KEKASIH BAYARAN (NEW), by Rika Yenita
#Kekasih_Bayaran_Remake
Part 21
Musim Kedua
“Gimana, Kang?”
....
Merosot aku di dinding depan UGD, lemas sambil menyugar rambut dan menggenggam erat-erat ponsel di tangan. Menyesal memang selalu di akhir. Kenapa aku tak pikir panjang ....
Setelah teman-teman Hanna bergiliran masuk ke luar ruangan, aku menemui gadis itu. Berjalan lambat bagai prajurit kalah perang. Lalu terdiam di sisi tempat tidurnya. Lama.
“Rafi ....”
“Maafin aku, Han ....”
“Maaf kenapa?”
Aku kembali menunduk. “Tunggu aku.” Kemudian diam lagi. Kulirik Hanna, dan ia tersenyum
***
Takdir memang kadang seunik itu. Aku dan Hanna yang lebih dulu terlibat lika-liku cinta, ternyata harus menunggu lebih lama untuk bersama dibanding Radit dan Dila. Ya, dua sahabatku itu dalam waktu dekat akan menikah. Entah bagaimana awalnya, Radit tak pernah cerita. Tapi aku paham betul perasaannya pada Dila. Yang jelas aku turut bahagia.
Sesekali saat bertemu Radit, kudapati ia sedang bertelepon mesra dengan Dila. Wajahnya menunjukkan binar seakan dunia berwarna merah muda. Kali lain ia mengajakku memilih beberapa benda yang akan diberikan pada Dila. Tentu saja aku menemaninya dengan antusias. Sambil berkhayal suatu saat juga akan sepertinya. Hitung-hitung belajar.
Waktu fiting baju pengantin, Radit juga mengajakku. “Sekalian lu fiting juga, Cuy!” katanya.
“Ck ... nanti lah, masih lama ....”
“Ukuran kita kayaknya sama, deh. Lu lebih tinggi dikit aja.”
“Hmm ....” Aku mengangguk.
Saat itu Dila keluar dari ruang ganti dengan kebaya putih membalut tubuhnya.
“Cantik!” puji Radit sambil tersenyum.
Aku ikut tepuk tangan dan mengiyakan pendapat sahabatku itu. Dila memang cantik.
“Makasih, Yang ... makasih Rafi!” jawab Dila.
Aku memberikan jempol untuknya.
“Nggak sekalian pesan buat Hanna, Raf?”
Aku hanya tersenyum nggak enak hati. Entahlah kapan itu akan terjadi ....
***
Kujalani hari-hari seperti biasa. Hanya kali ini semua seperti pelan. Semakin dekat tanggal kepergianku semakin lambat detak jarum jam berjalan.
Suatu hari, sepertinya Fahri membaca perubahan sikapku.
“Ikhlasin aja semua udah ada yang ngatur, Bro!”
“Hmm ....” Kujawab sambil menyeruput kopi di siang yang mendung.
“Nanti kalau lo di sana tiba-tiba Hanna ada yang khitbah, jadi lo nggak terlalu sakit!” Fahri menepuk pundakku.
“Jahan banget doanya, Bro!” Aku mendengkus sambil menatapnya. Fahri tergelak seakan menggoda. Tapi kalimatnya lumayan menusuk hati. Terbayang seandainya itu benar terjadi, Hanna menikah dengan orang lain ... mungkin aku akan memilih tidak akan pernah pulang saja selamanya.
“Kapan berangkat? Nggak bisa dibatalin, ya?”
“Minggu depan.” A
“Pas nikahan Radit, ya?”
“Hmm, masih sempat hadir InsyaAllah.”
“Sip, sip!” Fahri menepuk-nepuk pundakku.
***
Koper sudah siap di samping tempat tidur. Selesai ke acara Radit aku akan langsung berangkat. Kukenakan setelan yang sudah disiapkan sahabatku. Radit bilang itu seragam ‘pager bagus’ sekalian jadi pendamping pengantin pria. Adatnya begitu, ya, aku menurut saja karena belum punya pengalaman menikah sebelumnya.
Bajunya mewah menurutku, jadi lama berdiri di depan kaca. Wajah murung beberapa hari ini tiba-tiba berubah cerah. Jadi semangat menambah gel di rambut. Tapi jangan terlalu lebay nanti Radit jadi kalah ganteng sama pendampingnya. Hehe secara dia pakai minyak rambut apa pun nggak akan mempan karena keritingnya yang sangat mengembang.
Aku mengajak abah dan ibu berangkat. Semalam mereka tiba, khusus menghadiri pernikahan Radit.
Sesampainya di masjid tempat akan diadakannya acara akad nikah Radit dan Dila, suasana sudah cukup ramai dengan tamu. Terlihat juga beberapa teman kantor dulu, tapi tak terlihat Via. Yang cukup mengejutkan ada papa dan mama Hanna di sana. Radit mengundangnya juga ternyata. Sejak kapan Radit mengenal mereka? Apa masih keluarga jauh? Atau keluarga besan? What everlah yang penting aku salami dulu keduanya. Abah dan ibuku juga bersalaman dengan mereka, lalu berbincang cukup akrab. Wah ... boleh juga kemampuan publik speaking abah bisa digunakan untuk mengakrabkan diri di mana pun berada.
Aku mencari-cari sosok Radit, sementara Hanna dan pengantin wanita belum muncul, mungkin nanti setelah akad nikah. Akhirnya kuputuskan ke ruang perpustakaan di samping masjid untuk mencari sahabatku.
Sebatas pengamatan, tak ada yang berpakaian sama denganku. Lalu ke mana para pager bagus yang diceritakan Radit itu? Hmm ... mungkin mereka sedikit terlambat.
Baru saja akan masuk ke ruang perpustakaan di lantai satu, Radit tiba-tiba muncul keluar dari pintu bersama Fahri. Benar dugaanku, dia di sini. Sejenak kami saling menyapa dan berpelukan erat. Seolah-olah bakal berpisah lama sekali. Tak ada kata-kata, hanya tepukan di pundak yang mewakili segalanya. Kita akan baik-baik saja, dan terus bersahabat selamanya, walau berpisah jarak dan waktu, juga berubah status dari bujangan menjadi seorang suami dan kepala rumah tangga.
Kami bertiga naik ke lantai dua. Aku dan Radit mendekati meja penghulu sementara Fahri mengambil tempat agak di belakang. Sama dengan Radit, aku ikut duduk bersila.
Acara pun dimulai. Diawali dengan pembukaan, pembacaan ayat suci alquran dan sambutan-sambutan. Terakhir nasihat pernikahan sekaligus akad nikah. Suasana hening saat ayah Dila menyerahkan putrinya dan dijawab oleh Radit. Ucapan syukur bergema sedetik kemudian saat saksi mengucapkan ‘sah.’
Muncullah Dila dari satu ruangan bersama Hanna di sampingnya, keduanya cantik dalam balutan kebaya berbeda warna. Lucunya kebaya Hanna senada dengan beskapku. Dila duduk di sebelah Radit mencium tangan sahabatku itu penuh takzim. Resmi sudah keduanya menjadi suami istri. Sungguh tidak disangka-sangka.
Beberapa menit kemudian penghulu mengambil mikrofon dan mengumumkan sesuatu.
“Yang mana pasangan calon pengantin selanjutnya?”
“Ini, Pak,” ucap Radit sambil menunjukku dan Hanna, kemudian ia mundur teratur dan menyuruhku maju.
Aku mulai celingukan menengok ke kiri dan kanan dengan dada bergemuruh hebat sebab tiba-tiba menjadi pusat perhatian. Selain itu bingung membaca keadaan.
Saat itu juga kedua orang tuaku mendekat, begitu juga dengan mama dan papa Hanna. Berkali aku menelan saliva sembari mengepalkan tangan yang tiba-tiba berkeringat. Kurasa tengkukku juga tiba-tiba dingin.
Kulirik Hanna di sebelah. Menunduk dalam kebisuan, dengan kedua tangan meremas ujung kebaya.
“Sudah disiapkan mas kawinnya?”
Aku mengusap dahi yang sudah terpakai peci, entah siapa yang memakaikannya. Tak lama ibu menyerahkan kotak kaca berisi perhiasan, beberapa saksi memeriksa surat-suratnya. Aku melirik ibu penuh tanya yang dijawab dengan senyuman.
Aku sungguh merasa tidak enak. Terlepas dari ini rencana siapa? Tapi masa aku tak punya andil sedikit pun dalam memberikan sesuatu untuk Hanna.
“Maaf, Pak,” kataku sambil merogoh dompet di saku celana. Ya Allah tinggal 200 ribu perak doank? “Tambahkan ini, ya, Pak?” Lumayanlah asal dari keringet sendiri. Masih ada kesempatan buat bikin resepsi sepulangnya dari Dubay nanti. Semoga saja saat itu uangku sudah banyak.
“Kita mulai saja,” kata penghulunya.
Jantungku sudah tak karuan rasanya, berdegup-degup bagai dijadikan sasaran tinju. Berusaha mengingat kalimat yang diajarkan penghulu. Kutarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Kurapal tasbih untuk menenangkan jiwa.
Erat tangan papa Hanna saat menjabat tanganku seolah ingin menyampaikan bahwa peganglah sekuat ini tangan anakku, jangan kau lepaskan, jangan kau biarkan ia bersedih, jangan kau abaikan. Jagalah dia, sayangilah dia bagaimanapun keadaannya.
“Muhammad Rafi Alfajri, kunikahkan anakku Hanna putri Setiawan dengan mas kawin sepuluh gram emas dan uang 200 ribu rupiah ... dibayar tunai ....”
“Saya terima nikahnya Hanna Putri Setiawan binti Setiawan dengan mas kawin 10 gram emas dan uang 200 ribu dibayar tunaaii ....”
Terbuka pintu langit dan semoga setiap doa dikabulkan saat nomen ini. Bahkan kulihat ibu menitikkan air mata. Mungkin beliau bahagia sekaligus sedih karena akan kutinggal pergi jauh.
Sedangkan aku sendiri? Entah ... masih menerka-nerka apa ini mimpi atau nyata? Bahkan suara-suara di sekitar tak bisa lagi kutangkap maknanya.
Kuedarkan pandangan, semua tersenyum menatapku seolah menguatkan, menyadarkan bahwa semua ini nyata. Termasuk saat Hanna meraih tanganku setelah berkali-kali pembawa acara mengingatkanku untuk memberikan tanganku pada Hanna.
Ia menciumnya dengan takzim. Lalu aku ingin sekali bertanya padanya, Han, sebenarnya aku nggak mau kamu cium tangan, kamu tampar aku aja biar sadar dari mimpi indah ini!
Tapi tidak, mimpi ini berlanjut, semua memelukku dengan erat dan memberikan selamat. Keluargaku, keluarga Hanna, Fahri, Radit, dan semua tamu. Bahkan mereka mengajakku berfoto bersama.
“Tampar gua, Dit!” Akhirnya kalimat itu terucap dari mulutku.
Radit meninju perutku pelan sambil tertawa. “Lo nggak mimpi, Bro, ini semua rencana kita!” ujar Radit sambil melirik Fahri. Fahri segera mendekatiku dan memeluk erat sambil menepuk-nepuk pundak.
***
Abah, ibu, papa, mama mertua, Fahri sekeluarga, dan Radit minus Dila buru-buru mengantarku ke bandara. Tidak lupa mampir ke kontrakan mengambil koper dan berganti pakaian.
Kami terburu-buru, bahkan Hanna tak sempat berganti baju. Akhirnya kupinjamkan sweater pada istriku. Apa? Istri? Aku punya is ... tri?
Cukup ngos-ngosan setibanya di mobil Radit. Sahabatku itu bersikeras menjadi driver kami. Aku duduk di belakang bersama Hanna. Cukup butuh waktu sampai napasku teratur. Celakanya, ini mobil nggak ada AC-nya. Tapi untunglah cuaca di luar mendung, seperti kompak dengan mobil Radit.
“Nggak ada mobil laen apa, Cuy?”
“Lupa gue ... saking udah jadi soul mate sama ni mobil. Kayaknya dia juga pengen ngucapin kata perpisahan buat elo, Cuy!”
“Kasian Hanna ....” Aku melirik gadis di sebelahku yang dibalas dengan senyum.
“Maaf, ya, Han!” kata Radit.
“Nggak apa-apa, kok.” Hanna terlihat tenang. Padahal aku gugup luar biasa. Pertama takut ketinggalan pesawat, kedua ... gugup sebab duduk di sebelah istri. Hehe.
Sepertinya mobil kami jauh tertinggal dari yang lain. Ya sudahlah, aku pasrah. Bahkan saat tiba-tiba mobil Radit mogok di tengah kemacetan. Ia menepikan mobilnya dan keluar, dengan sigap membuka kap depan.
Tidak lama ia kembali dan melongokkan kepala ke dalam mobil. “Gua mau cari air dulu, ya, radiatornya kering, nggak bisa jalan mobilnya! Tunggu bentar!”
“Gue temenin!”
“Nggak usah, tunggu di sini aja sama Hanna!” ucap Radit sambil berlalu.
Perlahan awan yang sejak tadi berat menggantung menurunkan titik-titik air. Aku meninggikan kaca mobil dan menyisakannya sedikit. Lalu, pasrah menunggu Radit. Beberapa detik mengedarkan pandangan, kaca mobil mulai basah.
“Rafi ....”
Aku terhenyak mendengar suara wanita di sebelahku. Bagaimana bisa aku lupa ada yang duduk di sebelah?
“Kamu kaget?”
“Sangat.”
“Terus kenapa nurut aja dinikahin?”
“Karena pengantinnya kamu.”
Hanna tersenyum malu-malu, kedua pipinya merona.
“Maaf aku nggak bisa ngasih apa-apa sekarang ....”
“Nggak apa-apa.”
“Tunggu aku pulang, ya ....” Aku menggenggam tangannya erat.
Hanna mengangguk. Kukecup keningnya sekilas. Sesuatu yang beberapa jam yang lalu berdosa jika kulakukan, saat ini malah bernilai pahala. Inilah yang dimaksud Fahri waktu itu, pasti. Jika saja waktu itu kami tak dapat menahan diri, pasti hal-hal kecil semacam ini jadi tak surpise lagi.
“Mau cium yang lain, tapi malu tadi Cuma ngasih 200 ribu ....” Aku sedikit tertawa mengatakannya. Tapi mataku tak lepas dari wajahnya.
Hanna mengulum senyum sambil menunduk dalam-dalam. Lalu katanya “boleh ngutang, kok ....”
Aku tersenyum lebar, dada rasanya dipenuhi bunga-bunga yang sedang mekar tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Kucium lagi keningnya.
“Itu tiga ratus ribu,” kata Hannya sambil menyulum senyum. Aku ikut tersenyum.
Lalu kucium sebelah matanya.
“Lima ratus ribu.”
Kukecup mata kirinya.
“Lima ratus ribu.”
Kukecup lagi ujung hidung mancungnya.
“Hmmm ... satu juta.” Hanna tak bisa menahan tawanya. Tapi tidak denganku, rasanya ingin sekali menghentikan tawa di bibirnya yang merah dengan bibirku. Mata tak bisa dilarikan ke arah lain. Begitu fokusnya sampai aku tak bisa menatap kedua mata Hanna.
Ujung ibu jariku menyapu bibirnya. Dan benar saja, ia berhenti tertawa. Aku lalu menatapnya. “Yang ini berapa?”
Hanna terdiam, bisa kulihat ia menelan saliva, gugup. Beberapa kali mengerjapkan mata. Lalu lirih ia berkata: “gratis.”
Tentu saja tak kusia-siakan kesempatan itu. Sejenak kami terbawa suasana tak memedulikan lagi keadaan sekitar yang untung saja ... hujan. Jadi ... seperti ini rasanya?
Kami berdua saling bertatapan. Hampir saja kuulangi sekali aksi itu kalau tidak dihalangi suara pintu mobil terbuka.
“Cuy! Kesini bentar!” teriak Radit menyuruhku ke belakang kemudi.
Jantunganku hampir lompat, lalu cepat-cepat mengatur napas agar lebih tenang. Meredakan debar di dada yang tadi berdetak serupa habis lari seratus meter. Juga me ....
Aku melirik Hanna yang sibuk memperbaiki jilbabnya, salah tingkah. Ia melotot dan mencubit lenganku, memberi aba-aba agar aku mengelap bibir.
Aku mengangguk cepat, memang itu yang baru saja akan kulakukan, karena kulihat lipstik Hanna mulai pudar warnanya.
Astaga ... beberapa kali aku mengusap dada. “Nggak pas banget si Radit datengnya ....”
Kutinggalkan Hanna dan pindah ke depan. Menyalakan dan mematikan mobil sesuai dengan perintah Radit di balik kap mobil.
Bersambung.
#Kekasih_Bayaran_Remake
Part 21
Musim Kedua
“Gimana, Kang?”
....
Merosot aku di dinding depan UGD, lemas sambil menyugar rambut dan menggenggam erat-erat ponsel di tangan. Menyesal memang selalu di akhir. Kenapa aku tak pikir panjang ....
Setelah teman-teman Hanna bergiliran masuk ke luar ruangan, aku menemui gadis itu. Berjalan lambat bagai prajurit kalah perang. Lalu terdiam di sisi tempat tidurnya. Lama.
“Rafi ....”
“Maafin aku, Han ....”
“Maaf kenapa?”
Aku kembali menunduk. “Tunggu aku.” Kemudian diam lagi. Kulirik Hanna, dan ia tersenyum
***
Takdir memang kadang seunik itu. Aku dan Hanna yang lebih dulu terlibat lika-liku cinta, ternyata harus menunggu lebih lama untuk bersama dibanding Radit dan Dila. Ya, dua sahabatku itu dalam waktu dekat akan menikah. Entah bagaimana awalnya, Radit tak pernah cerita. Tapi aku paham betul perasaannya pada Dila. Yang jelas aku turut bahagia.
Sesekali saat bertemu Radit, kudapati ia sedang bertelepon mesra dengan Dila. Wajahnya menunjukkan binar seakan dunia berwarna merah muda. Kali lain ia mengajakku memilih beberapa benda yang akan diberikan pada Dila. Tentu saja aku menemaninya dengan antusias. Sambil berkhayal suatu saat juga akan sepertinya. Hitung-hitung belajar.
Waktu fiting baju pengantin, Radit juga mengajakku. “Sekalian lu fiting juga, Cuy!” katanya.
“Ck ... nanti lah, masih lama ....”
“Ukuran kita kayaknya sama, deh. Lu lebih tinggi dikit aja.”
“Hmm ....” Aku mengangguk.
Saat itu Dila keluar dari ruang ganti dengan kebaya putih membalut tubuhnya.
“Cantik!” puji Radit sambil tersenyum.
Aku ikut tepuk tangan dan mengiyakan pendapat sahabatku itu. Dila memang cantik.
“Makasih, Yang ... makasih Rafi!” jawab Dila.
Aku memberikan jempol untuknya.
“Nggak sekalian pesan buat Hanna, Raf?”
Aku hanya tersenyum nggak enak hati. Entahlah kapan itu akan terjadi ....
***
Kujalani hari-hari seperti biasa. Hanya kali ini semua seperti pelan. Semakin dekat tanggal kepergianku semakin lambat detak jarum jam berjalan.
Suatu hari, sepertinya Fahri membaca perubahan sikapku.
“Ikhlasin aja semua udah ada yang ngatur, Bro!”
“Hmm ....” Kujawab sambil menyeruput kopi di siang yang mendung.
“Nanti kalau lo di sana tiba-tiba Hanna ada yang khitbah, jadi lo nggak terlalu sakit!” Fahri menepuk pundakku.
“Jahan banget doanya, Bro!” Aku mendengkus sambil menatapnya. Fahri tergelak seakan menggoda. Tapi kalimatnya lumayan menusuk hati. Terbayang seandainya itu benar terjadi, Hanna menikah dengan orang lain ... mungkin aku akan memilih tidak akan pernah pulang saja selamanya.
“Kapan berangkat? Nggak bisa dibatalin, ya?”
“Minggu depan.” A
“Pas nikahan Radit, ya?”
“Hmm, masih sempat hadir InsyaAllah.”
“Sip, sip!” Fahri menepuk-nepuk pundakku.
***
Koper sudah siap di samping tempat tidur. Selesai ke acara Radit aku akan langsung berangkat. Kukenakan setelan yang sudah disiapkan sahabatku. Radit bilang itu seragam ‘pager bagus’ sekalian jadi pendamping pengantin pria. Adatnya begitu, ya, aku menurut saja karena belum punya pengalaman menikah sebelumnya.
Bajunya mewah menurutku, jadi lama berdiri di depan kaca. Wajah murung beberapa hari ini tiba-tiba berubah cerah. Jadi semangat menambah gel di rambut. Tapi jangan terlalu lebay nanti Radit jadi kalah ganteng sama pendampingnya. Hehe secara dia pakai minyak rambut apa pun nggak akan mempan karena keritingnya yang sangat mengembang.
Aku mengajak abah dan ibu berangkat. Semalam mereka tiba, khusus menghadiri pernikahan Radit.
Sesampainya di masjid tempat akan diadakannya acara akad nikah Radit dan Dila, suasana sudah cukup ramai dengan tamu. Terlihat juga beberapa teman kantor dulu, tapi tak terlihat Via. Yang cukup mengejutkan ada papa dan mama Hanna di sana. Radit mengundangnya juga ternyata. Sejak kapan Radit mengenal mereka? Apa masih keluarga jauh? Atau keluarga besan? What everlah yang penting aku salami dulu keduanya. Abah dan ibuku juga bersalaman dengan mereka, lalu berbincang cukup akrab. Wah ... boleh juga kemampuan publik speaking abah bisa digunakan untuk mengakrabkan diri di mana pun berada.
Aku mencari-cari sosok Radit, sementara Hanna dan pengantin wanita belum muncul, mungkin nanti setelah akad nikah. Akhirnya kuputuskan ke ruang perpustakaan di samping masjid untuk mencari sahabatku.
Sebatas pengamatan, tak ada yang berpakaian sama denganku. Lalu ke mana para pager bagus yang diceritakan Radit itu? Hmm ... mungkin mereka sedikit terlambat.
Baru saja akan masuk ke ruang perpustakaan di lantai satu, Radit tiba-tiba muncul keluar dari pintu bersama Fahri. Benar dugaanku, dia di sini. Sejenak kami saling menyapa dan berpelukan erat. Seolah-olah bakal berpisah lama sekali. Tak ada kata-kata, hanya tepukan di pundak yang mewakili segalanya. Kita akan baik-baik saja, dan terus bersahabat selamanya, walau berpisah jarak dan waktu, juga berubah status dari bujangan menjadi seorang suami dan kepala rumah tangga.
Kami bertiga naik ke lantai dua. Aku dan Radit mendekati meja penghulu sementara Fahri mengambil tempat agak di belakang. Sama dengan Radit, aku ikut duduk bersila.
Acara pun dimulai. Diawali dengan pembukaan, pembacaan ayat suci alquran dan sambutan-sambutan. Terakhir nasihat pernikahan sekaligus akad nikah. Suasana hening saat ayah Dila menyerahkan putrinya dan dijawab oleh Radit. Ucapan syukur bergema sedetik kemudian saat saksi mengucapkan ‘sah.’
Muncullah Dila dari satu ruangan bersama Hanna di sampingnya, keduanya cantik dalam balutan kebaya berbeda warna. Lucunya kebaya Hanna senada dengan beskapku. Dila duduk di sebelah Radit mencium tangan sahabatku itu penuh takzim. Resmi sudah keduanya menjadi suami istri. Sungguh tidak disangka-sangka.
Beberapa menit kemudian penghulu mengambil mikrofon dan mengumumkan sesuatu.
“Yang mana pasangan calon pengantin selanjutnya?”
“Ini, Pak,” ucap Radit sambil menunjukku dan Hanna, kemudian ia mundur teratur dan menyuruhku maju.
Aku mulai celingukan menengok ke kiri dan kanan dengan dada bergemuruh hebat sebab tiba-tiba menjadi pusat perhatian. Selain itu bingung membaca keadaan.
Saat itu juga kedua orang tuaku mendekat, begitu juga dengan mama dan papa Hanna. Berkali aku menelan saliva sembari mengepalkan tangan yang tiba-tiba berkeringat. Kurasa tengkukku juga tiba-tiba dingin.
Kulirik Hanna di sebelah. Menunduk dalam kebisuan, dengan kedua tangan meremas ujung kebaya.
“Sudah disiapkan mas kawinnya?”
Aku mengusap dahi yang sudah terpakai peci, entah siapa yang memakaikannya. Tak lama ibu menyerahkan kotak kaca berisi perhiasan, beberapa saksi memeriksa surat-suratnya. Aku melirik ibu penuh tanya yang dijawab dengan senyuman.
Aku sungguh merasa tidak enak. Terlepas dari ini rencana siapa? Tapi masa aku tak punya andil sedikit pun dalam memberikan sesuatu untuk Hanna.
“Maaf, Pak,” kataku sambil merogoh dompet di saku celana. Ya Allah tinggal 200 ribu perak doank? “Tambahkan ini, ya, Pak?” Lumayanlah asal dari keringet sendiri. Masih ada kesempatan buat bikin resepsi sepulangnya dari Dubay nanti. Semoga saja saat itu uangku sudah banyak.
“Kita mulai saja,” kata penghulunya.
Jantungku sudah tak karuan rasanya, berdegup-degup bagai dijadikan sasaran tinju. Berusaha mengingat kalimat yang diajarkan penghulu. Kutarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Kurapal tasbih untuk menenangkan jiwa.
Erat tangan papa Hanna saat menjabat tanganku seolah ingin menyampaikan bahwa peganglah sekuat ini tangan anakku, jangan kau lepaskan, jangan kau biarkan ia bersedih, jangan kau abaikan. Jagalah dia, sayangilah dia bagaimanapun keadaannya.
“Muhammad Rafi Alfajri, kunikahkan anakku Hanna putri Setiawan dengan mas kawin sepuluh gram emas dan uang 200 ribu rupiah ... dibayar tunai ....”
“Saya terima nikahnya Hanna Putri Setiawan binti Setiawan dengan mas kawin 10 gram emas dan uang 200 ribu dibayar tunaaii ....”
Terbuka pintu langit dan semoga setiap doa dikabulkan saat nomen ini. Bahkan kulihat ibu menitikkan air mata. Mungkin beliau bahagia sekaligus sedih karena akan kutinggal pergi jauh.
Sedangkan aku sendiri? Entah ... masih menerka-nerka apa ini mimpi atau nyata? Bahkan suara-suara di sekitar tak bisa lagi kutangkap maknanya.
Kuedarkan pandangan, semua tersenyum menatapku seolah menguatkan, menyadarkan bahwa semua ini nyata. Termasuk saat Hanna meraih tanganku setelah berkali-kali pembawa acara mengingatkanku untuk memberikan tanganku pada Hanna.
Ia menciumnya dengan takzim. Lalu aku ingin sekali bertanya padanya, Han, sebenarnya aku nggak mau kamu cium tangan, kamu tampar aku aja biar sadar dari mimpi indah ini!
Tapi tidak, mimpi ini berlanjut, semua memelukku dengan erat dan memberikan selamat. Keluargaku, keluarga Hanna, Fahri, Radit, dan semua tamu. Bahkan mereka mengajakku berfoto bersama.
“Tampar gua, Dit!” Akhirnya kalimat itu terucap dari mulutku.
Radit meninju perutku pelan sambil tertawa. “Lo nggak mimpi, Bro, ini semua rencana kita!” ujar Radit sambil melirik Fahri. Fahri segera mendekatiku dan memeluk erat sambil menepuk-nepuk pundak.
***
Abah, ibu, papa, mama mertua, Fahri sekeluarga, dan Radit minus Dila buru-buru mengantarku ke bandara. Tidak lupa mampir ke kontrakan mengambil koper dan berganti pakaian.
Kami terburu-buru, bahkan Hanna tak sempat berganti baju. Akhirnya kupinjamkan sweater pada istriku. Apa? Istri? Aku punya is ... tri?
Cukup ngos-ngosan setibanya di mobil Radit. Sahabatku itu bersikeras menjadi driver kami. Aku duduk di belakang bersama Hanna. Cukup butuh waktu sampai napasku teratur. Celakanya, ini mobil nggak ada AC-nya. Tapi untunglah cuaca di luar mendung, seperti kompak dengan mobil Radit.
“Nggak ada mobil laen apa, Cuy?”
“Lupa gue ... saking udah jadi soul mate sama ni mobil. Kayaknya dia juga pengen ngucapin kata perpisahan buat elo, Cuy!”
“Kasian Hanna ....” Aku melirik gadis di sebelahku yang dibalas dengan senyum.
“Maaf, ya, Han!” kata Radit.
“Nggak apa-apa, kok.” Hanna terlihat tenang. Padahal aku gugup luar biasa. Pertama takut ketinggalan pesawat, kedua ... gugup sebab duduk di sebelah istri. Hehe.
Sepertinya mobil kami jauh tertinggal dari yang lain. Ya sudahlah, aku pasrah. Bahkan saat tiba-tiba mobil Radit mogok di tengah kemacetan. Ia menepikan mobilnya dan keluar, dengan sigap membuka kap depan.
Tidak lama ia kembali dan melongokkan kepala ke dalam mobil. “Gua mau cari air dulu, ya, radiatornya kering, nggak bisa jalan mobilnya! Tunggu bentar!”
“Gue temenin!”
“Nggak usah, tunggu di sini aja sama Hanna!” ucap Radit sambil berlalu.
Perlahan awan yang sejak tadi berat menggantung menurunkan titik-titik air. Aku meninggikan kaca mobil dan menyisakannya sedikit. Lalu, pasrah menunggu Radit. Beberapa detik mengedarkan pandangan, kaca mobil mulai basah.
“Rafi ....”
Aku terhenyak mendengar suara wanita di sebelahku. Bagaimana bisa aku lupa ada yang duduk di sebelah?
“Kamu kaget?”
“Sangat.”
“Terus kenapa nurut aja dinikahin?”
“Karena pengantinnya kamu.”
Hanna tersenyum malu-malu, kedua pipinya merona.
“Maaf aku nggak bisa ngasih apa-apa sekarang ....”
“Nggak apa-apa.”
“Tunggu aku pulang, ya ....” Aku menggenggam tangannya erat.
Hanna mengangguk. Kukecup keningnya sekilas. Sesuatu yang beberapa jam yang lalu berdosa jika kulakukan, saat ini malah bernilai pahala. Inilah yang dimaksud Fahri waktu itu, pasti. Jika saja waktu itu kami tak dapat menahan diri, pasti hal-hal kecil semacam ini jadi tak surpise lagi.
“Mau cium yang lain, tapi malu tadi Cuma ngasih 200 ribu ....” Aku sedikit tertawa mengatakannya. Tapi mataku tak lepas dari wajahnya.
Hanna mengulum senyum sambil menunduk dalam-dalam. Lalu katanya “boleh ngutang, kok ....”
Aku tersenyum lebar, dada rasanya dipenuhi bunga-bunga yang sedang mekar tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Kucium lagi keningnya.
“Itu tiga ratus ribu,” kata Hannya sambil menyulum senyum. Aku ikut tersenyum.
Lalu kucium sebelah matanya.
“Lima ratus ribu.”
Kukecup mata kirinya.
“Lima ratus ribu.”
Kukecup lagi ujung hidung mancungnya.
“Hmmm ... satu juta.” Hanna tak bisa menahan tawanya. Tapi tidak denganku, rasanya ingin sekali menghentikan tawa di bibirnya yang merah dengan bibirku. Mata tak bisa dilarikan ke arah lain. Begitu fokusnya sampai aku tak bisa menatap kedua mata Hanna.
Ujung ibu jariku menyapu bibirnya. Dan benar saja, ia berhenti tertawa. Aku lalu menatapnya. “Yang ini berapa?”
Hanna terdiam, bisa kulihat ia menelan saliva, gugup. Beberapa kali mengerjapkan mata. Lalu lirih ia berkata: “gratis.”
Tentu saja tak kusia-siakan kesempatan itu. Sejenak kami terbawa suasana tak memedulikan lagi keadaan sekitar yang untung saja ... hujan. Jadi ... seperti ini rasanya?
Kami berdua saling bertatapan. Hampir saja kuulangi sekali aksi itu kalau tidak dihalangi suara pintu mobil terbuka.
“Cuy! Kesini bentar!” teriak Radit menyuruhku ke belakang kemudi.
Jantunganku hampir lompat, lalu cepat-cepat mengatur napas agar lebih tenang. Meredakan debar di dada yang tadi berdetak serupa habis lari seratus meter. Juga me ....
Aku melirik Hanna yang sibuk memperbaiki jilbabnya, salah tingkah. Ia melotot dan mencubit lenganku, memberi aba-aba agar aku mengelap bibir.
Aku mengangguk cepat, memang itu yang baru saja akan kulakukan, karena kulihat lipstik Hanna mulai pudar warnanya.
Astaga ... beberapa kali aku mengusap dada. “Nggak pas banget si Radit datengnya ....”
Kutinggalkan Hanna dan pindah ke depan. Menyalakan dan mematikan mobil sesuai dengan perintah Radit di balik kap mobil.
Bersambung.