ada apa dengannya? Penolakan kah ini?
"Em, maaf Pak."
"Ehm, ya tidak apa-apa."
Selanjutnya pria itu membawaku ke sebuah kantin terdekat memberikanku minum, katanya supaya aku merasa lebih tenang. Padahal mah cukup dia peluk aja tadi aku sudah sangat tenang.
"Apa tidak ada keluarga lain selain papamu?" Pak Fathan nampaknya ikut bingung melihat kondisiku.
"Em, mama ada sebenarnya. Tapi dia sedang berlibur ke Eropa. Di rumahnya ada dua laki-laki anak tirinya."
"Oh, jangan ... tidak boleh kalau begitu ke sana."
"Kenapa tidak boleh, Pak?"
"Em, karena akan jadi fitnah. Tidak ada nasab yang menghubungkan kalian." Pak Fathan serius menjelaskan. Ah aku mana tahu yang begituan. Dua saudara tiriku itu memang kerap menggoda. Tapi kupikir kami ini kan sekarang memiliki orang tua yang sama.
"Oh, begitu Pak. Sepertinya saya memang harus banyak belajar Islam."
"Iya, itu harus. Eh, bukan. Wajib malah."
"Iya, Pak. Bukannya Bapak kemaren bilang mau bersedia bimbing saya."
"Iya, soal itu. Akan aku pegang kata-kataku. Oya, selain mama kamu ...?"
"Ada kakak laki-laki saya, tapi sekarang dia ada di Kalimantan. Pergi dan membuka usaha di sana setelah diusir papa."
Pak Fathan menghela. Dia pasti tak menyangka bahwa ternyata keluargaku berantakan. Hal yang membuatku selalu mencari perhatian di luar rumah..
"Oke, aku paham sekarang."
Suasana hening beberapa saat. Kenapa disela kekalutan ada saja perasaan aneh yang kurasa saat bersama pria bijaksana ini.
Menit kemudian lelaki berparas tampan itu menghubungi seseorang melalui ponsel pintarnya. Kudengar ia menyebut nama Fatiyya. Pasti wanita sholehah itu yang dihubungi.
Tidak lama berselang sebuah mobil datang, benar saja adik Pak Fathan keluar dari sana.
Tanpa banyak basa-basi, dosen matkul Islamku itu meminta Fatiyya untuk menampungku sementara waktu.
_________
Di rumah Fatiyya, aku diberi tempat, makan dan perhatian dari wanita itu. Tentang banyak hal yang selama ini bahkan tidak pernah kuterima dari keluargaku.
Untunglah kami seusia hingga tak ada perasaan canggung saat membahas agama. Dengannya kuluahkan semua yang hatiku rasa.
Beberapa kali Fatiyya melebarkan mata dan geleng-geleng kepala tidak menyangka mendengar kisahku.
"Begitulah, Mbak. Kalau kita jauh dari Islam. Dalam agama kita semua hal sudah diatur, termasuk juga interakasi pria dan wanita. Harusnya teman Mbak itu tidak boleh bebas keluar masuk rumah Mbak. Apalagi sampai akrab dengan papanya Mbak."
"Iya, aku pikir tadinya mana mungkin papa yang sudah setua itu bisa menjalin hubungan dengan gadis usia 20an seperti Tasya." Kuhirup napas dalam, mencoba menetralisir rasa sakit yang belum jua sirna. Aku tahu niat mereka hanya main-main, sebatas kesenangan dan uang. Tapi justru itulah yang membuat masalah semakin rumit, ah rumit untukku, sedang mereka pasti tengah menikmatinya.
Fatiyya mendesah.
"Lalu sekarang apa yang akan Mbak lakukan?"
Aku terdiam. Sepertinya aku harus bekerja untuk memenuhi kebutuhanku sendiri. Entah, bagaimana hidupku ke depan. Konon melepaskan apa yang kita miliki untuk kembali ke jalan Tuhan itu sangat sulit, tidak semudah teori seorang penjual obat ketika menawarkan dagangan mereka.
"Mbak."
"Ohya." Aku tersentak.
"Ya, sudah. Mbak pasti lelah. Tidur saja dulu. Besok kita bahas lagi ya. Untuk sekarang sebagai saudara sesama muslim saya ada untuk Mbak. Akan menguatkan Mbak saat Mbak mantap berhijrah."
"Berhijrah?"
"Mbak mau hijrah 'kan?"
"Ah. Oh ya. Tentu saja." Aku menjawab dengan miris. Miris pada diriku sendiri. Tentu aku akan berhijrah, secepat yang aku bisa.
Fatiyya tersenyum. Wanita hamil itu meninggalkanku ke luar kamar. Pembicaraan dengannya membuatku semakin mantap, bahwa semua kesalahan ini harus diakhiri.
Membuka ponsel, banyak panggilan dan chat dari papa juga sahabat dekat yang sudah menghancurkan kepercayaanku. Tak kuhiraukan. 'Kalian harus menanggung akibatnya.'
___________
Saat keluar kamar Fatiyya sudah menyambut di depan pintu.
"Wah, MaasyaAllah ... cantik sekali." Wanita anggun itu seperti takjub melihatku yang baru pertama mengenakan pakaian seperti dirinya.
Aku jadi malu sendiri.
Setelah makan wanita itu mengantarkanku ke kampus. Walau bagaimana aku harus tetap menyelesaikan pendidikanku, jika perlu aku akan bekerja paruh waktu tanpa bergantung pada papa lagi.
"Bagaimana perasaan Mbak?"
"Alhamdulillah lebih tenang."
"Alhamdulillah. Oya, Mas Fathan ...." Fatiyya yang tengah menyetir mengucap ragu.
"Ada dengan Pak Fathan?"
"Oh, tidak. Biar dia sendiri nanti yang bilang." Wanita itu tersenyum. Akhirnya Fatiyya urung meneruskan ucapannya. Duh, gadis ini buatku penasaran saja.
Sampai di parkiran kampus, Fatiyya berpamitan dan melakukan meninggalkan tempat di mana aku berdiri.
"Njel!"
Rahel datang menghampiri, entah dari mana anak itu datang. Gemar sekali mengageti.
"Duh, Hel. Lagi-lagi!"
"Iya, maap lo pasti mau bilang kalau lo belum nikah 'kan."
Aku mencebik.
"Lo pake baju kunti gini? Sarap lo Njel?" Rahel melihat pakaian yang kukenakan dari ujung kepala hingga kaki, lalu melihat mobil yang tadi meninggalkanku.
"Siapa dia Njel? Bahaya keknya dia yang nularin virus ke lo."
Kuputar mata malas. Melangkah meninggalkan gadis itu yang terbengong penampilanku dan Fatiyya. Ia pasti sempat melihat Fatiyya tadi.
Tak lama ia sudah ada di sampingku jalan bersisian.
"Oya, lo lihat Tasya?"
"Dia belum datang, Njel. Kok lo berubah gini sih, Njel. Bubar dong geng kita yang segani banyak warga kampus ini," protes Rahel lagi. Ia terus berusaha mengimbangi langkahku.
Tadinya aku ingin menceritakan tentang Tasya dan papa. Tapi mengingat ucapan Fatiyya tentang aib keluarga, aku urung melakukannya.
"Njel. Lo denger gue?"
Kuhentikan langkah, memegangi dua pundak gadis itu. Mata kami bertemu, berusaha mengucap dari hati.
"Maaf Hel. Tapi ini adalah jalan terbaik yang gue temukan. Gue harap lo sebagai sahabat yang gue sayangi, mau bareng gue ... ber ... em ... ber ...."
Rahel mengerutkan dahi. Duh, kenapa aku lupa istilah yang Fatiyya katakan tadi malam.
"Ber ... apa?"
"Berhijrah maksudnya." Seseorang menyahut obrolan kami.
Ketika kami menoleh Aqila dan dua temannya sudah ada di sana.
"Iya, Njel?" Pandangan Rahel kini beralih padaku, memastikan apa yang Aqila katakan. Ck
"Ini ya itu. Hehe. Maap gue gak hapal istilahnya."
Ck. Aku cuma bisa nyengir. 'OMG Njel, lo kurang persiapan sampe-sampe menjatuhkan harga diri.'
Ah, apa pentingnya harga diri saat orang buruk ini ingin benar-benar berubah dan berharap Tuhan mau menerimanya.
"MaasyaAllah kamu cantik, Njel." Aqila memuji dengan tulus.
Kenapa mereka semua hari ini membuatku malu saja. Pujian itu membuatku melayang, mungkin ini yang kata orang bisa buat lupa diri.
Aku tersenyum, berusaha bersikap biasa-biasa saja. "Terimakasih."
"Semoga istiqomah ya," sambung Aqila. Dan diaminkan semua yang ada di sana kecuali Rahel, ia bergeming. Aku bisa memahaminya.
Tidak lama teman Aqila yang juga berjilbab lebar menghampiri kami. Lebih tepatnya menghampiri Aqila yang tengah bersama kami.
"La ... La ... Pak Fathan sudah datang."
"Oya?" Aqila menyahut cepat.
"Pak Fathan? Ada apa?" tanyaku yang mendadak "kepo" akut mendengar nama pria itu.
"Kamu belum tau Njel?" jawab salah seorang gadis berjilbab lebar yang juga merupakan pertanyaan. Hal paling tak kusuka. Pertanyaan dijawab pertanyaan.
Aku mengerutkan dahi.
"Aqila dijodohkan abinya dengan Pak Fathan."
"A-ap-pa?" tanyaku tak percaya.
BERSAMBUNG
-------
#AHLAN_WA_SAHLAN_ANGELINE 14
#HaninHumayro_Wafa_Farha
Bidadarikukah itu?
Aku mendekati kerumunan wanita berhijab di koridor fakultas ekonomi. Ingin memastikan bahwa yang kulihat adalah nyata. Angelina berhijab.
Di tiga puluh langkah menuju tempat kelompok wanita yang tengah heboh itu, ayunan kaki terhenti. Di sana ada Aqila bersama dengan Angeline. Kala tatap ini beradu, nyata ada binar redup di sana.
Maaf ....
Kata yang ingin kuucap, tetapi tak pernah terjadi. Aku tahu besar pengharapan gadis itu. Apakah daya hati ini tak bisa diletakkan di sana karena sudah ada yang mencurinya.
Lepas memalingkan muka, Aqila berlalu. Ia berjalan tanpa menghiraukan panggilan teman-temannya.
Rasa bersalah seketika masuk ke celah hatiku. Kali kesekian meluruhkan asa seorang wanita.
Lepas tak terlihat lagi sosok itu, aku menghampiri gadis yang baru saja memenuhi seruan Allah.
"Assalamualaikum. Ahlan wa sahlan, Angeline."
Lancar, kuucapkan sambutan terhangat untuk dia yang tengah salah tingkah.
"Aku ke sana dulu ya, Njel."
Seperti mengerti arti kehadiranku di sini, teman Angeline undur diri. Gadis itu pun tak berniat mencegahnya. Ingin bicara denganku mungkin.
Betapa tak terlukis perasaanku saat ini. Pendar asa itu makin menguar. Bilakah berjalin takdir kami?
"Waalaikumsalam, Pak. Terima kasih."
"Semoga istiqomah."
Kami menepi ke pinggir koridor yang dibentuk sebagai tempat duduk. Lalu lalang mahasiswi menjadi pemandangan memusingkan dari sini. Sesekali membalas sapaan orang-orang yang menyempatkan diri menyapa. Wajarlah ramai ini kan tempat umum. Tak mungkin aku dan Angeline berduaan di tempat sepi kan?
Meski kami duduk berjauhan di tempat tak sepi tetap saja canggung itu menyerang. Gugup tiba-tiba bertandang. Seperti inikah kondisi seseorang bila berhadapan dengan pencuri hatinya? Bagaimana cara mengambil kembali apa yang telah ia sembunyikan di dalam sana?
"Apa Aqila tak apa kalau Bapak bicara dengan saya?"
Aku menoleh mendengar perkataannya barusan. Apa yang dia tahu soal Aqila?
"Aqila? Memangnya kenapa?"
Kini dia yang gantian kaget.
"Kan Bapak tunangan Aqila?"
Kali ini aku benar-benar kaget. Kok bisa informasi itu tersebar?
"Oh, itu. Kami tidak berjodoh. Dia harusnya mendapat pria yang lebih baik dariku."
Angeline memiringkan wajah, dahinya berkerut.
"Kami tidak ada hubungan apapun."
"Ooh!"
Entah itu ungkapan kelegaan atau terpuaskannya rasa penasaran? Yang pasti aku menangkap saru senyum meski itu sekilas.
Apa kamu tadi cemburu?
Lalu, tak ada yang bicara lagi hingga kami terpisahkan waktu. Aku mengajar, ia kembali kuliah.
***
"Hari ini kita akan mengajukan gugatan atas kepemilikan resmi tanah ini. Semua sertifikat sudah ada tinggal mencocokkan dengan data di badan pertanahan tingkat provinsi."
Aku menginformasikan perkembangan upaya penentangan penggusuran lahan pada forum inti. Abi menyerahkan komando di tanganku. Anak muda lebih kuat katanya. Baiklah, demi kemaslahatan umat, aku maju.
"Bagaimana dengan upaya viralisasi di media sosial untuk menggalang dukungan umat dalam penghentian kezoliman?" tanya Husen, salah satu pengurus pergerakan ini.
"Insya Allah on proses. Mas Ghoni silakan disampaikan perkembangan strategi udara kita."
Mas Ghoni menyampaikan perkembangan yang cukup melegakan dada. Dukungan dari masyarakat senusantara mengalir. Mereka memberi support agar kita tak menyerah melawan kezoliman. Bahkan dengan sukarela ikut memviralkan kondisi di sini.
Kami bermain di media sosial sebab tak bisa mengharapkan media maenstream. Pengusaha dan pejabat yang berselingkuh itu sanggup merogoh kocek untuk membungkam mereka. Sementara medsos, siapa yang sanggup menahannya? Kecuali dilakukan blokir sebagai upaya pembungkaman sikap kritis masyarakat terhadap kezaliman.
Dirancang juga aksi mobilisasi massa ke kantor gubernur dan DPRD untuk meminta mereka memperhatikan nasib rakyat. Kami akan mengingatkan kepada mereka bahwa pemimpin tugas utamanya adalah mengurus dan melindungi rakyat, bukan malah berpihak pada pengusaha hitam.
Dari informasi yang ada, pejabat yang meng-acc penggusuran ini adalah Joko Purnomo.
Lepas rapat kepala langsung cenat-cenut. Rasanya ingin merebahkan diri barang sebentar, tapi tak bisa sebab harus segera menangani masalah LDK yang makin ditekan oleh pihak kampus.
Sepertinya masalah tak ada beresnya.
Untung masalah Angeline sudah ada solusinya. Sekarang dia tinggal di kost dekat Aqila dan ikut kajian di rumah binaan An Nahdhoh. Masalahnya suami Fatiya sudah pulang dari luar kota. Tak pantaslah ada gadis asing tinggal serumah dengan pria non mahrom.
Fatiya pernah menyarankan langsung saja lamar dia. Bukan tak mau sebenarnya, hanya kondisi belum tepat. Angeline baru saja ribut dengan ayahnya. Kalau maju sekarang sama saja cari perkara.
Ngomong-ngomong siapa ayah Angeline?
Nantilah kucari tahu di data mahasiswi. Belum sempat saat ini.
Ya, Allah. Kiranya ujian ini begitu berat. Ringankanlah Rabb!
Belum sempat terpejam mata ini, deringan telpon memaksa netra yang sudah menyabit, bulat kembali.
"Oke, saya ke sana!"
Innalillahi, Bang Ridwan dianiaya orang. Ternyata mereka sudah main fisik.
Mengindahkan migren yang menyiksa, aku berlari menuju motor. Umi sampai terbengong-bengong melihat sikap putranya yang baru saja pulang sudah kabur lagi.
Meski kepala rasa dibebani batu, tetap harus pergi.
"Hati-hati!"
Masih terdengar teriakan umi sebelum motor ini melesat membelah jalanan.
Lima belas menit sampai diklinik tempat bang Ridwan dirawat. Kepala makin berputar-putar mendengar kronologj penganiayaan itu. Meski tak ada bukti, disinyalir itu suruhan pihak yang bersengketa dengan kami.
Kejadian penganiayaam Ridwan memciutkan nyali beberapa anggota tim. Khawatir bernasib sama mungkin. Agar ini tak mengguncangkan mental yang lain aku harus memberi motivasi pada mereka.
"Maut, rezeki juga musibah itu datangnya dari Allah. Berjuang atau tidak berjuang tetap akan mati. Yang harus menjadi fokus kita adalah apa yang akan kita bawa saat mati, bukan matinya itu sendiri."
Kukumpulkan tim inti pergerakan ini. Mereka dulu yang harus diberi suntikan motivasi.
"Tak ada ceritanya kezaliman itu tidak tumbang. Hanya waktu hancurnya saja yang berbeda antara satu orang zalim dengan lainnya. Tak ada yang sulit jika sudah Allah per-mudah. Kalau kita diam atau mundur maka kezaliman akan makin merajalela. Jadi selama belum bercerai raga dengan nyawa, kebenaran tetap harus diperjuangkan. "
Tampak binar di wajah-wajah itu menguar kembali. Takut yang sempat menganggu nyali terusir seketika.
Kekuatan mental mereka tak boleh pupus sebab minggu depan kami akan memulai aksi ke kantor DPRD lanjut kantor gubernur. Cara ini harus ditempuh karena walikota tak merespon gugatan warga.
***
Lepas mengajar aku langsung menuju parkiran. Hari ini ada rapat koordinasi terkait aksi warga menolak penggusuran.
Dari kejauhan aku melihat di gerbang utama tampaknya ada kegaduhan. Tertuntun penasaran kualihkan langkah menuju tempat itu.
Makin dekat, makin jelas apa yang terjadi di sana.
Angeline bertengkar dengan dua orang pria berbadan besar. Ada sedan mewah terparkir sembarang di samping mereka.
"Ada apa ini?"
Kuhampiri aksi adu mulut itu.
"Pak Fathan. Tolong saya. Bilang pada mereka saya gak mau pulang."
Angeline berjalan ke arah belakangku. Seolah minta perlindungan.
"Non, tolonglah nanti Tuan Joko marah pada kami. Pulanglah, Non."
Apa aku tak salah dengar. Tuan Joko? Apa ayah Angel itu?
"Kailan pergilah biar saya yang bujuk."
Melihat kekukuhan Angeline aku mencoba menengarai konflik tersebut. Dua pria tinggi besar itu mengangguk hormat pada nona mereka, lalu pergi.
Lepas dua pria itu menghilang dari pandangan, kami berjalan bersisian. Tak ingin memulai pembicaraan, kubiarkan langkah diiringj kesunyian.
"Saya gak mau pulang, Pak. Saya gak menyangka Papa dan temanku serusak itu. Mereka pasangan haram."
Miris, Aku mendengar curahan hati gadis di sampingnya. Terbayang kebobrokan kehidupan buruk saat ini. Perzinahan seakan lumrah. Bukan rahasia lagi banyak mahasisiwi yang menjadi ayam kampus demi mendongkrak gaya hidup. Liberalisme sukses menjadikan free sex sebagai aktivitas biasa di antara mereka.
Kami berhenti di gerbang parkiran. Angeline memberanikan diri menatapku Aku sejenak khawatir dia memeluk seperti waktu itu.
Kaca-kaca sudah menghiasi kelopak lentik di depan sana. Dia seperti menahan diri dari beban yang mungkin hampir meledak di dalam sana.
"Papa saya jahat. Tolong jangan minta saya kembali ke sana. Apa tawaran bapak untuk membimbing saya hijrah masih berlaku?"
MAU NEXT ?
-------
#Ahlan_Wa_Sahlan_Angeline
(15)
#by_WafaHanin
Tidak lama sosok yang baru saja membuat hatiku nyeri datang, tapi aneh dengan sikap Aqila kenapa ia malah buru-buru pergi? Seperti ada yang tidak beres atau memang seperti itu taaruf dalam Islam. OMG aku benar-benar awam, bahkan karena ini saja aku sudah bingung menafsirkannya.
Langkah Pak Fathan semakin dekat, membuat sesuatu di dalam dada makin tak karuan.
"Assalamualaikum. Ahlan Wa Sahlan Angeline." Pria yang sekali terlihat bijak dan tampan itu mengucapnya untukku. Hati ini berdesir.
"Waalaikumsalam." Kenapa aku jadi gugup lagi begini?
"Semoga istiqomah," sambungnya lagi.
"Terimakasih. Pak." Rasanya senyumku tengah tertahan karena malu.
"Em, Njel. Gue ke sana dulu ya." Rahel membuatku tersentak, aku sampai lupa ada gadis itu bersamaku.
Kini kami merasa hanya berdua walaupun di tempat ramai seperti sekarang. Pak Fathan mengambil posisi duduk, sepertinya ada yang ingin ia katakan. Mungkin permintaan maaf karena ia sudah memilih Aqila dan membatalkan niatnya membimbingku berhijrah. Terang saja, mana ada wanita yang rela pasangannya dekat dengan wanita lain, apalagi jika kenyataannya aku menyimpan perasaan yang sudah terlanjur dalam pada dosenku ini.
"Em, Pak. Apa Aqila gak papa kita bicara seperti ini?" Lebih dulu kupertegas apa yang kupikirkan adalah benar, sebelum perasaan bersalah mengganggu.
"Am, Aqila? Memangnya kenapa?" Duh pura-pura gak paham lagi.
"Bukannya Bapak dan Aqila bertunangan?" tanyaku tanpa berbasa-basi.
Kulihat dahi Pak Fathan berkerut. Diam sesaat, menit kemudian menyahut, "Kami tidak berjodoh. Dia pantas mendapatkan pria yang lebih baik dariku."
"Oooh." Rasanya senang sekali. Aku seperti baru saja menang lotre mendengar jawaban Pak Fathan. Bahagia dan berbunga-bunga, artinya kesempatan dekat dengan Pak Fathan masih terbuka lebar. Karena ini perasaan canggung tiba-tiba kembali melanda. Duh, Pak ayo kita nikah aja. Jangan lama-lama rasanya tak sabar melepas semua perasaan ini.
________
Di kostan yang Pak Fathan carikan -karena terpaksa pindah ke mari lantaran suami Fatiyya datang- sebelum mandi kusempatkan membuka ponsel, barangkali ada pesan masuk. Benar, yang kupikirkan. Ada banyak chat dan panggilan lebih banyak dari biasa.
Chat dari papa dan Tasya tidak kubuka.malas saja. Paling isinya hanya permintaan maaf setelah khilaf berbuat. Basi. Besok juga diulangi lagi.
'Lo beruntung Sya. Di saat gue marah ke lo, saat ini gue udah memilih hijrah, belajar jadi baik.'
Ada satu chat yang membuat fokusku terganggu, dari Kak Adam, saudaraku yang memilih merantau ke Kalimantan karena ulah papa. Sesak setiap ingat itu. Kalau saja bukan karena nasihatnya aku sudah kabur sejak lama meninggalkan papa yang selalu sibuk dan ... seorang pejabat yang main ayam kampus, duh. Memalukan.
[Njel. Kamu di mana? Kalau kabur harus lihat sikon. Jangan sembarangan tinggal di rumah temanmu.]
[Kamu pasti gak bawa ATM dan kartu kredit kan?]
Chat itu masuk satu jam lalu.
Benar tak ada yang kubawa, hanya ponsel ini. Kak Adam sudah tahu apa yang terjadi, pasti papa yang menghubungi. Lelaki tua itu memang memiliki tipikal tidak suka menyerah sebelum apa yang inginkan dapat diraih. Untunglah aku ada di sini aku yakin pasti aman.
Usai jam kuliah aku berinisiatif mampir ke minimarket sebelum pulang ke indekost, berniat mencari makanan kecil di minimarket. Kudapatkan uang dari Rahel, gadis itu yang mendengar kisahku menjadi iba dan memberikan beberapa lembar uang merah, sesuatu yang belum pernah kudapat sebelumnya.
Keluar dari minimarket dua orang terlihat mencurigakan, melihat padaku berkali-kali. Dari kejauhan aku sulit mengenali wajah mereka. Buru-buru kupercepat langkah menuju rumah Fatiyya.
"Non ...!" seru salah salah seorang dari duaorang yang mengejar.
Mereka berlari di belakangku.
Setelah memindai beberapa kali memindai, sepertinya mereka adalah bodyguard papa. Ya ampun, aku sudah berganti pakaian begini, tapi mereka masih mengenali.
Sayang sekali, aku yang merasa sudah berlari cepat, kalah cepat dengan mereka hingga sudah ada di sampingku. Otomatis kutepis tangan mereka yang berusaha meraih lengan.
Melihat sedan mewah yang mengikuti pelan dan parkir dekat kami, bisa ku pastikan mereka anak buah papa.
Tentu saja aku berontak pada dua orang pria berbadan besar itu.
"Ada apa ini?"
Suara berat seorang pria menghentikan aktivitas kami.
Syukur, yang datang Pal Fathan, malaikat penolong yang sudah membantuku kesekian kali.
"Pak Fathan. Tolong saya. Bilang pada mereka saya gak mau pulang."
Aku berjalan ke belakang Pak Fathan. Meminta perlindungan.
"Non, tolonglah nanti Tuan Joko marah pada kami. Pulanglah, Non."
"Kalian pergilah biar saya yang bujuk."
Melihat kekukuhanku, Pak Fathan menengarai konflik tersebut. Dua pria tinggi besar itu mengangguk hormat padaku, lalu pergi.
Lepas dua pria itu menghilang dari pandangan, kami berjalan bersisian. Langkah kami diiringi kesunyian, entah kenapa rasanya kelu, tapi juga lega bisa lepas dari pengawal papa.
"Saya gak mau pulang, Pak. Saya gak menyangka Papa dan temanku serusak itu. Mereka pasangan haram." Keluar juga apa yang sedari tadi ku tahan di hati.
Pak Fathan berhenti, diikuti langkahku yang mensejajarinya tadi.
Aku menahan rasa sakit ini, dan berharap ia mengerti. Mata itu memandangi dengan iba. Mungkin sekaranglah aku meminta dengan terus terang dan serius.
"Tentang tawaran Bapak membimbing saya berhijrah apakah masih berlaku?"
Pak Fathan diam sejenak, apa dia syok mendengar pertanyaanku? Apa aku terlalu agresif?
Pria itu terlihat mengatur napas.
"Insya Allah, jika kamu bersedia, saya akan berada di sampingmu. Bukan hanya sekarang, tapi selamanya.
Ya Tuhan. Jawaban itu membuatku melayang jauh. Merasa aman seketika karena seseorang akan mendukung dan membelaku meniti jalan kebaikan ini.
Lelaki ini tersenyum, membuat hati yang di dalam sana semakin berbunga.
Di depan kost Pak Fathan berpamitan. Menyalakan motor yang tadi dituntunnya dari parkiran kampus karena menghindari duduk berboncengan denganku. Dia sangat menjaga soal itu. Meninggalkanku yang tengah dimabuk cintanya. Lega rasanya.
"Angeline."
Baru saja akan membuka pintu, suara lembut seseorang membuatku menoleh. Kaget. Suara itu berasal dari mulut mungil Tasya.
"El-lo ngapain di sini?!" Nada suaraku langsung tinggi, rasanya kemarahanku pada gadis yang pernah jadi sahabat sekaligus pengkhianat tidak bisa reda.
"Gu-gue mau ... minta maaf."
"Nggak perlu Sya. Pergilah! Gue gak butuh wanita murahan seperti kamu!"
Tasya yang sempat menunduk mendongak mendengar ucapanku.
"Wanita murahan?" tanyanya pelan.
"Apalagi kalau bukan murahan? Lagian kalau mau jual diri kenapa gak ke lain Sya? Kenapa harus papa gue?"
"Kenapa Njel? Di mana salahnya? Apa karena gue bareng papa lo otomatis gue hina? Lagian dia single, jadi bukan masalah gue dekat dengan dia. Dan ...." Setelah bicara berapi-api suara Tasya tertahan. Melihatnya membuatku menyipitkan mata padanya, menyelidik apa yang gadis itu maksudkan. Pasti ada yang tidak beres.
"Gu-gue ... gue hamil Njel."
"Apa?!" Pengakuan Tasya membuatku seperti disambar geledek.
Tasya menunduk dalam.
Aku masih melihatnya tak percaya. Merasa lelah, kutinggalkan gadis itu masuk, tapi baru saja memegang handle pintu Tasya menyergah. Tangan ini refleks menepis. Namun, siapa menyangka dua orang berbadan tingga besar sudah berdiri di belakangku.
"Kalian? Lepaskan!"
"Maaf, Non. Kami terpaksa membawa Non," ucapan salah seorang, memaksaku ikut bersama mereka.
Melawan tak ada gunanya, mereka terlalu kuat. Saat dua orang itu menyeretku ke mobil kulihat sekilas tadi Tasya masih memasang wajah rasa bersalah.
_____________
Papa berjalan dari lemari es lalu duduk di kursi seberang di mana aku duduk dengan dua orang menjaga di dua sisi. Memuakkan.
"Apa mau kamu?" Dengan santai papa membuka tutup minuman soda di tangannya, lalu meneguknya sekali.
"Papa yang maunya apa? Papa egois. Selama ini Angle sudah banyak diam melihat sikap papa. Selaku sibuk dan tak punya waktu ... juga bertindak semena-mena."
Pria paruh baya itu menghentakkan botol minumnya ke meja. Raut kesal jelas terukir di sana.
"Bicaramu seperti orang tidak berpendidikan Njel!"
Ia bangkit ke arahku.
"Apa karena ini?" Kasar papa menarik kerudung yang aku kenakan
"Papa jangan!" Hendak kurebut benda itu, tapi dua penjaga menahan pundak.
"Kamu sekarang aneh. Suka membangkang orang tua! Hal biasa jika papa berkencan! Tapi memakai pakaian teroris seperti ini membuat papa murka Angle!"
"Papa ... jangan!" teriakku dengan isak tertahan melihat pria itu menyulut api ke penutup kepala yang kugunakan.
Di sela drama ini ponselku berbunyi. Dengan cepat papa mengambilnya lalu mengutak-atiknya. "Lihat siapa bajingan-bajingan yang sudah mendoktrinmu!"
Wajahnya berubah seketika dengan mata melebar.
"Adam," ucap papa menekan. "Dia akan kembali."
Mas Adam akan pulang?
SELESAI
-------
(13)
#By_WafaHanin
Melihat pria itu turun dari motor seketika aku memeluknya, tidak peduli dengan orang di sekitar, aku bahkan lupa bahwa Pak Fathan sangat menjaga yang namanya sentuhan terhadap wanita.
Beberapa saat aku menangis di pelukan lelaki yang sudah mencuri hatiku itu, menumpahkan semua rasa sakit yang kubawa dari rumah karena ulah papa dan Tasya. Ya Tuhan ... sedamai ini rasanya, jika saja dada bidang ini selalu ada saat aku terpuruk seperti sekarang.
Belum juga puas dan tenang, Pak Fathan mendorong tubuhku yang memeluknya.
"Em, maaf tidak seharusnya kita seperti ini."
Ada apa dengannya? Penolakan kah ini?
"Em, maaf Pak."
"Ehm, ya tidak apa-apa."
Selanjutnya pria itu membawaku ke sebuah kantin terdekat memberikanku minum, katanya supaya aku merasa lebih tenang. Padahal mah cukup dia peluk aja tadi aku sudah sangat tenang.
"Apa tidak ada keluarga lain selain papamu?" Pak Fathan nampaknya ikut bingung melihat kondisiku.
"Em, mama ada sebenarnya. Tapi dia sedang berlibur ke Eropa. Di rumahnya ada dua laki-laki anak tirinya."
"Oh, jangan ... tidak boleh kalau begitu ke sana."
"Kenapa tidak boleh, Pak?"
"Em, karena akan jadi fitnah. Tidak ada nasab yang menghubungkan kalian." Pak Fathan serius menjelaskan. Ah aku mana tahu yang begituan. Dua saudara tiriku itu memang kerap menggoda. Tapi kupikir kami ini kan sekarang memiliki orang tua yang sama.
"Oh, begitu Pak. Sepertinya saya memang harus banyak belajar Islam."
"Iya, itu harus. Eh, bukan. Wajib malah."
"Iya, Pak. Bukannya Bapak kemaren bilang mau bersedia bimbing saya."
"Iya, soal itu. Akan aku pegang kata-kataku. Oya, selain mama kamu ...?"
"Ada kakak laki-laki saya, tapi sekarang dia ada di Kalimantan. Pergi dan membuka usaha di sana setelah diusir papa."
Pak Fathan menghela. Dia pasti tak menyangka bahwa ternyata keluargaku berantakan. Hal yang membuatku selalu mencari perhatian di luar rumah..
"Oke, aku paham sekarang."
Suasana hening beberapa saat. Kenapa disela kekalutan ada saja perasaan aneh yang kurasa saat bersama pria bijaksana ini.
Menit kemudian lelaki berparas tampan itu menghubungi seseorang melalui ponsel pintarnya. Kudengar ia menyebut nama Fatiyya. Pasti wanita sholehah itu yang dihubungi.
Tidak lama berselang sebuah mobil datang, benar saja adik Pak Fathan keluar dari sana.
Tanpa banyak basa-basi, dosen matkul Islamku itu meminta Fatiyya untuk menampungku sementara waktu.
_________
Di rumah Fatiyya, aku diberi tempat, makan dan perhatian dari wanita itu. Tentang banyak hal yang selama ini bahkan tidak pernah kuterima dari keluargaku.
Untunglah kami seusia hingga tak ada perasaan canggung saat membahas agama. Dengannya kuluahkan semua yang hatiku rasa.
Beberapa kali Fatiyya melebarkan mata dan geleng-geleng kepala tidak menyangka mendengar kisahku.
"Begitulah, Mbak. Kalau kita jauh dari Islam. Dalam agama kita semua hal sudah diatur, termasuk juga interakasi pria dan wanita. Harusnya teman Mbak itu tidak boleh bebas keluar masuk rumah Mbak. Apalagi sampai akrab dengan papanya Mbak."
"Iya, aku pikir tadinya mana mungkin papa yang sudah setua itu bisa menjalin hubungan dengan gadis usia 20an seperti Tasya." Kuhirup napas dalam, mencoba menetralisir rasa sakit yang belum jua sirna. Aku tahu niat mereka hanya main-main, sebatas kesenangan dan uang. Tapi justru itulah yang membuat masalah semakin rumit, ah rumit untukku, sedang mereka pasti tengah menikmatinya.
Fatiyya mendesah.
"Lalu sekarang apa yang akan Mbak lakukan?"
Aku terdiam. Sepertinya aku harus bekerja untuk memenuhi kebutuhanku sendiri. Entah, bagaimana hidupku ke depan. Konon melepaskan apa yang kita miliki untuk kembali ke jalan Tuhan itu sangat sulit, tidak semudah teori seorang penjual obat ketika menawarkan dagangan mereka.
"Mbak."
"Ohya." Aku tersentak.
"Ya, sudah. Mbak pasti lelah. Tidur saja dulu. Besok kita bahas lagi ya. Untuk sekarang sebagai saudara sesama muslim saya ada untuk Mbak. Akan menguatkan Mbak saat Mbak mantap berhijrah."
"Berhijrah?"
"Mbak mau hijrah 'kan?"
"Ah. Oh ya. Tentu saja." Aku menjawab dengan miris. Miris pada diriku sendiri. Tentu aku akan berhijrah, secepat yang aku bisa.
Fatiyya tersenyum. Wanita hamil itu meninggalkanku ke luar kamar. Pembicaraan dengannya membuatku semakin mantap, bahwa semua kesalahan ini harus diakhiri.
Membuka ponsel, banyak panggilan dan chat dari papa juga sahabat dekat yang sudah menghancurkan kepercayaanku. Tak kuhiraukan. 'Kalian harus menanggung akibatnya.'
___________
Saat keluar kamar Fatiyya sudah menyambut di depan pintu.
"Wah, MaasyaAllah ... cantik sekali." Wanita anggun itu seperti takjub melihatku yang baru pertama mengenakan pakaian seperti dirinya.
Aku jadi malu sendiri.
Setelah makan wanita itu mengantarkanku ke kampus. Walau bagaimana aku harus tetap menyelesaikan pendidikanku, jika perlu aku akan bekerja paruh waktu tanpa bergantung pada papa lagi.
"Bagaimana perasaan Mbak?"
"Alhamdulillah lebih tenang."
"Alhamdulillah. Oya, Mas Fathan ...." Fatiyya yang tengah menyetir mengucap ragu.
"Ada dengan Pak Fathan?"
"Oh, tidak. Biar dia sendiri nanti yang bilang." Wanita itu tersenyum. Akhirnya Fatiyya urung meneruskan ucapannya. Duh, gadis ini buatku penasaran saja.
Sampai di parkiran kampus, Fatiyya berpamitan dan melakukan meninggalkan tempat di mana aku berdiri.
"Njel!"
Rahel datang menghampiri, entah dari mana anak itu datang. Gemar sekali mengageti.
"Duh, Hel. Lagi-lagi!"
"Iya, maap lo pasti mau bilang kalau lo belum nikah 'kan."
Aku mencebik.
"Lo pake baju kunti gini? Sarap lo Njel?" Rahel melihat pakaian yang kukenakan dari ujung kepala hingga kaki, lalu melihat mobil yang tadi meninggalkanku.
"Siapa dia Njel? Bahaya keknya dia yang nularin virus ke lo."
Kuputar mata malas. Melangkah meninggalkan gadis itu yang terbengong penampilanku dan Fatiyya. Ia pasti sempat melihat Fatiyya tadi.
Tak lama ia sudah ada di sampingku jalan bersisian.
"Oya, lo lihat Tasya?"
"Dia belum datang, Njel. Kok lo berubah gini sih, Njel. Bubar dong geng kita yang segani banyak warga kampus ini," protes Rahel lagi. Ia terus berusaha mengimbangi langkahku.
Tadinya aku ingin menceritakan tentang Tasya dan papa. Tapi mengingat ucapan Fatiyya tentang aib keluarga, aku urung melakukannya.
"Njel. Lo denger gue?"
Kuhentikan langkah, memegangi dua pundak gadis itu. Mata kami bertemu, berusaha mengucap dari hati.
"Maaf Hel. Tapi ini adalah jalan terbaik yang gue temukan. Gue harap lo sebagai sahabat yang gue sayangi, mau bareng gue ... ber ... em ... ber ...."
Rahel mengerutkan dahi. Duh, kenapa aku lupa istilah yang Fatiyya katakan tadi malam.
"Ber ... apa?"
"Berhijrah maksudnya." Seseorang menyahut obrolan kami.
Ketika kami menoleh Aqila dan dua temannya sudah ada di sana.
"Iya, Njel?" Pandangan Rahel kini beralih padaku, memastikan apa yang Aqila katakan. Ck
"Ini ya itu. Hehe. Maap gue gak hapal istilahnya."
Ck. Aku cuma bisa nyengir. 'OMG Njel, lo kurang persiapan sampe-sampe menjatuhkan harga diri.'
Ah, apa pentingnya harga diri saat orang buruk ini ingin benar-benar berubah dan berharap Tuhan mau menerimanya.
"MaasyaAllah kamu cantik, Njel." Aqila memuji dengan tulus.
Kenapa mereka semua hari ini membuatku malu saja. Pujian itu membuatku melayang, mungkin ini yang kata orang bisa buat lupa diri.
Aku tersenyum, berusaha bersikap biasa-biasa saja. "Terimakasih."
"Semoga istiqomah ya," sambung Aqila. Dan diaminkan semua yang ada di sana kecuali Rahel, ia bergeming. Aku bisa memahaminya.
Tidak lama teman Aqila yang juga berjilbab lebar menghampiri kami. Lebih tepatnya menghampiri Aqila yang tengah bersama kami.
"La ... La ... Pak Fathan sudah datang."
"Oya?" Aqila menyahut cepat.
"Pak Fathan? Ada apa?" tanyaku yang mendadak "kepo" akut mendengar nama pria itu.
"Kamu belum tau Njel?" jawab salah seorang gadis berjilbab lebar yang juga merupakan pertanyaan. Hal paling tak kusuka. Pertanyaan dijawab pertanyaan.
Aku mengerutkan dahi.
"Aqila dijodohkan abinya dengan Pak Fathan."
"A-ap-pa?" tanyaku tak percaya.
BERSAMBUNG
-------
#HaninHumayro_Wafa_Farha
Bidadarikukah itu?
Aku mendekati kerumunan wanita berhijab di koridor fakultas ekonomi. Ingin memastikan bahwa yang kulihat adalah nyata. Angelina berhijab.
Di tiga puluh langkah menuju tempat kelompok wanita yang tengah heboh itu, ayunan kaki terhenti. Di sana ada Aqila bersama dengan Angeline. Kala tatap ini beradu, nyata ada binar redup di sana.
Maaf ....
Kata yang ingin kuucap, tetapi tak pernah terjadi. Aku tahu besar pengharapan gadis itu. Apakah daya hati ini tak bisa diletakkan di sana karena sudah ada yang mencurinya.
Lepas memalingkan muka, Aqila berlalu. Ia berjalan tanpa menghiraukan panggilan teman-temannya.
Rasa bersalah seketika masuk ke celah hatiku. Kali kesekian meluruhkan asa seorang wanita.
Lepas tak terlihat lagi sosok itu, aku menghampiri gadis yang baru saja memenuhi seruan Allah.
"Assalamualaikum. Ahlan wa sahlan, Angeline."
Lancar, kuucapkan sambutan terhangat untuk dia yang tengah salah tingkah.
"Aku ke sana dulu ya, Njel."
Seperti mengerti arti kehadiranku di sini, teman Angeline undur diri. Gadis itu pun tak berniat mencegahnya. Ingin bicara denganku mungkin.
Betapa tak terlukis perasaanku saat ini. Pendar asa itu makin menguar. Bilakah berjalin takdir kami?
"Waalaikumsalam, Pak. Terima kasih."
"Semoga istiqomah."
Kami menepi ke pinggir koridor yang dibentuk sebagai tempat duduk. Lalu lalang mahasiswi menjadi pemandangan memusingkan dari sini. Sesekali membalas sapaan orang-orang yang menyempatkan diri menyapa. Wajarlah ramai ini kan tempat umum. Tak mungkin aku dan Angeline berduaan di tempat sepi kan?
Meski kami duduk berjauhan di tempat tak sepi tetap saja canggung itu menyerang. Gugup tiba-tiba bertandang. Seperti inikah kondisi seseorang bila berhadapan dengan pencuri hatinya? Bagaimana cara mengambil kembali apa yang telah ia sembunyikan di dalam sana?
"Apa Aqila tak apa kalau Bapak bicara dengan saya?"
Aku menoleh mendengar perkataannya barusan. Apa yang dia tahu soal Aqila?
"Aqila? Memangnya kenapa?"
Kini dia yang gantian kaget.
"Kan Bapak tunangan Aqila?"
Kali ini aku benar-benar kaget. Kok bisa informasi itu tersebar?
"Oh, itu. Kami tidak berjodoh. Dia harusnya mendapat pria yang lebih baik dariku."
Angeline memiringkan wajah, dahinya berkerut.
"Kami tidak ada hubungan apapun."
"Ooh!"
Entah itu ungkapan kelegaan atau terpuaskannya rasa penasaran? Yang pasti aku menangkap saru senyum meski itu sekilas.
Apa kamu tadi cemburu?
Lalu, tak ada yang bicara lagi hingga kami terpisahkan waktu. Aku mengajar, ia kembali kuliah.
***
"Hari ini kita akan mengajukan gugatan atas kepemilikan resmi tanah ini. Semua sertifikat sudah ada tinggal mencocokkan dengan data di badan pertanahan tingkat provinsi."
Aku menginformasikan perkembangan upaya penentangan penggusuran lahan pada forum inti. Abi menyerahkan komando di tanganku. Anak muda lebih kuat katanya. Baiklah, demi kemaslahatan umat, aku maju.
"Bagaimana dengan upaya viralisasi di media sosial untuk menggalang dukungan umat dalam penghentian kezoliman?" tanya Husen, salah satu pengurus pergerakan ini.
"Insya Allah on proses. Mas Ghoni silakan disampaikan perkembangan strategi udara kita."
Mas Ghoni menyampaikan perkembangan yang cukup melegakan dada. Dukungan dari masyarakat senusantara mengalir. Mereka memberi support agar kita tak menyerah melawan kezoliman. Bahkan dengan sukarela ikut memviralkan kondisi di sini.
Kami bermain di media sosial sebab tak bisa mengharapkan media maenstream. Pengusaha dan pejabat yang berselingkuh itu sanggup merogoh kocek untuk membungkam mereka. Sementara medsos, siapa yang sanggup menahannya? Kecuali dilakukan blokir sebagai upaya pembungkaman sikap kritis masyarakat terhadap kezaliman.
Dirancang juga aksi mobilisasi massa ke kantor gubernur dan DPRD untuk meminta mereka memperhatikan nasib rakyat. Kami akan mengingatkan kepada mereka bahwa pemimpin tugas utamanya adalah mengurus dan melindungi rakyat, bukan malah berpihak pada pengusaha hitam.
Dari informasi yang ada, pejabat yang meng-acc penggusuran ini adalah Joko Purnomo.
Lepas rapat kepala langsung cenat-cenut. Rasanya ingin merebahkan diri barang sebentar, tapi tak bisa sebab harus segera menangani masalah LDK yang makin ditekan oleh pihak kampus.
Sepertinya masalah tak ada beresnya.
Untung masalah Angeline sudah ada solusinya. Sekarang dia tinggal di kost dekat Aqila dan ikut kajian di rumah binaan An Nahdhoh. Masalahnya suami Fatiya sudah pulang dari luar kota. Tak pantaslah ada gadis asing tinggal serumah dengan pria non mahrom.
Fatiya pernah menyarankan langsung saja lamar dia. Bukan tak mau sebenarnya, hanya kondisi belum tepat. Angeline baru saja ribut dengan ayahnya. Kalau maju sekarang sama saja cari perkara.
Ngomong-ngomong siapa ayah Angeline?
Nantilah kucari tahu di data mahasiswi. Belum sempat saat ini.
Ya, Allah. Kiranya ujian ini begitu berat. Ringankanlah Rabb!
Belum sempat terpejam mata ini, deringan telpon memaksa netra yang sudah menyabit, bulat kembali.
"Oke, saya ke sana!"
Innalillahi, Bang Ridwan dianiaya orang. Ternyata mereka sudah main fisik.
Mengindahkan migren yang menyiksa, aku berlari menuju motor. Umi sampai terbengong-bengong melihat sikap putranya yang baru saja pulang sudah kabur lagi.
Meski kepala rasa dibebani batu, tetap harus pergi.
"Hati-hati!"
Masih terdengar teriakan umi sebelum motor ini melesat membelah jalanan.
Lima belas menit sampai diklinik tempat bang Ridwan dirawat. Kepala makin berputar-putar mendengar kronologj penganiayaan itu. Meski tak ada bukti, disinyalir itu suruhan pihak yang bersengketa dengan kami.
Kejadian penganiayaam Ridwan memciutkan nyali beberapa anggota tim. Khawatir bernasib sama mungkin. Agar ini tak mengguncangkan mental yang lain aku harus memberi motivasi pada mereka.
"Maut, rezeki juga musibah itu datangnya dari Allah. Berjuang atau tidak berjuang tetap akan mati. Yang harus menjadi fokus kita adalah apa yang akan kita bawa saat mati, bukan matinya itu sendiri."
Kukumpulkan tim inti pergerakan ini. Mereka dulu yang harus diberi suntikan motivasi.
"Tak ada ceritanya kezaliman itu tidak tumbang. Hanya waktu hancurnya saja yang berbeda antara satu orang zalim dengan lainnya. Tak ada yang sulit jika sudah Allah per-mudah. Kalau kita diam atau mundur maka kezaliman akan makin merajalela. Jadi selama belum bercerai raga dengan nyawa, kebenaran tetap harus diperjuangkan. "
Tampak binar di wajah-wajah itu menguar kembali. Takut yang sempat menganggu nyali terusir seketika.
Kekuatan mental mereka tak boleh pupus sebab minggu depan kami akan memulai aksi ke kantor DPRD lanjut kantor gubernur. Cara ini harus ditempuh karena walikota tak merespon gugatan warga.
***
Lepas mengajar aku langsung menuju parkiran. Hari ini ada rapat koordinasi terkait aksi warga menolak penggusuran.
Dari kejauhan aku melihat di gerbang utama tampaknya ada kegaduhan. Tertuntun penasaran kualihkan langkah menuju tempat itu.
Makin dekat, makin jelas apa yang terjadi di sana.
Angeline bertengkar dengan dua orang pria berbadan besar. Ada sedan mewah terparkir sembarang di samping mereka.
"Ada apa ini?"
Kuhampiri aksi adu mulut itu.
"Pak Fathan. Tolong saya. Bilang pada mereka saya gak mau pulang."
Angeline berjalan ke arah belakangku. Seolah minta perlindungan.
"Non, tolonglah nanti Tuan Joko marah pada kami. Pulanglah, Non."
Apa aku tak salah dengar. Tuan Joko? Apa ayah Angel itu?
"Kailan pergilah biar saya yang bujuk."
Melihat kekukuhan Angeline aku mencoba menengarai konflik tersebut. Dua pria tinggi besar itu mengangguk hormat pada nona mereka, lalu pergi.
Lepas dua pria itu menghilang dari pandangan, kami berjalan bersisian. Tak ingin memulai pembicaraan, kubiarkan langkah diiringj kesunyian.
"Saya gak mau pulang, Pak. Saya gak menyangka Papa dan temanku serusak itu. Mereka pasangan haram."
Miris, Aku mendengar curahan hati gadis di sampingnya. Terbayang kebobrokan kehidupan buruk saat ini. Perzinahan seakan lumrah. Bukan rahasia lagi banyak mahasisiwi yang menjadi ayam kampus demi mendongkrak gaya hidup. Liberalisme sukses menjadikan free sex sebagai aktivitas biasa di antara mereka.
Kami berhenti di gerbang parkiran. Angeline memberanikan diri menatapku Aku sejenak khawatir dia memeluk seperti waktu itu.
Kaca-kaca sudah menghiasi kelopak lentik di depan sana. Dia seperti menahan diri dari beban yang mungkin hampir meledak di dalam sana.
"Papa saya jahat. Tolong jangan minta saya kembali ke sana. Apa tawaran bapak untuk membimbing saya hijrah masih berlaku?"
MAU NEXT ?
-------
#Ahlan_Wa_Sahlan_Angeline
(15)
#by_WafaHanin
Tidak lama sosok yang baru saja membuat hatiku nyeri datang, tapi aneh dengan sikap Aqila kenapa ia malah buru-buru pergi? Seperti ada yang tidak beres atau memang seperti itu taaruf dalam Islam. OMG aku benar-benar awam, bahkan karena ini saja aku sudah bingung menafsirkannya.
Langkah Pak Fathan semakin dekat, membuat sesuatu di dalam dada makin tak karuan.
"Assalamualaikum. Ahlan Wa Sahlan Angeline." Pria yang sekali terlihat bijak dan tampan itu mengucapnya untukku. Hati ini berdesir.
"Waalaikumsalam." Kenapa aku jadi gugup lagi begini?
"Semoga istiqomah," sambungnya lagi.
"Terimakasih. Pak." Rasanya senyumku tengah tertahan karena malu.
"Em, Njel. Gue ke sana dulu ya." Rahel membuatku tersentak, aku sampai lupa ada gadis itu bersamaku.
Kini kami merasa hanya berdua walaupun di tempat ramai seperti sekarang. Pak Fathan mengambil posisi duduk, sepertinya ada yang ingin ia katakan. Mungkin permintaan maaf karena ia sudah memilih Aqila dan membatalkan niatnya membimbingku berhijrah. Terang saja, mana ada wanita yang rela pasangannya dekat dengan wanita lain, apalagi jika kenyataannya aku menyimpan perasaan yang sudah terlanjur dalam pada dosenku ini.
"Em, Pak. Apa Aqila gak papa kita bicara seperti ini?" Lebih dulu kupertegas apa yang kupikirkan adalah benar, sebelum perasaan bersalah mengganggu.
"Am, Aqila? Memangnya kenapa?" Duh pura-pura gak paham lagi.
"Bukannya Bapak dan Aqila bertunangan?" tanyaku tanpa berbasa-basi.
Kulihat dahi Pak Fathan berkerut. Diam sesaat, menit kemudian menyahut, "Kami tidak berjodoh. Dia pantas mendapatkan pria yang lebih baik dariku."
"Oooh." Rasanya senang sekali. Aku seperti baru saja menang lotre mendengar jawaban Pak Fathan. Bahagia dan berbunga-bunga, artinya kesempatan dekat dengan Pak Fathan masih terbuka lebar. Karena ini perasaan canggung tiba-tiba kembali melanda. Duh, Pak ayo kita nikah aja. Jangan lama-lama rasanya tak sabar melepas semua perasaan ini.
________
Di kostan yang Pak Fathan carikan -karena terpaksa pindah ke mari lantaran suami Fatiyya datang- sebelum mandi kusempatkan membuka ponsel, barangkali ada pesan masuk. Benar, yang kupikirkan. Ada banyak chat dan panggilan lebih banyak dari biasa.
Chat dari papa dan Tasya tidak kubuka.malas saja. Paling isinya hanya permintaan maaf setelah khilaf berbuat. Basi. Besok juga diulangi lagi.
'Lo beruntung Sya. Di saat gue marah ke lo, saat ini gue udah memilih hijrah, belajar jadi baik.'
Ada satu chat yang membuat fokusku terganggu, dari Kak Adam, saudaraku yang memilih merantau ke Kalimantan karena ulah papa. Sesak setiap ingat itu. Kalau saja bukan karena nasihatnya aku sudah kabur sejak lama meninggalkan papa yang selalu sibuk dan ... seorang pejabat yang main ayam kampus, duh. Memalukan.
[Njel. Kamu di mana? Kalau kabur harus lihat sikon. Jangan sembarangan tinggal di rumah temanmu.]
[Kamu pasti gak bawa ATM dan kartu kredit kan?]
Chat itu masuk satu jam lalu.
Benar tak ada yang kubawa, hanya ponsel ini. Kak Adam sudah tahu apa yang terjadi, pasti papa yang menghubungi. Lelaki tua itu memang memiliki tipikal tidak suka menyerah sebelum apa yang inginkan dapat diraih. Untunglah aku ada di sini aku yakin pasti aman.
Usai jam kuliah aku berinisiatif mampir ke minimarket sebelum pulang ke indekost, berniat mencari makanan kecil di minimarket. Kudapatkan uang dari Rahel, gadis itu yang mendengar kisahku menjadi iba dan memberikan beberapa lembar uang merah, sesuatu yang belum pernah kudapat sebelumnya.
Keluar dari minimarket dua orang terlihat mencurigakan, melihat padaku berkali-kali. Dari kejauhan aku sulit mengenali wajah mereka. Buru-buru kupercepat langkah menuju rumah Fatiyya.
"Non ...!" seru salah salah seorang dari duaorang yang mengejar.
Mereka berlari di belakangku.
Setelah memindai beberapa kali memindai, sepertinya mereka adalah bodyguard papa. Ya ampun, aku sudah berganti pakaian begini, tapi mereka masih mengenali.
Sayang sekali, aku yang merasa sudah berlari cepat, kalah cepat dengan mereka hingga sudah ada di sampingku. Otomatis kutepis tangan mereka yang berusaha meraih lengan.
Melihat sedan mewah yang mengikuti pelan dan parkir dekat kami, bisa ku pastikan mereka anak buah papa.
Tentu saja aku berontak pada dua orang pria berbadan besar itu.
"Ada apa ini?"
Suara berat seorang pria menghentikan aktivitas kami.
Syukur, yang datang Pal Fathan, malaikat penolong yang sudah membantuku kesekian kali.
"Pak Fathan. Tolong saya. Bilang pada mereka saya gak mau pulang."
Aku berjalan ke belakang Pak Fathan. Meminta perlindungan.
"Non, tolonglah nanti Tuan Joko marah pada kami. Pulanglah, Non."
"Kalian pergilah biar saya yang bujuk."
Melihat kekukuhanku, Pak Fathan menengarai konflik tersebut. Dua pria tinggi besar itu mengangguk hormat padaku, lalu pergi.
Lepas dua pria itu menghilang dari pandangan, kami berjalan bersisian. Langkah kami diiringi kesunyian, entah kenapa rasanya kelu, tapi juga lega bisa lepas dari pengawal papa.
"Saya gak mau pulang, Pak. Saya gak menyangka Papa dan temanku serusak itu. Mereka pasangan haram." Keluar juga apa yang sedari tadi ku tahan di hati.
Pak Fathan berhenti, diikuti langkahku yang mensejajarinya tadi.
Aku menahan rasa sakit ini, dan berharap ia mengerti. Mata itu memandangi dengan iba. Mungkin sekaranglah aku meminta dengan terus terang dan serius.
"Tentang tawaran Bapak membimbing saya berhijrah apakah masih berlaku?"
Pak Fathan diam sejenak, apa dia syok mendengar pertanyaanku? Apa aku terlalu agresif?
Pria itu terlihat mengatur napas.
"Insya Allah, jika kamu bersedia, saya akan berada di sampingmu. Bukan hanya sekarang, tapi selamanya.
Ya Tuhan. Jawaban itu membuatku melayang jauh. Merasa aman seketika karena seseorang akan mendukung dan membelaku meniti jalan kebaikan ini.
Lelaki ini tersenyum, membuat hati yang di dalam sana semakin berbunga.
Di depan kost Pak Fathan berpamitan. Menyalakan motor yang tadi dituntunnya dari parkiran kampus karena menghindari duduk berboncengan denganku. Dia sangat menjaga soal itu. Meninggalkanku yang tengah dimabuk cintanya. Lega rasanya.
"Angeline."
Baru saja akan membuka pintu, suara lembut seseorang membuatku menoleh. Kaget. Suara itu berasal dari mulut mungil Tasya.
"El-lo ngapain di sini?!" Nada suaraku langsung tinggi, rasanya kemarahanku pada gadis yang pernah jadi sahabat sekaligus pengkhianat tidak bisa reda.
"Gu-gue mau ... minta maaf."
"Nggak perlu Sya. Pergilah! Gue gak butuh wanita murahan seperti kamu!"
Tasya yang sempat menunduk mendongak mendengar ucapanku.
"Wanita murahan?" tanyanya pelan.
"Apalagi kalau bukan murahan? Lagian kalau mau jual diri kenapa gak ke lain Sya? Kenapa harus papa gue?"
"Kenapa Njel? Di mana salahnya? Apa karena gue bareng papa lo otomatis gue hina? Lagian dia single, jadi bukan masalah gue dekat dengan dia. Dan ...." Setelah bicara berapi-api suara Tasya tertahan. Melihatnya membuatku menyipitkan mata padanya, menyelidik apa yang gadis itu maksudkan. Pasti ada yang tidak beres.
"Gu-gue ... gue hamil Njel."
"Apa?!" Pengakuan Tasya membuatku seperti disambar geledek.
Tasya menunduk dalam.
Aku masih melihatnya tak percaya. Merasa lelah, kutinggalkan gadis itu masuk, tapi baru saja memegang handle pintu Tasya menyergah. Tangan ini refleks menepis. Namun, siapa menyangka dua orang berbadan tingga besar sudah berdiri di belakangku.
"Kalian? Lepaskan!"
"Maaf, Non. Kami terpaksa membawa Non," ucapan salah seorang, memaksaku ikut bersama mereka.
Melawan tak ada gunanya, mereka terlalu kuat. Saat dua orang itu menyeretku ke mobil kulihat sekilas tadi Tasya masih memasang wajah rasa bersalah.
_____________
Papa berjalan dari lemari es lalu duduk di kursi seberang di mana aku duduk dengan dua orang menjaga di dua sisi. Memuakkan.
"Apa mau kamu?" Dengan santai papa membuka tutup minuman soda di tangannya, lalu meneguknya sekali.
"Papa yang maunya apa? Papa egois. Selama ini Angle sudah banyak diam melihat sikap papa. Selaku sibuk dan tak punya waktu ... juga bertindak semena-mena."
Pria paruh baya itu menghentakkan botol minumnya ke meja. Raut kesal jelas terukir di sana.
"Bicaramu seperti orang tidak berpendidikan Njel!"
Ia bangkit ke arahku.
"Apa karena ini?" Kasar papa menarik kerudung yang aku kenakan
"Papa jangan!" Hendak kurebut benda itu, tapi dua penjaga menahan pundak.
"Kamu sekarang aneh. Suka membangkang orang tua! Hal biasa jika papa berkencan! Tapi memakai pakaian teroris seperti ini membuat papa murka Angle!"
"Papa ... jangan!" teriakku dengan isak tertahan melihat pria itu menyulut api ke penutup kepala yang kugunakan.
Di sela drama ini ponselku berbunyi. Dengan cepat papa mengambilnya lalu mengutak-atiknya. "Lihat siapa bajingan-bajingan yang sudah mendoktrinmu!"
Wajahnya berubah seketika dengan mata melebar.
"Adam," ucap papa menekan. "Dia akan kembali."
Mas Adam akan pulang?
SELESAI
-------
BULAN MADU ANGELINE
"Sah?" Kak Adam bertanya pada meraka yang menjadi saksi pernikahan kami.
"Saaah!"
Semua orang menjawab bersamaan. Sedang aku lagi-lagi menangis tanpa sadar. Ini sangat membahagiakan.
Rahel dan Tasya mengusap punggungku karena tahu apa yang kurasa.
Lalu Kak Adam meminta agar aku mencium tangan Pak Fathan hingga punggung tangan pria itu basah.Tak lupa nasehatnya, agar aku jadi istri yang baik buat Pak Fathan.
Kak Adam is 'The Best.'
Semua orang mengucap selamat dan memberi doa terbaik untuk kami. Begitu juga Rahel dan Tasya, dua gadis itu memelukku bergantian.
"Huaaah Angle, gue gak nyangka ternyata ini akhir dari petualangan kita." Rahel menumpahkan airmatanya.
Anak ini ada-ada saja. Tidak mudah memang berpisah ketika kita sedang akrab-akrabnya. Setelah ini tentu saja waktu kumpul bersama mereka tidak seintens dulu, ditambah setelah menikah aku berniat menyisihkan waktu untuk memperdalam agama.
"Lo, gimana sih, Hel. Orang lagi bersuka cita kok malah nangis," protes Tasya. "Minggir, ah! Gantian. Gue juga mau meluk pengantinnya."
Rahel menarik tubuh dengan memanyunkan mulutnya.
_________________
Dengan beberapa pertimbangan, aku dan Pak Fathan memilih ke luar kota selama satu bulan. Menghindari papa dan ... itung-itung bulan madu.
Untuk beberapa alasan, kami memilih naik kereta.
Dan kereta berangkat keesokan paginya, dengan perasaan lega mengikuti pria yang sudah menghalalkanku itu. Sepanjang jalan kami berpegangan tangan. Beberapa kali pria itu mencuri ciuman dari pandangan orang-orang dalam gerbong, membuatku malu sendiri karenanya, seolah ia sangat menginginiku. Semua terasa sempurna, seolah Kamilah pasangan paling bahagia di dunia ini.
Sampai di stasiun kota tujuan, rupanya orang suruhan Kak Adam sudah menunggu. Mobil tersebut akan membawa kami ke villa yang sudah disiapkan.
Suasana terasa menuju villa itu lebih hangat dan intim, penuh debaran dan gelora yang membuat kami melayang, seolah perjalanan itu menghantarkan ke surga.
Sesampainya di villa, hal yang belum pernah kami lakukan pun dilakukan. Kami jalan perlahan menuju kamar pengantin di lantai atas. Jalan bersisian, hatiku tak karuan.
Sampai di kamar dan menutup pintu. Ia menguncinya.
"Tidak ada siapapun di sini." Lelaki yang sudah sepenuhnya memilikiku itu menatap intens semakin dekat jantung ini tak lagi beraturan detaknya. Semakin dekat dan dekat.
"Kriuk."
Pak Fathan menghentikan langkah, setelah jarak kami hanya beberapa centi.
"Suara apa itu?"
Aku meringis memegangi perut yang sedari siang belum terisi makanan.
Lelaki itu menarik napas.
"Terpaksa deh ditunda dulu." Tangannya meraih jemari, menggenggamnya erat menuju dapur yang letaknya di lantai bawah.
"Mau masak apa?" tanyanya seraya memakai kan ku celemek.
"Masak?" Aku terkejut. Apa yang akan aku masak? Selama ini aku hanya bisa merebus air. Sedang priaku itu sudah mengeluarkan beberapa bahan dari kulkas. Duh, bagaimana ini? Aku hanya bergeming melihatnya?
"Em, aku-aku ... aku gak bisa masak kecuali merebus air."
Ya Tuhan, Njel. Kenapa gak kursus masak dulu sih sebelum nikah. Kalau gini, aku sangat malu di hadapan suami.
"Apa?!" Pak Fathan mendelik. Duh, mampus gue.
Dia pasti akan sangat menyesal karena memilih wanita sepertiku.
Menit kemudian ia memiringkan senyum. Benar kan? Aku pasti diremehkan karena tidak bisa memasak.
"Kemari lah, Sayang. Semakin cepat proses memasak ini, semakin cepat kamu kenyang dan semakin cepat kita ...."
Aku mengerutkan dahi, Pak Fathan malah tersenyum melihat ekspresiku. Ck. Dia menggodaku. Pipi terasa panas karenanya.
"Sudah, ayo. Suami kamu yang baik hati, ganteng dan tidak sombong ini akan mengajari."
"Mengajari? Apa Pak Fathan gak menyesal menikah dengan gadis gak bisa masak kaya aku?"
"Menyesal? Sekarang? Udah telat ... hahaha. Sejak awal aku tahu kamu anak orang kaya yang segala sesuatunya orang lain yang menyiapkan, jadi mana bisa masak?"
Syukurlah. Aku salah sangka.
"Oya, panggilnya jangan Bapak lagi dong. Kita 'kan suami istri." Pria itu memegang pinggangku dan menariknya mendekat pada meja.
"Trus, manggilnya gimana?"
"Ayang Mbeb."
_____________
"Sah?" Kak Adam bertanya pada meraka yang menjadi saksi pernikahan kami.
"Saaah!"
Semua orang menjawab bersamaan. Sedang aku lagi-lagi menangis tanpa sadar. Ini sangat membahagiakan.
Rahel dan Tasya mengusap punggungku karena tahu apa yang kurasa.
Lalu Kak Adam meminta agar aku mencium tangan Pak Fathan hingga punggung tangan pria itu basah.Tak lupa nasehatnya, agar aku jadi istri yang baik buat Pak Fathan.
Kak Adam is 'The Best.'
Semua orang mengucap selamat dan memberi doa terbaik untuk kami. Begitu juga Rahel dan Tasya, dua gadis itu memelukku bergantian.
"Huaaah Angle, gue gak nyangka ternyata ini akhir dari petualangan kita." Rahel menumpahkan airmatanya.
Anak ini ada-ada saja. Tidak mudah memang berpisah ketika kita sedang akrab-akrabnya. Setelah ini tentu saja waktu kumpul bersama mereka tidak seintens dulu, ditambah setelah menikah aku berniat menyisihkan waktu untuk memperdalam agama.
"Lo, gimana sih, Hel. Orang lagi bersuka cita kok malah nangis," protes Tasya. "Minggir, ah! Gantian. Gue juga mau meluk pengantinnya."
Rahel menarik tubuh dengan memanyunkan mulutnya.
_________________
Dengan beberapa pertimbangan, aku dan Pak Fathan memilih ke luar kota selama satu bulan. Menghindari papa dan ... itung-itung bulan madu.
Untuk beberapa alasan, kami memilih naik kereta.
Dan kereta berangkat keesokan paginya, dengan perasaan lega mengikuti pria yang sudah menghalalkanku itu. Sepanjang jalan kami berpegangan tangan. Beberapa kali pria itu mencuri ciuman dari pandangan orang-orang dalam gerbong, membuatku malu sendiri karenanya, seolah ia sangat menginginiku. Semua terasa sempurna, seolah Kamilah pasangan paling bahagia di dunia ini.
Sampai di stasiun kota tujuan, rupanya orang suruhan Kak Adam sudah menunggu. Mobil tersebut akan membawa kami ke villa yang sudah disiapkan.
Suasana terasa menuju villa itu lebih hangat dan intim, penuh debaran dan gelora yang membuat kami melayang, seolah perjalanan itu menghantarkan ke surga.
Sesampainya di villa, hal yang belum pernah kami lakukan pun dilakukan. Kami jalan perlahan menuju kamar pengantin di lantai atas. Jalan bersisian, hatiku tak karuan.
Sampai di kamar dan menutup pintu. Ia menguncinya.
"Tidak ada siapapun di sini." Lelaki yang sudah sepenuhnya memilikiku itu menatap intens semakin dekat jantung ini tak lagi beraturan detaknya. Semakin dekat dan dekat.
"Kriuk."
Pak Fathan menghentikan langkah, setelah jarak kami hanya beberapa centi.
"Suara apa itu?"
Aku meringis memegangi perut yang sedari siang belum terisi makanan.
Lelaki itu menarik napas.
"Terpaksa deh ditunda dulu." Tangannya meraih jemari, menggenggamnya erat menuju dapur yang letaknya di lantai bawah.
"Mau masak apa?" tanyanya seraya memakai kan ku celemek.
"Masak?" Aku terkejut. Apa yang akan aku masak? Selama ini aku hanya bisa merebus air. Sedang priaku itu sudah mengeluarkan beberapa bahan dari kulkas. Duh, bagaimana ini? Aku hanya bergeming melihatnya?
"Em, aku-aku ... aku gak bisa masak kecuali merebus air."
Ya Tuhan, Njel. Kenapa gak kursus masak dulu sih sebelum nikah. Kalau gini, aku sangat malu di hadapan suami.
"Apa?!" Pak Fathan mendelik. Duh, mampus gue.
Dia pasti akan sangat menyesal karena memilih wanita sepertiku.
Menit kemudian ia memiringkan senyum. Benar kan? Aku pasti diremehkan karena tidak bisa memasak.
"Kemari lah, Sayang. Semakin cepat proses memasak ini, semakin cepat kamu kenyang dan semakin cepat kita ...."
Aku mengerutkan dahi, Pak Fathan malah tersenyum melihat ekspresiku. Ck. Dia menggodaku. Pipi terasa panas karenanya.
"Sudah, ayo. Suami kamu yang baik hati, ganteng dan tidak sombong ini akan mengajari."
"Mengajari? Apa Pak Fathan gak menyesal menikah dengan gadis gak bisa masak kaya aku?"
"Menyesal? Sekarang? Udah telat ... hahaha. Sejak awal aku tahu kamu anak orang kaya yang segala sesuatunya orang lain yang menyiapkan, jadi mana bisa masak?"
Syukurlah. Aku salah sangka.
"Oya, panggilnya jangan Bapak lagi dong. Kita 'kan suami istri." Pria itu memegang pinggangku dan menariknya mendekat pada meja.
"Trus, manggilnya gimana?"
"Ayang Mbeb."
_____________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar