Persaudaraan Muslimah Indonesia, mempelajari Islam Secara Menyeluruh.

Minggu, 09 Februari 2020

#AHLAN_WA_SAHLAN_ANGELINE 6 - 10


#AHLAN_WA_SAHLAN_ANGELINE 6
#KOLAB_HANIN_WAFA
#FATHAN

Mata ini seakan tersandera sosok Angeline. Tatapan sayu tanpa gairah itu mengusik relung kalbu. Masalah pelecehan itu membuatnya rapuh.

Di ruang kuliah, Angeline lebih banyak diam. Tak ada saling sahut dengan teman satu genknya, juga dengan para mahasiswa yang kerap menggoda gadis berkulit sebening porselen itu.

Jika bukan demi menyelamatkan nama baik Angeline, dipastikan masalah ini akan kulanjutkan ke kepolisian. Jalan itu seolah mereka kunci, hampir tak ada celah untuk mempidanakan Jordi.
Kalaupun diteruskan ke yang berwenang, percuma juga. Mudah saja bagi kaum zolim itu membungkam aparat dengan sebongkah berlian. Hukuman bisa berbalik, justru Angeline dan aku yang mungkin hancur di ruang publik.

Hukum buatan manusia memang mudah dipermainkan.
Ayah Angeline pun lebih memilih berdamai sepertinya daripada nama keluarga dipertaruhkan. Miris, kehormatan anak gadis lebih rendah dari pada nama baik.
Ayah macam apa itu?
Angeline tetap di kursinya hingga seluruh mahasiswa keluar ruangan. Ajakan teman-temannya ditolak dengan gelengan.
Apa dia menungguku?
Kuhampiri sebelum melangkah keluar.
"Allah tak diam atas kezoliman yang menimpa hamba-Nya."
Kucoba menenangkan gadis yang matanya telah dipenuhi kaca-kaca.
"Pulanglah, tenangkan diri. Esok tatap dunia lebih baik dari hari ini."
Dia menggerakkan kepala ke bawah. Setelah mengucapkan terima kasih, Angeline berlalu.
Melihatnya serapuh itu, getaran di hati ini makin mengencang saja.
"Maaf, aku tak bisa melindungimu."

***
Sekuat mungkin menahan emosi kala melewati pemuda yang tengah duduk-duduk bersama genknya. Dari tampang, kentara mereka berasal dari kalangan atas.
Bergaya layaknya bos yang bisa seenaknya memerintah orang yang lebih rendah kedudukannya.
Pemuda blasteran itu menghampiri dengan wajah innocentnya.
"Saya tak menyangka Anda jago bela diri rupanya. Lain waktu kita bisa uji kekuatan lagi."
Tak ada gunanya meladeni orang yang hanya ingin membuat masalah. Kulanjutkan ayunan kaki yang sempat tertahan.

"Waktu itu saya hanya ingin ngetes, Angeline masih ori atau sudah seken."
Ayunan itu kembali terhenti seiring desiran hebat dalam aliran darah. Telapak mengepal dengan jari berderak. Kubalikkan badan dan menghampiri pemuda yang sedang mengangkat satu sudut bibirnya.
Tahan, Fathan!

"Segera rampungkan skripsi. Malu sudah tingkat lima!"
Kutepuk kemejanya dengan mata intens menatap bola bermanik biru yang membelalak sempurna.
Aku tahu tinjunya ingin dilayangkan tepat dihidung ini. Namun, kerumunan yang mulai tercipta membuat Jordi harus rela menahan erupsi emosi.

"Aku tak takut berhadapan dengan siapapun. Seberkuasa dan sekaya apapun. Jangan main-main dengan Fathan Mubinan."

Kutepuk pundak pemuda yang lebih tinggi lima centi itu. Tanpa peduli tatapan orang-orang, kaki ini tegap menyusuri lantai keramik yang setiap hari dibersihkan.
Tak sulit menyaksikan manusia semacam Jordi di sini. Berkelana dari ranjang ke ranjang adalah jalan hidup mereka. Narkoba, jangan tanya. Mayoritas sebagai pengguna, lalu bermetamorfosis menjadi pengedarnya.

Sistem buatan manusia yang rusak ini telah merampok generasi. Mereka yang seharusnya pewujud peradaban mulia, berganti menjadi sosok perusak negeri.
Mata kuliah agama yang hanya disampaikan satu semester harus berhadapan dengan perang pemikiran budaya barat dari seluruh lini.
Tak berimbang pasti.

Dan, parahnya ada wacana pendidikan agama akan dihapuskan. Gila.
Mau makin hancur generasi apa?
Oleh karena itu, aku memanfaatkan semaksimal mungkin jatah satu semester untuk memahamkan aqidah dan syariah Islam. Setidaknya para mahasiswa tak terlalu kosong dari ajaran agamanya.
"Allah adalah Pencipta sekaligus Pengatur atau Al Mudabbir. Matahari, bulan, bumi beredar pada porosnya itu adalah salah satu aturan atas alam semesta. Seandainya tak ada aturan itu, niscaya akan bertabrakan dan hancur berserakan."

Kurentangkan tangan, dikepal telapaknya lalu diadukan satu sama lain.
"Untuk aturan manusia, Allah menurunkan Al Qur'an. Selayaknya matahari, agar manusia beredar pada fitrahnya wajiblah ia mengikatkan diri dengan aturan hidup yang berasal dari Allah. Jika tidak, hancurlah kehidupan. Lihatlah hari ini kala hukum Islam tidak ditegakkan, dunia dinaungi kegelapan."
Aku hanya menyampaikan yang seharusnya disampaikan, ya, Allah.

***
"Tolong antar ini ke rumah Fatiya, Han."
Umi menyodorkan kantung kain hijau yang menggelembung. Wangi bolu pandan memancingku untuk memeriksa isinya.
"Malam begini, Umi? Haduh, Si Bungsu itu gak tahu waktu, eh."
"Katanya bawaan bayi. Ada-ada aja. Udah sana, nanti putri manyun!"
Tanpa kata lagi, kuraih kunci motor dan jaket kulit hitam yang tersampir di sofa karena belum sempat dirapikan.

Lepas mencium punggung tangan umi, melesatkan motor membelah jalanan yang telah dihiasi lampu-lampu malam.
Kemacetan di jalan utama membuatku mengalihkan arah ke jalan alternatif. Agak ragu sebenarnya sebab di area ini ada penginapan yang konon tempat primadona aksi pelacuran.
Dengan mengucap bismillah, kubelokkan motor. Benar saja di setengah jalan, berseliweran wanita-wanita yang melambai padaku.
Astagfirullah!
Menyesal mengambil keputusan jalan ini. Andai saja tak ada tabrakan yang menimbulkan kemacetan. Ah, sudahlah.
Hai, sepertinya aku kenal perempuan yang sedang dipapah lelaki tinggi besar menuju penginapan. Samar, aku melihat wanita itu memberontak, tetapi lemah sepertinya.
Makin dekat, makin jelas bentuk dan rupa pasangan itu serta aksi kasar sang lelaki.
Angeline! Astagfirullah!
"Angeline!"
Sontak pria bertato naga itu menoleh bersamaan dengan gadis dalam pelukannya.
"Lepaskan Angeline!"
Sepertinya Angeline berada di bawah pengaruh alkohol. Tubuhnya tak berdiri seimbang
"Pak, tolong."

Dengan suara terputus, tangannya di arahkan padaku, seolah minta dilepaskan dari orang yang memeluknya. Hanya saja, lelaki garang itu mencengkram kuat hingga Angeline meringis.
"Sialan Lo! Jangan ikut campur urusan gue!"
Pria berkepala setengah botak itu menghentak tubuh Angeline hingga terjengkang lalu terduduk di jalan beraspal.
Tanpa basa-basi sebuah benda tajam berkilau yang terselip di pinggangnya di cabut. Diputar-putar pesis aksi penjahat di film laga. Hanya saja kekuatan pria yang berada di bawah pengaruh alkohol itu sepertinya lemah. Ketidakseimbangan tubuh memperlihatkan hal itu.
Kilatan pisau itu menerpa wajah kala diayunkan dengan cepat. Sensor bahaya di tubuhku merespon cepat dengan berkelit kilat.

Merunduk cepat dan menghantamkan kepalan pada perut si tinggi besar.
Pria itu mengerang, matanya terbelalak sempurna. Tubuh yang tak seimbang itu makin kepayahan. Untuk menjamin keamanan, aku memutar badan melayangkan tendangan pada kepalanya. Ambruk!
"Ada apa ini?"
Dua orang berseragam satpam datang ke lokasi yang sudah ramai. Rupanya kegaduhan ini memancing perhatian orang-orang.
"Pria itu akan melecehkan mahasiswi saya! Ringkus dia!"
Segera kuhampiri Angeline yang tengah terduduk dengan kondisi setengah sadar. Kutelpon Fatiya agar dia dan suaminya datang ke lokasi untuk membawa mahasiswi stres ini ke rumah mereka.
Tak selang lima belas menit, mobil SUV silver yang ditunggu datang.
Fatiya memapah Angeline dibantu beberapa wanita yang masih betah menonton kejadian.

***
"Terima kasih, Pak. Maaf saya selalu merepotkan."
Lepas kejadian, Angeline menginap di rumah Fatiya, sedang aku pulang. Esok pagi baru kembali.
"Jadikan ini pelajaran. Jangan sampai terjerumus ke lubang yang sama dua kali."
"Iya."
Gadis itu menautkan jari, menunduk dalam. Hal yang jauh dari sikapnya terdahulu.
"Mendekatlah pada Allah, jangan justru menjauhi-Nya."
"Iya."
Kali ini tak tampak kesombongan di diri gadis itu. Semoga kejadian ini membuatnya benar-benar jera.
Lepas pamit, Angeline pulang dengan taksi online. Masih sempat terlihat lengkungan indah di bibir itu sebelum pintunya di buka.
Deg!
Aku ....
Entah mengapa ada harapan lebih pasca kejadian ini, harapan yang mulai mengetuk satu pintu di inti hati.
Angeline. Hijrahlah!
"Hayo senyum-senyum sendiri. Barbienya udah gak ada, eh."
Wajah ini langsung memanas, entah bagaimana warnanya ketahuan Fatiya mengikuti kepergian gadis itu.

"Ck! Bumil, nih. Seneng kali ganggu lamunan Mas."
"Ngelamunin apa sih?"
Matanya mulai mengerjap jail.
"Ya, ya. Godaan jomblo emang gitu. Ada sesuatu di sini'kan kalau deket-deket sang bidadari. Aku bantu doa deh. Hihihi!"
Gemas, kucubit tangan yang sengaja menempel di dada ini.
"Udah, ah. Mas mau ke kampus dulu."
Ini adik bungsu kalau tak dihentikan bakal terus mencandai.
"Nyari apa Mas?"
Haduh ini anak. Pakai nanya lagi, sudah jelas aku mencari motor.
"Motor."
Tanpa menoleh kujawab juga pertanyaan gak jelas si jail itu.
"Motornya sebelah situ. Kalau ke situ tempat jemuran, Mas. Hihihi!"
Astagfirullah!
Secepatnya berbalik arah sebelum Fatiya makin ganas menggoda. Sebelum motor melesat masih sempat kulihat anak jail yang bibirnya belum puas menertawakan kekonyolanku.
Entahlah, kenapa jadi linglung begini?
Ada apa Fathan?

***


Desir dalam Dada
#AHLAN_WA_SAHLAN_ANGELINE
(7)
#By_WafaHanin

Ah, entah apa yang terjadi tadi malam. Saat bangun, tubuh sudah terbalut selimut, mengerjap dan kepala masih sedikit berdenyut, berusaha mengingat apa yang terjadi, tapi gagal. Hanya ingat seorang lelaki menolong tapi begitu sadar bukan rumahku tujuannya, aku pun segera ingin melepaskan diri darinya.
Sekarang, membuka mata, tiba-tiba ada di dalam kamar.
Menit kemudian, seorang wanita usia dua puluhan masuk dari arah pintu.
"Eh, mbaknya udah bangun." Wanita dengan balutan jilbab itu meletakkan susu di atas nakas.
Mataku menyipit, mengingat seseorang yang kurasa familiar.
"O ...." Telunjuk refleks mengarah padanya begitu ingat, bahwa ia adalah adik Pak Fathan yang aku pikir adalah istrinya.
Pemilik wajah ayu dengan tatapan sayu itu tersenyum.
"Ingat saya?"
Aku mengangguk.

"Apa mau mandi lalu sholat dulu? Baru setelahnya kita bisa ngobrol," sambungnya.
Mandi pagi? Sebenarnya aku agak anti dengan ritual ini, selain dingin dan bisa melunturkan kecantikan juga sebagai alasan menghemat jumlah air bersih yang semakin menurun jumlahnya di Indonesia, itu yang sering aku katakan pada mamah saat menginap di rumahnya. Tapi aku tak mau berdebat dengan wanita ini, bisa-bisa aku dicap pemalas dan jorok.
"Sholat?" Mataku menyisir dinding, mencari benda menempel yang kumaksud. Ketemu. Jam dinding menunjukkan pukul 07.15.

Heran pada wanita tersebut, cantik dan berkerudung tapi sepertinya ada yang salah, atau dia penganut ajaran Islam menyimpang? Bukankah sounter sekarang Islam yang ekstrim dan nyeleneh dianut oleh mereka yang menjaga sempurna penampilan mereka -menutup aurat sempurna- seperti adik Pak Fathan ini.
Sholat apa coba jam segini?
'Sejelek-jelek gue' tahu kalau sholat subuh itu jam lima tadi, walau gak pernah ngerjain. Hehe.
"Sholat subuh?" tanyaku ragu.
"Iya, tunggu apalagi?"
"Tap-tapi jam berapa ini?"
Wanita berperut buncit itu tersenyum. "Apa Mbak selalu sholat subuh tepat waktu?"
"Em, ak-aku belum pernah sih, sholat. Jam-jam segitu 'kan masih ngantuk berat, hehe," jawabku dengan perasaan tidak enak. Senyum ini pasti terlihat miris. Baru aku merasa malu tidak menunaikan salah satu kewajiban seorang muslim yang bernama sholat.
Wanita itu tersenyum masam, hatinya pasti merutuk.

"Embak, sholat subuh itu harusnya memang dikerjakan sejak fajar sidiq tadi dan berakhir begitu matahari terbit. Tapi ... kondisi Mbak yang baru bangun, harusnya cepat mandi sekarang dan segera menunaikan sholat, maka masih dima'fu. Apalagi tadi saya sempat membangunkan Mbaknya tapi gagal."
"Em, apa tadi? Dimak ... Makfu?"
"Ma'fu, dimaafkan Mbak."
"Oohh ...." Wah, sepertinya dia memiliki pemahaman agama yang dalam.
"Ya sudah Mbak mandi dulu gih, baru sholat. Setelah itu kita lanjutkan lagi obrolannya."
Aku mengangguk dan segera bangkit, sedang wanita itu beranjak pergi keluar.

______
Lepas mandi dan sholat, dua kegiatan yang sama-sama kulakukan dengan terpaksa tapi anehnya ada perasaan tenang saat melakukan keduanya.

Dalam sholat hati terus memaki, bagaimana hatiku bisa sekeras ini. Bukankah harusnya saat orang buruk sepertiku kembali mendekat pada Tuhannya, ada tangisan yang jatuh ke pipi. 'Ck. Lo emang bandel Angeline.'

OMG ... aku ini bukan tokoh kisah fiktif religi, memaksa menangis pun tak bisa, karena memang bukan orang baik.
Lepas sholat, menghabiskan susu di gelas dengan rakus, perutku terasa hangat. Mengusapnya membuatku fokus pada pakaian yang disediakan adik perempuan Pak Fathan.
"Hemh, baju ini lumayan nyaman di pakai. Tidak sepanas yang kubayangkan."
Memegang handle, dan membuka pintu segera kututup kembali dengan membiarkan sedikit terbuka. Mengintip aktivitas sepasang kekasih di luar sana.

"Abang berangkat dulu, Sayang," ucap seorang lelaki begitu ia bangkit dari meja makan, sembari mengecup kening sang istri.
"Iya. Hati-hati. Jangan lupa makan siang."
"Iya." Kini pria itu mengusap pucuk kepala sang istri yang mengenakan kerudung, tangan itu lalu mengelus perut buncit wanita ayu di hadapannya. "Baik-baik ya jagoan Abi, jangan bikin umi susah."
Matanya beralih pada wajah istri, keduanya saling pandang penuh cinta. Ah, aku seperti baru saja melihat adegan drama romantis yang membosankan dengan pacar pura-puraku, karena mereka fiktif, tapi yang di sini ... nyata! Kemesraan yang tidak pernah kulihat dari orangtuaku.

Pernikahan di dunia nyata hanya tergambar di benak sebagai hubungan penuh pertengkaran, perselingkuhan dan broken home. Itu yang aku alami. Hatiku nyeri setiap kali mengingatnya. Membenci papah, mamah dan takdirku sendiri.
Pria itu telah pergi, mengucap salam dibalas Adik Pak Fathan dengan mencium punggung tangannya.
Sesak ini nyata. Bisa jadi hanya keluargaku yang hancur begini. Iri? Tentu saja. Namun, mungkinkah seorang wanita yang buruk dari segala halnya sepertiku bisa bersanding dangan lelaki baik dan sholeh.

"Loh, Mbak. Sedang apa di situ?" Pertanyaan itu membuatku tersentak.
"Em, nggak. Ini baru mau keluar, mau pamit dulu."
Mata wanita itu menyipit. "Loh, kenapa pakaian dari saya tidak digunakan, Mbak?"
"Oya, saya tidak enak. Hehe. Ini saja lebih nyaman," jawabku sekenanya. Padahal pakaian itu sangat nyaman, pantas saja Aqila betah memakainya di kampus. Hanya saja itu bukan milikku, bagaimana bisa aku yang kaya ini memakai baju milik orang lain. Nantilah, aku akan membelinya sendiri.
"Wah, padahal pakaian seperti ini gak bagus dipakai lho Mbak. Apalagi Embak cantik, buktinya udah dua kali kan Mbak dilecehkan karena penampilan Mbak."

"Dua kali? Tau dari mana?" Sebenarnya bukan dua kali, tapi entah berapa ribu kali, tapi tidak separah yang Jordi lakukan.
"Lho Mbak lupa kejadian tadi malam?"
Suasana hening sesaat. Wanita itu memberiku kesempatan mengingat.
"Oya, Mbaknya 'kan mabuk dan gak sadarkan diri. Untung saja Mas Fathan kebetulan lewat, dan untungnya lagi dia itu jago bela diri," ucapnya, dia menjawab pertanyaannya sendiri.
Ish, memalukan sekali. Aku ini pasti sangat hina di matanya. Lalu Pak Fathan? Dua kali dia menolong, dia juga pasti menganggapku wanita murahan. Tapi sejak kapan aku peduli pikiran orang lain tentangku?
Apa semalam tanpa sadar kepalaku terbentur dan ada gangguan di kepala? Omegat Angeline, sadarlah!

"Mbak, ayok makan dulu." Adik Fathan tidak seburuk yang kupikirkan, ia sangat ramah. Padahal kemarin aku kurang ajar menumpahkan jus ke gamisnya.
Sebenarnya aku ingin lekas pulang dan merebahkan diri di rumah. Lagipula ada banyak makalah yang harus kukerjakan minggu ini, semua tugas itu terasa semakin berat ditambah masalah yang menimpa belakangan.

Ia menarik tanganku ke meja makan, dan mendorong tubuh hingga terduduk di kursi. Dengan cekatan meletakkan meletakkan piring dan sendok lalu menaruh nasi dan sayur. Emang Angeline, makan tinggal nyuap doang. Itu pun sering protes.

"Apa, em ... Mbak masak semua ini sendiri?" tanyaku karena penasaran dan kagum melihat gerakannya.
Wanita itu mengangguk cepat. Raut ceria terpancar darinya.
"Wah, kapan masaknya?" Hal yang membuatku heran, jika sudah matang padahal hari masih sangat pagi.
"Tadi Mbak lepas sholat subuh," jawabnya tanpa melihatku.

"Sepertinya Mbak sangat bahagia," ucapku sembari menggerakkan sendok di atas piring.
Tidak menjawab, wanita itu tersenyum.

"Bahagia itu relatif Mbak. Bagaimana standar masing-masing orang. Kalau saya bahagia bisa merdeka, menghambakan diri pada Allah. Mendapatkan suami sholeh, karena visi pasangan yang jelas saja tidak cukup. Tapi juga visi yang benar, dan benar versi umat Islam seperti kita itu ya benar menurut Allah dan RasulNya. Ah, tak bisa dibayangkan kalau pernikahan kami tanpa landasan agama... bisa jadi kami sudah bercerai, karena banyak sekali permasalahan yang kami hadapi."
Mengunyah makanan sambil mendengarkan penjelasannya, seketika mulut ini berhenti bergerak, lalu mengunyah lebih pelan saat ia katakan kebahagiaan itu sifatnya relatif. Tadinya melihat kemesraan antara dia dan suami, kupikir mereka tidak pernah menemui masalah sebelum ini. Teori ini salah.
Jika dipikir orangtuaku sama sekali tidak pernah membahas agama, kecuali saat ramadhan atau lebaran, itu pun terpaksa karena mengikuti musim di negara berflower yang kami tinggali. Jadi rupanya semua inti dari masalah itu ada di agama.

"Islam itu agama sempurna, ia ada sebagai solusi tuntas setiap permasalahan manusia." Wanita itu melanjutkan.
"Semua?"
"Betul. Semua. Dari hal paling kecil sampai besar sekalipun," jawabnya mantap. "Oya, panggil aku Fatiyya. Lain kali kalau Mbak ...."
"Angeline, panggil aku Angeline." Kusodorkan tangan.
"Ah, ya. Sampai lupa kita belum kenalan." Tawanya renyah.
"Lain kali saya mau ajak Mbak ke majlis kalau Mbak berkenan?"
"Majlis? Radikal enggak?"
Wanita yang baru kutahu namanya itu malah tertawa.
"Jangan terbawa opini Mbak. Banyak makar jahat di luar sana, mengatakan penuntut ilmu dan aktifis Islam sebagai radikalis dan semacamnya, tujuannya agar umat Islam takut dengan agamanya sendiri."
"Opini?"
"Yah, lain kali saja kita bahas. Mbak habiskan dulu makannya."
Tidak menyangka wanita yang terlihat sederhana itu sangat cerdas. Bukan hanya mengerti agama, ia juga mengerti kejadian yang ada di masyarakat, yang sebelum ini tak terpikirkan. sama sekali olehku.

______
Keluar pintu dan berpamitan pada Fatiyya, tidak sengaja bertemu pada Pak Fathan. Lelaki yang menyelamatkan kehormatanku untuk kesekian kali. Entah kenapa saat netra ini menatap mata elangnya, seketika pikiran melayang pada Fatiyya dan suaminya tadi pagi. Ish, ini pasti efek pengen punya suami sholeh. 'Lo mikir apa sih, Njel'.
"Pak. Terimakasih."
Lelaki itu tersenyum tipis, membuat sesuatu berdebar di dalam sana.
"Sama-sama."
Tidak ingin terlihat canggung, aku segera berpamitan pergi.

_________
"Tumben lo pake baju nutup dengkul." Tasya yang duduk bersamaku di kantin akhirnya membuka suara juga.
"Mana pake syal dijembreng begini." Ia mencubit syal lebar yang menutupi bagian bahu dan dadaku.
"Apa cantik gue berkurang?" Kunaikkan bibir sebelah.

Ada perasaan menyesal dua kali akan diperkosa dalam waktu berdekatan, berharap penampilan ini mengurangi pikiran kotor dari penglihatan mata lelaki hidung belang.
"Kayaknya ada yang mau berubah genre, nih," seloroh Rahel.
Tasya terkikik.

Di kampus. Pertemanan kami mulai renggang, Geng Angel sudah terpecah menjadi dua blok. Tasya dan Rahel tetap setia padaku, sedang Karin dan Mia tentu saja mereka ikut Salsa. Selama ini, mereka bersekongkol menyimpan dendam padaku. Aneh, padahal saat bergaul tak pernah itung-itungan dengan mereka. Entahlah, menjadi yang pertama ternyata membuat mereka dengki.

Saat di kantin melihat mereka baru datang dan ada di meja berseberangan, seolah ada yang menggerakkan tubuhku. Semua harus diselesaikan, Angeline bukan tipe pengecut yang hanya bisa perang dingin. Namun, saat bangkit Tasya menahan lenganku. Disusul Rahel yang refleks berdiri membawaku pergi dari sana. Aku dan geng Salsa hanya saling tatap dengan tajam.

Di koridor, Pak Fathan keluar dari ruang rektor. Melihatnya dadaku seolah berdegup lebih kencang. Ada apa ini?
"Njel, lo kenapa?" Tasya melihat heran padaku.
"Eh, ga papa kok," jawabku cepat, tapi justru membuat gadis itu menegerutkan kening.
"Jangan sampai lo kebangeten benci sama tuh dosen, bisa-bisa lo jatuh cinta beneran sama doi." Ucapan Rahel meluncur begitu matanya memeriksa apa yang tengah kuperhatikan tadi.
"Hah?"

Dua gadis yang mengapitku kompak tersenyum masam, mengejekku. Yah, tapi untung saja mereka mengira aku masih sangat benci pada Pak Fathan, dan tentang kejadian Pak Fathan menolongku saat mabuk belum sempat kuceritakan pada mereka.
Berjalan semakin dekat, tatapanku masih intens ke arah pria berwajah oriental, seolah ada desiran yang belum kurasakan sebelumnya. Pak Fathan melihat padaku, ya ampun ... kenapa aku jadi canggung begini. Hingga jarak kami cuma dua meter, senyum dosen matkul Islam itu terulas ... manis ... seolah memaksa bibirku ikut tersenyum.

"Ep-pa ...." Ucapanku tertahan.
Seseorang menyenggol bahuku dari belakang karena ia buru-buru.
"Maaf." Gadis berkerudung lebar itu menghambur ke arah Pak Fathan, disambut senyum pria itu yang semakin mengembang. Jadi karena Aqila, Pak Fathan tersenyum. Ck. Kenapa ada yang sakit di dalam sini. Cemburu?

BERSAMBUNG

-------


#AHLAN_WA_SAHLAN_ANGELINE 8
#Haninhumayro_WafaFarha
#Fathan

"Abi berharap kali ini kamu mau membuka diri untuk putri teman Abi tersebut."
Deg!
Lepas Isya, Abi mengajakku kembali membahas perkara perjodohan dengan putri dari karibnya. Kami duduk di kursi kayu yang diperuntukan bersantai di beranda samping.
Ada rasa tak nyaman saat perkataan itu meluncur dari bibir pria yang amat kuhormati. Tekanan nada Abi kali ini tak seperti sebelumnya. Terasa ada paksaan di sana.
"Dia bukan gadis sembarangan. Hafizoh, terpelajar, mumpuni dalam agama. Tak diragukan kelak mampu jadi istri dan ibu sholehah."
Aqila.

Hmm, siapa sangka gadis yang sedang kami bahas adalah dia, mahasisiwiku sendiri.
Gadis tanpa cela, idaman pria-pria kampus, termasuk para player yang jauh dari bau agama.
"Gimana, Han? Mau, ya?"
Kelu, lidah ini merangkai kata. Aku juga tak mengerti mengapa begini adanya.
Karena Angeline?
Entahlah, gadis itu pun tak menunjukkan tanda-tanda mau berubah.
Dan, yang terpenting apa mungkin anak aneh itu suka padaku. Pria yang jauh sekali dengan stylenya. Apalagi strata ekonomi kami jauh berbeda.
"Untuk khitbah langsung sepertinya tidak bisa, Bi. Aku coba perhatikan dari jauh, untuk memantapkan hati."

"Hahaha! Cinta itu akan tumbuh seiring kebersamaan dalam ikatan halal. Ribet amat, nikah aja langsung."
"Gadis yang dilamar Salman Alfarisi malah memilih Abu Darda, loh, Bi. Kalau bukan kenyamanan karena cinta di awal apa namanya? Jadi, aku minta waktu tiga bulan."
Untung saja Abi mau berbaik hati memberi tenggat tiga bulan. Lumayanlah ada waktu untuk mempersiapkan hati memilih pendamping hidup.
Lepas kepergian Abi, mendadak kepala ini pusing. Fix, pikiranku jadi terbelah begini.
Hhh, inilah masalah yang dibikin sendiri. Apa susahnya Fathan nikah saja dengan Aqila.
Tak semudah itulah. Nikah bukan permainan, tapi jalan baru kehidupan. Terbayang kalau dari awal tak nyaman, berabe ke depannya.

***
"Gak sarapan dulu, Han?"
"Di kampus saja, Um. Takut terlambat. Assalamulaikum!"
Setelah mencium kening wanita yang paling harus kuutamakan, berlari menuju motor yang sudah lima tahun belum berganti.

Lepas memarkirkan motor, berjalan cepat-cepat sebab waktu mengajar tinggal lima menit lagi.
Ini gara-gara semalam. Mata baru bisa dipejamkan pukul dua dini hari. Dialog dengan abi menyisakan beban pikiran tersendiri. Alhasil setelah sholat subuh tanpa sadar tertidur lagi.
Untunglah tiba tepat waktu. Setelah mengatur napas, kuliah pun dimulai. Pagi ini jadwal di jurusan sosial ekonomi. Mahasisiwi. Berjumlah seratus tujuh puluh ini sigap memisahkan tempat duduk pria dan wanita.

Kuterapkan aturan ini untuk memahamkan bahwa laki-laki dan perempuan itu dilarang campur baur atau ikhtilat baik di tempat khusus maupun umum. Kecuali di area yang tak mungkin dipisah seperti pasar, kendaraan umum dan jalan.
Interaksi yang dibolehkan pun sebatas pendidikan, kesehatan dan muamalah umum. Tak ada pertemanan bebas pria dan wanita dalam Islam.
"Tugas yang saya minta minggu lalu silakan dikumpulkan."

Tanpa komando, suasana hening tadi berubah ramai. Ada yang spontan bilang belum dikerjakan, lalu temannya menepuk dengan buku. Ada pula pura-pura lupa padahal aslinya ingat.
Aku sudah biasa menghadapi ini.
"Oke, yang tidak mengerjakan saya dobel tugasnya."
"Yaaaa!"
"Rasain, lo!"
Tawa berderai di beberapa bagian tempat.
Hmm, tapi tidak dengan gadis itu. Aqila, dia tampak tenang. Tentulah tugas membuat makalah tentang konsekuensi iman pada Allah pasti mudah untuknya.
Hmmm. Apa aku bisa membuka hati untuknya? Entahlah. Kebetulan sekali kan, gadis yang disodorkan Abi semalam ternyata Aqila.

Bukan ditawarkan, kali ini tepatnya dipaksakan karena Aqila anak sahabat karib Abi saat pesantren dulu. Ada harapan kuat mereka ingin menyambung tali kekeluargaan.
Tak ada cela pada Aqila, cantik, sholehah, cerdas lembut pula. Hanya, aku butuh waktu untuk memantapkan perasaanku, ke mana dia berlabuh.

"Islam itu agama sempurna. Mengatur urusan dunia juga akherat. Islam hadir untuk memecahkan segala masalah yang muncul hingga kiamat tiba. Islam mengatur ekonomi untuk memecahkan masalah ekonomi manusia. Mengatur sosial untuk mengurai masalah sosial yang dihadapi manusia."
Kusapukan pandangan pada seluruh mahasisiwa yang sebagian besar konsentrasi. Hingga tiba netra ini beradu dengan sorot sendu Aqila.

Hai, ada rona merah meski samar di wajah ayu itu. Segera kupalingkan pandangan sebelum setan meniupkan tipu daya.
"Hukum ekonomi contohnya keharaman riba atau bunga dalam pinjam transaksi muamalah. Islam melarang melebihkan pinjaman walau hanya satu persen."

Ruangan kembali riuh. Meski ini akan menuai pro kontra, kebenaran harus disampaikan bahwa sistem perbankan saat ini pondasiny riba yang jelas haram.
"Berarti kredit perumahan yang mencantumkan bunga juga haram dong, Pak?" tanya Eros, mahasiswa program studi manjemen dan bisnis.

"Betul, sebab disitu kentara riba. Cicilan tiap bulan merupakan gabungan harga pokok dan bunga dalam persentase tertentu."
Tanya jawab makin panas hingga tak terasa waktu kuliah sudah selesai.
Sebelum para mahasiswa berhamburan, aku sudah mendahului mereka pasalnya ini perut terus berteriak minta dipenuhi haknya.

Lepas terpenuhi kebutuhan jasmani, segera menuju ruang kuliah selanjutnya.
Sesekali melempar senyum pada siapapun yang berpapasan. Kadang diiringi anggukan sopan.
Angeline!
Takjub, melihat gadis itu memakai pakaian lebih sopan. Tak ada buka-bukaan di bagian dada. Roknya pun agak panjang dari biasanya.

Eh di belakangnya ada Aqila. Sepertinya terburu-buru. Dan, kenapa melambai padaku.
Ada perlu?
Kulempar senyuman pada gadis-gadis yang langkahnya hampir bersamaan.
"Pa, ep ...."
Angeline gugup sekali dia. Ingin tertawa melihat gadis megapolitan itu salah tingkah.
"Pak, Afwan!"
Sebelum sempat menyapanya, Aqila bicara. Saking tergesa menghampiriku, bahunya menabrak lengan Angeline.
"Afwan, Angeline."

Tak ada jawaban iya dari bibir gadis itu. Masih sempat kulihat binar di raut Angeline seketika memudar saat Aqila mendekat padaku.
Kenapa dia?
Aqila menyodorkan surat undangan rapat LDK yang dititipkan Fauzan padanya. Dia mengatakan aku diminta datang sebagai tamu kehormatan.
"Insya Allah saya hadir."
Sabtu pukul delapan kebetulan tak ada agenda apapun. Kuupayakan untuk menyertai adik-adik aktifis dalam menghidupkan dakwah di sini.
"Kalau begitu saya permisi, Pak. Assalamualaikum."
Kurasa ada yang aneh dengan Aqila. Wajahnya merona dan suaranya bergetar tidak biasanya. Apa dia tahu soal perjodohan ini?
Aduh, kenapa harus disampaikan dulu. Aku tak mau memberi harapan apapun pada wanita sebelum hati ini mantap memilihnya.
Sedangkan sekarang masih belum jelas apa arti rasaku pada Aqila dan pada seseorang yang lainnya.
Eh, ke mana dia?

***
"Ruang gerak kami dibatasi sekarang, Pak. Semenjak isu radikalisme yang diembuskan di kampus. Beberapa pengajian dimonitoring, izin dipersulit." terang Radit, ketua umum LDK.
Aku tak aneh dengan ini sebab upaya-upaya menghalangi kebangkitan Islam makin terasa sekarang. Aktifis Islam yang menyeru kebaikan kerap dituduh menyebarkan keburukan, padahal mereka adalah orang-orang yang ingin mengajak pada ajaran Islam.

Justru pelaku LGBT dan free sex yang nista dibiarkan berkeliaran atas nama HAM. Peredaran narkoba di kampus ini pun sudah bukan rahasia lagi. Hampir semua lini ada yang terlibat sebagai pecandu bahkan pengedar. Hanya saja tak tersentuh sebab ada backing oknum aparat dan pejabat yang silau oleh gemerlap dunia
"Apa ada yang sudah dipersekusi?"
"Sejauh ini belum, Pak. Hanya ancaman terselubung sudah mulai dirasakan beberapa teman-teman. Seperti yang dialami Akhi Ilham, skripsinya dipermainkan." tambah Hanif, mahasiswa tingkat tiga jurusan kedokteran.

"Astagfirullah! Kepada muslim keras, kepada kemaksiatan lembek."
Rapat penyusunan rencana strategis dakwah berlangsung hingga empat jam. Wajah-wajah tulus terlihat serius mencari solusi-solusi atas masalah yang dihadapi. Tak ada kata menyerah dan lemah bagi para mujahid dan mujahidah.
Aqila ada di ruangan ini tentu. Di barisan akhwat. Dia tak kalah antusias dari ikhwan dalam urusan dakwah. Tak terpalingkan oleh kesibukan kuliah dan praktikum yang pasti membuat lelah
Gadis luar biasa.

Pertemuan ini selesai pukul dua belas. Selepas sholat dan makan siang bergegas menuju motor karena pukul dua ada agenda kembali.
Di sepuluh menit perjalanan, netraku menangkap seorang bergamis lebar tengah mengotak-atik motornya. Dari tampilan belakang, rasanya tak asing.
Ya, itu Aqila.
Kupastikan motor itu mogok. Tak tega melihatnya kerepotan, menghentikan kendaraan tepat di sampingnya.
Gadis itu sedikit terlonjak kala kusapa tiba-tiba. Setelah memastikan ada masalah dengan motornya kucoba mencari solusi.
"Alhamdulillah, akhirnya."

Setengah jam mengotak-atik, motor itu hidup lagi.
Aqila mengucapkan terima kasih berulang-ulang. Satu senyuman kulukis untuk mengapresiasi hal tersebut. Tak selang sedetik gadis itu menunduk. Masih tertangkap ada semburat merah di pipi putihnya.
Teeet!
"Ya, Allah!"
Klakson yang super kencang menyadarkanku dari situasi ini. Refleks menoleh pada mobil iseng tersebut.
Eh, sepertinya mobil itu tak asing.
Itukan mobil Angeline.
NEXT

-------


#AHLAN_WA_SAHLAN_ANGELINE
(9)
#By_WafaHanin

"Seorang gadis keluar dari kamar papa, mataku menyipit seketika. Siapa itu?"
***

Ini bukan cemburu, apalagi bibit cinta. Bukan. Aku pasti hanya terobsesi karena adegan Fatiyya dan suaminya tadi pagi. Ya sudahlah, Pak Fathan dan Aqila memang cocok. Sama-sama baik agamanya. Tapi ... aku juga ingin punya suami seperti suami Fatiyya, hiks.

Hello, Angeline! Apa lelaki di dunia ini cuma ada Fathan? Cepat, sisi kewarasanku berteriak.
Benar. Aku sudah menakarnya dengan tepat. Ini bukan cemburu. Huft. Syukurlah.
Masuk mobil dan menyalakan mesin, kuinjak pedal gas keluar dari parkiran kampus. Mataku memicing, melihat Pak Fathan tengah mengutak-atik motor Aqila. Kenapa dada ini rasanya nyeri lagi? Bukankah sudah kupastikan ini bukan cinta.

Kuberanikan diri mendekati mereka, ingin tahu apa yang tengah terjadi di antara mereka. Ah, bukan ... tapi ingin membantu. "Ayo Angeline, tanyakan pada mereka sedang apa? Eh, bukan. Tapi tanyakan apa ada masalah. Kemaren kan mereka juga udah bantuin kamu."
Mengurangi laju mobil, aku bicara pada diri sendiri.
Segera keluar dan menghampiri keduanya.
"Ada apa? Apa ada masalah?" Aku celingukan memperhatikan motor matic milik Aqila.
Kenapa rasanya aku tengah memergoki mereka sedang selingkuh. Keduanya terlihat canggung, membuatku yang sebelumnya bisa bersikap biasa ikut-ikutan canggung, tak enak karena mengganggu mereka. Aku yakin dari ekspresi Aqila yang malu-malu, dan cara melihat Pak Fathan padanya pasti ada sesuatu di antara mereka.

"Em, ini. Motor Aqila mogok. Setelah memeriksanya, ternyata businya kotor." Pak Fathan menunjuk ke motor Aqila.
"Ooo." Mulutku membulat.
"Ehm, iya." Aqila menyahut, ia makin terlihat aneh dengan dua pipinya yang merah.
"Makasih ya, Pak."
"Iya, sama-sama. Tapi masalahnya, setelah sempat menyala, saya gak sengaja menarik kabel remnya. Jadi sangat berbahaya kalau tetap memaksa dinaiki." Pak Fathan menyambung ucapannya. Dia terlihat sangat perhatian pada Aqila. Itu menyebalkan.

"Oya?" Aqila terlihat semakin aneh. Dia pasti merasa ada di awang-awang.
"Iya, em ... kebetulan sekali ada Angeline. Bisakah antar Aqila pulang? Biar saya dorongkan motor ini ke bengkel sebelah sana?"
Pak Fathan melihat padaku. Mana bisa aku menolak, dia kan dosenku.
"Em, saya Pak? Sebenarnya saya sangat sibuk. Tapi .... Yah, baiklah kalau Bapak memaksa," jawabku spontan. Pak Fathan tersenyum, duh, manisnya. Sejak kapan dia semanis itu? Angle, Sadarlah!
"Em, tidak apa-apa kalau Angeline sibuk, Pak. Saya bisa jalan ke depan dan memanggil taksi lewat di sana." Aqila terlihat tidak nyaman karena ucapanku sepertinya. Hiss, apa anak ini tidak bisa diajak basa-basi?

"Wah, jangan nanti capek. Atau saya ...." Ucapan Pak Fathan menggantung karena kupotong.
"Ah, nggak. Gue gak sibuk kok, eh maksudnya aku gak sibuk kok La! Ayo buruan." Kuraih tangan Aqila ke mobil, sebelum Pak Fathan menawarkan diri mengantar Aqila dengan membonceng ke rumahnya.
Gadis berjilbab lebar itu pasrah. Segera kututup mobil, dan melambai pada Pak Fathan dari dalam mobil.
"Daaa Bapak. Kami duluan ya!"
Sedang Aqila sedikit mengangguk memberi hormat.

Pak Fathan lagi-lagi tersenyum, entah uuntukku atau Aqila atau siapa aku tak tahu.
Sepanjang jalan ke rumah Aqila terasa canggung. Mungkin dia merasa terganggu olehku, dan aku merasa tak nyaman membuka suara duluan.
Hanya beberapa menit, kami sampai di kostan Aqila. Letak kost mahasiswa rata-rata tidak jauh dari kampus, hanya 2-3 KM.
"Njel. Makasih ya."
Aku tersenyum. "Ya."
Gadis itu lalu masuk. Memperhatikannya yang tengah berjalan seperti itu, dia adalah gadis sempurna buat Pak Fathan. "Bagus, Njel. Standar 'sempurna' buat lo sudah berubah!"

_______
Menghubungi papa, tidak diangkat. Akhirnya aku menelpon rumah, dari ujung telepon Bi Surti menjawabnya.
"Hallo?"
"Bi?"
"Ya, Non."
"Papa sudah di rumah?"
"Em, em. Itu Non." Bi Surti terdengar ragu.
"Ada apa, Bi? Papa di rumah apa nggak?"
"Iya. Eh, nggak Non. Tuan belum pulang."
Aku meniup berat. "Ya, sudah Bi. Aku cari ke kantornya saja."
"Baik, Non."
Telepon terputus.
Sampai di kantor, masuk ke ruangan papa tanpa hambatan. Hanya orang tertentu yang bebas keluar masuk kantor dinas ini, semua orang yang masih bekerja sore itu tahu aku adalah satu-satunya putri Joko Pramono, orang nomor satu di kota kami.

Ruangan kosong, kata sekretarisnya yang dandanannya seperti model cat walk itu, papa sudah pulang sejak jam tiga tadi siang.
"Ke mana papa?"
Merasa lelah, hanya sekedar ingin punya waktu bicara saajo rasanya sulit. Ku lempar tas hermes yang ku tenteng ke meja kerjanya, hingga beberapa map jatuh berserak. Merasa bersalah segera kupungut benda-benda itu.

"Apa ini? Desa Purnama? Bukankah ini nama kampung Pak Fathan? Surat pembebasan lahan untuk PT. Cahaya Abadi?"
Aku tidak begitu mengerti tentang dokumen-dokumen itu, papa memang kerap berurusan dengan pengusaha-pengusaha kaya dan mereka meminta bantuan membeli lahan untuk usaha mereka, sejauh ini yang aku tahu tidak ada yang dirugikan untuk itu. Malah setelah tender berhasil papa mengadakan pesta dengan orang-orang besar di kota ini, luar kota bahkan sampai pengusaha dari luar negeri.
Kutinggalkan kantor dengan perasaan kecewa tidak menemukan papa. Letih menjalani hidup seperti ini. Banyak hal yang membuatku semakin ingin tenang seperti Fatiyya, bahagia meski hidup sederhana tak bergelimang harta.

______
Memasuki rumah besar dan mewah yang kami tinggali sejak papah sukses mencapai karirnya empat tahun lalu.
"Eh, Non. Sudah pulang?" tanya Bi Inah gugup.
"Tadi Bi Surti juga aneh waktu di telepon," gerutuku sembari berjalan ke kamar. Mereka memang sering terlihat aneh, mungkin karena takut aku ngamuk. Padahal mah, aku ngamuk setahun sekali belum tentu.
Saat menaiki tangga, netraku menyipit menangkap sosok gadis keluar dari kamar papa. Aku berlari, memastikan sosok tak asing itu. Benar dugaanku.
"Lho, Sya. Kok lo di sini gak bilang-bilang?"

tanyaku yang membuat Tasya terkejut. Ku perhatikan pintu kamar papa yang tertutup rapat.
"Ehm, iya. Duh, bikin kaget aja, sih."
"Kok lo dari kamar papa?"
"Ha? Aku dari paviliun kok. Siapa yang dari kamar bokap lo?" jawab Tasya tanpa ragu. Jelas-jelas dari bawah tadi aku melihatnya menutup pintu kamar papa. Kenapa dia musti bohong?
"Ya, udah yuk. Badanku pegel semua, nih." Tasya jalan ke kamarku.
"Eh, nanti dulu. Aku mau ketemu papa." Tidak mengikuti gadis itu, langkahku menuju kamar pria yang seharusnya menjadi cinta pertama anak perempuannya, yaitu aku.
Tasya berbalik, menarik paksa tanganku.

"Udah, ayuk ke kamar lo aja. Keknya bokap lo lagi sibuk gak bisa diganggu. Tadi gue sempet lihat muka bokap lo ditekuk-tekuk. Dia pasti juga kelelahan."
Pasrah karena Tasya memaksa, kutinggalkan kamar papa dengan menatap kecewa, lagi-lagi kecewa.
"Gue mau ke kamar mandi dulu ye." Tasya meninggalkanku.
"Iye." His si Tasya, bolos dua matkul malah ada di rumahku. "Sableng!" Ups, Angeline hentikan mulut kotormu itu! Bukankah kamu ingin seperti Fatiyya. Ya ampun, sisi hatiku yang lain menegur.
Ponsel berdering. Sebuah panggilan. Mataku melebar sempurna saat nama "Dosen Kutub" tertera di layar. Pak Fathan? Ada apa tiba-tiba menelpon?
"Hallo, Pak."

"Assalamualaikum, Angeline." Suara berat pria itu membuatku deg-degan. Sebentar, apa aku pernah mengalami ini? Rasanya belum.
"Wa-waalaikumsaalam. Pak. A-ada a-apa Pak?" Duh, kenapa aku jadi terbata gini.
"Em, terimakasih. Sudah membantu Aqila."
Mendengar pria itu menyebut nama Aqila membuat dadaku lagi-lagi sedikit nyeri. Seberharga itu rupanya gadis sholehah itu. Mau bagaimana lagi, mereka memang serasi.
"Iya, Pak. Sama-sama. Ya sudah kalau begitu, saya sedang ada kerjaan." Aku ingin segera menutup telepon sebelum pria itu lebih banyak membuat segumpal daging merah di dalam sini sakit.
"Eh, em. Tunggu." Pak Fathan menahanku agar
tidak menutup telepon.

"Em, tadi itu saya hanya membantu Aqila. Tidak ada niat lain."
"Maksud Bapak?"
"Em, saya tidak mau kamu salah paham. Saya dan Aqila tidak ada hubungan apa-apa." Suara Pak Fathan terdengar terbata, apa dia gugup? Kenapa rasanya ada yang "gremet-gremet" di hatiku gini. 'Seneng beud.' Apa mungkin ini sinyal?

"Salah paham? Memangnya kenapa kalau saya salah paham tentang Bapak dan Aqila, Pak?" Aku tak bisa menahan senyumku karena senang.
"Em, kenapa ya. Eh, kok saya jadi bahasnya ke mana-mana. Ya sudah, yang jelas, saya tidak mau ada salah paham antara kita. Sudah dulu ya, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Pak Fathan mengakhiri teleponnya.
"Argh!" Tak sadar aku berteriak dan berguling-guling di atas kasur king size di kamarku itu.
Berkali-kali memukuli pipi karena ada yang panas di sana.
"Njel, lo kenapa? Kesambet?" Tasya mematung. Ia memasang tampang heran melihatku.
BERSAMBUNG

-------

#AHLAN_WA_SAHLAN_ANGELINE 10
#HaninHumyro_Wafafarha

Kenapa jadi resah begini sih? Memangnya kenapa kalau Angeline salah paham soal Aqila? Bahaya dong, Han. Nanti dikira dia kamu pacaran lagi, kan jadi fitnah.
Benar, kamu resah karena itu saja?
Hhhh!
Mengusap wajah perlahan, lalu beristigfar.
Setengah jam memainkan ponsel. Masuk aplikasi WA, klik nama Angeline. Namun, saat akan menekan icon panggilan, telunjuk ini tertahan.
Lalu, ketik pesan, hapus.
Kamu kenapa, Fathan?
Lepas memenangkan pertarungan batin ditekan juga nomor yang pemiliknya membuatku resah seharian. Tak susah untuk mendapatkannya. Cukup mencari di daftar absen yang sengaja dibuat kolom nomor HP mahasiswa.

Ah, taruh di mana muka mendapati suaraku bergetar begini.
Tenang, tenang, Han. Kamu hanya mengklarifikasi kalau kalian tidak berbuat aneh-aneh, hanya tolong menolong sesama muslim.
Eh, dada ini, diamlah! Tak ada apa-apa. Tak perlu ribut juga.
Selesai!
Akhirnya obrolan singkat yang memunculkan kegaduhan hati berakhir juga.
Hhh!
Ketukan di pintu kamar seketika membuat keinginan merebah sebentar saja tertunda. Wanita yang masih terlihat jelas garis kecantikannya masuk membawa nampan berisi teh aroma melati yang asapnya meliuk-liuk ke udara.

Balum sempat kuraih cangkir yang isinya menggoda lidah, Umi menepis tangan ini.
"Aduh, buka dulu baju kerjanya. Kusut nanti!"
"Iya, Um. Tadi lum sempat."
Umi duduk di pinggir ranjang yang spreinya masih tertata rapi. Meski sederhana, kamarku tergolong sedap di pandang mata. Tak banyak barang di sini. Hanya ada kasur, lemari, kursi dan meja kerja.
"Gimana, udah mantap belum untuk melamar Aqila?"
Deg!

Gerakan tangan melepas kancing kemeja terhenti. Kutolehkan kepala sesaat pada wanita bermata lentik itu. Rasa tak nyaman muncul tiba-tiba.
Entah mengapa, makin didesak makin kuat keengganan melangkah lebih jauh.
Ah, kadang menyelusup dilema akan rencana perjodohan ini. Maju enggan, mundur pun pastinya salah.
"Belum juga tiga bulan, Um."
Kembali membuka kancing satu per satu. Lantas memgambil kaos distro bertuliskan 'Aku Cinta Islam'.

"Owalah, kenapa mesti nunggu lama gitu. Keburu disamber orang, nyesek, Han."
"Kalau jodoh gak kan kecurian, Um?"
"Ck! Bisaan ngelesnya, eh."
Aku tertawa sambil memeluk wanita yang sedang mengerucutkan bibir.
Melintas di pelupuk mata bayangan dua gadis yang kini jadi bahan pikiran.
Pusing juga memikirkannya.

***
"Penggusuran wilayah kita bukan untuk relokasi lahan atau penghijauan seperti yang digembar-gemborkan. Menurut berita pihak pemda yang mendukung kita, penggusuran ini untuk kepentingan segelintir konglomerat hitam. Mereka selingkuh dengan pejabat korup demi jebolnya pembebasan lahan."

Abi menyampaikan informasi terkini terkait upaya penggusuran lahan yang mencuat lagi ke permukaan. Perwakilan warga berkumpul di majelis milik keluarga kami untuk membahas perkara yang cukup membahayakan keberlangsungan hidup di wilayah ini.
Ada sekitar tiga puluh lelaki duduk melingkar di tempat berkarpet hijau ini. Wajah-wajah itu terlihat serius, sedikit tegang juga.

"Kita kan punya sertifikat tanah. Kuat, dong secara hukum," tukasku.
"Katanya sertifikat itu ganda. PT Cahaya Abadi mengkliaim mereka pemilik sertifikat sah," timpal Rudi, ketua pemuda kelurahan Purnama

"Lah, terus kita bagaimana? Kan beli juga tanah ini. Mahal pula!" seru Anton. Dari nada suaranya bisa diketahui pria itu tengah menahan kegeraman.
Selanjutnya dialog ini membahas rencana langkah-langkah yang akan ditempuh untuk menyelamatkan tempat tinggal kami. Rapat ini cukup menguras tenaga, waktu juga emosi.
Terbayang, kalau penggusuran ini terjadi bagaimana nasib warga? Penghasilan mayoritas mereka hanya cukup untuk makan sehari-hari. Dari mana uang untuk membeli tanah dan rumah baru?
Kalau kami tak mampu membuktikan keaslian sertifikat tanah, jelas akan kalah. Kalaupun mampu membuktikan kebenaran, pengusaha rakus yang berselingkuh dengan pejabat korup akan membeli hukum. Kaum zolim itu tak peduli dengan cara serendah apapun, yang penting menang.
Masalah ini sukses membuat kepalaku makin berputar-putar.

Sudahlah biaya hidup jauh di atas penghasilan, kini, warga diteror penggusuran.
Hai, Tuan! Tak bisakah memberi kami hidup tenang ?
Masalah warga, jegalan dakwah di kampus juga soal dua wanita silih berganti menari-nari di ruang otak.

***
"Kami hanya berdakwah, menyeru pada kebaikan, menjalankan perintah Allah. Kalau itu yang dimaksud radikal berarti ide radikalisme sengaja diembuskan untuk menjegal dakwah Islam?"
Aku menangkis tuduhan dari oknum dosen yang giat memprovokasi pejabat kampus untuk mempersekusi aktivis mahasiswa.
Pada kesempatan istirahat sengaja kutemui dosen yang usianya sepuluh tahun di atasku. Aku tak heran dengan pemikiran aneh orang ini sebab selain mengajar, dia juga aktif di partai sekuler anti Islam

"Saya tidak menyebut radikal itu Islam. Saya hanya bilang bahwa Islam garis keras yang radikal. Kalau moderat itu Islam yang harus dipelihara. Beragama itu jangan terlalu fanatik nanti jadi radikal, sesuaikan saja dengan kondisi, " sanggah Robin, Dosen Sosiologi yang mulutnya tak bisa diam.
"Istilah radikal dan moderat hanya upaya mengadu domba umat Dalam ajaran Rasul, Islam itu satu yang termaktub dalam Al Qur'an dan As sunnah. Menjalankan syariat secara kaffah itu kewajiban bukan fanatik apalagi radikal. Justru, tak menjalankan syariah itu maksiat, dosa."
Diskusi terhenti oleh waktu mengajar masing-masing. Belum puas sebenarnya, hanya saja kewajiban menyampaikan ilmu pada mahasiswa harus segera ditunaikan.

Lepas mengajar rasanya tubuh ini tak karuan. Keringat dingin sedari tadi keluar dari beberapa bagian tubuh. Telapak pun ikut basah.
Sepertinya badan ini tak bisa dipaksa beraktivitas lagi. Bergegas menuju ruang kerja untuk merehatkan diri barang sebentar.
Belum sampai sepertiga jalan, keseimbangan tubuh mulai berkurang. Daripada cari perkara, baiknya duduk dulu di mana saja.
Bangku panjang yang terbuat dari semen jadi pilihan. Kebetulam letaknya hanya 100 meter dari koridor. Lumayanlah untuk transit sebentar.

Tempat ini cukup nyaman sebab ada beberapa tanaman hijau di sekitarnya. Biasanya dimanfaatkan mahasiswa untuk ngobrol sambil menunggu jadwal kuliah.
"Bapak kenapa? Pucat amat, sakit?"
Belum sampai tiga menit duduk, suara khas seorang Angeline menyapu telinga. Menoleh sekilas, lantas memalingkan pandangan kala beradu dengan aurat yang tereksplor di hadapan.
Ck! Anak ini kapan mau berubah. Hai, duduk di sebelah lagi.
"Badan Bapak panas."

Detak di dalam sini naik satu level kala telapak Angeline tiba-tiba menempel di tangan ini.
"Maaf, hehehe!"
Mendapati reaksi mataku yang spontan membulat, Angeline menangkupkan kedua tangan di dadanya.
"Minum dulu, Pak!"

Kuambil air mineral yang disodorkan gadis bermanik kelam itu. Kerongkongan yang mengering membuatku tak menolak pemberian itu.
"Makasih, ya. Saya gakpapa. Cuma kecapean aja."
Lalu, kami sama-sama diam. Aku canggung, seperti itu juga Angel, mungkin.
Ah, suasananya, kok jadi begini. Mana dagdigdug lagi. Mau pergi aku belum kuat berjalan juga.
"Pak, ehm."
"Apa?"
"Hijab itu wajib banget, ya? Saya kan minim ilmu agamanya. Kalau berhijab aneh, gak? Entar gak ngerti apa-apa, malu'kan?"

Senyuman tak dapat kutahan mendapati ungkapan polos sekaligus luar biasa dari seorang primadona kampus. Angeline. Tak dapat dipungkiri, aku seperti mendapat suntikan kekuatan. Tubuh lemas ini mendadak berenergi.
"Kok Bapak malah senyum? Lucu, ya kalau saya nanya gitu?"
"Oh, eh, maaf, bukan begitu. Hanya, saya seneng banget dengernya."
"Seneng?"
Aku mengangguk, tanpa sengaja pandangan kami beradu. Bola bening itu seakan menantang untuk kuselami kedalamannya. Ada apa di sana, iya di palung jiwamu.
Semburat merah dapat tertangkap jelas sebelum gadis itu menunduk.
Apa dia memiliki rasa yang sama denganku. Apa kami satu asa? Mengapa naluri ini meyakini itu. Sepertinya satu masalah harus kuselesaikan.
"Kalau mau hijrah, Bapak bersedia membimbingmu."
Kalimat itu meluncur begitu saja. Kalimat yang bermakna lebih dari sekedar ajakan hijrah.
Ya, lebih dari itu.

NEXT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar