Repost
"Memalukan! bisa-bisanya kalian terpergok warga sedang berduan di kamar kos!" Pak Firman melampiaskan emosinya.
Hanin, anak perempuannya yang berusia 29 tahun hanya diam tertunduk, tak ada satu patah kata pun terucap. Bukan tak ingin berbicara, ia hanya takut akan semakin memancing kemarahan sang ayah. Sementara, terlihat seorang pria duduk disampingnya juga masih tampak bungkam.
Hanindya Arista, seorang wanita single, ia tidak berpacaran sudah sekitar empat tahun. Desakan untuk segera menikah pun tak jarang ia dapatkan ketika pulang ke rumah orangtuanya. Terutama sang ayah, beliau ingin sekali segera melihat sang putri bersanding di pelaminan. Bagaimana tidak, adik laki-laki yang berusia dua tahun dibawahnya sudah menikah dan memiliki satu orang anak. Bagi orangtua itu menjadi sebuah keresahan, karena menurut mitos kakak perempuan yang dilangkahi adik laki-laki seringkali susah mendapatkan jodoh.
Malam ini sepulang dari kantor, Hanin mampir ke sebuah swalayan untuk membeli keperluan bulanan. Sebagai anak sulung, ia memang terlatih mandiri dalam segala hal sejak kecil.
'Sabun mandi, pasta gigi, mie instan, minyak ....' Hanin mengabsen daftar belanjaannya, memastikan tidak ada yang tertinggal, setelah itu ia mendorong trolly menuju kasir.
----------
Perempuan itu merogoh tas berwarna hitam yang ia selempangkan, lalu mencari kunci gerbang yang sudah di kunci ibu kos. Waktu memang masih menunjukan jam sembilan malam, tapi kos-kosan ini sangat ketat. Tak berapa lama kunci diambilanya dan gerbang di buka, tiba-tiba saja Hanin dikejutkan oleh seseorang yang memegang tangannya begitu kuat.
"Tolong gue kak. Gue di kejar orang," ucap laki-laki itu dengan wajah pucat.
Hanin bergeming, di satu sisi ia merasa takut, tapi di sisi lain pun ia bingung dan kasihan pada pria yang terlihat sangat ketakutan ini.
Tak berapa lama segerombolan orang terlihat dengan senjata tajam, tanpa berpikir panjang pria itu menarik tangannya masuk dan bersembunyi di kamar.
"Kamu gak bisa lama-lama di sini ...." ucap Hanin dingin menutupi rasa takutnya.
"Tunggu aman, aku pasti segera keluar," jawabnya singkat.
Pria itu terlihat sesekali meringis seraya memegang perut bagian kanan. Hanin memperhatikan, terlihat ada darah mulai mengering di kaos yang dipakainya.
"Perutmu sepertinya terluka."
Dia tidak menjawab, hanya terus memegang perutnya seperti menekan agar darah tidak terus keluar.
Selang satu jam berlalu, tak ada kata dari keduanya, hanya hening menyelimuti. Sekedar untuk mengetahui nama masing-masing pun tidak mereka tanyakan.
Keheningan buyar saat terdengar suara pintu di ketuk dengan keras. Hanin beranjak, ia bingung sekaligus takut. Saat pintu terbuka, sudah ada ibu kos dan beberapa orang juga perangkat desa.
"Ngapain kalian berduaan di sini? ditunggu keluar dari tadi tapi malah asyik lama-lama di dalam," ucap ibu kos marah.
"Kami tidak ngapa-ngapain, Bu." Hanin mencoba menjelaskan.
“Tidak mungkin berduaan tidak melakukan apapun," ucap suami si ibu pemilik kos.
Setelah beberapa perdebatan, akhirnya Hanin dan pria yang bernama Dirga itu di bawa ke rumah pak RT. Tangan Hanin bergetar, ada kecemasan yang sulit disembunyikan. Begitupun Dirga, tidak berbeda dengan apa yang Hanin rasakan.
************
Dirga dan Hanin terdiam di sebuah kursi di rumah pak RT, terlihat beberapa orang ada disana dan seperti siap untuk menghakimi mereka.
Selang berapa lama orangtua masing-masing datang, terlihat kemarahan di raut garis wajah mereka.
Hanin hanya tertunduk tidak berani menatap kedua wajah orangtuanya, begitupun dengan Dirga.
'Plak ...' Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Dirga, Hanin terkejut, lalu mengangkat sedikit wajah menatap pria disampingnya yang tidak dikenal ini.
“Dasar kamu anak kurang ajar! bisanya cuma bikin susah,” ucap ayah Dirga tidak bisa menahan amarah.
Tidak ada jawaban sedikitpun dari pria muda berusia 23 tahun itu. Dirga banyak menundukan wajahnya, dan mengunci mulutnya rapat.
Sementara Hanin ...
"Memalukan! bisa-bisanya kalian terpergok warga sedang berduan di kamar kos!" Pak Firman melampiaskan emosinya.
“Ayah, ibu. Hanin tidak melakukan apapun,” ucapnya memberanikan diri menatap wajah sang ayah.
“Tapi kenapa kalian bisa berduaan di dalam kamar kost?” jawab pak Firman berusaha mengontrol emosinya.
“Sudah pak, mereka harus segera di nikahkan dari pada terus berbuat dosa,” ucap salah satu warga.
“Iya pak saya setuju,” timpal pak RT.
Hanin menggelengkan kepala mengutarakan penolakannya, sesekali ia mengusap air mata yang terus saja terjatuh. Ia memang sudah ingin menikah, tapi tidak seperti ini caranya. Sungguh saat ini dia berharap Dirga buka suara dan menceritakan yang sesungguhnya, bila tidak terjadi apa-apa diantara mereka.
Nasi sudah menjadi bubur, semua setuju agar mereka dinikahkan. Sekeras apapun penolakan, Hanin hanya bisa manut pada akhirnya. Masih dikatakan beruntung, karena warga tidak bersikap main hakim sendiri, karena beberapa waktu lalu sebuah artikel memenuhi portal berita, ada sepasang muda-mudi di arak dan di telanjangi karena kedapatan sedang berduaan di kamar kos, padahal mereka tidak melakukan apapun, hanya kebetulan kekasihnya datang untuk memberikan makan siang.
**********
"Maaf ...." setelah sekian lama bungkam, Dirga membuka suara.
Hanin mendelik, menatap marah pada pria yang kini jadi suaminya. Ia tak menjawab apapun dan berusaha mentralisir kemarahan.
**********
Seminggu telah berlalu, Hanin dan Dirga pun memutuskan mengontrak rumah sederhana type 36 di sebuah komplek perumahan, dengan cicilan terjangkau pastinya. Mengingat, Dirga belum berpenghasilan karena sedang menyelesaikan kuliah tingkat akhirnya yang sedikit terlambat dibanding teman satu angkatannya yang lain, bagaimana tidak di usianya yang sudah 23 tahun ia baru mulai untuk menyusun skripsi.
Sementara, untuk resepsi pernikahan dan pendaftaran ke KUA, kedua keluarga sudah memutuskan akan dilaksanakan empat bulan ke depan. Keluarga masih meyakini bila mereka terlibat dalam sebuah hubungan, dan tidak ingin mendengar penjelasan anak-anaknya.
Siang ini, saat jam istirahat Hanin ditemui ayah mertuanya yang bernama pak Hendra.
"Ambil ini ... tidak banyak, tapi sepertinya cukup untuk menutupi sewa rumah kalian hingga satu tahun ke depan," ucap pak Hendra menyodorkan amplop coklat.
Hanin ragu mengambilnya, namun di satu sisi ia pun membutuhkan uang itu. Orangtuanya, terutama ayah seperti sedang menghukumnya dan tidak memberikan sepeser uang pun saat ia memutuskan untuk mengontrak rumah.
Sang ayah mertua seperti dapat menangkap keraguan menantunya itu, "Pakai saja, tapi jangan bilang pada siapapun, termasuk Dirga. Bocah itu memang bisanya cuma minta uang saja ...."
Hanin menghela napas panjang, mertua laki-lakinya ini memang terasa paling baik dibalik wajahnya yang tegas. Sementara beberapa hari yang lalu saat pertemuan dua belah keluarga ibu mertua dan kakak iparnya menunjukan raut tidak suka. Hanya si adik kembarnya Resi dan Hanum yang memberi kesan ramah. Dirga sendiri adalah lima bersaudara, dengan dua kakak laki-laki dan perempuan, yang laki-laki tinggal di luar negri bersama istrinya, sementara yang perempuan belum menikah dan bekerja di salah satu perusahaan di Jakarta, dan adiknya perempuan kembar masih duduk di bangku SMA.
"Tapi, Pa .... " Hanin masih berkutat dengan keraguannya.
"Saya harus segera kembali ke kantor." Ayah mertua beranjak dari duduknya, ia tak ingin berlama-lama karena tau menantunya ini akan terus menolak.
Hanin ikut berdiri kemudian menyalami pak Hendra.
"Hati-hati, Pa."
Pak Hendra mengangguk, ia menatap wajah sang menantu yang terlihat menanggung sesuatu yang tidak nyaman, "saya tahu kamu perempuan baik-baik," ucapnya yang kemudian berlalu pergi.
Sementara Hanin belum sempat menjawab apapun, dan mencoba memaknai ucapan ayah mertuanya.
--------
Sekitar jam tujuh malam, Hanin tiba di rumah dengan beberapa barang belanjaan memenuhi kedua tangannya.
"Sudah makan?" tanya Hanin pada Dirga yang nampak sibuk dengan laptopnya.
"Belum ..." jawabnya tanpa menoleh.
Hanin menyimpan belanjaannya, kemudian masuk ke kamar, membersihkan diri dan mengganti pakaian, setelah itu kembali ke dapur dan memasak menu sederhana untuk makan malam.
"Tadi papa menemuiku," ucap Hanin seraya memotong wortel.
Dirga menghentikan aktifitasnya sesaat dan melihat ke arah Hanin, "Lalu? kalau Papa nyuruh kita tingga di rumah jangan mau!"
"Kenapa? Bukannya bisa hemat sewa rumah ...."
"Aku tidak masalah, kamu gak akan nyaman," jawab Dirga yang kembali fokus pada layar laptop.
"Aku oke dimana aja," ujar Hanin seraya mulai memasak, memasukan beberapa potong sayur-sayuran dan baso. Malam ini ia membuat sayur sop. "Bantuin dong ..." lanjutnya.
"Aku udah masak nasi, tanggung nih bentar lagi finish," jawab Dirga.
'Halah ... kirain daritadi belajar, taunya cuma main game! Kapan lulusnya kalau begitu,' dumel Hanin pelan yang sepertinya masih terdengar oleh Dirga.
"Dasar emak-emak, rempong. Aku pastikan tahun ini lulus." Dirga menimpali rutukan sang istri.
"Oh iya ... urusan sewa rumah ini aku yang memikirkannya," lanjut Dirga.
"Gimana caranya?" ujar Hanin tidak yakin.
"Aku bisa cari kerjaan part time, atau apapun aku upayakan supaya dapet duit," jawabnya ringan.
Hanin menghela napas perlahan, meski papa mertuanya bilang, bila Dirga hanya pintar meminta uang, ia merasakan hal lain. Dirga berusaha tanggung jawab sesuai kemampuannya, seperti tadi pagi ia memberi dua lembar uang 50 ribuan pada Hanin yang kemudian ia simpan dan sama sekali tidak dipakai, katanya uang tersebut di dapatkan dari mengajarkan adik temannya les, karena memang pada dasarnya Dirga adalah sosok yang pintar, karena merasa pintar itu terkadang ia malas belajar dan masih belum lulus.
Tak berapa lama setelah makanan siap tersaji, dengan semangat Dirga beranjak menuju meja makan, sambil senyum-senyum dan mengelus perutnya yang lapar ia berkata, "wanginya enak nih."
"Pastilah enak, siapa dulu yang masak." Hanin duduk dan mengambil piring untuk dirinya.
Dirga pun menarik kursi, tidak tanggung-tanggung ia mengambil tiga centong nasi, dan nampak makan dengan lahap.
"Pelan-pelan kali, kaya baru nemu makanan aja," ujar Hanin.
"Memang ... belum makan dari SD," jawab Dirga sekenanya. Membuat Hanin sedikit kesal, Dirga memang seringkali bicara asal ucap.
Berbanding terbalik dengan sang suami, Hanin sangat sedikit menyantap makanan. Ia seperti kurang berselera dan nasinya pun tidak habis.
"Abisin makannya, entar nangis tuh nasi."
"Yaelah, rapuh amat nasi, gitu aja nangis," jawab Hanin sekenanya.
"Eh ... ibu negara kalau dibilangin ngeyel."
"Yaudah sih ... paling tuh nasi nangis sambil nyender di pojokan kulkas." Hanin beranjak membawa piringnya seperti enggan mendengar kembali celotehan suaminya.
'Dasar emak-emak,' rutuk Dirga pelan.
"Ngomong yang kenceng!"
"Denger aja sih," jawab Dirga mendekat lalu mencuci piringnya masing-masing.
---------
Dirga terlihat sedang membersihkan dan mengganti perban pada luka di perutnya. Hanin yang melihat sang suami sedikit kesulitan lalu menghampiri.
"Sini ...." Hanin mengambil perban dan plester di tangan Dirga.
Dirga hanya diam dan memperhatikan sang istri yang terlihat telaten membantunya.
"Luka ini kenapa? Sepertinya bekas tusukan." Hanin terlihat penasaran, karena dari semenjak pertemuan pertama Dirga belum pernah bercerita apapun.
-----
#Young_Husband
#Repost
Bagian 2
"Gak perlu taulah males ngomongin yang gak penting," jawab Dirga.
Hanin hanya menatapnya kesal, seraya memasukan sisa perban ke kotak obat.
"Aku aneh aja, dari pertama kali kita ketemu itu luka kaya di tutup-tutupin sampe orang-orang pada gak ngeh," ujar Hanin.
"Kalau keliatan entar pada heboh, kalau kamu jadi tertuduh ribet urusannya."
Tentu itu hanya alibi Dirga saja, berharap wanita di hadapannya itu tidak terus-terusan membahas luka itu, entah kenapa Dirga seperti enggan saja membicarakannya.
"Terus kamu kok sok akrab banget, kita baru kenal seminggu juga!" ucap Hanin.
"Emang salah?"
"Enggak!" jawab Hanin ketus, kemudian beranjak menyimpan kotak obat, dan ia pergi ke kamarnya.
"Woy ... itu kamar gue!" teriak Dirga.
"Enak aja lo! Noh ... kamar lo yang sono," jawab Hanin menunjuk kamar kedua.
Sejak awal menempati rumah itu mereka memang berebut untuk menempati kamar yang ada fasilitas pendingin ruangan. Tapi seperti biasa, wanita selalu menang dan benar, sehingga Dirga mengalah dan tidur di kamar kedua yang lebih sempit, bersyukur masih ada kipas angin di sana.
-----------
Dua minggu berlalu ....
.
Pagi ini, seperti biasa sebelum berangkat kerja Hanin menyempatkan diri memasak untuk sarapan. Sementara sang suami, baru keluar dari kamar dengan menggunakan pakaian sangat rapih.
Sesaat Hanin memperhatikan suami mudanya ini dari atas sampai bawah. Tampan, ungkapnya dalam hati. Wajah itu terlihat sesuai umurnya, bahkan lebih 'baby Face', kalau jalan beriringan pasti banyak yang menganggap mereka kakak beradik.
"Kenapa?" ucap Dirga merasa di perhatikan.
Tidak menjawab, Hanin membalikan badan, mematikan kompor dan mengambil panci kecil itu hendak meletakannya di tempat lain.
Aw ....Hanin sedikit berteriak seraya memegang kedua kupingnya merasakan panas di tangan.
Dirga menghampiri, kemudian ia mengambil lap dan memindahkan panci berisi sayur itu. "Hati-hati, kaya udah ngilmu aja megang panci panas pake tangan kosong."
Hanin mengerucutkan bibir mendengar ocehan Dirga, namun di satu sisi ia menyadari dirinya yang memang ceroboh.
Tak berapa lama mereka menyantap sarapan, tidak lupa Hanin pun menyiapkan bekal untuk makan siang nanti di kantor.
"Buat aku mana?"
"Bikin sendiri, aku udah telat!" jawab Hanin berlalu pergi, mengambil tas dan memakai sepatu lalu bergegas pergi ke kantor.
"Dasar nenek-nenek," rutuk Dirga. Tidak berapa lama ia mengikuti langkah sang istri. Kebetulan mereka akan ke arah yang sama, jadi keduanya menggunakan busway yang sama juga, namun Hanin dan Dirga bersikap seperti tidak saling kenal dan tidak acuh. Sesekali Dirga mengumbar senyum dan melambaikan tangan pada wanita-wanita yang memperhatikannya. Wajah yang tampan itu seperti menjadi magnet terutama untuk remaja putri. Hanin yang melihatnya sangat risih dan merasa tingkah suaminya itu sungguh menyebalkan.
************
Dirga mendatangi sebuah perusahaan yang beberapa waktu ia kirimkan aplikasi lamaran, bukan tidak memikirkan skripsinya tapi ia seperti tidak ada pilihan lain. Bergantung hidup pada istri tentu membuatnya sangat malu.
... tapi pria itu berjanji akan lulus tahun ini, tugas skripsinya pun sudah hampir mendekati selesai.
Dirga melakukan tes dengan puluhan pelamar lainnya. Ini merupakan tes tahap ketiga dan penentuan lolos atau tidak. Setelah cukup lama menunggu, Dirga melakukan interview dan lolos, ia akan mulai bekerja besok dengan gaji sesuai UMR kota Jakarta, tidak terlalu besar tapi cukup membuatnya lega, setidaknya ada yang bisa diberikan pada wanita yang berstatus istrinya itu.
Berbicara soal pernikahan, entah seperti apa Dirga menyikapi statusnya ini, dari awal bungkam dan tidak berusaha melawan saat hendak di nikahkan. Ia berpikir, mengbil langkah ini adalah cara terbaik untuk hidup dan melepaskan diri dari sesuatu yang selama ini membuat sengsara.
Apa itu? Banyak hal. Mungkin salah satunya adalah hubungannya dengan keluarga yang kurang baik. Tapi itu hanya salah satu faktor, ada beberapa faktor lain tentunya.
Sosok Hanin sendiri di matanya adalah wanita yang cukup terbuka. Meskipun di hari-hari awal ia menunjukan rasa tidak suka, tapi selebihnya hubungan mereka lebih kepada partner dalam beberapa hal. Ia tidak pernah tahu akan seperti apa nantinya hubungan ini, yang akan terjadi besok tidak ingin terlalu dipikirkan, yang terpenting hari ini ia melakukan yang terbaik.
Ting ... sebuah pesan masuk.
[Tadi papa WA, sore ini aku di undang ke rumah kamu, -Ibu Bangsa] nama itu yang tersemat dalam gawainya untuk nomor Hanin.
[Nanti aku nyusul kesana, -Send.]
[Gak usah, aku bisa sendiri.]
Dirga tidak menjawab lagi, namun yang pasti ia tidak akan mengindahkan ucapan Hanin itu.
***********
Selepas pulang kantor, Hanin bergegas menuju rumah mertuanya. Hampir sebulan hidup bersama Dirga, pernah sekali pria itu membawa dirinya berkunjung ke rumah orangtuanya. Jadi pergi sendirian bukanlah masalah, hanya saja yang perlu di persiapkan adalah hati dan mental karena ibu mertua dan kakak iparnya sangat memperlihatkan diri bila mereka tidak suka pada Hanin yang entah apa alasannya.
"Assalamualaikum ...." Hanin mengetuk pintu.
Datang seseorang membukakan pintu dan menyambutnya dengan ramah. "Waalaikumsalam, Kak Hanin ...."
Hanin hanya tersenyum, mau menyebutkan nama rasanya ragu, hingga saat ini masih sulit membedakan mana Resi dan Hanum.
"Aku Hanum, Kak," ucap adik iparnya tersenyum, seolah mengerti bila kakak iparnya ini sedang kebingungan. "Ayo masuk, Kak."
Hanin tersenyum dan mengangguk lalu mengikuti langkah Hanum, di sana sudah ada papa dan mama mertuanya, segera Hanin mendekat dan menyalaminya.
"Baru pulang kerja, Nin?" tanya papa mertua.
"Iya, Pa."
Sementara mama mertua masih diam, ia sama sekali tidak menyapa.
"Num, ajak kakakmu ini ke dapur, bikinkan minuman segar dan makanan, pasti lapar dan lelah," ucap papa pada Hanum.
"Iya, Pa." Hanum melirik ke arah Hanin dan mengajaknya, "Ayo, Kak."
Dengan ragu dan malu-malu Hanin mengikuti langkah Hanum, sempat ia melihat ke arah ibu mertuanya namun ia hanya mendapat tatapan sinis.
"Kakak, pasti belum makan kan? ini aku tadi yang masak loh," ucap Hanum.
"Wah ... sepertinya enak."
"Cobain dong."
Hanin tersenyum, lalu ia mengambil secentong nasi dan dengan senang mencicipi makanan itu.
"Resi kemana?" tanya Hanin.
"Les kak, pulangnya nanti abis maghrib."
Hanin mengangguk paham seraya menyendokan nasi ke mulutnya, "enak banget."
"Makan yang banyak, Kak."
Perempuan itu hanya mengangguk dan terus menikmati makanannya. Saat sedang menikmati makanannya, ia terusik pada hal yang terus bertanya di hati. Entah dorongan dari mana, tiba saja ia ingin tahu sedikit lebih dalam tentang Dirga dari orang lain.
"Num ...."
"Iya Kak ...."
"Kak Dirga orangnya gimana?"
"Kak Dirga ...." Terlihat hanum sedikit menerawang. "Dia orang yang baik dan sangat ramah pada siapapun, dia juga mudah bersosialisasi. Kakak tau gak?" Hanum sedikit mencondongkan badannya. "kalau kami para perempuan kehabisan pembalut dia yang pergi beliin, kalau kami lapar dia mau aja masakin, dan yang kadang kita bikin geleng-geleng kepala dia itu banyak kenal orang, Kak Dirga kan sering banget tuh belanjain sayur di amang-amang kalau pagi, giliran bukan dia yang belanja, eh ditanyain kemana Dirga katanya. Pokoknya sepanjang jalan ada aja yang nanya, mulai dari pak dokter ampe tukang cilok di depan."
Hanum tertawa menceritakan sikap kakaknya itu. Tanpa di sadari Hanin yang mendengarnya pun ikut tertawa renyah, pantas saja suaminya itu mudah mengakrabkan diri dengannya.
"Ehm ...." seseorang datang mengagetkan, tidak lain ia adalah Sarah kakak perempuan Dirga.
"Kak ...." ucap Hanin menyapa.
Usia Sarah sendiri tiga tahun dibawahnya, 26 tahun. Namun ia tetap memanggilnya kakak sebagai bentuk menghargai.
Sarah tidak terlalu menanggapinya, ia mengambil segelas air tanpa bicara apa pun kemudian berlalu pergi. Sejujurnya Hanin merasa sedih melihat ibu mertua dan kakak iparnya kurang bersahabat, tapi mungkin itu wajar, mengingat dirinya datang di keluarga ini bukan dengan cara yang baik.
"Ayo kak, tambah lagi makannya." Hanum kembali mengalihkan perhatian, ia sadar betul bila kakak iparnya itu merasa tidak nyaman.
"Cukup, Num. Kakak gak bisa makan banyak, ini udah kenyang banget," jawab Hanin.
"Pantesan langsing," puji Hanum membuat Hanin sedikit tersipu.
-------------
Sekitar satu jam kemudian, Dirga datang. Ada pemandangan yang menyentuh hatinya ketika melihat ayahnya sedang tertawa renyah bersama Hanin juga salah satu adik kembarnya itu. Sudah lama sekali Dirga tidak melihat tawa itu, mungkin sekitar dua tahunan, semenjak satu peristiwa yang membuat hubungan mereka seakan jauh.
"Eh Kak Dirga baru datang," ucap Resi yang juga baru datang 15 menit yang lalu.
Tanpa bicara, Dirga menghampiri mereka dan duduk lesehan di bawah.
"Kenapa baru ke sini, Nak? mama kangen," ucap ibunya.
"Iya, Ma. Dirga sibuk."
"Pengangguran sok sibuk," ucap Sarah ketus.
Hanin menatap Dirga lirih, ia tak nyaman dengan ucapan kakak iparnya. Bagaimana pun selama ini ia merasa bila Dirga sudah berusaha. Sementara Dirga sendiri tidak menimpali ucapan kakaknya itu.
"Cari kerja! mau di kasih makan apa istrimu!" ucap papa tidak kalah ketus. Satu hal yang membuatnya semakin tersadar bila keluarga ini tidak membuat Dirga nyaman.
Laki-laki itu masih diam, ia tidak ingin berdebat. Apalagi di hadapan istrinya.
"Selesaikan dulu kuliah baru nyari kerja, lagi pula suruh siapa main nikah-nikah aja," timpal ibu dengan sedikit marah.
"Gimana gak dinikahin, orang pada gak bisa jaga diri. Cewek tuh harus rapet tutupannya biar harganya mahal." Sarah kembali menimpali dengan ketus sambil menyindir pastinya.
"Stop! Kalian nyuruh Hanin ke sini cuma buat dia ngerasa tidak nyaman, hah?" Dirga mulai sedikit meradang.
Hanin hanya menarik napas dalam mengeluarkan sesak di dada mendengar ucapan pedas kakak iparnya yang pedas.
"Kita pulang!" Dirga beranjak, melihat Hanin masih duduk ia pun mengambil tangannya. Tidak lupa mengambil tas sang istri dan membawanya keluar. Hanin merasa tidak enak, ia tidak sempat menyalami mertuanya. Tapi pegangan tangan sang suami terasa kuat, terlebih lagi kali ini ia melihat Dirga sedang marah.
------------
"Lain kali, jangan pergi sendiri ke rumahku," ucap Dirga.
"Aku baik-baik saja."
"Tapi aku tidak."
Hanin tidak menjawab lagi, keduanya menyusuri jalanan Jakarta menuju ke tempat pemberhentian busway dengan hening. Sejujurnya Dirga merasa sangat bersalah, Hanin tidak salah apapun, tidak sepantasnya keluarganya melontarkan kata-kata tidak baik seperti tadi.
Sesekali ia menatap wajah sang istri yang memandang lurus ke depan. Dirga menyadari, membuat Hanin menjadi seorang istri dengan cara seperti itu tentu bukanlah impian. Maka dari itu setidaknya ia tidak ingin melukai perasaan wanita yang ada disampingnya ini.
Setelah menunggu beberapa waktu busway datang, keduanya segera naik dan duduk berdampingan.
"Liat apa sih, fokus amat liat HP," ucap Dirga protes.
"Si kembar kirim ini, lucu ya, warnanya juga cantik, hijau." Hanin menunjukan ponsel yang di dalamnya ada beberapa gambar kebaya pengantin yang cantik.
"Masa hijau, kaya klepon dong (kelepon salah satu makanan tradisional terbuat tepung beras ketan, kelapa dan gula aren)," jawab Dirga sekenanya.
Hanin menarik sudut bibirnya merasa kesal, Dirga menyebalkan baju cantik seperti itu di bilang mirip klepon.
"Nanti kalau misalkan aku bikin resepsi pernikahan, pengennya pake bunga-bunga hidup yang wangi semerbak," lanjut Hanin kembali menatap gawainya.
"Yaudah nikah aja di kebon," timpal kembali Dirga asal.
Merasa benar-benar kesal, Hanin memukul tangan suaminya itu cukup keras, membuat Dirga sedikit meringis.
"Nyebelin banget sih lo!"
"Bercanda bu," jawab Dirga sambil nyengir bagai kuda.
-----------
Turun dari busway, rupanya hujan turun. Keduanya menepi sejenak, berharap hujan segera berhenti. Tapi, setelah menunggu beberapa saat, hujan malah semakin deras.
"Tunggu sebentar di sini, ya."
"Mau kemana?" tanya Hanin.
"Beli payung." Dirga menunjuk pada salah satu toko di sebrang jalan.
Hanin mengangguk, sementara Dirga berlalu. Hanin mulai tertarik memperhatikan sosok Dirga, dan mendalam seperti apa karakternya. Sosoknya memang menyebalkan, namun pada beberapa hal Hanin merasa bila Dirga menyenangkan. Awalnya saat pernikahan paksa itu terjadi, Hanin mengira akan seperti di sinetron atau sebuah cerita, dimana selalu terjadi debat kusir dan situasi yang dingin penuh kebencian. Tapi rupanya tidak, berondong itu mampu mencairkan suasana.
Sementara Dirga setibanya di toko, ia mengambil dua payung seraya memperhatikan wanita itu di sebrang sana. Namun, ia kembali menyimpan payung lainnya, dan hanya membeli satu.
Tak berapa lama segera ia kembali.
"Kok cuma satu?" tanya Hanin.
"Boros kalau beli dua." Tentu itu hanya alasan.
"Kalau pake satu tetep aja basah."
"Gak apa-apa dikit," jawab Dirga tersenyum. Lalu ia membuka payungnya. "Ayo ...."
Hanin mendekat, payung itu tidak terlalu lebar, bahu mereka tetap saja basah.
"Jangan jauh-jauh biar gak terlalu basah." Dirga merangkul bahu sang istri dan membawanya lebih dekat. Hanin tertegun sesaat, ia kaget dengan perlakuan Dirga. Tapi tidak ada penolakan sedikitpun. Keduanya pun berjalan di bawah hujan dengan perasaan canggung yang sulit di tutupi.
"Kenapa para ibu bangsa kalau ngasih sen kiri tapi beloknya ke kanan?" tanya Dirga mencairkan suasana.
"Masih mending daripada belok ke atas," jawab Hanin ngasal.
Dirga tertawa, "kalau ke atas naik namanya."
Keduanya pun terus bercanda dan mengumbar tawa, sehingga suasana kembali terasa nyaman.
Bersambung....
------
#Young_Husband
Bagian 3
Keduanya tiba di depan rumah, hujan masih saja deras. Bila menunggu reda mungkin akan semakin malam. Hanin merogoh tas dan mengambil kunci, tidak memakan waktu, segera ia menemukan kunci itu dan membuka pagar. Sesaat Hanin terdiam, ketika menyadari tangan Dirga masih melekat dibahunya.
"Kenapa diam?" tanya Dirga.
Tidak ada jawaban, Hanin hanya memainkan mata menunjuk pada posisi tangan sang suami yang masih betah mendarat di sana. Mengerti maksud istrinya, segera Dirga menyingkirkan tangan itu dengan perasan tidak jelas dan salah tingkah pastinya.
Hanin bergegas masuk, ia ingin segera membersihkan diri dan mengganti pakaian yang sebagian basah. Sementara Dirga pun setelah melipat payungnya buru-buru masuk ke dalam.
------------
Hanin terlihat sedang menyeduh cokelat panas, tak berapa lama Dirga keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan memakai celana pendek selutut. Perempuan itu menatap suaminya sambil menelan ludah, sulit dipungkuri sosok Dirga memang mempesona, setiap lekukan wajahnya menyegarkan mata.
"Bikin apa?"
Pertanyaan Dirga membuyarkan pemikiran aneh yang meracau di benak Hanin.
Tanpa banyak kata Hanin memberikan secangkir cokelat panas, kemudian berlalu pergi membawa cangkirnya sendiri dan duduk di kursi ruang tamu. Dirga menyusul, lalu duduk berdampingan dan membuka laptop, ia hendak mengerjakan skripsinya.
"Oh iya ...." sesaat Dirga menghentikan aktifitasnya dan menoleh pada Hanin.
"Kenapa?" tanya Hanin seraya menyeruput dengan perlahan cokelat panas itu.
"Besok aku mulai bekerja," ucap Dirga.
Hanin sedikit membulatkan matanya, ia cukup kaget mendengar penuturan suaminya itu.
"Dimana? kok kerja? Skripsinya gimana?"
"Banyak banget nanyanya, jawab yang mana dulu nih?"
"Terserah!"
"Masalah skripsi aku sudah bilang bakal selesai tahun ini. Aku gak bisa diem aja dan lihat kamu kerja sendirian, meski nanti gaji aku gak sebesar gaji kamu, tapi aku pastikan akan bertanggung jawab seluruhnya ..." sesaat ia menghela napas, memberi jeda pada ucapannya. " ... dan kamu adalah tanggung jawabku penuh," lanjut Dirga dengan volume suara yang mengecil.
Hanin diam, ia tidak tahu harus berkata apa, yang baru saja di dengar seperti langsung meraba sanubari. Untuk pertama kali seorang laki-laki yang bukan ayahnya berkata tentang sebuah tanggung jawab terhadap dirinya dan itu membuat ia merasakan ada sesuatu yang meleleh di dalam hati.
"Jangan terkesima gitu, selain tampan dan pintar aku juga bertanggung jawab." Dirga tertawa menggoda istrinya.
Perempuan itu hanya tertawa kecil, kemudian Dirga kembali sibuk dengan layar laptop.
Sekitar setengah jam berlalu dan keduanya sibuk masing-masing, sesaat Dirga menghentikan aktivitasnya karena ia mendengar dengkuran halus, Hanin terlelap bersandar pada kursi dengan ponsel masih di tangan. Bibirnya sedikit terbuka, dengan rambut-rambut halus menutupi matanya.
Dirga menggerakan tangan istrinya, berharap Hanin bangun dan pindah ke kamar, tapi hanya reaksi kecil yang ditunjukkan, matanya masih saja terpejam. Tidak kehilangan akal, ia menekan lubang hidung mancung itu berkali-kali, tetap saja Hanin pulas dan hanya memberi sedikit respon.
"Wah ... insting bertahan hidupnya kuat sekali," gumam Dirga.
Akhirnya ia menggendong tubuh Hanin yang kecil, membaringkannya pada ranjang, dan tidak lupa memberikan selimut. Sesaat sebelum meninggalkan kamar ini, Dirga memperhatikan wajah sang istri. Perasaan bersalah hadir menyeruak, ada sesal yang tidak bisa diulang.
--------------
Malam berlalu begitu saja, pagi datang dengan kesibukan seperti biasanya.
Dirga bangun lebih dulu, padahal semalam ia tidur sangat larut karena mengerjakan tugas skripsi. Hanin baru saja keluar kamar, ia hendak pergi untuk mandi, sementara Dirga sibuk di dapur menyiapkan sarapan dan bekal untuk dirinya juga Hanin.
Perempuan itu sebenarnya merasa salah tingkah pagi ini, ia malu ketika mendapati bangun sudah di tempat tidur padahal seingatnya terakhir kali ia berada di kursi, sudah dipastikan bila Dirga lah yang memindahkannya.
"Eh, Ibu negara baru bangun." Ia tersenyum lebar menyambut istrinya.
Hanin hanya diam dan mengerucutkan bibir kemudian berlalu.
Setengah jam berlalu Hanin sudah selesai mandi dan nampak rapi. Sarapan pagi ini pun sudah siap tersaji. Pria itu menarik kursi menyuruh Hanin duduk dan menyicipi masakannya.
"Cobain, kamu pasti suka."
Hanin mengambil sendok, lalu mulai menyicipi. Not bad, sesuai dengan seleranya.
"Enak?"
"Hmm ...." jawab Hanin mengangguk.
"Enaklah, tinggal makan doang," celetuknya.
"Siapa suruh masak!"
"Insting kewanitaanku," jawab Dirga tanpa peduli.
Hanin menaikkan alis heran.
"Aku bercanda!" Dirga tertawa renyah. "Tapi kalau aku jadi cewek pasti lebih cantik dari kamu."
"Masa bodo! Sama gilanya gue ngeladenin lu!" Hanin melanjutkan makannya, sementara Dirga hanya menimpali dengan tawa.
Beberapa saat kemudian, mereka bersiap dan pergi bekerja, di tas masing-masing sudah terbawa satu kotak makanan bekal makan siang.
**************
"Wih ... bekal apa lu?" tanya Gisel menghampiri. Berada dalam satu kantor selama hampir sembilan tahun membuat hubungan mereka sangat dekat.
"Sosis asam manis, lu harus coba."
"Tumben bekel begituan, biasanya yang gampang-gampang lo bikin," ujar Gisel seraya mengambil satu sendok sosis itu.
"Dirga yang buat,"
Ibu dua anak itu merasa tidak percaya dan menatap sahabatnya, "seriusan lo?"
"Iyalah, masa gue boong."
"Punya suami cakep, baik dan pinter masak, mantep banget lah, meskipun dompetnya tipis," ucap Gisel tertawa.
"Enak aja lo, dia kerja sekarang."
"Wah ... syukur lah. Tanggung jawab berarti dia."
"Iyalah masa kagak! masa iya deketan sama cewek cantik kaya gue disia-siain." Hanin tertawa lepas.
"Ah, perawan lapuk lu! Eh kagak deng, sekarang udah jebol kan ya?" Gisel kembali menggoda.
Hanin menelan ludah, pertanyaan Gisel ini membuatnya seketika merasa haus. Karena kenyataannya sampai hari ini ia belum tersentuh sedikitpun.
"Hay, Git. Sini!" Gisel melambaikan tangan pada seseorang.
"Siapa?" tanya Hanin pelan.
"Junior, anak baru. Baru masuk hari ini."
Tak berapa lama yang di panggil mendekat, si anak baru menyapa keduanya ramah, dan mereka bertiga menyantap makan siang dengan hangat.
-----------
.
Saat jam pulang kantor, Hanin segera bersiap dan merapikan barang-barangnya. Seperti kemarin, tanah Jakarta sore ini diguyur hujan cukup deras.
Ada pemandangan berbeda sore ini, terlihat seseorang menunggu ketika langkahnya mulai keluar dari gedung. Siapa lagi kalau bukan suaminya. Setelah beberapa tahun ia kembali merasakan seseorang menjemputnya di tempat kerja. Walau kali ini, tidak disertai dengan mobil-mobil mewah seperti mantan kekasihnya terdahulu.
"Kamu kok di sini?" tanya Hanin menghampiri.
"Jemput kamu dong," jawabnya tersenyum.
"Yaelah ... kaya bocah aja dijemput segala."
"Yang boleh dijemput bukan cuma bocah kali, nenek-nenek juga harus."
Tanpa jawaban, Hanin menimpuk suaminya itu dengan tas miliknya.
"Aw ...." Dirga meringis.
"Syukurin!" jawab Hanin berlalu pergi, yang segera di susul Dirga.
"Makannya dikit, tapi tenaganya luar biasa," ucap Dirga seraya mengusap-ngusap tangannya yang terkena timpukan tadi.
Istrinya tidak menjawab dan masih menunjukkan wajah kesal.
Sementara Dirga dengan langkah cepat berdiri di hadapan Hanin lalu merajuk dengan menekuk wajah polos, "Jangan marah dong, cuma bercanda. Aku beliin es krim ya."
"Sana! sana! jauh! pahit! pahit," jawab Hanin masih cemberut.
"Cantik banget sih, sengaja ya mukanya ditekuk gitu biar aku terpesona," goda Dirga.
"Gila ya ini orang," jawabnya mengalihkan pandangan.
Ternyata hujan masih deras mengguyur bumi, tidak mungkin keduanya menerobos, keduanya akan basah kuyup.
"Kita nunggu di sana aja," ucap Hanin menunjuk ke halte bis.
"Ke sana hujan, nanti sakit."
"Daya tahan tubuhku kuat ko."
"Bukan kamu, tapi aku," jawab Dirga polos.
Hanin menghela napas, dan mengeluarkanya kasar sambil menarik sudut bibirnya, kesal.
Keduanya terdiam, sesekali terlihat Dirga menggerakan tangan dan tubuhnya merasakan hawa dingin yang merasuk. Terkadang pada beberapa waktu ia memang tidak kuat dengan dingin.
"Pakai ini." Hanin menyerahkan jaketnya. Beruntung ia masih menggunakan baju panjang.
"Ko kebalik, di drama korea kan cowok yang bikin adegan gini," ucap Dirga mengambil jaket itu, lalu memakainya.
"Cowok suka drama korea, dasar bocah alay," ucap Hanin ketus.
"Kebawa si kembar," jawab Dirga tertawa.
"Alesan aja! "
Dirga masih tertawa.
Angin kencang mengiringi derasnya hujan yang turun. Kini, bukan hanya Dirga, ia pun merasakan dingin mulai menjalar.
"Mau pake jaketnya?" ucap Dirga.
"Gak usah, aku kuat beginian."
"Beginian? Maksudnya?" tanya Dirga memancing.
"Dingin! apalagi? mesum aja pikiranya!"
"Siapa yang mesum, orang aku gak bilang apa-apa," jawabnya berkilah.
"Tapi tujuannya ke sana!"
"Gak apa-apa namanya juga pria dewasa, sama istri sendiri ini," ucap Dirga tertawa menggoda.
Candaan yang membuat hati Hanin deg-degan sepertinya.
Dirga mendekatkan dirinya pada sang istri dan nyaris tidak berjarak. Beberapa kali tangan itu ingin merangkul bahu Hanin dan merengkuhnya, namun beberapa kali juga diurungkan, ia takut di anggap kurang ajar.
"Dengerin ini ...." Dirga memasangkan earphone di telinga sang istri. Entah dorongan dan keberanian darimana akhirnya ia merangkul bahu Hanin. Jarak keduanya kini benar-benar dekat, membuat Hanin tidak karuan dibuatnya.
'Selama jantungku masih berdetak , selama itu pula engkau miliku. Selama darahku masih mengalir, cintaku pasti takkan pernah berakhir. Sambutlah aku, dengar bisikan hatimu.' Sebuah lagu dari Ari Lasso yang berjudul 'Arti Cinta' menemani keduanya menikmati hujan sore ini.
**************
Setelah beberapa saat hujan reda, mereka segera pulang dan menaiki bus. Jarak dari tempat kerja keduanya sampai rumah sekitar 35 menit bila lancar. Saat melamar pekerjaan pun Dirga sengaja mencari tempat yang dekat dengan tempat kerja istrinya.
Di perjalanan, Dirga tidak kuasa menahan kantuk dan akhirnya tertidur di bahu Hanin. Lagi dan lagi, ia membuat perasaan Hanin tidak karuan dengan degupan jantung yang terdengar lebih kencang.
-----------
Malam ini, sepertinya hujan masih enggan untuk berhenti. Beruntung keduanya sudah ada di rumah sejak tadi.
Hanin terlihat sedang terisak bahkan sesenggukan, air matanya terus saja keluar membuat Dirga bingung. Sesedih itu kah?
"Udah jangan nangis lagi." Dirga memberikan selembar tisu yang entah sudah lembar ke berapa, karena di lantai pun sudah berserakan.
Tapi, bukannya diam tangis Hanin semakin kencang. Akhirnya karena kesal Dirga menekan tombol 'pause' di layar laptop.
"Kok di pause?" ucap Hanin dengan mata dan hidung yang sudah sangat merah.
"Abis lebay banget, masa tibang nonton drama korea sampai sesenggukan begitu."
"Ini bukan drama, ini film," jawab Hanin menekan tombol play.
"Ah! Sama saja!"Rutuk Dirga.
Drama Hanin malam ini yang membuat ia sesenggukan rupanya hanya karena film yang sedang di tontonnya. Anehnya lagi, Dirga tidak beranjak dan menemani istrinya itu. Usia mereka terpaut enam tahun, tapi tidak jarang Dirga merasa bila Hanin sangat manja, meskipun secara pemikiran ia tetaplah wanita dewasa.
Ting ....
Ponsel Dirga berbunyi.
[Ini nomor yang selama ini lo cari -Raka.] Pesan masuk datang dari sahabatnya.
Dirga terdiam sesaat, tangannya sedikit bergetar. Ia menatap Hanin, lalu kembali menatap layar ponsel. Sebuah nama kontak tersimpan. Sebuah nama yang sangat ia rindukan, sebuah nama yang juga menjadi babak baru dalam hidupnya. Sebuah nama yang berhasil merubah sebuah keadaan.
"Ada apa?" tanya Hanin.
"E .. enggak." Dirga gugup lalu menutup ponselnya dan kembali menemani sang istri menonton film hingga selesai dan keduanya pamit tidur.
*********
Hari ini Hanin dikabari oleh Resi agar datang bersama kakaknya ke rumah. Aldi, kakak paling tua datang dari luar negri bersama anak dan istrinya. Dua tahun tidak pulang, Aldi ingin melihat Dirga dan juga sosok Hanin.
"Gimana? Ayo bersiap," ajak Hanin.
"Gak usah dateng lah, males!"
"Kok gitu? kakak kamu baru pulang loh setelah dua tahun."
"I dont care!"
Hanin menangkap rasa marah dan juga benci yang tidak bisa ia terka. Setelah kemarin melihat hubungan dengan ayahnya seperti itu dan kini dengan kakaknya. Ada apa? banyak tanya bergelayut dibenak Hanin, namun ia tidak ingin bertanya hari ini. Seiring berjalannya waktu sebuah tanya pasti akan terjawab.
"Bila ada sesuatu yang membuatmu marah, marahlah sewajarnya. Aku juga pernah marah sama adikku, merasa tidak terima saat di langkahi, malu dan banyak perasaan lain yang membuat tidak nyaman, tapi ya sudahlah toh dia kan juga maksudnya baik, ingin menikah."
"Masalahku dengan Aldi tidak semudah itu," jawab Dirga. Terlihat sekali bila wajahnya sangat tidak nyaman.
Hanin menghela napas panjang, ia mampu menangkap sesuatu. Pastinya hal besar sudah terjadi. A
"Jadi gimana? mau di rumah aja?" tanya Hanin lagi.
Dirga mengangguk pelan.
"Oke kalau gitu, paling resikonya aku yang tidak disuka Kak Sarah dan Mama akan semakin tidak disukai setelah ini," jawab Hanin tenang. Tapi sepertinya mampu membuat Dirga berpikir.
"Ya udah kita pergi ... tapi gak usah lama-lama di sana," ucap Dirga terpaksa.
"Iya ... siapa juga yang mau lama-lama," jawab Hanin tertawa.
------------
Ternyata suasana di rumah cukup ramai, selain ada Aldi, istri dan kedua anaknya yang pulang, ada juga saudara lain yang berkunjung.
Dirga banyak diam, ia tidak sesegar seperti biasanya. Sementara Hanin sendiri mencoba berbaur dengan saudara yang lain. Ada yang ramah, ada beberapa juga yang memasang wajah masam, khusus yang tidak menyenangkan, Hanin tidak ingin terlalu menghiraukannya.
Si kembar dengan berbaik hati menemani kakak iparnya itu. Mereka manis sekali dan sepertinya sangat menyukai sosok Hanin.
Sementara Hanin membantu kesibukan di dapur, terdengar suara ribut di luar lebih tepatnya di kamar yang sepertinya milik Dirga. Ia segera menghambur melihat yang terjadi. Terlihat di sana Dirga sudah berantakan dengan darah segar mengucur di sudut bibirnya.
Bersambung....
-----
#Young_Husband
Bagian 4
Dengan penuh emosi papa memisahkan Aldi dan Dirga. Ia menarik kerah baju anak sulungnya dan menjauhkan dari jangkauan sang adik.
"Memalukan! Tidak punya otak kalian!"
Tidak ada jawaban dari masing-masing kakak beradik ini, hanya terdengar suara napas terengah-engah dengan sorot mata keduanya yang saling tersulut emosi.
Dua tahun yang lalu, sebelum Aldi dan keluarganya bertolak ke luar negri, perpisahan mereka pun dibumbui dengan cekcok juga baku hantam, dan kini terulang lagi di pertemuan mereka setelah sekian lama.
Sandra, istri Aldi membawa kedua anaknya menjauh, air matanya terlihat menggenang, peristiwa hari ini seperti membangkitkan kembali luka lama. Sementara ibunya menangis dan ditenangkan oleh Sarah. Sebagai ibu, ia merasa terluka ketika melihat anak-anaknya tidak rukun dan keluarganya tidak harmonis. Padahal tiga tahun lalu, keluarga ini sangat kompak dan bahagia. Bahkan Dirga menjadi anak kebanggaan sang ayah karena selain pintar, ia memiliki kepribadian yang sangat baik. Tapi semuanya sudah berubah seiring waktu berlalu dan peristiwa yang datang.
"Kita pulang sekarang, ya," ucap Dirga menghampiri istrinya.
Hanin tidak berucap satu patah kata pun, ia menatap suaminya lirih dan juga penuh tanya. Dirga melangkah pergi, meninggalkan kerumunan keluarganya. Tapi, genggaman tangan Hanin menghentikan langkahnya.
"Bicaralah, selesaikan dengan hati yang tenang," ucap Hanin lembut.
Dirga menggeleng pelan dengan tatapan lirih, kemudian melanjutkan langkah dan berlalu pergi. Hanin hanya menatap punggung suaminya itu, tentu ia merasa sangat tidak nyaman dihadapkan dengan situasi rumit seperti ini.
Melihat Hanin yang bingung, ayah mertuanya mendekat. "Maaf, kamu harus melihat pemandangan ini."
Sang menantu hanya mengangguk, dengan eksperesi wajahnya yang bingung. "Iya, Pa."
"Titip Dirga," lanjut ayah mertuanya dengan suara sangat pelan nyaris tidak terdengar oleh siapapun.
Menantunya itu hanya mengangguk, kemudian ia pamit pada mertua dan keluarga yang lain, lalu menyusul Dirga yang sudah menunggunya di luar.
---------
Keduanya berjalan beriringan tanpa kata, menapaki tanah Jakarta ditemani langit malam yang mendung tanpa bintang.
"Pakai ini ...." Hanin memberikan masker bergambar helo kitty berwarna pink pada suaminya dan memecah kebisuan di antara mereka.
"Buat apa?" tanya Dirga.
"Tutupin itu ...." Hanin menunjuk pada luka di sudut bibir yang terlihat memar.
"Masa pink begini, cucok cyint ...." Dirga masih saja berusaha bergurau, walau suasana hatinya sendiri sedang kacau.
"Udah pake aja! Aku juga pake." Hanin tersenyum lebar seraya menunjukan masker yang sama.
"Jadi couple-an gitu?"
Perempuan itu mengangguk semangat, "cepetan pake!"
Dengan berat hati dan ragu-ragu, akhirnya Dirga memakainya, hingga luka itu kini tidak terlihat. Hanin tersenyum menatap Dirga, ia tahu pasti pria disampingnya ini sedang merasa terluka, cemas dan ketakutan. Seutas senyum yang suaminya berikan tidak dapat menutupi semua perasaan tidak nyaman itu.
"Are you oke?" tanya Hanin pelan.
Dirga menoleh menatap istrinya, lalu mengangguk perlahan. "Jangan cemas."
**********
.
"Tidurlah, yang nyenyak," ucap Dirga ketika mereka tiba di rumah.
"Duduklah, aku obati lukanya," jawab Hanin. Kemudian ia pergi mengambil kotak obat, dan membawa air hangat untuk mengompres lebam yang sedikit bengkak. Tak berapa lama ia kembali lalu duduk di hadapan suaminya.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Hanin seraya menempelkan handuk kecil yang sudah di rendam air hangat pada sudut bibir Dirga.
"Tanya saja."
Hanin diam sesaat, lalu menghela napas panjang. "Kenapa hubungan kamu dengan papa dan kak Aldi begitu dingin?"
"Aku akan ceritakan nanti, di waktu yang tepat," jawab Dirga.
"Oke ...." jawab Hanin dengan sejuta rasa penasarannya.
Hanin mengobati luka itu dengan telaten dan Dirga sedikitpun tidak melepaskan pandangan. Merasa diperhatikan tentu membuat Hanin merasa gugup, tapi ia mencoba bersikap seperti biasa, hingga beberapa saat kemudian selesai dan Hanin segera beranjak. Tapi ... Dirga mengambil tangan sang istri dan membawanya duduk berdampingan.
"Maaf ...." ucap Dirga lirih.
"Buat?
"Segala hal yang membuat kamu tidak nyaman, termasuk kehadiranku."
Perempuan itu menghela napas panjang dan mengeluarkanya secara perlahan. Ia memahami, bila pria disampingnya ini sedang tidak baik-baik saja, atau mungkin saja sedang sangat rapuh. Walau semua misteri itu belum Hanin ketahui.
"Aku tidak kenal siapa kamu, seperti apa kamu, asal usul kamu. Tapi tiba-tiba satu peristiwa mengubah segalanya. Apa pernikahan ini takdir? Bila memang iya, kenapa harus seperti ini jalannya ..." sesaat ia menghentikan ucapannya dan kembali melonggarkan semua rasa sesak di dada. "Masih banyak pertanyaan lain dalam benakku, termasuk apa rencana tuhan sesungguhnya? Tapi ... di luar itu ada satu hal yang cukup mengganggu."
Dirga menautkan kedua alisnya tidak mengerti, "apa yang mengganggumu?"
"Sikapmu."
Dirga terlihat semakin tidak paham.
"Caramu bertanggung jawab, caramu peduli padaku, terkadang membuatku merasa bila aku ini istimewa. Sungguh itu sangat mengganggu, jangan seperti itu, sebagai wanita aku bisa salah paham."
Kali ini pria disampingnya itu tidak berkata menimpali apapun, selain tatapan lirih yang diberikan.
"Bukan pernikahan seperti ini yang aku harapkan, aku ingin berkeluarga dengan di bentengi pertahanan yang kuat, yaitu cinta. Bagiku cinta itu sendiri nilainya sangat sakral," lanjut Hanin.
Dirga diam, batinnya bergumam, 'bisakah mereka saling memberi rasa itu'.
"Jadi ... pergilah! Kejarlah mimpi-mimpimu yang belum tercapai. Kamu masih muda, masih banyak waktu. Aku tidak ingin menjadi sebuah beban hanya karena sebuah rasa tanggung jawab."
Kini pria itu memberanikan diri menatap mata bening milik istrinya lebih dalam. Ia mencari sesuatu mengapa kata-kata itu Hanin lontarkan. Tapi ... Dirga tidak menemukan kebencian sedikitpun, mata indah itu hanya mengisyaratkan sebuah rasa tidak nyaman dengan semua peristiwa yang terjadi.
"Aku gak mau ... aku gak akan pergi, kecuali kamu yang meninggalkan," ucap Dirga lirih.
"Dasar bocah!" jawab Hanin ngasal. Suasana sudah terlalu serius dan dia ingin mencairkannya. "Ini tangan gue mau dilepasin gak?"
Dirga tersenyum malu, tapi belum melepaskannya. "Kalo dipegangin semaleman boleh gak?"
"Bisa encok gue, dipegangin buaya buntung." Hanin beranjak, dengan tangan yang masih saling tertaut, Dirga justru kembali menarik tangan itu dan membawa sang istri duduk dipangkuannya. Hanin membelalakan mata, ia terkejut dan mencoba melepaskan diri, tapi tanpa disangka Dirga justru melingkarkan kedua tangan di pinggang kecil miliknya dan bersandar pada bahunya dengan nyaman. Hanin masih terus mencoba membebaskan diri. Bukan karena ia benci, hanya saja sikap berondong ini berhasil membuat jantungnya semakin berdegup kencang dan darahnya mengalir lebih cepat.
"Sebentar saja ...." ucap Dirga lirih dan menguatkan rengkuhannya. Hanin terdiam, tidak bisa dipungkiri ada reaksi aneh dalam tubuhnya yang tidak bisa menolak sentuhan itu.
"Kamu kecil sekali ...." Dirga masih bersandar dan memejamkan mata, merasakan kenyamanan yang menjalar pada hatinya.
"Enak aja! aku proforsional," jawab Hanin gugup.
"Suara detak jantungmu terdengar," Dirga mendongak menatap Hanin dengan senyum. Segera perempuan itu memalingkan wajah, menyembunyikan rasa malu dan pipinya yang mulai merona.
Dirga tersenyum gemas, ia membalikan wajah itu dan kini mereka saling berhadapan. Di tengah situasi ini, ada dorongan dalam diri Dirga yang sepertinya sulit ditahan. Ia mendekatkan wajah, meraih dengan lembut bibir sang istri lalu mengecupnya. Sekali lagi, Hanin dikejutkan perlakuan manis suaminya ini.
'Lepaskan! Menjauh!' Pikirannya terus berkata. Tapi reaksi tubuh justru berkata lain, Hanin menyambutnya, ia membalas kecupan itu, dan keduanya terhanyut dalam sebuah romansa jiwa muda yang bergairah. Hingga beberapa saat kemudian, Hanin melepaskan pagutan itu, ia beranjak. Deru napasnya terdengar cepat, ia terengah-engah, dan tanpa berkata segera pergi, lalu masuk ke dalam kamar dan menguncinya.
Dirga seketika salah tingkah, ia merutuki sikapnya yang tidak bisa menahan diri. Ia pun merasa takut bila saja istrinya itu marah, karena Hanin pergi begitu saja. Segera Dirga mengikuti langkah istrinya dan mengetuk kamarnya berkali-kali.
"Han ... buka, Han. Maaf," ucap Dirga seraya mengetuk pintu kamar.
Tidak ada jawaban, sementara Hanin sendiri di dalam sana sedang menetralkan hati. Ada perasaan malu, tapi yang paling mengganggu adalah debaran jantungnya yang semakin kencang, dan rasa manis dari bibir Dirga yang sepertinya terus menempel.
***************
.
Sebelum berangkat ke kantor, Hanin terus menghindari suaminya. Ia tidak ingin bertemu karena merasa malu dengan apa yang terjadi semalam.
'Pergi duluan, jangan tunggu aku, -Send' Hanin mengirimkan pesan singkat pada Dirga.
'Kenapa?'
'Pokoknya, pergi duluan,'
Kemudian Dirga mengetuk pintu kamar istrinya. "Aku berangkat ya."
Masih tidak ada jawaban, akhirnya Dirga pergi terlebih dahulu. Dia masih menyesali perbuatannya yang membuat Hanin sampai menghindar. Setelah memastikan Dirga sudah pergi, Hanin pun keluar kamar dan segera berangkat ke kantor, sarapan dan bekalnya sudah siap dibuatkan oleh sang suami.
----------
Siang ini Hanin melakukan kunjungan ke sebuah perusahaan, ia ada pertemuan di sana. Beruntung jarak kantornya tidak jauh, sehingga tidak memakan waktu. Ternyata perusahaan yang di datangi adalah tempat dimana Dirga bekerja.
Sementara suaminya sibuk di lapangan, Hanin hanya memperhatikan dari jauh. Dirga bekerja di bawah terik matahari, dengan sibuk ia memantau keluar masuk barang dan mendatanya. Hatinya semakin terenyuh, demi sebuah tanggung jawab ia bekerja keras dan tidak pernah sedikitpun mengeluh, walau mungkin hari yang dilewatinya tidak mudah dan sangat melelahkan.
"Hanin ...." panggil seseorang membuyarkan fokusnya.
Perempuan itu menoleh, dan tertegun sesaat. "Ervan?"
Pria itu tersenyum, rupanya rekan kerja yang hari ini ditemui adalah mantan kekasih yang memutuskannya empat tahun lalu tanpa alasan yang jelas.
"Kamu di sini?"
"Iya, aku pimpinan cabang perusahan ini."
Hanin tidak lagi berkata, keduanya pun melakukan meeting, membicarakan urusan kerja sama perusahaan mereka. Hingga tidak terasa beberapa jam sudah berlalu dan pertemuan itu berakhir.
"Hanin tunggu ..." panggil Ervan.
"Ada apa?"
"Bisa kita makan di luar sekarang?"
Hanin melihat jam tangannya, waktu sudah menunjukan jam empat sore. "Maaf gak bisa," jawab Hanin tersenyum, kemudian pamit dan berlalu.
-----------
Hanin melambaikan tangan saat melihat sang suami dari kejauhan. Dirga membalasnya tersenyum dan memberi sebuah kode agar istrinya menunggu. Setelah melepas atribut kerjanya, segera Dirga menghampiri.
"Kamu ko di sini, aku gak PD rasanya," ucap Dirga memegang tengkuk lehernya menutupi rasa tidak percaya diri.
"Kenapa gak PD?"
"Aku dekil, kucel dan bau matahari."
Hanin tertawa, "gak apa-apa nanti tinggal mandi."
Dirga ikut tertawa, ia senang istrinya sudah tidak menghindar. Mereka pun sedikit bertukar cerita, hingga akhirnya Dirga pamit karena harus kembali bekerja, dia lembur untuk dua jam ke depan.
"Nanti aku jemput. tunggu ya, aku pulang jam enam," ucap Dirga.
Hanin mengangguk, Dirga pun berlalu dan keduanya saling melambaikan tangan.
***************
Selepas pulang kerja, tanpa terduga ayah Dirga datang menemui anaknya. Ia mengetahui dimana Dirga bekerja tentu dari Hanin.
Seperti biasa, keduanya berada dalam sikap yang dingin.
"Syukurlah kamu sudah bekerja," ucap Papa nya.
"Ada apa Papa ke sini?" tanya Dirga tanpa basa-basi.
Ayahnya memberikan amplop coklat berisi berkas-berkas untuk pendaftaran pernikahannya ke KUA. Sementara resepsinya sendiri sesuai rencana sekitar tiga bulan lagi.
" ... dan ini, simpanlah uang ini untuk memulai rumah tanggamu, juga berikan sebagai uang dapur pada mertuamu untuk resepsi nanti."
Dirga hanya menatap amplop coklat berisi uang itu, lalu di ambilnya, dan kemudian diserahkan kembali.
"Papa simpan saja, aku akan mencarinya. Aku tidak akan menyusahkan Papa dan keluarga," ucap Dirga.
Sang ayah menghela napas panjang, mengeluarkannya perlahan, ia melonggarkan rasa tidak nyaman di dadanya, terlihat ada kekecewaan saat anaknya memberikan sebuah penolakan karena sebuah rasa marah.
"Bisakah kamu tidak hidup sesuka caramu sendiri?" Papa berusaha tenang, walau ia sudah sangat ingin marah.
"Apa menurut Papa aku seperti itu? Apa aku hidup sesukaku?"
"Iya seperti itu! Kamu tidak pernah menganggap kami sebagai orangtua!"
"Papa ... sejak hari itu, lebih dari dua tahun yang lalu, aku hidup dalam sebuah perasaan berdosa, bagaimana bisa aku hidup sesukaku?" Dirga sesaat menghentikan ucapannya. Sementara sang ayah menatap lekat, mencerna setiap apa yang anak laki-lakinya ucapkan.
"Papa tentu tahu, saat itu untuk pertama kalinya aku memutuskan sesuatu hal yang penting dalam hidupku, tapi keputusanku di tolak," ucap Dirga mengenang peristiwa beberapa tahun yang lalu.
"Keputusanku akan tetap sama walau waktu bisa di ulang! Karena itu caraku sebagai orangtua menyayangimu."
"Tapi Papa mengorbankan hidup orang lain!"
Bersambung ....
Aku lanjut kalau:
-----
#Young_Husband
Bagian 5
Dirga melirik sebuah benda berwarna coklat yang terpasang di tangan kirinya. Angka digital yang ada di sana sudah menunjukan jam 18.30.
"Maaf, aku harus menjemput Hanin," ucap Dirga seraya beranjak dari duduknya. Ia mengambil map coklat berisi berkas itu, dan sesaat menatap wajah sang ayah. "Papa, hati-hati."
Dirga berlalu, sang ayah hanya menatap punggung anak kebanggaannya itu dengan lirih. Anak yang tiba-tiba terasa asing dan dingin. Padahal dulu, sebelum saat-saat itu terjadi, setiap hal apapun yang ayahnya lakukan maka Dirga akan tiru. Karena baginya, sang ayah adalah sosok panutan dan setiap hal yang dilakukan adalah sebuah kebaikan dan kebanggan. Sebelum akhirnya semua menjadi berbeda, sebuah putaran waktu membuat yang dekat semakin pergi menjauh dan sulit berada ke titik semula.
************
Hanin keluar dengan memasang senyum menyambut Dirga yang sudah menunggunya. Ia tampak duduk di sebuah kursi taman yang tidak jauh dari kantor sambil memasang earphone dan mendengarkan sebuah lagu kesukaan, Ari Lasso-Arti cinta.
"Nunggu lama ya?" tanya Hanin.
Dirga menggeleng pelan sambil tersenyum. "Udah makan?"
"Udah, tadi makan siang," jawab Hanin.
"Nyari makan yuk, laper ...."
"Belom makan dari SD?" celetuk Hanin.
Dirga beranjak dari duduknya, tertawa kecil dan mencubit hidung istrinya gemas.
"Aww ... sakit tau!" Hanin meringis, memegang hidungnya yang memerah.
"Maaf ...." Dirga tertawa, "ayo cari makan."
Hanin mengikuti langkahnya, lalu Dirga memasangkan sebelah earphone di telinga wanita itu. "Biar gak jauh-jauh," ucapnya tersenyum.
"Modus mulu nih bocah ...." jawab Hanin .
'Berjalan bersamamu tak kan pernah, menjadi sesuatu yang menjemukan. Ku ingin selalu di dekatmu, memandang wajahmu yang menggemaskan.'
Sebuah lagu dari Senar Senja mengalun menemani langkah mereka di bawah langit malam ini yang cerah dan berbintang. Tidak lupa, semilir angin malam pun sesekali berhembus, memberikan hawa sejuk yang menenangkan.
"Mau makan apa?" tanya Dirga memecah keheningan.
"Terserah ...."
"Kata 'terserah' yang di ucapkan perempuan itu menyebalkan ...."
"Kenapa?"
"Karena setelahnya pasti ada aja yang bikin kaum Adam ini merasa serba salah," jawab Dirga.
"Alay banget deh ...."
"Memang begitu, perempuan itu kebanyakan kode."
"Makanya jadi lelaki itu peka."
"Lah ... ngomong bu apa yang di mau. Emang kita punya mata batin gitu mengetahui setiap isi hati nya."
"Wanita memang rumit, makanya aku gak suka sama wanita," jawab Hanin polos.
Dirga tertawa, "horror dong kalau kamu suka cewek."
Keduanya tertawa, dan menikmati perjalanan malam ini dengan berbagi canda.
"Oh iya, temen-temen kantor akhir bulan ini mau liburan ke tangkuban perahu, mau ikut gak?" tanya Hanin.
"Ngapain ke sana?"
"Refreshing lah, nyari udara segar. Udah mumet nih sama polusi ibukota."
"Jangan lah, gak usah pergi."
"Kenapa?" tanya Hanin lagi merasa heran.
"Perahunya bocor!" jawab Dirga ngasal.
"Ngomong noh, sama wajan gosong!" jawab Hanin kesal.
Dirga hanya tertawa kecil menimpalinya.
***********
"Ini ... tadi papa datang dan memberikannya." Dirga memberikan sebuah amplop coklat saat keduanya tiba di rumah.
"Apa ini?"
"Berkas-berkas untuk mencatat pernikahan kita di KUA."
Hanin terdiam sejenak, ia menatap Dirga. Sekali lagi mencoba meyakinkan diri, apakah ini sudah sesuai dengan hatinya. Ia memang tidak menganggap ikatan ini permainan, hanya saja setelah tercatat secara hukum tentu semuanya jauh lebih kuat.
"Kenapa?"
Perempuan itu menggelengkan kepala pelan.
"Kamu tidak yakin?" tanya lagi Dirga.
"Entahlah, mungkin keyakinanku akan jauh lebih dalam bila pertemuan kita tidak seperti itu ...."
Dirga mengangguk lemah, ia mencoba memahami kerisauan di hati sang istri.
"Aku sama sekali tidak kenal kamu. Kamu terlalu banyak menyimpan hal yang tidak aku ketahui."
"Beri sedikit waktu, nanti pasti aku menceritakan semuanya," jelas Dirga.
"Kalau ternyata kamu buronan gimana? kan waktu pertama kali kita ketemu kamu luka-luka gitu," jawab Hanin.
Dirga tertawa seraya mengacak-ngacak rambut sang istri, "analisa mu terlalu jauh, Bu."
Hanin mengerucutkan bibir, lalu merapihkan rambutnya. "Aku kan cuma jaga-jaga."
"Emang wajah ganteng gini ada tampang penjahat gitu?" canda Dirga.
"Tampang lengkap itu, playboy juga iya kayaknya ...."
"Sok tahu!" jawab Dirga.
Hanin beranjak dari duduknya lalu masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuh sesaat sebelum membersihkan diri. Ia menatap langit-langit bernuansa putih itu, Alam pikirannya terbang jauh mengangkasa, sebuah kata 'Iya' atau 'Tidak' terus meracau seperti sedang berlomba, berebut tahta untuk dipilih. Perasaan risaunya tentu saja wajar, sebagai seorang wanita pernikahan tentu bukanlah hal yang bisa di anggap sepele. Memilih teman hidup untuk selamanya tidak bisa begitu saja, hatinya harus benar-benar yakin, karena untuk seumur hidup sebagai pasangan akan saling berbagi dalam banyak hal. Bila saja salah satunya tidak seimbang kapal bisa saja karam sebelum sampai ke tujuan. Hanin tidak mau, ia hanya ingin menikah sekali seumur hidup.
Perempuan itu membuang napas kasar, kemudian bangun dan duduk di tepi ranjang. Berhadapan langsung dengan sebuah cermin, membuat pantulan wajahnya terlihat jelas. Tiba tiba tangannya bergerak begitu saja menyentuh bibir, ia kembali membayangkan peristiwa kemarin malam dan membuat desiran dalam tubuhnya kembali bereaksi. Hanin tersenyum dengan pipi yang merona, lalu menutup wajah dengan kedua tangan menyembunyikan seutas senyum yang membuatnya tersipu. Hingga beberapa saat kemudian, ia beranjak dan mengambil handuk lalu keluar bergegas ke mandi.
Disaat bersamaan Dirga keluar dari kamarnya dengan bertelanjang dada dan hanya memakai handuk, rambutnya terlihat basah, sepertinya ia baru selesai mandi.
Hanin hanya menelan ludah, berondongnya itu memiliki enam lekukan indah di perut, belum lagi otot-otot yang terlihat menonjol, seperti menjadi identitas diri sebagai pria yang kuat.
"Mau mandi?" tanya Dirga
"Umh ... iya ..." jawab Hanin gugup.
"Bentar, aku ngambil baju dulu. Ketinggalan di kamar mandi."
Hanin tidak menjawab, dan hanya memperhatikan suaminya berlalu.
************
Sementara sang istri mandi, Dirga nampak duduk santai sejenak dan membuka gawainya.
[Gimana, Ga? udah lu hubungin no nya? -Raka]
Satu pesan whatsapp sahabatnya itu berikan. Dirga hampir saja lupa bila beberapa saat yang lalu sahabatnya itu memberikan nomor seseorang.
[Belum, bro.]
[Gimana sih lo, dari kemaren ngebet, udah dapet di anggurin.]
Dirga hanya membacanya, kemudian menutup chat Raka dan mencari kontak itu yang sudah ia simpan, lalu meng-klik nomornya, saat hendak mengirimkan pesan ada rasa ragu dalam hati, sehingga beberapa kali ia mengetik lalu menghapusnya. Di sana tertampil sebuah foto profil dari nomor itu, hati Dirga kembali bergetar, bahasa kalbunya berharap semoga si pemilik nomor masih tetap menjadi orang yang sama seperti dulu.
[Oh iya, temen gue kemaren nawarin, minta dibuatin aplikasi. Lo mau ga? lumayan duitnya. Lo kan jago masalah begitu -Raka]
Tanpa berfikir panjang Dirga langsung menjawab 'Iya', karena memang saat ini ia sedang berjuang mencari tambahan rupiah setelah menolak uang dapur pemberian sang ayah. Apalagi jarak resepsi pernikahan yang semakin dekat, setidaknya uang harus sudah mulai terkumpul.
Sekitar setengah jam berlalu, Hanin keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan nampak segar. Ia menghampiri suaminya sambil terus mengeringkan rambut dengan handuk.
"Ada apa? serius banget," ucap Hanin.
"Kepo!" jawab Dirga ngasal.
"Biasa aja!" Hanin berlalu masuk ke dalam kamarnya.
'Aduh ...' terdengar jeritan kecil Hanin. Dirga beranjak dan menghampiri.
"kenapa?"
"Kesetrum ...." jawab Hanin menekuk wajah dan memegangi tangannya.
"Kok bisa?"
"Mau nyolokin ini." Hanin masih memasang wajah kaget dan menunjukan hair dryer.
"Ya udah sini, biar aku yang keringin rambutnya." Dirga mendekat.
"Enggak, biar aku aja," jawab Hanin.
"Jangan ngeyel," ucap Dirga lalu mendudukan tubuh istrinya di sebuah kursi yang berhadapan dengan meja rias. Ia mulai mengeringkan rambut Hanin tanpa banyak berbicara lagi, sementara sang istri hanya memperhatikan melalui cermin. Sebelumnya, belum pernah ada laki-laki yang seperti ini memperlakukan dirinya. Kekasih terdahulu selalu membuat ia terasa menjadi orang lain.
"Kamu pinter juga ngurus begini," ujar Hanin sedikit tertawa.
"Hidup dengan empat perempuan rempong di rumah, membuatku sedikit terlatih."
"Tapi kamu enggak ikutan kaya abang-abang yang kerja di salon wanita kan?"
Dirga diam sesaat, dan mematikan hair dryer tersebut. Keduanya saling menatap di pantulan cermin, lalu tubuh laki-laki itu sedikit membungkuk, menyamakan kepalanya dengan wajah Hanin, kemudian ia berbisik di telinga sang istri lembut. "Apa perlu aku tunjukan kelaki-lakianku?"
Berdesir darah dalam tubuh Hanin seketika, jantungnya berpacu cepat tak berirama. Mungkin saja saat ini detak jantungnya terdengar hingga jarak jauh saking kencangnya. Bibir terasa kelu, namun pikirannya terus meracau hal-hal tentang pria dan wanita. Sementara suaminya masih belum beranjak dengan jarak yang masih sangat dekat pastinya, sehingga hembusan napas yang hangat semakin terasa menyapa daun telinga milik Hanin dan menjalar ke bagian belakang pundaknya membuat bulu kuduk meremang.
Berusaha menetralkan diri, Hanin beranjak dari duduknya dan berdiri. Ia terlihat salah tingkah, dan Dirga yang melihat itu hanya tertawa gemas.
"Kenapa? itu pipi merah banget kaya cherry?
Hanin masih salah tingkah dan gugup.
"Sudah sana keluar, aku mau tidur," jawab Hanin mencari alasan.
"Rambutnya belum kering," ucap Dirga.
"Biarin!"
Dirga menarik tubuh istrinya, dengan melingkarkan satu tangan di pinggang Hanin. Sehingga jarak keduanya sangat dekat sekali. "Tidak perlu gugup, kita suami istri. Cepat atau lambat hal itu akan terjadi. Aku tidak akan memaksa kesiapanmu dan akan menunggu pastinya, walau mungkin di setiap saat, aku pasti akan mencari kesempatan, karena aku lelaki. Aku suamimu."
Hanin hanya diam, tidak ada yang salah sedikitpun dari ucapan suaminya itu, semua hanya tentang waktu saja. Perlahan Dirga kembali mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir manis Hanin dengan lembut. Setelah itu keduanya menyatukan kening mereka. "Tidak peduli bagaimana pun awal pertemuan kita, aku yakin itulah takdir," ucap Dirga lembut.
"Tidurlah." Dirga melepaskan rengkuhannya.
Hanin masih belum berkata apapun, semuanya terasa begitu kelu. Kemudian Dirga keluar kamar dan Hanin hanya menatapnya.
Setelah itu, ia naik ke tempat tidur, dengan sejuta perasaan hati yang tidak menentu. Pikirannya terbang melayang, yang baru saja terjadi begitu terpatri dalam hati dan ingatan.
Ting .... satu pesan masuk membuyarkan lamunannya.
[Maaf kakak, Hanum tidak bisa menceritakan apapun, peristiwa yang terjadi beberapa tahun lalu terlalu banyak meninggalkan sakit di hati banyak orang dalam keluarga kami, lebih baik kakak menunggu saja sampai kak Dirga sendiri yang bercerita. -Hanum]
Beberapa saat yang lalu Hanin memang sempat mengirimkan pesan singkat pada adik iparnya itu tentang peristiwa apa yang terjadi sehingga membuat hubungan Dirga dan keluarganya dingin.
Bersambung...
Si Dirga kenapa sih? Sok misterius banget 🤣
Ditunggu part 6 nya yaa.. Nanti sore 😍
bersambung