#AKU BENCI ISTRIKU
Part 16
By:KB, Kadariah Burhan
Suara angin, deru ombak yang pecah menerpa karang, suasana romantis di bibir pantai, wajah Airin yang menengadah padaku, senyumnya, pelukannya, membekas dalam ingatan. Kudekap diriku sendiri, duduk, berdiri, melirik arloji, meremas rambut dan bersandar di dinding. Gelisah membungkus lara ku dalam pekat. Risau Ku tak terbendung, belahan jiwaku menderita tak terperi, ingin mengambil rasa sakitnya dan memindahkannya padaku, tapi semua hasrat itu tumpah dalam deru luka disudut hati.
Observasi team dokter/Psikiater di RS terhadap Airin membuat waktu berputar semakin lambat.
Rasanya saat ini bukan hanya Airin yang drop mental, aku sebagai suaminya mulai terhanyut kedasar sumur gelap dan dalam. Seakan ada tangan yang menarik masuk dan tenggelam dalam kesedihan paling dalam.
Air mata tidak akan menyembuhkan istriku, tapi air mata ini tetap merembes di pipi, tidak mampu ku tahan, aku takut sesuatu yang buruk menimpanya.
Penderitaannya sungguh mengoyak jiwa.
Papa dan Mama mertua datang dan bergegas mendekatiku, bisa kulihat air muka mereka tidak seperti dulu lagi. Papa malah datang merengkuhku dan terhanyut dalam kesedihan yang sama.
Papa yang selama ini arogan, angkuh dan membenci kesederhanaan ku telah menjelma dengan sikap yang hangat.
"Maafkan Papa Zal, Papa tidak mampu membayangkan seberat apa kamu dan Airin melalui semua ini." ucapnya lemah. Aku membalas ucapan papa dengan pelukan hangat.
Sementara kulihat mama hanya duduk diam di kursi tunggu.
"Bagaimana kondisi mama setelah tau semua ini," tanyaku khawatir
Papa tertunduk menekuri lantai tempat kami berdiri.
"Sempat shock tapi sudah tenang, Papa menyampaikan secara perlahan, cuma saat memperingatkan Airin Papa tidak menyangka bahwa kamu belum memberi tahu dia. Papa gegabah." sesal papa, ada bening air mata disudut matanya. Aku terdiam. Hanya tanganku yang menepuk lembut pundaknya.
"Zal, Papa mau kamu dan Airin mengelola perusahaan Papa," papa menatapku penuh harap.
"Maaf Pa, saya pribadi lebih nyaman bekerja di tempat sekarang, sesuai dengan bidang keilmuan yang Faizal punya. Rasanya bahagia Pa, bekerja di bidang yang pas," sahutku dengan nada pelan, aku tidak ingin beliau tersinggung dengan penolakan ku.
Papa mengangguk dan menepuk pundak ku.
"Ngga apa Zal kalau itu memang kemauanmu, hanya saja mungkin setelah Airin sembuh dia bisa membantu Papa."
ucap papa sambil berkali-kali menoleh pada Mama yang mulai gelisah.
Kami sedang membahas berbagai hal ketika Dokter memanggilku masuk ke ruangan.
"Pak Faizal, di minta ke ruangan Dr, Santoso." Seorang perawat memanggilku.
Aku segera berdiri dan mengajak papa dan mama ikut serta.
Dr. Santoso mempersilahkan kami duduk, papa dan mama nampak sangat tegang.
"Faizal, dan orang tua Airin, saya ingin menyampaikan bahwa Airin mengalami keadaan tidak mampu menerima kenyataan, bahwa orang yang sangat dipercayainya, sangat dekat dengannya adalah orang yang menyakitinya," sejenak psikiater Airin menghela nafas berat.
"Adalah tugas dan kewajiban orang yang dekat dengannya untuk membuat dia bisa menerima kenyataan secara perlahan, bantu dia untuk tidak menyalahkan diri sendiri atas apa yang menimpanya, bahwa pemerk*** itu murni kesalahan pelaku. Dan yang paling penting Pak Faizal, berikan dia keyakinan untuk memaafkan dirinya sendiri karena tidak mampu mempersembahkan kesuciannya kepada suami yang sangat di cintainya."
Dokter Santoso menatapku dalam-dalam, mencari kesungguhan di dalam relung jiwaku.
"Saya tidak pernah mempermasalahkan itu Dok,"
"Kalau begitu buat dia lebih yakin," aku mengangguk.
"Orang tua Airin, tolong dukung pasangan ini dengan segala cara, secara moril dan kasih sayang tulus, itu sangat penting buat mereka, karena bukan tidak mungkin Pak Faizal ikut larut dalam kondisi istrinya."
Papa dan mama mengiyakan, tampak wajah mama sangat sedih. Keduanya menatapku iba.
******************************************
"Mas, ngga penasaran dengan apa yang aku dan Airin bicarakan," tanya Sofie saat duduk di hadapan ku menunggu laporannya ku tanda tangani.
Aku mengangkat wajahku dan menatap Sofie.
"Apakah ada yang penting yang kalian bicarakan Sofie?"
"Airin menanyakan apakah aku tulus mencintai Mas,"
Aku tertegun mendengar kata-kata Sofie.
"Apa jawabanmu," tanyaku
"Aku bilang iya, aku mencintai Mas."
Aku meletakkan bolpoinku di meja dan mengelilingi meja mendekati Sofie.
"Kamu sudah gila? aku lelaki beristri! dan aku sangat mencintai Airin."
"Airin menginginkan aku jadi istri keduamu, dia bilang dia sakit, dia butuh aku ...."
"Walaupun bumi ini menelanku bersama dia, aku lebih rela dari pada menghianati dia. Kamu tidak akan pernah bisa berada diantara aku dan Airin, maafkan aku Sofie,"
"Bukan aku yang mau Mas, aku rela cintaku bertepuk sebelah tangan, tapi Airin yang memintaku," Sofie menatapku tajam dengan ekspresi marah.
"Lihat baik-baik lelaki dihadapanmu ini, aku cuma lelaki biasa, bukan lelaki istimewa, apa kamu pikir bisa bahagia dengan menikahiku,"
"Aku pasti bahagia Mas, kamu lelaki baik, setia dan penuh cinta ...."
"Iya aku setia dan penuh cinta tapi itu untuk Airin dan bukan untuk wanita manapun dimuka bumi ini," jawabku datar.
Permbicaraanku dan Sofie terputus, gawaiku berdering, dari Papa.
"Zal, Airin sadar, dia hanya mencari kamu sejak membuka matanya." suara papa terdengar sangat gembira.
"Baik Pa, aku segera ke RS," ku tutup pembicaraan dengan papa, dan aku meninggalkan Sofie sendirian di ruanganku. Sekilas dapat kulihat airmata menggenangi pipinya.
Tidak ada rasa sakit di dadaku saat melihat air mata itu, tidak seperti saat ku melihat air mata Airin.
********************************************
POV RADO
************
Aku hanya bisa melihat Airin dari jauh, ku lihat dia sudah sadar dan mencari Faizal, mereka berpelukan erat saling menguatkan, Faizal sangat tulus mencintai Airin, melihat semua itu aku tersadar, betapa jahatnya apa yang kulakukan pada wanita yang sangat ku cintai, bukan saja menodainya, aku juga menciptakan trauma berkepanjangan di hidupnya. Aku ingin menemui dia sebelum aku selamanya meninggalkan Indonesia, tapi rasa malu dan hina ini menahan langkah kakiku menuju kepadanya.
"Maafkan aku Airin, setelah semuanya terbongkar, aku tidak mungkin lagi menemuimu, rasa cintaku telah sangat menyakitimu. Aku pergi Airin, semoga keajaiban cinta Faizal bisa menyembuhkanmu, dia lelaki baik bahkan sangat baik, kamu beruntung memilikinya," gumamku lirih.
Walaupun Om dan Faizal tidak melaporkanku kepolisi karena dengan membuka kasus ini Airin akan semakin tertekan mentalnya. Sepertinya Om dan Faizal tidak ingin mengambil resiko itu. Tapi hukuman rasa bersalah dan berdosa adalah hukuman paling berat sepanjang sisa hidupku.Selamat tinggal cintaku, Airin. Semoga kamu bisa mengampuniku.
Tidak ada seorangpun yang mengenaliku dengan penyamaranku, bahkan Faizal yang berselisihan denganku tidak menyadari. Kulangkahkan kaki meninggalkan RS, dalam hitungan jam aku akan meninggalkan Indonesia, meninggalkan Airin selamanya. Sebulir air mata jatuh di sudut mataku, menggenang hingga terisak. Selesai sudah mimpiku untuk merengkuh Airin dalam hidupku.
********************************************
Seminggu setelah Airin pulang kerumah kondisinya mulai membaik. Perlahan dia mulai bisa menerima kenyataan siapa ayah biologis Naya.
Kehidupan kami mulai membaik walaupun ranjang kami masih tetap dingin, aku tidak perduli. Waktu yang akan membuatnya kembali membara.
"Mas ingat ngga waktu di pantai ada yang ingin ku omongin tapi tertunda karena telepon Papa," Airin menyentuh rambutku sambil memandang wajahku. Kami berbaring saling berhadapan.
"Iya sayang, apa itu,"
"Aku mau mas menikahi Sofie, jadi aku akan tetap dan selalu jadi istri mu Mas, aku ngga yakin HSDD yang membekukan mahligai cinta kita ini akan segera mencair. Sepertinya ...."
"Lihat suami mu ini Airin, apa kamu pikir Mas mampu menduakan kamu di hidup ini? sementara kamu tahu pasti seluruh jiwaku sudah dipenuhi olehmu, tolong sayang, hargai kesetiaan Mas pada cinta kita."
"Aku tidak sedikit pun meragukan kesetiaan dan ketulusan Mas, dan justru karena itu aku rela berbagi dengan wanita yang ku percaya, aku ngga sanggup menyiksamu lagi mas, kamu berhak bahagia,"
Aku beranjak duduk dan Airin ikut duduk, ku tangkup wajahnya.
"Apa kamu lihat aku tersiksa? dulu saat aku belum tahu traumamu, aku memang tersiksa tapi sekarang tidak lagi, cukup dengan memelukmu, menciummu, itu sudah membahagiakanku sayang."
"Mas tetap bisa memeluk dan menciumku, kapanpun, karena aku tetap istrimu."
"Aku ngga bersedia Rin,"
"Kalau begitu ceraikan aku Mas, lebih baik kita berpisah, daripada ...."
"Hentikan Rin, jangan gila kamu!" bentakku emosi. Aku berdiri meninggalkannya tapi Airin menarikku hingga terjatuh dalam pelukannya.
"Aku akan mencoba membuatmu memahami maksudku Mas," Airin mencium bibirku dengan gairah yang tidak mampu kugambarkan, disentuhnya tiap jengkal diriku, aku terlarut dan membalas semuanya, tubuhku memanas seakan terbakar. Tapi kemudian dia mendorongku. Memotong hasratku yang sudah membuncah. Airin menatapku sedih.
"Ini yang kumaksud sayang, aku tidak mampu melanjutkannya, entah sampai kapan? karena ini aku ikhlas membagi cintamu dengan wanita lain, jangan membuatku merasa bersalah Mas, terlalu lama kamu menahan dirimu, kamu lelaki normal, aku tahu sebesar apa keinginanmu menyentuhku, tapi cuma seperti ini kesanggupanku,"
Kuraih Airin dalam dekapanku. Hatiku hancur berkeping. Tuhan, izinkan kami bersama tanpa harus ada wanita lain dihidup kami, beri keajaibanmu agar kami bisa bahagia, aku tidak inginkan siapapun dihidup ini, aku hanya inginkan Airin satu-satunya di hidupku.
END
Sampit, 14 Januari 2020
Readers, cerita ini selesai di KBM dan akan lanjut Ekstra Part di Novel dengan judul yang sama.
"Aku Benci Istriku "
Karya: Kadariah Burhan
Diterbitkan oleh Magenta Biru V
(Proses)
Maafkan author karena tidak mampu menolak mengabadikan karya sederhana ini menjadi novel.
Terima kasih sebesar-besarnya atas apresiasi kalian semua.
Thanks buat Pak Isa alamsah yg meloloskan postingan saya
I love you All
Part 16
By:KB, Kadariah Burhan
Suara angin, deru ombak yang pecah menerpa karang, suasana romantis di bibir pantai, wajah Airin yang menengadah padaku, senyumnya, pelukannya, membekas dalam ingatan. Kudekap diriku sendiri, duduk, berdiri, melirik arloji, meremas rambut dan bersandar di dinding. Gelisah membungkus lara ku dalam pekat. Risau Ku tak terbendung, belahan jiwaku menderita tak terperi, ingin mengambil rasa sakitnya dan memindahkannya padaku, tapi semua hasrat itu tumpah dalam deru luka disudut hati.
Observasi team dokter/Psikiater di RS terhadap Airin membuat waktu berputar semakin lambat.
Rasanya saat ini bukan hanya Airin yang drop mental, aku sebagai suaminya mulai terhanyut kedasar sumur gelap dan dalam. Seakan ada tangan yang menarik masuk dan tenggelam dalam kesedihan paling dalam.
Air mata tidak akan menyembuhkan istriku, tapi air mata ini tetap merembes di pipi, tidak mampu ku tahan, aku takut sesuatu yang buruk menimpanya.
Penderitaannya sungguh mengoyak jiwa.
Papa dan Mama mertua datang dan bergegas mendekatiku, bisa kulihat air muka mereka tidak seperti dulu lagi. Papa malah datang merengkuhku dan terhanyut dalam kesedihan yang sama.
Papa yang selama ini arogan, angkuh dan membenci kesederhanaan ku telah menjelma dengan sikap yang hangat.
"Maafkan Papa Zal, Papa tidak mampu membayangkan seberat apa kamu dan Airin melalui semua ini." ucapnya lemah. Aku membalas ucapan papa dengan pelukan hangat.
Sementara kulihat mama hanya duduk diam di kursi tunggu.
"Bagaimana kondisi mama setelah tau semua ini," tanyaku khawatir
Papa tertunduk menekuri lantai tempat kami berdiri.
"Sempat shock tapi sudah tenang, Papa menyampaikan secara perlahan, cuma saat memperingatkan Airin Papa tidak menyangka bahwa kamu belum memberi tahu dia. Papa gegabah." sesal papa, ada bening air mata disudut matanya. Aku terdiam. Hanya tanganku yang menepuk lembut pundaknya.
"Zal, Papa mau kamu dan Airin mengelola perusahaan Papa," papa menatapku penuh harap.
"Maaf Pa, saya pribadi lebih nyaman bekerja di tempat sekarang, sesuai dengan bidang keilmuan yang Faizal punya. Rasanya bahagia Pa, bekerja di bidang yang pas," sahutku dengan nada pelan, aku tidak ingin beliau tersinggung dengan penolakan ku.
Papa mengangguk dan menepuk pundak ku.
"Ngga apa Zal kalau itu memang kemauanmu, hanya saja mungkin setelah Airin sembuh dia bisa membantu Papa."
ucap papa sambil berkali-kali menoleh pada Mama yang mulai gelisah.
Kami sedang membahas berbagai hal ketika Dokter memanggilku masuk ke ruangan.
"Pak Faizal, di minta ke ruangan Dr, Santoso." Seorang perawat memanggilku.
Aku segera berdiri dan mengajak papa dan mama ikut serta.
Dr. Santoso mempersilahkan kami duduk, papa dan mama nampak sangat tegang.
"Faizal, dan orang tua Airin, saya ingin menyampaikan bahwa Airin mengalami keadaan tidak mampu menerima kenyataan, bahwa orang yang sangat dipercayainya, sangat dekat dengannya adalah orang yang menyakitinya," sejenak psikiater Airin menghela nafas berat.
"Adalah tugas dan kewajiban orang yang dekat dengannya untuk membuat dia bisa menerima kenyataan secara perlahan, bantu dia untuk tidak menyalahkan diri sendiri atas apa yang menimpanya, bahwa pemerk*** itu murni kesalahan pelaku. Dan yang paling penting Pak Faizal, berikan dia keyakinan untuk memaafkan dirinya sendiri karena tidak mampu mempersembahkan kesuciannya kepada suami yang sangat di cintainya."
Dokter Santoso menatapku dalam-dalam, mencari kesungguhan di dalam relung jiwaku.
"Saya tidak pernah mempermasalahkan itu Dok,"
"Kalau begitu buat dia lebih yakin," aku mengangguk.
"Orang tua Airin, tolong dukung pasangan ini dengan segala cara, secara moril dan kasih sayang tulus, itu sangat penting buat mereka, karena bukan tidak mungkin Pak Faizal ikut larut dalam kondisi istrinya."
Papa dan mama mengiyakan, tampak wajah mama sangat sedih. Keduanya menatapku iba.
******************************************
"Mas, ngga penasaran dengan apa yang aku dan Airin bicarakan," tanya Sofie saat duduk di hadapan ku menunggu laporannya ku tanda tangani.
Aku mengangkat wajahku dan menatap Sofie.
"Apakah ada yang penting yang kalian bicarakan Sofie?"
"Airin menanyakan apakah aku tulus mencintai Mas,"
Aku tertegun mendengar kata-kata Sofie.
"Apa jawabanmu," tanyaku
"Aku bilang iya, aku mencintai Mas."
Aku meletakkan bolpoinku di meja dan mengelilingi meja mendekati Sofie.
"Kamu sudah gila? aku lelaki beristri! dan aku sangat mencintai Airin."
"Airin menginginkan aku jadi istri keduamu, dia bilang dia sakit, dia butuh aku ...."
"Walaupun bumi ini menelanku bersama dia, aku lebih rela dari pada menghianati dia. Kamu tidak akan pernah bisa berada diantara aku dan Airin, maafkan aku Sofie,"
"Bukan aku yang mau Mas, aku rela cintaku bertepuk sebelah tangan, tapi Airin yang memintaku," Sofie menatapku tajam dengan ekspresi marah.
"Lihat baik-baik lelaki dihadapanmu ini, aku cuma lelaki biasa, bukan lelaki istimewa, apa kamu pikir bisa bahagia dengan menikahiku,"
"Aku pasti bahagia Mas, kamu lelaki baik, setia dan penuh cinta ...."
"Iya aku setia dan penuh cinta tapi itu untuk Airin dan bukan untuk wanita manapun dimuka bumi ini," jawabku datar.
Permbicaraanku dan Sofie terputus, gawaiku berdering, dari Papa.
"Zal, Airin sadar, dia hanya mencari kamu sejak membuka matanya." suara papa terdengar sangat gembira.
"Baik Pa, aku segera ke RS," ku tutup pembicaraan dengan papa, dan aku meninggalkan Sofie sendirian di ruanganku. Sekilas dapat kulihat airmata menggenangi pipinya.
Tidak ada rasa sakit di dadaku saat melihat air mata itu, tidak seperti saat ku melihat air mata Airin.
********************************************
POV RADO
************
Aku hanya bisa melihat Airin dari jauh, ku lihat dia sudah sadar dan mencari Faizal, mereka berpelukan erat saling menguatkan, Faizal sangat tulus mencintai Airin, melihat semua itu aku tersadar, betapa jahatnya apa yang kulakukan pada wanita yang sangat ku cintai, bukan saja menodainya, aku juga menciptakan trauma berkepanjangan di hidupnya. Aku ingin menemui dia sebelum aku selamanya meninggalkan Indonesia, tapi rasa malu dan hina ini menahan langkah kakiku menuju kepadanya.
"Maafkan aku Airin, setelah semuanya terbongkar, aku tidak mungkin lagi menemuimu, rasa cintaku telah sangat menyakitimu. Aku pergi Airin, semoga keajaiban cinta Faizal bisa menyembuhkanmu, dia lelaki baik bahkan sangat baik, kamu beruntung memilikinya," gumamku lirih.
Walaupun Om dan Faizal tidak melaporkanku kepolisi karena dengan membuka kasus ini Airin akan semakin tertekan mentalnya. Sepertinya Om dan Faizal tidak ingin mengambil resiko itu. Tapi hukuman rasa bersalah dan berdosa adalah hukuman paling berat sepanjang sisa hidupku.Selamat tinggal cintaku, Airin. Semoga kamu bisa mengampuniku.
Tidak ada seorangpun yang mengenaliku dengan penyamaranku, bahkan Faizal yang berselisihan denganku tidak menyadari. Kulangkahkan kaki meninggalkan RS, dalam hitungan jam aku akan meninggalkan Indonesia, meninggalkan Airin selamanya. Sebulir air mata jatuh di sudut mataku, menggenang hingga terisak. Selesai sudah mimpiku untuk merengkuh Airin dalam hidupku.
********************************************
Seminggu setelah Airin pulang kerumah kondisinya mulai membaik. Perlahan dia mulai bisa menerima kenyataan siapa ayah biologis Naya.
Kehidupan kami mulai membaik walaupun ranjang kami masih tetap dingin, aku tidak perduli. Waktu yang akan membuatnya kembali membara.
"Mas ingat ngga waktu di pantai ada yang ingin ku omongin tapi tertunda karena telepon Papa," Airin menyentuh rambutku sambil memandang wajahku. Kami berbaring saling berhadapan.
"Iya sayang, apa itu,"
"Aku mau mas menikahi Sofie, jadi aku akan tetap dan selalu jadi istri mu Mas, aku ngga yakin HSDD yang membekukan mahligai cinta kita ini akan segera mencair. Sepertinya ...."
"Lihat suami mu ini Airin, apa kamu pikir Mas mampu menduakan kamu di hidup ini? sementara kamu tahu pasti seluruh jiwaku sudah dipenuhi olehmu, tolong sayang, hargai kesetiaan Mas pada cinta kita."
"Aku tidak sedikit pun meragukan kesetiaan dan ketulusan Mas, dan justru karena itu aku rela berbagi dengan wanita yang ku percaya, aku ngga sanggup menyiksamu lagi mas, kamu berhak bahagia,"
Aku beranjak duduk dan Airin ikut duduk, ku tangkup wajahnya.
"Apa kamu lihat aku tersiksa? dulu saat aku belum tahu traumamu, aku memang tersiksa tapi sekarang tidak lagi, cukup dengan memelukmu, menciummu, itu sudah membahagiakanku sayang."
"Mas tetap bisa memeluk dan menciumku, kapanpun, karena aku tetap istrimu."
"Aku ngga bersedia Rin,"
"Kalau begitu ceraikan aku Mas, lebih baik kita berpisah, daripada ...."
"Hentikan Rin, jangan gila kamu!" bentakku emosi. Aku berdiri meninggalkannya tapi Airin menarikku hingga terjatuh dalam pelukannya.
"Aku akan mencoba membuatmu memahami maksudku Mas," Airin mencium bibirku dengan gairah yang tidak mampu kugambarkan, disentuhnya tiap jengkal diriku, aku terlarut dan membalas semuanya, tubuhku memanas seakan terbakar. Tapi kemudian dia mendorongku. Memotong hasratku yang sudah membuncah. Airin menatapku sedih.
