Persaudaraan Muslimah Indonesia, mempelajari Islam Secara Menyeluruh.

Senin, 13 Januari 2020

Terpaksa Jodoh 1 - 5

#Terpaksa_Jodoh 1
PART 1, by Febrianti Windyningrum

Siang itu terik sekali, rasanya panas sang surya menembus kulit. Seorang gadis memakirkan motor maticnya sembari bersungut-sungut. Kentara sikapnya menyiratkan keengganan berada di tempat tersebut.

Usai memastikan motornya aman, dia mulai berjalan menuju lobi, setengah berlari karena selain panas, dia ingin urusannya disini cepat selesai.


"Siang mba Nilam, aku bawa ta..." Belum selesai gadis itu berbicara, sesembak resepsionis yang langsung mendongak mendengar suaranya, memotong kalimatnya.
"Waaahh Mel, tagihan ya? Kamu sih, coba dari kemarin kamu yang kesini, pasti langsung di acc. Udah sana langsung, tadi pacarmu sudah telepon kalau kamu kesini langsung ke dia aja," Mba Nilam sang resepsionis menyambutku penuh senyuman, namun bagiku kalimatnya tadi sungguh membuatku tidak nyaman.

"Pacar??? Astaghfirullah, temenmu sudah saatnya dibawa ke RSJ mba, coba dicek, masih di tempatnya ga itu isi kepalanya, jangan-jangan sudah geser," Meylani, gadis yang disapa mba Nilam tersebut, menggetok meja tiga kali sambil komat-kamit, amit-amit jabang bayi, batinnya.
"Hahahaha, makanya buruan diiyain atuh, biar stressnya ga jadi permanen,"

"Bodo amat, diruqyah aja bagusnya. Udah ah mba, aku ke atas dulu ya. Nitip jaket sama tas ya mbakku yang cantik," Aku meletakkan tas dan jaketnya di meja sambil berpamitan dengan mba Nilam.

Sampai di lantai dua, aku sudah tahu harus kemana. Membalas sapaan orang-orang yang mengenalku, sampai juga di meja yang dituju.

"Mau di transfer atau pakai BG?" Tak perlu basa-basi, aku sudah cukup kebal menghadapi makhluk di depanku ini. Meletakkan beberapa invoice dari map yang ku bawa, aku duduk di depan pria ini.
"Aku lagi sibuk, tunggu ya. Nanti aku cek dulu invoicenya yang jatuh tempo, tapi kamu bisa tunggu kok. Ga usah ditinggal, disini aja," Benar-benar bosan hidup orang ini, batinku.

"Kalau sibuk, ya udah sih aku tinggal saja. Aku ga bisa lama-lama disini. Kalau memang kamu ga bisa payment hari ini, nanti biar Bu Dian yang nagih ke Pak David," Aku memakai jurus pamungkas, menggunakan nama bosku dan bosnya. Cukup manjur, dia mendongak dari layar komputernya.
"Makan siang dulu yuk Mel, sudah hampir jam istirahat. Kamu jauh-jauh datang kesini, masak ga capek, ga lapar? Jiwa lelakiku tak terima bila melihat gadisku lelah kuyu karena belum makan siang," Ini yang aku muak darinya. Aku benci bucin, ini malah ditambah alay, apalagi wujudnya lelaki yang ngakunya tulen.

"Astaga Bambaaangg !! Ini baru jam 10, deket jam istirahat pala lo gesrek ! Ayo buruan, bayar apa enggak? Kalau enggak, gue pergi nih sekarang !" Aku tak lagi berlembut-lembut, setengah berteriak sambil berbisik (nah lhoo, bayangin gimana itu) karena tak ingin jadi perhatian yang lainnya, aku melotot maksimal pada pria di depanku ini.

"Iya iya Meylani sayang, ini sudah aku siapkan BG nya, buat yang jatuh tempo tanggal 5 ya? Yang tagihan sekarang, nanti aku kabari lagi. Jangan marah gitu donk, cepet tua nanti, manisnya ilang," Ah itukah the power of love, walau aku bentak dan perlakukan bak jajahan kompeni, dia tetap ramah padaku.

"Bodo amat ! Bagus gue tua duluan, biar lo ga kejar-kejar gue lagi," Aku mengambil payment yang diletakannya di atas meja, membereskan mapku, dan bersiap kabur dari ancaman bucin ini.
"Kalau begitu, biarkan aku menua bersamamu, ya?"
"Ruqyah sono !! Sebelum jin beranak pinak di badan lo !" Tak ku lihat lagi wajahnya, aku berbalik, setengah berlari meninggalkan makhluk itu.

*****

Namanya Rian. Riandika Pangestu. Secara fisik, harusnya dia not bad. Kulitnya tidak terlalu putih, sedikit sawo matang namun malah memberi kesan maskulin pada dirinya. Tinggiku hanya mencapai pundaknya, tapi jangan harap aku mendongak melihatnya, menoleh pun malas. Matanya coklat, hanya terlihat jelas jika sedang melepas kacamata. Bibirnya tipis untuk ukuran lelaki, mungkin karena itu omongannya terlalu 'lemes'. Kata Dita, dia duplikat Dion Wiyoko versi kelamaan berjemur. Kataku, dia tak lebih ganteng dari Aziz Gagap.

Pertama kali bertemu dengannya sekitar satu tahun yang lalu. Aku staff finance baru di perusahaan advertising ini. Aku diajak ke kantornya oleh Bu Dian, accounting senior kami, untuk mengantar invoice sekaligus mengambil payment, untuk selanjutnya itu akan menjadi tugasku dan temanku, Dita.

Aku tak berpikiran apa-apa, saat setiap Dita yang menagih, dia pulang dengan tangan kosong. Tapi bila aku yang datang, tak jarang bahkan tagihan yang belum jatuh tempo pun ikut dibayarkan. Lalu mulai terdengar kabar, kalau sang pemegang pembayaran invoice, Rian, menaruh hati kepadaku.
"Kok kamu yang kesini sih Dit, temenmu yang satu itu lho, suruh kesini baru aku ajuin untuk payment invoice ini," Begitu laporan Dita, ketika dia kembali pulang dengan tangan kosong. Sejak saat itu, selalu aku yang diutus yang ke kantornya untuk tagihan, demi kebaikan bersama. Kebaikan kantor harusnya, musibah buatku.

Beberapa kali bertemu dengannya, dia tak sungkan mengeluarkan gombalannya, tak sungkan merayu. Ku anggap semua tak lebih dari caranya bercanda. Namun ketika santer terdengar kabar bahwa kami jadian, baru aku menunjukkan taringku. Pasti dia yang menyebar fitnah. Tak tahukah dia bahwa memfitnah lebih kejam daripada tidak memfitnah?

*****

Aku uring-uringan menatap ponselku. Nama Rian Bucin kembali terpampang nyata di urutan teratas chat di ponselku. Satu nama di bawahnya, memperlihatkan satu centang abu, berarti chatku bahkan belum masuk ke ponselnya.

Makan pun tak enak, minum pun tak nyaman. Ini sudah lebih dari 1x24 jam dia tidak menghubungiku. Kebiasaan lama yang kambuh. Perlukah aku lapor pak RT? Ah ini kan hanya chat, bukan tamu menginap.
"Tring" Bunyi notifikasi ponsel membuatku tak jadi ke kamar mandi, ku sempatkan melihat siapa yang mengirim pesan.
[Meylani, bapakmu juragan tanah ya? Kalau iya, bolehlah aku sewa satu hektar hati kamu - Rian Bucin]
Astaganaga demi ibu pertiwi, kenapa bucin ini lagi sih??
[Iye bapak gue juragan tanah, tapi tanah kuburan ! Mau pakai kapan? Secepatnya silahkan !]
Tak ku tunggu balasan darinya, aku segera menunaikan hasrat yang sudah menggebu sejak tadi, efek kebanyakan nyocol bumbu rujak yang Dita bawa tadi siang.
Baru aku melihat ponselku setelah hasratku terpenuhi, akhirnya balasan pesan yang ku nantikan datang juga.

[Sayang, maaf aku baru bisa balas, seharian di proyek, aku lupa bawa charger. Ini baru sampai mess. Kamu lagi apa? Sudah makan?]
Aku tersenyum, rinduku terobati, walau hanya lewat chattingan.
[Boleh video call?]

Kebiasaanku, aku selalu menanyakan bila ingin melakukan panggilan, baik suara maupun video. Situasinya disana membuatku tak berani sembarangan menghubungi.
Pesanku tak dibalas, hanya dibaca. Tapi tak sampai lima menit, nama Satria 🖤 muncul di layar ponselku. Tak menunggu lagi, aku segera menjawab panggilannya,
"Assalammualaikum," Dia tersenyum saat mengucap salam. Aku menjawab salamnya, tak lupa juga kuukir senyum terbaik untuknya.

Seterusnya kami mengobrolkan apa saja, sampai larut malam dan aku menyerah karena mengantuk.
"Aku besok masuk siang yank, kamu tidur saja duluan ya? Jaga kesehatan kamu, jaga hati kamu juga. Sebentar lagi aku pulang, siap-siap lho ya," Satria mengakhiri pembicaraan kami, aku tertawa menanggapinya. Siapa juga yang berpikir mengkhianatinya?
Ya, kami pejuang LDR selama empat tahun ini dan sudah berencana melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Satria bekerja di satu tambang di pulau seberang, dan hanya pulang tiga bulan sekali. Kini dia sudah mengutarakan niat untuk melamarku di kepulangannya yang mendatang.
Jadi kenapa aku harus tergoda pada bucin bin alay itu bila pangeranku sudah siap meminangku?

---------


#Terpaksa_Jodoh
PART 2

"Mel, ini pesananmu sudah sampai, tadi pas turun, sekalian aku bawain dari resepsionis," Dita meletakkan bungkusan berbentuk kotak lumayan besar di mejaku.
"Lah? Aku ga pesen apa-apa Ta. Tadi pagi dibawain bekal ibuku. Nih aku bawa dua kotak malah, kata ibu buat kamu satu," Aku mengeluarkan dua kotak tupperware dari dalam tas bekalku.
"Waahh sampaikan makasih ke tante ya Mel. Nah terus ini apaan? Kata Tanti, ini pesanan g*abfood atas nama kamu kok," Merasa pesanan itu tak bertuan, Dita membuka isinya.
"Wagelaseeehh !! Beneran kamu ga pesen ini? Aku boleh icip berarti ini?" Dita berbinar melihat cheesecake di hadapannya, tak hanya satu, ada tiga kotak dengan merk yang sama.
"Waduh ini sudah dibayar belum Ta? Mang ojolnya masih di depan? Aku ga bawa uang cash ini," Aku mengingat isi dompetku yang kondisinya mengenaskan di H-3 dari tanggal gajian ini.
"Aman Mel, tadi aku udah tanya Tanti, udah kebayar katanya, mang ojolnya juga udah ga keliatan tuh pas aku di bawah tadi. Eh bentar, ada notenya ini Mel," Dita melihat ada kertas yang diselipkan di antara kotak-kotak itu.

"Have a nice day Meylani, R." Seketika Dita ngakak dan aku langsung mengubah wajahku ke mode sangar.
"Gih telepon, bilang terima kasih. Kamu ga mau ini kan berarti, aku bagi-bagi ya," Dita meminta persetujuanku seperti biasanya.
"Seraaahh !!" Aku kembali pada pekerjaanku, tak ku hiraukan teriakan Dita yang memanggil teman-teman yang lain, serempak mereka mendatangi mejaku, mengucap terima kasih dengan tertawa.
"Sering-sering Mel, bagi-bagi rejeki gini," Mba Umi melemparkan senyum berbalut cheesecakenya.
"Kenapa ga diiyain sih Mel, daripada nunggu yang jauh-jauh, mending ini yang deket sudah ready, paket komplit pula. Udah ganteng, perhatian, royal pula," Tutik menambahi sambil tangannya bergerilya berusaha mengambil potongan kedua, tapi tangannya keburu ditampol penggaris plastik oleh Dita.

"Eiitss, satu orang satu potong, biar semua kebagian ! Mel, aku taruh sini ya, iciplah, enak loh ini, hargai yang ngasih," Dita meletakkan setengah bagian dari cake utuh yang dipotongnya, dialasi kertas hvs bersih, diletakkannya di atas kotak bekalku.
Aku manyun. Ini bukan yang pertama Rian mengirim makanan ke kantorku. Setiap kiriman darinya pasti diberi note dan inisial namanya, 'R' dari Rian. Dan pasti datang dalam jumlah yang cukup untuk satu ruangan yang berisi 6 orang ini.

Gara-gara aku mengupload pengumuman promo sebuah outlet cheesecake tadi pagi, dia mengirim cake itu langsung kepadaku di siang harinya. Salahku, kenapa postingan itu ku tambah caption,
"Godaan tanggal tua, promo kok akhir bulan sih,"
Rian peka, terlalu peka malahan. Aku sama sekali tak bermaksud apa-apa saat menulis caption seperti itu. Dan itu terjadi berkali-kali, harusnya aku lebih waspada, tapi kadang otak dan jempol tidak sinkron, sering lupa.

Jadilah teman-temanku yang ketiban rejeki. Dita selalu menyisihkan untukku terlebih dahulu baru dia membagikan ke yang lain. Aku tak pernah memakan makanan dari Rian, bagianku selalu ku berikan untuk pak Man, OB yang bertugas di ruanganku, yang tak jarang dia membawa pulang kue atau makanan yang ku berikan padanya, untuk tole, katanya selalu.
"Siapa yang tahu kalau makanannya udah dikasih apa-apa gitu," Begitu selalu ucapku jika aku tak terlihat memakan pemberian Rian.
Tapi walaupun kenyataan makanan itu terbukti aman tanpa tambahan apapun, aku tetap tidak mau. Meskipun begitu, aku selalu mengucap terima kasih telah dikirimi. Andai sifatnya tidak setengil itu, mungkin aku masih mau berhubungan baik dengannya, sebatas relasi dalam pekerjaan.

Masih dalam hingar bingar perebutan potongan terakhir cake, aku mengambil ponsel. Ada dua chat yang masuk, Satria dan si bucin Rian. Tentu saja ku dahulukan membaca pesan dari Satria,
[Kamu kalau pengen ga usah nunggu gajian yank, beli ya kalau pulang nanti. Cukup kan? ]
Pesan disertai ss bukti transfer. Omigod, ini sih masih ada lebihnya banyak jika hanya untuk membeli promo cake buy two get one free itu.
[Aduh aku bikin repot lagi yank, nanti gajian masih promo kok. Tapi nanti aku beli, makasih banyak ya sayang ]
Tak lupa kutambahkan emote kiss di ujung pesan, centang satu abu. Ya pesannya sudah satu jam yang lalu, kalau jam segini dia sudah berangkat ke proyek, sering ponselnya mati. Baru setelah itu ku buka pesan dari sang bucin,
[Kali ini makan ya Mel, aku perjuangan loh beli itu buat kamu. Ga usah bilang terima kasih, makan aja aku udah seneng]
Cih, apaan perjuangan. Orang belinya via ojol juga, mamang ojolnya lah yang berjuang, dia cuma modal ber 'uang'.
[Thanks cake nya. Jangan kirim makanan lagi, aku diet]
Send, centang dua abu, langsung berubah menjadi biru. Dia mengetik, aku menunggu,
[Oke oke, kamu mau apa besok? Gado-gado mungkin? Itu bagus loh Mel buat menu diet. Tapi kayaknya kamu ga perlu diet deh Mel, you're beautiful just the way you are.]
Aku ternganga, bukan itu maksudku Sarimin !
[Pokoknya jangan kirim-kirim makanan lagi kesini ! Aku diet biar kebaya pengantinku cukup. Paham?]

Cukup lama dia membalas pesannya, padahal pesanku langsung terbaca olehnya. Aku menelusuri story wa, aku sempat terhenti melihat story Rian, pukul 08.25 dia berfoto di tengah antrian yang terlihat memanjang di belakangnya, aku mengenali tempatnya. Ya, itu di depan outlet cheesecake yang cakenya sedang nangkring manis di atas tupperwareku.
'Demi apa?' Caption yang tertulis di fotonya tersebut.
Terlihat dirinya mengambil selfie dengan pose dua jari, wajahnya setengah tertutup masker, tapi aku tahu itu dia. Berarti benar dia membeli sendiri cake ini. Baru yang mengantar kesini ojol, karena kantornya berlawanan arah dengan kantorku. Sedikit rasa bersalah mendatangiku. Agak menyesal aku membalas ketus pesannya tadi.

Ketika akan meletakkan ponsel, bersiap ke pantry mengambil air minum karena sudah jam istirahat, bunyi notifikasi membuatku menunda niatku,
[Jadi kabar yang ku dengar itu benar Mel, kalau kamu sudah akan menikah?]
Ya ampun kemane aje lu Malih, dari dulu aku sudah bilang kalau aku sudah ada pacar, pacar serius, bukan kaleng-kaleng. Tapi dianya aja yang ngotot menyangkal, tak pernah percaya hanya karena aku tak pernah kelihatan berdua dengan Satria.
[Lah kan aku udah bilang dari jaman Nabi Nuh, kalau aku udah punya pacar, dan berencana nikah tahun ini. Elu nya aja dibilangin ga pernah percaya.]
Pesanku langsung dibaca, entah kenapa sedikit berdebar menunggu dia selesai mengetik,
[Pacarmu gaib sih Mel, ga pernah foto bareng, apalagi kata teman-teman kamu, kamu ga pernah kelihatan gandeng cowo di acara-acara bareng teman-teman kamu. Ga ada bukti ya ga salah aku kan kalau maju terus?]
Tak ku balas kali ini, bodo amat.

*****

Itu salah satu dari sikap Satria yang sebenarnya aku agak keberatan. Dia tak pernah mau jika aku mengupload wajahnya ke media sosial, bahkan ke story wa pun tidak.
Kami sering berfoto bersama, tapi hanya menjadi koleksi album di ponsel. Selebihnya hanya foto siluet atau nampak belakang dirinya yang boleh ku upload.
Pernah aku melanggar, aku memasang foto kami berdua ketika berlibur ke pantai. Hasilnya? Dia marah, marah sekali.
Mengatakan aku haus pengakuan, seperti anak SD yang kasmaran, sikapku bukan seperti dewasa, dia membenci wanita kekanakan, dan tindakanku yang memasang wajahnya sebagai foto profil membuatku dicap kekanakan. Setiap perkataannya masih ku ingat. Dia tak pernah berkata kasar tapi kali itu ku rasakan kemarahannya keterlaluan. Aku hanya menangis tak bisa membalas ucapannya, tiga hari dia tak menghubungiku, baru hari keempat aku memberanikan menghubunginya dulu, dia baru bisa memaafkanku. Sejak itu tak pernah aku coba-coba melanggar titahnya, mengupload foto dirinya ke segala medsos.

Satria kakak kelasku saat SMA, saat dia kelas tiga dan aku kelas satu. Kami hanya mengenal nama, baru dekat kemudian saat aku sudah kuliah dan dia sudah bekerja. Dipertemukan dalam reuni tiga angkatan sekaligus, kami berkenalan dan menjadi dekat setelahnya.

Setelah aku diwisuda, barulah Satria mengutarakan isi hatinya kepadaku. Terhitung dari saat itu, tahun ini genap empat tahun kami menjalin hubungan. Orang tua kami sudah saling mengetahui hubungan kami, dan tak keberatan bila diteruskan ke pelaminan. Maka saat ku utarakan niat Satria melamarku di kepulangannya mendatang, ayah dan ibu sangat senang. Itu yang mereka tunggu.

*****

Aku menjelajahi dunia maya malam itu, sembari menunggu Satria mengabariku jika sudah sampai di mess.
Iseng ku buka akun facebook Satria, dia jarang mengupload foto atau status. Namun pandanganku tertuju ke satu foto, dimana aku dan Satria bergandengan tangan, hanya tangan kami yang terlihat.
Aku ingat, Sekar, adikku, yang mengambil foto itu saat Satria ikut kami sekeluarga berlibur ke puncak. Ada satu komentar yang membuatku sedikit terganggu,
'Kapan ya bisa begitu lagi?' Diikuti satu emote sedih.

Ayu Hastari Ayu, itu nama akun yang mengomentari foto kami. Komennya tertera sekitar sebulan lalu. Intuisi wanitaku langsung aktif, ku stalking segera akun tersebut.
Aiiish, akunnya di private, mau tidak mau aku harus berteman dulu, okay aku mengalah kali ini, ku tekan pilihan add as friend, tinggal menunggu konfirmasi. Paulina penasaran pemirsa !
"Kakaakk, sudah tidur belum??" Gedoran di pintu mengalihkan perhatianku. Segera aku berdiri dan membuka pintu kamar.

"Kenapa Kar?" Sekar berdiri dengan wajah di stel imut, pertanda tidak bagus.
"Kak, temenin Sekar beli pulsa yuk, ke depan, bentaarr aja. Udah malam ini, kalau ga sama kakak pasti ga dibolehin ayah," Benar kan, pasti ada maunya ini anak.
Ku lirik jam dinding, jam 20.30. Belum terlalu malam sebenarnya, untukku. Tapi untuk Sekar yang masih kelas dua SMA, peraturan jelas, dilarang keluar rumah setelah jam 20.00, apapun alasannya.
"Ribet banget sih Kar, beli aja online. Bentar kakak belikan saja di temen kakak ya? Ada yang jual pulsa," Aku bermaksud mengambil ponselku di dalam kamar, tapi Sekar menarik tanganku, pelan dia berkata,

"Kak, aku mau cod an ini. Ada yang pesan masker, aku tadi sudah ke rumahnya, tapi ga ada orang. Niatnya besok aku antar ulang, eh malah orangnya marah-marah, minta diantar sekarang, kalau enggak dia ga mau bayar. Deket kok kak, di belakang bank situ rumahnya. Dua ratus ribu kak, kalau dia cancel mati aku ga balik modal," Sekar menjelaskan alasannya ngotot keluar. Dia memang punya bakat berdagang, sebenarnya sudah dilarang ibu, diminta fokus belajar saja dulu. Akhirnya dia sembunyi-sembunyi menjalankan bisnisnya.
"Kata sandi?" Aku mencoba bernego dengannya.
"Cilok?"
"Coba lagi,"
"Ceker Jahanam?"
"Anda belum beruntung,"
"Mocca float," Sekar terdengar lesu pada jawaban terakhir, aku tersenyum melihat wajahnya, sukses sudah aku mengerjainya.
"Anak pintar. Bentar kakak ambil kunci,"

Setelah berpamitan pada ibu, kami menuju rumah customer Sekar. Walau pembelinya galak, namun pembayaran berlangsung lancar.
Segera aku melajukan motorku menuju Kaepci, Sekar hanya manyun di boncengan motor.
"Kamu mau apa Kar?" Tanyaku saat kami sudah masuk di antrian.
"Gak usah. Kakak aja, ini duitnya buat beli mocca float" Masih manyun aja ni anak, batinku.
"Kamu mau apa Kar, kakak traktir." Bagai mendapat pengumuman sekolah diliburkan, wajah Sekar seketika lebih cerah layaknya matahari terbit.
"Serius kak?? Iih beneran nih,"
"Iya cius, mau apa? Sebelum Gusti Kanjeng Ratu Ayu Meylani ini berubah pikiran,"
Sekar cengengesan, menyebutkan beberapa menu yang ingin dipesannya. E buset, ini sih mencari kesempatan dalam kesepakatan.

"Kamu aja yang antri kalau gitu. Sekalian beli buat ibu ya? Take out aja, nanti makan bareng di rumah," Aku mengulurkan uang yang disambut penuh binar bahagia di matanya. Ayah tak terlalu menyukai menu disini, jadi tidak aku belikan.
Aku menunggu Sekar di kursi kosong. Melihat sekeliling, pandanganku jatuh kepada sepasang anak manusia yang duduk di bagian dalam. Aku hanya melihat punggung si lelaki, tapi posisi duduk gadisnya jelas menghadapku. Cantik, terlihat sangat feminim. Lelaki di hadapannya terlihat telaten menyuapinya, ya mereka tak sungkan suap-suapan di depan umum. Tapi ku lihat si gadis tidak balik menyuapi pacarnya, minum pun si gadis dibantu pacarnya. Antara romantis dan jengah, lebay sangat menurutku.
Kapan ya terakhir aku nge-date dengan Satria? Pikirku nelangsa.
"Ayo kak, udah ini," Sekar membuyarkan konsentrasiku yang sedang mengamati pasangan disana.
Aku pun berdiri, bersamaan dengan si lelaki yang juga berdiri. Dia berjalan ke kasir, aku bisa melihat jelas wajahnya kini.
"Rian??"
-----------


#Terpaksa_Jodoh
PART 3

Seharian ini hanya dua hal yang ku pikirkan, pemilik akun Ayu Hastari Ayu dan Rian si bucin.
Ayu Hastari menerima permintaan pertemananku pagi ini. Tak ku buang waktu untuk melihat profilnya. Ternyata dia teman SMA Satria, mereka teman satu angkatan. Bahkan ada foto mereka saat reuni, reuni yang sama yang mempertemukan aku dan Satria dulu. Tangan Ayu yang melingkar di lengan Satria membuat konsentrasiku sedikit oleng sepagian ini. Ada hubungan apa mereka di masa lalu?
Lalu Rian. Memang aku tak ada perasaan apa-apa padanya, tapi melihatnya begitu mesra dengan wanita lain, rasanya jengah. Jika dia sudah punya pasangan, kenapa sikapnya seperti itu kepadaku? Dasar kadal buntung. Punya pacar cakep, anggun masih cari-cari serepan. Untung aku tak termakan rayuannya. Tapi sejak aku bilang akan menikah kemarin, sekalipun tak ada dia menghubungiku. Biasanya chatnya sudah seperti pembawa berita cuaca, sapaan pagi, siang, malam selalu dikirimnya. Secepat itukah sang bucin berpaling?

"Hayoo bengong ! Ngelamunin bakal dapet kiriman apa ya hari ini dari Aa Rian?" Dita menggebrak mejaku, mengembalikan aku ke dunia nyata.
"Eh buset anak ini ! Ngomong pelan-pelan bisa kali Ta, kalau aku jantungan terus mati, aku gentanyangin kamu," Aku meneguk air putih menghilangkan kagetku.
"Jangan mati dulu, ga jadi kawin donk ntar," Dita menowel pipiku yang sedikit chubby menggemaskan ini.
"Nah itu tau. Makanya dijaga baek-baek ini temennya, nanti ku kenalin sepupunya Satria yang yahud-yahud pas acara nikahanku,"
"Beneran loh ya? Emang kapan sih Ta, jangan dadakan lho, biar aku jahit baju dulu. Nikah dadakan ntar dikira tekdung duluan lho Mel," Aku mendelik, minta di sambal mulut wanita ini.
"Amit-amit ! Bulan depan dia pulang, lamaran dulu kita Ta. Nanti kamu dateng ya, bantu-bantu cuci piring atau ngapain gitu ya,"
"Anjaayy ! Iye deh iyee, kabarin aja tanggalnya kalau udah pasti. Eh jadi makan apaan ni kita? Si Aa kayanya enggak kirim deh, uda jam segini," Dita melihat jam, lima menit lagi jam istirahat tiba.
"Nasi padang enak kayanya Ta. Ya udah yuk, ga usah dipikirin sih, kalau ga kirim ya udah. Ga usah diharap atau dibahas," Dita mengerti, kami pun bersiap ke depan kantor untuk makan siang.

*****

Aku guling-guling tak jelas di kamarku. Satria belum bisa ku hubungi, dia bilang masuk pagi, tapi nomornya terus tidak aktif seharian ini. Aku tak sabar ingin bertanya tentang Ayu. Di luar itu, aku khawatir. Pekerjaannya bukan pekerjaan tanpa resiko. Seharian tak ada kabar, cukup membuat pikiranku kemana-mana. Aku tak siap menjadi janda bahkan sebelum menikah.
Teleponku berdering. Aku terhenti sesaat melihat nama yang muncul di display ponselku. Sempat ragu untuk menjawab, tak biasanya dia menelepon. Biasanya hanya berani chat-chat kurang berfaedah.
Akhirnya aku menjawab panggilannya.
"Halo? " Ku dengar suaranya disana. Rian.
"Waalaikumsalam," Aku menyindirnya yang tak mengucap salam terlebih dahulu.
"Eh iya, Assalammualaikum Meylani,"
"Telat. Ada apa? Tumben telepon,"

"Mel, aku udah di depan rumah kamu. Tapi kayaknya ga ada orang kah? Aku ketok dari tadi ga ada yang bukain pintu,"
"APAAA?? Ngapain lo kemari Bambang??" Kaget setengah mati, tak ku sangka dia senekat ini. Tapi, darimana dia tahu rumahku?
"Bukain dulu kek Mel, nanti aku jelasin. Rada horror ini di depan," Memang halamanku penuh pepohonan, kebetulan lampu di pohon mangga belum diganti setelah putus, jadinya agak gelap di luar sana.
"Tunggu, aku ganti dulu," Ku matikan panggilan tanpa menunggu jawabannya. Secepat yang aku bisa, ku ganti celana spongebobku dengan celana training, ku ambil jilbab instan, memakai sweater dan bergegas ke depan.

Benar saja, ibu dan Sekar sedang asyik terbahak melihat sebuah acara lawak di tv. Pantas tak mendengar pintu diketuk.
"Mau kemana kak? Ikuut !" Sekar bermaksud mengekori aku yang berjalan ke arah ruang tamu.
"Kek bayik aja kamu, ngintilin kakak mulu. Temen kakak di depan, kamu ga denger ada orang ketok pintu dari tadi," Sekar mengurungkan niat mengikutiku, hanya cengengesan.
"Masa sih Mel, ibu ga denger apa-apa dari tadi. Temenmu orang bukan?" Jawaban ibu tambah tidak karuan. Aku menuju ruang tamu, bermaksud membuka pintu, tapi lamat-lamat aku mendengar suara orang berbincang.

Ketika membuka pintu, ku dapati Rian, dalam wujud yang sebenarnya, tengah mengobrol dengan ayah di bangku teras. Ayah baru pulang setelah salat isyak dari masjid.
"Nah ini Meylani nya sudah keluar. Ayo nak Rian, masuk saja. Di luar agak gelap, bapak belum sempat ganti lampu halaman,"

"Disini saja pak, saya cuma ada perlu sebentar dengan Meylani. Terima kasih ya pak," Rian tersenyum manis kepada ayah. Halah, palsu !
"Ya sudah bapak tinggal dulu kalau begitu," Ayah berdiri, berbisik kepadaku,
"Jangan lama-lama, ndak baik dilihat orang," Aku mengangguk, paham akan maksud ayah.
Kini tinggal Rian dan aku, dia tak juga berbicara. Tumben, biasanya mulut usilnya tak kehabisan bahan pembicaraan.

"Ada apa yan? Kok tahu rumahku disini?" Tak tahan tak bertanya, aku memulai pembicaraan.
"Kamu beneran mau merid Mel?" Astaga benar-benar orang ini. Ku kira selama ini sikapnya hanya bercandaan biasa, tak ku sangka dia seserius ini.
"Iya lha. Aku udah cukup umur kali. Pacarku ngelamar bulan depan. So, stop pdkt sama aku. Dari dulu kan aku udah bilang, I'm not a single woman," Aku menegaskan kali ini. Dia terus menunduk. Lalu mengeluarkan sesuatu dari paperbag yang ditaruh di sebelahnya. Sebuah album foto kecil.
"Ini Mel, maaf aku baru berani kasih ini sekarang. Bukan aku tak tahu kamu sudah punya pacar. Ku pikir kamu belum ada niat serius sama pacarmu itu. Tapi jika kini kalian benar-benar akan menikah, aku ingin ini jadi milikmu. Aku tak boleh memilikinya lagi,"

Ku buka album tersebut. Aku terkejut, ini saat aku menjadi bridesmaid di acara pernikahan sepupuku hampir 1,5 tahun yang lalu. Sampai pertengahan album, baru berganti tema. Ada saat aku sedang jogging di acara car free day entah kapan itu. Yang paling baru, fotoku saat acara ulang tahun kantor tiga bulan yang lalu.
Semua difoto dengan candid. Kecuali foto saat di pernikahan, ada fotoku yang sadar kamera. Entah, semua fotoku diambil dengan angle yang pas. Seperti bukan aku di semua foto ini.
"Ini apa maksudnya yan? Kenapa kamu bisa punya fotoku sebanyak ini,"

"Mungkin kamu tak ingat Mel, aku fotografer saat sepupumu menikah. Kamu boleh tak percaya, tapi aku jatuh cinta pada pandangan pertama sejak saat itu. Tak kusangka, tak lama setelah pernikahan itu, kamu datang bersama bu Dian ke kantorku. Aku ga mungkin lupa dengan wajahmu. Pernah saat aku hunting di acara car free day, aku melihatmu. Aku mengambil beberapa fotomu juga. Kalau untuk yang acara ulang tahun kantormu, itu temanku yang mengambil gambar, dia fotografer acaramu saat itu," Sejenak Rian menghela nafas, aku hanya terdiam, tak menyangka dia sungguh-sungguh menyukaiku.
"Tapi kini kamu akan bersanding dengan kekasihmu. Aku tak berhak lagi menyimpan segala potret dirimu. Flashdisk yang berisi file fotomu ada di paperbag ini. Percayalah tidak ada lagi yang aku simpan. Tak baik terus merindukan milik orang lain kan," Rian tersenyum tapi matanya tak bisa berbohong. Kesan riang dan jahil yang biasanya ada disana berganti sebuah tatapan yang aku sulit mengartikan.
Aku tak tahu harus berkata apa. Lidahku seakan menempel di mulut, tak bisa ku gerakkan. Suara ayah tiba-tiba mengagetkan kami,

"Nak Rian, ini sudah malam. Mungkin besok-besok kalau mau kesini lagi agak sore ya, biar ngobrolnya bisa lebih lama," Ayah mengusir halus, aku tahu apa yang dipikirkan ayah.
"Oh iya pak, mohon maaf saya malam-malam menganggu istirahat bapak dan Meylani. Saya mohon pamit pak," Rian berpamitan, tak luput tangan ayah diciumnya, suatu hal yang bahkan Satria pun tak pernah lakukan.
"Pulang dulu Mel, terima kasih ya," Aku mengantar sampai pagar. Setelah dia berlalu dan mobilnya sudah tak terlihat, baru aku masuk rumah, menyusul ayah yang sudah masuk duluan.
Terlihat ayah meletakkan buku yang akan dibacanya saat aku sampai di ruang keluarga. Ibu dan Sekar masih menonton televisi. Aku bergabung dengan mereka.
"Sudah lama kenal Rian Mel?" Aku mendongak, nada ayah seperti sudah lama mengenal Rian.
"Setahunan mungkin yah, sejak Mel kerja sih. Dia teman kerja Mel. Ayah kenal Rian?"
"Dia murid ayah dulu. Anaknya baik, tidak pernah aneh-aneh waktu sekolah." Ayah guru SMA, dan masih mengajar sampai sekarang.

"Teman kakak tadi cowok? Cakep ga? Ah tahu gitu tadi mau ya disuruh ibu bikinin minum," Dasar Sekar, denger ada cowok nyasar ke rumah sinyalnya langsung 4G.
"Ayah sempat jadi wali kelasnya, dua tahun berturut-turut. Ayah ingat, dia pernah ngotot mengajukan untuk membuat klub fotografi, tapi ditolak pak Kepsek karena dirasa visi misi nya belum mumpuni dan anggotanya belum ada. Dia termasuk berprestasi, anaknya supel, banyak teman."
"Pacarnya banyak ya yah waktu sekolah dulu?" Aduh ngapain juga aku menanyakan hal konyol seperti itu. Ayah terbahak.
"Pacar apa Mel, wong dia sama cewek itu ga berani. Ayah sering pulang bareng dia, katanya kalau pulangnya sama ayah, ga ada yang berani minta nebeng pulang ke dia. Kata guru yang lain, dia lumayan populer di kalangan siswi. Tapi selama di sekolah, tidak pernah ayah lihat atau dengar dia dekat dengan teman wanita," Aku termenung, ku kira dia tipe playboy, mengingat gencarnya dia mendekatiku.
"Coba kalau Satria belum serius sama kamu Mel, ayah lebih setuju kamu sama Rian," Ayah bicara sambil tersenyum, membuat Sekar dan ibu menoleh seketika.
"Lah kok begitu yah? Jangan donk, biarkan Meylani dengan Satria, tetangga sini sudah pada tahu kalau mereka pacaran. Masa deketnya sama Satria, nikahnya sama orang lain," Ibu menimpali, Sekar hanya mengangguk-anggukan kepala.

Aku tahu sebenarnya ayah kurang sreg dengan Satria. Hanya karena beliau ingin aku bahagia dengan pilihanku sendiri, beliau merestui hubungan kami.
Satria dinilainya kurang sopan dengan orang yang lebih tua. Ora ngajeni, kalau orang jawa bilang. Aku sudah berusaha memberitahu Satria tentang hal ini, tapi tak pernah ada perubahan yang berarti. Aku tahu Satria tipikal orang yang menilai semuanya dengan uang, tapi aku menutup mata. Aku tahu dia tulus mencintaiku, itu cukup bagiku. Semua akan membaik seiring berjalannya waktu nanti, aku yakin itu.
Bunyi ponselku membuatku berpaling dari pembicaraan ini. Ada telepon masuk via messenger masuk, dari akun Ayu Hastari.
"Udah ayah ga usah aneh-aneh. Pokoknya Mel sama Satria. Mel ke kamar dulu, ada telepon,"
Segera aku menutup pintu kamar, tapi baru akan ku angkat, panggilannya sudah berakhir. Ada apa ini?

--------

#Terpaksa_Jodoh
PART 4

Hari berlalu dengan cepat. Tak terasa besok adalah hari yang ku tunggu, keluarga Satria akan datang untuk melamar. Persiapan menyambut calon besan sudah dipersiapkan ayah dan ibu.
Tak ada kejadian berarti sejak terakhir missed call dari Ayu kemarin. Aku tak berniat bertanya padanya, dia juga tidak menghubungiku lagi. Namun aku tetap menelusuri akun fb nya. Dan jadi sedikit tahu tentang dia.

Ayu seorang LC, di sebuah tempat karaoke yang cukup terkenal di kotaku. Penampilannya jangan ditanya. Akunnya dipenuhi foto berbagai gaya dan pose, yang bisa membuat jakun lelaki naik turun. Aku tak pernah membahasnya dengan Satria, atau bertanya siapa dia. Aku takut akan tahu hal yang mungkin akan membuat ragu meneruskan hubungan kami. Bila saat nanti ada waktu yang tepat, baru akan ku tanyakan.

Rian benar-benar menepati janjinya. Dia tak pernah lagi mengangguku. Saat Dita yang datang untuk mengambil tagihan pun, langsung dilakukan pembayaran, tidak ditunda seperti biasanya, menunggu aku dulu. Pernah ada sedikit rasa sepi saat perhatiannya tak lagi ku dapatkan. Tapi aku menepis perasaan itu jauh-jauh. Aku tak boleh goyah, aku akan menikah dengan Satria.

*****

Acara lamaran berlangsung lancar. Satria begitu tampan mengenakan kemeja batik yang semotif dengan kebayaku. Aku tak berhenti mengembangkan senyumku, senyum yang sama terlihat pada wajah Satria dan mamanya. Mama Satria single parent, sejak Satria masih duduk di kelas dua SMP.
Tanggal pernikahan sudah ditentukan. Dua bulan lagi, aku dan Satria akan sah menjadi suami istri. Pihak Satria yang menginginkan sesegera mungkin, mengingat kami sudah cukup lama berhubungan.
"Nunggu kelamaan, Meylani keburu dilamar orang nanti, orang cantik biasanya peminatnya banyak," Paman Satria berseloroh, disambut tawa yang lain.

Ayah mengiyakan, setelah bertanya padaku. Satria sudah siap menanggung seluruh biaya pernikahan, karena yang meminta sesegera mungkin adalah pihak darinya.
Acara inti sudah selesai, tinggal sekarang para keluarga bercengkrama, mengobrol santai. Aku mendekati Satria yang sedang fokus pada ponselnya,
"Yank, makan dulu yuk. Dari tadi cuma minum aja," Satria menoleh, dan tersenyum padaku.
"Boleh. Aku makan yang kamu masak aja ya? Kamu masak apa?" Satria berdiri dan menggandeng tanganku. Dia tahu aku suka memasak, dan lidahnya cocok dengan masakanku.

"Aku masak ayam goreng kesukaan kamu, plus sambal dan lalapannya. Kalau lauk lainnya, ibu dan bibi yang masak,"
"Pas banget. Eh yank, aku nitip charge hp ku ya, low bat ini, aku lupa ngecharge semalam," Satria mengulurkan ponselnya padaku, aku menerima dan mengisi dayanya di kamar.
Sampai tengah hari baru mereka berpamitan. Aku bahagia? Pasti. Siapa yang tidak bahagia akan dipinang oleh kekasih hatinya?
Tak ada lagi keraguan. Lupakan Rian, hempaskan Ayu. Siapa mereka? Aku tak mau tahu lagi. Kini hanya aku dan Satria, semoga lancar sampai hari pernikahan kami nanti.

*****

Aku masuk kamar untuk ganti baju. Setelahnya, baru akan membantu keluarga beres-beres. Ketika akan keluar kamar, baru aku sadar, ponsel Satria tertinggal yang tadi di charge.
Segera aku mengambil ponselku, untuk menghubungi mama Satria mengabarkan kalau ponsel Satria ketinggalan.

Baru akan memencet kontak mama Satria, ponsel Satria menyala. Ada panggilan masuk, dari kontak bernama 'Ayu'. Ku urungkan niatku menghubungi mama. Ku putuskan menerima panggilan tersebut. Aku kan calon istri Satria, tak salah kan bila aku menjawab panggilan di ponsel calon suamiku.
[ Halo Sat, lama banget angkat teleponnya, chat aku juga lama ga dibales sih ] Ayu langsung bicara saat panggilannya ku terima.
[ Assalammualaikum. Maaf handphonenya Satria tertinggal di rumah saya. Ini siapa ya?]
[ Lah elu siapa? Kok hapenya Satria sampai ada di elu?]
[ Maaf saya Meylani, tunangannya Satria. Maaf ini siapa ya? ]
[ Tunangan? Hahahaha ngaco aja lu. Mana mungkin Satria nikah. Cowo kaya dia ga bakal mau nikah. ]
Aku terdiam. Tak tahu mesti berkata apa. Memang Satria cowok seperti apa?

[ Mbak, gue bilangin ya, daripada nyesel ntar. Satria ga bakal mau terikat dalam suatu hubungan. Dia cuma minat sama hubungan one night stand. Kalau emang dia mau terikat, harusnya dari dulu udah gue sama dia nikah. Gue 'jadiin' aja biar dia tanggungjawab terus nikahin gue.]
[ Maksudnya gimana mbak? Saya nikah dua bulan lagi, mbak jangan bicara yang enggak-enggak ya?]
[ Nama lo Meylani ya? Satria udah bilang ke gue soal lu. Gue kira cuma bercanda, ternyata beneran mau merid ya kalian. Lu cuma bakal jadi tameng dia, kedok kalau dia juga bisa dapet cewek bener. Sebejat-bejatnya laki kalau nikah juga maunya sama cewek bener, ya kan? ]
[ Sebenarnya mbak ini hubungannya apa sama Satria??] Nadaku meninggi, aku sungguh tak terima dia berkata macam-macam tentang Satria.
[ Gue mantan pacarnya Satria, sebelum dia sama elu. Tapi kalau sekarang ya kayak hubungan tanpa status. Dia butuh gue, gue butuh duit dia. Andai lu nikah sama dia pun, gue ga akan nglepasin Satria. Sampai kapanpun.]
[ Mbak jangan bicara macam-macam ya?! Jangan ganggu hubungan saya dan Satria !! Jangan hubungi Satria lagi !! ]

Aku mengakhiri pembicaraan tak masuk akal ini. Tak mungkin Satria seperti yang dikatakannya. Aku sampai baru sadar, ponselku berbunyi, mungkin sejak tadi. 'Mama Satria' terlihat di display ponselku. Menghapus air mata yang entah sejak kapan keluar, berdehem untuk menghilangkan serak, aku menjawab panggilan tersebut.
[ Halo yank, handphone aku ketinggalan ya? Nanti sore aku ke rumah lagi ya, titip dulu.]
[ Ehm iya yank. Aku simpan dulu,]
[ Kamu batuk yank? Kok agak sengau suaranya? Jangan minum es banyak-banyak, kebiasaan kamu ini. Eh tapi jangan buka handphone ku ya, misal ada panggilan atau chat abaikan saja. Ya udah, aku nyetir ini. See u later love. ]
Satria mengakhiri pembicaraan. Tinggal aku yang terdiam, tak tahu mesti bagaimana. Larangan membuka ponselnya malah membuatku penasaran, apa yang disembunyikannya.

Terduduk di lantai kamar, gemetar aku coba membuka layar android Satria. Dikunci. Sandi enam angka. Satria tipe manusia ingatan lima menit. Tak mungkin dia memakai sandi yang sulit diingat. Ku coba tanggal lahirnya. Gagal. Tak habis akal, ku coba lagi tanggal lahirnya, dengan dibalik pola, tahun dulu, baru bulan lalu tanggal. Berhasil.
Sejenak aku ragu, tindakanku ini benar atau tidak. Khawatir bakal mengetahui hal-hal yang sebenarnya aku tidak ingin tahu. Menarik nafas lalu menghembuskannya, ku mantapkan niatku menelusuri gawai Satria.

"Bismillah.. " Ku awali dengan bacaan basmalah, ku mulai dari aplikasi chat warna hijau, yang jelas ada beberapa notifikasi pesan masuk.
Beberapa chat masuk, dari Ayu dan dari sebuah grup 'Lelakining Jagad' yang mendominasi. Ku mulai dari Ayu, aku ingin tahu kebenarannya. Kelihatannya pesannya selalu dihapus, karena tidak pesan sebelum hari ini. Pesan pertama baru dimulai tadi pagi. Ayu yang memulai percakapan.
[Pagi sayang.. Nanti malam datang lagi kan? Aku masih kangen]
[Pasti aku datang. Siapa yang tahan semalam tanpa goyanganmu. Yang aku bawa semalam, pakai ya?]
[Sipp lah. Tahu banget aku suka warna merah. Sengaja ya beliin satu nomor kekecilan, dasar kamu. Oh ya, bedakku habis sayang. Sekalian nanti siang jadwalku ke salon.]
[Iya aku transfer habis ini. Siang ini aku ada acara, jangan hubungi kalau aku belum call duluan ya?]
[Jangan lama-lama. Aku ga betah kesepian kalau kamu disini. Selesai urusan, langsung temui aku ya.]

Aku mulai gemetar membaca pesan Satria. Sungguh, jika ini mimpi aku ingin bangun saja. Badanku serasa tak bertulang. Tapi aku mengumpulkan tenaga, aku masih butuh beberapa penguatan kalau memang Satria berkhianat di belakangku.
Ku buka pesan grup, banyak sekali chat yang masuk. Kelihatannya itu grup teman-teman kerjanya di pulau seberang sana.
[Gila Satria lu beneran mau nikah? Gue denger ambil cuti buat lamaran. Terus mau dikemanain Rita, Amel, Dita sama selir-selir lu yang lain?] Kontak bernama Wawan memulai obrolan.
[Yaelah, nikah kan disono wan, kalau disini Satria ya tetap bujangan lah] Kali ini temannya yang bernama Adi menjawab.
[Wah bakal kurang satu nih pelanggan mama Winky. Satu pelanggan setia udah mau merid] Giliran Tedy yang menjawab.
[Ya enggaklah. Istri gue kan di Jawa sono, ga bakal gue ajak kesini lah. Gue tetep butuh serepan.] Kali ini, Satria sendiri yang menjawab.
[Lu punya calon bening ga pernah kasih liat kita Sat. Daripada sama buaya kaya lu, lah mending sama gue. Walau ga secakep elu kan tingkah gue ga sebejat lo] Wawan menanggapi.
[Ga bakal gue kasih liat calon bini gue. Bisa bahaya buat reputasi gue sebagai Don Juan disini. Awas ya, jangan sampai ada yang bocorin kalau gue mau merid.] Satria kembali menjawab.

[ Ada tutup mulutnya ga nih? Suka lupa soalnya. Btw, ada bar baru buka di simpang sana.]
[Gampang, ntar kalau balik sini, gue traktir sampai jackpot lu pada.]
Aku terpaku pada layar ponsel Satria. Aku tahu Satria bukan orang yang sangat taat beragama, namun tak ku sangka sampai begitu kelakuan dia di belakangku. Aku menangis tanpa suara. Membaca pesan demi pesan yang memperlihatkan kebusukan Satria. Empat tahun bersama ternyata tak cukup untuk mengetahui sifat aslinya.
Pintu kamar terbuka perlahan, ku lihat Sekar di baliknya, melonggokkan kepala.
"Kak, dicari bibi mau..." Sekar tak melanjutkan perkataannya, karena aku langsung menghambur menangis di pelukannya.
Aku hancur. Aku tak percaya lelaki yang ku perjuangkan selama ini di depan keluargaku, tega mengkhianatiku dengan cara yang sangat menjijikkan. Bagaimana menyampaikan ini kepada keluargaku?
-------

 #Terpaksa_Jodoh
PART 5

"Batalkan !"
Suara ayah begitu tegas dan membahana di dalam kamarku yang mendadak ramai. Tak perlu waktu lama untuk mengumpulkan seluruh keluarga yang memang belum pulang. Sekar histeris, lalu ayah, ibu, paman, bibi, tante dan beberapa sepupu datang ke kamarku.
Aku tak mampu berkata, ku tunjukkan gawai Satria yang masih terbuka di tanganku. Pada ibu, yang sudah mengambil alih diriku dari Sekar. Wajah ibu memerah, terlihat air mata seketika menggenang di sudut netranya. Dialihkan pada ayah yang masih kebingungan, lalu tak butuh waktu lama untuk ayah mengambil keputusan.


"Ta.. tapi yah, Mel yakin Satria hanya khilaf. Mel yakin Satria akan berubah setelah menikah," Terbata aku mencoba mengabaikan semua bukti yang telah ada. Aku mencintai Satria dan aku yakin Satria pun punya cinta yang sama padaku. Cinta akan merubah dirinya. Itu yang aku yakini saat ini.
"Tidak Mel ! Ayah tidak akan melepasmu untuk laki-laki yang sudah jelas tidak akan menjadi imam yang baik untukmu !"
"Tapi yah, Mel cinta..." Kalimatku terputus oleh perkataan ibu selanjutnya.
"Jangan menikah hanya karena cinta Mel, jika tidak ada akhlak yang menyertai, rumah tanggamu akan hancur. Sebelum terlambat, ibu mohon pernikahan kalian tidak usah diwujudkan," Aku menangis, bagaimana lagi aku bisa menyakinkan orangtuaku? Bagaimana bisa pernikahan yang tinggal selangkah lagi akan dibatalkan?

"Sekarang jujur pada ayah ! Sejauh mana hubungan kalian?! Jangan bilang kamu ngotot mempertahankan lelaki bajigan itu karena kalian sudah terlalu jauh?!"
"Astaghfirullah, Ayah ! Demi Allah Mel tidak pernah melewati batas selama berhubungan dengan Satria ! Mel masih menjaga milik Mel yang paling berharga, jika itu maksud ayah," Aku menangis makin kencang, rasanya sakit diragukan ayah seperti itu.

Satria memang tidak pernah kebablasan denganku. Aku bukan munafik, sentuhan fisik kami hanya sebatas hug and kiss. Namun tak pernah sekalipun Satria melakukan lebih dari itu. Hanya tak ku sangka, tak mendapat dariku, dia mencari pelampiasan pada wanita lain.
"Kalau begitu apa lagi yang harus dipertahankan?! Kau ingin tetap menikah tanpa restu ayah dan ibu?! Menikahlah, saat itu juga jangan pernah mengaku kami sebagai orangtuamu !"
Seketika aku hendak bersujud di kaki ayah, namun ibu menahanku, membantuku berdiri. Terisak, aku tergugu menjawab ayah,
"Mel tidak akan menikah tanpa restu ayah dan ibu. Mel menurut ayah, Mel tidak akan menikah dengan Satria," Berat keputusan itu ku ucapkan. Namun tidak mungkin aku menentang perkataan ayah, ayah tidak pernah main-main dengan perkataannya.

*****

Aku mengurung diri di kamar. Kamarku tak ku kunci, aku tahu ibu, Sekar, bibi Ayub bergantian melihatku. Bibi Hani dan tante Yuli sudah berpamitan, rumah mereka cukup jauh dari daerah tempat tinggalku. Bibi Ayub yang paling dekat, memilih menemani ibu dulu.

Aku masih terisak, membayangkan saat-saat bersama Satria dulu. Sama sekali tak terlihat bahwa dia seorang lelaki hidung belang. Dia selalu membuatku tersenyum bahkan tertawa terbahak-bahak saat bersama. Kejutan-kejutan romantis tak jarang diberikannya padaku. Hadiah-hadiah darinya menempati satu rak khusus di kamarku. Memandangnya kini membuat hatiku perih.
Ku peluk erat boneka kucing pemberiannya, salah satu yang paling ku sayangi. Aku alergi bulu kucing, namun sangat menyukai hewan tersebut. Satria memberikan boneka berukuran balita dua tahun ini saat anniversary jadian kami di tahun kedua. Berapa lama waktu yang ku perlukan untuk menghapus kenangan empat tahun ini.

Mataku terbuka, saat lamat-lamat ku dengar suara ayah dari depan. Nada suaranya agak tinggi, aku beranjak dari tempat tidurku. Aku melangkah keluar kamar tanpa mengecek penampilanku di cermin dahulu.
"Sekarang kamu pulang ! Bilang pada keluargamu, pernikahan kalian tidak akan terlaksana ! Besok saya sendiri yang akan mengembalikan lamaran kalian, bawa handphonemu, sekarang pergi dari rumah saya !"
"Tapi pak, apa salah saya? Kenapa tiba-tiba membatalkan rencana pernikahan kami? Saya sangat mencintai Mel ! Bukankah tadi pagi semua baik-baik saja?! Ada apa ini?!" Satria ikut meninggikan suaranya.

Ibu menahanku keluar, aku hanya boleh mengintip dari balik sekat yang memisahkan ruang tamu dan ruang keluarga. Terlihat ayah dan Satria sudah berhadapan. Paman Firman, suami bibi Ayub, memegang bahu ayah, mungkin berusaha menenangkan.
"Saya sudah baca semua yang ada di handphone kamu ! Tak akan saya melepaskan Meylani pada lelaki seperti kamu ! Besok saya selesaikan di rumah kamu. Sekarang pulang, jangan temui Meylani lagi !"
Terlihat pias wajah Satria. Lalu terdengar dia berkata,

"Boleh saya bertemu Meylani? Untuk terakhir kali?" Nada suaranya melemah, tak setinggi yang tadi.
Paman Firman membisikkan sesuatu pada ayah, entah apa. Namun kemudian ayah memanggilku. Aku berjalan ke ruang tamu menemui beliau. Tak sanggup aku memandang Satria. Rasanya pandangannya mengulitiku. Entah kenapa, ada perasaan bersalah yang bergelenyar di dalam dada.
"Disini saja. Saya tinggalkan kalian. Selesaikan baik-baik," Mereka berlalu, menuju ruanh tengah.
Kini tinggal aku dan Satria. Satria menghempaskan dirinya ke sofa ruang tamuku.
"Duduk," Aku menuruti perkataannya. Mengambil tempat di sebelahnya, tetap tak berani mengangkat wajah.

"Kenapa tak memandangku? Baru menyesal sekarang? Bukankah sudah ku bilang, jangan buka ponselku. Sekarang kita terancam tak bisa menikah. Ini semua karena kamu terlalu ingin tahu," Aku mendongak, tak percaya perkataannya. Ku pikir dia juga akan merasa bersalah, ternyata hanya aku pihak yang disalahkan.
"Salahkah aku ingin tahu tentang calon suamiku? Empat tahun yank, dan baru ini aku tahu kamu seperti itu di belakangku. Aku menjaga baik-baik cintaku padamu, namun kamu membagi, bahkan mengkhianatiku dengan caramu yang sangat....," Aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku, air mata yang tadi sempat berhenti, kembali mengalir, tapi Satria semakin dingin menatapku. Apa yang terjadi? Secepat ini dia berubah?

"Aku lelaki dewasa normal Mel. Kenapa kamu tidak mengerti? Aku menjagamu, benar-benar menjagamu. Karena kamu satu-satunya yang ingin aku nikahi, aku serius denganmu. Aku tulus mencintaimu, karena itu aku tak ingin merusakmu, dengan menyentuhmu sebelum pernikahan kita. Tapi kenapa kamu harus melanggar perintahku? Lalu kalaupun kamu sudah tahu, kenapa harus kamu bilang ke orangtuamu tentang hal ini? Bagaimana nanti setelah menikah, akankah kamu memberitahukan setiap permasalahan kita pada orangtuamu? Kau anggap aku ini apa?" Satria terus mencecarku, aku terdiam.
Tangisku berhenti. Kenapa aku yang disalahkan? Bukankah dia juga salah, telah bermain dengan wanita lain di belakangku? Tiba-tiba aku menyadari, benar, aku dibutakan oleh cinta. Sehingga kini baru ku sadari lelaki di depanku hanyalah seorang bajingan.

"Kalau kamu memang mencintaiku, kenapa harus ada wanita lain yang menemani malam-malammu?? Ayu ! Bahkan tadi malam kau masih bersamanya ! Apa yang kalian lakukan semalam, ha?!" Suaraku meninggi, namun tetap dalam bisikan. Aku tak ingin ayah keluar sekarang. Aku tahu mereka masih memantau dari ruang sebelah.
"Ayu hanya hiburan Mel. Dia bahkan sudah menemaniku jauh sebelum aku bersamamu. Dia butuh uang untuk adiknya yang sakit kanker, aku hanya membantunya. Mengertilah Mel, itu tak akan berlanjut sampai kita menikah. Aku akan berhenti menemuinya jika kau minta sekarang," Satria meraih tanganku, tapi aku segera menepisnya.

"Membantu?! Tapi kau juga menikmati setiap malam bersamanya ! Aku tak percaya kamu lagi Satria. Sekarang ku mohon pergi dari sini, jangan temui aku lagi. Aku menyesal sempat memilihmu sebagai pasangan hidupku," Satria berdiri, wajahnya memerah.
"Kamu jangan main-main denganku Mel, kita harus menikah ! Tak mungkin jika dibatalkan ! Apa kata mamaku nanti? Penyakit jantungnya ! Tidakkah kau berpikir sampai kesana ?!"
Tangannya menghentak tanganku hingga aku terpaksa berdiri. Aku yang kaget, tak lagi merendahkan suara, aku benar-benar tidak mengenal lagi laki-laki di depanku ini. Bukan Satria yang ini yang ku kenal. Kemana sikap lembut, penyayangnya?

"Harusnya kau yang berpikir, sebelum bertindak seperti itu ! Kau yang tak punya hati Sat, kau tahu betapa aku hancur saat mengetahui kebusukanmu?!" Aku berteriak, memukul setiap bagian tubuhnya yang bisa ku jangkau, dengan satu tangan yang masih bebas dari cekalannya.
Tiba-tiba ayah menarikku, ibu memelukku kemudian. Aku tak tahu apa yang ayah katakan, dan apa yang Satria katakan ke ayah. Satria pergi dengan teriakan, makian. Kepalaku pusing, ibu dan bibi Ayub menuntunku ke kamar kemudian.

*****

Esoknya ayah dan paman Firman ke rumah Satria, menyelesaikan antar orang tua. Dita bertandang ke rumahku, kebetulan hari ini hari Minggu.
Dia ikut marah mendengar penyebab aku gagal menikah dengan Satria. Sekar dan Dita bergantian menghujat Satria. Aku sudah bisa menerima keadaan. Semalaman ditemani ibu dan Sekar, membuat hatiku sedikit ringan. Aku hanya kehilangan calon suami busuk, tapi aku punya keluarga terhangat yang pernah ada.

Hanya ayah yang kelihatannya belum menerima. Perasaan terhina mungkin masih dirasakannya. Ayah punya harga diri yang tinggi, sedikit perkataan orang akan membuatnya uring-uringan, lalu kepikiran. Bahkan saat hari sudah berganti bulan, ayah masih terlihat murung. Sampai pada suatu sore, ayah jatuh pingsan. Dibantu tetangga, kami segera membawa beliau ke RS terdekat.
Tensinya tinggi, gula darahnya naik. Karena itu ayah pingsan. Dokter menganjurkan agar ayah tidak banyak pikiran dulu. Aku, ibu dan Sekar berpandangan. Kami tahu apa yang dipikirkan ayah saat ini.
"Ayah malu Mel, semua orang menggunjing keluarga kita. Anak gadis ayah gagal menikah karena ditinggal calonnya, semua mengatakan begitu. Padahal mereka tahunya bulan depan kamu akan menikah. Ditaruh mana muka ayah Mel," Ayah menghela nafas panjang setelah mengatakan hal itu. Aku tak tahu mesti menjawab apa. Ibu hanya mengangkat bahu.

"Lalu Mel harus bagaimana yah? Mel harus tetap menikah bulan depan gitu? Sama siapa coba?" Memang calon suami disediakan di T*kped apa, tinggal klik terus muncul diantar kurir, pikirku dalam hati, tapi tak ku utarakan pada ayah.
"Ya menikah kalau bisa Mel. Biar tidak malu sama tetangga. Masa anak pak Sugandi batal nikah? Masa kamu ga punya calon lain Mel?" Aku meringis, melirik ibu yang menahan tawa. Ayah kadang bisa sangat lucu.

Tiba-tiba pintu diketuk, muncul Sekar dari balik pintu, disusul Dita di belakangnya. Sosok terakhir yang muncul di belakang Dita, membuatku terlonjak kaget. Aku bahkan lupa ada makhluk itu di muka bumi ini, banyak hal yang lebih penting menghilangkan eksistensinya di dalam pikiranku.
"Wah panjang umur ! Baru saja diomongin, mungkin memang jodoh ya," Ayah sumrigah, tersenyum lebar pada sosok yang mendekat sambil membawa sekantung berisi entah apa.
Sosok itu mendekat dan mencium tangan ayah, yang diterima dengan senang hati oleh ayah. Menoleh padaku dan tersenyum ramah,
"Apa kabar Mel?" Riandika Pangestu, sang bucin alay, dengan tangan diulurkan padaku, menanti jabat tanganku.

----------

next

Tidak ada komentar:

Posting Komentar