PART 6, by Febrianti Windyningrum
Tanganku memegang undangan bernuansa peach dan silver, warna kesukaanku. Pandanganku bergantian, antara undangan di tanganku dan Sekar di depanku yang sedang cengengesan.
"Sekar, ini beneran? Kalau mimpi, bangunin kakak sekarang," Sekar tertawa, tangannya meraih undangan di tanganku.
"Undangannya cantik ya kak. Ga salah kakak mempersiapkan semuanya dari dulu, termasuk desain undangan ini. Untung juga kak Rian punya kenalan di percetakan. Jadi walaupun mendadak hasilnya tetap rapi dan bagus,"
"Arrrrggghhh !!! Kakak bisa gila beneran ini ! Aku bukan Siti Nurbaya !! Cukup Siti Nurbaya !! Katakan pada mama, cinta bukan hanya harta dan tahta !!" Aku menggila, setengah menjerit mengacak tumpukan undangan di depanku.
Sekar tertawa lebih keras, teganya dia bahagia di atas penderitaanku. Aku sedang dijajah ! Dan tak seorangpun mau mengerti !
*****
Ingatanku terlempar pada tiga minggu yang lalu. Ayah hanya tiga hari menginap di RS sebelum diijinkan pulang. Rian mendampingi ayah, dari kunjungan pertama kemudian ada kunjungan kedua, ketiga sampai akhirmya dia juga yang menemani kami pulang saat ayah pulang ke rumah.
Ayah begitu cocok dengannya. Ayah sudah menceritakan peristiwa gagal menikahku. Wajahnya di stel prihatin dengan keadaan kami. Dasar penjilat ! Aku yakin dia pasti sudah tahu dari Dita, karena itu dia berani menemuiku lagi.
"Aku sungguh-sungguh berduka untukmu Mel. Semoga kamu dapat ganti yang lebih baik ya, jangan berlarut-larut dengan kesedihan. Air matamu terlalu berharga untuk lelaki seperti dia," Aku mendengus mendengar ucapannya. Andai ayah tak ada di depanku, pasti semua kata di hatiku akan ku lontarkan padanya.
Aku bukan bucin. Aku memang masih mencintai Satria, tak jarang rasa ingin kembali itu ada. Tapi aku juga bukan wanita yang siap membagi cintaku dengan wanita lain. Aku memegang teguh perkataan Marc Marques, yang bunyinya 'jika hasrat kembali pada mantan itu muncul, ingatlah pada rasa sakit yang pernah ditorehkannya'.
"Lah itu bukannya kata Einstein ya Mel?" Kata Dinda saat aku mengucapkan itu padanya. Bodo, aku tak tahu perkataan siapa itu sebenarnya.
Satria menghilang begitu saja. Kontaknya tidak ku blokir. Namun tak pernah sekalipun dia mencoba menghubungiku. Membuatku semakin menyadari bahwa aku tak begitu penting bagi dirinya. Hanya aku yang masih merindukannya, dia mungkin sudah lupa aku siapa. Memikirkan hal itu, membuatku semakin mudah melupakannya, dan menggerus perlahan rasa sayangku padanya.
Rian datang bagai solusi dalam kegalauan ayah. Ya, aku bilang hanya ayah yang galau, melihat anak gadisnya gagal menikah. Aku dan ibu hanya bisa pasrah melihat keakraban ayah dan Rian. Kesehatan ayah yang kami pikirkan saat ini. Sampai pada akhirnya, meluncurlah kalimat ayah yang terdengar bagai tiupan sangkakala malaikat Israfil di telingaku.
"Rian, kalau kamu benar-benar serius pada Meylani, bawa orangtuamu kemari. Biar kalian bisa segera menikah," Aku memandang ibu tak percaya, ibu hanya mengangkat bahu dan mengusap punggungku.
"Ibu lihat ayah cocok dengan Rian Mel. Ibu lihat juga Rian anak yang lebih sopan dan lebih baik daripada mantanmu itu. Dulu ibu dan ayah juga dijodohkan kok. Nyatanya awet pernikahan kami sampai sekarang. Kalian bisa lebih mengenal setelah menikah. Kamu yang sabar ya," Ternyata ibu juga sudah benar-benar pasrah. Aku tak punya jalan keluar kali ini.
*****
Keluarga Rian datang hanya selang dua hari setelah itu. Kami menyambut mereka dengan perlakuan yang sama seperti kemarin menyambut keluarga Satria. Kenangan bersama Satria kembali terbayang. Ku hapus air mata yang mulai muncul. Berjalan keluar menemui keluarga Rian.
Pandanganku tertuju pada gadis cantik di sebelah Rian. Aku seperti pernah melihatnya. Tapi lupa dimana. Diperkenalkan satu per satu, ternyata dia adik Rian. Namanya Faby. Kulihat dia antusias sekali menyalamiku, bahkan berusaha memelukku. Satu lagi yang baru ku tahu, dia buta.
Pembicaraan berlangsung hangat. Menentukan tanggal pernikahan, sesuai 'weton' kami berdua. Keluarga Rian masih kuat mengusung adat Jawa mereka. Tanggal paling dekat dua minggu lagi. Ayah yang semangat sekali, langsung mengiyakan.
Aku tak tahu apa yang merasukiku, aku hanya terdiam. Sepatah kata pun tak mampu kuucapkan. Hanya senyuman, entah kenapa melihat wajah-wajah yang tersenyum membuatku latah ikut tersenyum. Wajah Rian terlihat cerah sekali hari ini, atau mungkin minusku yang bertambah. Aku juga berusaha menyangkal debaran yang tiba-tiba hadir di dalam dada. Ini semua demi ayah, ku ulang terus kalimat itu dalam hati.
*****
Namun saat melihat namaku dan namanya bersanding di undangan, aku seakan tersadar. Kenyataan aku akan benar-benar menikah dengannya dalam hitungan minggu, membuatku shock. Sekar tidak membantu, malah tertawa melihat aku yang mendadak stres.
"Ya sudah sih, diterima kak. Mungkin sudah takdir kakak dijodohkan. Kalau aku yang dijodohin sama kak Rian, beeuuh ga pakai mikir kali, langsung aja ke penghulu besok," Sekar memgumpulkan lagi undangan yang ku acak-acak.
"Ya udah kamu aja sana yang nikah !"
"Aku kan masih di bawah umur. Eh kak, daripada stres, ayo aku temani shopping. Kakak harus beli seserahan kan hari ini. Kalau enggak, nanti ga sempat dibikin bentukan yang kakak pengen," Sekar mengingatkanku. Hampir saja aku lupa.
Tadi malam Rian datang ke rumah, selain mengantarkan undangan, dia juga menawari untuk menemani membeli seserahan.
"Kan lebih baik kalau kamu pilih sendiri Mel, jadi pasti kepakai. Belum tentu seleraku cocok sama kamu. Ayo aku temani beli sekarang,"
"Ih, enggak ah. Aku capek, tadi habis meeting sama bu Dian, ini juga baru sampai rumah, baru selesai mandi. Terserah kamu beliin apa juga, aku terserah pokoknya," Aku belum siap keluar berdua saja dengannya. Rasa segan masih ku rasakan.
Rian menghela nafas, lalu mengeluarkan sesuatu dari dompetnya.
"Bilang aja kamu ga mau keluar sama aku Mel. Ya udah kamu beli sendiri saja ya? Ini bawa kartu debit aku, nanti passwordnya aku chat. Besok hari minggu, sempatin beli ya? Maaf aku ga bisa nemenin, ada job di Depok. Kamu ajak ibu atau Sekar buat nemenin ya?"
"Job apa?" Aku menoleh memandangnya, pertama kali sejak dia datang tadi. Astaghfirullah, kenapa harus gak pakai kacamata sih malam ini? Mata cokelatnya terlihat begitu teduh menatapku. Aku yang mendadak salting memalingkan lagi pandanganku.
"Ciee kepo ya. Foto Mel, temenku nikah, dia minta tolong aku jadi fotografernya. Gak apa-apa kan?" Ngapain coba minta ijinku? Aku tak menjawab, masih sibuk menata dagdigdug di hatiku.
"Itung-itung bisa buat tambahan halalin kamu Mel," katanya pelan sambil mencubit pipiku.
"Iiishh apa sih ?! Ya udah pergi aja sih. Buruan pulang, katanya besok kerja, jangan kelamaan disini," Aku mengusap pipiku yang memerah, antara efek dicubit atau tersipu.
"Duh senengnya diperhatiin calon istri. Ya sudah aku balik dulu ya Mel. Dimakan itu nasinya, gak usah diet," Aku baru ingat tadi Rian membawa nasi padang, alamaak, pasti jatahku sudah berkurang separuh ini di dalam, Sekar tak pernah cukup makan hanya sebungkus nasi padang.
*****
Jadilah aku dan Sekar berkelana mencari seserahan yang ku inginkan. Sebelum itu, aku mengecek dulu saldo kartu yang ku pegang. Aku ingin belanja sesuai budget Rian. Aku tak ingin dicap cewek matre.
Aku ternganga melihat saldonya. Segera ku keluarkan kartu debit itu. Tanganku mendadak gemetar. Disuruh belanja apa aku dengan uang segitu? Aku ambil ponselku, segera ku ketik pesan untuk Rian.
[Berapa budget beli seserahan?]
Tak menunggu lama, balasan darinya datang.
[Kamu butuhnya berapa? Kalau kurang, aku transfer lagi sekarang.]
[BERAPA BUDGETKU?] Sengaja ku besarkan kalimatku, aku ingin jawaban langsung.
[Ya terserah kamu Mel. Kamu pakai sampai abis juga gak apa-apa. Kamu gak usah mikir lain-lain. Itu pokoknya buat beli yang kamu butuhin. Udah ya, aku kerja lagi]
Uangnya cukup bahkan untuk membeli satu unit citycar baru yang harganya paling murah. Sepanjang aku bekerja, aku bahkan tak bisa mengumpulkan seperempat dari uang Rian yang ku pegang saat ini. Sebenarnya, apa pekerjaan dia? Admin finance? Fotografer? Mafia togel? Pengedar?
Sekar membuyarkan lamunanku. Dia menarikku untuk segera bergegas. Tak ambil pusing lagi, aku mengikuti Sekar.
Kantung-kantung berisi tas, sepatu, sandal, make up, sudah memenuhi tangan kami. Walau aku tahu uang Rian cukup banyak, aku memilih barang yang aku suka, bukan yang termahal. Aku belanja pun di mall biasa dekat rumahku, jangankan barang branded, aku malah memburu barang diskonan. Jiwa missqueen ku sudah mendarah daging dalam setiap denyut nadi.
Saat melewati toko perhiasan, aku ragu. Beli tidak ya, pikirku saat itu. Membeli perhiasan akan menjadi pengeluaran terbesar. Lagipula aku tak tahu apakah Rian mau pakai cincin atau tidak, aku juga tak tahu ukurannya. Sibuk memikirkan hal itu, aku merasakan pundakku ditepuk.
"Kak, arah jam 3, siapkan dirimu," Sekar berbisik di telingaku. Aku menoleh ke arah yang dimaksud. Seketika darahku mendesir, ku lihat wanita tersebut lurus menghampiriku.
"Apa kabar Mel? Boleh tante ngobrol sebentar denganmu?" Mama Satria, tante Ratna, memelukku dan mengajakku ke restoran terdekat. Tak tahu bagaimana menolaknya, kami pun mengikutinya.
*****
"Tante minta maaf atas ulah Satria. Tante sudah salah mendidik Satria, sehingga dia tak bisa menghargai wanita seperti itu. Tante dengar kamu akan menikah?" Tante Ratna memulai pembicaraan setelah menyesap frappucinonya.
"Darimana tante tahu?" Aku malah melontarkan pertanyaan itu. Padahal aku sudah mengira jawabannya.
"Arimbi yang kasih tahu. Tante dengar calonmu teman kerjamu. Sudah lama kalian kenal Mel?" Tante Arimbi adalah tetanggaku, hanya beda RT. Dia teman arisan tante Ratna, boleh dibilang sahabat karib.
"Kenal sudah cukup lama tante. Dia murid ayah dulu waktu SMA,"
"Jadi karena itu kamu tidak mau kembali lagi pada Satria? Apa kalian juga sudah berhubungan sejak kamu masih dengan Satria?" Wajahku seketika memanas. Siapa yang selingkuh, siapa yang dituduh?
"Tidak tante ! Meylani sama sekali tidak pernah mengkhianati Satria ! Kami dijodohkan, ayah ingin Mel tetap menikah. Jadi yang menyebarkan gosip bahwa Satria yang memutus pertunangan karena Mel selingkuh, itu tante ?!" Aku meradang, tante Ratna yang selama ini ku anggap baik, ternyata punya pikiran seperti itu juga.
Memang itu gosip yang beredar. Ibu tipe pendiam, tipe orang yang memegang paham 'biar waktu yang menjawab'. Jadi saat digosipkan seperti itu, ibu hanya tersenyum, menjawab seperlunya jika ditanya. Membantah dengan menggebu-gebu hanya akan membenarkan gosip itu. Hanya orang-orang terdekat kami yang tahu masalah sebenarnya.
"Tante tak menyebarkan. Mungkin Arimbi yang menarik kesimpulan sendiri. Ah sudahlah. Semua sudah terlambat. Satria juga akan menikah Mel. Sebenarnya tante lebih suka punya menantu kamu. Tante sudah tidak mau tahu lagi dengan Satria. Terserah dia mau menikah dengan siapa sekarang. Kapan pernikahanmu Mel? Tante diundang tidak?" Mungkin memang tante Arimbi yang menyebarkan gosip, karena ku tahu tante Ratna juga orang yang masa bodoh pada keadaan. Cuek namun sebenarnya hatinya baik. Aku jadi ragu beliau benar-benar punya sakit jantung seperti yang selalu dikatakan Satria.
"Satria menikah? Kapan? Dengan siapa tante?" Aku agak terkejut dengan hal ini. Hatiku seperti teriris sesuatu. Aku menikah karena dijodohkan, menyelamatkan harga diri ayah yang setinggi gunung Merapi. Lalu Satria, apa alasannya menikah secepat ini?
"Ayu, teman SMA nya dulu. Ya bagaimana tidak menikah Mel, keburu perutnya makin besar. Untung tante sudah sembuh dari sakit jantung tante dulu, kalau tidak sudah mati mungkin tante kena serangan jantung,"
Andai tidak di tempat umum, mungkin aku sudah berteriak, sambil guling-guling mungkin, ingin menangis namun juga ingin tertawa sekeras-kerasnya. Ironis.
Mungkin benar, lelaki sampah akan berakhir dengan sampah juga.
--------
next
#Terpaksa_Jodoh
PART 7
PoV Rian
Aku menghitung setiap harinya hingga hari ini tiba. Mataku tak bisa berpaling pada bidadari yang tertinggal di bumi, yang sedang sibuk dirias di kamarnya. Beruntungnya aku yang menemukan selendangnya. Dan dalam hitungan jam, kami akan diresmikan dalam satu ikatan sah pernikahan.
Aku sudah diusirnya dari tadi, katanya pamali melihat pengantin wanita sebelum akad. Tapi Sekar, adik iparku yang baik, membuka pintu kamar Meylani, alasannya biar tidak pengap di dalam. Aku tahu dia kasihan padaku yang berusaha melihat Meylani yang sedang dirias di dalam.
"Ati-ati tu mata lepas, liat ga kedip-kedip. Intip aja ya, daripada kak Mel nanti ngamuk pintu kamar ditutup lagi," Sekar berlalu setelah mengingatkanku. Aku menuruti kata-katanya, lalu duduk menunggu di sofa ruang tengah, menemani Faby yang duduk tenang, tak terganggu dengan hiruk pikuk di sekitarnya.
"Belepotan ini By, jadi apa kamu kalau kakak ga ada? Kakak jadi mikir lagi ini, beneran ga apa-apa kakak nikah?" Aku mengusap ujung bibirnya dengan tissue, membersihkan remahan brownies yang sedang dimakannya.
"Issh apaan sih kak? Aku seneng banget akhirnya kakak menikah. Dengan kak Mel pula. Tapi kayaknya dia lupa sama aku ya kak? Nanti aku pengen deh ngobrol sama dia. Kakak jangan khawatir, kan ada mami, ada papi, ada bik Mar yang nemenin aku," Ku elus rambutnya perlahan. Mami sedang sibuk didandani juga, papi sedang mengobrol dengan bapak-bapak lainnya di depan. Pikiranku melayang pada dua tahun lalu, kali pertama aku bertemu Meylani dan jatuh cinta pada pandangan pertama.
*****
Aku terpaksa membawa Faby ke job kali ini. Bik Mar ijin mudik mendadak karena anak sulungnya kecelakaan. Mami dan papi sedang umroh, sebagai hadiah pernikahan ke 30 dari Faby dan aku. Aku ada job hari itu, sahabatku Gilang menikah, sudah jauh-jauh hari sebelumnya dia meminta aku yang mengabadikan moment sakralnya.
Memastikan Faby aman di tempat, mengambilkan segala keperluannya, aku tetap mengawasinya sambil tetap menjalankan tugasku. Sebenarnya tadi dia tak mau ku ajak kemari, aku yang memaksa. Aku tak bisa meninggalkannya di rumah sendirian. Memang dia hapal seluruh bagian rumah, namun kekhawatiran tetap ada. Lebih aman membawanya kemari.
Faby tidak buta sejak lahir. Dia kehilangan penglihatannya karena aku lalai menjaganya kala itu. Perasaan bersalah terus menghantuiku, walaupun tak ada satupun anggota keluarga yang menyalahkanku. Harusnya Faby yang depresi karena keadaan yang mendadak harus dijalaninya, tapi malah aku yang berkali-kali mengunjungi psikiater untuk konsultasi. Sedangkan Faby menerima kondisinya dengan ikhlas.
Karena aku terlambat menjemputnya di hari dia pulang les saat kelas satu SMA, dia memutuskan untuk pulang sendiri naik ojek. Naas, dia mendapat tukang ojek ugal-ugalan, menerobos lampu merah walau Faby sudah berteriak mengingatkan. Kecelakaan dengan truk sampah tak bisa dihindari. Benturan keras di kepalanya karena helm terlempar begitu saja, menyebabkan kornea matanya rusak, sehingga dia buta sejak itu. Sudah mendaftar untuk bisa mendapat donor kornea, tapi mungkin belum rejeki Faby.
Saat melihat Faby akan berdiri, aku bermaksud menghampirinya. Tapi tepukan Sigit di pundakku, pertanda ada tamu yang bersiap difoto bersama pengantin, membuatku menunda menghampiri Faby. Saat berbalik, aku melihat Faby sedang berbincang seru dengan seorang perempuan. Anggun dibalut kebaya warna peach, dengan sapuan make up yang terlihat natural, sesaat membuatku terpesona.
"Kak, tadi ada mbak-mbak baik deh. Pas rokku ketumpahan air, dia bantu aku. Bahkan nemenin aku ngobrol sebentar. Katanya dia saudara pengantin perempuan. Asyik deh ngobrol sama dia," Faby bercerita tentang perempuan yang tadi sempat ku lihat. Membuatku semakin penasaran dengan perempuan tadi. Sisa waktu yang ada, aku manfaatkan untuk mengambil gambarnya. Menyimpannya, agar suatu saat Faby bisa melihat siapa perempuan yang menolongnya tadi.
Melihatnya kembali saat dia datang bersama Bu Dian ke kantorku, membuatku merasa dunia berpihak padaku. Dia punya pacar, katanya. Selama janur kuning belum melengkung, tekadku kuat untuk bersamanya. Nyatanya, disinilah aku sekarang, menghadap penghulu, mengucap kalimat ijab qabul dengan satu tarikan nafas. Ya pacarannya memang sama dia, kalau nikahnya sama aku, dia bisa apa?
*****
Meylani menangis tersedu setelah acara akad nikah berakhir. Sebegitu bahagianyakah dia menjadi istriku?
"Ya Allah ibuu, Mel beneran nikah ini?! Sama Rian pula, huhuhuhuhu...." Ibu Meylani terlihat menahan tawa, memeluk Meylani sambil mengkode aku untuk mendekat.
"Kamu ini nikah Mel, bukan diajukan ke tiang gantungan. Rian akan jadi suami yang baik buat kamu, betul kan nak Rian?" Ibu Meylani memantapkan suaranya, menatap lurus padaku.
"Tentu bu. Meylani berhak bahagia. Saya akan berusaha untuk itu," Meylani mengangkat wajahnya. Bahkan wajah bekas menangis pun bisa secantik itu. Duh Mel, kenapa jantungku selalu tak terkontrol saat menatapmu?
"Awas kamu macem-macem sama aku," serunya sambil mengacungkan tinju kecilnya padaku. Aku tertawa, lucunya istriku ini.
"Huush Mel ! Tidak boleh begitu, ayo ganti. Resepsinya dua jam lagi. Kalian sarapan dulu, sebelum ganti baju resepsi. Mel, layani suamimu dengan baik. Ambilkan makannya. Buruan gih, ibu mau bantu bibi ngeladenin keluarga besan," Meylani mengerucutkan bibirnya setelah ibunya berlalu. Aku mendekatinya.
"Kamu duduk saja. Pasti capek bangun dari subuh. Kamu mau makan apa?"
"Sambal goreng sama krupuk aja," Dia pun duduk bersebelahan dengan Faby, mulai bercerita seru. Aku tersenyum, akhirnya malah aku yang meladeninya. Dia mau makan bersamaku akhirnya, dasar sok jual mahal. Tapi itu yang membuatku semakin gemas padanya.
*****
Bersiap di pelaminan, memakai setelan merah maroon, aku melangkah penuh percaya diri mendampingi Meylani. Biasa memotret pengantin, sekarang gantian diriku yang jadi obyek. Tamu mulai berdatangan. Sikap kaku Mel perlahan melunak. Dia luwes menyalami tamu, tak kelihatan lagi bila kami menikah karena dijodohkan.
Sampai aku melihat satu tamu lelaki yang memperhatikan kami di depan meja tamu. Sosoknya yang tinggi tegap bisa jelas ku lihat dari panggung sini. Kurasakan tangan Meylani yang mendadak dingin erat mengenggam tanganku. Saat menoleh padanya, kurasakan pandangannya berubah. Senyum tak lagi terlihat, terganti wajah cemas.
"Kuat Mel. Kalau kamu masih yakin padanya, aku tak akan melarangmu pergi dariku sekarang. Namun bila kamu sudah yakin padaku, jadikan aku kekuatanmu saat ini, dan untuk selamanya," Mel mengubah genggamannya, dirangkulnya lenganku seketika. Aku tersenyum, merasa sudah sedikit bisa mendapatkan hatinya.
Aku melihat Satria langsung kali ini, bila sebelumnya hanya lewat foto yang ditunjukkan Sekar. Tingginya hampir sama denganku, matanya tegas menatap diriku, langkahnya yakin menuju pelaminan.
Suasana mendadak hening dalam keramaian. Hanya terdengar suara penyanyi yang diiringi musik, namun aku tahu para tamu undangan tidak lagi mengobrol, mengawasi setiap langkah Satria. Bapak mertuaku sudah pasang badan di pinggir pelaminan, wajahnya di stel sangar. Namun tidak menghalangi Satria yang berjalan melewati beliau, langsung berhadapan denganku dan Meylani.
"Selamat ya sayang, kamu nikah juga. Sekarang aku tahu kenapa begitu mudah meninggalkanku, aku baru tahu begitu 'murah' dirimu....." Satria tak melanjutkan omongannya, lebih tepatnya tak bisa. Karena dalam hitungan detik dia sudah terkapar di depanku, hasil latihan Jiu Jitsu yang ku tekuni beberapa tahun terakhir ini yang menyebabkannya. Andai tak dihentikan bapak mertua dan papi dan orang-orang di sekitarku, sudah ku kirim ke makam terdekat bangsat itu. Tak akan ku biarkan mulutnya berkata hal yang buruk tentang istriku.
Meylani menjerit, ibu dan mami menenangkannya. Suasana mendadak gaduh, beberapa ponsel sudah mengabadikan momen aku meng-KO Satria. Diiringi sumpah serapah yang masih keluar dari mulutnya, Satria pergi dengan digiring orang-orang. Juru make up langsung menggiring aku dan Meylani ke belakang, masuk ke rumah dengan alasan ganti kebaya.
*****
Resepsi yang sempat terganggu sudah berakhir sejak tadi. Tamu- tamu masih ada yang datang sampai malam tiba. Ketika jam menunjukkan pukul 21.00, barulah aku bisa membujuk Meylani yang menolak makan sejak tadi siang. Aku yang tak pernah dekat dengan wanita, baru tahu kalau membujuk wanita ngambek sama susahnya dengan memandikan anak macan.
"Ayolah Mel, makan ya. Atau kamu mau apa? Aku beliin sekarang ya? Martabak? Seblak? Ayam kaepci? Mocca float ya?" Aku menyebut setiap makanan yang dia sukai.
"Kamu emang suka ya kalau aku jadi gendut? Ini jam berapa, aku udah ga makan kalau jam segini," Meylani akhirnya menjawabku. Mungkin sudah panas telinganya mendengar rayuanku.
"Loh kalau kamu gendut, aku malah suka lho Mel, itu tandanya kamu bahagia sama aku. Ini buktinya aku naik 3 kg sejak mau nikah sama kamu, artinya aku bahagia sama kamu," Pipinya bersemu merah, tapi ucapannya tetap dipasang ketus.
"Aku gak mau makan ! Titik ! Udah aku mau ganti dulu, gerah." Aku mengikuti langkahnya ke kamar, namun dia langsung berbalik menghadapiku.
"Mau kemana kamu?!"
"Ke kamar juga, kan aku juga pengen ganti Mel,"
"Ganti aja ke kamar mandi ! Jangan ke kamarku !"
"Lah kan kita sudah resmi Mel, kamarmu berarti kamarku ju...."
"RIIIAAANN !!!" Bukan jeritannya yang membuatku akhirnya menuruti maunya, cubitan wanita emosi memang luar biasa.
Kalau ganti saja gak boleh satu kamar, nanti malam aku tidur dimana ya?
---------
next
#Terpaksa_Jodoh
PART 8
Aku memperhatikan wajah lelaki yang hampir satu bulan ini sah menjadi suamiku. Dengkuran halus terdengar walaupun bibir tipisnya tertutup rapat. Bulu matanya lentik, hidungnya cukup mancung bila dibandingkan hidung minimalisku.
Entah apa yang menuntunku, tanganku terulur ingin mengelus pipinya. Namun untungnya bisa ku hentikan tepat pada waktunya, karena tiba-tiba sepasang mata coklat terbuka menatapku.
"Pagi sayang," Tangannya terulur hendak meraihku, namun aku cukup gesit untuk segera berdiri dari posisiku jongkok tadi.
"Sayang-sayang pala lo peyang ! Bangun buruan ! Subuhnya keburu habis," Aku berbalik hendak ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, tiba-tiba dia memeluk pinggangku.
"Butuh charge tenaga dulu," Ku kerahkan seluruh kekuatanku pada cubitan kali ini di tangannya, beraninya dia melakukan serangan fajar padaku.
"Wadaaaw !!! Lama-lama aku laporin kak Seto kamu Mel, ini termasuk KDRT," Rian mengusap tangannya yang ungu seketika. Aku melengos, jangan sampai dia tahu wajahku yang sudah seperti udang rebus, terlebih jantungku yang mendadak salto.
*****
Seminggu pertama setelah menikah, kami masih tinggal di rumahku. Tak ku ijinkan dia tidur bersamaku. Tapi tak mungkin terang-terangan mengusirnya dari kamarku, bisa digantung di pohon tomat nanti sama ayah. Jadi akhirnya aku bekerjasama dengan Sekar, bila sudah aman untuk migrasi, aku pindah ke kamarnya. Rian ku biarkan tidur di kamarku. Alarm aku stel sebelum waktu subuh, jadi aku pindah lagi ke kamarku sebelum ayah dan ibu bangun. Sekar fine-fine saja, karena bensin motornya sekarang selalu full tanpa mengurangi uang mingguannya.
Yang merepotkan adalah ketika aku harus ikut ke rumahnya. Aku sudah akrab dengan Faby, adik Rian. Tapi tak mungkin aku menerapkan strategi yang sama. Beruntung aku lihat bed Rian adalah model kasur sorong. Aku melarangnya saat dia hendak mengganti bed nya dengan satu bed yang lebih besar. Membuat kesepakatan, aku tidur di atas, dia tidur di bawah. Tidak boleh melanggar barang satu jengkal, tidak boleh mencuri kesempatan dalam kelelapan tidurku.
Rian selalu menuruti setiap perkataanku. Diperlakukan bak ratu, membuatku agak tersanjung. Dia bahkan menawariku untuk berhenti bekerja. Namun aku menolak, aku masih ingin bekerja, mumpung belum ada momongan.
"Kalau begitu, buat momongan sekarang yuk Mel? Terus berhenti bekerja ya, aku pengen pas pulang kerja udah disambut istriku yang cantik, anakku yang lucu," Bayangannya terlalu tinggi, ku tebas segera angannya dengan tangan yang mengasah pisau daging, membuatnya terdiam seketika.
*****
Keluarga Rian sangat baik padaku. Mama Rian, yang kemudian aku ikut memanggilnya mami, ibu-ibu yang sangat suka memasak. Jika di rumahku, ibu cukup memasak satu jenis sayur, ada lauk dan kerupuk, sudah. Beda dengan mami, setiap orang di rumah akan mendapat satu menu. Entah bagaimana beliau memasak, aku hanya tim penggembira di dapur, hanya membantu menyiapkan sarapan, dan saat makan malam. Tahu-tahu sudah ada empat sampai lima jenis masakan di meja.
Papi juga, bisa menghabiskan berjam-jam di kebunnya sana. Segala jenis tanaman hias memenuhi taman depan, samping dan belakang rumah. Sangat cocok jika berbincang dengan ayah, sama-sama menyukai tanaman. Intinya seluruh isi rumah ini menyambutku dengan baik, namun walaupun sudah hampir tiga minggu aku disini, aku masih tetap canggung.
Rian meladeniku, juga Faby. Ku lihat Rian sangat sayang dengan adiknya. Aku tidak cemburu, baru ku lihat ada kakak yang begitu perhatian dengan adiknya. Jika ku ingat hubunganku dengan Sekar, jadi malu sendiri. Tak pernah ku lihat Rian dan Faby bertengkar, sedangkan aku dan Sekar, masalah siapa yang dapat ayam paha atau dada saja bisa jadi perang saudara.
Rian mengantar jemput aku bekerja setiap hari, walau kantornya berlawanan arah denganku. Aku melunak padanya, ingatan tentang dia yang meng-KO Satria masih jelas di ingatanku. Andai aku bisa ikut meninju Satria, tentu sudah kulakukan. Cintaku sudah masuk batas kadaluarsa untuk Satria. Penghinaan yang dia berikan sudah cukup untuk melunturkan sisa perasaanku padanya.
Aku belajar menerima Rian, dengan segala sikap alay dan bucinnya. Seperti malam ini, tiba-tiba dia membelokkan mobilnya ke sebuah pusat perbelanjaan dalam perjalanan pulang.
"Loh kemana yan? Mami udah bilang kalau disuruh pulang cepet kan," Aku memprotes, ingat ultimatum kanjeng mami tadi pagi. Mami memang baik, walau sedikit 'ceriwis'. Aku maklum, karena ibuku tak jauh beda.
"Aku udah ngabarin mami kok, tenang aja. Ada yang mau aku beli, temenin ya?" Aku tak membantah. Senang juga sih, sejak menikah, aku belum sempat melihat dunia luar. Ini pertama kali aku akan jalan bersama Rian. Loh kok aku malah senang?! Ada yang salah ini.
Rian menggandeng tanganku sejak dari parkiran. Sampai tiga kali ku hempas, tiga kali juga dia berusaha menggandengku kembali, akhirnya aku menyerah.
"Ini demi kebaikan kamu Mel, biar kamu gak kalap lihat diskon akhir tahun," Aku gemas, ku cubit pinggangnya, Rian hanya meringis, mungkin sudah terbiasa dengan cubitanku.
Kami menghabiskan waktu hampir tiga jam di dalam mall itu. Tak ku sangka, Rian bisa menjadi partner belanja yang sangat asyik. Bisa diajak pertimbangan, atau menyarankan mana yang lebih cocok untukku. Dia bilang dia butuh sesuatu, nyatanya hanya sepasang kaos kaki yang dibelinya, tak sebanding dengan kantung-kantung belanja di tanganku. Aku sudah menolak saat Rian kembali menunjuk satu gamis set, sudah dua yang dibelikannya, tapi dia memaksa. Aku kan jadi enak kalau begitu caranya.
Kami pulang saat jalanan mulai lenggang. Aku mengamati jari manisku dalam diam, satu cincin menghiasinya sekarang. Bentuk solitaire, sebagai lambang kesetiaan cinta, kata Rian. Dia sudah memesan sebelumnya ternyata, karena kemarin cincin kawin menggunakan cincin pemberian mami, karena aku tak membeli cincin sendiri. Rian ingin memberikan sesuatu darinya sendiri, maka jadilah aku memakai cincin ini sekarang.
"Suka Mel?" Suara Rian mengagetkanku. Aku jadi malu ketahuan tersenyum sejak tadi karena cincin ini.
"Ya suka sih. Tapi apa gak terlalu mahal yan?"
"InshaAllah gak ada yang mahal kalau buat kamu Mel, selama aku bisa, aku mampu," Rian mengulurkan satu tangannya untuk mengelus puncak kepalaku, aku tak menepisnya kali ini. Kenapa baru ini terasa kelembutan pada belaiannya?
*****
Aku baru akan merebahkan diri ke bed saat ponselku berbunyi. Notifikasi yang dari tadi ku abaikan. Ku buka ponselku, pesan dari Sekar.
[Kak, datang tadi pagi ini. Aku cuma menyampaikan ya?]
Ada foto juga yang dikirimkannya. Foto undangan pernikahan. Melihat nama yang tertera, pikiranku mendadak kosong. Aku sudah mulai menutup luka yang diberikannya, kenapa dia kembali untuk membuka luka itu lagi?
"Datang lah Mel, aku temani ya," Bahkan tak ku sadari Rian ikut menengok ponselku dari belakang.
Aku menoleh, tak tahu harus berkata apa. Kenyataan Satria benar-benar akan menikahi Ayu membuatku syok. Kenapa harus mengundangku, ingin pamer kebahagiaan? Atau ingin balas dendam karena kejadian saat resepsiku kemarin?
"Ngapain sih yan, gak usah dateng lah. Nanti ribut lagi kayak kemarin,"
"Datang, nunjukin kalau kamu sudah move on. Ntar kalau dia macem-macem, kan ada aku," Aku terdiam. Mempertimbangkan untung ruginya misal datang ke pernikahan Satria. Ada rasa penasaran ingin melihat langsung sosok Ayu sebenarnya. Tapi rasa segan juga aku rasakan.
"Masa aku kurang ganteng Mel? Diajak kondangan gak malu-maluin deh kayaknya, sebelas dua belas kok sama Iko Uwais," Dia mematut wajahnya di depan cermin, membuatku terbahak, refleks ku lempar bantal ke muka tengilnya.
"Ntar kacanya pecah ! Tidur, udah malam," Aku berbalik, bersiap untuk tidur. Tapi tangan Rian menarikku, tiba-tiba aku sudah ada di pelukannya.
"Misal gak mau datang, ya sudah. Semua terserah kamu Mel. Sudah, jangan dipikirkan lagi ya?" Aku bahkan bisa merasakan detak jantung Rian. Aku mendongak menatap wajahnya, baru kali ini kami sedekat ini. Rian mendekatkan wajahnya padaku, detak jantungku ikut tak terkontrol.
"Ngimpi ! Kecepetan seribu tahun !" Aku mendorong wajahnya, dan lepas dari pelukannya. Rian hanya meringis, saat aku ke posisiku menghadap tembok, nenyembunyikan wajah yang mendadak terasa panas.
*****
Aku melewatkan pernikahan Satria. Ternyata tante Ratna yang mengirim undangan, bahkan diantar sendiri ke rumahku. Aku hanya meneleponnya, mengabarkan tidak bisa datang. Ada hal lain yang lebih berguna bisa kulakukan daripada datang ke pernikahan Satria. Tidur misalnya.
Mungkin Rian kasihan melihatku bengong di depan televisi, memindah-mindah saluran tanpa tahu apa yang sedang ku cari. Dia menyuruhku ganti baju, mengajakku keluar. Dia menawarkan pulang ke rumahku, namun aku menolak.
"Jalan aja yan. Atau terserah kamu mau kemana. Aku lagi gak pengen kemana-mana,"
Rian melajukan mobilnya dalam diam. Aku mengamati sepanjang jalan namun pikiranku melayang pada pernikahan yang tidak ku hadiri saat ini. Sudah benarkah aku memilih tidak datang? Akankah aku terlihat lemah, seakan tak bisa menerima Satria bersanding dengan wanita lain?
Ku rasakan mobil berhenti. Aku menengok sekelilingku, parkiran begitu ramai. Dimana ini?
"Turun yuk Mel. Pokoknya hari ini kita senang-senang. Kamu mau naik apa, mau makan apa, bebas, terserah. Aku temani,"
Aku baru sadar, Rian membawaku ke Dufan. Aku tersenyum lebar, tak ingat kapan terakhir kesini. Mungkin saat aku masih SD, Sekar belum lahir. Dulu aku hanya membayangkan naik halilintar disini, karena tinggiku belum sampai. Saat aku sudah mencapai tinggi yang ditentukan, aku belum kemari lagi, baru hari ini, dengan si Bucin.
Aku menjajal halilintar atau roller coaster, kora-kora, hysteria. Aku lupa dengan semua beban yang kubawa sebelum sampai kesini. Aku berteriak dan menjerit sekuat tenaga, namun semua orang juga begitu di tempat ini. Hanya mereka berteriak karena efek permainan, aku berteriak karena memang ingin melepaskan semua.
"Kamu lebih cantik jika tersenyum Meylani. Jangan cemberut lagi ya?" Rian menyodorkan satu cone es krim coklat padaku, yang ku terima dengan senyuman.
"Kamu kok kepikir ke tempat kayak gini sih? Aku sudah lama banget pengen kesini, tapi belum kesampaian,"
"Aku lihat drakor kamu tadi malam. Aku lihat laptop kamu nyala, kamunya ketiduran. Eh ada pas adegan di taman hiburan. Aku terinspirasi jadinya. Aku pinter kan,"
"Dasar gak kreatif !" Aku terbahak mendengar jawabannya.
"Naik itu yuk Mel? Aku pengen ngerasain naik itu, cuma malu kalau sendirian,"
Aku melihat kemana telunjuknya mengarah. Aku mengerti kenapa dia malu. Mana ada cowok naik bianglala sendirian.
"Jangan lama-lama ya? Aku mau kita pulang sebelum magrib," Aku mengiyakan permintaannya. Rian kelihatan girang, setengah menarik tanganku, seperti anak kecil yang tak sabar mencoba mainannya.
Memandang laut sore hari dari ketinggian, membuat hatiku tenang. Aku sampai tak sadar kalau Rian tengah mengambil fotoku lewat ponselnya. Ketika mendengar suara kamera, aku baru menoleh. Entah kenapa aku tak marah kali ini, bahkan tertawa. Apa yang aku tertawakan, entahlah.
Mantan pacarku menikah hari ini, aku malah bersenang-senang dengan suami hasil perjodohan. Aku dikhianati, empat tahun menjaga jodoh orang, harusnya aku masih berduka, bersedih. Malah aku sudah bisa tertawa, sampai terbahak pula karena bucin di depanku ini. Apa yang sedang kulakukan sekarang sebenarnya? Kini tawaku mereda, ku rasakan tangan Rian mengusap air mata yang ternyata ikut keluar bersama tawaku.
"Ini untuk terakhir aku mengusap air matamu Mel. Aku tak akan membuat tangismu, dan aku tak ingin melihat tangismu lagi. Luapkan semua sekarang. Seterusnya, ijinkan aku menjagamu, jadikan aku tempat bersandar. Jangan pendam semua sendiri. Aku suamimu, kamu istriku. Walau kamu terpaksa menerimaku, aku yakin suatu saat nanti kamu akan bisa menerimaku sepenuhnya. Aku tak buru-buru, aku menunggu saat itu. Aku menyayangimu Meylani, sangat menyayangimu," Rian mengecup lembut tanganku.
Aku tak bisa berkata apa-apa. Belum pernah aku mendengar seorang lelaki menjanjikan begitu banyak hal dalam satu waktu. Sepertinya ayah tak salah pilih. Aku yang bodoh, kenapa baru kini aku sadari, dicintai lebih membahagiakan daripada mencintai?
-----------
#Terpaksa_Jodoh
PART 9
[Sayang, nanti pulang temani cari kado buat temenku ya? Istrinya baru lahiran]
Aku membaca pesan dari Rian, sambil meneruskan memakan bekalku,
[Oke]
"Sayangnya mana?" Aku kaget, Dita dengan watadosnya cengengesan di belakangku. Ternyata dia ikut mengintip ponselku.
"Ciie, sudah mesra sekarang Mel. Kan dari dulu aku bilang, kamu tuh cocoknya sama Rian. Ibarat buang bangke, dapet rendang deh pokoknya,"
"Perumpaanmu gak banget sih Ta. Tapi iya sih, Rian kok betah aja ya aku jutekin tiap hari. Masa cinta bikin orang jadi bego?"
"Cinta is magic Mel sayang. Hanya cinta yang mengubah tahi kucing rasa coklat, kentut sewangi semerbak bunga, Tanah Abang serasa jalan-jalan di Korea," Aku terbahak mendengar penuturan Dita tentang cinta.
"Tapi asyik juga ternyata orangnya Ta. Dia tuh kayak punya indra keenam, misal aku lagi pengen apa, aku gak bilang apa-apa, tahu-tahu dia datang bawain yang aku pengen, aneh gak sih,"
"Lah kamu kan orangnya emang gampang kebaca. Kayak sekarang nih, aku tahu kamu pengen nawarin aku bento kamu kan? Sini-sini sayang, aku cobain ya," Dita mengambil alih sendok yang sedang ku pegang, mencicipi bento yang dibuatkan mami tadi pagi.
"Modus ! Bilang aja kalau minta," Aku tertawa, membiarkan Dita menjajah bekalku yang tinggal setengah.
*****
Wanita mana yang tidak suka diajak ke mall? Walaupun hanya membeli kado, tetap saja jiwa shopping berkobar dalam dada. Melihat tumpukan baju bayi, sepatu-sepatu lucu, membuatku baper juga.
"Mel, ini bagus nih. Ini aja gimana?" Rian menunjuk stroller bayi. Aku menggeleng, terlalu 'wah' bila hanya kado untuk teman kerja, menurutku.
"Sebenarnya ini OB ku yang istrinya lahiran Mel. Kasihan, dia nabung buat lahiran istrinya, sampai bawa bekal tiap hari lauknya cuma sambal loh Mel, ambil krupuknya di pantry. Makanya aku sering bawa lauk lebih dari rumah, makan bareng dia. Habisnya kalau dibeliin suka nolak, sungkan katanya,"
Aku termenung, terjawab sudah kenapa Rian selalu membawa lauk yang cukup untuk tiga orang tiap pagi untuk bekal, padahal nasinya hanya untuk satu orang. Pikirku jaman sekarang mana ada cowok yang mau bawa bekal ke kantor.
"Ya udah gini aja, kalau stroller kan penting gak penting, butuh gak butuh. Coba belikan baju, sepatu sama kebutuhan harian lainnya saja, sampai seharga stroller itu. Menurutku dia lebih butuh yang kayak gitu, kalau memang dia sedang berhemat. Sama selipin amplop kalau perlu,"
"Ooh iya gitu juga bagus ya Mel. Ya sudah, tolong pilihin kamu aja ya," Tanpa diminta pun aku akan dengan senang hati nemilihkan, apalagi ini untuk bayi perempuan. Banyak aksesoris lucu yang menggoda iman.
Saat memilih-milih selimut bayi, ada wanita yang juga sedang memilih. Aku melihat sekilas, rasanya pernah kenal. Dia juga menoleh padaku saat aku sedang menatapnya.
"Eh elu Meylani kan? Bener, iya lo Meylani !"
"Maaf siapa ya?" Aku bingung, karena merasa tak mengenal orang di depanku ini.
"Ayu, istrinya Satria," Dia mengulurkan tangan, mengajak bersalaman. Rian mendongak, mendengar kata 'Satria'. Cantik dan sexy, itu yang terlintas di pikiranku saat itu juga.
"Oh.. Iya. Maaf saya tidak datang waktu resepsi kalian," Aku menyambut uluran tangannya. Aneh, tidak ada rasa mengganjal atau apapun yang ku rasakan kini. Hati terasa ringan, walau sedang berhadapan dengan penyebab aku dan Satria gagal menikah. Mungkin karena genggaman hangat di tanganku, semua terasa baik-baik saja?
"Ah gak masalah. Santai aja. Eh ini suami lo ya?" Rian spontan mengulurkan tangan dengan tangannya yang bebas.
"Rian, Riandika. Suaminya Meylani," Ayu menyambut dengan senyuman. Tak kusangka, dia begitu ramah. Sama sekali tak terasa hawa permusuhan.
"Syukurlah kamu dapet pengganti Satria Mel. Maaf ya, coba kalau gak 'kebablasan', gue juga gak minta pertanggungjawaban Satria. Sori ya waktu itu," Ucapnya santai sambil mengelus perutnya yang kelihatan agak maju, belum terlalu besar.
Bisa-bisanya sesantai itu dia minta maaf. Kutarik ucapanku, bukan ramah. Ini cewek terlalu cuek dan tak peduli, atau bego? Dia tak berpikir akibat dari masalah yang dibuatnya. Mungkin saat Tuhan pembagian otak, dia absen clubbing dulu.
"Oh tidak apa-apa. Saya juga senang Satria mendapat pasangan yang pas. Saya dan Mel juga sedang bahagia-bahagianya kok," Malah Rian yang menjawab, sambil mengelus perutku pelan. Aku mendelik padanya, apa coba maksudnya?! Tapi Rian memberi kode 'sudah nurut aja' yang membuatku hanya meringis mengikuti adegan selanjutnya.
"Wooow kamu juga 'isi' Mel?? Selamat ya. Aku juga cari baju bumil, eh lihat baju bayi kok jadi pengen. Ya udah yuk, duluan ya. Kelamaan nanti mama Ratna ngomel lagi," Ayu menunjuk wanita separuh baya di kejauhan. Aku hanya mengangguk, pandanganku mengikutinya berlalu. Sekarang Rian yang kuhadapi.
"Maksudnya apa coba?!" Aku mencubit pinggangnya sekuat tenaga.
"Aduh duh duh Mel ! Sakit tauk ! Ya the best revenge kan biar mantan tahu kalau kita sudah move on. Lagian dikira hamil juga gak apa-apa, kan kita suami istri. Kali aja besok bisa hamil beneran," Aku melengos, untuk pengalihan salah tingkahku.
Hamil? Dengan Rian? Kepalaku mendadak migrain.
******
"Kak Mel, kakak sudah pulang??" Suara Faby menyambutku saat aku masuk rumah setelah mengucap salam. Aku mendekatinya yang akan berdiri dari ruang keluarga.
"Kakak kesitu By, duduk aja ya. Ada apa nih, kayaknya semangat bener," Aku menghampiri Faby yang wajahnya terlihat ceria, tangannya meraba mencari tanganku, lalu mengulurkan sesuatu padaku yang dari tadi ada dalam genggamannya.
"Ini kak, tadi kan Faby diajak kak Boby ke acara gathering yang diadain hotel, nah hotelnya ngadain doorprize. Gak tahunya kartu nama kak Boby dapet hadiah utamanya ! Kata kak Boby, ini buat kak Rian sama kak Mel saja," Boby, teman dekat Faby bekerja di agen tour dan travel. Dia memang sering mengajak Faby keluar, namun Faby menyangkal ada hubungan khusus di antara mereka, namun dengan pipi yang merona saat mengatakannya.
Aku mengamati amplop berwarna hitam yang diulurkan Faby. Kubuka perlahan, gila ! Ini voucher menginap dua malam di hotel berbintang yang sedang gencar iklan di televisi.
"Loh ini di Bandung By, kamu bisa berangkat kok. Deket. Ajak mami atau papi aja," Aku menolak pemberian semahal itu, hampir dua bulan gajiku setara dengan dua malam di hotel tersebut.
"Pergi aja Mel. Faby mana bisa tidur di hotel bagus, bisa masuk angin dia," Tahu-tahu mami sudah ikut nimbrung bersama kami di ruanh tengah.
"Iih mami apaan sih?! Bikin malu aja nih," Faby merajuk, menyangkal perkataan mami.
"Lah kan bener kata mami, pas kamu ke Malaysia, katanya malah gak bisa tidur di hotel. Telpon kakak kamu, minta dijemput secepetnya, padahal cuma seminggu disana," Faby seorang dubber. Dia punya kanal youtube sendiri yang dijalankan bersama beberapa temannya. Dimana Faby sebagai pengisi suara, karena chanel youtube miliknya berisi konten lagu dan dongeng untuk anak-anak. Viewersnya lumayan banyak, karena Faby juga mengisi dalam bahasa inggris. Pendapatan Faby bahkan lebih banyak dari gajiku dalam sebulan.
"Tapi mi, ini...." Satu tangan membekap mulutku dari belakang, gelagapan aku dibuatnya.
"Ssst udah jangan bantah lagi. Gak boleh ngelawan perkataan orang tua. Terus ini reservasinya gimana By? Aku langsung atau bisa minta tolong Boby?" Rian mengambil alih voucher di tanganku. Dipojokkan tiga orang, membuatku tak berdaya.
"Dibantu kak Boby bisa donk. Kabari aja kalian bisa tanggal berapa, itu cuma enam bulan masa berlakunya ya, kata kak Boby,"
"Oke deal. Nanti aku diskusi dulu sama istriku sayang. Makasih ya Faby, kamu emang adek paling jempolan yang kakak punya," Rian mengusap kening Faby, suasana ini yang aku suka di keluarga ini. Mungkin aku bisa terapkan besok-besok di rumahku. Ganti adegan cakar-cakaran dengan adegan sayang-sayangan dengan Sekar sepertinya syahdu.
"Mami pengen gendong cucu loh yan, pengen ada yang manggil oma," Mungkin dikira aku tak dengar karena sudah akan masuk kamar. Bisikanmu terlalu nyaring mami sayang !
Kenapa hari ini semua membahas tentang anak, bayi? Bikin anak tidak semudah menyeduh mie instan !
******
Walau awalnya menolak, aku tetap kegirangan saat menginjakkan kaki di hotel ini. Rian tak menunggu lama saat aku menjawab terserah ingin menginap kapan. Weekend ini juga akan kami habiskan disini.
Kamar yang diberikan tipe paling rendah, tapi tetap saja membuatku terkesima. Bila dalam perjalanan dinas aku hanya mendapat fasilitas sekelas hotel melati atau bintang tiga, yang hanya sekali aku nikmati, kini aku berada dalam hotel bintang lima dengan segala kemewahannya. Aku menahan diri untuk tidak berlama-lama di kamar mandinya. Hasrat ingin foto di kaca wastafelnya kutahan nanti saja setelah mandi, kalau sekarang hanya muka kucelku yang akan terlihat.
"Mel, ke kolam yuk. Mumpung belum terlalu sore," Rian mengajakku melihat kolam renang. Duh Gusti, kenapa dia terlihat tetap fresh dalam sweater turtlenecknya itu? Sedangkan aku terlihat lecek setelah perjalanan empat jam kemari.
"Iya aku bersih-bersih dulu," Aku bermaksud mandi sekalian, Rian bilang dia mandinya nanti saja. Ya sudah.
Selesai mandi, Rian menggandengku menuju kolam renang. Sekedar duduk-duduk dan berfoto, mumpung disini, pikirku. Rian tak keberatan ketika kuminta mengambil fotoku. Aku sedang mengecek foto yang diambilnya ketika seorang wanita tiba-tiba menepuk pundak Rian.
"Eh Rian kan? Wah gak nyangka bakal ketemu disini !" Aku melotot seketika saat wanita berbaju renang itu dengan entengnya cipika-cipiki dengan Rian. Rian hanya mematung, kaget, namun tak menolak juga. Bikin sebal gak sih ?! Halloooo, dianggap apa istrinya di sebelah sini?? Pajangan Semar ?! Eh tapi kenapa aku harus merasa kesal ya.
"Linda, Linda ya?" Akhirnya Rian menemukan kata-katanya. Tak tahukah dia aku sudah ingin mengelap bekas cipika-cipiki wanita itu dengan bertayammum, bahkan aku yang istrinya belum pernah melakukan itu pada Rian.
"Iyaaa.. Wah senengnya masih diinget sama kamu. Kamu gak pernah hubungin lagi dari hunting kita terakhir tahun lalu. Padahal aku selalu nunggu kamu kontak aku lagi lho. Nomor yang dulu ternyata nomor temen kamu ya? Aku kira nomor kamu," Manusia bernama Linda itu bicara tanpa jeda. Heranku, kenapa tangannya begitu ramah pada Rian. Memegang tangan Rian, sesekali mengusap pundak. Tak lupa rambut blonde sepinggangnya selalu dikibas-kibasnya dengan tangan yang lain. 'Aset'nya seakan sengaja ditonjolkan, apalagi dengan baju renang yang memang berpotongan rendah di bagian itu. Rian kelihatan jengah dan menghindar, namun Linda kelihatannya tipe pejuang, terus bergerilya sok akrab dengan Rian.
"Iya maaf Lin, belum ada job lagi yang cocok sama lo. Nanti dikabarin lagi ya misal ada. Ah ya, kenalin ini istri gue, Meylani," Anggep aja gue angin, Fulgoso !
Namun aku tetap berusaha tersenyum, walau hati ingin menjambak rambut panjangnya itu. Ganjen banget sama suami orang.
"Loh kamu udah nikah yan? Ah kukira tadi kamu sendirian. Oh ya, aku Linda mbak, dulu pernah jadi modelnya Rian," Dia mengulurkan tangan walau wajahnya berubah tak seceria tadi. Ada senyum yang dipaksakan disana.
"Ya udah kami duluan ya Lin. Meylani pengen makan siomay katanya," Rian melambaikan tangan sambil berlalu dari pandangan Linda yang seakan tak ikhlas Rian pergi.
"Mau makan apa sayang?" Tanyanya setelah agak jauh dari Linda tadi.
"Batako !"
"Oh batagor. Oke, sama jalan-jalan sekitaran sini ya? Mumpung malam minggu,"
"Batako ! Bukan batagor ! Udah ah, aku balik kamar ! Serah mau makan apa !" Meninggalkan Rian di belakang, aku bergegas kembali ke kamar. Entah kenapa terasa sedikit sesak di dada, melihat Rian dekat wanita lain. Aku perlu menenangkan sesuatu di dalam dada yang mendadak berantakan. Apa yang sedang kurasakan?
Aku berusaha membuka kunci kamar. Terkunci. Mengacak tas tanganku mencari kunci, namun tak kutemukan. Sampai akhirnya ada tangan yang membantuku membuka pintu, dengan kartu yang dibawanya.
"Kamu gak bisa masuk tanpa ini, Sayang." Kenapa dia mengikutiku sampai sini sih, aku masuk kamar dengan perasaan tak menentu.
Aku menghempaskan diriku ke sofa. Menutup mata, menghela nafas berulang kali. Tarik, buang, tarik, buang. Sampai akhirnya tercium aroma kopi sachet kesukaanku. Membuka mata, kulihat Rian sedang mengaduk sesuatu. Melihatku menatapnya, dia mengulurkan cangkirnya padaku.
"Minum dulu Mel," Kenapa dia bahkan terpikir membawa minuman wajibku di rumah, aku saja lupa memasukkan ke dalam tas. Aku menyesap kopiku perlahan. Hangat.
"Mel...."
"Hmmm.."
"Kamu kenapa?"
"......"
"Lagi PMS?"
"Gak,"
"Mau jalan sekarang?"
"Gak,"
"Kamu marah?"
"Gak,"
"Ngomong dong Mel, jangan diem gini,"
"Iya,"
"Pengen makan sesuatu?"
"Gak,"
"Pengen apa gitu?"
"Gak,"
"Kamu cemburu?"
"Iya,"
Aku tersadar aku memberikan jawaban yang salah. Rian tersenyum, mengelus kepalaku pelan.
"Kata orang, cemburu tanda sayang lho Mel,"
Kurasakan pipiku menghangat. Rian merebahkan kepalaku di bahunya.
"Jawab iya atau enggak kayak tadi Mel juga gak apa-apa, tapi tolong jujur ya. Kamu sayang sama aku?"
"........"
"Lah malah diem. Aku itung sampai tiga...."
"Terus kalau aku gak mau jawab?" Akhirnya aku mau bicara lagi. Perasaan tenang mulai kurasakan.
"Ya aku terusin ngitung sampai sepuluh, seratus, seribu sampai kamu bilang iya,"
"Tapi aku gak suka kamu deket-deket cewek lain, apalagi yang ganjen kayak tadi," Aku merajuk, mengutarakan isi hatiku. Rian malah tertawa.
"Makanya kamu punya suami ganteng gini jangan dianggurin," Aku menertawakan kenarsisannya.
"Jadinya, kamu udah sayang aku atau belum Mel?" Aku menunduk, malu mengakui.
"Iya..." Aku menjawab, pelan sekali. Mungkin hanya aku dan Tuhan yang mendengar.
"Apa Mel? Aku gak dengar," Rian mendekatkan telinganya padaku.
"Iya," Aku mengulangnya, tetap pelan tapi kuyakin kali ini dia mendengarnya.
"Gak dengar Mel, keras dikit napa bilangnya," Rian sengaja kali ya, membuatku tak sabar. Tak mungkin aku mengulang untuk ketiga kalinya. Kukecup kilat pipinya yang berjarak beberapa senti dariku, setelahnya aku membenamkan wajahku dalam bantalan sofa.
Kami menghabiskan malam bersama, bahkan tak terpikir untuk keluar kamar. Setelah mengungkapkan perasaan, semua terasa mudah, dan indah. Tak ada yang ditahan atau ditutupi lagi. Aku merasakan jatuh cinta kembali, lebih dari sebelumnya.
Aku bahagia? Pasti. Mungkin benar obat patah hati adalah hati yang baru. Aku sudah benar-benar siap menjalani kehidupan rumah tangga bersama Rian, aku yakin dia sosok yang tepat menjadi imamku kali ini. Menikah dijodohkan? Kenapa tidak ?
----End----
PART 9
[Sayang, nanti pulang temani cari kado buat temenku ya? Istrinya baru lahiran]
Aku membaca pesan dari Rian, sambil meneruskan memakan bekalku,
[Oke]
"Sayangnya mana?" Aku kaget, Dita dengan watadosnya cengengesan di belakangku. Ternyata dia ikut mengintip ponselku.
"Ciie, sudah mesra sekarang Mel. Kan dari dulu aku bilang, kamu tuh cocoknya sama Rian. Ibarat buang bangke, dapet rendang deh pokoknya,"
"Perumpaanmu gak banget sih Ta. Tapi iya sih, Rian kok betah aja ya aku jutekin tiap hari. Masa cinta bikin orang jadi bego?"
"Cinta is magic Mel sayang. Hanya cinta yang mengubah tahi kucing rasa coklat, kentut sewangi semerbak bunga, Tanah Abang serasa jalan-jalan di Korea," Aku terbahak mendengar penuturan Dita tentang cinta.
"Tapi asyik juga ternyata orangnya Ta. Dia tuh kayak punya indra keenam, misal aku lagi pengen apa, aku gak bilang apa-apa, tahu-tahu dia datang bawain yang aku pengen, aneh gak sih,"
"Lah kamu kan orangnya emang gampang kebaca. Kayak sekarang nih, aku tahu kamu pengen nawarin aku bento kamu kan? Sini-sini sayang, aku cobain ya," Dita mengambil alih sendok yang sedang ku pegang, mencicipi bento yang dibuatkan mami tadi pagi.
"Modus ! Bilang aja kalau minta," Aku tertawa, membiarkan Dita menjajah bekalku yang tinggal setengah.
*****
Wanita mana yang tidak suka diajak ke mall? Walaupun hanya membeli kado, tetap saja jiwa shopping berkobar dalam dada. Melihat tumpukan baju bayi, sepatu-sepatu lucu, membuatku baper juga.
"Mel, ini bagus nih. Ini aja gimana?" Rian menunjuk stroller bayi. Aku menggeleng, terlalu 'wah' bila hanya kado untuk teman kerja, menurutku.
"Sebenarnya ini OB ku yang istrinya lahiran Mel. Kasihan, dia nabung buat lahiran istrinya, sampai bawa bekal tiap hari lauknya cuma sambal loh Mel, ambil krupuknya di pantry. Makanya aku sering bawa lauk lebih dari rumah, makan bareng dia. Habisnya kalau dibeliin suka nolak, sungkan katanya,"
Aku termenung, terjawab sudah kenapa Rian selalu membawa lauk yang cukup untuk tiga orang tiap pagi untuk bekal, padahal nasinya hanya untuk satu orang. Pikirku jaman sekarang mana ada cowok yang mau bawa bekal ke kantor.
"Ya udah gini aja, kalau stroller kan penting gak penting, butuh gak butuh. Coba belikan baju, sepatu sama kebutuhan harian lainnya saja, sampai seharga stroller itu. Menurutku dia lebih butuh yang kayak gitu, kalau memang dia sedang berhemat. Sama selipin amplop kalau perlu,"
"Ooh iya gitu juga bagus ya Mel. Ya sudah, tolong pilihin kamu aja ya," Tanpa diminta pun aku akan dengan senang hati nemilihkan, apalagi ini untuk bayi perempuan. Banyak aksesoris lucu yang menggoda iman.
Saat memilih-milih selimut bayi, ada wanita yang juga sedang memilih. Aku melihat sekilas, rasanya pernah kenal. Dia juga menoleh padaku saat aku sedang menatapnya.
"Eh elu Meylani kan? Bener, iya lo Meylani !"
"Maaf siapa ya?" Aku bingung, karena merasa tak mengenal orang di depanku ini.
"Ayu, istrinya Satria," Dia mengulurkan tangan, mengajak bersalaman. Rian mendongak, mendengar kata 'Satria'. Cantik dan sexy, itu yang terlintas di pikiranku saat itu juga.
"Oh.. Iya. Maaf saya tidak datang waktu resepsi kalian," Aku menyambut uluran tangannya. Aneh, tidak ada rasa mengganjal atau apapun yang ku rasakan kini. Hati terasa ringan, walau sedang berhadapan dengan penyebab aku dan Satria gagal menikah. Mungkin karena genggaman hangat di tanganku, semua terasa baik-baik saja?
"Ah gak masalah. Santai aja. Eh ini suami lo ya?" Rian spontan mengulurkan tangan dengan tangannya yang bebas.
"Rian, Riandika. Suaminya Meylani," Ayu menyambut dengan senyuman. Tak kusangka, dia begitu ramah. Sama sekali tak terasa hawa permusuhan.
"Syukurlah kamu dapet pengganti Satria Mel. Maaf ya, coba kalau gak 'kebablasan', gue juga gak minta pertanggungjawaban Satria. Sori ya waktu itu," Ucapnya santai sambil mengelus perutnya yang kelihatan agak maju, belum terlalu besar.
Bisa-bisanya sesantai itu dia minta maaf. Kutarik ucapanku, bukan ramah. Ini cewek terlalu cuek dan tak peduli, atau bego? Dia tak berpikir akibat dari masalah yang dibuatnya. Mungkin saat Tuhan pembagian otak, dia absen clubbing dulu.
"Oh tidak apa-apa. Saya juga senang Satria mendapat pasangan yang pas. Saya dan Mel juga sedang bahagia-bahagianya kok," Malah Rian yang menjawab, sambil mengelus perutku pelan. Aku mendelik padanya, apa coba maksudnya?! Tapi Rian memberi kode 'sudah nurut aja' yang membuatku hanya meringis mengikuti adegan selanjutnya.
"Wooow kamu juga 'isi' Mel?? Selamat ya. Aku juga cari baju bumil, eh lihat baju bayi kok jadi pengen. Ya udah yuk, duluan ya. Kelamaan nanti mama Ratna ngomel lagi," Ayu menunjuk wanita separuh baya di kejauhan. Aku hanya mengangguk, pandanganku mengikutinya berlalu. Sekarang Rian yang kuhadapi.
"Maksudnya apa coba?!" Aku mencubit pinggangnya sekuat tenaga.
"Aduh duh duh Mel ! Sakit tauk ! Ya the best revenge kan biar mantan tahu kalau kita sudah move on. Lagian dikira hamil juga gak apa-apa, kan kita suami istri. Kali aja besok bisa hamil beneran," Aku melengos, untuk pengalihan salah tingkahku.
Hamil? Dengan Rian? Kepalaku mendadak migrain.
******
"Kak Mel, kakak sudah pulang??" Suara Faby menyambutku saat aku masuk rumah setelah mengucap salam. Aku mendekatinya yang akan berdiri dari ruang keluarga.
"Kakak kesitu By, duduk aja ya. Ada apa nih, kayaknya semangat bener," Aku menghampiri Faby yang wajahnya terlihat ceria, tangannya meraba mencari tanganku, lalu mengulurkan sesuatu padaku yang dari tadi ada dalam genggamannya.
"Ini kak, tadi kan Faby diajak kak Boby ke acara gathering yang diadain hotel, nah hotelnya ngadain doorprize. Gak tahunya kartu nama kak Boby dapet hadiah utamanya ! Kata kak Boby, ini buat kak Rian sama kak Mel saja," Boby, teman dekat Faby bekerja di agen tour dan travel. Dia memang sering mengajak Faby keluar, namun Faby menyangkal ada hubungan khusus di antara mereka, namun dengan pipi yang merona saat mengatakannya.
Aku mengamati amplop berwarna hitam yang diulurkan Faby. Kubuka perlahan, gila ! Ini voucher menginap dua malam di hotel berbintang yang sedang gencar iklan di televisi.
"Loh ini di Bandung By, kamu bisa berangkat kok. Deket. Ajak mami atau papi aja," Aku menolak pemberian semahal itu, hampir dua bulan gajiku setara dengan dua malam di hotel tersebut.
"Pergi aja Mel. Faby mana bisa tidur di hotel bagus, bisa masuk angin dia," Tahu-tahu mami sudah ikut nimbrung bersama kami di ruanh tengah.
"Iih mami apaan sih?! Bikin malu aja nih," Faby merajuk, menyangkal perkataan mami.
"Lah kan bener kata mami, pas kamu ke Malaysia, katanya malah gak bisa tidur di hotel. Telpon kakak kamu, minta dijemput secepetnya, padahal cuma seminggu disana," Faby seorang dubber. Dia punya kanal youtube sendiri yang dijalankan bersama beberapa temannya. Dimana Faby sebagai pengisi suara, karena chanel youtube miliknya berisi konten lagu dan dongeng untuk anak-anak. Viewersnya lumayan banyak, karena Faby juga mengisi dalam bahasa inggris. Pendapatan Faby bahkan lebih banyak dari gajiku dalam sebulan.
"Tapi mi, ini...." Satu tangan membekap mulutku dari belakang, gelagapan aku dibuatnya.
"Ssst udah jangan bantah lagi. Gak boleh ngelawan perkataan orang tua. Terus ini reservasinya gimana By? Aku langsung atau bisa minta tolong Boby?" Rian mengambil alih voucher di tanganku. Dipojokkan tiga orang, membuatku tak berdaya.
"Dibantu kak Boby bisa donk. Kabari aja kalian bisa tanggal berapa, itu cuma enam bulan masa berlakunya ya, kata kak Boby,"
"Oke deal. Nanti aku diskusi dulu sama istriku sayang. Makasih ya Faby, kamu emang adek paling jempolan yang kakak punya," Rian mengusap kening Faby, suasana ini yang aku suka di keluarga ini. Mungkin aku bisa terapkan besok-besok di rumahku. Ganti adegan cakar-cakaran dengan adegan sayang-sayangan dengan Sekar sepertinya syahdu.
"Mami pengen gendong cucu loh yan, pengen ada yang manggil oma," Mungkin dikira aku tak dengar karena sudah akan masuk kamar. Bisikanmu terlalu nyaring mami sayang !
Kenapa hari ini semua membahas tentang anak, bayi? Bikin anak tidak semudah menyeduh mie instan !
******
Walau awalnya menolak, aku tetap kegirangan saat menginjakkan kaki di hotel ini. Rian tak menunggu lama saat aku menjawab terserah ingin menginap kapan. Weekend ini juga akan kami habiskan disini.
Kamar yang diberikan tipe paling rendah, tapi tetap saja membuatku terkesima. Bila dalam perjalanan dinas aku hanya mendapat fasilitas sekelas hotel melati atau bintang tiga, yang hanya sekali aku nikmati, kini aku berada dalam hotel bintang lima dengan segala kemewahannya. Aku menahan diri untuk tidak berlama-lama di kamar mandinya. Hasrat ingin foto di kaca wastafelnya kutahan nanti saja setelah mandi, kalau sekarang hanya muka kucelku yang akan terlihat.
"Mel, ke kolam yuk. Mumpung belum terlalu sore," Rian mengajakku melihat kolam renang. Duh Gusti, kenapa dia terlihat tetap fresh dalam sweater turtlenecknya itu? Sedangkan aku terlihat lecek setelah perjalanan empat jam kemari.
"Iya aku bersih-bersih dulu," Aku bermaksud mandi sekalian, Rian bilang dia mandinya nanti saja. Ya sudah.
Selesai mandi, Rian menggandengku menuju kolam renang. Sekedar duduk-duduk dan berfoto, mumpung disini, pikirku. Rian tak keberatan ketika kuminta mengambil fotoku. Aku sedang mengecek foto yang diambilnya ketika seorang wanita tiba-tiba menepuk pundak Rian.
"Eh Rian kan? Wah gak nyangka bakal ketemu disini !" Aku melotot seketika saat wanita berbaju renang itu dengan entengnya cipika-cipiki dengan Rian. Rian hanya mematung, kaget, namun tak menolak juga. Bikin sebal gak sih ?! Halloooo, dianggap apa istrinya di sebelah sini?? Pajangan Semar ?! Eh tapi kenapa aku harus merasa kesal ya.
"Linda, Linda ya?" Akhirnya Rian menemukan kata-katanya. Tak tahukah dia aku sudah ingin mengelap bekas cipika-cipiki wanita itu dengan bertayammum, bahkan aku yang istrinya belum pernah melakukan itu pada Rian.
"Iyaaa.. Wah senengnya masih diinget sama kamu. Kamu gak pernah hubungin lagi dari hunting kita terakhir tahun lalu. Padahal aku selalu nunggu kamu kontak aku lagi lho. Nomor yang dulu ternyata nomor temen kamu ya? Aku kira nomor kamu," Manusia bernama Linda itu bicara tanpa jeda. Heranku, kenapa tangannya begitu ramah pada Rian. Memegang tangan Rian, sesekali mengusap pundak. Tak lupa rambut blonde sepinggangnya selalu dikibas-kibasnya dengan tangan yang lain. 'Aset'nya seakan sengaja ditonjolkan, apalagi dengan baju renang yang memang berpotongan rendah di bagian itu. Rian kelihatan jengah dan menghindar, namun Linda kelihatannya tipe pejuang, terus bergerilya sok akrab dengan Rian.
"Iya maaf Lin, belum ada job lagi yang cocok sama lo. Nanti dikabarin lagi ya misal ada. Ah ya, kenalin ini istri gue, Meylani," Anggep aja gue angin, Fulgoso !
Namun aku tetap berusaha tersenyum, walau hati ingin menjambak rambut panjangnya itu. Ganjen banget sama suami orang.
"Loh kamu udah nikah yan? Ah kukira tadi kamu sendirian. Oh ya, aku Linda mbak, dulu pernah jadi modelnya Rian," Dia mengulurkan tangan walau wajahnya berubah tak seceria tadi. Ada senyum yang dipaksakan disana.
"Ya udah kami duluan ya Lin. Meylani pengen makan siomay katanya," Rian melambaikan tangan sambil berlalu dari pandangan Linda yang seakan tak ikhlas Rian pergi.
"Mau makan apa sayang?" Tanyanya setelah agak jauh dari Linda tadi.
"Batako !"
"Oh batagor. Oke, sama jalan-jalan sekitaran sini ya? Mumpung malam minggu,"
"Batako ! Bukan batagor ! Udah ah, aku balik kamar ! Serah mau makan apa !" Meninggalkan Rian di belakang, aku bergegas kembali ke kamar. Entah kenapa terasa sedikit sesak di dada, melihat Rian dekat wanita lain. Aku perlu menenangkan sesuatu di dalam dada yang mendadak berantakan. Apa yang sedang kurasakan?
Aku berusaha membuka kunci kamar. Terkunci. Mengacak tas tanganku mencari kunci, namun tak kutemukan. Sampai akhirnya ada tangan yang membantuku membuka pintu, dengan kartu yang dibawanya.
"Kamu gak bisa masuk tanpa ini, Sayang." Kenapa dia mengikutiku sampai sini sih, aku masuk kamar dengan perasaan tak menentu.
Aku menghempaskan diriku ke sofa. Menutup mata, menghela nafas berulang kali. Tarik, buang, tarik, buang. Sampai akhirnya tercium aroma kopi sachet kesukaanku. Membuka mata, kulihat Rian sedang mengaduk sesuatu. Melihatku menatapnya, dia mengulurkan cangkirnya padaku.
"Minum dulu Mel," Kenapa dia bahkan terpikir membawa minuman wajibku di rumah, aku saja lupa memasukkan ke dalam tas. Aku menyesap kopiku perlahan. Hangat.
"Mel...."
"Hmmm.."
"Kamu kenapa?"
"......"
"Lagi PMS?"
"Gak,"
"Mau jalan sekarang?"
"Gak,"
"Kamu marah?"
"Gak,"
"Ngomong dong Mel, jangan diem gini,"
"Iya,"
"Pengen makan sesuatu?"
"Gak,"
"Pengen apa gitu?"
"Gak,"
"Kamu cemburu?"
"Iya,"
Aku tersadar aku memberikan jawaban yang salah. Rian tersenyum, mengelus kepalaku pelan.
"Kata orang, cemburu tanda sayang lho Mel,"
Kurasakan pipiku menghangat. Rian merebahkan kepalaku di bahunya.
"Jawab iya atau enggak kayak tadi Mel juga gak apa-apa, tapi tolong jujur ya. Kamu sayang sama aku?"
"........"
"Lah malah diem. Aku itung sampai tiga...."
"Terus kalau aku gak mau jawab?" Akhirnya aku mau bicara lagi. Perasaan tenang mulai kurasakan.
"Ya aku terusin ngitung sampai sepuluh, seratus, seribu sampai kamu bilang iya,"
"Tapi aku gak suka kamu deket-deket cewek lain, apalagi yang ganjen kayak tadi," Aku merajuk, mengutarakan isi hatiku. Rian malah tertawa.
"Makanya kamu punya suami ganteng gini jangan dianggurin," Aku menertawakan kenarsisannya.
"Jadinya, kamu udah sayang aku atau belum Mel?" Aku menunduk, malu mengakui.
"Iya..." Aku menjawab, pelan sekali. Mungkin hanya aku dan Tuhan yang mendengar.
"Apa Mel? Aku gak dengar," Rian mendekatkan telinganya padaku.
"Iya," Aku mengulangnya, tetap pelan tapi kuyakin kali ini dia mendengarnya.
"Gak dengar Mel, keras dikit napa bilangnya," Rian sengaja kali ya, membuatku tak sabar. Tak mungkin aku mengulang untuk ketiga kalinya. Kukecup kilat pipinya yang berjarak beberapa senti dariku, setelahnya aku membenamkan wajahku dalam bantalan sofa.
Kami menghabiskan malam bersama, bahkan tak terpikir untuk keluar kamar. Setelah mengungkapkan perasaan, semua terasa mudah, dan indah. Tak ada yang ditahan atau ditutupi lagi. Aku merasakan jatuh cinta kembali, lebih dari sebelumnya.
Aku bahagia? Pasti. Mungkin benar obat patah hati adalah hati yang baru. Aku sudah benar-benar siap menjalani kehidupan rumah tangga bersama Rian, aku yakin dia sosok yang tepat menjadi imamku kali ini. Menikah dijodohkan? Kenapa tidak ?
----End----
Tidak ada komentar:
Posting Komentar