"Ini yang kumaksud sayang, aku tidak mampu melanjutkannya, entah sampai kapan? karena ini aku ikhlas membagi cintamu dengan wanita lain, jangan membuatku merasa bersalah Mas, terlalu lama kamu menahan dirimu, kamu lelaki normal, aku tahu sebesar apa keinginanmu menyentuhku, tapi cuma seperti ini kesanggupanku,"
Kuraih Airin dalam dekapanku. Hatiku hancur berkeping. Tuhan, izinkan kami bersama tanpa harus ada wanita lain dihidup kami, beri keajaibanmu agar kami bisa bahagia, aku tidak inginkan siapapun dihidup ini, aku hanya inginkan Airin satu-satunya di hidupku.
END
Sampit, 14 Januari 2020
Readers, cerita ini selesai di KBM dan akan lanjut Ekstra Part di Novel dengan judul yang sama.
"Aku Benci Istriku "
Karya: Kadariah Burhan
Diterbitkan oleh Magenta Biru V
(Proses)
Maafkan author karena tidak mampu menolak mengabadikan karya sederhana ini menjadi novel.
Terima kasih sebesar-besarnya atas apresiasi kalian semua.
Thanks buat Pak Isa alamsah yg meloloskan postingan saya
I love you All
#AKU BENCI ISTRIKU
(Ekstra Part)
By:KB
Aku seperti kesepian di dalam keramaian, meskipun semua rekan kerja begitu riuh di sekitarku, sebelum makan malam perusahaan berakhir, aku beranjak pergi.
"Lho Pak Faizal, kenapa pergi duluan, masih seru ini." tegur CEO sambil ikut berdiri.
"Maaf ya Pak, saya harus duluan ada yang penting yang harus saya kerjakan,"
pamitku sopan.
Kami berjabat tangan dan aku segera berlalu setelah serangkaian basa-basi.
"Mas tunggu."
suara Sofie memanggilku di area parkir.
Masih dengan sorot mata penuh cinta itu.
"Aku memilih pindah ke cabang di Singapore Mas, rasanya ngga mampu setiap hari melihatmu, hatiku seperti mau pecah, berat buatku mencintaimu." Sofie tertunduk dihadapanku.
"Terima kasih Sofie, atas pengertianmu, nanti akan tiba saat dimana cintamu yang sesungguhnya akan datang." hiburku. Sofie mendekatiku dan mencium sekilas pipiku.
"Aku pamit Mas, mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi dalam waktu yang sangat lama.
Aku mengangguk dan berpisah di area parkir itu, berpisah dan memilih jalan masing-masing.
Airin terpaku bisu mendengar Sofie pergi ke Singapore.
"Aku merasa bersalah mas," ucapnya lirih.
"Itu sudah keputusan tepat, lagipula dia memang memerlukan pengalaman lebih, dia programmer handal Rin, di sana dia akan banyak belajar." Sahutku.
"Rin, ada baiknya kamu bantu Papa mengelola perusahaan, sedikit banyak setelah Mas Sandi berulah dengan mencurangi Papa pasti berdampak kurang sehat di perusahaan Papa. Papa butuh dukungan kamu,"
Airin terdiam sejenak, kemudian menoleh padaku.
"Berarti kita harus meninggalkan rumah ini Mas,"
"Ngga masalah 'kan, secepatnya kita pindah,"
"Kerumah lama kita?"
"Kamu mau?"
Airin mengangguk. Lega rasanya hatiku.
"Rin, makasih ya,"
"Untuk apa Mas?"
"Untuk bersedia menuruti nasehat Mas,"
Airin tersenyum sambil mendekatiku.
Melingkarkan kedua lengannya di leherku.
"Iya sayang, sudah seharusnya begitu," diciumnya pipiku mesra. Aku bahagia sekali.
"Maafin aku Mas, karena memaksamu menikah lagi,"
"Lupakan itu sayang, kita harus lebih fokus menjalani terapi penyembuhan, kita berdua, jangan berpikir untuk lari dari kenyataan, lari dari mas, kamu harus kuat hemz?" Airin mengangguk.
"Walaupun kita selalu berhenti saat foreplay?" Airin menggodaku dengan ekspresi wajahnya.
"Yah, walaupun harus begitu," sahutku lembut.
"Mas kuat?" godanya lagi.
"Ngga perlu di ragukan lagi, strong husband, mau bukti?" godaku. Kami saling menggoda, kuangkat Airin, membawanya menuju kamar. Yah walaupun nanti pasti terhenti ditengah jalan, tidak masalah, asalkan Airin tidak lagi minta cerai, atau menyuruhku menikah lagi.
Ketika sudah hampir sampai depan kamar, terdengar teriakan khas Naya.
"Papa, Mama koq gendong-gendongan, mama kan sudah besar, Naya dong yang digendong Pa," Naya menghambur kearah kami, terpaksa aku menurun kan Airin, kami bertukar pandang dan tertawa bersama-sama.
"Sini Papa gendong," Naya bersorak kegirangan
"Makasih Pa, Mama maaf ya, Papa lebih sayang Naya nih dari pada Mama," celotehnya. Aku dan Airin sama-sama tertawa bahagia.
*******************************************
Walaupun belum sembuh total, tapi Airin kembali menjadi wanita ceria, jabatannya sebagai salah satu direksi di perusahaan Papa membuat dia sedikit lebih sibuk. Namun tidak membawa dampak buruk pada kehidupan rumah tangga kami, terapi kami jalani bersama, selalu membawa kemajuan sedikit demi sedikit.
Hidup terasa mengalir indah buatku,
"Kenapa mataku ditutup sih sayang, ada suprise apa ya di rumah lama kita,"
Airin penasaran, aku hanya tersenyum
"Tenang sayang, kamu pasti suka,"
Setelah setengah jam perjalanan, mobilku berhenti, kubuka pintu mobil buat Airin, dan kugendong dia, Airin tertawa sambil memeluk leherku.
"Ini kalo dilihat Naya, bakalan cemburu pengen digendong juga,"
"Kali ini ngga sayang, pasti mas gendong sampai kamar," ucapku sambil mengecup keningnya.
Sampai di ruang tengah ku turunkan Airin, dia kembali memeluk leherku dan mencium bibirku penuh perasaan, aku berusaha berbicara tapi Airin semakin mendorongku dan memeluk erat leherku, ketika aku berhasil melepaskan dari ciumannya, aku berbisik,
"Nanti sayang, buka dulu matanya,"
"Supraise .... " dan Airin benar-benar terkejut, suasana rumah yang berbeda, rumah megah dengan nuansa pastel klasik, dan yang lebih supraise lagi di sana ada Mama dan Papaku, ada Mama dan Papa mertua, Kak Mira dan Mas Sandi, Airin benar-benar terkejut, wajahnya bersemu merah.
Dan semuanya tertawa sambil bertepuk tangan.
"Jadi pengen muda lagi kita," celetuk Papa mertua. Airin salah tingkah dan memukul bahuku.
Kami semua tertawa.
Aku menghadiahkan rumah megah ini buat istriku, dengan menjual rumah lamaku dan menambah dengan sedikit tabunganku, rumah impian Airin. Dekorasinya belum ditata, karena aku mau Airinlah yang menentukannya. Kuundang semua anggota keluarga untuk syukuran. Beberapa saat kemudian Naya dan Baby sitternya muncul, untung saja tidak sempat melihat adegan romantis kami.
***************************,****************
Walaupun Airin masih dalam proses penyembuhan, kehidupan kami lebih bahagia.
Cinta dan ketulusan kami pada pasangan telah menyelamatkan perahu kami yang hampir kehilangan arah.
Note:
Cinta adalah pelita ditengah kegelapan dan kekosongan.
Cinta adalah jalan pulang ketika tersesat.
Cinta adalah kesempurnaan rasa, yang hanya bisa rusak oleh penghianatan.
Tamat
(Ekstra Part)
By:KB
Aku seperti kesepian di dalam keramaian, meskipun semua rekan kerja begitu riuh di sekitarku, sebelum makan malam perusahaan berakhir, aku beranjak pergi.
"Lho Pak Faizal, kenapa pergi duluan, masih seru ini." tegur CEO sambil ikut berdiri.
"Maaf ya Pak, saya harus duluan ada yang penting yang harus saya kerjakan,"
pamitku sopan.
Kami berjabat tangan dan aku segera berlalu setelah serangkaian basa-basi.
"Mas tunggu."
suara Sofie memanggilku di area parkir.
Masih dengan sorot mata penuh cinta itu.
"Aku memilih pindah ke cabang di Singapore Mas, rasanya ngga mampu setiap hari melihatmu, hatiku seperti mau pecah, berat buatku mencintaimu." Sofie tertunduk dihadapanku.
"Terima kasih Sofie, atas pengertianmu, nanti akan tiba saat dimana cintamu yang sesungguhnya akan datang." hiburku. Sofie mendekatiku dan mencium sekilas pipiku.
"Aku pamit Mas, mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi dalam waktu yang sangat lama.
Aku mengangguk dan berpisah di area parkir itu, berpisah dan memilih jalan masing-masing.
Airin terpaku bisu mendengar Sofie pergi ke Singapore.
"Aku merasa bersalah mas," ucapnya lirih.
"Itu sudah keputusan tepat, lagipula dia memang memerlukan pengalaman lebih, dia programmer handal Rin, di sana dia akan banyak belajar." Sahutku.
"Rin, ada baiknya kamu bantu Papa mengelola perusahaan, sedikit banyak setelah Mas Sandi berulah dengan mencurangi Papa pasti berdampak kurang sehat di perusahaan Papa. Papa butuh dukungan kamu,"
Airin terdiam sejenak, kemudian menoleh padaku.
"Berarti kita harus meninggalkan rumah ini Mas,"
"Ngga masalah 'kan, secepatnya kita pindah,"
"Kerumah lama kita?"
"Kamu mau?"
Airin mengangguk. Lega rasanya hatiku.
"Rin, makasih ya,"
"Untuk apa Mas?"
"Untuk bersedia menuruti nasehat Mas,"
Airin tersenyum sambil mendekatiku.
Melingkarkan kedua lengannya di leherku.
"Iya sayang, sudah seharusnya begitu," diciumnya pipiku mesra. Aku bahagia sekali.
"Maafin aku Mas, karena memaksamu menikah lagi,"
"Lupakan itu sayang, kita harus lebih fokus menjalani terapi penyembuhan, kita berdua, jangan berpikir untuk lari dari kenyataan, lari dari mas, kamu harus kuat hemz?" Airin mengangguk.
"Walaupun kita selalu berhenti saat foreplay?" Airin menggodaku dengan ekspresi wajahnya.
"Yah, walaupun harus begitu," sahutku lembut.
"Mas kuat?" godanya lagi.
"Ngga perlu di ragukan lagi, strong husband, mau bukti?" godaku. Kami saling menggoda, kuangkat Airin, membawanya menuju kamar. Yah walaupun nanti pasti terhenti ditengah jalan, tidak masalah, asalkan Airin tidak lagi minta cerai, atau menyuruhku menikah lagi.
Ketika sudah hampir sampai depan kamar, terdengar teriakan khas Naya.
"Papa, Mama koq gendong-gendongan, mama kan sudah besar, Naya dong yang digendong Pa," Naya menghambur kearah kami, terpaksa aku menurun kan Airin, kami bertukar pandang dan tertawa bersama-sama.
"Sini Papa gendong," Naya bersorak kegirangan
"Makasih Pa, Mama maaf ya, Papa lebih sayang Naya nih dari pada Mama," celotehnya. Aku dan Airin sama-sama tertawa bahagia.
*******************************************
Walaupun belum sembuh total, tapi Airin kembali menjadi wanita ceria, jabatannya sebagai salah satu direksi di perusahaan Papa membuat dia sedikit lebih sibuk. Namun tidak membawa dampak buruk pada kehidupan rumah tangga kami, terapi kami jalani bersama, selalu membawa kemajuan sedikit demi sedikit.
Hidup terasa mengalir indah buatku,
"Kenapa mataku ditutup sih sayang, ada suprise apa ya di rumah lama kita,"
Airin penasaran, aku hanya tersenyum
"Tenang sayang, kamu pasti suka,"
Setelah setengah jam perjalanan, mobilku berhenti, kubuka pintu mobil buat Airin, dan kugendong dia, Airin tertawa sambil memeluk leherku.
"Ini kalo dilihat Naya, bakalan cemburu pengen digendong juga,"
"Kali ini ngga sayang, pasti mas gendong sampai kamar," ucapku sambil mengecup keningnya.
Sampai di ruang tengah ku turunkan Airin, dia kembali memeluk leherku dan mencium bibirku penuh perasaan, aku berusaha berbicara tapi Airin semakin mendorongku dan memeluk erat leherku, ketika aku berhasil melepaskan dari ciumannya, aku berbisik,
"Nanti sayang, buka dulu matanya,"
"Supraise .... " dan Airin benar-benar terkejut, suasana rumah yang berbeda, rumah megah dengan nuansa pastel klasik, dan yang lebih supraise lagi di sana ada Mama dan Papaku, ada Mama dan Papa mertua, Kak Mira dan Mas Sandi, Airin benar-benar terkejut, wajahnya bersemu merah.
Dan semuanya tertawa sambil bertepuk tangan.
"Jadi pengen muda lagi kita," celetuk Papa mertua. Airin salah tingkah dan memukul bahuku.
Kami semua tertawa.
Aku menghadiahkan rumah megah ini buat istriku, dengan menjual rumah lamaku dan menambah dengan sedikit tabunganku, rumah impian Airin. Dekorasinya belum ditata, karena aku mau Airinlah yang menentukannya. Kuundang semua anggota keluarga untuk syukuran. Beberapa saat kemudian Naya dan Baby sitternya muncul, untung saja tidak sempat melihat adegan romantis kami.
***************************,****************
Walaupun Airin masih dalam proses penyembuhan, kehidupan kami lebih bahagia.
Cinta dan ketulusan kami pada pasangan telah menyelamatkan perahu kami yang hampir kehilangan arah.
Note:
Cinta adalah pelita ditengah kegelapan dan kekosongan.
Cinta adalah jalan pulang ketika tersesat.
Cinta adalah kesempurnaan rasa, yang hanya bisa rusak oleh penghianatan.
Tamat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar