Persaudaraan Muslimah Indonesia, mempelajari Islam Secara Menyeluruh.

Jumat, 03 Januari 2020

YOUNG HUSBAND 6 - 10

#Young_Husband by Mega Dewi
Bagian 6

Masih dalam musim hujan, langit Jakarta nampak gelap. Hari ini, sepasang suami istri beda usia itu berencana mengunjungi keluarga Hanin. Semenjak pindah dan mengontrak rumah keduanya sama sekali belum pernah berkunjung. Selain itu, Dirga hendak memberikan dokumen yang dibutuhkan untuk kelengkapan.

Pagi itu, beberapa hari yang lalu. Setelah kejadian manis saat mengeringkan rambut. Hanin menghampiri suaminya. Ia meyakinkan diri dan siap untuk mendaftarkan pernikahannya di KUA. Dirga menyambut itu dengan lega, cinta mereka mungkin belum benar-benar disadari, tapi seiring berjalannya waktu semua akan ikut berproses, karena cinta bisa hadir kapanpun dengan perlahan tapi pasti.

"Ayah sama ibu mau dibawain apa?" tanya Dirga.
"Apa ya? nanti beli di jalan aja," jawab Hanin.
Baru saja keduanya membuka pintu dan hendak berangkat, hujan turun dengan deras.
"Yah, hujan." Hanin menekuk wajahnya.
"Tunggu reda ya."

Perempuan itu mengangguk lemas, kemudian kembali masuk ke dalam, lalu duduk di sebuah sofa dan menyandarkan diri.
"Jangan bete dong," ucap Dirga.
"Biasa aja," jawabnya, masih dengan menekuk wajahnya dan sibuk dengan ponselnya.
"Assalamualaikum, Bu. Di sini hujan, Hanin tunggu sampai reda ya baru jalan ke sana." Rupanya Hanin melakukan panggilan telpon dengan ibunya.

"Iya, Nin. Jangan dipaksain nanti kamu sakit." Terdengar jawaban dari ujung telepon sana.
"Ah, ibu. Anakmu ini kan paling kuat dari dulu," jawab Hanin tertawa.

Sementara sang istri terlihat asyik berbicara dengan ibunya, Dirga terus memperhatikan sambil sesekali ikut tersenyum. Bagaimana tidak, istrinya itu seperti terlibat dalam obrolan yang menyenangkan dan mengumbar banyak tawa. Bagaimana pun, seorang anak tetap menjadi bocah kecil bila sedang dengan ibunya, sikap manja pun sangat terlihat. Beda ketika berhadapan dengan keluarga Dirga, ia berperan sangat dewasa dan pintar menempatkan diri.

Dirga menghela napas secara perlahan, seringkali perasaan bersalah muncul. Bagaimana bisa ia membiarkan istrinya itu mendapatkan perlakuan tidak nyaman dari ibu dan kakaknya, sementara di keluarganya sendiri ia adalah anak yang sangat disayangi.

"Mana suamimu? coba ibu pengen bicara."
"Em .. ada." Hanin melihat ke arah Dirga. Dengan ragu ia menyerahkan ponsel tu. "Ibu mau ngomong."
Sempat merasa gugup, akhirnya Dirga menerima panggilan itu.

"Hallo, Assalamualaikum," ucap Dirga menyapa.
'Waalaikumsalam, kamu apa kabar?'
"Baik, Bu. Ibu dan ayah gimana kabarnya?"
"Kami baik. Oh, iya, Ibu sudah masakin ikan goreng tuh lengkap dengan sambel kecap kesukaan kamu."

"Wah, Mantap. Masakan ibu apa pun itu enak, apalagi ikan gorengnya, kalah hotel berbintang juga."
"Ah, kamu bisa aja muji-muji. Bilang aja modus, biar gak malu abis numpang makan di rumah mertua," jawab ibu mertuanya tertawa.

Dirga pun ikut tertawa, dia yang tadi sempat gugup tiba-tiba mengalir begitu saja. "Ibu udah gak bisa dimodusin ya."
"Iya lah, jam terbang ibu udah tinggi," jawab ibunya lagi kembali tertawa.

Saat itu ... ketika Dirga tinggal satu minggu di rumah mertuanya, ia memang merasakan kehangatan dan kenyamanan yang sudah lama tidak dirasakan. Ibu mertuanya adalah pribadi yang kocak dan mudah berbaur, sementara ayah mertuanya lebih banyak diam, aura ketegesannya sangat kuat memancar. Apalagi pernikahannya saat itu terkesan dengan cara yang tidak baik dan jadi sangat terlihat masih sisa kemarahan itu.

Setelah sekian lama berbincang, sambungan telpon pun terputus.
"Ibunya renyah banget, kenapa anaknya alot ya," celetuk Dirga.
Hanin mengarahkan pandangan tajam pada sang suami seraya mengerucutkan bibirnya.
"Ibu itu cantik, awet muda. jadi kalian kaya kakak ade gitu," lanjut Dirga.
"Iya, memang aku udah tua. Cari aja sana yang muda," jawab Hanin marah.
"Loh kok gitu ngomongnya? aku kan muji," ucap Dirga bingung.
"Tau ah, males!"

"Marah nih?" Dirga merapatkan posisi duduknya lebih dekat.
Hanin tidak menjawab dan membuang muka.
"Ya ampun gemes." Dirga mencolek pipi sang istri.
"Diem!" Hanin menepis tangan suaminya.
Ting .... suara gawai Hanin berbunyi. Segera ia membukanya.
[Han, lagi apa? malam ini jalan yuk, sekalian malam mingguan, kita nonton atau keliling Jakarta seperti kesukaanmu dulu. -085××××]

Nomor yang tidak di kenal, tapi Hanin tau siapa pengirimnya dari foto profil yang tertampil. Saat Hanin membuka pesan itu, rupanya Dirga ikut membacanya. Segera ia menjauh dari istrinya itu dengan raut wajah yang sulit dijelaskan. Mungkinkah cemburu? Entahlah. Yang pasti Dirga langsung diam seribu bahasa.

Hanin menoleh ke arah Dirga, pria itu tidak menghiraukan dan berpura-pura sibuk dengan ponselnyanya. Hingga hujan reda, mereka sama sekali tidak banyak bicara, suasana hati Dirga seketika jadi tidak baik.

"Ayo pergi sekarang, hujannya udah reda," ajak Hanin.
"Hmmm..." jawab Dirga beranjak, kemudian bersiap menggunakan jaket dan tidak lupa mengambil payung. Ia masih menekuk wajah tampannya.
Hanin yang memperhatikan tingkah suaminya itu hanya bingung. Kekanak-kanakan sekali, ucapnya dalam hati.

--------------

"Marah ya?" tanya Hanin. Keduanya baru saja turun dari busway dan melanjutkan dengan berjalan kaki menuju rumah, jarak rumah mertuanya tidak terlalu jauh hanya di tempuh sekitar 15 menit dari halte.
"Enggak!" jawab Dirga singkat.

"Jelas-jelas marah." Hanin mengerucutkan bibirnya.
Dirga menoleh, ia menatap istrinya masih dengan tatapan dingin. "Terus gak boleh marah gitu kalau istrinya di ajak jalan sama orang lain?"

"Tapi kan aku gak bales pesannya." Hanin mencoba membela diri.
"Iya justru karena itu, harusnya kamu bales."

Perempuan itu menautkan kedua alisnya tidak mengerti seraya menatap Dirga.
"Kamu kan bisa bilang, jangan ngajak aku jalan, aku udah nikah," ucap Dirga.
Hanin yang sedari tadi menatap suaminya tertawa kecil, oh itu penyebab marah suaminya ternyata. Ah, ternyata ia tidak sepeka itu. "Ngomong dong daritadi, aku bales nih orangnya."
"Gak peka banget sih," ucap Dirga dengan suara pelan.
Tidak berapa lama, Hanin segera mengirimkan pesan pada Ervan sesuai dengan yang Dirga inginkam.

"Udah tuh, udah aku bales." Hanin menunjukan isi pesan itu.
"Ada satu lagi."
"Apa?" tanyanya tidak mengerti.
"Kita harus selfie." Dirga mengeluarkan gawai dan mengarahkan kamera depan, lalu mulai berfoto. Tidak hanya satu foto, ia membidik beberapa kali dengan berbagai eskpresi, kecuali Hanin yang nampak kaku.

"Aku kirim ke kamu, terus jadiin foto profil di semua laman daring kamu."
"Ya ampun, alay banget sih," keluh Hanin.
"Udah cepetan, jangan banyak protes."
Dengan sedikit berat hati, Hanin menuruti kemauan suaminya itu dan tidak ingin memperpanjang perdebatan. Mungkin ini hal yang wajar untuk pasangan. Tapi entah kenapa, Hanin merasa sedikit berlebihan, mungkin karena faktor usia. Sementara senyum Dirga mengembang, ia kembali menyimpan gawainya, lalu merangkul sang istri dan melanjutkan perjalanan.

*********

Setibanya di rumah, mereka di sambut hangat oleh ibu. Sementara ayah, masih menunjukan sikap dingin.
"Om Iga ..." panggil si kecil Selin, keponakan Hanin, anak dari adiknya.
"Iga sapi!" ucap Hanin pelan.
"I ... ganteng!" balas Dirga.

Selin yang masih berumur tiga tahun itu berlari tergopoh-gopoh dan langsung menghambur ke pelukan Dirga.

"Anak cantik, ternyata masih inget om," ucap Dirga menggendong dan membelai lembut keponakan barunya itu.
Hanin yang gemas mencubit keponakannya itu, dan menciumnya beberapa kali.

-----------

Karena seharian hujan, Hanin dan Dirga tiba di waktu Maghrib. Segera Dirga dan Rendi yang merupakan adik Hanin mengikuti sang ayah shalat di masjid, sementara para wanita shalat di rumah.
"Kakak udah nikah ko wajah beda, aura nya semakin terpancar," ucap Rani adik ipar Hanin.
"Masa sih, ngawur kamu," jawab Hanin sedikit tersipu.

"Dia pasti memperlakukan kakak dengan baik ya."
Hanin hanya tersenyum dan menganggukan kepala.
"Alhamdulillah, aku sering ngerasa bersalah karena udah melangkahi kakak, tapi sekarang aku lega kakak dapet suami yang sayang sama kakak," ucap Rani.

"Jangan terus-terusan merasa berasalah, aku tidak benci sama sekali. Pernikahan kan ibadah. Aku dosa kalau waktu itu melarangnya," jawab Hanin.

Mendengar itu, Rani menghambur ke pelukan kakak iparnya, ada haru di sana. Ia sangat bersyukur masuk ke dalam keluarga Rendu, karena bukan hanya suaminya yang baik, orangtua dan iparnya pun memperlakukannya dengan sangat baik.

"Ko jadi melow sih?" Hanin mencoba mencairkan suasana.
Rani melepaskan pelukannya dan menyeka air mata yang jatuh. "Aku terharu."
"Pesen kakak, baik-baik rumah tangga kalian. Buat semakin kokoh ikatannya."
"Pasti kak," jawab Rani tersenyum.

Sementara Dirga, selepas pulang dari masjid ia duduk bersama ayah mertuanya di teras rumah di temani secangkir kopi sambil menyerahkan dokumen persyaratan nikah untuk pendaftaran ke KUA.
"Seberapa besar kamu yakin bersama dengan anak saya?" tanya Ayah pada menantu lelakinya itu.
"Saya tidak bisa mengukurnya. Tapi saya pastikan untuk tidak mengecewakan Hanin, ayah dan keluarga yang lain."

"Saya masih ada sedikit keraguan," ucap ayah dengan volume yang pelan.
Dirga menghela napas perlahan, ia takut bila sampai salah bicara.
"Saya dapat mengerti keraguan ayah, terlebih lagi pernikahan kami terjadi dengan cara yang bukan diharapkan, saya juga tidak bisa menjajanjikan banyak hal. Tapi saya akan selalu menjaga Hanin sebagai istri dan ibu dari anak-anak saya nanti."

"Ini bukan hanya tentang kejadian pernikahan kalian yang memang mengecewakan, tapi sebagai seorang ayah, melepaskan anak perempuannya adalah sesuatu yang berat, saya harus memastikan anak perempuan satu-satunya yang kami miliki bersama dengan orang yang tepat." Suara ayah terdengar berat seperti menahan tangis. Bila melihat dari raut wajahnya, ayah Hanin ini terkesan galak, tapi di balik itu ia adalah sosok yang sangat menyayangi anak-anaknya.

"Saya adalah laki-laki pertama yang memeluknya dengan cinta saat ia terlahir ke dunia, saya adalah laki-laki pertama yang dicintainya, dan saya juga laki-laki pertama yang di tuju saat ia mulai berjalan, dia terlalu berharga buat kami. jadi kalau suatu saat kamu bosan terhadap pernikahanmu, atau rasa cintamu sudah hilang, jangan bersikap buruk padanya, jangan sakiti hatinya. Pulanglah, dan kembalikan padaku, aku akan menerimnya dengan tangan terbuka," lanjut Ayah. Sebuah nasehat yang mampu menembus relung hati Dirga. Sebuah tindakan bijaksana yang tidak ia dapatkan dari papanya.

Sementara di sudut lain, ada sepasang mata yang memperhatikan seraya tak henti menitikan air mata. Sungguh setiap kata yang baru saja ia dengar dari mulut ayahnya, menyentuh relung kalbu Hanin yang paling dalam. Betapa bersyukurnya ia, dapat terlahir dari bibit-bibit yang memiliki cinta kasih yang luar biasa.

"Sudah kamu makan dulu sana, mungkin dua hari ke depan pernikahan kalian akan ayah daftarkan ke KUA," ucap ayah mencoba mengakhiri percakapan yang terasa emosional ini. Sekuat tenaga ia tidak menitikan air mata di hadapan menantunya.

Dirga mengangguk, lalu pamit dan beranjak pergi. Selepas Dirga berlalu, terlihat ayah membuka kacamatanya, ia menyeka buliran air mata yang tidak mampu di tahan lagi, sulit rasanya untuk tidak menangis bila sudah berbicara cinta tentang anak-anaknya.

"Kamu di sini?" tanya Dirga saat melihat istrinya. Buru-buru Hanin menyeka air mata yang sedari tadi deras mengalir.

"Kamu nangis?"

Hanin tidak menjawab apapun, ia kemudian berlalu masuk ke dalam kamar, perempuan itu tidak ingin orang-orang di rumah melihatnya menangis. Segera Dirga menyusul sang istri. Terlihat Hanin sudah duduk di tepi ranjang dengan menundukan wajahnya dan terisak. Dirga segera mendekat, lalu membawa ke dalam pelukan.

"Kamu denger tadi ucapan ayah ya?"
Hanin hanya mengangguk, dan pelukan pun diberikan lebih erat. Dirga membelai lembut rambut istrinya, berharap memberikan sedikit ketenangan.

"Setiap anak perempuan selalu menjadi yang istimewa bagi seorang ayah, termasuk kamu. Jadi, aku janji akan membantu kamu untuk selalu berbakti dan tidak akan pernah memberikan luka dengan cara menjaga anak perempuannya yang cantik ini," ucap Dirga menenangkan.

Sejuk rasanya mendengar kata-kata itu. Dadanya kembali longgar. Hanin melepaskan pelukan, dan Dirga menyeka buliran bening yang membasahi pipi, kemudian mencium kening Hanin lembut.
"Makan yuk," ajak Dirga.
"Ini gimana mata aku bengkak?"

"Cuci muka dulu, nanti gak terlalu keliatan."
Hanin pun berdiri dan hendak ke kamar mandi, tapi Dirga menahan dengan memegang tangnnya. Ia memberikan senyum menggoda. "Malam ini kita tidur sekamar kan?"
Hanin masih saja terlihat gugup dan segera melepaskan pegangan itu lalu pergi ke kamar mandi. Dirga yang di tinggalkan begitu saja hanya memasang senyum.

***********

Pagi ini seluruh keluarga pergi berolahraga menikmati hari minggu yang cerah. Suasana sangat hangat, Hanin terlihat tidak lepas dari ayahnya.
"Heran, ibu yang ngelahirin, tapi bapaknya mulu yang di tempelin," rutuk ibu.
"Tenang bu, ada Dirga," ucap menantunya mendekat. Dirga terlihat tidak sungkan untuk bercanda dan seperti ke ibu kandung sendiri.
Sementara Rendi dan Rani pun nampak sibuk dengan Selin yang tidak mau diam.
Saat sedang asyik bergurau, melintas di depannya seorang wanita yang sangat ia kenali sedang tersenyum bahagia menggendong anak perempuan.
'Ayu?' gumam Dirga.
*ayo tebak-tebakan lagi  

-----

#Young_Husband
Bagian 7


Seminggu berlalu selepas ia melihat sosok Ayu, ada tanya yang semakin mencuat dalam benak. Gejolak rasanya memang sudah berbeda dibanding beberapa bulan lalu. Saat ini ia hanya ingin tahu akan sebuah hal yang masih menjadi tanya besar dalam hatinya.

"Aku lagi datang bulan," ucap Hanin yang baru saja keluar dari kamar mandi, membuyarkan lamunan sesaat dirinya yang larut seraya bersandar pada dipan ranjang di kamar mereka.
"Gak bohong kan?" tanya Dirga menyelidik. Sejak beberapa waktu lalu ia sudah datang pada Hanin untuk menyempurnakan tugasnya sebagai suami. Namun, rupanya ia harus bersabar lagi.
"Masa begitu aja bohong," jawab Hanin.

Dirga membuang napas kasar, "Oke lah, aku akan menunggu lagi."
"Jangan bete gitu, dong," ucap Hanin seraya naik ke atas tempat tidur dan berbaring di sisi Dirga.
"Enggak. Sudah sana tidur."
"Kamu juga cepat tidur."
"Aku masih ada tugas negara," jawabnya seraya kembali membuka laptop.
"Jangan tidur malam-malam ya."
"Siap, Bos," jawab Dirga.

Wanita itu memperbaiki posisi tidurnya, kemudian mengangsurkan selimut dan mulai terpejam. Dirga menatapnya lekat-lekat, kemudian mendaratkan sebuah kecupan manis di kening. Sesaat Hanin kembali membuka mata dan mengurai senyum.

"Mimpi indah," ucap Dirga tersenyum. Istrinya hanya mengangguk dan kembali terpejam. Namun tak lama kemudian ponsel Hanin berbunyi, tanda pesan masuk datang, dengan sedikit malas Hanin membukanya.
[Pendaftaran ke KUA udah selesai, ya. Tinggal ditanda tangani ini buku nikahnya. -Ayah]
[Oke Ayah, Love you. -Send]
Tidak menunggu lama, pesan balasan dari ayahnya masuk.

[Tumben bilang love?. But, I love you so much my dear, hope you always be Happy. (Aku sangat cinta kamu, sayangku. Berharap kamu selalu bahagia) -Ayah]

Tidak terasa satu bulir air mata kembali menetes ketika membaca pesan sang ayah.
[Hanin bahagia terlahir ke dunia sebagai anak ayah, kalau Hanin harus mengulang kembali hidup, Hanin akan tetap memilih sebagai anak ayah dan ibu . -Send]
[😙 -Ayah]
Hanin tersenyum melihat pesan balasannya, kemudian ia menutup menyimpan kembali ponsel itu di nakas. Sebelum benar-benar tertidur, Hanin mengingat kembali kilas balik hidupnya. Semua terasa ajaib, siapa yang menyangka ia akan menikah dengan seseorang yang usianya terpaut cukup jauh, padahal kriteria pria idamannya sendiri adalah sosok dewasa dengan usia yang di atasnya. Tapi, masalah hati terkadang tidak bisa dikonsep sesuai apa yang kita inginkan. Terkadang bisa belok dan keluar jalur semestinya. Hanin hanya percaya, tidak ada sebuah peristiwa yang kebetulan, setiap peristiwa yang terjadi adalah ketetapan-Nya. Ia yakin ketika Dirga hadir, maka itulah yang Tuhan pilihkan.

Entah seperti apa jelasnya perasaan itu, yang pasti adalah Hanin merasakan bunga-bunga tumbuh dengan mekar dan penuh warna di hatinya.

***************

Mereka melakukan rutinitas seperti biasa dan mencoba menjalani rumah tangga pada umumnya seperti orang lain yang bahagia dengan segala bumbu-bumbu di dalamnya. Dirga yang sangat senang bercanda, membuat ikatan ini terasa mengalir begitu saja. Meski begitu tidak jarang mereka terlibat debat kusir karena perbedaan pendapat yang pada akhirnya selalu Dirga yang meminta maaf, karena wanita selalu benar.

"Kayaknya nanti aku pulang malam, akhir bulan gini laporan pada kejar-kejaran," ucap Hanin ketika keduanya tiba di depan kantor dimana Hanin bekerja.

"Oke, aku tungguin," jawab Dirga seraya merapihkan rambut-rambut halus yang menutupi mata cantik istrinya.
"Oh iya, nanti pulang kerja kita tengok papa ya, sudah hampir seminggu kita gak ke sana, kemarin aku chat si kembar, Alhamdulillah udah jauh lebih baik," ucap Hanin. Beberapa hati yang lalu ia mendengar bila ayah mertuanya sedang sakit.
"Oke," jawab Dirga.

"Ya sudah, Aku masuk dulu ya," timpal Hanin seraya melirik benda kecil berwarna emas yang melingkar di pergelangan tangannya.

Dirga mengangguk dan memberikan senyum terbaiknya. "Have a nice day."

Hanin tersenyum, lalu melangkah meninggalkan sang suami. Sementara Dirga tidak beranjak sampai istrinya itu hilang dari pandangan. Perempuan itu mulai menjauh, beberapa kali ia melihat ke arah suaminya dan melambaikan tangan yang tentu di balas oleh Dirga dengan senyum. Rasanya sulit menahan diri untuk tidak jatuh cinta pada sosoknya yang tidak hanya cantik, tapi kepribadiannya pun mengagumkan.

Hanin berlalu, Dirga pun mulai melangkah pergi menuju tempat kerjanya yang di tempuh sekitar 15 menit dengan jalan kaki. Namun, langkahnya terhenti. Ia tertegun, meyakinkan pandangannya. Di depan sana sekitar 10 meter dari tempat ia berdiri, pandangan Dirga tertuju pada seorang wanita yang tengah tersenyum sambil memberikan sebuah bungkusan berisi makanan pada seorang anak kecil yang sepertinya seorang pengamen. Dia adalah wanita yang ia temui tempo hari saat berjalan-jalan dengan keluarga istrinya. Ayu.

Selepas anak yang diberikan bungkusan makanan itu pergi, Ayu memandangi punggungnya dengan senyum kemudian kembali melangkahkan kaki tanpa menyadari keberadaan Dirga. Tidak ingin kehilangan lagi jejak, Dirga pun mempercepat langkah.

"Ayu!" panggil Pria itu ketika jarak mereka hanya sekitar satu meter, wanita di hadapannya dengan posisi membelakangi itu menghentikan langkah, ia tidak langsung menoleh dan memastikan suara yang memanggilnya, karena suara itu sangat ia kenali. Setelah sempat terdiam beberapa saat, akhirnya Dirga mendekat dan membalikan tubuh wanita itu. Tidak salah lagi, dia memang Ayu wanita yang dicarinya.

"Dirga ...." sapa Ayu lirih dan berusaha memberikan senyum. "A ... apa kabar?" tanyanya seolah-olah hubungan mereka baik-baik saja.
"Selama ini kamu menghilang kemana?" tanya Dirga tanpa basa-basi.
Ayu mencoba tersenyum, sebuah senyum untuk menutupi isi hatinya yang tidak menentu ketika kembali bertemu dengan pria dari masa lalu yang mengisi hatinya sekitar hampir tiga tahun yang lalu. "Aku di sini, aku di Jakarta."
"Bohong!" jawab Dirga.

Ayu masih berusaha tidak mengurai senyumnya seraya melepaskan pegangan tangan Dirga yang mencengkram tangannya kuat.
"Kita bicara!" ajak Dirga tanpa memperhatikan waktu yang sebentar lagi sudah memasuki jam kerja.
Tanpa mendengar jawaban, pria itu melangkah lebih dulu dan disusul Ayu di belakangnya. Tidak dapat di sembunyikan bila sesungguhnya Ayu merasa gugup saat kembali bertemu dengan Dirga yang pernah sangat dicintainya kala itu, mungkin juga hari ini.

Tidak jauh dari tempat perteman tadi, Keduanya memasuki sebuah kedai dan memesan menu sarapan.

Sekitar 15 menit berlalu, tidak ada satu pun kata yang terucap. Dirga sendiri tidak melepaskan pandangannya, bukan karena rasa rindu, karena rasa itu nyaris terkikis saat Hanin mulai mengisi tempat yang lama kosong setelah Ayu pergi, tapi ia ingin melihat lebih dalam seperti apa Ayu setelah peristiwa hari itu.

"Bagaimana kabarmu?" Dirga mulai membuka suara, tatapannya tidak dapat diartikan, ada perasaan marah, sedikit senang dan apapun itu semua campur menjadi satu.
Ayu masih berusaha memperlihatkan gaya tenang, walau isi dalam hatinya sangat ingin berontak. "Aku baik," jawabnya seraya menyeruput secangkir perlahan cokelat panas.
"Aku mencarimu selama hampir tiga tahun ini, kamu hilang seperti ditelan bumi, kamu menghindariku? kamu takut ayah?" tanya Dirga menyelidik.

"Aku tidak menghindarimu, hanya saja tidak ada alasan untuk aku menghubungimu, kita tidak terikat apapun," jawab Ayu tenang.

Dirga menarik sudut bibirnya, membuang muka sesaat dan kembali menatap wanita di hadapannya.
"Kamu tidak tahu bagaimana aku hidup setelah kamu pergi? Apa kamu pikir aku bisa hidup seperti biasa? setelah jutaan perasaan bersalah menghantui?"

"Lalu bagaimana denganku? Apa kamu pikir aku memiliki kekuatan setelah itu? apa kamu pikir aku menjalani kehidupan yang normal seperti sebelumnya? Tidak, Ga. Hingga hari ini pun aku masih berada pada sebuah fase yang bukan aku inginkan," jawab Ayu dengan pembawaan tenang seperti biasanya. Salah satu hal yang membuat Dirga tertarik dengan wanita ini adalah sikapnya yang tenang. Saat itu, ketika mereka menjalin kisah kasih di usia 18 tahun dimana Dirga masih berada di usia remaja yang cukup labil, Ayu mengisi hidupnya menjadi semakin terarah, bukan hanya pembawaannya saja yang tenang, cara berfikirnya pun cerdas dan tutur katanya lembut.
Keduanya saling mendukung kala itu. Selepas lulus SMA, Ayu baru melanjutkan kuliahnya setahun kemudian dengan berjuang mendapatkan beasiswa, dan Dirga tidak lelah mendampingi proses itu. Hubungan mereka sangat dekat sekali.

"Lalu kenapa kamu tidak mengindahkan keputusanku saat itu?" tanya Dirga.
Ayu menghela napas panjang, mengeluarkan secara perlahan. Memberi sedikit kelonggaran di hatinya yang penuh sesak. "Tidak ada alasan aku untuk bertahan, Ga. Sudahlah, semua sudah lama berlalu."

'Seandainya aku punya kekuatan untuk mempertahankanmu saat itu,' gumam Ayu dalam hati.
"Bagaimana kuliah mu?" tanya Dirga lagi.
Ayu mengalihkan pandangan, menyembunyikan rasa pedih. Bagaimana tidak, ia masih saja merasa sangat terluka bila mengingat ketika dirinya harus mengubur semua mimpi.
"Aku tidak melanjutkan kuliah, kamu tahu sendiri kan kecerdasanku. Kuliah terasa membosankan, semua materi terlalu mudah, pada akhirnya tujuan kuliah itu sendiri hanya untuk sebuah ijazah," jawab Ayu.

Dirga tersenyum getir, sedikitpun ia tidak percaya dengan ucapan wanita di hapadannya ini. Ia ingat betul bagaimana Ayu sangat bahagia ketika mendapatkan pengumuman saat dirinya di terima di salah satu Universitas Negri di Jakarta dengan jalur beasiswa.

"Sekeras apapun kamu menyembunyikan perasaanmu, aku tidak pernah tertipu."
Ayu kembali senyuman, "kamu memang paling pintar menganalisa perasaan orang lain."
Dirga hanya menatap dengan sorot matanya yang tajam, ia lebih banyak diam, bibirnya seperti membeku, padahal sebelumnya sudah banyak tanya yang telah di persiapkan ketika pertemuan ini terjadi. Tapi semua buyar, peristiwa yang terjadi hampir tiga tahun yang lalu masih melukai batinnya. Terlebih lagi, sebagai laki-laki ia tidak mampu bertanggung jawab pada wanita yang untuk pertama kali sangat ia cintai dalam hidup selain keluarganga karena kekuatan ayahnya yang tidak mampu di lawan.

"Hidupku tidak tenang, langkahku seperti terbatas, aku seperti dikejar dosa dan tanggung jawab terhadapmu," ucap Dirga.

'Andai bisa ku temukan lagi yang sepertimu, Ga. Walau rasanya tidak mungkin,' guman Ayu dalam hati.
"Jangan bebani dirimu dengan hal-hal tidak penting, bila berbicara tentang beban, akulah yang paling merasakan itu," jawab Ayu.

Dirga terdiam sesaat, meresapi setiap makna dari setiap kata yang terucap oleh bibir manis wanita di hadapannya ini.
"Bagaimana kehamilanmu saat itu?" Akhirnya sebuah tanya yang sempat ragu Dirga ucapkan pun terlontar.

"Kamu tidak perlu tahu tentang itu." Ayu seperti tidak bisa lagi mengulas senyum, wajahnya datar, mata terasa menghangat. Sekuat tenaga ia menahan diri agar buliran bening itu tidak sampai terjatuh di hadapan pria yang memiliki tempat khusus di hatinya ini.
"Aku perlu tahu." Dirga bersikukuh.

"Apa yang kamu akan lakukan setelah tahu? Menikahiku? memohon pada ayahmu seperti tiga tahun lalu?" Ayu menatap sendu, rasanya benteng pertahanan yang menahan air matanya hampir roboh dan tidak dapat membendung aliran yang semakin deras. Tapi tidak, Ayu masih berhasil menahannya, sekuat tenaga ia tidak menangis dan meperlihatkan kelemahannya.

"Bertahan pada titik ini bukanlah hal yang mudah, aku akan sulit melupakanmu saat kita bertemu. Sedangkan keluargamu, mereka terlalu menyakitiku atas dosa yang tidak sepenuhnya aku lakukan," lanjut Ayu dengan satu tetes air mata yang akhirnya terjatuh.

Wanita itu mencoba memberi ruang pada dadanya yang sesak sehingga rasanya oksigen pun sulit untuk masuk. Ia mengambil napas panjang dan mengeluarkanya secara perlahan, sebelum akhirnya ia kembali mengucapkan kata. "Malam itu, saat ayahku bersujud di kaki ayahmu meminta sebuah pertanggung jawaban atas apa yang telah darah dagingnya torehkan padaku. Keluarga kami hanya mendapat cacian dan makian, kamu tidak tahu kan?"

"Aku mendengarnya, maafkan aku," ucap Dirga lirih. Saat itu dengan penjagaan ketat, ia di kunci di dalam kamar dan tidak boleh keluar sedikitpun. Sedangkan Dirga tidak punya kekuatan dan akses untuk melawan ayahnya. Sejak itulah perang dingin terjadi.

Tidak bisa lagi berlama-lama menatap Dirga, Ayu beranjak hendak meninggalkannya. "Aku pergi dulu, senang kembali bertemu denganmu."
Wanita itu melangkah, tapi tangan Dirga menahannya. "Jawablah, kamu melahirkannya atau tidak?"
Ayu kembali menghela napas panjang, perlahan ia melepaskan pegangan tangan itu dan pergi. Seiring kepergiannya dengan seketika air mata mengalir dengan deras dari mata yang indah itu, sesak dadanya. Ini sangat terasa menyakitkan.

Dirga terdiam. Selepas Ayu pergi, ia masih terpaku dengan sejuta tanya yang belum terjawab.
Tidak bisa dibayangkan bagaimana hancurnya hidup seorang Ayu karena sebuah kesalahan yang tidak sepenuhnya ia lakukan dan perbedaan strata sosial yang menjadi benteng kuat antara keluarganya dengan keluarga Dirga. Bagaimana tidak, Papa Dirga adalah seorang pengacara yang cukup terkenal dengan kekayaan yang tidak sedikit pastinya. Sementara orangtua Ayu, ayahnya hanya seorang penjual baso keliling.

Mereka pun tidak satu sekolah, karena tidak mungkin Ayu dapat masuk ke sekolah Dirga yang terkenal sangat mahal. Pertemuan mereka berawal saat sama-sama mengikuti olimpiade Matematika tingkat nasional.

Keluarga Dirga pun tergolong cukup matrealistis, terutama ibunya. Bahkan kakaknya yaitu Aldi di nikahkan dengan Sandra yang kaya raya walau menurut Aldi raut wajahnya tidak masuk dalam kriteria nya, bahkan jauh.

Itulah yang menjadi alasan ketika Dirga diam saat hendak di nikahkan dengan Hanin, menjadikan pernikahan ini salah satu cara menghindari perjodohan yang keluarganya lakukan. Sebab itulah sang ibu dan Sarah sangat tidak menyukai sosok Hanin karena di anggap menghancurkan rencana mereka.
Dirga menatap jam tangannya, angka digital itu menunjukan 08.35, waktu masuk kerja sudah berlalu, bila pun datang hanya sia-sia saja, karena pasti tidak di perbolehkan untuk masuk. Akhirnya, pria itu memutuskan untuk datang ke kafe milik sahabatnya, Raka. Setidaknya di sana ia dapat bertukar pikiran, selama ini Raka adalah pendengar dan pemberi nasehat yang baik.

Sementara Ayu, tangisnya masih tidak henti mengalir seraya menatap sebuah gambar anak perempuan cantik berusia sekitar dua tahun pada gawainya. Yah, ia adalah anak itu, anak yang Dirga tanyakan dilahirkan atau tidak.

Hari ini Ayu pun izin tidak masuk kerja karena sudah sangat terlambat. Saat itu, Ayu memutuskan untuk melahirkan anaknya dengan segala resiko yang sudah siap diterima, ia jatuh bangun membiayai, sebulan setelah melahirkan pun ia segera mencari pekerjaan. Dia menetap di Bandung, hingga sekitar enam bulan lalu di terima kerja di Jakarta dengan penghasilan yang lumayan, sementara anaknya tinggal di Bandung dengan neneknya dan sesekali datang ke Jakarta.

-----

#Young_Husband
Bagian 8

Hujan mengguyur tanah Jakarta sepagi ini, seolah ikut menangis merasakan pilu seseorang.
Di sebrang sana di tempat yang cukup sepi, Ayu tak henti menahan tangisnya, sesekali bahunya terlihat naik turun menandakan betapa ia sulit menguasai derai air matanya. Sementara dari jauh Dirga memperhatikan, namun kini ia tidak berusaha mendekat. Masih ada yang menghujam hatinya ketika melihat pemandangan ini. Entah apa itu, mungkin hanya sebuah rangkaian yang tersisa dari masa lalu.

Sekitar setengah jam terisak, wanita itu pun beranjak dan menaiki busway. Saat berada dalam bus, Ayu melihat Dirga yang sedang berdiri di ujung sana memperhatikan. Sempat menatapnya sejenak, ia kemudian duduk di sebuah kursi dengan posisi yang tidak bisa melihat ke arah Dirga.

************

Dirga melangkah dengan perasaan yang tidak menentu. Ia mengurungkan niat untuk pergi ke kafe milik Raka dan memutuskan pulang ke rumah orangtuanya seraya melihat kondisi sang ayah.
"Mana istri lo? males ketemu keluarga?" Sambut Sarah ketika Dirga baru saja datang.
Tidak ingin berdebat, Dirga sama sekali tidak menimpalinya lalu duduk di sebuah kursi sofa, kemudian dihampiri Hanum dan Resi dengan wajah yang gembira.

"Gimana sekolah kalian?" tanya Dirga.
"Lancar, Kak," jawab Hanum.
"Kita lagi mempersiapkan buat UN," timpal Hanum.
"Oh iya, kalian udah kelas 3 ya. Maaf kakak akhir-akhir ini jarang perhatiin kalian," jawab Dirga.
"Enggak apa-apa, Kak, yang penting kakak sehat terus," jawab Hanum tersenyum.

Sarah yang melihat mereka dari kejauhan memandang dengan tatapan yang sulit diartikan. Sejujurnya ia merasa iri karena justru adik-adiknya lebih dekat dengan Dirga, sedangkan ia sendiri tidak dekat dengan siapapun dikeluarga.

"Kamu sudah makan, Ga?" tanya Sandra yang baru saja datang membawa satu piring berisi buah mangga kesukaan adik iparnya itu. "Makan ini, kesukaanmu." Sandra menyimpannya di meja.
"Makasih, Kak." Dirga mengambil piring itu dan memakannya dengan lahap.
"Kakak, kapan kembali ke German?" tanya Dirga.
"Setelah resepsi pernikahanmu."

Dirga mengangguk paham, dalam sekejap satu piring berisi buah mangga itu habis dan bersih tidak tersisa.
Sandra tersenyum dan mengambil piring itu, "kamu masih sama seperti pertama kali kita ketemu 10 tahun yang lalu."
Dirga pun menimpalinya dengan senyum. "Aku masih seperti adik laki-lakimu yang kecil dan lucu?"
"Adik kecilku sekarang sudah menikah dan tumbuh menjadi laki-laki berkarakter. Kakakmu ini bangga."

Sandra di mata Dirga bukan hanya sebagai kakak ipar, ia menganggapnya jauh lebih dari itu. Wanita itu begitu baik dan bukan hanya menyayangi Aldi tapi seluruh keluarganya. Dirga pun tahu sekasar apa sikap Aldi pada istrinya, namun Sandra selalu pintar memainkan peran dan menutupi semua itu rapat-rapat. Pernah sekali waktu ia memergoki Aldi sedang menampar Sandra hingga tersungkur ke ranjang.

"Aku pun bangga mengenal wanita tangguh seperti Kakak."
Sandra hanya tersenyum.
"Papa lagi apa?"
"Masih tidur, kalau mama pergi arisan."

Dirga kembali mengangguk paham, kemudian ia bermain dengan keponakanya dan Sandra pun berlalu, ada yang sedikit aneh dari kakak iparnya itu, jalannya terseok seperti menahan sakit, ia pun memakai baju yang sangat tertutup, padahal di dalam rumah. Sepertinya ada yang berusaha disembunyikan, selain itu tubuhnya nampak lebih kurus dan wajahnya tidak sesegar dulu.

Selama di Indonesia, Aldi pun jarang ada di rumah, ia lebih banyak berkumpul dengan teman-temannya. Tapi hari ini, Aldi dan Dirga kembali berpapasan, seperti biasa Dirga selalu menunjukkan raut kebencian.

"Lo mau sampai kapan kaya gitu, udah kawin tapi masih kaya bocah!"
Dirga tidak menjawab, ia tak ingin kembali tersulut emosi karena menimpali kakaknya itu. Setelah menatap sesaat, Dirga kembali melangkah menuju kamar sang ayah.

"Gue ngomong sama lo!" Aldi menahan bahu Dirga kasar. Merasa risih, segera Dirga melepaskan pegangan itu.
"Mau lo apa!" Dirga membuka suara dengan nada menekan. Matanya merah, tangan mengepal dengan kuat dan ia menggeratakan gigi dengan rahang yang mengeras, pria ini sungguh menahan emosi.

"Gue gak ngerti kenapa lo sebenci ini? Salah gue apa? okelah, waktu kecil gue sering mukulin lo, kita sudah dewasa sekarang, lo masih aja dendam!" ucap Aldi berusaha tenang.

Masih tidak ingin menjawab, Dirga pun berlalu menghampiri ayahnya meninggalka rasa emosi di hati kakaknya. Kebencian Dirga bukan hanya pada sikapnya yang selalu kasar sejak kecil, tapi lebih dari itu.

****************
.
Sementara Hanin.
Seperti biasa, siang ini ia melewatkan istirahat dengan sahabatnya Gisel. Mereka biasa bertukar pikiran disela-sela rutinitas kantor yang sangat melelahkan.
"Gimana hubungan lo sama si berondong?" tanya Gisel seraya menyendokan sesuap nasi ke mulutnya.

"Gak gimana-gimana, biasa aja. Dia baik, kadang nyebelin, kadang kaya bocah, kadang juga dewasa," jawab Hanin kembali mengingat suaminya itu.
"Gue gak ngerti, setelah empat tahun lo putus dari Ervan dan bener-bener nutup diri. Tiba-tiba menjatuhkan hati sama berondong, dengan cara gitu lagi nikahnya, di grebeg say ...."
"Gue juga gak ngerti, semua bertabrakan dengan prinsip gue selama empat tahun ini, yaitu selektif dalam memilih, tapi kenyataannya begini," balas Hanin sedikit menyesali cara pertemuannya dengan Dirga.

"Memang terkadang urusan hati tidak sejalan dengan logika."
"Yah, begitulah," jawab Hanin.
"Are you happy, now?" tanya Gisel.
Hanin mengangguk yakin.
"Are you falling in love with him?" tanya Gisel lagi.

Menjawab pertanyaan ini, Hanin perlu memberikan ruang untuk meyakinkan hati.
"Gue gak tahu, tapi yang pasti gue ngerasa ada yang kurang saat dia gak ada, dan respon tubuh gue seperti ingin lagi dan lagi saat dia nyentuh gue," jelas Hanin. "Gue ataupun dia tidak semudah itu meyakinkan hati tentang perasaan masing-masing. Tapi kita berusaha untuk saling membutuhkan."
"Lo jatuh cinta, Han," ucap Gisel yakin.

"Dirga berbeda dari semua laki-laki yang pernah dekat sama gue."
"Semoga Dirga gak pernah nyakitin lo, gue masih sedih kalau inget kisah cinta lo sama Ervan yang berakhir tragis," jawab Gisel.
"Sudah, gak usah di bahas. Enek gue, lagi makan nih."
Gisel pun tertawa, lalu keduanya melanjutkan makan siang dengan obrolan-obrolan ringan seperti biasa.


***************

Hari sudah gelap ketika Hanin keluar dari kantor. Ia mempercepat langkah untuk turun ke lantai bawah, Dirga sudah pasti menunggu di sana. Benar saja, pria itu sedang berdiri dan melambaikan tangan ketika melihat Hanin datang.

"Nunggu lama ya?"
Dirga tersenyum, lalu meraih tangan Hanin dan memegangnnya erat. "Enggak kok, nunggu kamu walau sampai rambut memutih, akan aku lakukan."
"Idih, gombal mulu deh heran," balas Hanin.

"Bukan gombal, itu ungkapan tulusku untuk ibu negara," jawabnya tersenyum lebar.
"Oh begitu Pak Presiden?" balas Hanin.
Keduanya berjalan beriringan melewati sisi-sisi gedung ini. Rintik-ntik sisa hujan menyapa dengan gemas. Mereka seperti biasa mengumbar canda dan sesekali menceritakan apa saja yang dilakukan hari ini.

----------

Malam semakin larut, jarum jam sudah menunjukkan waktu di angka sembilan.
Dirga terlihat sedang asyik membuat menu spesial untuk makan malam bersama sang istri. Merasa sudah tidak terlalu canggung, Hanin mendekat lalu merengkuh tubuh suaminya yang proporsional itu.
Pria itu hanya tersenyum merasakan pelukan istrinya yang begitu hangat.
"Masak apa?" tanya Hanin.

"Spicy Chicken wing with saus barbeque," jawab Dirga seraya sibuk mengaduk masakannya yang hampir matang.
"Pasti enak," jawab Hanin masih belum melepaskan pekukan itu. Rasanya, sangat nyaman memeluk prianya ini.

Setelah mematikan kompor, Dirga membalikan badan dan melingkarkan kedua tangan di pinggang Hanin, lalu mengecup kening istrinya berkali-kali, tidak hanya itu, ia juga mendaratkan kecupan di kedua pipi.

"Aku gak di kiss?" ucap Dirga merajuk. Hanin menyunggingkan senyum, lalu mendaratkan kecupan yang sama.

Keduanya seperti sepasang muda-mudi yang sedang dilanda asmara, semua terasa manis dan membahagiakan. Sejenak ingatannya tentang Ayu hilang begitu saja.

Setelah itu meraka menikmati makanannya dan menutup malam dengan menonton sebuah Film bertema romantik di laptop. Keduanya tampak asyik menikmati waktu. Hanin menonton dengan posisi tertidur di pangkuan sang suami, sementara Dirga tidak henti mengelus dengan lembut rambut Hanin. Sesekali dengan nakal, ia mengecup bibir itu, atau menggelitik Hanin sampai istrinya merasa geli. Hingga setelah mulai mengantuk mereka tertidur di sebuah sofa dan saling memeluk.

****************
.
Hanin mengambil cuti tahunan selama dua hari, sudah sejak hari minggu kemarin ia menginap di rumah orangtuanya, setelah kemarin ia dan kedua orangtuanya menjenguk papa mertua yang sedang proses pemulihan. Papa Dirga menyambut dengan hangat kedatangan orangtua Hanin, sementara ibunya bersikap dingin, sehingga membuat Hanin dan Dirga merasa tidak enak hati. Tapi ibu dan ayah sama sekali tidak mempermasalahkan tindakan itu, mereka tidak ingin membebani anak dan menantunya dengan rasa tidak nyaman yang mereka rasakan.

"Nanti pulangnya ke sini loh, jangan ke rumah," ucap Hanin, ketika suaminya hendak berangkat kerja.
"Iya dong kan istrinya juga ada di sini," jawab Dirga.

Hanun tersenyum dan mengantarkan suaminya itu sampai ke pintu. "Hati-hati, ya."
"Oke, kamu juga ya. Have fun liburannya."
"Liburan di rumah doang," jawab Hanin.
"Nanti kita liburan ke puncak."

Hanin terlihat senang mendengar tentang ajakan suaminya itu. Kemudian Dirga mendekat dan berbisik, "kita bulan madu, memasukan bola pada gawangnya."
Wanita itu mencubit pinggang suaminya yang genit. Dirga meringis sambil tertawa. Sementara di sudut lain ada yang memperhatikan tingkah mereka sambil sesekali ikut tersenyum yaitu ayah dan ibu.

"Sudah berangkat sana." Hanin melepaskan cubitannya.
Dirga tersenyum, ia mendekat lalu mencium kening istrinya kemudian berlalu pergi.

--------------

Sore ini, seluruh keluarga sedang berkumpul, kecuali Dirga yang belum pulang kerja. Sementara Rendi, ia adalah seorang wiraswasta yang waktunya lebih mudah untuk di atur sendiri. Rendi seorang distributor makanan dan minuman yang mengisi mini market dan supermarket di Jakarta. Usahanya berkembang pesat beberapa tahun ini setelah menikah. Sejak awal, Ia tidak mengizinkan Rani bekerja, dan berjanji akan memenuhi semua kebutuhannya. Beruntung dia pun memiliki istri yang sangat menyayangi ayah dan ibu.

"Assalamualaikum." Terdengar pintu di ketuk, segera ibu menuju ke depan dan membukanya.
Alangkah terkejutnya ibu ketika melihat siapa yang datang, ia menghambur seraya menangis memeluk tamunya.

"Kemana aja, Bi? kami sangat merindukanmu, kenapa baru datang berkunjung," ucap Ibu.
"Iya, Bu. Bibi baru sempat," sama seperti ibu, Bibi pun tidak kuasa menahan air mata.
Setelah itu, bibi dan anaknya di persilahkan masuk, tak berapa lama dibuatkan minum oleh asisten rumah tangga.

"Ayu ...." panggil Hanin memeluknya. Ayu membalas pelukan itu dengan hangat dan terlihat sekali sangat memendam rindu.

Yang datang adalah bi Arum, asisten rumah tangga yang sudah bekerja bersama keluarga Hanin sekitar 20 tahun. Sementara Ayu, bibi membawanya ke Jakarta saat akan memasuki sekolah menengah atas, orangtua Hanin lah yang membiayai sekolahnya. Saat Ayu lulus, mereka menawarkan Ayu untuk kuliah, tapi Ayu menolak dengan alasan tidak ingin merepotkan, hingga setelah itu ia bekerja dan setahun kemudian melanjutkan kuliah dengan beasiswa. Tapi .... hampir tiga tahun lalu, bi Arum memutuskan berhenti bekerja, mereka pergi dan hilang tanpa jejak, termasuk Ayu sama sekali tidak pernah menghubungi Hanin.

Bukan hanya itu, dulu Rendi sempat curi-curi pandang pada Ayu yang memang cantik, tapi saat itu Ayu menolak karena sudah memiliki kekasih.
"Aku sangat merindukanmu, kamu kemana aja?" tanya Hanin.
"Ayu juga sangat rindu kakak, maaf gak pernah menghubungi ya," jawab Ayu.
Fokus Hanin beralih pada seorang anak perempuan cantik yang Ayu gendong.
"Anakmu?"

Ayu hanya menganggukan kepala lemah.
"Kapan kamu menikah? Kenapa tidak mengundang kami," tanya Hanin meyelidik.
Tidak menjawab, Ayu hanya memberi tatapan getir yang membuat Hanin di liputi banyak tanya. Melihat raut sedih itu, Hanin mengalihkan pandangan, kemudian ia menggendong anak cantik yang sangat senang sekali mengumbar senyum ini.

Meskipun Ayu hanya anak dari bi Arum yang merupakan asisten rumah tangga keluarganya, tapi Hanin selalu menganggap Ayu sebagai adik perempuan, ia sangat menyayangi sosok Ayu yang menurutnya sangat menyenangkan dan penuh kasih sayang.
Sementara seluruh keluarga melepas rindu dengan Bi Arum dan Ayu yang sudah mereka anggap keluarga sendiri. Suara salam terdengar.

"Assalamualaikum ..."
Semua serempak menjawab dan menoleh ke sumber suara. Alangkah terkejutnya Ayu dan ibunya ketika melihat siapa yang datang, begitu pun dengan Dirga.
Hanin beranjak menghampiri suaminya seraya menggendong Nadira, nama dari anak Ayu.
"Ayo sini, hari ini kita kedatangan tamu special," ucap Hanin mengajak suaminya dengan sangat antusias.

"Ayu, kenalin. Ini suami kakak, Dirga namanya."
Tertegun keduanya, tangan Ayu bergetar dan dingin, irama jantungnya terdengar cepat, keringat dingin mulai membasahi kening. Sementara bi Arum, ia tidak kalah kaget, luka seperti kembali terbuka bahkan lebih menganga. Ingin sekali bi Arum melampiaskan kemarahan, tapi apa daya, pria yang sangat melukai perasaannya itu adalah seorang suami dari keluarga yang sangat berjasa dalam hidupnya dan juga ia sayangi.

-----

#Young_Husband
*post edisi libur, ini bukan lanjutan part 9 yaaa
Ini gak ada di novel yaa.. 😌
***********
.
.
Hanin menyingkap gorden, membiarkan bias cahaya masuk, waktu sudah menunjukan jam delapan pagi. Dengan lemas, ia menyeret langkah menuju dapur. Dirga masih berselimut dan nampak pulas.
Hanin mengambil segelas air dari kulkas, entah kenapa ia merasa begitu haus. Mata masih terasa sembap, padahal ia tidak lama menangis. Pertengkaran semalam dengan suaminya begitu membuatnya emosi. Ah, entah kenapa ia bisa semarah itu.

**********

Malam kemarin ....
Hujan menderas. Hanin sedikit berlari mencari tempat berteduh. Bajunya cukup basah. Hari ini, Dirga tidak datang menjemput dia bilang ada urusan lain dan menemui temannya. Tentunya, Hanin mengizinkan. Ia bukanlah seorang over protective.
Matanya tertuju, ketika melihat di sebrang sana sebuah mobil mewah masuk ke pelataran parkir sebuah kafe. Keluar dari sana seorang lelaki dari sisi kanan, kemudian mengembangkan sebuah payung dan berlari ke sisi kiri, membuka pintu untuk temannya. Seorang perempuan cantik, berambut panjang dengan memakai dres berwarna putih, feminim sekali. Sang pria memayungi, kemudian mereka sepayung bersama menuju ke dalam kafe.
Tapi ... Hanin meyakinkan penglihatannya, sosok yang terlihat dari samping itu sangat ia kenali. Dirga? siapa wanita itu?

Hatinya bergemuruh, panas sungguh membakar hati.
"Kamu dimana" Hanin meraih ponsel menelpon sang suami. Seraya memperhatikan Dirga di seberang sana yang menjawab panggilannya.
"Aku di kafe, sama temen-temen," jawab Dirga. 'Udah nyampe rumah belum, sayang?'
Hanin diam sesaat, bagaimana bisa Dirga bilang dengan teman-teman, sedangkan ia hanya dengan seorang teman. Masih di seberang sana, Hanin melihat suaminya memberikan sebuah kode pada perempuan tadi untuk masuk terlebih dahulu dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
Satu tetes air mata jatuh. Hatinya sakit, Dirga berbohong.
"Hallo ... Hallo, sayang.' Di ujung telpon Dirga terus memanggil. Dengan lemas, Hanin menurunkan tangannya dari telinga dan mematikan ponsel. Hingga sebuah bis datang di hadapannya, dan Dirga hilang dari pandangan.

Dirga masuk ke dalam kafe. Di sana sudah ada beberapa temannya berkumpul. Mungkin sekitar 10 orang.
"Ga ...," panggil seseorang melambaikan tangan.
Dirga mendekat, mengajak gadis di sebelahnya.

"Jadi, gosip lu nikah, ternyata sama Naina?" ucap Sebastian, salah satu temannya.
Naina mengerutkan kening, tidak mengerti. Naina sendiri adalah gadis yang berada satu mobil dengan Dirga. Mereka satu sekolah, dan pertemuan ini pun reuni kecil-kecilan tanpa direncanakan.
"Dirga sudah menikah? tanya Naina kaget seraya menarik kursi kemudian duduk.
"Oh, emang bukan sama kamu?" tanya Sebastian.
Dirga tertawa kecil kemudian ikut menarik kursi lalu duduk. "Makanya, jangan asal nyeplak."
"Aku baru pulang dari Aussie minggu kemarin, jadi gak tahu kabar apa pun," jawab Naina.
"Terus kenapa kalian bisa bareng?" tanya Reno.

"Tadi gak sengaja lewat daerah tempat Dirga kerja. Eh, aku liat dia lagi berteduh, disamperin, deh. Lumayan bisa nyetirin, aku lagi pusing. Masih jet lag," jawab Naina tertawa.
"Kalian bisa membuat orang salah paham," timpal Shakila.
Naina tertawa, "bahaya, ya. Aku bisa disebut pelakor."
"Nah itu," jawab Shakila ikut tertawa.

Mereka asyik mengobrol, bernostalgia dengan kisah seru di masa lalu. Tawa renyah menghiasi, sepertinya sangat menikmati pertemuan malam ini setelah sekian lama.
Detik demi detik berlalu, Dirga melihat sebuah benda yang terpasang di tangannya. Jam tangan dengan design manly yang memiliki harga tinggi, pastinya. Jarum jam berada di angka sembilan lebih beberapa menit.
"Gue, harus pulang. Udah malem, nih," ucap Dirga.
"Tunggu sebentar lagi, Ga. Masih jam sembilan," timpal Naina.
"Iya, Ga. Udah lama kita gak ketemu," balas Reno dan yang lainnya.
Merasa tidak enak, Dirga akhirnya mengindahkan permintaan teman-temannya. Beberapa kali ia mengecek gawai, satu pun tidak ada balasan dari istrinya, meskipun centang dua berwarna biru.
"Udah berapa lama lo nikah, Ga?" tanya Shakila.
"Satu tahun, Sha."

"Wah, gak nyangka ternyata lo nikah muda, ya."
Dirga hanya menanggapi dengan senyum. Raut wajah Naina beringsut, Dirga adalah laki-laki yang disukainya ketika sekolah. Tapi, rupanya pesona kecantikan Naina tidak meluluhkan hati Dirga kala itu. Entahlah, selain perempuan di rumah, ia hanya pernah melabuhkan hati pada dua wanita, dan Hanin yang terakhir.
"Aku rasanya patah hati." Naina membuka suara menatap pria di hadapannya.
Dirga hanya tertawa kecil, menganggap itu sebuah canda.
"Aku serius," ucap Naina lagi.
Dirga mulai salah tingkah, ia mengambil botol air mineral dan meminumnya perlahan.
"Aku masih sendiri, Nai," timpal Sebastian. Ia memang sudah sejak lama naksir pada sosok Naina.
Naina menoleh, memandang lekat pada Sebastian. "Kamu lumayan ganteng sih sekarang."
Semua yang ada di sana tertawa, suasana kembali mencair.

***********

Hanin menghela napas, sesak di dadanya sulit untuk sedikit dilonggarkan. Ia termenung seraya menekuk lutut di sebuah kursi depan televisi. Sementara hujan di luat tidak kunjung mereda, semakin deras sambil sesekali disertai petir, menambah pilu.
Beberapa kali ponselnya bergetar, pesan dari Dirga ia hiraukan. Hanin marah, kecewa dengan apa yang tadi dilihatnya.

Waktu sudah menunjukan jam sepuluh malam. Sebuah sepeda motor berhenti di depan rumah, sepertinya abang ojek yang mengantarkan Dirga.
Benar saja, beberapa detik kemudian terdengar ucapan salam. Hanin tidak beranjak, pintu pun tidak dikunci.
"Sayang, belum tidur?" tanya Dirga memeluk istrinya yang sedang duduk dari belakang.
Hanin bergeming dengan tatapan yang datar.

Dirga masih belum menyadari. Ia melepaskan pelukan kemudian duduk di samping sang istri.
"Yank ...," panggil Dirga. "Kenapa pesanku tidak dibalas?"
"Aku malas!" jawabnya singkat.
"Kamu kenapa?" Dirga merasa heran.
Hanin menoleh dengan mata menyelidik, "kamu ke kafe sama siapa?"
"Teman-teman sekolahku waktu SMP," jawab Dirga.

"Bohong!" sergah Hanin. "Aku melihat kamu keluar dari mobil bersama seorang perempuan!"
"Itu Naina, sayang. Aku tidak sengaja bertemu dengannya," jelas Dirga.
Hanin membuang muka, seolah enggan menatap dan mendengar penjelasan Dirga yang membuat hancur hatinya. Sungguh cemburu, ia tidak ingin tergantikan! ia tidak ingin kehilangan!
Ini memang tidak masuk akal. Bagaimana bisa, cinta merasuk begitu dalam.
Ini salah!
Ini berlebihan!

Hanin menghela napas panjang, ia menyeka sudut mata yang berair. Tidak boleh menangis, ini bukanlah hal yang besar.
"Aku mohon, percayalah padaku. Aku sama sekali tidak berbohong," jelas Dirga kembali.
"Sudahlah! Aku malas mendengar bualanmu!" Hanin begitu marah lalu bangkit dari duduk. Apalagi ketika teringat Dirga membukakan pintu mobil kemudian memayunginya, ingin rasanya menerkam suaminya saat ini juga.
Dirga mengikuti gerak sang istri dan meraih tangannya. Hanin menepis! ia enggan disentuh.
"Kenapa kamu keras kepala?" tanya Dirga sedikit menekan kata. Ia hampir terbawa emosi.
Hanin hanya menatap Dirga. Air mata mulai tumpah. Ia menutup mata dengan kedua tangannya. Merasa lemas, ia kembali mendaratkan diri dan duduk dengan terus terisak.
Dirga duduk di samping Hanin. Hatinya kembali dingin. "Maafkan sayang, aku sungguh tidak berbohong. Percayalah."
Masih tidak ada jawaban. Bahu Hanin perlahan naik turun karena isakannya. Dirga meraih sang istri dan membawanya dalam dekapan. Hanin mulai tenang emosinya mulai mereda.
*Flashback off*

****************

Dirga keluar dari kamar dengan kaos oblong berwarna putih. Wajah bangun tidur itu kusut, tapi tidak mengurangi ketampanannya.
Hanin sendiri sudah segar setelah mandi dan membersihkan diri. Ia terus menatap cermin kecil di ruang TV, memperhatikan bagian leher yang memiliki beberapa tanda merah. Ah, bagaimana menutupi ini ke tempat kerja besok.
"Kenapa megang-megang leher?" ucap Dirga sedikit mengejutkan.
"Tidak usah so polos! ini akibat perbuatanmu!"
Dirga tertawa terpingkal-pingkal seraya memegang perut. Hanin menatap dengki lalu menginjak kaki suaminya.

"Aw ...," teriak Dirga.
"Syukurin!"
Dirga mendekat, memperlihatkan bagian punggungnya yang terdapat garisan merah. Tidak terlalu jelas tapi cukup terlihat.
"Ini juga karena perbuatan istriku yang terlalu bersemangat tadi malam," ucap Dirga berbisik.
Hanin bergeming. Iya, kah. Dirinya seagresif itu?
Menahan malu, ia menatap mata suaminya tajam. Kemudian pergi meninggalkan Dirga menuju dapur. Sementara sang suami, ia hanya menatap dengan tawa memperhatikan istrinya dengan pipi yang memerah.

-----
#Young_Husband
Bagian 9

Tidak satu kata pun terucap. Bibir Dirga terasa kelu. Sementara gadis kecil yang sedang digendong istrinya nampak terus berbicara dan sesekali bernyanyi, Nadira meracau tidak jelas ala anak berusia 2.5 tahun yang lucu dan menggemaskan.

"Ayu, anakmu lucu sekali. Matanya juga cantik sepertimu, tapi bagian yang lain sepertinya tidak," ucap Hanin tertawa.

Ayu merespon ucapan Hanin dengan sedikit tersenyum dan sesekali matanya melihat ke arah Dirga. Memperhatikan pria itu, yang tidak sama sekali ada dalam sangkaannya bila ia yang masih dicintainya adalah seorang suami dari orang yang sudah dianggap sebagai kakaknya sendiri.

"Aku ganti baju dulu, ya," ucap Dirga dengan wajah datar dan berusaha menghindari situasi ini.
Sementara Bi Arum tidak henti-hentinya memberikan tatapan penuh kebencian, bila saja mampu, mungkin ia ingin menerkam Dirga saat ini juga. Tapi apalah daya, ia tak kuasa bila harus merusak senyum Hanin, anak yang sangat baik dan juga ia sayangi, bagamana pun Bi Arum mengurusnya sejak kecil. Ikatan yang terjalin pun cukup kuat.

"Yu, kakak mau nyiapin dulu keperluan suami kakak," ucap Hanin memberikan Nadira pada ibunya.
Sesaat kemudian, Hanin segera berlalu mengikuti langkah suaminya. Sesampainya di kamar, terlihat Dirga sedang membuka satu persatu kancing kamejanya. Raut wajah tampannya datar dan sedikit pucat tanpa ekspresi. Bagaimana tidak, Dirga mendapati satu kenyataan tentang hubungan yang begitu dekat antara Hanin dan Ayu, membuat suasana terasa semakin rumit, apa yang akan terjadi setelah ini? Sementara bangkai semakin lama akan tercium baunya.

"Kamu sudah makan belum?" tanya Hanin merengkuh tubuh suaminya dari belakang.
"Aku bau loh, seharian kena matahari," jawab Dirga memegang tangan sang istri yang mendarat di perutnya.

"Biarin," balas Hanin menyandarkan wajah di bahu Dirga yang kekar.
Dirga hanya tersenyum memperhatikan tingkah istrinya, memang akhir-akhir ini Hanin tidak lagi canggung mengungkapkan berbagai perasaan, ataupun tindakan lain yang menggambarkam sesuatu bila dirinya tengah jatuh cinta. Meski begitu, belum terucap dari mulut keduanya, bila mereka saling mencintai.

Pria itu membalikan badan dan berhadapan dengan istrinya, "aku mau mandi dulu ya."
Hanin mengangguk, lalu membantu membukakan satu kancing kameja Dirga yang belum terlepas seluruhnya.

"Udah mulai nakal," ucap Dirga mencubit hidung Hanin, gemas.
Hanin hanya meledek dan menjulurkan lidah, kemudian pergi meninggalkan suaminya. Sementara Dirga hanya tertawa memperhatikan tingkah Hanin. Setelah wanita itu benar-benar berlalu, Dirga kembali terdiam mengingat sosok Ayu dan anaknya. Tanda tanya besar yang bersarang dipikirannya kini mulai terjawab, Ayu pergi dan melahirkan anak yang dikandungnya.

*****************

Malam ini, suasana ramai. Bi Arum dan Ayu berkali-kali minta pulang, tapi berkali-kali pula ibu merajuk dan memohon agar mereka semalam saja untuk tinggal. Karena merasa tidak enak, Bi Arum pun meng-iyakan walau hatinya sangat menolak karena sulit menahan amarah ketika melihat Dirga.
"Kamu kerja dimana, Yu?" tanya Hanin.

"Aku kerja di salah satu perusahaan logistik, Kak."
"Sudah berapa lama?"
"Hampir lima bulan, Kak."
"Jadi, selama lima bulan ini kamu di Jakarta dan tidak menghubungi kami?" timpal ibu.

"Maaf, Bu," jawab Ayu merasa tidak enak.
"Sudah ... sudah, sekarang makan dulu," jawab Ayah.
Kemudian mereka melanjutkan makan malam dengan obrolan ringan melepas kerinduan. Sementara Dirga, ia pamit lebih dahulu untuk pergi ke kamar, walau sejujurnya lagi dan lagi ia hanya menghindari situasi tak nyaman ini.

Melewati kamar yang di tempati Ayu, terdengar suara Nadira menangis. Sempat ragu, Dirga akhirnya masuk dan mendapati anak itu sudah tergeletak di bawah, sepertinya terjatuh saat tidur. Segera Dirga mengambilnya dan menenangkan dalam pangkuan.

Nadira masih terus menangis dan Dirga dengan lembut mengelus-ngelus kepalanya sambil mengayunnya pelan. Sementara Ayu, Merasa mendengar tangisan, ia segera beranjak dan menghampiri sang anak.

Dirga menatap Ayu yang baru saja datang, Ayu hanya terpaku, langkahnya seperti lemas, walau pada akhirnya ia memaksakan diri terus mendekat dan menghampiri sang anak yang mulai tenang di pangkuan Dirga.

"Kembalikan anakku," ucap Ayu lirih.
"Izinkan aku memeluknya lebih lama," jawab Dirga menatap dalam wanita di hadapannya.
Ayu tidak lagi berkata, ia tidak ingin memancing perdebatan di sini.

"Sekeras apa pun kamu menyembunyikan sesuatu, Tuhan akan menunjukan sesuai caraNya," ucap Dirga. Sementara Nadira mulai tenang di pangkuan.
"Kamu sudah bahagia sekarang, tidak perlu terbebani kisah suram masa lalu yang tidak akan ada ujungnya."

"Masih ada yang mengganjal, anak ini berhak tahu darah siapa yang mengalir di tubuhnya," jelas Dirga.
"Ayu ...." panggil Hanin. Namun, seketika ia diam ketika melihat suaminya pun ada di sini.
"Kamu ngapain?" tanya Hanin menyelidik.

"Umh ... tadi Nadira jatuh, kebetulan aku lewat, jadi menggendongnya, dan sekarang sepertinya udah mulai tidur," jawab Dirga sedikit gugup, karena baru saja terlibat obrolan serius dengan Ayu, ia berharap Hanin tidak mendengar atau curiga. Bukan Dirga tidak ingin terbuka, ia hanya akan berbicara pada waktu yang tepat dan Dirga ingin segala sesuatu tentang hidupnya, Hanin mengetahui dari dirinya sendiri bukan orang lain.

"Oh gitu." Hanin meganggguk paham.
Dirga pun meletakkan secara hati-hati Nadira di kasur. Kemudian ia menghampiri istrinya dan mengajak Hanin ke kamar untuk tidur.

------------

Dirga resah, pikirannya meracau jauh terbang mengangkasa. Sementara Hanin di sampingnya sudah pulas lengkap dengan dengkuran halusnya. Ia masih memikirkan anak itu, perasaan bersalah seperti membelenggu.

Bagaimnana Ayu bertahan? bagaimana Nadira selama ini terpenuhi kebutuhannya. Ah, tiba-tiba Dirga seperti lupa bahwa semua tidak luput dari campur tangan Tuhan.

**************

Pagi menjelang, setelah sarapan Hanin dan Dirga bersiap untuk berangkat kerja.
"Ga, bawa mobil ayah, sekalian antar Ayu dan bi Arum, kamu bisa bawa mobil kan?" ucap Ayah.
Ragu untuk menjawab, Dirga mengangguk pelan.
"Tidak usah, Pak. Saya sama Ayu biar naik kendaraan umum saja." Bi Arum menolak, ia ingin menghindari Dirga tentunya.

"Jangan, Bi. Biar kami antar saja," ucap Hanin.
Beberapa kali bi Arum menolak, beberapa kali juga Hanin dan ayahnya memaksa. Hingga pada akhirnya mereka mengalah dan meng-iyakan untuk diantar.
Rupanya jarak Ayu mengontrak rumah, tidak jauh dari rumah Hanin, mungkin sekitar 30 menit mereka sudah tiba.

"Kalau sudah tahu di sini, aku pasti sering maen," ucap Hanin.
Bi Arum dan Ayu hanya diam, sementara bi Arum turun dari mobil, Ayu di antar menuju kantornya.
"Jangan nakal sama nenek ya Sayang, ibu kerja dulu." Ayu mencium wajah putrinya berkali-kali.
Dirga menatap getir, padahal Ayu terlihat sangat bahagia saat bersama anaknya, seolah tidak ada beban apa pun yang membelenggu.
"Kamu best mom," ucap Hanin.

"Setiap ibu akan melakukan yang terbaik untuk anaknya, Kak."
"Betul, nanti pun aku akan sepertimu," jawab Hanin tersenyum.
"Iya kan?" lanjut Hanin menoleh ke arah suaminya.
Dirga hanya tersenyum, selebihnya ia benar-benar diam seribu bahasa. Entah apa yang dirasakan, sesaat melihat Ayu seperti itu hatinya seperti goyah.
Tidak ... segera Dirga menepis semua perasaan sesaatnya, yang ia butuhkan saat ini hanya Hanin. Tidak terbesit sedikit pun untuk kembali pada Ayu, karena ia hanyalah kilasan masa lalu.

**************

20 menit berlalu, Ayu sampai di tempatnya bekerja, ternyata jarak kantor mereka berdekatan.
"Makasih ya kak," ucap Ayu seraya turun dari mobil. Hanin menganggukan kepala dan tersenyum. Hingga akhirnya perempuan itu berlalu.

"Tumben kok diam terus?" tanya Hanin pada suaminya yang kembali fokus pada kemudinya.
"Masa sih, biasa aja kok."
"Biasanya kalau ketemu orang baru kan kamu suka sok kenal sok dekat," balas Hanin.
"Mau belajar jadi cowok cool, biar keliatan dewasa," jawab Dirga.
"Jangan kebanyakan ganjen, itu yang penting."
"Siapa juga yang ganjen?"
"Kamu lah!"
"Yang harus di salahkan bukan aku, tapi ketampanan ini," jawab Dirga dengan penuh rasa percaya diri.

Hanin menoleh ke arah suaminya sebal. "Aku lagi pegang bedak loh, kalau di timpukin lumayan ini."
"Galak amat sih istriku."
"Makanya jangan coba-coba."
"Iya deh, wanita selalu benar."
"Jelas!"
"Hmmm ..." timpal Dirga.
"Kamu tau gak, rumus kebenaran itu ada dua, pertama wanita selalu benar, kedua bos selalu benar," ucap Hanin.

"Jadi?"
"Jadi, kalau bos kamu wanita, kelar hidup lo!" Hanin tertawa puas, sementara Dirga hanya menimpalinya dengan datar.
"Kok gak ketawa sih?" ucap Hanin mengerucutkan bibirnya.
"Emang ngelucu?"

"Iya, lah!" Hanin menjawab kesal.
"Oh, kirain bukan. Ya udah aku ketawa ya," kemudian Dirga tertawa terbahak dengan dipaksakan tentunya.
"Garing!" rutuk Hanin.
"Ngambekan, kaya bocak deh," ucap Dirga memegang lembut tangan istrinya. Mereka baru saja tiba di kantor Hanin.

"Udah ah, aku mau kerja dulu."
Dirga membuka sabuk pengamannya, kemudian mendekat ke arah sang istri dan mengecup keningnya lembut.
"Have a nice day, ya," ucap Dirga.
Hanin mengangguk, kemudian turun dari mobil. Setelah sang istri hilang dari pandangan, Dirga pun bergegas pergi menuju tempat kerjanya.

***************

Akhir pekan kembali datang, langit Jakarta belum sepenuhnya cerah. Awan hitam masih terlihat menggelayut, diiringi hujan sedang setelahnya.

Seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya, Hanin dan Dirga pergi ke daerah Puncak untuk menikmati liburan singkat ini. Mereka menyewa satu kamar hotel dengan pemandangan kebun teh yang indah.
"Akhirnya kita ke sini juga ya," ucap Dirga memeluk tubuh Hanin.

Hanin tersenyum seraya memegang tangan Dirga yang melingkar di perutnya.
"Aku buatin kopi, ya. Dingin banget," ucap Hanin.
Waktu memang menunjukan jam 12 malam, padahal mereka pergi selepas pulang kerja sore tadi. Kondisi puncak di akhir pekan memang selalu penuh dan macet.

"Aku tidak butuh kopi," ucap Dirga pelan. Hembusan napasnya terasa hangat meniup leher jenjang milik Hanin.
"Lalu?" jawab Hanin memancing.

Dirga membalikkan tubuh istrinya berhadapan, ia tersenyum seraya menyingkirkan rambut-rambut halus yang menutup mata indah itu. Perlahan wajahnya mendekat, mengecup lembut setiap sudut wajah. Perlahan, ada dorongan lain yang saat keduanya bersentuhan . Adrenalinnya semakin terpacu. Hanin tidak kuasa menolak, reaksi tubuhnya menerima dengan baik setiap jengkalnya. Ia pasrah dan memberikan kewajibannya sebagai seorang istri dan Dirga pun menyempurnakan statusnya sebagai suami. Malam ini terasa indah meski tanpa bulan dan bintang, namun rintik-rintuk hujan menjadikan suasana terasa syahdu.

------------

Subuh menjelang, Dirga terbangun lebih dahulu hendak melaksanakan shalat subuh. Sementara sang istri masih sangat pulas, setelah semalam terjadi sedikit drama yang membuatnya menangis, dan hampir saja gagal. Walau begitu, pada akhirnya malam tadi kemenangan di raih Dirga.

"Sayang ..." panggil Dirga lembut. Untuk pertama kali juga panggilan sayang itu terucap.
Masih setengah sadar, Hanin mengerjapkan mata. Ia berbalik ke arah Dirga, kemudian membenamkan diri di pelukan suaminya.

"Bangun, mandi dulu. Shalat dulu," ucap Dirga lembut.
"Hmmm ..." jawab Hanin masih terpejam.
"Betah di kasur, mau percobaan sekali lagi?" ucap Dirga menggoda.
Segera dengan cepat, Hanin menggelengkan kepalanya. Sakitnya saja belum hilang, sekuat tenaga ia menahan, hingga drama-drama pun terjadi karena dirinya tidak berhenti menangis.
"Makanya, ayo bangun."

Dengan sedikit malas, Hanin pun terbangun. Sementara Dirga mulai turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi. Menatap punggung suaminya membuat Hanin tersenyum, bila mengingat hal yang sudah terjadi, rasanya masih belum dapat di percaya, sebagai seorang istri ia sudah memberikan seluruhnya.

Ting ... satu pesan masuk. Hanin penasaran, sempat ragu tapi akhirnya ia membuka pesan itu.
[Sudahlah, Ga. Hiduplah bahagia dengan kak Hanin, ini anakku, hanya anakku. Aku tidak akan membaginya denganmu atau siapapun, kamu hanya sebuah kilasan masa lalu. Jangan pernah bertanya lagi tentang anak ini, -Ayu.]

Tangan Hanin gemetar, jantungnya berdetak lebih cepat. Untuk meyakinkan hati, ia melihat foto profil yang yang terpajang. Dugaannya benar, wajah Ayu di sana.
Pertanyaan mulai mencuat, siapa Ayu untuk Dirga? anak itu? Apa hubungan mereka?
Ah, tidak. Mereka baru saja mengecap manis pernikahan, jangan sampai setitik rasa pahit mengubahnya.

-----

#Young_Husband
Bagian 10

Tangan Hanin gemetar, sedikit pun mulutnya tidak sanggup berkata. Kejadian hari ini seperti mengorek luka empat tahun lalu saat bersama Ervan, mantan kekasihnya. Oh tidak ... ini rasanya jauh lebih sakit, berkali-kali pedihnya. Seolah ada tombak beracun yang dihujamkan dalam jantungnya berkali-kali tanpa ampun.

Lemas, ia merasa dirinya semakin mengecil, perlahan nyawa seolah mulai hilang dari raga. Oh Tuhan, apalagi ini? Baru saja ia mengecap manis, haruskah kembali merasakan pil pahit?
"Sayang, sudah mau setengah enam, mandi dulu." Dirga baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut basah lengkap dengan handuknya.

Hanin bergeming, wajahnya masih menunduk menyembunyikan air mata yang mulai terjatuh. Sepertinya Dirga belum menyadari bila Hanin baru saja mengetahui sesuatu, tanpa banyak bicara, Dirga berlalu mengambil pakaian, memakai sarungnya. Kemudian membentangkan sajadah dan segera mendirikan salat subuh.

Perlahan Hanin beranjak dari duduknya, dengan langkah gontai masuk ke dalam kamar mandi. Tangisnya tumpah, berlomba dengan guyuran air yang mulai membasahi tubuh. Ia terisak tanpa suara, namun sakitnya sungguh tidak dapat dijabarkan dengan kata.

----------------

Selepas salat, Dirga naik ke ranjang dan bersandar dipan. Sebagian tubuhnya ditutupi dengan selimut, udara pagi di puncak terasa dingin hingga merasuk ke tulang.

Tangannya meraih sebuah tas yang tersimpan di nakas, dikeluarkan sebuah laptop berwarna silver. Seperti biasa, di mana pun bila ada kesempatan, Dirga selalu berkutat dengan tugas dan pekerjaan.

Rencananya, setelah ini keduanya akan berjalan santai seraya mencari sarapan pagi.
Hanin melipat mukena. Ia tidak langsung beranjak, sesaat diam merasakan sesuatu mengganjal di hati dan berhasil memenuhi seluruh dadanya. Sesak ... sakit, dan segala hal yang membuatnya tidak nyaman. Ingin sekali ia berteriak menumpahkan segalanya, namun, ia menahannya sejenak.

"Mau sarapan apa, Sayang?" suara Dirga menyadarkannya dari lamunan.
Hanin masih bergeming, ia kemudian melipat sajadah, lalu menyimpannya di sebuah nakas.
"Kok gak jawab?" Dirga menarik lengan Hanin yang berjarak sekitar beberapa jengkal darinya. Ia kemudian mengajak sang istri duduk di tepi ranjang dengan jarak keduanya begitu dekat.
"Aku mau berolahraga sebentar," jawab Hanin dengan ekspresi datar.
"Aku temani, ya?" balas Dirga.
"Tidak usah, aku sendiri saja."

Dirga menangkap ada yang lain dari sikap yang ditunjukkan istrinya. "Kamu kenapa?”
Hanin hanya menggeleng pelan, terlihat sekali ia menekuk wajahnya, dan berusaha membuang muka.
"Bohong, aku punya salah?"

Kali ini, Hanin menguatkan diri menatap mata indah suaminya. Ada perasaan aneh yang tidak lagi sanggup untuk dibendung, air matanya runtuh. Hanin menangis tanpa suara, namun dapat mewakili bahwa perasaannya terluka.

Dirga terkejut, ia memindahkan laptop dari pangkuannya, kemudian mendekat mencoba memeluk Hanin. Namun, sang istri menolak dan menepis tangan Dirga.
"Ada apa?" Dirga semakin tidak mengerti dengan sikapnya.

"Aku ingin pulang," ucap Hanin disela isak tangisnya.
"Coba bicara dulu, ada apa?" Tidak mungkin tiba-tiba istrinya meminta pulang, padahal rencana mereka akan menginap di Puncak hingga besok, lalu pulang di Minggu sore. "Apa aku mempunyai salah? Maafin aku."

Hanin masih diam, ia tidak tahu harus mulai dari mana. Sakit ini sudah pernah ia rasakan sebelumnya dengan Ervan. Saat itu emosinya memuncak, cuitan kasar dan pukulan mendarat bebas. Meskipun rasanya sama-sama sakit dan melukai, kali ini pisau itu menusuk lebih tajam, karena yang ia anggap sedang berbohong adalah suaminya. Ia pun tidak paham kenapa bibirnya mendadak kelu dan bingung untuk menyampaikan kata, banyak hal yang ingin diluapkan, tapi semua seperti tertahan.

"Han ...," panggil Dirga lirih.
Hanin menarik napas dalam, mengatur oksigen yang masuk sehingga dadanya mendapatkan rasa nyaman. Perlahan, ia mengangkat wajah, dengan segenap keberanian Hanin menatap dalam suaminya. Sekali lagi, ia menguatkan mental dan hati bila ujung pembicaraan ini adalah sebuah kenyataan pahit.

"Siapa Ayu untuk kamu?" Sebuah tanya penuh selidik dari Hanin.
Kini hati Dirga berdebar, mulut pun sedikit bergetar. Tidak menyangka akan dihujam dengan pernyataan istrinya yang cukup menohok.

"Aku membaca balasan pesan dari Ayu, termasuk pesanmu sebelumnya. Entah apa maksud dari pesan itu, tapi aku mengartikan sebuah hubungan yang kuat di antara kalian!" lanjut Hanin.

Dirga yang butuh melonggarkan sedikit sesak di dada, sebelum ia menjawab dan menguraikan segalanya, "Tolong tenangkan dulu hatimu, jangan dulu berasumsi, Han. Kita bicara dengan kepala dingin."

"Mungkin sejak awal aku yang salah, Ga. Terlalu sabar menunggumu terbuka, tanpa berinisiatif untuk mencari tahu sendiri siapa sebenarnya kamu, seperti apa asal usulmu. Bodohnya aku," jawab Hanin masih bersikap tenang. Ingin rasanya berteriak dan memaki seperti pada Ervan dulu, tapi kali ini benar-benar tak kuasa.

"Beri ruang untukku bicara, dengarkan penjelasanku dulu," ucap Dirga gelisah.
Hanin diam, ia masih memalingkan wajah, dan berusaha mengatur napas.
"Aku yang ceroboh, terlalu mudah percaya dengan sikap manis, dan mencintai laki-laki yang tidak jelas asal-usulnya," rutuk Hanin.

Sesaat Dirga termangu. Ada rasa sakit menghujam hati, tidak menyangka bila kata itu akan terucap dari mulut Hanin.
"Ayu adalah mantan kekasihku. Maaf bila sebelumnya tidak jujur. Setelah tahu ternyata Ayu sedekat itu sama kamu, aku mengundur waktu untuk berbicara, dengan alasan menunggu waktu yang tepat. Namun, sepertinya aku salah," ucap Dirga.

"Jelas salah! Meski menunggu hingga seribu tahun, tidak akan pernah ada waktu yang tepat untuk sebuah kekecewaan, kejujuran lebih baik diutarakan secepatnya! Mengetahui kenyataan dengan cara seperti ini, apakah kamu pikir aku tidak lebih sakit?" ucap Hanin mulai menekan nada suaranya. "Nadira? Dia anakmu?”

"Nadira bukan anakku. Banyak alasan kenapa aku ingin tahu tentang keberadaannya," jelas Dirga.
"Lalu setelah tahu, sekarang kamu ingin kembali? Kalau iya, silakan. Turunkan talakmu sekarang juga padaku! Aku siap jika saat ini harus berpisah denganmu!" Hanin semakin berapi-api.
"Tolong, Han. Jangan mudah mengasumsikan sesuatu. Kamu punya hak marah, tapi aku juga punya hak menjelaskan."

Hanin kembali menenangkan diri, beberapa kali ia mencoba mengambil napas. Rongga dadanya terlalu sesak, oksigen pun susah untuk masuk ke dalam dadanya.
"Aku sulit untuk meyakinkan hati dan percaya perkataanmu. Terlebih lagi, meskipun terasa dekat, nyatanya kita tidak saling mengenal."
"Lalu apa kamu berpikir aku seperti itu? Selama kita bersama, pernahkah aku menyentuhmu dengan kurang ajar? Pernahkah aku membuatmu kecewa dengan sikapku yang berlebihan?" jawab Dirga.

Kali ini Hanin diam, mengingat kilas balik selama dua bulan ini hidup bersama Dirga. Memang hal-hal yang bersifat kurang ajar tidak pernah terjadi.
"Tanpa disadari dan entah sejak kapan, aku menyayangimu. Tolonglah percaya dengan semua penjelasanku." Dirga memegang tangan istrinya, lalu menatap dengan dalam wajah cantik yang sepertinya masih enggan untuk menatap balik.

"Aku masih tidak yakin, Ga. Sebegitunya kamu ingin tahu tentang keberadaan mereka dan seperti memiliki keterikatan."
"Sekali lagi, Han. Aku tidak pernah menyentuh Ayu dan menjaga kesuciannya. Hanya saja aku memang dihantui rasa bersalah setelah dia pergi," jawab Dirga.

"Rasa bersalah apa? Bil pun itu bukan anakmu atau Ayu hamil dengan laki-laki lain, masa iya dengan bodohnya kamu bertanggung jawab hanya dengan atas nama cinta? Cinta seperti apa itu? Semua ada tempat dan kapasitasnya. Berpikirlah dewasa!"

"Mungkin kamu berpikir apa yang aku lakukan hanya sebuah tindakan atas dorongan cinta tanpa sebuah pemikiran matang, layaknya bocah ingusan. Tapi yang terjadi saat itu, hanya aku yang tahu apa yang harus kulakukan," jawab Dirga berusaha mengimbangi istrinya dan mengatur emosi yang bisa saja datang.

"Lalu jelaskan! Buat aku mengerti. Jangan biarkan hidupku dipenuhi tanda tanya hanya karena bersamamu."
"Kamu menyesal?" tanya Dirga lirih. Sejak tadi istrinya tersulut emosi hingga banyak mengeluarkan kata yang cukup menyakitkan.

Hanin bergeming. Hatinya tentu berkata tidak, tapi ada sisi lain ada rasa kecewa yang dalam.
"Haruskah kamu menanyakan itu setelah ada sesuatu yang terjadi dan membuatku begitu kecewa?"

Hanin masih belum mampu mengelola emosi. "Kamu tahu lipatan sakitnya seperti apa setelah tahu bila wanita itu Ayu? Seseorang yang kukenal dekat dan aku anggap adikku sendiri," lanjutnya.

"Aku bersumpah, Han. Nadira bukan anakku, aku tidak pernah menyentunya sekali pun." Dirga bersikukuh, namun ini bukan bentuk pembelaan, melainkan menguraikan kebenaran.

Hanin membuang napas kasar, "Entahlah, apakah sumpahmu dapat aku percaya atau tidak!"
"Buka hatimu, jangan karena amarah menutupinya, hal yang kamu rasa benar, malah tak kamu acuhkan," jawab Dirga.

"Aku tidak bisa berpikir jernih saat ini, lebih baik kita pulang." Hanin melepaskan pegangan tangan suaminya.
"Tolonglah, Han. Percayalah, sama seperti kamu, semua pengalaman ini baru pertama kali aku lakukan."

"Aku menyimpulkan caramu yang sangat ingin tahu tentang mereka adalah karena sebuah tanggung jawab. Itu tak bisa masuk nalarku, bagaimana seorang laki-laki mau bertanggung jawab pada hal yang tidak ia lakukan?" jawab Hanin.

Dirga diam, ucapan istrinya memang benar. Saat itu, Dirga mengikuti kata hatinya yang mengarahkan ke sana. Meski terkadang hal itu tidak bisa dipikirkan oleh orang lain, "Terkadang caraku menyayangi seseorang memang terlihat bodoh dan berlebihan."

Hati Hanin merasa cemburu, sebesar itukah cinta suaminya untuk wanita lain di masa lalu?
"Lalu, Nadira anak siapa?" Hanin mulai sedikit melunak.
Dirga menggeleng pelan, "Entahlah, aku masih belum yakin."
"Apa yang menyebabkan hubungan kamu dengan Kak Aldi jauh salah satunya karena Ayu?" Hanin mulai menyelidik.

"Banyak hal, tapi aku tidak menyukainya sejak lama, jauh sebelum mengenal Ayu," jawab Dirga lirih.
Tidak ada jawaban lagi, keraguan di hati Hanin masih enggan beranjak.
"Aku mohon, yakinlah! Suatu saat aku akan menjelaskannya padamu. Yakinlah bahwa saat ini hanya ada kamu di hatiku, hanya kamu." Dirga merajuk.

Hanin masih bergeming, sesaat sudut matanya memperhatikan sang suami yang kini menundukkan wajah. Dirga menyembunyikan rasa resah atau apa pun yang membuatnya tidak nyaman.
"Sudahlah, beri waktu agar aku lebih tenang dan bisa berpikir jernih. Setelah itu kita cari solusinya bersama," ucap Hanin pelan.

Dirga mengangkat wajah, menatap dalam wanita di hadapannya. Kemarahan mulai mencair, sorot mata itu kembali teduh seperti biasanya.
"Jangan menyesal bersamaku, Han. Aku hanya perlu sedikit waktu. Beri aku waktu, tetaplah di sampingku. Yakinlah, aku tak akan mengecewakanmu. Aku berjanji!" ucap Dirga lirih.

Untuk pernyataan itu, Hanin butuh meyakinkan hati kembali. Bagaimana pun tidak mudah kembali menutup luka. Masa lalu Dirga bagaikan sebuah benang kusut. Hubungannya dengan Ayu, dengan Aldi, lalu dengan keluarganya yang lain seperti menjadi hal rumit yang tidak dengan mudah diterima begitu saja.
Lanjut?