Catatan Kelam Sang Pendosaby Popy Novita
CATATAN
KELAM Sang Pendosa adalah cerita wanita dewasa yang sukses dalam
berbisnis. Dari mulai bisnis varian donat, kue, roti, dan juga telah
membuka cafe yang telah tersebar di seluruh Indonesia.
Sayangnya, kesuksesannya sama sekali tak membuatnya bahagia. Karena tujuan dia menjadi kaya raya itu salah. Yang awalnya punya impian membangun rumah pelangi yang menampung anak-anak jalanan agar punya rumah, punya keluarga, dan bisa sekolah. Juga membangun perpustakaan umum dan kursus Bahasa Inggris gratis untuk anak-anak dari keluarga tidak mampu. Semua impian itu berubah saat takdir mempermainkannya, saat kebahagiaannya direnggut oleh orang-orang yang tak memiliki hati.
Sejak itu tujuannya menjadi kaya raya berubah untuk membalas sakit hatinya pada mereka yang telah merenggut kebahagiaan sederhananya bersama keluarga pelangi. Membalas sakit hatinya pada ayah yang menelantarkannya. Pada Ibu yang meninggalkannya. Pada lelaki yang merenggut kesuciannya. Pada sahabat yang mengkhianatinya. Memberikan balasan untuk orang-orang yang membuat catatan kelam di hidupnya. Menghancurkan orang-orang yang memang seharusnya hancur sejak dulu. Memberikan luka yang jauh lebih parah pada orang-orang yang memang seharusnya menerima. Juga untuk menunjukkan pada dunia, bahwa dia mampu membuat orang-orang hormat dan tunduk padanya. Penilaiannya benar, bahwa uang memang berkuasa atas segalanya.
Setelah semua tujuannya berhasil, ia memang mendapatkan kepuasan, tapi sama sekali tidak mendapatkan kebahagiaan. Malah semakin hampa, kosong, dan tidak memiliki tujuan hidup lagi. Selama bertahun-tahun, ia masih saja menangis saat sendirian, masih saja tidak bisa tidur saat malam, bahkan sering menyakiti diri sendiri. Ia rindu kebahagiaannya dulu. Sederhana. Tidur sekamar dengan Mega, menemani Rio belajar, meminta bantuan Ridho dan Randi, rusuh menyuruh Mas Ken mandi, melihat Mega dan Rio bertengkar, kue ulangtahun, kejutan, kado-kado unik, mendengarkan Mas Ken memetik gitar dan bernyanyi, menemani Mas Ken duduk di luar tiap malam karena sama-sama tidak bisa tidur, dan hujan-hujanan bersama. Sederhana, tapi sangat menyenangkan. Kebahagiaan itu ada walau dalam kesederhanaan yang tidak dia dapatkan sekarang saat memiliki banyak kekayaan.
Saat dia lelah dengan semuanya, dia mencoba untuk ikhlas. Belajar ikhlas dengan semua takdir masa lalunya. Belajar melepaskan dan melupakan semua hal yang menyakitkan. Berdamai dengan rasa rindu yang menyiksa. Saat ia belajar ilmu ikhlas itu, ia mulai mendapatkan kedamaian dan ketenangan. Ia kembali dengan tujuan hidupnya yang dulu. Menggunakan hasil kekayaannya untuk membangun mimpi-mimpinya dulu.
Saat itulah, kebahagiaannya kembali.
*
Jadi, inti cerita sebenarnya simple. Tentang ilmu ikhlas. Namun, dikemas sedemikian rupa menjadi cerita yang penuh dengan konflik. Ini adalah cerita saya pertama yang full konflik, penuh teka-teki, penuh misteri, penuh emosi, dan alur yang susah sekali ditebak karena dari awal sampai akhir selalu ada kejutan yang tak terduga. Apalagi di ending, beuh klimaksnya bakal bikin menangis haru. Tangis bahagia. Lega intinya. Dan pasti saat baca akan berseru, 'Akhirnya ada kebahagiaan nyata untuk Haura.'
Jadi ending? Yupz. Akan happy ending dong. Tenang aja. Benar-benar terpuaskan karena emosi yang memuncak berakhir klimaks. Ah!
Tapi, untuk versi share, hanya sampai Haura remaja. Konflik dengan Mas Ken, Tante Ambar, Andra, dll ini selesai. Nah, untuk versi dewasa, hanya ada di versi novel. Versi dewasa yaitu di mana Haura telah berubah menjadi sosok yang berbeda. Pun kalian akan puas saat orang-orang yang menyakiti Haura, akhirnya dapat balasan yang setimpal.
Jadi, yang masih mau baca silakan, yang tidak mau meneruskan pun tidak masalah. Versi share masih lanjut sampai konflik selesai. Tunggu saja part 16, karena saya memang lagi sibuk banget.
Love
Sayangnya, kesuksesannya sama sekali tak membuatnya bahagia. Karena tujuan dia menjadi kaya raya itu salah. Yang awalnya punya impian membangun rumah pelangi yang menampung anak-anak jalanan agar punya rumah, punya keluarga, dan bisa sekolah. Juga membangun perpustakaan umum dan kursus Bahasa Inggris gratis untuk anak-anak dari keluarga tidak mampu. Semua impian itu berubah saat takdir mempermainkannya, saat kebahagiaannya direnggut oleh orang-orang yang tak memiliki hati.
Sejak itu tujuannya menjadi kaya raya berubah untuk membalas sakit hatinya pada mereka yang telah merenggut kebahagiaan sederhananya bersama keluarga pelangi. Membalas sakit hatinya pada ayah yang menelantarkannya. Pada Ibu yang meninggalkannya. Pada lelaki yang merenggut kesuciannya. Pada sahabat yang mengkhianatinya. Memberikan balasan untuk orang-orang yang membuat catatan kelam di hidupnya. Menghancurkan orang-orang yang memang seharusnya hancur sejak dulu. Memberikan luka yang jauh lebih parah pada orang-orang yang memang seharusnya menerima. Juga untuk menunjukkan pada dunia, bahwa dia mampu membuat orang-orang hormat dan tunduk padanya. Penilaiannya benar, bahwa uang memang berkuasa atas segalanya.
Setelah semua tujuannya berhasil, ia memang mendapatkan kepuasan, tapi sama sekali tidak mendapatkan kebahagiaan. Malah semakin hampa, kosong, dan tidak memiliki tujuan hidup lagi. Selama bertahun-tahun, ia masih saja menangis saat sendirian, masih saja tidak bisa tidur saat malam, bahkan sering menyakiti diri sendiri. Ia rindu kebahagiaannya dulu. Sederhana. Tidur sekamar dengan Mega, menemani Rio belajar, meminta bantuan Ridho dan Randi, rusuh menyuruh Mas Ken mandi, melihat Mega dan Rio bertengkar, kue ulangtahun, kejutan, kado-kado unik, mendengarkan Mas Ken memetik gitar dan bernyanyi, menemani Mas Ken duduk di luar tiap malam karena sama-sama tidak bisa tidur, dan hujan-hujanan bersama. Sederhana, tapi sangat menyenangkan. Kebahagiaan itu ada walau dalam kesederhanaan yang tidak dia dapatkan sekarang saat memiliki banyak kekayaan.
Saat dia lelah dengan semuanya, dia mencoba untuk ikhlas. Belajar ikhlas dengan semua takdir masa lalunya. Belajar melepaskan dan melupakan semua hal yang menyakitkan. Berdamai dengan rasa rindu yang menyiksa. Saat ia belajar ilmu ikhlas itu, ia mulai mendapatkan kedamaian dan ketenangan. Ia kembali dengan tujuan hidupnya yang dulu. Menggunakan hasil kekayaannya untuk membangun mimpi-mimpinya dulu.
Saat itulah, kebahagiaannya kembali.
*
Jadi, inti cerita sebenarnya simple. Tentang ilmu ikhlas. Namun, dikemas sedemikian rupa menjadi cerita yang penuh dengan konflik. Ini adalah cerita saya pertama yang full konflik, penuh teka-teki, penuh misteri, penuh emosi, dan alur yang susah sekali ditebak karena dari awal sampai akhir selalu ada kejutan yang tak terduga. Apalagi di ending, beuh klimaksnya bakal bikin menangis haru. Tangis bahagia. Lega intinya. Dan pasti saat baca akan berseru, 'Akhirnya ada kebahagiaan nyata untuk Haura.'
Jadi ending? Yupz. Akan happy ending dong. Tenang aja. Benar-benar terpuaskan karena emosi yang memuncak berakhir klimaks. Ah!
Tapi, untuk versi share, hanya sampai Haura remaja. Konflik dengan Mas Ken, Tante Ambar, Andra, dll ini selesai. Nah, untuk versi dewasa, hanya ada di versi novel. Versi dewasa yaitu di mana Haura telah berubah menjadi sosok yang berbeda. Pun kalian akan puas saat orang-orang yang menyakiti Haura, akhirnya dapat balasan yang setimpal.
Jadi, yang masih mau baca silakan, yang tidak mau meneruskan pun tidak masalah. Versi share masih lanjut sampai konflik selesai. Tunggu saja part 16, karena saya memang lagi sibuk banget.
Love
-----
CATATAN KELAM Sang Pendosa 16
*
Mas Ken masih peduli denganku?
Kenyataan yang membuat hatiku semakin sesak. Rasa bersalah kian menyeruak. Ingin rasanya berteriak marah! Menyumpah serapah pada takdir yang mempermainkan.
Mengapa harus seperti ini jalan yang harus kulalui?
"Kenapa jam segini belum pulang?"
Pertanyaan itu langsung meluncur saat Mas Ken tiba di hadapanku.
Bibirku bergetar. Bukan karena kedinginan, tapi karena perasaan entah berantah bercampur menjadi satu dan sulit kuartikan.
"Suka bikin aku khawatir?" Pertanyaan kedua kembali keluar. Lebih lugas dengan tatapan tegas.
Mas Ken khawatir denganku?
Pertanyaan itulah yang justru ingin kukeluarkan. Berharap bahwa aku sedang tidak bermimpi.
"Ayo pulang!"
Mas Ken berdiri di sampingku, membagi payung. Aku berjalan dengan menunduk, menggigit bibir agar isaknya tak bersaing dengan suara hujan.
Kami berjalan dalam diam. Entah apa yang Mas Ken pikirkan. Andai hujan sedang tidak mengguyur tubuh, mungkin air mataku terlihat jelas telah membanjiri wajah.
Semakin bertambah parah saat sampai di rumah. Mega, Ridho, Randi, Rio, semua menunggu duduk di depan. Seolah paham dengan keadaan tak biasanya, mereka tak bertanya banyak hal. Diam dengan tatapan iba.
*
Tubuhku terasa begitu dingin saat mulai terbangun dari tidur. Mencoba membuka mata, tapi kepala rasanya seperti ditimpa benda sangat berat. Sesuatu menyentuh dahi dan pipi, aku memaksa membuka mata.
"Bangun dulu, Ra. Makan terus minum obat, ya?"
Mas Ken menyambut dengan tatapan iba. Ia duduk di pinggir ranjang, dan tangannya menyentuh dahiku.
Aku melirik jendela yang telah terbuka tirainya. Cahaya matahari terlihat terang menerobos masuk dengan udara sejuk sisa hujan semalam. Jam berapa sekarang? Rumah pun terdengar sepi. Tidak seperti biasa pagi selalu rusuh oleh suara suara rebutan kamar mandi dan sebagainya.
"Udah pada berangkat sekolah tadi." Mas Ken menjawab ketika melihat raut wajahku seolah bertanya.
"Sekarang jam berapa?" Aku berusaha bangun dan Mas Ken membantu.
"Jam delapan."
"Hah? Kok Mas Ken gak bangunin aku?" Aku mendesis dengan tangan memegang kepala yang tiba-tiba terasa nyeri.
"Bangunin kamu buat apa, Ra? Kamu panas tinggi dari Subuh tadi." Mas Ken menyelipkan rambutku ke telinga dan kembali bertanya, "Kepalanya pusing, ya? Kamu pasti masuk angin gara-gara hujan-hujanan semalam."
Bukan menjawab, aku justru bertanya hal lain. "Berarti aku gak sekolah hari ini? Hari ini ada ulangan Matematika, Mas Ken."
"Kamu ini! Lagi sakit masih aja mikirin ulangan." Setelah mengomel, Mas Ken mengambil gelas berisi teh yang masih mengepul uapnya dan memberikan padaku. "Minum. Terus makan bubur ayam, ya? Tadi Rio yang beliin sebelum berangkat sekolah."
Aku hanya diam, melihat Mas Ken yang kembali meletakkan di meja teh yang kuminum setengah. Lalu mengambil mangkuk berisi bubur, pun masih terlihat panas.
"Makan, Ra." Mas Ken menyendok, lalu menyuapkan padaku.
Mulut kubuka, masih dengan diam aku mengunyah pelan. Setetes air mata jatuh juga akhirnya walau kucoba menahan sekuat tenaga, melawan sesak di dada.
"Kenapa nangis? Sakit? Mana yang sakit? Hm?" Tatapan Mas Ken terlihat begitu khawatir, tangannya pelan mengusap air di pipiku.
Aku justru semakin terisak dan menggeleng lemah. Mas Ken meletakkan mangkuk bubur ke meja, lalu meraih tubuhku dan mendekapnya erat.
"Jangan nangis," katanya yang membuat tangisku justru semakin pecah. "Kita lewati ini semua sama-sama, ya?"
Masih dalam pelukan, aku berucap di sela isakan. "Aku gak mau Mas Ken kenapa-napa. Maafkan aku, Mas Ken. Maaf karena gak patuh dan gak nurut. Aku gak mau Mas Ken dipukulin. Aku sayang Mas Ken."
Semua resah yang menggunung sejak semalam, akhirnya tumpah sudah. Perasaan mengganjal dengan berbagai pertanyaan, yang tak sanggup kukeluarkan kini sedikit lebih lega.
"Aku tahu itu, Ra." Mas Ken merenggangkan pelukan, dan mengusap hati-hati wajahku yang basah. "Aku akan cari cara untuk mengeluarkanmu dari sana. Aku janji!"
Aku mengangguk tanpa bertanya cara apa yang akan Mas Ken cari. Fokusku justru ke sisi wajahnya yang masih membiru bekas pukulan kemarin itu.
"Udah diobatin?" tanyaku.
Mas Ken tersenyum dan meraih tanganku. "Obatnya cuma senyumanmu, Ra."
Aku tertawa kecil. Di saat seperti ini, Mas Ken masih bisa bercanda.
"Kamu manis kalau tersenyum. Jadi jangan nangis lagi. Biar lukaku cepet sembuh."
Aku mengangguk pelan dan mengulum senyum. Tangan Mas Ken terulur menyentuh pipiku. Senyumnya memudar dan tatapan pun berubah datar.
"Aku akan membalas orang yang berani menyakitimu, Ra."
"Aku gak apa-apa kok, Mas Ken. Jangan terlalu khawatir. Mas Ken masih mau menganggapku sebagai adik saja, itu udah lebih dari cukup. Aku hanya takut, Mas Ken membenciku."
Mas Ken kembali meraih tubuhku, menumpukan dagunya di kepalaku. "Bagaimana mungkin aku membencimu, Ra. Setelah semua yang kamu korbankan untukku. Aku hanya tidak rela, sesuatu yang kuanggap paling berharga di dunia ini, disakiti sedemikian tanpa perasaan."
Aku tersenyum getir dan memejamkan mata. Merasakan kenyamanan dan kedamaian dalam pelukan, juga ucapan penenang dari segala luka.
Luka yang sayangnya kembali terbuka saat sore menjelang. Tiga lelaki berbadan kekar datang, memaksa membawaku. Mas Ken memohon-mohon agar mengizinkanku istirahat karena sedang sakit. Namun percuma, mereka adalah orang-orang tak memiliki hati yang patuh pada perintah Tante Ambar.
Demi Mas Ken agar tidak dilukai, aku menurut untuk ikut.
"Maaf, Mas Ken," ucapku lirih saat hendak pergi. Mas Ken hanya diam memejamkan mata dengan kedua tangan terkepal.
Aku lelah melawan, karena pada akhirnya, aku tetaplah kalah. Kalah pada mereka yang memiliki banyak uang. Hanya bisa mengalah, dan pasrah.
Aku menatap datar mereka yang sedang tertawa sambil bermain judi di ruang tengah, rumah Tante Ambar. Sedangkan aku, sudah sejak setengah jam lalu duduk menyendiri menunggu tamu yang akan mencumbuku malam ini.
Asap rokok, aroma alkohol, dan permainan judi, semua hal yang mengingatkanku pada masa lalu. Saat usiaku masih enam tahun, aku sudah terbiasa melihat hal tersebut.
Suatu ketika saat pulang sekolah, rumahku masih ramai orang-orang yang bermain judi. Aku melewati mereka begitu saja, tak peduli. Namun langkahku terhenti saat sampai di pintu dapur. Seorang pemuda terkapar dengan baju penuh muntahan dan ... darah.
"Ibu, apa dia akan mati?" tanyaku pada Ibu yang sedang memasak.
"Tidak. Dia hanya mabuk."
"Tapi bajunya banyak darah."
"Dia hanya terlalu banyak minum. Tenanglah. Cepat ganti seragammu dan makan."
Makan di depan orang yang terkapar? Di ruangan yang penuh aroma alkohol dan muntahan? Itu menjijikkan! Namun aku sudah terbiasa. Tetap makan dan menatap tak acuh pada pemuda bodoh itu.
Dulu, aku selalu bercita-cita agar saat dewasa jadi orang kaya yang tinggal di kota. Agar bisa jauh dari hal-hal menjijikkan itu. Sayangnya, kehidupan menjawab dengan cara lain. Saat dewasa, aku justru dipertemukan dengan orang-orang kaya yang perokok, peminum, dan penjudi. Hanya levelnya saja yang berbeda.
Ah, hidup memang selucu ini!
"Hai, Bitch!"
Aku mengangkat wajah, tersadar dari lamunan. Rina berdiri dengan tatapan benci. Tak kupedulikan, aku memilih diam.
"Lo boleh aja merasa menang kali ini. Tapi gue pastiin, lo akan nyesel, karena udah ngerebut Kak Raga lagi dariku!"
Aku menyipitkan mata, menatapnya tak mengerti. Apa maksudnya? Namun, dia mendengkus kasar lalu pergi.
Masih saja tentang Kak Raga. Padahal aku sudah tidak pernah bertemu lagi semenjak malam itu. Malam di mana dia menghina, bahwa aku wanita murahan yang bisa dibeli dengan uang. Semenjak itu, tak pernah sakali pun aku berniat menemuinya, apalagi berusaha merebut dari Rina. Untuk apa?
Semua rasa penasaranku langsung terjawab, saat tamu yang akan menyewaku malam ini datang.
Kedua tanganku terkepal, dan menatap tajam Kak Raga yang berdiri di ruang tamu menungguku.
*
Mobil melaju dengan kecepatan sedang setelah keluar dari rumah Tante Ambar. Kak Raga masih diam, dan aku pun tidak memedulikan. Memilih menatap ke luar di balik kaca.
Selama perjalanan, hanya helaan napas berulang yang terdengar darinya. Entah apa yang sebenarnya diinginkan lagi dariku. Tubuhku? Bukankah dulu … ah, munafik!
Akhirnya aku menatap ke depan saat mobil memasuki rumah mewah, tak kalah mewah dari rumah milik Tante Ambar. Setelah gerbang dibuka oleh dua satpam, Kak Raga memarkirkan mobil tepat di depan pintu utama, karena terlihat lebih besar dibanding pintu lain yang kulihat sepanjang jalan.
"Turun," katanya setelah mematikan mesin mobil.
Aku menurut saja tanpa bertanya. Peduli apa jika ini rumahnya? Toh yang akan bermasalah pastinya dirinya sendiri karena membawa wanita bayaran ke rumahnya.
Beberapa pelayan rumah menyapa, Kak Raga terlihat ramah, sedangkan aku hanya tersenyum canggung.
Naik ke tangga, wanita usia 40an dengan daster motif batik, memanggil. Kak Raga menghentikan langkah, dan aku ikut berhenti berdiri di belakangnya.
"Oh ini tamunya. Cantik, Den. Mau dibuatin minum apa?"
"Nanti saja, Mbok." Kak Raga menjawab, lalu kembali melangkah dan aku mengikuti.
Tepat di lantai dua, di salah satu kamar, Kak Raga membuka pintu dan mempersilakan aku masuk. Aku melewatinya begitu saja tanpa sepatah kata.
Aku terperangah seketika, melihat isi kamar tersebut.
-----
CATATAN KELAM Sang Pendosa 17
*
Kamar bernuansa merah jambu dan biru muda, penuh rak lemari berisi berbagai jenis buku. Ada sofa kecil warna cream dan meja kecil di tengahnya. Membuatku tak bisa berkata-kata, ditambah tulisan 'Rumah Baca Haura' di dinding dan dipasang lampu warna-warni.
Mataku berkaca-kaca seketika, lalu menoleh menatap Kak Raga yang berdiri di sampingku.
"Apa maksudnya ini semua?"
"Kado ulang tahun ke 17 yang belum sempat gue kasih lihat. Lo pernah bilang pengen banget punya perpustakaan sendiri dengan nuansa seperti ini, kan?"
"Gak penting!" tukasku ketika Kak Raga diam, menghela napas panjang.
"Gue minta maaf, Ra." Kak Raga menatapku, raut wajahnya menyiratkan penyesalan. "Gue kejebak kemarin. Percaya gitu aja sama omongan Rina. Dan …."
"Cukup!" selaku cepat, mengusap mata secara kasar dan kembali berucap, "Semua udah gak penting lagi. Mau kamu kejebak. Mau kamu percaya gitu aja sama omongan Rina. Sama aja. Semua gak akan ngubah apa pun penilaian kamu ke aku. Aku tetap cewek murahan yang bisa dibeli dengan uang!"
"Gue tau gue salah. Gue bener-bener minta maaf. Gue udah tau semuanya, Ra. Lo ngorbanin diri buat abang lo yang kecelakaan. Andai gue tau dari awal tentang kecelakaan itu, gue akan ngelarang lo jual … jual diri."
Aku mendengkus kasar dan menyeringai lebar. Semua sudah terlambat. Takdir telah menyeretku pada kubangan lumpur yang hina. Percuma saja jika sekarang aku menyesalinya.
"Gak perlu lagi basa-basi. Sekarang cepat lakukan apa yang ingin kamu lakukan padaku." Aku menurunkan resleting baju yang kukenakan.
"Lo mau ngapain, Ra?"
"Apalagi? Kamu udah bayar mahal buat ngebeli aku, kan? Silakan lakukan apa pun, terserah kamu, sepuas kamu." Baju yang kukenakan sudah terbuka memperlihatkan tank top warna hitam.
Kak Raga justru menaikkan lagi bajuku dengan cepat. "Gue gak akan pernah bisa menikmati tubuh wanita yang gue cintai dengan cara seperti ini, Ra!"
"Lalu cara apa?!" Aku membentak dan menyingkirkan tangannya secara kasar.
"Dengan cara yang jauh lebih menghargai. Bukan dibeli dengan uang."
"Bullshit!" Aku menatap tajam, walau sesak di dada membuat air mata menggenang. "Gak inget saat kamu bilang bahwa aku adalah wanita murahan yang bisa dibeli dengan uang? Lupa? Harga diriku udah kamu beli. Terlalu murah kamu bilang. Ingat?"
Kak Raga menggeleng lemah. "Gue nyesel, Ra. Gue kebawa emosi waktu itu. Perasaan gue kacau. Hancur saat tahu lo memang seperti yang Rina bilang. Emosi bikin gue gak bisa pikir panjang dan cari tahu dulu kebenarannya. Gue minta maaf, Ra."
Aku menarik napas panjang dan menghapus air mata di pipi dan mata. "Sekarang mau kamu, apa?"
"Lo maafin gue."
"Kalau aku udah maafin? Apa lagi?"
"Gue akan bantu lo buat keluar dari sana."
Aku bungkam seketika. Menatapnya tak percaya. Namun, sorot mata Kak Raga menyiratkan kesungguhan dan ketulusan. Sama sekali tak kutemukan kebohongan.
"Gue ada tabungan sendiri dari hasil usaha yang udah gue rintis dari SMP. Kalau kurang, ntar gue bisa pinjem uang Bokap. Lo tenang aja."
"Gak perlu." Aku menjawab akhirnya. Merasa sungkan dibantu sedemikian rupa oleh orang yang bukan siapa-siapa. "Kamu gak perlu susah payah ngeluarin uang buat nebus aku. Aku gak mau utang budi."
"Ra … gue tulus bantu lo. Gue mau lo gak kerja di tempat kayak gitu lagi, Ra."
"Aku tetap kerja atau keluar, itu gak akan ngubah bahwa aku bukan lagi cewek bayaran. Tetap aja, aku cuma cewek bekas banyak orang."
"Astaga, Haura! Apa lo mau selamanya di sana? Lo mau bertahun-tahun jadi cewek bayaran?"
Aku diam dan memalingkan wajah. Merasa tak perlu menjawab pertanyaannya.
Kak Raga meraih tangan kananku, dan menggenggamnya. "Sekali lagi gue minta maaf, Ra. Gue akui gue salah nilai lo. Maafin gue, please."
"Aku udah maafin kamu. Tapi aku gak bisa nerima bantuan kamu. Lebih baik sekarang, lakukan apa yang udah kamu beli. Aku harus pulang secepatnya." Aku menarik napas panjang sebelum melanjutkan, "Mas Ken pasti khawatir denganku."
Menyebut nama Mas Ken dan mengingat kejadian sore tadi, rasanya ingin sekali aku cepat pulang. Rasa bersalah kian mengekang.
"Dan Mas Ken pasti akan sangat senang kalau lo bisa keluar dari tempat itu."
Aku diam menatap Kak Raga. Satu sisi hati mengatakan bahwa aku harus menerima bantuan darinya. Satu sisi lainnya, seolah tak terima karena takut harga diri akan jauh lebih direndahkan suatu saat nanti. Namun, saat memikirkan Mas Ken, aku rasa tidak ada salahnya mencoba menerima tawaran darinya.
"Tapi dengan cara apa aku harus mengembalikan uangmu nanti?" Aku bertanya, masih terdengar ketus.
"Itu dipikirin nanti. Yang penting lo bebas dulu."
"Kenapa …." Aku menggigit bibir, mencoba menahan sesak yang kembali menyeruak. "Kenapa Kak Raga baik banget sama aku?"
"Masih nanya alasannya?"
Aku paham. Semua karena cinta, yang memang kurasakan sejak dulu mengenal. Namun …. "Kak Raga orang baik. Banyak cewek yang suka. Kenapa masih mau sama pendosa sepertiku?"
Kak Raga tersenyum tipis, tangannya terulur menghapus air yang mengalir di pipiku. "Gue sendiri bingung. Kenapa rasa sayang gue bisa sedalam ini sama lo. Dan gue gak rela, mutiara gue tenggelam di dalam lumpur."
Satu lagi, lelaki yang menganggapku begitu berharga walau aku merasa tidak layak mendapatkannya. Satu keberuntungan yang bisa kurasakan dari semua kepahitan hidup.
"Lo sakit?" Kak Raga menyentuh pipi dan dahiku. "Wajah lo pucet banget dan sedikit anget."
Entah mengapa kali ini aku mengangguk, jujur. "Mas Ken sebenernya ngelarang aku buat pergi karena lagi sakit. Tapi mereka gak punya hati. Mereka maksa bawa aku."
Kak Raga menarikku dalam pelukan, dan aku sudah terisak-isak teringat semua kejadian menyakitkan.
"Kenapa semua orang jahat, Kak? Kenapa semua orang jahat sama aku? Kenapa semua orang ngambil kebahagiaanku?" Isakku semakin pilu.
"Gue yang akan ngembaliin kebahagian lo, Ra." Kak Raga berbisik, dan mempererat pelukannya. Pelukan hangat dari seseorang yang memang peduli dan sayang. Bukan pelukan nafsu dari lelaki yang sudah membayar mahal.
"Kita ke dokter, ya?" Kak Raga merenggangkan pelukan, setelah beberapa saat ia diam membiarkanku menangis dalam pelukan.
Aku menggeleng. "Aku masih ada obat kok. Tapi tadi lupa dibawa."
"Obat dari dokter?" Kak Raga bertanya. Suaranya menjadi semakin lembut, pun sama dengan perlakuan tangannya yang menyapu basah pipiku.
Sekali lagi aku menggeleng. "Obat dari warung."
"Astaga! Mana bisa bikin sembuh? Kita ke dokter sekarang!"
"Bisa!" jawabku sedikit kesal. "Dari dulu kalau sakit juga minum obat dari warung. Gak semua orang mampu untuk pergi ke dokter, Kak!"
"Maaf maaf. Bukan begitu maksud gue. Gue cuma gak tega liat lo demam begini. Ke dokter, ya? Jangan nolak, please."
"Gak perlu. Cuma demam biasa karena kehujanan kemarin. Aku cuma pengen cepet pulang, Kak. Mas Ken pasti khawatir sama aku."
"Iya tahu. Gue bakal anterin lo pulang, tapi setelah kita ke dokter. Gak lama kok. Oke?"
"Tapi, Kak …."
"Haura, please!"
Aku mendesah pasrah dan mengangguk.
*
Apa yang lebih membahagiakan dari dikelilingi oleh orang-orang yang sayang sama kita? Walau kehadirannya hanya segelintir saja dibanding orang-orang yang menyakiti. Namun setidaknya, hadirnya mereka mampu menjadi obat dari segala luka. Menguatkan dari hal-hal yang menyakitkan.
Rasa sakit karena hinaan Kak Raga waktu itu, seolah sirna dalam sekejap. Kebaikannya melebihi apa yang kubayangkan. Sabar mengantarku periksa ke dokter, menebus obat di apotek, dan membelikan banyak makanan. Kalau ini, sebenarnya dia mengajakku untuk makan bersama lebih dulu, tapi aku menolak.
Bagaimana mungkin aku bisa makan enak, sedangkan di rumah ada Mas Ken dan yang lain menunggu dengan khawatir.
Setengah sembilan malam, kami sampai di depan gang kecil menuju rumah Mas Ken. Aku memilih turun di sana karena memang mobil akan susah masuk, ditambah jalanan bekas hujan yang bisa membuat mobil Kak Raga kotor. Selain itu, aku takut Mas Ken marah kalau tahu aku pulang bersama Kak Raga.
"Serius gak mau dianter sampai rumah?" Kak Raga bertanya, berdiri di depanku, di samping mobil.
"Sampai sini aja cukup, Kak. Deket kok."
"Bisa emangnya bawa sendiri?" Kak Raga melirik kantong plastik berisi banyak makanan dan buah-buahan yang aku pegang dengan kedua tangan.
"Bisa. Kak Raga sih, beliinnya banyak begini."
"Biar bisa kebagian semua. Apalagi Rio, dia makannya banyak pasti. Salam ya, buat dia."
"Hm?" Aku menaikkan alis, bertanya, "Cuma Rio? Kak Raga udah kenal sama Rio?"
"Udah. Kemarin. Dia yang cerita semua tentang keadaan lo yang sesungguhnya."
"Rio? Gimana ceritanya? Kok dia gak ada cerita ke aku?"
"Gue yang ngelarang. Gue ngerasa ada yang aneh. Gue ngerasa, semua kayak gak mungkin aja. Makanya gue cari tau sendiri tentang keluarga lo, dan gak sengaja ketemu Rio."
"Rio cerita apa aja?"
"Banyak."
"Apa?" Aku sedikit mendesak. Rio masih terlalu polos, dan pasti cerita apa adanya semua tentangku. Tentang masa laluku dan sebagainya.
"Banyak, Ra. Yang membuat gue langsung merenung. Bahwa terkadang, sesuatu yang kita anggap buruk, adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan hidup. Dan dari kejadian ini, gue akan lebih hati-hati untuk menilai orang. Sisi terang seseorang, terkadang tertutup oleh sisi gelapnya. Gelap yang gak diinginkan sebenarnya. Maaf sekali lagi, karena kebodohan gue, tanpa sadar nyakitin perasaan lo."
Aku menatap Kak Raga dalam diam. Kata-katanya yang begitu dalam, menyempurnakan kedewasaan dalam berpikir. Membuatku semakin kagum padanya. Dia satu-satunya orang kaya, yang tidak menggunakan uang untuk menindas orang miskin.
"Udah sana pulang. Nanti dingin makanannya."
Aku tersenyum dan mengangguk. "Makasih banyak ya, Kak. Makasih untuk semuanya."
"Mau berapa kali bilang makasihnya?"
"Berkali-kali pun gak akan mampu membalas kebaikan Kak Raga."
Kak Raga tersenyum, tangan yang sedari tadi masuk ke saku celana, akhirnya keluar demi membelai rambutku. Kemudian, lirih ia berucap, "Gue sayang sama lo, Ra."
Aku tidak tahu tentang perasaanku ke Kak Raga. Ada sesuatu lain yang mengganjal, perasaan aneh lain, tapi bukan untuk Kak Raga. Entah. Mungkin, belum waktunya aku mengenal cinta. Masih banyak hal yang jauh lebih penting daripada memikirkan perasaan.
Kak Raga memaksaku untuk berjalan lebih dulu, dan dia memerhatikan sampai aku aman tiba di rumah. Sesekali aku menoleh, tersenyum saat Kak Raga melambaikan tangan. Mobilnya baru meluncur pergi setelah aku berbelok di gang kecil lain.
Kukira, malam ini aku bisa membawa kabar bahagia untuk mereka terutama Mas Ken. Namun, justru mereka yang membawa kabar buruk untukku.
Mereka menunggu di depan rumah, langsung lari saat melihatku pulang. Rio, Randi, dan Ridho mengambil alih semua yang kubawa. Mega justru bertanya, "Mas Ken mana?"
-----
*
Mas Ken masih peduli denganku?
Kenyataan yang membuat hatiku semakin sesak. Rasa bersalah kian menyeruak. Ingin rasanya berteriak marah! Menyumpah serapah pada takdir yang mempermainkan.
Mengapa harus seperti ini jalan yang harus kulalui?
"Kenapa jam segini belum pulang?"
Pertanyaan itu langsung meluncur saat Mas Ken tiba di hadapanku.
Bibirku bergetar. Bukan karena kedinginan, tapi karena perasaan entah berantah bercampur menjadi satu dan sulit kuartikan.
"Suka bikin aku khawatir?" Pertanyaan kedua kembali keluar. Lebih lugas dengan tatapan tegas.
Mas Ken khawatir denganku?
Pertanyaan itulah yang justru ingin kukeluarkan. Berharap bahwa aku sedang tidak bermimpi.
"Ayo pulang!"
Mas Ken berdiri di sampingku, membagi payung. Aku berjalan dengan menunduk, menggigit bibir agar isaknya tak bersaing dengan suara hujan.
Kami berjalan dalam diam. Entah apa yang Mas Ken pikirkan. Andai hujan sedang tidak mengguyur tubuh, mungkin air mataku terlihat jelas telah membanjiri wajah.
Semakin bertambah parah saat sampai di rumah. Mega, Ridho, Randi, Rio, semua menunggu duduk di depan. Seolah paham dengan keadaan tak biasanya, mereka tak bertanya banyak hal. Diam dengan tatapan iba.
*
Tubuhku terasa begitu dingin saat mulai terbangun dari tidur. Mencoba membuka mata, tapi kepala rasanya seperti ditimpa benda sangat berat. Sesuatu menyentuh dahi dan pipi, aku memaksa membuka mata.
"Bangun dulu, Ra. Makan terus minum obat, ya?"
Mas Ken menyambut dengan tatapan iba. Ia duduk di pinggir ranjang, dan tangannya menyentuh dahiku.
Aku melirik jendela yang telah terbuka tirainya. Cahaya matahari terlihat terang menerobos masuk dengan udara sejuk sisa hujan semalam. Jam berapa sekarang? Rumah pun terdengar sepi. Tidak seperti biasa pagi selalu rusuh oleh suara suara rebutan kamar mandi dan sebagainya.
"Udah pada berangkat sekolah tadi." Mas Ken menjawab ketika melihat raut wajahku seolah bertanya.
"Sekarang jam berapa?" Aku berusaha bangun dan Mas Ken membantu.
"Jam delapan."
"Hah? Kok Mas Ken gak bangunin aku?" Aku mendesis dengan tangan memegang kepala yang tiba-tiba terasa nyeri.
"Bangunin kamu buat apa, Ra? Kamu panas tinggi dari Subuh tadi." Mas Ken menyelipkan rambutku ke telinga dan kembali bertanya, "Kepalanya pusing, ya? Kamu pasti masuk angin gara-gara hujan-hujanan semalam."
Bukan menjawab, aku justru bertanya hal lain. "Berarti aku gak sekolah hari ini? Hari ini ada ulangan Matematika, Mas Ken."
"Kamu ini! Lagi sakit masih aja mikirin ulangan." Setelah mengomel, Mas Ken mengambil gelas berisi teh yang masih mengepul uapnya dan memberikan padaku. "Minum. Terus makan bubur ayam, ya? Tadi Rio yang beliin sebelum berangkat sekolah."
Aku hanya diam, melihat Mas Ken yang kembali meletakkan di meja teh yang kuminum setengah. Lalu mengambil mangkuk berisi bubur, pun masih terlihat panas.
"Makan, Ra." Mas Ken menyendok, lalu menyuapkan padaku.
Mulut kubuka, masih dengan diam aku mengunyah pelan. Setetes air mata jatuh juga akhirnya walau kucoba menahan sekuat tenaga, melawan sesak di dada.
"Kenapa nangis? Sakit? Mana yang sakit? Hm?" Tatapan Mas Ken terlihat begitu khawatir, tangannya pelan mengusap air di pipiku.
Aku justru semakin terisak dan menggeleng lemah. Mas Ken meletakkan mangkuk bubur ke meja, lalu meraih tubuhku dan mendekapnya erat.
"Jangan nangis," katanya yang membuat tangisku justru semakin pecah. "Kita lewati ini semua sama-sama, ya?"
Masih dalam pelukan, aku berucap di sela isakan. "Aku gak mau Mas Ken kenapa-napa. Maafkan aku, Mas Ken. Maaf karena gak patuh dan gak nurut. Aku gak mau Mas Ken dipukulin. Aku sayang Mas Ken."
Semua resah yang menggunung sejak semalam, akhirnya tumpah sudah. Perasaan mengganjal dengan berbagai pertanyaan, yang tak sanggup kukeluarkan kini sedikit lebih lega.
"Aku tahu itu, Ra." Mas Ken merenggangkan pelukan, dan mengusap hati-hati wajahku yang basah. "Aku akan cari cara untuk mengeluarkanmu dari sana. Aku janji!"
Aku mengangguk tanpa bertanya cara apa yang akan Mas Ken cari. Fokusku justru ke sisi wajahnya yang masih membiru bekas pukulan kemarin itu.
"Udah diobatin?" tanyaku.
Mas Ken tersenyum dan meraih tanganku. "Obatnya cuma senyumanmu, Ra."
Aku tertawa kecil. Di saat seperti ini, Mas Ken masih bisa bercanda.
"Kamu manis kalau tersenyum. Jadi jangan nangis lagi. Biar lukaku cepet sembuh."
Aku mengangguk pelan dan mengulum senyum. Tangan Mas Ken terulur menyentuh pipiku. Senyumnya memudar dan tatapan pun berubah datar.
"Aku akan membalas orang yang berani menyakitimu, Ra."
"Aku gak apa-apa kok, Mas Ken. Jangan terlalu khawatir. Mas Ken masih mau menganggapku sebagai adik saja, itu udah lebih dari cukup. Aku hanya takut, Mas Ken membenciku."
Mas Ken kembali meraih tubuhku, menumpukan dagunya di kepalaku. "Bagaimana mungkin aku membencimu, Ra. Setelah semua yang kamu korbankan untukku. Aku hanya tidak rela, sesuatu yang kuanggap paling berharga di dunia ini, disakiti sedemikian tanpa perasaan."
Aku tersenyum getir dan memejamkan mata. Merasakan kenyamanan dan kedamaian dalam pelukan, juga ucapan penenang dari segala luka.
Luka yang sayangnya kembali terbuka saat sore menjelang. Tiga lelaki berbadan kekar datang, memaksa membawaku. Mas Ken memohon-mohon agar mengizinkanku istirahat karena sedang sakit. Namun percuma, mereka adalah orang-orang tak memiliki hati yang patuh pada perintah Tante Ambar.
Demi Mas Ken agar tidak dilukai, aku menurut untuk ikut.
"Maaf, Mas Ken," ucapku lirih saat hendak pergi. Mas Ken hanya diam memejamkan mata dengan kedua tangan terkepal.
Aku lelah melawan, karena pada akhirnya, aku tetaplah kalah. Kalah pada mereka yang memiliki banyak uang. Hanya bisa mengalah, dan pasrah.
Aku menatap datar mereka yang sedang tertawa sambil bermain judi di ruang tengah, rumah Tante Ambar. Sedangkan aku, sudah sejak setengah jam lalu duduk menyendiri menunggu tamu yang akan mencumbuku malam ini.
Asap rokok, aroma alkohol, dan permainan judi, semua hal yang mengingatkanku pada masa lalu. Saat usiaku masih enam tahun, aku sudah terbiasa melihat hal tersebut.
Suatu ketika saat pulang sekolah, rumahku masih ramai orang-orang yang bermain judi. Aku melewati mereka begitu saja, tak peduli. Namun langkahku terhenti saat sampai di pintu dapur. Seorang pemuda terkapar dengan baju penuh muntahan dan ... darah.
"Ibu, apa dia akan mati?" tanyaku pada Ibu yang sedang memasak.
"Tidak. Dia hanya mabuk."
"Tapi bajunya banyak darah."
"Dia hanya terlalu banyak minum. Tenanglah. Cepat ganti seragammu dan makan."
Makan di depan orang yang terkapar? Di ruangan yang penuh aroma alkohol dan muntahan? Itu menjijikkan! Namun aku sudah terbiasa. Tetap makan dan menatap tak acuh pada pemuda bodoh itu.
Dulu, aku selalu bercita-cita agar saat dewasa jadi orang kaya yang tinggal di kota. Agar bisa jauh dari hal-hal menjijikkan itu. Sayangnya, kehidupan menjawab dengan cara lain. Saat dewasa, aku justru dipertemukan dengan orang-orang kaya yang perokok, peminum, dan penjudi. Hanya levelnya saja yang berbeda.
Ah, hidup memang selucu ini!
"Hai, Bitch!"
Aku mengangkat wajah, tersadar dari lamunan. Rina berdiri dengan tatapan benci. Tak kupedulikan, aku memilih diam.
"Lo boleh aja merasa menang kali ini. Tapi gue pastiin, lo akan nyesel, karena udah ngerebut Kak Raga lagi dariku!"
Aku menyipitkan mata, menatapnya tak mengerti. Apa maksudnya? Namun, dia mendengkus kasar lalu pergi.
Masih saja tentang Kak Raga. Padahal aku sudah tidak pernah bertemu lagi semenjak malam itu. Malam di mana dia menghina, bahwa aku wanita murahan yang bisa dibeli dengan uang. Semenjak itu, tak pernah sakali pun aku berniat menemuinya, apalagi berusaha merebut dari Rina. Untuk apa?
Semua rasa penasaranku langsung terjawab, saat tamu yang akan menyewaku malam ini datang.
Kedua tanganku terkepal, dan menatap tajam Kak Raga yang berdiri di ruang tamu menungguku.
*
Mobil melaju dengan kecepatan sedang setelah keluar dari rumah Tante Ambar. Kak Raga masih diam, dan aku pun tidak memedulikan. Memilih menatap ke luar di balik kaca.
Selama perjalanan, hanya helaan napas berulang yang terdengar darinya. Entah apa yang sebenarnya diinginkan lagi dariku. Tubuhku? Bukankah dulu … ah, munafik!
Akhirnya aku menatap ke depan saat mobil memasuki rumah mewah, tak kalah mewah dari rumah milik Tante Ambar. Setelah gerbang dibuka oleh dua satpam, Kak Raga memarkirkan mobil tepat di depan pintu utama, karena terlihat lebih besar dibanding pintu lain yang kulihat sepanjang jalan.
"Turun," katanya setelah mematikan mesin mobil.
Aku menurut saja tanpa bertanya. Peduli apa jika ini rumahnya? Toh yang akan bermasalah pastinya dirinya sendiri karena membawa wanita bayaran ke rumahnya.
Beberapa pelayan rumah menyapa, Kak Raga terlihat ramah, sedangkan aku hanya tersenyum canggung.
Naik ke tangga, wanita usia 40an dengan daster motif batik, memanggil. Kak Raga menghentikan langkah, dan aku ikut berhenti berdiri di belakangnya.
"Oh ini tamunya. Cantik, Den. Mau dibuatin minum apa?"
"Nanti saja, Mbok." Kak Raga menjawab, lalu kembali melangkah dan aku mengikuti.
Tepat di lantai dua, di salah satu kamar, Kak Raga membuka pintu dan mempersilakan aku masuk. Aku melewatinya begitu saja tanpa sepatah kata.
Aku terperangah seketika, melihat isi kamar tersebut.
-----
CATATAN KELAM Sang Pendosa 17
*
Kamar bernuansa merah jambu dan biru muda, penuh rak lemari berisi berbagai jenis buku. Ada sofa kecil warna cream dan meja kecil di tengahnya. Membuatku tak bisa berkata-kata, ditambah tulisan 'Rumah Baca Haura' di dinding dan dipasang lampu warna-warni.
Mataku berkaca-kaca seketika, lalu menoleh menatap Kak Raga yang berdiri di sampingku.
"Apa maksudnya ini semua?"
"Kado ulang tahun ke 17 yang belum sempat gue kasih lihat. Lo pernah bilang pengen banget punya perpustakaan sendiri dengan nuansa seperti ini, kan?"
"Gak penting!" tukasku ketika Kak Raga diam, menghela napas panjang.
"Gue minta maaf, Ra." Kak Raga menatapku, raut wajahnya menyiratkan penyesalan. "Gue kejebak kemarin. Percaya gitu aja sama omongan Rina. Dan …."
"Cukup!" selaku cepat, mengusap mata secara kasar dan kembali berucap, "Semua udah gak penting lagi. Mau kamu kejebak. Mau kamu percaya gitu aja sama omongan Rina. Sama aja. Semua gak akan ngubah apa pun penilaian kamu ke aku. Aku tetap cewek murahan yang bisa dibeli dengan uang!"
"Gue tau gue salah. Gue bener-bener minta maaf. Gue udah tau semuanya, Ra. Lo ngorbanin diri buat abang lo yang kecelakaan. Andai gue tau dari awal tentang kecelakaan itu, gue akan ngelarang lo jual … jual diri."
Aku mendengkus kasar dan menyeringai lebar. Semua sudah terlambat. Takdir telah menyeretku pada kubangan lumpur yang hina. Percuma saja jika sekarang aku menyesalinya.
"Gak perlu lagi basa-basi. Sekarang cepat lakukan apa yang ingin kamu lakukan padaku." Aku menurunkan resleting baju yang kukenakan.
"Lo mau ngapain, Ra?"
"Apalagi? Kamu udah bayar mahal buat ngebeli aku, kan? Silakan lakukan apa pun, terserah kamu, sepuas kamu." Baju yang kukenakan sudah terbuka memperlihatkan tank top warna hitam.
Kak Raga justru menaikkan lagi bajuku dengan cepat. "Gue gak akan pernah bisa menikmati tubuh wanita yang gue cintai dengan cara seperti ini, Ra!"
"Lalu cara apa?!" Aku membentak dan menyingkirkan tangannya secara kasar.
"Dengan cara yang jauh lebih menghargai. Bukan dibeli dengan uang."
"Bullshit!" Aku menatap tajam, walau sesak di dada membuat air mata menggenang. "Gak inget saat kamu bilang bahwa aku adalah wanita murahan yang bisa dibeli dengan uang? Lupa? Harga diriku udah kamu beli. Terlalu murah kamu bilang. Ingat?"
Kak Raga menggeleng lemah. "Gue nyesel, Ra. Gue kebawa emosi waktu itu. Perasaan gue kacau. Hancur saat tahu lo memang seperti yang Rina bilang. Emosi bikin gue gak bisa pikir panjang dan cari tahu dulu kebenarannya. Gue minta maaf, Ra."
Aku menarik napas panjang dan menghapus air mata di pipi dan mata. "Sekarang mau kamu, apa?"
"Lo maafin gue."
"Kalau aku udah maafin? Apa lagi?"
"Gue akan bantu lo buat keluar dari sana."
Aku bungkam seketika. Menatapnya tak percaya. Namun, sorot mata Kak Raga menyiratkan kesungguhan dan ketulusan. Sama sekali tak kutemukan kebohongan.
"Gue ada tabungan sendiri dari hasil usaha yang udah gue rintis dari SMP. Kalau kurang, ntar gue bisa pinjem uang Bokap. Lo tenang aja."
"Gak perlu." Aku menjawab akhirnya. Merasa sungkan dibantu sedemikian rupa oleh orang yang bukan siapa-siapa. "Kamu gak perlu susah payah ngeluarin uang buat nebus aku. Aku gak mau utang budi."
"Ra … gue tulus bantu lo. Gue mau lo gak kerja di tempat kayak gitu lagi, Ra."
"Aku tetap kerja atau keluar, itu gak akan ngubah bahwa aku bukan lagi cewek bayaran. Tetap aja, aku cuma cewek bekas banyak orang."
"Astaga, Haura! Apa lo mau selamanya di sana? Lo mau bertahun-tahun jadi cewek bayaran?"
Aku diam dan memalingkan wajah. Merasa tak perlu menjawab pertanyaannya.
Kak Raga meraih tangan kananku, dan menggenggamnya. "Sekali lagi gue minta maaf, Ra. Gue akui gue salah nilai lo. Maafin gue, please."
"Aku udah maafin kamu. Tapi aku gak bisa nerima bantuan kamu. Lebih baik sekarang, lakukan apa yang udah kamu beli. Aku harus pulang secepatnya." Aku menarik napas panjang sebelum melanjutkan, "Mas Ken pasti khawatir denganku."
Menyebut nama Mas Ken dan mengingat kejadian sore tadi, rasanya ingin sekali aku cepat pulang. Rasa bersalah kian mengekang.
"Dan Mas Ken pasti akan sangat senang kalau lo bisa keluar dari tempat itu."
Aku diam menatap Kak Raga. Satu sisi hati mengatakan bahwa aku harus menerima bantuan darinya. Satu sisi lainnya, seolah tak terima karena takut harga diri akan jauh lebih direndahkan suatu saat nanti. Namun, saat memikirkan Mas Ken, aku rasa tidak ada salahnya mencoba menerima tawaran darinya.
"Tapi dengan cara apa aku harus mengembalikan uangmu nanti?" Aku bertanya, masih terdengar ketus.
"Itu dipikirin nanti. Yang penting lo bebas dulu."
"Kenapa …." Aku menggigit bibir, mencoba menahan sesak yang kembali menyeruak. "Kenapa Kak Raga baik banget sama aku?"
"Masih nanya alasannya?"
Aku paham. Semua karena cinta, yang memang kurasakan sejak dulu mengenal. Namun …. "Kak Raga orang baik. Banyak cewek yang suka. Kenapa masih mau sama pendosa sepertiku?"
Kak Raga tersenyum tipis, tangannya terulur menghapus air yang mengalir di pipiku. "Gue sendiri bingung. Kenapa rasa sayang gue bisa sedalam ini sama lo. Dan gue gak rela, mutiara gue tenggelam di dalam lumpur."
Satu lagi, lelaki yang menganggapku begitu berharga walau aku merasa tidak layak mendapatkannya. Satu keberuntungan yang bisa kurasakan dari semua kepahitan hidup.
"Lo sakit?" Kak Raga menyentuh pipi dan dahiku. "Wajah lo pucet banget dan sedikit anget."
Entah mengapa kali ini aku mengangguk, jujur. "Mas Ken sebenernya ngelarang aku buat pergi karena lagi sakit. Tapi mereka gak punya hati. Mereka maksa bawa aku."
Kak Raga menarikku dalam pelukan, dan aku sudah terisak-isak teringat semua kejadian menyakitkan.
"Kenapa semua orang jahat, Kak? Kenapa semua orang jahat sama aku? Kenapa semua orang ngambil kebahagiaanku?" Isakku semakin pilu.
"Gue yang akan ngembaliin kebahagian lo, Ra." Kak Raga berbisik, dan mempererat pelukannya. Pelukan hangat dari seseorang yang memang peduli dan sayang. Bukan pelukan nafsu dari lelaki yang sudah membayar mahal.
"Kita ke dokter, ya?" Kak Raga merenggangkan pelukan, setelah beberapa saat ia diam membiarkanku menangis dalam pelukan.
Aku menggeleng. "Aku masih ada obat kok. Tapi tadi lupa dibawa."
"Obat dari dokter?" Kak Raga bertanya. Suaranya menjadi semakin lembut, pun sama dengan perlakuan tangannya yang menyapu basah pipiku.
Sekali lagi aku menggeleng. "Obat dari warung."
"Astaga! Mana bisa bikin sembuh? Kita ke dokter sekarang!"
"Bisa!" jawabku sedikit kesal. "Dari dulu kalau sakit juga minum obat dari warung. Gak semua orang mampu untuk pergi ke dokter, Kak!"
"Maaf maaf. Bukan begitu maksud gue. Gue cuma gak tega liat lo demam begini. Ke dokter, ya? Jangan nolak, please."
"Gak perlu. Cuma demam biasa karena kehujanan kemarin. Aku cuma pengen cepet pulang, Kak. Mas Ken pasti khawatir sama aku."
"Iya tahu. Gue bakal anterin lo pulang, tapi setelah kita ke dokter. Gak lama kok. Oke?"
"Tapi, Kak …."
"Haura, please!"
Aku mendesah pasrah dan mengangguk.
*
Apa yang lebih membahagiakan dari dikelilingi oleh orang-orang yang sayang sama kita? Walau kehadirannya hanya segelintir saja dibanding orang-orang yang menyakiti. Namun setidaknya, hadirnya mereka mampu menjadi obat dari segala luka. Menguatkan dari hal-hal yang menyakitkan.
Rasa sakit karena hinaan Kak Raga waktu itu, seolah sirna dalam sekejap. Kebaikannya melebihi apa yang kubayangkan. Sabar mengantarku periksa ke dokter, menebus obat di apotek, dan membelikan banyak makanan. Kalau ini, sebenarnya dia mengajakku untuk makan bersama lebih dulu, tapi aku menolak.
Bagaimana mungkin aku bisa makan enak, sedangkan di rumah ada Mas Ken dan yang lain menunggu dengan khawatir.
Setengah sembilan malam, kami sampai di depan gang kecil menuju rumah Mas Ken. Aku memilih turun di sana karena memang mobil akan susah masuk, ditambah jalanan bekas hujan yang bisa membuat mobil Kak Raga kotor. Selain itu, aku takut Mas Ken marah kalau tahu aku pulang bersama Kak Raga.
"Serius gak mau dianter sampai rumah?" Kak Raga bertanya, berdiri di depanku, di samping mobil.
"Sampai sini aja cukup, Kak. Deket kok."
"Bisa emangnya bawa sendiri?" Kak Raga melirik kantong plastik berisi banyak makanan dan buah-buahan yang aku pegang dengan kedua tangan.
"Bisa. Kak Raga sih, beliinnya banyak begini."
"Biar bisa kebagian semua. Apalagi Rio, dia makannya banyak pasti. Salam ya, buat dia."
"Hm?" Aku menaikkan alis, bertanya, "Cuma Rio? Kak Raga udah kenal sama Rio?"
"Udah. Kemarin. Dia yang cerita semua tentang keadaan lo yang sesungguhnya."
"Rio? Gimana ceritanya? Kok dia gak ada cerita ke aku?"
"Gue yang ngelarang. Gue ngerasa ada yang aneh. Gue ngerasa, semua kayak gak mungkin aja. Makanya gue cari tau sendiri tentang keluarga lo, dan gak sengaja ketemu Rio."
"Rio cerita apa aja?"
"Banyak."
"Apa?" Aku sedikit mendesak. Rio masih terlalu polos, dan pasti cerita apa adanya semua tentangku. Tentang masa laluku dan sebagainya.
"Banyak, Ra. Yang membuat gue langsung merenung. Bahwa terkadang, sesuatu yang kita anggap buruk, adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan hidup. Dan dari kejadian ini, gue akan lebih hati-hati untuk menilai orang. Sisi terang seseorang, terkadang tertutup oleh sisi gelapnya. Gelap yang gak diinginkan sebenarnya. Maaf sekali lagi, karena kebodohan gue, tanpa sadar nyakitin perasaan lo."
Aku menatap Kak Raga dalam diam. Kata-katanya yang begitu dalam, menyempurnakan kedewasaan dalam berpikir. Membuatku semakin kagum padanya. Dia satu-satunya orang kaya, yang tidak menggunakan uang untuk menindas orang miskin.
"Udah sana pulang. Nanti dingin makanannya."
Aku tersenyum dan mengangguk. "Makasih banyak ya, Kak. Makasih untuk semuanya."
"Mau berapa kali bilang makasihnya?"
"Berkali-kali pun gak akan mampu membalas kebaikan Kak Raga."
Kak Raga tersenyum, tangan yang sedari tadi masuk ke saku celana, akhirnya keluar demi membelai rambutku. Kemudian, lirih ia berucap, "Gue sayang sama lo, Ra."
Aku tidak tahu tentang perasaanku ke Kak Raga. Ada sesuatu lain yang mengganjal, perasaan aneh lain, tapi bukan untuk Kak Raga. Entah. Mungkin, belum waktunya aku mengenal cinta. Masih banyak hal yang jauh lebih penting daripada memikirkan perasaan.
Kak Raga memaksaku untuk berjalan lebih dulu, dan dia memerhatikan sampai aku aman tiba di rumah. Sesekali aku menoleh, tersenyum saat Kak Raga melambaikan tangan. Mobilnya baru meluncur pergi setelah aku berbelok di gang kecil lain.
Kukira, malam ini aku bisa membawa kabar bahagia untuk mereka terutama Mas Ken. Namun, justru mereka yang membawa kabar buruk untukku.
Mereka menunggu di depan rumah, langsung lari saat melihatku pulang. Rio, Randi, dan Ridho mengambil alih semua yang kubawa. Mega justru bertanya, "Mas Ken mana?"
-----
CATATAN KELAM Sang Pendosa 18
*
Gumpalan awan hitam di langit menambah gelapnya malam. Angin bertiup kencang menandakan hujan segera datang. Tak kupedulikan, walau tubuh akan kembali basah kuyup seperti kemarin malam saat pulang.
Setelah mendengar kabar bahwa mereka tidak melihat Mas Ken sejak sore, aku memutuskan langsung pergi sendiri ke rumah Tante Ambar. Ke mana lagi Mas Ken pergi kalau bukan ke sana?
Berlari mencari tukang ojek malam-malam sedikit kesusahan. Aku memaksa penjaga warung nasi kucing di gang yang memiliki motor, untuk mengantarku dengan bayaran cukup mahal.
Sepanjang jalan pikiran sudah tidak tenang. Hati pun rasanya tidak keruan. Sesuatu yang buruk pasti telah terjadi. Hanya bisa berharap bahwa keadaan Mas Ken baik-baik saja.
Kuseka air mata saat sampai di depan rumah Tante Ambar. Rumah yang terlihat seperti rumah kebanyakan, padahal di dalam ada transaksi jual beli perempuan.
Aku menghela napas panjang, sebelum menghadap dua satpam penjaga. Mereka mengenaliku dan segera membuka gerbang tanpa banyak tanya. Setelah itu, aku langsung berlari masuk ke rumah di mana kuharap ada Mas Ken di sana
Pintu dibuka oleh pelayan, dan aku bertanya, "Di mana Tante Ambar?"
"Ada di atas," jawabnya dan mempersilakan aku untuk masuk.
Suasana ruangan yang biasa dijadikan tempat bermain judi, malam ini sepi. Aku berlari menaiki tangga menuju lantai dua. Tidak ada siapa-siapa. Kemudian kembali berlari untuk menuju lantai tiga. Namun langkahku terhenti, saat Tante Ambar muncul sedang menuruni tangga.
"Ada apa, Haura?" Tante Ambar bertanya dengan senyum basa-basi.
"Di mana Mas Ken?"
"Mas Ken? Abangmu?"
"Di mana Mas Ken?!" Aku berseru tidak sabar. Melihat gaya bicaranya membuatku sangat muak.
Tante Ambar menyeringai lebar, menuruni tangga dengan kedua tangan terlipat di dada. Lalu melewatiku begitu saja sambil berucap, "Ikut denganku!"
Aku menarik napas panjang, mencoba menahan emosi. Mengikutinya dari belakang dengan diam.
Sampai di lantai bawah, di sebuah ruangan yang belum pernah kuketahui sebelumnya. Tante Ambar menghentikan gerakan tangan saat membuka pintu. Melirik padaku dengan sorot mata tajam.
"Di dalam, sudah ada surat perjanjian baru yang harus kamu tanda tangani. Jadi, mau tidak mau kamu harus setuju dengan semua kesepakatan yang aku buat."
Sempat mengernyit bingung dengan ucapannya, tapi aku tidak peduli dengan apa pun perjanjian yang dia inginkan. "Saya ke sini ingin bertemu Mas Ken! Di mana dia?!"
"Dia ada di dalam. Kalau kamu mau membawa abangmu itu keluar dari sini, syaratnya cuma satu. Setujui semua perjanjian yang aku buat! Bagaimana?"
"Tante gak perlu basa-basi! Aku mau ketemu Mas Ken!"
Tante Ambar berdecak lalu membuka pintu lebar dan menyalakan lampu. Sontak membuatku terperangah melihat Mas Ken dengan wajah penuh luka lebam terkapar di sudut ruangan.
"Mas Ken!" jeritku dan berlari menghampirinya.
"Haura," lirih Mas Ken. Pelan ia membuka mata dan tersenyum saat aku menarik kepalanya dan membawa ke dalam pelukan.
"Apa-apaan ini!" Aku berteriak pada Tante Ambar. Napas memburu dengan perasaan marah, dan ingin membalas luka di wajahnya.
Dengan santainya Tante Ambar duduk di kursi kayu dan menjawab, "Itu karena kesombongannya sendiri."
"Kenapa memukuli Mas Ken! Mas Ken salah apa?!"
"Karena dia berani menghinaku."
Kedua tanganku terkepal. Sekuat tenaga menahan emosi. Air mata meluncur bebas karena tak kuasa berbuat apa-apa. Aku kembali menatap Mas Ken, pelan mengusap sisa darah di pipinya. Mas Ken meringis, membuatku tak kuasa menahan tangis. Dia pasti tengah menahan perih, kesakitan luar biasa di wajah dan seluruh tubuhnya.
"Mas Ken sebenernya apa yang terjadi? Kenapa Mas Ken ke sini?"
Mata Mas Ken mengerjab pelan, ada sesuatu yang ingin dia katakan tapi seolah tak mampu ia keluarkan.
"Cepat tanda tangan surat ini, setelah itu, aku akan menyuruh supir untuk mengantarmu pulang. Atau kalau kamu mau bawa abangmu ke rumah sakit, juga tidak masalah. "
Aku menoleh. Melirik tajam dengan perasaan dendam yang begitu mendalam.
"Jangan …." Mas Ken berkata lirih. Ia meraih tanganku, dan menatap penuh permohonan.
Surat perjanjian apa sebenarnya?
"Haura!" Tante Ambar membentak. Berdiri dan menghampiri, lalu menarik tanganku.
Aku menahan diri, sedikit melawan. Mas Ken terus menggumam kata 'jangan' yang entah apa maksudnya. Tante Ambar semakin tidak sabar. Tanganku kembali ditarik dengan kasar, hingga aku memekik kesakitan.
"Maksudnya apa sih, Tante?!" Aku mengibaskan tangan saat sampai di meja, di atasnya sudah ada surat perjanjian dan bolpoin.
"Tanda tangan!" Tante Ambar menunjuk surat tersebut. "Cepat!"
Aku memilih diam, mengambil surat itu dan membacanya terlebih dahulu. Isinya tentang aku yang harus tetap bekerja sesuai ketentuan dari Tante Ambar. Tidak boleh ditebus dengan uang berapa pun.
"Maksudnya apa ini, Tante?"
"Sudah jelas kan isi suratnya?"
Aku menyipitkan mata, menatapnya curiga. "Kenapa tiba-tiba membuat surat perjanjian ini?"
"Apa lagi kalau bukan agar kamu tetap bekerja di sini?"
Aku mendengkus kasar. "Siapa yang memberitahu Tante tentang Kak Raga?"
"Aku malas untuk basa-basi, Haura. Aku tidak ada urusan dengan Raga atau anak muda lainnya yang sok menjadi pahlawan. Aku hanya ingin kamu tetap bekerja di sini. Itu saja. Maka semua beres!"
"Aku tidak mau menandatangani surat ini!" Kuletakkan kembali surat tersebut ke meja.
"Silakan. Tapi malam ini juga, aku bisa membunuh abangmu itu." Tante Ambar menyeringai tipis dan menaikkan satu alis.
"Licik!" Aku mendesis penuh kebencian. Dalam hati bersumpah suatu ketika akan membalasnya lebih dari ini.
"Tanda tangan sekarang!"
"Jangan, Haura!" Mas Ken bersuara. Aku menoleh, dan melihat Mas Ken berusaha bangun.
"Mas Ken!" Aku hendak menghampiri tapi tanganku diraih oleh Tante Ambar secara kasar.
"Tanda tangan dulu!"
"Haura!"
Aku kembali menoleh pada Mas Ken. Ia terlihat kesusahan untuk bangun dan aku ingin membantunya. Tapi lagi lagi Tante Ambar mencengkram tanganku kuat.
"Apa susahnya sih tanda tangan?!" Tante Ambar mendorong tubuhku hingga menghantam meja.
Air mataku kembali keluar. Bukan karena sakit di tangan dan tubuh, tapi karena sakit di hati. Sesak saat harga diri diinjak, dan tidak punya kuasa untuk menyelamatkan diri.
Saat bolpoin di tangan dan siap untuk menandatangani surat tersebut, Tante Ambar memekik diiringi suara dari suatu benda yang jatuh ke lantai. Aku mendongak, Tante Ambar tengah meringis memegang kepalanya.
"Iblis!" Mas Ken mendesis. Sorot matanya nanar, dengan wajah penuh emosi.
"Mas Ken!" Aku berdiri dan langsung berlari menghampiri dan memeluknya.
Tante Ambar mengumpat kasar, kemudian menelepon pesuruhnya.
Aku hanya bisa pasrah. Sesuatu pasti akan segera terjadi lagi. Entah apa yang akan dia lakukan kepada Mas Ken setelah ini.
Dengan suara tersenggal, Mas Ken berkata, "Berjanjilah, Haura. Berjanjilah untuk tidak lagi bekerja di tempat iblis ini. Apa pun yang terjadi. Bahkan jika aku mati, berjanjilah untuk tidak lagi menjual diri!"
Aku mengangguk, karena tidak tahu lagi harus berkata apa. Ketakutan mengungkung seketika. Berbagai pikiran berkeliaran. Sesuatu akan segera terjadi.
Tiga lelaki bertubuh kekar datang. Tante Ambar langsung memerintah, "Habisi lelaki tidak tahu diri itu!"
Aku menggeleng. Merangkul Mas Ken lebih erat. Tapi percuma. Dua lelaki itu tetap menarik tubuh Mas Ken dan satu lelaki menarik tubuhku. Mereka memisahkanku dengan Mas Ken secara paksa.
Aku meronta-ronta sekuat tenaga, dan dua lelaki itu menyeret Mas Ken seperti menyeret binatang hasil buruan. Saat Mas Ken memberontak, mereka tak segan memukul dan menendang.
"Tante aku mohon! Jangan bunuh Mas Ken!" Aku menangis histeris setelah Mas Ken dibawa keluar ruangan.
Wanita itu justru tertawa, seolah puas telah menganiaya orang-orang tak berdaya.
"Tarjo, bantu mereka eksekusi dan jangan sampai mayatnya ditemukan oleh polisi!"
Lelaki yang memegang tanganku, menjawab, "Baik, Nyonya!" Setelah itu melepaskanku.
"Tante aku mohon!" Aku menggeleng, lalu bersimpuh di kakinya. "Tante jangan bunuh Mas Ken. Aku janji akan melakukan apa pun yang Tante perintahkan."
"Terlambat!" Tante Ambar melipat kedua tangan di dada dengan angkuhnya. "Aku sudah begitu muak dengan abangmu itu. Dia terlalu berani! Sombong!"
"Maaf, Tante. Aku minta maaf. Tolong. Aku mohon. Aku akan tanda tangan dan menuruti semua keinginan Tante!"
Tante Ambar kembali tertawa, lalu berjongkok dan mengusap air mataku. "Itu tentu, Sayang. Kamu akan tetap bekerja denganku. Kamu adalah sumber uang bagiku, dan aku tidak akan melepaskanmu."
Lampu tiba-tiba padam.
"Kenapa ini?" Tante Ambar, melepas tangannya dan kutahu ia berdiri.
Suara langkah kaki mendekat, meraih tanganku dan berbisik, "Kita lari sekarang!"
*
----*
Gumpalan awan hitam di langit menambah gelapnya malam. Angin bertiup kencang menandakan hujan segera datang. Tak kupedulikan, walau tubuh akan kembali basah kuyup seperti kemarin malam saat pulang.
Setelah mendengar kabar bahwa mereka tidak melihat Mas Ken sejak sore, aku memutuskan langsung pergi sendiri ke rumah Tante Ambar. Ke mana lagi Mas Ken pergi kalau bukan ke sana?
Berlari mencari tukang ojek malam-malam sedikit kesusahan. Aku memaksa penjaga warung nasi kucing di gang yang memiliki motor, untuk mengantarku dengan bayaran cukup mahal.
Sepanjang jalan pikiran sudah tidak tenang. Hati pun rasanya tidak keruan. Sesuatu yang buruk pasti telah terjadi. Hanya bisa berharap bahwa keadaan Mas Ken baik-baik saja.
Kuseka air mata saat sampai di depan rumah Tante Ambar. Rumah yang terlihat seperti rumah kebanyakan, padahal di dalam ada transaksi jual beli perempuan.
Aku menghela napas panjang, sebelum menghadap dua satpam penjaga. Mereka mengenaliku dan segera membuka gerbang tanpa banyak tanya. Setelah itu, aku langsung berlari masuk ke rumah di mana kuharap ada Mas Ken di sana
Pintu dibuka oleh pelayan, dan aku bertanya, "Di mana Tante Ambar?"
"Ada di atas," jawabnya dan mempersilakan aku untuk masuk.
Suasana ruangan yang biasa dijadikan tempat bermain judi, malam ini sepi. Aku berlari menaiki tangga menuju lantai dua. Tidak ada siapa-siapa. Kemudian kembali berlari untuk menuju lantai tiga. Namun langkahku terhenti, saat Tante Ambar muncul sedang menuruni tangga.
"Ada apa, Haura?" Tante Ambar bertanya dengan senyum basa-basi.
"Di mana Mas Ken?"
"Mas Ken? Abangmu?"
"Di mana Mas Ken?!" Aku berseru tidak sabar. Melihat gaya bicaranya membuatku sangat muak.
Tante Ambar menyeringai lebar, menuruni tangga dengan kedua tangan terlipat di dada. Lalu melewatiku begitu saja sambil berucap, "Ikut denganku!"
Aku menarik napas panjang, mencoba menahan emosi. Mengikutinya dari belakang dengan diam.
Sampai di lantai bawah, di sebuah ruangan yang belum pernah kuketahui sebelumnya. Tante Ambar menghentikan gerakan tangan saat membuka pintu. Melirik padaku dengan sorot mata tajam.
"Di dalam, sudah ada surat perjanjian baru yang harus kamu tanda tangani. Jadi, mau tidak mau kamu harus setuju dengan semua kesepakatan yang aku buat."
Sempat mengernyit bingung dengan ucapannya, tapi aku tidak peduli dengan apa pun perjanjian yang dia inginkan. "Saya ke sini ingin bertemu Mas Ken! Di mana dia?!"
"Dia ada di dalam. Kalau kamu mau membawa abangmu itu keluar dari sini, syaratnya cuma satu. Setujui semua perjanjian yang aku buat! Bagaimana?"
"Tante gak perlu basa-basi! Aku mau ketemu Mas Ken!"
Tante Ambar berdecak lalu membuka pintu lebar dan menyalakan lampu. Sontak membuatku terperangah melihat Mas Ken dengan wajah penuh luka lebam terkapar di sudut ruangan.
"Mas Ken!" jeritku dan berlari menghampirinya.
"Haura," lirih Mas Ken. Pelan ia membuka mata dan tersenyum saat aku menarik kepalanya dan membawa ke dalam pelukan.
"Apa-apaan ini!" Aku berteriak pada Tante Ambar. Napas memburu dengan perasaan marah, dan ingin membalas luka di wajahnya.
Dengan santainya Tante Ambar duduk di kursi kayu dan menjawab, "Itu karena kesombongannya sendiri."
"Kenapa memukuli Mas Ken! Mas Ken salah apa?!"
"Karena dia berani menghinaku."
Kedua tanganku terkepal. Sekuat tenaga menahan emosi. Air mata meluncur bebas karena tak kuasa berbuat apa-apa. Aku kembali menatap Mas Ken, pelan mengusap sisa darah di pipinya. Mas Ken meringis, membuatku tak kuasa menahan tangis. Dia pasti tengah menahan perih, kesakitan luar biasa di wajah dan seluruh tubuhnya.
"Mas Ken sebenernya apa yang terjadi? Kenapa Mas Ken ke sini?"
Mata Mas Ken mengerjab pelan, ada sesuatu yang ingin dia katakan tapi seolah tak mampu ia keluarkan.
"Cepat tanda tangan surat ini, setelah itu, aku akan menyuruh supir untuk mengantarmu pulang. Atau kalau kamu mau bawa abangmu ke rumah sakit, juga tidak masalah. "
Aku menoleh. Melirik tajam dengan perasaan dendam yang begitu mendalam.
"Jangan …." Mas Ken berkata lirih. Ia meraih tanganku, dan menatap penuh permohonan.
Surat perjanjian apa sebenarnya?
"Haura!" Tante Ambar membentak. Berdiri dan menghampiri, lalu menarik tanganku.
Aku menahan diri, sedikit melawan. Mas Ken terus menggumam kata 'jangan' yang entah apa maksudnya. Tante Ambar semakin tidak sabar. Tanganku kembali ditarik dengan kasar, hingga aku memekik kesakitan.
"Maksudnya apa sih, Tante?!" Aku mengibaskan tangan saat sampai di meja, di atasnya sudah ada surat perjanjian dan bolpoin.
"Tanda tangan!" Tante Ambar menunjuk surat tersebut. "Cepat!"
Aku memilih diam, mengambil surat itu dan membacanya terlebih dahulu. Isinya tentang aku yang harus tetap bekerja sesuai ketentuan dari Tante Ambar. Tidak boleh ditebus dengan uang berapa pun.
"Maksudnya apa ini, Tante?"
"Sudah jelas kan isi suratnya?"
Aku menyipitkan mata, menatapnya curiga. "Kenapa tiba-tiba membuat surat perjanjian ini?"
"Apa lagi kalau bukan agar kamu tetap bekerja di sini?"
Aku mendengkus kasar. "Siapa yang memberitahu Tante tentang Kak Raga?"
"Aku malas untuk basa-basi, Haura. Aku tidak ada urusan dengan Raga atau anak muda lainnya yang sok menjadi pahlawan. Aku hanya ingin kamu tetap bekerja di sini. Itu saja. Maka semua beres!"
"Aku tidak mau menandatangani surat ini!" Kuletakkan kembali surat tersebut ke meja.
"Silakan. Tapi malam ini juga, aku bisa membunuh abangmu itu." Tante Ambar menyeringai tipis dan menaikkan satu alis.
"Licik!" Aku mendesis penuh kebencian. Dalam hati bersumpah suatu ketika akan membalasnya lebih dari ini.
"Tanda tangan sekarang!"
"Jangan, Haura!" Mas Ken bersuara. Aku menoleh, dan melihat Mas Ken berusaha bangun.
"Mas Ken!" Aku hendak menghampiri tapi tanganku diraih oleh Tante Ambar secara kasar.
"Tanda tangan dulu!"
"Haura!"
Aku kembali menoleh pada Mas Ken. Ia terlihat kesusahan untuk bangun dan aku ingin membantunya. Tapi lagi lagi Tante Ambar mencengkram tanganku kuat.
"Apa susahnya sih tanda tangan?!" Tante Ambar mendorong tubuhku hingga menghantam meja.
Air mataku kembali keluar. Bukan karena sakit di tangan dan tubuh, tapi karena sakit di hati. Sesak saat harga diri diinjak, dan tidak punya kuasa untuk menyelamatkan diri.
Saat bolpoin di tangan dan siap untuk menandatangani surat tersebut, Tante Ambar memekik diiringi suara dari suatu benda yang jatuh ke lantai. Aku mendongak, Tante Ambar tengah meringis memegang kepalanya.
"Iblis!" Mas Ken mendesis. Sorot matanya nanar, dengan wajah penuh emosi.
"Mas Ken!" Aku berdiri dan langsung berlari menghampiri dan memeluknya.
Tante Ambar mengumpat kasar, kemudian menelepon pesuruhnya.
Aku hanya bisa pasrah. Sesuatu pasti akan segera terjadi lagi. Entah apa yang akan dia lakukan kepada Mas Ken setelah ini.
Dengan suara tersenggal, Mas Ken berkata, "Berjanjilah, Haura. Berjanjilah untuk tidak lagi bekerja di tempat iblis ini. Apa pun yang terjadi. Bahkan jika aku mati, berjanjilah untuk tidak lagi menjual diri!"
Aku mengangguk, karena tidak tahu lagi harus berkata apa. Ketakutan mengungkung seketika. Berbagai pikiran berkeliaran. Sesuatu akan segera terjadi.
Tiga lelaki bertubuh kekar datang. Tante Ambar langsung memerintah, "Habisi lelaki tidak tahu diri itu!"
Aku menggeleng. Merangkul Mas Ken lebih erat. Tapi percuma. Dua lelaki itu tetap menarik tubuh Mas Ken dan satu lelaki menarik tubuhku. Mereka memisahkanku dengan Mas Ken secara paksa.
Aku meronta-ronta sekuat tenaga, dan dua lelaki itu menyeret Mas Ken seperti menyeret binatang hasil buruan. Saat Mas Ken memberontak, mereka tak segan memukul dan menendang.
"Tante aku mohon! Jangan bunuh Mas Ken!" Aku menangis histeris setelah Mas Ken dibawa keluar ruangan.
Wanita itu justru tertawa, seolah puas telah menganiaya orang-orang tak berdaya.
"Tarjo, bantu mereka eksekusi dan jangan sampai mayatnya ditemukan oleh polisi!"
Lelaki yang memegang tanganku, menjawab, "Baik, Nyonya!" Setelah itu melepaskanku.
"Tante aku mohon!" Aku menggeleng, lalu bersimpuh di kakinya. "Tante jangan bunuh Mas Ken. Aku janji akan melakukan apa pun yang Tante perintahkan."
"Terlambat!" Tante Ambar melipat kedua tangan di dada dengan angkuhnya. "Aku sudah begitu muak dengan abangmu itu. Dia terlalu berani! Sombong!"
"Maaf, Tante. Aku minta maaf. Tolong. Aku mohon. Aku akan tanda tangan dan menuruti semua keinginan Tante!"
Tante Ambar kembali tertawa, lalu berjongkok dan mengusap air mataku. "Itu tentu, Sayang. Kamu akan tetap bekerja denganku. Kamu adalah sumber uang bagiku, dan aku tidak akan melepaskanmu."
Lampu tiba-tiba padam.
"Kenapa ini?" Tante Ambar, melepas tangannya dan kutahu ia berdiri.
Suara langkah kaki mendekat, meraih tanganku dan berbisik, "Kita lari sekarang!"
*
Catatan Kelam Sang Pendosa 19
*
Belum sadar sepenuhnya apa yang sebenarnya terjadi, seseorang itu telah menarik tanganku. Berdiri dan berlari. Lari dalam kegelapan jelas tidak mudah. Tapi aku bisa merasakan seseorang itu membawaku keluar dari ruangan tersebut.
"Haura! Jangan lari kamu!" Tante Ambar berteriak, lalu memanggil pesuruhnya.
Seseorang itu terus menarik tanganku. Kencang sekali genggamannya. Aku sangat yakin bahwa dia sudah sangat hafal seluruh ruangan dan benda di rumah itu, karena selama berlari, dia tidak menabrak apa pun. Mulus sampai keluar rumah tapi bukan pintu depan.
Hujan deras tengah mengguyur bumi. Guntur berkilatan, memperlihatkan punggung seseorang itu. Basah di tubuh tak dihiraukan, dia tetap menggenggam tanganku untuk terus berlari bersamanya.
Langkah terhenti ketika sampai di pagar yang cukup tinggi. Entah ini di samping atau belakang rumah. Aku belum pernah melihatnya.
"Lo naik ke pundak gue sekarang!" perintahnya.
Aku menggeleng. "Mas Ken, Ky. Mas Ken masih ada di dalam."
"Percuma, Ra. Abang lo udah gak mungkin selamat!"
"Makanya tolongin Mas Ken, Ky. Mas Ken masih hidup." Aku mengusap wajah yang basah karena hujan dan air mata.
"Gue gak bisa nolongin Abang lo, Ra. Gue cuma bisa nolongin lo sekarang ini. Kita kabur dari rumah ini. Buruan!"
Aku menggeleng lebih kencang. Terisak-isak dan menangkupkan kedua tangan di depan dada. "Aku mohon, Ky. Aku mohon tolongin Mas Ken."
Rizky memegang bahuku. "Gue gak bisa nolongin abang lo, Ra. Di dalem ada banyak banget tukang pukul. Sejago-jagonya gue berantem, gue gak mungkin bisa ngelawan mereka sendirian. Jadi kita harus buruan kabur, kalau gak mau ketangkep sama mereka."
"Nggak!" Aku menyingkirkan kedua tangan Rizky. "Aku gak akan pergi dari sini tanpa Mas Ken!"
"Terus lo mau apa? Masuk ke dalem lagi? Jangan bego! Lo masuk ke dalem lagi, sama aja bunuh diri!"
"Aku gak peduli! Kalau Mas Ken mati, aku juga harus mati!"
"Lo jadi orang jangan bego, Ra! Apa lo pikir lo akan dibunuh sama mereka? Nggak! Lo akan dipekerjakan selamanya di sini. Jadi budak di rumah ini! Hidup lo hanya akan berakhir sia-sia!"
Aku menangkupkan kedua tangan di wajah. Tersedu bersama hujan yang semakin deras membasahi tubuh. Mengapa lagi lagi aku harus dihadapkan pada pilihan sulit? Bagaimana mungkin aku bisa pergi meninggalkan Mas Ken dalam keadaan yang begitu mengenaskan? Aku kembali menggeleng, lalu meletakkan telapak tangan di dada Rizky.
"Aku mohon, Rizky. Aku mohon tolongin Mas Ken. Aku gak mau Mas Ken mati. Aku mohon tolong Mas Ken."
Rizky mengusap wajah dan rambutnya secara kasar, dan kembali memegang bahuku lalu berkata, "Dengerin gue, Ra. Lo cuma punya dua pilihan saat ini. Masuk ke dalam dan jadi budak di rumah ini entah sampai kapan, atau lari dari sini dan bikin diri lo sukses. Lo balik ke sini lagi saat lo udah bisa bayar orang buat habisi orang-orang di rumah ini. Bikin diri lo sukses kalau mau bales dendam ke orang-orang yang membuat lo menderita!"
Ucapan Rizky membuatku bungkam seketika. Aku diam menatapnya untuk beberapa saat sebelum akhirnya lampu di rumah itu kembali menyala, dan teriakan-teriakan terdengar dari dalam.
"Kita lari sekarang, Ra! Naik ke punggung gue!" Tanpa basa-basi lagi, Rizky telah berjongkok. Membentak agar aku segera naik.
Entah apa yang membuatku akhirnya melepas sepatu dan mengangkat kaki ke pundaknya. Kedua tangan memegang tembok dan perlahan, Rizky berdiri.
"Buruan, Ra!" sentak Rizky saat terdengar suara dari beberapa orang di kejauhan.
Aku masih kesusahan menggapai ujung tembok. Ditambah licin karena air hujan, tapi suara orang-orang itu terdengar mendekat. Ujung tembok tergapai, kaki kanan kuangkat untuk naik. Rizky dengan cepat dan kasar mendorong kakiku.
Jantungku berdetak kencang sekali saat sampai di atas yang cukup tinggi. Rizky dengan gesit melompat naik. Tanpa aba-aba ia menarikku untuk terjun. Aku menjerit lalu memekik saat tubuh membentur tanah, tapi tangan Rizky melindungi kepalaku.
"Bangun, Ra!" Rizky membantuku berdiri. Suara para pesuruh itu terdengar di balik tembok. Dan Rizky segera lari ke pohon di ujung rumah. Motornya terparkir di sana. Bagaimana mungkin? Seperti sudah disiapkan untuk rencana kabur.
"Buruan, Ra!" Rizky membentak, agar aku segera naik ke motornya yang sudah menyala.
Para pesuruh itu telah melompati tembok, tapi Rizky sudah lebih dulu melajukan motornya dengan kencang. Aku memejamkan mata, memeluk tubuh Rizky sangat erat.
Rizky masih membawa motor dengan kecepatan tinggi di bawah derasnya hujan membelah jalanan yang sepi kendaraan.
Malam itu, aku telah memutuskan satu pilihan yang membuatku tersiksa batin setelahnya. Namun, dalam hati bersumpah akan membalas semua orang yang telah merenggut kebahagiaanku.
Suatu saat nanti, mereka akan merasakan sakit jauh lebih dari yang kurasakan. Sakitnya kehilangan dan sakitnya kehancuran.
Tunggu waktu itu tiba.
***
Done! Seperti yang kubilang sebelumnya. Bahwa cerita ini hanya akan saya share versi Haura kecil dan remaja. Untuk versi dewasa, hanya ada di novel. Agar yang beli novel puas, karena saat baca masih banyak part yang belum dibaca dalam versi share.
Novelnya tentu masih lama. Karena masih banyak sekali part yang belum ditulis. Tapi tenang aja, karena saat baca novelnya, kalian akan terpuaskan dengan naik turunnya jalan cerita. Adegan-adegan tak terduga. Segala misteri satu persatu terungkap. Diakhiri ending yang mengejutkan dan menguras air mata, tapi bahagia. Yups! Cerita ini akan berakhir happy ending, jadi tenang saja. Klimaks banget endingnya. Puas!
Yang mau novelnya, bisa list waiting di nomor 087881716912. Tapi yang gak bisa beli novelnya, tenang aja. Suatu saat nanti akan ada versi ebooknya kok.
Sedikit aku kasih spoiler versi Haura dewasa ....
"Hai, Kak? Apa kabar?" Aku menyambut ramah lelaki yang baru saja memasuki ruanganku.
Wajah lelaki itu menyiratkan keterkejutan, lalu bertanya, "Haura? Ngapain kamu di sini?"
"Menurutmu?" Aku tersenyum, berdiri dari kursi dan berjalan menghampiri.
"Tak kusangka kamu masih mengingatku, Kak." Kini aku berdiri persis di depannya. "Apa kamu juga masih mengingat tentang malam itu?"
"Haura ...." Lelaki itu menurunkan tanganku yang berada di dadanya. "Jangan mengada-ada!"
"Hm?" Aku menaikkan satu alis dan menyeringai tipis. "Apa kamu lupa, Kak? Ah, sayang sekali." Aku pura-pura menghela napas kecewa.
"Apa maumu?"
"Mengingatkanmu akan malam itu." Tanganku kembali menyentuh kemeja putih yang dikenakannya. "Kali ini kamu tidak perlu menutup mata dan mulutku atau mengikat tanganku, karena aku akan melakukannya dengan senang hati."
"Haura tolong!" Kali ini ia menepis tanganku sedikit kasar.
"Kenapa? Kamu tidak mau? Hei! Bukankah sekarang aku jauh lebih cantik?" Aku menyibakkan rambut panjangku ke belakang, lalu mulai membuka kancing bajuku bagian dada. "Tubuhku bahkan jauh lebih berisi daripada dulu, bukan? Kamu pasti akan jauh lebih menikmatinya."
"Stop, Haura!" Suaranya meninggi, menghentikan gerakanku yang baru melepas satu kancing. "Baiklah. Aku minta maaf atas kejadian malam itu. Tolong jangan menggodaku seperti ini. Bulan depan aku akan menikah."
Aku tertawa kecil. "Maaf? Aku akan memaafkan jika kamu bisa mengembalikan harga diri yang telah kamu renggut dulu itu. Bisa?"
Lelaki ini terdiam. Wajahnya jelas sekali menyiratkan kegugupan. Sesuatu yang justru membuatku puas.
"Kamu bilang apa tadi? Menikah?" Aku mendengkus kasar lalu mendekatkan wajah di telinganya. "Apa wanitamu tahu tentang kelakuanmu, Kak? Jika tidak, biarkan aku yang memberi tahu."
End.
Link lengkap
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=437496260460954&id=100026017519386
*
Belum sadar sepenuhnya apa yang sebenarnya terjadi, seseorang itu telah menarik tanganku. Berdiri dan berlari. Lari dalam kegelapan jelas tidak mudah. Tapi aku bisa merasakan seseorang itu membawaku keluar dari ruangan tersebut.
"Haura! Jangan lari kamu!" Tante Ambar berteriak, lalu memanggil pesuruhnya.
Seseorang itu terus menarik tanganku. Kencang sekali genggamannya. Aku sangat yakin bahwa dia sudah sangat hafal seluruh ruangan dan benda di rumah itu, karena selama berlari, dia tidak menabrak apa pun. Mulus sampai keluar rumah tapi bukan pintu depan.
Hujan deras tengah mengguyur bumi. Guntur berkilatan, memperlihatkan punggung seseorang itu. Basah di tubuh tak dihiraukan, dia tetap menggenggam tanganku untuk terus berlari bersamanya.
Langkah terhenti ketika sampai di pagar yang cukup tinggi. Entah ini di samping atau belakang rumah. Aku belum pernah melihatnya.
"Lo naik ke pundak gue sekarang!" perintahnya.
Aku menggeleng. "Mas Ken, Ky. Mas Ken masih ada di dalam."
"Percuma, Ra. Abang lo udah gak mungkin selamat!"
"Makanya tolongin Mas Ken, Ky. Mas Ken masih hidup." Aku mengusap wajah yang basah karena hujan dan air mata.
"Gue gak bisa nolongin Abang lo, Ra. Gue cuma bisa nolongin lo sekarang ini. Kita kabur dari rumah ini. Buruan!"
Aku menggeleng lebih kencang. Terisak-isak dan menangkupkan kedua tangan di depan dada. "Aku mohon, Ky. Aku mohon tolongin Mas Ken."
Rizky memegang bahuku. "Gue gak bisa nolongin abang lo, Ra. Di dalem ada banyak banget tukang pukul. Sejago-jagonya gue berantem, gue gak mungkin bisa ngelawan mereka sendirian. Jadi kita harus buruan kabur, kalau gak mau ketangkep sama mereka."
"Nggak!" Aku menyingkirkan kedua tangan Rizky. "Aku gak akan pergi dari sini tanpa Mas Ken!"
"Terus lo mau apa? Masuk ke dalem lagi? Jangan bego! Lo masuk ke dalem lagi, sama aja bunuh diri!"
"Aku gak peduli! Kalau Mas Ken mati, aku juga harus mati!"
"Lo jadi orang jangan bego, Ra! Apa lo pikir lo akan dibunuh sama mereka? Nggak! Lo akan dipekerjakan selamanya di sini. Jadi budak di rumah ini! Hidup lo hanya akan berakhir sia-sia!"
Aku menangkupkan kedua tangan di wajah. Tersedu bersama hujan yang semakin deras membasahi tubuh. Mengapa lagi lagi aku harus dihadapkan pada pilihan sulit? Bagaimana mungkin aku bisa pergi meninggalkan Mas Ken dalam keadaan yang begitu mengenaskan? Aku kembali menggeleng, lalu meletakkan telapak tangan di dada Rizky.
"Aku mohon, Rizky. Aku mohon tolongin Mas Ken. Aku gak mau Mas Ken mati. Aku mohon tolong Mas Ken."
Rizky mengusap wajah dan rambutnya secara kasar, dan kembali memegang bahuku lalu berkata, "Dengerin gue, Ra. Lo cuma punya dua pilihan saat ini. Masuk ke dalam dan jadi budak di rumah ini entah sampai kapan, atau lari dari sini dan bikin diri lo sukses. Lo balik ke sini lagi saat lo udah bisa bayar orang buat habisi orang-orang di rumah ini. Bikin diri lo sukses kalau mau bales dendam ke orang-orang yang membuat lo menderita!"
Ucapan Rizky membuatku bungkam seketika. Aku diam menatapnya untuk beberapa saat sebelum akhirnya lampu di rumah itu kembali menyala, dan teriakan-teriakan terdengar dari dalam.
"Kita lari sekarang, Ra! Naik ke punggung gue!" Tanpa basa-basi lagi, Rizky telah berjongkok. Membentak agar aku segera naik.
Entah apa yang membuatku akhirnya melepas sepatu dan mengangkat kaki ke pundaknya. Kedua tangan memegang tembok dan perlahan, Rizky berdiri.
"Buruan, Ra!" sentak Rizky saat terdengar suara dari beberapa orang di kejauhan.
Aku masih kesusahan menggapai ujung tembok. Ditambah licin karena air hujan, tapi suara orang-orang itu terdengar mendekat. Ujung tembok tergapai, kaki kanan kuangkat untuk naik. Rizky dengan cepat dan kasar mendorong kakiku.
Jantungku berdetak kencang sekali saat sampai di atas yang cukup tinggi. Rizky dengan gesit melompat naik. Tanpa aba-aba ia menarikku untuk terjun. Aku menjerit lalu memekik saat tubuh membentur tanah, tapi tangan Rizky melindungi kepalaku.
"Bangun, Ra!" Rizky membantuku berdiri. Suara para pesuruh itu terdengar di balik tembok. Dan Rizky segera lari ke pohon di ujung rumah. Motornya terparkir di sana. Bagaimana mungkin? Seperti sudah disiapkan untuk rencana kabur.
"Buruan, Ra!" Rizky membentak, agar aku segera naik ke motornya yang sudah menyala.
Para pesuruh itu telah melompati tembok, tapi Rizky sudah lebih dulu melajukan motornya dengan kencang. Aku memejamkan mata, memeluk tubuh Rizky sangat erat.
Rizky masih membawa motor dengan kecepatan tinggi di bawah derasnya hujan membelah jalanan yang sepi kendaraan.
Malam itu, aku telah memutuskan satu pilihan yang membuatku tersiksa batin setelahnya. Namun, dalam hati bersumpah akan membalas semua orang yang telah merenggut kebahagiaanku.
Suatu saat nanti, mereka akan merasakan sakit jauh lebih dari yang kurasakan. Sakitnya kehilangan dan sakitnya kehancuran.
Tunggu waktu itu tiba.
***
Done! Seperti yang kubilang sebelumnya. Bahwa cerita ini hanya akan saya share versi Haura kecil dan remaja. Untuk versi dewasa, hanya ada di novel. Agar yang beli novel puas, karena saat baca masih banyak part yang belum dibaca dalam versi share.
Novelnya tentu masih lama. Karena masih banyak sekali part yang belum ditulis. Tapi tenang aja, karena saat baca novelnya, kalian akan terpuaskan dengan naik turunnya jalan cerita. Adegan-adegan tak terduga. Segala misteri satu persatu terungkap. Diakhiri ending yang mengejutkan dan menguras air mata, tapi bahagia. Yups! Cerita ini akan berakhir happy ending, jadi tenang saja. Klimaks banget endingnya. Puas!
Yang mau novelnya, bisa list waiting di nomor 087881716912. Tapi yang gak bisa beli novelnya, tenang aja. Suatu saat nanti akan ada versi ebooknya kok.
Sedikit aku kasih spoiler versi Haura dewasa ....
"Hai, Kak? Apa kabar?" Aku menyambut ramah lelaki yang baru saja memasuki ruanganku.
Wajah lelaki itu menyiratkan keterkejutan, lalu bertanya, "Haura? Ngapain kamu di sini?"
"Menurutmu?" Aku tersenyum, berdiri dari kursi dan berjalan menghampiri.
"Tak kusangka kamu masih mengingatku, Kak." Kini aku berdiri persis di depannya. "Apa kamu juga masih mengingat tentang malam itu?"
"Haura ...." Lelaki itu menurunkan tanganku yang berada di dadanya. "Jangan mengada-ada!"
"Hm?" Aku menaikkan satu alis dan menyeringai tipis. "Apa kamu lupa, Kak? Ah, sayang sekali." Aku pura-pura menghela napas kecewa.
"Apa maumu?"
"Mengingatkanmu akan malam itu." Tanganku kembali menyentuh kemeja putih yang dikenakannya. "Kali ini kamu tidak perlu menutup mata dan mulutku atau mengikat tanganku, karena aku akan melakukannya dengan senang hati."
"Haura tolong!" Kali ini ia menepis tanganku sedikit kasar.
"Kenapa? Kamu tidak mau? Hei! Bukankah sekarang aku jauh lebih cantik?" Aku menyibakkan rambut panjangku ke belakang, lalu mulai membuka kancing bajuku bagian dada. "Tubuhku bahkan jauh lebih berisi daripada dulu, bukan? Kamu pasti akan jauh lebih menikmatinya."
"Stop, Haura!" Suaranya meninggi, menghentikan gerakanku yang baru melepas satu kancing. "Baiklah. Aku minta maaf atas kejadian malam itu. Tolong jangan menggodaku seperti ini. Bulan depan aku akan menikah."
Aku tertawa kecil. "Maaf? Aku akan memaafkan jika kamu bisa mengembalikan harga diri yang telah kamu renggut dulu itu. Bisa?"
Lelaki ini terdiam. Wajahnya jelas sekali menyiratkan kegugupan. Sesuatu yang justru membuatku puas.
"Kamu bilang apa tadi? Menikah?" Aku mendengkus kasar lalu mendekatkan wajah di telinganya. "Apa wanitamu tahu tentang kelakuanmu, Kak? Jika tidak, biarkan aku yang memberi tahu."
End.
Link lengkap
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=437496260460954&id=100026017519386
Tidak ada komentar:
Posting Komentar