Persaudaraan Muslimah Indonesia, mempelajari Islam Secara Menyeluruh.

Sabtu, 15 Februari 2020

Pengantin Bayaran Sang CEO 1 - 5

#Pengantin_Bayaran_Sang_CEO
#Prolog by Nev Nov

Merasa sepi di keramaian. Merasa sendiri saat banyak orang di sekeliling. Dengan gaun indah pada wanita dan jas mewah para pria, bukankah terlihat seperti pesta dalam film romantis? Entah kenapa Jojo merasa diri begitu merana.
Musik mengalun lembut dari penyanyi wanita bersuara serak di atas panggung kecil, ditimpa dengan denting peralatan makan dan riuh obrolan. Jojo menyesap minuman di tangan, memandang sekitar dengan bosan. Rasanya, bukan kali ini saja dia merasa tersisih.

Dari tempat duduknya, tanpa sadar menatap pada Max Vendros. Laki-laki tinggi, tampan dan kaya, yang sudah tiga bulan ini menjadi suaminya. Mereka berbagi rumah tapi terasa asing satu sama lain. Terlihat olehnya, seorang wanita amat cantik yang dia kenali bernama Violet, menempel ketat pada Max. Hati Jojo makin ketar-ketir dibuatnya.
Sepertinya semua tahu jika dia hanya istri pura-pura. Untuk apa merasa lara? Bukankah penikahan adalah kesepakatan untuk hutang-piutang?
Merasa dada sesak, Jojo bangkit dari kursi dan melangkah menuju teras. Meninggalkan keramaian di belakangnya. Malam ini gaun pesta kuning madu yang menonjolkan kulit putihnya sama sekali tidak mampu menghibur gulana hati. Dia berdiri di pagar teras dan menatap langit hitam tak berbintang.
“Cinta itu apa, Tuan? Kenapa bisa membuat bimbang? Hati remuk redam dan aku merana serasa tak berjiwa. Beritahu aku, Tuan? Apakah memang cinta begitu menyakitkan?” Tanpa sadar Jojo berbisik pada langit malam.
“Bicara sendiri, Jojo?”
Teguran suara bariton di belakangnya membuat Jojo terlonjak. Dia menoleh dan melihat Max berjalan pelan menghampiri. Tanpa sadar dia mengelus dada, merasa jantung berdebar karena teguran suaminya yang tiba-tiba.
“Aku sedang bertanya pada bintang tentang cinta,” jawab Jojo pelan. Kembali mengalihkan pandangan pada langit malam.
“Lalu? Apa jawabnya?” tanya Max sambil memandang istrinya dengan ekpresi ingin tahu. Sementara satu tangan merogoh saku celana.
“Tidak ada, cinta itu angan-angan.”
“Ehm … begitukah? Mungkin memang waktunya kamu bangun dan berhenti mimpi tentang cinta, Jojo.”
Keduanya terdiam, aroma tembakau menguar di udara. Max asyik dengan rokok dan Jojo tanpa sadar menggeser tubuhnya mendekat pada sang suami. Entah kenapa dia ingin menyandarkan kepala di bahu kokoh milik laki-laki yang tiga bulan ini selalu bersamanya. Diam tanpa kata, dengan musik terdengar pelan di belakang mereka
Seorang wanita cantik dengan gaun ungu lembut memandang mereka dari balik pintu dengan penuh dendam lalu menghilang di keramaian.

 ---------

#Pengantin_Bayaran_Sang_CEO
#Part_1
CEO's Bride.

Vendros Impersia.Tbk adalah perusahaan kontraktor yang bonafit di Indonesia. Saat ini mereka sedang membangun apartemen lima gedung dengan masing-masing terdiri atas dua puluh lima lantai yang diberi nama “The Green Palace”.
Jovanka yang akrab dipanggil Jojo adalah salah satu pegawai administrasi di kantor pemasaran cabang Jakarta Utara. Dikenal periang dan ringan tangan, Jovanka tidak segan melakukan apa pun pekerjaan yang membutuhkan keahliannya.

Seperti hari ini, lampu di kantornya ada yang mati. Tidak bisa memanggil teknisi karena di luar hujan turun dengan deras. Sementara pegawai laki-laki yang ada di kantornya, terlampau sibuk dengan urusan masing-masing. Mana mau tahu mereka dengan lorong yang gelap sedangkan target penjualan sudah di depan mata. Bagi para sales memenuhi target lebih penting dari urusan lampu mati. Memang tidak mudah menjadi sales marketing apartemen. Jovanka sering kali memperhatikan para sales yang memijat pelipis atau menyumpah-nyumpah karena tekanan. Terlebih jika sudah mencapai penghujung bulan dan laporan sudah menanti untuk diserahkan pada Pak Maulana, sales manager mereka.
“Gimana ini, Jo?” Irma, teman sekerja bertanya dengan cemas. Kepalanya terangkat, memandang lampu mati di atasnya. “Sebentar lagi big boss datang dan kalau lihat lorong gelap begini dia akan marah.”
Jovanka memandang lampu di atas kepalanya. Mengira-ngira jarak lampu dan lantai. Dia akan berusaha memperbaiki aliran jika tidak ingin big boss marah. Lagipula dia hanya akunting biasa, tidak terlalu pusing dengan urusan penjualan. Melakukan sedikit perbaikan tidak akan menyita waktunya.
“Ada tangga di gudang?” tanyanya pada Irma.
“Ada, Pak Yanto biasa pakai. Sayangnya hari ini dia nggak kerja.”
Pak Yanto adalah OB di kantor mereka. Biasanya dia yang akan memeriksa instalasi kantor dan memanggil teknisi jika ada yang salah.
“Ambil, aku yang kerjain.”
“Hah! Yakin?”
“Buruan, sana!” perintah Jojo pada Irma.

Sementara temannya pergi mengambil tangga, Jovanka menyisingkan lengan baju dan pergi ke dapur. Memeriksa bagian bawah wastafel dan menemukan kotak peralatan di sana. Membawanya ke tempat di mana lampu mati.
Irma datang membawa tangga dengan sedikit kesusahan. Tangga aluminum yang tidak terlalu berat. Mereka meletakkan tangga tepat di bawah lampu dan Jovanka mulai naik setelah saklar dimatikan. Beruntung hari ini dia memakai celana panjang.
“Irma, ini sih karena bohlamnya yang mati,” teriak Jovanka dari atas tangga. Sementara Irma mengawasinya dari bawah.
“Aku copot dulu, kamu ambil bohlam yang baru di dapur. Di bawah westafel.”
Irma menyahut “iya” lalu bergegas pergi. Sementara Jovanka berdiri menunggunya di tangga. Tidak memperhatikan serombongan laki-laki yang berjalan dari lobi ke arah kantor.
Seorang laki-laki tampan mengenakan jas biru yang berjalan paling depan dengan tas hitam di tangan, menghentikan langkah saat melihat ada tangga lipat di terbentang di tengah jalan. Gemuruh hujan menyamarkan suara langkahnya. Tiga orang laki-laki lain yang mendampinginya terlihat kebingungan melihatnya terdiam di bawah tangga.
Mulutnya terbuka ingin mengatakan sesuatu tatkala memandang Jovanka yang sekarang berdiri santai di anak tangga dengan wajah menghadap jendela kaca dan asyik memperhatikan curah hujan yang turun deras.
Irma datang tergopoh-gopoh lalu berhenti seketika saat melihat sosok yang berdiri di bawah tangga.
Lelaki berjas biru mengulurkan tangan, meminta tanpa kata bohlam di tangan Irma. Memberi tanda agar Irma memanggil Jovanka.

Irma menelan ludah lalu bicara dengan gugup. “Jojo, i-ini lampunya!”
“Lama amat, kamu naik atau aku turun.” Jovanka menunduk dan seketika wajahnya terperangah saat melihat ada banyak orang di bawahnya.
“Mr. Max,” desisnya kaget.
“Jangan turun.” Suara bariton dari laki-laki berjas biru terdengar tenang. “Ini bohlamnya.” Dia mengulurkan lampu ke arah Jovanka.
Gadis di atas tangga meringis malu. Dia turun dua anak tangga untuk mengambil bohlam dan memberikan yang sudah rusak pada laki-laki yang bernama Max. Setelah berkutat satu menit memasang, dia berteriak pada Irma.
“Irma, nyalakan saklar.”
Tidak lama lampu kembali menyala terang. Jovanka mulai turun perlahan, di tangga paling bawah dia agak kesulitan menginjakkan kaki di lantai karena terhalang sosok laki-laki berjas biru.
“Maaf, Sir. Mau turun,” ucapnya malu-malu.

Max bergeser lalu mengulurkan tangan pada Jovanka membuat mata gadis berkulit putih dengan wajah chubby terbelalak kaget. Mau tak mau dia menerima uluran tangan laki-laki di depannya. Lalu menunduk begitu menyentuh lantai.
“Namamu siapa?”
Jovanka mendongak saat mendengar pertanyaan yang ditujukan padanya.
“Jovanka, dipanggil Jojo.”
“Apa kamu OB di kantor ini?”
Jovanka menggeleng. “Bukan Sir, aku bagian administrasi.”
“Lalu kenapa kamu yang memasang lampu?”
“Karena yang lain sedang sibuk,” jawab Jovanka sambil tersenyum malu.
Max mengangguk sekilas lalu melanjutkan kembali perjalanannya menuju kantor yang berada di bagian belakang. Setelah sosoknya menghilang di balik kelokan, Irma merapat pada sahabatnya dan menjerit kecil.

“Aaaah, gantengnya big boss kita. Aah, aku meleleh,” pekik Irma sambil menangkup wajahnya.
Jovanka mendengkus sebal, melihat tingkah Irma. Memang harus diakui jika bis bos mereka yang biasa disapa Mr.Max adalah laki-laki paling tampan yang pernah dilihatnya. Dengan rahang kuat, sepasang alis lebat dan jambang tipis di sekitar dagu. Bahkan jika diperhatikan baik-baik, sepertinya bola mata Mr.Max berwarna hitam kebiruan. Tidak aneh memang, karena menurut desas-desus, ibu Mr. Max adalah wanita berkebangsaan asing.
Sayangnya, di hati Jovanka hanya ada Mahendra seorang. Laki-laki yang sudah dua tahun ini menjalin hubungan dengannya. Jika tidak ada aral melintang, mereka akan menikah tiga bulan mendatang.
Sore itu terjadi kegemparan di kantor cabang, Vendros Impersia.Tbk saat sang CEO mengamuk pada para lelaki yang dia anggap tidak tahu diri. Tidak ada yang berani menyahut, para sales dan staf yang berjumlah sepuluh orang hanya menunduk pasrah. Dalam hati mereka mengeluh, hanya karena lampu mati terkena damprat sang big boss.

****
Jam pulang kerja yang macet ditambah oleh jalanan yang tergenang air tidak menyurutkan semangat Jovanka. Dia mengendarai motor dengan lincah, menyelap-nyelip di antara banyaknya kendaraan yang parkir di jalanan. Suara klakson berbaur dengan makian pengendara menjadi lagu lama yang biasa dia dengar saat hujan. Hidungnya mengernyit saat melewati selokan yang meluber dan menguarkan bau anyir, ditambah oleh sampah yang berserak, membuatnya bergidik.
Hatinya berdendang, mengingat tentang arloji yang dia beli untuk sang kekasih via online. Diantar kurir langsung ke kantornya dan dia berharap akan menjadi kejutan bagi Mahendra.

Kakinya melangkah cepat melewati deretan toko elektronik di sepanjang lorong gedung lantai dasar. Mahendra membuka toko handphone dan suku cadang di sini. Bisa dibilang, penghasilan tunangannya sangat jauh jika dibandingkan dirinya yang hanya pegawai administrasi. Sampai sekarang dia tidak habis mengerti, bagaimana seorang anak juragan tanah yang kaya raya macam Mahendra bisa mencintainya.
“Kita akan menikah, Jo. Segera setelah pembukaan toko ke dua selesai.” Malam itu Mahendra melamarnya.
Seminggu kemudian diadakan lamaran antar keluarga dan telah mencapai kesepakatan tanggal dan hari pernikahan. Jovanka memandang gembira cincin yang melingkar di jari manisnya.
Tiba di ujung lorong, langkah Jovanka terhenti. Mengucek mata seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Di toko nomor lima belas yang merupakan milik tunangannya, dia melihat Mahendra sedang bersama seorang wanita muda. Bukan itu yang membuat dirinya bingung tapi tangan Mahendra yang sedang mengelus perut perempuan di sampingnya membuat Jovanka murka.
“Hendra!”
Mahendra terlonjak kaget, matanya melotot memandang Jovanka yang berderap ke arahnya.
“Siapa dia? Apa yang kamu lakukan?” tanya Jojo dengan menunjuk langsung pada wanita di sebelah Mahendra yang terlihat tenang.

“Hai, Sayang,” sapa Mahendra dengan senyum tipis. Mengalihkan pandangan dari Jovanka ke wanita di sebelahnya. “Bisakah kamu tenang dulu? Aku mau menjelaskan sesuatu. Tumben sekali kamu pulang kerja datang kemari?”
“To the poin aja, sih, Yang?” sela si wanita tak dikenal sambil mengibaskan rambut panjangnya ke belakang.
Mata Jovanka menyipit curiga. “Yang? Itu panggilan, Sayang?” tanyanya bingung.
“Tentu saja, gadis bodoh,” cela si wanita di samping Mahendra.
Jovanka melotot, si wanita tak dikenal tak mau kalah. Ikut melotot.
“Tenang, biar aku jelaskan dulu.” Mahendra berdiri di antara ke dua wanita yang bersikap penuh permusuhan.
Dia berdiri menghadap tunanganya dan memegang bahu wanita yang terlihat ingin mengamuk. “Jovanka, kenalkan ini, Lisa. Istriku.”
“Tunggu, apa tadi?” tanya Jovanka tak yakin dengan apa yang didengarnya.
“Kamu nggak salah dengar, Jo. Dia istriku dan kami menikah secara agama bulan lalu,” terang Mahendra pelan.
Jovanka terkesiap, tanpa sadar mundur selangkah. Memandang Mahendra, laki-laki yang selama ini menjadi tunangannya dengan nanar. Mulutnya menganga seperti ingin meneriakkan penyangkalan.
“Kenapa? Ada apa ini?” gagap Jovanka tak mengerti.
Mahendra meringis, wajahnya menunjukkan rasa bersalah. Ibarat maling yang tertangkap tangan. Dia melirik Lisa sekejap dan kembali memandang Jovanka yang terpana.
“Sebelum kamu menduga yang tidak-tidak, perlu aku luruskan lebih dulu. Orang tuaku sudah tahu kalau aku menikah dan baik orang tua mau pun Lisa setuju kalau kamu jadi istri kedua.”
Jojo memejamkan mata, menahan air mata di pulupuk. Ucapan Mahendra bagaikan petir menyambar di siang bolong. Hatinya tersayat, berharap benar jika ini hanya mimpi. Dia juga berharap Mahendra sedang melakukan “April Mop” padanya. Kemudian dia sadar, jika sekarang bukan bulan April.
“Katakan sekali lagi, istri kedua?” ucapnya dengan mata memandang Mahendra tak berkedip.
“Iya, Jojo. Please, aku akan berlaku adil pada kalian berdua?”
“Kenapa masih bersamaku jika kamu memilihnya?” tunjuk Jovanka pada Lisa yang sekarang bergelayut pada bahu Mahendra.

“Lisa baik, tidak egois,” jawab Mahendra dengan tangan mengelus wajah Lisa, “dia tahu aku mencintaimu.”
“Cinta katamu? Cinta apa yang terbagi!” teriak Jovanka tanpa sadar.
Tangannya menunjuk pada Lisa. “Lalu kamu, kenapa kamu bersikap seperti ini. Mau direndahkan begitu saja? Dimadu?” tanyanya.
Lisa mengangkat bahu, tersenyum kecil. “Bagiku, yang penting Mahendra adil. Dia akan memberikan masing-masing satu rumah bagi kita. Membagi waktu berkunjung dengan adil dan orang tua-nya pun setuju. Demi cinta,” desah Lisa sambil mengecup kecil pipi Mahendra.
Muak!
Jovanka merasa sangat muak hingga ingin muntah sekarang. Menatap tak percaya pada pasangan yang dia anggap gila di depannya. Hatinya serasa terbakar, tercabik antara cemburu dan dikhianati.
Oh Tuhan, apa salahnya? Hingga terjadi seperti ini? Jovanka meratap dalam hati.
“Jojo, jangan nangis. Ayolah, ini tidak seburuk yang kamu sangka.” Ucapan Mahendra terdengar jauh di dalam kepalanya.
Jovanka membuka mata. Tangannya menyelusup masuk ke dalam tas dan mengeluarkan alat yang selama ini dia simpan di sana. Melangkah perlahan dia mendekati Mahendra. Laki-laki tampan dengan rambut yang dicat merah di bagian depan menatapnya sambil tersenyum.
Jovanka membalas senyumnya, tinggal selangkah dia mengulurkan tangan. Menuju langsung ke perut Mahendra dan menyalakan alat kejut.
“Aaah!” Mahendra berteriak lalu ambruk ke lantai kesakitan.

“Sayang, kamu kenapa?” Lisa berjongkok. Memandang suaminya yang kesakitan lalu mendongak dan memaki Jovanka yang berdiri dengan alat kejut di tangannya.
“Dasar, perempuan gila!”
“Kamu pikir kamu hebat, Mahendra? Mau menjadikan aku istri kedua? Sudah bagus tak kucincang tubuhmu!” teriak Jovanka dengan tangan teracung. Tidak memedulikan makian Lisa.
“Sok kecakepan!” maki Lisa sekali lagi dan wajahnya mengkerut saat Jovanka mengacungkan alat kejut di depannya.
“Terserah kalian mau bilang apa soal aku,” ucap Jovanka dengan suara tersendat. “ada harga diri yang aku ingin selamatkan di sini. Bukan perihal istri pertama atau kedua tapi dikhianati dan sekarang … kalian menyuruhku menerimanya gitu aja? Mimpi!”
Dia berbalik, tidak memedulikan orang-orang di sekitar yang ramai memperhatikan mereka. Langkahnya terhenti saat mendengar teriakan dari belakang..
“Jovanka, kamu pikir bisa lari dari kenyataan ini? Lari dari aku?”
Jovanka menoleh. “Maksudmu apa?” tanyanya pada Mahendra.
Tunangannya yang kini telah menjadi suami orang, berdiri dengan wajah meringis kesakitan . “Uang mahar pernikahan sudah kuberikan pada orang tuamu. Pasti sudah habis sekarang. Mau nggak mau, kau harus menikah denganku. Kecuali kamu punya uang untuk mengembalikan.”
“Apaaaa?”

Mahendra memasang kuda-kuda, takut dengan alat kejut di tangan Jovanka. Sementara Lisa pun terlihat enggan dan panik.
“Tanya saja pada orang tuamu, pergi kemana tiga ratus juta untuk mereka.”
Tekanan darah naik, tubuh menggigil dan rasa ingin memakan orang. Perasaan Jovanka yang tidak karuan perlu pelampiasan. Mahendra, uang mahar, orang tuanya, semua membuat dia kesal. Dia perlu pulang untuk menjernihkan masalah.
Membalikkan tubuh dia setengah berlari ke luar dari lorong pertokoan. Terkadang tanpa sengaja dia nyaris menubruk orang yang berpapasan dengannya. Hati hancur, lara merana, Jovanka termangu dengan air mata mengucur di pipi. Bersama malam yang berselimut dingin, jiwanya pun membeku.

****


#Pengantin_Bayaran_Sang_CEO
#Part_2
#CEO's Bride

Pemandangan sebuah kantor yang megah dan luas, dengan dinding berwarna krem lembut dan karpet tebal berwarna senada menutupi lantai. Ada sofa hitam di sisi dinding dengan meja kayu pendek. Sementara meja tinggi bulat yang terlihat kokoh dengan kursi hitam berada di dekat pintu masuk. Lemari kaca besar terpasang di belakang meja. Sang pemilik ruangan, Max, berdiri menghadap jendela dengan kerai terbuka. Menampakkan pemandangan luar gedung yang samar-samar.
Sudah seminggu ini dia merasa gundah. Ada banyak hal yang dia pikirkan selain pekerjaan. Keluarga dan urusan pribadi membuat konsentrasinya terbagi. Kegalauan membuatnya tanpa sadar sering mengulurkan tangan untuk menyugar rambut. Dia hanya menoleh sekilas saat handphone bergetar di atas meja.
Terdengar ketukan di pintu, tak lama muncul sesosok laki-laki berpenampilan luar bisa keren. Berjas putih dengan celana putih dan anting kecil terselip di telinga kiri. Tampan dengan dagu licin dan wajah bersih, nyaris terlihat seperti perempuan dengan rambutnya yang dicat pirang madu.
“Hai-hai, Max, daydreaming?” sapanya dengan senyum tersungging. Lengannya menangkup setumpuk dokumen dan meletakkan di atas meja.
“Ada apa?” tanya Max dengan enggan.

Laki-laki berjas putih hanya mengangkat bahu. “Your Dad asked me to give this. Just look at it.”
Max melangkah ke arah meja dan meraih dokumen yang berisi foto-foto seorang wanita dalam berbagai pose. Cantik meski terlihat sangat kurus. Foto yang terakhir diambil saat sang wanita sedang berada di sebuah restoran, posisi yang pas saat pengambilan gambar menonjolkan wajah cantiknya.
“Her name is Amarisa, satu-satunya anak perempuan dari keluarga milyader penghasil rokok nomor lima terbesar di Indonesia,” terang laki-laki berbaju putih. “Dan, dia melihat wajahmu saat tak sengaja tertangkap kamera wartawan di acara ulang tahun sang artis, Violet. Lalu, keluarganya mengajukan semacam proposal untuk pernikahan kalian berdua.”
Max menghela napas dan membuang kasar. Kekesalan jelas terlihat di wajah tampan dengan rahang kuat.

“Steve, kamu jelas tahu posisiku. Kenapa tidak bantu aku bilang pada Papa?” ucapnya pelan sambil meletakkan foto kembali ke atas meja.
“You knew i can’t, karena bagaimana pun posisi mereka lebih kuat dari kita.” Dengan senyum prihatin, Steve menepuk bahu Max sebelum melangkah menuju pintu. “Oh ya, pertunangan di hotel Berlian, dua minggu dari sekarang. Aku sudah siapkan undangan.”
“Kenapa tidak kau siapkan sekalian kostumku?” sergah Max kasar.
Steve tersenyum. “Demi Violet, Brother. Lakukan saja.”
Max tidak menjawab. Kembali melangkah menuju jendela setelah sebelumnya menyambar rokok dari atas meja. Gumpalan asap mengurung wajahnya. Sudah pukul sembilan malam dan dia tidak ingin pulang. Dia akan mencari jalan keluar agar bisa lepas dari pertunangan yang tidak dia inginkan. Sang papa dan ego untuk mengatur hidupnya sudah melebihi batas. Dia akan bertindak. Satu sisi dia sedih karena satu-satunya wanita yang dia inginkan justru tidak ingin bersama dengannya.

****
Kemarahan menggelegak dalam diri Jovanka. Layaknya api membara dalam sekam, dia ingin menghanguskan bangunan dengan rasa marah. Setelah memarkir motor di teras rumah mereka yang mungil, tanpa mencopot helm, dia setengah berlari menuju ruang tengah. Yakin jika papa dan mamanya akan ada di sana.
Benar dugaannya, sang mama sedang asyik menonton TV dengan sang papa yang sibuk mengotak-atik handphone. Keduanya terkejut dengan kedatangan Jovanka yang masuk tanpa salam.
“Jo, sudah pulang? Tumben nggak mengucap salam?” tegur sang mama.
Tanpa basa-basi Jovanka mengambil remote dari atas meja dan mematikan TV. Kelakuannya membuat kedua orang tuanya melongo.
“Apa-apaan kamu, Jo?” Bu Ningrum menegur sikap anaknya yang tidak sopan.
“Ma, apa benar kalian sudah menerima uang mahar dari Mahendra?” tanya Jovanka terus terang. Membuat kedua orang tuanya berpandangan bingung.
“Ayo, Pa. Jawab! Apa benar? Dan berapa jumlahnya.”

Pak Rahman meletakkan handphone di atas meja sebelum menjawab. “Kami tidak pernah merasa itu uang mahar pernikahan kalian. Papa meminjam dari Mahendra karena kami terdesak, Jo. Rumah ini adalah rumah warisan dan Tante-mu menginginkan pembagian secara adil. Karena Papa tidak ingin kita hidup menggelandang maka berusaha mencari cara untuk membayar uang warisan Tantemu.”
“Dengan uang dari Mahendra, betul begitu?” desak Jovanka.
Pak Rahman mengangguk. “Terpaksa, dan saat itu hanya Mahendra yang bisa membantu kita.”
“Berapa?”
“Jo, ada apa ini? Mahendra calon suamimu. Lagi pula kalau memang itu uang mahar yang dia berikan untuk kamu, apa masalahnya?” sela Bu Ningrum.
Jovanka menghela napas, menarik lepas helm yang menutup kepalanya dan memandang orang tuanya tajam.
“Berapa jumlahnya, Pa?”

“Tiga ratus juta,” jawab Pak Rahman pelan.
Jovanka terkesiap di tempatnya berdiri. Berita yang baru saja dia dengar membuat dunianya seakan jungkir balik dan tidak berputar lagi pada porosnya. Siang hari dia masih merencanakan pernikahan di kepala. Bahkan berpikir untuk mulai mencari jasa catering dan perias pengantin di akhir minggu. Siapa sangka, kini nasib seperti mempermainkannya.
“Bagaimana jika aku ingin membatalkan pernikahan dengan Mahendra?” tanya Jovanka lamat-lamat.
“Itu tidak mungkin, Jo. Dapat uang dari mana kita untuk mengembalikan tiga ratus juta,” jerit Bu Ningrum. “Lagi pula, ada apa sampai kamu tidak ingin menikah dengan Mahendra?”
Jovanka memijat kepalanya yang mendadak migrain. Berdenyut-denyut menyakitkan.
“Mahendra sudah punya istri, Jojo juga baru tahu.”
“APA?!” Kedua orang tuanya berteriak bersamaan.
“Bagaimana mungkin?” ucap Bu Ningrum bingung. Berpandangan dengan suaminya.
“Mereka sudah mengakui, pernikahan secara agama terjadi bulan lalu. Sekarang istrinya sedang hamil muda. Dan meminta Jojo menjadi istri kedua,” tutur Jovanka dengan kegetiran yang tidak dapat ditutupi.

“Jojo, Sayang. Maafkan kami.” Bu Ningrum bangkit dari kursi dan memeluk anak perempuannya yang terlihat terluka dan lelah.
“Sekarang yang Papa tanya, kamu masih mau menikah dengan Mahendra atau tidak?” tanya Pak Rahman.
Jojo memandang sang papa dan menggeleng. “Tidak, Pa."
“Kalau begitu, kita akan menjual rumah ini dan mengembalikan uang pada Mahendra.”
“TIDAK!”
Jojo berteriak, meloncat ke arah kursi dan duduk di samping Papanya. “Kalau rumah ini dijual kita mau tinggal di mana? Bagaimana dengan kuliah Agra, dia juga masih butuh biaya.”
“Lalu, dapat uang dari mana kita, Jo?” keluh Bu Ningrum dengan air mata di ujung pelupuk. “Mama nggak tega lihat kamu dipermainkan dan direndahkan harga diri oleh Mahendra.”
Malam itu, Jovanka tidak dapat memicingkan mata. Perasaan sungguh gundah. Rasa sakit menggerogoti tidak hanya hati tapi juga jiwanya. Laki-laki yang selama dua tahun dia cintai, dalam sekejap menghancurkan tidak hanya hati tapi juga mimpi.
Jika mengikuti egois, ingin rasanya menerima permintaan orang tuanya agar rumah dijual dan bisa mengembalikan hutang pada Mahendra. Lalu, kehidupan mereka selanjutnya akan berada di jalanan. Apalagi ada seorang adik yang masih kuliah dan membutuhkan biaya. Apa dia setega itu?
Dia menatap cincin emas di jari manisnya, mengecup perlahan lalu mencopot dan meletakkannya di dalam laci. Ada jam tangan dalam kotak hitam berikut foto dia berdua Mahendra dalam pigura emas, tergeletak menemani cincin.
Di penghujung pagi, air mata Jovanka nyaris terkuras habis.

***
“Jo, ada berita heboh!” teriak Irma saat Jovanka baru saja memarkirkan motor di halaman kantor.
“Ada apa?” tanyanya sambil melepas helm. Hari ini dia memakai setelan biru berupa blus dan rok selutut. Pakaian yang dia kenakan makin menonjolkan tubuhnya yang berlekuk. Banyak yang mengatakan jika Jovanka memiliki tubuh yang sintal.
“Wew, napa kamu? Muka bengkak gitu?” Irma memandang temannya dengan kaget.
“Nangis,” jawabnya singkat.
“Kenapa? Ada masalah apa?”
“Ntar aku cerita, sekarang kasih tahu aku, ada berita heboh apa di kantor?”
Mereka berjalan beriringan memasuki lobi luas dengan dinding kaca. Di mana ada miniatur apartemen diletakkan di atas meja besar tepat di tengah ruangan. Ada sofa empuk dan meja yang berserak di pojok mau pun dekat dinding kaca. Lobi masih sepi karena para sales belum datang.
Kantor tempat Jovanka bekerja berada di bagian belakang. Sebuah bangunan yang tidak terlalu besar berada tepat di samping gedung lain yang lebih megah tempat kerja pejabat tinggi The Green Palace, termasuk CEO mereka.
“Aku dengar info valid hari ini,” bisik Irma.
“Apa?”

“Jangan kaget, ya? Tapi … mulai hari ini Mr. Max akan mengantor di sini. Bersama kita.”
“Hah, nggak salah dengar?” tanya Jovanka.
Irma mengangkat bahu. “Info valid, kalau nggak percaya kita tunggu nanti jam sembilan.”
Jovanka memiringkan wajah, merasa heran dengan kabar yang baru dia dengar. Benar-benar berita besar jika memang itu terjadi. Karena selama ini dia tahu jika Max Vendros mempunyai kantor yang besar di gedung bertingkat yang berlokasi di pusat kota. Lalu sekarang, terdengar kabar dia akan mengantor di tempat mereka yang kecil? Rasanya sungguh tak mungkin.
Nyatanya, kabar yang dibawa Irma bukan kabar angin. Tepat pukul sembilan pagi, sang CEO berjalan beriringan dengan rombongan yang terlihat membawa barang-barangnya. Sah! Hari ini pimpinan tampan akan satu kantor dengan mereka.
“Ahai, harapanku untuk segera menikah akhirnya terwujud!” teriak Irma dengan girang. Saat mereka tengah menyantap makan siang dan duduk di samping kantor.
“Kenapa emang?” tanya Jovanka bingung.
“Siapa tahu sang CEO naksir akuuu? Mulai sekarang aku harus berdandan full make-up demi memikatnya,” ucap Irma genit sambil mengedipkan mata.
Jovanka hanya tertawa mendengar celoteh Irma. Namun terlihat perbedaan mencolok setelah Max mengantor di tempat mereka. Para pegawai wanita terutama yang masih lajang sekarang datang dengan pakaian terbaik mereka dan wajah berpoles bedak tak tercela. Sering kali Jovanka melihat betapa sangat tidak alami sikap mereka di depan Max. Diam-diam persaingan terasa di antara pada wanita.

Seminggu semenjak peristiwa di ruko, Mahendra gencar menghubunginya. Selain memohon untuk tetap menikah dengan Jovanka, juga berjanji akan memberi uang yang lebih banyak lagi. Semua pesan yang masuk ke handphone darinya membuatnya menggertakkan gigi.
Akhirnya, setelah memikirkan masak-masak solusi untuk memecahkan masalah keuangnya. Dia menguatkan hati dan mengesampingkan rasa malu untuk mendatangi kepala bagian keuangan, Bu Nina yang terkenal galak. Semua dia lakukan demi keluarganya. Tidak mungkin menjual rumah, sang papa juga tidak dapat lagi meminjam uang di kantor karena sudah ada cicilan untuk biaya kuliah si adik.
Saat pegawai lain keluar kantor untuk makan siang, Jovanka mengetuk pelan kantor Bu Nina. Dia tahu, sang akuntan tidak pernah makan di luar.
“Ada apa, Jo? Tumben nggak makan siang?” tanya Bu Nina heran. Dia melangkah ke arah dapur dengan Jovanka mengikuti di belakang.
“Mau kemana Bu?” tanyanya heran.

“Cuci ini.” Bu Nina mengacungkan seperangkat peralatan makan.
Staf keuangan ternyata berbagi dapur dengan pejabat tinggi. Terlihat dari interior dapur yang luas dan mewah. Terdapat meja stainless mengkilat yang dia yakin belum pernah digunakan untuk memasak dan rak-rak kokoh berwarna pastel tergantung di dinding.
Bu Nina membuka kran, mengguyur peralatan makan dengan air dan mulai membasuh dengan sabun. “Jojo, ada apa? Diam saja?”
Jovanka menekuk jari, menyandarkan tubuh pada meja di samping westafel. Dia merasa tidak enak tapi harus bicara. “Saya ingin meminjam uang, Bu. Pada perusahaan.”
Bu Nina sedikit terkejut. Dia menghentikan kegiatannya dan memandang Jojo.
“Berapa, Jo?”
Jovanka menggigit bibir, wajahnya memanas karena malu. “Dua ratus juta, Bu.”
“Wow.” Bu Nina bersiul pelan. “Itu banyak, Jo. Aku nggak yakin perusahaan akan mengeluarkan uang segitu banyak untuk kamu.”
“Bu, tolonglah. Ini menyangkut masa depan Jojo.”
“Entahlah, Jo. Karena ini menyangkut uang yang sangat banyaaak.”

Jawaban Bu Nina membuat semangat Jovanka merosot. Perusahaan adalah tempat terakhir dia meminta bantuan. Jika mereka tidak bisa lalu siapa yang akan membantunya?
“Hei! Krannya macet. OMG! Mana tanganku belepotan sabun,” ucap Bu Nina panik. Memutar kran dan tidak ada air yang keluar.
Jovanka berdiri sigap. Meminta Bu Nina minggir dan mulai memeriksa kran. Dia sedikit mengerti tentang perbaikan alat rumah tangga karena sang papa adalah mandor bangunan yang hebat. Dari kecil sering mengajarkannya tentang mengutak-atik peralatan.
Jovanka berjongkok di bawah wastafel. Memeriksa slang air yang terlihat menggembung karena macet. Dia menarik laci dan menemukan pisau. Kembali berjongkok untuk mengetuk slang dengan pisau. Terdapat sambungan slang yang rusak. Kembali dia berdiri untuk mengambil isolasi hitam. Mencopot sambungan dan air tanpa terduga mencipratnya.
“Jojo, kamu basah. Tinggalkan saja, biar Pak Yanto yang melakukan.
“Nggak, Bu. Ini dikit lagi.”
Jovanka terus bekerja di bawah westafel dengan Bu Nina berdiri di belakangnya. Mereka tidak sadar jika sepasang mata biru mengawasi tingkah laku mereka di samping pintu dapur di ujung lorong yang menuju ruang direksi.

“Yes, akhirnya bisa juga, Bu!” teriak Jovanka saat kran kembali menyala. Blusnya basah dan memperlihatkan lekuk tubuh bagian depan.
“Nanti kamu ganti baju, Jo. Ada bawa ganti, kan?” tanya Bu Nina.
Jovanka mengangguk. “Ada, Bu. Nggak usah kuatir.”
“Maaf, ya, Aku nggak bisa bantu kamu, Jo. Tapi tetap kuusahakan bicara dengan kepala bagian. Dua ratus juta itu banyak, sungguh tidak yakin jika perusahaan akan meminjamimu.”
Bu Nina meninggalkan Jovanka sendirian di dekat lantai dapur yang basah.
Merasa jika harapannya akan sia-sia, diam-diam Jovanka kembali menangis. Tergugu di bawah westafel dan tidak menyadari jika sepasang mata biru milik Max tetap mengawasinya dalam diam.

***
Penghujung bulan adalah hari sibuk bagi para admin. Banyak laporan yang harus dikerjakan. Jovanka tetap tinggal di kantor meski semua temannya sudah pulang. Dia harus menyelesaikan pekerjaan karena berniat untuk mencari pekerjaan tambahan mulai besok. Mungkin dia akan menjual baju atau makanan di pasar malam. Yang penting bisa membantunya membayar hutang pada Mahendra. Mungkin butuh waktu lama setidaknya dia berusaha.
“Jika kamu tidak menikah denganku, maka kembalikan uang mahar beserta bunga. Aku mau langsung tunai tanpa dicicil.”
Salah satu bunyi pesan Mahendra yang membuatnya geram. Tapi dia terus bertahan untuk bersikap dengan kepala dingin.

Pukul sembilan malam, kantor sudah benar-benar sepi. Selesai merapikan meja, Jovanka melangkah menuju parkiran motor. Dia melihat dengan heran sebuah mobil sport merah yang masih terparkir di tempat VIP. Berarti sang CEO juga sama, belum pulang.
“Orang kaya dan berkedudukan penting memang beda, suka kerja,” gumam Jojo pada diri sendiri. Tidak bisa menahan diri dia jemarinya mengelus permukaan mobil yang mulus.
Terdengar teriakan yang membuatnya berjengit. Secepat kilat Jovanka mencari arah datangnya suara. Matanya terbelalak saat melihat laki-laki tua dipukul bertubi-tubi oleh seorang laki-laki yang di lengannya yang telanjang penuh dengan tato. Dengan geram Jojo berlari menghampiri dan merogoh alat kejut di tasnya.
“Woi, ada apa ini?” teriaknya.
Orang bertato yang semula tangannya terangkat untuk memukul kini menatap Jovanka dengan geram. “Eh, cewek. Jauh-jauh dari sini. Jika nggak mau terlibat masalah!”
“Pak Yanto? Ada apa ini?” tanyanya pada OB tua yang terlihat ketakutan. Tidak memedulikan preman yang melotot padanya.

“Neng, pulang sana. Jangan pikirin Bapak,” rintih Pak Yanto dengan tangan menutupi wajah.
“Nggak bisalah, ini sudah melanggar hukum. Lagi pula, di mana dua penjaga. Kenapa mereka teledor sampai membiarkan preman ini masuk!” tuding Jovanka pada si laki-laki bertato.
“Eih, aku kasih tahu, ya. Pak Tua ini meminjam uang dari kami dan sudah berbulan-bulan tidak dikembalikan,” sahut sang preman bengis. “Jika kamu tanya di mana penjaga? Sudah kami amankan. Untuk sementara mereka akan sibuk mengatasi kerusuhan di depan.”
“Berapa hutangnya,” tanya Jovanka pelan.

“Kenapa? Kamu mau bayar?” si laki-laki bertato sekarang mengarahkan pandangannya pada Jovanka. Menelusuri tubuh gadis di depannya dengan pandangan kurang ajar. “Jika kamu tak punya uang, bisa kamu bayar dengan tubuhmu.” Tangannya terulur untuk mengelus tubuh Jovanka.
Dengan geram, Jovanka menginjak kaki preman sekuat tenaga. Saat sang preman menjerit kesakitan, dia ulurkan alat kejut dan menyetrum laki-laki bertato sekuatnya.
Melihat laki-laki di depannya menggelepar kesakitan, sekali lagi Jojo mengayunkan kaki dan menedang kemaluannya.

“Aku kasih tahu, ya! Di dalam masih ada Bosku, jika dia keluar maka mampuslah kalian tertangkap polisi. Kalian pikir hebat apa bisa membuat rusuh di Vendros Impersia!” Teriakan Jojo terdengar di halaman parkir yang sepi.
Pak Yanto merintih di sampingnya dan Max yang baru saja keluar dari dalam lobi menghentikan langkah saat melihat Jojo berdiri menjulang di depan laki-laki bertato yang merintih kesakitan.
“Sebutkan saja, berapa hutang Pak Yanto dan aku akan membayarnya!”
“Jangan, Neng,” rintih Pak Yanto tidak enak hati.
“Biar saja, Pak. Lagi pula memang dia harus diberi pelajaran,” jawab Jovanka ketus.
Sang preman berdiri sempoyongan, memasang kuda-kuda untuk menyerang Jovanka. Terlihat wajah penuh dendam.

Sementara Jovanka kembali mengacungkan alat kejut di tangannya untuk membela diri. Dia berusaha tegar meski nyalinya menciut, takut jika teman-teman si preman masuk menghampiri.
“Dasar, perempuan sialan!” teriak sang preman bergerak menyerang Jovanka.
Pukulannya kandas. Entah bagaimana, Max mendadak berada di depannya. Menangkap pukulan yang diarahkan ke Jovanka. Dengan sekali sentak dia menekuk tangan si preman dan menekel kakinya. Tanpa ampun meluncurkan pukulan di bahu dan leher yang membuat si laki-laki bertato tergeletak pingsan.
Jovanka terperangah, begitu juga Pak Yanto. Kehadiran boss mereka sungguh tak terduga.
“Si-Sir, ter-terima kasih,” ucap Pak Yanto gagap.
Max hanya memandang sekilas pada preman yang tergeletak di tanah. Lalu ke arah Jovanka dan Pak Yanto.
“Biarkan saja dia, sebentar lagi polisi datang,” ucapnya sambil berlalu dari tempat kedua pegawainya berdiri kaget.
Sementara Jovanka masih berpandangan bingung dengan Pak Yanto, Max membawa mobilnya melaju menembus jalan raya. Di gerbang dia melihat dua penjaga kantor sedang kewalahan mengatasi keributan yang sepertinya sengaja dibuat untuk mengelabuhi mereka.
Di perempatan lampu merah, Max mengambil handphone dan memencet nomor yang menjadi prioritas. Tidak lama terdengar suara laki-laki menyahut.
“Halo, Max.”

“Steve, tolong kamu cari informasi tentang pegawai administrasi di tempatku sekarang mengantor. Namanya Jovanka, dipanggil Jojo. Cari secara detil kehidupannya dan kenapa dia membutuhkan uang yang banyak.”
“Siap, siapakah dia?” tanya Steven di ujung telepon.
“Cari tahu saja, beritahu aku secepatnya!”
Tidak memberi kesempatan untuk Steve banyak bertanya, Max mematikan sambungan. Tanpa sadar senyum terkulum di bibirnya saat melihat Jovanka dengan gagah berani melawan preman. Rencana terbentuk di pikirannya yang melibatkan Jovanka, uang dan dirinya.
***********
Note :
1. Daydreaming : melamun
2. Your Dad asked me to give this. Just look at it.: Lihat saja, Ayahmu yang memberiku.
3. You knew i can’t : Kamu tahu aku nggak bsa

---------


#Pengantin_Bayaran_Sang_CEO
#Part_3
#CEO's Bride.

Jovanka mengembuskan napas berat. Berkali-kali meraba dada yang bergetar tak karuan. Sang CEO memanggil tiba-tiba dan dia tidak tahu apa salahnya. Dalam hati menduga, mungkinkah pemanggilan ini ada hubungan dengan niatnya yang ingin mengajukan pinjaman dari kantor? Apakah Bu Nina mengatakan pada Mr.Max?
Jovanka mengerling ke arah boss-nya yang sedang sibuk menerima telepon. Sementara dia duduk di sofa. Sekilas mata menatap interior kantor yang elegan didominasi warna karamel dan hitam. Karpet coklat yang menutupi lantai pun bagus. Namun kegugupan membuatnya lupa untuk kagum.
“Jovanka, benar itu namamu?” pertanyaan tiba-tiba dari Max membuatnya mendongak. Dia tak sadar jika boss-nya sudah selesai menelepon.
“Iya, Sir,” jawabnya sambil mengangguk.
“Berapa lama kamu bekerja untuk Vendros Impersia?”
“Dua tahun.”
“Baru dua tahun dan berani mengajukan pinjaman sebesar dua ratus juta?”
Nada tajam dari Max Vendros membuat Jovanka menutup mulut. Rasa tidak enak hati menjalar perlahan dari hati sampai ke wajah yang mulai memerah. Dugaannya menjadi kenyataan jika sang CEO memanggil hanya untuk menegur. Mudah-mudahan dia nggak dipecat gara-gara ini.
“Maaf, Sir. Saya terpaksa,” ucapnya pelan.
“Terpaksa? Kenapa nggak minjam bank? Kenapa harus ke perusahaan?”
Jovanka menggingit bibir bawah. Menahan napas dan seakan takut mengembuskannya akan membuat Max makin marah. Dia hanya bisa menunduk. Pasrah akan apa yang terjadi. Jika memang karena ini dia dipecat, terpaksa harus menerima lamaran Mahendra. Hatinya terasa ngilu seketika. Mengingat Mahendra dan Lisa dengan senyum liciknya.
“Jovanka?”
Menghela napas panjang, Jovanka mendongak.
“Maaf, Pak. Jojo siap kalau dipecat.” Suaranya menghilang dalam kegetiran.
“Siapa yang akan memecatmu, justru aku akan memberimu cara mendapatkan uang tanpa meminjam.”
Mata Jovanka terbelalak, mulut tanpa sadar melebar tatkala mendengar ucapan boss-nya. Apa sekarang sang CEO sedang mengajaknya bercanda?
“Maksudnya, Sir?” tanyanya dengan gugup.
Max yang semula duduk di kursi, bangkit dari duduknya dan mengambil beberapa lembar foto lalu memberikan pada Jovanka yang menerima sambil melongo.
“Ini apa, Sir?”
“Itu adalah tugasmu, jika berhasil aku akan memberimu tiga ratus juta kes.”
Oke, ini pasti kalau nggak aku yang salah dengar pasti si boss yang lagi pusing. Jovanka membatin, melihat-lihat foto di tangan. Ada wanita cantik lengkap dengan gaun indah. Juga foto ballroom sebuah hotel jika tak salah terka. Meski dia belum pernah datang ke tempat semewah itu tapi setidaknya dia sering melihat di drama yang dia tonton.
“Sir, ini maksudnya apa?” tanya Jovanka bingung. Mendongak lalu kembali menunduk saat pandangan matanya dengan Max berserobok.
Hening
Setelah kira-kira lima menit tidak ada jawaban, Jovanka kembali mengangkat dagu. Terlihat Max berdiri memunggunginya, menatap jendela dengan tirai terbuka. Bersikap seolah tidak ada orang lain di ruangan. Dia menduga ada masalah berat yang sedang mengganggu boss-nya. Apa hubungannya dengan foto-foto di tangannya? Ini yang dia belum tahu.
“Hari Sabtu, aku akan bertunangan.”
Max membalikkan tubuh, memandang Jovanka yang masih duduk di sofa.
“Tugasmu hanya satu, menggagalkan pertunanganku.”
“Apaa?!” teriak Jovanka tanpa sadar. “maksudnya bagaimana, Sir?”
Max mendekat. Duduk di sofa tepat di seberang Jovanka.
“Kamu datang ke acara pertunanganku, gunakan segala cara untuk menggagalkan acara. Lakukan secara halus dan tidak membuat banyak keributan. Kalau pihak pengantin perempuan memutuskan pertunangan saat itu juga, uang aku tambah.”
Jovanka melongo!
Sungguh tawaran yang aneh bin ajaib dari seorang CEO padanya. Merasa tidak yakin dengan apa yang dia dengar, Jovanka menepuk-nepuk kupingnya.
“Kamu nggak salah dengar,” tegur Max dengan satu alis terangkat melihat tingkahnya.
“Ooh, maaf. Kirain kuping Jojo yang bermasalah.”
Max membungkukkan tubuhnya ke depan. Menatap lurus pada wanita yang duduk dengan wajah bingung di depannya.
“Kamu pasti mengira ini rencana gila dan nggak masuk akal.”
Jovanka meringis. “Sedikit,” jawabnya sambil mengangkat kelingking.
“Ini sama sekali tidak gila dan aku benar membutuhkan pertolonganmu. Jika tidak salah info, benar kamu butuh tiga ratus juta?”
Jovanka mengangguk pelan.
“Nah, ini cara mudah melunasi hutangmu.”
“Kenapa harus Jojo, Sir?” tanyanya masih tidak yakin.
Max mengelus dagunya yang sedikit bercambang sambil memandang Jovanka seakan-akan menimbang jawaban.
“Aku melihatmu sebagai wanita yang mudah mengulurkan tangan untuk menolong orang lain. Anggap saja, aku sebagai orang tak berdaya yang membutuhkan pertolonganmu.”
Jika sekarang Jovanka sedang minum air pasti menyembur keluar. Sungguh kata-kata dari Max membuat dirinya tidak hanya kaget tapi juga terdengar menggelikan. Seorang Ceo membutuhkan pertolongannya dan bukan hal yang remeh. Ada apa ini?
“Hanya itu, Sir?”
Max mengangguk. “Hanya itu dan aku yakin kamu bisa. Urusan ini hanya sekedar sandiwara untuk kita berdua. Aku yakin kamu bisa. Jika uang tiga ratus juta tidak cukup, aku bisa menambah. Dengan catatan, pertunangan gagal.”
Jovanka menelan ludah. Tawaran dari Max sungguh tidak masuk akal untuknya.
“Bagaimana jika pihak wanita tidak terima dan—,”
“Aku akan melindungimu, tidak akan ada sesuatu bahaya yang akan menimpamu. Itu janjiku.”
“Mereka pasti orang kaya,” gumam Jojo.
“Konglomerat,” tukas Max cepat.
Jovanka menggigit bibir bawahnya. Kebingungan di tempat duduknya dan tercabik antar keinginan untuk menerima atau menolak tawaran sang CEO.
“Kalau Jojo menolak, apakah akan dipecat?”
Max menggeleng. “Hakmu sepenuhnya untuk menerima atau menolak tugas ini.”
“Sir, bisa Jojo pikirkan dulu?” tanyanya sambil menunduk.
“Tentu, jawaban terakhir aku terima besok jam lima. Karena kalau kamu nggak bisa, aku akan cari cara yang lain. Yang pasti acara itu harus digagalkan.”
Jovanka tidak menjawab. Dia keluar dari ruangan Max dengan pikiran masih nggak fokus. Meski uang yang dia terima menggiurkan dan mampu untuk melunasi hutang pada Mahendra. Tetap saja itu rencana gila.
Tadinya dia berharap akan mencari pekerjaan tambahan demi cepat melunasi hutang. Sekarang dirasa-rasa, terlalu jauh angan-angan ke sana. Butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa membayar uang Mahendra.
***
Pulang kerja, ada kejutan yang menantinya di rumah. Sang mantan tunangan duduk di ruang tamu dengan sikap santai seakan berada di rumah sendiri. Sementara papa dan mamanya duduk di seberangnya dengan canggung.
Ada Agra juga di sana, adik laki-laki Jovanka terlihat asyik membuka parsel yang dibawa Mahendra untuknya. Perasaan geram menyentak dadanya seketika.
“Mau ngapain kamu?” tanyanya tanpa basa-basi. Masih dengan helm di kepala.
“Hai, Sayang. Baru pulang kerja?” sapa Mahendra dengan senyum tersungging. Mengabaikan perkataan Jovanka yang ketus dengan raut muka yang tidak menyenangkan.
“Ada apa ini?” Jovanka bertanya sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang tamu.
“Kak, lihat! Kak Hendra bawa coklat kesukaanmu!” teriak Agra sambil membuka coklat yang terbungkus kotak dan kertas emas.
“Jangan dimakan!” larang Jovanka saat melihat Agra hendak memasukkan coklat ke dalam mulut.
“Kenapa emang, enak kok!” Dengan santai Agra memasukkan coklat ke dalam mulutnya.
Pak Rahman dan Bu Ningrum tetap terdiam di kursi mereka. Menerima kedatangan mantan tunangan anak gadisnya dengan wajah murung.
“Jojo, jangan gitu. Ini semua aku bawa untuk kamu dan Agra,” tegur Mahendra.
“Naah, kan. Berarti untuk dimakan,” timpal Agra senang. Kembali makan dua potong coklat.
Dengan gemas Jovanka meraih coklat dari tangan adiknya dan memasukkan ke dalam kotak. Merapikan barang-barang parsel yang berserakan di lantai. Membungkus ala kadarnya lalu menyorongkan ke tangan Mahendra.
“Bawa kembali makananmu, aku harap kamu jangan pernah datang lagi ke rumah ini.”
“Kenapa? Aku masih sah sebagai tunangan kamu? Bahkan Papa dan Mamamu tidak mengusirku!” jawab Mahendra bergeming di tempat duduknya.
Jovanka berkata sambil berkacak pinggang. “Kedua orang tuaku memang tidak mengusirmu, tapi aku, iya. Silahkan pergi.”
“Jojo, yang sopan, Nak?” tegur Bu Ningrum pelan.
“Ma, tidak perlu lagi membela dia!” Jovanka menunjuk Mahendra. Tidak memedulikan tatapan Agra yang kebingungan.
“Ada apa ini, Kak? Bukannya kalian mau menikah?” tanya Agra.
“Tidak jadi!” sergah Jovanka. “dia sudah punya istri dan aku tidak sudi jadi istri kedua.” Tangannya bersendekap, mengalihkan pandangannya ke mana saja asal bukan ke Mahendra.
Ruang tamu sunyi seketika. Tidak ada yang berani bicara bahkan mungkin bernapas. Suara gorden yang tertiup angin dari jendela yang terbuka terdengar nyaring. Suara motor meraung mendekat dan memekakkan telinga. Semua yang ada di ruang tamu memandang Jovanka takut-takut.
Tidak dengan Mahendra, Dia berdiri dari kursinya dengan senyum pongah. Menghampiri Jovanka yang tidak beranjak dari tempatnya. Sekilas keduanya bertatapan sebelum Jovanka membuang muka.
“Jangan sombong, Jojo. Ingat, ya? Selama tiga ratus juta belum dikembalikan, kamu tetap akan menikah denganku,” ucap Mahendra dengan senyum terkulum.
Terdengar meja digebrak pelan. Semua menoleh kaget dan melihat Pak Rahman bangkit dari kursi lalu menuding Mahendra dengan marah.
“Aku akan mengembalikan uangmu itu, brengsek! Seenaknya saja kau menekan anak gadisku!” Napasnya tersengal lalu ambruk kembali ke tempat duduknya.
“Papaaa!” teriakan panik bergema di ruang tamu.
“Ingat darah tinggi, Pa,” ucap Bu Ningrum kuatir.
Jovanka memandang papanya dengan prihatin. Mengalihkan mata ke Mahendra yang berdiri tertegun. Agra meloncat dari lantai tempat dia duduk dan berpindah ke samping Pak Rahman. Sibuk mengurut kaki dan tangan papanya. Jovanka menarik napas panjang sebelum bicara.
“Hendra, aku akan mengembalikan uangmu kes. Minggu depan.”
“Apa?”
Semua mata terbelalak mendengar ucapan Jovanka.
“Dapat uang dari mana kamu? Menjual rumah ini?” tanya Mahendra.
“Itu bukan urusanmu, sekarang pergilah! Kamu membuat Papaku sakit.”
“Jangan bersikap bodoh, Jo. Kasihan orang tuamu, akan tinggal di mana kalau kamu jual rumah ini? Jika memang uang itu sudah habis, aku rela. Kita bisa menikah dengan seadanya asal kau menjadi milikku.”
“Aaah, dasar brengsek!”
Agra berdiri dan melayangkan tinju ke wajah Mahendra. Membuat Mahendra terdorong ke belakang membentur pintu.
“Agraa! Apa yang kamu lakukan!” teriak Jovanka. Merentangkan tangan dan berdiri di antara adiknya dan mantan tunangan.
“Minggir, Kak. Biar aku habisi bajingan itu. Seenaknya saja dia menghinamu!” teriak Agra dengan tinju terkepal. Sementara Pak Rahman dan Bu Ningrum menahan napas karena takut dan kuatir.
“Cukup! Aku akan selesaikan ini sendiri.”
Jovanka berbalik menatap Mahendra yang berdiri gemetar dengan darah merembes di ujung mulut. Meraih tangan laki-laki di depannya dan menariknya ke halaman. Ada sebuah motor besar terparkir di halaman, Jovanka tahu itu milik Mahendra.
“Jangan pernah datang lagi, uangmu akan aku kembalikan minggu depan,” ucap Jovanka pelan.
Mahendra tidak menjawab, mengecap darah dengan lidah dan menatap Jovanka yang berdiri angkuh di sampingnya.
“Jo, apa nggak bisa kamu memaafkan aku? Untuk segala yang aku lakukan dan memulai hal baru?”
Jovanka mendengkus. “Hal baru apa yang kamu bicarakan? Soal aku akan jadi istri keduamu? Maaf, itu hal menjijikkan jadi bukan hal baru untukku.”
Mahendra berusaha meraih pundak Jovanka tapi ditepiskan. “Jangan menyentuhku, atau kamu mau aku setrum lagi?”
Dengan wajah menunduk lesu, Mahendra menarik kembali tangannya.
Mereka terdiam, berdiri di halaman rumah yang kecil. Di gang depan mereka banyak anak kecil berlarian. Rumah Jovanka berdiri tepat di tengah perkampungan padat penduduk dengan gang sempit yang hanya bisa dilalui motor. Itu pun jika ada motor papasan akan sulit untuk berjalan jika tidak mengalah. Saking ramainya suara anak-anak, Jovanka bersyukur teriakan marah Agra tidak terdengar oleh tetangga mereka yang rata-rata bermulut usil.
“Jojo.” Teguran Mahendra membuyarkan lamunannya.
Dia menoleh dan memandang Mahendra dalam-dalam. Laki-laki yang selama dua tahun memberinya mimpi dan harapan soal rumah dan keluarga. Laki-laki tampan yang begitu murah hati mencintai dia dan keluarganya tapi kini, mimpi hanya mimpi. Tunangannya bukan lagi orang yang dulu dia puja.
“Pulanglah, uangmu aku transfer minggu depan.”
“Kamu serius? Dapat dari mana uang sebanyak itu?” tanya Mahendra tak percaya.
Jovanka tersenyum simpul. “Bukan urusanmu aku dapat dari mana. Lebih baik kita putuskan ikatan di antara kita secepat mungkin. Ada Lisa yang harus kau urus. Dia akan punya bayi, kan?”
Mahendra mengangguk. “Apa kamu tak mau bertanya, kenapa bisa aku mengkhianatimu dengan Lisa?”
Jovanka menggeleng. “Nasi sudah jadi bubur buat apa dipermasalahkan lagi. Satu pintaku, jika uang sudah kubayar, pergi jauh dari hidupku!”
Jovanka termenung di teras. Memandang kepergian laki-laki yang pernah dia cintai. Bukan hanya pernah tapi bisa jadi dia masih cinta sampai sekarang. Jika tidak, kenapa air mata menetes tanpa bisa dibendung? Kenapa melihat Mahendra melangkah lunglai dengan wajah memar membuat dia sedih?
Menarik napas panjang, Jovanka meraih handphone dan memencet nomor yang diberikan boss-nya tadi siang. Dengan sigap dia mengetik kata-kata yang semula hanya berupa angan-angan kosong dan kini dia melakukannnya.
“Hotel Berlian, jam delapan malam. Undangan akan diberikan padamu lewat sopir. Berusahalah, jagoan!”
Balasan pesan dari Max membuat Jovanka tercabik antara geli dan sedih. Tekad sudah bulat, demi keluarga dan dirinya dengan terpaksa dia gadaikan rasa malu. Menjadi perusak hubungan orang? Sungguh ironis memang. Mengingat jika hubunganya dengan Mahendra justru dirusak orang lebih dulu.
***
Malam minggu yang cerah, tepat pukul delapan malam Jovanka berdiri di lobi hotel yang mewah. Lututnya terasa gemetar di balik celana panjang yang dia pakai. Di depan ballroom langkahnya terhenti. Undangan terasa kaku di tangannya. Dengan niat ingin tampil cantik, sekarang dia merasa salah kostum. Semua tamu yang memasuki ballroom terlihat berkelas dan mewah dengan gaun dan jas. Sedangkan dia? Celana panjang dan tunik merah.
“Duuh, tahu begini aku pakai gaun tadi. Tapi gimana? aku juga nggak punya gaun seperti mereka,” gumam Jovanka was-was.
Dengan langkah perlahan dia mendekati penerima tamu. Menyerahkan undangan tebal dan mengkilat warna pastel lembut. Setelah memastikan undangan asli, Jovanka dipersilahkan masuk dengan diantar oleh seorang pelayan berseragam.
Jovanka menganga, melihat pesta dengan segala kemewahan yang tidak pernah dia lihat sebelumnya, Lampu kristal besar berpendar di langit-langit berdampingan jadi satu dengan rangkaian bunga segar yang menjuntai di sela-sela lampu. Macam-macam bunga dalam vas besar berdiri kokoh di setiap sudut. Sementara rangkaian yang lebih kecil menyebar di setiap jengkal lantai dan menebarkan harum.
Jovanka menatap dengan takjub pada tamu undangan yang berlalu lalang dengan pakaian indah. Lantai ballroom ditutup karpet tebal warna merah dan meja bundar dengan kursi berpelitur mengkilat serta dilapisi kain satin berjajar rapi. Setiap meja ada delapan atau sepuluh kursi. Meja ditutup taplak linen putih dengan rangkaian bunga anggrek di setiap permukaannya.
Jika itu tidak cukup mewah maka Jovanka lebih ternganga melihat tempat pelaminan yang mirip dengan pelaminan untuk pernikahan. Bernuansa emas dan pink lembut, dengan banyak bunga serta ada semacam dekorasi kaca dengan air mengalir ditimpa cahaya lembut, ada Max berdiri di samping wanita cantik bergaun putih layaknya pengantin.
“Apa aku kabur saja? Persetan dengan uang tiga ratus juta,” gumam Jovanka pada diri sendiri. Berdiri bingung di ujung lorong kecil bertabur bunga yang menuju langsung ke pelaminan.
Suara musik terdengar samar-samar tapi merdu dari penyanyi wanita berpakaian glamour yang berada di panggung kecil di samping tempat Max berdiri.
“Para hadirin, mari kita beri selamat pada pasangan yang sedang dimabuk asmara.” Sang penyanyi wanita yang sepertinya artis terkenal memberikan sambutan. “Max Vendros dan Amarisa Eleondra.”
Gemuruh tepuk tangan terdengar di seantero ruangan. Jovanka mengembuskan napas panjang, menatap pelaminan dan di antara banyak orang yang berlalu-lalang dia menyadari mata Max menemukannya.
***


#Pengantin_Bayaran_Sang_CEO
#Part_4
#CEO'S Bride.

“It’s suspicious.”
Max tidak menanggapi ucapan Steve. Asisten pribadi sekaligus sepupu jauh yang terdengar curiga. Max tetap tenang memasang manset kemeja sambil menatap bayangannya di cermin.
“Tell me something, Max.”
“What?”
“Entah kenapa aku sampai sekarang tidak yakin kalau kamu bersedia bertunangan tanpa perlawanan.”
Max menaikkan sebelah alis, mengambil jas yang dihamparkan di atas kasur besar bersprei putih dan mulai memakainya. Sementara Steve yang semula duduk di pinggiran meja kini melangkah mendekatinya.
“Bukankah kamu yang atur acara ini?” ucap Max pelan. Tangannya sibuk merapikan jas dan krah kemeja.

“Memang sih, hanya saja ada yang aneh. Kamu menyerah terlalu cepat untuk rencana ini dan itu bukan seperti Max yang aku kenal.”
Max tersenyum kecil, tangan sibuk menyugar rambut sementara Steve berdiri di sampingnya. Mengamati seakan Max adalah foto model yang sedang memakai jas untuk dipamerkan. Melihat sikap serius Steve, dalam hati Max tertawa. Sepupunya memang jago menganalisa orang. Dia curiga jika Steve lebih tahu tentang kehidupannya dari pada dirinya sendiri.
“Aku hanya tidak ingin ada pertentangan keluarga.”
Ucapan Max yang tenang dan bijak ditanggapi dengkusan tak sopan dari sepupunya. Dia sendiri merasa aneh dengan ucapan yang keluar dari mulutnya.
“Max yang aku kenal akan menolak dengan terus terang atau bahkan berani menantang dunia yang mempermainkannya. Sekarang? Menyerah untuk bertunangan?”
Max berbalik, menepuk punggung Steve yang hari ini terlihat tampan dengan jas merah marun.
“Ini baru tunangan, belum menikah. Santai …..”

“Bagaimana dengan Violet? Aku dengar bulan depan dia kembali ke Jakarta.”
Max terdiam, menyambar handphone dari atas meja dan meletakkannya di dalam saku celana. Menghadap sekali lagi ke arah cermin untuk memastikan jika tidak ada yang salah dengan penampilannya.
“Aku tahu dia akan kembali, aku pun menunggunya,” jawab Max pelan.
Steve menghela napas, mengiringi langkah Max keluar dari kamar. Tinggi mereka nyaris sama, yang membedakan hanya soal penampilan. Jika Max cenderung bergaya netral dalam bermain warna pakaian yang dia kenakan maka Steve sebaliknya, dia suka bereksperimen dengan segala warna untuk pakaiannya. Max bertubuh tinggi dan berotot maka Steve cenderung lebih kurus dari saudaranya. Meski begitu, keduanya berwajah sama-sama rupawan.
“Apa kamu grogi?” bisik Steve saat mereka melewati pintu mobil yang akan membawa mereka ke tempat acara.
Max mengangkat bahu. “Tidak, aku sudah beberapa kali bertemu Amarisa. Tidak ada kendala dalam komunikasi.”
“Bagus, meski tetap saja aku tak yakin. Merasa ada yang salah,” gumam Steve dari tempat duduknya di samping Max.

“Trust me, everything will be oke.” Max tersenyum sambil menatap layar handphonenya. Ada satu pesan masuk yang membuat senyumnya merekah tiba-tiba.
Segalanya memang berjalan lancar sesuai keinginan keluarga Max, pesta dihadiri para tamu undangan dan berlangsung meriah. Max memasang wajah tegas berwibawa seperti biasanya, tidak peduli meski wanita di sampingnya tersenyum lebar yang tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia. Steve bahkan berkali-kali mendekat hanya untuk mengingatkan agar jangan lupa tersenyum.
“Please, Max. Senyumlah! Jangan bersikap seperti orang yang hendak masuk tiang gantungan,” bisik Amarisa di sela-sela sesi foto mereka berdua.
Max meliriknya dan berkata, “Jadi kamu sadar jika sekarang hidup kita digantung pernikahan, Amarisa?”
Senyum menghilang dari wajah Amarisa, hanya sekejab lalu kembali merekah saat fotografer mengarahkan gaya.

“Aku menyukaimu, Max? Tidakkah itu cukup? Dengan pernikahan kita akan banyak keuantungan.”
“Aku akan menikah dengan wanita yang kumau, bukan demi deal dagang.”
Amarisa tetap tersenyum dalam pelukan Max. Bersikap seolah-olah tidak mendengar sindiran yang diberikan Max untuknya.
Mau tidak mau, Max mengaku salut akan kemampuan Amarisa menyembunyikan perasaannya.
Sampai sekarang, Max bahkan tidak mengerti apa yang dilihat Amarisa dari dirinya hingga wanita yang punya segalanya dalam hidup, ngotot untuk menikah dengannya. Dia sudah melakukan penolakan secara halus saat pertemuan pertama dan kedua tapi nihil, Amarisa tetap yakin untuk menikah dengannya. Mau tidak mau, Max memutar otak untuk menggagalkan pertunangan yang dia yakin akan membelenggu hidupnya.
Jalan keluar dari masalah pertunangan yang tak diinginkan hadir dalam wujud Jovanka. Max mengamati bagaimana gadis bertubuh sintal yang merupakan pegawai administrasi kantornya, memandang ruangan pesta dengan bingung. Bahkan dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat dengan jelas kegugupan Jovanka.
“Semoga dia tidak berubah pikiran dan memutuskan lari di tengah pesta.” Max bergumam dalam hati. Mengamati Jovanka yang ikut antrian untuk memberikan ucapan selamat.
Mata mereka bertemu, setelah menjabat tangan Amarisa, kini Jovanka berdiri persis di depan Max. Berkali-kali menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Jovanka tak peduli meski antrian mengular, dia bergeming.

“Max,” ucap Jovanka pelan. Tangannya meraih kedua tangan Max dan menggenggamnya erat.
Max membiarkan tindakan Jovanka. Sementara Amarisa terlihat melotot tidak suka.
“Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu,” ucap Jovanka pelan sambil menggigit bibir bawahnya.
“Iya ….”
Tanpa diduga, Jovanka meraih tangan Max dan menggandengnya pergi meninggalkan pelaminan. Semua kaget melihat apa yang dilakukan Jovanka terutama sang tunangan, Amarisa.
“Max ….” teriak Amarisa dengan tangan berusaha meraih Max.

Max tidak mengindahkan panggilan Amarisa. Membiarkan dirinya ditarik Jovanka. Musik berhenti bahkan sang penyanyi terdiam memperhatikan. Bisik-bisik dan gumaman terdengar di seantero ruangan.
Di ujung tangga pelaminan, langkah mereka dihadang oleh Steve yang keheranan.
“Siapa dia, Bro?” tanya Steve sambil merentangkan kedua tangan untuk menghalangi. Di belakangnya ada beberapa bodyguard berpakaian safari hitam ikut merengsek maju.
Dengan mudah, Jovanka menyingkirkannya dan berkata mengancam. “Jangan ikut campur!”
Ancaman Jovanka dan pandangan memperingatkan dari Max membuat Steve menyingkir.
Diiringi pandangan mata seluruh tamu pesta yang terasa panas bagaikan lampu sorot, Jovanka setengah berlari dengan tangan Max dalam genggamannya. Mengikuti insting, dia membawa Max menyusuri lorong berkarpet yang sepertinya menuju ke ruang rias. Ada pelayan berlalu lalang tapi mereka menepi dan membiarkannya lewat.

Ada salah satu ruang dengan pintu ruangan terbuka dia masuk dengan Max di belakangnya. Di dalam dia mendapati sofa panjang, meja rias beserta seluruh perlengkapan make-up dan seorang pelayan perempuan yang kaget saat melihat kedatangan mereka. Rupanya mereka masuk ke ruang rias.
“Keluar!” perintah Max pada pelayan yang langsung ngacir keluar saat mendengar suaranya.
Jovanka melepaskan tangan Max dan berbalik menghadap boss-nya. Napasnya ngos-ngosan dan wajah memerah. Rambutnya basah di dahi dan tengkuk.
“Apakah ini berhasil?” tanyanya kuatir.
Max mengangkat bahu. “Entahlah, kurasa sebentar lagi mereka akan datang kemari.”
“Lalu, aku harus bagaimana?” jerit Jovanka setengah panik.
“Terserah padamu, aku mengikuti semua yang kau lakukan.”
“Aaah, bagaimana kalau mereka memukulku? Keluargamu dan para bodyguard itu terlihat menakutkan?” Jovanka mencercau sambil mondar-mandir dan meremas tangannya. “Bagaimana setelah ini hidupku tidak akan aman lagi?”
“Jangan berlebihan,” sanggah Max pelan.

Jovanka memandang Max yang memandangnya dengan bosan dan geli dengan geram. Meski begitu, sang Boss tetap terlihat tampan tak tercela. Sedangkan dia, baju nyaris basah oleh keringat dan tubuh gemetar hebat. Saat dia hendak mengatakan sesuatu, terdengar langkah kaki menuju ke ruangan mereka. Dengan sigap Jovanka berdiri di depan Max dan kembali menggenggam tangannya.
Masuk beberapa orang sekaligus, Jovanka melihat Amarisa berwajah pucat di balik make-up dengan laki-laki yang tadi menghadang langkahnya. Di belakang mereka ada dua pasang suami istri yang sepertinya orang tua pasangan yang sedang bertunangan.
Pemilik Vendros Impersia berada persis di samping pintu, jika Jovanka tidak salah menebak. Dilihat dari postur dan bentuk muka yang sama persis dengan Max, maka dia adalah Abraham Vendros. Memandangnya dengan tatapan membunuh. Seketika, Jovanka merasa nyalinya menciut.
“Mampuslah, aku,” pikir Jovanka suram.

“Ada apa ini, Max. Siapa dia?” tanya Amarisa sambil menuding Jovanka.
Jovanka menghela napas panjang, masih dengan tangan Max dalam genggamannya dia berbalik menatap Amarisa.
“Maaf sebelumnya, bisakah pertunangan ini dibatalkan?” ucap Jovanka pelan.
“Apaa?”
“Siapa dia?”
“Berani-beraninya kau!”
Gumaman heran dan teriakan marah terdengar di seluruh kamar. Max tetap tenang, kini bahkan memeluk pundak Jovanka. Bagi yang tidak mengerti tentu melihat Max seakan sedang melindungi Jovanka tapi bagi Jovanka sendiri, sentuhan Max di punggungnya adalah dorongan tak langsung agar dia meneruskan sandiwara ini. Kepalang basah, terpaksa Jovanka kembali berbohong.
“Aku sangat mencintai, Max. Dan tidak rela jika harus melepaskannya.”

Amarisa maju dua langkah menghampiri Jovanka. “Berani-beraninya kau mengatakan itu di hari pertunanganku, gadis gembel! Siapa kamu? Seberapa hebat orang tuamu sampai berani merusak pestaku!” teriak Amaris tepat di muka Jovanka.
Seorang wanita setengah baya yang terlihat cantik dalam kebaya warna pastel menghampiri Amarisa dan mengelus pundaknya. “Sabar, Sayang. Jangan marah!”
“Maa … dia merebut Max!” sergah Amarisa keras. Matanya beralih memandang Max yang berdiri tenang di samping Jovanka. “Dan kau, siapakah dia bagimu, Max?”
Max mengulum senyum. “Kami pernah dekat,” jawabnya tegas.
Kedua orang tuanya yang semula berdiri di dekat pintu kini melangkah maju. Bahkan sang papa terlihat marah. Sebelum Pak Abraham, mencapai tempat Max berdiri, Steve lebih dulu bertindak dengan menahannya.
“Sabar, Uncle. Kita bisa bicarakan ini baik-baik.”
“Minggir, Steve! Biar aku urus wanita ini,” geram Pak Abraham.

Max maju selangkah, memandang papanya. “Please, Pa. Jangan berbuat onar.”
“Berbuat onar katamu!” bentak Pak Abraham. “apa kamu tahu yang dilakukan wanita ini dengan menculikmu adalah peristiwa memalukan?”
Jovanka menghela napas panjang dan membuangnya perlahan. Kini bahkan merasakan remasan lembut Max di pundaknya. Dia harus bertindak, sebelum semua yang ada di dalam ruangan melumatnya habis-habisan.
Jovanka berbalik, menghadap Max. Setengah berjinjit dan melingkarkan tangannya ke leher Max. Tanpa diduga dan entah mendapat keberanian dari mana, Jovanka mendaratkan kecupan di bibir Max.
Tindakannya membuat semua yang ada di ruangan terperangah, tidak terkecuali Max yang wajahnya sekilas bereaksi tapi pulih dengan cepat. Max membalas tindakan Jovanka dengan membelai wajahnya.

“Wanita murahan!” desis Amarisa keras.
Jovanka mengabaikannya, setelah mengecup Max dia menelusup dalam pelukan boss-nya dan mengedarkan pandangan ke semua orang di hadapannya.
“Max, tentu tidak pernah mengatakan jika kami pernah bersama. Bukan hanya bersama secara dekat tapi sangat intim,” ucap Jovanka mengawali cerita.

“Tentu dia tidak bercerita, mengingat jika punya pasangan gadis gembel sepertimu,” lantang Amarisa. “aku bisa menerima masa lalu Max, jadi lepaskan dia.”
Jovanka tertawa lirih, melirik Max yang tenang.
“Sayang, apa kamu nggak cerita perihal rahasia kita? Bagaimana kita menghabiskan malam-malam penuh syahdu? Juga tentang hal kecil itu ….”
Suara terkesiap terdengar dari orang-orang di dalam ruangan. Jovanka bergeming, tetap dalam pelukan Max dan melanjutkan bicara.

“Harusnya kamu mengatakan pada tunanganmu jika kamu suka bermain … kasar!”
“Apaaa?!” teriakan Amarisa membelah keheningan. “Max? Kamu masokis?”
Jovanka nyaris terbatuk menahan geli tapi dia merasa tenang karena Max tidak membantah omongannya.
“Iya, menurutmu kenapa dia memilihku yang gembel ini? Tentu saja karena bercinta dengan sedikit kasar itu menggairahkan. Bisa dilihat dari badanku yang penuh bilur. Mau aku buka baju?” tantang Jovanka.

Dari atas kepala Jovanka, Max berpandangan dengan Steve yang melongo. Sementara Amarisa memandangnya geram.
Kedua orang tua mereka pun tidak kalah terkejut.
“Max, betul yang dikatakannya?” tanya Amarisa pelan.
Max hanya mengangkat bahu, tidak mengiyakan atau menyangkal.
Jovanka tertawa keras, terlihat nyata jika tawanya adalah palsu. Dia melangkah maju dan berkata, “Dia suka melakukan hal aneh denganku dan aku tidak yakin jika nona besar sepertimu akan bersedia melakukannya.”
“Kamu pasti bohong,” desak Amarisa.

Jovanka tertawa. “Kenapa kita tidak buktikan? Ayo, kubuka baju!”
Amarisa mengepalkan tangan dan tanpa diduga melayangkan pukulan ke wajah Jovanka dengan keras.
Satu tamparan kuat yang membuat Jovanka terhuyung.
“Jalang!” umpatnya marah.

“Amarisa, stop!” teriak Max, meraih tubuh Jovanka dalam pelukannya.
“Max, kamu membelanya?” tanya Amarisa dengan berlinang air mata.
Max menatap Amarisa sebelum menjawab pelan. “Dia yang paling mengerti kondisiku sekarang. Terserah jika kamu masih ingin menikah denganku. Siap saja menerima kehadiran wanita-wanita lain karena aku tidak bisa menjanjikan kesetiaan. Jika memang niatmu untuk menikah denganku karena bisnis, kita lanjutkan pertunangan ini. Tapi kalau niat untuk bermain hati dan meminta aku jadi suami setia, aku nggak bisa.”
Max mengelus rambut Jovanka. “Akan ada dia di antara kita, selamanya!”
Amarisa menangis dan meraung. Terdengar geraman dari seluruh ruangan.
“Kurang ajar kamu, Max Vendros. Bagaimana sebenarnya orang tuamu mendidik?” bentak seorang laki-laki setengah baya yang sedari tadi terdiam. Jovanka menduga dia adalah ayah Amarisa.
“Tenang, Pak Lim. Semua bisa saya jelaskan,” ucap Pak Abraham.
“Apa yang mau dijelaskan, sudah jelas kalian menghina putriku. Jangan harap masalah ini akan selesai begitu saja,” ancam Pak Lim sambil merangkul pundak anak gadisnya.
“Amarisa, putuskan saja pertunangan ini. Papa nggak mau kamu menikah dengan lelaki jahanam macam dia!”

“Max, benarkah ini yang kamu inginkan?” tanya Amarisa lamat-lamat. Memandang Max dengan air mata berlinang.
“Amarisa, dari awal aku sudah menolak perjodohan ini karena salah satu alasan adalah …dia,” tunjuk Max pada Jovanka. “Gaya hidup kita sangat berbeda. Aku tidak mungkin mengubah kebiasaanku demi kamu.”
Amarisa memejamkan mata, tak lama membuka sambil menghentakkan kakinya ke lantai. Matanya menatap kotak make up di atas meja.

“Kita putuskan pertunangan ini, Max,” ucapnya pelan sambil melangkah mendekati meja dan mengambil kotak perhiasan berwarna hitam mengkilat yang terbuat dari besi . “Sayang sekali, kita sepertinya tidak berjodoh. Padahal aku sangat menyukaimu.”
Tanpa diduga, dia menghantamkan kotak ke arah Jovanka yang berdiri diam di samping Max. Nyaris mengenai kepala Jovanka jika Max tidak cukup sigap menariknya. Tetap saja, kotak hitam mengenai pundak Jovanka dan membuatnya terjatuh kesakitan.

“Amarisa, kamu gilaa!” teriak Max sambil menutup tubuh Jovanka dengan tubuhnya.
Steve bergerak, meraih Amarisa dan menguncinya. Sementara Pak Lim mengambil kotak dari tangan putrinya dan membuangnya ke samping.
“Aku gila! Aku memang gila karenamu, Max. Ini belum berakhir, tunggu saja pembalasanku!”
Amarisa berteriak, menangis dan memberontak dari pelukan Steve. Pak Lim merengsek maju dan dibantu Steve dia menarik Amarisa keluar dari dalam kamar. Suara teriakannya terdengar sepanjang lorong.
Di dekat pintu, Pak Abraham berdiri di samping wanita amat cantik yang kemungkinan adalah istrinya.
“Apa kamu puas, Max? Mempermalukan keluargamu? Lebih memilih bersama gadis itu dari pada Amarisa yang jelas asal usulnya?”

Bentakan papanya membuat Max mengangkat bahu tidak peduli. “Mereka bukan keluarga suci yang harus didewakan dan aku tidak berhutang apa pun pada keluarga mereka. Kenapa harus mengikatkan hidup pada pernikahan bisnis?”
“Kauu! Berani melawan rupanya,” desis Pak Abraham.
“Pa, sudahlah. Lebih baik kita temui keluarga Amarisa untuk meminta maaf,” wanita cantik setengah baya yang sedari tadi terdiam kini mendekati suaminya dan berusaha menenangkan amarah Pak Abraham.
“Kau sungguh mengecewakan, Max!” ujarnya sini sambil melirik Jovanka yang terdiam di atas lantai.
Max tertawa keras. “Maaf jika mengecewakanmu, Mama tiriku tapi kalian tidak ada hak mengatur hidupku! Silahkan keluar.” Max menunjuk pintu dengan dagunya.

Pak Abraham terlihat geram, belum sempat dia mengatakan sesuatu, sang istri menarik tangannya keluar. Dengan pandangan mengancam sekali lagi ke arah Jovanka yang masih meringkuk di lantai, dia pergi meninggalkan ruangan.
Setelah semua orang keluar, Max melangkah mendekati pintu dan menutupnya. Kesunyian menyergap seketika. Dia mendekati Jovanka yang sedari tadi terdiam dan duduk di sampingnya.
“Jojo, apakah masih sakit pundakmu?”
Tidak ada jawaban, Jovanka hanya menggeleng pelan.
“Ayo, kita ke rumah sakit.”
Jovanka mendongak, memegang bahunya yang sakit. Dia bisa merasakan sakit dan memar di sana.
“Semua sudah beres, Sir? Apakah aku bisa mendapatkan uang yang dijanjikan?” tanyanya lantang, dengan senyum tersungging.

Max mengangguk. “Tentu, aku transfer malam ini juga. Besok bisa kamu gunakan uang itu.”
Jovanka bangkit dari lantai dengan mulut meringis menahan sakit. Lalu mengangguk ke arah boss-nya.
“Kalau begitu, Jojo pamit pulang. Jangan kuatir, aku akan lewat pintu belakang.”
“Aku akan mengantarmu.”
Jovanka menggeleng, melangkah tertatih menuju pintu dan membukanya. “Aku bisa sendiri, Sir. Sampai jumpa Senin besok dan selamat malam.”
Tanpa menoleh kembali, Jovanka melangkah menuju lorong yang berlawanan saat dia datang. Dia tidak tahu kemana langkah membawa, dia hanya ingin keluar dari hotel yang seperti mengukungnya.
Seorang pelayan memberitahunya tentang pintu kecil yang menuju ke belakang hotel. Tanpa dia sadari, air mata merembes jatuh ke pipi. Bukan hanya karena sakit di bahu yang berdenyut-denyut tapi juga tusukan rasa malu di hatinya.

Mencapai ujung pintu, dia berdiri di bagian belakang hotel. Kepalanya mendongak memandang langit malam yang temaram dan menahan keingian untuk berteriak.
“Aaah, aku merasa seperti pelacur yang selesai mendagangkan tubuh!”
Dengan air mata yang mengalir tiada henti, Jovanka meratapi diri.

****
Note :
1. “It’s suspicious.” ( Itu mencurigakan )
2. “Tell me something, Max.” ( Katakan padaku )
3. Masokis / Masokisme adalah kelainan dimana seseorang akan merasa puas atau gairahnya memuncak jika disakiti atau menyakiti.

------


#Pengantin_Bayaran_Sang_CEO
#Part_5
#CEO's Bride.

Jovanka mengerang di atas ranjang. Bahunya ngilu, sakit dan terasa seperti ada tulang yang retak. Pukulan Amarisa benar-benar membuatnya tak berdaya. Untung saja ada Max yang melindunginya. Jika tidak, besar kemungkinan kepalanya juga ikut remuk. Hari ini ada rapat di kantor, mau tidak mau dia harus kerja. Seandainya bisa, ingin sekali Jovanka berbaring seharian untuk istirahat.
“Ugh … tiga ratus juga adalah harga sepadan untuk bahu yang retak!” keluh Jovanka sambil memegang bahu dan mencoba bangkit pelan-pelan dari ranjang.
Dia berdiri di depan cermin dan memeriksa dengan ngeri bekas merah di pipi. Untunglah saat pulang tadi malam, papa dan mamanya sudah tidur. Jadi tidak, mereka akan menjerit saat melihat keadaannya.Tanpa sadar tangan bergerak mengelus bibir lalu mengutuk diri sendiri saat menyadari tindakannya tadi malam.

“Lagi memar gini dan yang aku pikirkan ciuman?” gumamnya merasa stres sendiri.
Jovanka mengguyur badan dengan air hangat, mengoles salep untuk menghilangkan memar di bahu. Uang dari Max masuk ke rekening tidak lama setelah dia sampai rumah. Hari ini, saat makan siang dia berencana pergi ke bank untuk mengembalikan hutang pada Mahendra. Semakin cepat urusan dengan mantan tunangannya selesai, semakin mudah pula langkahnya menata masa depan.
“Apa setelah ini aku harus berbaik-baik padanya?” pikir Jovanka saat memakai helm sebelum menstarter motor. Ingatannya tertuju pada sang CEO, Max.
Sepanjang jalan, di antara banyak kendaraan yang berjejal di atas aspal, Jovanka berpikir sambil melamun. Sampai sekarang dia tetap tidak mengerti kenapa Max memilihnya. Tadinya dia menduga, pagi ini akan heboh dengan berita pertunangan Max yang rusak. Nyatanya tidak ada berita seperti itu, yang ada para awak media berlomba-loma menayangkan berita betapa megah pesta pertunangan mereka. Dalam hati Jovanka mengakui jika uang punya kuasa.
“Jojooo! Uwaaa … aku sedih!” Irma datang memeluknya saat dia baru saja meletakkan tas di atas meja kerja.

“Aduuuh, sakit. Jangan memelukku!” Jovanka menjawab teriakan Irma dengan keluhan sakit. Membuat Irma berjengit kaget.
“Kenapa? Sakit di mana?”
“Bahu, jangan meluk.”
“Kok, bisa? Keseleo atau salah bantal?”
Jovanka memegang bahu sambil meringis. “Pagi-pagi teriak ada apa?” tanyanya pada Irma. Berusaha mengalihkan perhatian teman kantornya dari derita di bahunya.
Irma yang semula membungkukkan badan memandang Jovanka, menegakkan tubuh sambil memasang muka cemberut.
“Mr. Max sudah tunangan, aku patah hati. Huaaa!” Irma kembali menjerit pura-pura sambil menutup muka.

Jovanka memutar bola mata, merasa Irma terlalu mendramatisir. Tak memedulikan Irma yang masih pura-pura menangis, dia duduk di kursi dan mulai menyalakan komputer.
“Jo, kok kamu cuek aja?” protes Irma saat melihat Jovanka duduk santai di kursi.
“Emang mau ngapaian? Masa dia yang tunangan aku yang guling-guling?”
Irma terkikik. “Eh iya, lupa kalau kamu sudah punya tunangan.”
Jovanka mengembuskan napas panjang, tanpa mendongak untuk menjawab pernyataan Irma. “Kami sudah putus. Pertunangan dibatalkan.”
“Apaaa? Kok bisa? Putus karena apa?”
Pertanyaan bertubi-tubi dari Irma terputus setelah kepala bagian mereka datang. Dengan tidak puas, Irma menutup mulut dan kembali ke mejanya. Namun matanya terus-menerus mencuri pandang pada Jovanka.

Rapat berlangsung tidak terlalu lama. Tepat jam makan siang mereka meninggalkan ruang rapat dengan perut keroncongan. Jovanka melesat ke parkiran untuk pergi ke bank. Di pintu lobi, hampir saja dia menubruk seseorang jika tidak berhenti dengan sigap.
“Jojo?”
Suara bariton membuatnya mendongak dan tersenyum gugup. “Siang, Sir. Silakan,” ucapnya sambil menyilakan Max masuk ke dalam lobi.
Max bergeming, mereka berdiri berdekatan. Dari tempatnya, Jovanka bisa mencium aroma parfum dari tubuh atasannya. Wangi yang samar-samar tapi menggairahkan menurutnya. Jovanka menggelengkan kepala, untuk mengusir pikiran erotis tentang parfum. Mendadak dia ingat ciuman mereka. Tanpa sadar, dia mengetuk-ngetuk kepalanya.
“Kenapa kamu? Sakit kepala?”
Jovanka meringis dan menjawab, “Nggak Sir, cuma kaget aja karena mau nabrak.”
“Bagaimana bahumu?” tanya Max pelan. Mata Max menatap Jovanka yang menunduk dengan menyelidik.
“Baik, Sir.”

“Ayo, kuantar ke RS.”
Tawaran dari Max membuat Jovanka makin kikuk. Dengan segera dia membungkuk kecil dan berkata, “Nggak perlu ke RS segala, Sir. Maaf, Jojo buru-buru, bye!”
Tanpa sadar, Jovanka menyingkirkan tubuh Max dan meneruskan langkah menuju parkiran. Menarik napas pendek-pendek untuk menghilangkan kegugupan. Berpapasan langsung dengan Max adalah hal terakhir yang dia inginkan. Semula, demi menghindari rasa malu, dia berniat jauh-jauh dari boss-nya.
“Wangi dan maskulin, ehm ….” Pikiran tentang Max melingkupi otak Jovanka sepanjang jalan.

Pesan penuh amarah, makian dan diteruskan dengan permohonan, dia terima dari Mahendra setelah uang terkirim. Laki-laki yang pernah menjadi tunangannya bahkan menelepon berkali-kali tapi dia menolak untuk menerima. Merasa kesal karena diteror, Jovanka memblokir nomor Mahendra.
Begitu pula dengan Max, hari-hari selanjutnya Jovanka memilih untuk menjauhinya. Sebisa mungkin menghindari kontak dengan boss-nya. Ternyata, tidak sulit dilakukan karena memang pegawai rendahan macam dia tidak berada dalam frekunsi yang sama dengannya. Yang paling dia ingat sekarang adalah, rasa bibir Max di bibirnya. Meski dingin tapi lembut.
“Uwaaa … aku mikir apa, sih?” Jovanka berteriak dari balik kaca kantornya saat melihat sosok Max yang maskulis melintas menuju lobi dengan sekelompok orang mengikutinya.

****
Steve duduk memandang Max yang serius membaca dokumen di meja. Ini adalah hari pertama Max datang ke kantor pusat setelah sebelumnya selama hampir sebulan mengantor di cabang Jakarta Utara. Dua minggu semenjak peristiwa rusaknya pertunangan terjadi dan dia masih tidak mengerti.
“Aku nggak ngerti.”
Dia berdiri dari kursi lalu menyandarkan tubuh ke meja Max yang luar biasa besar. Tangannya mengetuk-ngetuk tidak sabaran.
“Max, aku nggak ngerti,” ulangnya sekali lagi karena Max tidak memperhatikannya.
Max mendongak. “Nggak ngerti apa?”
“Kenapa harus memilih cara itu untuk membatalkan pertunangan? Lagian, emang benar kamu masokis, ya?”

Max mendengkus. Masih tajam dalam ingatannya saat Jovanka mengatakan dia pengidap sex menyimpang. Dia pikir tadinya, Jovanka akan mengaku hamil. Nyatanya tidak begitu. Malam itu juga pertungannya dengan Amarisa dibatalkan. Perlu banyak uang dan usaha untuk menutup pemberitaan media.
“Jadwal kita malam ini apa?” tanya Max mengalihkan pertanyaan Steve.
“Mengalihkan pembicaraan, Bro?” Steven menaikkan sebelah alis dengan tangan merogoh handphone untuk melihat jadwal.
“Bertemu dengan Pak Johanes. Ehm … orang ini sulit.”
“Kenapa?”
“Dia menentukan banyak prioritas tentang siapa yang akan menjadi patnernya. Kurasa jalanmu untuk menjalin kerja sama dengannya tidak akan mudah, Max.”
“Selain itu?”

Steve membaca informasi di handphonenya. “Dia orang kaya tapi terhitung sederhana. Tidak terlalu suka berfoya-foya dan lebih menyukai patner yang sudah beristri. Wah, kamu akan benar-benar kesulitan menaklukkannya.”
“Makanan kesukaan?”
“Nastar.”
“Ada hal istimewa lain?”
Steve menggeleng, mereka terbiasa mencari informasi tentang siapa yang akan mereka hadapi termasuk Pak Johanes.
“Yang aku dengar, keluarga Lim juga menginginkan kerja sama dengannya,” ucap Steve perlahan. Menatap saudaranya yang masih menunduk di atas meja.
Max menutup dokumen di depannya dengan suara agak keras. “Kita lihat saja nanti. Ayo, jalan. Aku ingin mampir ke suatu tempat dulu.”

“Kemana?” tanya Steve mengiringi langkah Max. “Bukan cari hadiah untuk Jojo itu, kan?”
Max menoleh cepat. “Kenapa cari hadiah untuknya.”
“Kan, dia bantu kamu gagalin pertunangan. Aku heran dia mau aja, sungguh heran.”
“Jangan banyak mikir,” tukas Max.
“Lebih heran lagi napa Papanya Amarisa yang biasanya gahar, kali ini diam saja saat tahu anaknya dipermalukan.”
Max tersenyum. Menepuk punggung saudara yang sekaligus asistennya. “Aku menyimpan kartu truf, dia nggak ada berani macam-macam pada kita.”
“Pantas,” gumam Steve pelan. Mengamati sosok Max yang menghilang ke dalam mobil. Dia tidak akan bertanya-tanya lagi perihal pertunangan yang gagal. Cukup lega akhirnya bisa lepas dari drama tanpa banyak masalah.

Mendung mengintai sepanjang perjalanan. Sementara Steve sibuk menelepon, Max melihat dengan penuh minat, poster seorang artis cantik yang sedang mengiklankan produk kecantikan. Desir kerinduan terselip di hati.
Kejutan menanti mereka saat tiba di tempat pertemuan. Pak Johanes, dalah laki-laki setengah baya dengan rambut hitam tersisir rapi ke belakang. Bertubuh kecil dan ramping dengan mata sipit. Penampilan sederhana dengan kaos polo putih tidak terlihat sebagai milyader. Bukan perkara Pak Johanes yang membuat mereka kaget tapi orang yang menemaninya. Duduk anggun sambil menyesap minuman di tangan, Amarisa melirik saat melihat kedatangan Max dan Steve,
“Hai, mantan tunanganku,” sapa Amarisa dengan senyum terkembang.
Max mengangguk kecil. Ini adalah pertemuan pertama mereka setelah acara pertunangan yang gagal. Dia tidak menyangka akan mendapati Amarisa di sini.

Melihat gelagat yang tidak bagus, Steve bertindak cepat.
“Apa kabar, Pak Johanes. Ini Max Vendros dan saya sendiri, Steve.” Steve memperkenalkan mereka berdua.
Pak Johanes tersenyum lalu menjabat tangan dua laki-laki muda di depannya.
“Silahkan duduk,” ucapnya.
Mereka duduk mengelilingi meja segi panjang dengan alas kaca, tersedia masing-masing dinning set untuk tiap meja. Ada rangkaian bunga segar di tengah meja. Restoran tempat mereka bertemu terletak di dalam hotel bintang lima. Sepertinya menyajikan makanan khas nusantara jika dilihat dari foto yang tercetak di buku menu. Steve dan Max duduk berhadapan dengan Amarisa sementara Pak Johanes duduk di sebelah ujung.Tak lama pelayan laki-laki berseragam putih dengan celemek hitam datang menghampiri. Baik Max mau pun Steve memilih untuk memesan kopi.
“Saya sudah banyak mendengar tentang Pak Johanes,” ucap Max membuka percakapan.
“Benarkah? Kabar baik atau buruk?” tanya Pak Johanes sambil menyesap kopinya.
“Kabar baik tentu saja, mengingat pengalaman Bapak yang sudah puluhan tahun malang melintang di dunia property. Perkenalkan saya, Max dari Vendros Impersia. TBK.” Max berkata sopan sambil mengangguk.

“Hahaha … aku tidak seberapa dibanding oleh kalian. Para anak muda dengan semangat dan inovasi yang melebihi pemikiran kami para orang tua,” gelak Pak Johanes. “aku juga sudah banyak mendengar sepak terjangmu di dunia property, Max. The Green Palace itu salah satu proyek sempurna.
Max tersenyum, tanpa sengaja pandangan matanya berserobok dengan Amarisa yang mengamatinya penuh minat.
“Terima kasih atas pujiannya, Pak. Tidak sebanding dengan, Anda,” jawab Max merendah.
“Jika tidak salah dengar, kalian sudah saling mengenal? Bahkan ada kabar yang mengatakan kalian sudah bertunangan?” tanya Pak Johanes sambil menunjuk Amarisa.
“Iya, memang Pak. Tapi dia mencampakkan saya.” Amarisa menjawab sambil tertawa. Menunjukkan kilauan deretan gigi putih yang terawat sempurna. Wajahnya terlihat bercahaya dengan gaun sutra hijau yang dia kenakan. Cahaya lampu restoran yang tidak terlalu benderang makin menambah kecantikannya.
“Wah-wah, Max. Aku kecewa padamu, kenapa kau menolak gadis cantik ini?”
“Mungkin karena saya dianggap kurang cantik dan kurang kompeten dalam bekerja, Pak,” ucap Amarisa malu-malu.

“Benarkah begitu, Max? Wah, penilaianmu salah kali ini,” decak Pak Johanes. Bergantian memandang Max dan Amarisa dengan tertarik.
“Karena itu, hanya Bapak yang bisa membantu saya. Tolong beri kesempatan agar saya bisa membuktikan diri di depan mantan tunangan yang sudah menyakiti hati,” pinta Amarisa dengan senyum manis tersungging. Melirik Max dengan sengit.
Pak Johanes tertawa lebar lalu berucap sambil terang-terangan memandang Max. “Bagaimana ini, Max?”
Max tidak menjawab, mengetuk meja pelan dengan telunjuk dan mengamati Amarisa yang tertawa lepas dengan Pak Johanes. Dia sudah mencium ada sesuatu yang janggal saat melihat Amarisa di sini dan sekarang terbukti. Rupanya, kabar jika sang mantan tunangan juga berniat kerja sama dengan Pak Johanes itu benar.

Dia melirik Steve yang ternyata juga sedang memperhatikannya. Menelengkan kepala untuk memberi tanda dan melihat sepupunya mengangguk paham.
“Pak Johanes, kami dengar Bapak suka kue nastar? Ini, sengaja kami bawakan. Home made dari seorang teman.”
Steve menyorongkan kotak merah ke atas meja dan membukanya. Ada dua buah toples putih berisi nastar.
“Silahkan, Pak. Cocok untuk menjadi teman minum kopi.” Steve membuka toples dan menyorongkannya ke depan Pak Johanes.
Terlihat, mata Pak Johanes sedikit terbeliak kaget saat melihat nastar di atas meja. Dia memandang Max dan Steve bergantian.
“Wah, kalian tahu saja aku suka nastar.” Tanpa sungkan dia mengambil satu butir dan memasukkan dalam, mulut. “Enak sekali.”

Sekilas terlihat kekesalan di wajah Amarisa. Max mengabaikannya dan mendengar bagaimana Steve bicara dengan Pak Johanes tentang aroma mentega dalam kue.
“Sudah, cukup basa-basinya. Mari kita mulai serius,” ucap Pak Johanes sambil mengelap mulut dengan tisu lalu meneguk air putih di gelasnya.
“Aku tahu maksud kedatangan kalian apa, tentu saja berniat untuk bekerja sama dalam membangun perumahan mewah di area Jawa Barat bukan? Selain perumahan juga ada hotel dan mall.”
Max dan Amarisa mengangguk bersamaan.
“Kalian tahu jika proyek itu bernilai jutaan dollar? Dan aku berminat kerja sama dengan mereka yang kompeten.”

Amarisa mengubah gaya duduknya, sekarang memandang Pak Johanes lekat. “Kalau begitu, tolong beri kami keluarga Lim kesempatan untuk bekerja sama. Kami yakin bisa memenuhi standar kompeten dari Bapak.”
Pak Johanes mengangguk sambil tersenyum kecil.
“Maaf, Pak Johanes, tentunya mempertimbangkan jika Anda sudah mendengar sepak terjang kami di dunia property.” Max berkata menyela. “Tentu jika kami tidak cukup bagus, Anda tidak akan bersedia menemui kami di sini. Jadi, mohon mempertimbangkan proposal kami.”
Amarisa menatap Max dengan menyipit. “Berkompeten bagaimana jika seorang laki-laki tega menghianati tunangannya?”

Selaan dari Amarisa membuat Max tersentak, lalu tersenyum. “Jangan bicara hal pribadi di sini, Amarisa. Kita sedang membahas bisnis.”
“Hah! Pak Johanes itu seorang family man. Bisnis dan keluarga adalah hal penting untuknya,” sergah Amarisa. “Tentu saja beliau tidak keberatan jika aku menyinggung hubungan kita.”
Max mengumpat dalam hati. Mau tidak mau mengakui kecerdikan Amarisa yang menggunakan kemalangannya untuk mendapat simpati dari Pak Johanes.
“Sebenarnya, aku berniat bekerja sama dengan kalian berdua.”
Ucapan Pak Johanes membuat sekeliling meja terhenyak.
“Maksudnya, Pak?” tanya Amarisa bingung.

“Tadinya, saat mendengar kalian bertunangan. Aku berniat membuka kerja sama secepat mungkin tapi sekarang, setelah tahu faktanya. Rasa-rasanya kalian tidak ada yang cocok untuk menjadi patnerku.”
Max dan Steve berpandangan. “Kenapa begitu, Pak?” tanya Max heran.
“Seperti yang dikatakan Amarisa, aku seorang family man. Berharap punya patner yang dewasa dan bertanggung jawab. Tanggung jawab terbesar seorang pengusaha justru saat dia berkeluarga. Jadi, kalian berdua masih single.” Pak Johanes mengakhiri perkataannya. Baik Max mau pun Amarisa memandangnya tak percaya.
“Selain kalian berdua ada Agung Samudra Group dan Citra Hanarusa yang kita semua ketahui CEO mereka sudah berumah tangga.” Pak Johanes mengaduk kopi lalu meneguknya sebelum meneruskan perkataannya. “Aku menghargai laki-laki yang memikul tanggaung jawab keluarga karena menurutku dia akan bekerja lebih keras dari pada mereka yang masih sendiri. Tidak tidak ada hubungannya dengan kemampuan kalian. Ini soal prinsip.”

Max mengendurkan dasi, mendesah dalam hati jika negosiasi akan berjalan alot. Nampaknya Amarisa juga merasakan hal yang sama, terlihat dari tindakannya yang menggigit bibir bawah tanpa sadar. Max berpikir suram, bagaimana mungkin dia mengaku beristri jika kenyataannya memang dia masih sendiri. Dia menoleh ke arah pintu dan tanpa sengaja, ujung matanya menatap sesosok perempuan yang baru saja datang dengan rambut dan baju yang basah. Rupanya di luar sedang hujan. Karena restoran tempat mereka bertemu berada di dalam hotel, sama sekali tidak menyadari hujan turun di luar.
Perempuan itu, tampak tidak menyadari Max yang memandangnya. Dia mengibaskan rambut tepat di depan restoran.
“Maaf, saya permisi sebentar,” pamit Max pada semua yang ada di meja. Steve memandangnya bingung.
Perlahan Max bangkit dari kursi dan menghampiri perempuan berkemeja putih yang sedang mengelap rambut basah dengan tisu.
“Jojo?” sapanya.
Jovanka mendongak heran . “Sir, kenapa ada di sini?” tanyanya bingung.
Max melangkah lebih dekat dan meraih tangan Jovanka.

“Jojo, tolong aku sekali lagi. Kali ini, bayaran yang kamu terima akan lebih banyak. Aku jamin.”
“Eih, ada apa, Sir?” tanya Jovanka bingung, memandang tangan Max yang meremas lengannya.
“Kamu hanya tinggal mengangguk, tidak usah menjawab macam-macam. Please?”
Mengabaikan wajah Jovanka yang keheranan, Max meraih pundaknya dan membimbingnya menuju meja di mana Pak Johanes menunggu.
“Pak Johanes, perkenalkan. Ini calon istri saya.”
Semua yang ada di meja mendongak kaget. Tidak terkecuali Steve. Amarisa bahkan bangkit dari kursi dan menuding Jovanka.
“Kau! Berani sekali kau kemari!”
Dengan tangan besar Max berada di pundaknya, Jovanka termangu bingung mencerna informasi yang baru saja dia dengar. Mulai kapan dia menjadi calon istri Max?
*****

bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar