Persaudaraan Muslimah Indonesia, mempelajari Islam Secara Menyeluruh.

Minggu, 16 Februari 2020

CATATAN KELAM Sang Pendosa 11 - 15

CATATAN KELAM Sang Pendosa 11
by Popy Novita

*
Malam itu, setelah hari kenaikan kelas, Mas Ken mengajak kami semua ke studio foto. Katanya, agar punya kenang-kenangan foto bersama. Karena selama bertahun-tahun tinggal bersama, kami belum punya satu foto pun.

Dari rumah, kami sibuk memakai pakaian paling bagus dan dandan rapi. Ridho terlihat rapi sekali dengan kemeja kotak-kotak lengan panjang yang dikancing sampai ke leher. Mega yang biasa memakai celana jins, malam itu cantik dengan dress hadiah dariku yang baru dipakai. Randi yang tak pernah mau melepas topinya, dan Rio lucu sekali dengan rambut yang disisir berkali-kali.


Mas Ken sendiri malah terlihat santai dengan hanya mengenakan kaus polos warna putih. Aku memaksanya mengenakan kemeja lengan pendek tapi tidak perlu dikancing. Terlihat keren. Sedangkan aku sendiri juga memakai dress selutut tanpa lengan, dan rambut tergerai panjang.
Di studio foto, rusuh sekali berganti-ganti gaya. Fotografernya berkali-kali meminta agar kami tidak tegang, menyuruh senyum lebar, atau gaya bebas. Entah berapa kali kami bergonta-ganti foto. Foto bersama-sama dan foto berdua bergantian. Lengkap. Dan saat foto berdua dengan Mas Ken, aku tersenyum lebar merangkulnya.
Menyenangkan sekali, tak sabar menunggu hasilnya. Semingguan barulah keluar. Saat itu, Mas Ken pulang dengan wajah ceria membawa bingkisan yang ternyata isinya album foto. Kami tertawa melihat satu persatu hasil foto tersebut. Dan kami, boleh menyimpannya sendiri-sendiri.
Aku menyimpan dua foto. Satu foto bersama dan satu foto berdua dengan Mas Ken.
*
Saat itu aku sudah kelas dua SMA, tak lama lagi usiaku 17 tahun. Entah mengapa rasanya tidak sabar menunggu hari itu tiba. Sweet seventeen. Dan yang pasti, Mas Ken akan memberitahu satu rahasia lagi. Rahasia spesial, katanya.
Aku masih satu kelas dengan Rina. Meskipun tidak pernah mendapatkan peringkat tiga besar, tapi Rina cukup pintar hingga bisa berada di kelas favorit lagi bersamaku. Membuatku tak perlu bingung harus sebangku dengan siapa di kelas dua. Rina tetap menjadi sahabatku di sekolah.
Siang itu, saat jam istirahat, Kak Raga datang menghampiri. Cukup terkejut karena sudah hampir dua bulan tidak bertemu semenjak dia lulus sekolah, dan kabar yang aku dengar, dia kuliah di universitas yang cukup jauh dari sekolahan ini.

"Aku bawa ini buatmu." Kak Raga menyodorkan dua novel. Aku menerima dengan senang hati, karena koleksi novelku akan bertambah banyak di rumah selain pemberian dari Mas Ken.
Kami duduk berdua di depan gerbang, sambil makan bubur ayam. Kak Raga masih sama dengan sebelumnya, sangat menyenangkan dengan selera humor yang cukup tinggi. Aku bisa dibuatnya tertawa berkali-kali. Tak pernah keberatan dengan status yang mungkin bisa dibilang menggantung.
"Maaf, Kak. Aku belum boleh pacaran sama Mas Ken." Aku menolak saat Kak Raga menyatakan perasaannya, sebelum lulus sekolah waktu itu. Dia mengerti dan tetap menunggu sampai aku siap. Tak pernah memaksa apalagi menuntut penjelasan.
Aku tak pernah bilang pada Mas Ken tentang Kak Raga yang masih sering mengunjungiku di sekolah. Karena pasti hanya akan membuatnya marah padaku seperti kejadian saat aku meminta izin pergi jalan-jalan berdua dengan Kak Raga, atau saat Kak Raga memberikan boneka, bunga, atau puisi. Terakhir, Mas Ken malah mendiamkanku saat aku memberikan hadiah kelulusan pada Kak Raga.
Meskipun aku bilang tidak pacaran dan tidak ada hubungan apa pun, Mas Ken tetap marah. Sepertinya, Mas Ken memang sedikit berlebihan atau terlalu was-was aku salah bergaul. Karena bukan hanya Kak Raga yang Mas Ken tidak suka, tapi sahabatku Rina juga.
"Kamu masih berteman dengan dia?" tanyanya suatu pagi di hari minggu, saat aku memintanya menggunting kukuku.
"Siapa?"
"Temen cewek kamu itu, yang biasa bareng kamu."
"Rina?"
"Iya."
"Kenapa? Mas Ken suka ya sama dia?" Aku mengulum senyum, menggoda. Tak ada maksud lebih, tapi Mas Ken langsung menatap tajam seolah tidak suka dengan pertanyaanku.
"Jangan terlalu dekat sama dia," katanya kemudian.
"Kenapa? Dia temen aku dari kelas satu. Baik kok."
"Semua orang juga bisa bersikap baik, Haura. Baik di suatu tempat dan keadaan. Tapi berbeda jika sudah berada di tempat lain."
"Maksud Mas Ken apa sih? Gak jelas ngomongnya."
Mas Ken kembali menatapku dengan tatapan yang sungguh-sungguh. "Dia bukan teman yang baik, Haura. Kamu boleh berteman dengan siapa saja, asal jangan terlalu dekat. Takutnya kamu akan terpengaruh dengannya."
Penjelasan yang penuh teka-teki. Sama sekali tidak mengerti tentang apa yang dikatakan Mas Ken. Saat itu aku hanya merasa Mas Ken terlalu berlebihan, karena bahkan sahabatku sendiri dicurigai akan membawa pengaruh buruk padaku.
Itu pemahamanku sebelum akhirnya aku tahu apa maksudnya. Siapa Rina sebenarnya. Entah darimana Mas Ken tahu, mungkin pernah melihatnya secara langsung. Kemudian takut aku ikut terjerumus pada pekerjaan yang hina.
Sayangnya, takdir justru membawaku pada lumpur dosa itu pada bulan kelahiranku.
17 tahun. Sweet seventeen. Hari spesial. Hari yang kutunggu-tunggu. Namun, berubah menjadi hari paling mengerikan.

Rio datang ke sekolahan ketika aku masih ada di kelas. Aku langsung meminta izin kepada guru untuk keluar kelas sebentar menemuinya.
"Ada apa?"
"Mas Ken …." Rio tersenggal-senggal, tangannya menunjuk-nunjuk entah menunjuk apa.
"Kenapa?"
"Mas Ken kecelakaan."
"Yang bener kalau ngomong, Rio!" Tanpa sadar aku membentak.
"Aku gak bohong, Kak. Sekarang Mas Ken ada di rumah sakit. Kak Ridho nyuruh aku kasih tahu Kak Haura."
Aku langsung melesat menuju rumah sakit, tanpa pamit kepada guru, bahkan tas pun tak kupedulikan.
Hampir satu jam perjalanan menuju rumah sakit besar di Ibu Kota, karena dari cerita Rio, keadaan Mas Ken sangat parah. Sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat tapi dirujuk ke rumah sakit yang lebih memadai.
Aku tak peduli bagaimana keadaannya dari cerita, aku ingin segera menemui dan memastikan bahwa Mas Ken baik-baik saja. Maka setelah tahu di mana Mas Ken dirawat, aku lari dengan cepat. Rio berkali-kali berteriak memanggil, agar aku menunggu, tapi aku tak peduli. Aku hanya ingin segera melihat Mas Ken.
Di sana, di depan sebuah ruangan, Ridho, Mega, dan Randi berdiri dalam diam. Mega bahkan berurai air mata menghambur memelukku. Tergugu dan berkali-kali menyebut, "Mas Ken, Ra. Mas Ken …."
Tubuh Mas Ken terkulai tak berdaya di sebuah ruangan operasi. Mendengarnya saja sudah sangat menakutkan. Apalagi saat tahu segala kemungkinan bisa saja terjadi.
Rina menyusulku di rumah sakit, membawakan tasku yang tertinggal di kelas. Memelukku, menenangkan. Selalu berbisik bahwa Mas Ken akan baik-baik saja.
Namun kenyataan justru sebaliknya. Apalagi saat dokter bilang tentang biaya. Tentang keadaan Mas Ken yang harus segera dioperasi. Jika tidak, maka keadaannya akan semakin memburuk.
"Lakukan apa saja, Dok! Tolong selamatkan Abang saya!" Aku berucap tegas walau bergetar. Memastikan bahwa soal biaya akan segera diurus.
Meskipun tubuhku terasa lemas saat tahu total biaya operasi dan sebagainya. Rina yang menemaniku di ruang administrasi, mengusap punggungku.
Aku mengeluh dalam diam. Tak tahu harus bagaimana dengan semua biaya tersebut. Aku tergugu, duduk di kursi memikirkan banyak hal. Tentang keadaan Mas Ken yang bersimbah darah di sebuah ruangan yang harus segera mendapat pertolongan. Luka-luka di tubuh Mas Ken memang sudah dijahit oleh dokter. Pertolongan pertama telah diberikan. Namun, kaki dan lengan harus segera dioperasi karena ada tulang yang tergeser atau entah apa tadi penjelasan dokter. Pikiranku sepenuhnya tertuju pada keselamatan Mas Ken.
"Aku bisa membantumu, Ra."
Aku menoleh pada Rina yang duduk di sampingku.
"Tapi bukan membantu masalah uang. Aku gak punya uang sebanyak itu. Aku bisa bantu kamu menemui seseorang yang akan memberimu pekerjaan dengan bayaran di muka. Uangnya bisa kamu gunakan untuk membayar biaya rumah sakit."
Aku mengusap wajah secara kasar. Antusias dengan tawaran Rina. Aku mengangguk dan mengatakan akan melakukan pekerjaan apa pun untuk mendapatkan uang, demi Mas Ken.
Rina tidak bilang pekerjaan apa. Hanya membawaku pada sebuah rumah besar di kota. Dia menggandengku masuk dan bilang, "Gak usah takut. Di sini udah banyak yang kenal sama aku kok."
Aku memang tidak takut, tapi tatapan mereka membuatku merasakan hal aneh, apalagi saat memasuki sebuah ruangan di lantai tiga. Ruangan besar dengan sofa dan meja di samping pintu.
"Kamu bawa siapa, Rina?" Seorang wanita paruh baya dengan dandanan elegan itu bertanya. Berjalan mendekat dengan senyum ramah.
"Temanku, Tante. Dia butuh uang sekarang juga."
"Oh. Berapa? Sudah tahu pekerjaan di sini?"
"Hm … belum sih. Tapi aku yakin dia pasti mau."
Wanita itu tersenyum lebar, duduk di sampingku. Menatapku dengan tatapan yang membuatku risih.
"Cantik. Masih terlihat segar. Kamu butuh uang berapa, Sayang? Katakan."
"Apa benar, saya bisa mendapatkan uang itu sekarang?"
Wanita itu tertawa pelan. "Tentu saja. Asal kamu tanda tangan surat perjanjian. Kontraknya, tergantung dengan jumlah uang yang kamu inginkan. Bagaimana?"
Aku mengangguk cepat. Wanita itu tersenyum dan berdiri, lalu mengambil sesuatu dari meja kerjanya. Selembar surat lalu memberikannya padaku untuk dibaca dan diisi seperti mengisi data diri.
Mataku membelalak saat membaca bagian ….

*
Ibu kota kembali diguyur hujan malamnya. Langkah kaki terseok-seok turun dari taksi menuju rumah sakit. Aku membiarkan air hujan membasuh tubuhku.
Hari ini ulang tahunku, Mas Ken. Seharusnya malam ini kita sedang berpesta seperti sebelumnya. Seharusnya malam ini kita sedang berbahagia, dan aku meniup lilin dengan angka 17. Dan bukankah Mas Ken sudah berjanji akan memberitahu satu rahasia lagi? Bukankah Mas Ken berjanji akan memberikan apa pun yang kuminta? Aku hanya minta Mas Ken jangan pergi. Bukankah Mas Ken sudah berjanji? Dan aku akan melakukan apa pun agar Mas Ken tidak pergi.
Bahkan melawan takdir sekalipun!
Tangisku pecah di bawah derasnya air hujan. Air hujan yang mampu menghapus air mataku. Air mata kekalahan dan ketakutan. Takut akan kehilangan.
Seandainya saja, air hujan ini mampu menghapus dosa yang baru saja kulakukan. Mungkin rasanya tidak akan terlalu menyakitkan, karena takut akan segala kemungkinan.
Kemungkinan yang akan membuat Mas Ken pergi.

-----


CATATAN KELAM Sang Pendosa
Bagian 12
*
Mataku membelalak saat membaca bagian ….
"Ini maksudnya apa?" Aku bertanya, menunjuk pada bagian-bagian yang ganjil di kertas perjanjian.
Wanita itu tertawa lalu menjelaskan bahwa itulah pekerjaan yang dia tawarkan. Rumah ini adalah tempat prostitusi online maupun offline. Tempat perdagangan perempuan, pertukaran hubungan seksual, tapi yang jelas tidak dilakukan di rumah itu. Rumah itu hanya tempat transaksi, lalu pembeli akan membawa barang yang dibeli ke sebuah villa atau hotel.
Pekerjaan yang sangat menjijikkan!
Aku menatap marah pada Rina, menuntut penjelasan. Sayangnya, fakta baru terkuak saat itu juga. Fakta tentang sahabatku itu.
"Aku sudah sejak umur 14 tahun melakukan pekerjaan ini, Haura. Jadi jangan heran lagi. Ini sudah sangat biasa bagiku." Rina dengan santai menjelaskan sambil membuka kancing seragam. "Hanya ini yang bisa kulakukan untuk membantumu. Pilihan tetap ada di tanganmu. Gak ada paksaan."
Aku masih menatap tak percaya dengan apa yang baru saja dia katakan.
Setelah menanggalkan seragam menyisakan tanktop hitam dan mengganti rok dengan celana jeans, Rina berdiri sambil melepas ikat rambut. Tampilan yang berbeda dengan sikap sedikit manja, hilanglah sosok Rina yang selama ini kukenal.
"Hidup ini keras, Haura. Kalau kamu masih menjunjung tinggi harga diri atau melihat sesuatu dari halal dan haram, ya silakan hidup terlunta-lunta dan sengsara." Rina tertawa pelan, berjalan mendekatiku. "Terkadang, kita harus mengorbankan sesuatu demi mendapatkan sesuatu yang lebih diprioritaskan. Sekarang, mana yang lebih prioritas? Keselamatan abangmu itu, atau harga dirimu?"
Rina mengedikkan bahu lalu melirik jam di pergelangan tangannya dan kembali berkata, "Aku tinggal, ya. Aku ada pekerjaan malam ini." Dia mengedipkan mata dengan senyum paling memuakkan yang pernah kulihat darinya. "Pastikan kamu kembali ke rumah sakit dengan membawa uang. Itu kalau kamu beneran ingin abangmu itu selamat."
Kedua tanganku terkepal dengan sorot mata menatap marah pada Rina. Ingin rasanya kumaki dengan sumpah serapah karena dia bukannya membantu malah semakin menyudutkanku. Dia pikir aku mau melakukan pekerjaan hina ini?
"Di sini tidak ada paksaan." Wanita paruh baya itu berucap setelah Rina keluar dari ruangannya. "Kalau kamu mau ya silakan tanda tangan dan lakukan pekerjaan sesuai perjanjian. Tapi kalau tidak, ya silakan keluar dan pulang. Cari pinjaman uang di luar sana yang menurutmu bisa langsung memberikan saat ini juga."
Aku tahu dari nada suaranya ia tengah mengejek, karena mana mungkin ada orang yang mau meminjamkan uang dengan jumlah banyak tanpa jaminan.
"Waktuku tidak banyak, Sayang. Aku harus menemui seseorang setengah jam lagi. Cepat putuskan sekarang."
Mata terpejam dengan kedua tangan terkepal. Pilihan ini sulit. Sangat rumit. Bagaimana mungkin takdir membawaku pada pilihan yang dua-duanya tidak kuinginkan. Aku ingin Mas Ken segera diselamatkan. Tapi aku juga tidak ingin melakukan pekerjaan hina ini.
Air mata terjatuh tiada henti saat mengingat semua kebaikan Mas Ken. Tentang keadaan kami semua jika Mas Ken tidak selamat. Tentang janji-janji masa depan yang lebih cerah dan penuh warna demi membalas kebaikan Mas Ken. Semua itu membuatku sesak saat sekarang Mas Ken justru terbaring lemah di ranjang sebuah ruangan operasi di rumah sakit.
Malam itu … aku mengorbankan sesuatu yang paling berharga dalam diriku, demi seseorang yang jauh lebih berharga.
*
Setelah menandatangani surat perjanjian tersebut dengan derai air mata, wanita yang memintaku memanggilnya Tante Ambar itu membawaku menemui seseorang di ruangan lantai satu. Orang yang mengubah diriku dari angsa buruk rupa menjadi Cinderella.
"Luar biasa!" Tante Ambar tersenyum lebar saat melihat penampilanku yang telah dipoles sedemikian rupa.
"Ingat, Haura. Ini tamu pertama yang harus kamu layani sepenuh hati. Jangan membuatnya kecewa atau kamu akan mendapatkan masalah darinya."
Aku hanya menatap datar tanpa jawaban. Tante Ambar membawaku keluar. Di ruang tamu ada lelaki yang sudah menunggu. Lelaki dengan gaya sok keren dengan tatapan menjijikkan. Basa-basinya kuabaikan tapi dia justru tertawa, menganggap bahwa aku menunjukkan sikap yang menggairahkan.
"Kamu panggil Abang Andra. Jangan Om." Lelaki itu protes saat aku memanggilnya dengan sebutan Om. Aku hanya mengangguk, dalam hati mencibir, sudah berumur tapi berperilaku sok muda!
Andra membawaku ke sebuah hotel. Aku hanya diam mengikuti sepanjang jalan. Mengangguk dan menggeleng saat ditanya. Menunduk dan menghindar dari tatapannya.
Malam itu, tepat usiaku 17 tahun. Seharusnya aku tengah bahagia berpesta, meniup lilin, memotong kue, mendengar nyanyian dari Mas Ken, melihat Mega dan Rio bertengkar karena rebutan potongan kue pertama, melihat Randi dan Ridho berisik meniup terompet dan menerima kado-kado unik dari mereka.
Seharusnya malam itu aku berbahagia. Bukan sebaliknya. Berada di kamar hotel bersama seorang lelaki yang tidak kukenal. Lelaki yang menatap penuh nafsu dan akan membuatku merasa kotor karena mengizinkannya menyentuh harga diriku.
Aku tergugu saat Andra memaksa menciumku. Berkali-kali menghindar dari sentuhan tangannya, sampai akhirnya membuat dia jengkel dan marah. Tak kusangka dia lelaki yang tempramen. Tak segan menampar, bahkan memukul saat aku menolak.
Malam itu … malam terkutuk itu kembali terulang.
*
Orang-orang berseragam putih itu segera bertindak setelah aku membayar biaya operasi Mas Ken. Ada perasaan marah, kecewa, terluka dalam satu waktu. Ternyata uang memang berkuasa diatas segalanya.
Lihat pandangan orang-orang di rumah sakit mewah itu. Memandang dengan tatapan meremehkan karena penampilan kami yang tidak memungkinkan membayar. Bahkan saat aku mampu melunasi semua biaya operasi sampai perawatan malam itu juga, mereka menatap curiga. Tatapan ingin tahu darimana aku mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat.
Pertanyaan yang sama diajukan oleh Mega dan Ridho. Aku menjawab dari Rina. Mereka percaya begitu saja. Setidaknya aku bisa bernapas lega karena mereka tidak curiga. Walau kemudian kembali bertanya dengan memar-memar di wajahku dan kenapa aku datang dalam keadaan basah kuyup?
Aku menghela napas panjang. Mencoba mencari alasan yang masuk akal. Beruntungnya, mereka tidak terlalu mempermasalahkan. Aku menyuruh Ridho dan Randi keluar membeli pakaian ganti untukku, dan juga makanan untuk mereka karena pasti sejak siang belum makan sama sekali.
Dua jam berlalu. Mereka terkantuk-kantuk duduk di ruang tunggu, dan akhirnya tertidur. Mega yang biasanya banyak bicara, kali ini total terdiam. Sesekali tangannya bergerak mengusap sudut mata, dan akhirnya tertidur bersandar di bahuku.
Aku yang masih sempurna terjaga. Memikirkan banyak hal. Tentang Mas Ken dan tentang esok aku harus kembali ke rumah neraka itu untuk kembali bekerja.
Pekerjaan yang menjijikkan!
Esoknya, Mas Ken telah dipindahkan ke ruang ICU. Keadaannya masih belum membaik tapi setidaknya, operasi berjalan lancar. Di balik kaca, aku melihat tubuh Mas Ken yang terkulai tak berdaya dengan selang di beberapa bagian dan kaki dibalut perban. Sangat menyedihkan.
"Mas Ken cepat sadar," lirihku bersamaan dengan air mata yang terjatuh.
Sesak sekali rasanya karena tak pernah menyangka jika takdir mempermainkan sedemikian rupa. Seolah tak memberi pilihan. Merampas semua kebahagiaan.
Rina datang siangnya. Memaksaku untuk segera menemui Tante Ambar. Sesuatu telah terjadi tentunya. Sebuah kesalahan yang membawaku pada masalah baru.
Di ruangan besar lantai tiga itu, aku melihat Tante Ambar memasang raut wajah marah. Tatapannya tajam menikam, langsung mendekati saat aku datang. Tanpa aba-aba atau basa-basi, dia menampar. Aku mendesis dan meringis menahan nyeri di pipi.
"Licik!" tudingnya langsung. "Aku harus membayar mahal untuk sesuatu yang telah terpakai!"
Aku menatap bingung dengan tangan memegang pipi yang masih terasa begitu nyeri.
Tante Ambar menyerahkan selembar kertas dan bolpoin. "Tanda tangan surat perjanjian baru. Kontrakmu diperpanjang."
"Maksudnya apa?"
"Masih tanya maksudnya apa?! Kamu bodoh atau pura-pura bodoh? Kamu kira harga barang yang sudah pernah terpakai itu mahal?" Tante Ambar mendengkus kasar.
Aku masih tak mengerti sampai Rina menepuk bahuku dan menjelaskan. "Aku gak nyangka sih sebenernya, kalau kamu udah gak perawan, Ra. Parah sih, ya? Aku kira kamu itu perempuan baik-baik lho."
Aku menatap tajam Rina. Ada perasaan tak terima. Harga diri yang diinjak-injak sedemikian rupa. Sayangnya, aku tak punya kata untuk membela.
"Ya untung aja Tante Ambar baik. Jadi kamu masih diterima kerja di sini. Cuma ya, kamu harus kerja lebih lama lagi untuk uang yang kamu pakai kemarin." Kemudian Rina berbisik, "Harga perawan sama yang udah gak perawan itu beda, Ra."
Aku memalingkan wajah. Mata sudah perih ingin menangis sejadi-jadinya. Sebegitu hinakah aku hanya karena kehilangan kesucian diri?
"Siap-siap kamu. Nanti malam ada tamu lain. Awas aja kalau tamu ini komplen lagi." Tante Ambar memperingatkan. Aku hanya diam, mengusap wajah yang basah.
"Hm Tante." Rina mendekati Tante Ambar lalu berbisik entah apa. Aku sama sekali tak peduli lagi.
"Kamu serius dia mau bayar dua kali lipat?" Tante Ambar bertanya, wajahnya menyiratkan keterkejutan.
Rina mengangguk cepat dan menjawab sangat pelan tapi aku masih bisa mendengar. "Yang itu biar aku layani. Tante tenang saja."
Tante Ambar mengguk lalu menyuruh Rina membawaku ke ruangan lantai satu untuk mandi, ganti baju dan make up.
Dua jam menunggu dalam diam di ruangan make up, Tante Ambar akhirnya masuk dan membawaku keluar ke ruang tamu.
"Anak muda. Ini dia yang namanya Haura. Cantik, kan?"
Lelaki yang duduk di sofa tersebut berdiri dan menoleh. Tatapan kami bertemu, sama-sama terkejut. Namun tatapannya berubah dalam sekejap, antara marah dan kecewa. Entah.
Mengapa takdir bisa selucu ini?

-----


CATATAN KELAM Sang Pendosa 13
*
Mataku terpejam dengan tangan memegang sandaran kursi ketika mobil terus melaju dengan kecepatan tinggi di tikungan tajam. Memekik keras saat tiba-tiba mobil direm mendadak. Aku baru membuka mata ketika mobil benar-benar berhenti.
Menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan dengan tangan memegang dada. Kemudian melirik tajam pada lelaki yang menyetir seperti kesetanan. Ia masih terlihat marah, sorot matanya tajam lurus ke depan dengan tangan mencengkeram setir.
"Sejak kapan kamu melakukan pekerjaan kotor itu?" tanyanya tegas dan tanpa menoleh menatapku.
"Bukan urusanmu." Aku menjawab tak kalah ketus. Toh sama saja, apa bedanya dengan dia yang ternyata penikmat tubuh wanita dengan uangnya?
Kak Raga mendengkus kasar lalu menatapku tajam. "Gue kira lo itu cewek baik-baik, Ra. Tapi ternyata selama ini hanya sok jual mahal! Kenapa gak bilang saja sejak awal kalau tubuhmu bisa dibeli dengan uang?"
"Lalu apa urusanmu, Kak?" Suaraku bergetar, mata mengembun karena hati terasa begitu perih atas penghinaan yang dia lontarkan. "Oh atau kalau aku bilang sejak awal, kamu akan membeliku dengan harga jauh lebih mahal yang tak seorang pun mampu membayar? Iya?!"
"Lo tahu, bagi gue harga seorang wanita itu berapa? Bagi gue wanita itu tak ternilai harganya, Ra! Bahkan uang pun tak sanggup membeli! Jadi kalau lo bisa dibeli dengan uang, itu artinya lo itu wanita yang gak ada harganya sama sekali! Terlalu murah!"
Air mataku terjatuh juga akhirnya. Entah kata apa yang tepat untuk menjabarkan isi hatiku saat itu. Perih. Terlalu menyakitkan. Hancur! Seolah tak punya harga diri lagi.
Aku mengusap kasar mata dan memalingkan wajah. "Aku tak peduli apa penilaianmu, Kak. Terserah. Sekarang cepat lakukan apa yang sudah kamu bayar tadi. Agar aku bisa cepat pergi."
"Lo boleh pergi sekarang juga."
Aku menoleh, manatapnya tak paham.
"Lo kira gue mau menikmati tubuh lo yang udah disentuh oleh banyak lelaki?"
"Lalu untuk apa kamu membayarku!" Aku membentak, ada rasa tak terima karena penghinaannya, tapi bisa apa, toh kenyataannya memang demikian.
Kak Raga mendengkus kasar dan tertawa menghina. "Cuma pengen tahu berapa harga tubuhmu!"
Aku langsung membuka pintu mobil dan keluar tanpa kata-kata. Sudah cukup dihina sedemikian rupa. Aku kira dia lelaki yang berbeda. Ternyata sama saja. Melihat dari satu sudut pandang saja. Dari sisi yang terlihat saja. Tanpa mau bertanya apa yang menjadi penyebab aku melakukan pekerjaan hina.
*
"Dari mana Kak Raga tahu aku ada di sana?" Aku menatap tajam Rina, langsung bertanya ke pokok permasalahan ketika bertemu di rumah Tante Ambar esok harinya.
"Penting, ya? Apa kamu gak terima karena Kak Raga tau kalau kamu cuma cewek bayaran?" Rina mendengkus kasar dan tertawa mencibir. "Gak usah ngarep bisa dapetin cowok baik kayak Kak Raga. Kak Raga mana mau cewek murahan!"
Aku menyipitkan mata, menatap curiga. Tentang Kak Raga yang tahu aku bekerja di sini, tentang Kak Raga berani membayar lebih mahal tapi sama sekali tidak menyentuhku, tentang Rina yang seolah bahagia karena Kak Raga tak lagi menghargaiku. Semua itu seperti telah direncanakan.
"Aku belum selesai ngomong." Kutarik tangan Rina saat ia ingin melangkah pergi.
"Apa lagi?"
"Jangan bilang kalau kamu yang kasih tahu Kak Raga?"
Rina tertawa. Tawa yang membuatku ingin sekali menamparnya.
"Kalau iya kenapa? Hm?"
"Maksud kamu apa ngasih tahu Kak Raga?"
"Masih kurang jelas, ya? Ternyata kamu cuma pinter di pelajaran sekolah doang, ya?" Rina kembali tertawa.
"Untungnya apa sih kamu kasih tahu Kak Raga tentangku di sini? Biar dia bisa ngehina aku dan ngejahuin aku?"
"Kak Raga ngehina kamu? Bagus dong. Lebih bagus kalau dia juga ngejahuin kamu. Emang seharusnya begitu dari dulu. Ya anggap aja sekarang aku lagi ngebuka mata Kak Raga, bahwa Haura itu bukan cewek baik-baik, dan dia bisa nilai sendiri cewek kayak apa sebenernya Haura itu."
"Kenapa kamu sejahat itu sama aku sih, Rin? Aku punya salah apa sama kamu?"
"Kamu mau tahu kesalahan kamu apa? Sok cantik. Sok pinter. Dan sok polos! Ternyata juga sama aja kayak aku, cuma cewek murahan. Dan aku gak rela Kak Raga selalu muji-muji kamu! Aku gak rela Kak Raga selalu memperlakukanmu dengan begitu berharga!"
"Oh aku tahu sekarang," tukasku cepat. "Kamu suka sama Kak Raga, kan?"
"Ya! Aku suka sama Kak Raga dari awal sebelum kenal kamu! Dan aku gak terima saat Kak Raga lebih milih kamu daripada aku. Kamu tahu apa yang aku rasain saat itu? Merasa diri ini sama sekali gak berharga dan hina, jadi wajar kalau Kak Raga sama sekali gak mandang aku dan lebih mandang kamu, karena kamu cewek baik-baik. Tapi ternyata apa? Kamu sama aja kayak aku. Jadi wajar kan kalau aku bikin Kak Raga tahu tentang kamu."
"Makasih. Terima kasih untuk semuanya. Kamu suka sama Kak Raga? Ambil aja. Aku gak butuh!"
Kedua tanganku terkepal, membalikkan badan dan melangkah meninggalkan Rina. Sahabat yang selalu menjadi tempat curhat di sekolah. Tentang pelajaran dan tentang Kak Raga. Aku tertawa dalam hati. Menertawakan diri sendiri, karena begitu bodoh dengan orang-orang bertopeng. Baik di depan, menusuk di belakang!
Sakit hati atas pengkhianatan, membuatku ingin sekali membalasnya. Tentu dengan cara menerima kekalahan. Kalah akan takdir. Kalah akan masalah kehidupan. Semua benar-benar memuakkan! Maka satu-satunya cara adalah melawan.
Malam itu, aku menjadi wanita yang berani. Bekerja dengan totalitas. Persetan dengan penilaian orang. Toh aku makan bukan dari uang mereka. Aku butuh pertolongan, banyak yang bungkam. Jadi untuk apa memusingkan omongan orang.
Perlahan, aku mulai bisa merebut perhatian Tante Ambar. Kemudian dalam hitungan bulan, kupastikan bisa menggeser posisi Rina di rumah itu sebagai wanita simpanan dengan harga paling mahal.
Lihat saja!
*
Keadaan Mas Ken berangsur membaik, walau masih harus berada di ruang ICU. Setidaknya, kali ini sudah bisa dijenguk walau hanya diperbolehkan satu orang masuk bergantian.
"Ra, sana masuk." Mega baru saja keluar dari ruangan.
Tinggal giliranku yang terakhir. Namun aku justru bingung dan takut. Bagaimana jika Mas Ken bertanya tentang darimana aku mendapatkan uang untuk membayar biaya rumah sakit? Aku haru menjawab apa? Bagaimana kalau Mas Ken curiga, saat aku mengatakan uang kudapat dari meminjam Rina. Sedangkan Mas Ken pasti tahu tentang pekerjaan Rina, karena sempat menasihati agar aku tidak terlalu dekat dengan wanita itu.
"Haura!" Mega menepuk bahuku. "Buruan masuk."
"Besok aja deh, Kak. Aku takut gak kuat lihat Mas Ken." Aku menunduk, setidaknya itu alasan yang masih masuk akal.
"Aku tahu. Tapi setidaknya kita harus kasih semangat buat Mas Ken biar sembuh."
Aku menggeleng sekali lagi. Satu sisi ingin sekali masuk dan langsung memeluk. Menangis sejadi-jadinya dan menceritakan seluruh luka di hatiku. Namun di satu sisi aku benar-benar takut. Takut jika Mas Ken tahu yang sebenarnya lalu memandangku jijik bahkan tak mau lagi menganggapku sebagai adiknya.
Sehari, dua hari, tiga hari, dan bahkan sampai Mas Ken dipindahkan ke ruang perawatan karena kondisinya yang telah pulih dan mulai belajar jalan menggunakan tongkat, aku masih belum menemuinya. Selalu menghindar dan menolak saat Mega dan yang lain memaksaku masuk.
"Mas Ken nyariin kamu, Ra! Dia pengen ketemu sama kamu! Kamu ini kenapa sih jadi aneh begini!" Mega marah-marah saat aku lagi lagi menolak masuk ke ruangan tempat Mas Ken dirawat.
Sampai saat malam setelah pulang bekerja, aku kembali ke rumah sakit. Ruangan tempat Mas Ken dirawat telah sepi. Aku bingung mencari, tapi ternyata Mas Ken sudah pulang. Lebih tepatnya memaksa pulang, kata dokter.
Tubuhku gemetar, takut takut masuk ke rumah. Saat membuka pintu, semua ada di ruang tengah, sedang belajar. Mas Ken duduk di kursi masih dengan kaki diperban. Semua diam menatapku, kecuali Mas Ken yang sama sekali tidak menoleh.
"Mas Ken kenapa udah pulang? Bukannya harusnya masih dirawat, ya?" Aku mendekati, duduk di samping Mas Ken.
"Dari mana kamu?" Pertanyaannya terdengar sangat ketus, membuatku gugup untuk menjawab.
Aku memalingkan wajah, menghindar dari tatapannya.
"Jawab, Haura!"
"Dari rumah temen." Gugup aku menjawab, tanpa menatapnya.
"Siapa?"
"Rina."
"Dari mana kamu dapat uang itu?"
Aku menggigit bibir. Pertanyaan yang aku takutkan itu akhirnya meluncur juga.
"Haura!"
"Dari Rina."
"Tatap mata aku, Haura. Aku lagi ngomong sama kamu."
Aku menarik napas panjang lalu mencoba memberanikan diri menatapnya. "Mas Ken itu baru sembuh. Jadi jangan mikirin aneh-aneh dulu."
"Jawab jujur, Haura." Mas Ken menukas ucapanku. "Dari mana kamu dapat uang itu."
"Mas Ken …."
"Jawab, Haura!" Mas Ken membentak hingga aku memekik, memejamkan mata.
"Kamu bohong, Haura. Aku tahu betul gimana kamu. Ekspresi kamu lagi nunjukin kebohongan. Jadi sekarang jawab jujur dari mana kamu dapatkan uang itu!"
"Apa pentingnya sih, Mas Ken! Aku dapat uang dari mana itu gak penting! Yang penting itu Mas Ken selamat dan bisa sembuh. Itu!"
"Kamu gak melakukan pekerjaan kotor kan, Haura?"
Aku bungkam seketika.
"Jawab, Haura. Kamu gak melakukan pekerjaan seperti yang dilakukan Rina, kan?"
Aku memalingkan wajah. Menggeleng lemah. Tidak berani menjawab apalagi menatap.
"Jawab, Haura! Aku butuh penjelasan!" Mas Ken kembali membentak. Kali ini lebih menakutkan. Sungguh, kemarahannya jauh lebih mengerikan dibanding saat dia marah karena aku dekat dengan Kak Raga.

Aku menutup telinga. Menggeleng dan mulai menitikan air mata. Mas Ken berkali-kali membentak, menuntut penjelasan. Sampai akhirnya aku tak tahan, berdiri dan menjawab lantang dengan suara gemetar.
"Ya! Aku melakukan pekerjaan seperti Rina. Aku menerima tawarannya karena uang bisa kudapatkan di muka. Semua itu kulakukan demi Mas Ken. Aku gak mau Mas Ken pergi!"
Wajah Mas Ken semakin memerah. Matanya menatap nanar lalu berucap dengan nada tajam. "Aku lebih baik mati, Haura. Daripada kamu harus menjual diri!"
"Tapi aku gak mau Mas Ken mati!" Aku terjatuh di hadapan Mas Ken, menyentuh tangannya tapi ditepis secara kasar. Penolakan yang membuatku sadar diri bahwa memang tak lagi berharga.
"Aku gak mau Mas Ken pergi. Bukankah Mas Ken janji gak akan pernah pergi? Dan aku akan melakukan apa pun agar Mas Ken tidak pergi. Bahkan melawan takdir sekalipun."
Aku menarik napas panjang dan mengusap wajah yang basah. "Mas Ken tahu, kenapa aku gak pernah bisa tidur tiap malam? Aku takut, Mas Ken. Aku takut takut kejadian malam terkutuk itu terulang lagi. Mas Ken tahu, umurku dulu baru 12 tahun saat malam-malam tiba-tiba ada lelaki masuk ke kamarku dan mengambil paksa kesucianku."
Wajah Mas Ken berubah. Terlihat terkejut dengan mata menatap tak percaya.
"Iya. Aku telah kehilangan harga diri sejak dulu sebelum bertemu Mas Ken. Aku sudah kehilangan mahkota paling berharga milikku, Mas Ken. Jadi kalau sekarang aku menjualnya lagi, itu sudah tak lagi berarti. Sama saja. Karena aku memang sudah tidak ada harga dirinya. Aku rela menjualnya demi Mas Ken."
"Aku gak butuh itu, Haura!"
Perih! Aku memejamkan mata mencoba menerima bahwa pandangan Mas Ken telah berubah.
"Aku tahu. Mas Ken jijik kan melihatku sekarang, saat tahu semua fakta tentangku? Aku sadar diri kok, Mas Ken. Sangat sadar bahwa sekarang aku gak pantas lagi jadi adeknya Mas Ken."
Aku berdiri, mengusap wajah secara kasar dan memaksa tersenyum. "Aku akan pergi. Aku yang akan pergi, Mas Ken. Aku sadar udah gak pantas lagi jadi keluarga pelangi, karena hanya memberikan warna gelap di sini."
Aku hanyalah warna hitam yang justru merusak indahnya warna-warna mereka. Seharusnya sejak awal aku tidak berada di sana. Di tengah-tengah keluarga yang menjanjikan bahagia, tapi aku malah membawa malapetaka.

-------


CATATAN KELAM Sang Pendosa 14
*
Mega menyusulku ke kamar, tak ada satu pun kata yang keluar, hanya wajah yang menyiratkan kesedihan. Dia memelukku erat seolah mencegah agar jangan pergi, dan aku menangis semakin menjadi.
Beberapa saat kemudian, Mas Ken datang menghampiri, meminta Mega untuk keluar sebentar. Aku mengusap wajah yang basah secara kasar, menarik napas panjang dan memalingkan muka saat Mas Ken duduk di sampingku.
Hening menyelimuti karena kami sama-sama diam. Entah berapa lama akhirnya Mas Ken berucap lirih kata maaf. Aku menoleh, melihat Mas Ken yang tertunduk, seakan ia tengah menerima beban begitu berat, dan aku yang menjadi penyebab.
"Jangan lakukan pekerjaan kotor itu lagi, Ra." Mas Ken masih menunduk, suaranya berat diiringi helaan napas berulang.
"Semua sudah telanjur, Mas Ken."
"Kamu bisa berhenti."
"Berhenti pun gak akan membuat aku kembali suci. Aku sudah telanjur kotor."
Mas Ken menoleh, tatapannya menyiratkan kelelahan dan keputusasaan, membuatku tak tega melihatnya dan memilih memalingkan muka.
"Tapi bukan berarti kamu akan terus berada dalam kubangan lumpur yang hina, Ra!"
Aku tersenyum tipis, menatap datar ke depan. "Gak ada yang menginginkan hal buruk itu terjadi, Mas Ken. Gak ada wanita yang ingin dipandang hina. Semua wanita pasti ingin dihargai selayaknya wanita yang punya harga diri. Tapi sayangnya, takdir terkadang memaksa memilih jalan yang salah. Jalan yang membuat harga diri hilang."
"Kamu masih punya pilihan, Haura. Kamu bisa memilih untuk berhenti dan kembalilah menjadi wanita yang menjunjung tinggi harga diri."
"Gimana caranya, Mas Ken?" Aku menukas cepat, dan memberanikan diri menatap. "Aku berhenti pun gak akan membuat kesucianku kembali. Gak akan menghapus hal kotor yang pernah aku lakukan. Aku udah telanjur hina. Udah gak ada harga dirinya. Gak lagi berharga. Dan orang-orang pun akan tetap memandangku sebelah mata."
Kuusap cepat air mata yang terjatuh. Mengangkat wajah, agar genangan di mata tak lagi keluar meski dada terasa begitu sesak.
"Dengarkan aku, Ra." Mas Ken meraih kedua tanganku dan menggenggamnya erat. "Seandainya semua orang di dunia ini menganggap kamu tak berharga, biarlah aku menjadi satu-satunya orang yang menganggap kamu adalah wanita paling berharga di dunia. Seandainya semua orang di dunia ini memandangmu hina, biarlah aku yang menjadi satu-satunya orang yang akan selalu membuatmu merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia."
Air mataku tak hentinya berjatuhan mendengar kata-kata dari Mas Ken yang terdengar sangat tulus. Kata-kata yang saat itu membuatku kembali merasa berharga. Ya, aku tidak peduli lagi dengan penilaian dari banyak orang. Saat Mas Ken mengatakan itu dengan sungguh-sungguh, cukup membuatku sangat bahagia.
"Kamu berharga, Ra. Bagiku kamu sangat berharga. Tak ternilai." Mas Ken mengusap lembut air mataku. Tersenyum meyakinkan walau wajahnya jelas menyiratkan kesedihan.
Aku mengangguk dan berusaha tersenyum. "Boleh peluk Mas Ken, gak?"
"Pakai nanya? Biasanya juga langsung meluk-meluk."
"Tapi kan sekarang udah beda."
"Apanya yang beda? Kamu tetap adik kesayanganku, Ra." Mas Ken menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah, lalu menarik tubuhku. Dan aku menangis sejadi-jadinya, seolah sedang menumpahkan seluruh luka.
"Aku sayang sama Mas Ken," lirihku di sela sesenggukan.
"Aku tahu itu."
"Aku gak mau Mas Ken pergi. Aku takut waktu Mas Ken masuk ruang operasi. Aku takut Mas Ken pergi."
"Aku gak akan pergi, Ra. Itu janjiku."

*
Malam ini langit terlihat cerah dengan bulan sabit menggantung indah dan dilengkapi bintang-bintang bertaburan. Sayang, aku tak tertarik tuk memandangnya. Memilih diam bersandar di bahu Mas Ken, duduk berdua di depan rumah seperti biasa.
"Besok aku yang akan bicara dengan orang itu." Mas Ken tiba-tiba bicara setelah entah berapa menit terdiam, memikirkan tentang uang yang kudapatkan dari Tante Ambar.
"Aku rasa akan sulit, Mas Ken. Tante Ambar gak akan mau meringankan utangku."
"Gak ada salahnya dicoba, Ra. Aku akan bawa sertifikat tanah untuk jaminan."
Aku menarik kepala dan menatap wajah Mas Ken. "Kita akan tinggal di mana kalau rumah ini dijual, Mas Ken?"
"Kita bisa tinggal di mana aja, Ra. Cari kontrakan yang murah, banyak. Gak usah khawatir."
"Maaf …." Aku tertunduk. Hati semakin sakit karena semua jadi kacau gara-gara kebodohanku.
"Kamu gak salah. Justru aku yang malah jadi beban kamu."
"Mas Ken ngomong apa sih!" Aku mengerucutkan bibir, memasang wajah kesal dengan kata-katanya.
Mas Ken mengacak rambutku dan tersenyum yang terlihat dipaksakan. "Makasih, ya."
"Untuk apa?"
"Untuk segalanya."
Aku tersenyum lalu kembali menyandarkan kepala di bahu dan menggenggam jemarinya. Memejamkan mata dan terdiam. Kepala lagi lagi dipenuhi ketakutan tentang esok saat Mas Ken menemui Tante Ambar. Entah mengapa, hati rasanya tak tenang. Takut akan terjadi masalah baru dan semakin rumit.
"Mas Ken …."
"Hm?"
"Aku takut."
"Takut apa?"
"Aku takut hal buruk terjadi sama Mas Ken lagi."
"Sssttt!" Mas Ken melepas genggaman tanganku lalu merangkul. "Jangan mikir yang aneh-aneh. Semua akan baik-baik."
Tidak, Mas Ken! Semua tidak akan baik-baik saja. Ini buruk! Masalah baru akan datang. Tante Ambar, orang yang tidak akan begitu mudah melepaskanku. Apalagi setelah beberapa lelaki yang menjadi pelanggan di rumah itu mengincarku. Ini rumit!
"Kok nangis lagi sih?" Mas Ken menyelipkan rambut yang menutupi wajahku ke telinga.
"Aku takut, Mas Ken …." Tangisku semakin pecah. Ketakutan itu semakin nyata terasa.
"Gak ada yang perlu ditakutkan, Ra. Dah ya." Mas Ken mengusap air mataku. "Sekarang mending bayangin yang manis manis. Bayangin, nanti setelah lulus SMA kamu keterima di Universitas Negeri terbaik di Indonesia. Setelah itu …."
"Kerja," sahutku. "Ngumpulin uang yang banyak. Terus bangun rumah warna-warni kayak pelangi buat nampung anak-anak jalanan, biar mereka punya rumah, bisa sekolah. Terus bangun rumah khusus untuk belajar bareng. Buka kursus Bahasa Inggris gratis. Dan buka perpustakaan umum, biar banyak anak yang jadi suka baca."
Mas Ken tersenyum lebar sambil mengacak rambutku. "Bagus, Ra! Janji ya, bakal mewujudkan semua impian itu jadi kenyataan."
"Janji dong." Aku menyodorkan kelingking dan Mas Ken membalasnya. Setelah itu, kami larut dalam obrolan tentang masa depan yang membahagiakan.
Sayangnya, takdir merenggut janji masa depan itu esok harinya.

*
Esoknya, kami tetap sekolah, Mas Ken memaksa, karena semenjak Mas Ken dirawat di rumah sakit, sekolah kami terbengkalai. Jadilah kami terpaksa berangkat meninggalkan Mas Ken sendiri di rumah dengan keadaan berjalan yang masih menggunakan tongkat.
Di sekolah, aku memilih duduk di kursi lain. Rina pun terlihat enggan menyapa, karena beberapa hari sebelumnya, pelanggan tetapnya malah memilihku. Sesuatu yang setidaknya bisa membuat Rina sadar diri agar tidak tinggi hati, sayangnya semua itu sama sekali bukan prestasi yang patut dibanggakan.
Hal yang tak terduga lainnya adalah saat pulang sekolah. Kak Raga datang ke sekolah, bukan untukku lagi, melainkan untuk Rina. Wanita itu berjalan sambil menyeringai puas, seakan menang dariku karena berhasil merebut Kak Raga.
Aku memalingkan wajah tak peduli. Mereka sama-sama tidak ada artinya bagiku. Cukup di dunia ini satu orang yang memandangku berharga, yaitu Mas Ken. Aku tak peduli lagi dengan penilaian orang. Aku masih punya keluarga. Mas Ken, Mega, Ridho, Randi, dan Rio.
Sekarang, adalah waktu dimana aku dihadapkan pada ketakutan yang semalaman membuatku berkali-kali mendesah resah. Janji-janji masa depan yang semalam aku impikan bersama Mas Ken, malah semakin menyesakkan. Ketakutan itu mengungkung seluruh rasa.
Sampai tiba di rumah neraka itu ….
Berada dalam ruangan mewah di lantai tiga itu, selalu membuatku merasakan hawa tidak nyaman. Mengerikan. Ditambah sorot mata tajam dari pemilik rumah. Suasana tegang begitu kental terasa.
"Kamu pikir sertifikat tanah ini laku? Kalaupun laku, harganya cuma setara dengan bajuku." Tante Ambar menyeringai dan melempar amplop berisi sertifikat tanah kepada Mas Ken yang duduk di sofa.
"Saya akan bayar sisanya. Berapapun itu. Tapi tolong beri waktu."
Tante Ambar tertawa. Tawa mencibir tentunya. "Anak muda, kamu terlalu berani sebenarnya datang kemari hanya membawa sertifikat tanah tidak laku itu, untuk menebus adikmu. Ini konyol!" Dan dia kembali tertawa.
"Saya tahu sertifikat tanah ini memang tidak seberapa harganya. Tapi setidaknya bisa untuk membayar setengahnya utang saya."
"Setengah?" tukas cepat Tante Ambar. "Enak saja kamu ngomong! Kamu tahu berapa jumlah uang yang dipinjam adikmu itu? Sertifikat yang kamu bawa itu hanya cukup untuk membayar bunganya saja, Anak muda!"
"Lalu bagaimana caranya agar adik saya tidak lagi bekerja di sini?" Mas Ken bertanya tegas, mendongak menatap Tante Ambar yang berdiri dengan melipat kedua tangan di hadapan.
"Bayar semua uang yang saya kasih beserta bunganya sekarang juga. Kalau tidak, dia harus tetap bekerja untuk saya."
"Saya akan bayar! Tapi tidak sekarang. Beri saya waktu."
Tante Ambar kembali tertawa, membuatku muak mendengarnya. Tawanya terhenti saat pintu diketuk. Salah seorang pelayan memberitahu bahwa ada tamu di bawah. Tamu yang justru mempersulit keadaan.
Aku meremas jemari saat Tante Ambar menyuruh tamu itu untuk datang ke ruangannya.
"Ada tamu untuk Haura. Jadi begini saja, kamu ingin adikmu tidak bekerja malam ini, bukan? Gampang, kamu bilang saja kepada tamunya untuk membatalkan. Karena dia yang telah membayar." Tante Ambar mengedikkan bahu, dan kembali ke kursi kerjanya.
Aku memegang lengan Mas Ken. Bicara lewat sorot mata, bahwa keadaan akan rumit sekali. Bagai terlempar ke dalam jurang dan tak tahu arah pulang. Namun, Mas Ken tetap tersenyum meyakinkan, bahwa semua akan baik-baik saja.
Beberapa saat kemudian, pintu ruangan itu kembali diketuk. Tante Ambar mempersilakan masuk. Muncullah sosok lelaki yang sangat kubenci. Ia menatapku juga Mas Ken.
"Apa ada yang mendahuluiku?" tanyanya pada Tante Ambar.
Tante Ambar tertawa. "Tidak ada yang bisa membayar lebih tinggi darimu, Andra. Tenanglah."
"Lalu dia siapa?" Andra menunjuk Mas Ken.
"Saya abangnya Haura," jawab Mas Ken langsung.
"Oh. Aku kira pacar. Maksudnya apa ini?"
"Jadi begini." Tante Ambar berdiri dari kursi dan berjalan menghampiri. "Dia ini mau tawar menawar denganmu. Dia tidak mau Haura melayanimu malam ini, dengan jaminan sertifikat tanah. Tapi ya …." Tante Ambar mengedikkan bahu.
"Ditukar dengan sertifikat tanah?" Andra menyeringai bingung.
"Begitulah. Silakan bicara sendiri dengannya."
"Saya tidak mau adik saya bekerja di sini lagi, Bang." Mas Ken langsung mengambil alih pembicaraan. "Semua salah saya. Gara-gara saya kecelakaan, adik saya harus berada di sini. Uang yang sudah terpakai, akan saya kembalikan. Tapi tolong beri saya waktu."
Andra mendengkus kasar dan berkacak pinggang. "Tapi aku gak nerima tawar menawar dalam bentuk seperti ini, Kawan. Uangku sudah telanjur keluar. Jadi mau tidak mau, adikmu harus tetap melayaniku."
"Saya mohon, Bang."
Aku memejamkan mata merasakan nyeri di dada, saat Mas Ken sampai memohon-mohon, tapi lelaki brengsek itu tetap tidak menerima.
Benarkah uang bisa membeli segalanya, bahkan membeli harga diri seseorang?
Benarkah hanya orang yang memiliki banyak uang, yang bisa berkuasa, bisa berbuat apa saja sesukanya?
"Begini saja, bagaimana kalau aku tambahkan uangnya. Berapa? Aku bayar sekarang juga, agar kamu mengizinkan Haura bekerja untukku malam ini." Andra dengan sombongnya mengeluarkan dompet dari saku celana.
Mas Ken mengepalkan tangan, aku tahu ia tengah mati-matian menahan emosi. "Saya gak butuh uang, Bang. Dan berapapun yang Abang bayar, saya gak akan jual adik saya. Saya hanya minta pengertiannya, Bang. Beri saya waktu untuk mengembalikan uang Abang."
Sakit! Saat melihat orang yang disayang merendah serendah-rendahnya hanya demi mendapat belas kasihan.
Demi langit dan bumi, saat itu aku bersumpah akan menjadi lebih kaya dari mereka yang mendewakan uang. Agar mereka tak lagi meremehkan dan merendahkan. Agar mereka tahu caranya menghargai orang.
Jika memang hanya dengan uang, manusia menjadi lebih ternilai harganya.

-------



CATATAN KELAM Sang Pendosa 15
*
Sore yang gelap karena awan hitam menggumpal di langit sana. Petir berkali-kali terlihat dari balik kaca jendela ruangan lantai tiga. Hujan jelas akan segera mengguyur bumi. Membasahi Ibu Kota yang terkenal dengan istilah kejam ini.
Seperti kejamnya dunia saat aku melihat uang memang mampu membeli segalanya. Termasuk harga diri seseorang. Aku melihat Mas Ken yang mati-matian menahan emosi saat diremehkan. Aku melihat bagaimana Andra tertawa menghina, saat Mas Ken berkali-kali memohon.
"Mas Ken …." Aku memegang lengannya, menggeleng, memintanya berhenti merendah di hadapan manusia tak punya hati. Namun Mas Ken tetap melakukan apa pun demi mengeluarkanku dari pekerjaan hina itu.
Hatiku sakit. Teramat sakit!
Emosi Mas Ken meledak juga akhirnya saat Andra berkata, "Aku itu tak butuh uangku kembali, Kawan. Aku hanya butuh tubuh adikmu yang menggairahkan itu. Berapa pun harganya akan kubayar."
"Brengsek!" Mas Ken mengumpat, kedua tangan terkepal dan berdiri walau kesusahan. Tingginya sejajar dengan Andra, menatap marah dan berseru, "Aku katakan sekali lagi, aku tidak menjual adikku dengan harga berapa pun!"
Andra terbahak lalu meludah dan mendengkus kasar. "Sayangnya, tanpa sadar kamu telah menjual adikmu. Sekarang, punya apa kamu untuk menebusnya? Sertifikat rumah yang lebih pantas dibilang sampah itu? Hah?!"
"Mas Ken …." Aku menahannya agar tidak melawan, karena hanya akan memperparah keadaan. Beginilah nasib jadi orang miskin. Diremehkan, direndahkan, dan dipandang sebelah mata. Seolah harus tunduk pada yang berharta dan berkuasa.
"Pembicaraan ini cukup." Tante Ambar berdiri dari kursi kerjanya dan berjalan mendekati. "Anak muda, silakan pulang dan biarkan Haura kembali bekerja."
"Tidak!" Mas Ken berseru lantang. "Lebih baik kalian penjarakan saya atau bunuh sekalian. Tapi jangan memaksa adik saya kembali bekerja di sini!"
"Kamu ini keras kepala juga ternyata." Tante Ambar terlihat jengkel, kembali ke meja kerjanya dan menelpon seseorang. "Suruh dua satpam ke ruangan saya sekarang juga."
Mas Ken langsung menggenggam erat tanganku, seolah tidak rela siapa pun membawaku.
Andra berdecak dan berkacak pinggang. "Haura, kamu gak mau abangmu itu babak belur dihajar tukang pukul di rumah ini, kan? Jadi kemarilah, ikut denganku dan selesaikan pekerjaanmu. Beres. Kamu bisa kembali pulang. Apa susahnya sih hanya kerja beberapa jam saja?"
Mas Ken melirik tajam Andra, tangannya semakin erat menggenggam tanganku. "Berjanjilah padaku, Haura. Bersumpahlah untuk tidak lagi melakukan pekerjaan kotor itu, apa pun yang terjadi. Demi Tuhan aku tidak ridho!"
Aku mengangguk lemah. Tentu karena aku memang tidak mau dan tidak akan lagi melakukan pekerjaan hina itu, tapi satu sisi, ini sulit. Aku tahu Tante Ambar tidak akan melepaskanku begitu saja.
Suasana tegang itu semakin rumit saat dua satpam berbadan kekar datang. Tante Ambar langsung menyuruh mereka membawa Mas Ken keluar. Sementara Tante Ambar menarikku kasar.
"Aku tidak akan keluar jika Haura juga tidak keluar!" Mas Ken menepis tangan-tangan para satpam.
"Cepat bawa dia keluar!" Tante Ambar berseru memerintah.
"Mas Ken!" Aku berusaha melepas tangan Tante Ambar yang mencengkeram tanganku. Terlepas. Namun Andra langsung menarikku, mengunci tubuhku.
"Jangan sentuh adikku!" Mas Ken memberontak dari tangan Satpam, kemudian mengangkat tongkatnya dan memukul tubuh Andra.
Andra mengaduh dan tangannya terlepas dari tubuhku. Aku lari dan berlindung di belakang tubuh Mas Ken. Kejadian yang mengingatkanku pada awal bertemu dulu. Sayangnya, situasi sekarang tidak imbang, karena kondisi Mas Ken yang jelas tidak memungkinkan untuk berkelahi.
"Damn it!" Andra dalam sekejap berubah semakin mengerikan. Matanya menatap nyalang dan langsung melayangkan kepalan tangan ke wajah Mas Ken.
Aku menjerit, reflek mundur. Andra seperti kesetanan, menghajar Mas Ken yang jelas-jelas bukan lawan yang imbang. Mas Ken tersungkur. Aku berteriak, "Berhenti! Jangan pukul Mas Ken!" Hendak melindungi, tapi dua satpam sialan itu menahanku. Aku memberontak tapi jelas tenagaku kalah dengan mereka berdua.
"Kamu telah meremehkan kesabaranku, dan sekarang lihatlah, melawanku saja tidak mampu. Dasar bodoh!" Andra meludah, mendengkus kasar dan menarik tubuh Mas Ken untuk berdiri.
Aku mengeluh dalam hati melihat Mas Ken meringis kesakitan dengan darah yang keluar dari hidungnya. Sebelum Andra kembali melayangkan tinju, aku berseru, "Berhenti! Aku akan ikut denganmu, tolong lepaskan Mas Ken!"
Andra menoleh, menyeringai puas dan mendorong tubuh Mas Ken hingga kembali tersungkur. Dua satpam itu mendapat perintah dari Andra untuk melepaskanku, dan aku langsung berlari mendekati Mas Ken.
"Mas Ken …." Aku menangis, mengangkat kepalanya dan mengusap hati-hati bibir dan pipinya yang berdarah.
"Cepat kemari, Haura! Aku sedang emosi dan butuh pelampiasan sekarang juga!" Andra menarik paksa tanganku, tapi Mas Ken menghalangi, menggeleng lemah dengan tatapan memohon.
"Maafkan aku, Mas Ken." Aku memalingkan wajah dengan isak tangis pilu, karena terpaksa melepas tangan Mas Ken dari tanganku.
"Haura!" Mas Ken berteriak saat aku berdiri. "Aku tidak akan menganggapmu sebagai adik lagi jika sampai melayani lelaki brengsek itu!"
"Apa kamu bilang?!" Andra melotot marah, hendak melangkah tapi kutahan tubuhnya.
"Jangan, Bang. Aku akan ikut. Tolong jangan sakiti Mas Ken lagi."
"Gadis pintar." Andra tersenyum lebar sambil mengusap rambutku. "Tenang saja, abangmu akan ada yang mengobati dan mengantar pulang nanti." Dia mengecup kepalaku dan merangkul, membawaku melangkah keluar.
"Haura!" Mas Ken memanggil dengan suara bergetar, membuat dadaku semakin sesak tak tertahan.
Ya Tuhan, mengapa rasanya semenyakitkan ini terpaksa mengecewakan orang yang paling kusayang di dunia ini?
Maafkan aku, Mas Ken. Maaf ….

*
Kaki rasanya berat sekali melangkah untuk pulang. Berjalan pelan dengan kedua tangan memeluk tubuh. Udara malam ini sangat dingin, tapi tak sedingin hati yang membeku hingga air mata tak lagi keluar. Hanya menatap kosong jalanan yang masih ramai lalu-lalang kendaraan.
Bayangan wajah Mas Ken yang akan menyambutku dengan amarah terus saja terlintas. Bahkan semenjak aku keluar dari rumah sialan itu sore tadi, sampai ke salah satu hotel tak jauh dari sana. Tangisku pecah. Bukan karena tubuh yang mulai disentuh oleh Andra, ditampar dan dipukul karena tak mau melayaninya dengan menggoda yang menggairahkan. Namun, aku menangis karena telah menyakiti hati Mas Ken. Aku telah mengecewakan. Kata-katanya yang tidak akan menganggapku sebagai adik lagi, membuat dadaku sesak.
Setelah dari hotel, aku berjalan sendiri untuk pulang. Andra sudah terlelap saat aku keluar dari kamar mandi. Aku pun tak sudi diantar pulang olehnya. Lebih baik jalan kaki, karena memang tidak membawa uang sama sekali.
Sekarang, entah sudah jam berapa dan entah berapa lama aku berjalan. Langit telah gelap gulita, apalagi tak ada bulan bintang seperti kemarin malam. Gumpalan awan hitam masih menggantung di atas sana. Aroma petrichor menguar karena sisa hujan sore tadi. Rasanya aku seperti berjalan tanpa tujuan.
Masihkah aku diterima di rumah itu, setelah kejadian sore tadi? Apalagi Mas Ken tak menganggapku sebagai adik lagi. Ke mana aku harus pergi?
Berjalan pelan dengan tatapan kosong, tanpa arah tujuan. Sendirian. Kedinginan. Terlihat menyedihkan.
Tiba di jalanan yang cukup sepi, hanya ada beberapa motor yang lewat dan di kejauhan ada warung kopi ramai pemuda nongkrong bermain gitar. Aku menatap tak peduli, tetap berjalan, walau mereka mulai bersiul dan berseru menggoda.
Saat semakin dekat, aku tahu mereka adalah geng pemuda dari SMA lain yang pernah membuat kasus mengeroyok anak SMA-ku. Salah satu pemuda yang duduk di motor sambil merokok, menoleh. Aku sangat mengenalnya. Rizky, lelaki yang pernah menciumku saat kelas dua SMP dulu.
Tak peduli dengan seruan mereka, aku tetap berjalan tanpa sedikit pun menoleh. Sampai ketika suara motor mendekat, berhenti di hadapanku begitu saja.
"Lo ngapain malem-malem lewat sini?"
"Bukan urusanmu."
"Masih judes aja dari dulu. Tapi seriusan, lo ngapain malem-malem jalan sendirian? Pulang kerja? Atau nyasar?"
"Bukan urusanmu. Minggir!"
Rizky mengerutkan dahi, mendekati wajahku. "Wajah lo kenapa?"
Aku memalingkan muka. "Bukan urusanmu!" Aku mulai melangkah, berjalan ke tengah.
"Eh, Ra! Gue anter mau gak? Seriusan. Udah malem gini bahaya, cewek jalan sendirian."
Aku tak memedulikan, tetap berjalan tanpa menjawab tawarannya. Terdengar suara ledekan dari teman-temanya. Rizky masih berteriak, menawarkan dan memberitahu bahaya jalan sendirian malam-malam. Aku hanya menyeringai tak peduli. Toh tubuhku sudah tak berarti. Bahkan jika aku mati malam ini, itu lebih baik.
Sekitar setengah jam aku berjalan, dan jalanan semakin sepi. Lagi lagi ada segerombolan pemuda nongkrong di pinggir jalan. Mereka sedang bermain hal yang paling kubenci. Judi. Melihatku berjalan lewat begitu saja, dua diantaranya mendekat, menggoda. Aku hanya menatap datar mereka. Bukan hanya menggoda dengan suara yang mengeluarkan aroma alkohol, tapi tangan mereka mulai mencolek wajahku. Kutepis kasar tangan itu dan menatap nanar.
Mereka berdua saling bertatapan memberi kode, aku paham maksudnya, maka kudorong mereka sekuat tenaga lalu berlari sekencang-kencangnya. Mereka mengejar. Hampir saja tertangkap, tapi tiba-tiba terdengar pekikan dan tubuh salah satunya tersungkur menatap aspal tepat di depanku. Reflek aku menjerit dan menghentikan langkah. Lelaki satunya cepat menghampiri, memastikan temannya tidak apa-apa walau darah mulai keluar dari kepalanya.
"Buruan naik, Bego!" Rizky membuka helm, membentak dengan tatapan tajam.
Tak ada pilihan, tubuhku gemetar naik di motornya.
"Pegangan yang kenceng!" Lagi lagi Rizky membentak dengan nada memerintah. Aku menurut, dan motor dalam sekejab telah melaju kencang meninggalkan lelaki yang berlari mengejar sambil menyumpah serapah.
Rintik-rintik hujan mulai turun membasahi tubuh tanpa jas hujan ini. Bahkan saat itu, aku berharap motor yang aku tumpangi, terpeleset dan terjatuh, agar aku bisa mati. Seperti saat aku lari dari rumah Ayah waktu itu, aku berharap petir menyambar tubuhku.
Semua telah hilang. Hidupku tak ada lagi tujuan.
Sayangnya, takdir masih saja memberiku kesempatan. Rizky membelokkan motor di salah satu ruko di pinggir jalan karena hujan semakin deras. Ia melepas jaketnya yang basah dan meletakkan di motor.
Aku duduk di pojok menekuk lutut memandang hujan dengan tatapan kosong. Rizky mendekat dan ikut duduk di sampingku.
"Lo gak keberatan kalau gue ngerokok, kan?"
Aku tak menjawab, bahkan menoleh pun tidak.
"Diam artinya iya gak keberatan." Rizky menjawab sendiri dan langsung menyulut rokok, mengembuskan asapnya dengan santai.
"Kenapa kamu gak biarin aku mati aja tadi?" Aku berkata datar tanpa menatapnya.
"Lo mau mati? Tuh jalanan masih ramai kendaraan. Telentang aja sana di tengah-tengah. Gampang, kan?"
Aku berdiri dan mulai melangkah tapi Rizky berseru, "Eh lo mau bunuh diri beneran?" Kemudian menarik tanganku tapi kutepis langsung. "Jangan gila! Lo kenapa? Seputus asa itu sampai mau bunuh diri?"
"Siapa yang mau bunuh diri sih? Aku mau pulang." Setelah meliriknya tajam, aku kembali melangkah meninggalkan, menerobos derasnya hujan.
"Serah lo deh. Dasar cewek jutek!"
*
Tempat berteduh tadi sebenarnya tak terlalu jauh dari rumah. Itu sebabnya aku memilih kembali berjalan walau hujan. Hanya saja, langkahku semakin memelan saat hampir sampai di gang menuju rumah.
Tubuhku semakin menggigil kedinginan. Ketakutan kian terasa nyata. Bagaimana jika Mas Ken mengusirku malam ini? Aku harus pergi ke mana? Rasanya, aku tak pernah sekacau ini. Aku pernah pergi meninggalkan Ayah, dan rasanya biasa saja, justru sebaliknya. Damai sekali. Berbeda dengan kali ini, berat jika harus meninggalkan Mas Ken, Mega, Ridho, Randi, dan Rio.
Saat semua pikiran itu terus saja berputar di kepala, langkahku terhenti ketika melihat sosok lelaki berjalan menggunakan tongkat, tangan satunya memegang payung.
Mas Ken.

bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar