Persaudaraan Muslimah Indonesia, mempelajari Islam Secara Menyeluruh.

Minggu, 16 Februari 2020

CATATAN KELAM Sang Pendosa 6 - 10

CATATAN KELAM Sang Pendosa 6
by Popy Novita

*
Setelah sekian tahun lupa caranya tertawa, lupa caranya bercanda, lupa caranya bermain layaknya usia anak-anak. Malam itu tepat enam bulan aku tinggal bersama mereka, untuk pertama kalinya aku bisa tertawa lepas. Seolah lupa dengan semua masa lalu kelam. Tentang Ayah. Tentang kejadian malam terkutuk itu.

Malam itu, kami semua bersembunyi di kamar ketika Mas Ken pulang. Suara pintu berderit diiringi suaranya, tapi hening seketika. Satu menit kemudian, kami keluar menyanyikan lagu 'Selamat Ulang Tahun'. Rio dan Randi rusuh sekali meniup peluit yang justru membuat lagu jadi berantakan.
Mas Ken mematung di depan kue kecil di atas meja dengan lilin angka 17. Lampu yang tadi sengaja dimatikan agar hanya terlihat lilin yang menyala saja, kini dinyalakan oleh Ridho. Semua masih berseru menyanyikan lagu … 'tiup lilinnya, tiup lilinnya' ….
Suasana menjadi haru saat Mas Ken menyeka mata, lalu merangkul kami semua. Aku tahu, Mas Ken sedang berusaha menahan tangis. Suaranya serak bertanya, "Kalian ngapain ngelakuin ini?"
"Ini kan spesial usianya Mas Ken." Rio menjawab cepat.
"Sweet seventeen!" Seru Mega.

Mas Ken tertawa kecil lalu menyeka sudut matanya lagi dan segera meniup lilin karena Rio protes, "Mas Ken cepetan tiup lilinnya. Jangan meluk terus. Bau tau. Dari kemarin gak mandi." Semuanya tertawa termasuk Mas Ken yang pura-pura meninju lengan Rio.
Tepuk tangan diiringi seruan-seruan lain bersahut-sahutan saat lilin padam. Rio terlihat tidak sabar saat Mas Ken memotong kue. Tapi wajahnya langsung kecewa karena yang diberi pertama adalah Mega. "Yang kecil dapet terakhir," kata Mas Ken saat Rio protes.
"Yeee salah. Harusnya yang paling kecil dulu. Yang gede ngalah." Rio mengerucutkan bibir menatap kesal Mega yang menjulurkan lidah.

Kue dengan ukuran sedang itu dipotong rata dan semuanya mendapat ukuran yang sama. Kami duduk di lantai tanpa alas apa pun, lahap memakan kue. Posisi duduk kami membentuk lingkaran. Di samping kanan Mas Ken ada aku, di samping kirinya ada Mega. Di samping kiriku ada Rio, lalu Ridho, dan Randi duduk di samping Ridho dan Mega.
"Nanti kalau udah gede, aku mau jadi pengusaha kue. Biar puas makan tanpa harus keluar uang." Rio berkata saat kuenya sudah habis duluan.
"Yang ada belum apa-apa udah bangkrut karena habis kamu makan sendiri," sahut Mega.
"Ya enggaklah. Kan banyak. Aku jadi bosnya. Jadi bebas makan."
"Mana ada begitu."
"Ada. Awas aja nanti kalau Kak Mega mau, harus beli dengan harga sepuluh kali lipat lebih mahal."
"Siapa juga yang mau beli. Ogah!" Mega menjulurkan lidah.
Suara guntur menghentikan Rio yang hendak membalas ucapan Mega.
"Nah tuh artinya kalian disuruh diem!" Ridho berucap. Kemudian suara hujan terdengar.
"Siapa yang punya ide seperti ini?" Tiba-tiba Mas Ken bertanya setelah selesai makan. Kami semua menatapnya.

Mega nyengir mengangkat telunjuk. "Aku yang minta mereka menabung sejak sebulan lalu. Uangnya bisa buat beli kue. Gak apa-apa kan, Mas Ken, sekali-kali makan kue?"
Mas Ken mengusap kepala Mega dan tersenyum. "Makasih, ya?" Kemudian menatap kami satu persatu. "Dan makasih juga buat kalian. Semoga kita semua akan selalu seperti ini. Tetaplah jadi warna yang indah untuk saling melengkapi. Dan kamu, Haura." Mas Ken menoleh, menatapku. "Betah kan tinggal di keluarga ini?"
Aku mengangguk cepat. Selama enam bulan bersama, hampir setiap hari Mas Ken bertanya hal yang sama. Apakah aku betah tinggal di keluarga ini?
"Kalau sampai gak betah, itu berarti gara-gara Rio," celetuk Mega yang dibalas pelototan oleh Rio.
"Stop!" Mas Ken menghentikan perdebatan antara Mega dan Rio. Kemudian berdiri. "Ada yang mau ikut mandi?"

Kami semua menatap Mas Ken yang berkacak pinggang. Lalu entah kode apa yang dimainkan oleh Mega, Rio, Randi, dan Ridho. Mereka semua berdiri lalu berseru, "Mauuuu!"
Sebelum akhirnya aku paham apa maksudnya, Mas Ken sudah ditarik paksa oleh mereka untuk keluar. Rio menarik tanganku untuk ikut.

Di luar, di tengah air yang turun dari langit, kami bermain bersama. Mas Ken mengambil gitar, memetiknya di bawah guyuran hujan dan kami semua bernyanyi.

Tidak ada tetangga yang protes karena suara berisik kami. Karena posisi rumah Mas Ken terletak di ujung, sampingnya lahan jagung. Sehingga kami puas bernyanyi sampai satu jam lamanya.
Aku mendongak ke atas tersenyum memandang langit yang gelap. Mengedipkan mata saat tetesan air hujan mengenai mata. "Malam ini gak ada bintang dan bulan. Tapi hujan tak kalah indah karena membawa ketenangan saat melihat air yang turun dari langit. Berdoalah, Ra. Karena saat hujan turun, Allah mendengar doa kita. Kamu percaya?"

Kak Rafly? Entah bagaimana kabarnya sekarang? Apakah masih setampan malam itu? Atau jauh lebih tampan yang membuat wanita mana pun terpesona hanya dengan melihat wajahnya?
Aku menghela napas panjang. Ingatan tentang malam terkutuk itu lagi lagi mengambil alih kenangan manisku. Lalu muncul pertanyaan, "Bagaimana jika yang mengambil harga diriku adalah Kak Rafly? Orang yang kukagumi bukan hanya karena wajahnya tapi juga tutur katanya. Semua terdengar manis, bagai obat luka yang mampu menyembuhkan."
Entahlah. Semua itu hanya masa lalu, bukan? Sekarang, aku punya kehidupan baru yang menjanjikan kebahagiaan. Aku punya Kakak, teman, adik, dan tentu semuanya terasa bagai keluarga yang utuh. Saling melengkapi.

Jadi, untuk apa aku mengingat masa lalu kelam itu? Hanya membuatku menjadi orang yang aneh karena menatap tanpa ekspresi dan sangat enggan bicara. Baru sebulan terakhir ini aku mulai sedikit banyak bicara. Bahkan berani menyuruh Mas Ken untuk mandi. Pura-pura marah ke Rio saat belajarnya tidak sungguh-sungguh. Meminta bantuan Ridho saat tidak kuat mengangkat sesuatu.
Oh ya, tentang permintaanku pada Mas Ken enam bulan lalu, untuk ikut bekerja, akhirnya aku menemukan pekerjaanku sendiri. Tentunya pekerjaan kami semua sekarang. Nasi bungkus dengan harga cukup murah.

Tepatnya baru tiga bulan lalu, saat Mas Ken mengembalikan uang tiga ratus ribu itu. Aku menolak dan menyuruh Mas Ken menyimpannya saja, bisa digunakan jika ada keperluan mendesak lagi. Namun Mas Ken jiga bersikeras bahwa itu adalah uangku, dan aku yang lebih berhak menyimpan. Tercetuslah ide untuk modal usaha saja.
Aku menggunakan uang itu untuk membeli beras dan bahan makanan. Awalnya, hanya percobaan dulu saja, 30 bungkus. Dititipkan di kantin sekolah. Sekolahku 15 dan sekolahan Rio 15. Syukurlah semuanya habis hari itu. Hingga akhirnya seminggu setelahnya, aku menambahkan jadi 40 bungkus sehari.

Dua minggu setelahnya, nasi bungkusku selalu sisa. Aku mengurangi jadi 30 bungkus. Sisa lagi. Berkurang lagi jadi 20 bungkus. Sisa lagi. Sampai akhirnya jadi 10 bungkus.
Hampir saja aku menyerah, tapi malam itu saat Mas Ken pulang, dia membawa buku resep makanan. "Coba buat menu yang lain, Ra," katanya. Aku antusias membaca lalu mempraktekkan. Perlahan tapi pasti, aku bisa menguasai setidaknya lima jenis lauk dalam seminggu.
Nasi bungkus buatanku kembali laris. Setiap harinya berbeda menu. Tentu sambil mempelajari menu lain lagi, agar pembeli tidak bosan.

Dua bulan berjalan, Mega, Ridho, Randi, dan Rio, selalu membantu. Ridho dan Randi bagian belanja ke pasar. Mega dan Rio membantuku di dapur. Pekerjaan rumah pun dikerjaan bersama. Sekarang, sepulang sekolah, mereka tidak lagi bekerja di terminal sebagai pedagang asongan milik orang lain. Tapi pedagang nasi bungkus hasil memasak sendiri.
Mas Ken, tidak banyak membantu karena sekarang ia telah diterima kerja di toko material tak jauh dari pasar. Pulang jam lima tapi lanjut membantu menjaga konter yang buka sampai jam sembilan malam.

Anak-anak di sini semuanya tipe pekerja keras. Mungkin hanya aku yang masih malu-malu untuk ikut berdagang keliling. Jadinya, aku hanya bagian memasak. Pekerjaan rumah, semua ringan tangan saling membantu.
Semua rutinitas ini, jelas membantuku melupakan masa lalu kelam itu. Tentang Ayah, aku tidak peduli dia mencariku atau tidak. Untuk apa juga dicari kalau hanya untuk disakiti? Tentang Bu Siska, aku pun tidak peduli kalau dia juga mencariku karena tidak ada di terminal pagi itu. Semua terasa aneh dan ganjil, apalagi kejadian malam terkutuk itu saat aku berada di rumah Bu Siska. Seharusnya dia tahu apa yang terjadi sesungguhnya, bukan?
Inilah kehidupanku sekarang. Di sinilah keluargaku. Aku tak mau dan tak ingin sedikit pun menoleh lagi ke belakang. Biarkan menjadi kenangan yang perlahan akan kulupakan. Saatnya memikirkan masa depan!

*
Andai saat itu sudah ada ponsel canggih seperti sekarang, mungkin setiap momen akan kuabadikan. Menyimpannya di galeri dan membukanya saat aku rindu. Seperti kenangan saat bermain hujan, Mas Ken memetik gitar dan kami bernyanyi bersama, saat Rio rusuh bertengkar dengan Mega, Randi yang sering tertidur di atas buku, Ridho ekspresi sok dewasa yang selalu berlagak seperti guru matematika yang kejam.
Aku tak pernah menyangka, jika semua kenangan manis bersama mereka, bisa menjadi sangat menyakitkan ketika rindu datang. Di usiaku sekarang, bahkan aku bisa seharian mengurung diri di kamar saat teringat kenangan setiap momen bersama mereka. Tak ada air mata, karena tangisku mendera jiwa. Jauh lebih menyakitkan. Karena semua kebahagiaan itu, tak akan pernah bisa diulang.

-----


CATATAN KELAM Sang Pendosa 7
*
Waktu melesat begitu cepat. Enam bulan kembali berlalu. Dua bulan lalu, usiaku tepat 13 tahun. Awalnya, aku tak berharap akan dirayakan seperti Mas Ken atau yang lain. Karena sejak pagi sampai malam, tidak ada ucapan apalagi perayaan. Aku pun tak berharap banyak, karena memang tak pernah merasakannya. Ulang tahun, bagiku hanyalah waktu di mana aku tumbuh semakin tinggi dan besar. Hanya itu.
Namun malam itu, saat Mas Ken pulang, dari luar terdengar suaranya menyanyikan lagu selamat ulang tahun diiringi gitar. Aku dan yang lain saling berpandangan saat sedang belajar, kemudian cepat-cepat keluar.
Ada kue kecil dengan lilin angka 13 di atas kursi kayu dan Mas Ken duduk di sampingnya, bernyanyi. Aku terpaku menatapnya, sedangkan yang lain seolah mengerti lalu ikut bernyanyi dan bertepuk tangan.
Hatiku tersentuh. Seumur-umur baru kali ini ada yang peduli dengan hari ulang tahunku. Orang-orang yang saat ini sudah menjadi bagian dalam hidupku. Bukan lagi orang asing, tapi merekalah keluarga yang sesungguhnya.
"Ayo, Haura, tiup lilinnya." Mas Ken berkata, dan aku segera berjongkok di depan kue, setelah menyeka air mata. Meniup lilin tanpa berdoa terlebih dahulu seperti orang pada umumnya. Tepuk tangan pun terdengar semakin kencang.
Malam itu tak ada hujan. Namun kami tetap bahagia bernyanyi bersama. Tak ada kesedihan, air mata, atau beban. Tertawa bermain kejar-kejaran, sejenak melupakan tugas sekolah yang menumpuk. Karena minggu depannya ada ulangan

"Untukmu." Mas Ken menyodorkan satu novel. Aku menerima dengan mata berbinar. "Aku tahu kamu suka baca. Makanya aku beliin ini, siapa tahu suka."
Aku mengangguk cepat. "Aku suka. Terima kasih banyak, Mas Ken." Entah keberanian dari mana, ketika tiba-tiba aku memeluknya. Tak ada perasaan apa-apa, toh usiaku baru 13 tahun saat itu. Aku hanya bahagia dan merasa memiliki seorang kakak yang sangat sayang padaku.
Kado pertama yang aku terima. Mungkin terlihat sepele dan harganya pun tak seberapa. Namun, kado ini setelah kubaca lalu kusimpan rapi sebagai salah satu barang yang siapa pun tak boleh menyentuhnya. Mega, Ridho, Randi, dan Rio pun memberikan kado. Bando, jepitan rambut, pita warna-warni, dan Rio justru memberikan kaus kaki berbulu. Aku tertawa menerimanya, dan semua barang itu sangat berharga bagiku.
Sebagaimana berharganya mereka dalam hidupku.
*
Saat ini, aku sudah duduk di kelas dua. Rambutku yang dulu sebahu, kini sudah mencapai punggung. Sering kukepang dua dengan pita pemberian Randi. Dan yang paling terpenting dari kenaikan kelas itu adalah saat aku mendapatkan menstruasi yang pertama. Takut-takut aku memberitahu Mega saat di kamar. Mega justru tertawa dan memberikan ucapan selamat.
Selamat untuk apa? Aku mengernyitkan dahi menatapnya.
"Karena kamu sudah jadi gadis, Ra. Udah jadi cewek beneran. Duh gimana ya bilangnya. Pokoknya jangan sampai bergaul sama cowok berlebihan. Nanti kamu bisa hamil."
"Hamil?"
"Duh masa gak paham juga. Kamu udah kelas dua, Ra. Udah 13 tahun. Aku dulu bahkan mentruasi pertama umur 11 tahun. Udah paham masalah begituan."
Aku hanya diam. Haruskah aku bersyukur karena seseorang yang telah merenggut kesucianku itu, melakukan saat aku belum mendapatkan menstruasi? Jadi tidak sampai hamil.
Aku menghela napas panjang. Apanya yang harus disyukuri? Sesuatu yang paling berharga milikku telah tersentuh dan telah hilang. Aku tak lagi berharga. Andai mereka tahu, mungkin tak akan menganggapku lagi sebagai anak yang membanggakan karena berhasil meraih peringkat pertama di ujian kenaikan kelas kemarin.

Mas Ken pun tidak akan mungkin mengajakku jalan-jalan ke pasar malam dan memperbolehkanku membeli apa saja yang kuinginkan, saat tahu masa laluku itu.
Ya, malam itu setelah tahu aku mendapatkan peringkat pertama di kelas, Mas Ken berseru bangga. Langsung menjanjikanku jalan-jalan ke pasar malam. Semua anak-anak langsung merajuk untuk ikut. Akhirnya Mas Ken mengalah, dan mengajak kami semua.
"Karena aku lagi bahagia karena akhirnya punya adik yang bisa dibanggakan, kalian boleh main apa saja di wahana sini. Sepuasnya."
Kami semua bertepuk tangan dan berseru senang. Kemudian berlarian untuk menaiki semua wahana permainan.
Ternyara Ridho takut sekali masuk ke wahana rumah hantu. Mega dan Randi memaksa, menarik tangannya untuk ikut masuk. Aku dan Rio mendorong punggungnya. Ridho menjerit saat sampai di dalam. Kami semua tertawa.
*
Setahun berlalu dari semenjak aku berdiri sendiri di terminal. Dan masa lalu kelam itu, perlahan mulai memudar. Walau saat malam menjelang tidur, aku masih kesulitan memejamkan mata. Lalu keluar kamar, dan duduk di luar bersama Mas Ken, yang baru aku tahu ternyata juga tidak bisa tidur sebelum jam dua malam.
"Jangan dibiasain begadang, Ra." Mas Ken berkata saat berkali-kali menyuruhku masuk ke kamar dan tidur, karena di luar sedang hujan.
Aku berkali-kali menggeleng. "Aku gak bisa tidur, Mas Ken. Susah. Apalagi hujan begini." Aku menunduk, teringat saat hujan deras setahun lalu. Malam-malam lari dari rumah tanpa tujuan. Sendirian dan kesepian. Bahkan berharap petir yang menggelegar itu menyambar.
"Kamu takut sesuatu?"
Aku menoleh. Menatapnya yang seolah tahu tentang ketakutan yang membuatku susah tidur setiap malam.
"Kamu boleh cerita. Siapa tahu setelah itu, kamu jadi lega dan bisa tidur."
Cerita? Tentang malam terkutuk itu? Mana mungkin? Hanya akan membuatnya menatap jijik. Aku tidak sanggup kehilangan tatapan teduh Mas Ken. Tatapan seorang kakak yang menyayangi adiknya. Aku menghela napas panjang dan menggeleng. Biarlah ini menjadi rahasiaku sendiri. Tak perlu ada yang tahu.
*
Jualan nasi bungkus masih berjalan. Tidak laris, tidak juga sepi. Standar. Cukup untuk biaya sekolah dan lain-lain. Hanya saja, terkadang ada orang-orang yang utang dan tidak mau bayar. Kalau urusan itu, biasanya Mega yang turun tangan. Dia jagonya adu mulut dan bisa membuat orang yang utang itu akhirnya membayar.
Hari-hari berjalan sebagaimana mestinya. Ada canda, tawa, marah, dan setiap ada yang ulang tahun, selalu dirayakan seperti sebelumnya dan memberi kado seadanya. Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Dan bulan tanpa terasa melesat sangat cepat.
Aku sudah punya tiga novel dari Mas Ken. Satu, kado saat ulang tahunku ke 13 dulu. Satunya saat aku mendapatkan peringkat pertama itu. Satunya lagi, saat aku ulang tahun ke 14.
Ya, sekarang usiaku sudah 14 tahun. Sebentar lagi ujian kenaikan kelas. Tubuhku juga semakin terlihat tinggi, walau belum seberapa, tapi lebih tinggi sedikit dibanding Mega yang usianya sudah 15 tahun lebih.
Kali ini, aku bukan hanya mendapatkan kado dari keluargaku. Tapi juga dari teman seangkatan tapi beda kelas. Entah dari mana dia tahu tanggal lahirku. Namanya Rizky, anaknya menyebalkan sekali. Sering menggangguku. Bertanya ini itu tapi kuabaikan. Aku tidak mau berurusan dengan anak nakal sepertinya. Murid yang kutahu langganan masuk ke ruang BP.
"Nih buat lo. Moga suka." Dia menggaruk kepala dan nyengir. Sesaat setelah memanggilku dan berlari mendekati. Kebetulan, aku pulang sendiri karena Ridho dan Mega ada kelas tambahan karena akan segera ada ujian akhir sekolah. Dari kejauhan, segerombolan temannya yang duduk di atas motor, berseru menyebalkan. Membuatku tak tahan dan ingin cepat pulang.
"Makasih." Aku menerima bingkisan kecil itu. Namun, tanpa sadar Rizky sudah mendekat dan mencium pipiku.
"Selamat ulang tahun, ya?"

Aku terperangah. Mengabaikan mukanya yang sok akrab, apalagi seruan dari teman-temannya yang semakin rusuh.
Kado kulempar dan aku segera berlari pulang. Ternyata Rizky mengejar dan terus berteriak memanggil. Aku terus berlari sambil menyeka sudut mata yang berair. Ini menyebalkan. Aku benci ada lelaki yang berani menyentuh apalagi menciumku. Mengaingatkanku pada sentuhan dan ciuman lelaki iblis di malam terkutuk itu.
Sampai di jalan yang melewati toko tempat Mas Ken bekerja, aku pun tak mendengarkan saat Mas Ken memanggilku. Terus berlari dan di belakang, masih ada Risky yang mengejar.
"Hei, Ra!" Tanganku diraih seseorang. Ternyata Mas Ken. Wajahku sudah basah oleh air mata. Langsung menghambur memeluknya. "Mas Ken aku takut," ucapku terbata sambil sesenggukan.
"Kenapa? Kamu diapain?"

Aku tak menjawab, dan Mas Ken memaksa melepas pelukanku.
"Lo apain adek gue!" Mas Ken berseru galak, menatap Rizky yang berdiri bingung di kejauhan. Mas Ken dengan langkah cepat mendekati Rizky, lalu mencengkeram bajunya.
"Sekali lagi gue tanya, lo apain adek gue sampai nangis begitu!" Tangan kanan Mas Ken mengepal, terangkat siap meninju wajah Rizky.
Rizky menggeleng, wajahnya berubah pias. Jelas sekali dia ketakutan. Mas Ken sekali lagi berteriak bertanya bahkan mengancam.
"Gue cuma ngucapin selamat ulang tahun doang, Bang." Rizky menjawab gugup. "Terus nyium pipinya."
"Brengsek!" Kepalan tangan itu akhirnya mengenai wajah Rizky. Dia tersungkur dan Mas Ken masih mencengkeram bajunya. "Sekali lagi lo berani kurang ajar sama adek gue, gue abisin lo!"
Rizky menggeleng. Setelah Mas Ken melepas cengkeramannya, dia berdiri dan lari.
Aku justru semakin terisak. Menutup wajah dengan kedua tangan. Mas Ken datang mendekapku.
"Sudah. Gak akan ada yang berani lagi ganggu kamu. Kalau masih ada lagi, biar aku yang menghajarnya lebih dari yang tadi."
Bukan itu, Mas Ken. Bukan! Aku menangis karena menyesal, kenapa baru sekarang mengenal orang sebaik Mas Ken. Seandainya saja dulu aku sudah mengenal Mas Ken, mungkin aku bisa langsung mengadu setelah kejadian malam terkutuk itu, dan Mas Ken akan menghajar atau bahkan membunuh lelaki iblis itu yang telah merenggut kesucianku.
Kenapa takdir baru mempertemukan kita sekarang, setelah kejadian malam terkutuk itu?
*

-----


CATATAN KELAM Sang Pendosa 8
*
"Haura, buruan!"
"Ya sebentar!"
Sekali lagi aku merapikan rambut yang kupasang bando kain warna putih. Setelah puas dengan penampilan, kuraih tas ransel di ranjang dan segera keluar.
"Aku siap!" seruku dengan senyum lebar. "Bagaimana?" Berkacak pinggang, menirukan gaya Mas Ken yang merasa diri paling keren.
Semuanya menatapku dan mengacungkan jempol. Rio bahkan memuji, "Kak Haura makin cantik."
"Satu permen untuk pujianmu, Rio." Aku melempar sebungkus permen yang selalu kubawa di saku baju.
Rio menangkap. "Yeee dikira aku masih kecil apa? Satu tahun lagi aku udah masuk SMP tau."
"SMP juga masih kecil," sahut Mega.
"Enak aja. Nih, Kak Mega sama aku aja masih tinggian aku." Randi terlihat tak terima, berdiri di samping Mega, mengukur tinggi.
"Dahlah. Ayo berangkat, telat ntar." Ridho yang paling rajin di antara kami, berkali-kali melirik jam. Padahal masih pukul 06.15 dan jalan kaki ke sekolahannya hanya membutuhkan waktu 20 menit.
"Mas Ken mana?" Aku bertanya.
"Mandi," jawa Mega.
"Hah? Serius? Tumben?"
Mega mengedikkan bahu.
"Kita berangkat dulu ajalah. Lama nungguin Mas Ken. Telat kita nanti." Ridho berdiri dari kursi.
"Sabar kenapa sih. Biasanya bareng-bareng juga." Mega yang satu sekolahan dengan Ridho, mencegah.
"Tadi kan kata Mas Ken kalau dia lama di kamar mandi, kita suruh berangkat dulu aja?" Ridho melirik jam di pergelangan tangannya lagi. Waktu terus berjalan, tapi di kamar mandi masih terdengar gemericik air yang menandakan Mas Ken masih mandi.
Mega berdecak dan menghentakkan kaki. Ridho tak peduli, dia tetap melangkah keluar dan berseru, "Aku berangkat duluan ajalah, ya."
"Rese!" Walau terlihat kesal, Mega tetap melangkah mengikuti. "Woi Ridho! Tungguin!" Sampai di pintu, dia menoleh. "Pamitin sama Mas Ken ya, aku sama Ridho berangkat duluan." Setelah itu berlari.

"Aku juga berangkat aja sekaranglah. Rio, mau bareng gak?" Randi yang sekarang sudah duduk di kelas dua sekolah menengah pertama, bertanya pada Rio.
"Aku bareng Kak Haura aja," jawabnya.
"Serah." Randi menoleh padaku. "Pamitin Mas Ken ya, Kak. Aku berangkat duluan."
"Sip!" Aku mengacungkan jempol, dan Randi sudah keluar. "Rio, mending bareng Kak Randi aja sana, kalian searah."
"Oh iya ya. Sekolahannya Kak Haura beda arah sekarang!" Rio menepuk dahinya lalu melesat keluar, berteriak memanggil Randi. "Kak berangkat dulu," pamitnya padaku.
Aku tersenyum, sudah sangat terbiasa dengan suasana rusuh setiap pagi. Dari mulai rebutan kamar mandi, sarapan, dan berangkat sekolah yang tidak sabar menunggu satu sama lain.
"Kok sepi?" Mas Ken keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut dengan handuk.
Aku yang menunggu di kursi sambil memetik gitar, mendongak. "Udah pada berangkat," jawabku. Meletakkan gitar dan berdiri sambil berkacak pinggang. "Mas Ken sih lama. Tumben mandi segala?"
Bukannya menjawab, Mas Ken justru tersenyum tipis memerhatikanku dari bawah hingga atas penampilanku. "Kalau begini, udah keliatan gede kamu," katanya.
"Kan emang udah gede. Bentar lagi 16 terus 17 deh. Yeeee!" Aku bertepuk tangan dengan senyum lebar. Entahlah, 17 sepertinya angka di mana seseorang berubah menjadi remaja yang sesungguhnya. Sweet seventeen.

Mas Ken memutar bola mata, kembali mengusap rambut dengan handuk lalu melemparnya padaku. Untung aku sigap menangkap.
"Tolong jemur di depan, Ra. Aku sisiran dulu terus kita berangkat."
"Ish! Kebiasaan."
Satu menit setelahnya, Mas Ken sudah rapi siap berangkat. Ia masih bekerja di tempat yang sama, masuk jam delapan tapi biasa bangun pagi untuk mengantar adik-adiknya sekolah. Entahlah, katanya hanya ingin memastikan bahwa kami semua benar-benar masuk sekolah, bukan kelayapan.
Namun bagiku, berangkat bersama Mas Ken membuatku merasa aman. Dulu, semenjak kejadian Rizky yang mencium pipiku, lelaki itu tak berani lagi mengganggu. Bahkan terkesan menghindar setiap tanpa sengaja bersitatap denganku.
Walau sekarang aku sudah sekolah di SMA negeri yang jaraknya harus ditempuh dengan naik angkot, Mas Ken selalu menemani. Memastikan aku aman sampai sekolahan, barulah dia pulang untuk bekerja.

Hanya aku yang sekolah di SMA Negeri. Mega dan Ridho, sekolah di SMA Swasta yang tak jauh dari rumah. Mas Ken mendukung sepenuhnya pendidikanku. Tak pernah keberatan jika waktuku semakin habis untuk sekolah dan belajar. Membuat donat, jika memang waktu senggang saja. Jadi, selama setengah tahun ini, penjualan donat sedikit berkurang.
"Kalau butuh apa-apa, bilang. Jangan sungkan," kata Mas Ken suatu malam karena hampir tak pernah aku meminta uang padanya.
Lihatlah sekarang, saat berjalan bersisian dengan Mas Ken. Aku bukan anak kecil lagi yang tingginya sedada Mas Ken. Sekarang, tinggiku hampir sejajar jika aku berjinjit. Tubuh Mas Ken juga jauh lebih berisi dibanding waktu pertama kali bertemu dulu. Usianya sekarang hampir 20 tahun. Jujur, wajahnya semakin terlihat menawan, bahkan lebih memesona jika dibanding dengan Kak Rafly. Apalagi atas bibir ditumbuhi kumis tipis, ia terlihat dewasa dengan pikiran yang sudah matang.
Terkadang aku iseng bilang, "Mas Ken jelek ih ada kumisnya." Lalu esoknya, ia sudah terlihat rapi lagi.

Aku juga akan protes ketika rambut Mas Ken sudah agak panjang tapi belum dicukur. Memintanya untuk tampil lebih rapi. Ya, walau dia hanya pekerja berat di toko material, setidaknya dengan penampilan rapi, orang akan memandang sedikit berbeda.
"Bawel banget sekarang." Mas Ken iseng menarik kepang rambutku. Aku balas mencubit dan berakhir kejar-kejaran.
Sudah sejak setahun terakhir, sikapku memang berubah. Setiap malam saat Mas Ken pulang dan selesai makan malam, aku akan menyuruh Mas Ken untuk mandi.
"Mas Ken mandi! Bau tauuuu! Seharian kerja, keringetan, terus gak mandi, ish jorok!" Aku pura-pura bergidik geli, dan Mas Ken iseng menarik kepalaku ke ketiaknya.
Canda dan tawa sudah menjadi keseharianku. Aku bukan lagi Haura yang akan bicara jika ditanya, atau hanya mengangguk dan menggeleng sebagai jawaban. Sekarang, bahkan aku berani menunjukkan sikap manja. Sikap yang sejak usia delapan tahun tak pernah keluar, karena paksaan keadaan yang menyakitkan.
*
Seperti remaja pada umumnya, aku mulai membuka diri sekarang. Berteman dengan siapa saja, jahil dengan teman di kelas, atau menonton kakak kelas berlatih basket di sekolah.
Prestasiku tak pernah padam, hingga di pertengahan sekolah, namaku cukup dikenal sebagai salah satu murid yang membanggakan. Sesuatu yang mengantarkanku pada perkenalan dengan kakak kelas, ketua tim basket yang memang cukup populer di kalangan murid perempuan.
"Hai cewek!"
Aku menoleh, mengernyitkan dahi pada lelaki yang berada di sampingku naik motor. Kaca helm dibuka, ia tersenyum menyapa.
"Kak Raga?"
"Yes! Lo nunggu angkot?"
"Iya, Kak."
"Gue anter aja yok? Mumpung gue sendirian."
"Makasih, Kak. Tapi angkotnya bentar lagi dateng kok."
"Yah ditolak lagi."
Aku memalingkan wajah dan menahan senyum. Kak Raga memang bukan sekali ini menawarkan tumpangan, tapi sudah sering sejak dua minggu lalu. Namun aku selalu menolak, takut jika dia sama saja dengan lelaki pada umumnya yang berani kurang ajar karena diberi kesempatan.
Dia tak pernah menyerah. Di sekolah, sering sekali menitipkan cokelat pada teman sebangkuku. Atau yang terakhir ini, dia justru memberiku novel. Aku melotot pada teman sebangku, karena Kak Raga pasti tahu semua tentangku darinya.
Sampai suatu ketika sebelum pulang sekolah, Kak Raga menghampiriku di kelas. Teman sebangkuku sengaja pulang duluan, memberikan tempat duduk untuk Kak Raga.
"Hari ini aku ultah, lho?"
"Oh ya? Selamat ulang tahun ya, Kak."
"Makasih. Aku boleh minta kado?"
"Eh? Aku gak bawa. Besok deh ya, Kak?"
"Aku maunya hari ini."
"Tapi aku gak bawa apa-apa."
"Gak harus bawa apa-apa kok. Cukup temani aku makan di luar terus jalan-jalan ke pantai. Mau?"
Aku terdiam. Menemaninya jalan-jalan? Mana mungkin? Dan akhirnya aku menjawab dengan gelengan.
"Kenapa? Sehari ini aja di ulang tahunku. Cuma itu doang. Ntar sebelum jam enam, aku udah anter kamu pulang."
Wajahnya memelas membuatku tak tega untuk terus-terusan menolak.
"Please, Ra. Mau, ya?" Dia menangkupkan kedua tangan masih dengan wajah memohon.
"Tapi aku izin Mas Ken dulu ya, Kak?"
Kak Raga tahu Mas Ken adalah kakakku. Waktu itu ia pernah bertanya saat melihatku di antar oleh Mas Ken.
"Harus izin, ya?"
Aku mengangguk.
"Kalau ntar gak diizinin?"
"Ya maaf aku gak bisa pergi."
Kak Raga menghela napas panjang. "Nurut banget sih jadi adek?" Dia berdiri dengan semangat. "Ayok. Kita berangkat sekarang."
Aku tersenyum.
Hari itu, untuk pertama kalinya aku membuka diri untuk lelaki walau masih takut-takut. Kak Raga orang yang cukup menyenangkan. Selera humornya tinggi dan terlebih dia juga memiliki prestasi. Sesuatu yang sangat jarang dimiliki oleh lelaki yang dinilai termasuk bad boy di sekolah.
Motor berhenti tepat di depan toko tempat Mas Ken bekerja. Aku membuka helm dan segera turun. Meminta Kak Raga untuk tetap di tempat saja. Sementara itu, aku berjalan ke toko dan teriakan dari salah satu karyawan langsung memanggil Mas Ken karena sudah mengenalku sebagai adiknya Mas Ken.
Aku berdiri di depan toko. Menunggu dengan was-was, padahal hanya meminta izin pergi makan dan jalan-jalan sampai jam enam.
"Haura?"
Aku menoleh, dan segera mendekati Mas Ken. Meraih tangannya dan mencium seperti biasa.
"Udah pulang? Kok tumben cepet. Gak macet?"
Aku menggeleng. "Enggak soalnya naik motor."
"Naik motor?" Mas Ken mengernyitkan dahi.
"Iya. Dan aku ke sini buat minta izin sama Mas Ken." Aku menggigit bibir, melihat ekspresi Mas Ken yang menatap curiga.
"Izin apa?"
"Temenku hari ini ada yang ulang tahun. Dia minta aku buat temenin makan dan jalan-jalan. Boleh ya? Cuma sampai jam enam kok."
"Temen siapa?"
Belum sempat aku menjawab, tiba-tiba Kak Raga menyahut lebih dulu. "Saya, Mas yang ngajak Haura buat jalan." Dia mengulurkan tangan pada Mas Ken.
Untuk beberapa saat Mas Ken terlihat serius memandang Kak Raga, sebelum akhirnya membalas jabat tangan tersebut.
"Saya Raga."
"Ken."
"Jadi, boleh saya bawa Haura jalan-jalan sebentar?" Raga langsung bertanya setelah melepas jabat tangan.
"Tidak!" Tegas Mas Ken menjawab.
"Hanya sebentar kok, Mas. Sebelum petang akan saya antar pulang."
"Saya bilang tidak! Silakan kamu pulang. Makasih sudah antar Haura sampai sini."
Suasana berubah jadi canggung dan tidak nyaman. Buru-buru aku berucap pada Mas Ken. "Mas Ken, kali ini saja. Aku bakal jaga diri kok. Cuma makan."
"Kamu sekolah untuk pacaran, Haura!" Mas Ken menatap tajam padaku.
"Aku gak pacaran."
"Bagus. Berarti gak ada kewajiban untuk menemani dia makan atau jalan-jalan, kan?"
Aku menunduk.
"Gak apa-apa, Ra. Next time aja. Gue pulang dulu kalau gitu." Kak Raga menepuk-nepuk bahuku. Aku mengangguk dan mengucapkan maaf.
"Saya pulang dulu, Mas," pamitnya pada Mas Ken yang hanya dibalas anggukan kecil.
"Mas Ken kenapa sih?" Aku melirik Mas Ken setelah Kak Raga menaiki motornya.
"Kamu yang kenapa? Udah mau sok-sok'an pacaran sekarang! Lupa tujuan sekolah buat apa?"
"Aku gak pacaran, Mas Ken!"
"Gak pacaran tapi mau-maunya dibonceng sama cowok? Mau diajak jalan berdua? Apa namanya?"
"Terserah, Mas Ken." Aku berjalan cepat untuk pulang. Menyebalkan sekali, memangnya kenapa kalau aku jalan sama teman lelaki? Bukankah aku sudah cukup umur untuk itu?
"Heh!" Mas Ken meraih tanganku. Aku berdecak saat langkah terhenti. "Langsung pulang. Jangan ke mana-mana lagi."
"Iyaaaa!"

-----

CATATAN KELAM Sang Pendosa 9
*
Pagi itu hujan deras mengguyur Ibu Kota, tapi kami semua tetap berangkat sekolah. Mega rusuh sekali tidak mau sepayung dengan Ridho. Katanya, sudah seperti orang pacaran saja. Sedangkan Rio rebutan payung dengan Randi, karena sekolahannya berbeda. Sampai akhirnya aku menyerahkan payung pada Rio.
"Yeee aku kan cowok, masa suruh pake payung warna pink. Buat Kak Randi aja tuh."
"Enak aja. Kamu masih kecil gak apa-apa pake payung pink."
"Aku bukan anak kecil!" Rio berkacak pinggang dan melotot.
"Duh kalian berisik. Sini payungnya mending buat aku aja," sahut Mega dan langsung meraih payung dari tanganku. "Nih kamu pake ini." Mega menyodorkan payungnya untuk Rio."
"Payung Kak Mega jelek begini yang ada ntar aku diketawain sama temen-temenku."
Mega menjitak kepala Rio. "Kecil-kecil sok banget sih!"
Aku memutar bola mata dan menghela napas panjang. Entah mengapa mereka seperti tidak pernah bisa akur. Hanya Randi yang sedikit terlihat santai, karena memang masih jam enam pagi. Mas Ken saja masih bergelung selimut, tak peduli adik-adiknya rusuh rebutan payung.
Seperti biasa, Ridho yang paling dulu selesai dan siap berangkat. Mengambil payung dan segera keluar setelah pamit dengan Mas Ken tapi hanya dijawab dengan menggumam.
"Duh, Ridho, tungguin sih!" Mega berseru sambil memasang tali sepatu.
"Mau ngapain nungguin kamu? Bilangnya tadi gak mau sepayung. Takut diledekin pacaran," sahut Ridho yang sudah di halaman rumah.
"Siapa juga yang mau sepayung sama kamu." Mega berdiri, mengambil payung merah jambu milikku. "Haura, payungnya aku bawa, ya? Kamu pake yang satunya aja."
"Iya santai aja," jawabku dan Mega sudah melesat keluar mengejar Ridho setelah mengguncang tubuh Mas Ken tapi tak dihiraukan.
"Yeee curang. Maunya pakai payung yang bagus," gumam Rio lalu melirikku yang sedang menata donat untuk kubawa ke sekolah dititipkan ke kantin."Kak Haura pakai payung mana nanti?"
"Yang mana aja penting bisa dipake," jawabku.
"Kamu mending pake payungnya Mas Ken aja deh. Tuh ambil." Randi menunjuk payung hitam besar di pojok ruangan. Aku terkekeh saat melihat ekspresi Rio.
"Udah kayak orang tua pakai payung gede begitu. Males banget."
"Ya udah gak usah payungan aja. Ribet." Randi berdiri dan menghampiri Mas Ken. Mengguncang tubuhnya untuk pamit, tapi lagi-lagi dibalas dengan hanya bergumam.
"Kak Haura, aku berangkat dulu." Randi pamit denganku. Aku mengangguk dan bilang hati-hati. Rio rusuh sekali memakai sepatu dan mengambil tas lalu menyusul Randi setelah akhirnya mau memakai payung seadanya.

Sekarang, giliranku. Donat di tupperware sudah kumasukkan tas. Setelah memastikan semua buku aman dari air hujan, aku memakai sepatu. Pukul 06.15 masih terlalu pagi sebenarnya, tapi karena hujan deras, pastinya kendaraan umum juga macet. Jadi, aku juga harus segera berangkat, tapi tidak ada payung.
"Mas Ken." Aku mengguncang tubuh Mas Ken. "Bangun. Aku berangkat juga, ya? Tapi gak ada payung. Gimana? Mas Ken, bangun ih!"
"Kalian kenapa sih, terlalu rajin berangkat kepagian. Mau jaga gerbang?" Mas Ken menguap, mengusap wajah setelah bangun dan mengacak rambut.
"Duh udah hampir setengah tujuh tau! Nanti macet gimana? Aku berangkat sendiri aja, ya? Payungnya aku bawa. Mas Ken nanti pakai jas hujan aja. Ya?"
Mas Ken justru melirikku dengan diam. Membuka selimut dan berdiri. "Tunggu sebentar. Aku cuci muka dulu. Bikin kopi dulu gih."
"Ish! Gak mandi?"
"Ntar mandi air hujan aja."
"Dih!" Aku tertawa. Merapikan selimut dan menumpuk bantal yang berceceran. Kemudian ke dapur menyiapkan kopi.

*
Mas Ken mengantarku sampai ke sekolah. Memaksaku membawa payung masuk sampai ke kelas dan dia hujan-hujanan dengan alasan sekalian mandi. Namun, aku tidak mau. Aku bisa lari sampai ke kelas. Mas Ken pun tetap bersikeras memaksaku membawa payung. Sampai akhirnya aku memanggil Rina, teman sebangkuku yang sedang lewat.
"Aku bareng Rina aja ya, Mas Ken." Aku tersenyum, dan Mas Ken mengalah.
"Hati-hati. Nanti pulang jangan kelayapan. Langsung pulang."
"Iyaaa!"
Aku sudah sepayung dengan Rani masuk gerbang. Menoleh sekali lagi dan melambaikan tangan pada Mas Ken. Setelah itu barulah Mas Ken membalikkan badan dan pergi.
"Enak banget ya kamu, punya Abang yang sayang banget begitu." Rani berkomentar.
"Apaan. Posesif banget. Kemarin aja gak diizinin pergi sama Kak Raga."
"Serius?"
"Iya. Kesel tau gak. Kak Raga pasti benci banget sama aku."
"Ya gak mungkinlah. Yang aku tau, Kak Raga itu gak gampang nyerah. Dia orang yang akan berusaha mati-matian buat dapetin cewek yang dia mau."
Omongan Rani benar. Saat masuk ke kelas, di mejaku sudah ada setangkai bunga mawar dan satu batang cokelat. Godaan dan seruan 'Cieee' dari para siswa pun berdatangan. Tentu saja dari Kak Raga. Siapa lagi, yang suka sekali memberi cokelat, tapi kali ini dengan bunga.
Siangnya, aku yang mencari Kak Raga ke lapangan basket. Benar, dia ada di sana sedang latihan dengan anak-anak kelas dua. Aku hanya duduk di antara siswi lain yang histeris melihat Kak Raga memasukkan bola basket untuk kesekian kali.

Saat istirahat dan para pemain mengambil minum, Kak Raga justru menghampiriku. Aku tersenyum menyapa dan menyodorkan air putih. Kak Raga menerima dan meneguknya sampai tandas. "Air putih bisa jadi enak gini, ya, kalau yang ngasih orang spesial?"
Aku menahan senyum. Rina justru jahil berdehem berkali-kali. Aku menyenggol lengannya untuk diam. Namun rupanya, Kak Raga sama sekali tak terganggu. Aku mengucapkan terima kasih untuk bunga dan cokelatnya. Pun meminta maaf atas kejadian kemarin, Mas Ken yang bersikap sangat tidak bersahabat.
"Santai aja, Ra. Gue ngerti kok. Yang penting kan gue masih ada kesempatan ngedeketin kamu di sekolah."
Aku tersenyum. Mengangguk entah membenarkan apa. Namun kemudian, menyodorkan sapu tangan warna merah dengan tulisan kecil di pinggir. 'Raga Basketball King'.
"Maaf, Kak. Cuma bisa kasih kado itu."
Raga tertawa kecil. Mengembalikannya padaku. Aku terkejut mengira ia tidak menyukai tapi ternyata … "Coba pakein," katanya sambil menyodorkan lengannya yang berotot.
Malu-malu sambil menahan senyum aku memakaikan sapu tangan yang memang ukurannya cukup besar, jadi bisa diikatkan ke lengan.
"Buat penyemangat!" katanya yang sukses membuatku tersipu malu.

*
"Cieee dapet surat cinta!" Mega merampas kertas yang sedang kubaca di kamar, malam sebelum tidur.
"Balikin, Kak!" Aku mengejar, mencoba menghalanginya agar tidak membaca. Namun, Mega tertawa sambil membaca keras-keras puisi yang diberikan Raga tadi siang sebelum pulang sekolah.
"Astaga ini romantis banget!" serunya lalu keluar kamar.
"Balikin, Kak!" Aku mengejar. Bisa bahasa kalau Mas Ken sampai tahu.
"Hei semuanya. Haura dapet surat cinta dari cowok!" serunya menggebu-gebu dengan mengangkat tinggi-tinggi kertas itu. "Dia juga dapet bunga sama cokelat. Astaga manis banget sih!"
Semuanya menoleh ke arah Mega. Termasuk Mas Ken. Aku segera merampas surat tersebut dan menyembunyikannya di belakang punggung.
"Surat? Dari siapa?" Mas Ken melangkah mendekat.
Aku menggeleng kuat. Namun, Mega justru menjawab, "Dari cowoklah, Mas Ken. Namanya Raga."
Mas Ken berdiri di hadapanku dengan sorot mata tajam. "Berikan surat itu."
Aku menggeleng.
"Haura!"
"Cuma puisi, Mas Ken. Bukan surat cinta."
"Ya mana!" Mas Ken semakin melotot.
Perlahan aku memberikan surat tersebut karena tak sanggup melihat Mas Ken semarah itu. Tentu dengan perasaan dongkol pada Mega.
"Dengar semuanya!" Mas Ken menatap ke semua adik-adiknya. "Jangan pernah ada yang pacaran sebelum selesai sekolah! Kalau kalian mau pacaran, silakan, tapi berhenti sekolah. Mau?"
Semuanya menggeleng. Aku akhirnya menunduk.
"Kamu, Haura." Mas Ken jelas sedang menatapku, tapi aku tetap menunduk. "Sudah berapa kali aku bilang jangan cinta-cintaan! Jangan nerima apa pun dari cowok! Sekarang apa?"
Aku masih diam.
"Mana bunga dan cokelatnya?"
Aku mendongak.
"Ambil!"
Tanpa kata aku melangkah masuk ke kamar mengambil semua barang pemberian Kak Raga. Selain cokelat dan bunga, ada boneka kecil warna merah jambu.
Semua kuberikan pada Mas Ken, tanpa sepatah kata pun. Bahkan sama sekali tidak menatapnya. Terserah mau dibuang atau dibakar barang-barang itu.
"Sorry!" Mega berkata saat di kamar, beberapa menit setelah Mas Ken membuang semua barang-barang itu ke tempat sampah.
Aku hanya melirik sekilas lalu memejamkan mata. Malam itu, untuk pertama kalinya aku tidak keluar kamar menamani Mas Ken duduk sendiri di luar.
*
Esoknya, saat Mas Ken mengantarku ke sekolah, selama perjalanan, kami sama-sama diam. Jika biasanya aku jahil berjinjit dan bilang aku sudah tinggi dan dua tahun lagi bisa lebih tinggi. Mas Ken akan mendelik dan berkata bahwa sepuluh tahun lagi tinggiku bisa mencapai lima meter.
Ya, pagi itu untuk pertama kalinya kami berjalan dalam diam. Aku yang masih marah atas kejadian semalam, dan Mas Ken yang entah mengapa juga diam seolah merasa dirinya memang benar.
Namun, semua berubah saat pulang sekolah. Aku terkejut saat melihat Mas Ken berdiri di depan gerbang menungguku.
"Mas Ken ngapain?"
"Jemput kamu. Apa lagi?"
"Hah?" Aku mengernyitkan dahi, merasa bahwa Mas Ken sudah berlebihan. "Gak kerja?" tanyaku kemudian.
"Izin keluar bentar."
"Cuma buat jemput aku?"
"Bukan."
"Terus?"
"Ayo ikut." Mas Ken sudah berjalan lebih dulu.
Aku semakin bingung. Entah berapa kali aku bertanya dalam perjalanan, tapi Mas Ken tidak menjawab.
"Ayo turun." Mas Ken mengajak turun. Tak menghiraukan pertanyaanku yang bingung mengapa berhenti di pasar.
"Kita mau ke mana sih, Mas Ken?" Aku berjalan mengikuti. Mensejajarkan langkah.
Mas Ken hanya mengedikkan bahu. Dan sampailah ke toko boneka, Mas Ken baru menghentikan langkah.
"Ayo masuk."
"Mau ngapain?"
"Ayo." Mas Ken menarik tanganku.
Untuk sesaat, aku terpesona oleh semua boneka yang dipajang dengan berbagai jenis dan warna.
"Pilih mana yang kamu suka. Terserah yang mana aja."
"Hah?" Aku kembali fokus pada Mas Ken. "Maksudnya? Mas Ken mau beliin?"
"Iya, Haura. Apa lagi? Buruan pilih."
Aku membelalakkan mata tak percaya. "Serius?"
"Haura waktuku gak banyak. Harus segera balik kerja."
"Eh?"
Aku tersenyum lalu melihat-lihat boneka di sana. Namun, saat melihat harganya, aku kembali menghampiri Mas Ken. Menarik tangannya dan berbisik, "Mahal banget, Mas Ken. Jangan deh ya. Nanti aja kalau aku ulang tahun ke 17. Kado spesial sweet seventeen."
Mas Ken tertawa kecil. "Aku abis gajian, Haura. Gak masalah sekali-kali beliin kamu boneka. Ya itung-itung buat permintaan maaf aku semalem yang udah kasar ke kamu."
Aku tersenyum haru lalu merangkul Mas Ken. "Sayaaanggg Mas Ken."

-----


CATATAN KELAM Sang Pendosa 10
*
Terbayang disaat kita bersama
Disaat penuh cinta, canda dan tawa
Tak mungkin mudah untuk kulupa
Masa-masa yang indah, suatu kita bersama
Akankah mungkin kan terulang lagi
Masa-masa bahagia, yang kita lewati bersama
Kuyakin tak 'kan mungkin terjadi
Karena kau tlah bersamanya tinggalkan diriku
"Itu Mas Ken gak ada lagu lain apa ya? Nyanyinya itu mulu." Mega berkomentar, menarik selimut dan merangkul boneka besar hadiah ulang tahunnya yang ke 17 waktu itu, dari Mas Ken.
Aku hanya tersenyum menanggapi, juga sambil memeluk boneka bear warna cream ukuran sedang yang dibelikan Mas Ken tadi siang. Tidakkah ia dengar dari suara dan nadanya, Mas Ken menyanyikan penuh penjiwaan? Apalagi ditemani rintik hujan malam-malam. Siapa pun yang mendengar pasti akan tersentuh. Ada makna mendalam dari lirik lagu tersebut. Aku bisa merasakannya tanpa harus bertanya.
Satu jam kemudian setelah berusaha untuk memejamkan mata, akhirnya aku menyerah. Percuma, karena setelah sekian tahun pun bayangan menjijikkan malam itu tetap mengganggu. Menyingkap selimut, dan memilih keluar kamar seperti biasa.
"Pake jaket, Mas Ken. Nanti masuk angin." Aku menyodorkan jaket hitam hadiah dariku tahun lalu, yang selalu dipakai. Tadi kuambil dari ruang tamu, tergantung di dinding.
Mas Ken menerima, lalu menggeser tubuh dan menepuk-nepuk bangku kayu yang ditempatinya tadi. "Sini duduk. Kirain udah gak mau nemenin lagi."
"Kemarin kan aku lagi marah sama Mas Ken." Aku duduk sambil memeluk boneka.
"Siapa yang nyuruh marah?"
"Ish! Mas Ken bikin marah."
"Tapi gak ada yang nyuruh kamu marah, kan?"
"Mas Ken ish!" Aku memukul lengannya yang sudah terlapisi jaket. "Nyebelin!"
Mas Ken tertawa, kembali memangku gitar dan memetik senarnya pelan. "Berarti sekarang udah gak marah?"
"Enggak dong. Kan udah dikasih boneka baru." Aku memeluk semakin erat boneka itu.
Mas Ken melirik sekilas dan tersenyum. "Jangan-jangan abis ini ntar sering marah-marah, biar dikasih hadiah?"
"Dih! Kapan aku marah-marah? Gak pernah malah. Mas Ken tuh yang makin galak."
"Ya galak, kamu bandel begitu."
"Bandel apaan? Kan gak pacaran."
"Gak pacaran tapi surat-suratan."
"Ish! Itu cuma puisi. Bukan surat cinta."
"Sama aja."
"Bedalah."
"Sama."
"Terserah Mas Ken." Aku memanyunkan bibir.
"Ambekan sekarang."
"Iya. Biar dirayunya pake hadiah."
Mas Ken terbahak. "Ya udah sini dikasih hadiah lagu."
"Harus kuakui sulit cari penggantimu. Yang menyayangku." Aku menyanyikan lirik lagu yang biasa dinyanyikan Mas Ken, lalu terkekeh sendiri. "Lirik lagu yang penuh makna. Makna kehilangan yang mendalam. Iya kan, Mas Ken?"
Mas Ken tersenyum tipis, wajahnya berubah sendu. Tangannya masih memetik senar dengan irama sangat pelan. Tatapannya menerawang pada hujan yang semakin deras.
Aku pun mengikuti tatapannya. "Mas Ken percaya kalau berdoa saat hujan, maka doa kita akan didengar?"
"Entah."
"Aku pernah berdoa minta kebahagiaan, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Kehancuran." Aku mendengkus pelan dan menunduk.
"Kamu tahu, Ra? Kenapa aku tidak pernah bisa tidur setiap malam? Bahkan secapek atau sengantuk apa pun aku, sulit bagiku memejamkan mata."
Aku menoleh, Mas Ken masih menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. "Kenapa?" tanyaku penasaran. Sudah sejak awal ingin aku tanyakan tentang itu, tentang nama lengkapnya, tentang keluarganya, dan banyak hal lainnya yang seolah disembunyikan.
Mas Ken menghela napas panjang, meletakkan gitar di samping, dan merogoh dompet di saku celana. Kemudian mengeluarkan sesuatu dari sana.
"Kamu lihat ini, Ra? Aku pernah bahagia dulu. Sangat bahagia dengan keluarga yang utuh."
Aku menerima selembar foto kecil yang dilaminating. Ada lelaki dewasa memangku anak perempuan. Lalu ada wanita dewasa merangkul anak lelaki yang tersenyum lebar.
"Itu keluargaku. Papa dan mamaku. Anak lelaki itu aku waktu usia sepuluh tahun. Dan anak perempuan kecil itu adikku, namanya Arabelle, usianya enam tahun."
Aku memerhatikan setiap wajah di foto tersebut. Kemudian tersenyum saat fokus menatap wajah Mas Ken saat kecil. Terlihat sangat menggemaskan.
"Dulu kami sangat bahagia, Ra. Aku punya Papa yang bahkan sangat jarang marah walau terlihat tegas. Papa yang pekerja keras. Berangkat kerja pagi selalu mengantar anak-anaknya sekolah lebih dulu. Pulang pasti membawa bungkusan entah jajan atau mainan. Mama selalu mengomel karena Papa yang berlebihan memanjakan. Tapi Papa selalu bilang, bahwa dia bekerja untuk istri dan anak-anaknya. Jadi, uangnya untuk apa lagi kalau bukan untuk membahagiakan anak dan istri?"
Mas Ken tersenyum lebar, dan aku mulai fokus mendengarkan.
"Mama juga wanita yang sangat hebat. Sangat sabar walau selalu mengomel jika aku bandel jahil ke Arabelle. Setiap pagi, sibuk memasak untuk sarapan, membangunkan suami dan anak-anaknya, menyiapkan bekal makanan, dan mengurus semua keperluan sekolah anak-anaknya. Masakan Mama enak, Ra. Sama kayak masakanmu."
Aku tersenyum saat Mas Ken menoleh, tersenyum padaku. "Tapi aku kangen masakan Mama." Mas Ken kembali menatap lurus ke depan. "Dulu aku bandel banget sama Mama. Gak nurut. Susah kalau disuruh makan. Sekarang malah kangen."
"Arabelle yang doyan makan. Dia makannya banyak, makanya badannya gembil begitu. Pipinya bulat-bulat, dan aku paling suka narik pipinya sampai dia nangis lalu ngadu ke Mama."
Mas Ken tiba-tiba terdiam setelah tertawa pelan. Aku tahu bagaimana rasanya merindukan sosok yang telah hilang. Perih!

"Semua kebahagiaan itu hilang saat Mama divonis terkena kanker darah stadium akhir. Kebahagiaan itu musnah seketika. Papa mati-matian kerja dan cari pinjaman sana-sini untuk pengobatan Mama. Tapi akhirnya, Mama tetap pergi. Kebahagiaan itu hilang bersama perginya Mama."
Kusentuh jemari Mas Ken dan menggenggamnya erat. Mas Ken menoleh, tersenyum. Senyum yang kini kutahu menyimpan banyak luka.
"Itu belum seberapa, Ra. Kebahagiaan lain pun tercabut sampai ke akarnya. Habis! Semua harta yang Papa punya, sudah terjual termasuk rumah yang waktu itu dalam jangka sebulan harus dikosongkan. Semua untuk membayar utang yang Papa pinjam untuk pengobatan Mama. Tapi Mama tetap pergi. Papa marah! Entah marah pada siapa. Karena semenjak itu, Papa selalu marah-marah bahkan hanya karena kesalahan kecil sekali pun. Aku yang selalu jadi pelampiasan. Dan hari itu …."
Mas Ken menggantungkan kalimatnya, dan menghela napas panjang seolah sedang memberi ruang hatinya yang sesak sebab luka kembali terbuka.
"Hari itu Papa pulang dalam keadaan mabuk parah. Papa meracau tidak jelas. Marah-marah dan aku lelah melihatnya seperti itu. Aku balas marah tapi Papa seperti orang kesetanan memukulku. Usiaku saat itu 13 tahun, melawan pun jelas kalah. Arabelle menangis melihatku yang dipukuli Papa. Dia hendak menghentikan tangan Papa yang tanpa ampun terus menghajarku. Sayangnya …."
Lagi lagi Mas Ken menghentikan kalimatnya, menarik napas panjang dan kali ini ia mendongak. Aku tahu ia tengah berusaha menahan air mata. Kugenggam semakin erat jemarinya. Menguatkan walau itu seakan percuma.

"Papa menepis tangan Arabelle, mendorongnya kasar. Umurnya baru sembilan tahun. Tubuhnya terpelanting menghantam meja makan. Tangannya tanpa sengaja menarik taplak meja, sup di mangkuk yang masih penuh dan panas itu menyiram tubuhnya! Bisa kamu bayangkan gimana keadaannya?"
Aku menelan ludah, membayangkan kejadian itu saja sudah sangat mengerikan, bagaimana melihatnya secara langsung? Kugenggam semakin erat jemari Mas Ken yang gemetar. Wajahnya merah padam antara marah dan menahan air mata.
"Arabelle meninggal, Ra." Mas Ken kembali berucap setelah bisa mengatur napasnya yang menggebu-gebu. "Dia meninggal setelah dirawat di rumah sakit selama dua hari."
Mas Ken mengusap wajahnya kasar. Aku tahu ia tengah mati-matian menahan air mata. Kulepas genggaman tangan, dan merangkul tubuhnya lalu menyandarkan kepala di bahunya. Ingin rasanya mengatakan sesuatu yang menenangkan, tapi aku tidak menemukan kata yang tepat.
"Aku tahu rasanya memiliki Ayah yang tidak bertanggung jawab, Ra. Aku tahu rasanya kehilangan sosok Ayah yang seharusnya menjadi tempat berlindung tapi yang terjadi justru sebaliknya. Kamu tahu, Ra?"

Aku mendongak, Mas Ken pun tengah menatapku lalu berkata, "Papa bunuh diri."
Mas Ken mendengkus kasar dan menggeleng pelan. "Bodoh, ya?"
Aku benar-benar tidak bisa berkata-kata untuk menanggapi cerita masa lalu Mas Ken. Hanya mimik wajah yang mencerminkan bahwa aku turut bersedih. Entahlah, siapa sangka jika masa lalu Mas Ken begitu suram.
Ditemani rintik hujan yang mulai reda, Mas Ken terus bercerita. Bahwa setelah ditinggalkan oleh adik dan papanya, Mas Ken diasuh oleh neneknya di rumah ini. Sayang, setahun kemudian neneknya pun meninggal. Meninggalkan Mas Ken yang semakin terpuruk, hancur, dan entah kata apalagi yang pantas menggambarkan keadaan Mas Ken saat itu.
Sebatang kara.
Berhenti sekolah karena tak punya lagi tujuan hidup. Usia Mas Ken saat itu 15 tahun. Seharusnya masuk SMA, tapi karena tidak ada biaya dan tak ada dukungan, Mas Ken memilih bekerja. Kerja apa saja. Dari mulai dagang asongan dan mengamen, sampai akhirnya dipertemukan dengan Randi, Ridho, Mega, dan Rio. Mas Ken seolah menemukan tujuan hidupnya lagi. Memiliki adik dan membantu mereka untuk bersekolah.
"Kamu tahu nama panjangku, Ra?"

Aku menggeleng dan bertanya lewat sorot mata. Sudah sejak pertama aku penasaran dengan nama lengkap Mas Ken. Sayangnya, setiap kali ditanya, Mas Ken hanya tersenyum tanpa jawaban.
"Kenzie Melviano. Artinya pemimpin yang bijaksana, dapat memberi keadilan, dan terhormat. Papa yang memberikan nama itu. Katanya, agar suatu saat nanti aku jadi seorang pemimpin." Mas Ken tertawa pelan.
"Nama yang indah sesuai dengan orangnya. Pemimpin. Bukankah Mas Ken sudah menjadi seorang pemimpin sekarang?" Aku tersenyum karena akhirnya bisa berkomentar dengan cerita Mas Ken. Dan yang kukatakan adalah kejujuran.
Mas Ken menyeringai tipis dan mengedikkan bahu. "Aku tahu rasanya kehilangan kasih sayang dan kehilangan orang yang disayang, Ra. Inilah caraku menyembuhkan luka dengan menyayangi mereka dan menganggap keluarga."
"Termasuk sayang sama aku?" Aku mengangkat satu alis, menggoda, hanya untuk mencairkan suasana yang sedari tadi terasa menyedihkan.
Mas Ken justru mengacak rambutku. Aku tertawa lalu merangkulnya, dan berkata, "Sayanggg, Mas Ken!"
Mas Ken balas mendekap, lalu berbisik, "Mau tahu satu rahasia lagi, Ra?"
"Apa?"
"Tapi nanti, saat ulang tahunmu ke 17 akan kuberitahu satu rahasia lagi."
"Kenapa harus nunggu aku ulang tahun?"
"Karena spesial."
"Rahasia spesial?"
Mas Ken tertawa.

"Aneh ih. Tapi bukan rahasia itu kan yang bakal jadi kadonya?"
"Bisa jadi."
"Dih. Seberapa spesialnya rahasia itu?"
Mas Ken mengedikkan bahu. "Kamu mau minta kado apa, Ra? Semuanya bisa kamu minta. Apa pun itu."
"Sungguh?"
"Ya. Mau apa emangnya? Bilang sekarang, jadi kalau sekiranya itu mahal, bisa nabung dulu."
Aku menggeleng. "Permintaanku ini lebih dari itu, Mas Ken."
Mas Ken mengernyitkan dahi dan aku tertawa melihat ekspresinya.
"Aku gak minta apa-apa dari Mas Ken. Aku cuma minta, Mas Ken jangan pergi. Aku gak mau kehilangan orang yang aku sayang untuk kesekian kali."
Mas Ken menatapku lekat. Sebuah tatapan yang membuatku merasakan hal ganjil di hati. Sebelum aku memalingkan wajah, Mas Ken telah lebih dulu berucap, "Sebuah permintaan yang sangat mudah untuk dikabulkan."
"Benarkah? Mas Ken janji tidak akan pergi?"
"Iya."
Aku tersenyum lebar, sekali lagi merangkul Mas Ken dan berseru, "Sayanggg, Mas Ken!"
Janji itu ... justru membuatku tersiksa pada akhirnya.

Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar