Persaudaraan Muslimah Indonesia, mempelajari Islam Secara Menyeluruh.

Minggu, 16 Februari 2020

CATATAN KELAM Sang Pendosa 1 - 5

CATATAN KELAM Sang Pendosa 1
by Popy Novita
*
Wanita setengah baya ini, membenarkan kacamata, dahinya mengkerut saat membaca selembar kertas dariku. Tanpa menatapku, ia bertanya, "Kolom pekerjaan ayahmu mengapa tidak diisi?"
Aku diam sampai wanita yang kupanggil Bu Rini ini mendongak, menatapku yang berdiri di depannya. Ia menunggu jawabanku sambil mengambil bolpoin, bersiap mengisi.
"Apa pekerjaan ayahmu, Haura?"
"Tidak tahu." Aku menjawab singkat.


Bu Rini kembali mendongak, satu alisnya terangkat. "Kamu tidak tahu pekerjaan ayahmu?"
"Ayahku tidak bekerja."
"Tidak bekerja?" Bu Rini terkekeh pelan. "Bagaimana mungkin ayahmu tidak bekerja? Lalu makan? Dari ibumu?"
"Ibuku sudah tidak ada."
"Oh. Lalu makan sehari-hari dari mana, Haura? Dari siapa?"
"Tidak tahu."
Bu Rini berdecak dan menghela napas panjang, meletakkan selembar kertas tersebut lalu fokus menatapku. "Bagaimana kamu tidak tahu? Kamu sudah berseragam putih biru sekarang, bukan merah putih lagi."

Aku diam tidak menjawab. Dalam hati ingin sekali berteriak dan bertanya, "Apakah bandar judi itu termasuk pekerjaan? Jika iya, maka dengan bangga akan kutulis sekarang juga!"
Sayangnya, aku tidak mungkin mempermalukan diri sendiri dengan pertanyaan bodoh seperti itu. Hanya bisa diam dan diam, hingga wali kelas ini lelah sendiri bertanya dan menyuruhku duduk.
Apa yang bisa dibanggakan dari pekerjaan ayahku? BANDAR JUDI! Sedangkan di kelas ini, semua murid mengisi dan bahkan dengan lantang menjawab jika ayahnya adalah guru, polisi, tentara, dokter, atau bahkan pekerjaan satpam dan tukang ojek pun masih jauh lebih terhormat jika dibandingkan dengan pekerjaan ayahku.

Usiaku memang baru 12 tahun, tapi cara berpikir, jelas jauh berbeda dengan anak-anak seusiaku. Terlahir dari keluarga miskin dan berantakan, membuatku menjadi pribadi yang sedikit berbeda. Tertutup dan tak banyak bicara.
Aroma alkohol seolah menjadi parfum di rumah. Pagi buta sebelum berangkat sekolah, aku harus membersihkan ruangan yang dipakai untuk berjudi semalam. Botol bergulingan, kulit kacang berserakan, puntung rokok berhamburan, melihatnya saja sudah sangat menjijikkan!
Semua itu harus kulakukan semenjak usiaku baru delapan tahun. Saat ibu memilih bekerja di luar negeri, dengan alasan mencari uang untuk masa depanku. Nyatanya, uang yang dikirimkan malah digunakan ayah untuk berjudi.
Aku menjadi anak yang justru harus mengurus pekerjaan rumah. Lupa caranya merajuk meminta jajan atau mainan. Lupa caranya bermanja mesra dengan orangtua. Lupa caranya bermain dengan teman sebaya.

Ibu yang tahu uangnya habis digunakan untuk berjudi oleh ayah, akhirnya tak lagi mengirimkan uang ke rumah. Lama-lama, tak ada kabar. Menghilang begitu saja, dan menurut berita yang kudengar, ibuku telah menikah lagi dengan lelaki Pakistan.
Usiaku saat itu baru 10 tahun, dan harus menerima amarah dari ayah, hampir setiap hari walau hanya kesalahan kecil sekali pun.
Mendaftar di sekolah menengah pertama pun karena bantuan dari kepala sekolah sekolah dasar. Katanya, "Kamu murid berprestasi, Nak. Sayang sekali jika tidak melanjutkan sekolah. Besok, Ibu antar mendaftar, ya?"

Aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Kepalaku dibelai lembut dengan senyuman hangat, sesuatu yang kurindukan dari tangan ibu. Sayang, ibu lupa pada anak yang pernah dilahirkan.
Sebenarnya, untuk apa para orangtua itu melahirkan anak jika tidak pernah tahu dan paham akan kewajibannya. Tidak pernah memenuhi hak seorang anak. Lucu! Lebih baik tidak pernah dilahirkan sekalian.
Tiap malam, harus menyumpal kedua telinga dengan apa pun agar bisa belajar, agar bisa tidur. Di ruang depan, selalu berisik suara tawa dan seruan banyak orang yang berjudi. Harusnya aku sudah sangat terbiasa, tapi tetap saja memuakkan!
*
"Haura!"
Langkahku terhenti, menoleh pada suara yang memanggilku dari seberang jalan. Lelaki berseragam putih abu-abu itu melambaikan tangan dan tersenyum. Sebuah senyuman yang mampu membuatku lupa akan semua masalah yang ada.
Usiaku baru 12 tahun memang, tapi sungguh, perasaan aneh ini muncul pertama kali saat Bu Siska, kepala sekolah dasar yang membantuku sekolah, mengajak ke rumahnya. Memperkenalkanku pada suaminya dan ketiga anaknya. Kak Lutfi, usianya 19 tahun, berwajah dingin, jarang bicara dan terlihat sangat cuek. Kak Rafly, usianya 17 tahun, yang sekarang berdiri di seberang jalan itu, memiliki garis wajah nyaris sempurna, ditambah keramahan yang membuatku langsung merasa nyaman. Lily, usianya baru sepuluh tahun, sekaligus anak terakhir di keluarga Bu Siska.
Setelah melihat kanan dan kiri jalan, aku mulai menyeberang saat tak ada kendaraan dekat yang lewat. Berjalan menghampiri Kak Rafly yang berdiri di samping motornya.
"Mau pulang, kan?"
Aku mengangguk.
"Ayo bareng."

Aku diam, menatap wajah menyenangkan itu dengan perasaan tak menentu.
"Ayo, Ra. Daripada jalan kaki. Tadi Bunda juga pesan kalau pulang lewat depan sekolahmu, suruh ajak kamu sekalian."
Aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Kak Rafly tersenyum sekali lagi dan menaiki motor, menyuruhku segera naik setelahnya.
"Pegangan gak apa-apa kok," katanya saat aku kesusahan menaiki motor besarnya.
Takut-takut aku memegang pundak Kak Rafly. Menahan senyum saat merasakan keanehan di dalam dada. Motor mulai melaju, membawaku pada rasa yang semakin tak menentu.
"Udah makan?" Kak Rafly bertanya di tengah berkendara.
"Belum."
"Mampir ke rumah ya, makan dulu."
"Gak usah, Kak. Langsung pulang aja."
"Beneran gak mau mampir?"
"Enggak."
Untuk pertama kalinya, aku dibonceng seorang lelaki. Bodohnya aku, tidak menyuruhnya berhenti sebelum sampai di depan rumahku.
"Dari mana?" Pertanyaan dingin dan ketus langsung menyambut saat baru saja aku sampai di depan pintu.
"Sekolah."
"Sekolah apa pacaran?"
"Tadi anaknya Bu Siska."
"Pacar kamu?"
"Bukan."

Dengkusan kasar terdengar lalu keluarlah kata-kata yang menyakitkan. "Ternyata bakat dari ibumu nurun juga ke kamu. Pinter godain laki-laki kaya!"
Aku tak menjawab, memilih masuk ke kamar dengan perasaan sakit yang kembali keluar.
"Cepat masak! Sudah jam berapa ini? Kamu mau lihat ayahmu ini mati kelaparan?"
Air mata yang tiba-tiba keluar karena sesaknya dada, kuhapus dengan kasar. Gerakanku terhenti saat melihat meja belajarku kosong. Semua tumpukan buku, hilang. Membuka lemari pakaian, tidak ada. Langsung keluar kamar dan menghampiri Ayah yang duduk di ruang tamu sambil menghisap tembakau.
"Yah, di mana semua buku-bukuku?"
"Sudah Ayah kiloin tadi. Lumayan buat beli rokok."
"Yah!"
"Apa?" Matanya mulai melotot, tak terima saat aku meninggikan suara.
"Itu buku sekolahku!"
"Ya terus kenapa memangnya?"
"Itu buku sekolahku penting!" Aku balas melotot dengan air yang mulai menggenang.
"Lebih penting dari rokok Ayah maksudmu?!"
"YA!"

Wajah Ayah merah padam, berdiri dan menghampiriku. "Baik. Tidak usah sekolah lagi kalau begitu!" Ia menarik baju seragamku, lalu melubangi dengan rokok yang menyala di tangannya.
"Ayah jangan!" Aku menarik, memberontak, menjauhkan rokok itu tapi tenagaku kalah oleh Ayah. Akhirnya aku pasrah, menangis saat melihat banyak lubang di seragamku.
Tidak cukup hanya itu, Ayah berjalan cepat menuju kamarku. Aku berlari mengikuti. Ayah mengeluarkan buku-buku dari tasku, merobeknya. Aku berusaha menghentikan, mendekap sisa buku yang masih utuh dengan tangisan yang semakin menjadi.
"Nangis aja bisanya!" Tas yang tergeletak, diambil lalu ditimpukkan ke kepalaku. Setelah itu, Ayah keluar kamar.

Sungguh, saat itu aku melirik tajam sambil bersumpah dalam hati bahwa suatu saat jika Ayah sudah tua dan tidak bisa apa-apa, hanya terbaring di ranjang, aku tidak sudi mengurusnya!
Kukira, terlahir dari rahim ibu yang hanya tahu cara melahirkan saja tanpa tahu cara membesarkan apalagi membahagiakan dan dibesarkan oleh Ayah yang tidak punya rasa iba, adalah masalah terbesarku. Luka yang tak akan pernah sembuh sampai kapan pun.
Nyatanya, ada masalah yang lebih dari itu. Masalah yang membawaku pada kehancuran, tak punya masa depan, dan kehilangan harga diri sebagai perempuan.
Catatan kelamku justru bermula saat aku lari ke rumah Bu Siska. Ketika seharian aku hanya menangis di kamar sambil memeluk buku sekolah, Ayah kembali datang dan marah-marah. Mengambil paksa sisa buku, dan membakarnya.

"Masak sekarang!" bentaknya yang membuatku justru lari keluar. Tak peduli Ayah memanggil berkali-kali. Hanya sampai pintu, karena malam itu hujan deras mengguyur desaku. Petir menggelegar memekakkan telinga, tapi aku tak peduli tetap menerobos derasnya hujan.
Hanya ke rumah Bu Siska tujuanku. Tidak ada lagi. Hampir satu jam aku berjalan menuju rumahnya, sambil menangis yang ditemani hujan. Ya Tuhan, bahkan pikiranku saat itu adalah mengutuk petir di atas sana, mengapa tidak menyambar tubuhku saja.
"Haura?" Kak Lutfi yang membukakan pintu. Menatapku dari atas sampai bawah lalu berteriak memanggil bundanya.
Tubuhku menggigil di depan pintu, saat Bu Siska keluar, ia terlihat terkejut, sebelum ia menyelesaikan pertanyaannya, aku sudah menghambur ke pelukannya. Menangis sejadi-jadinya sampai Kak Rafly dan Lily keluar melihatku.

*
Suara pintu diketuk, membuatku menoleh dari jendela. Kak Rafly melongok dan tersenyum, "Boleh masuk?"
Aku mengangguk.
Pintu dibuka lebih lebar. Terlihat segelas susu cokelat di gelas bening yang dibawa Kak Rafly.
"Diminum, ya? Nanti sakit kalau perut kamu gak diisi setelah kena hujan."
"Makasih, Kak."
Kak Rafly meletakkan segelas susu cokelat itu ke meja sebelah ranjang. Aku masih berdiri di depan jendela, diam memerhatikan. Tadi, Bu Siska hanya menenangkanku, menyuruhku mandi dan memberi pakaian Lily yang kebesaran untuk pakaian ganti. Menawarkanku makan, tapi aku hanya menggeleng. Tersenyum hangat dan menyuruhku istirahat di kamar Lily, sedangkan gadis kecil itu akan tidur bersama Bu Siska.
"Malam ini gak ada bintang dan bulan." Kak Rafly berkata dan masih berdiri di sana. "Tapi hujan tak kalah indah karena membawa ketenangan saat melihat air yang turun dari langit."
Aku diam tak mengerti.
"Berdoalah, Ra. Karena saat hujan turun, Allah mendengar doa kita. Kamu percaya?"
Aku menggeleng.
Kak Rafly tersenyum. "Aku juga gak tahu pasti sih. Tapi kata Bunda sih begitu. Gak ada salahnya kalau dicoba, kan?" Ia mengedikkan bahu. "Ya udah, jangan lupa diminum susu cokelatnya, ya. Selamat tidur, Ra."
"Terima kasih, Kak."
Aku menoleh langsung ke jendela saat pintu kembali ditutup, menatap derasnya hujan yang belum berhenti juga. "Apa jika aku meminta kebahagiaan, Tuhan akan memberikan?"
Malam itu, aku tak percaya lagi dengan doa. Karena saat aku meminta kebahagiaan, justru diberikan kehancuran!
Malam semakin larut. Sampai jam satu malam, mataku mulai terpejam. Baru pertama kali setelah sekian tahun, aku merasakan kenyamanan saat tidur. Suasana tenang, tak ada suara berisik orang-orang yang berjudi.
Kukira, awalnya hanya mimpi, saat mulutku dibekap, mataku ditutup, dan tanganku diikat. Sebelum kemudian ….

-----

CATATAN KELAM Sang Pendosa 2

*
Kalian tahu, terkadang tempat yang menurutmu paling aman dan nyaman, adalah tempat paling berbahaya sebenarnya. Dan orang yang paling dipercaya adalah orang paling pandai menutupi dustanya.
Seperti yang terjadi malam itu. Malam terkutuk yang seumur hidup meninggalkan luka yang tak ada obatnya. Yang pada akhirnya membawaku pada derita yang tak ada habisnya.
Kepala berdenyut sakit sekali ketika aku membuka mata. Sekujur tubuh remuk bagai dihajar semalaman. Menoleh ke jendela, terang di luar sana walau masih ditutup tirai putih. Aku mencoba menggerakkan kaki. Sakit! Bukan kakiku, tapi bagian bawah perut di antara paha, terasa nyeri sekali.
Rasa apa ini? Mengapa rasanya ganjil begini? Saat kugigit bibir demi menahan nyeri, sambil memejamkan mata dengan satu tangan menekan kepala. Ingatan tentang kejadian semalam terlintas segera. Seseorang tiba-tiba menutup mata dan mulutku dengan kain, saat aku memberontak, kedua tangan malah diikat. Tak ada yang bisa kulakukan selain merasakan sentuhan-sentuhan aneh disusul desahan menjijikkan! Sampai sesuatu masuk dalam diriku secara paksa, membuatku memekik karena sakitnya tak terkira. Setelah itu, entah apa yang terjadi, sampai aku sadar pagi ini.
Ya Tuhan, usiaku saat itu baru 12 tahun. Bahkan belum mendapatkan menstruasi, tapi sudah diperlakukan tak manusiawi oleh lelaki yang tak punya hati! Hanya gadis kecil malang yang butuh perlindungan. Namun justru satu-satunya harga diri yang kumiliki telah direnggut dan dirampas begitu tega.
Kesadaran itu membuatku terisak setelahnya. Menyadari telah kehilangan sesuatu paling berharga dalam diriku. Tangisku semakin mengencang hingga pintu kamar dibuka oleh seseorang.
"Haura? Kamu kenapa, Nak?" Bu Siska datang menghampiri. Duduk di samping ranjang dan langsung memelukku setelah membantuku duduk.
Pelukan dan elusan di punggung, justru membuatku semakin larut dalam tangis sedu sedan. Bu Siska bertanya sekali lagi. Namun, kerongkonganku terasa kering hingga sama sekali tak mampu mengeluarkan suara. Hanya isak tangis yang mendalam.
Bagaimana caranya aku mengatakan kalau semalam ada seseorang yang telah merenggut kesucianku. Bahkan aku sendiri tidak tahu siapa yang melakukan itu.

"Tenanglah. Kamu mimpi buruk, ya?" Bu Siska merenggangkan pelukan, tersenyum dan mengusap wajahku yang basah. "Ibu bikinin susu cokelat, mau? Atau mau sarapan donat? Kamu suka donat, kan? Tadi pagi-pagi Rafly sudah beli di warung sebelah."
"Kak Rafly?" Serak aku bertanya.
Seperti paham maksud pertanyaanku, Bu Siska menjelaskan, "Rafly udah berangkat sekolah. Begitu juga dengan Lily. Kalau Lutfi, baru saja pergi, hari ini berangkat kuliah lagi ke Jogja."
Aku diam tapi masih dengan sorot mata bertanya, hingga Bu Siska kembali menjelaskan, "Kalau Ibu, sengaja libur hari ini. Untuk membicarakan hal penting ke kamu."
"Apa?" Aku berharap mendapat penjelasan tentang kejadian semalam.
"Semalam Ibu sudah telepon yayasan di Jakarta. Yayasan yang akan membantumu untuk sekolah lagi. Kamu akan di sekolahkan di sana, Nak. Banyak teman. Dan yang pasti tidak akan ada lagi yang menyakitimu."
"Yayasan?"

"Iya. Panti asuhan. Kamu akan tinggal di sana dan sekolah di sana. Kamu masih mau sekolah, kan?"
Alih-alih ingin protes dan bertanya banyak hal, aku justru mengangguk.
"Nah, di sana nanti kamu akan banyak teman. Kamu pasti betah."
"Tapi …."
"Sudah Ibu bilang, kamu anak yang cerdas. Sayang sekali kalau harus putus sekolah karena Ayah kamu yang …." Bu Siska menggantungkan kalimatnya, menyeringai tipis dan menggeleng. Aku tahu maksudnya, tapi bukan hal itu yang ingin kubahas saat ini.
"Ibu siapkan sarapan dulu, ya? Kamu mandi biar seger. Hari ini juga, kamu akan pergi ke Jakarta." Bu Siska beranjak dan sebelum ia melangkah, aku menarik tangannya.
"Semalam … aku …." Aku menunduk, bingung bagaimana cara menjelaskan.
"Itu hanya mimpi buruk, Nak. Jangan diingat lagi, ya?"
Aku menggeleng kuat. Setetes air mata meluncur lagi. "Semalam bukan mimpi." Tersendat-sendat aku berkata. "Semalam …."
"Sssttt!" Bu Siska menghentikan ucapanku, mengusap air mataku dan tersenyum meyakinkan seolah apa yang aku alami semalam hanya mimpi buruk.
Demi apa pun bahwa semalam aku tidak sedang bermimpi. Aku masih sadar saat seseorang itu menyentuh semua bagian tubuhku. Bahkan suara desahan menjijikkan itu masih terngiang jelas di telinga.
Apa yang sebenarnya terjadi?
*

Siangnya, Bu Siska kembali ke kamar setelah tadi pamit mau ke pasar. Selesai sarapan tadi pagi, aku kembali rebahan, dan masih terus menangis. Entah menangisi apa. Saat itu aku hanya merasa ada yang tercabut dalam diriku. Aku yang biasanya bersikap tak acuh dan sangat jarang menangis walau dada terasa sesak sebagaimana pun. Kali ini, semua pertahananku runtuh.
"Ibu hanya beli tiga stel baju untukmu. Alat mandi dan lainnya, sudah Ibu letakkan di tas semuanya." Bu Siska menjelaskan sambil menunjukkan tas ransel ukuran sedang.
Aku hanya memandang malas pada benda itu.
"Ibu sudah pesankan ojeg buat antar ke terminal. Kamu siap-siap, ya?"
Aku menggeleng. Entah, seakan ada beban berat di dada yang ingin sekali kutumpahkan, tapi tidak tahu caranya.
"Percayalah, Nak. Di Jakarta nanti, kamu akan punya banyak teman. Tidak lagi ada yang marah-marah melarangmu belajar atau sekolah." Bu Siska membelai rambutku.
"Bu … semalam …."
Belum selesai aku bicara, suara motor di depan mengalihkan perhatian.
"Jemputannya sudah datang. Siap-siap gih. Takutnya ketinggalan bis nanti. Besok di Jakarta, akan ada yang jemput kamu."
Aku menggeleng sekali lagi dengan air mata yang semakin menderas.
"Kenapa? Kamu tidak mau ke Jakarta? Kalau tinggal di sini, nanti Ayah kamu pasti datang."
"Bu, semalam ada yang masuk kamarku!" Aku berucap dengan satu tarikan napas.
"Tidak ada yang masuk kamarmu, Nak. Semalam semuanya tertidur di kamar masing-masing. Kamu pasti mimpi buruk" Bu Siska menjelaskan, tapi aku merasa ada yang disembunyikan.
"Aku tidak sedang bermimpi, Bu. Semalam …."
"Sudah sudah!" Bu Siska memotong ucapanku dan berdiri. "Itu ojegnya sudah nunggu. Cepat ganti baju dan sisiran. Ibu tunggu di luar."
Tanpa menghiraukan dan mendengarkanku, Bu Siska langsung keluar kamar. Meninggalkanku dengan berbagai pertanyaan. Sikap ganjil Bu Siska memperjelas bahwa ia sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi saat itu aku masih terlalu kecil untuk menuntut jawaban atas kejadian semalam. Seseorang dari keluarganya jelas memasuki kamar dan memperlakukanku tak manusiawi.
Namun, aku hanya punya dua pilihan. Kembali ke rumah Ayah atau pergi ke Jakarta saat itu juga. Kembali ke rumah Ayah, jelas aku tidak mau. Aku masih ingin sekolah. Dan satu-satunya pilihan adalah pergi ke Jakarta. Mungkin dengan begitu, aku bisa melupakan semua tentang Ayah, Ibu, dan kejadian semalam.
"Kak Rafly?" Aku bertanya pada Bu Siska saat sebelum berangkat.
"Kamu mau pamit? Nanti Ibu sampaikan, ya? Rafly hari ini ada ekstrakulikuler di sekolah. Pulangnya sore."
Bukan itu! Aku hanya ingin bertemu dan bertanya padanya. Apakah semalam masuk ke kamarku? Walau kemungkinan itu sangatlah tipis, mengingat betapa baiknya Kak Rafly padaku.
"Kak Lutfi?"
"Nanti Ibu sampaikan salam kamu ke Lutfi kalau dia pulang, ya? Sama Lily juga dan Om Heru."
Bu Siska masih saja tersenyum meyakinkan. Senyum yang justru terlihat sangat ganjil. Ia pun terlihat ingin sekali aku cepat pergi. Membawakan tas ransel dan memberikan ke tukang ojeg. Menyuruhku segera naik ke motor.
Tak ada yang bisa kulakukan. Hanya diam dengan sesak yang semakin mendalam. Kuraih tangan Bu Siska dan menciumnya. Entah apa yang kupikirkan saat itu, karena yang keluar dari mulutku bukannya ucapan terima kasih, tapi justru pertanyaan yang membuat wajah Bu Siska pias seketika.
"Ibu percaya karma?"
Bersambung ….

-----


CATATAN KELAM Sang Pendosa 3
*
Selama perjalanan, aku hanya diam memandang keluar jendela. Sebenarnya tempat dudukku bukan di samping jendela, tapi aku meminta yang duduk di sebelahku bertukar tempat. Sempat menolak, tapi melihat wajahku yang memelas, akhirnya wanita itu luluh juga walau sedikit mengomel setelahnya.
Perjalanan jauh dan berjam-jam, sungguh membuat tubuhku terasa lemas dan kantuk pun menyerang. Namun, saat mata terpejam, sekelebat ingatan kejadian malam terkutuk itu terlintas begitu saja. Berkali-kali, hingga membuatku tak ingin memejamkan mata lagi. Rasa takut telah mengungkung. Takut saat aku terlelap, seseorang akan melakukan hal itu lagi.
Aku tersentak saat seseorang menyentuh bahuku. Ternyata, tanpa sadar aku tertidur dan sekarang, bus sudah berhenti. Seorang kakek tersenyum memberitahukan bahwa sekarang sudah sampai Jakarta. Aku melihat sekitar, orang-orang berbondong-bondong turun. Kakek itu pun akhirnya pergi dan turun dari bus karena aku hanya diam.
Masih remang-remang di luar, setelah menggendong ransel, aku segera turun dari bus. Suasana terminal. Sepagi ini sudah ramai pedagang keliling berbagai jenis, menawarkan dagangannya ke orang-orang yang baru sampai. Seorang lelaki paruh baya menawarkan ojek, tapi aku menggeleng dan buru-buru menjauh.
Sekarang apa? Aku harus menunggu di mana? Apa yang harus kulakukan? Sekitar setengah jam aku menunggu, berdiri tak jauh dari pemberhentian bus. Suasana terminal semakin ramai walau matahari baru saja terlihat. Menoleh ke sana kemari tanpa tahu seperti apa orang yang akan menjemputku.
Rasa haus membuatku pergi ke warung tak jauh dari tempat berdiri tadi. Memesan teh hangat lalu duduk di kursi plastik. Masih dengan menoleh ke sana kemari untuk mencari sosok dengan ciri-ciri yang Bu Siska sebutkan kemarin. Hal yang justru membuatku lengah, hingga tas ransel yang kuletakkan di samping kursi, tanpa sadar dibawa seseorang.
Beruntungnya, hanya satu menit akhirnya aku menyadari tasku hilang, berdiri dan memandangi sekitar. Terlihatlah anak lelaki memakai jaket penutup kepala, mungkin seusia Kak Lutfi atau Kak Rafly menggendong tas yang kuyakini milikku. Buru-buru lari dan sayangnya dia tahu, hingga akhirnya aku harus mengerahkan seluruh tenagaku untuk mengejar.
Suasana terminal sedang ramai-ramainya, membuatku kesulitan mengejar. Salah sedikit, bisa nabrak pedagang atau orang yang berlalu-lalang. Namun, lelaki itu gesit berlari di celah-celah orang berseliweran. Masuk ke sebuah gang kecil, aku masih terus mengejar sambil terus berteriak, "Tolong itu tasku!"
Hilang jejak saat di pertigaan jalan gang. Napasku terengah-engah berhenti di tengah jalan. Mencari-cari di mana lelaki itu. Seorang pedagang bubur ayam meneriaki agar aku menyingkir, karena menghalangi jalan.
"Buk, lihat ada lelaki yang lari bawa tas warna hitam?" Aku bertanya pada seorang wanita yang lewat.

"Gak tahu, Dek. Maaf buru-buru." Wanita itu tersenyum singkat, lalu melangkah pergi. Aku pun bertanya dengan orang lain lagi dan lagi. Jawaban mereka sama. Tidak tahu.
Aku mendesah kecewa. Sebenarnya mereka sungguh tidak tahu atau tidak peduli? Miris melihat banyak orang yang seolah tak acuh pada penderitaan orang lain dengan alasan tidak mau ikut campur. Urusanmu ya urusanmu. Urus sendiri! Namun saat itu aku tidak berpikir sampai ke sana. Hanya memandang bingung daerah sekitar dengan pikiran bermacam-macam.
Tas itu isinya bukan hanya pakaian tapi ada yang jauh lebih penting, yaitu ijazah sekolah dasar yang akan digunakan untuk mendaftar sekolah menengah pertama di sini. Ijazah yang diambil dari wali kelas oleh Bu Siska. Sekarang bagaimana aku bisa mendaftar jika ijazah itu hilang? Bagaimana aku bisa melanjutkan sekolah? Lalu sekarang, bagaimana jika orang yang menjemputku mencariku di terminal?

Semua pikiran itu membuatku terisak-isak. Duduk di pinggir jalan, memeluk lutut. Orang-orang yang lewat hanya memandang iba tanpa mau menyapa. Mungkin mereka pikir, aku hanya anak kecil yang sedang kena hukum orangtuanya. Anak kecil yang menangis sebab tidak dituruti keinginannya. Entahlah, apa mereka pikir semua anak kecil itu hanya nakal minta ini itu?
Beberapa menit kemudian, seseorang datang dari samping menyerahkan ranselku. Buru-buru aku mendongak, sempat terkejut tapi segera merampas tas ransel dari tangannya. Mendekapnya erat seolah tas itu adalah benda paling berharga.
"Sorry," ucapnya lalu membalikkan badan dan pergi.
Cepat aku membuka tas. Memeriksa isinya. Masih utuh termasuk ijazahku. Aku bernapas lega. Kembali berjalan ke arah semula. Sayangnya, aku lupa gang mana lagi yang harus kulewati untuk sampai ke terminal.

Salah jalan! Aku memilih gang yang justru mempertemukanku pada segerombolan lelaki yang sedang berjudi. Buru-buru aku membalikkan badan, masih dengan merangkul ransel erat-erat, aku melangkah cepat.
"Buru-buru amat, Neng!" Satu lelaki mengejar lalu menghadang, membuatku memekik ketakutan dan mundur.
Ya Tuhan! Bukankah selama ini aku sudah sangat biasa dengan para lelaki yang sedang berjudi? Bukankah aku selalu bersikap tak acuh pada pemuda-pemuda yang menggoda? Lalu sekarang? Ke mana semua keberanianku? Seolah tercabut begitu saja setelah kejadian malam terkutuk itu. Bahkan sekarang, saat di hadapkan lelaki seperti ini, tubuhku bergetar hebat dan hampir menangis.
"Masih kecil ini, Bang. Masih dedek emes." Lelaki lain yang lebih muda menimpali.
"Tapi cantik. Tunggu tiga sampai empat tahun lagi juga kelihatan bentuk badannya."
"PERGI!" Aku membentak. Lebih tepatnya menjerit, disertai air mata yang telah keluar.
"Yah galak bener sih kecil-kecil!" Lelaki itu hendak menyentuh daguku, tapi kubentak lagi. Hingga ditertawakan oleh para lelaki yang duduk berjudi di sana, lalu disusul seruan-seruan ledekan.
"Jangan, Bang." Seseorang menghentikan gerakan usil tangan lelaki itu. Kedua lelaki yang menggodaku menoleh.

"Kenapa? Lu mau juga?"
"Kagak, Bang. Dia adek saya. Tolong lepaskan."
"Adek?" Mereka berdua serempak tertawa. "Adek ketemu gede maksudnya?"
"Iya, Bang. Dia adek saya. Maaf ya, Bang." Setelah itu menatapku. "Ayo sini, pulang."
Aku menelan ludah. Menatap tak mengerti lelaki yang tadi mencuri tasku dan mengembalikannya lagi. Tatapannya menyiratkan agar aku segera mendekat. Karena tidak mau terlalu lama digoda oleh dua lelaki itu, akhirnya aku melangkah cepat menghampiri dan berdiri di belakang punggungnya.
"Sekali lagi maaf ya, Bang," ucapnya lagi dan menarik tanganku untuk pergi tapi kutepis langsung. Ia sempat melotot, tapi tak kupedulikan dan berjalan lebih dulu dengan langkah cepat. Di sana, masih terdengar seruan-seruan entah apa.
"Hei tunggu!" Lelaki itu berseru, tapi aku sama sekali tak menoleh.
Aku memekik saat dia tiba-tiba menghadang.
"Gak usah takut. Kamu bukan orang sini?"
"Bukan," jawabku tanpa menatapnya.
"Pantes nyasar. Ayo aku antar."

Tinggiku sedadanya, hingga membuatku harus mendongak demi melihat ekspresinya apakah sungguh-sungguh dengan ucapannya. Namun, dia justru membalikkan badan dan melangkah pelan.
Aku masih diam antara percaya dan tidak. Hingga dia menoleh dan berdecak. "Buruan!" Kini ucapannya terkesan memerintah. Namun tanpa sadar, aku mulai melangkah mengikutinya dari belakang dengan jarak yang cukup jauh. Sesekali ia menoleh ke belakang, seolah memastikan bahwa aku masih mengikutinya. Tanpa protes dengan jarak yang kuciptakan.
Sampailah di terminal dan dia benar-benar mengantarku ke tempat semula. Aku diam dan dia pun sama sekali tidak bertanya, jadi aku langsung berdiri ke pinggiran pemberhentian bus seperti tadi pagi dan dia duduk di warung. Sekarang, terik mentari terasa menyengat, menandakan bahwa hari telah siang.

Sesekali aku menoleh ke warung, dia masih duduk di sana sedang makan gorengan sambil memerhatikanku. Aku berusaha tak peduli meski dalam hati mulai dirasuki rasa takut karena sekitar satu jam berlalu, dia masih duduk di warung. Apa yang diinginkan dariku?
Kakiku terasa letih dan pegal, tubuh pun lemas sekali, mungkin karena belum makan sama sekali dari kemarin sore. Aku memilih berjongkok, mengusap peluh di pelipis dengan tangan. Masih dengan wajah lelah aku memandangi sekitar, berharap segera ada yang menjemput.
"Kamu nungguin siapa sebenernya?" Lelaki itu tiba-tiba berdiri di sampingku. Aku mendongak dan segera berdiri. Merangkul ransel dan mundur mengambil jarak.
"Daripada nunggu di sini, mending pulang. Orangtuamu pasti nyariin. Di mana alamatmu, biar aku anter."
Aku menggeleng.
"Serius. Aku anter sampai rumahmu. Gak bakal culik kamu juga. Kalau mau nyulik, ngapain aku anter ke sini."
"Aku gak tahu."
"Gak tahu alamat rumah?"
Aku menggeleng lagi.

"Lah serius? Alamat sendiri masa gak tahu? Anak TK aja sekarang diajarin buat hafalin alamat rumah sendiri."
Aku diam tak menjawab.
Lelaki itu berdecak. "Terserah kamu deh kalau mau nunggu dijemput daripada pulang sendiri. Biasa dimanja kayaknya ya kamu itu?"
Aku menoleh, mendongak dan menatapnya tajam. Tak terima dengan ucapannya yang jelas-jelas salah besar.
Seolah tak peduli dengan tatapanku, dia justru berkata, "Sana duduk di warung kalau mau nunggu. Jangan jongkok di sini."
Aku kembali memalingkan wajah dan tidak menjawab. Terdengar helaan napas panjang darinya lalu melangkah pergi. Ternyata dia kembali duduk di warung.
Satu jam, dua jam, hingga entah berapa jam aku menunggu. Dari cuaca terasa panas sekali sampai tak panas lagi. Dari bus satu pergi hingga bus lain datang, bergantian entah berapa kali.
Aku menoleh, memandang lelaki yang masih duduk di warung, dengan tatapan marah. Tentu saja semua karena dia yang membawa lari tasku. Walau dikembalikan lagi karena memang tidak ada isinya yang berharga, tapi dia telah membuang waktuku. Membuatku tak ada di tempat di mana seharusnya aku dijemput.

Lelaki itu justru berdiri dan berjalan menghampiri. Salah mengartikan tatapanku. Aku memalingkan wajah dan segera menyeka sudut mata. Menahan diri agar tidak menangis lagi. Namun tubuhku benar-benar terasa tak bertenaga sama sekali, hingga tiba-tiba aku terjatuh dan gelap setelahnya.
Takdir membawaku bertemu pada malaikat penolong. Sayangnya, aku menyesali pertemuan itu dikemudian hari.
Bersambung.

-----


CATATAN KELAM Sang Pendosa 4
*
Aroma minyak kayu putih begitu menyengat sehingga membuatku terbangun. Kepala sakit sekali, sekujur tubuh rasanya tak bertenaga, tapi kupaksa membuka mata.
"Mas Ken, sini cepetan. Udah sadar!"
Saat membuka mata, ada beberapa anak sedang menatapku. Tiga anak lelaki dan satu perempuan, lalu disusul dari luar satu lagi, pemuda yang tak asing ini ….
"Kamu udah sadar?" Pemuda itu mendekat lalu duduk di samping kasur tipis yang kutiduri, membuat beberapa anak tadi menyingkir.
Bukan menjawab, aku justru menoleh melihat ruangan kecil yang warna catnya sudah sangat memudar.

"Tenang, gak usah takut. Kamu aman di sini. Di rumahku. Ini semua adek-adekku." Pemuda itu kembali bicara, aku menoleh menatapnya. Ia menjawab sebelum aku bertanya, seolah paham apa yang sedang aku pikirkan.
"Kamu tadi pingsan di terminal, makanya aku bawa pulang. Karena aku tahu, kamu pingsan pasti karena belum makan, kan?" Pemuda itu menoleh dan memerintah salah satu adiknya. "Do, tolong ambilin nasi bungkus di meja makan sama teh angetnya sekalian."
Anak lelaki yang kuperkirakan seusiaku itu, dengan cepat keluar kamar. Anak-anak lain masih menatapku, membuatku risih hingga akhirnya aku berusaha duduk.
"Jangan pegang!" Aku menepis tangan pemuda itu ketika hendak membantuku.
"Galak ih!" Anak perempuan yang kuperkirakan usianya di atasku berkomentar dan terdengar tak suka.
"Ini, Mas Ken." Anak lelaki tadi menyerahkan piring berisi nasi bungkus dan segelas teh yang masih mengepul uapnya. Aku menelan ludah, perutku memang terasa perih karena belum diisi sama sekali sejak kemarin sore.
"Makan dulu, gih. Ntar kalau masih sakit bilang, biar dibeliin obat di warung." Pemuda itu menyodorkan piring padaku dan meletakkan gelas ke lantai yang belum dikeramik ini. "Kita keluar dulu." Ia berdiri dan mengajak adik-adiknya untuk keluar.
"Kak!" Aku berseru, dia menoleh disusul anak-anak itu. "Tasku mana?"
"Tenang aja. Aman. Ada di depan. Gak akan ada yang nyentuh," jawabnya lalu kembali melangkah keluar saat aku diam saja.

*
Setelah selesai makan, aku berdiri dan membuka jendela kayu yang bahkan ujung-ujungnya sudah dimakan rayap. Di luar sudah gelap, udara di sini tidak sesejuk di desa. Bahkan sedikit bau amis atau entahlah.
"Udah abis?" Aku tersentak saat tiba-tiba ada orang masuk dan bertanya. Perempuan tadi justru tertawa. "Kaget, ya? Mau mandi, gak?"
Aku mengangguk.
"Kamar mandinya ada di belakang. Ayo aku anter." Dia mengambil piring dan gelas bekas makanku lalu keluar dan aku mengikutinya.
Rumah ini, keadaannya tidak jauh lebih baik dari rumahku di desa. Bahkan ini lebih kecil, karena saat keluar kamar, sudah ada ruangan yang hanya beralas tikar tipis, mereka sedang belajar bersama. Mereka semua menoleh padaku, masih dengan tatapan asing. Namun, fokusku bukan pada mereka yang sedang belajar, tapi pada anak kecil mungkin usianya baru sepuluh tahun, sedang berbaring dengan selimut sarung menutup seluruh tubuh.
"Itu namanya Rio. Umurnya sembilan tahun. Dia demam dari kemarin. Makanya Mas Ken mati-matian cari uang buat beli obat."

"Mas Ken?" Dahiku berkerut memandang perempuan yang menjelaskan ini.
"Iya. Yang paling besar. Kakak tertua dan yang punya rumah ini. Nanti kamu tahu sendiri. Biar Mas Ken aja yang jelasin." Sambil berjalan ke belakang, dia menjelaskan. Aku mengikutinya.
"Itu tasmu. Pakaianmu taruh di kamar aja. Tidur bareng aku nanti. Kamarnya cuma ada satu dan untuk cewek. Selama ini aku tidur sendirian. Tapi gak apa-apa, seru juga kalau punya saudara cewek. Semoga betah di sini."
Penjelasannya membuatku bingung, tapi aku justru bertanya hal lain. "Kamu gak takut tidur sendiri di kamar?"
Dia justru tertawa. "Ngapain takut? Takut apa coba? Setan?"
"Bukan. Kalau misal ada cowok masuk ke kamar kamu gimana?"
"Siapa juga yang berani masuk? Kalau ada cowok kurang ajar di luar, langsung bilang Mas Ken, pasti langsung dihajar!" Dia mengepalkan tangan lalu meninju udara dengan gaya ceria.
Aku hanya menyeringai tipis. "Dia ke mana?"
"Siapa? Mas Ken?"
Aku mengangguk.
"Nyari kerja. Biasanya ngamen, tapi gitarnya rusak. Jadi gak tau deh, Mas Ken nyari kerja apaan di luar. Uang hasil ngamen kita tadi cuma cukup buat beli makan sama obat penurun panas."
"Kalian ngamen?"
"Iyalah. Kalau gak ngamen, mau makan dari mana? Hidup di Jakarta itu keras cuy!"
"Gak sekolah?"
"Sekolah dong. Mas Ken bakal marah kalau kita lebih mentingin kerja daripada sekolah. Mas Ken mah bagai malaikat bagi kita. Beuh! Baiknya melebihi apa pun di dunia ini."
Baik? Orang baik tapi mencuri?

*
Tubuhku sedikit lebih segar saat selesai mandi. Kemudian ikut duduk bersama mereka yang masih belajar. Mereka semua ternyata cukup menyenangkan. Memperkenalkan diri masing-masing dengan cara unik.
Katanya, kakak tertua di sini adalah Mas Ken, umurnya baru 16 tahun. Lalu ada Ridho dan Mega, usianya sama 13 tahun (Aku sempat bingung karena usia mereka sama, saat menatap mereka berdua wajahnya jauh berbeda, jadi tidak mungkin terlahir kembar). Ada Randi, usianya 11 tahun. Dan yang terakhir, Rio masih sembilan tahun.
Seru sekali melihat mereka bercanda sambil belajar. Sedangkan Mega, duduk menyendiri di samping Rio. Sesekali menyentuh kening Rio lalu menghela napas panjang. Aku hanya diam memerhatikan. Padahal, di kepala dipenuhi banyak pertanyaan. Salah satunya, di mana Ayah dan Ibu mereka?
"Aku pulang!" seru seseorang yang baru masuk. Pemuda dengan jaket hitam dengan penutup kepala.
"Mas Ken!" Semua berseru, kecuali aku.
"Gimana, Mas? Dapet uangnya?" Mega bertanya dan dijawab oleh Mas Ken dengan gelengan kepala bersama raut wajah kecewa.
"Yah!" Semuanya berseru. Mega menepuk kepalanya.
Mas Ken menatapku dan bertanya, "Kamu udah sehat?"
Aku mengangguk.
"Syukur deh. Besok anter pulang."
Aku terdiam. Pulang? Ke mana? Bahkan saat seharian menunggu di terminal, sama sekali tidak ada yang menjemput. Sekarang, aku tidak tahu harus ke mana?
Mas Ken mendekati Rio, menyentuh wajahnya. "Masih panas. Besok mau gak mau harus dibawa ke dokter."
"Emangnya Mas Ken punya uang?" celetuk Ridho. Mega melotot padanya.
"Besok aku usahain lagi." Ia melepas penutup kepala dan mengusap rambut. Duduk bersandar di samping Mega.
"Mas Ken udah makan?" Mega bertanya.
"Udah."
"Bohong!"
"Bikinin teh anget gih sana."
"Tuh kan pasti belum makan." Mega menatap menyelidik.
"Apaan sih. Tadi udah makan tapi lupa minum. Dah buruan sana bikinin."
Mega berdecak lalu berdiri dan berjalan ke belakang.
*
Pukul 01.30 semua sudah terlelap. Aku tidur sekamar dengan Mega, pun terdengar dengkuran halus sejak dua jam lalu. Di luar sudah tidak ada suara sama sekali, pasti semua sudah berada di alam mimpi. Sedangkan aku, dengan mata yang masih terbuka lebar, menatap langit-langit kamar yang gentengnya dipenuhi sarang laba-laba.
Semua ketakutan itu kembali hadir. Takut, jika aku memejamkan mata, maka seseorang akan masuk ke kamar lalu ….
Aku menghela napas panjang. Mencoba menghapus tentang ingatan itu tapi mengapa begitu sulit? Aku mencoba memikirkan hal lain seperti ... aku di sini tidur bersama Mega dan lagipula, semua lelaki di rumah ini tidak ada yang jahat. Mereka masih kecil-kecil dan pemuda tertua di sini pun baru 16 tahun. Jadi, mana mungkin mereka berniat jahat, setelah semua yang kuterima. Tempat tinggal dan makan, walau hanya nasi lauk tempe kering.

Pikiranku teralihkan pada Rio yang sedang terbaring sakit. Sesak tiba-tiba menyapa kala teringat Ayah. Setidaknya, dulu waktu aku sakit parah, Ayah membopongku menuju klinik terdekat. Menyuruh dokter untuk menanganiku lebih dulu. Walau uang untuk membayar biayanya dihasilkan dengan cara bermain licik dengan para penjudi.
Aku mengusap mata secara kasar. Lalu merogoh saku celana, dan mengeluarkan beberapa lembar uang yang terlipat rapi. Uang dari Bu Siska, tiga ratus ribu, tapi saat itu nilainya sangat berharga.
Bangun dan keluar kamar, tatapanku langsung bertemu dengan Mas Ken. Pemuda itu duduk bersandar di samping Rio yang terlihat menggigil. "Gak bisa tidur?" tanyanya langsung.
Aku menggeleng. Berjalan mendekat walau masih sedikit takut. Atau mungkin lebih tepatnya, canggung?

"Apa?" Mas Ken bertanya lagi, mungkin bingung.
Saat sudah berada di dekatnya, aku menyodorkan uang tiga ratus ribu itu. Raut wajah Mas Ken terkejut seketika. Bolak-balik menatapku dan menatap uang di tanganku.
"Untuk berobat Rio." Akhirnya aku berkata.
Mas Ken tersenyum lebar, raut wajahnya berubah senang. Menerima uang dariku dan mengucapkan terima kasih.
"Ntar pasti aku balikin," katanya. "Sini duduk. Aku penasaran sama kamu. Kenapa bisa gak tau alamat rumah sendiri? Terus besok aku anterin kamu ke mana? Ke kantor polisi?"
Aku menggeleng. Mulai duduk di depannya tapi masih menjaga jarak.
"Biasanya, orangtua kamu pasti lapor polisi kalau tau anaknya ilang 1x24 jam. Jadi, besok aku anter ke kantor polisi aja, ya?"
Aku menggeleng lagi.
"Terus?"
"Aku gak punya rumah." Aku menunduk. Bingung bagaimana cara menjelaskan.
"Gak punya rumah?"
"Rumahku di Jawa. Dan aku ke sini lari dari rumah."
"Kabur?"
Entah mengapa aku mengangguk. Mungkin penjelasan ini jauh lebih baik dibanding aku harus menceritakan kejadian aslinya.
"Kenapa?"
"Ayah bakar seragam sama buku sekolahku. Dia juga suka mukul sekarang. Aku takut."
"Terus kamu di terminal nungguin siapa?"
Aku menggeleng dan dia mengartikan bahwa tidak ada yang aku tunggu.
"Astaga! Kamu terlalu berani buat dateng ke Jakarta sendirian tanpa tujuan. Jakarta itu keras. Harus jungkir balik buat bertahan hidup." Mas Ken berkata menggebu-gebu, tapi masih dengan suara pelan.
Aku hanya diam menunduk.
"Gimana kalau waktu sampai di Jakarta kamu ketemu orang jahat?"
Aku mendongak, menatapnya dengan tatapan yang aku rasa dia mengerti karena dia terlihat salah tingkah setelahnya.

"Aku jahat di saat kepepet aja." Dia menjelaskan tanpa kuminta. "Aku butuh uang buat berobat Rio. Sedangkan gitarku patah. Aku kira kamu anak orang kaya, lagi nungguin ibu kamu di toilet. Makanya, aku bawa kabur tas kamu yang kayaknya masih baru itu. Sorry sekali lagi."
Aku menahan tawa. Entah mengapa ucapannya membuatku merasa lucu. Dia mengira aku anak orang kaya? Wajah kucel sepertiku apakah bisa disebut anak orang kaya?
Dia menyeringai dan menggaruk kepalanya. "Jadi kamu gak ada tujuan kan di sini?"
Aku menggeleng.
"Tinggallah di sini sampai kamu menemukan tujuan di hidupmu." Dia tersenyum. "Besok aku ajak ke rumah Pak Rt buat pendataan anggota keluarga baruku. Mau sekolah?"
Aku mengangguk antusias.
"Tapi janji bakalan belajar yang bener dan gak nyia-nyiain sekolah?"
Aku mengangguk lebih kencang.
Dia tersenyum lebar lalu tangannya terulur menepuk-nepuk pelan kepalaku. "Aku bisa melihat kesuksesan di kedua matamu. Kamu pasti akan jadi orang besar yang disegani oleh banyak orang suatu saat nanti."

-----

CATATAN KELAM Sang Pendosa 5
*
Keluarga Pelangi, mereka menyebutnya. Mas Ken menjelaskan, "Pelangi itu warna-warni. Indah sekali. Dan kita semua yang ada di sini, terlahir dan memiliki kehidupan berbeda-beda sebelumnya. Kita menjadi keluarga yang akan saling melengkapi warnanya. Agar menjadi kesatuan yang utuh dan memesona."
Aku hanya diam, tak paham apa maksudnya. Malam itu, semua duduk di ruangan depan beralas tikar tipis, makan bersama. Baskom besar diisi nasi dan lauk pauk seperti tempe, tahu, mie goreng, dan serundeng. Tidak ada ayam atau ikan, tapi semua makan dengan lahapnya pakai tangan bercampur jadi satu termasuk Mas Ken.
Pertama kalinya aku merasakan arti kebersamaan. Makan sederhana bisa terasa begitu nikmat. Seolah tidak ada beban pikiran. Yang terlihat hanyalah wajah-wajah bahagia. Kami semua bahagia karena hari ini, Rio telah sehat kembali. Tiga hari lalu, setelah aku menyerahkan uangku, pagi-pagi Mas Ken membawa Rio ke klinik terdekat. Sehari setelah minum obat dari dokter, tubuh Rio mulai berangsur pulih dan sekarang telah sembuh total. Rio termasuk anak yang usil dan banyak bicara ternyata. Dia menyambutku ramah dan bilang bahwa akhirnya ia memiliki kakak perempuan selain Mega.
Dan yang paling penting dari itu, aku telah didaftarkan ke Pak Rt untuk menjadi anggota keluarga Mas Ken. Semua sedang diurus. Kemudian, pagi tadi, aku sudah daftar sekolah menengah pertama di dekat sini. Sekolahannya biasa saja, tak jauh berbeda dengan di desaku. Sebelumnya aku mengira akan seperti sekolah-sekolah besar yang pernah aku lihat di televisi.

Untuk sementara, aku memakai seragam milik Mega. Kebetulan dia punya dua, jadi satu bisa kupakai. Itu pun hanya putih biru. Kata Mas Ken, lagi diusahakan untuk membeli. Sebenarnya aku tidak enak hati dan merasa merepotkan, padahal keadaan mereka juga sedang kesusahan. Namun, Mas Ken selalu bilang, "Kamu sudah jadi adikku sekarang. Jadi anggota keluara Pelangi. Jadi jangan merasa tidak enak hati atau sungkan."
Setiap pagi, aku, Mega, Ridho, Randi, Rio, dan tentu Mas Ken, berjalan bersama menuju sekolahan. Mas Ken selalu berpesan pada Mega dan Ridho untuk menjagaku. Sesuatu yang baru menusuk hatiku. Merasa memiliki keluarga yang menyayangi dan mengasihi, yang tak pernah kurasakan selama ini.

Tadi pagi aku bertanya pada Mega, "Mas Ken gak sekolah?"
"Enggak. Mas Ken lebih milih nyari uang buat sekolah kita-kita. Pokoknya, Mas Ken itu bagai malaikat buat kita-kita. Baiknya gak ada yang bisa nandingin deh. Cuma penampilannya doang yang keliatan urakan. Tapi hatinya beuh!" Mega mengacungkan jempol. Mendengarnya bicara saat ditanya tentang Mas Ken, semua orang pasti langsung ingin tahu seperti apa Mas Ken itu.

Hari-hari pun berlalu. Aku mulai terbiasa dengan aktivitas di sini. Pagi selalu mendengar mereka bertengkar rebutan kamar mandi (hanya Mas Ken yang terlihat santai, bahkan terkadang saat semuanya sudah siap, Mas Ken masih terlelap). Berangkat sekolah bersama, sekolahku bersama Mega dan Ridho, melewati sekolahannya Randi dan Rio, diakhiri Mas Ken yang berjalan sendiri untuk bekerja. Pulang sekolah, makan bersama di rumah (aku menawarkan diri untuk memasak, daripada mereka selalu beli nasi bungkus yang isinya tidak seberapa, lebih baik beli beras dan lauk mentah, cukup untuk sekeluarga sampai malam). Mas Ken menyambut antusias, lama sekali dapurnya tidak pernah digunakan, katanya, dan aku dengan senang hati memasak untuk mereka semua.

"Enak. Kamu pinter masak ternyata, ya?" Mas Ken memuji. Lahap memakan hasil masakanku. Sebuah pujian yang mampu membuatku merasa dihargai. Tidak seperti Ayah yang selalu protes tentang masakanku yang itu-itu saja. Begitupun dengan lainnya, terlihat senang dengan hasil masakanku. Lalu Rio mulai jahil menyebut bahwa Mega tidak bisa memasak padahal perempuan juga. Terjadilah perang antar keduanya, Ridho membela Rio, dan Randi membela Mega. Hal kekanakan yang justru membuatku mulai bisa tersenyum.
"Kamu manis kalau tersenyum, Ra." Mas Ken berkata suatu ketika saat aku tersenyum melihatnya yang berlagak paling tampan ketika selesai mandi. Itu karena di rumah ini, Mas Ken yang paling jarang mandi. Bahkan terkadang dua hari mandi sekali. Anak-anak jahil, bilang tidak mau tidur dekat Mas Ken. Lalu Mas Ken pun iseng melempar kausnya.

Hatiku sesak oleh hal yang baru. Kebekuan di dalam sana seolah mencair sedikit demi sedikit. Beginikah rasanya memiliki keluarga? Hangat dan menyenangkan. Di sini, untuk pertama kalinya aku merasa aman dan nyaman. Seolah menemukan yang selama ini aku cari. Kebahagiaan di dalam keluarga.
Walau semua itu tak bisa menghilangkan mimpi burukku. Mimpi tentang malam terkutuk itu selalu menghantui saat malam dan mata mulai terpejam. Sampai larut aku masih diam menatap langit-langit kamar. Salah satu aktivitas yang mulai menjadi candu. Selalu begitu tanpa bisa kuhentikan.
Aktivitas lain dariku adalah menunggu mereka semua pulang bekerja. Pulang sekolah, mereka akan segera berganti pakaian, makan, lalu bergegas pergi lagi untuk bekerja hingga senja tiba. Entah mengamen, berdagang koran atau makanan ringan di terminal, apa saja mereka kerjakan asal menghasilkan uang katanya. Hanya Mas Ken yang pulang sampai jam delapan terkadang sembilan malam, katanya ia mendapat pekerjaan tambahan di rumah makan.

Sambil menunggu Mas Ken pulang, kami belajar bersama. Meski Randi terlihat banyak menguapnya. Mega yang lebih sering mengacak-acak rambut. Ridho paling rajin menghafal rumus matematika. Dan Rio selalu mendekatiku minta diajarin mengerjakan PR.
"Rio belajar sendiri emangnya gak bisa, ya?" Seperti biasa, Mega selalu punya cara untuk mengajak Rio bertengkar.
"Bisa. Tapi lebih suka diajarin sama Kak Haura. Dia kan pinter, gak kayak Kak Mega yang nilainya gambar kursi semua." Rio pun selalu punya cara untuk meledek Mega. Mereka berdua terlihat sangat tidak akur, tapi siapa sangka, saat Rio sakit waktu itu, Mega selalu duduk di samping Rio, menjaganya.
Mega melempar bolpoin yang justru ditangkap oleh Rio. "Yes! Ini milikku sekarang." Rio menjulurkan lidah.
"Balikin!"

"Duh kalian ini bisa gak sih sehari aja gak berantem? Ganggu konsentrasiku tau gak?!" Ridho memasang wajah kesal, melirik tajam Rio dan Mega. Tapi mereka berdua saling menyalahkan.
"Haura, sini mending ngajarin aku daripada ngajarin Rio. Capek ntar kamu." Randi memanggilku, tapi Rio langsung melotot.
"Ya makanya sini makanya belajar, Rio." Aku menarik tangan Rio untuk duduk kembali di sampingku. Rio langsung menjulurkan lidah pada Randi.
"Dasar manja! Mintanya diajarin mulu!" Mega kembali menyindir tapi posisinya sudah kembali ke tempatnya sendiri.

"Yeee biarin! Kak Haura aja gak keberatan kok. Ya kan, Kak?" Rio mendongak, meminta pembelaan. Aku tersenyum mengangguk. "Tuh Kak Haura ngangguk!" serunya merasa menang.
Ya, aku tidak pernah keberatan sedikit pun saat Rio selalu mengganggu meminta diajarkan ini itu. Rasanya justru menyenangkan. Aku merasa punya Kakak dan Adik sungguhan di sini. Meskipun terkadang, aku masih merasa asing di hadapan mereka. Terutama Mas Ken.
Selama dua minggu lebih tinggal bersama mereka, hanya aku yang tidak bekerja. Walau aku pun punya kegiatan membereskan rumah, belanja, dan masak, tapi tetap saja rasanya ingin membantu mereka mencari uang. Setidaknya untuk membeli kebutuhanku sendiri.
Sampai malamnya, saat semua sudah terlelap, aku keluar kamar. Mas Ken tidak ada, tapi terdengar suara petikan gitar pelan di depan. Aku berjalan menghampiri, ternyata benar, Mas Ken duduk di kursi kayu panjang sedang memperbaiki gitarnya.

Dia menoleh saat aku berdiri di pintu. "Gak bisa tidur? Keganggu suara gitar, ya?"
Aku menggeleng.
"Sini duduk." Mas Ken bergeser untuk memberiku tempat. Perlahan aku mulai berjalan mendekat.
"Betah kan di sini?"
Aku mengangguk. Tentu saja. Di sini aku merasa punya keluarga yang saling menyayangi dan melengkapi.
"Kamu masih aja kalau ditanya cuma ngangguk dan geleng." Mas Ken tertawa kecil. Masih memangku gitar dan memetiknya pelan.
"Mas Ken …."
"Ya?" Ia menghentikan petikan gitarnya.
"Aku pengen kerja juga." Aku menunduk, takut-takut mengatakan itu.
"Kerja? Pengen kerja apa?"
"Ya apa aja. Yang penting bisa dapet uang."
"Kamu bisa nyanyi?"
Aku menggeleng.
"Main musik? Gitar?"
Aku menggeleng lagi.
"Pernah dagang keliling?"
Aku menggeleng sekali lagi.
"Lah terus mau kerja apa coba?"
"Memangnya kalau ngamen harus suaranya bagus, ya?"
"Ya enggak juga. Tapi setidaknya kalau kamu bisa nyanyi, itu punya nilai plus dan mungkin pendengar akan sukarela ngasih recehannya untuk kamu. Kalau gak bisa nyanyi ya main musik. Gitar misal."

Aku menghela napas panjang. "Gak ada pekerjaan lain?"
"Ya dagang koran atau makanan ringan di terminal. Kamu aja gak ada pengalaman, kan?"
"Tapi aku bisa belajar," sahutku cepat dan kali ini aku menatapnya.
Mas Ken tertawa kecil. Saat aku memalingkan wajah dengan bibir mengerucut, ia terdiam. Sampai ia mengucapkan sesuatu yang membuatku bingung.
"Kamu itu berbeda, Ra."
Aku kembali menoleh. Menatap dengan tatapan bertanya. Apanya yang beda?
Mas Ken tersenyum tipis. "Kamu bukan berasal dari anak jalanan. Kamu masih memiliki Ayah tapi sayangnya, ayahmu tidak seperti ayah yang seharusnya. Aku paham betul bagaimana rasanya."
Aku masih menatapnya, tak mengerti.
"Berbeda dengan mereka yang memang berasal dari jalanan."
"Mereka?" Aku bertanya, saat Mas Ken tiba-tiba terdiam.
"Karena kamu sudah menjadi anggota keluarga di sini, maka akan kuceritakan yang sesungguhnya."
Apa? Aku tidak sabar mendengar.

"Aku yatim piatu, Ra. Kedua orangtua dan adikku sudah meninggal. Ridho, Mega, Randi, Rio, mereka semua anak jalanan yang kuajak pulang. Mereka semua bernasib sama. Aku meminta mereka semua tetap sekolah. Agar tak selamanya menjadi anak jalanan. Siapa pun boleh tinggal di sini, termasuk kamu."
Aku terdiam. Tidak menyangka bahwa mereka semua bukan saudara kandung. Siapa sangka, jika melihat mereka seperti keluarga pada umumnya. Yang membedakan hanya tidak ada orangtua.
"Aku tahu rasanya kehilangan kasih sayang dan kehilangan orang yang disayang. Inilah caraku menyembuhkan luka dengan menyayangi mereka dan menganggap keluarga." Mas Ken tersenyum simpul. Sayangnya, aku justru menangkap luka di kedua matanya. Luka yang sangat dalam, tapi berusaha ia sembunyikan di balik senyum dan cerianya.

bersambung 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar